Modul Teori Komunikasi [TM13].

advertisement
MODUL PERKULIAHAN
TEORI KOMUNIKASI
Konteks-Konteks Komunikasi
Fakultas
Program Studi
Ilmu Komunikasi
Advertising
&MarketingCommunications
Tatap Muka
12
Kode MK
Disusun Oleh
85004
Sugihantoro, S.Sos, M.Ikom
Abstract
Kompetensi
Modul ini membahas mengenai
Setelah mempelajari modul ini
konteks-konteks komunikasi yang terdiri
diharapkan mahasiswa memahami
komunikasi antara budaya, komunikasi
konteks-konteks komunikasi yang terdiri
bisnis,komunikasi politik, komunikasi
komunikasi antara budaya, komunikasi
internasional
bisnis,komunikasi politik, komunikasi
internasional.
Konteks-Konteks Komunikasi
1.1. Komunikasi Antara Budaya
Menurut Rohim (2009:197), secara teoritis kajian komunikasi antara budaya berakar
dari relasi sosial antar budaya yang merupakan bidang kajian antropologi. Dalam kajian
antropolodi, interaksi yang terjadi antar manusia yang berlainan budaya dipandang sebagai
suatu relasi
antar etnik, yang melibatkan pertukaran budaya. Sama halnya dengan
antropologi, kajian komunikasi antar budaya merupakan suatu bentuk pendekatan dalam
melihat perspektif relasi antar budaya. Hanya saja kajian komunikasi melihat dalam
bingkai/konteks komunikasi, sebagai suatu proses interaksi sosial antar masyarakat yang
berlaiann budaya.
Seiring perjalanan waktu, fenomena-fenomena kajian antar enik yang tadinya lebih
diminati para antropolog, sekarang ini juga banyak di minati para ahli komunikasi. Hal ini
tidak terlepas dari pergeseran percepatan mobilitas manusia dalam memperpendek jarak
wilayah regional yang ditandai dengan pesatnya perkembangan teknologi komunikasi.
Fenomena-fenomena relasi antar etnik yang ditandai dengan mobilitasnya yang tinggi
tersebut memunculkan juga fenomena komunikasi yang semakin kompleks. Berbagai kajian
pun muncul untuk menjelaskan dan menganalisisnya. Salah satu sumbangsih dari perspektif
kajian ilmu komunikasi yang berkaitan dengan budaya sebagaimana dijelaskan Mulyana
(2004) antara lain, komunikasi antar budaya, komunikasi lintas budaya, komunikasi antar
antar etnik, komunikasi antar ras, komunikasi internasional (antar bangsa), komunikasi
global, dan komunikasi trans kultural (trans budaya).
Istilah komunikasi antar budaya pertama kali diperkenalkan oleh seorang antropolog
Edward T. Hall lebih dari empat dekade lalu. Akan tetapi bidang ini sebenarnya bukan
merupakan fenomena baru, hanya saja studi yang secara sistematis mengkaji masalah ini
baru secara komprehensif dilakukan selama 30 tahun terakhir ini. Menurut Maletzke (1976)
komunikasi antar budaya (interculturalcommunication) adalah proses pertukaran pikiran dan
makna antara orang-orang berbeda budaya. Komunikasi antar budaya pada dasarnya
mengkaji bagaimana budaya berpengaruh terhadap aktivitas komunikasi; apa makna pesan
verbal
dan
non
verbal
menurut
budaya-budaya
bersangkutan,
apa
yang
layak
dikomunikasikan, bagaimana cara mengkomunikasikannya, kapan mengkomunikasikan, dan
sebagainya.
Lebih lanjut Rohim (2009:198) menjelaskan bahwa salah satu varian penting dalam
komunikasi antar budaya adalah komunikasi lintas budaya yang secara tradisional
2016
2
Teori Komunikasi
Sugihantoro, S.Sos, M.IKom
Pusat Bahan Ajar dan eLearning
http://www.mercubuana.ac.id
membandingkan fenomena komunikasi dalam budaya yang berbeda. Misalnya bagaimana
gaya komunikasi pria atau gaya komunikasi wanita dalam budaya Amerika dan Indonesia.
Pada dasarnya, menurut Trenholm dan Jensen, kapan pun kita berinteraksi dengan orang
lain yang telah dibekali seperangkat pemahaman yang berbeda mengenai dunia, kita telah
terlibat dalam komunikasi lintas budaya. Adapun bidang lain yang menghubungkan
komunikasi dan budaya adalah komunikasi antar etnik (intercultural communication).
Kelompok etnik adalah kelompok yang ditandai dengan bahasa dan asal-usul yang sama.
Oleh karena itu, komunikasi antar etnik juga merupakan komunikasi antar budaya. Dengan
kata lain, komunikasi antar etnik merupakan komunikasi antar budaya, tetapi komunikasi
antar budaya belum tentu merupakan komunikasi antar entik. Komunikasi antar etnik juga
mencakup komunikasi antar ras. Ras adalah sekelompok orang yang ditandai dengan ciriciri biologis yang sama.
Dalam tataran yang lebih luas lagi yang beririsan dengan komunikasi antar budaya
ini yaitu komunikasi lintas negara (komunikasi internasional), merupakan komunikasi yang
berlangsung pada tataran negara, yang berarti melewati batasan-batasan negara.
Dikemukakan oleh Maletzke, komunikasi antar budaya lebih banyak menyoroti realitas
sisologis dan antropologis, sementara komunikasi antar bangsa atau komunikasi
internasional lebih mengkaji pada tataran realitas politik. Jadi komunikasi internasional
mencakup komunikasi antar pemerintahan lewat diplomasi dengan berbagai mekanismenya
(pendirian kedutaan, konsultas, konferensi internasional, misi budaya, dan sebagainya).
Komunikasi internasional juga mencakup kajian tentang perbandingan sistem
komunikasi antar negara, penyebaran komunikasi melalui kantor-kantor berita dan lain
sebagainya. Hal lainnya yang menyangkut komunikasi internasional ini dapat juga meliputi
bidang kajian komunikasi global yang menyangkut perpindahan data, informasi, opini dan
nilai secara lintas batas oleh kelompok, lembaga, maupun pemerintahan, dan isu-isu yang
muncul dari transfer tersebut.
1.2. Pendekatan Teoritis Komunikasi Antara Budaya
Berdasarkan uraian Rohim (2009:199), untuk dapat menjelaskan proses terjadinya
dan berlangsungnya komunikasi antar budaya dapat dilihat dari berbagai pendekatan
pragmatis yang mendasari dan menjadi akar dari kajian komunikasi antar budaya. Dalam
bahasa teoritis dikenal beberapa pendekatan yang dapat menjelaskan fenomena
komunikasi antar budaya, antara lain:
1) Pendekatan psikologi sosial
2) Pendekatan interpretatif
3) Pendekatan kritis
4) Pendekatan dialektika
2016
3
Teori Komunikasi
Sugihantoro, S.Sos, M.IKom
Pusat Bahan Ajar dan eLearning
http://www.mercubuana.ac.id
5) Pendekatan dialog kultural
6) Pendekatan kritikal budaya
Secara ringkas pendekatan-pendekatan tersebut dapat diuraikan sebagai berikut:
1.2.1. Pendekatan Psikologi Sosial
Menurut Rohim (2009:199), pendekatan psikologi sosial ini sebetulnya lebih
didominasi oleh para pakar penganut paham fungsionalisme struktural yang
menekankan pendekatan yang bersifat etik (Bernando, 2000). Menurutnya, metode
etik secara umum menyelidik suatu obyek penelitian dari luar lingkungan sasaran
penelitian. Pendekatan ini memandang bahwa hanya peneliti yang benar-benar
bebas dan berada di luar lingkungan sasaran penelitian, akan melakukan penelitian
dan menghasilkan kesimpulan yang obyektif. Bahwa realitas eksternal seorang
penelitilah
yang akan mampu mendorong dia untuk meneliti
dan meramalkan
perilaku tertentu dari sasaran penelitian.
Gudykunst (1997) menawarkan beberapa pilihan metode atau strategi pendekatan
etnik
melalui
“uncertainty-reduction
strategic-individualist
culture,
yakni
menggunakan pertanyaan langsung kepada sasaran penelitian dalam sebuah
wawancara; communication accomodation theory, yakni dengan menyelidiki cara
atau langkah individu mengubah pola-pola perilaku mereka untuk melakukan
akomodasi dengan orang lain.
Keuntungan studi ini adalah dapat mengidentifikasi varian dasar dalam komunikasi
mereka agar dengan mudah dibedakan dengan kelompok budaya yang lain.
Keterbatasan dari metode ini adalah terlalu memadang realitas ekternal yang
ditampilkan sasaran penelitian tidak ada manfaatnya sehingga peneliti harus
menyusun konstruksi sendiri berdasarkan pola-pola komunikasi dari sasaran yang
diteliti yang kadang-kadang mengandung bias budaya.
1.2.2. Pendekatan Interpretatif
Menurut Rohim (2009:200), pendekatan ini merupakan kebalikan dari pendekatan
psikologi sosial, yang dikenal dengan pendekatan etnik. Kalau pendekatan etnik.
Kalau pendekatan etik mewajibkan peneliti di luar sasaran penelitian maka
pendekatan etnik mewajibkan peneliti untuk berada di dalam dan berada serta hidup
dengan sasaran penelitian. Asumsi yang mendasari pendekatan ini bahwa
keberadaan dan kehidupan manusia merupakan konstruksi dari sebuah realitas dan
perilaku manusia itu kreatif, oleh karena itu tidak selalu dapat diramalkan. Tujuan
penelitian adalah untuk memahami itu dan menggambarkan perilaku manusia dan
2016
4
Teori Komunikasi
Sugihantoro, S.Sos, M.IKom
Pusat Bahan Ajar dan eLearning
http://www.mercubuana.ac.id
bukan untuk meramalkan perilaku itu sendiri. Contoh paling populer adalah etnografi
komunikasi yang dihasilkan oleh metode etnografi, studi lapangan, studi partisipasif,
studi tekstual, dan kritik retorikal.
1.2.3. Pendekatan Kritis
Menurut penjelasan Rohim (2009:200), pendekatan kritis lebih menekankan pada
kreativitas manusia dan berusaha mencatat secara cermat realitas kehidupan
manusia yang dikonstruk melalui komunikasi. Perbedaan utama dari pendekatanini
dengan pendekatan lain adalah terletak pada macro context yang lebih menekankan
pada konteks makro seperti realitas sosial, politik, dan isu-isu ekonomi yang
mempengaruhi komunikasi antar budaya, lebih khusus
lagi meneliti hubungan
kekuasaan di antara beberapa budaya.
Metode ini digunakan dalam tekstual analisis yang keuntungannya terletak pada
pemilihan fokus konteks makro melalui studi sejarah. Keterbatasan pendekatan ini
adalah tidak cukup mampu meneliti perubahan internasional yang konteksual
dewasa ini.
1.2.4. Pendekatan Dialektika
Pendekatan dialektika merupakan kombinasi tiga pendekatan tersebut di atas.
Bahwa sesuatu yang disebut realitas adalah dialektikal. Kita dapat mengatakan “ya”
untuk mengakui bahwa memandang sesuatu kenyataan dari luar atau darai dalam itu
lebih baik, namun harus dikonstruk melalui komunikasi. Dianjurkan bahwa
pendekatan alternative ini dapat dilakukan dengan memandang realitas secara
obyektif dan subyektif. Hanya dengan metode ini, seorang peneliti dapat
mengungkapkan komunikasi antar budaya, karena komunikasi antar budaya dapat
merefleksikan semua perilaku manusia.
1.2.5. Pendekatan Dialog Kultural
Pendekatan ini sering disebut juga sebagai mazhab yang menekankan pada isu-isu
internasionalisme dan humanism. Pendekatan ini berakar dari konsep yang
mengatakan bahwa sains merupakan alat praktis yang perlu digunakan manusia dan
sumbangan
para
teoritis
adalah
memberikan
konstribusi
keilmuan
untuk
meningkatkan pemahaman tentang dunia. Bagi mereka, komunikasi antar busaya
lebih menekankan pada bagaimana mengorganisasikan masyarakat manusia demi
kepuasan sesama. Bertolak dari pemikiran ini, maka pendekatan ini sangat peduli
pada analisis peran komunikasi antar budaya dari organisasi-organisasi perdamaian
internasional, seminar-seminar yang menampilkan persepsi lintas budaya, sejumlah
2016
5
Teori Komunikasi
Sugihantoro, S.Sos, M.IKom
Pusat Bahan Ajar dan eLearning
http://www.mercubuana.ac.id
kursus yang melibatkan siswa antar budaya maupun lintas budaya, dan beberapa
gerakan religious. Konsekuensinya adalah dipilihnya metode dan teknik dialog antar
pribadi, antar kelompok, yang tidak saja antar budaya tetap antar bangsa.
1.2.6. Pendekatan Kritikal Budaya
Pendekatan ini berusaha mencari dan menemukan isu-isu utama yang mendorong
terjadinya konflik dalam setiap budaya sehingga mengakibatkan salah satu atau
lebih kebudayaan terpaksa di isolasi oleh masyarakat. Bagi pendekatan ini, hanya
sedikit kebutuhan untuk mencari titik-titik temu dan universal antar budaya, bahkan
mereka hanya beruasha untuk menggambarkan bagaimana kebudayaan itu
dibangun atau dikembangkan dalam suatu konflik. Dalam banyak hal, pendekatan ini
mirip dengan pendekatan dialektika sebagaimana sudah dijelaskan di atas yang
berusaha menggabungkan pendekatan etik dan etnik secara tumpang tindih.
1.3. Teori-Teori Komunikasi Antara Budaya
Beberap teori antar budaya yang populer adalah sebagai berikut :
1.3.1. Face Negociation Theory
Menurut Rohim (2009:202), negosiasi wajah teori pertama adalah teori postulated
oleh Stella Ting-Toomey pada tahun 1985 untuk menjelaskan bagaimana mengelola konflik
budaya yang berbeda dalam berkomunikasi. Pada dasarnya teori menjelaskan bahwa akar
konflik berdasarkan identitas manajemen pada tingkat individu dan budaya. The various
facets of individual and cultural identities are described as faces. Berbagai aspek dari
individu dan identitas budaya yang digambarkan sebagai wajah.
Konflik yang terjadi ketika individu atau kelompok memiliki wajah mereka terancam.
Ada berbagai strategi dan faktor-faktor yang mempengaruhi bagaimana mengelola identitas
budaya. Ting-Toomey mengatakan bahwa dalam kolektivitas budaya, menghadapi
kelompok yang lebih penting daripada wajah setiap individu dalam group tersebut. Dalam
individualis budaya, wajah masing-masing adalah lebih penting daripada muka group.
Di samping itu, ada kekuatan besar dan kecil yang terkait dengan jarak masing-masing
kebudayaan. Sebagian kecil daya jarak budaya percaya bahwa adalah kewenangan yang
diperoleh, daya yang didistribusikan sama, dan semua orang dari hal-hal pendapat individu
sangat dihargai. Kekuatan besar dalam jarak budaya, adalah warisan otoritas, kuasa dari
atas ke bawah.
1.3.2. Communication Accomodation Theory
Berdasarkan uraiang Rohim (2009:212), pada tahun 1973 Giles mempublikasikan
artikel pertama kali yang menyebutkan fenomena konvergensi logat pada sebuah situasi
2016
6
Teori Komunikasi
Sugihantoro, S.Sos, M.IKom
Pusat Bahan Ajar dan eLearning
http://www.mercubuana.ac.id
wawancara. Pada pengamatan selanjutnya, para peneliti telah menelaah konsep-konsep
konvergensi dan divergensi selama interaksi, yang melahirkan apa yang dikenal sebagai
Teori Akomodasi Komunikasi. Tujuan inti dari teori akomodasi komunikasi adalah untuk
menjelaskan cara-cara di mana orang-orang yang berinteraksi dapat mempengaruhi satu
sama lain selama interaksi. Teori akomodasi komunikasi berfokus pada mekanisme di mana
proses-proses psikologis sosial mempengaruhi perilaku yang diamati dalam interaksi.
Akomodasi, menunjuk pada cara-cara di mana individu-individu dalam interaksi memantau
dan mungkin menyesuaikan perilaku mereka selama interaksi. Untuk menjelaskan prosesproses interaksi ini secara lebih, teori akomodasi komunikasi berpusat pada konsep-konsep
konvergensi, ivergensi, dan maintenance yang spesifik.
Lebih lanjut Rohim (2009:212) menjelaskan bahwa konsep yang paling banyak dikaji
dalam teori ini adalah konvergensi. Pada awal penemunya teori akomodasi komunikasi,
konvergensi di definisikan terjadi ketika individu-individu beradaptasi dengan ucapan satu
sama lain dengan berbagai ciri linguistik. Termasuk kecepatan berbicara, perhentian dan
panjang ucapan, prononunsiasi dan sebagainya. Namun selanjutnya, konvergensi diperluas
pada pola-pola berbicara untuk mencakup berbagai perilaku komunikasi.
Proses penting kedua dalam teori ini adalah divergensi. Divergensi terjadi ketika para
orang yang berinteraksi mencoba untuk mengurangi perbedaan komunikasi antara diri
mereka dan orang lain dalam interaksi. Terakhir, maintenance terjadi ketika pola-pola
komunikasif seorang individu tetap stabil selama interaksi. Teori akomodasi komunikasi juga
telah dianggap sebagai sebuah varitas dari dampak akomodasi dalam interaksi. Ini
mencakup efek terhadap individu, terhadap interaksi lain dan terhadap pengamat proses
interaksi. Ada beberapa prinsip penting tentang konsekuensi akomodasi;
1) Konsekuensi akan tergantung pada motif-motif penginteraksi (interaksi) yang
dirasakan. Contoh; teori atribusi bahwa seseorang bertemu untuk menyamakan
situasi tertentu bisa menimbulkan opini-opini yang lebih negatif dibanding atribusi
babwa seseorang berkumpul untuk mengurangi pembatas-pembatas kelompok.
2) Penelitian menunjukkan bahwa ada level-level akomodasi yang optimal dalam
interaksi. Ini bisa dilihat dalam beberapa cara. Contoh; Penelitian-penelitian tentang
akomodasi multimodal telah menemukan bahwa konvergensi pada variabel tunggal
dalam komunikasi lebih dievaluasi positif dibanding pada tiga variabel lain yang telah
disebutkan.
3) Konsekuensi akomodasi akan tergantung pada persa (perceiver). Contoh; pola-pola
divergensi atau maintenance bisa dipahami sebagai sesuatu yang menghina
penginteraksi yang lain. Imbas teori akomodasi komunikasi begitu luas karena
sebagai sebuah kerangka pikir terkemuka dalam psikologi bahasa dan sosial. Ketika
seseorang berbicara kepada orang lain, kita akan cenderung subconciously kami
2016
7
Teori Komunikasi
Sugihantoro, S.Sos, M.IKom
Pusat Bahan Ajar dan eLearning
http://www.mercubuana.ac.id
mengubah gaya bicara (aksen, menilai, jenis kata dan lain-lain) ke arah gaya yang
digunakan oleh pendengar. Kami juga cenderung non verbal cocok dengan perilaku.
Juga mendengarkan bagaimana mereka menyalin Anda menjadi sinyal bahwa
mereka mencari persetujuan Anda.
Masih menurut Rohim (2009:213), teori akomodasi komunikasi berfokus pada peran
percakapan dalam kehidupan kita. Teori ini juga telah dimasukkan ke dalam sejumlah studi
yang berbeda, seperti akomodasi telah belajar di media massa (Bell, 1991) dan dengan
keluarga (Fox 1999). Tidak ada keraguan bahwa teori akomodasi adalah heuristis. Teori inti
dari proses konvergensi dan membuat perbedaan itu relatif mudah untuk memahami
undescoring yang sederhana dari teori. Teori akomodasi komunikasi adalah teori di seluruh
umur dan budaya yang berbeda dalam pengaturannya melalui konvergensi agar orang lain
dapat menyesuaikan diri mereka dalam interaksi. Melalui perbedaan kita dapat memelopori
sebuah teori yang telah membantu kami lebih memahami keragaman budaya dan
sekitarnya.
1.4. Komunikasi Bisnis
Berdasarkan uraian Sutojo dan Setiawan dalam bukunya Komunikasi Bisnis yang
Efektif, menjelaskan bahwa perusahaan dan organisasi lain terdiri dari sekelompok orangorang yang bekerja sama untuk keperluan bisnis, profesi, sosial dan berbagai macam
keperluan lainnya. Mereka bekerja sama menyusun peraturan, mengambil keputusan dan
melakukan hubungan dengan berbagai pihak di luar organisasi. Untuk menjalankan tugastugas itu mereka beraksi, berinteraksi dan berkomunikasi. Aksi, interaksi dan komunikasi itu
dijalankan dengan bawahan, atasan dan rekan kerjanya maupun dengan pihak ketiga.
Dengan berkomunikasi mereka saling bertukar
informasi, pendapat dan saran. Mereka
saling berkirim berita, berbicara dan mendengarkan. Setiap perusahaan tidak dapat
berfungsi dengan sempurna tanpa melakukan komunikasi yang efektif. Banyak pakar
manajemen mengutarakan komunikasi yang efektif merupakan suplemen manajemen yang
profesional.
Komunikasi bisnis yang efektif mempunyai dua tujuan utama, yaitu:

Mendapatkan pemahaman penuh tentang makna pesan yang diberikan kepada
pihak lain, baik di dalam maupun luar organisasi perusahaan.

Mendapatkan tanggapan, tindakan atau persetujuan dari si penerima pesan seperti
yang diharapkan si pemberi pesan.
Pesan itu sendiri dapat berbentuk dapat berbentuk berita, introduksi tentang sesuatu
hal yang baru, penyampaain pendapat, informasi, penjelasan, rekomendasi, perintah,
pertanyaaan atau himbauan untuk berbuat sesuatu.
2016
8
Teori Komunikasi
Sugihantoro, S.Sos, M.IKom
Pusat Bahan Ajar dan eLearning
http://www.mercubuana.ac.id
1.4.1. Manfaat Komunikasi Bisnis yang Efektif
Menurut Sutojo dan Setiawan, semua komunikasi bisnis yang dilakukan pimpinan
puncak, manajer, eksekutif dan karyawan dan sebagainya dari
perusahaan diperlukan
untuk memperlancar pelaksanaan rencana kerja. Komunikasi tersebut juga diperlukan untuk
membantu tercapainya tujuan bisnis perusahaan serta memonitor kinerja bisnis perusahaan
mereka.
Dalam bukunya Business Communication, Strategies and Skill, Prof. Richard C.
Huseman, University of Central Florida, USA mengutarakan sayangnya salah satu masalah
besar
yang
dihadapi
banyak
perusahaan
di
dunia
pada
dewasa
ini
adalah
kekurangmampuan para manajernya berkomunikasi secara efektif. Kekurangmampuan
berkomunikasi secara efektif tersebut berlaku baik dalam komunikasi dengan bawahan
maupun dengan pihak ketiga termasuk para pelanggan.
Masalah komunikasi bisnis menurut beliau menjadi lebih pelik lagi bilamana
organisasi berkembang secara berarti. Dalam banyak kejadian, pertumbuhan perusahaan
tidak terbatas pada skala dan bidang usaha mereka saja, melainkan juga menyangkut ruang
lingkup geografi (lokal, nasional bahkan internasional) kegiatan. Dengan pertumbuhan
perusahaan seperti itu justru karyawan dan bagian dalam struktur organisasi perusahaan
juga bertambahn. Demikian juga jenis tugas khusus dan istilah teknis atau jargons yang
dipergunakan oleh tiap bagian dan tiap individu karyawan. Latar belakang usia, pola pikir,
pendidikan dan pengalaman karyawan di dalam bagian-bagian perusahaan tersebut menjadi
lebih bervariasi. Jarak antara atasa dan bawahan maupun antara bagian yang satu dengan
yang lainnya menjadi lebih besar. Dengan demikian proses tukar-menukar informasi,
pendapat, saran dan sebagainya menjati tidak semudah sebelumnya. Selanjutnya apabila
perusahaan berkembang dari skala lokal ke skala nasional atau internasional, para
karyawan yang bekerja di lokasi yang berbeda dapat mempunyai latar belakang suku,
golongan sosial, kebudayaan, tradisi bahkan bahasa ibu yang berbeda-beda pula. Oleh
karena itu untuk memperlancar komunikasi dibutuhkan teknik-teknik yang lebih canggih.
Prof. Huseman menyatakan pada dasarnya sebagian besar orang tidak mahir
berkomunikasi secara efektif. Walaupun demikian menurut beliau, keterapilan manajemen
(managerial skills) yang satu ini dapat dipelajari. Pada dewasa ini tidak sedikit perusahaan
yang dikelola secara professional menyusun rencana dan melaksanakan program training
komunikasi bisnis yang efektif secara berskala bagi anggota manajemen, ekesekutif dan
staff mereka.
Manfaat komunikasi intern yang efektif. Komunikasi intern perusahaan dilakukan
antara:
2016

Atasan dengan bawahan (downward communication)

Bawahan dengan atasan (upward communication)
9
Teori Komunikasi
Sugihantoro, S.Sos, M.IKom
Pusat Bahan Ajar dan eLearning
http://www.mercubuana.ac.id


Di antara rekan kerja yang setingkat (horizontal communications)
Komunikasi Vertikal
Komunikasi dari atas ke bawah yang efektif dapat menciptakan suasana kerja yang
kondusif serta kepuasan kerja bagi bawahan. Suasana kerja yang kondusif tersebut
dapat meningkatkan moral, motivasi dan efisiensi kerja perusahaan. Komunikasi dari
bawah ke atas yang efektif mempunyai banyak manfaat bagi atasan yang professional.
Di samping laporan tertulis yang disampaikan bawahan secara periodic, atasan yang
professional ingin mendengar komentar, pendapat, usul, keinginan, kesan bahkan
keluhan tentang berbagai macam hal secara jujur dan terbuka dari bawahanya. Dengan
mendengarkan hal-hal tersebut secara jujur dan terbuka atasan perusahaan dapat
mengetahui berbagai macam hal yang bersangkutan dengan pelaksanaan manajemen
secara lebih transparan. Sebagai kelanjutannya mereka dapat mengambil keputusan
yang diperlukan secara lebih tepat.

Komunikasi Horizontal
Komunikasi horizontal yang efektif membantu individu dan bagian perusahaan dalam
bekerjasama memecahkan problem yang dihadapi bersama. Ini juga dapat membantu
mereka dalam menunaikan tugas dan mengambil keputusan bersama. Komunikasi
horizontal yang efektif merupakan salah satu sarana untuk menyamakan persepsi,
pendapat, dan pola pikir antar bagian. Dengan demikian ia dapat menjadi sarana untuk
membangun keharmonisan hubungan dan kerjasama antar bagian dalam perusahaan.
Manfaat yang satu ini juga berlaku bagi setiap jenis organisasi yang lain, apakah mereka
itu lembaga pendidikan, koperasi, yayasan, organisasi dan olahraga, organisasi
keagamaan, partai politik, organisasi masa bahkan bagi cabinet yang memerintah
negara sekalipun.

Manfaat Komunikasi Ekstern yang Efektif
Komunikasi bisnis dengan pihak ketiga yang efektif membawa dampak yang positif yag
dalamkeberhasilan usaha bisnis dan upaya memabngun citra perusahaan di
masyarakat. Sebagai contoh surat kepada pihak ketiga, laporan, brosur, dan presentasi
bisnis yang disusun secara professional dapat meningkatkan citra perusahaan.
Komunikasi ekstern yang professional (termasuk penyelenggaraan program promosi
penjualan) dapat meningkatkan minat konsumen kepada barang atau jasa yang
dipasarkan. Di lain pihak komunikasi bisnis yang tidak efektif sangat mahal “biayanya.”
Ia dapat menurunkan citra perusahaan, memboroskan jam kerja dan menjauhkan
pelanggan.
2016
10
Teori Komunikasi
Sugihantoro, S.Sos, M.IKom
Pusat Bahan Ajar dan eLearning
http://www.mercubuana.ac.id

Manfaat Bagi Para Staf dan Eksekutif
Bagi para staf dan eksekutif yang dalam menjalankan tugasnya lebih memerlukan
pikiran daripada tenaga, kemampuan berkomunikasi secara efektf dapat menunjang
perkembangan karir pekerjaan mereka. Secara rata-rata para anggota manajemen dan
eksekutif perusahaan menghabiskan 60 sampai 80 persen hari-hari kerja mereka untuk
berkomunikasi (berdiskusi, menghadiri rapat, ceramah, berbicara melalui telepo,
teleconference, korenpondensi dan sebagainya). Oleh karena itu kinerja mereka banyak
dipengaruhi kemampuanya berkomunikasi.
Dalam bukunya Effective Business Communication, Prof. Herta A. Murphy, University of
Washington, USA mengutarakan ada delapan factor yang dipergunakan banyak
pimpinan perusahaan di Amerika Serikat sebagai bahan pertimbangan mempromosikan
jenjang karir eksekutif mereka. Walaupun yang diutarakan Prof. Murphy tersebut
dipergunakan di Amerika Serikat, namun dalam banyak hal ia juga dapat diterapkan
banyak negara lain termasuk Indonesia. Adapun bahan pertimbangan promosi jenjang
karir tersebut adalah sebagai berikut:
1) Kemampuan bekerja keras (hard worker)
2) Kemampuan manajemen (managerial ability)
3) Kepercayaan diri (self confidence)
4) Kemampuan mengambil keputusan yang sehat (making sound decisions)
5) Latar belakang pendidiakn akademis (college education)
6) Kemampuan berkomunikasi secara efektif (ability to communicate effectively)
7) Berpenampilan menarik (good appearance)
Dari daftar syarat promosi di atas Nampak kemampuan berkomunikasi secara efektif
merupakan salah satu bahan pertimbangan. Kemampuan berkomunikasi secara
efektif (terutama komunikasi verbal) juga menjadi salah satu syarat keberhasilan
menjalankan pekerjaan atau jabatan tertentu. Contoh jenis pekerjaan tersebut antara
lain pengacara, politikus, diplomat, wartawan, tenaga pengajar, tenaga riset
lapangan, konsultan, public auditor, manajer pemasaran, manajer penjualan,
resepsionis dan sales executive.
1.4.2. Bentuk-Bentuk Komunikasi Bisnis Modern
Menurut Sutojo dan Setiawan, dalam masyarakat modern komunikasi bisnis di dalam
maupun ke luar perusahaan dilakukan dalam tiga bentuk antara lain:
1) Komunikasi lisan (oral atau verbal communications)
2016
11
Teori Komunikasi
Sugihantoro, S.Sos, M.IKom
Pusat Bahan Ajar dan eLearning
http://www.mercubuana.ac.id
Komunikasi lisan juga disebut komunikasi verbal (verbal; ata oral communications)
dan dipergunakan baik antar individu di dalam organisasi maupun dengan individu di
luar perusahaan. Komunikasi verbal dilakukan untuk berbagai macam tujuan, antara
lain:
o
Penyampaian perintah, penjelasan dan bimbingan tugas kepada bawahan
o
Presentasi bisnis di depan forum atau audience
o
Presentasi subyek tertentu di depan rapat atau pertemuan formal lainnya
o
Berbagai macam wawancara
o
Pembicaraan bisnis melalui telepon dan teleconference
2) Komunikasi tertulis (written communications), dan
Seperti halnya komunikasi verbal komunikasi tertulis dilakukan baik antar individu
dan bagian adlam struktur organisasi perusahaan maupun dengan pihak ketiga.
Komunikasi tertulis dilakukan dalam berbagai macam bentuk dan tujuan, antara lain:
o
Formulir, memorandum, surat penugasan – terutama untuk menjalankan
kegiatan di dalam perusahaan
o
Surat, telefax letters, email, telex – terutama untuk korespondensi dengan
pihak ketiga dan antar bagian perusahaan yang terpisah oleh jarak jauh.
o
Laporan formal – sebagai bahan masukan untuk menyusun strategi, rencana
kerja atau pengambilan keputusan.
o
Naskah, hands-out, kertas kerja.
o
Sarana promosi – brosur, prospectur, iklan, spanduk, poster, baliho.
3) Komunikasi dengan sinyal atau alat peraga (visual communications)
1.4.3. Persyaratan Komunikasi Bisnis yang Efektif
Mutu komunikasi bisnis ditentukan oleh dua macam faktor yaitu:
1) Sikap positif para pemberi pesan
Sikap berkomunikasi bisnis mempunyai kontribusi penting dalam membangun citra.
Perusahaan yang pimpinan dan eksekutifnya mampu berkomunikasi secara
professional akan menciptakan citra organisasi
yang mereka wakili sebagai
perusahaan yang professional. Sebaliknya pimpinan, eksekutif dan staf perusahaan
yang menunjukkan sikap dominan, memaksanakn kehendak, arogan atau tidak
menguasai subyek yang disampaikan, dapat meciptaka citra perusahaan yang tidak
professional. Setiap orang pimpinan, eksekutif dan
karyawan peruashaan wajib
memiliki sikap positif. Mereka harus sadar atas peranannya untuk memperoleh
pemahaman makna pesan yang mereka berikan kepada pendengar atau pembaca
pesan itu. Selanjutnya mereka harus mampu memperoleh tanggapan atau reaksi
dari penerima pesan seperti yang diharapka perusahaannya.
2016
12
Teori Komunikasi
Sugihantoro, S.Sos, M.IKom
Pusat Bahan Ajar dan eLearning
http://www.mercubuana.ac.id
Sikap positif tersebut tidak hanya ditunjukkan pada aat mereka menjalankan tugas
penting (misalnya memenangkan tender penjualan barang), melainkan juga selama
menjalankan tugas rutin dengan orang-orang dari luar perusahaan. Hal ini
disebabkan karena kumulasi kesan terhadap sikap dari deretan komunikasi rutin,
juga menimbulkan kesan tertentu terhadap citra perusahaan.
Ciri sikap positif berkomunikasi yang lain adalah kompeten, antusias, dan penuh
perhatian kepada penerima pesan. Sebagai contoh seorang pembicara atau penulis
yang efektif tidak pernah merasa bosan menjawab pertanyaan-pertanyaan yang
sama atau serupa dari penanya yang berlainan. Sikap positif juga harus dimiliki para
karyawan yang menjalankan tugas kehumasan dan yang menjalankan tugas
melayani pembeli da pelanggan.
2) Memenuhi syarat-syarat khusus
Di samping mempersiapkan diri dengan baik untuk menjadi komunikator bisnis yang
efektif diperlukan syarat-syarat khusus sebagai berikut:
o
Cerdas, kaya bahan pertimbangan yang sehat dalam memilih topik atau fakta
yang perlu dikemukakan selama berkomunikasi.
o
Sabar dan penuh pengertian; bahkan pada saat-saat menghadapi orangorang yang perangainya tidak terpuji sekalipun.
o
Jujur, mempunyai integritas yang tinggi.
o
Menguasai subyek dan Bahasa yang dipergunakan selama berkomunikasi.
o
Memiliki pengetahuan dasar tentang proses komunikasi dan metode-metode
memberikan dan menerima pesan secara efektif.
1.5. Komunikasi Politik
Dalam perkembangannya komunikasi telah diaplikakasikan dalam berbagai konteks
kehidupan dan berbagai kepentingan. Pada awalnya menurut Effendy, komuikasi diartikan
sebagai suatu proses penyampaian suatu pesan dalam bentuk lambang bermakna sebagai
panduan pikiran dan perasaan berupa ide, informasi, kepercayaan, harapan, imbauan; yang
dilakukan seseorang kepada orang lain secara tatap muka maupun tidak langsung, melalui
media, dengan tujuan mengubah sikap, pandangan, ataupun perilaku. Harold Laswell
sebagaimana dikutip Purba (2007:30) menyatakan bahwa komunikasi adalah penjelasan
mengenai siapa yang mengatakan apa melalui saluran apa kepada siapa dengan efek apa
(who says what in which channel to whom with what effect).
Michael Rush dan Philip Althoff mendefinisikan komunikasi politik sebagai suatu
proses di mana informasi politik yang relevan diteruskan dari satu bagian sistem politik
kepada bagian lainnya, dan di antara sistem-sistem sosial dengan sistem-sistem politik.
2016
13
Teori Komunikasi
Sugihantoro, S.Sos, M.IKom
Pusat Bahan Ajar dan eLearning
http://www.mercubuana.ac.id
Proses ini terjadi secara berkesinambungan dan mencakup pola pertukaran informasi di
antara individu-individu dengan keompok-kelompoknya pada semua tingkatan.
Berdasarkan pendapat Cangara (2009:63), komunikasi politik merupakan sebuah
studi interdisipliner yang dibangun atas berbagai macam disiplin ilmu, terutama yang
memiliki keterkaitan antara proses komunikasi dan proses politik. Cangara menambahkan
bahwa komunikasi yang membicarakan tentang politik kadang diklaim sebagai studi tentang
aspek-aspek politik dari komunikasi publik, dan sering dikaitkan sebagai komunikasi
kampanye pemilu karena mencakup masalah persuasi terhadap pemilih, debat antar
kandidat, dan penggunaan media massa sebagai alat kampanye.
Menurut Gabriel Almond dalam bukunya ”The Politic of the Development Areas”
tahun 1960, komunikasi politik adalah salah satu fungsi yang selalu ada dalam sistem politik.
Komunikasi politik bukan fungsi yang dapat berdiri sendiri karena komunikasi politik
merupakan proses penyampaian pesan yang terjadi pada saat berjalannya fungsi-fungsi
yang lain.
Selanjutnya unsur-unsur komunikasi politik sebagaimana di jelaskan Cangra, antara
lain sebagai berikut :
1) Komunikator Politik
Komunikator politik tidak hanya menyangkut partai politik, melainkan juga lembaga
pemerintahan legislatif dan esekutif.
2) Pesan Politik
Merupakan pernyataan yang disampaikan, baik secara tertulis maupun tidak tertulis,
baik secara verbal maupun non verbal. Tersembunyi maupun terang-terangan, baik
yang disadari maupun tidak disadari yang isinya mengandung bobot politik.
3) Saluran atau Media Politik
Saluran atau media politik ialah alat atau sarana yang digunakan oleh para
komunikator dalam penyampaian pesan-pesan politiknya.
4) Sasaran atau Target Politik
Sasaran adalah anggota masyarakat yang diharapkan dapat memberi dukungan
dalam bentuk pemberian suara kepada partai atau kandidat dalam pemilihan umum.
5) Pengaruh atau Efek Komunikasi Politik
Efek komunikasi politik yang diharapkan adalah terciptanya pemahaman terhadap
sistem pemerintahan dan partai-partai politik, di mana nuansanya akan bermuara
pada pemberian suara dalam pemilihan umum.
1.5.1. Fungsi Komunikasi Politik
Komunikasi politik memiliki fungsi-fungsi yang dapat dijelaskan sebagai berikut :
1) Sosialisasi politik (Socialization Political)
2016
14
Teori Komunikasi
Sugihantoro, S.Sos, M.IKom
Pusat Bahan Ajar dan eLearning
http://www.mercubuana.ac.id
Merupakan suatu proses yang dilalui seseorang dalam memperoleh sikap dan orientasi
terhadap fenomena politik yang ada dalam masyarakat tempat orang itu berada.
2) Rekrutmen Politik (Recruitment)
Adalah fungsi komunikasi politik dalam penyeleksian untuk kegiatan politik dan jabatan
pemerintahan melalui penampilan dalam media komunikasi, menjadi anggota
organisasi, mencalonkan diri untuk jabatn tertentu. Ada tiga tahapan, mempengaruhi
orang lain untuk menjadi kader, membina loyalitas kader dan menproyeksikan kader
untuk terlibat dan intensif mewakili organisasi di dalam jabatan-batan politik.
3) Artikulasi Kepentingan (Interest Articulation)
Merupakan proses yang mengolah aspirasi masyarakat yang bercorak ragam yang
disaring dan dirumuskan dalam bentuk rumusan yang teratur.
4) Agregasi Kepentingan (Interest Agregations)
Merupakan fungsi yang menggabungkan berbagai kepentingan yang sama atau hampir
sama untuk dituangkan dalam rumusan kebijaksanaan lebih lanjut. Dengan demikian
agregasi kepentingan ini bukan lagi kepentingan orang per orangan atau kelompok
akan tetapi kepentingan masyarakat.
5) Pembuatan Aturan (Rule Making)
Merupakan fungsi yang dijalankan oleh lembaga legislatif, untuk menjalankan fungsi ini
legislatif dapat bekerjasama dengan lembaga eksekutif.
6) Penerapan Aturan (Rule Application)
Fungsi komunikasi politik ini dijalankan oleh lembaga eksekutif beserta jajaran
birokrasinya. Tidak hanya berarti pelaksanaan peraturan sebagai pedoman perilaku,
tetapi juga berarti pembuatan rincian dan pedoman pelaksanan aturan.
7) Penghakiman Aturan (Rule Adjudication)
Merupakan
fungsi
untuk
menyelesaikan
pertikaian
atau
persengketaan
yang
menyangkut persoalan aturan, pelanggaran aturan dan penegasan fakta-fakta yang
perlu untuk mendapatkan keadilan.
1.5.2. Saluran Komunikasi Politik
Saluran-saluran komunikasi politik berdasarkan penjelasan Almond dan Powell
adalah sebagai berikut:
a) Struktur wawanmuka (face-to face) informal, yaitu : merupakan saluran yang
efektif dalam penyampaian pesan-pesan politik. Di samping struktrur yang formal
dalam
sebuah
organisasi,
selalu
terdapat
struktur
informal
yang
“membayangi”nya. Saluran ini bersifat bebas dalam arti tidak terikat oleh struktur
formal, namun tidak semua orang dapat akses ke saluran ini dalam kadar yang
2016
15
Teori Komunikasi
Sugihantoro, S.Sos, M.IKom
Pusat Bahan Ajar dan eLearning
http://www.mercubuana.ac.id
sama.
b) Struktur sosial tradisional, yaitu sebuah saluran komunikasi yang ditentukan oleh
posisi sosial pihak yang berkomunikasi (khalayak atau sumber). Artinya, pada
lapis mana yang bersangkutan berkedudukan dan (tentunya akan menentukan
pula) akses disusunan sosial masyarakat tersebut.
c) Struktur
masukan
(input)
politik,
yaitu
:
struktur
yang
memungkinkan
terbentuknya / dihasilkannya input bagi sistem politik yang dimaksud. Yang
termasuk struktur input adalah serikat pekerja, kelompok-kelompok kepentingan,
dan partai politik.
d) Struktur output, yaitu : struktur formal dari pemerintah. Struktur pemerintahan
khususnya
birokrasi,
memungkinkan
pemimpin-pemimpin
politik
megkomunikasikan petunjuk bagi pelaksanaan peraturan-peraturan untuk
bermacam pemegang jabatan politik dengan cara yang efisien dan jelas.
e) Saluran media massa adalah saluran yang penting dalam sebuah komunikasi
politik. Media massa selalu mempunyai peranan tertentu dalam menyalurkan
pesan, informasi, dan political content di tengah masyarakat. Serta sangat terkait
akan pembentukan opini publik.
f)
1.6. Komunikasi Internasional
Terdapat berbagai pendapat mengenai definisi komunikasi internasional. Menurut
Sumarno AP menjelaskan
bahwa komunikasi internasional adalah komunikasi antar
bangsa-bangsa yang berada dalam lingkup negara nasional dengan menggunakan pesanpesan komunikasi yang menyangkut kepentingan diantara bangsa-bangsa yang berada
dalam proses komunikasi tersebut. Dalam komunikasi internasional terdapat unsur-unsur
kepentingan antar negara secara timbal balik, sehingga terdapat kecenderungan untuk
saling menumbuhkan pengertian dan saling meyakinkan serta tidak mustahil untuk saling
mempengaruhi.
Sementara menurut Onong Uchjana Effendy, komunikasi internasional adalah
komunikasi yang dilakukan komunikator yang mewakili suatu negara untuk menyampaikan
pesan-pesan yang bekaitan dengan berbagai kepentingan negaranya kepada komunikan
yang mewakili negara lain dengan tujuan untuk memperoleh dukungan, bantuan, dan kerja
sama, melalui berbagai media komunikasi atau media massa internasional.
Selanjutnya jika dilihat dari pelakunya, komunikasi internasional dapat dipandang
sebagai terbagi antara:
1) Official Transaction,
Yakni kegiatan komunikasi yang dijalankan pemerintah.
2016
16
Teori Komunikasi
Sugihantoro, S.Sos, M.IKom
Pusat Bahan Ajar dan eLearning
http://www.mercubuana.ac.id
2) Unofficial Transaction atau disebut juga interaksi transasional
Yakni kegiatan komunikasi yang melibatkan pihak non-pemerintah.
Menurut Liliweri studi mengenai komunikasi internasional disandarkan atas
pendekatan-pendekatan maupun metodologi sebagai berikut:
1) Pendekatan peta bumi (geographical approach)
2) Pendekatan media (media approach)
3) Pendekatan peristiwa (event approach)
4) Pendekatan ideologis (ideologi approach)
Terdapat tiga perspektif yang dipelajari dalam komunikasi internasional antara lain :
1) Perspektif Diplomatik.
Dilakukan secara interpersonal atau kelompok kecil (small group) lewat jalur
diplomatik; komunikasi langsung antara pejabat tinggi negara untuk bekerjasama
atau menyelesaikan konflik, memelihara hubungan bilateral atau multilateral,
memperkuat posisi ataupun meningkatkan reputasi negara di tengah pergaulan
internasional.
2) Perspektif Jurnalistik.
Dilakukan melalui saluran media massa. Karena arus informasi didominasi negara
maju, ada penilaian komunikasi internasional dalam perspektif ini didominasi negara
maju, juga dijadikan negara maju sebagai alat kontrol terhadap kekuatan sosial yang
dikendalikan kekuatan politik dalam percaturan politik internasional. Penguasa arus
informasi menjadi gatekeeper yang mengontrol arus komunikasi. Jalur jurnalistik ini
juga sering digunakan untuk tujuan propaganda dengan tujuan mengubah kebijakan
dan kepentingan suatu negara atau memperlemah posisi negara lawan.
3) Perspektif Propagandistik.
Pada umumnya dilakukan melalui media massa, ditujukan untuk menanamkan
gagasan ke dalam benak masyarakat negara lain dan dipacu sedemikian kuat agar
mempengaruhi pemikiran, perasaan, serta tindakan; perolehan atau perluasan
dukungan, penajaman atau pengubahan sikap dan cara pandang terhadap suatu
gagasan atau peristiwa atau kebijakan luar negeri negara tertentu. Propaganda
merupakan instrumen sangat ampuh untuk memberikan pengaruh.
Fungsi dari komunikasi internasional dapat dijelaskan sebagai berikut :
1) Mendinamisasikan hubungan internasioanl yang terjalin antara dua negara atau lebih
serta hubungan di berbagai bidang antara kelompok-kelompok masyarakat yang
berbeda negara/kebangsaan.
2016
17
Teori Komunikasi
Sugihantoro, S.Sos, M.IKom
Pusat Bahan Ajar dan eLearning
http://www.mercubuana.ac.id
2) Membantu/menunjang upaya-upaya pencapaian tujuan hubungan internasioanl
dengan meningkatkan kerjasama internasional serta menghindari terjadinya konflik
atau kesalahpahaman baik antara pemerintah dengan pemerintah maupun antar
penduduk .
3) Merupakan teknik untuk mendukung pelaksanaan politik luar negeri bagi masingmasing negara untuk memperjuangkan pencapaian kepentingan di negara lain.
***
2016
18
Teori Komunikasi
Sugihantoro, S.Sos, M.IKom
Pusat Bahan Ajar dan eLearning
http://www.mercubuana.ac.id
Daftar Pustaka
Cangara, Hafied. 2009. Komunikasi Politik; Konsep Teori dan Strategi. Jakarta: PT.
Raja Grafindo Persada.
Effendy, Onong Uchjana. 2006. Ilmu Komunikasi; Teori dan Praktek. Bandung: Remaja
Rosda Karya
Litteljohn, Stephen W. 2009. Teori Komunikasi; Theories of Human
Communication.
Terjemahan oleh Mohammad Yusuf Hamdan.
Jakarta: Salemba Empat.
Mohammad, Shoelhi. 2009. Komunikasi Internasional Perspektif Jurnalistik. Bandung:
Simbiosa
Rekatama Media
Pace, R. Wayne & Don F. Faules. 2005. Komunikasi Organaisasi: Strategi
Meningkatkan
Kinerja Perusahaan. Terjemahan oleh Deddy
Mulyana.
Bandung: PT. Remaja Rosdakarya.
Rohim, Syaiful. 2009. Teori Komunikasi; Perspektif, Ragam, dan
Jakarta: Rineka
Cipta.
Aplikasi.
Rudy, T. May. 2005. Komunikasi & Hubungan Masyarakat Internasional Bandung:
Refika Aditama.
2016
19
Teori Komunikasi
Sugihantoro, S.Sos, M.IKom
Pusat Bahan Ajar dan eLearning
http://www.mercubuana.ac.id
Download