Inovasi Tenaga Kependidikan Khususnya Guru

advertisement
ISSN 0215 - 8250
180
INOVASI KEMAMPUAN GURU DALAM
KEGIATAN BELAJAR MENGAJAR DI SEKOLAH DASAR
oleh
Subiyat Tartono
Jurusan Teknologi Pendidikan
Fakultas Ilmu Pendidikan, IKIP Negeri Singaraja
ABSTRAK
Karya tulis ini bertujuan untuk memberikan sumbangan pikiran bagi
guru-guru Sekolah Dasar. Pembahasan dalam karya tulis ini difokuskan
pada pembaharuan kegiatan belajar mengajar di Sekolah Dasar, khususnya
yang berkaitan dengan metode penyampaian bahan pelajaran kepada siswa
Sekolah Dasar. Adapun isi secara garis besar tulisan ini meliputi :
Pendahuluan, Pengertian Inovasi, Tenaga Kependidikan, Kegiatan Belajar
Mengajar, Mengajar dengan Sistem Tradisional, Inovasi Metode Belajar
Mengajar yang mempunyai cakupan cara belajar siswa aktif dan
keterampilan proses, serta strategi belajar mengajar secara garis besar. Hasil
pembahasan menunjukkan arti pentingnya inovasi dalam kegiatan belajar
mengajar sebagai upaya mengejar ketertinggalan di bidang ilmu
pengetahuan aibat adanya kemajuan teknologi dan kecakapan hidup.
Kata kunci : inovasi, pembelajaran, profesi guru, proses belajar, hasil
belajar
ABSTRACT
This work aims at giving contribution in the form of ideas to primmary
school teacher wherever they live. The discussion in this work is focused to
the discussion of learning and teaching at the primmary scholl, especially in
relation to methodology of material delivery to the primmary school
____________ Jurnal Pendidikan dan Pengajaran IKIP Negeri Singaraja, No. 1 TH. XXXIX Januari 2006
ISSN 0215 - 8250
181
student. In general this essay covers : introduction, the meaning of
innovation, educators, learning, and teaching aktivities, theaching with the
traditional system, innovation in learning and teaching method which cover
student active learning and process skill, and learning and teaching
strategies. The results of discussion show the importance of innovation in
learning and teaching activities as and effort to make up for being behind
the time in knowledge as the effect of progress in technology and live
skills.
Key words : inovation, instruction, teacher profession, learning process,
achievement.
1. Pendahuluan
Kegiatan belajar mengajar sebagai suatu sistem, selalu mendapat
perhatian, baik di lingkungan keluarga, sekolah, maupun masyarakat pada
ummnya. Meskipun demikian, tamatan pendidikan guru belum sepenuhnya
bisa meningkatkan mutu seperti yang dicita-citakan . Hal ini dapat
dipahami karena masalah mutu pendidikan sangat dipengaruhi oleh banyak
faktor, antara lain kualitas guru, siswa, metode, alat, sarana dan prasarana
belajar, kurikulum, biaya, media, serta fasilitas lingkungan pendidikan.
Salah satu faktor yang penting bagi tercapainya tujuan pendidikan
secara maksimal adalah guru. Hal ini senada dengan pernyataan yang
berbunyi “Di tangan gurulah terletak berhasil atau tidaknya peningkatan
mutu pendidikan di Sekolah Dasar” (Ansyar dan Nurtain, 1992:105).
Senada dengan itu, Sucipto dan Mukti, (1992:159) menegaskan bahwa guru
memegang kunci informasi tentang hal-hal yang berkaitan dengan kelas
yang dibinanya. Pandangan lain menyatakan bahwa peranan guru dalam
____________ Jurnal Pendidikan dan Pengajaran IKIP Negeri Singaraja, No. 1 TH. XXXIX Januari 2006
ISSN 0215 - 8250
182
pembelajaran belum dapat diganti oleh mesin pengajar, tape recorder,
komputer dan lain-lain (Arbi dan Syahrun, 1992:129). Berdasarkan atas
uraian-uraian tersebut dapat dikatakan bahwa betapa pentingnya peranan
guru terhadap siswa.
Kondisi semacam ini memberi gambaran kepada kita, betapa
besarnya harapan masyarakat terhadap guru, dalam membawa anak
didiknya ke masa depan yang lebih baik, sehingga mampu menciptakan
insan pembangunan yang cerdas, terampil berbudi pekerti luhur. Namun
demikian, kenyataan di lapangan menunjukkan hal-hal yang sangat jauh
dari apa yang menjadi cita-cita bangsa Indonesia. Hal ini antara lain
ditunjukkan oleh kenyataan di lapangan, rendahnya Nilai Ebtanas Murni
(NEM) para siswa mulai jenjang Pendidikan Dasar dan Menengah, serta
meningkatnya kemerosotan moral sehingga terjadi hal-hal yang kurang
terpuji. Sementara itu, munculnya inovasi-inovasi untuk memperluas
program wajib belajar di daerah terpencil dengan kelompok-kecil misalnya,
sebagaimana ditemukan Sarna (1997:9) juga memerlukan pendekatan
khusus yang berbeda dengan sekolah normal di wilayah yang lebih maju.
Kenyataan tersebut, dapat menjadi petunjuk bahwa guru perlu
meningkatkan kemampuan dan perhatiannya terhadap aktivitas dan kualitas
proses pembelajaran yang ada. Seharusnya dalam kegiatan belajar mengajar
para guru dapat menggunakan berbagai macam pendekatan dan cara, agar
proses dan hasil pembelajaran dapat dicapai secara optimal. Apabila
pendekatan dan cara pembelajaran yang ditempuh oleh guru dapat
terlaksana dengan baik, kemungkinan besar kualitas hasil belajar para siswa
dapat ditingkatkan. Kegiatan semacam itu hanya akan dapat berjalan
dengan baik, apabila para guru mau mengembangkan diri, dan berusaha
____________ Jurnal Pendidikan dan Pengajaran IKIP Negeri Singaraja, No. 1 TH. XXXIX Januari 2006
ISSN 0215 - 8250
183
secara maksimal mendayagunakan seluruh potensi yang dimilikinya.
Kegiatan belajar mengajar akan dapat berjalan secara optimal, apabila guru
dapat melibatkan seluruh komponen dari sistem pembelajaran tersebut.
Proses dan hasil belajar akan menjadi efektif dan efisien apabila dibarengi
dengan ide atau gagasan-gagasan baru, daya aktivitas dan kreativitas guru
yang tinggi.
2. Pembahasan
2.1 Inovasi Tenaga Kependidikan
Inovasi, secara teoretik-konseptual dapat dijelaskan sebagau suatu
ide atau gagasan yang baru dalam konteks sosial tertentu. Sesuatu yang
baru itu mungkin sudah lama dikenal, tetapi belum dilakukan perubahan
(Ansyar dan Nurtain, 1992:31). Pendapat lain menyebutkan bahwa inovasi
adalah suatu pengenalan hal-hal yang baru, masukan, pembaharuan,
penemuan baru dari hal-hal yang sudah ada atau dikenal sebelumnya, baik
berupa gagasan, metode maupun alat (Depdikbud, 1990 : 333).
Inovasi merupakan suatu usaha untuk menemukan sesuatu yang
baru dengan melakukan kegiatan invention dan discovery. Invention adalah
suatu penemuan yang benar-benar baru, belum pernah ada. Discovery
adalah suatu penemuan sesuatu benda, dan sesuatu itu memang telah ada
sebelumnya (Subandijah, 1992:80). Ibrahim (1989) mengatakan, bahwa
inovasi adalah penemuan yang dapat berupa ide, barang, kejadian , metode
yang diamati sebagai sesuatu hal yang baru bagi seseorang atau
sekelompok orang (masyarakat). Berdasarkan atas beberapa uraian tersebut,
dapat disimpulkan bahwa inovasi adalah suatu penemuan baru, baik
____________ Jurnal Pendidikan dan Pengajaran IKIP Negeri Singaraja, No. 1 TH. XXXIX Januari 2006
ISSN 0215 - 8250
184
invention maupun discovery, maupun berupa ide (gagasan), metode dann
alat.
Dalam kaitannya dengan inovasi tenaga kependidikan guru,
Undang-Undang tentang Sistem Pendidikan Nasional (2003) dijelaskan
bahwa yang dimaksud tenaga kependidikan adalah meliputi tenaga
pendidik, pengelola satuan pendidikan, penilik, pengawas, peneliti,
pengembang pendidikan, pustakawan, laboran dan teknisi sumber belajar.
Adapun tugas-tugas tenaga kependidikan dijelaskan pada pasal 27 ayat 1
antara lain, melakukan kegiatan mengajar, meneliti, melatih,
mengembangkan, mengelola, dan memberikan pelayanan teknis dalam
bidang pendidikan.
Pada pasal lain, ditegaskan pula bahwa setiap tenaga kependidikan
berkewajiban membina loyalitas pribadi peserta didik terhadap ideologi
negara Pancasila dan UUD 1945, menjunjung tinggi kebudayaan bangsa,
memiliki tanggung jawab pengabdian dan meningkatkan kemampuan
profesional, sesuai dengan tuntutan perkembangan ilmu pengetahuan dan
teknologi. Berdasarkan atas uraian-uraian tersebut, dapat disimpulkan
bahwa tenaga kependidikan meliputi, tenaga-tenaga edukatif dan non
edukatif yang memiliki peranan yang amat kompleks, baik kegiatan belajar
mengajar, pelatihan, penelitian, pengembangan, pengelolaan maupun
layanan teknisi dalam bidang pendidikan. Atas dasar pengertian tersebut,
tampaknya guru sebagai salah satu bagian dari tenaga kependidikan,
kecuali tugas sehari-hari mengajar, mempunyai tugas lain, seperti
melakukan kegiatan pelatihan, penelitian, pengembangan, pengelolaan
ataupun layanan teknisi pendidikan lainnya.
____________ Jurnal Pendidikan dan Pengajaran IKIP Negeri Singaraja, No. 1 TH. XXXIX Januari 2006
ISSN 0215 - 8250
185
2.2 Inovasi Pembelajaran di Sekolah
Sebagaimana dijelaskan Suharsono (2001), pembelajaran adalah
kegiatan penciptaan situasi yang memungkinkan terjadinya tindak belajar
secara optimal. Optimalisasi tindak belajar itu bisa terjadi karena adanya
rancangan skenario kegiatan belajar dan variasi pola interaksi yang
memungkinkan siswa berkembang segenap kecakapan intelektual dan
kecerdasan emosionalnya secara optimal. Interaksi itu bisa terjadi antara
guru, siswa, bahan dan media belajar secara teratur dalam rangka mencapai
tujuan (Moedjiono dan Dimyati, 1992:1).
Kegiatan belajar mengajar secara empirik merupakan wujud dari
interaksi antara guru dengan siswa dalam prosedur intruksional (Hasibuan
dan Moedjiono, 1986 : 3). Kegiatan belajar mengajar diartikan sebagai
hubungan interaktif antara guru dengan siswa, siswa dengan siswa
(Roestiyah, 1986:44). Berdasarkan atas pengertian-pengertian tersebut
dapat disimpulkan bahwa kegiatan belajar mengajar merupakan pola umum
hubungan antara guru dengan siswa, siswa dengan siswa yang didukung
oleh semua komponen belajar mengajar, untuk mencapai hasil belajar yang
diinginkan. Hasil yang diharapkan bisa memiliki dampak pengajaran dan
dampak pengiring secara berkesinambungan di sepanjang hayat, termasuk
didalamnya siswa dapat berpikir kritis, kreatif, aktif, sopan, dan terampil.
Jika ditelusur sejarah pendidikan ke belakang dapat diketahui bahwa
kebanyakan guru SD mengajar sampai saat ini, menggunakan metode
ceramah, serta didasarkan pada satuan pelajaran yang disusun sedemikian
rupa atas dasar buku paket yang disajikan oleh Departemen Pendidikan
Nasional. Kegiatan itu tidak ada salahnya, sepanjang tidak menyimpang
dari kurikulum, dan Garis Besar Program Pengajaran sebagai bahan
____________ Jurnal Pendidikan dan Pengajaran IKIP Negeri Singaraja, No. 1 TH. XXXIX Januari 2006
ISSN 0215 - 8250
186
acuannya. Namun demikian, perlu diingat bahwa guru memiliki
kewenangan untuk memilih bahan-bahan yang cocok (relevan) dengan
kepentingan para siswa. Jadi, sebenarnya proses belajar mengajar tersebut
bersifat fleksibel. Artinya, selaras dengan situasi, kondisi, kebutuhan,
tuntutan dengan kepentingan serta metode dan media yang tepat. Dengan
kata lain, secara singkat dapat dijelaskan bahwa cara tradisional semacam
itu harus diperbaharui melalui inovasi-inovasi tertentu agar hasil dapat
dicapai secara maksimal dan optimal.
Untuk meningkatkan kualifikasi dan kemampuan guru di Sekolah
Dasar, guru yang kreatif dan inovatif dapat melakukan inovasi dalam
metode belajar mengajar dalam berbagai macam metode, strategi,
pendekatan, dan dan model pembelajaran inovatif, seperti ceramah
bervariasi, CBSA, problem-solving, belajar penemuan, cooperatif learning,
social inquiry, dan model-model lain yang relevan dengan pokok dan topik
bahasan. Sebagaimana dipaparkan Santyasa (2005), paradigma baru
pembelajaran lebih meletakkan landasan bahwa belajar merupakan aktivitas
konstruktif siswa itu sendiri. Aktivitas pembelajaran itu akan terakomodasi
secara optimal jika didukung oleh keberadaan fasilitas dan produk-produk
pembelajaran yang memadai.
Untuk mewujudkan terjadinya proses belajar dan pembelajaran yang
optilan seperti itu, diperlukan sejumlah asumsi dan cara pandang tertentu
dari para guru, dan guru SD pada umumnya, tentang bagaimana
memperlakukan siswanya. Barikut ini disajikan beberapa pola perlakuan
guru kepada siswa agar inovasi pembelajaran di kelas dapat tercipta.
____________ Jurnal Pendidikan dan Pengajaran IKIP Negeri Singaraja, No. 1 TH. XXXIX Januari 2006
ISSN 0215 - 8250
187
2.2.1 Perlakuan Siswa Bermartabat
Dalam kegiatan ini guru harus memandang siswa sebagai sosok
insan yang bermartabat. Artinya, siswa harus dipandang sebagai individu
yang memiliki potensi untuk dikembangkan. Siswa harus diperlakukan
sebagai sosok manusia yang memiliki kepribadian. Dia lahir di dunia
memiliki pikiran, perasaan, keinginan, cita-cita, harga diri, bakat, minat,
kesadaran moral, daya imajinasi, dan lain-lain yang perlu dikembangkan.
Siswa senantiasa memerlukan bantuan, bimbingan dan pemikiranpemikiran yang dapat mendorong dirinya untuk maju dan berkembang.
Dalam tulisan ini sebagai contoh : apabila seorang guru menjumpai seorang
siswa yang menunjukkan nilai prestasi belajarnya selalu rendah, ini bukan
berarti siswa tersebut harus mendapat caci maki dari guru tersebut, tetapi
hendaknya guru mencari sebab-sebab kesulitan belajar yang dialaminya.
Seharusnya guru tersebut mempunyai ide, gagasan, atau inisiatif untuk
mencari faktor penyebabnya.
Sejumlah kemungkinan sebab yang terjadi, hendaknya dikaji secara
mendalam letak kelemahannya. Apabila guru tersebut telah menemukan
kelemahan atau kekurangannya, maka akan dapat menemukan jalan
keluarnya, termasuk di dalamnya keengganan guru untuk menempatkan
siswa sebagai subjek belajar yang unik dan sebagai pribadi yang memiliki
banyak kelebihan dan kelemahan dari lahirnya.
Apabila guru memperhatikan anak didiknya, berarti guru itu
menghargai dan menghormati siswa. Menghargai dan memperlakukan
siswa secara manusiawi semacam ini menurut pendapat Brant dapat
membangkitkan semangat yang amat tinggi, sehingga merangsang siswa
untuk menjadi cerdas dan sikap mandiri yang andal (Ansyar dan Nurtain,
____________ Jurnal Pendidikan dan Pengajaran IKIP Negeri Singaraja, No. 1 TH. XXXIX Januari 2006
ISSN 0215 - 8250
188
1992:109). Memperlakukan siswa sebagai seorag “pribadi” berarti
menghargai siswa sebagai sosok bermartabat. Penghargaan itu jelas akan
bisa menjadi embrio kebaikan dan dapat menjadi titik tolak perkembangan
diri pribadi siswa untuk bersikap dan berpikir positif (positif thinking)
terhadap apa yang ada di lingkungan sekitar dan masyarakat pada
umumnya.
2.2.2 Latihan Berpikir Kritis
Tidak dapat disangkal lagi, bahwa sampai saat ini, kegiatan belajar
mengajar di Sekolah Dasar pada umumnya didominasi oleh guru kelas.
Kebanyakan siswa terkondisikan pasif. Budaya yang sudah lama berjalan,
adalah guru datang di dalam kelas menerapkan materi bahan dengan
ceramah. Siswa datang, duduk, diam dan mendengarkan. Keaktifan siswa
seolah-olah terfokus pada hal-hal yang tampak saja seperti : datang, duduk,
diam, mendengarkan keterangan guru. Dengan cara demikian, hal-hal yang
tidak tampak (abstark) sangat terkesampingkan seperti : berpikir kritis,
aktif, kreatif dan lain-lain. Atas dasar itulah diperlukan langkah baru
(inovasi), agar semua siswa tersebut melibatkan seluruh potensi yang
dimilikinya, baik secara fisik maupun mental. Untuk memenuhi aktivitas,
baik fisik maupun mental diperlukan cara-cara baru, yaitu dengan
pendekatan Cara Belajar Siswa Aktif (CBSA).
Apakah CBSA itu? Untuk menjawab pertanyaan tersebut, menurut
Nana Sujana (1988) CBSA adalah proses kegiatan belajar mengajar yang
subyek didiknya terlibat secara intelektual dan emosional, sehingga anak
didik benar-benar berperan secara aktif. (Dr. Subandijah, 1992 : 112).
Menurut Partika (dalam Subandijah,1992 : 12) CBSA adalah proses belajar
____________ Jurnal Pendidikan dan Pengajaran IKIP Negeri Singaraja, No. 1 TH. XXXIX Januari 2006
ISSN 0215 - 8250
189
mengajar yang menggunakan berbagai metode yang menitik beratkan pada
keaktifan fisik, mental, emosional, intelektual, untuk mencapai tujuan
pendidikan yang berhubungan dengan kawasan kognitif, afektif dan
psikomotor skill secara optimal. Dengan demikian, CBSA merupakan suatu
proses interaktif aktif seluruh potensi manusiawi siswa meliputi : emosi,
feeling, pikiran, nilai, moral, secara fungsional dalam menginternalisasi dan
mempersonalisasikan suatu tujuan pembelajaran yang diinginkan.
Dari sejumlah konsep dan pemikiran tersebut dapat diambil suatu
kesimpulan bahwa CBSA adalah suatu pendekatan yang diterapkan dalam
proses kegiatan belajar mengajar dengan menekankan pada keterlibatan
kemampuan peserta didik. Keterlibatan siswa itu bersifat multidimensional,
baik secara fisik, mental, intelektual maupun emosional sehingga hasil
belajar berupa aspek-aspek kognitif, afektif maupun psikomotor dalam
pribadi peserta didik dapat dicapai dengan baik.
2.2.3 Pendekatan Keterampilan Proses
Apa yang dimaksud pendekatan keterampilan proses itu?
Keterampilan proses adalah keterampilan-keterampilan memproses
perolehan (Semiawan, 1992 :18). Menurut pendapat Moedjiono dan
Dimyanti (1992:14) pendekatan keterampilan proses dapat diartikan
sebagai wawasan atau anutan pengembangan keterampilan-keterampilan
intelektual, sosial dan fisik yang bersumber dari kemampuan-kemampuan
mendasar yang pada prinsipnya telah ada dalam diri siswa.
Adapun keterampilan proses itu macamnya ada dua, yaitu basic
skills dan integrated skills. Basic skill atau keterampilan dasar meliputi
kegiatan : observasi, mengklasifikasi, memprediksi, mengukur,
____________ Jurnal Pendidikan dan Pengajaran IKIP Negeri Singaraja, No. 1 TH. XXXIX Januari 2006
ISSN 0215 - 8250
190
menyimpulkan dan mengkomunikasikan, sedangkan integrased skill atau
keterampilan
mengintegrasikan
meliputi
kegiatan-kegiatan
:
mengidentifikasi variabel, membuat tabulasi data, menyajikan data dalam
bentuk grafik, menggambarkan hubungan antara variabel, mengumpulkan
data dan mengolah data, menganalisis penelitian, menyusun hipotesis,
mendefinisikan variabel secara operasional merancang penelitian dan
melaksanakan eksperimen. Keterampilan proses itu dalam kajian-kajian
mutakhir, sebagaimana dipaparkan Santyasa (2005) termasuk dalam
rumpun model pembelajaran problem based instruktion dan model group
investigation. Hanya saja dalam pelaksanaannya parlu disesuaikan dengan
pokok-pokok bahasan dalam kurikulum SD. Adapun dalam pelaksanaannya
menuntut sejumlah keterampilan dasar untuk mengamati, menggolongkan,
menafsirkan, meramalkan, menerapkan, merencanakan penelitian dan
mengkomunikasikan hasilnya kepada guru dan kelompok kerja siswa di
kelas.
Atas dasar beberapa konsep tersebut, dapat disimpulkan bahwa
keterampilan proses adalah keterampilan yang diperoleh para siswa dalam
melaksanakan kegiatan observasi, klasifikasi, interprestasi, memprediksi
(meramalkan),
measurement
(pengukuran)
dan
komunikasi
(menghubungkan) terhadap suatu topik persoalan. Dalam konteks ini
pelaksanaannya disesuaikan dengan tingkat kemampuan para siswa dengan
sejumlah prasarat keterampilan dasar (basic skills) berpikir dan bertindak
yang memadai.
Dalam pengelolaan proses belajar-mengajar inovatif, ada banyak
faktor yang menjadi komponen-komponen proses tersebut, antara lain :
siswa, guru, tujuan, isi pelajaran, metode , media, evaluasi. Demikian pula
____________ Jurnal Pendidikan dan Pengajaran IKIP Negeri Singaraja, No. 1 TH. XXXIX Januari 2006
ISSN 0215 - 8250
191
apabila dilihat dari dimensinya maka terdapat tiga macam dimensi, yaitu
dimensi perencanaan dan pelaksanaan, dan evaluasi. Pada strategi dimensi
perencanaan, seorang guru dituntut untuk memikirkan dan mengupayakan
secara strategis merumuskan, memilih, dan menetapkan tentang aspekaspek dari komponen-komponen pembentukan sistem pengajaran yang ada
sehingga aspek-aspek yang diperlukan berinteraksi dan berintegrasi secara
konsisten.
Dalam kaitannya dengan pelaksanaan PBM, pembelajaran inovatif
mempersyaratkan adanya bermacam strategi belajar mengajar dalam
rentangan ekspositoris dan heuristik. Ekspositoris dimaksudkan suatu
strategi belajar mengajar yang menyiasati agar aspek-aspek pembentukan
sistem instruksional mengarah pada tercapainya isi pelajaran kepada siswa
secara langsung. Sedangkan, heuristik adalah suatu strategi belajar
mengajar yang menyiasati agar aspek-aspek pembentukan sistem
instruksional mengarah kepada keaktifan siswa untuk menemukan sendiri
fakta, prinsip dan konsep yang diperlukan oleh siswa. Berdasarkan uraian
tersebut, dapat dikatakan bahwa guru SD perlu memahami dan
melaksanakan strategi belajar mengajar yang tepat, agar tujuan dapat
dicapai dengan sebaik-baiknya.
Pada dimensi evaluasi, para guru dituntut untuk dapat melaksanakan
proses belajar mengajar secara baik, baik di dalam membuat persiapan
mengajar, maupun menentukan rumusan tujuan-tujuan pengajaran yang
diinginkan. Tujuan yang telah dirumuskan itu harus dievaluasi tingkat
keevektivan proses dan tingkat keoptimalan hasil-hasilnya. Evaluari proses
itu, sebagaimana dijelaskan Mardapi (2005), dapat dilakukan dengan
penerapan asesmen portofolio, yaitu suatu jenis evaluasi yang bersifat
____________ Jurnal Pendidikan dan Pengajaran IKIP Negeri Singaraja, No. 1 TH. XXXIX Januari 2006
ISSN 0215 - 8250
192
menyeluruh yang bisa mencakup pekerjaan rumah, tugas kelas, tes buatan
guru, komposisi atau karagan, presentasi, penyelidikan, ceklis pengamatan,
seni
visual, refleksi diri dan analisis ceklis, produk grup, bukti
keterampilan sosial, catatan anekdot, laporan naratif, hasil tes baku, photo,
dan unjuk kerja proyek siswa. Menurut Mardapi (2005:10), di Sekolah
Dasar portofolio bisa mencakup semua aspek tersebut, baik portifilio proses
maupun portofolio hasil-hasil belajar dan karya terbaik siswa.
3. Penutup
Berdasarkan hasil kejian pustaka di muka dapat disimpulkan bahwa
dalam proses pembelajaran di Sekolah Dasar, guru harus melaksanakan
sistem pembelajaran secara menyeluruh dengan menggunakan semua
komponen yang ada secara optimal. Untuk mendukung tugas profesinya,
guru memerlukan langkah-langkah pembaharuan dengan menggali ide-ide
baru yang inovatif, memupuk aktivitas dan kreativitas dalam proses
pembelajaran, serta mengkondisikan terjadinya tindak belajar yang optimal.
Aktivitas pembelajaran yang dilakukan oleh para guru harus tepat
pada sasaran, baik keterlibatan sasaran fisik maupun mental. Proses
pembelajaran yang ada harus berorientasi pada diri siswa, dan peranan guru
sebagai pembina, pelatih dan fasilitator. Tugas guru tidak hanya mendidik
dan mengajar, tetapi juga melakukan telaah, melatih, dan mengelola
kegiatan belajar-mengajar dengan memperlakukan siswa secara
bermartabat, memberi banyak latihan berpikir kritis, dan dengan
menerapkan pendekatan keterampilan proses agar bisa didapatkan hasil
belajar yang optimal sejalan dengan kemajuan teknologi dan kecamapan
hidup di masyarakat.
____________ Jurnal Pendidikan dan Pengajaran IKIP Negeri Singaraja, No. 1 TH. XXXIX Januari 2006
ISSN 0215 - 8250
193
DAFTAR PUSTAKA
Ansyar, Mohammad dan Nurtain, 1992. Pengembangan dan Inovasi
Kurikulum. Jakarta : Departemen Pendidikan dan Kebudayaan
Arbi,
Sutan Zanti dan Syahmiar Syahrun, 1992. Dasar-Dasar
Kependidikan. Jakarta : Departemen Pendidikan dan Kebudayaan
Conny R.Semiawan, 1992. Pendekatan Keterampilan Proses. Jakarta :
Grasindo
Hasibuan dan Moedjiono, 1986. Proses Belajar Mengajar. Bandung :
Remaja Karya
Mardapi, Djemari. 2005. Asesmen Portofolio. Makalah. Disampaikan pada
Seminar Lokakarya Asesmen Berbasis Kompetensi IKIPN
Singaraja, 28 Juli 2005.
Moedjiono dan Moh. Dimyati, 1992. Strategi Belajar Mengajar. Jakarta:
Departemen Pendidikan dan Kebudayaan
Mulyani Sumantri dan Johar Permana, 1998/1999. Strategi Belajar
Mengajar. Jakarta Depertemen Pendidikan dan Kebudayaan
Roestiyah, 1986. Masalah Pengajaran Sebagai Suatu Sistem. Jakarta : Bina
Aksara
Santyasa, Wayan. 2005. ‘Inovasi Pembelajaran’. Makalah disajikan dalam
Penataran guru-guru SD, SMP, SMA dan SMK se Kabupaten
Jembrana, Juni-Juli 2005
Sarna, Ketut. 1997. ‘Model Pengelolaan SD-Kelompok Kecil di Daerah
Sulit (Suatu Inovasi Kebijakan Pendidikan). Aneka Widya. Edisi
Khusus No. 2 (30): 1-15.
Subandijah, 1992. Pengembangan dan Inovasi Kurikulum. Jakarta :
Grafindo Persada
Sucipto dan Basori Mukti, 1991/1992. Administrasi Pendidikan. Jakarta:
Departemen Pendidikan dan Kebudayaan
____________ Jurnal Pendidikan dan Pengajaran IKIP Negeri Singaraja, No. 1 TH. XXXIX Januari 2006
ISSN 0215 - 8250
194
Suharsono, Naswan. 2002. Belajar dan Pembelajaran. Jakarta: PP3M
Direktorat Jenderal Pendidikan Tinggi, Departemen Pendidikan
Nasional
____________ Jurnal Pendidikan dan Pengajaran IKIP Negeri Singaraja, No. 1 TH. XXXIX Januari 2006
Download