masalah dan tantangan bagi perencanaan pengembangan guru

advertisement
ISSN 0215 - 8250
111
PENGEMBANGAN PROFESIONALISME
GURU PENDIDIKAN JASMANI DI ERA GLOBALISASI
oleh
I Nyoman Kanca
Fakultas Pendidikan Ilmu Keolahragaan, IKIP Negeri Singaraja
ABSTRAK
Guru pendidikan jasmani merupakan salah satu komponen utama dalam
proses pendidikan. Oleh sebab itu, berusaha memahami tantangan dan masalah
yang akan dihadapi oleh guru pendidikan jasmani pada masa depan merupakan
upaya yang baik untuk mengembangkan profesionalisme guru pendidikan jasmani
di era globalisasi. Peningkatan peranan dan pengembangan profesionalisme guru
pendidikan jasmani, di samping bergantung kepada program yang dibuat dan
dilaksanakan oleh pemerintah dan masyarakat, pada akhirnya lebih banyak
bergantung kepada inisiatif dan kemauan guru itu sendiri untuk meningkatkannya.
Tanpa kemauan dan penghayatan yang kuat serta kecintaan yang mendalam
terhadap profesi yang ditekuninya, maka hampir dapat dipastikan akan susah
terjadinya perkembangan suatu profesionalisme.
Untuk mengantisifasi
permasalahan yang dihadapi guru pendidikan jasmani di era globalisasi agar dapat
mengangkat harkat dan martabat profesinya, maka upaya untuk meningkatkan
peranan dan pengembangan profesionalisme guru pendidikan jasmani merupakan
upaya yang perlu dilakukan secara bersama-sama, baik oleh unsur pemerintah,
masyarakat, ataupun individu guru pendidikan jasmani itu sendiri.
Kata kunci: Profesionalisme, Guru
ABSTRACT
A physical education teacher serves as one of the main components in
educational process. Therefore, attempting to understand the chalanges and the
problems that will be faced by physical education teachers in the future, can be
considered as a goog effort in order to develop the professionalism of the physical
education teachers in globalization era. The increase of the role and development
of the physical education teacher professionalism, does not only depend on the
programs made and carried out by the government and the community, but it also
____ Jurnal Pendidikan dan Pengajaran IKIP Negeri Singaraja, Edisi Khusus TH. XXXVII Desember 2004
ISSN 0215 - 8250
112
depends mostly on the teachers inisiatives and willingness to increase it. Without
strong willingness and appreciation as well as deep love to the profession being
held, it can be said that there will be no development of professionalism. To
anticipate the problems faced by the teachers of physical education in
globalization era for the purpose of increasing their professional value and dignity,
an attempt to increase the role and professional development of physical education
teachers constitutes an effort necessarily to be done together by the government,
community, and theachers of physical education.
Key words: professionalism, teachers
1. Pendahuluan
Pada tahun 1998 Holton mengatakan bahwa globalisasi adalah satu
kesatuan dunia atau komunitas manusia yang di dalamnya secara regional,
nasional, dan elemen-elemen lokal diikat bersama dalam satu kesatuan yang saling
mendukung (dalam Hong F, 2003). Globalisasi yang termanifestasikan dalam
strukturnya melibatkan semua jaringan dengan tatanan global yang seragam dalam
pola hubungan yang sifatnya penetratif, kompetitif, rasional dan pragmatis
(Semiawan CR, 1997) dalam berbagai bidang kehidupan, terutama dalam dimensi
kebugaran, kesehatan, ekonomi dan budaya. Konsekuensinya adalah di dalam
berbagai penyiapan sumber daya manusia (SDM) harus bersifat realistis karena
globalisasi menjadi tantangan yang terkait dengan daya saing dan prakarsa, yaitu
kemampuan-kemampuan yang belum menjadi ciri budaya bangsa Indonesia, yang
mementingkan keselarasan dan keserasian (Semiawan CR, 1997).
Dalam menghadapi tantangan masa depan, perencanaan pengembangan
profesional guru pendidikan jasmani dan lembaga pendidikan tenaga kependidikan
(LPTK) harus diubah dari yang berwawasan mikro menjadi berwawasan makro,
antisipatif, ekstrapolatif, dan strategik (Depdikbud, 1995). Pendekatan makro
berarti memperluas cakupan wawasan dalam perencanaan pendidikan tenaga
kependidikan dengan meletakkan sistem pendidikan sebagai subsistem yang lebih
luas, yaitu sistem pembangunan ekonomi. Antisipatif berarti bahwa perencanaan
pendidikan tenaga kependidikan, termasuk guru pendidikan jasmani, bertumpu
____ Jurnal Pendidikan dan Pengajaran IKIP Negeri Singaraja, Edisi Khusus TH. XXXVII Desember 2004
ISSN 0215 - 8250
113
kepada tantangan-tantangan yang akan terjadi di masa depan, baik yang bersifat
internal ataupun eksternal. Eksploratif berarti bahwa dalam perencanaan
pendidikan guru pendidikan jasmani harus bertumpu kepada kenyataan hasil-hasil
pembangunan yang telah dicapai pada saat sekarang beserta permasalahannya.
Memperhatikan ketiga pendekatan tersebut di atas, maka pendekatan strategik
harus digunakan untuk memilih alternatif rancangan yang paling menguntungkan
dan efisien dalam mencapai peran dan target yang telah ditetapkan (Depdiknas,
1995).
Ditinjau dari sudut profesi keguruan, tantangan yang paling besar pada era
globalisasi adalah adanya arus informasi yang semakin cepat, semakin akurat, dan
semakin beragam. Guru pendidikan jasmani merupakan salah satu komponen
utama dalam proses pendidikan. Oleh sebab itu, berusaha memahami tantangan
dan masalah yang akan dihadapi oleh guru pendidikan jasmani pada masa depan
merupakan upaya yang baik dalam rangka untuk
mengembangkan
profesionalisme guru pendidikan jasmani pada masa mendatang.
Permasalahan yang dihadapi guru pendidikan jasmani dewasa ini dan pada
masa yang akan datang adalah dapatkah guru pendidikan jasmani mengangkat
harkat dan martabat profesinya sehingga guru pendidikan jasmani menjadi orang
yang dapat digugu dan ditiru ?
2. Pembahasan
2.1 Percepatan Arus Informasi
Perkembangan ilmu pengetahuan, teknologi, dan komunikasi demikian
cepat sehingga menimbulkan perubahan besar dalam arus informasi. Perubahan itu
tidak hanya dalam hal semakin canggihnya jenis, sifat, dan volume informasi yang
dapat diterima dan disimpan, tetapi juga percepatan serta ketepatan informasi yang
diolah dan ditransferkan. Semuanya itu, sangat mempengaruhi corak dan prospek
proses pendidikan, peran guru, dan perencanaan pendidikan guru pendidikan
jasmani.
Berkembangnya komunikasi dan teknologi modern, sumber informasi, dan
ilmu pengetahuan, maka nilai dan sikap menjadi lebih kompleks. Selain orang tua
____ Jurnal Pendidikan dan Pengajaran IKIP Negeri Singaraja, Edisi Khusus TH. XXXVII Desember 2004
ISSN 0215 - 8250
114
dan guru, banyak sumber informasi lain yang dapat diperoleh oleh siswa melalui
berbagai media (cetak, pandang, dengar, ataupun yang campuran), disengaja
ataupun tidak disengaja, yang menjadi masukan (input) siswa dalam proses
belajarnya, seperti: mendengarkan radio, televisi, komunikasi langsung dengan
teman, komunikasi langsung dengan sumber pengetahuan yang lain (perpustakaan,
musium, internet, dan lain-lain)(Nurhadi MA, 1995).
Tantangan bagi pengembangan peran guru pendidikan jasmani adalah
bagaimana dapat membiasakan siswa untuk memahami sumber-sumber informasi,
mencari, menyeleksi, dan mengintegrasikan informasi yang diperoleh dari sumber
lain dengan yang diperoleh dari guru ataupun yang berasal dari luar, untuk dapat
meningkatkan ilmu pengetahuan dan ketrampilannya dalam pendidikan jasmani.
2.2 Penelitian Tindakan Kelas (Classroom Action Research)
Penelitian tindakan kelas (PTK) merupakan salah satu alat untuk reflektif
mengembangkan ilmu dalam bidang ilmu pendidikan yang mencakup
pengembangan kurikulum, pengembangan keahlian mengajar ataupun praktik
pembelajaran dalam berbagai bidang termasuk pembelajaran pendidikan jasmani
yang dapat menumbuh kembangkan berbagai kemampuan yang memiliki dampak
pengiring (narturing effect) untuk mewujudkan prakarsa, kreativitas, dan daya
saing (Semiawan CR, 1997). PTK bertujuan meningkatkan berbagai kemungkinan
pengatasan masalah yang terkait dengan pendidikan dan pembelajaran yang dapat
menjadi jembatan untuk pengembangan ilmu pendidikan. PTK yang meneliti
kondisi dan situasi konkerit dalam kelas, meskipun akan menghasilkan temuan
kecil, namun temuan tersebut dapat memiliki dampak yang besar bagi perbaikan
proses pembelajaran.
Untuk itu, perspektif kehidupan kelas agar dihayati secara sungguhsungguh oleh guru pendidikan jasmani. Karena itu, guru pendidikan jasmani agar
mengadakan refleksi tentang tugasnya sehari-hari. Perspektif kehidupan kelas dan
perilaku guru pendidikan jasmani bersumber dari kaidah-kaidah yang dianutnya
dan terkait dengan berbagai prinsip pembelajaran yang berpijak pada psikologi
belajar yang kontemporer (konstruktivisme), yang menganut prinsip bahwa
____ Jurnal Pendidikan dan Pengajaran IKIP Negeri Singaraja, Edisi Khusus TH. XXXVII Desember 2004
ISSN 0215 - 8250
115
perhatian tertuju kepada (1) siswa dan masalah yang relevan yang muncul pada
belajarnya siswa; (2) pemahaaman makna (verstehen) yang tersirat pada ekspresi
perilaku siswa yang bersumber dari pandangan serta dari “inherent inner ability”
ataupun berbagai interaksinya yang ia jalin dengan manusia dan objek sekitarnya,
di luar dari pada dirinya, dalam membentuk (construct) “body of knowledge”
pengetahuan tersebut; (3) interpretasi berbagai ekspresi tersebut dalam belajar
siswa dan dengan mendalami evaluasi belajar dengan mengacu pada pembelajaran
yang lebih efektif.
Seorang guru pendidikan jasmani merupakan pelaku pendidikan karenanya
secara sengaja atau tidak sengaja, secara “volunter atau involunter, intensional atau
unintensional” selalu mempengaruhi kehidupan bathiniah sesamanya. Untuk itu,
setiap kali dalam pembelajarannya ditemukan refleksi dari ahli didik, agar terjadi
interaksi yang langsung pada bidang ilmu pendidikan jasmani yang digeluti guru
pendidikan jasmani dalam praktiknya akan memperkaya serta mengembangkan
ilmu, karena mengandung dasar yang kuat apabila dilakukan dalam kontek PTK.
2.3 Peningkatan Peranan Guru Pendidikan Jasmani
Dalam mengantisipasi tantangan yang harus dihadapi dengan masalah yang
ada, maka upaya meningkatkan peran dan kualitas guru pendidikan jasmani dalam
proses belajar-mengajar perlu dilakukan.
Pertama, peningkatan pengajaran dan pengembangan ilmu pengetahuan
dan teknologi (iptek) keolahragaan (Lawson HA, 2003). Peningkatan itu dilakukan
mulai dari jenjang pendidikan dasar (SD dan SLTP), pendidikan iptek
keolahragaan mulai diperkenalkan dengan cara meningkatkan proporsi pengajaran
yang memberikan dasar pemahaman iptek keolahragaan dan mengintegrasikan
kedalam mata pelajaran pendidikan jasmani, termasuk kedalam buku pendidikan
jasmani. Kemudian pada tingkat SMA/SMK upaya tersebut perlu dilanjutkan dan
dikembangkan dengan memberikan bekal kegairahan dan kemampuan untuk
melaksanakan penelitian sederhana di bidang iptek keolahragaan. Ini berarti guru
pendidikan jasmani tidak hanya diharapkan mampu mengajarkan pendidikan
jasmani saja, tetapi mempunyai penguasaan terhadap wawasan pengetahuan iptek
____ Jurnal Pendidikan dan Pengajaran IKIP Negeri Singaraja, Edisi Khusus TH. XXXVII Desember 2004
ISSN 0215 - 8250
116
keolahragaan yang memadai, mengintegrasikan pengajaran iptek keolahragaan
kedalam bidang studi pendidikan jasmani yang diajarkannya. Penguasaan
pengetahuan iptek tersebut akan dapat mendorong dan mendidik anak agar mampu
melaksanakan penelitian sederhana di bidang iptek pendidikan jasmani. Tantangan
ini dihadapi dan dituntut dalam rangka untuk mengembangkan profesionalisme
guru, termasuk guru pendidikan jasmani.
Kedua, penanaman nilai budaya masyarakat industri. Dalam menghadapi
persaingan global pada masa mendatang, penanaman nilai budaya masyarakat
industri perlu dirintis dan dilakukan oleh para guru (Nurhadi, 1995), termasuk
guru pendidikan jasmani pada semua jenjang dan jenis pendidikan. Nilai budaya
masyarakat industri, seperti: etos kerja, penghargaan terhadap waktu, hidup
berencana, wawasan keunggulan, iptek, cinta kepada produk sendiri untuk
menghidup suburkan hasil produksi industri sendiri, kebiasaan menabung untuk
modal, dan kebiasaan kerja keras. Wawasan keunggulan memberikan motivasi
untuk berkompetisi secara terbuka dalam menghasilkan produk dalam pasar
global, baik melalui keunggulan komparatif ataupun keunggulan kompetitif. Jika
keunggulan kompetitif ini, dapat dikembangkan di antara guru pendidikan
jasmani, maka semangat untuk berkompetisi dengan bangsa lain menjadi tinggi.
Ketiga, untuk meningkatkan proporsi partisipasi pendidikan yang
meningkat pada jenjang pendidikan yang lebih tinggi, peranan intervensi guru
(Nurhadi, 1995), termasuk guru pendidikan jasmani sangat diperlukan. Intervensi
ini dilakukan untuk memberikan motivasi dan dorongan agar siswa dan
masyarakat dapat menginvestasikan dirinya dalam bidang pendidikan secara
efektif dan efesien selaras dengan kebutuhan akan komposisi guru pendidikan
jasmani yang diperlukan.
Keempat, perubahan peranan dari guru sebagai sumber informasi menjadi
guru sebagai fasilitator dan manager informasi (Tirta, 1997). Dengan
perkembangan komunikasi dan teknologi modern, guru pendidikan jasmani tidak
hanya memberikan pelajaran, tetapi mengkoordinasikan berbagai sumber belajar
untuk kepentingan pengembangan materi pelajaran pendidikan jasmani bagi siswa.
Guru pendidikan jasmani, selain harus menguasai ilmu yang diajarkannya, juga
____ Jurnal Pendidikan dan Pengajaran IKIP Negeri Singaraja, Edisi Khusus TH. XXXVII Desember 2004
ISSN 0215 - 8250
117
harus memberikan petunjuk tentang sumber informasi lain yang dapat membantu
siswa dalam memahami ilmu pengetahuan. Untuk itu, guru pendidikan jasmani
harus selalu mengikuti perkembangan sumber informasi yang mungkin dan dapat
diperoleh siswa, baik secara sengaja ataupun tidak sengaja di sekolah dan di luar
sekolah. Jika guru pendidikan jasmani tidak dapat memperoleh isi informasi yang
bersumber dari luar sekolah karena terbatasnya fasilitas yang dimilikinya, sedidaktidaknya guru dapat menunjukkan kepada siswa agar sumber informasi itu dapat
dimanfaatkan.
Dalam peran sosialnya di masyarakat, seorang guru pendidikan jasmani
tidak lagi bisa sebagai sumber informasi yang mahatahu tentang semua ilmu
pengetahuan karena sumber informasi lain di masyarakat yang menjadi rivalnya
cukup banyak. Oleh sebab itu, peran guru harus diubah menjadi agen pembaharu
dan pengorganisasi perubahan-perubahan di masyarakat. Ini berarti, bahwa guru
pendidikan jasmani selain harus menguasai bidang studi pendidikan jasmani, juga
perlu menguasai metodologi mencari sumber ilmu pengetahuan yang ada di
masyarakat. Seorang guru tidak lagi menggurui masyarakat, tetapi lebih sebagai
motivator, dan organisator masyarakat.
Jadi, peran guru pendidikan jasmani dalam era komunikasi dan teknologi
modern harus berubah dari peran sebagai seorang pengajar menjadi seorang
fasilitator ataupun seorang manager informasi.
Kelima, perubahan peranan guru dari penceramah menggurui menjadi
pendengar yang emphatik (Tirta, 1997). Filosofi Tut Wuri Handayani, yang
menjadi dasar proses pendidikan belum menjadi pengalaman nyata bagi siswa dan
guru pendidikan jasmani. Guru tetap mendominasi kegiatan belajar mengajar,
kata-kata guru harus didengarkan dan dipatuhi oleh semua siswa. Akan tetapi,
siswa masa kini lebih membutuhkan seseorang yang bersedia mendengarkan suara
hati mereka. Menjadi pendengar yang emphatik berarti berusaha “masuk” ke
dalam hati para siswa. Hasrat (mood) seorang guru hendaknya bertanya (Socrates)
dan mendengarkan jawaban-jawaban siswa yang beraneka ragam tersebut. Dengan
demikian, belajar berarti mencari alternatif-alternatif pemecahan masalah.
____ Jurnal Pendidikan dan Pengajaran IKIP Negeri Singaraja, Edisi Khusus TH. XXXVII Desember 2004
ISSN 0215 - 8250
118
Keenam, untuk meningkatkan kualitas pendidikan guru pendidikan
jasmani dilakukan antara lain dengan memberikan kesempatan untuk belajar, baik
melalui program pendidikan dan pelatihan yang bergelar ataupun tidak bergelar
dalam jangka pendek atau jangka panjang, ataupun melalui program tatap muka
dan jarak jauh. Ini dapat dilakukan dengan mengadakan program penyetaraan, baik
yang bersifat tatap muka ataupun dengan cara jarak jauh, serta penataranpenataran singkat sesuai dengan kebutuhan. Dengan demikian, diharapkan
nantinya semua guru pendidikan jasmani Sekolah Dasar (SD) diharapkan minimal
berpendidikan serendah-rendahnya diploma dua (D2), guru pendidikan jasmani
Sekolah Menengah Pertama (SMP) serendah-rendahnya berpendidikan Diploma
Tiga (D3) dan guru pendidikan jasmani SMA/SMK serendah-rendahnya
berpendidikan Strata Satu (S1) (Nurhadi, 1997; Tengah, 1995).
2.4
Perubahan Sikap Guru Pendidikan Jasmani
Pertama, perubahan sikap dari konservatif tradisional menjadi progresif
futuristik (Tirta, 1997). Ditinjau dari tugas pokoknya, guru adalah insan
konservatif. Guru sukar menerima perubahan dan pembaharuan dalam proses
belajar mengajar. Contohnya, setiap ada perubahan kurikulum dan pembaharuan
sistem pembelajaran, hampir semua guru mengeluh karena terpaksa harus
mempelajari materi yang baru, mengganti rencana pembelajaran, membuat soalsoal, dan membeli buku pegangan baru. Seharusnya, guru berpandangan jauh ke
masa depan (futuristik). Orang belajar untuk masa depan, bukan untuk waktu yang
sudah lewat. Oleh karena itu, guru termasuk guru pendidikan jasmani hendaknya
merubah sikap konservatif tradisional menjadi bersikap dengan orientasi masa
depan (futuristik). Tugas guru adalah meregenerasi tatanan baru yang lebih sesuai
dengan tuntutan jaman.
Kedua, perubahan sikap dari belajar tentang pengetahuan menjadi belajar
untuk hidup. Secara psikologis, manusia belajar untuk memuaskan hasrat
(motivasi) ingin tahu. Sejak Francis Bacon (dalam Tirta, 1997) menyatakan bahwa
“knowledge is power”, tujuan belajar adalah terutama untuk meningkatkan taraf
kehidupan atau belajar demi untuk hidup. Hampir 2000 tahun yang lalu,
____ Jurnal Pendidikan dan Pengajaran IKIP Negeri Singaraja, Edisi Khusus TH. XXXVII Desember 2004
ISSN 0215 - 8250
119
seorang filosuf Roma bernama Seneca (dalam Curm, 2003) menyatakan “nonscholae sed vitae discimus” yang berarti jangan mengajar untuk sekolah,
mengajarlah untuk hidup. Pengetahuan diaplikasikan untuk menimbulkan
perubahan ke arah peningkatan martabat hidup. Olehkarena itu, setiap orang di era
globalisasi dituntut untuk memiliki pengetahuan spesifik-praktis. Dengan memiliki
pengetahuan spesifik praktis, maka akan dapat meningkatkan daya saing dalam
mencari lapangan pekerjaan.
Ketiga, perubahan sikap dari mengajarkan substansi kurikulum menjadi
mengajarkan metodologi ilmu pengetahuan. Dalam ilmu pengetahuan tidak ada
kebenaran monolitik. Kebenaran ilmiah berarti kebenaran sementara atau
kebenaran tentatif. Kebenaran yang justru mempersilahkan untuk dibuktikan salah
(Tirta, 1997). Dengan menitikberatkan kepada metodologi ilmu pengetahuan guru
tidak perlu harus meliput materi kurikulum dari awal sampai dengan akhir. Ada
bagian-bagian tertentu yang dapat diserahkan kepada para siswa sendiri untuk
membahasnya. Perkembangan kecerdasan, emosi, sosial, dan moral, tidak
dipandang sebagai dampak pengiring belaka, melainkan dapat dibina secara
sengaja dan terarah sehingga menjadi bagian dari skenario dalam proses belajarmengajar dalam pendidikan jasmani (Lutan, 2001).
2.5 Menciptakan Lingkungan Pendidikan Jasmani Yang Cerdas
Ada beberapa cara untuk menciptakan lingkungan pendidikan jasmani
yang cerdas, yakni (1) menciptakan lingkungan belajar dan berlatih yang aman; (2)
meningkatkan kehadiran; (3) mengajarkan tanggungjawab personal dan sosial; (4)
meningkatkan keberhasilan setiap siswa; (5) menghargai dan menilai usaha dan
peningkatan.
Barrette GT pada tahun 1993 (dalam Barrette, 2003) menciptakan”Fit
Sport Teaching and Coaching Model”, yakni model ini secara konseptual
didefinisikan sebagai sistem pengambilan keputusan terpadu yang dirancang untuk
mengaitkan tujuan program dan hasilnya dengan tindakan rencana pelatihan dan
pengajaran pendidikan jasmani. Terpadu dimaksudkan bahwa empat kriteria
____ Jurnal Pendidikan dan Pengajaran IKIP Negeri Singaraja, Edisi Khusus TH. XXXVII Desember 2004
ISSN 0215 - 8250
120
tersebut diterapkan secara bersamaan pada setiap tingkat dan setiap saat saat
peristiwa pembelajaran pendidikan jasmani.
Pencapaian hasil terkait dengan tanggung jawab sosial dan konsep diri
menjadi positif. Konsep ini terdiri atas, empat kriteria paedagogis, yaitu (1) waktu
keterlibatan yang tinggi bagi setiap siswa; (2) relevansi tugas setiap siswa terhadap
hasil yang dicapai oleh individu ataupun kelompok; (3) keseimbangan antara
pengalaman belajar berlomba dan bekerjasama; (4) menggunakan kesesuaian
aktivitas yang terkait selama praktik kelompok dan dalam keahlian.
Ketika kriteria tersebut di atas digunakan, maka akan dihasilkan sebuah
“good fit” untuk mencapai nilai-nilai positif bagi siswa dalam pengalaman
pendidikan jasmani dan olahraga (Barrette, 2003). Strategi pembelajaran
pendidikan jasmani yang mencakup model strategi permainan yang digunakan
secara langsung dirancang untuk memberikan informasi kepada siswa tentang
peran sosial dan personalnya serta tanggung jawab satu sama lain untuk
mengembangkan rasa kepemilikan dalam pengalaman pendidikan jasmani dan
olahraga.
2.6 Pengembangan Pendidikan Guru Pendidikan Jasmani
Dalam rangka mengantisipasi tantangan yang dihadapi pada masa depan
dan memperhatikan permasalahan yang dihadapi masa kini, maka perlu dilakukan
orientasi ulang terhadap upaya pengembangan pendidikan guru pendidikan
jasmani.
Pertama, hanya lulusan (out put) yang bermutu dapat mempunyai nilai
kompetitif tinggi (Sumantri HM, 1997). Lulusan yang demikian ini, hanya dapat
dihasilkan oleh tenaga guru pendidikan jasmani yang sudah terampil serta
mempunyai pengalaman di lapangan yang didasari dengan konsep ilmu
pengetahuan yang kuat. Proses pendidikan di LPTK, harus dikaitkan dan
disepadankan (link and match) dengan keterampilan praktik yang dialami di dunia
pendidikan yang sebenarnya. Kebutuhan untuk keterkaitan dan kesepadanan ini
menjadi sangat penting pada jenis-jenis pekerjaan seperti guru pendidikan jasmani.
____ Jurnal Pendidikan dan Pengajaran IKIP Negeri Singaraja, Edisi Khusus TH. XXXVII Desember 2004
ISSN 0215 - 8250
121
Kedua, untuk mengantisipasi pemenuhan kebutuhan guru yang berubah
selaras dengan pergeseran struktur demografi ataupun kebutuhan struktur tenaga
kerja dan perkembangan iptek, maka upaya untuk membuat sistem pendidikan
guru yang lebih fleksibel yang mampu menghadapi tantangan pasang surutnya
kebutuhan akan guru pendidikan jasmani yang diangkat menjadi pegawai negeri
sipil (PNS), sangat diperlukan untuk menekan terjadinya pemborosan.
Pengembangan Jurusan Pendidikan Jasmani dan Kesehatan (Penjaskes)
pada Fakultas Pendidikan Ilmu Keolahragaan diarahkan untuk menghasilkan calon
guru pendidikan jasmani yang mempunyai pengetahuan dan keterampilan yang
kuat di bidang pendidikan jasmani dan kemampuan metodologi pengajaran, serta
mempunyai peluang pasar yang lebih fleksibel dalam menghadapi perkembangan
iptek, yang diimplementasikan antara lain dalam bentuk pengembangan
kurikulum. Peningkatan kemampuan bidang studi pendidikan jasmani dilakukan
dengan mempertinggi bobot mata kuliah bidang studi, sedangkan peningkatan
metodologi pendidikan jasmani dilakukan dengan meningkatkan intensitas
kegiatan praktik mengajar. Selain itu kurikulum dirancang sedemikian rupa
sehingga lulusannya memiliki fleksibilitas horizontal ataupun vertikal.
Fleksibilitas horizontal dengan maksud agar lulusan dapat mengajar lebih dari satu
bidang studi dalam satu rumpun. Ada pula pemikiran agar fleksibilitas horizontal
ini dapat memberikan kemampuan lain, selain profesi guru.
Sifat fleksibilitas vertikal dimaksudkan untuk memberikan kemampuan
profesional kepada calon guru pendidikan jasmani untuk dapat mengajar, baik di
SD, SMP ataupun SMA/SMK. Fleksibilitas dapat pula diartikan memberikan
kewenangan kepada Fakultas Pendidikan Ilmu Keolahragaan dalam
mengembangkan kurikulumnya sesuai dengan variasi kebutuhan di daerah. Oleh
karena itu, isi kurikulum yang ditetapkan secara nasional hanya berkisar 60 sampai
dengan 80 persen, sedangkan sisanya dapat dikembangkan sendiri oleh Fakultas
Ilmu Keolahragaan yang bersangkutan sebagai kurikulum muatan lokal.
Ketiga, mengingat sumber daya yang dapat disediakan oleh pemerintah
terbatas, sementara itu mutu harus ditingkatkan, maka peranan swasta dan
partisipasi masyarakat perlu juga ditingkatkan untuk membantu upaya
____ Jurnal Pendidikan dan Pengajaran IKIP Negeri Singaraja, Edisi Khusus TH. XXXVII Desember 2004
ISSN 0215 - 8250
122
pengembangan lembaga pendidikan tenaga kependidikan. Upaya untuk
mendapatkan bantuan dari masyarakat, pemberian beasiswa, atau model sponsor,
perlu juga dikembangkan guna menggali dana dan sumber daya dari masyarakat.
Menurut hasil penelitian uji coba dari Coplaner 1995 (dalam Nurhadi, 1995),
bahwa potensi sumber daya masyarakat untuk menunjang program pendidikan
masih cukup besar di semua lapisan masyarakat. Jadi, yang diperlukan adalah cara
menggali dan memanfaatkannya secara optimal sumber daya yang ada di
masyarakat tersebut.
Keempat, dengan meningkatnya jumlah penduduk di perkotaan dan
menurunnya jumlah penduduk di pedesaan, maka pendekatan pemetaan sekolah
dan kebutuhan guru termasuk guru pendidikan jasmani yang selama ini
dipergunakan perlu dirubah. Perencanaan pendidikan guru termasuk guru
pendidikan jasmani diintegrasikan dengan sistem pemetaan pengembangan
perkotaan termasuk pemukiman penduduk pada masa mendatang.
Kelima, untuk mengisi kebutuhan akan guru pendidikan jasmani di daerah
terpencil dan di desa-desa yang semakin langka penduduknya, perlu dirancang
program pendidikan guru pendidikan jasmani yang dapat menghasilkan guru
pendidikan jasmani yang profesional yang dapat menjadi tutor pada SLTP terbuka
(Jalal, 1997).
Keenam, perencanaan pendidikan guru pendidikan jasmani pada masa
mendatang dituntut tidak hanya berorientasi kepada upaya untuk memberikan
kesempatan memperoleh pendidikan, tetapi bagaimana dapat memberikan layanan
pendidikan yang bermutu pada masa mendatang (Lawson, 2003).
Ketujuh, pendidikan guru pendidikan jasmani memerlukan biaya yang
mahal, sementara itu keuntungan baliknya baru dapat diperoleh beberapa tahun
lagi (Nurhadi, 1997). Investasi di bidang pendidikan pada masa depan akan
dituntut seefisien mungkin. Ini berarti, walaupun pendekatan tuntutan akan tenaga
kerja dipergunakan dalam perencanaan pendidikan guru pendidikan jasmani di
jenjang pendidikan tinggi, perlu estimasi besaran nilai balik dari investasi yang
telah dilakukan perlu dipertimbangkan.
____ Jurnal Pendidikan dan Pengajaran IKIP Negeri Singaraja, Edisi Khusus TH. XXXVII Desember 2004
ISSN 0215 - 8250
123
3
Penutup
Guru pendidikan jasmani merupakan salah satu komponen utama dalam
proses pendidikan. Oleh sebab itu, berusaha memahami tantangan dan masalah
yang akan dihadapi oleh guru pendidikan jasmani pada masa depan merupakan
upaya yang baik untuk mengembangkan profesionalisme guru pendidikan jasmani
di era globalisasi.
Peningkatan peranan dan pengembangan profesionalisme guru pendidikan
jasmani, di samping bergantung kepada program yang dibuat dan dilaksanakan
oleh pemerintah ataupun masyarakat, pada akhirnya lebih banyak bergantung
kepada inisiatif dan kemauan guru itu sendiri untuk meningkatkannya. Tanpa
kemauan dan penghayatan yang kuat serta kecintaan yang mendalam terhadap
profesi yang ditekuninya, maka hampir dapat dipastikan akan susah terjadinya
perkembangan suatu profesionalisme.
Untuk mengantisifasi permasalahan yang dihadapi guru pendidikan
jasmani di era globalisasi agar dapat mengangkat harkat dan martabat profesinya,
maka upaya untuk meningkatkan peranan dan pengembangan profesionalisme
guru pendidikan jasmani, merupakan upaya yang perlu dilakukan secara bersamasama baik oleh unsur pemerintah, masyarakat, ataupun individu guru pendidikan
jasmani itu sendiri.
DAFTAR PUSTAKA
Barrette GT. 2003. Sport and Integration Social. Paper in International Conference
on Sport and Sustainable Development, Yogyakarta.
Bart Crum. 2003. Physical Education and School Sport and the Multiformity of
Movement Culture. Paper in International Conference on Sport and
Sustainable Development, Yogyakarta.
Depdikbud. 1995. Program-Program Prioritas Pembangunan Pendidikan Dalam
Repelita VI, Jakarta.
Fasli Jalal. 1997. Identifikasi dan Pengembangan Indikator Kualitas Sumber Daya
manusia Dalam Kaitannya Dengan Pemberdayaan Pendidikan Jasmani dan
____ Jurnal Pendidikan dan Pengajaran IKIP Negeri Singaraja, Edisi Khusus TH. XXXVII Desember 2004
ISSN 0215 - 8250
124
Olahraga di Lembaga Pendidikan. Makalah disampaikan pada Konferensi
Nasional Pendidikan Jasmani dan Olahraga, Bandung.
Ginanjar Kartasasmita. 1994. Pembangunan Sumber Daya Manusia. Disampaiakan
pada Rapat Kerja Depdikbud pada Rapat Kerja Depdikbud Tahun 1994,
Jakarta.
Hong F. 2003. Into The Future: Asian Sport and Globalization. Paper in
International Conference on Sport and Sustainable Development,
Yogyakarta.
Lawson HA. 2003. Empowering People and Advancing Community Development:
The Social Work of Sport, Exercise, and Physical Education Programs.
Paper in International Conference on Sport and Sustainable Development,
Yogyakarta.
Nurhadi MA. 1995. Masalah dan Tantangan Pendidikan Bagi Perencanaan
Pengembangan Guru dan Lembaga Pendidikan Guru. Disampaikan pada
Seminar Tentang Guru dan Pendidikan Guru, Singaraja Bali.
Rusli Lutan. 2001. Pencarian Konsep dan Wilayah Batang Tubuh Ilmu
Keolahragaan. Program Pendidikan Olahraga, Program Pascasarjana,
Universitas Pendidikan Indonesia, Bandung.
Semiawan CR. 1997. Keterkaitan Antara Lembaga Pendidikan Tenaga
Kependidikan (LPTK) Dengan Sekolah, Model Alternatif Program
Kemitraan Pengembangan Pendidikan Guru pada Era Globalisasi.
Konsorsium Ilmu Pendidikan Direktorat Jenderal Pendidikan Tinggi
Depdikbud, Jakarta.
Sumantri HM. 1997. Anak Perempuan Dalam Program Olahraga Di Sekolah.
Makalah disampaiakan pada Konferensi Nasional Pendidikan Jasmani
dan Olahraga, Bandung.
Tengah DP. 1995. Guru Sekolah Suatu Kajian Emperik Terhadap Permasalahan
Guru. Makalah disampaikan dalam Seminar Guru Dan Pendidikan Guru,
Masalah dan Tantangan Pada Abad Ke 21, STKIP, Singaraja.
Tirta N. 1997. Profesionalisme Guru (Suatu Tantangan Perubahan). Makalah
Studium General/Seminar Dalam Rangka Dies Natalis IV dan Wisuda VII
STKIP, Singaraja.
____ Jurnal Pendidikan dan Pengajaran IKIP Negeri Singaraja, Edisi Khusus TH. XXXVII Desember 2004
Download