KOMPETENSI DAN MODEL PEMBELAJARAN YANG DIINGINKAN

advertisement
THE 5TH URECOL PROCEEDING
18 February 2017
UAD, Yogyakarta
KOMPETENSI DAN MODEL PEMBELAJARAN YANG DIINGINKAN
MAHASISWA
DALAM PERKULIAHAN KETERAMPILAN MENULIS
Khabib Sholeh
FKIP, Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia
Universitas Muhammadiyah Purworejo
[email protected]
Abstrak
Tujuan penelitian ini adalah mendeskripsi kompetensi yang paling dibutuhkan mahasiswa
dalam pembelajaran menulis dan kecenderungan model kegiatan belajar-mengajar yang
diinginkannya dalam perkuliahan menulis. Penelitian ini berbentuk penelitian survei yaitu
penelitian dengan cara mengumpulkan data baik berupa informasi, pendapat atau karakterstik
dari sekelompok responden yang representatif. Penelitian dilaksanakan di Universitas
Muhammadiyah Purworejo dan Universitas Negeri Tidar Magelang pada semester genap
tahun 2015. Pengumpulan data dilakukan dengan teknik wawancara. Teknik ini dirancang
untuk memperoleh data tentang kesulitan mahasiswa selama kegiatan pembelajaran menulis
berlangsung. Di samping itu, digunakan juga teknik open ended question yaitu pertanyaan
yang menuntut jawaban responen secara terbuka atau menggunakan kalimat sendiri. Agar
jawaban responden lebih konseptual sesuai dengan self-concept masing-masing individu
digunakan pula skala likert. Kompetensi yang paling dibutuhkan mahasiswa dalam
pembelajaran bahasa adalah keterampilan menulis. Mereka beralasan bahwa keterampilan
menulis lebih dekat dengan kebutuhan mereka untuk jangka pendek maupun jangka panjang.
Berdasarkan hasil survei, bahan perkuliahan yang diminati mahasiswa di Program Studi
Pendidikan Bahasa Sastra Indonesi adalah menulis (67%) yang meliputi: menulis makalah
(78%), proposal penelitian (76%), tulisan ilmiah (70%), laporan buku (62%), pengembangan
alinea (55%), resensi buku (48%), dan artikel opini di media masa (48%). Berdasarkan survei
160 responden, menunjukkan kecenderungan model pembelajaran berbasis kegiatan
mahasiswa dalam kuliah yang diinginkan. Mereka lebih suka belajar dengan latihan praktis
(58%), penjelasan teoritis (0.80), dan sisanya (42,2%) menginginkan penjelasan teoritis yang
diikuti oleh latihan praktis. Hal ini sesuai dengan formulir evaluasi yang dianggap ideal oleh
mahasiswa dalam mengukur kemampuan bahasa dan penalaran kemampuan intelektual. Sikap
dan keterampilan kritis-analitis dalam menginterpretasikan teks hendaknya menjadi tujuan
utama pembelajaran bahasa khususnya dalam pengembangan literasi. Untuk itu, pembelajaran
menulis mestinya banyak dilakukan dengan latihan praktis yang diajarkan sebagai proses
bukan sebagai konten.
Kata Kunci: kompetensi, model pembelajaran, keterampilan menulis
PENDAHULUAN
Keberagaman
kemampuan
dan
kecerdasan mahasiswa selalu terjadi di
dalam kelas. Hal ini berarti bahwa para
pengajar perlu untuk mempersiapkan
pembelajaran yang komprehensif. Para
pengajar seharusnya dapat mengembangkan
ide-ide pelajaran, mengorganisasikan kelas
sesuai deng tujuan pembelajaran. Materi
pembelajaran bahasa, bukan saja harus
dipilih sesuai dengan urgensi kebutuhan
THE 5TH URECOL PROCEEDING
mahasiswa melainkan juga perlu dipikirkan
model pembelajarannya yang dapat
mengantarkan mereka pada pencapaian
tujuan utamanya. Keterampilan menulis
menjadi muatan akhir yang paling penting
dikuasai mahasiswa. Pertanyaannya adalah
kompetensi menulis yang bagaimanakah
yang harus dilatihkan dan difokuskan pada
pendidikan tinggi? Model pembelajaran
menulis yang bagaimanakah yang dapat
meningkatkan kemampuan literasi peserta
797
ISBN 978-979-3812-42-7
THE 5TH URECOL PROCEEDING
18 February 2017
didik yang sesuai dengan keperluannya,
terutama dalam menunjang studinya? Model
pembelajaran menulis harus mendorong
peserta didik pada kemampuan literasi yang
tinggi yang didukung oleh kemampuan
berpikir kritis dan kreatif, serta kemampuan
memecahkan masalah. Dengan demikian,
diharapkan mereka dapat merespon secara
positif setiap kesempatan dan tantangan
yang ada serta mampu mengelola
permasalahan untuk kepentingan kehidupan.
Peran sentral kemampuan menulis
dalam perkembangan intelektual, sosial, dan
emosional mahasiswa tidak diragukan lagi.
Pembekalan menulis di pendidikan tinggi
merupakan
penunjang
keberhasilan
mahasiswa dalam studi. Oleh karena itu,
pembelajaran menulis diharapkan dapat
membantu mahasiswa mengenali dirinya,
budayanya dan budaya orang lain,
mengemukakan gagasan dan perasaan,
berpartisipasi dalam masyarakat, memiliki
kemampuan berpikir analitis, imajinatif,
kritis, dan kreatif. Menurut Alwasilah
(2000:148-149) terdapat kesalahan dalam
pembelajaran bahasa dewasa ini. Kesalahan
tersebut, yakni pembelajaran bahasa yang
terlampau berkonsentrasi pada empat
keterampilan
berbahasa
(menyimak,
berbicara, membaca, dan menulis) yang
mengabaikan dari fungsi bahasa sebagai alat
berpikir. Menurutnya, pembelajaran bahasa
seharusnya
diniati
sebagai
upaya
pembangunan literasi kritis, yang meliputi
sikap dan keterampilan kritis-analitis dalam
memahami dan menginterpretasikan teks
ujaran maupun tulis. Kegiatan baca-tulis
(literasi) kritis tidak hanya mengajari
mahasiswa menguasai kemampuan dasar,
seperti memahami, memprediksi, dan
meringkas tetapi melatih mereka menjadi
pengguna bahasa yang kritis dalam berbagai
konteks dalam memahami informasi yang
diterimanya.
Ironis, apabila pendidik memberikan
berbagai pengetahuan dan keterampilan
bahasa secara informatif dan memisahkan
berbagai keterampilan berbahasa yang
seharusnya diberikan secara terpadu dan
alamiah. Bahasa merupakan seperangkat
kebiasaan dan menuntut pengembangan
secara kontekstual, sehingga secara alamiah
akan terjadi pembelajaran secara terpadu.
THE 5TH URECOL PROCEEDING
UAD, Yogyakarta
Kontekstual dalam pemakaian maupun
dalam
penggunaan
seluruh
aspek
kebahasaan. Pembelajaran kontekstual
mendorong konteks keterpaduan secara
global dan terbebas dari keterasingan,
meskipun proses terjadi dalam berbagai
lintas ilmu, lintas lingkungan. Dengan
demikian, diharapkan berbagai keterampilan
berbahasa berkembang secara integral dalam
keberartian alamiah, imparsial, menjadi
keterampilan yang utuh. Sebaliknya, bila
diberikan secara terpisah dan penekanan
antaraspek, ia akan kehilangan makna.
Model
pembelajaran
yang
dikembangkan sebenarnya telah tumbuh
subur dari tahun ke tahun dan karena
dukungan materi pula, seperti media cetak
dan elektronik, model-model tersebut
kemudian
menjadi
lebih
beragam
dibandingkan sebelumnya. Akan tetapi,
dalam sejarah perkembangannya di bidang
pendidikan ternyata mendapat kritikan
cukup pedas. Ada problem serius yang
melanda hasil belajar peserta didik saat ini.
Salah satu problem tersebut ditandai oleh
data yang menyebutkan bahwa peserta didik
tidak bisa membaca dan menulis secara
efektif. Bagaimana hal ini bisa terjadi,
sedangkan strategi dan sumber pembelajaran
sudah dikembangkan dengan baik?
Berdasarkan uraian latar belakang masalah
tersebut, tujuan penelitian ini adalah
mengidentifkasi materi dan mengevaluasi
model pembelajaran menulis yang diminati
mahasiswa.
Menulis lebih dari sekedar persoalan
tata bahasa dan tanda baca. Menulis
merupakan suatu cara untuk membantu
mahasiswa meningkatkan pengetahuannya.
Menulis adalah suatu kegiatan intelektual
yang
mensyaratkan
peserta
didik
mencurahkan pikirannya, mempertajam
kemampuan analisisnya, dan membuat
perbedaan yang akurat dan valid
[”...complex intellectual activity that
requires students to stretch their minds,
sharpen their analytical capabilities, and
make accurate and valid distintions”]
(National
Writing
Project
2003).
Berdasarkan definisi tersebut secara mudah
dapat dipahami bahwa pembelajaran
menulis adalah kegiatan yang menantang
798
ISBN 978-979-3812-42-7
THE 5TH URECOL PROCEEDING
18 February 2017
dan karena itu semestinya tidak diajarkan
sebagai konten melainkan sebagai proses.
Mendefinisikan dan menjelaskan
proses menulis tidak mudah karena pada
dasarnya menulis bukan proses yang linier.
Menurut Murray (1985) menulis adalah
berpikir, bukan suatu tindakan yang terjadi
setelah berpikir dilakukan. Menulis
seharusnya
menjadi
media
untuk
mengeksplorasi dunia masing-masing, suatu
usaha untuk menemukan makna, yang boleh
jadi terbagi atau tidak terbagi dengan orang
lain. Murray selanjutnya membahas
perlunya para penulis pemula diajari proses
menulis yang digunakan Murray antara lain
persiapan menulis, atau mengumpulkan
informasi, menulis draf pertama---lalu draf
kedua, ketiga, keempat---sampai penulis
merasa puas dengan pesan, merevisi setiap
draf agar lebih jelas dan lebih bermakna. Dia
juga menekankan perlunya orang lain untuk
membaca naskah dan juga perlunya
penyuntingan dengan cara mengulas lembar
demi lembar sebagaimana layaknya yang
dilakukan pembaca.
Berbeda dengan Murray yang
mengemukakan
pandangan
filosofis
terhadap proses menulis, Graves (2001)
mengajukan sudut pandang sebagai
pendidik.
Dalam
karyanya
Graves
mengembangkan beberapa strategi untuk
membantu peserta didik menulis sebuah
komposisi. Langkah pertama adalah
mengeksplorasi topik-topik yang mungkin
dengan membuat daftar dan draf beberapa
kalimat tentangnya. Langkah ini mungkin
menyita waktu bagi sebagaian peserta didik
untuk menemukan sebuah topik. Setelah
menemukan topik, mereka mulai menulis
draf tulisan masing-masing di mana
gagasan-gagasan muncul dan mungkin
dikembangkan atau dibuang. Pendidik
bekerja dengan individu-individu atau
dengan kelompok-kelompok kecil untuk
membahas kemajuan, masalah, dan
pemecahannya dengan menyelenggarakan
pertemuan berkala. Revisi, atau memahami
kembali teks, mungkin muncul dalam
diskusi, dalam diskusi antarsiswa, atau
dalam sesi bekerja mandiri.
Dalam kajian meta-analisis terhadap
hasil kajian tentang pembelajaran menulis
serta
dampaknya
terhadap
kinerja
THE 5TH URECOL PROCEEDING
UAD, Yogyakarta
mahasiswa, Hillocks (1987) menyimpulkan
bahwa memfokuskan pembelajaran pada
tata bahasa tidak berpengaruh nyata terhadap
peningkatan mutu tulisan peserta didik;
bahkan pendekatan yang berlebih-lebihan
terhadap mekanik dan penggunaan kata-kata
justru menghilangkan mutu tulisan siswa
secara
keseluruhan.
Dengan
menggambarkan penulisan sebagai suatu
tugas kompleks yang berat, Hillocks
mencatat beberapa strategi yang dapat
membantu meningkatkan mutu tulisan
peserta didik. Strategi yang paling
membantu
adalah
pembelajaran
menggabungkan kalimat, menggunakan
skala dan kriteria untuk panduan revisi,
kegiatan-kegiatan inkuiri yang melibatkan
pengamatan dan penulisan, dan penggunaan
proses penulisan untuk menyusun sebuah
komposisi. Hillocks menjelaskan bahwa
pengetahuan yang paling bermanfaat bagi
penulis pemula adalah pengetahuan
prosedural dengan membantu penulispenulis muda memahami prosedur umum
proses menyusun komposisi, prosedur
khusus pembuatan wacana, dan proses
transformasi data ke dalam tulisan.
METODE PENELITIAN
Penelitian ini berbentuk penelitian
survei yaitu
penelitian dengan cara
mengumpulkan data baik berupa informasi,
pendapat atau karakterstik dari sekelompok
responden yang representatif. Berdasarkan
lingkup dan fokus penelitian ini termasuk
survei sensus yaitu penelitian survei yang
melibatkan seluruh populasi dalam
penelitian. Penelitian dilaksanakan di
Universitas Muhammadiyah Purworejo dan
Universitas Tidar Magelang pada semester
genap tahun 2013. Pengumpulan data
dilakukan dengan teknik wawancara. Teknik
ini
dirancang untuk memperoleh data
tentang kesulitan-kesulitan mahasiswa
selama kegiatan pembelajaran menulis
berlangsung. Butir-butir pertanyaan yang
digunakan tidak dirancang secara khusus
karena butir-butir yang hendak ditanyakan
dalam wawancara bersifat situasional. Di
samping itu, digunakan juga teknik open
ended question yaitu pertanyaan yang
menuntut jawaban responen secara terbuka
atau menggunakan kalimat sendiri.
799
ISBN 978-979-3812-42-7
THE 5TH URECOL PROCEEDING
18 February 2017
Digunakan juga skala likert agar jawaban
responden lebih konseptual sesuai dengan
self-concept
masing-masing
individu.
Selama penelitian berlangsung, penulis
menekankan pada dua aspek yaitu
mengidentifkasi materi dan mengevaluasi
model pembelajaran menulis yang diminati
mahasiswa.
menempati prioritas kompetensi ketiga dan
keempat. Mereka beralasan bahwa kedua
jenis keterampilan menulis ini terasa asing
bagi mahasiswa karena kedua istilah ini
tidak banyak digunakan pendidik dalam
kegiatan pembelajaran. Di samping itu
mereka juga beralasan bahwa tugas laporan
buku dianggap ringan karena dikerjakan
secara bersama-sama sehingga secara
individu tidak terlalu membebani.
Sementara itu, jenis tulisan
pengembangan alinea dianggapnya sebagai
materi pembelajaran menulis yang rumit dan
sulit
dipahami.
Mereka
menggap
kompetensi ini dibutuhkan setelah jenis
keterampilan yang lain dapat dilalui atau
dikuasai. Resensi buku adalah materi
pembelajaran
menulis
yang
skala
prioritasnya paling rendah, mahasiswa
berpendapat bahwa materi pembelajaran ini
kurang
menantang
dan
nilai
kebermaknaannya rendah karena untuk
mengerjakan tugas ini membutuhkan waktu
yang lama.
Berdasarkan studi awal dapat
dikemukakan bahwa kebutuhan mahasiswa
untuk mata kuliah menulis sangat tinggi.
Sebanyak 91% menyatakan mata kuliah
menulis perlu dan penting bagi mahasiswa di
perguruan tinggi meskipun menulis secara
formal sudah mereka pelajari sejak di
bangku pendidikan dasar sampai sekolah
menengah. Alasan yang dikemukakannya
antara lain (a) kemampuan berbahasa
Indonesia dengan baik dan benar masih
rendah, (b) diperlukannya pembekalan yang
berkaitan dengan kegiatan tulis-menulis
akademik, dan (c) memupuk kebanggaan
berbangsa dan rasa nasionalisme.
Keterampilan menulis merupakan
keterampilan yang paling diperlukan
mahasiswa. Namun demikian, selama ini
pembelajaran mata kuliah menulis belum
berperan
secara
maksimal
dalam
meningkatkan kemampuan berbahasa.
Kegagalan tersebut disebabkan oleh
beberapa faktor, antara lain (a) lemahnya
motivasi mahasiswa, (b) kurangnya
koordinasi antardosen, khususnya dosen
keterampilan berbahasa, dan (c) belum
adanya analisis kebutuhan mahasiswa dalam
pelaksanaan program ini.
HASIL
PENELITIAN
DAN
PEMBAHASAN
Sesuai dengan tujuan penelitian, hasil
penelitian dan pembahasan disajikan dalam
dua aspek yaitu aspek kebutahan
keterampilan
berbahasa
dan
model
pembelajaran yang diinginkan mahasiswa
dalam mengikuti kuliah keterampilan
menulis.
1. Aspek Kebutuhan Keterampilan
Berbahasa
Kompetensi yang paling dibutuhkan
mahasiswa dalam pembelajaran bahasa
adalah keterampilan menulis. Mereka
beralasan bahwa keterampilan menulis lebih
dekat dengan kebutuhan mereka untuk
jangka pendek maupun jangka panjang.
Berikut ini disajikan perbandingan skor hasil
survei keterampilan berbahasa.
Berdasarkan hasil survei, bahan
perkuliahan yang diminati mahasiswa di
Program Studi Pendidikan Bahasa Sastra
Indonesi: (1) menulis (67%) yang meliputi:
menulis makalah (78%), proposal penelitian
(76%), tulisan ilmiah (70%), laporan buku
(62%), pengembangan alinea (55%), resensi
buku (48%), dan artikel opini di media masa
(48%); (2) membaca (54%) yang meliputi:
membaca cepat dan efektif (64%) dan
membaca tulisan ilmiah (46%); (3)
berbicara/bercakap-cakap (48%)
yang
meliputi: bagaimana berseminar (59%) dan
berpidato (48%); (4) menyimak (40%).
Skala prioritas kompetensi menulis
adalah menulis makalah. Mereka beralasan
bahwa hampir setiap mata kuliah
memberikan tugas akhirnya dengan menulis
makalah, Selanjutnya kompetensi menulis
proposal penelitian, materi ini mereka
anggap cukup penting segera dikuasai
karena berhubungan dengan tugas akhir
kuliah. Keterampilan menulis yang lain
seperti tulisan ilmiah dan laporan buku
THE 5TH URECOL PROCEEDING
UAD, Yogyakarta
800
ISBN 978-979-3812-42-7
THE 5TH URECOL PROCEEDING
18 February 2017
Kebutuhan bahan ajar yang diminati
mahasiswa Program Studi Pendidikan
Bahasa Sastra Indonesia dengan penilaian
menulis (3,30) dengan memanfaatkan
referensi
untuk
mendukung
opini,
menemukan solusi terhadap suatu masalah
yang akan dipecahkan, menerapkan teknikteknik pengembangan paragraf, dan
menggunaan ejaan dan tanda baca secara
benar. Keterampilan membaca (3,20)
dengan menemukan gagasan utama dan
gagasan penjelas, mengidentifikasi fakta dan
opini, dan mengidentifikasi informasi
penting dari bacaan secara tepat dan cepat.
Keterampilan
produktif
berbicara/bercakap-cakap (3,30) dengan
mengemukakan
gagasan
suatu
permasalahan disertai alasan yang relevan
dan menyampaikan gagasan dengan runtun,
gaya yang menarik, dan komunikatif.
Sementara itu menyimak (3,20) dengan
menilai ketepatan opini dan kelogisan
alasan-alasan dari informasi yang didengar
dan merespon informasi yang didengar
berdasarkan pada kejelasan berpikir dan
penalaran yang logis. Berdasarkan temuan
tersebut, hierarki kebutuhan mahasiswa
dalam pembelajaran bahasa lebih bertumpu
pada aspek keterampilan berbahasa dengan
urutan
berbicara-menulis-menyimakmembaca.
dapat dijadikan cara dosen untuk
menyesuaikan gaya mengajar dengan gaya
belajar mahasiswa. Materi pembelajaran
harus bermakna juga diinginkan oleh
sebagaian besar mahasiswa. Mereka
berpendapat bahwa pembelajaran perlu
dimulai dari pengalaman, lingkungan
alamiah, dan dimulai dengan menyajikan
masalah.
Sementara itu, agar pembelajaran
dapat mengesankan dan berhikmah, aspek
emosi mahasiswa perlu diperhatikan.
Mahasiswa
berharap
ada
kegiatan
pembelajaran yang dilakukan dengan
menyajikan materi yang sulit menjadi
mudah, berorientasi pada proses dan hasil
yang
mengesankan.
Peserta
didik
(mahasiswa) hendaknya juga ditempatkan
sebagai sumber belajar yang bernilai dengan
melibatkannya dalam mengidentifikasi
kebutuhan, tujuan, langkah-langkah, dan
menilai kegiatan pembelajaran. Dengan
demikian, kegiatan pembelajaran perlu
(4,01) berorientasi pada kebutuhan,
mendorong
mahasiswa
memikirkan,
mempelajari, dan melakukan.
Di samping itu, berdasarkan hasil
riset juga ditemukan kecenderungan model
kegiatan belajar-mengajar yang diinginkan
mahasiswa dalam perkuliahan menulis karya
ilmiah. Mereka lebih memilih pembelajaran
pada latihan praktis (49%), penjelasan
teoretis (7%), dan sisanya (43%)
menginginkan penjelasan teoretis yang
diikuti latihan praktis. Hal tersebut sesuai
dengan bentuk evaluasi yang dianggap ideal
oleh
mahasiswa
dalam
mengukur
kemampuan berbahasa dan kemampuan
nalar-intelektual. Mereka menganggap tes
praktis berbahasa, khususnya membuat
produk tulisan, baik esai, artikel atau bentuk
tulisan akademik lainnya lebih ideal (70%),
sementara sisanya (30%) memilih bentuk
tertulis, baik uraian maupun pilihan ganda.
Berdasarkan hasil survei juga
ditemukan kecenderungan model kegiatan
belajar-mengajar
yang
diinginkan
mahasiswa dalam perkuliahan menulis.
Mereka lebih memilih pembelajaran pada
latihan praktis (58%), penjelasan teoretis
(0,80), dan sisanya (42,2%) menginginkan
penjelasan teoretis yang diikuti latihan
praktis. Hal tersebut sesuai dengan bentuk
2. Aspek Model Pembelajaran
Mahasiswa berada pada tahap
perkembangan usia dewasa dan cenderung
mandiri. Pendidik dalam menfasilitasi
pembelajaran menulis memerlukan model
interaksi yang banyak menuntut aktivitas
dalam mengembangkan bahan ajar. Pendidik
seharusnya banyak membatasi diri untuk
tidak mendominasi proses pembelajaran dan
memberikan waktu yang cukup untuk
mahasiswa melakukan presentasi. Dari
aspek waktu mahasiswa
perlu diberi
kesempatan beraktivitas seoptimal mungkin
dalam pembelajaran.
Kegiatan
pembelajaran
perlu
dilakukan dengan menyesuaikan gaya
belajar peserta didik juga banyak diminati
mahahsiswa. Mereka berpendapat bahwa
pembelajaran
dengan
memperhatikan
modalitas belajar (audio visual, kinestetik,
perabaan, penciuman, dan pengecapan)
THE 5TH URECOL PROCEEDING
UAD, Yogyakarta
801
ISBN 978-979-3812-42-7
THE 5TH URECOL PROCEEDING
18 February 2017
evaluasi yang dianggap ideal oleh peserta
didik dalam mengukur kemampuan
berbahasa dan kemampuan nalar-intelektual.
Mereka menganggap tes praktis berbahasa,
khususnya membuat produk tulisan, baik
esai, artikel atau bentuk tulisan akademik
lainnya lebih ideal (70%), sementara sisanya
(30%) memilih bentuk tertulis, baik uraian
maupun pilihan ganda.
Hasil survei tersebut menguatkan
pendapat
Gardner
(2003:57)
yang
menyatakan bahwa peserta didik ternyata
lebih mudah belajar atau menangkap bahan
yang diajarkan pendidik apabila bahan itu
disajikan sesuai dengan kecerdasan yang
menonjol yang dimiliki oleh peserta didik.
Misalnya, bila peserta didik menonjol dalam
hal kecerdasan musik, pembelajaran menulis
dijelaskan dengan bentuk musik, ritme, atau
nyanyian. Sementara itu, apabila peserta
didik menonjol dalam hal kinestetik bahan
menulis
disajikan
lebih
banyak
menggunakan gerakan, dramatisasi, role
playing. Sangat jelas bahwa dalam
pendekatan ini, keadaan peserta didik lebih
diperhatikan daripada keadaan pendidik. Hal
ini didasarkan pada kenyataan bahwa peserta
didik sebagai subjek belajar.
Dalam hal kecerdasan majemuk ini
pembelajaran sangat mengutamakan aspek
keberagaman dan kebebasan, bukan
keseragaman dan ketertiban. Di sini perlu
dipahami bahwa keberagaman belajar
peserta didik menuntut pendidik untuk
berusaha menyesuaikan gaya mengajar
dengan gaya belajar peserta didiknya. Oleh
karena itu, untuk mewujudkan hasil yang
tinggi perlu dikembangkan aktivitas
pembelajaran yang beragam. Pembelajaran
bertolak
dari
kecerdasan
majemuk
mengintegrasikan totalitas penuh antara
tubuh
dan
pikiran
dalam
proses
pembelajaran. Aktivitas total antara tubuh
dan pikiran tersebut membuat pembelajaran
bisa berlangsung lebih nyaman dan hasilnya
lebih optimal (Suparno 2007:4)
UAD, Yogyakarta
kritis, yang meliputi sikap dan keterampilan
kritis-analitis dalam memahami dan
menginterpretasikan teks ujaran maupun
tulis. Melatih mereka menjadi pengguna
bahasa yang kritis dalam berbagai konteks
dalam
memahami
informasi
yang
diterimanya. Pembelajaran menulis adalah
kegiatan yang menantang dan karena itu
semestinya tidak diajarkan sebagai konten
melainkan sebagai proses. Hal tersebut
didukung oleh hasil survei yang lebih
memilih pembelajaran menulis dengan
latihan praktis.
REFERENSI
Alwasilah, Chaedar. 2000. ”Membenahi
Perkuliahan
MKDU
bahasa
Indonesia di Perguruan Tinggi”.
Dalam Purwo, B.K. 2000. Kajian
Serba
Linguistik.
Jakarta:
Universitas Katolik Indonesia Atma
Jaya.
Gardner,
Howard.
2003.
Multiple
Intelligences: The Theory in
Practic. (Terjemahan Alexander
Sindoro) New York. (Buku asli
diterbitkan tahun 1983).
Graves, Donald H. 2003. Writing: Teachers
and Children at Work. (Rev. Ed.)
Portsmouth. NH: Heinemann.
Hillocks, George. 1987. Synthesis of
Research on Teaching Writing.
Educational Leader-ship, 44 (8), 7182. Written at three Grade Levels.
NCTE
Research
Report#3.
Champaign, IL: NCTE.
Murray, Donald M. 1985. A. Writer Teacher
Writing, ((2 ed). Boston: Houghton
Mifflin Co.
National Writing Project. (2003, March).
Annual Report 2002, Berkley, CA:
Invernnes Research Associates.
Suparno,
Paul.
2007.
Metodologi
Pembelajaran
Fisika
Konstruktivistik
dan
Menyenangkan. Jakarta: Penerbit
Universitas Sanata Dharma.
SIMPULAN
Pembelajaran bahasa seharusnya
diniati sebagai upaya pembangunan literasi
THE 5TH URECOL PROCEEDING
802
ISBN 978-979-3812-42-7
Download