perpustakaan.uns.ac.id digilib.uns.ac.id commit to user BAB 4

advertisement
perpustakaan.uns.ac.id
digilib.uns.ac.id
BAB 4
HASIL PENELITIAN
A. Gambaran Umum Lokasi Penelitian
Puskesmas Turen merupakan salah satu sarana kesehatan yang terdapat di
Kecamatan Turen, dengan memiliki:
1.
Visi
Terwujudnya masyarakat Turen sehat yang berkeadilan dan mandiri (Profil
puskesmas, 2014).
2.
Misi
a. Meningkatkan keterjangkauan akses pelayanan kesehatan di Kecamatan
Turen yang berkualitas dan berkeadilan
b.Meningkatkan kemandirian masyarakat kecamatan Turen di bidang
kesehatan melalui pemberdayaan masyarakat, swasta dan kerjasama lintas
sektoral
c. Meningkatkan kualitas sumber daya kesehatan yang merata dan berkeadilan
di masyarakat kecamatan Turen
d.Meningktakan kualitas manajemen pemerintahan bidang kesehatan di
kecamatan Turen yang efektif dan professional (Profil puskesmas, 2014).
3.
Peran Puskesmas Turen
a. Sebagai penyelenggara Upaya Kesehatan Perorangan (UKP), dimana
puskesmas bertugas memberikan pelayanan pengobatan kepada masyarakat
yang datang ke puskesmas baik dalam bentuk konsultasi, pengobatan fisik
serta rujukan.
commit to user
43
44
digilib.uns.ac.id
perpustakaan.uns.ac.id
b.Berperan dalam bidang Upaya Kesehatan Masyarakat (UKM) dengan
melaksanakan program yang bersentuhan langsung dengan masyarakat
diantaranya promosi kesehatan, kesehatan lingkungan, usaha kesehatan
sekolah (UKS), pemberantasan penyakit menular, perbaikan gizi, kesehatan
ibu dan anak serta lainnya (Profil puskesmas, 2014).
4.
Batas wilayah
Puskesmas Turen berbatasan dengan:
a. Utara
: Kecamatan Wajak
b. Timur : Kecamatan Dampit
c. Selatan : Kecamatan Sumbermanjing Wetan
d. Barat
5.
: Kecamatan Gondanglegi (Profil puskesmas, 2014).
Wilayah kerja
Wilayah kerja Puskesmas Turen terdiri dari 2 Kelurahan dan 15 Desa, yaitu:
Kelurahan
Turen
dan
Sedayu,
Desa
Sanankerto,
Sananrejo,
Kedok,
Tumpukrenteng, Talangsuko, Jeru, Tanggung, Pagedangan, Talok, Undaan,
Gedogkulon, Gedogwetan, Tawangrejeni, Sawahan dan Kemulan (Profil
puskesmas, 2014).
6.
Data Petugas
Data petugas Puskesmas Turen terdiri dari:
a. Tenaga Medis terdiri dari 2 dokter umum, dan 1 dokter gigi.
b.Tenaga Paramedis terdiri dari 5 bidan, 14 bidan desa, 24 perawat, 1 perawat
gigi, 1 D3 Kesling sanitarian, 1 asisten apoteker, 1 analis laboratorium, dan
1 analis gizi.
commit to user
45
digilib.uns.ac.id
perpustakaan.uns.ac.id
c. Tenaga Administrasi terdiri dari 2 tata usaha, 4 administrasi loket, 2 petugas
apotek, 2 petugas dapur/cuci, 1 pramu kantor dan 4 petugas kebersihan
(Profil puskesmas, 2014).
B. Hasil Penelitian
1. Latar belakang pelaksanaan program EMAS
Berdasarkan hasil wawancara dengan informan 1 didapatkan bahwa program
EMAS dibentuk dalam rangka mengurangi angka kematian ibu dan bayi baru
lahir. Demikian kutipannya:
“Program
EMAS dibentuk dalam rangka menurunkan angka kematian ibu
melahirkan dan bayi baru lahir” (CL 1 hal.85)
Hasil wawancara dengan informan 1 menyebutkan bahwa puskesmas Turen
terpilih dikarenakan memiliki kemampuan dari segi sumber daya tenaga
kesehatan, fasilitas puskesmas yang telah memadai, dan jumlah pasien yang
banyak. Tidak ada kriteria khusus untuk puskesmas pelaksana program EMAS ini
namun puskesmas Turen merupakan puskesmas dengan rawat inap standar dan
memiliki dokter serta petugas yang sudah PONED. Demikian diungkapkan oleh
informan 1:
“Puskesmas Turen terpilih karena memiliki SDM dan sarana prasarana yang siap
mendukung dalam pelaksanaan program ini..... pasien kita juga banyak sehingga
kita terpilih....Turen memang belum PONED, tetapi saya adalah dokter PONED,
petugasnya adalah PONED. Dan memang kita sumber daya manusianya lebih
bagus, sarana prasarana juga menunjang, pasien kita juga banyak sehingga kita
terpilih. Karena percuma saja meskipun puskesmas yang sudah PONED tapi
mereka tidak mempunyai pasien banyak, bagaimana program bisa terlaksana
kalau seperti itu” (CL 1 hal.85)
commit to user
46
digilib.uns.ac.id
perpustakaan.uns.ac.id
Hasil wawancara dengan responden 2 mengaku kurang memahami alasan
puskesmas Turen terpilih, karena pada waktu itu justru angka kematian ibu dan
bayi nol di wilayah puskesmas Turen. Demikian kutipannya:
“saya sendiri kurang begitu paham apa yang melatar belakangi puskesmas Turen
terpilih, karena sebenarnya sebelum adanya program EMAS AKI dan AKB tidak
ada (nol), justru setelah program ini jalan ada kematian” (CL 2 hal. 90)
Sudah ada SK penunjukan dari bupati kepada puskesmas Turen dan dokter
serta bidan koordinator sebagai tim pendamping dan replikasi program EMAS,
namun sayangnya tidak ada nomor SK dan tandatangan yang tertera dalam SK
tersebut. Berikut bukti SK nya:
commit to user
47
digilib.uns.ac.id
perpustakaan.uns.ac.id
2.
Pelaksanaan program EMAS
Program
EMAS
bertujuan
untuk
meningkatkan
kualitas
pelayanan
kegawatdaruratan maternal dan neonatal di fasilitas kesehatan dan meningkatkan
sistem rujukan yang efektif, efisien, berkualitas dan aman pada kasus
kegawatdaruratan maternal dan neonatal. Demikian diungkapkan oleh informan 1:
“program EMAS ini mengajarkan cara bagaimana penanganan kegawatdaruratan
dan sistem rujukan yang tepat dan cepat, penanganan pasien di puskesmas
sebelum dirujuk dan kesiapan tempat dan petugas di RS rujukan. Sebetulnya
sebelum program EMAS ini telah ada program KIBBLA, namun kibbla
merupakan penanganan kegawatdaruratan dengan melibatkan peran serta
masyarakat untuk membawa pasien dari rumah ke puskesmas, namun program
EMAS ini bagaimana dari puskesmas merujuk ke RS. Jadi pada program ini ada
komunikasi yang efektif dengan RS rujukan” (CL 1 hal. 85).
Hal senada juga diungkapkan oleh informan 2:
“ada 2 hal yang menjadi inti dari program EMAS yaitu meningkatkan pelayanan
pada kasus kegawatdaruratan maternal dan neonatal dan meningkatkan pelayanan
rujukan kegawatdaruratan secara efektif dan efisien. Kalau dulu kita merujuk
langsung saja pasien dibawa tapi sekarang harus memberikan informasi dulu,
nama pasien, diagnosa, pembiayaan menggunakan apa” (CL 2 hal. 91).
Dalam pelaksanaan program EMAS ini dibentuk sebuah tim emergensi yang
terdiri dari tim merah, kuning, dan hijau. Rincian tugas tim ini tampak dalam
algoritma yang terpasang dipapan UGD. Demikian rincian tugasnya:
commit to user
48
digilib.uns.ac.id
perpustakaan.uns.ac.id
Gambar 4.1 Struktur Tim Emergensi
TIM EMERGENCY
DOKTER, BIDAN, PERAWAT
1. Mengatasi/menenangkan
pasien dan keluarga
2. Anamnesa terarah
3. Pemeriksaan awal cepat
4. Membuat keputusan klinik
5. Koordinasi
penatalaksanaan awal
6. Pasang infus
7. Ambil contoh darah
8. Ikuti instruksi dokter
9. Tetap bersama pasien
A. Mempersiapkan penyediaan
meja trolley emergensi
 Setiap ganti dinas
 Setiap selesai tindakan
B. Saat emergency
 Membawa meja dorong
emergency ketempat
kejadian
 Melakukan observasi
 Bersama dengan
koordinator tetap bersama
pasien
 Dokumentasi semua
tindakan dan hasil
observasi, serta obat-obatan
dan cairan
1. Membawa alat-alat seperti
tiang infus dan suction
unit
2. Memberi informasi dan
memanggil dokter
3. Menghubungi dan bila
perlu mengantar serta
mengambil hasil
laboratorium
4. Memobilisasi alat dan bila
perlu membawa pasien ke
kamar tindakan bila
------- : Garis koordinasi
Sumber: Algoritma terpasang didinding
Hasil wawancara dengan informan 2 menyebutkan bahwa setiap shift dinas
pasti terdapat tim emergensi, untuk tim merah (pemberi perintah) tidak harus
dikerjakan oleh bidan koordinator tetapi bidan pelaksana yang pada saat itu dinas,
tetapi mereka semua telah diberi pelatihan.
“ dalam emas ini kita dituntut untuk tim. jadi tim merah sebagai koordinator
memberi perintah, kuning sebagai pelaksana, hijau itu yang mobile menyiapkan
rujukan, telpon dokter, telpon RS dsb....oh tidak harus saya, tapi siapa yang dinas
pada saat itu tetapi mereka sudah di latih sebelumnya, saya yang melatih” (CL 2
hal. 92)
Hal senada juga diungkapkan oleh informan 3
commit to user
perpustakaan.uns.ac.id
49
digilib.uns.ac.id
“setiap shift ada timnya, tergantung yang pada saat itu ada. Saya sebagai tim
merah, tapi juga pernah jadi tim hijau atau kuning tergantung kondisi. Tapi sudah
di drill (dilatih) dulu oleh bikor” (CL 5 hal. 98)
Program ini mengajarkan bagaimana penanganan kasus kegawatdaruratan pada
pasien sebelum dirujuk dan memberikan pendampingan yaitu komunikasi yang
efektif dengan tempat rujukan. Komunikasi dengan rumah sakit dilakukan dengan
mengirimkan sms gate way yang telah memiliki format khusus yang disebut
dengan SIJARIEMAS. Contoh penggunaan sms sebagai berikut:
Kasus kegawatdaruratan maternal
R# kode praktek# nama ibu #umur#nama suami#asuransi#golongan darah#alat
transportasi# diagnosa#tindakan prarujukan
R # 1# Intan# 20# Andik# Jampersal/Jamkesmas# O# Ambulan# GI P0 Ab0 TD
180/110 PEB# MgSO4
Kasus kegawatdaruratan neonatal
RB# kode praktek#nama ibu#umur bayi#nama suami#asuransi#golongan
darah#alat transportasi# diagnosa#tindakan prarujukan
RB# Intan# 20# Andik# Jampersal/Jamkesmas# O# Ambulan# Asphixia#
Resusitasi
Hasil wawancara dengan informan 2 menyebutkan bahwa sms sijariemas ini
tidak digunakan untuk semua kasus rujukan karena sms ini dinilai kurang efektif
dan efisien. Proses pengiriman informasi dengan SIJARIEMAS dijelaskan oleh
informan 2 sebagai berikut:
“Jadi kirim sms dengan menggunakan format yang telah ditentukan oleh program,
sms ini akan diterima oleh RS jejaring emas, kita kan jejaringnya dengan RS
Bokor. Di UGD RS akan berbunyi sebagai tanda ada kasus, kemudian dari RS
commit
to user
akan membalas sms tersebut bahwa
pasien
boleh dikirim. Jika di RS tidak siap
50
digilib.uns.ac.id
perpustakaan.uns.ac.id
misalkan tempat penuh atau dokter tidak ada mereka akan membalas untuk
dirujuk saja ke RSUD. Sms yang kami kirim tadi akan diteruskan oleh RSBK ke
RSUD, kemudian pihak RSUD akan konfirmasi ulang ke kami apakah benar kami
yang ingin melakukan rujukan. Jika sudah selesai konfirmasi baru mereka sms
lagi bahwa tempat telah siap dan pasien bisa dirujuk. Semua nomer bidan
puskesmas sebelumnya didaftarkan ke sijari emas tadi” (CL 2 hal. 91-92 )
“....tetapi agak ribet. Kalau sudah ada kasus gawat kelamaan kalau harus ngetik
sms jd langsung via telpon. Baru kalau kasus RDB kita menggunakan sms... kalau
pada kasus APB, PEB, HPP yang gawat darurat seperti ini kita langsung lewat
telpon tapi kalau yang rujukan dini berencana misal riwayat SC, KPD itu
menggunakan sijari emas” (CL 2 hal. 92)
Hal senada juga diungkapkan oleh informan 3:
“pake telepon kalo untuk rujukan, karena lama kalo pake sms. Pasiennya sudah
gawat kelamaan. Tapi pas pasien sudah dirujuk baru kita kirim sms dengan
format, karena ketentuannya begitu. Sebenarnya memang harus kirim sms” (CL 5
hal. 98)
Hasil dari penelusuran dokumen menyebutkan bahwa rumah sakit rujukan
yang menjadi mitra dari puskesmas Turen adalah RS Bokor Turen, RS Mitra
Delima, RSI Gondanglegi dan RSUD Kepanjen.
Hasil wawancara dengan informan 1 menyebutkan bahwa selama ini rumah
sakit yang sering digunakan untuk merujuk adalah RSUD Kepanjen. Untuk RS
swasta pernah digunakan namun terkendala dengan pembiayaan pasien karena
sebagian besar pasien menggunakan jampersal karena di RS swasta ada
keterbatasan
dalam
melayani
pembiayaan
tersebut.
Berikut
cuplikan
wawancaranya:
“kita RS nya kan tidak hanya RSUD saja, tapi ada RS Bokor, Mitra Delima, RSI
Gondanglegi... ke Bokor pernah, Mitra Delima juga pernah tetapi yang lebih
sering ke RSUD dan tergantung juga permintaan pasien.... dengan adanya
jampersal dan kepercayaan pasien
ke tokami
commit
user akhirnya mereka berbondongbondong melahirkan ke puskesmas. Namun ini juga menimbulkan kendala pada
51
digilib.uns.ac.id
perpustakaan.uns.ac.id
perujukan ke Bokor/ mitra delima karena memang RS tersebut jatahnya untuk
jampersal kan terbatas. Sehingga pada saat ada kasus kita akan bertanya dulu
mana RS yang bisa untuk merujuk jampersal, ya paling sering akhirnya di RSUD
karena memang disana banyak jatahnya” (CL 1 hal. 88-89 )
Hasil wawancara dengan informan 1 menyatakan bahwa program EMAS
hanya memberikan pendampingan saja tanpa adanya pelatihan.
“emas tidak memberikan pelatihan, hanya kami pada saat itu diberi contoh kita
dibawa ke RS Budi kemuliaan disana di berikan contoh bagaimana menangani
pasien gawat darurat. Lalu emas tidak merubah apapun, emas hanya mentaati
sebuah aturan yang sudah ada tadi. Aturan tersebut dari mana? Ya dari kemenkes
yang sudah sesuai dengan standar tadi....Bagaimana mungkin sistem itu akan
berjalan kalau mereka semua tidak pernah berlatih. Ada jadwal-jadwal tertentu
yang telah dibuat untuk mereka berlatih penanganan kegawatdaruratan, ada atau
tidak ada pasien harus tetap berlatih. Jadi semua tindakan kegawatdaruratan dalam
program ini harus diperagakan” (CL 1 hal. 89-90)
Namun menurut informan 2 program EMAS memberikan pelatihan dan
pendampingan oleh dokter spesialis kandungan yang telah ditunjuk oleh tim
EMAS, namun kedatangannya tidak rutin. Demikian cuplikannya:
“...Emas mengirimkan Dokter SpOG biasanya tiap 3 bulan sekali, kemaren
terakhir bulan februari datang kesini untuk refresh materi. Dan dokter juga akan
menampung permasalahan-permasalahan yang mungkin dihadapi baik di
puskesmas atau RS untuk nanti disampaikan ke emas sebagai bahan untuk
perbaikan” (CL 2 hal. 93)
Bidan koordinator yang telah dilatih oleh EMAS bertindak sebagai mentor
untuk melatih petugas yang lain. Latihan tersebut biasa dikerjakan minimal 4
bulan sekali dan sewaktu-waktu jika dirasa perlu atau pada saat ada kasus. Ada
bukti dokumentasi dari kegiatan tersebut.
commit to user
perpustakaan.uns.ac.id
52
digilib.uns.ac.id
“iya ada. Tapi kami juga menyesuaikan dengan kondisi teman-teman disini jika
tidak sibuk dengan kegiatan kita refresh tindakan, biasanya 4 bulan sekali. Dan
juga jika ada kasus kita pasti sharing bersama. Biasanya kita bentuk kelompok
kecil 3 orang, jadi mereka nanti bergantian mempraktekkan ada yang sebagai tim
merah, kuning, hijau. Jadi biar semua merasakan” (CL 2 hal. 93)
Hasil wawancara dengan informan 1 menyebutkan bahwa pada saat ini
hubungan puskesmas dengan rumah sakit sudah baik dalam hal rujukan, yang
dahulu sebelum ada program EMAS sering terjadi kesalahpahaman dalam tatacara
merujuk yang tepat menurut rumah sakit tetapi setelah ada kesepakatan antara
EMAS dan rumah sakit, proses perujukan dapat berjalan baik.
“kalau dulu ada komunikasi yang kurang baik setelah program ini berjalan tidak
ada lagi kendala karena kita antara puskesmas dengan RS rujukan telah duduk
bersama membicarakan hal-hal apa yang menyebabkan kendala dalam rujukan,
sehingga jika kita memberikan informasi akan merujuk pasti disana telah
disiapkan” (CL 1 hal. 88).
Hal senada juga diungkapkan oleh informan 2:
“kalau dulu kan masih saling menyalahkan sehingga takut merujuk tapi sekarang
kita sudah satu suara. Kita sudah duduk bersama membahas, apa sih yang
diinginkan RS tentang cara merujuk yang benar dan itu sudah ada hasil
kesepakatnnya” (CL 2 hal. 92)
Namun masih ada kasus kasus tertentu yang terkadang tidak diterima oleh
rumah sakit dan dikembalikan lagi ke puskesmas karena menurut rumah sakit
pasien tersebut dapat ditangani di puskesmas, selain itu belum terdapatnya
komunikasi yang baik antara bidan yang bertugas di UGD rumah sakit dengan
yang bertugas di kamar bersalin karena tidak semua bidan yang bertugas dirumah
sakit mendapat pelatihan program EMAS.
Demikian diungkapkan oleh informan 2:
“ mungkin memang ada komunikasi
yangtobelum
commit
user semua tersampaikan pada bidan
di RS, antara mereka yang telah mengikuti program emas dengan yang belum.
53
digilib.uns.ac.id
perpustakaan.uns.ac.id
Karena setahu saya bidan RS yang selama ini ikut emas adalah yang ada di kaber.
Kalau yang di UGD belum, sepertinya masih ada missed komunikasi. Tetapi tidak
semua bidan dan tidak semua kasus” (CL 3 hal. 96).
EMAS memfasilitasi pertemuan antara rumah sakit, dan puskesmas dalam
membahas kesulitan yang selama ini dihadapi dalam proses perujukan. Standar
operasional prosedur (SOP) yang telah mereka miliki (dari dinas kesehatan) lalu
dibahas dan disamakan persepsinya sehingga saat ini SOP tersebut telah
digunakan sebagai acuan dalam pelaksanaan tindakan.
Demikian diungkapkan oleh informan 1:
“emas tidak memberikan SOP, ya kita sendiri yang harus mencari SOP tersebut
dari Dinkes, atau harus kita sesuaikan dengan RS rujukan. Dan SOP tersebut kita
sepakati bersama antara puskesmas dengan RS rujukan” (CL 1 hal. 90)
Hal senada juga diungkapkan oleh informan 2:
“ada. Dan itu sudah saya sampaikan ke teman-teman semua jika ada kasus seperti
ini nanti merujuknya seperti ini. SOP juga ada dan sudah dibukukan, itu hasil dari
pertemuan kita. Algoritma juga ada sudah ditempel semua” (CL 2 hal. 93)
Dari hasil penelusuran dokumen didapatkan bahwa SOP telah dibukukan,
SOP tersebut meliputi asuhan kebidanan pada ibu dan bayi meliputi kasus
fisiologis, patologis dan rujukan.
Hasil wawancara dengan informan 2 menyebutkan bahwa penatalaksanaan
kegawatdaruratan yang dibina EMAS meliputi pada ibu dengan kasus pre eklamsi
berat (PEB), hemorraghia post partum (HPP), ante partum bleeding (APB) dan
commit to user
perpustakaan.uns.ac.id
54
digilib.uns.ac.id
syok sedangkan pada bayi yaitu penatalaksanaan metode kanguru (PMK),
resusitasi, inisiasi menyusu dini (IMD), diare, kejang dan infeksi.
Hasil observasi juga didapatkan bahwa algoritma telah terpasang dengan rapi
di kamar bersalin dan UGD serta mudah untuk dibaca. Algoritma tersebut
meliputi tatalaksana pemberian MgSO4 untuk pre-eklamsia dan eklamsia,
membantu bayi bernafas, “ABCCCD” dari manajemen eklamsia, manajemen bayi
baru lahir dengan asfiksia, penatalaksaan atonia uteri, estimasi blood loss,
penatalaksanaan syok hipovolemik, penatalaksanaan retensio plasenta, langkahlangkah APN, langkah pemeriksaan bayi baru lahir, dan tatalaksana konseling.
Selain algoritma juga terpasang SOP maternal selama transportasi (rujukan) yang
meliputi kasus HPP-syok, sepsis, PEB/eklamsia.
3.
Hasil program EMAS
Hasil wawancara dengan informan 1 menyebutkan bahwa dengan program
EMAS ini tidak membuat angka kematian nol di puskesmas Turen.
“ kalau anda bertanya tentang kematian, kematian tidak menurun. Tetapi kematian
itu tidak terjadi di puskesmas” (CL 1 hal. 86)
Hal ini dikuatkan dengan hasil penelusuran dokumen didapatkan bahwa
angka kematian ibu meningkat dari nol pada tahun 2012 menjadi 5 kematian pada
tahun 2013 dengan 4 kasus karena pre eklamsi berat (PEB) dan 1 kasus karena
kelainan darah.
Menurut informan 2 hal ini dipicu oleh banyaknya kasus PEB yang
meningkat drastis di puskesmas pada
saattoitu,
namun informan telah menekankan
commit
user
55
digilib.uns.ac.id
perpustakaan.uns.ac.id
bahwa pasien ini tidak meninggal di puskesmas karena tidak dilakukannya
tindakan, namun pasien ini meninggal di rumah sakit rujukan karena komplikasi
pasca persalinan.
“sebelum adanya program EMAS AKI dan AKB tidak ada (nol), justru setelah
program ini jalan malah ada kematian itupun yang 4 karena PEB, 1 karena
kelainan darah dan memang pada saat itu kasus PEB meningkat... kematian itupun
tidak terjadi di puskesmas tetapi di RS pada 8 hari post SC, 10 hari post SC.” (CL
2 hal. 90)
Hasil penelusuran dokumen didapatkan bahwa jumlah kasus rujukan
mengalami peningkatan dikarenakan meningkatnya jumlah persalinan. Dapat
dilihat pada tabel dibawah ini:
Tabel 4.1 Daftar Kasus Rujukan di Puskesmas Turen Tahun 2012 dan 2013
Tahun
Tahun 2012
Kasus rujukan:
1. PEB
2. Retensio plasenta
3. Kala I lama
4. KPD
5. PER
6. APB
7. HPP
8. Post date
9. Letsu
10. CPD
11. Kehamilan resti
Tahun 2013
Kasus rujukan:
1. PEB
2. Retensio plasenta
3. Kala I lama
4. KPD
5. PER
6. APB
7. HPP
8. Post date
9. Letsu
10. CPD
11. Kehamilan resti
12. Riwayat SC
Persalinan dan rujukan
382 persalinan
70 kasus
30
5
2
10
3
2
8
2
3
3
2
453 persalinan
166 kasus
70
16
4
28
5
4
14
7
5
3
8
2
Sumber: buku register persalinan tahun 2012 dan 2013
commit to user
56
digilib.uns.ac.id
perpustakaan.uns.ac.id
Dari tabel 4.1 dapat dilihat bahwa jumlah persalinan mengalami peningkatan
sebesar 15% pada tahun 2013.
Menurut informan 1 meningkatnya pasien ini dikarenakan pasien merasa
nyaman melahirkan di puskesmas sehingga menyebabkan jumlah pasien juga
mengalami peningkatan.
“dengan kesiapan para petugas ini membuat pasien merasa nyaman melahirkan di
puskesmas. Program ini tidak hanya sekedar memberikan pelayanan tindakan saja
tetapi bagaimana cara berkomunikasi yang baik dan efektif kepada pasien.
Sehingga dengan adanya hal itu pasien merasa senang dan membuat jumlah
pasien juga meningkat” (CL 1 hal. 86)
Hasil
wawancara
dengan
informan
2
menyebutkan
bahwa
dengan
dilaksanakannya program EMAS ini pengetahuan dan ketrampilan mereka
bertambah, sehingga lebih percaya diri dan mantap dalam memberikan asuhan
pada pasien dengan kegawatdaruratan.
“kami menjadi lebih percaya diri dan mantap dalam memberikan tindakan, lebih
terampil. dulu sebelum program ini jika ada pasien dengan PEB hanya kita pasang
infus lalu dirujuk tetapi sekarang tidak seperti itu. Kami melakukan stabilisasi
dahulu dengan memberikan MgSO4 baru dilakukan rujukan. Kami sudah percaya
diri memberikan MgSO4. dulu kita masih khawatir, takut ada keracunan dsb tetapi
sekarang sudah tidak” (CL 2 hal. 93)
Hal senada juga diungkapkan oleh informan 3:
“kami senang, lebih terampil, lebih percaya diri lagi dalam memberikan
penanganan pada kasus emergensi. Kalau dulu kan tidak berani alhamdulillah
sekarang sudah percaya diri” (CL 5 hal. 98)
commit to user
57
digilib.uns.ac.id
perpustakaan.uns.ac.id
Hasil wawancara dengan informan 1 menyebutkan bahwa puskesmas pernah
dijadikan tempat studi banding dari puskesmas diluar kabupaten Malang, namun
sayangnya tidak ada bukti dokumentasi pelaksanaan kegiatan.
“karena dengan adanya pasien meningkat, rasa percaya diri meningkat akhirnya
ada pada saat itu dari pasuruan datang untuk melihat bagaimana sih pelayanan
yang ada di puskesmas Turen” (CL 1 hal. 86).
Hal senada juga diungkapkan oleh informan 2:
“Ada dari pasuruan. Ingin melihat apa sih yang dikerjakan dalam program emas
ini” (CL 2 hal. 94)
Hasil wawancara yang dilaksanakan terhadap informan 2 menyatakan bahwa
bidan koordinator telah ditunjuk oleh tim EMAS sebagai mentor dalam pelatihan
untuk puskesmas daerah lain yang digagas oleh EMAS, namun sayang tidak ada
bukti SK ditunjuknya bidan oleh tim EMAS dan tidak ada dokumentasi hasil
kegiatan tersebut.
“di puskesmas blitar. Saya mendapat perintah langsung dari emas, jadi emas yang
mengijinkan saya ke dinkes untuk ijin tidak masuk kerja. Tidak ada surat hanya
via telpon saja langsung dari dinkes” (CL 3 hal. 96)
Wawancara dengan informan 4 menyatakan
pasien merasa puas dengan
tindakan yang telah diberikan oleh petugas karena cepat dalam penanganan,
jumlah petugas banyak, tanggap, ramah dan selalu memberikan informasi dengan
jelas. Pemberian informasi diberikan mulai masa kehamilan dalam bentuk
penyuluhan maupun konseling mengenai tanda bahaya kehamilan, tanda-tanda
commit to user
58
digilib.uns.ac.id
perpustakaan.uns.ac.id
persalinan, tatalaksana jika ada tanda bahaya tersebut sampai dengan pemberian
informasi mengenai proses rujukan.
“Saya senang sekali. Petugasnya ramah, banyak, kita datang ga pake nunggu
langsung dipriksa ditangani. Cara memberikan informasinya juga baik...Banyak
yang disampaikan, ya tentang kehamilan, trus persalinan. Juga dikasi tau kalau
ada apa-apa langsung saja datang kepuskesmas. Pernah dikasi penyuluhan tentang
tanda bahaya kehamilan, trus pas habis dipriksa pernah dikasi tau tentang tandatanda persalinan. Waktu mau dirujuk itu juga dijelaskan dulu ke saya, ke suami
saya”(CL 4 hal. 98)
Hasil wawancara dengan responden 2 menyebutkan bahwa penilaian kepuasan
pasien telah dilakukan oleh puskesmas dengan memberikan kuesioner pada ibu
bersalin, kuesioner tersebut dibuat secara bersama-sama oleh tim bidan.
“ ada ceklisnya yang kita berikan ke pasien...ya kita yang buat. Pernah juga ada
pasien yang mengatakan kepada saya, saya senang sekali melahirkan disini.
Penanganannya cepat, petugasnya banyak” (CL 3 hal. 97)
Hasil penelusuran dokumen didapatkan bahwa hal yang dinilai dalam
kuesioner tersebut adalah penilaian terhadap sikap petugas dalam memberikan
pelayanan, komunikasi petugas dengan pasien, kenyamanan dan kebersihan
sarana prasarana serta penyajian menu makanan..
Meskipun peneliti menilai bahwa kuesiner tersebut kurang memberikan
gambaran yang obyektif terhadap pelayanan di puskesmas karena jumlah
pertanyaan yang relatif sedikit dan kurang terperinci, namun dengan adanya
kuesioner tersebut sudah menunjukkan bahwa upaya untuk melakukan evaluasi
terhadap kinerja puskesmas.
commit to user
perpustakaan.uns.ac.id
59
digilib.uns.ac.id
Hasil dari wawancara dengan informan 1 menyebutkan bahwa emas selama ini
tidak memberikan bantuan dana maupun alat, emas hanya memberikan
pendampingan dan sistem
“Perlu saya sampaikan bahwa program emas ini hanya memberikan kita
pendampingan, jadi tidak ada pendanaan, tidak ada pelatihan, tidak ada
penambahan alat (hanya yang kecil-kecil itu saja). Emas hanya memberikan
pelajaran suatu sistem” (CL 1 hal. 89).
Namun menurut informan 2 puskesmas mendapatkan bantuan alat berupa
trolley emergensi yang berisi stilet, laringoskop, oksigen, mamanataly, neonataly
dimana sebagian dari alat ini memang belum dimiliki oleh puskesmas karena sulit
dicari dan harganya cukup mahal. Selain itu mendapatkan bantuan berupa korden,
kipas angin, tempat tissue, tempat antis untuk dipasang di kamar bersalin. Alatalat yang didapatlkan ini dinilai sangat memberikan manfaat.
“troli emergency. Isinya stilet, laringoskop, oksigen, mamanataly, neonataly.
Kita dikasi semua, sekarang sudah lengkap. Dulu memang kita coba beli tidak
ada, tapi sekarang sudah dipenuhi emas dan memang itu kan mahal. Korden, kipas
angin, tempat tisu, tempat antis yang ada di kaber itu juga kita dikasi. Tapi untuk
di ruangan lain kita lengkapi sendiri” (CL 3 hal. 97).
4.
Kendala program EMAS
Hasil wawancara dengan informan 1 menyebutkan bahwa tidak ada
kendala berarti selama pelaksanaan program ini, dari segi sarana prasarana telah
memenuhi dan sudah adanya kesepakatan antara puskesmas dengan rumah sakit
rujukan tentang tata cara melakukan rujukan yang benar sehingga sudah tidak ada
kesalahpahaman yang terjadi dan ini menjadikan akses merujuk lebih mudah.
“tidak ada kendala besar, sekali lagi bahwa puskesmas turen ini puskesmas besar
sehingga bisa mendanai kalau untuk beli alat yang kurang, tapi tentunya bukan
alat-alat yang besar. Saya kira tidak
ada....“karena
commit
to user baik sopir, ambulannya ataupun
tenaga yang lain sudah bisa melaksanakan dengan baik” (CL 1 hal. 87-88)
60
digilib.uns.ac.id
perpustakaan.uns.ac.id
“kalau dulu ada komunikasi yang kurang baik setelah program ini berjalan tidak
ada lagi kendala karena kita antara puskesmas dengan RS rujukan telah duduk
bersama membicarakan hal-hal apa yang menyebabkan kendala dalam rujukan,
sehingga jika kita memberikan informasi akan merujuk pasti disana telah
disiapkan” (CL 1 hal. 88)
Hal senada juga diungkapkan oleh informan 2:
“puskesmas dengan RS itu sekarang sudah satu kata sepakat” (CL 2 hal. 92)
Namun menurut analisis yang dilakukan oleh peneliti ada beberapa kendala yang
masih terjadi selama pelaksanaan program emas ini diantaranya penggunaan sms
gateway yang disebut sijariemas dinilai kurang efektif digunakan dalam
melakukan rujukan, para bidan lebih sering menggunakan telepon untuk merujuk
karena dinilai lebih cepat dan mudah, sms ini digunakan pada kasus rujukan dini
berencana (RDB). Demikian diungkapkan oleh informan 2:
“tetapi agak ribet. Kalau sudah ada kasus gawat kelamaan kalau harus ngetik sms
jd langsung via telpon. Baru kalau kasus RDB kita menggunakan sms... kalau
pada kasus APB, PEB, HPP yang gawat darurat seperti ini kita langsung lewat
telpon tapi kalau yang rujukan dini berencana misal riwayat SC, KPD itu
menggunakan sijari emas” (CL 2 hal. 92).
Hal senada juga diungkapkan oleh informan 3:
“pake telepon kalo untuk rujukan, karena lama kalo pake sms. Pasiennya sudah
gawat kelamaan. Tapi pas pasien sudah dirujuk baru kita kirim sms dengan
format, karena ketentuannya begitu. Sebenarnya memang harus kirim sms” (CL 5
hal. 98)
Pelaksanaan rujukan ke rumah sakit umum dinilai masih ada kendala
karena belum adanya sosialisasi secara menyeluruh antara bidan yang dinas di
UGD dan di kamar bersalin, beberapa bidan belum mendapatkan pelatihan dari
program EMAS. Sehingga masih adanya kesalahpahaman dalam pelaksanaan
rujukan. Demikian diungkapkan oleh informan 2:
commit to user
perpustakaan.uns.ac.id
61
digilib.uns.ac.id
“ya ada kasus tertentu saja, yang katanya RS masih bisa lahir di puskesmas
akhirnya dikembalikan. Pernah juga kata dokternya tentang kasus KPD pada
waktu itu, sudah suruh merujuk tetapi setelah kita telpon ke RS disuruh besok saja
ke poli (CL 3 hal. 96).
“mungkin memang ada komunikasi yang belum semua tersampaikan pada bidan
di RS, antara mereka yang telah mengikuti program emas dengan yang belum.
Karena setahu saya bidan RS yang selama ini ikut emas adalah yang ada di kaber.
Kalau yang di UGD belum, sepertinya masih ada miss komunikasi. Tetapi tidak
semua bidan dan tidak semua kasus” (CL 3 hal. 96).
Perihal pembiayaan yang dipakai oleh pasien masih menjadi kendala
dalam pelaksanaan rujukan, karena selama ini pasien lebih banyak menggunakan
jampersal sehingga puskesmas hanya bisa melakukan rujukan ke rumah sakit
pemerintah. Demikian diungkapkan oleh informan 1:
“kita RS nya kan tidak hanya RSUD saja, tapi ada RS Bokor, Mitra Delima, RSI
Gondanglegi... ke Bokor pernah, Mitra Delima juga pernah tetapi yang lebih
sering ke RSUD dan tergantung juga permintaan pasien.... dengan adanya
jampersal dan kepercayaan pasien ke kami akhirnya mereka berbondongbondong melahirkan ke puskesmas. Namun ini juga menimbulkan kendala pada
perujukan ke Bokor/Mitra Delima karena memang RS tersebut jatahnya untuk
jampersal kan terbatas. Sehingga pada saat ada kasus kita akan bertanya dulu
mana RS yang bisa untuk merujuk jampersal, ya paling sering akhirnya di RSUD
karena memang disana banyak jatahnya” (CL 1 hal. 88-89).
Meskipun komunikasi dengan tempat rujukan telah terjalin dengan baik,
namun ketidakberadaan dokter spesialis kandungan dan tidak adanya dokter jaga
di puskesmas menjadi kendala dalam melakukan konsultasi pada saat ada kasus
kegawatdaruratan. Demikian diungkapkan informan 2:
“Juga kendala untuk konsultasi dengan dokter, karena kan di puskesmas tidak ada
dokternya (spesialis) dan dokter jaga pun tidak ada” (CL 2 hal. 92-93).
Hal senada juga diungkapkan informan 3:
“tidak ada dokter spesialis, jadi konsulnya ya ke dokter umum. Via telpon kalau
pas sore/malam hari” (CL 5 hal. 98)
commit to user
62
digilib.uns.ac.id
perpustakaan.uns.ac.id
C. Pokok-pokok Temuan Penelitian
1. Latar Belakang pelaksanaan Program EMAS
a. Program EMAS dibentuk dalam rangka mengurangi angka kematian ibu dan
bayi.
b. Puskesmas Turen terpilih karena memiliki kemampuan dari segi sumber
daya tenaga kesehatan, fasilitas puskesmas yang memadai, dan jumlah
pasien yang banyak. Meskipun bukan puskesmas PONED, namun
puskesmas Turen merupakan puskesmas dengan rawat inap standar serta
memiliki dokter dan petugas PONED.
2. Pelaksanaan program EMAS
a. Program EMAS bertujuan untuk meningkatkan kualitas pelayanan
kegawatdaruratan maternal dan neonatal di fasilitas kesehatan dan
meningkatkan sistem rujukan yang efektif, efisien, berkualitas dan aman
pada kasus kegawatdaruratan maternal dan neonatal.
b. Pelaksanaan program EMAS dilakukan secara tim yang disebut dengan tim
emergensi terdiri dari tim merah, kuning dan hijau.
c. Penatalaksanaan kasus kegawatdaruratan pada pasien dengan melakukan
stabilisasi kondisi pasien sebelum dirujuk, pemberian informasi kepada
tempat rujukan dilakukan dengan mengirimkan sms gateway yang disebut
dengan sijariemas.
d. Rumah sakit rujukan yang menjadi mitra dari puskesmas Turen adalah RS
Bokor Turen, RS Mitra Delima, RSI Gondanglegi dan RSUD Kepanjen.
commit to user
63
digilib.uns.ac.id
perpustakaan.uns.ac.id
e. Pendampingan diberikan oleh tim EMAS dengan mengirimkan dokter
spesialis kandungan, meskipun tidak dilakukan secara intensif.
f. Pelatihan internal dilakukan oleh tim emergensi secara berkala untuk
menjaga dan meningkatkan pengetahuan dan keterampilan para bidan.
g. Sudah adanya kesepakatan antara puskesmas dengan rumah sakit tentang
tatacara perujukan yang tepat sehingga proses rujukan dapat berjalan lancar
meskipun ada sedikit kendala tidak diterimanya rujukan dengan kasus-kasus
tertentu.
h. Pelaksanaan tindakan dan proses perujukan telah mengacu pada standar
operasional prosedur (SOP) yang telah disepakati bersama-sama antara
puskesmas dengan rumah sakit.
3. Hasil yang dicapai dalam program EMAS
a. Angka kematian ibu meningkat dari nol pada tahun 2012 menjadi 5 kasus
pada tahun 2013.
b. Jumlah persalinan meningkat yang diikuti dengan peningkatan kasus
kegawatdaruratan (rujukan). Peningkatan jumlah persalinan di puskesmas
tidak terlepas dari kepuasan pasien terhadap kinerja puskesmas.
c. Puskesmas Turen pernah dijadikan sebagai tempat studi banding dari
puskesmas daerah lain diluar kabupaten Malang.
d. Bidan koordinator bertindak sebagai mentor dalam kegiatan pelatihan di
daerah lain yang digagas oleh EMAS.
4. Kendala yang dihadapi dalam program EMAS
a. Sms gateway sijariemas dinilai kurang efektif dan efisien untuk pengiriman
informasi rujukan.
commit to user
64
digilib.uns.ac.id
perpustakaan.uns.ac.id
b. Pengiriman rujukan lebih sering dilakukan ke rumah sakit pemerintah
(RSUD) dikarenakan terkendala dengan pembiayaan jampersal yang
kuotanya sedikit di rumah sakit swasta.
c. Belum adanya sosialisasi yang menyeluruh tentang program EMAS di
rumah sakit rujukan acapkali menyebabkan terjadinya missed komunikasi
dalam hal menerima rujukan antar petugas yang satu dengan yang lainnya.
d. Belum adanya dokter spesialis kandungan sebagai konsultan di puskesmas
dan belum adanya dokter jaga setiap saat kadangkali menyebabkan kesulitan
dalam hal konsultasi.
D. Pembahasan
1.
Latar belakang program EMAS
Program EMAS dibentuk dalam rangka mengurangi angka kematian ibu dan
bayi. Angka kematian ibu (AKI) dan angka kematian bayi (AKB) masih tinggi di
Indonesia, menurut survey Demografi Kesehatan Indonesia (SDKI) tahun 2007
yaitu sebesar 228/100.000 kelahiran hidup dan 34/1000 kelahiran hidup. Hal ini
masih jauh dari target Millenium Development Goals (MDGs) tahun 2015 yaitu
102/100.000 kelahiran hidup untuk AKI dan 23/1000 kelahiran hidup untuk AKB.
Kematian ibu dan bayi disebabkan oleh beberapa faktor, antara lain
penyebab langsung yang meliputi komplikasi persalinan yang terdiri dari
perdarahan, pre/eklamsia, infeksi, dan jantung. Penyebab tidak langsung yang
berhubungan dengan pendidikan dan budaya, faktor tiga terlambat yaitu terlambat
mengenal tanda bahaya dan mengambil keputusan, terlambat mencapai fasilitas
commit to user
perpustakaan.uns.ac.id
65
digilib.uns.ac.id
kesehatan, dan terlambat mendapat pertolongan difasilitas kesehatan serta faktor 4
yaitu terlalu muda punya anak, terlalu banyak melahirkan, terlalu rapat jarak
melahirkan dan terlalu tua.
Dalam Zulhadi, Trisnantoro dan Zaenab (2012) dijelaskan bahwa berbagai
upaya telah dilakukan pemerintah untuk menurunkan angka kematian ibu dan
kematian bayi, antara lain melalui penempatan bidan di desa, pemberdayaan
keluarga dan masyarakat dengan menggunakan buku Kesehatan Ibu dan Anak
(buku KIA) dan Program Perencanaan Persalinan dan Pencegahan Komplikasi
(P4K), serta penyediaan fasilitas kesehatan Pelayanan Obstetri Neonatal
Emergensi Dasar (PONED) di puskesmas dan Pelayanan Obstetri Neonatal
Emergensi Komprehensif (PONEK) di rumah sakit. Namun hal ini masih tidak
dapat menurunkan secara signifikan AKI dan AKB di Indonesia.
Berdasar pada hal itulah States Agency for International Development
(USAID) memberikan dana hibah dan asistensi teknis untuk bekerjasama dengan
Kementerian Kesehatan RI dalam mengembangkan model untuk mempercepat
penurunan AKI dan AKB melalui program EMAS. EMAS (Expanding Maternal
and Neonatal Survival) adalah program kerjasama RI dan USAID selama lima
tahun (2012-2016) dalam rangka mengurangi AKI dan AKB dengan mendukung
pemerintah pusat, provinsi dan kabupaten dalam berjejaring dengan Organisasi
Masyarakat Sipil, fasilitas kesehatan publik dan swasta, asosiasi rumah sakit,
organisasi profesi, dan sektor swasta.
Hal ini sejalan dengan Zulhadi, Trisnantoro dan Zaenab (2012), bahwa
memperkuat sistem rujukan merupakan salah satu cara dalam mempercepat
penurunan angka kematian ibu. Dengan memperkuat sistem rujukan adanya
commit to user
66
digilib.uns.ac.id
perpustakaan.uns.ac.id
problem dan tantangan puskesmas dalam mendukung sistem rujukan maternal ke
Rumah Sakit Umum Daerah dapat diatasi.
Jawa Timur terpilih menjadi pelaksana program EMAS karena memiliki
kotribusi terhadap 50% kematian ibu dan bayi. Pertama kali di implementasikan
di dua kabupaten salah satunya adalah kabupaten Malang karena kabupaten
Malang dapat menunjukkan komitmen dan usaha yang konsisten dalam
menurunkan AKI dan AKB.
Puskesmas Turen terpilih karena memiliki kemampuan dari segi sumber
daya tenaga kesehatan, fasilitas puskesmas yang memadai, dan jumlah pasien
yang banyak. Meskipun bukan puskesmas PONED, namun puskesmas Turen
merupakan puskesmas dengan rawat inap standar serta memiliki dokter dan
petugas PONED.
Puskesmas
PONED
merupakan
puskesmas
rawat
inap
dengan
kemampuan serta fasilitas PONED siap 24 jam melayani ibu hamil, bersalin dan
nifas dan bayi baru lahir dengan komplikasi baik yang datang sendiri atau atas
rujukan kader, masyarakat, bidan, Puskesmas non PONED dan melakukan
rujukan ke RS Pelayanan Obstetri Neonatal Emergensi Komprehensif (PONEK)
(Wijaya, 2012).
Meskipun puskesmas Turen belum merupakan puskesmas PONED, namun
puskesmas Turen merupakan puskesmas rawat inap standar yang memiliki
fasilitas kesehatan yang memadai dan tenaga kesehatan yang kompeten serta
mampu melakukan penanganan komplikasi kehamilan dan persalinan.
commit to user
67
digilib.uns.ac.id
perpustakaan.uns.ac.id
2. Pelaksanaan program EMAS
Program EMAS bertujuan untuk meningkatkan kualitas pelayanan
kegawatdaruratan maternal dan neonatal di fasilitas kesehatan dan meningkatkan
sistem rujukan yang efektif, efisien, berkualitas dan aman pada kasus
kegawatdaruratan maternal dan neonatal.
Peningkatan pelayanan kegawatdaruratan maternal dan neonatal penting
sekali dilakukan guna mengurangi angka kesakitan dan kematian ibu dan bayi.
Faktor keterlambatan yang menjadi penyebab tidak langsung kematian ibu dan
bayi salah satunya adalah terlambat mendapatkan pertolongan difasilitas
kesehatan. Keterlambatan mendapatkan pertolongan di fasilitas kesehatan dapat
disebabkan oleh adanya komunikasi yang kurang baik dan proses perujukan yang
kurang efektif. Sistem perujukan yang baik perlu dilakukan agar proses rujukan
dan penanganan pasien dapat berlangsung cepat.
Sistem rujukan adalah suatu sistem jaringan fasilitas pelayanan kesehatan
yang memungkinkan terjadinya penyerahan tanggung jawab secara timbal-balik
atas masalah yang timbul baik secara vertikal (komunikasi antara unit yang
sederajat) maupun horizontal (komunikasi inti yang lebih tinggi ke unit yang lebih
rendah) ke fasilitas pelayanan yang lebih kompeten, terjangkau, rasional dan tidak
dibatasi oleh wilayah administrasi (Syafrudin, 2009).
Penatalaksanaan kasus kegawatdaruratan pada pasien dengan melakukan
stabilisasi kondisi pasien sebelum dirujuk yaitu pemasangan infus dan pemberian
obat-obatan sesuai dengan kasus kemudian pemberian informasi kepada tempat
commit to user
68
digilib.uns.ac.id
perpustakaan.uns.ac.id
rujukan dilakukan dengan mengirimkan sms gateway yang disebut dengan
sijariemas.
Carwoto dan Wijayanto (2013) menjelaskan, awalnya pesan singkat (SMS)
rujukan gawatdarurat yang dikirim oleh tenaga kesehatan perujuk ke nomor
terminal gateway melalui SMS Center terlebih dahulu. Pesan singkat tersebut
kemudian diterima oleh interface berupa modem yang telah terhubung ke server
SIJARIEMAS melalui kabel data. Pesan yang dikirimkan oleh tenaga kesehatan
perujuk tersebut di terima oleh mesin SMS Gateway. Selanjutnya pesan tersebut
diteruskan dan di simpan ke dalam database SIJARIEMAS. Melalui antarmuka
berbasis web, petugas IGD Rumah Sakit kemudian menjawab permintaan rujukan.
Berdasarkan jawaban petugas IGD Rumah Sakit atas permintaan rujukan tersebut,
maka aplikasi server SIJARIEMAS akan membalasnya sesuai dengan format yang
telah ditentukan dan mengirimkannya kembali ke mesin SMS Gateway. Pesan
balasan dari mesin SMS Gateway kemudian di ambil oleh GSM interface melalui
kabel data. Setelah itu pesan diteruskan ke telepon genggam tenaga kerja perujuk,
sehingga perujuk mendapatkan informasi sesuai isi informasi yang telah
dikirimkan dari server SIJARIEMAS.
Rumah sakit rujukan yang menjadi mitra dari puskesmas Turen adalah RS
Bokor Turen, RS Mitra Delima, RSI Gondanglegi dan RSUD Kepanjen.
Pelaksanaan sistem rujukan di Indonesia telah diatur dengan bentuk bertingkat
atau berjenjang, yaitu pelayanan kesehatan tingkat pertama, kedua dan ketiga, di
mana dalam pelaksanaannya tidak berdiri sendiri-sendiri namun berada di suatu
sistem dan saling berhubungan. Apabila pelayanan kesehatan primer tidak dapat
commit to user
69
digilib.uns.ac.id
perpustakaan.uns.ac.id
melakukan tindakan medis tingkat primer maka ia menyerahkan tanggung jawab
tersebut ke tingkat pelayanan di atasnya, demikian seterusnya.
Hasil penelitian oleh Carwoto dan Wijayanto (2013) setelah mengalami
proses pengujian teknis dan diujicobakan secara langsung pada jejaring rujukan
kegawatdaruratan di dua kabupaten di Jawa Tengah, sistem ini terbukti dapat
mencegah terjadinya penolakan permintaan rujukan oleh semua rumah sakit,
meningkatkan kesiapan pihak rumah sakit untuk menerima rujukan, serta
mengurangi keterlambatan penanganan rujukan dalam jejaring pelayanan rujukan
kegawatdaruratan
maternal
dan
neonatal.
Sistem
informasi
yang
diimplementasikan juga dapat menjadi basis data yang bermanfaat bagi
kepentingan pengambilan keputusan di rumah sakit maupun dinas kesehatan.
Dengan antarmuka berbasis web yang mudah dioperasikan dan mekanisme
komunikasi menggunakan SMS yang sudah umum digunakan oleh tenaga
kesehatan, sistem informasi ini memudahkan komunikasi antartenaga dan fasilitas
kesehatan dalam menangani permintaan rujukan gawatdarurat.
Pelaksanaan program EMAS dilakukan secara tim yang disebut dengan
tim emergensi terdiri dari tim merah, kuning dan hijau. Dalam hal ini setiap tim
memiliki tugas masing-masing yang saling berkaitan antara satu dengan yang lain.
Kerjasama yang baik akan memiliki dampak yang baik terhadap penanganan yang
tepat dan cepat pada pasien, sehingga diharapkan tidak ada pasien yang
mengalami keterlambatan mendapatkan penanganan.
Pendampingan diberikan oleh tim EMAS dengan mengirimkan dokter
spesialis kandungan, meskipun tidak dilakukan secara intensif. Pendampingan ini
commit to user
70
digilib.uns.ac.id
perpustakaan.uns.ac.id
dilakukan hanya sebatas mereview kembali tentang kasus kegawatdaruratan dan
penatalaksanaannya
serta
arahan
bagaimana
mengenali
tanda
kasus
kegawatdaruratan. Pelatihan internal juga dilakukan oleh tim emergensi secara
berkala untuk menjaga dan meningkatkan pengetahuan dan keterampilan para
bidan.
Saat ini proses perujukan sudah dapat berjalan dengan baik, sudah adanya
kesepakatan antara puskesmas dengan rumah sakit tentang tatacara perujukan
yang tepat sehingga proses rujukan dapat berjalan lancar meskipun ada sedikit
kendala tidak diterimanya rujukan dengan kasus-kasus tertentu. Pelaksanaan
tindakan dan proses perujukan telah mengacu pada standar operasional prosedur
(SOP) yang telah disepakati bersama-sama antara puskesmas dengan rumah sakit.
Diharapkan dengan adanya SOP yang telah disepakati secara bersama-sama ini
dapat digunakan sebagai acuan yang mendasar bagi tenaga kesehatan dalam
memberikan asuhan kegawatdaruratan dan pelaksanaan rujukan, sehingga tidak
ada lagi pasien yang terlambat mendapatkan pertolongan yang akan berdampak
pada kesakitan dan kematian.
Penelitian yang dilakukan oleh Lestari (2013) bahwa proses pelaksanaan
dalam rujukan didasarkan pada SOP dan Baksoku sehingga proses pelaksanaan
rujukan berjalan aman tanpa mengakibatkan risiko kematian maternal maupun
neonatal.
Hal ini juga sejalan dengan penelitian yang dilakukan oleh Zulhadi,
Trisnantoro dan Zaenab (2012) bahwa faktor utama yang mempengaruhi sistem
rujukan seperti fasilitas, tenaga, SOP, kerjasama tim, transportasi, komunikasi,
commit to user
perpustakaan.uns.ac.id
71
digilib.uns.ac.id
dan pendanaan perlu mendapatkan perhatian serius dari semua stakeholders yang
terlibat dalam program kesehatan ibu.
Kesiapan untuk merujuk ibu dan bayinya ke fasilitas kesehatan rujukan
secara optimal dan tepat waktu menjadi syarat bagi keberhasilan upaya
penyelamatan. Setiap penolong persalinan harus mengetahui lokasi fasilitas
rujukan yang mampu untuk penatalaksanaan kasus gawatdarurat obstetri dan bayi
baru lahir dan informasi tentang pelayanan yang tersedia di tempat rujukan,
ketersediaan pelayanan purna waktu, biaya pelayanan dan waktu serta jarak
tempuh ke tempat rujukan. Persiapan dan informasi dalam rencana rujukan
meliputi siapa yang menemani ibu dan bayi baru lahir, tempat rujukan yang
sesuai, sarana tranfortasi yang harus tersedia, orang yang di tunjuk menjadi donor
darah dan uang untuk asuhan medik, tranportasi, obat dan bahan (Dinkes, 2009).
3. Hasil Program EMAS
Hasil dari obervasi dokumen menunjukkan bahwa kematian ibu pada
tahun 2013 sebanyak 5 kasus dengan rincian 4 kasus karena PEB dan 1 kasus
karena kelainan darah. Hal ini justru mengalami peningkatan, yang pada tahun
sebelumnya angka kematian nol. Terjadinya peningkatan kematian ibu
dikarenakan terjadinya peningkatan kasus PEB selama tahun 2013, dan kematian
ini tidak terjadi pada saat pasien berada di puskesmas karena telat mendapat
pertolongan melainkan pada saat pasien telah berada di tempat rujukan dan telah
selesai persalinan.
Banyak faktor yang mempengaruhi kematian ibu, dari tabel 4.1 bisa dilihat
commit
to user
bahwa pada tahun 2012 kasus rujukan
42,85%
disebabkan karena PEB sedangkan
perpustakaan.uns.ac.id
72
digilib.uns.ac.id
tahun 2013 42,16% kasus rujukan juga disebabkan oleh PEB. Data LKI Jawa
Timur tahun 2011 menyebutkan bahwa pre eklamsi/eklamsi menjadi faktor
terbesar kedua (27,27 %) penyebab kematian ibu. Selain itu faktor tiga terlambat
(3T) yaitu terlambat mengenal tanda bahaya dan mengambil keputusan, terlambat
mencapai fasilitas kesehatan, dan terlambat mendapatkan pertolongan difasilitas
kesehatan juga merupakan faktor tidak langsung yang dapat mempengaruhi.
Menurut peneliti hal ini kemungkinan besar bahwa pasien terlambat mengenali
tanda bahaya kehamilan sehingga pada saat tiba di puskesmas sudah dalam
kondisi pre eklamsi berat, selain itu pre eklamsi merupakan sebuah penyakit yang
cukup sulit untuk diprediksi. Meskipun selama kehamilan tidak mengalami pre
eklamsi, bisa saja menjelang persalinan muncul pre eklampsi atau kemungkinan
telah mengalami pre eklampsi ringan dan menjelang persalinan menjadi pre
eklampsi berat.
Hasil Survei Dasar Kesehatan Indonesia (SDKI) 2012 menunjukan bahwa
AKI 359 per 100.000 kelahiran hidup. Angka ini lebih besar dibanding
pencapaian tahun 2007 yaitu sebesar 228 per 100.000 kelahiran hidup.
Meningkatnya AKI dan rendahnya penurunan AKB dan AKABA menunjukan ada
kesalahan dalam arah, strategi dan program yang dirancang pemerintah dalam
bidang kesehatan terutama kesehatan ibu dan anak. AKI, AKA dan AKABA
dalam sistem kesehatan masyarakat merupakan indikator penting yang menilai
seberapa efektif suatu program kesehatan masyarakat dilaksanakan (Saputra,
2013).
Meskipun terjadi peningkatan kematian karena terjadi peningkatan kasus,
namun dengan adanya program commit
EMAS toiniuser
memberikan banyak manfaat bagi
73
digilib.uns.ac.id
perpustakaan.uns.ac.id
tenaga kesehatan yang bekerja di puskesmas yaitu meningkatnya pengetahuan
dan ketrampilan dalam penatalaksanaan kegawatdaruratan maternal dan neonatal.
Hal ini sesuai dengan teknis kegiatan program EMAS yang salah satunya adalah
upaya penguatan kualitas pelayanan klinik kebidanan dan bayi baru lahir.
Dari hasil observasi didapatkan bahwa jumlah kunjungan pasien bersalin
mengalami kenaikan 15,67% dari 382 persalinan pada tahun 2012 menjadi 453
persalinan pada tahun 2013. Hal ini tentunya tidak terlepas dari kepuasan pasien
dalam mendapatkan asuhan yang bermutu, karena jika pasien puas dengan
layanan yang diberikan otomatis mereka akan kembali lagi datang ke puskesmas
dan kemungkinan besar juga akan menyampaikan kepada masyarakat luas bahwa
ternyata pelayanan di puskesmas memuaskan.
Menurut Pohan (2006) kepuasan pasien adalah suatu tingkat perasaan
pasien yang timbul sebagai akibat dari kinerja layanan kesehatan yang
diperolehnya setelah pasien membandingkannya dengan apa yang diharapkannya.
Aspek-aspek yang mempengaruhi kepuasan pasien diantaranya kesembuhan,
ketersediaan obat puskesmas, privasi selama di kamar periksa, kebersihan
puskesmas, informasi yang menyeluruh, jawaban yang dimengerti atas pertanyaan
pasien,
memberikan
kesempatan
bertanya,
penggunaan
bahasa
daerah,
kesinambungan petugas kesehatan, dan ketersediaan toilet.
Untuk menilai kepuasan pasien telah dilakukan dengan cara memberikan
kuesioner kepada pasien rawat inap khususnya pasien bersalin, meskipun peneliti
menganggap kuesioner tersebut belum terlihat obyektif karena jumlah pertanyaan
yang terlalu sedikit dan kurang memberikan gambaran terhadap kualitas
commit to user
perpustakaan.uns.ac.id
74
digilib.uns.ac.id
pelayanan petugas karena masih bersifat umum, namun hal tersebut telah mampu
menggambarkan persaan pasien terhadap kualitas pelayanan di puskesmas Turen.
Sejalan dengan penelitian Supardil, Handayani dan Notosiswoyo (2008)
bahwa kepuasan pasien rawat inap dan rawat jalan di puskesmas dinilai dalam hal
waktu menunggu, keramahan petugas, kejelasan informasi, keikutsertaan
mengambil keputusan berobat, kepercayaan terhadap petugas, kebebasan memilih
tempat berobat dan kebersihan ruangan pengobatan.
Selain hal yang telah disebutkan diatas, dengan adanya program EMAS ini
puskesmas dijadikan sebagai tempat studi banding daerah lain yang ingin
mengetahui lebih banyak bagaimana pelaksanaan program EMAS. Bidan
koordinator juga telah ditunjuk oleh tim EMAS untuk memberikan pelatihan di
puskesmas lain.
Sesuai dengan intervensi yang ditetapkan EMAS bahwa akan membangun
jaringan “Vanguard” dimana Dinas Kesehatan Kabupaten, Rumah Sakit Daerah,
RS Swasta dan Puskesmas yang sudah cukup kuat didorong agar berjejaring dan
membimbing kebupaten lain untuk membangun jaringan masing-masing (EMAS,
2012). Hal ini berarti puskesmas dan bidan dirasa telah mampu melaksanakan
program EMAS ini dengan baik sehingga mereka mendapatkan kesempatan dan
kepercayaan untuk ikut membimbing puskesmas lain.
4. Kendala yang dihadapi dalam program EMAS
Penggunaan SMS sijariemas ini untuk sistem rujukan dinilai kurang efektif
oleh pelaksana rujukan di puskesmas Turen karena dengan adanya format
penulisan sms yang begitu panjang sehingga mempersulit dan membuang waktu,
commit to user
perpustakaan.uns.ac.id
75
digilib.uns.ac.id
apalagi jika harus menunggu balasan rujukan padahal kondisi pasien sudah gawat
darurat, sehingga penggunaan telepon masih lebih efektif.
Padahal menurut Saputra dan Feni (2012), layanan SMS diminati masyarakat
karena beberapa keunggulan, diantaranya biaya relatif murah, pengiriman
terjamin sampai ke nomor tujuan dengan catatan nomor dalam keadaan aktif,
waktu pengiriman cepat, waktu pengiriman fleksibel (kapan saja di mana saja),
serta mudah digunakan.
Namun demikian sms sijariemas ini tetap digunakan pada kasus rujukan
dini berencana (RDB), dan kasus gawat darurat tetapi pengirimannya dilakukan
pada saat pasien sudah dalam proses perujukan. Pengiriman informasi dengan
sijariemas ini merupakan sebuah keharusan yang dilaksanakan setiap kali merujuk
pasien. Hal ini dilaksanakan sesuai dengan pendekatan yang dilakukan oleh
program EMAS yaitu pemanfaatan teknologi informasi mutakhir (SMS, hotline,
media sosial) untuk meningkatkan efektifitas dan efisiensi dalam pelayanan
kegawatdaruratan kesehatan ibu dan bayi baru lahir.
Menurut Carwoto dan Wijayanto (2013) bahwa sistem informasi yang
diimplementasikan ini dapat menjadi basis data yang bermanfaat bagi kepentingan
pengambilan keputusan di rumah sakit maupun dinas kesehatan. Dengan
antarmuka berbasis web yang mudah dioperasikan dan mekanisme komunikasi
menggunakan SMS yang sudah umum digunakan oleh tenaga kesehatan, sistem
informasi ini memudahkan komunikasi antartenaga dan fasilitas kesehatan dalam
menangani permintaan rujukan gawatdarurat.
Meskipun jejaring rujukan puskesmas Turen dengan beberapa RS
user
pemerintah dan swasta, namun commit
untuk to
melakukan
lebih sering menggunakan
76
digilib.uns.ac.id
perpustakaan.uns.ac.id
puskesmas pemerintah dikarenakan adanya kendala dengan pembiayaan pasien
yang lebih banyak menggunakan jampersal.
Jampersal (jaminan persalinan) adalah perluasan kepesertaan dari
jamkesmas dan tidak hanya mencakup masyarakat miskin saja. Penerima
jampersal dapat memanfaatkan pelayanan diseluruh fasilitas kesehatan tingkat
pertama pemerintah (puskesmas dan jaringannya) dan swasta serta fasilitas
kesehatan tingkat lanjutan (Rumah Sakit) pemerintah dan swasta (berdasarkan
rujukan) di rawat inap kelas III (Juknis jampersal, 2011).
Meskipun RS swasta mendapatkan hak untuk mengikuti program
jampersal, namun kemungkinan pada saat itu tidak semua RS rujukan yang telah
melakukan kerjasama dengan pemerintah dalam menerima pasien jampersal selain
itu adanya faktor keterbatasan jumlah pasien yang diterima (kuota) pada RS
swasta menyebabkan rujukan tidak dapat sepenuhnya dilaksanakan disana.
Adanya missed komunikasi antara petugas UGD yang belum mendapatkan
sosialisasi tentang program EMAS dengan petugas kamar bersalin menyebabkan
adanya penolakan rujukan pada kasus-kasus tertentu. Meskipun mungkin dinilai
pada kasus tertentu masih bisa ditangani di puskesmas namun perlunya persamaan
persepsi antar tenaga kesehatan sangat dibutuhkan untuk menghindari
kesalahpahaman.
Belum adanya dokter spesialis sebagai konsultan dan dokter jaga yang tidak
ada dirasa menjadi kendala sendiri untuk proses konsultasi, meskipun sebenarnya
konsultasi ini masih bisa dilakukan via telepon dengan dokter umum namun
konsultasi yang cepat dibutuhkan untuk segera tertanganinya pasien.
commit to user
77
digilib.uns.ac.id
perpustakaan.uns.ac.id
Penelitian yang dilakukan oleh Zulhadi, Trisnantoro, dan Zaenab (2013)
meneybutkan Rumah Sakit Kabupaten dengan Dokter Sp.OG dan Sp.A secara
fungsional mempunyai peran dan tanggungjawab yang sangat essential dalam
melaksanakan pembinaan secara pro-aktif untuk pengembangan SDM kesehatan.
Penyegaran bagi tenaga kesehatan dokter/bidan puskesmas mengenai PONED,
dan bidan di desa mengenai asuhan persalinan normal dengan keterampilan
penanganan pertolongan pertama pada kegawatdaruratan obstetri termasuk
penanganan komplikasi persalinan dini seharusnya dilaksanakan secara reguler.
Pengurangan kematian ibu dan anak melalui reformasi kebijakan sistem dan
penguatan manajemen. Perbaikan meliputi pengorganisasian di tingkat kabupaten
untuk menguatkan kerjasama tim. Dinas kesehatan bertindak sebagai pemimpin
dan pengelola jaringan KIA sedangkan Dokter Spesialis bertindak sebagai
pemimpin klinis.
Kerjasama tim sangat dibutuhkan untuk peningkatan pelayanan kasus
kegawatdaruratan dan peningkatan proses rujukan yang efektif dan efisien,
sehingga jika hal ini dapat terlaksana dengan baik maka kebutuhan pasien untuk
mendapatkan pelayanan yang lebih baik dapat menjadi faktor yang sangat
mendukung.
commit to user
Download