119 BAB VII FAKTOR - FAKTOR YANG MEMENGARUHI SISWA

advertisement
119
BAB VII
FAKTOR - FAKTOR YANG MEMENGARUHI SISWA SEKOLAH DASAR DALAM
MEMBUAT KALIMAT SEDERHANA
Mempelajari bahasa kedua (Inggris) akan dipengaruhi oleh bahasa pertama (L1) sesuai
dengan yang dikemukakan oleh Krasen (1983) bahwa siswa memperoleh bahasa kedua (L2)
dengan menerima masukan (input) dari pesan yang disampaikan dan dan dipahami maknanya.
Penguasaan suatu bahasa tergantung dari pemahaman siswa terhadap bahasa, karena bahasa
pertama (L1) berperan dalam menguasai bahasa kedua (L2).
Pemerolehan bahasa kedua (bahasa Inggris) melalui proses pembelajaran akan
dipengaruhi oleh memori, attention, insight, organizations of idea, dan information processing.
Proses pembelajaran dilakukan antar guru dan siswa yang saling memengaruhi untuk ketuntasan
pembelajaran. Untuk mengetahui faktor yang memengaruhi siswa dalam membuat kalimat
bermakna, peneliti akan menyajikan peran guru terhadap siswa, siswa dalam proses
pembelajaran, dan pendekatan secara natural.
7.1 Peran Guru terhadap Siswa
Pembelajaran yang diberikan oleh guru terhadap siswa bertujuan untuk pencapaian
ketuntasan peserta didik. Kompetensi dasar yang merupakan titik tolak yang digunakan dalam
pembelajaran sesuai dengan kurikulum 2004 diberlakukan sesuai dengan PP Nomor 22 tahun
2006. Guru harus pandai dalam memilih bahan ajar, mengatur waktu dalam memberikan
materi, sarana dan prasarana serta kemampuan guru dalam memberikan materi. Dalam konteks
tersebut kedua informan (guru SDN 8 dan guru RSDBI Muh. 2) menyatakan hal yang sama:
120
“bahan ajar merupakan seperangkat informasi yang harus diserap siswa melalui
pembelajaran yang menyenangkan dengan metode ceramah atau bercerita memakai
maskot boneka, tanya jawab, memberikan games, dan kuis. Bahan ajar yang digunakan
harus mengandung fakta, konsep, prinsip, dan keterampilan. Fakta dapat dipelajari
melalui bentuk lambang, kata-kata atau kalimat. Konsep yang berhubungan secara
fungsional sehingga dapat merangsang siswa dalam mengklasifikasikan bentuk atau
pola secara bersamaan. Sedangkan keterampilan merupakan kegiatan dalam meniru
informasi yang telah dipelajari”.
Ungkapan kedua guru tersebut di atas menggambarkan bahwa memahami kalimat dan
menghasilkan kalimat siswa harus mengamati hubungan fungsional kata dalam kalimat dan
menggolongkannya berdasarkan kategori kata sehingga siswa bisa membedakan fungsi kata
dalam kalimat dan memahami tuturan yang didengar. Fenomena tersebut sesuai dengan pendapat
Menyuk (1972: 24) bahwa unsur kalimat setiap kata memiliki fungsi yang saling berhubungan
berdasarkan kategori kata yaitu subyek (frasa nominal), predikat (frasa verba), dan obyek (frasa
nominal dari frasa verba). Nomina dan verba menetapkan aturan sesuai fungsinya dalam kalimat.
Waktu yang digunakan dalam pembelajaran satu minggu 2 x 35 menit dalam satu bulan
8 kali pertemuan dan diharapkan dalam 6 bulan kompetensi dasar sudah tuntas. Guru harus
pintar mengatur waktu secara efektif untuk mencapai ketuntasan. Kendala ini sering muncul
pada saat guru berhalangan hadir karena sakit, penataran, libur upacara keagamaan. Dari hasil
wawancara dari kedua guru sekolah dasar tersebut, mereka mempunyai pendapat yang sama.
Mereka mengatakan: “Bila kami berhalangan hadir, kami berikan tugas, dan hasil dari tugas
tersebut akan dibahas pada saat pertemuan selanjutnya”.
Sarana yang dipakai siswa untuk mencapai ketuntasan kompetensi dasar adalah buku
paket, lembar kerja siswa (LKS), kamus, dan alat peraga. SD Negeri 8 menggunakan buku paket
Beginners penerbit PT Airlanga, LKS menggunakan Bunga Rampai, kamus bergambar dan alat
peraga atau media yang digunakan flash card. Sesuai dengan informasi dari guru SDN 8 dan
guru RSDBI Muhammadiyah 2, diperoleh keterangan yang berikut.
121
“buku yang digunakan adalah buku paket, Beginners penerbit PT Airlangga dan lembar
kerja siswa (LKS) menggunakan Bunga Rampai, kamus bergambar, dan alat peraga atau
media yang digunakan flast card, papan vocab, wall map”.
Prasarana yang digunakan SDN 8 dan RSDBI Muhammadiyah 2 sebagai penunjang proses
pembelajaran, yaitu ruang kelas yang memadai, perpustakaan, dan majalah dinding. RSDBI
Muhammadiyah 2 memiliki satu ruang perpustakaan, buku- buku bahasa Inggris diletakkan di
tempat tersendiri dan diberi label nama English Corner.
Informasi dari guru RSDBI Muhammadiyah 2 dipaparkan berikut ini:
“laboratorium bahasa yang saya gunakan untuk praktik pembelajaran dua kali dalam
sebulan untuk setiap kelas , karena jumlah siswa kelas VI saat ini melebihi kapasitas
yaitu 45 siswa sedangkan ruang laboratorium hanya tersedia 30 perangkat komputer.
Hal ini saya lakukan untuk mengatasi kurangnya perangkat komputer dan memperkecil
terjadinya kerusakan di laboratorium”.
Dari ungkapan di atas laboratorium merupakan sarana yang sangat penting dalam proses
pembelajaran, siswa langsung praktek secara verbal dan visual dan dapat meningkatkan respons
serta pemahaman siswa dari materi yang disajikan. Dengan adanya laboratorium siswa sangat
senang dan berminat untuk belajar bahasa Inggris.
Jumlah siswa dari satu kelas melebihi jumlah perangkat komputer sehingga banyak siswa
yang berdiri atau duduk di bawah. Jumlah siswa yang melebihi kapasitas laboratorium membuat
siswa tidak nyaman dan melakukan hal – hal yang akan merusak peralatan dalam ruangan
tersebut, misalnya menekan tombol yang tidak seharusnya dilakukan dan dapat merusak sistem
perangkat komputer, mendorong teman yang dapat mengakibatkan meja komputer jatuh.
Kesadaran siswa dalam menjaga investaris sekolah sangat kurang, yang mengakibatkan
penyajian materi melalui laboratorium diminimalkan. Hal ini dilakukan sebagai tanggungjawab
guru dalam menjaga investaris sekolah (laboratorium).
122
Guru RSDBI Muhammadiyah 2 melanjutkan penuturannya:
“materi yang saya berikan di laboratorium bahasa adalah listening dan menonton televisi
tentang pembelajaran conversation, dalam bentuk film berupa kartun. Majalah dinding
berbahasa Inggris saya letakkan di beberapa tempat untuk memperkenalkan pada siswa
bentuk atau karya siswa dalam bahasa Inggris. Disamping itu kami mendatangkan
penutur asli dari Australia, setiap satu minggu sekali ke kelas selama 20 menit untuk
bercakap – cakap dengan siswa tentang kegiatan sehari-hari (habit). Respon siswa dalam
pembelajaran bahasa Inggris sangat baik dan siswa dengan serius memperhatikan
instruksi guru”.
Dari penuturan di atas menunjukkan bahwa, pembelajaran yang dilakukan di laboratorium
bahasa membantu guru dalam
mengatasi beragam masalah, misalnya kepekaan terhadap
pendengaran, kepekaan terhadap warna, kesulitan dalam berdialog secara langsung, sulit
mengikuti anjuran secara lisan, seringkali salah menginterpretasikan kata atau
ucapan.
Laboratorium bahasa sangat membantu guru bahasa Inggris untuk menjelaskan suatu informasi
secara berurutan, memotivasi
siswa, membantu siswa dalam memahami bahasa,
dan
meminimalkan salah ucap (fonemis).
Majalah dinding disediakan untuk menempatkan hasil karya siswa dalam berbahasa Inggris,
misalnya puisi, karangan, dan short story yang dibuat oleh siswa. Hal ini bertujuan untuk
menarik minat siswa yang lainnya meniru membuat hasil karya dalam berbahasa Inggris dan
membuat siswa tertarik untuk membaca, sehingga siswa lebih banyak mengetahui dan
memahami bahasa Inggris.
Pembelajaran bahasa Inggris yang sangat disenangi oleh siswa adalah guru dari Australia.
Hal ini disebabkan mereka melihat suatu yang berbeda dalam kesehariannya dan merasa senang
bisa bertemu dengan orang asing. Dalam menyajikan pembelajaran, guru dari Australia tersebut
didampingi oleh guru bahasa Inggris dari sekolah tersebut.
Dalam proses praktik pembelajaran bahasa Inggris informan dari SDN 8 menuturkan:
123
“sebagian buku-buku bahasa Inggris merupakan sumbangan dari Australia. Siswa
menggunakan buku di perpustakaan bila mendapat tugas dari guru yang berhubungan
dengan bahasa Inggris. Penggunaan perpustakaan khususnya buku bahasa Inggris tidak
teratur hanya sewaktu – waktu bila diperlukan. Pada jam istirahat ada beberapa siswa
yang baca – baca buku berbahasa Inggris, ini pun tidak setiap hari terjadi. Majalah
dinding diletakkan di beberapa tempat selain itu terdapat juga labeling kosakata di
dinding kelas”(Wawancara Tanggal 15 April, 2010)
Ungkapan tersebut mengambarkan bahwa siswa kurang tertarik untuk membaca buku sebagai
tambahan ilmu pengetahuan tentang bahasa Inggris, hanya menggunakan fasilitas bila sangat
dibutuhkan dan juga kurangnya minat siswa untuk memperluas pengetahuan bahasa Inggris.
Fenomena ini sesuai dengan pendapat Seifert (1983: 147) bahwa secara kognitif siswa perlu
wawasan untuk memahami pembelajaran sehingga siswa lebih berpikir secara alami dan
berstruktur.
Kemampuan guru dalam memberikan materi sangat diperlukan supaya proses
pembelajaran berjalan dengan baik. Materi yang akan disajikan harus dipersiapkan sebelumnya.
Pengajaran yang diberikan oleh kedua sekolah ini adalah dengan menggunakan metode ceramah,
diskusi, tanya jawab, kerja kelompok dan disampaikan dengan bahasa yang alamiah. Kiat – kiat
yang dilakukan oleh kedua sekolah dasar tersebut dalam penguasaan dan pemakaian kosakata
adalah (1) menulis ulang kosakata yang telah dipelajari, (2) menulis kosakata berdasarkan
instruksi guru dengan tema yang telah ditentukan, (3) membuat sinonim dan antonim dari
kosakata, dan (4) menyusun kosakata dalam kalimat sederhana. Di samping itu, guru juga
mempunyai kecakapan dan kemampuan dalam menjalankan profesionalismenya.
Guru bahasa Inggris SD Negeri 8 adalah sarjana pendidikan jurusan bahasa Inggris.
Dalam mengajar ia mengatakan: “Saya tidak menemukan kesulitan dalam proses memberikan
pengajaran”. Sementara itu guru pengelola bahasa Inggris RSDBI Muhammadiyah 2 adalah
Diploma III FPIPS. Guru tersebut sudah mengajar bahasa Inggris selama 7 tahun, dengan
124
berpedoman pada buku bahan ajar. Dalam mengajar, guru tersebut banyak mengalami kesulitan
terutama dalam grammar dan pronounciations (tata bahasa dan pengucapan), kategori kata
dalam tense khususnya future tense dan perfect tense. Sebelum pembelajaran guru tersebut
berkonsultasi dengan guru yang lebih memahami tata bahasa.
Tentang kesalahan siswa dalam membuat “kalimat sederhana”, guru SDN 8 mengatakan:
“metode pengajaran sudah dilakukan dan sebagian siswa bisa merespon dan memahami
materi yang telah diajarkan dan juga tergantung dari kemampuan siswa. Masing –
masing siswa mempunyai kemampuan berpikir yang berbeda – beda. Dalam
pembelajaran tidak selalu dilakukan dialog. Guru SDN 8 jarang melakukan dialog
interaktif dengan siswa”.
Dari ungkapan di atas menggambarkan kemampuan siswa untuk memahami dan menyerap
pelajaran sudah pasti berbeda tingkatnya. Ada yang cepat, sedang, dan ada pula yang sangat
cepat. Oleh karena itu, siswa harus menempuh cara berbeda untuk memahami sebuah informasi
atau pelajaran. Guru bahasa Inggris mengajar dengan cara menuliskan segalanya di papan tulis,
menyampaikan pembelajaran dengan cara lisan, membentuk kelompok untuk mediskusikan
pertanyaan yang menyangkut pelajaran tersebut dan dengan ceramah dengan bercerita dengan
ilustrasinya. Fenomena ini sesuai dengan pendapat Uno (2006: 181) bahwa tidak semua orang
punya gaya belajar sama termasuk di sekolah yang sama atau bahkan duduk di kelas yang sama,.
Mereka harus menempuh cara berbeda untuk memahami pelajaran yang sama.
Dialog yang dilakukan guru bahasa Inggris SDN 8 hanya sebatas kebiasaan dalam
kelas, misalnya Open your book!, Clean the white board!’, Silent please!, dan seterusnya..
Keterbatasan guru dalam menyampaikan materi menyebabkan kurang melakukan dialog. Dalam
satu minggu guru hanya mengajar 2 (pertemuan) X 35 menit, bila ada hari libur jam mengajar
berkurang. Hal ini yang menyebabkan guru memberikan latihan secara tertulis untuk
125
mempersiapkan ujian kenaikan kelas dalam bentuk tulisan. Selain itu ada juga ujian praktik yaitu
ujian lisan, materinya identitas diri (introduction).
Guru RSDBI Muh. 2 mengatakan:
“dalam proses pembelajaran menggunakan bahasa Inggris yaitu berupa kalimat
perintah (imperative sentence) misalnya; ‘Open page 34!, ‘Draw one more the shape!,
kalimat larangan (negative interative sentence) misalnya; ‘Be on time, please!’, Don’t
be stubborn!”. Pekerjaan rumah (pr) pelajaran bahasa Inggris sering diberikan, yaitu
dengan mengerjakan LKS (lembar kerja siswa) ‘Bunga Rampai’ dan dari latihan
(worksheet) yang terdapat pada buku paket, ‘ Beginners’ Tes dalam membuat kalimat
sederhana dilakukan pada saat ulangan harian (formatif) dan ulangan semester.
Proses pembelajaran yang dilakukan RSDBI Muhammadiyah 2 sama dengan SDN 8, yaitu
menggunakan bahasa Inggris dalam situasi kelas. Guru sering memberikan tugas agar siswa
lebih banyak menguasai kosakata, bentuk, dan fungsi dari kosakata, sehingga dapat
meningkatkan
kemampuannya
membuat
kalimat.
Sementara
itu
perbedaan
dalam
menyampaikan materi, RSDBI Muhammadiyah 2 mempunyai jam mengajar 4 (pertemuan) X 35
menit dan proses pembelajaran sering melakukan dialog, yaitu pada saat guru dari Australia
memberikan pelajaran bahasa Inggris. SDN 8 dalam menyampaikan materi, jam mengajar 2
(pertemuan) X 35 menit dan tidak ada guru dari penutur asli dalam mengajar bahasa Inggris,
sehingga jarang melakukan dialog dengan siswa dalam bahasa Inggris.
7.2
Faktor Siswa dalam Proses Pembelajaran
Pemerolehan bahasa anak dalam proses pembelajaran dipengaruhi oleh karakteristik
siswa dalam pembelajaran, lingkungan di kelas dan di luar kelas. Menurut Uno (2006: 158),
karakteristik siswa merupakan salah satu variabel dari kondisi pengajaran. Variabel sebagai
aspek atau kualitas seorang siswa, berupa bakat minat, sikap, motivasi belajar, gaya belajar,
kemampuan berpikir, dan kemampuan awal yang dimiliki.
126
7.2.1 Karakteristik Siswa dalam Memperoleh Pembelajaran
Siswa dalam menerima informasi yang diberikan dalam pengajaran tergantung dari
kemampuan otak (brain) masing-masing siswa dalam
menyimpan informasi. Untuk
mempelajari kalimat memerlukan memori sebagai daya ingat dan hafalan yang telah diberikan
pengajar. Memori pada anak ada dua, yaitu short –term memory dan long- term memory, short term memory adalah daya ingat yang singkat karena terlalu banyak yang diterima sehingga daya
ingatnya kurang. Dalam waktu singkat anak akan melupakan kejadian yang baru saja terjadi
karena tidak adanya verba dan bentuk yang nyata. Long – term memory adalah ingatan yang
permanen dengan bantuan short –term memory.
Dalam
proses
berlangsungnya
pembelajaran,
siswa
memerlukan
attention,
memperhatikan, mendengarkan dengan saksama, membaca buku pelajaran, dan mencatat bahan
ajar yang diberikan guru. Keadaan ini sangat sulit dilakukan oleh siswa karena mereka masih
senang bermain Kondisi jumlah siswa dalam satu kelas 45 sampai 50 siswa pun tidak effektif
dalam proses pembelajaran. Guru
tidak bisa memperhatikan siswa secara individu dan tidak
bisa mengecek tiap siswa saat pembelajaran, apakah mereka memahami materi yang telah
diajarkan karena kemampuan memori tiap siswa berbeda. Bila guru mengecek tiap siswa, guru
akan kekurangan waktu dan akan berakibat tidak tercapainya ketuntasan pembelajaran.
Kemampuan anak dalam menerima pembelajaran juga tergantung dari insight anak.
Wawasan dan pemahaman tiap anak dalam menerima informasi berbeda-beda sesuai dengan
kemampuannya. Hasil proses pembelajaran yang diterima siswa dituntut untuk mengembangkan,
menyebutkan, menuliskan kata-kata menjadi sebuah kalimat sederhana yang bermakna dan
mempunyai kaidah bahasa (orgnisation of idea). Setelah melalui beberapa proses dalam
127
pembelajaran berupa latihan yang berulang - ulang, pekerjaan rumah (pr), diskusi, dan tanya
jawab yang merata dari setiap siswa jarang dilakukan seperti pengakuan informasi dari kedua
guru bahasa Inggris. Hal ini membantu siswa dalam keberhasilannya mencapai ketuntasan dan
hasil yang memuaskan (informations processing).
Menurut informasi dari kedua guru sekolah dasar tersebut, mereka mempunyai
kesamaan pendapat yang dituturkan sebagai berikut.
“kesulitan siswa dalam menempatkan kalimat bermakna dari keseluruhan siswa
sebagian besar belum bisa menempatkan kosakata berdasarkan kategorinya, hal ini
disebabkan siswa kurang aktif bertanya pada guru dan pemahaman siswa terhadap
struktur kalimat sederhana masih dalam tahap pembelajaran. Sebagian besar siswa
belum bisa membedakan kategori kosakata. Siswa memahami struktur kalimat dari
latihan berulang dan sering diulas dalam pembelajaran, misalnya dalam unsur kalimat
‘This is flower’. Siswa mampu memahami dan merespon arti dan kategori kalimat
tersebut. Tetapi bila kalimat tersebut dikembangkan sebagian siswa tidak memahami
dan merespon, misalnya ‘This is flower, it’s beautiful and my mother puts on the vase”.
Ungkapan di atas menunjukkan bahwa dalam kelas antara siswa dan guru belum ada dialog yang
intensif, kurangnya minat siswa untuk mempelajari kembali materi yang telah diberikan guru,
dan kurangnya motivasi siswa dalam memahami pembelajaran bahasa Inggris. Fenomena ini
sesuai dengan pendapat Seifert (1983: 147) bahwa para pendidik, memberikan wawasan pada
siswa agar siswa berpikir lebih terstruktur dalam memahami pembelajaran dan bisa belajar dari
kesalahan terdahulu.
7.2.2 Lingkungan Kelas
Mempelajari bahasa di lingkungan kelas diciptakan secara formal dan bersifat disadari.
Lingkungan pembelajaran di kelas merupakan pengajaran bahasa yang hanya menekankan
penguasaan tata bahasa. Pengenalan yang dilakukan oleh pengajar di dalam kelas akan
128
menentukan proses belajar bahasa yang dialami siswa dalam pemerolehan L2 , membuat siswa
lebih bervariasi dalam menggunakan bahasanya secara lebih akurat dari kebenaran kaidah bahasa
dan penyajian kaidah tata bahasa.
Pengajaran yang dilakukan di kedua sekolah tersebut memang dititikberatkan pada
bentuk tatabahasa daripada percakapan (conversation), karena tes yang diberikan pada siswa
berupa tes tertulis. Beberapa hal terjadi pada saat pembelajaran, guru tidak sering mengulang
dalam memberikan materi yang berhubungan dengan “struktur dasar tata bahasa”, kurangnya
siswa dalam bertanya saat pembelajaran sehingga siswa kesulitan dalam memahami materi,
jumlah siswa dalam kelas terlalu banyak sehingga tidak tercapai ketuntasan dan waktu
pembelajaran terbatas.
Jumlah siswa yang tidak ideal menyebabkan kurangnya ketenangan dalam kelas, guru
tidak bisa mengecek siswa secara individu pada setiap pemberian materi. Kemampuan siswa
setiap kelas pun tidak sama sehingga menjadi
kendala dalam pembelajaran, tidak adanya
keseimbangan dalam menerima materi. Keadaan ini bertentangan dengan pendapat
Iskandarwassid dan Sunendar (2008: 97) bahwa idealnya jumlah siswa adalah 25 sampai 30
siswa.
7.2.3 Lingkungan di Luar Kelas
Belajar di lingkungan luar kelas bersifat alamiah dalam bentuk hadirnya sebuah
lingkungan bahasa pada bahasa yang dipelajari, baik dari penutur asli maupun penutur yang
sengaja diciptakan dalam program pengajaran bahasa. Bahasa kedua yang diamati dan didengar
siswa yang sedang dipelajari di lingkungan hotel, pasar, menonton televisi, membaca surat kabar,
129
dan membaca buku-buku pelajaran merupakan sesuatu yang sangat penting bagi keberhasilan
siswa dalam mempelajari bahasa kedua (Chaer, 2003: 243).
Lingkungan belajar bahasa Inggris di luar kelas
secara terus menerus sehingga dapat
menambah penguasaan bahasanya. Misalnya, ada seorang anak yang orangtuanya kadangkadang berbicara bahasa Inggris,. Kondisi ini memberi peluang belajar sehingga siswa tersebut
secara tidak sadar menguasai bahasa tersebut. Ada juga siswa yang orangtuanya tidak
memperhatikan siswa dengan prestasinya di sekolah dan menyebabkan siswa tersebut merasa
tidak perlu bersusah-susah belajar. Oleh karena itu, merupakan sasaran bagi kelompok ini, yang
penting naik kelas.
Proses pembelajaran SDN 8 di lingkungan luar kelas,
siswa mengerjakan tugas
yang diinstruksikan guru bahasa Inggris dan dikerjakan oleh siswa di halaman sekitar sekolah.
Perpustakaan jarang digunakan, hanya sebagai sarana yang disediakan sekolah untuk menambah
wawasan siswa. Sementara itu, RSDBI Muhammadiyah 2, pembelajaran di luar kelas, yaitu di
perpustakaan. Misalnya siswa
mencari kosakata sebanyak-banyaknya dengan tema (nama
binatang) yang telah ditentukan guru. Praktik di halaman sekolah dengan melihat media yang
terdapat di halaman, yaitu bagian – bagian pohon berupa daun, ranting, bunga, dan buah.
7.3
Pendekatan Secara Natural
Pemerolehan bahasa secara natural menurut Krasen dan Tarrel (dalam Richard dan
Rodgers, 1986: 131) berdasarkan pada pemerolehan atau pembelajaran. Siswa memperoleh
bahasa L2 secara natural dengan berkomunikasi dan pembelajaran merupakan proses
pengetahuan kaidah bahasa dan kemampuan pengetahuan verbal. Pengajaran dilakukan secara
formal yang membantu memperbaiki kesalahan siswa dalam kaidah bahasa.
130
Sistem pemerolehan bahasa tidak lepas dari ujaran ketika siswa berkomunikasi dalam
L2 dengan orang asing sehingga dapat membantu mempraktekkan hasil belajar sebagai monitor
untuk mengecek pemerolehan bahasa. Hal yang harus diperhatikan adalah time (waktu). Siswa
mempunyai cukup waktu untuk memilih dan menyajikan apa yang sudah dipelajari, Focus on
form, bahasa yang digunakan harus berfokus pada saat menyajikan atau menyampaikan,
knowledge of rule. Siswa harus mengetahui kaidah bahasa secara sederhana dalam menjabarkan
dan mengorganisasikan bahasa. Untuk siswa sekolah dasar, sistem pemerolehan bahasa tersebut
di atas bisa diterapkan pada siswa khususnya pada time tetapi siswa belum bisa menerapkan pada
focus on form dan knowledge of rule. Hal ini disebabkan oleh keterbatasan kemampuan siswa
dalam memahami bentuk bahasa yang kompleks dengan waktu yang sedikit dan kurangnya
latihan komunikasi dengan penutur asli.
Selama observasi (tes) banyak ditemukan kesalahan dalam pemerolehan tata bahasa (5
Mei 2010). Kesalahan bukan terletak pada bahasanya, tetapi pada siswa yang mempelajarinya
karena pengaruh bahasa pertama. Hal ini tampak saat siswa membuat kalimat sederhana dengan
menerjemahkan kalimat. Mereka mengartikan kata demi kata tanpa memahami kategori kata
dalam kalimat dan penguasaan kosakata yang kurang. Hal ini sesuai dengan pendapat Krasen
(dalam Iskandarwassid, 2008: 97) bahwa struktur bahasa secara alami menekankan makna dari
kosakata, kosakata merupakan kamus dan tersusun dalam tata bahasa untuk menyapaikan pesan.
Masukan hipotesis berhubungan dengan pemerolehan bukan pembelajaran. Masukan
yang diperoleh dipahami sehingga membuat siswa lebih mampu menyampaikan dalam situasi
dan konteks, mampu berbicara L2 dengan lancar. Berdasarkan pengamatan terhadap proses
pembelajaran bahasa Inggris di kedua SD itu, hasil tes yang telah dilakukan sebagian besar
belum bisa menggunakan L2 dengan baik kecuali beberapa anak saja. Beberapa anak yang
131
terampil karena orangtua mereka adalah orang asing, pernah kerja di luar negeri dan mengikuti
kegiatan kursus bahasa asing dengan penutur aslinya.
Sikap yang berhubungan dengan pemerolehan bahasa adalah motivasi, self –confidence
dan anxiety. Motivasi merupakan modal yang sangat penting dalam belajar, tanpa motivasi
proses belajar tidak berhasil. Walaupun siswa cakap dalam belajar yang tinggi, tanpa motivasi
tidak akan berhasil. Berdasarkan wawancara dengan guru, motivasi siswa bisa dilihat dari
ketekunan dalam belajar, sering belajar terus menerus, dan komitmen dalam memenuhi tugastugas sekolah. Self – confident pada diri siswa sangat perlu karena tanpa adanya percaya diri
siswa merasa malu untuk menyampaikan hasil pembelajaran melalui tanya jawab. Anxiety
merupakan minat perpaduan antara keinginan dan kemampuan yang dapat berkembang jika ada
motivasi. Minat dipengaruhi oleh faktor yang ada pada dirinya dan lingkungan, dan faktor yang
sangat kuat pengaruhnya adalah lingkungan (Iskandarwassid 2008: 115).
Download