DAFTAR ISI

advertisement
ISSN 0215-8250
156
STRATEGI PENINGKATAN MUTU PENDIDIKAN DAN KINERJA
GURU MENYONGSONG PEMBERLAKUAN KURIKULUM BERBASIS
KOMPETENSI DAN OTONOMI PENDIDIKAN
oleh
Wayan Lasmawan
Jurusan PPKn
Fakultas Pendidikan IPS, IKIP Negeri Singaraja
ABSTRAK
Artikel ini merupakan hasil dari analisis terhadap dokumen, gagasan, dan
teori tentang kurikulum. Formulasi ide dan profil implementasi kurikulum berbasis
kompetensi dalam pelaksanaan otonomi pendidikan didukung oleh berbagai
dokumen formal. Artikel ini mencoba melakukan operasi secara total tentang
strategi peningkatan mutu pendidikan dan mutu guru dalam rangka pelaksanaan
otonomi pendidikan dan pemberlakuan kurikulum berbasis kompetensi. Pada
bagian akhir pembahasan, dicoba untuk memformulasikan kompetensi standar
guru sebagai salah satu strategi dari peningkatan mutu pendidikan nasional.
Kata kunci: mutu pendidikan, kinerja guru, kurikulum berbasis kompetensi, dan
otonomi pendidikan.
ABSTRACT
This article is products of docment, ideas, and theory analysis about
curriculum. Ideas and profile formulation of implementation of curriculum based
copetency in education outhonomy was supported by a set of formal documents.
This article tried to be total operation about strategy to increase of education and
teacher quality in outhonomy of education and curriculum based competency
implementation. At the end of disccussion, the writter try to be formulated of
teachers standard quality as one of strategy to increase of national education
quality.
Key words: education quality, teacher performance, curriculum based competency,
and education authonomy.
__ Jurnal Pendidikan dan Pengajaran IKIP Negeri Singaraja, Edisi Khusus TH. XXXVI Desember 2003
ISSN 0215-8250
157
1. Pendahuluan
Riak dan desah nafas masyarakat senantiasa menghadirkan nuansa
tersendiri bagi insan-insan yang hidup di dalamnya. Lembaga pendidikan
merupakan satu diantara banyak institusi yang ada di masyarakat dan difungsikan
bagi kesejahteraan umat manusia. Memasuki milineum ketiga, lembaga
pendidikan dihadapkan pada tantangan yang sangat berat, berkaitan dengan
peningkatan mutu dan relevansinya. Paradigma berpikir para pelaku pendidikan
nampaknya mulai bergeser secara vertikal dalam basis paedagogis, seiring dengan
pemberian otonomi pendidikan bagi pemerintah kabupaten/kota sebagai implikasi
langsung dari pemberlakuan azas desentralisasi.
Masalah pendidikan di Indonesia yang akhir-akhir ini muncul
kepermukaan banyak berkaitan dengan mutu pendidikan baik dalam dimensi
proses maupun hasilnya. Masalah ini semakin dirasakan sebagai krisis pendidikan
yang meresahkan, karena banyak pendekatan pembangunan pendidikan hanya
memfokuskan pada masalah kuantitas, sehingga usaha mencerdaskan kehidupan
bangsa cenderung dipersempit dalam lingkup pendidikan formal dan pembelajaran
yang terbatas pada perhitungan kuantifikasi dengan mengabaikan kualitas.
Walaupun sekarang ini telah dilancarkan pengembangan pendidikan yang
menyangkut pemerataan, kualitas, produktivitas dan relevansi, namun masalah
pendidikan terus berkembang makin rumit dan terbelenggu dalam sistem yang
tengah terstruktur.
Membicarakan masalah mutu pendidikan ternyata amat pelik, karena
menyangkut berbagai aspek, orientasi, pendekatan, strategi, serta kriteria dan
kepentingan yang berkait dengan penilaian mutu tersebut. Banyak usaha yang
telah dan tengah dilakukan serta hasil yang diperoleh. Di lain pihak muncul pula
kritik dan keluhan kepermukaan, namun jarang sekali dilengkapi alternatif
pemecahan yang dipandang tepat. Adakalanya alternatif pemecahan yang
dicanangkan tidak mampu memecahkan masalah yang ada, namun justru
melahirkan masalah baru yang lebih sulit dan kompleks.
Sekolah sebagai institusi pendidikan formal dan media pembentukan dan
pengembangan sumber daya manusia, juga dihadapkan kepada tantangan untuk
mempersiapkan manusia Indonesia yang mampu berkiprah dalam kehidupan
masyarakat modern. Tantangan ini semakin diperkuat dengan adanya
__ Jurnal Pendidikan dan Pengajaran IKIP Negeri Singaraja, Edisi Khusus TH. XXXVI Desember 2003
ISSN 0215-8250
158
kecendrungan menempatkan masalah pembangunan pendidikan terbatas pada
kejenuhan kurikulum dan kualitas sumber dayanya, sehingga analisis akademis
dan analisis proyektif sebagai latar alamiah dan salah satu orientasi pendidikan
sering terabaikan. Kondisi ini merupakan tantangan dan masalah yang sangat
serius bila kita kaitkan dengan pemberlakuan otonomi pendidikan (desentralisasi
pendidikan) dan pemberlakuan kurikulum berbasis kompetensi (KBK).
Berdasarkan wacana dan realitas menyangkut kualitas pendidikan nasional
dan profesionalisme pelaku pendidikan di atas, tulisan singkat ini berupaya
membedah secara akademis dalam tataran “pola pikir dan gaya bertutur ala
ilmuwan sosial” mengenai strategi peningkatan mutu pendidikan dan kinerja guru
dalam rangka pemberlakuan kurikulum berbasis kompetensi (KBK) dan otonomi
pendidikan. Pembedahan akan diawali dengan sajian profil dokumen formal yang
mewadahi pemberlakuan otonomi pendidikan, dilanjutkan dengan realitas kualitas
sumber daya pendidikan, implikasi KBK terhadap pengelolaan pendidikan pada
level kabupaten, dan diakhiri dengan wacana pembentukan dan pemberlakuan
standar kompetensi minimal pelaku pendidikan (guru).
2. Pembahasan
2.1 Profiler Pemberlakuan Otonomi Pendidikan dan Kurikulum Berbasis
Kompetensi
Pemberlakuan Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 22 tahun 1999
tentang Pemerintahan Daerah dan Peraturan Pemerintah Nomor 25 tahun 2000
tentang Kewenangan Pemerintah dan Kewenangan Kabupaten/Kota sebagai
Daerah Otonom membawa implikasi terhadap pelaksanaan otonomi dan
demokratisasi dalam penyelenggaraan pendidikan. Salah satu pesan yang tertuang
dalam UU No. 22/1999 adalah bahwa daerah berkewajiban menangani pendidikan
yang rambu-rambunya telah dijabarkan dalam PP No. 25/2000. Persoalan
mendasar dalam desentralisasi pengelolaan pendidikan adalah mengenai apa yang
seharusnya dilakukan, oleh siapa hal itu dilakukan, dengan cara bagaimana, dan
mengapa demikian. Melalui pengelolaan yang desentralistik, diharapkan
pendidikan dapat dilaksanakan dengan lebih baik, bermanfaat bagi kehidupan
daerah, bangsa, dan negara. Melalui desentralisasi diharapkan tidak terjadi
__ Jurnal Pendidikan dan Pengajaran IKIP Negeri Singaraja, Edisi Khusus TH. XXXVI Desember 2003
ISSN 0215-8250
159
kemunduran dalam pendidikan dan tidak juga justru melemahkan semangat
integrasi nasional.
Persoalan yang terkait dengan pemberian otonomi pendidikan kepada
daerah kabupaten/kota dalam rangka peningkatan mutu pendidikan adalah: (a)
penataan dan peningkatan kemampuan sistem, kelembagaan, iklim, dan proses
pendidikan yang demokratis dan bermutu; (b) pemberdayaan masyarakat sehingga
mereka memiliki kemampuan, semangat dan kepedulian terhadap pendidikan; (c)
peningkatan kualitas proses dan produk pendidikan, mengingat pendidikan bukan
hanya berorientasi local (daerah), melainkan juga berorientasi pada kepentingan
nasional dan bahkan harus memiliki persfektif global, dan (d) peningkatan
akuntabilitas pendidikan, artinya lembaga pendidikan senatiasa dituntut untuk
mempertanggung jawabkan hasilnya pada masyarakat. Pelaksanaan desentralisasi
pendidikan dalam rangka otonomi daerah hanya akan berhasil apabila didasarkan
atas konsep yang jelas, baik menyangkut pelakunya maupun dalam rangka
menganalisis permasalahan secara utuh, dan secara teknis permasalahan tersebut
dapat diselesaikan secara sinergis. Karangka berpikir yang dikembangkan
seutuhnya untuk kepentingan pengembangan kebijakan pendidikan adalah visi dan
misi pendidikan nasional yang perlu dirumuskan dengan memperhitungkan aspekaspek idiologis dan empiris. Aspek idiologis mencakup konsep filosofis dan tata
nilai, sedangkan aspek empiris menyangkut praktek pendidikan, lingkungan
nasional dan lingkungan global. Visi dan misi ini merupakan dasar dalam
perumusan kibijakan dasar dan strategis pencapaiandalam menemukan solusi atas
isu-isu strategis pendidikan, yang pada gilirannya akan memberikan sumbangan
terhadap usaha mengatasi krisis yang melanda bangsa ini dan menumbuhkan
kehidupan yang cerdas menuju masyarakat Indonesia baru.
Pergeseran pola sentralisasi ke desentralisasi dalam pengelolaan
pendidikan ini merupakan upaya pemberdayaan daerah dan sekolah dalam
peningkatan mutu pendidikan secara berkelanjutan, terarah, dan menyeluruh.
Salah satu upaya nyata peningkatan mutu pendidikan adalah penyempurnaan
kurikulum. Indikator keberhasilan pembaruan kurikulum ditunjukkan dengan
adanya perubahan pada pola kegiatan belajar-mengajar, memilih media
pendidikan, menentukan pola penilaian, dan pengelolaan kurikulum sebagai
indicator judgement hasil pendidikan. Pembaruan kurikulum akan lebih bermakna
__ Jurnal Pendidikan dan Pengajaran IKIP Negeri Singaraja, Edisi Khusus TH. XXXVI Desember 2003
ISSN 0215-8250
160
bila diikuti oleh perubahan pengelolaan kurikulum yang dengan sendirinya akan
mengubah praktik-praktik pembelajaran (KBM) di kelas.
Selama ini sumber daya manusia yang ada di daerah dan sekolah kurang
diberdayakan dalam pengelolaan kurikulum. Pengelolaan kurikulum berbasis
sekolah diarahkan untuk memberdayakan sumber daya yang ada di daerah dan
sekolah dalam mengelola Kurikulum Berbasis Kompetensi. Sebagai suatu sistem
kurikulum nasional, Kurikulum Berbasis Kompetensi (KBK) mengakomodasikan
berbagai perbedaan secara tanggap budaya dengan memadukan beragam
kepentingan dan kemampuan daerah. KBK menerapkan strategi yang
meningkatkan kebermaknaan pembelajaran untuk semua peserta didik terlepas dari
latar budaya, etnik, agama, dan gender melalui pengelolaan kurikulum berbasis
sekolah.
2. Kurikulum Berbasis Kompetensi: Rekonseptualisasi Format Masyarakat
Indonesia Kedepan
Rekonseptualisasi KBK, menggunakan landasan filosofis Pancasila sebagai
dasar pengembangan kurikulum. Pancasila sangat relevan untuk penerapan filosofi
pendidikan yang mendunia seperti empat pilar pendidikan yang dikedepankan oleh
UNESCO (1998), yaitu: belajar mengetahui, belajar melakukan, belajar menjadi
diri sendiri, dan belajar hidup dalam kebersamaan. Di sisi lain, jika “dibedah”
secara tuntas, tampak bahwa KBK pada dasarnya mengacu pada penerapan nilainilai filosofis “behavioristic”. Di sisi lain, konseptualisasi KBK juga telah
mempertimbangkan kondisi kekinian dan format kehidupan masa depan yang di
cita-citakan.
Landasan filosofis Pancasila dan faktor-faktor terkait dengan konteks
pendidikan seperti otonomi daerah sangat berpengaruh pada pembangunan
pendidikan di daerah. Dalam konteks pembangunan yang berkelanjutan, akan
dituntut adanya kompetensi standar di berbagai bidang sehingga generasi muda
perlu menguasai kompetensi yang dapat mewujudkan kehidupan demokrasi dan
kemampuan bertahan hidup dalam keadaan jaman yang selalu berubah.
Rekonseptualisasi kurikulum ini mewujudkan kurikulum yang berbasis
kompetensi yang terfokus pada: (1) kejelasan kompetensi dan hasil belajar siswa,
(2) penilaian berbasis kelas, dan (3) kegiatan belajar mengajar yang merupakan
__ Jurnal Pendidikan dan Pengajaran IKIP Negeri Singaraja, Edisi Khusus TH. XXXVI Desember 2003
ISSN 0215-8250
161
kesatuan perangkat utuh sebagai acuan standar nasional (Puskur, 2001; Hasan,
2002; Sumantri, 2003).
Sementara fokus lain dari rekonseptualisasi KBK adalah pengelolaan
kurikulum berbasis sekolah yang merupakan kesatuan pengembangan perangkat
utuh dalam desentralisasi kurikulum di daerah. Menurut Hasan (2002),
pengembangan KBK sebagai sebuah perangkat utuh oleh daerah, terdiri dari: (a)
pengembangan silabus, (b) penetapan dan pengembangan materi yang diperlukan
di sekolah atau daerah, (c) pelaksanaan kurikulum, dan (d) pengembangan sistem
pemantauan. Dengan demikian, sistem kurikulum nasional dalam KBK mencakup
dua inovasi mendasar dalam pendidikan, yaitu: (1) terfokus pada standar
kompetensi dan hasil belajar, dan (2) mendesentralisasikan pengembangan silabus
dan pelaksanaannya (hasan, 2002).
Kedua inovasi ini sejalan dengan prinsip kesatuan dalam kebijakan dan
keberagaman dalam pelaksanaan (Puskur, 2001). Dalam hal kesatuan dalam
kebijakan, kurikulum berbasis kompetensi memungkinkan pengembangan
kompetensi standar yang dirumuskan dalam level pencapaian prestasi siswa.
Standar kualitas kompetensi siswa yang dimaksud berupa hasil belajar (kinerja)
yang ditetapkan disertai dengan patokan atau ukuran yang jelas dalam beberapa
indikator. Tingkatan (level) ini dapat digunakan untuk menelaah ketercapaian
kondisi dan proses minimal tertentu yang dapat digunakan untuk memacu
pencapaian yang lebih baik. Selanjutnya keberagaman dalam pelaksanaan di
implementasikan dalam desentralisasi pendidikan. Desentralisasi pendidikan ini
menuntut perubahan dalam pengelolaan kurikulum pada tingkat kabupaten/kota.
Kabupaten/kota bertanggung jawab dalam pengembangan silabus yang relevan
dengan kebutuhan daerahnya sekaligus bertanggung jawab untuk dapat mencapai
standar mutu yang tinggi. Suatu tim perekayasa kurikulum dapat dibentuk untuk
mengembangkan silabus sekaligus memberdayakan dan meningkatkan
kemampuan sumber daya di daerah.
Berpedoman pada kondisi praktek dan mutu pendidikan nasional
sebagaimana yang telah tersaji di atas, tampaknya ada beberapa poin yang layak
dikedepankan sebagai acuan dan landasan berpikir bagi peningkatan mutu
pendidikan dan kinerja guru di era otonomi ini, yaitu: (1) diperlukan upaya yang
sinergis dalam memberdayakan dan meningkatkan potensi sumber daya manusia
__ Jurnal Pendidikan dan Pengajaran IKIP Negeri Singaraja, Edisi Khusus TH. XXXVI Desember 2003
ISSN 0215-8250
162
melalui jalur pendidikan, seiring dengan semangat pemberlakuan otonomi
pendidikan dan KBK secara total pada tahun 2004, (2) pemberian otonomi
pendidikan kepada daerah kabupaten/kota merupakan salah satu solusi yang
dipandang strategis dalam meningkatkan kebermaknaan potensi daerah yang
beragam, sehingga akan terpola kompetisi dalam kesatuan yang pada akhirnya
akan meningkatkan gradasi bangsa dan negara dalam percaturan global, (3) KBK
merupakan rekonseptualisasi kurikulum yang dilandasi oleh philosophy
behavioristik dengan tetap berorientasi pada nilai-nilai filsafat Pancasila sebagai
way of life bangsa dan negara Indonesia, sehingga pengembangan perangkat
pendukungnya juga harus sesuai dengan nilai-nilai tersebut, (4) diperlukan
penyadaran moral-birokratis dan penyiapan sumber daya administrasi yang
memadai secara kualitas maupun kuantitas di daerah agar pelaksanaan otonomi
pendidikan dan KBK sebagai bentuk inovasi pendidikan terlaksana secara penuh
dan bermakna bagi peningkatan kehidupan bangsa dan negara, (5) sistem
kurikulum nasional dalam KBK mencakup dua inovasi mendasar dalam
pendidikan, yaitu: terfokus pada standar kompetensi dan hasil belajar, dan
mendesentralisasikan pengembangan silabus serta pelaksanaannya, dan (6)
pemberlakuan KBK secara nasional mulai tahun 2004 tampaknya sangat cocok
dengan prinsip kesatuan dalam kebijakan dan keberagaman dalam pelaksanaan.
Untuk merealisasikan hal itu, diperlukan adanya kesatuan bahasa dan laku dari
para pengeambil dan pelaksana kebijakan dalam bidang pendidikan di daerah
Kabupaten sebagai sentral pelaksanaan otonomi.
3. Strategi Peningkatan Kinerja Guru dan Implementasi KBK dalam
Lingkungan Sekolah
Kualitas (mutu) pendidikan dipertaruhkan dalam skema paradigmatikrealistik oleh para pengambil kebijakan formal, termasuk dalam bidang
pendidikan. Berkaitan dengan itu, upaya apakah yang bisa dilakukan untuk
menjembatani keresahan seputar rendahnya mutu pendidikan yang saat ini mulai
mengemuka dan banyak dijadikan polemik seiring dengan menajamnya tantangan
kehidupan global ?. Ada sejumlah pertanyaan yang layak dikedepankan berkaitan
dengan hal itu, diantaranya: (1) bagaimana eksistensi kurikulum sebagai dokumen
ide dan strategi politis-akademis ?, (2) bagaimanakah performansi guru dalam
__ Jurnal Pendidikan dan Pengajaran IKIP Negeri Singaraja, Edisi Khusus TH. XXXVI Desember 2003
ISSN 0215-8250
163
kapasitasnya sebagai pengembang dan pelaksana kurikulum?, dan (3) pola serta
sistem aplikasi-akademis yang bagaimana dibutuhkan oleh dunia pendidikan
sekolah untuk meningkatkan dan menjaga standar mutu dan pelaku pendidikan ?.
Berlandaskan pada pertanyaan-pertanyaan medasar di atas, setiap pelaku
pendidikan dituntut untuk mampu berbuat dan berperan dalam segala dimensisituasi agar mutu pendidikan tetap terjamin, baik kualitas maupun relevansinya. Di
dalam mengkaji interelasi-logis antara kurikulum dan mutu pendidikan, maka
sebagai bahan diskusi, ada sejumlah dimensi analisis-konseptual dalam paradigma
paedagogis yang dapat digunakan sebagai acuan strategis bagi peningkatan mutu
pendidikan nasional dalam menyongsong milenium ketiga yang dicirikan dengan
revolusi informasi dan reformasi pranata-pranata sosial kemasyarakatan yang
mendasar. Melalui penyempurnaan kurikulum pemerintah berkeyakinan mutu
pendidikan dapat ditingkatkan, namun realita yang terjadi di lapangan ternyata
lain. Proses pembelajaran yang dilakukan oleh guru, sebagai bentuk aplikasi riil
ide, konsep, dan pengalaman yang termuat dalam kurikulum tidak jauh berbeda
dari pelaksanaan kurikulum sebelumnya (Hasan, 2002). Hal ini membuktikan
bahwa para pelaksana kurikulum (guru) belum memiliki wawasan dan
keterampilan yang memadai mengenai kurikulum baru yang telah dicobakan di
beberapa daerah kabupaten/kota. Hal ini jelas semakin menjauhkan upaya
peningkatan mutu pendidikan. Kondidi tersebut terjawab dengan maraknya ide
penyelenggaraan sekolah unggul dengan kurikulum khusus maupun model
learning accerelation.
Melalui rekonseptualisasi kurikulum nasional yang akhirnya melahirkan
KBK, guru diharapkan dapat memerankan fungsi dan kewenangannya sebagai
pengembang kurikulum, dimana hal itu selama ini terabaikan. Di sisi lain,
pengadministrasian pendidikan juga harus mengacu pada nafas dan karakteristik
KBK. Artinya, bahwa diperlukan upaya yang sinergis dalam rangka meningkatkan
mutu pendidikan dasar, mulai dari penataan sistim, pola, perangkat, pelaku, dan
evaluator pendidikan, sehingga diantara komponen tersebut benar-benar telah
berada dalam “satu bahasa” dan “satu misi” yaitu meningkatkan peran dan
kewajiban masing-masing untuk peningkatan mutu pendidikan. Bila hal tersebut
bisa dilakukan, tampaknya keresahan seputar rendahnya mutu pendidikan sekolah
bisa dieliminir sedemikian rupa.
__ Jurnal Pendidikan dan Pengajaran IKIP Negeri Singaraja, Edisi Khusus TH. XXXVI Desember 2003
ISSN 0215-8250
164
KBK dan otonomi pendidikan sebagai “sebuah jawaban” diharapkan
mampu menjembatani kesenjangan antara ide, gagasan, prinsip, nilai, moral, dan
pemikiran yang terakumulasi dalam kurikulum dengan praktek pendidikan pada
dunia sekolah. Melalui pemberlakuan KBK, kualitas produk dari sekolah
“minimal” telah berkompetensi atau memiliki kompetensi standar dalam bidang
tertentu. Dengan demikian, sekolah bukan lagi diposisikan sebagai “produsen
sampah terdidik” atau “manusia yang tidak siap pakai” (Hasan, 2003).
Pemberlakuan KBK memerlukan seperangkat upaya yang terpadu dengan
melibatkan segala komponen yang terlibat dalam penyelenggaraan pendidikan
nasional, khususnya menjalin kemitraan yang abadi antara sekolah dengan
masyarakat, pemerintah, dan dunia usaha. Bila hal ini dapat terwujud, maka
kontrol pendidikan bukan lagi ada di tangan pemerintah, melainkan ada di tangan
masyarakat, termasuk dalam pembiayaan dan akselerasi akademisnya.
Berdasarkan kajian empiris dan konseptual di atas, tampaknya strategi
peningkatan mutu pendidikan, khususnya pada jenjang pendidikan dasar harus
dimulai dari bagaimana pendidikan itu dikelola, kemudian berlanjut pada
bagaimana
pendidikan
itu
dilakukan,
seterusnya
dievaluasi
dan
dipertanggungjawabkan kepada masyarakat sebagai pemilik pendidikan dan segala
pirantinya. Strategi ini harus dipahami oleh kalangan birokrasi pendidikan, yang
selama ini merupakan titik lemah pengelolaan pendidikan nasional (Hasan, 2003).
Guru sebagai pengembang dan pelaksana kurikulum menempati posisi serta
memegang peran penting dalam pelaksanaan pembangunan pendidikan. Dalam
kapasitasnya sebagai pelaksana kurikulum, guru berkewajiban …carry out the task
of promoting learning by providing instructional (World Bank, 1989a).
Guru adalah “designer of instruction” dan sekaligus sebagai “manager of
instruction” (WEF, 1999). Sejalan dengan pendapat tersebut, kiranya disadari
bahwa tanggungjawab guru amat berat, namun tidak berarti mustahil dilakukan.
Pembelajaran sebagai kegiatan yang menjembatani peserta didik dengan
kecakapan-kecakapan (pengetahuan, keterampilan, dan sikap) yang harus
dipelajari dan dimilikinya agar nantinya mereka dapat memerankan dirinya secara
optimal dalam kehidupannya di masyarakat harus dirancang dan dilaksanakan
secara seksama. Pembelajaran sebagai muara dari kebijakan pembangunan
pendidikan, harus mampu memberikan dan membekali siswa seperangkat
__ Jurnal Pendidikan dan Pengajaran IKIP Negeri Singaraja, Edisi Khusus TH. XXXVI Desember 2003
ISSN 0215-8250
165
kebutuhan akademis dan kebutuhan sosial-personal agar mereka dapat hidup layak
di masyarakat. Kelayaan yang dimaksud dalam konteks ini, adalah bilaman guru
telah dapat memberikan apa yang ingin dipelajari dan diperoleh oleh siswa di
sekolah dan sekaligus penyampaian “misi formal” penguasa yang telah tertuang
dalam kurikulum.
Mengantisipasi upaya peningkatan mutu pendidikan dan tuntutan
kehidupan global, maka guru hendaknya mampu mengembangkan dan membekali
dirinya dengan seperangkat kemampuan dan keterampilan dalam memilih dan
mengaplikasikan model dan strategi pembelajaran yang mampu menciptakan
kondisi pembelajaran yang kondusif bagi peserta didik. WEF (1999) dalam
diskusi-akademisnya telah berupaya menjawab pertanyaan, “…what skills,
knowledge and training should teachers have and how should colleges and
universities, state departemens of education, and school boards make sure that
they have them” ?. Pertanyaan dan jawaban yang dikedepankan oleh WEF
memberi petunjuk tentang keterampilan dan kemampuan yang seyogyanya
dimiliki dan dimahiri oleh guru agar mereka mampu melaksanakan tugas dan
kewajibannya dengan baik, khususnya memberi apa yang dibutuhkan oleh
siswanya dalam belajar di sekolah.
Guru tidak membutuhkan kurikulum yang menekankan pada isi, melainkan
kurikulum yang memberikan kebebasan yang memadai kepadanya untuk
berimvrovisasi dalam pembelajaran, dimana KBK sangat akomodatif terhadap hal
tersebut. Dengan demikian, tuntutan peningkatan kualitas guru, harus disertai
dengan upaya perbaikan dan penyempurnaan instrumen pendidikan, seperti sarana
dan prasarana pendidikan, insentif dan kesejahteraan professional guru,
manajemen pendidikan yang demokratis dan progresif, kinerja birokrasi
pendidikan yang tut wuri handayani, pendanaan yang memadai, partisipasi dan
kontrol masyarakat yang optimal, dan adanya penjenjangan karir professional
secara periodic dan komprehensif bagi guru. Pelatihan dan penataran atau bentukbentuk in-service training yang dilakukan secara terprogram tidak akan
mempunyai makna bilamana kurikulum sebagai wadah dari segala kegiatan
pendidikan di sekolah belum dipahami dengan baik “roh” dan “final targetnya”
oleh guru. KBK yang saat ini hendak diberlakuan secara nasional, merupakan
perwujudan dari konsepsi kurikulum hidup (life curicullum) yang diharapkan
__ Jurnal Pendidikan dan Pengajaran IKIP Negeri Singaraja, Edisi Khusus TH. XXXVI Desember 2003
ISSN 0215-8250
166
dapat menjadi instrumen bagi upaya peningkatan mutu pendidikan nasional secara
maksimal.
Rumusan kompetensi dalam KBK merupakan pernyataan apa yang
diharapkan dapat diketahui, disikapi, atau dilakukan siswa dalam setiap tingkatan
kelas dan sekolah dan sekaligus menggambarkan kemajuan siswa yang dicapai
secara bertahap dan berkelanjutan untuk menjadi kompeten. Kurikulum Berbasis
Kompetensi dapat didiversifikasi atau diperluas, diperdalam, dan disesuaikan
dengan keberagaman kondisi dan kebutuhan, baik yang menyangkut kemampuan
atau potensi siswa maupun yang menyangkut potensi lingkungan. Secara khusus,
tugas unsur-unsur yang terlibat dalam pelaksanaan KBK (Puskur, 2001; Hasan,
2002; WEF, 1999) dalam kerangka otonomi pendidikan dapat dijabarkan sebagai
berikut:
Dinas Pendidikan Kabupaten/Kota, memiliki tugas dan kewajiban sebagai
berikut: (1) mengusahakan tersedianya sumber dana pada tingkat Kabupaten/Kota
yang dialokasikan untuk penyusunan, evaluasi, dan perbaikan silabus, (2)
membuat rambu-rambu pengembangan silabus yang sesuai dengan kebutuhan
daerah yang bersangkutan, (3) membentuk tim pengembang silabus pada tingkat
Kabupaten/Kota, (4) melakukan sosialisasi KBK berkenaan dengan segala
implikasi perubahan dalam tatanan penyelenggaraan pendidikan, (5) mengkaji
silabus yang dibuat oleh sekolah yang mampu membuatnya sendiri, (6)
mendistribusikan silabus ke sekolah-sekolah yang tidak menyusun silabus, (7)
mengkaji kelayakan sekolah yang akan memulai menggunakan KBK, (8)
memberikan persetujuan jika sekolah telah sanggup melaksanakannya, (9)
melakukan supervisi, penilaian, dan monitoring mulai dari penyusunan sampai
dengan pelaksanaannya termasuk perangkat silabus.
Kepala sekolah, memiliki tugas dan kewajiban antara lain: (1) menjamin
tersedianya dokumen kurikulum, (2) membantu dan memberikan nasihat kepada
guru dalam memahami kurikulum, (3) mengatur jadwal pertemuan guru, tenaga
admistrasi, dan orang tua/komite sekolah, (4) menjalin hubungan dengan Dinas
Pendidikan Kabupaten atau Kota, Dinas Pendidikan Propinsi, dan perguruan tinggi
yang terkait dalam pelaksanaan kurikulum, dan (5) menyusun laporan evaluasi
perencanaan dan pelaksanaan kurikulum di sekolah dan menyampaikannya pada
pihak yang terkait.
__ Jurnal Pendidikan dan Pengajaran IKIP Negeri Singaraja, Edisi Khusus TH. XXXVI Desember 2003
ISSN 0215-8250
167
Guru, memiliki tugas dan kewajiban untuk: (1) mempelajari dan
memahami kurikulum, (2) menyusun silabus yang sesuai dengan kebutuhan,
situasi, dan kondisi sekolah, (3) melaksanakan kegiatan belajar mengajar sesuai
dengan perencanaan yang telah disusun, (4) mengumpulkan dan berbagi gagasan
dengan sesama guru mengenai perencanaan dan pelaksanaan kegiatan belajar
mengajar, (5) menghadiri pertemuan-pertemuan di tingkat sekolah, KKG/MGMP,
tingkat kecamatan, kabupaten atau kota, dan propinsi, dan (6) menyelesaikan
tugas-tugas administrasi yang berhubungan dengan pelaksanaan kegiatan belajar
mengajar. Keterlibatan guru dalam penyusunan silabus akan menumbuhkan rasa
memiliki terhadap silabus yang dikembangkannya, dan semakin bertanggungjawab
atas materi yang diajarkannya, sehingga dedikasi dalam mengajar semakin tinggi.
Jika dibedah tentang makna dan pesan moral-akademis yang dikandung
oleh KBK, tampak bahwa pengelolaan KBK bertujuan untuk memandirikan atau
memberdayakan sekolah melalui pemberian kewenangan, keluwesan, dan
sumberdaya untuk merancang silabus, menetapakan materi ajar, menetapkan
sumber belajar, dan memonitor, serta mengevaluasi kurikulum yang dilaksanakan
di sekolah masing-masing. Berdasarkan analisis di atas, tampaknya pemberlakuan
KBK dan otonomi pendidikan akan memacu uapaya percepatan profesionalisme
sekolah dan daerah dalam pembangunan SDM melalui pendidikan.
4. Standar Kompetensi dan Strategi Peningkatan Mutu Guru oleh Pemda
Kabupaten
Otonomi daerah berimplikasi pada mengecilnya peranan pemerintah pusat,
karena tugas-tugasnya hanya meliputi pengembangan kebijaksanaan secara
nasional, penyusunan peraturan-peraturan (regulasi), pengembangan standarstandar (standarisasi), pemantaoan (monitoring), dan penilaian (evaluasi). Tugastugas tersebut harus menyentuh lapisan bawah (grass root) mengingat dengan
otonomi daerah peranan dan kewewenangan daerah semakin besar. Hal ini
menjadi peluang sekaligus tangtangan dalam pengembangan tenaga kependidikan.
Oleh sebab itu, kebijakan apapun yang diambil secara nasional harus
mengakomodasi berbagai kepentingan daerah, khususnya dalam pengembangan
tenaga kependidikan.
__ Jurnal Pendidikan dan Pengajaran IKIP Negeri Singaraja, Edisi Khusus TH. XXXVI Desember 2003
ISSN 0215-8250
168
Dilihat dari segi kualifikasi, tenaga guru di Indonesia masih jauh dari
memuaskan (Indradjati, 2003). Sebagai contoh, dari jumlah guru SD sebanyak
1.141.161 orang, 53 % diantaranya berkualifikasi D-II atau lebih rendah (Dirjen
Dikdasmen RI, 2003). Salah satu masalah kritis lainnya, yang dihadapi dalam
kaitannya dengan pengembangan ketenagaan oleh pemerintah pusat maupun
daerah adalah lemahnya subsistem penyelenggaraan, pembinaan dan peningkatan
mutu guru. Hal ini tercermin dalam indikator berikut ini: (a) tidak seimbangnya
program pembinaan tenaga kependidikan pada setiap jenjang pendidikan, (b)
rendahnya efektivitas pembinaan ditinjau dari pencapaian tujuan lahirnya guru
sekolah dasar yang
professional, (c) adanya kesenjangan antara konsep
pembinaan dengan apa yang diimplementasikan oleh guru dalam kelas, (d)
lemahnya sumber daya birokrasi pendidikan yang meregulasi tenaga guru, dan (e)
terbatasnya dana pembinaan guru sekolah dasar. Keadaan ini akan tampak lebih
parah jika dilihat lebih jauh mengenai masih banyaknya guru yang mengajar mata
pelajaran yang tidak sesuai dengan keahliannya (mismatch) dan masih meluasnya
ketidak merataan distribusi guru pada semua jenis dan jenjang pendidikan secara
umum.
Sejalan dengan semangat otonomi pendidikan dan pemberlakuan KBK,
maka daerah kabupaten memiliki tugas dan kewenangan yang cukup terbuka dan
sekaligus sangat berat dalam kaitannya dengan peningkatan mutu guru sekolah
dasar. Ada seperangkat kegiatan yang dapat dilakukan sebagai strategi
peningkatan mutu guru oleh Dinas Pendidikan Nasional Kabupaten menuju
terwujudnya guru yang profesional dan sekaligus meningkatkan mutu pendidikan
di era otonomi pendidikan (Hasan, 2003; Lasmawan, 2003; Indradjati, 2003),
yaitu: (a) Meningkatkan jalinan kerjasama dengan unsur perguruan tinggi,
khususnya LPTK yang ada di daerah maupun di luar daerah otonomnya dalam
rangka merancang, melaksanakan, dan mengevaluasi berbagai program
peningkatan mutu guru; (b) Memotivasi secara moral dan material peningkatan
kualifikasi guru melalui program penyetaraanserta melaksanakan pelatihan guru
terakreditasi; (c) Mengembangkan model pelatihan berbasis kompetensi dengan
mengacu pada “deep dialogue and critical thinking”; (d) Penambahan sarana
prasarana pembelajaran yang dibutuhkan oleh guru dalam pembelajaran di dalam
atau di luar kelas; (e) Revitalisasi, rekonseptualisasi, dan pengadaan dana bagi
__ Jurnal Pendidikan dan Pengajaran IKIP Negeri Singaraja, Edisi Khusus TH. XXXVI Desember 2003
ISSN 0215-8250
169
pelaksanaan sistim gugus guru, MGK, MGMP, MGBS, serta kegiatan-kegiatan
lainnya yang sesuai dengan kebutuhan daerah; (f) Pengembangan sistim jaringan
informasi guru kelas (SIJIGULA) tingkat kecamatan dan kabupaten/provinsi; (g)
Penyusunan tim pengembang silabus yang komprehensif dan demokratis; (h)
Pengembangan model baru penghargaan guru berprestasi sesuai dengan kebutuhan
dan kondisi daerah; (i) Penataan sistim dan model penjenjangan karir guru
melalui kerjasama dengan lembaga atau departemen yang memiliki kewenangan
sejenis dan (j) Pengembangan standar kompetensi dasar guru yang mengacu pada
peningkatan profesionalisme sosial-akademis.
Tujuan dikembangkannya standar kompetensi guru adalah untuk
menetapkan suatu ukuran kemampuan pengetahuan dan keterampilan yang harus
dikuasai oleh seorang guru agar profesional dalam merencanakan, melaksanakan
dan mengelola proses pendidikan disekolah (Puskur, 2001; Lasmawan, 2003).
Manfaat standar kompetensi guru pada dasarnya adalah: (1) dapat dijadikan
kontrol mutu pembianaan dan peningkatan mutu guru secara nasional yang searah
dengan azas keserasian dan keseimbangan dalam konteks otonomi daerah, (2)
merupakan suatu konsepsi strategis dalam pembinaan dan peningkatan mutu guru
yang dilakukan secara berkesinambungan dan searah dengan tuntutan KBK dan
perkembangan IPTEK, (3) memberikan kesempatan yang seluas-luasnya pada
guru untuk meningkatkan kemampuan yang disertai dengan peningkatan jabatan
dan kepangkatan yang terkait dengan kesejahteraan serta untuk menjaga
keseimbangan hak dan kewajiban guru itu sendiri, dan (4) merupakan upaya untuk
meningkatkan mutu proses belajar mengajar disekolah yang muaranya adalah pada
peningkatan mutu pendidikan nasional (Worl Banks, 2002; Indradjati, 2003).
Menurut Hasan (2003), tingkat standarisasi kompetensi guru terdiri atas: (a)
standar kompetensi minimal (micro competencies), (b) standar kompetensi
menengah (mezzo competencies), (c) standar kompetensi pendalaman (macro
competencies), dan (d) standar kompetensi spesialis (specialis competencies).
Unsur dan komponen standar kompetensi guru sebaiknya (idealnya)
meliputi: (a) kebijaksanaan penyelenggaraan pendidikan, (b) kepribadian dan
keterampilan social, (c) pemahaman terhadap wawasan pendidikan, (d)
manajemen pembelajaran, (e) manajemen bingbingan dan konseling, (f)
manajemen administrasi sekolah, (g) pengembangan diri, (h) manajemem kegiatan
__ Jurnal Pendidikan dan Pengajaran IKIP Negeri Singaraja, Edisi Khusus TH. XXXVI Desember 2003
ISSN 0215-8250
170
ekstra kurikuler, (i) hakikat struktur keilmuan mata pelajaran yang diajarkan, (j)
penguasaan materi keilmuan mata pelajaran yang diajarkan, (k) pemahaman
karakter atau gaya belajar siswa dan prinsip-prinsip pembelajarannya, ( l)
keterampilan dalam mengevaluasi dan menganalisis hasil belajar serta
pelaoprannya, dan (m) mengembangkan sumber belajar. Secara lebih rinci, strategi
pengendalian mutu guru melalui pengembangan standar kompetensi guru
dimaksudkan untuk meningkatkan akuntabilitas dan kapabilitas tenaga
kependidikan di daerah sesuai dengan kondisi dan kebutuhan masing-masing
daerah kabupaten/kota sebagai sentral pelaksanaan otonomi pendidikan/daerah.
3. Penutup
Berdasarkan pembahasan di atas, maka dapat disimpulkan beberapa poin
sebagai akhir dari diskusi akademis ini, yaitu: (a) Pemberlakuan otonomi
pendidikan dan kurikulum berbasis kompetensi pada dasarnya adalah implikasi
logis dari dikeluarkannya UU Nomor 22/1999 dan UU Nomor 23/2000.
Pemberlakuan kedua undang-undang tersebut telah memberikan ruang gerak yang
lebih luas kepada daerah untuk mengatur dan membangun daerahnya sesuai
dengan kemampuan dan kebutuhan daerahnya masing-masing; (b) Pemberlakuan
kurikulum berbasis kompetensi pada dasarnya merupakan konseptualisasi ulang
dari ide, gagasan, dan cita-cita membangun masyarakat masa depan yang lebih
baik melalui jalur pendidikan. Pemberlakuan KBK dipandang mampu
menjembatani masyarakat untuk membangun masyarakat masa depan yang lebih
baik dan sesuai dengan yang diharapkan; (c) Untuk meningkatkan kinerja guru
dan berhasilnya pemberlakuan KBK dalam lingkungan sekolah, diperlukan adanya
kesatuan bahasa dan tindakan serta didukung oleh berbagai piranti pendidikan
yang memungkinkan guru untuk mengembangkan pengetahuan dan
keterampilannya seiring dengan tuntutan pelaksanaan KBK yang optimal dalam
lingkungan sekolah. Guru harus diberdayakan secara terstruktur dan demokratis,
sehingga implementasi dari KBk dapat mencapai hasil yang optimal dan bermakna
bagi peningkatan mutu pendidikan nasional; (d) Untuk menjamin akuntabilitas
publik dan pertanggungjawaban profesi, maka kedepan diperlukan adanya standar
kompetensi guru untuk setiap jenjang dan kualifikasinya. Pengembangan standar
ini bisa dilakukan oleh Pemda Kabupaten maupun secara nasional. Setiap
__ Jurnal Pendidikan dan Pengajaran IKIP Negeri Singaraja, Edisi Khusus TH. XXXVI Desember 2003
ISSN 0215-8250
171
kabupaten memiliki kebebasan yang optimal untuk meningkatkan kinerja dan
mutu guru di daerahnya masing-masing sesuai dengan kebutuhan dan ketersediaan
dana, sehingga peningkatan mutu pendidikan nasional di era otonomi ini benarbenar kompetitif dan mandiri.
DAFTAR PUSTAKA
Dirjen Dikdasmen RI. (2003). Program Peningkatan Kualitas Kenenagaan
Pendidikan Dasar. Jakarta: Depdiknas RI.
Hasan, H. (2003). Polemik Seputar Pemberlakuan Kurikulum Berbasis
Kompetensi (Personal Paper). Bahan Kajian POKJA SISDIKNAS DPR.
Jakarta: DPR RI.
Hasan, H. (2002). Kurikulum Berbasis Kompetensi adalah Kurikulum yang
Berfhak pada Kepentingan Belajar Peserta Didik. Bahan Kajian POKJA
SISDIKNAS DPR. Jakarta: DPR RI.
Jalal, F. dan Supriadi, D. (2001). Reformasi Pendidikan dalam Konteks Otonomi
Daerah. Jakarta: Depdiknas-Bappenas-Adicipta Karya Nusa.
Lasmawan, W. (2002). Pengembangan Model Pendidikan yang Berbasis
Masyarakat: Alternatif Pilihan Bagi Daerah Kabupaten Menyongsong
Pemberlakuan Otonomi Pendidikan. (Makalah). Disampaikan dalam
Seminar Nasional di PPS UPI Bandung. Bandung: PPS UPI Bandung.
Lasmawan, W. (2003). Kurikulum Berbasis Kompetensi: Sisi Lain Inovasi yang
Tak Terstruktur dalam Pembangunan Pendidikan Nasional. (Makalah).
Disampaikan pada Pendidikan dan Pelatihan Implementasi KBK di Dinas
Pendidikan Nasional Kabupaten Bangli Tanggal 30 Mei 2003.
Marzurek, K. (et.al). (1994). Educational in A Global Society. USA: McMillan,
Co.
Peraturan Pemerintah Nomor 23 Tahun 2000.
Puskur. (2003). Kurikulum Berbasis Kelas. Avalailable at: http/www:
[email protected], [email protected]
Puskur. (2003). Otonomi Pendidikan dan Kurikulum Berbasis Kelas. Avalailable
at: http/www: [email protected], [email protected]
Puskur. (2003). Pengelolaan Kurikulum Berbasis Kelas. Avalailable at: http/www:
[email protected], [email protected]
Rose, C. & Nichol. (2000). Accelerated Learning for The 21-th Century. USA:
Jonas Publisher Company.
__ Jurnal Pendidikan dan Pengajaran IKIP Negeri Singaraja, Edisi Khusus TH. XXXVI Desember 2003
ISSN 0215-8250
172
Sumantri, E. (2003). Kurikulum Berbasis Kompetensi dan Profesi Guru. Bandung:
Rosdakarya.
Tilaar, H.A.R. (2001). Agenda Reformasi Pendidikan Nasional Menyongsong
Indonesia Baru. Jakarta: PT. Grasindo.
UNESCO. (2002). The
Commission.
Treasure
Within,
UNESCO-Australian
National
UNESCO. (1996). What Makes a Good Teacher? Children Speak Their Minds.
Paris.
UNESCO. (1998). World Education Reports: Teachers and Teaching in a
Changing World. Paris.
Undang-Undang Nomor 22 Tahun 1999.
Undang-Undang Nomor 25 Tahun 1999.
Wahab, A. (1999). Otonomi Daerah dan Problematikanya. Bandung: PPS UPI
Bandung.
WEF. (1999). Global Competitiveness Report 1999.
World Bank. (1998). Education in Indonesia: From Crisis to Recovery. Education
Sectoe Unit, East Asia and Pacific Regional Office.
World Bank. (1989a). Indonesia: Strengtheningthe Quality of Teacher Education.
Draft Technical Paper, Asia Region.
__ Jurnal Pendidikan dan Pengajaran IKIP Negeri Singaraja, Edisi Khusus TH. XXXVI Desember 2003
Download