Modul Psikologi Komunikasi [TM15]

advertisement
MODUL PERKULIAHAN
PSIKOLOGI
KOMUNIKASI
PERILAKU
Fakultas
Program Studi
FIKOM
MARCOM &
ADVERTISING
Tatap Muka
14
Kode MK
Disusun Oleh
Muhammad Didi Ahmadi, S.Pd.,M.IKom.
Abstract
Kompetensi
Modul ini berisi materi mengenai
perilaku yang dikaji dalam beberapa
bagian, antara lain: pengertian
perilaku, hubungan sikap dan perilaku,
pembentukan sikap dan pembentukan
perilaku, dan proses komunikasi dan
perubahan perilaku.
Setelah mempelajari modul ini,
mahasiswa diharapkan dapat
memahami dan menjelaskan unsur dan
proses pembentukan dan perubahan
perilaku.
PENGERTIAN PERILAKU
Perilaku adalah tindakan atau aktivitas dari manusia itu sendiri yang mempunyai bentangan
yang sangat luas antara lain : berjalan, berbicara, menangis, tertawa, bekerja, kuliah,
menulis, membaca, dan sebagainya. Dari uraian ini dapat disimpulkan bahwa yang
dimaksud perilaku manusia adalah semua kegiatan atau aktivitas manusia, baik yang
diamati langsung, maupun yang tidak dapat diamati oleh pihak luar (Notoatmodjo, 2003).
Menurut Skinner, seperti yang dikutip oleh Notoatmodjo (2003), merumuskan bahwa
perilaku merupakan respon atau reaksi seseorang terhadap stimulus atau rangsangan dari
luar. Oleh karena perilaku ini terjadi melalui proses adanya stimulus terhadap organisme,
dan kemudian organisme tersebut merespons, maka teori Skinner ini disebut teori “S-O-R”
atau Stimulus – Organisme – Respon.
Perilaku dapat diartikan sebagai suatu reaksi psikis seseorang terhadap lingkungannya. Dari
batasan dapat diuraikan bahwa reaksi dapat diuraikan bermacam-macam bentuk, yang
pada hakekatnya digolongkan menjadi 2, yaitu bentuk pasif (tanpa tindakan nyata atau
konkret) dan dalam bentuk aktif dengan tindakan nyata atau (konkret).
Perilaku juga dapat didefinisikan sebagai keteraturan tertentu dalam hal perasaan (afeksi),
pemikiran (kognisi), dan predisposisi tindakan (konasi) seseorang terhadap suatu aspek di
lingkungan sekitarnya. Dalam pengertian umum perilaku adalah segala perbuatan tindakan
yang dilakukan makhluk hidup. Perilaku adalah suatu aksi dan reaksi suatu organisme
terhadap lingkungannya. Hal ini berarti bahwa perilaku baru berwujud bila ada sesuatu yang
diperlukan untuk menimbulkan tanggapan yang disebut rangsangan. Dengan demikian
suatu rangsangan tentu akan menimbulkan perilaku tertentu pula.
HUBUNGAN SIKAP DAN PERILAKU
Sikap yang dilakukan oleh setiap individu sangatlah berpengaruh terhadap perilaku individu.
Pengaruh tersebut terletak pada individu sendiri terhadap respon yang ditangkap
,kecenderungan individu untuk melakukan tindakan dipengaruhi oleh berbagai faktor
bawaan dan lingkungan sehingga menimbulkan tingkah laku.
‘13
2
PSIKOLOGI KOMUNIKASI
Muhammad Didi Ahmadi, S.Pd.,M.IKom.
Pusat Bahan Ajar dan eLearning
http://www.mercubuana.ac.id
·
Pembentukan perilaku
Pembentukan perilaku dengan konsidioning atau kebiasaan, Cara ini didasarkan atas teori
belajar konsidioning yang dikemukakan oleh Pavlov, Thorndike dan Skinner. Dengan cara
membiasakan diri untuk berperilaku seperti yang diharapkan, akan terbentuklah perilaku
tersebut.
Pembentukan perilaku dengan pengertian (insight). Disamping pembentukan perilaku
dengan kondisioning, pembentukan perilaku dapat ditempuh dengan pengertian (insight).
Cara ini berdasarkan atas teori belajar kognitif, yaitu belajar yang disertai dengan adanya
pengertian, seperti yang dikemukakan Kohler.
Pembentukan perilaku dengan menggunakan model atau contoh. Jadi, perilaku itu dibentuk
dengan cara menggunakan model atau contoh yang kemudian perilaku dari model tersebut
ditiru oleh individu. Hal ini didasarkan atas teori belajar sosial (sosial learning theory) atau
observational learning theory yang dikemukakan oleh Bandura
·
Konsistensi Sikap dan Perilaku
Sikap dan perilaku sering dikatakan berkaitan erat, dan hasil penelitian juga memperlihatkan
adanya hubungan yang kuat antara sikap dan perilaku. Salah satu teori yang bias
menjelaskan hubungan antara sikap dan perilaku yang dikemukakan oleh Fishbein dan
Ajzen. Menurut mereka, antara sikap dan perilaku terdapat satu faktor psikologis yang harus
ada agar keduanya konsisten, yaitu niat (intention). Worchel dan Cooper (1983)
menyimpulkan sikap dan perilaku bias konsisten apabila ada kondisi sebagai berikut:
Spesifikasi sikap dan perilaku
Relevansi sikap terhadap perilaku
Tekanan normatif
Pengalaman
PEMBENTUKAN SIKAP DAN PEMBENTUKAN PERILAKU
Proses pembentukan dan atau perubahan perilaku dipengaruhi oleh beberapa faktor yang
berasal dari diri individu itu sendiri, antara lain susunan syaraf pusat, persepsi, motivasi,
emosi dan belajar. Susunan syaraf pusat memegang peranan penting dalam perilaku
manusia, karena perilaku merupakan perpindahan dari rangsangan yang masuk ke respon
yang dihasilkan. Perpindahan ini dilakukan oleh susunan syaraf pusat dengan unit-unit
dasarnya yang disebut neuron. Neuron memindahkan energi dalam impuls-impuls syaraf.
Perubahan perilaku dalam diri seseorang dapat diketahui melalui persepsi. Persepsi ini
‘13
3
PSIKOLOGI KOMUNIKASI
Muhammad Didi Ahmadi, S.Pd.,M.IKom.
Pusat Bahan Ajar dan eLearning
http://www.mercubuana.ac.id
adalah pengalaman yang dihasilkan melalui indra pendengaran, penciuman dan
sebagainya.
Para psikolog mengemukakan bahwa perilaku terbentuk dari adanya interaksi antara
domain trikomponen sikap yakni interaktif antara komponen kognitif, afektif dan domain
konatif. Namun masih terdapat kekeliruan yang menganggap komponen konatif salah satu
komponen dalam trikomponent sikap sebagai perilaku (behaviour), sehingga perilaku
dianggap sebagai salah satu komponen sikap (aptitude).
Para psikolog telah membedakan perilaku dan sikap sebagai dua gejala yang dapat berbeda
satu sama lainnya. Lapiere ) telah meneliti dan menghasilkan poskulat variasi independent,
intitemen yang dijelaskan dengan konsep adalah bahwa sikap dan perilaku merupakan
dimensi dalam diri individu yang berdiri sendiri, terpisah dan berbeda.
Pemikiran
ini
didukung
oleh
Mueler
yang
berpendapat
bahwa
Komponen konatif dalam trikomponen sikap tidak disamakan dengan perilaku. Komponen
konatif merupakan baru sebatas kecenderungan perilaku yang terkristalisasi dalam kata
akan, mau dan hendak. Sedangkan perilaku merupakan suatu bentuk tidakan nyata dari
individu yang dapat diukur dengan panca indera langsung. Dengan demikian, Mueler
menegaskan bahwa makna behaviour adalah perilaku aktual sedangkan makna konatif
adalah trikomponen sikap sebagai “kecendrungan ”perilaku. Pemikiran ini menunjukkan
bahwa komponen konatif dalam trikomponen sikap hanyalah salah satu penyebab
pembentukan perilaku aktual.
Ada tiga asumsi yang saling berkaitan mengenai perilaku manusia. Pertama, perilaku itu
disebabkan; Kedua, perilaku itu digerakan; Ketiga, perilaku itu ditujukan pada sasaran /
tujuan”. Dalam hal ini berarti proses perubahan perilaku mempunyai kesamaan untuk setiap
individu, yakni perilaku itu ada penyebabnya, dan terjadinya tidak dengan spontan, dan
mengarah kepada suatu sasaran baik secara ekslusif maupun inklusif.
“Perilaku pada dasarnya berorientasi tujuan (goal oriented)”. Dengan perkataan lain,
perilaku kita pada umumnya dimotivasi oleh suatu keinginan untuk mencapai tujuan
tertentu”.
Senada
dengan
itu
Ndraha,
mendefinisikan
perilaku
sebagai
:
Operasionalisasi dan aktualisasi sikap seseorang atau suatu kelompok dalam atau terhadap
sesuatu (situasi atau kondisi) lingkungan (masyarakat, alam, teknologi atau organisasi).
Pengaruh lingkungan dalam pembentukan perilaku adalah bentuk perilaku yang
berdasarkan hak dan kewajiban, kebebasan dan tanggung jawab baik pribadi maupun
‘13
4
PSIKOLOGI KOMUNIKASI
Muhammad Didi Ahmadi, S.Pd.,M.IKom.
Pusat Bahan Ajar dan eLearning
http://www.mercubuana.ac.id
kelompok masyarakat. Perilaku mendapat pengaruh yang kuat dari motif kepentingan yang
disadari dari dalam faktor intrinsik dan kondisi lingkungan dari luar / faktor ekstrinsik atau
exciting condition. Oleh karena itu perilaku terbentuk atas pengaruh pendirian, lingkungan
eksternal, keperntingan yang disadari, kepentingan responsif, ikut-ikutan atau yang tidak
disadari serta rekayasa dari luar.
Lebih lanjut Kwick (dalam Notoatmodjo, “perilaku adalah "tindakan atau perbuatan
organisme
yang
dapat
diamati
dan
bahkan
dapat
dipelajari”
Motif merupakan salah satu faktor yang mempengaruhi atau penyebab timbulnya perilaku
dalam hal ini Winardi mengemukakan bahwa motif-motif merupakan “mengapa“ dan
“perilaku” mereka muncul dan mempertahankan aktifitas dan determinasi arah umum
perilaku seorang individu. Pada intinya dapat dikatakan bahwa motif-mitif atau kebutuhan
merupakan penyebab terjadinya tindakan-tindakan“. Kekuatan motif merupakan alasan yang
melandasi perilaku, kekuatan motif cenderung menyusut, apabila ia terpenuhi atau apabila
terhalangi.
Sebelum terbentuknya suatu pola perilaku, seseorang memiliki bentuk sikap dari suatu
rangsangan yang datang dari luar dalam bentuk aktifitas, kemudian dari sikap tersebut
terbentuklah perilaku (Baron). Sikap individu tersebut dalam bentuk pikiran dan perasaan
yang tidak kasat mata (intangible) membentuk pola perilaku masyarakat sebagai perilaku
yang tampak (tangible) perilaku yang tidak tampak (innert, covert behaviour) dan perilaku
yang tampak (overt behaviour). Sarwono menyebutkan aspek-aspek pikiran yang tidak kasat
mata (covert behaviour intangible) dapat berupa pandangan, sikap, pendapat dan
sebagainya. Bentuk kedua adalah perilaku yang tampak (overt behavior, tangiable) yang
biasanya berupa aktifitas motoris seperti berpidato mendengar dan sebagainya.
FAKTOR - FAKTOR YANG MEMPENGARUHI PERILAKU MANUSIA
Populernya Behaviorisme memporakporandakan dalil-dalil McDougall. Orang melihat faktor
situasilah yang penting. Suara Ross menjadi nyaring, terutama di negeri Paman Sam,
kelahiran Behaviorisme. Anda boleh jadi orang yang sangat terbuka dan berterus terang
terhadap isteri Anda, tetapi berjiwa tertutup ketika Anda menjadi manajer kantor. Anda orang
lemah-lembut ketika meminjam uang kepada saya, tetapi berubah menjadi “binatang buas”
ketika saya tagih. Di kantor Anda dominan, keras, kepala batu, dan galak; di rumah, Anda
tunduk kepada isteri Anda seperti kerbau dicocok hidung. Ternyata, situasi atau
lingkungannlah yang menentukan perilaku Anda.
‘13
5
PSIKOLOGI KOMUNIKASI
Muhammad Didi Ahmadi, S.Pd.,M.IKom.
Pusat Bahan Ajar dan eLearning
http://www.mercubuana.ac.id
Manakah diantara dua pendapat ini yang benar, dengan menggunakan istilah Edward E.
Sampson (1976) – antara perspektif yang berpusat pada persona (persona-centeres
perspective) dengan perspektif yang berpusat pada situasi (situation-centered perspective).
Seperti juga konsepsi tentang manusia, yang bbenar tampaknya interaksi di antara
keduanya. Karena itu, kita akan membahasnya satu per satu, dimulai dengan perspektif
yang berpusat pada persona.
Perspektif yang berpusat pada persona mempertanyakan faktor-faktor internal apakah, baik
berupa sikap, instink, motif, kepribadian, sistem kognitif yang menjelaskan perilaku manusia.
Secara garis besar ada dua faktor: faktor biologis dan faktor sosiopsikologis. Kita mulai
dengan faktor yang pertama.
Faktor Biologis
Manusia adalah makhluk biologis yang tidak berbeda dengan hewan yang lain. Ia lapar
kalau tidak makan selama dua puluh jam, kucing pun demikian. Ia memerlukan lawan jenis
untuk kegiatan reproduktifnya, begitu pula kerbau. Ia melarikan diri kalau melihat musuh
yang menakutkan, begitu pula monyet. Faktor biologis terlibat dalam seluruh kegiatan
manusia, bahkan berpadu dengan faktor-faktor sosiopsikologis. Bahwa warisan biologis
manusia menentukan perilakunya, dapat diawali sampai struktur DNA yang menyimpan
seluruh memori warisan biologis yang diterima dari kedua orangtuanya. Begitu besarnya
pengaruh warisan biologis ini sampai muncul aliran baru, yang memandang segala kegiatan
manusia, termasuk agama, kebudayaan, moral berasal dari struktur biologinya. Aliran ini
menyebut dirinya sebagai aliran sosiobiologi (Wilson, 1975).
Menurut Wilson, perilaku sosial dibimbing oleh aturan-aturan yang sudah diprogram secara
genetis dalam jiwa manusia. Program ini, disebut sebagai “epigenetic rules,” mengatur
perilaku manusia sejak kecenderungan menghindari incest, kemampuan memahami
ekspresi wajah, sampai kepada persaingan politik. Walaupun banyak sarjana menolak
sosiobiologis sebagai determinisme biologis dalam kehidupan sosial, tidak seorang pun
yang menolak kenyataan bahwa struktur biologis manusia – genetika, sistem syaraf dan
sistem hormonal – sangat mempengaruhi perilaku manusia. Struktur genetis, misalnya,
mempengaruhi kecerdasan, kemampuan sensasi, dan emosi. Sistem saraf mengatur
pekerjaan otak dan proses pengolahan informasi dalam jiwa manusia. Sistem hormonal
bukan saja mempengaruhi mekanisme biologis, tetapi juga proses psikologis.
‘13
6
PSIKOLOGI KOMUNIKASI
Muhammad Didi Ahmadi, S.Pd.,M.IKom.
Pusat Bahan Ajar dan eLearning
http://www.mercubuana.ac.id
Faktor-faktor Sosiopsikologis
Karena manusia makhluk sosial, dari proses sosial ia memperoleh beberapa karakteristik
yang mempengaruhi perilakunya. Kita dapat mengklasifikasinya ke dalam tiga komponen
komponen afektif, komponen kognitif, dan komponen konatif. Komponen yang pertama,
yang merupakan aspek emosional dari faktor sosiopsikologis, didahulukan karena erat
kaitannya dengan pembicaraan sebelumnya. Komponen kogntif adalah aspek intelektual,
yang berkaitan dengan apa yang diketahui manusia. Komponen konatif adalah aspek
volisional, yang berhubungan dengan kebiasaan dan kemauan bertindak. Kita mulai dengan
komponen afektif yang terdiri dari motif sosiogenis, sikap dan emosi.
Motif Sosiogenis
Motif sosiogenis, sering juga disebut motif sekunder sebagai lawan motif primer (motif
biologis), sebetulnya bukan motif “anak bawang”. Peranannya dalam membentuk perilaku
sosial bahkan sangat menentukan. Berbagai klasifikasi motif sosiogenis disajikan di bawah.
Abraham Maslow:
1. Kebutuhan akan rasa aman (safety needs);
2. Kebutuhan akan keterikatan dan cinta (belongingness and love needs);
3. Kebutuhan akan penghargaan (esteem needs);
4. Kebutuhan untuk pemenuhan diri (self-actualization).
Sikap
Sikap adalah konsep yang paling penting dalam psikologi sosial dan yang paling banyak
didefinisikan. Ada yang menganggap sikap hanyalah sejenis motif sosiogenis yang diperoleh
melalui proses belajar (Sherif dan Sherif, 1956:489). Ada pula yang melihat sikap sebagai
kesiapan saraf (neural settings) sebelum memberikan respons (Allport, 1924). Dari berbagai
definisi kita dapat menyimpulkan beberapa hal.
Pertama, sikap adalah kecenderungan bertindak, berpersepsi, berpikir, dan merasa dalam
menhhadapi objek, ide, sitausi atau nilai. Sikap bukan perilaku, tetapi merupakan
kecenderungan untuk berperilaku dengan cara-cara tertentu terhadap objek sikap. Objek
sikap boleh berupa benda, orang, tempat, gagasan atau situasi, atau kelompok. Jadi, pada
kenyataannya tidak adaistilah sikap yang berdiri sendiri. Sikap haruslah diikuti oleh kata
“terhadap”, atau “pada” objek sikap. Bila ada orang yang berkata, “sikap saya positif,” kita
harus mempertanyakan “Sikap terhadap apa atau siapa?” . Kedua, sikap mempunyai daya
pendorong atau motivasi. Ketiga, sikap relatif lebih menetap. Berbagai studi menunjukkan
bahwa sikap politik kelompok cenderung dipertahankan dan jarang mengalami perubahan.
Keempat, sikap mengandung aspek evaluatif; arinya mengandung nilai menyenangkan atau
‘13
7
PSIKOLOGI KOMUNIKASI
Muhammad Didi Ahmadi, S.Pd.,M.IKom.
Pusat Bahan Ajar dan eLearning
http://www.mercubuana.ac.id
tidak menyenangkan, sehingga Bem memberikan definisi sederhana: “Attitudes are likes
and dislike.” (1970:14). Kelima, sikap timbul dari pengalaman; tidak dibawa sejak lahir, tetapi
merupakan hasil belajar. Karen aitu sikap dapat diperteguh dan diubah.
Emosi
Emosi menunjukkan kegoncangan organisme yang disertai oleh gejala-gejala kesadaran,
keperilakuan, dan proses fisiologis. Bila orang yang Anda cintai mencemoohkan Anda, Anda
akan bereaksi secara emosional karena Anda mengetahui makna cemoohan itu
(kesadaran). Jantung Anda akan berdetak lebih cepat, kulit memberikan respons dengan
mengeluarkan keringat, dan napas terengah-engah (proses fisiologis). Anda mungkin
membalas cemoohan itu dengan kata-kata keras atau ketupat bangkahulu (keperilakuan).
Emosi tidak sellau jelek. Emosi memberikan bumbu kepada kehidupan; tanpa emosi hidup
ini kering dan gersang. Paling tidak, ada empat fungsi emosi (Coleman dan Hammen,
1974:462). Pertama emosi adalah pembangkit energi (energizer). Tanpa emosi kita tidak
sadar atau mati. Hidup berarti merasai, mengalami, bereaksi, dan bertindak. Emosi
membangkitkan dan memobilisasi energi kita; marah menggerakkan kita untuk menyerang;
takut menggerakkan kita untuk lari; dan cinta mendorong kita untuk mendekat dan
bermesraan. Kedua, emosi adalah pembawa informasi (messenger). Bagaimana keadaan
diri kita dapat kita ketahui dari emosi kita. Jika kita marah, kita mengetahui kita dihambat
atau diserang orang lain; sedih berarti kehilangan sesuatu yang kita senangi; bahagia berarti
memperoleh sesuatu yang kita senangi, atau berhasil menghindari hal yang kita benci.
Ketiga, emosi bukan saja pembawa informasi dalam komuniaksi interpersonal, tetapi juga
pembawa pesan dalam komunikasi interpersonal. Berbagai penelitian membuktikan bahwa
ungkapan emosi dapat dipahami secara universal. Dalam retorika diketahui bahwa
pembicara yang menyertakan seluruh emosinya dalam pidato dipandang lebih hidup, lebih
dinamis, dan lebih meyakinkan. Keempat, emosi juga merupakan sumber informasi tentang
keberhasilan kita. Kita mendambakan kesehatan dan mengethuinya ketika kita merasa
sehat wal afiat. Kita mencari keindahan dan mengetahui kita memperolehnya ketika kita
merasakan kenikmatan estetis dalam diri kita.
Kepercayaan
Kepercayaan adalah komponen kognitif dari faktor sosiopsikologis. Kepercayaan disini tidak
ada hubungannya dengan hal-hal yang gaib, tetapi hanyalah “keyakinan bahwa sesuatu itu
‘benar’ atau ‘salah’ atas dasar bukti, sugesti otoritas, pengalaman, atau intuisi” (Hohler,
1978:48). Jadi kepercayaan dapat bersifat rasional atau irrasional. Anda percaya bahwa
bumi itu bulat, bahwa rokok itu penyebab kanker, atau bahwa kemiskinan itu karena
‘13
8
PSIKOLOGI KOMUNIKASI
Muhammad Didi Ahmadi, S.Pd.,M.IKom.
Pusat Bahan Ajar dan eLearning
http://www.mercubuana.ac.id
kemalasan. Kepercayaan memberikan perspektif pada manusia dalam mempersepsi
kenyataan, memberikan dasar bagi pengambilan keputusan dan menentukan sikap
terhadap objek sikap.
Kebiasaan
Komponen konatif dari faktor sosiopsikologis, seperti telah disebutkan di atas terdiri dari
kebiasaan dan kemauan. Kebiasaan adalah aspek perilaku manusia yang menetap,
berlangsung secara otomatis tidak di rencanakan. Kebiasaan mungkin merupakan hasil
pelaziman yang berlangsung pada waktu yang lama atau sebagai reaksi khas yang diulangi
seseorang berkali-kali. Setiap orang mempunyai kebiasaan yang berlainan dalam
menanggapi stimulus tertentu. Kebiasaan inilah yang memberikan pola perilaku yang dapat
diramalkan.
Kemauan
Kemauan jarang dibicarakan secara khusus dalam buku-buku pengantar psikologi,
walaupun orang sering menggunakan istilah “kuat kemauan” atau “kurang kemauan.” “Den
Menschen macht siner Wille gross undklein,” ujar Heinrich Heine. Kemauanlah yang
membuat orang besar atau kecil. Kemauan erat kaitannya dengan tindakan, bahkan ada
yang mendefinisikan kemauan sebagai tindakan yang merupakan usaha seseorang untuk
mencapai tujuan. Menurut Richard Dewey dan W.J. Humber, kemauan merupakan: (1) hasil
keinginan untuk mencapai tujuan tertentu yang begitu kuat sehingga mendorong orang
untuk mengorbankan nilai-nilai yang lain, yang tidak sesaui dengan pencapaian tujuan; (2)
berdasarkan pengetahuan tentang, cara-cara yang diperlukan untuk mencapai tujuan; (3)
dipengaruhi oleh kecerdasan dan energi yang diperlukan untuk mencapai tujuan; plus (4)
pengeluaran energi yang sebenarnya dengan satu cara yang tepat untuk mencapai tujuan.
FAKTOR-FAKTOR SITUASIONAL YANG MEMPENGARUHI PERILAKU MANUSIA
Degado pernah melakukan beberapa eksperimen untuk mengubah kera-kera gibbon yang
tenang menjadi agresif dengan merangsang salah satu bagian otaknya. Ketika dirangsang,
seekor monyet menyerang monyet asing yang tinggal satu kandang, tetapi dengan
rangsangan yang sama ia tidak menunjukkan sikap bermusuhan terhadap kawan betinanya.
Reaksi agresif diungkapkan berlainan pada situasi yang berlainan sehingga Delgado
menyimpulkan bahwa respons otak sangat dipengaruhi oleh “setting” atau suasana yang
melingkupi organisme (Packard, 1978:45).
‘13
9
PSIKOLOGI KOMUNIKASI
Muhammad Didi Ahmadi, S.Pd.,M.IKom.
Pusat Bahan Ajar dan eLearning
http://www.mercubuana.ac.id
Kesimpulan Delgado membawa kita kepada pengaruh situasional terhadap perilaku
manusia. Edward G. Sampson merangkumkan seluruh faktor situasional sebagai berikut:
I.
Aspek-aspek objektif dari lingkungan
a. Faktor ekologis
1. Faktor geografis
2. Faktor iklim dan metereologis
b. Faktor desain dan arsitektural
c. Faktor temporal
d. Analisis suasana perilaku
e. Faktor teknologis
f.
Faktor sosial
1. Struktur organisasi
2. Sistem peranan
3. Struktur kelompok
4. Karakteristik populasi
II. Lingkungan psikososial seperti dipersepsi oleh kita
a. Iklim organisasi dan kelompok
b. Ethos dan iklim institusional dan kultural
III. Stimuli yang mendorong dan memperteguh perilaku
a. Orang lain
b. Situasi pendorong perilaku (Sampson, 1976:13 – 14)
Faktor Ekologis
Kaum determinisme lingkungan sering menyatakan bahwa keadaan alam mempengaruhi
gaya hidup dan perilaku. Banyak orang menghubungkan kemalasan bangsa Indonesia pada
mata pencaharian bertani dan matahari yang selalu bersinar setiap hari. Sebagian
pandangan mereka telah diuji dalam berbagai penelitian, seperti efek temperatur pada
tindakan kekerasan, perilaku interpersonal, dan suasana emosional. Yang belum diteliti,
antara lain pengaruh temperatur ruangan pada efektivitas komunikasi.
Faktor Rancangan dan Arsitektural
Dewasa ini telah tumbuh perhatian di kalangan para arsitek pada pengaruh lingkungan yang
dibuat manusia terhadap perilaku penghuninya. Satu rancangan arsitektur dapat
mempengaruhi pola komunikasi di anttara orang-orang yang hidup dalam naungan
arsitektural tertentu. Osmond (1957) dan Sommer (1969) membedakan antara desain
bangunan yang mendorong orang untuk berinteraksi (sociopetal) dan rancangan bangunan
‘13
10
PSIKOLOGI KOMUNIKASI
Muhammad Didi Ahmadi, S.Pd.,M.IKom.
Pusat Bahan Ajar dan eLearning
http://www.mercubuana.ac.id
yang menyebabkan orang menghindari interaksi (sociofougal). Pengaturan ruangan juga
telah terbukti mempengaruhi pola-pola perilaku yang terjadi di tempat itu.
Faktor Temporal
Telah banyak diteliti pengaruh waktu terhadap bioritma manusia. misalnya, dari tengah
malam sampai pukul 4 fungsi tubuh manusia berada pada tahap yang paling rendah, tetapi
pendengaran sangat tajam; pada pukul 10, bila Anda orang introvert, konsentrasi dan daya
ingat Anda mencapai puncaknya; pada pukul 3 sore orang-orang ekstrovert mencapai
puncak dalam kemampuan analisis dan kreativitas (Panati, 1981:128). Tanpa mengetahui
bioritma sekalipun banyak kegiatan kita diatur berdasarkan waktu; makan, pergi ke sekolah,
bekerja, beristirahat, berlibur, beribadat, dan sebagainya. Satu pesan komuniaksi yang
disampaikan pada tengah malam. Jadi, yang mempengaruhi manusia bukan saja di mana
mereka berada tetapi juga bilamana mereka berada.
Suasana Perilaku (Behavior Settings)
Selama bertahun-tahun, Roger Barker dan rekan-rekannya meneliti efek lingkungan
terhadap individu. Lingkungan dibaginya ke dalam beberapa satuan yang terpisah, yang
disebut suasana perilaku. Pesta, ruangan kelas, toko, rumah ibadat, pemandian, bioskop,
adalah contoh-contoh suasana perilaku. Pada setiap suasana terdapat pola-pola hubungan
yang mengatur perilaku orang-orang di dalamnya. Di masjid orang tidak akan berteriak
keras, seperti dalam pesta orang tidak akan melakukan upacara ibadat. Dalam suatu
kampanye di lapangan terbuka, komunikator akan menyusun dan menyampaikan pesan
dengan cara yang berbeda daripada ketika ia berbicara di hadapan kelompok kecil di ruang
rapat partainya.
Teknologi
Pengaruh teknologi terhadap perilaku manusia sudah sering dibicarakan orang. Revolusi
teknologi sering disusul dengan revolusi dalam perilaku sosial. Alvin Tofler melukiskan tiga
gelombang peradaban manusia yang terjadi sebagai akibat perubahan teknologi.
Lingkungan tenologis (technosphere) yang meliputi sistem energi, sistem produksi, dan
sistem distribusi, membentuk serangkaian perilaku sosial yang sesuai dengannya
(sociosphere).
Bersamaan
dengan itu tumbuhlah
pola-pola
penyebaran
informasi
(infosphere). Bersamaan dengan itu tumbuhlah pola-pola penyebaran informasi (infosphere)
yang mempengaruhi suasana kejiwaan (psychophere) setiap anggota masyarakat. Dalam
ilmu komunikasi, Marshall McLuhan (1964) menunjukkn bahwa bentuk teknologi komunikasi
lebih penting daripada isi media komunikasi. mislanya, kelahiran mesin cetak mengubah
‘13
11
PSIKOLOGI KOMUNIKASI
Muhammad Didi Ahmadi, S.Pd.,M.IKom.
Pusat Bahan Ajar dan eLearning
http://www.mercubuana.ac.id
masyarakat tribal menjadi masyarakat yang berpikir logis dan individualis; sedangkan
kelahiran televisi membawa manusia kembali pada kehidupan neo-tribal.
Faktor-faktor Sosial
Sistem peranan yang diterapkan dalam suatu masyarakat, struktur kelompok dan
organisasi, karakteristik populasi, adalah faktor-faktor sosial yang menata perilaku manusia.
dalam organisasi, hubungan antara anggota dengan ketua diatur oleh sistem peranan dan
norma-normakelompok. Besar-kecilnya organisasi akan mempengaruhi pola-pola perilaku
anggota-anggota polpulasi itu. Kelompok orang tua melahirkan pola komunikasi, teori
penyebaran inovasi (Rogers & Shoemaker, 1971)dan teori kritik (Habermas, 1979)
memperlihatkan bagaimana sistem komunikasi sangat mempengaruhi oleh struktur sosial.
Lingkungan Psikososial
Persepsi kita tentang sejauh mana lingkungan memuaskan atau mengecewakan kita, akan
mempengaruhi perilaku kita dalam lingkungan itu. Lingkungan dalam persepsi kita lazim
disebut sebagai iklim (climate). Dalam organisasi, iklim psikososial menunjukkan persepsi
orang tentang kebebasan individual, keketatan pengawasan, kemungkinan kemajuan, dan
tingkat keakraban. Studi tentang komunikasi organisasional menunjukkan bagaimana iklim
organisasi mempengaruhi hubungan komunikasi antara atasan dan bawahan, atau di antara
orang-orang yang menduduki posisi yang sama. Para antropolog telah memperluas istilah
iklim ini ke dalam masyarakat secara keseluruhan. Pola-pola kebudayaan yang dominan
atau ethos, ideologi dan nilai dalam persepsi anggota masyarakat, mempengaruhi seluruh
perilaku sosial. Ruth Benedict (1970), misalnya, membedakan antara mesyarakat yang
mempunyai synergy tinggi dengan masyarakat yang ber-sinergy rendah. Pada masyarakat
yang pertama, orang belajar sejak kecil bahwa ganjaran yang diterimanya terpaut erat
dengan ganjaran kolektif. Cita-cita perorangan dicapai melalui usaha bersama. Pada
masyarakat seperti ini orang cenderung untuk mengurangi kepentingan dirinya, bersifat
kompromistis. Perilaku sosial yang sebaliknya terjadi pada masyarakat yang ber-sinergy
rendah. Margareth Mead (1928), walaupun belakangan dikritik orang, mewakili aliran
determinisme budaya, yang menunjukkan bagaimana nilai-nilai yang diserap anak pada
waktu kecil mempengaruhi perilakunya di kemudian hari.
Stimuli yang Mendorong dan Memperteguh Perilaku
Beberapa peneliti psikologi sosial, seperti Fredericsen Price, dan Bouffard (1972), meneliti
kendala sitausi yang mempengaruhi kelayakan melakukan perilaku tertentu. Ada situasi
yang memberikan rentangan kelayakan perilaku (behavioral appopriateness), seperti situasi
di taman, dan sitausi yang banyak memberikan kendala pada perilaku, seperti gereja.
‘13
12
PSIKOLOGI KOMUNIKASI
Muhammad Didi Ahmadi, S.Pd.,M.IKom.
Pusat Bahan Ajar dan eLearning
http://www.mercubuana.ac.id
Situasi yang permisif memungkinkan orang melakukan banyak hal tenpa harus merasa
malu. Sebaliknya, situasi restriktif menghambat orang untuk berperilaku sekehendak
hatinya.
Faktor-faktor situasional yang diuraikan diatas tidaklah mengesampingkan faktor-faktor
personal yang disebut sebelumnya. Kita mengakui besarnya pengaruh situasi dalam
menentukan perilaku manusia. tetapi manusia memberikan reaksi yang berbeda-beda
terhadap situasi yang dihadapinya, sesuai dengan karakteristik personal yang dimilikinya.
Perilaku manusia memang merupakan hasil interaksi yang menarik antara keunikan
individual dengan keumuman situasional.
PROSES KOMUNIKASI DAN PERUBAHAN PERILAKU
Psikologi komunikasi berkaitan dengan komunikasi yang efektif. Komunikasi yang efektif itu
tidak hanya sebatas pesan disampaikan oleh komunikator kepada komunikan kemudian
selesai pembicaraan. Lebih daripada itu, komunikasi efektif itu adalah serangkaian proses
komunikasi yang dapat menimbulkan setidaknya 5 (lima) hal berikut (Stewart L. Tubbs &
Sylvia Moss 1974 dalam Jalaluddin Rakhmat 2011: 13-16):
1. Pengertian
Penerimaan yang cermat dari isi stimulus seperti yang dimaksudkan oleh
komunikator. Kegagalan menerima isi pesan secara cermat disebut kegagalan
komunikasi primer.
2. Kesenangan
Tidak semua komunikasi yang ditujukan untuk menyampaikan informasi dan
membentuk pengertian. Terkadang ketika mengucapkan ‘Selamat pagi, apa kabar’
kita tidak benar-benar bermaksud untuk mengumpulkan informasi tentang kabar
orang yang kita ajak bicara, namun lebih kepada tujuan menimbulkan kesenangan.
3. Memengaruhi sikap
Memengaruhi sikap ini adalah bagian dari tujuan komunikasi untuk tujuan membujuk
atau persuasi. Komunikasi ini memerlukan pemahaman tentang faktor-faktor pada
diri komunikator dan menimbulkan efek pada komunikan.
4. Hubungan sosial yang baik
Komunikasi ditujukan juga untuk menumbuhkan hubungan sosial yang baik, di sini,
manusia sebagai bagian dari kehidupan sosial dan makhluk sosial tidak mungkin jika
tidak berkomunikasi. Untuk kelangsungan hidup, manusia akan membutuhkan orang
‘13
13
PSIKOLOGI KOMUNIKASI
Muhammad Didi Ahmadi, S.Pd.,M.IKom.
Pusat Bahan Ajar dan eLearning
http://www.mercubuana.ac.id
lain untuk pemenuhan kebutuhan hidupnya; kebutuhan fisiologis, eksistensi dan
lainnya. Oleh karena itu, menjalin hubungan yang baik amatlah penting demi
kelangsungan hidup. Di sini komunikasi akan berperan sebagai alat untuk menjalin
hubungan sosial yang baik tersebut.
5. Tindakan
Seperti juga komunikasi dengan tujuan persuasi, menumbuhkan pengertian pada
lawan bicara bukanlah hal yang mudah. Namun ada lagi yang lebih sulit, yaitu
memengaruhi sikap lawan bicara atau orang-orang di sekitar. Efektif atau tidaknya
proses penyampaian pesan dapat dilihat dari tindakan nyata yang dilakukan oleh
komunikan. Bagaimana komunikan tersebut kemudian terpengaruh atau tidak oleh
pesan yang disampaikan. Apakah seorang calon pembeli kemudian membeli barang
atau tidak. Apakah rakyat di wilayah A kemudian memilih calon legislatif X atau tidak.
Tindakan dari komunikan bisa menjadi tolok ukur apakah proses penyampaian
pesan itu efektif atau tidak.
Keefektifan komunikasi dapat diatasi dengan proses individu menjadi mindful terhadap
proses komunikasi tersebut. Mindful adalah bahwa kita paham betul kita sedang melakukan
apa, sehingga akan fokus terhadap apa yang kita lakukan. Dalam berkomunikasi, kita akan
fokus pada penyampaian pesan, pada proses mendengarkan, proses mencerna pesan yang
diterima, mengambil kesimpulan dan merumuskan persepsi hingga tahu bagaimana
mengatasi konflik yang terjadi. Kita tahu pesan apa yang akan disampaikan, kepada siapa
dan dalam situasi apa, sehingga kita tahu bagaimana menempatkan diri dan pesan secara
benar. Bahasa apa yang harus kita gunakan, bagaimana cara menyampaikan pesan dengan
mempertimbangkan siapa yang sedang diajak berbicara dan lain sebagainya.
Mindful ini berhubungan dengan bagaimana kita mempelajari pengalaman
berinteraksi dan berkomunikasi sebelumnya. Selain itu, mindful juga berhubungan dengan
bagaimana kita mengkoordinasi stimulus dalam diri dan proses komunikasi dalam diri
sebelum kita melakukan interaksi dengan dunia luar. Menjadi individu yang mindful bukanlah
hal yang mudah, namun untuk mencapai target komunikasi yang efektif, ada baiknya kita
belajar untuk menjadi komunikator dan komunikan yang mindful.
‘13
14
PSIKOLOGI KOMUNIKASI
Muhammad Didi Ahmadi, S.Pd.,M.IKom.
Pusat Bahan Ajar dan eLearning
http://www.mercubuana.ac.id
DAFTAR PUSTAKA
Rakhmat, Jalaludin. (2001). Psikologi Komunikasi. Bandung: PT. Remaja Rosdakarya.
Notoatmodjo, Soekidjo. (2007)
Promosi Kesehatan dan Ilmu Perilaku. Jakarta: Rineka.
Cipta.
Wirawan, Sarlito. (2002). Psikologi Sosial. Jakarta: Balai Pustaka.
Benson Nigel C. (2002). Mengenal Psikologi. Bandung: Mizan.
http://www.definisi-pengertian.com/2015/04/definisi-dan-pengertian-perilaku-konsep.html
‘13
15
PSIKOLOGI KOMUNIKASI
Muhammad Didi Ahmadi, S.Pd.,M.IKom.
Pusat Bahan Ajar dan eLearning
http://www.mercubuana.ac.id
Download