Pengaruh Kelompok pada perilaku Komunikasi

advertisement
MODUL PERKULIAHAN
PSIKOLOGI
KOMUNIKASI
PROSES KOMUNIKASI
KELOMPOK
Fakultas
Program Studi
FIKOM
MARCOM &
ADVERTISING
Tatap Muka
06 & 07
Kode MK
Disusun Oleh
Muhammad Didi Ahmadi, S.Pd.,M.IKom.
Abstract
Kompetensi
Modul ini berisi materi mengenai
proses komunikasi kelompok dikaji
dalam beberapa bagian, antara lain:
Kelompok dan pengaruhnya pada
perilaku komunikasi, faktor-faktor yang
mempengaruhi keefektifan kelompok,
dan bentuk-bentuk komunikasi
kelompok.
Setelah mempelajari modul ini,
mahasiswa diharapkan dapat
memahami dan menjelaskan dinamika
kelompok dan perubahan sikap dan
perilaku.
SISTEM KOMUNIKASI KELOMPOK
Philip Zimbardo, profesor psikologi di Stanford University, membuat eksperimen yang
kontraversial. Bersama beberapa orang rekannya, ia ingin mengetahui apakah perilaku
tahanan dan penjaganya disebabkan oleh situasi penjara atau karakteristik mereka sendiri.
Kira-kira 75 orang mahasiswa diseleksi secara klinis, dan 21 orang dipilih karena
kepribadiannya dianggap dewasa dan stabil (sehat).mereka kemudian dimohon untuk ikut
serta dalam eksperimen psikologi selama dua minggu dengan honorarium $15 sehari.
Secara acak, setengahnya lagi sebagai tahanan.
Supaya suasana eksperimen itu mirip kenyataan sebenarnya, para “tahanan” dijemput polisi
dari rumah-rumah mereka. Masing-masing dituduh sebagai pencuri – digeladah, dibelenggu,
diambil sidik jarinya, dan diinterogasi. Di penjara – sebetulnya ruang bawah tanah Gedung
Psikologi Stanford – mereka ditelanjangi, disemprot dengan pembasmi kutu, diberi pakaian
napi, dan ditempatkan pada sel sempit bersama dua orang “napi” lainnya. Mereka harus
memperoleh izin penjaga untuk melakukan kegiatan rutin seperti menulis surat, merokok,
atau menggunakan toilet.
Para “penjaga” bekerja bergiliran. Ada tiga aplusan dalam sehari semalam. Mereka
menggunakan seragam penjaga penjara, lengkap dengan kaca mata hitam, belenggu,
pentungan karet, dan peluit, mereka dilarang menggunakan kekerasan, tetapi boleh berbuat
apa saja untuk menjaga ketertiban dan keamanan.
Apa yang terjadi? Dalam tempo enam hari, terjadi hal-hal yang mengerikan. Para tahanan
menjadi depresif dan pasif. Sementara itu, penjaga lebih otoriter, brutal, dan memaksa
tahanan untuk melakukan perbuatan-perbuatan tidak senonoh. Mahasiswa-mahasiwa yang
normal, sehat, dan terpelajar telah berubah menjadi “psikopat”. Empat orang dibebaskan
setelah lima hari karena berteriak-teriak histeris, menderita kecemasan, dan gejala-gejala
depresi lainnya. Seoarng di antara mereka dikeluarkan karena menunjukkan gejala
psikosomatis. Setelah seminggu, eksperimen dihentikan. Para tahanan gembira, tetapi para
penjaga kecewa. (Zimbardo, Haney, dan Banks, 1973)
Berdasarkan eksperimen ini, Zimbardo menyimpulkan bahwa perilaku sadistis para penjaga
penjara, dan perilaku pasif para tahanan, bukan disebabkan oleh “pembawaan” mereka,
melainkan karena pengaruh kelompok rujukan yang diidentifikasi mereka. Banyak kritik
dilontarkan pada eksperimen ini – dari metodologis dan etis juga. Namun
apa pun
kelemahannya, peneliti ini membuktikan pengaruh kelompok pada perilaku anggotaanggotanya.
2016
2
PSIKOLOGI KOMUNIKASI
Muhammad Didi Ahmadi, S.Pd.,M.IKom.
Pusat Bahan Ajar dan eLearning
http://www.mercubuana.ac.id
Kita semua menjadi kelompok – bahkan berbagai kelompok. Anda boleh jadi anggota
kelompok studi mahasiswa, kelompok pencinta alam, KNPI, Karang Taruna, atau Children of
God. Setiap hari kita masuk dalam kegiatan kelompok – sejak diskusi ringan di meja makan
sampai jembatan hangat di ruang sidang. Kelompok menentukan cara Anda berkata,
berpaiakain, bekerja – juga keadaan emosi Anda, suka dan duka Anda. Karena itu,
komunikasi kelompok telah digunakan untuk saling bertukar informasi, menambah
pengetahuan, memperteguh atau mengubah sikap dan perilaku, mengembangkan
kesehatan jiwa, dan meningkatkan kesadaran.
Departemen Penerangan membina Kelompencapir untuk meningkatkan pengetahuan
pendengar, pembaca, dan pirsawan media massa di desa-desa. (begitu pula, departemen –
departemen yang lain, sehingga satu-satunya peningkatan kekayaan di desa adalah jumlah
kelompok yang mereka masuki.) Penataran P4 menggunakan diskusi kelompok untuk
memperteguh keyakinjan orang akan kebenaran (dan kesakitan) Pancasila. Para Da’i
menggunakan kegiatan kelompok – disebut usrah – untuk meningkatkan perkembnagan
rohaniah dan kesadaran beragama.
Pembahasan ini akan dimulai dengan pembicaraan tentang klasifikasi kelompok dan
pengaruh kelompok pada perilaku komunikasi. setelah itu. Kita akan melacak faktor-faktor
yang mempengaruhi keefektifan komunikasi kelompok – seperti biasa, dengan melihat faktor
personal dan situasional. Dengan latar belakang tersebut, kita masuki proses komunikasi
kelompok preskriptip dan kelompok komunikasi deskriptif.
KELOMPOK DAN PENGARUHNYA PADA PERILAKU KOMUNIKASI
Para psikolog juga mengenal mode. Pada tahun 1960-1n, tema utama mereka adalah
persepsi sosial. Pada dasawarsa berikutnya, tema ini memudar. Studi tentang pembentukan
dan perubahan sikap juga mengalami pasang surut. Pernah menjadi mode sampai tahun
1950-1n, memudar pada dasawarsa berikutnya, dan populer lagi pada akhir 1970-an. Begitu
pula studi kelompok. Pada tahun 1940-an, ketika dunia dilanda perang, kelompok menjadi
pusat perhatian, setelah perang, perhatian beralih pada individu, dan ini bertahan sampai
pertengahan 1970-1n. Akhir 1970-an, minat yang tinggi tumbuh kembali pada studi
kelompok, dan – seperti diramalkan Steiner (1974) – menjadi dominan pada pertengahan
1980-an. Para pendidik melihat komunikasi kelompok sebagai metode pendidikan yang
efektif. Para manajer menemukan komunikasi kelompok sebagai wadah yang tepat untuk
melahirkan gagasan-gagasan kreatif. Para psikiater mendapatkan komuniaksi kelompok
sebagai wahana untuk memperbaharui kesehatan mental. Para ideolog juga menyaksikan
2016
3
PSIKOLOGI KOMUNIKASI
Muhammad Didi Ahmadi, S.Pd.,M.IKom.
Pusat Bahan Ajar dan eLearning
http://www.mercubuana.ac.id
komunikasi kelompok sebagai sarana untuk meningkatkan kesadaran politik-ideologis. Minat
yang tinggi ini telah memperkaya pengetahuan kita tentang berbagai jenis kelompok dan
pengaruh kelompok pada perilaku kita.
Klasifikasi Kelompok
Tidak setiap himpunan orang disebut kelompok. Orang-orang yang berkumpul di terminal
bus, yang antri di depan loket bioskop, yang berbelanja di pasar, semua disebut agregat –
bukan kelompok.
Supaya agregat menjadi kelompok diperlukan kesadaran pada anggota-anggotanya akan
ikatan yang sama yang mempersatukan mereka. Kelompok mempunyai tujuan dan
organisasi (tidak sellau formal) dan melibatkan interaksi di antara anggota-anggota nya.
Jadi, dengan perkataan lain, kelompom mempunyai dua tanda psikologis. Pertama,
angggota kelompok merasa terikat dengan kelompok – ada sense of belonging – yang tidak
dimiliki orang yang bukan anggota. Kedua, nasib anggota-anggota kelompok saling
bergantung sehingga hasil setiap orang terkait dalam cara tertentu dengan hasil yang lain
(Baron dan Byrne, 1979: 558).
Para ahli psikologi – juga ahli sosiologi – telah mengembangkan berbagai cara untuk
mengklasifikasikan kelompok. Di sini, kita akan menjelaskan empat dikotomi: primersekunder, ingroup-outgroup, rujukan keanggotaaan, deskriptip-preskriptif.
Kelompok Primer dan Kelompok Sekunder
Walaupun kita menjadi anggota banyak kelompok, kita terikat secara emosional pada
bebrapa kelompok saja. Hubungan kita dengan keluarga kita, kawan-kawan sepermainan,
dan tetangga-tetangga yang dekat (di kampung kita, bukan di real estates), terasa lebih
akrab, lebih personal, lebih menyentuh hati kita. Kelompok seperti ini disebut oleh Charles
Horton Cooley (1909) sebagai kelompok primer. “Be primary group I mean those
characterized by intimate face to face association and cooperation”, tulis Cooley dalam
bukunya yang klasik Social Organization. Tentu saja, definisi ini tidak secara lengkap
memaparkan karakteristik kelompok primer. Kelompok sekunder, secara sederhana, adalah
lawan kelompok primer. Hubungan kita dengannya tidak akrab, tidak personal, dan tidak
menyentuh hati kita. Termasuk ke dalam kelompok sekunder ialah organisasi massa,
fakultas, serikat buruh, dan sebagainya.
2016
4
PSIKOLOGI KOMUNIKASI
Muhammad Didi Ahmadi, S.Pd.,M.IKom.
Pusat Bahan Ajar dan eLearning
http://www.mercubuana.ac.id
Kita dapat melihat perbedaan utama antara kedua kelompok ini dari karakteristik
komunikasinya.
1. Kualitas komunikasi pada kelompok primer bersifat dalam dan meluas
2. Komunikasi pada kelompok primer bersifat personal
3. Pada kelompok primer, komunikasi lebih menekankan aspek hubungan daripada
aspek isi.
Ingroup dan Outgroup
Ingroup adalah kelompok – kita, dan outgroup adalah kelompok – mereka. Ingroup dapat
berupa kelompok primer maupun sekunder. Keluarga kita adalah ingroup yang kelompok
primer. Fakultas kita adalah ingroup yang kelompok sekunder. Perasaan ingroup
diungkapkan
dengan
kesetiaan,
solidaritas,
kesenangan,
dan
kerjasama.
Untuk
membedakan ingroup dan outgroup, kita membuat batas (boundaries), yang menentukan
siapa masuk orang dlam, dan siapa orang luar. Batas-batas ini dapat berupa lokasi
geografis (Indonesia, Malaysia), suku bangsa (Sunda, Jawa), pandangan atau ideologi
(kaum Muslimin, kaum Nasrani, Marxis), pekerjaan atau profesi (dokter, tukang becak),
bahasa (Jerman, Spanyol), status sosial (kelompok menengah, elit), dan kekerabatan
(keluarga, clans). Dengan mereka yang termasuk dalam lingkaran ingroup, kita merasa
terikat dalam semangat “kekitaan” (we-ness). Semangat ini lazim disebut kohesi kelompok
(cohesiveness), yang akan kita jelaskan kemudian. Disini, cukuplah kita menyaksikan
eksperimen kohesi dan konflik dari Muzafer Sherif dan kawan-kawannya (Sherif, White,
Hood, dan Sherif, 1961).
Kelompok Keanggotan dan Kelompok Rujukan
Bila Cooley membedakan kelompok primer dan skunder, dan Sunner membagi kelompok
menjadi ingroup dan outgroup, maka Theodore Newcomb, pada tahun 1930-an, melahirkan
istilah kelompok keanggotaan (membership group) dan kelompok rujukan (reference group).
Newcomb, dalam penelitiannya pada mahasiwi-mahasiswi-mahasiswi Bennington College,
menemukan kenyataan yang mengherankan. Banyak mahasiswi yang berasal dari keluarga
konservatif berubah menjadi makin liberal dengan makin tingginya tingkat mereka di
Bennington College – perguruan tinggi yang memang beraliran liberal. Memang, ada juga
beberapa mahasiswi yang bereaksi keras terhadap norma yang ada di College itu. Mereka
berkata, “Aku ingin menantang semua orang liberal yang ribut itu, Aku bangun benteng
dalam diriku, menolak apa yang mereka omongkan.......Aku memutuskan untuk tetap
berpegang pada pikiran ayahku.”
2016
5
PSIKOLOGI KOMUNIKASI
Muhammad Didi Ahmadi, S.Pd.,M.IKom.
Pusat Bahan Ajar dan eLearning
http://www.mercubuana.ac.id
Mahasiswi-mahasiswi itu semua anggota civitas academica Bennington College. Bennington
College adalah kelompok keanggotaan mereka. Tetapi tidak seluruhnya melihat pada
College ini sebagai pedoman nilai yang mereka anut. Sebagian besar memang
menyesuaikan dirinya dengan sikap liberal College itu. Kelompok ini – menurut Newcomb –
menjadikan College sebagai positive reference group. Sedangkan mereka yang tetap
konservatif melihat keluarga mereka sebagai positif reference group, dan College mereka
sebagai negative reference group.
Dari sini lahir definisi kelompok rujukan sebagai kelompok yang digunakan sebagai alat ukur
(standard) untuk menilai diri senidiri atau untuk membentuk sikap. Jika Anda menggunakan
kelompok itu sebagai teladan bagaimana seharusnya bersikap, kelompok itu menjadi
kelompok rujukan positif; dan jika Anda menggunakannya sebagai teladan bagaimana
seharusnya kita tidak bersikap, kelompok itu menjadi kelompok rujukan negatif. Kelompok
yang terikat dengan kita secara nominal adalah kelompok rujukan kita; sedangkan yang
memberikan kepada kita identifikasi psikologis adalah kelompok rujukan.
Para ahli persuasi sudah lama menyadari peranan kelompok rujukan dalam memperteguh
atau mengubah sikap dan perilaku. Erwin P. Bertinghaus (1973:95-96) menyebutkan caracara menggunkaan kelompok rujukan dalam persuasi:
1. Jika kita mengetahui kelompok rujukan khalayak kita, hubungkanlah pesan kita
dengan kelompok rujukan itu, dan fokuskanlah perhatian mereka kepadanya. Tentu
saja bila pesan kita ingin diterima, gunakanlah kelompok rujukan positif yang
mendukung pesan kita.
2. Kelompok-kelompok itu mempunyai nilai yang bermacam-macam sebagai kelompok
rujukan. Bagi sebagian orang, keluarga mungkin lebih penting dari organisasi massa;
bagi orang lain, sebaliknya. Dalam merencanakan pesannya, komunikator harus
memperhitungkan relevansi dan nilai kelompok rujukan yang lebih tepat bagi
kelompok tertentu.
3. Kelompok keanggotan jelas menentukan serangkaian perilaku yang baku bagi
anggota-anggotanya. Standar perilaku ini dapat digunakan untuk menambah
peluang diterimanya pesan kita.
4. Suasana fisik komunikasi dapat menunjukkan kemungkinan satu kelompok rujukan
didahulukan dari kelompok rujukan yang lain. Buat para penonton bioskop, kelompok
artis lebih baik ditonjolkan daripada kelompok para kiai. Sebaliknya di masjid, para
pemain musik rock tidak baik untuk dijadikan rujukan.
5. Kadang-kadang kelompok rujukan yang positif dapat dikutip langsung dalam pesan,
untuk mendorong respons positif dari khalayk. “Menurut Kiai yazid, memilih PPP
2016
6
PSIKOLOGI KOMUNIKASI
Muhammad Didi Ahmadi, S.Pd.,M.IKom.
Pusat Bahan Ajar dan eLearning
http://www.mercubuana.ac.id
tidak wajib”, begitu ujar juru kampanye Golkar di depan para santri sebuah
pesantren. Anda tentu maklum maksudnya.
Kelompok Deskriptif dan Kelompok Preskriptif
John F. Cragan dan David W. Wright (1980:45) dari Illinois State University, membagi
kelompok pada dua kategori: deskriptif dan preskriptif. Kategori deskriptif menunjukkan
klasifikasi kelompok dengan melihat proses pembentukannya secara alamiah. Kategori
preskriptif mengklasifikasikan kelompok menurut langkah-langkah rasional yang harus
dilewati oleh anggota kelompok untuk mencapai tujuannya.
Untuk kategori deskriptif, kita dapat “mengelompokkan” kelompok berdasarkan tujuannya.
Barlund dan Haimann (1960) menjejerkan kelompok-kelompok itu dari tujuan yang bersifat
interpersonal sampai tujuan yang berkenaan dengan tugas (task) kelompok. Mereka
menyusunnya dalam rentangan kontinuum seperti berikut:
Kelompok
Kelompok
Kelompok
Kelompok
pembuat
Kelompok
Sepintas
Katarlis
belajar
kebijaksanaan
aksi
I-----------------------I------------------I-----------------------I-----------------------------I-Kelompok sepintas (casual groups) dibentuk hanya semata-mata untuk “membina hubungan
manusiawi yang hnagat”. Kelompok kataris dimaksudkan untuk melepaskan tekanan batin
atau frustasi anggota-anggotanya. Kelompok belajar tentu dibentuk untuk menambah
informasi. Kelompok pembuat kebijaksanaan dan kelompok aksi kedua-duanya dibentuk
untuk menyelesaikan tugas berupa perumusan-perumusan kebijakan atau tindakan.
Ketika pada tahun 1960-an muncul kelompok pertemuan (encounter group) dan kelompok
penyadar (consciousness-raising group), klasifikasi diatas tidak memadai lagi. Kelompok
pertemuan lahir di dunia psikiatri, dibentuk untuk pencerahan intrapersonal, untuk
pertumbuhan kesehatan mental. Termasuk ke dalamnya T-groups, kelompok terapi, dan
kelompok sensitivitas. Eklompok penyadar lahir di dunia politik, dibentuk untuk menimbulkan
kesadaran identitas sosial-politik yang baru. Sekarang klasifikasi deskriptif dapat dilihat pada
Tabel 4.
2016
7
PSIKOLOGI KOMUNIKASI
Muhammad Didi Ahmadi, S.Pd.,M.IKom.
Pusat Bahan Ajar dan eLearning
http://www.mercubuana.ac.id
Tabel 4
Klasifikasi Deskriptif berdasarkan Tujuan
Nama kelompok
Tujuan
Sepintas
Bermain
Pertemuanj
Pertumbuhan Interpersonal
Penyadar
Identitas sosial-politik yang baru
Katarsis
Melepaskan perasaan
Belajar
Pencerahan intelektual
Tugas
Kerja
Akhir-kahir ini, dengan melihat tujuan, ukuran, dan pola komunikasi, para ahli komuniaksi
kelompok meringkasnya menjadi tiga kelompok saja: kelompok tugas, kelompok pertemuan,
dan kelompok penyadar.
Sedangkan kelompok preskriptif, mengacu pada langkah-langkah yang harus ditempuh
anggota kelompok dalam mencapai tujuan kelompok. Masih menurut Cragan dan Wright
(1980:45), ada enam format kelompok, yaitu diskusi meja bundar, simposium, diskusi panel,
forum, kolokuium, dan prosedur parlementer.
Pengaruh Kelompok pada perilaku Komunikasi
Di sini, kita akan mengulas tiga macam pengaruh kelompok: konformitas, fasilitasi sosial,
dan polarisasi.
Konformitas (Conformity)
Bila sejumlah orang dalam kelompok mengatakan atau melakukan sesuatu, ada
kecenderungan para banggota untuk mengatakan dan melkukan hal yang sama. Jadi, kalau
Anda merencanakan untuk menjadi ketua kelompok, aturlah rekan-rekan Anda untuk
menyebar dalam kelompok. Ketika Anda meminta persetujuan anggota, usahakan rekanrekan Anda secara berurutan menunjukkan persetujuan mereka. Tumbuhkan kesan seakanakan seluruh anggota kelompok sudah setuju. Besar kemungkinan anggota-anggota
berikutnya untuk setuju juga. Menurut Kiesler dan Kiesler (1969), konformitas adalah
perubahan perilaku atau kepercayaan menuju (norma) kelompok sebagai akibat tekanan
kelompok yang real atau yang dibayangkan.
2016
8
PSIKOLOGI KOMUNIKASI
Muhammad Didi Ahmadi, S.Pd.,M.IKom.
Pusat Bahan Ajar dan eLearning
http://www.mercubuana.ac.id
Faktor-faktor yang mempengaruhi konformitas.betulkah kita dapat mempengaruhi orang
bersepakat
dengan
memanipulasikan
tekanan
kelompok?
Betul,
dengan
mempertimbangkan beberapa persyaratan. Konformitas adalah produk interaksi antara
faktor-faktor
situasional
dan
faktor-faktor
personal.
Faktor-faktor
situasional
yang
menentukan konformitas adalah kejelasan situasi, konteks sitausi, cara menyampaiakan
penilaian, karakteristik sumber pengaruh, ukuran kelompok, dan tingkat kesepkatan
kelompok.
Namun, apakah Anda termasuk orang yang senang melawan konformitas?disamping faktorfaktor situasional, beberapa faktor personal erat kaitannya dengan konformitas – usia, jenis
kelamin, stabilitas emosional, otoritarianisme, kecerdasan, motivasi, dan harga diri. Pada
umumnya, makin tinggi usia anak, makin mandiri ia, makin tidak bergantung pada orangtua,
dan makin kurang kecenderungannya untuk konformitas.
Fasilitasi Sosial
Banyak istilah teater yang mengalami kejadian aneh. Waktu latihan, mereka selalu merasa
akting mereka selalu mengecewakan. Waktu pertunjukan yang sebenarnya, prestasi akting
mereka meningkat tanpa mereka pahami. Ketika mereka merintih, air mata meraka betulbetul kleuar, dan suara mereka benar-benar suara yang bergetar penuh derita. Hal yang
pertama juga terjadi pada para pemusik, pelukis, orator, atau guru. Prestasi individu yang
meningkat karena disaksikan kelompok disebut Allport sebagai fasilitasi sosial. Fasilitasi
(dari kata Prancis facile, artinya “mudah”) menunjukkan kelancaran atau peningkatan
kualitas kerja ditonton kelompok. Kelompok mempengaruhi pekerjaan sehingga terasa
menjadi lebih “mudah”.
Polarisasi
Whyte (1956) dalam bukunya yang terkenal, The Organization Man, menyarankan kepada
pimpinan perusahaan untuk membentuk panitia bila ingin memperoloeh nasihat yang
konservatif. Ada anggapan yang kuat bahwa dalam kelompok, individu menjadi kurang
berani, kurang kreatif, dan kurang inovatif, kelompok cenderung untuk menghindari risiko.
Anggapan ini kemudian dipersoalkan oleh Stoner (1961) dalam penelitiannya untuk tesis
masternya di Massachusetts Institute of Technology. Ia menemukan bahwa orang justru
cenderung membuat keputusan yang lebih berani ketika mereka berada dalam kelompok
daripada ketika mereka sendirian. Gejala ini kemudian dikenal sebagai geseran risiko.
Penelitian ini telah mendorong penelitian-penelitian lain, yang memperkuat kesimpulan
Stoner. Selama sepuluh tahun teori ini menguasai dunia psikologi sosial dan mengundang
berbagai penafsiran. Ada yang mengatakan bahwa geseran risiko terjadi karena difusi
2016
9
PSIKOLOGI KOMUNIKASI
Muhammad Didi Ahmadi, S.Pd.,M.IKom.
Pusat Bahan Ajar dan eLearning
http://www.mercubuana.ac.id
tanggung jawab, dalam kelompok, individu dapat berbagi tanggung jawab dengan orang lain
sehingga risiko kegagalan juga ditanggung bersama.
Lebih tepat kalau memasukkan geseran risiko ini pada gejala yang lebih umum, yaitu
geseran menuju polarisasi. Yang terjadi dalam komunikasi kelompok sebenarnya begini.
Bila sebelum diskusi kelompok para anggota mempunyai sikap agak mendukung tindakan
tertentu, setelah diskusi mereka akan lebih kuat lagi mendukung tindakan itu. Sebaliknya,
bila sebelum diskusi para anggota kelompok agak menentang tindakan tertentu, setelah
diksusi mereka akan menentangnya lebih keras lagi.
Pola risasi mengandung beberapa implikasi yang negatif. Pertama, kecenderungan ke arah
ekstremisme menyebabkan peserta komunikasi menjadi lebih jauh dari dunia nyata; karena
itu, makin besar peluang bagi mereka untuk berbuat kesalahan. Produktivitas kelompok
tentu menurun. Gejala ini disebut Irving Janis sebagai groupthink. Kedua, polarisasai akan
mendorong ekstremisme dalam kelompok gerakan sosial atau politik. Kelompok seperti ini
biasanya menarik anggota-anggota yang memiliki pandangan yang sama. Ketika mereka
berdiskusi, pandangan yang sama ini makin dipertegas sehingga mereka makin yakin akan
kebenarannya. Keyakinan ini disusul dengan merasa benar sendiri dan menyelahkan
kelompok lain. Proses yang sama terjadi pada kelompok saingannya. Terjadilah polarisasi
yang menakutkan di antara berbagai kelompok dan di dalam masing-masing kelompok
(Myers dan Bishop, 1970).
Faktor-faktor yang Mempengaruhi Keefektifan Kelompok
Keefektifan kelompok adalah adalah “the accomplishment of the recognized objectives of
cooperative action” (Barnard, 1938:55). Anggota-anggota kelompok bekerja sama untuk
mencapai dua tujuan: melaksanakan tugas kelompok dan emmelihara moral anggotaanggotanya. Tujuan pertama diukur dari hasil kerja kelompok – disebut prestasi
(performance). Tujuan kedua diketahui dari tingkat kepuasan (satisfaction). Jadi, bila
kelompok dimaksudkan untuk saling berbagi informasi (misalnya kelompok belajar), maka
keefektifannya dapat dilihat dari berapa banyak informasi yang diperoleh anggota kelompok
dan sejauh mana anggota dapat memuaskan kebutuhannya dalam kegiatan kelompok.
Karena itu, faktor-faktor keefeketifan kelompok dapat dilacak pada karakteristik kelompok.
(faktor situasional) dan pada karakteristik para anggotanya (faktor personal).
2016
10
PSIKOLOGI KOMUNIKASI
Muhammad Didi Ahmadi, S.Pd.,M.IKom.
Pusat Bahan Ajar dan eLearning
http://www.mercubuana.ac.id
Ukuran kelompok
Ada dua peribahasa Inggris yang saling bertentangan “Two heads are better than one” dan
“Two many cooks spoil the broth”. Mana yang betul, “lebih banyak anggota kelompok, lebih
baik” atau makin banyak anggota makin kacau”? jawaban para psikolog sosial ternyata tidak
sederhana. Hubungan antra ukuran kelompok denga prestasi kerja kelompok bergantung
pada jenis tugas yang harus diselesaikan oleh kelompok. Kita dapat membedakan dua
macam tugas kelompok: tugas koaktif dan tugas interaktif. Pada tugas yang pertama,
masing-masing anggota bekerja sejajar dengan lain, tetapi tidak berinteraksi. Pada tugas
yang
kedua,
anggota-anggota
kelompok
berinteraksi
secara
terorganisasi
untuk
menghasilkan produk, keputusan, atau penilaian tunggal.
Jaringan Komunikasi
Dalam hubungannya dengan prestasi kelompok, Leavitt (1951: 46) menemukan bahwa roda
yang paling memusat dari sleuruh jaringan komunikasi – menghasilkan produk kelompok
yang tercepat dan terorganisasi. Kelompok lingkaran yang paling tidak memusat adalah
yang paling lambat dalam memecahkan soal. Lingkaran cenderung melhirkan sjumlah besar
kesalahan. Shaw (1954) memperkuat kesimpulan Leavitt, tetapi dengan catatan: Kelompok
roda hanya efektif bila mereka memecahkan persoalan yang mudah. Bila masalahnya
kompleks,
kelompok
lingkaran
yang
lebih
cepat.
Penelitian-penelitian
berikutnya
menemukan pola komunikasi yang paling efektif: yaitu, pola semua saluran. Karena pola
semua saluran tidak terpusat pada satu orang pemimpin, pola ini juga paling memberikan
lepuasan kepada anggota-anggotanya, dan yang paling cepat menyelesaikan tugas bila
tugas itu berkenaan dengan masalah yang sukar. Pola roda adalah pola komuniaksi yang
memberikan kepuasan paling rendah.
Kohesi Kelompok
Kohesi kelompok di definisikan sebagai kekuatan yang mendorong anggota kelompok untuk
tetap tinggal dalam kelompok, dan mencegahnya meninggalkan kelompok (Collins dan
Raven, 1964). Kohesi diukur dari [1] ketertarikan anggota secara interpersonal pada satu
sama lain, [2] ketertarikan anggota pada kegiatan dan fungsi kelompok, dan [3] sejauh mana
anggota tertarik pada kelompok sebagai alat untuk memuaskan kebutuhan personalnya
(McDavid dan Harari, 1968:280).
Kohesi kelompok erat hubungannya dengan kepuasan. Marquis, Guetzkow, dan Heyus
(1951) mengamati anggota-anggota yang menghadiri berebgaai konferensi. Ia menemukan
makin kohesif kelompok yang diikuti, makin besar tingkat kepuasan anggota. Rensis Likert,
konsultan manajemen di University of Michigan, menemukan bahwa kohesi kelompok
2016
11
PSIKOLOGI KOMUNIKASI
Muhammad Didi Ahmadi, S.Pd.,M.IKom.
Pusat Bahan Ajar dan eLearning
http://www.mercubuana.ac.id
berkaitan erat dengan produkivitas, moral, dan efisiensi komunikasi. dalam kelompok yang
kohesif, anggota merasa aman dan terlindung. Karena itu, komunikasi menjadi lebih bebas,
lebih terbuka, dan lebih sering.
Kepemimpinan
Kepemimpinan adalah komunikasi yang secara positif mempengaruhi kelompok untuk
bergerak ke arah tujuan kelompok (Cragan dan Wright, 1980:73). Seorang pemimpin dapat
ditunjuk atau muncul setelah proses komunikasi kelompok. Apa pun yang terjadi,
kepemimpinan adalah faktor yang paling menentukan keefektifan komuniaksi kelompok.
Faktor Personal: Karakteristik Anggota Kelompok
Cragan dan Wright menyebutkan dua dimensi interpersonal yang mempengaruhi keefektifan
kelompok – kebutuhan interpersonal dan proses interpersonal – disamping perbedaan
individual seperti usia, suku bangsa, jenis kelamin, pendidikan, pekerjaan, pendapatan,
kepribadian, dan homogenitas atau heterogenitas kelompok. Proses interpersonal meliputi
ketebukaan (disclosure), percaya, dan empati. Di bab ini hanya akan menguraikan
kebutuhan interpersonal. Kemudian menambahkan tindak komunikasi dan peranan anggota
kelompok.
Kebutuhan Interpersonal
Kebutuhan interpersonal ini – pada diri seseorang – mungkin berkekurangan, berlebihan,
atau ideal. Untuk selanjutnya, akan diuraikan teori dari Cragan dan Wright (1980: 153- 155).
Inklusi: ketika kita pertama kali memasuki kelompok, biasanya kita cemas bagaimana
seharusnya kita menyesuaikan diri. Kita takut diabaikan; kita cemas bagaiamna kita harus
melibatkan diri dengan kelompok dan berhubungan dengan anggota kelompok yang lain;
artinya, sejauh mana kita harus melakukan interaksi sosial.
Kontrol: pembagian kerja yang harus dilakuan agar kelompok tugas produktif menimbulkan
perlunya kontrol. Sebagian orang sangat kompetitif, menonjol, dan percaya diri dalam
menstruktur berbagai tugas individu.
Afeksi: kebutuhan akan kasih sayang adalah dimensi emosional kelompok. Sejauh mana
kita disukai oleh anggota kelompok yang lain? Sejauh mana kita harus akrab dan dekat
dengan meraka? Apakah ada klik dalam kelompok kita? Apakah ada orang-orang yang
2016
12
PSIKOLOGI KOMUNIKASI
Muhammad Didi Ahmadi, S.Pd.,M.IKom.
Pusat Bahan Ajar dan eLearning
http://www.mercubuana.ac.id
begitu berdekatan sehingga tidak mau melakukan percakapan akrab dengan kita dalam
kelompok? Inilah pertanyaan-pertanyaan yang kita tanyakan untuk meuaskan kebutuhan
kita kan kasih sayang dalam kelompok kecil.
Tindak Komunikasi
Bila kelompok bertemu, terjadilah pertukaran informasi. Setiap anggota berusaha
menyampaikan atau menerima informasi – secara verbal atau non verbal. Marilah kita lihat
rapat “gelap” para dosen di sebuah fakultas.
Dosen A:
Saudara-saudara, kita bertemu untuk menilai kebijakan Dekan uang
mengharuskan adanya surat izin bagi kegiatan pengabdian masyarakat.
Dosen B:
Benar, kebijakan beliau ini memang menyulitkan posisi kita. Coba
bayangkan, sebelum......
Dosen C:
(Menginterupsi): Menyulitkan, siapa bilang? Kebijakan itu justru dimaksudkan
untuk membantu kita.
Dosen D:
(Menarik napas, menekan sandaran kursi ke belakang, dan menggigit
pensilnya.)
Dosen C:
(Melanjutkan pembicaraannya, ditujukan kepada Dosen B): Saya selalu
melihat Dekan berusaha meningkatkan kualitas kita. Sayangnya, kita tidak
pernah mempunyai kualitas sehingga ia meningkatkan sesuatu yang tida ada.
(Dosen-dosen yang lain tertawa.)
Satuan komunikasi di atas – berupa pernyataan, pertanyaan, pendapat, atau isyarat – kita
sebut sebagai tindak komuniaksi.
Peranan
Seperti tindak komunikasi , pernan yang dimainkan oleh anggota kelompok dapat membantu
penyelesaian tugas kelompok, memelihara suasana emosional yang baik, atau hanya
menampilkan kepentingan individu saja (yang tidak jarang menghambat kemajuan
kelompok). Peranan yang pertama disebut pernan tugas kelompok (group task roles); yang
kedua, peranan pemelihara kelompok (group building and maintenance roles); yang ketiga,
peranan individual (“individual” roles).
Peranan Tugas Kelompok: Tugas kelompok ialah memecahkan masalah atau melahirkan
gagasan-gagasan baru. Pernanan tugas berhubungan dengan upaya memudahkan dan
mengkoordinasi kegiatan yang menunjang tercapainya tujuan kelompok. Setiap anggota
boleh saja menjalankan lebih dari satu peranan dalam komunikasi kelompok.
2016
13
PSIKOLOGI KOMUNIKASI
Muhammad Didi Ahmadi, S.Pd.,M.IKom.
Pusat Bahan Ajar dan eLearning
http://www.mercubuana.ac.id
a. Initiator-contributor menyarankan atau mengusulkan kepada kelompok gagasangagasan baru atau cara baru yang berkenaan dengan masalah atau tujuan
kelompok.
b. Information Seeker (pencari informasi) meminta penjelasan saran yang diajukan
ditinjau dari kecermatannya, otoritasnya, dan fakta yang berkenaan dengan masalah
yang dibicarakan.
c. Opinion Seeker (pencari pendapat) bukan hanya menanyakan fakta suatu kasus,
tetapi juga penjelasan mengenai nilai yang relevan dengan usaha kelompok atau
nilai-nilai yang mendasari saran diajukan atau saran alternatif.
d. Information giver (pemberi informasi) memberikan fakta atau generalisasi yang
“otoritatif”, atau menghubungkan pengalamannya sendiri dengan maslah kelompok.
e. Opinion giver (pemberi pendapat) menyatakan keyakinan atau pendapatnya yang
relevan dengan saran yang diajukan atau saran alternatif. Yang menjadi pokok
usulnya adalah apa yang harus menjadi pandangan kelompok, dan bukan fakta atau
informasi yang relevan.
f.
Elaborator (penjabar) menjabarkan saran-saran dengan contoh-contoh atau dengan
makna yang lebih luas, memberikan dasar rasional dari saran yang sudah dibuat,
dan berusaha menyimpulkan konsekuensi gagasan atau saran itu jika diambil oleh
kelompok.
g. Summarizer (penyimpul) mengumpulkan gagasan, saran, dan komentar anggota
kelompok dan keputusan kelompok untuk membantu menentukan di mana posisi
kelompok dalam proses berpikir atau tindakannya.
h. Coordinator-integrator (pemadu) memperjelas hubungan di antara berbagai
gagasan dan saran, berusaha mengambil gagasan-gagasan pokok dari kontribusi
anggota dan memadukannya menjadi keseluruhan yang bermakna.
i.
Orienter (pengarah) mendefinisikan posisi kelompok dalam hubungannya dengan
tujuan kelompok, titik tolak arah tujuan yang disepakati, atau mengajukan pertanyaan
tentang arah pembicaraan kelompok.
j.
Disagreer (pembantah) memberikan pandangan yang berbeda, mengajukan
bantahan, menujukkan kesalahan fakta atau penalaran.
k. Evaluator-critic (evaluator kritikus) mengukur prestasi kelompok berdasarkan
serangkaian standar kerja kelompok dalam konteks tugas kelompok. Ia dapat menilai
atau mempertanyakan “kepraktisan”, “logika”, “fakta” atau “prosedur” saran atau unit
diskusi kelompok.
l.
Energizer (pendorong) mendorong kelompok untuk bertindak atau mengambil
keputusan, berusaha mendorong kelompok untuk bergerak “lebih baik” atau “lebih
cepat”.
2016
14
PSIKOLOGI KOMUNIKASI
Muhammad Didi Ahmadi, S.Pd.,M.IKom.
Pusat Bahan Ajar dan eLearning
http://www.mercubuana.ac.id
a. Procedural-technician (petugas teknik) melayani keperluan kelompok untuk
melaksanakan tugas rutin; misalnya menyebarkan bahan, menggerakkan objek,
mengatur tempat duduk, menjalankan alat perekam, dsb.
b. Recorder (pencatat) menuliskan saran, keputusan kelompok, dan produk diskusi.
Peranan Pemeliharaan Kelompok: Di bawah ini adalah daftar peranan yang dimaksudkan
untuk memelihara hubungan emosional di antara anggota-anngota kelompok.
a. Encourager (penggalak) memuji, menyetujui, dan menerima kontribusi anggota yang
lain. Ia menunjukkan kehangatan dan kesetiakawanan dalam sikapnya terhadap
anggota kelompok yang lain, memberikan penghargaan dan pujian dalam berbagai
hal menunjukkan pengertian dan penerimaan terhadap pandangan, gagasan, dan
saran orang lain.
b. Harmonizer (wasit) melerai pertikaian di antara anggota-anggota yang lain, berusaha
mendamaikan perbedaan, mengurangi ketegangan pada situasi konflik – melalui
lelucon atau kata-kata yang menenteramkan.
c. Compromiser and expediter (penjaga gawang) berusaha membuka saluran
komunikasi dengan mendorong partisipasi yang lain (“Kita belum mendengar
pendapat tuan X”) atau dengan mengusulkan aturan arus komuniaksi (“Sebaiknya
kita membatasi lamanya pembicaraan sehingga setiap orang punya kesempatan
untuk memberikan kontribusinya”).
d. Information giver (pemberi informasi) memberikan fakta atau generalisasi yang
“otoritatif”, atau menghubungkan pengalamannya sendiri dengan masalah kelompok.
e. Standard Setter or ego ideal (pembuat aturan) menetapkan kriteria kelompok dalam
menjalankan fungsinya atau menggunakan kriteria dalam menilai kualitas proses
kelompok.
f.
Group observer and commentator (pengamat kelompok) menyimpan catatan
berbagai
aspek
proses
kelompok
dan
memberikan
data
tersebut
berikut
penafsirannya untuk dipakai oleh kelompok dalam emnilai prosedurnya.
g. Follower (pengikut) mengikuti gerakan kelompok, secara pasif menerima gagasan
yang lain, berfungsi sebagai pendengar dalam diskusi dan pengambilan kesimpulan.
Peranan Individual: Usaha anggota kelompok untuk memuaskan kebutuhan individual yang
tidak relevan dengan tugas kelompok, yang “berpusat pada individu” disebut peranan
individual.
a. Aggressor berbuat macam-macam – merendahkan status yang lain, menolak nilai,
tindakan, atau perasaan yang lain; menyerang kelompok atau masalah yang
2016
15
PSIKOLOGI KOMUNIKASI
Muhammad Didi Ahmadi, S.Pd.,M.IKom.
Pusat Bahan Ajar dan eLearning
http://www.mercubuana.ac.id
diatasinya; iri hati pada kontribusi yang lain, dan beruapaya mengakui kontribusi itu
untuk dirinya; dan seterusnya.
b. Blocker (penghambat) cenderung bersikap negatif dan secara kepala batu selalu
menolak, membantah, dan menentang tanpa alasan yang kuat, dan berusaha
mempertahankan atau membuka kembali persoalan yang sudah ditolak oleh
kelompok.
c. Recognition seeker (pencari muka) berusaha dengan berbagai cara menarik
perhatian orang, sering dengan membual, melaporkan kehebatan pribadinya,
bertindak dengan cara yang tidak biasa, berjuang untuk tidak ditempatkan posisi
“rendah”, dan seterusnya.
d. Self confessor (pengungkap diri) menggunakan kesempatan yang disediakan oleh
kelompok untuk mengungkapkan “perasaan”, “wawasan”, “ideologi” yang bersifat
pribadi dan tidak ada sangkut-pautnya dengan kelompok.
e. Playboy menunjukkan ketidakacuhannya terhadap proses kelompok dengan sikap
sinisme, bermain-main, acuh tak acuh, dan perilaku lainnya yang tidak layak.
f.
Dominator
berusaha
menegaskan
otoritas
atau
superioritasnya
ketika
mengendalikan kelompok atau anggota-anggota tertentu. Dominasi ini dapat
berbentuk kata-kata menjilat, menegaskan status yang tinggi, perilaku otoritatif,
merendahkan kontribusi yang lain, dsb.
g. Help seeker berusaha menarik simpati dari anggota kelompok yang lain atau dari
seluruh kelompok dengan mengungkapkan rasa tidak aman, kebingungan atau
ketidaktahuan.
h. Special interest pleader (sponsor kepentingan khusus) berbicara atas nama “orang
kecil”, “masyarakat”, “kaum ibu”, “buruh”, dst. Biasanya dengan menyembunyikan
prasangka atau biasnya dalam bentuk stereotip yang sesuai dengan kebutuhan
individualnya.
Bentuk – bentuk Komunikasi Kelompok
Kita dapat membagi kelompok pada dua kategori: deskriptif dan preskriptif. Pada bagian
akhir bab ini, kita akan menunjukkan berbagai tahap komunikasi yang terjadi pada
kelompok-kelompok deskriptif dan melukiskan langkah-langkah rasional pada kelompokkelompok preskriptif, yang meliputi format dan sistem agenda.
2016
16
PSIKOLOGI KOMUNIKASI
Muhammad Didi Ahmadi, S.Pd.,M.IKom.
Pusat Bahan Ajar dan eLearning
http://www.mercubuana.ac.id
Komunikasi Kelompok Deskriptif
Di muka telah dijelaskan bahwa para ahli komunikasi kelompok menunjukkan tiga kategori
kelompok yang besar – kelompok tugas, kelompok pertemuan, dan kelompok penyadar.
Untuk setiap kategori kelompok terdapat beberapa model yang melukiskan tahapan
perkembangan proses kelompok. Untuk sekadar memperkenalkan, kita hanya akan
mengambil sebuah model untuk setiap kelompok. Yang berminat dianjurkan untuk membaca
Cragan dan Wright (1980).
Kelompok Tugas: Model
Aubrey
Fisher meneliti tindak komunikasi kelompok tugas, dan menemukan bahwa
kelompok melewati empat tahap: orientasi, konflik, pemunculan, dan peneguhan. Pada
tahap pertama, setiap anggota berusaha saling mengenal, saling menangkap perasaan
yang lain, mencoba menemukan peranan dan satatus. Ini adalah tahap pemetaan masalah.
Tindak komunikasi pada tahap ini umumnya menunjukkan persetetujuan, mempersoalkan
pernyataan, dan berusaha memperjelas informasi. Anggota kelompok cenderung tidak
seragam dalam menafsirkan usulan. Pada tahap kedua – konflik – terjadi peningkatan
perbedaan di antara anggota. Masing-masing berusaha mempertahankan posisinya. Terjadi
polarisasi dan kontraversi di antara anggota kelompok. Tindak komunikasi pada tahap ini
kebanyakan berupa pernyataan tidak setuju, dukungan pada pendirian masing-masing, dan
biasanya menghubungkan diri dengan pihak yang pro atau kontra. Pada tahap ketiga –
pemunculan (emergence) – orang mengurangi tingkat polarisasi dan perbedaan pendapat.
Di sini, anggota yang menentang usulan tertetu menjadi bersikap tidak jelas. Tindakan
komunikasi umumnya berupa usulan-usulan yang ambigu. Pada tahap keempat –
peneguhan – para anggota memperteguh konsensus kelompok. Mereka mulai memberikan
komentar tentang kerja sama yang baik dalam kelompok dan memperkuat keputusan yang
diambil oleh kelompok. Pernyataan umumnya bersifat positif dan melepaskan ketegangan.
Kelompok Pertemuan: Model Bennis dan Shepherd
Pada tahun 1946 Kurt Lewin secara tidak sengaja menemukan dasar-dasar yang munculnya
kelompok sensitivitas. Pada tahun 1960-an muncul kelompok pertemuan yang digunakan
oleh para psikolog untuk melatih pasien menemukan dirinya sendiri. Carl Rogers melihat
manfaat kelompok pertemuan untuk pengembangan diri. Pada tahun 1970-an para peneliti
menemukan bahwa kelompok pertemuan bukan saja dapat membantu pertumbuhan diri,
tetapi juga mempercepat penghancuran diri. Beberapa peneliti mencatat adanya kerusakan
psikis akibat kepemimpinan kelompok yang merusak. Seperti kita ketahui, orang memasuki
kelompok pertemuan untuk mempelajari diri mereka dan mengetahui bagaimana mereka
dipersepsi oleh anggota yang lain. Banyak model yang dikemukakan, tetapi disini kita akan
2016
17
PSIKOLOGI KOMUNIKASI
Muhammad Didi Ahmadi, S.Pd.,M.IKom.
Pusat Bahan Ajar dan eLearning
http://www.mercubuana.ac.id
mengarmbil model Bennis dan Shepherd, yang uraiannya kita kutip dari Cragan dan Wright
(1980).
Tahap satu: Kebergantungan pada otoritas: Bila dua belas orang berkumpul
melingkar dan saling melihat secara kaku selama beberapa menit, seorang anggota segera
memecahkan ketegangan dengan humor. Tidak lama kemudian seseorang mulai terganggu;
ia marah karena pemimpinnya (yang sudah terlatih sebelumnya) menolak memberikan
pengarahan dan menyusun acara sehingga muncul pemimpin baru. Subfase satu ditandai
dengan harapan bahwa pelatih akan segera mengambil alih pimpinan. Ketika tenyata ini
tidak terjadi, subfase kedua dimulai dengan terbentuknya koalisi di antara beberapa orang
anggota, dan menyerang pelatih karena tidak mau memimpin. Koalisi lainnya segera
terbentuk dan mempertahankan hak pemimpin untuk tidak memimpin. Pemberontakan mulai
menang. Akhirnya anggota kelompok “menemukan” bahwa mereka bebas membentuk
struktur mereka sendiri dan pengalaman mereka sendiri yang unik. Inilah subfase ketiga.
Tahap dua: kebergantungan satu sama lain: Setelah kelompok menyadari bahwa
mereka mandiri, mereka segera terpesona satu sama lain dan menjalani ‘bulan madu yang
palsu”. Mereka yakin bahwa mereka telah menyelesaikan konflik dan menyingkirkan “wajah
palsu” mereka; mereka bergiliran menunjukkan betapa lucunya keadaan mereka ketika
kelompok mereka dimulai, dan sekarang merasa betapa mereka jujur dan terbuka diantara
sesama merreka. Bulan madu yang palsu ini berlangsung singkat, dan anggota segera
meninggalkan fase kepuasan menuju fase kedua – kekecewaan. Subfase kedua ditandai
dengan usaha sungguh-sungguh untuk menemukan identitas yang sebenarnya dari setiap
anggota kelompok. Ketika sebagian anggota mengungkapkan pribadinya dan yang lain
menolak bersikap terbuka yang sama, kelompok pecah menjadi duakoalisi – yang satu
mendukung lebih banyak keterbukaan interpersonal, dan yang lain menentangnya. Inilah
periode kehidupan kelompok pertemuan ketika banyak orang mengalami pertumbuhan diri;
namun ini juga kerusakan emosional pada individu. Pada subfase inilah keahlian instruktur
diperlukan, terutama orang yang mempunyai keahlian psikologi klinis. Intensi emosional ini
akhirnya menimbulkan katarsis, dan kelompok pada umumnya merasakan keakraban dan
kebergantungan satu sama lain.
Kelompok Penyadar: Model Chesebro, Cragan, dan McCullough
Pada tahun 1960-an di amerika muncul gerakan emansipasi wanita yang radikal. Mereka
membentuk kelompok-kelompok yang menggerakan kelompok wanita untuk menentang
masyarakat yang didominasi pria. Diskusi kelompok mereka ikut serta menumbuhkan
gerakan women’s lib. Model mereka ini kemudian digunakan oleh gerakan radikal lainnya.
2016
18
PSIKOLOGI KOMUNIKASI
Muhammad Didi Ahmadi, S.Pd.,M.IKom.
Pusat Bahan Ajar dan eLearning
http://www.mercubuana.ac.id
Tahub 1978 dunia dikejutkan dengan bunuh diri masal 900 orang anggota Kuil Rakyat dari
pendeta Jimmy Jones. Gerakan ini pun menggunakan komunikasi kelompok untuk
menimbulkan kesadaran pada anggota-anggotanya. Pada tahun 1970 James Chesebro,
John Cragan, dan Patricia McCullough melakukan studi lapangan di Minessota tentang
gerakan revolusioner kaum homoseksual. Dari penelitian inilah mereka merumuskan empat
tahap perkembangan kelompok penyadar.
Tahap satu: Kesadaran diri akan identitas baru: Untuk menimbulkan kesadaran diri,
orang-orang yang berkumpul di dalam kelompok harus terdiri atas orang-orang yang
mempunyai karakteristik yang menjadi dasar pembentukan kelompok. Pada kelompok
feminis, semua anggotanya harus perempuan. Pada kelompok homoseksual, semua
anggotanya harus homoseksual. Proses diskusi kelompok dapat dimulai dengan kisah
pribadi. Seorang anggota menceritakan pengalamannya ketika ia “ditindas” oleh kelompok
yang sudah mapan. Wanita menceriteritakan pengalamannya dianiaya kaum pria. Cerita ini
akan mendorong anggota lain untuk mengisahkan cerita yang sama. Gairah kelompok
meningkat seperti tampak pada suasana riang karena mereka memiliki perasaan yang
sama. Cerita menggambarkan penindasan secara dramatis sehingga anggota kelompok
merasa dirinya berhadapan dengan penindas yang berkuasa. Timbul kesadaran pada
mereka untuk membebaskan kawan-kawanya.
Tahap dua: identitas kelompok melalui polarisasi: Suasana ria pada pada tahap
pertama segera memudar ketika kelompok secara intensif membicarakan tabiat “musuh”.
Mereka mulai membagi dunia pada kelompok “kita” adalah orang-orang homoseksual, dan
“mereka” mengacu pada masyarakat yang didominasi oleh paham heteroseksual. Secara
terinci, sifat-sifat penindasan dan identitas penindas dianalisis. Diskusi dapat berlangsung
lebih hangat sehingga – misalnya pada kasus Kuil Rakyat Jim Jones – polarisasi ini
mencapai tingkat paranoida.
Tahap tiga: Menegakkan nilai-nilai baru pada kelompok: Pada tahap ini, anggota
mempertentangkan nilai-nilai kelompok mereka dengan nilai kaum penindas. Kelompok
homoseks menolak struktur nilai masayarakat, dan berpendapat bahwa nilai hubungan jauh
lebih penting. kelompok wanita akan membandingkan keyakinan mereka akan upah yang
sama untuk kerja yang sama dengan kebiasaan masyarakat untuk membayar laki-laki lebih
banyak daripada wanita yang bekerja pada pekerjaan yang sama. Kelompok agama akan
membayangkan masa depan masyarakat yang beriman dan emmbandingkannya dengan
masyarakat kini yang penuh maksiat.
2016
19
PSIKOLOGI KOMUNIKASI
Muhammad Didi Ahmadi, S.Pd.,M.IKom.
Pusat Bahan Ajar dan eLearning
http://www.mercubuana.ac.id
Tahap empat: Menghubungkan diri dengan kelompok revolusioner lainnya: Dalam
penelitiannya tentang kelompok homoseksual yang radikal, Chesebro dan kawan-kawan
menemukan bahwa tahap terakhir kelompok penyadar menjelaskan bagaimana hubungan
mereka dengan kelompok penyadar menjelaskan bagaimana hubungan mereka dengan
kelompok tertindas lainnya yang sedang melancarkan revolusi kebudayaan. Tetapi, pada
kelompok lain biasanya mereka merumuskan tindakan nyata yang harus dilakukan untuk
mencapai cita-cita kelompok. Beberapa kelompok penyadar menggabungkan isolasi sosial
total dengan ancaman hukuman. Cara ini dapat menimbulkan perilaku aneh yang tidak
pernah terbayangkan oleh anggota masyarakat lainnya. Kombinasi cara ini ternyata sangat
efektif untuk menimbulkan perubahan identitas sosial dari anggota-anggota tang berperan
serta di dalam diskusi kelompok.
Komunikasi Kelompok Preskriptif
Komunikasi kelompok dapat dipergunakan untuk menyelesaikan tugas – memecahkan
persoalan, membuat keputusan, atau melhirkan gagasan kreatif – membantu pertumbuhan
kepribadian seperti dalam kelompok pertemuan, atau membangkitkan kesadaran sosial
politik. Tidak terlalu salah kalau kita katakan bahwa komuniaksi kelompok berfungsi sebagai
katup pelepas perasaan tidak enak sampai pembuat gerakan revolusioner, sejak sekadar
pengisi waktu sampai basis perubahan sosial. Berbagai komunikasi kelompok ini – menurut
formatnya – dapat diklasifikasikan pada dua kelompok besar: privat dan publik (terbatas dan
terbuka). Kelompok npertemuan (kelompok tearapi), kelompok belajar, panitia, konferensi
(rapat) adalah kelompok privat. Panel, wawancara terbuka (public interview), forum,
simposium termasuk kelompok publik. Di sini kita akan mempergunakan format diskusi dari
Cragan dan Wright (1980): meja bundar, simposium, diskus panel, macam-macam forum,
kolokuium, dan prosedur parlementer. Dari sini kita menguraikan langkah-langkah rasional
yang merupakan sistem agenda pemecahan masalah. Bab ini menjadi sangat lengkap bila
kita menguraikan teknik-teknik diskusi; tetapi, ini tampaknya bukan lagi wilayah psikologi
komunikasi.
Format Diskusi
Format diskusi yang diuraikan di sini didasarkan atas susunan tempat duduk, ururtan siapa
yang berbicara dan kapan, dan aturan waktu yang diizinkan untuk berbicara.
Diskusi meja bundar: Susunan tempat duduk yang bundar menyebabkan arus
komunikasi yang bebas di antara anggota-anggota kelompok. Susunan ini biasanya
digunakan untuk diksusi yang sifatnya terbatas. Pada diskusi meja bundar, terjadi jaringan
komunikasi semua saluran (all chanel). Di antara anggota ada hubungan sosial yang
2016
20
PSIKOLOGI KOMUNIKASI
Muhammad Didi Ahmadi, S.Pd.,M.IKom.
Pusat Bahan Ajar dan eLearning
http://www.mercubuana.ac.id
demokratis. Bila sususnan ini diubah sedikit menjadi segi empat dan pemimpin duduk di
ujung meja sendirian, arus komunikasi akan selalu lewat pemimpin. Karena itu, susunan
segi empat tepat digunakan bila pemimpin mempunyai acara yang sudah tertentu dan tugas
harus dilakukan dalam batas batas waktu yang sempit. Bila pada situasi seperti ini
digunakan diskusi meja bundar, anggota-anggota akan berdiskusi secara kaku. Pemimpin
tampak demokratis, padahal ia sebetulnya otokratis. Penelitian Shaw (1976) menunjukkan
bahwa susunan meja bundar memudahkan partisipasi spontan yang lebih demokratis
daripada susunan meja segi empat yang lebih otokratis dan kaku.
Simposium: Simposium adalah serangkaian pidato pendek yang menyajikan
berbagai aspek dari sebuah topik atau posisi yang pro dan kontra terhadap masalah yang
kontroversial, dalam format diskusi yang sudah dirancang sebelumnya (Cragan dan Wright,
1980). Seorang moderator mengendalikan waktu dan pokok pembicaraan. Simposium
dimaksudkan untuk menyajikan informasi untuk dijadikan sumber rujukan khalayak dalam
mengambil keputusan pada waktu yang akan datang. Informasi diklasifikasikan berdasarkan
urutan logis, pernedaan titik pandang, atau pemecahan alternatif. Setiap bagian dari pokok
bahasan diulas oleh seorang pembicara pada waktu yang telah ditentukan.
Diskusi Panel: Diskusi panel adalah format khusus yang anggota-anggota
kelompoknya berinteraksi, baik berhadap-hadapan maupun melalui seorang mediator, di
antara mereka sendiri dan dengan hadirin, tentang masalah yang kontroversial. Biasanya,
suusnan tempat duduk diskusi panel meletakkan peserta diskusi pada meja segi empat
yang menghadap khalayak, dengan moderator yang duduk di tengah-tengah, di antara
kedua pihak yang berdiskusi (Cragan dan Wright, 1980). Moderator tidak mengendalikan
diskusi karena peserta diskusi dapat berinteraksi secara langsung dan spontan. Susunan
diksusi dapat berinteraksi secara langsung dan spontan. Suasana diskusi dapat bersifat
informal dan formal. Diskusi panel dapat dilakukan di hadapan hadirin dalam sebuah
ruangan, atau di studio televisi, di hadapan para pirsawan. Sekarang, dengan menggunakan
satelit, para peserta diskusi boleh jadi berada pada negara-negara yang berjauhan, tetapi
dihubungkan satu sama lain lewat seorang pemimpin diskusi (biasanya penyiar televisi),
disaksikan oleh jutaan pemirsa televisi.
Macam-macam forum: Forum adalah waktu tanya-jawab yang terjadi setelah
diskusi terbuka, misalnya simposium (Cragan dan Wright, 1980:223). Jadi khalayak
mempunyai kesempatan untuk mengajukan pertanyaan atau memberikan tanggapan. Ada
lima macam forum; (1) forum ceramah, (2) forum debat, (3) forum dialog, (4) forum panel,
dan (5) forum simposium.
2016
21
PSIKOLOGI KOMUNIKASI
Muhammad Didi Ahmadi, S.Pd.,M.IKom.
Pusat Bahan Ajar dan eLearning
http://www.mercubuana.ac.id
Forum ceramah adalah format diskusi yang dilakukan terutama sekali untuk saling
berbagi informasi. Ceramah tidak sellau disusul oleh forum, seperti ceramah yang disajikan
pada televisi. Forum debat dimaksudkan untuk menyajikan pro dan kontra terhadap
proposisi yang kontroversial. Dari perbedaan pendapat ini khalayak diharapkan terdorong
untuk mengajukan pertanyaan. Forum dialog menggunakan kombinasi antara dukungan dan
pertanyaan sehingga menjadi struktur diadik atau triadik yang melahirkan dialog. Di Amerika
Serikat, Phil Donahue Show merupakan contoh forum dialog. Donahue menggabanungkan
pertanyaannya sendiri, pertanyaan dari hadirin di studio, dan pertanyaan yang masuk lewat
telepon dari penonton televisi untuk menghasilkan diskusi terbuka yang informatif dan
menghibur. Di Indonesia, stasiun radio amatir sering menggunakan cara ini dengan sedikit
modifikasi.
Kolokium: Kolokium adalah sejenis format diskusi yang memberikan kesempatan
kepada wakil-wakil khalayak untuk mengajukan pertanyaan yang sudah dipersiapkan
kepada seorang (atau bberapa orang) ahli Kolokium agak bersifat formal, dan diskusi diatur
secara ketat oleh seorang moderator. Moderator mengizinkan seorang penanya untuk
menanyakan satu pertanyaan pada satu saat secara bergiliran. Ahli biasanya hanya
diizinkan menjawab pertanyaan, dan tidak boleh bertanya. Di Amerika kolokium
dipergunakan biasanya pada perdebatan terbuka di antara para calon presiden di hadapan
jutaan pemirsa televisi. Diskusi para calon presiden di hadapan jutaan pemirsa televisi.
Diskusi semacam ini lazim disebut sebagai public debate.
Prosedur parlementer; prosedur parlementer adalah format diskusi yang secara
ketat mengatur peserta diskusi yang besar pada periode waktu yang tertentu ketika
sejumlah keputusan harus dibuat. Para peserta harus mengikuti peraturan tata tertib yang
telah ditetapkan secara eksplisit. Prosedur parlementer – disebut demikian karena berasal
dari tata tertib sidang di parlemen atau majelis permusyawaratan rakyat – dirancang untuk
memenuhi beberapa tujuan pokok. Pertama, untuk memaksakan keinginan mayoritas
mencapai dua pertiga majelis. Dengan suara dua pertiga, sidang rapat dapat dinhentikan
atau ditangguhkan. Kedua, untuk secara ketat memaksa kelompok mendiskusikan hanya
satu persoaln pada satu saat. Ketua mengatur siapa yang bicara dan, perlu,
mengesampingkan seorang anggota jika pembicaraannnya tidak berkaitan dengan mosi
utama. Ketiga, mengusahakan agar para anggota mempunyai kesempatan yang sama
untuk berpartisipasi. Argumen yang pro dan kontra terhadap mosi utama dapat diajukan.
Tata tertib parlemen dijalankan dengan ketat sehingga sidang dapat menentukan siapa yang
dapat berbicara. Untuk berapa lama, dan berapa kali.
2016
22
PSIKOLOGI KOMUNIKASI
Muhammad Didi Ahmadi, S.Pd.,M.IKom.
Pusat Bahan Ajar dan eLearning
http://www.mercubuana.ac.id
Sistem Agenda Pemecahan Masalah
Para ahli komuniaksi, diilhami oleh proses berpikir reflektif dari John Dewey, telah
mengembangkan urutan acara pemecahan masalah yang dapat membantu penyelesaian
tugas kelompok. Caragan dan Wright (1980) menyebutkan sistem Dewey, Ross, Wright 494,
Brilhart-Jochem, dan Maier. Di sini kita akan menyebutkan tiga pola: urutan pemecahan
masalah kreatif, urutan berpeikir reflektif, dan urutan solusi ideal.
Urutan pemecahan masalah kreatif: Sistem ini mula-mula dikembangkan oleh Alex
Osborn, Sidney, J. Parnes, dan rekan-rekannya yang tergabung dengan Creative Problem
Solving Institute. Sistem ini sangat tepat untuk melahirkan gagasan baru atau
mengembangkan ide yang memerlukan daya imajinasi. Urutan langkah yang dituliskan
dibawah dikutip dari Brillhart (1979: 144-145):
1. Apkah sebenarnya masalah yang kita hadapi (keadaan sekarang, hambatan dan
penyebab, tujuan)?
a. Apakah yangs edang kita bicarakan?
1). Apakah masalah atau tugas itu sudah jelas bagi kita?
2). Apkah kita perlu mendefinisikan istilah atau konsep?
b. Sejauh mana daerah kebebasan kita?
1). Apakah kita ingin merencanakan dan bertindak, menasihati, ata apa?
2). Hasil akhir yang bagaimana yang ingin kita hasilkan dari diskusi kita?
c. Apakah hal-hal yang tidak memuaskan kita sekarang ini?
1). Apakah yang salah? Dari mana kita tahu?
2). Siapa dan apa yang kena, dan dalam kondisi bagaiamana?
3) Sampai sejauh mana kita menilai masalah itu?
4). Apakah dulu pernah dilakukan tindakan perbaikan yang tidak efektif?
5). Apakah inforamsi lain yang kita perlukan untuk secara tepat menilai intensitas
dan sifat masalah?
d. Situasi atau tujuan bagaimana yang ingin kita capai?
e. Faktor-faktor apa yang emnimbulkan masalah ini?
1). Adakah sebab-sebab yang bisa kita pastian?
2). Hambatan apa yang harus kita atasi untuk mencapai situasi yang
dikehendaki?
f. Bagaimana kita dapat menyimpulkan masalah sehingga menggambarkan situasi
sekarang, situasi yang dikehendaki, perbedaan, sebab, dan hambatan?
2016
23
PSIKOLOGI KOMUNIKASI
Muhammad Didi Ahmadi, S.Pd.,M.IKom.
Pusat Bahan Ajar dan eLearning
http://www.mercubuana.ac.id
1). Apakah kita semua sepakat tentang pernyataan masalah?
2). Perlukah kita membaginya menjadi beberapa submasalah?
a). Jika perlu, apakah submasalah itu?
b). Dengan urutan bagaimana kita harus memecahkannya?
2. Apakah yang harus kita lakukan untuk memecahkan masalah (atau submasalah
yang pertama)? (Di sini dilakukan sumbang saran – brainstorming – untuk mencari
kemungkinan pemecahan masalah.)
3, Kriteria apa yang harus kita gunakan untuk menilai berbagai kemungkinan
pemecahan masalah?
a. Apakah kriteria mutlak yang harus dipenuhi oleh suatu pemecahan masalah?
b. Apakah standar relatif yang harus kita gunakan? (Buat daftar ranking nilai dan
standar dengan persetujuan kelompok.)
4, Apakah kelebihan setiap alternatif pemecahan?
a. Gagasan yang mana yang dapat kita singkirkan karena tidak ditunjang oleh
fakta?
b. Dapatkah kita menggabungkan dan menyederhanakan daftar pemecahan
masalah?
c. Sejauh mana gagasan lainnya sesuai dengan kriteria?
5, Bagaimanakah menjalankan solusi kita?
a. Siapa melakukan apa, kapan dan bagaimana?
b. Perlukah kita melakukan tindak lanjut atau pemeriksaan?
Urutan Berpikir Reflektif
Urutan ini berbeda dengan urutan pemecahan masalah kreatif karena disini kritik dianjurkan
sebelum pemecahan masalah dinyatakan.
1. Apakah masalah yangs edang kita hadapi? (Di sini tahapannya sama dengan urutan
pemecahan masalah kreatif.)
2. Kriteria apa yang harus kita gunakan untuk menilai berbagai alternatif solusi?
3. Apa saja solusi yang mungkin, dan apa kelebihan masing-masing? (setiap gagasan
dinilai setiap kali disajikan, atau ada dua langkah: (a) buat daftar solusi yang
mungkin, dan (b) evaluasi satu per satu.)
4. Apa pemecahan masalah yang kita pilih?
5. Bagaimana kita melaksanakan keputusan kita?
Pola Solusi Ideal
Pola ini dipergunakan untuk mengatasi masalah yang akan mempengaruhi barbagai macam
kelompok yang mempunyai kepentingan yang berlainan, atau yang memerlukan dukungan
2016
24
PSIKOLOGI KOMUNIKASI
Muhammad Didi Ahmadi, S.Pd.,M.IKom.
Pusat Bahan Ajar dan eLearning
http://www.mercubuana.ac.id
berbagai jenis orang yang mempunyai nilai yang berlainan. Di rumah tangga, mislanya, pola
ini dapat dipakai untuk membicarakan rencana perluasan rumah yang melibatkan
kepentingan ibu, isteri, dan anak-anak; atau di universitas ketika mengambil keputusan
merencanakan pemindahan kampus, yang melibatkan kepentingan mahasiswa, para dosen,
dan staf administrasi.
1. Apakah masalah yang sedang kita dihadapi? (Di sini tahapannya sama dengan
urutan pemecahan masalah kreatif.)
2. Apakah pemecahan yang iedal ditinjau dari berbagai kepentingan kelompok?
Misalnya:
a. Dosen
b. Mahasiswa
c. Staf administrasi
d. Pimpinan universitas
3. Apa yang dapat kita ubah pada situasi sekarang? (Artinya, solusi mana yang
mungkin? Apa yang dapat dilakukan?)
4. Solusi mana yang paling mendekati ideal? (Di sini kelompok mensintesiskan dan
memutuskan solusi final yang akan dijalankan atau disarankan.)
5. Bagaimana melaksanakan solusi itu?
DAFTAR PUSTAKA
Rakhmat, Jalaludin. (2007). Psikologi Komunikasi. Bandung: PT. Remaja Rosdakarya.
Bungin, B. (2006). Sosiologi Komunikasi. Teori, Paradigma, dan Diskursus Teknologi
Komunikasi di Masyarakat. Jakarta: Kencana.
Pearce, B. W. (1989). Communication and the Human Condition. Illinois: Southern Illinois
University Press.
2016
25
PSIKOLOGI KOMUNIKASI
Muhammad Didi Ahmadi, S.Pd.,M.IKom.
Pusat Bahan Ajar dan eLearning
http://www.mercubuana.ac.id
Download