bab ii tinjauan pustaka

advertisement
9
BAB I I
TINJAUAN PUSTAKA
2.1. Penelitian Terdahulu
Beberapa
penelitian
yang
telah
dilakukan
dan
menjadi
dasar
pengembangan pada penelitian ini, diantaranya penelitian yang dilakukan oleh
Irwansyah (2005) : “Pengaruh komitmen organisasional, kepuasan kerja, dan
keperilakuan etis terhadap keinginan berpindah professional sistem informasi”.
Hasil penelitian menjukkan bahwa komitmen organisasional, kepuasan kerja, dan
keperilakuan etis mempunyai pengaruh terhadap keinginan berpindah professional
sistem informasi.
Kemudian Murdiyanto (2008) : “Analisis Pengaruh Kepuasan Gaji,
Kepuasan Kerja, Komitmen Organisasional terhadap Loyalitas Kerja Karyawan
pada RS Ortopedi Surakarta”, Berdasarkan hasil analisis disimpulkan kepuasan
kerja berpengaruh positif terhadap komitmen organisasi terbukti melalui pengujian
yang menghasilkan nilai CR = 6,066. Kepuasan gaji berpengaruh negative terhadap
loyalitas kerja karyawan terbukti melalui pengujian yang menghasilkan nilai CR = 4,308. Kepuasan kerja berpengaruh negative terhadap loyalitas kerja karyawan
terbukti melalui pengujian yang menghasilkan nilai CR = -4,875 serta komitmen
organisasi berpengaruh negative terhadap loyalitas kerja karyawan terbukti melalui
pengujian yang menghasilkan nilai CR = - 2,852. Dalam upayanya menurunkan
loyalitas kerja karyawan implikasi yang dapat dilakukan Rumah Sakit Ortopedi
Surakarta adalah Meningkatkan nilai gaji yang diberikan kepada karyawannya,
Memberikan tunjangan yang dapat meringankan beban kebutuhan karyawan,
9
10
Meningkatkan hubungan antara sesama karyawan maupun antara karyawan dan
pimpinan,
Memberikan
kesempatan
kepada karyawan
untuk
meningkatkan
kemampuaannya memalui pendidikan formal, Meningkatkan loyalitas karyawan
terhadap perusahaan dengan memberikan setiap kebutuhan dan keinginan karyawan
dan Meningkatkan kesadaran kepada karyawan bahwa karyawan memiliki peran yang
sangat penting dalam memajukan perusahaan.
Sedangkan penelitian yang dilakukan oleh Edi Suhanto (2009) dengan judul
penelitian : “Pengaruh Stres Kerja dan Iklim Organisasi terhadap Loyalitas kerja
karyawan dengan Kepuasan Kerja Sebagai Variabel Intervening (Studi di Bank
Internasional Indonesia)”, Penelitian ini dilakukan di Bank Internasional
Indonesia, responden yang digunakan sebanyak 125 karyawan yang bekerja pada
bagian pemasaran. Data diolah dengan menggunakan Structural Equation
Modeling (SEM) dengan bantuan program Analysis of Moment Structure (AMOS)
versi 16.0. Hasil penelitian menunjukkan stres kerja mempunyai pengaruh negatif
dan signifikan terhadap kepuasan kerja, iklim organisasi mempunyai pengaruh
positif dan signifikan terhadap kepuasan kerja, dan kepuasan kerja mampu
menurunkan loyalitas kerja karyawan. Hasil dari Structural Equation Modeling
(SEM) menunjukkan bahwa terdapat pengaruh positif dan tidak langsung antara
stres kerja dan loyalitas kerja karyawan, dan juga terdapat pengaruh negatif dan
tidak langsung antara iklim organisasi dan loyalitas kerja karyawan Pengaruh dari
stres kerja terhadap loyalitas kerja karyawan lebih kuat dibandingkan dengan
pengaruh dari iklim organisasi terhadap loyalitas kerja karyawan.
Fariz Akhmadi (2010) dengan judul penelitian : “Pengaruh Kompensasi,
Kepuasan Kerja dan Komitmen Organisasi terhadap Loyalitas kerja karyawan
11
Pada PT. Surya Sumber Daya Energi Surabaya”. Populasi dalam penelitian ini
adalah karyawan pada PT. Surya Sumber Daya Energi di Surabaya. Model yang
digunakan dalam penelitian ini adalah Structural Equation Modeling (SEM).
Hasil pengujian pada penelitian ini menunjukkan bahwa Kompensasi yang
diberikan PT. Surya Sumber Daya Energi tidak memberikan kontribusi terhadap
Loyalitas kerja karyawan, Kepuasan kerja karyawan di PT. Surya Sumber Daya
Energi tidak memberikan kontribusi terhadap Loyalitas kerja karyawan,
Komitmen organisasi karyawan pada PT. Surya Sumber Daya Energi memberikan
kontribusi terhadap Loyalitas kerja karyawan Kerja.
2.2. Landasan Teori
2.2.1. Loyalitas Kerja
2.2.1.1. Pengertian Loyalitas Kerja
Kerja merupakan suatu kesempatan untuk mengembangkan diri dan
berbakti. Melalui bekerja dapat membuat sesuatu yang bernilai, yang bermanfaat
bagi diri sendiri, bagi anggota keluarga, bagi masyarakat, bagi bangsa dan Negara
dan bagi Tuhan Pencipta kita.
Secara duniawi, kehidupan yang sulit membuat orang harus bekeija keras
untuk tetap hidup. Kerja juga merupakan satu-satunya cara untuk memperbaiki
standard hidup. Akibatnya kerja dipandang sebagai pusat kehidupan yang menarik
dan tujuan yang diinginkan dalam hidup. Mereka menyukainya dan mendapatkan
kepuasan. Sikap keija ini juga kuat dibagian Asia seperti Jepang. Biasanya orangorang dengan sikap kerja ini memiliki loyalitas yang kuat terhadap organisasi dan
12
tujuannya. Studi di berbagai perusahaan menunjukkan bahwa sikap tersebut
menimbulkan tanggung jawab moral daripada sekedar urusan bisnis secara
rasional (Davis dan Newstorm, 2009).
Ada berbagai macam pengertian loyalitas, antara satu tokoh dengan tokoh
lainnya ada yang saling bertentangan, tetapi ada juga yang sejalan bahkan saling
mendukung. Menurut Sheldon (Steers dan Porter, 2007) mengemukakan bahwa
loyalitas merupakan suatu orientasi terhadap organisasi yang berkaitan dengan
identifikasi seseorang terhadap organisasinya. Pendapat yang hampir sama
dikemukakan oleh Kanter (Steers dan Porter, 2007), bahwa loyalitas merupakan
keinginan dari pelaku-pelaku sosial untuk memberikan energi dan pengabdiannya
kepada sistem sosial.
Hall (Steers dan Porter, 2007) melihat loyalitas sebagai proses yang
menjadikan tujuan organisasi dan tujuan individu berkembang menyatu dan
selaras. Salancik (Steers dan Porter, 2007) lebih memandang loyalitas sebagai
suatu keadaan dimana individu menjadi terikat oleh aktivitasnya, dan melalui
aktivitas tersebut tumbuh keyakinan-keyakinan yang dapat mempertahankan
aktivitas dan keterlibatannya dalam kelompok.
Hasibuan (2006), mengemukakan bahwa :
Loyalitas atau kesetiaan merupakan salah satu unsur yang digunakan
dalam penilaian karyawan yang mencakup kesetiaan terhadap
pekerjaannya, jabatannya dan organisasi. Kesetiaan ini dicerminkan oleh
kesediaan karyawan menjaga dan membela organisasi di dalam maupun
diluar pekerjaan dari rongrongan orang yang tidak bertanggungjawab.
Robbins (2005), menyebutkan bahwa loyalitas kepada pekerjaan tercermin
pada sikap karyawan yang mencurahkan kemampuan dan keahlian yang dimiliki,
13
melaksanakan tugas dengan tanggungjawab, disiplin serta jujur dalam bekerja.
Simamora (2007), juga menjelaskan bahwa :
Sikap karyawan sebagai bagian dari perusahaan yang paling utama adalah
loyal. Sikap ini diantaranya tercermin dari terciptanya suasana yang
menyenangkan dan mendukung ditempat kerja, menjaga citra perusahaan
dan adanya kesediaan untuk bekerja dalam jangka waktu yang lebih
panjang.
Dari pendapat-pendapat tersebut diatas, Staw (Steers dan Porter, 2007)
membaginya menjadi dua pendekatan, yaitu :
1.
Loyalitas sebagai tingkah laku,
2. Loyalitas sebagai sikap.
Loyalitas dipandang sebagai tingkah laku, karena loyalitas merupakan
suatu proses dimana seseorang telah membuat keputusan pasti untuk tidak keluar
dari organisasi apabila tidak membuat kesalahan yang ekstrim (Staw, Steers dan
Porter, 2007). Orang tersebut merasa telah banyak menerima keuntungankeuntungan sehingga mereka merasa kesulitan untuk melakukan tindakan yang
akan dilakukan. Sebagai contoh, seorang karyawan merasa telah memberikan
sebagian besar waktu dan kesenioritas-an kepada organisasi, ia menjadi terikat
dan tidak mampu meninggalkan organisasi itu.
Loyalitas sebagai tingkah laku ini hanya sedikit mengupas mengenai
persetujuan karyawan terhadap tujuan-tujuan organisasi ataupun keinginan untuk
membantu meraih tujuan organisasi. Pendapat tersebut hanya menyatakan bahwa
individu merasa terikat dengan organisasi.
Pengertian loyalitas sebagai tingkah laku mengandung unsur ekonomik,
karena memperhitungkan untung rugi. Seperti dikemukakan oleh Steers dan
14
Porter (2007) bahwa seorang karyawan menjadi loyal kepada perusahaan apabila
ia telah terikat tindakannya dimasa lalu terhadap perusahaan. Tindakan-tindakan
itu telah memberinya banyak keuntungan, sehingga ia merasa kesulitan untuk
meninggalkan perusahaan.
Loyalitas sebagai sikap berbeda dengan kepuasan kerja, karena:
1. Loyalitas disini lebih bersifat umum, lebih menunjukkan respon efektif
terhadap organisasi sebagai suatu keseluruhan. Sebaliknya, kepuasan
keija hanya menunjukkan respon terhadap seseorang atau pekerjaan
tertentu, maupun aspek-aspek tertentu dari suatu pekerjaan, tidak
menyeluruh.
2. Loyalitas dapat diharapkan lebih stabil daripada kepuasan kerja.
Loyalitas sebagai sikap berkembang secara perlahan tetapi konsisten
sejalan dengan kesadaran individu terhadap hubungan yang telah
mereka jalin dengan perusahaan. Kepuasan kerja, sebaliknya, lebih
bersifat sementara. Menunjukkan reaksi yang segera muncul apabila
menghadapi aspek-aspek khusus dan dapat diraba dari lingkungan
kerjanya, seperti upah atau model kepemimpinan (Steers dan Porter,
2007).
Loyalitas sebagai sikap menunjukkan taraf sejauhmana seorang karyawan
mengidentifikasikan dirinya dengan organisasi, dan berkeinginan untuk tetap
sebagai bagian dari organisasi. Loyalitas ini menunjuk sikap yang amat positif
terhadap organisasi dan kemauan untuk terus menerus bekerja keras demi
organisasi.
Loyalitas sebagai suatu sikap ini mempunyai tiga aspek yang meliputi :
1.
Kepercayaan yang kuat dan penerimaan yang penuh terhadap tujuan
dan nilai-nilai organisasi;
2. Keinginan untuk bekerja keras, karena merasa sebagai bagian dari
organisasi;
3. Suatu dorongan yang kuat untuk mempertahankan keanggotaannya
dalam organisasi (Steers dan Porter, 2007).
Definisi-definisi diatas dapat peneliti simpulkan bahwa loyalitas karyawan
tercermin dari sikap dan perbuatan mencurahkan kemampuan dan keahlian yang
15
dimiliki, melaksanakan tugas dengan tanggungjawab, disiplin, serta jujur dalam
bekerja, menciptakan hubungan kerja yang baik dengan atasan, rekan kerja, serta
bawahan dalam menyelesaikan tugas, menciptakan suasana yang mendukung dan
menyenangkan di tempat kerja, menjaga citra perusahaan dan adanya kesediaan
untuk bekerja dalam jangka waktu yang lebih panjang.
2.2.1.2. Aspek-Aspek Loyalitas
Aspek-Aspek loyalitas menurut Mathis (2005) adalah sebagai berikut :
1.
Ketaatan atau kepatuhan ;
Ketaatan yaitu kesanggupan seorang pegawai untuk mentaati segala peraturan
kedinasan yang belaku dan mentaati perintah dinas yang diberikan atasan
yang berwenang, serta sanggup tidak melanggar larangan yang ditentukan.
Ciri-ciri ketaatan yaitu :
a.
Mentaati segala peraturan perundang-undangan dan ketentuan yang
berlaku.
b.
Mentaati perintah kedinasan yang diberikan atasan yang berwenang
dengan baik
2.
c.
Selalu mentaati jam kerja yang sudah ditentukan
d.
Selalu memberikan pelayanan kepada masyarakat dengan sebaik-baiknya
Bertanggungjawab ;
Tanggungjawab adalah kesanggupan seorang karyawan dalam menyelesaikan
pekerjaan yang diserahkan kepadanya dengan baik, tepat waktu, serta berani
16
mengambil resiko untuk keputusan yang dibuat atau tindakan yang dilakukan.
Ciri-ciri tanggungjawab yaitu :
a.
Dapat menyelesaikan tugas dengan baik dan tepat waktu
b.
Selalu menyimpan atau memelihara barang-barang dinas dengan
sebaikbaiknya
c.
Mengutamakan kepentingan dinas dari kepentingan golongan
d.
Tidak pernah berusaha melemparkan kesalahan yang dibuatnya kepada
orang lain.
3.
Pengabdian ;\
Pengabdian yaitu sumbangan pemikiran dan tenaga secara ikhlas kepada
perusahaan
4.
Kejujuran ;
Kejujuran adalah keselarasan antara yang terucap atau perbuatan dengan
kenyataan. Ciri-ciri kejujuran yaitu :
a.
Selalu melakukan tugas dengan penuh keikhlasan tanpa merasa dipaksa
b.
Tidak menyalahgunakan wewenang yang ada padanya
c.
Melaporkan hasil pekerjaan kepada atasan apa adanya
Unsur-unsur loyalitas yang lain dikemukakan oleh Steers & Porter (2007)
berhubungan dengan sikap yang akan dilakukan karyawan, dan merupakan proses
psikologis terciptanya loyalitas kerja dalam perusahaan, antara lain :
1.
2.
Dorongan yang kuat untuk tetap menjadi anggota perusahaan,
kekuatan aspek ini sangat dipengaruhi oleh keadaan individu, baik
kebutuhan, tujuan maupun kecocokan individu dalam perusahaan.
Keinginan untuk berusaha semaksimal mungkin bagi perusahaan.
Kesamaan persepsi antara karyawan dan perusahaan dan yang
didukung oleh kesamaan tujuan dalam perusahaan mewujudkan
17
3.
keinginan yang kuat untuk berusaha maksimal, karena dengan pribadi
juga perusahaan akan terwujud.
Kepercayaan yang pasti dan penerimaan yang penuh atas nilai-nilai
perusahaan. Kepastian kepercayaan yang diberikan karyawan tercipta
dari operasional dari perusahaan yang tidak lepas dari kepercayaan
perusahaan terhadap karyawan itu sendiri untuk melaksanakan
pekerjaannya.
Karyawan yang memiliki loyalitas tinggi akan memiliki sikap kerja yang
positif. Sikap kerja yang positif meliputi :
1.
Kemauan untuk bekerja sama ;
Bekerja
sama
dengan
orang-orang
dalam
suatu
kelompok
akan
memungkinkan perusahaan dapat mencapai tujuan yang tidak mungkin
dicapai oleh orangorang secara individual.
2.
Rasa memiliki ;
Adanya rasa ikut memiliki karyawan terhadap perusahaan akan membuat
karyawan memiliki sikap untuk ikut menjaga dan bertanggung jawab
terhadap perusahaan sehingga pada akhirnya akan menimbulkan loyalitas
demi tercapainya tujuan perusahaan.
3.
Hubungan antar pribadi ;
Karyawan yang mempunyai loyalitas karyawan tinggi mereka akan
mempunyai sikap fleksibel kearah hubungan antara pribadi. Hubungan antara
pribadi ini meliputi : hubungan sosial diantara karyawan. Hubungan yang
harmonis antara atasan dan karyawan, situasi kerja dan sugesti dari teman
sekerja.
4.
Suka terhadap pekerjaan ;
18
Perusahaan harus dapat menghadapi kenyataan bahwa karyawannya tiap hari
datang untuk bekerja sama sebagai manusia seutuhnya dalam hal melakukan
pekerjaan yang akan dilakukan dengan senang hati
2.2.1.3. Faktor yang Mempengaruhi Loyalitas Kerja
Loyalitas kerja akan tercipta apabila karyawan merasa tercukupi dalam
memenuhi kebutuhan hidup dari pekerjaannya, sehingga meraka betah bekerja
dalam suatu perusahaan. Yousef (2006) menegaskan bahwa faktor-faktor yang
mempengaruhi loyalitas karyawan adalah adanya fasilitas-fasilitas kerja,
tunjangan kesejahteraan, suasana kerja serta upah yang diterima dari perusahaan.
Selanjutnya Steers & Porter (2007) menyatakan bahwa timbulnya loyalitas
kerja dipengaruhi oleh :
1.
2.
3.
4.
Karaktersitik pribadi
Karakteristik pribadi merupakan faktor yang menyangkut karyawan
itu sendiri yang meliputi usia, masa kerja, jenis kelamin, tingkat
pendidikan, prestasi yang dimiliki, ras dan sifat kepribadian.
Karakteristik pekerjaan
Karakteristik pekerjaan menyangkut pada seluk beluk perusahaan
yang dilakukan meliputi tantangan kerja, job stress, kesempatan untuk
berinteraksi sosial, identifikasi tugas, umpan balik dan kecocokan
tugas.
Karakteristik desain perusahaan \
Karakteristik desain perusahaan menyangkut pada interen perusahaan
yang dapat dilihat dari sentralisasi, tingkat formalitas, tingkat
keikutsertaan dalam pengambilan keputusan, paling tidak telah
mengajukan berbagai tingkat asosiasi dengan tanggung jawab
perusahaan. Keetergantungan fungsional maupun fungsi kontrol
perusahaan.
Pengalaman yang diperoleh dari perusahaan ;
Pengalaman tersebut merupakan internalisasi individu terhadap
perusahaan setelah melaksanakan pekerjaan dalam perusahaan
sehingga menimbulkan rasa aman, merasakan adanya keputusan
pribadi yang dipenuhi oleh perusahaan.
19
Berdasarkan faktor-faktor yang telah diungkap diatas dapat dilihat bahwa
masing-masing faktor mempunyai dampak tersendiri bagi kelangsungan hidup
perusahaan, sehingga tuntutan loyalitas yang diharapkan oleh perusahaan, baru
dapat terpenuhi apabila karyaawn memiliki karakteristik seperti yang diharapkan
dan perusahaan sendiri telah mampu memenuhi harapan-harapan karyawan,
sehingga dapat disimpulkan bahwa faktor yang mempengaruhi loyalitas tersebut
meliputi : adanya fasilitas-fasilitas kerja, tunjangan kesejahteraan, suasana kerja,
upah yang diterima, karakteristik pribadi individu atau karyawan, karakteristik
pekerjaan, karakteristik desain perusahaan dan pengalaman yang diperolah selama
karyawan menekuni pekerjaan itu.
2.2.2. Kepuasan Gaji
Gaji adalah salah satu hal yang penting bagi setiap karyawan yang bekerja
dalam suatu perusahaan, karena dengan gaji yang diperoleh seseorang dapat
memenuhi kebutuhan hidupnya.
Hasibuan (2006) menyatakan bahwa “Gaji adalah balas jasa yang dibayar
secara periodik kepada karyawan tetap serta mempunyai jaminan yang pasti”.
Pendapat lain dikemukakan oleh Handoko (2008), “Gaji adalah pemberian
pembayaran finansial kepada karyawan sebagai balas jasa untuk pekerjaan yang
dilaksanakan dan sebagai motivasi pelaksanaan kegiatan di waktu yang akan
datang”.
Selain pernyataan Hasibuan dan Handoko, ada pernyataan lainnya
mengenai gaji dari Hariandja (2009), yaitu :
20
Gaji merupakan salah satu unsur yang penting yang dapat mempengaruhi
kinerja karyawan, sebab gaji adalah alat untuk memenuhi berbagai
kebutuhan pegawai, sehingga dengan gaji yang diberikan pegawai akan
termotivasi untuk bekerja lebih giat.
Teori yang lain dikemukakan oleh Hadiwiryo (2008), yaitu :
Gaji dapat berperan dalam meningkatkan motivasi karyawan untuk bekerja
lebih efektif, meningkatkan kinerja, meningkatkan produktivitas dalam
perusahaan, serta mengimbangi kekurangan dan keterlibatan komitmen
yang menjadi ciri angkatan kerja masa kini. Perusahaan yang tergolong
modern, saat ini banyak mengaitkan gaji dengan kinerja.
Pernyataan di atas juga didukung oleh pendapat Mathis dan Lackson
(2005), “Gaji adalah suatu bentuk kompensasi yang dikaitkan dengan kinerja
individu, kelompok ataupun kinerja organisasi”.
Menurut Lum et.al dalam Rivai (2005) kepuasan gaji dapat diartikan
bahwa :
Seseorang akan terpuaskan dengan gajinya ketika persepsi terhadap gaji
dan apa yang mereka peroleh sesuai dengan yang diharapkan. Beberapa
penelitian mengidentifikasi aspek kepuasan yang ditemukan berhubungan
dengan keinginan individu untuk meninggalkan organisasi meliputi
kepuasan akan upah dan promosi.
Menurut Heneman dan Schwab dalam Rivai (2005) kepuasan gaji
merupakan konstruk kepuasan yang multidimensi yang terdiri atas empat Jurnal
Riset Manajemen Sains Indonesia (JRMSI) |Vol. 3, No. 1, 2012 subdimensi :
tingkat gaji (pay level), struktur / pengelolaan gaji (pay structure and
administration), peningkatan gaji (pay raise) dan tunjangan (benefit).
Simamora (2007) mendefinisikan :
Kepuasan atas gaji sebagai persepsi kepuasan atas gaji atau upah langsung,
sedangkan kepuasan atas struktur atau pengadministrasian gaji
21
didefinisikan sebagai persepsi kepuasan dengan hirarki gaji internal dan
metode yang digunakan untuk mendistribusikan gaji. Kepuasan atas
peningkatan gaji berkenaan dengan persepsi kepuasan dalam perubahan
tingkat gaji. Kepuasan atas tunjangan menekankan pada persepsi kepuasan
dengan pembayaran tidak langsung yang diterima karyawan.
Keinginan untuk keluar dapat mengarah langsung pada loyalitas kerja
karyawan nyata, orang memutuskan untuk meninggalkan pekerjaan meskipun
alternatif pekerjaan lain tidak tersedia atau secara tidak langsung, menyebabkan
individu mencari pekerjaan lain yang lebih disukai.
Alasan untuk mencari pekerjaan altematif lain di antaranya adalah
kepuasan atas gaji yang diterima. Individu merasakan adanya rasa keadilan
(equity) terhadap gaji yang diterima sehubungan dengan pekerjaan yang
dilakukannya (Lum et al., 2008). Handoko, (2008) menyatakan bahwa perusahaan
harus
memperhatikan
prinsip
keadilan
dalam
penetapan
kebijaksanaan
pembayaran upah dan gaji.
Kepuasan atas gaji yang diterima didasarkan pada teori equity yang
berkenaan dengan motivasi individu untuk bertindak dalam organisasi. Individu
akan menilai rasio input terhadap outcome bagi tugas yang ada dan
membandingkan dengan referent.
Gaji dipandang sebagai bagian dari sistem yang mendukung yang
digunakan oleh organisasi untuk memotivasi karyawan dengan memenuhi aturan
dan peraturan. Bagi pekerja, gaji dipandang sebagai suatu outcome atau reward
yang penting.
Karyawan merasa puas dengan gajinya apabila sistem gaji dalam
perusahaan tersebut mempertimbangan penentuan gaji juga tidak hanya
22
memperhatikan prinsip Internally Equitable (keadilan di dalam perusahaan) yang
dibuat berdasarkan azas keadilan tetapi juga harus mempunyai nilai yang
kompetitif di pasar (Externally Equitable).
Kepuasan gaji dapat diartikan bahwa seseorang akan terpuaskan dengan
gajinya ketika persepsi terhadap gaji dan apa yang mereka peroleh sesuai dengan
yang diharapkan. Beberapa penelitian mengidentifikasi aspek kepuasan yang
ditemukan berhubungan dengan keinginan individu untuk meninggalkan
organisasi meliputi kepuasan akan upah dan promosi (Suwandi dan Indriantoro,
2009).
Menurut Indrianto Suwandi dan Indriantoro, (2009), bahwa kepuasan gaji
mencakup tentang empat dimensi PSQ (pay satisfaction questionnaire), yang
terdiri dari :
1.
Tingkat Gaji (pay level)
2.
Kompensasi (benefits)
3.
Kenaikan Gaji (pay raise)
4.
Struktur dan Administrasi Penggajian (Pay structure and administration)
2.2.3. Kepuasan Kerja
Kepuasan kerja pada dasarnya merupakan sesuatu yang bersifat individual.
Setiap individu memiliki tingkat kepuasan yang berbeda-beda sesuai dengan
sistem nilai yang berlaku pada dirinya. Makin tinggi penilaian terhadap kegiatan
dirasakan sesuai dengan keinginan individu, maka makin tinggi kepuasannya
terhadap kegiatan tersebut. Dengan demikian, kepuasan merupakan evaluasi yang
23
mengambarkan seseorang atas perasaan sikapnya senang atau tidak senang, puas
atau tidak puas dalam bekerja.
Kepuasan kerja merupakan salah satu faktor yang sangat penting untuk
mendapatkan hasil yang optimal. Ketika seorang merasakan kepuasan dalam
bekerja tentunya ia akan berupaya semaksimal mungkin dengan segenap
kemampuan yang dimilikinya untuk menyelesaikan tugas pekerjaannya.
Hasibuan (2006) menyatakan bahwa kepuasan kerja (job statisfaction)
merupakan sikap emosional yang menyenangkan dan mencintai pekerjaannya.
Sedangkan Jantje (2007) berpendapat ;
Kepuasan atau ketidakpuasan seseorang dengan pekerjaannya merupakan
keadaan yang sifatnya subyektif yang merupakan hasil kesimpulan yang
didasarkan pada suatu perbandingan mengenai apa yang secara nyata
diterima oleh karyawan dengan pekerjaannya dibandingkan dengan apa
yang diharapkan, diinginkan dan dipikirnya sebagai hal yang pantas atau
berhak baginya.
Secara umum Robbins (2005) mendefinisikan kepuasan kerja :” sikap
umum seorang individu yang merujuk pada pekerjaannya”. Sedangkan menurut
Siagian (2007) mendefinisikan kepuasan kerja sebagai berikut :” kepuasan kerja
merupakan suatu cara pandang seseorang baik bersifat positif maupun yang
bersifat negatif tentang pekerjaannya”.
Dari pengertian-pengertian di atas dapat simpulkan bahwa kepuasan kerja
merupakan suatu kondisi psikologis yang menyenangkan atau perasaan karyawan
yang sangat subyektif dan sangat tergantung pada individu yang bersangkutan dan
lingkungan kerjanya, dan kepuasan merupakan suatu konsep yang multificated
24
(banyak dimensi) ia dapat mewakili sikap secara menyeluruh atau mengacu pada
bagian pekerjaan seseorang.
Teori tentang kepuasan kerja yang cukup dikenal menurut (Rivai, 2005)
adalah :
1.
2.
3.
Teori ketidaksesuaian (Discrepancy theory). Teori ini mengukur
kepuasan kerja sesorang dengan menghitung selisih antara sesuatu
yang seharusnya dengan yang dirasakan. Sehingga apabila
kepuasannya diperoleh melebihi dari yang diinginkan, maka orang
akan menjadi lebih puas lagi, sehingga terdapat discrepancy, tetapi
merupakan discrepancy yang positif.
Teori keadilan (Equity theory). Teori ini mengemukakan bahwa orang
akan merasa puas atau tidak puas, tergantung pada ada atau tidaknya
keadilan (Equity) dalam suatu situasi, khususnya situasi kerja.
Menurut teori ini komponen utama dalam teori keadilan adalah input,
hasil, keadilan dan ketidakadilan. Input adalah faktor bernilai bagi
karyawan yang dianggap mendukung pekerjaannya, seperti
pendidikan, pengalaman, kecakapan, jumlah tugas dan peralatan atau
perlengkapan yang dipergunakan untuk melaksanakan pekerjaannya.
Hasilnya adalah sesuatu yang dianggap bernilai oleh seorang
karyawan yang diperoleh dari pekerjaannya, seperti upah/gaji,
keuntungan sampingan, simbol, status, penghargaan dan kesempatan
untuk berhasil atau aktualisasi diri.
Teori dua faktor (Two factor theori). Menurut teori ini kepuasan kerja
dan ketidakpuasan kerja itu merupakan hal yang berbeda. Kepuasan
dan ketidakpuasan terhadap pekerjaan itu bukan suatu variabel yang
kontinue. Teori ini merumuskan karakteristik pekerjaan menjadi dua
kelompok yaitu satisfies atau motivator dan dissatisfies. Satisfies ialah
faktor-faktor atau situasi yang dibutuhkan sebagai sumber kepuasan
kerja yang terdiri dari pekerjaan : pekerjaan yang menarik, penuh
tantangan, ada kesempatan untuk berprestasi, kesempatan memperoleh
penghargaan dan promosi. Dissatisfies (hygiene faktor) adalah faktorfaktor yang menjadi sumber ketidakpuasan, yang terdiri dari :
gaji/upah, pengawasan, hubungan antar pribadi, kondisi kerja dan
status.
Menurut Keith Davis yang dikutif oleh Mangkunegara (2005) variabelvariabel kepuasan kerja adalah :
25
1.
2.
3.
4.
5.
Perputaran (loyalitas kerja karyawan)
Apabila kepuasan kerja yang dirasakan oleh karyawan tinggi, maka
loyalitas kerja karyawan akan rendah. Sedangkan para karyawan yang
kurang puas biasanya loyalitas kerja karyawannya akan rendah.
Tingkat Ketidakhadiran (absence) Kerja
Karyawan yang kurang puas cenderung tingkat kehadirannya
(absence) tinggi. Mereka bersaing tidak hadir kerja dengan alasan
yang tidak logis dan subyektif.
Umur
Ada kecenderungan karyawan yang tua lebih merasa puas dari pada
karyawan yang berumur relatif muda. Hal ini diasumsikan bahwa
karyawan yang tua lebih berpengalaman untuk menyesuaikan diri
dengan lingkungan pekerjaan. Sedangkan karyawan usia muda
biasanya mempunyai harapan ideal tentang dunia kerja, sehingga
apabila antara harapannya dengan realita kerja terdapat kesenjangan
atau tidak keseimbangan dapat menyebabkan mereka menjadi tidak
puas.
Tingkat Pekerjaan
Pegawai-pegawai yang menduduki tingkat pekerjaan yang lebih tinggi
cenderung lebih puas dari pada pegawai yang menduduki tingkat
pekerjaan yang lebih rendah. Pegawai-pegawai yang tingkat
pekerjaannya lebih tinggi menunjukan kemampuan kerja yang baik
dan aktif dalam mengemukakan ide-ide serta kreatif dalam bekerja.
Ukuran Organisasi Perusahaan
Ukuran organisasi perusahaan dapat mempengaruhi kepuasan
karyawan. Hal ini karena besar kecil suatu perusahaan berhubungan
pula dengan koordinasi, komunikasi, dan partisipasi pegawai.
Kepuasan kerja bukan merupakan konsep yang berdimensi tunggal,
melainkan suatu konsep yang multificated (banyak dimensi) artinya bahwa
kepuasan kerja banyak dipengaruhi oleh beberapa faktor. Seseorang bisa saja
merasa puas dengan satu dimensi, namun tidak puas dengan dimensi lain. Seperti
halnya dinyatakan oleh Jackson dan Mathis (2007 (terjemahan Jimmy Sadeli dan
Bayu Prawira, 2010), kepuasan kerja mempunyai banyak dimensi. Secara umum
tahap yang diamati adalah kepuasan dalam pekerjaan itu sendiri, gaji, pengakuan,
hubungan antara supervisor dengan tenaga kerja, dan kesempatan untuk maju.
Setiap dimensi menghasilkan perasaan puas secara keseluruhan dengan pekerjaan
26
itu sendiri, namun pekerjaan juga mempunyai definisi yang berbeda bagi orang
lain.
Menurut Robbins (2005) faktor-faktor yang menentukan kepuasan kerja
adalah :
1.
2.
3.
4.
5.
6.
Kerja yang secara mental menantang. Karyawan cenderung lebih
menyukai pekerjaan-pekerjaan yang memberi mereka kesempatan
untuk maju menggunakan keterampilan dan kemampuan mereka dan
menawarkan beragam tugas, kebebasan, dan umpan balik mengenai
betapa baiknya mereka bekerja. Karakteristik ini membuat kerja
secara mental menantang.
Ganjaran yang pantas. Para karyawan menginginkan sistem upah dan
kebijakan promosi yang mereka persepsikan alat tidak meragukan,
dan sejenis dengan pengharapan mereka.
Kondisi kerja yang mendukung. Karyawan peduli akan lingkungan
kerja baik untuk kenyamanan pribadi maupun untuk memudahkan
mengerjakan tugas yang baik.
Rekan kerja yang mendukung. Orang-orang mendapatkan lebih dari
pada sekedar uang atau prestasi yang berwujud dari pekerjaan mereka.
Bagi kebanyakan karyawan, kerja juga mengisi kebutuhan akan
interaksi sosial. Oleh karena itu tidaklah mengejutkan bila mempunyai
rekan sekerja yang ramah dan mendukung kepuasan kerja yang
meningkat.
Kesesuaian antara kepribadian-pekerjaan. Holland menyimpulkan
dalam teorinya yaitu tentang kesesuaian antara kepribadian seorang
karyawan dan pekerjaan akan menghasilkan individu yang lebih
terpuaskan.
Disposisi genetik individu. Disposisi seseorang terhadap hidup-positif
atau negatif ditentukan oleh bentukan genetisnya, bentukan sepanjang
waktu, dan dibawa serta kedalam disposisinya terhadap kerja.
Menurut Rivai (2005) faktor-faktor yang dapat mempengaruhi kepuasan
kerja seorang karyawan adalah :
Isi pekerjaan, penampilan, tugas pekerjaan yang aktual dan sebagai kontrol
terhadap pekerjaan, supervisi, organisasi dan manajemen, kesempatan
untuk maju, gaji dan keuntungan dalam bidang financial lainnya seperti
adanya insentif, rekan kerja, dan kondisi pekerjaan.
27
Selain itu, menurut Job Descriptive Index (JDI) faktor penyebab kepuasan
kerja ialah :
1.
2.
3.
4.
5.
Bekerja pada tempat yang tepat,
Pembayaran yang sesuai,
Organisasi dan manajemen,
Supervisi pada pekerjaan yang tepat, dan
Orang berada dalam pekerjaan yang tepat. Salah satu cara untuk
menentukan apakah pekerja puas dengan pekerjaannya ialah dengan
membandingkan pekerjaan mereka dengan beberapa pekerjaan ideal
tertentu (teori kesenjangan).
Dalam penelitian ini penulis menggunakan indikator kepuasan kerja yang
dikemukakan oleh Jackson dan Mathis (2007) bahwa kepuasan kerja mempunyai
banyak dimensi. Secara umum tahap yang diamati adalah kepuasan kerja dalam
pekerjaan itu sendiri, gaji, pengakuan, hubungan dengan atasan, dan kesempatan
untuk maju.
2.3. Kerangka Konsetual
Berdasar ada konsep dan tujuan penelitian, maka kerangka piker penelitian
ini dapat digambarkan sebagai berikut :
Kepuasan Gaji (X1)
Loyalitas kerja (Y)
Kepuasan Kerja (X2)
Gambar 2.1
Model Kerangka Konseptual
28
2.4. Hipotesis Penelitian
Berdasar rumusan masalah dan model kerangka pikir penelitian di atas,
maka hipotesis dalam penelitian ini adalah :
1.
Kepuasan gaji dan kepuasan kerja secara simultan berpengaruh signifikan
terhadap loyalitas kerja anggota Satuan Polisi Pamong Praja Kabupaten
Lamongan.
2.
Kepuasan gaji dan kepuasan kerja secara simultan berpengaruh signifikan
terhadap loyalitas kerja anggota Satuan Polisi Pamong Praja Kabupaten
Lamongan.
Download