hubungan gravida dan usia dengan kejadian emesis gravidarum

advertisement
HUBUNGAN GRAVIDA DAN USIA DENGAN KEJADIAN
EMESIS GRAVIDARUM PADA IBU HAMIL
TRIMESTER I DI PUSKESMAS SUMOWONO
KABUPATEN SEMARANG
ARTIKEL
Disusun oleh:
YENI AISAH
030216A200
PRODI DIV KEBIDANAN TRANSFER
FAKULTAS ILMU KESEHATAN
UNIVERSITAS NGUDI WALUYO
TAHUN 2017
Hubungan Gravida dan Usia dengan Kejadian Emesis Gravidarum pada
Ibu Hamil Trimester I di Puskesmas Sumowono Kabupaten Semarang
| 2
HUBUNGAN GRAVIDA DAN USIA DENGAN KEJADIAN
EMESIS GRAVIDARUM PADA IBU HAMIL
TRIMESTER I DI PUSKESMAS SUMOWONO
KABUPATEN SEMARANG
Yeni Aisah1, Auly Tarmali2, Heni Setyowati3
Program Studi DIV Kebidanan1, Program Studi Kesehatan Masyarakat2,
Program Studi DIV Kebidanan3, Fakultas Ilmu Kesehatan,
Universitas Ngudi Waluyo
Email : [email protected]
ABSTRAK
Pada ibu hamil terutama trimester I sering timbul gejala mual muntah atau yang
disebut emesis gravidarum. Menurut World Health Organization ( WHO ), Jumlah
kejadian emesis Gravidarum mencapai 12,5 % dari seluruh jumlah kehamilan di dunia.
Pengawasan sebelum lahir (antenatal) terbukti mempunyai kedudukan yang sangat
penting dalam upaya meningkatkan kesehatan mental dan fisik kehamilan, untuk
menghadapi persalinan. Pengawasan hamil dapat diketahui berbagai komplikasi hamil
sehingga segera diatasi. Keadaan yang tidak dapat dirujuk ke tempat yang lebih lengkap
peralatannya sehingga mendapat perawatan yang optimal. Tujuan penelitian ini untuk
mengetahui hubungan gravida dan usia dengan kejadian emesis gravidarum pada ibu
hamil trimester I di Puskesmas Sumowono Kabupaten Semarang.
Desain penelitian deskriptif korelasi. Populasi dalam penelitian ini adalah seluruh
ibu hamil Trimester I di Puskesmas Sumowono Kabupaten Semarang dengan jumlah
sampel sebanyak 38 responden. Tehnik pengambilan sampel menggunakan total
sampling. Jenis pengumpulan data dalam penelitian ini berupa data sekunder dan di
analisis menggunakan uji Chi Square.
Penelitian menunjukkan ada hubungan antara gravida (p-value0,035) dan usia pvalue0,037) dengan kejadian emesis gravidarum pada ibu hamil trimester I di
Puskesmas Sumowono Kabupaten Semarang.
Kesimpulan dari hasil penelitian bahwa ada hubungan yang signifikan antara
gravida dan usia dengan kejadian emesis gravidarum pada ibu hamil trimester I di
Puskesmas Sumowono Kabupaten Semarang. Pentingnya memberikan KIE
(Komunikasi, Informasi dan Edukasi). asuhan dan pandangan tentang emesis
gravidarum, agar ibu bisa menangani emesis gravidarum dengan mandiri.
Kata Kunci: Gravida, Usia, Kejadian Emesis Gravidarum
Hubungan Gravida dan Usia dengan Kejadian Emesis Gravidarum pada
Ibu Hamil Trimester I di Puskesmas Sumowono Kabupaten Semarang
| 1
ABSTRACT
On 1st trimester pregnant woman, nausea and vomiting often appear that is called
emesis gravidarum. According to World Health Organization (WHO), the number of
emesis gravidarum accident is up to 12.5% from the total pregnancy woman in the
world.Antenatal check has important role in raising the mental and physical health in
facing the problem that might be occurred so it can be helped immediately. An
insurmountable situation must be brought to the adequate place so can get optimum
care. The purpose of this research is to know the correlation between Gravida and age
toward Emesis Gravidarum Incident on 1st Trimester Pregnant Woman at Puskesmas
Sumowono Semarang Regency.
This research used descriptive correlation. Population of this research were all of
pregnant woman in Puskesmas Sumowono Semarang Regency, as many as 38
respondents. The sampling technique used total sampling technique. Type of data
collection in this research is secondary data questionnaire and chi-square in analyzing
data.
The result research there is correlation between gravida (p-value0,035) and age (pvalue0,037) towardemesis gravidarum incident on 1st trimester pregnant woman at
Puskesmas Sumowono Semarang Regency.
Conclusion of this research there is significant correlation between age toward
emesis gravidarum incident on 1st trimester pregnant woman at Puskesmas Sumowono
Semarang Regency. The importance of communication information and education,
caring and point of view about emesis gravidarum handle emeis gravidarum
independently.
Keywords
: Gravida, Age, Emesis Gravidarum Incident
PENDAHULUAN
Angka Kematian Ibu ( AKI )
dijadikan sebagai salah satu indikator
keberhasilan dari sistem pelayanan
kesehatan di suatu negara. AKI adalah
indikator dibidang kesehatan obstetri.
Sekitar 800 wanita meninggal setiap
harinya dengan penyebab yang berkaitan
dengan kehamilan dan persalinan.
Penyebab hampir seluruh kematian
maternal terjadi di negara berkembang
dengan tingkat mortalitas yang lebih
tinggi di area pedesaan dan komunitas
miskin dan berpendidikan rendah
(WHO,2012).
Beberapa komplikasi yang masih
sering terjadi pada kehamilan adalah
hiperemesis
gravidarum,
namun
sekarang hiperemesis gravidarum tidak
lagi menjadi penyebab mortalitas ibu,
tetapi hiperemesis masih menjadi
penyebab
morbiditas
ibu
yang
signifikan.
Hiperemesis
Gravidarumterjadi diseluruh dunia
dengan angka kejadian yang beragam
mulai dari 1-3% dari seluruh kehamilan
di Indonesia, 0,3% dari seluruh
kehamilan diSwedia, 0,5% di California,
0,8% di Canada, 10,8% di China, 0,9%
di Norwegia, 2,2% di Pakistan, dan
1,9% di Turki, di Amerika Serikat,
prevalensi
Hiperemesis
Gravidarumadalah
0,5-2%
(Winkjosastro,2009). Literature juga
menyebutkan bahwa perban dingan
insidensi hiperemesis gravidarum secara
umum adalah 2:1000 kehamilan
(Sofian,2011).
Penanganan yang kurang tepat pada
hiperemesis
gravidarum
akan
menyebabkan komplikasi pada ibu dan
janin, seperti ibu akan dehidrasi,
kekurangan asupan nutrisi. Hal ini akan
memberikan
pengaruh
pada
pertumbuhan dan perkembangan janin
karena nutrisi yang tidak terpenuhi atau
Hubungan Gravida dan Usia dengan Kejadian Emesis Gravidarum pada
Ibu Hamil Trimester I di Puskesmas Sumowono Kabupaten Semarang
| 2
tidak sesuai dengan kehamilan, yang
mengakibatkan peredaran darah janin
berkurang serta terjadi perdarahan pada
retina
yang
disebabkan
oleh
meningkatnya tekanan darah ketika
penderita muntah (Setiawan,2007).
Pada ibu hamil, terutama pada
trimester I sering timbul gejala mual
muntah atau yang disebut emesis
gravidarum. Menurut World Health
Organization ( WHO ), Jumlah kejadian
emesis Gravidarum mencapai 12,5 %
dari seluruh jumlah kehamilan di
dunia(Nugraha,2007). Hampir 50% –
90% dari wanita hamil mengalami mual
pada trimester pertama. Mual dan
muntah (emesis gravidarum) terjadi
pada 60% -80% primi gravida dan 40%
-60%
pada
multi
gravida
(Prawirohardjo,2009).
Hasil penelitian dari Stoppard (2007)
menemukan bahwa wanita dengan usia
yang lebih tua
semakin cenderung
mengalami keluhan mual muntah,
sedangkan penelitian dari Yunia Mariati
(2012) menemukan wanita-wanita muda
lebih cenderung mengalami morning
sickness. Pada usia lebih tua juga
cenderung lebih menderita mual muntah.
Keparahan mual pun berkaitan dengan
gaya hidup calon ibu, kurang makan,
pola makan yang buruk, kurang tidur
atau istirahat, dan stress dapat memper
buruk rasa mual (Rose & Neil, 2006).
Tingkat pengetahuan mengenai mual
dan muntah dapat menentukan sikap
seseorang dalam menangani mual dan
muntah selama kehamilan. Tingkat
pengetahuan
yang
kurang
mengakibatkan wanita hamil cemas
karena mereka tidak tahu cara
mengatasinya (Hidayati,2009).
Pengawasan
sebelum
lahir
(antenatal)
terbukti
mempunyai
kedudukan yang sangat penting dalam
upaya meningkatkan kesehatan mental
dan fisik kehamilan, untuk menghadapi
persalinan. Pengawasan hamil dapat
diketahui berbagai komplikasi hamil
sehingga segera diatasi. Keadaan yang
tidak dapat dirujuk ke tempat yang lebih
lengkap
peralatannya
sehingga
mendapat perawatan yang optimal
(Manuaba,2007).
Berdasarkan data buku register
PONED di Puskesmas Sumowono
Kabupaten Semarang, angka kejadian
ibu yang mengalami Hiperemesis
gravidarum pada tahun 2016 terdapat 12 orang ibu hamil.Satu ibu hamil yang
mengalami Hiperemesis gravidarum
tingkat I (ringan), dengan gejala mual
muntah terus menerus dan 1 Ibu hamil
yang
mengalami
Hiperemesis
gravidarum tingkat II (sedang) dengan
gejala penderita lebih lemah dan apatis.
Hiperemesis gravidarum tingkat I dan
tingkat II perawatan dilakukan di
Puskesmas. Berdasarkan Uraian diatas,
maka penulis tertarik mengambil judul
“Hubungan Gravida dan Usia dengan
Kejadian Emesis Gravidarum pada Ibu
Hamil Trimester I di Puskesmas
Sumowono Kabupaten Semarang”.
Penelitian ini bermanfaat bagi
Masyarakat mengetahui dan menyadari
pentingnya pemeriksaan kehamilan dan
mampu memberikan motivasi pada ibu
hamil
untuk
memeriksakan
kehamilannya
dalam
mencegah
terjadinya komplikasi kehamilan yang
diakibatkan oleh emesis gravidarum,
seperti hiperemesis gravidarum. Bagi
Peneliti Penerapan dari perkuliahan yang
telah didapat di kampus serta
mendapatkan informasi yang jelas
mengenai hubungan gravida dan usia
dengan kejadian emesis gravidarum
pada ibu hamil trimester I di Puskesmas
Sumowono Kabupaten Semarang. Bagi
Institusi Pendidikan Hasil penelitian ini
dapat dijadikan pengetahuan bagi
mahasiswa Universitas Ngudi Waluyo
jurusan Kebidanan dan dapat digunakan
sebagai
bahan
referensi
atau
kepustakaan. Bagi Tenaga Kesehatan
Untuk lebih meningkatkan manajemen
asuhan dalam menangani ibu-ibu hamil
yang mengalami emesis gravidarum
maka hasil penelitian ini dapat dijadikan
Hubungan Gravida dan Usia dengan Kejadian Emesis Gravidarum pada
Ibu Hamil Trimester I di Puskesmas Sumowono Kabupaten Semarang
| 3
sebagai bahan masukkan bagi pihak
Puskesmas.
gravida dan usia terhadap kejadian
emesis gravidarum.
METODE
Desain yang digunakan dalam
penelitian ini adalah penelitian deskriptif
korelasi,
yaitu
penelitian
yang
menggambarkan atau mencari tingkat
hubungan antara variabel yang satu
dengan
variabel
yang
lainya
(Notoadmojo,2010). Pengumpulan data
sekaligus pada suatu saat (point to
approach), Artinya setiap subjek
penelitian hanya diteliti sekali saja dan
pengukuran dilakukan terhada p status
karakter atau variabel subjek pada saat
pemeriksaan.
Pengumpulan data ini dilaksanakan
selama 1 hari pada tanggal 12 Agustus
2017. Tempat penelitian dilakukan di
Puskesmas
Sumowono
Kabupaten
Semarang. Populasi dalam penelitian ini
adalah seluruh ibu hamil yang
memeriksakan diri di Puskesmas
Sumowono Kabupaten Semarang pada
bulan Juni-Juli yang tercatat didalam
buku register ANC
Puskesmas
Sumowono
Kabupaten
Semarang,
jumlah populasi sebanyak 38 ibu hamil.
Jumlah sampel yang diambil dalam
penelitian ini terdiri dari 38 sampel
Tekhnik pengambilan sampel kasus
menggunakan teknik Total Sampling,
karena jumlah populasi yang kurang dari
100 seluruh populasi dijadikan sampel
penelitian semuanya. Data dicatat dalam
format yang telah dibuat sesuai dengan
keperluan penelitian. Jenis pengambilan
data dalam penelitian ini menggunakan
data sekunder yaitu diambil dari register
kunjungan
ANC
di
Puskesmas
Sumowono Kabupaten Semarang.
Analisa data pada penelitian ini
menggunakan analisa univariat dan
bivariat. Analisa bivariat menggunakan
Chi-Square. Analisa univariat dilakukan
untuk melihat gravida, usia, dan
kejadian emesis gravidarum. Chi-Square
test digunakan untuk melihat hubungan
HASIL
1. Analisis Univariat
Hasil analisis Univariat untuk
menghitung
distribusi
frekuensi
variabel
responden
mencakup
gravida, usia, dan kejadian Emesis
Gravidarum dapat diuraikan sebagai
berikut
a. Gambaran gravida dan usia ibu
hamil trimester I di Puskesmas
Sumowono Kabupaten Semarang
Tabel 1 Distribusi Frekuensi
Berdasarkan Gravida
dan Usia pada Ibu
Hamil Trimester I
Puskesmas Sumowono
Kabupaten Semarang.
Variabel
Frekuensi
Persentase
(%)
Gravida
Primigravida
Multigravida
18
20
47,4
52,6
Usia
Beresiko (<20 dan >35 th)
Tidak Beresiko (20-35 th)
15
23
39,5
60,5
Berdasarkan tabel 1 dapat
diketahui
bahwa
dari
38
responden hamil trimester I di
Puskesmas
Sumowono
Kabupaten
Semarang
lebih
banyak terdapat ibu multigravida
yaitu sebesar 52,6% (20 orang),
serta terdapat lebih banyak ibu
hamil yang berusia tidak
beresiko (20-35 tahun), yaitu
sebesar 60,5% (23 orang) di
Puskesmas
Sumowono
Kabupaten Semarang.
Hubungan Gravida dan Usia dengan Kejadian Emesis Gravidarum pada
Ibu Hamil Trimester I di Puskesmas Sumowono Kabupaten Semarang
| 4
b.
Kejadian Emesis Gravidarum
Tabel 2
Distribusi Frekuensi
Berdasarkan
Kejadian
Emesis
Gravidarum pada Ibu
Hamil Trimester I
Puskesmas
Sumowono
Kabupaten Semarang
Kejadian
Emesis
Gravidarum
Emesis
Gravidarum
Tidak
Emesis
Gravidarum
Jumlah
Frekuensi
Persentase
(%)
24
63,2
14
36,8
38
100,0
Berdasarkan tabel 2 dapat
diketahui
bahwa
dari
38
responden hamil trimester I di
Puskesmas
Sumowono
Kabupaten Semarang, sebagian
besar mengalami kejadian emesis
gravidarum, yaitu sejumlah 24
orang (63,2%).
2. Analisis Bivariat
a. Hubungan Gravida dan Usia dengan Kejadian Emesis Gravidarum
Tabel 3
Hubungan Gravida dan Usia dengan Kejadian Emesis Gravidarum
pada Ibu Hamil Trimester I di Puskesmas Sumowono Kabupaten
Semarang
Variabel
Gravida
Primigravida
Multigravida
Usia
Beresiko
Tidak Beresiko
Kejadian Emesis Gravidarum
Emesis
Tidak Emesis
Total
Gravidarum
Gravidarum
f
%
f
%
f
%
p-value
OR
15
9
83,3
45,0
3
11
16,7
55,0
18
20
100
100
0,035
6,11
13
11
86,7
47,8
2
12
13,3
52.2
15
23
100
100
0,037
7,09
Hasil
pada
tabel
3
menunjukan ibu primigravida
dan yang dan mengalami
kejadian emesis gravidarum
sebesar 83,3% (15 orang) lebih
tinggi dari ibu yang multigravida
dan mengalami kejadian emesis
gravidarum yaitu sebesar 45,0%
(9 orang). Hasil analisis bivariat
menunjukan
bahwa
ada
hubungan
secara
signifikan
gravida dengan kejadian emesis
gravidarum pada ibu hamil
trimester I di Puskesmas
Sumowono Kabupaten Semarang
dan pada ibu yang menunjukan
bahwa tidak ada hubungan secara
signifikan pekerjaan dengan
kejadian emesis gravidarum pada
ibu hamil trimester I di
Puskesmas
Sumowono
Kabupaten Semarang, serta ibu
yang usia beresiko (< 20 tahun
dan > 35 tahun) dan mengalami
kejadian emesis gravidarum
sebesar 86,7% (13 orang) lebih
tinggi dari ibu dengan usia tidak
beresiko (20-35 tahun) dan
mengalami
kejadian
emesis
gravidarum sebesar 47,8 % (11
orang ) dan Hasil
analisis
bivariat bahwa ada hubungan
secara signifikan usia dengan
kejadian emesis gravidarum pada
ibu hamil trimester I di
Puskesmas
Sumowono
Kabupaten Semarang.
Hubungan Gravida dan Usia dengan Kejadian Emesis Gravidarum pada
Ibu Hamil Trimester I di Puskesmas Sumowono Kabupaten Semarang
| 5
PEMBAHASAN
Analisis Univariat
1. Gambaran Gravida dengan Kejadian
Emesis Gravidarum pada Ibu Hamil
Trimester I di Puskesmas Sumowono
Kabupaten Semarang.
Berdasarkan hasil penelitian
diketahui bahwa sebagian besar
responden merupakan multigravida
yaitu sebesar 52,5% (20 orang) dapat
di lihat dari data responden penelitian
ibu hamil trimester 1 di Puskesmas
Sumowono hampir sebagian besar
merupakan kehamilan yang kedua,
hanya beberapa ibu hamil yang
menjadi responden hamil >2 kali.
Peneliti berasumsi masyarakat di sana
banyak yang menggunakan alat
kontrasepsi
sehingga
mereka
mempunyai anak 2-3 saja. Selain itu
dapat kita lihat dari dari dukungan
suami yang tinggi agar mempunyai
anak lebih dari 1 hal ini dapat kita
lihat dari asumsi responden bahwa
banyak anak banyak rezeki.
2. Gambaran Usia dengan Kejadian
Emesis Gravidarum pada Ibu Hamil
Trimester I di Puskesmas Sumowono
Kabupaten Semarang.
Hasil penelitian didapatkan usia
responden
terbanyak
adalah
responden yang berusia 20 – 35
tahun yaitu sebesar 60,5% (23 ibu
hamil) serta responden yang berusia <
20 dan >35 tahun (berisiko) sebesar
39,5% (15 ibu hamil), Hal ini berarti
sebagian besar responden berada
pada usia reproduksi yang sehat dan
aman (tidak berisiko) yaitu 20 – 35
tahun, dimana pada usia tersebut
merupakan usia produktif. Pada usia
reproduksi sehat sebagian besar
wanita dapat menjalani masa
kehamilan, persalinan, dan nifas
dalam kondisi yang optimal sehingga
ibu dan bayinya sehat (Irawan, 2009).
Usia 20 – 35 tahun alat reproduksi
wanita telah berkembang dan
berfungsi secara maksimal sehingga
akan mengurangi berbagai risiko
ketika hamil (Gunawan, 2010).
3. Gambaran
Kejadian
Emesis
Gravidarum pada ibu hamil Trimester
I
di
Pusekesmas
Sumowono
Kabupaten Semarang.
Hasil penelitian menunjukkan
bahwa dari 38 responden hamil
trimester I di Puskesmas Sumowono
Kabupaten Semarang, sebagian besar
mengalami
kejadian
emesis
gravidarum, yaitu sebesar 63,2% (24
orang ibu hamil). Emesis gravidarum
adalah gejala mual, pusing dan
muntah yang biasanya terjadi pada
awal kehamilan. Gejala ini umumnya
terjadi di pagi hari, tetapi dapat pula
timbul setiap saat dan malam hari.
Emesis
gravidarum
selama
kehamilan biasanya disebabkan oleh
perubahan dalam system endokrin
yang terjadi selama kehamilan,
terutama disebabkan oleh tingginya
fluktuasi kadar HCG (human
chorionic gonadotropin), khususnya
karena periode mual dan muntah
gestasional yang paling umum adalah
12-16 minggu pertama, yang pada
saat itu, HCG mencapai kadar
tertingginya. HCGsama dengan LH
(luteinizing hormone) dan sekresikan
oleh sel-sel trofoblas korpus luteum
terus memproduksi estrogen dan
progesteron, suatu fungsi yang
nantinya diambil alih oleh lapisan
korionik
plasenta.HCG
dapat
dideteksi dalam darah wanita dari
sekitar 3 minggu gestasi (yaitu 1
minggu setelah fertilisasi), suatu
fakta yang menjadi dasar uji
kehamilan.
Teori bahwa rasa mual di masa
kehamilan mungkin merupakan cara
alamiah untuk melindungi janin
dengan mencegah ibu untuk tidak
memakan makanan yang berbahaya
juga telah diajukan, dengan wanita
menjadi merasa mual saat melihat,
mencium atau merasakan makanan
yang
dimungkin
berpotensi
Hubungan Gravida dan Usia dengan Kejadian Emesis Gravidarum pada
Ibu Hamil Trimester I di Puskesmas Sumowono Kabupaten Semarang
| 6
mempengaruhi janin, dan jika
makanan
yang
dimakan
menyebabkan wanita muntah agar
makanan dikeluarkan. Wanita yang
memiliki kadar HCG dibawah
rentang
normal
lebih
sering
mengalami hasil kehamilan yang
buruk, termasuk keguguran, kelahiran
premature atau retardasi pertumbuhan
intrauterus (IUGR) (Woolfson, 2004).
Berdasarkan
Jurnal
Ners
LENTERA (2015), penelitian yang
dilakukan oleh Mattawan, J.,
Vorapong,
P.
(2007)
tentang
“Acupressure and vitamin B6 to
relieve nausea and vomiting in
pregnancy”di
Department
of
Obstetrics and Gynecology, Faculty
of
Medicine,
Chulalongkorn
University Bangkok, Thailand yaitu
dengan memberikan gelang akupresur
untuk digunakan di titik P6 serta
terapi oral yang identik dengan
vitamin B6 50 mg. Hasil penelitian
pada
ini
menunjukkan
terapi
akupresur
tidak
lebih
efektif
dibandingkan dengan vitamin B6
dalam mengurangi mual dan muntah
pada perempuan di trimester pertama
kehamilan.
Penelitian
yang
dilakukan
olehCan Gu¨rkan Ozlem, Arslan
Hediye ( 2007) tentang “Effect of
acupressure on nausea and vomiting
during
pregnancy”di
poliklinik
antenatal Maternity dan Rumah Sakit
Anak di Istanbul, kelompok ibu
hamil dengan intervensi dikenakan
gelang akupresur ke titik P6,
kelompok kontrol yang tidak
diberikan
intervensi
ibu
dan
kelompok ibu hamil yang diberikan
intervensi dengan placebo. Hasil dari
penelitian menjelaskan intervensi
akupresur lebih efektif dalam
mengurangi gejala mual dan muntah
dibandingkan dengan intervensi pada
kelompok plasebo dan kelompok
kontrol.
Penelitian yang dilakukan oleh
Heazell Alexander, Thorneycroft Joy,
Walton Victoria, Etherington Ian (
2005) tentang “Acupressure for the
in-patient treatment of nausea and
vomiting in early pregnancy a
randomized control trial”di rumah
sakit Inggris ibu hamil dengan ibu
hamil dengan rawat inap pertama,
usia kehamilan antara 5 dan 14
minggu, memerlukan rawat inap,
pasien memiliki setidaknya ketonuria
2+ dari urine, ketidakmampuan untuk
mentolerir
cairan
oral,
dan
membutuhkan
obat
antiemetic,
kelompok
perlakuan
yang
menggunakan gelang akupresur pada
responden di titik P6. Jumlah
kelompok
kontrol
ibu
hamil
Intervensi yang diberikan adalah
menggunakan gelang akupresur di
punggung lengan bawah. Hasil
penelitian pada artikel ini yaitu tidak
ada perbedaan antara lama rawat
inap, jumlah obat, atau cairan yang
dibutuhkan antara akupresur dan
kelompok
kontrol,
meskipun
akupresur mengurangi jumlah pasien
yang tinggal di rumah sakit.
Penelitian yang dilakukan oleh
Saberi Farzaneh, Sadat Zohreh,
Abdezadeh
Masoumeh-Kalahroud,
Taebi Mahboobeh (2013) tentang
“Acupressure and Ginger to Relieve
Nausea and Vomiting in Pregnancy:
a Randomized Study”di Iran dengan
kelompok perlakuan ibu hamil yang
diberikan gelang Sea band elastis
dengan kancing yang digunakan
untuk menekan pada titik P6 terus
menerus kecuali ketika mandi. Ibu
hamil diberikan intervensi selama 7
hari, 3 hari awal yang tidak diberi
intervensi,
4
hari
berikutnya
menggunakan gelang akupresur sea
band. Kelompok kontrol ibu hamil
tidak diberikan intervensi, dan ibu
hamil sebagai kelompok placebo
diberikan 12 kapsul jahe 250 mg
(dengan merek bernama Zintoma
Hubungan Gravida dan Usia dengan Kejadian Emesis Gravidarum pada
Ibu Hamil Trimester I di Puskesmas Sumowono Kabupaten Semarang
| 7
yang dibuat di Goldaroo manufaktur
Pharmaceutical Company) untuk 4
hari ( selama hari ke 4-7 ) dan setiap
hari 3 kapsul. Penelitian keempat
menunjukan jahe lebih efektif
daripada
akupresur
untuk
meringankan gejala mual dan muntah
ringan sampai sedang pada ibu hamil.
Vutyavanich, et al (2001) dalam
penelitiannya yang berjudul “Ginger
For Nause and Vomiting in
pregnancy: randomized, DoubleMasked, Placebo- Controlled Tiad”
menegaskan bahwa jahe lebih hebat
dibandingkan dimenhydrinat dalam
mengurangi gejala mual muntah.
Riset
yang
dilakukan
oleh
Vutyavanich dari Universitas Chiang
Mai di Thailand membuktikan
keefektifan khasiat jahe pada ibu
hamil dalam mengatasi mual muntah.
Hasil penelitian ini menunjukkan
bahwa pemberian intervensi pada
kelompok yang diberikan tablet jahe
pada
umumnya
mengalami
penurunan
mual
muntah
dibandingkan
kelompok
yang
diberikan tablet placebo.
Penelitian yang dilakukan oleh
Astriana, Ratna Dewi Putri, dan Herlina
Aprilia di Lampung Selatan (2015),
“tentang pengaruh lemon inhalasi
aromatherapy
terhadap
mual
padakehamilan” Hasil ini menunjukan
bahwa frekuensi mual responden ratarata sebelum dan sesudah peemberian
lemon inhalasi aromatherapy memiliki
perbedaan yang signifikan karena nilai p
yang diperoleh p-value<0.05, sehingga
dapat disimpulkan bahwa pemberian
lemon
inhalasi
aromatherapy
mempunyai pengaruh terhadapmual pada
kehamilan.
Berdasarkan dari beberapa jurnal
di atas dapat di simpulkan bahwa
penanganan pada kejadian emesis
gravidarum pada ibu hamil ada
beberapa metode seperti memberikan
gelang akupresur untuk digunakan di
titik P6 terapi oral yang identik
dengan vitamin B6 50 mg, akupuntur,
pemberian tablet placebo,pemberian
lemon inhalasi aromatherapy dan
pemberian kapsul jahe.
Analisis Bivariat
1. Hubungan Gravida dengan Kejadian
Emesis Gravidarum pada Ibu
Hamil Trimester I di Puskesmas
Sumowono Kabupaten Semarang.
Hasil
analisis
bivariat
menunjukkan ada hubungan gravida
dengan kejadian emesis gravidarum
(ρ 0,035). Hal ini dapat diketahui
bahwa ibu primigravida sebagian
besar mengalami emesis gravidarum
sebesar 83,3% (15 orang) Sedangkan
ibu multigravida sebagian besar tidak
mengalami
kejadian
emesis
gravidarum, sebesar 45,0% (9 orang)
Kemudian didapat pula nilai odds
rasio sebesar 7,93, ini menunjukkan
bahwa ibu hamil primigravida
beresiko 7,93 kali lebih besar
mengalami
kejadian
emesis
gravidarum
dibandingkan
ibu
multigravida.
Winkjosastro
(2007)
menyatakan, bahwa Setiap wanita
yang hamil akan mengalami proses
penyesuaian
tubuh
terhadap
kehamilan sesuai pada tahap trimester
yang sedang dijalani. Trimester
pertama merupakan awal trimester
yang menimbulkan berbagai respon
pada ibu hamil. Respon yang paling
berpengaruh pada ibu hamil adalah
mual dan muntah atau emesis
gravidarum.).
Hasil
laporan
menunjukkan bahwa hampir 50-90%
wanita hamil mual muntah terjadi
pada trimester pertama (3 bulan
pertama kehamilan). Keadaan ini
akan membaik pada usia kehamilan
12-16 minggu. Keadaan ini terjadi
pada sekitar 60-80% primigravida
dan
40-60%
terjadi
pada
multigravida. Pada umumnya wanita
dapat menyesuaikan dengan keadaan
ini, meskipun demikian dapat
berlangsung berbulan-bulan. Keluhan
Hubungan Gravida dan Usia dengan Kejadian Emesis Gravidarum pada
Ibu Hamil Trimester I di Puskesmas Sumowono Kabupaten Semarang
| 8
ini merupakan hal yang fisiologis
akan tetapi bila tidak segera diatasi
akan menjadi hal yang patologis
sehingga
akan
menimbulkan
gangguan
pada
kehamilan.
(Winknjosastro, 2009).
Pada
sebagian
besar
primigravida
belum
mampu
beradaptasi dengan hormone estrogen
dan koreonik gonadothropin sehingga
lebih
sering
terjadi
emesis
gravidarum.
Sedangkan
pada
multigravida dan grandemultigravida
sudah mampu beradaptasi dengan
hormone estrogen dan koreonik
gonadothropin
karena
sudah
mempunyai pengalaman terhadap
kehamilan dan persalinan. Sehingga
emesis gravidarum yang dialami
primigravida biasanya lebih tinggi
dibandingkan
multigravida
(Prawirohardjo,2007).
Hasil penelitian ini didukung
dengan penelitian yang dilakukan
oleh Yunia Mariantari, Widia Lestari,
dan Arneliwati di Puskesmas
Harapan Raya Pekanbaru (2014),
menerangkan
bahwa
mengenai
hubungan dukungan suami, usia ibu,
dan gravida terhadap kejadian emesis
gravidarum,
hasil
penelitian
menunjukkan hubungan gravida
terhadap kejadian emesis gravidarum
sebanyak 19 dari 22 orang (86,4%)
primigravida yang mengalami emesis
gravidarum.
Hasil uji statistik menggunakan
uji Fisher diperoleh nilai p = 0,028,
sehingga dapat disimpulkan ada
hubungan yang signifikan antara
gravida dengan kejadian emesis
gravidarum. Hasil analisis lanjut
menyatakan bahwa ibu multigravida
mempunyai peluang 6,33 kali untuk
tidak mengalami emesis gravidarum
dibandingkan ibu primigravida.
Penelitian ini didukung dengan
penelitian yang dilakukan oleh
nurfitri
di Puskesmas Purbaratu
Kota
Tasikmalaya
(2014),
menerangkan
bahwa
mengenai
hubungan paritas dengan kejadian
emesis gravidarum pada ibu hamil
diketahui
bahwa
ibu
dengan
primipara mayoritas mengalami
emesis gravidarum yaitu 9 orang
(64,3%), ibu dengan multipara
mayoritas tidak mengalami emesis
gravidarum yaitu 19 orang (86,4%),
sedangkan ibu dengan grandepara
mayoritas tidak mengalami emesis
gravidarum yaitu 5 orang (83,3%).
Berdasarkan hasil uji statistik
menggunakan chi square diperoleh p
value 0,004< α 0,05 (df 2) dengan
demikian Ho ditolak, artinya
hipotesis “Terdapat hubungan paritas
dengan kejadian emesis gravidarum
pada ibu hamil di Puskesmas
Purbaratu Kota Tasikmalaya tahun
2014” dapat diterima secara statistik.
2. Hubungan Usia dengan Kejadian
Emesis Gravidarum pada Ibu Hamil
Trimester I di Puskesmas Sumowono
Kabupaten Semarang.
Hasil
analisis
bivariat
menunjukkan ada hubungan usia
dengan kejadian emesis gravidarum
(ρ 0,037). Usia ibu <20 dan >35
tahun lebih banyak mengalami emesis
gravidarum dibandingkan dengan
usia ibu 20 – 35 tahun. Hal ini
ditunjukkan dari 15 orang ibu berusia
<20 dan >35 tahun sebesar 86,7% (13
orang) yang mengalami emesis
gravidarum sedangkan 13,3% (2
orang) lainnya tidak mengalami
emesis gravidarum.
Emesis Gravidarum dibawah
umur 20 tahun lebih disebabkan
karena belum cukupnya kematangan
fisik, mental dan fungsi sosial dari
calon ibu yang menimbulkan
keraguan jasmani cinta kasih serta
perawatan dan asuhan bagi anak yang
akan di lahirkannya. Hal ini
mempengaruhi emosi ibu sehingga
terjadi konflik mental yang membuat
ibu kurang nafsu makan. Bila ini
terjadi maka bisa mengakibatkan
Hubungan Gravida dan Usia dengan Kejadian Emesis Gravidarum pada
Ibu Hamil Trimester I di Puskesmas Sumowono Kabupaten Semarang
| 9
iritasi lambung yang dapat memberi
reaksi pada impuls motorik untuk
memberi rangsangan pada pusat
muntah melalui saraf otak kesaluran
cerna bagian atas dan melalui saraf
spinal ke diafragma dan otot
abdomen sehingga terjadi muntah
(Yunita, 2005).
Emesis Gravidarum yang terjadi
diatas umur 35 tahun juga tidak lepas
dari faktor psikologis yang di
sebabkan oleh karena ibu belum siap
hamil atau malah tidak menginginkan
kehamilannya lagi sehingga akan
merasa sedemikian tertekan dan
menimbulkan stres pada ibu.
Stres mempengaruhi hipotalamus dan
memberi rangsangan pada pusat otak
sehingga terjadi kontraksi otot
abdominal dan otot dada yang
disertai dengan penurunan diafragma
menyebabkan tingginya tekanan
dalam lambung, tekanan yang tinggi
dalam lambung memaksa ibu untuk
menarik nafas dalam-dalam sehingga
membuat sfingter esophagus bagian
atas terbuka dan sfingter bagian
bawah berelaksasi inilah yang
memicu mual dan muntah (Yunita,
2005).
Hasil penelitian ini sejalan
dengan penelitian Wadud, MA (2012)
dengan hasil terdapat hubungan yang
bermakna antara umur ibu dengan
kejadian emesis gravidarum dengan
hasil perhitungan Umur (ρ-value
0,027). Penelitian oleh Razak (2010)
di Rumah Sakit Angkatan Laut Jala
Ammari yang menyatakan bahwa ada
hubungan yang bermakna antara
umur dengan kejadian emesis
gravidarum dimana umur ibu dengan
risiko tinggi (<20 dan >35 tahun)
sebanyak 73,68% sedangkan kejadian
emesis gravidarum pada ibu hamil
dengan umur 20-30 tahun sebanyak
26,3%. Kehamilan adalah waktu
penolakan fisik dan psikologik yang
dahsyat, stress dapat memperberat
mual dan muntah yang diinduksin
secara
hormonal
yang
dapat
menyebabkan gangguan kehamilan
dan pertumbuhan janin. Usia
reproduksi yang optimal bagi seorang
ibu adalah usia 20-30 tahun, pada
usia kurang dari 20 tahun rahim dan
panggul ibu belum tumbuh mencapai
ukuran dewasa dan pada usia lebih
dari 35 tahun organ kandungan sudah
tua sehingga jalan lahir telah kaku
dan mudah terjadi komplikasi
(Cuningham, 2006). Mual dan
muntah terjadi pada umur dibawah 20
tahun disebabkan karena belum
cukupnya kematangan fisik, mental
dan fungsi sosial dari calon ibu
sehingga
dapat
menimbulkan
keraguan jasmani, cinta kasih, dan
perawatan serta asuhan bagi anak
yang akan di lahirkannya. Sedangkan
mual dan muntah yang terjadi diatas
umur 35 tahun disebabkan oleh faktor
psikologis, dimana ibu belum siap
hamil lagi atau bahkan tidak
menginginkan kehamilannya lagi
sehingga akan merasa sedemikian
tertekan dan menimbulkan stres pada
ibu (Manuaba, 2003).
Hasil
penelitian
ini
juga
menunjukan bahwa ibu hamil yang
mempunyai usia yang tidak berisiko
(20-35 tahun) juga mengalami emesis
gravidarum hal ini bisa disebabkan
oleh faktor psikologis seperti
kehilangan pekerjaan, kurangnya
dukungan suami dan keluarga bisa
juga disebabkan karena beban
pekerjaan sehingga menyebabkan ibu
stres dan akan memicu ibu untuk
terkena emesis gravidarum.
Faktor
psikologis
yang
mempengaruhi terjadinya emesis
gravidarum juga terdiri dari stress,
dukungan suami dan keluarga serta
faktor lingkungan sosial, budaya dan
ekonomi. Prawirohardjo (2010) juga
mengemukakan
bahwa
dalam
kehamilan faktor psikologik yng
mengakibatkan stres memegang
peranan yang penting contohnya
Hubungan Gravida dan Usia dengan Kejadian Emesis Gravidarum pada
Ibu Hamil Trimester I di Puskesmas Sumowono Kabupaten Semarang
| 10
perceraian, kehilangan pekerjaan,
takut terhadap kehamilan dan
persalinan, takut tanggung jawab
sebagai ibu, dapat menyebabkan
konflik
mental
yang
dapat
memperberat mual dan muntah
sebagai ekspresi tidak sadar terhadap
keengganan menjadi hamil atau
sebagai pelarian kesukaran hidup
(Prawirohardjo,2010).
SIMPULAN
1. Gambaran gravida responden hamil
trimester
I
sebagian
besar
merupakan ibu multigravida, yaitu
sebanyak 20 orang (62,5%).
2. Gambaran usia responden hamil
trimester I sebagian besar memiliki
usia yang tidak beresiko yaitu
sebanyak 23 orang (60,5%).
3. Gambaran
kejadian
emesis
gravidarum
responden
hamil
trimester sebagian besar mengalami
kejadian emesis gravidarum, yaitu
sebanyak 24 orang (63,2%).
4. Ada hubungan antara gravida
dengan kejadian emesis gravidarum
pada ibu hamil trimester I di
Puskesmas Sumowono Kabupaten
Semarangdengan p-value 0,035.
5. Ada hubungan antara usia dengan
kejadian emesis gravidarum pada
ibu hamil trimester I di Puskesmas
Sumowono Kabupaten Semarang
dengan p-value 0,037.
SARAN
Masyarakat khususnya ibu hamil
dengan emesis gravidarum dan keluarga
diharapkan agar dapat mencari informasi
sebanyak-banyaknya tentang emesis
gravidarum sehingga ibu-ibu hamil tidak
salah dalam mengerti tentang emesis
gravidarum dan penanganan yang
dilakukan dirumah sesuai dengan
anjuran petugas kesehatan untuk
menghindari terjadinya kesalahan dalam
upaya penanganan emesis gravidarum
tersebut.
dan
dapat
mengikuti
penyuluhan
yang diadakan oleh
Puskesmas setempat.
Diharapkan
setelah
mengikuti
penyuluhan, ibu mampu mengatasi mual
dan muntah dengan penanganan
mandiri, dan bagi ibu yang sudah dapat
mengatasi secara mandiri, diharapkan
dapat mempertahankannya dari masalah
di emesis gravidarum. Adapun cara
mengatasi kejadian emesis gravidarum
seperti tehnik akupresur dan akupuntur,
tablet placebo, kapsul jahe atau wedang
jahe, dan pemberian lemon inhalasi
aromatherapy.
Diharapkan dapat meningkatkan
hasil penelitiannya dan dapat mengkaji
hal-hal yang belum dimunculkan penulis
dalam penelitian.Selanjutnya penelitian
ini dapat dijadikan acuan untuk
penelitian berikutnya dan mendapatkan
sampel yang lebih besar serta alat ukur
yang lebih sempurna.
Hasil penelitian ini diharapkan dapat
menambah informasi dan wawasan
dalam ilmu kebidanan khususnya
tentang emesis gravidarum dan dapat
dijadikan bahan bacaan di perpustakaan
untuk dapat menambah pengetahuan.
Pentingnya
memberikan
KIE
(Komunikasi, Informasi dan Edukasi)
yang
berkesinambungan
untuk
meningkatkan pengetahuan ibu hamil
khususnya
mengenai
kehamilan.
Memberikan asuhan dan pandangan
tentang emesis gravidarum, agar ibu bisa
menangani emesis gravidarum dengan
mandiri.
DAFTAR PUSTAKA
Alexander,H., Joy, T., Victoria, W., Ian,
E, Ian. 2005. Acupressure for the
in-patient treatment of nausea
and vomiting in early pregnancy.
American journal of obstetrics
and gynecology,194(3), 815-820.
Astriani., Putri, D, R., Aprilia, H. 2015.
Pengaruh Lemon Inhalasi Aroma
Therapy Terhadap Mual Pada
Kehamilan
di
BPS
Varia
MegaLestari
S.SiT.
M.Kes.
Hubungan Gravida dan Usia dengan Kejadian Emesis Gravidarum pada
Ibu Hamil Trimester I di Puskesmas Sumowono Kabupaten Semarang
| 11
Batupuru Kecamatan Natar Kab.
Lampung
Selatan.
Jurnal
Kebidanan. VOL 1, NO 3.
Cunningham, G. Dkk. 2006. Obstetri
Williams Edisi 21. Terjemahan
Andry Hartono, Y. Joko Suyono
dan Barhm U. Pendit. Jakarta :
EGC.
Farzaneh, S., Zohreh, s., Kalahroudi, M.
A., Mahboobeh, T. 2013.
Acupressure and ginger to relieve
nausea
and
vomiting
in
pregnancy. Iranian Red Crescent
Medical Journal, 15(9), 854-61.
Gunawan, S. (2010). Mau anak laki-laki
atau perempuan bisa diatur.
Jakarta: Agromedia Pustaka.
Gu¨rkan, O. C., Arslan, H. 2007. Effect
of acupressure on nausea and
vomiting during pregnancy.
Hidayati,
R.
(2009).
Asuhan
Keperawatan pada Kehamilan
Fisiologis dan Patologis. Jakarta:
Salemba Medika.
Juwita, L. (2015). Literature Review
Terapi Komplementer Akupresur
pada Titik Perikardium 6 dalam
Mengatasi Mual dan Muntah
pada Kehamilan. Jurnal Ners
Lentera. VOL.3, N0 1.
Manuaba.( 2007). Pengantar Kuliah
Obstetri. Jakarta, EGC
Mattawan, J., Vorapong, P. 2007.
Acupressure and vitamin B6 to
relieve nausea and vomiting in
pregnancy.
Arch
Gynecol
Obstetrics journal, 276 (3), 245249.
Notoatmodjo.
(2010).
Metodologi
Penelitian Kesehatan. Jakarta:
Rineka Cipta
Nugraha (2007). Resiko kehamilan.
Jakarta.
Prawirohardjo, S. (2009). Buku Acuan
Nasional Pelayanan Kesehatan
Maternal dan Neonatal. Jakarta :
PT. Bina Pustaka Sarwono
Prawirohardjo.
Rose, W., & Neil. 2006. Panduan
Lengkap Perawatan Kehamilan :
Jakarta: Dian Rakyat.
Sofian. (2011). Sinopsis Obstetri.
Jakarta: EGC.
Stoppard
(2007),
Buku
Pintar
Kehamilan Minggu-Perminggu.
Jakarta : Pt.Mitra Media.
Woolfson, J (2004). Seri Asuhan
Kebidanan Mual Dan Muntah
Kehamilan.
Penerbit
Buku
Kedokteran : EGC
Wiknjosastro,H.(2007).
Ilmu
Kebidanan. Jakarta : Yayasan
Bina
Pustaka
Sarwono
Prawirohardjo.
Yunita (2005) Hubungan Umur dan
Gravida terhadap Hiperemesis
Gravidarum pada Ibu hamil di
ruang Camar RSUD Arifin
Achmad
Pekanbaru
2010.
http://ejournal.puskesmas.teras.ac.
id/index.php.JJPE/article/view
file/1893/1645. (di akses tanggal
25 mei 2017).
Hubungan Gravida dan Usia dengan Kejadian Emesis Gravidarum pada
Ibu Hamil Trimester I di Puskesmas Sumowono Kabupaten Semarang
| 12
Download