7 BAB 2 KAJIAN PUSTAKA 2.1 Penelitian

advertisement
BAB 2
KAJIAN PUSTAKA
2.1
Penelitian Sebelumnya (State of the Art)
Tabel 2.1 State of Art
No.
1.
Judul Penelitian
Pengaruh tayangan
Teori
-
Metodologi
Hasil
Uses and
-
Kuantitatif
1. NilaiR2 untuk variable
Program Junior
Effect
-
survei
X yaitu sebesar 0.756
Masterchef Indonesia -
Minat
atau bila dibaca dalam
Terhadap Minat
bentuk koefisien
Memasak Anak
determinasi adalah
(Studi Pada Siswa/i
sebesar 75,46 %. Arti
Kelas 1 SMP Negeri
75,6 % yaitu pengaruh X
29 Jakarta)
(Junior Masterchef)
terhadap Y (minat
Prita Oktifani
masak) sebesar 75,6 %.
Sarizka Putri
Sisanya yaitu 24,4%
1401082150
kemunculan variabel
Universitas Bina
variabel lainnya.
Nusantara 2014
2. Dengan hasil nilai
persamaan regresi linear
sederhana Y= (-3.047) +
0.821 X, Konstanta (3.047) mengandung
pengertian bahwa
perpotongan garis regresi
pada sumbu variabel
dependen Minat masak
(Y) terletak pada (3.047). Koefisien regresi
7
8
No.
Judul Penelitian
Teori
Metodologi
Hasil
pada variabel independen
program acara Junior
Masterchef Indonesia
adalah sebesar 0.821 dan
bertanda positif yang
berarti semakin besar
nilai variabel independen
program acara Junior
Masterchef Indonesia
maka minat masak
siswa/i Kelas 1 SMP
Negeri 29 Jakarta juga
akan semakin meningkat.
2.
Pengaruh Tayangan
-
AIDA
-
Kuantitatif
Hasil analisis data dalam
Iklan Royco di
-
Iklan
-
Survei
penelitian ini
Televisi Terhadap
-
Fungsi
eksplanatif
menggunakan analisis
Komunikasi
regresi sederhana dengan
Komunikasi
hasil koefisien korelasi
Massa
sebesar 0,685 dan
Fungsi
sumbangan efektif
Kecamatan Sungai
Komunikasi
sebesar 47%. Minat beli
Kunjang Samarinda
Massa
ibu-ibu rumah tangga
Media
dipengaruhi iklan Royco
Televisi
ditelevisi sebesar 47%
Minat Beli Ibu
Rumah Tangga RT
-
02 Kelurahan Teluk
lerong Ulu
-
Ratna Sari
Vol. 2, no. 4,
dan sisanya sebesar 53%
2014:245-258
dipengaruhi oleh variabel
Universitas
lainnya.
Mulawarman 2014
3.
Pengaruh Program
-
Game Show
“Masterchef
Indonesia” Season 1
-
Uses and
-
Kuantitatif
Berdasarkan hasil uji
Gratification
-
survei
statistik dengan uji
Minat
regresi linear, diperoleh
nilai R Square yang
9
No.
Judul Penelitian
Teori
Metodologi
Hasil
di RCTI Terhadap
diperoleh adalah 0,062
Minat Kuliner Ibu
artinya variabel bebas
Rumah Tangga di
(program acara
Kelurahan Kebon
MasterChef Indonesia)
jeruk, Jakarta Barat
memiliki pengaruh atau
kontribusi sebesar 6,2 %
Bobby Christian
terhadap variabel terikat
Universitas
(minat kuliner).
Gunadarma 2012
Diperoleh model
persamaan regresi:
Y=30.472 + 0,148 X.
Artinya, jika tayangan
program acara Master
Chef (X) semakin disukai
dan menarik bagi para
penonton, maka akan
diikuti dengan
meningkatnya minat
kuliner (Y) pada Ibu
Rumah Tangga di
Kelurahan Kebon Jeruk,
yakni sebesar 0,148 atau
14,8 persen.
4.
The 'reality' of the
Australian 'Junior
-
Motivasi
-
Kuantitatif
Dari hasil penelitian
-
Survei
terdapat jika keterlibatan
Masterchef'
anak-anak dan orangtua
television series for
dengan program
preadolescents and
dikaitkan dengan
their parents
memasak, makanan dan
hubungan keluarga.
Rachel
Secara keseluruhan, ada
Murdoch University
tiga faktor motivasi anak-
10
No.
Judul Penelitian
Teori
Metodologi
2012
Hasil
anak untuk menonton
program “Junior
Masterchef”, yaitu
pendidikan, hiburan dan
persertanya. Keterlibatan
keluarga sangat dihargai
oleh anak-anak, maka
manfaat dari program
“Junior Masterchef”
untuk orang tua adalah
meningkatkan 'waktu
keluarga' yang
merupakan faktor
penting.
5.
Impact Of Television
-
Kuantitatif
Hasil survei
Food Channels on
-
Survei
membuktikan bahwa
Society
73% pemirsa
menonton channel
Suhail Aziz Zaidi,
makanan di televisi,
Sehrish Suhail Zaidi
dilihat dari distribusi
& Muhammad
jenis kelamin, yaitu
Akram Naseem
14% laki-laki, dan 86%
University of Lahore,
perempuan. Berdasarkan
Pakistan 2012
analisis telah diamati
bahwa channel makanan
di televisi sangat populer
di kalangan masyarakat
dan semua usia.
11
2.2
Landasan Teori
Dalam menganalisa suatu penelitian dibutuhkan teori – teori serta definisi
yang dapat mendukung penelitian yang dilakukan, sehingga hasil analisa dapat
dipertanggung jawabkan dan bersifat objektif. Bab ini menguraikan beberapa teori
dari para ahli ilmu komunikasi dan teori komunikasi massa yang berkaitan dengan
judul penelitian yang digunakan.
2.2.1 Teori Komunikasi Massa
2.2.1.1 Definisi Komunikasi Massa
Komunikasi massa adalah jenis komunikasi yang ditunjukan kepada sejumlah
khalayak yang tersebar, heterogen dan anonim melalui media cetak atau elektronik
sehingga pesan yang sama dapat diterima secara serentak dan sesaat (Rakhmat,
2009). Pada dasarnya komunikasi massa adalah komunikasi melalui media massa
(media cetak dan elektronik). Sebab awal perkembangnnya, komunikasi massa
berasal dari pengembangan kata media of communication (media komunikasi massa)
(Nurudin, 2007). Jadi dengan demikian dapat disimpulkan bahwa komunikasi massa
adalah komunikasi melalui media massa yang ditunjukan kepada orang banyak
dengan harapan pesan yang disampaikan melalui media massa tersebut dapat sampai
secara serentak kepada orang banyak.
Ada satu definisi komunikasi massa yang dikemukakan Michael W. Gamble
dan Teri Kwal Gamble (1986) akan semakin memperjelas apa itu komunikasi massa.
Menurut mereka sesuatu bisa didefinisikan sebagai Komunikasi Massa jika
mencakup hal-hal sebagai berikut (Nurudin, 2007):
1. Komunikator dalam komunikasi massa mengandalkan peralatan modern
untuk menyebarkan atau memancarkan pesan secara cepat kepada khalayak
yang luas dan tersebar. Pesan itu disebarkan melalui media modern pula
antara lain surat kabar, majalah, televisi, film, atau gabungan di antara media
tersebut.
2. Komunikator dalam komunikasi massa dalam menyebarkan pesan-pesannya
bermaksud mencoba berbagi pengertian dengan jutaan orang yang tidak
saling kenal atau mengetahui satu sama lain. Anonimitas audience dalam
komunikasi massa inilah yang membedakan pula dengan jenis komunikasi
12
yang lain. Bahkan pengirim dan penerima pesan tidak saling mengenal satu
sama lain.
3. Pesan adalah milik publik. Artinya bahwa pesan ini bisa didapatkan dan
diterima oleh banyak orang. Karena itu, diartikan milik publik.
4. Sebagai sumber, komunikatormassa biasanya organisasi forma seperti
jaringan, ikatan, atau perkumpulan. Dengan kata lain, komunikatornya tidak
berasal dari seseorang, tetapi lembaga. Lembaga ini pun biasanya berorientasi
pada keuntungan, bukan organisasi suka rela atau nirlaba.
5. Komunikasi massa dikontrol oleh gatekeeper (penapis informasi). Artinya,
pesan-pesan yang disebarkan atau dipancarkan dikontrol oleh sejumlah
individu dalam lembaga tersebut sebelum disiarkan lewat media massa. Ini
berbeda dengan komunikasi antarpribadi, kelompok atau publik dimana yang
mengontrol bukan sejumlah individu. Beberapa individu dalam komunikasi
massa itu ikut berperan dalam membatasi, memperluas pesan yang disiarkan.
Contohnya adalah seorang reporter, editor film, penjaga rubrik, dan lembaga
sensor lain dalam media itu bisa berfungsi sebagai gatekeeper.
6. Umpan balik dalam komunikasi massa sifatnya tertunda. Kalau dalam jenis
komunikasi lain, umpan balik bisa bersifat langsung. Misalnya, dalam
komunikasi antar personal. Dalam komunikasi ini umpan balik langsung
dilakukan, tetapi komunikasi yang dilakukan lewat surat kabar tidak biasa
langsung dilakukan alias tertunda (delayed).
2.2.1.2 Ciri Komunikasi Massa
Berikut adalah ciri-ciri komunikasi massa, yaitu (Nurudin, 2007):
1. Komunikator dalam Komunikasi Massa Melembaga.
Komunikator dalam komunikasi massa bukan satu orang, tetapi kumpulan
orang. Artinya, gabungan antara berbagai macam unsur dan bekerja satu
sama lain dalam sebuah lembaga. Lembaga yang dimaksud di sini
menyerupai sebuah sistem.
2. Komunikan dalam Komunikasi Massa Bersifat Heterogen
Komunikan dalam komunikasi massa misalnya dalam media televisi bersifat
heterogen/ beragam. Artinya penonton televisi beragam pendidikan, umur,
jenis kelamin, status sosial ekonomi, memiliki jabatan yang beragam,
13
memiliki agama atau kepercyaan yang tidak sama pula. Namun mereka
adalah komunikan televisi.
Herbert Blumer pernah memberikan ciri tentang karakteristik audience atau
komunikan sebagai berikut (Nurudin, 2007):
a. Audience dalam komunikasi massa sangatlah heterogen. Artinya, ia
mempunyai heterogenitas komposisi atau susunan.
b. Berisi individu-individu yang tidak tahu atau mengenal satu sama lain.
c. Mereka tidak mempunyai kepemimpinan atau organisasi formal.
3. Pesannya Bersifat umum
Pesan-pesan dalam komunikasi massa tidak ditunjukan kepada satu orang
atau satu kelompok masyarakat tertentu. Akan tetapi pesan-pesannya
ditujukan pada khalayak yang plural. Pesan-pesan dalam komunikasi massa
tidak boleh pesan yang bersifat khusus.
4. Komunikasinya berlangsung satu arah
Pada media massa komunikasi hanya berjalan satu arah, yaitu komunikator
kepada komunikan. Kita tidak bisa langsung memberikan respon kepada
komunikatornya (media massa yang bersangkutan). Kalaupun bisa, sifatnya
tertunda.
5. Komunikasi Massa Menimbulkan Keserempakan
Salah satu ciri komunikasi massa selanjutnya adalah adanya Keserempakan
dalam proses penyebaran pesannya. Serempak berarti
khalayak bisa
menikmati media massa tersebut hampir bersamaan. Ketika saat kita
menonton suatu acara di televisi tidak hanya kita yang sedang menonton
tetapi juga ribuan pemirsa lainnya.
6. Komunikasi Massa Mengandalkan Perlengkapan Teknis
Media massa sebagai alat utama dalam menyampaikan pesan kepada
khalayak sangat membutuhkan peralatan teknis. Peralatan yang dimaksud
adalah pemancar untuk media elektronik. Televisi dan radio merupakan
media penyalur komunikasi massa yang sangat bergantung pada pemancar
untuk proses penyebaran informasi kepada khalayak.
7. Komunikasi Massa Dikontrol oleh Gatekeeper
Gatekeeper atau yang sering disebut penapis informasi/ palang pintu/ penjaga
gawang adalah orang yang berperan dalam penyebaran informasi melalui
media massa. Gatekeeper ini berfungsi sebagai orang yang ikut menambah
14
atau mengurangi, menyederhanakan, mengemas agar semua informasi yang
disebarkan lebih mudah dipahami. Gatekeeper yang dimaksud anatra lain
adalah reporter, editor film, editor surat kabar atau buku, manajer
pemberitaan, penjaga rubrik, kameramen, sutradara, dan
lembaga sensor
film.
2.2.1.3 Fungsi Komunikasi Massa
Komunikasi massa memiliki emapat fungsi yang dikemukakan oleh seorang
ahli sosiologi, Charles R. Wright dalam buku Teori Komunikasi Massa Wiryanto
(2006), keempat fungsi itu sebagai berikut:
1. Surveillance
Menunjuk pada fungsi pengumpulan dan penyebaran informasi mengenai
kejadian-kejadian dalam lingkungan, baik di luar maupun di dalam
masyarakat. Fungsi ini berhungan dengan apa yang disebut Handling of
News.
2. Correlation
Meliputi fungsi interprestasi pesan yang menyangkut lingkungan dan tingkah
laku tertentu dalam mereaksi kejadian-kejadian. Untuk sebagaian, fungsi ini
diidentifikasikan sebagai fungsi editorial atau propaganda.
3. Transmission
Menujuk pada fungsi mengkomunikasikan informasi, nilai-nilai dan normanorma sosial budaya dari satu generasi ke generasi yang lain atau dari
anggota-anggota suatu masyarakat kepada pendatang baru. Fungsi ini
diidentifikasikan sebagai fungsi pendidikan.
4. Entertaiment
Menunjukan pada kegiatan-kegiatan komunikatif yang dimaksud untuk
memberikan hiburan tanpa mengharapkan efek-efek tertentu.
2.2.1.4 Komponen Komunikasi Massa
Adanya komponen-komponen dari komunikasi massa adalah seperti yang
terdapat dalam buku Teori Komunikasi Massa John Vivian (2008) yaitu, sebagai
berikut:
15
1. Komunikator
Komunikator adalah jantung komunikasi massa. Komunikator massa adalah
orang-orang yang memproduksi pesan yang disampaikan lewat media massa.
Dari definisi tersebut yang termasuk komunikator adalah jurnalis, peneliti
lagu, penyiar TV dan radio, peneliti nasksh film, praktisi public relations,
orang-orang periklanan, penyunting dan lain sebagainya.
2. Pesan
Pesan adalah hal-hal yang dikomunikasikan, yakni item berita, seperti film,
lagu rekaman, iklan billboard, novel, dll.
3. Media
Media adalah sarana yang membawa pesan. Media massa utama adalah buku,
majalah, koran, TV, radio, rekaman, film dan website.
4. Audience
Audience atau komunikan adalah khalayak penerima pesan media massa yang
bersifat berjumlah besar, anonim, heterogen dan berubah-ubah.
5. Gatekeeper dan Regulator
Istilah Gatekeeper pertama kali digunakan oleh Kurt Lewin pada bukunya
Human Relation. Istilah ini mengacu pada proses: (1) suatu pesan berjalan
melalui berbagai pintu, selain juga pada (2) orang atau kelompok yang
memungkinkan pesan lewat. Gatekeepers dapat berupa seseorang atau satu
kelompok yang dilalui suatu pesan dalam perjalanannya dari sumber kepada
penerima. Fungsi utama gatekeeper adalah menyaring pesan yang diterima
seseorang. Gatekeeper membatasi pesan yang diterima komunikan. Editor
surat kabar, majalah, penerbitan juga dapat disebut gatekeepers. Seorang
gatekeepers dapat memilih, mengubah, bahkan menolak pesan yang
disampaikan kepada penerima.
Regulator adalah lembaga atau individu yang mewakili lembaga berwenang
yang memberi perhatian atau tekanan berlebih terhadap poin – poin / kasus –
kasus tertentu serta mengurangi perhatian pada hal-hal lain.
6. Filter adalah faktor penerimaan yang mengganggu komunikasi. Menurut
John Vivian (2008) ada tiga jenis filter, yaitu:
1) Filter informasional, yakni faktor pengetahuan penerima yang
membatasi pemahaman simbol.
16
2) Filter fisik, yakni tingkat kesadaran fisik yang membatasi memahami
pesan, seperti sakit, dll.
3) Filter psikologis, yakni keadaan pikiran penerima yang mempengaruhi
pemahaman simbol.
2.2.1.5 Proses Komunikasi Massa
Komunikasi massa memiliki proses yang berbeda dengan komunikasi tatap
muka lainnya, karena sifat komunikasi massa yang melibatkan banyak orang, maka
proses komunikasinya sangat kompleks dan rumit. Menurut McQuail (1999) proses
komunikasi massa terlihat berproses dalam bentuk (Bungin, 2008):
1. Melakukan distribusi dan penerimaan informasi dalam skala besar. Jadi
proses komunikasi massa melakukan distribusi informasi kemasyarakatan
dalam skala yang besar, sekali siaran atau pemberitaan jumlah dan
lingkupnya sangat luas dan besar.
2. Proses komunikasi massa cenderung dilakukan melalui model satu arah yaitu
dari komunikator kepada komunikan atau media kepada khalayak. Interaksi
yang terjadi sifatnya terbatas sehingga tetap saja didominasi oleh
komunikator.
3. Proses komunikasi massa berlangsung secara asimetris antara komunikator
dengan komunikan. Ini menyebabkan komunikasi antara mereka berlangsung
datar dan bersifat sementara. Kalau terjadi sensasi emosional sifatnya
sementara dan tidak permanen.
4. Proses komunikasi massa juga berlangsung impersonal atau non pribadi dan
anonym atau tanpa nama.
5. Proses komunikasi massa juga berlangsung didasarkan pada hubungan
kebutuhan-kebutuhan di masyarakat. Misalnya program akan ditentukan oleh
apa yang dibutuhkan pemirsa. Dengan demikian media massa juga ditentukan
oleh rating yaitu ukuran di mana suatu program di jam yang sama di tonton
oleh sejumlah khalayak massa.
17
2.2.2 Media Massa
2.2.2.1 Pengertian Media Massa
Media massa adalah alat yang digunakan dalam penyampaian pesan-pesan
dari sumber kepada khalayak (menerima) dengan menggunakan alat- alat komunikasi
mekanis seperti surat kabar, film, televisi dan radio (Cangara, 2008). Media massa
juga dapat diartikan sebagai alat atau sarana yang dipergunakan untuk
menyampaikan pesan dari komunikator ke komunikan menyusul seperti apa
komunikasi yang ingin disampaikan. Menurut Bungin (2008) media massa
merupakan institusi yang berperan sebagai agent of change, yaitu sebagai institusi
pelopor perubahan. Secara umum, media massa diartikan sebagai alat-alat
komunikasi yang bisa menyebarkan pesan secara serempak dan cepat kepada
audience dalam jumlah yang luas dan heterogen (Nurudin, 2007).
Akan arti penting media massa, Dennis McQuail (1987) pernah menyodorkan
beberapa asumsi pokok berikut (Nurudin, 2007):
1. Media merupakan industri yang berubah dan berkembang yang menciptakan
lapangan kerja, barang, dan jasa serta menghidupkan industri lain yang
terkait. Media juga merupakan industri tersendiri yang memiliki peraturan
dan norma-norma yang menghubungkan institusi tersebut dengan masyarakat
dan instutusi sosial lainnya. Di pihak lain, institusi media diatur oleh
masyarakat.
2. Media massa merupakan sumber kekuatan dan sebagai alat kontrol,
manajemen, dan inovasi dalam masyarakat yang dapat didayagunakan
sebagai pengganti kekuatan atau sumber daya lainnya.
3. Media merupakan lokasi (atau norma) yang semakin berperan, untuk
menampilkan peristiwa-peristiwa kehidupan masyarakat, baik yang bertaraf
nasional maupun internasional.
4. Media sering kali berperan sebagai wahana pengembangan kebudayaan,
bukan saja dalam pengertian pengembangan bentuk seni dan simbol, tetapi
juga dalam pengertian pengembangan tata cara, mode, gaya hidup, dan
norma-norma.
5. Media telah menjadi sumber dominan bukan saja bagi individu untuk
memperoleh gambaran dan citra realitas sosial, tetapi juga bagi masyarakat
18
dan kelompok secara kolektif. Media juga menyuguhkan nilai-nilai dan
penilaian normatif yang dibaurkan dengan berita dan hiburan.
Demikianlah beberapa asumsi yang dikemukakan oleh Dennis McQuail
tentang peran media ditengah kehidupan masyarakat pada saat ini. Dimana media
massa terus menjalankan berbagai macam inovasi-inovasi untuk dapat memenuhi
kebutuhan masyarakat.
2.2.2.2 Karakteristik Media Massa
Menurut Cangara (2014) karakteristik media massa adalah sebagai berikut:
1. Bersifat melembaga, artinya pihak yang mengelola media terdiri dari banyak
orang, yakni mulai dari pengumpulan,pengelolaan sampai pada penyajian
informasi.
2. Bersifat satu arah, artinya komunikasi yang dilakukan kurang memungkinkan
terjadinya dialog antara pengirim dan penerima. Kalau pun terjadi reaksi atau
umpan balik, biasanya memerlukan waktu dan tertunda.
3. Meluas dan serempak, artinya dapat mengatasi rintangan waktu dan jarak,
karena ia memiliki kecepatan. Bergerak secara luas dan simultan, dimana
informasi yang disampaikan diterima oleh banyak orang dalam waktu yang
sama.
4. Memakai peralatan teknis atau mekanis, seperti radio, televisi, surat kabar
dan semacamnya.
5. Bersifat terbuka, artinya pesan dapat diterima oleh siapa saja dan dimana saja
tanpa mengenal batas usia, jenis kelamin dan suku bangsa.
2.2.2.3 Bentuk Media Massa
Adapun bentuk media massa antara lain media elektronik (radio, televisi),
media cetak (surat kabar, majalah, tabloid), buku, film dan internet (Bungin, 2008).
Menurut Ardianto (2005) bentuk media massa dibagi menjadi beberapa bagian, yaitu
sebagai berikut:
1. Surat Kabar
Surat kabar sebagai media massa dalam masa orde baru mempunyai misi
untuk menyebarluaskan pesan-pesan pembangunan dan sebagai alat
mencerdaskan rakyat Indonesia. Fungsi yang memonjol dari surat kabar ialah
19
informasi. Hal ini sesuai dengan tujuan utama khalayak membaca surat kabar,
yaitu keingintahuan akan setiap peristiwa yang terjadi disekitarnya.
2. Majalah
Mengacu pada sasaran khalayaknya yang spesifik, fungsi utama media
berbeda satu dengan yang lainnya. Majalah diterbitkan oleh setiap kelompok
masyarakat, di mana mereka dapat dengan leluasa dan luwes menentukan
bentuk, jenis dan sasaran khalayaknya.
3. Radio Siaran
Radio adalah media masa elektronik tertua dan sangat luwes. Keunggulan
radio siaran adalah berada dimana saja. Radio memiliki kemampuan menjual
bagi pengiklan yang produknya dirancang khusus untuk khalayak tertentu.
Dalam radio siaran berita yang sudah dikoreksi dan sudah dicek
kebenarannya dapat langsung dibacakan, bahkan radio siaran dapat
menyiarkan suatu peristiwa yang tengah berlangsung melalui reportasi.
4. Televisi
Dari semua media komunikasi yang ada, televisi yang paling berpengaruh
pada kehidupan manusia. Fungsi televisi sama dengan fungsi media massa
lainnya, tetapi fungsi menghibur lebih dominan pada media televisi. Televisi
memiliki karakteristik audiovisual yang dapat menyeimbangi suara dengan
gambar.
5. Film
Film adalah bentuk dominan dari komunikasi massa visual di belahan dunia
ini. Seperti halnya televisi siaran, tujuan khalayak menonton film terutama
adalah ingin memperoleh hiburan. Akan tetatpi dalam film dapat terkandung
fungsi informatif maupun edukatif, bahkan persuasive.
6. Komputer
Situs juga menjadikan sumber informasi untuk hiburan dan informasi
perjalanan wisata. Pengguna internet menggantungkan pada situs untuk
memperoleh berita.
20
2.2.3 Televisi
2.2.3.1 Pengertian Televisi
Televisi sebagai media komunikasi yang menyediakan berbagai macam
informasi yang update dan menyebarkannya kepada khalayak. Jadi televisi
merupakan hasil produk teknologi tinggi yang menyampaikan isi pesan dalam bentuk
audio visual gerak. Isi pesan audio visual gerak memiliki kekuatan yang sangat tinggi
untuk mempengaruhi mental, pola pikir, dan tindak indivisi (Baksin, 2006). Televisi
adalah
merupakan
perkembangan
medium berikutnya
setelah
radio
yang
diketemukan dengan karakternya yang masih spesifik yaitu audio visual (Muda,
2005).
2.2.3.2 Karakteristik Televisi Sebagai Media Massa
Televisi dapat dikatakan sebagai media komunikasi massa yang dapat
dimiliki oleh masyarakat dibandingkan media massa lainnya. Dengan model audio
visual yang dimilikinya, siaran televisi sangat komunikatif dalam memberikan pesan.
Karena itulah televisi bermanfaat sebagai upaya pembentukan sifat, perilaku dan
sekaligus perubahan pola berpikir (Effendy, 2005).
Televisi memiliki beberapa karakteristik (Ardianto, 2005), sebagai berikut:
1. Audiovisual
Televisi memiliki kelebihan, yakni dapat didengar sekaligus dilihat
(audiovisual). Keduanya harus ada kesesuaian secara harmonis.
2. Berpikir dalam gambar
Ada dua tahap yang dilakukan dalam proses berpikir dalam gambar. Pertama
adalah visualisasi yakni menerjemahkan kata-kata yang mengandung gagasan
yang menjadi gambar secara individual. Tahap kedua adalah penggambaran
(picturization),
yakni kegiatan
merangkai gambar-gambar individual
sedemikian rupa sehingga mengandung makna tertentu.
3. Pengoperasian lebih kompleks
Dibandingkan dengan radio siaran, pengoperasian televisi siaran lebih
kompleks dan lebih banyak melibatkan orang. Untuk menayangkan acara
siaran berita saja dapat melibatkan 10 orang lebih. Peralatan yang digunakan
juga lebih banyak dan untuk mengoperasikannya lebih rumit, harus dilakukan
21
oleh orang-orang yang terampil dan terlatih. Itulah sebabnya, televisi menjadi
lebih mahal daripada media lain, seperti surat kabar, majalah dan radio siaran.
2.2.3.3 Program Televisi
Program televisi disajikan dan dibuat agar audiens tertarik dan akhirnya
menyaksikan siaran program acara tersebut. Oleh karena itu, program acara televisi
harus dibuat semenarik mungkin untuk mengambil perhatian audiens. Program acara
yang selalu mengikuti trend, menarik, dan dikemas dalam nuansa yang berbeda
dengan stasiun televisi lain menjadi pilihan menarik bagi audiens. Program adalah
segala hal yang ditampilkan stasiun penyiaran untuk memenuhi kebutuhan
khalayaknya (Morissan, 2008).
2.2.3.4 Jenis Program Televisi
Menurut Morissan, M.A. Manajemen Media Penyiaran : Strategi Mengelola
Radio & Televisi (2008) Jenis-jenis program acara televisi dibagi menjadi 2, yaitu :
1. Program Informasi : Program Informasi adalah segala jenis siaran yang
tujuannya untuk memberikan tambahan pengetahuan (informasi) kepada
khalayak audiens. Daya tarik program ini adalah informasi dan informasi
itulah yang “dijual” kepada audience. Program informasi dapat dibagi
menjadi 2 bagian besar,yaitu :
a. Berita Keras atau Hard News adalah segala informasi penting dan
menarik yang harus segera disiarkan oleh media penyiaran karena
sifatnya yang harus segera ditayangkan agar dapat diketahui khalayak
audience secepatnya. Berita keras atau hard news dapat dibagi ke
dalam beberapa bentuk berita, yaitu : Straight News, Features, dan
Infotainment.
b. Berita Lunak atau Soft News adalah segala informasi yang penting dan
menarik yang disampaikan secara mendalam (indepth) namun tidak
bersifat harus segera ditayangkan. Berita yang masuk kategori ini
ditayangkan pada satu program tersendiri diluar program berita.
Program yang masuk ke dalam kategori berita lunak ini adalah :
current affair, magazine, dokumenter, dan talk show.
22
2. Program Hiburan : Program Hiburan adalah segala bentuk siaran yang
bertujuan untuk menghibur audien dalam bentuk musik, lagu, cerita, dan
permainan. Program yang termasuk dalam kategori hiburan adalah :
a. Permainan atau game show merupakan suatu bentuk program yang
melibatkan sejumlah orang baik secara individu ataupun kelompok
(tim) yang saling bersaing untuk mendapatkan sesuatu. Program
permainan dapat dibagi menjadi tiga jenis, yaitu : Quiz Show,
Ketangkasan, dan Reality Show.
b. Program Musik, dapat ditampilkan dalam dua format, yaitu videoklip
atau konser. Program musik di televisi saat ini sangat ditentukan
dengan kemampuan artis menarik audien. Tidak saja dari kualitas
suara namun juga berdasarkan bagaimana mengemas penampilannya
agar menjadi lebih menarik.
c. Pertunjukan
adalah
program
yang
menampilkan
kemampuan
(performance) seseorang atau beberapa orang pada suatu lokasi baik
di studio ataupun diluar studio, di dalam ruangan (indoor) ataupun di
luar ruangan (outdoor). Jika mereka yang tampil adalah para musisi,
maka pertunjukan itu menjadi pertunjukan musik atau jika yang
tampil adalah juru masak, maka pertunjukan itu menjadi pertunjukkan
memasak, begitu pula dengan pertunjukan lawak, sulap, lenong,
wayang, ceramah agama dan sebagainya. Dapat dikatakan program
pertunjukan adalah jenis program yang paling banyak di produksi
sendiri oleh stasiun televisi.
d. Program Drama adalah pertunjukan atau show yang menyajikan cerita
mengenai kehidupan atau karakter seseorang atau beberapa orang
(tokoh) yang diperankan oleh pemain (artis) yang melibatkan konflik
dan emosi. Suatu drama akan mengikuti kehidupan atau petualangan
para tokohnya. Program televisi yang termasuk dalam program drama
adalah film dan sinetron.
2.2.3.5 Jenis Features Televisi
Ide membuat program features televisi bisa diperoleh dari berbagai hal. Bisa
dari kelanjutan berita-berita aktual, bisa mendompleng hari-hari tertentu atau profil
tokoh yang sedang ramai dibicarakan, yang penting ada newpeg (cantelan berita),
23
karena features bukan fiksi. Ia fakta yang ditulis dengan gaya mirip fiksi
(Fachruddin, 2012).
Jenis-jenis features menurut Andi Fachruddin dalam buku Dasar-dasar
Produksi televisi (2012), sebagai berikut:
1. Features Sejarah
2. Features Petualangan
3. Features Musiman
4. Features Interpretatif
5. Features Kiat (Petunjuk Praktis)
6. Features Ilmiah (Science)
7. Features Perjalanan (Traveloque)
8. Features Kuliner
9. Features Minat Insani
2.2.3.6 Features Kuliner
Features kuliner menurut Fachruddin (2012) adalah features tentang
makanan tradisional atau makanan khas apa pun yang patut diketahui pemirsa
seperti: bentuk teksturnya, kandungan rasa dari beragam masakan, bagaimana cara
pembuatannya, serta kenikmatan menggugah selera makanan yang disajikan.
Kemasannya disesuaikan dengan gaya berbeda dan lokasi penjual/ asal masakan
tersebut mudah dijangkau (disesuaikan dengan jangkauan siaran televisinya).
Beberapa ciri khas makanan dan cara menikmatinya dikreasikan dengan tujuan
beraneka ragam, contohnya bagaiman tips cara pembuatan setiap masakan yang
dibuat pada features kuliner.
2.2.4 Ibu Rumah Tangga
Ibu rumah tangga dapat diartikan sebagai seorang wanita yang mengatur
penyelenggaraan berbagai macam pekerjaan rumah tangga atau ibu rumah tangga
merupakan seorang istri (ibu) yang hanya mengurusi berbagai macam pekerjaan
dalam rumah tangga. Peran sebagai ibu rumah tangga seringkali dipandang biasa saja
oleh beberapa kalangan. Di mana pun ibu rumah tangga adalah satu status peran
yang sebenarnya tidak bisa dengan sendirinya dapat dijalani tanpa perlu persiapan
(Anggraeny, 2008). Jadi ibu rumah tangga merupakan istilah yang digunakan untuk
24
menggambarkan seorang wanita yang telah menikah serta menjalankan pekerjaan
rumah, memasak, merawat anak dan tidak bekerja di luar rumah.
2.2.5 Teori Khusus
2.2.5.1 Minat
Minat adalah kecenderungan yang menetap untuk memperhatikan dan
mengenang beberapa aktivitas. Seorang yang berminat terhadap suatu aktivitas akan
memperhatikan aktivitas tersebut secara konsisten dengan rasa senang. Dengan kata
lain, minat adalah suatu rasa lebih suka dan rasa keterikatan pada suatu hal atau
aktivitas, tanpa ada yang menyuruh. Minat pada dasarnya adalah penerimaan akan
sesuatu hubungan antara diri sendiri dengan sesuatu di luar diri semakin kuat atau
dekat hubungan tersebut, semakin besar minat (Djamarah, 2008).
Suatu anggapan yang keliru adalah bila mengatakan bahwa minat dibawa
sejak lahir. Minat adalah perasaan yang didapat karena berhubungan dengan sesuatu
minat terhadap sesuatu itu dipelajari dan dapat mempengaruhi belajar selanjutnya
serta mempengaruhi penerimaan minat-minat baru. Jadi minat terhadap sesuatu
merupakan hasil belajar dan cenderung mendukung aktivitas belajar berikutnya.
Minat yang besar terhadap sesuatu merupakan modal yang besar artinya
untuk mencapai atau memperoleh benda atau tujuan yang diminati itu. Timbulnya
minat belajar disebabkan berbagai hal, antara lain karena keinginan yang kuat untuk
menaikan mertabat atau memeperoleh pekerjaan yang baik serta ingin hidup senang
dan bahagia. Minat belajar yang besar cenderung menghasilkan prestasi yang tinggi,
sebaliknya minat belajar kurang akan menghasilkan prestasi yang rendah (Djamarah,
2008).
Lamanya minat bervariasi, kemampuan dan kemauan menyelesaikan suatu
tugas yang akan diberikan untuk selama waktu yang ditentukan berbeda-beda baik
dari segi umur maupun bagi masing-masing individu. Minat senantiasa berpindahpindah, namun demikian ia mengkehendaki keaktifan. Ia kerap mendasarkan
kegiatan-kegiatannya atas pilihan sendiri dan dapat lebih suka mengusahakan sesuatu
tertentu daripada yang lainnya. Minat yang terdapat dalam kegiatan untuk
kepentingan diri sendiri lebih daripada untuk mencapai sesuatu hasil tertentu,
sehingga ia mudah dikacaukan dan mudah tertarik pada kegiatan yang lain. Tidak
demikian halnya terhadap orang yang lebih tua. Mereka yang disebutkan terakhir ini
25
lebih lama dapat mempertahankan minatnya terhadap sesuatu daripada berpindahpindah kepada hal-hal lain (Djamarah, 2008).
Faktor-faktor timbulnya minat, menurut Crow and Crow (1982), terdiri dari
tiga faktor (Sarwono S.W, 2003) :
1. Faktor dorongan dari dalam, yaitu rasa ingin tahu atau dorongan untuk
menghasilkan sesuatu yang baru dan berbeda. Dorongan ini dapat membuat
seseorang berminat untuk mempelajari ilmu mekanik, melakukan penelitian
ilmiah, atau aktivitas lain yang menantang.
2. Faktor motif sosial, yakni minat dalam upaya mengembangkan diri dari
dalam hal ilmu pengetahuan, yang mungkin diilhami oleh hasrat untuk
mendapatkan kemampuan dalam bekerja, atau adanya hasrat untuk
memperoleh penghargaan dari keluarga atau teman.
3. Faktor emosional, yakni minat yang berkaitan dengan perasaan dan emosi.
Misalnya, keberhasilan akan menimbulkan perasaan puas dan dapat
meningkatkan minat, sedangkan kegagalan dapat menghilangkan minat
seseorang.
Menurut Wiryanto (2006) dalam buku Teori Komunukasi Massa, efek- efek
yang mempengaruhi minat yang dapat diklasifikasikan menjadi tiga kategori:
1. Efek kognitif
Berhubungan dengan pikiran atau penalaran, sehingga khalayak yang semula
tidak tahu akan program memasak tersebut yang tadinya tidak di mengerti
dan bingung menjadi merasa jelas.
2. Efek afektif
Berkaitan dengan perasaan. Akibat dari membaca surat kabar atau majalah,
mendengarkan radio, menonton acara televisi atau film bioskop dapat
menimbulkan perasaan tertentu pada khalayak. Dimana dalam efek afektif ini
program memasak harus bisa menarik perhatian khalayak untuk bisa larut
dalam program acara yang ditayangkan, supaya khalayak tidak bosan dalam
menonton acara tersebut.
3. Efek konatif
Bersangkutan dengan niat, tekad, upaya, usaha yang cenderung menjadi suatu
tindakan atau kegiatan. Efek konatif tidak langsung timbul sebagai akibat
terpaan media massa, melainkan didahului oleh efek kognitif dan afektif.
26
Dengan kata lain timbulnya efek konatif setelah muncul efek kognitif dan
afektif.
2.2.5.2 Uses and Effect Theory
Uses and Effect Theory pertama kali dikemukakan oleh Sven Windahl pada
tahun 1979. Teori uses and effect merupakan sintesis antara pendekatan uses and
gratifications dan teori tradisional mengenai efek. Konsep use (penggunaan)
merupakan bagian yang sangat penting atau pokok dari pemikiran ini. Karena
pengetahuan mengenai penggunaan media dan penyebabnya akan memberikan jalan
bagi pemahaman dan perkiraan tentang hasil dari suatu proses komunikasi massa
(Sendjaja, 2007)
Penggunaan media massa dapat memiliki banyak arti. Ini dapat berarti
”exposure” yang semata-mata menunjuk pada tindakan mempersepsi. Dalam
konteks lain, pengertian tersebut dapat menjadi suatu proses yang lebih kompleks,
dimana isi tertentu dikonsumsi dalam kondisi tertentu, untuk memenuhi fungsi
tertentu dan terkait harapan-harapan tertentu untuk dapat dipenuhi. Fokus dari teori
ini lebih kepada pengertian yang kedua (Sendjaja, 2007).
Dalam uses and gratification, penggunaan media pada dasarnya ditentukan
oleh kebutuhan dasar individu. Sementara pada uses and effect, kebutuhan hanya
salah satu dari faktor-faktor yang menyebabkan terjadinya penggunaan media.
Karakteristik individu, harapan dan persepsi terhadap media, dan tingkat akses
terhadap media, akan membawa individu kepada keputusan untuk menggunakan atau
tidak menggunakan isi media massa (Sendjaja, 2007).
Hasil dari sebuah proses komunikasi massa dan beberapa kaitannya dengan
penggunaan media akan membawa pada bagian penting berikutnya dari teori ini.
Hubungan antara penggunaan dan hasilnya dapat disajikan dalam beberapa bentuk
yang berbeda, yaitu:
1. Pada kebanyakan teori efek tradisional, karakteristik isi media menentukan
sebagian besar dari hasil. Dalam hali ini, penggunaan media hanya dianggap
sebagi factor perantara, dan hasil dari proses tersebut dinamakan efek. Dalam
pengertian ini pula, uses and gratification hanya dianggap berperan sebagai
perantara yang memperkuat atau melemahkan efek dari isi media.
27
2. Dalam berbagai proses, hasil lebih merupakan akibat penggunaan daripada
karakteristik isi media. Penggunaan media dapat mengecualikan, mencegah
atau mengurangi aktivitas lainnya, di samping dapat pula memilih
konsekuensi psikologis seperti ketergantungan pada media tertentu. Jika
penggunaan merupakan penyebab utama dari hasil, maka ia disebut
konsekuensi.
3. Ada anggapan bahwa hasil ditentukan sebagian oleh isi media (melalui
perantara penggunaanya) dan sebagian lain oleh penggunaan media itu
sendiri. Oleh karenanya ada dua proses yang bekerja secara serempak, yang
bersama-sama menyebabkan terjadinya suatu hasil yang kita sebut
“conseffect” (gabungan antara konsekuensi dan efek).
Ilustrasi mengenai hubungan-hubungan tersebut dapat dilihat pada gambar
berikut:
Isi Media
Penggunaan
Media
Efek
Isi Media
Penggunaan
Media
Konsekuensi
Isi Media
Penggunaan
Media
Conseffect
Gambar 2.1 Ilustrasi Hubungan dalam Uses and Effect
Sumber : (Sendjaja, 2007)
28
Hasil-hasil ini dapat ditemukan pada tataran individu maupun tataran
masyarakat.Gambar Selengkapnya dapat disimak pada diagram berikut:
Keputusan untuk
menggunakan
alternatif
Audinece dan
Akses kepada,
karakteristik
harapan dan
intra/ekstra
persepsi terhadap
Keputuasan
Individu termasuk
media, isi, dan
untuk
kebutuhan dan
komunikator
menggunakan
fungsional
Penggunaan media :
Jumlah isi yang digunakan, jenis isi yang digunakan, hubungan
dengan isi yang digunakan, cara konsumsi
Media dan karakteristik isi
Hasil pada tataran individu
Efek:
Konsekuensi:
Conseffects:
Terutama
terutama
disebabkan
disebabkan oleh
disebabkan oleh
sekaligus oleh
media/karakteris
penggunaan
isi dan
tik isi
media
penggunaan
Hasil pada tataran lainnya
Gambar 2.2 Diagram Uses and Effect Theory
Sumber: (Sendjaja, 2007)
29
Kesimpulan dari teori Uses and Effect adalah bagaiman media tersebut
digunakan dan menimbulkan efek atas penggunaan isi media sebagai sumber
informasi. Jika teori Uses and Effect dikaitkan dengan penelitian adalah tayangan
Kuliner Indonesia yang memberikan informasi tentang masakan khas tradisonal
tanah air, maka pengetahuan tersebut akan membuat ibu rumah tangga mampu
mengambil informasi yang disampaikan oleh program Kulier Indonesia. Secara tidak
langsung ibu rumah tangga menerima efek atau pengaruh setelah menonton tayangan
Kuliner Indonesia. Media untuk menyampaikan informasi disini adalah televisi.
Namun agar informasi yang disampaikan dapat diterima audiens yang perlu
diperhatikan ialah isi media Kuliner Indonesia, yaitu:
1. Program
2. Presenter
3. Juru Masak
4. Resep
5. Lokasi
6. Durasi
30
2.2.6 Kerangka Pemikiran
Berdasarkan dari teori – teori yang telah dijelaskan maka peneliti
membuat suatu kerangka pemikiran mengenai penelitian ini, yaitu:
Uses and Effect
Isi Media
• Program
Tayangan Program Kuliner
•
Presenter
Indonesia di TVRI (X)
•
Juru Masak
•
Resep
•
Lokasi
•
Durasi
(Sendjaja, 2007)
Efek Mempengaruhi Minat
Minat Memasak Ibu Rumah
Tangga (Y)
• Kognitif
• Afektif
• Konatif
(Wiryanto, 2006)
Gambar 2.3 Kerangka Pemikiran
Download