10 BAB II LANDASAN TEORI 2.1 Teori Umum 2.1.1

advertisement
10
BAB II
LANDASAN TEORI
2.1
Teori Umum
2.1.1 Komunikasi Massa
Definisi Komunikasi massa berasal dari bahasa inggris yaitu media of mass
communication atau media komunikasi massa. Komunikasi massa adalah sebuah
kajian ilmu atau studi ilmiah tentang media massa (Nurudin, 2013: 2), sehingga
komunikasi massa diartikan sebagai suatu proses pengiriman pesan melalui media
massa, baik media elektronik mapun cetak. Komunikasi massa tidak terlepas dari
dasar-dasar tahapan proses komunikasi, sehingga pada praktiknya peran-peran
penting yang ada dalam proses pengiriman dan penerimaan pesan tetap berfungsi.
Massa dalam komunikasi massa memberikan pengertian bahwa pesan yang
ditujukan merupakan informasi untuk si penerima pesan dengan sikap dan
perilakunya yang berkaitan dengan peran media massa, bukan massa dalam arti
kerumunan atau sekelompok orang, namun massa disini diartikan sebagai khalayak
luas. (Nurudin, 2013: 4)
Menurut Michael W. Gamble dan Teri Kwal Gamble (1986), komunikasi
massa merupakan proses penyebaran pesan kepada audience dalam jumlah besar dan
heterogen dengan menggunakan media massa sebagai alat penyebaran pesannya.
Menurut mereka, ada enam poin penting, dimana poin-poin tersebut dapat
membedakan komunikasi massa dengan komunikasi lainnya, yaitu:
1.
Komunikator dalam komunikasi massa menggandalkan peralatan
modern dalam penyebaran pesannya. Hal ini dikarenakan, pesan yang
10
11
disampaikan ditujukkan untuk khalayak luas, sehingga pesan harus dapat
diterima secara cepat dan serentak.
2.
Pengirim pesan dan penerima pesan atau yang biasa disebut komunikator
dan komunikan dalam komunikasi massa, tidak saling mengenal satu
sama lain. Hal ini biasa disebut dengan Anonimitas.
3.
Peranan komunikator dalam komunikasi massa berupa sebuah lembaga
formal.
4.
Pesan yang disampaikan dalam komunikasi massa merupakan pesan
yang didapat dan diterima oleh masyarakat.
5.
Sebelum pesan sampai kepada khalayak atau masyarakat luas, dalam
komunikasi massa pesan harus melewati kontrol yang ada didalam
lembaga formal penyebar informasi, biasa dikenal dengan gatekeeper.
6.
Pada komunikasi massa, komunikator tidak dapat merasakan secara
langsung umpan balik atau feedback yang diberikan oleh komunikan.
Selain enam poin diatas, Alaxis S. Tan (1981), berpendapat bahwa
komunikator di dalam komunikasi massa adalah organisasi sosial yang mampu
memproduksi pesan dan mengirimkannya secara serempak ke sejumlah orang dalam
jumlah banyak dan terpisah satu dengan yang lainnya. organisasi sosial tersebut biasa
dikenal dengan sebutan media massa, dimana setiap individu didalamnya memiliki
tugas dan tanggung jawab yang sudah dirumuskan dan disusun layaknya sebuah
organusasi yang terstruktur. selain itu Alaxis S. Tan juga berpendapat bahwa ciri
khusus komunikasi massa terletak pada penerima pesan atau komunikan yang biasa
disebut dengan audience.
12
Herbert Blumer (1939) menambahkan, audience komunikasi massa
setidaknya memiliki tiga ciri utama, yaitu:
1. Penerima pesan merupakan bagian masyarakat dari berbagai lapisan.
2. Penerima pesan tersebar di berbagai wilayah, tidak saling mengenal dan
tidak berinteraksi satu dengan yang lainnya.
3. Penerima pesan bukanlah sebuah organisasi formal, sehingga tidak
memiliki pemimpin.
Menurut John R Bittner (1996), dalam proses komunikasi massa, selain
melibatkan
unsur-unsur komunikasi
sebagai umumnya,
komunikasi massa
membutuhkan peran media massa sebagai alat untuk menyampaikan dan
menyebarkan informasi. John R Bittner berpendapat bahwa media massa tidak
berdiri sendiri melainkan ada beberapa individu didalamnya yang bertugas dalam
mengolah informasi sebelum informasi tersebut sampai pada audience. Salah satu
individu yang bertugas mengolah informasi adalah gatekeeper. Suatu lembaga media
massa sangat membutuhkan peranan penting seorang gatekeeper. gatekeeper sendiri
adalah "palang pintu" dimana peran gatekeeper diisi oleh beberapa individu atau
kelompok yang bertugas menyampaikan atau mengirimkan informasi dari inividu ke
individu yang lain melalui media massa seperti surat kabar, majalah, radio, dan
televisi. Jadi , informasi yang diterima oleh audience merupakan informasi yang
telah disaring dan diolah oleh gatekeeper dan disesuaikan dengan visi,misi, atau
kepentingan media yang bersangkutan.
Joseph A. Devito mendefinisikan komunikasi massa sebagai komunikasi
yang ditujukan kepada massa, yaitu khalayak yang luar biasa banyak, dan merupakan
komunikasi yang disalurkan oleh pemancar-pemancar audio maupun visual. Definisi
13
ini tak jauh berbeda dengan yang dikemukakan oleh Jay Black dan Frederick C.
Whitney (1988) dimana, mereka mendefinisikan komunikasi massa sebagai sebuah
proses, dimana pesan-pesan yang di produksi secara massal, disebarkan kepada
penerima pesan yang luas, heterogen, dan anonim.
Dari berbagai macam definisi komunikasi massa yang sudah dijabarkan
diatas, dapat diartikan bahwa komunikasi massa bukanlah proses penyampaian pesan
yang mudah, namun komunikasi massa membutuhkan individu-individu yang
berperan penting didalamnya, untuk mencari dan mengolah informasi serta
membutuhkan saluran komunikasi yang dapat menghubungkan dan menyampaikan
pesan kepada komunikan, dan dengan perkembangan zaman serta perkembangan
teknologi, alat-alat yang digunakan dalam komunikasi massa pun ikut mengalami
perubahan. Sehingga, penyampaian pesan dalam proses komunikasi massa dapat
lebih singkat dan mempercepat waktu penyampaian, serta dapat menjangkau
cakupan yang lebih luas.
2.1.1.1. Ciri-ciri Komunikasi Massa
Komunikasi massa memiliki ciri-ciri yang berbeda dengan jenis komunikasi
lainnya. berikut beberapa ciri-ciri komunikasi massa (Nurudin, 2013: 19-31):
1. Komunikator berbentuk lembaga.
Pada dasarnya komunikator merupakan sumber informasi yang akan
menyampaikan pesan kepada komunikan, namun dalam komunikasi
massa, yang berperan sebagai komunikator bukanlah individu melainkan
lembaga.
14
2. Komunikan bersifat heterogen.
Penerima pesan dalam komunikasi massa terdiri dari beragam individu
yang tersebar luas yang berasal dari berbagai macam suku, ras, etnis,
bangsa, gender, dan dari berbagai lapisan sosial, tidak saling mengenal
dan tidak terikat satu dengan yang lainnya. Komunikan media massa
tersebar dimana-mana dan memiliki selera yang beragam.
3. Pesan yang disampaikan bersifat umum.
Umum disini artinya adalah pesan yang disampaikan tidak ditujukan
untuk satu orang saja melainkan untuk masyarakat luas atau khalayak
yang bersifa plural. Sehingga, pesan yang disampaikan adalah pesan yang
dapat diterima oleh banyak orang.
4. Komunikasi berlangsung satu arah.
Dimana komunikan tidak dapat langsung memberikan respon kepada
komunikator. Kalaupun bisa, respon yang disampaikan bersifat tertunda
(delayed feedback).
5. Komunikasi massa menimbulkan keserempakan.
Saat
menyebarkan
pesan
oleh
komunikator,
ada
keserempakan
penerimaan pesan terhadap komunikan. Dimana, para komunikan yang
menerima pesan yang disebarkan tidaklah sendirian, melainkan ada
banyak individu lainnya yang juga menerima pesan sama yang
disampaikan oleh komunikator yang sama. Sehingga, pesan yang diterima
oleh individu yang berbeda merupakan informasi yang sama dan diterima
dengan waktu yang bersamaan.
15
6. Komunikasi massa membutuhkan saluran berupa peralatan teknis.
Dalam proses penyebaranya, komunikasi massa membutuhkan media
sebagai alat utama saluran penyampai informasi. Seperti pemancar,
satelit, dan perangkat lainnya yang menjadi media pengiriman pesan.
7. Memiliki pengontrol pesan yang disebut dengan gatekeeper.
Komunikasi massa merupakan jenis komunikasi yang menyebarkan pesan
untuk khalayak dalam jumlah banyak. untuk itulah dibutuhkan peran
gatekeeper yang bertugas menyaring pesan sebelum disebarkan.
gatekeeper juga berperan sebagai pihak yang ikut serta menentukan
pengemasan sebuah pesan. Gatekeeper berhak untuk mengurangi dan
menyederhanakan pesan. Tanpa adanya gatekeeper maka pesan yang
disampaikan tidak terkontrol dan dapat menyebabkan akibat yang dapat
mengancam lembaga komunikasi massa penyebar pesan tersebut.
Ciri-ciri yang telah dijabarkan diatas, dapat menggambarkan komunikasi
massa sebagai jenis komunikasi dengan jangka waktu pengiriman pesan yang singkat
dan dapat menjadikan khalayak yang terdiri dari individu dalam jumlah besar,
sebagai penerima pesannya.
2.1.1.2 Fungsi Komunikasi Massa
Ketika membahas tentang komunikasi massa, maka hal ini merupakan
bahasan yang berkaitan dengan media massa. Pasalnya, komunikasi massa
merupakan jenis komunikasi yang membutuhkan media untuk menyebarkan
pesannya.
16
Sejalan dengan tingkat perkembangan masyarakat dan teknologi komunikasi,
fungsi dari komunikasi massa juga berkembang dan bertambah. Fungsi komunikasi
massa tidak sebatas menjadi proses penyampaian pesan dari komunikator kepada
komunikan, tetapi juga ada fungsi-fungsi lainnya bagi komunikator atau institusi
media maupun bagi audience sebagai penerima pesan.
Jay Black dan Frederick C. Whitney menjelaskan tentang empat fungsi utama
komunikasi massa, yaitu fungsi informasi, fungsi hiburan, fungsi persuasif, dan
fungsi transmisi budaya.
Pertama adalah fungsi informasi. Fungsi informasi merupakan komponen
terpenting yang terdapat dalam komunikasi massa. Pesan yang disampaikan oleh
media massa mengandung unsur informasi didalamnya. Sehingga para komunikan
yaitu para audience yang menerima pesan akan mendapatkan tambahan informasi
dan pengetahuan dari pesan-pesan yang disebarkan oleh media massa. Informasi
yang didapatkan bisa dari berbagai bidang. Contohnya adalah informasi yang tersirat
di media cetak seperti surat kabar dan koran. Tulisan yang diasjikan disetiap
artikelnya merupakan pesan yang hendak disampaikan oleh media tersebut kepada
para pembacanya, namun pesan tersebut berbentuk informasi yang dapat menambah
pengetahuan si pembacanya. Begitu juga dengan media elektronik seperti radio dan
televisi. Siaran dan tayangan yang disajikan memiliki informasi tertentu yang bisa
didapatkan oleh audience.
Kedua adalah fungsi hiburan. Komunikasi massa memiliki fungsi hiburan,
dimana pesan yang disampaikan menjadi sarana untuk menghibur diri disela-sela
kepadatan dan kesibukan. Charles R. Wright menjelaskan, proses komunikasi massa
dapat menjadi pelepasan lelah bagi kelompok-kelompok massa. Hiburan tersebut
diperoleh dari apa yang disampaikan oleh media komunikasi massa, sehingga dapat
17
disimpulkan bahwa media massa menyajikan layanan hiburan untuk memanjakan
para audience-nya. Namun selain bertujuan sebagai pelepas lelah, fungsi hiburan saat
ini telah menjadi fungsi komersil dan menjadi pemenuh kebutuhan beberapa
kepentingan. Didukung dengan minat audience yang menginginkan fungsi hiburan
menjadikan media komunikasi massa sebagai alat komunikasi yang cepat diterima
oleh masyarakat, sehingga iklan sebagai alat promosi menggunakan media
komunikasi massa sebagai saluran mempromosikan produknya. Dengan begitu,
maka media komunikasi massa menjadi tempat mencari keuntungan. Selain itu
Charles R. Wright juga berpendapat bahwa fungsi hiburan yang diberikan oleh media
komunikasi massa, dapat dijadikan alat perluasan kekuasaan, dan pengendali
kehidupan masyarakat.
Ketiga, komunikasi massa memiliki fungsi sebagai alat persuasi. Banyak
informasi yang didapat dari apa yang dibaca, didengar dan dilihat oleh khalayak,
tanpa sadar memiliki fungsi persuasi didalamnya. Aktifitas promosi dan tujuan
mempengaruhi yang terdapat didalam sebuah pesan media komunikasi massa tidak
dapat disadari dengan cepat jika diperhatikan sepintas dan tidak diperhatikan dengan
jeli. Fungsi persuasif media massa mampu mengukuhkan nilai-nilai yang sudah
diyakini sebelumnya oleh khalayak. Media komunikasi massa juga dapat merubah
pemikiran serta
tingkah laku
khalayak hanya
dengan informasi yang
disampaikannya. Media komunikasi massa juga dapat menggerakan seseorang untuk
dapat yakin dan percaya pada informasi yang disampaikanya, sehingga media
komunikasi massa dapat dengan mudah menggerakan seseorang untuk dapat berbuat
sesuatu ataupun sebaliknya. Josep A. Devito (1997) menganggap fungsi persuasi dari
proses komunikasi massa sebagai fungsi terpenting yang dapat memberikan berbagai
macam dampak, seperti: memperkuat dan mengubah sikap, kepercayaan atau nilai
18
seseorang,
dapat
menggerakan
seseorang
untuk
melakukan
sesuatu,
dan
memeperkenalkan etika atau nilai-nilai tertentu. Etika disini dapat terlihat dari
beberapa kasus dimana media komunikasi massa dapat menunjukkan mana etika
yang benar dan tidak baik serta etika yang salah maupun tidak baik.
Keempat adalah fungsi transmisi budaya. Berbagai jenis komunikasi yang
dilakukan merupakan hasil refleksi dari pengalaman dan pengetahuan pelaku
komunikasi, dan kemudian hasil refleksi yang berupa pesan tersebut menjadi
pengalaman dan pengetahuan baru untuk penerima pesannya. Budaya komunikasi
tersebut secara rutin dimodifikasi oleh pengalaman baru yang terus didapatkan.
Transmisi budaya memiliki dua tingkatan yaitu kontemporer dan historis. Dalam
tingkat kontemporer, media massa memperkuat nilai-nilai masyarakat, dengan
memperkenalkan bibit-bibit perubahan secara terus menerus. Alfred Korzybski
menggunakan istilah time-binding untuk menggambarkan kemampuan manusia yang
didasarkan pada ingatan. Kemampuan manusia yang dapat menyimpan secara sadar
dan melupakan sesuatu ini membimbing terjadinya transmisi budaya. Sementara itu,
secara historis umat manusia dapat melewati dan menambahkan pengalaman baru
dar sekarang untuk membimbingnya kemasa depan. Karena, manusia dapat
menyortir, mengakumulasi, dan membuktikan ingatan akan pengalamannya yang
kemudian di transmisikan kepada orang lain.
Dalam proses komunikasi massa, pesan yang disampaikan kepada khalayak
sebenarnya merupakan transmisi budaya berupa informasi, hiburan, dan edukasi.
Transmisi budaya yang berikan oleh media komunikasi massa dapat menjadi
pengalaman dan pengetahuan baru audience-nya. Namun, dampak negatif yang dapat
timbul dari fungsi transmisi budaya adalah, pengaruh kebudayaan luar yag dapat
19
merusak dan merubah kebudayaan asli yang dimiliki oleh si penerima pesan atau
audience.
Selain empat fungsi utama dari Jay Black dan Frederick C. Whitney,
komunikasi massa juga memiliki fungsi lainnya yaitu: (1) Mendorong kohesi sosial
dimana media komunikasi massa dapat menjadi alat pemersatu masyarakat. Pada
praktiknya, media massa mampu mengarahkan dan menggerakan masyarakat untuk
maju dan bersatu, namun jika media massa tidak dikelola dengan baik dan bijak,
maka kemampuan yang bersifat positif tersebut dapat berdampak negatif pada
masyarakat. Dimana, fungsi penyatuan atau integrasi tersebut dapat menciptakan
konflik dan membuat disintegrasi yang memisahkan dan memecahkan serta
menghilangkan rasa persatuan masyarakat. (2) Komunikasi massa sebagai fungsi
pengawasan.
Menurut Laswell, komunikasi massa merupakan kegiatan pengumpulan dan
penyebaran informasi mengenai peristiwa yang terjadi di sekitar masyarakat. Fungsi
pengawasan ini dapat dilihat dari pesan media massa yang menyampaikan
pemberitaan tentang peristiwa bencana alam. Selain itu fungsi pengawasan lainnya
dapat berupa informasi tentang perubahan yang terjadi disekitar masyarakat, dimana
perubahan tersebut dapat menjadi sebuah patokan atau perbandingan. Contohnya
seperti, perubahan harga cabai yang terjadi di pasar. Fungsi pengawasan terebut
dikenal dengan istilah beware surveillance, dan fungsi pengawasan seperti
pemberitahuan tentang bencana alam disebut juga dengan istilah warning. (3)
Korelasi. Fungsi korelasi dari komunikasi massa adalah fungsi yang menghubungkan
bagian-bagian dari masyarakat agar sesuai dengan lingkungannya, serta menjadi
penghubung antar berbagai komponen masyarakat. Hal ini dapat dilihat dari peran
media massa yang dapat menjadi penghubung antara aspirasi masyarakat dengan
20
pemerintah. (4) Pewarisan sosial. Media komunikasi massa menjadi alat penerus
yang mewariskan suatu ilmu pengetahuan, norma, nilai, dan etika dari generasi ke
generasi selanjutnya. (5) Melawan kekuasaan dan kekuatan represif. Pada prosesnya,
komunikasi massa berperan dalam menyebarkan informasi, namun dibalik informasi
tersebut pelaku komunikasi massa dapat memasukkan motif-motif tertentu yang
dapat memperkuat kekuasaan ataupun sebaliknya. Komunikasi massa juga dijadika
ajang untuk melawan kekuasaan, dimana dalam hal ini bisa meliputi kekuasaan
pemerintah maupun lembaga. Jika hal ini terjadi, biasanya komunikasi massa
tersebut memiliki motif-motif tertentu seperti motif politik maupun motif-motif yang
menginginkan perubahan.
2.1.1.3 Elemen Komunikasi Massa
Para pelaku komunikasi pada jenis komunikasi massa, tidak berbeda jauh
dengan para pelaku komunikasi pada umumnya. Terdapat lima elemen penting dalam
proses komunikasi massa, yaitu:
1. Komunikator
Dalam komunikasi massa, Komunikator berupa lembaga sosial yang
disebut dengan media massa. Media massa tersebut terdiri dari kumpulan
individu yang bekerja bersama, dimulai dari pengumpulan informasi dan
pembentukan pesan, hingga proses penyebaran pesan. Sehingga dapat
dikatakan bahwa komunikator dalam komunikasi massa merupakan
sebuah organisasi, lembaga, atau institusi dimana para anggota organisasi
tersebut bertugas mengirim pesan sesuai dengan tujuan organisasi
tersebut.
21
Menurut
Hiebert,
Ungurait,
dan
Bohn,
komunikator
dalam
komunikasi massa memiliki lima karakteristik, yaitu: (1) competitivines,
dimana komunikator memiliki daya saing terhadap komunikator lainnya.
Membangun daya saing dilakukan melalui penegelolaan lembaga media
dan perluasan jangkauan dan cakupan pengiriman pesan. (2) Size and
complexity.
Ukuran erat kaitannya
dengan jumlah orang yang
dipekerjakan didalam saluran komunikasi massa. Semakin besar media
massa, maka semakin banyak pula orang yang dipekerjakan didalamnya,
dan semakin banyaknya anggota lembaga media massa, maka
komunkator dalam komunikasi massa akan semakin kompleks. (3)
Industrialization. Dunia komunikasi massa telah menjadi sebuah industri,
dimana para komunikator harus dapat mengelola dan bersaing antar
media komunikasi massa (4) Specialization. Dalam menyampaikan pesan,
media komunikasi massa atau media massa tidak boleh sembarangan
memberikan informasi, untuk itulah dibutuhkan orang-orang yang ahli
dibidangnya untuk mencari, merangkai, dan menyebarkan informai.
Karakteristik yang terakhir adalah (5) Representation. komunikator dalam
komunikasi massa membutuhkan peranan koresponden atau biro-biro di
luar daerahnya untuk mewakilkan perananya sebagai media komunikasi
massa. Misalnya, koresponden yang berada di luar kota, yang bertugas
untuk mengumpulkan dan menyebarkan pesan.
2. Isi
Isi adalah apa yang terdapat didalam sebuah pesan yang disampaikan
oleh komunikator. Isi dalam komunikasi massa, merupakan informasi
22
yang terkandung dalam pesan tersebut. Informasi tersebut bisa berupa
informasi yang bersifat informatif, edukatif, hiburan, maupun persuasif.
3. Komunikan
Dalam komunikasi massa, komunikan biasa disebut dengan istilah
audience. Hiebert mengemukakan karakteristik yang dimiliki oleh
audience. Ada lima hal yang mencirikan peran komunikan dalam
komunikasi massa, yaitu: (1) audience terdiri dalam jumlah besar yang
tersebar di berbagai wilayah. (2) audience bersifat heterogen, dimana para
penerima pesan berasal dari berbagai lapisan sosial masyarakat. (3)
audience bersifat anonim, dimana mereka tidak saling mengenal satu
dengan lainnya. (4) audience terpisahkan oleh komunikator baik secara
fisik, ruang, maupun waktu, dan terakhir adalah (5) audience berisikan
orang-orang yang memiliki rasa untuk berbagi pengalaman. audience
pada komunikasi massa juga saling dipengaruhi oleh hubungan sosial
antar mereka, sehingga audience tersebut dapat memilih produk media
yang akan mereka gunakan secara sadar, sesuai dengan kebutuhan dan
keinginan mereka.
4. Umpan balik atau feedback
Dalam proses komunikasi terbagi menjadi dua jenis, yaitu langsung
maupun tidak langsung. Immediated feedback atau umpan balik langsung
merupakan umpan balik yang langsung terjadi setelah pesan selesai
disampaikan. biasanya ini terjadi saat komunikasi berlangsung secara
berhadap-hadapan atau tatap muka. Seperti yang terjadi dalam
23
komunikasi antarpersona. Sedangkan umpa balik yang terjadi dalam
proses komunikasi massa adalah delayed feedback atau umpan balik tidak
langsung. Sehingga, antara komunikator dengan komunikan tidak terjadi
kontak langsung, dimana komunikan tidak dapat menunjukan feedback
berupa reaksi atas pesan yang diterima, serta komunikator juga tidak
dapat mengetahui secara langsung efek atau dampak dari pesan yang
disampaikan. Namun, dalam perkembangannya, komunikasi massa
memungkinkan komunikan mengirimkan feedback kepada komunikator
walau dalam bentuk tertunda seperti surat pembaca yang dikirimkan oleh
para pembaca, telepon interaktif yang digunakan dalam siaran radio
maupun tayangan televisi. Saat ini, para komunikator juga dapat melihat
reaksi atau feedback yang dikirimkan oleh para komunikasn. Biasanya hal
ini dilakukan oleh dunia pertelevisian dimana mereka mengandalkan
rating sebagai acuan seberapa besar umpan balik yang diberikan oleh
para komunikan.
5. Gangguan
Gangguan atau noise selalu terjadi di setiap proses komunikasi
berlangsung. Menurut buku pengantar komunikasi massa karangan
Nurudin, M.Si. terdapat dua jenis gangguan yang terjadi dalam proses
komunikasi massa, yaitu:
Pertama,
gangguan
saluran
komunikasi.
Komunikasi
massa
merupakan jenis komunikasi yang membutuhkan saluran sebagai
perantara agar pesan dapat sampai kepada khalayak yang menjadi
komunikan dalam proses komunikasi massa. Dalam proses penyampaian
24
pesannya, gangguan dapat saja terjadi didalam saluran yang menjadi
pengantar pesan tersebut. Terdapat dua faktor yang dapat mengganggu
saluran komunikasi massa, yaitu faktor internal, dan faktor eksternal.
Faktor internal dapat terjadi pada media cetak maupun media
elektronik, seperti kesalahan dalam cetakan surat kabar atau koran,
dimana kesalahan cetak dapat mengganggu proses penyampaian makna
pesan yang hendak disampaikan komunikator. Gangguan saluran internal
juga terjadi pada media yang mengandalkan jaringan pemancar seperti
frekuensi maupun jaringan internet seperti yang terjadi pada media radio
dan televisi. Gangguan yang terjadi pada gelombang frekuensi radio dapat
memperburuk kualitas suara siaran, begitupun gangguan frekuensi yang
terjadi pada media televisi. gangguan tersebut dapat memperburuk
kualitas tayangan baik suara maupun gambar. Terlebih dengan
perkembangan zaman yang kini menghasilkan saluran media baru yaitu
internet. Jaringan internet yang terukur dari kecepatan dalam mengakses,
dapat mengalami gangguan yang membuat para komunikator atau
komunikan tidak dapat mengakses media tersebut. Jika gangguan saluran
internal ini terjadi maka proses pengiriman pesan tidak akan sesuai
dengan apa yang diharapkan oleh komunikator. Karena gangguan saluran
internal lebih merujuk kepada gangguan yang terjadi pada media
komunikasi massa.
Selanjutnya adalah gangguan saluran yang terjadi karena faktor
eksternal. Gangguan eksternal lebih merujuk kepada gangguan yang
terjadi pada komunikan sebagai penerima pesan. Hal ini terjadi
dikarenakan faktor komunikan yang tidak dapat menerima pesan secara
25
jelas. Misalkan, adanya gangguan saat menonton TV seperti terjadi
kegaduhan atau terjadi komunikasi lain saat komunikan mencoba
menerima informasi yang disampaikan media komunikasi massa,
sehingga komunikan menerima dua pesan sekaligus secara bersamaan,
seperti mengobrol saat menonton TV. Kemudian untuk media radio,
dimana radio menjadi teman saat berpergian, komunikan harus membagi
konsentrasi dalam mendengarkan radio sambil memperhatikan jalanan.
Terakhir, untuk media cetak, keterbatasan melek huruf yang dimiliki
komunikan atau sifat malas membaca yang dimiliki dapat menjadi faktor
yang membuat pesan tidak sampai pada komunikan. Hal ini juga yang
membuat
media cetak tidak lagi menjadi sumber utama saluran
komunikasi massa yang diminati. Dengan adanya faktor eksternal, media
komunikasi massa harus dapat meningkatkan loyalitas komunikan
terhadap media tersebut, agar gangguan eksternal tidak lagi menjadi
sebuah masalah yang berarti.
Kedua adalah gangguan semantik. Gangguan ini berhubungan dengan
bahasa. Bahasa merupakan simbol komunikasi dimana pesan dapat diberi
makna yang nantinya akan di artikan oleh komunikan. Namun, bila
penggunaan simbol terebut salah, maka akan memberikan arti yang
berbeda dari apa yang dimaksudkan oleh si pengirim pesan. Seperti yang
terjadi pada media cetak. Kesalahan penulisan atau terlalu banyak
menggunakan
kalimat
ambigu
membuat
pembaca
susah
dalam
mengartikan apa yang dimaksud oleh si komunikator. Sama halnya yang
terjadi pada media elektronik seperti radio dan televisi. Penggunaan
banyak bahasa yang tidak familiar pada siaran radio, membuat pendengar
26
tidak mengerti apa yang dimaksud oleh komunikan. Dalam dunia
pertelevisian, gangguan semantik biasa terjadi pada penulisan judul dan
gelar dalam chargen tayangan, serta kesalahan ucap yang sering terjadi
pada reporter. Hal-hal tersebut menjadi hambatan yang serius, pasalanya
cara berpikir dan cara mendeskripsikan antar satu individu dengan
individu lainnya pasti berbeda, sehingga jika kesalahan bahasa terjadi
maka akan terjadi perbedaan dan penyalah artian pesan yang
disampaikan. Sehingga pesan yang sampai tidak sama dengan apa yang
dimaksudkan oleh komunikator.
6. Gatekeeper
Menurut John R. Bittner (1996), gatekeeper adalah individu-individu
atau kelompok orang yang memantau arus informasi dalam sebuah
saluran komunikasi massa. Peran gatekeeper dalam komunikasi massa
sangatlah penting, pasalnya pesan yang hendak dikirimkan dapat
memberikan dampak baik positif maupun negatif kepada pihak
penyampai pesan (dalam hal ini adalah media komunikasi massa).
Sehingga, jika pesan yang disampaikan tidak melalui gatekeeper, maka
media komunikasi massa tersebut sangat rentan terhadap dampak negatif
yang ditimbulkan dari pesan yang disampaikannya.
Ray Eldon Hiebert berpendapat bahwa gatekeeper merupakan suatu
kekuatan kreatif, karena pada praktiknya gatekeeper mampu menghapus,
menambahkan, dan memodifikasi pesan. Kekuatan terbesar gatekeeper
adalah mampu menghentikan informasi yang akan dikeluarkan oleh
media komunikasi massa. Maka tak heran jika gatekeeper dapat menjadi
27
penentu kelayakan suatu pesan yang akan disampaikan kepada khalayak
luas.
7. Pengatur.
Peranan pihak lain dalam mengatur dan menetapkan regulasi para
pelaku komunikasi massa, menjadi bagian pengawasan dalam kegiatan
komunikasi. Pengatur dalam media massa adalah pihak luar yang secara
tidak langsung ikut mempengaruhi proses aliran pesan media massa, dan
mampu menentukan kebijakan redaksional. Pengatur tersebut antara lain
pemerintah, konsumen, pengadilan, lembaga masyarakat, dan kelompok
penekan seperti narasumber, dan pengiklan. Bentuk aturan yang
dijalankan berisi hukum, aturan, pelarangan, dan tekanan informal.
Peraturan ini berfungsi untuk mengontrol isi media dan mengontrol
struktur yang ada dalam media tersebut.
2.1.2. Media Massa
2.1.2.1. Perkembangan Media Massa
Pada dasarnya, pembahasan tentang perkembangan media massa, secara
otomatis mengarah pada konteks komunikasi massa. Karena media massa merupakan
bentuk saluran dari proses komunikasi massa.
Manusia merupakan mahluk yang memiliki kebutuhan akan informasi, media
massa merupakan salah satu sumber informasi yang digunakan manusia untuk
memenuhi kebutuhannya tersebut. Berkembangnya media massa, memudahkan
manusia dalam pemenuhan kebutuhan akan informasi. Sampai pada akhirnya,
manusia kini ketergantungan dengan berbagai jenis media massa baik cetak maupun
28
elektronik. Selain menjadi pemenuh kebutuhan informasi manusia, media massa juga
memiliki dampak yang sangat mempengaruhi para penggunanya. Dampak yang
ditimbulkan pun terus berkembang sesuai dengan perkembangan zaman yang
mempengaruhi inovasi manusia sehingga manusia dapat mengembangkan teknologi
sesuai
dengan
kebutuhannya.
Dengan
demikian,
dapat
dikatakan
bahwa
perkembangan media massa sejalan dengan perkembangan sejarah manusia.
Berdasarkan buku pengantar komunikasi massa karya Nurudin, sebelum
memasuki zaman media elektronik dimana penggunaan peralatan modern sangat
berpengaruh, manusia terlebih dulu memasuki zaman media cetak. Zaman ini
ditandai dengan proses pembuatan cetakan dengan memakai tanah liat sebagai
medianya. Kemudian proses ini berkembang dengan mencetak di dalam balok kayu
lunak, hingga akhirnya perkembangan era cetak ini menggunakan kertas sebagai
bahan untuk merekam tulisan.
Mesin cetak pertama kali diciptakan oleh Johan Gutenberg. Banyak
percobaan yang telah ia lakukan hingga akhirnya ia menciptakan mesin baja yang
mampu mencetak sesuai dengan huruf-huruf yang terdapat di alat tersebut secara
benar dan jelas. Hasil proyek cetakan pertama Gutenberg berupa Injil, hingga
akhirnya ia dapat mencetak dan melipatgandakan Injil tersebut hingga 200 salinan.
Namun, dalam mengembangkan proyeknya tersebut Gutenberg harus dihadapkan
dengan beberapa masalah yang mengakibatkannya terpuruk dan meninggal dalam
kemiskinan. Padahal, penemuan percetakan ini sesungguhnya menjadi titik awal
berkembangnya era komunikasi massa.
Perkembangan zaman percetakan kemudian melahirkan pengembangan surat
kabar dimana proses komunikasi ini memungkinkan penyebaran informasi dalam
bentuk tulisan. Pada abad ke-19, mulai bermunculan media cetak berupa buku,
29
majalah, dan surat kabar. Dengan kemunculan media cetak ini, maka dapat dikatakan
telah ditemukannya bentuk baru dalam berkomunikasi. Menurut Charles Horton
Cooley, ahli Sosiologi dari Amerika berpendapat bahwa, media baru ini telah
mengatasi ruang dan waktu dalam proses komunikasi, media baru ini juga telah
membawa perluasan gagasan dan perasaan, serta menjadi jalan masuk kedalam
berbagai lapisan masyarakat.
Faktor kebutuhan manusia akan informasi yang terus meningkat, telah
membuat para ahli mengembangkan teknologi yang akhirnya menjadi dorongan
utama terciptanya media komunikasi massa elektronik. Ditandai dengan penemuan
gelombang radio pada tahun 1887 oleh Heinrich Hertz yang membuka peluang pada
berkembangnya dunia penyiaran. Kemudian peluang tersebut dikembangkan oleh
Marconi
yang
berhasil
mengirim
sinyal
menyebrangi
Samudra
Atlantik
menggunakan gelombang elektromagnetik pada tahun 1901.
Tidak berhenti sampai disitu, era komunikasi massa elektronik ini terus
berkembang hingga saat ini. Setelah ditemukannya radio dan mengalami titik jenuh
pada tahun 1950-an, kemudian para ahli mencoba untuk menciptakan media
elektronik lainnya yaitu televisi. Televisi menjadi media massa yang komplit, dimana
didalam media massa tersebut dapat mencangkup dua unsur sekaligus yaitu audio
(suara) maupun visual (gambar), maka dari itu televisi disebut sebagai media audio
visual. Namun, dengan beberapa keterbatasan dan permintaan informasi yang kian
tinggi, memacu manusia untuk terus mengeksplorasi, meneliti dan mengembangkan
media yang dapat memudahkan proses komunikasi. Hingga akhirnya ditemukanlah
media massa internet.
Media massa internet yang kini sedang berkembang, menjadi alternatif dalam
berkomunikasi, terutama komunikasi massa. Internet sebagai alat penyebaran
30
informasi yang bersifat cepat dan tak terbatas ini mampu mengatasi ruang dan waktu.
Kini, internet menjadi media yang dapat di integrasikan dengan media lain seperti
media cetak, radio, maupun televisi. Hal ini dapat dilihat dari media cetak online
yang kian marak, serta penyiaran radio maupun TV yang berbasis streaming.
2.1.2.2. Sifat Media Massa
Saluran komunikasi massa memiliki sifat dasar periodik. Artinya media
massa tersebut bersifat teratur dan hadir sesuai dengan waktu-waktu yang telah
ditentukan sebelumnya. Namun, jenis media massa memiliki sifatnya masingmasing. Sifat-sifat inilah yang dapat membedakan antara media massa cetak maupun
media massa elektronik. Berikut ini merupakan penjelasan tentang perbedaan antara
media cetak (visual), radio (audio), dan televisi (audio visual) berdasarkan
rangkuman Morisan dari bukunya yang berjudul Manajemen Media Penyiaran
Strategi Mengelola Radio & Televisi.
Media cetak bersifat visual, dimana media cetak hanya dapat dibaca dan tidak
dapat didengar. Media cetak dapat dibaca dimana saja, kapan saja, dan dapat diulangulang. Sehingga membuat media tersebut sebagai media yang memiliki tingkat
fleksibilitas yang tinggi. Daya rangsang yang dimiliki oleh media cetak relatif
rendah, sehingga dampak persuasif yang ditimbulkan tidaklah besar. Biaya yang
relatif rendah menjadikan media ini sebagai media massa yang mudah didapatkan.
Namun, daya jangkau media ini masih terbatas. Hanya masyarakat yang sudah
'melek huruf' saja yang dapat menikmatinya. Sehingga, masyarakat yang masih
memiliki latar belakang pendidikan rendah dengan keterbatasan dibidang membaca,
tidak dapat dijangkau oleh media massa cetak.
31
Berbeda dengan media cetak yang mengharuskan penggunanya untuk dapat
membaca, radio merupakan media massa bersifat audio dimana penikmatnya cukup
mengandalkan indra pendengarannya sebagai alat untuk menerima pesan yang
dikirimkan. Radio yang dikenal sebagai media massa auditif, sangat mengandalkan
suara sang penyiar untuk menyampaikan pesan kepada pendengarnya. Radio bersifat
elektris dengan mengandalkan gelombang frekuensi untuk mengirimkan pesannya
serta membutuhkan peralatan elektronik untuk menerimanya. Daya rangsang yang
rendah juga dimiliki oleh radio, sehingga pesan persuasif dirasa kurang efektif jika
disampaikan melalui media radio. Daya jangkau yang besar dan biaya yang relatif
murah membuat media ini mudah dimiliki dan dapat dinikmati oleh banyak orang.
Media massa televisi merupakan media penyempurna dalam proses
komunikasi massa. Hal ini terlihat dari sifat media televisi yang dapat dinikmati
secara audio maupun visual. Televisi telah mencangkup kedua sifat media cetak dan
radio, dimana penikmat tayangan televisi dapat melihat tayangan tersebut dengan
indra pengelihatan serta mendengar suara siaran melalui indra pendengaran secara
bersamaan. Televisi tidak hanya menyuguhkan format tulisan yang hanya dapat
dibaca seperti media cetak, namun para pengguna televisi juga dapat melihat gambar
bergerak disertai suara yang mendukung informasi tersebut. Informasi yang
disampaikan sebelumnya oleh media televisi dapat diperoleh kembali apabila stasiun
TV tersebut menyiarkan tayangan yang sama, dalam dunia pertelevisian disebut
dengan siaran ulang. Sifat lainnya yang dimiliki oleh media televisi adalah, daya
rangsang yang sangat tinggi. Tingkat daya rangsang yang tinggi menjadikan televisi
sebagai media yang paling efektif dalam menyampaikan pesan yang bersifat
persuasif. Dengan menggunakan gelombang frekuensi untuk menyalurkan siaranya
kepada audience serta membutuhan peralatan elektronik dalam proses penyampaian
32
dan penerimaan pesannya, maka televisi bersifat elektris. Daya jangkau yang besar
menjadikan televisi sebagai media favorit yang dapat dinikmati oleh masyarakat.
Namun, biaya yang sangat mahal dalam proses produksi penyiaran maupun harga
televisi yang tidak murah menjadikan media massa ini sebagai media massa yang
esklusif.
2.1.3 Telivisi
Kata televisi merupakan gabungan dari bahasa Yunani, yaitu tele yang berarti
jauh dan visio yang berarti pengelihatan. Sehingga televisi dapat diartikan sebagai
alat komunikasi yang dapat dilihat dari jarak jauh. Indah Rahmawati dan Dodoy
Rusnandi (2011) menerangkan bahwa televisi merupakan sebuah telekomunikasi
yang dikenal sebagai penerima siaran berupa gambar bergerak baik berwarna
maupun hitam putih (monokrom) yang disertakan suara. Menurut Indah Rahmawati
dan Dodoy Rusnandi dalam bukunya 'Berkarier di Dunia Broadcast Televisi dan
Radio' menyampaikan bahwa kemunculan televisi mampu mengubah peradaban
dunia.
Penyiaran televisi biasanya disebarkan melalui pancaran radio VHF dan UHF
yang telah ditetapkan dalam jalur frekuensi. Gelombang televisi juga kini
dipancarkan dengan suara stereo di banyak negara. Dulu, siaran televisi dipancarkan
melalui gelombang analog, namun dengan berkembangnya teknologi, kini industri
penyiaran televisi telah beralih ke penyiaran gelombang digital. (Rahmawati &
Rusnandi, 2011: 3)
33
2.1.3.1 Perkembangan Telivisi
Televisi
tidak
muncul
begitu
saja.
Morissan
menjelaskan
tentang
perkembangan media massas, khususnya televisi. Pada tahun 1884, Paul Nipkow
yang berasal dari Jerman menemukan prinsip-prinsip televisi. Kemudian pada tahun
1928, Vladimir Zworkyn dari Amerika Serikat berhasil menemukan alat berupa
tabung kamera atau iconoscope yang dapat menangkap dan mengirim gambar ke
dalam kotak yang disebut televisi. Alat tersebut bekerja dengan cara mengubah
gambar dari bentuk gambar optis ke dalam sinyal elektronis berupa gelombang. Pada
tahun 1939, pesawat televisi berhasil diciptakan oleh Zworkyn dan Philo Farnsworth
dan dipertunjukkan kepada masyarakat umum pada pertemuan World's Fair. Pada
saat itu, televisi masih menjadi barang mahal yang tidak dapat dimiliki oleh semua
orang. Program-program yang disajikan pun tidak banyak. Sehingga televisi pada
saat itu dianggap biasa saja oleh masyarakat.
Setelah perang dunia ke dua usai, kemajuan televisi berhasil didorong oleh
penciptaan teknologi yang terus dikembangkan. Mulai dari ukuran layar televisi yang
menjadi lebih besar, banyaknya program tayangan yang tersedia, hingga jaringan
yang mulai dibentuk oleh sejumlah stasiun televisi lokal. Hal ini mengakibatkan
pemakaian pesawat televisi berkembang pesat. Pada awalnya, semua program
televisi ditayangkan dalam siaran langsung atau live. Dimana pada saat itu belum
ditemukan videotape yaitu alat penyimpan gambar dan suara, sehingga siaran
tersebut harus diulang berkali-kali. Pada saat itu, pertunjukan opera New York,
menjadi siaran favorit di Amerika.
Pada tahun 1956, videotape berhasil dikembangkan oleh Ampex Corporation.
Alat tersebut dijadikan sebagai sarana menyimpan suara dan gambar untuk
34
kepentingan siaran program televisi. Fungsi videotape ini sangat dimanfaatkan pada
tahun 1960-an, dimana siaran langsung diubah dan disimpan didalam alat tersebut.
Dunia teknologi yang terus berkembang telah berhasil merubah televisi yang
tadinya hanya menyiarkan tayangan hitam putih, menjadi siaran berwarna pada tahun
1960-an. Siaran berwarna pertama kali dilakukan oleh stasiun televisi NBC.
Di Indonesia, siaran televisi pertama kali dimulai tahun 1962. Stasiun televisi
pada saat itu baru ada satu, yaitu saluran televisi pemerintah, TVRI. Kemudian pada
tahun 1989, barulah muncul televisi swasta RCTI yang disusul dengan stasiun
televisi swasta lainnya seperti SCTV, Indosiar, TPI, dan ANTV.
Sejak tahun 1990 televisi di Indonesia bekembang pesat. Dalam jangka waktu
16 tahun, tercatat sepuluh stasiun televisi swasta yang melakukan siaran nasional.
Hal ini dikarenakan berkembangnya kebutuhan masyarakat akan informasi, sejalan
dengan berkembangnya bidang penyiaran di Indonesia sehingga melahirkan stasiun
penyiaran baru lainnya seperti Metro TV, Trans TV, Trans7, Global TV, TV One,
dan stasiun TV swasta lainnya.
Perkembangan televisi ini memberikan dampak positif bagi kemajuan
pengetahuan dan proses adopsi inovasi teknologi di kalangan pemirsa khususnya
masyarakat Indonesia.
Dalam perkembangan televisi, stasiun penyiaran menjadi bagian penting
didalamnya. Karena tanpa sebuah saluran televisi, maka tidak ada pihak yang
menjadi penyebar informasi kepada masyarakat. Selain stasiun pemerintah dan
stasiun swasta, kini terdapat stasiun berlangganan, dan stasiun komunitas. Saluransaluran televisi inilah yang menjadi bukti lain dari berkembangnya dunia
pertelevisian. Morissan menggolongkannya kedalam empat jenis stasiun televisi
yaitu:
35
1. Stasiun pemerintah
Stasiun pemerintah atau stasiun publik merupakan saluran televisi yang
hak siarnya dipegang oleh pemerintah. Stasiun ini bersifat independen
dan netral. Bertujuan untuk pembangunan dan bukan untuk mencari
keuntungan, serta isi siaran berfungsi sebagai layanan kepentingan
masyarakat.
2. Stasiun televisi swasta
Stasiun ini melakukan siaran dengan orientasi mencari keuntungan atau
komersil.
3. Stasiun berlangganan.
Jika dibandingkan dengan stasiun TV pemerintah dan swasta, audience
stasiun TV berlangganan tidak dapat menikmati seluruh tayangan yang
disediakan oleh stasiun televisi tersebut, karena stasiun ini bersifat payperview, dimana penonton hanya dapat menikmati tayangan sesuai
dengan program-program yang dibayarkannya. Stasiun televisi ini disebut
juga dengan televisi kabel.
4. Stasiun Komunitas
Ini merupakan saluran televisi yang diciptakan oleh komunitas tertentu,
bersifat independen, dan tidak komersil sehingga stasiun ini tidak menjadi
bagian untuk mencari keuntungan.
Namun, dengan terus berkembangnya teknologi penyiaran, kini fasilitas
internet dapat dijadikan media baru untuk siaran televisi. Sehingga, dunia penyiaran
televisi dapat dirasakan melalui media online. Siaran televisi ini disebut juga dengan
TV streaming.
36
2.1.3.2 TV Streaming
Perkembangan pesat terus terjadi pada teknologi, dan salah satunya adalah
media massa televisi. Perkembangan medium berupa televisi sebagai penerima
informasi juga berkembang dari masa ke masa. Dulu, televisi tampil dengan tabung
dan ukuran yang besar, tapi kini televisi hadir dengan layar datar, tipis, dengan
kualitas gambar dan suara yang bagus. Hal seperti ini berdampak pada inovasi yang
terus dikembangkan para ahli, dan salah satunya adalah fasilitas konvergensi media.
Fasilitas konvergensi media membuat sebuah perubahan besar terhadap dunia
penyiaran
televisi.
Pasalnya,
dengan adanya
fasilitas konvergensi media,
memungkinkan para penikmat siaran televisi memanfaatkan jaringan internet untuk
menyaksikan tayangan program-program televisi yang disebut dengan live video
streaming atau disebut juga dengan online TV.
Kata streaming sendiri berasal dari kata dasar stream yang artinya sungai.
Sungai disini menggambarkan proses streaming yang diibaratkan seperti aliran air
sungai yang tidak pernah terputus, terkecuali jika sumber mata airnya mengering. Itu
artinya, aliran air sungai diibaratkan seperti aliran data streaming dilakukan tanpa
ada interupsi dan dilakukan secara kontinyu hingga data yang dimiliki habis. Artinya
data tersebut dikirim secara kontinyu dan ditampilkan dalam komputer si penggun
(Fachruddin, 2012: 198).
Streaming sebenarnya adalah proses pengiriminan data secara terus menerus
dengan melakukan broadcast melalui internet untuk ditampilkan oleh aplikasi
streaming pada audience atau pengguna media streaming. Pengguna fasilitas
streaming ini membutuhkan media berupa komputer, dan komputer yang digunakan
tersebut biasa disebut dengan istilah personal computer atau client (klien). Media
37
streaming merupakan pengiriman media digital berupa video, suara, dan data yang
dapat langsung diterima secara terus menerus (stream).
Pada prosesnya, streaming akan menjalankan file berupa video maupun
audio. Video dan audio tersebut terletak pada server yang dapat langsung dijalankan
pada komputer client setelah dapat perintah dari user. Ketika client melakukan
streaming, maka streaming tersebut dapat dilakukan secara live, dimana seluruh
pengguna internet yang mengakses streaming dari channel yang sama akan
menerima data yang sama pula, dan proses ini bersifat real-time.
Perpaduan beberapa program dibutuhkan untuk menunjang siaran dan
meningkatkan kualitas siaran streaming tersebut. Seperti menggunakan beberapa
komponen penunjang siaran untuk proses capture, merekam stream audio dan video,
serta memperhalus tampilan media player untuk streaming, dan yang terpenting
adalah penggunaan aplikasi yang akan dipakai untuk proses streaming broadcasting
televisi itu sendiri. Perpaduan dari beberapa aplikasi program diatas menghasilkan
siaran televisi yang dapat disaksikan pada layar komputer client dengan
menggunakan akses jaringan internet. Namun, kelancaran siaran juga ditentukan dari
kecepatan internet yang digunakan oleh client itu sendiri. Hal ini menentukan hasil
output siaran, dimana proses decoding sedang terjadi sebelum hasil siaran dapat
dinikmati. Proses ini disebut dengan istilah loading dan Buffering. Buffering sendiri
adalah proses dimana sebuah player yang digunakan untuk menjalankan media
streaming sedang menyimpan bagian-bagian file media streaming ke tempat
penyimpanan local (Fachruddin, 2012: 199). Proses Buffering ini dapat terjadi
dimanapun saat player digunakan. Buffering bisa terjadi di awal siaran maupun di
tengah-tengah siaran. Hal ini berkaitan dengan kapasitas internet atau yang biasa
dikenal dengan istilah bandwidth. Bandwidth menentukan kecepatan sebuah siaran
38
yang berbasiskan internet. Buffering yang terjadi saat client ingin menyaksikan
tayangan TV streaming, disebabkan karena bandwidth yang diperlukan untuk
memainkan streaming kurang sesuai atau kurang memenuhi besar bandwidth dari
yang seharusnya. (Fachruddin, 2012: 200).
Proses dasar streaming melalui empat tahapan dalam pengiriman video
streaming, agar pesan yang hendak disampaikan dapat diterima oleh audience atau
client. (Fachruddin, 2012: 200).
Gambar 2.1 Proses Dasar Streaming
Tahap pertama, user sebagai pengguna perangkat komputer, mengunjungi
website yang tersedia di server dan mencari file yang ingin dilihat dan didengar.
Kemudian tahap kedua, server mengirimkan pesan ke server media streaming
terhadap
file
tertentu
yang
diinginkannya.
Selanjutnya
streaming
server
memperlihatkan file yang akan di-streaming kepada pengguna komputer melalui
server website, dan ini merupakan tahap ketiga dari proses dasar penyiaran
streaming, dan tahap keempat, software client pengguna komputer mengkodekan file
tersebut dan memutarnya.Data-data berupa audio maupun video yang dikirimkan
merupakan data yang bisa ditransmisikan dalam ukuran waktu yang telah pasti.
39
Pemilihan jalur penyiaran secara online ini didukung oleh perkembangan
teknologi multimedia yang memiliki encoding dan decoding gambar maupun suara
yang sesuai dengan kecepatan komputer maupun jaringan. Media server yang
menerima file audio dan video streaming merupakan media berkapasitas bandwidth
yang besar. Aliran data streaming seutuhnya dikendalikan oleh para ahli dibidang
Indormation Technology (IT). Dalam hal siaran streaming ini, pihak IT juga menjaga
data-data yang ada di server agar terhidar dari serangan virus yang dapat
membahayakan server. Seluruh hasil siaran via streaming akan terekam oleh server
sebagai bukti dokumentasi. Penyimpanan ini membutuhkan sistem mass storage,
yang dapat menyimpan seluruh kebutuhan baik on air maupun dokumentasi. Dimana,
data-data yang telah tersimpan tersebut dapat diambil kembali sesuai dengan kode
yang telah diberikan berdasarkan rundown harian untuk disiarkan. Dalam proses
penyimpanan tersebut dibutuhkan sistem penyimpanan dokumentasi televisi secara
digital atau library yang aman dan berkapasitas besar tak terbatas. Sistem ini disebut
juga dengan LTO atau Linier Tap Open. Biasanya rentan waktu penyimpanan adalah
selama enam bulan, kemudian data tersebut akan terhapus secara otomatis
(Fachruddin, 2012: 201).
Selain kebutuhan bandwidth pada siaran streaming itu sendiri, para pengguna
internet yang ingin menikmati siaran streaming juga harus memiliki bandwidth yang
sesuai dengan spesifikasi file yang dikirimkan. Hal ini diperlukan agar pesan yang
dikirim dapat diperoleh dengan mudah oleh audience.
Sistem streaming broadcast televisi merupakan sebuah media server yang
terhubung dengan master control room (MCR) atau Technical Operation Center
suatu stasiun televisi. Output dari MCR stasiun televisi yang menuju pada
transmission antennas (TX) dan broadcasting satellite atau satelit komunikasi untuk
40
broadcast, diberikan kepada divisi IT, yang bertanggung jawab pada system
streaming broadcasting, sehingga output siaran berbasis streaming persis dengan
sistem terrestrial dan satelit.
Kini media streaming menjadi populer di tengah masyarakat. Dengan
teknologi yang memungkinkan distribusi data audio, video, dan real-time melalui
internet ini, masyarakat dapat dengan mudah menonton tayangan-tayangan yang
disiarkan melalui streaming. Sehingga masyarakat tidak harus menonton televisi
melalui pesawat televisi. Bahkan, mereka dapat menikmati tayangan televisi tanpa
beranjak dari depan komputer. Bukan hanya komputer saja yang kini menjadi alat
untuk menyaksikan tayangan televisi streaming, namun kini sudah banyak perangkat
telekomunikasi lainnya yang menyediakan beragam fasilitas konvergensi media
streaming.
Teknologi berbasis internet yang menggunakan sistem free to air ini
disediakan oleh beberapa stasiun televisi untuk meningkatkan pelayanan dan agar
dapat bersaing di dunia penyairan. Di Indonesia, kini telah memiliki tiga bentuk
layanan menonton TV melalui internet dengan tujuan tertentu (Fachruddin, 2012:
205-206), yaitu:
1. Website Stasiun Televisi
Layanan tayangan televisi dalam sebuah website yang disediakan oleh
televisi yang bersangkutan. Website ini dibuat sebagai tempat promosi
program-program yang ditayangkan di stasiun TV tersebut, jadwal acara,
synopsis acara, dan lain sebagainya. Biasanya dalam website ini disediakan
juga video streaming yang memungkinkan audience untuk menyaksikan
cuplikan maupun siaran live unggulan yang sudah diunggah dalam website
41
tersebut.
Contohnya
adalah
www.transtv.com,
www.metrotv.com,
www.rcti.com.
2. Website Online TV
Layanan televisi dalam sebuah website yang memfasilitasi seluruh siaran
televisi online dengan video streaming. Sehingga para audience tidak harus
menggunakan media televisi untuk menonton program-program yang
ditayangkan di stasiun televisi tersebut. Contohnya adalah www.binusaccess.com, dan www.mivo.tv
3. Website Online TV (khusus televisi internet)
Layanan khusus televisi dimana sistem siarannya bergantung sepenuhnya
pada layanan streaming atau internet dan tidak memiliki siaran terrestrial
serta satelit komunikasinya. Format program dan informasi yang disuguhkan
didalam TV ini pun terbatas. Contohnya adalah www.idenesia.tv,
www.binus.tv.
Dengan adanya sistem penyiaran berbasis streaming ini dapat menjadi sebuah
tren teknologi modern yang lebih efektif dan efisien bagi produsen dan
konsumennya. Sehingga para penikmat tayangan televisi dapat menggunakan
berbagai perangkat pendukung siaran streaming untuk mendapatkan informasi yang
mereka butuhkan.
2.1.4 Program Siaran Telivisi
Program berasal dari bahasa inggris programme yang berarti acara atau
rencana. Program adalah segala hal yang ditampilkan oleh stasiun penyiaran untuk
42
memenuhi kebutuhan audience-nya. Program disebut juga dengan istilah acara
(Morissan, 2009: 209).
Program atau acara merupakan faktor yang menarik minat audience untuk
mengikuti siaran yang dipancarkan melalui media elektronik, dalam konteks ini
adalah media televisi. Suatu program televisi dapat membawa audience untuk
mengenal suatu stasiun penyiaran.
Program dapat digambarkan sebagai sebuah produk atau pelayanan yang
dijual kepada pihak lain. Pihak disini adalah audience dan pemasang iklan. Sehingga
program tergambar seperti produk yang dibutuhkan orang sampai mereka bersedia
mengikutinya (Morissan, 2009: 210).
Suatu program siaran dapat menjadi alat pengukur selera atau cita rasa
audience dalam menonton tayangan televisi.
Jenis program dibedakan menjadi dua yaitu program news (berita) dan
program entertainment (hiburan).
2.1.4.1 News (berita)
Kebutuhan akan informasi dan rasa keingintahuan yang dimiliki oleh manusia
menuntut peranan media massa dalam menyajikan berbagai tayangan yang
mengandung nilai informasi didalamnya. Program news merupakan jenis program
televisi yang bertujuan untuk memberikan tambahan pengetahuan kepada khalayak
yang menontonnya (Morissan, 2009: 218). Program ini mengedepankan isi tayangan
dimana informasi sebagai nilai jual utama agar dapat menarik minat menonton
khalayak. Program news disebut juga sebagai program informasi, sehingga format
informasi yang diberikan tidak selalu berupa tayangan berita, tapi program semacam
43
talkshow juga termasuk kedalam program informasi ini. Program berita ini dibagi
menjadi dua jenis yaitu hard news dan soft news.
Hard news adalah suatu informasi yang bersifat segera, cepat, dan menarik
(Morissan, 2009: 219). Sehingga suatu peristiwa yang dianggap penting, menarik dan
memiliki unsur informasi dapat digolongkan sebagai bagian dari hard news. Namun,
jika peristiwa tersebut tidak disiarkan secara cepat dan segera, maka berita tersebut
tidak dapat lagi disebut sebagai hard news, karena hard news mengandalkan unsur
kesegeraan. Karena faktor gambar yang disajikan dan ditayangkan program berita
khususnya hard news menjadi sebuah bukti terjadinya suatu peristiwa, maka program
televisi menjadi media yang paling dipercaya oleh khalayak.
Hard news terbagi menjadi beberapa jenis dan diantaranya adalah breaking
news, straight news, dan infotainment. Breaking news adalah tayangan berita yang
disajikan dengan durasi singkat dan bersifat sepintas. Sedangkan straight news
menyajikan informasi terpenting dan bersifat terikat oleh waktu sehingga jika tidak
disiarkan secara cepat dan langsung maka berita tersebut sudah dianggap tidak layak
tayang karena berita tersebut sudah lewat dari masa waktunya atau basi. Lalu yang
berikutnya adalah infotainment. Infotainment berasal dari kata information yang
artinya informasi dan entertainment yang artinya hiburan. Namun, bukan berarti
infotainment adalah berita hiburan yang hanya sekedar memenuhi kebutuhan
khalayak akan hiburan tetapi didalam tayangan tersebut juga memuat informasi yang
harus segera ditayangkan. Infotainment erat kaitannya dengan peristiwa-peristiwa
yang terjadi di kalangan tokoh masyarakat yang bekerja di dunia industri hiburan
(Morissan, 2009: 219-221).
Berbeda dengan hard news, program berita yang menyajikan tayangan
berformat soft news adalah program berita yang menayangkan hal-hal yang menarik
44
dan mendalam, namun tidak bersifat segera, sehingga berita tersebut tidak terikat
waktu dan tidak harus segera ditayangkan (Morissan, 2009: 221). Bahkan tayangan
tersebut dapat diputar kembali sehingga soft news tidak bersifat basi.
Soft news terbagi menjadi beberapa jenis yaitu current affair, dokumenter,
talkshow, dan features.
2.1.4.1.1 Current affair
Current affair merupakan program yang menyajikan informasi yang terkait
dengan suatu berita dan dibahas secara lengkap dan mendalam. Current affair
menjadi pelengkap, dari berita aktual yang sebelumnya disiarkan. Program ini lebih
mengarah pada pengupasan analisa berita dan latar belakang berita tersebut.
2.1.4.1.2 Talkshow
Talkshow, program ini adalah program bincang-bincang yang menampilkan
satu atau beberapa orang yang membahas topik tertentu dan didalamnya dipandu
oleh seorang pembawa acara. Mereka yang menjadi narasumber dalam program
tersebut bukanlah orang biasa, tetapi orang yang mengerti dan memahami topik yang
dibahas.
2.1.4.1.3 Dokumenter
Dokumenter, didalam program ini informasi disajikan secara menarik dengan
tujuan sebagai pembelajaran dan pendidikan. Isi program dokumenter berupa cerita
mengenai suatu tempat, sejarah, tokoh, dan kehidupan baik manusia, hewan, maupun
tumbuhan.
45
2.1.4.1.4 Features
Program features televisi adalah salah satu format tayangan yang menyajikan
kegiatan manusia sehari-hari yang membutuhkan interaksi, rekreasi, pengetahuan,
dan informasi (Fachruddin, 2012: 221). Menurut Jim Atkins Jr., program features
adalah sesuatu yang dapat membuat penonton berlompat dan berpindah untuk
menyaksikannya,
kemudian
mereka
membicarakannya,
meresponnya,
dan
mengingatnya.
Program features membahas tentang suatu pokok bahasan dengan satu tema,
bersifat menjelaskan, menguraikan, menyoroti dan diungkapkan lewat berbagai sudut
pandang. Features dikemas secara mendalam dan luas dengan cara mengeksplorasi
elemen manusiawi atau human interest. Berbagai bidang kehidupan dapat diangkat
menjadi materi untuk membuat program features. Seperti tayangan tentang kuliner
dan kebudayaan suatu negara. Informasi yang terkandung dalam program ini pun
merupakan informasi yang dapat menambah pengetahuan. Sehingga, selain
menghibur, tayangan features juga dapat mendidik audience-nya. Features
merupakan program yang tidak terikat akan waktu sehingga program ini dapat
disiarkan kapan saja.
Pengertian program features hampir serupa dengan pengertian softnews
(Fachruddin, 2012: 222). Ini dikarenakan program features adalah salah satu jenis
berita ringan. Pengertian berita ringan yang terkandung dalam program features
bukan pada materinya, tetapi dari segi teknik penyajiannya. Sehingga, seberat apapun
materi yang diangkat, penonton masih dapat menikmatinya.
Program features merupakan gabungan antara unsur opini, dokumenter, dan
ekspresi. Unsur dokumenter disini berupa kejadian dan fakta-fakta yang dapat
memberikan bukti dan memperkuat argumentasi mengenai suatu pokok bahasan.
46
Argumentasi tersebut merupakan unsur opini yang terkandung dalam sebuah
program features. Opini ini berupa voxpop, dan wawancara. Sebuah program
features tidak akan dapat dibedakan dengan hardnews apabila tidak memasukkan
unsur ekspresi. Unsur ekspresi disini berguna untuk menciptakan sebuah suasana,
sehingga informasi yang dibawakan tidak terlihat kaku dan berat. Unsur ekspresi
dapat membuat sebuah tayangan menjadi lebih rileks dan menyenangkan untuk
dinikmati. Seperti gambar dan atmosfer yang terekam, dapat memberikan gambaran
tentang informasi sesungguhnya dan dapat menghidupkan suasana.
2.1.4.1.4.1 Karakterisik Features
Program
features memiliki beberapa karakteristik yang terkandung
didalamnya. berikut merupakan karakteristik yang terkandung didalam sebuah
program features berdasarkan buku Dasar-dasar Produksi Televisi karangan
Fachruddin, yaitu:
1. Informatif
Program features menyajikan informasi didalamnya, dimana informasi
tersebut bersifat mendidik dan menambah pengetahuan penontonnya.
Informasi yang disuguhkan beragam, seperti aspek kehidupan atau human
interest. Features dapat mengambil perhatian dan menyentuh perasaan
penonton dengan informasi yang disajikannya.
2. Menghibur
Sajian informasi yang ada didalam program features, mengandung nilai
hiburan didalamnya. Nilai hiburan tersebut biasanya dibuat dalam proses
penggarapan programnya dimana program features adalah program
informasi yag dapat disajikan dengan berbagai kreasi. Kreasi disini dapat
47
berupa narasi, wawancara, musik, fragmen (sandiwara pendek), sisipan
puisi maupun pesan moral. Kemasan features pun dibuat berbeda dengan
jenis program informasi lainnya. Dimana program features mengandung
unsur artistik didalamnya, baik dari sudut pengambilan gambar, maupun
alur acara itu sendiri. Pengemasan informasi inilah yang menjadikan
program features dapat menjadi tayangan yang menghibur.
3. Kreatifitas
Program features digambarkan sebagai karya kreatif individual seorang
jurnalis. Dalam sebuah tayangan features sebuah kreatifitas sangatlah
diperlukan. Ide yang kreatif dalam menciptakan tayangan features dapat
menyentuh emosi dan menarik minat menonton khalayak.
4. Timeless
Program features bersifat awet, sehingga dapat disiarkan kapan saja dan
berulang kali tanpa takut informasinya menjadi basi. Inilah ciri-ciri
lainnya yang dapat membedakan features dengan program news lainnya.
Dimana, informasi yang terdapat didalam program features tidak mudah
musnah dimakan oleh waktu. Karena informasinya yang tidak cepat basi,
maka pemutaran program ini berulang-ulang tidak mengurangi perhatian
penontonnya.
5. Subjektivitas
Dalam program features, jurnalis dapat memasukkan emosi dan
pikirannya sendiri. Namun penonjolan gaya penulisan bersifat personal
atau disebut juga penulisan dengan gaya "aku" ini dapat menjadikan
program features tidak enak ditonton.
48
Program features adalah tayangan yang mengandung informasi, namun
dikemas secara kreatif sehingga penonton merasa terhibur dan tidak jenuh ketika
menontonnya. Untuk itulah kelima karakteristik diatas sangat dibutuhkan dalam
membuat sebuah program features.
2.1.4.1.4.2. Fungsi Features
Program features kini menjadi salah satu pilihan tontonan program informasi
dengan gaya yang menghibur. Berikut merupakan lima fungsi program features
(Fachruddin, 2012: 227-228):
1. Sebagai variasi program berita. Dalam jurnalistik, tidak hanya
dibutuhkan keterampilan, tetapi juga membutuhkan seni untuk
memproduksi sebuah tayangan tersebut. Unsur seni yang terdapat dalam
penyajian informasi dapat meningkatkan daya tarik menonton khalayak
dalam memenuhi kebutuhan mereka akan informasi.
2. Sebagai program yang menyajikan informasi dengan cara non-formal.
Features menyajikan serpihan informasi yang belum terangkat dalam
program berita yang bersifat formal. Non-formal disini adalah karena
adanya perspektif jurnalis dan pendekatan human interest didalamnya.
3. Sebagai
sarana
hiburan
dan
pengembangan
imajinasi
yang
menyenangkan.
4. Sebagai sarana pemberi makna dan nilai terhadap suatu peristiwa yang
belum diketahui secara luas. Karena features merupakan program yang
memandang suatu peristiwa dengan perspektif kemanusiaan, seperti
aspek perasaa, gagasan, kejiwaan, kasih sayang, harapan, dan
kecemasan.
49
5. Sebagai sarana ekspresi. Program berita yang berisikan Informasi, telah
memberikan aspek pengetahuan, pemahaman, dan kesadaran (kognitif)
kepada penontonnya. Namun, dengan adanya program feature, penonton
tidak hanya mendapatkan aspek kognitif saja, tetapi juga aspek afektif.
Dimana program ini memberikan aspek empati, perasaan, dan
ketenangan kepada penontonnya.
Kelima fungsi tersebut dapat memberikan warna dalam dunia penyiaran
televisi terutama dalam bidang news. Sehingga, penonton dapat memilih jenis
tayangan informasi seperti apa yang dibutuhkannya.
2.1.4.1.4.3. Jenis Features
Banyak aspek kehidupan yang dapat diangkat menjadi sebuah tayangan
features. Materi dalam membuat program features dapat diperoleh dari berbagai
bidang. Fachruddin dalam bukunya yang berjudul Dasar-dasar Produksi Televisi
Mengelompokkan features menjadi beberapa jenis, yaitu:
1. Features Profil.
Features Profil berisi tentang rangkaian cerita dari perjalanan seseorang.
Tayangan jenis ini juga memberikan sejumlah informasi tentang
identitas, kepribadiaan, kehidupan dan riwayat seorang tokoh, maupun
seseorang yang memiliki cerita menarik yang patut untuk diangkat.
Dalam feature profil ini, lebih memfokuskan pada riwayat perjalanan
seseorang dalam mencapai sesuatu. Informasi yang didapatkan haruslah
akurat, karena ini menyangkut latar belakang kehidupan seseorang.
Sehingga untuk mendapatkan data-data yang akurat, tim produksi atau
50
jurnalis harus melakukan pengamatan terhadap aktivitas subjek seharihari. Kemudian wawancara dengan beberapa narasumber yang terkait
dengan cerita kehidupan tokoh tersebut dibutuhkan untuk menambah
informasi serta memperjelas gambaran tokoh tersebut.
2. Features Sejarah.
Features sejarah berisi tentang ulasan peristiwa-peristiwa penting yang
pernah
terjadi di
tengah-tengah
masyarakat.
Peristiwa
tersebut
merupakan peristiwa besar yang meninggalkan dampak dan perubahan
hingga tercatat dalam sejarah. Tayangan features ini biasanya
ditayangkan untuk memperingati tanggal-tanggal dan peristiwa penting
tersebut. Sehingga tayangan ini menjadi perangkum dan penyimpan serta
penyebar sejarah yang baik. Features sejarah juga menyajikan ulasan
cerita yang melukiskan landmark seperti tempat, monumen, gedung, dan
bangunan. Selain itu juga mengulas tentang sejarah agama, industri,
makanan, dan lain sebagainya.
3. Features musiman.
Menyajikan tayangan yang berkitan dengan aktivitas musiman
masyarakat yang didasarkan pada gaya hidup dan budaya masyarakat itu
sendiri. Aktivitas musiman adalah fenomena rutin yang menjadi tren di
setiap masanya. Contohnya adalah hari raya natal, musim libur sekolah,
dan yang berkaitan dengan cuaca seperti musim kemarau, dan musim
hujan. Fenomena-fenomena tersebut memang tidak datang dengan skala
waktu sering, sehingga disebut juga dengan "musiman", namun
fenomena musiman ini terbilang rutin karena akan terjadi kembali di
51
setiap masanya. Masa disini adalah periode, yaitu hitungan tahun. Jadi
fenomena tersebut akan terulang di setiap tahunnya.
4. Features Interpretatif.
Tayangan features ini mencoba untuk mendeskripsikan dan memberikan
penjelasan lebih detail tentang topik yang telah diberitakan. Sehingga
topik yang diangkat berkaitan dengan isu yang menjadi buah bibir di
tengah masyarakat. Isu tersebut bisa berupa organisasi, aktivitas, tren,
dan gagasan. Misalkan, sebelumnya telah diberitakan tentang aksi
terorisme. Maka dalam tayangan features interpretatif yang akan dibahas
adalah kajian tentang identitas, taktik, dan tujuan gerakan terorisme.
5. Features ilmiah.
Menyajikan tayangan yang berkaitan dengan dunia ilmu pengetahuan,
seperti perkembangan teknologi, penemuan-penemuan dan inovasi baru
di dunia teknologi, beserta seluruh perangkatnya. Features jenis ilmiah
ini dapat memberikan wawasan yang luas tentang high technology masa
kini.
6. Features Minat Insani.
Menyajikan tayangan berupa cerita yang menyentuh kebutuhan dan
kebiasaan dalam kehidupan manusia sehari-hari beserta lingkungannya.
Tayangan ini memberikan informasi, motivasi, dan menyentuh aspek
emosional penontonnya. Materi yang dibahas dapat berupa kisah
kesabaran seseorang yang mengalami berbagai ujian.
7. Features Kiat.
Menyajikan tayangan berupa petunjuk praktis dengan pola pikir yang
praktis dan pragmatis. Dimana penonton dituntun dan diajari untuk
52
melakukan sesuatu hal. Tayangan ini dapat dijadikan alternatif jalan
keluar yang sesuai dengan kondisi khalayak saat ini. Informasi yang
diberikan berasal dari sumber ahli yang memang memiliki pengalaman
dibidangnya. Contoh tayangan ini seperti kiat bagaimana membeli
rumah, beternak hewan peliharaan, dan lain sebagainya.
8. Features Petualangan.
Menyajikan cerita tentang pengalaman-pengalaman yang istimewa dan
mencengangkan serta menyajikan momen-momen yang menarik dan
dramatis. Tayangan ini melibatkan saksi hidup sebagai narasumber
terpercaya yang dapat merekontruksi pengalaman-pengalaman tersebut.
Contoh tayangan ini seperti kesaksian seseorang dalam penyelamatan
dirinya saat berada dalam bencana tsunami.
9. Features Traveloque.
Menyajikan kisah perjalanan wisata jurnalis atau seseorang ke sejumlah
tempat yang memiliki unsur kebudayaan dan tempat-tempat populer
yang sudah dikenal oleh banyak orang atau bahkan ke tempat-tempat
yang belum dikenal namun memiliki keindahan tersendiri. Wisata yang
dilakukan merupakan sebuah perjalanan yang memiliki nilai daya tarik
sehingga penonton seakan diajak bertamasya dan berekreasi melalui
layar kaca. Selain menjadi ajang hiburan, features jenis ini dapat
menambah cakrawala pengetahuan tentang berbagai tempat dan nilainilai yang terdapat didalamnya, serta meningkatkan kepedulian terhadap
lingkungan
serta
kecintaan
terhadap
alam
dan
lingkungannya.
Contohnya adalah program koper dan ransel yang ditayangkan oleh
Trans TV.
53
10. Features Kuliner.
Menyajikan berbagai informasi dari dunia kuliner, mulai dari ulasan rasa
makanan, komponen yang terkandung didalamnya, bentuk dan
teksturnya, serta cara pembuatannya. Biasanya tayangan kuliner juga
memberikan informasi tentang lokasi dan tempat makan dimana
informasi tentang makanan itu sendiri akan dibahas. Saat presenter
mencicipi makanan, penonton seakan dilibatkan didalamnya, dengan trik
menjelaskan secara detail rasa yang ditunjang dengan gambar eksotis
yang memikat sehingga tayangan wisata kuliner dapat menggugah selera
makan penontonnya.
2.1.4.2. Entertainment (hiburan).
Program entertainment atau program hiburan adalah jenis tayangan yang
bertujuan untuk menghibur khalayak dalam bentuk program musik, permainan, dan
cerita (drama) (Morissan, 2009: 223).
Program drama merupakan program yang menyajikan cerita tentang
kehidupan yang diperankan oleh para pemain atau artis dimana dalam cerita tersebut
para tokoh yang memainkan peran memiliki alur ceritanya masing-masing dan
melibatkan konflik serta emosi. Contoh dari program drama adalah sinetron dan film.
Selanjutnya adalah program permainan, dimana didalam program ini melibatkan
sejumlah orang baik individu maupun kelompok yang saling berkompetisi untuk
mendapatkan sejumlah hadiah dan merebut gelar juara. Contoh dari program
permainan adalah acara kuis dan ketangkasan. Terakhir adalah program musik,
program ini merupakan program yang menayangkan musik-musik baik berupa
videoclip maupun pertunjukan atau konser. Dalam program ini, tidak hanya cara
54
pengemasan yang menjadi unsur penting, tetapi suara dan kemampuan artis dalam
membawakan sebuah lagu juga menjadi unsur penting dalam sebuah program music
(Morissan, 2009: 223-330).
2.1.5. Standar Penyiaran Telivisi
Dalam sebuah kegiatan penyiaran penting halnya untuk memperhatikan
sistem dan standar penyiaran yang digunakan. Perubahan yang terjadi dalam sistem
penyiaran dapat merubah standar sebuah siaran stasiun televisi. Apabila dulu siaran
televisi masih menggunakan sistem penyiaran analog, kini sistem penyairan bergeser
meninggalkan analog dan merubahnya menjadi sistem digital.
Selain itu sebuah organisasi penyiaran harus memperhatikan standar
penyiaran yang berlaku di dunia telekomunikasi baik secara umum maupun khusus.
Hal ini sangat penting, karena standar penyiaran menyangkut dapat atau tidaknya
sebuah siaran diselenggarakan.
Beberapa hal yang menyangkut standar suatu penyiaran adalah kebutuhan
akan peralatan seperti kamera, transmisi, dan pesawat televisi. dimana berbagai
peralatan tersebut harus sesuai satu dengan yang lainnya.
Standarisasi penyiaran yang diterapkan di suatu negara dapat berbeda dengan
negara lainnya. Saat ini ada tiga standar sistem penyiaran di dunia, yaitu:
1. NTSC (national television standards committe)
NTSC di gunakan di negara amerika serikat, kanada, jepang, korea, dan
meksiko.
2. PAL (phase alternating by line)
PAL di gunakan di sebagian wilayah asia, termasuk indonesia, australia,
cina, amerika selatan, dan sebagian eropa.
55
3. SECAM (Sequential couleur avec memoire)
SECAM di gunakan di wilayah prancis, asia tengah, dan beberapa negara
afrika.
Tiga standar sistem penyiaran ini ditetapkan karena perbedaan antar wilayah
negara yang memproduksi peralatan yang terkait dengan siaran sesuai dengan
kebutuhan dan kebijakan masing-masing.
Hal pokok yang membedakannya adalah 1) frame per second (fps) yaitu
jumlah gambar per detik yang menjadi syarat suatu gambar terlihat bergerak (motion
picture). Kelompok PAL dan SECAM menentukan fps sebanyak 25fps, sedangkan
kelompok NTSC sebanyak 30fps. 2) jumlah garis pada tiap frame-nya. Garis-garis
tersebut menentukan tingkat resolusi sebuah gambar. 3) jumlah frekuensi yang
digunakan. Hal ini terkait dengan bandwith atau lebar pita frekuensi.
Selain itu standarisasi sebuah sistem penyiaran tidak terlepas dari format
video yang digunakan. Penggunaan peralatan teknik dalam pengambilan gambar
seperti kamera, menghasilkan dua jenis format video. Jenis tersebut adalah format
analog dan digital. Format video tersebut membedakan kualitas gambar masingmasing format. Video yang dihadirkan dalam bentuk format analog lebih sering
mengalami kendala pada hasil gambar, seperti adanya noise dan penurunan kualitas
gambar. Berbeda dengan hasil video digital. Ini dikarenakan, format analog yang
dihasilkan dari peralatan konvensional, perlu di konversi terlebih dahulu kedalam
format digital.
Selain sistem penyiaran, standarisasi penyiaran juga dilihat dari aspek sistem
yang terdapat pada media penyiaran itu sendiri khususnya televisi. Sistem televisi
merupakan kumpulan dari sejumlah elemen yang saling bekerja sama untuk
56
mencapai tujuan tertentu. Sistem televisi terdiri atas peralatan dan manusia yang
mengoperasikan peralatan untuk memproduksi sebuah program.
Memproduksi sebuah program membutuhkan peralatan dan prosedur yang
digunakan dalam 1) memilih berbagai sumber gambar dan suara, 2) melakukan
kontrol dan monitor terhadap kualitas gambar dan suara, 3) melakukan perekaman,
pemutaran ulang serta transmisi gambar dan suara, serta 4) mengintegrasikan
berbagai sumber gambar dan suara tambahan lainnya.
Televisi membutuhkan beberapa peralatan dalam menjalankan sistemnya. Hal
ini berkaitan dengan standarisasi standar penyiaran yang membutuhkan berbagai
perangkat keras, yang dapat menunjang terciptanya suatu siaran. Peralatan tersebut
diantaranya adalah: kamera, CCU (camera control unit), preview monitor, switcher,
line monitor, videotape recorder, microfon, audiomixer, speaker, dan sistem editing.
Selain perangkat dan peralatan kebutuhan siaran tersebut, sistem televisi juga
membutuhkan pusat produksi televisi seperti: studio televisi, dan ruang master
control.
2.2
Teori Khusus
2.2.1 Strategi Produksi Program Televisi
Strategi didefinisikan sebagai suatu program umum untuk mencapai tujuan
organisasi dalam pelaksanaan misi. Kata "program" di definisikan sebagai suatu
peranan aktif, sadar, dan rasional, yang dimainkan oleh pelaku organisasi dalam
merumuskan strategi-strategi. Strategi juga di definisikan sebagai pola tanggapan
organisasi terhadap lingkungannya sepanjang waktu. Setiap organisasi selalu
memiliki strategi yang menghubungkan sumber daya manusia dan berbagai sumber
daya lainnya. Strategi dijadikan sebagai sebuah pedoman dan pengarahan yang
57
digunakan untuk mencapai suatu tujuan. Hal ini juga berlaku pada bidang penyiaran.
Semua kegiatan penyiaran selalu dilakukan melalui tahapan dan proses pelaksanaan
yang sudah ditentukan, sehingga suatu program dapat tercipta dan layak untuk
disiarkan.
Dalam memproduksi sebuah program televisi juga dibutuhkan keahlian
dalam menyusun strategi atau disebut juga manajemen strategis (Morissan, 2009:
273), baik dalam tahapan produksi maupun strategi penyusunan tim atau kru
produksi. Ada tiga tahapan yang harus dilakukan dalam proses produksi program
televisi, yaitu: pra produksi, produksi, dan pasca produksi.
2.2.1.1 Tahap Produksi Program Televisi
2.2.1.1.1 Pra Produksi
Proses pra produksi merupakan tahapan yang dilalui sebelum kegiatan
produksi program televisi berlangsung. Segala persiapan dan penyusunan program
terjadi di tahap ini. Tanpa melalui tahap ini maka kegiatan produksi tidak akan
terlaksana. Ada tiga tahapan utama yang terdapat dalam proses pra produksi, yaitu:
Pertama adalah tahap penemuan ide. Ide atau gagasan tersebut ditemukan
oleh seorang produser, dimana ide tersebut akan dilanjutkan ke tahapan selanjutnya.
Kedua adalah tahap perencanaan. Disini perencanaan harus dibuat secara
teliti dan hati-hati, sehingga perlu mengadakan meeting bersama kru produksi.
Diskusi dengan beberapa kru yang terlibat dalam produksi siaran televisi merupakan
tahap awal dalam pra produksi. Diskusi ini dilakukan untuk membicarakan
perencanaan agar proses produksi dapat berjalan dengan lancar. Dalam tahap ini,
terdapat beberapa kegiatan perencanaan seperti pembuatan konsep program,
pembagian job desk masing-masing kru, dan shooting schedule.
58
Konsep sebuah program berawal dari sebuah gagasan, dimana sebuah
program produksi dapat tercipta dari orang-orang yang memiliki sebuah ide atau
gagasan. Pada tahap pembuatan konsep, seorang produser harus menentukan
program seperti apa yang ingin dibuat, karakteristik atau perwatakan si presenter, dan
alur program di setiap segmennya dalam bentuk rundown. Setelah proses
perancangan konsep jadi, barulah dibuat sebuah proposal atau yang biasa disebut
dengan desain produksi. Dalam desain produksi, tidak hanya terdapat rancangan
konsep program, tetapi juga terdapat tujuan program dan sasaran yang ingin dicapai.
Setelah rancangan tersebut selesai, barulah dikembangkan konsep tersebut
dengan pembuatan skenario dan perancangan adegan per-adegan. Rancangan ide dan
gagasan skenario serta adegan sulit untuk digambarkan melalui tulisan, sehingga
tenaga illustrator dibutuhkan didalam tim produksi untuk membuat storyboard dan
layout sebagai gambaran alur program di setiap segmennya.
Dalam sebuah produksi acara televisi, dibutuhkan seseorang yang akan
menjadi pengisi acara atau pemain pada program televisi yang disebut talent. Talent
merupakan seseorang yang memainkan sebuah tokoh yang memiliki peran dalam
sebuah acara atau program televisi. Biasanya pemilihan talent dapat dilakukan
dengan cara mengadakan casting terlebih dahulu, dimana casting berfungsi untuk
mengetahui kemampuan yang dimiliki para talent.
Selanjutnya pada tahap ini, setiap kru diberikan pembagian tugas atau job
desk sesuai dengan keperluan produksi. Pada dasarnya, proses produksi
membutuhkan sejumlah orang yang bekerja bersama-sama sebagai sebuah tim yang
disebut dengan tim produksi. Tim produksi adalah orang-orang yang membantu
berjalannya sebuah produksi. Tim produksi terdiri dari:
59
1. programme director
programme director (PD) adalah orang yang berperan dalam
mengarahkan acara/program. Seorang programme director memiliki
tanggung jawab secara teknis atas kelancaran suatu acara televisi.
Sehingga ia bertugas sebagai orang yang mengintegrasikan unsur-unsur
pendukung produksi yaitu mengkoordinasikan seluruh tim produksi,
seperti mengarahkan pengambilan gambar, mengarahkan suara dan tata
cahaya, dan aspek pendukung lainnya. Seorang PD harus mampu
menjalankan produksi sesuai dengan rundown yang sudah disusun oleh
produser. Agar program yang diciptakan sesuai dengan apa yang di
inginkan produser. Seseorang yang menduduki posisi ini bukanlah orang
sembarangan, melainkan orang yang memiliki kemampuan tentang
kepemimpinan dan pengetahuan teknis. Jiwa kepemimpinan sangat
dibutuhkan oleh seorang PD, ini dikarenakan PD harus mampu
mengontrol dan mengkoordinasikan sejumlah orang yang membantu
jalannya produksi. Seorang PD juga harus dapat mengambil keputusan
secara cepat dan tepat. Pengetahuan tentang teknis dapat menjadi
penunjang dalam mengkoordinasikan sejumlah orang yang memiliki
peranan dalam pengoperasian peralatan teknis.
2. Floor Director
Seorang PD akan membutuhkan bantuan Floor Director (FD) sebagai
wakilnya untuk menyampaikan perintahnya kepada para pemain. Ia
mengarahkan para pemain dan kru yang ada didalam satu area
dengannya. FD biasanya bekerja diruangan yang terpisah dengan PD,
sehingga peranannya sangat penting untuk menjadi wakil seorang PD.
60
3. Cameraman
Cameraman
atau
juru
kamera
adalah
orang
yang
bertugas
mengoperasikan kamera untuk keperluan pengambilan gambar. Tanpa
adanya Cameraman, maka tidak akan ada gambar yang terambil,
pasalnya proses produksi adalah seluruh kegiatan pengambilan gambar.
Cameraman juga dikenal dengan istilah Camera person. Seorang juru
kamera bertanggung jawab terhadap pergerakan dan penempatan kamera
sesuai dengan keinginan dan panduan dari seorang programme director.
Seorang
juru
kamera
biasanya
membutuhkan
seseorang
yang
membantunya dalam pengoperasian kamera dan pengambilan gambar.
Orang itu disebut sebagai asistant Cameraman.
4. Vtr-man
Orang yang bertugas dalam pengoperasian VTR (Video Tape Recorder)
selama proses produksi berlangsung. VTR sendiri merupakan video tape
recorder dimana didalamnya terdapat berbagai kebutuhan syuting, seperti
video, musik, dan lain sebagainya.
5. Switcherman
Switcherman merupakan orang yang bertugas menampilkan perpaduan
dari beberapa sumber gambar ke dalam satu tampilan visual program
televisi, sehingga program tersebut memiliki nilai estetika. Switcherman
disebut juga sebagai pemandu gambar dimana ia mengoperasikan mesin
switcher yang merupakan alat untuk memilih gambar dari beberapa
sumber untuk disiarkan. Perpindahan gambar yang dilakukan oleh
Switcherman adalah atas perintah dari seorang programme director.
61
6. Audioman
Seorang
Audioman
bertugas
untuk
memilih
suara
yang
akan
dimunculkan. Sumber suara tersebut berasal dari beberapa sumber salah
satunya
adalah
microphone.
Audioman
atau
teknisi
suara
mengoperasikan alat yang disebut audiomixer, dimana alat tersebut dapat
menerima sinyal suara dan mengeluarkannya kembali untuk mendukung
jalannya siaran.
7. Lighting director
Penata cahaya atau Lighting director adalah orang yang bertugas
mengatur dan menyesuaikan intensitas cahaya yang ada di lokasi
shooting, sesuai dengan keinginan programme director.
8. Art director
Art director atau penata seni merupakan orang yang bertanggung jawab
dalam merambaang dan membangun set panggung. Ia bertanggung
jawab dalam penentuan warna, properti, dan latar belakang yang akan
digunakan untuk syuting.
9. Make-up dan wardrobe
Kehadiran tim Make-up dan wardrobe sangat dibutuhkan dalam
produksi sebuah program televisi. Televisi merupakan media audio
visual, sehingga tidak hanya mengandalkan kekuatan suara tetapi juga
kekuatan gambar. Salah satu kekuatan gambar yang sangat mendukung
adalah penampilan. Disinilah tugas para tim Make-up dan wardrobe
untuk membuat penampilan sang talent tampil lebih menarik dan tampil
sesuai dengan tema program. Didukung dengan dandanan tim Make-up
62
dan kostum yang disediakan serta dipilih oleh tim wardrobe, membuat
tampilan program televisi lebih berwarna.
Shooting schedule atau working schedule merupakan kegiatan penjadwalan
kapan produksi akan dilakukan. Shooting schedule dapat di rencanakan setelah
melakukan survei tempat, penentuan perlengkapan apa saja yang akan digunakan dan
berbagai tahapan pra produksi lainnya selesai direncanakan sebelumnya.
Survei ini sangat penting dilakukan. Hal ini bertujuan untuk mengetahui
medan syuting yang nantinya akan dilaksanakan di tempat tersebut. Sehingga
produser dan tim produksi mendapatkan gambaran proses produksi yang akan
berlangsung. Dalam mencari lokasi syuting, perlu diperhatikan berbagai resiko
seperti akomodasi, transportasi, keamanan, dan perizinan. Biasanya, tempat-tempat
tertentu tidak mau diambil gambarnya dan tidak mau dijadikan tempat syuting.
Sehingga perizinan sangat dibutuhkan dalam menjalin kerja sama terhadap pihak
yang memiliki lokasi tersebut.
Selanjutnya ialah membuat anggaran atau budgeting. Ada dua pendekatan
dalam merencanakan budgeting biaya produksi, yaitu financial oriented dan quality
oriented (Rahmawati & Rusnandi, 2011: 75)
Financial oriented mengacu pada keuangan yg tersedia. Sehingga
perencanaan anggaran harus disesuaikan dengan kondisi keuangan yang tersedia.
Jadi apabila keuangan terbatas, maka kebutuhan produksi juga harus dibatasi. Karena
semua kegiatan produksi bergantung pada jumlah anggaran yang ada.
Berbeda dengan quality oriented. Dimana perancangan anggaran mengacu
pada kualitas hasil produksi. Sehingga kegiatan produksi tidak bergantung pada
jumlah anggaran yang ada, tetapi anggaranlah yang menyesuaikan dengan keperluan
63
produksi. Dengan demikian, produser dapat mengajukan anggaran yang sesuai
dengan kualitas produksi yang akan dicapainya.
Dalam pembuatan budgeting, produser harus dapat mengidentifikasi hal-hal
yang perlu di biayai atau hal-hal apa saja yang dapat ditekan pengeluarannya tanpa
harus mengurangi kualitas produksi. Sehingga, tuntutan seorang produser dalam
membuat anggaran biaya adalah kemampuan dalam merencanakan anggaran
seefektif dan seefisien mungkin. Maka dari itu, biasanya seorang produser
mengambil jalan tengah dengan menggunakan dua pendekatan tersebut secara
simultan.
Tahap ketiga adalah persiapan. Tahap ini meliputi pemberesan kontrak,
perijinan (permits and clearances), serta persiapan alat dan teknis.
Agar mendapatkan hasil yang sesuai dengan ide dan konsep yang telah
dibuat, maka dibutuhkan sarana produksi berupa peralatan yang mampu
menghasilkan gambar dan suara. Untuk menghasilkan gambar yang bagus maka
diperlukan peralatan yang lengkap dan berkualitas. Maka dari itu produser biasanya
menunjuk seseorang yang memiliki tanggung jawab atas tersedianya seluruh
peralatan yang diperlukan. Pertimbangan penggunaan peralatan beserta jumlahnya
bergantung pada program yang akan diproduksi.
Peralatan yang dibutuhkan biasanya dicatat dalam daftar peralatan atau
equipment list. Daftar tersebut digunakan untuk mengecek kelengkapan peralatan.
Daftar tersebut juga digunakan untuk mengetahui perlengkapan apa saja yang
dikeluarkan dan apa saja yang harus dikembalikan dengan lengkap.
Ada tiga unit pokok peralatan yang diperlukan untuk kegiatan produksi, yaitu
peralatan perekam gambar, unit peralatan perekam suara, dan unit peralatan
64
pencahayaan. Beberapa peralatan dan perlengkapan yang biasa digunakan saat proses
produksi berlangsung adalah (Fachruddin, 2012: 33-35):
1. Kamera
Sebuah alat elektronik yang berfungsi mengambil serta merekam gambar
dan suara.
2. Microphone
Alat untuk menangkap gelombang suara. Jenis microphone beraneka
ragam, seperti wireless mic dan hand held mic. Jenis-jenis microphone
digunakan sesuai dengan kebutuhan produksi.
3. Lighting
Pencahayaan sangat penting dalam proses produksi. Lampu merupakan
peralatan
yang
dapat
menerangi,
menimbulkan
atau
bahkan
menghilangkan bayangan dari sebuah objek. Berbagai jenis lampu juga
digunakan sesuai dengan kebutuhan produksi.
4. Switcher
Alat untuk memilih gambar dari beberapa sumber untuk disiarkan.
5. VTR (Video Tape Recorder)
Merupakan alat dimana didalamnya terdapat berbagai kebutuhan syuting,
seperti video, musik, dan lain sebagainya.
6. Audiomixer
Selain alat-alat diatas, juga terdapat peralatan teknis lainnya seperti tripod
dan berbagai alat elektronik lainnya, dekorasi, dan peralatan make-up
serta perlengkapan dan peralatan lainnya yang membantu berlangsungnya
proses produksi.
65
Peralatan dan perlengkapan lainnya adalah alat transportasi untuk produksi
diluar studio, dan unit studio beserta dekorasinya sebagai peralatan penunjang
produksi.
2.2.1.1.2 Produksi
Proses produksi merupakan tahap pengambilan gambar. Kegiatan ini disebut
juga dengan shooting. Tahap produksi dapat dilakukan di dalam studio maupun
diluar studio.
Dalam proses produksi dikenal dua istilah, yaitu live dan tapping. Produksi
live merupakan kegiatan terakhir dalam tahap pembuatan sebuah program. Karena
program tersebut disiarkan secara langsung sehingga tidak dapat diulang. Sedangkan
produksi tapping merupakan kegiatan pembuatan program yang dibantu dengan alat
perekam dan tidak disiarkan secara langsung, sehingga pada proses pengambilan
gambar masih dapat mengulang kesalahan adegan.
Berlangsungnya proses produksi sangat bergantung pada tim produksi. Selain
itu proses produksi program televisi juga bergantung pada seseorang atau beberapa
orang yang mejadi talent atau host untuk memandu jalannya acara. Serta melibatkan
juga beberapa narasumber untuk beberapa program acara seperti talkshow dan
program diskusi lainnya.
Proses produksi sangat terpaku pada peralatan yang digunakan dalam
pembuatan sebuah program televisi. Peralatan yang digunakan untuk produksi acara
TV di studio dan diluar studio memiliki sedikit perbedaan. Karena, tidak semua
peralatan yang digunakan saat produksi didalam studio, digunakan juga pada saat
produksi diluar studio.
66
Dalam pelaksanaan produksi, tim produksi bertugas membuat perencanaan
ide, gagasan, dan konsep menjadi sebuah gambar yang layak untuk ditonton. Maka
dari itu, diperlukan penentuan jenis shoot yang akan diambil dalam tiap adegannya.
Berdasarkan hasil tinjauan dari beberapa buku tentang produksi siaran televisi
disimpulkan jenis-jenis pengambilan gambar yang dapat dilakukan saat produksi
diantaranya adalah:
A.
Menurut ukuran gambar:
1. Extreme long shoot (ELS)
Tipe pengambilan gambar yang menetapkan suatu objek dengan ukuran
jarak yang sangat-sangat jauh, panjang, luas dan lebar. Biasanya
digunakan
untuk
mengambil
sebuah
gambar
panorama
atau
pemandangan.
2. Very long shoot (VLS)
Biasanya digunakan untuk gambar-gambar opening scene dimana gambar
yang disajikan berupa visualisasi adegan kolosal, kota metropolitan dan
sebagainya. Pengambilan gambar tipe ini bisa dilakukan melalui
helikopte.
3. Long shoot (LS)
Tipe pengambilan gambar jarak jauh dari sudut panjang dan lebar, dimana
keutuhan objek dapat terambil. Seperti objek manusia yang disorot secara
keseluruhan dari kepala hingga kali sehingga manusia tersebut tergambar
secara seutuhnya.
4. Medium long shoot (MLS)
Pengambilan gambar yang mengambil objek dari jarak yang panjang dan
jauh. Sedikit berbeda dengan tipe long shoot, dimana tipe pengambilan
67
gambar ini menarik garis imajiner dari tipe long shoot, kemudian di zoom
in sehingga gambar terlihat lebih padat.
5. Medium shoot (MS)
Pengambilan gambar dengan jarak sedang, dimana setengah bagian objek
terlihat. Tipe pengambilan gambar ini biasanya digunakan untuk
wawancara.
6. Middle close up (MCU)
Pengambilan gambar dari jarak yang cukup dekat, dimana keleluasaan
background masih dapat dinikmati. Sehingga tipe ini memperdalam
gambar dengan menunjukan profil dari objek yang direkam.
7. Close up
Pengambilan gambar dari jarak dekat. Objek menjadi titik perhatian yang
utama dalam pengambilan gambar, sehingga fokus pengambilan gambar
tipe ini tertuju pada komposisi gambar yang dapat menggambarkan emosi
atau suatu reaksi sehingga objek yang disorot mampu mengeksplorasi
daya tarik tersembunyi.
8. Big close up (BCU)
Lebih tajam dan mendalam dari pengambilan gambar tipe close up. Tipe
ini mampu mengungkapkan kedalaman suatu objek seperti pandangan
mata, raut muka, dan emosional wajah.
9. Extreme close up
Tipe pengambilan gambar ini terfokus pada kedekatan dan ketajaman
suatu objek.
68
B.
Menurut camera angle:
1. High angle
Tipe pengambilan gambar yang dilakukan dari atas objek.
2. Eye level (normal/standard)
Pada tipe ini, gambar yang diambil adalah gambar dari sudut pandang
kamera dari posisi normal/standar. Dimana pengambilan gambar diambil
secara sejajar dengan garis mata objek yang dituju.
3. Low angle
Pengambilan gambar dari bawah objek.
C.
Berdasarkan komposisi gambar:
komposisi gambar sendiri merupakan penempatan unsur-unsur gambar
kedalam frame atau bingkai gambar dengan tujuan agar dapat menempatkan
objek pada komposisi yang baik. Sehingga beberapa elemen seperti
keseimbangan, keindahan, ruang dan warna harus diperhatikan. Berikut
adalah tipe pengambilan gambar berdasarkan komposisi gambar:
1. Triangulasi
Pengambilan gambar dengan menyeimbangkan sisi kiri, kanan, dan atas
objek dengan background sehingga mengesankan objek enak dipandang.
2. The rule of thirds
Penempatan objek gambar dalam frame yang dibagi menjadi tiga bagian
secara vertikal dan tiga bagian secara horizontal. Perpotongan garis ini
membuat sebuah titik temu, dimana setiap titiknya menjadi perhatian
pemirsa terhadap objek yang dilihatnya.
69
3. Walking room/lead room
Ruang yang menunjukkan arah jalan objek dari ujung sampa tepi frame.
Dimana, ruang depan objek lebih luar dua kali lipat dibanding ruang
belakang objek. Sehingga, teknik pengambilan gambar yang digunakan
adalah dengan cara memberikan sisa jarak untuk objek bergerak kearah
tertentu.
4. Looking room
Jarak pandang objek kedepan dengan belakang objek sehingga ketika
objek melihat kesuatu arah, tersedia ruang kosong pada arah yang dituju.
Hal ini dilakukan agar gambar tidak terlihat janggal.
5. Head room
Head room adalah ruang kosong yang berada diatas objek. Dimana
ruangan tersebut membuat jarak antara objek dengan tepi atas frame.
6. Aerial shoot
Pengambilan gambar daratan dari udara untuk memperlihatkan suasana
dibawah daratan secara menyeluruh. Biasanya diambil melalui pesawat
udara.
7. Over the shoulder shoot
Pengambilan gambar suatu objek dari belakang bahu salah satu objek
lainnya. Sehingga fokus utama objek kamera berada didepan bahu
tersebut.
8. Establishing shoot
Pengambilan gambar yang menampilkan keseluruhan objek beserta
ruang disekitarnya sebagai unsur penekanan dimana kondisi adegan itu
terjadi.
70
9. Point of view
Teknik pengambilan gambar yang menghasilkan arah pandang objek
dalam frame.
10. Canted shoot
Pengambilan gambar dengan cara meletakkan kamera dalam posisi
miring ke kiri atau ke kanan secara statis, sehingga objek yang dituju
terkesan atraktif.
11. Crazy shoot
Pengambilan gambar secara dinamis dengan cara menggerakan kamera
ke kiri dan ke kanan. Pengambilan gambar ini tidak lazim digunakan
untuk program acara yang formal atau normal. Biasanya tipe ini
digunakan untuk menyesuaikan pergerakan gambar dengan ritme atau
tempo sebuah musik.
12. Subjective shoot dan objective shoot
Subjective shoot adalah teknik pengambilan gambar yang melibatkan
penonton sebagai pelaku pada scene tersebut. Sedangkan objective shoot
adalah teknik pengambilan gambar yang memberikan kesan pada
penonton, bahwa mereka hanya menjadi pengamat saja.
13. Type of shoot
Type of shoot adalah tipe pengambilan gambar yang menjadi dasar
pembuatan berbagai program acara televisi. Tipe ini dibagi menjadi tiga
jenis yaitu: Simple shoot, merupakan tipe pengambilan gambar tanpa
adanya pergerakan kamera. Complex shoot, yaitu proses pengambilan
gambar secara bervariasi dengan kombinasi antara statis dengan
pergerakan lensa. Sehingga menghasilkan komposisi gambar yang
71
beragam. Developing shoot, yaitu pengambilan gambar secara dinamis,
dengan menggunakan seluruh pergerakan kamera dari berbagai angle. Ini
dilakukan untuk menciptakan gambar yang dramatis.
14. Object in frame
Pengambilan gambar sebuah object dalam satu frame, seperti one shoot,
two shoot, three shoot, atau group shoot.
D.
Berdasarkan pergerakan kamera:
Untuk menghasilkan gambar yang bervariatif dibutuhkan beraneka ragam
jenis dan tipe pergerakan kamera yang lazim digunakan demi memperkaya
gambar dan mempermudah penyusunan alur berita. Pergerakan kamera ini
juga dapat menghasilkan kualitas program yang dapat memuaskan
kreatornya. Berikut pergerakan kamera yang lazim digunakan, yaitu:
1. Crab/truck
Pergerakan badan kamera kearah horizontal, kanan dan kiri. Hal ini
digunakan untuk mempertahankan komposisi awal keberadaan objek dan
menunjukkan perubahan latar belakangnya.
2. Swing
Pergerakan seluruh badan kamera ke kiri dan ke kanan membentuk oval
dengan tujuan untuk mempertahankan komposisi awal objek.
3. Zoom in dan zoom out.
Zoom in merupakan teknik pengambilan gambar dengan merubah jarak
pandang gambar yang ditangkap oleh lensa, dimana terjadi proses
pergerakan lensa yang merubah pengambilan gambar dari luar menjadi
lebih sempit. Hal ini dilakukan untuk menunjukkan bahwa objek yang
72
disorot merupakan sesuat yang dinilai pentin. Sedangkan zoom out
adalah kebalikannya. Dimana pada teknik ini terjadi pergerakan lensa
dari gambar sempit menjadi gambar yang lebih luas. Hal ini dilakukan
untuk menyajikan suasana dimana objek utama berada.
4. Panning (left, right)
Pengambilan gambar dengan cara menggeser atau menggerakkan kamera
secara horizontal baik ke kiri maupun kekanan. Biasanya ini dilakukan
menggunakan poros tripod sesuai dengan kecepatan yang diinginkan.
5. Tilt up dan tilt down.
Tilt up adalah cara pengambilan gambar dengan menggerakan kamera
dari bawah ke atas untuk menggambarkan ketinggian suatu objek.
Sedangkan tilt down adalah proses pengambilan gambar dengan cara
menggerakan kamera dari atas ke bawah untuk menunjukkan keberadaan
suatu objek yang berada dibawah.
2.2.1.1.3 Pasca Produksi
Tahap ini merupakan tahapan terakhir dalam proses produksi sebuah program
televisi. Dalam proses pasca produksi terdapat beberpa tahap sebelum akhirnya
menjadi sebuah tayangan yang layak untuk disiapkan. Ada dua tahapanya yaitu:
proses editing dan evaluasi. Proses editing masa kini berbeda dengan proses editing
dulu. Kini proses editing menggunakan teknologi digital dimana proses editing yang
dilakukan lebih mudah dan efisien. Berbeda dengan sistem editing analog yang lebih
rumit.
Sebelum proses editing video secara digital dimulai, terdapat tahap capturing.
Tahap capturing merupakan kegiatan mentransfer audio visual yang terekam dalam
73
kaset digital kedalam komputer. Sehingga materi yang nanti akan masuk kedalam
editing sudah dalam bentuk file.
Setelah seluruh materi yang akan digunakan selesai dipindahkan, barulah
proses editing dapat dilakukan. Proses editing merupakan kegiatan penyusunan dan
perangkaian seluruh materi hasil syuting sehingga menjadi sebuah produk akhir
(product final) yang layak dan siap untuk ditayangkan. Orang yang mengerjakan
tahap ini disebut sebagai seorang editor (Fachruddin, 2012: 394).. Dalam tahap
editing, terdapat tiga langkah utama, yaitu editing offline, editing online, dan mixing.
Editing offline disebut juga dengan editing kasar, dimana materi hasil syuting
langsung dipilih dan disusun menjadi sebuah rangkaian cerita sesuai dengan
rundown. Selanjutnya dilakukan proses screening, dimana bahan yang sudah
diproses didalam editing offline diperiksa kembali, sehingga apabila masih ada
gambar yang ingin ditambah dan dikurangi masih dapat dilakukan.
Setelah tahap editing offline selesai dilakukan, selanjutnya masuk kedalam
tahap editing online. editing online merupakan penyempurnaan hasil editing offline.
editing online biasanya dilakukan sekaligus dengan proses mixing. Dimana pada
tahap ini, editor memasukkan musik, efek gambar, dan suara seperti sound effect
serta rekaman narasi atau dubbing yang diselaraskan dengan gambar.
Proses editing digital bergantung pada aplikasi program editing yang
digunakan. Salah satu program editing yang dapat digunakan adalah adobe premier.
Setelah tahap editing selesai, barulah dilakukan evaluasi program. Evaluasi
program merupakan kegiatan penilaian apakah program yang telah di produksi telah
sesuai dengan perencanaan program yang dilakukan ditahap awal, yaitu pada tahap
pra produksi. Hal ini juga dilakukan untuk dapat memperbaiki program di
kesempatan lainnya, yaitu pada tahap produksi program selanjutnya.
74
2.2.2 Komunikasi Organisasi
Komunikasi berasal dari bahasa latin 'communis' atau dalam bahasa inggris
'common' yang berarti sama. Sehingga kegiatan komunikasi dapat diartikan sebagai
kegiatan yang dilakukan untuk mencapai kesamaan makna. Melalui komunikasi kita
mencoba berbagi informasi, gagasan, maupun sikap dengan lawan komunikasi
(Rohim, 2009: 109).
Sedangkan organisasi adalah satu kumpulan atau sistem individual yang
melalui satu hierarki jenjang dan pembagian kerja, dengan berupaya mencapai tujuan
yang ditetapkan (Rohim, 2009: 110). Organisasi merupakan sebuah struktur dengan
batasan-batasan yang pasti. Organisasi sendiri terdiri dari tindakan-tindakan,
interaksi, dan transaksi yang melibatkan orang-orang. Organisasi juga diartikan
sebagai sebuah wadah yang menampung orang-orang dan objek-objek, dimana
mereka berusaha untuk mencapai tujuan yang sama. (Pace & Faules, 2004: 11).
Komunikasi merupakan faktor penting untuk dapat melaksanakan fungsi
suatu organisasi secara efektif. Berdasarkan pandangan objektif, organisasi dianggap
sebagai sebuah struktur, sedangkan pandangan subjektif menganggap organisasi
sebagai sebuah proses (Pace & Faules, 2004: 11).
Menurut Katz dan Khan, komunikasi organisasi merupakan arus informasi,
pertukaran informasi dan pemindahan arti dalam suatu organisasi (Rohim, 2009:
110). Komunikasi organisasi diartikan sebagai pertunjukkan dan penafsiran pesan di
antara unit-unit komunikasi, yang merupakan bagian dari suatu organisasi tertentu.
Dimana tiap organisasi terdiri dari unit-unit komunikasi dalam hubungan-hubungan
hierarkis antara yang satu dengan lainnya dan berfungsi dalam suatu lingkungan
(Pace & Faules, 2004: 31).
75
Komunikasi menjadi sebuah cara yang digunakan seorang pemimpin
organisasi agar anggotanya mengetahui dan menyadari tujuan dan rencana dari
organisasi tersebut, sehingga mereka dapat berperan secara penuh dan efektif untuk
mencapai tujuan yang telah ditetapkan. Jika komunikasi berjalan secara teratur, maka
informasi yang dihasilkan dapat digunakan untuk mengontrol, menyesuaikan diri
dengan lingkungan organisasi, dan sebagai suatu sinyal yang digunakan untuk
mengurangi ketidakpastian.
Tujuan utama membahas tentang definisi komunikasi organisasi adalah agar
mengetahui dan memahami kehidupan organisasi, dan menemukan bagaimana
kehidupan terwujud melalui komunikasi (Pace & Faules, 2004: 25). Sehingga dapat
diketahui bagaimana suatu organisasi dikonstruksi dan dipelihara lewat proses
komunikasi.
Pada penelitian ini, peneliti menggunakan konsep gaya komunikasi
organisasi, dimana didalamnya terdapat arus komunikasi organisasi yang digunakan
selama proses produksi berlangsung.
2.2.2.1 Gaya-gaya komunikasi dalam organisasi
Gaya komunikasi atau communication style merupakan sekumpulan perilaku
komunikasi yang dipakai untuk mendapatkan respon atau tanggapan tertentu dan
dalam situasi tertentu (Rohim, 2009: 115). Ada enam gaya komunikasi, yaitu:
1. The controlling style
Gaya komunikasi yang bersifat mengendalikan dengan adanya satu kehendak
atau maksud untuk memaksa, membatasi, dan mengatur baik pikiran,
perilaku, maupun tanggapan orang lain. Gaya komunikasi ini dikenal dengan
sebutan one-way communicators.
76
2. The equalitarian style
Gaya komunikasi yang dilakukan secara terbuka, dimana setiap anggotanya
dapat mengungkapkan gagasan atau pendapat dalam suasana yang santai,
rileks, dan informal. Gaya komunikasi ini bersifat dua arah, sehingga disebut
dengan istilah two-way traffic of communication.
3. The structuring style
Gaya komunikasi yang dilakukan dengan cara mengirimkan pesan dengan
lebih menitik beratkan pada informasi tentang tujuan organisasi, jadwal kerja,
aturan dan prosedur yang berlaku dalam organisasi tersebut. Sehingga gaya
komunikasi ini lebih terstruktur untuk menetapkan perintah yang harus
dilaksanakan,
termasuk penjadwalan
tugas,
pekerjaan,
dan
struktur
organisasi.
4. The dynamic style
Gaya komunikasi yang bersifat dinamis, dimana gaya ini cenderung agresif.
Gaya komunikasi ini digunakan untuk merangsang para pekerja untuk bekerja
lebih berat dan lebih baik.
5. The Relinquishing style
Gaya komunikasi yang dilakukan dengan cara menerima saran, pendapat, dan
gagasan orang lain, daripada keinginan untuk memberi perintah, meskipun si
pengirim peran punya hak untuk memberi perintah dan mengontrol orang
lain. Gaya komunikasi ini biasa dilakukan dengan orang-orang yang memiliki
pengetahuan luas, berpengalaman, teliti, dan mau bertanggung jawab atas
pekerjaanya.
77
6. The withdrawal style
Gaya komunikasi yang digunakan untuk memberikan pernyataan untuk
mencoba melepaskan diri dari tanggung jawab dan untuk menghindari
kegiatan komunikasi dengan orang lain. Gaya komunikasi ini tidak layak
dipakai dalam sebuah organisasi
2.2.2.2 Arus Komunikasi Organisasi
Arus komunikasi organisasi dibagi menjadi dua jenis, yaitu vertikal dan
horizontal. Ronald Alder dan George Rodman menguraikan vertikal komunikasi
dalam dua tipe yaitu downward communication dan upward communication (Rohim,
2009: 111).
Downward communication adalah arus komunikasi yang berjalan dari atas
kebawah dimana tataran manajemen mengirimkan pesan kepada bawahannya. Fungsi
dari arus komunikasi ini adalah: pemberian dan penyampaian instruksi kerja,
penjelasan dari pemimpin tentang mengapa tugas tersebut perlu dilaksanakan,
penyampaian informasi tentang segala peraturan yang berlaku didalam organisasi,
serta pemberian motivasi kerja kepada karyawannya.
Upward communication adalah komunikasi yang terjadi saat bawahan
mengirim peran kepada atasannya. Fungsi dari arus komunikasi ini adalah
penyampaian informasi tentang seluruh pekerjaan maupun tugas yang sudah
dilaksanakan, serta penyampaian informasi tentang segala persoalan dan hambatan
yang terjadi saat proses kerja berlangsung sehingga tugas maupun pekerjaan tidak
dapat diselesaikan dengan baik, serta penyampaian saran dan keluhan dari bawahan
tentang dirinya maupun pekerjaanya.
78
Sedangkan horizontal communication terjadi saat kegiatan komunikasi antar
karyawan yang memiliki kedudukan setara berlangsung.
2.2.2.3 Fungsi komunikasi Organisasi
Kegiatan komunikasi dalam suatu organisasi memiliki empat fungsi utama,
yaitu: fungsi normatif, regulatif, persuasif, dan integratif.
1. Fungsi normatif
Komunikasi dapat menyampaikan informasi kepada setiap anggota
organisasinya, agar dapat melaksanakan pekerjaanya secara pasti
2. Fungsi regulatif
Komunikasi berperan dalam menyampaikan instruksi dan perintah yang
dibuat oleh pemegang kewenangan kepada bawahannya, agar mereka dapat
melaksanakan perintah-perintah tersebut sebagaimana mestinya.
3. Fungsi persuasif
Komunikasi berfungsi sebagai alat yang dapat mempengaruhi sifat
anggotanya, untuk mau melakukan semua yang diperintahkan. Fungsi
persuasif ini dilakukan untuk menghasilkan kepedulian anggotanya terhadap
pekerjaan yang diberikan, sehingga dapat menumbuhkan para sukarela dan
pemimpin tidak perlu menggunakan kekuasaan dan kewenangannya untuk
memerintahkan banyak hal.
4. Fungsi integratif
Komunikasi digunakan sebagai saluran yang memungkinkan karyawan dapat
melaksanakan tugasnya dengan baik. Ada dua saluran komunikasi yang
digunakan, yaitu komunikasi formal dan informal.
79
2.2.3 Mutu program
Pada acara televisi, mutu program dilihat dari dua aspek, yaitu mutu teknik
dan mutu produksi.
2.2.3.1 Mutu Teknik
Mutu teknik dibagi menjadi dua aspek yaitu audio dan video.
1. Audio
Mutu audio dalam suatu siaran ditentukan oleh beberapa unsur, antara lain:
a) Volume
Volume merupakan keras lunaknya suara.
b) Balances
Balances berkaitan dengan keseimbangan antara frekuensi rendah dan
tingginya sinyal audio.
c) Noise
Merupakan gangguan sinyal suara yang dikirimkan.
2. Video
Video juga menjadi tolak ukur mutu suatu program. Dalam aspek ini, terdapat
beberapa unsur yang dapat menentukan kualitas sebuah tayangan, yaitu:
a) Contras
Merupakan perbedaan antara warna hitam dan puttih maupun antar
warna lainnya.
b) Brightness
Menyangkut terang gelapnya sebuah gambar.
80
c) Fokus
Merupakan ketajaman sebuah gambar.
d) Noise
Gangguan dari sinyal yang bukan merupakan bagian dari informasi
gambar.
2.2.3.2 Mutu Produksi
Ada beberapa aspek yang dapat digunakan sebagai alat untuk mengukur serta
meningkatkan mutu program pada aspek produksi yaitu: ide, konsep produksi,
naskah, presenter, rundown, produser, asisten produser, dan tim kreatif.
1. Ide
Ide merupakan buah pikiran dari seorang perencana acara siaran, dimana
perencana tersebut adalah seorang produser. Ide merupakan pesan yang
hendak disampaikan kepada pemirsa melalui media televisi. Siaran
televisi tercipta karena dilandasi dari munculnya sebuah ide atau gagasan.
Ide yang nantinya diimplementasikan hingga menjadi sebuah program
acara haruslah ide yang sesuai dengan tujuan program dan tujuan dari
siaran.
2. Konsep produksi
Setiap program acara televisi memiliki konsep yang berbeda-beda.
Perbedaan konsep ini membuat adanya perbedaan proses produksi di tiap
programnya. Konsep produksi harus mengkaji klasifikasi target penonton
yang terdiri dari usia, status sosial, dan jenis kelamin. Ketiga unsur
tersebut dapat mempengaruhi hasil produksi agar tidak melenceng jauh
dari tujuan program tersebut.
81
3. Naskah
Keselarasan antara gambar dan narasi menjadi tuntutan utama dalam
memproduksi sebuah program. Hal tersebut dikarenakan keduanya
merupakan aspek yang saling mendukung.
4. Presenter
Presenter merupakan anggota atau bagian dari produksi yang menjadi
ujung tombak sebuah program televisi. Presenter merupakan
orang yang membawakan acara sebuah program acara dengan
perwatakannya masing-masing.
5. Rundown
Rundown merupakan susunan detail program persegmen. Rundown
berisikan urutan isi acara berdasarkan perencanaan gambar, suara, dan
durasi waktu. Dalam rundown, akan terlihat alur acara yang akan
menggambarkan isi acara untuk satu episode. Bentuk rundown setiap
program sangat bervariasi sesuai dengan konsep dan format produksi
program acara tersebut.
6. Produser
Produser adalah orang yang bertanggung jawab untuk merubah ide/hiasan
kreatif kedalam sebuah konsep. Produser memiliki tugas dalam
memimpin seluruh tim produksi sesuai dengan tujuan yang telah
ditetapkan bersama. Seorang produser, bertanggung jawab secara umum
terhadap seluruh kegiatan produksi.
7. Asisten produser
Asisten produksi merupakan orang yang memiliki suara penentu terhadap
segala perubahan konten yang terjadi. Secara umum asisten produksi
82
bertugas dalam membantu produser, sutradara dan membantu kelancaran
jalannya sebuah acara.
8. Tim kreatif.
Tim kreatif bertanggung jawab untuk menangani proses penciptaan
karya-karya kreatif dimana tim kreatif mengembangkan berbagai macam
ide menjadi bentuk skenario yang siap untuk di produksi. Tim kreatif
bekerja sama dengan bidang-bidang lainnya untuk menghasilkan sebuah
produk yang berkualitas dengan acara menciptakan terobosan ide baru
baik itu pada aspek konten maupun berbagai fitur dalam program acara
yang digarap.
2.2.4 Konsep Analisis SWOT
Analisis SWOT adalah identifikasi berbagai faktor secara sistematis untuk
merumuskan suatu strategi. Analisis ini didasarkan pada logika yang dapat
memaksimalkan
kekuatan
dan
peluang,
namun
secara
bersamaan
dapat
meminimalkan kelemahan dan ancaman. Analisis SWOT sendiri merupakan
singkatan dari Streght (kekuatan), Weakness (kelemahan), Opportunities (peluang),
Threat (ancaman) (Rangkuti, 2006: 18-19). Menurut Nadine pahl dan Anne Ritcher
(2007), Pengertian dari keempat elemen SWOT tersebut adalah:
Streght (kekuatan) adalah kemampuan
yang dapat dilakukan oleh
perusahaan atau organisasi dari hasil kinerja yang baik.
Weakness (kelemahan) adalah sesuatu yang menghalangi perusahaan atau
unit dikarenakan kinerja yang kurang baik. Hal ini menjadi faktor yang perlu
ditangani oleh perusahaan atau organisasi.
83
Opportunities (peluang) adalah tren, gaya, peristiwa, dan gagasan yang
tercipta dari kemampuan perusahaan atau organisasi itu sendiri.
Threat (ancaman) adalah sesuatu peristiwa atau kekuatan atau diluar kendali
perusahaan atau organisasi, dimana ancaman membuat perusahaan membutuhkan
perencanaan serta keputusan yang tepat untuk menguranginya.
Analisis SWOT dapat digunakan untuk menganalisis lingkungan eksternal
yaitu untuk mengidentifikasi faktor-faktor peluang, dan ancaman, serta analisis
lingkungan internal untuk mengetahui faktor kekuatan serta kelemahan.
Analisis ini dilakukan untuk meneliti satu persatu hal-hal yang dapat
dimanfaatkan, hal-hal yang harus dihindari dan hal-hal yang dapat dijadikan
pertimbangan bagi segala macam tindakan yang akan dilakukan (Suharyadi et al,
2007: 191).
84
2.2.4 Kerangka Berpikir
Gambar 2.2 Kerangka Berpikir
Download