NIM : A. 2021131043

advertisement
EKSISTENSI DAN RUANG LINGKUP
PENGADILAN TATA USAHA NEGARA DI INDONESIA
EXISTENCE AND SCOPE OF THE ADMINITRATIVE COURTS
PENULIS :
CHRISTIN ANDRIANI, SH
NIM : A. 2021131043
ABSTRACT
One element of a constitutional state is functioning of independent judicial
power committed by the judiciary . Basic law of justice in Indonesia is as stated in
the 1945 Constitution of the Republic Indonesia . In addition, the Indonesian
judicial restated in statute No. 48 on 2009 about Judicial authority is the District
Courts, Religious Courts , Administrative Courts and Military Courts . With the
establishment of the State Administrative Court in Indonesia can provide legal
protection to the public from all acts of state administration , and also provide legal
protection for the state administration in performing their duties , functions and
responsibilities. The administrative Court can also control the actions of officials of
state administration
ABSTRAK
Salah satu unsur negara hukum adalah berfungsinya kekuasaan
kehakiman yang merdeka yang dilakukan oleh badan peradilan. Dasar hukum
tentang peradilan di Negara Indonesia adalah sebagaimana tercantum dalam
Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945. Selain itu mengenai
peradilan di Indonesia dinyatakan kembali di dalam Undang-Undang Nomor 48
Tahun 2009 tentang kekuasaan Kehakiman yaitu Peradilan Umum, Peradilan
Agama, Peradilan Tata Usaha Negara dan Peradilan Militer. Dengan dibentuknya
1
Peradilan Tata Usaha Negara di Indonesia dapat memberikan perlindungan hukum
kepada masyarakat dari segala perbuatan administrasi negara, dan juga memberikan
perlindungan hukum bagi administrasi negara dalam menjalankan tugas, fungsi dan
wewenangnya. PTUN juga dapat berperan untuk mengontrol tindakan para pejabat
tata usaha negara.
2
I. Pendahuluan
Salah satu unsur negara hukum adalah berfungsinya kekuasaan
kehakiman yang merdeka yang dilakukan oleh badan peradilan. Pemberian
kewenangan yang merdeka tersebut merupakan “katup penekan” (pressure
valve), atas setiap pelanggaran hukum tanpa kecuali. Pemberian kewenangan ini
dengan sendirinya menempatkan kedudukan badan peradilan sebagai benteng
terakhir (the last resort) dalam upaya penegakan “kebenaran” dan “keadilan”.
Dalam hal ini tidak ada badan lain yang berkedudukan sebagai tempat mencari
penegakan kebenaran dan keadilan (to enforce the truth and justice) apabila
timbul sengketa atau pelanggaran hukum.1
Dasar hukum tentang peradilan di Negara Indonesia adalah sebagaimana
tercantum dalam Pasal 24 ayat (1) dan ayat (2) Undang-Undang Dasar Negara
Republik Indonesia Tahun 1945 (Amandemen ke 4 Tahun 2002) yang berbunyi:
(1) Kekuasaan kehakiman merupakan kekuasaan yang merdeka untuk
menyelenggarakan peradilan guna menegakkan hukum dan keadilan.
(2) Kekuasaan kehakiman dilakukan oleh sebuah Mahkamah Agung dan badan
peradilan yang berada di bawahnya dalam lingkungan peradilan umum,
lingkungan peradilan agama, lingkungan peradilan militer, lingkungan
peradilan tata usaha negara, dan oleh sebuah Mahkamah Konstitusi.
(3) Badan-badan lain yang fungsinya berkaitan dengan kekuasaan kehakiman
diatur dalam undang-undang
1
M. Yahya Harahap, Beberapa Tinjauan Sistem Peradilan Dan Penyelesaian Sengketa, PT. Citra
Aditya Bakti, Bandung, hal. 34.
3
Indonesia menganut system hukum civil law yang diwarisi dari kolonial
Netherland dan Negara-negra yang menganut paham civil law (Eropa Kontinental)
pada umumnya mempunyai pengadilan administrasi sebagai pranata tersendiri,
sedangkan negara yang menganut sistem common law tidak mempunyai
pengadilan administrasi tersendiri, akan tetapi membentuk berbagai Pengadilan
untuk mengadili sengketa-sengketa administrasi.
Mengenai peradilan di Indonesia dinyatakan kembali di dalam UndangUndang Nomor 48 Tahun 2009 tentang kekuasaan Kehakiman pada Pasal 25 yang
menyatakan:
(1)
Badan peradilan yang berada di bawah Mahkamah Agung meliputi badan
peradilan dalam lingkungan peradilan umum, peradilan agama, peradilan
militer, dan peradilan tata usaha negara.
(2)
Peradilan umum sebagaimana dimaksud pada ayat (1) berwenang memeriksa,
mengadili, dan memutus perkara pidana dan perdata sesuai dengan ketentuan
peraturan perundang-undangan.
(3)
Peradilan agama sebagaimana dimaksud pada ayat (1) berwenang memeriksa,
mengadili, memutus, dan menyelesaikan perkara antara orang-orang yang
beragama Islam sesuai dengan ketentuan peraturan perundangundangan.
(4)
Peradilan militer sebagaimana dimaksud pada ayat (1) berwenang memeriksa,
mengadili, dan memutus perkara tindak pidana militer sesuai dengan
ketentuan peraturan perundang-undangan.
4
(5)
Peradilan tata usaha negara sebagaimana dimaksud pada ayat (1) berwenang
memeriksa, mengadili, memutus, dan menyelesaikan sengketa tata usaha
negara sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan.
Peradilan-peradilan yang dibentuk tersebut adalah merupakan kekuasan
kehakiman yang merdeka, diberikan kewenangan penegakan hukum dan keadilan
dibawah langsung lembaga yudisial yaitu Mahkamah Agung. Selain menjadi
pengawas pada peradilan-peradilan tersebut, Makamah Agung juga diberikan
kewenangan guna
mengadili
pada tingkat kasasi,
juga menguji peraturan
perundang-undangan di bawah undang-undang terhadap undang-undang, dan
mempunyai wewenang lainnya yang diberikan oleh undang-undang
Dalam perkembangan sejarah perlindungan hukum di Indonesia, fungsi
peradilan memang semakin dibutuhkan dan diharapkan dapat memberikan keadilan
dan kepastian hukum karena setiap orang mempunyai kesempatan untuk membela
hak-haknya yang mungkin merasa dirugikan akibat adanya pelanggaran hukum hak
atau kewajiban atau perbuatan melawan hukum oleh pihak lain dan untuk itu
mereka mengajukan gugatan kepada Pengadilan secara personal (individu) atau
secara bersama-sama.
Pada tanggal 29 Desember 1986 Presiden mengesahkan Undang-undang
Nomor 5 Tahun 1986 tentang Peradilan Tata Usaha Negara dan mulai efektif pada
tanggal 14 Januari 1991. Kemudian pada tanggal 29 Maret 2004 disempurnakan
dengan Undang-Undang Nomor 9 Tahun 2004 tentang Perubahan atas UndangUndang Nomor 5 Tahun 1986 tentang Peradilan Tata Usaha Negara dan terakhir
dirubah dengan Undang-Undang nomor 51 Tahun 2009 (selanjutnya dalam
5
penulisannya akan disingkat menjadi, UU No. 5 Tahun 1986, UU No. 9 Tahun
2004 dan UU No. 51 Tahun 2009). Dalam perubahan tersebut tidak semua Pasal
diubah. Bahkan pasal-pasal yang mengatur tentang kompetensi Peradilan Tata
Usaha Negara tetap dipertahankan dan masih tetap berlaku. Undang-Undang
Peradilan Tata Usaha Negara, memberikan kompetensi absolut kepada Peradilan
Tata Usaha Negara untuk mengontrol tindakan pemerintah secara yuridis (judicial
control), tindakan pemerintahan yang dinilai melanggar ketentuan administrasi
(mal administrasi) ataupun perbuatan yang bertentangan dengan hukum (abuse of
power)
Tujuan Pembentukan Peradilan Tata Usaha Negara Philipus M. Hadjon
menyatakan bahwa perlindungan hukum bagi rakyat dapat dibagi menjadi dua
macam, yaitu perlindungan hukum preventif dan perlindungan hukum represif.
Perlindungan hukum preventif adalah perlindungan hukum dimana rakyat
diberikan kesempatan untuk mengajukan keberatan (inspraak) atau pendapatnya
sebelum suatu keputusan pemerintah mendapat bentuk yang defenitif, artinya
perlindungan hukum yang preventif bertujuan untuk mencegah terjadinya sengketa,
sedangkan sebaliknya perlindungan hukum yang represif bertujuan untuk
menyelesaikan sengketa. Perlindungan hukum yang preventif sangat besar artinya
bagi tindakan pemerintah yang didasarkan kepada kebebasan bertindak, karena
dengan adanya perlindungan hukum yang preventif pemerintah terdorong untuk
bersikap hati-hati dalam mengambil keputusan yang didasarkan pada diskresi.
Sesuai dengan asas negara hukum (recht staat), maka semua tindakan
hukum (recht handelingen) dan atau tindakan faktual (feitelijke handelingen)
6
Pejabat/Badan administrasi pemerintahan, baik yang menyangkut kewenangan,
substansi maupun prosedur harus berdasarkan pada ketentuan peraturan perundangundangan yang berlaku serta sesuai dengan Asas-Asas Umum Pemerintahan yang
Baik (AAUPB). Oleh karena Pejabat/Badan administrasi pemerintahan dapat
melakukan tindakan hukum dan atau tindakan faktual, maka dengan demikian
subyek hukum tidak hanya terbatas pada orang atau badan hukum perdata saja (
seperti Perseroan Terbatas, Koperasi, Yayasan), akan tetapi juga Pejabat/Badan
administrasi pemerintahan sehingga Pejabat/Badan administrasi pemerintahan dapat
dikategorikan sebagai subyek hukum. Dalam kedudukannya sebagai subyek hukum,
maka Pejabat/Badan administrasi pemerintahan dapat melakukan tindakan hukum
yang dapat menimbulkan hak dan kewajiban secara hukum.
Pengadilan tata usaha Negara di Indonesia saat ini merupakan hasil dari
percampuran antara gagasan-gagasan hukum, dan kekuasaaan poliik dan dalam
pembentukan PTUN di Indonesia banyak proses dan tahapan serta alasan-alasan
yang melatarbelakangi pendirin PTUN, dan dalam hal ini penulis akan membahas
mengenai sejauh mana eksistensi dan ruang lingkup Pengadian Tata Usaha Negara
di Indonesia.
Hal-hal yang menjadi karakteristik Peradilan Tata Usaha Negara dalam hal ini
adalah perkembangan dalam hukum acaranya yaitu:
1.
Peranan Hakim yang aktif (Dominus litis)
Yang dimaksudkan dalam hal ini adalah karena hakim tata usaha negara
dibebani dengan tugas untuk mencari sebuah kebenaran yang bersifat materiil
dan dapat dipertanggung jawabkan. (pasal 63 ayat 2a dan b/ pasal 80 ayat 1/
7
pasal 85/ pasal 95 ayat 1/ dan pasal 103 ayat 1 Undang-Undang Peradilan Tata
Usaha Negara).
2.
Kompensasi ketidak seimbangan antara kedudukan antara penggugat dan juga
oeh tergugat.
3.
Sistem pembuktian yang mengarah kepada pembuktian bebas (vrijbewijs) yang
terbatas.
Hakim yang menetapkan beban pembuktian, dimana terdapat perbedaan dengan
ketentuan pasal 1865 BW. Asas ini dianut dalam pasal 107 Undang-undang no.
5 tahun 1986 hanya saja masih dibatasi ketentuan pasal 100.
4.
Gugatan di pengadilan tidak bersifat mutlak dan bersifat menunda pelaksanaan
suatu keputusan Peradilan Tata Usaha Negara (TUN) yang digugat.
Di dalam pasal 67 dijelaskan tentang hal tersebut dimana keputusan Tata Usaha
Negara yang di gugat itu diperintahkan penundaannya. Pengadilan akan
mengabulkan permohonan penundaan pelaksanaan keputusan Tata Usaha
Negara tersebut hanya apabila: pertama, terdapat keadaan yang sangat
mendesak, yaitu jika kerugian yang akan diderita penggugat akan sangat tidak
seimbang dan sebanding dengan manfaat bagi kepentingan yang akan
dilindungi oleh keputusan dan pelaksanaan dari keputusan tata usaha negara itu;
kedua, pelaksanaan keputusan Tata Usaha Negara yang digugat tersebut tidak
ada sangkut pautnya dengan kepentingan umum dalam rangka pembangunan.
5.
Keputusan yang akan ditetapkan oleh hakim adalah tidak boleh bersifat ultra
petita (melebihi tuntutan dari penggugat dalam persidangan) tetapi akan
dimungkinkan adanya reformatio in peius (membawa penggugat kedalam
8
sesuatu keadaan yang lebih buruk) selama masih diatur di dalam undangundang.
6.
Terhadap putusan hakim tata usaha negara berlaku dan mengikat asas erga
omnes. Dimana dimaksudkan bahwa putusan itu tidak hanya berlaku bagi para
pihak yang bersengketa, tetapi juga akan berlaku bagi para pihak lain yang akan
terkait.
Sengketa Tata Usaha Negara adalah sengketa hukum publik. Dengan demikian
putusan pengadilan Tata Usaha Negara berlaku bagi siapa saja. Dalam rangka
ini pasal 83 bertentangan dengan asas erga omnes.
7.
Dalam proses pemeriksaan yang dipersidangan akan berlaku asas auti et
alteram partem.
Dimana asas ini dimaksudkan para pihak yang saling bersengketa harus
diberikan kesempatan-kesempatan untuk memberikan penjelasan tentang
perkara tersebut sebelum hakim memberikan sebuah keputusan
8.
Dalam mengajukan sebuah gugatan harus terdapat kepentingan oleh salah satu
pihak yang bersengketa, jadi apabila tidak terdapat kepentingan maka tidak
boleh mengajukan sebuah gugatan. Gugatan yang ditujukan haruslah memiliki
hal yang kuat dan penting bagi si penggugat dan memiliki dasar yang kuat
dalam pengajuan gugatan.
9.
Kebenaran yang akan dicapai adalah sebuah kebenaran materill dengan tujuan
yaitu menyeimbangkan dari sebuah kepentingan perseorangan dengan
kepentingan bersama.
9
10. Suatu keputusan Tata Usaha Negara akan selalu mengandung asas “prasumptio
iustae causa”, yaitu bahwa suatu keputusan Tata Usaha Negara (TUN) atau
disebut beschikking harus selalu dianggap sah selama belum dibuktikan
sebaliknya sehingga pada prinsipnya harus selalu dianggap sah sebelum ada
keputusan pengadilan.
II. Permasalahan
2.1 Bagaimana peranan PTUN dalam hukum di Indonesia?
2.2 Apa saja Ruang Lingkup PTUN?
III. PEMBAHASAN
3.1 Perkembangan dan Peran PTUN di Indonesia
Pada zaman pemerintahan Belanda tidak dikenal adanya Peradilan TUN
sebagai suatu lembaga yang berdiri sendiri, yang diberi kewenangan untuk
memeriksa dan menyelesaikan sengketa di bidang Tata Usaha Negara. Peradilan
Administrasi Negara pada waktu itu dilakukan oleh hakim administrasi Negara
yaitu hakim khusus yang memeriksa perkara administrasi Negara , maupun
hakim perdata. Ketentuan yang digunakan pada waktu itu adalah pasal 134 IS jo
( Indische Staatsregeling )
UUD 1945, dalam pasal 24 berbunyi sebagai berikut : (1) Kekuasaaan
kehakiman dilakukan oleh sebuah Mahkamah Agung dan lain-lain badan
kehakiman menurut undang-undang. (2) Susunan dan kekuasaan badan
kehakiman itu diatur dengan undang-undang. Selanjutnya Pasal 25 UUD 1945,
10
mengatakan sebagai berikut : syarat-syarat untuk menjadi dan untuk
diberhentikan sebagai hakim ditetapkan dengan undang-undang.
Didalam kedua ketentuan tersebut ternyata tidak diatur tetang PTUN
sebagai badan peradilan yang berdiri sendiri (pranata khusus), akan tetapi hanya
mengatur bahwa apabila ada sengketa TUN, akan disidangkan di Pengadilan
Tinggi dalam tingkat pertama dan di Mahkamah Agung dala tingkat kedua.
Dalam UUD 1945 Pasal 108 menurut Sjachran Basah membuka 2 (dua)
macam kemungkinan, yang memberika kesempatan kepada pembentukan Undangundang untuk memenuhi salah satu dari 4 (empat) jalan, seperti:
1.
Pengadilan Perdata secara umum
2.
Pengadilan perdata, khusus untuk sengketa tata usaha tertentu
3.
Badan pemutus untuk semua sengketa tata usaha, bukan peradilan perdata
yang dibentuk secara istimewa.2
Badan peradilan secara bertahap semakin mendapatkan tekanan akibat
perkembangan politik di Indonesia. Hal ini mengancam baik status lembaga
peradilan maupun mutu keadilan yang dihasilkan. Dan pada tahun 1953 para hakim
membentuk Ikatan Hakim Indonesia (IKAHI) untuk membela kepentingan mereka,
dan Pada tanggal 29 Desember 1986 Presiden mengesahkan Undang-undang
Nomor 5 Tahun 1986 tentang Peradilan Tata Usaha Negara dan mulai efektif pada
tanggal 14 Januari 1991.
2
Sjahran Basah, “Eksistensi dan Tolak Ukur Peradilan Administrasi di Indonesia”, (disertasi
Doktor Universitas Padjajaran, Bandung, 1984) hlm.88
11
Dengan dibentuknya Peradilan Tata Usaha Negara di Indonesia dapat
memberikan perlindungan hukum kepada masyarakat dari segala perbuatan
administrasi negara, dan disamping itu pada dasarnya juga memberikan
perlindungan hukum bagi administrasi negara dalam menjalankan tugas, fungsi dan
wewenangnya. Dengan kata lain Hukum Administrasi Negara memberikan batasanbatasan keabsahan bagi perbuatan yang dilakukan oleh administrasi negara dan
menjamin keadilan bagi masyarakat yang haknya dirugikan oleh perbuatan
administrasi negara tersebut. PTUN juga dapat berperan sebagai pengawas dan
mengontrol tindakan para pejabat tata usaha negara.
Dengan demikian, dapat dikatakan bahwa meskipun segala bentuk
tindakan pejabat administrasi negara telah diatur dalam norma-norma hukum
administrasi negara akan tetapi bila tidak ada lembaga penegak hukum dari hukum
administrasi negara itu sendiri, maka norma-norma tersebut tidak mempunyai arti
apa-apa. Oleh sebab itu eksistensi pengadilan administrasi negara (PTUN) sesuatu
yang wajib, dengan maksud selain sebagai sarana kontrol yuridis terhadap pelaksana
administrasi negara juga sebagai suatu bentuk atau wadah perlindungan hukum bagi
masyarakat karena dari segi kedudukan hukumnya berada pada posisi yang lemah.
Mekanisme perlindungan hukum ini penting karena didalam kehdupan
masyarakat sering ditemui permasalahan atau sengketa antara individu , baik
perorangan maupun kelompok, dengan pemerintah yang berkaitan dengan
kebijakan-kebijakan dan Keputusan Tata Usaha Negara, yang dikeluarkan oleh
pejabat tata usaha negara. Sengketa TUN muncul jikaau seseorang atau badan
12
hukum perdata merasa dirugikan, sebagai akibat dikeluarkanya suatu keputusan. UU
PTUN dikenal ada 2 jalur penyelesaian sengketa yaitu:3
1. Melalui upaya administratif
2. Melalui gugatan ke Pengadilan Tata Usaha Negara.
3.2 Ruang Lingkup PTUN
3.2.1 Kompetensi PTUN
Ketentuan pasal 4 Undang-Undang nomor 5 Tahun 1986 mengatur
bahwa “Pengadilan Tata Usaha Negara adalah salah satu pelaksana kekuasaan
kehakiman bagi rakyat pencari keadilan terhadap sengketa tata usaha negaraa.
Selain daripada itu, pasal 47 menyatakan bahawa Pengadilan bertugas dan
berwenang memeriksa, memutuskan dan menyelsaikan sengketa tata usaha
negara”
Menurut Thorbecke berkaitan dengan hal-hal kompetensi Peradilan Tata
Usaha Negara, bila mana pokok sengketa (fundamentum petendi) terletak
dilapangan hukum publik yang berwenang memutuskannya adalah hakim
administrasi.4 Dan kompetensi Peradilan Tata Usaha Negara dibagi menjadi 2
yaitu Kompetensi absolute dan Kompetensi relatif.
a.
Kompetensi Absolut
Kompetensi Absolut adalah menyangkut kewenangan badan peradilan
apa yang akan memeriksa, mengadili dan memutus suatu perkara. Berdasarkan
3
Nikey. K Rumokoy, Peran PTUN Dalam Penyelesaian Sengketa Tata Usaha Negara, Vol.XX
No.2/Januari-Maret. 2012 . hal. 127
4
Yaved, Victor, Implikasi Pembatasan Kompetensi Absolut, Penerbit Citra Aditya Bakti, Bandung, 2006
hal 78
13
pasal 10 UU No 14 Tahun 1970 setidaknya da 4 (empat) peradilan di Indonesia
yaitu : Peradilan Umum, Peradilan Agama, Peradilan Tata Usaha Negara dan
Peradilan Militer yang mana masing-masing mempunyai kompetensi mengadili
yang berbeda-beda, dan Peradilan Tata Usaha Negara hanya menyelesaiakan
perkara atau sengketa yang bersifat administrasi saja ,terutama mengenai
keputusan administrasi atau keputusan tata usaha negara yang mana hal tersebut
dairtikan sebagai sengketa tata usaha negara.
Sengketa tata usaha negara menurut pasal 1 ayat 4 UU No 5 tahun 1986
adalah sengketa yang timbul dalam bidang tata usaha negara antara orang atau
badan huku perdata dengan Badan atau Pejabat Tata Usaha Negara, baik di pusat
maupun di daerah, sebagai akibat dikeluarkannya keputusan tata usaha negara
termasuk sengketa kepegawaian berdasarkan peraturan perundang-undangan
yang berlaku.
Atas dasar rumusan tersebut dapat dikemukakan unsur-unsur yang harus
dipenuhi untuk adanya sengekta TUN yakni:
a) Harus ada perbedaan pendapat tentang sesuatu hak ataupun kewajiban; hak
dan kewajiban tersebut adalah merupakan akibat saja dari penerapan hukum
tertentu. Ini berarti bahwa sengketa timbul karena terlebih dahulu ada
penerapan hukum yang dilakukan oleh pejabat tata usah negara.
b) Sengketa itu terletak di bidang tata usaha negara, yang dimaksud tata usaha
negara adalah administrasi negara yang melaksanakan fungsi untuk
menyelenggarakan urusan pemerintahan baik di pusat maupun di daerah
14
c) Subjek yang bersengketa adalah individu atau badan hukum perdata sebagai
pihak penggugat dan badan atau pejabat tata usaha negara sebagai pihak
tergugat.
d) Sengketa tersebut timbul karena berlakunya keputusan tata usaha negara5
b.
Kompetensi Relatif
Kompetensi relatif kewenangan suatu pengadilan ditentukan berdasarkan
wilayah hukum yang menjadi wilayah kewenangannya. Suatu pengadilan
berwenang memeriksa suatu sengketa apabila salah satu pihak atau kedua belah
pihak yang bersengketa berkediaman di wilayah hukumnya. Pada dasarnya
gugatan diajukan ditempat kedudukan tergugat dan bilamana tergugat lebih dari
satu badan/pejabat tata usaha negara, gugatan dapat diajukan kepada pengadilan
yang daerah hukumnya meliputi tempat kedudukan salah satu badan/pejabat
tata usaha negara tersebut.6
Sesuai asas “Actor Sequitur From Rei” (yang berwenang adalah
pengadilan tempat kedudukan tergugat)Mengenai kompetensi relatif diatur di
dalam Pasal 54 ayat 1 Undang-Undang nomor 5 Tahun 1986 yaitu:
“Gugatan sengketa tata usaha negara diajukan kepada Pengadilan yang
berwenang yang daerah hukumnya meliputi tempat kedudukan tergugat.”
Dalam penjelasan pasal 54 ayat 1 menegaskan, bahwa yang dimaksud
dengan “tempat kedudukan tergugat” adalah tempat kedudukan secara nyata
atau tempat kedudukan menurut hukum.
5
Muchsan, Sistem Pengawasan Terhadap Perbuatan Pemerintah dan Peradilan Tata Usaha Negara di
Indonesia, Yogyakarta, Liberty, hal.58-59
6
S.F Marbun Peradilan Administrasi dan Upaya Administratif di Indonesia, UII Press, 2003, hal 175
15
Namun demikian pasal 54 ayat 3 menyatakan :“Dalam hal tempat
kedudukan tergugat tidak berada dalam daerah hukum Pengadilan tempat
kediaman penggugat, maka gugatan dapat diajukan ke Pengadilan yang daerah
hukumnya meliputi tempat kediaman penggugat untuk selanjutnya diteruskan
kepada Pengadilan yang bersangkutan.”
Dan dalam penjelasanya apabila
tempat kedudukan tergugat berada di luar daerah hukum pengadilan tempat
kediaman penggugat, gugatan dapat disampaikan kepada pengadilan tata usaha
negara tempat kediaman penggugat untuk diteruskan kepada pengadilan yang
bersangkutan. Tanggal diterimanya gugatan oleh panitera pengadilan tersebut
dianggap sebagai tanggal diajukannya gugatan kepada pengadilan yang
berwenang. Panitera pengadilan tersebut berkewajiban memberikan petunjuk
secukupnya kepada penggugat mengenai gugatan penggugat tersebut.
Apabila penggugat dan tergugat berkedudukan atau berada di luar negeri,
gugatan dapat diajukan kepada pengadilan di jakarta. Penggugat yang bertempat
kediaman di luar negeri dapat mengajukan gugatannya, dan diajukan di
pengadilan jakarta. Dimana penggugat dapat mengajukan gugatannya dengan
surat atau menunjuk seseorang yang diberi kuasa yang berada di Indonesia.
Berkaitan dengan Kompetensi relatif ini menurut Undang-Undang
Nomor 9 Tahun 2004 Tentang Perubahan Undang-Undang Nomor 5 Tahun
1986 Tentang Peradilan Tata Usaha Negara pada Pasal 6 ayat (1) yang berbunyi
sebagai berikut :“Pengadilan Tata Usaha Negara berkedudukan di Ibukota
kabupaten/Kota, dan daerah hukumnya meliputi wilayah kabupaten/kota “. Dan
16
dalam ayat (2) berbunyi “ Pengadilan Tinggi Tata Usaha Negara berkedudukan
di Ibukota Provinsi, dan daerah hukum nya meliputi wilayah provinsi “.
3.2.2
Para Pihak
a. Penggugat
Undang-undang nomor 5 Tahun 1985 tentang Peradilan Tata Usaha
Negara, pada pasal 53 ayat (1) menyatakan “Seseorang atau Badan hukum
perdata yang merasa kepentinganya dirugikan oleh suatu Keputusan Tata Usaha
Negara dapat mengajukan gugatan tertulis kepada Pengadilan yang berwenang
yang berisi tuntutan agar Keputusan Tata Usaha Negara yang disengketakan itu
dinyatakan batal atau tidak sah, dengan atau tanpa disertai tuntutan ganti rugi
dan/atau rehabilitasi”
Daari pasal tersebut dapat disimpulkan bahwa yang dapat bertindak
sebagai Penggugat dalam sengketa tata usaha negara adalah:

Seseorang (atau beberapa orang masing-masing selaku pribadi);

Badan hukum perdata, yaitu setiap badan yang bukan badan hukum
public, seperti perusahaan-perusahaan swasta, organisasi-organisasi, atau
perkumpulan-perkumpulan kemasyarakatan yang dapat diwakili oleh
pengurusnya yang ditunjuk oleh anggaran dasarnya
b. Tergugat
Sedangkan yang dapat menjadi pihak Tergugat adalah Badan atau
Pejabat Tata Usaha Negara yang telah mengeluarkan Surat Keputusan Tata
Usaha Negara . Dalam pasal 1 ayat 6 Undang-undang nomor 5 tahun 1986
memberikan definisi sebagai berikut: “Tergugat adalah Badan atau Pejabat Tata
17
Usaha Negara yang mengeluarkan keputusan berdasarkan wewennag yang ada
padanya atau yang dilimpahkan kepadanya, yang digugat oleh orang atau badan
hukum peradata”
Sedangkan pengertian Badan atau Pejabat Tata Usaha Negara diatur
dalam pasal 1 ayat 2 yaitu: “Badan atau Pejabat Tata Usaha Negara adalah
Badan atau Pejabat yng melaksanakan urusan pemerintahan berdasarkan
peraturan peraundang-undangan yang berlaku”
Yang dapat digugat atau dijadikan tergugat sebagaimana diuraikan dalam
pengertian tergugat diatas adalah jabatan yang ada pada Badan Tata Usaha
Negara yang mengeluarkan KTUN berdasarkan wewenang dari Badan TUN itu
atau wewenang yang dilimpahkan kepadanya. Hal ini mengandung arti bahwa
bukanlah orangnya secara pribadi yang digugat tetapi jabatan yang melekat
kepada orang tersebut
Sebagai jabatan TUN yang memiliki kewenangan pemerintahan,
sehingga dapat menjadi pihak Tergugat dalam Sengketa TUN dapat
dikelompokkan menjadi:7
a. Instansi resmi pemerintah yang berada di bawah Presiden sebagai Kepala
eksekutif
b. Instansi-intansi dalam lingkungan kekuasaan negara diluar lingkungan
eksekutif tang berdasarkan peraturan perundang-undangan, melaksanakan
suatu urusan pemerintahan.
c. Badan-badan hukum privat yang didirikan dengan maksud untuk
melaksanakan tugas-tugas pemerintahan
7
Siti soetami, A, Hukum Acara Peradilan Tata Usaha Negara, PT. Refika Aditama, Jakarta , 2005, hal.5
18
d. Instansi-instansi yang merupakan kerja sama antara pemerintahan dan pihak
swasta yang melaksanakan tugas-tugas pemerintahan
e. Lembaga-lembaga
hukum
swasta
yang
melaksanakan
tugas-tugas
pemerintahan
3.2.3
Objek Sengketa
Salah satu bagian yang penting dalam objek studi dalam hukum
adminstrasi adalah Keputusan Tata Usaha Negara (Keputusan Pejabat
Admnistrasi) Mengenai pengertian KTUN dapat dijumpai pada Pasal 1 angka 3
Undang-Undang Nomor 5 Tahun 1986 tentang Peradilan Tata Usaha Negara
yang menentukan Keputusan Tata Usaha Negara adalah suatu penetapan tertulis
yang dikeluarkan oleh Badan atau Pejabat Tata Usaha Negara yang berdasarkan
peraturan perundang-undangan yang berisi tindakan hukum Tata Usaha Negara
yang berdasarkan peraturan perundang-undangan yang berlaku, yang bersifat
konkret, individual, dan final, yang menimbulkan akibat hukum bagi seseorang
atau badan hukum perdata. Jika diuraikan terdapat 5 unsur terhadap pengertian
Keputusan Tata Usaha Negara tersebut yaitu:
1) Penetapan Tertulis
Penetapan tertulis dalam penjelasan pasal 1 angka 3 menyebutkan
“bahwa istilah penetapan tertulis terutama menunjuk kepada isi dan bukan
kepada bentuk keputusan yang dikeluarkan oleh Badan atau Pejabat Tata
Usaha Negara, Keputusan Tata Usaha Negara itu memang diharuskan tertulis,
namun yang disyaratkan tertulis bukanlah bentuk formalnya seperti surat
keputusan pengangkatan dan sebagainya” Hal tersebut membawa konsekuensi
19
bahwa sebuah memo atau nota pun kalau sudah memenuhi ketiga kreteria
diatas dapat dianggap sebagai Keputusan Tata Usaha Negara (KTUN).
2)
Dikeluarkan oleh Badan atau Pejabat Tata Usaha Negara
Pengertian Badan atau Pejabat Tata Usaha Negara dalam Pasal 1
Angka 2 Undang-undang No 5 Tahun 1986 adalah “ Badan atau Pejabat yang
melaksanakan urusan pemerintahan berdasarkan peraturan perundangundangan yang berlaku”.
Indroharto menegaskan bahwa saiapa saja dan apa saja yang
berdasarkan
peraturan
perundang-undangan
yang
berlaku
berwenang
melaksanakan suatu bidang urusan pemerintahan, maka ia dapat dianggap
berkedudukan sebagai Badan atau Pejabat Tata Usaha Negara8
3) Berisi tindakan hukum Tata Usaha Negara berdasarkan peraturan perundangundangan
Tindakan hukum Tata Usaha Negara menurut penjelasan dalam Pasal 1
angka 3 adalah perbuatan hukum Badan atau Pejabat Tata Usaha Negara yang
bersumber pada ketentuan hukum Tata Usaha Negara yang dapat menimbulkan
hak atau kewajiban pada orang lain”
Unsur ini berkaitan dengan salah satu prinsip negara hukum atau asas
legalitas, sebab adminitrasi negara dalam pengertian yuridis adalah pelaksana
atau penyelenggara dari undang-undang dalam arti luas (wet in ruine zin). Oleh
karenanya setiap tindakan hukum tata usaha negara yang dituangkan dalam
suatu keputusan (beschikking) , harus merupakan tindakan hukum dalam ranah
8
Indroharto, Usaha Memahami Undang-undang tentang Peradilan Tata Usaha Negara, Buku I,
Pustaka Sinar Harapan, Jakarta, 1993, hal 166
20
hukum tata usaha negara atau hukum publik yang harus berdasarkan aturan
perundang-undangan. Apabila suatu keputusan telah melanggar dari aturan
peraturan perundang-undangan atau tidak sesuai dapat dinyatakan sebagai
keputusan yang bertentangan denga pertauran perundang-undangan baik yang
bersifat prosedural maupun substansial seperti pada ketentuan pasal 53 ayat (2)
UU No 5 Tahun 1986.
4) Bersifat Konkret, Individual dan Final9
a) Konkret yaitu objek yang diputuskan dalam Keputusan Tata Usaha
Negara ini tidak abstrak tetapi berwujud, tertentu atau dapat ditentukan.
Kemudian, dalam hal apa dan kepada siapa keputusan tata usaha negara
itu dikeluarkan, harus secara jelas disebutkan dalam keputusan tersebut.
artinya, obyek dan subyeknya harus disebutkan secara tegas dan jlas
dalam keputusan itu
b) Individual artinya Keputusan Tata Usaha Negara itu tidak ditujukan
untuk umum, tetapi tertentu baik alamt maupun hal yang dituju. Jika
yang dituju lebih dari seorang maka tiap-tiap orang yang terkena
keputusan harus disebutkan namanya satu per satu. Sebaliknya, apabila
keputusan itu tidak bersifat individual, tetapi bersifat umum (abstrak)
dapat diebut sebagai peraturan (regeling).
c) Final artinya keputusan tersebut telah bersifat definitive, sehingga
karenanya baru mempunyai akibat huku tertentu. Keputusan yang belum
definitif karena masih memerlukan persetujuan dari instansi atasan atau
9
Op.cit, S.F Marbun, hal 118
21
instansi lainnya belum dapat dikatakan bersifat final, sehigga belum
menimbulkan hak dan kewajiban bagi yang terkena keputusan tersebut,
misalnya keputusan pengangkatan seorang pegawai negeri memerlukan
persetujuan dari Badan Adminstrasi Kepegawaian Negara.
d) Menimbulkan akibat hukum bagi seseorang atau badan hukum perdata
Yang dimaksud dengan menimbulkan akibat hukum adalah suatu
bentuk keputusan yang dikeluarkan oleh Badan atau Pejabat Tata Usaha
Negara dan telah mempunyai akibat hukum yaitu menimbulkan kerugian
atau juga menguntungkan salah satu pihak. Dan apabila keputusan tersebut
tidak menimbulkan akibat hukum maka hal tersebut bukanlah tindakan
hukum sehingga tidak dapat diajukan gugatan, akibat hukum yang dimaksud
adalah yang menimbulkan kerugian.
Mengenai objek sengketa didalam PTUN, ada pembatasanpembatasan yang termuat dalam ketentuan Pasal-Pasal UU No. 5 Tahun
1986 UU jo. No. 9 Tahun 2004 jo UU No. 51 Tahun 2009 yaitu :
- Pasal 2 UU menentukan, bahwa tidak termasuk Keputusan tata usaha
negara menurut UU ini :
a. Keputusan tata usaha negara yang merupakan perbuatan
hukum perdata.
b. Keputusan tata usaha negara yang merupakan pengaturan
yang bersifat umum.
c. Keputusan tata usaha negara yang masih memerlukan
persetujuan.
22
d. Keputusan tata usaha negara yang dikeluarkan berdasarkan
Kitab Undang-Undang Hukum Pidana atau Kitab UndangUndang Hukum Acara Pidana atau peraturan perundangundangan lain yang bersifat hukum pidana.
e. Keputusan tata usaha negara yang dikeluarkan atas dasar
hasil pemeriksaan badan peradilan berdasarkan ketentuan
peraturan perundang-undangan yang berlaku.
f.
Keputusan tata usaha negara mengenai tata usaha Tentara
Nasional Indonesia.
g. Keputusan Komisi Pemilihan Umum baik di pusat maupun di
daerah, mengenai hasil pemilihan umum.
-
Pasal 49, Pengadilan tidak berwenang memeriksa, memutus
dan menyelesaikan sengketa tata usaha negara tertentu dalam hal
keputusan tata usaha negara yang disengketakan itu dikeluarkan :
a) Dalam waktu perang, keadaan bahaya, keadaan bencana alam atau
keadaan luar biasa yang membahayakan berdasarkan peraturan
perundang-undangan yang berlaku.
b) Dalam keadaan mendesak untuk kepentingan umum berdasarkan
peraturan perundang-undangan yang berlaku.
-
Pasal 48 UU No. 5 Tahun 1986 yang menyebutkan,
(1) Dalam hal suatu Badan atau Pejabat tata usaha negara diberi wewenang
oleh atau berdasarkan peraturan perundang-undangan untuk menyelesaikan
23
secara administratif sengketa tata usaha negara tersebut harus diselesaikan
melalui upaya administratif yang tersedia.
(2) Pengadilan baru berwenang memeriksa, memutus, dan menyelesaikan
sengketa tata usaha negara sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) jika
seluruh upaya adminisratif yang bersangkutan telah digunakan
Membahas mengenai Keputusan Tata Usaha Negara kaitaneratnya dengan
administrasi, Menurut G. Pringgodigdo, pengertian Hukum Administrasi Negara
mencakup 3 (tiga) unsur yaitu10
1.
Hukum Tata Pemerintahan (HTP) yaitu eksklusif atau aktivitas eksekutif
atau tata pelaksanaan Undang-Undang
2.
Hukum Adminsitrasi Negara (HAN) dalam arti semit yaitu tentang tata
pengurusan rumah tangga negara (rumah tangga negara dimaksudkan,
segaka tugas-tugas yang ditetapkan dengan Undang-Undang sebagai urusan
negara); dan
3.
Hukum Tata Usaha Negara (HTUN) yang berkaitan dengan surat menyurat
atau kearsipan
Dengan unsur-unsur tersebut maka dengan berdirinya Pengadilan Tata
Usaha Negara adalah setidaknya membantu dalam menyelesaiakan sengketa
atau permasalahan yang disebabkan adanya tindakan pemerintah atau Pejabat
Tata Usaha dalam hal administrasi dalam mengeluarkan Keputusan Tata Usaha
Negara (KTUN)
10
Op.cit Indroharto , hal. 11
24
Tolok ukur atau keabsahan dari Keputusan Tata Usaha Negara
berdasarkan pasal 53 ayat (2) Undang-Undang no 9 Tahun 2004 tentang
perubahan atas Undang-Undang no 5 Tahun 1986 tentang Peradilan Tata Usaha
Negara adalah:
a.
Keputusan Tata Usaha Negara sesuai dengan peraturan perundangundangan yang berlaku
b.
Keputusan Tata Usaha Negera sesuai dengan Asas-asas Umum
Pemerintahan Yang Baik .
IV.
Penutup
4.1
Kesimpulan
1.
Dengan dibentuknya PTUN dan juga diundangkanya Undang-Undang
Nomor 5 Tahun 196 tentang Pengadilan Tata Usaha Negara, telah
memberikan peran penting bagi perkembangan hukum di indonesia
khususnya penyelesaian sengketa yang diakibatkan oleh tindakan pejabat
tata usaha negara yang tidak sesuai denga peraturan perundang-undangan
didalam mengekuarkan keputusan tata usaha negara.
2.
Proses beracara di Pengadilan Tata Usaha Negara mempunyai beberapa
ketentuan dan mempunyai batasan-batasan baik bagi pihak yang menggugat
maupun pihak yang digugat, dan objek sengketa yang digugat adalah Suatu
penetapan atau surat Keputusan Tata Usaha Negara
4.2
Saran
Dengan semakin banyaknya sengketa di PTUN, apalagi menyangkut
tindakan pejabat Tata Usaha Negara, seharusnya diperlukan penyempurnaan UU
25
peratun , meskipun UU peratun telah direvisi 2 kali yaitu UU No. 9 tahun 2004
kemudian UU No. 51 Tahun 2009 akan tetapi sepertinya belum memberikan
efek jera pada para pejabat yang telah melanggar aturan undang-undang, karena
tidak adanya sanksi tegas,
oleh karenanya harus dibuat aturan tentang
bagaimana sanksi dan pelaksanaan eksekusi putusan sehingga nantinya dapat
terlaksana secara tegas dan dapat mempunyai efek jera pada Pejabat Tata Usaha
Negara yang melanggar.
26
DAFTAR PUSTAKA
BUKU
Basah, Sjahran, Eksistensi dan Tolak Ukur Peradilan Administrasi di Indonesia,
(disertasi Doktor Universitas Padjajaran), Bandung, 1984.
Harahap, M. Yahya, Beberapa Tinjauan Sistem Peradilan Dan Penyelesaian Sengketa,
PT. Citra Aditya Bakti, Bandung.
Indroharto, Usaha Memahami Undang-Undang Tentang Peradilan Tata Usaha Negara,
Buku I, Pustaka Sinar Harapan, Jakarta, 1993
Muchasan, Sistem Pengawasan Terhadap Perbuatan Pemerintah dan Peradilan Tata
Usaha Negara di Indonesia, Yogyakarta.
Rumokoy, Niken R, Peran PTUN Dalam Penyelesaian Sengketa Tata Usaha Negara,
Vol.XX No.2/Januari-maret, 2012.
S.F Marbun, Peradilan Administrasi dan Upaya Administratif di Indonesia, UII Press,
2003
Soetami, Siti, Hukum Acara Peradilan Tata Usaha Negara, PT. Refika Aditama,
Jakarta, 2005
Victor, Yaved, Implikasi Pembatasan Kompetensi Absolut, Penerbit Citra Aditya Bakti,
Bandung, 2006 .
UNDANG-UNDANG
1. Undang-Undang Nomor 5 Tahun 1986 tentang Peradilan Tata Usaha Negara
2. Undang-Undang Nomor 9 Tahun 2004 tentang Perubahan atas Undang-undang
Nomor 5 Tahun 1986 tentang Peradilan Tata Usaha Negara
3. Undang-Undang Nomor 51 Tahun 2009 tentang Perubahan kedua atas Undangundang Nomor 5 Tahun 1986 tentang Peradilan Tata Usaha Negara
27
28
Download