strategi komunikasi pemasaran plaza toyota cabang tendean jakarta

advertisement
JURNAL LENTERA KOMUNIKASI
Vol.1 No.1, Februari 2015 / ISSN 2442-2991
STRATEGI KOMUNIKASI PEMASARAN PLAZA TOYOTA CABANG
TENDEAN JAKARTA SELATAN
Oleh:
Titis Gandariani, S.I.Kom., M.I.Kom.
Hubungan Masyarakat, Politeknik LP3I Jakarta
Gedung sentra Kramat Jl. Kramat Raya No. 7-9 Jakarta Pusat 10450
Telp. 021 – 31904598 Fax. 021 - 31904599
Email : [email protected]
ABSTRACT
Communication has a significant role in marketing a product or service either in advertising,
interactive/internet marketing, public relations, sales promotion, personal selling or direct
marketing, this integration is usually called promotional mix or IMC (Integrated Marketing
Communication).
Research is purposed to answer a few question of marketing communication strategy at Plaza
Toyota Tendean Branch in South Jakarta during promotion of “All New Avanza” Period of
2011-2012, where the question is about what most dominant of marketing communication
forms shall be used and what kind of factors that give an influence in policy of decision
making of integrated marketing communication selected.
The results shows that marketing communication strategy design process of “All New
Avanza” has systematically run to follow the planning process which had been defined by
company. Whereas, the most dominant marketing communication forms to be applied in
promotion activity of “All New Avanza” period of 2011-2012 are consist of direct marketing,
sales promotion (by hand out a leaflets, brochures, catalogues, discounts and prizes such as
free (washing extra, free service, free car accessories), held an exhibition at business centre
(mal, apartment, offices) in big city of Jakarta, and open house-showroom event. Marketing
communication of decision making policy were selected towards budged efficiency, human
resource, and competitor analysis.
Keywords : Marketing Communication
PENDAHULUAN
Persaingan bisnis otomotif penjualan kendaraan bermotor dewasa ini semakin gencar
terjadi di Indonesia khususnya di Ibukota Jakarta. Hal tersebut tampak terlihat begitu banyak
pemilik kendaraan roda empat (mobil) maupun kendaraan roda dua (motor) beraktivitas di
jalan. Menurut saya, fenomena ini pasti tidak terlepas dari campur tangan berbagai pihak
diantaranya seperti pemilik showroom, leasing hingga aparat terkait yang memberikan
berbagai fasilitas kemudahan untuk memiliki kendaraan bermotor. Dampak dari kemudahan
membeli kendaraan itulah berakibat pada lalu lintas yang semakin tidak terkontrol seperti
kemacetan, kebisingan, dan polusi udara. Bisa dibayangkan seandainya satu keluarga yang
78
JURNAL LENTERA KOMUNIKASI
Vol.1 No.1, Februari 2015 / ISSN 2442-2991
terdiri dari lima hingga delapan orang semua beraktivitas menggunakan kendaraan pribadi,
pastinya akan semakin menambah volume pengguna jalan raya meningkat.
Namun fenomena permasalahan tersebut justru tidak berlaku bagi para pemilik usaha
otomotif pada umumnya, baginya semakin banyak produknya terjual semakin baik target
perusahaan yang di dapat. Singkatnya persaingan bisnis otomotif ini begitu sangat kompetitif,
belum lagi masuknya pangsa pasar terhadap kendaraan jenis mobil atau motor bekas yang
menjadi incaran masyarakat luas karena harganya yang lebih terjangkau.
Berikut adalah PT. Plaza Toyota sebagai main dealer dari Toyota group merupakan
salah satu perusahaan otomotif terbesar di Indonesia yang mengalami dampak globalisasi
persaingan usaha di bidang penjualan kendaraan roda empat (mobil). Sebagai salah satu
leader perusahaan otomotif terbesar di Indonesia, Plaza Toyota memiliki berbagai showroom
kantor cabang yang tersebar di berbagai kota besar di Jakarta dan salah satunya adalah
Cabang Tendean Jakarta Selatan. Menghadapi persaingan yang semakin kompetitif tersebut
Plaza Toyota harus benar-benar mengantisipasi berbagai strategi yang sewaktu-waktu dapat
mengancam keselamatan usahanya. Tak jarang inovasi terhadap produk-produk Toyota pun
kerap dilakukan guna memberikan pelayanan kepuasan konsumen atau pelanggan. Sebagai
wujud nyata, salah satu bentuk inovasi yang dilakukan Toyota di tahun 2011 ini adalah
diluncurkannya mobil Avanza baru yang lebih trendi, dinamis dan elegant dikelasnya,
dengan tag line “All New Avanza”1.
Bicara kesuksesan dalam membangun aktivitas pemasaran terkait promosi tentunya
memiliki kekhususan tersendiri bagi para pelaku bisnis khususnya praktisi pemasaran
perusahaan dalam mengimplementasikannya, karena segala tindakan yang dilakukan secara
tidak langsung akan selalu berkaitan dengan berbagai unsur faktor pendukung baik internal
maupun external perusahaan yang melatarbelakangi kebijakan pengambilan keputusan
tercapainya tujuan pemasaran, diantaranya seperti keputusan dalam memilih dan
menggunakan bentuk-bentuk utama alat beriklan dan berpromosi yang efektif dan efisien.
Belch (2001) memperkenalkan empat elemen dari bentuk-bentuk tools promotional
mix tradisional diantaranya yaitu : advertising (iklan), sales promotion (promosi penjualan),
public relations (publikasi/humas) dan personal selling (penjualan personal), namun seiring
waktu Belch menambah dua elemen lagi dalam promotional mix tadi menjadi direct
marketing (pemasaran langsung) dan interactive/internet marketing (pemasaran interaktif)2.
Menurutnya dua elemen yang terakhir ini telah digunakan secara luas oleh pengguna
pemasaran dewasa ini untuk berkomunikasi dengan khalayak sasarannya sebagaimana empat
elemen sebelumnya.
Sedangkan Shimp (2003) juga memperkenalkan berbagai bentuk-bentuk utama tools
pemasaran sebagai alat berpromosi yang sering ditemui seperti : iklan, tenaga penjual, papan
nama toko, display ditempat pembelian, kemasan produk, direct mail, sampel produk gratis,
kupon dan alat-alat pemasaran lainnya3. Pendeknya masih banyak lagi berbagai elemenelemen tools pemasaran terkait promosi yang telah diungkapkan oleh para ahli pemasaran
sebagai alat beriklan dan berpromosi. Namun para ahli juga mengatakan bahwa dari semua
tools pemasaran tersebut tidak bisa dikatakan sebagai yang paling terbaik dalam setiap
pencapaian kesuksesan tujuan, karena seperti yang kita ketahui bersama bahwa masingmasing tools pada dasarnya mempunyai keunggulan serta kelemahannya tersendiri.
1
Internet, Website PT. Plaza Toyota, (www.plazatoyota.com : 2011).
2
Marketing
3
Shimp, A. Terence. 2003. Periklanan Promosi, Aspek Tambahan Komunikasi Pemasaran Terpadu, Jilid I Edisi
Kelima. (Jakarta : Penerbit Erlangga). hlm. 4.
Blech, George. E & Michael A. Belch. 2001. Advertising And Promotion : An Integrated
Communications Perspectives, Fifth Edition. (Irwin/Graw Hill : New York). hlm.14.
79
JURNAL LENTERA KOMUNIKASI
Vol.1 No.1, Februari 2015 / ISSN 2442-2991
Bicara strategi pemasaran dengan berbagai elemen-elemen pendukung beriklan dan
berpromosi seperti yang sudah dikemukakan oleh beberapa para ahli tadi, menurut saya
apabila dikaitkan dalam ranah komunikasi tentunya memiliki perbedaan dalam menganalisis
rancangan konsep berikut implementasinya. Dalam konteks ilmu komunikasi, proses
komunikasi lebih fokus dibahas tentang action communications yaitu bagaimana cara
mengkomunikasikan informasi pemasaran kepada khalayak sasaran melalui penciptaan
berbagai kreativitas pesan yang dibangun menggunakan berbagai jenis bentuk-bentuk alat
komunikasi pemasaran serta memadukan elemen-elemen tersebut agar terpadu atau yang
biasa disebut IMC (Integrated Marketing Communication).
Dalam banyak kasus, pengelolaan suatu strategi baik individu maupun korporat
menurut saya diperlukan sebuah perencanaan yang tepat dan sistematis, tujuannya agar
terarah dan mudah dalam pengevaluasian. Graham (2007) pernah mengutarakan bahwa upaya
perencanaan merupakan hal yang sangat penting untuk menjamin kesuksesan masa depan,
untuk itu keberhasilan dan kesuksesan suatu program pemasaran terkait promosi dibutuhkan
serangkaian proses perencanaan dan rancangan strategi yang sistematis4.
Hal yang sama juga diungkapkan oleh Smith (1998) bahwa kesuksesan suatu program
diperlukan suatu strategic planning atau konsep perencanaan (plan system) yang sistematis,
karena dengan adanya strategic planning pada setiap perusahaan atau organisasi
memudahkan dalam pengelolaan faktor internal dan eksternal dan tidak terkontrolnya
kekuatan, kelemahan, arah dan tujuan perusahaan untuk mencapai akhir yang diinginkan,
atau dengan kata lain (plan system) berguna untuk mempermudah dalam menganalisis setiap
tindakan pemasaran yang akan dan bahkan telah dilakukan. Masih menurutnya bahwa pada
dasarnya banyak pendekatan dalam membangun rencana komunikasi pemasaran terkait
promosi yang lebih spesifik, walau tidak ada pendekatan tunggal, tetapi esensi perencanaan
menurut elemen-elemen tertentu haruslah ada. Smith berupaya menjabarkan tahapan
membangun konsep perencanaan komunikasi pemasaran terkait promosi yang simple dan
lebih komprehensif yang dikenal dengan pendekatan SOSTAC (Situation Analysis,
Objectives, Strategy, Tactics, Action, Control) + 3M (Men, Money, Minutes)5.
Namun dalam penelitian ini, penulis justru tidak ingin membahas dan mengkaji secara
mendalam mekanisme konsep proses perencanaan (plan system) terkait bauran komunikasi
pemasaran yang diterapkan Plaza Toyota di Kantor Cabang Tendean Jakarta Selatan, tapi
lebih kepada ingin mengetahui serangkaian aktivitas-aktivitas pemasaran terkait promosi
diluncurkannya “All New Avanza” periode 2011-2012 dilihat dan diamati dari sisi strategi
komunikasi pemasaran, seperti strategi kreativitas pesan, strategi memilih media serta strategi
memilih teknik-teknik komunikasi pemasaran yang digunakan.
Dengan berpandangan pada studi kasus aktivitas pemasaran terkait promosi yang
digelar Plaza Toyota sebagai salah satu main dealer Toyota group yaitu perusahaan berskala
besar di Indonesia yang mempunyai reputasi nasional maupun internasional, sekiranya dapat
dijadikan tolak ukur bahwa konsep membuat berbagai rencana aktivitas-aktivitas (kegiatan)
bauran komunikasi pemasaran atau IMC (Integrated Marketing Communication) dapat
mudah dipahami dan diimplementasikan sesuai dengan tujuan perusahaan atau organisasi
yang telah ditetapkan sebelumnya.
Rumusan Masalah
4
Graham, Cateora. 2007. International Marketing, Pemasaran International, Edisi 13 buku 2. (Jakarta :
Penerbit Salemba Empat). hlm.10-13.
5
Smith, PR Terry Christ & Pulford Alan. 1998. Marketing Communications, An Integrated Approach, Second
Edition. (London : Kogan Page). hlm.31-32.
80
JURNAL LENTERA KOMUNIKASI
Vol.1 No.1, Februari 2015 / ISSN 2442-2991
Kesuksesan sebuah produk tidak terlepas dari cara membentuk dan mengemas sebuah
iklan dan promosi melalui pemilihan bentuk-bentuk tools promotional mix seperti advertising
(iklan), sales promotion (promosi penjualan), public relations (publikasi/humas), personal
selling (penjualan personal), direct marketing (pemasaran langsung) dan interactive/internet
marketing (pemasaran interaktif)6.
Strategi komunikasi pemasaran adalah aspek penting dalam keseluruhan misi
pemasaran serta penentu suksesnya pemasaran, bahkan semua organisasi atau perusahaan
tradisional ataupun modern baik yang bergerak di bidang produk maupun jasa banyak
menggunakan berbagai bentuk komunikasi pemasaran untuk mempromosikan apa yang
mereka tawarkan guna mencapai tujuan yang telah ditetapkan. Untuk itu rumusan
permasalahan dalam penelitian ini adalah : Bagaimana strategi komunikasi pemasaran
Plaza Toyota Cabang Tendean Jakarta Selatan dalam mempromosikan “All New
Avanza” periode 2011-2012 ?
Identifikasi Masalah
1) Apa saja bentuk-bentuk aktivitas komunikasi pemasaran yang digunakan selama
promosi produk “All New Avanza” periode 2011-2012 ?
2) Apa saja faktor-faktor lingkungan yang melatarbelakangi pengambilan keputusan
dipilihnya bentuk-bentuk aktivitas komunikasi pemasaran ?
Tujuan Penelitian
1) Menjelaskan dan menguraikan bentuk-bentuk komunikasi pemasaran terkait promosi
“All New Avanza” periode 2011-2012 yang dilakukan Plaza Toyota Cabang Tendean
Jakarta Selatan.
2) Menjelaskan berbagai faktor yang menjadi bahan pertimbangan dalam pengambilan
keputusan menentukan bentuk-bentuk kegiatan komunikasi pemasaran “New All
Avanza” periode 2011-2012.
Manfaat Penelitian
Akademis
1) Penelitian ini diharapkan dapat menjadi bahan referensi buat para mahasiswa
khususnya Fakultas Ilmu Komunikasi dalam menambah wawasan dan pengetahuan
terutama mengenai berbagai bentuk-bentuk elemen tools strategi komunikasi
pemasaran sebagai alat beriklan dan berpromosi yang efektif dan efisien.
2) Penelitian ini diharapkan dapat memperkaya penelitian yang akan datang khususnya
yang menggunakan metode studi kasus, walau jenis penelitian ini tidak tergolong
pendekatan baru namun relatif dapat memberikan variansi dan acuan khususnya
mengenai mekanisme proses membuat rancangan aktivitas strategi komunikasi
pemasaran terkait promosi yang simple dan komprehensif.
Praktis
1) Penelitian ini diharapkan dapat bermanfaat sebagai acuan bagi para pelaku bisnis
pemasaran seperti sales atau marketing, konsultan, para ahli komunikasi pemasaran
maupun eksekutif organisasi atau perusahaan yang bertanggung jawab atas
pembuatan perencanaan dan perancangan aktivitas komunikasi pemasaran terkait
promosi yang lebih komprehensif beserta pengembangannya.
6
Op cit. Belch, George E & Michael A. Belch. 2001. hlm. 14.
81
JURNAL LENTERA KOMUNIKASI
Vol.1 No.1, Februari 2015 / ISSN 2442-2991
Penelitian ini diharapkan paling tidak bisa digunakan sebagai bahan rujukan dan
pembanding untuk kepentingan praktis agar elemen-elemen yang perlu diperhitungkan dalam
penyusunan dan menganalisis strategi komunikasi pemasaran terkait aktivitas promosi tidak
terlewatkan atau terlupakan begitu saja. Sehingga perusahaan atau organisasi dapat
mengetahui bagaimana pengambilan keputusan dalam menerapkan strategi komunikasi
pemasaran terkait aktivitas promosi dalam pengembangan produk baru dimasa mendatang
bisa lebih terpadu pengelolaannya.
KAJIAN PUSTAKA DAN KERANGKA PEMIKIRAN
Pengertian Strategi
Banyak penulis menghindari pendefinisian istilah strategi terutama karena begitu
banyak cara istilah tersebut digunakan dan disalahgunakan. Namun Delozier (1976)
menuturkan pendefinisian istilah strategi adalah sebuah upaya perencanaan, karena
menurutnya suatu konsep (strategi) itu sendiri sebenarnya berasal dari upaya perencanaan
berskala besar yang melibatkan operasi militer yang dilakukan oleh Bangsa Yunani dengan
menyebut esensi (intisari) dari konsep tersebut sebagai strategia, “seni para jenderal”7.
Masih menurutnya bagaimanapun, penerjemahan tersebut tidak memberikan definisi
yang berguna kecuali kalau kita tahu apa yang dikerjakan oleh para jenderal militer tersebut
ataupun kepala negara tersebut dengan peran masing-masing yang telah ditetapkan, konsep
dari strategi ini pun dipahami dalam beragam cara. Sedangkan perbedaan pokok di antara
definisi-definisi itu adalah pada ruang lingkupnya.
Sedangkan Hart (1967) memperkenalkan dua definisi strategi yang menunjukkan
berkaitannya dengan strategi komunikasi dan bisnis. Strategi tersebut didefinisikan sebagai :
1) The art of distributing and applying military (or business) means to fulfill the ends of
policy . (Seni mendistribusikan dan menerapkan kaidah-kaidah militer (atau bisnis) untuk
menjalankan atau menyempurnakan kebijakan).
2) The art and science of adapting and coordinating resources to the attainment of an
objective. (Seni dan ilmu menyesuaikan dan mengkoordinasikan sumber daya dalam
pencapaian suatu tujuan)8.
Kedua definisi Hart tersebut berguna dalam bisnis karena secara bersama menegaskan
dua tingkat strategi yang berlaku dalam sebuah perusahaan.
Definisi pertama menekankan strategi sebagai titik “penyempurnaan” kebijakan
untuk kemudian dijalankan. Dari sudut pandang militer, hal ini menunjukkan
“penyempurnaan” tujuan-tujuan politik dari suatu negara atau sekelompok (aliansi) negara.
Contohnya yang terjadi pada Perang Dunia II, terlihat pada pertimbangan pentingnya secara
politik untuk mengijinkan Pasukan Rusia memasuki Kota Berlin walaupun secara militer,
Amerika Serikat dapat saja mengambil tindakan untuk dirinya sendiri. Pemerintah Amerika
Serikat mengambil posisi ini karena percaya akan pentingnya aliansi dan pemeliharaan
perdamaian jangka panjang pasca perang. Sedangkan kaitan kajian dalam bidang bisnis,
“penyempurnaan” tujuan-tujuan ditentukan berdasarkan misi perusahaan dimana misi
7
Delozier, M. Wayne. 1976. The Marketing communications Process. (Tokyo : McGraw-Hill Kogakusha Ltd).
hlm.270.
8
Hart, H . Liddell. 1967. Strategy, 2d rev ed. (New York : Frederick A. Praeger, Inc). hlm.335.
82
JURNAL LENTERA KOMUNIKASI
Vol.1 No.1, Februari 2015 / ISSN 2442-2991
perusahaan adalah visi jangka panjang dari bagaimana bisnis tersebut diharapkan di masa
depan dan bagaimana upaya yang harus dilakukannya9.
Intinya, misi perusahaan membentuk perusahaan itu sendiri beserta gambaran
idealnya. Strategi yang menitikberatkan pada pencapaian misi perusahaan disebut sebagai
grand strategic10.
Definisi kedua dari strategi yang dipaparkan Hart adalah memiliki ruang lingkup
lebih terbatas dan paralel dengan rencana para jenderal (panglima militer) atas pergerakan
pasukan di medan tempur untuk mencapai tujuan.
Dengan demikian, definisi pertama lebih cocok disebut sebagai grand strategic, sedangkan
definisi kedua lebih sesuai dengan istilah “strategi” yang umum digunakan, dimana dalam
bisnis jenis strategi ini disebut sebagai functional strategic. Strategi fungsional dalam bisnis
lebih menitikberatkan pada upaya mencapai tujuan fungsional dan hal ini menjadi “tanggung
jawab manajemen tengah”11.
Fungsional dari manajemen tengah itu sendiri menitikberatkan hal sebagai titik temu
pencapaian tujuan pemasaran (marketing objectives), tujuan penjualan (sales objectives),
tujuan produksi dan lain-lain. Perlu diketahui juga bahwa semua tujuan-tujuan fungsional
merupakan pernyataan operasional strategi jangka pendek yang harus dicapai untuk
mewujudkan misi perusahaan. Pendeknya dapat dikatakan bahwa functional strategic adalah
kumpulan rencana-rencana jangka pendek untuk mewujudkan keseluruhan dari grand
strategic perusahaan atau organisasi.
Masih menurut Hart, Tactical planning and operations (taktik) adalah bentuk
penerapan strategi, hampir sama dengan functional strategic yang merupakan bentuk
penerapan dari grand strategic. Taktik melibatkan aktivitas sumber daya secara spesifik dari
waktu ke waktu atau dari hari ke hari. Dua contoh spesifik dari taktik dalam bisnis adalah :
(1) Perancang iklan (copywriter) yang menjalankan strategi pemasaran melalui
pengembangan rancangan yang cocok, (2) Tenaga penjual (sales representative) yang
menyiapkan presentasi penjualannya sesuai dengan kebutuhan klien prospektifnya.
Singkatnya taktik-taktik ini mewakili berbagai aktivitas “lapangan” yang dilakukan
oleh tenaga pemasaran. Gambaran tersebut merupakan contoh-contoh sederhana (clear-cut)
dari taktik bisnis. Karena biar bagaimanapun, seringkali cukup sulit untuk menentukan titik
akhir penerapan strategi dan titik awal operasi taktis. Sedangkan keberhasilan suatu strategi
tergantung pada seberapa baik strategi tersebut dapat menyesuaikan sumber daya yang dimiliki
terhadap suatu peluang yang dapat teridentifikasi. Secara konseptual, gagasan ini cukup
sederhana namun pada praktiknya cukup sulit dilaksanakan.
Dengan analisa yang dilakukan terhadap sumber daya perusahaan dan taksiran atas
peluang pasar, perencana strategi berada pada posisi untuk menyusun sasaran operasional yang
realistis bagi perusahaan dengan pertimbangan dimana harus memberikan kerangka (batas)
waktu pencapaian sasaran sesuai dengan risiko yang melekat dalam penggunaan sumber daya
perusahaan terkait upaya pencapaian tersebut. Jika tingkat risiko tidak dapat diterima oleh
9
Kollat, T. David, Roger D. Blackwell and James F. Robeson. 1972. Strategic Marketing. (New York : Holt,
Rinehart and Winston, Inc). hlm. 14.
10
Op cit. Hart, H . Liddell. 1967. hlm.335-372.
11
Kelley, J. Eugene. 1973. “Marketing Planning For The Firm”, in Eugene J. Kelley and William Lazer (eds)
Managerial Marketing : Policies, Strategies and Decisions. (Homewood III : Richard D. Irwin, Inc). hlm. 22.
83
JURNAL LENTERA KOMUNIKASI
Vol.1 No.1, Februari 2015 / ISSN 2442-2991
manajemen dan waktu pencapaian yang diperlukan terlalu lama, maka peluang lain harus pula
diuji.
Pendeknya itulah gambaran sekilas mengenai definisi strategi secara umum hingga definisi
strategi yang langsung berkaitan dengan komunikasi dan bisnis. Dewasa ini pun telah banyak
perusahaan atau organisasi yang dalam menjalankan bisnis atau usahanya telah menerapkan
atau mempunyai strategic planning di setiap tujuan yang ingin dicapai, walau di banyak riset
mahasiswa ada juga perusahaan atau organisasi yang belum mempunyai strategic planning,
namun semua berpulang kepada sumber daya masing-masing perusahaan atau organisasi yang
bersangkutan.
Proses Komunikasi
Berdasarkan sudut pandangnya tentang ilmu komunikasi, saya merangkum berbagai
rujukan dari para pakar/ahli komunikasi mendefinisikan komunikasi sebagai proses
penyampaian (pesan, informasi, gagasan, emosi, keahlian, dan lain-lain) dari komunikator
(pengirim) ke komunikan (penerima) melalui media tertentu untuk mencapai tujuan tertentu
dengan harapan berdampak pada renspon dan umpan balik (feedback).
Namun dalam konteks pemasaran atau bisnis, komunikasi bukan saja sekedar sebuah
proses menyampaikan pesan (informasi) dari komunikator (pengirim) ke komunikan
(penerima), tapi sudah berkaitan dengan misi tujuan tertentu yang telah ditetapkan
perusahaan bernaung, intinya adalah seperti dampak bagaimana mendapatkan profit sebesarbesarnya melalui usaha komunikasi yang telah dilakukan, hal ini pun tidak menutup
kemungkinan berlaku bagi perusahaan baik yang bergerak dibidang pemasaran produk
maupun jasa sekalipun.
Untuk itu menurut saya para praktisi pemasaran dalam menyampaikan informasi (pesan) ke
khalayak sasaran (konsumen atau pelanggan) terlebih yang berkaitan dengan merancang
program komunikasi pemasaran efektif, untuk perlu terlebih dahulu memahami bagaimana
proses komunikasi secara umum. Berikut ini adalah gambar atau model kesimpulan penulis
tentang proses komunikasi yang di adaptasi dari perpaduan antara model klasik Shannon dan
Weaver (1992) dan model klasik Schramm (1974) :
Gambar 2.1
Proses Komunikasi
Advertising (Iklan) adalah segala bentuk presentasi nonpribadi dan promosi gagasan,
barang atau jasa oleh sponsor tertentu yang harus dibayar. Iklan merupakan cara yang efektif
84
JURNAL LENTERA KOMUNIKASI
Vol.1 No.1, Februari 2015 / ISSN 2442-2991
untuk menyebarkan pesan, baik untuk membangun preferensi merek atau untuk mendidik
orang 12.
Kegiatan ini bertujuan untuk membangun dan mempertahankan pengenalan merek
secara tepat. Memantapkan citra atau posisi mereka di benak khalayak, menjangkau khalayak
massal dengan isi pesan yang seragam dan waktu pemunculan yang terkendali. Saluran
advertising meliputi iklan-iklan yang di pasang dalam berbagai bentuk media massa.
Iklan merupakan salah satu bentuk promosi yang paling dikenal dan paling banyak
dibahas orang, hal ini kemungkinan karena biaya dan jangkauannya yang luas. Iklan juga
menjadi instrument promosi yang sangat penting, khususnya bagi perusahaan yang
memproduksi barang atau jasa yang ditujukan kepada masyarakat luas. Keuntungan lain dari
iklan melalui media massa adalah kemampuannya menarik perhatian konsumen terutama
produk yang iklannya popular atau sangat dikenal masyarakat. Hal ini tentu saja pada
akhirnya akan meningkatkan penjualan.
Direct Marketing (pemasaran langsung) adalah sistem pemasaran secara langsung
dengan calon pelanggan sasaran dengan maksud untuk menimbulkan tanggapan dan atau
transaksi penjualan. Secara tradisioanal, pemasaran langsung belum tanggap sebagai salah
satu elemen dari bauran promosi (promotional mix). Namun, pemasaran langsung telah
menjadi bagian penyempurna dari program IMC (Integrated Marketing Communication)
yang telah dilaksanakan banyak perusahaan yang sering kali melibatkan strategi, anggaran,
serta tujuan yang terpisah maka perlulah kiranya memasukkan pemasaran langsung sebagai
salah satu komponen bauran promosi13.
Perlu ditegaskan di sini bahwa pemasaran langsung bukanlah sekedar kegiatan
mengirim surat (direct mail) dan mengirim katalog perusahaan (mail order catalog) kepada
pelanggan atau calon pelanggan, akan tetapi pemasaran langsung juga mencakup berbagai
aktivitas seperti pengelolaan database (database management), penjualan langsung (direct
selling), telemarketing dan iklan tanggapan langsung dengan menggunakan berbagai saluran
komunikasi seperti mengirim surat langsung kepada pelanggan dan calon pelanggan atau
melalui internet, media cetak dan media penyiaran. Pendeknya, cukup banyak perusahaan
saat ini yang sudah tidak lagi menggunakan aluran distribusi bentuk lain dan hanya
menggunakan cara pemasaran langsung dalam melaksanakan kegiatan pemasarannya dan
tidak sedikit pula perusahaan yang sukses menggunakan bentuk pemasaran langsung ini.
Interactive/Internet Marketing (pemasaran interaktif) adalah alat promosi dengan
menggunakan internet yaitu melalui fasilitas yang dikenal dengan “WWW” (World Wide
Web). Kehadiran internet tidak saja telah mengubah cara-cara perusahaan dalam merancang
dan melaksanakan strategi bisnis dan pemasaran namun juga mempengaruhi program
komunikasi pemasaran mereka. Ribuan perusahaan lokal skala kecil, dewasa ini telah
mengembangkan website untuk mempromosikan barang dan jasa mereka. Hal ini
memungkinkan perusahaan untuk tidak saja menyampaikan informasi dan melakukan
interaksi namun juga memberikan hiburan melalui fasilitas yang ada di website kepada
konsumen mereka14.
12
Kotler, Philip. 2006. Manajemen Pemasaran, Edisi Ke Dua Belas, Jilid Dua (Edisi Bahasa Indonesia). (Jakarta :
PT. Indeks). hlm. 244.
13
Op cit, Belch, George E & Michael A Belch. 2001. hlm. 17.
14
Morissan. 2007. Periklanan : Komunikasi Pemasaran Terpadu. (Jakarta : Ramdika Prakarsa). Hlm. 18-19.
85
JURNAL LENTERA KOMUNIKASI
Vol.1 No.1, Februari 2015 / ISSN 2442-2991
Sales Promotion (promosi penjualan) adalah aktivitas pemasaran yang memberikan
nilai lebih atau insentif kepada tenaga penjualan, distributor atau konsumen akhir dan dapat
menstimulasikan penjualan langsung15. Contoh alat-alat promosi penjualan adalah berupa
pemberian potongan harga (discount), event khusus (pameran, open house, bazar), POP
display, demontrasi dalam toko (dengan memberikan produk sampel), kupon undian
berhadiah, kontes (permainan berbentuk promosi), dan lain sebagainya.
Public Relations (hubungan masyarakat) adalah komponen lain yang juga sangat
penting dalam promotional mix yang digunakan, Kotler menyatakan nama lain public
relations dengan “publicity” atau publikasi (pemuatan berita di media massa tentang
perusahaan tanpa membayar). Kegiatan bentuk Public relations dalam pemasaran
bermaksudkan untuk merencanakan dan menditribusikan informasi secara sistematis dalam
upaya untuk mengontrol dan mengelola citra serta publisitas yang diterimanya16.
Personal Selling (penjualan perorangan) adalah elemen terakhir dari bauran promosi
(promotional mix) yang merupakan suatu bentuk komunikasi orang per-orang di mana
seorang wiraniaga berhubungan dengan calon pembeli dan berusaha mempengaruhi agar
mereka membeli produk atau jasa perusahaannya17. Ini bertentangan dengan bentuk
komunikasi pemasaran lainnya di mana audiens umumnya terdiri dari banyak orang, kadangkadang jutaan (seperti dalam kasus periklanan media massa).
Namun, kelemahan utama penjualan perorangan adalah lebih mahal daripada bentuk
komunikasi pemasaran lainnya karena para sales representative umumnya berinteraksi hanya
dengan satu pelangan pada satu waktu. Namun, jika pertimbangan efektivitas atau hanya
memperhatikan hasil yang dicapai oleh usaha penjualan perseorangan, maka penjualan
perorangan umumnya lebih efektif daripada unsur-unsur komunikasi pemasaran lainnya.
Meskipun demikian, ketika mempertimbangkan rasio masukan terhadap keluaran (biaya
terhadap hasil), penjualan perorangan biayanya kurang efisien daripada sarana komunikasi
pemasaran lainnya18.
Merangkum berbagai definisi dari jenis bentuk-bentuk komunikasi pemasaran, dapat
dikatakan bahwa komunikasi pemasaran terintegrasi (Integrated Marketing Communication)
pada dasarnya mempunyai hubungan yang saling terkait dan memang merupakan
pengembangan dari istilah promosi, karena pada setiap elemen-elemen promosi mencakup
kegiatan-kegiatan mengkombinasikan dan mengkoordinasikan berbagai elemen yang terdapat
dalam bauran promosi (promotional mix) melalui program komunikasi pemasaran yang
terpadu, terkontrol dan efektif.
Sedangkan tantangannya sebagai praktisi pemasaran adalah harus dapat memperhitungkan
serta mempertimbangkan kekuatan dan kelemahan dari masing-masing elemen tersebut,
karena seperti yang sudah diketahui bahwa bentuk-bentuk komunikasi dari kegiatan-kegiatan
promotional mix berbeda satu dengan lainnya, serta harus dapat mengkombinasikan dan
mengkoordinasikan berbagai elemen promosi tersebut agar dapat mencapai tujuan pemasaran
dan promosi yang telah ditetapkan. Selain itu juga harus dapat mendistribusikan seluruh
anggaran promosi yang dialokasikan kepada seluruh elemen promotional mix, seperti berapa
persen dari anggaran yang harus diberikan untuk iklan media, promosi penjualan, pemasaran
langsung, penjualan perseorangan dan lain sebagainya.
15
Op cit, Belch, George E & Michael A Belch. 2001. hlm. 21.
16
Op cit, Belch, George E & Michael A Belch. 2001. hlm. 22.
17
Op cit, Shimp, A. Terence. 2003. hlm. 281.
Ibid, hlm. 282.
18
86
JURNAL LENTERA KOMUNIKASI
Vol.1 No.1, Februari 2015 / ISSN 2442-2991
Proses Perencanaan Promosi
Perencanaan merupakan bagian yang sangat penting di setiap pekerjaan apapun. Hal
yang sama juga pernah diutarakan Graham (2007) bahwa menurutnya upaya perencanaan
merupakan hal yang sangat penting untuk menjamin kesuksesan masa depan, terkait
keberhasilan dan kesuksesan tersebut diperlukan beberapa petunjuk dan prosedur sistematis
yang dibutuhkan untuk mengevaluasi serangkaian rencana yang akan dilakukan19.
Begitu juga program pemasaran terkait promosi dibutuhkan serangkaian proses
perencanaan dan rancangan strategi yang sistematis. Perencanaan tersebut mencakup hal-hal
seperti : menetapkan tujuan yang hendak dicapai, mempertimbangkan alternatif, menilai
resiko dan manfaat dari masing-masing alternatif, memutuskan arah tindakan, menetapkan
anggaran serta mendapatkan persetujuan dan dukungan yang dibutuhkan dari manajemen
perusahaan20.
Petunjuk dan prosedur sistematis tersebut juga pada dasarnya tidak harus mengacu
pada konsep tertentu, namun setidaknya secara umum perencanaan komunikasi pemasaran
terkait promosi yang dilakukan harus tersedia lima elemen utama seperti yang dikatakan oleh
Blech (2001)21. Namun sebelum masuk ke tahap penerapan lima elemen utama perencanaan
komunikasi pemasaran terpadu atau IMC (Integrated Marketing Communication), terlebih
dahulu disarankan melakukan langkah awal dengan me-review atau kaji ulang terhadap
rencana pemasaran serta tujuan yang hendak dicapai. Maksudnya, sebelum menentukan suatu
rencana promosi, praktisi pemasaran harus memahami terlebih dahulu mengetahui dimana
posisi perusahaan sebelumnya, seperti dimana posisinya saat ini serta kemana arah yang
hendak dituju dan apa yang telah direncanakan perusahaan (merek) untuk mencapai sasaran
itu.
Sebagian informasi itu sudah harus termuat dalam perencanaan pemasaran (marketing
plan) yaitu suatu dokumen tertulis yang menjelaskan keseluruhan strategi pemasaran dan
program yang dirancang perusahaan (merek), setelah itu baru masuk ke langkah lima elemen
bentuk utama yang diutarakan Belch (2001) tadi, diantaranya :
1) Harus tersedia suatu analisa situasi (situation analysis) yang terinci yang terdiri atas
hasil audit pemasaran internal (internal marketing audit) serta analisa eksternal
mengenai persaingan pasar dan faktor-faktor lingkungan yang mempengaruhinya.
2) Harus tersedia tujuan pemasaran spesifik yang memberikan arahan dan juga tahapan
kerja (time frame) bagi pelaksanaan kegiatan pemasaran serta suatu tolak ukur untuk
mengukur kinerja yang dicapai.
3) Harus terdapat keputusan mengenai pemilihan atau seleksi pasar sasaran (target market)
dan keputusan terhadap empat elemen dalam marketing mix.
4) Harus terdapat program untuk melaksanakan keputusan yang sudah dibuat termasuk
penentuan tugas atau pekerjaan yang akan dilakukan serta bentuk
pertanggungjawabannya.
5) Harus juga terdapat suatu proses monitoring atau proses evaluasi terhadap kinerja juga
proses pemberian umpan balik.
19
Op cit, Graham, Cateora. 2007. hlm. 10-13.
20
Op cit, Morrisan. 2007. hlm. 28.
21
Op cit, Belch, George E & Michael A Belch. 2001. hlm. 28.
87
JURNAL LENTERA KOMUNIKASI
Vol.1 No.1, Februari 2015 / ISSN 2442-2991
Menurut saya mungkin bagi kebanyakan perusahaan, perencanaan promosi telah menjadi
bagian ”penyempurna” dari strategi pemasaran, sehingga dari sana sudah menjadi keharusan
bagi orang yang bertanggung jawab terhadap perencanaan promosi harus mengetahui peran
iklan dan elemen bauran pemasaran lainnya dalam keseluruhan program pemasaran terkait
promosi.
Faktor-Faktor Lingkungan Pertimbangan Pengambilan Keputusan Komunikasi
Pemasaran
Sudah bukan rahasia umum bahwa setiap perusahaan atau organisasi pada dasarnya
selalu melakukan hubungan yang dinamis dengan lingkungannya, baik dengan lingkungan
internal maupun lingkungan eksternal. Melihat hal ini, tugas manajer komunikasi pemasaran
harus terus memonitor perkembangan lingkungan untuk memungkinkan perusahaan
mengelola dan bukan hanya sekedar bereaksi terhadap kekuatan lingkungan tersebut.
Shimp (2003) merangkum aspek penting dari pengawasan lingkungan dengan
menggunakan analisis singkatan SWOT (Strengths, Weaknesses, Opportunities, Threats) atau
yang lebih dikenal dengan analisis atas kekuatan, kelemahan, peluang dan ancaman22. Hal
yang dilakukan adalah pengawasan lingkungan (environmental monitoring) atau yang biasa
disebut sebagai analisis situasi (situation analysis) yang melibatkan dua kegiatan umum
diantaranya analisis internal (internal analysis) dan analisis eksternal (external analysis)23.
Pertama, analisis internal (internal analysis) : hal yang dilakukan adalah analisis
terhadap kekuatan (strengths) dan kelemahan (weaknesses) organisasi. Hal topik-topik utama
analisis internal adalah pertimbangan kemampuan sumber daya, seperti kemampuan sumber
daya keuangan dan sumber daya manusia (masalah ketenagakerjaan). Pendeknya, sebuah
perusahaan dengan cadangan keuangan yang kuat serta tim ahli komunikasi yang berbakat,
mempunyai peluang yang lebih besar untuk mengembangkan program kreatif yang berhasil,
sementara perusahaan yang ”terbelakang” mempunyai kemampuan yang terbatas. Namun
hanya waktu yang dapat menentukan apakah upaya komunikasi pemasaran yang sederhana
cukup mampu untuk menciptakan kesadaran akan merek yang tinggi dan citra merek yang
positif.
Kedua, analisis eksternal (external analysis) : hal yang dilakukan adalah analisis
terhadap peluang (opportunities) dan ancaman (Threats) organisasi. Hal topik-topik utama
analisis eksternal terkait kesuksesan efektivitas komunikasi pemasaran adalah pertimbangan
faktor-faktor situasi ekonomi, aktivitas kompetisi, perkembangan sosial budaya, iklim
perundang-undangan, dan pertimbangan jalur distribusi.
Tantangan manajer komunikasi pemasaran harus berupaya mempengaruhi dan
mengubah situasi lingkungan agar kepentingan perusahaan dapat diterima dengan baik
melalui manajemen lingkungan (environmental management)24.
Intinya dalam praktik pemasaran atau komunikasi pemasaran, pemilihan komposisi bauran
komunikasi pemasaran terintegrasi atau IMC (Integrated Marketing Communication) sangat
berpengaruh pada kebijakan, strategi dan taktik mereka dalam pengambilan keputusan
strategi promosi yang akan diterapkan sesuai dengan situasi lingkungan yang ada pada saat
ini. Karena, perubahan yang sukses adalah perusahaan-perusahaan yang mampu
mengantisipasi perkembangan lingkungan dan siap untuk selangkah lebih maju, serta tidak
hanya bereaksi setelah perubahan-perubahan besar terjadi.
22
23
24
Op cit, Shimp, A. Terence. 2003. hlm. 45.
Ibid, hlm. 45-46.
Ibid, hlm. 45-46.
88
JURNAL LENTERA KOMUNIKASI
Vol.1 No.1, Februari 2015 / ISSN 2442-2991
Kerangka Pemikiran
Secara tradisional, aktivitas (kegiatan) bauran komunikasi pemasaran terintegrasi atau
yang biasa dikenal dengan IMC (Integrated Marketing Communication) seperti yang
diutarakan Blech (2001) terdiri atas enam elemen promotional mix, dari elemen-elemen
promosi tersebut memiliki keunikan (keunggulan dan kelemahan) masing-masing.
Pendeknya, dalam praktik pemasaran setiap pemasar dapat memilih untuk menggunakan atau
mengkombinasikan antara bauran elemen promosi yang ada sesuai dengan kemampuan
sumber daya serta filosofi perusahaan yang bersangkutan.
Dalam studi kasus penelitian ini, penulis mencoba menjelaskan dan menguraikan mekanisme
proses perencanaan promosi serta berbagai bentuk kegiatan komunikasi pemasaran Plaza
Toyota Cabang Tendean Jakarta Selatan terkait promosi ”All New Avanza” periode 20112012, serta mengetahui faktor-faktor apa saja yang menjadi bahan pertimbangan pengambilan
keputusan memilih bentuk-bentuk kegiatan komunikasi pemasaran tersebut. Berikut adalah
kerangka berpikir penelitian yang dimaksud, tergambar di bawah ini :
Kerangka Pemikiran
Gambar 2.3
89
JURNAL LENTERA KOMUNIKASI
Vol.1 No.1, Februari 2015 / ISSN 2442-2991
METODOLOGI PENELITIAN
Objek Penelitian
Objek dalam penelitian ini adalah showroom Plaza Toyota Cabang Tendean Jakarta
Selatan terkait dalam aktivitas (kegiatan) komunikasi pemasaran terkait promosi pada
launching ”All New Avanza” Periode 2011-2012.
Metode Penelitian
Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif, dengan format deskriptif kualitatif,
yaitu penelitian yang bersifat mendalam25. Sedangkan metode yang digunakan adalah metode
studi kasus, studi kasus yang dilakukan pada penelitian ini merupakan studi kasus tunggal
holistik yaitu studi kasus mencakup hanya satu unit analisis, dan hanya mengkaji sifat umum
kasus yang bersangkutan26.
Sedangkan kasus yang diteliti adalah jajaran crew unit marketing dan marketing
communication Plaza Toyota Cabang Tendean Jakarta Selatan. Kedua crew unit tersebut
adalah perancang serta pemrakarsa serangkaian aktivitas (kegiatan) pemasaran dan bauran
komunikasi pemasaran terkait promosi launching ”All New Avanza” yang pelaksanaannya
sudah berjalan sekitar akhir 2011 hingga awal 2012.
Definisi Konsep
Komunikasi Pemasaran
Komunikasi pemasaran adalah proses pengembangan dan implementasi berbagai
bentuk program komunikasi persuasif kepada pelanggan dan calon pelanggan secara
berkelanjutan.
Promosi
Promosi adalah suatu usaha atau upaya menginformasikan dan mempengaruhi orang
atau pihak lain sehingga tertarik untuk melakukan transaksi atau pertukaran baik produk
barang atau jasa yang ditawarkannya.
No
1.
Kategorisasi
Konsep
Bentuk-Bentuk
Komunikasi
Fokus Penelitian
Tabel 1.1
Dimensi
1) Advertising
2) Interactive/Internet Media
Indikator
1) Penawaran insentif untuk
meningkatkan penjualan
25
Bungin, Burhan, Bungin, Burhan. 2007. Penelitian Kualitatif, Komunikasi, Ekonomi, Kebijakan Publik, dan Ilmu
Sosial Lainnya. Jakarta : Kencana Prenada Media Group. hlm.69.
26
Yin, 2002:51 Yin, K. Robert. 2002. Studi Kasus, Desain dan Metode. Jakarta : PT. Raja Grafindo Persada.
90
JURNAL LENTERA KOMUNIKASI
2.
Vol.1 No.1, Februari 2015 / ISSN 2442-2991
Pemasaran
3)
4)
5)
6)
Public Relations
Personal Selling
Direct Marketing
Sales Promotion
2) Program promosi penjualan
menggunaan
elemen
bauran promotional mix
3) Penggunaan media untuk
memberi informasi
4) Publikasi produk
5) Penciptaan informasi yang
menarik perhatian hingga
berdampak pada kesadaran
merek atau produk
Pengambilan
Keputusan
Komunikasi
Pemasaran
1)
2)
3)
4)
Kekuatan Lingkungan
Kelemahan Lingkungan
Peluang Lingkungan
Ancaman Lingkungan
1) Atribut
yang
dipertimbangkan
berdasarkan
keunggulan
serta alasan penggunaan
atribut tersebut terhadap
manfaat kesuksesan produk
”All New Avanza”.
2) Atribut
yang
dipertimbangkan
berdasarkan hambatan serta
tantangan terhadap iklan
dan produk pesaing.
3) Kesesuaian kinerja dengan
harapan
kepercayaan
terhadap manfaat produk
baru
yang
dilakukan
melalui
strategi
pengkomunikasian dalam
rancangan promotional mix
Key Informan
Informan adalah seseorang yang mampu mengartikulasi pengalaman dan
pandangannya tentang sesuatu yang dipertanyakan dalam penelitian. Key informan dalam
penelitian ini adalah beberapa orang yang cukup pengalaman dan mempunyai pengetahuan
tentang perusahaan untuk memberikan informasi yang diperlukan khususnya dalam upaya
melihat bagaimana mekanisme proses perancangan serta pelaksanaan aktivitas komunikasi
pemasaran terkait promosi ”All New Avanza” selama periode 2011-2012. Mereka adalah crew
unit marketing dan crew unit marketing communication, kedua crew unit ini adalah sebagai
unit perancang dan pemrakarsa proses penetapan program aktivitas promosi.
Teknik Pengumpulan Data
Pengumpulan data yang dilakukan dalam penelitian ini, dilakukan dengan beberapa
cara : Pertama, interview (wawancara) dengan manager marketing spv dan marketing
communication Plaza Toyota Cabang Tendean Jakarta Selatan sebagai penggalian informasi
dengan tidak terstruktur baik secara langsung maupun lewat telepon untuk mengetahui
penerapan bauran komunikasi pemasaran terkait aktivitas promosi ”All New Avanza” periode
2011-2012. Kedua, pengamatan dokumen internal dan eksternal Plaza Toyota. Ketiga, studi
perpustakaan (library research) adalah untuk memperoleh data dan informasi yang
diperlukan, terkait studi literatur terhadap ilmu-ilmu yang mendukung dalam penelitian ini,
91
JURNAL LENTERA KOMUNIKASI
Vol.1 No.1, Februari 2015 / ISSN 2442-2991
baik berupa hasil penelitian yang berkaitan dengan masalah ini maupun buku-buku teks
sebagai acuan.
Teknik Analisis Data
Data yang telah berhasil dikumpulkan melalui wawancara dan intisari dokumen
internal dan external perusahaan, kemudian ”diproses”. Proses yang dilakukan berdasarkan
model atau konsep Alir Miles dan Huberman (1984) yaitu melalui tiga alur kegiatan yang
terjadi secara bersamaan yaitu reduksi data, penyajian data, dan penarikan kesimpulan atau
verifikasi27. Berikut penjelasannya
1) Reduksi data
Pada tahap ini dilakukan proses pemilihan, pemusatan perhatian pada
penyederhanaan, pengabstrakan dan transformasi data ”kasar” yang muncul dari
catatan-catatan temuan di lapangan seperti wawancara yang telah dilakukan dan
pencatatan analisis terhadap dokumen internal dan external perusahaan.
2) Penyajian data
Pada tahap ini dilakukan penyajian data setelah data yang telah berhasil di reduksi
yaitu melalui rancangan deretan kolom-kolom berupa tahapan analisis logis yang akan
diamati.
3) Menarik kesimpulan verifikasi
Pada tahap ini setelah penyajian data dilakukan, ditarik kesimpulan verifikasi melalui
analisis deskriptif, caranya yaitu di analisis berdasarkan checklist dan
membandingkan dengan variansi konsep perencanaan atau strategic planning system
komunikasi pemasaran dan berbagai elemen-elemen bauran bentuk-bentuk
komunikasi pemasaran, kemudian dipaparkan dengan cara menguraikan dan
menjelaskan hingga menjadi suatu kesimpulan hasil penelitian.
HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN
Bentuk-Bentuk Komunikasi Pemasaran Yang Dipergunakan
Berdasarkan hasil wawancara dan pengamatan dokumen internal dan eksternal Plaza
Toyota Cabang Tendean Jakarta Selatan, dalam upaya mempromosikan produk “All New
Avanza” periode 2011-2012, Plaza Toyota melaksanakan berbagai kegiatan komunikasi
pemasaran terkait promosi melalui iklan di majalah, radio, TV , surat kabar, periklanan luar
ruang, direct mail, direct selling, sales promotion (tenaga penjualan, papan nama toko,
display ditempat pembelian, hadiah gratis, publisitas, pameran, showroom event), serta
aktivitas-aktivitas komunikasi pemasaran lainnya yang bertujuan untuk meningkatkan
penjualan. Adapun bentuk-bentuk kegiatan (aktivitas) komunikasi pemasaran tersebut antara
lain :
1) Advertising (Periklanan)
Dalam melakukan aktivitas promosi “All New Avanza” periode 2011-2012, pada
dasarnya secara group, Toyota Corporations memanfaatkan komunikasi pemasaran
27
Miles, B Matthew. dan A Michael Huberman. 1984. Analisis Data Kualitatif. Jakarta : UIP. hlm. 18.
92
JURNAL LENTERA KOMUNIKASI
Vol.1 No.1, Februari 2015 / ISSN 2442-2991
advertising dalam beberapa bentuk komunikasi pemasaran diantaranya seperti iklan di
majalah, radio, TV, surat kabar, iklan luar ruang, iklan di media internal dan eksternal
perusahaan, dan iklan melalui internet. Sedangkan Plaza Toyota Cabang Tendean Jakarta
Selatan lebih memilih menggunakan bentuk-bentuk advertising (iklan) dengan
memanfaatkan iklan di media internet (website), media cetak di majalah internal
perusahaan dan majalah eksternal pelanggan yang memuat banyak informasi dan promosi
“All New Avanza”.
Menurut manajemen pemasaran Plaza Toyota, hal ini untuk efisiensi biaya karena
secara global strategi advertising sudah dilakukan oleh pusat yaitu Toyota Corporations
itu sendiri, sedangkan Plaza Toyota di Cabang Tendean hanya memback up, mensuppot
serta memperkaya varian-varian strategi lain yang lebih fokus membidik target pasar
berdasarkan letak geografisnya. Tentu ini kurang efektif bagi setiap cabang showroom
dalam mensiasati strategi periklanan mengingat banyaknya persaingan bisnis otomotif
sejenis. Karena informasi yang diterima hanya diketahui oleh pelanggan/customer lama
sedangkan sasaran segmen pasar baru menjadi terabaikan. Namun masih menurut
marketing manajer Plaza Toyota Cabang Tendean, “kami tidak perlu terlalu
mengkhawatirkan pelanggan (customer) baru atau lama dalam merebut atau
mempersuasif mereka, masih menurutnya Avanza sudah memiliki citra merek tersendiri
di benak masyarakat.
2) Direct Marketing (Pemasaran Langsung)
Plaza Toyota Cabang Tendean melakukan aktivitas komunikasi pemasaran direct
marketing dengan komunikasi lewat telepon, faksimili, pemberian katalog, pos, direct
mail dan pemasaran database. Pelakunya selain marketing/sales juga seluruh karyawan
Plaza Toyota Cabang Tendean, mereka diberikan tugas sebagai pemasar walau tidak
harus dengan target tertentu, intinya dilibatkan partisipasinya dalam memasarkan “All
New Avanza” periode 2011-2012. Katalog bisa dikirimkan langsung lewat pos, sedangkan
komunikasi lewat telepon dilakukan oleh tenaga penjualan atau sales Plaza Toyota
kepada para calon pembeli.
3) Interactive/Internet marketing (Pemasaran Interaktif)
Berdasarkan hasil wawancara dan pengamatan dokumen eksternal seperti website,
Plaza Toyota cabang Tendean Jakarta Selatan memanfaatkan website mereka untuk
beriklan dan berpromosi, terutama para sales atau tenaga penjualan (marketing)
diwajibkan mempunyai blog sendiri sebagai ruang untuk mensupport berbagai kegiatan
(aktivitas) komunikasi pemasaran mereka, di sana akan dikembangkan serangkaian
aktivitas direct mail yaitu seperti aktivitas pos surat-menyurat melalui media internet.
Selain itu juga, dicetak juga brosur yang berisi penjelasan mengenai komponen,
manfaat, keunggulan produk Avanza baru di banding produk sejenis dikelasnya. Serta
menggunakan strategi pemasaran dari mulut ke mulut, iklan penyebaran pamflet, iklan
banner disetiap distro pameran atau acara, free catalog, menjadi sponsor kostum acaraacara TV, group band independen, dan pentas-pentas seni.
4) Sales Promotion (Promosi Penjualan)
Dalam melakukan aktivitas promosi “All New Avanza” periode 2011-2012,
pemanfaatan komunikasi pemasaran sales promotion (promosi penjualan) dilakukan
dengan pemberian hadiah, pelombaan kompetisi, sponsorship diberbagai event, pameran
di berbagai mal di kota besar Jakarta, serta pemberian hadiah dalam bentuk cideramata
seperti topi, kaos, payung, jam dinding, dan sebagainya yang tertera logo Plaza Toyota
dan tagline Avanza baru. Bahkan dalam acara launching suatu program acara. Plaza
Toyota Cabang Tendean memanfaatkan bentuk komunikasi pemasaran sales promotion
dengan membuka stand dan expo dalam bentuk pameran dan showroom event. Pameran
diadakan sebulan sekali dengan waktu dua minggu. Dalam pameran tenaga penjual
93
JURNAL LENTERA KOMUNIKASI
Vol.1 No.1, Februari 2015 / ISSN 2442-2991
(sales/marketing) membagikan pamflet, brosur, katalog kepada para pengunjung bagi
yang minat ataupun sekedar melintas dengan respon positif. Sedangkan open house dalam
bentuk showroom event diadakan dua minggu sekali, audiens sasaran adalah mengundang
pelanggan (customer), sedangkan tema event variatif memanfaatkan berbagai moment
hari spesial seperti tema konsep “hari besar Kartini” dimana setiap pengunjung ataupun
panitia mengenakan busana tradisional Kartini, kemudian kemeriahan acara diselingi oleh
bazaar dan kontes perlombaan, diskon cuci dan wax gratis serta diskon assesoris atribut
Toyota, pada kesempatan itu juga tenaga penjualan/marketing memberikan brosur,
pamflet, souvenir dan sebagainya yang berhubungan dengan Toyota Avanza baru.
5) Public Relations (Hubungan Masyarakat)
Berdasarkan hasil wawancara, secara global Toyota Corporations mengadakan
sejumlah aktivitas pemasaran berupa acara launching dan roadshow ke lima kota besar di
Indonesia. Selain acara launching di Trans 7 TV dan diliput oleh beberapa stasiun TV dan
radio, juga melakukan publisitas dengan menulis advertorial di beberapa media cetak
terutama media yang berbasis pencinta otomotif.
Sedangkan Plaza Toyota di Cabang Tendean Jakarta Selatan, memanfaatkan
penggunaan komunikasi pemasaran public relations dengan banyak melakukan publikasi
menulis beberapa artikel promosi di media internal dan eksternal, media internal dengan
sasaran karyawan dan customer tetap sedangkan media eksternal seperti majalah news
letter dengan sasaran calon customer yang dibagikan pada saat event tertentu.
6) Personal Selling (Penjualan Perseorangan)
Berdasarkan hasil wawancara, secara global Toyota Corporations mengadakan
sejumlah aktivitas pemasaran personal selling dengan memberikan pelatihan-pelatihan
kepada marketing atau sales-sales di berbagai showroom Toyota group, termasuk seluruh
karyawan Plaza Toyota Cabang Tendean Jakarta selatan, terutama pada marketing atau
tenaga penjualnya.
Sedangkan bagi showroom Plaza Toyota Cabang Tendean Jakarta selatan,
pemanfaatan personal selling pada aktivitas komunikasi pemasaran hampir sama dengan
Toyota pusat yaitu dengan memberikan pelatihan-pelatihan kepada para sales/marketing
tentang produk baru, terutama pada sales/marketing yang baru direkrut.
Namun aktivitas komunikasi pemasaran personal selling kepada konsumen dan
calon konsumen tidak banyak diterapkan Plaza Toyota Cabang Tendean saja, penerapan
personal selling lebih prioritas dilakukan oleh pusat melalui pelatihan kepada seluruh
para karyawan di showroom yang tersebar di seluruh Indonesia dan juga memberikan
berbagai kompensasi reward apabila para showroom dapat mencapai target penjualan
yang sudah ditetapkan.
Pengambilan Keputusan Komunikasi Pemasaran
Pemilihan elemen-elemen komunikasi pemasaran “All New Avanza” periode 20112012 di antaranya dipengaruhi oleh faktor internal dan faktor eksternal perusahaan. Namun
faktor internal lebih dominan mempengaruhi pengambilan keputusan diantaranya faktor
kemampuan sumber daya, baik sumber daya keuangan dan sumber daya manusia. Dari segi
kemampuan keuangan/finansial cabang di showroom, mempunyai target dan ukuran
tersendiri dalam operasioanlisasi komunikasi pemasaran yang dilakukan. Namun terkadang
ketidakmampuan mengukur kemampuan inilah yang sering juga menjadi faktor
ketidakberhasilan dalam penerapan suatu strategi komunikasi pemasaran perusahaan.
Sedangkan faktor kemampuan SDM (Sumber Daya Manusia) juga menjadi salah satu
keterbatasan perusahaan dalam mengelola kreativitas bauran promosi, seperti dalam hal
94
JURNAL LENTERA KOMUNIKASI
Vol.1 No.1, Februari 2015 / ISSN 2442-2991
menganalisis melalui sebuah pengevaluasian strategi dan taktik komunikasi pemasaran yang
diterapkan perusahaan sesuai mengikuti perubahan zaman.
Ketidakmampuan inilah yang sering menjadi faktor ketidak berhasilan dalam
penerapan suatu strategi komunikasi pemasaran perusahaan. Bayangkan, apa jadinya
perusahaan yang sudah melakukan promosi besar-besaran dan berupaya meningkatkan citra
perusahaan, tetapi tidak didukung oleh performa dan kemampuan perusahaan. Alhasil, orang
akan mencibir dan menolak promosi yang dianggap hanya provokasi saja, karena promosi
yang ada tidak sesuai dengan kondisi dan situasi yang dimiliki perusahaan, yang berdampak
pada buruknya image dan citra perusahaan. Sedangkan faktor eksternal, banyak dipengaruhi
oleh posisi persaingan perusahaan dalam penggunaan komunikasi pemasaran. Manager
marketing communication dan marketing spv mendapat inspirasi dari konsep-konsep
promosi pesaing, gunanya untuk menganalisis serta mengkoreksi menjadi masukan lebih
baik.
SIMPULAN
Dari uraian, analisis pembahasan atas strategi komunikasi pemasaran terkait promosi
”All New Avanza” periode 2011-2012 , ada beberapa kesimpulan yang bisa dikemukakan :
1) Bentuk-bentuk komunikasi pemasaran terkait promosi ”All New Avanza” periode 20112012 yang paling dominan dilakukan Plaza Toyota Cabang Tendean Jakarta Selatan
adalah pameran di berbagai sentra bisnis seperti apartemen, mal, dan perkantoran yang
terletak di kota-kota besar Jakarta, penyelenggaraan showroom event, iklan direct mail
melalui internet, iklan artikel di majalah internal dan eksternal, penjualan langsung (sales
promotion) serta iklan dengan menyebarkan brosur, pamflet, serta katalog pada saat event
berlangsung.
2) Faktor-faktor yang melatarbelakangi pengambilan keputusan dalam memilih bentukbentuk komunikasi pemasaran, Plaza Toyota Cabang Tendean Jakarta Selatan sangat hatihati dan selektif dalam pemanfaatan penggunaan bentuk-bentuk komunikasi pemasaran,
hal tersebut dikarenakan berbagai faktor lingkungan perusahaan yang berdampak pada
kebijakan pengambilan keputusan komunikasi pemasaran terkait promosi seperti
kekuatan kemampuan anggaran dan kemampuan SDM (Sumber Daya Manusia) yang
terbatas, sehingga berdampak pada pola penerapan komunikasi pemasaran.
Saran
1) Membuat wadah organisasi tim manajemen komunikasi promosi khusus diluar hierarki
struktural yang ada. Tujuannya agar lebih spesifik dalam penanganan setiap implementasi
kegiatan promosi yang dilakukan, sekaligus juga sebagai fungsi monitoring yang
memantau perkembangan efektivitas keberhasilan fungsi komunikasi pemasaran terkait
promosi. Karena keberhasilan promosi tergantung dari kinerja orang-orang yang ada
didalamnya, untuk itu perlunya ada kontrol terhadap berjalannya functional strategic
planning, walau tidak ada pendekatan tunggal sekalipun, namun esensi perencanaan
menurut elemen-elemen tertentu haruslah ada. Karena strategi dan perencanaan yang baik
adalah kunci dari keberhasilan pemasaran, sedangkan untuk membuat strategi komunikasi
pemasaran yang solid dan komprehensif dan membumi sangat tergantung pada unsurunsur yang menjadi dasar organisasi yang melakukan.
2) Melakukan evaluasi proses terhadap bentuk-bentuk komunikasi pemasaran terkait
promosi yang telah dilakukan dengan tujuan agar lebih selektif dalam kebijakan
95
JURNAL LENTERA KOMUNIKASI
Vol.1 No.1, Februari 2015 / ISSN 2442-2991
pengambilan keputusan menerapkan strategi dan taktik komunikasi pemasaran, termasuk
salah satunya mengevaluasi setiap strategi yang telah digunakan apakah sudah
kadaluwarsa. Selain itu sangat bijak apabila perusahaan juga selalu mengevaluasi strategi
dan taktik komunikasi pemasaran mereka dengan mencocokkan pada misi, tujuan dan
strategi perusahaan. Bisa saja daur hidup dari misi, visi dan taktik perusahaan itu telah
usang atau malah mungkin tujuan perusahaan yang sudah ketinggalan zaman, kedua hal
ini perlu dicermati dalam operasionalisasi komunikasi pemasaran. Selain itu juga perlu
ada pembaharuan atau pengembangan strategi dan taktik dari komunikasi pemasaran yang
ada. Tak heran bila perancang strategi dan taktik komunikasi pemasaran yang
kadaluwarsa akan menyebabkan penyimpangan dalam penyampaian pesan yang ingin
disampaikan kepada pelanggan terhadap produk lewat media komunikasi. Evaluasi proses
tersebut di antaranya :
(1) Melakukan evaluasi terhadap promosi yang telah dilakukan, maksudnya adalah kalau
memang penanganan promosi di lakukan oleh agency, meminta agency tersebut atau
biar objektif bisa pihak lain di unit marketing communication khususnya untuk
mengevaluasi terhadap strategi dan taktik komunikasi promosi yang telah dijalankan,
karena banyak iklan yang di desain oleh orang-orang kreatif dari agency ternama
dengan biaya amat mahal tetapi tidak berdampak apapun dalam meningkatkan
penjualan atau pemasaran, sebagian dari mereka hanya berujung sebagai karya seni
yang mengagumkan saja.
(2) Merevisi teknik dan taktik komunikasi pemasaran pada inovasi program promosi
selanjutnya, seperti pemasaran langsung (direct selling) yaitu menyiapkan SDM front
liner (customer service) dan tenaga penjualan (marketing) yang kredibel sebagai
pendekatan penjualan dan fungsi monitoring. Jadi fungsinya tidak hanya menekankan
pada unsur edukasi tetapi juga perubahan sikap dan perilaku pelangan.
96
JURNAL LENTERA KOMUNIKASI
Vol.1 No.1, Februari 2015 / ISSN 2442-2991
DAFTAR PUSTAKA
Belch, E. George & Michael A. Belch. 2001. Advertising and Promotion : an integrated
marketing communications perspectives, fifth edition. Irwin/Graw Hill : New York.
Bungin, Burhan. 2007. Penelitian Kualitatif, Komunikasi, Ekonomi, Kebijakan Publik, dan
Ilmu Sosial Lainnya. Jakarta : Kencana Prenada Media Group.
DeLozier, M. Wayne. 1976. The Marketing communications Process. Tokyo : McGraw-Hill
Kogakusha Ltd.
Graham, Cateora. 2007. International Marketing, pemasaran International, edisi 13 buku 2.
Jakarta : Penerbit Salemba Empat.
Hart, H . Liddell. 1967. Strategy, 2d rev ed. (New York : Frederick A. Praeger, Inc).
Kelley, J. Eugene. 1973. “Marketing Planning For The Firm”, in Eugene J. Kelley and
William Lazer (eds) Managerial Marketing : Policies, Strategies and Decisions.
(Homewood III : Richard D. Irwin, Inc).
Kollat, T. David, Roger D. Blackwell and James F. Robeson. 1972. Strategic Marketing.
(New York : Holt, Rinehart and Winston, Inc).
Kotler, Philip. 2006. Manajemen Pemasaran, edisi ke dua belas jilid 2 (edisi bahasa
Indonesia). PT. Indeks.
Miles, B Matthew. dan A Michael Huberman. 1984. Analisis Data Kualitatif. Jakarta:UIP.
Morissan. 2007. Periklanan : Komunikasi Pemasaran Trepadu. Jakarta : Penerbit Ramdika
Prakarsa.
Mulyana, Deddy. 2005. Ilmu Komunikasi Suatu Pengantar. (Bandung : PT. Remaja
Rosdakarya).
Schramm, Wilbur. 1974. “How Communication Works. “Dalam Jean M.Civikly, ed.
Messages : A Reader in Human Communication. (New York : Random House).
Shimp, A. Terence. 2003. Periklanan Promosi, Aspek Tambahan Komunikasi Pemasaran
Terpadu, Jilid I Edisi Kelima. Jakarta : Penerbit Erlangga.
97
JURNAL LENTERA KOMUNIKASI
Vol.1 No.1, Februari 2015 / ISSN 2442-2991
Smith, PR, Terry Christ & Pulford Alan. 1998. Marketing Communications, An Integrated
Approach, Second Edition. London : Kogan Page.
Tjiptono, Fandy, Gregorius Chandra dan Dadi Adriani. 2008. Pemasaran Strategik
“Mengupas Topik Utama Pemasaran Strategik, Branding Strategy, Customer
Satisfaction, Strategi Kompetitif, Hingga E-Marketing”. (Yogyakarta : Andi offset
Yogyakarta).
Werner, J. Severin dan James W. Tankard, Jr. 1992. Communication Theories : Origins,
Methods, and Uses in The Mass Media. (New York : Longman).
Yin, K. Robert. 2002. Studi Kasus, Desain dan Metode. Jakarta : PT. Raja Grafindo Persada.
KAJIAN ELEKTRONIK
Website Plaza Toyota. www.plazatoyota.com
98
Download