Deskripsi Masalah PTK dan Solusi (Drs. HM. Syakur Sf., M.Ag.)

advertisement
1
Deskripsi Masalah dalam PTK dan Alternatif Solusinya*)
Oleh H. M. Syakur Sf.**)
e-mail: [email protected]
Pendahuluan
Menurut Peraturan Menteri Pendidikan nomor 16 Tahun 2007 tentang
Standar Kualifikasi Akademik dan Kompetensi Guru, kemampuan menulis karya tulis
ilmiah bagi para guru merupakan salah satu dari kompetensi yang dituntut oleh
BSNP. Artinya, guru harus mampu melakukan penelitian terutama Penelitian
Tindakan
Kelas
(PTK)
untuk
meningkatkan
kualitas
pembelajaran
dan
professionalisme. Kecuali itu, guru juga dituntut mampu mengkomunikasikan hasilhasil innovasi pembelajaran kepada komunitas profesinya.
PTK merupakan bentuk penelitian yang bersifat reflektif dengan melakukan
tindakan-tindakan tertentu agar dapat memperbaiki dan/ atau meningkatkan
praktik pembelajaran di kelas secara professional1. Sementara menurut Kemmis dan
Taggart, PTK merupakan bentuk penelitian reflektif yang dilakukan oleh pesertapesertanya dalam situasi sosial untuk meningkatkan penalaran dan keadilan praktik
pendidikan yang diselaraskan dengan kondisi di mana praktik itu dilakukan.
Memahami Masalah dalam PTK
Setiap penelitian termasuk PTK harus berangkat dari masalah. Oleh karena
itu dalam penelitian masalah merupakan komponen yang paling utama dan
pertama (prime component) yang harus dirumuskan. Menurut Sugiyono, bila dalam
penelitian telah dirumuskan masalah dengan jelas dan menggambarkan masalah
*)
Makalah disampaikan dalam Workshop Penulisan PTK yang diselenggarakan oleh FAI
Universitas Wahid Hasyim Semarang, 18 sd 20 Desember 2015 di Muria Hotel Semarang.
**)
Dosen Fakultas Agama Islâm Unwahas Semarang, sedang menjabat Wakil Rektor III.
Suyanto, Pedoman Penelitian Tindakan Kelas (Dirjen P dan K Depdikbud Bagian Proyek
Pendidikan Tenaga Akademik IKIP Yogyakarta, 1997), h. 4.
1
2
yang sebenarnya maka peneliti telah menyelesaikan 50% pekerjaan penelitian2.
Masalah berfungsi sebagai kompas penunjuk arah dalam penelitian. Semua
komponen penelitian berlandaskan kepada rumusan masalah. Jadi, langkah
pertama melakukan penelitian adalah mengkaji masalah dan merumuskannya
dengan baik.
MASALAH adalah “sebuah kesenjangan di antara harapan atau keharusan
dengan kenyataan”. Masalah adalah kesenjangan antara kondisi ideal dengan
kondisi yang diharapkan. Menurut Sugiyono, masalah adalah “penympangan antara
yang seharusnya dengan apa yang benar-benar terjadi antar teori dengan praktik,
antara aturan dengan pelaksanaan, dan antara rencana dengan pelaksanaan”3.
Teori
pada
dasarnya
merefleksikan
kondisi
ideal.
Kondisi
yang
sesungguhnya sering berbeda dengan teori. Jika realita dibandingkan teori biasanya
muncul perbedaan. Masalah yang mucul dari hasil perbandingan itu adalah
bagaimana agar kondisi nyata dapat mendekati kondisi yang diharapkan. Kalau
seorang pendidik menemukan penyimpangan-penyimpangan pada area tersebut
maka dipastikan terdapat masalah. Data hasil observasi pendahuluan yang telah
diolah selanjutnya digunakan sebagai dasar untuk merumukan masalah dan
mencari solusi alternatif untuk melakukan perbaikan mutu.
Contoh Masalah PTK
Beberapa contoh masalah dalam PTK dapat diperhatikan sebagai berikut:
1. Bagaimana membelajarkan siswa materi tertentu agar siswa mau dan
mampu belajar?
2. Bagaimana meningkatkan partisipasi siswa dalam kelas?
3. Bagaimana meningkatkan keterampilan siswa bertanya kreatif?
4. Bagaimana meningkatkan minat dan motivasi siswa untuk belajar?
2
Sugiyono. Metode Penelitian Kuantitatif Kualitatif dan R&D. (Bandung: penerbit
Alfabeta. 2010), h. 32.
3
Ibid., h. 32.
3
5. Bagaimana mengajak siswa agar mereka benar-benar aktif belajar (aktif
secara mental maupun fisik, aktif berpikir)?
6. Bagaimana menghubungkan materi pembelajaran dengan lingkungan
kehidupan siswa sehari-hari agar mereka dapat menggunakan
pengetahuan dan pemahamannya mengenai materi itu dalam kehidupan
sehari-hari?
7. Bagaimana memilih strategi pembelajaran yang paling tepat untuk materi
.....?
8. Bagaimana menggunakan alat peraga pembelajaran yang paling tepat
untuk membelajarkan siswa pada materi...?
9. Bagaimana melaksanakan pembelajaran koperatif?
10. Bagaimana melaksanakan pembelajaran kompetitif?
11. Bagaimana kemampuan peserta didik dalam menemukan informasi rinci
dari teks?
Adalah merupakan masalah jika setelah siswa belajar membaca demikian
lama dan berlatih menemukan informasi dari teks sesuai dengan target dalam
kompetensi dasar maka seharusnya pesereta didik menguasai kemampuan
menemukan informasi rinci dari teks secar memadai tetapi kenyataannya tidak.
Ditinjau dari segi tujuan, PTK bertujuan untuk memecahkan permasalahan
nyata yang terjadi di dalam kelas. Tentu saja tidak sekadar bertujuan untuk
memecahkan masalah tetapi sekaligus mencari jawaban ilmiah mengapa hal
tersebut dapat dipecahkan dengan tindakan yang dilakukan sehingga dapat
dilakukan upaya perbaikan. Oleh karena itu, PTK terkait erat dengan persoalan
(masalah) praktik pembelaran sehari-hari yang dihadapi oleh guru. Sebagai contoh
jika guru menghadapi persoalan “rendahnya minat baca” siswa, sehingga kondisi ini
sangat menghambat pencapaian tujuan kurikuler, maka guru dapat melakukan PTK
agar “minat baca” siswa dapat ditingkatkan. Dengan PTK guru dapat mencoba
berbagai tindakan yang berupa program pembelajaran tertentu seperti mencoba
menggunakan bahan bacaan yang lebih memiliki gambar dan cerita yang lebih
menarik, memanfa’atkan cerita-cerita lokal, menggunakan buku yang berisi ceritacerita lucu, dan sebagainya.
Dengan program pembelajaran yang dirancang sebagai bentuk PTK guru
dapat memperbaiki masalah “rendahnya minat baca” para siswanya. Sebaliknya,
4
jika sebenarnya siswa telah memiliki “minat baca” yang tinggi, akan tetapi tidak
dapat memanfaatkan bahan bacaan secara tepat guru juga dapat melakukan PTK
untuk mencari dan memilih terapi yang tepat terhadap kesalahan siswa dalam
memanfa’atkan bahan bacaan yang kurang fungsional.
Pada prinsipnya, tindakan yang direncanakan hendaknya bertujuan untuk:
1. membantu guru dalam hal:
a. mengatasi kendala pembelajaran kelas,
b. bertindak secara lebih tepat guna dalam kelas, dan
c. meningkatkan keberhasilan pembelajaran kelas;
2. membantu guru menyadari potensi baru untuk melakukan tindakan guna
meningkatkan kualitas kerja.
Menentukan Masalah
Menentukan masalah untuk PTK sebenranya tidak sulit karena masalah
yang harus diangkat terkait dengan hal-hal praktik sederhana dan akrab dialami
oleh guru setiap hari dalam pembelajaran, jika seorang guru paham dan peduli
terhadap pembelajaran. Kecuali itu masalah dalam PTK hanya berpangkal pada dua
hal, yaitu proses pembelajaran dan hasil belajar. Jadi, ketika mencari masalah
untuk diangkat dalam PTK maka dua pertanyaan besar yang harus diajukan, yaitu
Apakah proses pembelajaran sudah baik?; dan Apakah hasil belajar sudah baik?
Apabila jawabannya tidak atau belum maka di situlah terdapat masalah.
Sumber Masalah
Dua pangkal masalah tersebut terlalu besar untuk dijadakan sumber
masalah PTK. Oleh karena itu keduanya harus diurai ke dalam sumber-sumber
masalah yang spesifik. Salah satu pendekatan untuk mengurai pangkal masalah
tersebut adalah dengan melakukan empat kegiatan, yaitu: mengevaluasi,
5
mengamati, merasakan dan meninjau atau mengkaji proses dan hasil belajar.
Pendekatan ini dapat digambarkan dalam peta konsep di bawah ini:
Peta konsep di atas menggambarkan bahwa sumber masalah untuk PTK
ternyata sangat banyak, yaitu:
Pertama, masalah dapat diperoleh dengan cara melakukan evaluasi. Mengevaluasi
berarti membandingkan hasil belajar dengan tujuan pembelajaran. Secara
garis besar mengevaluasi hasil belajar dapat dilakuakn dalam bentuk
formtif, sumatif, dan ujian akhir satuan pendidikan dalam bentuk UN dan
UAS/M BAN.



Melalui evaluasi formtif dapat diperoleh data apakah KKM KD sudah
tercapai,
Melalui evaluasi sumatif dapat diperoleh informasi apakah KKM SK
tercapai, dan
Melalui UN dan UAS/M BAN akan diperoleh informasi apakah SKL
sudah tercapai.
Apabila ketiga kirteria ketuntasan tersebut belum tercapai maka ada
masalah.
6
Kedua, masalah dalam PTK dapat diketahui melalui pengamatan terhadap proses.
Pengamatan dilakukan untuk mendapatkan informasi mengenai karakter
dan perilaku siswa seperti motivasi, minat, kedisiplinan, gaya belajar,
tingkat ketertarikan terhadap mata pelajaran, kesulitan belajar dan
sejenisnya. Untuk mendeteksi masalah para pendidik juga harus
melakukan observasi untuk mengetahui apakah para peserta didik senang
dengan penampilan pribadi pendidik. Ada kalanya seorang pendidik harus
mengundang kawan untuk mengamati proses pembelajaran dan meminta
pendapat tentang kelebihan dan kekurangannya. Dengan cara itu
pendidik akan dapat mengidentifikasi masalah-masalah yang sebenarnya
terjadi. Apabila hasil pengamatan diperoleh informasi bahwa kurang
bergairanh belajar, mengalami kesulitan belajar, malas, kurang disiplin
dan sejenisnya maka dapat dinyatakan bahwa terdapat masalah dalam
pembelajaran.
Ketiga, masalah PTK dapat diperoleh melalui kegiatan merasakan. Dalam
pembelajaran sumber masalah tidak hanya muncul dari hasil pengamatan
terhadap siswa dan lingkungan pembelajaran melainkan juga dapat
timbul dari aspek psikologis pendidik, misalnya rasa senang, rasa aman
dan rasa nyaman yang dialami pendidik. Aspek ini tentu tidak dapt
diabaikan karena merupakan salah satu factor penentu keberhasilan
pembelajaran. Untuk mengetahuinya adalah dengan cara merasakannya.
Ketika melakukan pembelajaran maka rasakan apakah pendidik merasa
bergairah, dapat menikmati, aman, dan nyaman? Kalau tidak, pasti ada
masalah.
Keempat, mendeteksi masalah untuk PTK dapat dilakukan dengan cara maninjau
proses dan hasil pembelajaran dari berbagai segi misalnya dari segi teori,
dari segi kriteria, dari segi standar. Meninjau pembelajaran dari segi teori
bisa dilakukan dengan cara membaca referensi atau diskusi lalu
bandingkan dengan praktek pembelajaran sehari apakah sudah sesuai
7
dengan teori. Misalnya dalam pembelajaran Fisika, berdasarkan teori
model pembelajaran utama yang harus digunakan adalah model
pembelajaran inquiri kemudian bandingkan dengan pembelajaran seharihari apakah sudag menerapkan model inquiri sebagai model utama?
Pembelajaran dapat juga ditinjau dari segi SKL yang terdiri dari SKL satuan
pendidikan, SKL kelompok mata pelajaran, dan SKL mata pelajaran. SKL selain dari
gambaran mengenai kompetensi yang harus dikuasai pesera didik juga
menggambarkan aspek yang harus dikuasai. Dalam SKL Tingkat Satuan Pendidikan
SD/MI, misalnya, terdapat pernyatan “peserta didik harus menunjukkan
kemampuan berpikir logis, kritis, dan kreatif, dengan bimbingan guru/ pendidik”.
Pertanyaan yang harus diajukan: Apakah pembelajaran sudah mencakup aspek
tersebut? Jika belum, maka pembelajaran mempunyai masalah.
Contoh lain, misalnya dalam SKL mata pelajaran bahasa, terdapat empat
aspek yang harus dikuasai yaitu mendengar, berbicara, membaca, dan menulis.
Setelah mengkaji maksud dari aspek yang ada dalam SKL, lalu bandingkan apakah
pembelajaran sudah mencakup keempat aspek tersebut secara proporsional.
Kriteria Dalam Penentuan Masalah
Penentuan masalah harus memperhatikan beberapa criteria sebagai
berikut:
a. Masalah harus penting bagi orang yang mengusulkannya dan sekaligus
signifikan dilihat dari segi pengembangan lembaga atau program;
b. Masalahnya hendaknya dalam jangkauan penanganan. Jangan
sampai
memilih masalah yang memerlukan komitmen terlalu besar dari pihak para
penelitinya dan waktunya terlalu lama;
8
c. Pernyataan masalahnya harus mengungkapkan beberapa dimensi
fundamental mengenai penyebab (factor), sehingga pemecahannya dapat
dilakukan berdasarkan hal-hal fundamental ini daripada berdasarkan
fenomena dangkal.
Fokus Penelitian
Dalam penelitian terdapat variabel. Yaitu besaran yang nilainya berubahubah. Dalam sebuah masalah penelitian terdapat variabel. Misalnya pada contoh
masalah di atas variabel yang akan diukur adalah “kemampuan menangkap
informasi rinci dari teks”. Menurut Rochiyati Wiraatmaja, dalam PTK hanya
digunakan istilah Fokus Masalah atau Fokus Penelitian sebagai pengganti istilah
variabel pada umumnya4.
Setelah diketemukan masalah dalam pembelajaran dan menentukannya
maka menjadikannya sebagai fokus penelitian. Beberapa contoh masalah yang
diidentifikasi sebagai fokus penelitian tindakan adalah:
1. rendahnya kemampuan mengajukan pertanyaan kritis di kalangan siswa;
2. rendahnya ketaatan staf pada perintah atasan;
3. rendahnya keterlibatan siswa dalam proses pembelajaran bahasa Arab;
4. rendahnya kualitas pengelolaan interaksi guru-siswa-siswa;
5. rendahnya kualitas pembelajaran bahasa Arab ditinjau dari tujuan
mengembangkan keterampilan berkomunikasi; dan
6. rendahnya kemandirian belajar siswa di MA.
Masalah hendaknya diidentifikasi melalui proses refleksi dan evaluasi, yang
dalam model Kemmis dan Taggart dikenal dikenal dengan terma Reconnaissance,
terhadap data pengamatan awal.
4
Rochiyati Wiraatmaja. Metode Penelitian Tindakan Kelas Untuk Meningkatkan Kinerja Guru
Dan Dosen. (Bandung, T Remaja Rosdakarya. 2008), h. 79.
9
Masalah “rendahnya kualitas pembelajaran bahasa Arab ditinjau dari
tujuan mengembangkan keterampilan berkomunikasi dalam bahasa” tersebut
diidentifikasi berdasarkan hasil pengamatan awal terhadap proses pembelajaran
bahasa Indonesia di kelas.
Setelah ditemukan beberapa masalah dan dan ditentukan sebagai focus
penelitian maka peneliti melakukan penelitian tindakan. Ada beberapa langkah
yang hendaknya diikuti dalam melakukan penelitian tindakan, yaitu:
1. mengidentifikasi dan merumuskan masalah;
2. menganalisis masalah;
3. merumuskan hipotesis tindakan;
4. membuat rencana tindakan dan pemantauannya;
5. melaksanakan tindakan dan mengamatinya;
6. mengolah dan menafsirkan data; dan
7. membuat laporan PTK
Secara alamiah, langkah-langkah tersebut biasanya tidak terjadi dalam alur
yang lurus. Apabila terjadi perubahan masalah pada waktu dilakukan analisis
masalah, maka diperlukan identifikasi masalah yang baru. Data diperlukan untuk
memfokuskan masalahnya dengan mengidentifikasi faktor penyebab, dalam
menentukan hipotesis tindakan dalam evaluasi, dsb.
Contoh-contoh bidang garapan PTK:
1. metode mengajar, mungkin mengganti metode tradisional dengan
metode penemuan;
2. strategi belajar, menggunakan pendekatan integratif pada pembelajaran
daripada satu gaya belajar mengajar;
3. prosedur evaluasi, misalnya meningkatkan metode dalam penilaian
kontinyu/ otentik;
4. penanaman atau perubahan sikap dan nilai, mungkin mendorong
timbulnya sikap yang lebih positif terhadap beberapa aspek kehidupan;
5. pengembangan profesional guru misalnya meningkatkan keterampilan
mengajar, mengembangkan metode mengajar yang baru, menambah
kemampuan analisis, atau meningkatkan kesadaran diri;
10
6. pengelolaan dan kontrol, pengenalan bertahap pada teknik modifikasi
perilaku; dan
7. administrasi, menambah efisiensi aspek tertentu dari administrasi
sekolah.5
Setelah menetapkan fokus permasalahan secara lebih tajam kalau perlu
dengan mengumpulkan tambahan data lapangan secara lebih sistematis dan atau
melakukan kajian pustaka yang relevan, maka perumusan permasalahan yang lebih
tajam tersebut dapat dilakukan diagnosis kemungkinan-kemungkinan penyebab
permasalahan secara lebih cermat, sehingga terbuka peluang untuk menjajagi
alternatif-alternatif tindakan perbaikan yang diperlukan. Alternatif mengatasi
permasalahan yang dinilai terbaik, kemudian diterjemahkan menjadi program
tindakan perbaikan yang akan dicobakan.
Hasil percobaan tindakan perbaikan yang dinilai dan direfleksikan dengan
mengacu kepada kreteria-kreteria perbaikan yang dikehendaki, yang telah
ditetapkan sebelumnya. Yaitu mengikuti alur sebagai berikut:
1. Penetapan Fokus/ Masalah Penelitian, yang meliputi:
a. Merasakan adanya masalah
b. Identifikasi Masalah PTK
c. Analisis Masalah
d. Perumusan masalah
2. Perencanaan Tindakan, yang meliputi:
a. Formulasi solusi dalam bentuk hipotesis tindakan
b. Analisis Kelaikan Hipotesis Tindakan
c. Persiapan Tindakan
3. Pelaksanaan Tindakan dan Observasi-Interpretasi
a. Pelaksanaan Tindakan
b. Observasi dan Interpretasi
c. Diskusi balikan (review discussion)
4. Analisis dan Refleksi
a. Analisis Data
b. Refleksi
5
Cohen, L & Manion, L. Research Methods in Education (London & Canberra: Croom Helm,
1980), h. 181.
11
5. Perencanaan Tindak lanjut
a. Prosedur Observasi
b. Beberapa Tindakan
Identifikasi Masalah
Seperti dalam jenis penelitian lain, langkah pertama dalam penelitian
tindakan adalah mengidentifikasi masalah. Langkah ini merupakan langkah yang
menentukan.
Kegiatan PTK merupakan kegiatan kompleks dan berkesinambungan.
Membentuk alur sirkulasi yang diawali dengan kegiatan perencanaan. Alur
perencanaan PTK ditandai dengan adanya pengenalan (identifikasi) terhadap
masalah yang dialami dalam pemeblajaran.
Proses belajar dan mengajar (PBM) di ruang kelas sering dihadapkan pada
permasalahan dan kendala tertentu. Masalah maupun kendala tersebut tidak
mungkin dibiarkan begitu saja karena akan berpengaruh pada proses maupun hasil
belajar siswa. Oleh sebab itu setiap guru perlu mengupayakan alternatif untuk
mereduksi masalah tersebut.
Masalah yang akan diteliti harus dirasakan dan diidentifikasi oleh peneliti
sendiri bersama kolaborator meskipun dapat dengan bantuan seorang fasilitator
supaya mereka betul-betul terlibat dalam proses penelitiannya. Masalahnya dapat
berupa kekurangan yang dirasakan dalam pengetahuan, keterampilan, sikap, etos
kerja, kelancaran komunikasi, kreativitas, atau lainnya.
Masalah hendaknya bersifat tematik seperti telah disebutkan di atas dan
dapat diidentifikasi dengan pertolongan tabel dua arah model Aristoteles. Misalnya,
dalam bidang pendidikan, ada empat sel lajur dan kolom, sehubungan dengan
anggapan bahwa ada empat komponen pokok yang ada di dalamnya (Schab, 1969),
yaitu: guru, siswa, bidang studi, dan lingkungan. Semua komponen tersebut
berinteraksi dalam proses belajar-mengajar, dan oleh karena itu dalam usaha
12
memahami komponen tertentu peneliti perlu memikirkan bubungan di antara
komponen-komponen tersebut.
Misalnya, dalam kasus PTK untuk meningkatkan kualitas proses
pembelajaran bahasa Arab, pada tahap refleksi awal guru yang berkolaborasi untuk
melakukan penelitian tindakan kelas, siswa, Kepala Sekolah, dan juga orang tua
siswa, diberi kesempatan dan/atau didorong untuk mengungkapkan pandangan dan
pendapatnya tentang situasi dan kondisi pembelajaran bahasa Inggris di sekolah
terkait. Hal ini dilakukan untuk mencapai suatu kesepatakan bahwa memang ada
kekurangan yang perlu diperbaiki dan kekurangan tersebut perlu diperbaiki dalam
konteks yang ada, atau juga disebut kesepakatan tentang latar belakang penelitian.
Selanjutnya, diciptakan proses yang sama untuk mencapai kesepakatan
tentang masalah-masalah apa yang ada, yaitu Identifikasi masalah, dan tentang
masalah apa yang akan menjadi fokus penelitian atau pembatasan masalah
penelitian. Kemudian, proses yang sama berlanjut untuk merumuskan pertanyaan
penelitian atau merumuskan hipotesis tindakan yang akan menjadi dasar bagi
perencanaan tindakan, yang juga dilaksanakan melalui proses yang melibatkan
semua peserta penelitian untuk mengungkapkan pandangan dan pendapat serta
gagasan-gagasannya. Proses yang mendorong setiap peserta penelitian untuk
mengungkapkan atau menyuarakan pandangan, pendapat, dan gagasannya ini
diciptakan sepanjang penelitian berlangsung.
Hal ini menggambarkan bahwa pertanyaan baru timbul pada akhir suatu
tindakan yang dirancang untuk menjawab suatu pertanyaan, begitu seterusnya
sehingga upaya perbaikan berjalan secara bertahap, berkesinambungan tidak
pernah berhenti, mengikuti kedinamisan situasi dan kondisi.
Setiap masalah yang dirasakan guru dalam pembelajaran tidak selalu
bermakna negatif. Justru sebaliknya, akan memberi kesempatan dan peluang
kepada guru untuk menerapkan perannya sebagai peneliti dalam pembelajaran.
Peran ini seperti sudah diketahui, akan bermanfaat bagi guru untuk kegiatan
13
pengembangan profesi. Sekaligus menjadi bahan dan bukti fisik untuk pengajuan
kenaikan pangkat guru ke tingkat berikutnya.
Langkah Identifikasi Masalah
Identifikasi masalah dalam PTK dapat dilakukan dengan langkah-langkah
sebagai berikut:
1.Mengemukakan semua masalah pembelajaran
Guru menyadari ada masalah atau kendala dalam pembelajaran. Tuliskan
apa masalah atau kendala tersebut secara detail. Masalah ini biasanya
berkaitan dengan strategi, metode,media,lingkungan belajar, penilaian dan
pelaksanaan kurikulum dalam mata pelajaran. Tahap ini sering juga disebut
sebagai tahap agenda semua masalah.
2.Memilih salah satu masalah yang dianggap paling penting
Semua masalah yang dikemukakan tidak mungkin diselesaikan sekaligus.
Oleh sebab itu pada tahap ini guru memilih sebuah masalah yang dianggap
paling penting, menarik, mendesak untuk segera diatasi, dan paling
dikuasai oleh guru untuk dijadikan PTK.
3. Alasan memilih masalah yang dianggap penting
Pada bagian ini guru menguraikan sebuah masalah sesuai butir(2). Uraikan
mengapa masalah yang dipilih sangat penting dan mendesak untuk
dicarikan solusinya.
4.Merumuskan mengapa masalah tersebut terjadi
Uraikan apa penyebab atau mengapa terjadi masalah yang dipilih. Biasanya
setiap masalah pasti ada penyebabnya. Dalam hal ini hukum kausal
menjadi dasar untuk merumuskan penyebab timbulnya masalah yang
sudah dipilih.
5.Memilih rencana pemecahan masalah
14
Pilih salah satu alternatif pemecahan masalah yang dianggap sesuai dengan
masalah yang dihadapi. Terlebih dulu guru harus mengetahui teori dasar
mengenai pemecahan masalah. Boleh juga diambil hasil penelitian
terdahulu yang pernah dilakukan sebelumnya oleh peneliti lain.
Perumusan Masalah
Seperti telah disebutkan di atas, masalah penelitian tindakan yang
merupakan kesenjangan antara keadaan nyata dan keadaan yang diinginkan
hendaknya dideskripsikan untuk dapat merumuskannya. Pada intinya, rumusan
masalah harus mengandung deskripsi tentang kenyataan yang ada dan keadaan
yang diinginkan.
Tahapan merumuskan masalah dalam PTK adalah:



Merumuskan masalah (membandingkan yang seharusnya menurut teori
dengan kondisi nyata yang diperoleh dari kegiatan observasi sehingga
diperoleh “masalah nyata dan praktis dalam peningkatan mutu
pembelajaran di kelas serta dialami langsung dalam interaksi antara guru
dengan siswa yang sedang belajar”.
Mengindentifikasi alternatif solusi pemecahan masalah.
Memilih alternatif solusi yang memenuhi syarat untuk dikembangkan
menjadi masalah PTK.
Satu hal yang perlu diingat adalah bahwa teori dalam penelitian tindakan
bukan untuk diuji, melainkan untuk menuntun peneliti dalam membuat keputusankeputusan selama proses penelitian berlangsung. Wawasan teoretis sangat
mendukung proses analisis masalah.Pada akhir tinjauan pustaka, peneliti tindakan
dapat mengajukan hipotesis tindakan atau pertanyaan penelitian.
Pada tahap ini para peserta menggunakan format yang dikembangkan lebih
lanjut dari Format 2 dengan tambahan kolom perumusan masalah. Untuk
memudahkan merumuskan masalah, cobalah sekali lagi perhatikan contoh masalah
di atas.
15
Selanjutnya merumuskan masalah yang timbul dari hasil observasi yang telah
dilakukan dalam contoh format berikut:
Deskripsi Masalah Siswa
Kondisi Ideal Siswa
 aktif,
Kondisi Nyata Siswa
Masalah
 kreatif,

terampil bertanya,
 Eksploratif, elaboratif,
dan konfirmatif
 berpikir kritis,
 menghasilkan karya
kreatif,



Deskripsi Masalah Pengelolaan Kelas
Kondisi Ideal Pengelolaan Kelas
Pengelolaan kelas hendaknya
menjamin siswa dapat belajar,
mencegah siswa berprilaku yang
mengganggu, berprilaku negatif
dan tidak berdisiplin.
Guru berperan memperbaiki
prilaku siswa yang memiliki
kemampuan akademik rendah
dalam kelas dengan cara-cara
yang baik dan mendidik.
Kondisi Nyata
Masalah




16
Kondisi Ideal Pengelolaan Kelas
Manajemen kelas menunjang
berkembangnya komunikasi yang
sehat dan harapan meraih
keberhasilan akademik melalui
dukungan kelas sebagai
lingkungan belajar yang koperatif.
Manajemen kelas berkaitan
dengan strategi meningkatkan
motivasi, disiplin, dan perhatian
siswa terhadap kegitan
belajar.(http://en.wikipedia.org/
wiki/Classroom_management)
Kondisi Nyata
Masalah




Deskripsi Masalah Guru dalam Kelas

Kondisi Ideal
Guru yang efektif menyiapkan
rencana pembelajaran atas dasar
kepentingan siswa.

Melaksanakan pembelajaran
mencapai tujuan.

Guru memiliki rasa percaya diri
serta memahami apa yang
disajikannya.

Guru membangun peluang
belajar sehingga siswa dapat
mengembangkan potensi dirinya
dan merefleksikan hasil belajar
dalam hidupnya.
(http://www.helium.com/
items/1026915-what-makes-aneffective-teacher)
Kondisi Nyata
Masalah
17
Deskripsi Masalah Proses Belajar Mengajar
Kondisi Ideal Proses Belajar
Mengajar
Lima faktor berpengaruh
terhadap efektivitas guru
menangani proses
pembelajaran:
 Mendapat dukungan guru
yang menguasai materi
pelajaran, bersikap antusias
dan bertanggung jawab
terhadap keberhasilan
belajar siswa.
 Aktivitas kelas menunjang
keberhasilan belajar.
Kondisi Nyata
Masalah
 Penilaian menantang
penguatan pengalaman
belajar.
 Umpan balik yang
menguatkan proses
pembelajaran dalam kelas.
 Interaksi guru siswa
berlandaskan suasana saling
menghargai, merangsang
penguatan pengalaman
belajar siswa.
(Philip Gurney
http://www.teacherswork.
ac.nz/journal/ volume4_
issue2/ gurney.pdf)
Analisis Masalah
Analisis masalah perlu dilakukan untuk mengetahui demensi-dimensi
masalah yang mungkin ada untuk mengidentifikasikan aspek-aspek pentingnya dan
untuk memberikan penekanan yang memadai.
18
Analisis masalah melibatkan beberapa jenis kegiatan, bergantung pada
kesulitan yang ditunjukkan dalam pertanyaan masalahnya; analisis sebab dan akibat
tentang kesulitan yang dihadapi, pemeriksaan asumsi yang dibuat kajian terhadap
data penelitian yang tersedia, atau mengamankan data pendahuluan untuk
mengklarifikasi persoalan atau untuk mengubah perspektif orang-orang yang
terlibat dalam penelitian tentang masalahnya. Kegiatan-kegiatan ini dapat dilakukan
melalui diskusi di antara para peserta penelitian dan fasilitatornya, juga kajian
pustaka yang gayut.
Alternatif Solusi Pemecahan Masalah
Berdasarkan akar penyebab masalah yang paling mendominasi adalah dari
guru. Dari berbagai masalah yang salah satu sumbernya adalah guru, yaitu,
misalnya, guru kurang berinovasi dalam mengembangkan pembelajarannya
sehingga siswa kurang aktif. Maka, solusi pembelajaran yang sesuai untuk
mengatasi
masalah
tersebut
adalah
dengan
menggunakan
pendekatan
pembelajaran kooperatif, misalnya, tipe Numbered Heads Together (NHT) dengan
menggunakan media gambar cerita bersambung.
Formulasi Hipotesis Tindakan
Dengan menerapkan pendekatan pembelajaran kooperatif tipe Numbered
Heads Together (NHT) maka kualitas pembelajaran dinyatakan dapat meningkat.
Rencana Perbaikan Pembelajaran
Setelah ditemukan hipotesis tindakan maka segera menyusun rencana
perbaikan dengan langkah-langkah sebagai berikut:
1. Membuat perencanaan pembelajaran yang, misalnya, menerapkan
pendekatan pembelajaran kooperatif Numbered Heads Together (NHT);
2. Merancang dan mengembangkan skenario pembelajaran sesuai
perencanaan.
3. Membuat RPP sesuai skenario pembelajaran yang ada;
19
4. Menyiapkan sumber belajar dan media pembelajaran; dan
5. Membuat alat pengumpul data yakni lembar observasi, angket, dan
wawancara.
Simpulan
Masalah merupakan sentral dari keseluruhan kegiatan dalam PTK. Oleh
karena itu Masalah harus diketahui dan diidentifikasi terlebih dahulu sebelum
seseorang melaksanakan PTK. Masalah juga dirumuskan secara baik agar ditemukan
fokus penelitian sebagai pengganti variabel sebagaimana dijumpai dalam penelitian
pada umumnya. Demikian dan semoga bermanfa’at bagi kita semua.
Daftar Pustaka
Carr, W & Kemmis, S. Becoming Critical: Education, Knowledge, and Action
Research. Geelong, Victoria, Australia: Deakin University, 1983.
Chein, I., Cook, S. dan Harding, J. The Field of Action Research. DalamThe Action
Research Reader. Victoria: Deakin University, 1982.
Cohen, L & Manion, L. Research Methods in Education. London & Canberra: Croom
Helm, 1980.
Elliot, J. Developing Hypothesis about Classrooms from Teachers Practical
Constructs: an Account of the Work of the Ford Teaching Project. Dalam
The Action Research Reader. Geelong, Victoria: Deakin University, 1982.
Grundy,S. & Kemmis, S. Educational Action Research in Australia: the State of the
Art (an overview). Dalam The Action Research Reader.Geelong, Victoria,
Australia: Deakin University, 1982.
Hodgkinson, H. Action Research: A Critique. Dalam The Action Research Reader,
1982.
Kemmis, s. & Mc Taggart, R. The Action Research Planner. 3rd ed. Victoria, Australia:
Deakin University, 1988.
McTaggart, R. Action Research: A Short Modern History. Geelong, Victoria, Australia:
Deakin University, 1991.
Oquist, P. The Epistemology of Action Research. Makalah tak diterbitkan, Simposium
Munidal Sobere, Colombia, April 18-24, 1977.
Palmer, P. & Jacobson, E. Action Research: A New Style of Polities in Education.
Boston: IRE, 1974.
20
Shumsky, A. Cooperation in Action Research. Dalam The Action Research Redear,
1982.
Suyanto. Pedoman Penelitian Tindakan Kelas. Dirjen P dan K Depdikbud Bagian
Proyek Pendidikan Tenaga Akademik IKIP Yogyakarta, 1997.
Taba, H. & Noes, e. Steps in the Action Research Process. Dalam The Action Research
Reader. Geelong, Victoria, Australia: Deakin University, 1982.
Winter R. Learning from Experience: Principles and Practice in Action-Research.
London etc.: The Falmer Press, 1989.
---ms2f---
Download