prosiding seminar nasional hasil penelitian teknologi

advertisement
ISBN 978-602-99218-7-8
PROSIDING
SEMINAR NASIONAL
HASIL PENELITIAN TEKNOLOGI
PENGELOLAAN DAS
Surakarta, 12 Juni 2013
Terbit Tahun 2014
Tim Penyunting :
Prof. Ris. Dr. Ir. Pratiwi, M.Sc
Dr. I Wayan S Dharmawan, S.Hut, MSi
Dr. Ika Heriansyah, S.Hut, M.Agr
Kementerian Kehutanan
Badan Penelitian dan Pengembangan Kehutanan
Pusat Penelitian dan Pengembangan
Konservasi dan Rehabilitasi
Seminar Nasional Hasil Penelitian Teknologi Pengelolaan DAS
Bogor, Indonesia : Pusat Penelitian dan Pengembangan
Konservasi dan Rehabilitasi (P3KR), 2014
ISBN : 978-602-99218-7-8
Desain Sampul :
Tommy Kusuma AP
© P3KR 2014
Hak cipta dilindungi oleh Undang-undang
Diterbitkan oleh :
Pusat Penelitian dan Pengembangan Konservasi dan
Rehabilitasi (P3KR)
Jl. Gunung Batu No. 5
Bogor, Indonesia
Telp : (0251) 8633234
Fax : (0251) 8638111
E-mail: [email protected]
Website: http://www.puskonser.or.id/
Dicetak oleh :
Balai Penelitian Teknologi Kehutanan
Pengelolaan Daerah Aliran Sungai
ii
Tim Penyunting
Penanggung Jawab
:
Dr. Nur Sumedi, S.Pi, M.P.
Redaktur
:
Ir. Didik Purwito, M.Sc
Penyunting
:
Prof. Ris. Dr. Ir. Pratiwi, M.Sc
Dr. I Wayan S Dharmawan, S.Hut, M.Si
Dr. Ika Heriansyah, S.Hut, M.Agr
Sekretariat
:
Lukman Hakim, S.Hut, M.P
Ir. Salamah Retnowati, M.Si
Rara Retno K. R., S.H, M.Hum
Eko Priyanto, S.P
Farika Dian Nuralexa, S.Hut
Zamal Wildan, S.Kom
Wahyu Budiarso, S.P
Tommy Kusuma AP
iii
KATA PENGANTAR
Daya dukung daerah aliran sungai (DAS) adalah kemampuan DAS
untuk mewujudkan kelestarian dan keserasian ekosistem serta
meningkatnya kemanfaatan sumberdaya alam bagi manusia dan
makhluk hidup lainnya secara berkelanjutan. Daya dukung DAS harus
ditingkatkan sebagai akibat dari terjadinya penurunan daya dukung
DAS yang ditandai dengan banjir, tanah longsor, erosi, sedimentasi
dan kekeringan yang mengakibatkan terganggunya perekonomian
dan tata kehidupan masyarakat. Daerah aliran sungai termasuk
kategori dipertahankan atau dipulihkan daya dukungnya tergantung
dari kondisi lahan, kualitas, kuantitas dan kontinuitas air, sosial
ekonomi, investasi bangunan air, dan pemanfaatan ruang wilayah.
Permasalahan pengelolaan DAS saat ini adalah penurunan kualitas
DAS di Indonesia sebagai akibat pengelolaan sumber daya alam yang
tidak ramah lingkungan serta meningkatnya ego sektoral dan ego
kewilayahan. Untuk itu maka pengelolaan DAS merupakan upaya yang
sangat penting untuk mengatasi permasalahan tersebut.
Pengelolaan DAS adalah upaya manusia dalam mengatur hubungan
timbal balik antara sumberdaya alam dengan manusia di dalam DAS
dan segala aktivitasnya, agar terwujud kelestarian dan keserasian
ekosistem serta meningkatnya kemanfaatan sumberdaya alam bagi
manusia secara berkelanjutan. Pengelolaan DAS meliputi kegiatan
perencanaan, pelaksanaan, monitoring dan evaluasi, serta pembinaan
dan pengawasan yang diselenggarakan secara terkoordinasi dengan
melibatkan Instansi Terkait pada lintas wilayah administrasi serta
peran serta masyarakat. Dengan terbitnya PP Nomor 37 tahun 2012
tentang Pengelolaan DAS, maka Indonesia memiliki acuan sehingga
pengelolaan DAS secara terpadu dapat dilaksanakan dan daya dukung
DAS dapat dipertahankan. Selain itu dukungan IPTEK di bidang
pengelolaan DAS diperlukan untuk menjawab permasalahanpermasalahan tersebut.
Dalam rangka memberikan sumbangan pemikiran dan dukungan
dalam pengelolaan DAS, Balai Penelitian Teknologi Pengelolaan DAS
(BPTKPDAS) menyelenggarakan Kegiatan Seminar Nasional Hasil
Penelitian Teknologi Pengelolaan DAS 2013. Penyelenggaraan tersebut
iv
adalah sebagai bentuk tanggung jawab BPTKPDAS sebagai lembaga
litbang yang bergerak di bidang pengelolaan DAS. Penyelenggaraan
Kegiatan Seminar Nasional dimaksudkan sebagai wadah untuk
menyampaikan hasil penelitian dan pengembangan bidang
pengelolaan DAS yang telah dilaksanakan oleh BPTKPDAS dan instansi
lain kepada pengguna. Semoga hasil-hasil tersebut dapat dicermati
dan dimanfaatkan oleh parapihak terkait dan diharapkan kegiatan
penelitian bidang pengelolaan DAS ke depan dapat ditingkatkan.
Dengan demikian Penyelenggaraan Seminar Nasional Penelitian
Teknologi Pengelolaan DAS 2013 dilaksanakan sebagai media untuk
menyampaikan hasil-hasil dari kegiatan penelitian oleh BPTKPDAS dan
instansi lain agar memperoleh umpan balik dari pengguna.
Prosiding Seminar Nasional Penelitian Teknologi Pengelolaan DAS 2013
ini memuat 12 judul materi yang dibahas dan berasal dari 3 instansi
yaitu BPTKPDAS, UNS serta UMS. Dalam pelaksanaan seminar
tersebut disepakati rumusan seminar yang merupakan rangkuman
keseluruhan dari hasil diskusi. Pada kesempatan ini kami mengucapkan
terima kasih kepada Tim Penyaji, Panitia Penyelenggara, Penyunting
Prosiding, serta pihak-pihak yang telah mendukung sampai selesainya
kegiatan. Semoga Prosiding ini bermanfaat.
Bogor,
Juni 2014
Kepala Pusat Litbang
Konservasi dan Rehabiltiasi
Ir. Adi Susmianto, M.Sc
NIP. 19571221 198203 1 002
v
DAFTAR ISI
KATA PENGANTAR…………………………………..........................
DAFTAR ISI…………………………………………….......................
v
vi
PENGARAHAN
Kepala Badan Penelitian dan Pengembangan Kehutanan...............
viii
RUMUSAN
Rumusan Seminar........................…………………………...............
xii
MAKALAH-MAKALAH
1. Aspek Hukum Pengelolaan Daerah Aliran Sungai Berdasarkan
Peraturan Pemerintah Nomor 37 Tahun 2012 Tentang
Pengelolaan Daerah Aliran Sungai / AL Sentot Sudarwanto
(UNS)............................................................................................
2. Hubungan Antara Luas Hutan Pinus Dan Aliran Dasar Di Sub
DAS Kedungbulus, Kebumen / Irfan Budi Pramono dan Wahyu
Wisnu Wijaya (BPKTPDAS)..............................................
3. Hubungan Antara Karakteristik Hujan Dan Banjir Di Sub DAS
Wuryantoro, Kabupaten Wonogiri / Irfan Budi Pramono,
Gunardjo Tjakarawarsa (BPKTPDAS)...........................................
4. Pemanfaatan Citra dari Google Earth dan DEM Aster yang
Bebas Diunduh untuk Mendapatkan Beberapa Parameter
Lahan / Tyas Mutiara Basuki, Nining Wahyuningrum
(BPKTPDAS)..................................................................................
5. Kajian Kelembagaan Konservasi Tanah dan Air Di Hulu Sub
DAS Gandusuwaduk, Pati – Jawa Tengah / C. Yudilastiantoro
(BPKTPDAS)..................................................................................
6. Pemetaan Kawasan Rawan Kebakaran Hutan dengan
Menggunakan Teknologi Penginderaan Jauh dan Sistem
Informasi Geografis: Studi Kasus di Taman Nasional Bali Barat
/ Arina Miardini, Nunung Pujinugroho (BPKTPDAS)...................
7. Model Pengendalian Banjir Terpadu Berdasarkan Parameter
Utama Penyebab Banjir Di DAS Bengawan Solo Hulu / Alif
Noor Anna, Suharjo, Yuli Priyana, Rudiyanto (UMS)..................
8. Pertumbuhan Tanaman Rehabilitasi Pola Agroforestry
Sengon dan Jabon pada Lahan Terdegradasi Di Tlogowungu
Pati / Heru Dwi Riyanto, Gunardjo Tjakrawarsa (BPKTPDAS)....
vi
1
18
38
53
74
86
106
130
9. Nilai Konsumsi Air Beberapa Jenis Pohon Cepat Tumbuh /
Agung Budi Supangat, Ugro Hari Murtiono (BPKTPDAS)..........
10. Kandungan Hara Dan Tingkat Erosi Pada Lahan Miring
Bersolum Dangkal / Nining Wahyuningrum, Tyas Mutiara
Basuki (BPKTPDAS) .....................................................................
11. Identifikasi Karakteristik Morfometri Daerah Aliran Sungai
Dengan Menggunakan Teknologi Penginderaan Jauh Dan
Sistem Informasi Geografis / Agus Wuryanta, Ragil Bambang
Winarno Mulyono Putro dan Beny Harjadi (BPTKPDAS)............
12. Kajian Unsur Hara Tanah pada Tegakan Cemara Laut
(Casuarina equisetifolia) di Pantai Berpasir Petanahan
Kebumen / Beny Harjadi, Pranatasari Dyah Susanti, Arina
Miardini (BPKTPDAS)...................................................................
146
163
191
208
LAMPIRAN
Jadwal Acara.......................................................................................
Daftar Peserta.....................................................................................
Hasil Diskusi.........................................................................................
vii
219
222
227
PENGARAHAN
Kepala Badan Penelitian dan Pengembangan Kehutanan
Dalam
Seminar Nasional Hasil Penelitian
Teknologi Pengelolaan DAS 2013
Yth.
Yth.
Yth.
Yth.
Yth.
Yth.
Yth.
Yth.
Yth.
Yth.
Yth.
Yth.
Yth.
Yth.
Saudara Direktur Jenderal Bina Pengelolaan Daerah Aliran
Sungai dan Perhutanan Sosial atau yang mewakili
Saudara Sekretaris Daerah Provinsi Jawa Tengah
Saudara Kepala Dinas Kehutanan Provinsi Jawa Tengah
Saudara Kepala Dinas Kehutanan dan Perkebunan Provinsi D.I.
Yogyakarta
Saudara Kepala SKPD terkait kehutanan lingkup Provinsi Jawa
Tengah dan Provinsi D.I. Yogyakarta
Para Kepala Dinas Kabupaten yang menangani kehutanan
lingkup Provinsi Jawa Tengah dan Provinsi D.I. Yogyakarta
Para Kepala Pusat Litbang lingkup Badan Litbang Kehutanan
dan Para Pejabat Struktural Eselon II lingkup Kementerian
Kehutanan
Para Kepala Balai Penelitian lingkup Badan Litbang Kehutanan
dan Kepala UPT lingkup Kementerian Kehutanan
Para Kepala UPT Kementerian dan Kepala UPTD yang terkait
dengan Kementerian Kehutanan
Saudara Kepala Pusat Penelitian dan Pengembangan Perhutani
Cepu
Para Administratur KPH Perum Perhutani
Para Dekan Perguruan Tinggi, Kepala SMA, Ketua Forum dan
Mitra Strategis Kementerian Kehutanan
Saudara Kepala Balai Penelitian Teknologi Kehutanan
Pengelolaan Daerah Aliran Sungai Solo
Hadirin yang berbahagia.
viii
Assalamu’alaikum Wr.Wb.
Selamat pagi dan salam sejahtera untuk kita semua,
Mengawali sambutan ini, marilah kita panjatkan puji dan syukur
kehadirat Allah SWT, karena atas berkah dan rahmatNya pada hari ini
kita dapat menghadiri acara pembukaan Seminar Hasil-Hasil Penelitian
Teknologi Pengelolaan Daerah Aliran Sungai tahun 2013 dalam
keadaan sehat walafiat. Ekspose hasil-hasil penelitian Balai Penelitian
Teknologi Kehutanan Pengelolaan Daerah Aliran Sungai Solo ini saya
nilai sangat strategis mengingat tiga hal, yakni tahun ini merupakan
peringatan 100 tahun litbang kehutanan berkarya di Indonesia;
perlunya solusi yang tepat terhadap permasalahan kerusakan dan
penurunan daya dukung DAS yang diikuti dengan meningkatnya
bencana ekologis dan hidrometeorologi; dan momentum untuk
memformulasikan program dan kegiatan litbang BPTKPDAS Solo
tahun 2015-2019 yang gayut dengan kebutuhan pengelolaan DAS di
Indonesia.
Saudara-saudara sekalian,
Sejarah panjang penelitian kehutanan di Indonesia diawali dengan
berdirinya Bosbouw Proef Station Voor Het Boswezen di Bogor pada
tanggal 16 Mei 1913. Pada era kolonial Belanda, banyak hasil penelitian
yang membanggakan yang dihasilkan oleh para peneliti Belanda yang
mempunyai disiplin kerja yang tinggi. Hasil penelitian tersebut, antara
lain mencakup botani hutan, silvika, silvikultur tanaman Jati, bonita
dan konservasi hutan. Hasil penelitian tersebut pada umumnya sangat
membantu pengelolaan hutan tanaman jati di Jawa. Hasil-hasil
penelitian tersebut juga dipublikasikan pada majalah ilmiah Tectona,
yang merupakan salah satu majalah ilmiah paling bergengsi di dunia
pada zaman tersebut. Namun pada era penjajahan Jepang (19421945), institusi litbang praktis tidak berkembang karena Jepang tidak
memperdulikan pentingnya riset kehutanan dan bahkan
mengeksploitasi hutan-hutan jati di Jawa untuk kepentingan perang.
Selanjutnya, pada era Kemerdekaan sampai Orde Lama (1945- 1965),
institusi litbang tersebut hanya survive dengan nama Balai
Penyelidikan Kehutanan dengan hasil penelitian yang kurang
signifikan. Pada Awal Orde Baru (1966) sampai dengan pertengahan
ix
tahun 2013 ini, organisasi litbang kehutanan secara periodik
mengalami perubahan sesuai dengan konstelasi politik pada masa
tersebut namun secara umum menunjukkan peningkatan kinerja dari
tahun ke tahun, baik kuantitas maupun kualitas output penelitian.
Beberapa output litbang yang sangat strategis yang telah dihasilkan
oleh Badan Litbang Kehutanan adalah: sistem silvikultur Tebang Pilih
Indonesia (TPI), teknik silvikultur berbagai jenis hutan tanaman, teknik
produksi bibit meranti dengan sistem KOFFCO, bioteknologi dan
pemuliaan tanaman jenis-jenis pohon cepat tumbuh, beberapa tabel
volume pohon, teknik pengolahan beberapa komoditas HHBK seperti
sutera alam dan madu lebah, teknik inokulasi gaharu, teknik produksi
mikoriza, teknik penangkaran rusa timor, teknologi pengolahan kayu
solid dan kayu komposit, teknik produksi kayu pertukangan dari
batang sawit, teknik produksi bambu lamina, teknik produksi briket
arang dan cuka kayu, teknik produksi perekat dari tannin kulit kayu,
model allometrik biomassa dan input kebijakan mitigasi perubahan
iklim dan REDD+.
Khusus untuk pengelolaan DAS, beberapa output litbang yang telah
dihasilkan oleh BPTKPDAS Solo mencakup: sistem perencanaan
pengelolaan DAS, teknik mitigasi banjir dan tanah longsor, panduan
sidik cepat degradasi sub DAS, sistem karakterisasi DAS pada
beberapa zona ekologi di Jawa dan Sumatera, teknik rehabilitasi lahan
kritis, aplikasi citra satelit dan SIG untuk monev DAS dan revisi peta
penggunaan lahan, pemodelan hidrologi DAS, sistem analisis neraca
ekonomi sumberdaya alam dalam DAS, analisis tipologi sosial dan
pengaruhnya terhadap kinerja DAS, implementasi pengelolaan DAS
pada skala mikro dan penentuan luas penutupan hutan optimum,
khususnya hutan tanaman jati dan pinus berdasarkan parameter
hidrologi.
Satuan kerja Badan Litbang Kehutanan di luar BPTKPDAS Solo, baik
Puskonser dan beberapa Balai Penelitian Kehutanan, juga
menghasilkan output litbang di bidang pengelolaan DAS, mencakup
peta kesesuaian jenis pohon untuk kegiatan RHL pada beberapa
provinsi dan DAS, teknik konservasi tanah dan air, teknik reklamasi
lahan bekas tambang emas, batubara, batu kapur feldspar dan timah,
x
alat deteksi longsor dan teknik pembangkit listrik tenaga mikrohidro
untuk penguatan kelembagaan dan kesehatan DAS.
Dalam rangka memperingati 100 tahun litbang kehutanan di Indonesia,
serangkaian kegiatan diseminasi hasil litbang akan digelar baik di pusat
maupun di daerah dan puncaknya adalah penyelenggaraan konferensi
internasional INAFOR (Indonesia Forestry Researchers) II dan
peluncuran buku Seratus Tahun Litbang Kehutanan di Indonesia pada
bulan Agustus 2013. Rangkaian acara tersebut diawali dengan
pencanangan 100 tahun litbang kehutanan di Indonesia oleh Menteri
Kehutanan pada bulan Maret 2013 di Bogor dan dilanjutkan oleh
Menteri Kehutanan pada tanggal 24 April 2013 berupa penandatangan
prasasti peringatan 100 tahun dan prasasti revitalisasi laboratorium,
penanaman pohon secara simbolis, penyelenggaraan seminar
”Applications and Challenges of Green Economy for Sustainable
Development” dan bedah buku konservasi hutan. Kegiatan tersebut
diliput secara luas oleh berbagai media massa nasional dan daerah dan
sampai saat ini secara berkala dimuat pada rubrik ilmu pengetahuan
dan teknologi di harian Kompas dan harian lainnya. Peliputan tersebut
dan testimoni para pengguna pada saat penendatanganan prasasti
menunjukkan bahwa sesungguhnya sudah banyak output litbang yang
bermanfaat dan potensial dikembangkan untuk meningkatkan kinerja
pembangunan kehutanan dan kesejahteraan masyarakat.
Sehubungan dengan peringatan 100 tahun tersebut, Badan Litbang
Kehutanan telah menetapkan motto, sebagaimana prasasti yang
ditandatangani Menteri Kehutanan, yakni: ”Iptek Merupakan
Landasan Kebijakan dan Etika Membangun Hutan Lestari dan
Peradaban Bangsa”. Motto ini menggambarkan arah penelitian pasca
100 tahun yang mengedepankan produk kebijakan kehutanan dan
pencapaian
pembangunan
kehutanan
berkelanjutan
yang
mengakomodir nilai etika dan sosial budaya bangsa yang mandiri dan
unggul. Dalam konteks peringatan Satu Abad inilah BPTKPDAS Solo
melakukan diseminasi hasil-hasil penelitian terbarunya kepada para
pengguna iptek dan sekaligus mengharapkan umpanbalik dari para
peserta seminar dalam rangka memformulasikan kegiatan penelitian
ke depan yang gayut dengan kebutuhan pengelolaan DAS.
xi
Saudara-saudara sekalian,
Terkait dengan kebutuhan iptek pengelolaan DAS, Indonesia saat ini
dihadapkan pada permasalahan lingkungan hidup yang sangat serius
yakni fenomena perubahan iklim dan kerusakan DAS. Ke duanya
mempunyai interrelasi yang sangat kuat di mana deforestasi dan
degradasi hutan merupakan salah satu sumber emisi gas rumah kaca
yang menyebabkan pemanasan global dan pada tataran lokal
kerusakan sumberdaya hutan bersamaan dengan meluasnya lahan
kritis akibat pengabaian teknik konservasi tanah dan air menyebabkan
penurunan daya dukung DAS. Bencana hidrometeorologi yang
semakin sering menimpa Indonesia, berupa banjir, tanah longsor dan
kekeringan serta kerusakan ekologi berupa erosi dan sedimentasi
diyakini dipicu oleh faktor antropogenik berupa intervensi manusia
terhadap sumberdaya hutan dan lahan yang berlebihan. Kejadian
bencana tersebut menimbulkan kerugian material dan immaterial yang
tinggi dan bahkan seringkali menimbulkan korban jiwa.
Deforestasi dan degradasi hutan serta kerusakan lahan di luar
kawasan hutan yang masif belum sepenuhnya dapat diimbangi oleh
kegiatan rehabilitasi hutan dan lahan. Meskipun laju kerusakan hutan
turun menjadi 450.000 ha/tahun pada periode 2010-2011 dari yang
sebelumnya 2,83 juta ha/tahun pada periode 1997 sampai dengan
2000, namun hutan dan lahan kritis yang ada saat ini masih sangat
tinggi yakni sekitar 51,67 juta hektar. Sementara itu, kinerja rehabilitasi
hutan dan lahan, yang dihitung berdasarkan prestasi RHL sebesar
2.009.881 ha dari tahun 2003-2008, hanya mencapai 500.000 ha/tahun.
Kinerja RHL sebesar 500.00 ha/tahun tersebut hanya dapat mengatasi
laju kerusakan hutan dan belum dapat mengatasi hutan dan lahan
kritis yang ada. Hutan dan lahan kritis tersebut berada pada DAS
prioritas di mana di seluruh Indonesia terdapat 458 DAS prioritas di
antaranya 282 DAS merupakan prioritas I dan II. Sehubungan dengan
itu, Kementerian Kehutanan menetapkan salah dua dari 18 Sasaran
Strategis tahun 2010-2014 berupa rencana pengelolaan DAS terpadu
sebanyak 108 DAS prioritas; dan tanaman rehabilitasi pada lahan kritis
di dalam DAS prioritas seluas 2,5 juta ha.
xii
Kerusakan DAS, pada umumnya, disebabkan oleh kebutuhan lahan
yang semakin tinggi seiring dengan pertambahan penduduk dan
meningkatnya kepentingan pembangunan sektoral dan daerah yang
berakibat pada perubahan status, fungsi dan peruntukan kawasan
hutan menjadi penggunaan lain. Kerusakan DAS tersebut
menunjukkan adanya ketidaktepatan dalam pengelolaan DAS di mana
selama ini lebih ditekankan pada aspek biofisik dan kurang pada aspek
sosial dan kelembagaan.
Permasalahan dalam pengelolaan DAS saat ini adalah pengelolaan
sumberdaya alam DAS yang melampaui kapasitasnya atau tidak ramah
lingkungan; pertumbuhan penduduk; perkembangan industri serta
pembangunan di berbagai bidang berakibat pada peningkatan
kebutuhan akan lahan; lapangan kerja yang terbatas mendorong
masyarakat mendesak penggunaan lahan di luar batas
kemampuannya; konversi lahan; orientasi otonomi daerah yang
berwawasan sempit dan semata-mata fokus pada economic
development; meningkatnya ego sektoral dan ego kewilayahan yang
berakibat pada konflik kepentingan dan kurang keterpaduan antar
sektor, antar wilayah hulu dan hilir.
Untuk itu, upaya pengelolaan DAS yang tepat dengan kondisi
administrasi pemerintahan, kelembagaan, sosial kemasyarakatan dan
biofisik, menjadi sangat penting untuk mengatasi permasalahan
tersebut. Konkritnya, solusi masalah pengelolaan DAS membutuhkan
komitmen politik, payung hukum, kerjasama komprehensif dan
teknologi Konservasi Tanah dan Air tepat guna yang dapat
meningkatkan kesejahteraan masyarakat. Pengelolaan DAS tidak bisa
lagi melalui pendekatan sektoral, tetapi harus mengedepankan prinsip
keterpaduan, yang dilaksanakan oleh Satuan Kerja Pemerintah Daerah
(SKPD) dan para pemangku kepentingan terkait pada lintas wilayah
administrasi sesuai dengan UU No.26 Tahun 2007 tentang Penataan
Ruang, PP No.33 Tahun 2011 tentang Kebijakan Nasional Pengelolaan
Sumberdaya Air dan PP No. 37 Tahun 2012 tentang Pengelolaan DAS.
UU Nomor 41 Tahun 1999 tentang Kehutanan menyebutkan bahwa
salah satu tujuan penyelenggaraan kehutanan adalah dengan
meningkatkan daya dukung DAS. Oleh karena itu diperlukan suatu
xiii
pengelolaan DAS yang obyektif, rasional dan utuh mulai dari tahapan
perencanaan, pelaksanaan, monitoring dan evaluasi sampai dengan
pembinaan dan pengawasan. Untuk menyelenggarakan pengelolaan
DAS yang baik perlu dukungan IPTEK di bidang pengelolaan DAS yang
adaptif sebagai dasar untuk menjawab permasalahan dinamika politik,
sosial, ekonomi dan teknologi yang semakin berkembang.
Lebih jauh lagi, solusi masalah pengelolaan DAS perlu dituangkan
dalam Kebijakan Prioritas Pembangunan Kehutanan, Program dan
Kegiatan yang terukur, realistis dan berkelanjutan, yang kesemuanya
diharapkan tertuang dalam dokumen Rencana Strategis Kementerian
Kehutanan dan Ditjen BPDASPS untuk periode berikutnya (2015-2019).
Permasalahan utama DAS ke depan akan lebih diwarnai permasalahan
eco-resources dengan basis faktor-faktor antropogenik berupa sosial
budaya, sikap, perilaku, pendidikan dan kepercayaan. Kerusakan DAS
pada dasarnya disebabkan oleh intervensi manusia dan oleh karena itu
yang ditangani adalah faktor kemanusiaan itu sendiri. Dalam kaitan ini,
Kebijakan Prioritas Pembangunan Kehutanan dapat diarahkan pada
Rehabilitasi Hutan dan Lahan dan Peningkatan Daya Dukung DAS dan
Program Peningkatan Fungsi dan Daya Dukung DAS Berbasis
Pemberdayaan Masyarakat. Adapun kegiatan-kegiatan yang perlu
dilakukan, antara lain: penyelenggaraan pengelolaan DAS terpadu
pada DAS prioritas; pengembangan kelembagaan dan mekanisme
monitoring dan evaluasi DAS; dan penyelenggaraan rehabilitasi hutan
dan lahan dan reklamasi hutan.
Hadirin yang berbahagia,
Untuk menyikapi tantangan dalam menjawab kebutuhan masyarakat
dalam pengelolaan DAS, maka pada kesempatan ini, kami mengajak
hadirin baik pemangku kebijakan maupun praktisi, akademisi dan
peneliti untuk berdiskusi dan saling bertukar informasi dan
pengalaman dalam Seminar Hasil-Hasil Penelitian Teknologi
Pengelolaan DAS ini.
Sebagaimana telah kami sebutkan sebelumnya, BPTKPDAS Solo telah
banyak menghasilkan output penelitian pengelolaan DAS dan
teknologi pendukungnya, namun tampaknya belum banyak yang
xiv
termanfaatkan dengan baik dalam proses perencanaan, pelaksanaan
bahkan monitoringnya sekalipun oleh berbagai pihak terkait. Pada
hakekatnya, output penelitian tersebut secara teknis memperlancar
implementasi kebijakan strategis dan operasional yang telah dibuat,
dalam hal ini, implementasi PP No.37 Tahun 2012. Semangat PP
tersebut adalah untuk mengkoordinasikan, mengintegrasikan,
mensinkronkan dan mensinergikan pengelolaan DAS dalam rangka
meningkatkan daya dukung DAS (pasal 3.). Dalam PP tersebut juga
mengatur tentang siapa yang berwenang menyusun rencana
pengelolaan DAS (pasal 22 ayat 2), yang melaksanakan (pasal 42),
memonitor dan mengevaluasi pelaksanaannya (pasal 50), yang secara
jelas diserahkan kepada Menteri untuk DAS lintas negara dan lintas
provinsi, Gubernur sesuai kewenangan untuk DAS dalam provinsi dan
atau
lintas
kabupaten/kota,
dan
Bupati/Walikota
sesuai
kewenangannya untuk DAS dalam kabupaten/kota. Peran serta
masyarakat dalam pengelolaan DAS baik secara perorangan maupun
kelompok melalui forum DAS diatur dalam Pasal 57. Tugas kita ke
depan adalah untuk menjabarkan PP ini ke dalam kebijakan yang lebih
operasional dalam bentuk Peraturan-Peraturan Menteri Kehutanan.
Dalam rangka meningkatkan dukungan litbang pengelolaan DAS
dalam implementasi dan bahan kebijakan, Kepala Badan Litbang
Kehutanan
bersama
Direktur
Jenderal
BPDASPS
telah
menandatangani Nota Kesepahaman Nomor NK.3/VIII-Set/2011 dan
NK.2/V-Set/2011 tentang IPTEK Pengelolaan DAS Sebagai Landasan
Kebijakan Operasional. Oleh karena itu, seminar ini juga merupakan
salah satu wujud komitmen Badan Litbang Kehutanan untuk
senantiasa menindaklanjuti dan meng-update Nota Kesepahaman
tersebut.
Saudara-saudara sekalian,
Untuk meningkatkan kontribusi iptek kehutanan pada pengelolaan
DAS di Indonesia, BPTKPDAS Solo harus segera memformulasikan
program dan kegiatan penelitian yang dituangkan dalam Rencana
Strategis BPTKPDAS Solo tahun 2015-2019 yang didasarkan pada
permasalahan pembangunan kehutanan nasional dan kebutuhan iptek
pengelolaan DAS.
xv
Permasalahan pembangunan kehutanan nasional yang perlu diaddress oleh BPTKPDAS Solo, adalah: 1. Hak ulayat (tenurial) dan akses
masyarakat adat terhadap pemanfaatan sumberdaya hutan yang
masih rendah; 2. Masih tingginya jumlah penduduk miskin di dalam
dan sekitar hutan; 3. Pengaturan tata ruang yang belum didasarkan
pada daya dukung lingkungan dan kebutuhan optimal setiap sektor
sehingga potensial menyebabkan konflik penggunaan kawasan; 4.
Deforestasi dan degradasi hutan; 5. Bencana hidrometeorologi akibat
luasnya lahan kritis dan tutupan berhutan <30%; 6. Pengelolaan DAS
lintas wilayah administrattif belum terintegrasi dengan baik; dan 7.
Penurunan kualitas DAS.
Kebutuhan iptek pengelolaan DAS ke depan bertumpu pada solusi
masalah-masalah sosial dan tata kelola pemerintahan dan organisasi
yang belum mendukung pemanfaatan sumberdaya hutan dan lahan
yang berkelanjutan dalam unit DAS, pengelolaan sumberdaya alam
dalam DAS yang dapat menjamin kesejahteraan masyarakat dan
kesehatan DAS dan penemuan teknik-teknik rehabilitasi hutan serta
konservasi tanah dan air yang berdayaguna dan berhasilguna. Melihat
permasalahan utamanya adalah masalah manusia dengan segala
faktor-faktor antropogenik dan kelembagaan yang ada maka
pendekatannya adalah eco-resources dengan pola manajemen
kolaboratif dan adaptif serta kegiatan pembangunan ekonomi hijau.
Saudara-saudara sekalian,
Merangkum pemaparan saya di atas, beberapa agenda penelitian yang
perlu diadopsi BPTKPDAS Solo dan dituangkan dalam Rencana
Strategis tahun 2015-2019 adalah sebagai berikut:
1.
Model pengaruh perubahan iklim dan tataruang terhadap daya
dukung DAS;
2. Model pengaruh perubahan iklim dan penutupan lahan terhadap
eco-hidrologi DAS;
3. Model pengaruh pengelolaan DAS dan konservasi Tanah dan Air
terhadap biodiversitas dan serapan karbon;
4. Model koordinasi dan pengatasan konflik tataruang dalam unit
DAS;
xvi
5.
Model pembangunan ekonomi hijau dan peningkatan akses
masyarakat terhadap pemanfaatan sumberdaya alam secara
berkelanjutan dalam unit DAS;
6. Penyusunan Norma, Standar, Pedoman dan Kriteria (NSPK)
monitoring dan evaluasi serta kelembagaan pengelolaan DAS;
7. Sistem pengelolaan DAS pulau-pulau kecil dan perkotaan;
8. Strategi dan teknik rehabilitasi hutan dan lahan dengan
pendekatan manajemen kolaboratif dan pemberian insentif pada
unit DAS;
9. Penetapan imbal jasa lingkungan (PES), insentif dan disinsentif
wilayah hilir ke hulu dalam unit DAS;
10. Strategi dan teknik mitigasi bencana ekologi berupa banjir,
longsor, erosi, sedimentasi dan kekeringan dalam unit DAS;
11. Teknik efisiensi penggunaan air pada masyarakat dan virtual
water pada berbagai sistem produksi pertanian pada unit DAS;
12. Teknik pengelolaan sumberdaya lahan dan air wilayah daratan
dan reklamasi lahan bekas tambang secara kolaboratif;
13. Kajian sistem hidrooceanografi ekosistem mangrove dan hidrologi
ekosistem hutan rawa gambut;
14. Penyiapan draf akademis Peraturan-Peraturan Menteri
Kehutanan yang diamanatkan pada PP No.76 Tahun 2008 tentang
Rehabilitasi dan Reklamasi Hutan dan PP 37 Tahun 2012 tentang
Pengelolaan DAS.
Keempatbelas topik penelitian tersebut masih relevan dengan tema
dan subtema Roadmap Litbang Kehutanan 2010-2025 yang ditetapkan
oleh Menteri Kehutanan. Di samping itu, BPTKPDAS Solo perlu
mengakomodir usulan penelitian yang diajukan oleh pemerintah
daerah dan kelompok masyarakat dalam bentuk Kajian Isu Aktual
Kehutanan.
Saya mengharapkan dalam merancang ke empatbelas penelitian
tersebut harus didasarkan pada penelitian terpadu dan menyeluruh
(integrated and holistic research) melalui pendekatan antar disiplin ilmu
(inter-disciplinary research). Aspek-aspek ekonomi, sosial budaya,
kelembagaan dan kebijakan diharapkan dapat diakomodasikan pada
setiap kegiatan penelitian tersebut untuk mewujudkan penelitian
integratif. Keempatbelas penelitian tersebut juga dapat dirancang
xvii
dalam format action research di mana para pengguna dilibatkan dalam
keseluruhan proses penelitian, mulai dari perencanaan, pelaksanaan di
lapangan, pemasyarakatan hasil penelitian sampai pengukuran
dampak dan manfaat penelitian.
Saudara-saudara sekalian,
Akhir kata, harapan kami semoga seminar ini bermanfaat baik bagi
BPTKPDAS Solo, maupun para pihak terkait dan para pengguna hasil
litbang. Melalui seminar ini diharapkan terjalin koordinasi dan
komunikasi yang baik di antara kita dalam menyikapi permasalahan
pembangunan kehutanan pada umumnya dan permasalahan
pengelolaan DAS pada khususnya. Di samping itu, kami mengharapkan
berbagai masukan dari Saudara sekalian sebagai bahan formulasi
kebijakan pimpinan terhadap pengelolaan DAS ke depan.
Akhirnya, dengan mengucapkan Bismillahirrahmanirochim, dengan ini
“Seminar Hasil-hasil Penelitian Teknologi Pengelolaan DAS” kami
nyatakan dibuka secara resmi.
Terima kasih.
Wassalamua’alaikum warahmatullahi wabarakatuh.
SOLO, 12 Juni 2013
Kepala Badan,
Dr. Ir. Iman Santoso M.Sc.
xviii
RUMUSAN SEMINAR NASIONAL
“Hasil Penelitian Teknologi Pengelolaan DAS 2013”
(12 Juni 2013)
Memperhatikan laporan Kepala Balai Penelitian Teknologi Kehutanan
Pengelolaan DAS, sambutan Kepala Badan Litbang Kehutanan, keynote
speech Sekretaris Daerah Provinsi Jawa Tengah, pemaparan 12 makalah
yang dipresentasikan, proses diskusi dan saran-saran dari seluruh peserta
seminar, dihasilkan beberapa rumusan sebagai berikut:
1.
2.
3.
Daerah Aliran Sungai (DAS) merupakan suatu kesatuan ekosistem
alami yang utuh dari hulu hingga hilir beserta kekayaan sumber daya
alam dan sumber daya buatan. Untuk meningkatkan kesejahteraan
seluruh masyarakat di dalam DAS, maka sumber daya DAS perlu
dikembangkan dan didayagunakan secara maksimal dan
berkelanjutan melalui upaya pengelolaan DAS. Mengingat adanya
berbagai kepentingan dalam pemanfaatan sumber daya DAS, baik
secara kewilayahan maupun sektoral, maka pengelolaan DAS perlu
dilakukan secara terpadu dan didasarkan pada peraturan perundangundangan yang berlaku dengan didukung oleh adanya ilmu
pengetahuan dan teknologi (IPTEK) yang memadai.
Peraturan perundang-undangan yang menjadi landasan yuridis
pengelolaan DAS adalah Undang-Undang (UU) No. 41 Tahun 1999
tentang Kehutanan dan UU No. 7 Tahun 2004 tentang Sumber Daya
Air. Namun demikian, masing-masing UU tersebut belum memiliki
aturan pelaksanaan sebagai penjelasan rinci dari pasal-pasal yang
terkait dengan DAS. Penjelasan terperinci dari pasal-pasal tentang
DAS tersebut dituangkan ke dalam Peraturan Pemerintah (PP) No. 37
Tahun 2012 tentang Pengelolaan DAS. PP ini memberikan arahan yang
lengkap dalam mengatur pengelolaan DAS terpadu dari hulu ke hilir
secara utuh yang meliputi perencanaan, pelaksanaan, monitoring dan
evaluasi (monev), serta pembinaan dan pengawasan pada setiap
hierarki pemerintahan, baik untuk DAS dengan kondisi dipertahankan
maupun dipulihkan daya dukungnya.
Keterpaduan antar instansi/lembaga di dalam kegiatan pengelolaan
DAS perlu diwujudkan melalui adanya suatu grand design pengelolaan
DAS yang disebut Rencana Pengelolaan DAS Terpadu (RPDAST) yang
disepakati bersama oleh seluruh stakeholders, sehingga dapat
menjamin tidak terjadinya benturan kepentingan (conflict of interest)
dalam implementasinya.
xix
4.
5.
6.
7.
Dalam perencanaan pengelolaan DAS diharapkan dapat dipenuhi luas
penutupan hutan minimal. Di dalam UU No. 41 Tahun 1999 tentang
Kehutanan disebutkan bahwa luas kawasan hutan yang harus
dipertahankan adalah 30% dari luas DAS dengan sebaran yang
proporsional. Hal ini mengingat respon hidrologi suatu DAS, baik
kuantitas maupun kontinuitas aliran air, salah satunya dipengaruhi
oleh luas penutupan hutan dalam DAS. Dalam hal ini, semakin luas
penutupan hutan pada suatu DAS, maka respon hidrologinya semakin
baik pula, misalnya debit aliran dasar pada musim kemarau,
sebagaimana yang terjadi pada wilayah DAS dengan tutupan hutan
pinus. Pada musim kemarau, tutupan hutan yang baik lebih berfungsi
untuk memperlambat proses pengatusan air dari suatu wilayah DAS
daripada meningkatkan debit aliran musim kemarau, sehingga
kontinuitas aliran lebih terjaga. Namun demikian, perlu
dipertimbangkan pula faktor geologi dan tanah dalam memahami
karakteristik aliran dasar pada suatu wilayah DAS selain faktor
tutupan lahannya.
Pada musim hujan, intensitas hujan yang tinggi serta pola penutupan
lahan yang kurang mendukung penyerapan air hujan ke dalam tanah
menjadi faktor penyebab terjadinya banjir. Karakteristik banjir yang
terjadi pada suatu wilayah DAS tidak hanya dipengaruhi oleh
karakteristik hujan (tebal, durasi dan intensitas hujan), namun juga
kondisi awal lengas tanah (antecedent soil moisture). Dalam hal ini,
karakteristik hujan lebih berpengaruh pada debit puncak, sedangkan
kondisi awal lengas tanah lebih memengaruhi waktu untuk menuju
debit puncak.
Teknologi penginderaan jauh (PJ) dan sistem informasi geografis
(SIG) dapat dimanfaatkan dalam kegiatan perencanaan maupun
monev pengelolaan DAS. Karakteristik data PJ (citra satelit) dengan
cakupan yang luas dan waktu perekaman yang teratur memberikan
nilai tambah untuk dimanfaatkan dalam kegiatan pengelolaan DAS.
Beberapa parameter biofisik monev kondisi DAS pun dapat
diturunkan dari data citra satelit, misalnya penutupan lahan dan
kemiringan lahan (slope). Pemanfaatan citra satelit yang bebas
diunduh (misalnya citra Quickbird dari Google Earth untuk klasifikasi
penutupan lahan dan citra DEM ASTER untuk klasifikasi kemiringan
lahan) dan dapat memberikan akurasi yang dapat diterima akan
memberikan keuntungan dari segi biaya, waktu dan prosedur kerja.
Teknologi PJ dan SIG dapat pula dimanfaatkan untuk membantu
pengelolaan suatu taman nasional atau wilayah DAS, misalnya dalam
mencegah atau mengatasi kebakaran hutan. Peta daerah rawan
kebakaran hutan tersebut dapat dimanfaatkan oleh pihak pengelola
dalam mengalokasikan sumber daya yang ada dalam penanganan
kebakaran hutan. Dalam memetakan daerah rawan kebakaran hutan,
faktor-faktor yang perlu dipertimbangkan adalah tipe vegetasi
(berdasarkan sifat kekeringannya), topografi (kemiringan lahan dan
xx
arah lereng), jarak dari jalan, dan jarak dari permukiman. Selain itu,
perlu pula dipertimbangkan tipe model yang akan diterapkan
(misalnya model statis atau dinamis) untuk menjawab permasalahan
yang ada.
8. Dalam pengelolaan DAS Mikro, kelembagaan konservasi tanah dan air
di tingkat desa mempunyai peran yang penting di dalam pelaksanaan
kegiatan pengelolaan DAS. Kelembagaan tersebut dapat dibangun
melalui proses kerjasama antara kelompok tani dengan
instansi/lembaga terkait seperti Dinas Pertanian dan Kehutanan
melalui Petugas Penyuluh Pertanian (PPL) dan Perum Perhutani,
sebagaimana yang dijumpai di Desa Gunungsari, Kecamatan
Tlogowungu, Kabupaten Pati, Provinsi Jawa Tengah. Lembaga
bersama ini berperan dalam merencanakan, melaksanakan serta
memonitor dan mengevaluasi kegiatan konservasi tanah dan air
untuk meningkatkan kesejahteraan bersama melalui pelestarian
hutan, tanah dan air.
9. Dalam pemanfaatan data untuk penelitian (termasuk data PJ), perlu
diperhatikan kualitas data tersebut untuk menjamin keakurasian dari
penelitian yang dihasilkan.
10. Perlu adanya tindak lanjut penelitian dengan menambahkan
komponen-komponen yang diteliti maupun memperbaiki metode
penelitian yang dipakai, sehingga pada akhirnya hasil penelitian
tersebut dapat dipertanggungjawabkan secara ilmiah dan
bermanfaat bagi praktisi lapangan.
11. Seminar hasil penelitian merupakan media komunikasi interaktif
antara peneliti dan praktisi untuk menyampaikan/mendiseminasikan
hasil-hasil penelitian dan pengembangan, mendapatkan umpan balik
dari pengguna hasil penelitian dan menyinergikan hasil-hasil
penelitian antar lembaga penelitian yang terkait. Dengan demikian,
kegiatan seminar ini dapat meningkatkan pengetahuan dan wawasan
baik peneliti maupun praktisi.
Surakarta, 12 Juni 2013
Tim Perumus
1. Ir. Purwanto, M.Si
2. Dr. Nunung Pujinugroho, S.Hut, M.Sc
3. Agung Wahyu Nugroho, S.Hut, M.Sc
xxi
ASPEK HUKUM PENGELOLAAN DAERAH ALIRAN SUNGAI
BERDASARKAN PERATURAN PEMERINTAH NOMOR 37 TAHUN 2012
TENTANG PENGELOLAAN DAERAH ALIRAN SUNGAI1
Oleh:
AL. Sentot Sudarwanto2
Dosen Fakultas Hukum Universitas Sebelas Maret Surakarta. Ketua Divisi Penelitian dan
Pengabdian Masyarakat PPLH LPPM UNS
Jl. Ir. Sutami no.36 A Surakarta 57126
Telepon/Fax Telp, (0271) 646994 / 646655
Email: [email protected]
ABSTRAK
Pengelolaan DAS merupakan upaya yang sangat penting sebagai akibat
terjadinya penurunan kualitas lingkungan DAS di Indonesia yang disebabkan
oleh pengelolaan Sumber Daya Alam yang tidak ramah lingkungan dan
meningkatnya potensi ego-sektoral dan ego-kewilayahan. Rencana
pengelolaan DAS harus disusun secara terpadu dan disepakati oleh para pihak
sebagai dasar dalam penyusunan rencana pembangunan sektor dan rencana
pembangunan wilayah pada setiap provinsi dan kabupaten/kota. Kerjasama
lintas sektor dan antarwilayah di dalam DAS Bengawan Solo sangat mendesak
untuk segera dilakukan karena tingkat kerusakan semakin meningkat dari
tahun ke tahun. Oleh karena itu perlu segera diwujudkan Strategi
Implementasi PP No. 37 Tahun 2012 tentang Pengelolaan DAS
Kata Kunci: Pengelolaan DAS, Koordinasi, Kelembagaan
1
Disampaikan dalam Seminar Nasional Hasil Penelitian Teknologi Pengelolaan
DAS oleh Balai Penelitian Teknologi Kehutanan Pengelolaan DAS, Kementerian
Kehutanan, pada tanggal 12 juni 2013.
1
I.
PENDAHULUAN
Daerah Aliran Sungai yang selanjutnya dalam tulisan ini disingkat DAS
yang tersebar di seluruh wilayah Indonesia merupakan kesatuan
ekosistem alami yang utuh dari hulu hingga hilir beserta kekayaan
sumber daya alam dan sumber daya buatan. DAS perlu dikembangkan
dan didayagunakan secara maksimal dan berkelanjutan melalui upaya
pengelolaan DAS bagi kesejahteraan seluruh masyarakat Indonesia.
Pengelolaan DAS merupakan upaya yang sangat penting sebagai
akibat terjadinya penurunan kualitas lingkungan DAS di Indonesia yang
disebabkan oleh pengelolaan Sumber Daya Alam yang tidak ramah
lingkungan dan meningkatnya potensi ego-sektoral dan egokewilayahan, karena pemanfaatan dan penggunaan sumber daya alam
pada DAS melibatkan berbagai kepentingan sektor, wilayah
administrasi, dan disiplin ilmu.
Oleh karena itu pengelolaan DAS diselenggarakan melalui
perencanaan, pelaksanaan, peran serta dan pemberdayaan
masyarakat, pendanaan, monitoring dan evaluasi pembinaan dan
pengawasan serta pendayagunaan sistem informasi pengelolaan DAS.
Rencana pengelolaan DAS harus disusun secara terpadu dan
disepakati oleh para pihak sebagai dasar dalam penyusunan rencana
pembangunan sektor dan rencana pembangunan wilayah pada setiap
provinsi dan kabupaten/kota.
Untuk mendukung pelaksanaan pengelolaan DAS yang baik dan
terpadu maka perlu landasan hukum sebagai pedoman bagi sektor
dan pemegang wilayah.
II.
PIJAKAN YURIDIS PERATURAN PERUNDANG-UNDANGAN DI
BIDANG PENGELOLAAN DAERAH ALIRAN SUNGAI
Apabila dicermati, pijakan yuridis yang mengatur masalah Daerah
Aliran Sungai (DAS) ada 2 (dua) Undang-undang yaitu UU No. 41 Tahun
1999 tentang Kehutanan dan UU No. 7 Tahun 2004 tentang Sumber
Daya Air. Di dalam UU No. 41 Tahun 1999 hanya terdapat 3 (tiga) Pasal
2
yang mengatur tentang Daerah Aliran Sungai yaitu Pasal 3 Huruf c,
Pasal 17 Ayat 1, Pasal 18 Ayat 1 dan 2.
Pasal 3 UU 41 Tahun 1999 tentang Kehutanan menyatakan,
penyelenggaran Kehutanan bertujuan untuk sebesar-besar
kemakmuran rakyat yang berkeadilan dan berkelanjutan dengan:
a. Menjamin keberadaan hutan dengan luasan yang cukup dan
sebaran yang proporsional.
b. Mengoptimalkan aneka fungsi hutan yang meliputi fungsi
konservasi, fungsi lindung dan fungsi produksi untuk mencapai
manfaat lingkungan, sosial budaya, dan ekonomi, yang seimbang
dan lestari.
c. Meningkatkan daya dukung Daerah Aliran Sungai.
d. Meningkatkan kemampuan untuk mengembangkan kapasitas dan
keberdayaan masyarakat secara partisipatif, berkeadilan, dan
berwawasan lingkungan, sehingga mampu menciptakan ketahanan
sosial dan ekonomi serta ketahanan terhadap akibat perubahal
eksternal.
e. Menjamin distribusi manfaat yang berkeadilan dan berkelanjutan.
Pasal 17 Ayat (1): pembentukan wilayah pengelolaan hutan
dilaksanakan untuk tingkat: (a.) Provinsi (b.) Kabupaten/Kota (c. Unit
Pengelolaan).
Penjelasan dari Pasal 17 ayat (1) yang dimaksud dengan wilayah
pengelolaan hutan tingkat provinsi adalah seluruh hutan di dalam
wilayah provinsi yang dapat dikelola secara lestari. Yang dimaksud
dengan wilayah pengelolaan hutan tingkat kabupaten/kota adalah
seluruh hutan dalam wilayah kabupaten/kota yang dapat dikelola
secara lestari. Yang dimaksud dengan unit pengelolaan adalah
kesatuan pengelolaan hutan terkecil sesuai fungsi pokok dan
peruntukannya, yang dapat dikelola secara efisien dan lestari, antara
lain Kesatuan Pengelolaan Hutan Lindung (KPHL), Kesatuan
Pengelolaan Hutan Produksi (KPHP), Kesatuan Pengelolaan Hutan
Konservasi (KPHK), Kesatuan Pengelolaan Hutan Kemasyarakatan
(KPHKM), Kesatuan Pengelolaan Hutan Adat (KPHA), dan Kesatuan
Pengelolaan Daerah Aliran Sungai (KPDAS).
3
Pasal 18 Ayat (1): Pemerintah menetapkan dan mempertahankan
kecukupan luas kawasan hutan dan penutupan hutan untuk setiap
Daerah Aliran Sungai dan/ pulau guna optimalisasi manfaat
lingkungan, manfaat sosial dan manfaat ekonomi masyarakat
setempat.
Pasal 18 Ayat (2): luas kawasan hutan yang harus dipertahankan
sebagaimana dimaksud pada ayat 1 minimal 30% dari luas daerah aliran
sungai dan atau pulau dengan sebaran yang proporsional.
Dalam Undang-undang No. 7 Tahun 2004 tentang Sumber Daya Air
yang Menyinggung tentang Daerah Aliran Sungai, hanya terdapat 1
(satu) Pasal yaitu Pasal 1 Point 11 tentang pengertian Daerah Aliran
Sungai. Pengertian DAS menurut Undang-undang Sumber Daya Air
adalah suatu wilayah daratan yang merupakan satu kesatuan dengan
sungai dan anak-anak sungainya, yang berfungsi menampung,
menyimpan dan mengalirkan air berasal dari curah hujan ke danau
atau ke laut secara alami, yang batas di darat merupakan pemisah
topografis dan batas di laut sampai dengan daerah perairan yang
masih terpengaruh aktivitas daratan.
Undang-undang tersebut di atas masing-masing belum memiliki aturan
pelaksanaan sebagai penjelasan rinci dari pasal-pasal yang terkait
dengan Daerah Aliran Sungai. Penjelesan secara terinci tentang pasalpasal yang terkait dengan Daerah Aliran Sungai barulah pada tanggal 1
Maret 2012 ketika Presiden Republik Indonesia selaku Kepala
Pemerintahan mengeluarkan Peraturan Pemerintah Nomor 37 Tahun
2012 Tentang Pengelolaan Daerah Aliran Sungai. Peraturan Pemerintah
tersebut
diharapkan
akan
menjadi
mediator
antara
kementerian/lembaga dan antarwilayah administrasi agar dapat
terselenggara pengelolaan daerah aliran sungai yang rasional dan
berkelanjutan serta Peraturan Pemerintah ini menjadi salah satu acuan
atau dasar dalam menyusun rencana pengelolaan DAS terpadu di
seluruh wilayah Indonesia.
Lebih lanjut di dalam Pasal 2 PP Nomor 37 Tahun 2012 Ayat (1)
Peraturan Pemerintah ini mengatur Pengelolaan DAS dari hulu ke hilir
4
secara utuh, (2) Pengelolaan DAS secara utuh sebagaimana dimaksud
pada ayat (1) diselenggarakan melalui tahapan:
a. perencanaan;
b. pelaksanaan;
c. monitoring dan evaluasi; dan
d. pembinaan dan pengawasan
(3) pengelolaan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dan ayat (2)
dilaksanakan sesuai dengan rencana tata ruang dan pola pengelolaan
sumber daya air sesuai dengan ketentuan peraturan perundangundangan di bidang penataan ruang dan sumber daya air. (4) dalam
pengelolaan DAS sebagaimana dimaksud pada ayat (1), ayat (2), dan
ayat (3) diselenggarakan secara terkoordinasi dengan melibatkan
instansi terkait pada lintas wilayah administrasi serta peran serta
masyarakat. Dari Pasal 2 ayat (4) PP Nomor 37 Tahun 2012 tersebut
yang dimaksud dengan ’instansi terkait’ antara lain kementerian yang
menyelenggarakan urusan pemerintahan di bidang sumber daya air
serta perlindungan dan pengelolaan lingkungan hidup.
Mencermati pengaturan Pasal 2 PP Nomor 37 tahun 2012 tersebut di
atas telah menerapkan teori sociological jurisprudence dari Roscoe
Pound yang menyebutkan bahwa ilmu hukum yang menggunakan
pendekatan sosiologis, juga ditujukan untuk memberi kemampuan
bagi institusi hukum untuk secara lebih menyeluruh dan cerdas
mempertimbangkan fakta sosial yang di situ hukum tersebut
berproses dan diaplikasikan. 2 Teori Roscoe Pound mengenai
kepentingan-kepentingan sosial merupakan sebuah usaha yang lebih
explisit untuk mengembangkan suatu model hukum responsif. Dalam
perspektif ini, hukum yang baik seharusnya menawarkan suatu yang
lebih dari keadilan prosedural. Hukum yang baik harus berkompeten
dan juga adil; hukum semacam ini seharusnya mampu mengenali
keinginan publik dan punya komitmen bagi tercapainya keadilan
substansial.3
2
Phillippe Nonet & Philip Selznick, Hukum Responsif, Nusamedia, Bandung,
2007, hlm. 83.
3
Ibid, hlm. 83-84.
5
Hukum yang mampu merespon kehidupan sosial yang sangat
kompleks hanya bisa terwujud jika telah sampai pada tahap hukum
otonom sebagaimana dikatakan Philippe Nonet dan Philip Selznick,
yaitu pada suatu bangsa itu sudah dapat memberikan tempat pada
hukumnya dan tidak lagi menjadi sekedar penggunaan kekuasaan oleh
penguasa. Disebabkan oleh status otonominya itu hukum dapat juga
berkembang menjadi suatu kekuasan yang absolut demi hukum dan
membelakangi konteks sosialnya. Tahap berikutnya adalah munculnya
hukum yang lebih peka terhadap masyarakatnya yang disebut hukum
responsif.4
Phlippe Nonet dan Philip Selznick melalui hukum responsif,
menempatkan hukum sebagi sarana respons terhadap ketentuanketentuan sosial dan aspirasi publik. Sesuai dengan sifatnya yang
terbuka maka tipe hukum ini mengedepankan akomodasi untuk
menerima perubahan-perubahan sosial demi mencapai keadilan dan
emansipasi publik.5
Keberadaan teori hukum progresif sangat cocok dalam membantu
memecahkan persoalan-persoalan pengelolaan DAS pada umumnya
dan DAS Bengawan Solo pada khususnya. Mengingat karakter utama
hukum progresif adalah mampu merespon kebutuhan, kepentingan
dan penderitaan masyarakat, dan melihat fakta bahwa 75% wilayah
DAS Bengawan Solo adalah lahan milik masyarakat maka perlindungan
kepentingan masyarakat harus diakomodir. Dengan hukum yang selalu
berprogress sesuai dengan kondisi empiris di DAS Bengawan Solo,
maka perlindungan dan pengelolaan DAS Bengawan Solo dapat
terwujud. Dengan hukum progresif peraturan perundangan yang telah
ditetapkan dan khususnya Peraturan Daerah yang akan dihasikan
memiliki spirit mengakomodasi kepentingan masyarakat. Alasannya,
posisi Peraturan Daerah (Perda) itu lebih dekat dengan masyarakat
4
Satjipto Rahardjo, Pembangunan Hukum Nasional dan Perubahan Sosial”,
Identitas Hukum Nasional, Fakultas Hukum Universitas Islam Indonesia,
Yogyakarta, 1997, hlm. 3.
5
Bernard L. Tanya, Yoan N. Simanjuntak, Markus Y. Hage, Teori Hukum,
Strategi Tertib Manusia Lintas Ruang dan Generasi, Genta Publishing,
Yogyakarta, 2010, hlm. 170.
6
karena akan menjawab permasalahan masyarakat di wilayah
Peraturan Daerah tersebut dibuat.
Di dalam Pasal 3 PP Nomor 37 Tahun 2012 disebutkan Peraturan
Pemerintah
ini
ditujukan
untuk
mengkoordinasikan,
mengintegrasikan,
mensinkronisasikan,
dan
mensinergikan
Pengelolaan DAS dalam rangka meningkatkan daya dukung DAS.
Sesuai dengan isi Pasal 3 tersebut Peraturan Pemerintah Nomor 37
Tahun 2012 diharapkan sebagai pengikat antar kementerian atau
lembaga dan antar wilayah administrasi agar terselenggara
pengelolaan DAS yang rasional dan berkelanjutan.
Pasal 22 PP Nomor 37 Tahun 2012 menyebutkan Ayat (1) berdasarkan
penetapan klasifikasi DAS sebagaimana dimaksud dalam Pasal 12,6
dilakukan penyusunan Rencana Pengelolaan DAS. Ayat (2)
Penyusunan Rencana Pengelolaan DAS dilakukan oleh:
a. Menteri untuk DAS lintas negara dan DAS lintas provinsi;
b. Gubernur sesuai kewenangannya untuk DAS dalam provinsi
dan/atau lintas kabupaten/kota;
c. Bupati/walikota sesuai kewenangannya untuk DAS dalam
kabupaten/kota;
Ayat (3) Dalam menyusun Rencana Pengelolaan DAS sebagaimana
dimaksud pada ayat (2) Menteri, gubernur, bupati/walikota sesuai
kewenangannya dapat membentuk tim dengan melibatkan instansi
terkait.
Berdasarkan Pasal 22 tersebut menurut penulis untuk dapat
terlaksananya pengelolaan DAS secara terpadu, maka rencana
pengelolaan DAS harus dibuat oleh pemerintah atau pemerintah
daerah di setiap tingkatan dengan memperhatikan dan melibatkan
6
Pasal 12 PP Nomor 37 Tahun 2012 Ayat (1) Berdasarkan hasil proses penetapan
batas DAS yang telah ditetapkan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 10,
dilakukan penyusunan Klasifikasi DAS; Ayat (2) Penyusunan Klasifikasi DAS
sebagaimana dimaksud pada Ayat (1) dilakukan untuk menentukan: a. DAS
yang dipulihkan; dan b. DAS yang dipertahankan, daya dukungnya; Ayat (3)
Penentuan Klasifikasi DAS sebagaimana dimaksud pada ayat (2) dilakukan
berdasarkan kriteria: a. Kondisi lahan; b. Kualitas, kuantitas dan kontinuitas air;
c. Sosial ekonomi; d. Investasi bagunan air; dan e. Pemanfaatan ruang wilayah.
7
peran serta masyarakat baik perorangan/pribadi maupun forum
koordinasi pengelolaan DAS 7 dan dilaksanakan oleh pemerintah
bersama dengan masyarakat.
Pelaksanaan Pengelolaan DAS telah diatur dalam Pasal 38 PP Nomor
37 tahun 2012 disebutkan kegiatan Pengelolaan DAS dilaksanakan
berdasarkan Rencana Pengelolaan DAS yang telah ditetapkan dan
menjadi acuan rencana pembangunan sektor dan rencana
pembangunan wilayah administrasi sebagaimana dimaksud di dalam
Pasal 35 Ayat (3). Pasal 39 disebutkan kegiatan Pengelolaan DAS
sebagaimana dimaksud dalam Pasal 38 dilaksanakan pada:
a. DAS yang akan dipulihkan daya dukungnya; dan
b. DAS yang akan dipertahankan daya dukungnya
Menurut penulis Pengelolaan DAS Bengawan Solo berdasarkan Pasal
39 PP Nomor 37 Tahun 2012 termasuk pada kriteria Pengelolaan DAS
yang akan dipulihkan daya dukungnya karena dewasa ini kondisi
empiris DAS Bengawan Solo termasuk salah satu DAS kritis di
Indonesia.
Berdasarkan Pasal 40 Ayat (1) PP Nomor 37 Tahun 2012, kegiatan
pengelolaan DAS yang akan dipulihkan daya dukungnya sebagaimana
dimaksud Pasal 39 huruf a, meliputi:
a. optimalisasi penggunaan lahan, sesuai dengan fungsi dan daya
dukung wilayah;
7
Forum Koordinasi Pengelolaan DAS menurut Pasal 1 Butir 8 PP Nomor 37
Tahun 2012 adalah wahana koordinasi antarinstansi penyelenggara pengelola
DAS. Forum ini bertugas membantu dalam mendukung keterpaduan
penyelenggaraan pengelolaan DAS. Berdasar Pasal 58 Forum Koordinasi
Pengelolaan DAS mempunyai fungsi untuk: (a) menampung dan menyalurkan
aspirasi masyarakat terkait pengelolaan DAS; (b) memberikan sumbangan
pemikiran dalam pengelolaan DAS; dan (c) menumbuh dan mengembangkan
peran pengawasa masyarakat dalam pengelolaan DAS. Menurut rumusan hasil
RAKERNAS Pengelolaan DAS Tahun 2012 (23 Mei 2012), Forum Koordinasi
Pengelolaan DAS harus bersifat non-struktural, independen, berbasis
komitmen bersama, bebas ego sektor, profesional dan nirlaba, mendukung
program dan kebijakan pemerintah serta beranggotakan lembaga pemerintah
dan non-pemerintah
8
b. penerapan teknik konservasi tanah dan air dilakukan dalam rangka
pemeliharaan kelangsungan daerah tangkapan air, menjaga
kualitas, kuantitas, kontinutitas dan distribusi air;
c. Pengelolaan vegetasi dilakukan dalam rangka pelestarian
keanekaragaman hayati, peningkatan produktivitas lahan, restorasi
ekosistem, rehabilitasi dan reklamasi lahan;
d. Peningkatan kepedulian dan peran serta instansi terkait dalam
pengelolaan DAS; dan/atau
e. Pengembangan
kelembagaan
pengelolaan
DAS
untuk
meningkatkan koordinasi, integrasi, dan sinergi lintas sektor dan
wilayah administrasi.
Ayat (2) Pelaksanaan kegiatan sebagimana dimaksud pada ayat (1)
dilakukan sesuai persyaratan teknis masing-masing kegiatan.
Setelah pelaksanaan pengelolaan DAS, maka tahapan berikutnya yang
harus dilakukan adalah monitoring dan evaluasi. Berdasarkan Pasal 50
PP Nomor 37 Tahun 2012 disebutkan Menteri, Gubernur atau
Bupati/Walikota melaksanakan monitoring dan evaluasi pelaksanaan
kegiatan pengelolaan DAS sesuai dengan kewenangannya. Untuk lebih
lanjut mengenai tata cara monitoring dan evaluasi pengelolaan DAS
akan diatur dengan peraturan menteri setelah berkoordinasi dengan
menteri yang terkait sebagaimana diatur dalam Pasal 51.
Dalam penjelasan Pasal 51 PP Nomor 37 Tahun 2012 yang dimaksud
dengan menteri adalah Menteri Kehutanan. Sedangkan yang
dimaksud dengan ”menteri terkait” antara lain menteri yang diserahi
tugas dan tanggung jawab di bidang Pekerjaan Umum, Dalam Negeri
dan Lingkungan Hidup.
Pembinaan dan pengawasan Pengelolaan DAS dilakukan oleh menteri
dan menteri terkait sesuai kewenangannya, gubernur dan
bupati/walikota sesuai kewenangannya sebagaimana telah diatur
dalam Pasal 52 Ayat (1) PP Nomor 37 Tahun 2012. Sedangkan
pengawasan diatur dalam Pasal 55 Ayat (1) disebutkan pengawasan
bertujuan untuk mewujudkan efektivitas dan kesesuaian pelaksanaan
pengelolaan DAS dengan peraturan perundang-undangan. Ayat (2)
menteri, gubernur dan bupati/walikota sesuai dengan kewenangannya
9
melakukan pengawasan terhadap pelaksanaan kegiatan pengelolaan
DAS. Di dalam Pasal 56 PP Nomor 37 Tahun 2012 disebutkan ketentuan
lebih lanjut mengenai tata cara pembinaan dan pengawasan kegiatan
pengelolaan DAS diatur dengan Peraturan menteri setelah
berkoordinasi dengan menteri terkait. Yang dimaksud dengan menteri
terkait menurut penjelasan antara lain menteri yang diserahi tugas dan
tanggung jawab di bidang Pekerjaan Umum, Dalam Negeri, dan
Lingkungan Hidup.
Mengenai peran serta dan pemberdayaan masyarakat telah diatur di
dalam Pasal 57 Ayat (1) PP Nomor 37 Tahun 2012 disebutkan
masyarakat dapat berperan serta dalam pengelolaan DAS; Ayat (2)
Peran serta masyarakat sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dapat
dilakukan baik perorangan maupun melalui forum koordinasi
pengelolaan DAS.
Menurut penulis istilah masyarakat ”dapat” berperan serta dalam
pengelolaan DAS memiliki interpretasi tidak tegas karena penggunaan
kata ’dapat’ dalam pasal tersebut dapat memiliki arti ’bisa dilakukan’
maupun ’tidak dilakukan’ oleh masyarakat, yang dalam hal ini adalah
masyarakat DAS. Penggunaan kata ’masyarakat dapat’ tersebut
menurut penulis akan lebih tegas dan tepat apabila menggunakan
kata ’masyarakat berkewajiban’. Alasan pemilihan kata ’berkewajiban’
dalam konteks ini didasarkan pada Penjelasan umum PP Nomor 37
Tahun 2012 bahwa tujuan pengelolaan DAS untuk mewujudkan
kesadaran, kemampuan dan partisipasi aktif instansi terkait dan
masyarakat dalam pengelolaan DAS yang lebih baik. Selain dasar di
atas hasil penelitian menunjukkan bahwa masyarakat selalu
berinteraksi langsung terhadap DAS dalam pemenuhan kehidupannya.
Pemberdayaan masyarakat juga telah diatur dalam Pasal 61 PP Nomor
37 Tahun 2012. Disebutkan pemberdayaan masyarakat bertujuan untuk
meningkatkan kapasitas dan kapabilitas, kepedulian dan peran serta
masyarakat dalam pengelolaan DAS.
Mengenai sistem informasi pengelolaan DAS telah diatur di dalam
Pasal 64 Ayat (1) PP Nomor 37 Tahun 2012 disebutkan untuk
mendukung penyelenggaran pengelolaan DAS dibangun Sistem
10
Informasi Pengelolaan DAS di setiap provinsi. Ayat (2) Sistem informasi
Pengelolaan DAS sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dibangun dan
dikelola8 oleh menteri yang menyelenggarakan urusan pemerintahan
di bidang pengelolaan DAS dengan mengikutsertakan instansi terkait.
Menurut Pasal 66 Ayat (3) PP Nomor 37 Tahun 2012, Ketentuan lebih
lanjut mengenai pembangunan dan pengelolaan sistem informasi
pengelolaan DAS diatur lebih lanjut dengan Peraturan Menteri setelah
berkoordinasi dengan menteri terkait.9
Berkaitan dengan amanat PP Nomor 37 Tahun 2012 tentang segera
dibuat Peraturan menteri, maka penulis telah menginventarisasi 9
(sembilan) peraturan menteri yang harus dibuat sebagai peraturan
pelaksanaan yang lebih operasional. Peraturan Menteri yang dimaksud
di dalam Peraturan Pemerintah Nomor 37 tahun 2012 adalah Menteri
Kehutanan setelah berkoordinasi dengan menteri terkait (masalah
Daerah Aliran Sungai). Di samping itu, ada satu amanat untuk
membuat Keputusan Presiden tentang Klasifikasi Daerah Aliran
Sungai.
Setelah mencermati isi Pasal demi Pasal yang diatur dalam PP Nomor
37 Tahun 2012, maka penulis dapat merangkum bahwa sesuai dengan
pengertian DAS sebagaimana disebutkan dalam Pasal 1 butir 1 PP.
Nomor 37 Tahun 2012, DAS adalah suatu wilayah daratan yang
merupakan suatu kesatuan dengan sungai dan anak-anak sungainya,
yang berfungsi menampung, menyimpan dan mengalirkan air yang
berasal dari curah hujan ke danau atau ke laut secara alami, yang batas
di darat merupakan pemisah topografis dan batas di laut sampai
dengan daerah perairan yang masih terpengaruh aktivitas daratan.
Oleh karena itu, DAS tidak bisa dimaknai dan dikelola secara terkotakkotak sesuai dengan kewenangan wilayah administratif, tetapi
8
Yang dimaksud dengan ’dibangun dan dikelola’ berdasarkan Penjelasan Pasal
64 Ayat (2) PP Nomor 37 Tahun 2012 yaitu menghimpun data dan informasi
dari berbagai pihak untuk dirumuskan ke dalam Sistem Informasi Pengelolaan
DAS dan selanjutnya dikelola sebagai pusat informasi pengelolaan DAS.
9
Yang dimaksud dengan ’menteri terkait’ dalam penjelasan Pasal 66 Ayat (3)
PP Nomor 37 tahun 2012 antara lain Menteri yang diserahi tugas dan tanggung
jawab di bidang Pekerjaan Umum, Dalam Negeri, dan Lingkungan Hidup.
11
merupakan kesatuan utuh dari hulu sampai dengan hilir dengan
prinsip ekoregion karena menurut Pasal 1 angka 29 UUPPLH-2009,
yang dimaksud dengan ekoregion adalah wilayah geografis yang
memiliki kesamaan ciri iklim, tanah, air, flora, dan fauna asli, serta pola
interaksi manusia dengan alam yang menggambarkan integritas
sistem alam dan lingkungan hidup. Dengan melihat prinsip ekoregion,
pengelolaan lingkungan hidup tidak bisa dibatasi secara ketat oleh
pendekatan administratif wilayah, karena memiliki ciri-ciri ekologis
yang melampaui batas-batas wilayah administrasi tersebut (beyond
the administrative boundary).10
Di dalam peraturan pemerintah tersebut dijelaskan Daerah Aliran
Sungai yang tersebar di seluruh wilayah Indonesia, merupakan
kesatuan ekosistem alami yang utuh dari hulu hingga hilir beserta
kekayaan sumber daya alam dan sumber daya buatan. DAS wajib
dikembangkan dan didayagunakan secara optimal dan berkelanjutan
melalui upaya pengelolaan DAS bagi sebesar-besarnya kesejahteraan
seluruh rakyat Indonesia. Tujuan pengelolaan DAS untuk mewujudkan
kesadaran, kemampuan dan partisipasi aktif instansi terkait dan
masyarakat DAS, mewujudkan kondisi lahan yang produktif sesuai
dengan daya dukung dan daya tampung lingkungan DAS secara
berkelanjutan, mewujudkan kuantitas, kualitas dan keberlanjutan
ketersediaan air yang optimal menurut ruang dan waktu serta
mewujudkan peningkatan kesejahteraan masyarakat.
Pengelolaan DAS merupakan upaya yang sangat penting sebagai
akibat penurunan kualitas lingkungan DAS di Indonesia yang
diakibatkan pengelolaan sumber daya alam yang tidak ramah
lingkungan dan meningkatnya ego-sektoral dan ego-kewilayahan
akibat kewenangan yang dimiliki secara otonomi oleh masing-masing
daerah kabupaten/kota. Konsepsi pengelolaan DAS di dalam PP
Nomor 37 Tahun 2012 adalah pendekatan sistem yang terencana,
proses manajemen dan keterkaitan aktivitas antarsektor, antarwilayah
administrasi dan masyarakat secara terpadu serta penanganannya
dilakukan secara utuh mulai dari hulu sampai hilir. Menurut penulis
10
Sudharto P. Hadi, Dimensi Lingkungan Perencanaa Pembangunan, Gajah
Mada University Press, Yogyakarta, 2005, hlm. 117.
12
konsepsi pengelolaan DAS tersebut sudah mewujudkan upaya
keterpaduan antara stakeholder yang terkait dengan pengelolaan DAS
sebagai dasar penyusunan rencana pembangunan antar sektor dan
rencana pembangunan wilayah pada setiap daerah provinsi dan
kabupaten/kota.
Untuk mengelola DAS Bengawan Solo strategi kebijakan yang harus
dilakukan perlu adanya penyesuaian regulasi yang mendukung
pengelolaan DAS secara utuh, karena mempunyai areal lintas wilayah
administrasi provinsi dan penggunaan lintas institusi. Sehingga dengan
berlakunya Peraturan Pemerintah yang baru yaitu PP Nomor 37 Tahun
2012 tentang Pengelolaan Daerah Aliran Sungai, maka perlu adanya
sosialisasi PP Nomor 37 Tahun 2012 ke semua Kementerian dan
pemerintah daerah baik provinsi maupun kabupaten/kota untuk
mempersiapkan penyusunan peraturan pelaksanaan yang berupa
Peraturan Daerah yang bersifat mengatur dan mengikat semua
instansi atau lembaga pemerintah, swasta dan masyarakat untuk
melakukan pengelolaan DAS yang bersifat integratif pada kawasan
DAS.
Keberadaan produk Peraturan Daerah (Perda) harus selaras dengan
produk hukum nasional, sehingga produk hukum daerah yang
dihasilkan adalah jawaban terhadap kebutuhan masyarakat. Moh.
Mahfud MD menyebutnya produk hukum yang berkarakter responsif
populistik. Produk hukum yang berkarakter responsif populistik adalah
produk hukum yang mencerminkan rasa keadilan dan memenuhi
harapan masyarakat. Dalam proses pembuatannya, produk hukum
tersebut memberikan peranan besar dan partisipasi penuh kelompokkelompok sosial atau individu di dalam masyarakat. Hasilnya bersifat
responsif terhadap tuntutan-tuntutan kelompok sosial atau individu
dalam masyarakat.11
Produk hukum yang berkarakter responsif pernah diungkapkan oleh
Thomas Aquinas yang dalam definisinya mengungkapkan bahwa
hukum adalah tatanan rasio yang berfungsi menegakkan kebaikan
11
Moch. Mahfud MD, Politik Hukum di Indonesia, Rajawali Press, Jakarta, 2010,
hlm. 25.
13
bersama yang dibuat dan diumumkan secara resmi oleh orang yang
memiliki kepedulian pada komunitas.12 Lebih lanjut dikatakan, hukum
hanya layak dipatuhi karena membela kepentingan masyarakat.
Tuntutan ini secara eksplisit ditegaskan Aquinas, tetapi juga secara
implisit dikatakan dalam frase ’orang yang memiliki kepedulian pada
komunitas’. Dari definisi di atas, artinya pemerintah menjadi
pemerintah dan karenanya berhak membuat hukum negara dan
bahkan berhak memaksakannya, karena pemerintah pada esensinya
hadir dan berada demi kepentingan rakyat.13
Dengan mencermati fakta di atas, maka menurut penulis penting
untuk memadukan prinsip ekoregion ke dalam penyusunan rencana
pengelolaan DAS secara kewenangan wilayah administratif,
sebagaimana disampaikan oleh Ketua Pusat Pengelolaan Ekoregion
Jawa (PPEJ) bahwa sesuai dengan amanat Undang-undang Nomor 32
tahun 2004 tentang Pemerintahan Daerah dan Undang-undang Nomor
32 Tahun 2009 tentang Perlindungan dan Pengelolaan Lingkungan
Hidup ada kewenangan pemerintah baik pusat maupun daerah
(Provinsi, Kabupaten/kota) untuk melakukan pengelolaan lingkungan
hidup. Harapan ketua PPEJ dengan pembagian kewenangan yang
diamanatkan, maka peran pemerintah daerah (provinsi,
Kabupaten/Kota) harus optima. Supaya optimal harus punya program
yang terukur. Di samping itu, Pemerintah Kabupaten/Kota
sebagaimana amanat UUPPLH harus mengalokasikan dana untuk
perlindungan dan pengelolaan lingkungan hidup karena urusan
lingkungan hidup merupakan urusan wajib sebagaimana mandat
Undang-undang Pemerintah Daerah.14
III.
KELEMBAGAAN PENGELOLAAN DAS BENGAWAN SOLO TERPADU
Pengelolaan DAS tidak terlepas dari banyak pihak seperti pembuat
peraturan (regulator), pengelola (operator), pengembang (developer)
12
Andrea Ata Ujan, Filsafat Hukum; Membangun Hukum, Membela Keadilan,
Kanisius, Yogyakarta, 2009, hlm. 54.
13
Ibid., hlm. 55.
14
Wawancara pribadi dengan Barlin, S.H.,MS. – Ketua PPEJ pada tanggal 20
Juli 2011 di Kusuma Sahid Prince Hotel Jalan Sugiyopranoto Surakarta.
14
dan pengguna atau pengambil manfaat (user), sehingga kegiatan yang
dilakukan cenderung menjadi kompleks dan tumpang tindih. Untuk
mengantisipasi hal-hal tersebut diperlukan upaya bersama dengan
menerapkan pendekatan one river, one plan, and multi management
sehingga keterpaduan dalam fungsi management yang berlaku umum
seperti fungsi perencanaan (planning), fungsi pengorganisasian
(organizing), fungsi pelaksanaan (operating), fungsi koordinasi
(coordinating) dan fungsi pengendalian (controlling) dapat terwujud. 15
Mengkaji permasalah kelembagaan pengelolaan DAS Bengawan Solo,
penulis merekonstruksi eksisting kelembagaan pengelolaan DAS
Bengawan Solo sebagai solusi akan permasalah kelembagaan yang
ada. Model Kelembagaan Terpadu Pengelolaan DAS Bengawan Solo
(Integrated Institutional Model of Bengawan Solo Rivershed
Management) atau yang penulis namakan IIN MO NGASO, diarahkan
pada sistem One River, One Plan and Multi Management dengan
menggunakan pendekatan kolaborasi kelembagaan antara lembaga
formal dan lembaga non-formal dengan menitikberatkan pada peran
serta masyarakat DAS Bengawan Solo. Kelembagaan pengelolaan DAS
Bengawan Solo akan dikoordinir oleh Pusat Pengelolaan Ekoregion
Jawa (PPEJ) Kementerian Lingkungan Hidup yang memiliki
kompetensi perlindungan dan pengelolaan lingkungan hidup di
wilayah Pulau Jawa yang merupakan tugas, pokok dan fungsi dari
Pusat Pengelolaan Ekoregion Jawa berdasarkan Undang-undang
Nomor 39 Tahun 2008 tentang Kementerian Negara serta Peraturan
Menteri negara Lingkungan Hidup Nomor 16 Tahun 2010 tentang
Organisasi dan Tata Kerja Kementerian Lingkungan Hidup. Sedangkan
untuk mengakomodir keterlibatan masyarakat DAS Bengawan Solo
dalam membuat perencanaan umum (grand design), akan difasilitasi
dan disalurkan melalui Forum Peduli DAS Solo untuk kemudian
diteruskan kepada koordinator.
15
Mohammad Bisri, Pengelolaan Daerah Aliran Sungai, 2009, Hal. 30.
15
IV.
PENUTUP
Kerjasama lintas sektor dan antar wilayah di dalam DAS Bengawan
Solo sangat mendesak untuk segera dilakukan karena tingkat
kerusakan semakin meningkat dari tahun ke tahun. Oleh karena itu
perlu segera diwujudkan Strategi Implementasi PP No. 37 Tahun 2012
tentang Pengelolaan DAS yang terdiri dari:
1.
2.
3.
Rencana Pengelolaan DAS Bengawan Solo Terpadu (RPDAST)
yang merupakan panduan di dalam pengelolaan DAS Bengawan
Solo.
Peraturan Daerah tentang Pengelolaan Daerah Aliran Sungai
Terpadu oleh masing-masing Pemerintah Daerah (Provinsi dan
Kabupaten/Kota) sebagai pengikat sektor dan kewilayahan di
suatu daerah.
Sosialisasi Peraturan Pemerintah Nomor 37 Tahun 2012 tentang
Pengelolaan DAS oleh BPDAS Solo Bekerjasama dengan
perguruan tinggi setempat kepada seluruh stakeholders yang
terkait dengan Pengelolaan DAS.
DAFTAR RUJUKAN
Ata Ujan, Andrea. 2009 Filsafat Hukum; Membangun Hukum, Membela
Keadilan. Kanisius, Yogyakarta.
Bisri, Mohammad. 2009. Pengelolaan Daerah Aliran Sungai. Malang : CV
Asrori.
Hadi, Sudharto. P. 2005. Dimensi Lingkungan Perencanaan
Pembangunan. Yogyakarta : Gadjah Mada University Press.
Mahfud MD, Moch. 2010. Politik Hukum di Indonesia. Jakarta : Rajawali
Press
Nonet, Phillipe and Phillip Selznick. 2007. Hukum Responsif. Bandung :
Nusa Media.
Peraturan Pemerintah Nomor 37 Tahun 2012 Tentang Pengelolaan
Daerah Aliran Sungai.
Rahardjo, Satjipto. 1997. Pembangunan Hukum Nasional dan Perubahan
Sosial, Identitas Hukum Nasional, Yogyakarta : Fakultas Hukum
Univ. Islam Indonesia.
16
Tanya, Bernard L. Yoan N. Simanjuntak dan Markus Y. Hage. 2010.
Teori Hukum Strategi Tertib Manusia Lintas Ruang dan Generasi.
Surabaya : Genta Publishing.
Undang-undang Nomor 41 Tahun 1999 Tentang Kehutanan.
Undang- undang Nomor 32 Tahun 2004 Tentang Pemerintahan
Daerah.
Undang- undang Nomor 32 Tahun 2009 Tentang Perlindungan dan
Pengelolaan Lingkungan Hidup.
17
HUBUNGAN ANTARA LUAS HUTAN PINUS DAN ALIRAN DASAR DI
SUB DAS KEDUNG BULUS, KEBUMEN1
Oleh :
Irfan Budi Pramono2* dan Wahyu Wisnu Wijaya2
2
Balai Penelitian Teknologi Kehutanan Pengelolaan Daerah Aliran Sungai
Jl. A. Yani PO Box 295 Pabelan.
Telepon/Fax.: (+62 271) 716709/716959
Email: [email protected]
*E-mail: [email protected]
ABSTRAK
Variasi luas penutupan hutan pinus dalam suatu DAS akan menghasilkan
respon hidrologi yang berbeda sehingga mempengaruhi kuantitas dan
kontinuitas aliran. Aliran dasar merupakan salah satu komponen penting
sebagai indikator kontinuitas aliran pada saat musim kering. Penelitian
dilakukan untuk mengetahui hasil air musim kemarau atau aliran dasar
berdasarkan variasi luas hutan pinus dalam Sub DAS Kedung Bulus,
Kebumen. Aliran dasar dihitung melalui pengukuran langsung dan untuk
mengetahui hubungannya dengan luas hutan didasarkan pada trend
analisis. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa semakin tinggi
persentase penutupan hutan pinus dalam suatu sub DAS maka debit
musim kemaraunya makin besar. Selama musim kemarau, % luas hutan
dalam suatu Sub DAS memberikan pengaruh sebesar 66,8 %, sehingga
33,2 % dipengaruhi oleh faktor lain. Faktor geologi memegang peranan
penting dalam menghasilkan aliran dasar.
Kata kunci : variasi luas, hutan pinus, aliran dasar, debit musim kemarau
1
Disampaikan dalam Seminar Nasional Hasil Penelitian Teknologi Pengelolaan
DAS oleh Balai Penelitian Teknologi Kehutanan Pengelolaan DAS, Kementerian
Kehutanan, pada tanggal 12 juni 2013.
18
I. PENDAHULUAN
Keberadaan hutan dalam suatu daerah aliran sungai (DAS) mempunyai
banyak manfaat bagi kehidupan. Salah satu manfaat dari hutan yakni
sebagai pengatur tata air (fungsi hidrologi). Tata air merupakan
fenomena yang menggambarkan proses perolehan, kehilangan, dan
penyimpanan air tanah dalam kondisi alami (Pudjiharta, 2008). Dalam
siklus hidrologi, hutan berperan sebagai penahan air hujan untuk
kemudian disimpan dan didistribusikan secara berkesinambungan
sepanjang waktu. Hutan sebagai kesatuan dari tanah, akar, dan
serasah berfungsi sebagai spon (sponge) yang menyimpan air selama
musim penghujan dan mengeluarkannya selama musim kemarau
(Bruijnzeel, 1990). Selain itu, keberadaan tajuk hutan dapat
mengurangi laju air hujan menuju lantai hutan, yang berpengaruh pada
semakin sedikitnya air hujan yang lolos menjadi aliran permukaan,
sehingga air hujan yang masuk dapat tersimpan lebih lama.
Adanya hutan dalam suatu DAS merupakan salah satu solusi dari
permasalahan sumberdaya air yang banyak muncul dan dirasakan
selama ini terutama yang berkaitan dengan waktu dan penyebaran
aliran air (Asdak, 1995). DAS yang tidak berhutan mempunyai
kemampuan yang kurang optimal dalam menyimpan air pada musim
penghujan, sehingga masukan air dari hujan pada daerah hulu suatu
DAS sebagian menjadi aliran permukaan.
Menurut Hewlett dan Nutter dalam Pudjiharta (2008), daerah hulu
yang tertutup hutan dengan baik maka 80-85 % total aliran yang
dihasilkan berasal dari aliran dasar dan selebihnya berasal dari aliran
langsung. Aliran langsung merupakan jumlah aliran air dari air hujan di
atas permukaan ditambah aliran dari air hujan yang terjadi di sungai.
Sedangkan aliran dasar adalah aliran yang berasal dari air tanah
(groundwater outflow). Aliran dasar dan aliran langsung
menggambarkan respon hidrologi dari DAS dalam memproses air
hujan yang masuk. Disamping itu, aliran dasar merupakan salah satu
komponen penting sebagai indikator kontinuitas aliran, karena pada
saat musim kering aliran sungai hanya terdiri atas aliran dasar.
19
Pengetahuan mengenai besarnya aliran dasar sangat penting untuk
perencanaan dan pengelolaan sumber daya air terutama pada saat
musim kemarau. Informasi ini dapat digunakan, misalnya untuk
memperkirakan sumber daya air yang tersedia, mengetahui tingkat
abstraksi air dari sungai, dan kebutuhan air lingkungan (Mazvimavi et
al., 2004). Beberapa penelitian menyebutkan bahwa besarnya aliran
dasar dipengaruhi oleh faktor geologi dari DAS (Institute of Hydrology,
1980). Kemudian Lacey dan Grayson (1998) menyatakan bahwa
ukuran DAS, kemiringan dan kerapatan drainase berpengaruh
terhadap besarnya aliran dasar. Sedangkan Mazvimavi et al. (2004)
menyatakan bahwa aliran dasar dipengaruhi oleh besarnya rata-rata
hujan tahunan, rata-rata evapotranspirasi tahunan, kelerengan DAS,
kerapatan drainase, perbedaan struktur batuan, dan perbedaan jenis
penutupan lahan.
Suatu DAS dengan jenis penutupan hutan yang berbeda akan
menghasilkan respon hidrologi yang berbeda dan mempengaruhi
kuantitas dan kontinuitas aliran. Sebagaimana diketahui bahwa hutan
pinus salah satu jenis hutan berdaun jarum, merupakan luasan hutan
terbesar kedua yang terdapat di Pulau Jawa setelah hutan jati
(Perhutani dalam Pramono dan Adi, 2006). Hutan pinus diduga
menggunakan air lebih banyak dibandingkan dengan jenis tanaman
hutan lainnya. Hasil penelitian Coster (1938), Dumairi (1992), dan
Asdak (1995) memperkirakan kebutuhan air pada penggunaan lahan
untuk hutan daun jarum sebesar 1.250 mm/tahun dan hutan daun lebar
sebesar 1.000 mm/tahun. Masyarakat di beberapa daerah yang
terdapat hutan pinus seperti di Banyumas, Purworejo dan Tegal, juga
berpendapat sama yakni mengeluhkan kekurangan air terutama
karena keberadaan hutan pinus.
Berdasarkan hal tersebut di atas, keberagaman luasan hutan pinus
dalam suatu DAS diduga mempengaruhi aliran yang terjadi. Untuk
mengetahui seberapa jauh hutan pinus mempengaruhi ketersediaan
air pada musim kemarau maka dilakukan pengukuran debit musim
kemarau yang keluar dari berbagai luas hutan pinus dalam suatu DAS.
Penelitian ini bertujuan mengetahui hasil air musim kemarau atau
20
aliran dasar (baseflow) dari berbagai variasi luas hutan pinus dalam
Sub DAS Kedung Bulus, Kebumen.
II. BAHAN DAN METODE
A. Lokasi dan Waktu Penelitian
Penelitian dilakukan di Sub DAS Kedung Bulus yang secara
administratif termasuk wilayah Desa Somagede, Kecamatan Sempor,
Kabupaten Kebumen, Jawa Tengah. Wilayah Sub DAS Kedung Bulus
sebagian besar didominasi oleh penutupan lahan berupa hutan pinus
yang merupakan kawasan hutan yang dikelola oleh Perum Perhutani
RPH Somagede, BKPH Karanganyar, KPH Kedu Selatan Unit I Jawa
Tengah. Penelitian dilakukan pada tahun 2012 khususnya pada musim
kemarau. Pengukuran debit musim kemarau dimulai pada bulan Juli
sampai Agustus, karena hujan terakhir terjadi pada bulan Mei dan
bulan September beberapa Sub DAS sudah tidak ada alirannya lagi.
B. Bahan dan Alat
Bahan dan peralatan yang digunakan yaitu stasiun pengamat arus
sungai (SPAS), alat pengukur debit kecil seperti gelas ukur, stop watch,
citra dan peta dasar untuk melihat variasi penutupan luas hutan pinus
dari 13 % sampai 95 %.
C. Metode Penelitian
Metode yang dilakukan adalah pendekatan dengan Sub DAS. Sub DAS
yang dipilih adalah Sub DAS Kedung Bulus. Sub DAS ini terdiri dari subsub DAS Silengkong, Watujali, Tapak Gajah, Pasuruhan, Kedung Pane,
Kali Poh, Lowereng, dan sub-sub DAS Kali Kemit. Sub-sub DAS
tersebut mempunyai luas hutan pinus yang bervariasi mulai dari 13 %
sampai dengan 95 % dari luas DAS. Pengukuran debit sungai dilakukan
secara langsung dengan menggunakan peralatan berupa gelas ukur
1000 ml dan stop watch. Debit musim kemarau ditampung ke dalam
gelas ukur kemudian dicatat waktunya serta volume air yang
tertampung. Pengukuran dilakukan sebanyak 5 kali kemudian dihitung
21
rata-ratanya sehingga akan diperoleh debit aliran dalam satuan
liter/detik. Pengukuran debit dilakukan pada bulan Juli sampai
Agustus 2012 karena pada bulan-bulan tersebut sudah tidak terjadi
hujan sehingga debit yang dihasilkan betul-betul merupakan aliran
dasar (baseflow). Hasil pengukuran debit disandingkan dengan luas
hutan pinus yang diperoleh dari peta penutupan lahan untuk
kemudian dilakukan trend analisis. Pengukuran luas hutan dinyatakan
dalam satuan km2 sehingga debit kemarau yang digunakan dalam
analisis merupakan debit dalam satuan liter/detik/km2.
D. Profil Lokasi Penelitian
Hutan di lokasi penelitian didominasi oleh hutan pinus. Tanaman jati
hanya ditanam di batas-batas kepemilikan lahan di areal milik rakyat. Di
areal penelitian ini telah dipasang SPAS (Stasiun Pengukur Arus
Sungai) di 7 Sub DAS, yaitu Sub DAS Silengkong, Watujali, Tapak Gajah,
Pasuruan, Kedung Pane, Kali Poh, dan Sub DAS Lowereng. Sebetulnya
masih ada dua Sub DAS lagi di bawah SPAS Lowereng yaitu SPAS Kali
Kemit dan Kedung Bulus. Namun di SPAS Kali Kemit dan Kedung Bulus
sudah tidak ada alirannya lagi.
Gambar 1. Aliran Sub DAS Kedung Bulus
Di areal penelitian, luas penutupan hutan bervariasi dari 13 % sampai 95
% dari luas DAS. Prosentase luas hutan dikurangi dengan menambah
luas DAS, namun sampai SPAS Kedung Bulus, luas DAS tidak bisa
ditambah lagi karena aliran sungai sudah dibendung dan dialirkan
keluar sub DAS untuk irigasi. Prosentase penutupan lahan di Sub DAS
Kedung Bulus dapat dilihat pada Tabel 1.
22
Tabel 1. Penutupan lahan di setiap Sub DAS Kedung Bulus
Sub DAS
Silengkong
Watujali
Tapak Gajah
Pasuruan
Kedung Pane
Kali Poh
Lowereng
Kali Kemit
Kedung Bulus
Luas
(km2)
1,17
1,03
0,55
0,80
3,11
0,45
11,61
22,75
37,95
Hutan
(%)
52
49
13
20
31
95
33
37
35
Kebun
(%)
23
28
25
33
30
0
23
24
29
Tegal
(%)
25
23
58
44
37
5
32
18
24
Sawah
(%)
0
0
1
2
1
0
10
8
5
Pemukiman
(%)
0
0
3
2
2
0
1
12
8
Penutupan lahan di Sub DAS Kedung Bulus terdiri dari beberapa kelas
penutupan yakni hutan, kebun, tegal, sawah, dan permukiman. Kelas
penutupan hutan merupakan kelas penutupan dominan dengan tipe
vegetasi pinus. Penutupan lahan lainnya adalah kebun dan tegal.
Perincian dan penyebaran penutupan lahan dapat dilihat pada pada
Gambar 2.
Gambar 2. Peta penutupan lahan Sub DAS Kedung Bulus
23
III. HASIL DAN PEMBAHASAN
A.
Hujan Bulanan
Hujan merupakan sumber dari semua air yang mengalir di sungai dan
tempat penampungan lain, baik di atas maupun di bawah permukaan
tanah. Jumlah dan variasi debit sungai tergantung pada tebal hujan,
intensitas hujan, dan lama hujan serta distribusi dari curah hujan
(Hadisusanto, 2010). Pada saat musim penghujan, karakteristik hujan
tersebut cenderung besar sehingga menghasilkan aliran permukaan
(debit) yang tinggi. Namun pada saat musim kemarau, debit sungai
cenderung kecil bahkan bisa nol karena tidak ada aliran sama sekali.
Salah satu indikator musim kemarau ditunjukkan oleh kejadian hujan
yang terjadi pada suatu daerah. Dari pencatatan data hujan pada
stasiun klimatologi silengkong di Sempor menunjukkan bahwa, musim
kemarau di Sempor mulai pada bulan Juni sampai bulan September
seperti yang terlihat pada Gambar 3. Dari Gambar 3 terlihat bahwa
mulai bulan Juni sampai September tidak terjadi hujan. Walaupun
bulan Agustus menunjukkan ada hujan sebesar 3 mm, namun
pengaruh hujan tersebut tidak sampai menimbulkan aliran, curah
hujan tersebut hanya sedikit membasahi tanah yang sudah kering
karena dua bulan sebelumnya tidak turun hujan.
1000
Curah Hujan (mm)
800
600
400
200
0
1
2
3
4
5
6
7
8
9
10
11
12
Bulan
Gambar 3. Curah Hujan Bulanan tahun 2012 di Silengkong
24
Besarnya curah hujan pada suatu DAS mempengaruhi aliran dasar
yang dihasilkan. Di lokasi penelitian, musim kemarau yang terjadi pada
bulan Juni sampai dengan September 2012 dijadikan sebagai periode
pengukuran aliran dasar. Pada saat musim kemarau diasumsikan
bahwa tidak ada hujan yang jatuh pada suatu DAS sehingga aliran yang
ada merupakan aliran dasar yang akan diukur untuk mengetahui
kondisi hidrologi DAS pada saat itu. Pengukuran aliran dasar ini dapat
digunakan sebagai indikator ketersediaan air DAS karena pada saat
musim kemarau, variabel hujan sangat berpengaruh terhadap
kurangnya pasokan air di DAS tersebut. Hal ini dikemukakan oleh
Mazvimavi et al. (2004) bahwa, indeks aliran dasar mempunyai
hubungan yang positif dengan hujan tahunan yakni ditunjukkan
dengan besarnya koefisien korelasi (r) sebesar 0,71. Nilai koefisien
korelasi (r) sebesar 0,71 menurut Sarwono (2006) dapat di
interpretasikan bahwa terdapat hubungan korelasi yang kuat antara
indeks aliran dasar dan hujan tahunan. Yamin dan Kurniawan (2009),
bahkan menyebut bahwa nilai 0,71 menggambarkan hubungan yang
sangat kuat. Oleh karena itu, dapat dikatakan bahwa apabila curah
hujan naik maka akan cenderung menaikkan aliran dasarnya dan
apabila curah hujan turun maka akan cenderung menurunkan aliran
dasarnya sehingga pengukuran aliran dasar pada musim kemarau
merupakan representasi kondisi hidrologis DAS pada saat itu. Hal ini
sangat berguna bagi pengelola untuk mengetahui ketersediaan air
pada suatu DAS.
B.
Debit aliran dasar (debit musim kemarau)
Pengukuran debit aliran dasar pada saat musim kemarau berbeda
dengan pengukuran pada saat musim penghujan. Pada musim
penghujan, untuk mengetahui debit aliran dasar perlu diketahui
besarnya debit aliran langsung yang disebabkan oleh adanya hujan,
sehingga dapat dipisahkan antara debit aliran langsung, aliran antara,
dan aliran dasarnya. Namun, pada saat musim kemarau dikarenakan
tidak terjadi hujan, maka debit sungai yang cenderung kecil
merupakan debit aliran dasar pada sungai tersebut.
Pengukuran aliran dasar dimulai pada bulan Juli sampai bulan Agustus.
Bulan September tidak dilakukan pengukuran karena beberapa Sub
25
DAS sudah tidak ada alirannya lagi. Hasil pengukuran debit pada
masing-masing Sub DAS ditampilkan dalam tabel 2.
Tabel 2. Hasil pengukuran debit aliran dasar
Debit (lt/dt/km2)
Tanggal
Pengukuran
Silengkong
(52%)
Watujali
(49%)
Pesuruhan
(20%)
Tapak
Gajah
(13%)
Kedung
pane
(31%)
Kali
poh
(95%)
17 Juli 2012
0,949
0,816
0,363
0,364
0,190
0,900
18 Juli 2012
1,026
0,704
0,394
0,400
0,359
0,840
19 Juli 2012
0,769
0,752
0,375
0,382
0,185
0,850
20 Juli 2012
0,718
0,772
0,369
0,418
0,198
0,890
0,397
0,233
0,125
0,169
0,128
0,236
0,333
0,200
0,126
0,142
0,106
0,214
0,396
0,212
0,084
0,118
0,081
0,198
7 Agustus
2012
8 Agustus
2012
9 Agustus
2012
Hubungan antara debit aliran dasar dengan % luas hutan dapat dilihat
dari besarnya nilai koefisien determinasi (R2). Nilai koefisien
determinasi mempunyai arti bahwa besarnya variasi dari variabel Y
(variabel terikat) yang dapat diterangkan dengan variabel X (variabel
bebas), sedang sisanya dipengaruhi oleh variabel-variabel yang lain.
Dalam hal ini debit aliran dasar merupakan variabel Y dan % luas hutan
merupakan variabel X. Berdasarkan pengukuran pada bulan Juli
hubungan antara luas hutan pinus dan aliran dasar mempunyai
koefisien determinasi (R2) bervariasi dari 0,672 sampai 0,696 yang
terlihat pada Gambar 4 sampai 7. Hal ini berarti bahwa hubungan
antara % luas hutan dengan aliran dasarnya dapat dilihat dari besarnya
pengaruh perbedaan % dari luas hutan terhadap aliran dasar sebesar
67,2 % sampai 69,6 % pada bulan Juli.
26
Aliran dasar (lt/dt/km2)
1,0
0,8
0,6
y = -0,0001x2 + 0,0225x - 0,0431
R² = 0,6862
0,4
0,2
0,0
0
20
40
60
80
Luas Hutan (% luas DAS)
100
Aliran Dasar (lt/dt/km2)
Gambar 4. Hubungan antara luas hutan pinus dan debit aliran
dasar di Sub DAS Kedung Bulus tanggal 17 Juli 2012
1,2
1,0
0,8
0,6
0,4
0,2
0,0
y = -0,0001x2 + 0,0221x + 0,0264
R² = 0,6966
0
20
40
60
80
100
Luas Hutan (% Luas DAS)
Aliran Dasar (lt/dt/km2)
Gambar 5. Hubungan antara luas hutan pinus dan debit aliran
dasar di Sub DAS Kedung Bulus tanggal 18 Juli 2012
1,000
0,800
0,600
y = -7E-05x2 + 0,0146x + 0,0948
R² = 0,6726
0,400
0,200
0,000
0
20
40
60
80
Luas Hutan (% Luas DAS)
100
Gambar 6. Hubungan antara luas hutan pinus dan debit aliran
dasar di Sub DAS Kedung Bulus tanggal 19 Juli 2012
27
Aliran Dasar (lt/dt/km2)
1,000
0,800
0,600
0,400
y = -4E-05x2 + 0,0116x + 0,1569
R² = 0,6818
0,200
0,000
0
20
40
60
80
Luas Hutan (% Luas DAS)
100
Gambar 7. Hubungan antara luas hutan pinus dan debit aliran
dasar di Sub DAS Kedung Bulus tanggal 20 Juli 2012
Aliran Dasar (lt/dt/km2)
Pada bulan Agustus, hubungan antara luas hutan pinus dan aliran
dasar masih menunjukkan pola yang sama seperti pada bulan Juli
namun dengan nilai koefisien determinasi (R2) lebih kecil yaitu antara
0,480 sampai 0,514 seperti yang terlihat pada Gambar 8 sampai
dengan 10. Hal ini berarti, pengaruh perbedaan % luas hutan terhadap
aliran dasarnya berkurang antara 48 % sampai 51,4 %. Sisanya terdapat
faktor lain yang berpengaruh terhadap besarnya aliran dasar. Dapat
diketahui bahwa pada bulan Agustus 2012, sudah tidak terjadi hujan
selama 2 bulan, sehingga dapat disimpulkan bahwa selama musim
kemarau besarnya aliran dasar cenderung mengalami penurunan. Hal
ini terbukti bahwa pada saat bulan September 2012, beberapa Sub DAS
tidak terdapat aliran lagi.
0,500
0,400
0,300
0,200
y = -7E-05x2 + 0,0087x + 0,0059
R² = 0,4804
0,100
0,000
0
20
40
60
80
Luas Hutan (% Luas DAS)
100
Gambar 8. Hubungan antara luas hutan pinus dan debit aliran
dasar di Sub DAS Kedung Bulus tanggal 7 Agustus
2012
28
Aliran Dasar (lt/dt/km2)
0,400
0,300
0,200
y = -5E-05x2 + 0,0068x + 0,0197
R² = 0,4881
0,100
0,000
0
20
40
60
80
Luas Hutan (% Luas DAS)
100
Aliran Dasar (lt/dt/km2)
Gambar 9. Hubungan antara luas hutan pinus dan debit aliran
dasar di Sub DAS Kedung Bulus tanggal 8 Agustus
2012
0,500
0,400
0,300
0,200
y = -8E-05x2 + 0,0109x - 0,0751
R² = 0,5141
0,100
0,000
0
20
40
60
80
100
Luas Hutan (% Luas DAS)
Gambar 10. Hubungan antara luas hutan pinus dan debit aliran
dasar di Sub DAS Kedung Bulus tanggal 9 Agustus
2012
Dari 7 ulangan pengukuran yang dilakukan di Sub DAS Kedung Bulus
kemudian dihitung rata-rata debit aliran dasarnya yang ditampilkan
dalam tabel 3.
Tabel 3. Rata-rata debit aliran dasar (musim kemarau) di Sub DAS
Kedung Bulus
% Luas Hutan
Sub-sub
DAS
Rata- rata
Debit
(lt/dt/km2)
Silengkong
(52%)
Watu
jali
(49%)
Pesuruh
an (20%)
Tapak
Gajah
(13%)
Kedung
pane
(31%)
Kali poh
(95%)
0,655
0,527
0,262
0,285
0,178
0,590
29
Aliran Dasar (lt/dt/km2)
Dari tabel di atas kemudian dapat digambarkan ke dalam grafik untuk
mengetahui besarnya pengaruh perbedaan % luas hutan terhadap
besarnya debit aliran dasar (musim kemarau) yang dapat dilihat pada
gambar 11.
0,800
0,600
0,400
y = -8E-05x2 + 0,0139x + 0,0265
R² = 0,668
0,200
0,000
0
20
40
60
80
Luas Hutan (% Luas DAS)
100
Gambar 11. Hubungan antara luas hutan pinus dan debit aliran
dasar di Sub DAS Kedung Bulus saat musim
kemarau.
Berdasarkan pada gambar 11 dapat disimpulkan bahwa, selama musim
kemarau, % luas hutan dalam suatu Sub DAS memberikan pengaruh
sebesar 66,8 %, sehingga 33,2 % dipengaruhi oleh faktor lain. Pada luas
hutan pinus 13 % dari luas DAS menghasilkan debit sebesar 0,285
liter/detik/km2, sedangkan pada luas hutan pinus 95 % menghasilkan
debit sebesar 0,590 liter/detik/km2. Dari data tersebut juga terlihat
bahwa fungsi hutan pinus masih dapat mengalirkan air pada musim
kemarau dan debitnya cenderung tinggi pada daerah yang % luas
hutan pinusnya tinggi. Namun, dalam kasus ini semakin luas hutan
pinus tidak selalu diikuti dengan kenaikan debit aliran dasar per satuan
luas DAS (liter/detik/km2). Hal ini terlihat pada luas hutan 20 % dan 31 %
justru mengalami penurunan seperti yang terjadi di Sub DAS
Pesuruhan dan Kedung Pane. Bila dilihat pada gambar 1, aliran air di
Sub DAS Kedung Pane merupakan gabungan dari aliran SPAS Watujali,
SPAS Tapak Gajah, dan SPAS Pasuruan yang melewati wilayah Kedung
Pane, sehingga seharusnya mempunyai debit aliran yang cenderung
lebih besar. Namun pada kenyataannya, aliran air di Kedung Pane
justru menghasilkan air yang lebih sedikit. Hal ini disebabkan oleh
kondisi lapisan geologi di Sub DAS Kedung Pane yang sedikit berbeda
dengan lapisan geologi sub DAS di atasnya. Lapisan tanah di Sub DAS
30
1.200
1.200
1.000
1.000
Aliran Dasar (lt/dt/km2)
Aliran Dasar (lt/dt/km2)
Kedung Pane lebih tebal dari sub DAS yang lain sehingga tidak semua
hasil air dari bagian atasnya dikeluarkan melalui sungai namun
sebagian juga diresapkan ke dalam tanah sebagai cadangan air tanah.
Berdasarkan hal di atas, data debit Kedung Pane merupakan outlier
data yakni titik pengamatan yang jauh dari pengamatan yang lain.
Outlier disebabkan bukan karena dari kesalahan pengukuran ataupun
keragaman cara pengukuran melainkan diduga karena adanya faktor
geologi seperti yang disebutkan di atas. Outlier terkadang dikeluarkan
dari kumpulan data dan pada penelitian ini bila mengeluarkan outlier
data maka pengaruh % luas hutan terhadap aliran dasar dalam suatu
Sub DAS cenderung naik. Kenaikan tersebut bisa dilihat dari besarnya
nilai R2 setelah analisis ulang seperti pada gambar 12 – 19.
0.800
0.600
y = -0.000x2 + 0.026x - 0.011
R² = 0.950
0.400
0.200
0.000
0.800
0.600
0.400
y = -0.000x 2 + 0.024x + 0.046
R² = 0.820
0.200
0.000
0
20
40
60
80
100
0
20
Luas Hutan (% Luas DAS)
1.000
1.000
0.900
0.900
0.800
0.800
0.700
0.600
y=
0.400
-0.000x2
+ 0.017x + 0.122
R² = 0.971
0.300
0.200
80
100
0.700
0.600
0.500
y = -8E-05x 2 + 0.014x + 0.182
R² = 0.940
0.400
0.300
0.200
0.100
0.100
0.000
0.000
0
20
40
60
80
100
0
20
Luas Hutan (% Luas DAS)
40
60
80
100
Luas Hutan (% Luas DAS)
Gambar 14. Hubungan antara luas hutan pinus
dan debit aliran dasar di Sub DAS
Kedung Bulus tanggal 19 Juli 2012
Gambar 15. Hubungan antara luas hutan pinus
dan debit aliran dasar di Sub DAS
Kedung Bulus tanggal 20 Juli 2012
0.450
0.350
Aliran Dasar (lt/dt/km2)
0.400
Aliran Dasar (lt/dt/km2)
60
Gambar 13. Hubungan antara luas hutan pinus
dan debit aliran dasar di Sub DAS
Kedung Bulus tanggal 18 Juli 2012
Aliran Dasar (lt/dt/km2)
Aliran Dasar (lt/dt/km2)
Gambar 12. Hubungan antara luas hutan pinus
dan debit aliran dasar di Sub DAS
Kedung Bulus tanggal 17 Juli 2012
0.500
40
Luas Hutan (% Luas DAS)
0.350
0.300
0.250
0.200
0.150
0.100
y=
0.050
-8E-05x2
+ 0.009x + 0.013
R² = 0.597
0.300
0.250
0.200
0.150
0.100
y = -6E-05x 2 + 0.007x + 0.026
R² = 0.631
0.050
0.000
0.000
0
20
40
60
80
100
0
Luas Hutan (% Luas DAS)
20
40
60
80
100
Luas Hutan (% Luas DAS)
Gambar 16. Hubungan antara luas hutan pinus
dan debit aliran dasar di Sub DAS
Kedung Bulus tanggal 7 Agustus
2012
31
Gambar 17. Hubungan antara luas hutan pinus
dan debit aliran dasar di Sub DAS
Kedung Bulus tanggal 8 Agustus
2012
0.450
0.700
Aliran Dasar (lt/dt/km2)
Aliran Dasar (lt/dt/km2)
0.400
0.350
0.300
0.250
0.200
0.150
y = -1E-04x2 + 0.012x - 0.065
R² = 0.649
0.100
0.050
0.600
0.500
y = -0.000x2 + 0.016x + 0.044
R² = 0.901
0.400
0.300
0.200
0.100
0.000
0.000
0
20
40
60
80
100
0
20
Luas Hutan (% Luas DAS)
40
60
80
100
Luas Hutan (% Luas DAS)
Gambar 18. Hubungan antara luas hutan pinus
dan debit aliran dasar di Sub DAS
Kedung Bulus tanggal 9 Agustus
2012
Gambar 19. Hubungan antara luas hutan pinus
dan debit aliran dasar di Sub DAS
Kedung Bulus saat musim kemarau.
Setelah dilakukan analisis dengan mengeluarkan outlier dari data,
dapat diketahui bahwa nilai R2 cenderung naik dari 0,668 menjadi
0,901. Hal ini berarti % luas hutan pinus terhadap debit aliran dasar
memberikan pengaruh sebesar 90,1 % selama musim kemarau (gambar
19).
Selain itu, pengaruh % luas hutan terhadap debit aliran cenderung
menurun selama musim kemarau. Hal ini terlihat pada bulan Juli, luas
hutan memberikan pengaruh sebesar 95,0 % dan pada bulan Agustus
menurun sebesar 62,7 % terhadap debit aliran (gambar 20 – 21).
Berdasarkan hal tersebut dapat dipastikan bahwa pada bulan
September dan Oktober, pengaruh % luas hutan juga akan cenderung
menurun. Hal ini berarti ada faktor lain yang berpengaruh terhadap
kondisi hidrologi pada hutan pinus selama musim kemarau.
1.000
0.400
0.350
0.800
0.700
y=
0.600
Aliran Dasar (lt/dt/km2)
Aliran Dasar (lt/dt/km2)
0.900
-0.000x2
0.500
+ 0.020x + 0.084
R² = 0.950
0.400
0.300
0.200
0.300
0.250
0.200
0.150
y = -8E-05x 2 + 0.009x - 0.008
R² = 0.627
0.100
0.050
0.100
0.000
0.000
0
20
40
60
80
100
0
Luas Hutan (% Luas DAS)
20
40
60
80
100
Luas Hutan (% Luas DAS)
Gambar 20. Hubungan antara luas hutan pinus
dan debit aliran dasar di Sub DAS
Kedung Bulus bulan Juli 2012
Gambar 21. Hubungan antara luas hutan pinus
dan debit aliran dasar di Sub DAS
Kedung Bulus bulan Agustus 2012
Salah satu faktor yang dapat diidentifikasi berasal dari karakteristik
tanaman pinus itu sendiri. Menurut Priyono dan Siswamartana (2002),
tegakan pinus dirasakan mengkonsumsi banyak air sehingga selama
musim kemarau kehilangan air di hutan pinus karena evapotranspirasi
akan menjadi tinggi. Utomo et al. (2002) juga berpendapat bahwa,
tingginya evapotranspirasi tersebut menyebabkan pinus akan banyak
32
mengkonsumsi air sehingga dikhawatirkan akan menyebabkan defisit
air tanah.
Selain itu juga, faktor penurunan aliran dasar juga dipengaruhi oleh
faktor umur tegakan. Seperti diketahui bahwa hutan pinus di Sub DAS
Kedung Bulus bervariasi dari umur 5 tahun sampai 30 tahun sehingga
dapat dikategorikan menjadi pinus muda dan pinus tua. Menurut
Nurwahidah (2008), dalam pengelolaan untuk tujuan produksi, hutan
pinus dibagi menjadi 4 kelompok umur yakni kelompok 1 umur 0-10
tahun, kelompok 2 umur 11-15 tahun, kelompok 3 umur 16-20 tahun,
dan kelompok 4 umur > 20 tahun, sehingga dalam penelitian ini
kategori pinus muda meliputi kelompok 1 dan 2 sedangkan kategori
pinus tua meliputi kelompok 3 dan 4. Utomo et al. (2002)
menyebutkan bahwa kandungan air tersedia cenderung berkurang
dengan semakin bertambahnya umur tegakan. Hal ini disebabkan
karena umur tegakan yang semakin tua berpengaruh terhadap sifat
fisik tanah, sehingga mempengaruhi jumlah air yang dapat ditahan
oleh tanah, disamping tingkat konsumsi air oleh tegakan pinus tua
semakin meningkat. Seperti yang terjadi di Watujali dan Silengkong,
beberapa tanaman pinus merupakan tanaman pinus muda sehingga
rata-rata debit yang diukur cenderung tinggi.
Bila melihat hal tersebut di atas, aliran dasar pada hutan pinus tidak
hanya dipengaruhi oleh % luas hutan pinus saja. Pudjiharta (2008)
masih meragukan pengaruh hutan terhadap tata air karena
kemampuan hutan hanya terbatas pada pengendalian aliran. Faktor
luas hutan dalam suatu DAS memang berpengaruh terhadap besarnya
debit puncak dan sedimentasi (Pramono dan Wahyuningrum, 2010),
namun dalam kaitannya dengan debit aliran dasar, beberapa faktor
lain seperti karakteristik vegetasi, curah hujan, geologi/ tanah, tata
ruang/ tataguna lahan perlu dipertimbangkan untuk mengetahui
pengaruhnya terhadap aliran dasar. Hal ini dikarenakan, selama musim
kemarau fungsi hutan dianalogikan seperti spon yang melepas air.
Cepat atau lambat hilangnya air saat musim kemarau sangat
dipengaruhi oleh karakteristik vegetasi, jenis tanah, kedalaman solum,
tataguna lahan dan pemanfaatan air oleh makhluk hidup.
33
Selain beberapa faktor di atas, Lacey dan Grayson (1998)
menyebutkan pengaruh faktor geologi terhadap aliran dasar terdiri
dari pengaruh langsung dan tidak langsung. Pengaruh secara langsung
terhadap aliran dasar yakni aliran groundwater akan disimpan di dalam
batuan, terlebih lagi bila batuan tersebut memiliki patahan. Sedangkan
pengaruh tidak langsung yakni dari formasi tanah, karena jenis batuan
yang berbeda akan mengakibatkan perbedaan jenis tanah dan
kedalaman tanah yang mempengaruhi tata airnya. Delin et al. ( 2007)
menyebutkan bahwa karakteristik tanah dan iklim merupakan faktor
utama yang digunakan untuk memprediksi besarnya aliran dasar di
Minnesota. Stuckey (2006) juga mencoba untuk mencari besarnya
aliran dasar dari variabel luas hutan dengan model regresi, namun
ditambahkan dengan variabel lain seperti curah hujan tahunan,
persentase cekungan dan persentase daerah perkotaan.
Ada fenomena menarik di hutan pinus ini, yaitu pada bulan Juli 2012
hubungan antara luas hutan dan debit aliran dasar mempunyai
koefisien determinasi yang lebih tinggi dibandingkan pada pengukuran
bulan Agustus 2012. Hal ini menunjukkan bahwa pengaruh luas hutan
terhadap aliran dasarnya semakin kecil saat musim kemarau, sehingga
hujan merupakan faktor terbesar yang mempengaruhi besarnya aliran
dasar. Untuk ke depan perlu diteliti lagi faktor-faktor yang
mempengaruhi besarnya aliran dasar sejak berakhirnya musim
penghujan sampai berakhirnya musim kemarau dengan menambah
variabel-variabel lain yang berpengaruh terhadap aliran dasarnya.
IV. KESIMPULAN
1.
2.
3.
Makin luas prosentase hutan pinus di dalam suatu DAS maka
debit musim kemaraunya makin besar.
Selama musim kemarau, % luas hutan dalam suatu Sub DAS
memberikan pengaruh sebesar 66,8 %, sehingga 33,2 %
dipengaruhi oleh faktor lain
Faktor geologi memegang peranan penting dalam
menghasilkan aliran dasar.
34
DAFTAR PUSTAKA
Asdak, C. 1995. Hidrologi dan Pengelolaan Daerah Aliran Sungai. Gadjah
Mada University Press : Yogyakarta
Bruijnzeel, L.A. 1990. Hydrology of Moist Tropical Forest and Effect of
Conversion: A State of Knowledge Review. UNESCO,
Paris and Vrije Universiteit, Amsterdam, The
Netherlands.
Coster, C. 1938. Superficial Run-off and Erosion In Java. Tevtona 31 :
613-728.
Delin, G.N., Healy, R.W., Lorenz, D.L., Nimmo, J.R., 2007. Comparison
of local to regional scale estimates of ground water
recharge in Minnesota, USA. Journal of Hydrology 334,
231–249.
Dumairi.
1992. Ekonomika Sumber Daya
Hidronomika. BPFE.Yogyakarta.
Hadisusanto,
N. 2010. Aplikasi
:Yogyakarta.
Hidrologi.
Air.
Jogja
Pengantar
ke
Mediautama
Institute of Hydrology (1980) Low flow studies. Research Report 1,
Institute of Hydrology, Wallingford, UK.
Lacey, G. C. & Grayson, R. B. (1998) Relating baseflow characteristics
to basin properties in south-eastern Australia. J.
Hydrology. 204, 231–250
Mazvimavi, D., Meijerink, A.M.J., Stein, A., 2004. Prediction of
baseflows from basin characteristics: a case study from
Zimbabwe. Hydrological Sciences Journal 49 (4), 703–
715.
Mulyana, N. 2000. Pengaruh Hutan Pinus (P. merkusii) Terhadap
Karakteristik Hidrologi di Sub Daerah Aliran Sungai
35
Ciwulan Hulu KPH Tasikmalaya Perum Perhutani Unit III
Jawa Barat (Kajian Menggunakan Model POWERSIMPINUS ver. 3.1). Tesis Program Pascasarjana Institut
Pertanian Bogor, Bogor.
Nurwahidah, 2008. Penerapan Aljabar Linear untuk Mengoptimalkan
Hasil Produksi Pengelolaan Hutan (Studi Kasus Hutan
Pinus BKPH Tumpang-Malang). Skripsi, Jurusan
Matematika FMIPA Universitas Negeri Malang.
Pramono, IB dan Adi, RN. 2006. Hydrological Responses of Pine
Plantation Forest at Gombong Central Java : Proceeding
of The International Seminar on Plantation Forest
Research and Development, November 21-23 2005: 95-98,
Yogyakarta.
Pramono, I.B. dan Adi, R.N. 2010. Fluktuasi Muka Air Tanah di Bawah
Tegakan Hutan Pinus. Jurnal Penelitian Hutan dan
Konservasi Alam VII(5): 469-482. Pusat Litbang Hutan
dan Konservasi Alam. Bogor.
Pramono, I.B. dan Wahyuningrum N. 2010. Luas Optimal Hutan Jati
Sebagai Pengatur Tata Air di Daerah Aliran Sungai (DAS)
Berbahan Induk Kapur. Jurnal Penelitian Hutan dan
Konservasi Alam VII(5): 459-467. Pusat Litbang Hutan
dan Konservasi Alam. Bogor.
Priyono, N.S. dan S. Siswamartana. 2002. Hutan Pinus dan Hasil Air.
Ekstraksi Hasil-Hasil Penelitian Tentang Hutan Pinus
terhadap Erosi dan Tata Air. Pusat Pengembangan
Sumber Daya Hutan Perhutani, Cepu
Pudjiharta, A. 2008. Pengaruh Pengelolaan Hutan Pada Hidrologi. Info
Hutan Vol. V No. 2 : 141-150. Pusat Litbang Hutan dan
Konservasi Alam. Bogor.
Sarwono, J. 2006. Metode Penelitian Kuantitatif dan Kualitatif.
Penerbit Graha Ilmu. Yogyakarta.
36
Stuckey, M.H., 2006. Low flow, base flow, and mean flow regression
equations for Pennsylvania streams. US Geological
Survey Scientific Investigations Report 2006-5130.
Utomo, WH, Titiek I dan Widianto, 1998. Pengaruh Tanaman Terhadap
Hasil Air. Makalah Seminar Pengelolaan Hutan dan
Produksi Air untuk Kelangsungan Pembangunan. 23
September 1998, Jakarta.
Yamin, S. dan Kurniawan, H. 2009. SPSS Complete :Teknik Analisis
Statistik Terlengkap dengan Software SPSS, Buku Seri
Pertama. Jakarta : Salemba Infotek.
37
HUBUNGAN ANTARA KARAKTERISTIK HUJAN DAN BANJIR
DI SUB DAS WURYANTORO, KABUPATEN WONOGIRI1
Oleh :
Irfan B. Pramono dan Gunardjo Tjakrawarsa3
2
Balai Penelitian Teknologi Kehutanan Pengelolaan Daerah Aliran Sungai
Jl. A. Yani PO Box 295 Pabelan.
Telepon/Fax.: (+62 271) 716709/716959
Email: [email protected]
Email: 2 [email protected] ; 3 [email protected]
ABSTRAK
Banjir lokal sering terjadi di Sub DAS Solo Hulu. Penyebab banjir tersebut selain
intensitas hujan yang tinggi juga dipengaruhi oleh pola penutupan lahannya yang
kurang mendukung penyerapan air hujan ke dalam tanah. Pola penutupan lahan
di Sub DAS Solo Hulu yang dominan adalah lahan tegal. Sub DAS Wuryantoro
adalah salah satu Sub DAS Solo Hulu yang masuk ke Waduk Gajahmungkur.
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui karakteristik banjir yang terjadi di Sub
DAS Wuryantoro dengan penutupan lahan dominan tegal yang mencapai 57 %
dari luas Sub DAS. Metode yang digunakan adalah analisis unit hidrograf pada
beberapa kejadian banjir. Hasil penelitian menunjukkan bahwa puncak banjir di
Sub DAS Wuryantoro dengan luas DAS 1.792 ha berkisar antara 1,14 sampai
dengan 21,23 m3/dt sedangkan waktu mencapai banjir berkisar antara 10 sampai
120 menit, sedangkan waktu dasar (time base) yaitu waktu mulai terjadinya
banjir sampai berakhirnya banjir berkisar antara 480 sampai 4.320 menit.
Hubungan antara puncak banjir dan karakteristik hujan, Qp = 3,987 + 0,090T +
0,005L + 0,109I + 0,016AMC, sedangkan hubungan antara waktu menuju puncak
dengan karakteristik hujan adalah Tp = 40,427 - 0,058T + 0,053L + 0,086I +
0,282AMC. Karakter hujan yang paling berpengaruh terhadap debit puncak (Qp)
adalah intensitas hujan (I, tebal hujan (T), Antecedent Soil Moisture Condition
(AMC) dan lama hujan (L). Hal ini berbeda dengan karakter hujan yang
mempengaruhi waktu menuju puncak (Tp) yang sangat dipengaruhi oleh
Antecedent Soil Moisture Condition (AMC), intensitas hujan dan lama hujan.
Kata kunci : karakteristik hujan, debit puncak, waktu menuju puncak, waktu
dasar
1
Disampaikan dalam Seminar Nasional Hasil Penelitian Teknologi Pengelolaan
DAS oleh Balai Penelitian Teknologi Kehutanan Pengelolaan DAS, Kementerian
Kehutanan, pada tanggal 12 Juni 2013
38
I.
PENDAHULUAN
Kejadian banjir akhir-akhir ini terjadi dengan waktu yang cepat dengan
dampak kerusakan yang parah. Selain disebabkan oleh intensitas curah
hujan yang tinggi, banjir juga dipengaruhi oleh penutupan lahan yang
ada di DAS. Kejadian debit maksimum atau banjir puncak hanya
beberapa saat, tetapi mampu menimbulkan saat kritis yang dapat
menghancurkan tanggul atau tebing; melimpaskan air karena melebihi
kapasitas tampung sungai, menyebabkan bendung atau bangunan air
lainnya jebol. Dampak dari kejadian tersebut adalah penggenangan air
di wilayah permukiman dan pertanian.
Sub DAS Wuryantoro merupakan salah satu sub DAS dari empat sub
DAS yang alirannya masuk ke Waduk Gajahmungkur, Wonogiri.
Keempat sub DAS menghadapi permasalahan berupa tingginya tingkat
sedimentasi yang disalurkan ke Waduk Gajahmungkur, Wonogiri serta
distribusi aliran yang tidak merata. Namun keempat sub DAS tersebut
memiliki formasi geologi yang berbeda yaitu vulkan tua dan kapur di
Temon dan Wuryantoro, kapur di Sub DAS Alang dan vulkan muda di
sub DAS Keduang (Murtiono, 2009).
Penggunaan lahan di Sub DAS Wuryantoro didominasi tegal dengan
karakter kurang menyerap air hujan. Penggunaan lahan seperti ini
merupakan pewakil penggunaan lahan DAS-DAS di Pulau Jawa yang
didominasi oleh tegal lahan kering. Rendahnya penyerapan curah
hujan memicu terjadinya banjir dengan cepat karena kemampuan
tanah meresapkan air di lahan tegal lebih sedikit dari pada penutupan
lahan hutan. Oleh karena itu dianggap perlu untuk mengkaji
karakteristik banjir puncak di Sub DAS Wuryantoro.
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan antara
karakteristik hujan dan banjir yang berasal dari sub DAS dengan
penutupan lahan dominan tegalan. Karakteristik hujan meliputi tebal,
intensitas, dan lama hujan. Sedangkan karakteristik banjir meliputi
debit puncak dan waktu mencapai puncak banjir.
39
II.
A.
BAHAN DAN METODE
Lokasi dan Waktu Penelitian
Penelitian dilakukan di Sub DAS Wuryantoro dengan penutupan lahan
yang dominan adalah tegalan lahan kering. Secara administratif
pemerintahan Sub DAS Wuryantoro terletak di Kabupaten Wonogiri,
Provinsi Jawa Tengah. Penelitian dilakukan pada tahun 2009 sampai
2010.
B.
Bahan dan Alat
Bahan dan peralatan yang digunakan dalam penelitian, yaitu :
1.
2.
C.
Bahan dan peralatan monitoring tata air (stasiun hujan
otomatis dan pemantau tinggi muka air otomatis), peta-peta
dasar skala 1: 25.000 (topografi), blanko pengamatan dan label.
Bahan dan peralatan pengamatan tegakan hutan dan
penutupan lahan antara lain berupa peta dasar skala 1: 25.000
(sebaran tegakan, peta Rupa Bumi Indonesia (RBI), citra
Satellite Pour l’observ tion de la Terre (SPOT) meteran dan
blangko pengamatan.
Metode
Metode pengukuran
berikut:
1.
parameter banjir dan hujan adalah sebagai
Pengukuran parameter debit banjir
Pengukuran debit puncak banjir dilakukan secara langsung pada Sub
DAS Wuryantoro. Pengukuran dilakukan dengan bangunan Stasiun
Pengamatan Air Sungai (SPAS) dan AWLR (Automatic Water Level
Recorder). Data banjir diperoleh dari hasil pencatatan tinggi muka air
dari AWLR dan debit banjir diperoleh dari tabel debit yang telah ada
berdasarkan dari pencatatan tinggi muka air pada AWLR.
40
Data debit banjir dipilih berdasarkan puncak-puncak banjir dari AWLR
dan data curah hujan penyebabnya, sehingga dapat diasumsikan
bahwa banjir yang terjadi disebabkan oleh hujan yang merata di
seluruh DAS.
2.
Pengukuran parameter curah hujan
Pengukuran curah hujan di Sub DAS Wuryantoro dilakukan di dua
tempat yaitu di bagian tengah dan hulu Sub DAS. Untuk memperoleh
hujan rata-rata dibuat polygon Thiessien. Curah hujan yang dipilih
adalah curah hujan yang turun merata di seluruh DAS.
3.
Parameter yang diamati
a.
b.
c.
4.
Luas penutupan lahan di dalam Sub DAS Wuryantoro.
Karakteristik hujan: lamanya hujan (L, jam), tebal hujan (T,
mm) intensitas hujan (I, mm/jam) dan Antecedent Soil
Moisture Condition (AMC, mm) yang menyebabkan banjir.
Karakteristik banjir: debit puncak banjir (Qp), waktu
mencapai puncak (Tp) dan waktu dasar (Tb).
Pengolahan dan analisis data
Setiap pasangan hujan dengan puncak banjir dipilih berdasarkan banjir
yang terekam di AWLR (Automatic Water Level Recorder) dan curah
hujan yang terekam di ARR (Automatic Rainfall Recorder). Jika hujan
yang terekam di ARR mempunyai intensitas yang tinggi dan dalam
waktu yang tidak terlalu lama diikuti oleh banjir yang terekam di AWLR
maka dapat diasumsikan bahwa banjir tersebut karena hujan yang
merata diseluruh DAS. Data hidrograf banjir dipisahkan antara aliran
langsung dan aliran dasar. Dari hidrograf aliran langsung dianalisis
karakteristiknya seperti debit puncak banjir (Qp) dan waktu sampai
puncak banjir (Tp).
Data hujan dianalisis mulai dari tebal hujan (T), lamanya hujan (L),
intensitas hujan (I) dan Antecedent Soil Moisture Condition(AMC).
Jumlah hujan dihitung dengan satuan mm, lama hujan dengan menit,
dan intensitas hujan dalam mm/15 menit.
41
Dari data tersebut kemudian dicari hubungan antara Qp dengan T, L, I
dan AMC serta hubungan antara Tp dengan T, L, I dan AMC dengan
analisis regresi berganda. Analisis regresi linier berganda adalah
hubungan secara linear antara dua atau lebih variabel independen (X1,
X2,….Xn) dengan variabel dependen (Y). Analisis ini untuk mengetahui
arah hubungan antara variabel independen dengan variabel dependen
apakah masing-masing variabel independen berhubungan positif atau
negatif dan untuk memprediksi nilai dari variabel dependen apabila
nilai variabel independen mengalami kenaikan atau penurunan.
Persamaan regresi linear berganda sebagai berikut:
Y’ = a + b1X1+ b2X2+…..+ bnXn
Keterangan:
Y’
= Variabel dependen (nilai yang diprediksikan)
X1 dan X2 = Variabel independen
a
= Konstanta (nilai Y’ apabila X1, X2…..Xn = 0)
b
= Koefisien regresi (nilai peningkatan ataupun
penurunan)
Data diolah dengan menggunakan program SPSS Statistic 17.0.(Janie,
2012)
III. HASIL DAN PEMBAHASAN
A.
Kondisi penutupan lahan
Kondisi penutupan lahan Sub DAS Wuryantoro dengan luas 1.792 ha
terdiri dari hutan (11.96 %), tegal (57,71 %), sawah (13,3 %), dan
pemukiman (17,03 %). Penyebarannya dapat di lihat pada Gambar 1
berikut ini.
42
Gambar 1. Peta penutupan lahan di Sub DAS Wuryantoro
B.
Karakteristik iklim
Menurut klasifikasi Iklim Koppen, Sub DAS Wuryantoro diklasifikasikan
kedalam tipe iklim Ama (daerah iklim hujan tropik dengan suhu ratarata dari bulan terpanas > 22,2 oC). Musim hujan terjadi antara bulan
November – April, sedangkan musim kering pada bulan Mei – Oktober,
dengan jumlah bulan basah 6-7 bulan (Schmidt dan Fergusson, 1957).
Rata-rata curah hujan tahunan 1.635,7 mm dengan koefisien limpasan
sebesar 29%.
C.
Karakteristik hujan
Karakteristik curah hujan penyebab banjir Sub DAS Wuryantoro yang
tercatat dalam kertas pias sehingga dapat dihitung lama terjadinya
hujan, tebal hujan, intensitas hujan dan Antecedent Soil Moisture
Condition condition (AMC) dari bulan Januari 2009 sampai dengan
September 2010 terdapat dalam Tabel 1.
43
Tabel 1. Lama terjadinya hujan, tebal hujan, intensitas hujan dan
Antecedent Soil Moisture Condition(AMC)
No
Tanggal
L
(menit)
T
(mm)
I (mm/
15 menit)
AMC
(mm)
1
2-Feb-2009
50
30
9,00
26,50
2
18-Nov-09
64
50
11,72
61,00
3
21-Agt- 10
8
40
51,11
0,00
4
15-Jun-10
74
100
18,30
3,60
5
7-Apr-09
80
26,3
4,93
70,80
6
27-Feb- 2009
20
30
8,25
53,80
7
25-Jan- 2009
20
20
4,67
45,00
8
19-Nov-09
120
0,2
1,73
0,00
9
6-Apr-09
60
11,8
2,95
23,80
10
18-Sep-10
10
10
15,00
0,00
11
8-Jan-2009
30
10
1,00
20,00
12
21-Mei-2009
30
1,7
4,82
22,80
13
30-Apr-09
25
10
5,49
10,00
14
23-Jan-2009
20
1
2,42
93,00
15 16-Sep-10
16
10
6
0,00
16 8-Apr-09
70
24,8
5,31
83,90
17 20-Apr-09
110
0,8
2,74
30,00
18 18-Mei- 2009
24
10
2,94
10,00
19 12- Feb-2009
120
2,2
0,75
60,00
20 24 Juli 2009
30
0,2
0,10
0,00
Keterangan: L = Lama hujan (menit); T=Tebal hujan (mm), I=Intensitas
Hujan (mm/15 menit), AMC= Antecedent Soil Moisture Condition(mm)
44
Dari Tabel 1 di atas terlihat bahwa karakteristik curah hujan penyebab
banjir yang dinyatakan dalam lama terjadinya hujan berkisar antara 8 –
120 menit, tebal hujan berkisar antara 0,2 – 100 mm, intensitas hujan
berkisar antara 0,1 – 51,11 mm/15 menit dan Antecedent Soil Moisture
Condition (AMC) antara 0,00 – 93,00 mm.
D.
Karakteristik banjir
Banjir sebagai debit maksimum pada suatu saat dinyatakan dalam
debit puncak (Qp), waktu menuju puncak (Tp) dan waktu dasar (Tb).
Pada waktu bersamaan dapat dihitung karakteristik curah hujan
penyebab banjirnya yang dinyatakan dalam tebal hujan, lama
terjadinya hujan, intensitas hujan dan Antecedent Soil Moisture
Condition (AMC). Data debit puncak, waktu menuju puncak, waktu
dasar, tebal hujan, lama terjadinya hujan, intensitas hujan dan
Antecedent Soil Moisture Condition (AMC) terdapat pada Tabel 2.
Tabel 2. Debit puncak, waktu menuju puncak, waktu dasar, tebal
hujan, lama terjadinya hujan, intensitas hujan dan Antecedent Soil
Moisture Condition (AMC)
Debit
No
Tanggal
Curah hujan
Qp
Tp
Tb
T
L
I
AMC
(m3/dt)
(mnt)
(jam,
mnt)
(mm)
(mnt)
(mm/ 15
mnt)
(mm)
1
2-Feb-09
21,23
40
22,50
30
50
9,00
26,50
2
18-Nov-09
14,12
30
29,50
50
64
11,72
61,00
3
21-Agt- 10
12,4
50
38,0
40
8
51,11
0,00
4
15-Jun-10
11,2
48
17,0
100
74
18,30
3,60
5
7-Apr-09
9,72
60
25,0
26,3
80
4,93
70,80
6
27-Feb-09
9,03
90
24,30
30
20
8,25
53,80
7
25-Jan-09
8,37
60
23,0
20
20
4,67
45,00
8
19-Nov-09
8,05
20
11,40
0,2
120
1,73
0,00
9
6-Apr-09
6,29
68
21,52
11,8
60
2,95
23,80
45
10
18-Sep-10
5,76
50
24,10
10
10
15,00
0,00
11
8-Jan-09
5,5
120
8,0
10
30
1,00
20,00
12
21-Mei-09
5,5
10
15,30
1,7
30
4,82
22,80
13
30-Apr-09
5,38
15
14,5
10
25
5,49
10,00
14
23-Jan-09
5,26
60
21,0
1
20
2,42
93,00
15
16-Sep-10
5,26
50
27,10
10
16
6
0,00
16
8-Apr-09
4,56
34
35,30
24,8
70
5,31
83,90
17
20-Apr-09
4,34
50
48,10
0,8
110
2,74
30,00
18
18-Mei-09
1,86
10
9,50
10
24
2,94
10,00
19
12-Feb-09
1,80
120
72,0
2,2
120
0,75
60,00
20
24-Jul-09
1,14
40
39,0
0,2
30
0,10
0,00
Keterangan: Qp= debit puncak, Tp = waktu menuju puncak, Tb = waktu
dasar, L = lama hujan (menit); T=tebal hujan (mm), I=intensitas hujan
(mm/15 menit), AMC= Antecedent Soil Moisture Condition (mm)
Dari Tabel 2 di atas terlihat bahwa dalam periode pengamatan debit
puncak tertinggi terjadi pada tanggal 2 Februari 2009 dengan Qp
sebesar 21,23 m3/det dengan waktu menuju puncak (Tp) 40 menit dan
waktu dasar (Tb) 22 jam 50 menit yang diakibatkan oleh curah hujan
(T) sebesar 30 mm, selama (L) 50 menit, intensitas hujan sebesar (I) 9
mm/15 menit dan Antecedent Soil Moisture Condition (AMC) 26,50 mm.
Sedangkan debit puncak terendah terjadi pada tangal 24 Juli 2009
dengan Qp sebesar 1,14 m3/det, waktu menuju puncak (Tp) 40 menit
dan waktu dasar (Tb) sebesar 39 menit yang diakibatkan oleh curah
hujan (T) sebesar 0,2 mm, selama (L) 30 menit, intensitas (I) 0,1 mm/15
menit dengan Antecedent Soil Moisture Condition (AMC) 0,00 mm.
C.
Hubungan antara karakteristik hujan dan karakteristik banjir
Untuk mengetahui karakteristik banjir Sungai Wuryantoro perlu
diketahui hubungan debit puncak banjir (Qp) dan waktu menuju
puncak (Tp) dengan karakteristik curah hujan yang menyebabkannya
46
yang dinyatakan dalam tebal hujan (T), lama terjadinya hujan (L),
intensitas hujannya (I) dan Antecedent Soil Moisture Condition (AMC).
Berdasarkan dari data sebanyak 20 kejadian banjir di sungai
Wuryantoro yang dianalisis dengan metode regresi linier berganda
diperoleh hubungan debit puncak (Qp) dan waktu menuju puncak (Tp)
dengan tebal hujan (T), lamanya hujan (L), intensitas (I) dan
Antecedent Soil Moisture Condition (AMC) sebagai berikut:
Qp = 3,987 + 0,090 + 0,005L + 0,109I + 0,016AMC
Tp = 40,427 - 0,058T + 0,053L + 0,086I + 0,282AMC
Besarnya nilai koefisien (r) korelasi persamaan hubungan antara Qp
(debit puncak) dan Tp (waktu menuju puncak) dengan karakteristik
hujan yaitu tebal hujan (T), lamanya hujan (L), intensitas (I) dan
Antecedent Soil Moisture Condition (AMC) disajikan pada Tabel 3.
Tabel 3. Rekapitulasi model untuk debit puncak (Qp)
Mode
l
1
R
.618a
R
Kwada
rat
R
Kwadrat
disesuai
kan
Kesalahan
baku
pendugaa
n
.382
.218
4.19938
a. Penduga: ( Konstanta), AMC, T, L, I
b. Variabel dependen: Qp
47
Change Statistics
R
kwadarat
perubaha
n
F
Peruba
han
df1
df2
.382
2.321
4
15
Nyata
F
perubahan
.104
Tabel 4. Analisis sidik ragam (ANOVA) utuk debit puncak (Qp)
ANOVAb
Jumlah
kwadrat
Model
1
Kwadrat
tengah
df
Regresi
163.722
4
40.931
Sisa
264.522
15
17.635
Total
428.244
19
F
Sig.
.104a
2.321
a. Penduga: ( Konstanta), AMC, T, L, I
b. Variabel dependent: Qp
Tabel 5. Nilai koefisien untuk Qp
3.987 2.203
-.710
8.683
Bagian
.090
sebagian
1.809
Korelasi
Rangka
nol
batas
atas
1 (konstanta)
batas
bawah
B
t
Beta
Std. Error
Model
Selang
kepercayaan
95.0% untuk B
Signifikan
Koef.
sudah
distand
arisasi
Koef. tidak
distandarisasi
T
.090
.049
.452
1.853
.084
-.014
.195
.583
.432 .376
L
.005
.029
.036
.164
.872
-.056
.066
-.010
.042 .033
I
.109
.111
.258
.983
.341
-.128
.347
.451
.246 .200
AMC
.016
.034
.102
.475
.642
-.056
.088
.028
.122 .096
Tabel 6. Rekapitulasi model untuk waktu menuju puncak (Tp)
statistik perubahan
Model
1
R
.289a
R
kwa
drat
.083
R kwa
drat
disesu
aikan
Kesalahan
baku
penduga
R kwadrat
perubahan
-.161
33.32876
.083
48
F
Peruba
han
.341
df1
df2
Signifikan
peruba
han . F
4
15
.846
Tabel 7. Analisis sidik ragam (ANOVA) untuk Tp
ANOVAb
1
Model
Jumlah Kwadrat
Df
Kwadrat tengah
Regresi
1515.655
4
378.914
Sisa
16662.095
15
1110.806
Total
18177.750
19
F
Signifikan
.846a
.341
a. Penduga: (konstanta), AMC, T, L, I
Tabel 8. Nilai koefisien untuk Tp
Koefisiena
Selang
kepercayaan
95.0% untuk B
.387
-.045
-.151 .882
-.884
.767
-.034
-.039
-.037
L
.053
.227
.063
.234 .818
-.431
.537
.111
.060
.058
I
.086
.883
.031
.098 .923
-1.796
1.968
-.087
.025
.024
.282
.268
.276 1.054 .308
-.288
.852
.282
.263
.261
40.427 17.487
a.
2.312 .035
3.155 77.700
Variabel dependen: Tp
Dari Tabel 5 dan 8 nampak bahwa yang paling berpengaruh terhadap
besarnya debit puncak adalah intensitas hujan, tebal hujan, AMC dan
lama hujan. Sedangkan factor yang banyak mempengaruhi waktu
mencapai puncak banjir adalah AMC, intensitas hujan dan lama hujan.
49
Bagian
-.058
1 (Konstanta)
batas
bawah
T
B
Beta
sebagian
Korelasi
Rangka
nol
batas atas
t
Std. Error
Model
Signifikan
Koef.
sudah
Koef. tidak
distandari
distandari-sasi
sasi
Rejekiningrum dan Kartiwa (1999) dalam penelitian tentang pengaruh
sifat hujan dan karakteristik biofisik DAS terhadap debit banjir DAS
Kaligarang, Semarang menemukan bahwa debit puncak banjir (Qp)
dipengaruhi oleh karakteristik hujan yang dicirikan oleh variabel tebal
hujan (T), lama hujan (T) dan intensitas hujan (I). Tiga episode banjir
yang dianalisis terdapat pada Tabel 4.
Tabel 4. Debit puncak banjir, tebal hujan, lama hujan dan intensitas
hujan DAS Kaligarang
Episode banjir
Qp
(m3/det)
Tebal hujan
T (mm)
Lama hujan
L (jam)
Intensitas
I (mm/menit)
8-10 Januari 1996
38,8
30,6
1
0,51
19-20 Januari 1996
45,6
41,6
5,5
0,13
25-26 Januari 1996
85,3
35,1
2,5
0,21
Sumber: Rejekiningrum dan Kartiwa (1999)
Tabel 4 menunjukkan bahwa terdapat hubungan antara debit puncak
banjir (Qp), tebal hujan (T), lama hujan (L) dan intensitas hujan (I) di
DAS Kaligarang. Namun demikian, Rejekiningrum dan Kartiwa (1999)
tidak mencari hubungan antar variabel tersebut.
Pramono dan Wijaya (2012) dalam penelitian tentang hubungan antara
debit puncak dengan lama hujan, tebal hujan dan intensitas hujan di
sub DAS berhutan jati, Kabupaten Blora menemukan bahwa hubungan
antara Qp dengan L, T dan I adalah Qp = -14,905 + 0,060 L + 3,032 T –
6,218 I dimana yang paling berpengaruh dalam menentukan debit
puncak adalah intensitas hujan diikuti oleh tebal hujan dan lama hujan.
Hal yang sama juga dikemukakan oleh Mulya dan Mananoma (2010)
yang menyatakan bahwa curah hujan sepanjang tahun dengan
intensitas yang relatif lebih tinggi dibandingkan tahun sebelumnya di
tahun 2008 menyebabkan peningkatan kejadian banjir di Ambon.
Hubungan antara debit puncak dan karakteristik hujan di suatu daerah
akan berbeda dengan daerah yang lain karena hubungan tersebut
tergantung juga pada jenis penutupan lahan dan karakteristik fisik
lainnya seperti kelerengan dan jenis tanah. Sedangkan hubungan
antara waktu mencapai puncak dan karakteristik hujan juga
50
dipengaruhi oleh faktor-faktor yang telah disebutkan di atas ditambah
dengan bentuk DAS.
III. KESIMPULAN DAN SARAN
A.
Kesimpulan
1. Karakteristik banjir di Sub DAS Wuryantoro yang dinyatakan
dalam debit puncak (Qp) dan waktu menuju puncak (Tp)
dipengaruhi oleh karakter curah hujan (tebal (T), lama terjadinya
hujan (L), intensitas hujan (I) dan Antecedent Soil Moisture
Condition (AMC). Hubungan debit puncak (Qp) dan waktu
menuju puncak (Tp) dengan karakter hujan dinyatakan dengan
persamaan
Qp = 3,987 + 0,090T + 0,005L + 0,109I + 0,016AMC
Tp = 40,427 - 0,058T + 0,053L + 0,086I + 0,282AMC
2. Karakter hujan yang paling berpengaruh terhadap debit puncak
(Qp) adalah intensitas hujan (I), tebal hujan (T), Antecedent Soil
Moisture Condition (AMC) dan lama hujan (L). Sedangkan karakter
hujan yang paling berpengaruh terhadap waktu menuju puncak
(Tp) adalah Antecedent Soil Moisture Condition (AMC), lama hujan
(L), intensitas hujan (I) dan tebal hujan.
B.
Saran
Untuk mendapatkan persamaan hubungan Qp dan Tp dengan
karakteristik hujan yang baik masih diperlukan data yang cukup banyak
sehingga kelemahan pasangan data curah hujan dan debit yang sering
tidak berhubungan dapat dikurangi.
DAFTAR PUSTAKA
Janie, D.N.A. 2012. Statistik Deskriptif dan Regresi Linier Berganda
dengan SPSS. Semarang Univeristy Press. Semarang.
Mulya, H dan T. Mananoma, 2010. Dampak Perubahan Karakteristik
Hujan Terhadap Fenomena Banjir di Ambon. Prosiding
Pertemuan Ilmiah Tahunan (PIT) XXVII Himpunan Ahli
Teknik Hidraulik Indonesia (HATHI), Surabaya 29 Juli – 01
Agustus 2010. Penerbit HATHI Cabang Jawa Timur. ISBN
978-979-17093-3-0.
51
Murtiono, U.H. 2009. Kajian Ketersediaan Air Permukaan Pada
beberapa Daerah Aliran Sungai (Studi kasus di Sub DAS
Temon, Wuryantoro, Alang dan Keduang). 3-FG-23-1-2009ugro.pdf-Adobe reader. Diunduh tanggal 10 maret 2013
Pramono, I. B. dan W.W. Wijaya, 2012. Hubungan Antara Debit Puncak
dengan Lama Hujan, Tebal Hujan dan Intensitas Hujan di
Sub DAS Berhutan Jati, Kabupaten Blora. Prosiding Seminar
Nasional Pengelolaan Sumber Daya Alam dan Lingkungan.
Semarang 11 September 2012.
Rejekiningrum, R dan B, Kartiwa. 1999. Pengaruh Sifat Hujan dan
Karakteristik Biofisik DAS Terhadap Debit Banjir DAS
Kaligarang Semarang. J. Agromet 14(1-2): 13-24. 1999.
Schmidt and Ferguson. 1957. Instruction and Tabels For Computing
Potensial Evapotransprration And Water Balance . Publication
in Climatology Drexel Institute of Technology, Laboratory of
Climatology.
Thornthwaite, C.W. and J.R. Mather. 1957. Instruction and Tabels For
Computing Potensial Evapotransprration And Water Balance .
Publication in Climatology Drexel Institute of Technology,
Laboratory of Climatology.
52
PEMANFAATAN CITRA DARI GOOGLE EARTH DAN DEM ASTER YANG
BEBAS DIUNDUH UNTUK MENDAPATKAN BEBERAPA PARAMETER
LAHAN1
Oleh :
Tyas Mutiara Basuki dan Nining Wahyuningrum2
2*
2
Balai Penelitian Teknologi Kehutanan Pengelolaan Daerah Aliran Sungai
Jl. A. Yani PO Box 295 Pabelan.
Telepon/Fax.: (+62 271) 716709/716959
Email: [email protected]
*E-mail : [email protected]
ABSTRACT
Land cover and slope are essential biophysical parameters for monitoring and
evaluating of watershed condition. Those informations can be extracted from
remotely sensed data. The data are commonly expensive, while monitoring and
evaluation (monev) of watershed condition should be conducted in every year.
Therefore, utilization of free access of remotely sensed data is an effort to
reduce cost of monev. This study is intended to evaluate the utilization of DEM
ASTER and image from Google Earth in providing information on slope and land
cover. These parameters were then used to predict erosion based on USLE
(Universal Soil Loss Equation) method and land capability classes. The study was
conducted in Samin Sub-Watershed, Central Java. The results suggest that open
access of imageries provide reasonable results for slope and land cover
classifications. For slope classification, DEM ASTER provides an overall accuracy
of 79.5% with Kappa agreement of 0.67, while land cover classification using
image from Google Earth produces an average accuracy of 70.3% with Kappa
agreement of 0.60. Prediction of soil erosion shows that severe soil erosion is
also found in forest area because of its very steep slope. Land capability
classification shows that the study area is dominated by class IV with slope as a
restriction. It is found that some of the area in class VII is still used for settlement
and dryland cultivation with minimum soil conservation practices. The use of
free access remotely sensed data reduce the cost of monitoring in term of slope
and land cover classification, with reasonable result. The limitation using the
image is land cover classification must be conducted based on visual
interpretation.
Keywords: imagery, slope, land cover, erosion, land capability
1
Disampaikan dalam Seminar Nasional Hasil Penelitian Teknologi Pengelolaan
DAS oleh Balai Penelitian Teknologi Kehutanan Pengelolaan DAS, Kementerian
Kehutanan, pada tanggal 12 juni 2013.
53
I.
PENDAHULUAN
Vegetasi penutup dan kemiringan lahan atau lereng merupakan
parameter biofisik yang penting dalam kegiatan monitoring dan
evaluasi (monev) kondisi lahan dalam suatu Daerah Aliran Sungai
(DAS). Kedua jenis parameter tersebut sering digunakan sebagai
parameter yang berdiri sendiri ataupun digunakan untuk menghitung
parameter lain dalam monev kinerja DAS, seperti dalam prediksi erosi
yang terjadi dan penentuan kelas kemampuan penggunaan lahan
(KPL). Jenis penutupan lahan bersifat dinamis, sehingga dalam
kegiatan monev kinerja DAS informasi tersebut perlu pembaharuan
secara periodik.
Informasi penutupan lahan terkini dapat diperoleh dari klasifikasi citra
yang dihasilkan dengan menggunakan teknologi penginderaan jauh
(Stefanov et al., 2001; Rogan et al., 2002; Chust et al., 2004; Yuan et al.,
2005). Citra Land Sattelite (Landsat) merupakan salah satu jenis citra
yang sudah lama diproduksi dan banyak digunakan untuk klasifikasi
penutupan lahan. Selain Landsat, beberapa citra yang dihasilkan dari
sensor optik seperti Satellite Probatoire d'Observation de la Terre
(SPOT), Advanced Spaceborne Thermal Emission and Reflection
Radiometer (ASTER), IKONOS, Quickbird, Hyperspectral, dan World
View banyak digunakan untuk mendapatkan data penutupan lahan.
Namun demikian, biaya yang dibutuhkan untuk membeli citra-citra
tersebut cukup mahal. Di lain pihak monitoring kinerja DAS perlu
dilakukan setiap tahun sebagaimana yang tertuang dalam Pasal 47
Ayat 1, Peraturan Pemerintah (PP) No. 37 Tahun 2012. Sebagai salah
satu alternatif untuk mengurangi biaya pembelian citra, perlu dikaji
pemanfaatan beberapa jenis citra yang bebas diunduh.
Citra Landsat yang sudah termasuk arsip (archive) merupakan citra
yang bebas diunduh, namun informasi yang diperoleh dari citra
Landsat tersebut bukan yang terbaru. Alternatif lain
adalah
penggunaan citra MODIS yang bebas diunduh dari website National
Aeronautics Space Administration (NASA) (Stefanov and Netzband,
2005) dan citra dari Google Earth (Fritz et al., 2009). Kelebihan dari
citra MODIS adalah resolusi radiometrik dan temporal yang tinggi
dimana jumlah band yang cukup banyak dan revisit time yang pendek,
54
namun resolusi spasialnya tergolong sedang sampai kecil antara 250 m
hingga 1 km (Stefanov and Netzband, 2005).
Citra yang diunduh dari Google Earth walaupun hanya mempunyai
band tunggal, namun jarak pengambilan gambar dapat diatur sesuai
kebutuhan sehingga informasi yang dibutuhkan dapat diperoleh
(maksimal sesuai dengan resolusi citra yang tersedia). Citra dari
Google Earth sudah banyak digunakan untuk klasifikasi penutupan
lahan secara langsung maupun untuk memvalidasi klasifikasi
penutupan lahan dengan citra yang resolusinya lebih rendah (Cha and
Park, 2007; Fritz et al., 2009). Selain digunakan untuk mendapatkan
informasi penutupan lahan, citra tersebut dapat juga dipergunakan
untuk identifikasi teknik konservasi tanah secara global maupun untuk
melihat batuan singkapan (Dunhill, 2011). Thenkabail et al. (2007)
menggunakan citra dari Google Earth untuk estimasi areal yang
mendapatkan irigasi. Dorais and Cardille (2011) menggunakan detil
informasi dari citra Google Earth yang diintegrasikan dengan citra
MODIS untuk mengidentifikasi degradasi hutan di Borneo.
Selain penutupan lahan, parameter biofisik yang dibutuhkan pada
kegiatan monev DAS adalah kelerengan. Parameter tersebut dapat
diperoleh dari citra DEM (Digital Elevation Model). Untuk skala global
saat ini tersedia dua jenis citra DEM, yaitu DEM SRTM (Shuttle Radar
Topography Mission) dan DEM ASTER (Hirano et al., 2003; Paul et al.,
2004). DEM SRTM dengan resolusi spasial 90 m dapat diunduh bebas
dari website USGS, NASA (Gorokhovich and Voustianiouk, 2006),
sedangkan citra DEM ASTER dengan resolusi spasial 30 m dapat
diperoleh secara gratis melalui website Ministry of Economy, Trade and
Industry of Japan (METI).
Berdasarkan latar belakang tersebut di atas, studi ini dilakukan untuk
mengkaji pemanfaatan citra DEM-ASTER dan Google Earth untuk
mendapatkan informasi kelerengan dan penutupan lahan. Kedua
informasi tersebut selanjutnya digunakan untuk memprediksi erosi
dan KPL yang merupakan dua parameter dalam kegiatan monev
kinerja DAS. Selain itu, citra dari Google Earth juga digunakan untuk
mendapatkan gambaran umum informasi praktek konservasi tanah
pada lokasi kajian.
55
II.
METODE
A.
Lokasi
Penelitian dilakukan di Sub-DAS Samin pada tahun 2012. Secara
administratif, wilayah tersebut
termasuk kedalam Kabupaten
Karanganyar dan Kabupaten Sukoharjo, Provinsi Jawa Tengah.
Topografi Sub-DAS Samin di bagian hulu berbukit-bukit yang dengan
kelerengan sangat curam (>45%). Penggunaan lahan pada bagian hulu
adalah hutan lindung dan kebun sayur. Sementara itu di bagian tengah
dan hilirpenggunaan lahan lebih banyak didominasi oleh tegal/sawah
dan permukiman dengan kemiringan lahan landai hingga datar.
B. Klasifikasi lereng dan penutupan lahan
Klasifikasi lereng dilakukan dengan menggunakan citra DEM ASTER
dan dengan menggunakan software ArcMap 9.2. Georefensi dilakukan
pada data raster dengan menggunakan sistem koodinat UTM WGS 84.
Selanjutnya citra diklasifikasi menjadi 5 kelas lereng, yaitu 0-8%, 8-15%,
15-25%, 25-45% dan > 45%. Data raster ini selanjutnya diubah menjadi
data vektor. Pengecekan lapangan dilakukan pada 78 titik yang
selanjutnya digunakan untuk validasi data.
Klasifikasi penggunaan lahan dilakukan dengan menggunakan
software Google-earth-4.2.0196-Beta (CNET, 2008), (GE_jpg-extractor
(TM (R)+C2012, 2012) dan GEsticher (Appronic, 2013) yang bebas
diunduh. Bahan klasifikasi diperoleh dari citra Quickbird tahun 2011
yang diunduh secara bebas. Klasifikasi citra dilakukan dengan
prosedur sebagai berikut:
 Pengunduhan citra dan penggabungan citra (stitches)
 Georeferensi, dengan sistem koordinat UTM WGS 84 Zona 49 S
 Delineasi batas penutupan lahan dengan menggunakan metode
onscreen digitizing dengan software ArcMap 9.2
Penutupan lahan diklasifikasikan menjadi 6 kelas, yaitu hutan, kebun
campur, pemukiman, sawah, tegal dan tubuh air. Pengecekan
lapangan pada 64 titik dilakukan untuk keperluan validasi hasil
klasifikasi. Citra dari Google Earth juga digunakan untuk mendapatkan
56
informasi penerapan konservasi tanah secara umum, berdasarkan
kenampakan terasering. Untuk mengetahui detil teknik konservasi
tanah yang diterapkan seperti penguat teras dengan rumput maka
perlu dilakukan pengecekan lapangan.
C.
Prediksi erosi dengan USLE
Besarnya erosi diprediksi berdasarkan rumus USLE (Universal Soil Loss
Equation) yang dikembangkan oleh Wischmeier dan Smith (1978)
sebagaimana pada persamaan (1).
A = RKLSCP
dimana: A = Banyaknya tanah tererosi (ton/ha/tahun)
R = Indeks erosivitas hujan
K = Indeks erodibilitas tanah
LS = Indeks panjang dan kemiringan lereng
C = Indeks pengelolaan tanaman
P = Indeks upaya konservasi tanah
Oleh karena data hujan yang tersedia merupakan data bulanan maka,
erosivitas hujan dihitung berdasarkan Utomo dan Mahmud 1984 dalam
Tresnawati (1991) seperti pada persamaan (2).
R = 10,80 + 4,15 H_bln
dimana: R = Indeks erosivitas hujan
H_bln = curah hujan bulanan (mm)
Penggunaan rumus tersebut diasumsikan yang sesuai dengan kondisi
biofisik dan hujan yang ada, karena perhitungan dengan rumus lain
menghasilkan erosi yang sangat berat sekali yang tidak sesuai
kandungan sedimen yang dihasilkan pada outlet dari sub-DAS yang
diamati. Data hujan diperoleh dari delapan stasiun hujan yang terletak
di 8 kecamatan yang tersebar merata. Titik-titik stasiun hujan tersebut
disusun menjadi polygon Thiesen untuk mendapatkan nilai hujan pada
lokasi yang terwakili.
Erodibilitas tanah ditentukan berdasarkan tekstur tanah sesuai dengan
pedoman buku Sidik Cepat Degradasi Sub-DAS (Paimin et al., 2010).
57
Parameter lereng diakses dari DEM ASTER seperti yang telah
diterangkan sebelumnya pada Sub-Bab IIB. Nilai LS dihitung
berdasarkan rumus Arnoldus (1977) dalam Tresnawati (1991) seperti
pada persamaan (3).
LS
= (L/22,1)0,6 x (S/9)1,4
(3)
Nilai pengelolaan tanaman (C) dan tindakan konservasi tanah (P)
disatukan menjadi nilai CP yang digunakan oleh Ditjen RLPS (2009).
D.
Klasifikasi kemampuan penggunaan lahan
Kelas KPL dinilai berdasarkan kondisi penutupan lahan, penerapan
teknik konservasi tanah, kemiringan lereng, curah hujan, dan beberapa
sifat tanah seperti yang tercantum dalam Lampiran 1 (Priyono dan
Savitri, 1999). Data yang digunakan diperoleh dari analisis citra satelit,
hasil pengamatan langsung di lapangan, serta data curah hujan.
E.
Analisis data
Parameter-parameter yang digunakan untuk memprediksi erosi
dengan USLE dan juga untuk klasifikasi KPL ditumpang-susunkan
(overlay) sesuai dengan parameter yang dibutuhkan. Hasil prediksi
erosi tersebut juga merupakan salah satu parameter yang digunakan
untuk klasifikasi KPL. Hasil tumpang-susun adalah berupa poligonpoligon yang dilengkapi dengan atribut-atribut yang mencerminkan
karakteristik masing-masing unit lahan.
III.
HASIL DAN PEMBAHASAN
A.
Kondisi tanah, lereng dan penutupan lahan
Sub-DAS Samin sebagian besar (55%) mempunyai areal yang relatif
datar (lereng 0 – 8%) seperti yang ditunjukkan dalam Gambar 1. Lahan
dengan lereng sangat curam (> 45%) hanya menempati 6% dari
arealnya. Secara spasial distribusi lereng dapat dilihat dalam Gambar 2,
dimana pada bagian atas di Tawangmangu dan sekitarnya memiliki
58
lereng curam sampai sangat curam, sedangkan di bagian tengah dan
hilir lereng landai hingga datar.
Gambar (Figure) 1. Persentase kelas lereng di Sub-DAS Samin
(Percentage of slope classes at Samin Sub-Watershed)
Perhitungan tingkat akurasi estimasi kemiringan lereng yang
diturunkan dari citra DEM ASTER dilakukan dengan melihat matrik
kesalahan (error matrix) dan nilai Kappa seperti yang tercantum dalam
Tabel 1. Secara keseluruhan klasifikasi kelas lereng mempunyai akurasi
79,5% dan Kappa 0.67 yang tergolong sangat sesuai. Kesalahan
klasifikasi terbesar dijumpai pada kelas lereng 0 – 8% dengan 8 – 15 %.
Berdasarkan pengamatan lapangan, pada lereng-lereng yang curam
masih dijumpai solum tanah cukup dalam. Menurut peta “Land
System” skala 1:250.000, tanah di Sub-DAS Samin didominasi ordo
“Inceptisols”, namun demikian di lapangan terlihat areal yang
termasuk ordo Ultisols. Hal ini mengindikasikan bahwa dalam
menggunakan peta skala kecil memungkinkan untuk terjadinya
generalisasi sehingga informasi kurang detil. Untuk itu pengamatan
secara langsung di lapangan sangat diperlukan guna memperoleh
informasi yang benar.
59
Gambar (Figure)2. Distribusi spasial kelas lereng Sub-DAS Samin
(Spatial distribution of slope classes at Samin Sub-Watershed)
Tabel (Table) 1. Matrik kesalahan klasifikasi lereng Sub-DAS Samin (Error
matrix of slope classification in Samin Sub-Watershed).
Pengukuran
lapangan
0-8%
Klasifikasi lereng yang dihasilkan dari DEM ASTER
Total
Akurasi
8-15%
15-25% 25-45% > 45% klasifikasi produsen
0-8%
36
1
0
0
0
37
97,3%
8-15%
8
16
0
0
0
24
66,7%
15-25%
0
0
2
0
0
2
100%
25-45%
3
1
1
3
0
8
37,5%
>45%
Keseluruhan
kelas
Akurasi
pengguna
0
0
0
2
5
7
71,4%
47
18
3
5
5
78
76,6%
88,9%
66,7%
60%
100%
Akurasi total (Overall accuracy): 79.5%
Kappa: 0.67
Nilai Kappa untuk berbagai tingkat kesesuaian/kecocokan (Kappa
agreement classification):
<0
= Tidak sesuai (Less than chance agreement)
0.01–0.20 = Agak sesuai (Slight agreement)
0.21– 0.40 = Cukup sesuai (Fair agreement)
60
0.41–0.60 = Sesuai (Moderate agreement)
0.61–0.80 = Sangat sesuai (Substantial agreement)
0.81–0.99 = Hampir sesuai sempurna (Almost perfect agreement)
Penutupan lahan di Sub-DAS Samin didominasi oleh sawah dengan
persentase sekitar 34% dari total wilayahnya, diikuti oleh pemukiman
(24%), tegalan (17%), kebun campur (13%), dan hutan (10%) seperti yang
ditunjukkan dalam Tabel 2. Hutan umumnya terletak pada areal
dengan kelerengan curam hingga sangat curam. Namun demikian
sebagian kebun campur, tegalan, maupun pemukiman juga
menempati areal dengan kelerengan sangat curam. Tegalan yang
digunakan untuk budidaya sayur-sayuran umumnya menempati lahanlahan dengan kelerengan curam. Namun demikian, sebagian besar
lokasi tersebut sudah menerapkan teknik konservasi tanah secara
mekanis maupun vegetatif. Distribusi spasial penggunaan lahan pada
lokasi kajian disajikan dalam Gambar 3.
61
Tabel (Table) 2. Penutupan lahan pada berbagai kelas lereng di Sub-DAS Samin (Land cover on various slope classes at Samin Sub-Watershed)
Penutupan
lahan
Hutan
Kebun
Campur
Pemukiman
Sawah
Tegal
Tubuh air
0–8%
Luas (ha) % Luas
8 – 15%
Luas (ha)
% Luas
423,09
2,13
261,53
1,32
719,66
3225,99
4394,58
2026,16
167,80
10957,29
3,63
16,27
22,16
10,22
0,85
55,25
419,96
957,02
1347,41
769,62
54,59
3810,12
2,12
4,83
6,79
3,88
0,28
19,21
Kelas lereng
15 – 25 %
25 – 45 %
Luas (ha)
% Luas
Luas
% Luas
(ha)
238,31
1,20
538,60
2,72
387,49
376,14
569,18
287,76
11,67
1870,54
1,95
1,90
2,87
1,45
0,06
9,43
62
671,52
152,83
389,20
276,14
2,83
2031,12
3,39
0,77
1,96
1,39
0,01
10,24
>45 %
Luas
% Luas
(ha)
539,66
2,72
394,93
21,12
122,90
82,32
1,52
1162,44
1,99
0,11
0,62
0,42
0,01
5,86
Total
(ha)
2001,19
%
10,09
2593,54
4733,10
6823,27
3441,99
238,41
19831,50
13,08
23,87
34,41
17,36
1,20
100,00
Gambar (Figure) 2. Distribusi spasial penutupan lahan di Sub DAS
Samin (Spatial distribution of land cover at Samin Sub Watershed)
Hasil perhitungan tingkat akurasi klasifikasi penutupan lahan
dicantumkan dalam Tabel 3. Kesalahan yang banyak terjadi dalam
klasifikasi adalah antara jenis penutupan lahan kebun campur dengan
tegalan dan antara tegalan dengan sawah. Hal ini disebabkan oleh
adanya penanaman beberapa jenis tanaman keras pada batas-batas
petak kepemilikan tegalan yang nampak seperti kebun campur pada
citra satelit karena tajuknya yang rimbun. Pada areal tegalan juga
sering diklasifikasikan sebagai sawah atau sebaliknya. Hal demikian
terjadi karena seringkali lahan pada kedua penggunaan tersebut
diteras walaupun pada umumnya teras untuk sawah lebih baik
daripada teras untuk tegalan. Disamping itu, sawah sering dikonversi
menjadi tegalan tergantung pada kondisi pasar suatu jenis komoditi
hasil pertanian. Harga dari komoditi yang lebih menguntungkan pada
suatu musim akan lebih disukai untuk ditanam masyarakat pada saat
itu.
Tingkat akurasi dari klasifikasi penutupan lahan dalam Tabel 3 tersebut
cukup baik, dimana akurasi total adalah sebesar 70% dengan nilai
Kappa sebesar 0,60. Namun demikian, nilai tersebut lebih rendah
dibandingkan dengan tingkat akurasi yang diperoleh Ghorbani dan
63
Pakravan (2013). Klasifikasi penutupan lahan yang dilakukan oleh
Ghorbani dan Pakravan (2013) di DAS Darasi, Barat Laut Iran dengan
menggunakan citra Google Earth mendapatkan akurasi total 94%
dengan nilai Kappa 0.90 Penyebab terjadinya perbedaan tersebut
mungkin disebabkan oleh kharakteristik penutupan lahan yang
berbeda. Di Sub-DAS Samin terdapat penutupan lahan hutan yang
dalam analisis sering rancu dengan kebun campur yang juga
mempunyai tajuk yang rimbun. Dilain pihak dalam lokasi penelitian
Ghorbani dan Pakravan (2013) tidak dijumpai hutan.
Tabel (Table) 3. Matrik kesalahan klasifikasi penutupan lahan Sub-DAS
Samin (Matrix error of land cover classification at Samin Sub-Watershed)
Pengecekan
lapangan
(Ground
check)
Klasifikasi citra dari Google Earth
Hutan
Kebun Pemu
campur kiman
Hutan
10
1
Kebun
3
18
Pemukiman
Sawah
Tegal
11
1
1
3
Sawah
2
Tegal
Keseluruhan
kelas
Akurasi
Pengguna
5
Keseluruhan
klasifikasi
2
23
3
3
7
4
11
20
64
13
26
5
8
12
76,9%
69,2%
60,0%
37,5%
91,7%
Overall accuracy (Akurasi total):
70,3%
Kappa: 0,60 =Moderate agreement (Sesuai)
Nilai Kappa pada berbagai kesesuaian/kecocokan (Kappa
Agreement)
< 0 Less than chance agreement (Tidak sesuai)
0,01–0,20 = Slight agreement (Agak sesuai)
0,21– 0,40 = Fair agreement (Cukup sesuai)
0,41–0,60 = Moderate agreement (Sesuai)
0,61–0,80 = Substantial agreement (Sangat sesuai)
0,81–0,99 = Almost perfect agreement (Hampir sesuai sempurna)
64
Akurasi
Produsen
90,0%
78,3%
100,0%
42,9%
55,0%
Berdasarkan hasil analisis yang telah dikerjakan diperoleh bahwa
pemanfaatan citra dari Google Earth cukup baik digunakan untuk
analisis penutupan lahan karena resolusi spasial yang tinggi. Walaupun
analisis klasifikasi penutupan lahan dilakukan secara visual, untuk
mendapatkan ketajaman kenampakan masing-masing penutupan
lahan dapat diatur jarak antara obyek yang ada di permukaan tanah
dengan pengambilan citra.
Namun demikian kelemahan dari
penggunaan citra dari Google Earth adalah analisis klasifikasi
penutupan lahan harus dilakukan secara visual dan tidak bisa dilakukan
analisis secara otomatis berdasarkan spectral bands.
B. Konservasi tanah
Citra dari Google Earth hanya bisa memberikan gambaran secara
global adanya terasering di lokasi penelitian. Detil praktek konservasi
tanah dilakukan berdasarkan pengamatan di lapangan. Kombinasi
teras bangku dan teras gulud banyak dijumpai di lahan-lahan untuk
budidaya sayuran. Jika diamati lebih detil, sebagian lahan sayuran
diberi guludan yang sejajar lereng pada bidang olahnya agar tanaman
tidak tergenang air, namun terasnya sendiri dibuat memotong lereng
(Gambar 4a). Jenis konservasi tanah yang lain hanya menggunakan
guludan, namun saluran pembuangan air ditanami rumput (Gambar 4b
dan c). Terasering pada areal yang ditanami kacang tanah, kedelai,
singkong ataupun tanaman palawija lainnya umumnya tidak diberi
penguat seperti yang terlihat pada Gambar 4d.
65
(a)
(b)
(c)
(d)
Gambar (Figure) 4. Beberapa teknik konservasi tanah di Sub-DAS Samin
(Various soil conservation techniques at Samin SubWatershed)
C.
Prediksi erosi dengan USLE
Informasi lereng yang diturunkan dari DEM ASTER, erosivitas hujan,
erodibilitas tanah yang diprediksi dari tekstur tanah, pengamatan
teknik konservasi tanah dari Google Earth dan pengecekan lapangan
digunakan untuk memprediksi erosi. Prediksi erosi dengan USLE
menunjukkan bahwa erosi > 480 ton/ha/tahun dijumpai pada lahan
tegalan, dan sebaliknya erosi < 15 ton/ha/tahun tidak dijumpai pada
penggunaan lahan tersebut (Tabel 4).
66
Pada areal permukiman prediksi erosi cukup tinggi, nilai CP yang
digunakan adalah 0,05. Nilai ini merupakan nilai CP untuk pemukiman
dengan pekarangan luas yang dijadikan tegalan. Berdasarkan
pengamatan di lapangan memang benar di bagian tengah Sub-DAS
Samin, seperti pada DAS mikro Ngunut, pekarangan umumnya diolah
untuk tegalan. Sejauh ini belum diperoleh nilai CP untuk pekarangan
yang tidak diolah. Erosi < 15 ton/ha/tahun terluas dijumpai pada areal
persawahan yang menempati sekitar 31%. Erosi sebesar 180-480
ton/ha/tahun juga dijumpai pada areal kebun campur. Hal ini terutama
disebabkan oleh lereng yang curam hingga sangat curam. Gambar 5
menunjukkan distribusi spasial prediksi erosi di Sub-DAS Samin.
Tabel (Table) 4. Prediksi erosi menggunakan USLE pada berbagai
penutupan lahan (Predicted erosion using USLE at various land cover)
Penutupan
lahan
Hutan
Kebun Campur
Persentase luasan pada masing-masing tingkat erosi
< 15
ton/ha/th
15-60
ton/ha/th
60-180
ton/ha/th
4,7
5,5
0,0
180-480
ton /ha/th
> 480
ton/ha/th
Total
(ton/ha/tahun)
0,0
0,0
10,2
3,7
3,0
1,9
4,7
0,0
13,2
Pemukiman
16,2
6,2
1,1
0,7
0,0
24,2
Sawah
30,7
2,1
2,0
0,0
0,0
34,8
Tegal
0,0
14,0
1,7
1,4
0,4
17,6
Total
55,3
30,8
6,7
6,8
0,4
100,0
67
Gambar (Figure) 5. Prediksi erosi menggunakan USLE di Sub-DAS
Samin (Predicted erosion using USLE at Samin Sub-Watershed)
F. Kemampuan Penggunaan Lahan
Penutupan lahan aktual pada berbagai kelas KPL yang dijumpai di SubDAS Samin disajikan pada Gambar 6. Pada kelas KPL ≥ V sebagian
lahan digunakan untuk pemukiman, sawah dan tegalan, sebaliknya
KPL IV sebagian juga tertutup hutan rakyat. Lahan yang termasuk
kelas KPL ≥ V seharusnya hanya sesuai untuk hutan dan kebun campur
(Fletcher and Gibb, 1990).
Lahan-lahan dengan kelas KPL < V yang ditanami tanaman keras
umumnya disebabkan oleh ketiadaan tenaga kerja untuk budidaya
tanaman semusim yang membutuhkan banyak tenaga untuk
penyiapan lahan maupun pemeliharaan tanaman secara intensif.
Lahan yang termasuk kedalam KPL kelas IV atau V dengan
penghambat kemiringan lereng dapat ditingkatkan kelasnya dengan
cara menerapkan teknik konservasi tanah. Penerapan terasering pada
lahan-lahan yang miring akan mengurangi panjang lereng sehingga
dapat mengurangi erosi yang terjadi. Untuk kelas KPL dengan
68
penghambat iklim, maka kelasnya tidak bisa diubah karena iklim
merupakan faktor alami yang relatif bersifat tetap.
Persentase KPL terhadap luas Sub-DAS
30
25
20
Hutan
15
Kebun Campur
10
Pemukiman
Sawah
5
Tegal
0
IIIc
IIIg
IVs
IVg
Vs
VIg
VIIg
Kelas kemampuan penggunaan lahan
Gambar (Figure) 6. Kondisi aktual penutupan lahan pada berbagai
kelas kemampuan penggunaan lahan (Existing land cover at various
land capability class).
IV. KESIMPULAN
1. Hasil kajian menunjukkan bahwa penggunaan data penginderaan
jauh dari citra satelit yang bebas diunduh memberikan tingkat
akurasi yang baik. Klasifikasi kelas lereng dengan menggunakan
DEM ASTER menghasilkan akurasi total sebesar 79,5 % dengan nilai
Kappa 0,67 yang tergolong sangat sesuai (substantial agreement).
Akurasi total 70% dengan Kappa 0,60 diperoleh pada klasifikasi
penutupan lahan menggunakan citra Quickbird yang diunduh dari
Google Earth.
2. Teknik konservasi tanah yang dapat diidentifikasi pada citra dari
Google Earth hanya bersifat global. Detil teknik konservasi tanah
hanya bisa diperoleh dari hasil pengamatan di lapangan.
3. Prediksi erosi dengan menggunakan USLE menunjukkan bahwa
tingkat erosi berat tidak hanya terjadi pada areal tegalan, namun
juga dijumpai di hutan maupun pemukiman. Di areal hutan, erosi
yang tinggi disebabkan oleh lereng yang sangat curam, sedangkan
69
di pemukiman disebabkan faktor CP yang digunakan merupakan
nilai dari pekarangan yang digunakan sebagai tegalan.
4. Kemampuan penggunaan lahan di Sub-DAS Samin didominasi oleh
kelas IV dengan lereng sebagai faktor penghambat. Untuk
menaikkan kelas KPL dari kelas IV menjadi III atau V menjadi IV
maka perlu dilakukan penerapan teknik konservasi tanah misalnya
dengan terasering.
5. Pemanfaatan citra yang dapat diunduh secara gratis dan
memberikan hasil klasifikasi dengan akurasi yang baik merupakan
salah satu alternatif untuk memperbaharui informasi penutupan
lahan yang dinamis. Hal ini juga akan mengurangi anggaran
pengumpulan data dalam rangka monitoring kinerja DAS.
DAFTAR PUSTAKA
Cha, S., and C. Park. 2007. The utilization of Google Earth images as
reference data for the multitemporal land cover classification
with MODIS data of North Korean. Korean Journal of Remote
Sensing 23 (5): 483 – 491.
Chust, G., D. Ducrot, D., and J.L. Pretus. 2004. Land cover mapping
with patch-derived landscape indices. Landscape and Urban
Planning 69: 437 – 449.
Ditjen Rehabilitasi Lahan dan Perhutanan Sosial. 2009. Pedoman
Monitoring dan Evaluasi DAS. Jakarta.
Dunhill, A.M., 2011. Using remote sensing and a geographic
information system to quantify rock exposure area in England
and wales: implications for paleodiversity studies. Geology 39(2):
111-114. Geological Society of America.
Fletcher, J. R. and R. G. Gibb. 1990. Land Resource Survey Handbook
For Soil Conservation Planning In Indonesia, Ministry of Forestry
Directorate General Reforestation and Land Rehabilitation
Indonesia and Department of Scientific and Industrial Research
DSIR Land Resources Palmerston North New Zealand.
Fritz, S., I. McCollum, C. Schill, C. Perger, R. Grillmayer, F. Achard, F.
Kraxner, and M. Obersteiner. 2009. Geo-wiki.org: The use of
crowdsourcing to improve global land cover. Remote Sensing 1:
345 – 354.
70
Gorokhovich, Y. and A. Voustianiouk., 2006. Accuracy assessment of
the processed SRTM-based elevation data by CGIAR using field
data from USA and Thailand and its relation to the terrain
characteristics. Remote Sensing of Environement 104: 409-415.
Hirano, A., R. Welch, and H. Lang. 2003. Mapping from ASTER stereo
image data: DEM validation and accuracy assessment. ISPRS
Journal of Photogrammetry & Remote Sensing 57: 356 – 370.
Apponic. 2013. Apponic free download. http://www.4shared.com/file/
IBf2im7l/GEStitcher.html.
CNET. 2008. CBS interactive Inc. http://www.4shared.com/file/
M0u0LZkd/ Google-Earth-420196-Beta.html.
TM (R)+C2012.alOt., Inc. http://www.4shared.com/file/xe3kKyWs/
GE_jpg_extractor.html. kioskea.net
Paimin, Sukresno, dan Purwanto. 2010. Sidik Cepat Degradasi Sub-DAS.
Edisi kedua. Puslitbang Hutan dan Konservasi Alam. Bogor.
Paul, F., C. Huggel,
and A. Kääb. 2004. Combining satellite
multispectral image data and a digital elevation model for
mapping debris-covered glaciers. Remote Sensing of
Environment 89: 510 – 518.
Pemerintah Republik Indonesia. 2012. Peraturan Pemerintah Republik
Indonesia No.37 Tahun 2012 tentang Pengelolaan daerah Aliran
Sungai. Kementrian Sekretariat Negara RI. Jakarta.
Priyono, C.N.S, dan E. Savitri. 1999. Pedoman teknis kesesuaian lahan
dan jenis-jenis HTI. Pedoman Teknis. Balai Teknologi Pengelolaan
Daerah Aliran Sungai.
Rogan, J., J. Franklin, and D.A. Roberts. 2002. A comparison of
methods for monitoring multitemporal vegetation change using
Thematic Mapper imagery. Remote Sensing of Environment 80:
143 – 156.
Stefanov, W.L., M.S. Ramsey, and P.R. Christensen. 2001. Monitoring
urban land cover change classification of semi arid to arid urban
centers. Remote Sensing of Environement 77:173 – 185.
Stefanov, W.L. and M. Netzband. 2005. Assessment of Aster land
cover and MODIS NDVI data at multiple scales for ecological
characterization of an arid urban center. Sensing of
Environement 99: 31-43.
Thenkabail, P., C.M. Birader, P. Noojipady, X. Cai, Dheeraavath, V., Y.
Li, M. Velpuri, N. Gumma, and S. Pandey. 2007. Sub-pixel area
71
calculation methods for estimating irrigated areas. Sensors 7:2519
– 2538.
Tresnawati, D. 1991. Prediksi erosi menggunakan USLE pada beberapa
Kecamatan di Kabupaten Sukabumi. Skripsi, IPB., Bogor.
Wischmeier, W.H., and D. Smith. 1978. Predicting rainfall erosion
losses. A guide to conservation planning. U.S. Dept. Of
Agriculture, Agriculture Handbook No. 537.
Yuan, F., K.E. Sawayu, B.C. Loeffelholz, and Baver, M.F., 2005. Land
cover classification and change analysis of the Twin Cities
(Minnesota) Metropolitan area by multitemporal Landsat remote
sensing. Remote sensing of Environment 98: 317 – 328.
72
Lampiran (Annex) 1. Kriteria Kemampuan Penggunaan Lahan (Land Capability Criteria)
No
1
Kelas
e
2
3
4
Hambatan
Adanya teknik
konservasi tanah,
terasering, dll
Tingkat Erosi
Drainase
Tekstur tanah
e
w
s
Terabaikan
Terhambat
L, SiL
5
Struktur tanah
s
6.
7
Kedalaman tanah (cm)
Kedalaman regolith
(cm)
Persentase gravel (%)
Persentase singkapan
(%)
Iklim
 Bulan basah > 200
mm
 Bulan kering < 100
mm
Slope (%)
s
s
Granular
kasar
> 90
> 200
s
s
-
-
7-12
7-9 atau 5-6
c
0-1
2-3 atau 0-1
g
0-8
-
8
9
10.
11.
I
100
II
III
60-80
100
Ringan
Agak terhambat
SL, SCL, CL, SiCL
Granular halus
60-90
100-200
IV
60-80
Sedang
Berat
Sedang
Cepat
LS, Si,
S
SC, C, SiC
BlockyBlocky
platy
30-60
15-30
80-100
60-80
-
V
20-60
Sangat cepat
-
VI
10-40
1-20
VII
VIII
1-20
-
-
-
-
-
-
0-15
40-60
20-40
10-20
<10
1-10
1-10
10-20
10-20
20-40
20-60
40-80
>60
>80
3-4
3-4 atau 0-3
0-2
0-2
0-1
2-6
7-8 atau
0-1
-
2-6
7-9
-
25-45
>45
-
c
5-6 atau
3-4
2-6 atau
0-1
8-15
15-25
Keterangan:
e = erosion, w =wetness, s = soil, c = climate, g = gradient, L = loam, SiL = Silty loam, SL = Sandy loam, SCl = Silty clay loam, Cl = Clay
loam, SiCl = Silty clay loam, LS = Loamy sand, Si = Silt , SC = Sandy clay, C = Clay, SiC = Silty clay
73
KAJIAN KELEMBAGAAN KONSERVASI TANAH DAN AIR
DI HULU SUB-DAS GANDUSUWADUK, PATI – JAWA TENGAH1
Oleh :
C. Yudilastiantoro2
Balai Penelitian Teknologi Kehutanan Pengelolaan Daerah Aliran Sungai
Jl. A. Yani PO Box 295 Pabelan.
Telepon/Fax.: (+62 271) 716709/716959
Email: [email protected]
2
Email: [email protected]
ABSTRAK
Lembaga tingkat petani dalam hal ini kelompok tani di daerah
penelitian belum berperan dalam mengajak anggotanya untuk
menerapkan usahatani berbasis konservasi tanah dan air. Tujuan
penelitian, mengkaji kelembagaan tingkat petani yang berbasis
konservasi tanah dan air menuju kelestarian hutan, tanah dan air.
Metode penelitian dilakukan dengan teknik wawancara terstruktur
kepada 30 responden, dilanjutkan dengan diskusi kelompok untuk
mencermati data yang sudah terkumpul. Data yang terkumpul
dianalisis dengan metode diskriptif kualitatif dan klasifikasi parapihak.
Hasil penelitian: Lembaga yang berperan penting dalam membangun
kelembagaan tingkat petani adalah Dinas Pertanian dan Kehutanan
Kabupaten Pati melalui Petugas Penyuluh Pertanian (PPL) yang
berperan sebagai pendamping kelompok tani dan Perum Perhutani
BKPH Regaloh melalui Ketua RT merangkap Ketua Sub LMDH serta
Kelompok Tani Wana Lestari. Mereka berperan dalam merencanakan,
melaksanakan dan memonitor serta mengevaluasi kegiatan konservasi
tanah dan air di desa Gunungsari. Kelompok Tani Wana Lestari
dibutuhkan oleh masyarakat tani desa Gunungsari, sebagai tempat
informasi pemasaran hasil usahatani sehingga dapat meningkatkan
pendapatan dan kesejahteraan masyarakat.
Kata kunci : kelembagaan, pengelolaan, lahan, lestari, konservasi,
tanah
1
Disampaikan dalam Seminar Nasional Hasil Penelitian Teknologi Pengelolaan
DAS oleh Balai Penelitian Teknologi Kehutanan Pengelolaan DAS, Kementerian
Kehutanan, pada tanggal 12 juni 2013.
74
I.
PENDAHULUAN
Hulu Sub DAS Gandu Suwaduk, secara administrasi terletak di Desa
Gunungsari, Kecamatan Tlogowungu, Kabupaten Pati, Jawa Tengah.
Desa tersebut merupakan daerah penghasil ubikayu (Manihot
utilissima). Topografinya bergunung-gunung dengan kelerengan
antara 30% – 45%. Sejak 10 tahun terakhir para petani sudah
mengusahakan tanaman ubikayu tanpa menerapkan konservasi tanah
dan air. Menurut Bapak Ngarjono sebagai Ketua Kelompok Tani Wana
Lestari II, bahwa di Sub DAS Gandusuwaduk yang merupakan bagian
wilayah dari desa Gunungsari; pendapatan usahatani dari ubikayu dari
tahun ke tahun semakin menurun karena jumlah pengeluaran untuk
ongkos usahatani ubikayu bertambah, sedangkan lahan semakin tidak
subur karena tererosi .
Badan Pusat Statistik Kecamatan Tlogowungu, (2005 dan 2009)
menunjukkan Namun produksi ubikayu di Desa Gunungsari secara
keseluruhan mengalami kenaikan produksi maupun luas panen, pada
tahun 2005 produksi ubikayu per hektar mencapai 1.99 ton, dengan
luas panen 59 hektar. Tahun 2009 mencapai 2,71 ton per hektar
dengan luas panen 334 hektar (BPS Kecamatan Tlogowungu, 2005 dan
2009).
Saat ini di Desa Gunungsari sudah terbentuk kelompok tani –
kelompok tani yang tergabung dalam Gabungan Kelompok Tani
(GAPOKTAN) terdiri dari: Kelompok Tani Wana Lestari I dan II dan
Kelompok Tani Wana Jaya. Kegiatan GAPOKTAN saat ini adalah
melaksanakan Proyek Menanam Pohon dari Kebun Bibit Desa (KBD)
setempat dan Proyek Usaha Agribisnis Perdesaan (PUAP)
Kementerian Pertanian, yaitu memberikan pinjaman modal usaha tani
bagi para petani yang menjadi anggotanya sebesar Rp 500.000. per
anggota. Jangka waktu pengembalian pinjaman 10 bulan dengan
bunga 1% sebulan. Gapoktan diharapkan dapat menjadi lembaga
berbasis ekonomi yang dimiliki dan dikelola oleh petani secara mandiri.
Para petani yang lahannya digunakan untuk lokasi penelitian di Sub
DAS Gandusuwaduk belum tergabung dalam salah satu kelompok tani.
Sehingga diperlukan suatu kelompok sebagai organisasi, wadah atau
75
pranata tempat diskusi dan alih teknologi dari Balai Penelitian
Teknologi Kehutanan Pengelolaan Daerah Aliran Sungai kepada para
petani pemilik penggarap lahan tersebut. Kelompok tani ini sangat
diperlukan untuk mengupayakan kelestarian tanah dan air dilokasi ini
agar produksi ubikayu yang dari tahun ketahun menurun dapat
ditekan.
Penulisan makalah ini bertujuan untuk mengkaji kelembagaan tingkat
petani berbasis konservasi tanah dan air menuju kelestarian hutan
tanah dan air.
II.
A.
METODE PENELITIAN
Lokasi Penelitian
Penelitian dilakukan di Desa Gunungsari, Kecamatan Tlogowungu,
Kabupaten Pati, Jawa Tengah dari bulan Oktober - Desember 2012.
Sub DAS Gandusuwaduk merupakan bagian wilayah dari Desa
Gunungsari, yang berpotensi menyumbang erosi karena lahannya
miring (>45%) dan ditanami ubikayu tanpa menerapkan usaha
konservasi tanah dan air. Para petani di Desa Gunungsari belum
semuanya menjadi anggota kelompok tani. Demikian juga para petani
yang lahannya digunakan untuk lokasi penelitian ini.
B.
Pengumpulan Data
Data dikumpulkan dengan teknik wawancara terstruktur kepada 30
responden, yang terdiri dari semua petani pemilik penggarap lahan
yang digunakan untuk plot penelitian konservasi tanah dan air serta
petani pemilik penggarap di sekitarnya. Wawancara dilakukan dengan
mendatangi setiap responden baik di rumah maupun di lahan,
sehingga diperoleh data tiap pribadi responden. Selanjutnya para
responden diundang untuk melakukan diskusi. Diskusi kelompok
dilaksanakan untuk mencermati data yang sudah terkumpul.
C.
Analisis Data
Data dianalisis dengan metode diskriptif kualitatif dan klasifikasi para
pihak dengan pendekatan power (kekuasaan/wewenang) dan interest
76
(kepentingan) menggunakan empat klasifikasi Mintzberg (1999)
dalam Balai Penelitian Kehutanan Solo (2009) yaitu :
1.
Key Players : memiliki interest (kepentingan) dan power
(kekuasaan/wewenang) yang tinggi
2.
Keep involved : memiliki power (kekuasaan/wewenang) yang
rendah tetapi interest (kepentingannya) tinggi.
3.
Keep Informed : memiliki interest (kepentingan) yang tinggi
tetapi power (kekuasaan/wewenang) rendah.
4.
Minimal effort : memiliki interest (kepentingan) dan power
(kekuasaan/wewenang) yang rendah.
Dalam menentukan suatu lembaga mempunyai kekuasaan/wewenang,
perlu dilakukan identifikasi dari indikator-indikator : pengaruh, kontrol
terhadap sumberdaya alam dan manusia, kepemilikan pengetahuan
dan ketrampilan, keterlibatan dalam strategi pelaksanaan dan kontrol
terhadap lingkungan (Mintzberg,1999 dalam Balai Penelitian
Kehutanan Solo,(2009).
Pemetaan lembaga dengan menggunakan metode diagram Venn yaitu
dengan menemukenali lembaga yang paling dekat dengan lokasi
masyarakat, kekuatan dan potensinya, hubungan antar lembaga, serta
peluang dan manfaatnya bagi masyarakat. Semakin besar bulatannya,
semakin besar peran lembaga tersebut sebagai sumber informasi,
pengetahuan dan pembelajaran di dusun/desa. Semakin dekat dengan
lingkaran dusun/desa semakin sering (frekuensinya) lembaga tersebut
memberikan informasi, pengetahuan dan pembelajaran kepada
masyarakat (Zulkilfi , 2011).
III.
A.
HASIL DAN PEMBAHASAN
Peran Para Pihak
Berdasarkan hasil analisis para pihak, maka para pihak yang terlibat
dalam usahatani konservasi tanah dan air dapat dilihat dari matrik
Mintzberg (1999)
77
High
Level of
Power
Low
Keep Statisfied
Pemerintah Desa
Gunungsari
Pemerintah
Kecamatan Tlogo
wungu.
Key players
Dinas Pertanian dan
Kehutanan Kabupaten
Pati
Perum Perhutani KPH
Regaloh- Pati
Minimal Effort
Kelompok Masyarakat
lainnya (perkumpulan
pedagang pengumpul,
persatuan tukang ojek,
kelompok buruh tani,
dll)
Keep Informed
Kelompok Tani KTA
Lembaga Masyarakat
Desa Hutan
Gabungan Kelompok Tani
(GAPOKTAN)
High
Low
Level of Interest
Gambar 1. Matriks power dan enterest
a.
Keep Informed
Keep Informed adalah parapihak yang mempunyai kepentingan besar
namun kekuasaan/wewenangnya kecil, atau merupakan pihak utama
yang dipengaruhi atau merasakan akibat dari kegiatan pihak lain.
Lembaga yang termasuk Keep Informed antara lain: Lembaga
Masyarakat Desa Hutan (LMDH), Gabungan kelompok tani
(GAPOKTAN) serta Kelompok Tani Konservasi Tanah dan Air. Lembaga
ini mempunyai kepentingan yang besar dalam mengajak anggotanya
untuk menerapkan usahatani berbasis konservasi tanah dan air dalam
rangka mengurangi erosi di wilayahnya namun tidak mempunyai
wewenang dalam membuat kebijakan atau peraturan menuju
kelestarian hutan tanah dan air.
b.
Key Players
Key Players mempunyai kekuasaan yang besar dan mempunyai
wewenang yang besar untuk melakukan sesuatu seperti membuat
aturan atau melaksanakan kegiatan membangun suatu kelompok tani
78
berbasis konservasi tanah dan air. Lembaga yang termasuk Key Players
antara lain: Dinas Pertanian dan Kehutanan Kabupaten Pati dan
Perum Perhutani Unit I - BKPH Regaloh. Lembaga ini mempunyai
kekuasaan atau kewenangan yang besar dalam melestarikan
sumberdaya alam melalui program atau kegiatan pelestarian hutan,
konservasi tanah dan air serta membina kelompok-kelompok tani
sebagai mitra kerjanya.
c.
Keep Statisfied
Keep Statisfied adalah pihak yang mempunyai kepentingan kecil akan
tetapi wewenangnya besar. Lembaga yang termasuk Keep Statisfied
antara lain: Pemerintah Desa Gunungsari dan Pemerintah Kecamatan
Tlogowungu. Lembaga ini mempunyai wewenang untuk membuat
kebijakan atau aturan-aturan untuk melaksanakan program atau
kegiatan dari instansi yang terkait dengan usahatani berbasis
konservasi tanah dan air.
d.
Minimal Effort
Minimal Effort adalah pihak yang mempunyai kepentingan kecil dan
wewenangnya kecil. Merupakan lembaga yang kurang atau tidak
terkait dalam usahatani konservasi tanah dan air. Lembaga yang
termasuk Minimal Effort antara lain: Kelompok Masyarakat Lain seperti
Perkumpulan Pedagang Pengumpul, Persatuan Tukang Ojek,
Kelompok Buruh Tani, dll.
Dengan demikian program parapihak yang termasuk dalam Key Players
dapat menyelaraskan program dari lembaga masyarakat yang telah
ada di Desa Gunungsari. Sehingga diperlukan kerjasama antar
lembaga. Kemampuan lembaga - lembaga yang terkait dengan
pemberdayaan masyarakat harus ditingkatkan untuk lebih mendukung
pelaksanaan usahatani berbasis konservasi tanah dan air.
B.
Lembaga yang Terkait Konservasi Tanah dan Air
Berdasarkan tugas pokok dan fungsi, lembaga yang terkait dalam
kegiatan usahatani konservasi tanah dan air di desa Gunungsari,
79
antara lain Dinas Pertanian dan Kehutanan Kabupaten Pati, Perum
Perhutani Unit I Jawa Tengah - BKPH Regaloh, Pemerintah Desa
Gunungsari, Pemerintah Kecamatan Tlogowungu, Kelompok Tani
Wana Lestari I,II dan III. (Gambar 2).
Pedagang
Pengumpul
Pemerintah
kecamatan
Kel.TaniK
ontan
Pemerintah Desa
Dinas
Pertanian
Kehutanan
Kel. Tani Wana
Lestari
Kel.Masy
BKPH
Regaloh
LMDH
Per
Bank
an
Gambar 2. Diagram Venn untuk lembaga yang terkait pengelolaan
DAS di desa Gunungsari
Keterangan :
= masyarakat desa Gunungsari,
Pemerintah Desa digambarkan besar dan berada dalam lingkaran,
yang berarti mempunyai peran besar terhadap masyarakat dan dekat
dengan masyarakat.
Pemerintah Desa merupakan motor dari
pembangunan SDM di wilayahnya termasuk menangani semua urusan
kemasyarakatan warganya.
Pemerintah Kecamatan digambarkan jauh dan kecil, mempunyai arti
pengaruh dan peran di dalam pembangunan masyarakat desa
Gunungsari lebih kecil dibandingkan pemerintah Desa.
Lembaga
Masyarakat Desa Hutan (LMDH) digambarkan besar dan di dalam
lingkaran, yang berarti lembaga ini dekat dengan masyarakat dan
berperan/berpengaruh besar terhadap pembangunan masyarakat.
Pedagang pengumpul digambarkan berada di lingkaran, yang berarti
dekat dengan masyarakat dan diperlukan dalam menopang
pembangunan SDM terutama dalam pemasaran hasil bumi. Renternir
80
atau tengkulak atau lintah darat; digambarkan ada di dalam lingkaran
besar, yang menunjukan kedekatan dan dibutuhkan oleh masyarakat.
Sementara per-Bank-an digambarkan di luar lingkaran masyarakat,
yang berarti kurang dekat dengan masyarakat, kurang dibutuhkan.
Kelompok Tani Wana Lestari dan Kelompok Tani Konservasi Tanah dan
Air berada di dalam lingkaran masyarakat; namun berbeda
besarannya.
Dinas Pertanian dan Kehutanan Kabupaten Pati
digambarkan berada di luar laingkaran masyarakat dan jaraknya dekat.
Hal ini menunjukan bahwa kegiatan instansi ini mendukung
pembangunan bidang pertanian dan kehutanan di desa Gunungsari,
seperti kegiatan Gerakan penghijauan (Gerhan) dan Kebun Bibit Desa
(KBD). BKPH Regaloh digambarkan dekat dengan lingkaran
masyarakat, menunjukan bahwa keberadaannya dekat dengan
masyarakat dan cukup berperan dalam menunjang pembangunan
LMDH di desa Gunungsari.
Peran aktif Kelompok Tani yang sudah terbentuk dibutuhkan oleh
masyarakat tani untuk digunakan sebagai sarana saling berbagi
pengalaman dan berbagi informasi, terutama informasi pemasaran
hasil usahatani sehingga dapat meningkatkan kesejahteraan
masyarakat (Hindra,2006). Menurut Hendropuspito (1989) dalam
Ekawati et al., (2004), bahwa hubungan antar institusi sosial saling
mempengaruhi satu sama lainnya. Tidak ada satu institusipun yang
dapat hidup sendiri tanpa dipengaruhi oleh institusi lainnya.
C.
Membangun Kelembagaan berbasis konservasi tanah dan air
Membangun kelembagaan merupakan proses jangka panjang, meski
tidak berurutan tetapi harus ada untuk sebuah proses membangun
pemberdayaan masyarakat. (Awang, et al., 2008).
Membangun kelembagaan dalam hal ini kelompok tani konservasi
tanah dan air, diawali dengan pertemuan multi pihak di tingkat desa
untuk menentukan kriteria siapa pelaku atau anggota masyarakat
yang lahannya akan digunakan untuk lokasi penelitian usahatani
berbasis konservasi tanah dan air. Lokasi penelitian ini disamping
sebagai plot percobaan juga sebagai plot percontohan bagi petani di
sekitarnya. Penentuan anggota masyarakat yang lahannya dijadikan
81
plot penelitian usaha tani konservasi tanah dan air menggunakan
kriteria yang telah disepakati bersama. Penentuan lokasi penelitian
tidak lepas dari kepentingan berbagai pihak, namun hal itu penting
dirumuskan secara bersama, antara para peneliti Balai Peneltian
Teknologi Kehutanan Pengelolaan Daerah Aliran Sungai (BPTKPDAS)
dengan petani pemilik lahan. Oleh sebab itu proses pertama
penentuan petani pemilik lahan untuk bersedia lahannya dijadikan plot
penelitian menjadi penting. Proses awal inilah yang akan menentukan
anggota masyarakat mana yang akan terlibat dalam proses-proses
selanjutnya. Menurut Awang, et al., (2008), metode Pendekatan Aksi
Partisipatif (PAP) berguna dalam proses memahami dan membangun
kebersamaan. PAP menunjukkan adanya hubungan aktif antara petani
terpilih yang berjumlah 13 orang kepala keluarga dengan para peneliti
BPTKPDAS yang difasilitasi oleh ketua Kelompok Tani Wana Lestari I
bapak Ngarjono, untuk melakukan kegiatan usahatani konservasi
tanah dan air di masing-masing lahannya sesuai perlakuan penelitian
yang telah ditentukan. Kemudian dilanjutkan pada tahap merumuskan
visi dan misi bersama. Hal ini menunjukkan bahwa visi dan misi itu
bukan bersifat angan-angan semata, namun menjadi cita-cita bersama
dan akan dicapai dengan tindakan bersama. Setelah terbentuk sebuah
kelompok tani pemilik lahan yang digunakan sebagai sarana penelitian
secara partisipatif, maka kelompok ini diberi nama: Kelompok Tani
Konservasi Tanah dan Air dengan Ketua bapak Ngarjono. Jumlah
anggota 13 orang.
Langkah selanjutnya adalah penyusunan aturan internal yaitu berupa
Anggaran Dasar (AD) dan Anggaran Rumah Tangga (ART) kelompok
tani. Sebuah lembaga atau kelompok tani di tingkat apapun pada
bidang apapun membutuhkan AD dan ART sebagai aturan yang
disusun dan berlaku dalam lembaga/ kelompok.
Namun sebelum AD dan ART kelompok tani konservasi tanah dan air
tersusun, lembaga ini sudah tidak ada kegiatan lagi. Kendala yang
dihadapi kelompok tani ini, antara lain: jumlah anggotanya sedikit (13
orang), domisili tersebar, memiliki lahan garapan lain yang lebih luas
dan lebih produktif yaitu kopi dibawah tegakan pinus, yang
memerlukan tegana dan waktu lebih banyak. Sehingga untuk
berkumpul dan bertemu sebulan sekali terasa sulit.
82
Kemudian diadakan pertemuan bersama antara anggota kelompok
tani konservasi tanah dan air dengan peneliti BPTKPDAS sebagai
pendamping, maka diperoleh kesepakatan bahwa kelompok ini bubar
dan anggotanya bergabung dengan kelompok tani Wana Lestari yang
jumlah anggotanya lebih banyak yaitu mencapai 100 orang. Aset
kelompok tani Wana Lestari sudah mencapai 100 juta lebih yang
diperoleh dari iuran anggota dan bantuan pemerintah, antara lain oleh
Dinas Pertanian dan Kehutanan Kabupaten. Pengembangan ekonomi
kelompok tani dirasa penting karena kelompok tani membutuhkan
dana untuk berbagai kegiatan. Sementara kelompok tani konservasi
tanah dan air belum memiliki dana untuk berbagai kegiatannya.
Namun kelompok tani Wana Lestari sudah memiliki kegiatan ekonomi
antara lain simpan pinjam uang anggota, menyewakan alat untuk
prosesing kopi.
Hal ini sesuai dengan pendapat Hindra (2006), bahwa peran
pendamping dari instansi sangat diperlukan untuk mendorong dan
membimbing masyarakat agar mampu bekerjasama di bidang
ekonomi secara berkelompok. Anggota kelompok haruslah terdiri dari
masyarakat yang saling mengenal, saling percaya dan mempunyai
kepentingan yang sama, sehingga akan tumbuh kerjasama yang
kompak dan serasi. Bantuan kemudahan diberikan oleh instansi
pembina atau pihak lain untuk menumbuhkan keswadayaan dan
kemandirian kelompok.
Proses pembangunan kelembagaan konservasi tanah dan air memiliki
peran yang penting dalam pengelolaan lahan lestari. Pengelolaan
lahan lestari harus mengikuti kaidah konservasi tanah dan air yang
dilakukan melalui kerja bersama kelompok yang merupakan hasil dari
musyawarah mufakat anggota kelompok dalam meningkatkan
produktifitas.
IV.
A.
1.
KESIMPULAN DAN REKOMENDASI
Kesimpulan
Proses membangun kelembagaan konservasi tanah dan air
dilakukan melalui kerjasama antara instansi/lembaga kepada
kelompok tani, kerjasama antar anggota dalam kelompok tani
dan kerjasama dengan masyarakat desa dalam pengelolaan
83
2.
3.
B.
lahan lestari berbasis konservasi tanah dan air untuk
meningkatkan produksi dan meningkatkan pendapatan.
Lembaga yang berperan penting dalam membangun
kelembagaan tingkat petani adalah Dinas Pertanian dan
Kehutanan Kabupaten lewat Petugas Penyuluh Pertanian (PPL)
sebagai pendamping kelompok tani dan Perum Perhutani KPH
Regaloh lewat Ketua RT merangkap Ketua Sub LMDH dan para
anggota Kelompok Tani Wana Lestari. Mereka berperan dalam
merencanakan, melaksanakan dan memonitor serta
mengevaluasi kegiatan konservasi tanah dan air di desa
Gunungsari.
Peran aktif Kelompok Tani Wana Lestari dibutuhkan oleh
masyarakat tani desa Gunungsari. Kelompok Tani Wana Lestari
digunakan sebagai tempat untuk saling berbagi pengalaman
dan berbagi informasi, terutama informasi pemasaran hasil
usahatani sehingga dapat meningkatkan kesejahteraan
masyarakat.
Rekomendasi
Kemampuan para pihak perlu ditingkatkan dan kegiatannya harus
terpadu dengan kegiatan masyarakat dalam mendukung pelaksanaan
usahatani berbasis konservasi tanah dan air.
DAFTAR PUSTAKA
Badan Pusat Statistik. 2005. Kecamatan Tlogowungu dalam Angka.
Monografi Desa Gunungsari.Pati.
Badan Pusat Statistik. 2009. Kecamatan Tlogowungu dalam Angka.
Monografi Desa Gunungsari.Pati.
Balai Penelitian Kehutanan Solo. 2009. Kajian pola kemitraan
pengelolaan hutan rakyat di Jawa Tengah. Laporan Hasil
Penelitian. Surakarta.
Hindra, B. 2006. Potensi dan kelembagaan hutan rakyat. Prosiding
Seminar Hasil Litbang Hasil Hutan 2006 : 14-23. Bogor.
Kementerian Pertanian.2008.Peraturan Menteri Pertanian Nomor
16/Permentan/OT.140/2/2008, tanggal 11 Pebruari 2008. Tentang
pedoman umum Proyek Usaha Agribisnis Perdesaan (PUAP).
Jakarta.
84
San Afri Awang, W.T Widayanti, B. Himmah, A. Astuti, R.M. Septiana,
Solehudin dan A. Novenanto .2008. Panduan Pemberdayaan
Lembaga Masyarakat Desa Hutan (LMDH). CIFOR. Bogor.
Sulistya, E., S. Donie, Y. Indrajaya, S. Retnowati, D. Yuliantoro, Siswo,
Sudirman. 2004. Kajian kelembagaan pengelolaan DAS dalam
konteks desentralisasi. Balai Penelitian dan Pengembangan
Teknoilogi Pengelolaan Daerah Aliran Sungai Inonesia Bagian
Barat. Tidak dipublikasi. Surakarta.
Zulkifli, I.
2011. Penyusunan peta sosial
www.bintans.web.id/2011/.../penyusunan-peta-sosialkemiskinan.ht...Diunduh tanggal 11 April 2013
85
PEMETAAN KAWASAN RAWAN KEBAKARAN HUTAN DENGAN
MENGGUNAKAN TEKNOLOGI PENGINDERAAN JAUH DAN SISTEM
INFORMASI GEOGRAFIS:
STUDI KASUS DI TAMAN NASIONAL BALI BARAT1
Oleh:
Arina Miardini dan Nunung Puji Nugroho 2
1*
2
Balai Penelitian Teknologi Kehutanan Pengelolaan Daerah Aliran Sungai
Jl. A. Yani PO Box 295 Pabelan.
Telepon/Fax.: (+62 271) 716709/716959
Email: [email protected]
*E-mail: [email protected]
ABSTRAK
Taman Nasional Bali Barat (TNBB) merupakan salah satu kawasan pelestarian alam
yang memiliki keterwakilan ekosistem hutan yang tergolong lengkap, mulai dari
hutan bakau/mangrove, hutan pantai, hutan musim, hutan evergreen, hutan dataran
rendah, sampai savanna. Gangguan yang secara intensif mengancam keberadaan
kawasan TNBB adalah kebakaran hutan, terutama pada hutan musim dan pada
savanna yang didominasi oleh tumbuhan bawah berupa rumput, semak-semak, alangalang, dan serasah tegakan hutan yang kering pada saat musim kemarau, sehingga
menimbulkan gangguan habitat bagi kelangsungan hidup tumbuhan, satwa liar dan
ekosistemnya. Dalam upaya mencegah atau meminimalkan risiko kebakaran hutan,
maka diperlukan peta tingkat kerawanan kebakaran hutan yang berguna dalam
mengoptimalkan pengalokasian sumberdaya yang ada. Kajian ini bertujuan untuk
memetakan kawasan rawan kebakaran hutan di TNBB dengan menggunakan teknik
penginderaan jauh (PJ) dan sistem informasi geografis (SIG). Metode yang digunakan
dalam kajian ini adalah skoring dan pembobotan dengan menghitung indeks numerik
kawasan rawan kebakaran hutan berdasarkan parameter vegetasi, kemiringan lereng
(slope), arah lereng (aspek), jarak dari jalan, dan jarak dari permukiman. Hasil kajian
menunjukkan bahwa kerentanan kawasan TNBB terhadap kebakaran hutan
didominasi oleh kelas sedang, yaitu sebesar 31,28% dari total luas kawasan, dan
terdapat pada hutan musim dan sebagian hutan dataran rendah. Kelas kerawanan
sangat tinggi hanya mencakup 0,41% dari total luas kawasan dan terdapat pada hutan
musim dan savanna. Blok hutan yang rawan kebakaran adalah blok hutan Lampu
Merah, Tegal Bunder, Teluk Kelor, dan Teluk Brumbun. Kawasan rawan kebakaran
hutan yang tinggi perlu mendapatkan perhatian yang lebih, baik berupa tindakan
preventif/pencegahan melalui patroli intensif, pendekatan dan penyuluhan kepada
masyarakat desa sekitar daerah penyangga dengan membentuk masyarakat peduli
api (MPA), penyediaan embung air dan sekat bakar maupun tindakan pemadaman api
yang bersinergi dengan MPA dan manggala agni.
Kata kunci: rawan, kebakaran hutan, penginderaan jauh, SIG, Taman Nasional
Bali Barat
1
Disampaikan dalam Seminar Nasional Hasil Penelitian Teknologi Pengelolaan
DAS oleh Balai Penelitian Teknologi Kehutanan Pengelolaan DAS, Kementerian
Kehutanan, pada tanggal 12 juni 2013.
86
I.
PENDAHULUAN
Berdasarkan Undang-undang No. 5 Tahun 1990 tentang Konservasi
Sumber Daya Alam Hayati dan Ekosistemnya, taman nasional adalah
kawasan pelestarian alam yang mempunyai ekosistem asli, dikelola
dengan sistem zonasi dan dimanfaatkan untuk tujuan penelitian, ilmu
pengetahuan, pendidikan, menunjang budidaya pariwisata dan
rekreasi (Republik Indonesia, 1990). Salah satu taman nasional yang
memiliki potensi keanekaragaman hayati dan ekosistem yang tinggi
adalah Taman Nasional Bali Barat (TNBB). Tipe ekosistem yang
dijumpai di TNBB adalah hutan bakau (mangrove), hutan pantai, hutan
musim, hutan evergreen, hutan dataran rendah, dan savanna (BTNBB,
2010).
Sebagai salah satu kawasan pelestarian alam yang memiliki
keterwakilan ekosistem hutan yang tergolong lengkap, TNBB
cenderung rentan terhadap gangguan hutan yang dapat mengancam
keutuhan dan integritas ekologi kawasan. Gangguan hutan merupakan
semua faktor baik yang disebabkan oleh alam maupun manusia yang
dalam kondisi tertentu dapat menyebabkan hutan tidak dapat
berfungsi secara optimal sesuai peruntukannya (Sriyanto dan Oetomo,
1988 dalam Kasim, 1990).
Gangguan yang secara intensif mengancam keberadaan kawasan
TNBB adalah kebakaran hutan (BTNBB, 2010), yang terjadi hampir
setiap tahun. Kawasan TNBB bahkan mengalami empat kali kejadian
kebakaran pada tahun 2008. Ekosistem hutan musim dan savanna
yang didominasi oleh tumbuhan bawah berupa rumput, semak-semak,
alang-alang, dan serasah yang kering sangat rentan terhadap
kebakaran, khususnya pada saat musim kemarau. Seksi Pengelolaan
Taman Nasional (SPTN) Wilayah II Buleleng mencatat sekitar 1.410
hektar (ha) hutan musim dan savanna pada wilayah ini yang tergolong
rawan kebakaran hutan (BTNBB, 2009). Kebakaran hutan di TNBB
terutama dipicu oleh kondisi iklim yang kering dengan curah hujan
yang rendah, yang merupakan karakteristik daerah dengan tipe iklim D
dan E berdasarkan klasifikasi iklim Schmidt dan Ferguson (BTNBB,
2011).
87
Salah satu hal penting yang perlu diketahui dalam kegiatan
pengendalian kebakaran hutan adalah faktor-faktor yang
menyebabkan terjadinya kebakaran hutan. Dengan mengenali faktorfaktor tersebut, upaya awal dalam kegiatan pencegahan kebakaran
akan dapat dilakukan sedini mungkin (Saharjo, 2003). Dalam hal ini,
kebakaran terjadi apabila ada tiga unsur yang bersatu, yaitu bahan
bakar (fuel), oksigen (oxygen) dan panas (heat), yang dikenal dengan
prinsip segitiga api (fire triangle). Selanjutnya, faktor-faktor yang
berperan dalam proses terjadinya kebakaran hutan adalah bahan
bakar, topografi, cuaca, waktu dan sumber api serta keterkaitan
diantaranya (Saharjo, 2003). Dampak kebakaran hutan terhadap
kondisi bio-fisik kawasan sangat besar. Kerusakan akibat kebakaran
hutan dapat berkisar mulai dari gangguan luka-luka bakar pada
pangkal batang pohon/tanaman sampai dengan hancurnya
pepohonan/tanaman secara keseluruhan berikut vegetasi lainnya.
Dengan hancurnya vegetasi, yang paling dikhawatirkan adalah
hilangnya plasma nutfah (sumber daya genetik pembawa sifat
keturunan). Kebakaran hutan juga dapat mengurangi kepadatan
tegakan dan merusak hijauan yang bermanfaat bagi hewan serta
menggangu habitat satwa liar. Kebakaran hutan dan lahan dapat pula
merusak sifat fisik tanah akibat hilangnya humus dan bahan-bahan
organik tanah, dan pada gilirannya tanah menjadi terbuka terhadap
pengaruh panas matahari dan aliran air permukaan (Departemen
Kehutanan, 2007).
Dalam upaya mencegah atau meminimalkan risiko kebakaran hutan,
pihak pengelola TNBB membutuhkan informasi kawasan-kawasan
yang rawan terhadap kebakaran. Informasi tersebut salah satunya
dapat diperoleh dari peta tingkat kerawanan kebakaran hutan.
Dengan adanya peta tersebut diharapkan pengalokasian sumber daya
yang ada untuk mencegah, mengatasi atau meminimalkan dampak
kebakaran dapat dilakukan dengan tepat. Oleh karena itu, penelitian
ini bertujuan untuk memetakan kawasan rawan kebakaran hutan di
TNBB dengan menggunakan teknik penginderaan jauh (PJ) dan sistem
informasi geografis (SIG).
88
II.
METODE
A. Lokasi
Penelitian ini dilakukan di TNBB pada tahun 2012. TNBB merupakan
salah satu kawasan pelestarian alam di Bali yang memiliki ekosistem
asli dan merupakan habitat terakhir bagi burung Curik Bali (Leucopsar
rothschildi). Penunjukkan Taman Nasional Bali Barat didasarkan pada
Surat Keputusan (SK) Menteri Kehutanan No. 493/Kpts-II/1995 tanggal
15 September 1995, dengan luas kawasan 19.002,89 ha (15.587,89 ha
adalah wilayah daratan dan 3.415,00 ha adalah wilayah perairan)
(BTNBB, 2011). Secara administratif TNBB terletak di Kabupaten
Jembrana dan Kabupaten Buleleng.
TNBB dikelola dengan sistem zonasi (Gambar 1) sesuai dengan SK
Direktur Jenderal Pelestarian Hutan dan Konservasi Alam (PHKA) No.
SK.143/IV-KK/2010 tanggal 20 September 2010 tentang Zonasi Taman
Nasional Bali Barat. Berdasarkan SK tersebut TNBB dibagi menjadi
tujuh zona, yaitu: (1) Zona Inti (seluas ± 8.023,22 ha), (2) Zona Rimba (±
6.174,76 ha), (3) Zona Perlindungan Bahari (± 221,74 ha), (4) Zona
Pemanfaatan (± 4.294,43 ha), (5) Zona Budaya, Religi dan Sejarah (±
50,57 ha), (6) Zona Khusus (± 3,97 ha), dan (7) Zona Tradisional (±
310,94 ha). TNBB dapat dimanfaatkan untuk kepentingan ilmu
pengetahuan, penelitian, budidaya, pariwisata dan rekreasi (BTNBB,
2011).
89
Gambar 1. Peta Zonasi Taman Nasional Bali Barat
(Sumber: BTNBB, 2010)
B. Bahan dan Alat
Bahan yang digunakan dalam penelitian ini adalah: (1) peta indeks
kebasahan (wetness index) yang diturunkan dari citra Landsat-7 ETM+
path 117/row 66 dengan resolusi spasial 30 meter, perekaman tanggal
21 Mei 2011 hasil koreksi Scan Line Corrector (SLC) Off dengan citra
pengisi dari perekaman tanggal 18 Maret 2011, (2) peta kelerengan dan
arah lereng yang diturunkan dari ASTER DEM (Digital Elevation Model),
(3) peta batas kawasan TNBB dari Balai Pemantapan Kawasan Hutan
(BPKH) Wilayah VIII Denpasar, (4) peta jaringan jalan dari peta RBI
tahun 2009, (5) peta tipe ekosistem hutan dan peta enclave dari Pusat
Penelitian Sumber Daya Alam dan Lingkungan Hidup (PPSDALH)
Universitas Udayana tahun 1997 dan (6) Lokasi kejadian kebakaran di
TNBB dari Data Lahan Kritis dan Rawan Kebakaran Seksi Pengelolaan
Taman Nasional Wilayah I dan II TNBB untuk validasi peta rawan
kebakaran. Alat yang digunakan adalah: (1) perangkat keras
(hardware), yaitu laptop, dan (2) perangkat lunak (software), yaitu: (a)
Frame and Fill untuk koreksi SLC Off (NASA, 2003), (b) ArcGis 9.3
(untuk analisis citra dan SIG) dan (3) Microsoft Excel 2007 (untuk
tabulasi).
90
C. Metode
Gambar 2. Diagram alur pemetaan kawasan rawan kebakaran hutan di
TNBB
D. Analisis Data
Kerawanan kawasan terhadap kebakaran hutan ditentukan oleh lima
parameter, yaitu:
1. Tipe vegetasi
Tutupan vegetasi memiliki peran penting sebagai bahan bakar saat
terjadinya kebakaran hutan. Dalam hal ini tingkat kekeringan tipe
91
vegetasi menentukan mudah tidaknya suatu tutupan untuk
terbakar. Tingkat kekeringan tipe tutupan lahan di TNBB didekati
dengan menggunakan indeks kebasahan (wetness index) hasil dari
analisis transformasi citra. Indeks kebasahan merupakan salah satu
indeks yang dihasilkan dari transformasi Tasseled Cap (Akhter dan
Hassan, 2005). Kadar air bahan bakar berpengaruh sangat nyata
dalam menentukan perilaku api pada saat terjadinya kebakaran
hutan. Kadar air menentukan kemudahan bahan bakar untuk
menyala, kecepatan proses pembakaran, kecepatan penjalaran api
dan kemudahan usaha pemadaman kebakaran. Api sulit untuk
mulai menyala pada kadar air bahan bakar di atas 12% untuk jenis
rumput-rumputan dan di atas 20% untuk bahan bakar hutan
(Sagala, 1988 dalam Darwo, 2009).
2. Kelerengan
Faktor topografi merupakan salah satu faktor yang berperan dalam
kebakaran hutan dan lahan. Ada tiga faktor topografi yang
biasanya berperan penting, yaitu kemiringan lereng, arah lereng
(aspek) dan medan (terrain) (Purbowaseso, 2004). Kemiringan
lereng (slope) akan berpengaruh terhadap laju penjalaran api. Pada
lereng yang curam, api membakar dan menghabiskan dengan
cepat tumbuhan yang dilaluinya dan api akan menjalar lebih cepat
ke arah menaiki lereng. Sebaliknya api yang menjalar ke bawah
lereng akan padam jika melalui daerah lembab yang memiliki kadar
air tinggi (Clar dan Chatten, 1994). Kawasan yang memiliki besar
sudut kemiringan yang tinggi memiliki tingkat kerawanan yang
sangat tinggi terhadap kebakaran hutan. Semakin besar sudut
maka kecepatan penjalaran api akan semakin besar pula.
Kemiringan yang tinggi ini memungkinkan terjadinya lidah api yang
besar, sehingga dapat mempercepat pengeringan bahan bakar.
3. Arah lereng
Arah lereng merupakan salah satu faktor topografi yang
berpengaruh dalam kebakaran hutan. Kawasan dengan lereng
yang langsung menghadap matahari cenderung rawan terhadap
kebakaran. Wilayah dengan arah lereng (aspek) menghadap
matahari akan lebih cepat terjadinya pengeringan bahan bakar
dibandingkan dengan wilayah yang memiliki arah kemiringan yang
92
tidak menghadap matahari. Pada arah lereng, menyebabkan
kondisi yang rentan terhadap kebakaran, sehingga bahan bakar
akan mudah tersulut dan apabila sudah tersulut, maka api akan
lebih cepat menjalar, karena angin bertiup lebih kencang
(Purbowaseso, 2004).
4. Jarak dari jalan
Jalan merupakan akses utama dalam intervensi masyarakat
ataupun aktivitas dalam kawasan. Jarak dari jaringan jalan,
pemukiman penduduk memiliki kategori sangat penting, sehingga
peubah jalan dan pemukiman penduduk digunakan sebagai peubah
penyebab kebakaran untuk menentukan pengaruh aktivitas
manusia. Semakin jauh lokasi hutan terhadap pemukiman
penduduk, jalan, dan sungai maka hutan semakin terhindar dari
kebakaran (Arianti, 2006). Dalam menentukan kerawanan kawasan
terhadap kebakaran hutan berdasarkan kelas jarak dari jalan, maka
dilakukan buffering untuk mendapatkan sempadan jalan pada
berbagai kelas radius. Makin dekat daerah dengan jaringan jalan
maka makin mempertinggi risiko terjadinya kebakaran hutan.
Namun jalan dalam penilaian ini menempati bobot terendah dalam
penilaian kerawanan kebakaran hutan karena jalan yang mampu
dilakukan buffering adalah jaringan jalan provinsi dan kabupaten
sehingga jalan setapak tidak terekam secara spasial.
5. Jarak dari enclave
Enclave mempengaruhi intervensi masyarakat dalam kawasan,baik
itu kegiatan bercocok tanam, penggembalaan ternak maupun
perambahan hutan. Kebakaran hutan dan lahan bisa terjadi baik
disengaja maupun tanpa disengaja, namun sekitar 90% kebakaran
hutan dan lahan saat ini disebabkan oleh faktor kesengajaan
(Purbowaseso, 2004), yang antara lain dipicu oleh adanya enclave.
Dalam menentukan kerawanan kawasan terhadap kebakaran
hutan berdasarkan kelas jarak dari enclave, maka dilakukan
buffering untuk mendapatkan kawasan yang rawan pada berbagai
kelas radius. Semakin dekat daerah dengan aktivitas pemukiman,
maka semakin rawan pula terhadap kebakaran hutan. Namun
enclave dalam penilaian ini menempati bobot terendah dalam
penilaian kerawanan kebakaran hutan karena enclave yang mampu
93
dilakukan buffering adalah enclave yang telah terinventarisir oleh
Balai TNBB, sedangkan titik enclave yang kecil tidak terekam secara
spasial.
Persamaan yang digunakan dalam menentukan daerah rawan
kebakaran hutan ditunjukkan dalam Persamaan 1 (Erten et al, 2004).
RC
=
7
* VT + 5 * (S + A) + 3
…………………………………… (1)
*
(DR
+
DS)
dimana:
RC : Indeks numerik zona rawan kebakaran hutan
VT : Tipe vegetasi
S : Kemiringan
A : Aspek
DR : Jarak dari jalan
DS : Jarak dari permukiman
Berdasarkan analisis dilakukan pemetaan zona rawan kebakaran
hutan. Pembobotan parameter dalam penilaian kawasan rawan
kebakaran hutan dapat dilihat pada Tabel 1.
Tabel 1. Pembobotan Parameter dalam Penilaian Kerawanan
Kebakaran Hutan di TNBB
Table 1. The Weight of Parameters in Determination of Fire Risk Areas in
Bali Barat National Park
Parameter
Tutupan vegetasi
(Vegetation cover)
Bobot
7
Kelas
Faktor
Penilaian
Savanna (Sangat kering)
5
Sangat Tinggi
Hutan Pantai dan Hutan
Musim (Kering)
Hutan Dataran Rendah
(Lembab)
Mangrove (Agak basah)
Perairan (Basah )
4
Tinggi
3
Sedang
2
1
Rendah
Sangat
Rendah
Sangat Tinggi
Tinggi
Sedang
Rendah
Sangat
Rendah
Sangat Tinggi
Lereng (Slope)
5
> 35%
35-25%
25-10%
10-5%
< 5%
5
4
3
2
1
Orientasi/arah lereng
(Aspect)
5
Selatan
5
94
Jarak dari jalan
(Distance from road)
Jarak dari
permukiman (Distance
from settlements)
3
3
Barat
4
Tinggi
Timur
3
Sedang
Utara
2
Rendah
< 100 m
5
Sangat Tinggi
100-200 m
4
Tinggi
200-300 m
3
Sedang
300-400 m
2
Rendah
> 400 m
1
< 1000 m
5
Sangat
Rendah
Sangat Tinggi
1000-2000 m
4
Tinggi
2000-3000 m
3
Sedang
> 3000 m
2
Rendah
Sumber: Erten et al. (2004)
III.
HASIL DAN PEMBAHASAN
A. Parameter dalam Penilaian Kerawanan Kebakaran Hutan di TNBB
1. Vegetasi
Sekitar 25,30% kawasan TNBB tergolong memiliki kerentanan sangat
rendah terhadap kebakaran hutan terdapat di hutan mangrove. Nilai
ini juga termasuk kawasan perairan (15.587,89 ha) yang dikelaskan
sangat rendah atau tidak rawan terhadap kebakaran hutan.
Keberadaan Savanna dan Hutan Musim pada saat musim kemarau
tergolong memiliki tingkat kerawanan yang sedang (23,35%) sampai
sangat tinggi (27,43%) terhadap kebakaran hutan karena vegetasi yang
terdapat pada kedua tipe ekosistem tersebut merupakan sumber
bahan bakar yang sangat potensial. Kerawanan kawasan terhadap
risiko kebakaran hutan berdasarkan kelas tutupan lahan ditunjukkan
pada Gambar 3.
95
Gambar 3 Kerawanan Kawasan terhadap Kebakaran Hutan berdasar
Parameter Vegetasi
2.
Kelerengan
Kemiringan lereng di TNBB didominasi oleh kelas kelerengan 10-25%
yang meliputi 31,29% dari total luas TNBB. Kelerengan10-25% termasuk
dalam kawasan yang memiliki tingkat kerawanan sedang terhadap
risiko kebakaran hutan. Kawasan dengan kemiringan 10-25% terdapat
hampir merata di seluruh kawasan TNBB. Kawasan yang memiliki
besar sudut kemiringan yang tinggi (> 35%) memiliki tingkat kerawanan
yang sangat tinggi terhadap kebakaran hutan. Hal ini berbanding
terbalik dengan tipe vegetasi yang rawan kebakaran seperti savanna,
dengan kemiringan yang relatif datar. Savana berperan dalam
kebakaran hutan sebagai bahan bakar, sedangkan kemiringan
berperan dalam laju kebakaran hutan. Kombinasi antara terdapat
vegetasi bahan bakar dan kemiringan tinggi akan meningkatkan
potensi terjadinya kebakaran hutan.. Kawasan TNBB yang memiliki
kerawanan sangat tinggi terhadap kebakaran hutan berdasar kelas
kemiringan sebesar 13,93% dari luas kawasan. Kerawanan kawasan
96
terhadap risiko kebakaran hutan berdasar kelas kemiringan lereng
ditunjukkan pada Gambar 4.
Gambar 4 Kerawanan Kawasan terhadap Kebakaran Hutan berdasar
Kemiringan Lereng
3.
Arah Lereng
Wilayah TNBB secara umum mempunyai arah lereng yang menghadap
Utara, yaitu sebesar 34,38% dengan tingkat kerawanan kebakaran
rendah. Arah lereng yang memiliki kerawanan sangat tinggi terdapat
di arah selatan sebesar 27,71% dari luas kawasan, sedangkan arah
lereng barat tergolong kerawanan tinggi (10,26%). Kedua arah tersebut
menghadap matahari, sehingga akan lebih cepat terjadinya
pengeringan bahan bakar. Kerawanan kawasan terhadap risiko
kebakaran hutan berdasarkan kelas arah lereng ditunjukkan pada
Gambar 5.
97
Gambar 5 Kerawanan Kawasan terhadap Kebakaran Hutan berdasar
Parameter Arah Lereng
4.
Jarak dari Jalan
Berdasarkan buffering jalan sebesar 84,34% termasuk pada kerawanan
sangat rendah terhadap kebakaran hutan dengan kawasan radius >
400 m dari badan jalan. Makin dekat daerah dengan jaringan jalan
maka makin mempertinggi risiko terjadinya kebakaran hutan. Kawasan
dengan radius paling dekat dari jalan (< 100 m) hanya sebesar 3,74%
dari luas kawasan TNBB. Kerawanan kawasan terhadap risiko
kebakaran hutan berdasar kelas jarak dari jalan ditunjukkan pada
Gambar 6.
98
Gambar 6 Kerawanan Kawasan terhadap Kebakaran Hutan berdasar
Parameter Jarak dari Jalan
5.
Jarak dari enclave
Berdasarkan buffering enclave sebesar 67,38% termasuk pada
kerawanan rendah terhadap kebakaran hutan dengan kawasan radius
> 3000 m dari garis enclave terluar. Semakin dekat daerah dengan
aktivitas pemukiman, maka semakin rawan pula terhadap kebakaran
hutan. Kawasan dengan radius paling dekat dari permukiman (< 1000
m) hanya sebesar 8,63% dari luas kawasan TNBB. Kerawanan kawasan
terhadap risiko kebakaran hutan berdasar kelas jarak dari enclave
ditunjukkan pada Gambar 7.
99
Gambar 7 Kerawanan Kawasan terhadap Kebakaran Hutan berdasar
Parameter Jarak dari Enclave
B. Kerawanan Kebakaran Hutan di TNBB
Berdasarkan hasil analisis dari persamaan 1 diketahui bahwa nilai
kerentanan kawasan terhadap kebakaran hutan didominasi oleh kelas
sedang, yaitu sebesar 31,28% dari total luas kawasan yang terdapat di
hutan musim dan sebagian di hutan dataran rendah. Kelas kerawanan
sangat tinggi hanya sekitar 0,41% yang terdapat di hutan musim dan
savanna. Beberapa blok yang rawan terbakar terdapat di blok hutan
lampu merah, Tegal Bunder, Teluk Kelor, dan Teluk Brumbun.
Kerawanan kawasan terhadap risiko kebakaran hutan ditunjukkan
pada Gambar 8.
Validasi peta kerawanan kebakaran hutan di TNBB dilakukan dengan
membandingkan hasil analisis dengan kejadian kebakaran yang pernah
terjadi di TNBB. Hasil validasi menunjukkan bahwa dari 10 lokasi titik
kebakaran yang pernah terjadi, sebanyak 8 titik lokasi kejadian
kebakaran hutan di TNBB terjadi pada kelas kerawanan sedang sampai
sangat tinggi, sedangkan 2 titik kebakaran berada pada kelas
100
kerawanan rendah. Berikut tabel 2 yang menunjukkan kejadian
kebakaran di TNBB dan hasil analisis dari peta kerawanan.
Tabel 2. Kebakaran Hutan di TNBB dan Hasil Analisis Kerawanan
Kawasan terhadap Kebakaran Hutan
No
Koordinat
X
Y
1 220955 9088100
2 230626 9098749
3 218353 9094441
4 217285 9102663
5 224038 9094149
6 221751 9104107
7 224367 9103340
8 218015 9093486
9 222577 9097010
10 217790 9095288
Lokasi
Panginuman
Malaya
trimbawan
Pura Bakungan
Lampu Merah
sumber
klampok
teluk kelor
teluk brumbun
cekik
tegal bunder
Depan spbu
gilimanuk
Tipe
Ekosistem
Kerawanan
Kebakaran Hutan
Pantai
Musim
Savana
Savana
Rendah
Sedang
Sedang
Sangat Tinggi
Musim
Musim
Savanna
Savanna
Musim
Rendah
Tinggi
Tinggi
Sedang
Sedang
Savanna
Tinggi
Beberapa kawasan dengan kelas kerawanan sedang seperti pada
kawasan Trimbawan, Pura Bakungan, Cekik dan Tegal Bunder pernah
mengalami kebakaran namun tidak terjadi setiap tahun. Kelas
kerawanan tinggi sampai sangat tinggi terhadap kebakaran hutan
pada kawasan lampu Merah, Teluk Brumbun dan Teluk Kelor memiliki
catatan frekuensi kebakaran yang cukup sering. Hal ini dikarenakan
kondisi ekosistem yang berupa savanna dan hutan musim yang
mengalami kekeringan, sehingga mudah tersulut api dan didukung
oleh faktor lain seperti kelerengan dan arah lereng yang mempercepat
laju penjalaran api. Pada kawasan perbatasan TNBB yang sering
mengalami kebakaran, yaitu lokasi di depan SPBU Gilimanuk, faktor
pemicu yang utama adalah adanya intervensi dari luar khususnya
puntung rokok, pembakaran sampah dan kecerobohan pengguna
jalan.
Tipe kebakaran yang terjadi di TNBB termasuk kebakaran permukaan
(surface fire) (BTNBB, 2009). Menurut De Bano et al. (1998), pada
kebakaran permukaan api membakar serasah, tumbuhan bawah,
bekas limbah pembakaran dan bahan bakar lainya yang terdapat di
101
lantai hutan. Energi kebakaran dapat rendah sampai tinggi dan
penjalarannya dipengaruhi oleh angin permukaan dan slope sehingga
dapat membakar tumbuhan yang lebih tinggi hingga ke tajuk pohon
(crowing out).
Ekosistem hutan musim memiliki luasan paling besar di TNBB. Saat
musim kemarau, tumbuhan pada hutan ini akan menggugurkan
daunnya sehingga terlihat gersang, namun saat musim penghujan
akan terlihat hijau. Hutan musim hanya memiliki satu strata tajuk,
sehingga memungkinkan penetrasi cahaya ke lantai hutan.
Savana di TNBB mengalami masa kekeringan lebih panjang dari pada
tipe ekosistem berhutan. Saat musim penghujan produksi hijauan
melimpah dan berkurang pada musim kemarau. Kondisi hutan savana
memiliki penutupan tajuk yang relatif terbuka sehingga intensitas
cahaya matahari juga lebih besar masuk ke lantai hutan, sehingga api
sangat mudah tersulut. Savana merupakan padang rumput dan semak
yang terpencar di antara rerumputan, serta merupakan daerah
peralihan antara hutan dan padang rumput (Sabarno, 2001). Jenis yang
mendominasi antara lain: merakan (Themeda arguens) sebesar 90,56%,
kemudian Pring-pringan (Pogonatherum crinitum) dengan INP sebesar
39,76% dan nyawon (Vernonia cinerea) sebesar 21,17% (Miardini dan
Supangat, 2012).
Ekosistem hutan dataran rendah di TNBB merupakan ekosistem yang
tergolong memiliki tingkat kerawanan rendah sampai sangat rendah
terhadap bahaya kebakaran hutan. Secara umum potensi bahan bakar
pada hutan ini sangat terbatas karena memiliki nilai wetness index
tinggi yang berkaitan dengan kondisi bahan bakar yang
mempengaruhi laju pelepasan energi dalam penyalaan api. Hutan ini
memiliki kerapatan yang tinggi dan penutupan tajuk besar yang
memungkinkan penetrasi cahaya matahari pada lantai hutan sangat
terbatas sehingga sangat kecil kemungkinan kebakaran terjadi pada
hutan dataran rendah di TNBB.
102
Gambar 8 Kerawanan Kawasan terhadap Kebakaran Hutan
Dalam upaya pencegahan terjadinya kebakaran hutan di TNBB, pihak
Balai TNBB melakukan kegiatan berupa: (1) Patroli dan operasi
pengamanan kawasan, (2) Penyuluhan dan pembinaan bagi
masyarakat dan pegawai serta polisi hutan lingkup TNBB, (3) Pelatihan
penanggulangan dan pencegaan kebakaran hutan, (4) Pembuatan
sekat bakar pada daerah yang berpotensi terjadi kebakaran hutan
antara lain: blok Tanjung Gelap, Prapat Agung, Teluk Brumbun, Teluk
Kelor dan Teluk Kotal, dan (5) Pemasangan papan peringatan daerah
rawan kebakaran hutan.
IV.
KESIMPULAN
Berdasarkan hasil analisis kerentanan kawasan TNBB terhadap
kebakaran hutan dengan mempertimbangkan faktor tipe vegetasi
(dari sifat kekeringannya), kelerengan, arah lereng, jarak dari jalan,
dan jarak dari permukiman, diperoleh informasi bahwa kerentanan
kebakaran hutan pada kawasan TNBB didominasi oleh kelas sedang,
yaitu sebesar 31,28% dari total luas kawasan. Faktor yang paling
berpengaruh terhadap kebakaran hutan yaitu tutupan vegetasi yang
berperan sebagai bahan bakar dan faktor yang mempengaruhi laju
103
percepatan terjadinya kebakaran hutan yaitu arah lereng dan
kemiringan. Kelas kerawanan sedang tersebut terutama terdapat pada
hutan musim dan hanya sebagian terdapat pada hutan dataran
rendah. Kelas kerawanan sangat tinggi hanya menempati 0,41% dari
total kawasan TNBB dan terdapat pada hutan musim dan savanna.
Informasi peta kerawanan kebakaran hutan tersebut akan
memudahkan pihak pengelola TNBB dalam proses perencanaan,
pemantauan, dan evaluasi pembangunan serta dapat menjadi
pedoman untuk pengambilan keputusan dalam upaya pencegahan
dan penanggulangan kebakaran hutan di TNBB.
DAFTAR PUSTAKA
Akther, M.S. dan Q.K. Hassan. 2005. Remote sensing-based
assessment of firedanger conditions over boreal forest. IEEE
Journal of Selected Topics in Applied EarthObservations &
Remote Sensing. Department of Geomatics Engineering,
Schulich School of Engineering, University of Calgary,
2500University Dr NW, Calgary, Alberta, Canada T2N 1N4.
Balai Taman Nasional Bali Barat. 2009. Data Lahan Kritis dan Rawan
Kebakaran Seksi Pengelolaan Taman Nasional Wilayah I.
Laporan. Bali
Balai Taman Nasional Bali Barat. 2010. Statistik Balai Taman Nasional
Bali Barat. Bali
Balai Taman Nasional Bali Barat. 2011. Taman Nasional Bali Barat.
Diakses
tanggal
4
Januari
2012.
http://www.tnbalibarat.com/?page_id=42
Chuvieco, E. and R.G. Congalton. 1989. Application of Remote Sensing
and Geographic Information Systems to Forest Fire Hazard
Mapping. Remote Sensing of Environment, 29:147-159.
Darwo. 2009. Perilaku Api dan Sebab Akibat Kebakaran Hutan.
http://www.p3hka.org/pdf/394_Karo.pdf. Diakses tanggal 20
februari 2013
DeBano, L.F., D.G. Neary and P.F. Ffolliott. 1998. Fire’s Effects on
Ecosystems. New York: John Wiley & Sons, Inc. 333 p.
Departemen Kehutanan. 2007. Pedoman Pengendalian Kebakaran
Hutan dan Lahan Pusat Pengendalian Kebakaran Hutan dan
104
Lahan Dati I Sumatera Utara. http://www.dephut.go.id.
Diakses tanggal 20 Februari 2013
Erten, E., V. Kurgun and N. Musaoglu. 2004. Forest Fire Risk Zone
Mapping from Satelite Imagery and GIS: a Case Study. ITU,
Institute of Informatics, Civil Engineering Faculty, Remote
Sensing
Division.
www.isprs.org/proceedings/xxxv/congress/yf/papers/927.
Diakses tanggal 20 Februari 2013.
Kasim, S. 1990. Hubungan Kondisi Sosial Ekonomi Masyarakat
Pemukim Liar Terhadap Tingkat Penggunaan Lahan di Taman
Nasional Ujung Kulon. Skripsi. Jurusan Konservasi
Sumberdaya Hutan. Fakultas Kehutanan. Institut Pertanian
Bogor. Bogor.
Miardini, A. dan A.B. Supangat. 2011. Komposisi dan Keanekaragaman
Tumbuhan Bawah Potensial pada Berbagai Tipe Ekosistem
Hutan di Taman Nasional Bali Barat. Makalah Expose Balai
Penelitian Teknologi Kehutanan Pengelolaan Daerah Aliran
Sungai. Surakarta
NASA. 2003. NASA gap filling software. http://l7gapfill.sourceforge.net
Purbowaseso, B. 2004. Pengendalian Kebakaran Hutan Suatu
Pengantar. Jakarta: PT Rinetka Cipta.
Republik Indonesia. 1990. Undang-undang No. 5 Tahun 1990 tentang
Konservasi Sumber Daya Alam Hayati dan Ekosistemnya.
Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 1990 No. 49.
Sekretariat Kabinet RI. Jakarta.
Sabarno, M.Y. 2002. Savana Taman Nasional Baluran. Biodiversitas,
3(1): 207-212.
Saharjo, B.H. 2003. Pengendalian Kebakaran Hutan dan Lahan Yang
Lestari: Perlukah Dilakukan?. Laboratorium Kebakaran Hutan
dan Lahan. Departemen Silvikultur. Fakultas Kehutanan.
Institut Pertanian Bogor.
Suratmo, F.G. 1985. Ilmu Perlindungan Hutan. Bagian Perlindungan
Hutan Fakultas
Kehutanan IPB. Bogor.
105
Lahan Dati I Sumatera Utara. http://www.dephut.go.id.
Diakses tanggal 20 Februari 2013
Erten, E., V. Kurgun and N. Musaoglu. 2004. Forest Fire Risk Zone
Mapping from Satelite Imagery and GIS: a Case Study. ITU,
Institute of Informatics, Civil Engineering Faculty, Remote
Sensing
Division.
www.isprs.org/proceedings/xxxv/congress/yf/papers/927.
Diakses tanggal 20 Februari 2013.
Kasim, S. 1990. Hubungan Kondisi Sosial Ekonomi Masyarakat
Pemukim Liar Terhadap Tingkat Penggunaan Lahan di Taman
Nasional Ujung Kulon. Skripsi. Jurusan Konservasi
Sumberdaya Hutan. Fakultas Kehutanan. Institut Pertanian
Bogor. Bogor.
Miardini, A. dan A.B. Supangat. 2011. Komposisi dan Keanekaragaman
Tumbuhan Bawah Potensial pada Berbagai Tipe Ekosistem
Hutan di Taman Nasional Bali Barat. Makalah Expose Balai
Penelitian Teknologi Kehutanan Pengelolaan Daerah Aliran
Sungai. Surakarta
NASA. 2003. NASA gap filling software. http://l7gapfill.sourceforge.net
Purbowaseso, B. 2004. Pengendalian Kebakaran Hutan Suatu
Pengantar. Jakarta: PT Rinetka Cipta.
Republik Indonesia. 1990. Undang-undang No. 5 Tahun 1990 tentang
Konservasi Sumber Daya Alam Hayati dan Ekosistemnya.
Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 1990 No. 49.
Sekretariat Kabinet RI. Jakarta.
Sabarno, M.Y. 2002. Savana Taman Nasional Baluran. Biodiversitas,
3(1): 207-212.
Saharjo, B.H. 2003. Pengendalian Kebakaran Hutan dan Lahan Yang
Lestari: Perlukah Dilakukan?. Laboratorium Kebakaran Hutan
dan Lahan. Departemen Silvikultur. Fakultas Kehutanan.
Institut Pertanian Bogor.
Suratmo, F.G. 1985. Ilmu Perlindungan Hutan. Bagian Perlindungan
Hutan Fakultas
Kehutanan IPB. Bogor.
105
MODEL PENGENDALIAN BANJIR TERPADU
BERDASARKAN PARAMETER UTAMA PENYEBAB BANJIR
DI DAS BENGAWAN SOLO HULU1
Oleh :
Alif Noor Anna2, Suharjo, Yuli Priyana dan Rudiyanto
Fakultas Geografi Universitas Muhammadiyah Surakarta
Jl. A. Yani Tromol Pos 1 Pabelan Kartasura Surakarta Jawa Tengah 57162 Indonesia
Telp. +62 271 717417 Faks. +62 271 715448
Email: [email protected] Website: www.ums.ac.id
Email: 2 [email protected]
ABSTRAK
Penanganan bencana banjir di DAS Bengawan Solo cenderung kurang efektif. Metode
penanganan yang dilakukan hanya sebatas pada metode struktur sipil teknis. Tujuan dari
penelitian ini adalah untuk mengidentifikasi pengaruh faktor utama penyebab banjir dan
membuat model pengendalian banjir terpadu. Metode yang digunakan adalah survei yang
didukung dengan analisis data sekunder. Hasil yang didapat dari penelitian ini adalah ada 3
faktor penyebab kejadian banjir yakni kondisi iklim, perubahan tata guna lahan, dan
kondisi morfologi sungai. Perubahan tata guna lahan menjadi penyebab paling dominan
terjadinya banjir di daerah penelitian. Perubahan tata guna lahan ini dapat meningkatkan
potensi air permukaan akibat luasan vegetasi berkurang. Selain penggunaan lahan faktor
kondisi morfologi sungai juga berpengaruh signifikan terhadap kejadian banjir di Kota
Surakarta. Hal ini dikarenakan Sungai Bengawan Solo Hulu yang mengalami pelurusan
menyebabkan laju air dan debit meningkat sehingga terjadi erosi tebing dan sedimentasi.
Model pengendalian banjir yang dapat diterapkan di daerah penelitian berdasarkan
parameter curah hujan meliputi metode: sumur resapan, river side polder, kolam
konservasi, perlindungan areal airtanah, dan biopori.
Kata kunci : model, pengendalian banjir terpadu, DAS
I.
PENDAHULUAN
Bencana banjir yang terjadi di Indonesia pada akhir-akhir ini umumnya
terjadi pada bulan basah, yang dalam hal ini terutama disebabkan oleh
curah hujan yang telah melebihi rata-rata normal. Adapun banjir yang
terjadi di Surakarta awal bulan Januari tahun 2008 diakibatkan oleh
curah hujan di atas normal, morfologi sungai, dan adanya alih fungsi
lahan pada daerah hulu, (Anna, et al., 2010).
1
Disampaikan dalam Seminar Nasional Hasil Penelitian Teknologi Pengelolaan
DAS oleh Balai Penelitian Teknologi Kehutanan Pengelolaan DAS, Kementerian
Kehutanan, pada tanggal 12 juni 2013.
106
Selama ini penanganan bencana banjir di DAS Bengawan Solo
cenderung kurang efektif. Metode penanganan yang dilakukan selama
ini di DAS Bengawan Solo hanya sebatas pada metode struktur
seperti: pembuatan tanggul, sudetan, normalisasi sungai dan
sebagainya. Hal ini tentu bertolak belakang dengan berbagai Negara
maju di dunia. Sebagian besar Negara maju di dunia telah mengubah
pola pengendalian banjir dengan lebih dulu mengutamakan metode
non struktur seperti: pengelolaan DAS, pengaturan tata guna lahan,
law enforcement, pengendalian erosi DAS baru kemudian
menggunakan metode struktur. Selain itu selama ini dalam
penanganan banjir di Bengawan Solo pemerintah juga belum
sepenuhnya melibatkan masyarakat, sehingga seringkali dalam
penanganan banjir timbul adanya konflik.
Berdasarkan latar belakang tersebut, maka salah satu langkah untuk
menyelesaikan permasalahan banjir di daerah penelitian adalah
dengan membuat model pengendalian banjir terpadu berdasarkan
parameter utama penyebab banjir. Adapun tujuan dari penelitian ini
adalah (1) mengindentifikasi pengaruh faktor utama penyebab banjir,
dan (2) membuat model pengendalian banjir terpadu.
II.
METODE PENELITIAN
Metode penelitian yang digunakan adalah survei dengan didukung
analisis data sekunder yang berupa data potensi limpasan permukaan,
data penggunaan lahan dengan dasar citra landsat ETM, dan morfologi
Sungai Bengawan Solo hulu. Selanjutnya hasil interpretasi tersebut
diolah dengan sistem informasi geografis (SIG). Adapun penentuan
posisi survei dilakukan dengan menggunakan GPS (Global Positioning
System). Adapun alat dan bahan yang digunakan dalam penelitian
yaitu: (1) Peta Rupa Bumi daerah Klaten, Sukoharjo dan Kota Surakarta
Skala 1:25000, (2) Peta Geologi lembar Yogyakarta dan Surakarta skala
1:100.000, (3) Peta Jenis Tanah, (4) Peta Penggunaan Lahan Tahun
1989, (5) Citra Landsat ETM+ Tahun 2002, , (6) stereoskop Cermin, (7)
Stereoskop Saku, (8) Lope, (9) Kompas Geologi, (10) Abney Level, (11)
Kurvimeter, (12) Meteran 50 m dan 5 m, (13) Theodolit, (14) Yalon, (15)
Plastik sampel tanah, (16) Bor Tanah, (17) Tas sampel tanah, (18) Palu
Geologi, (19) Kompas Geologi, (20) Pisau Lapang, (21) Handicam, (22)
107
Kuesioner, (23) alat laboratorium tanah dan hidrologi, dan (24)
Komputer dan seperangkat analisis SIG.
III.
A.
HASIL DAN PEMBAHASAN
Pengaruh Iklim terhadap Banjir
Kondisi iklim di daerah penelitian dibentuk menggunakan Poligon
Theissen. Poligon Theissen daerah penelitian dibentuk dengan lima
stasiun penakar curah hujan, sehingga terdapat lima area poligon
Theissen, yaitu Stasiun Nepen (Boyolali), Pabelan (Surakarta), Klaten,
Tawangmangu (Karanganyar), dan Baturetno (Wonogiri).
Masing-masing stasiun penakar curah hujan tersebut kemudian
dibentuk sebuah poligon Theissen yang akhirnya akan menentukan
cakupan area curah hujan pada tiap-tiap sub-sub DAS (SSDAS), seperti
yang tertera dalam Tabel 1.
Tabel 1. Cakupan stasiun curah hujan di tiap sub-sub DAS
No
1.
2.
3.
SSDAS
Alang
Unggahan
Dengkeng
Jlantah
Walikun Ds
4.
Keduang
5.
Mungkung
6.
Samin
7.
Bambang
8.
Pepe
9.
10.
Wiroko Temon
Waduk Gajah
Mungkur
Jumlah
Stasiun
Baturetno
Luas
512.975.695,21
Persentase
13,59
Baturetno
Boyolali
Klaten
Pabelan
Baturetno
86.397.415,68
107.636.201,44
549.727.221,45
117.352.591,17
102.927.040,03
2,29
2,85
14,57
3,11
2,73
Pabelan
Tawangmangu
Baturetno
Tawangmangu
Pabelan
Tawangmangu
Pabelan
Tawangmangu
Boyolali
Pabelan
62.483.338,29
200.327.775,87
158.499.220,57
265.145.364,33
104.558.372,73
220.360.392,36
117.145.272,91
197.497.157,79
101.348.259,43
219.885.313,14
1,66
5,31
4,20
7,03
2,77
5,84
3,10
5,23
2,69
5,83
Boyolali
Pabelan
Baturetno
Baturetno
190.874.284,10
105.657.868,51
303.800.945,99
49.394.977,56
5,06
2,80
8,05
1,31
3.773.994.708,56
100
Sumber : Anna et al., 2009
108
Berdasarkan Tabel 1 dapat diketahui bahwa SSDAS Alang Unggahan
dan Wiroko Temon serta Waduk Gajah Mungkur hanya dipengaruhi
dari satu stasiun saja yaitu Baturetno. Sedangkan SSDAS lainnya
dipengaruhi dua hingga empat stasiun pengukur curah hujan.
Penentuan tipe iklim menurut pembagian tipe iklim (Q) dari Schmidt
dan Ferguson, yaitu dengan rumus sebagai berikut:
Rata − RataJumlahBulanKering
=
100%
Rata − RataJumlahBulanBasah
a)
b)
c)
Kriteria bulan basah dan bulan kering yaitu :
Bulan basah : suatu bulan yang curah hujannya > 100 mm
Bulan lembab : suatu bulan yang curah hujannya 60- 100 mm
Bulan kering : suatu bulan yang curah hujannya < 60 mm
Berdasarkan nilai Q tersebut, Iklim dikelompokkan menjadi delapan,
seperti yang tercantum pada Tabel 2.
Tabel 2. Pembagian iklim menurut Schmidt dan Ferguson
Tipe iklim
Nilai Q (%)
Arti simbol
A
0,00 - < 14,30
Sangat basah
B
14,30 - < 33,30
Basah
C
33,30 - < 60,00
Agak basah
D
60,00 - < 100,00
Sedang
E
100,00 - < 167,00
Agak kering
F
167,00 - < 300,00
Kering
G
300,00 - < 700,00
Sangat kering
H
700,00 atau lebih
Luar biasa kering
Sumber : Tjasyono, 1999
109
Tabel 3. Kondisi iklim di daerah penelitian
Nama stasiun
Nepen (Boyolali)
Pabelan
(Surakarta)
Klaten
Tawangmangu
(Karanganyar)
Baturetno
(Wonogiri)
Jumlah ratarata
Bulan Basah
(BB)
6,2
6,8
Jumlah ratarata
Bulan Kering
(BK)
4,8
5,8
Nilai Q
(%)
Keterangan
77,42
85,29
Sedang
Sedang
5,6
7
5
4,4
89,29
62,86
Sedang
Sedang
5,8
6
103,45
Agak kering
Sumber : Anna et al., 2009
Sedangkan kondisi iklim di daerah penelitian disajikan pada Tabel 3.
Tabel 3 menunjukkan bahwa daerah penelitian mempunyai tipe iklim
agak kering sampai sedang. Hal ini berarti daerah penelitian termasuk
daerah dengan curah hujan yang kurang mencukupi bulan kering
sampai curah hujan yang sebanding dengan bulan kering yang ada
dalam satu tahunnya.
B.
Pengaruh Perubahan Tata Guna Lahan terhadap Banjir
Pengaruh tataguna lahan terhadap banjir sangat tinggi. Perubahan
tata guna lahan menyebabkan perubahan pada debit, dan potensi
aliran permukan (Co). Sejalan dengan hal tersebut Kodatie et al.,
(2005) menyatakan bahwa perubahan tata guna lahan menjadi
penyebab utama kejadian banjir di berbagai wilayah di Indonesia. Hal
ini dikarenakan perubahan tata guna lahan akan meningkatkan debit
puncak air naik dari lima sampai 35 kali karena air meresap ke dalam
tanah sedikit, sehingga menyebabkan aliran permukaan (run off)
menjadi besar yang pada akhirnya menyebabkan kenaikan laju erosi
dan sedimentasi (Gambar 1)
110
Gambar 1. Peningkatan debit akibat perubahan tata guna lahan
dengan hutan sebagai referensi
Sumber : Kodatie, et al., (2005)
Penggunaan Lahan di daerah penelitian meliputi: penggunaan lahan
berupa hutan, kebun, lahan kering, permukiman, sawah, dan daerah
berair atau waduk. Secara detail mengenai gambaran penggunaan
lahan dan perubahannya di daerah penelitian dapat dilihat pada Tabel
4.
Tabel 4. Penggunaan lahan dan perubahannya di daerah penelitian
Penggunaan
Luas (m²)
Selisih (m2)
lahan
1989
%
2002
%
Hutan
216.842.624,64
5,75
95.364.768,39
2,53
-121.477.856.25
Kebun
385.804.095,54 10,22 1.011.058.458,59 26,79 +625.254.363.05
Lahan
1.371.238.737,90 36,33
835.809.514,07 22,15 -535.429.223.83
Kering
Permukiman
405.896.735,54 10,76
678.769.872,10 17,99 +272.873.136.56
Sawah
1.308.204.097,86 34,66 1.066.983.678,33 28,27
-241.220.419.53
Daerah
86.008.417,08
2,28
86.008.417,08
2,28
0
Berair
Jumlah
3.773.994.708,56
100 3.773.994.708,56
100
0
Sumber : Anna et al., 2009
Tabel 4. menunjukkan bahwa telah terjadi perubahan penggunaan
lahan pada tahun pengamatan dalam penelitian. Adapun perubahan
111
terluas terjadi pada jenis penggunaan lahan kebun sebesar 16,57%
(bertambah luas), dan sebaliknya terkecil terjadi pada jenis
penggunaan lahan hutan -3,22% (menyempit). Demikian jenis
penggunaan lahan untuk permukiman juga bertambah cukup besar
yaitu 14,18%, diikuti oleh jenis penggunaan lahan sawah yang
menyempit sebesar 7,23%, dan berikutnya jenis penggunaan lahan
untuk sawah ternyata telah menyusut sebesar 5,79%.
Adapun karakter perubahan penggunaan lahan disajikan dalam Tabel
5. Perubahan penggunaan lahan daerah penelitian mempunyai 12
karakter.
Tabel 5. Karakter dan luasan perubahan penggunaan lahan
No
Perubahan
Luas (m2)
Persentase (%)
1.
Hutan-kebun
38.616.887,10
1,02
2.
Hutan - lahan kering
36.773.614,73
0,97
3.
Hutan-sawah
46.087.354,42
1,22
4.
Kebun - lahan kering
127.103.146,98
3,37
5.
Kebun- permukiman
7.685.842,64
0,20
6.
Kebun-sawah
102.940.142,10
2,73
7.
Lahan kering -Kebun
670.486.979,01
17,77
8.
Lahan
kering
30.394.436,67
0,81
Permukiman
9.
Lahan kering - Sawah
224.389.557,62
5,95
10.
Sawah-kebun
153.879.628,66
4,08
11.
Sawah - lahan kering
225.964.987,76
5,99
12.
Sawah- permukiman
234.792.857,25
6,22
13.
Tetap
1.874.879.273,62
49,68
Jumlah
3.773.994.708,56
100
Sumber : Anna, et al., 2009
Berdasarkan Tabel 5 dapat kita ketahui bahwa persentase kejadian
perubahan lahan yang terbesar pada karakter dari lahan kering
menjadi kebun. Hal ini disebabkan pada lahan kering telah tumbuh
vegetasi yang dibudayakan manusia untuk mencukupi kebutuhan
hidup mereka. Selanjutnya diikuti karakter perubahan penggunaan
lahan dari sawah ke permukiman. Perubahan ini umumnya terjadi di
wilayah-wilayah sub sub DAS Bambang, Pepe, Dengkeng, Jlantah
Walikun, Mungkung, dan Samin. Hal ini terjadi akibat kebutuhan akan
tempat tinggal penduduk di wilayah masing-masing. Adapun wilayahwilayah yang terjadi karakter perubahan penggunaan tersebut
112
umumnya merupakan sub-sub DAS yang melingkupi daerah-.daerah
perkotaan.
Kaitannya dengan banjir salah satu aspek yang penting selain adanya
perubahan tata guna lahan adalah perubahan kondisi penutup lahan
(C). Perubahan penggunaan lahan pasti selalu diikuti dengan
perubahan kondisi penutup lahannya, yang pada akhirnya akan
berdampak pada potensi limpasan permukannya (Co). Adapun
perubahan vegetasi di daerah penelitian secara detail dapat dilihat
pada Tabel 6.
Tabel 6. Perubahan Co berdasarkan perubahan C (Cover)
Cover
Co (%)
Cover
Co (%)
Selisih
No
Sub-sub DAS
1989
1989
2002
2002
Co
1.
Alang
12,908 49,147 13,998 50,237 +1,090
Unggahan
2.
Bambang
15,377
31,673
16,142 32,438 +0,765
3.
Dengkeng
15,214 38,836 15,205 38,827 -0,009
4.
Jlantah Walikun 15,468
44,211 14,996 43,739
-0,472
Ds
5.
Keduang
13,674 46,288 13,090 45,704 -0,584
6.
Mungkung
13,811
41,752
12,453 40,394
-1,358
7.
Pepe
13,957 37,463 12,845
36,351
-1,112
8.
Samin
15,867 43,936 15,055
43,124
-0,812
9.
Wiroko Temon
12,193 52,347
12,529 52,683 +0,336
10.
Waduk/Daerah
2,500 37,643
2,500 37,643
0
Berair
Sumber : Anna, et al., 2009
Berdasarkan Tabel 6 dapat kita ketahui bahwa terdapat tiga sub-sub
DAS yang mempunyai perubahan naik (+) yaitu Sub sub DAS Alang
Unggahan, Bambang, dan Wiroko Temon, sedangkan enam Sub sub
DAS lain yaitu Sub sub DAS Dengkeng, Jlantah Walikun, Keduang,
Mungkung, Pepe, dan Samin koefisien run off berubah turun (-).
Perubahan Co pada masing-masing sub sub DAS tersebut ternyata
mempunyai karakter yang berbeda. Sebagian besar peubahan nilai Co
disebabkan karena perubahan pada kondisi covernya.
113
C.
Pengaruh Paleo Morfologi dan Morfologi Masa Sekarang
Sungai Bengawan Solo terhadap Banjir
Konsep dasar yang berkaitan dengan paleo morfologi adalah “prosesproses geomorfologi meninggalkan bekas-bekas yang nyata pada
bentuk lahan, dan setiap proses geomorfologi akan membangun suatu
karakteristik tertentu pada bentuk lahan. Morfokronologi mempelajari
sejarah terbentuknya bentuk lahan pada zaman geologi yang
ditunjukkan oleh karakteristik hasil proses geomorfologi yang
ditinggalkan” (Thornbury, 1954).
Sungai Bengawan Solo awalnya arah aliran mengalir ke arah selatan
bermuara ke Samudra Indonesia. Akibat tenaga paleo tektonik dari
Australia yang menunjam ke Pulau Jawa maka bagian pinggir (bagian
Selatan Pulau Jawa) berangsur-angsur terangkat sehingga aliran air
tidak dapat mengalir ke Selatan dan berbalik ke Utara yang lebih
rendah. Bekas-bekas yang ditinggal sebagai bukti bahwa Sungai
Bengawan Solo pernah mengalir ke Pantai Selatan Jawa yaitu
morfologi sungai, struktur perlapisan sedimen, ukuran butir sedimen,
dan asal sedimen terbentuk.
Paleo morfologi Sungai Bengawan Solo berdasarkan penelitian yang
dilakukan Suharjo tahun 1991 dan 2006 mengemukakan bahwa
meander Sungai Bengawan Solo merupakan hasil proses erosi
horisontal atau pelebaran lembah. Proses erosi horisontal hanya
dominan terjadi di daerah sungai bagian hilir mendekati marine/pantai.
Dengan demikian Sungai Bengawan Solo pernah mengalir ke Pantai
Selatan Jawa. Bentuk-bentuk meander dapat disajikan pada Gambar 3.
Berdasarkan penyebaran meander sungai maka sampel untuk analisa
data lebih banyak diambil di daerah dataran banjir di Solo bagian
Selatan.
114
Gambar 3 Meander yang menjadi sungai mati
Sumber : Anna et al., 2009
Morfologi dataran fluvial volkan Merapi; arah lereng daerah ini
mengarah ke Timur dengan kemiringan lereng antara 2-3% sehingga
arah aliran air permukaan mengarah Timur Laut ke arah segmen
cekung. Morfologi dataran fluvial Pegunungan Kendeng Selatan; arah
lereng ke Selatan dengan kemiringan lereng antara 2-5%, morfologi
lereng bervariasi yaitu lereng berubah atau change of slope; patahan
lereng break of slope, dan segmen cekung ke arah Selatan. Morfologi
dataran fluvial Volkan Lawu; bentuk lahan ini berada di bagian Timur
daerah penelitian dengan kemiringan lereng 2-5% yang merupakan
lereng segmen cekung ke arah Barat bertemu dengan bentuk lahan
dataran banjir.
Paleo struktur geologi; arah perlapisan sedimen, jenis perlapisan
sedimen ukuran butir sedimen, hasil analisis statistik (kemencengan
ukuran butir) akan memberikan informasi jenis proses/tenaga
pembentuknya. Hasil penelitian Suharjo (2007) mengemukakan bahwa
Daerah Aliran Sungai (DAS) Bengawan Solo mengalami tiga tanah hasil
proses geomorfologi yaitu 1) proses marine, 2) proses paleo fluvial,
dan 3) proses fluvial. Material sedimen yang ditinggalkan bahwa
pernah terjadi proses marine yaitu: 1) kemencengan ukuran butir
sedimen dengan kemencengan negatif (-) yang berarti marine, 2)
terdapat lapisan sedimen berbatuan kapur. Proses paleo fluvial, DAS
Bengawan Solo ini ditunjukkan dengam kemencengan ukuran butir
115
positif pada posisi peralihan antara sedimen marine dan di atas
sedimen marine dengan lapisan mengarah ke Selatan atau arah Laut
Jawa. Proses fluvial masa sekarang ditunjukkan dengan perlapisan
sedimen mengarah ke Utara atau menuju hilir DAS Bengawan Solo
sekarang atau ke arah Pantai Utara Jawa. Bukti profil lapisan sedimen
dapat disajikan pada Gambar 4.
D.
Morfologi Sungai Bengawan Solo Masa Sekarang
Penampang sungai yakni dasar sungai merupakan hasil morfologi
masa sekarang. Hal ini disebabkan adanya penumpukan atau
sedimentasi material-material yang terbawa oleh aliran air sungai.
Hasil analisa kemencengan data ukuran butir (2010) didapatkan angka
kemencengan positif (Tabel 7). Hal ini berarti material tersebut
merupakan hasil proses fluvial bukan marin. Arah aliran menuju ke
Utara yaitu ke Pantai Utara Jawa yang lebih rendah.
Tabel 7. Hasil analisa statistik kemencangan (Skewness)
No
No sampel
Skewness
1.
1
+ 0.0358
2.
2
+ 0.00585
3.
3
+ 0.00414
4.
4
+ 0.00578
5.
5
+ 2.0535
6.
6
+ 0.07147
7.
7
+ 0.0114
8.
8
+ 0.0883
Sumber : Analisa data ukuran butir, 2010
116
Gambar 4 . Profil material sedimen
Sumber : Suharjo, et al., 2007
Berdasarkan Tabel 7 dapat disimpulkan bahwa air mengalir menuju ke
tempat yang lebih rendah. Demikian halnya dengan aliran air sungai.
Ketinggian air sungai berdasarkan cek lapangan tahun 2010
menunjukkan arah kemiringan menuju ke Utara, seperti terlihat pada
Tabel 8.
117
Tabel 8. Ketinggian permukaan Sungai Bengawan Solo
Titik
Ketinggian air (mdpal)
Ketinggian permukaan
(mdpal)
1.
118
128
2.
118
128
3.
118
128
4.
118
125
5.
117
124
6.
109
116
7.
107
116
8.
106
116
9.
106
116
10.
105
115
11.
114
116
12.
108
121
13.
103
108
14.
105
110
15.
103
114
16.
103
106
17.
95
102
18.
94
100
19.
96
107
20.
83
105
21.
85
108
Sumber : Cek lapangan, 2010
Tabel 8 memperlihatkan bahwa ketinggian air Sungai Bengawan Solo
mengarah ke Utara, namun pada titik tertentu terlihat adanya tempat
yang menanjak atau tempat yang lebih tinggi dari sebelumnya yang
seharusnya lebih rendah. Hal ini yang mengakibatkan kemiringannya
menjadi naik.
Dampak positif adanya kemiringan yang naik ini tentunya akan dapat
menahan laju aliran air sungai, sehingga alirannya menjadi tidak terlalu
deras. Dampak negatifnya antara lain akan mengakibatkan badan
sungai menjadi melebar untuk menampung kuantitas air yang
mengalir.
118
E.
Model Pengendalian Banjir Berdasarkan Parameter Utama
Penyebab Banjir
Model merupakan suatu cara atau penyederhanaan untuk
menerangkan proses rumit alami ke dalam gambar atau bahasa
matematika agar mudah dipahami berdasarkan kaidah kaidah yang
berlaku. Menurut pengertian umum lainnya, model hidrologi adalah
sebuah sajian sederhana dari sebuah sistem hidrologi yang kompleks.
Adapun model yang diterapkan dalam penelitian ini secara detail
dapat dilihat pada Gambar 5.
F.
Model Pengendalian Banjir Berdasarkan Faktor Alih Fungsi
Lahan
Berdasarkan hasil FGD yang telah dilakukan pada tahun 2011, sebagian
besar Perda yang ada di wilayah Sungai Bengawan Solo Hulu kurang
mendukung dalam pengelolaan sumber daya air, terutama peraturan
yang berkaitan dengan program pembangunan jalan raya. Program
pembangunan infrastruktur jalan yang ada di wilayah Surakarta,
Klaten, Boyolali, Wonogiri dan Sukoharjo selama ini cenderung
mengabaikan prinsip-prinsip lingkungan. Hal ini terlihat dari program
betonisasi yang dilakukan oleh pemerintah daerah yang tidak
memperhatikan sistem drainase. Program betonisasi ini tentunya akan
mengurangi wilayah resapan air, sehingga proses drainase air
hujanpun terhambat yang pada akhirnya dapat menimbulkan banjir.
Selain itu dalam UU No 26 Tahun 2007 mengenai Penataan Ruang
Pasal 17, yakni Pemerintah harus mengupayakan agar luas area hutan
di wilayah aliran Sungai Bengawan Solo mencapai angka 30% dari luas
total seluruh DAS tersebut, namun pada kenyataannya berdasarkan
penelitian yang dilakukan luas area hutan yang ada di kawasan Sungai
Bengawan Solo tidak mencapai 30%, yakni hanya 2,53% dari luas total
seluruh DAS. Berkurangnya luas area hutan ini tentu harus menjadi
prioritas bagi pemerintah pusat maupun pemerintah daerah yang
secara langsung berhubungan dengan DAS Bengawan Solo ini. Adanya
fakta tersebut tentu setiap pemerintah daerah harus mengkaji ulang
mengenai RUTRK-nya masing-masing daerah agar ambang minimal
luas hutan terpenuhi.
119
Hal lain yang bisa dilakukan untuk membenahi kondisi perubahan tata
guna lahan di daerah hulu adalah melalui program reboisasi dan
penghijauan yang dilakukan oleh pemerintah bersama masyarakat
untuk terciptanya kelestarian lingkungan hidup. Program penghijauan
dan reboisasi di daerah hulu penting karena setiap aktivitas yang
dilakukan pada daerah hulu akan berdampak pada keseimbangan
ekosistem wilayah hilir.
Gambar 5. Model pengendalian banjir berdasarkan parameter utama
penyebab banjir
Sumber : Anna et al., 2011
G.
Model Pengendalian Banjir Berdasarkan Faktor Curah Hujan
Metode Sumur Resapan
Sumur resapan merupakan metode praktis dengan cara membuat
sumur-sumur untuk menampung air hujan yang jatuh pada atap
perumahan atau kawasan tertentu (Sunjoto, 1991). Sumur resapan ini
120
juga dapat dikembangkan pada areal olah raga dan wisata. Konstruksi
dan kedalaman sumur resapan disesuaikan dengan kondisi lapisan
tanah setempat. Perlu dicatat bahwa sumur resapan ini hanya
dikhususkan untuk air hujan, sehingga masyarakat harus mendapatkan
pemahaman mendetail untuk tidak memasukkan air limbah rumah
tangganya ke sumur resapan ini (Maryono, 2005 dengan modifikasi
peneliti, 2011) (Gambar 6).
Gambar 6. Metode sumur resapan
Sumber : Anonim, 2013 a
1.
Metode River Side Polder
Cara menerapkan metode ini adalah dengan menahan aliran air
dengan mengelola atau menahan air kelebihan (hujan) di sepanjang
bantaran sungai. Pembuatan polder pinggir sungai ini dilakukan
dengan memperlebar bantaran sungai di berbagai tempat secara
selektif di sepanjang sungai. Lokasi polder perlu dicari, sejauh mungkin
polder yang dikembangkan mendekati kondisi alamiah, dalam arti
bukan polder dengan pintu-pintu hidraulik teknis dan tanggul-tanggul
lingkar hidraulis yang mahal. Pada saat muka air naik (banjir), sebagian
air akan mengalir ke polder dan akan keluar jika banjir reda, sehingga
banjir di bagian hilir dapat dikurangi dan konservasi air terjaga
(Maryono, 2005 dengan modifikasi peneliti, 2011) (Gambar 7).
121
Gambar 7. Metode River Side Polder
Sumber : Anonim, 2013 b
2.
Metode Kolam Konservasi
Metode kolam konservasi dibuat untuk menampung air hujan terlebih
dahulu, diresapkan dan sisanya dapat dialirkan ke sungai secara
perlahan-lahan. Kolam konservasi dapat dibuat dengan memanfaatkan
daerah-daerah dengan topografi rendah, daerah-daerah bekas galian
pasir atau galian material lainnya, atau secara ekstra dibuat dengan
menggali suatu areal atau bagian tertentu (Maryono, 2005 dengan
modifikasi peneliti, 2011) (Gambar 8).
Gambar 8. Metode kolam konservasi
Sumber : Anonim, 2013 c
122
3.
Metode Areal Pelindungan Air tanah
Metode areal perlindungan air tanah yaitu metode yang dilakukan
dengan menetapkan kawasan lindung untuk air tanah. Kawasan ini
tidak boleh dibangun bangunan apapun. Areal ini dikhususkan untuk
meresapkan air hujan ke dalam tanah. Di berbagai kawasan perlu
sesegera mungkin dicari tempat-tempat yang cocok secara geologi
dan ekologi sebagai areal untuk recharge dan perlindungan air tanah
sekaligus sebagai bagian penting dari komponen drainase kawasan
(Maryono, 2005 dengan modifikasi peneliti, 2011) (Gambar 9).
Gambar 9. Metode areal perlindungan air tanah
Sumber : Anonim, 2013 d
4.
Metode Biopori
Biopori merupakan suatu metode resapan air yag digunakan untuk
mengatasi banjir dengan cara meningkatkan daya resap air pada
tanah. Biopori adalah lubang-lubang di dalam tanah yang terbentuk
akibat berbagai akitifitas organisma di dalamnya, seperti cacing,
perakaran tanaman, rayap dan fauna tanah lainnya. Lubang-lubang
yang terbentuk akan terisi udara, dan akan menjadi tempat berlalunya
123
air di dalam tanah. Bila lubang tersebut dibuat dalam jumlah banyak,
maka kemampuan tanah dalam meresapkan air diharapkan semakin
meningkat. Meningkatnya kemampuan tanah dalam meresapkan air
diharapkan dapat memperkecil peluang terjadinya aliran air di
permukaan atau dengan kata lain dapat mengurangi potensi banjir
yang sering terjadi (Gambar 10).
Gambar 10. Metode biopori
Sumber : Anonim, 2013 e
H.
1.
Model Pengendalian Banjir Berdasarkan Faktor Morfologi
Sungai
Mengaktifkan Oxbow
Sungai bekas sudetan biasanya disebut dengan initial oxbow lake
(danau oxbow buatan). Danau oxbow buatan merupakan penggal
ekosistem sungai yang mati, airnya diam, kualitas airnya jelek, dan
sering menjadi sarang nyamuk serta sebagai tempat pembuangan
sampah bagi masyarakat. Lambat laun sungai oxbow buatan ini akan
mengalami pendangkalan karena sedimen baik yang berasal dari
daerah sekitarnya maupun endapan sisa-sisa vegetasi.
Banjir yang sering terjadi di Kota Surakarta dan Sukoharjo juga terjadi
karena adanya pelurusan atau sudetan Sungai Bengawan Solo yang
dilakukan oleh pejabat yang berwenang, sehingga tanpa disadari aliran
124
sungai tidak terkontrol yang pada akhirnya aliran semakin deras dan
bertambah cepat. Aliran yang deras dan cepat tersebut dari waktu ke
waktu akan menyebabkan erosi pada tebing sungai semakin tinggi.
Erosi tebing sungai yang tinggi dikhawatirkan akan mengakibatkan
longsor pada tebing sungai, sehingga menyebabkan kekhawatiran
bagi masyarakat yang tinggal dekat dengan tebing sungai. Salah satu
cara agar banjir dapat terkendali adalah dengan merenaturalisasi
oxbow dengan membuka kembali tanggul pembatas oxbow dengan
sungai utama (Maryono, 2005 dengan modifikasi peneliti, 2011)
(Gambar 11)
Gambar 11. Mengaktifkan Oxbow
Sumber: Anonim, 2013 f
125
2.
Re-vegetasi Bantaran dan Tebing Sungai
Pada pelurusan, normalisasi sungai dan pentaludan, umumnya
bantaran dan tebing sungai menjadi gundul. Hal ini mengakibatkan
kepunahan flora dan fauna serta penurunan retensi aliran. Menanami
kembali bantaran dan tebing sungai dengan vegetasi setempat akan
dapat meningkatkan kualitas ekosistem dan meningkatkan retensi air
banjir, mengurangi tingkat erosi tebing serta menjamin kestabilan
tebing sungai (Maryono, 2005 dengan modifikasi peneliti, 2011)
(Gambar 12).
Gambar 12. Re-vegetasi bantaran dan tebing sungai
Sumber: Anonim, 2013 g
Daerah bantaran sungai (flood plain) yang biasanya sudah berubah
menjadi areal pertanian atau dibuat talud memanjang dan di urug,
dapat direnaturalisasi dengan membuka kembali talud atau tanggul
yang ada atau dengan mengeruk kembali timbunan yang ada. Di
samping itu pada daerah bantaran yang sempit dapat diperlebar
secara proporsional. Areal terbuka bantaran sungai ini dapat dibiarkan
sebagai kolam retensi bantaran atau diadakan revegetasi dengan
tanaman yang sesuai. Cara ini sangat efektif untuk menahan banjir dan
meningkatkan konservasi air di hulu (Maryono, 2005 dengan
modifikasi peneliti, 2011).
126
I.
Model Pengendalian Banjir Terpadu
Salah satu bentuk terpadu dalam penelitian adalah adanya bentuk
kerjasama antara pemerintah dengan masyarakat. Partisipasi
masyarakat mempunyai arti penting dalam suksesnya suatu proyek
atau kegiatan sumber daya air. Tingkatan pasrtisipasi masyarakat akan
berdampak secara signifikan terhadap laju konflik yang timbul akibat
adanya proyek atau kegiatan. Semakin tinggi tingkat partisipasi
masyarakat, maka konflik yang ditimbulkan juga semakin kecil. Kodati,
et al., (2005) membagi tingkatan partisipasi masyarakat yang meliputi:
tidak terlibat, terlibat dan berpartisipasi, bermitra dan sebagai pemain
utama. Secara detail mengenai gambaran tersebut dapat dilihat pada
Gambar 13.
Gambar 13. Peran serta masyarakat dalam kegiatan pengelolaan SDA
Sumber : Kodatie et al., 2005
IV.
KESIMPULAN
Berdasarkan tujuan dan analisis dalam penelitian ini, maka dapat
diambil kesimpulan-kesimpulan sebagai berikut :
a.
Ada tiga faktor penyebab kejadian banjir di daerah penelitian,
yakni kondisi iklim, perubahan tata guna lahan, dan kondisi
morfologi sungai. Perubahan tata guna lahan menjadi penyebab
paling dominan terjadinya banjir di daerah penelitian.
127
b.
c.
Perubahan tata guna lahan ini dapat meningkatkan potensi air
permukaan akibat luasan vegetasi di daerah penelitian
berkurang. Semakin sedikit perubahan tata guna lahan pada
daerah hutan, maka debitnya-pun semakin kecil. Selain
penggunaan lahan faktor kondisi morfologi sungai juga
berpengaruh signifikan terhadap kejadian banjir di Kota
Surakarta.
Model pengendalian banjir yang dapat diterapkan di daerah
penelitian berdasarkan parameter curah hujan meliputi: metode
sumur resapan, metode river side polder, metode kolam
konservasi, metode perlindungan areal airtanah, dan metode
biopori. Sedangkan berdasarkan parameter tata guna lahan
meliputi: evaluasi RTRW/RTRK, evaluasi Perda Lingkungan
Hidup, pengadaan program penghijauan, dan reboisasi pada
daerah hulu; berdasarkan parameter morfologi sungai meliputi:
mengaktifkan oxbow, re-vegetasi daerah bantaran dan tebing
sungai, dan melakukan pelebaran daerah bantaran sungai.
Model pengendalian banjir terpadu yang harus dilakukan adalah
dengan
mengikutsertakan
masyarakat dalam upaya
pengelolaan sumber daya air. Hal ini dibutuhkan untuk
memperkecil terjadinya konflik pengelolaan sumber daya air.
DAFTAR PUSTAKA
Anna. AN, dan Suharjo,. 2006. Analisis karakteristik parameter hidrologi
akibat alih fungsi lahan di Daerah Sukoharjo melalui citra landsat
tahun 1997 dengan tahun 2002. Surakarta : Fakultas Geografi
UMS.
Anna. AN, Suharjo, Cholil, Munawar. 2009. Model pengelolaan air
permukaan untuk pencegahan banjir di kota Surakarta dan
Kabupaten Sukoharjo. Surakarta : Fakultas Geografi UMS.
Anna. AN. 2010. Analisis Karakteristik parameter hidrologi akibat alih
fungsi lahan di Daerah Sukoharjo melalui citra landsat tahun
1997 dengan tahun 2002, Jurnal Geografi UMS : Forum Geografi,
volume 14, Nomor 1, Juli 2010. Surakarta: Fakultas Geografi
UMS.
Anna. AN. 2011. Analisis fluktuasi hujan dan morfologi sungai terhadap
konsentrasi banjir daerah Surakarta, Jurnal Geografi UMS :
128
Forum Geografi, volume 25 Nomor 1, Juli 2011. Surakarta:
Fakultas Geografi UMS.
Anonim. 2013. Metode areal perlindungan air tanah. Diakses pada
Tanggal 4 Juni 2013 pada alamat : http://bebasbanjir2025.
files.wordpress.com
Anonim. 2013. Metode Biopori. Diakses pada Tanggal 4 Juni 2013 pada
alamat
:
http://alamendah.org/2009/10/14/lubang-resapanbiopori -sederhanatepat-guna
Anonim. 2013. Metode kolam konservasi. Diakses pada Tanggal 4 Juni
2013 pada alamat : http://bebasbanjir2025.files.wordpress.com
Anonim. 2013. Metode River Side Polder. Diakses pada Tanggal 4 Juni
2013 pada alamat : http://anggunsugiarti.blogspot.com
Anonim. 2013. Metode sumur resapan. Diakses pada Tanggal 4 Juni
2013 pada alamat : http:// vienastra.wordpress.com
Anonim. 2013. Oxbow. Diakses pada Tanggal 4 Juni 2013 pada alamat :
http://www.daviddarling.info/encyclopedia/O/oxbow_lake.html
Anonim. 2013. Revegetasi bantaran dan tebing sungai. Diakses pada
Tanggal 4 Juni 2013 pada : http://oxyprimasetiya.blogspot.com/
20e12/03/struktursungai. html
Kodati, Robert J., Sjarief, Roestam. 2005. Pengelolaan sumber daya air
terpadu. Yogyakarta : ANDI.
Maryono, Agus. 2005. Menangani banjir, kekeringan, dan lingkungan.
Yogyakarta : Gadjah Mada University Press.
Pawitan, Hidayat. 2002. Perubahan penggunaan lahan dan pengaruhnya
terhadap Daerah Aliran Sungai. Bogor : Laboratorium
Hidrometeorologi FMIPA IPB.
Soenarno. 2005. Kebijakan pengelolaan sumber daya air dan privatisasi
atas air. Makalah. Proseding Seminar Nasional. Fak. Geografi
UMS.
Suharjo. 2007. Evolusi lereng dan tanah daerah Solo Jawa Tengah.
Fakultas Geografi UMS.
Sunjoto. 1991. Analisis Sumur Resapan Serta Pengembangannya.
Disampaikan pada Sarasehan Ilmiah, Puslitbang Pemukiman
Departemen Pekerjaan Umum, Bandung.
Thornbury.Th. 1958 . Principles of geomophology. John Wiley and Sons
Inc. New York.
Tjasyono, Bayong, 1999. Klimatologi umum. ITB. Bandung.
129
PERTUMBUHAN TANAMAN REHABILITASI POLA AGROFORESTRY
SENGON DAN JABON PADA LAHAN TERDEGRADASI
DI TLOGOWUNGU PATI1
Oleh :
Heru Dwi Riyanto dan Gunardjo Tjakrawarsa2
2*
2
Balai Penelitian Teknologi Kehutanan Pengelolaan Daerah Aliran Sungai
Jl. A. Yani PO Box 295 Pabelan.
Telepon/Fax.: (+62 271) 716709/716959
Email: [email protected]
*Email: [email protected]
ABSTRAK
Jenis-jenis pohon lokal disarankan untuk kegiatan rehabilitasi lahan terdegradasi karena
memiliki kemampuan tumbuh baik dilingkungannya.
Penelitian ini bertujuan
mengevaluasi pertumbuhan jenis sengon dan jabon di kawasan Gunung Muria melalui
penerapan model rehabilitasi lahan dengan pendekatan agroforestri di lahan miring
serta perannya dalam memelihara kesuburan tanah. Hasil penelitian menunjukkan kadar
N total dan bahan organik tanah 14 bulan setelah tanam secara umum cenderung
mengalami peningkatan. Kondisi pH tanah antar plot cukup bervariasi, setelah 18 bulan
setelah tanam kondisi pH tanah mengalami penurunan 11 - 16%. Persen tumbuh sengon
dan jabon sampai 6 bulan setelah tanam menurun masing-masing 0,96 dan 3,84% per
bulan dan sampai 18 bulan setelah tanam dengan penurunan 0,27 dan 0,23 % per bulan.
Persen tumbuh umur 18 bulan adalah 88 dan 74 % masing-masing untuk sengon dan
jabon. Rata-rata pertumbuhan tinggi sengon model A dan C sampai 6 bulan dan 18
bulan setelah tanam masing-masing adalah 8,84, 18,64, 25,64 dan 22,53 cm per bulan.
Pertumbuhan tinggi sengon model A dan C sampai 18 bulan setelah tanam tidak
berbeda nyata dengan increment masing-masing 20,70 dan 21,39 cm per bulan. Ratarata pertumbuhan tinggi jabon model B dan C sampai 6 bulan dan 18 bulan setelah
tanam masing-masing adalah 8,00, 6,88 , 9,71 dan 9,77 cm per bulan. Pertumbuhan
tinggi jabon model B dan C sampai 18 bulan setelah tanam berbeda nyata dengan
increment masing-masing 9,71 dan 9,77 cm per bulan. Rata-rata pertumbuhan diameter
sengon model A dan C sampai 6 bulan dan 18 bulan setelah tanam masing-masing 2,16 ,
1,92 , 2,85 dan 2,83 mm per bulan. Pertumbuhan diameter sengon model A dan C
sampai 18 bulan setelah tanam tidak berbeda nyata dengan increment masing-masing
2,65 dan 2,56 mm per bulan. Rata-rata pertumbuhan diameter jabon model B dan C
sampai 6 bulan dan 18 bulan setelah tanam masing-masing 1,12 , 1,42 , 1,86 dan 2,04 mm
per bulan. Pertumbuhan diameter jabon model B dan C sampai 18 bulan setelah tanam
tidak berbeda nyata dengan increment masing-masing 1,64 dan 1,86 mm per bulan.
Kata kunci: kesuburan tanah, riap tinggi dan diameter, sengon, jabon.
1
Disampaikan dalam Seminar Nasional Hasil Penelitian Teknologi Pengelolaan
DAS oleh Balai Penelitian Teknologi Kehutanan Pengelolaan DAS, Kementerian
Kehutanan, pada tanggal 12 juni 2013.
130
I. PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Praktek pengolahan dan pemanfaatan lahan tanpa memperhatikan
aspek-aspek konservasi tanah, akan memicu terjadinya degradasi
lahan yang berimplikasi pada bertambah luasnya lahan kritis. Hal
tersebut berpotensi meningkatkan pengaruh negatif kondisi
hidrologis DAS seperti meningkatnya aliran permukaan, laju erosi,
banjir, kekeringan, dan menurunnya jumlah resapan air ke dalam
tanah.
Lahan terbuka tanpa pepohonan dan tanaman penutup tanah
memperbesar peluang terjadinya erosi tanah yang akibatnya dapat
menurunkan kesuburan tanah baik secara fisik, kimia maupun biologi.
Erosi diduga memicu bertambah luasnya lahan yang terdegradasi yang
menyebabkan lahan kritis.
Kementerian Kehutanan (2013)
menyebutkan bahwa total lahan kritis di Indonesia tercatat seluas 27,2
juta ha. Pemilihan jenis-jenis pohon yang akan digunakan dalam
kegiatan
rehabilitasi
lahan-lahan
terdegradasi
disarankan
menggunakan jenis-jenis pohon lokal atau andalan setempat. Hal ini
dimaksudkan untuk mengurangi kegagalan pelaksanaan kegiatan
tersebut, karena jenis-jenis lokal tersebut memiliki kemampuan untuk
dapat tumbuh baik di lingkungannya. Di sisi lain jika ingin
menggunakan jenis-jenis yang eksotik sebaiknya dipilih jenis pohon
yang sudah didomestikasi (Rachman, 2002). Rehabilitasi lahan
merupakan solusi yang tepat dalam mengatasi masalah degradasi
lahan.
Penanaman jenis – jenis pohon lokal maupun jenis yang diminati
masyarakat di lereng Gunung Muria dengan memerhatikan kesesuaian
dan ketepatan dalam pemilihan jenis dengan tempat tumbuhnya serta
mempertimbangkan adoptabilitas masyarakat dan penerapan teknik
konservasi tanah dan air, akan meningkatkan keberhasilan rehabilitasi
hutan dan lahan serta dapat memelihara bahkan meningkatkan basis
genetik suatu wilayah. Kegiatan model rehabilitasi hutan dan lahan
secara vegetatif dengan menggunakan jenis sengon dan jabon
diharapkan dapat memenuhi fungsi kelestarian atas dasar kaidahkaidah ekologi dan konservasi sehingga terwujud keseimbangan
131
antara produksi, kelestarian, dan kesejahteraan masyarakat. Jenis
sengon dipilih karena masih memenuhi syarat ketinggiannya (500 dpl),
sedangkan jenis jabon merupakan pilihan petani berdasarkan hasil
wawancara.
B. Tujuan dan Sasaran
Tujuan penelitian adalah untuk mengevaluasi pertumbuhan jenis
sengon dan jabon yang sesuai dalam rangka rehabilitasi lahan dan
konservasi tanah dan air lahan berlereng.
II. METODE
A.
Lokasi dan Waktu Penelitian
Penelitian dilaksanakan di Blok Duren Bayi, Desa Gunungsari,
Kecamatan Tlogowungu, Kabupaten Pati seluas 6 hektar yang
melibatkan 11 petani pemilik dan penggarap lahan. Topografi
bergunung dengan ketinggian tempat antara 500 – 750 m di atas
permukaan laut dengan wilayah berhutan seluas 1.000 ha (BPDAS
Pemali Jeratun, 2008; Badan Pusat Statistik, 2010). Penelitian
dilaksanakan mulai Maret 2011 sampai dengan September 2012.
B.
Metode Penelitian
Evaluasi pertumbuhan tanaman sengon dan jabon dilakukan menurut:
Model A = Sengon dengan tanaman campuran agroforestri (manggis,
petai, manglid, randu dan lajur lamtoro), Model B = Jabon dengan
tanaman campuran agroforestri (duku, petai, manglid, randu, dan lajur
glerisidia), Model C = Sengon dan Jabon dengan tanaman agroforestri
(manggis, duku, petai, manglid, randu, lajur amtoro dan lajur glerisidia)
dan Kontrol = singkong. Tanaman campuran agroforestri di dalam
model-model tersebut tidak diukur karena merupakan pilihan petani
atau memang sudah tumbuh di plot penelitian, tersebar acak dan tidak
berpola. Setiap model diulang sebanyak tiga kali (A1, A2 dan A3, B1, B2
dan B3, C1, C2, dan C3) dan setiap perlakuan terdiri dari 100 pohon.
Pertumbuhan tinggi dan diameter jenis sengon antara Model A dan C
132
serta pertumbuhan jabon antara model B dan C dianalisis
menggunakan paired-t test.
Data yang dikumpulkan terdiri dari kesuburan tanah, tinggi pohon dan
diameter batang sengon dan jabon. Data kesuburan tanah yang
merupakan hasil analisis sampel tanah mencakup kandungan Nitrogen
(N) total, bahan organik (BO), dan pH tanah. Tinggi pohon diukur
dengan menggunakan meteran dari permukaan tanah sampai pucuk
pohon. Diameter batang diukur pada ketinggian 130 cm (setinggi
dada).
C.
Pemeliharaan
Pemeliharaan tanaman sengon dan jabon setelah tanam yang
diberikan selain plot kontrol adalah pemberian pupuk kandang sebagai
pupuk dasar sebanyak 2 kg dan pupuk NPK 30 gr per lubang tanam
yang dicampur dengan tanah bagian atas (top soil). Pemupukan
lanjutan (setelah tanaman umur satu tahun) menggunakan 2 kg pupuk
kandang dan 50 gr NPK per pohon.
Variabel yang diamati adalah: N total, bahan organik (BO), pH tanah,
persen hidup, tinggi dan diameter tanaman sengon dan jabon.
III. HASIL DAN PEMBAHASAN
A.
Status Kesuburan Tanah
Hasil perbandingan analisis kesuburan fisik dan kimia tanah antara
awal sebelum penanaman dari umur 14 bulan setelah tanam yang
meliputi nitrogen (N) total, bahan organik (BO), pH tanah dan setelah
14 bulan setelah tanam disajikan pada Gambar 1,2, dan 3.
133
N total (%)
0,14
0,12
0,10
0,08
0,06
0,04
0,02
0,00
Awal
14 bln
A
B
C
K
Plot
Gambar 1. Perubahan N total tanah antara awal dan 14 bulan setelah
tanam
Gambar 1 menunjukkan kandungan N total semua perlakuan antara
awal penanaman dan 14 bulan setelah tanam bervariasi, tetapi secara
umum pada 14 bulan setelah tanam kandungan N total cenderung
mengalami peningkatan.
3,00
BO (%)
2,50
2,00
1,50
BO awal
1,00
BO akhir
0,50
0,00
A
B
C
K
Plot
Gambar 2. Perubahan BO tanah antara awal dan 14 bulan setelah
tanam
Seperti halnya N total, kandungan BO pada awal tanam dan 14 bulan
setelah tanam juga bervariasi, dan cenderung mengalami peningkatan
(Gambar 2).
134
pH (H2O)
7,00
6,00
5,00
4,00
3,00
2,00
1,00
0,00
Awal
14 bln
A
B
C
K
Plot
Gambar 3. Perubahan pH (H2O) tanah antara awal dan 18 bulan setelah
tanam
Kondisi awal sebelum tanam, pH antar plot cukup bervariasi, setelah
18 bulan setelah tanam kondisi pH mengalami penurunan. Penurunan
ini kemungkinan disebabkan oleh 1) waktu/musim pengukuran pH
yang berbeda, pengukuan pH awal dilakukan saat akhir musim hujan,
pengukuran pH 18 bulan setelah tanam dilakukan saat awal musim
hujan, jadi berbeda dalam kelembaban tanah, 2) analisis tanah awal
dan akhir dilakukan oleh laboratorium yang berbeda, 3) peningkatan N
total dan bahan organik.
Jamaludheen dan Kumar (1999) melaporkan bahwa rata-rata produksi
serasah tahunan sengon (umur 7 tahun) pada tanah Oksisols di
wilayah beriklim basah, Palakkad, Kerala, India, cukup tinggi yaitu 9,17
Mg ha-1 tahun-1. Serasah daun sengon relatif cepat terdekomposisi
dalam kisaran waktu 2 bulan. Dalam sistem wanatani, sisa tanaman
atau pangkasan pohon terutama legum yang dikembalikan ke tanah
berfungsi sebagai sumber N bagi tanaman dan untuk
mempertahankan atau memperbaiki kandungan bahan organik tanah
(Handayanto, 1996).
Peningkatan N tanah diduga bukan dipengaruhi oleh hasil dekomposisi
serasah sengon karena pohon sengon masih muda (berumur 18 bulan)
belum banyak memroduksi serasah. Namun demikian, sengon yang
termasuk kelompok legum dapat mengurangi limitasi N dengan
mendorong respon tanaman melalui kemampuannya mengikat N2
135
atmosfer secara simbiosis dengan bakteri Rhizobium (bakteri
penambat N). Legum sebagai pengikat N2 menunjukkan fotosintesis
dan respon pertumbuhan yang positif yang tidak tergantung pada
suplai N tanah (Lee at al., 2003). Tanaman legum lebih banyak
memperoleh N melalui fiksasi N2 secara simbiosis dengan bakteri
Rhizobium yang hidup di nodul pada sistem perakaran legum.
Rhizobium sangat berperan dalam meningkatkan fiksasi nitrogen
menjadi senyawa amonia (NH3) untuk selanjutnya mengalami
amonifikasi membentuk senyawa ammonium (NH4+) dan kemudian
oleh bakteri nitrifikasi akan diubah menjadi ion nitrat (NO3-). Kedua
urutan senyawa terakhir ini merupakan bentuk yang sudah siap
diserap oleh tanaman (Haynes, 1986). Dengan demikian, peran pohon
legum ini akan sangat membantu meningkatkan N organik tanah. Di
masing-masing plot, pH umur 18 bulan setelah tanam terlihat
cenderung menurun dibandingkan dengan pH awal sebelum
penanaman. Hal ini dimungkinkan karena tanah sebagian besar bertipe
lempung. Lempung merupakan koloid tanah anorganik. pH tanah
mempengaruhi kelarutan nutrisi, hal ini juga mempengaruhi aktivitas
mikro-organisme yang bertanggung jawab untuk merombak bahan
organik dan sebagian besar transformasi kimia di dalam tanah (USDA,
1998). Oleh sebab itu, pH tanah akan mempengaruhi ketersediaan
beberapa nutrisi tanaman. Tabel 1 memperlihatkan pH KCl tanah yang
lebih rendah dibandingkan pH H2O untuk seluruh plot perlakuan. Hal
ini menunjukkan banyaknya jumlah ion H+ sebagai penyebab
kemasaman tanah yang terjerap (teradsorpsi) di lapisan koloid tanah.
Pada saat terlepas dari jerapan koloid, maka kemasaman tanah akan
meningkat. Hal ini terlihat dari menurunnya pH rata-rata tanah dari
awalnya 5,5 sebelum penanaman menjadi 4,8 setelah jangka waktu 18
bulan. Namun penurunan tersebut tidak jauh karena keduanya masih
dalam kategori yang sama yaitu tanah kategori masam. Kisaran pH
tersebut masih mendukung berlangsungnya proses nitrifikasi yang
hasil akhirnya adalah suplai ion nitrat (NO3-) yang siap diserap
tanaman. Serasah sengon yang masih berumur muda belum cukup
banyak untuk memberikan pengaruh yang nyata terhadap
peningkatan pH tanah. pH tanah adalah salah satu faktor paling
penting yang memengaruhi proses dekomposisi. Dekomposisi
serasah/secara spesifik berlangsung lebih cepat pada kondisi pH netral
dibandingkan pH rendah (tanah masam). pH tanah juga dikenal
136
menjadi salah satu faktor pembatas dalam proses nitrifikasi. Secara
umum, nitrifikasi masih bisa dijumpai hingga pada pH sekitar 4,5
(Tisdale et. al., 1986). Nitrifikasi optimal terjadi pada pH mendekati
netral (pH 7). Jumlah ion nitrat di dalam tanah berkorelasi positif
dengan pH tanah (Sahrawat, 1982 dalam Tisdale et. al., 1986).
Untuk solusi permasalahan tersebut, pemberian pupuk kandang perlu
ditingkatkan karena di samping mampu mengurangi kemasaman
tanah juga akan membantu meningkatkan unsur hara tanah. Pupuk
kandang memiliki kandungan unsur hara yang lebih lengkap dengan
sifat pelepasan hara lebih lambat/slow release. Penanaman rumputrumputan di samping membantu mengurangi erosi juga membantu
menaikkan pH tanah. Pupuk kandang yang berasal dari hewan ternak
pemakan rumput memiliki kandungan Ca2+, Mg2+ dan K+ yang lebih
tinggi karena rumput-rumputan lebih banyak menyerap logam alkali
tersebut sehingga apabila terdekomposisi akan mengurangi
kemasaman tanah. Atmojo (2003) mengemukakan bahwa
peningkatan pH tanah juga akan terjadi apabila bahan organik
tersebut telah terdekomposisi lanjut (matang) karena bahan organik
yang telah termineralisasi akan melepaskan mineralnya, berupa kationkation basa. Lebih lanjut, peningkatan jumlah bahan tanaman sebagai
sumber bahan organik, hidup atau mati, umumnya akan membantu
proses infiltrasi.
B.
Persen Hidup Tanaman
Persen hidup tanaman pada umur 1 bulan setelah tanam (bst) adalah
96 % (tanaman mati, layu dan patah sebesar 4,2%). Namun demikian,
9,7 % dari total tanaman terserang hama (hama ulat pada jabon dan
kutu putih pada sengon) yang cukup parah. Data persen hidup sengon
dan jabon pada umur 1, 6, dan 18 bulan terdapat pada Tabel 1.
Tabel 1. Persen hidup sengon dan jabon umur 1, 6, dan 18 bulan bst
Jenis
Sengon
Jabon
1 bulan
96,0
96,0
Persen Hidup (%)
6 bulan
18 bulan
91,2
88,0
76,8
74,0
137
Tanaman yang sakit ini diprioritaskan untuk disulam kembali di tahun
berikutnya yaitu sebesar 28,3 % (sekitar 700 bibit). Persen hidup untuk
jenis sengon, dari 1079 sengon mengalami kematian sebesar 43
tanaman sehingga persentase hidup 96 persen. Untuk jenis jabon, dari
1078 tanaman, mengalami kematian 38 tanaman dengan demikian
persentase hidupnya 96 persen.
Persen tumbuh sengon dan jabon sampai 6 bulan setelah tanam
masing-masing menurun 0,96 dan 3,84% per bulan, tetapi relatif lebih
setabil setelahnya sampai umur 18 bulan dengan penurunan persen
tumbuh masing-masing 0,27 dan 0,23% per bulan. Persen tumbuh
umur 18 bulan adalah 88 dan 74% masing-masing untuk sengon dan
jabon.
C.
Pertumbuhan Tinggi Dan Diameter
Pertumbuhan tinggi dan diameter adalah dua variabel yang umum
digunakan dalam menilai perkembangan tanaman (pohon). Hasil
pengukuran tinggi dan diameter secara lengkap disajikan pada Tabel 2
dan Tabel 3.
Tabel 2. Rata-rata tinggi pohon (cm) umur 1 (satu), 6 (enam) dan 18
(delapan belas) bulan setelah tanam
Kombinasi
Perlakuan
Jenis
1 Bln
6 Bln
18 Bln
Model A
Sengon
99,4±24,89
143,6±75,39
451,3±88,88
Model C
Sengon
99,6±24,11
192,8±95,68
463,2±98,72
Model B
Jabon
84,3±19,37
124,3±37,06
249,4±54,16
Model C
Jabon
83,3±25,18
117,7±81,74
249,4±108,23
Tinggi rata-rata tanaman sengon Model A dan C sampai umur 6 bulan
setelah tanaman masing-masing naik 8,84 dan 18,64 cm per bulan dan
relatif seragam setelahnya dengan pertumbuhan sampai 18 bulan
sebesar 25,64 dan 22,53 cm per bulan. Sampai dengan umur 6 bulan
setelah tanam Model C menunjukkan pertumbuhan yang lebih baik
dibandingkan Model A sedangkan sampai umur 18 bulan yang terjadi
138
sebaliknya. Pertumbuhan tinggi sampai 18 bulan tidak berbeda secara
nyata dengan increment 20,70 dan 21,39 cm per bulan masing-masing
untuk model A dan C.
Tinggi rata-rata tanaman jabon model B dan C sampai 6 bulan setelah
tanam relatif sama masing-masing naik 8,00 dan 6,88 cm per bulan,
demikian juga setelahnya dengan pertumbuhan sampai 18 bulan
sebesar 10,43 dan 10,98 cm per bulan. Rendahnya tinggi awal pada
umur 1 bulan diduga menyebabkan rendahnya pertumbuhan tinggi
jabon sampai dengan umur 6 bulan setelah tanam, walaupun pada
pertumbuhan berikutnya rendahnya tinggi awal dapat menunjukkan
pertumbuhan tinggi yang lebih baik. Pertumbuhan tinggi sampai 18
bulan berbeda nyata dengan increment 9,71 dan 9,77 cm per bulan
masing-masing untuk model B dan C.
Tabel 3. Diameter pohon (mm) umur 1 (satu), 6 (enam) dan 18
(delapan belas) bulan setelah tanam
Jenis
1 Bln
6 Bln
18 Bln
Model A
Sengon
7,7±0,25
18,5±4,57
52,7±0,96
Model C
Sengon
8,1±0,32
17,7±0,77
51,7±0,74
Model B
Jabon
14,1±0,68
19,7±0,74
42,0±1,16
Model C
Jabon
11,7±0,41
18,8±3,05
43,3±1,12
Kombinasi Perlakuan
Diameter rata-rata tanaman sengon model A dan C sampai 6 bulan
setelah tanam masing-masing naik 2,16 dan 1,92 mm per bulan dan
relatif seragam setelahnya dengan pertumbuhan sampai 18 bulan
sebesar 2,85 dan 2,83 m per bulan. Pertumbuhan diameter sampai 18
bulan tidak berbeda secara nyata dengan increment 2,65 dan 2,56 mm
per bulan masing-masing untuk model A dan C. Tinggi rendahnya
diameter awal tidak secara konsisten menentukan besarnya
pertumbuhan diameter sengon sampai 6 dan 18 bulan setelah tanam.
Diameter rata-rata tanaman jabon model B dan C sampai 6 bulan
setelah tanam masing-masing naik 1,12 dan 1,42 mm per bulan,
meningkat setelahnya dengan pertumbuhan sampai 18 bulan sebesar
1,86 dan 2,04 mm per bulan. Pertumbuhan tinggi sampai 18 bulan
tidak berbeda secara nyata dengan increment 1,64 dan 1,86 mm per
139
bulan masing-masing untuk model B dan C. Diameter awal diduga
berpengaruh pada pertumbuhan diameter jabon sampai umur 6 bulan
dan 18 bulan setelah tanam.
Sedang untuk mengetahui pertumbuhan tanaman pada masingmasing plot (lahan masing-masing petani partisipan) sampai umur
tanaman 18 bulan disajikan pada Gambar 4. berikut:
500
Tinggi (cm)
400
300
200
Model A
100
Model C
0
1 bln
18 bln
Umur
Gambar 4. Pertumbuhan tinggi sengon dari satu bulan setelah tanam
sampai 18 bulan setelah tanam
Gambar 4 tersebut memperlihatkan bahwa pada saat umur 1 bulan
rata-rata tinggi sengon antar plot A dan C hampir tidak berbeda, tetapi
setelah umur 18 bulan tinggi sengon menjadi bervariasi. Bervariasinya
tinggi sengon tersebut menandakan adanya faktor-faktor yang
mempengaruhi pertumbuhan sengon tersebut. Salah satu faktor yang
mempengaruhi pertumbuhan tersebut adalah peran petani partisipan
dalam pemeliharaan tanaman sengonnya, karena berdasarkan laporan
terdahulu kondisi status kesuburan lahan pada saat tanam berbeda
tidak nyata antar plotnya. Pemeliharaan yang dilakukan oleh petani
penggarap meliputi pembabatan gulma dan pendangiran yang
dilakukan setiap 6 bulan sekali.
140
60
Diameter (mm)
50
40
30
Blok A
20
Blok C
10
0
1 bln
18 bln
Umur
Gambar 5. Pertumbuhan diameter sengon dari satu bulan setelah
tanam sampai 18 bulan setelah tanam
Kondisi yang terjadi pada petumbuhan diameter sengon hampir tidak
berbeda dengan pertumbuhan tinggi sengon, peran aktif petani
partisipan dalam memelihara sengon sangat berperan dalam
pertumbuhan diameter tanaman sengon sebagaimana ditunjukkan
pada Gambar 5.
300
Tinggi (cm)
250
200
150
Model A
100
Model C
50
0
1 bln
18 bln
Umur
Gambar 6. Pertumbuhan tinggi jabon dari satu bulan setelah tanam
sampai 18 Bulan setelah tanam
Pertumbuhan tinggi jabon dari Gambar 6 terlihat bahwa pada awal
tanam tinggi tanaman jabon relatif sama tetapi setelah 18 bulan tinggi
141
antar plot mulai menunjukkan variasi antar plotnya, hal ini juga
dipengaruhi oleh keaktifan petani partisipan dalam memelihara
tanaman jabonnya.
Diameter (mm)
50
40
30
Model A
20
Model C
10
0
1 bln
18 bln
Umur
Gambar 7. Pertumbuhan diameter jabon dari satu bulan setelah tanam
sampai 18 Bulan setelah tanam
Dari Gambar 4 terlihat bahwa besar pameter diameter awal jabon
lebih bervariasi daripada parameter tinggi, dan terlihat juga bahwa
diameter awal berpengaruh terhadap perkembangan atau
pertumbuhan diameter selanjutnya, tetapi faktor keaktifan petani
partisipan dalam hal ini juga berpengaruh.
Sebagaimana yang diketahui bahwa pada akhir tahun 2011 sudah
diadakan penilaian terhadap keaktifan terhadap petani partisipan, dari
hasil penilaian tersebut hasil terbaik I didapatkan oleh petani
partisipan pemilik lahan A1, terbaik 2 didapatkan oleh petani pemilik
lahan C1 dan hasil terbaik ke 3 didapatkan oleh petani partisipan
pemilik lahan B3.
Dalam kaitan pertumbuhan Tisdale et al. (1985) mengemukakan
bahwa pertumbuhan tanaman dipengaruhi oleh ketersediaan unsur
hara terutama nitrogen. Hal ini disebabkan oleh fungsi nitrogen yang
mendorong pertumbuhan merupakan pengatur penggunaan kalium,
fosfat dan penyusun lainnya. Apabila kekurangan N, tanaman tidak
dapat melakukan metabolisme dan pertumbuhan tinggi juga
terhambat (tanaman bisa menjadi kerdil). Tanaman harus memperoleh
cukup N untuk dapat tumbuh baik dan membentuk sel-sel baru.
142
D. Hasil analisis paired t-test
Hasil analisis paired t-test terhadap pertumbuhan tinggi dan diameter
sengon dan jabon menunjukkan bahwa pertumbuhan tinggi dan
diameter sengon Model A dan C tidak berbeda nyata, sedangkan
pertumbuhan tinggi jabon Model B dan C berbeda nyata pada tingkat
kepercayaan 95% dan pertumbuhan diameter jabon Model B dan C
menunjukkan tidak berbeda nyata. Hasil analisis paired t-test
selengkapnya terdapat pada tabel 4.
Tabel 4. Hasil analisis paired t-test
Paired Samples Test
Paired Differences
Mean
Pair 1
Pair 1
Pair 1
Pair 1
TS –
TSCamp
DS –
DSCamp
TJ –
Tjcamp
DJ –
Djcamp
2.0322
Std.
Deviation
Std.
Error
Mean
95% Confidence
Interval of the
Difference
Lower
df
Sig. (2tailed)
Upper
3.1915 3.464
151
0.001
1.7714 1.7836
8.7835 2.983
151
0.003
-0.1047
2.4946 0.2051 -0.5100
0.3005 -0.511
147
0.61
-1.5237
13.0291 1.0710 -3.6402
0.5929 -1.423
147
0.157
5.2836
7.2334 0.5867 0.8730
t
21.8396
IV. KESIMPULAN DAN SARAN
A.
Kesimpulan
1.
Kadar N total dan bahan organik tanah 14 bulan setelah tanam secara
umum cenderung mengalami peningkatan. Kondisi pH tanah antar plot
cukup bervariasi, setelah 18 bulan setelah tanam kondisi pH tanah
mengalami penurunan 11% - 16%.
Persen tumbuh sengon dan jabon sampai 6 bulan setelah tanam
menurun masing-masing 0,96 dan 3,84% per bulan dan sampai 18 bulan
setelah tanam dengan penurunan 0,27 dan 0,23 % per bulan. Persen
tumbuh umur 18 bulan adalah 88 % dan 74 % masing-masing untuk
sengon dan jabon.
2.
3.
Rata-rata pertumbuhan tinggi sengon model A dan C sampai 6 bulan
dan 18 bulan setelah tanam masing-masing adalah 8,84 cm, 18,64 cm,
25,64 cm dan 22,53 cm per bulan. Pertumbuhan tinggi sengon model A
143
dan C sampai 18 bulan setelah tanam tidak berbeda nyata dengan
increment masing-masing 20,70 dan 21,39 cm per bulan. Rata-rata
pertumbuhan tinggi jabon model B dan C sampai 6 bulan dan 18 bulan
setelah tanam masing-masing adalah 8,00 cm, 6,88 cm, 9,71 cm dan 9,77
cm per bulan. Pertumbuhan tinggi jabon model B dan C sampai 18 bulan
setelah tanam berbeda nyata dengan increment masing-masing 9,71 dan
9,77 cm per bulan.
4.
Rata-rata pertumbuhan diameter sengon model A dan C sampai 6 bulan
dan 18 bulan setelah tanam masing-masing 2,16 mm, 1,92 mm, 2,85 mm
dan 2,83 mm per bulan. Pertumbuhan diameter sengon model A dan C
sampai 18 bulan setelah tanam tidak berbeda nyata dengan increment
masing-masing 2,65 dan 2,56 mm per bulan. Rata-rata pertumbuhan
diameter jabon model B dan C sampai 6 bulan dan 18 bulan setelah
tanam masing-masing 1,12 mm, 1,42 mm, 1,86 mm dan 2,04 mm per
bulan. Pertumbuhan diameter jabon model B dan C sampai 18 bulan
setelah tanam tidak berbeda nyata dengan increment masing-masing
1,64 dan 1,86 mm per bulan.
B.
Saran
Penelitian pertumbuhan sengon dan jabon ini masih dalam taraf awal,
sehingga masih perlu pengamatan lanjut minimal sampai umur
tanaman tiga tahun, setelah riap melewati titik asimtot.
DAFTAR PUSTAKA
Atmojo. S. W. 2003. Peranan Bahan Organik Terhadap Kesuburan
Tanah dan Upaya Pengelolaannya. Pidato Pengukuhan Guru
Besar Ilmu Kesuburan Tanah Fakultas Pertanian Universitas
Sebelas Maret. Surakarta.
Badan Pusat Statistik. 2010. Badan Pusat Statistik Kabupaten Pati.
BPDAS Pemali Jeratun. 2008. Grand Design Rehabilitasi Kawasan
Gunung Muria. Balai Pengelolaan DAS. Departemen
Kehutanan. Semarang.
Departemen Kehutanan. 2008. Statistik Kehutanan Indonesia.
Departemen Kehutanan. Jakarta. 204 p.
144
Jamaludheen, V. dan B. M. Kumar. 1999. Litter of Multipurpose Trees
in Kerala, India: Variations in The Amount, Quality, Decay
Rates and Release of Nutrients. Forest Ecology and
Management 115: 1-11.
Handayanto, E. 1996. Interaksi Kualitas Campuran Sisa Tanaman dan
Pengaruhnya Terhadap Mineralisasi Sisa Tanaman. Agrivita 19
(2): 43-50.
Haynes, R. J. 1986. Mineral Nitrogen in The Plant-Soil System.
Academic Press.Inc. New York.
Peraturan Menteri Kehutanan Republik Indonesia Nomor: 44/MenhutII/2013 tentang Rencana Kerja Kementerian Kehutanan Tahun
2014.
Lee, T. D., M. G. Tjoelker, P. B. Reich dan M. P. Russelle. 2003.
Contrasting Growth Response of An N2-fixing and Non-fixing
forb to elevated CO2: Dependence on Soil N supply. Plant and
Soil 255: 475–486. Kluwer Academic Publishers. Netherlands.
Martawijaya A, Iding K, Y.I. Mandang, S.A. Prawira, K. Kadir. 1989.
Atlas Kayu Indonesia Jilid II. Departemen Kehutanan, Badan
Penelitian dan Pengembangan Kehutanan, Bogor-Indonesia
1989.
Rachman, E. 2004. Perencanaan Penanaman untuk Rehabilitasi Hutan
dan Lahan Terdegradasi di Jawa Barat. Prosiding. Ciamis.
Tisdale, S.L., W.L. Nelson, dan J.D. Beaton. 1986. Soil Fertility and
Fertilizer. Four Edition Mac Millan Publ. Co. Inc. New York.
USDA. 1998. Soil Quality Indicator : pH. USDA Natural Resources
Conservation Service. Soil Quality Information Sheet. Diunduh
dari http://soils.usda.gov
145
NILAI KONSUMSI AIR BEBERAPA JENIS POHON CEPAT TUMBUH1
Oleh :
Agung B. Supangat 2*, dan Ugro H. Murtiono2
2
Balai Penelitian Teknologi Kehutanan Pengelolaan Daerah Aliran Sungai
Jl. A. Yani PO Box 295 Pabelan.
Telepon/Fax.: (+62 271) 716709/716959
Email: [email protected]
*Email: [email protected] [email protected]
ABSTRAK
Informasi nilai evapotranspirasi yang merupakan gambaran kebutuhan air oleh
tanaman (crop water requirements) sangat penting diketahui sebagai data
dasar karakteristik hidrologi jenis sebelum tanaman dikembangkan dalam
skala luas. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui besarnya konsumsi air
oleh tanaman (crop water requirements) beberapa jenis spesies cepat tumbuh
di Indonesia.
Metode pengamatan langsung di lapangan dengan
menggunakan lisimeter. Jenis tanaman yang diteliti meliputi sengon, akasia,
kayu putih, nyamplung, mahoni dan ekaliptus. Hasil penelitian menyimpulkan
bahwa besarnya nilai evapotranspirasi (ET) tahunan sangat beragam pada
setiap jenis tanaman. Nilai ET tahunan rata-rata dan persentasenya terhadap
hujan dari masing-masing jenis berturut-turut adalah: ekaliptus 1.450 mm
(59,7%), akasia mangium 1.220 mm (45,5%), sengon 708 mm (28,5%), kayu putih
681 mm (35,3%), mahoni 566 mm (34,0%) dan nyamplung 497 mm (25,0%).
Selain jenis tanaman dengan umur dan kerapatannya, faktor curah hujan
(tebal dan sebaran bulanan dalam setahun) serta jenis tanah sangat
mempengaruhi besar nilai ET tahunan. Jenis tanaman dengan nilai ET yang
tinggi (mendekati curah hujan tahunan) perlu kewaspadaan dalam melakukan
pemilihan lokasi penamaman dan pengelolaannya, agar tidak menimbulkan
kekeringan di wilayah yang bersangkutan.
Kata Kunci : Evapotranspirasi, Hutan tanaman, Curah hujan, Jenis tanaman
cepat tumbuh
1
Disampaikan dalam Seminar Nasional Hasil Penelitian Teknologi Pengelolaan
DAS oleh Balai Penelitian Teknologi Kehutanan Pengelolaan DAS, Kementerian
Kehutanan, pada tanggal 12 juni 2013.
146
I. PENDAHULUAN
Dalam mendukung pembangunan kehutanan di Indonesia, kegiatan
pembangunan hutan perlu dilakukan melalui pengembangan jenisjenis tanaman industri sesuai kegunaannya, seperti untuk kayu
pertukangan, kayu penghasil pulp dan kayu energi. Beberapa jenis
tanaman hutan yang dikembangkan merupakan jenis tanaman cepat
tumbuh, baik jenis asing (exotic species) maupun asli (indigenous
species) dan bercirikan memiliki produktivitas tinggi.
Jenis-jenis cepat tumbuh umumnya tidak memerlukan persyaratan
tempat tumbuh yang tinggi, tetapi masih diperdebatkan
pengembangannnya terkait dampak negatif terhadap lingkungan
terutama terhadap kondisi lingkungan tata air (hidrologi) di daerah
aliran sungai (DAS), termasuk adanya peningkatan banjir, kekeringan,
tanah longsor, serta erosi dan sedimentasi.
Salah satu contohnya, jenis Eucalyptus sp., yang telah dikembangkan
dalam skala besar di Indonesia terutama oleh perusahaan HTI (hutan
tanaman industri) sebagai salah satu andalan tanaman penghasil pulp
selain Acacia mangium.
Tanaman Eucalyptus sp. di Indonesia
mengalami perkembangan pesat pada tahun 1980 setelah Kongres
Kehutanan Sedunia ke VIII di Jakarta tahun 1978. Namun, pada tahun
1988 timbul kritik dan protes terhadap tanaman ini karena adanya
indikasi pengaruh negatif terhadap lingkungan (Pudjiharta, 2001). Di
India, dilaporkan bahwa jenis tanaman Eucalyptus sp. telah
menyebabkan bencana kekurangan air karena tingginya konsumsi air
untuk pertumbuhannya (Shiva dan Bandyopadhyay, 1983 dalam
Bruijnzeel, 1997).
Besarnya konsumsi air tanaman dapat didekati dari nilai
evapotranspirasi. Besarnya evapotranspirasi suatu komunitas vegetasi
menurut US Soil Conservation Service (1970) dalam Asdak (1995) perlu
diketahui karena hasil penelitian menunjukkan bahwa dua pertiga dari
jumlah hujan yang jatuh di daratan Amerika Utara kembali lagi ke
atmosfer sebagai hasil evaporasi tanaman dan permukaan tubuh air.
Sedangkan di Afrika, air yang terevapotranspirasi bahkan melebihi 90%
dari jumlah curah hujan yang jatuh di tempat tersebut. Nilai ET juga
147
perlu diketahui sebagai salah satu karakteristik hidrologi jenis tanaman
dalam merespon input hujan.
Besarnya nilai ET yang sering juga dianggap sebagai kehilangan air
oleh tanaman (crop water consumptions), selain dipengaruhi oleh
faktor-faktor meteorologi, juga dipengaruhi ketersediaan air di dalam
tanah terutama di zona perakaran. Di areal dengan tutupan hutan,
evapotranspirasi juga dipengaruhi jenis, umur, kerapatan serta tinggi
tanaman (Seyhan, 1977).
Berdasarkan permasalahan di atas, maka diperlukan penelitian
karakteristik hidrologis jenis tanaman sebelum dikembangkan dalam
skala yang lebih luas, di antaranya adalah nilai konsumsi air oleh
tanaman (nilai evapotranspirasi).
Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui besarnya konsumsi air
oleh tanaman dari beberapa jenis spesies cepat tumbuh di Indonesia.
Selain sebagai sumbangan dalam ilmu pengetahuan bidang hidrologi
hutan, data dan informasi yang diperoleh diperlukan dalam rangka
mendukung pelaksanaan tindakan silvikultur, terutama manipulasi
lingkungan pertumbuhan terkait dengan siklus air.
II. METODE PENELITIAN
A. Waktu dan Lokasi Penelitian
Penelitian dilakukan di kawasan hutan tanaman di areal kerja Perum
Perhutani, HPHTI PT. Arara abadi - Riau, serta HPHTI. PT. Musi Hutan
Persada - Sumatera Selatan. Lokasi dan jenis tanaman yang diteliti
selengkapnya disajikan pada Tabel 1.
Tabel 1. Jenis tanaman yang dikaji dan lokasi penelitian
No.
1.
2.
3.
4.
Spesies tanaman
Sengon
(Paraserianthes falcataria)
Akasia
(Acacia mangium)
Kayu putih
(Melaleuca cajuputi)
Nyamplung
(Calophyllum inophyllum)
Lokasi penelitian
Wonosobo
Kawasan Hutan
KPH Kedu Selatan
- Wonogiri
- Sumatera Selatan
- Grobogan
- Gunung Kidul
- Ponorogo
Karanganyar
-
148
KPH Surakarta
PT. Musi Hutan Persada
KPH Gundih
KPH Madiun
Tanah/Kebun milik
masyarakat
5.
Mahoni
Ngawi
KPH Ngawi
(Swietenia mahagoni)
6.
Ekaliptus
Riau
PT. Arara Abadi,
(Eucalyptus pellita)
Perawang
Keterangan: KPH = Kesatuan Pemangkuan Hutan, di Perum Perhutani
Waktu pelaksanaan penelitian (pengukuran) evapotranspirasi tidak
dilakukan secara bersama-sama.
Jenis tanaman akasia (lokasi
Sumatera Selatan) dilakukan selama 2 tahun (2007-2008), jenis
ekaliptus dilakukan selama 4 tahun (2008-2011), sedangkan jenis
sengon, akasia (Wonogiri), kayu putih, nyamplung dan mahoni
dilakukan selama 1 tahun (2012).
B. Bahan dan Peralatan
Bahan yang digunakan adalah masing-masing jenis tanaman yang
menjadi obyek penelitian (sengon, kayu putih, mahoni, nyamplung,
akasia dan ekaliptus), yang ditanam dalam plot lisimeter. Adapun
peralatan penelitian meliputi alat penakar hujan manual (ombrometer)
dan plot lisimeter lapangan berukuran 4 m x 4 m (panjang-lebar) x 1-1,5
m (dalam), untuk mengukur laju evapotranspirasi.
C. Rancangan Penelitian
Penelitian pengukuran nilai ET ini tidak menggunakan rancangan
percobaan dengan perlakuan yang secara khusus diterapkan. Namun,
beberapa jenis yang diamati memiliki perbedaan kondisi jarak tanam
dan tanaman bawahnya. Diskripsi masing-masing tanaman dalam plot
lisimeter disajikan pada Tabel 2.
Tabel 2. Diskripsi kondisi pertanaman tiap jenis tanaman dalam plot
lisimeter
Spesies tanaman
Lokasi
Jarak tanam
Sengon
Wonosobo
Akasia mangium
Wonogiri
Plot 1: (2mx3m) + kopi
Plot 2: (2mx3m) + kopi
Plot 3: (2mx3m) + kopi
Plot 1: (4mx3m)
Plot 2: (4mx3m)
Plot 3: (4mx4m)
149
Kondisi tanaman
bawah
Dibiarkan 100%
Dibiarkan 50%
Dibiarkan 25%
Dibiarkan 100%
Dibiarkan 100%
Dibiarkan 100%
Nyamplung
Sumsel
Grobogan
Gunung Kidul
Ponorogo
Karanganyar
Mahoni
Ekaliptus pellita
Ngawi
Riau
Kayu putih
3mx3m
2mx4m
2mx4m
2mx4m
Plot 1: 2mx2m
Plot 2: 3mx3m
2mx4m
3mx2m
Dibiarkan 100%
Dibiarkan 100%
Dibiarkan 100%
Dibiarkan 100%
Dibiarkan 100%
Dibiarkan 100%
Dibiarkan 50%
Dibiarkan 100%
D. Pengumpulan Data
Penelitian lapangan ini dilakukan dengan menggunakan pendekatan
metode keseimbangan/neraca air (water balance), dengan formula Q =
P – (ET + ΔS). Berdasarkan model tersebut, nilai ET merupakan
evapotranspirasi, nilai Q merupakan penjumlahan dari limpasan
permukaan langsung (DRO) dan aliran air bawah tanah (BF), sehingga
ET = P – (DRO + BF + ΔS). Pengamatan ΔS dilakukan dengan alat
pengukur kandungan air tanah pada kedalaman 0,2 m dan 0,5 m.
Prinsip pengamatan evapotranspirasi pada lisimeter lapangan ukuran
panjang 4 m, lebar 4 m, dan dalam 1-1,5 m (Gambar 1.), yaitu
pengamatan terhadap limpasan langsung (DRO) dan limpasan bawah
permukaan (BF) dan kandungan air tanah (ΔS) yang diamati secara
harian tiap jam 07.00 pagi setiap hari hujan. Pada musim kemarau,
pengamatan ΔS merupakan nilai rata-rata bulanan.
150
Bak
DRO
Tanaman
*
Tanaman
Bak
BF
*
DRO
Tanah
Batu Kali
1 -1,5m
Ijuk
BF
Gambar 1. Plot lisimeter untuk ukuran 4 m x 4 m x 1 m
Pengamatan debit (Q) harian, dilakukan dengan mengukur tinggi
muka air pada bak penampung DRO (H_dro, m) dan bak penampung
BF (H_bf, m). Pengamatan ∆S (perubahan kandungan air tanah)
dilakukan dengan alat pengukur kadar air tanah atau dari sampel
tanah yang diambil pada saat sebelum dan setelah kejadian hujan,
pada musim penghujan ∆S diasumsikan konstan (= 0), sehingga
ET = P – Q.
E. Pengolahan dan Analisis Data
Penghitungan air yang hilang menjadi evapotranspirasi (ET) tiap
kejadian hujan harian (daily rainfall event) dilakukan dengan dasar
persamaan neraca air di atas, yang dibalik menjadi sebagai berikut:
151
ET = P – (Q + ΔS) (dalam mm)
di mana P adalah tebal hujan (mm), ΔS = (selisih kadar air tanah (%)
pada kapasitas lapang (pF 2,54) dengan pada kondisi aktual) x nilai
porositas tanan (n, %). Perhitungan nilai ET harian saat musim hujan
adalah sebagai berikut:
DRO
BF
Q
Q
ET
= H_dro x panjang bak x lebar bak (dalam m3)
= H_bf x panjang bak x lebar bak (dalam m3)
= DRO + BF (dalam m3)
= (DRO+BF)/luas plot = (DRO+BF)/16 x (1/1000) (dlm mm)
= P–Q, dimana P adalah tinggi hujan (mm),
(dalam mm/hari)
Hasil perhitungan nilai ET kemudian disajikan dalam satuan total nilai
tahunan (mm/tahun), agar bisa dibandingkan dengan curah hujan
tahunan yang terjadi. Penyajian data ET tiap jenis tanaman dilakukan
secara rata-rata dari beberapa kondisi pertanaman dan tahun
pengamatan, serta kisaran angka (dalam satuan mm/th) dan
persentase nilai ET (%) terhadap curah hujan.
III. HASIL DAN PEMBAHASAN
A. Hasil Penelitian
Besar kecilnya nilai penggunaan air atau evapotranspirasi oleh
tanaman dipengaruhi selain oleh jenis tanaman, kondisi iklim mikro,
juga oleh faktor di dalam tanah. Kondisi karakteristik tanaman yang
diamati beserta aspek tanah disajikan oleh Tabel 3. Hasil perhitungan
besarnya evapotranspirasi (ET) tahunan pada masing-masing jenis dan
lokasi penelitian disajikan pada Lampiran 1., sedangkan rekapitulasi
nilai rata-rata dan kisaran angka ET disajikan pada Tabel 4. Setiap jenis
tidak sama rentang waktu pengamatannya, dipengaruhi oleh waktu
dan akhir penelitian yang berbeda-beda. Namun demikian, rata-rata
telah diketahui nilai ET sampai tanaman berumur 2 sampai 6 tahun.
152
Tabel 3. Kondisi tanaman dan faktor tanah di lokasi penelitian
Jenis pohon
Umur
tanaman
(th)
Lokasi
studi
Jenis
Tanah
Kelas
tekstur
tanah
Kadar air
tanah
(%)
Air tersedia
(%)
Sengon
4
Wonosobo
Inceptisols
Lempung
2,81 - 16,80
13,40 - 23,50
A. mangium
4
Wonogiri
Inceptisols
Lempung
2,62 - 12,50
11,70 - 19,00
2-3
Ultisols
2,31 - 2,69
9,40 - 18,80
Akasia
Kayu putih
4
Sumatera
Selatan
Gundih
Vertisols
Lempung
pasiran
Lempung
2,16 – 2,76
18,00 – 19,50
Kayu putih
4
Ponorogo
Vertisols
Lempung
1,67 – 2,47
9,30 – 19,85
Kayu putih
6
Gunung Kidul
Vertisols
Lempung
2,29 - 3,01
24,23 - 33,45
Nyamplung
4
Karanganyar
Inceptisols
2,10 - 8,51
10,54 – 17,65
Mahoni
4
Ngawi
Vertisols
2,85 - 12,47
16,60 - 34,80
Riau
Ultisols
Lempung
debuan
Lempung
debuan
Geluh
pasiran
2,46 - 3,20
8,91 - 13,90
E. pellita
2-5
Tabel 4. Hasil perhitungan nilai evapotranspirasi tahunan pada masingmasing jenis tanaman
CH ratarata
(mm/th)
ET ratarata
(mm/th)
Wonosobo
2.487
708
28,5
22,2-34,9
Wonogiri
2.045
597
29,2
22,9-34,8
Akasia
Sumater
Selatan
3.069
1.843
59,9
58,8-61,1
kayu putih
Gundih
981
397
40,5
33,4-47,6
kayu putih
Ponorogo
1.982
750
37,8
30,8-44,8
kayu putih
Gunung Kidul
1.875
612
32,7
30,6-34,9
Nyamplung
Karanganyar
1.983
497
25,0
23,0-27,1
Mahoni
Ngawi
1.665
566
34,0
31,4-36,6
Ekaliptus
Riau
2.485
1.450
59,7
47,8-71,5
Jenis
pohon
Lokasi
Sengon
Akasia
(%) ET terhadap CH
Rata-rata
Kisaran
B. Pembahasan
Nilai evapotranspirasi beberapa spesies tanaman di berbagai wilayah
disajikan pada Tabel 5. Berdasarkan hasil sintesa terhadap nilai ET
diketahui bahwa jenis tanaman yang sama jika ditanam di tempat yang
berbeda karakteristik agroklimatologinya menunjukkan nilai ET yang
berbeda dengan kisaran angka yang sangat variatif. Variasi nilai ET
pada setiap jenis hutan tersebut (lebih tinggi atau lebih rendah)
153
dipengaruhi faktor seperti curah hujan, ketinggian tempat maupun
faktor meteorologis lainnya.
Hasil penelitian ini menunjukkan nilai ET yang juga variatif. Tanaman
sengon yang ditanam di daerah tinggi (Wonosobo) dengan curah
hujan lebih dari 2.000 mm/th, menunjukkan nilai ET yang rendah (ratarata 28,5% dari curah hujan). Keberadaan tanaman bawah juga
berpengaruh dalam menyumbang besarnya nilai ET. Semakin rapat
dan banyak (jenis) tanaman bawah akan menyebabkan nilai ET
semakin besar. Pada plot lisimeter tanaman sengon dengan kondisi
tanaman bawah yang dibiarkan 100% menunjukkan nilai ET yang lebih
besar dibandingkan pada plot dengan tanaman bawah dibiarkan 50%,
dan paling kecil pada plot dengan tanaman bawah 25%.
Tanaman akasia (A. mangium) yang ditanam di tempat yang berbeda
jumlah dan karakter curah hujannya menunjukkan angka ET yang
berbeda. Di Wonogiri yang relatif lebih kering (CH = 2.045 mm/th) dan
tidak merata sepanjang tahun menunjukkan angka ET 29,2%;
sedangkan di Sumatera Selatan dengan curah hujan lebih tinggi
(>3.000 mm/th) dan merata sepanjang tahun menunjukkan nilai ET
yang lebih tinggi (59,9%). Hasil penelitian Pudjiharta (1986) pada jenis
yang sama (A. mangium) juga menghasilkan nilai ET yang bahkan lebih
tinggi (68,8% dari curah hujan 3.465 mm/th).
154
Tabel 5. Evapotranspirasi berbagai jenis pohon
Jenis pohon
Pinus merkusii
Lama Penelitian/
Umur tanaman
(th)
Curah hujan
(mm/th)
ET
(mm/th)
ET
(% dari CH)
8
3.056
1.971
Metode Pengukuran
Lokasi
Studi
Sumber
64,5
Lisimeter
Indonesia
Pudjiharta (1986) *)
P. merkusii
-
3.695
1.308
35,4
Model Penman-Monteith
Indonesia
Arifjaya, dkk. (2002)
P. merkusii
5
1.816 - 3.455
1.002 - 1.253
29 - 69
-
Indonesia
Soedjoko, dkk. (1998)
P. merkusii
-
-
900
-
-
Indonesia
Bruijnzeel (1997)
P. caribaea
1
1.121
717
63,9
P. caribaea
-
-
1.770
P. patula
-
-
1.160
Model Soil Water Balance Brazil
Lima, et al. (1990)
-
Model Penman-Monteith
Fiji
Waterloo (1994)
-
Kenya
Indonesia
Blackie (1979) **)
Pudjiharta (1986) *)
E. urophylla
8
3.056
1.128
36,9
Model Catchment Water
Balance
Lisimeter
E. deglupta
3
3.136
1.659
52,9
Lisimeter
Indonesia
Pudjiharta (1992) *)
E. alba
3
3.136
1.643
52,4
Lisimeter
Indonesia
Pudjiharta (1992) *)
E. trianta
3
3.136
1.673
53,4
Lisimeter
Indonesia
Pudjiharta (1992) *)
E. grandis
1
1.121
922
82,2
Model Soil Water Balance Brazil
Lima, et al. (1990)
E. grandis
6
1.147
1.092
95,2
Model Soil Water Balance Brazil
Almeida, et al. (2007)
E. grandis
9
1.396
1.345
96,4
Model Penman-Monteith
Brazil
Soares, et al. (2001)
E. hybrid
-
3.187
1.912
60,0
-
-
Poore, et al. (1985) *)
E. hybrid
3
1.518
1.024
67,5
Lisimeter
Congo
Laclau, et al. (2005)
Eucalyptus sp.
-
500 - 1.200
450 - 1.000
80 - 90
-
-
Poore, et al. (1985) *)
Schima walichii
8
3.056
700
22,9
Lisimeter
Indonesia
Pudjiharta (1986) *)
155
Lama Penelitian/
Umur tanaman
(th)
Jenis pohon
Curah hujan
(mm/th)
ET
(mm/th)
ET
(% dari CH)
Metode Pengukuran
Lokasi
Studi
Sumber
S. walichii
-
-
1.200 - 1.300
-
Model Penman-Monteith
Indonesia
Rusdiana, dkk (2002)
Swietenia macrophylla
6
4.016
2.317
57,7
Lisimeter
Indonesia
Pudjiharta (1986) *)
A. mangium
4
3.465
2.384
68,8
Lisimeter
Indonesia
Pudjiharta (1986) *)
Model Penman-Monteith
Indonesia
Hendrayanto, dkk (2002)
Tectona grandis
-
-
950 - 1.600
-
Tectona grandis
3
1.671
1.164
69,7
Tectona grandis
3
1.671
946 - 1.118
56,6 - 66,9
Dalbergia latifolia
4
3.465
41,7
Model Tornthwaite-Matter Indonesia
Supangat dan Putra (2012)
Model Penman-Monteith
Indonesia
Supangat dan Putra (2012)
Lisimeter
Indonesia
Pudjiharta dan Pramono
(1988) *)
Rusdiana, dkk (202)
1.445
Agathis sp.
-
-
1.200 - 1.250
-
Model Penman-Monteith
Indonesia
Agathis damara
-
-
1.070
-
Model Catchment Water
Balance
Indonesia
)
)
Keterangan: * dalam Pudjiharta (2001); ** dalam Bruijnzeel (1997)
156
Bruijnzeel (1988) **)
Tanaman nyamplung yang ditanam di daerah Karanganyar dengan curah
hujan 1.983 mm/th, menunjukkan angka ET yang juga rendah (rata-rata
25,0%). Hal tersebut selain disebabkan curah hujan yang tidak besar dan
tidak merata sepanjang tahun, juga karena struktur daun tanaman
nyamplung yang memiliki lapisan lilin (kutikula) yang tebal menutupi
stomata daun. Struktur daun yang demikian menyebabkan kecilnya
transpirasi yang terjadi pada tanaman.
Tanaman kayu putih yang memang cocok dikembangkan di daerah kering
(berbahan induk kapur) pada jenis tanah vertisols, dengan curah hujan
yang lebih rendah, menunjukkan angka ET yang juga rendah. Hasil
penelitian pada ketiga lokasi tanaman (Gundih, Ponorogo dan Gunung
Kidul), memberikan kisaran angka ET yang rendah (30,6% - 40,5%) dari
curah hujan sebesar 981mm/th – 1.982mm/th. Pada ketiga lokasi tanaman
kayu putih tersebut berjenis tanah vertisols yang mempunyai sifat sangat
kering (lengas tanah rendah) pada musim kemarau. Hal tersebut
membuat cadangan air tanah menjadi kecil/sedikit untuk mendukung
terjadinya proses evapotranspirasi.
Tanaman mahoni di Ngawi menunjukkan angka ET berkisar antara 31,4% 36,6%, dari curah hujan sebesar 1.665mm/th. Angka ini tergolong kecil,
dibandingkan hasil penelitian Pudjiharta (1986) pada jenis mahoni daun
kecil (S. macrophylla) yang menunjukkan angka ET sampai 57,7%. Kecilnya
angka ET dari hasil penelitian ini (di Ngawi) lebih dipengaruhi karakter
curah hujan yang kecil (di bawah 2.000mm/th) dan tidak merata
sepanjang tahun, dibandingkan pada penelitian Pudjiharta (1986) yang
curah hujannya sampai 4.016mm/th. Selain itu, umur tanaman dan jenis
tanah juga berpengaruh terhadap besar-kecilnya angka ET. Pada lokasi
Ngawi, tanaman yang diamati berumur 4 tahun dengan jenis tanah
vertisols, sedangkan pada penelitian Pudjiharta tanaman mahoni berumur
6 tahun.
Besarnya nilai ET tanaman ekaliptus juga cukup bervariasi dipengaruhi
spesies maupun lokasi mengukuran yang memiliki karakteristik
meteorologis yang berbeda beda. Secara umum, besar ET tanaman
Eucalyptus berkisar 900 – 1.900 mm/th tergantung besarnya curah hujan
yang ada (Poore et al., 1985; Lima et al., 1990; Pudjiharta, 2001; Soares et
al., 2001; Laclau et al., 2005; Almeida et al., 2007). Berdasarkan angka
157
persentasenya terhadap curah hujan, angka ET jenis Eucalyptus sp. sangat
variatif, berkisar dari angka 36% sampai 95% (Tabel 5.). Hasil penelitian E.
pellita di Riau menunjukkan angka ET yang masuk dalam kisaran yaitu
1.188-1.834mm/th (atau 47,8%-71,4%).
Pada jenis tanaman yang lain juga memperlihatkan nilai ET yang beragam.
Tanaman Pinus spp., menunjukkan nilai ET yang juga bervariasi. Smith
(1974) dalam Bruijnzeel (1997) melaporkan nilai P. radiata di Australia
sebesar1.587±204 mm atau 71,9 % dari curah hujan (2.207±110 mm). Di
Indonesia, dari berbagai wilayah dilaporkan besarnya ET P. merkusii
berkisar antara 900 - 1971 dengan prosentase ET terhadap curah hujan
bekisar 29 - 64,5% (Pudjiharta, 1986; Bruijnzeel, 1997; Sudjoko et al., 1998;
Arifjaya et al., 2002). Spesies P. caribaea di Brazil dilaporkan Lima et al.,
memiliki nilai ET sebesar 716,6 mm (63,9%), sementara di Fiji menunjukkan
angka yang lebih besar yaitu 1.770 mm (Waterloo, 1994). Spesies lain dari
pinus (P. patula) di Kenya dilaporkan oleh Blackie (1979) dalam Bruijnzeel
(1997) sebesar 1.160 mm dengan evapotranspirasi relatif (ET/Eo) sebesar
0,77.
Di wilayah dengan curah hujan yang lebih rendah, dilaporkan bahwa
tanaman jati di Jawa Barat memiliki nilai ET sebesar 950 - 1.600 mm
(Hendrayanto dkk., 2002), sedangkan di Cepu, Jawa Tengah dilaporkan
nilai ET sebesar 946 - 1.164 mm (dari curah hujan rata-rata sebesar 1.671
mm) (Supangat dan Putra, 2012). Jenis tanaman lain juga memperlihatkan
nilai ET yang beragam, antara lain: jenis Puspa (S. walichii) menunjukkan
angka 22,9% (700-1.300mm/th) (Pudjiharta, 1986; Rusdiana dkk., 2002);
Sonokeling (D. latifolia) sebesar 1.445mm (41,7%) (Pudjiharta dan
Pramono, 1988); serta jenis Agathis sp. sebesar 1.070-1.250mm/th
(Pudjiharta, 1986; Bruijnzeel, 1988).
Jika dibandingkan dengan kawasan hutan alam, nilai ET juga berbedabeda dipengaruhi lokasi pengukuran dengan karakteristik curah hujannya.
Pada hutan hujan dataran rendah (<100 m.dpl) di Jawa, besarnya nilai ET
mencapai 1.480 mm dengan ET/Eo 0,90, sedangkan hutan hujan dataran
tinggi (2.400 m.dpl) di Kenya dilaporkan angka ET sebesar 1.155 mm
dengan ET/Eo sebesar 0,78 (Calder, 1986 dalam Bruijnzeel, 1997).
158
IV. KESIMPULAN
Besarnya konsumsi air (nilai ET) bervariasi pada setiap jenis tanaman
tergantung pada umur dan kerapatan tanaman, faktor curah hujan (tebal
dan sebaran bulanan dalam setahun) serta jenis tanah. Hasil penelitian
konsumsi air beberapa jenis cepat tumbuh menunjukkan besarnya nilai ET
tahunan yang bervariasi pada setiap jenis tanaman. Nilai ET tahunan ratarata dan persentase terhadap hujan masing-masing jenis yang diteliti
adalah: ekaliptus 1.450 mm (59,7%), akasia mangium 1.220 mm (45,5%),
sengon 708 mm (28,5%), kayu putih 681 mm (35,3%), mahoni 566 mm
(34,0%) dan nyamplung 497 mm (25,0%). Jenis tanaman dengan nilai ET
yang tinggi (mendekati curah hujan tahunan) perlu kewaspadaan dalam
melakukan pemilihan lokasi penamaman dan pengelolaannya, agar tidak
menimbulkan kekeringan di wilayah yang bersangkutan.
DAFTAR PUSTAKA
Almeida, A.C., J.V. Soares, J.J. Landsberg dan G.D. Rezende. 2007. Growth
and water balance of Eucalyptus grandis hybrid plantations in
Brazil during a rotation for pulp production. Forest Ecology and
Management, 251: 10–21.
Arifjaya, N.M., O. Rusdiana dan Hendrayanto.
2002.
Pengaruh
pengelolaan hutan pinus (P. merkusii) terhadap karakteristik
hidrologi, Studi kasus di DAS Ciwulan Hulu, KPH Tasikmalaya, PT.
Perhutani Unit III Jawa Barat. Prosiding Workshop Aplikasi HasilHasil Penelitian Bidang Hidrologi untuk Penyempurnaan
Pengelolaan Hutan Berbasis Ekosistem, Yogyakarta.
Asdak, C. 1995. Hidrologi dan pengelolaan daerah aliran sungai, Gadjah
Mada University Press, Yogyakarta.
Bruijnzeel, L.A. 1997. Hydrology of forest plantations in the tropics. In:
Nambiar, E.K.S. and A.G. Brown. 1997. Management of Soil,
Nutrient and Water in Tropical Plantation Forest. ACIAR
Monograph No. 43. Canberra, Australia. pp. 125-167.
159
Hendrayanto, O. Rusdiana, dan N.M. Arifjaya. 2002. Pengaruh hutan
tanaman jati terhadap tata air dan perlindungan tanah, Studi
kasus penelitian di SubDAS Cijurey Hulu, KPH Purwakarta.
Prosiding Workshop Aplikasi Hasil-Hasil Penelitian Bidang
Hidrologi untuk Penyempurnaan Pengelolaan Hutan Berbasis
Ekosistem, Yogyakarta.
Laclau, J. Ranger, P. Deleporte, Y. Nouvellon, L. S. Andre, S. Marlet dan
J.P. Bouillet. 2005. Nutrient Cycling in A Clonal Stand of Eucalyptus
and An Adjacent Savanna Ecosystem in Congo, 3: Input–Output
Budgets and Consequences for The Sustainability of The
Plantations. Forest Ecology and Management, 210: 375-391.
Lima, W.D.P., M.J.B. Zakia, P.L. Libardi dan A.P.D. Filho. 1990. Comparative
evapotranspiration of Eucalyptus, Pine and natural “Cerrado”
vegetation measure by the soil water balance method. IPEF
International (1), Piracicaba. pp. 5-11.
Pudjiharta, Ag. 2001. Pengaruh hutan tanaman industri Eucalyptus
terhadap tata air di Jawa Barat. Jurnal Puslitbang dan KA, Tahun
2001. Bogor.
Rusdiana, O., N.M. Arifjaya, dan Hendrayanto. 2002. Pengaruh hutan
tanaman campuran terhadap tata air dan perlindungan tanah,
Studi kasus penelitian di SubDAS Cipeureu, Gunung Walat.
Prosiding Workshop Aplikasi Hasil-Hasil Penelitian Bidang
Hidrologi untuk Penyempurnaan Pengelolaan Hutan Berbasis
Ekosistem, Yogyakarta.
Seyhan, E. 1977. Fundamentals of hydrology. Terjemahan. S. Subagyo.
1993. Dasar-dasar hidrologi (Edisi cetakan kedua). Gajah Mada
Univ. Press. Yogyakarta. 380 pp.
Soares, J.V. dan A.C. Almeida. 2001. Modeling the water balance and soil
water fluxes in a fast growing Eucalyptus plantation in Brazil.
Journal of Hydrology, 253: 130–147.
160
Soedjoko, S.A., Suyono dan Darmadi, 1998. Kajian Neraca Air di Hutan
Pinus. Makalah Seminar Pengelolaan Hutan dan Produksi Air
untuk Kelangsungan Pembangunan, 23 September 1998, Jakarta.
Supangat, A.B., A. Junaedi, Kosasih, D. Frianto dan Nasrun. 2008. Kajian
tata air hutan Acacia mangium dan Eucalyptus pellita. Laporan
Hasil Penelitian. Balai Penelitian Hutan Penghasil Serat. Badan
Litbang Kehutanan. Kuok. (tidak dipublikasikan).
Supangat, A.B. dan P.B. Putra. 2012. Neraca Air Meteorologis di Kawasan
Hutan Tanaman Jati di Cepu. Prosiding Ekspose Hasil Penelitian,
Balai Penelitian Teknologi Kehutanan Pengelolaan Daerah Aliran
Sungai. Badan Litbang Kehutanan. Surakarta.
Waterloo, M.J. 1994. Water and nutrient dynamics of Pinus caribaea
plantation forests on former grassland soils in Viti levu, Fiji. PhD
dissertation. Vrije Universiteit van Amsterdam, Amsterdam, the
Netherlands.
Wibowo, A. 2006. Usulan Kegiatan Penelitian (UKP) Tahun Anggaran 20062007: Pengelolaan Lingkungan Hutan Tanaman. Puslitbang Hutan
Tanaman, Badan Litbang Kehutanan, Dep. Kehutanan, Bogor.
161
Lampiran 1. Hasil pengukuran nilai ET tahunan pada masing-masing plot
Spesies
tanaman
Sengon
Akasia
Lokasi
Wonosobo
Wonogiri
Sumsel
Kayu putih
Nyamplung
CH
(mm)
Nilai ET
(mm/th)
(%)
ET thd CH
Plot 1 (Th. 2012)
2.487
867
34,9
Plot 2 (Th. 2012)
2.487
705
28,3
Plot 3 (Th. 2012)
2.487
553
22,2
Plot 1 (Th. 2012)
2.045
713
34,9
Plot 2 (Th. 2012)
2.045
609
29,8
Plot 3 (Th. 2012)
2.045
468
22,9
Th. 2007
2.754
1.618
58,8
Plot / (th)
Th. 2008
3.383
2.068
61,1
Grobogan
Th. 2012
981
397
40,5
Gunung
Kidul
Plot 1 (Th. 2012)
1.969
602
30,6
Plot 2 (Th. 2012)
1.780
621
34,9
Ponorogo
Th. 2012
1.982
750
37,8
Karanganyar
Plot 1 (Th. 2012)
1.983
537
27,1
Plot 2 (Th. 2012)
1.983
456
23,0
Plot 1 (Th. 2012)
1.665
609
36,6
Plot 2 (Th. 2012)
1.665
522
31,4
Th. 2008
2.813
1.345
47,8
Th. 2009
2.679
1.433
53,5
Th. 2010
2.783
1.834
65,9
Th. 2011
1.663
1.188
71,4
Mahoni
Ngawi
Ekaliptus
Riau
162
KANDUNGAN HARA DAN TINGKAT EROSI
PADA LAHAN MIRING BERSOLUM DANGKAL1
Oleh :
Nining Wahyuningrum2 dan Tyas Mutiara Basuki3
Balai Penelitian Teknologi Kehutanan Pengelolaan Daerah Aliran Sungai
Jl. A. Yani PO Box 295 Pabelan.
Telepon/Fax.: (+62 271) 716709/716959
Email: [email protected]
Email: [email protected] ; [email protected]
ABSTRAK
Degradasi lahan umumnya disebabkan oleh erosi. Penggunaan lahan yang
intensif pada lahan miring merupakan pemicu erosi. Dampak dari erosi selain
menipisnya lapisan tanah juga menurunnya kesuburan tanah. Hal ini
menyebabkan menurunnya produktivitas lahan yang tercermin dari
menurunnya pertumbuhan tanaman. Penelitian ini bertujuan untuk mengamati
kandungan hara tanah pada lahan miring bersolum dangkal. Lokasi penelitian
terletak di Desa Ngadipiro, Kecamatan Nguntoronadi, Wonogiri, Jawa Tengah.
Inventarisasi sumber-daya lahan dilaksanakan untuk mengumpulkan data
biofisik, sedangkan prediksi erosi dilakukan dengan menggunakan metode USLE
(Universal Soil Loss Equation). Untuk mengetahui dampak erosi terhadap
kesuburan dilakukan analisis fisika dan kimia tanah. Hasil penelitian
menunjukkan bahwa di lokasi penelitian didominasi oleh lahan dengan lereng
curam dengan lahan bervegetasi permanen (nilai C rendah), tanah dengan
tekstur silty clay. Meskipun didominasi oleh lereng terjal, erosi yang terjadi
masih didominasi oleh erosi kategori rendah-sangat rendah (lebih 50% luas area)
dan sedang (23% area). Tanah masih dalam taraf subur yang tercermin dari
kandungan Nitrogen (N) dan Bahan Organik (BO), Kapasitas Tukar Kation (KTK)
dan Kejenuhan Basa (KB). Nitrogen dan Bahan Organik berada pada tingkat
sedang dan sangat tinggi, sedangkan KTK dan KB pada tingkat tinggi. Hal ini
bisa terjadi karena adanya dominasi vegetasi permanen di lokasi penelitian,
vegetasi ini merupakan sumber BO dalam bentuk seresah, selain berfungsi
sebagai pelindung tanah.
Kata Kunci: erosi, degradasi lahan, kehilangan hara, solum tipis, vegetasi
permanen, seresah
1
Disampaikan dalam Seminar Nasional Hasil Penelitian Teknologi Pengelolaan
DAS oleh Balai Penelitian Teknologi Kehutanan Pengelolaan DAS,
Kementerian Kehutanan, pada tanggal 12 Juni 2013.
163
1. PENDAHULUAN
Degradasi lahan di Indonesia umumnya diakibatkan erosi oleh air
hujan(Dariah dkk., 2004). Hal ini disebabkan oleh tingginya curah
hujan yang jatuh pada lahan yang berlereng curam dan kurangnya
penerapan konservasi tanah. Lahan berlereng curam dan marjinal
masih banyak digunakan untuk budidaya tanaman semusim sebagai
akibat kebutuhan penduduk untuk mencukupi kebutuhan pangan.
Erosi pada dasarnya merupakan proses penggerusan permukaan kulit
bumi, yang dimulai dari penghancuran agregat tanah, pengangkutan
dan pengendapan partikel-partikel tanah yang terlepas dari tempat
yang tinggi ke tempat yang lebih rendah. Di alam ada dua penyebab
utama yang aktif dalam proses ini yakni angin dan air (Utomo, 1994).
Menurut Weischmeier dan Smith (1978), erosi dipengaruhi oleh
faktor hujan, topografi, sifat fisik tanah, penutupan dan pengelolaan
lahan. Aktifitas manusia dapat mengendalikan erosi dengan
mengurangi pengaruh faktor topografi, sifat fisik tanah, penutupan
dan pengelolaan lahan dengan teknik konservasi tanah vegetatif
maupun mekanis. Pengolahan lahan juga berpengaruh pada erosi
meskipun efeknya tidak secara cepat dapat dilihat seperti halnya
erosi oleh air dan angin (Oost dkk., 2006). Erosi oleh air menimbulkan
masalah serius, terutama pada lahan-lahan pertanian. Penutupan
lahan oleh vegetasi mempunyai dampak positif
terhadap
pengurangan erosi karena mempunyai fungsi perlindungan terhadap
tanah (Kefi dkk., 2011). Selain menyebabkan sedimentasi, erosi juga
juga akan menyebabkan berkurangnya ketebalan tanah (solum) dan
berkurangnya tingkat kesuburan tanah di wilayah hulu (on site)
(Sutrisno dkk., 2012).
Studi ini bertujuan memaparkan efek dari erosi dan penutupan lahan
terhadap kesuburan tanah yang diwakili oleh kandungan unsur hara
esensial yang dibutuhkan tanaman untuk tumbuh secara normal
(Buckman dan Brady, 1982). Dalam studi ini akan dianalisis unsur
Nitrogen tersedia (N), Karbon organik (C org) atau bahan organik
(BO), Fosfor (P) tersedia, Kalium (K) tersedia, Kapasitas Tukar Kation
(KTK), dan Kejenuhan Basa (KB).
164
2. METODE
A.
Lokasi dan Waktu Penelitian
Lokasi penelitian secara administratif terletak di Dusun Dungwot
Desa Ngadipiro, Kecamatan Nguntoronadi, Kabupaten Wonogiri dan
secara geografis terletak pada 110o 59’ 52’’ BT; 7o 53’ 8’’ LS. Lokasi
penelitian ini dipilih karena merupakan lahan kering berlerang curam
dengan curah hujan rata-rata pertahun 1.976,6 mm dengan jumlah
bulan basah (Schmidt dan Fergusson, 1951)6 bulan. Di lokasi yang
terjal dan bersolum dangkal ini kegiatan pertanian tanaman semusim
masih dilakukan. Penelitian dilakukan pada tahun 2012.
B.
Rancangan Penelitian
Lokasi penelitian berupa sub DAS kecil dengan luas lebih kurang 10,82
ha. Analisis dilakukan dalam satuan lahan yang terbentuk berdasar
kesamaan karakter biofisik seperti jenis penutupan lahan, kedalaman
tanah dan kelas lereng. Pembatasan DAS dilakukan secara terestris
dengan menggunakan GPS (Global Positioning System). Titik
koordinat yang tercatat diolah dengan ArcMap 9.2 (Crosier dkk.,
2004)menjadi shape file, yang merupakan peta digital dari penutupan
lahan, kedalaman tanah dan kelas lereng. Tumpang susun (overlay)
peta-peta tersebut dilakukan untuk menentukan/mengelompokkan
menjadi satuan lahan yang mempunyai ciri biofisik yang relatif
seragam. Data biofisik dikumpulkan melalui survei inventarisasi
sumber daya lahan (Fletcher dan Gibb, 1990). Data yang dikumpulkan
meliputi jenis penutupan lahan, jenis tanah, kedalaman solum, tekstur
tanah, kemiringan lahan. Selain itu dilakukan pengambilan sampel
tanah. Pengambilan sampel tanah dilakukan pada setiap satuan lahan
pada kedalaman 0-20 cm. Pengambilan sampel secara komposit,
masing-masing satuan lahan diambil 3 sampel yang dicampur menjadi
satu.
Pengukuran tegakan dilakukan untuk mengetahui nilai index
pengelolaan tanaman (C). Pengukuran dilakukan dengan membuat
petak ukur (PU) berjari-jari 16 m. Dengan intensitas sampel lebih
kurang 10%, PU dibuat secara purposive yaitu pada lokasi yang
ditumbuhi tanaman keras. Data yang dikumpulkan meliputi tinggi
165
tanaman total, tinggi bebas cabang, diameter batang, jari-jari tajuk,
jumlah tanaman dan prosentase penutupan tajuk. Dalam PU juga
diamati secara visual persentase penutupan lahan oleh tanaman
semusim, semak, seresah dan kerikil permukaan.
c.
Analisis Data
Untuk mengetahui fisik dan kimia tanah dilakukan analisis sampel
tanah. Jenis analisis yang dilakukan seperti pada Tabel 1. Hasil analisis
dikelompokkan menurut kriteria tinggi-rendah unsur hara
(Puslittanah, 1983) (Lampiran 5).
Tabel (Table) 1. Parameter sifat fisik dan kimia tanah dan metode
analisis yang digunakan (physical and chemical soil properties
and the method of analyses
NO
Parameter
pH (H2O)
Satuan
pH
Metode
1 : 2.5 (tanah : H2O)
Nitrogen total
%
Kjeldahl
Bahan Organik
%
Oksidasi basah (Walkley and
Black)
P tersedia
mg kg-1
Bray II (molybdate blue),
Spectrophotometer
K tertukar
cmol kg-1
1 M NH4OAc, pH 7, Flame
photometer
KapasitasTukar
Kation
%
Destilasi
Kejenuhan Basa
%
Jumlah basa-basa dibagi KTK
Tekstur (3 fraksi)
%
Cara pipet
Prediksi erosi pada satuan lahan menggunakan rumus Universal soil
Loss Equation (USLE) yang dikemukan oleh Weischmeier and Smith
(1978), adalah sebagai berikut:
A = R K L S C P .....................................................................................(1)
166
Dalam hal ini :
A = Banyaknya tanah tererosi (ton/ha/tahun)
R = Indeks erosivitas hujan
K = Indeks erodibilitas tanah
LS = Indeks panjang dan kemiringan lereng
C = Indeks pengelolaan tanaman
P = Indeks upaya konservasi tanah
Indeks erosivitas hujan (R) dihitung dengan rumus EI30 (Utomo,
1989), yaitu:
EI30
= -8,79 + (7,01 x R)..................................................................(2)
Dalam hal ini :
EI30
= Erosivitas hujan
R
= Hujan rata-rata bulanan (cm)
Indeks panjang dan kemiringan lereng dihitung dengan rumus
(Paningbatan, 2001):
LS = 0,2 S 1,33 + 0,1 ………………………...……..…………………….(3)
Dalam hal ini :
LS
= indeks panjang lereng
S
= lereng (%)
Perhitungan nilai C tanaman keras dengan rumus Dissmeyer dan
Foster (1984)
C = (SFPH) (SFKO) (SFT)………………….........………….………….(4)
Dalam hal ini:
C
SFPH
= faktor tanaman keras.
= sub faktor perakaran halus, diperoleh dengan
memasukkan data prosentase tanah terbuka dan
data prosentase tanah terbuka dengan perakaran
167
halus ke dalam tabel pada Lampiran 1.
SFKO
= sub faktor kandungan bahan organik.
SFT
= sub faktor tajuk, diperoleh dengan memasukkan
data tinggi tajuk dan prosentase tanah terbuka
berpenutup tajuk (Lampiran 1).
Prediksi erosi kemudian diklasifikasikan sesuai dengan Tabel 2.
Tabel 2. Tingkat erosi (Erosion degree)
Erosi (erosion)
Tingkat Erosi
(ton/ha/th) (ton/ha/year)
(Erosion degree)
<15
Sangat Ringan (very low)
15-60
Ringan (low)
60-180
Sedang (moderate)
180-480
Berat (heavy)
>480
Sangat Berat (very heavy)
Sumber:(Dirjen RRL, 1995)
3. HASIL DAN PEMBAHASAN
A.
Deskripsi Lokasi
Lokasi penelitian didominasi oleh hutan jati dengan umur muda (Ut3)
sebesar 45% (Tabel 3) yang ditumpangsarikan dengan tanaman
semusim terutama singkong dengan kondisi teras yang tidak terawat.
Dari total area (10,82 ha), 20 % lahan mempunyai penutupan lahan Ut3
yang terletak pada lereng 31-45%. Dari Tabel 4 terlihat bahwa lereng
terjal (>45%) mendominasi lahan dalam sub DAS mini (lebih dari 50%).
168
Tabel 3. Jenis dan prosentase penutupan lahan (Land cover type and its
percentage)
No
Simbol Penutupan
Lahan (Land cover
symbols)
1
Ut1
2
3
4
5
6
Ut2
Ut3
Ut4
Ut5
Ut6
Keterangan (Remarks)
Luas (ha)
(Area) (ha)
%
Tanaman jati (5 – 10 th)
monokultur, teras diperkuat
dengan batu dan tidak terawat
0,50
4,60
Tanaman jati (5 - 10
th)tumpangsari dengan tanaman
palawija, banyak teras yang tidak
terawat)
1,26
11,65
Tanaman jati (1 – 2 th)
tumpangsari dengan palawija,
campuran antara teras batu dan
tanah yang tidak terawat.
4,88
45,08
Tanaman Gliricidia monokultur,
sebagian besar tidak berteras
2,78
25,67
Tanaman Gliricidia tumpangsari
dengan tanaman palawija, teras
diperkuat dengan batu tetapi
kurang terawat.
0,50
4,60
Tidak ada tanamannya, sebagian
besar sejenis lumut dan rumput
liar.
0,91
8,39
10,82
100,00
Jumlah (Total)
169
Tabel 4. Penutupan lahan pada berbagai kelas lereng (Land cover
types on various degrees of slope)
Penutupan
Lahan
Jumlah
(Total)
Kelas Lereng (Slope classes) (%)
(Land cover)
4-8
9-15
16-30
31-45
46-65
>65
(%)
Ut1
0,00
4,60
0,00
0,00
0,00
0,00
4,60
Ut2
0,00
11,65
0,00
0,00
0,00
0,00
11,65
Ut3
0,30
3,98
1,28
20,27
10,74
8,51
45,08
Ut4
0,00
0,00
0,00
0,00
0,00
25,67
25,67
Ut5
0,00
0,00
0,00
0,00
4,60
0,00
4,60
Ut6
0,00
0,00
0,00
0,00
8,39
0,00
8,39
Jumlah (Total)
0,30
20,24
1,28
20.27
23,73
34,18
100,00
Nilai indeks pengelolaan tanaman (C) untuk tanaman keras disajikan
dalam Tabel 5. Berdasarkan Tabel 5 tersebut terlihat variasi nilai C dari
0,001 hingga 0,019. Nilai paling tinggi terdapat pada penutupan lahan
Ut3 dan kondisi di lapangan.
Tabel 5. Nilai tanaman keras (C value of trees)
Penutupan Lahan Nilai C tanaman keras
(Land cover)
(C value of trees)
Ut1
0,001
Ut2
0,002
Ut3
0,019
Ut4
0,003
Ut5
0,004
Rerata (Average)
0,006
170
Hasil analisis menunjukkan bahwa lebih dari 50% area didominasi oleh
penutupan vegetasi hutan (jati) yang relatif berumur muda. Nilai C
tanaman keras tertinggi (0,019) terdapat pada penutupan lahan Ut3
yaitu tanaman jati 5-10 tahun, tumpang sari dengan palawija dengan
teras tidak terawat. Dengan bertambahnya umur tanaman diharapkan
akan menambah tinggi dan luas tajuk tanaman, hal ini akan berakibat
pada menurunnya nilai C tanaman keras.
Penutupan lahan Ut4 dan Ut5 memberikan nilai C yang lebih kecil
dibandingkan dengan C pada Ut1, Ut2 dan Ut3. Secara berurutan nilai C
Ut4 dan Ut5 adalah 0,003 dan 0,004. Meskipun dominasi tanaman
pada jenis penutupan ini adalah gamal (Gliricidae spium) yang secara
ekonomis kurang menguntungkan dibandingkan jati, namun dari segi
perlindungan tanah kondisi ini sangat menguntungkan. Perakaran
Gliricidae yang dapat mencengkeram tanah akan mengurangi erosi
yang terjadi. Selain itu seresah dari guguran daunnya yang mudah
terdekomposisi juga akan menstimulasi agregasi tanah. Dari hasil
analisis tekstur tanah dan segitiga tektsur tanah (Buckman dan Brady,
1982), diperoleh hasil bahwa tektur tanah dapat digolongkan
bertekstur tanah lempung berliat (Clay Loam).
B.
Prediksi erosi
Meskipun didominasi lereng terjal erosi yang terjadi masih dalam taraf
sangat ringan dan ringan (lebih dari 50%) dan sedang (23%). Erosi
sangat berat kurang dari 5% (Tabel 6) yang terdapat hanya pada
penutupan lahan Ut6 yang didominasi oleh batuan singkapan. Nilai
erosi ini menurut model prediksi USLE, dipengaruhi oleh hujan,
erodibilitas tanah, lereng dan panjang lereng, vegetasi penutup dan
pengelolaan. Erosi ini akan berdampak pada unsur hara tanah seperti
P, K dan bahan organik (Ni dan J.H.Zhang, 2007; Casasnovas dan
Ramos, 2009; Fucheng dkk., 2012). Unsur hara dapat hilang terangkut
oleh aliran permukaan dan terlarut dalam sedimen.
171
Tabel 6. Tingkat erosi tanah berdasar penutupan lahan (Soil erosion
degree based on land cover types)
Penutupan Lahan
Tingkat Erosi (Erosion degree) Jumlah (Total)
(Land cover)
SR
R
S
SB
%
Ut1
4,60
0,00
0,00
0,00
4,60
Ut2
11,65
0,00
0,00
0,00
11,65
Ut3
5,56
20,27
19,25
0,00
45,08
Ut4
25,67
0,00
0,00
0,00
25,67
Ut5
0,00
0,00
4,60
0,00
4,60
Ut6
0,00
3,84
0,00
4,55
8,39
47,49
24,11
23,85
4,55
100,00
Jumlah (Total)
Keterangan (Remarks) :
SR
= Sangat ringan (Very low)
S
= Sedang (Moderate)
R
= Ringan (Low)
SB
= Sangat berat (Very heavy)
C.
Sifat kimia dan fisika tanah
Tanah di lokasi penelitian, secara umum mempunyai pH rendah (5,66,5) demikian juga dengan P tersedia sangat rendah sampai dengan
rendah (< 7 dan 7-16 mg/kg) (Lampiran 2 dan Lampiran 5).Unsur P
banyak digunakan tanaman, terutama dalam sintesis protoplasma
(Mas'ud, 1992). Kondisi kemasaman tanah akan mempengaruhi
keterlarutan P. Kemasaman (pH) tanah yang sangat rendah (<5,5)
dapat mempengaruhi ketersediaan P (Mas'ud, 1992). Pengapuran
dengan dolomit dan batuan kapur dapat menaikkan pH, dengan
demikian dapat meningkatkan ketersediaan P. Pemupukan dengan
bahan organik (Centrosema pubescen) juga dapat meningkatkan pH
dan ketersediaan P (Djuniwati dkk., 2007).
172
Unsur lain yang penting bagi pertumbuhan tanaman adalah K. Kalium
berperan untuk memberi ketahanan tanaman terhadap penyakit dan
meningkatkan sistem perakaran selain itu juga berperan dalam
pembentukkan karbohidrat dan translokasi gula (Buckman dan Brady,
1982). Kandungan K di lokasi kajian sangat rendah (< 10 %) (Lampiran 2
dan Lampiran 5). Untuk menanggulangi kekurangan K, salah satu cara
adalah dengan menerapkan sistem multiple cropping yang dapat
meningkatkan penyerapan K dan
secara cepat mengurangi
kandungan K tersedia dalam tanah (Mas'ud, 1992).
Unsur hara yang relatif banyak diambil setiap tahun melalui
pemanenan adalah unsur N. Selain itu, unsur ini mudah menguap dan
jumlahnya dalam tanah amat sedikit (Buckman dan Brady, 1982). Pada
Tabel 7 terlihat bahwa kandungan N ada pada tingkat sedang (86%)
dan tinggi (8,5%) (Lampiran 5). Erosi hanya sedikit berpengaruh
terhadap kandungan N dibandingkan dengan unsur P dan K.
Tabel (Table) 7. Kandungan N pada beberapa jenis penutupan lahan
yang berbeda dan tingkat erosi tanah (N content in
different land cover types)
Penutupan Lahan
(Land cover)
Kandungan N Total (Total N content)
S
T
(blank)
Luas
(Area) (%)
Ut1
4,60
0,00
0,00
4,60
Ut2
11,65
0,00
0,00
11,65
Ut3
36,57
8,51
0,00
45,08
Ut4
25,67
0,00
0,00
25,67
Ut5
4,60
0,00
0,00
4,60
Ut6
3,84
0,00
4,55
8,39
86,94
8,51
4,55
100,00
Luas (Area) (%)
Keterangan (Remarks):
S
: Sedang (Moderate)
T
: Tinggi (High)
173
Kandungan C organik yang tergolong rendah sebanyak 4,29% dan yang
termasuk kategori sangat tinggi sebesar 14,18% dijumpai pada
penutupan lahan Ut3 (Tabel 8, Lampiran 5). . Karbon merupakan
penyusun umum bahan organik. Sumber utama bahan organik tanah
adalah jaringan tumbuhan (Buckman dan Brady, 1982). Jaringan
tumbuhan dapat berasal dari akar pohon, semak-semak dan tumbuhan
tingkat rendah lainnya. Selain jaringan tanaman, hewan-hewan seperti
cacing tanah juga dapat menghasilkan bahan organik. Pengolahan
lahan yang intensif dapat mempengaruhi unsur hara dan
meningkatkan kandungan bahan organik, terutama pada lereng
bagian bawah (Oost dkk., 2006; Fucheng dkk., 2012). Penurunan
kandungan bahan organik tanah dapat mengakibatkan penurunan
makroporositas tanah. Apabila kondisi ini terjadi pada lahan miring
dengan penutupan lahan yang kurang rapat akan berpotensi
meningkatkan limpasan permukaan dan erosi (Hairiah dkk., 2012).
Pemberian pupuk hijau dengan koro benguk (Mucuna sp.) dapat
meningkatkan kandungan C organik (Prakosa dan Priyono, 1996).
Selain itu dengan pemberian mulsa dengan bahan-bahan dari bagian
tanaman seperti daun dan ranting mampu untuk memberikan
tambahan unsur hara secara bertahap sejalan dengan proses
dekomposisinya (Basuki, 2002).
Tabel (Table) 8. Kandungan C organik pada beberapa jenis penutupan lahan
yang berbeda dan tingkat erosi tanah (C organic content in
different land cover types)
Penutupan Lahan
(Land cover)
Ut1
Kandungan C organik (C organic content)
R
S
T
ST
0,00
4,60
0,00
0,00
0,00
4,60
11,65
0,00
0,00
0,00
11,65
Ut2
(blank)
Luas
(Area) (%)
Ut3
4,29
14,60
12,01
14,18
0,00
45,08
Ut4
0,00
0,00
2567
0,00
0,00
25,67
Ut5
0,00
4,60
0,00
0,00
0,00
4,60
Ut6
0,00
3,84
0,00
0,00
4,55
8,39
Luas (Area) (%)
4,29
39,31
37,68
14,18
4,55
100,00
174
Keterangan (Remarks):
R
: Rendah (Low)
S
: Sedang (Moderate)
T
: Tinggi (High)
ST
: Sangat Tinggi (Very high)
Apabila kandungan bahan organik tanah tinggi maka akan mempunyai
porositas tinggi dengan demikian akan meningkatkan kapasitas
infiltrasi (Hairiah dkk., 2012). Siklus bahan organik berpengaruh
terhadap erodibilitas tanah, kondisi ini sangat dipengaruhi oleh
karakter vegetasi penutup lahan dan fauna tanah(Bryan dkk., 1989).
Bahan organik yang berupa seresah, ranting dan sebagainya yang
belum terdekomposisi juga merupakan pelindung tanah dari daya
rusak butiran hujan, sekaligus dapat mengurangi aliran permukaan.
Kapasitas Tukar Kation (KTK) merupakan nilai yang menunjukkan
kemampuan atau kapasitas koloid tanah untuk memegang kation.
Kapasitas ini secara langsung tergantung pada jumlah muatan negatif
dari koloid tanah dan sangat ditentukan oleh tipe koloid yang terdapat
di dalam tanah. Semakin tinggi KTK tanah, semakin subur tanah
tersebut (Prakosa dan Priyono, 1996); sebaliknya semakin rendah KTK
tanah, maka semakin kurang subur tanahnya. Nilai KTK pada taraf
sedang terdapat di hampir semua jenis penutupan lahan seluas lebih
kurang 58% (Tabel 9, Lampiran 5). Nilai KTK selain dipengaruhi oleh
kandungan clay juga dipengaruhi oleh kandungan bahan organik. Pada
penutupan lahan Ut3 kandungan bahan organik yang tergolong tinggi
hingga sangat tinggi cukup luas, sejalan dengan hal tersebut terlihat
KTK pada lahan tersebut juga termasuk tinggi.Peningkatan KTK dapat
dilakukan dengan cara pemberian pupuk hijau seperti koro benguk
(Mucuna sp.) (Prakosa dan Priyono, 1996).
175
Tabel (Table) 9. Kapasitas Tukar Kation tanah pada beberapa jenis
penutupan lahan yang berbeda dan tingkat erosi
tanah (Soil Cation Exchange Capacity in different land
cover types)
Penutupan Lahan
Kapasitas Tukar Kation
Luas
(Land cover)
(Cation exchange capacity)
(Area) (%)
S
T
Ut1
4,60
0,00
0,00
4,60
Ut2
11,65
0,00
0,00
11,65
Ut3
12,76
32,32
0,00
45,08
Ut4
25,67
0,00
0,00
25,67
Ut5
0,00
4,60
0,00
4,60
Ut6
3,84
0,00
4,55
8,39
58,53
36,92
4,55
100,00
Luas (Area) (%)
(blank)
Keterangan (Remarks):
S
: Sedang (Moderate)
T
: Tinggi (High)
Kejenuhan basa (KB) menunjukkan perbandingan jumlah kation basa
dengan jumlah seluruh kation yang terikat pada kation tanah dalam
satuan persen. Kation basa adalah unsur hara yang diperlukan
tanaman dan sangat mudah tercuci oleh aliran air sehingga tanah yang
mempunyai kejenuhan basa yang tinggi menunjukkan ketersediaan
hara yang tinggi. Artinya, tanah tersebut belum banyak mengalami
pencucian. Setengah (58,79%) dari DAS mikro yang diteliti mempunyai
nilai KB pada tingkat sedang (Tabel 10) dan hanya 28% pada tingkat
tinggi.
176
Tabel (Table) 10. Kejenuhan Basa pada beberapa jenis penutupan lahan
yang berbeda dan tingkat erosi tanah (Base saturation
in different land cover types)
Penutupan Lahan
Kejenuhan basa (Base saturation)
(Land cover)
R
S
T
(blank)
Jumlah
(Total)
Ut1
0,00
4,60
0,00
0,00
4,60
Ut2
8,25
3,40
0,00
0,00
11,65
Ut3
0,00
21,28
23,81
0,00
45,08
Ut4
0,00
25,67
0,00
0,00
25,67
Ut5
0,00
0,00
4,60
0,00
4,60
Ut6
0,00
3,84
0,00
4,55
8,39
Jumlah (Total)
8,25
58,79
28.41
4,55
100,00
Keterangan (Remarks):
R
: Rendah
(Low)
S
: Sedang (Moderate)
T
: Tinggi (High)
Walaupun di lokasi penelitian mempunyai lereng curam dan bersolum
dangkal namun sifat kimia dan fisik tanah masih tergolong baik.
Tingkat erosi rendah disebabkan oleh tekstur dan kandungan bahan
organik serta penutupan lahan yang didominasi dengan vegetasi
permanen dan tumbuhan bawah.
4. KESIMPULAN DAN SARAN
A. Kesimpulan
Beberapa hal yang dapat disimpukan dari penelitian ini yaitu:
a. Meskipun didominasi oleh lereng terjal, erosi yang terjadi di
lokasi penelitian masih pada taraf sangat ringan hingga
ringan (>50%). Hal ini dapat disebabkan oleh jenis penutupan
177
b.
c.
lahan yang berupa hutan jati dan gamal yang mempunyai
nilai C rendah (0,006).
Tingkat erosi ringan mempengaruhi kandungan P dan K
dengan memberikan nilai rendah-sangat rendah. Sedangkan
untuk N, C organik, KTK dan KB tidak begitu berpengaruh
karena ada pada tingkat sedang-tinggi-sangat tinggi.
Penutupan lahan yang relatif banyak ditumbuhi vegetasi
permanen merupakan sumber bahan organik berupa
seresah dan ranting-ranting tanaman. Bahan organik yang
belum melapuk juga merupakan pelindung dari percikan air
hujan.
B. Saran
Penutupan lahan dengan vegetasi permanen harus selalu
dipertahankan karena mempunyai nilai C rendah sehingga
mempunyai kemampuan untuk mengendalikan erosi dan juga
menjadi sumber bahan organik.
DAFTAR PUSTAKA
Basuki, T.M., (2002), Penggunaan Mulsa Organik untuk
Konservasi Tanah di Areal Hutan Tanaman, InfoDAS Vol.
13, Hal. 1-13
Bryan, R.B., Scarborough G. Govers dan J. Poesen, L., (1989),
The Concept of Soil Erodibility and Some Problems of
Assessment and Application, CATENA Vol. 16, Hal. 393412.
Buckman, H.O. dan Brady, N.C., (1982), Ilmu Tanah. PT. Bhratara
Karya Aksara, Jakarta.
Casasnovas, J.A.M.n. dan Ramos, M.C.n., (2009), Soil Use and
Management, Soil alteration due to erosion, ploughing
and levelling of vineyards in north east Spain Vol. 25,
Hal. 183-192.
178
Crosier, S., Booth, B. dkk, (2004), Arcis 9, Getting Started with
ArcGis.
Dariah, A., Subagyo, H., Tafakresnanto, C. dan Marwanto, S.,
(2004), Kepekaan Tanah Terhadap Erosi. Konservasi
Tanah pada Lahan Kering Berlereng. Pusat Penelitian
Direktorat Jenderal Reboisasi dan Rehabilitasi Lahan (Dirjen
RRL) .1995. Pedoman Penyusunan Rencana Teknik
Lapangan Rehabilitasi Lahan dan Konservasi Tanah
Daerah Aliran Sungai. Balai Pengelolaan Daerah Aliran
Sungai Jeneberang-Walanae Makassar, Direktorat
Jenderal Reboisasi dan Rehabilitasi Lahan, Departemen
Kehutanan.dan Pengembangan Tanah dan Agroklimat,
Bogor.
Dissmeyer, G.E. dan Foster, G.R., (1984), A Guide for Predicting
Sheet and Rill Erosion on Forest Land. USDA, Forest
Service, Southern Region Atlanta, Ga.
Djuniwati, S., Pulunggono, H.B. dan Suwarno, (2007), Pengaruh
pemberian bahan organik (Centrosema pubescens) dan
fosfat alam terhadap aktivitas fosfatase dan fraksi P
tanah latosol di Darmaga, Bogor, Jurnal Tanah dan
Lingkungan Vol. 9, Hal. 10-15.
Fletcher, J.R. dan Gibb, R.G., (1990), Land Resource Survey
Handbook For Soil Conservation Planning In Indonesia.
Ministry of Forestry Directorate General Reforestation
and Land Rehabilitation Indonesia and Department of
Scientific and Industrial Research DSIR Land Resources
Palmerston North New Zealand.
Fucheng, L., Jianhui, Z. dan Zhengan, S., (2012), Changes in SOC
and Nutrients under Intensive Tillage in Two Types of
Slope Landscapes J. Mt. Sci. Vol. 9, Hal. 67-76.
179
Hairiah, K., Suprayogo, D. dkk, (2012), Alih Guna Lahan Hutan
menjadi Lahan Agroforestri Berbasis Kopi: Ketebalan
Seresah, Populasi Cacing Tanah dan Makroporositas
Tanah, 29 Juni, 2012,
http://www.worldagroforestrycentre.org/sea/Publications/files/
book/BK0063-04/BK0063-04-9.pdf
Kefi, M., Yoshino, K. dkk, (2011), Assessment of the effects of
vegetation on soil erosion risk by water: a case of study
of the Batta watershed in Tunisia, Environ Earth Sci Vol.
64, Hal. 707-719.
Mas'ud, P., (1992), Telaah Kesuburan Tanah. Angkasa, Bandung.
Ni, S.J. dan J.H.Zhang, (2007), Variation of chemical properties
as affected by soil erosion on hillslopes and terraces,
European Journal of Soil Science Vol. 58, Hal. 1285-1292.
Oost, K.V., Govers, G., Alba, S.d. dan Quine, T.A., (2006), Tillage
erosion: a review of controlling factors and implications
for soil quality, Progress in Physical Geography Vol. 30,
Hal. 443-466.
Paningbatan, Jr., (2001), Hydrology and Soil Erosion Models for
Catchment Researh and Management. In: A.R., M.,
Leslie, R.N. (Eds.), Soil Erosion Management Research in
Asia.
Prakosa, D. dan Priyono, C.N.S., (1996), Pengaruh Sekat Rumput
dan Tanaman Legume terhadap Pengendalian Erosi dan
Perubahan Sifat Tanam pada Lahan Bekas Letusan
Gunung Berapi, Jurnal Pengelolaan DAS Vol. Volume I
No.3, Hal.
Pusat Penelitian Tanah (Puslittanah). 1983. Kriteria Penilaian
Hasil Analisis Tanah. Pusat Penelitian Tanah, Bogor.
180
Schmidt, F.H.A. dan Fergusson, J.H.S., (1951), Rainfall Type
Based on Wet and Dry Periods of Ratios from Indonesia
with Western New Guinea. Directorate Meteorology and
Geophysics, Jakarta.
Sutrisno, J., Sanim, B., Saefuddin, A. dan Sitorus, S.R.P., (2012),
Valuasi Ekonomi Erosi Lahan Pertanian di Sub Daerah
Aliran Sungai Keduang Kabupaten Wonogiri, SEPA Vol.
8, Hal. 51-182.
Utomo, W.H., (1989), Mencegah Erosi. Penebar Swadaya,
Jakarta.
Utomo, W.H., (1994), Erosi dan Konservasi Tanah. Penerbit IKIP
Malang, Malang.
Weischmeier, W.H. dan Smith, D.D., (1978), Predicting Rainfall
Erosion Losses; A Guide to Conservation Planning. In:
Agriculture, U.S.D.o. (Ed.), Agriculture Handbook.
Science and Education Administration.
181
Lampiran (Appendix) 1. Tabel nilai SFPH dan SFT untuk menghitung nilai C tanaman keras (SFPH and SFT table to calculate C value of perennial trees)
Tanah terbuka
(Bare land) (%)
Tanah terbuka dengan perakaran halus (Bare land with fine root) (%) Bare land with canopy cover (%)
100
90
80
70
60
50
40
30
20
10
0
0
0,000
1
0,004
0,004
0,005
0,006
0,007
0,008
0,010
0,120
0,014
0,016
0,078
2
0,008
0,008
0,010
0,012
0,017
0,017
0,020
0,023
0,027
0,031
0,036
5
0,030
0,030
0,030
0,040
0,050
0,060
0,070
0,080
0,090
0,110
0,120
10
0,050
0,050
0,060
0,080
0,090
0,110
0,130
0,150
0,170
0,200
0,230
20
0,110
0,120
0,140
0,170
0,200
0,240
0,280
0,330
0,380
0,440
0,500
30
0,170
0,180
0,200
0,250
0,900
0,360
0,420
0,500
0,590
0,680
0,770
40
0,230
0,240
0,270
0,340
0,420
0,490
0,580
0,580
0,790
0,920
104,000
50
0,300
0,320
0,380
0,450
0,540
0,640
0,740
0,880
103
118
135
60
0,370
0,380
0,430
0,550
0,670
0,790
0,920
109
127
147
167
70
0,470
0,490
0,540
0,680
0,830
0,980
117
138
161
187
212
80
0,550
0,580
0,660
0,810
0,980
118
141
164
192
221
252
85
0,660
0,690
0,780
0,950
115
138
165
195
228
264
300
90
0,750
0,800
0,800
111
133
157
187
222
260
301
342
95
0,860
0,900
102
125
155
182
217
255
298
345
392
100
0,990
104
117
144
180
207
248
293
342
396
450
182
Tabel baku SFT
Tinggi tajuk
(Canopy
height)
(m)
Tanah terbuka dengan penutupan tajuk
(Bare land with canopy cover)(%)
0
10
20
30
40
50
60
70
80
90
100
0,5
1
91
83
74
66
58
49
41
32
24
16
1,0
1
93
86
79
72
65
58
51
44
37
30
2,0
1
95
90
85
80
75
70
65
60
55
50
4,0
1
97
97
92
90
87
84
82
79
76
74
6,0
1
98
98
96
94
93
92
90
89
87
85
8,0
1
99
99
97
96
95
94
94
93
93
92
16,0
1
1
1
99
98
98
98
97
96
96
96
20,0
1
1
1
1
1
1
1
1
1
1
1
Keterangan :
•
Persentase tanah yang terbuka adalah persentase tanah tanpa
seresah, ranting-ranting, vegetasi atau lainnya yang melindungi
tanah dari bahaya erosi butiran air hujan maupun limpasan
permukaan terhadap luas lahan.
•
Persentase tanah terbuka dengan perakaran halus adalah
persentase tanah terbuka yang masih memiliki perakaran halus
terhadap luas lahan.
•
Penutupan tajuk yaitu luas horisontal penampang tajuk yang
menutupi tanah di bawahnya. Untuk pohon sebagai individu,
pengertian tersebut merupakan luas horisontal maksimum dari
penampang tajuk yang menutupi tanah di bawahnya.
183
Lampiran (Appendix) 2. Sifat kimia dan fisika tanah (Chemical and
physical soil characters)
No.
SL
Tekst
ur*
pH
N
Total
C.
Org
BO
P Tsd
K
Na
Ca
Mg
KTK
KB
%
%
%
ppm
%
%
%
%
%
%
1
Gp
Saat ini sedang ditanami jati umur 8 – 15 tahun (monokultur) sehingga tidak dijadikan lokasi
model perlakuan
2
Gp
6,19
0,38
1,72
2,97
5,91
0,26
0,16
6,99
4,19
23,20
49,94
3
Gp
6,35
0,32
1,07
1,85
6,58
0,25
0,24
6,18
3,68
20,40
49,22
4
Gp
5,87
0,32
1,50
2,59
6,31
0,27
0,15
6,17
3,78
25,20
58,84
5
Gp
5,75
0,26
1,72
2,96
6,58
0,30
0,16
6,46
3,83
16,00
32,84
6
Gp
0,25
1,72
2,97
7,85
0,38
0,16
6,57
4,06
30,00
62,78
7
Gp
0,22
3,44
5,93
5,78
0,43
0,10
7,87
4,36
24,00
46,85
8
Gp
9
Gp
10
Gp
11
Gp
12
Gp
13
Gp
6,05
0,25
2,79
4,81
7,13
0,39
0,25
6,14
4,22
28,15
60,19
14
Gp
6,33
0,56
1,29
2,22
5,71
0,33
0,17
6,61
4,09
29,60
62,20
15
Gp
6,05
0,36
3,87
6,68
11,26
0,26
0,19
6,18
3,44
26,00
61,26
16
Gp
5,85
0,52
6,01
10,36
5,24
0,25
0,15
6,24
3,88
24,00
56,16
17
Gp
6,07
0,37
2,36
4,08
6,18
0,24
0,15
6,42
4,16
28,00
60,19
6,21
Saat ini berwujud hamparan batuan tersingkap, tidak dijadikan lokasi model perlakuan
5,68
0,46
2,57
4,44
7,85
0,27
0,15
4,85
4,16
26,00
63,71
Saat ini berwujud hamparan tanaman gliricidea dan tanahnya sangat tipis , tidak dijadikan
lokasi model
5,48
0,45
2,79
4,81
6,51
0,44
0,15
6,46
4,00
19,60
43,64
Saat ini berwujud hamparan batuan tersingkap, tidak dijadikan lokasi model perlakuan
Catatan (Remarks): Gp = Geluh pasiran (Sandy Loam)
184
Lampiran (Appendix) 3. Hasil analisis tanah 3 fraksi (3 Fraction-Soil
analyses)
No.
Sampel
Pasir (%)
Debu (%)
Liat (%)
(sand)
(silt)
(clay)
1 A1
24,9
40,9
34,2
2 A4
27,1
47,2
25,7
3 B1
29
39,7
31,3
4 B4
24,9
48,9
26,2
5 C1
34,1
38
27,9
6 C4
19,3
45,7
35
7 K1
19,9
42,6
37,5
8 K2
49,8
29,5
20,7
9 K3
25,9
39,5
34,6
28,32
41,33
30.,4
Rerata (average)
185
Lampiran (Appendix) 4. Karakteristik satuan lahan (Characteristic of land
unit)
SL
1
Karakteristik (Characteristic)
Lereng
(Slope)
Kedalaman Tanah
(Soil depth)
4–8% (sl1)
50-25 cm
Jenis Penutupan Lahan
(Land cover types)
Tanaman jati (5 – 10 th)
monokultur, teras
diperkuat dengan
batu dan tidak terawat
(Ut1)
2
9–15% (sl2)
50-25 cm
Tanaman jati (1 – 2 th)
tumpangsari dengan
palawijo, campuran
antara teras batu dan
tanah yang tidak terawat
(Ut3)
3
9–15% (sl2)
< 25 cm
Tanaman jati (1 – 2 th)
tumpangsari dengan
palawijo, campuran
antara teras batu dan
tanah yang tidak terawat
(Ut3)
4
4–8 % (sl1)
50-25 cm
Tanaman jati (5 – 10 th)
tumpangsari dengan
tanaman palawijo,
banyak teras yang tidak
terawat (Ut2)
5
9–15%(sl2)
50-25 cm
Tanaman jati (1 – 2 th)
tumpangsari dengan
palawijo, campuran
antara teras batu dan
tanah yang tidak terawat
(Ut3)
186
6
31–45% (sl4)
50-25 cm
Tanaman jati (1 – 2 th)
tumpangsari dengan
palawijo, campuran
antara teras batu dan
tanah yang tidak terawat
(Ut3)
7
31–45% (sl4)
< 25 cm
Tanaman jati (1 – 2 th)
tumpangsari dengan
palawijo, campuran
antara teras batu dan
tanah yang tidak terawat
(Ut3)
8
46–65% (sl5)
< 25 cm
Tidak ada tanamanya,
sebagian besar sejenis
lumut dan rumput liar
(Ut6)
9
46 – 65 % (sl5)
50-25 cm
Tanaman jati (1 – 2 th)
tumpangsari dengan
palawijo, campuran
antara teras batu dan
tanah yang tidak terawat
(Ut3)
10
> 65 %
< 25 cm
Tanaman Gliricidea
monokultur, sebagian
besar tidak berteras (Ut4)
11
46–65% (sl5)
50-25 cm
Tanaman jati (1 – 2 th)
tumpangsari dengan
palawijo, campuran
antara teras batu dan
tanah yang tidak terawat
12(Ut3)
12
4–8% (sl1)
< 25 cm
Tanaman Gliricidea
monokultur, sebagian
besar tidak berteras (Ut4)
187
13
16–30% (sl3)
50-25 cm
Tanaman jati (1 – 2 th)
tumpangsari dengan
palawijo, campuran
antara teras batu dan
tanah yang tidak terawat
(Ut3)
14
46–65% (sl5)
50-25 cm
Tanaman Gliricidea
tumpangsari dengan
tanaman polowijo,
teras diperkuat dengan
batu tetapi kurang
terawat (Ut5)
15
31–45% (sl4)
50-25 cm
Tanaman jati (1 – 2 th)
tumpangsari dengan
palawijo, campuran
antara teras batu dan
tanah yang tidak terawat
(Ut3)
16
>65% (sl6)
50-25 cm
Tanaman jati (1 – 2 th)
tumpangsari dengan
palawijo, campuran
antara teras batu dan
tanah yang tidak terawat
(Ut3)
17
31–45% (sl4)
50-25 cm
Tanaman jati (1 – 2 th)
tumpangsari dengan
palawijo, campuran
antara teras batu dan
tanah yang tidak terawat
(Ut3)
Catatan (Remarks): SL =
Satuan
Penggunaan Lahan
(Land Unit)
188
Lampiran (Appendix) 5. Kriteria unsur hara (Soil nutrient Criteria)
Parameter
SR
R
S
< 0,6
0,6-1,25
1,26-2,5
T
ST
C
(%)
2,51-3,5
> 3,51
BO
(%)
< 1,00 1,00-2,00 2,10-4,20 4,30-6,00 > 6,00
N total
(%)
< 0,10 0,10-0,20 0,21-0,50
K total
(%)
C/N
nisbah
N-NO3
(mg/kg)
P total
(ppm)
P-tsd Bray 1
0,51-1,00
> 1,00
< 10
10-20
21-40
41-60
> 60
< 8,0
8-10
11-15
16-25
> 25
<5
5-15
15-25
25-50
> 50
< 50
51-100
101-150
151-250
> 250
(mg/kg)
<3
3-7
7-20
> 20
P-tsd Bray 2
(mg/kg)
<7
7-16
16-46
> 46
P-tsd Olsen
(mg/kg)
0-5
5-10
10-15
15-20
> 20
Kation Tertukar
K+
(Cmol/kg)
< 0,1
0,1-0,3
0,3-0,6
0,6-1,2
> 1,2
Na+
(Cmol/kg)
< 0,1
0,1-0,3
0,3-0,7
0,7-2,0
> 2,0
Mg++
(Cmol/kg)
< 0,5
0,5-1,5
1,5-3,0
3,0-8,0
> 8,0
Ca++
(Cmol/kg)
< 2,0
2,0-5,0
5,0-10,0
10-20
> 20
Total Kation
(Cmol/kg)
< 3,0
3,0-7,5
7,5-15
15-30
> 30
KTK
(Cmol/kg)
<5
5-15
15-25
25-40
> 40
Al
(Cmol/kg)
< 0,1
0,1-0,5
0,6-2,0
2,0-5,0
> 5,0
Kejenuhan Al
(%)
<5
5-10
11-20
21-40
> 40
KB
(%)
< 20
21-40
41-60
61-80
80-100
DHL
(mmhos/cm)
< 1,0
1,0-2,0
2,0-3,0
3,0-4,0
> 4,0
pH (H2O)
< 4,5
4,55,5
5,6-6,5
6,6-7,5
7,6-8,5
> 8,5
Sumber : (Puslittanah, 1983)
Keterangan (Remarks):
SR
= Sangat ringan (Very low)
S
= Sedang (Moderate)
R
= Ringan (Low)
SB
= Sangat berat (Very heavy)
189
Lampiran (Appendix) 6. Lokasi sampel tanah pada masing-masing SL dan
sampel untuk analisis struktur (Location of soil samples in each
land unit and soil samples for soil texture)
190
IDENTIFIKASI KARAKTERISTIK MORFOMETRI DAERAH ALIRAN
SUNGAI DENGAN MENGGUNAKAN TEKNOLOGI PENGINDERAAN
JAUH DAN SISTEM INFORMASI GEOGRAFIS1
Oleh :
Agus Wuryanta , Ragil Bambang WMP3 dan Beny Harjadi4
2
Balai Penelitian Teknologi Kehutanan Pengelolaan Daerah Aliran Sungai
Jl. A. Yani PO Box 295 Pabelan.
Telepon/Fax.: (+62 271) 716709/716959
Email: [email protected]
Email: 2 [email protected] ; 3 [email protected]; 4 [email protected]
ABSTRAK
Identifikasi morfometri Daerah Aliran Sungai (DAS) penting dilakukan sebagai
upaya untuk dapat mengetahui karakter DAS. Karakter DAS dapat dipergunakan
sebagai dasar dalam pengelolaan DAS seperti perencanaan, kelembagaan, serta
monitoring dan evaluasi. Teknologi Penginderaan Jauh (PJ) dan Sistem Informasi
Geografis (SIG) dapat dimanfaatkan untuk identifikasi morfometri DAS. Lokasi
kajian terletak di DAS Musi yang secara administratif meliputi empat provinsi yaitu
Sumatera Selatan, Bengkulu, Lampung dan Jambi. Tujuan kegiatan adalah untuk
menghitung dan menentukan morfometri DAS (bentuk DAS, kerapatan drainase,
pola aliran, dan kelerengan wilayah DAS) dan penutupan penggunaan lahan DAS
Musi. Kelerengan lahan DAS Musi diperoleh dari hasil analisis peta kontur 1:50.000
(format digital), bentuk DAS dihitung dengan menggunakan persamaan circularity
ratio, sementara kerapatan aliran dihitung dengan menggunakan persamaan yang
didasarkan pada panjang keseluruhan sungai utama dan anak – anak sungai serta
luas DAS. Pola aliran ditentukan secara kualitatif dengan bantuan peta jaringan
sungai, sedangkan penutupan/penggunaan lahan diperoleh dari hasil analisis citra
satelit Landsat 5 Thematic Mapper (TM). Hasil kajian menunjukkan, kelas kelerengan
DAS Musi didominasi oleh tipe kelerengan datar (0 – 8%) yaitu seluas 3.594.802,47
ha (67% dari total luas DAS Musi). Tipe bentuk Sub – Sub DAS di DAS Musi
didominasi tipe memanjang, hanya Sub DAS Kikim dan Sub DAS Deras yang
memiliki tipe membulat dengan nilai bentuk 0,64 dan 0,53. Kerapatan aliran
seluruh DAS Musi dapat dikategorikan ke dalam tingkat kerapatan sangat jarang
dengan nilai kerapatan aliran 1,53. Luas hutan keseluruhan di DAS Musi (Hutan
lahan kering primer, hutan lahan kering sekunder, hutan rawa sekunder dan hutan
tanaman) yaitu 776.572,36 ha (14,52% dari total luas DAS).
Kata kunci: Morfometri DAS, karakter DAS, penginderaan jauh, Sistem Informasi
Geografis
1
Disampaikan dalam Seminar Nasional Hasil Penelitian Teknologi Pengelolaan
DAS oleh Balai Penelitian Teknologi Kehutanan Pengelolaan DAS, Kementerian
Kehutanan, pada tanggal 12 Juni 2013.
191
I. PENDAHULUAN
A.
Latar Belakang
Daerah Aliran Sungai (DAS) merupakan satu kesatuan ekosistem,
sehingga kegiatan monitoring dan evaluasi pengelolaan DAS
sebaiknya dilakukan secara terpadu dan menyeluruh. Pengelolaan DAS
secara terpadu (Integrated Watershed Management) adalah suatu
proses formulasi dan implementasi suatu kegiatan yang menyangkut
pengelolaan Sumber Daya Alam (SDA) dan manusia dalam suatu DAS
dengan mempertimbangkan aspek sosial, politik, ekonomi dan
institusi di dalam DAS dan di sekitar DAS untuk mencapai tujuan sosial
tertentu (Dixon and Easter,1986). Salah satu langkah awal di dalam
pengelolaan DAS secara terpadu adalah dengan melakukan identifikasi
karakteristik DAS.
Karakter DAS terbentuk dari interaksi antara Sumber Daya Alam (SDA)
dengan manusia. Setiap DAS memiliki karakter masing-masing, yang
dapat dipergunakan sebagai dasar dalam pengelolaan DAS yang
meliputi aspek perencanaan, kelembagaan, serta monitoring dan
evaluasi (Paimin et al., 2006).
Karakteristik DAS terbentuk dari faktor alami (geologi, geomorfologi,
iklim dan tanah) dan faktor pengolahan manusia (management)
seperti penutupan/penggunaan lahan. Salah satu karakter DAS yang
terbentuk dari faktor alami adalah morfometri. Morfometri DAS
merupakan ukuran kuantitatif karakteristik DAS yang terkait dengan
aspek geomorfologi (Widodo et al., 2009). Morfometri DAS memiliki
peranan penting pada proses pengatusan (drainase) air hujan yang
jatuh ke dalam wilayah DAS. Parameter morfometri DAS antara lain
adalah luas DAS, bentuk DAS, kelerengan (slope), kerapatan aliran dan
pola aliran. Morfometri DAS dapat digunakan untuk mengetahui
karakter DAS yang selanjutnya dipergunakan untuk perencanaan
pengelolaan DAS. Selain morfometri, karakteristik suatu DAS juga
dipengaruhi oleh topografi, intensitas hujan, keadaan drainase,
infiltrasi dan penutupan lahan. Perubahan penggunaan lahan suatu
DAS akan mempengaruhi kapasitas infiltrasi, terutama apabila
perubahan penggunaan lahan terjadi dari lahan yang mempunyai
kapasitas infiltrasi tinggi menjadi lebih rendah (Priyono dan Savitri,
1997).
192
Analisis morfometri DAS dapat dilakukan dengan menggunakan
teknologi Penginderaan Jauh (PJ) dan Sistem Informasi Geografis
(SIG). Bentuk DAS, kelas kelerengan, kerapatan drainase dan pola
aliran dapat dianalisis berdasarkan peta topografi/rupa bumi format
digital, sedangkan penutupan/penggunaan lahan diperoleh dari
analisis citra satelit.
B.
Tujuan
Tujuan kajian ini adalah untuk menghitung dan menentukan
morfometri DAS (bentuk DAS, kerapatan drainase, pola aliran dan
kelerengan wilayah DAS) serta penutupan penggunaan lahan pada
DAS Musi.
II. METODOLOGI
A.
Lokasi dan Waktu Penelitian
Lokasi kajian terletak di DAS Musi, yang secara administratif meliputi 4
(provinsi), yaitu Provinsi Sumatera Selatan, Jambi, Bengkulu dan
Lampung. DAS Musi terbagi ke dalam empat belas (14) sub DAS yaitu
Batangharileko, Rawas, Medak, Deras, Lakitan, Batang Peledas,
Semangus, Lematang, Ogan, Komering, Kelingi, Baung, Musi Hulu dan
Kikim. Berdasarkan peta DAS yang diperoleh dari Balai Pengelolaan
DAS Musi di Palembang, lokasi kajian secara geografis terletak pada
koordinat 101,75o – 104,99o BT dan 2,02o – 4,98o LS dengan luas total
sebesar 5.348.643,06 ha. Tata waktu penelitian disajikan pada tabel 1.
Peta lokasi kajian disajikan pada Gambar 1.
193
Tabel 1. Tata waktu penelitian
Kegiatan
I
1
2.
Persiapan
(mengumpulkan
citra satelit digital
dan data digital
sungai dan garis
kontur)
Pemrosesan data
3.
Pemrosesan citra
Satelit digital dan
data digital sungai
dan garis kontur
Analisis data satelit
digital dan data
digital sungai dan
garis kontur
Digitasi batas DAS
dan Sub DAS
Survey Lapangan
4.
5.
II
III
Orientasi lapangan
Pengumpulan data
lapangan dan
Kompilasi
Proses Overlay dan
Analisa GIS serta
layout peta
Penyusunan tulisan
ilmiah
194
IV
V
VI
Bulan
VII
VIII
IX
X
XI
XII
Gambar 1. Lokasi kajian di DAS Musi
B.
Bahan dan Alat
Bahan yang digunakan untuk kegiatan kajian ini adalah:
1. Peta-peta dasar (dalam format digital), antara lain:

Peta Rupa Bumi Indonesia (RBI) skala 1 : 50.000.

Peta kontur, jaringan jalan dan jaringan sungai.

Peta situasi dan administrasi.
2. Peta tematik (Peta batas DAS).
3. Citra satelit digital

Citra Landsat 5 Thematic Mapper (TM), yaitu
LS5_2012-03-24_124062, LS5_2012-03-24_124063,
LS5_2012-04-29_125062 dan LS5_2012-0331_125063.
4. Alat tulis seperti pensil, ballpoint dan alat tulis lainnya.
5. Kertas printer dan tinta warna (cartridge) untuk warna
hitam, kuning, magenta dan cyan.
Sedangkan peralatan yang diperlukan antara lain:
1. Peralatan survei lapangan antara lain:
 GPS (Global Positioning System).
195
2.
Peralatan untuk pengolahan data digital dan SIG, antara
lain:
 Perangkat keras (hardware) berupa komputer.
 Perangkat lunak (software) adalah ArcView 3.2a dan
ArcGIS 9. Tabulasi data dilakukan dengan
menggunakan Microsoft Office Excel.
C.
Pengumpulan dan Pengolahan Data
Data yang dikumpulkan untuk kegiatan kajian antara lain:
1) Peta batas DAS.
2) Peta jalan, sungai, peta kontur dan peta administrasi
(batas provinsi dan batas kabupaten).
3) Peta penutupan/penggunaan lahan.
4) Citra landsat 5 TM perekaman tahun 2012.
5) Informasi
penutupan/penggunaan
lahan
dan
koordinatnya dari hasil kegiatan lapangan.
D.
D1.
Tahapan Kegiatan
Tahapan kegiatan analisis morfometri DAS
1. Mengumpulkan dan menggabungkan peta digital seperti
jaringan sungai dan kontur serta peta batas DAS dan Subsub DAS yang diperoleh dari Balai Pengelolaan DAS
(BPDAS) Musi di Palembang.
2. Menghitung keliling dan luas DAS serta sub DAS.
3. Membuat model elevasi digital berdasarkan peta kontur.
4. Klasifikasi kelas kelerengan seluruh DAS dan sub DAS.
Kelas kelerengan dibagi menjadi 5 (lima) kelas
sebagaimana terdapat pada Tabel 2.
Tabel 2. Kelas kelerengan
Kelas
Kelerengan (%)
1
0-8
2
8-15
3
15-25
4
25-45
5
>45
Sumber: Asdak (2010)
196
Tipe
Datar
Miring
Sangat miring
Curam
Sangat curam
5.
Menghitung jumlah panjang sungai utama dan anak
sungai berdasarkan peta jaringan sungai.
6. Menentukan bentuk DAS dan masing-masing sub DAS
dengan menggunakan metode circularity ratio (Widodo
et al., 2009), sebagaimana pada Persamaan (1).
Rc = 4ЛA/p2............................................
(1)
dimana Rc = Bentuk DAS; A = Luas DAS dan Sub DAS
(Km2); p = Keliling (perimeter DAS dan sub DAS) (Km).
Klasifikasi bentuk DAS ditentukan berdasarkan pada
Tabel 3.
Tabel 3. Klasifikasi bentuk DAS
No.
Nilai Bentuk DAS
Kelas Bentuk DAS
1
< 0,5
Memanjang
7. 2
> 0,5
Membulat
Sumber :Soewarno (1991)
7.
Menentukan kerapatan drainase DAS dan masing-masing
sub DAS berdasarkan Persamaan (2) (Widodo et al.,
2009).
Dd = L/A ..................................
(2)
dimana Dd = Kerapatan drainase; L = Jumlah panjang
sungai dan anak-anak sungai (Km); A = Luas DAS (Km2).
Tabel 4. Tabel indeks kerapatan aliran
Kerapatan aliran
Kelas
(km/km2)
< 1,84
1
1,84 – 2,39
2
2,39 – 3,12
3
3,12 – 3,44
4
> 3,44
5
Sumber: Thapa et al. (2008)
197
Tingkat kerapatan
Lowest/sangat jarang
Low/jarang
Medium/sedang
High/tinggi
Highest/sangat tinggi
8. Pola aliran sungai ditentukan secara kualitatif, yaitu
dengan melihat dan mengamati peta jaringan sungai dan
kemudian disesuaikan dengan pola aliran sungai yang
disajikan pada Gambar 2.
Gambar 2. Pola aliran sungai (Sumber: Desaunettes, 1977)
D2.
Tahapan kegiatan klasifikasi penutupan/penggunaan lahan
dengan menggunakan citra satelit :
2) Pemrosesan citra, seperti koreksi geometri dan
penajaman citra.
3) Klasifikasi awal obyek pada citra digital dengan metode
tidak berbantuan (unsupervised classification).
4) Penentuan lokasi sampel.
5) Kegiatan lapangan untuk mengumpulkan data lapangan
dan untuk mencocokkan serta menguji hasil klasifikasi
obyek awal dengan kondisi aktualnya di lapangan.
6) Data hasil kegiatan lapangan dan didukung oleh analisis
spektral pada citra serta informasi yang lain seperti
indeks vegetasi, topografi digunakan untuk melakukan
klasifikasi obyek dengan metode berbantuan (supervised
classification).
198
III. HASIL DAN PEMBAHASAN
A.
Kelerengan (Slope)
Lereng adalah istilah dalam geomorfologi yang menyatakan
permukaan lahan yang letaknya miring, yaitu merupakan
perbandingan antara perbedaan tinggi dengan jarak datar. Kelerengan
dapat dinyatakan dalam satuan derajat atau persen (%). Informasi
kelerengan dapat diperoleh dari analisis citra PJ seperti Shuttle Radar
Thopographic Mission (SRTM) dan Advanced Spaceborne Thermal
Emission and Reflection Radiometer (ASTER) serta dapat juga diperoleh
dari peta kontur. Pada kajian ini informasi kelerengan diperoleh dari
hasil analisis peta kontur skala 1:50.000 dengan interval kontur 25 m.
Kelas kelerengan hasil analisis peta kontur di DAS Musi menunjukkan
bahwa DAS Musi didominasi oleh kelas kelerengan datar (0 – 8 %),
yaitu seluas 3.594.802,47 ha (67% dari total luas DAS Musi). Kelas
kelerengan sangat curam (> 45%) menempati areal seluas 415.556,72
ha (7,76% dari total luas DAS) dan tidak terdistribusi secara merata di
seluruh DAS (Gambar 3). Kelas kelerengan pada masing- masing sub
DAS terdapat pada Tabel 5. Sub DAS Ogan memiliki areal paling luas,
yaitu sebesar 936.848,45 ha dan didominasi oleh tipe kelerengan datar
(0-8 %). Sub DAS Baung merupakan sub DAS paling kecil (69.014,35
ha), dengan tipe kelerengan datar mendominasi sub DAS Baung.
199
Tabel 5. Kelerengan masing – masing Sub DAS di DAS Musi
No.
1
2
3
4
5
6
7
8
9
10
11
12
13
14
Kelas Kelerengan (%)
Sub DAS
Total
Bt.harileko
Rawas
Deras
Medak
Lakitan
Bt. Peledas
Semangus
Lematang
Ogan
Komering
Kelingi
Baung
Musi Hulu
Kikim
0-8
363.985
332.325
84.790
150.490
191.090
81.261
252.244
532.959
753.755
579.853
78.319
62.318
61.262
70.146
8 - 15
34.174
39.255
1.774
2.244
15.218
3.134
18.551
121.175
74.710
78.564
28.483
6.601
62.464
26.189
15 - 25
2.287
40.420
31
10
14.814
58
1.028
79.803
43.600
103.430
28.154
94
85.034
16.023
25 - 45
12
67.072
0,00
0,00
26.451
0,00
19
67.455
35.122
92.181
20.901
0,00
84.367
17.299
> 45
0,00
107.695
0,00
0,00
50.600
0,00
0,00
75.888
29.660
61.348
16.661
0,00
52.034
21.667
400.460
586.769
86.596
152.744
298.175
84.455
271.844
877.281
936.848
915.377
172.520
69.014
345.164
151.326
Total DAS
3.594.802
512.543
414.794
410.883
415.556
5.348.580
Sumber data: Hasil analisis peta kelas kelerengan
Gambar 3. Kelas kelerengan DAS Musi
200
Informasi kelerengan dapat digunakan untuk memperkirakan
besarnya erosi. Semakin curam dan panjang suatu lereng, maka
kecepatan aliran permukaan semakin tinggi yang selanjutnya
berakibat pada erosi tanah semakin tinggi (Widodo et al., 2009). Kelas
kelerengan yang berpotensi mengakibatkan erosi di DAS Musi adalah
kelas kelerengan sangat miring (15-25%), curam (25-45%) dan sangat
curam (> 45%). Kelas kelerengan tersebut menempati areal seluas
1.241.234,45 ha (23,21% dari total luas DAS Musi) dan berada di bagian
hulu DAS Musi. Selain kelerengan, penutupan/penggunaan lahan
merupakan salah satu parameter penting di dalam menentukan
besarnya erosi.
B.
Bentuk DAS (Watershed shape)
Bentuk DAS merupakan salah satu parameter alami yang penting
untuk mencirikan suatu DAS rawan terhadap banjir dan kebanjiran.
Analisis bentuk DAS/sub DAS berdasarkan persamaan circularity ratio
memerlukan 2 parameter, yaitu luas (area) dan keliling (perimeter)
pada masing – masing sub DAS. Parameter tersebut dapat diperoleh
dari hasil analisis peta digital batas DAS/sub DAS dengan
menggunakan perangkat lunak (software) SIG, yaitu ArcGIS 10 atau
ArcView 3.3. Selanjutnya penghitungan bentuk DAS dilakukan dengan
program Excel (hasil penghitungan bentuk DAS/sub DAS disajikan pada
Tabel 6).
Tabel 6. Nilai dan tipe bentuk DAS/sub DAS
No.
Sub DAS
Keliling
(km)
Luas
(Km2)
1
2
3
4
5
6
7
8
9
10
11
12
13
14
Sub DAS Batangharileko
Sub DAS Rawas
Sub DAS Deras
Sub DAS Medak
Sub DAS Lakitan
Sub DAS Batang Peledas
Sub DAS Semangus
Sub DAS Lematang
Sub DAS Ogan
Sub DAS Komering
Sub DAS Kelingi
Sub DAS Baung
Sub DAS Musi Hulu
Sub DAS Kikim
Total DAS Musi
499,11
479,05
143,05
235,12
277,92
220,82
293,10
603,86
549,73
791,42
237,91
135,08
415,98
171,93
5.054,08
4.004,63
5.868,36
865,98
1.527,45
2.981,76
844,56
2.718,44
8.772,82
9.368,47
9.153,80
1.725,20
690,15
3.451,66
1.513,26
53.486,53
Nilai
bentuk
DAS
0,20
0,32
0,53
0,35
0,48
0,22
0,40
0,30
0,39
0,18
0,38
0,48
0,25
0,64
0,29
Sumber data: Hasil analisis peta digital DAS/Sub DAS
201
Tipe bentuk DAS
Memanjang
Memanjang
Membulat
Memanjang
Memanjang
Memanjang
Memanjang
Memanjang
Memanjang
Memanjang
Memanjang
Memanjang
Memanjang
Membulat
Memanjang
Tipe bentuk Sub – Sub DAS di DAS Musi didominasi oleh tipe
memanjang, hanya Sub DAS Kikim dan Sub DAS Deras yang memiliki
tipe membulat dengan nilai bentuk 0,64 dan 0,53 (Soewarno (1991).
DAS Musi secara keseluruan memiliki nilai bentuk 0,29 yang
dikategorikan ke dalam tipe memanjang. DAS dengan bentuk sempit
dan memanjang mempunyai bentuk hidrograf aliran yang landai
sehingga mempunyai debit banjir yang kecil. Sebaliknya DAS yang
mempunyai bentuk melebar mempunyai banjir yang besar pada titik
pertemuan sungai– sungainya, serta hidrograf alirannya lebih
meruncing (Priyono dan Savitri, 1997). Dengan demikian, berdasarkan
analisis bentuk DAS, DAS Musi secara keseluruhan memiliki hidrograf
aliran yang landai dan memiliki debit banjir kecil, hanya sub DAS Kikim
dan Sub DAS Deras yang memiliki hidrograf aliran meruncing karena
berbentuk membulat.
C.
Kerapatan Aliran (drainage density)
Kerapatan aliran adalah suatu angka indeks yang menunjukkan
panjang sungai utama dan anak sungai di dalam setiap satu kilometer
persegi suatu DAS atau sub DAS. Kerapatan aliran dihitung pada
seluruh DAS Musi dan masing-masing sub DAS di dalam DAS Musi
(Tabel 7). Kelas kerapatan aliran didasarkan pada Thapa et al. (2008)
Tabel 7. Nilai dan tingkat kerapatan aliran sub-sub DAS dan DAS Musi
No
SUB DAS
1
2
3
4
5
6
7
8
9
10
11
12
13
14
Sub DAS Batangharileko
Sub DAS Rawas
Sub DAS Deras
Sub DAS Medak
Sub DAS Lakitan
Sub DAS Batang Peledas
Sub DAS Semangus
Sub DAS Lematang
Sub DAS Ogan
Sub DAS Komering
Sub DAS Kelingi
Sub DAS Baung
Sub DAS Musi Hulu
Sub DAS Kikim
Sungai
utama
(Km)
670,30
1.126,89
109,90
227,61
623,54
241,13
583,89
1.872,25
2.505,78
2.790,78
506,81
0,00
559,46
508,01
DAS Musi
12.326,35
3.043,60
6.050,40
680,63
1.698,01
2.279,24
1.291,08
2.899,29
14.009,21
13.609,54
12.920,24
2.590,84
973,62
5.278,25
1.988,13
Total
sungai
(km)
3.713,90
7.177,29
790,52
1.925,63
2.902,77
1.532,21
3.483,18
15.881,46
16.115,32
15.711,03
3.097,65
973,62
5.837,71
2.496,13
0,93
1,22
0,91
1,26
0,97
1,81
1,28
1,81
1,72
1,72
1,80
1,41
1,69
1,65
Sangat jarang
Sangat jarang
Sangat jarang
Sangat jarang
Sangat jarang
Sangat jarang
Sangat jarang
Sangat jarang
Sangat jarang
Sangat jarang
Sangat jarang
Sangat jarang
Sangat jarang
Sangat jarang
69.312,07
81.638,42
1,53
Sangat jarang
Cabang
sungai(Km)
Nilai
kerapatan
Sumber data: hasil analisis peta digital jaringan sungai
202
Tingkat
kerapatan
Kerapatan aliran seluruh DAS Musi dapat dikategorikan ke dalam
tingkat kerapatan sangat jarang (1,53) dengan nilai kerapatan aliran
terkecil adalah 0,91 dan paling besar adalah 1,81. Kerapatan aliran
sungai dapat digunakan untuk menggambarkan kapasitas
penyimpanan air permukaan dalam cekungan–cekungan seperti
danau, rawa dan badan sungai yang mengalir ke suatu DAS (Widodo et
al., 2009). Menurut Asdak (2010), semakin besar nilai kerapatan aliran
(Dd) berarti semakin baik sistem pengaliran (drainase), sehingga
semakin besar jumlah air larian total (semakin kecil infiltrasi) dan
semakin kecil air tanah yang tersimpan. Kerapatan aliran di DAS Musi
disajikan pada Gambar 4.
Gambar 4. Kerapatan aliran dan jaringan sungai DAS Musi
D.
Pola Aliran Sungai (drainage pattern)
Jaringan sungai dalam suatu DAS mengikuti suatu aturan tertentu,
yaitu aliran sungai dihubungkan oleh suatu jaringan satu arah dimana
cabang dan anak sungai mengalir ke dalam sungai induk yang lebih
besar dan membentuk pola tertentu (Sukentyas dan Harsanugraha,
2008). Pola aliran sungai secara tidak langsung menunjukkan
karakteristik material bahan induk seperti permeabilitas, struktur
geologi dan kemudahannya mengalami erosi (Widodo et al., 2009).
203
Pola aliran diidentifikasi secara kualitatif yaitu dengan bantuan peta
jaringan sungai. Berdasarkan hasil identifikasi pola aliran di DAS Musi
secara umum, terdapat beberapa jenis pola aliran, yaitu dendritik,
radial dan paralel.
E.
Penutupan/Penggunaan Lahan (land cover/use)
Penutupan/penggunaan lahan merupakan salah satu parameter
penting dalam perencanaan pengelolaan DAS. Jumlah penduduk yang
terus bertambah telah mengakibatkan kebutuhan akan lahan terus
meningkat sehingga penutupan/penggunaan lahan berubah dari
waktu ke waktu. Teknologi PJ merupakan salah satu alat yang efektif
untuk memantau perubahan penutupan/penggunaan lahan.
Penutupan/penggunaan lahan pada kajian ini diperoleh dari hasil
analisis citra Landsat 5 TM dan dibantu dengan sumber data lainnya
seperti peta penutupan/penggunaan lahan yang telah ada dan data
kelerengan. Penutupan/penggunaan lahan di DAS Musi hasil analisis
menunjukkan bahwa kebun kelapa sawit menempati areal paling luas,
yaitu 1.249.473,16 ha (23,36 % dari total luas DAS Musi). Luas hutan
keseluruan di DAS Musi (hutan lahan kering primer, hutan lahan kering
sekunder, hutan rawa sekunder dan hutan tanaman) adalah seluas
776.572,36 ha (14,52% dari total luas DAS). Luas dan jenis
penutupan/penggunaan lahan di DAS Musi terdapat pada Tabel 8,
sedangkan distribusi spasialnya pada Gambar 5.
Tabel 8. Luas masing-masing penutupan/penggunaan lahan DAS Musi
No.
1
2
3
4
5
6
7
8
9
10
11
12
13
14
15
16
Penutupan/penggunaan lahan
Hutan lahan kering primer
Hutan lahan kering sekunder
Hutan rawa sekunder
Hutan tanaman
Kebun (tanaman muda)
Kebun campuran
Kebun karet
Kebun karet campuran
Kebun kelapa sawit
Kebun kopi campuran
Lahan kosong
Pemukiman
Pertanian lahan kering
Sawah
Semak belukar (rawa)
Tubuh air
Total
204
Luas (ha)
347.692,83
255.785,15
13.524,93
159.569,45
166.613,74
136.585,00
748.100,72
256.484,16
1.249.473,16
670.847,88
174.281,83
184.038,88
529.337,23
76.378,46
178.005,42
200.095,88
5.346.814,71
Gambar 5. Penutupan/penggunaan lahan DAS Musi
IV. KESIMPULAN DAN SARAN
A. Kesimpulan
Dari hasil kajian ini dapat disimpulkan sebagai berikut :
1. Kelas kelerengan di DAS Musi didominasi oleh tipe
kelerengan datar (0-8%), yaitu seluas 3.594.802,47 ha (67%
dari total luas DAS Musi).
2. Bentuk DAS Musi adalah lonjong, sedangkan sub-sub DAS di
dalam DAS Musi bentuknya bervariasi mulai dari agak lonjong
sampai dengan lonjong, hanya Sub DAS Kikim dan Sub DAS
Deras yang memiliki bentuk agak bulat.
3. Daerah Aliran Sungai (DAS) Musi memiliki tingkat kerapatan
aliran sangat jarang.
4. Luas hutan keseluruhan di DAS Musi (hutan lahan kering
primer, hutan lahan kering sekunder, hutan rawa sekunder
dan hutan tanaman) masih kurang dari 30%.
205
B. Saran
Untuk memudahkan penentuan morfometri DAS (kelerengan, bentuk
DAS, kerapatan aliran dan pola aliran) dengan perangkat SIG,
sebaiknya data dasar seperti batas DAS/sub DAS, kontur dan jaringan
sungai sebaiknya tersedia dalam format digital.
DAFTAR PUSTAKA
Asdak. Chay. 2010. Hidrologi dan Pengelolaan Daerah Aliran Sungai.
Gadjah Mada University Press. Yogyakarta.
Desaunettes, J. R. 1977. Catalogue of Landforms for Indonesia. Example
of a physiographic approach to land evaluation for
agriculture development, SRI (Soil Research Institute),
FAO-Bogor.111p and Appendices.
Dixon, J. A. and K. W. Easter. 1986. Integrated Watershed Management:
An Approach to Resource Management. In K. W. Easter, J.
A.Dixon, and M. M. Hufschmid. Watershed Resources
Management. An Integrated Framework with Studies
from Asia and the Pacific. Studies in Water Policy and
management, No.10. Westview Press and London.
Honolulu.
Esri.1999.ArcView 3.2a. Esri. California.USA
Esri.2004.ArcGIS 9. Esri.California. USA
Priyono, C. N. S. dan E. Savitri. 1997. Hubungan antara Morfometri
dengan Karakteristik Hidrologi Suatu Daerah Aliran Sungai
(DAS): Studi Kasus Sub DAS Wader. Buletin Pengelolaan
DAS No.III, 2, 1997.
Paimin, Sukresno, dan Purwanto. 2006. Sidik Cepat Degradasi Sub
Daerah Aliran Sungai (Sub DAS). Pusat Penelitian dan
Pengembangan Hutan dan Konservasi Alam. Badan
Penelitian dan Pengembangan Kehutanan. Bogor.
Sukentyas, S. E. dan W. K. Harsanugraha. 2008. Pemanfaatan Citra
Satelit Penginderaan jauh Untuk Pengelolaan Sumber Daya
206
Air. Studi kasus: Daerah Aliran Sungai Dodokan Provinsi
NTB. PIT MAPIN XVII. Bandung 2008.
Soewarno.1991.
Hidrologi:Pengukuran dan
(Hidrometri). Nova. Bandung.
Pengelolaan
DAS
Thapa, R., K. Ravindra and R. K. Sood. 2008. Study of Morphotectonics
and Hydrogeology for Groundwater Prospecting Using
Remote Sensing and GIS In The North West Himalaya,
District Sirmour, Himachal Pradesh, India. The
International Archives of the Photogrammetry, Remote
Sensing and Spatial Information Sciences. Vol. XXXVII.
Part B4. Beijing 2008.
Widodo, H. R., M. v. Noordwijk., I. Suryandi dan B. Verbist. 2009.
Monitoring Air di Daerah Aliran Sungai. World Agroforestry
Centre. ICRAF Asia Tenggara. Bogor 2009.
207
KAJIAN UNSUR HARA TANAH
PADA TEGAKAN CEMARA LAUT (Casuarina equisetifolia)
DI PANTAI BERPASIR PETANAHAN KEBUMEN1
Oleh :
Beny Harjadi , Pranatasari Dyah Susanti 3 dan Arina Miardini 4
2
Balai Penelitian Teknologi Kehutanan Pengelolaan Daerah Aliran Sungai
Jl. A. Yani PO Box 295 Pabelan.
Telepon/Fax.: (+62 271) 716709/716959
Email: [email protected]
2
3
4
Email: [email protected]; [email protected]; [email protected]
ABSTRAK
Tanah berpasir di pesisir merupakan tanah marjinal yang memerlukan
penanganan secara tepat. Salah satu cara yang dapat dilakukan adalah
dengan melakukan tindakan konservasi vegetatif melalui penanaman
tanaman cemara laut. Tanaman tersebut diharapkan dapat memperbaiki
kandungan unsur hara tanah. Penelitian ini bertujuan mengetahui status
unsur hara tanah pada tiga titik yang berbeda, yaitu unsur hara tanah di
pasir terbuka, dibawah tegakan cemara laut dan di bawah tegakan
tanaman semusim yang telah dibudidayakan masyarakat. Metode
penelitian yang digunakan adalah survey dengan mengambil sampel
tanah pada masing-masing titik dan dilakukan analisa unsur hara tanah
meliputi : kadar air 0,5 mm, kadar air 2 mm, pH, BO, C, N, P, K, dan Na.
Hasil penelitian menunjukkan terdapat perbedaan kandungan unsur
hara tanah pada berbagai penggunaan lahan. Penanaman cemara laut
berdampak positif terhadap peningkatan kandungan unsur hara tanah
berpasir. Penggunaan pupuk kandang efektif memperbaiki kandungan
unsur hara tanah selain masukan hara yang berasal dari dekomposisi
serasah dan bahan organik yang berada di bawah tegakan tanaman
semusim dan dibawah tegakan tanaman cemara laut.
Kata kunci : unsur hara tanah, cemara laut, pasir terbuka
1
Disampaikan dalam Seminar Nasional Hasil Penelitian Teknologi Pengelolaan
DAS oleh Balai Penelitian Teknologi Kehutanan Pengelolaan DAS, Kementerian
Kehutanan, pada tanggal 12 juni 2013.
208
I. PENDAHULUAN
Indonesia sebagai negara kepulauan terbesar di dunia dimana 70% luas
wilayahnya berupa laut serta memiliki 80.000 km garis pantai
merupakan sumber daya yang sangat potensial (Nizam, 2010).
Meskipun potensial tetapi pengelolaan lahan berpasir memerlukan
tindakan dan penanganan yang tepat. Wilayah pesisir adalah suatu
sistem sumberdaya (resource system) yang unik, sehingga memerlukan
pendekatan khusus dalam merencanakan dan mengelola
pembangunannya (Maroeto, et al., 2007). Lahan pantai berpasir
merupakan salah satu lahan yang memiliki kesuburan tanah yang
rendah. Lahan ini merupakan lahan marjinal yang disebabkan oleh
beberapa faktor permasalahan, antara lain angin laut yang kencang,
erosi angin, suhu tinggi, uap air bergaram, dan tanah yang rendah hara
(Harjadi dan Octavia, 2008). Untuk meningkatkan kesuburan pada
lahan pantai berpasir, maka diperlukan tindakan konservasi.
Konservasi tanah menurut Arsyad (1989), merupakan tindakan (1)
penutupan tanah dengan tumbuhan dan tanaman atau sisa tanaman
agar terlindung dari daya perusak butir-butir hujan yang jatuh, (2)
memperbaiki dan menjaga keadaan tanah agar resisten terhadap
penghancuran agregat dan terhadap pengangkutan, dan lebih besar
dayanya untuk menyerap air di permukaan tanah, serta (3) mengatur
air aliran permukaan agar mengalir dengan kecepatan yang tidak
merusak dan memperbesar jumlah air yang terinfiltrasi. Metode
konservasi yang dapat digunakan adalah metode vegetatif, mekanik,
dan kimia.
Tindakan konservasi pada tanah berpasir di daerah pesisir akan sangat
tepat apabila menggunakan metode vegetatif (Harjadi, dan Miardini
2010). Selain tidak memerlukan biaya yang tinggi, metode ini juga
mudah digunakan, dengan syarat tanaman yang sesuai dan perawatan
serta pemeliharaan tanaman yang baik. Tindakan penanaman tanaman
cemara laut (Casuarina equisetifolia), merupakan salah satu metode
konservasi secara vegetatif, dimana tanaman ini merupakan tanaman
potensial untuk dikembangkan di lahan berpasir. Penanaman pohon di
wilayah pantai perlu didasarkan pada jenis tanaman yang sesuai dan
dapat tumbuh di daerah pantai serta memiliki kemampuan antara lain
tahan terhadap angin agar dapat menstabilkan bukit pasir di pantai,
209
tahan terhadap kondisi tanah dan pasir yang marginal dan saline
(Nurahmah, et al, 2007).
Whistler dan Elevitch (2004) dalam Sukresno (1998) mengatakan
bahwa pada lahan berpasir tanaman yang cocok sebagai tanggul angin
adalah cemara laut. Beberapa hal yang menjadi pertimbangan
diantaranya: (1) dapat tumbuh pada permukaan laut sampai ketinggian
800 m dpl, (2) toleran terhadap kekeringan hingga 6 - 8 bulan, (3)
dapat tumbuh bersamaan dengan tanaman lain di wilayah pantai dan
dataran rendah, (4) dapat tumbuh pada berbagai kondisi tanah
termasuk tanah-tanah jelek, dangkal, tidak subur atau tanah dengan
kadar garam tinggi, (5) merupakan tanaman yang dapat mengikat
nitrogen udara dengan bantuan Frankia sp., (6) merupakan tanaman
cepat tumbuh (fast growing species) dengan pertumbuhan dapat
mencapai ketinggian 20-30 m, serta (7) pemanfaatannya sebagai
tanaman agroforestry untuk tanggul angin, penstabil tanah, pelindung
pantai dan pagar.
Berdasarkan pertimbangan-pertimbangan tersebut, penanaman
tanaman cemara laut ini, diharapkan dapat meningkatkan status
kesuburan tanah dari tanah marjinal menjadi tanah yang lebih subur.
Kesuburan tanah merupakan pengaruh kombinasi tiga komponen
utama yang saling berinteraksi yaitu sifat kimia, fisika dan biologi
tanah (Handayanto, 2007). Penelitian ini bertujuan mengkaji status
unsur hara tanah pada lahan berpasir yang telah ditanami cemara laut.
II. METODE PENELITIAN
A. Lokasi dan Waktu
Penelitian dilakukan pada bulan April 2012 di lahan pantai berpasir
yang secara administratif terletak di Desa Karanggadung, Kecamatan
Petanahan, Kabupaten Kebumen, Provinsi Jawa Tengah (Gambar 1).
Secara geografi berdasarkan peta topografi skala 1 : 25.000 terletak
pada 109o 35’ 01,9” BT , 07o 46’ 31,3” LS sampai 109o 35’ 34,9” BT , 07o
46’ 39,1” LS. Kondisi Geologi berupa endapan alluvium pasiran dan jenis
tanah yang terbentuk adalah jenis tanah regosol (Typic Tropopsamments)
210
yang berasal dari endapan pasiran dengan topografi umumnya
berombak.
Gambar 1. Lokasi penelitian
B. Bahan dan Alat
Bahan yang digunakan dalam penelitian ini adalah sampel tanah di
bawah tegakan cemara laut, dan sampel tanah di pasir terbuka dan
dibawah tanaman semusim sebagai pembanding. Peralatan yang
digunakan adalah plastik sampel tanah, cangkul, tali dan kertas label,
kamera digital dan alat tulis menulis.
C. Metode
Penelitian dilakukan dengan metode survey. Pengambilan sampel
tanah dilakukan pada 3 tipe penggunaan lahan, yaitu: dibawah
tegakan cemara laut , pasir terbuka, dan dibawah tegakan tanaman
semusim. Masing-masing tipe penggunaan lahan tersebut, terbagi
dalam 3 blok, yaitu blok tahun 2007 (6 tahun), 2009 (3 tahun), dan
tahun 2012 (1 tahun). Masing-masing blok diambil 3 sampel tanah
untuk dikomposit. Sampel tanah yang digunakan adalah tanah dengan
kedalaman 25-30 cm. Selanjutnya sampel tersebut dibawa ke
laboratorium untuk dilakukan analisis kimia tanah meliputi: kadar air
05 mm, kadar air 2 mm, pH, bahan organik, C, N, P, K, dan Na. Data
yang diperoleh dianalisis menggunakan analisis sidik ragam (Anova).
Apabila berpengaruh nyata maka dilanjutkan dengan uji beda nilai
tengah Duncan.
211
III. HASIL DAN PEMBAHASAN
Berdasarkan hasil analisis tanah di laboratorium serta analisis sidik
ragam yang dilakukan, dapat diketahui bahwa terdapat perbedaan
nilai kandungan unsur hara pada ketiga lokasi pengembilan sampel
tanah. Tabel 1 hasil analisis sidik ragam kandungan unsur hara tanaman
pada tiga penggunaan lahan yaitu pasir terbuka, tegakan cemara laut,
dan tanaman semusim.
Tabel 1. Hasil analisis sidik ragam kandungan unsur hara tanah
No
1
2
3
Penggunaan Lahan
Pasir
terbuka
Cemara
Laut
Tanaman
semusim
pH
8,01a
Na
(me/
100gr)
2,02a
6,88a 1,34a
b
5,85b 0,78a
Kandungan Unsur Hara Tanah
KA
KA
KTK
C
BO
0,5
2
(%)
(%)
(%)
mm mm
0,35a 0,47a 4,69a 0,25a 0,4a
0,01a 0,02a 0,37a
0,36a 0,33a 8,52a 0,26a 0,4a
0,02a 0,03a 0,14a
1,38b 1,64b 6,83a 1,04a 2,4b
0,08b 0,06a 0,15a
N
(%)
P
(%)
Keterangan : Angka yang diikuti huruf yang berbeda pada kolom yang
sama berbeda nyata (p<0,05)
Tabel 1 menunjukkan terdapat beberapa kandungan unsur hara yang
berbeda nyata, maupun tidak berbeda nyata. Salah satu unsur hara
yang berbeda nyata adalah pH. Nilai pH tanah sangat penting karena :
(1) Menentukan mudah tidaknya ion-ion unsur hara diserap tanaman,
(2) Menunjukkan keberadaan unsur-unsur yang bersifat racun bagi
tanaman, dan (3) Mempengaruhi perkembangan mikroorganisme
dalam tanah (Nugroho, 2007). Menurut Hardjowigeno (1992), pH
tanah menunjukkan sifat kemasaman atau alkalinitas tanah serta
dapat menggambarkan banyaknya konsentrasi ion H+ dan OH- di dalam
tanah.
Nilai pH tanah pada Tabel 1 menunjukkan, bahwa pH dibawah tegakan
cemara laut tidak berbeda nyata dengan pH di tanah pada tanaman
semusim, maupun pada pasir terbuka. Tetapi pH pada pasir terbuka
berbeda nyata dengan pH pada tanaman semusim. Nilai pH yang tinggi
di pasir terbuka, disebabkan oleh kandungan garam di laut, sedangkan
nilai pH yang lebih rendah pada tegakan cemara laut, disebabkan oleh
212
K
(%)
pengaruh pupuk organik dan serasah yang ada pada tegakan cemara
laut. pH tanah yang terlalu rendah pada tanaman semusim dapat
dinetralkan dengan penggunaan pupuk organik (kandang) serta
meningkatkan ketersediaan air. pH yang netral dapat membantu
ketersediaan unsur hara yang dibutuhkan tanaman karena pH tanah
yang terlalu tinggi ataupun terlalu rendah akan menurunkan
kesuburan tanah, terutama unsur hara mikro (Tan, 1998).
Berdasarkan analisis sidik ragam, terlihat bahwa nilai Na berbeda tidak
nyata pada ketiga tipe penggunaan lahan. Meskipun demikian secara
diskriptif terlihat bahwa pasir terbuka memiliki nilai Na tertinggi.
Menurut Hanafiah (2012), pH yang tinggi antara 7,5-8 akan
menyebabkan tanaman menjadi keracunan unsur Mo dan unsur
penunjang lain seperti Na dan Cl. Nilai Na yang rendah seperti pada
tanah dibawah tegakan cemara laut akan lebih menguntungkan
karena konsentrasi yang tinggi dapat menimbulkan gangguan
fisiologis pada tanaman dan menyebabkan hancurnya agregat tanah,
meskipun pada tanaman tertentu perannya dapat menggantikan
unsur K (Supriyadi, 2009).
Berdasarkan hasil analisis sidik ragam pada Tabel 1, kadar air 0,5 mm
dan 2 mm tidak berbeda nyata untuk tanah di bawah cemara laut dan
di pasir terbuka, dan berbeda nyata untuk tanaman semusim. Hal ini
disebabkan pada tanah dengan tingkat pengelolaan yang baik, serta
penambahan pupuk organik, maka akan meningkatkan tekstur tanah,
sehingga air akan tersimpan dengan baik. Parameter unsur hara lain
yang diukur dalam penilaian status hara tanah pada penelitian ini
adalah Kapasitas Tukar Kation (KTK). KTK berhubungan erat terhadap
tingkat kesuburan tanah. Pada Tabel 1 terlihat bahwa terjadi
peningkatan KTK tanah pada tegakan cemara laut dibandingkan pada
tanah pasir terbuka. Hal ini menunjukkan, bahwa penanaman cemara
laut akan memperbaiki kondisi unsur hara dalam tanah yang
berdampak pada peningkatan KTK tanah, meskipun berdasarkan
analisis sidik ragam, ketiganya tidak berbeda nyata.
Sejalan dengan KTK, pada Tabel 1 terlihat bahwa, meskipun nilai C
tidak berbeda nyata pada setiap tipe penggunaan lahan, tetapi unsur C
di bawah tegakan cemara laut secara deskriptif memiliki nilai yang
lebih tinggi. Hal ini disebabkan pada tanah dibawah tegakan cemara
213
laut dengan kondisi tanaman yang usia dan tegakannya telah
bertambah, maka akan menghasilkan bahan organik atau serasah yang
nantinya akan dirombak oleh mikroorganisme dalam proses
dekomposisi, sehingga C akan tersedia. Demikian juga pada tanah di
titik tegakan semusim, kandungan C akan lebih besar karena
perkembangan tanaman dan pertumbuhan tanaman yang akan
mendukung ketersediaan C dalam tanah. C merupakan salah satu
komponen bahan organik yang utama. C berasal dari CO2 yang
ditangkap tanaman dari udara, dan melalui dekomposisi, C akan
dibebaskan kembali, sehingga kandungannya pada tanah akan
meningkat (Susanti, et al.,2010).
Kandungan unsur C tersebut, juga berhubungan dengan kandungan
bahan organik (BO) tanah. Sumber utama bahan organik bagi tanah
berasal dari jaringan tanaman, baik berupa sampah tanaman (serasah)
ataupun sisa-sisa tanaman yang telah mati (Sutedjo, 1987). Pada tanah
di tegakan cemara laut dan pasir terbuka nilai BO tanah tidak berbeda
nyata, namun berbeda nyata pada tanaman semusim. Perbedaan ini
disebabkan karena pemberian pupuk organik serta adanya input dari
serasah yang ada akan menyebabkan kandungan bahan organik
meningkat.
N (nitrogen) merupakan salah satu unsur hara makro yang sangat
menentukan pada tingkat kesuburan tanah. Menurut Sanchez (1992),
N berada di dalam tanah berasal dari jasad renik penambat N yang
mati, hasil proses mineralisasi residu tanaman dan hewan, serta dari
pupuk buatan. Demikian juga menurut Murni (2009) bahwa N
merupakan salah satu hara kunci dalam pertumbuhan tumbuhan.
Secara alami, penyediaan N yang utama bagi tumbuhan adalah melalui
pengikatan N oleh mikroorganisme, baik simbiosis maupun
nonsimbiosis.
Berdasarkan hasil penelitian dan analisis sidik ragam, diketahui bahwa
nilai N pada pasir terbuka dan pada tegakan cemara laut tidak berbeda
nyata, sedangkan pada tanaman semusim berbeda nyata. Secara
diskriptif nilai N pada tanaman semusim dan pada tegakan cemara laut
lebih tinggi dibandingkan pada pasir terbuka karena bintil akar pada
tanaman cemara laut dapat mengikat NH3, sehingga meningkatkan
ketersediaan N. Selain itu, adanya bahan organik yang sudah
214
terdekomposisi akan mengalami proses mineralisasi N organik
sehingga dapat meningkatkan ketersediaan N di dalam tanah.
Menurut Soemarno (2011), pada tanah yang subur dekomposisi bahan
organik akan terus terjadi secara berkelanjutan, sehingga kebutuhan
nitrogen mudah dipenuhi, tetapi pada tanah berpasir yang miskin
bahan organik, sehingga tanpa penambahan pupuk organik
ketersediaan N dalam jumlah cukup akan mengalami kesulitan. Untuk
mengatasi hal tersebut, pada tanah-tanah marjinal perlu penambahan
frekuensi pemupukan nitrogen dan perlu pemberian pupuk organik
untuk ketersediaan N dalam tanah.
Selain unsur N, salah satu unsur yang penting dalam kesuburan tanah
adalah unsur P (Fosfor). Unsur ini merupakan salah satu unsur yang
sangat penting dalam kesuburan tanah. Tabel 1 menunjukkan,
meskipun berdasarkan hasil analisis sidik ragam tidak berbeda nyata,
tetapi kandungan unsur hara P dibawah tegakan cemara laut lebih
tinggi dibandingkan tanah pasir terbuka. Selain itu penambahan pupuk
kandang dibawah tegakan cemara laut sebesar 1,5 kg/tanaman juga
berpengaruh positif terhadap kandungan P tanah. Berdasarkan hasil
penelitian Wigati et al. (2006) dalam Suharyani et al. (2012) pemberian
pupuk kandang dengan takaran 20 ton/ha dapat meningkatkan kadar
bahan organik tanah, pertumbuhan tanaman meliputi berat kering
tanaman, konsentrasi dan serapan P dalam jaringan tanaman.
Unsur hara makro yang juga menjadi parameter dalam penelitian ini
adalah unsur K (Kalium). K adalah salah satu unsur hara makro yang
paling banyak diperlukan tanaman setelah nitrogen dan fosfor
(Subiksa, 2004). Berdasarkan hasil penelitian kandungan unsur hara
tanah, menunjukkan tidak berbeda nyata antara tanah pada pasir
terbuka, cemara laut, maupun pada tanaman semusim. Meskipun
demikian terlihat bahwa pada tanah berpasir, nilainya lebih tinggi . Hal
ini karena adanya kandungan Na dan pH tanah pada tanah pasir
terbuka lebih tinggi dibandingkan dengan pada tanah dibawah
tegakan cemara laut dan tanaman semusim. Menurut Supriyadi
(2009), unsur K, Ca, Mg, dan Na merupakan unsur alkali tanah. Dengan
demikian semakin tinggi nilai pH tanah, maka kandungan K dan Na
juga akan semakin meningkat.
215
Berdasarkan uraian diatas, terlihat bahwa berbagai perbedaan nilai
kandungan unsur hara, disebabkan adanya pengelolaan lahan yang
lebih baik, dan adanya proses input unsur hara dari luar seperti
pemupukan. Selain proses pemupukan, terjadi juga proses pemasukan
unsur hara yang berasal dari serasah-serasah tanaman yang akan
bermanfaat terhadap perkembangan mikroorganisme tanah, sehingga
kandungan unsur hara juga akan bertambah sebagai akibat dari
adanya proses dekomposisi bahan organik.
IV. KESIMPULAN
Berdasarkan uraian di atas dapat disimpulkan bahwa kandungan unsur
hara tanah pH, kadar air 0,5 mm, kadar air 2 mm, bahan organik, dan N
berbeda nyata antar tiga tipe penggunaan lahan yaitu pasir terbuka,
dibawah tegakan cemara laut, dan dibawah tegakan tanaman
semusim. Secara berurutan status unsur hara tanah terbaik adalah
pada lahan tanaman semusim, lahan cemara laut, dan lahan pasir
terbuka. Dengan demikian penanaman tanaman cemara laut, selain
dapat digunakan sebagai salah satu langkah konservasi vegetatif, juga
dapat meningkatkan kandungan unsur hara tanah, dan meningkatkan
kandungan pupuk organik ke dalam tanah.
DAFTAR PUSTAKA
Arsyad, S. 1989. Konservasi tanah dan air. IPB Press. Bogor.
Hanafiah. 2012. Dasar-dasar ilmu tanah. PT Raja Grafindo Perkasa.
Jakarta.
Handayanto. 2007. Biologi tanah landasan pengelolaan tanah sehat.
Pustaka Adipura. Yogyakarta.
Hardjowigeno. 1992. Ilmu tanah. PT. Mediyatama Sarana Perkasa.
Jakarta.
Harjadi, B., dan D. Octavia. 2008. Penerapan teknik konservasi tanah di
pantai berpasir untuk agrowisata, Info Hutan Vol. V, No. 2,
2008.
216
Harjadi, B., dan A. Miardini . 2010. Penanaman cemara laut (Casuarina
equisetifolia LINN) sebagai upaya pencegahan abrasi di
pantai berpasir. Jurnal Penelitian Hutan dan Konservasi Alam
Vol. VII No. 5 Tahun 2010 : 517-523.
Maroeto., Arifin., dan Sutoyo. 2007. Identifikasi dan diagnose sifat
kimia tanah salin untuk kesesuaian tanaman cemara udang (
Casuarina Equisetifolo ) Jurnal Pertanian Mapeta Vol 10 No 1
Desember 2007 : 13-23.
Murni, 2009. Peningkatan pH tanah podsolik merah kuning melalui
pemberian abu dan hubungannya dengan aktivitas
mikroorganisme pengikat nitrogen. Jurnal Biospesies. Vol.2
No.2 Juni 2009.
Nizam. 2010. Stabilitas pantai pasir dan interaksinya dengan struktur
pelindung pantai. Laporan akhir kegiatan Penelitian hibah
kompetensi lanjutan batch II. UGM. Yogyakarta.
Nugroho, A.W. 2007. Karakteristik tanah pada sebaran ulin di
Sumatera dalam mendukung konservasi. Prosiding Ekspose
Hasil-hasil Penelitian : Konservasi dan Rehabilitasi Sumberdaya
Hutan. Puslitbang Hutan dan Konservasi Alam. Padang.
Nurahmah., M. Y. Mile, Suhaendah, E. 2007. Tekhnis perbanyakan
tanaman laut (Casuarina equisetifolia) pada media pasir. Info
Tekhnis Vol 5 no. 1. Balai Besar Penelitian Bioteknologi dan
Pemuliaan Tanaman Hutan.
Sanchez, P. A. 1992. Sifat dan pengelolaan tanah tropika. Jilid 1.ITB.
Bandung.
Soemarno. 2011. Pentingnya Nitrogen Bagi Tanaman Tebu. Fakultas
Pertanian Universitas Brawijaya. Malang.
Subiksa. 2004. Pengaruh ameliorasi dan pemupukan K terhadap
parameter hubungan Q-I kalium pada tanah mineral masam.
Jurnal Tanah dan Iklim No 22 Tahun 2004.
217
Suharyani, Kusmiyati., dan Karno. 2012. Pengaruh metode perbaikan
tanah salin terhadap serapan nitrogen dan fosfor rumput
benggala (Panicum Maximum) Animal Agriculture Journal,
Vol. 1. No. 2, 2012.
Sukresno, 1998. Laporan “Kajian konservasi tanah dan air pada
kawasan pantai berpasir dan berlumpur di Jawa Tengah dan
DIY. Dephut, Balitbanghut, BTPDAS. Solo.
Supriyadi, 2009. Status unsur-unsur basa di lahan kering Madura.
Jurnal Agrovigor. Vol No. I tahun 2009.
Susanti. P. D., dan Panjaitan.S. 2010. Manfaat zeolit dan rock phosphat
dalam pengomposan limbah pasar. Prosiding Pertemuan dan
Presentasi Ilmiah Standardisasi, BSN, Banjarmasin, 4 Agustus
2010.
Sutedjo, 1987. Pupuk dan cara pemupukan. Rineka Cipta. Jakarta.
Tan. K.H. 1998. Dasar-dasar kimia tanah. UGM Press. Yogyakarta.
218
Lampiran 1. Jadwal Acara
JADWAL ACARA SEMINAR NASIONAL HASIL PENELITIAN TEKNOLOGI
PENGELOLAAN DAS
Surakarta, 12 Juni 2013
Waktu
8.00 – 8.30
8.30 – 8.40
8.40 – 8.50
8.50 – 9.00
9.00 – 9.30
9.30 – 10.00
10.00 – 10.15
Acara
A. REGISTRASI
Pendaftaran ulang
B. PLENO – PEMBUKAAN
Doa
Menyanyikan lagu Indonesia Raya
Laporan Panitia Penyelenggara oleh
Kepala BPTKPDAS
1. Arahan dan Pembukaan oleh
Kepala Badan Penelitian dan
Pengembangan Kehutanan
2. Keynote Speech : Permasalahan
Pengelolaan DAS di Jawa Tengah
(Integrasi Lintas Sektor) dan
Dukungan Litbang Pengelolaan
DAS yang Diperlukan oleh
Sekretaris Daerah Provinsi Jawa
Tengah diwakili oleh Kepala Dinas
Kehutanan Provinsi Jawa Tengah
REHAT KOPI
C. SIDANG KOMISI
SIDANG KOMISI I
Sistem Pengelolaan DAS
10.15 – 10.30
10.30 – 10.45
1. Aspek Hukum Pengelolaan Daerah
Aliran Sungai Berdasarkan PP
Nomor 37 Tahun 2012 tentang
Pengelolaan Daerah Aliran Sungai
2. Hubungan Antara Luas Hutan Pinus
Dan Aliran Dasar Di Sub Das
219
Perangkat Sidang
Pembicara(1), Moderator(2),
Perumus (3), Notulis(4)
Panitia
Panitia
Panitia
Ir. Bambang Sugiarto,
MP. (1)
Dr. Ir. R. Iman Santosa,
M.Sc (1)
Dr. Ir. Sri Puryono, KS,
MS
diwakili oleh Ir.
Bowo Suryoko, MM(1)
Ir. Paimin, M.Sc(2)
Nunung Puji Nugraha,
S.Hut., M.Sc (3)
Wahyu Wisnu Wijaya,
S.Hut (4)
Dr.
AL.
Sentot
Sudarwanto,
SH.,
M.Hum(1)
Drs. Irfan Budi Pramono,
M.Sc(1)
Waktu
10.45 – 11.00
11.00 – 12.00
Acara
Kedungbulus, Gombong
3. Karakteristik Banjir di Sub DAS
Wuryantoro, Kabupaten Wonogiri
DISKUSI
SIDANG KOMISI II
Teknologi Pengelolaan DAS
10.15 – 10.30
1. Model Pengendalian Banjir Terpadu
Perangkat Sidang
Pembicara(1), Moderator(2),
Perumus (3), Notulis(4)
Ir. Gunardjo Tjakrawarsa,
M.Sc(1)
Ir.
Agustinus
P.
Tampubolon, M.Sc (2)
Agung Wahyu Nugroho,
S.Hut., M.Sc (3)
Wiwin Budiarti, S.Hut (4)
Alif Noor Anna(1)
Berdasarkan Parameter Utama
Penyebab Banjir di DAS Bengawan
Solo Hulu
10.30 – 10.45
2. Kajian Pertumbuhan Sengon Dan
Ir. Heru Dwi Riyanto(1)
Jabon Dalam Rehabilitasi Lahan
Terdegradasi Di Tlogowungu Pati
10.45 – 11.00
3. Penggunaan Air oleh Tanaman
11.00 – 12.00
12.00 – 13.00
(Crop Water Requirements)
Beberapa Jenis Pohon Cepat
Tumbuh
DISKUSI
ISHOMA
SIDANG KOMISI I
Sistem Pengelolaan DAS
13.00 – 13.15
13.15 – 13.30
13.30 – 13.45
4. Pendayagunaan Data Penginderaan
Jauh yang Bebas Diunduh untuk
Mengakses Beberapa Parameter
Lahan
5. Membangun Kelembagaan
Konservasi Tanah dan Air di Hulu
Sub DAS Gandusuwaduk, Pati Jawa Tengah
6. Pemetaan Kawasan Rawan
Kebakaran Hutan dengan
Menggunakan Teknologi
Penginderaan Jauh dan Sistem
220
Agung Budi Supangat,
S.Hut, MT(1)
Ir. Paimin, M.Sc(2)
Nunung Puji Nugroho,
S.Hut., M.Sc (3)
Wahyu Wisnu Wijaya,
S.Hut (4)
Dr. Tyas Mutiara Basuki(1)
Ir. C.
MP(1)
Yudilastiantoro,
Arina Miardini, S.Hut(1)
Waktu
Acara
13.45 – 14.45
Informasi Geografis Sebuah Studi
Kasus di Taman Nasional Bali Barat
DISKUSI
SIDANG KOMISI II
Teknologi Pengelolaan DAS
13.00 – 13.15
4. Kandungan Hara dan Tingkat Erosi
Pada Lahan Miring Bersolum
Dangkal
13.15 – 13.30
5. Identifikasi Karakteristik Biofisik
Daerah Aliran Sungai Dengan
Menggunakan Sistem Informasi
Geografis
13.30 – 13.45
13.45 – 14.45
14.45 – 15.05
15.05 – 15.25
15.25 – 16.00
16.00 – 16.30
16.30 – 17.00
6. Kajian Unsur Hara Tanah Pada
Tegakan Cemara Laut (Casuarina
equisetifolia) di Pantai Berpasir
Petanahan Kebumen
DISKUSI
D. PLENO – PRESENTASI SUMMARY
HASIL SIDANG KOMISI
Presentasi Ringkasan Hasil Sidang
Komisi I
Presentasi Ringkasan Hasil Sidang
Komisi II
Perumusan dan Diskusi Hasil Sidang
Komisii I dan II
E. PENUTUPAN
Penutupan oleh Kepala Pusat Litbang
Konservasi dan Rehabilitasi
REHAT KOPI
221
Perangkat Sidang
Pembicara(1), Moderator(2),
Perumus (3), Notulis(4)
Ir.
Agustinus
P.
Tampubolon, M.Sc (2)
Agung Wahyu Nugroho,
S.Hut., M.Sc (3)
Wiwin Budiarti, S.Hut (4)
Ir.
Nining
Wahyuningrum, M.Sc(1)
Drs. Agus
M.Sc(1)
Wuryanta,
Ir. Beny Harjadi, M.Sc(1)
Ir. Adi Susmianto, M.Sc
(2)
Ir. Paimin, M.Sc(1)
Ir.
Agustinus
P.
Tampubolon, M.Sc (1)
Ir. Purwanto, M.Si (3)
Ir. Adi Susmianto, M.Sc (1)
Lampiran 2. Daftar Peserta
DAFTAR PESERTA
SEMINAR NASIONAL
HASIL PENELITIAN TEKNOLOGI PENGELOLAAN DAS”
Surakarta, 12 Juni 2013
No
1.
2.
3.
4.
5.
6.
7.
8.
9.
10.
11.
12.
13.
14.
15.
16.
17.
18.
19.
20.
21.
22.
23.
24.
25.
26.
27.
28.
29.
Nama
Instansi
Engkos Kosasih
Lukman Jarir
Agung WN
Gunardjo Tjakrawarsa
Dewi Subaktini
Beny Harjadi
Nining Wahyuningrum
Nur Ainun Jariyah
Susi Abdiyani
Heru Dwi Riyanto
Rahma Dewi
Murzat Sobri
Agus Wuryanta
Wiwin Budiarti
TM Basuki
Irfan BP
Dadang M
Bambang DA
Siswo
Dewi Estu M
Wahyu Wisnu W
Aris Boediyono
Dody Yuliantoro
Eva YR
Saeful Hidayat
Armin Nugroho
Untung Rubayan
Bambang Dwi
Purwanto
BPTH Jawa Madura
Dishutbun Banjarnegara
BPTKPDAS
BPTKPDAS
BPTKPDAS
BPTKPDAS
BPTKPDAS
BPTKPDAS
BPTKPDAS
BPTKPDAS
BPK Palembang
SMA Batik
BPTKPDAS
BPTKPDAS
BPTKPDAS
BPTKPDAS
BPTKPDAS
BPTKPDAS
BPTKPDAS
Dinas Pertanian
BPTKPDAS
BPTKPDAS
BPTKPDAS
BPTPTH Bogor
BTN Gn Merbabu
BPBD Jateng
BPBD Jateng
TN Merapi
BPTKPDAS
222
No
30.
31.
32.
33.
34.
35.
36.
37.
38.
39.
40.
41.
42.
43.
44.
45.
46.
47.
48.
49.
50.
51.
52.
53.
54.
55.
56.
57.
58.
59.
60.
61.
62.
63.
64.
Nama
Instansi
Rahardyan
C Nugroho S
Agung BS
C. Yudilastiantoro1
Nunung PN
Gunarti
Sumardi
S. Agung Sri Raharjo
Agus Sugianto
Edi Sulasmiko
Asep Hermawan
Ragil Bamban g
Andy Cahyono
Arina Miardini
Agus Munawar
Sudarso
Prabang Setyono
Joko Prihatno
La Ode Asir
Ibnu SM
Eva B. Sinaga
Tri Wulandari
M. Farid Fanani
Nur Sumedi
Choirul Ahmad
Iton
Dyah Arum K
Bambang Pujiarmanto
Syafii Ash Shiddiqie
Annisa Aulia
Haries Apriliyana
Syahrul Donie
Sagiman
Hani Dwi Trisnaningsih
Budi Sulihanto
BPTKPDAS
Sekbadan Litbang
BPTKPDAS
BPTKPDAS
BPTKPDAS
BPTKPDAS
BPK Kupang
BPK Kupang
BPTKPDAS
BPTKPDAS
BPTKPDAS
BPTKPDAS
BPTKPDAS
BPTKPDAS
BPTKPDAS
BPTKPDAS
UNS Pasca
BBKSDA Jateng
BPK Manado
Puskonser
BPK Manado
Puskonser
BPK Manado
Balitek KSDA
BPK Palembang
BPK Aek Nauli
BKSDA Jateng
BKSDA Jateng
BPDAS Sampean
FP UNS
FP UNS
Pusprohut
Perum Perhutani
BDK Kadipaten
Hutbun Sragen
223
No
65.
66.
67.
68.
69.
70.
71.
72.
73.
74.
75.
76.
77.
78.
79.
80.
81.
82.
83.
84.
85.
86.
87.
88.
89.
90.
91.
92.
93.
94.
95.
96.
97.
98.
99.
Nama
Instansi
Paimin
Kusrin
AL Sentot Sudarwanto
Nurhasanah
Kurniawan Sigit W
Salamah Retnowati
Iman Santoso
Sri Astuti Soedjoko
Listra Shelly Vita N
Jalma Giring S
Aries Horizon
Forila DA
Samsudi
Retno Maryani
Aryana Citra K
Fauzi Mas'ud
Suratno
Firmansyah Afandi
Alif Noor Anna
Fitriyani
Hardono
Zainuddin Fanani
Ika Yulianti
Yuli Priyana
NP Rahadian
Retisa Mutiaradevi
Agus Tampubolon
Edy Subagyo
Nana
Ugro Hari Murtiono
Bowo Suryoko
Sri Widayadi
Agus S
Raharjo
Prasodjo
BPTKPDAS
BPTKPDAS
FH UNS
BPDAS Citarum Ciliwung
FP Unibraw
BPTKPDAS
Litbang Kehutanan
UGM
UGM
UGM
BPBD Prov Jateng
BPTKP Jatim
Pusdiklat
Puspijak Bogor
BPTP Jateng
Puskonser
Dishutbun Grobogan
BPK Banjarbaru
F. Geografi UMS
F. Geografi UMS
FKDC
Dishutbun Grobogan
BBWS Bengawan Solo
Fak. Geografi UMS
FKDC Banten
Setbadan
Puskonser
BBPBPTH
BBPBPTH
BPTKPDAS
Dinas Kehutanan Jateng
Dinas Kehutanan Jateng
Balitbang
Dinas Kehutanan Jateng
Puslitbang Perhutani
224
No
100.
101.
102.
103.
104.
105.
106.
107.
108.
109.
110.
111.
112.
113.
114.
115.
116.
117.
118.
119.
120.
121.
122.
123.
124.
125.
126.
127.
128.
129.
130.
131.
132.
133.
134.
Nama
Instansi
Rahmad
Sri Sulawati
Harry BJ
Evi Irawan
Nana Haryanti
Joko Purwanto
Sri Jarwadi
Sunarto Gunardi
Sukirno
Verina Ristianti
Johni
Nur Sihmiati
Widiyanti
Supriyadi
Arief W
Kus Wardani
Adi Susmianto
Muhadi
Dewi Retna I
Ambar Kusumandari
Yayat Sigit HT
M Yanuar MT
Sudarmanto
Corryanti
Mesri Ferdian
Anung Wijayanti
Sri Baruni
Istiyadi
Radyastono
Supriyanto
Eko Priyanto
Tommy Kusuma AP
Wahyu Budiarso
Mariska
Sururi
Balitbang Jateng
Pusprohut
BPTA Ciamis
BPTKPDAS
BPTKPDAS
BPDAS SOP
Hutbun Wonogiri
FTP UGM
FTP UGM
Balai KPH YK
Perhutani
BPDAS Solo
BPDAS Solo
BAPPEDA Sukoharjo
Dispertan Klaten
BPTKPDAS
Puskonser
Puslitbang Cepu
BPTKPDAS
Fahutan UGM
Puspijak
Dishutbun Banten
Puspijak
Puslitbang Cepu
BPTKPDAS
BPTKPDAS
BPTKPDAS
BPTKPDAS
BPTKPDAS
BPTKPDAS
BPTKPDAS
BPTKPDAS
BPTKPDAS
BPTKPDAS
BPTKPDAS
225
No
135.
136.
137.
138.
139.
140.
141.
142.
143.
144.
145.
146.
147.
148.
149.
150.
151.
152.
153.
154.
155.
Nama
Instansi
Farika Dian N
Nidhomuddin
M. Fachrur Rozi
Dwi Purnomo
Amin Suranto
B. Wirid A
M. Shidiq
Bambang Sugiarto
Bambang Subandrio
Deddy Kusnadi
Ana Pangaribuan
Tri Endah
Yusuf Irianto
Suparno
Tri Wahyuni
Taryoto
Kuwat Raharjo
Arjuna
K. Adi Wirawan
Azis Zaelani
Sutikno
BPTKPDAS
BTN Merbabu
BTN Merbabu
BTN Merbabu
BPTKPDAS
BPTKPDAS
BPTKPDAS
BPTKPDAS
BPTKPDAS
BPTKPDAS
BPTKPDAS
BTN G Merbabu
BPTKPDAS
BPTKPDAS
BTN Gn Merbabu
BTN Gn Merbabu
BTN Gn Merbabu
BTN Gn Merbabu
BTN Gn Merbabu
BTN Gn Merbabu
BTN Gn Merbabu
226
Lampiran 3. Hasil Diskusi
Arahan Kepala Badan Litbang Kehutanan : Dr. Ir. Iman Santoso,
M.Sc
 Seminar diselenggarakan dalam rangka menyemarakkan
peringatan 100 tahun Badan Litbang Kehutanan. Semangat untuk
senantiasa membangun dunia kehutanan agar lebih baik telah ada
sejak jaman dahulu dan harus dijaga sampai sekarang.
 Dalam peringatan 100 tahun Kelitbangan Kehutanan, Menteri
Kehutanan menyebutkan bahwa Iptek merupakan landasan
kebijakan dan etika membangun hutan lestari dan peradaban
bangsa.
 Bangsa Indonesia sangat berpotensi, dan memiliki sumberdaya
manusia yang baik untuk dapat digunakan sebagai modal dasar
yang kemudian didukung dengan iptek untuk membangun dunia
kehutanan.
 Kebutuhan iptek pengelolaan DAS; lebih difokuskan pada
pengatasan masalah perubahan iklim, kerusakan DAS, deforestasi
degradasi hutan dan lahan kritis, intervensi manusia terhadap
SDH terlalu berlebihan, kebutuhan lahan yang tinggi.
 Solusi masalah : pendekatan lansekap DAS.
 Peran BPTKPDAS sangat diharapkan untuk ikut berpartisipasi
dalam pengelolaan DAS. Dengan SDM yang cukup kuat, sarana dan
prasarana yang cukup, diharapkan hasil penelitian bisa
bermanfaat untuk membangun kehutanan.
 BPTKPDAS harus ikut dengan agenda pembangunan Jawa Tengah,
sehingga arah riset untuk menyelesaikan permasalahan yang
terdapat di wilayah Jawa Tengah.
Keynote Speech : Ir. Bowo Suryoko, MM
“Permasalahan Pengelolaan DAS di Jawa Tengah (Integrasi
Lintas Sektor) dan Dukungan Litbang Pengelolaan DAS yang
diperlukan oleh Sekretaris Daerah Provinsi Jawa Tengah”
 20 DAS di Jawa Tengah kondisinya kurang memadai dan masuk
prioritas untuk mendapatkan penanganan agar bisa dipulihkan
daya dukungnya.
 Rendahnya daya dukung DAS merupakan penyebab terjadinya
bencana alam.
227
 Hal ini akibat kurang terpadunya pengelolaan DAS apalagi di era
otonomi daerah, pembangunan wilayah lebih diutamakan kepada
faktor ekonomi dengan kurang memperhatikan faktor lingkungan.
 Pengelolaan yang tidak sinergis akan merugikan yang lain, DAS
tidak bisa hanya dilihat dari satu sektor misal airnya, atau
hutannya, tapi harus semua sektor.
 Pengelolaan hendaknya dilakukan secara terpadu agar tidak
menyebabkan konflik.
 PP 37 Th 2012 menjadi payung hukum agar tercapai
penyelenggaraan pengelolaan DAS di Jawa Tengah yang terpadu.
 Upaya pengelolaan DAS hendaknya tidak hanya melalui
penanaman saja tetapi juga harus didukung dengan penelitian.
 Penelitian juga tidak hanya aspek fisik/teknis saja namun juga
mempertimbangkan aspek sosial.
 Upaya penelitian DAS perlu didorong agar memajukan
pengelolaan DAS di Jawa Tengah.
 Salah satu yg penting yakni penelitian mengenai baku mutu air
agar dapat mengetahui besarnya air bersih yang dapat dinikmati
oleh penduduk di Jawa Tengah seiring dengan semakin
bertambahnya jumlah penduduk.
Sidang Komisi I “Sistem Pengelolaan DAS”
Moderator
: Ir. Paimin, M.Sc
Perumus
: Nunung Puji Nugroho, S.Hut, M.Sc
Notulen
: Wahyu Wisnu Wijaya, S.Hut
Makalah :
1. Aspek Hukum Pengelolaan DAS berdasarkan PP No 37 Tahun 2012
tentang PDAS
(Pembicara : Dr.Al. Sentot Sudarwanto, SH, M.Hum)
 Ada 2 undang-undang yang mengatur DAS, yakni UU
Kehutanan (3 pasal) dan UU SDA (1 pasal).
 Baru muncul adanya kebijakan pemerintah yakni PP 37 tahun
2012, yang menjadi payung hukum. Falsafahnya mengatur dari
hulu sampai hilir.
 Diharapkan akan ada grand design dengan payung hukum PP
37 dalam pengelolaan DAS, untuk terjadi sinergi dan
sinkronisasi.
228
 Tujuan Pengelolaan DAS sesuai dengan tujuan otonomi daerah
adalah untuk mewujudkan kesejahteraan bagi masyarakat.
 Untuk mencapai tujuan itu perlu keterpaduan sehingga perlu
membangun keterpaduan antar pemangku kepentingan.
 Dalam membangun keterpaduan perlu koordinasi integrasi
sinkronisasi.
 Mandat PP 37 adalah wewenang Pengelolaan DAS oleh
pemerintah daerah.
 Menurut surat edaran Mendagri, Pemerintah daerah
diharapkan segera menyiapkan produk hukum.
 Keterpaduan yakni pertimbangan ekonomi dengan ekologi,
perencanaan sektor dan instansi terkait.
 Dalam aspek kelembagaan DAS pada kenyataannya masih
bekerja sendiri.
 Strategi implementasi PP 37 : RPDAST Bengawan Solo yang
merupakan panduan dalam pengelolaan DAS Bengawan Solo,
mendorong dibuatnya Perda tentang Pengelolaan DAS terpadu
sebagai pengikat sektor, instansi antar wilayah, perlu adanya
sosialisasi mengenai RPDAST.
2. Hubungan antara luas hutan pinus dan aliran dasar di Sub DAS
Kedungbulus, Gombong
(Pembicara : Drs. Irfan Budi Pramono, MSc)
 Hutan bermanfaat sebagai pengatur tata air.
 Aliran dasar adalah aliran yang berasal dari air tanah
(groundwater out flow).
 Aliran dasar merupakan salah satu komponen penting sebagai
indikator kontinuitas aliran.
 Perlu mengukur debit aliran dasar sebagai indikator
kontinuitas aliran.
 Pada musim kemarau, hutan pinus masih dapat menyimpan
air.
3. Karakteristik Banjir di Sub DAS Wuryantoro Kabupaten Wonogiri
(Pembicara : Ir. Gunardjo Tjakrawarsa, M.Sc.)
 Kejadian banjir akhir-akhir ini mempunyai dampak kerusakan
yang parah,
 Salah satu subdas (wuryantoro) kurang menyerap air hujan
dominasi penggunaan non hutan.
229
 Perlu mengetahui hubungan antara karakteristik hujan dan
banjir dengan penutupan lahan.
 Karakteristik banjir dinyatakan dalam debit puncak dan waktu
puncak yang dipengaruhi oleh tebal hujan lama hujan,
intensitas hujan dan antecedent soil moisture condition (AMC).
4. Pendayagunaan data penginderaan jauh yang bebas diunduh
untuk mengakses beberapa parameter lahan
(Pembicara : Dr. Tyas M Basuki)
 Penggunaan data penginderaan jauh dari citra satelit yg bebas
di unduh memberikan tingkat akurasi yang baik.
 Klasifikasi kelas lereng dengan DEM ASTER menghasilkan
akurasi total sebesar 79,5% dengan nilai kappa 0,67 yang
tergolong sangat sesuai (substantial agreement). Akurasi total
70% dengan kappa 0,60 diperoleh pada klasifikasi penutupan
lahan menggunakan citra quickbird yang diunduh dari google
earth.
5. Membangun kelembagaan konservasi tanah dan air di hulu sub
DAS Gandusuwaduk Pati Jawa Tengah
(Pembicara : Ir. Yudilastiantoro, MP)
 Proses membangun kelembagaan konservasi tanah dan air
dilakukan melalui kerjasama antara instansi/lembaga kepada
kelompok tani, antar anggota kelompok tani dengan
masyarakat desa dalam pengelolaan lahan lestari berbasis
konservasi tanah dan air untuk meningkatkan produksi dan
pendapatan.
 Kelembagaan yang berperan penting yakni Dinas Pertanian
dan kehutanan kabupaten, Perum Perhutani KPH Regaloh dan
para anggota kelompok tani wana lestari.
6. Pemetaan kawasan rawan kebakaran hutan dengan menggunakan
teknologi penginderaan jauh dan SIG sebuah studi kasus di Taman
Nasional Bali Barat.
(Pembicara : Arina Miardini, S.Hut)
 Kerentanan kawasan TNBB terhadap kebakaran hutan dgn
mempertimbangkan faktor tipe vegetasi, kelerengan, arah
lereng, jarak dari jalan dan jarak dari pemukiman didominasi
oleh kelas sedang sebesar 31,28 % dari luas kawasan.
230
 Kelas tersebut terdapat pada hutan musim dan hanya sebagian
terdapat pada hutan dataran rendah.
HASIL DISKUSI :
Sesi I
NO
1
NAMA
Lukman
(Dinas
Kehutanan
Kab.
Banjarnegara
)
DISKUSI
PERTANYAAN, SARAN
TANGGAPAN
DAN MASUKAN :
Makalah 1 :
Makalah 1 :
Makalah mengenai aspek
Memang banyak SKPD
hukum Pengelolaan DAS
yang mempunyai
harus ada keterpaduan
tupoksi terkait dengan
antar pemangku
DAS, lalu bagaimana
kepentingan. Dikarenakan cara untuk membangun
instansi yang menangani
keterpaduan?
masalah kehutanan sangat Pengikatnya yakni grand
banyak, sehingga untuk di desain RPDAST yang
daerah sering dijadikan
secara partisipasif yang
sebagai leading sector
dibangun oleh lembaga
dalam Pengelolaan DAS.
formal dan non formal
Kesulitan yang dihadapi
secara bersama.
untuk mencapai
Implementasinya pada
keterpaduan. Bagaimana
stake holder terkait,
langkah yang harus
masing-masing akan
dilakukan untuk
melakukan sesuai
membangun
konteks besar yg telah
keterpaduan?
disepakati bersama.
(tidak membuat
organisasi baru.
Makalah 2 :
Apakah benar bahwa
hutan pinus rakus
terhadap air?
231
Makalah 2 :
Hasil penelitian
sebelumnya memang
menyebutkan
kebutuhan air di Jawa
sangat tinggi. Namun
bergantung pada curah
hujan yg ada, karena
tidak semua daerah
menghadapi masalah.
Masalah kebutuhan air
tergantung pada site
NO
2
NAMA
Tuti
(Fakultas
Kehutanan
UGM)
DISKUSI
spesifik. Untuk
mengetahui tentang
kebutuhan air tanaman
bisa di cari hasil
penelitian di website
www.google.com
Makalah 1 :
Makalah 1 :
Komitmen dan kontribusi
Didalam norma sudah
berbagai lembaga
ada, sebagai contoh ada
terhadap Pengelolaan DAS peraturan daerah yang
sudah banyak tetapi kalau mengsle (kurang tepat)
ada peraturan yang
karena ada kepentingan
kurang tepat, siapa yang
ada beberapa
akan menjadi “wasit”
kepentingan tertentu
(penengah) ? (karena
dan itu sudah
masing-masing lembaga
dibatalkan. Seringnya
tidak punya kekuatan)
Perda dibuat agak lama
tergantung pada
komitmen dan dari
akademisi, forum,
maupun yang lain dapat
mendesak legislatif dan
eksekutif agar cepat.
Bilamana ada peraturan
yang cacat tidak apa-apa
asalkan dalam
pelaksanaan punya
komitmen bagus pasti
hasilnya juga akan
bagus.
Makalah 2 :
Saya senang sekali karena
meneliti tentang berapa
luas hutan pinus yang ada
dan hubungannya dengan
air tersedia, sarannya agar
dilanjutkan lagi dan
ditambahkan dengan
rumus barrens yakni
untuk mengetahui sampai
berapa hari hutan pinus
bisa mengeluarkan air.
232
Makalah 2 :
Dari segi banjir, hutan
pinus bisa mencegah
banjir 33% dan jati 55%.
Untuk aliran dasar,
karena baru awal, jadi
baru dilihat pada 52%
luas. Terimakasih atas
sarannya, dan penelitian
nantinya bisa
dilanjutkan lagi.
NO
3
4
NAMA
Supriyadi
(Forum DAS)
Nur Sumedi
DISKUSI
Makalah 1 :
Di Jawa Tengah ada forum
DAS, di Jawa Timur juga,
dll, tapi payung hukum
forum DAS belum ada.
Apakah memang
seharusnya forum DAS
bersifat sektoral atau
lintas sektoral?
Makalah 1 :
Forum DAS memang ada
banyak dan territorial
(terkapling-kapling),
kenapa begitu?
Penyebabnya yaitu UU
no 32 tahun 2004
tentang pemerintahan
daerah karena
wewenang ada pada
wilayah. Jadi dari
banyaknya forum perlu
dipadukan, yang penting
berjalan bersama-sama
atau kolaborasi.
Sekarang sedang
digodok peraturan
Menteri Kehutanan
terkait dengan
keberadaan forum das
dan rencana akan
dituangkan dalam 2
peraturan menteri.
Makalah 2 :
Didalam penelitian
menunjukkan ada korelasi
antara beberapa faktor
terhadap aliran dasar,
namun masih perlu
kejelasan hubungan
antara luas hutan dgn
aliran dasar karena belum
diuji korelasinya.
Makalah 2 :
Dalam penelitian ini
hutan merupakan salah
satu faktor, faktor lain
yang berpengaruh yakni
geologi dan jenis tanah.
Misal di hutan jati, ada
pengaruh dari aquifer.
Untuk itu kedepannya
akan dilihat lagi
korelasinya.
Makalah 1 :
Langkah-langkah
tersebut sangat setuju.
Munculnya PP 37 karena
amanat undang-undang,
karena pada UU
Makalah 1 :
Dlm pengelolaan DAS ada
pemikiran (sederhana):
1) Pengelolaan das
difokuskan pada
wilayah berdasarkan
233
NO
NAMA
DISKUSI
pada ekosistem (misal
Kehutanan cuma 3 pasal
pegunungan, pesisir),
dan UU sda hanya ada 1
sehingga kemungkinan pasal itupun hanya
ada das lintas wilayah.
pengertian.
2) Negara ikut berperan
Oleh karena itu, meski
dalam penentuan
rohnya dari kehutanan,
status hutan, sesuai
tapi otomatis semua
dengan ketinggian
sektor harus taat karena
(berdasarkan
peraturan pemerintah.
penelitian terdahulu).
Di Jakarta, para mentri
3) Ada model agroforestry dikabarkan sudah
yang tepat untuk solusi menyetujui sehingga
di wilayah
tinggal menunggu
pegunungan.
implementasi (tindak
lanjut).
Banyaknya stake holder
memperumit sehingga
harus ada 1 lembaga yang
berperan sebagai
pemimpin tapi selalu
masih ada masalah.
Makalah 3 :
Saya mencoba memberi
saran, ada salah satu
metode cepat untuk bisa
diadopsi sebagai penduga
kejadian banjir (contoh di
kalimantan) ada spesies
burung yang membuat
sarang secara alami
sehingga selalu terhindar
dari banjir. Mungkin bisa
jadi bahan referensi.
5
Marto
Makalah 1 :
Kata kunci dari makalah
yakni perlu membangun
keterpaduan. Apa sudah
ada sosialisasi PP
Kehutanan terhadap
kementerian lain.
234
Makalah 3 :
Terimakasih, atas saran.
Seperti diketahui pada
penelitian ini
sebenarnya sudah
menambahkan AMC
namun masih kurang
tepat karena ada faktor
evapotranspirasi yang
perlu dipertimbangkan,
sehingga untuk
kedepannya perlu
ditambahkan lagi.
Makalah 1 :
Sudah disosialisasikan
tapi masih terbatas
Kemenhut Kemendagri
dan Kemenlh,
khususnya yang di
Kemenhut sedang
NO
NAMA
DISKUSI
digodog 9 Permenhut
(draft sdh jadi).
Makalah 2 :
Dalam penelitian lanjutan,
faktor geologi seperti
bagaimana yang akan
dihitung.
Makalah 3 :
Bila dilihat dari koefisien
yang dihasilkan yang
nilainya kecil apakah itu
akan berpengaruh
terhadap debit
puncaknya?
6
Hardono
(Forum DAS
Cidanau)
Makalah 1 :
Sebenarnya pada era
tahun 80-an Kemenhut
sudah bikin RTLRLKT
yang seiring berjalannya
waktu ganti-ganti
namanya, namun intinya
tentang pengelolaan das
terpadu. Masalah yang
utama yakni kejar-kejaran
untuk membuat pola
(grand desain). Masih ragu
kira-kira berjalan sampai
berapa tahun PP ini. Selain
itu, karena saling kejarkejaran kenapa tidak
dibuat UU yang 1 saja
terhadap das.
Forum das juga sudah
mencoba dalam skala
kecil, caranya dengan
menunjuk SKPD dengan
metode kekeluargaan
yang hal ini padahal
sebenarnya tugas ada di
235
Makalah 2 :
Geologi fulkan tua,
dengan solum dalam.
Bila diterapkan di
geologi lain misal di
cepu kurang
berpengaruh.
Makalah 3 :
Rencana akan ditambah
data mengenai puncakpuncak banjir yang lain.
Makalah 1 :
Saya sependapat,
memang pejabat selalu
mengklaim produk baru.
Yang penting tinggal
menyikapi dan
implementasi.
Lembaga meskipun
banyak tapi yang
penting fungsinya. Kalau
tupoksinya baik
idealnya hasilnya pun
akan baik.
Bappeda hanya sebagai
fungsi strategis.
Undang-undang yang
tidak sinkron memang
benar.
NO
NAMA
DISKUSI
bappeda.
7
Paimin
Makalah 2 :
Sebenarnya hutan itu yang
bagus seperti apa?
Sebaiknya Kemenhut
meneliti terkait
homogenitas tanaman,
jangan-jangan karena
homogennya jadi
penyebab kurang air.
Saran : Tolong yang
disampaikan jangan hanya
usulan kegiatan, namun
masalah. Kalau itu sudah
terjadi maka akan
terwujud RPJM. Harus
bisa menselaraskan
antara alam dengan
administrasi. Alami hanya
alat untuk membuat
analisis. Kita harus tahu
bagamana
menghubungkan
(membangun komunikasi)
tanpa konflik.
PP 37 prosesnya tidak
mandiri kehutanan tapi
juga kementerian lain dan
terasa di pasal-pasalnya.
Misal di Kementerian PU.
Makalah 2 :
Hutan yang bagus yakni
hutan campuran multi
stratum, namun karena
masalah ekonomi
beberapa daerah jadi
monokultur.
Sesi II
NO
1
NAMA
Bowo (Kadin
Hut Jateng)
DISKUSI
PERTANYAAN, SARAN
TANGGAPAN
DAN MASUKAN :
Hasil penelitian harus bisa
ditindaklanjuti dan
disosialisasi-kan sehingga
236
NO
NAMA
DISKUSI
lebih membumi.
Makalah 4 :
a) Data itu mahal, apa
dengan data yang
gratis validasinya
dapat dipertanggungjawabkan (akurat)?
b) Seberapa persen
akurasinya kalau
memang bisa?
a) Bila melihat jurnal
internasional, ada
suatu web yg
menunjukan bahwa
banyak peneliti
yang sudah
menggunakan
google earth sebagai
sumber data citra.
Selain itu google
earth juga dapat
digunakan untuk
validasi.
b) Caranya dengan
melakukan
groundcek. Perlu
validasi dengan
georeferencing agar
selisih tidak terlalu
besar.
Makalah 5 :
Kenapa tidak dengan
kelompok tani yang sudah
ada? Kan lebih baik
menggunakan kelompok
yang ada dengan
menggunakan metode
yang pelan-pelan dan
diterima masyarakat.
Makalah 5 :
Memang sedang
dilakukan dengan
kelompok tani yang
sudah ada.
Makalah 6 :
Apakah yang dilakukan di
taman nasional di bali bisa
direplika di jateng?
Melihat kondisi hutan yg
ada.
Makalah 6 :
Model yg sudah dipublis
merupakan model
universal, di TNBB
model bersifat statis,
untuk daerah yang lebih
luas perlu model yang
dinamis dengan
mempertimbangkan
faktor lain.
237
NO
2
NAMA
Kabid Dinas
Kehutanan
Jateng
3
Supriyadi
(Forum DAS)
DISKUSI
Makalah 5 :
Sudah diinfokan
Makalah 5 :
Apakah sudah
diinformasikan pada
instansi terkait di daerah
tersebut agar bisa
ditindak lanjuti?
Saran:
a) Hindari kata-kata
mungkin, atau banyak
analisis kualitatif.
b) Penelitian diarahkan
kepada tren terkini.
Makalah 4 :
Bila data tersebut
diperoleh secara tunda,
perlu dipertimbangkan
waktu apabila yang akan
dianalisis merupakan
lahan pertanian.
4
Kurniawan
Sigit
(univ
brawijaya
malang)
Makalah 5 :
Pembentukan
kelembagaan berbasis
konservasi rawan gagal
karena ada 3 aspek lain
yg perlu diperhatikan
(menimbulkan sesat
pikir)
Makalah 4 :
a) Data dem merupakan
data permukaan,
apabila dibikin lereng
bisa rancu. Apakah ada
algoritma tertentu
untuk membuat itu?
b) Usle untuk skala plot
oke, tapi bila luas akan
over estimate. Apa ada
cara lain?
238
Makalah 4 :
Salah satu caranya
dengan pengecekan
lapangan dan
wawancara dengan
penduduk setempat.
Makalah 4 :
a) Apakah ada
algoritma belum
diketahui secara
pasti.
b) Yang diukur tingkat
land unit kemudian
diambil rata-rata
tertimbang. Hasil
cukup mendekati,
namun masih perlu
validasi.
NO
5.
6.
7.
NAMA
Giring
(Mahasiswa
UGM)
Syamsudi
(Pusdiklathut)
Sunarto
Gunadi
DISKUSI
Makalah 6:
Makalah 6:
a) Buffer jalan yang
a) Buffering dilakukan
dilakukan gimana?
pada 1 jalan
b) Validasi seperti apa
b) Validasi dilakukan
yang dilakukan?
pada lokasi yang
c) Groundcek, ada satelit
pernah ada di TNBB
yang bisa membaca
c) Masukan diterima
titik api.
Makalah 4 :
Bagaimana cara agar bisa
meningkatkan akurasi
Makalah 4 :
Meningkatkan akurasi
dengan menggunakan
multiband spectral, bisa
digunakan dengan
subpixel klasifikasi.
Makalah 6 :
Apa ada pertimbangan
untuk pemilihan lokasi
Makalah 6 :
Lokasi dipilih
berdasarkan informasi
kerawanan yang tinggi
Penelitian makalah 5,6
mempelajari kasus.
Mestinya ada beberapa
tempat yang diteliti agar
mendapat kesimpulan yg
bisa dipakai oleh
pengguna dari beberapa
tempat.
Membangun kelompok
merupakan tugas seorang
penyuluh, harapannya
peneliti bisa meneliti dari
banyak tempat.
Makalah 6 :
Formula itu awalnya pada
hipotesis seperti apa?
Apakah sama dengan
model awal?
239
Makalah 6 :
Model tersebut awalnya
berawal dari turki,
penulis mencari metode
yang simple untuk
mengembangkan model
statis di taman nasional.
Dari literature
sebenarnya sangat
NO
NAMA
DISKUSI
banyak model untuk
bisa digunakan, namun
bergantung pada tujuan.
Model yg rumit
terkadang akurasi malah
lebih rendah, sehingga
digunakan model
dengan akurasi yang
lebih tinggi.
SIDANG KOMISI II “Teknologi Pengelolaan DAS”
Moderator : Ir. Agustinus P. Tampubolon, M.Sc
Perumus : Agung Wahyu Nugroho, S.Hut, M.Sc
Notulis
: Wiwin Budiarti, S.Hut
SESI I :
1. Makalah I Model Pengendalian Banjir Terpadu Berdasarkan
Parameter Utama Penyebab Banjir di DAS Bengawan Solo Hulu (Alif
Noor Anna)

Tujuan : menganalisis pengaruh faktor utama penyebab banjir dan
membuat model pengendalian banjir terpadu
 Hasil : 3 faktor penyebab banjir : kondisi iklim, perubahan tata
guna lahan dan kondisi morfologi sungai
 Pengaruh iklim : pada bulan basah CH tinggi  debit air tinggi
 Pengaruh alih fungsi lahan : hutan berkurang, kebun
bertambah, pemukiman bertambah. Ada pergeseran alih fungsi
hutan dari hutan ke lahan yang dibudidayakan (kebun dan
pemukiman)  2,5x maksimal.
 Pengaruh dari besarnya alih fungsi lahan : debit akan
meningkat
 Surakarta morfologi wilayah termasuk cekung
 Pelurusan Sungai Bengawan Solo Hulu  menyebabkan laju air
dan debit meningkat yang menyebabkan erosi tebing dan
sedimentasi.
 Model pengendalian banjir yang dapat diterapkan berdasarkan
parameter CH  metode sumur resapan, metode river side
polder, metode kolam konservasi, metode perlindungan air
tanah dan metode biopori.
240

Model
Pengendalian
Banjir
Terpadu

dengan
mengikutsertakan masyarakat (selaku pelaku utama) dan
pemerintah (fasilitator) dalam upaya pengelolaan sumber daya air.
2. Makalah II. Evaluasi Pertumbuhan Sengon dan Jabon dalam
Rehabilitasi Lahan Terdegradasi di Tlogowungu Pati (Heru Dwi
Riyanto)
 Tujuan : mengevaluasi pemilihan jenis yang sesuai dalam
upaya rehabilitasi lahan dan KTA berlereng.
 Metode : menerapkan 4 model RLKT kombinasi jenis tanaman



Model A : Sengon
Model B : Jabon
Model C : campuran sengon dan jabon
Kontrol
Hasil : Untuk parameter rata-rata pertumbuhan tinggi (riap tinggi)
untuk jenis tanaman Sengon lebih bagus daripada Jabon
Untuk parameter rata-rata pertumbuhan diameter (riap diameter)
untuk jenis tanaman Sengon lebih bagus daripada Jabon
Persen hidup sengon lebih tinggi (88 %) daripada jabon (74 %)
3. Makalah III. Penggunaan Air oleh Tanaman (crop water
requirements) Beberapa Jenis Pohon Cepat Tumbuh (Agung B.
Supangat)








Tujuan : mengetahui besarnya penggunaan air oleh tanaman dari
beberapa jenis spesies cepat tumbuh di Indonesia.
Manfaat : untuk pemilihan jenis dan perencanaan pengelolaan
tanaman
Metode : 6 jenis tanaman yang diteliti (Sengon, Mahoni, Akasia,
Nyamplung, Ekaliptus dan Kayu Putih). Menggunakan instrument plot
lisimeter.
3 faktor yang mempengaruhi evapotranspirasi : faktor iklim, faktor
tanaman dan faktor tanah (edafis).
Hasil :
Nilai ET tahunan rata-rata  tertinggi jenis tanaman Ekaliptus (1.450
mm/ 59,7 %) terendah Nyamplung (497 mm/ 25 %).
Jenis tanaman yang sama jikan ditanam ditempat yang berbeda
karakteristik
Keberadaan kondisi tanaman bawah ikut berpengaruh terhadap nilai
ET.
241
DISKUSI :
No
Nama
Diskusi
1.
Drs. Ugro H M, M.Si a. Banjir di DAS Solo, ada 2 parameter alami
dan manajemen. Beberapa parameter belum
disinggung diantaranya parameter tentang
morfometri DAS (bulat vs memanjang) 
waktu mencapai puncak lebih cepat
dibanding DAS memanjang. Pola aliran .
bagaimana kondisi morfometri DAS di
Bengawan solo ?
2.
Dr. Evi Irawan
a. UMS  permodelan tentang pengendalian
banjir di DAS Solo seperti apa belum
terlihat, faktor kependudukan (termasuk
sebaran penduduk, growth) belum
disampaikan apakah berpengaruh terhadap
banjir itu sendiri. Untuk naturalisasi sungai
perlu melihat kondisi ekologis sungai.
Terkait partisipasi dalam PDAS yang seperti
apa apakah bentuk partisipasinya
representative atau di atau dalam tataran
desa
b. Heru  untuk kasus di Pati tergantung
kondisi lahan, introduksi teknologi
agroforestry yang seperti apa yang pelu
dipaparkan untuk lahan yang sempit
sehingga stabilitas keluarga di sekitar lahan
tersebut masih bertahan
3.
Sukirno, Fapertan a. Agung  bagaimana merubah satuan %
UGM
kedalam mm
b. Hasil penelitian bagus, perlu masukan nilai
ET sangat tergantung pada lingkungan, ETO,
indeks tanaman (KC), dan status lengasnya
(KS), dalam penelitian ini KS adalah CH.
Penelitian ini sangat bermanfaat apabila
bisa menetapkan nilai KC dari masingmasing tanaman yang tidak berubah hanya
tergantung jenis dan umur. Kalau nilai KC
sudah ketemu maka akan mudah untuk
menentukan standar ETO dan KS.
c. UMS  intensitas CH dengan hidrograf dari
sungai tersebut sehingga lebih mudah untuk
menggambarkan kondisi banjir
4.
Amin
Nugroho, a. UMS  data citra satelit yang ditampilkan
BPBD Jateng
(th 1998 – 2002) perubahan alih guna lahan
242
No
Nama
b.
c.
5.
UMS
a.
b.
c.
Diskusi
sangat signifikan. Apakah dari citra tersebut
hasil mendekati sama kondisinya dengan th
2013.
Mana model yang paling unggul ? Apakah
metode pengendalian banjir yang dihasilkan
relevan untuk diterapkan di Waduk
Wonogiri ?
Model pengendalian banjir dengan
keterlibatan masyarakat contoh yang seperti
apa ?
Ugro, Sukirno  lebih berkonsentrasi pada
banjir di atas rata-rata. Morfometri DAS
sangat berpengaruh termasuk kapasitas air,
dan pola aliran. Penelitian lingkup luas
sehingga tidak menghitung morfometri DAS,
lebih berkonsentrasi potensi aliran
permukaan, sehingga yang diteliti ada 3
parameter, CH, tekstur tanah dan perubahan
penggunaan lahan. Kalau ditambah lagi
dengan bentuk hidrograf akan sangat luas
lagi, tetapi disini cukup menampilkan trend
debit terhadap curah hujannya.
Nugroho, Evi  penelitian sudah dilakukan
sebelumnya dimana landsat 2013 belum
ada, jadi menggunakan landsat 2002,
tentunya kalau 2013 perubahan
penggunaan lahan lebih signifikan. Tahun ini
sudah dilakukan lagi menggunakan ikonos
lebih detail lagi. Model pengendalian masih
bersifat konseptual/ referensi, belum
membuat demplot sehingga mana model
yang paling unggul belum bisa ditetapkan.
Dalam penentuan model pengendalian
banjir yang sesuai perlu melihat
morfometri/karakter sungai, topografi dan
tanah dimana aspek tersebut sangat
berpengaruh terhadap model yang akan
diterapkan.
Evi  kependudukan sangat penting,
bagaimana tekanan penduduk terhadap
kondisi lahan, belum masuk kesana.
Pendekatan menggunakan luasan
pemukiman. Partisipasi yang konkret adalah
243
No
Nama
6.
Heru D R
a.
7.
Agung B S
a.
8.
Ibu NN
a.
b.
9.
Rahardyan N. A.
a.
b.
10.
Dishutbun
Wonogiri
a.
b.
Diskusi
yang timbul dari masyarakat itu sendiri
melalui FGD dengan didukung oleh
pemerintah sebagai fasilitator.
Evi  model agroforestry yang seperti apa
yang cocok untuk diterapkan ? Tidak mudah
untuk menggabungkan kegiatan teknis dan
sosial secara bersam-sama dengan hasil
yang sama-sama besar. Mencoba dengan
membagi space lahan yang agak luas dengan
jartan 5x5 m2 dengan jenis tanaman fast
wood dengan mengembangkan tanaman
pertanian misalnya tanaman bawah untuk
pakan ternak (konsep tebang butuh).
Sukirno  prinsip perhitungan untuk
pengukuran evapotranspirasi menggunakan
plot lisimeter dengan perhitungan detil
mm/tahun. Indeks tanaman (KC) setuju,
pada penelitian ini belum ada penelitian
masih berlanjut, nantinya akan ditentukan
KC.
Heru  pemanfaatan lahan dibawah
tegakan untuk mengakomodir kebutuhan
petani, dengan penanaman empon-empon
atau tanaman pertanian bernilai ekonomi
tinggi misalnya Porang.
Konsep tebang butuh tidak mengharapkan
adanya kondisi tersebut. Sekarang ini untuk
menghindari adanya tebang butuh ada
pinjaman lunak.
UMS  dari ketiga itu sudah dibandingkan
belum potensi banjir terbesar yang mana
sehingga penanganan akan lebih difokuskan
ke tempat yang berpotensi besar
Agung  Implementasi terhadap luasan
yang lebih luas. Perlu ditelusur jumlah
transpirasi dari tanaman seberapa besar ?
UMS  data yang dipakai s/d 2002, hasil
apakah masih relevan dengan tahun
sekarang.
Heru  Sifat karakteristik jabon dibanding
sengon dari fungsi ekonomi, karakteristik
kayu, hubungannya terhadap manfaat, dari
fungsi ekologis ?
244
No
11.
Nama
UMS
12.
Heru
13.
Agung B S
14.
Agus Tampubolon
Diskusi
a.
b.
c.
a.
< 40 %  Klaten
> 50 %  Sragen, Madiun, Karanganyar
Tadi sudah dijawab di atas.
Pemanfaatan lahan sudah memberikan
space untuk ditanami tanaman pertanian,
salah satunya singkong. Konsep tebang
butuh untuk aspek konservasi masih cocok
untuk diterapkan (lereng miring) tetapi
kalau untuk aspek produksi memang tidak
cocok.
a. Rahardyan  akan dihitung nilai ET
tertimbang.
a. Model pengendalian banjir di DAS Solo Hulu
merupakan kombinasi dari parameter CH,
morfometri lahan dan perubahan alih guna
lahan. Perlu model pengendalian terpadu
dengan partisipasi masyarakat  perlu
lebih detil lagi
b. Model agroforestry di HR lahan sempt perlu
digali lagi untuk meningkatkan daya dukung
DAS
c.
SESI II :
1. Makalah I. Kandungan Hara dan Tingkat Erosi pada Lahan Miring
Bersolum Dangkal (Nining Wahyuningrum)





Tujuan : memaparkan efek dari erosi dan penutupan lahan terhadap
kesuburan tanah yang diwakili oleh kandungan unsur hara esensial
yang dibutuhkan tanaman untuk tumbuh secara normal  unsur N, C
org (BO), P, K, kapasitas pertukaran kattion (KPK) dan kejenuhan basa
(KB).
Lokasi : Sub DAS Keduang, Wonogiri
Analisis data  parameter sifat fisik dan kimia tanah. Prediksi erosi
menggunakan rumus USLE.
Hasil : Meskipun didominasi oleh lereng terjal, erosi yang terjadi di
lokasi penelitian masih pada taraf sangat ringan – ringan (> 50%). Hal
ini disebabkan oleh jenis penutupan lahan yang berupa hutan jati dan
gamal yang mempunyai nilai C rendah.
Tingkat erosi ringan mempengaruhi kandungan P dan K dengan
memberikan nilai rendah – sangat rendah. Sedangkan untuk N, C
organik, KTK dan KB tidak begitu berpengaruh karena ada pada
tingkat sedang-tinggi-sangat tinggi.
245
2. Makalah II. Identifikasi Karakteristik Morfometri DAS dengan
Menggunakan Teknologi PJ dan SIG (Agus Wuryanta)




Tujuan : untuk menghitung dan menentukan morfometri DAS (bentuk
DAS, kerapatan drainase, pola aliran, dan kelerengan wilayah DAS)
dan penutupan penggunaan lahan pada DAS Musi.
Lokasi DAS Musi mencakup 4 provinsi (Sumatera Selatan, Jambi,
Bengkulu dan Lampung), 14 Sub DAS.
Citra digital : citra landsat 5 TM (thematic mapper)
Hasil :
a. Kelerengan  DAS Musi hampir > 80% kelerengan datar.
b. Bentuk DAS  secara keseluruhan DAS Musi memanjang. Hanya
2 Sub DAS yaitu Sub DAS Kikin dan Sub DAS Deras bentuk DAS
membulat. Bentuk DAS membulat hidrograf tinggi daerah
potensi banjir, sedangkan memanjang hidrograf landai sehingga
daerah berpotensi banjir, tetapi faktor tidak berdiri sendiri
masih dipengaruhi faktor2 yang lain.
c. Kerapatan aliran  tingkat kerapatan DAS Musi sangat jarang.
d. Penutupan/Penggunaan Lahan  luas keseluruhan di DAS Musi
(hutan lahan kering primer, hutan lahan kering sekunder, hutan
rawa sekunder dan hutan tanaman) masih kurang dari 30 %.
3. Makalah III. Kajian Unsur Hara Tanah pada Tegakan Cemara Laut
(Casuarina equisetifolia) di Pantai berpasir Petanahan Kebumen
(Beni Harjadi)




Tujuan : mengkaji status unsur hara tanah pada lahan berpasir yang
telah ditanami cemara laut.
Lokasi  Ds. Karanggadung, Kec. Petanahan, Kab. Kebumen.
Pengambilan sampel tanah dilakukan pada 3 tipe penggunaan lahan :
pasir terbuka, dibawah tegakan cemara laut dan dibawah tegakan
tanaman semusim
Hasil :
a. Secara berurutan status unsur hara tanah
DISKUSI :
No
Nama
1.
Alif, Fakultas
Geografi, UMS
Diskusi
a. Nining  Perbedaan kandungan unsur hara
dari setiap satuan lahan belum terlihat ?.
dari informasi tersebut bisa untuk
mengidentifikasi tingkat erosi. Pengaruh
perbedaan solum terhadap besarnya nilai
erosi.
246
No
Nama
b.
c.
2.
Budi,
Dishutbun a.
Sragen
b.
3.
Edi S
a.
b.
4.
Nining
a.
Diskusi
Agus  hasil merupakan database yang
sangat penting. Terkait hasil penutupan
lahan akan lebih baik jika
mengklasifikasikan lahan ke satuan terkecil
(Sub DAS).
Beny  satuan wilayah yang digunakan
(berbentuk segiempat) apakah berdasarkan
letak geografisnya bukan geomorfologisnya
?
Agus  DAS Musi memiliki tingkat
kerapatan sangat jarang, masukan di
kesimpulan ditambahkan deskripsi
disebabkan apa dan impact seperti apa ?.
GIS yang digunakan tidak nampak agar
ditampakkan?
Beny  kondisi hujan mengapa harus
disirami ?
Nining  antara judul, tujuan dan
kesimpulan belum nyambung. Hal 139. Nilai
C pada UT 4 dan 5 lebih kecil daripada UT 1,
apakah ini memang demikian atau penulisan
terbalik. Kesimpulan : erosi yang terjadi
ringan – sangat ringan apakah benar
demikian sedangkan kalau dilihat dari lokasi
penelitian memang sedikit tanah. Nilai erosi
yang ditetapkan apakah sudah menghitung
solum tanahnya ?
Beny  di kesimpulan antara di 3
penggunaan lahan kandungan unsur hara
berbeda nyata, sedangkan pada table 1 tidak
berbeda nyata mohon dijelaskan ?. apakah
sudah memasukkan input unsur
hara/pupuk ?
Alif (UMS)  pada hal. 148 sudah dijelaskan
ada 17 jenis satuan penggunaan lahan (SPL),
hanya tidak didetailkan lagi, tetapi cukup
memakai penggunaan lahan. Asumsi solum
tipis pasti tidak subur dan erosi besar, tetapi
tidak terbukti di lokasi kajian. Hal ini bisa
disebabkan karena tekstur tanah di lokasi
kajian sandyloam (geluh pasiran) selain itu
juga adanya kerikil permukaan sehingga
menghambat pergerakan tanah.
247
No
5.
6.
7.
8.
9.
10.
Nama
Diskusi
b. Edi  judul berdasarkan DRI sudah oke.
Berdasarkan prediksi dan kenampakan
visual memang nilai erosi rendah.
Agus
a. Alif (UMS)  tidak perlu mengklasifikasi per
Sub DAS, dan luasan yang digunakan cukup
kecil, kalau diklasifikasi per Sub DAS dan di
zoom akan pecah.
b. Budi  kerapatan aliran dampaknya
terhadap surface runoff, kerapatan jarang 
porositas tinggi, nanti akan disampaikan di
kesimpulan. GIS
Beny
a. Alif (UMS)  pantai bentuk segiempat,
maksudnya itu demplot yang diambil untuk
kajian penelitian ditarik 100m dari garis
pantai tertinggi.
b. Budi 
c. Edi  di kesimpulan yang berbeda nyata
hanya PH dan C, sedangkan NPK tidak
berbeda nyata.
Sukirno
(BPBD a. Nining  unsur apa yang menyebabkan
Jateng)
erosinya rendah.
b. Beny  mengapa air di pantai itu tawar,
karena BJ antara air asin lebih rendah dari
air tawar. Belum ada informasi mengani
pengelolaan tanaman semusim ? manajemen
sangat berpengaruh tidak semata-mata
karena adanya penanaman cemara laut.
Amin Nugroho
a. Bentuk DAS Musi memanjang, tampak petas
DAS Musi membulat ?
Nining
a. Sukirno  hal 138, terlihat bahwa UT6 tidak
ada tanamannya.
Agus
a. Perbandingan antara luas dengan keliling
kuadrat mendekati satu dikatakan bulat,
tetapi kalau < 0,5 dikatakan memanjang.
Penetuan secara kualitatif bukan subyektif.
248
PLENO PRESENTASI SUMMARY HASIL SIDANG KOMISI :
Diskusi :
No
Nama
Diskusi
1.
Komisi II  tidak hanya jenis vegetasi tetapi
unsur2 iklim juga menjadi faktor penentu
2.
Kurniawan
Komisi I  dalam menentukan batas DAS
Sigit_Unibraw
apakah penyiapan bahan sudah benar
menurut PP37 pasal 6 termasuk citra satelit
yang digunakan; aplikasi luas lahan optimal
minimal luas 30 %.
3.
Paimin
Dalam PP37 tidak merinci sedetil itu. 30 %
mandate UU41 hanya minimal 30 %, tidak
menghitung kelas kemampuan lahan maupun
slope, silahkan kalau untuk mengkaji terhadap
faktor tersebut.
4.
Syamsudi
Tindak lanjut  agar ada suatu titik yang bisa
memberikan suatu rekomendasi teknologi
yang sudah dikaji secara memadai oleh
litbang, karena hasil penelitian arahnya akan
menjadi bahan kebijakan yang nantinya akan
menjadi petunjuk operasional. Teknologi siap
pakai/ pemanfaatan hasil penelitian.
5.
Adi Susmianto
BPTKPDAS sudah cukup baik dalam
menderiver hasil penelitian  Dirjen BPDAS
PS sebagai salah satu pengguna utama dari
hasil litbang BPTKPDAS.
6.
Adi Susmianto
DAS Solo belum sehat
Penggunaan IT (PJ dan SIG) diperlukan dalam
PDAS
Kelembagaan PDAS
Rekomendasi perlu tindak lanjut  sosialisasi,
publikasi melalui media internet, TV, dll
7.
Tri Wilaida
Rumusan poin 8 dan 9 kurang pas untuk
dicantumkan
Sosialisasi sudah menjadi penekanan di Badan
Litbang Kehutanan
8.
Sudarso
Menambahi terkait pertanyaan dari Bp.
Kurniawan Sigit (Unibraw)  dalam
PP37/2012 terkait penentuan penyiapan
penentuan batas DAS dalam penjelasan pasal 6
secara detil sudah dijelaskan.
9.
Adi Susmianto
Wrap Up :
 Tujuan dari seminar, adanya feedbad
249
No
Nama
Diskusi
 Yang melakukan kajian tentang DAS bukan
hanya BPTKPDAS Solo, ada PT, instansi PU,
Perairan, dll, adakah forum yang melakukan
sintesa terhadap hasil2 riset terkait PDAS. Hal
itu sangat perlu untuk mengetahui adanya Gap
dari berbagai sector. Dengan ditemukannya
GAP terkait PDAS maka tentunya bisa untuk
menjadi dasar penentuan penelitian kedepan
(penelitian bisa untuk menjawab GAP) ?
 Perlu dilakukan evaluasi, implementasi atas
penerapan IPTEK yang dihasilkan, baik riset
yang dilakukan oleh litbang maupun PT dan
instansi lain ?  tidak punya hak untuk
memaksa pengguna/petani menerapkan hasil
riset.
 DAS mikro  apakah sudah ada lokasi
demplot DAS mikro ? Mohon untuk DAS mikro
bisa untuk mengcover dari hulu s/d ke hilir.
 Persoalan sosial  PDAS yang sulit adalah
persoalan sosial.
250
Download