PEMBAGIAN HUKUM PIDANA

advertisement
Oleh
DJATMIKA RIZKY SAPUTRA
1241173300160
Nama Lengkap : Djatmika Rizky Saputra ( EKA )
TTL : Jakarta, 22 April 1986
Pendidikan : SD lulus tahun 1998,
SLTP lulus tahun 2001,
SMK lulus tahun 2004
Pekerjaan : Staff Panitera
Badan Penyelesaian Sengketa Konsumen
Kabupaten Karawang ( BPSK )
Definisi Hukum Pidana Objektif
Hukum Pidana Objektif dikenal juga dengan sebutan
“IUS POENALE” yang mempunyai pengertian ialah
peraturan yang mengandung keharusan atau larangan
terhadap pelanggaran dan diancam dengan hukuman
yang bersifat paksaan.
•Hukum Pidana Objektif termasuk juga Hukum Pidana
Materiil :
•1. Perbuatan apa yang dilarang
•2. Siapa yang dapat dihukum
•3.Hukuman apa yang dapat dijatuhkan kepada
pelanggar berdasarkan undang-undang
Definisi Hukum Pidana Subjektif
Hukum Pidana Subjectif sering disebut juga “ IUS
PUNIENDI” yang mempunyai arti adalah segala bentuk
aturan hak atau kewenangan negara untuk :
1. Menentukan larangan dalam upaya menciptakan
ketertiban umum
2. Memberlakukan hukum pidana yang wujudnya
menjatuhkan pidana kepada pelanggar sifatnya
memaksa
3. Menjalankan sanksi pidana kepada pelanggarnya
4. Kepada siapa berlakunya hukum pidana
Dalam hukum pidana terbagi dalam 3 aliran hukum pidana
yaitu :
1. Aliran Klasik
• Menitik beratkan kepada perbuatan“(daadstrafrecht)
• Bersifat Retributif & Refresif
• Membatasi hakim dalam menentukan jenis pidana
1.1 Karakteristik Aliran Hukum Pidana Klasik :
* Definisi hukum dari kejahatan
* Pidana harus sesuai dengan kejahatannya
* Doktrin kebebasan berkehendak
* Pidana mati untuk beberapa tindak pidana
* Tidak ada riset empiris; dan
* Pidana yang ditentukan secara pasti.
1. Asas legalitas (kepastian)
- tiada pidana tanpa undang-undang
- tiada tindak pidana tanpa undang-undang
- tiada penuntutan tanpa undang-undang
2. Asas kesalahan
Tidak ada pidana tanpa kesalahan(kesengajaan atau
kealpaan)
3. Asas pengimbalasan
Pembalasan
Aliran Modern ( positive )
Aliran ini disebut juga aliran positif karena dalam
mencari sebab kejahatan menggunakan metode ilmu
alam dan mempengaruhi penjahat secara positif
sejauh dia masih dapat diperbaiki. Intinya Perbuatan
seseorang itu harus dilihat secara kongkrit bahwa
perbuatan itu dipengaruhi oleh factor watak, biologis
dan lingkungan kemasyarakatan. Aliran ini bertitik
tolak pada :
•Pandangan determinisme karena manusia tidak
mempunyai kebebasan kehendak, tetapi dipengaruhi
oleh watak dan lingkungannya.
•Menolak pandangan pembalasan berdasarkan
kesalahan yang subyektif.
•Menghendaki adanya individualisasi pidana yang
bertujuan untuk mengadakan resosialisasi pelaku.
1.
* Menolak definisi hukum dari kejahatan
* Pidana harus sesuai dengan pelaku tindak pidana
* Doktrin determinisme
* Penghapusan pidana mati
* Riset empiris; dan
* Pidana yang tidak ditentukan secara pasti.
Menurut pandangan modern, hakim mempunyai
kekuasaan dalam menentukan :
1. Jenis Pidana (strafsoort)
2. Berat ringannya pidana (strafmaat)
3. Cara menjalankan pidana (strafmodliteit /
strafmodus)
Aliran sosiologis memandang hukum sebagai “kenyataan sosial”,
bukan sebagai kaidah. Oleh karena itu, jika dibandingkan
dengan postivisme mengenai persamaan dan perbedaan kedua
aliran tersebut, dapat dilihat sebagai berikut:
1. Positivisme memandang hukum tidak lain adalah kaidahkaidah yang tercantum dalam perundang-undanganm
sedangkan sosiologisme memandang hukum sebagai kenyataan
sosial dengan mempelajari tentang bagaimana dan mengapa dari
tingkah laku sosial yang berhubungan hukum dan pranatapranata hukum.
2. Kaum positivis melihat “law in books”, sedangkan kaum
sosiologis memandang “law in action”.
3. Positivisme memandang hukum sebagai sesuatu yang otonom
dan mandiri, sedangkan sosiologisme hukum memandang
hukum bukan sesuatu yang yang otonom melainkan sangat
dipengaruhi oleh faktor-faktor non-hukum yang ada dalam
masyarakat, seperti faktor ekonomi, politik, sosial, dan budaya.
4. Positivisme hanya mempersoalkan hukum sebagai das sollen,
sedangkan sosiologisme memandang hukum sebagai das sein.
JUSTICE FOR ALL
Download