ethic of communication

advertisement
ETIKA MORAL & HUKUM
DLM PROFESI
Endy SA
 Dr. P seorang dokter yang berpengalaman, baru saja
akan menyelesaikan tugas jaga malam disebuah
rumah sakit. Seorang muda dibawa ke RS oleh
ibunya, yang langsung pergi setelah berbicara dengan
suster jaga bahwa dia harus menjaga anaknya yang
lain. Si pasien mengalami perdarahan vaginal dan
sangat kesakitan. Dr.P melakukan pemeriksaan dan
menduga bahwa kemungkinan pasien mengalami
kguguran atau mencoba untuk melakukan aborsi. Dr.P
segera melakukan kuretase dan mengatakan kepada
suster untuk menanyakan kepada pasien apakah dia
bersedia opname di RS sampai keadaan benar-benar
baik. Dr.Q datang menggantikan dr.P yang pulang
tanpa berbicara langsung kepada pasien.
1. Komunikasi – dia tidak mencoba
mengkomunikasikan kepada pasien
mengenai kondisinya, pilihan-pilihan
tindakan dan kemampuan pasien jika dia
harus menginap
2. Izin- dia tidak mendapat izin dari pasien
mengenai tindakan yang dilakukan
3. Belas kasih-dia hanya menunjukkan
sedikit belas kasih kepada pasien
Tindakannya mungkin sangat
kompeten dan mungkin memang
benar capek diakhir tugas jaga
malamnya namun tidak
melepaskan dari kelalaian etik
I. Etika dan Moral
II. Etika dan Hukum
I. Etika dan Moral 1,2,3.
MORAL
Latin
 Morales, mos, moris,
adat, istiadat,kebiasaan,
cara, tingkah laku
 Tabiat, watak, akhlak,
cara hidup
ETIKA
Yunani
 Ethicos, ethosadat kebiasaan,
praktek
Hati nurani & penilaian (judgment)
Kegiatan praktis seseorang
Kamus besar bahasa Indonesia
ETIKA:
1. Ilmu tentang apa yang baik dan apa yang
buruk dan tentang hak dan kewajiban moral
(akhlak)
2. Kumpulan asas atau nilai yang berkenanan
dengan akhlak
3. Nilai mengenai benar dan salah yang dianut
suatu golongan atau masyarakat
Etika dibagi
(klasifikasi)
= 1. Etika Umum
2. Etika Khusus
- Individual
- Institusional
- Sosial
Filsafat : - kajian, ilmu filsafat
- moral & moralitas
Praktek : - pedoman & aturan
(profesional) baik & benar
A. Moral - Etika – Asas – Aturan - Kode Etik Profesi 1
1
Ajaran
Moral
Ajaran tentang bagaimana manusia
harus hidup dan bertindak menjadi
manusia yang baik
2
Moral
Sistem nilai tentang perbuatan manusia
yang dianggap baik/ buruk, benar / salah,
pantas / tidak pantas
3
Falsafah
Moral
Mencari penjelasan , mengapa perbuatan
tertentu dinilai baik/ buruk, benar/salah,
pantas /tidak pantas
4
Teori2
etika
Kerangka berpikir yang disusun oleh
filsuf tertentu-untuk memberi
pembenaran, mengapa suatu perbuatan
dinilai baik dari pendekatan moral
Moral - Etika – Asas – Aturan - Kode Etik Profesi
5
6
7
Ajaran
Asas2
Moral
etika
Asas-asas yang diturunkan dari teoriteori etika sebagai kaidah-kaidah dasar
moral bagi manusia
Aturan2
etika
Seperangkat norma atau pedoman untuk
mengukur perbuatan, berupa aturan dan
larangan yang didasarkan pada asas –
asas etika
Kode Etik
Profesi
Seperangkat aturan etika yang khusus
berlaku untuk semua anggota asosiasi
profesi tertentu, sebagai konsensus
bersama, yang memuat aturan dan
larangan yang wajib di taati oleh semua
anggota dalam menjalankan profesi
Asas – Asas Etika medis
Traditional
1. Beneficence
2. Non maleficence
(Primum non nocere)
3. Menghormati hidup
manusia
4. Konfidensialitas
5. Kejujuran (veracity)
6. Tidak mementingkan
diri
7. Budi Pekerti
Tingkah laku luhur
Asas-Asas Etika Medis
KONTEMPORER
1. - Menghormati otonomi
pasien
- Universal Human
right UN,
- HAM
2. Keadilan /justice
3. Berkata benar / truth
telling / veracity
B. Kaidah –Kaidah Dasar Moral
 Beneficence & non maleficence
 Respect for person
 Keadilan /justice
 Budi pekerti
Kegiatan-kegiatan :
• Pendidikan
• Penelitian & pengembangan
• Pelayanan
Kaidah dasar moral
1. Tindakan berbuat baik (beneficence)
 General beneficence :
 melindungi & mempertahankan hak yang lain
 mencegah terjadi kerugian pada yang lain,
 menghilangkan kondisi penyebab kerugian
pada yang lain,
 Specific beneficence:
 menolong orang cacat,
 menyelamatkan orang dari bahaya
beneficence
Mengutamakan kepentingan pasien
Memandang pasien/keluarga/sesuatu tak
hanya sejauh menguntungkan dokter/rumah
sakit/pihak lain
beneficence
Maksimalisasi akibat baik (termasuk jumlahnya
> akibat-buruk)
Menjamin nilai pokok : “apa saja yang ada,
pantas (elok) kita bersikap baik terhadapnya”
(apalagi ada yg hidup).
2. Tidak merugikan atau nonmaleficence
/primum non nocere
 Sisi komplementer beneficence dari sudut
pandang pasien, seperti :
 Tidak boleh berbuat jahat (evil) atau membuat
derita (harm) pasien
 Minimalisasi akibat buruk
Nonmaleficence
Kewajiban dokter untuk menganut ini
berdasarkan hal-hal :
a. Pasien dalam keadaan amat berbahaya atau
berisiko hilangnya sesuatu yang penting
b. Dokter sanggup mencegah bahaya atau
kehilangan tersebut
nonmaleficence
c. Tindakan kedokteran tadi terbukti efektif
d. Manfaat bagi pasien > kerugian dokter
(hanya mengalami risiko minimal).
Norma tunggal, isinya larangan.
3. Keadilan
 Treat similar cases in a similar way = justice
within morality.
 Memberi perlakuan sama untuk setiap orang
(keadilan sebagai fairness) yakni :
a. Memberi sumbangan relatif sama terhadap
kebahagiaan diukur dari kebutuhan mereka
(kesamaan sumbangan sesuai kebutuhan
pasien yang memerlukan /
membahagiakannya)
keadilan
b. Menuntut pengorbanan relatif sama, diukur
dengan kemampuan mereka (kesamaan beban
sesuai dengan kemampuan pasien).
Tujuan : Menjamin nilai tak berhingga setiap
pasien sebagai mahluk berakal budi
(bermartabat), khususnya : yang-hak dan yangbaik
keadilan
 Jenis keadilan :
a. Komparatif (perbandingan antar kebutuhan
penerima).
b.Distributif (membagi sumber) : kebajikan
membagikan sumber-sumber kenikmatan dan beban
bersama, dengan cara rata/merata, sesuai
keselarasan sifat dan tingkat perbedaan jasmanirohani; secara material kepada :
 Setiap orang andil yang sama
 Setiap orang sesuai dengan kebutuhannya
 Setiap orang sesuai upayanya.
 Setiap orang sesuai kontribusinya
 Setiap orang sesuai jasanya
 Setiap orang sesuai bursa pasar bebas
keadilan
c. Sosial : kebajikan melaksanakan dan memberikan
kemakmuran dan kesejahteraan bersama :
 Utilitarian : memaksimalkan kemanfaatan publik
dengan strategi menekankan efisiensi social dan
memaksimalkan nikmat/keuntungan bagi pasien.
 Libertarian : menekankan hak kemerdekaan social –
ekonomi (mementingkan prosedur adil > hasil
substantif/materiil).
 Komunitarian : mementingkan tradisi komunitas
tertentu.
 Egalitarian : kesamaan akses terhadap nikmat
dalam hidup yang dianggap bernilai oleh setiap
individu rasional (sering menerapkan criteria
material kebutuhan dan kesamaan).
keadilan
d. Hukum (umum) :
 Tukar menukar : kebajikan memberikan /
mengembalikan hak-hak kepada yang berhak.
 pembagian sesuai dengan hukum (pengaturan untuk
kedamaian hidup bersama) mencapai kesejahteraan
umum.[1]

[1] Criminal justice (penjatuhan sanksi pidana bagi
terpidana) dan rectificatory justice (pemberian
kompensasi pelanggaran transaksi/kontrak, melalui
hukum perdata). PBE , hal 327.
4. Otonomi (self-determination)

Pandangan Kant : otonomi kehendak = otonomi moral yakni :
kebebasan bertindak, memutuskan (memilih) dan
menentukan diri sendiri sesuai dengan kesadaran terbaik
bagi dirinya yang ditentukan sendiri tanpa hambatan,
paksaan atau campur-tangan pihak luar (heteronomi), suatu
motivasi dari dalam berdasar prinsip rasional atau selflegislation dari manusia.

Pandangan J. Stuart Mill : otonomi tindakan/pemikiran =
otonomi individu, yakni kemampuan melakukan pemikiran
dan tindakan (merealisasikan keputusan dan kemampuan
melaksanakannya), hak penentuan diri dari sisi pandang
pribadi.
otonomi
Menghendaki, menyetujui, membenarkan,
mendukung, membela, membiarkan pasien
demi dirinya sendiri = otonom (sebagai mahluk
bermartabat).
Didewa-dewakan di Anglo-American yang
individualismenya tinggi
otonomi
Kaidah ikutannya ialah : Tell the truth,
hormatilah hak privasi klien, lindungi
informasi konfidensial, mintalah consent
untuk intervensi diri pasien; bila ditanya,
bantulah membuat keputusan penting.
Erat terkait dengan doktrin informedconsent, kompetensi (termasuk untuk
kepentingan peradilan), penggunaan
teknologi baru, dampak yang
dimaksudkan (intended) atau dampak tak
laik-bayang (foreseen effects), letting die.
Selain 4 prinsip atau kaidah dasar moral tersebut,
dikenal prinsip "turunan"nya dengan nilai-nilai seperti :
1. Berani berkata benar/kejujuran (veracity) : truth
telling
2. Kesetiaan (fidelity) : keep promise
3. Privacy (dari otonomi dan beneficence)
4. Konfidensialitas.
5. Menghormati kontrak (perjanjian)
6. Ketulusan (honesty) : tidak menyesatkan informasi
kepada pasien atau pihak ketiga seperti perusahaan
asuransi, pemerintah, dll.
7. Menghindari membunuh
Keberlakuan etika kedokteran sebagai norma:
1. Bersyarat (hipotetis) = teleologis
 Betul tidaknya tindakan bergantung pada akibatakibatnya.
a. Bila akibat baik : wajib;
b. Bila buruk
: haram.
 Hendak dicapai tujuan kedokteran tertentu namun
tetap dalam bingkai “mempertahankan martabat
kemanusiaan” (bukan tujuan asal-asalan).
 Dasar : pengalaman (efektif – efisien).
 Kelemahan : menghilangkan dasar pembawa
kepastian etis, tidak berketegasan, pemicu “tujuan
menghalalkan cara”.
2. Tidak bersyarat (kategoris) = deontologis
 Tidak bergantung pada tujuan tertentu
 Betul tidaknya tindakan bergantung pada
perbuatan/cara bertindak itu sendiri, bukan
pada akibat tindakan.
 Dasar : kewajiban/keharusan mutlak/absolut
atau “kewajiban demi kewajiban”.
 Kelemahan : pemicu fanatisme buta, tidak
luwes dalam perkembangan jaman, tidak
mampu memecahkan dilema etis.
Sifat etika kedokteran
1. Etika khusus (tidak sepenuhnya sama dengan etika
umum)
2. Etika sosial (kewajiban terhadap manusia lain /
pasien).
3. Etika individual (kewajiban terhadap diri sendiri =
selfimposed, zelfoplegging)
4. Etika normatif (mengacu ke deontologis, kewajiban
ke arah norma-norma yang seringkali mendasar dan
mengandung 4 sisi kewajiban = gesinnung yakni diri
sendiri, umum, teman sejawat dan pasien/klien &
masyarakat khusus lainnya)
Sifat etika kedokteran
5. Etika
profesi (biasa):
a. Bagian etika sosial tentang kewajiban &
tanggungjawab profesi
b. Bagian etika khusus yang mempertanyakan nilainilai, norma-norma/kewajiban-kewajiban dan
keutamaan-keutamaan moral
c.Sebagian isinya dilindungi hukum, misal hak
kebebasan untuk menyimpan rahasia pasien/rahasia
jabatan (verschoningsrecht)
Sifat etika kedokteran
d. Hanya bisa dirumuskan berdasarkan pengetahuan &
pengalaman profesi kedokteran.
e.Untuk menjawab masalah yang dihadapi (bukan
etika apriori); karena telah berabad-abad, yang-baik &
yang-buruk tadi dituangkan dalam kode etik (sebagai
kumpulan norma atau moralitas profesi)
f. Isi : 2 norma pokok :
i. Sikap bertanggungjawab atas hasil pekerjaan dan
dampak praktek profesi bagi orang lain;
ii. Bersikap adil dan menghormati Hak Asasi
Manusia (HAM).
Sifat etika kedokteran
6. Etika profesi luhur/mulia :
 Isi : 2 norma etika profesi biasa ditambah dengan :
 Bebas pamrih (kepentingan pribadi dokter <
kepentingan pasien) = altruisme.
 Ada idealisme : tekad untuk mempertahankan citacita luhur/etos profesi = l’esprit de corpse pour
officium nobile
7. Ruang lingkup kesadaran etis : prihatin terhadap
krisis moral akibat pengaruh teknologisasi dan
komersialisasi dunia kedokteran.
F. Bidang Kesehatan5
1.
2.
3.
4.
5.
Kode Etik Kedokteran
Kode Etik Keparawatan
Kode Etik Rumah Sakit
Majelis Kehormatan Etik Kedokteran (MKEK)
Majelis Kehormatan Etik Rumah Sakit
(MAKERSI)
6. Majelis Kehormatan DISIPLIN Kedokteran
Indonesia (MKDKI)
II. ETIKA & HUKUM
1.
2.
Hukum menurut standar moral yang minimal
 larangan-larangan
Etika menurut standar moral yang tertinggi
 larangan-larangan dan hal- hal yang
positif dokter kepada pasiennya.
Perbuatan seorang yang profesional
a.
b.
c.
d.
Etis dan legal
Etis tidak legal – tidak ada – kriteria etis melanggar
hukum
Tidak Etis dan legal – dokter mengiklankan diri
Tak Etis dan tidak legal – dokter membuat tagihan
palsu kepada perusahaan
asuransi beaya pengobatan &
perawatan
Kasus : US Supreme Court (Makamah
Agung AS). Memutuskan – Hak
konstitutional seorang wanita untuk
dapat melakukan aborsi kehamilan
trisemester pertama
 kontroversi moral & etika : - prochoice
- prolife
Keputusan
Medis
Pilar Keputusan Klinis sehari2
-
Keputusan
etis
Indikasi
Biomedik
medik
Keputusan
Medis
Pilar Keputusan Klinis sehari2
-
Keputusan
etis
Infomedik
pilihan pasien
kualitas hidup
fitur kontekstual
Mindset non medis
Struktur PsikoSosio-budaya
Principles-based ethics 
Prima Facie
T.Beauchamp & Childress (1994) & Veatch (1989)
Patient’s preference
Beneficence
Autonomy
Non Maleficence
Contextual features
Quality of life
Value-based medicine
Justice
Clinical Decision
EBM
Making
Download