AGBNielsen

advertisement
Edisi ke-34 | Juni | 2009
Data Highlights
♦♦ Pemilu Mengangkat Popularitas Berita ...................................... 1
♦♦ Reality Show Masih Kompetitif ................................................... 2
Opinion
♦♦ Bahasa & Ideologi TV ................................................................. 3
Client’s Update
♦♦ Menuju Pengukuran Iklan Non-Klasik ........................................ 4
Berdasarkan hasil survei, ragam program bincang-bincang ini menarik perhatian terhadap kandidat yang berbeda-beda. Misalnya, program Presiden Pilihan
(TVOne) meraih penonton berita terbanyak (rating 5,4%) saat menghadirkan
Jusuf Kalla. Sementara penonton berita terbanyak Atas Nama Rakyat (TVOne)
(5,2) diperoleh saat penampilan Megawati, seperti halnya program Capres Bicara
Hukum (Global TV) (2,3) dan
Barometer (SCTV) (3,5). Lain
TRAINING AGENDA
halnya dengan Capres Bicara,
yang meraih penonton berita
dari 09.30 sampai 12.00 terbanyak (6,4) saat kemunSubjek: Viewing Behavior tingkat dasar
culan SBY. Namun perolehan
Senin, 6 Jul 2009 rating ini sangat tergantung
pada jam tayang program,
Senin, 27 Jul 2009 kompetisi antarprogram dan
stasiun TV yang menyiarkannya.
Legislative
Election
1.5
1.0
News Channel
Other Channel
Senin, 6 & 20 Jul 2009
dari 14.00 sampai 16.00
Silahkan
mendaftar
melalui Client
Service kami.
31/05/2009 06/06/2009
sebanyak 95% dari populasi TV usia pemilih (20 tahun ke atas) yang berjumlah
31,7 juta di 10 kota menyaksikan iklan pasangan SBY-Boediono minimal satu kali
(total spot 1765). Dengan jumlah iklan yang lebih sedikit (969 spot), iklan JKWiranto menjangkau 92% dari populasi TV usia 20+ yang melihat iklan tersebut
minimal satu kali. Sementara itu, iklan Megawati-Prabowo (dengan hanya 189
spot) menjangkau 73% dari pemirsa usia pemilih yang menontonnya minimal satu
kali. Dengan jumlah iklan terbanyak, iklan SBY-Boediono menjangkau persentase
tertinggi dari pemirsa pemilih usia 20+ yang menontonnya minimal lima kali (87%).
95%
92%
87%
77%
73%
Subjek: Post Evaluation tingkat dasar
Metodologi TAM
17/05/2009 23/05/2009
Rating Program Berita Mingguan; Periode: Januari-13 Juni 2009
Target Pemirsa: Laki-laki 40+ AB; Populasi TV: 1,7 juta
Market: Jakarta, Surabaya, Medan, Semarang, Bandung, Makassar, Yogyakarta, Palembang,
Denpasar, Banjarmasin
Arianna
Sementara itu, analisis terhadap kepemirsaan tayangan
iklan ketiga pasang kandidat
tersebut
memperlihatkan
bahwa sejak tayang di bulan Mei hingga 13 Juni lalu,
03/05/2009 09/05/2009
0.5
19/04/2009 25/04/2009
Dengan semakin dekatnya Pemilu Presiden, hampir semua stasiun TV menayangkan program-program berita, pada umumnya dalam format bincang-bincang, yang
menghadirkan para Capres dan Cawapres. Di awal Juni, durasi tayang program ini
mencapai 9 jam per hari, 2 jam lebih banyak daripada di awal tahun.
The Candidates
Announcement
05/04/2009 11/04/2009
Selama Januari-Juni, tercatat pasokan berita tertinggi adalah di bulan April seiring dengan pelaksanaan Pemilu Legislatif, yaitu mencapai rata-rata 45 jam sehari
di antara 10 TV swasta nasional. Saat ini, menjelang pelaksanaan Pemilu Presiden,
jumlah jam tayang berita telah mencapai rata-rata 43 jam per hari. Dibandingkan bulan Maret, waktu menonton berita pemirsa berita pun bertambah 8 menit
menjadi 32 menit per hari. Menjelang Pemilu Presiden, jam menonton mereka
menjadi 34 menit per hari pada bulan Mei dan Juni.
2.0
22/03/2009 28/03/2009
Jumlah pemirsa berita di stasiun TV berita bertambah sejak Pemilu Legislatif di
bulan April, dan sesudahnya jumlahnya bahkan melampaui perolehan pemirsa berita di stasiun TV non-berita. Di minggu pelaksanaan Pemilu Legislatif, jumlahnya
mencapai rata-rata 24.000 orang, lebih tinggi 14% dari stasiun TV non-berita. Sementara di minggu pengumuman kandidat Capres-Cawapres di pertengahan Mei,
jumlahnya mencapai 31.000, lebih tinggi 24% dari stasiun TV non-berita.
Pemilu Mengangkat
Popularitas Berita
08/03/2009 14/03/2009
Berdasarkan hasil survei kepemirsaan TV, jumlah pemirsa berita (laki-laki usia 40+
dari kelas atas yang berjumlah 1,7 juta orang di 10 kota survei di Indonesia) pada
stasiun TV berita (Metro TV dan TVOne) naik 28% di kuartal 2 (April-Juni) 2009
menjadi 23.000 orang dibandingkan dengan kuartal pertama. Sementara jumlah
pemirsa berita di stasiun TV non-berita relatif tetap pada jumlah 21.000 orang.
22/02/2009 28/02/2009
Data Highlights
08/02/2009 14/02/2009
w w w. a g b n i e l s e n . c o . i d
AGBNielsen
Newsletter
25/01/2009 31/01/2009
TAM Around the Globe ..................................... 6
11/01/2009 17/01/2009
♦♦ Iklan Produk Paling Ditonton di Mei ........................................... 6
28/12/2008 03/01/2009
♦♦ A2/M2 Three Screen Report ...................................................... 5
1765
30%
969
189
MEGASBYMEGA&PRABOWO
SBY&BOEDIONO
PRABOWO
BOEDIONO
No. of Spot
Reach 1+
JK-WIRANTO
JK&WIRANTO
Reach 5+
Iklan Para Kandidat: Jumlah Spot vs Reach 1+ dan Reach 5+; Periode: Mei-13 Juni 2009
Target Pemirsa: 20 tahun ke atas; Populasi TV: 31,7 juta
Market: Jakarta, Surabaya, Medan, Semarang, Bandung, Makassar, Yogyakarta, Palembang,
Denpasar, Banjarmasin
p. 1
Edisi ke-34 | Juni | 2009
Newsletter
Data Highlights
REALITY SHOW
MASIH KOMPETITIF
Hingga bulan Mei 2009, trend reality show belum tergoyahkan. Jika popularitas diukur dari jumlah penonton,
maka berdasarkan riset AGBNielsen, reality show masih
populer dibandingkan sinetron yang sempat menjadi
primadona pada beberapa waktu yang lalu.
Dari sisi jam tayang, jumlah jam tayang reality show
di 10 TV swasta nasional pun bertambah. Sejak 2007,
durasi tayangnya telah bertambah hampir dua kali lipat
dari sekitar 4 jam per hari menjadi 8 jam per hari di
tahun 2009.
Pada tahun 2007, program yang memperoleh rating tertinggi di kelompok usia di atas 5 tahun di 10 kota didominasi oleh acara musik dan film lokal bertema legenda. Di
tahun 2008, program spesial olahraga, seperti Liga Djarum, Asia Cup, Thomas dan Uber Cup, adalah beberapa
di antaranya yang sukses mendulang pemirsa terbanyak.
Namun program (kontes) musik masih memikat penonton, saat reality show mulai unjuk gigi. Sementara itu,
sinetron harus bersaing ketat dengan program-program
tersebut untuk mempertahankan atau meraih penonton.
Di awal 2009 (Januari-Mei), beberapa judul reality show
memperkuat posisinya di daftar urutan program dengan
rating teratas, mengalahkan perolehan jumlah penonton
sinetron.
Jam Tayang Reality Show pre Hari, 10 TV swasta nasional
Periode: 2007-2009 (Januari-Mei)
Market: Jakarta, Surabaya, Medan, Semarang, Bandung, Makassar, Yogyakarta, Palembang, Denpasar, Banjarmasin
Top 10 Program
Periode: Januari-Mei 2009
Target pemirsa: Usia 5 tahun ke atas
Market: Jakarta, Surabaya, Medan, Semarang, Bandung, Makassar, Yogyakarta, Palembang, Denpasar, Banjarmasin
Program
Program Type
Rating (%)
Share (%)
TERMEHEK MEHEK
Entertainment:
Reality Show
10.2
36.4
HAPPY FAMILY ME
VS MOM SPC ULT
Entertainment:
Reality Show
8.7
26.8
TERMEHEK MEHEK
SPS TAHUN BARU
Entertainment:
Reality Show
8.5
31.8
CINTA FITRI SEASON 3
Series:Drama
8.1
25.9
THE TARIX JABRIX
Movie:Drama
8.1
27.2
AFC 2011
ACQ:INDONESIA
VS AU(L
Sport:Match
7.8
23.5
FINDING NEMO
Movie: Animation/Puppet
7.6
26.8
INDONESIAN
MOVIE AWARDS
Special:Special
Event
6.9
33.8
SCTV MUSIC
AWARDS
Special:Special
Event
6.8
26.0
AMI 12TH ANUGERAH MUSIK INDONE
Special:Special
Event
6.5
27.8
7:58
6:55
4:25
2007
2008
2009 (Jan-May)
Dalam sebulan terakhir, program reality show yang
menyedot paling banyak penonton di antaranya adalah
Termehek-Mehek, Happy Family Me vs. Mom dan Jika
Aku Menjadi.
Top 10 Program Reality Show
Periode: Mei 2009
Target pemirsa: Usia 5 tahun ke atas
Market: Jakarta, Surabaya, Medan, Semarang, Bandung, Makassar, Yogyakarta, Palembang, Denpasar, Banjarmasin
Program
Channel
Rating (%)
Share (%)
TERMEHEK MEHEK
TRANS
9.6
34.0
HAPPY FAMILY ME VS MOM
TRANS
5.2
16.8
24.4
JIKA AKU MENJADI
TRANS
5.2
REALIGI REALITI RELIGI
TRANS
5.0
15.4
JAIL!
TRANS
3.2
10.2
RCTI
3.1
18.6
TANGAN DI ATAS
TRANS
2.8
14.9
TUKAR NASIB
SCTV
2.8
12.9
TAK ADA YANG ABADI
RCTI
2.8
16.9
DIBAYAR LUNAS RCTI
RCTI
2.8
14.7
MASIHKAH KAU MENCINTAIKU???
p. 2
Edisi ke-34 | Juni | 2009
Newsletter
Opinion
Bahasa & Ideologi TV
Pada dasarnya, bahasa secara alami tidaklah objektif ataupun
netral; sebaliknya, bahasa bermuatan personal, sosial-budaya,
atau ideologi, tidak peduli seberapa halus kata-kata dari bahasa itu. Di samping itu, bahasa itu sendiri terbatas dalam menggambarkan fenomena, baik fisik maupun abstrak. Kata, khususnya kata sifat, cenderung memiliki dua kutub (baik vs. buruk;
kaya vs. miskin; pandai vs. bodoh; dll); makna kata seringkali
ambigu, kontekstual, dan mengandung penyimpangan budaya.
Umumnya, berita adalah konstruksi (ulang) jurnalis tentang peristiwa
atau pernyataan yang telah berlalu. Berita, terutama ketika tidak
direkam dan tidak diperiksa ulang, adalah berdasarkan perspektif
jurnalis yang bisa saja berbeda dengan perspektif politikus, ilmuwan,
pebisnis atau orang awam. Akibatnya, jurnalis dan editor berita akan
memilih kata-kata tertentu yang memenuhi persyaratan seseorang
atau suatu peristiwa, namun pada waktu yang sama mereka tidak
objektif dengan mengeliminasi atribut penting lainnya yang justru
menggambarkan karakteristik seseorang atau peristiwa tersebut.
Kita cenderung memberi tekanan pada pernyataan tertentu, sementara mengabaikan yang lain, dan kita tidak pernah tahu secara pasti
apakah yang sebenarnya dikatakan seseorang seperti katanya, karena
pikirannya mungkin berbeda dengan perkataannya. Studi mengenai
persepsi mendukung karakter aktif dan selektif dalam proses ini.
Secara singkat, Merril berpendapat, objektivitas jurnalistik tidaklah
mungkin; hal ini bahkan menjadi mitos (Dennis dan Merrill, 1996).
Bahwa kita menafsirkan situasi tertentu dalam kerangka referensi
subjektif tertentu dapat dilihat dari cerita berikut: Seorang lelaki dan putranya mengalami kecelakaan saat berkendara menuju
pertandingan football. Sang ayah meninggal dunia dan si anak menderita luka parah yang kemudian dilarikan ke rumah sakit untuk dioperasi. Seorang ahli bedah datang ke ruang gawat darurat untuk
memeriksa anak muda itu. Ia mendadak pucat, dan berkata “Saya
tidak bisa mengoperasinya. Ia putra saya” (Griffin, 1997). Mulanya, mungkin Anda bingung mengapa demikian. Intinya adalah
bahwa Anda telah terpenjara oleh makna subjektif Anda atas kata
”ahli bedah”. Anda berpikir bahwa “ahli bedah” berarti seorang
lelaki dan tidak mungkin seorang perempuan. Dari cerita di atas,
jelaslah bahwa ahli bedah yang dimaksud adalah seorang perempuan.
Sekarang, mari kita teliti karakter bahasa. Bahasa adalah ikatan
budaya. Dengan kata lain, bahasa adalah perpanjangan budaya.
Menurut hipotesis Sapir-Whorf, bahasa menandakan dunia simbol
yang khas yang mewakili pikiran, pengalaman spiritual, emosi, dan
kebutuhan penggunanya. Bahasa yang berbeda mempengaruhi penggunanya untuk melihat lingkungan fisik dan sosial mereka dan memikirkannya dengan cara yang berbeda, dan kemudian mengarahkan
mereka untuk bertingkah laku berbeda. Misalnya, fakta bahwa orang
Eskimo memiliki lebih dari 20 kata untuk menggambarkan salju menandakan bahwa mereka lebih sensitif dalam membedakannya. Ada
kata tertentu untuk turunnya salju, salju lembut di tanah, salju
yang ditimbulkan angin, dll. Contoh lainnya, dalam bahasa Indonesia
kita tidak memiliki sinonim untuk bahasa Inggris ”privacy” karena
”privacy” secara tradisional bukanlah bagian dari cara hidup kita.
Orang Indonesia, seperti kebanyakan orang Timur, cenderung lebih
kolektivistik, sebaliknya orang Barat cenderung lebih individualistik.
Seperti bahasa tulis, bahasa visual tidak jauh berbeda. Berita yang
dipancarkan oleh media elektronik seperti televisi tidaklah pernah
netral. Cara pengambilan gambar, sudut pengambilannya, dan gerakan kamera menghadirkan beragam efek bagi pemirsa televisi. Close
up menggambarkan keakraban, dan digunakan untuk menangkap rona
emosi dari karakter yang ditampilkan; medium shot berarti objektivitas, netralitas, dan ketidakberpihakan; long shot berarti konteks,
ruang, dan jarak, dan juga digunakan untuk mengurangi keterlibatan
emosional para penonton; full shot berarti hubungan sosial; pan down
memberikan pencitraan bahwa seseorang berstatus lebih rendah; pan
up memberikan pencitraan bahwa seseorang berstatus lebih tinggi;
zoom in berarti pengamatan dan fokus; slow motion menimbulkan
kesan lembut dan romantis; dan fast motion menciptakan kesan dramatis. Dengan demikian, untuk membuat seseorang terlihat superior,
atau memberikan citra bahwa konvensi politik tertentu memikat banyak orang, kameramen bisa menggunakan salah satu teknik di atas,
yaitu dengan mengambil gambar kandidat dari bawah dan mengambil
gambar titik keramaian massa tertentu, meski pada kenyataannya
kandidat politik tersebut adalah politikus kelas menengah yang memberikan pidato politik pada sejumlah kecil orang di dalam sebuah
ruangan yang luas. Tonton bagaimana jurnalis TV menggunakan perspektif kamera saat mengambil gambar peristiwa politik yang terjadi
pada pemilihan presiden Indonesia tahun ini.
Persepsi apakah berita menarik atau tidak juga berkontribusi terhadap objektivitas tertentu. Orang Amerika tidak tahu banyak tentang
apa yang terjadi di belahan bumi lainnya, terutama di Asia dan Afrika. Bahkan jika mereka mendengar berita di negara yang terpencil, kebanyakan mungkin berita tentang bencana alam, kekacauan
politik, dan peristiwa negatif lainnya yang dianggap dramatis dan
menarik hati (manusia secara alami lebih tertarik pada sesuatu yang
dapat menjawab rasa penasaran mereka). Jadi media massa memilih peristiwa tertentu untuk dicetak atau disiarkan sebagai berita,
dan para jurnalis fokus pada aspek tertentu dengan mengabaikan
yang lain yang mungkin lebih penting, paling tidak dalam pandangan masyarakat atau pemerintah lokal. Itulah mengapa peribahasa
“Berita buruk adalah berita baik” terkenal di kalangan jurnalis.
Kesimpulannya, untuk menjadi jurnalis yang baik bukan berarti Anda
selalu objektif dan tidak memihak pada apapun; namun, Anda harus
selalu waspada pada bagaimana karakteristik personal, sosial, dan
budaya Anda mempengaruhi persepsi Anda tentang dunia dan meminimalisir ketidakadilan saat mengkonstruksi berita. Idealnya, jurnalis
harus selalu berada pada pihak yang menderita, siapapun mereka,
terutama mereka yang diabaikan oleh pihak yang memiliki kekuasaan.
Prof. Deddy Mulyana, Ph.D., Dekan dan Profesor – Fakultas Ilmu Komunikasi,
Universitas Padjadjaran, Bandung
p. 3
Edisi ke-34 | Juni | 2009
Newsletter
Menuju pengukuran
iklan non-klasik
Client’s Update
Seiring dengan semakin berkembangnya kreativitas periklanan, AGBNielsen juga mencoba menciptakan dan mengembangkan pengukuran atas
beragam jenis iklan TV. Solusi yang diberikan ini memungkinkan untuk mengukur kepemirsaan atas format-iklan-di dalam-program (iklan nonklasik), yang pada tahapan awal akan lebih difokuskan pada empat tipe iklan TV, yaitu running text, super impose, template, dan squeeze
frame.
Basis data telah diperluas karena
struktur iklan-di dalam-program ini mematahkan aturan tradisional dari data
monitoring TV. Iklan klasik memiliki jam
tayang yang unik dan jelas, sementara
iklan non-klasik memiliki waktu mulai
dan akhir yang beragam di dalam
program. Iklan klasik menggunakan
keseluruhan layar sebagai satu-satunya
yang menampilkan pesan saat disiarkan,
sementara iklan non-klasik menumpang pada program dan seharusnya
dilaporkan sebagai berbagi layar
siaran dengan program.
Di bawah ini adalah contoh laporan
iklan non-klasik. Iklan non-klasik,
yang dikategorikan menjadi product
placement, diklasifikasikan menjadi
running text, super impose, template, dan squeeze frame.
Apa manfaatnya?
• Menambah dimensi lain dari analisis
terhadap strategi iklan; membantu
pengiklan dan agensi iklan:
– untuk memahami nilai yang dibawa
oleh iklan non-klasik pada sebuah
kampanye.
– untuk menganalisis perkembangan
bentuk iklan non-klasik, selain iklan
klasik.
– untuk mengevaluasi iklan sisipan
terkait dengan jangkauan pemirsa
(reach) dan GRP.
• Akan tersedia di dalam Arianna
(pada environment yang berbeda)
yang memungkinkan analisis penempatan secara kuantitatif dengan
menggunakan variabel dan laporan
Post Evaluation yang sudah ada saat
ini.
Spot Type:
- Within (traditional/loose spot)
- Product placement
Pemantauan terhadap iklan non-klasik
akan dimulai berdasarkan permintaan dan data akan disediakan secara
ekslusif (kecuali disepakati berbeda).
Untuk informasi lebih lanjut mengenai pengukuran iklan non-klasik, silahkan menghubungi Marketing Service kami: Christina (228).
p. 4
Edisi ke-34 | Juni | 2009
Newsletter
Client’s Update
Orang Amerika mungkin mengkonsumsi video
“best screen available”, namun waktu mengkonsumsi TV, Internet dan Mobile video mereka
tetap meningkat. Hasil laporan Nielsen’s Three
Screen terbaru menyatakan – analisis regular
dari Nielsen’s Anywhere Anytime Media Measurement (A2/M2) – menunjukkan, rata-rata setiap
bulan orang Amerika menonton TV kira-kira 153
jam di rumah. Selain itu, 131 juta orang Amerika
yang menonton video melalui internet rata-rata
menonton video online selama 3 jam setiap bulan di rumah ataupun di kantor. 13,4 juta orang
Amerika yang menonton video melalui ponsel
rata-rata menghabiskan sekitar 3,5 jam setiap
bulan.
Data mengenai TV dan Internet dalam laporan ini
diperoleh dari panel Internet dan TV nasional Nielsen,
yang diukur secara elektronik dan dilaporkan dalam
basis regular. Data mengenai ponsel dikumpulkan oleh
Nielsen melalui survei per kuartal dan memberikan
informasi awal mengenai bagaimana pengguna pemula
melaporkan penggunaan mobile video mereka.
Fakta Kunci
• Televisi masih menjadi pilihan dominan orang Amerika yang menonton video. Hampir 99% video di AS ditonton
melalui televisi.
• Penggunaan TV tradisional di AS masih tinggi di sepanjang waktu dengan rata-rata 153 jam per bulan. Secara
keseluruhan, dewasa usia 18-24 tahun menghabiskan waktu yang sama untuk penggunaan DVR (perekam video
digital) dan video online – mereka melakukan alihwaktu (timeshift) televisi sebanyak 5 jam, 47 menit per bulan,
dan video di internet 5 jam, 3 menit per bulan.
• Selama kuartal pertama, pertumbuhan video online didorong oleh pemasaran produk yang kuat dan kegiatan
media besar, termasuk pelantikan Presiden, Super Bowl, dan March Madness.
• Remaja usia 13-17 tahun menjadi penonton penggemar mobile video; rata-rata mereka menonton 6,5 jam video
melalui ponsel mereka setiap bulan.
Kecenderungan Menonton
• Penggunaan alihwaktu dengan DVR naik 40% dari tahun lalu, di mana orang Amerika memutar ulang 8 jam, 13
menit per bulan. Kenaikan ini lebih besar daripada biasanya, seiring dengan adanya pemogokan penulis naskah
pada 2008 dan ketiadaan program TV dengan naskah asli.
• Dengan meningkatnya level pita lebar di AS, pemirsa video online akan terus tumbuh karena konsumen mulai
meningkatkan kemampuan PC mereka untuk mendukung konsumsi video mereka yang juga meningkat. Pertumbuhan juga berpusat pada bagaimana saluran pita lebar mempromosikan diri. Seiring dengan pemasaran yang
agresif dari sejumlah situs, mereka akan menaikkan level pertumbuhan dengan menciptakan permintaan.
• Kepemirsaan mobile video berkembang signifikan sebesar
52% di kuartal pertama 2009 dibandingkan tahun sebelumLaporan per kuartal ini dipublikasikan oleh
The Nielsen Company. Untuk informasi lebih lanjut,
nya, naik hingga lebih dari 13 juta orang Amerika. Kategori
silahkan hubungi perwakilan Nielsen Anda.
yang paling banyak ditonton melalui ponsel adalah komedi dan
prakiraan cuaca.
p. 5
Edisi ke-34 | Juni | 2009
Newsletter
Dalam acara WM3 (Worldwide Multi Media Measurement) juga dilaporkan
bahwa kepemirsaan TV harian di seluruh dunia meningkat lima menit per hari
dalam lima tahun terakhir, yang setara dengan 3 milyar penonton potensial.
>>
TAM Around the Globe
Rata-rata kepemirsaan TV harian saat ini adalah 3 jam 8 menit, naik 2 menit
dari tahun 2008. Angka ini berdasarkan data dari 76 wilayah di seluruh dunia
yang dikumpulkan oleh Eurodata TV Worldwide di Perancis.
Faktor-faktor yang mempengaruhi pertumbuhan TV termasuk perkembangan
pilihan digital, mencakup lebih banyak saluran, dan perbaikan isi siaran.
Meningkatnya lintas-fertilisasi TV dengan komputer melalui internet dan
ponsel juga merupakan pengaruh yang berkembang di banyak pasar.
Sumber: warc.com
Tradisional TV semakin terjepit – Mampu membayar tagihan bulanan
“hanya” untuk beberapa ratus channel TV sepertinya akan menjadi kenangan yang menarik perhatian para penonton di masa depan. Masa depan itu bagi banyak orang, khususnya yang berusia di bawah 30 tahun,
adalah saat ini. Orang-orang ini menonton acara TV favorit mereka kapanpun mereka inginkan – melalui komputer atau dari komputer ke televisi
mereka – dan tanpa membayar tagihan TV kabel bulanan.
ESOMAR, panduan kepenontonan di-luar-rumah dan pertumbuhan TV STOCKHOLM: ESOMAR, badan profesional riset pemasaran, mengusulkan
cara baru untuk mengukur performa iklan di-luar-rumah.
Menurut ESOMAR, sistem GOODHAM yang baru akan melacak terpaan terhadap pesan iklan di poster dan mobilitas dari beragam kelompok populasi melalui lingkungan di-luar-rumah yang sangat luas jangkauannya. Masih
menurut ESOMAR, sistem ini akan mengkombinasikan beragam pengukuran
yang ada saat ini (survei perjalanan, pembobotan lalulintas, klasifikasi panel
dan studi visibilitas) ke dalam satu sistem yang terintegrasi.
Bagaimanapun, diakui bahwa pada tahap ini sistem yang diajukan hanya cocok untuk panel tetap dibandingkan untuk panel video.
>>
Client’s Update
Iklan Produk
Paling Ditonton
di Mei
Produk
GRP
Jumlah Spot
MOBILE 8 FREN - CDMA SIM
CARD
4.168%
3238
DJARUM KUDUS, PT
2.771%
1141
AQUA - MINERAL WATER
2.746%
2761
2.491%
1952
2.463%
1839
3(THREE) - SIM CARD
SEDAAP - INSTANT NOODLE
Komersial TV, GRP (Gross Rating Points), hanya produk komersial
Penonton yang demikian adalah pelopor dari ekonomi yang kuat, dan kekuatan sosial yang dapat melakukan, kepada industri penyiaran, TV kabel dan
satelit, apa yang sudah dilakukan berita online gratis terhadap surat kabar.
Semua tentang kreasi, produksi, dan pengiriman TV bisa saja berubah. Saat
ini, menurut Forrester, episode penuh dari lebih dari 90% tayangan TV sudah
dapat diakses secara legal di hari yang sama dengan penayangannya. Sekitar
20% dari siaran TV kabel juga tersedia.
Sumber: mediapost.com
Kaum muda belajar mengenai produk pertama kali di TV – LONDON: Seperempat konsumen muda mengatakan pertama kali mereka belajar mengenai produk dari TV, sedangkan 60% setuju, media tersebut berperan
membentuk pilihan atas produk yang mereka beli. Hal ini ditemukan dalam studi terhadap usia 12-24 tahun di lima negara.
MTV Network International, Nokia, 20th Century Fox, Fox Mobile Group dan
Channel 4, mendukung riset tersebut, yang dinamakan A Beta Life Youth,
yang berdasarkan atas polling di antara 8000 orang usia 12-24 tahun di Inggris, AS, Jerman, India dan Jepang.
Secara umum, hanya 4% dari partisipan yang mengatakan, mereka tidak
memberi perhatian pada merek produk, yang tertinggi mencapai 33% di
antara para responden Jepang.
Konsumen elektronik adalah salah satu sektor di mana TV mempunyai pengaruh
paling tinggi, sementara lebih dari 50% dari mereka mengatakan media tersebut
berperan dalam membentuk pola belanja pakaian dan perlengkapan mereka.
Dalam kaitannya dengan pengaruh nama produk, lebih dari 30% partisipan di
Jerman dan Jepang mengatakan, mereka akan membeli produk karena terlihat
sebagai produk yang berkualitas, bukan karena mereknya yang terkenal, dibandingkan dengan 22% kaum muda India dan Inggris, dan 19% kaum muda Amerika.
TV juga dikatakan mendongkrak persepsi tentang kualitas produk, sedangkan 71% responden mengatakan bahwa jaringan juga memudahkan proses
dalam memilih produk mana yang akan dibeli.
Sumber: warc.com
AGB Nielsen Media Research
17/F, Mayapada Tower
Jl. Jend. Sudirman kav. 28, Jakarta 12920
T: +62 21 521 2200
F: +62 21 522 6769
e: [email protected]
w: www.agbnielsen.co.id
p. 6
Download