BAB I PENGERTIAN DAN PERAN PERENCANAAN

advertisement
A. PERENCANAAN PEMBANGUNAN
Pada hakekatnya setiap manusia di dunia diciptakan dalam kondisi yang
sama, namun demikian, kesamaan ini tidak dapat dijadikan sebagai sebuah
jaminan bagi seseorang untuk memiliki kesejahteraan yang sama. Akibatnya
menciptakan kesenjangan antara jumlah orang kaya relatif kecil dibandingkan
orang yang tidak mampu.
Untuk mengatasi persoalan akibat kesenjangan kesejahteraan, perlu
dilakukan berbagai upaya pembangunan yang terencana sehinggga upaya
pembangunan yang dilakukan dapat berjalan dengan efektif dalam mencapai
tujuan yang diinginkannya, sebuah perencanaan yang tepat sesuai dengan
kondisi
di
suatu
wilayah
menjadi
syarat
mutlak
dilakukannya
usaha
pembangunan.
B. PENGERTIAN PERENCANAAN
Perencanaan dapat dilakukan oleh lembaga pemerintah. Perencanaan
adalah upaya institusi publik untuk membuat arah kebijakan pembangunan yang
harus dilakukan di sebuah wilayah baik negara maupun di daerah dengan
berdasarkan keunggulan dan kelemahan yang dimiliki oleh wilayah tersebut
Pada hakekatnya, perencanaan merupakan sebuah upaya untuk
mengantisipasi ketidakseimbangan yang terjadi yang bersifat akumulatif
(perubahan pada sistem sosial secara menyeluruh). Ketidakseimbangan yang
bersifat akumulatif adalah konsep lingkaran setan yang diderita oleh sebagian
besar penduduk dunia. Wujud nyata dari lingkaran setan ini adalah kondisi
dimana seseorang tidak dapat meningkatkan kesejahteraan sebagai akibat
ketidakmampuan generasi sebelumnya untuk lepas dari kemiskinan. Hubungan
tersebut disebut lingkaran setan (Vicious circle).
Menurut Arsyad (1993), upaya untuk mengatasi lingkaran setan yaitu:
Pertama, melakukan pembangunan dengan mencari modal dari luar negeri dan
Kedua, menghimpun tabungan wajib dari dalam negeri.
PERENCANAAN PEMBANGUNAN I
1
C. PENGERTIAN PEMBANGUNAN
Pembangunan adalah upaya multidimensional yang meliputi perubahan
pada berbagai aspek termasuk di dalamnya struktur sosial, sikap masyarakat,
serta institusi nasional untuk tercapainya tujuan awal.
Pembangunan dijelaskan dengan menggunakan dua pandangan yang
berbeda, yaitu pertama, berbagai upaya yang dilakukan untuk meningkatkan
Produk Domestik Bruto (PDB) di tingkat nasional atau Produk Domestik
Regional Bruto (PDRB) di tingkat daerah.
Dalam Pendangan tradisonal dikenal dengan istilah Efek Penetesan Ke
Bawah (trickle down effeck). yakni sebagai upaya pembangunan pada sektor
ekonomi, X akan bermanfaat terhadap meningkatkan ekonomi, selain itu
diharapkan pula dirasakan di sektor lain yang berhubungan dengan sektor, Y
dalam bentuk perluasan kesempatan kerja serta berbagai peluang ekonomi
lainnya (Gambar 1).
Pembangunan
Sektor Industri
Sektor
Jasa
Sektor
Pertanian
Sektor
Pemukiman
Gambar 1. Efek Penetesan Ke Bawah
Pembangunan dilakukan di sektor industri yang kemudian akan
memberikan efek kepada sektor jasa, pertanian, dan sektor pemukiman.
Pandangan kedua, pembangunan dilihat sebagai upaya peningkatan PDB saja
melainkan pengangguran, tingkat kemiskinan, ketimpangan pendapatan, serta
penyediaan lapangan kerja yang mampu menyerap angka kerja produktif.
Dari dua definisi pembangunan di atas, Todaro (2002) mengemukakan
proses pembangunan haruslah memilki tiga nilai dan tiga tujuan pembangunan :
1. Kemampuan untuk memenuhi kebutuhan dasar (sustenance). Kebutuhan
dasar meliputi pangan, sandang, kesehatan, dan proteksi.
PERENCANAAN PEMBANGUNAN I
2
2. Manusia terhormat (self-esteem). Salah satu komponen universal hidup
adalah harga diri.
3. Kebebasan (freedom from servitude). Kebebasan disini dipahami sebagai
yang terkait dengan emansipasi, kepedulian, penderitaan dan lain-lain.
Sementara tujuan pembangunan adalah :
1. Peningkatan ketersediaan serta perluasan distribusi barang kebutuhan pokok
(sandang, pangan dan papan, kesehatan, pendidikan hingga keamanan).
2. Peningkatan standar hidup (pendapatan, lapangan kerja, pendidikan dan
kehidupan masyarakat).
3. Perluasan pilihan ekonomis dan sosial bagi setiap individu.
D. PENGERTIAN PEMBANGUNAN EKONOMI
Perkembangan teori ini didominasi oleh empat aliran pembangunan
ekonomi : yaitu (1) Teori tahapan linier, (2) Model perubahan struktural, (3)
Revolusi
ketergantungan
internasional,
(4)
Kontrarevolusi
pasar
bebas
neoklasik.
Dalam Teori Dasar Linear, terdapat dua teori dasar, yang pertama teori
tahapan pertumbuhan, dimana dalam setiap pembangunan yang dilakukan
sebuah negara haruslah melewati beberapa tahapan. Hingga ke tahapan
Tinggal landas (Negara Maju), dengan strategi melakukan dana tabungan guna
menciptakan investasi yang memadai untuk mendorong laju pertumbuhan
ekonomi. Teori kedua tentang upaya untuk memobilisasi dana tabungan
disebuah negara.
Teori Model Perubahan Struktural mengemukakan bahwa pembangunan
yang dilakukan akan mencapai suatu keberhasilan ketika pembangunan yang
dilakukan mampu untuk mengubah struktural perekonomian yang telah ada,
yang didukung teori lewis. Menurut Teori Lewis bahwa : 1) Sektor tradisional
yang dicirikan oleh sebuah sistem perdesaan yang subsistem dimana di
pedesaan tersebut menjadi tenaga kerja sehingga produktivitas marginal di desa
tersebut sama dengan nol; 2) Memiliki tingkat produktivitas marginal yang cukup
tinggi karena jumlah tenaga kerja yang tersedia relatif sama dengan (atau lebih
sedikit) dibandingkan dengan jumlah tenaga kerja yang diminta oleh sektor
produksi.
PERENCANAAN PEMBANGUNAN I
3
E. PENGERTIAN DAERAH
Pembangunan yang dilakukan tidak hanya di tingkat tetapi pembangunan
dapat dilakukan dalam ruang lingkup yang lebih kecil yaitu daerah, provinsi,
kabupaten, kecamatan, desa, dll. Biasanya pembangunan yang dilakukan di
wilayah yang lebih kecil ini memberikan hasil yang mampu mendukung
pembangunan yang dilakukan di wilayah yang lebih besar.
F. PERMASALAHAN PEMBANGUNAN EKONOMI
a) Kemiskinan
Secara sederhana kemisinan absolut dapat didefinisikan sebagai
ketidakmampuan sejumlah penduduk untuk hidup di atas kemiskinan atau batas
kemiskinan yang ditetapkan berdasarkan kategori tertentu. Indikator ini
mengukur total pendapatan yang dibutuhkan oleh penduduk miskin agar dapat
hidup diatas garis kemiskinan (Gambar 2).
Pendapatan Tahunan
Pendapatan Tahunan
Kurva Distribusi
Kurva Distribusi
Kumulatif
P
Kumulatif
V
P
V
Jurang
Kemiskinan
0
Jurang Kemiskinan
65
Persentase Penduduk
100
0
25
100
Persentase Penduduk
Gambar 2. Kurva Distribusi
Kurva distribusi kumulatif adalah kurva yang menunjukkan antara tingkat
pendapatan tahunan (sumbu vertikal) dan persentase penduduk (sumbu
horizontal) bahwa di negara A terdapat 65% penduduk yang pendapatannya
dibawah garis kemiskinan, sedangkan di negara B terdapat 25% penduduk yang
pendapatannya dibawah garis kemiskinan. Semakin luas permukaan yang
berada di bawah garis PV, maka tingkat kemiskinan yang terdapat di negara
tersebut semakin besar pula.
Pola kemiskinan yang terjadi adalah, (1) Kemiskinan pada umumnya
terjadi di daerah setingkat pedesaan dengan mata pencaharian utama
PERENCANAAN PEMBANGUNAN I
4
berhubungan dengan sektor ekonomi tradisional. (2) Umumnya kemiskinan
diderita oleh kaum wanita, (3) Kemiskinan pada umumnya adalah penduduk
pribumi di sebuah negara.
b) Pemerataan
Ketimpangan terjadi karena pendapatan per kapita masyarakat di daerah
pedesaan lebih rendah dibandingkan perkotaan. Perbedaan disebabkan variasi
pekerjaan yang berbeda. Tetapi jika di bandingkan ketimpangan terbesar antara
pedesaan dan perkotaan, maka jawabannya adalah ketimpangan terbesar ada
pada kawasan perkotaan. Karena di perkotaan jenis/variasi pekerjaan sangat
beraneka ragam. Pekerjaan di perkotaan dipegaruhi oleh perkembangan
teknologi. Oleh sebab itu mempengaruhi tingkat upah seseorang, tingkat upah
seseorang tersebut berbeda karena disebabkan oleh tingkat pendidikan.
c) Pertumbuhan
Prof. Kuznets, dengan teori mengenai perkembangan ketimpangan
distribusi pendapatan dimana ketimpangan yang dialami oleh negara yang
sedang membangun akan tinggi ketika pembangunan yang dilakukan pada
tahap awal pembangunan. Tingkat ketimpangan ini akan terus naik seiring
dengan pembangunan yang dilakukan hingga pada titik tertentu tingkat
ketimpangan ini akan turun. Teori yang diajukan oleh Kuznets, kemudian dikenal
luas dengan Kuznets yang berbentuk U terbalik ditunjukkan oleh Gambar 3
Ketimpangan
(koefisien
gini)
Kurva Kuznets
Produk Nasiona Bruto Per Kapita
Gambar 3. Kurva Kuznets berbentuk U terbalik
Teori Kuznets tentang ketimpangan tidak sepenuhnya dipengaruhi oleh
petumbuhan pendapatan (produk domestik bruto). Akan tetapi teori ini masih
berlaku bila diterapkan di negara yang termasuk negara dengan tingkat
pendapat menengah ke bawah.
PERENCANAAN PEMBANGUNAN I
5
G. PENTINGNYA PERENCANAAN
Perencanaan berkaitan dengan pelaksanaan program pembangunan
untuk meningkatkan kesejahteraan. Perencanaan merupakan hal yang sangat
penting dalam proses pembangunan.
1. Perkembangan teknologi & ilmu pengetahuan, menyebabkan perubahan
yang sangat cepat di dalam masyarakat. Cepatnya perubahan yang dialami
oleh masyarakat dapat merusak tatanan yang dimiliki oleh masyarakat.
2. Perencanaan merupakan tahap yang penting apabila dilihat dari dampak
pembangunan yang akan muncul setelah proses tersebut selesai. Oleh
sebab itu perencanaan pembangunan harus memperhatikan dampak negatif
dari proses pembangunan.
3. Proses pembangunan yang dilakukan tentu saja memiliki keterbatasan waktu
pelaksanaan, biaya seta ruang lingkup pelaksanaannya.
Perencanaan yang baik dapat memberikan berbagai manfaat kepada
daerah, antara lain: 1) Gambaran proyeksi ke depan mengenai penggunaan
lahan; 2) Perencanaan pembangunan yang dilakukan menjadi paduan bagi para
pelaku ekonomi tentang arahan pembangunan yang akan dilakukan oleh
pemerintah.
H. ASPEK PERENCANAAN
Sebuah perencanaan yang baik haruslah melibatkan masyarakat, swasta,
dan pemerintah dikarenakan agar proses pembangunan akan dirasakan
manfaatnya oleh pihak-pihak terkait. Keterlibatan masyarakat dalam proses
perencanaan akan mengurangi penerapan sistem pembangunan Top-Down
karena masyarakat tidak tau arah tujuan pembangunan. Diharapkan sistem
pembangunan menggunakan sistem Bottom up.
Dalam
proses
perencanaan
pembangunan
akan
menghadapi
permasalahan.Untuk mengatasi maka harus memperhatikan beberapa aspek:
1) Aspek Lingkungan
Aspek lingkungan, mencakup bidang sosial, budaya, ekonomi, politik
hingga pertahanan dan keamanan. Dan juga perencana dapat memotret kondisi
daerah tersebut serta kondisi daerah yang dijadikan partner pembangunan
daerah.
PERENCANAAN PEMBANGUNAN I
6
2) Aspek Kekuatan Dan Hambatan
Seorang perencana haruslah memiliki gambaran mengenai segala
sesuatu yang dimiliki oleh daerah yang dapat menjadi sumber kekuatan daerah
dalam melaksanakan pembangunan serta kelemahan yang berpotensi untuk
menghambat proses pembangunan.
3) Aspek Badan Perencana Pembangunan Pusat/Daerah
Badan
perencana
membutuhkan
informasi
mengenai
peran
dan
fungsinya dalam pembangunan daerah, kemampuan yang dimilikinya dalam
pengembangan
program
pembangunan
serta
kemampuannya
dalam
memperoleh informasi unutk melakukan perencanaan daerah.
Disamping itu, badan perencana membutuhkan informasi peran dan
fungsi elemen pendukung pembangunan, seperti pemahaman masyarakat atas
arah dan tujuan pembangunan yang akan dilaksanakan, kemampuan pihak
swasta, kemampuan pembiayaan.
4) Aspek Ruang dan Waktu
Diharapkan perencana dapat membuat rencana yang tepat untuk
dilaksanakannya yang mencakup bidang-bidang fisik seperti tata letak, kondisi
tanah hingga kualitas lingkungan dari populasi yang mungkin terjadi dari proses
pembangunan serta dibutuhkan ketepatan waktu dari sisi lokasi pembangunan.
I. CIRI PERENCANAAN PEMBANGUNAN
Ciri yang sangat melekat dalam perencanaan pembangunan adalah :
1. Perencanaan yang berisi upaya untuk perkembangan ekonomi yang kuat
akan tercermin dalam pertumbuhan ekonomi yang positif.
2. Berisi upaya untuk meningkatkan pendapatan per kapita masyarakat.
3. Berupaya untuk melakukan perubahan struktur perekonomian.
4. Bertujuan untuk meningkatkan kesempatan kerja bagi masyarakat.
5. Terjadinya pemerataan pembangunan.
PERENCANAAN PEMBANGUNAN I
7
A. PENDAHULUAN
Ilmu ekonomi berkaitan dengan banyak variabel kuantitatif seperti
pendapatan, harga, suku bunga, tenaga kerja dan lain-lain. Cabang ilmu
ekonomi salah satunya yaitu ilmu ekonomi makro yang berkaitan dengan
ekonomi secara keseluruhan. Terdapat tiga isu penting dalam ekonomi makro
yaitu, (1) Pertumbuhan, (2) Pengangguran, (3) Stabilitas harga. Cabang ilmu
ekonomi lainnya adalah ilmu ekonomi mikro yaitu lebih kepada perilaku masingmasing individu pelaku ekonomi.
B. ILMU EKONOMI : KELANGKAAN DAN EFISIENSI
Ilmu ekonomi adalah ilmu yang mempelajari bagaimana masyarakat
dapat menggunakan sumber daya yang terbatas/langka untuk memproduksi
barang
yang
berharga
dan
didistribusikan.
Samuelson
dan
Nordhaus
memberikan definisi: “Economic is the study of how societies choose to use
scare productive resources that have alternative used, to produce commodities
of various kinds and to distribute them among different group“.
Sebab kita mempelajari ilmu ekonomi adalah :
1. Kebutuhan atau keinginan manusia banyak
2. Alat pemuas kebutuhan.
3. Sumber–sumber alam tersebut dalam keadaannya yang asli tidak dapat
langsung digunakan untuk memenuhi keinginan manusia, tetapi harus diubah
bentuknya.
Dengan terbatasnya sumber daya maka maka perekonomian akan
berusaha menggunakan sumber daya tersebut dengan efisien. Sumber daya
disini adalah SDA dan SDM. Sumber daya yang terbatas membuat manusia
harus memilih penggunaan SDA agar ia dapat memaksimalkan kepuasannya.
SDA terbagi dua yaitu SDA dapat diperbaharui, dan tidak dapat diperbaharui.
PERENCANAAN PEMBANGUNAN I
8
C. PERMASALAHAN EKONOMI DAN SISTEM EKONOMI
1) Masalah Ekonomi
Ada tiga pertanyaan yang menjadi masalah utama dalam ekonomi : Apa
yang di produksi (What), Bagaimana memproduksi (How), Untuk siapa produksi
tersebut (For Whom).
Keterbatasan
Sumber Daya
Kemampuan
Memproduksi Barang
dan Jasa
Kebutuhan Manusia
Tidak Terbatas
Apa yang
diproduksi (What)?
Bagaimana
Memproduksi
(How)?
Untuk siapa
Produksi tersebut
(For Whom)?
Barang dan Jasa
Yang Dibutuhkan
Gambar 4. Tiga Masalah Ekonomi
Ilmu ekonomi normatif adalah imu ekonomi yang memasukkan unsur
etika, filsafat, norma, keadilan dan sebagainya. Selain Normatif, ilmu ekonomi
juga dikelompokkan menjadi tiga yaitu ekonomi deskriptif, teori ekonomi dan
ekonomi
terapan.
Ekonomi
Dekriptif
untuk
mengumpulkan
keterangan-
keterangan faktual yang relevan mengenai suatu masalah. Teori ekonomi atau
prinsip ekonomi berperan utama untuk menerangkan secara umum perilaku
sistem perekonomian. Sedangkan ekonomi terapan adalah ilmu ekonomi yang
menggunakan hasil-hasil pemikiran yang terkumpul dalam teori ekonomi untuk
menerangkan keterangan-keterangan yang dikumpulkan oleh deskriptif.
2) Sistem Perekonomian
Untuk menjawab What, Who, dan For Whom tergantung pada sistem
perekonomian suatu negara. Secara ekstrim terdapat dua sistem perekonomian
yaitu sistem komando (Commond) adalah perekonomian dimana pemerintah
yang membuat keputusan. Sistem kedua yakni sistem pasar di mana hampir
seluruh keputusan ekonomi ditentukan oleh mekanisme pasar, seluruh individu
dan perusahaan yang secara sukarela melakukan jual-beli barang dan jasa,
PERENCANAAN PEMBANGUNAN I
9
dengan menggunakan uang. Sistem ini tidak terdapat campur tangan
pemerintah. Sistem yang dianut Negara Indonesia yakni sistem campuran
dimana ada unsur pasar dan unsur komando.
Sistem Pasar
(MARKET)
Sistem
Campuran
(MIXED)
Sistem
Komando
(COMMAND)
Gambar 5. Swing Of Pendulum (bandul yang berayun)
D. BATAS KEMUNGKINAN PRODUKSI
Setiap negara memiliki keterbatasan dalam hal sumber daya seperti
tenaga kerja, pengetahuan dan teknologi, mesin, tanah, dan energi. Didasarkan
pada keterbatasan sumber daya tersebut, masyarakat harus memutuskan
barang apa yang potensial untuk diproduksi, memililih alternatif, menentukan
siapa yang akan mengkonsumsi hasil produksi tersebut.
1) Masukan dan Keluaran
Masyarakat harus memutuskan pilihan tentang input (masukan) dan
keluaran (output) perekonomian.
Masukan :
Tanah,
Tenaga
Kerja,
Komoditi,
Jasa,
Teknologi,
Mesin,
Dan
Lain-lain
Proses
Produksi
Keluaran
Dikonsumsi
Masukan :
Tanah, Tenaga
Kerja,
Komoditi,
Jasa,
Teknologi,
Mesin, Dan
Lain-lain
Proses
Produksi
Keluaran
Gambar 6. Proses Produksi
PERENCANAAN PEMBANGUNAN I
10
Tanah atau lebih umum lagi adalah sumber daya alam adalah semua
yang berasal dari bumi, Tenaga Kerja atau Sumber Daya Manusia, Modal
(Capital) ialah Barang Habis Pakai .
2) Batas Kemungkinan Produksi
Batas Kemungkinan Produksi ialah maksimum output yang dapat
dihasilkan oleh perekonomian dengan menggunakan seluruh sumber daya dan
teknologi yang ada. Jadi Batas Kemungkinan Produksi Dibatasi oleh dua hal,
ketersediaan sumber daya dan teknologi guna memenuhi kebutuhan manusia
yang tidak terbatas.
Negara akan mengalokasikan sekian persen dari dana yang ada untuk
pertahanan dan sebagian dana lainnya dipergunakan untuk membiayai aktivitas
lainnya.
Tabel 1. Kombinasi Produksi Beras (X) dan Senjata (Y)
TITIK
A
B
C
D
E
F
BERAS (X)
0
1
2
3
4
5
SENJATA (Y)
16
14
12
9
5
0
Titik A dan F merupakan titik ekstrim, karena sumber daya yang ada
digunakan hanya untuk memproduksi salah satu output saja.
SENJATA
18
16
14
12
10
8
6
4
2
0
A
B
C
D
E
0
2
4
F
6
Gambar 7. Beberapa kemungkinan Kombinasi Produksi
PERENCANAAN PEMBANGUNAN I
11
Masih banyak kombinasi, contohnya titik– titik A s/d F pada gambar
diatas, jika huruf tersebut di hubungkan maka akan didapat semua alternatif
kombinasi X dan Y. Kurva A,B,C,D,E,F disebut kurva batas kemungkinan
produksi (productions possibility frontier, PPF). Jadi kurva PPF adalah kurva
yang menggambarkan kombinasi 2 jenis barang yang mampu di produksi oleh
perekonomian dengan menggunakan seluruh sumber daya dan teknologi yang
ada.
3) Efisiensi
Kombinasi yang berada tepat pada garis batas kemungkinan produksi
menunjukkan bahwa semua sumber daya yang ada sudah digunakan dan tidak
ada sumber daya yang menganggur. Efisiensi berarti bahwa seluruh sumber
daya
sudah digunakan
seefektif
mungkin
untuk memenuhi kebutuhan
masyarakat.Salah satu aspek terpenting adalah efisiensi produktif. Efisiensi ini
terjadi ketika produksi terjadi pada batas kemungkinan tanpa harus menurunkan
output yang lain.
4) Pemerintah dan Perencanaan Pembangunan
Todaro dan smith (2003) mencatat karateristik umum negara sedang
berkembang :
1. Taraf hidup yang rendah (pendapatan yang rendah, distribusi pendapatan
yang tidak merata (ketimpangan pendapatan), kondisi kesehatan yang buruk
dan tingkat pendidikan yang tidak memadai).
2. Produktivitas yang rendah. Rasio output per tenaga kerja yang rendah
disebabkan oleh penguasaan ilmu dan teknologi yang relatif rendah.
3. Tingginya tingkat pertumbuhan penduduk dan angka ketergantungan. Angka
ketergantungan adalah rasio antara jumlah penduduk usia produktif dan tidak
produktif.
4. Ketergantungan yang tinggi pada produksi pertanian dan ekspor produk
primer.
5. Pasar tidak sempurna dan informasi terbatas.
6. Ketergantungan
internasional
dan
yang
kerentangan
lakukan
melalui
perekonomian
dua
jalur
dalam
yaitu:
hubungan
perdangangan
internasional dan aliran modal.
PERENCANAAN PEMBANGUNAN I
12
Sumber daya
terbatas
Tujuan Jangka
Pendek dan
Jangka Panjang
Memenuhi
Kebutuhan
Masyarakat
yang tidak
terbatas
Kesenjangan
Masyarakat
Perencanaan Pembangunan Jangka Pendek dan Jangka Panjang
Gambar 8. Sumber Daya dan Perencanaan
E. PASAR BEBAS DALAM TEORI EKONOMI
Pasar adalah suatu mekanisme dimana penjual dan pembeli berinteraksi
untuk menentukan harga dan bertransaksi barang dan jasa. Harga adalah nilai
suatu barang dan jasa yang dinyatakan dalam satuan uang. Pasar output sangat
berhubungan dengan pasar faktor produksi. Keseimbangan pasar tidak selalu
dipengaruhi oleh tawar menawar, namun kesesuaian antara pembeli dan
penjual. Keseimbangan pasar akan sama dengan titik efisiensi maksimum
adalah Pareto Optimum, maksudnya Mekanisme pasar akan mendorong
efisiensi.
F. PERDAGANGAN, UANG DAN KAPITAL
Di dalam perdagangan, uang merupakan pelumas terjadinya perdagangan.
Uang sebagai alat pembayaran akan mempermudah perdagangan yang terjadi.
Kapital (Modal) merupakan salah satu faktor produksi yang penting selain tanah
dan tenaga kerja. Kapital adalah faktor produksi yang diproduksikan dan
merupakan input habis pakai.
G. KETIDAKSEMPURNAAN PASAR DAN DISTORSI HARGA
Faktor yang menyebabkan sistem pasar tidak bekerja secara maksimal di
negara berkembang adalah monopoli di semua faktor, dampak atas gangguan
harga dan komunitas yang disebabkan oleh campur tangan dari institusi yang
PERENCANAAN PEMBANGUNAN I
13
sebenarnya tidak ada. Selain itu banyak institusi yang membuat distorsi harga,
keputusan
pemerintah
yang
penentu
munculnya
distorsi
paling
besar
dibandingkan dengan institusi lain. Cara yang paling baik untuk menghilangkan
distorsi harga adalah memperbaiki seluruh mekanisme pasar agar berjalan
dengan baik.
H. PERAN PEMERINTAH
Terdapat fungsi pemerintah dalam perekonomian pasar yaitu 1)
meningkatkan efisiensi dengan mendorong mendorong ke arah persaingan,
menginternalkan eksternalitas polusi dan menyediakan barang publik; 2)
mengusahakan pemerataan dengan mengaplikasikan sistem pajak dan transfer
untuk mendistribusikan kembali pendapatan; 3) mendorong stabilitas ekonomi
makro dan meningkatkan pertumbuhan ekonomi serta menurunkan inflasi
dengan kebijakan fiskal dan moneter.
I.
KEGAGALAN PASAR
Masalah
ini
disebabkan
oleh
dua
jenis
ketergantungan,
yaitu
perekonomian eksternal yang statis dan perekonomian eksternal yang dinamis,
alternatif pemecahannya adalah munculnya barang publik.
J. STRUKTUR EKONOMI
Kebijakan yang terdesentralisasi akan mengakibatkan biaya yang terlalu
tinggi dan tidak efisien. Dapat terjadi pada sebuah proyek pembangunan sistem
transportasi kereta api dan pembangunan jalan bebas hambatan. Akibatnya
terjadi excess capacity kedua bangunan tersebut.
Perkembangan yang terjadi dalam sebuah perekonomian sering kali
memiliki sifat yang kumulatif daripada bersifat menyeimbang. Kesimpulan
perubahan sistem harga harus dilakukan sehingga mampu memberikan sinyal
yang baik kepada para pelaku ekonomi.
PERENCANAAN PEMBANGUNAN I
14
K. METODE PERENCANAAN DENGAN KONDISI DAERAH
Aspek penting sebagai pedoman untuk menentukan perencanaan adalah
sistem perekonomian yang semakin terpisah-pisah, sektor industri belum
berkembang, besarnya proporsi perdagangan luar negeri, serta kebutuhan luar
negeri, serta kebutuhan reformasi lembaga pemerintahan yang semakin besar.
Robinson memberikan 2 pendekatan, yaitu pertama, pendekatan
pertumbuhan ekonomi berdasarkan pada daya tarik pengembangan perumahan
dan
industri,
kedua
pembangunan
ekonomi
agar
dilaksanakan
untuk
membangun penduduk lokal yang dirugikan oleh aktivitas pembangunan
sebelumnya. Pembagian oleh robinson memandang bahwa pembangunan
ekonomi daerah merupakan pembangunan yang bersifat process oriented
dimana pembangunan dilakukan mencakup pembentukan lembaga/institusi
baru, pembangunan industry alternative, pengembangan kapasitas tenaga kerja
untuk
menghasilkan
produk
yang
berkualitas,
transfer
teknologi
dan
pertumbuhan.
PERENCANAAN PEMBANGUNAN I
15
A. PERENCANAAN JANGKA PENDEK PADA AWAL KEMERDEKAAN
Panitia Pemikir Siasat Ekonomi yang dibentuk dengan Penetapan
Presiden (Penpres) No. 3 Tahun 1947 yang diketuai oleh Drs. Mohammad
Hatta, dengan anggota A.K Gani, Mohammad Roem, Sjafroedin Prawiranegara,
menghasilkan suatu dokumen perencanaan yang disebut Dasar Pokok daripada
Plan Mengatur Ekonomi Indonesia. Perencanaan tersebut merupakan awal dari
perencanaan jangka pendek,menengah dan jangka panjang yang selanjutnya
kita kenal dalam sejarah perencanaan kita.
1) Plan Mengatur Ekonomi Indonesia (1947)
Dengan penetapan Presiden No. 3 tanggal 12 April 1947, Presiden
Republik Indonesia memutuskan unutk membentuk Panitia Pemikir Siasat
Ekonomi yang diketuai oleh Wakil Presiden. Panitia tersebut bertugas menyusun
Plan Mengatur Ekonomi Indonesia. Program yang direncanakan bertujuan
untuk meningkatkan kemakmuran masyarakat yang merata, melalui cara:
(a) mengintensifkan usaha produksi; (b) memajukan perdagangan internasional;
(c) meningkatkan standar hidup masyarakat dan; (d) meningkatkan kecerdasan
bangsa. Tujuan ini dicapai melalui kegiatan :
1. Meningkatkan impor barang sandang, alat transportasi dan perhubungan,
barang modal dan barang-barang keperluan lainnya,
2. Meningkatkan ekspor yang diprioritaskan pada hasil perkebunan hasil
kehutanan, minyak dan logam,
3. Memperbaiki organisasi ke dalam melalui : (i) penetapan upah minimum, (ii)
perbaikan
perumahan
rakyat,
(iii)
transmigrasi,
(iv)
peningkatan
pembangunan jalan dan kereta api baru, bendungan, tenaga listrik dan
pelabuhan, (v) industrialisasi, (vi) tambang dan minyak tanah, (vii) industri
pertanian, (viii) pertanian dan perikanan, (ix) penanaman hutan, (x) pelayaran
dan perhubungan antar pulau.
PERENCANAAN PEMBANGUNAN I
16
Panitia pemikir siasat ekonomi ini dibagi atas 8 bagian, yaitu :
Bagian 1
Bagian 2
Bagian 3
Bagian 4
Bagian 5
Bagian 6
Bagian 7
Bagian 8
: Soal Ekonomi Umum
: Hal ikwal Perkebunan
: Industri, Tambang dan Minyak
: Harta Benda Asing
: Hal ikwal Keuangan
: Listrik, Kereta Api dan Tram
: Perburuhan
: Daerah Pendudukan Belanda
Pada tanggal 25 Maret 1947, tiga bulan setelah Surat Keputusan
Presiden
tentang
Pembentukan
Panitia
Pemikir
Siasat
Ekonomi
ini
ditandatangani, Perang Kemerdekaan I mulai berkecamuk. Rencana ini tidak
menyebutkan batas waktu sehingga tidak dapat dikatakan apakah jenis rencana
ini merupakan rencana jangka pendek, menengah dan jangka panjang. Di
samping itu materi pembicaraan dari para kelompok Panitia Pemikir juga masih
sangat sederhana dan sering tidak disertai data-data yang lengkap.
Biaya untuk perencanaan ini diharapkan diperoleh dari :
a. Pemerintah yang terdiri dari: pinjaman dalam negeri dan tabungan
masyarakat.
b. Pinjaman Luar Negeri
c. Penyertaan Perusahaan-perusahaan swasta.
Plan mengatur ekonomi ini dalam pelaksanaannya mengalami banyak
gangguan, antara lain :
a. Terjadinya Perang Kemerdekaan I dilancarkan pada tanggal 21 Juli 1947,
hanya empat bulan setelah ditandatangani Persetujuan Linggarjati pada
tanggal 25 Maret 1947. Perang kemerdekaan I berakhir pada tanggal 1
Agustus 1947 setelah Dewan Keamanan PBB menyerukan gencatan senjata
kepada pemerintah.
b. Pemberontakan komunis pada tanggal 18 September 1948 yang berpusat di
kota Madiun.
2) Rencana Kasimo (1948-1950)
Dalam kedudukannya sebagai Menteri Muda Kemakmuran, I.J.Kasimo
menyusun rencana pertama yang berdimensi waktu, yaitu rencana produksi
PERENCANAAN PEMBANGUNAN I
17
jangka menengah (3 tahun) dari tahun 1948-1950. Konsep perencanaan yang
sangat sederhana ini bertujuan untuk menanggulangi keadaan darurat pada
waktu itu, mengingat perang masih terus berkecamuk.
Menurut Rencana Kasimo, swasembada pangan dilakukan melalui usaha
intensifikasi dengan menggunakan bibit unggul, maupun usaha ekstensifikasi di
daerah-daerah yang masih banyak lahan tidurnya.
3) Rencana Urgensi Perkembangan Industri dan Industri Kecil (1951-1952)
Rencana ini didasarkan atas pemikiran bahwa industrialisasi dipandang
sebagai bagian yang integral dari kebijakan umum untuk menambah kekuatan
ekonomi rakyat Indonesia sebagai dasar perkembangan ekonomi nasional yang
sehat. Dalam rencana ini industri besar diharapkan dapat menciptakan extenal
economies
sehingga
dapat
merupakan
faktor
yang
strategis
untuk
perkembangan sektor-sektor lainya.
Konsep dasar rencana ini meliputi kegiatan: a) memperbaiki dan
memperluas balai penelitian dan pendidikan untuk mempercepat perkembangan
industri, b) menambah pinjaman kepada perusahaan kerajinan rumah tangga
dan industri kecil untuk memperkuat kedudukan ekonomi dan memungkinkan
meningkatkan mekanisme perusahaan, c) mendirikan induk-induk perusahaan
dengan bantuan langsung dari pemerintah di pusat industri di daerah agraria, d)
mendirikan perusahaan industri besar pada sektor-sektor yang dipandang
penting dengan biaya pemerintah dan swasta.
B. RENCANA JANGKA MENENGAH
Dalam rencana Jangka menengah tercakup aspek pembangunan yang
lebih luas dari rencana pembangunan sebelumnya. Di lihat dari metode
perencanaan, maka RPLT (1956-1960) disusun lebih jelas dan sistematis.
Namun masalah yang dihadapi dalam rencana pembangunan ini adalah
masalah klasik yaitu pembiayaan. Pembiayaan pembangunan direncanakan
untuk digali dari sumber dalam negeri dan pinjaman luar negeri termasuk hibah
dan pampasan perang Jepang.
PERENCANAAN PEMBANGUNAN I
18
1) Rencana Pembangunan Lima Tahun (1956-1960)
Walaupun rencana Undang-undang tentang PRLT (1955-1960) telah
disetujui oleh DPR pada tanggal 1 November 1958, ternyata di dalam perjalanan
memerlukan perubahan. Perubahan-perubahan ini berkisar pada sumber
pembiayaannya, mengingat situasi selama periode tersebut kurang stabil yang
disebabkan karena 4 hal, yaitu :
a) Sengketa mengenai Papua, memerlukan biaya yang tidak sedikit
b) Perkiraan biaya untuk RPLT yang didasarkan pada tahun-tahun sebelumnya
yang dianggap “normal” akibat dari Korea Boom ternyata meleset
c) Data-data statistik yang kurang akurat
d) Jangka waktu rencana yang cukup panjang (5 tahunan) mengakibatkan
perkiraan yang salah atau menyimpang dari rencana
Keadaan ini mengakibatkan cadangan devisa Indonesia mengalami
penurunan. Untuk itu pemerintah terpaksa memperketat impor, yang bukan saja
impor barang-barang konsumsi tetapi juga barang-barang modal. Kekurangan
impor barang-barang modal ini menambah makin parahnya pelaksanaan RPLT.
Keadaan politik dalam negeri juga mempengaruhi pelaksanaan RPLT. Adanya
ketegangan-ketegangan antara pusat dan daerah yang mengakibatkan daerah
menentukan kemauannya sendiri. Semuanya ini sangat merugikan pendapatan
negara.
2) Dewan Perancang Nasional (Depernas)
Dengan Undang-Undang No. 8 Tahun 1958 dibentuklah Dewan
Perencanaan Nasional yang pelaksanaannya ditetapkan melalui Peraturan
Pemerintah No.1 Tahun 1959. Rencana pembangunan yang akan disusun oleh
Dewan Perancang Nasional ini bersifat menyeluruh (overall-planning). Tugas
Dewan Perancang Nasional adalah : a) Mempersiapkan rancangan UndangUndang Pembangunan Nasional yang berencana; b) Menilai penyelenggaraan
pembangunan yang bersangkutan.
Pimpinan Dewan Perancang Nasional membentuk seksi pembangunan
untuk menyiapkan perencanaan pembangunan di bidang kemasyarakatan,
kenegaraan, pertahanan dan ekonomi keuangan. Depernas mulai bekerja pada
tanggal 28 Agustus 1959 dan dalam waktu 10 bulan Depernas telah berhasil
PERENCANAAN PEMBANGUNAN I
19
menyusun rumusan akhir mengenai rencana pembangunan nasional semesta
tahapan pertama (1961-1969).
3) Rencana Pembangunan Semesta Berencana Tahapan Pertama (19611969)
Rencana pembangunan semesta berencana ini adalah rencana jangka
menengah yang terpanjang dalam sejarah perencanaan pembangunan di
Indonesia. Jangka waktu 8 tahun, jangka waktu yang cukup panjang dalam
kondisi perekonomian yang tidak menentu. Rencana pembangunan jangka
menengah ini ditentukan melalui Ketetapan MPRS No.II/MPRS/1960 tentang
Garis-Garis Besar Pola Pembangunan Nasional Semesta Berencana Tahapan
Pertama (1961-1969).
Tujuan pembangunan nasional semesta berencana adalah untuk
menciptakan masyarakat Indonesia yang adil dan makmur berdasarkan
Pancasila atau pada waktu itu disebut masyarakat sosialis ala Indonesia.
Berdasarkan tujuan tersebut, Depernas berusaha untuk mengatasi faktor-faktor
yang menghambat dan merugikan pembangunan serta merintis jalan untuk
melancarkan pembangunan di segala bidang kehidupan dan penghidupan.
Dalam perjalanan pembangunan nasional semesta berencana diperlukan
kesinambungan perencanaan di masa yang akan datang. Untuk itu, diperlukan
suatu badan perencanaan yang lebih berwibawa dan mempunyai wewenang
untuk mengoordinasikan perencanaan sektoral dan regional serta melakukan
pengawasan dan penilaian atas rencana yang disusun. Karena itu, dibentuk
Badan Perencanaan Pembangunan Nasional, melalui Penetapan Presiden RI
No. 12 Tahun 1963. Penetapan Presiden diperbaharui secara berturut-turut
dengan Penetapan Presiden No. 31 Tahun 1965, Keputusan Presiden No. 80
Tahun 1967 dan Keputusan Presiden No. 35 Tahun 1973. Oleh karena itu,
melalui Keputusan Presiden No. 19 Tahun 1964 dibentuk Badan Perencanaan
Pembangunan
Daerah
(BAPPEDA)
yang
bertugas
mengoordinasikan
perencanaan di daerah.
Untuk menanggulangi masalah ini pemerintah mengambil tindakan di
bidang moneter yaitu melakukan sanering yang kedua pada bulan Desember
1968 melalui penetapan nilai rupiah Rp. 1000 menjadi Rp. 1. Tingginya tingkat
inflasi ini sangat menyulitkan pembangunan proyek-proyek yang direncanakan,
PERENCANAAN PEMBANGUNAN I
20
mengingat harga-harga barang ditambah lagi dengan pemberontakan G-30-S
PKI yang meporak-porandakn seluruh sistem yang ada. Akhirnya rencana
pembangunan semesta berencana ini menghadapi kegagalan total.
C. TIM STABILITAS EKONOMI
Sebagai langkah pertama ke arah pelaksanaan usaha-usaha tercapainya
stabilitas ekonomi, pemerintah telah mengambil tindakan sebagai berikut :
a. Penyederhanaan dan penyempurnaan aparatur pemerintah
b. Meningkatkan penerimaan pajak
c. Penghematan pengeluaran pemerintah
d. Penyehatan perkreditan
e. Penangguhan utang-utang luar negeri
f. Mengusahakan kredit luar negeri
g. Mengusahakan devisa pemerintah secara rasional
h. Meningkatkan ekspor
i.
Memperbaiki sistem impor dan meningkatkan penerimaan negara dan bea
impor
j.
Membenahi bidang harga, tarif dan subsidi di bidang moneter
Program yang dilaksanakan pertama tentu saja mengendalikan tingkat
inflasi yang kemudian disusul dengan program-program lainnya seperti
pencukupan kebutuhan pangan, rehabilitasi prasarana ekonomi, peningkatan
ekspor, dan pencukupan kebutuhan sandang. Usaha-usaha ini juga di barengi
dengan penataan keuangan negara seperti pemisahan antara anggaran rutin
dan anggaran pembangunan.
Selama Orde Baru, pengeluaran dilaksanakan dengan sistem anggaran
defisit yang kekurangannya dibiayai pencetakan uang. Keadaan ini lebih
mendorong inflasi dalam negeri sehingga perlu dirombak menjadi pengeluaran
dengan sistem anggaran berimbang yang dinamis, yang berarti pengeluaran
sama dengan penerimaannya. Kebijakan lain yang ditempuh adalah mengubah
ekonomi dari ekonomi terpimpin keekonomi berorientasi pada mekanisme pasar.
PERENCANAAN PEMBANGUNAN I
21
A. PENDAHULUAN
Otonomi daerah menuntut agar perencanaan dan keuangan daerah yang
komprehensif dan mengarah kepada perwujudan transparansi, akuntabilitas,
demokratis,
desentraliasi
dan
partisipasi
masyarakat.
Otonomi
dan
desentralisasi didukung oleh beberapa perubahan peraturan perundangan,
antara lain :
a. UU 17/2003 Keuangan Negara
b. UU 1/2004 Perbendaharaan Negara
c. UU 25/2004 Sistem Perencanaan Pembangunaan Nasional
d. UU 33/2004 Perimbangan Keuangan
e. UU 20/2004 Rencana Kerja Pemerintah
Satuan alokasi anggaran dan anggaran berbasis kinerja adalah
penyusunan anggaran yang didasarkan atas perencanaan kinerja, yang terdiri
dari program dan kegiatan yang akan dilaksanakan dan indikator kinerja yang
ingin dicapai oleh suatu entitas anggaran.
B. PERENCANAAN DAN PENGANGGARAN BERBASIS KINERJA
Perencanaan adalah proses persiapan secara sistematis kegiatankegiatan yang akan dilakukan untuk mencapai tujuan tertentu pada masa yang
akan datang. Dari pengertian tersebut ada 4 elemen dasar perencanaan
pembangunan yaitu, (1) merencanakan berarti memilih, (2) Perencanaan
merupakan alat pengalokasian sumber daya, (3) Perencanaan merupakan alat
untuk mencapai tujuan, (4) Perencanaan untuk masa depan. Perencanaan
terpadu diartikan sebagai suatu perencanaan uyang disusun dengan melibatkan
unit-unit yang lebih kecil dan memperhatikan aspek-aspek bidang lainnya.
PERENCANAAN PEMBANGUNAN I
22
C. MACAM PERENCANAAN PEMBANGUNAN DAERAH
Perencanaan dikelompokkan berdasarkan: 1) jangka waktu; 2) sifat
perencanaan; 3) alokasi sumberdaya; 4) tingkat keluwesan; 5) sistem ekonomi;
6) arus informasi; 7) dimensi pendekatan (Arsyad, 1999; Kunarjo).
1) Perencanaan Berdasarkan Jangka Waktu
Dibagi menjadi dua bagian, yaitu :
a. Perencanaan jangka panjang (Perspektif). Rentang waktu 10-25 Tahun.
Misalnya GBHN, Pola Dasar dan Pembangunan Daerah, UU No. 25 Tahun
2004 tentang Sistem perencanaan nasional yang didalamnya terkandung
(RPJP)
b. Perencanaan jangka menengah. Rentang waktu 4 – 6 tahun UU No. 25
Tahun 2004 tentang Sistem perencanaan nasional yang didalamnya
terkandung (RPJM).
c. Perencanaan Jangka Pendek. Rentang waktu 1 tahun, perencanaan ini
sering disebut juga rencana operasional tahunan. UU No. 25 Tahun 2004
tentang
Sistem
perencanaan
nasional yang
didalamnya
terkandung
Rencana Kerja Pemerintah, APBN, dan APBD.
d.
2) Perencanaan Berdasarkan Alokasi Sumber Daya
Berdasarkan Pengalokasian sumber daya, dibagi menjadi dua bagian :
a. Perencanaan Keuangan. Adalah teknik perencanaan berkaitan dengan
pengalokasian
uang.
Keuangan
adalah
kunsi
pokok
implementasi
perencanaan ekonomi.
b. Perencanaan Fisik. Adalah usaha utuk menjabarkan usaha pembangunan
melalui
pengalokasian
faktor-faktor
dan
hasil
produksi
sehingga
memaksimalkan pendapatan dan pekerjaan.
Masukan
(Input)
Keluaran
(Output)
Primer (Fisik) :
Staf
Material
Gedung
Komputer, dll.
Hasil
(Outcome)
Manfaat
(Benefit)
Dampak
(Impact)
Sekunder (Biaya, Rp):
Belanja Langsung
Belanja Tidak Langsung
Gambar 9. Perencanaan Fisik dan Keuangan
PERENCANAAN PEMBANGUNAN I
23
3) Perencanaan Berdasarkan Arus Informasi
Di Lihat dari pelaksanaannya perencanaan dibagi menjadi :
a. Perencanaan Sentralistik (Top Down Planning). Pusat yang mengendalikan
pembangunan, menetap semua harga, upah, dll.
b. Perencanaan Desentralistik (Bottom up Planning). Pusat merumuskan sesuai
dengan rencana daerah. Rencana di tingkat daerah dirumuskan oleh
Bappeda sesuai dengan potensi dan kondisi potensi daerah serta aspirasi
masyarakat. Harga ditentukan oleh mekanisme posar.
4) Perencanaan Berdasarkan Tingkat Keluwesan
Di Bagi menjadi dua :
a. Perencanaan ini bersifat luwes. Pemerintah memberikan rangsangan kepada
sektor swasta melalui hibah, pembebasan pajak.
b. Perencanaan Imperatif, Kegiatan dan sumber daya ekonomi berjalan sesuai
menurut komando negara.
5) Perencanaan Berdasarkan Sistem Ekonomi
Dibagi Menjadi :
a. Perencanaan dalam Kapitalisme, tidak difokuskan pada rencana yang
terpusat.
b. Perencanaan dalam sosialisme, diarahkan pada rencana yang terpusat.
c. Perencanaan dalam Ekonomi Campuran, tidak bersifat menyeluruh seperti
dalam pengertian perencanaan sosialis. Serta membagi perekonomian
negara menjadi sektor pemerintah dan sektor swasta.
6) Perencanaan Berdasarkan Sifat Perencanaan
Dibagi menjadi dua :
a. Perencanaan dengan Komando (Planning by direction), menuntut adanya
liberalism. Sistem ini pusat merencanakan, mengatur, memerintahkan
mencakup keseluruhan perekonomian.
b. Perencanaan dengan rangsangan (Planning by inducement), perencanaan
yang demokratis, sistem ini dilakukan dengan memanipulasi pasar.
7) Perencanaan Berdasarkan Dimensi Pendekatan
Terdiri dari :
a. Perencanaan Makro. Perencanaan pembangunan nasional dalam skala
menyeluruh.
PERENCANAAN PEMBANGUNAN I
24
b. Perencanaan Sektoral. Dilakukan dengan pendekatan berdasarkan sektor.
Sektor adalah kumpulan dari kegiatan atau program yang mempunyai
persamaan ciri-ciri serta tujuan
c. Perencanaan Regional. Menitik beratkan pada aspek lokasi dimana kegiatan
dilakukan.
d. Perencanaan mikro. Skala
rinci dalam perencanaan tahunan yang
merupakan penjabaran rencana-rencana sektoral maupun regional ke dalam
susunan proyek dan kegiatan-kegiatan.
D. DOKUMEN TERKAIT DAN PENGANGGARAN
Dokumen mempunyai tujuan yang pertama, dapat digunakan sebagai
pemilihan program serta kegiatan prioritas. Kedua, landasan penentuan program
dan kegiatan tahunan daerah. Ketiga, menjamin kesepakatan awal atau
mengenai program dan kegiatan yang sudah dibahas secara partisipatif antar
semua stakeholders pembangunan daerah.
Dokumen tersebut berfungsi sebagai arahan dan rujukan pembangunan
daerah. Perencanaan haruslah memperhatikan potensi, aspirasi, kondisi.
Perencanaan
Marjinal
komprehensif
adalah
perencanaan
yang
bersifat
menyeluruh tentang pembangunan daerah, baik yang dilaksanakan dengan
sumber dana APBN, APBD, BLN, SWASTA, dan MASYARKAT.
PRIORITAS
KEBIJAKAN
NASIONAL
RENSTRAD
A
PROPENAS
POLDAS
VISI,MISI,TUJUAN
PROPEDA
REPETADA
RAPBD
REALITAS DAN
KEBUTUHAN
DAERAH
LPJ
RESTRA DINAS
AKIP
Gambar 10. Keterkaitan Dokumen Perencanaan
PERENCANAAN PEMBANGUNAN I
25
E. KOORDINASI PERENCANAAN DAN PENGANGGARAN
Koordinasi
merupakan
suatu
hal
yang
penting
dalam
proses
perencanaan, koordinasi bertujuan sebagai mensingkronkan antara kebijakan
dan rencana tindak pelaksanaannya yang dilakukan oleh masing-masing
lembaga organisasi sesuai dengan kewenangan yang dimiliki. Koordinasi
perencanaan dilakukan melalui 4 tahapan yaitu, metode perencanaan, antar
tingkat perencanaan, proses perencanaan, usaha-usaha perencanaan.
Tahapan Perencanaan terdiri dari : penyusunan kebijakan, penyusunan
program, penyusunan pembiayaan, pemantauan dan evaluasi, penyempurnaan
program pembangunan koordinasi antara tahap perencanaan pembangunan.
Perencanaan sektoral memproyeksikan berbagai sasaran pembangunan sektor
dalam mencapai pendapatan nasional yang ditentukan. Perencanaan sektoral
sering menggunakan alat analisis input output dan linear program.
Dalam melaksanakan pembangunan tidak dapat mengandalkan sumber
pembiayaan dari pemerintah saja. Usha-usaha swasta harus dimotivasi dan
diigerakkan dalam proses pembangunan. Untuk menggerakkan peran sektor
swasta pemerintah harus memberikan rangasangan berupa kebijaksanaan
perpajakn, retribusi, subsidi, kebijaksanaan harga, kebijaksanaan perijinan, dan
upah.
PERENCANAAN MAKRO
kebutuhan
Sektor
keunggulan
daerah
kebutuhan
Kaitan
spasial
Regional
Aspek Ruang
PERENCANAAN
SEKTORAL
Aspek Produktivitas
PERENCANAAN
REGIONAL
PERENCANAAN MIKRO
 Input
 Output
 Outcome
 Benefit
 Impact
Gambar 11. Koordinasi Antar Tingkat Perencanaan
PERENCANAAN PEMBANGUNAN I
26
F. TEKNIK PERENCANAAN DAN PENGANGGARAN
Perencanaan pembangunan ekonomi daerah terdiri dari 6 tahap
yaitu, pengumpulan data dan analisis dan pembangunan daerah, pemilihan
proyek pembangunan, pembuatan rencana tindakan, pemantauan rincian
proyek, persiapan perencanaan secara keseluruhan dan implementasi
(Tabel 2).
Tabel 2
Teknik Perencanaan dan Penganggaran
TAHAP
I
II
III
IV
V
VI
KEGIATAN
Pengumpulan dan Analisis Data
 Penentuan Basis Ekonomi
 Analisis Struktur Tenaga Kerja
 Evaluasi Kebutuhan Tenaga Kerja
 Analisis Peluang dan Kendala Pembangunan
 Analisis Kapasitas Kelembagaan
Pemilihan Strategi Pembangunan Daerah
 Penentuan Tujuan Kriteria
 Penentuan Kemungkinan-kemungkinan Tindakan
 Penyusunan Strategi
Pemilihan Proyek–Proyek Pembangunan
 Indentifikasi Proyek
 Penilaian Viabilitas Proyek
Pembuatan Rincian Tindakan
 Prapenilaian Hasil Proyek
 Pengembangan Input Proyek
 Penentuan Alternatif Sumber Pembiayaan
 Indentifikasi Struktur Proyek
Penentuan Rencana Tindakan
 Pelaksanaan Studi Kelayakan Secara Rinci
 Penyiapan Rencana usaha (Bussiness Plan)
 Pengembangan, Monitoring, dan Pengevaluasian program
Persiapan Perencanaan Secara Keseluruhan dan Implementasi
 Penyiapan Jadwal Implementasi Rencana Proyek
 Penyusunan Program Pembangunan Secara Keseluruhan
 Pemasaran kebutuhan Keuangan
PERENCANAAN PEMBANGUNAN I
27
G. SUMBER PEMBIAYAAN
Terdapat 4 faktor penting dalam penyusunan pembiayaan pembangunan
daerah, yaitu (1) Sumber – sumber penerimaan daerah, (2) Tujuan dan arah, (3)
Prinsip – prinsip, (4) Proses penyusunan.
1. Pendapatan Asli Daerah (PAD)
Penerimaan yang diperoleh daerah dari sumber-sumber yang ada
dalam wilayah daerah tersebut. Sumber – sumber PAD terdiri dari :
a. Hasil pajak daerah
b. Hasil retribusi
c. Hasil perusahaan milik negara
d. Pendapatan asli daerah lainnya yang sah
2. Dana Perimbangan Pinjaman Daerah
Dana perimbangan berasal dari APBN yang dialokasikan kepada
daerah untuk membiayai kebutuhan daerah melaksanakan desentralisasi.
Dana perimbangan terdiri atas :
a. Bagian daerah dari penerimaan PBB dan BPHTB, dan penerimaan SDA
b. DAU yang berasal dari APBN untuk pemerataan kemampuan keuangan
daerah
c. DAK yang berasal dari APBN untuk membiayai kenutuhan khusus.
3. Pinjaman Daerah
Segala macam transaksi yang menyebabkan daerah menerima dari
pihak lain sejumlah uang atau manfaat bernilai uang dan daerah
berkewajiban untuk membayar kembali, dalam hal ini tidak termasuk jangka
pendek yang lazim dalam perdagangan.
4. Lain – lain Penerimaan yang sah
Berupa penjualan aset tetap daerah, penerimaan sumbangan dari
pihak ketiga. Tujuan penggunaan anggaran pembangunan adalah untuk
membiayai proyek-proyek yang diprioritaskan dalam angka :
a) Menyelesaikan pembangunan sarana dan prasarana
b) Memperluas Lapangan Kerja
c) Menunjang secara langsung atau tidak langsung program
d) Mengembangkan kualitas sumber daya manusia
e) Menjaga
dan
meningkatkan
efisiensi
pemanfaatan
sarana
dan
prasarana
PERENCANAAN PEMBANGUNAN I
28
f) Meningkatkan dan mengoptimalkan penggunaan produksi dalam negeri
g) Memanfaatkan dan meningkatkan penguasaan IPTEK
h) Mendukung upaya-upaya pelestarian SDA dan lingkungan
Evaluasi kinerja proyek pembangunan merupakan bagian dari
kegiatan manajemen pembangunan Evaluasi dilakukan dengan cara
mengumpulkan dan menganalisis data informasi sistem untuk menilai
kelayakan serta pencapaian sasaran dan tujuan pembangunan. Dalam
pelaksanaan evaluasi kinerja proyek pembangunan menggunakan indikatorindikator :
1) Indikator Masukan
2) Indikator Keluaran
3) Idikator Manfaat
4) Indikator Dampak
Evaluasi Kinerja dibagi menjadi dua :
1) Tahapan Perencanaan, menggunakan analisis hirarkis yang disebut
kerangka kerja logis, sehingga dapat mengetahui tingkat kelayakan
proyeknya.
2) Tahapan Pasca proyek, dilakukan dengan melaksanakan studi evaluasi
kinerja dari proyeksi pembangunan.
Tujuan dari evaluasi kinerja adalah untuk menilai kelayakan dan
pencapaian sasaran serta tujuan pembangunan baik pada tahap perencanaan,
pelaksanaan maupun pasca proyek, melalui pendekatan :
1) Studi evaluasi kinerja
2) Hasil evaluasi kinerja digunakan sebagi umpan balik
3) Penilaian terhadap prosedur dan proses pelaksanaan proyek
4) Dibatasi pada proyek yang mempunyai tujuan akhir sama
5) Proyek yang diusulkan haruslah mencantumkan indikator dan sasaran serta
kinerja
6) Evaluasi dilakukan penyusunan indikator dan sasaran kinerja proyek
pembangunan
Evaluasi terhadap kinerja proyek pembangunan memerankan beberapa
funsi antara lain:
PERENCANAAN PEMBANGUNAN I
29
1) Memberikan informasi yang valid tentang kinerja proyek pembangunan.
2) Memberikan klarifikasi serta kritik terhadap nilai-nilai yang menjadi dasar
sasaran dan tujuan, dengan mempertimbangkan manfaat dan dampak
pembangunan terhadap kelompok sasaran, masyarakat, dan lingkungan.
3) Memberikan sumbangan pada applikasi serta analisis, perumusan, serta
rekomendasi terhadap suatu kebijakan.
UU 25/2004
UU 17/2003
UU 80/2003
Perpres No. 7/2005
UU 01/2004
PERENCANAAN
PENGANGGARAN
Bappenas, Bappeda
Departemen Keuangan
PELAKSANAAN
Departemen/LPND
PENGAWASAN
Intern : BPKP, Irjen, Bawasda
Ekstern : BPK, KPK, MASYARAKAT
UU 15/2004 (BPK)
UU 80/2003 (BKP, ITJEN, BAWASDA)
Gambar 12. Hubungan Perencanaan dan Penganggaran
PERENCANAAN PEMBANGUNAN I
30
INVESTASI/LAYANAN UMUM PEMERINTAH
INVESTASI MASYARAKAT
BARANG
JASA
Kegiatan pembangunan yang
Pemerintah menyediakan barang dan jasa yang belum dapat disediakan oleh
dibiayai dan dilaksanakan oeh
masyarakat secara mandiri. Secara umum, penyedian barang dan jasa dibagi
masyarakat
menjadi tiga aspek utama, yaitu Manusia, Usaha, dan Lingkungan
Pembangunan oleh masyarakat
harus berjalan sesuai dengan prinsip
– prinsip kebersamaan, berkeadilan,
berwawasan lingkungan,
I.
Pembangunan Manusia
I. Pelayanan/Jasa
a) Subsidi pendidikan berbentuk
fisik.
fisik.
Manusia
b) Tenaga Kesehatan
c) Sistem Pendidikan, dll.
berkesinambungan.
c) Subsidi Sosial
(Sesuai pasal 33 Ayat (4) UUD RI
II. Pembangunan Usaha
1945)
II. Palayanan/Jasa
Pemb
a) Sistem penyaluran modal
b) Bantuan modal
b) Mekanisme subsidibunga
c) Subsidi Bunga.
III. Pelayanan/Jasa Pemb Bidang
III. Pembangunan Lingkungan
(Sarana Prasarana)
a) Jalan
Lingkungan
a) Sistem Pembangunan
Infrastruktur
b) Jembatan, dll)
Tugas Pemerintah :
mendorong
memfasilitasi
agar
dan
kegiatan
masyarakat dapat tumbuh dan
Bidang
Usaha
a) Pasar
a) Mengatur,
Bidang
a) Gaji
b) Subsidi Kesehatan Berbentuk
kemandirian, serta
Pemb
Tugas Pemerintah :
a) Wajib menyediakan barang dan jasa melalui “Kerangka Anggaran”
berkembang
b) Melalui “ Kerangka Regulasi”
REGULASI
MEKANISME DAN PELAKSANAAN ANGGARAN
Diawasi oleh MA dan MK. Misalnya MK
membatalkan berlakunya UU Tenaga
Listrik yang dianggap merugikan
masyarakat luas.
Diawasi Oleh BPK, KPK, MENPAN, BPKP,
Deputi Pengawasan ITJEN, BAWASDA
Gambar 13. Mekanisme Pengawasan Pengadaan Barang dan Jasa
PERENCANAAN PEMBANGUNAN I
31
A. PENDAHULUAN
Pembangunan ekonomi merupakan sebuah proses pengembangan
kapasitas
masyarakat
dalam
jangka
panjang
sehingga
memerlukan
perencanaan yang tepat dan akurat. Pelaksanaan perencanaan pembangunan
daerah yang komprehensif dan terpadu, terdapat 2 syarat utama yang harus
dipenuhi oleh pembuat rencana pembangunan.
1. Seluruh elemen masyarakat serta lembaga yang (akan) bertanggung jawab
atas proses pembangunan harus dilibatkan dalam proses perencanaan
sehingga setiap elemen tersebut dapat merasakan proses dan hasil
pembangunan yang telah dilakukan.
2. Pemusatan area pembangunan ekonomi pada satu titik. Pemusatan ini tidak
harus memperhatikan batasan wilayah suatu daerah, karena daerah A dapat
bekerja sama dengan daerah B untuk membangun daerah B sebagai pusat
industri namun daerah A bertindak sebagai supplier input bagi industri yang
berada di kawasan B tersebut.
B. DETERMINASI EFEKTIVITAS PERENCANAAN PEMBANGUNAN
Di dalam melakukan perencanaan pembangunan, pembuat rencana akan
memperhatikan
beberapa
hal
yang
berpotensi
sebagai
penghambat
pelaksanaaan rencana tersebut maupun yang berfungsi sebagai pendukung
pelaksanaan kegiatan pembangunan. Beberapa faktor yang menjadi perhatian
tersebut adalah sebagai berikut :
1) Kondisi Lingkungan
Efektivitas perencanaan pembangunan daerah ini mencakup beberapa
sektor yaitu sosial dan budaya, ekonomi serta kondisi politik yang berkembang
di daerah tersebut. Pada sektor sosial dan budaya, rencana yang telah dibuat
akan efektif untuk diterapkan pada kondisi masyarakat yang memiliki tingkat
kehidupan yang tinggi (quality of life).
PERENCANAAN PEMBANGUNAN I
32
2) Sumber Daya Perencana Pembangunan
Kunci utama keberhasilan sebuah pembangunan terletak pada kualitas
perencanaan pembangunan tersebut. Sektor yang harus memperoleh perhatian
yakni sektor sumber daya alam yang terkandung di daerah tersebut, sektor
sosial ekonomi serta sektor fisik dan infrastruktur.
3) Sistem Perencanaan Yang Dianut di Daerah
Sudut perencanaan pembangunan berdasarkan :
a. Berdasarkan ruang lingkup tujuan dan sasarannya.
b. Berdasarkan jangkauan pembangunan.
c. Berdasarkan jangka waktu pelaksanaanya pembangunan.
d. Berdasarkan hirarki penyusunan perencanaan, apakah secara top-down
planning atau bottom up planning.
Dilihat dari sisi ideologi yang dianut oleh wilayah tersebut, perencanaan
yang dilakukan dapat dibedakan menjadi tiga kategori besar, yaitu :
a. Perencanaan yang bersifat kapitalis
b. Perencanaan yang bersifat komunis
c. Perencanaan yang bersifat sosialis
4) Perkembangan Ilmu Pengetahuan Dan Teknologi
Biaya yang rendah dengan hasil yang optimal merupakan salah satu
tujuan
utama
dilaksanakan
pembangunan.
Sehingga
perencanaan
pembangunan yang dilakukan harus mampu mengoptimalkan penggunaan
berbagai
ilmu
pengetahuan
dan
teknologi
yang
berkembang
dengan
memperhatikan sumber daya manusia yang menjalankannya.
5) Dana Pembangunan
Kebutuhan dana ini memang tidak harus disediakan dana yang
mencukupi untuk dilaksanakannya pembangunan. Kebutuhan dana tidak harus
disediakan oleh pemerintah daerah sepenuhnya, Karena pemerintah dapat
menarik investor dari luar untuk membangun perusahaan baru di daerahnya.
PERENCANAAN PEMBANGUNAN I
33
C. TIPOLOGI PERENCANAAN PEMBANGUNAN
Blakley (1994) mengemukakan terdapat beberapa tipe pandangan dalam
pembangunan ekonomi, pandangan pertama yang dikemukakan mengatakan
bahwa pembangunan ekonomi yang dilakukan harus memperhatikan kebutuhan
investor. Kedua, lebih memperhatikan pada kebutuhan lokal darerah.
1) Recruitment Planning
Pada model ini Pemerintah Daerah berusaha untuk menarik minat
investor untuk menamkan modalnya ke daerah.
2) Impact Planning
Model perencanaan ini didasarkan atas penutupan perusahaan akibat
pelarian modal ke luar daerah oleh investor terhadap tenaga kerja perusahaan.
Jenis Perencanaan ini hanya bisa dilakukan dalam jangka waktu yang pendek
saja, mengingat untuk melakukan program penjamin bagi tenaga kerja ini
membutuhkan dana yang besar.
3) Contingency Planning
Model
perencanaan
ini
merupakan
model
dari
sudut
pandang
pembangunan ekonomi yang didasarkan pada pemenuhan kebutuhan lokal.
Model ini merupakan model alternatif. Perencanaan ini akan efektif bila
masyarakat yang inisiatif untuk melaksanakan pembangunan dan pemerintah
berperan sebagai fasilitator.
4) Strategic Planning
Perencanaan strategik yang merupakan perencanaan pembangunan
yang memiliki jangka waktu yang panjang yang didasarkan pada kebutuhan
daerah tersebut. Kondisi ini memberikan manfaat kepada pemerintah daerah
karena pemerintah daerah tidak harus memberikan perlakuan khusus kepada
calon investor yang bersedia untuk menanamkan modalnya di daerah
D. TAHAP PELAKSANAAN PERENCANAAN PEMBANGUNAN
Menurut Blakley (1994), terdapat beberapa tahapan yang harus dilalui
pemerintah daerah dalam melakukan perencanaan pembangunan daerah :
1. Pengumpulan data dan analisis. Pemerintah mampu untuk mengevaluasi
kebutuhan daerah.
2. Pemilihan Strategi Pembangunan Ekonomi daerah. Pemerintah daerah harus
menentukan tujuan akhir.
PERENCANAAN PEMBANGUNAN I
34
3. Pemilihan rancangan pembangunan daerah. Pemerintah daerah melakukan
indentifikasi terhadap proyek yang layak.
4. Pengembangan
kegiatan
perencanaan.
Mempersiapkan
input
yang
dibutuhkan oleh proyek
5. Penentuan kegiatan pembangunan secara detil. Melakukan studi kelayakan
6. Persiapan dan Pelaksanaan rencana pembangunan. Tahapan ini rencana
kegiatan yang telah terseleksi diterjemahkan ke dalam proses pelaksanaan
secara teknis yang mencakup jadwal pelaksanaan hingga penentuan
program kegiatan pembangunan.
E. INDENTIFIKASI DAERAH PERENCANAAN
Pembangunan mencakup pemahaman terhadap kondisi tata ruang
wilayah di daerah tersebut.
1) Rapid District Appraisal (RDA)
Metode ini merupakan suatu cara bagi perencana untuk memperoleh data
dengan
melakukan
dialog
langsung
dengan
masyarakat
daera
yang
berkepentingan. Prinsip utama dalam menggunakan RDA yaitu :
a) Optimal Ignorance. Perencana harus memiliki skala perioritas.
b) Proportionate Accuracy. Perencana harus mampu bersifat obyektif.
2) Indentifikasi Kebijakan Pembangunan
Hal ini perlu dilakukan karena guna mengetahui berbagai kebijakan yang
sedang diimplementasikan
oleh
pemerintah
daerah
atau
yang pernah
diimplementasikan dalam proses pembangunan.
3) Pemetaan Wilayah Daerah
Pengetahuan yang baik oleh perencana mengenai daerah tersebut
merupakan bukti perencana mampu memberikan hasil yang terbaik dalam
perumusan rencana pembangunan daerah.
4) Indentifikasi Sumber Keuangan Daerah
Terdapat 4 sumber pendanaan, yaitu : PAD, Pendapatan BUMD,
pengelolaan kekayaan daerah, dan pendapata lain yang sah. Pembangunan
ekonomi yang baik merupakan pembangunan daerah yang melibatkan
penduduk daerah, karena masyarakat adalah innovator pembangunan, subyek,
obyek pembangunan.
PERENCANAAN PEMBANGUNAN I
35
F. ASPEK PERENCANAAN PEMBANGUNAN DAERAH
Aspek penting dalam pembangunan yaitu penentuan kebutuhan yang
dihadapi oleh derah. Ada 2 kategori informasi yang dapat digunakan oleh
perencana :
1) Analisa Berbasis Sosial Ekonomi Masyarakat
Berusaha untuk menganalisa kondisi sosial ekonomi yang dihadapi
oleh daerah.
a) Demografi Area
Fokus utama adalah kondisi penduduk di daerah tersebut. Analisa yang
dilakukan terhadap kondisi penduduk bertujuan untuk mengetahui sektor apa
yang menjadi dasar pengembangan ekonomi serta mengetahui target
populasi yang akan bekerja di sektor tersebut sehingga dapat merumuskan
kegiatan yang dapat mendukung pengembangan daerah.
b) Kondisi Pasar Tenaga Kerja
Analisis mengenai proses tarik menarik antara permintaan dan
penawaran tenaga kerja.
c) Karakteristik Ekonomi
Pengetahuan
perencana
mengenai
keadaaan
ekonomi
dapat
memberikan pemahaman bagi perencana menyangkut potensi daerah,
kekayaan daerah.
d) Tata Letak Letak Dan Kekayaan Alam
Sangat berhubungan dengan sektor ekonomi, contoh kecil sebuah
daerah berbasis wisata tidak dapat berkembang jika tidak dapat memberikan
sarana transportasi yang baik
e) Pelayanan Publik
Seorang perencana harus dapat membedakan daerah dengan tingkat
kualitas hidup tinggi dengan daerah yang memilki kualitas hidup rendah.
Kaitannya dengan pelayanan publik, persepsi masyarakat dengan hal itu ialah
sebagai kondisi sosial, tingkat pendidikan, serta tingkat kesehateraan.
PERENCANAAN PEMBANGUNAN I
36
2) Metode Analisis Kuantitatif
Metode ini digunakan untuk mengetahui struktur perekonomian
daerah. Ada beberapa metode dalam menganalisi perekonomian :
a. Shift Share Analisis
Metode ini menggambarkan hubungan yang dimiliki sebuah daerah
dengan daerah lain. Tujuan untuk mengetahui produktivitas daerah tersebut.
b. Location Quotient
Metode ini dapat digunakan untuk mengetahui kapasitas ekspor.
Xr
LQ =
RVr
Xn
RVn
Ket :
Xr = Jumlah tenaga kerja di industri X daerah
Xn = Jumlah tenaga kerja di industry X level nasional
RVr= Nilai variabel patokan daerah
RVn = Nilai variabel patokan nasional
Hasil perhitungan diartikan sebagai berikut :
LQ > 1 =
Daerah tersebut memiliki spesialisasi di sektor yang sedang diteliti
dibandingkan sektor yang sama pada level nasional.
LQ < 1 =
Daerah tersebut bukan merupakan spesialisasi di sektor yang
sedang diteliti dibandingkan sektor yang sama pada level nasional.
LQ = 1 =
Sektor tersebut terspesialisasi baik di tingkat nasional maupun di
daerah.
c. Analisis Hirarki
Menggunakan skala Guttman untuk mengumpulkan data empiris pada
tingkat kelompok masyarakat yang lebih kecil. Lebih lanjut analisis structural
dapat dibagi dalam tiga sub-kelas. Pertama, menggunakan sistem ekonomi
sebagai dasar analisa yang kemudian disebut sebagai differentiation. Sub kelas
kedua, didasarkan pada tingkat solidaritas masyarakat yang dimiliki di daerah.
Sub kelas ketiga, didasarkan pada keadaan ekonomi dan politik.
PERENCANAAN PEMBANGUNAN I
37
d. Ukuran Pendapatan Regional
Alat
analisis
ini
dapat
memberikan
gambaran
mengenai
kesejahteraan ekonomi dimiliki daerah tersebut baik secara kelompok
maupun individual.
e. Analisis Basis Ekonomi
Metode ini mengasumsikan bahwa daerah mampu melakukan ekspor
ke seluruh dunia sehingga pertumbuhan ekonomi daerah akan tergantung
dari besarnya ekspor yang dilakukan.
Dalam metode ini perencana harus melewati beberapa tahapan
hingga pada tahapan perhitungan :
Base Multiplier =
Total Pendapatan
Pendapatan Sektor Usaha
Dimana pendapatan merupakan penjumlahan pendapatan per sektor
utama dengan pendapatan yang diterima oleh sektor non-utama.
Base Multiplier =
Total Pendapatan
1 − Proporsi Pendapatan Sektor Non − Utama
Maka dengan memadukan proporsinya terhadap total pendapatan
regional akan diperoleh formula :
Regional Base Multiplier =
1
1 − ( Proporsi pengeluaran regional untuk sektor non utama)
X (proporsi yang dapat menghasilkan pendapatan)
Dengan memahami formula tersebut, dimana base multiplier
merupakan penjumlahan dari rasio sektor utama dengan sektor non-utama
perubahan total pendapatan daerah =
(Perubahan Pendapatan di sektor utama) x
regional base multiplier
Dari formula diatas perencana dapat mengetahui perubahan apa
yang terjadi pada pendapatan daerah ketika perencana melakukan
pengembangan sektor tertentu.
f. Input Output Suppliers
Metode ini berusaha melacak berbagai pengeluaran yang dilakukan oleh
satu sektor industyri di daerah. Tujuan guna mengetahui keterkaitan yang terjadi
diantara sektor-sektor ekonomi
PERENCANAAN PEMBANGUNAN I
38
3) Kapasitas Pengembangan Ekonomi Masyarakat
Untuk mampu melakukan penilaian terhadap masyarakat serta keinginan
masyarakat
untuk berkembang. Seorang perencana harus memperhatikan
berbagai aspek yang berkaitan dengan lembaga yang terdapat dalam
masyarakat :
a) Institusi Yang Berbasis Masyarakat. Perencana fokus pada sistem yang
berlaku dalam organisasi masyarakat.
b) Struktur Ekonomi. Pemahaman perencana mengenai organisasi yang
berhubungan langsung dengan perekonomian
c) Lembaga Politik. Kapasitas yang dimiliki oleh pemerintah daerah dalam
mendorong masyarakat untuk melaksanakan program pembangunan.
d) Lembaga Keuangan. Pembiayaan proses pembangunan daerah melibatkan
lembaga keuangan. Lembaga keuangan disini dianggap adalah Bank
Perkreditan rakyat.
e) Lembaga Pendidikan. Kualitas pendidikan yang diperoleh oleh penduduk
sebuah daerah akan mempengaruhi kualitas ekonomi daerah di masa yang
akan datang.
PERENCANAAN PEMBANGUNAN I
39
Sistem ekonomi negara-negara di dunia sangat bervariasi. Ini bukan
berarti sistem yang satu lebih baik daripada sistem yang lain, tetapi semuanya
itu tergantung dari sistem politik yang berkembang di masing-masing negara
pada zamannya.
A. SISTEM EKONOMI YANG BEBAS DAN SISTEM EKONOMI YANG
BERENCANA
Sistem ekonomi dapat dibagi menjadi dua kelompok, yaitu perekonomian
bebas dan perekonomian berencana.
1) Perekonomian bebas
Sistem ini dipelopori oleh Adam Smith dalam bukunya yaitu An Inquiry
Into the Nature and Cause of Wealth of Nations (1776). Dalam sistem ini Adam
Smith
menolak
adanya
campur
tangan
pemerintah
dalam
kegiatan
perekonomian. Atau perekonomian bebas berkembang sesuai hukum alam.
Terjadinya inflasi, penggangguran yang melanda perekonomian dunia
pada tahun 1929, tidak dijelaskan dalam sistem ini sehingga ahli ekonomi
Inggris John Mynard Keynes dalam bukunya “The General Theory of
Employment Interest and Money” (1936) mengusulkan solusi pemecahannya.
Bagaimanapun juga campur tangan pemerintah terutama dalam kebijakan fiskal
seperti pengeluaran pemerintah dan perpajakan merupakan senjata untuk
memerangi penggangguran.
Dalam sistem ini produsen dan distribusi barang berjalan sesuai dengan
permintaan dan penawaran, sehingga harga yang tebentuk merupakan hasil dari
mekanisme pasar. Kelemahan-kelemahan dalam sistem perekonomian bebas
yakni :
1. Pendapatan tidak terbagi secara adil.
2. Gaji dan upah buruh juga didasarkan pada mekanisme permintaan dan
penawaran.
3. Ekonomi pasar ini akan menimbulkan fluktuasi perekonomian, yang sewaktuwaktu secara siklus akan membuat kebangkrutan perusahaan-perusahaan
yang mengakibatkan penggangguran bagi para pekerjanya.
PERENCANAAN PEMBANGUNAN I
40
2) Ekonomi Berencana
Walaupun negara yang sedang berkembang menginginkan ekonomi yang
berencana tetapi tidak berarti bahwa mekanisme pasar dihilangkan sama sekali,
sekurang-kurangnya negara dapat campur tangan dalam mengatur melalui
kebijakan-kebijakan yang terarah. Kebijakan seperti tingkat bunga, pajak, subsidi
dan lain-lain dapat mendorong swasta untuk berinvestasi sesuai yang
dikhendaki oleh pemerintah.
B. PERENCANAAN DALAM NEGARA YANG SEDANG BERKEMBANG
1) Kriteria negara Miskin
Simon Kuznets mengusulkan tiga pengertian tentang keterbelakangan
yaitu: Pertama, negara yang mengalami kegagalan memanfaatkan secara
penuh potensi produktif dengan menggunakan tingkat pengetahuan teknologi
yang ada. Kedua, negara miskin dapat berarti keterbelakangan dalam kinerja
ekonominya dibanding dengan negara maju. Ketiga, negara miskin dapat berarti
miskin dalam bidang ekonomi atau kegagalan untuk menyediakan biaya hidup
yang memadai bagi sebagian terbesar penduduk.
Beberapa sebab Kemiskinan di Negara yang Sedang Berkembang:
1. Tingkat pendapatan perkapita yang rendah
2. Mempunyai tingkat pertumbuhan penduduk yang tinggi (± 2% per tahun)
3. Sebagian besar dari tenaga kerja bekerja di sektor pertanian
4. Terbelenggu dalam lingkaran setan
Alasan lain mengapa suatu negara menjadi miskin adalah karena
kurangnya sumber-sumber alam yang dimiliki negara yang bersangkutan, tingkat
kepadatan penduduk. Ragnar Nurske bahwa The Country is poor negara satu
dibandingkan dengan or, because it is poor. Apabila dikaji lebih lanjut,
kenyataannya suatu negara menjadi miskin karena terbelenggu dalam lingkaran
setan atau lingkaran yang tidak berujung pangkal. Yang dapat menghindarkan
dari kemiskinan adalah kemauan pemerintah dalam mengorganisasikan SDM
dan SDM untuk mencapai sasaran yang terpadu secara efisien.
PERENCANAAN PEMBANGUNAN I
41
2) Lingkaran Setan
Dalam
pendapatan
lingkaran
yang
setan,
rendah.
pokok
pangkal
Pendapatan
dari
yang
kemiskinan
rendah
bukan
adalah
hanya
mempengaruhi tingkat tabungan yang rendah, tetapi juga mempengaruhi tingkat
pendidikan, kesehatan yang rendah sehingga produktivitas sumberdaya yang
ada juga menjadi rendah.
Investasi dan peningkatan produktivitas merupakan faktor yang tidak bisa
lepas dari usaha untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat. Sedangkan
investasi oleh masyarakat suatu negara tidak bisa lepas dari kemampuan
masyarakat untuk menabung. Dalam teori pertumbuhan selalu ditujukan kepada
2 segi khusus, yaitu :
a. Pengembangan tabungan
b. Peningkatan investasi serta produktivitas
Karena itu agar lebih meningkatkan kesejahteraan masyarakat diperlukan
investasi yang cukup memadai. Dan untuk itu secara nasional diperlukan tingkat
tabungan yang cukup meningkatkan pendapatan perkapita. Menurut Henry C.
Bruton untuk meningkatkan tabungan, dilakukan dengan cara :
a. Dorongan moral untuk melakukan tabungan.
b. Memberikan rangsangan langsung untuk menabung
c. Meningkatkan kesempatan menanam modal
d. Mengenalkan lembaga keuangan.
3) Perlunya Pembangunan
Pembangunan harus diartikan lebih dari pemenuhan kebutuhan materi di
dalam kehidupan manusia. Untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat,
bukan hanya menciptakan peningkatan pada produksi nasional riil, tetapi juga
harus ada perubahan dalam kelembagaan, struktur administrasi, perubahan
sikap dan bahkan kebiasaan.
Pembangunan ekonomi adalah sebagai perubahan yang meningkat pada
kapasitas produksi nasional. Pertumbuhan ekonomi tidak hanya dilihat secara
materiil, seperti meningkatnya pendapatan perkapita tetapi juga peningkatan
formasi modal non materiil. Pembangunan di negara-negara berkembang masih
mempunyai hambatan-hambatan. Hambatannya antara lain :
PERENCANAAN PEMBANGUNAN I
42
a. Hambatan alam (kekurangan sumber-sumber daya alam).
b. Hambatan yang berhubungan dengan ciptaan manusia (kekurangan
peraturan yang mendukung).
c. Hambatan Objektif (Kekurangan modal).
d. Hambatan Subjektif (kekurangan jiwa kepemimpinan).
4) Perencanaan Sebagai Suatu Alternatif
Perencanaan didefinisikan sebagai suatu proses penyiapan seperangkat
keputusan untuk dilaksanakan pada waktu yang akan datang yang diarahkan
pada pencapaian sasaran tertentu. Perencanaan Ekonomi baru dikenal tahun
1950-an, terutama oleh negara-negara yang sedang berkembang.
Perencanaan di negara dengan perekonomian bebas menggunakan
mekanisme harga pasar sebagai indikator untuk mengetahui kekurangan atau
kelebihan produksinya. Banyaknya Pelaku ekonomi dikuasai oleh swasta maka
pengendalian oleh pemerintah biasanya dilakukan dengan menciptakan
kebijakan.
Pada Negara Sosialis, sebagian besar pelaku ekonomi dikuasai oleh
negara, sehingga negara dapat merencanakan secara menyeluruh mulai dari
tingkat produksi sampai tingkat distribusi. Tony Killick mengidentifikasikan
terdapatnya 6 sifat dalam perencanaan pembangunan nasional, yaitu :
1. Perencanaan pembangunan menyajikan tujuan kebijakan pemerintah,
terutama dengan penekanan pada pembangunan ekonomi.
2. Strategi untuk pencapaian tujuan harus dikenali.
3. Suatu rencana harus dilaksanakan secara konsisten menurut pedoman yang
terarah.
4. Perencanaan mencoba untuk memahami dan mempengaruhi seluruh
kehidupan perekonomian.
5. Suatu rencana menggunakan suatu model ekonomi makro untuk meramal
suatu kinerja perekonomian yang diinginkan.
6. Perencanaan dibagi menurut jangka waktu tertentu.
PERENCANAAN PEMBANGUNAN I
43
Perencanaan terdiri dari berbagai tingkat. Dilihat dari segi luas wilayah,
perencanaan dibagi menjadi dua yaitu:
a) Perencanaan Nasional; b)
Perencanaan Daerah.
Perencanaan Nasional disusun oleh lembaga perencanaan yang di
masing-masing negara mempunyai organisasi yang berlainan. Jenis lain tentang
penyusunan perencanaan adalah perencanaan yang komprehensif dan parsial.
Perencanaan Komprehensif yaitu suatu perencanaan yang menyeluruh dan
integrated, sedangkan Perencanaan Parsial yaitu perencanaan yang sepotongpotong
walaupun
satu
sama
lain
sambung
menyambung
secara
rekoordinasikan. Dari segi waktu, perencanaan dilaksanakan dalam jangka
panjang, jangka menengah dan pendek.
A. MACAM-MACAM PERENCANAAN
Perencanaan dapat di susun berdasarkan empat kriteria, antara lain : 1) Jangka
Waktu; 2) Ruang Lingkup; 3) Tingkat Keluwesan; 4) Arus Informasi
1) Dilihat dari Jangka waktu
Perencanaan dapat dibagi menjadi tiga jenis :
a) Perencanaan Jangka Panjang (sekitar 10 sampai dengan 25 tahun)
Di Indonesia, Garis-Garis Haluan Negara (GBHN) dapat dikategorikan
sebagai perencanaan jangka panjang. Dalam perencanaan Jangka Panjang ini
sasarannya
belum
dapat
disajikan
secara
kuantitatif
hanya
biasanya
dicerminkan dengan sasaran yang kualitatif, yaitu merupakan kebijakan yang
akan ditempuh.
b) Perencanaan Jangka Menengah
Perencanaan Jangka Menengah biasanya dikaitkan dengan kebutuhan
secara politis yang didasarkan karena jangka waktu yang disesuaikan dengan
jabatan penguasa pemerintahan. Biasanya jangka waktu 5 tahunan adalah
jangka waktu yang ideal mengingat presiden dan kabinetnya akan memerintah
paling sedikit lima tahun.
PERENCANAAN PEMBANGUNAN I
44
Perencanaan Jangka Menengah mempunyai kurun waktu 4 sampai 6
tahun. Dalam perencanaan jangka menengah, walaupun sasarannya masih
bersifat umum, tetapi secara kasar telah dapat dilihat arah sasaran sektor dan
sub sektornya.
c) Perencanaan Jangka Pendek
Perencanaan Jangka Pendek atau juga Perencanaan Operasional
Tahunan biasanya mempunyai kurun waktu 1 tahun. Dilihat dari sudut
penyimpangan antara rencana dan sasaran yang akan dicapai, perencanaan
jangka pendek mempunyai penyimpangan yang lebih kecil dibandingkan
perencanaan jangka menengah dan jangka panjang.
Bintoro Tjokroamidjojo menyebutkan bahwa perencanaan operasional
tahunan merupakan mdifikasi dari cara rolling plan. Rolling plan adalah
perencanaan yang pada tiap akhir tahun pelaksanaan rencana dilakukan
perubahan serta penyesuaian kembali dari perkiraan sasaran program dan
proyek untuk rencana tahun berikutnya.
2) Dilihat dari Ruang Lingkup
Perencanaan dapat dibagi menjadi tiga bagian,yaitu :
a) Perencanaan Agregatif atau Komrehensif
Perencanaan agregatif atau meliputi perencanaan seluruh perekonomian
global. Perencanaan ini dimulai dengan proyeksi peningkatan pendapatan atau
produksi
nasional
dalam
periode
tertentu.
Menurut
Albert
Waterson,
perencanaan komprehensif bagi negara-negara yang sedang berkembang
agaknya terlalu ambisius. Negara-negara yang sedang berkembang cenderung
memulai dengan perencanaan-perencanaan parsial, yaitu project by project.
Perhitungan untuk pertumbuhan ekonomi seperti Capital Output Ratio
merupakan kelemahan apabila dipergunakan sebagai cara untuk meningkatkan
sulit pendapatan.
Perencanaan Komprehensif secara teknis lebih sulit dari perencanaan
parsial dan juga tidak selalu bermanfaat untuk negara-negara yang sedang
berkembang.
b) Perencanaan Parsial
Perencanaan
ini
dimulai
secara
sepotong-sepotong
melalui
pembangunan program atau proyek-proyek yang biasanya untuk menanggulangi
PERENCANAAN PEMBANGUNAN I
45
sasaran
jangka
pendek,
misalnya
untuk
meningkatkan
ekspor
impor,
menanggulagi kemiskinan dan lain sebagainya.
3) Dilihat dari Tingkat Keluwesan Perencanaan
Perencanaan dapat dibagi menjadi dua, yaitu :
a) Perencanaan Preskriptif
Perencanaan seperti ini biasanya sangat kaku, sasarannya harus dapat
dicapai sesuai dengan apa yang direncanakan. Perencanaan preskriptif
biasanya dilaksanakan oleh negara yang menganut sistem sosialis totaliter.
b) Perencanaan Indikatif
Perencanaan Indikatif adalah perencanaan yang sasarannya merupakan
indikasi dari apa yang diinginkan untuk dicapai. Perencanaan ini mempunyai
persyaratan seperti : 1) Mengarah pada tujuan; 2) Mempunyai urutan prioritas;
3) Tidak didasari atas model yang kaku. Negara yang sedang berkembang, yang
data-datanya biasanya kurang lengkap, menerapkan perencanaan indikatif,
termasuk Indonesia.
4) Dilihat dari Arus Informasi
Perencanaan dapat dibagi menjadi 2 kategori :
a) Perencanaan dari atas ke bawah ( top down planning)
b) Perencanaan dari bawah ke atas ( bottom up planning)
Perencanaan tingkat mikro, digunakan untuk menunjang pencapaian
sasaran perencanaan makro. Apabila alokasi dari “atas” berlebihan dari yang
seharusnya dibutuhkan, maka akan timbul penciptaan proyek yang tidak efisien,
dan menyimpang dari sasaran makronya. Sebaliknya, perencanaan dari
bawah ke atas mempunyai kelemahan, yaitu kemungkinan terjadinya sasaran
program yang tidak konsisten atau seimbang sehingga tidak mencapai manfaat
yang maksimal.
B) SYARAT-SYARAT PERENCANAAN YANG BAIK
Persyaratan perencanaan pembangunan yaitu sebagai berikut :
1) Perencanaan harus didasari dengan tujuan pembangunan; 2) Perencanan
harus konsisten dan realistis; 3) Perencanaan harus dibarengi dengan
pengawasan yang kontiniu; 4) Perencanaan harus mencakup aspek fisik dan
PERENCANAAN PEMBANGUNAN I
46
pembiayaan; 5) Para perencana harus memahami berbagai perilaku dan
hubungan antar variabel ekonomi; 6) perencanaan harus mempunyai koordinasi.
1) Didasari Tujuan Pembangunan
Tujuan pembangunan berbeda antar negara dan antar negara yang
menganut sistem ekonomi yang satu dengan yang lain. Negara sosialis akan
memilih tujuan pembangunnan yang berbeda dengan negara-negara yang
menganut sistem perekonomian campuran atau negara-negara maju atau yang
sedang berkembang.
Secara umum terutama negara-negara yang sedang berkembang,
pembangunan biasanya mempunyai tujuan yang meliputi hal-hal pokok seperti :
(a) Meningkatkan pertumbuhan ekonomi
(b) Meningkatkan pemerataan pendapatan masyarakat
(c) Meningkatkan kesempatan kerja
(d) Meningkatkan pemerataan pembangunan antar daerah
2) Konsisten dan Realistis
Kebijakan
pengeluaran
anggaran
yang
disesuaikan
dengan
penerimaannya merupakan usaha untuk melaksanakan perencanaan yang lebih
realistis. Indonesia mempunyai pengalaman dengan pengeluaran yang melebihi
penerimaannya atau yang sering disebut defisit spending. Usaha ini kurang
berhasil karena mengakibatkan adanya tekanan inflasi.
3) Pengawasan yang Kontiniu
Perencanaan tanpa pengawasan akan mengakibatkan penyimpanganpenyimpangan
yang
justru
akan
merugikan
perencanaan
itu
sendiri.
Pengawasan dapat dilakukan secara preventif maupun represif. Perencanaan
secara preventif adalah pengawasan yang dilakukan secara built in dengan
perencanaanya. Perencanaan secara represif dapat dilakukan secara intern
yaitu pengawasan dari pimpinan langsung kepada bawahannya maupun secara
ekstern yaitu yang dilakukan oleh Badan Pengawas di luar instansinya.
4) Mencakup Aspek Fisik dan Pembiayaan
Perencanaan mencakup pengeluaran uang, tetapi juga sasaran yang
akan dicapai dengan sejumlah uang yang dikeluarkan. Kebutuhan masyarakat
terdiri dari kebutuhan fisik dan non fisik. Kebutuhan-kebutuhan tersebut perlu
direncanakan secara konsisten dan menurut prioritas. Dengan biaya yang
PERENCANAAN PEMBANGUNAN I
47
terbatas seorang perencana harus mampu untuk melakukan pilihan menurut
skala prioritas dari kebutuhan fisik yang diperlukan.
5) Memahami Berbagai Perilaku dan Hubungan Antar variabel Ekonomi
Perencanaan berarti pula membuat suatu proyeksi. Proyeksi merupakan
hasil dari koordinasi beberapa variabel yang berkaitan, walaupun masingmasing mempunyai ciri-ciri yang berlainan.dalam koordinasi antar variabel, yang
paling sulit adalah memilih variabel yang mempunyai hubungan satu sama lain.
Beberapa hubungan variabel dapat dibedakan antara lain :
1. Hubungan Kausal. Yaitu dua variabel atau lebih yang apabila terjadi
perubahan variabel yang satu dapat mempunyai dampak terhadap
perubahan variabel yang lain, tetapi tidak terjadi sebaliknya.
2. Hubungan Fungsional. Yaitu dua variabel atau lebih yang dapat
mempengaruhi variabel lainnya dan terjadi pula sebaliknya.
3. Hubungan karena perilaku manusia. Yaitu perubahan pada suatu variabel
dalam pengaruhnya terhadap perubahan variabel lainnya berbeda-beda
tergantung dari perilaku manusia.
4. Hubungan Akunting. Yaitu seimbang pada sisi yang satu dengan sisi
lainnya seperti pada pembukuan.
5. Hubungan Teknis. Yaitu hubungan yang dihasilkan oleh teknologi di mana
selama teknologi yang ada belum berubah, maka dua variabel tersebut
mempunyai koefisien teknis yang tetap.
PERENCANAAN PEMBANGUNAN I
48
Pentingnya koordinasi adalah untuk menghindari inkonsistensi antar
kebijakan,
antar
perencanaan
dan
pelaksanaan.
Proses
perencanaan
mempunyai pentahapan yang panjang, maka pentahapan tersebut dapat
digambarkan sebagai berikut :
Penelitian tentang
Sumber Daya Alam
Penentuan Tujuan
Menjabarkan dalam
program-program
Menyusun Kebijakan
Pelaksanaan
Penilaian
Revisi apabila
Diperlukan
Evaluasi
Keberhasilan
Gambar 14. Siklus Proyek
A. POLITIK DAN PERENCANAAN
Rencana
adalah
merupakan
proyeksi.
Penyusunan
rencana
menggunakan metode perhitungan matematik, statistik, input output dan metode
PERENCANAAN PEMBANGUNAN I
49
perhitungan lainnya. Penyusunan rencana adalah sangat kompleks dan bahkan
kadang-kadang berhadapan dengan konflik di antara para aktor yang
menangani penyusunan rencana itu.
a) Koordinasi Metode Perencanaan
Dalam tahap penyusunan rencana yang berkaitan dengan penentuan
strategi pembangunan diperlukan koordinasi untuk menghindarkan inkonsistensi
antarpola pikir para perencana dan wakil-wakil rakyat yang mempunyai latar
belakang berbeda.
b) Konflik Dalam Kelembagaan
Rencana
pembangunan
melibatkan
4
lembaga
yakni
Bappenas
Departemen Keuangan, Departemen teknis, Lembaga Legislatif dan kelompok
masyarakat yang terlibat. Bappenas dan Departemen Keuangan adalah
lembaga
yang
menyusun
Departemen teknis adalah
rencana
dan
pembiayaan
secara
terpusat.
lembaga yang bertanggung jawab
dalam
perencanaan dan pelaksanaan program, sehingga lembaga ini bertanggung
jawab untuk mempersiapkan program dari awal. Lembaga legislatif adalah DPR
yang mempunyai 3 fungsi pokok: 1) Fungsi Legislatif (membuat peraturan
perundangan); 2) Fungsi Anggaran; 3) Fungsi Pengawasan.
Kelompok masyarakat yang terlibat adalah kelompok yang mempunyai
kepentingan
dari
program-program
yang
disusun
oleh
Bappenas
dan
Departemen Keuangan. Penyusunan rencana telah dirancang agar : 1) Rencana
harus mempunyai arah dalam ekonomi yang menekankan pada penggunaan
sumber-sumber dalam masyarakat; 2) Rencana harus mempunyai tujuan, antara
lain untuk meningkatkan pertumbuhan, meningkatkan kesempatan kerja,
stabilitas harga dan kebijakan moneter yang lain. Karena itu, penyusunan
rencana tidak dapat dipisahkan dari unsur politik.
c) Koordinasi Antar Tingkat Perencanaan
Dalam perencanaan dapat dibagi menjadi kelompok perencanaan yang
satu sama lain berkaitan. Kelompok perencanaan tersebut adalah: a)
Perencanaan Makro; b) Perencanaan Sektoral; c) Perencanaan Regional dan d)
Perencanaan Mikro atau proyek. Koordinasi antara perencanaan makro dengan
perencanaan mikro (proyek) disebut koordinasi vertikal, sedangkan koordinasi
antara perencanaan sektoral dengan perencanaan regional disebut koordinasi
horizontal.
PERENCANAAN PEMBANGUNAN I
50
Perencanaan Makro yakni mengoordinasikan hubungan variabelvariabel ekonomi mengenai tingkat konsumsi, investasi, baik investasi
pemerintah maupun swasta, tingkat ekspor, impor, perpajakan, tingkat bunga
dan lain sebagainya. Perencanaan ini disusun oleh BAPPENAS, sebagai
pedoman pembuatan kebijakan maupun pelaksanaan proyek pembangunan.
Teknik untuk perhitungan-perhitungan dengan menggunakan proyeksi secara
agregat dalam hubungan dengan variabel ekonomi.
Perencanaan
Sektoral
yakni
memproyeksikan
sasaran-sasaran
pembangunan sektor dalam pencapaian sasaran pendapatan nasional yang
telah ditentukan. Perencanaan ini disusun oleh BAPPENAS yang dipergunakan
sebagai
pedoman
penyusunan
rencana
program
dan
proyek
oleh
departemen/lembaga. Teknik yang dipergunakan untuk perhitungan antar sektor
ini dipergunakan input-output analisis atau teknik linear programming.
Perencanaan Regional : Memproyeksikan perkiraan pertumbuhan untuk
masing-masing propinsi dan proyek yang akan dibangun di propinsi yang
bersangkutan dalam rangka keseimbangan pembangunan. Proyeksi mengenai
pertumbuhan disusun oleh BAPPENAS setelah mendapat masukan dari
bappeda masing-masing. Sedangkan penyusunan program atau proyek di
propinsi disusun oleh BAPPEDA dan dikonsultasikan kepada BAPPENAS.
Dalam penyusunan proyek regional perlu diperhatikan konsistensi antara
proyek yang lainnya, agar satu sama lain tidak terjadi kelebihan atau
kekurangan produksi. Untuk itu diperlukan koordinasi yang menyangkut : Jenis
Proyek, Besarnya Proyek, Waktu penyelesaian proyek, Lokasi proyek.
Perencanaan
Proyek
dilaksanakan
oleh
departemen/lembaga.
Pemilihan proyek yang akan dibangun harus diarahkan pada proyek-proyek
yang dapat menunjang sasaran makro tanpa mengabaikan efisiensi dari masingmasing proyek yang bersangkutan. Dalam hal ini teknik-teknik seperti CostBenefit Analysis, Net Present Value dan Internal Rate of Return dapat
dipergunakan.
Semuanya ini diperlukan suatu organisasi pengelola proyek yang
biasanya terdiri dari: (a) pemimpin proyek, (b) pengelola keuangan proyek
bendahara proyek, (c) Pengelola proyek, (d) Pengelola teknis pengelola proyek.
Disamping terdapat juga organisasi pelaksana proyek yang terdiri dari pihakPERENCANAAN PEMBANGUNAN I
51
pihak
yang
ditunjuk
oleh
pemimpin
proyek
untuk
melaksanakan
pelerjaan/kegiatan proyek melalui prosedur yang berlaku, terdiri atas :
1. Manajemen Konstruksi: lembaga ini digunakan apabila dibutuhkan koordinasi
teknis pelaksanaan antara para pelaksana dalam pelaksanaan proyek yang
karena sifatnya tidak dapat dilakukan oleh pengelola proyek.
2. Konsultan Perencana: digunakan pada semua tahap pembangunan mulai
dari
persiapan,
perancangan
konstruksi
fisik
maupun
pemanfaatan
pembangunan.
3. Konsultan Pengawas : Konsultan pengawas digunakan apabila perancangan
dilakukan oleh suatu konsultan perencana dan pelaksanaan konstruksi fisik
dilakukan oleh satu kontraktor.
4. Pelaksana Value Engineering
5. Kontraktor/pelaksana konstruksi.
d) Koordinasi Usaha-usaha Masyarakat
Usaha untuk menggerakan dan mengiring swasta sesuai dengan tujuan
pembangunan yang diinginkan oleh masyarakat, perlu diciptakan peraturan dan
perangsang yang meliputi seluruh aspek yang dapat mendorong swasta untuk
berpartisipasi.
Peraturan dan perangsang yang dimaksud adalah kebijakan mengenai
perpajakan, subsidi, kebijakan harga, upah dan sebagainya dapat dipakai oleh
pemerintah untuk mendorong swasta melakukan investasi sesuai sektor-sektor
yang dikehendaki pemerintah untuk pertumbuhan (Tabel 3).
PERENCANAAN PEMBANGUNAN I
52
Tabel 3. Hubungan Suatu Kebijakan dan Variabel yang Dipengaruhi
No
Wilayah Kebijakan
(1)
Peralatan Kebijakan
(2)
Tingkat bunga
1.
Moneter
2.
Perpajakan
3.
Perdagangan
Internasional
4.
Penanaman Modal
5.
Ketenagakerjaan
6.
Produksi
Pajak subsidi dan
pengawasan harga
7.
Investasi
a) Tingkat harga
a) Pajak pendaan
perorangan
b) Pajak perusahaan
c) Kurs
Perpajakan dan
keuntungan perusahaan
asing
Tingkat upah
Variabel yang
dipengaruhi
(3)
(1) Tingkat Investasi
(2) Biaya produksi
Konsumsi dan tabungan
(1) Keuntungan
(2) Investasi
(1) Biaya Impor
(2) Harga Ekspor
(3) Neraca pembayaran
Tingkat penanaman
modal
Peralatan
Operasional
(4)
Operasi pasar
terbuka
Pengeluaran
Pemerintah
Variabel Yang
Dipengaruhi
(5)
(1) Uang yang beredar
Bursa valuta
asiing
Kurs
Pinjaman luar
negeri
(1) Sumber investasi
(2) Penanaman devisa
(1)
(2)
(3)
(1)
Emigrasi dan
imigrasi
Penawaran tenaga kerja
Pengeluaran
Pemerintah
Tingkat produksi
Investasi
Pemerintah
Pembatasan
impor
Kuota impor
Tingkat investasi
(1) Harga dan
keuntungan
(2) Tingkat investasi
(1) Tingkat impor
(2) Harga dalam negeri
Survei, investasi
Tingkat komposisi
pertumbuhan
pendapatan
Konsumsi bagi
golongan pendapatan
yang berbeda
Biaya buruh
Keuntungan
Pendapatan buruh
Keuntungan dan
produksi
(2) Investasi
(1) Keuntungan
(2) Investasi sektoral
b) Pembebasan pajak
8.
Perdagangan
Subsidi
9.
Sumber-sumber alam
Pajak dan subsidi
10.
Konumsi
PERENCANAAN PEMBANGUNAN I
Pajak penjualan
(1) Harga pada
konsumen
(2) Keuntungan produksi
dalam negeri
(1) Biaya produksi
(2) Tingkat eksploitasi
Konsumsi di kalangan
golongan pendapatan
yang berbeda
53
Jasa-jasa
Pemerintah
(pendidikan,
kesehatan, dsb)
(1) Pendapatan nasional
Kelemahan perencanaan pembangunan di Indonesia adalah kurangnya
koordinasi dan sinkronisasi dalam pelaksanaannya. Sebab utamanya antara lain
karena luasnya wilayah Republik Indonesia dan kurangnya saran serta
prasarana komunikasi yang berakibat pada minimalnya arus informasi dan
menghambat pelaksanaan yang telah dirancang semula. Untuk menanggulangi
masalah ini Indonesia harus melaksanakan desentralisasi dalam perencanaan
dan pelaksanaan pembangunan.
Sebagian penulis berpendapat bahwa desentralisasi dalam suatu negara
meliputi pengalihan kekuasaan dalam pelayanan kepada masyarakat atau di
dalam pemerintahan pusat kepada pemerintah daerah yang lebih dekat dengan
masyarakat yang dilayani. Pengalihan ini meliputi wilayah tempat yang secara
hierarkis dan geografis lebih dekat dengan objek pelayanan.
Pengalihan kekuasaan ada 3 macam, yaitu :
1. Apabila ada pendelegasian antar struktur politik
2. Pendelegasian antar administrasi publik
3. Pengalihan dari lembaga negara kepada badan swasta atau dari pemerintah
ke sektor swasta.
Dalam penyelenggaraan pemerintahan negara, ada 2 nilai dasar yang
telah diperkenalkan oleh the founding fathers, yaitu unitaris dan desentralisasi
teritorial.
Penyelenggaraan
pusat
dan
daerah.
Hal
ini
karena
dalam
penyelenggaraan desentralisasi terdapat 2 elemen penting yaitu : pembentukan
daerah otonom dan penyerahan kekuasaan secara hukum untuk mengatur dan
mengurus bidang-bidang pemerintahan tertentu, baik yang dirinci maupun yang
dirumuskan secara umum.
Dalam penyelenggaraan desentralisasi, pola hubungan kekuasaan
mempunyai unsur keterpisahan dan kemajemukan struktural dalam sistem politik
secara keseluruhan, dibatasi dengan pasal 1 ayat (1) UUD 1945. Hal ini berarti
sebagai pembatas besar dan luasnya daerah otonom dan hubungan kekuasaan
PERENCANAAN PEMBANGUNAN I
54
antara pemerintah pusat dan daerah adalah untuk menghindari terwujudnya
daerah otonom menjadi “negara dalam negara”. Pembentukan daerah otonom
dalam rangka desetralisasi di Indonesia memiliki ciri :
a. Daerah otonom tidak memiliki kedaulatan atau semi-kedaulatan layaknya di
negara federal.
b. Desentralisasi dimanifestasikan dengan bentuk penyerahan atau pengakuan
atas urusan pemerintahan baik yang rinci maupun yang dirumuskan secara
umum.
c. Penyerahan atau pengakuan urusan pemerintah adalah terkait dengan
peraturan dan pengurusan kepentingan masyarakat setempat sesuai dengan
prakarsa sendiri berdasarkan aspirasi masyarakat.
A. MENGAPA DESENTRALISASI ?
Sebagian besar negara yang sedang berkembang menginginkan
melaksanakan pembangunan pertumbuhan ekonomi dapat terdorong karena
baik perencanaan maupun pelaksanaan disesuaikan dengan keinginan
masyarakat.
Walaupun kebijakan yang sentralistis diakui dapat meningkatkan efisiensi,
tetapi efisiensi itu dapat dilihat dari sudut mikro dan makro. Secara mikro, suatu
kebijakan bisa dikatakan efisien apabila manfaat lebih besar dari biaya yang
dikeluarkan, sedangkan secara makro harus dicermati apakah suatu kebijakan
telah bermanfaat secara menyeluruh dan merata di seluruh tanah air. Dalam hal
ini, dapat dikatakan bahwa “efisien” dari sudut mikro belum tentu efisien dari segi
makro dan sebaliknya.
Dengan desentralisasi, tujuan pemerataan itu dapat lebih menjamin
efektivitas pembangunan dan menyerap partisipasi aktif dari seluruh masyarakat
di daerah.
1) Pengertian Desentralisasi
Dari segi etimologis, Desentralisasi berarti pembagian wilayah secara
adminitratif maupun pemerintahan. Desentralisasi meliputi pendelegasian
wewenang ke dalam tingkat yang lebih rendah dalam hirarki pemerintahan
dalam suatu negara maupun bagian-bagian dalam suatu organisasi besar.
PERENCANAAN PEMBANGUNAN I
55
Menurut B.C Smith, desentralisasi mengacu pada distribusi wilayah
kekuasaan. Desentralisasi menitikberatkan pada bagaimana kekuasaan dan
wewenang disebarkan melalui suatu negara, lembaga-lembaga dan proses
dimana penyebaran kekuasaan dan wewenang itu terjadi.
Sebagian penulis berpendapat bahwa desentralisasi dalam suatu negara
adalah pelimpahan kekuasaan pelayanan publik dari individual atau pemerintah
pusat yang lebih dekat dalam pelayanannya.
2) Desentralisasi sebagai Mode
Desentralisasi sekarang ini sudah menjadi mode dan sedang mencoba
untuk diterapkan
di beberapa
negara
terutama
negara
yang
sedang
berkembang.
Harapan-harapan dilaksanakannya desentralisasi:
a. Menanggulangi kemiskinan yang timbul karena adanya kesenjangan antar
daerah.
b. Membantu kelompok masyarakat yang hidup di pedesaan.
c. Memudahkan masalah-masalah pemungutan pajak.
d. Mengurangi pengeluaran pemerintah secara umum.
e. Memobilisasi sumber-sumber daerah.
f. Mengurangi tugas-tugas pemerintah pusat yang sudah terlalu banyak.
g. Mengenalkan perencanaan lebih besar.
h. Mengenalkan partisipasi masyarakat dalam pembangunan.
Desentralisasi yang terlalu luas juga akan mempunyai dampak terhadap
pusat, berupa pembebanan yang kemungkinan ditanggung oleh pusat, misalnya
berupa pembayaran pinjaman. Perwujudan desentralisasi antara lain tercermin
dari semakin besarnya pendelegasian penyelenggaran tugas pemerintahan
kepada pemerintah daerah dan makin besarnya hak mereka untuk mengurus
keperluannya sendiri, pendidikan tingkat sekolah dasar, kesehatan.
Luasnya wilayah Indonesia, penerapan desentralisasi dalam anggaran
negara sangat penting karena mengingat beberapa alasan, antara lain:
a. Pemerintah daerah lebih mengetahui situasi dan kondisi di daerahnya,
dengan
kemampuan
manajemen
yang
baik,
mereka
akan
dapat
merencanakan dan melaksanakan tugas pembangunan dengan baik pula.
PERENCANAAN PEMBANGUNAN I
56
b. Secara teknis, suatu proyek menjadi tanggung jawab baik di segi
pembiayaan, perencanaan dan pelaksanaan oleh daerah sehingga akan
efisien dari segi waktu secara efektif.
c. Secara prosedural, berbagai prosedur yang selama ini harus membutuhkan
penetapan dari pusat tidak dapat dilimpahkan kepada daerah.
d. Koordinasi pembangunan akan lebih efektif sebab tanggung jawab daerah
lebih besar bagi keberhasilan tugas pembangunan secara menyeluruh.
3) Desentralisasi dan Demokratisasi
Demokrasi adalah bentuk atau sistem pemerintahan yang segenap rakyat
turut
serta
memerintah
dengan
perantaraan
wakil-wakilnya.
Untuk
melaksanakan demokrasi tidak dapat lepas dari kebijakan desentralisasi.
Desentralisasi dibedakan dengan dekonsentrasi, yang berarti pelimpahan
wewenang dari pemerintah kepada gubernur sebagai wakil pemerintah dan/atau
perangkat pusat di daerah.
Masyarakat yang kuat adalah masyarakat yang demokratis, artinya
masyarakat ini dapat tumbuh jika mempunyai peluang untuk mengembangkan
semua kapasitasnya. Dalam kaitan antara negara dan masyarakat, peran
kelompok masyarakat madani semakin menguat karena dengan memperkokoh
peran masyarakat madani itu merupakan prasyarat bagi demokratisasi.
Karakteristik masyarakat madani ditandai dari beberapa faktor, antara lain :
1. Di tingkat masyarakat madani, masyarakat melakukan kegiatan politik secara
kolektif melalui partisipasi politik anggota masyarakat secara luas.
2. Pada tingkat masyarakat madani, terdapat fase perkembangan yang bersifat
on going process di tingkat politik akar rumput. Pada tingkat akar rumput,
masyarakat melakukan kegiatan politik secara agresif di tingkat infrastruktur
politik.
3. Gerakan masyarakat madani berfokus pada “praktis politik” yang mengacu
pada gerakan yang transparan sifatnya, untuk kemudian merambah secara
luas ke tingkat negara.
Ciri pokok pemerintahan yang demokratis adalah bahwa semua kebijakan
dilaksanakan dengan transparansi dan desentralisasi. Dengan transparansi
dimaksudkan agar pemerintah tidak otoriter. Dalam proses demokratisasi,
PERENCANAAN PEMBANGUNAN I
57
secara perspektif regional adalah demoratisasi untuk siapa, untuk apa, dan mau
mengarah kemana.
4) Otonomi
Otonomi daerah adalah kewenangan daerah otonom untuk mengatur dan
mengurus kepentingan masyarakat berdasarkan aspirasi masyarakat sesuai
dengan Peraturan Perundang-undangan. Dengan Otonomi daerah, maka
daerah
dituntut
supaya
lebih
mandiri
dalam
menentukan
seluruh
kegiatannya. Pemerintah pusat hanya merupakan fasilitator yang tidak terlalu
mencampuri urusan daerah.
Dengan otonomi daerah ini juga diharapkan bahwa daerah lebih mampu
menangani serta memecahkan masalah-masalah yang dihadapi secara lebih
mandiri dan cepat. Dengan otonomi tidaknya dapat dihindari tantangan dari
sejumlah daerah tentang struktur kelembagaan dan sumber daya manusianya,
akan tetapi semuanya itu akan dapat dipecahkan tahap demi tahap.
Menurut David Osborne dan Ted Gaebler, terdapat empat kelebihan yang
dimiliki dalam desentralisasi, yaitu :
1. Lembaga
yang terdesentralisasi jauh
lebih fleksibel daripada
yang
tersentralisasi.
2. Lembaga
yang
terdesentralisasi
jauh
lebih
efektif
daripada
yang
tersentralisasi.
3. Lembaga yang terdesentralisasi jauh lebih inovatif dari pada tersentralisasi.
4. Lembaga yang terdesentralisasi niscaya menghasilkan semangat kerja yang
lebih tinggi, lebih banyak komitmen dan lebih besar produktivitas.
5) Undang-Undang No. 22 Tahun 1999
Dengan
terbitnya
Undang-Undang
No.
22
Tahun
1999
tentang
Pemerintahan Daerah dan Undang-Undang No. 25 Tahun 1999 tentang
Perimbangan Keuangan Antara Pemerintah Pusat dan Daerah (Undang-Undang
Otonomi Daerah) telah membawa perubahan yang mendasar terhadap
penyelenggaraan pemerintahan daerah.
Mulai
tahun
2001
kedua
undang-undang
tersebut
harus
sudah
dilaksanakan. Pada kenyataannya pada tahap sosialisasi sebagai persiapan
implementasi, kedua undang-undang tersebut banyak mengalami hambatan dan
PERENCANAAN PEMBANGUNAN I
58
kendala sehingga sangat berat untuk direalisasikan sesuai harapan. Dampak
yang terasa adalah ekses yang ditimbulkan dari implementasi undang-undang
tersebut, yakni munculnya berbagai bias dalam penafsiran baik oleh pihak
Pemda, DPRD maupun Pemerintah.
6) Program-Program Pembangunan
Program pembangunan yang akan dilaksanakan pada tahun 2002
mengacu pada empat kelompok program tertuang dalam PROPENAS 20002004. Keempat program dalam PROPENAS 2000-2004 tersebut adalah :
1. Mengembangkan otonom daerah yang terdiri dari program peningkatan
kapasitas aparat daerah, peningkatan kapasitas kelembagaan pemerintahan
daerah, penataan pengelolaan keuangan daerah, dan penguatan lembaga
non pemerintah.
2. Mempercepat pengembangan wilayah terdiri dari program peningkatan
ekonomi wilayah, pengembangan wilayah strategis dan cepat tumbuh,
pembangunan
perumahan,
perdesan,
pembangunan
pengembangan
prasarana
perkotaan,
dan
pengembangan
sarana
pemukiman,
pembangunan wilayah tertinggal, pengembangan daerah perbatasan,
penataan ruang dan pengelolaan tanah.
3. Meningkatkan pemberdayaan masyarakat terdiri dari program penguatan
organisasi masyarakat, pemberdayaan masyarakat miskin, dan peningkatan
keswadayaan masyarakat.
4. Mempercepat penanganan daerah khusus Irian Jaya dan penanganan
khusus Maluku dan Maluku Utara.
Tujuan dan sasaran dari empat kelompok program pembangunan
tersebut sesuai dengan PROPENAS 2000-20004 adalah untuk mendukung
upaya untuk mendukung upaya pelaksanaan prioritas pembangunan nasional
yang kelima, yaitu meningkatkan pembangunan daerah dan mempercepat
pelaksanaan desentralisasi dan otonomi daerah
PERENCANAAN PEMBANGUNAN I
59
Dalam klasifikasi fungsional APBN “proyek” sering dibakukan sebagai
bagian dari “program”, yaitu sektor, subsektor, program dan proyek. Suatu
kegiatan yang tampak seperti proyek tetapi bisa disebut bagian proyek apabila
kegiatan itu merupakan :
1. Kumpulan kegiatan yang mempunyai tujuan yang sama dan berlokasi di satu
propinsi.
2. Kumpulan kegiatan-kegiatan dalam satu lokasi dimana kegiatan yang satu
dengan yang lainnya saling menunjang dalam rangka mencapai satu tujuan
tertentu.
3. Kegiatan yang karena luas wilayah perlu dibagi menjadi beberapa bagian
yang disebut bagian proyek.
Pengertian yang umum, istilah proyek dan program dapat dibedakan
sebagai berikut :
1. a. Proyek sering diartikan sebagai kegiatan yang mempunyai titik awal dan
titik akhir.
b. Proyek dapat merupakan kegiatan baru, seperti program Keluarga
Berencana, tetapi sering juga muncul kegiatan lanjutan di tengah kegiatan
yang sedang berjalan. Program dengan demikian tidak mempunyai titik
akhir dan sering direncanakan sebelumnya.
2. a. Proyek adalah unit yang teridentifikasikan sebagai kegiatan yang
difokuskan untuk mencapai output tertentu.
b. Program adalah sekumpulan kegiatan yang saling berkaitan satu sama
lain untuk mencapai tujuan tertentu.
3. a. Proyek berakhir apabila output yang direncanakan telah tercapai.
b. Program sering terus berlanjut yang belum diketahui kapan selesainya.
4. a. Pemeriksaan terhadap proyek difokuskan pada pelaksanaan “inputproses-output”.
PERENCANAAN PEMBANGUNAN I
60
b. Pemeriksaan terhadap program ditekankan pada 3 aspek, yaitu : (i)
Konsep dan program secara rasional, (ii) Pelaksanaan proses dan operasi,
dan (iii) Efek dan dampak.
A. PEMBIAYAAN PROGRAM DAN PROYEK DALAM APBN
Program dan proyek yang direncanakan dalam Repeta dibiayai dari dana
yang berasal dari APBN baik yang bersumber dari rupiah murni maupun
pinjaman luar negeri. Karena pembiayaan itu bersumber dari APBN, maka
mekanisme perencanaan dan pembiayaan harus mengikuti mekanisme APBN
yang berlaku.
1) Usulan Program
Arus perencanaan dapat merupakan perencanaan dari “atas ke bawah”
dan dari “bawah ke atas”. Kedua sistem tersebut mempunyai kelemahan satu
sama lainnya. Untuk mengurangi kelemahan tersebut maka kombinasi antara
kedua sistem ini dapat dilakukan. Dengan kata lain arahan dari perencanaan
pusat, dalam hal ini BAPPENAS, perlu diinformasikan ke “bawah", baik
departemen maupun BAPPEDA, sehingga perencanaan “tingkat bawah” di
dalam pengusulan proyek sudah mempertimbangkan batasan biaya maupun
kebijakan nasional. Batasan biaya ini sangat penting agar dalam pengusulan
program/proyek sudah mempertimbangkan prioritas dan alternatifnya.
Sebaliknya
perencanaan
pusat
seharusnya
tidak
memaksakan
rencananya kepada “bawah”, tetapi perlu mendengar informasi yang sesuai
dengan kehendak masyarakat di daerah. Di samping itu, masalah yang timbul
memungkinan
terjadinya
konflik
antara
kepentingan
departemen
dan
kepentingan daerah. Departemen yang bertanggung jawab atas keberhasilan
sektoral mempunyai pandangan yang berbeda dengan perencana di daerah
(Bappeda) yang mempunyai kepentingan regional.
2) Apakah Usulan Perlu diberi Pagu ?
Pagu (ceiling) anggaran sebagai perkiraan setiap usulan yang penting
agar si penyusul tidak hanya mengusulkan berupa shopping list. Kita semua
mengetahui bahwa kebutuhan itu tidak terbatas, sedangkan kenyataannya
penyediaan dana terbatas. Apabila usulan proyek tanpa diberi pagu anggaran,
PERENCANAAN PEMBANGUNAN I
61
maka sulit bagi pembuat keputusan untuk mengetahui proyek mana yang
merupakan prioritas bagi si pengusul.
Apabila dana yang tersedia terbatas harus dilakukan. “Pemotongan” yang
dilakukan secara membabi-buta akan mengakibatkan seluruh anggaran yang
disediakan untuk mencapai sasaran program tidak dapat dimanfaatkan secara
optimal. Apabila suatu paket program yang terdiri dari beberapa kegiatan yang
saling menunjang, karena alasan dana yang tidak cukup, maka yang dipotong
justru kegiatan yang mempunyai peranan besar dalam pencapaian sasarannya.
3) Anggaran Tanpa Batas
Departemen maupun daerah diberi peluang menyampaikan usulannya
tanpa batasan anggaran sama sekali. Keuntungan bagi si Pengambil keputusan
adalah dapat memperoleh informasi yang sebanyak-banyaknya dari si pengusul.
Kerugiannya sulit untuk mengetahui proyek mana yang lebih diprioritaskan
apabila perlu diadakan pemotongan. Padahal dengan dana terbatas, prioritas itu
penting. Untuk menentukan prioritas tanpa bantuan dari daerah dikhawatirkan
justru akan menciptakan pemborosan dalam pembiayaan, karena pengambil
keputusan kurang mengetahui tentang koordinasi program dan proyek di tingkat
daerah.
4) Pagu Anggaran Tertentu
Baik departemen maupun daerah diberi patokan dengan pagu anggaran
tertentu. Departemen dan daerah tidak diperkenankan mengusulkan proyek
dengan biaya melebihi pagu anggaran yang telah diinformasikan. Hal ini cukup
dapat membantu untuk mengembangkan daerah dalam menyusun perencanaan
sendiri.
5) Kenaikan dengan Persentase Tertentu
Departemen maupun daerah diberi perkiraan dengan kenaikan atau
penurunan sebesar persentase tertentu dibandingkan dengan anggaran tahun
sebelumnya. Kelemahan untuk departemen atau daerah yang sebelumnya
menerima alokasi kecil, kenaikan tersebut secara absolut lebih kecil daripada
departemen atau daerah yang sudah menikmati anggaran besar.
PERENCANAAN PEMBANGUNAN I
62
6) Pagu dengan Mempertimbangkan Hasil Review
Terhadap program dan proyek yang sedang berjalan dilakukan review
terutama mengenai keberhasilan dan daya serap anggaran tahun yang sedang
berjalan. Dari hasil review ini ditentukan pagu untuk tahun anggaran berikutnya.
Hasil review akan memberikan pagu anggaran yang besar dan pagu anggaran
yang kecil.
7) Usulan dengan Daftar Prioritas
Departemen maupun daerah menyampaikan daftar usulan dengan
anggaran yang tidak terbatas, tetapi telah tersusun daftar proyek-proyek
menurut prioritasnya, sehingga apabila terpaksa dilakukan “pemotongan”, tidak
mengganggu keseimbangan antarproyek yang diinginkan oleh Bappeda.
8) Prosedur Usulan Program
Departemen yang bertanggung jawab terhadap pembangunan sektor,
menyampaikan Daftar Rencana Program ke Bappenas dan Departemen
Keuangan. Daftar Rencana Program ini sudah mempertimbangkan alternatif
pagu anggaran yang diberikan oleh Bappenas dan Departemen Keuangan.
Dengan demikian daftar usulan ini sudah memperhitungkan bahwa proyekproyeknya yang akan dilaksanakan sudah yang termasuk prioritas tinggi
Di samping itu, Bappeda juga menyampaikan kepada Bappenas daftar
program/proyek yang mempunyai prioritas tinggi serta sudah memperhitungkan
keseimbangan antar program/proyek di daerahnya. Kedua daftar yang berasal
dari dua sumber yang berbeda tersebut diolah oleh Bappenas.
Karena sumbernya berbeda dan kepentingannya berbeda, maka dapat
dipastikan bahwa program/proyek yang berlokasi di daerah yang diusulkan oleh
Departemen dan Bappeda mungkin juga berbeda. Tentu saja dalam hal ini
Bappeda harus dapat menggabungkan kedua usulan tersebut menjadi satu
daftar proyek yang mempunyaiprioritas tinggi, baik dilihat dari kepentingan
sektoral maupun regional.
Dengan adanya informasi tersebut Bappeda sudah mulai menindak lanjuti
dengan menyampaikan usulan yang lebih mendekati konkrit. Keputusan akhir
tentu saja setelah ditetapkan pagu yang sebenarnya, yaitu setelah ada
PERENCANAAN PEMBANGUNAN I
63
kepastian
jumlah
dan
dari
tingkat
pusat
baik
yang
terbagi
dalam
sektor/subsektor/program, departemen dan daerah.
Hasil evaluasi dari kedua usulan tersebut di atas setelah disesuaikan
dengan pagu APBN per sektor dan per departemen, kemudian disusul daftar
poyek yang siap dilaksanakan. Daftar proyek tersebut disusun dalam buku yang
disebut Satuan Tiga.
9) Daftar Usulan Program (DUP)
Proses penyusunan anggaran ini dimulai dari penyusunan alokasi
program. Untuk memperoleh informasi kebutuhan departemen/lembaga maupun
kebutuhan daerah. Bappenas dan Direktorat Jenderal Anggaran memerlukan
data yang konkrit tentang rencana program yang akan dibangun oleh
Departemen/lembaga maupun daerah. Program/proyek ini dievaluasi oleh
Bappenas dan Direktorat Jenderal Anggaran.
DUP disampaikan oleh departemen/lembaga dan daerah kepada
Bappenas dan Departemen Keuangan untuk di
evaluasi. Daftar Usulan
Program (DUP) ini biasanya akan jauh lebih besar jumlahnya jika dibandingkan
dengan rencana penyediaan dana.
Walaupun pada waktu DUP diterima masih belum ada pagu anggaran
yang pasti, tetapi pengelola anggaran pusat dengan pengalaman tahun-tahun
sebelumnya telah mengetahui ancar-ancar penyediaan dana dalam APBN yang
akan datang.
PERENCANAAN PEMBANGUNAN I
64
Tabel 4
Formulir Usulan Program (DUP)
(Formulir Departemen/Lembaga)
DAFTAR RENCANA PROGRAM PEMBANGUNAN
TAHUN ANGGARAN 2002
I. UMUM
1.
2.
3.
4.
5.
Nama Departemen/Lembaga
Nama Program APBN
Kode Program APBN
Lokasi (Provinsi)
Usulan Biaya Tahun 2002
a. Rupiah Murni
b. PHLN
6. Sifat Program
7. Jenis Program
:
:
:
:
:
:
: Baru
: Pusat
Lanjutan
Dekonsentrasi Tugas
Pembantuan
8. Apakah Program ini sudah dikonsultasikan dengan BAPPEDA :
-
9. Kaitan dengan Propenas
10. Kaitan dengan Propeda
g. Provinsi
Sudah, dalam forum Rakorbang Provinsi
Konregbang Lainnya
- Belum
: 1.
2.
3.
:
1.
2.
3.
b. Kabupaten/Kota
: 1.
2.
3.
11. Perkiraan jumlah tenaga kerja yang akan diserap secara langsung oleh
program ini :
orang
II. TUJUAN DAN SASARAN PROGRAM
Tingkat Program
PERENCANAAN PEMBANGUNAN I
65
1. Sasaran Program
2. Dampak Program
REKAPITULASI RENCANA PROGRAM PEMBANGUNAN TAHUN 2002
Departemen/Lembaga
(dalam ribuan rupiah)
Rupiah Murni
No.
Program
Pusat
Dekonsentrasi
Tugas
Dana Pendamping
Pinjaman/ Hibah
Luar Negeri
Perbantuan
Jumlah
An. Menteri/Ketua Lembaga
PERENCANAAN PEMBANGUNAN I
66
Untuk memudahkan evaluasi, biasanya Bappenas dan Departemen
Keuangan telah memberi pengarahan kepada departemen/lembaga maupun
daerah untuk menyampaikan DUP dengan batas pagu anggaran yang terbuka.
Usulan dengan pagu terbuka tersebut walaupun mempunyai keuntungan yaitu
memperoleh informasi yang seluas-luasnya tentang kebutuhan proyek, tetapi
apabila pengusulannya hanya merupakan shopping list maka pihak pengelola
anggaran yang mengevaluasi mendapat kesulitan untuk menilai mana yang
prioritas dan mana yang tidak prioritas.
10) Usulan Proyek Bantuan Luar Negeri
Sehubungan dengan terbatasnya dan yang berasal dari sumber
penerimaan dalam negeri, maka beberapa proyek diusahakan untuk dibiayai
melalui pinjaman luar negeri. Pinjaman luar negeri ada yang lunak dan ada yang
tidak lunak. Pinjaman lunak dengan tingkat bunga yang rendah dan jangka
waktu pengembalian yang panjang memang sangat menguntungkan, tetapi
jumlah pinjaman dengan kondisi seperti itu sangat sedikit.
Walaupun proyek dapat dibiayai dari pinjaman luar negeri, tetapi tidak
berarti bahwa seluruhnya dapat dibiayai dari pinjaman luar negeri. Negara
peminjam harus menyediakan biaya lokal berupa rupiah murni. Dana rupiah
murni yang menunjang pinjaman luar negeri ini disebut sebagai Dana
pendamping (local cost). Dana pendamping itu dipergunakan sebagai
pengeluaran untuk pengadaan barang produksi dalam negeri termasuk
pengadaan tanah, gedung dan sebagainya.
Semua usulan pendanaan proyek, baik yang diharapkan dari pinjaman
keras (komersial) seperti kredit ekspor, maupun pinjaman lunak yang berupa
bantuan proyek, bantuan teknis dan hibah, diusulkan oleh Departemen Teknis
kepada Bappenas.
Usulan proyek yang periinciannya tercantum dalam formulir tersebut
disusun dalam satu buku yang disebut Buku Biru. Daftar proyek yang tercantum
dalam Buku Biru ini merupakan proyek-proyek yang dinilai mempunyai prioritas
tinggi untuk diajukan ke sidang CGI.
Penentuan prioritas tersebut menggunakan kriteria antara lain :
c. Konsistensi dan relevansinya dengan program pembangunan nasional
(Propenas).
PERENCANAAN PEMBANGUNAN I
67
d. Prioritas di dalam sektor yang bersangkutan.
e. Tingkat persiapan proyek.
f. Feasibility study.
g. Besarnya biaya proyek yang akan membebani pengembalian di waktu yang
akan datang.
11) Buku Biru
Buku Biru adalah kumpulan daftar isian tentang proyek-proyek yang
diusulkan untuk mendapatkan pinjaman luar negeri baik melalui pinjaman lunak,
setengah lunak atau komersial yang telah diseleksi oleh Bappenas. Buku Biru ini
dipisahkan antara bantuan proyek dan bantuan teknis. Usulan yang sudah
tercantum dalam buku biru merupakan indikasi kebutuhan pemerintah atas
proyek-proyek yang diprioritaskan untuk mendapat bantuan dari dana pinjaman
luar negeri.
Penyampaian usulan dari departemen kepada Bappenas diperkirakan
sekitar bulan Oktober, kemudian diseleksi dan dicantumkan dalam Buku Biru
dalam rangka sidang CGI tahun berikutnya. Negara-negara dan lembaga
internasional anggota
CGI,
dalam
sidang hanya
menyatakan
rancana
bantuannya dalam bentuk pledge, yaitu suatu komitmen jumlah bantuan yang
akan direalisasi.
12) Pertemuan Bilateral
Sebagai tindak lanjut dari pertemuan-pertemuan dalam sidang CGI,
antara negara donor dan Pemerintah Indonesia diadakan Pertemuan Bilateral.
Hasil negosiasi antar kedua negara donor dan negara peminjam dituangkan
dalam suatu dokumen kesepakatan yang disebut agreed minutes atau record of
discussions. Dokumen ini ditandatangani oleh ketua delegasi luar negeri atas
nama negara/lembaga pemberi bantuan, sedangkan di pihak Indonesia
ditandatangani oleh pejabat Departemen Luar Negeri. Dokumen kesepakatan
yang telah ditandatangani bersama disampaikan oleh Departemen Luar Negeri
kepada :
a. Sekretariat Kabinet RI (apabila merupakan bantuan teknis)
b. Bank Indonesia (apabila merupakan bantuan proyek)
c. Bappenas
PERENCANAAN PEMBANGUNAN I
68
d. Departemen Keuangan
e. Direktorat Jenderal Anggaran
f. Departemen/lembaga proyek yang bersangkutan
Sebagai kelanjutan dari negoisasi dilakukan penyusunan rencana
pelaksanaan kegiatan proyek yang dituangkan dalam bentuk administrative
arrangement of memorandum of understanding untuk proyek bantuan teknis.
Untuk proyek yang dibiayai dari pinjaman luar negeri dituangkan dalam naskah
perjanjian Luar Negeri (Loan Agreement).
13) Penyusunan Satuan Dua, Tiga dan Tiga A
Satuan dua, tiga dan tiga A adalah istilah yang diberikan oleh
Departemen Keuangan untuk mengidentifikasi dokumen anggaran sebagai
berikut :
a) Satuan Dua
Satuan Dua adalah matriks yang menunjukan bagian “kolom” berisi nama
“program”, sedangkan bagian “baris” berisi nama unit organisasi di bawah suatu
departemen. Isi blok-blok yang merupakan pertemuan antara kolom dan baris
tersebut adalah jumlah biaya.
b) Satuan Tiga
Satuan Tiga adalah daftar proyek yang tersusun menurut masing-masing
unit organisasi di departemen/lembaga. Satuan Tiga ini memuat nama proyek
dan kode proyek, juga besarnya biaya.
c) Satuan Tiga A
Satuan Tiga A memuat penjelasan masing-masing program mengenai
penggunaan dan program yang bersangkutan. Satuan Dua, Tiga dan Tiga A
adalah daftar proyek serta penggunaannya yang merupakan komitmen untuk
dibiayai. Biaya proyek yang tercantum dalam Satuan Tiga merupakan pagu
tertinggi, yang dapat dicantumkan dalam DIP untuk dilaksanakan.
14) Bappenas
Bappenas merupakan lembaga perencanaan tertinggi yang bertugas
antara lain :
PERENCANAAN PEMBANGUNAN I
69
1. Menyusun dan mengkoordinasikan perencanaan pembangunan jangka
panjang, menengah (Propenas), dan pendek (Repeta).
2. Melakukan penilaian pelaksanaan rencana pembangunan.
3. Melakukan survai dan penelitian dalam
rangka pelaksanaan tugas
perencanaan dan penilaian rencana pelaksanaan pembangunan nasional.
Untuk melaksanakan tugas ini, Bappenas sebagai Lembaga Pemerintah
Non Departemen dipimpin oleh seorang menteri dan dibantu oleh deputi yang
menyangkut bidang perencanaan makro, perencanaan sektoral, perencanaan
regional dan pengendalian.
15) Departemen Keuangan
Departemen Keuangan dalam hal ini bertanggung jawab terhadap
penerimaan negara dan pengeluaran negara. Dalam hubungannya dengan
pengeluaran pembangunan, organisasi yang terlibat adalah Direktorat Jenderal
Anggaran. Direkotrat Jenderal Anggaran antara lain bertugas mengenai
pembinaan anggaran rutin, pembinaan anggaran pembangunan, penatausahaan
anggaran, pembinaan anggaran lain-lain dan pembinaan kekayaan negara.
16) Bappeda
Dalam Keppres No. 27/28 Tahun 1980 menyebutkan bahwa Bappeda
mempunyai tugas antara lain :
1. Menyusun pola dasar pembangunan daerah yang terdiri atas pola umum
pembangunan
daerah
jangka
panjang
dan
pola
umum
program
pembangunan daerah.
2. Menyusun program-program tahunan yang dibiayai oleh daerah sendiri atau
yang diusulkan kepada Pemerintah Pusat untuk dimasukan dalam program
tahunan nasional.
3. Melakukan koordinasi perencanaan di antara dinas-dinas, satuan organisasi
lain dalam lingkungan Pemerintah Daerah, instansi-instansi vertikal, daerah
kabupaten dan Badan lain yang berada dalam wilayah daerah propinsi yang
bersangkutan.
PERENCANAAN PEMBANGUNAN I
70
Perencanaan yang baik bukan saja harus mempunyai tujuan dan
konsistensi, tetapi juga harus dilakukan pengawasan secara terus menerus.
Salah satu langkah strategis untuk meningkatkan efisiensi program dan proyek
pembangunan adalah dengan meningkatkan pengawasan. Pengawasan berlaku
untuk kegiatan-kegiatan yang strategis.
Pengawasan dapat berupa pengawasan langsung atau tidak langsung.
Pengawasan langsung adalah pengawasan yang dilakukan secara langsung
kepada kegiatan atau proyek yang sedang dibangun, sedangkan pengawasan
tidak langsung dapat merupakan pengawasan terhadap kebijakan melalui
peraturan perundangan. Peraturan perundangan yang dimaksud adalah
peraturan perundangan yang membolehkan atau tidak membolehkan tindakan
itu dilakukan dan apabila dilanggar maka pengelola program atau proyek akan
mendapat sanksi.
Peraturan
perundangan
tentang
pengawasan
itu
gunanya
untuk
mencegah tindakan yang dapat mengakibatkan kegagalan pelaksanaan
kegiatan atau proyek yang telah direncanakan. Pengawasan bukan hanya
dimulai dari sejak proyek itu dilaksanakan tetapi lebih jauh lagi, yaitu bahkan
sudah harus dimulai sejak proyek dalam tahap perencanaan.
A. KELEMBAGAAN PENGAWASAN
Dalam kelembagaan, pengawasan dapat dibagi menjadi 2 bagian, yaitu :
1. Pengawasan intern, yaitu pengawasan yang dilakukan oleh inspektur
jenderal departemen yang bertugas untuk melakukan pengawasan di
lingkungan departemen yang bersangkutan.
2. Pengawasan ekstern, yaitu pengawasan yang dilakukan oleh aparatur
pengawasan dari luar departemen misalnya Badan Pemeriksa Keuangan
(BPK), BPKP dan Irjenbang.
Dilihat dari lingkup nasional, pengawasan itu dapat dilakukan antara
intern pemerintah seperti BPKP dan pengawasan yang dilakukan oleh lembaga
PERENCANAAN PEMBANGUNAN I
71
dari luar pemerintah, misalnya BPK. BPK adalah badan legislatif dalam bidang
pengawasan, sedangkan BPKP adalah aparat pemerinta (eksekutif) dalam
pengawasan intern pemerintah.
Pengeluaran pemerintah untuk pembangunan program dan proyek
dibiayai dari uang rakyat melalui pungutan pajak. Peran serta rakyat yakni dapat
mengawasi, baik berupa pengawasan dengan cara tulisan di media massa atau
berupa demonstrasi, dialog dan lain-lain.
NEGARA
KK
PEMERINTAH
DEPARTEMEN/LEMBAGA
BPK
BPKP
KK
KK
ITJEN/
SPI
KOMPONEN-KOMPONEN
Gambar 15.
Hubungan Fungsional Pengawasan
Penjelasan :
ITJEN = Merupakan aparat pengawasan intern departemen dan melakukan
pengawasan intern di lingkungan departemen.
BPKP = Merupakan aparat pengawasan intern pemerintah yang merupakan
pengawasan ekstern terhadap semua aparatur pemerintah (termasuk
departemen)
BPK
= Merupakan aparat pengawasan ekstern yang melakukan pengawasan
terhadap pemerintah dan semua unsure aparatur pemerintah.
SPI
= Satuan Pengawasan Intern LPND.
1) Pengawasan oleh Lembaga Formal dan Masyarakat
Sifat pengawasan yang konstruktif sangat membantu usaha pengawasan
yang
dilakukan
oleh
lembaga-lembaga
pengawasan
formal
sehingga
pencapaian sasaran pengawasan ini dapat lebih efektif. Pada prinsipnya
pengawasan dilakukan untuk mengurangi kesalahan dalam pelaksanaan
program atau proyek pembangunan. Pengawasan yang dilakukan oleh lembaga
PERENCANAAN PEMBANGUNAN I
72
formal itu belum tentu bisa menjangkau secara tuntas mengingat wilayah
pengawasan yang sangat luas sehingga diperlukan pengawasan oleh
masyarakat.
2) Fungsi Pengawasan
Sistem pengawasan yang baik harus memungkinkan adanya umpan balik
yang dapat menghasilkan informasi yang dilakukan sebagai tindak lanjut dalam
pelaksanaan proyek atau suatu kegiatan. Sistem pengawasan harus mampu
melaporkan dengan cepat kalau terjadi penyimpangan, sehingga tindakan
lanjutan dapat dilakukan dengan cepat pula. Agar laporan pengawasan laporan
dapat digunakan dengan efektif maka penyampaian laporan pengawasan harus
dapat dilakukan dengan cepat dan dalam waktu yang tepat sesuai dengan
norma-norma laporan. Biasanya penyampaian laporan pengawasan kepada
yang berkepentingan itu masih mengalami hambatan sehingga kadang-kadang
unit kerja yang diperiksa tidak memanfaatkan lagi hasil laporan pengawasan
yang disampaikan.
Kelambatan penyampaian laporan pengawasan mungkin disebabkan oleh
beberapa faktor baik internal maupun eksternal. Faktor internal biasanya
disebabkan oleh terbatasnya sarana seperti biaya peralatan, personal dan
fasilitas lain. Sedangkan faktor eksternal, biasanya disebabkan karena
kurangnya data yang diperoleh dalam waktu yang tepat.
Pembukuan dan pencatatan yang tidak up to date mengakibatkan
penyusunan laporan menemui hambatan. Setiap aparat pengawasan membuat
laopran pengawasan dengan bentuk dan susunan yang berbeda sesuai dengan
kepentingannya.
3) Perilaku para Pengawas
Seorang pengawas harus mempunyai kemampuan ganda, bukan
merupakan tokoh yang harus ditakuti tetapi wajib berperan sebagai :
a. Pembimbing atau pengasuh
b. Pengaman agar tidak terjadi penyimpangan
c. Penggerak
supaya
tujuan
proyek
itu
dapat
menggerakan
kegiatan
perekonomian
d. Pengarah atau pengendali
PERENCANAAN PEMBANGUNAN I
73
e. Pengamat
f. Pengayom
g. Penasehat dan sumber informasi
4) Pemantauan
Pemantauan adalah kegiatan mengamati pelaksanaan program/proyek
pembangunan dalam waktu yang sedang berjalan serta mencoba memperbaiki
kesalahan agar pada akhir penyelesaian program/proyek diharapkan dapat
dilaksanakan dengan benar.
Sistem pemantauan merupakan bagian dari pengendalian pelaksanaan.
Pelaksanaan pemantauan dilakukan oleh semua pihak, baik pemimpin proyek,
departemen/lembaga, Bappenas, maupun Bappeda Provinsi. Di Indonesia
pelaksanaan pemantauan dilakukan setiap triwulan ketiga oleh pemimpin proyek
dengan mengisi laporan yang ditujukan kepada :
1. Menteri/Ketua Lembaga yang bersangkutan
2. Kepala Bappenas
3. Menteri Sekertaris Negara Up. Sekertaris Pengendalian Operasional
Pembangunan
4. Gubernur yang bersangkutan Up. Kepala Bappeda Provinsi dan Bupati/Wali
Kotamadya Up. Bappeda Kabupaten
5. Kanwil departemen/lembaga yang bersangkutan
Perencanaan, pemantauan dan pengawasan adalah rangkaian proses
suatu kegiatan untuk mencapai sasaran tertentu. Tujuan pengawasan adalah
mencegah kemungkinan penyimpangan secara lebih dini, sehingga pelaksanaan
kegiatan yang dibiayai dari anggaran tidak mengalami kerugian yang lebih besar
akibat pembocoran, hambatan, kesalahan maupun penyelewengan. Selain itu
hasil pengawasan dapat dipergunakan sebagai masukan pada pimpinan untuk
melakukan tindakan dan perbaikan agar sistem maupun pelaksanaannya lebih
baik.
5) Macam Pengawasan
Pengawasan dapat dibedakan menurut :
1. Subjek yang melakukan pengawasan
PERENCANAAN PEMBANGUNAN I
74
2. Cara pelaksanaan pengawasan
3. Waktu pelaksanaan pengawasan
Subjek yang melakukan pengawasan dapat dikategorikan sebagai :
a. Pengawasan Melekat (waskat) Yaitu serangkaian kegiatan yang bersifat
sebagai pengendalian yang terus-menerus, dilakukan oleh atasan langsung
terhadap bawahan tersebut berjalan secara efektif dan efisien sesuai dengan
rencana kegiatan dan peraturan perundangan yang berlaku.
b. Pengawasan Fungsional (Wasnal). Aparat pengawasan pembangunan terdiri
dari Aparat Pengawasan Intern Pemerintah dan Aparat Pengawasan Ekstern
Pemerintah. Aparat Fungsional Pemerintah meliputi kegiatan pengawasan
yang dilakukan oleh BPKP, Inspektorat Jenderal Departemen, Aparat
pengawasan
LPND,
Inspektorat
Jenderal
Pembangunan
(Irjenbang).
Sedangkan Aparat Pengawasan Ekstern Pemerintah meliputi kegiatankegiatan pengawasan yang dilakukan oleh BPK, DPR, Mahkamah Agung
dan masyarakat.
6) Pengawasan dan Koordinasi Pengawasan
Guna mencapai sasaran pengawasan secara efektif dan efisien, aparat
pengawasan fungsional yang ada dikoordinasikan sesuai dengan Keppres RI
No. 31 Tahun 1983. Berdasarkan keputusan ini BPKP berfungsi antara lain
sebagai perumus perncanaan dan program pelaksanaan pemeriksaan bagi
seluruh aparat pengawasan pusat dan daerah serta melakukan koordinasi teknis
pelaksanaan pengawasannya.
Koordinasi teknis mengenai pelaksanaan mencakup tahap perencanaan,
pelaksanaan penyusunan laporan hasil pengawasan serta pemantauan tindak
lanjut hasil pengawasan. Sejak tahun 1988 pelaksanaan pengawasan antara
aparat pengawasan funsional dikoordinasikan dalam berbagai tingkatan. Di
tingkat nasional dilakukan rapat koordinasi pengawasan, yang dipimpin oleh
Wakil Presiden. Selanjutnya Menko Perekonomian melakukan koordinasi yang
bersangkutan dengan kebijaksanaan pelaksanaan pengawasan. Sementara itu,
Kepala BPKP juga melakukan koordinasi yang berkaitan dengan pelaksanaan
teknis operasional pengawasan. Di tingkat daerah, Kepala Perwakilan BPKP di
daerah-daerah mengoordinasikan program pengawasan di daerahnya, di bawah
PERENCANAAN PEMBANGUNAN I
75
koordinasi kepala wilayah setempat sesuai dengan kebijaksanaan yang telah
digariskan di pusat.
c. Pengawasan Legislatif (Wasleg). Yaitu pengawasan yang dilakukan oleh
Dewan Perwakilan Rakyat melalui BPK. BPK adalah Badan Tertinggi Tinggi
Negara yang merupakan aparat DPR dalam melakukan pengawasan
terhadap instansi pemerintah.
Pengawasan dari badan resmi, lembaga Dewan Perwakilan Rakyat juga
dapat mengawasi langsung, objek yang diawasi misalnya dengan pemeriksaan
langsung atau mengundang instansi yang bertanggung jawab untuk tatap muka.
d. Pengawasan Masyarakat. Yaitu pengawasan yang dilakukan oleh warga
yang disampaikan secara lisan atau tertulis kepada aparatur pemerintah.
Pengawasan ini sifatnya merupakan masukan pemikiran dan saran yang
bertujuan untuk perbaikan. Karena sifatnya tidak teratur dan kemungkinan
adanya intervensi orang-orang yang ingin memanfaatkan kepentingannya,
misalnya
dari
kelompok
maupun
partai
politik,
maka
pengawasan
masyarakat harus diteliti dan diseleksi mana yang benar-benar dapat
dipergunakan sebagai masukan untuk perbaikan ke depan.
7) Cara Pelaksanaan Pengawasan
Ada dua cara pelaksanaan yaitu secara langsung dan tidak langsung.
Cara pelaksanaan secara langsung dengan cara on the spot dan dengan
inspeksi dan pemeriksaan sedangkan yang dengan cara tidak langsung yaitu
pengawasan yang dilakukan melalui pemantauan dan pengkajian laporan dari
pejabat yang bersangkutan atau laporan yang berasal dari pengawasan
fungsional, pengawasan legislatif dan pengawasan masyarakat.
8) Waktu pelaksanaan Pengawasan
Waktu pelaksanaan pengawasan dapat dilakukan dengan 3 cara, yaitu :
a. Sebelum kegiatan dimulai. Pengawasan ini disebut pengawasan preventif
atau pre-audit.
PERENCANAAN PEMBANGUNAN I
76
b. Selama pelaksanaan kegiatan. Pengawasan ini bisa disebut pengawasan
represif atau preventif untuk mencegah berkembangnya atau terulangnya
kesalahan pada tahap lanjutan kegiatan.
c. Sesudah kegiatan dilaksanakan. Pengawasan ini disebut post-audit, yaitu
pemeriksaan terhadap pelaksanaan dan perencanaan setelah suatu kegiatan
selesai.
9) Sasaran Pengawasan
a. Pelaksanaan
tugas
umum
pemerintahan,
dilakukan
secara
tertib
berdasarkan peraturan perundangan yang berlaku, serta berdasarkan sendisendi kewajaran penyelenggaraan pemerintahan agar tercapai efisiensi dan
efektivitas yang maksimal.
b. Pelaksanaan pembangunan dilakukan sesuai dengan rencana dan program
pemerintah, serta peraturan perundangan yang berlaku, sehingga tercapai
sasaran yang ditetapkan.
c. Hasil-hasil pembangunan dapat dinilai seberapa jauh tercapai untuk memberi
umpan balik, berupa pendapat, kesimpulan dan sasaran terhadap kebijakan,
perencanaan pembinaan serta pelaksanaan tugas umum pemerintahan dan
pembangunan.
d. Sejauh
mungkin
penyimpangan
mencegah
dalam
tejadinya
penggunaan
pemborosan,
wewenang,
kebocoran
tenaga,
dan
uang
dan
perlengkapan milik negara, sehingga dapat terbina aparatur yang tertib,
bersih berwibawa, efektif dan efisien.
Sasaran yang hendak di capai mengandung 4 hal yang harus diperhatikan,
yaitu: 1) Kuantitas hasil pekerjaan; 2) Kualitas hasil pekerjaan; 3) Sasaran waktu
pencapaian; 4) Sasaran fungsional atau kemnfaatan kerja
10) Faktor subjek Pengawasan
Subjek pengawasan dibagi menjadi 2 yaitu :
1. Pengawasan Internal
Dibagi menjadi 2 kategori : a) Pengawasan Melekat; b) Pengawasan Fungsional
2. Pengawasan Eksternal
PERENCANAAN PEMBANGUNAN I
77
Pengawasan Eksternal. dibagi menjadi :
a. Pengawasan eksternal instansi, seperti pemeriksaan BPKP dan Irjenbang
terhadap departemen/instansi. Dalam Keppres No. 31 Tahun 1983
disebutkan bahwa tugas BPKP adalah : 1) Mempersiapkan perumusan
kebijakan pengawasan keuangan dan pembangunan; 2) Menyelenggarakan
pengawasan umum atasa penguasaan dan pengurusan keuangan Negara;
3) Menyelenggarakan pengawasan pembangunan. Irjenbang sesuai Keppres
No. 25 Tahun 1974, disebutkan bahwa tugas Irjenbang adalah melakukan
pengawasan
terhadap
proyek-proyek
pembangunan
sektoral,
Inpres,
bantuan desa dan proyek-proyek daerah, terutama ditujukan pada
pemeriksaan fisik/penampilan.
b. Pengawasan Eksternal Pemerintah. Yaitu pengawasan yang dilakukan dari
luar organisasi pemerintahan. Subjek pemeriksaan ini biasa dilakukan oleh
BPK, pengawasan legislatif dan pengawasan masyarakat. Dalam Keputusan
Ketua BPK No. 66/SK/K/1982, bahwa BPK mempunyai fungsi, yaitu :
a. Operatif, sebagai fungsi pemeriksaan dan penelitian atas penguasaan
dan pengurusan keuangan negara.
b. Yudikatif, sebagai fungsi melakukan tuntutan ganti rugi terhadap
bendaharawan yang terkena pelanggaran perbuatan hukum atau
melalaikan kewajiban, sehingga merugikan keuangan negara.
c. Rekomendasi, sebagai pemberi pertimbangan kepada pemerintah
tentang pengurusan keuangan negara.
Pengawasan Internal Pemerintah
Yaitu pengawasan yang dilakukan di lingkungan instansi pengawasan
pemerintah yang bertingkat-tingkat. Organisasi pengawasan yang tergolong
dalam internal pemerinta adalah :
a. Badan Pengawasan Keuangan dan Pembangunan (BPKP). Dalam Keppres
No. 31 Tahun 1993, memuat tugas BPKP antara lain membantu presiden
melakukan
pengawasan
dalam
pengelolaan
bidang
keuangan
dan
pembangunan. Dalam pasal 2 Keppres ditegaskan bahwa tugas BPKP
adalah : 1) Mempersiapkan perumusan kebijakan pengawasan keuangan
dan pembangunan; 2) Menyelenggarakan pengawasan umum atasa
PERENCANAAN PEMBANGUNAN I
78
penguasaan dan pengurusan keuangan negara; 3) Menyelenggarakan
pengawasan pembangunan.
b. Inspektorat Jenderal Departemen. Kegiatan pengawasan pada dasarnya
harus dilakukan oleh pimpinan organisasi. Inspektorat Jenderal adalah
contoh organisasi yang dibentuk oleh departemen yang bersangkutan untuk
melakukan pengawasan intern departemen tersebut. Dalam Keppres No. 44
Tahun 1974 tugas Irjen adalah membantu menteri dalam melakukan
pengawasan terhadap satuan organisasi/unit kerja di lingkungan masingmasing.
c. Irjenbang. Irjenbang dalam Keppres No. 25 Tahun 1974, bahwa tugas
Irjenbang
adalah
melakukan
pengawasan
terhadap
proyek-proyek
pembangunan sektoral, Inpres, bantuan desa dan proyek-proyek daerah,
terutama ditujukan pada pemeriksaan fisik/penampilan.
d. Idwilprop. Di daerah terbentuk pula Idwilprop yang diidasarkan Keputusan
Menteri No. 110 Tahun 1991. Idwilprop membantu gubernur dalam
melakukan pengawasan atas jalannya pemerintahan daerah.
e. Idwilkab. Dalam Keputusan Menteri Dalam Negeri No. 111 Tahun 1991
idwilkab/kodya membantu bupati /walikota dalam melakukan pengawasan
atas jalannya pemerintahan daerah kabupaten.
Pemeriksaan yang dilakukan oleh Badan Pengawasan adalah :
a. Pemeriksaan tanggung jawab realisasi APBN yang dituangkan dalam
perhitungan anggaran. Perhitungan anggaran diajukan pemerintah kepada
DPR. Sebelum disahkan oleh DPR terlebih dahulu diperiksa oleh BPK.
b. Pemeriksaan terhadap seluruh kekayaan negara, termasuk perusahaan
Negara.
11) Proses Pengawasan
Kegiatan pengawasan pada dasarnya harus dilakukan oleh pimpinan
organisasi. Tetapi mengingat besarnya organisasi, dalam pelaksanaannya
pimpinan
tidak
mungkin
mengawasi
seluruh
aparat
yang
ada
dalam
organisasinya. Oleh karena itu, biasanya dalam organisasi di bentuk suatu unit
tersendiri, atas nama pimpinan yang bertugas untuk mengawasi aparat yang
ada di organisasinya.
PERENCANAAN PEMBANGUNAN I
79
DAFTAR PUSTAKA
Arsyad, L. 2004. Ekonomi Pembangunan. STIE YKPN. Yogyakarta.
Kunarjo. 2002. Perencanaan dan Pengendalian Program Pembangunan. UI
Press. Jakarta
Lewis, A.W. 1994. Perencanaan Pembangunan Dasar-Dasar Kebijaksanaan
Ekonomi. Rineka Cipta. Jakarta.
Widodo, T. 2006. Perencanaan Pembangunan Era Otonomi Daerah. Aplikasi
Komputer. UPP STIM YKPN. Yogyakarta.
PERENCANAAN PEMBANGUNAN I
80
Download