Saudara Menteri Keuangan yang saya hormati, Para

advertisement
SAMBUTAN
MENEG PPN/KEPALA BAPPENAS
PADA DISKUSI PANEL TENTANG
SINERGI BAPPENAS DAN DEPARTEMEN KEUANGAN:
OPTIMALISASI PENYELENGGARAAN FUNGSI PERENCANAAN
NASIONAL DAN FUNGSI PENGANGGARAN
JAKARTA, 26 NOVEMBER 2004
Saudara Menteri Keuangan yang saya hormati,
Para hadirin peserta diskusi panel sekalian,
Assalamu’alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh
Selamat pagi dan salam sejahtera bagi kita semua.
Pertama-tama saya ingin mengucapkan Selamat Idul Fitri 1425 H kepada kita
semua yang merayakannya, mohon maaf lahir dan batin. Kiranya momentum
Idul Fitri tersebut membawa semangat baru bagi kita semua di dalam bekerja
bagi kemajuan dan kesejahteraan bangsa.
Selanjutnya, terima kasih saya ucapkan atas undangan dari Saudara Menteri
Keuangan kepada saya untuk hadir sekaligus berbicara di dalam forum ini
bersama-sama Saudara Menteri. Mudah-mudahan pertemuan ini merupakan
permulaan yang baru sekaligus momentum bagi peningkatan kebersamaan
kedua kementerian ini.
Sinergi kedua kementerian ini, sebagaimana yang juga telah terjadi di masamasa lalu, sangat diharapkan menjadi lebih baik dan lebih erat di waktu-waktu
mendatang, tidak saja secara profesional tetapi juga dalam spirit. Ini sangat
diperlukan demi terwujudnya visi, misi, dan program-program pemerintah
untuk mewujudkan tujuan dan cita-cita nasional sebagaimana diamanatkan
dalam Mukadimah UUD 1945.
Kerjasama yang harmonis dan intensif dari kedua kementerian ini yang
memang seharusnya terjadi secara alamia, menjadi hal sesuatu yang mutlak
dengan adanya reformasi dalam pengelolaan keuangan negara dan
perencanaan pembangunan. Dalam kedua reformasi tersebut fungsi dan tugas
lembaga kami (kementerian perencanaan dan Bappenas) merupakan kesatuan
utuh dan urutan tak terpisahkan dengan fungsi dan kerja Departemen
Keuangan. Tugas kedua kementerian adalah untuk menjamin bahwa
formulasi, rancangan, dan implementasi kebijakan fiskal/anggaran pemerintah
baik dari sisi penerimaan maupun terutama dari sisi pengeluaran pemerintah
adalah konsisten dengan tujuan dan prioritas yang telah ditetapkan dan
disepakati.
Oleh karena itu, saya sangat menghargai prakarsa acara Diskusi panel pada
hari ini sebagai langkah penting dan upaya bersama untuk membangun dan
menemukan format kerjasama yang terbaik bagi pencapaian sinergi kedua
lembaga sekarang dan di masa-masa mendatang.
Saudara-saudara sekalian,
Sekarang perkenankanlah saya menyampaikan beberapa hal pokok yang
kiranya dapat menjadi landasan dalam diskusi-diskusi nanti.
Pertama, mengenai pentingnya perencanaan pembangunan dan peranan
lembaga perencanaan.
Bagi negara sebesar seperti Indonesia baik dalam cakupan geografis maupun
dalam jumlah dan ragam populasi, upaya dan proses pembangunan untuk
memperbaiki kesejahteraan rakyatnya pasti menghadapi berbagai
permasalahan dan kendala yang kompleks.
Pentingnya peranan perencanaan pembangunan dan lembaga perencana
menjadi bagian yang tidak terhindarkan, sebagai suatu kebutuhan untuk
menyusun rancangan kebijakan, program, dan kegiatan yang akan secara
konsisten menuju pada cita-cita yang disepakati. Fungsi perencanaan juga
untuk menjelaskan dan memberikan mekanisme pengambilan keputusan yang
rasional dan bertanggungjawab atas berbagai pilihan-pilihan terutama yang
bersifat (trade-off) dari kebijakan dan strategi pembangunan yang tidak selalu
mudah dan menyenangkan.
Dalam konteks situasi global yang makin didominasi oleh mekanisme pasar
dan peranan privat/swasta dalam alokasi sumber daya ekonomi, sering istilah
perencanaan yang diasosiasikan dengan peranan pemerintah atau intervensi
pemerintah dalam aktivitas ekonomi dan pembangunan dipersepsikan sebagai
janggal atau tidak relevan lagi. Dalam kenyataan di negara dengan taraf
ekonomi maju sekalipun keterlibatan perencanaan pembangunan (dalam artian
penyusunan rancangan kebijakan baik jangka pendek maupun jangka
menengah/panjang serta rumusan target dan prioritas untuk mencapai tujuan
-2-
yang disepakati) tetap diperlukan, dan justru makin penting sebagai suatu
bagian penting dan tak terpisahkan dari suatu proses mangement
pembangunan. Di bidang dimana mekanisme pasar tidak mampu atau gagal
melaksanakan fungsinya secara effisien dan berkeadilan, peranan pemerintah
menjadi keharusan. Meskipun demikian dalam konteks peranana pemerintah
sendiri, harus diwaspadai terjadinya kegagalan dalam peranan pemerintah
(government failure) yang sering ditandai oleh definisi tujuan kebijakan yang
tidak jelas (ambiguous), desain kebijakan yang buruk dan salah, motivasi
kebijakan yang hanya dilandasi oleh kepentingan sempit satu institusi atau
kepentingan birokrasi, dan sistem insentif yang tidak realistis sehingga suatu
kebijakan sangat mudah dan rapuh untuk disalahgunakan atau dikorupsi.
Indonesia sebagai negara yang besar dan luas wilayahnya, dengan kondisi
perekonomian yang baru diterpa krisis, pluralisme yang tinggi, tingkat
kesejahteraan yang masih rendah, serta ketimpangan regional dan struktural
yang masih sangat lebar, masih membutuhkan perencanaan atau disain
bagaimana tujuan-tujuan sosial politik untuk mensejahterakan rakyat dapat
lebih terjamin pencapaiannya di dalam keterbatasan sumberdaya, tanpa harus
mengganggu atau mendistorsi mekanisme pasar yang baik, yang telah ada.
Bahkan sebaliknya, peranan sektor publik justru harus mendorong,
melengkapi, dan memfasilitasi tumbuhnya mekanisme pasar itu sendiri
sehingga sejalan dengan upaya-upaya pencapaian tujuan dan cita-cita bangsa
tadi.
Indonesia dihadapkan dengan era demokrasi, globalisasi, desentralisasi dan
otonomi daerah sekarang ini, semakin dirasakan pentingnya koordinasi
perencanaan dalam menangani isu-isu pembangunan yang bersifat lintas
sektor, lintas waktu, maupun lintas wilayah. Peranan lembaga-lembaga
perencanaan seperti Bappenas dan Bappeda (atau nama lain) sangat diperlukan
dalam pengkoordinasian perencanaan ini, terutama dalam pengalokasian
sumber-sumber daya pembangunan, mengingat masalah yang semakin
kompleks, dan semakin banyaknya aktor pembangunan yang terlibat dan
memiliki peranan masing-masing secara sub-nasional atau sub-regional, tidak
saja aktor pemerintah, tetapi juga masyarakat secara luas termasuk dunia
usaha.
Kedua, pentingnya hubungan perencanaan dan penganggaran.
Hubungan perencanaan pembangunan (planning) dan penganggaran (budgeting)
dalam pemerintahan Indonesia secara historis yang terefleksikan dalam
kerjasama dan sinergi antara Bappenas dan Departemen Keuangan,
merupakan suatu cerita yang panjang dan secara dinamis terus berubah sesuai
-3-
dengan perubahan zamannya yang sejalan dengan perkembangan pasang surut
kehidupan sosial, politik, dan ekonomi bangsa ini.
Tentu kita semua paham bahwa suatu rencana pembangunan, baik dalam
bentuk program, kebijakan maupun kegiatan, hanya akan tinggal sebagai
dokumen sia-sia dan tidak akan berarti apa-apa jika tidak dikaitkan dengan
pembiayaannya. Di sisi lain, keterbatasan anggaran semakin menuntut adanya
perencanaan yang matang agar pemanfaatan sumberdaya yang tersedia benarbenar dilakukan secara efektif dan efisien.
Tugas pemerintah, melalui perencanaan adalah bagaimana mengarahkan
penggunaan sumberdaya tersebut melalui suatu mekanisme pengaturan dan
proses pengelolaan dan alokasi sumberdaya masyarakat dan anggaran
pemerintah. Untuk itu keterkaitan dan keserasian antara perencanaan dan
penganggaran merupakan syarat yang mutlak. Apabila penganggaran terlepas
dengan perencanaan dan juga sebaliknya, maka dipastikan tujuan
pembangunan akan sulit untuk diwujudkan karena terjadinya alokasi anggaran
yang memungkinkan terjadinya pemborosan dan inefisiensi, bahkan salah
arah, dan sia-sia.
Sejalan dengan semangat reformasi di seluruh sendi kehidupan bangsa kita,
serta kebutuhan untuk menyamakan standar dan praktek pengelolaan
keuangan negara dengan dunia internasional, kita perlu pula menyesuaikan diri
dalam diri dalam aspek perencanaan dan pengelolaan keuangan negara.
Meskipun demikian setiap perubahan dan penyesuaian itu harus kita lakukan
dengan penuh kehati-hatian dengan mempertimbangkan kesiapan dan
kapasitas berbagai insitusi yang terlibat agar tidak menimbulkan permasalahan
baru maupun situasi yang justru menghambat tercapainya tujuan nasional yang
disepakati.
Ketiga, perubahan dan pembaharuan dalam pengelolaan keuangan dan sistem
perencanaan pembangunan nasional.
Kita bersyukur karena pada saat ini kita telah memiliki landasan kerja untuk
masa mendatang. Ada UU No.17/ 2003 tentang Keuangan Negara dan ada
UU No.25/2004 tentang Sistem Perencanaan Pembangunan Nasional
(SPPN). Juga terdapat beberapa Undang-undang lain yang merupakan produk
reformasi, yang perlu menjadi pertimbangan pula dalam proses perencanaan
pembangunan, seperti Undang-undang Nomor 32/2004 tentang
Pemerintahan Daerah, serta Undang-undang Nomor 33/2004 tentang
Perimbangan Keuangan Antara Pemerintah Pusat dan Daerah.
UU No.17 Tahun 2003 tentang Keuangan Negara bahkan telah dijabarkan
lebih lanjut dalam Peraturan Pemerintah, yaitu PP Nomor 20/2004 tentang
Rencana Kerja Pemerintah dan PP Nomor 21/2004 tentang Rencana Kerja
dan Anggaran Kementerian/Lembaga.
-4-
Hal-hal terpenting dari reformasi pengelolaan keuangan negara ini tentu saja
adalah perubahan-perubahan yang meliputi penganggaran, yang tadinya
memisahkan rutin –pembangunan menjadi anggaran yang terpadu (unified
budget); penyusunan program dengan orientasi kinerja lembaga (performance
based budgeting), yaitu berdasarkan fungsi dan sub fungsi dari masing-masing
lembaga; serta kerangka pengeluaran jangka menengah (Medium-Term
Expenditure Framework) berupa perkiraan-perkiraan pembiayaan tiga tahunan
ke depan.
Saya mendukung dan ingin menekankan bahwa pelaksanaan perubahan
tersebut seharusnya makin memperbaiki cara pengelolaan keuangan negara
agar lebih baik, transparan, akuntabel dan efektif mendukung tujuan nasional.
Dalam kenyataan yang kita hadapi dinamika dan tantangan pembangunan
akan terus berubah yang juga akan menuntut kemampuan kita untuk secara
fleksibel, inovatif dan pragmatis dalam penentuan format anggaran dan
penamaan program dan kegiatan. Fleksibilitas, inovasi serta pragmatisme bisa
dilakukan tanpa mengorbankan esensi utama dari perubahan sistem
pengelolaan keuangan negara yang mengharuskan adanya konsistensi dan
transparansi, sehingga perencanaan dan penyusunan Rencana Kerja dan
Anggaran Kementerian dan Lembaga dapat diakomodasikan secara maksimal
tanpa mengorbankan tujuan utama yang hendak kita capai.
Lepas dari masih adanya perdebatan tentang ketidaksempurnaannya, kedua
UU tersebut di atas (UU Keuangan Negara dan UU SPPN) adalah produk
bersama lembaga legislatif (DPR-RI) dan eksekutif yang sedang berlaku dan
oleh karenanya semua pihak harus menghormatinya.
Saya juga ingin menegaskan bahwa Undang-undang bukanlah terbatas milik
suatu kementerian atau instansi tertentu saja, melainkan aturan main yang
merupakan milik bangsa serta mengikat seluruh lembaga negara dan
masyarakat. Arogansi dan ekslusivitas suatu lembaga/birokrasi yang menutup
terjadinya komunikasi, kerjasama, serta sinergi antara lembaga perencana dan
lembaga pengelola keuangan negara akan menjadi awal dari kegagalan
perencanaan dan pengelolaan keuangan negara yang merupakan salah satu
instrumen sangat penting dari upaya pencapaian tujuan nasional.
Oleh karena itu, saya berharap panel diskusi ini dapat menggunakan produkproduk hukum tersebut di atas sebagai landasan diskusi dan kerjasama yang
profesional, erat dan sinergi dari lembaga perencana (Bappenas) dan
Departemen Keuangan.
Suatu perubahan, apalagi perubahan yang mendasar, baik di sisi perencanaan
maupun di sisi penganggaran, tentu membutuhkan penyesuaian-penyesuaian
-5-
tertentu. Ke depan, saya berharap kedudukan, peran dan fungsi Kementerian
Negara PPN/Bappenas dan Departemen atau Kementerian Keuangan serta
hubungan kerja antar kedua institusi ini akan dapat menciptakan mekanisme
saling mendukung sebagai sarana check and balances dalam rangka mewujudkan
target dan prioritas nasional berdasarkan prinsip good governance.
Dari sisi perencanaan, UU SPPN telah mengamanatkan Pemerintah untuk
menyusun rancangan rencana pembangunan jangka panjang (RPJP) 20 tahun,
rencana pembangunan jangka menengah (RPJM) atau rencana pembangunan
limatahunan, dan rencana pembangunan jangka pendek atau disebut dengan
Rencana Kerja Pemerintah (RKP) yang merupakan rencana pembangunan
tahunan. Selanjutnya RKP ini menjadi pedoman bagi penyusunan Rancangan
Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (RAPBN), sebagaimana juga
diamanatkan dalam UU No.17 Tahun 2003 tentang Keuangan Negara.
Ini merupakan tugas berat bagi Kementerian PPN/Bappenas dalam
mengkoordinasikan seluruh instansi Pemerintah termasuk daerah, dalam
penyiapan rancangan dokumen-dokumen rencana tersebut di atas.
Apa yang menjadi tugas Kementerian PPN/Bappenas tersebut di atas tidak
terlepas dari jalinan koordinasi dengan seluruh instansi pemerintah. Namun
yang lebih utama lagi adalah koordinasi perencanaan dan penganggaran antara
Kementerian PPN/Bappenas dan Departemen Keuangan, karena rencana
yang disusun juga harus mencerminkan potensi keuangan negara yang
tersedia. Selanjutnya rencana yang telah disusun tersebut diharapkan dapat
menjadi komitmen Pemerintah dalam mencapai tujuan bernegara ini.
Untuk itu, saya berharap sekali lagi agar Bappenas dan Departemen Keuangan
menjadi lembaga yang solid dalam pelaksanaan tugas-tugasnya khususnya
dalam menyiapkan rencana kerja dan anggaran pemerintah dan selanjutnya
saya juga berharap apa yang nantinya menjadi kewenangan masing-masing
instansi adalah merupakan satu kebijakan Pemerintah dan bukan merupakan
kebijakan masing-masing Kementerian yang terpisah. Dengan demikian
dokumen perencanaan (RKP) dan RAPBN merupakan satu kesatuan
kebijakan Pemerintah.
Saudara-saudara sekalian yang saya hormati,,
Demikian sambutan saya. Saya berharap banyak bahwa Diskusi Panel ini akan
menghasilkan butir-butir yang positif dan konstruktif yang dapat digunakan
sebagai guidance operasional bagi kedua Kementerian dalam menjalankan
fungsi dan peranannya. Ujian awal dari hasil pertemuan hari ini yang saya lihat
adalah kerjasama yang harmonis dan produktif dari kedua lembaga ini dalam
-6-
pelaksanaan anggaran negara tahun 2005 dan persiapan penyusunan anggaran
negara tahun 2006. Juga tercermin dan terwadahinya semua aspirasi dan
prioritas jangka pendek tersebut secara konsisten dalam dokumen
perencanaan jangka menengah 5 tahun (RPJM) dan jangka panjang 20 tahun
(RPJP). Semoga apa yang kita kerjakan pada hari ini akan benar-benar
memberikan manfaat operasional bagi kedua Kementerian PPN/Bappenas
dan Departemen Keuangan yang pada akhirnya akan bermuara pada manfaat
yang sebesar-besarnya bagi rakyat Indonesia.
Saya ucapkan terima kasih, dan selamat berdiskusi.
Menteri Negara Perencanaan Pembangunan
Nasional/Kepala Bappenas
Sri Mulyani Indrawati
-7-
Download