Paper Title (use style: paper title)

advertisement
Analisis Implementasi Kurikulum 2013 pada Pembelajaran Akuntansi Kelas XI….
ANALISIS IMPLEMENTASI KURIKULUM 2013 PADA PEMBELAJARAN AKUNTANSI
KELAS XI SMK NEGERI 1 SOOKO MOJEKERTO
Novi Ayu Rizki Megawati
Program Studi Pendidikan Akuntansi, Fakultas Ekonomi, Universitas Negeri Surabaya
E-mail [email protected]
Joni Susilowibowo
Program Studi Pendidikan Akuntansi, Fakultas Ekonomi, Universitas Negeri Surabaya
E-mail [email protected]
Abstrak
Kurikulum merupakan salah satu pilar utama yang mempengaruhi keberhasilan pendidikan
nasional. Guna meningkatkan kualitas pendidikan, pemerintah menerapkan Kurikulum 2013
dengan tujuan membentuk peserta didik menjadi manusia berkualitas yang mampu dan proaktif
menjawab tantangan zaman yang selalu berubah; dan manusia terdidik yang beriman dan
bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif,
mandiri; dan warga negara yang demokratis dan bertanggung jawab. Dalam praktek
pembelajaran, guru dituntut untuk memberikan ruang seluas-luasnya kepada peserta didik
untuk belajar secara aktif. Akan tetapi pada kenyataannya, penerapan Kurikulum 2013 di
tingkat sekolah belum sepenuhnya terlaksana sesuai dengan prosedur. Salah satu masalahnya
terletak pada kesiapan SDM dan ketersediaan sarana penunjang pembelajaran. Ketersediaan
SDM meliputi komitmen dan kompetensi tenaga pendidik dan tenaga kependidikan, sedangkan
kendala sarana dijumpai pada ketersediaan media dan buku pedoman pembelajaran yang
memadai. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis implementasi Kurikulum 2013 di SMK
Negeri 1 Sooko Mojokerto berdasarkan aspek guru, siswa, dan kepala sekolah, khususnya pada
pembelajaran akuntansi. Metode penelitian ini adalah deskriptif. Sumber data diperoleh dari
para informan dan arsip dokumentasi. Teknik pengumpulan data, yaitu dengan observasi,
wawancara dan dokumentasi. Teknik analisis data dilakukan dengan rating scale menggunakan
pendekatan prosentatif. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa Implementasi Kurikulum
2013 pada pembelajaran akuntansi kelas XI SMK Negeri 1 Sooko Mojokerto sudah dimulai
dan terlaksana pada semua bagian dari aspek guru, siswa dan kepala sekolah, dengan rerata
keterlaksanaan sebesar 66% dengan intreprestasi cukup terlaksana dengan baik. Akan tetapi
semua itu masih dalam proses perbaikan dan sekolah membutuhkan waktu untuk
melaksanakannya secara optimal. Peran tersebut masih perlu ditingkatkan lagi karena dirasa
masih belum signifikan.
Kata Kunci : Implementasi kurikulum 2013, pembelajaran akuntansi
Abstract
The curriculum is one of the main pillars that influence the success of national education. To
improve the quality of education, the government implemented Curriculum 2013 with the aim
of forming a human learners become capable and proactive qualified to answer the challenges
of changing times; and educated man whose faith and fear of God Almighty, noble, healthy,
knowledgeable, capable, creative, self-sufficient; and citizens of a democratic and responsible.
In teaching practice, teachers are required to provide a wide space for learners to learn actively.
But in reality, the implementation of Curriculum 2013 at the school level has not been fully
implemented in accordance with the procedure. One problem lies in the readiness of human
resources and the availability of means of supporting learning. The availability of human
resources and competencies covering the commitment of educators and education personnel,
while obstacles encountered on the availability of means of media and adequate instructional
manuals. This study aimed to analyze the implementation of Curriculum 2013 in SMK Negeri
1 Sooko Mojokerto based on aspects of teachers , students , and principals , especially in
accounting learning. This research method is descriptive . Sources of data obtained from
1
Analisis Implementasi Kurikulum 2013 pada Pembelajaran Akuntansi Kelas XI….
informants and archival documentation . Data collection techniques , ie by observation ,
interview and documentation . Data analysis techniques performed by the rating scale using
prosentatif approach. The results showed that the implementation of Curriculum 2013 in
accounting learning class XI SMK 1 Sooko Mojokerto already started and implemented in all
parts of the aspects of teachers , students and principals , with a mean of 66% . But all of that is
still in the process of repair and schools need time to implement it optimally . That role still
needs to be improved because it is still not significant.
Keyword : implementation of curriculum 2013 , accounting learning
dan kesejahteraan sosial, lentur, serta adaptif terhadap
berbagai perubahan. Kurikulum berbasis karakter dan
kompetensi diharapkan mampu memecahkan berbagai
persoalan bangsa, khususnya dalam bidang pendidikan,
dengan mempersiapkan peserta didik, melalui
perencanaan, pelaksanaan, dan evaluasi terhadap sistem
pendidikan secara efektif, efisien, dan berhasil guna.
Pendidikan karakter dalam kurikulum 2013 bertujuan
untuk meningkatkan mutu proses dan hasil pendidikan
yang mengarah pada pembentukan budi pekerti dan
akhlak mulia peserta didik secara utuh, terpadu, dan
seimbang, sesuai dengan standar kompetensi lulusan pada
setiap satuan pendidikan.
Berdasarkan Permendikbud No.59 tahun 2014
(2014:5) “Kurikulum 2013 dimaksudkan untuk
memenuhi tuntutan perwujudan konsepsi pendidikan
yang bersumbu pada perkembangan peserta didik beserta
konteks kehidupannya sebagaimana dimaknai dalam
konsepsi pedagogik transformatif. Konsepsi ini menuntut
bahwa kurikulum harus didudukkan sebagai wahana
pendewasaan peserta didik sesuai dengan perkembangan
psikologisnya dan mendapatkan perlakuan pedagogis
sesuai dengan konteks lingkungan dan jamannya”.
Model pembelajaran proses saintifik dapat dikatakan
sebagai proses pembelajaran yang memandu siswa untuk
memecahkan masalah melalui kegiatan perencanaan yang
matang, pengumpulan data yang cermat, dan analisis data
yang teliti untuk menghasilkan sebuah simpulan.
Penerapan pembelajaran dengan pendekatan saintifik
memungkinkan siswa untuk memperoleh nilai-nilai
penting pembelajaran
Model pembelajaran saintifik proses juga akan
bermanfat bagi siswa dalam hal membina kepekaan siswa
terhadap berbagai problematika yang terjadi disekitarnya.
Melalui model ini siswa akan dibiasakan untuk
mengumpulkan sejumlah informasi, isu-isu penting, dan
kejadian kontekstual lainnya melalui kegiatan bertanya
meneliti, dan menalar. Berdasarkan keluasaan
pengetahuan yang diperolehnya siswa lebih lanjut akan
memiliki rasa percaya diri yang tinggi selama mengikuti
proses pembelajaran. Rasa percaya diri merupakan hal
penting dimiliki siswa agar peserta didik berani
melakukan berbagai aktivitas belajar dan terbiasa dengan
menanggung risiko pembelajaran.
PENDAHULUAN
Kurikulum 2013 menekankan pada dimensi pedagogik
modern dalam pembelajaran, yaitu menggunakan
pendekatan ilmiah. Pendekatan ilmiah (scientific
approach) dalam pembelajaran sebagaimana dimaksud
meliputi mengamati, menanya, mencoba, mengolah,
menyajikan, menyimpulkan, dan mencipta untuk semua
mata pelajaran. Untuk mata pelajaran, materi, atau
situasi tertentu, sangat mungkin pendekatan ilmiah ini
tidak selalu tepat diaplikasikan secara prosedural. Pada
kondisi seperti ini, tentu saja proses pembelajaran harus
tetap menerapkan nilai-nilai atau sifat-sifat ilmiah dan
menghindari nilai-nilai atau sifat-sifat nonilmiah.
Upaya meningkatkan kualitas pendidikan terus
menerus dilakukan baik secara konvensional maupun
inovatif. Hal tersebut lebih terfokus lagi setelah
diamanatkan bahwa tujuan pendidikan nasional adalah
untuk meningkatkan mutu pada setiap jenis dan jenjang
pendidikan (Mulyasa.2014).
Peningkatan mutu pendidikan akan tercapai apabila
proses belajar mengajar yang diselenggarakan di kelas
benar-benar efektif dan berguna untuk mencapai
kemampuan pengetahuan, sikap, dan ketrampilan yang
diharapkan.
Menurut Doddington, C (2010:77). “Pendekatan
berpusat pada anak dapat dikatakan berdasarkan pada
wawasan ini dengan memunculkan gagasan bahwa
kurikulum harus berbasis pada minat anak”.
Berdasarkan hal tersebut maka rumusan masalah yang
peneliti ambil yaitu bagaimana implementasi Kurikulum
2013 ditinjau dari aspek guru, siswa, dan kepala sekolah
pada pembelajaran akuntansi kelas XI SMK Negeri 1
Sooko Mojokerto?. Dengan tujuan
menganalisis
implementasi Kurikulum 2013 pada pembelajaran
akuntansi kelas XI SMK Negeri 1 Sooko Mojokerto.
Berkaitan dengan perubahan kurikulum, berbagai
pihak menganalisis dan melihat perlunya diterapkan
kurikulum berbasis kompetensi sekaligus berbasis
karakter yang dapat membekali peserta didik dengan
berbagai sikap dan kemampuan yang sesuai dengan
tuntutan perkembangan zaman dan tuntutan teknologi.
Hal tersebut penting guna menjawab tantangan arus
globalisasi, berkontribusi pada pembangunan masyarakat
2
Analisis Implementasi Kurikulum 2013 pada Pembelajaran Akuntansi Kelas XI….
Model saintifik juga dikembangkan untuk membina
kemampuan
siswa
dalam
berkomunikasi
dan
berargumentasi. Kemampuan ini akan terbina selama
proses pembelajaran sebab siswa akan senantiasa
dibiasakan untuk mengkomunikasikan hasil penelitiannya
dan akan dibiasakan untuk mempertahankan hasil
penelitiannya ketika mendapatkan kritikan atau
sanggahan dari temannya. Pembiasaan berkomunikasi
dan berargumentasi ini juga akan memunculkan karakter
positif dalam diri siswa yang antara lain bertanggung
jawab, santun, toleran, berani, dan kritis serta etis.
Menurut Abidin,Yunus (2014:127) “Model saintifik
proses pada dasarnya adalah model pembelajaran yang
diorientasikan guna membina kemampuan siswa
memecahkan masalah melalui serangkaian aktivitas
inkuiri yang menuntut kemampuan berfikir kritis, berfikir
kreatif, dan berkomunikasi dalam upaya meningkatkan
pemahaman siswa”.
Tahapan sintaks model pembelajaran saintifik dapat
dijelaskan sebagai berikut:
1.) Fase 1: mengajukan pertanyaan
Pada tahap ini peserta didik melakukan
pengamatan terhadap objek tertentu. Berdasarkan
pengamatannya tersebut peserta didik membuat
pertanyaan yang harus dijawab melalui kegiatan
penelitian.
2.) Fase 2: menguji pertanyaan
Pada tahap ini peserta didik melakukan kegiatan
pengujian atas pertanyaan yang telah dibuatnya.
Pengujian dimaksudkan untuk mengetes apakah
masalah yang diajukan dapat diteliti, terukur,
logis, bermanfaat, etis, dan faktual(tersedia
sumber data). Hasil kegiatan ini adalah rumusan
masalah yang benar-benar layak diteliti.
3.) Fase 3: membuat hipotesis
Pada tahap ini siswa membuat jawaban sementara
atas pertanyaan yang telah dibuatnya. Proses
membuat
hipotesis
dilakukan
dengan
mengoptimalkan pengetahuan
awal
siswa
sehingga terjadi proses penalaran deduktif.
4.) Fase 4: melaksanakan penelitian/eksperimen
Pada tahap ini siswa melakukan kegiatan
eksperimen atau melakukan serangkaian kegiatan
penelitian sederhana. Berdasarkan kegiatan
eksperimen tersebut peserta didik mengumpulkan
data dan mencatat semua data dengan baik dan
lengkap.
5.) Fase 5: menganalisis data dan membuat simpulan
Pada tahap ini peserta didik menganalisis dan
memaknai data hasil penelitian. Proses pemaknaan
data dapat dilakukan dengan cara membandingkan
hasil analisis dengan teori/materi ajar yang telah
ada. Selanjutnya peserta didik membuat simpulan
atas hasil kegiatan penelitian yang dilakukannya.
Dalam membuat simpulan peserta didik dituntut
mengoptimalkan kemampuan penalaran deduktif
sehingga simpulan yang dihasilkan memiliki
tingkat kelogisan yang tinggi.
6.) Fase 6:mencipta dan mengkomunikasikan laporan
Pada tahap ini peserta didik menuliskan laporan
hasil penelitian. Setelah laporan selesai,
perwakilan peserta didik mengkomunikasikan
laporan tersebut di dalam kelas dan selanjutnya
laporan tersebut dapat dipublikasikan.
Model pembelajaran saintifik yang dapat diterapkan
diantaranya :
a. Metode
Pembelajaran
Discovery
Learning
(Pembelajaran Berbasis Penemuan)
Model Discovery Learning mengacu kepada teori
belajar yang didefinisikan sebagai proses
pembelajaran yang terjadi bila pelajar tidak
disajikan dengan pelajaran dalam bentuk finalnya,
tetapi diharapkan siswa mengorganisir sendiri. Pada
Discovery Learning lebih menekankan pada
ditemukannya konsep atau prinsip yang sebelumnya
tidak diketahui. “Model Discovery adalah
menemukan konsep melalui serangkaian data atau
informasi yang diperoleh melalui pengamatan atau
percobaan” (Sani,Ridwan Abdullah.2014:97).
1) Stimulation (stimulasi/pemberian rangsangan)
Pertama-tama pada tahap ini pelajar
dihadapkan pada sesuatu yang menimbulkan
kebingungannya, kemudian dilanjutkan untuk
tidak memberi generalisasi, agar timbul
keinginan untuk menyelidiki sendiri. Disamping
itu guru dapat memulai kegiatan Proses belajar
Mengajar
(PBM)
dengan
mengajukan
pertanyaan, anjuran membaca buku, dan
aktivitas belajar lainnya yang mengarah pada
persiapan pemecahan masalah. Stimulasi pada
tahap ini berfungsi untuk menyediakan kondisi
interaksi belajar yang dapat mengembangkan
dan membantu siswa dalam mengeksplorasi
bahan.
2) Problem statement (pernyataan/identifikasi
masalah)
Setelah
dilakukan
stimulasi
langkah
selanjutya adalah guru memberi kesempatan
kepada siswa untuk mengidentifikasi sebanyak
mungkin agenda-agenda masalah yang relevan
dengan bahan pelajaran, kemudian salah satunya
dipilih dan dirumuskan dalam bentuk hipotesis
(jawaban sementara atas pertanyaan masalah).
3) Data collection (Pengumpulan Data).
Ketika eksplorasi berlangsung guru juga
memberi kesempatan kepada para siswa untuk
2
Analisis Implementasi Kurikulum 2013 pada Pembelajaran Akuntansi Kelas XI….
mengumpulkan informasi sebanyak-banyaknya
yang relevan untuk membuktikan benar atau
tidaknya hipotesis. Pada tahap ini berfungsi
untuk menjawab pertanyaan atau membuktikan
benar tidaknya hipotesis, dengan demikian anak
didik diberi kesempatan untuk mengumpulkan
(collection) berbagai informasi yang relevan,
membaca
literatur,
mengamati
objek,
wawancara dengan nara sumber, melakukan uji
coba sendiri dan sebagainya.
4) Data Processing (Pengolahan Data)
Pengolahan data merupakan kegiatan
mengolah data dan informasi yang telah
diperoleh para siswa baik melalui wawancara,
observasi, dan sebagainya, lalu ditafsirkan.
Semua informai hasil bacaan, wawancara,
observasi, dan sebagainya, semuanya diolah,
diacak, diklasifikasikan, ditabulasi, bahkan bila
perlu dihitung dengan cara tertentu serta
ditafsirkan pada tingkat kepercayaan tertentu.
5) Verification (Pembuktian)
Pada tahap ini siswa melakukan pemeriksaan
secara cermat untuk membuktikan benar atau
tidaknya hipotesis yang ditetapkan tadi dengan
temuan alternatif, dihubungkan dengan hasil
data yang bertujuan agar proses belajar akan
berjalan dengan baik dan kreatif jika guru
memberikan kesempatan kepada siswa untuk
menemukan suatu konsep, teori, aturan atau
pemahaman melalui contoh-contoh yang jumpai
dalam kehidupannya.
6) Generalization (menarik kesimpulan)
Tahap generalisasi/ menarik kesimpulan
adalah proses menarik sebuah kesimpulan yang
dapat dijadikan prinsip umum dan berlaku untuk
semua kejadian atau masalah yang sama, dengan
memperhatikan hasil verifikasi. Berdasarkan
hasil verifikasi maka dirumuskan prinsipprinsip yang mendasari generalisasi.
b. Metode Pembelajaran Project Based Learning
(Pembelajaran Berbasis Proyek)
Model pembelajaran Project Based learning (PJBL)
merupakan model pembelajaran yang secara
langsung melibatkan siswa dalam proses
pembelajaran melalui kegiatan penelitian untuk
mengerjakan dan menyelesaikan suatu proyek
pembelajaran tertentu. Menurut Abidin, Yunus
(2014:169),“Model Pembelajaran Berbasis Proyek
merupakan
model
pembelajran
yang
dioriemntasikan
untuk
mengembangkan
kemampuan dan keterampilan belajar para siswa
melalui serangkaian kegiatan merencanakan,
melaksanakan penelitian, dan menghasilkan produk
tertentu yang dibingkai dalam satu wadah berupa
proyek pembelajaran”. PJBL dapat didefinisikan
sebagai sebuah pembelajaran dengan aktivitas
jangka panjang yang melibatkan siswa dalam
merancang, membuat, dan menampilkan produk
untuk mengatsi permasalahan dunia nyata. Project
Based learning (PJBL) merupakan strategi belajar
mengajar
yang
melibatkan
siswa
dalam
mengerjakan sebuah proyek yang bermanfaat untuk
menyelesaikan permasalahan masyarakat atau
lingkungan. Permasalahan yang dikaji merupakan
permasalahan yang kompleks dan membutuhkan
penguasaan berbagai konsep atau materi pelajaran
dalam upaya penyelesaiaannya. Pembelajaran ini
memungkinkan siswa untuk mengembangkan
kreativitasnya dalam merancang dan membuat
proyek yang dapat dimanfaatkan untuk mengatasi
permasalahan.
Tahapan Project Based learning (PJBL) sebgai
berikut:
1. Praproyek
Tahapan ini merupakan kegiatan yang
dilakukan guru di luar jam pelajaran. Pada
tahap ini guru merancang deskripsi proyek,
menentukan batu pijakan proyek, menyiapkan
media dan berbagai sumber belajar, dan
menyiapkan kondisi pembelajaran.
2. Fase 1: mengidentifikasi masalah
Pada tahap ini siswa melakukan pengamatan
terhadap
obyek
tertentu.
Berdasarkan
pengamatan siswa mengidentifikasi masalah dan
membuat rumusan masalah dalam bentuk
pertanyaan.
3. Fase 2: membuat desain dan jadwal pelaksanaan
proyek
Pada tahap ini siswa secara kolaboratif baik
dengan anggota kelompok ataupun dengan guru
mulai merancang proyek yang akan dibuat,
menentukan penjadwalan pengerjaan proyek,
dan melakukan aktivitas persiapan lainnya.
4. Fase 3: melaksanakan penelitian
Pada tahap ini siswa melakukan kegiatan
penelitian awal sebagai model dasar bagi produk
yang akan dikembangkan. Berdasarkan kegiatan
penelitian tersebut siswa mengumpulkan data
dan selanjutnya menganalisis data tersebut
sesuai dengan teknik analisis data yang relevan
dengan penelitian yang dilakukan.
5. Fase 4: menyusun draft
Pada tahap ini siswa mulai membuat produk
awal sebagaimana rencana dan hasil penelitian
yang dilakukan.
3
Analisis Implementasi Kurikulum 2013 pada Pembelajaran Akuntansi Kelas XI….
c.
6. Fase 5: mengukur, menilai, dan memperbaiki
produk
Pada tahap ini siswa melihat kembali produk
awal yang dibuat, mencari kelemahan, dan
memperbaiki
produk
tersebut.
Dalam
praktiknya, kegiatan mengukur dan menilai
produk dapat dilakukan dengan meminta
pendapat atau kritik dari anggota kelompok lain
ataupun pendapat guru.
7. Fase 6: finalisasi dan publikasi produk
Pada tahap ini siswa melakukan finalisasi
produk. Setelah diyakini sesuai dengan harapan,
produk dipublikasikan.
8. Pasca proyek
Pada tahap ini guru menilai, memberikan
penguatan, masukan, dan saran perbaikan atas
produk yang telah dihasilkan siswa.
Metode Pembelajaran Problem Based Learning
(Pembelajaran Berbasis Masalah)
Problem Based Learning (PBL) merupakan
pengembangan metode pembelajaran dengan
menggunakan pendekatan aktif dan pendekatan
pembelajaran yang berpusat pada peserta didk di
mana masalah-masalah dunia nyata digunakan
sebagai titik awal dan jangkar untuk proses
pembelajaran. Pembelajaran berbasis masalah dapat
membuat siswa belajar melalui upaya penyelesaian
permasalahan dunia nyata (real world problem)
secara terstruktur untuk mengonstruksi pengetahuan
siswa. Pembelajaran ini menuntut siswa untuk aktif
melakukan penyelidikan dalam menyelesaikan
permasalahan dan guru berperan sebagai fasilitator
atau pembimbing. Pembelajaran akan dapat
membentuk kemampuan berfikir tngkat tinggi
(higher order thinking) dan meningkatkan
kemampuan siswa untuk berfikir kritis (Sani,
Ridwan Abdullah.2014). Permasalahan nyata yang
dikaji dengan menerapkan Problem Based Learning
(PBL) diharapkan dapat membuat siswa berfikir,
membuat
siswa
mengajukan
pertanyaan,
mengaktifkan
pengetahuan
awal,
menguji
pemahaman siswa, mengolaborasi pengetahuan
baru, memperkuat pemahaman siswa, memberikan
motivasi untuk belajar, dan membuat siswa melatih
logika, dan pendekatan analitis terhadap situasi
yang tidak dikenal. Pemilihan dan perumusan
permasalahan yang tepat akan memotivasi siswa
untuk belajar secara aktif mengembangkan
pengetahuannya secara mandiri dan berkelompok.
Tahapan sintaks model pembelajaran ini dapat
dijelaskan bahwa:
1. Pra pembelajaran
Tahapan ini merupakan kegiatan yang dilakukan
guru sebelum pembelajaran inti dimulai. Pada
tahap ini guru merancang mempersiapkan media
dan sumber belajar, mengorganisaikan siswa,
dan menjelaskan prosedur pembelajaran.
2. Fase 1: menemukan masalah
Pada tahap ini siswa membaca maslah yang
disajikan guru secara individu. Berdasarkan
hasil membaca siswa menuliskan berbagai
informasi penting, menemukan hal yang
dianggap sebagai masalah, dan menentukan
pentingnya maslah tersebut bagi dirinya secara
individu. Tugas guru pada tahap ini adalah
memotivasi siswa untuk mampu menemukan
masalah.
3. Fase 2: membangunkan struktur kerja
Pada tahap ini siswa secara individu
membangun struktur kerja yang akan dilakukan
dalam
menyelesaikan
masalah.
Upaya
membangun struktur kerja ini diawali dengan
aktivitas siswa mengungkapkan apa yang
mereka ketahui tentang masalah, apa yang ingin
diketahui dai masalah, dan idea pa yang bisa
digunakan untuk memecahkan masalah. Hal
terakhir yang harus siswa laukan pada tahap ini
adalah merumuskan rencana aksi yang akan
dilakukan dalam menyelesaikan masalah. Tugas
guru pada tahap ini adalah memberikan
kesadaran akan pentingnya rencana aksi untuk
memecahkan masalah.
4. Fase 3: menetapkan masalah
Pada tahap ini siswa menetapkan maslah yang
dianggap paling penting atau maslah yang
mereka hadapi dalam kehidupan nyata. Masalah
tersebut selanjutnya dikemas dalam bentuk
pertanyaan menjadi sebuah rumusan masalah
dan membuat rumusan masalah. Bentuk
rumusan masalah berisi maslah utama apa yang
ada dan bagaimana memecahkannya. Tugas
guru pada tahap ini adalah mendorong siswa
untuk menemukan maslah utama dan membantu
siswa menyusun rumusan masalah.
5. Fase 4: mengumpulkan dan berbagi informasi
Pada tahap ini siswa melakukan kegiatan
pengumpulan sata melalui kegiatan penelitian
atau kegiatan sejenisnya. Berdasarkan informasi
yang telah siswa peroleh secara individu,
selanjutnya siswa berbagi informasi tersebut
dengan temannya dalam kelompok yang telah
ditetapkan.
6. Fase 5: merumuskan solusi
Pada tahap ini siswa secara berkelompok
mencoba melakukan merumuskan solusi terbaik
4
Analisis Implementasi Kurikulum 2013 pada Pembelajaran Akuntansi Kelas XI….
bagi pemev=cahan masaalah yang dihadapi.
Proses perumusan solusi dilakukan secara
kolaboratif dan kooperatif dengan menekankan
komunikasi efektif dalam kelompok. Semua
solusi yang mungkin dituliskan oleh masingmasing siwa/anggota dan kemudian ditampung
oleh seorang siswa yang ditunjuk dalam
kelompok. Tugas guru pada tahap ini mematikan
proses kelompok terjadi secara kolaboratif,
kooperatif, dan komunikatif.
7. Fase 6: menentukan solusi terbaik
Pada tahap ini siswa menimbang kembali
berbagai solusi yang dihasilkan dan mulai
memilih beberapa solusi yang dianggap paling
tepat untuk memecahkan masalah. Tugas guru
meyakinkan siswa pentingnya meninjau ulang
dan menimbang keefektifan solusi yang telah
dihasilkan pada tahap sebelumnya.
8. Fase 7: menyajikan solusi
Pada tahap ini perwakilan siswa tiap kelompok
memaparkan
hasil
kerjanya. Pemaparan
dilanjtkan diskusi kelas dengan dimoderatori dan
difasilitatori oleh guru. Pada tahap ini tugas guru
melakukan penilaian atas performa atau produk
yang dihasilkan oleh siswa.
9. Pasca pembelajaran
Pada tahap ini gruru membahas kembali masalah
dan solusi alternated yang bisa digunakan untuk
memecahkan masalah tersebut. Dalam prosesnya
guru membandingkan antara solusi satu dengan
solusi lain hasil pemikiran siswa atau juuga
dibandingkan dengan solusi secara teoritis yang
telah ada.
Proses pembelajaran berdasarkan kurikulum 2013
sebagaimana disampaikan dalam Permendikbud No.81a
tahun 2013 terdiri atas lima pengalaman belajar pokok
yaitu:
1.) Mengamati
Metode mengamati mengutamakan kebermaknaan
proses pembelajaran (meaningfull learning).
Metode ini memiliki keunggulan tertentu, seperti
menyajikan media obyek secara nyata, peserta didik
senang dan tertantang, dan mudah pelaksanaannya.
Tentu saja kegiatan mengamati dalam rangka
pembelajaran ini biasanya memerlukan waktu
persiapan yang lama dan matang, biaya dan tenaga
relatif banyak, dan jika tidak terkendali akan
mengaburkan makna serta tujuan pembelajaran.
2.) Menanya
Guru yang efektif mampu menginspirasi peserta
didik untuk meningkatkan dan mengembangkan
ranah sikap, keterampilan, dan pengetahuannya.
Pada saat guru bertanya, pada saat itu pula dia
membimbing atau memandu peserta didiknya
belajar dengan baik. Ketika guru menjawab
pertanyaan peserta didiknya, ketika itu pula dia
mendorong asuhannya itu untuk menjadi penyimak
dan pembelajar yang baik. Berbeda dengan
penugasan yang menginginkan tindakan nyata,
pertanyaan dimaksudkan untuk memperoleh
tanggapan verbal. Istilah “pertanyaan” tidak selalu
dalam bentuk “kalimat tanya”, melainkan juga dapat
dalam bentuk pernyataan, asalkan keduanya
menginginkan tanggapan verbal bentuk pertanyaan.
3.) Mengumpulkan informasi/menalar
Istilah “menalar” dalam kerangka proses
pembelajaran dengan pendekatan ilmiah yang
dianut
dalam
kurikulum
2013
untuk
menggambarkan bahwa guru dan peserta didik
merupakan pelaku aktif. Titik tekannya tentu dalam
banyak hal dan situasi peserta didik harus lebih aktif
daripada guru. Penalaran adalah proses berfikir
yang logis dan sistematis atas fakta-kata empiris
yang dapat diobservasi untuk memperoleh simpulan
berupa
pengetahuan.
Penalaran
dimaksud
merupakan penalaran ilmiah meski penalaran
nonilmiah tidak selalu tidak bermanfaat. Aktivitas
menalar dalam konteks pembelajaran pada
kurikulum 2013 dengan pendekatan ilmiah banyak
merujuk pada teori belajar asosiasi atau
pembelajaran asosiatif. Istilah asosiasi dalam
pembelajaran
merujuk
pada
kemampuan
mengelompokkan beragam ide dan mengasosiasikan
beragam peristiwa untuk kemudian memasukkannya
menjadi penggalan memori.
4.) Mengasosiasi/mencoba
Untuk memperoleh hasil belajar yang nyata atau
otentik, peserta didik harus mencoba atau
melakukan percobaan, terutama untuk materi atau
substansi yang sesuai. Pada mata pelajaran IPA
misalnya peserta didik harus memahami konsepkonsep IPA dan kaitannya dengan kehidupan seharihari. Peserta didik pun harus memiliki keterampilan
proses untuk mengembangkan pengetahuan tentang
alam sekitar, serta mampu menggunakan metode
ilmiah dan bersikap ilmiah untuk memecahkan
masalah-masalah yang dihadapinya sehari-hari.
5.) Mengkomunikasikan
Pembelajaran kolaboratif merupakan suatu filsafat
personal, lebih dari sekadar teknik pembelajaran di
kelas-kelas
sekolah.
Kolaborasi
esensinya
merupakan filsafat interaksi dan gaya hidup
manusia yang menempatkan dan memaknai
kerjasama sebagai struktur interaksi yang dirancang
secara baik dan disengaja rupa untuk memudahkan
usaha kolektif dalam rangka mencapai tujuan
5
Analisis Implementasi Kurikulum 2013 pada Pembelajaran Akuntansi Kelas XI….
bersama.
Pada
pembelajaran
kolaboratif
kewenangan guru fungsi guru lebih bersifat direktif
atau manajer belajar, sebaliknya, peserta didiklah
yang harus lebih aktif. Jika pembelajaran
kolaboratif diposisikan sebagai satu falsafah
peribadi, maka hal tersebut menyentuh tentang
identitas peserta didik terutama jika mereka
berhubungan atau berinteraksi dengan yang lain
atau guru. Dalam situasi kolaboratif itu, peserta
didik
berinteraksi
dengan
empati,
saling
menghormati, dan menerima kekurangan atau
kelebihan masing-masing. Dengan cara semacam ini
akan tumbuh rasa aman, sehingga memungkinkan
peserta didik menghadapi aneka perubahan dan
tuntutan belajar secara bersama-sama.
Bahan ajar dalam konteks kurikulum 2013 sudah
disediakan secara lengkap oleh pemerintah. Bahan ajar
tersebut disusun dalam bentuk buku pegangan siswa buku
pegangan guru, pedoman penilaian bahkan hingga
multimedia pelengkap bahan ajar. Akan tetapi buku
pedoman untuk Sekolah Menengah kejuruan belum
tersedia. Bahan ajar yang dikembangkan pemerintah
tentu saja masih harus dikreasi dan dikembangkan oleh
guru agar kebiasaan menyajikan materi dari satu sumber
materi dapat dihindari. Kebiasaan menyajikan materi dari
satu sumber dinilai membahayakan siswa sebab siswa
dipaksa memahami sesuatu atas satu sudut pandang
padahal di sisi lain kurikulum 2013 akan membentuk
lulusan yang mampu berfikir kritis, kreatif, dan
multiperspektif.
Bahan ajar atau materi pembelajaran (instructional
materials) secara garis besar terdiri pengetahuan,
keterampilan, dan sikap yang harus dipelajari siswa
dalam rangka mencapai standar kompetensi yang telah
ditentukan. Bahan ajar dapat pula diartikan sebagai
seperangkat fakta, konsep, prinsip, prosedur, dan atau
generalisasi yang dirancang secara khusus untuk
memudahkan pengajaran. Materi tersebut dapat dikatakan
sebagai
program
yang
disusun
guru
untuk
mengembangkan pengetahuan, sikap, dan keterampilan
positif terhadap pembelajaran yang sesuai dengan
kurikulum 2013 (Abidin, Yunus:2014).
Materi pembelajaran terdiri dari pengetahuan, sikap,
dan keterampilan yang dikembangkan berdasarkan
Standar Kompetensi Lulusan (SKL), Kompetensi Inti
(KI), dan Kompetensi Dasar (KD) yang dipelajari oleh
siswa dalam rangka mencapai kompetensi yang telah
ditentukan.
Kurikulum 2013 menggunakan modus pembelajaran
langsung (direct instructional) dan tidak langsung
(indirect instructional). Pembelajaran langsung adalah
pembelajaran yang mengembangkan pengetahuan,
kemampuan berpikir dan keterampilan menggunakan
pengetahuan peserta didik melalui interaksi langsung
dengan sumber belajar yang dirancang dalam silabus dan
RPP. Dalam pembelajaran langsung peserta didik
melakukan
kegiatan
mengamati,
menanya,
mengumpulkan informasi atau mencoba, menalar atau
mengasosiasi, dan mengomunikasikan. Pembelajaran
langsung menghasilkan pengetahuan dan keterampilan
langsung, yang disebut dengan dampak pembelajaran
(instructional effect).
Proses pembelajaran merupakan aktivitas terencana
yang disusun guru agar siswa mampu belajar dan
mencapai kompetensi yang diharapkan. Guru akan
melaksanakan pembelajaran terlebih dahulu guru tersebut
harus menyusun perencanaan pembelajaran. Oleh sebab
itu perencanaan pembelajaran harus lengkap, sistematis,
mudah diaplikasikan, namun tetap fleksibel dan
akuntabel (Abidin, Yunus:2014).
Pembelajaran tidak langsung adalah pembelajaran
yang terjadi selama proses pembelajaran langsung yang
dikondisikan menghasilkan dampak pengiring (nurturant
effect). Pembelajaran tidak langsung berkenaan dengan
pengembangan nilai dan sikap yang terkandung dalam
KI-1 dan KI-2. Hal ini berbeda dengan pengetahuan
tentang nilai dan sikap yang dilakukan dalam proses
pembelajaran langsung oleh mata pelajaran Pendidikan
Agama dan Budi Pekerti serta Pendidikan Pancasila dan
Kewarganegaraan. Pengembangan nilai dan sikap sebagai
proses pengembangan moral dan perilaku, dilakukan oleh
seluruh mata pelajaran dan dalam setiap kegiatan yang
terjadi di kelas, sekolah, dan masyarakat. Oleh karena itu,
dalam proses pembelajaran Kurikulum 2013, semua
kegiatan intrakurikuler, kokurikuler, dan ekstrakurikuler
baik yang terjadi di kelas, sekolah, dan masyarakat (luar
sekolah) dalam rangka mengembangkan moral dan
perilaku yang terkait dengan nilai dan sikap.
Perencanaan pembelajaran dirancang dalam bentuk
Silabus dan Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP)
yang mengacu pada Standar Isi. Perencanaan
pembelajaran meliputi penyusunan rencana pelaksanaan
pembelajaran dan penyiapan media dan sumber belajar,
perangkat penilaian pembelajaran, dan skenario
pembelajaran. Penyusunan Silabus dan Rencana
Pelaksanaan Pembelajaran (RPP) disesuaikan pendekatan
pembelajaran yang digunakan.
Evaluasi adalah proses menyimpulkan dan
menafsirkan fakta-fakta serta membuat pertimbangan
dasar yang professional untuk mengambil kebijakan
berdasarkan sekumpulan informasi. Program belajar
siswa dapat dievaluai dengan melihat perkembangan
hasil dan prestasi siswa yang sekaligus dapat
dibandingkan dengan tingkat usia kelompoknya.
Kegiatan evaluasi dilakukan untuk memenuhi tuntutan
atau merupakan proses refleksi dari program belajar.
6
Analisis Implementasi Kurikulum 2013 pada Pembelajaran Akuntansi Kelas XI….
Kedalaman evaluai program belajar siswa akan
ditentukan oleh kebutuhan laporan. Beberapa jenis
evaluasi dapat berupa tes, pengukuran, dan penilaian.
Hakikat penilaian dan evaluasi adalah upaya sistematik
dan sistemik untuk mengumpulkan dan mengolah data
atau informasi yang sahih (valid) dan reliable dalam
rangka melakukan pertimbangan untuk pengambilan
kebijakan suatu program pendidikan (Sani, Ridwan
Abdullah.2014).
Penilaian Hasil Belajar oleh pendidik memiliki fungsi
untuk memantau kemajuan belajar, memantau hasil
belajar, dan mendeteksi kebutuhan perbaikan hasil belajar
peserta didik secara berkesinambungan. Berdasarkan
fungsinya Penilaian Hasil Belajar oleh Pendidik meliputi:
a. formatif yaitu memperbaiki kekurangan hasil
belajar peserta didik dalam sikap, pengetahuan, dan
keterampilan pada setiap kegiatan penilaian selama
proses pembelajaran dalam satu semester, sesuai
dengan prinsip Kurikulum 2013 agar peserta didik
tahu, mampu dan mau. Hasil dari kajian terhadap
kekurangan peserta didik digunakan untuk
memberikan pembelajaran remedial dan perbaikan
RPP serta proses pembelajaran yang dikembangkan
guru untuk pertemuan berikutnya.
b. sumatif yaitu menentukan keberhasilan belajar
peserta didik pada akhir suatu semester, satu tahun
pembelajaran, atau masa pendidikan di satuan
pendidikan. Hasil dari penentuan keberhasilan ini
digunakan untuk menentukan nilai rapor, kenaikan
kelas dan keberhasilan belajar satuan pendidikan
seorang peserta didik.
Penilaian formatif seharusnya dilakukan secara
autentik (authentic). Penilaian autentik merupakan
penilaian yang dilakukan secara komprehensif untuk
menilai aspek sikap, pengetahuan, dan keterampilan
mulai dari masukan (input), proses, dan keluaran (output)
pembelajaran. Penilaian yang menyeluruh seharusnya
dilakukan oleh semua pihak yang terlibat dalam kegiatan
belajar terutama oleh guru, teman sejawat, dan peserta
didik sendiri. Penilaian diri merupakan penilaian yang
dilakukan sendiri oleh peserta didik secara reflektif untuk
membandingkan posisi relatifnya dengan kriteria yang
telah ditetapkan. (Sani, Ridwan Abdullah 2014).
Kurikulum 2013 mempersyaratkan penggunaan
penilaian autentik (authentic assesment). Secara
paradigmatik penilaian autentik memerlukan perwujudan
pembelajaran autentik (authentic instruction) dan belajar
autentik (authentic learning). Hal ini diyakini bahwa
penilaian autentik lebih mampu memberikan informasi
kemampuan peserta didik secara holistik dan valid.
Pendekatan Penilaian adalah proses atau jalan yang
ditempuh dalam melakukan penilaian hasil belajar
peserta didik. Bentuk Penilaian adalah cara yang
dilakukan dalam menilai capaian pembelajaran peserta
didik, misalnya: penilaian unjuk kerja, penilaian projek,
dan penilaian tertulis.
Di dalam penilaian terdapat instrument penilaian dan
ketuntasan belajar yang dibuat sebagai alat penunjang
kegiatan penilaian digunakan. Instrumen Penilaian adalah
alat yang digunakan untuk menilai capaian pembelajaran
peserta didik, misalnya: tes dan skala sikap. Ketuntasan
Belajar adalah tingkat minimal pencapaian kompetensi
sikap, pengetahuan, dan keterampilan meliputi ketuntasan
penguasaan substansi dan ketuntasan belajar dalam
konteks kurun waktu belajar.
METODE PENELITIAN
Penelitian ini merupakan jenis penelitian deskriptif.
Menurut Deni Darmawan (2013:37) “Penelitian
deskriptif yaitu penelitian yang berusaha untuk
menuturkan pemecahan masalah yang ada sekarang
berdasarkan data-data yang menyajikan data-data
menganalisis dan menginterprestasi”.
Teknik Sampling yang digunakan yang digunakan oleh
peneliti yaitu purposive random sampling. Subyek
penelitian antara lain :
1. Guru Akuntansi kelas XI di SMKN 1 Sooko
Mojokerto sebanyak 3 orang guru
2. Siswa kelas XI AK
“Sample adalah sebagian dari jumlah dan
karakteristik yang dimiliki oleh populasi tersebut
“(Sugiyono, 2009:81). Jika jumlah populasi lebih
dari 100 dapat diambil 10% dari populasi
(Arikunto.2008).
Tabel 3.1 Jumlah siswa kelas XI Akuntansi

No. 
Kelas

Jumlah Siswa

1 
XI AK 1

36 siswa

2 
XK AK 2

36 siswa

3 
XI AK 3

34 siswa

Jumlah

106 siswa
Sumber : SMK Negeri 1 Sooko Mojokerto
Rumus : Sample
= jumlah siswa x 10%
= 106 x 10%
= 10.6 siswa
= 11 siswa
3. Kepala Sekolah SMK Negeri 1 Sooko Mojokerto
Obyek penelitian yaitu Implementasi Kurikulum 2013
pada Pembelajaran Akuntansi kelas XI di SMKN 1
Sooko Mojokerto.
Teknik pengambilan data menggunakan wawancara,
observasi, dan dokumentasi. Teknik analisis data
menggunakan skala pengukuran rating scale dengan
deskriptif prosentatif untuk menganalisis data hasil
penelitian guna menjawab rumusan masalah yang
7
Analisis Implementasi Kurikulum 2013 pada Pembelajaran Akuntansi Kelas XI….
dikemukakan serta data yang diperoleh merupakan data
mentah atau apa adanya.
Dalam penelitian ini jawaban responden dapat berupa
skor tertinggi bernilai (4) dan skor terendah bernilai (1).
Data hasil observasi tersebut dikonversikan dengan
kriteria sebagai berikut :
a. Jika data observasi bernilai skor 4 maka dalam
instrument lembar observasi dapat disimpulkan
bahwa kegiatan dalam indikator tersebut
merupakan
keterlaksanaan
semua
indikator
sehingga implementasi kurikulum 2013 telah
dilaksanakan sesuai prosedur.
b. Jika data observasi bernilai skor 3 maka dalam
instrument lembar observasi dapat disimpulkan
bahwa kegiatan dalam indikator tersebut terlaksana
hanya 3 indikator, sehingga perlu ditinjau ulang
kegiatan yang belum terlaksana.
c. Jika data observasi bernilai skor 2 maka dalam
instrument lembar observasi dapat disimpulkan
bahwa kegiatan dalam indikator tersebut terlaksana
hanya setengah atau 2 dari indikator sehingga perlu
ditinjau ulang kegiatan yang belum terlaksana.
d. Jika data observasi bernilai skor 1 maka dalam
instrument lembar observasi dapat disimpulkan
bahwa kegiatan dalam indikator tersebut hanya
terlaksana 1 indikator sehingga perlu ditinjau ulang
kegiatan yang belum terlaksana.
Tabel 3.5 Kriteria Skala Likert
SKOR
KRITERIA
4
Terlaksana
3
Cukup terlaksana
2
Kurang terlaksana
1
Tidak terlaksana
Sumber : Riduwan (2011:13)
Dari skor yang diperoleh kemudian di persentasikan
dengan rumus sebagai berikut :
P=
Dari tabel diatas, maka implementasi kurikulum 2013
pada Pembelajaran Akuntansi kelas XI yang dianalisis
dikatakan terlaksana sesuai prosedur apabila rata-rata dari
semua aspek observasi mendapatkan persentase > 76%
sehingga memperoleh interprestasi terlaksana.
HASIL DAN PEMBAHASAN
Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) Negeri 1 Sooko
Mojokerto berlokasi di Jalan R.Akhmad Basuni No.5
Sooko Mojokerto. Di SMK Negeri 1 Sooko Mojokerto
terdapat beberapa program keahlian yang terdiri atas :
1) Bidang Keahlian Seni, Kerajinan dan Pariwisata:
a) Program Studi Keahlian Tata Kecantikan
b) Program Studi Keahlian Tata Busana
2) Bidang Keahlian Bisnis dan Manajemen :
a) Program Studi Keahlian Keuangan
b) Program Studi Keahlian Administrasi
c) Program Studi Keahlian Tata Niaga
Berdasarkan hasil penelitian ditinjau dari aspek guru
dengan kategori buku siswa, buku pedoman guru, proses
pembelajaran, dan proses penilaian mendapatkan nilai
prosentase sebesar 45% sehingga mendapat intreprestasi
kurang terlaksana. Dengan rincian sebagai berikut :
a. Buku siswa
Berdasarkan kategori buku pedoman siswa
diatas, dari jumlah semua aspek observasi
mendapatkan prosentase sebesar 0% dikarenaka
siswa/sekolah belum mendapatkan buku pedoman
dari pemerintah sehingga memperoleh interprestasi
tidak terlaksana.
b. Buku pedoman guru
Bagi guru buku merupakan petunjuk penting
untuk mengembangkan proses belajar mengajar.
Kehadiran buku dalam kurikulum 2013 sangat
diperlukan. Oleh sebab itu, guru di SMK Negeri 1
Sooko Mojokerto sangat mengharapkan penyediaan
buku guru dan buku siswa segera dibuat dan
didistribusikan ke sekolah-sekolah.
Berdasarkan kategori buku pedoman guru diatas,
dari jumlah semua aspek observasi mendapatkan
prosentase sebesar 0% dikarenakan guru/sekolah
belum mendapatkan buku pedoman dari pemerintah
sehingga memperoleh interprestasi tidak terlaksana.
c. Berdasarkan kategori proses pembelajaran antara
lain:
1) Kelengkapan RPP
Berdasarkan kategori proses pembelajaran pada
aspek kelengkapan RPP siswa terpenuhi sebesar
75%. Maka dapat dinyatakan cukup terlaksana.
2) Kelayakan isi RPP (perencanaan)
Berdasarkan kategori proses pembelajaran pada
aspek kelayakan RPP siswa terpenuhi sebesar
50%. Maka dapat dinyatakan kurang terlaksana.
Jumlah skor pengumpulan data x 100 %
Skor maksimal
Data hasil analisis diatas akan diperoleh kesimpulan
tentang keterlaksanaan implementasi kurikulum 2013
pada Pembelajaran Akuntansi kelas XI di SMK Negeri 1
Sooko Mojokerto dengan kriteria sebagai berikut.
Tabel 3.6 Kriteria Interprestasi Skor
Prosentase
Kriteria Interprestasi
0%-25%
Tidak terlaksana
26%-50%
Kurang terlaksana
51%-75%
Cukup terlaksana
76%-100%
Terlaksana
Sumber : adaptasi dari skal likert yang
digunakan
8
Analisis Implementasi Kurikulum 2013 pada Pembelajaran Akuntansi Kelas XI….
3) Pemanfaatan sumber belajar dalam pelaksanaan
pembelajaran
Berdasarkan kategori proses pembelajaran pada
aspek pemanfaatan sumber belajar dalam
pelaksanaan pembelajaran terpenuhi sebesar
75%. Maka dapat dinyatakan cukup terlaksana.
Dengan
catatan
peneliti,
guru
tidak
memanfaatkan narasumber sebagai sumber
belajar.
4) Pengembangan kompetensi melalui proses
pembelajaran
Berdasarkan kategori proses pembelajaran pada
aspek pengembangan kompetensi melalui proses
pembelajaran terpenuhi sebesar 100%. Maka
dapat dinyatakan terlaksana.
5) Penerapan pendekatan saintifik di kelas
Berdasarkan kategori proses pembelajaran pada
aspek penerapan pendekatan saintifik di kelas
terpenuhi sebesar 100%. Maka dapat dinyatakan
terlaksana.
6) Pelaksanaan pembelajaran remedial dan
pengayaan
Berdasarkan kategori proses pembelajaran pada
aspek pelaksanaan pembelajaran remedial dan
pengayaan di kelas terpenuhi sebesar 75%.
Maka dapat dinyatakan cukup terlaksana.
Dengan catatan peneliti, guru melaksanakan
remedial dan pengayaan sesuai kebutuhan.
d. Berdasarkan tabel kategori proses penilaian antara
lain:
1) Penilaian dimensi sikap
Berdasarkan kategori proses penilaian pada
aspek penilaian dimensi sikap terpenuhi sebesar
100%. Maka dapat dinyatakan terlaksana.
2) Penilaian dimensi pengetahuan
Berdasarkan kategori proses penilaian pada
aspek penilaian dimensi sikap terpenuhi sebesar
100%. Maka dapat dinyatakan terlaksana.
3) Penilaian dimensi keterampilan
Berdasarkan kategori proses penilaian pada
aspek penilaian dimensi sikap terpenuhi sebesar
100%. Maka dapat dinyatakan terlaksana.
4) Ulangan harian
Berdasarkan kategori proses penilaian pada
aspek penilaian dimensi sikap terpenuhi sebesar
100%. Maka dapat dinyatakan
Berdasarkan hasil penelitian ditinjau dari aspek siswa
dengan kategori buku siswa, proses pembelajaran, proses
penilaian, dan layanan kesiswaan mendapatkan nilai
prosentase sebesar 65% sehingga mendapat intreprestasi
cukup terlaksana.
a. Berdasarkan kategori buku pedoman siswa
diatas, dari jumlah semua aspek observasi
mendapatkan prosentase sebesar 0% dikarenaka
siswa/sekolah belum mendapatkan buku
pedoman
dari
pemerintah
sehingga
memperoleh interprestasi tidak terlaksana.
b. Berdasarkan kategori proses pembelajaran
antara lain:
1) Pemanfaatan sumber belajar dalam
pelaksanaan pembelajaran
Berdasarkan kategori proses pembelajaran
pada aspek Pemanfaatan sumber belajar
dalam
pelaksanaan
pembelajaran
terpenuhi sebesar 86%. Maka dapat
dinyatakan terlaksana. Dengan catatan
peneliti, guru belum pernah mendatangkan
narasumber khusus ke kelas.
2) Cara guru menyampaikan materi (mudah
dipahami, menarik, menyenangkan
Berdasarkan kategori proses pembelajaran
pada aspek Cara guru menyampaikan
materi terpenuhi sebesar 75%. Maka dapat
dinyatakan cukup terlaksana. Dengan
catatan peneliti, guru sering mudah
dipahami, menarik,dan menyenangkan
bagi siswa dalam menyampaikan materi.
3) Guru memberikan kesempatan siswa
untuk
mengamati,
menanya,
mengumpulkan data, mengolah data, dan
mengkomunikasikan
Berdasarkan kategori proses pembelajaran
pada aspek Guru memberikan kesempatan
siswa untuk mengamati, menanya,
mengumpulkan data, mengolah data, dan
mengkomunikasikan terpenuhi sebesar
75%. Maka dapat dinyatakan cukup
terlaksana. Dengan catatan peneliti, guru
sering memberikan kesempatan, akan
tetapi masih terpengaruh dengan sistem
yang digunakan pada Kurikulum Tingkat
Satuan Pendidikan (KTSP).
4) Pelaksanaan pembelajaran remedial dan
pengayaan
Berdasarkan kategori proses pembelajaran
pada aspek pelaksanaan pembelajaran
remedial dan pengayaan terpenuhi sebesar
75%. Maka dapat dinyatakan cukup
terlaksana. Dengan catatan peneliti, guru
sering memberikan pembelajaran remedial
dan pengayaan sesuai dengan kebutuhan.
Berdasarkan kategori proses pembelajaran
dari
jumlah
semua
aspek
observasi
mendapatkan prosentase sebesar 78% sehingga
memperoleh
interprestasi
terlaksana
berdasarkan.
9
Analisis Implementasi Kurikulum 2013 pada Pembelajaran Akuntansi Kelas XI….
c. Berdasarkan kategori proses penilaian antara
lain:
1) Dimensi penilaian
Berdasarkan kategori proses penilaian
pada aspek dimensi penilaian terpenuhi
sebesar 100%. Maka dapat dinyatakan
terlaksana.
2) Teknik penilaian
Berdasarkan kategori proses penilaian
pada aspek teknik penilaian terpenuhi
sebesar 100%. Maka dapat dinyatakan
terlaksana.
3) Ulangan
Berdasarkan kategori proses penilaian
pada aspek ulangan terpenuhi sebesar
100%. Maka dapat dinyatakan terlaksana.
Berdasarkan kategori proses penilaian dari
jumlah semua aspek observasi mendapatkan
prosentase
sebesar
100%
sehingga
memperoleh
interprestasi
terlaksana
berdasarkan subyek penelitian.
d. Berdasarkan kategori layanan kesiswaan antara
lain :
1) Pelaksanaan layanan bantuan kesulitan
belajar
Berdasarkan kategori proses penilaian
pada aspek pelaksanaan layanan bantuan
kesulitan belajar terpenuhi sebesar 75%.
Maka dapat dinyatakan cukup terlaksana.
Dengan catatan peneliti, layanan bantuan
kesulitan belajar dilaksanakan sewaktuwaktu sesuai dengan kebutuhan.
2) Pelaksanaan layanan konsultasi dengan
orang tua dan siswa
Berdasarkan kategori proses penilaian
pada
aspek
pelaksanaan
layanan
konsultasi dengan orang tua dan siswa
terpenuhi sebesar 75%. Maka dapat
dinyatakan cukup terlaksana. Dengan
catatan peneliti, layanan konsultasi
dengan orang tua dan siswa dilaksanakan
sewaktu-waktu sesuai dengan kebutuhan.
3) Pelaksanaan
layanan
administrasi
kesiswaan (seperti data siswa, data
perkembangan kesehatan, data prestasi,
dan data minat)
Berdasarkan kategori proses penilaian
pada
aspek
Pelaksanaan
layanan
administrasi kesiswaan terpenuhi sebesar
100%. Maka dapat dinyatakan terlaksana.
Berdasarkan kategori layanan kesiswaan
dari
jumlah
semua
aspek
observasi
mendapatkan prosentase sebesar 83% sehingga
memperoleh interprestasi terlaksana.
Berdasarkan hasil penelitian ditinjau dari aspek kepala
sekolah dengan kompenen jadwal pelajaran sesuai
struktru kurikulum(mata pelajaran dan beban belajar),
alokasi guru, fasilitas, jumlah kelas sesuai dengan
rombongan
belajar,
ekstrakurikuler,
matrikulasi
mendapatkan nilai prosentase sebesar 92% sehingga
mendapat intreprestasi terlaksana, dengan rincian sebagai
berikut :
a. Jadwal pelajaran sesuai struktur kurikulum (mata
pelajaran dan beban belajar)
Berdasarkan komponen jadwal pelajaran sesuai
struktur kurikulum terpenuhi sebesar 100%. Maka
dapat dinyatakan terlaksana.
b. Alokasi guru
Berdasarkan komponen alokasi guru terpenuhi
sebesar 100%. Maka dapat dinyatakan terlaksana.
c. Fasilitas
Berdasarkan komponen fasilitas terpenuhi sebesar
75%. Maka dapat dinyatakan cukup terlaksana.
Dengan catatan peneliti, sumber belajar yang
digunakan menggunakan sumber belajar yang
berupa buku ajar yang masih berbasis Kurikulum
Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP) dikarenakan
buku Kurikulum 2013 masih belu tersedia.
d. Jumlah kelas sesuai dengan rombongan belajar
Berdasarkan komponen jumlah kelas sesuai dengan
rombongan belajar terpenuhi sebesar 75%. Maka
dapat dinyatakan cukup terlaksana. Dengan catatan
peneliti, rata-rata jumlah siswa sebanyak 36-40
peserta didik per kelas.
e. Ekstrakurikuler
Berdasarkan komponen ekstrakurikuler terpenuhi
sebesar 100%. Maka dapat dinyatakan terlaksana.
f. Matrikulasi
Berdasarkan komponen matrikulasi terpenuhi
sebesar 100%. Maka dapat dinyatakan terlaksana.
PENUTUP
Simpulan
Berdasarkan hasil penelitian keterlaksanaan kurikulum
2013 di SMK Negeri 1 Sooko Mojokerto ditinjau dari
aspek guru telah mendapat intreprestasi kurang terlaksana.
Berdasarkan hasil penelitian keterlaksanaan kurikulum
2013 di SMK Negeri 1 Sooko Mojokerto ditinjau dari
aspek siswa telah mendapat intreprestasi cukup
terlaksana.Berdasarkan hasil penelitian keterlaksanaan
kurikulum 2013 di SMK Negeri 1 Sooko Mojokerto
ditinjau dari aspek kepala sekolah telah mendapat
intreprestasi terlaksana.
10
Analisis Implementasi Kurikulum 2013 pada Pembelajaran Akuntansi Kelas XI….
Hartojo dan Wikono. 2004. Akuntansi Perusahaan
Dagang.Surabaya :Unesa University press.
Penerapan Kurikulum 2013 pada pembelajaran
akuntansi kelas XI di SMK Negeri 1 Sooko Mojokerto
sudah terlaksana pada semua bagian, akan tetapi masih
belum sepenuhnya sesuai dengan prosedur Kurikulum
2013. Semua itu masih dalam proses perbaikan dan
sekolah membutuhkan waktu untuk melaksanakannya
secara optimal.
Hasbullah. 2008. Dasar-dasar Pendidikan.edisi revisi.
Jakarta: PT. Raja Grafindo Persada.
Hasibuan, J.J. 2003. Proses Belajar Mengajar
Ketrampilan Dasar Pengajaran. Mikro Bandung:
Remadja Karya.
Jogiyanto.
2006.
Pembelajaran
Kasus.Yogyakarta : CV.Andi Offset.
Saran
Dari hasil penelitian ini, peneliti mengajukan beberapa
saran sebagai berikut :
1. Sebaiknya pemerintah segera menyediakan buku
Kurikulum 2013 untuk guru dan siswa pada jenjang
SMK khususnya.
2. Sebaiknya guru akuntansi kelas XI SMK Negeri 1
Sooko Mojokerto selalu mereview perangkat
pembelajarannya sesuai dengan perkembangan
terbaru.
3. Sebaiknya dilakukan pelatihan lanjutan khususnya
bagi guru, tentang implementasi Kurikulum 2013
dengan pembelajaran saintifik dan model
pembelajaran lainnya yang gayut dengan Kurikulum
2013 serta implementasi penilaian autentik.
DAFTAR PUSTAKA
Metode
Mulyasa. 2014. Pengembangan Implementasi Kurikulum
2013.Cetakan
kelima.Bandung:PT.
Remaja
Rosdakarya.
Nurhamidah,
Siti.,
Dantes,
Nyoman.,
dan
Lasmawan,Wayan. 2014. Upaya Peningkatan
Pengelolaan Proses Pembelajaran Melalui
Pendampingan pada Implementasi Kurikulum
2013 Terhadap Guru–Guru Kelas I dan Kelas
IV,(online), Volume 4,
(http://www.file.
pasca,undiksha.ac.id) diakses 19 April 2015.
Nursalim, Mochamad,dkk. 2011. Psikologi Pendidikan.
Surabaya:unesa university press.
Salinan Permendikbud No 81A tentang implementasi
kurikulum 2013.2013. Jakarta:Presiden RI.
Salinan Permendikbud No 103 tentang Pembelajaran
Pada Pendidikan
Dasar Dan Pendidikan
Menengah. 2014.Jakarta: Presiden RI.
Abidin,Yunus. 2014. Desain Sistem Pembelajaran
Dalam Konteks Kurikulum2013. Bandung:
PT.Refika Aditama.
Salinan Permendikbud No 104 tentang Penilaian Hasil
Belajar Oleh Pendidik Pada Pendidikan Dasar
Dan Pendidikan Menengah.2014.Jakarta: Presiden
RI.
Alawiyah,Faridah. 2014. Kesiapan Guru dalam
Implementasi
Kurikulum2013,(online),Vol.VI,No.15/I/P3DI/Ag
ustus/2014,(http://www.ejournal.implemenatasi
.html) diakses 19 April 2015.
Sani,Ridwan Abdullah. 2014. Pembelajaran Saintifik
untuk Implementasi Kurikulum 2013. Jakarta:
PT.Bumi Aksara.
Amri,Sofan.
2013.
Pengembangan
&
Model
Pembelajaran Dalam Kurikulum 2013.Jakarta
:PT.Prestasi Pustakarya.
Subagiyo,Lambang.,Safrudiannur. 2014. Implementasi
Kurikulum 2013 pada Jenjang SD, SMP, SMA dan
SMK dI Kalimantan Timur Tahun 2013/2014,
(online),Vol. 3, No. 4, hal 131-144, (http://www.ejournal.edu.implementasi kurikulum 2013.html)
diakses 19 April 2015.
Asih.Fulana Mardina. 2014. Implementasi Kurikulum
2013 pada Mata Pelajaran IPS di Sekolah
Menengah
Pertama
(SMP)
Negeri
1
Blado,(online),Vol.2No.1,(http://www.ejournal.im
plementasi Jurnal Pendidikan Ekonomi IKIP
Veteran Semarang.html) diakses 19 April 2015.
Sugiyono. 2011. Metode Penelitian Kuantitatif Kualitatif
dan R&D.Bandung :Alfabeta.
Budi,Bangun Setia. 2014. Strategi Guru dalam
Menghadapi Kurikulum 2013 di SMA Negeri 2
Surakaarta,(online),
(http://www.ejournal.edu/implementasi/
jurnal
universitas sebelas maret Surakarta.html) diakses
19 April 2015.
Sugiyono.
2013.
Statistika
Penelitian.Bandung:Alfabeta.
untuk
Susilowibowo,Joni.,Bahrum. 2013. Adaptasi dari
Laporan Hasil Monitoring dan Evaluasi
Implementasi Kurikulum 2013 di SMP-SMP Kota
Makasar.Kementerian
Pendidikan
dan
Kebudayaan: Direktorat Jenderal Pendidikan
Dasar Direktorat Pembinaan SMP.
Darmawan,Deni. 2013. Metode Penelitian Kuantitatif.
Bandung:PT.Remaja Rosdakarya.
Doddington,Christine dan Hilton,Mary. 2010. Pendidikan
Berpusat pada Anak.Jakarta: PT.Indeks.
11
Analisis Implementasi Kurikulum 2013 pada Pembelajaran Akuntansi Kelas XI….
12
Download