analisis kawasan hutan dan kawasan lindung dalam rangka

advertisement
ANALISIS KAWASAN HUTAN DAN KAWASAN LINDUNG
DALAM RANGKA ARAHAN PENATAAN RUANG
DI KABUPATEN DELI SERDANG
EKO NURWIJAYANTO
SEKOLAH PASCA SARJANA
INSTITUT PERTANIAN BOGOR
2008
ii
PERNYATAAN MENGENAI TESIS
DAN SUMBER INFORMASI
Dengan ini saya menyatakan bahwa tesis Analisis Kawasan Hutan dan
Kawasan Lindung dalam Rangka Arahan Penataan Ruang di Kabupaten Deli
Serdang adalah karya saya sendiri dan belum diajukan dalam bentuk apapun
kepada perguruan tinggi manapun. Sumber informasi yang berasal atau dikutip
dari karya yang diterbitkan maupun tidak diterbitkan dari penulis lain telah
disebutkan dalam teks dan dicantumkan dalam Daftar Pustaka di bagian akhir
tesis ini.
Bogor, Maret 2008
Eko Nurwijayanto
iii
ABSTRACT
EKO NURWIJAYANTO. Analysis of Forest and Protected areas in order to
Formulate Land Allocation in Deli Serdang District. Supervised by DWI PUTRO
TEJO BASKORO and WIDIATMAKA
As an upstream and buffer areas, the ecological existence of forest and
other protected areas have an important role in Deli Serdang district. Nowadays,
forest and other protected areas has been degraded due to the increasing
population and development activities. Without any effort to reduce the
degradation, the problem will even more serious and give a worse impact in the
future.
A research that aims to : (1) analyze forest area and other protected area
in accordance to biophysical condition that should be maintained; (2) formulate
guidelines of land allocation of district according to biophysical condition;
(3) analyze the possibility of improper use of protected area function in Deli
Serdang district and (4) find out the indication of population pressure to protected
area was carried out at Deli Serdang district.
Data processing and analysis were done with GIS system through overlay
operation of different themes of data. The result of analysis showed that the forest
area that should be maintained were 50.009 ha (20,02 %). Identification of
protected area based on Presidential Decree No. 32 year 1990 showed that
96,764 ha (38.74%) were the protected area, while the remaining 153,016 ha or
61.26 % were the cultivation area. In total, there were 34.95% of the protected
areas which were used for production or cultivation. According to the analysis
result, there were 312 villages which have population pressure more than 1 and
66.59% of those villages are in the protected area.
Keywords : analysis of forest and protected areas, biophysical condition, GIS,
Deli Serdang.
iv
RINGKASAN
EKO NURWIJAYANTO. Analisis Kawasan Hutan dan Kawasan Lindung dalam
Rangka Arahan Penataan Ruang di Kabupaten Deli Serdang. Dibimbing oleh
DWI PUTRO TEJO BASKORO dan WIDIATMAKA.
Terpeliharanya kelangsungan fungsi ekologis dari kawasan hutan dan
kawasan lindung lainnya di Kabupaten Deli Serdang mempunyai arti penting bagi
wilayah di sekitarnya. Hal ini disebabkan karena secara fisik wilayah Kabupaten
Deli Serdang merupakan kawasan hulu dan penyangga bagi wilayah tersebut.
Saat ini kondisi kawasan hutan dan kawasan lindung yang ada telah mengalami
kerusakan akibat dari meningkatnya jumlah penduduk dan aktivitas pembangunan
yang bila terus dibiarkan akan menimbulkan akibat yang buruk di masa datang.
Penelitian ini bertujuan (1) Menganalisis kawasan hutan dan kawasan
lindung lainnya yang sesuai dengan kondisi biofisik yang harus tetap
dipertahankan keberadaannya; (2) Menyusun arahan penataan ruang wilayah
Kabupaten sesuai dengan kondisi biofisik dimaksud; (3) Menganalisis adanya
kemungkinan penyimpangan pemanfaatan fungsi kawasan lindung di wilayah
Kabupaten Deli Serdang serta (4) Mengetahui adanya indikasi tekanan penduduk
terhadap keberadaan kawasan lindung di wilayah Kab. Deli Serdang.
Teknik pengolahan dan analisis data dilakukan dengan menggunakan sistem
informasi geografis (SIG) dengan melakukan operasi tumpang tindih (overlay)
terhadap data dengan tema berbeda. Berdasarkan hasil analisis, arahan kawasan
hutan yang harus tetap dipertahankan adalah 50.009 ha atau 20,02 % dari luas
wilayah Kab. Deli Serdang. Berdasarkan hasil identifikasi kawasan lindung
menurut Keputusan Presiden Nomor 32 Tahun 1990 tentang Pengelolaan
Kawasan Lindung menunjukan bahwa arahan kawasan lindung adalah 96.764 ha
atau 38,74 % dari luas wilayah Kab. Deli Serdang dan arahan kawasan budidaya
adalah 153.016 ha (61,26 %).
Hasil analisis kemungkinan penyimpangan kawasan lindung menunjukkan
bahwa : 1) Berdasarkan rencana tata ruang wilayah (RTRW) dengan kondisi
eksisting, terdapat penyimpangan pemanfaatan kawasan lindung sebesar 28,47 %
dari luas kawasan lindung dalam RTRW Propinsi Sumatera Utara dan 30,96 %
dalam RTRW Kabupaten Deli Serdang. 2) Berdasarkan RTRW dengan kawasan
lindung sesuai Keppres, terdapat 44,89 % dari luas kawasan lindung sesuai yang
belum ditetapkan dan dialokasikan sebagai kawasan lindung dalam RTRWP dan
seluas 45,27 dalam RTRWK. 3) Berdasarkan kondisi eksisting dengan kawasan
lindung sesuai Keppres, terdapat penyimpangan pemanfaataan fungsi kawasan
lindung sebesar 34,95 % dari luas kawasan lindung yang dimanfaatkan sebagai
kawasan produktif/budidaya berupa lahan pertanian/tegalan, sawah, tambak,
semak belukar, lahan terbuka serta pemukiman. Berdasarkan hasil analisis
tekanan penduduk, bahwa dari 403 desa di Kabupaten Deli Serdang, terdapat 312
desa yang memiliki nilai tekanan penduduk > 1 yang berpotensi untuk
mendorong penduduk dalam melakukan perluasan lahan pertanian dalam kawasan
lindung.
Kata Kunci : analisis kawasan hutan dan kawasan lindung, kondisi biofisik, SIG,
Kabupaten Deli Serdang.
v
© Hak cipta milik IPB, tahun 2008
Hak cipta dilindungi Undang-undang
1. Dilarang mengutip sebagian atau seluruh karya tesis tanpa mencantumkan atau
menyebutkan sumber.
a. Pengutipan hanya untuk kepentingan pendidikan, penelitian, penulisan
karya ilmiah, penyusunan laporan, penulisan kritik atau tinjauan suatu
masalah.
b. Pengutipan tidak merugikan kepentingan yang wajar Institut Pertanian
Bogor.
2. Dilarang mengumumkan dan memperbanyak sebagian atau seluruh karya tulis
dalam bentuk apapun tanpa izin Institut Pertanian Bogor.
vi
ANALISIS KAWASAN HUTAN DAN KAWASAN LINDUNG
DALAM RANGKA ARAHAN PENATAAN RUANG
DI KABUPATEN DELI SERDANG
EKO NURWIJAYANTO
Tesis
Sebagai salah satu syarat memperoleh gelar
Magister Sains pada
Program Studi Ilmu Perencanaan Wilayah
SEKOLAH PASCA SARJANA
INSTITUT PERTANIAN BOGOR
2008
vii
Penguji Luar Komisi pada Ujian Tesis : Dr. Ir. Setia Hadi, MSi
viii
Judul Tesis
: Analisis Kawasan Hutan dan Kawasan Lindung dalam
Rangka Arahan Penataan Ruang di Kabupaten Deli
Serdang
Nama
: Eko Nurwijayanto
NRP
: A353060234
Program Studi
: Ilmu Perencanaan Wilayah
Disetujui
Komisi Pembimbing
Dr. Ir. D. P. Tejo Baskoro, MSc.
Ketua
Dr. Ir. Widiatmaka, DAA
Anggota
Diketahui
Ketua Program Studi
Ilmu Perencanaan Wilayah
Dekan
Sekolah Pascasarjana IPB
Dr. Ir. Ernan Rustiadi, M.Agr.
Prof. Dr. Ir. Khairil A. Notodiputro, MS
Tanggal Ujian : 30 Januari 2008
Tanggal Lulus : 19 Maret 2008
ix
PRAKATA
Assalamu’alaikum Wr. Wb
Alhamdulillah penulis panjatkan kepada Allah SWT atas segala karunianya,
sehingga karya ilmiah ini berhasil diselesaikan. Karya ilmiah ini diberi judul
Analisis Kawasan Hutan dan Kawasan Lindung dalam Rangka Arahan Penataan
Ruang di Kabupaten Deli Serdang.
Proses penyusunan karya ilmiah ini tidak terlepas dari dukungan dan
bantuan berbagai pihak. Oleh karena itu dengan segala kerendahan hati, dalam
kesempatan ini penulis mengucapkan terima kasih dan penghargaan yang
setinggi-tingginya kepada :
1. Ayah dan Ibu atas segala doa dan kasih sayang yang senantiasa mengiringi
langkah penulis;
2. Istri dan Putra-putri tercinta, sebagai sumber inspirasi hidup selama ini;
3. Bapak Dr. Dwi Putro Tejo Baskoro, MSc dan Bapak Dr. Ir. Widiatmaka,
DAA selaku Komisi Pembimbing atas arahan dan bimbingannya serta Bapak
Dr. Ir. Setiahadi, M.Si selaku penguji luar komisi atas segala masukan dan
sarannya guna penyempurnaan karya ilmiah ini;
4. Bapak Dr. Ir. Ernan Rustiadi, M.Agr beserta segenap staf pengajar dan
manajemen Program Studi Ilmu Perencanaan Wilayah (PWL) Sekolah
Pascasarjana IPB;
5. Pimpinan dan staf Pusbindiklatren Bappenas atas kesempatan beasiswa yang
diberikan bagi penulis;
6. Pimpinan dan staf Pemerintah Kabupaten Deli Serdang yang telah
memberikan kesempatan bagi penulis untuk melanjutkan tugas belajar.
7. Teman-teman di Kelas Khusus Program Studi Ilmu Perencanaan Wilayah
Tahun 2006 atas segala bantuan dan kritiknya, serta langkah-langkah
kebersamaan yang penuh kenangan di kampus IPB;
8. Rekan-rekan Rimbawan di Medan dan Bogor atas dukungannya dalam proses
penelitian;
9. Keluarga besar Bogor dan Medan, atas doa dan dukungan morilnya selama ini
serta;
10. Semua pihak yang telah berperan dalam penulisan karya ilmiah ini.
Akhirnya, penulis berharap semoga karya ilmiah ini dapat bermanfaat bagi
semua pihak dan mohon maaf apabila terdapat kekhilafan dalam karya ilmiah ini.
Wassalamu’alaikum Wr. Wb
Bogor, Maret 2008
Eko Nurwijayanto
x
RIWAYAT HIDUP
Penulis dilahirkan di Jakarta pada tanggal 7 September 1974 dari seorang
Ayah yang bernama Supriyadi dan Ibu bernama Aisyah. Penulis merupakan putra
pertama dari empat bersaudara, dan mempunyai seorang istri bernama Noviyanti
serta dua orang putra-putri yang bernama Fathiya Emerillia Zahra dan
Muhammad Faiz Althea.
Pendidikan SD sampai dengan SMA diselesaikan penulis di Bogor.
Pendidikan sarjana ditempuh pada Program Studi Manajemen Hutan Fakultas
Kehutanan Institut Pertanian Bogor yang ditamatkan pada tahun 1998.
Pada tahun 2006, penulis memperoleh kesempatan untuk melanjutkan
pendidikan Program Pascasarjana IPB pada Program Studi Ilmu Perencanaan
Wilayah (PWL) melalui bantuan beasiswa pendidikan dari Pusat Pembinaan,
Pendidikan dan Pelatihan Perencana (Pusbindiklatren) Badan Perencanaan
Pembangunan Nasional (Bappenas).
Penulis pernah bertugas pada Dinas Kehutanan Propinsi Sulawesi Utara
pada tahun 1999-2001, kemudian bertugas pada Dinas Kehutanan dan Perkebunan
Propinsi Gorontalo pada tahun 2001-2003. Pada saat ini penulis bertugas pada
Dinas Kehutanan Kabupaten Deli Serdang sejak tahun 2003.
xi
teruntuk :
Ayahanda Supriyadi dan Ibunda Aisyah
Ayahanda Dahrul, SE dan Ibunda Witaningsih
Adinda Noviyanti,S.Sos.
Ananda Fathiya Elmerillia Zahra dan Ananda Muhammad Faiz Althea
Serta Adik-adikku yang telah mendukung selama ini
xii
DAFTAR ISI
Halaman
DAFTAR TABEL ...........................................................................................
xiii
DAFTAR GAMBAR ......................................................................................
xv
DAFTAR LAMPIRAN ...................................................................................
xvi
PENDAHULUAN
Latar Belakang ..........................................................................................
Perumusan Masalah ..................................................................................
Tujuan Penelitian ......................................................................................
Manfaat Penelitian ....................................................................................
1
3
5
5
TINJAUAN PUSTAKA
Ruang dan Penataan Ruang .....................................................................
Kawasan Hutan dan Kawasan Lindung Lainnya ......................................
6
13
METODE PENELITIAN
Kerangka Pendekatan ................................................................................
Lokasi dan Waktu Penelitian ....................................................................
Jenis dan Sumber Data .............................................................................
Analisis Data .............................................................................................
Penyajian Hasil .........................................................................................
Batasan-batasan .........................................................................................
27
28
30
31
37
38
KONDISI UMUM WILAYAH PENELITIAN
Letak Geografis dan Administrasi ............................................................
Kondisi Fisik Wilayah ..................................................................... ........
Kondisi Sosial dan Ekonomi .....................................................................
39
42
47
HASIL DAN PEMBAHASAN
Arahan Kawasan Hutan . ..........................................................................
Arahan Kawasan Lindung .........................................................................
Penyimpangan Fungsi Kawasan Lindung .................................................
Analisis Tekanan Penduduk ……………………………………………...
50
65
74
85
VI. KESIMPULAN DAN SARAN
Kesimpulan ..............................................................................................
Saran .……................................................................................................
90
91
DAFTAR PUSTAKA .....................................................................................
92
LAMPIRAN ....................................................................................................
95
xiii
DAFTAR TABEL
Halaman
1. Kriteria penetapan fungsi kawasan ..........................................................
20
2. Jenis dan sumber data yang digunakan . ...................................................
30
3. Kriteria pembobotan parameter fisik berdasarkan skoring ......................
32
4. Indeks wilayah dan klasifikasi kawasan .................................................
32
5 Kriteria kawasan lindung menurut Keputusan Presiden Nomor 32 Tahun
1990 ................................................................................................. ........ 35
6. Luas wilayah administrasi Kabupaten Deli Serdang ...............................
40
7 Luas wilayah berdasarkan ketinggian di Kabupaten Deli Serdang ..........
43
8. Luas wilayah berdasarkan kemiringan lereng di Kabupaten Deli Serdang
44
9. Tipe iklim di Kabupaten Deli Serdang ........................................... .........
45
10. Luas dan jenis tanah di Kabupaten Deli Serdang ....................................
46
11. Komposisi dan penggunaan lahan di Kabupaten Deli Serdang ...............
47
12. Perkembangan dan distribusi penduduk Deli Serdang tahun 2000-2005 ...
48
13. Kawasan hutan berdasarkan Keputusan Menteri Kehutanan Nomor
44/Menhut-II/2003 .....................................................................................
50
14. Kawasan hutan berdasarkan skoring fisik kawasan .................................
55
15. Satuan lahan dan peruntukan lahan berdasarkan klasifikasi kemampuan
lahan ........ ........................................................................................... ....
58
16. Kawasan hutan yang masih berhutan di Kabupaten Deli Serdang ...........
60
17. Hasil analisi dan arahan kawasan hutan di Kabupaten Deli Serdang ........
62
18. Kawasan lindung hasil analisis di Kabupaten Deli Serdang .....................
65
19. Arahan penataan ruang di Kabupaten Deli Serdang . ...............................
72
20. Rencana tata ruang (RTRW) Kabupaten Deli Serdang tahun 1999-2009 ..
74
21. Rencana Tata Ruang Propinsi Sumatera utara di Kabupaten Deli Serdang
tahun 2003-2018 .............................................................. .........................
74
22. Penutupan/penggunaan lahan eksisting di Kabupaten Deli Serdang . .......
75
23. Penggunaan lahan eksisting Kabupaten Deli Serdang berdasarkan RTRW
Propinsi Sumatera Utara di Kabupaten Deli Serdang tahun 2003-2018....
76
24. Penggunaan lahan eksisting Kabupaten Deli Serdang berdasarkan RTRW
Kabupaten Deli Serdang tahun 1999-2009 ........................................... ...
78
25. Kawasan lindung hasil analisis dalam RTRW Propinsi Sumatera Utara di
Kabupaten Deli Serdang .......................... ................................................
81
xiv
26. Kawasan lindung hasil analisis dalam RTRW Kabupaten Deli Serdang .... 82
27. Penggunaan lahan eksisting pada kawasan lindung berdasarkan Keppres
No. 32 Tahun 1990 ...................................................................................
84
28. Distribusi wilayah berdasarkan indeks tekanan penduduk. ........................
88
xv
DAFTAR GAMBAR
Halaman
1. Diagram Alir Pendekatan Penelitian .........................................................
29
2. Proses Analisis Kawasan Hutan ................................................................
33
3. Proses Analisis Kawasan Lindung ............................................................
36
4. Peta Administrasi Kabupaten Deli Serdang .............................................
41
5. Peta Kawasan Hutan Kabupaten Deli Serdang .........................................
51
6. Cagar Alam Sibolangit di Kabupaten Deli Serdang ..................................
54
7. Peta Kawasan Hutan Lindung Hasil Skoring Fisik Kawasan .....................
56
8. Peta Kawasan Hutan Berdasarkan Kemampuan Lahan ............................
59
9. Peta Kawasan Hutan Berdasarkan Kondisi Eksitingnya ..........................
61
10. Peta Arahan Kawasan Hutan di Kabupaten Deli Serdang ........................
63
11. Peta Kawasan Lindung Kabupaten Deli Serdang ......................................
66
12. Hutan Lindung Sibayak di Kabupaten Deli Serdang ...............................
67
13. Sempadan Sungai Ular di Kabupaten Deli Serdang ................................
69
14. Hutan Bakau Percut Sei Tuan di Kabupaten Deli Serdang ......................
70
15. Kawasan Rawan Bencana Longsor di Kabupaten Deli Serdang ..............
71
16. Peta Arahan Penataan Ruang di Kabupaten Deli Serdang.........................
73
17. Grafik Penutupan/Penggunaan lahan Kawasan Lindung di dalam RTRW
Propinsi Sumatera Utara di Kabupaten Deli Serdang Tahun 2003-2018 ...
77
18. Grafik Penutupan/Penggunaan lahan Kawasan Lindung di dalam RTRW
Kabupaten Deli Serdang Tahun 1999-2009 ..............................................
79
19. Pembagian Desa Berdasarkan Indeks Tekanan Penduduk ........................
87
xvi
DAFTAR LAMPIRAN
Halaman
1. Peta iklim Kabupaten Deli Serdang ..........................................................
96
2. Peta satuan tanah dan lahan di Kabupaten Deli Serdang. ..........................
97
3. Peta kelas lereng di Kabupaten Deli Serdang. ...........................................
98
4. Peta ketinggian lahan di Kabupaten Deli Serdang.....................................
99
5. Peta DAS di Kabupaten Deli Serdang ...................................................... 100
6. Peta rawan bencana longsor di Kabupaten Deli Serdang .......................... 101
7. Peta RTRW Kabupaten Deli Serdang........................................................ 102
8. Peta RTRW Propinsi Sumatera Utara di Kabupaten Deli Serdang ........... 103
9. Peta penggunaan lahan eksisting di Kabupaten Deli Serdang ............ ...... 104
10. Indeks tekanan penduduk di Kabupaten Deli Serdang ............................ 105
11. Kepadatan geografis desa-desa di Kabupaten Deli Serdang ..................... 112
12. Kepadatan agraris desa-desa di Kabupaten Deli Serdang.......................... 119
PENDAHULUAN
Latar Belakang
Hutan merupakan sumberdaya alam anugerah Tuhan Yang Maha Kuasa
yang tidak terhingga nilainya bagi seluruh umat manusia. Sebagai anugerah,
hutan mempunyai nilai filosofi yang sangat dalam bagi kepentingan umat
manusia. Dengan segala kekayaan alam yang dikandungnya hutan memberikan
kehidupan bagi makhluk hidup di bumi terutama bagi umat manusia. Nilai filosofi
hutan tersebut terus menerus mengalami penurunan. Hal ini disebabkan karena
pengelolaan hutan selama ini kurang memperhatikan arti dan hakekat yang
terkandung pada filosofi hutan sehingga kelestarian lingkungan hidup menjadi
terganggu dan pengelolaan hutan lebih mengejar keuntungan ekonomi semata.
Kawasan hutan secara fungsional mengandung arti sebagai suatu kesatuan
lahan atau wilayah yang karena keadaan bio-fisiknya dan/atau fungsi
ekonomisnya dan/atau fungsi sosialnya harus berwujud sebagai hutan
(Suhendang, 2005). Karena sifatnya yang demikian itu, peruntukan lahan tersebut
harus ditetapkan dan dipertahankan sebagai hutan untuk selamanya. Itulah
sebabnya mengapa kawasan hutan secara yuridis diartikan sebagai wilayah
tertentu yang ditunjuk dan/atau ditetapkan oleh Pemerintah (pusat) untuk
dipertahankan keberadaannya sebagai hutan tetap (Pasal 1 Butir 3 UU No. 41
Tahun 1999).
Salah satu pemanfaatan ruang yang sangat penting adalah pemanfaatan
ruang untuk sektor kehutanan. Data resmi terbaru yang diterbitkan Departemen
Kehutanan menyatakan bahwa peruntukan secara hukum kawasan hutan adalah
120 juta hektar, atau sekitar 62% dari luas daratan Indonesia. Hal ini didasarkan
pada proses ’harmonisasi’ dengan melibatkan Departemen Kehutanan dan
Pemerintah Daerah dengan menggabungkan Tata Guna Hutan Kesepakatan
(TGHK) dan Rencana Tata Ruang Wilayah Propinsi (RTRWP).
Secara garis besar TGHK dimaksudkan sebagai kerangka acuan dalam
perencanaan pemanfaatan sumberdaya hutan secara lestari untuk menentukan
bentuk pengelolaan yang sesuai berdasarkan fungsi kawasannya. Pada
2
kenyataannya, penataan hutan menurut fungsinya dalam TGHK umumnya tidak
sesuai dengan kondisi biofisik dan daya dukung wilayahnya. Hal ini disebabkan
dalam perencanaan penatagunaan fungsi hutan tersebut tidak memperhatikan
keragaman kondisi biofisik hutan disetiap wilayah, ukuran dan keakuratan data
dan peta yang digunakan pada skala kecil, kurangnya lengkapnya data mengenai
kondisi biofisik wilayah serta banyak dipengaruhi oleh kebijakan pemerintah
daerah yang dibuat hanya atas dasar kesepakatan berbagai pihak untuk
kepentingan berbagai sektor di daerah.
Ruang merupakan sumber daya alam yang harus dikelola bagi sebesar-besar
kemakmuran rakyat sebagaimana diamanatkan dalam Pasal 33 ayat (3) UUD 1945
yang menegaskan bahwa bumi dan air serta kekayaan alam yang terkandung di
dalamnya dikuasai oleh negara dan digunakan sebesar-besarnya untuk
kemakmuran rakyat. Sehingga dalam konteks ini ruang harus dilindungi dan
dikelola secara terkoordinasi, terpadu, dan berkelanjutan
Menilik dari sudut pandang penataan ruang, salah satu tujuan pembangunan
yang hendak dicapai adalah mewujudkan ruang kehidupan yang nyaman,
produktif, dan berkelanjutan. Ruang kehidupan yang nyaman mengandung
pengertian
adanya
kesempatan
yang
luas
bagi
masyarakat
untuk
mengartikulasikan nilai-nilai sosial budaya dan fungsinya sebagai manusia.
Produktif mengandung pengertian bahwa proses produksi dan distribusi berjalan
secara efisien sehingga mampu memberikan nilai tambah ekonomi untuk
kesejahteraan masyarakat sekaligus meningkatkan daya saing. Sementara
berkelanjutan mengandung pengertian dimana kualitas lingkungan fisik dapat
dipertahankan bahkan dapat ditingkatkan, tidak hanya untuk kepentingan generasi
saat ini, namun juga bagi generasi yang akan datang. Keseluruhan tujuan ini
diarahkan untuk mewujudkan kehidupan bangsa yang cerdas, berbudi luhur, dan
sejahtera; mewujudkan keterpaduan dalam penggunaan sumber daya alam dan
sumber daya buatan dengan memperhatikan sumber daya manusia; dan
mewujudkan perlindungan fungsi ruang dan mencegah serta menanggulangi
dampak negatif terhadap lingkungan.
Dalam konteks penataan ruang, sumberdaya hutan memiliki peran ganda
yaitu peran untuk memperoleh manfaat ekonomi yang didefinisikan dalam
3
kawasan hutan produksi dan manfaat ekologi yang didelinasi sebagai kawasan
hutan lindung dan hutan yang masuk dalam kawasan lindung lainnya seperti cagar
alam, taman nasional, suaka margasatwa, dan lain-lain. Fungsi sumberdaya hutan
yang sedemikian membawa konsekuensi pengelolaan hutan yang komprehensif
dan melibatkan seluruh stakeholders, khususnya masyarakat yang berada di
sekitar hutan itu sendiri.
Berdasarkan Undang-Undang Nomor 26 Tahun 2007 tentang Penataan
Ruang, fungsi utama kawasan dalam penataan ruang dibedakan menjadi kawasan
lindung dan budidaya. Kawasan lindung adalah kawasan yang dimanfaatkan
untuk perlindungan dan pelestarian lingkungan hidup yang mencakup sumberdaya
alam dan sumberdaya buatan, sedangkan kawasan budidaya adalah kawasan yang
dimanfaatkan untuk budidaya atas dasar kondisi dan potensi sumberdaya alam.
Dalam kaitan inilah maka kegiatan evaluasi penataan ruang khususnya
dibidang penatagunaan kawasan hutan dan kawasan lindung lainnya memegang
peranan penting dalam rangka mewujudkan ruang kehidupan yang menjamin
tingkat produktifitas yang optimal dengan tetap memperhatikan aspek
keberlanjutan
memperhatikan
agar
memberikan
prinsip-prinsip
kenyamanan
keberlanjutan
bagi
masyarakat
lingkungan
dengan
(environmental
sustainability).
Perumusan Masalah
Seiring dengan berputarnya waktu dan dengan semakin variatif dan
kompleksnya aktivitas kehidupan masyarakat, saat ini telah terjadi banyak
perubahan meliputi perubahan pemanfaatan ruang bahkan sampai pada perubahan
batas administrasi wilayah akibat pemekaran Kabupaten. Terkait dengan
pemekaran wilayah ini, terhitung sejak tahun 2003, Kabupaten Deli Serdang telah
mengalami perubahan wilayah seperti tercantum pada Undang-Undang Nomor 36
Tahun 2003 tentang Pemekaran Kabupaten Deli Serdang dan Kabupaten Serdang
Bedagai. Setelah Undang-undang tersebut dikeluarkan, secara administratif
wilayah Kabupaten Deli Serdang berubah dari sebelumnya memiliki 33
Kecamatan menjadi 22 Kecamatan dengan luas wilayah keseluruhan 2.497,72
km2 atau 249.772 ha.
4
Kabupaten Deli Serdang, yang secara administrasi terletak berdampingan
langsung dengan Kota Medan (ibukota Propinsi Sumatera Utara) secara fisik terus
mengalami perubahan dalam penggunaan lahan baik langsung maupun tidak
langsung dari perkembangan Kota Medan. Daerah ini secara geografis terletak
pada wilayah pengembangan pantai timur Sumatera Utara yang memiliki
topografi, kontur dan iklim yang bervariasi serta terdapat 5 (lima) daerah aliran
sungai (DAS).
Sebagai daerah hulu dan penyangga Kota Medan, tentu saja keberadaan
ekologis, termasuk keberadaan hutan mempunyai arti yang sangat penting. Saat
ini keberadaan hutan dan kawasn lindung lainnya di Kabupaten Deli Serdang
telah mengalami kerusakan akibat meningkatnya aktivitas pembangunan dan
meningkatnya jumlah penduduk, yang bila hal ini terus dibiarkan maka akan
menimbulkan permasalahan dimasa datang dan dapat menimbulkan akibat yang
buruk di Kab. Deli Serdang, Kota Medan dan sekitarnya.
Untuk itu upaya pelestarian fungsi ekologis dari hutan dan kawasan lindung
lainnya harus terus dijaga demi keberlangsungan hidup kota medan dan
sekitarnya. Upaya pemantapan kawasan hutan dan kawasan lindung merupakan
prioritas utama yang harus segera dilakukan terutama bagi kawasan konservasi
dan lindung, yang salah satunya adalah dengan melakukan analisis kawasan hutan
dan kawasan lindung lainnya di Kabupaten Deli Serdang.
Berdasarkan uraian permasalahan di atas, maka dirumuskan pertanyaan
penelitian sebagai berikut :
1. Dimanakah kawasan hutan dan kawasan lindung lainnya yang secara kondisi
biofisik harus tetap dipertahankan?
2. Bagaimana arahan pola penataan ruang kabupaten yang sesuai dengan kondisi
biofisik wilayah dimaksud ?
3. Apakah pengalokasian dan pemanfaatan ruang kawasan lindung di wilayah
Kabupaten Deli Serdang yang tertuang dalam dokumen perencanaan tata
ruang (RTRWP) Kabupaten dan Propinsi telah sesuai dengan kondisi
fisiknya?
4. Apakah ada indikasi tekanan penduduk terhadap kawasan hutan dan kawasan
lindung lainnya di wilayah Kabupaten Deli Serdang?
5
Tujuan Penelitian
Tujuan dari penelitian ini adalah :
1. Menganalisis kawasan hutan dan kawasan lindung lainnya yang sesuai dengan
kondisi biofisik dan harus tetap dipertahankan.
2. Menyusun arahan penataan ruang wilayah Kabupaten sesuai dengan kondisi
biofisik dimaksud.
3. Menganalisis adanya kemungkinan penyimpangan pemanfaatan fungsi
kawasan lindung di wilayah Kabupaten Deli Serdang.
4. Mengetahui adanya indikasi tekanan penduduk terhadap keberadaan kawasan
hutan dan kawasan lindung lainnya di wilayah Kabupaten Deli Serdang.
Manfaat Penelitian
Hasil penelitian ini diharapkan dapat digunakan sebagai bahan pertimbangan
dalam penentuan kebijakan pemanfaatan ruang di Kabupaten Deli Serdang yang
lebih menyelaraskan dengan kondisi biofisik wilayah.
6
TINJAUAN PUSTAKA
Ruang dan Penataan Ruang
Ruang (space) dalam ilmu geografi didefinisikan sebagai seluruh permukaan
bumi yang merupakan lapisan biosfer, tempat hidup tumbuhan, hewan dan
manusia (Jayadinata 1992). Berdasarkan Undang-Undang Nomor 27 Tahun 2007
tentang Penataan Ruang, ruang didefinisikan sebagai wadah yang meliputi ruang
darat, ruang laut, dan ruang udara termasuk ruang didalam bumi sebagai satu
kesatuan wilayah, tempat manusia dan makhluk lainnya hidup dan melakukan
kegiatan serta memelihara kelangsungan hidupnya.
Ruang itu terbatas dan jumlahnya relatif tetap. Sedangkan aktivitas manusia
dan pesatnya perkembangan penduduk memerlukan ketersediaan ruang untuk
beraktivitas senantiasa berkembang setiap hari. Hal ini mengakibatkan kebutuhan
akan ruang semakin tinggi. Ruang merupakan sumber daya alam yang harus
dikelola bagi sebesar-besar kemakmuran rakyat sebagaimana diamanatkan dalam
Pasal 33 ayat (3) UUD 1945 yang menegaskan bahwa bumi dan air serta
kekayaan alam yang terkandung di dalamnya dikuasai oleh negara dan digunakan
sebesar-besarnya untuk kemakmuran rakyat. Sehingga dalam konteks ini ruang
harus dilindungi dan dikelola secara terkoordinasi, terpadu, dan berkelanjutan
(Dardak, 2006).
Ruang dalam wilayah nasional adalah wadah bagi manusia untuk melakukan
kegiatannya. Hal ini tidak berarti bahwa wilayah nasional akan habis dibagi oleh
ruang-ruang yang diperuntukkan bagi kegiatan manusia (fungsi budidaya) akan
tetapi harus dipertimbangkan pula danya ruang-ruang yang mempunyai fungsli
lindung dalam kaitannya terhadap keseimbangan tata udara, tata air, konservasi
flora dan fauna serta kesatuan ekologi (Sugandhy, 1999).
Rustiadi et al. (2006) menyatakan bahwa tata ruang merupakan wujud pola
dan struktur pemanfaatan ruang yang terbentuk secara alamiah dan sebagai wujud
dari hasil pembelajaran (learning process). Selanjutnya proses ’pembelajaran”
tesebut
merupakan rangkaian siklus
tanpa akhir
berupa
pemanfaatan -
monitoring - evaluasi - tindakan pengendalian -perencanaan (untuk memperbaiki
7
dan mengatisipasi masa depan) – pemanfaatan -....., dan seterusnya yang disebut
penataan ruang.
Tata ruang perlu dikelola berdasarkan pola terpadu melalui pendekatan
wilayah dengan memperhatikan sifat lingkungan alam dan lingkungan sosial.
Sebagai suatu keadaan, tata ruang mempunyai ukuran kualitas yang bukan semata
menggambarkan mutu tata letak dan keterkaitan hierarkis baik antar kegiatan
maupun antara kegiatan dengan fungsi ruang, akan tetapi juga menggambarkan
mutu komponen penyusunan ruang. Mutu ruang itu sendiri ditentukan oleh
terwujudnya keserasian, keselarasan dan keseimbangan pemanfaatan ruang yang
mengindahkan faktor daya dukung lingkungan, lokasi, dan struktur dalam
mendayagunakan sumberdaya alam untuk memajukan kesejahteraan umum
seperti termuat dalam Undang-Undang Dasar 1945 (khususnya pasal 33) dan
untuk mencapai kebahagiaan hidup perlu di usahakan pelestarian kemampuan
lingkungan hidup yang serasi dan seimbang untuk menunjang pembangunan yang
berkesinambungan, dilaksanakan dengan kebijaksanaan terpadu dan menyeluruh
serta memperhitungkan kebutuhan generasi sekarang dan mendatang (Ditjen
Penataan Ruang, 2005).
Pengaturan ruang di Indonesia telah ditetapkan melalui Undang-Undang
Nomor 27 Tahun 2007 tentang Penataan Ruang. Urgensi pengaturan ruang ini
secara jelas telah dituangkan dalam alasan menimbang yang mendasari penetapan
Undang-Undang ini. Disebutkan antara lain bahwa letak dan kedudukan strategis
Indonesia sebagai negara kepulauan dengan keanekaragaman ekosistemnya
merupakan sumberdaya alam yang perlu dikelola dan dilindungi untuk
mewujudkan tujuan pembangunan nasional,
yaitu sebesar-besarnya untuk
kemakmuran rakyat (UU No. 5/1960). Untuk itu pengelolaan sumberdaya alam
yang berada di daratan, lautan dan udara perlu dilakukan secara terkoordinasi dan
terpadu dengan sumberdaya manusia dan sumberdaya buatan dalam pola yang
berkelanjutan dengan mengembangkan tata ruang dalam dalam satu kesatuan tata
lingkungan yang dinamis serta tetap memelihara kelestarian kemampuan
lingkungan hidup (Djajono, 2006).
Untuk memenuhi kebutuhan semua pihak secara adil, menghindari
persengketaan serta menjamin kelestarian lingkungan dibutuhkan proses yang
8
dalam Undang-Undang Nomor 27 Tahun 2007 disebut penataan ruang. Dalam
kegiatan tersebut, berbagai sumberdaya alam ditata dari segi letak maupun luas
sebagai satu kesatuan dengan memperhatikan keseimbangan antara berbagai
pemanfaatan,
misalnya
pemukiman
dengan
lahan
pertanian,
kawasan
pertambangan dengan kawasan hutan lindung dan tata letak jalur transportasi
(Dardak, 2005).
Rustiadi et al. (2006) menyatakan setidaknya terdapat dua unsur penataan
ruang, pertama menyangkut proses penataan fisik ruang dan kedua menyakut
unsur kelembagaan/institusional penataan ruang. Selanjutnya secara lebih tegas
penataan ruang dilakukan sebagai upaya (1) optimasi pemanfataan sumberdaya
(mobilitas dan alokasi pemanfaatan sumberdaya) (prinsip efisiensi dan
produktifitas), (2) alat dan wujud distribusi sumberdaya : asas pemerataan,
keberimbangan dan keadilan, dan (3) keberlanjutan (sustainability).
Penataan ruang adalah suatu konsep pemikiran atau gagasan yang mencakup
penataan semua kegiatan beserta karakteristiknya berkaitan dengan ruang atau
lokasi dalam suatu wilayah kawasan. Untuk meningkatkan manfaat wilayah atau
kawasan yang maksimal diperlukan perhatian yang teliti terhadap perlindungan
lingkungan, efisiensi, sinergi dan keserasian pada potensi ekonomi di lingkungan
tersebut. Ini dapat diartikan bahwa pentingnya keterpaduan dalam perencanaan
pembangunan adalah untuk mencapai peningkatan kesejahteraan yang maksimal
(Ditjen Penataan Ruang, 2006).
Menurut UU Nomor 27 Tahun 2007 tentang Penataan Ruang, disebutkan
bahwa penataan ruang terdiri atas : perencanaan tata ruang, pemanfaatan ruang,
dan pengendalian pemanfaatan ruang. Penataan ruang disusun berasaskan
(a) pemanfataan ruang bagi semua kepentingan secara terpadu, berdaya guna,
serasi, selaras, seimbang dan berkelanjutan (b) keterbukaan, persamaan, keadilan
dan perlindungan hukum.
Sesuai dengan Undang-Undang Nomor 32 Tahun 2004, yang meletakkan
pelaksanaan otonomi daerah yang luas dan nyata kepada Daerah Kabupaten dan
Daerah Kota, maka penyelenggaraan penataan ruang secara operasional, termasuk
perizinan pun dilakukan oleh Daerah Kabupaten dan Daerah Kota.
9
Adapun kewenangan Pemerintah Kabupaten/Kota dibidang penataan ruang
meliputi:
a. Menyusun Rencana Tata Ruang Wilayah Kabupaten/Kota beserta perangkat
regulasi (insentif dan disinsentif) pemanfaatan ruang
b. Melakukan konsultasi/koordinasi teknis dalam rangka penataan ruang dengan
instansi / pemerintah yang lebih tinggi
c. Melakukan diseminasi rencana tata ruang kepada seluruh instansi pemerintah
daerah Kabupaten/Kota dan masyarakat
d. Melakukan penyelenggaraan (pengelolaan) pemanfaatan ruang, pengawasan
dan pengendalian pemanfaatan ruang.
Selanjutnya rencana tata ruang adalah hasil perencanaan ruang dalam wujud
struktur pemanfaatan ruang. Adapun yang dimaksud dengan pemanfaatan ruang
adalah susunan unsur-unsur pembentuk lingkungan secara hierakis dan saling
berhubungan satu sama lainnya. Sedangkan yang dimaksud dengan pola
pemanfaatan ruang adalah tata guna tanah, air, udara dan sumberdaya alam
lainnya.
Menurut Rustiadi et al. (2006) perencanaan tata ruang dapat diartikan
sebagai bentuk pengkajian yang sistematis dari aspek fisik, sosial dan ekonomi
untuk mendukung dan mengarahkan pemanfaatan ruang di dalam memilih cara
yang terbaik untuk meningkatkan produktifitas agar dapat memenuhi kebutuhan
masyarakat secara berkelanjutan. Sehingga rencana tata ruang dapat merupakan
dokumen pelaksanaan pembangunan yang harus dipatuhi oleh semua pihak
termasuk masyarakat setempat.
Perencanaan tata ruang yang terintegrasi antar-daerah dalam satu
ekosistem dimaksudkan agar keseimbangan (dalam bentuk ruang yang nyaman,
produktif, dan berkelanjutan) dapat diwujudkan dalam satu kesatuan ekosistem,
tidak hanya terbatas pada wilayah yang direncanakan. Pengabaian terhadap
prinsip ini akan mengakibatkan kerusakan lingkungan hidup di wilayah lain,
misalnya di wilayah hilir apabila perencanaan di wilayah hulu tidak
memperhatikan dampak yang ditimbulkan dari implementasi rencana tata
ruangnya terhadap wilayah hilir (Dardak, 2005).
10
Menurut tingkat administrasi pemerintahan, perencanaan tata ruang
dilaksanakan secara berhierarki mulai dari Rencana Tata Ruang Wilayah
Nasional (RTRWN), Rencana Tata Ruang Wilayah Propinsi (RTRWP), dan
Rencana Tata Ruang Wilayah Kabupaten/Kota (RTRWK). Dikaitkan dengan
substansinya, RTRWN berisi arahan struktur ruang dan pola pemanfaatan ruang
yang memiliki nilai strategis nasional (sistem nasional). RTRWP berisi arahan
struktur ruang dan pola pemanfaatan ruang yang merupakan sistem propinsi
dengan memperhatikan sistem nasional yang ditetapkan dalam RTRWN.
Sementara RTRWK berisi arahan struktur ruang dan pola pemanfaatan ruang di
wilayahnya dengan memperhatikan hal-hal yang telah diatur dalam rencana tata
ruang pada hirarki di atasnya. Rencana tata ruang yang berhierarki ini harus
dilaksanakan dengan memperhatikan kewenangan yang dimiliki oleh masingmasing tingkat pemerintahan, untuk menghindari tumpang tindih pengaturan
pada obyek yang sama. Dengan kata lain, perencanaan yang berhirarki harus
memenuhi prinsip saling melengkapi (komplementer) (Dardak, 2006).
Terkait dengan perencanaan, penyusunan rencana tata ruang wilayah
(RTRW) diharapkan dapat mengakomodasikan berbagai perubahan dan
perkembangan di wilayah perencanaan. RTRW Kabupaten/Kota disusun
berdasarkan perkiraan kecenderungan dan arahan perkembangannya untuk
memenuhi kebutuhan pembangunan di masa datang sesuai dengan jangka waktu
perencanaannya.
Di samping keterpaduan antar-daerah dalam satu ekosistem, perencanaan
tata ruang juga harus disusun dengan memperhatikan daya dukung dan daya
tampung lingkungan, sebagaimana ditegaskan dalam Undang-Undang Nomor
27 Tahun 2007, perhatian terhadap daya dukung dan daya tampung lingkungan
dimaksudkan agar pemanfaatan ruang tidak sampai melampau batas-batas
kemampuan lingkungan hidup dalam mendukung dan menampung aktivitas
manusia tanpa mengakibatkan kerusakan lingkungan. Kemampuan tersebut
mencakup kemampuan dalam menyediakan ruang, kemampuan dalam
menyediakan sumberdaya alam, dan kemampuan untuk melakukan perbaikan
kualitas lingkungan apabila terdapat dampak yang mengganggu keseimbangan
ekosistem.
11
Pemanfaatan ruang adalah upaya untuk mewujudkan struktur ruang dan pola
pemanfaatan ruang sesuai dengan rencana tata ruang melalui penyusunan dan
pelaksanaan program beserta pembiayaannya. Program pemanfaatan ruang
disusun berdasarkan rencana tata ruang yang telah ditetapkan oleh masing-masing
pemangku kepentingan sesuai dengan kewenangannya. Dalam penyusunan dan
pelaksanaan program masing-masing pemangku kepentingan tetap harus
melakukan koordinasi dan sinkronisasi untuk menciptakan sinergi dalam
mencapai tujuan-tujuan yang telah ditetapkan dalam rencana tata ruang
(Dardak, 2006).
Selanjutnya
Iftitah
(2005)
menyatakan
bahwa
pemanfaatan
ruang
merupakan suatu pengambilan keputusan yang sangat penting apabila dikaitkan
dengan lingkungan hidup, karena pemanfaatan ruang merupakan hasil
penggabungan antar aktivitas manusia, kondisi biofisik wilayah/lahan dan
keinginan manusia terhadap wilayah tersebut, sehingga dalam pemanfaatan ruang
dikembangkan pola tata guna air, tata guna udara dan tata guna tanah serta tata
guna sumberdaya lainnya termasuk sumberdaya hutan.
Menurut Peraturan Pemerintah Nomor 47 Tahun 1997 tentang Rencana Tata
Ruang Wilayah Nasional (RTRWN), tujuan pemanfaatan ruang adalah
pemanfaatan ruang secara berdaya guna dan berhasil guna untuk peningkatan
kesejahteraan masyarakat dan pertahanan keamanan secara berkelanjutan melalui
upaya-upaya pemanfaatan sumberdaya alam didalamnya secara berdaya guna dan
berhasil guna, keseimbangan antar wilayah dan antar sektor, pencegahan
kerusakan fungsi dan tatanan serta peningkatan kualitas lingkungan hidup.
Sedangkan pengendalian pemanfaatan ruang dilakukan agar pemanfaatan ruang
sesuai dengan rencana tata ruang yang telah ditetapkan melalui kegiatan
pengawasan dan penertiban pemanfaatan ruang.
Pengendalian pemanfaatan ruang merupakan upaya untuk mengarahkan
pemanfaatan ruang agar tetap sesuai dengan rencana tata ruang yang telah
ditetapkan. Pengendalian pemanfaatan ruang dilaksanakan melalui peraturan
zonasi, perizinan, pemantauan, evaluasi, dan penertiban terhadap pemanfaatan
ruang (Dardak, 2006).
12
Sesuai dengan Undang-Undang Nomor 27 Tahun 2007, rencana tata ruang
juga mencakup arahan pola pemanfaatan ruang untuk kawasan yang berfungsi
lindung. Pengaturan arahan pola pemanfaatan ruang untuk kawasan lindung
dimaksudkan agar:
a. Kawasan-kawasan yang memberikan perlindungan terhadap kawasan
budidaya tetap terjaga keberadaannya, sehingga kawasan budidaya dapat
dioptimalkan untuk memenuhi kebutuhan hidup masyarakat, termasuk
kebutuhan bagi generasi yang akan datang.
b. Kawasan-kawasan yang secara spesifik perlu dilindungi untuk kepentingan
pelestarian flora dan fauna (plasma nuftah), pelestarian warisan budaya
bangsa, pengembangan ilmu pengetahuan, dan kepentingan lainnya dapat
tetap dipertahankan untuk jangka waktu yang tidak terbatas.
Terkait dengan upaya menjamin keberadaan kawasan lindung, dalam
Peraturan Pemerintah Nomor 47 Tahun 1997, telah dirumuskan strategi untuk
memelihara dan mewujudkan kelestarian fungsi lingkungan hidup meliputi :
a. Menetapkan kawasan lindung baik di ruang daratan, di ruang lautan dan
ruang udara;
b. Mempertahankan luas kawasan berfungsi lindung dalam satu wilayah pulau
pada tingkat sekurang-kurangnya 30 % (tiga puluh persen) dari luas pulau
tersebut sesuai dengan kondisi ekosistemnya;
c. mewujudkan dan memelihara kelestarian fungsi lingkungan hidup dan
mencegah timbulnya kerusakan lingkungan hidup melalui perlindungan
kawasan-kawasan di darat, laut, dan udara secara serasi dan selaras;
d. mengembalikan dan meningkatkan fungsi kawasan lindung yang telah
menurun
akibat
pengembangan
kegiatan
budidaya
dalam
rangka
mewujudkan dan memelihara keseimbangan ekosistem wilayah.
Menurut Ditjen Penataan Ruang (2005) dalam rangka mewujudkan
pembangunan berkelanjutan melalui upaya konservasi dan pengelolaan
sumberdaya alam, maka prinsip penataan ruang demi terwujudnya harmonisasi
fungsi ruang untuk kawasan lindung dan budidaya sebagai satu kesatuan
ekosistem tidak dapat diabaikan lagi, dan diselenggarakan secara terpadu dengan
memperhatikan daya dukung lingkungan wilayah.
13
Kawasan Hutan dan Kawasan Lindung
Berdasarkan Undang-Undang Nomor 41 Tahun 1999 tentang Kehutanan,
penyelenggaraan kehutanan bertujuan untuk sebesar-besarnya kemakmuran rakyat
yang berkeadilan dan berkelanjutan dengan menjamin keberadaan hutan dengan
luasan yang cukup dan sebaran yang proporsional; mengoptimalkan aneka fungsi
hutan yang meliputi fungsi konservasi, fungsi lindung dan fungsi produksi untuk
mencapai manfaat lingkungan, sosial-budaya, dan ekonomi yang seimbang dan
lestari; meningkatkan daya dukung daerah aliran sungai, meningkatkan
kemampuan untuk mengembangan kapasitas dan keberadaan masyarakat secara
partisipatif,
berkeadilan
dan
berwawasan
lingkungan
sehingga
mampu
menciptakan ketahanan sosial dan ekonomi serta ketahanan akibat perubahan
ekternal serta menjamin distribusi manfaat yang berkeadilan dan berkelanjutan.
Bahwa pasal 33 UUD 1945 menetapkan bahwa ” hutan, tanah dan air, ..........
untuk sebesar-besar kemakmuran rakyat”, wajib ditafsirkan dalam konteks
maksimalisasi fungsi dan manfaat serta minimalisasi dampak/eksternalitas
pengelolaannya,
sehingga
perlu
dilindungi
keberadaannya
dan
diatur
pengelolaannya sebijaksana mungkin sesuai karakter sumberdaya-sumberdaya
dimaksud, sehingga ketika tata ruang/tata guna lahan yang mencerminkan land
capability dan land suitability telah disepakati didasari oleh karakteristik
sumberdaya, maka konteks untuk sebesar-besar kemakmuran rakyat haruslah
berbasis pada konsistensi kesepakatan yang telah dibuat tersebut (Ramadhan,
2005).
Menurut Santoso (2001), Penatagunaan kawasan hutan pada hakekatnya
merupakan bagian integral dari penataan ruang daerah. Upaya untuk mewujudkan
hal
ini
telah
dilaksanakan
dengan
sebaik-baiknya
melalui
kegiatan
Pemaduserasian Tata Guna Hutan Kesepakatan (TGHK) dengan Rencana Tata
Ruang Wilayah Propinsi (RTRWP) sejak tahun 1994 hingga 1999, yang hasilnya
ditetapkan dengan Surat Keputusan Gubernur dan di beberapa propinsi dengan
diketahui/disetujui oleh Ketua DPRD Propinsi.
Berdasarkan Undang-Undang Nomor 41 Tahun 1999 dan Peraturan
Pemerintah Nomor 44 tahun 2004 tentang Perencanaan Kehutanan, pemerintah
14
telah menetapkan dan mempertahankan kecukupan luas kawasan hutan minimal
30 % dari luas daerah aliran sungai (DAS) atau pulau dengan sebaran yang
proporsional guna optimalisasi manfaat lingkungan, manfaat sosial dan manfaat
ekonomi masyarakat setempat. Propinsi dan/atau Kabupaten/Kota yang memiliki
kawasan hutan yang fungsinya sangat penting bagi perlindungan lingkungan
Propinsi dan atau Kabupaten/Kota wajib mempertahankan kecukupan luas
kawasan hutan, serta mengelola kawasan hutan sesuai fungsinya (CIFOR, 2004).
Keberadaan hutan sebagai bagian dari sebuah ekosistem yang besar
memiliki arti dan peran penting dalam menyangga sistem kehidupan. Berbagai
manfaat besar dapat diperoleh dari keberadaan hutan melalui fungsinya baik
sebagai penyedia sumberdaya air bagi manusia dan lingkungan, kemampuan
penyerapan karbon, pemasok oksigen di udara, penyedia jasa wisata dan mengatur
iklim global. Sehingga pengelolaan hutan, sudah saatnya didorong untuk
mempertimbangkan manfaat, fungsi dan untung-rugi apabila akan dilakukan
kegiatan eksploitasi hutan. Berapa banyak nilai dari fungsi yang hilang akibat
kegiatan penebangan hutan pada kawasan-kawasan yang memiliki nilai strategis
seperti pada kawasan hutan di daerah hulu DAS, sehingga pertimbanganpertimbangan tersebut dapat dijadikan sebagai masukan dan bahan pertimbangan
dalam
melakukan
perencanaan
dan
pengelolaan
hutan
di
Indonesia
(Suryatmojo, 2005).
Kawasan hutan dalam penataan ruang terdapat dalam kawasan budidaya dan
bisa pula dalam kawasan lindung. Kawasan hutan yang masuk dalam kawasan
budidaya adalah hutan produksi (hutan produksi tetap dan hutan produksi
terbatas), baik itu hutan alam maupun hutan tanaman, termasuk hutan rakyat,
sedang kawasan hutan yang masuk dalam kawasan lindung adalah kawasan
pelestarian alam yang meliputi taman nasional, taman hutan raya, taman wisata
alam dan kawasan suaka alam yang meliputi suaka margasatwa, cagar alam dan
taman buru (Djajono, 2006).
Menurut Setiahadi (2006), selama ini dalam penataan ruang, luas kawasan
hutan seakan-akan statis karena dikaitkan dengan masalah kewenangan sektor
kehutanan, tidak perduli apakah hutan tersebut bervegetasi atau tidak. Mestinya
luas hutan ditetapkan dalam sistem dinamis yang mengaitkan fungsi hutan yang
15
multi fungsi dengan sub-sistem biogeofisik, sub-sistem ekonomi, dan sub sistem
sosial, budaya, kependudukan, bahkan hankam.
Optimasi penataan kawasan hutan dilakukan berdasarkan pertimbangan halhal sebagai berikut: daya dukung, potensi, kebutuhan kayu dan kebutuhan non
kayu, resiko lingkungan, dan DAS prioritas. Selanjutnya dilakukan analisis
berdasarkan faktor-faktor penentu dalam penataan ruang kawasan hutan yang
meliputi analisis kesesuaian lahan, analisis potensi hutan (tegakan persediaan),
analisis supplay-demand kayu dan non kayu, dan analisis resiko lingkungan.
Pemanfaatan ruang kawasan hutan optimal dicirikan oleh: pemenuhan berbagai
kebutuhan terhadap hasil hutan, pemecahan masalah sosial dan lingkungan, dan
pelestarian sumberdaya hutan (Setia Hadi, 2006).
Selanjutnya dalam Peraturan Pemerintah Nomor 44 tahun 2004 tentang
Perencanaan Kehutanan, ditetapkan bahwa hutan mempunyai 3 (tiga) fungsi
utama yaitu :
1. Hutan konservasi terdiri dari hutan suaka alam (cagar alam dan suaka
margasatwa), hutan pelestarian alam (taman nasional, taman hutan raya,dan
taman wisata alam) serta taman buru.
2. Hutan lindung
3. Hutan produksi terdiri dari produksi terbatas, hutan produksi biasa dan hutan
produksi konversi.
Dalam hubungannya dengan pola pemanfaatan ruang wilayah nasional yang
tercantum dalam Peraturan Pemerintah Nomor 47 tahun 1997, kawasan hutan
berdasarkan fungsi pokoknya dapat dikelompokkan sebagai berikut :
1. Hutan konservasi yang meliputi kawasan suaka alam dan kawasan hutan
pelestarian alam yang dikelompokkan ke dalam kawasan lindung berupa
kawasan suaka alam dan kawasan pelestarian alam.
2. Hutan konservasi yang meliputi taman buru, cagar biosfer, kawasan
perlindungan plasma nutfah, kawasan pengungsian satwa dan kawasan pantai
berhutan bakau dikelompokkan kedalam kawasan lindung lainnya.
3. Hutan lindung dikelompokkan ke dalam kawasan lindung berupa kawasan
yang memberikan perlindungan kawasan di bawahnya bersama kawasan
bergambut dan kawasan resapan lainnya.
16
4. Hutan produksi yang meliputi hutan produksi terbatas, hutan produksi tetap
dan hutan produksi yang dapat dikonversi dikelompokkan kedalam kawasan
budidaya berupa kawasan hutan produksi.
Penatagunaan hutan di Indonesia dimulai dengan dikeluarkannya Surat
Keputusan Menteri Pertanian Nomor 680/Kpts/Um/8/81 tentang Pedoman
Penatagunaan Hutan Kesepakatan (TGHK) yang antara lain menetapkan
penatagunaan hutan kesepakatan di suatu wilayah propinsi adalah kegiatan yang
bertujuan menentukan peruntukan hutan di wilayah propinsi yang bersangkutan
menurut fungsinya berdasarkan kesepakatan antar instansi yang berkaitan dengan
penggunaan lahan di daerah. Akan tetapi menurut Sitorus (1996) sistem
klasifikasi ini tidak mempertimbangkan kualitas hutan di dalam penyusunannya/
pembagiannya, meskipun dapat memberikan kerangka untuk pemecahan yang
mendesak dari status konflik atau penggunaan lahan.
Seperti halnya rencana umum tata ruang, TGHK-pun perlu ditinjau kembali
untuk dapat disesuaikan dengan perkembangan penduduk, pembangunan
prasarana, serta meningkatnya kebutuhan akan lahan. Proses penyesuaian TGHK
dan tata ruang disebut 'padu serasi'. Secara praktis padu serasi menghasilkan
perubahan status dari kawasan hutan menjadi bukan hutan menurut kebutuhan
setempat. Sejak otonomi daerah hal ini sedikit rumit karena tidak jelasnya
wewenang kabupaten dalam pengaturan tata ruang dan perubahan kawasan hutan.
Secara hukum, perubahan atas kawasan hutan tetap merupakan kewenangan
Menteri Kehutanan tetapi kenyataan di lapangan, Pemerintah Kabupaten bahkan
masyarakat dan pengusaha telah banyak mengalihfungsikan kawasan hutan untuk
keperluan lain. Masalah lain adalah tidak adanya kejelasan hak kepemilikan
dan/atau penguasaan terhadap luasan lahan sehingga menimbulkan tumpang
tindihnya banyak kepentingan pada satu areal lahan yang sama (CIFOR, 2002).
Di Indonesia kawasan-kawasan penting yang telah ditetapkan sebagai
kawasan hutan pada kenyataannya hanya memiliki sedikit hutan atau bahkan tidak
ada hutan sama sekali. Tanah-tanah tersebut sering secara otomatis diklasifikasi
sebagai ‘hutan’ ketika wilayah tersebut tidak terdaftar sebagai tanah pertanian.
Hasil dari proses perencanaan tersebut menyebabkan 61 % wilayah daratan
Indonesia diklasifikasikan sebagai kawasan hutan. Hasil perencanaan tersebut
17
secara kualitas masih sangat kasar, sehingga pemerintah harus melakukan
klasifikasi-ulang
terhadap
hutan
dan
melepas
kawasan-kawasan
yang
kenyataannya sudah digunakan untuk tujuan lain atau sudah tidak lagi layak untuk
dipertahankan karena tidak sesuai dengan klasifikasi kawasan hutan. Departemen
Kehutanan sendiri mengakui hal ini sebagai kekeliruan sistematik yang muncul
pada peruntukan status kawasan hutan sehingga menimbulkan konflik sosial yang
hingga kini masih terus berlangsung (Fay dan Michon, 2005).
Manfaat pendefinisian dan pengklasifikasian kawasan hutan sangat penting
bagi perdebatan hukum menyangkut prioritas pengelolaan lahan tersebut. Wilayah
yang secara resmi diperuntukkan sebagai bagian dari kawasan hutan yang harus
dikelola di bawah seperangkat ketentuan pembatas yang tidak hanya dapat
mengarah kepada perampasan hak-hak lokal tetapi juga untuk membatasi secara
administratif beberapa pola pemanfaatan hutan (ICRAF, 2006).
Penetapan suatu kawasan hutan negara didasarkan atas terpenuhinya
karakteristik dimensi fungsi hutan. Sedangkan fungsi kawasan hutan dengan
luasan lahan di bawahnya diklasifikasikan berdasarkan bentangan daerah aliran
sungai (DAS), karena DAS mewakili topografi yang mencerminkan klasifikasi
karakteristik tingkat resiko ekternalitas negatif dari pengelolaannya terhadap
kepentingan umum kehidupan secara menyeluruh (sebesar besarnya bagi
kemakmuran rakyat), yaitu semakin besar kemiringan lahan dan semakin tinggi
lahan dari atas permukaan laut serta semakin dekat dekat dengan sumber-sumber
air semakin besar potensi ekternalitas negatif pengelolaannya (ICRAF, 2006).
Berkaitan dengan penetapan fungsi kawasan tersebut, dikeluarkan beberapa
kebijakan mengenai penetapan fungsi kawasan tersebut, antara lain :
1. Kriteria dan tata cara penetapan hutan suaka alam dan hutan wisata di atur
dalam Keputusan Menteri Pertanian Nomor 681/Kpts/Um/8/81.
2. Kriteria dan tata cara penetapan hutan produksi konversi diatur dalam Surat
Keputusan Menteri Pertanian Nomor 682/Kpts/Um/8/81.
3. Kriteria dan tata cara penetapan hutan produksi diatur dalam Keputusan
Menteri Pertanian Nomor 683/Kpts/Um/8/81.
4. Kriteria dan tata cara penetapan hutan lindung diatur dalam Keputusan
Menteri Pertanian Nomor 873/Kpts/Um/11/80.
18
Penatagunaan kawasan hutan meliputi kegiatan penetapan fungsi dan
penggunaan kawasan hutan menurut Badan Planologi Departemen Kehutanan,
(2005) berupa: 1) Penetapan fungsi kawasan hutan adalah pemberian kepastian
hukum mengenai fungsi suatu kawasan hutan tetap dengan Keputusan Menteri
serta 2) Pinjam pakai kawasan adalah penyerahan penggunaan atas sebagian
kawasan hutan kepada pihak lain untuk kepentingan pembangunan di luar
kegiatan kehutanan tanpa mengubah status, peruntukan dan fungsi kawasan hutan
tersebut.
Adapun beberapa kriteria penetapan hutan didasarkan pada faktor-faktor
kelas lereng lapangan, kelas tanah dan kelas intensitas hujan menurut Badan
Planologi Departemen Kehutanan (2005), adalah :
1. Kelerengan (L) = a/b x 100%
a = tinggi relatif
b = Jarak Datar
2. Kelas tanah didasarkan tingkat kepekaannya terhadap erosi
3. Kelas intensitas hujan didasarkan perhitungan rata-rata curah hujan dalam
milimeter setahun dibagi dengan rata-rata jumlah hari hujan setahun.
4. Angka penimbang (bobot) untuk faktor kelerengan = 20, jenis tanah = 15 dan
intensitas hujan = 10.
a. Kriteria penetapan hutan lindung
o Kawasan hutan dengan faktor-faktor kelas lereng lapangan, kelas tanah
dan kelas kelas intensitas hujan setelah masing masing dikalikan
dengan angka penimbang mempunyai total nilai (skor) 175 atau lebih
besar
o Kawasan hutan yang mempunyai kelas lereng lapangan 40 %
o Kawasan hutan yang mempunyai ketinggian lapangan di atas
permukaan laut 2.000 m atau lebih.
o Menyimpang dari ketentuan butir 1 s/d 3 di atas, kawasan hutan perlu
dibina dan dipertahankan sebagai hutan lindung apabila memenuhi
salah satu atau beberapa syarat sebagai berikut :
Tanah sangat peka terhadap erosi yaitu jenis tanah regosol, litosol,
organosol, renzina dengan lereng lapangan > 15 %
19
Merupakan
jalur
pengamanan
aliran
sungai/air,
sekurang-
kurangnya 100 meter di kiri dan kanan sungai/aliran air
Merupakan pelindung mata air, sekurang-kurangnya dengan jarijari 200 meter di sekeliling mata air
Guna keperluan/kepentingan khusus, ditetapkan oleh Menteri
sebagai hutan lindung.
b. Kriteria penetapan hutan produksi terbatas dan hutan produksi tetap
o Hutan produksi terbatas (HPT)
Kawasan Hutan dengan faktor-faktor kelas lereng lapangan, kelas
tanah dan kelas intensitas hujan setelah masing-masing dikalikan
dengan angka penimbang mempunyai total nilai (skor) 125-174.
o Hutan produksi tetap (HP)
Kawasan hutan dengan faktor-faktor kelas lereng lapangan, kelas tanah
dan kelas intensitas hujan setelah masing-masing dikalikan dengan
angka penimbang mempunyai total nilai (skor) kurang dari 124.
c. Kriteria cagar alam
o Kawasan yang ditunjuk mempunyai keanekaragaman jenis tumbuhan
dan satwa dan ekosistem.
o Mewakili formasi biota tertentu dan atau unit-unit penyusun.
o Mempunyai kondisi alam, baik biota maupun fisiknya yang masih asli
dan tidak atau belum diganggu manusia.
o Mempunyai luas dan bentuk tertentu agar menunjang pengelolaan
efektif dengan daerah penyangga yang cukup luas.
o Mempunyai ciri khas dan merupakan satu-satunya contoh di suatu
daerah serta keberadaannya memerlukan upaya konservasi.
d. Kriteria suaka margasatwa
o Kawasan yang ditunjuk merupakan tempat hidup dan berkembangbiak
dari suatu jenis satwa yang perlu dilakukan upaya konservasinya.
o Memiliki keanekaragaman dan populasi satwa yang tinggi.
o Merupakan tempat dan kehidupan bagi jenis satwa migran tertentu.
o Mempunyai luas yang cukup sebagai habitat jenis satwa yang
bersangkutan.
20
e. Kriteria hutan wisata
o Kawasan hutan yang ditunjuk memiliki keadaan yang menarik dan
indah baik secara alamiah maupun buatan manusia.
o Memenuhi kebutuhan manusia akan rekreasi dan olah raga serta
terletak dekat pusat-pusat pemukiman penduduk.
o Mengandung satwa buru yang dapat dikembang biakkan sehingga
memungkinkan perburuan secara teratur dengan mengutamakan segi
rekreasi, olah raga dan kelestarian satwa.
o Mempunyai luas yang cukup dan lapangannya tidak membahayakan.
Secara umum kriteria penetapan fungsi kawasan hutan terdapat pada
beberapa kebijakan diatas, dapat diklasifikasikan seperti pada Tabel 1 berikut :
Tabel 1. Kriteria penetapan fungsi kawasan hutan
Fungsi Kawasan Hutan
Kriteria-kriteria
Hutan lindung
- Mempunyai jumlah skoring lebih dari 175
(HL)
- Mempunyai kelerengan lapangan
- Mempunyai ketinggian
40 %
2000 meter
- Mempunyai tanah sangat peka terhadap erosi
dengan lereng lebih dari 15 %
- Merupakan daerah resapan air
- Merupakan daerah perlindungan pantai
Hutan
produksi
terbatas
(HPT)
- Mempunyai jumlah skoring antara 124-175
- Berada di luar kawasan lindung, suaka alam, hutan
pelestarian alam dan taman buru.
Hutan produksi tetap
- Mempunyai jumlah skoring kurang dari 125
(HP)
- Berada
di luar kawasan lindung, suaka alam,
pelestarian alam dan taman buru.
- Mempunyai jumlah skoring kurang dari 125
- Berada
di luar kawasan lindung, suaka alam,
pelestarian alam dan taman buru
Hutan produksi konversi
(HPK)
- Secara ruang dapat dikonversi sesuai dengan
perundangan - undangan yang berlaku
21
Menurut Sugandhy (1999), kawasan lindung (non budidaya) adalah bagian
dari suatu wilayah yang mempunyai fungsi non-budidaya (dominasi fungsi
lindung terhadap tanah, air, flora, fauna dan budaya) dengan sudah
mempertimbangkan kelestarian lingkungan hidup, dimana di dalamnya tidak
diperkenankan adanya fungsi budidaya ataupun kalau terpaksa diperkenankan
dalam fungsi terbatas.
Mengacu kepada pedoman WCPA (World Commission on Protected Areas)
dan The World Conservation Union (IUCN, 1994) yang dimaksud kawasan
lindung adalah suatu wilayah daratan dan/atau laut yang terutama diperuntukan
untuk perlindungan dan pemeliharaan keanekaragaman hayati, sumberdaya alam
dan sumberdaya budaya yang dikelola melalui kegiatan/bentuk yang legal dan
sesuai dengan hukum. Adapun ukuran serta tata letak kawasan yang dilindungi di
dunia seringkali ditentukan oleh faktor-faktor seperti sebaran manusia, nilai
potensi lahan, dan upaya politik oleh warga yang berjiwa konservasi.
Kawasan lindung berdasarkan definisi menurut IUCN, terdiri dari enam (6)
kategori, yaitu :
1. Kategori I a : strict nature reserve, yaitu kawasan lindung yang tujuan
pengelolaannya untuk kepentingan keilmuan, yaitu suatu kawasan daratan dan
atau laut yang memiliki ekosistem, penampakan geologis atau fisiologis dan
atau jenis-jenis unik dan luar biasa atau mewakili yang kegunaan utamanya
bagi kepentingan riset dan atau monitoring lingkungan
2. Kategori I b : wilderness area, yaitu kawasan lindung yang tujuan
pengelolaannya untuk perlindungan hidupan liar, yaitu suatu kawasan daratan
dan atau laut yang masih utuh dan asli yang cukup luas dan belum
termodifikasi atau sedkit termodifikasi, ditetapkan untuk mempertahankan
karakter-karakter dan pengaruh alami tanpa adanya okupasi pemukiman
permanen atau yang significant lainnya yang dilindungi dan dikelola dalam
rangka mengawetkan kondisi alam.
3. Kategori II : national park, yaitu kawasan lindung yang tujuan
pengelolaannya untuk perlindungan ekosistem dan wisata, yaitu kawasan
alami daratan dan atau laut yang ditetapkan untuk (i) melindungi integritas
satu atau lebih ekosistem bagi generasi saat ini maupun yang akan datang;
22
(ii) meniadakan eksploitasi atau pemukiman yang tidak sesuai dengan tujuan
penetapannya; (iii) menyediakan landasan bagi pengunjung untuk tujuan
spritual, ilmiah, pendidikan, rekreasi yang ramah dan arif terhadap lingkungan
dan budaya.
4. Kategori III : natural monument, yaitu kawasan lindung yang tujuan
pengelolaannya untuk konservasi dari penampakan alam yang khas, yaitu
suatu kawasan yang berisi satu atau lebih penampakan-penampakan lam atau
gabungan alam dan budaya yang khas yang mempunyai nilai yang luar biasa
(outstanding) dan unik karena kelangkaannya, secara kualitas mewakili atau
estetis atau mempunyai keunggulan budaya.
5. Kategori IV : habitat/spesies management area, yaitu kawasan lindung yang
tujuan pengelolaannya untuk konservasi melalui intervensi manajemen/
pengelolaan, yaitu kawasan daratan dan atau laut yang mendapatkan campur
tangan aktif untuk keperluan pengelolaannya dalam rangka menjamin
terpeliharanya habitat dan atau memenuhi kebutuhan yang khas dari suatu
jenis.
6. Kategori V : protected landscape/seascape, yaitu kawasan lindung yang
tujuan pengelolaannya untuk konservasi bentang alam atau laut dan sebagai
tempat wisata, yaitu suatu kawasan daratan serta kawasan pantai dan laut yang
interaksi antara manusia dan alam telah menghasilkan suatu kawasan yang
mempunyai nilai estetika, ekologis dan atau budaya yang significant yang
sering dibarengi dengan nilai kenekaragaman hayati yang tinggi. Menjaga
integritas interaksi tradisional merupakan hal yang penting bagi pemeliharaan
dan evolusi dari kawasan
7. Kategori VI : managed resource protected area, yaitu kawasan lindung yang
tujuan
pengelolaannya
untuk
keseimbangan
ekosistem
alam
yang
berkelanjutan, yaitu suatu kawasan yang memiliki sistem-sistem alami yang
belum termodifikasi, yang dikelola untuk menjamin perlindungan dan
pemeliharaan keanekaragaman hayati jangka panjang, yang dalam waktu yang
sama menyediakan aliran yang lestari produk dan jasa bagi pemenuhan
masyarakat.
23
Kawasan lindung memiliki manfaat yang besar bagi keberlangsungan hidup
manusia didunia, menurut Mac Kinnon et al. (1986) ada beberapa keuntungan
dimana kawasan yang dilindungi dapat memberikan manfaat yang berharga bagi
masyarakat, antara lain :
•
Menstabilkan fungsi hidrologi
•
Melindungi tanah
•
Stabilitas iklim
•
Pelestarian sumberdaya pulih yang dapat dipanen
•
Perlindungan plasma nutfah
•
Pengawetan untuk perkembangbiakan ternak, cadangan populasi dan
keanekaragaman hayati
•
Pengembangan pariwisata
•
Menciptakan kesempatan kerja
•
Menyediakan fasilitas bagi penelitian dan monitoring
•
Menyediakan fasilitas pendidikan
•
Memelihara kualitas lingkungan hidup
•
Keuntungan dari perlakuan khusus
•
Pelestarian budaya tradisional
•
Keseimbangan alam lingkungan
•
Nilai warisan dan kebanggaan regional
Adapun kawasan lindung di Indonesia, sesuai dengan strategi dan arahan
pengembangan kawasan lindung sebagaimana disebutkan dalam Peraturan
Pemerintah Nomor 47 Tahun 1997 meliputi langkah-langkah untuk memelihara
dan mewujudkan kelestarian fungsi lingkungan hidup dan mencegah timbulnya
kerusakan lingkungan hidup. Untuk itu dilakukan penetapan dan perlindungan
terhadap kawasan lindung berdasarkan kriteria tertentu sebagaimana Keputusan
Presiden Nomor 32 Tahun 1990 tentang Pengelolaan Kawasan Lindung
(Aliati , 2007).
Kawasan yang termasuk dalam kawasan lindung menurut Undang-Undang
Nomor 26 Tahun 2007 dibedakan ke dalam :
•
Kawasan yang memberikan perlindungan kawasan bawahannya, antara lain
kawasan hutan lindung, kawasan bergambut dan kawasan resapan air;
24
•
Kawasan perlindungan setempat, antara lain sempadan pantai, sempadan
sungai, kawasan sekitar danau/waduk dan kawasan sekitar mata air;
•
kawasan suaka alam dan cagar budaya, antara lain, kawasan suaka lam,
kawasan suaka alam laut dan perairan lainnya, kawasan pantai berhutan
bakau, taman nasional, taman hutan raya, taman wisata alam, cagar budaya
dan ilmu pengetahuan;
•
Kawasan rawan bencana alam, antara lain kawasan rawan gempa bumi,
kawasan rawan tanah longsor, kawasan rawan gelombang pasang dan
kawasan rawan banjir;
•
kawasan lindung lainnya, misalnya taman buru, cagar biosfer, kawasan
perlindungan plasma nutfah, kawsan pengungsian satwa dan terumbu
karang.
Secara umum penjabaran kawasan tersebut telah diatur secara rinci dalam
Peraturan Pemerintah No. 47 tahun 1997 tentang Rencana Tata Ruang Wilayah
Nasional (RTRWN), yakni :
1. Kawasan lindung
a. Kawasan yang memberikan perlindungan kawasan bawahannya
- Kawasan hutan lindung (HL)
- Kawasan bergambut
- Kawasan resapan air
b. Kawasan perlindungan setempat
- Sempadan pantai
- Sempadan sungai
- Kawasan sekitar danau/waduk
- Kawasan sekitar mata air
- Kawasan terbuka hijau kota termasuk didalamnya hutan kota
c. Kawasan suaka alam
- Cagar alam (CA)
- Suaka margasatwa (SM)
d. Kawasan pelestarian alam
- Taman nasional (TN)
- Taman hutan raya (Tahura)
25
- Taman wisata alam (TWA)
e. Kawasan cagar budaya
f. Kawasan rawan bencana alam
g. Kawasan lindung lainnya
- Taman buru (TB)
- Cagar biosfir
- Kawasan perlindungan plasma nutfah
- Kawasan pengungsian satwa
- Kawasan pantai berhutan bakau
2. Kawasan budidaya
a. Kawasan hutan produksi
- Kawasan hutan produksi terbatas (HPT)
- Kawasan hutan produksi tetap (HP)
- Kawasan hutan produksi yang dapat dikonversi
b. Kawasan hutan rakyat
c. Kawasan pertanian
- Kawasan pertanian lahan basah
- Kawasan tanaman tahunan/perkebunan
- Kawasan peternakan
- Kawasan perikanan
d. Kawasan pertambangan
e. Kawasan peruntukan industri
f. Kawasan pariwisata
g. Kawasan permukiman
3. Kawasan tertentu.
Dalam rangka mengoptimalkan fungsi dan manfaat kawasan lindung maka
dilaksanakan upaya pengelolaan terhadap kawasan tersebut. Tujuan pengelolaan
kawasan lindung adalah untuk mencegah timbulnya kerusakan lingkungan dan
melestarikan fungsi lindung serta menghindari berbagai kegiatan yang merusak
lingkungan (Aliati 2007). Sedangkan pengelolaan kawasan lindung dapat
dikatakan berhasil jika konsisten mengarah pada tujuan optimasi ruang yang
26
memberikan manfaat lingkungan dan ekonomi kepada stakeholders, memelihara
keseimbangan lingkungan dan tata air serta mampu mendukung pembangunan
berkelanjutan (Supriadi, 2003).
Salah satu alasan mendasar pendirian kawasan lindung adalah keberadaan
kawasan ini akan tetap utuh selama-lamanya, untuk melestarikan nilai-nilai
biologi dan budaya yang dimilikinya. Namun, semakin banyak bukti yang
memperlihatkan adanya peningkatan gangguan serius dalam berbagai sistim
kawasan lindung dan akibatnya banyak kawasan lindung yang saat ini
terdegradasi dan hancur. Hanya beberapa kawasan yang masih tetap ada karena
berada pada lokasi yang terpencil. Pengakuan akan skala masalah yang dihadapi
oleh kawasan lindung mendorong timbulnya kebutuhan untuk melakukan
penilaian ulang terhadap desain dan pengelolaan kawasan dan juga kebutuhan
untuk mendapatkan pengetahuan yang lebih baik mengenai status dan keefektifan
pengelolaan kawasan (Marc Hocking et al, 2002).
27
METODE PENELITIAN
Kerangka Pendekatan
Pertumbuhan penduduk dan peningkatan aktivitas ekonomi yang terjadi
pada tiap waktu membutuhkan peningkatan kebutuhan akan ruang. Di sisi lain
luas ruang sifatnya tetap, walaupun dari sisi komposisi baik fisik, ekonomi dan
sosial akan selalu berubah seiring dengan perubahan pemanfaatan ruang.
Begitupun juga dengan perkembangan yang terjadi di Kabupaten Deli Serdang
yang disebabkan oleh adanya perubahan dari aktivitas penduduk wilayah dalam
memanfaatkan ruang yang ada. Perubahan pemanfaatan ruang yang ada ini jika
tidak memperhitungkan keseimbangan geobiofisik dapat berakibat pada
kemubaziran dan dampak bencana alam yang akan terjadi seperti banjir, longsor
dan lain sebagainya.
Selama ini hutan dan kawasan lindung lainnya telah mengalami degradasi
akibat adanya tekanan yang berat berupa eksploitasi yang berlebihan serta okupasi
untuk pemanfaatan lahan lainnya pada pada lahan yang tidak “bertuan” terlebih
lagi pada era otonomi daerah dimana pengurusan hutan telah diberikan kepada
Pemerintah Daerah Kabupaten. Mengingat fungsi hutan dan kawasan lindung
lainnya yang sangat vital bagi keberlangsungan hidup manusia maka sudah
seharusnya ditentukan luas minimum kawasan bervegetasi yang harus ada di suatu
wilayah termasuk arahan spasialnya yang dapat menjamin keberlanjutan proses
pembangunan dalam arti mampu meminimalkan kemungkinan-kemungkinan
bencana yang muncul.
Dalam kajian ini, kondisi wilayah Kabupaten dianalisis secara spasial untuk
menentukan kawasan hutan dan kawasan lindung yang sesuai karakteristik dan
kondisi biofisiknya harus tetap dipertahankan demi menjamin kelestarian
lingkungan dan keseimbangan pemanfaatan sumberdaya alam di Kabupaten Deli
Serdang
sesuai
dengan
prinsip
pembangunan
berkelanjutan.
Dokumen
Perencanaan Tata ruang (RTRW) Kabupaten Deli Serdang yang saat ini secara
legal digunakan diperbandingkan dengan analisisis hasil kajian dari kawasan
lindung dimaksud berdasarkan parameter fisik dari sumber data yang ada dan
28
dihasilkan sebaran dan besaran ketidaksesuaian fungsi lindung di Kabupaten Deli
Serdang. Kerangka pendekatan ini dilakukan dengan suatu pendekatan sistem
sebagaimana tertera pada Gambar 1.
Lokasi dan Waktu Penelitian
Penelitian ini dilakukan di Kabupaten Deli Serdang Propinsi Sumatera
Utara, yang secara geografis terletak diantara koordinat 2o 57’’ sampai dengan 3o
16’’ Lintang Utara serta 98o 33’’ sampai dengan 99o 27’’ Bujur Timur dengan luas
wilayah administrasi seluas 249.772 ha yang terdiri dari 22 Kecamatan, 14
Kelurahan dan 389 Desa.
Adapun batas-batas wilayah administrasi Kabupaten Deli Serdang, dapat
diuraikan sebagai berikut :
Sebelah Utara
:
berbatasan dengan Kabupaten Langkat dan Selat Malaka.
Sebelah Selatan
:
berbatasan dengan Kab. Karo dan Kab. Simalungun.
Sebelah Timur
:
berbatasan dengan Kab. Langkat dan Kab. Karo.
Sebelah Barat
:
berbatasan dengan Kab. Serdang Bedagai.
Penelitian dilaksanakan selama lima (5) bulan mulai bulan Juni sampai
dengan Oktober 2007.
29
"
#
#
%
#
#
$
!
Gambar 1. Diagram Alir Pendekatan Penelitian
30
Jenis dan Sumber Data
Data yang digunakan dikumpulkan dari berbagai instansi sesuai dengan
atribut yang akan dikaji, yaitu dari Pemerintah Kabupaten Deli Serdang,
Pemerintah Propinsi Sumatera Utara, Badan Meteoriologi dan Geofisika, Biro
Pusat Statistik (BPS), Pusat Penelitian Tanah dan Agroklimat dan Departemen
Kehutanan. Data yang dikumpulkan berupa peta-peta, peraturan/perundangan
yang berlaku dan data numerik lainnya. Jenis dan sumber data yang dikumpulkan
tertera pada Tabel 2.
Tabel 2. Jenis dan sumber data yang digunakan dalam penelitian
No
1.
Jenis Data
Skala
Sumber
Fisik
Peta Administrasi
1 : 50.000
Bappeda Kab. Deli Serdang
Peta RBI
1 : 50.000
BP DAS Medan
Peta Jenis Tanah
1 : 250.000
PPTA Bogor
Peta/Data Curah Hujan
1 : 250.000
BMG-Sampali Medan
Peta Sungai
1 : 50.000
BP DAS Medan
Peta RTRW Kabupaten
1 : 100.000
Bappeda Kab. Deli Serdang
Peta RTRW Propinsi
1 : 250.000
Bappeda Prop. Sumut
Peta Kawasan Hutan
1 : 250.000
BPKH Medan
Peta Kawasan Mangrove
1 : 250.000
BP DAS Medan
Peta landcover/landuse tahun 2005
1 : 250.000
BP DAS Medan
Peta Kerentanan Tanah Prop.Sumut
1 : 500.000
Distamben Sumut
Lokasi sebaran mata air
2.
Data Kependudukan dan Sosial Ekonomi
3.
Peraturan dan kebijakan yang terkait
dengan penataan ruang, hutan dan
kawasan lindung
-
Dishut Kab. Deli Serdang
BPS Kab. Deli Serdang
BPKH/ Bappeda Kab. Deli
Serdang
31
Analisis Data
Penyusunan Basis Data
Data masukan yang digunakan untuk mencapai tujuan penelitian ini terdiri
dari dua kategori, yaitu data spasial berupa data grafis peta dan data numerik
berupa data tabular. Sebelum dapat dilakukan operasi tumpang tindih (overlay)
dengan menggunakan sistem informasi geografis (SIG), diperlukan proses
pemasukan data kedalam bentuk digital. Peta yang masih berwujud manual
dirubah kedalam bentuk digital dengan melakukan digitasi secara layar (on screen
digitation) dan dikuti dengan pemasukan data atribut. Terhadap peta yang
memiliki sistem koordinat berbeda dilakukan tranformasi koordinat, sehingga
terusun basis data spasial dengan koordinat yang sama.
Pengolahan dan analisis data dilakukan dengan cara mengelompokkan data
berdasar temanya, memanggil data dan mengklasifikasi ukuran data dan
menumpangtindihkan data (overlay). Operasi yang dilakukan berupa dissollve,
merge, clip, intersect, union dan pemanfaatan X tools untuk menghitung luasan
area.
Analisis Kawasan Hutan
Metode yang digunakan dalam analisis kawasan hutan terdiri dari beberapa
metode antara lain :
1. Analisis kawasan hutan berdasarkan penunjukan kawasan hutan sesuai dengan
Surat Keputusan Menteri Kehutanan Nomor 44/Menhut-II/2003 tanggal 16
Pebruari 2003 tentang Penunjukan Kawasan Hutan dan Perairan Propinsi
Sumatera Utara. Teknik analisis yang dilakukan adalah dengan melakukan
overlay antara peta administrasi Kabupaten Deli Serdang dengan peta
penunjukan dimaksud.
2. Analisis kawasan hutan berdasarkan proses skoring terhadap parameter fisik
wilayah sesuai dengan kriteria Departemen Kehutanan. Analisis dilakukan
dengan mengevaluasi wilayah terhadap 3 (tiga) parameter penentu fisik
wilayah yaitu kemiringan lereng, jenis tanah dan intensitas curah hujan
32
dengan melakukan pembobotan pada masing-masing faktor tersebut sesuai
dengan kriteria pembobotan yang dilakukan oleh Badan Planologi
Departemen Kehutanan (Santoso dan Hinrichs, 2000). Kriteria pembobotan
pada masing-masing parameter tersebut tertera pada Tabel 3.
Tabel 3. Kriteria pembobotan parameter fisik berdasarkan skoring
kelas
Kemiringan
lereng
(bobot = 20)
1
0-8 %
2
8-15 %
3
15-25 %
4
25-40 %
5
>40 %
Nilai
Jenis tanah
(bobot = 15)
Alluvial, tanah Glei, Planosol,
Hidromorf
Latosol
Intensitas curah
hujan (mm/hari)
(bobot = 10)
13,6
13,6 - 20,7
Brown Forest Soil, Non Calcic,
Brown, Podsolik
Andosol, laterit, Grumusol,
Podsol, Podsolik
Regosol, Litosol, Organosol,
Renzina
20,7 - 27,7
27,7 - 34,8
>34,8
Nilai skoring untuk masing-masing parameter ditentukan dengan
mengalikan nilai kelas yang relevan dengan angka bobotnya. Skoring akhir
ini merupakan nilai indeks wilayah dari suatu kawasan yang kemudian
dievaluasi untuk menentukan fungsi kawasan seperti tertera pada Tabel 4.
Tabel 4. Indeks wilayah dan klasifikasi fungsi kawasan
No
Indeks wilayah
Klasifikasi fungsi
1
2
0 - 124
125 - 174
Hutan produksi
Hutan poduksi terbatas
3
Lebih dari 175
Hutan lindung
3. Analisis kawasan hutan berdasarkan kemampuan lahan dari suatu wilayah.
Analisis ini dilakukan dengan membuat klasifikasi kemampuan lahan dengan
metode faktor penghambat. Kriteria yang dipakai adalah dengan menilai
potensi lahan bagi penggunaan secara umum dengan membagi lahan kedalam
sejumlah kecil kategori yang dirunut jumlah dan intensitas faktor penghambat
yang berpengaruh yang mengacu kepada Klingebiel dan Montgomery (1973).
Kawasan yang ditetapkan sebagai kawasan hutan berdasarkan analisis
ini adalah kawasan dengan kemampuan lahan kelas VII dan VIII. Kelas
33
kemampuan lahan VII dan VIII ini dihasilkan dari pengklasifikasian kualitas
lahan dari karakteristik lahan penciri yaitu; tekstur tanah, permeabilitas, lereng
permukaan, drainase, kedalaman efektif tanah, tingkat erosi yang terjadi, serta
faktor khusus (batuan dan ancaman banjir) (Arsyad, 1979).
4. Analisis kawasan hutan berdasarkan analisis penutupan lahan (vegetasi) pada
kawasan hutan. Analisis ini dilakukan untuk mengevaluasi terhadap
keberadaan atau kondisi eksisting kawasan hutan pada saat ini.
Teknik
analisis ini dilakukan melalui overlay antara data/peta kawasan dengan peta
vegetasi (tutupan lahan) yang masih berupa hutan berdasarkan hasil
interpretasi citra landsat ETM..
Secara ringkas proses analisis data disajikan pada Gambar 2.
Peta Administrasi
Peta RBI
Peta Jenis Tanah
Peta/Data Curah Hujan
Peta Kontur
Peta Sungai
Peta RTRW Kabupaten
Peta RTRW Propinsi
Peta Kawasan Hutan
Peta Kawasan Mangrove
Data sebaran mata air
Peta Penggunaan lahan
Overlay, skoring,
Buffering
Analisis
Kawasan Hutan
Data
SK Menhut
Analisis Skoring
Fisik Kawasan
Analisis
Kemampuan Lahan
Peta Arahan
Kawasan Hutan
Gambar 2. Proses Analisis Kawasan Hutan
Analisis
Tutupan Lahan
34
Analisis Kawasan Lindung
Analisis kawasan lindung dilakukan berdasarkan kriteria penentuan
kawasan lindung menurut Keputusan Presiden Nomor 32 Tahun 1990 tentang
Pengelolaan Kawasan Lindung. Teknik analisis penentuan kawasan lindung yang
dilakukan adalah dengan cara melakukan overlay data/peta kondisi biofisik
Kabupaten sesuai dengan kriteria penetapan kawasan lindung berdasarkan
Keppres No. 32 Tahun 1990 seperti tertera pada Tabel 5 dan di cross tabulasikan
dengan peta administrasi Kabupaten.
- Kawasan hutan lindung
Penentuan kawasan hutan lindung dilakukan dengan cara melakukan indeks
wilayah dan klasifikasi fungsi kawasan yang memiliki nilai lebih dari 175,
memiliki ketinggian lebih dari 2000 meter serta memiliki kemiringan lebih dari
40 %. Teknik yang dilakukan adalah dengan melakukan overlay peta kawasan
hutan dengan peta ketinggian dan kemiringan lereng.
- Sempadan sungai, sempadan pantai, kawasan sekitar mata air/danau
Penentuan sempadan sungai, sempadan pantai dan kawasan sekitar mata
air/danau dilakukan dengan membuat buffer pada sungai, pantai dan mata
air/danau. Proses buffering dilakukan untuk menentukan kawasan lindung pada
kawasan dimaksud. Besarnya buffer dilakukan sepanjang 50 - 100 meter untuk
sungai, 100 meter untuk pantai serta 200 meter untuk kawasan mata air.
- Kawasan suaka alam dan kawasan pelestarian alam
Penentuan kawasan suaka alam dan kawasan pelestarian alam diperoleh dari
peta kawasan hutan yang telah ditetapkan oleh Departemen Kehutanan, serta
informasi lainnya.
- Peta rawan bencana
Penentuan kawasan rawan bencana didekati dengan peta kerentanan tanah yang
telah dibuat oleh Dinas Pertambangan dan Energi Propinsi Sumatera Utara.
Peta kerentanan tanah ini memuat informasi mengenai zona kawasan yang
rawan, agak rawan dan tidak rawan terhadap bencana longsor dari berbagai
parameter fisik.
35
- Peta kawasan hutan bakau
Penentuan kawasan hutan bakau diperoleh dari peta kawasan mangrove yang
telah ada, yang diperoleh dari Departemen Kehutanan
Tabel 5.
Kriteria kawasan lindung menurut Keputusan Presiden Nomor 32
Tahun 1990
Kriteria - kriteria
• Kawasan hutan dengan lereng, jenis tanah, intensitas hujan harian rata-rata
dengan skor melebihi 175
• Kawasan hutan dengan lereng melebihi 40 %
• Jalur pengaman sungai, minimal 100 m kanan kiri sungai besar dan 50 m
kanan kiri anak sungai diluar pemukiman
• Pelindung mata air, minimal 200 meter disekeliling mata air
• Pelindung sempadan pantai, minimal 100 m dari titik pasang tertinggi ke
arah darat
• Pelindung danau/waduk, 50 – 100 meter dari titik pasang tertinggi ke arah
darat
• Kawasan rawan bencana, yaitu yang berpotensi mengalami longsor, letusan
gunung berapi dan gempa bumi
• Kawasan hutan dengan ketinggian 2000 meter di atas permukaan laut
• Kawasan gambut dihulu sungai dengan tebal 3 meter atau lebih
• Kawasan resapan air, yaitu daerah dengan curah hujan tinggi mempunyai
geomorfologi dan struktur tanah yang mudah meresapkan air secara besarbesaran
• Kawasan hutan bakau, minimal 130 kali nilai rata-rata perbedaan air pasang
tertinggi dan terendah tahunan diukur dari garis air surut terendah kearah
darat
• Kawasan suaka alam, taman nasional dan cagar budaya
36
Secara ringkas proses analisis data dapat dilihat pada Gambar 3.
Peta Administrasi
Peta RBI
Peta Jenis Tanah
Peta/Data Curah Hujan
Peta Kontur
Peta Sungai
Peta RTRW Kabupaten
Peta RTRW Propinsi
Peta Kawasan Hutan
Peta Kawasan Mangrove
Data sebaran mata air
Peta Penggunaan lahan
Peta Kerentanan Tanah
Overlay, skoring,
Buffering
Analisis Kawasan Lindung
(Keppres No.32/1990)
Peta Arahan
Kawasan Lindung
Gambar 3. Proses Analisis Kawasan Lindung
Analisis Kemungkinan Penyimpangan Fungsi Kawasan Lindung
Analisis kemungkinan penyimpangan fungsi kawasan lindung dilakukan
dengan Teknik overlay antara :
1. Peta rencana tata ruang wilayah (RTRW) Kabupaten dan peta rencana tata
ruang wilayah (RTRW) Propinsi dengan penggunaan lahan eksisting.
2. Peta rencana tata ruang wilayah (RTRW) Kabupaten dan peta rencana tata
ruang wilayah (RTRW) Propinsi dengan peta arahan kawasan lindung.
3. Peta arahan kawasan lindung dengan kondisi penggunaan lahan eksisting.
Berdasarkan
analisis
ini
akan
diketahui
prosentase
kemungkinan
penyimpangan pemanfaatan kawasan lindung di Kabupaten Deli Serdang.
37
Analisis Tekanan Penduduk
Analisis
tekanan
penduduk
dilakukan
untuk
mengidentifikasi
ketergantungan penduduk terhadap lahan, terutama kemungkinan terhadap
degradasi hutan dan degradasi kawasan lindung lainnya. Tekanan penduduk
disebabkan karena lahan pertanian disuatu daerah tidak cukup untuk mendukung
kehidupan penduduk pada tingkat yang dianggap layak, sehingga penduduk
berusaha untuk mendapatkan tambahan pendapatan antara lain dengan membuka
lahan baru (UML, 2005)
Nilai tekanan penduduk dihitung dengan menggunakan persamaan yang
dilakukan oleh Soemarwoto (1985) dengan satuan analisis wilayah desa, sebagai
berikut :
PPt
=
Zt
ft P0 (1+r)t
Dimana :
Lt
PPt = Indeks tekanan penduduk
Zt
= Luas lahan minimal per petani untuk dapat hidup (ha/orang)
P0
= Jumlah penduduk pada t0 (jiwa)
Ft
= Proporsi petani dalam populasi
r
= Tingkat pertumbuhan penduduk rata-rata per tahun
t
= Rentang waktu dalam tahun
Lt
= Total luas lahan pertanian (ha)
Nilai indeks tekanan penduduk merupakan faktor yang mendorong
penduduk untuk melakukan perluasan lahan. Nilai ini baru berarti jika nilainya
lebih besar dari 1 (satu).
Penyajian Hasil
Data spasial dan hasil analisis dipetakan menggunakan software Arcview
3.3, serta disajikan dengan koordinat UTM dan tidak semua objek digambarkan
pada peta, hal ini dimaksudkan untuk memperjelas gambar pada peta. Skala peta
38
menggunakan skala grafis, disesuaikan dengan ukuran media kertas yang
digunakan untuk pembuatan peta, dan data tabular setiap poligon disajikan dalam
bentuk tabel.
Batasan-Batasan
Beberapa batasan dalam kajian ini adalah :
1. Wilayah kajian adalah Kabupaten Deli Serdang Propinsi Sumatera Utara.
2. Data biofisik dan sosial ekonomi disajikan dalam batas wilayah administrasi
yang telah ditetapkan oleh Pemerintah Kabupaten Deli Serdang.
3. Arahan kawasan hutan adalah peruntukan kawasan hutan yang harus tetap
dipertahankan dengan kondisi eksisting hutan sesuai dengan analisis kondisi
biofisik di wilayah Kabupaten Deli Serdang.
4. Arahan kawasan lindung adalah peruntukan kawasan tertentu dengan fungsi
utama melindungi kelestarian lingkungan hidup sesuai dengan Peraturan
Pemerintah.
5. Dokumen perencanaan tata ruang (RTRW) Kabupaten Deli Serdang yang saat
ini secara legal digunakan adalah RTRW Kabupaten Deli Serdang tahun
1999-2009 dan RTRW Propinsi Sumatera Utara tahun 2003-2018 di wilayah
Kabupaten Deli Serdang.
6. Kondisi eksisting wilayah Kabupaten Deli Serdang didasarkan dari peta
landuse/landcover tahun 2005.
7. Luasan wilayah hasil kajian didasarkan atas perhitungan di dalam peta yang
telah dikonversi dengan luas wilayah administrasi Kabupaten yang telah
ditetapkan.
39
KONDISI UMUM WILAYAH PENELITIAN
Letak Geografis dan Administrasi
Kabupaten Deli Serdang merupakan bagian dari wilayah Propinsi Sumatera
Utara dan secara geografis Kabupaten ini terletak pada 2º 57’ - 3º 16’ Lintang
Utara dan 98º 33’ - 99º 27’ Bujur Timur dengan Ibukota Kabupaten yang terletak
di Kecamatan Lubuk Pakam.
Adapun batas-batas wilayah administrasi Kabupaten Deli Serdang, dapat
diuraikan sebagai berikut :
Sebelah Utara
: berbatasan dengan Kabupaten Langkat dan Selat Malaka.
Sebelah Selatan
: berbatasan dengan Kabupaten Tanah Karo dan Kabupaten
Simalungun.
Sebelah Barat
: berbatasan dengan Kabupaten Langkat dan Kabupaten Tanah
Karo
Sebelah Barat
: berbatasan dengan Kabupaten Serdang Bedagai.
Kondisi wilayah Kabupaten Deli Serdang terletak mengelilingi Kota
Medan, sehingga seakan-akan Kota Medan merupakan bagian dari Kabupaten
Deli Serdang. Pada Tahun 2003 Kabupaten Deli Serdang telah mengalami
pemekaran menjadi 2 (dua) wilayah Kabupaten, yaitu Kabupaten Deli Serdang
dan Kabupaten Serdang Bedagai. Adapun luas Kabupaten Deli Serdang saat ini
adalah 2.497,72 km2 atau 249.772 ha yang terdiri dari dua puluh dua (22)
Kecamatan, empat belas (14) Kelurahan dan tiga ratus delapan puluh sembilan
(389) Desa. Secara umum pembagian dan luasan wilayah administrasi Kabupaten
Deli Serdang tertera dalam Tabel 6 dan Gambar 4.
40
Tabel 6. Luas wilayah administrasi Kabupaten Deli Serdang
No
Kecamatan
1
Gunung Meriah
2
Luas
(ha)
Prosentase
(%)
7.665
3,07
Sinembah Tanjung Muda (STM) Hulu
22.338
8,94
3
Sibolangit
17.996
7,20
4
Kutalimbaru
17.492
7,00
5
Pancur Batu
12.253
4,91
6
Namorambe
6.230
2,49
7
Biru-biru
8.969
3,59
8
Sinembah Tanjung Muda (STM) Hilir
19.050
7,63
9
Bangun Purba
12.995
5,20
10
Galang
15.029
6,02
11
Tanjung Morawa
13.175
5,27
12
Patumbak
4.679
1,87
13
Deli Tua
936
0,37
14
Sunggal
9.252
3,70
15
Hamparan Perak
23.015
9,21
16
Labuhan Deli
12.723
5,09
17
Percut Sei Tuan
19.079
7,64
18
Batang Kuis
4.034
1,62
19
Pantai Labu
8.185
3,28
20
Beringin
5.269
2,11
21
Lubuk Pakam
3.119
1,25
22
Pagar Merbau
6.289
2,52
249.772
100,00
Luas wilayah keseluruhan
Sumber : BPS, Kabupaten Deli Serdang Dalam Angka 2005
41
Gambar 4. Peta Administrasi Kabupaten Deli Serdang
42
Kondisi Fisik Wilayah
Wilayah Kabupaten Deli Serdang mempunyai bentuk wilayah yang beragam
dengan topografi, kemiringan lahan (kontur) dan iklim yang bervariasi.
Topografi dan Kemiringan Lereng
Wilayah Kabupaten Deli Serdang pada umumnya berada pada ketinggian
0 – 500 meter di atas permukaan laut. Pada umumnya wilayah Kabupaten Deli
Serdang berada pada wilayah yang relatif datar hingga bergelombang dengan
kemiringan dominan berkisar antara 0 – 15 %. Namun pada daerah tertentu,
terdapat kemiringan yang relatif bergelombang hingga terjal dengan kemiringan
lereng berkisar antara 15 – 40 %. Keadaan topografi di wilayah Kabupaten Deli
Serdang secara umum diuraikan sebagai berikut :
a. Wilayah Kabupaten Deli Serdang yang berada pada ketinggian 0 - 500 meter di
atas permukaan laut adalah 223.646 ha (89,54 % dari luas wilayah Kabupaten
Deli Serdang) yang tersebar di seluruh Kecamatan di Kabupaten Deli Serdang.
b. Wilayah Kabupaten Deli Serdang yang berada pada ketinggian > 500 meter di
atas permukaan laut, adalah 26.126 ha (10,46 % dari luas wilayah Kabupaten
Deli Serdang), yang terdapat di Kecamatan Gunung Meriah, STM Hilir, STM
Hulu dan Sibolangit.
Sedangkan kemiringan lereng di wilayah Kabupaten Deli Serdang secara
umum diuraikan sebagai berikut:
a. Wilayah Kabupaten Deli Serdang yang berada pada kemiringan 0 – 40 %,
terdapat adalah 248.869 ha (99,64 % dari luas wilayah Kabupaten Deli
Serdang) yang tersebar di seluruh Kecamatan di Kabupaten Deli Serdang.
b. Wilayah Kabupaten Deli Serdang dengan kemiringan > 40 %, terdapat pada
kawasan hutan seluas 901 ha (0,36 % dari luas wilayah Kabupaten Deli
Serdang) yang terdapat di Kecamatan Gunung Meriah, STM Hilir, STM Hulu,
Sibolangit, Kutalimbaru, dan Sibiru-biru
Keadaan topografi dan kemiringan lereng di Kabupaten Deli Serdang
selengkapnya tertera pada Tabel 7 dan Tabel 8 .
43
Tabel 7. Luas wilayah berdasarkan ketinggian di Kabupaten Deli Serdang
No
Kecamatan
Luas wilayah berdasarkan
ketinggian (ha)
0 - 500 m
1
Gunung Meriah
2
Sinembah Tanjung Muda Hulu
3
Sibolangit
4
500-1000 m
> 1000 m
2.125
5.325
215
14.170
7.846
322
9.652
7.585
759
Kutalimbaru
14.915
1.790
1.183
5
Pancur Batu
12.253
-
-
6
Namo Rambe
6.230
-
-
7
Sibiru Biru
8.969
-
-
8
Sinembah Tanjung Muda Hilir
17.949
1.101
-
9
Bangun Purba
12.995
-
-
10
Galang
13.534
-
-
11
Tanjung Morawa
13.175
-
-
12
Patumbak
4.679
-
-
13
Deli Tua
936
-
-
14
Sunggal
9.252
-
-
15
Hamparan Perak
23.015
-
-
16
Labuhan Deli
12.723
-
-
17
Percut Sei Tuan
19.079
-
-
18
Batang Kuis
4.034
-
-
19
Pantai Labu
8.185
-
-
20
Beringin
5.269
-
-
21
Lubuk Pakam
3.119
-
-
22
Pagar merbau
6.289
-
-
223.646
23.647
2.479
89,54
9,47
0,99
Luas keseluruhan
Persentase (%)
Sumber : Bappeda Kabupaten Deli Serdang (2005)
44
Tabel 8. Luas wilayah berdasarkan kemiringan lereng di Kabupaten Deli Serdang
No
Kecamatan
Luas wilayah berdasarkan
kemiringan lereng (ha)
0-25 %
25-40 %
> 40 %
6.930
589
146
1
Gunung Meriah
2
Sinembah Tanjung Muda Hulu
22.183
1.048
154
3
Sibolangit
17.648
1.504
346
4
Kutalimbaru
16.796
573
123
5
Pancur Batu
12.200
47
6
6
Namo Rambe
6.176
49
5
7
Biru Biru
8.787
156
26
8
Sinembah Tanjung Muda Hilir
18.370
588
92
9
Bangun Purba
12.937
53
5
10
Galang
15.027
2
-
11
Tanjung Morawa
13.175
-
-
12
Patumbak
4.679
-
-
13
Deli Tua
936
-
-
14
Sunggal
9.252
-
-
15
Hamparan Perak
23.015
-
-
16
Labuhan Deli
12.723
-
-
17
Percut Sei Tuan
19.079
-
-
18
Batang Kuis
4.034
-
-
19
Pantai Labu
8.185
-
-
20
Beringin
5.269
-
-
21
Lubuk Pakam
3.119
-
-
22
Pagar merbau
6.289
-
-
246,809
4.608
901
98,81
0,82
0,36
Luas keseluruhan
Persentase (%)
Sumber : Bappeda Kabupaten Deli Serdang (2005)
45
Keadaan Iklim
Sesuai dengan kondisi geografis, topografi dan ketinggian wilayah, maka
keadaan iklim di Kabupaten Deli Serdang juga bervariasi. Pada wilayah sepanjang
pantai timur, pada umumnya memiliki udara agak panas, yang dipengaruhi oleh
angin laut, sedangkan pada wilayah pengunungan (Kecamatan Sibolangit dan
Gunung Meriah) beriklim tropis basah dengan udara sejuk yang dipengaruhi oleh
iklim pegunungan. Curah hujan rata-rata pertahun adalah 4.186,6 milimeter
dengan curah hujan tertinggi terjadi pada Bulan September sampai dengan bulan
Desember dengan curah hujan berkisar antara 12 sampai dengan 521 mm/bulan.
Pembagian wilayah Kabupaten Deli Serdang berdasarkan tipe iklimnya tertera
pada Tabel 9.
Tabel 9. Tipe iklim di Kabupaten Deli Serdang
No
1
2
3
4
5
Tipe iklim
Bulan
Bulan
(Oldeman)
basah
kering
E2
<3
2-3
D1
3-4
<2
C1
5-6
<2
B1
7-9
<2
A
>9
<2
Luas keseluruhan
Luas wilayah
(ha)
(%)
74.941
30,00
88.226
35,32
40.237
16,11
23
0,01
46.345
18,55
249.772
100.00
Sumber : BMG Sampali- Medan (2007)
Keadaan Hidrologi
Wilayah Kabupaten Deli Serdang memiliki 5 (lima) Daerah Aliran Sungai
(DAS) yaitu DAS Belawan, DAS Deli, DAS Belumai, DAS Percut dan DAS Ular
yang semuanya bermuara ke selat malaka, dengan wilayah hulunya berada
bersama-sama dengan Kabupaten Simalungun dan Kabupaten Karo. Memiliki
sungai yang stabil karena setiap tahun Base Flow-nya relatif stabil, diantaranya
adalah Sungai Ular yang merupakan sungai dengan aliran terluas (750 km2), juga
sekaligus merupakan batas antara Kabupaten Deli Serdang dengan Kabupaten
Serdang Bedagai. Sedangkan sungai lainya diantaranya adalah sungai Belawan
(647 km2), Sungai Deli (358 Km2), Sungai Percut (186 km2), Sungai Serdang (343
km2), Sungai Belumai (162 km2), Sungai Belutu (444 km2) dan Sungai Padang
(684 km2).
46
Jenis Tanah
Jenis tanah yang terdapat di Kabupaten Deli Serdang umumnya didominasi
oleh jenis tanah alluvial, litosol, regosol, andosol, latosol, podsolik dan
hidromorfik/gley. Jenis tanah podsolik coklat kekuningan meliputi 75.525 ha atau
30,24 % dari luas wilayah Kabupaten Deli Serdang yang terdapat dibagian selatan
wilayah Kabupaten Deli Serdang. Jenis tanah kompleks alluvial, regosol,
organosol meliputi luas 19.884 ha (7,96 % dari luas wilayah Kabupaten Deli
Serdang) yang terdapat di sepanjang pinggiran pantai timur. Pembagian wilayah
Deli Serdang berdasarkan jenis tanahnya tertera pada Tabel 10 .
Tabel 10. Luas dan jenis tanah di Kabupaten Deli Serdang
No
Satuan jenis tanah
Luas
(ha)
(%)
1 Kompleks Aluvial, Regosol, Organosol
19.884
7,96
2 Hidromorfik kelabu
65.870
26,37
3 Podsolik/Litosol/Regosol
23.915
9,57
4 Andosol coklat
28.578
11,44
5 Podsolik coklat kekuningan
75.525
30,24
6 Podsolik merah kekuningan
36.000
14,41
249.772
100,00
Luas keseluruhan
Sumber : Bappeda Kabupaten Deli Serdang (2005)
Pola Penggunaan Lahan
Pola penggunaan lahan di Kabupaten Deli Serdang umumnya didominasi
oleh penggunaan untuk perkebunan baik perkebunan besar maupun perkebunan
rakyat yang hampir merata berada di seluruh wilayah Kecamatan di Kabupaten
Deli Serdang, dengan luas sekitar 91.805 ha atau 36,75 % dari luas wilayah
Kabupaten Deli serdang. Penggunaan lahan sebagai daerah persawahan umumnya
berada pada bagian utara wilayah dengan luas sekitar 50.515 ha atau (20,22 %)
sedangkan pada bagian selatan pada umumnya didominasi oleh penggunaan untuk
ladang/tegalan/huma dengan luas sekitar 40.048 ha atau (16,03 %). Secara umum
berdasarkan data komposisi penggunaan lahan di wilayah Kabupaten Deli
Serdang dari tahun 2000 - 2004 memperlihatkan bahwa luas penggunaan lahan
47
untuk perkebunan (perkebunan besar dan perkebunan rakyat) dan luas
permukiman semakin bertambah luas sedangkan luas sawah (tadah hujan dan
irigasi) dan tegalan/kebun campuran hampir tidak bertambah dan ada indikasi/
kecenderungan menurun seperti tertera pada Tabel 11.
Tabel 11. Komposisi penggunaan lahan di Kabupaten Deli Serdang
No
Jenis penggunaan lahan
2000
Luas wilayah pada tahun (ha)
2001
2002
2003
2004
1
Hutan
29.262
29.262
29.262
29.262
29.262
2
Semak/alang-alang
22.066
22.066
22.066
21.821
21.821
3
Perkebunan besar
57.221
57.221
59.689
59.689
63.652
4
Perkebunan rakyat
31.816
26.072
28.48
23.835
28.153
5
Tegalan/kebun campuran
44.586
49.631
44.726
48.47
40.048
6
Sawah
50.385
50.154
49.751
50.943
50.515
7
Permukiman
14.436
15.366
15.799
15.753
16.321
249.772 249.772
249.772
249.772
249.772
Luas keseluruhan
Sumber : Kabupaten Deli Serdang Dalam Angka, BPS 2000-2004
Kondisi Sosial dan Ekonomi
Penduduk
Kabupaten Deli Serdang merupakan Kabupaten yang terbesar dari segi
jumlah penduduknya di Sumatera Utara. Menurut hasil pencacahan lengkap
sensus penduduk tahun 2000, penduduk Kabupaten Deli Serdang pada bulan Juni
2000 adalah 1.956.996 jiwa, dan berdasarkan hasil pendaftaran pemilih dan
pendataan penduduk berkelanjutan (P4B), jumlah penduduk Kabupaten Deli
Serdang tahun 2003 setelah pemekaran adalah 1.486.094 jiwa dan pada tahun
2004 jumlah penduduk Kabupaten Deli Serdang adalah 1.539.687 jiwa, dan 2005
sebesar 1.582.213. perlembangan dan distribusi penduduk secara lebih rinci
tertera pada Tabel 12 .
48
Tabel 12. Perkembangan dan distribusi penduduk Deli Serdang tahun 2000-2005
No
Kecamatan
1
Gunung Meriah
2
Jumlah penduduk tahun
20 00
20 04
20 05
Kepadatan
Rate
penduduk
(%)
2.993
2.549
2.536
33
0 ,1 6
STM Hulu
10.889
11.373
11.617
52
0 ,7 3
3
Sibolangit
19.120
33.497
19.724
110
1 ,2 5
4
Kutalimbaru
27.665
19.309
34.216
196
2 ,1 6
5
Pancur Batu
63.883
75.584
77.207
630
4 ,8 8
6
Namorambe
23.096
25.161
25.701
413
1 ,6 2
7
Biru-biru
26.738
30.863
31.526
351
1 ,9 9
8
STM Hilir
26.030
27.552
28.144
148
1 ,7 8
9
Bangun Purba
29.337
24.945
34.926
269
2 ,2 1
10
Galang
75.974
64.369
65.752
438
4 ,1 6
11
Tanjung Morawa
14.5311
1 6 3 .2 2 2
1 6 6 .7 2 8
126 5
10,54
12
Patumbak
55.220
67.111
68.552
146 5
4 ,3 3
13
Deli Tua
44.958
52.989
54.127
578 3
3 ,4 2
14
Sunggal
1 6 9 .2 4 2
2 0 3 .7 5 8
2 0 8 .1 3 4
225 0
13,15
15
Hamparan Perak
1 1 5 .2 9 9
1 3 0 .4 8 0
1 3 3 .3 4 8
579
8 ,4 3
16
Labuhan Deli
43.660
50.601
51.691
406
3 ,2 7
17
Percut Sei Tuan
2 6 7 .5 7 0
3 0 3 .4 9 7
3 1 0 .0 1 6
162 5
19,59
18
Batang Kuis
38.312
45.776
46.759
115 9
2 ,9 6
19
Pantai Labu
34.435
40.396
41.264
504
2 ,6 1
20
Beringin
42.295
48.138
49.172
933
3 ,1 1
21
Lubuk Pakam
71.236
86.872
88.738
284 5
5 ,6 1
22
Pagar Merbau
28.537
31.655
32.335
514
2 ,0 4
1.361.930 1.539.697 1.582.213
633
100
Luas keseluruhan
Sumber : BPS, Kabupaten Deli Serdang Dalam Angka 2005
Pada tahun 2005 komposisi penduduk Kabupaten Deli Serdang dapat
diuraikan sebagai berikut : jumlah anak balita (0-4 Tahun) adalah 176.477 orang,
usia 5-14 tahun adalah 358.768, usia 15-64 tahun adalah 950.366 jiwa, sedangkan
untuk lanjut usia 65 tahun keatas adalah 52.270 orang. Bila ditinjau dari jenis
kelamin, jumlah penduduk laki-laki adalah 795.610 jiwa dan perempuan adalah
49
786.603 jiwa. Angka ratio jenis kelamin (rjk) sebesar 101,14, dimana angka
tersebut menggambarkan komposisi penduduk laki-laki lebih besar dari penduduk
perempuan.
Kepadatan penduduk Kabupaten Deli Serdang pada tahun 2005 adalah
sebesar 633 jiwa/km2. Kepadatan penduduk terbesar adalah di Kecamatan Deli
Tua yaitu sebesar 5783 jiwa/km2, disusul Kecamatan Sunggal (2250 jiwa/km2),
sedangkan Kecamatan dengan kepadatan rendah adalah Kecamatan Gunung
Meriah (33 jiwa/km2) dan Kecamatan STM Hulu (52 jiwa/km2).
Ketenagakerjaan
Berdasarkan lapangan usaha penduduk, sebanyak 33,91% penduduk
Kabupaten Deli Serdang bekerja pada sektor pertanian. Sektor perdagangan
mencapai 17,12 %, sektor industri sekitar 14,45% dan sektor jasa mencapai
15,56%. Sedangkan sektor terendah adalah sektor pertambangan dan penggalian
dan sektor listrik, gas dan air minum masing-masing 0,06% dan 0,76% (BPS,
2005).
Ekonomi
Secara umum pertumbuhan ekonomi dari tahun 2001-2005 Kabupaten Deli
Serdang adalah sekitar 4,02 % per tahun dengan penyumbang terbesar terhadap
PDRB Kabupaten Deli Serdang pada periode tersebut, baik dalam harga konstan
maupun harga berlaku adalah sektor industri. Penyumbang terbesar kedua adalah
sektor pertanian; dan ketiga adalah sektor perdagangan.
50
HASIL DAN PEMBAHASAN
Arahan Kawasan Hutan
Kawasan Hutan berdasarkan Keputusan Menteri Kehutanan Nomor
44/Menhut-II/2003
Saat ini kawasan hutan di Kabupaten Deli Serdang yang secara formal
masih diakui adalah 80.083 ha (32,02 % dari luas wilayah Kabupaten Deli
Serdang) berdasarkan Surat Keputusan Menteri Kehutanan Nomor 44/MenhutII/2003 tanggal 16 Pebruari 2003 tentang Penunjukan Kawasan Hutan dan
Perairan Propinsi Sumatera Utara. Sebaran luasan dan fungsi kawasan hutan di
Kabupaten Deli serdang tertera dalam Tabel 13 dan Gambar 5.
Tabel 13. Kawasan hutan berdasarkan Keputusan Menteri Kehutanan Nomor
44/ Menhut-II/2003
No
Fungsi Kawasan
Luas (ha)
1
Hutan suaka alam
22.185
2
Hutan lindung
7.465
3
Hutan produksi terbatas
7.654
4
Hutan produksi
5
Hutan produksi konversi
41.843
Luas kawasan hutan
936
80.083
*) Luas didasarkan perhitungan di peta
Pada umumnya
kawasan hutan di Kabupaten Deli Serdang telah
dikukuhkan dan mempunyai nomor register, dan sebagian besar masyarakat
sekitar hutan telah mengetahuinya. Kawasan hutan secara “clear and clean” baik
secara legal formal maupun kondisi tutupannya merupakan faktor utama dalam
upaya perlindungan dan pelestarian kawasan hutan terutama pada kawasan suaka
alam dan hutan lindung. Adapun wilayah yang secara fungsinya ditetapkan
sebagai kawasan hutan suaka alam di Kabupaten Deli Serdang adalah :
51
Gambar 5. Peta Kawasan Hutan Kabupaten Deli Serdang
52
1) Cagar Alam /Taman Wisata Sibolangit (register 5/D)
Secara administrasi kawasan ini terletak di Desa Sibolangit Kecamatan
Sibolangit (± 40 Km dari kota Medan) dengan luas 120 ha yang terdiri dari
Cagar Alam Sibolangit (zona inti) dan Taman Wisata Alam. Kawasan ini
didirikan pada tahun 1914 oleh J. A. Lrozing sebagai Kebun Raya Sibolangit
yang merupakan cabang dari Kebun Raya Bogor yang dalam perkembangan
selanjutnya berdasarkan Keputusan Menteri Pertanian No. 636/Kpts/Um/ 1980
ditetapkan sebagai kawasan Cagar Alam Sibolangit.
Kawasan ini merupakan kawasan yang memiliki beraneka ragam
tumbuhan tidak hanya sebagai koleksi bagi ilmu pengetahuan (laboratorium
alam) juga merupakan kawasan pengembangan pariwisata. Potensi vegetasi
yang banyak dijumpai didominasi oleh pohon-pohon besar seperti : angsana
(Pterocarpus indicus), nyamplung (Calophyllum inophillum), meranti
(Shorea, sp), juga terdapat jenis tanaman palem, pinang dan durian. Bahkan
pada kawasan Taman Wisata Sibolangit juga ditemukan salah satu tumbuhan
yang tergolong langka dan mempunyai daya tarik tersendiri, yaitu bunga
bangkai (Amorphophallus titanum). Sedangkan satwa yang sering dijumpai
adalah jenis kera dan lutung disamping juga jenis lainnya seperti babi hutan,
trenggiling dan kancil.
2) Suaka Margasatwa Karang Gading
Kawasan ini secara administratif pemerintahan terletak di (2) dua
Kabupaten yaitu di Kabupaten Deli Serdang (berada di Kecamatan Labuhan
Deli dan Hamparan Perak) dan di Kabupaten Langkat. Kawasan ini
merupakan kawasan ekosistem hutan pantai (mangrove) yang telah disyahkan
sejak tanggal 24 September 1932 oleh Gubernur Pesisir Timur Pulau Perca,
yang selanjutnya ditetapkan oleh Menteri Pertanian pada tahun 1980 dengan
No. 811/Kpts/Um/11/1980 dengan status sebagai kawasan Suaka Margasatwa,
dengan total luas 15,765 ha. Adapun kawasan hutan SM Karang Gading yang
berada di wilayah Kabupaten Deli Serdang seluas 6,245 ha (register 2/D).
Kawasan SM Karang Gading ini merupakan kawasan ekosistem hutan
pantai/mangrove yang vegetasi dominannya adalah dari jenis bakau
53
(Rhizophora
apiculata),
langgadai
(Bruqueira
parviflora),
buta-buta
(excocaria sp), nyirih (Xylocarpus granatum) dan nipah (Nipa frustican).
Sedangkan jenis satwa yang banyak dijumpai adalah Kera (Macaca
fascicularis), lutung (Presbytis cristata) dan burung raja udang (Alcedo
althis). Selain itu juga terdapat elang laut, ular, ikan dan beberapa jenis
mamalia lainnya. Kawasan ini juga mempunyai potensi
yang dapat
dikembangkan sebagai lokasi ekowisata seperti rekreasi hutan bakau,
memancing dan lokasi fotografi.
3) Taman Hutan Raya (Tahura) Bukit Barisan
Kawasan Tahura Bukit Barisan ini merupakan Tahura ketiga di yang
ditetapkan di Indonesia sesuai dengan Keputusan Presiden RI No. 48 Tahun
1988 tanggal 19 Nopember 1988. Tahura Bukit Barisan ini adalah unit
pengelolaan yang berintikan kawasan lindung meliputi: hutan lindung Sibayak
I dan hutan lindung Simancik, hutan lindung Sibayak II dan hutan lindung
Simancik II dan hutan lindung Sinabung serta kawasan konservasi lainnya
yang terdiri dari CA/TW Sibolangit, SM Langkat Selatan, TW Lau Debukdebuk dan Bumi Perkemahan Pramuka Sibolangit.
Secara umum luas Tahura adalah 51,600 ha yang secara administratif
termasuk dalam wilayah Kabupaten Deli Serdang, Kabupaten Langkat,
Kabupaten Serdang Bedagai, Kabupaten Tanah Karo dan Kabupaten
Simalungun. Adapun kawasan Tahura yang terletak di Kabupaten Deli
Serdang adalah hutan lindung Sibayak I (register I/D) seluas 7.030 ha dan
hutan lindung Simancik I (register I/SG) seluas 9.800 ha.
Vegetasi didominasi oleh jenis pohon jenis lokal maupun jenis yang
berasal dari luar. Beberapa jenis tersebut adalah Pinus merkusii, Altingia
exelsa, Schima walichii, Podocarpus sp, Toona sureni, dan jenis lain seperti
durian, pulai, aren, rotan dan lainnya. Sedangkan jenis satwa yang sering
dijumpai adalah kera, siamang, babi hutan, kancil, burung rangkong dan
lainnya. Adapun potensi lain yang penting adalah potensi ekowisata dan
laboratorium alam.
54
Gambar 6. Cagar Alam Sibolangit di Kabupaten Deli Serdang
Kawasan hutan yang fungsinya ditetapkan sebagai hutan produksi pada
umumnya belum mempunyai batas yang jelas dan teregister, kecuali pada
kawasan hutan Belawan (register 3/D) dan kawasan hutan Percut (register 4/D)
yang berfungsi sebagai kawasan sebagai hutan produksi terbatas. Kawasan ini
merupakan kawasan ekosistem pantai/mangrove seperti pada kawasan Suaka
Margasatwa Karang Gading yang mempunyai fungsi utama sebagai penyangga
(Buffer) dari daratan, pelindung abrasi dan tempat hidup berbagai macam jenis
satwa dan ikan.
Kawasan hutan produksi lainnya yang belum sepenuhnya ditata batas secara
penuh dan belum dikukuhkan (ter-register) mempunyai potensi konflik
kepentingan dalam penggunaan/peruntukkan kawasan. Hal ini menjadi tugas bagi
Pemerintah Daerah Kabupaten yang telah diberikan wewenang dalam mengelola
sumberdaya alam secara berimbang dan berkelanjutan.
55
Kawasan Hutan berdasarkan Skoring Fisik Kawasan
Analisis skoring fisik wilayah dilakukan dengan mengevaluasi 3 (tiga)
parameter penentu fisik wilayah yaitu kemiringan lereng, jenis tanah dan
intensitas curah hujan berdasarkan kriteria arahan klasifikasi fungsi kawasan
Departemen Kehutanan. Hasil skoring terhadap parameter fisik tersebut
menunjukkan bahwa kawasan hutan yang harus tetap dipertahankan baik secara
fisik dan fungsi kawasannya adalah 9.590 ha (3,84 % dari luas wilayah Kabupaten
Deli Serdang). Kawasan hutan ini merupakan kawasan hutan yang berfungsi
lindung. Kawasan hutan ini terletak di bagian hulu wilayah Kabupaten Deli
Serdang yaitu di Kecamatan Kutalimbaru, STM Hilir, Sibiru-biru, STM Hulu,
Gunung Meriah dan Sibolangit seperti tertera pada Tabel 14 dan Gambar 7.
Tabel 14. Kawasan hutan berdasarkan skoring fisik kawasan
No
Kecamatan
Nilai Indeks/Skoring
Fungsi kawasan
1 Kutalimbaru
230
Hutan lindung
1.208
2 STM. Hilir
225
Hutan lindung
636
3 Sibiru-biru
220
Hutan lindung
117
4 Sibolangit
200
Hutan lindung
1.902
5 STM Hulu
190
Hutan lindung
3.107
6 Gunung Meriah
180
Hutan lindung
2.619
Luas keseluruhan
Luas (ha)
9.590
*) Luas didasarkan perhitungan di peta
Kawasan hutan ini merupakan kawasan hutan lindung yang secara fungsinya
merupakan pengatur sistem hidro-orologis bagi kawasan di bagian bawahnya.
Kawasan ini dapat dimanfaatkan sebagai kawasan resapan air yang dapat
dimanfaatkan dalam penyediaan air minum terutama bagi masyarakat sekitarnya.
Mengingat fungsinya yang sangat penting tersebut, maka kawasan hutan ini
secara mutlak harus tetap dipertahankan fisiknya sebagai kawasan hutan dengan
ekosistem yang ada di dalamnya tanpa adanya gangguan yang akan
mempengaruhi fungsi ekologis di dalamnya.
56
Gambar 7. Peta Kawasan Hutan Berdasarkan Hasil Skoring Fisik Kawasan
57
Kawasan Hutan berdasarkan Kemampuan Lahan
Hasil analisis kemampuan lahan menunjukkan bahwa lahan di wilayah
Kabupaten Deli Serdang terdiri dari kelas kemampuan I-VIII. Berdasarkan
analisis kemampuan lahannya tersebut, sebagian besar wilayah Kabupaten Deli
Serdang merupakan kawasan dengan kelas kemampuan lahan I-IV yang
merupakan lahan yang sesuai untuk dimanfaatkan sebagai areal pertanian dan
pekebunan atau pemanfaatan produktif lainnya.
Berdasarkan kelas kemampuan lahannya, maka kawasan yang ditetapkan
sebagai kawasan hutan adalah areal dengan kelas kemampuan VII-VIII. Hasil
analis menunjukkan bahwa areal yang berdasarkan kelas kemampuan lahannya
dikategorikan sebagai kelas VII-VIII adalah 24.029 ha (9,62 % dari luas wilayah
Kabupaten Deli Serdang). Hasil evaluasi kemampuan lahan tersebut tertera dalam
Tabel 15 dan Gambar 8. Tabel 15 menunjukkan bahwa lahan dengan kelas
kemampuan lahan VII dan VIII adalah kawasan dengan bentang lahan perbukitan,
pegunungan, plato dan strato volkan. Bentang lahan ini pada umumnya dijumpai
dibagian hulu (upstream areas) serta memiliki kemiringan lereng yang curam dan
terjal.
Hal ini menggambarkan bahwa kawasan yang harus tetap dipertahankan
sebagai kawasan hutan adalah kawasan yang secara fisik luasan dan vegetasi
penutup lahannya adalah kawasan yang berada pada bagian hulu wilayah
Kabupaten Deli Serdang. Perlindungan kawasan ini sangat penting dilakukan,
karena keberadaan kawasan ini memberikan pengaruh yang langsung terhadap
keberadaan kawasan yang ada di bagian bawahnya (hilir), terutama sebagai
kawasan resapan air dan kawasan perlindungan dari bahaya longsor dan banjir
bagi kawasan pemukiman dan kawasan kawasan pertanian.
58
Tabel 15. Satuan lahan dan peruntukan lahan berdasarkan klasifikasi kemampuan lahan
No
Uraian bentang lahan
1
2
3
4
5
6
7
8
9
10
11
12
13
14
15
16
17
18
19
20
21
22
23
24
25
26
27
dataran aluvial peralihan ke marin
dataran banjir dari sungai meander
dataran banjir dari sungai meander
kipas aluvial dan koluvial
dataran pasang surut estuarian
cekungan muda
dataran pasang surut rawa
dataran pasang surut
dataran pantai
rawa belakang pantai
kompleks beting pantai berselang cekungan muda
beting pantai muda
dataran
dataran tinggi tuf toba masam
dataran tinggi tuf toba masam
dataran rendah dan kaki lereng tuf toba masam
dataran rendah dan kaki lereng tuf toba masam
statovolkan, tuf intermedir dan basis
dataran dan platovolkan
perbukitan volkan
pegunungan volkan
dataran dan platovolkan
dataran volkan
stratovolkan
kipas volkan
lereng terjal
daerah pemukiman
luas keseluruhan
*)uas didasarkan perhitungan di peta
Jenis tanah
eutropepts, fluvaquents, tropaquepts
tropofluvents, tropaquepts
tropaquepts
eutropepts, fluvaquents, tropaquepts
hydraquents, eutropepts
hydraquents, tropaquents
hydraquents, sulfaquents
sulfaquents, Hydraquents
tropaquents, hydraquents
tropaquents, tropaquepts
hydraquents, tropopsamments
tropopsamments
haploqouxs, dystropepts
hydrandepts, dystropepts
hydrandepts, dystropepts
dystropepts, kandiudults
tropaquepts, dystropepts
dystrandepts, hydrandepts, troporthens
eutrandepts
hapludoxs
dystropets,hapludoxs
eutrandepts
dystropepts,
dystrandepts, hydrandepts,
tropaquepts, dystropepts
-
Kelas
kemampuan
I
IV
IV
III
II
I
II
II
II
II
II
III
V
II
III
III
II
II
IV
VII
VIII
VII
III
VII
III
VIII
-
Peruntukan
lahan
non hutan
non hutan
non hutan
non hutan
non hutan
non hutan
non hutan
non hutan
non hutan
non hutan
non hutan
non hutan
non hutan
non hutan
non hutan
non hutan
non hutan
non hutan
non hutan
hutan
hutan
hutan
non hutan
hutan
non hutan
hutan
non hutan
Luas (ha)
ha
(%)
3.83
9,558
2.52
6,294
0.39
982
0.34
849
2.40
6,003
1.66
4,144
1.50
3,740
2.95
7,357
0.81
2,028
4.76
11,890
0.67
1,679
0.42
1,045
880
0.35
0.19
481
0.18
452
13.28
33,181
19.05
47,588
13.70
34,214
5.20
12,994
0.85
2,125
5.44
13,586
2.04
5,101
2.68
6,703
0.77
1,929
12.34
30,827
0.52
1,288
2,854
1.14
249,772 100,00
59
Gambar 8. Peta Kawasan Hutan Berdasarkan Kemampuan Lahannya
60
Kawasan Hutan berdasarkan Tutupan Lahan
Analisis kawasan hutan berdasarkan tutupan lahannya dilakukan untuk
mengevaluasi kondisi vegetasi penutupan lahan pada saat ini dan perubahan
penutupan/penggunaan lahan yang terjadi pada kawasan hutan. Analisis ini
didasarkan atas kondisi penutupan lahan kawasan hutan yang masih bervegetasi
(berupa hutan) berdasarkan hasil dari interpretasi citra landsat ETM tahun 2005
oleh Departemen Kehutanan. Hasil interpretasi tersebut adalah berupa peta
landcover/land use Kabupaten Deli Serdang tahun 2005. Hasil analisis
menunjukkan bahwa luas kawasan hutan yang penutupan lahan eksistingnya
masih berupa hutan adalah 19.113 ha (7,65 % dari luas wilayah Kabupaten Deli
Serdang) seperti tertera pada Tabel 16 dan Gambar 9.
Tabel 16. Kawasan hutan yang masih berhutan di Kabupaten Deli Serdang
No
Fungsi kawasan (SK Menhut)
1
Hutan suaka alam (HSA)
2
3
Hutan lindung
Hutan produksi terbatas (HPT)
4
5
Hutan produksi
Hutan konversi
Luas keseluruhan
Kondisi tutupan berhutan (ha)
15,716
1,520
944
933
19.113
*) Luas didasarkan perhitungan di peta
Luas tutupan lahan yang masih berhutan ini sangat kecil bila dibandingkan
dengan luas penunjukan kawasan hutan berdasarkan Keputusan Menteri
Kehutanan No.44/Menhut-II/2003 yaitu seluas 80.083 ha atau 32,02 % dari luas
wilayah Kabupaten Deli Serdang (Tabel 13). Hal ini mengambarkan bahwa telah
terjadi perubahan penutupan/penggunaan lahan yang cukup significant yaitu
seluas 60.970 ha pada kawasan hutan akibat dari pengunaan lahan untuk
pemanfaatan produktif lainnya berupa pertanian, perkebunan dan areal tambak.
61
Gambar 9. Peta Kawasan Hutan Berdasarkan Kondisi Tutupan Lahan
62
Arahan Kawasan Hutan di Kabupaten Deli Serdang
Analisis untuk menentukan kawasan hutan yang lazim dikembangkan saat
ini adalah dengan melakukan analisis bio-fisik kawasan. Salah satu teknik yang
dilakukan adalah dengan cara mengkombinasikan parameter bio dan fisik
kawasan berupa bentang lahan, topografi dan vegetasi yang ada di atasnya,
meliputi fisiografi, geologi, tanah, topografi dan vegetasi pada kawasan tersebut
(Smalley, 1984 dalam Cruz R. V. O. 1999).
Berdasarkan hasil dari analisis yang dilakukan, secara umum arahan
kawasan hutan yang harus dipertahankan adalah 50.009 ha (20,02 % dari luas
wilayah Kabupaten Deli Serdang) yang terdiri dari kawasan hutan lindung seluas
seluas 27.983 ha (11,20 %) dan suaka alam seluas 22.026 ha (8,82 %) sepeti
tertera
pada
Tabel
17.
Arahan
kawasan
hutan
ini
merupakan
hasil
kompilasi/penggabungan dari beberapa analisis kawasan hutan yang telah
dilakukan seperti pada halaman sebelumnya. Teknik analisis yang dilakukan
adalah dengan melakukan overlay (union) antara peta kawasan hutan berdasarkan
skoring fisik kawasan, peta kawasan hutan berdasarkan kemampuan lahannya,
serta peta kawasan hutan berdasarkan kondisi eksisting. Selanjutnya hasil overlay
tersebut dikompilasi dengan kawasan konservasi berdasarkan peta penunjukan
kawasan hutan (SK Menhut No. 44/Menhut-II/2003) menjadi peta arahan
kawasan hutan seperti tertera pada Gambar 10.
Tabel 17. Hasil analisis dan arahan kawasan hutan di Kabupaten Deli Serdang
No
1
2
3
4
1
2
Kawasan hutan
Analisis kawasan hutan
Skoring fisik kawasan
Kemampuan lahan
Tutupan lahan yang masih berhutan
Penunjukan kawasan hutan (SK. Menhut)
Arahan kawasan hutan
Hutan lindung
Hutan konservasi
Luas arahan kawasan hutan
*) Luas didasarkan perhitungan di peta
Luas
(ha)
%
9.590
24.029
19.113
80.083
3,84
9,62
7,65
32,06
27.983
22.026
50,009
11,20
8,82
20,02
63
Gambar 10. Peta Arahan Kawasan Hutan di Kabupaten Deli Serdang
64
Arahan kawasan hutan ini merupakan arahan kawasan hutan yang harus
tetap dipertahankan baik dari luasan fisik kawasan maupun dari sistem ekologis
yang ada di dalamya yakni berupa hutan primer dan hutan sekunder tanpa adanya
gangguan yang akan mengubah keseimbangan ekosistem yang ada. Luasan
kawasan hutan ini memang masih relatif kecil yakni sekitar 20,02 % dari luas
wilayah bila dibandingkan dengan adanya kebijakan pusat untuk mempertahankan
kawasan hutan minimal 30 % dari luas lahan/wilayah. Akan tetapi kawasan ini
berdasarkan kondisi biofisiknya diharapkan mampu untuk menyeimbangkan
pemanfaatan sumberdaya alam yang ada demi keberlanjutan hidup manusia
khususnya yang berada di Kabupaten Deli Serdang dan Kota Medan.
Berdasarkan hasil pengamatan yang dilakukan pada kawasan hutan yang
telah ditetapkan berdasarkan penunjukan kawasan hutan (SK Menhut), bahwa
sampai saat ini telah terjadi degradasi hutan yang cukup significant akibat dari
okupasi kawasan hutan tersebut menjadi areal/kawasan non hutan baik berupa
lahan pertanian, perkebunan maupun sebagai lahan tambak. Kerusakan kawasan
hutan yang telah terjadi ini mengakibatkan luas tutupan lahan berhutan menjadi
terus berkurang seiring dengan bergulirnya waktu. Salah satu upaya yang harus
segera dilakukan oleh Pemerintah Daerah dalam menuntaskan permasalahan
tersebut adalah dengan melakukan pemantapan kawasan hutan secara “clear and
clean” maupun dengan membuat kesepahaman antara stake holders di daerah
mengenai kewenangan dalam pengelolaan dan pemanfaatan kawasan hutan
tersebut.
65
Arahan Kawasan Lindung
Identifikasi Kawasan Lindung berdasarkan Keputusan Presiden Nomor 32
tahun 1990
Identifikasi kawasan lindung dilakukan berdasarkan Keputusan Presiden
Nomor 32 tahun 1990 tentang Pengelolaan Kawasan Lindung. Berdasarkan
kriteria/jenis kawasan lindung yang terdapat dalam Keppres dimaksud, bahwa
tidak semua kriteria/jenis kawasan lindung tersebut terdapat di wilayah Kabupaten
Deli Serdang. Hal ini disebabkan karena di wilayah Kabupaten Deli Serdang
tidak terdapat kawasan bergambut, danau/waduk dan cagar budaya.
Hasil analisis dari berbagai parameter yang digunakan dalam kajian ini
menunjukkan bahwa daerah yang seharusnya ditetapkan sebagai kawasan lindung
adalah 96.764 ha (38,74 % dari luas wilayah Kabupaten Deli Serdang). Kawasan
lindung tersebut terdiri dari kawasan yang memberikan perlindungan kawasan
bawahannya (hutan lindung), kawasan perlindungan setempat (sempadan sungai,
sempadan pantai dan kawasan mata air), kawasan suaka alam (cagar alam dan
suaka maragasatwa), kawasan rawan bencana alam, dan kawasan lindung lainnya
(hutan bakau) seperti tertera pada Tabel 18 dan Gambar 11.
Tabel 18. Kawasan lindung hasil analisis di Kabupaten Deli Serdang
No
Jenis kawasan lindung
1 Kawasan yang memberikan perlindungan
kawasan bawahannya
- Hutan lindung
2 Kawasan perlindungan setempat
- Sempadan sungai
- Sempadan pantai
- Mata air
3 Kawasan Suaka Alam
- Cagar Alam
- Suaka Margasatwa
- Tahura
4 Kawasan rawan bencana alam
5 Kawasan lindung lainnya
- Kawasan pantai berhutan bakau
`
Total Luas Kawasan Lindung
*) Luas didasarkan perhitungan di peta
ha
Luas
%
27.983
11,20
29.935
335
8
11,98
0,13
0,00
120
5.383
16.523
11.435
0,05
2,16
6,62
6,62
5.042
96.764
2,09
38,74
66
Gambar 11. Peta Kawasan Lindung di Kabupaten Deli Serdang
67
Kawasan yang memberikan perlindungan bawahannya
Berdasarkan hasil analisis, kawasan yang memberikan perlindungan
bawahannya di wilayah Kabupaten Deli Serdang adalah kawasan hutan lindung.
Kawasan hutan lindung diperoleh dari hasil skoring fisik kawasan dan analisis
kemampuan lahan ditambah dengan kawasan hutan lindung lainnya yang telah
ditetapkan dalam peta penunjukan kawasan hutan sesuai dengan Surat Keputusan
Menteri Kehutanan. Luas kawasan hutan lindung adalah 27.983 ha (11.20 % dari
luas wilayah Kabupaten Deli Serdang), yang tersebar di Kecamatan Kutalimbaru,
Pancurbatu, Bangun Purba, STM Hilir, STM Hulu, Sibolangit, Sibiru-biru,
Gunung Meriah dan Percut Sei Tuan. Perlindungan terhadap kawasan hutan
lindung ini dimaksudkan untuk mencegah terjadinya erosi, bencana banjir,
sedimentasi dan menjaga fungsi hidrologi untuk menjamin ketersediaan unsur
hara, air tanah dan air permukaan.
Gambar 12. Hutan Lindung Sibayak di Kabupaten Deli Serdang
68
Kawasan perlindungan setempat
Berdasarkan hasil analisis, kawasan perlindungan setempat yang terdapat di
Kabupaten Deli Serdang adalah sempadan sungai, sempadan pantai dan kawasan
sekitar mata air. Kawasan perlindungan setempat berupa sempadan sungai terdiri
dari sempadan sungai besar (utama) yang ditetapkan sebesar 100 meter kanan-kiri
sungai dan sempadan sungai kecil yang ditetapkan 50 meter kanan-kiri sungai.
Perlindungan terhadap sempadan sungai dilakukan untuk melindungi sungai dari
kegiatan manusia yang menganggu dan merusak kualitas air sungai, kondisi fisik
pinggir dan dasar sungai serta mengamankan aliran sungai. Berdasarkan hasil
analisis, luas sempadan sungai adalah 29.935 ha (11,98 % dari luas wilayah
Kabupaten Deli Serdang) yang tersebar di seluruh wilayah Kabupaten Deli
Serdang.
Kawasan perlindungan setempat berupa sempadan pantai ditetapkan sebesar
100 meter dari titik pasang tertinggi ke arah darat. Perlindungan terhadap
sempadan pantai dilakukan sebagai penyangga (buffer) untuk melindungi pantai
dari abrasi akibat gelombang air laut, serta menjaga keberlangsungan garis pantai.
Berdasarkan hasil analisis, luas sempadan pantai adalah 335 ha (0,13 % dari luas
wilayah Kabupaten Deli Serdang) yang terletak di bagian utara wilayah
Kabupaten Deli Serdang yang berbatasan langsung dengan Selat Malaka.
Kawasan lindung sekitar mata air didasarkan atas sebaran mata air yang
digunakan oleh masyarakat dan PDAM Tirta Deli yang tedapat di wilayah
Kabupaten Deli Serdang, yaitu sekitar radius 200 meter di sekeliling mata air.
Perlindungan terhadap mata air dilakukan untuk melindungi mata air sebagai
sumber air bersih bagi masyarakat terhadap gangguan yang dapat merusak
kualitas dan kuantitas air minum tersebut. Sebaran mata air yang terdapat di
Kabupaten Deli Serdang sebanyak 8 (delapan) titik mata air yang tersebar di
Danau Linting (Kecamatan STM Hulu), desa Penen (Sibiru-Biru), Gunung Rinti
(STM Hilir) serta Bandar Baru, Batu layang, Durian Sirugum, Bukum, Sibolangit
yang berada di Kecamatan Sibolangit.
69
Gambar 13. Sempadan Sungai Ular di Kabupaten Deli Serdang
Kawasan suaka alam
Berdasarkan hasil analisis, kawasan suaka alam yang berada di Kabupaten
Deli Serdang adalah cagar alam dan suaka margasatwa dan tahura. Kawasan
suaka alam ini merupakan kawasan konservasi yang telah ditetapkan oleh
Deapartemen Kehutanan dan saat ini dikelola oleh Balai Konservasi Sumberdaya
Alam (BKSDA) Propinsi Sumatera Utara yang merupakan unit pelaksana teknis
dari Departemen Kehutanan. Kawasan konservasi ini secara umum berfungsi
sebagai kawasan yang memberikan perlindungan bagi keanekaragaman biota, tipe
ekosistem dan kekhasan lainya yang bermanfaat sebagai sumber plasma nutfah,
kepentingan ilmu pengetahuan dan rekreasi. Saat ini Kabupaten Deli Serdang
memiliki kawasan suaka alam berupa Cagar Alam/Taman Wisata Sibolangit
seluas 120 ha dan Suaka Margasatwa Karang Gading seluas 5.383 ha serta
kawasan Tahura Bukit barisan seluas 16.523 ha sebagaimana dijelaskan pada pada
halaman sebelumnya.
70
Kawasan lindung lainnya
Berdasarkan hasil analis, kawasan lindung lainnya yang terdapat di
Kabupaten Deli Serdang adalah kawasan hutan pantai/mangrove. Kawasan
mangrove ini terdapat di bagian utara yaitu terutama pada sekitar pantai yang
berbatasan langsung dengan Selat Malaka.
Perlindungan terhadap ekosistem
hutan mangrove ini diharapkan dapat berfungsi sebagai kawasan penyangga
(buffer), terhadap gelombang pasang (tsunami). Keberadaan hutan mangrove ini
juga sangat penting fungsinya terutama sebagai pelindung utama pantai dari abrasi
laut serta merupakan habitat utama bagi ikan, udang, kepiting. Hasil analisis
menunjukkan bahwa luas keseluruhan kawasan hutan mangrove yang ada di
Kabupaten Deli Serdang adalah 5.042 ha (2,02 % dari luas wilayah Kabupaten
Deli Serdang) yang tersebar di Kecamatan Hamparan Perak, Percut Sei Tuan,
Pantai Labu dan Labuhan Deli.
Gambar 14. Hutan Bakau Percut Sei Tuan Kabupaten Deli Serdang
71
Kawasan rawan bencana
Berdasarkan hasil analisis, kawasan rawan bencana di Kabupaten Deli
Serdang adalah kawasan rawan bahaya longsor. Perlindungan terhadap kawasan
rawan bencana dilakukan untuk melindungi manusia dan kegiatannya dari
bencana baik yang disebabkan oleh alam maupun secara tidak langsung oleh
manusia. Kawasan rawan bencana yang terdapat di Kabupaten Deli Serdang
didasarkan atas lokasi/kawasan yang sering terjadi longsor yang disebabkan
karena tingkat kerentanan gerakan tanah yang tinggi berdasarkan data dari Dinas
Pertambangan dan Energi Propinsi Sumatera Utara. Kawasan rawan bencana ini
seluas 11,435 ha atau (4,58 % dari luas wilayah Kabupaten Deli Serdang) yang
seharusnya ditetapkan sebagai kawasan lindung guna mencegah kerugian yang
lebih besar bagi manusia.
Gambar 15. Kawasan Rawan Bencana Longsor di Kabupaten Deli Serdang
72
Arahan Penataan Ruang
Sesuai dengan kewenangan Pemerintah Daerah Kabupaten berdasarkan
Undang-Undang Nomor 26 tahun 2007 tentang Penataan Ruang serta Peraturan
Pemerintah Nomor 47 Tahun 1997 tentang Rencana Tata Ruang Wilayah
Nasional, maka Pemerintah Daerah Kabupaten diwajibkan untuk menyusun
rencana tata ruang wilayah (RTRW) sebagai acuan makro dalam perencanaan
pembangunan. Rencana tata ruang yang disusun tersebut, berdasarkan fungsi
utama kawasannya terbagi menjadi kawasan lindung dan kawasan budidaya.
Berdasarkan data luas wilayah Kabupaten Deli Serdang dan hasil analisis
kawasan lindung sesuai dengan Keppres No. 32 tahun 1990 tentang Pengelolaan
Kawasan Lindung, maka secara umum arahan perencanaan tata ruang di
Kabupaten Deli Serdang adalah kawasan lindung dengan luas 96.764 ha (38,74 %
dari luas wilayah Kabupaten Deli Serdang) serta kawasan budidaya dan kawasan
tertentu dengan luas 153.016 ha (61,26 % dari luas wilayah Kabupaten Deli
Serdang) seperti tertera pada Tabel 19 dan Gambar 16.
Tabel 19. Arahan penataan ruang di Kabupaten Deli Serdang
No
Luas
Jenis kawasan
1
Kawasan lindung
2
ha
%
96.764
38,74
Kawasan budidaya dan kawasan tertentu
153.016
61,26
Luas wilayah Kabupaten Deli Serdang
249.772
100,00
*) Luas didasarkan perhitungan di peta
Arahan penataan ruang berdasarkan hasil analisis kawasan lindung sesuai
dengan Keppres No. 32 tahun 1990 tentang Pengelolaan Kawasan Lindung, telah
sesuai dengan kebijakan pemerintah yang telah mengamanatkan perlindungan
terhadap kawasan lindung sebesar 30 % dari luas wilayah Kabupaten/Kota.
Arahan penataan ruang ini diharapkan merupakan suatu arahan perencanaan
pemanfaatan
ruang
makro
di
Kabupaten
Deli
Serdang
yang
telah
mengintegrasikan keseimbangan antara daerah hulu dan hilir dalam suatu
ekosistem, sehingga terwujud pemanfaatan ruang kawasan lindung dan budidaya
secara serasi, nyaman produktif dan berkelanjutan.
73
Gambar 16. Peta Arahan Penataan Ruang di Kabupaten Deli Serdang
74
Penyimpangan Fungsi Kawasan Lindung
Rencana Tata Ruang Wilayah (RTRW) Kabupaten dan Propinsi
Rencana penataan ruang di Kabupaten Deli Serdang saat ini secara formal
tercantum dalam Peraturan Daerah Kabupaten Nomor 11 Tahun 2001 tentang
Rencana Umum Tata Ruang Wilayah (RTRW) Kabupaten Deli Serdang Tahun
1999-2009 dan Peraturan Daerah Propinsi Nomor 7 Tahun 2003 tentang Rencana
Umum Tata Ruang Wilayah (RTRW) Propinsi Sumatera Utara Tahun 2003-2018.
Berdasarkan Peraturan Daerah Kabupaten No. 11 Tahun 2001 tersebut, wilayah
Kabupaten Deli Serdang terbagi menjadi kawasan lindung dengan luas 43.859 ha
(17,56 % dari luas wilayah Kabupaten Deli Serdang) dan kawasan budidaya
dengan luas 205.913 ha (82,44 % dari luas wilayah Kabupaten Deli Serdang)
seperti tertera pada Tabel 20. Sedangkan berdasarkan Peraturan Daerah Propinsi
Nomor 7 Tahun 2003 tersebut, wilayah Kabupaten Deli Serdang menjadi kawasan
lindung seluas 37.639 ha (15,07 % dari luas wilayah Kabupaten Deli Serdang) dan
kawasan budidaya seluas 21.133 ha (84,93 % dari luas wilayah Kabupaten Deli
Serdang) seperti tertera dalam Tabel 21.
Tabel 20. Rencana tata ruang (RTRW) Kabupaten Deli Serdang tahun 1999-2009
No
Jenis kawasan
(ha)
Luas
(%)
43.859
17,56
Kawasan budidaya
205.913
82,44
Luas wilayah Kabupaten Deli Serdang
249.772
100,00
I
Kawasan lindung
II
*) Luas didasarkan perhitungan di peta
Tabel 21. Rencana tata ruang (RTRW) Propinsi Sumatera Utara di Kabupaten
Deli Serdang tahun 2003 – 2018
No
Jenis kawasan
I
Kawasan lindung
II
(ha)
Luas
(%)
37.639
15,07
Kawasan budidaya
212.133
84,93
Luas wilayah Kabupaten Deli Serdang
249.772
100,00
*) Luas didasarkan perhitungan di peta
75
Penutupan/Penggunaan Lahan Eksisting
Metode analisis yang digunakan untuk mengidentifikasi penutupan/
penggunaan lahan eksisting di wilayah Kabupaten Deli Serdang adalah analisis
Citra Landsat ETM+ tahun 2005. Interpretasi dilakukan dengan melihat
karakteristik dasar kenampakan masing-masing penggunaan/penutupan lahan
pada citra dibantu dengan unsur-unsur interpretasi yang unik. Berdasarkan hasil
interpretasi yang dilakukan oleh Departemen Kehutanan diperoleh 12 (dua belas)
jenis penggunaan lahan yaitu : 1) Hutan lahan kering sekunder 2) Hutan
rawa/mangrove, 3) Hutan tanaman industri (HTI), 4) Perkebunan, 5) Kebun
campuran, 6) Pertanian lahan kering/tegalan 7) Pemukiman, 8) Semak/belukar,
9) Sawah, 10) Tambak, 11) Tanah terbuka dan 12) Tubuh air. Sebaran
penutupan/penggunaan lahan eksisting tersebut didominasi oleh pertanian lahan
kering campuran (48,18% dari luas wilayah Kabupaten Deli Serdang) dan
perkebunan (20,84 % dari luas wilayah Kabupaten Deli Serdang).
Adapun
sebaran pola penutupan/penggunaan lahan eksisting di Kabupaten Deli Serdang
secara lengkap tertera pada Tabel 22.
Tabel 22. Penutupan/penggunaan lahan eksisting di Kabupaten Deli Serdang
No
Tipe penutupan/penggunaan lahan
1
Hutan lahan kering sekunder
2
Hutan rawa/mangrove
3
Hutan tanaman industri
4
ha
Luas
(%)
17.393
6,96
1.370
0,55
350
0,14
Pemukiman
16.744
6,70
5
Perkebunan
52.041
20,84
6
Pertanian lahan kering/tegalan
63.806
25,55
7
Kebun campuran
56.404
22,58
8
Sawah
17.342
6,94
9
Semak/belukar
9.127
3,65
10
Tambak
7.856
3,15
11
Tanah terbuka
1.806
0,72
12
Tubuh air
5.533
2,22
Luas wilayah keseluruhan
*) Luas didasarkan perhitungan di peta
249,772
100.00
76
Rencana Tata Ruang Wilayah (RTRW) dan Kondisi Penutupan/Penggunaan
Lahan
Analisis dilakukan untuk mengetahui seberapa besar penyimpangan
pemanfaatan ruang yang terjadi, khususnya pada kawasan lindung terhadap
rencana tata ruang wilayah. Analisis yang dilakukan adalah analisis perbandingan
antara RTRW Propinsi Sumatera Utara di wilayah Kabupaten Deli Serdang dan
RTRW Kabupaten Deli Serdang dengan kondisi eksisting penutupan/penggunaan
lahan. Hasil overlay antara peta RTRWP tahun 2003 dan peta penggunaan lahan
tahun 2005, menunjukkan bahwa terdapat 16.934 ha atau 45,29 % dari kawasan
lindung dalam RTRWP yang penutupan lahannya masih berupa hutan lahan
kering, 799 ha (2,14 % dari luas kawasan lindung) berupa hutan rawa/mangrove
serta adanya penggunaan lahan berupa perkebunan seluas 1.574 ha (4,14 %),
pertanian lahan kering/tegalan seluas 461 ha (1,23%), kebun campuran seluas
8.889 ha (23,77 %), sawah seluas 957 ha (2,56%), semak belukar seluas 6.598 ha
(17,65%), tambak 1.075 ha (2,87%) tanah terbuka seluas 9 ha (0,02 %) dan
tubuh air 123 ha (0,33 %) pada kawasan lindung seperti tertera pada Tabel 23.
Tabel 23. Penutupan/penggunaan lahan eksisting berdasarkan RTRW Propinsi
Sumatera Utara di Wilayah Kabupaten Deli Serdang tahun 2003-2018
No Penggunaan lahan eksisting
1
2
3
4
5
6
7
8
9
10
11
12
Hutan lahan kering sekunder
Hutan rawa/mangrove
Hutan tanaman industri
Pemukiman
Perkebunan
Pertanian lahan kering
Kebun campuran
Sawah
Semak/belukar
Tambak
Tanah terbuka
Tubuh Air
Luas keseluruhan
Prosentase
*) Luas didasarkan perhitungan di peta
Rencana tata ruang Kabupaten Deli Serdang
Kawasan lindung
Kawasan budidaya
(ha)
(%)
(ha)
(%)
45,29
339
0,16
16.934
799
2,14
425
0,20
351
0,17
16.626
7,83
1.547
4,14
50.434
23,75
461
1,23
63.245
29,78
8.889
23,77
47.408
22,32
957
2,56
17.395
8,19
6.598
17,65
7.288
3,43
1.075
2,87
6.69
3,15
9
0,02
1.796
0,85
123
0,33
383
0,18
37.392
212.38
14,97
100,00
85,03
100,00
77
Berdasarkan hasil analisis, terdapat penyimpangan pemanfaatan ruang
kawasan lindung yang dimanfaatkan sebagai kawasan produktif/budidaya yang
dapat mengganggu fungsi lindung kawasan lindung dimaksud. Penyimpangan
yang terjadi di dalam RTRW Propinsi Sumut di wilayah Kabupaten Deli Serdang
adalah 28,47 % yaitu adanya pemanfaatan lahan berupa perkebunan (4,14 %),
pertanian lahan kering/tegalan (1,23 %), sawah (2,56 %), semak belukar
(17,65 %), tambak (2,87 %) dan tanah terbuka (0.02 %) seperti tertera pada
Gambar 17.
50 45.29
%
40
30
23.77
17.65
20
10
4.14
1.23
2.56
2.87
0.02 0.33
H
H
ut
an
la
ha
n
ke
ut ring
an
s
ra e k
un
w
a/
m de r
an
Pe
rta
P e g ro
n
v
l a i a n rk e e
b
ha
n laha una
ke
n
ri n n k
er
g
ca i n g
/
m
pu
ra
n
Se
Sa
m
ak wa
h
/b
el
uk
ar
Ta Tam
na
ba
h
te k
rb
u
Tu ka
bu
h
Ai
r
0
2.14
Gambar 17.
Grafik Penutupan/Penggunaan Lahan Kawasan Lindung di dalam
RTRW Propinsi Sumut di Kabupaten Deli Serdang
Hasil overlay antara peta RTRW Kabupaten Deli Serdang tahun 1999-2009
dan peta penutupan/penggunaan lahan tahun 2005, menunjukkan bahwa seluas
16.443 ha atau 39,71 % luas kawasan lindung dalam RTRWP merupakan hutan
lahan kering sekunder dan seluas 1.231ha (2,97 % dari luas kawasan lindung)
merupakan hutan rawa/mangrove. Selain itu, pada kawasan yang dialokasikan
sebagai kawasan lindung terdapat penggunaan lahan berupa perkebunan seluas
2.698 ha (6,52 %), pertanian lahan kering/tegalan seluas 1.017 ha (2.46 %), kebun
campuran seluas 10.515 ha (25,40 %), sawah seluas 688 ha (1,66 %), semak
78
belukar seluas 5.836 ha (14,10 %), tambak 2.505 ha (6,05 %), tanah terbuka
seluas 72 ha (0,17 %) dan tubuh air 398 ha (0,96 %) seperti tertera pada Tabel 24.
Tabel 24. Penutupan/Penggunaan lahan eksisting di wilayah Kab. Deli Serdang
berdasarkan RTRW Kab. Deli Serdang tahun 1999-2009
No Penggunaan lahan eksisting
1
Hutan lahan kering sekunder
2
Rencana tata ruang Kabupaten Deli Serdang
Kawasan lindung
Kawasan budidaya
(ha)
(%)
(ha)
(%)
16.443
39,71
972
0,47
Hutan rawa/mangrove
1.231
2,97
517
0,25
3
Hutan tanaman industri
-
351
0,17
4
Pemukiman
1
0,00
16.765
8,05
5
Perkebunan
2.698
6,52
49.411
23,71
6
Pertanian lahan kering
1.017
2,46
62.871
30,17
7
Kebun campuran
10.515
25,40
45.963
22,06
8
Sawah
688
1,66
16.676
8,00
9
Semak/belukar
5.836
14,10
8.141
3,91
10
Tambak
2.505
6,05
4.685
2,25
11
Tanah terbuka
72
0,17
1.737
0,83
12
Tubuh Air
398
0,96
279
0,13
Luas wilayah keseluruhan
Prosentase
-
41.404
208.368
16,58
83,42
*) Luas didasarkan perhitungan di peta
Berdasarkan hasil analisis, terdapat penyimpangan pemanfaatan ruang
kawasan lindung yang dimanfaatkan sebagai kawasan budidaya yang dapat
mengganggu fungsi lindung kawasan lindung dimaksud. Penyimpangan
pemanfaatan ruang terhadap kawasan lindung di dalam RTRW Kabupaten Deli
Serdang adalah 30,96 % yaitu adanya pemanfaatan lahan berupa perkebunan
(6,52%), pertanian lahan kering/tegalan (2,46 %), sawah (1,66%), semak belukar
(14,10%), tambak (6,05%) dan tanah terbuka seluas (0.17%) seperti tertera pada
Gambar 18.
79
50
40
39.71
%
30
25.4
20
14.1
10
6.52
2.97
0
1.66
0.17 0.97
H
ut
an
la
ha
n
ke
H
r
ut
an ing
se
ra
ku
w
a/
nd
m
er
an
gr
ov
Pe
e
m
Pe
u
ki
rta P
ni erk ma
an
n
e
la bun
h
Ke
a
a
bu n k n
er
n
in
ca
g
m
pu
ra
n
Se S
m aw
ak a h
/b
el
uk
ar
Ta Ta
m
na
ba
h
te k
rb
Tu uka
bu
h
A
ir
0
6.05
2.46
Gambar 18. Penggunaan/Penutupan Lahan Kawasan Lindung di dalam RTRW
Kabupaten Deli Serdang
Penyimpangan pemanfaatan ruang ini tidak terlepas dari tidak ditaatinya
dokumen rencana tata ruang yang telah ditetapkan, dimana rencana tata ruang
wilayah
belum
menjadi
komitmen
aparat
terkait
dalam
pelaksanaan
pembangunan, sehingga seringkali penerapan kebijakan daerah yang terkait
dengan penggunaaan lahan dan penataan ruang belum sepenuhnya didasarkan
dengan dokumen RTRW dimaksud. Undang-Undang No 26 Tahun 2007
menyatakan bahwa setiap orang berkewajiban berperan serta dalam memelihara
kualitas ruang dan mentaati rencana tata ruang yang telah ditetapkan. Hal ini
harusnya menjadi dasar kepatuhan yang harusnya dilaksanakan dalam upaya
penaataan ruang wilayah demi kepentingan bersama.
Penegakan hukum bagi pelanggar rencana tata ruang yang belum
dilaksanakan memberikan andil yang besar dalam penyimpangan pemanfaatan
ruang, baik yang dilakukan oleh masyarakat, pemerintah dan pihak swasta. Faktor
lain penyebab penyimpangan pemanfaatan ruang adalah kurangnya sosialisasi
RTRW baik dalam proses penyusunan maupun setelah dokumen RTRW
disyahkan kepada setiap stake holders dan yang terpenting kepada masyarakat.
Undang-Undang Nomor 26 tahun 2007 tentang Penataan Ruang sebenarnya telah
80
menyebutkan bahwa dalam penyusunan rencana tata ruang, pemanfaatan ruang
dan pengendalian pemanfaatan ruang diharuskan mengakomodasi usulan
masyarakat dan menuntut peran aktif masyarakat dalam proses penyusunannya.
Kurang terlibatnya peran masyarakat dalam penataan ruang, khususnya
penataan kawasan lindung, mengakibatkan tidak adanya rasa empati/memiliki dari
masyarakat terhadap kawasan lindung, sehingga seringkali dikalahkan dengan
pemanfaataan lainnya, yang bernilai ekonomis tinggi. Sehingga dalam rangka
optimalisasi penyelenggaraan penataan ruang, pelaksanaan hak, kewajiban dan
peran serta masyarakat sangat diperlukan untuk memperbaiki mutu perencanaan,
membantu terwujudnya pemanfaatan ruang sesuai dengan rencana yang telah
ditetapkan, serta menaati keputusan dalam rangka penertiban pemanfaatan ruang.
81
Rencana Tata Ruang Wilayah (RTRW) dan Kawasan Lindung berdasarkan
Keputusan Presiden Nomor 32 Tahun 1990
Kawasan lindung di wilayah Kabupaten Deli Serdang yang telah ditetapkan
dalam RTRW Propinsi Sumut di Kabupaten Deli Serdang adalah 37.639 ha
(15,07 % dari luas wilayah Kabupaten Deli Serdang) dan RTRW Kabupaten Deli
Serdang adalah 43.859 ha (17,56 % dari luas wilayah Kabupaten Deli Serdang).
Sedangkan kawasan lindung berdasarkan hasil analisis sesuai dengan Keputusan
Presiden Nomor 32 tahun 1990 adalah 96.764 ha (38,74 % dari luas wilayah
Kabupaten Deli Serdang). Berdasarkan data diatas, terlihat bahwa masih banyak
lahan yang seharusnya berfungsi lindung namun dalam dokumen RTRW yang
telah dibuat belum ditetapkan sebagai kawasan lindung.
Hasil overlay antara peta RTRW Propinsi Sumut di wilayah Kabupaten Deli
Serdang dengan peta kawasan lindung hasil analisis berdasarkan Keputusan
Presiden Nomor 32 tahun 1990, menunjukkan bahwa kawasan yang seharusnya
ditetapkan sebagai kawasan lindung dan telah dialokasikan sebagai kawasan
lindung dalam RTRWP adalah 55,11 % dari luas kawasan lindung berdasarkan
Keppres dan selebihnya 44,89 % dialokasikan tidak sesuai dengan Keppres, yaitu
sebagai kawasan budidaya seperti tertera pada Tabel 25.
Tabel 25. Kawasan lindung hasil analisis dalam RTRW Propinsi Sumatera Utara
di Kabupaten Deli Serdang
No
Kawasan lindung hasil analisis
1 Kawasan perlindungan bawahannya
RTRW Prop. Sumut di Kab. Deli Serdang
Kawasan lindung
Kawasan budidaya
(ha)
(ha)
24.552
3.245
2 Kawasan perlindungan setempat
4.831
24.799
3 Kawasan rawan bencana
1.189
10247
21.914
109
128
4.455
Luas total
52.614
42.855
Prosentase
55,11
44,89
4 Kawasan suaka alam
5 Kawasan lindung lainnya
*) Luas didasarkan perhitungan di peta
Hasil overlay antara peta RTRW Kabupaten Deli Serdang dan peta kawasan
lindung hasil analisis berdasarkan Keputusan Presiden Nomor 32 tahun 1990,
82
menunjukkan bahwa kawasan yang seharusnya ditetapkan sebagai kawasan
lindung dan telah dialokasikan sebagai kawasan lindung dalam RTRWK adalah
54,73 % dari luas kawasan lindung berdasarkan Keppres dan selebihnya 45,27 %
dialokasikan tidak sesuai dengan Keppress dimaksud, yaitu sebagai kawasan
budidaya seperti tertera pada Tabel 26.
Tabel 26. Kawasan lindung hasil analisis dalam RTRW Kabupaten Deli Serdang
No
Kawasan Lindung Hasil Analisis
RTRW Kabupaten Deli Serdang
Kawasan Lindung Kawasan Budidaya
(ha)
(ha)
1 Kawasan perlindungan bawahannya
20.822
7.111
5.403
24.867
812
10.623
20.846
1.180
5.042
-
Luas total
52.925
43.781
Prosentase
54,73
45,27
2 Kawasan perlindungan setempat
3 Kawasan rawan bencana
4 Kawasan suaka alam
5 Kawasan lindung lainnya
*) Luas didasarkan perhitungan di peta
Hasil analisis menunjukkan bahwa dalam dokumen RTRW yang saat ini
secara legal berlaku tidak mengakomodasi kawasan perlindungan setempat
(sempadan sungai, sempadan pantai) serta kawasan rawan bencana yang
berdasarkan Keputusan Presiden Nomor 32 Tahun 1990 tentang Pengelolaan
Kawasan Lindung termasuk dalam kriteria penyusunan dokumen RTRW.
Sehingga menyebabkan prosentase kawasan lindung yang telah ditetapkan dan
dialokasikan dalam RTRW masih kecil. Hal ini menunjukkan bahwa Pemerintah
Daerah
(Propinsi
dan
Kabupaten)
tidak
konsisten
dalam
menegakkan
aturan/kebijakan dalam penentuan kawasan lindung, dimana tidak semua
kriteria/parameter fisik kawasan lindung yang terdapat di wilayah Kabupaten Deli
Serdang dijadikan dasar dalam menetapkan kawasan lindung. Sehingga kualitas
dokumen RTRW menjadi yang kurang lengkap dan perlu untuk diperbaiki/revisi
menjadi dokumen RTRW yang lebih baik, tegas dan berkualitas.
83
Kawasan Lindung berdasarkan Keputusan Presiden Nomor 32 Tahun 1990
dan Penggunaan Lahan Eksisting.
Hasil overlay antara peta kawasan lindung hasil analisis berdasarkan
Keputusan Presiden Nomor 32 Tahun 1990 dan peta penggunaan lahan 2005
menunjukkan bahwa secara keseluruhan telah terdapat pelanggaran terhadap
Keppres No. 32 Tahun 1990 dimaksud, seluas 33.072 ha atau 34,95 % dari luas
kawasan lindung seperti tertera pada Tabel 27.
Hasil ini didasarkan adanya
pemanfaatan lahan secara intensif (kegiatan budidaya) pada kawasan lindung
berupa pemukiman sebesar 1,53 %, pertanian lahan kering sebesar 15,09 %,
sawah sebesar 3,36 %, tambak sebesar 3,74 %, tanah terbuka sebesar 0,37 % dan
lahan yang ditumbuhi oleh semak/belukar seluas 10,86 %.
Hasil pengamatan di lapangan terhadap beberapa lokasi kawasan lindung,
menunjukkan bahwa memang telah terdapat penyimpangan pemanfaatan kawasan
lindung dimaksud. Penyimpangan tersebut banyak disebabkan oleh aktivitas
masyarakat sekitar yang memanfaatkan lahan untuk penggunaaan lahan
perkebunan, pertanian (sawah/ladang), tambak dan kegiatan produktif lainnya
ataupun untuk digunakan sebagai tempat pemukiman.
Mengingat masih banyaknya kegiatan budidaya yang dilakukan pada
kawasan lindung dan dilakukan secara terus-menerus dan meluas dan tidak segera
diantisipasi oleh Pemerintah Daerah maka kemungkinan permasalahan/ kerugian
berupa bencana alam akan terjadi akibat dari terganggunya sistem ekologis
(fungsi lindung) di wilayah Kabupaten Deli Serdang. Beberapa alternatif
antisipasi yang mungkin bisa dilaksanakan adalah berupa pemantapan kawasan
lindung yang ada berupa penetapan kawasan lindung yang clear dan clean
(kepemilikan, kewenangan dan status hukum), penunjukan stake holders/instansi
pengelola kawasan lindung yang jelas secara kewenangan, pemanfataan kawasan
lindung secara kemitraan (colaborative management) dengan mengedepankan
tradisi lokal yang arif (wisdom traiditional), serta upaya diseminasi/penyuluhan
yang lebih intensif terhadap keberadaan kawasan lindung dimaksud.
84
Tabel 27. Penggunaan lahan eksisting pada kawasan lindung berdasarkan Keputusan Presiden Nomor 32 tahun 1990
Penggunaan lahan Kondisi Eksisting
Hutan
tanaman Pemukiman Perkebunan Pertanian
kebun
Sawah
industri
lahan kering campuran
Kawasan lindung hasil analisis
Hutan
lahan
kering
Hutan
rawa/
mangrove
1
Kawasan perlindungan bawahannya
14.796
182
187
1
9
267
7.574
467
4.076
2
Kawasan perlindungan setempat
1.750
356
20
1.359
4.262
8.305
7.368
2.166
3
Kawasan rawan bencana
-
-
-
90
723
4.655
4.910
4
Kawasan suaka alam
1.5108
608
-
-
1.516
219
5
Kawasan lindung lainnya
-
549
-
1
59
Luas keseluruhan
31.654
1.695
207
1.451
Prosentase
33,45
1,79
0,22
1,53
No
*) Luas didasarkan perhitungan di peta
Semak/ Tambak
belukar
Tanah
terbuka
Tubuh
air
345
2
36
2.151
-
137
479
-
921
-
136
-
632
546
2.518
772
10
89
831
40
4
608
2.421
64
297
6.569
14.277
20.524
3.183
10.274
3.538
349
901
6,94
15,09
21,69
3,36
10,86
3,74
0,37
0,95
85
Analisis Tekanan Penduduk
Pertumbuhan penduduk yang semakin pesat menyebabkan kebutuhan akan
lahan untuk tempat tinggal dan tempat berusaha menjadi semakin besar dan
pemanfaatan lahan yang tidak mempertimbangkan prinsip-prinsip ekologi dapat
menurunkan mutu lingkungan dan berlanjut dengan terjadinya kerusakan
ekosistem. Kualitas lingkungan dan sumberdaya alam di suatu wilayah sangat
dipengaruhi oleh pertambahan jumlah penduduk, sehingga dapat dikatakan bahwa
seluruh aktifitas manusia dalam mencukupi kebutuhan hidupnya selalu
membutuhkan ruang, terutama jika berbasis lahan seperti kegiatan pertanian yang
merupakan mata pencaharian utama masyarakat Indonesia. Seiring dengan
meningkatnya jumlah penduduk, sedangkan luas lahan relatif tetap, antara lain
berakibat pada penurunan luas kepemilikan lahan pertanian hingga tidak lagi
mencukupi untuk pemenuhan kebutuhan hidup petani. Kondisi tersebut dapat
mendorong petani untuk memperluas lahan garapannya hingga ke lahan-lahan
yang memiliki fungsi lindung, seperti lahan yang memiliki kelerengan tinggi,
ditepi sungai atau bahkan merambah ke hutan lindung.
Secara tradisional interaksi antara masyarakat dengan sumberdaya alam di
dalam kawasan lindung telah berlangsung sejak lama, seiring dengan sejarah
keberadaan manusia. Interaksi ini semakin intensif, dipicu oleh pemahaman
masyarakat sekitar hutan atau kawasan lindung, bahwa sumber daya alam
dikawasan lindung merupakan sumberdaya terbuka (open acces) yang
dianugerahkan Tuhan untuk kesejahteraan manusia. Kondisi ini menyebabkan
sulit dihindarinya interaksi antara sumberdaya alam dalam kawasan lindung dan
masyarakat, dan harus mendapat perhatian dari berbagai pihak sehingga dapat
diarahkan pada hal-hal positif yang mendukung upaya pelestarian keaneka
ragaman hayati dalam kawasan lindung.
Menurut Soemarwoto (1989), tekanan penduduk disebabkan lahan pertanian
disuatu daerah tidak cukup untuk mendukung kehidupan penduduk pada tingkat
yang dianggap layak.
Karena itu penduduk berusaha untuk mendapatkan
tambahan pendapatan dengan membuka lahan baru atau pergi ke kota. Dorongan
untuk membuka lahan atau/dan untuk pergi ke kota disebut tekanan penduduk.
86
Indikasi adanya tekanan penduduk terhadap suatu wilayah dapat dilihat
dengan nilai indeks tekanan penduduk. Menurut persamaan Soemarwoto indeks
tekanan penduduk dipengaruhi oleh proporsi jumlah masyarakat yang bekerja
dalam bidang pertanian dalam wilayah tersebut (f), luas lahan minimal yang dapat
memberikan hasil untuk hidup layak atau setara 640 kg beras/tahun (z), tingkat
pertumbuhan penduduk (r), serta luas lahan pertanian (L) dan jumlah seluruh
penduduk (P).
Luas lahan pertanian yang dapat memberikan hasil untuk
memenuhi kehidupan yang layak dipengaruhi oleh beberapa faktor diantaranya
adalah produktivitas lahan serta jenis tanaman yang dibudidayakan.
Proporsi jumlah penduduk yang berusaha dibidang pertanian juga sangat
menentukan dalam perhitungan indeks tekanan penduduk, karena dianggap
penduduk yang berusaha dibidang pertanian berpotensi untuk memanfaatkan
ruang atau kawasan dalam memenuhi kebutuhannya. Kekurangan lahan pertanian
pada kawasan budidaya menyebabkan dorongan yang cukup kuat untuk
memanfaatkan kawasan hutan untuk budidaya pertanian. Perlu diingat pernyataan
ini tidak sepenuhnya benar karena tidak semua perambah hutan berprofesi sebagai
petani. Demikian pula dengan angka pertumbuhan penduduk, semakin besar
angka pertumbuhan penduduk maka akan meningkatkan nilai indeks tekanan
penduduk.
Berdasarkan data Kecamatan dalam angka tahun 2005, rata-rata kepadatan
penduduk geografis Kabupaten Deli Serdang pada tahun 2005 adalah 633
jiwa/km2. Desa yang terpadat penduduknya adalah desa Kenangan Baru,
Kecamatan Percut Sei Tuan (39.590 jiwa/km2), sedangkan desa yang terjarang
penduduknya adalah desa Liang Pematang, Kecamatan Gunung Meriah (5 jiwa/
km2). Rata-rata kepadatan penduduk agraris adalah 9 jiwa/ha lahan pertanian,
dengan kepadatan tertinggi di desa Lubuk Pakam Tiga, Kecamatan Lubuk Pakam
(238 jiwa/ha) dan kepadatan terendah di desa Kenangan Baru, Kecamatan Percut
Sei Tuan (0 jiwa/ha).
Kepadatan penduduk agraris sangat ditentukan oleh proporsi jumlah
keluarga petani dan luas lahan pertanian yang tersedia, seperti sawah,
ladang/tegalan atau kebun. Jumlah penduduk agraris di Kabupaten Deli Serdang
yang mencapai 70 %, di mana diantaranya merupakan keluarga pertanian yang
87
berbasis lahan, berakibat pada terjadinya tekanan yang semakin berat pada sumber
daya lahan dan sumberdaya alam pada umumnya, terutama yang terdapat didalam
kawasan lindung, jika pemanfaatannya tidak dilakukan secara bijaksana. Oleh
karena itu, dalam kegiatan perencanaan dan pengembangan suatu wilayah, yang
antara lain diwujudkan dalam kegiatan penataan ruang, tekanan terhadap lahan,
terutama yang bersumber dari penduduk (tekanan penduduk), penting untuk
diketahui sebagai salah satu bentuk “peringatan dini” terhadap kemungkinan
kerusakan lingkungan.
Dalam perhitungan ini nilai kebutuhan lahan pertanian minimum untuk
mendapatkan kehidupan yang layak diasumsikan seragam yaitu 0,75/ha/orang.
Hal ini dibuat karena minimnya data jenis tanaman yang dibudidayakan dan
tingkat produktivitas pada kawasan tersebut, dan sebagian besar petani disana
memiliki kebiasaan yang sering mengganti jenis komoditi yang dibudidayakan,
sehingga untuk memudahkan perhitungan ditetapkan sebesar 0,75 sesuai dengan
tabel rata-rata kebutuhan minimal standar kehidupan yang disampaikan oleh
Soemarwoto (1989).
Berdasarkan nilai indeks tekanan penduduk, dari 403 Desa yang terdapat di
wilayah Kabupaten Deli Serdang (Gambar 20), terdapat 91 desa yang dapat
dikatakan tidak ada tekanan yang berarti terhadap lahan (nilai Indeks tekanan
penduduk 1) dan 312 desa lainnya memiliki nilai indeks tekanan penduduk > 1.
Jumlah desa = 403
23%
>1
<=1
77%
Gambar 19. Pembagian Desa Berdasarkan Indeks Tekanan Penduduk
88
Berdasarkan hasil overlay antara peta indeks tekanan penduduk dengan peta
arahan kawasan lindung menunjukkan bahwa seluas 66,59 % kawasan yang
berfungsi lindung berada pada wilayah-wilayah yang memiliki tekanan penduduk
(nilai Indeks Tekanan Penduduk > 1) (Tabel 28). Hal ini menunjukkan bahwa
sebagian besar kawasan lindung yang ada berada pada desa-desa yang mempunyai
indeks tekanan penduduk yang tinggi yang sangat berpotensi pada terjadi
penyimpangan kawasan lindung akibat dari pemanfaaan budidaya/produktif pada
kawasan kawasan lindung di Kabupaten Deli Serdang.
Tabel 28. Distribusi wilayah berdasarkan indeks tekanan penduduk
Luas (ha)
Indeks Tekanan
Indeks Tekanan
Penduduk > 1
Penduduk 1
No
Jenis Kawasan Lindung
1
Kawasan perlindungan bawahannya
16.876
10.039
2
Kawasan perlindungan setempat
19.751
8,012
3
Kawasan suaka alam
13.835
7.464
4
Kawasan rawan bencana
6.287
5.149
5
Kawasan lindung lainnya
3.214
3
59,966
30.126
66,59
33,64
Luas keseluruhan
Prosentase
*) Luas didasarkan perhitungan di peta
Masalah tekanan penduduk yang tinggi dipengaruhi oleh kuantitas maupun
kualitas penduduk. Makin besar jumlah penduduk maka akan menyebabkan
kebutuhan lahan semakin besar, begitupun juga dengan kebutuhan pemanfaatan
lahan pertanian yang akan semakin besar. Tekanan penduduk yang tinggi tersebut
selain dipengaruhi jumlah petani dan jumlah lahan pertanian yang ada, juga
dipengaruhi oleh kemampuan masyarakat dalam mengelola lahan secara efiseien
dan efektif.
Hal ini mengakibatkan bahwa kebutuhan lahan pertanian akan
semakin bertambah dengan semakin tingginya tekanan penduduk. Tekanan
penduduk ini mengindikasikan bahwa akan terjadi perluasan lahan pertanian pada
kawasan non pertanian terutama pada kawasan open acces (kawasan lindung)
kepada pemanfaatan budidaya guna memenuhi kebutuhan hidup masyarakat.
Kondisi sosial ekonomi masyarakat sekitar kawasan lindung yang
memprihatinkan dan ketergantungan terhadap sumberdaya alam serta terbatasnya
peluang usaha dan kesempatan kerja di sekitar kawasan lindung seringkali
89
menjadi penyebab ketidak pedulian terhadap kualitas lingkungan dan rendahnya
upaya konservasi. Salah satu alternatif upaya peningkatan kepedulian masyarakat
sekitar kawasan lindung ini terhadap kondisi lingkungan sekitarnya adalah dengan
penggunaan insentif dan disinsentif ekonomis, seperti yang telah diatur dalam
Undang-Undang No. 26 Tahun 2007 tentang Penataan Ruang.
Adapun bentuk insentif ekonomis dapat berbentuk langsung dan tidak
langsung.
Intensif langsung biasanya berupa pemberian bantuan yang dapat
dinikmati langsung oleh masyarakat, misalnya bantuan bibit tanaman pertanian,
ternak, uang dan sebagainya. Sedangkan intensif tidak langsung biasanya dalam
bentuk peningkatan capacity building (pemberdayaan masyarakat) berupa
pelatihan keterampilan, budidaya pertanian, konservasi dan lainnya. Adapun
disinsentif yang biasa diberlakukan adalah pemberian denda, pajak dan hukuman
lainnya (sesuai dengan kebijakan dan peraturan lainnya).
90
KESIMPULAN DAN SARAN
Kesimpulan
1. Berdasarkan hasil analisis di wilayah Kabupaten Deli Serdang, kawasan hutan
yang harus dipertahankan adalah 50.009 ha atau 20,02 % dari luas wilayah
Kabupaten Deli Serdang.
2. Hasil analisis kawasan lindung berdasarkan kriteria dari Keputusan Presiden
Nomor 32 Tahun 1990 tentang Pengelolaan Kawasan Lindung, menunjukkan
bahwa kawasan yang harus dipertahankan sebagai kawasan lindung adalah
seluas 96.764 ha atau 38,74 % dari luas wilayah Kabupaten Deli Serdang yang
mencakup kawasan yang memberikan perlindungan kawasan bawahannya
(hutan lindung) seluas 27.983 ha (11,20 %), kawasan perlindungan setempat
(sempadan sungai, sempadan pantai dan mata air) seluas 30.278 ha (12,11 %),
kawasan suaka alam (cagar alam, suaka margasatwa dan tahura) seluas 22.026
(8,82 %), kawasan rawan bencana seluas 11.435 (4,58 %) dan kawasan
lindung lainnya (hutan bakau) seluas 5.042 ha (2,02 %).
3. Hasil analisis kemungkinan penyimpangan kawasan lindung menunjukkan
bahwa :
a) Berdasarkan rencana tata ruang wilayah (RTRW) dengan kondisi
eksisting, terdapat penyimpangan pemanfaatan kawasan lindung sebesar
28,47 % dari luas kawasan lindung dalam RTRW Propinsi Sumatera Utara
dan 30,96 % dalam RTRW Kabupaten Deli Serdang.
b) Berdasarkan rencana tata ruang wilayah (RTRW) dengan kawasan lindung
sesuai Keppres Nomor 32 Tahun 1990, kawasan yang belum ditetapkan
dan dialokasikan sebagai kawasan lindung dalam RTRWP adalah 44,89 %
dari luas kawasan lindung, sedangkan dalam RTRWK kawasan yang
belum ditetapkan dan dialokasikan sebagai kawasan lindung adalah
45,27 % dari luas kawasan lindung.
c) Berdasarkan kondisi eksisting dengan kawasan lindung sesuai Keppres
Nomor 32 Tahun 1990, terdapat penyimpangan pemanfaataan fungsi
kawasan lindung sebesar 34,95 % dari luas kawasan lindung yang
91
dimanfaatkan
sebagai
kawasan
produktif/budidaya
berupa
lahan
pertanian/tegalan, sawah, tambak, semak belukar, lahan terbuka serta
pemukiman.
4. Berdasarkan hasil analisis tekanan penduduk, dari 403 desa yang ada di
wilayah Kabupaten Deli Serdang, terdapat 312 desa yang mempunyai indeks
tekanan penduduk > 1, yang berpotensi untuk mendorong penduduk dalam
melakukan perluasan lahan pertanian dalam kawasan lindung.
Saran
1. Adanya peninjauan kembali terhadap dokumen perencanaan pemanfaataan
ruang (RTRW) Kabupaten Deli Serdang yang telah ada.
2. Perlu membuat kebijakan atau peraturan daerah yang mengatur tentang
kawasan lindung termasuk didalamnya kawasan hutan serta kawasan non
hutan berkaitan dengan pemantapan kawasan yang “clear and clean”, baik
secara hukum dan sosial kemasyarakatan, serta kejelasan kewenangan
pemanfataan dan pengelolaan oleh stake holders di daerah.
3. Adanya kesepahaman didaerah untuk mengurangi pemanfaatan kawasan
lindung oleh masyarakat melalui pengembangan budaya/kelembagaan
masyarakat lokal melalui diseminasi dan pelatihan ketrampilan/budidaya
pertanian konservasi, kebijakan sistem insentif dan diistensif berupa
pemberian dan pengurangan pajak, peningkatan sarana dan prasarana serta
aksesibilitas antar wilayah.
92
DAFTAR PUSTAKA
Aliati A.S. 2007. Kajian Kawasan Lindung untuk Penataan Ruang yang Ramah
Lingkungan (Studi Kasus di Kabupaten Bogor) [Tesis]. Bogor. Program
Studi Perencanaan Wilayah. Sekolah Pascasarjana, Institut Pertanian
Bogor
Azhuri. M. 2006. Klasifikasi Lahan untuk Perencanaan Tata Ruang Jakarta.
Buletin Planologi Departemen Kehutanan.
Arsyad, S. 1989. Konservasi Tanah dan Air. Bogor. IPB Press
[BAPLAN] Badan Planologi Kehutanan. 2005. Kajian penataan Ruang dalam
Rangka Pemantapan Kawasan Hutan.
[BIKT] Badan Infokom dan Telematika. 2004. Profil Kabupaten Deli Serdang.
Lubuk Pakam. Pemerintah Daerah Kabupaten Deli Serdang.
[CIFOR] Center for International Forestry Research. 2002. Tata Ruang dan
Proses Penataan Ruang. Warta kebijakan 5:1-6.
---------- 2004. Peraturan Pemerintah No. 34 Tahun 2002 tentang Tata Hutan dan
Penyusunan Rencana Pengelolaan Hutan, Pemanfaatan Hutan dan
Penggunaan Kawasan Hutan. Warta kebijakan. 13 :1-8
Cruz, R.V.O. 1999. Integrated Land Use Planning and Sustainable Watershed
Management. Journal of Philippine Development Number 47 Volume
XXVI No. 1 First Semestre 1999.
Dardak , A. H. 2005. Pemanfaatan Lahan Berbasis Rencana Tata Ruang Sebagai
Upaya Perwujudan Ruang Hidup yang Nyaman, Produktif dan
Berkelanjutan, disampaikan dalam Seminar Nasional “Save Our Land”
for The Better Environment, Fakultas Pertanian Institut Pertanian Bogor,
10 Desember 2005. Bogor.
--------- 2006. Perencanaan Tata Ruang Bervisi Lingkungan sebagai Upaya
Mewujudkan Ruang yang Nyaman, Produktif dan Berkelanjutan
disampaikan dalam Lokakarya Revitalisasi Tata Ruang dalam Rangka
Pengendalian Bencana Longsor dan Banjir tanggal 28 Pebuari 2006.
Yogyakarta.
[Ditjen Penataan Ruang]. 2005. Strategi Perwujudan Rencana Tata Ruang Pulau
Kalimantan dalam rangka menunjang pelaksanaan Program Heart of
Borneo. Disampaikan dalam Lokakarya Nasional Heart Of Borneo di
Jakarta.
Djajono A. 2005. Kompleksitas Tenurial dalam Perencanaan Ruang Kehutanan
93
Jakarta. Buletin Planologi Departemen Kehutanan.
----------. 2006. Permasalahan dalam Perencanaan Ruang Kehutanan. Jakarta.
Buletin Planologi Departemen Kehutanan.
Fay, C., and G. Michon. 2005. Redressing forestry hegemony: When a forestry
regulatory framework is best replaced by an agrarian one. Forest, Trees
and Livelihoods. Vol. 15
[ICRAFT] International Center Research of Agroforestry. 2006. Memperkokoh
Pengelolaan Hutan di Indonesia Melalui Pembaruan Penguasaan tanah.
Permasalahan dan Tindakan. Bogor.
Iftitah N. 2005. Analisis keruangan Kawasan Lindung Das Cikaso, Kabupaten
Sukabumi. [Tesis]. Bogor. Program Studi Perencanaan Wilayah. Sekolah
Pascasarjana, Institut Pertanian Bogor.
[IUCN]. The World Conservation Union. 1994. Guidelines for Protected Areas
Management Categories.. Cambridges, UK and Glands Switzerland..
WWW. IUCN. Org.
Marc Hockings, Sue Stolton dan Nigel Dudley. 2002. Mengevaluasi keefektifan
Ringkasan untuk para pengelola taman nasional dan pembuat kebijakan.
Artikel internet WWW. IUCN. Org.
Mac Kinnon J, Mac Kinnon K, Child G, Thorsel J. 1986. Managing Protected
Areas in Tropics . United Nation of Environment Programme. Canada.
Jayadinata, J.T. 1999. Tata Guna Tanah dalam Perencanaan Pedesaan Perkotaan
dan Wilayah. Edisi ketiga. ITB, Bandung.
Presiden Republik Indonesia. 1997. Peraturan Pemerintah Nomor 47 Tahun 1997
tentang Rencana Tata Ruang Wilayah Nasional.
---------.1990. Presiden Republik Indonesia. 1990. Keputusan Presiden Republik
Indonesia Nomor 32 Tahun 1990 tentang Pengelolaan Kawasan Lindung.
Ramadhan, S. 2005. Dinamika Paradigma, Kebijakan dan Strategi Pengembangan
Sumberdaya Hutan. Jakarta. Buletin Planologi Departemen Kehutanan.
Rustiadi, E, S. Saefulhakim dan D. Panuju. Diktat Perencanaan dan
Pengembangan Wilayah Edisi Mei 2006. Fakultas Pertanian Institut
Pertanian Bogor (tidak dipublikasikan).
Santoso, H. 2000. Penataan Ruang Wilayah dan Pengelolaan Sumberdaya
Menyongsong Penyelenggaraan Otonomi Daerah. Medan. Seminar
Nasional MKTI di Fakultas Pertanian USU - Medan.
94
Santoso I, Hinrichs A. 2000. Pemetaan Hutan untuk Perencanaan Tata Guna
Lahan dan Pengelolaan Hutan Lestari di Indonesia. Jakarta. Depatemen
Kehutanan.
Sitorus, S.R.P. 1996. Evaluasi Sumberdaya Lahan cetakan ke-tiga. Bandung.
Penerbit Tarsito.
Setia Hadi, 2006. Penataan Ruang untuk Pemantapan Kawasan Hutan. Modul
Pelatihan dan Penyusunan Produk Domestik Regional Bruto (PDRB)
Hijau dan Perencanaan kehutanan Berbasis Penataan Ruang. Bogor.
Departemen Kehutanan.
Suhendang, E. 2005. Arah dan Skenario Pengembangan dan Pemantapan
Kawasan Hutan. Jakarta. Buletin Planologi Departemen Kehutanan.
Sugandhy, A. 1999. Penataan Ruang dalam Pengelolaan Lingkungan Hidup.
Jakarta: PT. Gramedia Pustaka Utama.
Supriadi D., Sudrajat A. 2003. Kebijakan Pengelolaan Kawasan Lindung di
Daerah Jawa Barat dalam Konsepsi Pengelolaan Kawasan Lindung di
Jawa Barat. Bandung. Alqaprint.
Suryatmojo, H. 2003. Peran Hutan sebagai Penyedia Jasa Lingkungan. Artikel
Internet.
[UML] Unit Manajemen Leuser. 2005. Arahan Penyusunan Ruang DAS Bahorok.
Medan.
Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 5 Tahun 1960 tentang Pokok-Pokok
Agraria.
Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 41 Tahun 1999 tentang Kehutanan
Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 32 Tahun 2004 tentang Pemerintahan
Daerah
Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 26 Tahun 2007 tentang Penataaan
Ruang.
95
LAMPIRAN
96
Lampiran 1. Peta iklim di Kabupaten Deli Serdang
97
Lampiran 2. Peta satuan tanah dan lahan di Kabupaten Deli Serdang
98
Lampiran 3. Peta kelas lereng di Kabupaten Deli Serdang
99
Lampiran 4. Peta ketinggian di Kabupaten Deli Serdang
100
Lampiran 5. Peta DAS di Kabupaten Deli Serdang
101
Lampiran 6. Peta kawasan rawan bencana longsor di Kabupaten Deli Serdang
102
Lampiran 7. Peta RTRW Kabupaten Deli Serdang
103
Lampiran 8. Peta RTRW Propinsi Sumatera Utara di Kabupaten Deli Serdang
104
Lampiran 9. Peta penggunaan lahan eksisting di Kabupaten Deli Serdang
105
Lampiran 10. Indeks tekanan penduduk di Kabupaten Deli Serdang
PENDUDUK
KECAMATAN
TG . MORAWA
SUNGGAL
GALANG
DESA/KELURAHAN
MEDAN SINEMBAH
BANDAR LABUHAN
BANGUN REJO
AEK PANCUR
NAGA TIMBUL
LENGAU SERPANG
SEI MERAH
DAGANG KERAWAN
TANJUNG MORAWA PKN
TANJUNG MORAWA A
LIMAU MANIS
UJUNG SERDANG
BANGUN SARI
BANGUN SARI BARU
BUNTU BEDIMBAR
TELAGA SARI
DAGANG KELAMBIR
TANJUNG MORAWA B
TANJUNG BARU
PUNDEN REJO
TANJUNG MULIA
PERDAMEAN
WONO SARI
DALU 10 A
DALU 10 B
PENARA KEBUN
TELAGA SARI
SEI MENCIRIM
SUKA MAJU
SEI BERAS SEKATA
TG SELAMAT
SUNGAL KANAN
MEDAN KRIO
PAYA GELI
PUJI MULYO
SEI SEMAYANG
SM DISKI
SERBA JADI
MULYO REJO
KP LALANG
PURWODADI
TG GUSTA
HELVETIA
KP. PAKU
BANDAR KWALA
BARU TITI BESI
PULAU TAGOR BARU
GALANG BARAT
KOTANGAN
SUNGEI PUTIH
PAYA KUDA
KP KELAPA SATU
PISANG PALA
PETUMBUKAN
TANJUNG GUSTI
SUNGAI KARANG
KP GALANG SUKA
JAHARUM A
TIMBANG DELI
TANAH MERAH
(JIWA)
(P0)
3597
3597
7332
385
3120
3595
1331
5091
5738
6698
13462
2694
11045
6209
10497
4470
2123
9775
6467
1707
1483
3946
8177
4889
4802
3957
2385
9938
6650
4147
5115
7403
8942
13148
6823
26157
8188
2766
17760
8285
11685
18634
12956
1549
945
643
89
964
843
2453
413
998
2077
2585
1291
1954
2536
2456
1628
1411
PROPORSI
PETANI
(%)
(f)
15
3
5
87
49
47
25
2
0
7
17
18
12
42
4
7
23
10
20
82
77
92
49
88
46
97
35
35
27
42
37
34
34
12
19
23
31
53
33
5
5
5
5
88
74
81
99
80
71
48
60
64
65
37
59
33
42
54
65
68
LUAS
LAHAN
REIT
TEKANAN
PERTANIAN
(Ha)
LUAS
LAHAN
UNTUK
HIDUP
LAYAK (Z)
PERTUMBUHAN
PENDUDUK ( r )
PENDUDUK
(PPt)
314
223
507
410
445
348
1786
141
0
217
636
375
496
578
112
153
66
451
398
80
130
361
625
390
805
505
155
646
499
371
193
187
507
116
117
1106
139
428
882
17
45
149
41
327
1185
76
399
1939
65
1533
340
218
234
120
131
105
147
343
1248
222
0.75
0.75
0.75
0.75
0.75
0.75
0.75
0.75
0.75
0.75
0.75
0.75
0.75
0.75
0.75
0.75
0.75
0.75
0.75
0.75
0.75
0.75
0.75
0.75
0.75
0.75
0.75
0.75
0.75
0.75
0.75
0.75
0.75
0.75
0.75
0.75
0.75
0.75
0.75
0.75
0.75
0.75
0.75
0.75
0.75
0.75
0.75
0.75
0.75
0.75
0.75
0.75
0.75
0.75
0.75
0.75
0.75
0.75
0.75
0.75
0.266
0.105
0.890
0.031
0.041
0.044
0.054
-0.006
0.101
0.231
0.038
0.050
0.071
-0.025
0.145
0.065
0.140
0.161
0.069
0.102
0.022
0.072
0.073
0.042
0.033
-0.302
0.057
0.096
0.077
0.125
0.093
0.023
0.043
0.089
0.214
-0.020
0.027
0.128
0.191
0.013
0.098
0.093
0.013
0.061
0.103
0.025
0.545
0.160
-0.055
0.391
0.247
0.083
0.112
0.115
0.108
0.166
0.031
0.092
0.196
0.004
2.61
0.49
3.66
0.67
2.91
4.14
0.16
0.53
0
3.02
3.02
1.12
2.46
3.14
4.22
1.85
8.22
2.54
2.98
17.56
7.03
9.29
5.94
9.36
2.27
1.94
4.77
5.32
3.37
5.01
9.6
10.81
5.1
13.17
14.87
3.84
14.84
3.69
8.42
19
12.89
6.12
12.32
3.73
0.59
5.53
0.61
0.47
5.83
1.55
1.06
2.79
5.95
8.29
5.93
7.3
5.96
3.78
1.09
3.28
PENDUDUK
KECAMATAN
GALANG
STM HULU
DELI TUA
BERINGIN
LABUHAN DELI
STM HILIR
DESA/KELURAHAN
PERTANGGUHAN
TANJUNG SIPORKIS
BATU LOKONG
NAGA REJO
PAYA ITIK
PAYA SAMPIR
KP JOHAR BARU
KOTASAN
JAHARUM B
TANAH ABANG
KRAMAT GAJAH
GALANG KOTA
LIANG PEMATANG
LIANG MUDA
TANJUNG RAJA
GUNUNG MANUMPAK B
SIPINGGAN
TANJUNG MUDA
BAH BUNTU
KUTA MBELIN
TANJUNG BAMPU
TANJUNG TIMUR
DURIN TINGGUNG
RUMAH RIH
SIBUNGA BUNGA HILIR
GUNUNG MANUMPAK A
DURIAN IV MBELANG
TIGA JUHAR
RANGGITGIT
RUMAH SUMBUL
RUMAH LENGO
TANAH GARA HULU
DELI TUA BARAT
DELI TUA TIMUR
DELI TUA
MEKAR SARI
KEDAI DURIAN
SUKA MAKMUR
TUMPATAN
EMPSMN KUALA NAMU
SIDODADI RAMUNIA
PSR. V KEBUN KELAPA
ARAS KABU
SERDANG
SIDOURIP
PSR. VI KUALA NAMU
KARANG ANYAR
BERINGIN
SIDOARJO II RAMUNIA
HELVETIA
MANUNGGAL
PEMATANG JOHAR
TELAGA TUJUH
KARANG GADING
RAMBAI
KUTA JURUNG
PENUNGKIREN
LAU RAKIT
TALA PETA
SIGUCI
GUNUNG RINTIS
(JIWA)
(P0)
1632
955
1776
3272
1065
164
1054
2641
4514
298
1643
10995
166
127
407
137
504
228
383
600
291
500
448
594
354
414
425
1247
603
1275
616
720
6984
5542
3858
5236
6024
6688
3792
1847
9390
4534
2248
3269
1850
610
5978
7963
3090
14918
3749
10156
1858
3749
746
1230
871
872
1604
1466
2096
PROPORSI
PETANI
(%)
(f)
61
57
73
69
73
58
67
56
68
61
74
21
89
90
99
95
98
95
85
83
85
83
83
89
87
87
95
68
84
97
79
86
10
5
2
5
3
5
34
63
27
21
50
43
30
47
32
31
67
0
0
67
54
56
94
94
96
95
95
93
92
LUAS
LAHAN
PERTANIAN
(Ha)
348
196
2452
436
218
528
125
354
600
275
164
131
93
84
232
112
453
320
108
289
509
365
135
478
163
250
140
172
133
409
695
236
37
6
5
10
5
10
237
60
837
135
538
519
253
30
830
622
1068
10
20
1675
221
500
731
957
645
521
1258
1010
3936
LUAS
LAHAN
UNTUK
HIDUP
LAYAK (Z)
0.75
0.75
0.75
0.75
0.75
0.75
0.75
0.75
0.75
0.75
0.75
0.75
0.75
0.75
0.75
0.75
0.75
0.75
0.75
0.75
0.75
0.75
0.75
0.75
0.75
0.75
0.75
0.75
0.75
0.75
0.75
0.75
0.75
0.75
0.75
0.75
0.75
0.75
0.75
0.75
0.75
0.75
0.75
0.75
0.75
0.75
0.75
0.75
0.75
0.75
0.75
0.75
0.75
0.75
0.75
0.75
0.75
0.75
0.75
0.75
0.75
106
REIT
TEKANAN
PERTUMBUHAN
PENDUDUK ( r )
0.313
0.049
0.074
-0.013
0.079
0.476
-0.200
0.065
0.051
0.330
0.093
-0.068
0.008
-0.147
0.081
0.027
-0.028
-0.012
0.049
0.119
0.165
0.045
0.113
-0.047
0.090
-0.046
-0.085
0.225
0.081
-0.201
0.494
-0.020
-0.071
-0.094
0.383
0.036
-0.009
-0.051
0.144
0.032
0.070
0.550
0.036
-0.069
0.048
-0.108
0.075
-0.028
-0.022
0.066
0.970
0.078
0.021
0.079
0.029
-0.090
-0.034
0.198
0.032
0.009
0.012
PENDUDUK
(PPt)
4.86
2.4
0.49
3.73
3.36
0.43
2.17
3.78
4.45
1.17
7.26
10.7
1.22
0.63
1.65
0.94
0.75
0.49
2.61
1.61
0.58
0.97
2.85
0.72
1.84
0.94
1.66
6.8
3.61
1.16
1.75
1.85
11.35
25.76
30.62
21.83
26.38
21.44
6.11
15.99
2.78
19.7
1.74
1.64
1.89
5.09
2.15
2.73
1.36
0
0
3.82
3.62
3.96
0.78
0.68
0.88
2.05
1
1.04
0.38
PENDUDUK
KECAMATAN
STM HILIR
BATANG KUIS
PERCUT S. TUAN
HAMPARAN PERAK
DESA/KELURAHAN
LAU REMPAH
JUMA TOMBAK
NEGARA/BRINGIN
TELUN KENAS
NEGARA/BRINGIN
TELUN KENAS
SUMBUL
LIMAU MUNGKUR
TADUKAN RAGA
LAU BARUS BARU
SENA
TUMPATAN NIBUNG
BARU
TANJUNG SARI
BAKARAN BATU
BINTANG MERIAH
BT KUIS PEKAN
PAYA GAMBAR
SIDODADI
SUGIHARJO
MESJID
AMPLAS
KENANGAN
TEMBUNG
SUMBER REJO TIMUR
SEI ROTAN
BANDAR KLIPPA
BANDAR KHALIPAH
MEDAN ESTATE
LAUT DENDANG
SAMPALI
BANDAR SETIA
KOLAM
SAENTIS
CINTA RAKYAT
CINTA DAMAI
PEMATANG LALANG
PERCUT
TANJUNG REJO
TANJUNG SELAMAT
KENANGAN BARU
HAMPARAN PERAK
SUNGAI BAHARU
KAMPUNG LAMA
KLAMBIR
KP SELEMAK
KLUMPANG KEBON
KLUMPANG KAMPUNG
KLAMBIR LIMA KEBON
KLAMBIR LIMA KP
SIALANG MUDA
PAYA BAKUNG
KP TANDAM HULU SATU
TANDAM HILIR DUA
TANDAM HILIR SATU
KOTA DATAR
BULUH CINA
PALUH MANAN
KOTA RANTANG
PALUH KURAU
TANDAM HULU DUA
(JIWA)
(P0)
737
1478
2625
2261
2625
2261
1654
1581
2063
3888
4545
4471
4053
6945
1577
3755
3943
1805
2541
3972
1067
3014
25726
25148
14465
13352
19345
22857
9516
10126
16841
9007
8253
9264
7857
4864
1890
10948
7584
3800
25007
10124
2962
3657
3758
1911
9051
3642
12875
3737
1347
7670
3726
7338
9772
5625
11332
2866
3790
5394
6339
PROPORSI
PETANI
(%)
(f)
97
92
80
73
80
73
90
90
83
87
11
52
39
6
8
10
6
56
7
40
64
81
0
2
25
28
3
8
0
5
3
18
55
3
16
69
76
17
70
37
0
16
29
43
25
14
10
18
15
10
34
44
44
57
26
61
25
46
47
38
23
LUAS
LAHAN
PERTANIAN
(Ha)
3984
657
783
313
783
313
713
995
897
3961
600
265
342
651
15
28
20
231
887
81
238
209
0
20
125
200
26
50
1
13
15
50
325
30
45
962
415
550
1509
430
0
500
595
479
412
56
1842
94
2152
78
106
570
1142
859
2445
1313
3521
1150
680
2404
321
LUAS
LAHAN
UNTUK
HIDUP
LAYAK (Z)
0.75
0.75
0.75
0.75
0.75
0.75
0.75
0.75
0.75
0.75
0.75
0.75
0.75
0.75
0.75
0.75
0.75
0.75
0.75
0.75
0.75
0.75
0.75
0.75
0.75
0.75
0.75
0.75
0.75
0.75
0.75
0.75
0.75
0.75
0.75
0.75
0.75
0.75
0.75
0.75
0.75
0.75
0.75
0.75
0.75
0.75
0.75
0.75
0.75
0.75
0.75
0.75
0.75
0.75
0.75
0.75
0.75
0.75
0.75
0.75
0.75
107
REIT
TEKANAN
PERTUMBUHAN
PENDUDUK ( r )
0.043
0.025
-0.044
0.024
-0.044
0.024
0.288
0.040
0.161
-0.008
0.069
0.068
0.056
0.078
0.075
0.072
0.072
0.066
0.083
0.063
0.056
0.110
0.037
0.127
0.078
0.113
0.161
0.072
0.006
0.050
0.097
0.118
0.076
0.162
0.135
0.008
-0.074
0.040
0.066
0.016
0.047
0.040
0.059
0.034
0.023
0.019
0.045
0.079
0.011
0.026
0.033
0.049
0.035
0.053
0.061
0.044
0.066
0.021
0.041
0.147
0.029
PENDUDUK
(PPt)
0.15
1.67
1.76
4.25
1.76
4.25
3.35
1.21
2.24
0.63
0.76
8.02
4.02
0.6
7.84
12.39
10.93
3.98
0.19
17.67
2.53
11.98
0
27
27.18
19.33
26.2
33.79
0
33.81
33.35
33.98
13.05
10.9
30.63
2.68
2.06
2.85
3.2
2.57
0
2.73
1.29
2.72
1.83
3.79
0.42
6.57
0.7
3.88
3.57
5.13
1.19
4.26
0.93
2.23
0.73
0.92
2.22
0.96
3.71
PENDUDUK
KECAMATAN
PANTAI LABU
GUNUNG MERIAH
SIBOLANGIT
DESA/KELURAHAN
SEI TUAN
TENGAH
KELAMBIR
DURIAN
KUBAH SENTANG
PERK RAMUNIA
RAMUNIA SATU
RAMUNIA DUA
DENAI SARANG BRNG
DENAI LAMA
BINJAI BAKUNG
DENAI KUALA
PALUH SEBAJI
PANTAI LABU BARU
PANTAI LABU PEKAN
REGEMUK
PEMATANG BIARA
RANTAU PANJANG
BAGAN SERDANG
KUTA BAYU
BINTANG MERIAH
MARJANJI TONGAH
UJUNG MERIAH
GUNUNG MERIAH
PEKAN GNG. MERIAH
KUTA TENGAH
GUNUNG SERIBU
SIMEMPAR
GUNUNG PARIBUAN
GUNUNG SINEMBAH
MARJANJI PEMATANG
BANDAR BARU
BATU LAYANG
BATU MBELIN
BETIMUS BARU
BINGKAWAN
BENGKURUNG
BUAH NABAR
BUKUM
BULUH AWAR
CINTA RAKYAT
DURIN SERUGUN
KETANGKUHEN
KUALA
MARTELU
NEGRI GUGUNG
PUANGAJA
RAMBUNG BARU
SALA BULAN
SAYUM SABAH
RAMBUNG BARU
RMH. KINANGKUNG SP
RUMAH PIL-PIL
RUMAH SUMBUL
SEMBAHE
SIBOLANGIT
SIKEBEN
SUKAMAJU
SUKA MAKMUR
TAMBUNEN
TANJUNG BERINGIN
(JIWA)
(P0)
1075
653
1864
3819
1004
2040
759
2084
2413
2115
1470
2006
2929
703
3026
2045
3013
2087
1326
392
152
216
241
319
316
159
216
140
312
316
293
2355
457
442
267
640
240
364
598
320
255
557
471
291
342
284
327
684
253
615
684
505
954
311
749
787
520
645
1232
451
251
PROPORSI
PETANI
(%)
(f)
78
61
72
75
77
62
84
30
80
78
84
88
70
94
11
68
68
76
36
98
97
98
96
88
97
88
89
89
85
84
92
61
94
87
91
88
90
8
92
92
95
91
89
87
92
88
95
89
91
96
89
81
98
89
86
82
91
85
92
93
93
LUAS
LAHAN
PERTANIAN
(Ha)
300
150
250
949
110
150
146
120
227
325
200
300
150
60
20
250
300
200
25
232
89
148
36
194
133
52
100
34
354
102
240
260
287
250
274
115
215
300
440
180
244
315
475
170
230
148
240
257
435
388
257
315
290
110
221
261
380
300
319
292
408
LUAS
LAHAN
UNTUK
HIDUP
LAYAK (Z)
0.75
0.75
0.75
0.75
0.75
0.75
0.75
0.75
0.75
0.75
0.75
0.75
0.75
0.75
0.75
0.75
0.75
0.75
0.75
0.75
0.75
0.75
0.75
0.75
0.75
0.75
0.75
0.75
0.75
0.75
0.75
0.75
0.75
0.75
0.75
0.75
0.75
0.75
0.75
0.75
0.75
0.75
0.75
0.75
0.75
0.75
0.75
0.75
0.75
0.75
0.75
0.75
0.75
0.75
0.75
0.75
0.75
0.75
0.75
0.75
0.75
108
REIT
TEKANAN
PERTUMBUHAN
PENDUDUK ( r )
0.002
0.141
0.032
0.082
0.028
0.029
0.014
0.035
0.040
0.036
0.014
0.008
0.034
0.033
0.109
0.060
0.035
0.040
-0.001
-0.880
0.191
0.002
-0.234
-0.163
-0.178
0.275
0.119
-0.002
-0.098
-0.051
-0.107
0.087
0.008
0.201
0.046
-0.215
0.835
-0.139
0.122
0.056
0.035
0.036
0.122
-0.155
0.011
0.031
0.015
0.129
0.041
0.018
0.129
0.040
-0.006
0.077
0.245
0.132
0.098
0.127
0.001
0.016
-0.019
PENDUDUK
(PPt)
2.11
2.96
4.43
2.87
5.73
6.89
3.41
4.33
7.17
4.23
4.83
4.52
11.33
9.11
17.03
4.97
5.68
6.69
14.28
0
2.1
1.08
2.17
0.64
0.96
4.18
2.02
2.73
0.41
1.67
0.6
5.32
1.15
2.00
0.76
1.78
4.66
0.05
1.32
1.44
0.83
1.34
0.93
0.67
1.06
1.39
1.02
2.56
0.45
1.20
2.56
1.10
2.37
2.36
4.22
2.69
1.24
1.96
2.67
1.13
0.41
PENDUDUK
KECAMATAN
SIBOLANGIT
LUBUK PAKAM
PATUMBAK
BANGUN PURBA
NAMORAMBE
DESA/KELURAHAN
UJUNG DELENG
NEGRI GUGUNG
PUANGAJA
PALUH KEMIRI
PETAPAHAN
TANJUNG GARBUS SATU
PAGAR MERBAU TIGA
CEMARA
PASAR MELINTANG
PAGAR JATI
SYAHMAD
LUBUK PAKAM TIGA
LUBUK PAKAM I/II
LUBUK PAKAM PEKAN
BAKARAN BATU
SEKIP
PATUMBAK SATU
LANTASAN BARU
LANTASAN LAMA
PATUMBAK DUA
SIGARA GARA
MARINDAL SATU
PATUMBAK KP
MARINDAL DUA
PAMAH
TAREAN
TAPAK MERIAH
PAGAR MANIK
SILINDA
DAMAK GLUGUR
KULASAR
SUNGAI BUAYA
MABAR
BATU MASAGI
SIBAGANDING
BAH BALUA
RUMAH DELENG
BANDAR GUNUNG
BANDAR MERIAH
PERGURUAN
BANGUN PURBA TNGH
DAMAK MALIHO
SUKA LUWEI
URUNG GANJANG
GREAHAN
BATU GINGGING
TANJUNG PURBA
SIALANG
BANGUN PURBA
CIMAHE
BAGERPANG
BATU RATA
UJUNG RAMBE
BANDAR KWALA
MAROMBUN BARAT
BAH PERAK
SUKA MULIA HILIR
SUKA MULIA HULU
SUDI REJO
LAU MULGAP
BATU GEMUK
(JIWA)
(P0)
559
284
327
2046
1073
2961
3760
6731
5534
5448
3274
4514
7358
6908
7248
13614
4868
1612
2812
3372
6546
12037
10423
9193
846
1792
1031
1098
692
652
933
1449
917
349
944
462
405
644
792
511
938
645
1559
171
901
1290
997
2127
2565
859
1695
323
1721
422
105
1300
255
222
1445
160
347
PROPORSI
PETANI
(%)
(f)
96
88
95
38
78
54
20
10
26
79
3
0.5
0.5
0
19
46
48
64
46
62
40
19
27
27
74
95
56
96
89
67
80
60
81
58
75
53
70
74
57
76
49
80
65
58
78
74
84
79
81
66
53
71
61
78
53
65
84
86
34
92
82
LUAS
LAHAN
PERTANIAN
(Ha)
365
148
240
260
382
402
116
20
1277
389
5
1
1
0
45
521
129
545
86
121
140
348
139
120
880
1860
855
1105
940
670
1170
430
1145
250
975
280
690
650
480
240
605
1140
954
105
760
1080
350
1190
890
880
1200
470
785
780
80
780
157
57
96
140
199
LUAS
LAHAN
UNTUK
HIDUP
LAYAK (Z)
0.75
0.75
0.75
0.75
0.75
0.75
0.75
0.75
0.75
0.75
0.75
0.75
0.75
0.75
0.75
0.75
0.75
0.75
0.75
0.75
0.75
0.75
0.75
0.75
0.75
0.75
0.75
0.75
0.75
0.75
0.75
0.75
0.75
0.75
0.75
0.75
0.75
0.75
0.75
0.75
0.75
0.75
0.75
0.75
0.75
0.75
0.75
0.75
0.75
0.75
0.75
0.75
0.75
0.75
0.75
0.75
0.75
0.75
0.75
0.75
0.75
109
REIT
TEKANAN
PERTUMBUHAN
PENDUDUK ( r )
-0.196
0.031
0.015
0.082
0.291
-0.044
0.072
0.081
0.080
0.092
0.080
0.085
0.080
0.084
0.081
0.081
0.073
0.085
-0.061
0.095
0.033
0.271
0.073
0.111
0.070
-0.031
0.113
0.022
-0.013
0.039
0.185
0.096
0.197
0.094
0.047
-0.103
0.154
0.016
-0.024
0.112
0.024
0.386
-0.097
-0.035
0.041
-0.190
0.103
0.126
0.126
-0.042
-0.110
0.228
0.085
-0.030
-0.117
-0.198
-0.093
-0.053
0.064
-0.013
0.072
PENDUDUK
(PPt)
0.57
1.39
1.02
2.84
3.54
2.61
5.99
31.89
1.06
10.81
18.56
21.62
34.76
0
28.99
11.39
16.78
1.81
9.38
17.01
15.46
10.12
18.76
21.27
0.65
0.62
0.7
0.76
0.47
0.55
0.8
2
0.83
0.8
0.63
0.47
0.47
0.58
0.66
1.67
0.61
0.9
0.69
0.64
0.78
0.35
2.41
1.51
2.5
0.42
0.4
0.68
1.28
0.29
0.36
0.42
0.76
2.13
4.62
0.76
1.32
PENDUDUK
KECAMATAN
NAMORAMBE
KUTALIMBARU
PANCUR BATU
DESA/KELURAHAN
TIMBANG LAWAN
BATU MBELIN
UJUNG LABUHAN
BATU PENJEMURAN
SELANG TUNGIR
NAMO MBARU
NAMO PAKAM
BEKUKUL
JATI KESUMA
NAMO RAMBE
GUNUNG BERITA
KUTA TENGAH
CINTA RAKYAT
RUMAH MBACANG
TANJUNG SELAMAT
RIMO MUNGKUR
NAMO BATANG
NAMO LANDUR
URUK GEDANG
TANGKAHAN
RUMAH KEBEN
LUBANG IDO
SILUE LUE
BATU REJO
JABA
KUALA SIMEME
NAMO MBELIN
KUTA TUALAH
GUNUNG KELAWAS
DELI TUA
KUTA LIMBARU
KWALA LAU BICIK
LAU BAKERI
NAMO MIRIK
NAMO RUBE JULU
PASAR X
PERPANDEN
SUKA MAKMUR
SUKA RENDE
SAWIT REJO
SAMPE CITA
SEI MENCIRIM
SILEBO LEBO
SUKADAME
BARU
BINTANG MERIAH
DURIN SIMBELANG A
DURIAN JANGAK
DORIN TUNGGAL
GUNUNG TINGGI
HULU
LAMA
NAMO RIAM
NAMORIH
NAMO BINTANG
PERTAMPILEN
SALAM TANI
SIMALINGKAR A
SEMBAHE BARU
SEI GELUGUR
SUGAU
(JIWA)
(P0)
212
123
1980
1148
358
216
170
228
3006
1776
191
658
159
141
149
201
150
533
188
775
410
225
107
357
423
228
474
495
1143
4504
1655
935
2668
1101
1200
2290
1829
1507
2527
1844
2093
3661
1461
2267
6225
1365
2580
1321
2274
1727
2464
4145
1310
1050
3256
1278
2783
1352
2783
4049
1238
PROPORSI
PETANI
(%)
(f)
91
86
62
67
92
88
94
83
62
73
98
67
99
69
89
76
90
74
95
59
83
88
96
75
72
86
75
83
59
2
91
94
81
91
97
70
86
97
93
93
71
82
82
92
27
91
72
79
48
82
15
15
72
92
51
77
93
32
81
33
85
LUAS
LAHAN
PERTANIAN
(Ha)
66
64
159
159
208
209
155
110
170
239
362
85
103
56
35
128
144
160
109
145
214
146
81
97
101
43
106
136
124
90
779
964
701
500
663
743
723
935
969
779
575
705
763
773
149
4570
270
315
458
410
37
48
410
249
380
212
823
140
196
255
1983
LUAS
LAHAN
UNTUK
HIDUP
LAYAK (Z)
0.75
0.75
0.75
0.75
0.75
0.75
0.75
0.75
0.75
0.75
0.75
0.75
0.75
0.75
0.75
0.75
0.75
0.75
0.75
0.75
0.75
0.75
0.75
0.75
0.75
0.75
0.75
0.75
0.75
0.75
0.75
0.75
0.75
0.75
0.75
0.75
0.75
0.75
0.75
0.75
0.75
0.75
0.75
0.75
0.75
0.75
0.75
0.75
0.75
0.75
0.75
0.75
0.75
0.75
0.75
0.75
0.75
0.75
0.75
0.75
0.75
110
REIT
TEKANAN
PERTUMBUHAN
PENDUDUK ( r )
-0.063
0.033
-0.069
0.139
0.029
-0.062
0.022
0.016
0.014
0.034
0.117
0.072
-0.013
0.243
0.092
0.116
0.171
-0.053
0.041
0.052
0.055
-0.095
-0.078
0.094
-0.031
-0.139
-0.068
-0.070
-0.050
0.089
-0.015
0.048
0.215
0.015
0.042
-0.109
0.076
0.020
0.080
0.038
0.320
0.046
0.112
0.052
-0.062
-0.003
-0.013
0.101
0.125
0.000
0.121
0.048
0.119
-0.034
0.132
-0.027
-0.245
0.426
-0.209
0.069
0.092
PENDUDUK
(PPt)
1.8
1.37
4.67
5.36
1.29
0.56
0.83
1.35
8.57
4.5
0.54
4.79
1.1
2.5
3.7
1.24
1.13
1.57
1.39
2.75
1.4
0.75
0.75
2.71
2.06
2.18
2.08
1.82
3.5
0.97
1.39
0.79
4.15
1.57
1.49
1.14
2.03
1.24
2.29
1.85
4.46
3.65
1.62
2.36
6.98
0.2
4.96
3.32
2.54
2.59
10.55
11.18
2.41
2.62
4.75
3.21
1.02
6.72
4.17
4.8
0.52
(JIWA)
(P0)
2476
6265
2331
3365
1540
2310
7368
618
287
PROPORSI
PETANI
(%)
(f)
61
23
58
45
75
20
0
77
13
PERTANIAN
(Ha)
367
246
351
152
280
80
43
445
61
LUAS
LAHAN
UNTUK
HIDUP
LAYAK (Z)
0.75
0.75
0.75
0.75
0.75
0.75
0.75
0.75
0.75
1968
1099
4100
2171
1404
1250
1585
1338
3536
1092
1343
3186
1115
2258
923
4446
1732
1359
1533
743
1323
689
1558
1461
1748
2399
3291
1075
1991
4110
4528
67
72
55
28
25
36
37
90
75
19
15
77
65
76
70
55
75
70
73
87
80
81
68
79
61
40
45
55
50
8
45
296
300
145
82
49
28
49
210
457
35
40
404
160
402
489
964
383
978
481
221
467
389
290
364
364
315
353
392
285
245
615
0.75
0.75
0.75
0.75
0.75
0.75
0.75
0.75
0.75
0.75
0.75
0.75
0.75
0.75
0.75
0.75
0.75
0.75
0.75
0.75
0.75
0.75
0.75
0.75
0.75
0.75
0.75
0.75
0.75
0.75
0.75
PENDUDUK
KECAMATAN
PANCUR BATU
PAGAR MERBAU
SIBIRU-BIRU
DESA/KELURAHAN
SUKA RAYA
TANJUNG ANOM
TUNTUNGAN I
TUNTUNGAN II
TIANG LAYAR
KAMPUNG TENGAH
PERUM. SIMALINGKAR
BANDAR DOLOK
TANJUNG GARBUS II
PERBARAKAN
TANJUNG GARBUS KP
TANJUNG MULIA
PURWODADI
SUKA MULIA
SIDODADI BATU VIII
JATI REJO
SIDOARJO I JATIBARU
SIDOARJO I PSR MIRING
PAGAR MERBAU I
PAGAR MERBAU II
SUMBEREJO
SUKAMANDI HULU
SUKAMANDI HILIR
MARDINDING JULU
PENEN
PERIA-RIA
SARILABA JAHE
BIRU-BIRU
KUALA DEKAH
RUMAH GREAT
TANJUNG SENA
KUTO MULYO
MBARUAI
NAMO TUALANG
KP. SELAMAT
SIODADI
NAMOSURO BARU
AJIBAHO
CANDIREJO
SIDOMULYO
LUAS
LAHAN
111
REIT
TEKANAN
PERTUMBUHAN
PENDUDUK ( r )
0.098
0.050
0.117
0.053
0.020
0.055
0.123
0.108
0.029
PENDUDUK
(PPt)
4.09
5.09
4.03
8.72
3.28
5.09
0
1.09
0.5
0.034
0.073
0.013
0.051
0.041
0.007
0.038
0.055
0.052
-0.017
0.247
0.036
0.034
0.042
-0.002
0.054
0.109
0.109
0.100
-0.334
0.039
0.144
0.010
0.122
0.216
0.351
0.109
0.476
0.098
0.085
0.109
3.59
2.44
12.12
6.45
6.06
12.31
10.4
5.05
5.07
4.22
7.32
5.06
4.76
3.62
0.99
2.23
3.47
1.00
2.32
0.65
1.91
1.61
2.83
3.36
3.95
5.63
4.29
3.64
3.47
1.29
3.39
112
Lampiran 11. Kepadatan geografis desa-desa di Kabupaten Deli Serdang
KECAMATAN
TANJUNG MORAWA
SUNGGAL
GALANG
DESA
MEDAN SINEMBAH
BANDAR LABUHAN
BANGUN REJO
AEK PANCUR
NAGA TIMBUL
LENGAU SERPANG
SEI MERAH
DAGANG KERAWAN
TANJUNG MORAWA PKN
TANJUNG MORAWA A
LIMAU MANIS
UJUNG SERDANG
BANGUN SARI
BANGUN SARI BARU
BUNTU BEDIMBAR
TELAGA SARI
DAGANG KELAMBIR
TANJUNG MORAWA B
TANJUNG BARU
PUNDEN REJO
TANJUNG MULIA
PERDAMEAN
WONO SARI
DALU 10 A
DALU 10 B
PENARA KEBUN
TELAGA SARI
SEI MENCIRIM
SUKA MAJU
SEI BERAS SEKATA
TG SELAMAT
SUNGAL KANAN
MEDAN KRIO
PAYA GELI
PUJI MULYO
SEI SEMAYANG
SM DISKI
SERBA JADI
MULYO REJO
KP LALANG
PURWODADI
TG GUSTA
HELVETIA
KP. PAKU
BANDAR KWALA
BARU TITI BESI
PULAU TAGOR BARU
GALANG BARAT
KOTANGAN
SUNGEI PUTIH
PAYA KUDA
KP KELAPA SATU
PISANG PALA
PETUMBUKAN
TANJUNG GUSTI
LUAS DESA
(KM2)
3.50
2.70
6.92
5.01
5.00
4.25
22.04
1.96
0.50
3.07
8.11
3.93
6.61
6.53
3.00
2.00
1.25
6.00
5.07
1.10
1.57
4.06
7.14
4.90
10.00
5.53
2.63
9.78
6.31
4.70
4.68
4.12
8.52
3.40
3.96
12.35
2.80
6.44
12.40
1.54
2.16
4.62
2.11
3.00
10.87
0.70
3.67
17.76
0.60
14.07
3.08
2.00
2.15
1.10
1.20
JUMLAH
PENDUDUK
(JIWA)
6034
4727
9290
421
3508
4073
1545
5000
7476
11339
15003
3095
13395
5737
15067
5344
3015
14508
7810
2230
1581
4802
9972
5506
5283
370
2795
12791
8188
5696
6536
7914
10084
16654
11205
24626
8856
3828
27932
8598
15108
23859
13464
1834
1237
692
235
1428
703
5328
719
1246
2776
3473
1709
KEPADATAN
PENDUDUK
(JIWA/KM2)
1724
1751
1342
84
702
958
70
2551
14952
3693
1850
788
2026
879
5022
2672
2412
2418
1540
2027
1007
1183
1397
1124
528
67
1063
1308
1298
1212
1397
1921
1184
4898
2830
1994
3163
594
2253
5583
6994
5164
6381
611
114
989
64
80
1172
379
233
623
1291
3157
1424
113
KECAMATAN
GALANG
STM HULU
DELI TUA
BERINGIN
LABUHAN DELI
DESA
SUNGAI KARANG
KP GALANG SUKA
GALANG KOTA
TIMBANG DELI
TANAH MERAH
PERTANGGUHAN
TANJUNG SIPORKIS
BATU LOKONG
NAGA REJO
PAYA ITIK
PAYA SAMPIR
KP JOHAR BARU
KOTASAN
JAHARUM B
TANAH ABANG
KRAMAT GAJAH
JAHARUM A
LIANG PEMATANG
LIANG MUDA
TANJUNG RAJA
GUNUNG MANUMPAK B
SIPINGGAN
TANJUNG MUDA
BAH BUNTU
KUTA MBELIN
TANJUNG BAMPU
TANJUNG TIMUR
DURIN TINGGUNG
RUMAH RIH
SIBUNGA-BUNGA HILIR
GUNUNG MANUMPAK A
DURIAN MBELANG
TIGA JUHAR
RANGGIT GIT
RUMAH SUMBUL
TANAH GARA HULU
DELI TUA BARAT
DELI TUA TIMUR
DELI TUA
MEKAR SARI
KEDAI DURIAN
SUKA MAKMUR
TUMPATAN
EMPLASMEN KUALA NAMU
SIDODADI RAMUNIA
PSR. LIMA KEBUN KELAPA
ARAS KABU
SERDANG
SIDOURIP
PSR. ENAM KUALA NAMU
KARANG ANYAR
BERINGIN
SIDOARJO DUA RAMUNIA
HELVETIA
MANUNGGAL
PEMATANG JOHAR
TELAGA TUJUH
KARANG GADING
LUAS DESA
(KM2)
0.96
2.00
1.20
11.45
2.04
3.20
1.80
23.00
4.00
2.00
4.84
1.15
4.75
5.50
2.52
1.50
3.01
36.28
14.32
9.55
3.82
15.27
9.55
24.82
11.46
9.55
14.32
3.82
11.46
2.86
15.27
3.82
2.86
5.73
15.26
7.63
1.35
1.78
1.45
1.57
1.6
1.61
3.7
7.1
7.79
2.82
3.93
2.75
1.63
8.9
4.63
4.31
5.85
9.71
13.36
18.9
18.9
66.36
JUMLAH
PENDUDUK
(JIWA)
2929
2775
8768
2583
1427
3162
1095
2168
3142
1319
398
421
3155
5203
593
2101
3133
170
71
506
148
462
220
439
815
435
567
600
510
450
357
317
2089
749
1528
677
5498
3985
8286
5808
5854
5667
5432
2025
11357
5283
2494
2594
2119
416
7321
7289
2882
17890
14655
12528
1977
4641
KEPADATAN
PENDUDUK
(JIWA/KM2)
3051
1388
7307
226
700
988
608
94
786
660
82
366
664
946
235
1401
1041
5
5
53
39
30
23
18
71
46
40
157
45
157
23
83
730
131
100
89
4073
2239
5714
3699
3659
3520
1468
285
1458
1873
635
943
1300
47
1581
1691
493
1842
1097
663
105
70
114
KECAMATAN
STM HILIR
BATANG KUIS
PERCUT SEI TUAN
HAMPARAN PERAK
DESA
RAMBAI
KUTA JURUNG
PENUNGKIREN
TALA PETA
SIGUCI
GUNUNG RINTIS
LAU REMPAH
JUMA TOMBAK
NEGARA/BRINGIN
TELUN KENAS
SUMBUL
LIMAU MUNGKUR
TADUKAN RAGA
LAU BARUS BARU
LAU RAKIT
SENA
TUMPATAN NIBUNG
BARU
TANJUNG SARI
BAKARAN BATU
BINTANG MERIAH
BT KUIS PEKAN
PAYA GAMBAR
SIDODADI
SUGIHARJO
MESJID
AMPLAS
KENANGAN
TEMBUNG
SUMBER REJO TIMUR
SEI ROTAN
BANDAR KLIPPA
BANDAR KHALIPAH
MEDAN ESTATE
LAUT DENDANG
SAMPALI
BANDAR SETIA
KOLAM
SAENTIS
CINTA RAKYAT
CINTA DAMAI
PEMATANG LALANG
PERCUT
TANJUNG REJO
TANJUNG SELAMAT
KENANGAN BARU
HAMPARAN PERAK
SUNGAI BAHARU
KAMPUNG LAMA
KLAMBIR
KP SELEMAK
KLUMPANG KEBON
KLUMPANG KAMPUNG
KLAMBIR LIMA KEBON
KLAMBIR LIMA KP
SIALANG MUDA
PAYA BAKUNG
KP TANDAM HULU SATU
LUAS DESA
(KM2)
3.37
7.44
9.1
8.12
39.8
6.69
39.62
10.35
9.6
12.62
5.25
6.5
29.86
7.36
10.14
6.4
3.7
4.32
7.34
0.45
0.65
0.75
3.03
9.5
1.53
2.67
3.1
1.27
5.35
4.16
5.16
18.48
7.25
6.9
1.7
23.93
3.5
5.98
24
1.48
11.76
20.1
10.63
19
16.32
0.72
7.88
7.1
4.45
3.85
0.61
19.85
1.05
22.38
0.88
1.05
14.44
21.75
JUMLAH
PENDUDUK
(JIWA)
812
898
783
1757
1507
2171
833
1588
2278
2422
3081
1769
3059
3797
1389
5487
5383
4731
8562
1931
4565
4799
2161
3173
4722
1245
4007
28596
34695
17836
17887
28696
27792
9697
11659
21756
12201
10127
13763
11033
4988
1469
12247
9084
3981
28505
11325
3487
4031
4015
2020
10279
4504
13292
4029
1482
8789
4119
KEPADATAN
PENDUDUK
(JIWA/KM2)
241
121
86
216
38
325
21
153
237
192
587
272
102
516
137
857
1455
1095
1166
4291
7023
6399
713
334
3086
466
1293
22517
6485
4288
3466
1553
3833
1405
6858
909
3486
1693
573
7455
424
73
1152
478
244
39590
1437
491
906
1043
3311
518
4290
594
4578
1411
609
189
115
KECAMATAN
HAMPARAN PERAK
PANTAI LABU
GUNUNG MERIAH
SIBOLANGIT
DESA
TANDAM HULU DUA
TANDAM HILIR SATU
TANDAM HILIR DUA
KOTA DATAR
PALUH MANAN
KOTA RANTANG
PALUH KURAU
BULUH CINA
SEI TUAN
TENGAH
KELAMBIR
DURIAN
KUBAH SENTANG
PERK RAMUNIA
RAMUNIA DUA
RAMUNIA SATU
DENAI SARANG BURUNG
DENAI LAMA
BINJAI BAKUNG
DENAI KUALA
PALUH SEBAJI
PANTAI LABU BARU
PANTAI LABU PEKAN
REGEMUK
PEMATANG BIARA
RANTAU PANJANG
BAGAN SERDANG
KUTA BAYU
GUNUNG SINEMBAH
GUNUNG PARIBUAN
SIMAMPAR
GUNUNG SERIBU
KUTA TENGAH
PEKAN GUNUNG MERIAH
GUNUNG MERIAH
BINTANG MERIAH
UJUNG MERIAH
MARJANJI PEMATANG
MARJANJI TONGAH
BANDAR BARU
BATU LAYANG
BATU MBELIN
BETIMUS BARU
BUKUM
BULUHAWAR
BENGKURUNG
BINGKAWAN
BUAH NABAR
DURIN SERUGUN
KETANGKUHEN
KUALA
MARTELU
NEGRI GUGUNG
PUANG AJA
RAMBUNG BARU
RMH KINANGKUNG
RUMAH PIL-PIL
RUMAH SUMBUL
LUAS DESA
(KM2)
3.73
18.05
8.52
12.37
16.57
5.69
28.44
32.36
14.2
1.18
3.92
11.68
1.25
8.6
1.3
3.05
3.13
2.62
3.11
4.5
2.02
1.08
7.02
2.94
3.96
4.7
1.6
6.16
7.53
7.53
4.11
8.9
6.16
0.68
6.84
6.84
5.48
6.84
9.58
13.00
0.65
4.57
3.35
10.01
2.50
4.46
4.50
5.50
11.88
6.20
3.00
4.50
6.50
3.55
4.75
5.50
5.50
3.75
JUMLAH
PENDUDUK
(JIWA)
6884
11561
8494
6374
3046
4252
7780
13585
1083
929
2043
4763
1087
2216
2302
790
2699
2341
1530
2052
3232
773
4016
2415
3333
2336
1324
289
239
217
72
163
147
290
293
139
220
268
199
2968
468
708
304
816
374
228
841
212
617
629
156
353
310
342
949
565
937
383
KEPADATAN
PENDUDUK
(JIWA/KM2)
1846
640
997
515
184
747
274
420
76
787
521
408
870
258
1771
259
862
894
492
456
1600
716
572
821
842
497
828
47
32
29
18
18
24
426
43
20
40
39
21
228
720
155
91
82
150
51
187
39
52
101
52
78
48
96
200
103
170
102
116
KECAMATAN
SIBOLANGIT
LUBUK PAKAM
PATUMBAK
BANGUN PURBA
SALABULAN
SAYUM SABAH
SEMBAHE
SIBOLANGIT
SIKEBEN
SUKA MAJU
SUKA MAKMUR
TANJUNG BERINGIN
UJUNG DELENG
CINTA RAKYAT
TAMBUNEN
PALUH KEMIRI
PETAPAHAN
TANJUNG GARBUS SATU
PAGAR MERBAU TIGA
CEMARA
PASAR MELINTANG
PAGAR JATI
SYAHMAD
LUBUK PAKAM TIGA
LUBUK PAKAM I/II
LUBUK PAKAM PEKAN
BAKARAN BATU
SEKIP
PATUMBAK SATU
LANTASAN BARU
LANTASAN LAMA
PATUMBAK DUA
SIGARA GARA
MARINDAL SATU
PATUMBAK KP
MARINDAL DUA
PAMAH
TAREAN
TAPAK MERIAH
PAGAR MANIK
7.20
7.75
2.80
4.25
8.50
5.75
5.25
5.00
9.02
3.00
5.10
1.45
1.99
5.12
5.72
0.78
5.59
2.30
0.48
0.18
0.43
0.69
2.82
3.64
7.19
3.72
1.86
6.54
6.04
8.15
6.18
7.11
5.60
12.24
2.50
3.50
JUMLAH
PENDUDUK
(JIWA)
284
649
1300
1098
673
891
1234
237
231
282
472
2552
2333
2573
4569
8359
6864
6952
4059
5659
9131
8658
8999
16930
5939
2025
2301
4332
7190
21808
12702
12259
1023
1626
1380
1171
SILINDA
DAMAK GLUGUR
KULASAR
SUNGAI BUAYA
MABAR
BATU MASAGI
SIBAGANDING
BAH BALUA
RUMAH DELENG
BANDAR GUNUNG
BANDAR MERIAH
PERGURUAN
BANGUN PURBA TENGAH
DAMAK MALIHO
SUKA LUWEI
URUNG GANJANG
BANDAR KWALA
MAROMBUN BARAT
MAROMBUN UJUNG JAWI
BAH PERAK
BANGUN PURBA
GREAHAN
15.03
3.15
5.70
1.23
4.72
2.00
4.89
2.15
5.02
2.16
16.97
1.42
11.52
1.85
8.46
1.00
3.00
5.46
1.27
3.40
2.30
7.12
664
728
1451
1866
1458
447
1078
319
592
674
735
682
1005
1391
1105
153
384
68
230
527
3534
1013
DESA
LUAS DESA
(KM2)
KEPADATAN
PENDUDUK
(JIWA/KM2)
39
84
464
258
79
155
235
47
26
94
93
1760
1172
503
799
10717
1228
3023
8456
31439
21235
12548
3191
4651
826
544
1237
662
1190
2676
2055
1724
183
133
552
335
44
231
255
1517
309
224
220
148
118
312
43
480
87
752
131
153
128
12
181
155
1537
142
117
KECAMATAN
BANGUN PURBA
NAMORAMBE
KUTALIMBARU
DESA
CIMAHE
BATU GINGGING
TANJUNG PURBA
SIALANG
BAGERPANG
BATU RATA
UJUNG RAMBE
SUKA MULIA HILIR
SUKA MULIA HULU
SUDI REJO
LAU MULGAP
BATU GEMUK
TIMBANG LAWAN
BATU MBELIN
UJUNG LABUHAN
BATU PENJEMURAN
SELANG TUNGIR
NAMO MBARU
NAMO PAKAM
BEKUKUL
JATI KESUMA
NAMO RAMBE
GUNUNG BERITA
KUTA TENGAH
CINTA RAKYAT
RUMAH MBACANG
TANJUNG SELAMAT
RIMO MUNGKUR
NAMO BATANG
NAMO PINANG
NAMO LANDUR
URUK GEDANG
TANGKAHAN
RUMAH KEBEN
LUBANG IDO
SILUE LUE
BATU REJO
JABA
KUALA SIMEME
NAMO MBELIN
KUTA TUALAH
GUNUNG KELAWAS
DELI TUA
KUTA LIMBARU
KWALA LAU BICIK
LAU BAKERI
NAMO MIRIK
NAMO RUBE JULU
PASAR X
PERPANDEN
SUKA MAKMUR
SUKA RENDE
SAWIT REJO
SEI MENCIRIM
SAMPE CITA
SILEBO LEBO
SUKA DAME
LUAS DESA
(KM2)
6.52
10.55
1.65
3.50
14.64
10.25
3.35
1.74
0.60
1.10
1.47
2.19
0.85
0.82
1.87
2.33
1.69
2.13
1.76
1.92
2.76
3.89
0.71
1.14
1.21
0.40
1.72
1.64
1.00
1.71
1.18
1.57
2.45
1.60
0.93
1.51
0.70
1.18
0.48
1.76
1.29
5.56
5.44
90.60
8.40
7.30
20.74
8.84
11.60
24.11
21.40
9.30
7.75
6.32
7.30
9.66
22.60
JUMLAH
PENDUDUK
(JIWA)
751
791
1305
2934
1137
544
2160
184
187
1723
154
422
172
135
1571
1625
389
176
181
239
3131
1957
258
801
153
244
190
271
227
484
448
211
896
478
161
82
458
384
133
378
391
965
5706
1582
1070
4390
1150
1351
1541
2244
1596
3134
2054
4162
4101
1952
2619
KEPADATAN
PENDUDUK
(JIWA/KM2)
115
75
791
838
78
53
645
106
312
1566
105
193
202
165
840
697
230
83
103
124
1134
503
363
703
126
610
110
165
227
283
380
134
366
299
173
54
654
325
277
215
303
174
1049
17
127
601
55
153
133
93
75
337
265
659
562
202
116
118
KECAMATAN
PANCUR BATU
PAGAR MERBAU
SIBIRU-BIRU
DESA
BARU
BINTANG MERIAH
DURIN SIMBELANG A
DURIAN JANGAK
DORIN TUNGGAL
GUNUNG TINGGI
HULU
LAMA
NAMO SIMPUR
NAMO RIAM
NAMO BINTANG
PERTAMPILEN
SALAM TANI
SIMALINGKAR A
SEMBAHE BARU
SEI GELUGUR
SUGAU
SUKA RAYA
TANJUNG ANOM
TUNTUNGAN I
TUNTUNGAN II
TIANG LAYAR
KAMPUNG TENGAH
PERUMNAS SIMALINGKAR
BANDAR DOLOK
TANJUNG GARBUS II
PERBARAKAN
TANJUNG GARBUS KP
TANJUNG MULIA
PURWODADI
SUKA MULIA
SIDODADI BATU DELAPAN
JATI REJO
SIDOARJO SATU JATIBARU
SIDOARJO I PSR MIRING
PAGAR MERBAU I
PAGAR MERBAU II
SUMBEREJO
SUKAMANDI HULU
SUKAMANDI HILIR
MARDINDING JULU
PENEN
PERIA-RIA
SARILABA JAHE
BIRU-BIRU
KUALA DEKAH
RUMAH GERAT
TANJUNG SENA
KUTO MULYO
MBARUAI
NAMO TUALANG
KP. SELAMAT
SIDODADI
NAMOSURO BARU
AJIBAHO
CANDIREJO
SIDOMULYO
LUAS DESA
(KM2)
1.71
6.00
3.89
3.91
9.12
5.10
1.15
0.68
2.19
5.15
4.99
3.36
9.73
15.45
2.41
3.57
20.40
4.18
2.92
5.19
2.00
4.68
11.54
0.49
5.27
0.57
5.18
4.68
1.85
4.66
0.57
0.32
2.43
1.16
16.63
3.78
0.95
1.68
9.45
3.71
6.69
4.46
7.01
8.88
1.34
10.26
12.05
5.80
4.02
3.88
6.25
1.56
1.25
5.35
7.59
1.07
2.23
JUMLAH
PENDUDUK
(JIWA)
5063
1352
2483
1720
3130
1729
3356
4737
2004
1776
4550
1174
739
3080
1037
4887
1578
3206
7208
3149
3903
1631
2690
10081
819
312
2167
1341
4254
2502
1578
1278
1767
1559
4087
1036
2338
3527
1228
2542
923
1063
1732
1359
1533
743
1323
689
1558
1461
1748
2399
3291
1075
1991
4110
4528
KEPADATAN
PENDUDUK
(JIWA/KM2)
2961
225
638
440
343
339
2918
6966
915
345
912
349
76
199
430
1369
77
767
2468
607
1952
349
233
20573
155
547
418
287
2299
537
2768
3994
727
1344
246
274
2461
2099
130
685
138
238
247
153
1144
72
110
119
388
377
280
1538
2633
201
262
3841
2030
119
Lampiran 12. Kepadatan agraris desa-desa di Kabupaten Deli Serdang
LUAS LAHAN
KECAMATAN
TANJUNG MORAWA
SUNGGAL
GALANG
DESA
MEDAN SINEMBAH
BANDAR LABUHAN
BANGUN REJO
AEK PANCUR
NAGA TIMBUL
LENGAU SERPANG
SEI MERAH
DAGANG KERAWAN
TANJUNG MORAWA PKN
TANJUNG MORAWA A
LIMAU MANIS
UJUNG SERDANG
BANGUN SARI BARU
BUNTU BEDIMBAR
TELAGA SARI
DAGANG KELAMBIR
TANJUNG MORAWA B
TANJUNG BARU
PUNDEN REJO
TANJUNG MULIA
PERDAMEAN
WONO SARI
DALU 10 A
DALU 10 B
PENARA KEBUN
TELAGA SARI
SEI MENCIRIM
SUKA MAJU
SEI BERAS SEKATA
TG SELAMAT
SUNGAL KANAN
MEDAN KRIO
PAYA GELI
PUJI MULYO
SEI SEMAYANG
SM DISKI
SERBA JADI
MULYO REJO
KP LALANG
PURWODADI
TG GUSTA
HELVETIA
KP. PAKU
BANDAR KWALA
BARU TITI BESI
PULAU TAGOR BARU
GALANG BARAT
KOTANGAN
SUNGEI PUTIH
PAYA KUDA
KP KELAPA SATU
TANJUNG GUSTI
SUNGAI KARANG
KP GALANG SUKA
GALANG KOTA
TIMBANG DELI
PERTANIAN
(HA)
314
223
507
410
445
348
1786
141
1
217
636
375
578
112
153
66
451
398
80
130
361
625
390
805
505
155
646
499
371
193
187
507
116
117
1106
139
428
882
17
45
149
41
327
1185
76
399
1939
65
1533
340
218
131
105
147
131
1248
KELUARGA PETANI
JUMLAH
JUMLAH
JIWA
(KK)
(JIWA)
186
930
35
140
106
424
73
365
431
1724
479
1916
77
385
25
100
3
12
203
812
513
2565
142
568
603
2412
113
565
92
368
177
708
357
1428
394
1576
366
1830
305
1220
887
4435
1220
4880
970
4850
608
2432
90
360
243
972
1130
4520
554
2216
605
2420
605
2420
672
2688
846
3384
520
2080
530
2120
1445
5780
695
2780
508
2032
2280
9120
375
1500
955
3820
2050
8200
540
2160
403
1612
230
920
140
560
58
232
284
1136
125
500
642
2568
108
432
198
792
250
1000
245
980
289
1156
460
1840
420
1680
KEPADATAN
RATA-RATA
AGRARIS
(JIWA/HA)
KEPEMILIKAN
LAHAN (HA)
1.69
6.37
4.78
5.62
1.03
0.73
23.19
5.64
0.33
1.07
1.24
2.64
0.96
0.99
1.66
0.37
1.26
1.01
0.22
0.43
0.41
0.51
0.40
1.32
5.61
0.64
0.57
0.90
0.61
0.32
0.28
0.60
0.22
0.22
0.77
0.20
0.84
0.39
0.05
0.05
0.07
0.08
0.81
5.15
0.54
6.88
6.83
0.52
2.39
3.15
1.10
0.52
0.43
0.51
0.28
2.97
3
1
1
1
4
6
1
1
12
4
4
2
4
5
2
11
3
4
23
9
12
8
12
3
1
6
7
4
7
13
14
7
18
18
5
20
5
10
88
85
55
53
5
1
7
1
1
8
2
1
4
8
9
8
14
1
120
LUAS LAHAN
KECAMATAN
GALANG
STM HULU
DELI TUA
BERINGIN
LABUHAN DELI
STM HILIR
DESA
TANAH MERAH
PERTANGGUHAN
TANJUNG SIPORKIS
BATU LOKONG
NAGA REJO
JAHARUM A
PAYA ITIK
PAYA SAMPIR
KP JOHAR BARU
KOTASAN
JAHARUM B
TANAH ABANG
KRAMAT GAJAH
LIANG PEMATANG
LIANG MUDA
TANJUNG RAJA
SIPINGGAN
TANJUNG MUDA
BAH BUNTU
KUTA MBELIN
TANJUNG BAMPU
TANJUNG TIMUR
DURIN TINGGUNG
RUMAH RIH
SIBUNGA-BUNGA HILIR
GUNUNG MANUMPAK A
DURIAN MBELANG
TIGA JUHAR
RANGGIT GIT
RUMAH LENGO
RUMAH SUMBUL
TANAH GARA HULU
DELI TUA BARAT
DELI TUA TIMUR
DELI TUA
MEKAR SARI
KEDAI DURIAN
SUKA MAKMUR
TUMPATAN
EPLSMEN KUALA NAMU
SIDODADI RAMUNIA
PSR. V KEBUN KELAPA
ARAS KABU
SERDANG
SIDOURIP
PSR. VI KUALA NAMU
KARANG ANYAR
BERINGIN
SIDOARJO II RAMUNIA
HELVETIA
MANUNGGAL
PEMATANG JOHAR
TELAGA TUJUH
KARANG GADING
RAMBAI
KUTA JURUNG
PENUNGKIREN
PERTANIAN
(HA)
222
348
196
2452
436
343
218
528
125
354
600
275
164
93
84
232
453
320
108
289
509
365
135
478
163
250
140
172
133
409
695
236
37
6
5
10
5
10
237
60
837
135
538
519
253
30
830
622
1068
10
20
1675
221
500
731
957
645
KELUARGA PETANI
JUMLAH
JUMLAH
JIWA
(KK)
(JIWA)
244
480
157
398
545
420
240
58
71
445
880
90
390
38
16
125
113
52
93
169
92
118
125
114
98
78
75
356
157
123
303
146
203
123
199
252
10
141
463
321
766
276
311
277
161
49
592
557
480
4
5
1250
215
870
190
210
187
976
1920
628
1592
2180
1680
960
232
284
1780
3520
360
1560
152
64
500
452
208
372
676
368
472
500
456
392
312
300
1424
628
492
1212
584
812
492
796
1008
40
564
1852
1284
3064
1104
1244
1108
644
196
2368
2228
1920
16
20
8375
1105
2500
760
840
748
KEPADATAN
RATA-RATA
AGRARIS
(JIWA/HA)
KEPEMILIKAN
LAHAN (HA)
4
6
3
1
5
5
4
0
2
5
6
1
10
2
1
2
1
1
3
2
1
1
4
1
2
1
2
8
5
1
2
2
22
82
159
101
8
56
8
21
4
8
2
2
3
7
3
4
2
2
1
5
5
5
1
1
1
0.91
0.73
1.25
6.16
0.80
0.82
0.91
9.10
1.76
0.80
0.68
3.06
0.42
2.45
5.25
1.86
4.01
6.15
1.16
1.71
5.53
3.09
1.08
4.19
1.66
3.21
1.87
0.48
0.85
3.33
2.29
1.62
0.18
0.05
0.03
0.04
0.50
0.07
0.51
0.19
1.09
0.49
1.73
1.87
1.57
0.61
1.40
1.12
2.23
2.50
4.00
1.34
1.03
0.57
3.85
4.56
3.45
121
LUAS LAHAN
KECAMATAN
STM HILIR
BATANG KUIS
PERCUT SEI TUAN
HAMPARAN PERAK
DESA
LAU BUKIT
TALA PETA
SIGUCI
GUNUNG RINTIS
LAU REMPAH
JUMA TOMBAK
NEGARA/BRINGIN
TELUN KENAS
SUMBUL
LIMAU MUNGKUR
TADUKAN RAGA
LAU BARUS BARU
SENA
TUMPATAN NIBUNG
BARU
TANJUNG SARI
BAKARAN BATU
BINTANG MERIAH
BT KUIS PEKAN
PAYA GAMBAR
SIDODADI
SUGIHARJO
MESJID
AMPLAS
KENANGAN
TEMBUNG
SUMBER REJO TIMUR
SEI ROTAN
BANDAR KLIPPA
BANDAR KHALIPAH
MEDAN ESTATE
LAUT DENDANG
SAMPALI
BANDAR SETIA
KOLAM
SAENTIS
CINTA RAKYAT
CINTA DAMAI
PEMATANG LALANG
PERCUT
TANJUNG REJO
TANJUNG SELAMAT
KENANGAN BARU
HAMPARAN PERAK
SUNGAI BAHARU
KAMPUNG LAMA
KLAMBIR
KP SELEMAK
KLUMPANG KEBON
KLAMBIR LIMA KEBON
SIALANG MUDA
PAYA BAKUNG
KP TANDAM HULU SATU
TANDAM HULU DUA
TANDAM HILIR SATU
TANDAM HILIR DUA
KOTA DATAR
BULUH CINA
PERTANIAN
(HA)
521
1258
1010
3936
3984
657
783
313
713
995
897
3961
600
265
342
651
15
28
20
231
887
81
238
209
0
20
125
200
26
50
1
13
15
50
325
30
45
962
415
550
1509
430
0
500
595
479
412
56
1842
2152
106
570
1142
321
2445
859
1313
3521
KELUARGA PETANI
JUMLAH
JUMLAH
JIWA
(KK)
(JIWA)
330
1320
417
1668
351
1404
498
1992
161
805
367
1468
456
1824
439
1756
695
2780
398
1592
632
2528
824
3296
150
600
705.25
2821
463.25
1853
126.5
506
39.75
159
212.25
849
76.25
305
301.5
1206
53.25
213
528.5
2114
200
800
810
3240
0
0
410
1640
1125
4500
1232
4928
1036
4144
1108
4432
5
20
157
628
185
740
830
3320
1385
5540
87
348
437
1748
863
3452
280
1120
535
2140
1580
6320
370
1480
0
0
450
1800
250
1000
437
1748
250
1000
70
280
250
1000
500
2000
125
500
975
3900
450
1800
400
1600
750
3000
1200
4800
967
3868
850
3400
KEPADATAN
RATA-RATA
AGRARIS
(JIWA/HA)
KEPEMILIKAN
LAHAN (HA)
1.58
3.02
2.88
7.90
24.75
1.79
1.72
0.71
1.03
2.50
1.42
4.81
4.00
0.38
0.74
5.15
0.38
0.13
0.26
0.77
16.66
0.15
1.19
0.26
0.00
0.05
0.11
0.16
0.03
0.05
0.20
0.08
0.08
0.06
0.23
0.34
0.10
1.11
1.48
1.03
0.96
1.16
0.00
1.11
2.38
1.10
1.65
0.80
7.37
4.30
0.85
0.58
2.54
0.80
3.26
0.72
1.36
4.14
3
1
1
1
0
2
2
6
4
2
3
1
1
11
5
1
11
30
15
5
1
26
3
16
0
82
36
25
159
89
20
48
49
66
17
12
39
4
3
4
4
3
0
4
2
4
2
5
1
1
5
7
2
5
1
6
3
1
122
LUAS LAHAN
KECAMATAN
HAMPARAN PERAK
PANTAI LABU
GUNUNG MERIAH
SIBOLANGIT
DESA
KOTA RANTANG
PALUH KURAU
PALUH MANAN
SEI TUAN
TENGAH
KELAMBIR
DURIAN
KUBAH SENTANG
PERK RAMUNIA
RAMUNIA DUA
RAMUNIA SATU
DENAI SARANG BURUNG
DENAI LAMA
BINJAI BAKUNG
DENAI KUALA
PALUH SEBAJI
PANTAI LABU BARU
PANTAI LABU PEKAN
REGEMUK
PEMATANG BIARA
RANTAU PANJANG
BAGAN SERDANG
KUTA BAYU
GUNUNG SINEMBAH
GUNUNG PARIBUAN
SIMAMPAR
GUNUNG SERIBU
KUTA TENGAH
GUNUNG MERIAH
BINTANG MERIAH
UJUNG MERIAH
MARJANJI PEMATANG
MARJANJI TONGAH
BANDAR BARU
BATU LAYANG
BATU MBELIN
BETIMUS BARU
BENGKURUNG
BINGKAWAN
BUAH NABAR
BUKUM
BULUHAWAR
CINTA RAKYAT
DURIN SERUGUN
KETANGKUHEN
KUALA
MARTELU
NEGRI GUGUNG
PUANG AJA
RAMBUNG BARU
RUMAH PIL-PIL
RUMAH SUMBUL
SALABULAN
SAYUM SABAH
SEMBAHE
SIBOLANGIT
SIKEBEN
SUKA MAJU
PERTANIAN
(HA)
680
2404
1150
300
150
250
949
110
150
120
146
227
325
200
300
150
60
20
250
300
200
25
232
89
148
36
194
133
100
34
354
102
240
260
287
250
274
115
215
300
440
180
244
315
475
170
230
148
240
257
290
110
435
388
221
261
380
300
KELUARGA PETANI
JUMLAH
JUMLAH
JIWA
(KK)
(JIWA)
500
2000
736
2944
350
1400
168
840
114
570
294
1470
712
3560
168
840
275
1375
140
700
132
660
430
2150
364
1820
258
1290
360
1800
451
2255
145
725
85
425
330
1650
456
2280
357
1785
96
480
71
284
67
232
71
213
23
69
41
144
41
142
78
261
35
124
47
188
75
225
61
183
456
1824
110
440
154
616
69
276
50
200
189
756
95
380
187
748
92
345
75
268
141
564
140
560
45
135
90
325
78
273
85
325
235
842
230
920
85
340
74
259
155
620
280
1120
225
900
175
613
190
760
KEPADATAN
RATA-RATA
AGRARIS
(JIWA/HA)
KEPEMILIKAN
LAHAN (HA)
1.36
3.27
3.29
1.79
1.32
0.85
1.33
0.65
0.55
0.86
1.11
0.53
0.89
0.78
0.83
0.33
0.41
0.24
0.76
0.66
0.56
0.26
3.27
1.33
2.08
1.57
4.73
3.24
1.28
0.97
7.53
1.36
3.93
0.57
2.61
1.62
3.97
2.30
1.14
3.16
2.35
1.96
3.25
2.23
3.39
3.78
2.56
1.90
2.82
1.09
1.26
1.29
5.88
2.50
0.79
1.16
2.17
1.58
3
1
1
3
4
6
4
8
9
6
5
9
6
6
6
15
12
21
7
8
9
19
1
3
1
2
1
1
3
4
1
2
1
7
2
2
1
2
4
1
2
2
1
2
1
1
1
2
1
3
3
3
1
2
5
3
2
3
123
LUAS LAHAN
KECAMATAN
SIBOLANGIT
LUBUK PAKAM
PATUMBAK
BANGUN PURBA
DESA
SUKA MAKMUR
TAMBUNEN
TANJUNG BERINGIN
UJUNG DELENG
PALUH KEMIRI
PETAPAHAN
TANJUNG GARBUS SATU
PAGAR MERBAU TIGA
CEMARA
PASAR MELINTANG
PAGAR JATI
SYAHMAD
LUBUK PAKAM TIGA
LUBUK PAKAM I/II
LUBUK PAKAM PEKAN
BAKARAN BATU
SEKIP
PATUMBAK SATU
LANTASAN BARU
LANTASAN LAMA
PATUMBAK DUA
SIGARA GARA
MARINDAL SATU
PATUMBAK KP
MARINDAL DUA
PAMAH
TAREAN
TAPAK MERIAH
PAGAR MANIK
SILINDA
DAMAK GLUGUR
KULASAR
SUNGAI BUAYA
MABAR
BATU MASAGI
SIBAGANDING
BAH BALUA
RUMAH DELENG
BANDAR GUGUNG
BANDAR MERIAH
PERGURUAN
BANGUN PURBA TGH
DAMAK MALIHO
SUKA LUWEI
URUNG GANJANG
BANDAR KWALA
MAROMBUN BARAT
MROMBUN UJUNG JAWI
BAH PERAK
BANGUN PURBA
GREAHAN
CIMAHE
BATU GINGGING
TANJUNG PURBA
SIALANG
BAGERPANG
BATU RATA
UJUNG RAMBE
PERTANIAN
(HA)
319
292
408
365
260
382
402
116
20
1277
389
5
2
1
1
45
521
129
545
86
121
140
348
139
120
880
1860
855
1105
940
670
1170
430
1145
250
975
280
690
650
480
240
605
1140
954
105
780
80
190
780
890
760
880
1080
350
1190
1200
470
785
KELUARGA PETANI
JUMLAH
JUMLAH
JIWA
(KK)
(JIWA)
285
1140
110
440
61
221
59
221
240
960
457
1828
350
1400
229
916
420
1680
443
1772
1381
5524
32
128
119
476
20
80
29
116
419
1676
1931
7724
565
2825
260
1300
210
1050
534
2670
570
2850
850
4250
675
3375
660
3300
188
752
386
1544
193
772
282
1128
148
592
122
488
290
1160
300
1200
296
1184
65
260
202
808
42
168
103
412
124
496
105
420
130
520
122
488
279
1116
180
720
22
88
75
300
9
36
28
112
86
344
715
2860
197
788
123
492
147
588
275
1100
580
2320
152
608
97
388
329
1316
KEPADATAN
RATA-RATA
AGRARIS
(JIWA/HA)
KEPEMILIKAN
LAHAN (HA)
1.12
2.65
6.69
6.19
1.08
0.84
1.15
0.51
0.05
2.88
0.28
0.16
0.02
0.05
0.03
0.11
0.27
0.23
2.10
0.41
0.23
0.25
0.41
0.21
0.18
4.68
4.82
4.43
3.92
6.35
5.49
4.03
1.43
3.87
3.85
4.83
6.67
6.70
5.24
4.57
1.85
4.96
4.09
5.30
4.77
10.40
8.89
6.79
9.07
1.24
3.86
7.15
7.35
1.27
2.05
7.89
4.85
2.39
4
2
1
1
4
5
3
8
84
1
14
26
238
80
116
37
15
22
2
12
22
20
12
24
28
1
1
1
1
1
1
1
3
1
1
1
1
1
1
1
2
1
1
1
1
0
0
1
0
3
1
1
1
3
2
1
1
2
124
LUAS LAHAN
KECAMATAN
NAMORAMBE
NAMORAMBE
KUTALIMBARU
PANCUR BATU
DESA
SUKA MULIA HILIR
SUKA MULIA HULU
SUDI REJO
LAU MULGAP
BATU GEMUK
TIMBANG LAWAN
BATU MBELIN
UJUNG LABUHAN
BATU PENJEMURAN
SELANG TUNGIR
NAMO MBARU
BEKUKUL
JATI KESUMA
NAMO RAMBE
GUNUNG BERITA
KUTA TENGAH
CINTA RAKYAT
RUMAH MBACANG
TANJUNG SELAMAT
RIMO MUNGKUR
NAMO PINANG
NAMO LANDUR
URUK GEDANG
TANGKAHAN
RUMAH KEBEN
LUBANG IDO
SILUE LUE
BATU REJO
JABA
KUALA SIMEME
NAMO MBELIN
KUTA TUALAH
GUNUNG KELAWAS
DELI TUA
KUTA LIMBARU
KWALA LAU BICIK
LAU BAKERI
NAMO MIRIK
NAMO RUBE JULU
PASAR X
PERPANDEN
SUKA MAKMUR
SUKA RENDE
SAWIT REJO
SEI MENCIRIM
SAMPE CITA
SILEBO LEBO
SUKA DAME
BARU
BINTANG MERIAH
DURIN SIMBELANG A
DURIAN JANGAK
DORIN TUNGGAL
GUNUNG TINGGI
HULU
NAMO SIMPUR
NAMO RIAM
PERTANIAN
(HA)
157
57
96
140
199
66
64
159
159
208
209
110
170
239
362
85
103
56
35
128
97
160
109
145
214
146
81
97
101
43
106
136
124
90
779
964
701
500
663
743
723
935
969
779
705
575
763
773
149
4570
270
315
458
410
37
178
410
KELUARGA PETANI
JUMLAH
JUMLAH
JIWA
(KK)
(JIWA)
67
269
40
161
147
587
35
141
87
347
39
156
29
116
242
969
274
1095
90
359
39
154
50
198
486
1943
355
1419
63
252
133
533
32
151
42
169
42
169
51
205
101
405
83
332
50
201
133
531
100
398
35
141
20
79
86
342
69
277
29
114
71
285
81
325
143
572
30
121
380
1680
235
1010
886
3544
275
1050
327
1308
425
1780
480
1920
408
1545
725
2900
480
1920
850
3400
645
2910
350
1600
605
2420
345
1380
309
1236
450
1800
340
1360
377
1508
354
1416
69
490
209
836
320
1280
KEPADATAN
RATA-RATA
AGRARIS
(JIWA/HA)
KEPEMILIKAN
LAHAN (HA)
2.33
1.42
0.65
3.97
2.29
1.69
2.21
0.66
0.58
2.32
5.43
2.22
0.35
0.67
5.75
0.64
3.22
1.33
0.83
2.50
0.96
1.93
2.17
1.09
2.15
4.14
4.10
1.13
1.46
1.51
1.49
1.67
0.87
2.98
2.05
4.10
0.79
1.82
2.03
1.75
1.51
2.29
1.34
1.62
0.83
0.89
2.18
1.28
0.43
14.79
0.60
0.93
1.21
1.16
0.54
0.85
1.28
2
3
6
1
2
2
2
6
7
2
1
2
11
6
1
6
1
3
5
2
4
2
2
4
2
1
1
4
3
3
3
2
5
1
2
1
5
2
2
2
3
2
3
2
5
5
2
3
9
0
7
4
3
3
13
5
3
125
LUAS LAHAN
KECAMATAN
DESA
PANCUR BATU
NAMO BINTANG
PERTAMPILEN
SALAM TANI
SIMALINGKAR A
SEMBAHE BARU
SEI GELUGUR
SUGAU
SUKA RAYA
TANJUNG ANOM
TUNTUNGAN I
TUNTUNGAN II
TIANG LAYAR
KAMPUNG TENGAH
PERUM SIMALINGKAR
NAMORIH
PAGAR MERBAU
BANDAR DOLOK
TANJUNG GARBUS II
PERBARAKAN
TANJUNG GARBUS KP
TANJUNG MULIA
PURWODADI
SUKA MULIA
SIDODADI BATU VIII
JATI REJO
SIDOARJO I JATIBARU
SIDOARJO I PSR MIRING
PAGAR MERBAU I
PAGAR MERBAU II
SUMBEREJO
SUKAMANDI HULU
SUKAMANDI HILIR
MARDINDING JULU
PENEN
PERIA-RIA
SARILABA JAHE
BIRU-BIRU
KUALA DEKAH
RUMAH GREAT
TANJUNG SENA
KUTO MULYO
MBARUAI
NAMO TUALANG
KP. SELAMAT
SIODADI
NAMOSURO BARU
AJIBAHO
CANDIREJO
SIDOMULYO
SIBIRU-BIRU
PERTANIAN
(HA)
380
212
823
140
196
255
1983
367
246
351
152
280
80
43
249
445
61
296
300
145
82
49
28
49
210
457
35
40
404
160
402
489
964
383
978
481
221
467
389
290
364
364
315
353
392
285
245
615
KELUARGA PETANI
JUMLAH
JUMLAH
JIWA
(KK)
(JIWA)
580
2320
225
900
172
688
248
992
209
836
405
1620
335
1340
490
1960
410
1640
455
1820
439
1756
305
1220
135
540
2
8
216
864
157
10
361
243
588
178
99
115
162
350
765
50
90
675
201
485
162
146
325
238
280
162
265
140
265
289
267
240
370
149
242
82
510
628
40
1444
972
2352
712
396
460
648
1400
3060
200
360
2700
804
1940
646
585
1299
951
1119
646
1058
558
1058
1154
1066
960
1481
595
966
329
2038
KEPADATAN
RATA-RATA
AGRARIS
(JIWA/HA)
6
4
1
7
4
6
1
5
7
5
12
4
7
0
3
KEPEMILIKAN
LAHAN (HA)
0.66
0.94
4.78
0.56
0.94
0.63
5.92
0.75
0.60
0.77
0.35
0.92
0.59
21.50
1.15
1
1
5
3
16
9
8
16
13
7
7
6
9
7
5
5
1
1
3
1
2
3
2
1
4
3
3
3
4
2
3
1
3
2.83
6.10
0.82
1.23
0.25
0.46
0.49
0.24
0.30
0.60
0.60
0.70
0.44
0.60
0.80
0.83
3.03
6.59
1.18
4.11
1.72
1.37
1.77
2.79
1.10
1.26
1.37
1.31
0.95
2.64
1.18
2.98
1.21
Download