TUGAS ETIKA BISNIS new - Dede Ardian Mahendra Web Blog

advertisement
TUGAS ETIKA BISNIS
Oleh:
DEDE ARDIAN MAHENDRA
01211040
Dosen : Hj. IGA Aju Nitya Dharmani, SST,SE.MM
PROGRAM EKONOMI MANAJEMEN
FAKULTAS EKONOMI
UNIVERSITAS NAROTAMA SURABAYA
Jl. Arief Rachman Hakim No.51 Surabaya
Phone : 031-5946404- 5995578, fax. 031- 5931213
www.narotama.ac.id
2014
BAB I
PENDAHULUAN :
BISNIS DAN ETIKA DALAM DUNIA MODERN
1. Tiga aspek pokok dari bisnis
Bisnis modern merupakan realitas yang sangat kompleks. Banyak factor turut
mempengaruhi dan menentukan kegiatan bisnis. Antara lain ada factor organisatorismanajerial, ilmiah-tekhnologis, dan politik-sosial-kultural. Kompleksitas bisnis itu berkaitan
langsung dengan kompleksitas masyarakat modern sekaraang. Sebagai kegiatan ekonomis,
bisnis dengan banyak cara terjalin dengan kompleksitas masyarakat modern itu. Semua factor
yang membentuk kompleksitas bisnis modern sudah sering dipelajari dan dianalisis melalui
berbagai pendekatan ilmiah, khususnya ilmu ekonomi dan teori manajemen. Buku ini ingin
menyoroti suatu aspek bisnis yang sampai sekarang jarang disinggung dalam uraian-uraian
lain,, tetapi semakin banyak diakui pentingnya, yaitu aspek etis dan moralnya. Guna
menjelaskan kekhususan aspek etis ini, dalam suatu pendekatan pertama kita
membandingkannya dulu dengan aspek-aspek lain, terutama aspek ekonomi dan hokum.
Sebab, bisnis sebagai kegiatan social bias disoroti sekurang-kurangnya dari tiga sudut
pandang ekonomi, hokum, dan etika. Ada baiknya kita mempelajari satu kasus atau suatu
bisnis konkret, supaya disitu bias tampak tiga sudut pandang berbeda yang ingin kita
fokuskan.
Kasus : Industri Kimia
Marc Jones, usia 42 tahun, sudah selama 15 tahun bekerja untuk Krimsons Lorporation,
sebuah perusahaan yang memproduksi bahan kimia yang berbahaya. Karena dedikasinya
kepada perusahaan sekama itu selalu besar, Jones dipromosikan menjadi manajer sebuah unit
produksi yang penting. Setelah tiga minggu bertugas, ia dipanggil oleh manajer kepala,
Kevin Lombard, karena yang terakhor ini merasa kurang puas dengan prestasi Jones. Ia
mengeluh, karena sejak Jones mengambil alih tugas dari pendahulunya irama produksi di
unitnya menurun dengan cukup mencolok. Lombard menegaskan bahwa keadaan itu tidak
bias diterima. Jones diberi pesan : “Tingkatkanlah laju produksi, minimal sampai taraf
sebelumnya”.
Jones tentu kaget karena teguran yang tidak disangka-sangka itu. Ia menyelediki
masalahnya dan menemukan bahwa pendahulunya hanya dapat mencapai laju produksi
setinggi itu, karena ia tidak teliti dalam menetapkan aturan-aturan keamanan. Jones
menyadari bahwa dengan cara kerja itu pendahulunya mengambil resiko besar, baik untuk
karyawan perusahaan maupun untuk lingkungan hidup di sekitar pabrik. Namun
pendahulunya itu mujur. Selama ia bertugas tidak terjadi kecelakaan berarti. Beberapa
peristiwa kecil dapat diatasi sendiri, sehingga bias disembunyikan untuk dunia luar. Jones
melaporkan hal itu pada bosnya. Ia yakin, dengan demikian bertindak demi kepentingan
perusahaan. Betapa besar keheranan Jones, ketika mendengar jawaban Lombard: “ Saya
tidak bias memperhatikan detail-detail” “dan bagaimanapun saudara harus sanggup
mempertahankan tingkat produksi sebelumnya”. Lagi pula, Lombard mulai meragukan
apakah Jones itu orang yang tepat dengan job baru tersebut. “Bukankah saudara terlalu
melebih-lebihkan? Saudara bersikap pengecut dengan membayang-bayangkan khayalan yang
kurang realistis. Dulu tidak pernah ada masalah!”
Sumber : J. Verstraeten/J Van Gerwen, Business en Ethiek, Tielt (Belgium) Lanno, 1990,
hlm. 15)
1. Sudut pandang ekonomis
Bisnis adalah egiatan ekonomis, Bisnis dapat dilukiskan sebagai kegiatan ekonomis
yang kurang lebih terstruktur atau terorganisasi untuk menghasilkan untung. Dalam
bisnis modern untuk itu diekspesikan dalam bentuk uang, tetapi hal itu tidak hakiki untuk
bisnis. Yang penting ialah kegiatan antar manusia ini bertujuan mencari untung dank
arena itu menjadi kegiatan ekonomis. Pencarian keuntungan dalam bisnis tidak bersifat
sepihak, tetapi diadakan dalam interaksi. Bisnis berlangsung sebagai komunikasi social
yang menguntugkan umtuk kedua belah pihak yang melibatkan diri. Bisnis bukanlah
karya amal, karena itu bisa timbul salah paham, jika kita mengatakan, bisnis merupakan
suatu aktivitas social. Kata “social” disini tidak berarti dimaksudkan arti “suka membantu
orang lain” , bisnis justru tidak mempunyai sifat membantu orang dengan sepihak, tanpa
mengharapkan suatu kembali.
Contohnya : bila saya membantu kenalan dengan memperbaiki alat rumah tangga atau
mobilnya yang rusak, kami berdua tidak menjalin suatu relasi ekonomis. Saya hanya
berbuat baik kepada dia dan tidak memungut biaya. Mungkin pada kesempatan lain
kenalan itu bisa membantu saya juga, tetapi itu pun bukan alas an utama untuk kesediaan
saya. Karena kebetulan saya bisa, saya hanya membantu menghilangkan etidak beresan
yang dialami seorang kawan dengan alat rumah tangga atau mobilnya. Tetapi bila saya
bekerja sebagai karyawan di bengkel, saya tidak saja membantu pemiliknya ( walaupun
dia barangkali masih family atau kenalan). Saya menjalin hubungan ekonomis dengan
pemilik itum karena saya bekerja disitu untuk memperoleh gaji. Disamping itu mungkin
ada motivasi lain lagi bekerja ditempat itu dan bukan ditempat yang lain. Tetapi
bagaimanapun saya bekerja mencari nafkah,. Dan makin besar gaji saya, makin luas
kesempatan untuk bisa hidup dengan baik dan nyaman. Karena itu, seandainya di tempat
lain ditawarkan gaji yang lebih memuaskan, kemungkinan saya akan pindah kerja. Disisi
lain, bengkel atau perusahaan apa saja yang memperkerjakan karyawan tidak sematamata menerima dia untuk berbuat baik kepadanya, tetapi untuk mencapai tujuan
perusahaan yang meliputi factor untuk memperoleh untung. Bisnis selalu bertujuan
mendapat keuntungan.
Teori ekonomi menjelaskan bagaimana dalam system ekonomi pasar bebas para
pengusaha dengan memanfaatkan sumber daya yang langka (tenaga kerja, bahan mentah,
informasi/pengetahuan, modal) menghasilkan barang atau jasa yang berguna untuk
masyarakat.
Dipandang dari sudut ekonomis, good business atau bisnis yang baik adalah bisnis yang
membawa banya untung.
Seperti dalam kasus industry kimia, dapat dimengerti bils msnsjer krpala ingin
mempertahankan prokduvitas perusahaan selama itu. Perusahaan ini harus bersaing
dengan perusahaan kimia lainnya. Jika produksi menurun, biaya produksi akan
bertambah, sehingga harga produkinya perlu dinaikkan. Tetapi dengan demikian harga
produknya bisa menjadi terlalu tinggi, disbanding dengan harga yang ditetapkan oleh
pesaing. Akibat tingkat produksi cenderung menurun, perusahaan bisa memasuki daerah
“angka merah”, fenomena yang sangat ditakuti oleh manajer. Nasib manajer sendiri
berkaitan erat dengan kemungkinan ini. Karena itu, masuk akal saja, bila majaer kepala.
Kevin Lombard, menuntut agar unit produksi yang dipimpin Marc Jones secara minimal
akan mempertahankan tingkat produktivitas yang sama seperti dibawah pimpinan
pendahulunya.
2. Sudut pandang moral
Dengan tetap mengakui peran sentral dari sudut pandang ekonomis dalam bisnis, perlu
segera ditambahkan adanya sudut pandang lain lagi yang tidak boleh diabaikan, yaitu
sudut pandang moral.
Dalam kasus “industry kimia” memang sangat hakiki agar perusahaan kimia berhasil
mempertahankan produktivitasnya. Namun demikian, dapat ditanyakan lagi apakah
produktivitasnya boleh dipertahankan dengan segala cara. Perusahaan kimia ini
memproduksi bahan kimia yang berbahaya. Dalam sejarah industry modern sudah terlalu
banyak terjadi kecelakaan yang sebenarnya bisa dihindarkan. Para manajer pabrik
memikul tanggung jawab besar, bila terjaid kecelakaan menewaskan pekerja, merugikan
kesehatan pekerja dan masyarakat disekitar pabrik, atau merusak lingkungan. Mengejar
keuntungan merupakan hal yang wajar, asalkan tidak merugikan pihak lain. Jadi, ada
batasanya juga dalam mewujudkan tujuan perusahaan. Tidak semuanya yang bisa kita
lakukan untuk mengejar tujuan kita (mencari keuntungan) boleh kita lakukan juga. Kita
harus menghormati kepentingan dan hak orang lain. Sebaliknya, menghormati
kepentingan dan hak orang lain harus dilakukan juga demi kepentingan bisnis itu sendiri.
3. Sudut pandang hukum
Bisnis terikat juga oleh hukum. “Hukum bisnis” atau “Hukum dagang” merupakan
cabang penting dari ilmu hukum modern. Dan dalam praktek hukum banyak masalah
yang timbul dalam hubungan bisnis, pada taraf nasonal maupun internasional. Seperti
etika pula, hukum merupakan sudut pandang normative, karena menetapkan apa yang
harus dilakukan atau tidak boleh dilakukan. Dari segi norma, hukum bahkan lebih jelas
dan pasti daripada etika, karena peraturan hukum dituliskan hitam diatas putih dan ada
sanksi tertentu, bila terjadi pelanggaran.
Terdapat kaitan erat antara hukum dan etika. Dalam kekaisaran roma sudah dikenal
pepatah : Quid leges sine moribus?, “ apa artinya undang-undang , kalau tidak disertai
moralitas?” etika harus selalu menjiwai hukum. Baik dalam proses terbentuknya undangundang maupun pelaksanaa peraturan hukum, etika atau moralitas memegang peranan
penting. Dalam bidang bisnis, seperti dalam bidang lain pula, hukum dan etika kerap kali
tidak bisa dilepaskan satu sama lain. Memang benar, ada hal-hal yang diatur oleh hukum
yang tidak mempunyai hubungan dengan hukum. Sama saja, jika lalu lintas berjalan
disebalah kiri atau kanan dari badan jalan. Di sini peraturan hukum ditentukan supaya
keadaan tidak menjadi kacau, tetapi cara diaturnya tidak berkaitan dengan etika.
Walaupun terdapat hubungan erat antara norma hukum dan norma etika, dua macam
norma itu tidak sama. Di samping sudut pandang hukum, kita tetap membutuhkan sudut
pandang moral. Untuk itu dapat dikemukakan beberapa alasan. Pertama, banyak hal
bersifat tidak etis, sedangkan menurut hukum tidak dilarang. Tidak semuanya yang
bersifat immoral adalah illegal juga. Menipu teman waktu main kartu atau menyontek
waktu mengerjakan ujian sekolah merupakan perbuatan tidak etis, tetapi dengan itu prang
tidak melanggar hukum. Kelompok pemain kartu sendiri harus mengatur apa yang boleh
dan apa yang tidak dan sekolah itu sendiri harus membuat peraturan yang
memungkinkan mereka menangani masalah ketidakjujuran peserta ujian intern. Hukum
tidak perlu dan bahkan tidak bisa mengatur segala sesuatu demikian rupa sehingga tidak
akan terjadi pelaku yang kurang etis. Malah ada perilaku yang dari segi moral sangat
penting, tetapi tidak diatur menurut hukum. Misalnya, dikebanyakan Negara modern,
perselingkuhan dalam perkawinan tidak dilarang berdasarkan hukum dan orang yang
berzinah tidak bisa diadili. Tetapi tentang perilaku etis itu tidak ada keraguan. Dalam
bisnis pula, hukum tidak akan mengatur segala hal sampai detai-detail terkecil.
Berbohong waktu melamar kerja atau pencurian kecil-kecilan di tempat keja adalah
perbuatan yang tidak etis, tetapi tidak ditangani oleh hukum. Biasanya hukum dan
instansi kehakiman baru campur tangan, bika kepentingan atau hak orang serta instansi
harus dilindungi.
Dalam kasuk “industry kimia” harus kita membedakan aspek moral dari aspek hukum.
Memang dikatakan, pendahuku Jones : tidak teliti dalam menetapkan aturan-aturan
keamanan”. Tidak begitu jelas apa yang dimaksudkan, aturan hukum atau aturan
perusahaan. Kalaupun dimaksudkan peraturan hukum yang resmi, perilakunya tidak
menjadi jelek hanya karena melanggar peraturan hukum. Terlepas dari konteks hukum,
manajer tidak boleh mengambil keputusan yang membahayakan karyawan atau
lingkungan hidup. Melakukan hal seperti itu harus dianggap tidak etis. Tetapi sebaiknya
hal itu diatur menurut hukum juga. Kepentingan umum minta agar dalam industry penuh
resiko seperti industry kimia menjadi jelas standart yang berlaku dan pelaksanaannya
dikontrol dendan ketat.
Alasan kedua untuk perlunya sudut pandang moral di saming susut pandang hukum
adalah bahwa proses terbentuknya undang-undang atau peraturan-peraturan hukuk
lainnya memakan waktu lama, sehingga masalah-masalah baru tidak segera bisa diatur
secara hukum. Salah satu contoh jelas adalah hukum lingkungan hidup. Sebelum
diberlakukan undang-undang lingkungan hidup, industry sudah sering mengakibatkan
polusi udara, air, atau tanah yang sangat merugikan masyarakat. Bila pakbrik kertas
seumpamanya membuang limbah industry seenaknya kedalam sungai, sehingga
mengakibatkan kerugian bagi pertanian setempat yang menggunakan air sungai sebagai
irigasi awah dan bagi masyarakat di sekitarnya yang menggunakannya untuk keperluan
rumah tangga, maka perilaku itu bersifat tidak etis, walaupun belum dilarang menurut
hukum.
Alasan ketiga ialah bahwa hukum itu sendiri sering kali bisa disalahgunakan.
Perumusan hukum tidak pernah sempurna, sehingga orang yang beritikad buruk bisa
memanfaatkan celah-celah dalam hukum ( the loopholes of the law ).
Alasan keempat cukup dekat dengan itu. Bisa terjadi, hukum memang dirumuskan
dengan baik, tetapi karena salah satu alasan sulit untuk dilaksanakan, peraturan hukum
yang tidak ditegakkan akan ditaati juga. Hal itu bisa terjadi di bidang lingkungan hidup,
umpamanya, sebagaimana akan dijelaskan di bab 10
Alasan kelima untuk perlunya sudut pandang moral disamping sudut pandang sudut
pandang hukum adalah bahwa hukum kerapkali mempergunakan pengertian yang dalam
konteks hukum itu sendiri tidak didefinisikan dengan jelas dan sebenarnya diambil dari
konteks moral.
Untuk bisnis, sudut pandang hukum tentu penting, bisnis harus menaati hukum dan
peraturan yang berlaku. “bisnis yang baik” antara lain berarti juga bisnis yang patuh pada
hukum. Tetapi sudut pandang itu tidak cukup. Perlu diakui lagi adanya sudut pandang
lain, yakni sudut pandang moral. Disamping hukum, kita membuthkan etika juga, kita
membutuhkan norma moral yang menetapkan apa yang etis dan tidak etis untuk
dilakukan. Pada taraf normatif etika mendahului hukum, misalnya kewajiban itu sendiri
untuk memenuhi hukum berasal dari sudut pandang moral.
4. Tolak ukur untuk tiga sudut pandang ini
Bagaimana kita tahu bahwa bisnis itu baik menurut tiga sudut pandang tadi? Apa
yang menjadi tolak ukurnya? Untuk sudut pandang ekonomis,, pertanyaan ini tidak sulit
untuk dijawab. Secara ekonomis bisnis adalah baik, kalau menghasilkan laba.
Untuk sudut pandang hukum pun, tolak ukurnya cukup jelas. Bisnis adalah baik, jika
diperbolehkan oleh system hukum.
Lebih sulit untuk menentukan baik tidaknya bisnis dari sudut pandang moral. Apa
yang menjadi tolak ukur untuk menentukan baik buruknya suatu perbuatan atau tingkah
laku? Kaidah emas, penilaian masyarakat umum. Mari kita memandang tiga prosedur
untuk memastikan kualitas etis suatu perbuatan ini lebih rinci.
a. Hati nurani
Suatu perbuatan adalah baik, jika dilakukan sesuai dengan hati nurani, dan suatu
perbuatan lain adalah buruk, jika dilakukan bertentangan dengan suara hati nurani,
kita menghancurkan integritas pribadi, karena kita menyimpang dari keyakinan kita
yang terdalam. Hati nurani mengikat kita dalam arti, kita harus melakukan apa yang
diperintahkan oleh hati nurani dan tidak boleh melakukan apa yang berlawanan
dengan suara hati nurani.
b. Kaidah emas
Cara lebih obyektif untuk menilai baik buruknya perilaku moral adalah mengukurnya
dengan Kaidah Emas yang berbunyi: “Hendaklah memperlakukan orang lain
sebagaimana Anda sendiri ingin diperlakukan”. Perilaku saya bisa dianggap secara
moral baik, bila saya memperlakukan orang tertentu sebagaimana saya sendiri ingin
diperlakukan. Mengapa begitu? Karena saya (dan setiap orang) tentu menginginkan
agar saya diperlakukan dengan baik. Nah, saya harus memperlakukan orang lain
dengan cara demikian pula. Kalau begitu, saya berperilaku dengan baik (dari sudut
pandang moral).
Kaidah Emas dapat dirumuskan dengan cara positif maupun negative. Tadi diberikan
perumusan positif. Bila dirumuskan secara negative, Kaidah Emas berbunyi:
“Janganlah melakukan terhadap orang lain, apa yang Anda sendiri tidak ingin akan
dilakukan terhadap diri Anda”. Saya kurang konsisten dalam tingkah laku saya, bila
saya melakukan sesuatu terhadap orang lain, yang saya tidak mau akan dilakukan
terhadap diri saya sendiri. Kalau begitu, saya berperilaku dengan cara tidak baik (dari
sudut pandang moral).
c. Penilaian umum
Cara ketiga, menentukan baik buruknya suatu perbuatan atau perilaku adalah
menyerahkannya pada masyarakat umum untuk dinilai. Di sini perlu digarisbawahi
secara khusus pentingnya kata “umum”. Tidak cukup, bila suatu masyarakat terbatas
menilai kualitas etis suatu perbuatan atau perilaku. Sebab, mungkin mereka
mempunyai vested interests, sehingga cenderung membenarkan saja perilaku yang
menguntungkan mereka, sambil menipu dirinya sendiri tentang kualitas etisnya.
Dapat disimpulkan, supaya patut disebut good business, tingkah laku bisnisharus
memenuhi syarat-syarat dari semua sudut pandang tadi. Memang benar, bisnisnya
yang secara ekonomis tidak baik (jadi, tidak membawa untung) tidak pantas disebut
bisnis yang baik. Terdapat lebih banyak keraguan tentang perlunya sudut pandang
kedua dan ketiga. Bisnis tidak pantas disebut good business, kalau tidak baik dari
sudut etikadan hukum juga. Dalam hal ini pentingnya aspek hukum lebih mudah
diterima, sekurang-kurangnya pada taraf teoretis (walaupun dalam praktek barangkali
sering dilanggar). Buku ini ingin mempelajari aspek etika dalam perilaku bisnis,
tanpa meremehkan pentingnya aspek-aspek lain.
2. Apa itu etika bisnis?
Kata “etika” dan “etis” tidak selalu dipakai dalam arti yang sama dan karena itu pula
“etika bisnis” bisa berbeda artinya. Suatu uraian sistematistentang etika bisnis sebaiknya
dimulai dengan menyelidiki dan menjernihkan cara kata seperti “etika” dan “etis”
dipakai. Perlu diakui, ada beberapa kemungkinan yang tidak seratus persen sama
(walaupun perbedaannya tidak seberapa) untuk menjalankan penyelidikan ini. Cara yang
kami pilih untuk menganilisis arti-arti “etika” adalah membedakan antara “etika sebagai
praksis”dan “etika sebagai refleksi”.
Etika sebagai praksis berarti: nilai-nilai dan norma-norma moral sejauh dipraktekkan atau
justru tidak dipraktekkan, walaupun seharusnya dipraktekkan. Dapat dikatakan juga, etika
sebagai praksis adalah apa yang dilakukan sejauh sesuai atau tidak sesuai dengan nilai
dan norma moral.
Etika sebagai refleksi adalah pemikiran moral. Dalam etika sebagai refleksi kita
berpikir tentang apa yang kita lakukan dan khususnya tentang apa yang harus dilakukan
atau tidak boleh dilakukan. Etika sebagai refleksi berbicara tentang etika sebagai praksis
atau mengambil praksis etis sebagai obyeknya. Etika sebagai refleksi menyoroti dan
menilai baik buruknya perilaku orang. Etika dalam arti ini dapat dijalankan pada taraf
popular maupun ilmiah. Dalam surat kabar atau majalah berita hamper setiap hari kit
abaca komentar tentang peristiwa-peristiwa yang berkonotasi etis: perampokan,
pembunuhan, kasus korupsi, dan banyak lain lagi. Dan setiap hari ada banyak sekali
orang yang membicarakan peristiwa-peristiwa itu. Mereka semua melibatkan diri etika
sebagai reflesi pada taraf popular. Tetapi etika sebagai refleksi bisa mencapai taraf ilmiah
juga. Hal itu terjadi, bila refleksi dijalankan dengan kritis, metodis, dan sistematis, karena
tiga ciri inilah membuat pemikiran mencapai taraf ilmiah. Pemikiran ilmiah selalu
bersifat kritis, artinya tahu membedakan antara yang tahan uji dan yang tidak tahan uji.
Pemikiran ilmiah bersifat metodis pula, artinya tidak semrawut tetapi berjalan secara
teratur dengan mengikuti satu demi satu segala tahap yang telah direncanakan
sebelumnya. Akhirnya, pemikiran ilmiah bersifat sistematis, artinya tidak membatasi diri
pada salah satu sisi saja tetapi menyoroti suatu bidang sebagai keseluruhan, secara
komprehensif.
Seperti etika terapan pada umumnya, etika bisnis pun dapat dijalankan tiga taraf, yakni
makro, meso dan mikro.
Taraf makro = etika bisnis mempelajari aspek-aspek moral dari system ekonomi sebagai
keseluruhan.
Taraf meso = etika bisnis menyelidiki masalah-masalah etis dibidang organisasi.
Taraf mikro = yang difokuskan individu dalam hubungan dengan ekonomi atau bisnis.
3. Perkembangan etika bisnis
Sepanjang sejarah, kegiatan perdagangan atau bisnis tidak pernah luput dari sorotan
etika. Sejak manusia terjun dalam perniagaan, disadari juga bahwa kegiatan ini tidak
terlepas dari masalah etis. Misalnya tentang kemungkinan penipuan, pedagang yang
menipu langganan dengan menjual barangnya menurut pengukuran yang tidak benar,
berlaku tidak etis. Aktivitas perniagaan selalu berurusan dengan etika, artinya harus
selalu mempertimbangkan boleh atau tidak boleh dilakukan.
Etika selalu dikaitkan dengan bisnis. Sejak ada bisnis, sejak saat itulah bisnis
dihubungkan dengan etika, etika dalam bisnis mempunyai riwayat panjang sekali
sedangkan umur etika bisnis masih muda sekali.kita baru bisa berbicara tentang etika
dalam arti spesifik setelah menjadi suatu bidang tersendiri, maksudnya suatu bidang
intelektual dan akademis dalam konteks pengajaran dan penelitian di peguruan tinggi.
1. Situasi terdahulu
pada awal sejarah filsafat, Plato,Aristoteles, dan filsuf-filsuf Yunani lain menyelidiki
bagaimana sebaiknya mengatur kehidupan manusia dalam Negara dan dalam konteks
itu mereka membahas juga bagaimana kehidupan ekonomi dan kegiatan niaga harus
diatur.
2. Masa peralihan: tahun 1960-an
Dalam tahun 1960-an terjadi perkembangan baru yang bisa dilihat sebagai
persiapan langsung bagi timbulnya etika bisnis dalam decade berikutnya. Dasawarsa
1960-an di Amerika Serikat ditandai oleh pemberontakkan terhadap kuasa dan
otoritas, revolusi mahasiswa, penolakan terhadap kemapanan. Suasana diperkuat lagi
karena frustasi dirasakan secara khusus oleh kaum muda dengan keterlibatan Amerika
Serikat dengan Vietnam, Dan mengakibatkan suatu sikap anti bisnis pada kaum
muda, khususnya mahasiswa. Dunia pendidikan menanggapi dengan berbeda-beda.
Salah satu reaksi penting adalah dengan memberikan perhatian khusu kepada social
issues dalam kuliah tentang manajemen.
3. Etika bisnis lahir di Amerika Serikat : tahun 1970-an
Etika bisnis mulai terbentuk di Amerika Serikat sejak tahun 1970-an. Jika
sembelumnya etika membicarakan aspek-aspek moral dari bisnis disamping banyak
pokok pembicaraan moral lainnya, kini mulai berkembang etika bisnis dalam arti
yang sebenarnya. Terutama ada dua factor, yakni etika sekitar bisnis, dan etika bisnis.
Filsuf memasuki wilayah penelitian dan dalam waktu singkat menjadi kelompok yang
paling dominan, filsuf-filsuf lain sudah menemukan etika biomedis (bioetika) sebagai
suatu bidang garapan yang baru. Dalam mengembangkan etika bisnis para filsuf
cenderung bekerja sama dengan para ahli-ahli lain, khususnya ahli ekonomi dan
manajemen.
Factor yang lain adalah yang memacu timbunya etika bisnis sebagai suatu bidang
studi yang serius adalah krisis moral yang dialami dunia bisnis Amerika di tahun
1970-an. Banyak krisis moral yang lain seperti demonstrasi besar-besaran,
menguaknya “Watergate Affair” yang memaksa presiden mengundurkan diri, dan
terjadi skandal khusus yakni beberapa skandal dalam bisnis Amerika, dimana
pebisnis berusaha menyuap politisi atau memberi sumbangan illegal kepada
kampanye politik. Sebagai reaksi atas peristiwa tidak etis tersebut, menjadikan etika
bisnis sebagai mata kuliah dalam kurikulum tinggi yang mendidik manajer dan ahli
ekonomi.
4. Etika bisnis meluas ke eropa : tahun 1980-an
Di Eropa Barat etika bisnis mulai berkembang kira-kira sepuluh tahun kemudian.
Semakin banyak fakultas ekonomi atau sekolah bisnis di Eropa mencantumkan mata
kuliah etika bisnis dalam kurikulimnya sebagai mata kuliah wajib yang ditempuh.
5. Etika bisnis menjadi fenomena global : tahun 1990-an
Dalam decade 1990-an, etika bisnis tidak terbatas lagi di Eropa Barat. Kini etika
bisnis dipelajari di seluruh dunia. Tidak mengherankan, bila etika bisnis mendapat
perhatian khusus di Negara yang memiliki ekonomi paling kuat di luar dunia Barat :
Jepang. Seperti di Universitas Reitaku di Kashiwa-Shi. Institut ini berusaha
mendekatkan etika dengan praktek bisnis. Di India, etika bisnis
terutama
dipraktekkan oleh management center for human values yang mengeluarkan majalah
tentang etika bisnis.
4. Faktor sejarah dan budaya dalam etika bisnis
Orang yang terjun dalam kegiatan bisni, menurut penilaian sekarang menyibukka diri
dengan suatu pekerjaan yang terhormat. Apalagi jika ia menjadi pebisnis sukses. Jika kita
mempelajari sejarah, sikap positif ini tidak selamanya menandai padangan terhadap
bisnis. Disini tentu tidak mungki mempelajari seluruh perkembangan historis dari sikap
terhadap bisnis ini. Hanya beberapa unsur saja akan disinggung. Tetapi kiranya hal itu
sudah cukup untuk memperlihatkan bahwa pandangan etis tentang perdagangan dan
bisnis berkaitan erat dengan factor sejarah dan budaya.
1. Kebudayaan Yunani kuno
Masyarakat Yunani kuno pada umunya berprasangka terhadap kegiatan dagang dan
kekayaann. Perdagangan sebaiknya diserahkan kepada orang asing atau pendatang.
Pandangan negative ini ditemukan juga ddalam filsafat yunani kuno. Pada filsuf
Plato (427-347 SM) yang berjudul Undang-Undang. Disini digambarkan letak
Negara ideal itu seharusnya cukup jauh dari pantai laut, paling sedikit kira-kira 14,5
kilometer. Maksudnya tentu supaya tidak menjadi pusat perdagangan dan kekuatan
maritime.
Penolakan terhadap perdagangann dan kekayaan diberi dasar lebih teoritis oleh
Aristoteles (384-322 SM). Ia menilai sebagai tidak etis setiap kegiaan menambah
kekayaan. Kalau kita sepakat bahwa bisnis selalu mengandung unsur mencari
keuntungan.
2. Agama Kristen
Dalam Alkitab perdagangan tidak ditolak sebagai kurang etis. Akan tetapi, karena
perdagangan merupakan salah satu jalan biasa menuju kekayaandapat dimengerti juga
kalau pada permulaan sejarah Gereja Kristin perdagangan dipandang sengan syak
wasangka. Dalam kalangan Kristiani pada zaman kuno di abad pertengahan, profesi
pedagang sering dinilai kurang pantas. Profesi pedagang tidak pantas bagi orang
Kristen. Seorang Kristen harus memilih: menjadi pedagang atau tetap hidup sebagai
Kristen. Dari riwayat ini dapat disimpulkan bahwa suara yang begitu negate terhadap
perdagangan ini mendapat kedudukan terpandang selama berabad-abad.
3. Agama Islam
Dalam pandangan islam tampak pandangan lebih positif terhadap perdagangan
dan kegiatan ekonomis. Tidak ditemukan sikap kritis dan curiga terhadap bisnis. Nabi
Muhammad sendiri adalah seorang pedagang dan ajaran agama islam mula-mula
disebarkanluaskan terutama melalui para pedagang muslim. Mungkin Ayat Al-Qur’an
paling penting tentang perdagangan adalah ayat 275 surat al-bagrah yang
menyatakan: “Allah telah menghalalkan perdagangan dan melarang riba. Walaupun
riba dilarang, kegiatan dagang secara eksplisit diizinkan. Jika melihat dalam
perspektif sejarah, masalah riba sangat menarik sebagai contoh tentang
dimungkinkannya perubahan radikal dalam pemikiran moral dan khusussnya yang
didorong oleh realitas ekonomis. Mula-mula peranan uang sebagai alat tukar saja.
Dalam situasi itu larangan riba tentu masuk akal dan bisa diterima tanpa kesulitan.
Tetapi dalam ekonomi modern, uang menjadi barang jualan karena dianggap barang
langka dan mulai berkembang yang disebut “pasar modal”
4. Kebudayaan Jawa
Dipandang menurut spectrum budaya, tidak semua suku bangsa di Indonesia
memperlihatkan minat dan bakat yang sama di bidang perdagangan. Orang minang
umpamanya, terkenal karena tekun dalam usaha dagang dan sanggup mencatat
sukses. Dalam kebudayaan jawa terlihat perbedaan yang menarik. Clifford Geertz
pada tahun 1950-an menyelidii struktur social dari kota Jawa Timur Modjokuto
(Nama samaan untuk Pare), ia menemukan disitu ada 4 golongan: priyayi, (para
pedagang pribumi (wong dagang), Wong cilik, Wong cina. Yang penting adalah
perbedaan yang pertama dan kedua. Para priyayi bekerja sebagai pegawai di bidang
pemerintahan dan sedikit juga memegang fungsi dalam pabrik-pabrik kecil di
Modjokuto. Pedagang pribumi, yang menjamin perputaran roda ekonomi di
Modjokuto, bersama dengan orang tionghoa.
5. Sikap modern dewasa ini
Setelah meninjau data sejarah dan budaya sudah cukup untuk menyadarkan kita
tengtang perbedaan bisnis, dulu, dan sekarang. Kalau sekarang kegiatan bisnis dinilai
sebagai pekerjaan terhormat dan semakin dibanggakan sejauh membawa sukses,
dimasa silam tidak selalu begitu. Malah kadang-kadang tampak sikap negative.
Mengapa dulu bisnis cukup lama mendapat nama begitu jelek? Sebabnya pasti
berkaitan dengan pencarian untung sebagai tujuan bisnis. Pencaian untung sbagai
motif utama bagi bisnis merupakan suatu fenomena modern. Ditegaskan oleh ekonom
Amerika, Robert Heilbroner: kalau pencarian untung menjadi motif utama bagi
bisnis, dengan sendirinya diakibatkan juga bahwa bisnis mengejar kruntungan sendiri.
Seorang egois terarah ke kepentingannya sendiri, dan menutup mata untuk
kepentingan orang lain. Sikap ini jelas tidak sesuai dengan moralitas yang benar.
Lawan egois adalah altruisme yang berarti sifat watak yang memperhatikan dan
mengetumakan orang lain. Orang yang terlibat dalam kegiatan bisnis, memang
mencari kepentingan diri, tapi tidak sampai mrugikan kepentingan orang lain.
Sebaliknya, relasi ekonomis justru menguntungkan untuk kedua belah pihak.
5. Kritik atas etika bisnis
Bnyak hal yang perlu dikerjakan lagi dalam Etika bisnis dan banyak yang sudah
dikerjakan perlu disempurnakan. Karena iti etika bisnis harus terbuka bagi kritik yang
membangun, tapi kadangkala pula etika bisnis menjadi bulan-bulanan dari kritik yang
tidak tepat.
1. Etika bisnis mendiskriminasi
Inti keberatan Drucker ialah bahwa etika bisnis menjalankan semacam
diskriminasi. Mengapa bisnis harus dibebankan secara khusus dengan etika?
Hanya ada satu etika yang berlaku untuk perbuatan semua orang, penguasa atau
rakyat jelata, kaya atau miskin, yang kuat atau lemah. Tetapi etika bisnis tidak
setuju. Mereka berpendapat bahwa perbuatan yang tidak bersifat immoral atau
illegal kalau dilakukan oleh orang biasa (ordinary folk), menjadi illegal kalau
dilakukan oleh orang bisnis.
Tuduhan Drucker ini tidak beralasan. Sekali-kali tidak benar bahwa etika bisnis
memperlakukan bisnis dengan cara lain daripada ordinary folk. Mereka
membutuhkan etika sebagaimana semua orang lain, para pebisnis adalah pelaku
moral. Merekapun harus taat peraturan-peraturan moral, bisnis harus dinilai
secara etis. Etika bisnis adalah suatu ilmu dengan identitas tersendiri, bukan
karena norma-norma yang tidak berlaku untuk bidang lain, melainkan karena
aplikasi norma-norma moral yang umum atas suatu wilayah kegiatan manusiawi
yang minta perhatiam khusus, sebab keadaannya dan masalah-masalahnya
mempunyai corak tersendiri.
2. Etika bisnis itu kontradiktif
Kritik lain ini tidak berasal dari satu orang. Orang-orang ini menilai etika bisnis
sebagai suatu usaha naïf. Dengan nada sinis mereka bertanya: masa mau
memikirkan etika dalam menjalankan bisnis! Etika bisnis mengandung suatu
kontradiksi.etika dan bisnis itu bagaikan air dan minyak, yang tidak meresap satu
kedalam yang kain. Kritikan ini sulit dijawab. Sebenarnya buku ini sebagai
keseluruhan berusaha untuk memperlihatkan bahwa kritikan ini merupakan
asumsi yang benar. Dan dalam bab terakhir kita kembali dalam masalah ini.
3. Etika bisnis praktis
Tidak ada kritik atas etika bisnis yang menimbulkan begitu banyak reaksi seperti
artikel yang dimuat dalam Harvard Business Reviw.
Menurut Stark, bisnis adalah “too general, too theoretical, too impractical”. Ia
menilai kesenjangan benar menganga antara etika bisnis akademis dan para
professional di bidang manajemen.
Keberatan bahwa etika bisnis kurang praktis lebih sering terdengar dan Stark
bukan orang pertama yang menyinggung masalah ini. Karena itu ada baiknya
mencoba untuk menanggapi keberatan itu.
Pertama, Stark hanya memandang dan mengutip artikel dan buku ilmiah tentang
etika bisnis.
Kedua, Stark tampak sebagai contoh jelas tentang tendensi Amerika Utara untuk
mengutamakan tahap mikro dalam etika bisnis. Ia hanya memperhatikan aspekaspek etis dari keputusan yang harus diambil manajer dan kurang berminat untuk
kerangka menyeluruh dumana pekerjaan ditempatkan
4. Etikawan tidak bisa mengambil alih tanggung jawab
Kritisi ini meragukan entah etika bisnis memiliki keahlian etis khusus, yang tidak
dimiliki oleh para pebisnis dan manajer itu sendiri.
Seluruh kritikan ini berdasarkan salah paham. Etika bisnis sama sekali tidak
bermaksud mengambil alih tanggung jawab etis dari para pebisnis para manajer,
atau pelaku moral lain di dalam bidang bisnis. Etika bisnis atau cabang etika
terapan lainnya tidak berpretensi memiliki keahlian yang sama sifatnya seperti
banyak keahlian lain. Jika mobil rusak, kebanyakan orang yang membawanya ke
bengkel,karena disitu tersedia montir yang mempunyai keahlian yang tidak
dimiliki mereka sendiri. Lain halnya dengan etika. Etika bisnis atau cabang etika
terapan lainnya tidak bermaksud mengganti tempat daei orang yang mengambil
keputusan moral. Etika bisnis bisa membantu untuk mengambil keputusan moral
yang dapat dipertanggungjawabkan, tetapi tidak berniat mengganti tempat dari
para pelaku moral dalam perusahaan. contoh Bantuan etika bisnis, seperti etika
bisnis bia meningkatkan kesadaran moral di bidang bisnis.
Download