1 PENERAPAN PEMBELAJARAN INKUIRI DIPADU STAD

advertisement
PENERAPAN PEMBELAJARAN INKUIRI DIPADU STAD (STUDENT TEAM
ACHIEVEMENT DIVISION) UNTUK MENINGKATKAN HASIL BELAJAR
PESERTA DIDIK KELAS X5 SMA LABORATORIUM UM
MATAPELAJARAN BIOLOGI TAHUN AJARAN 2012/2013
Angga Hermana Budi, Sri Endah Indriwati, Moh. Amin
Universitas Negeri Malang, Jalan Semarang 5 Malang
Email: [email protected]
Abstrak: Berdasarkan hasil observasi pada bulan Maret 2013 di kelas X5 SMA
Laboratorium UM diperoleh hasil bahwa strategi pembelajaran yang diterapkan masih
belum sesuai dengan prinsip pelaksanaan kurikulum, peserta didik memiliki hasil belajar
kognitif rendah yang ditunjukkan dengan rendahnya tingkat ketuntasan peserta didik pada
UTS1 dan 2 tahun ajaran 2012/2013 dan peserta didik kurang bekerjasama saat diskusi
kelompok. Penilaian yang dilakukan secara optimal hanya pada ranah kognitif saja
sedangkan ranah afektif dan psikomotor masih belum optimal. Salah satu solusi atas
permasalahan tersebut adalah pembelajaran kooperatif STAD dan inkuiri. Pembelajaran
kooperatif STAD berkontribusi untuk meningkatkan kerjasama peserta didik sedangkan
inkuiri berkontribusi untuk meningkatkan hasil belajar kognitif, afektif maupun
psikomotor. Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan peningkatan hasil belajar
dengan menerapkan pembelajaran Inkuiri dipadu STAD di SMA Laboratorium UM.
Penelitian ini termasuk Penelitian Tindakan Kelas (PTK) dengan subjek penelitian peserta
didik kelas X 5. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa pembelajaran Inkuiri dipadu
STAD dapat: 1) meningkatkan hasil belajar kognitif yang ditandai dengan peningkatan
ketuntasan klasikal sebesar 39% 2) meningkatkan hasil belajar afektif yang ditandai
dengan peningkatan ketuntasan klasikal sebesar 30%. 3) meningkatkan hasil belajar
psikomotor yang ditandai dengan peningkatan ketuntasan klasikal sebesar 26%
Kata Kunci: hasil belajar, inkuiri, pembelajaran kooperatif STAD, penelitian tindakan
kelas
PENDAHULUAN
Dalam pelaksanaan KTSP, terdapat beberapa prinsip yang harus dijalankan.
Salah satunya adalah implementasi kurikulum didasarkan pada potensi, perkembangan
dan kondisi peserta didik untuk menguasai kompetensi yang berguna bagi dirinya. Penelitian ini dilakukan di SMA Laboratorium UM karena peserta didik sekolah tersebut
memiliki hasil belajar yang rendah. Berdasarkan hasil observasi pada bulan Maret 2013
di kelas X5 SMA Laboratorium UM, diperoleh hasil bahwa strategi pembelajaran yang
diterapkan masih belum sesuai dengan prinsip pelaksanaan kurikulum, peserta didik
yang memiliki hasil belajar kognitif yang rendah yang ditunjukkan dengan rendahnya
tingkat ketuntasan peserta didik pada UTS1 dan 2 tahun ajaran 2012/2013 dan peserta
didik kurang bekerjasama saat diskusi kelompok. Penilaian yang dilakukan secara optimal hanya pada ranah kognitif saja sedangkan ranah afektif dan psikomotor masih belum optimal. Salah satu solusi atas permasalahan tersebut adalah pembelajaran kooperatif STAD dan inkuiri.
STAD merupakan salah satu pembelajaran kooperatif yang paling sederhana.
STAD bertujuan untuk memotivasi peserta didik dalam kelompok agar mereka dapat
saling mendorong dan membantu satu sama lain dalam menguasai materi yang disajikan, serta menumbuhkan suatu kesadaran bahwa belajar itu penting, bermakna, dan menyenangkan. Pembelajaran inkuiri merupakan rangkaian kegiatan pembelajaran yang
1
2
menekankan pada proses berpikir secara kritis dan analitis untuk mencari dan menemukan sendiri jawaban dari suatu masalah yang dipertanyakan. Pembelajaran kooperatif
STAD berkontribusi untuk meningkatkan kerjasama peserta didik sedangkan inkuiri
berkontribusi untuk meningkatkan hasil belajar baik kognitif, afektif maupun psikomotor. Untuk memecahkan permasalahan yang telah ditemui, perlu diterapkan perpaduan
pembelajaran Inkuiri dipadu STAD untuk meningkatkan hasil belajar peserta didik.
METODE
Pendekatan yang dilakukan dalam penelitian ini adalah deskriptif kualitatif dan
jenis penelitian ini merupakan penelitian tindakan kelas yang dapat ditempuh untuk
memperbaiki praktek pembelajaran secara nyata di dalam kelas, sehingga mendapatkan
hasil yang maksimal. Penelitian tindakan kelas ini dilaksanakan dalam dua siklus.
Setiap siklus terdiri atas empat tahap yaitu perencanaan tindakan, pelaksanaan tindakan,
observasi, dan refleksi. Data yang diambil dalam penelitian ini terbagi atas dua jenis
yaitu data utama dan data penunjang. Data utama meliputi nilai kognitif yang diukur
menggunakan instrumen tes akhir siklus yang dilaksanakan setiap akhir siklus, nilai
afektif yang diukur menggunakan instrumen angket afektif yang dilaksanakan setiap
akhir siklus, dan psikomotor yang diukur menggunakan instrumen asesmen kinerja yang
dilaksanakan setiap pembelajaran. Data penunjang adalah data observasi keterlaksanaan
pembelajaran yang diukur menggunakan instrumen lembar observasi keterlaksanaan
pembelajaran yang dilaksanakan setiap pembelajaran dan catatan lapangan. Sumber data
yang digunakan untuk data utama adalah peserta didik, sedangkan sumber data yang
digunakan untuk data penunjang adalah peserta didik dan guru..
HASIL
1. Keterlaksanaan Sintaks Pembelajaran
Keterlaksanaan sintaks pembelajaran Inkuiri dipadu STAD pada siklus I dan II
diukur dengan menggunakan instrumen lembar keterlaksanaan sintaks pembelajaran.
Lembar keterlaksanaan sintaks pembelajaran diisi oleh observer. Ringkasan skor yang
diperoleh berdasarkan lembar keterlaksanaan sintaks tersebut dapat dilihat pada Tabel
1.1 dan 1.2 berikut ini.
Tabel 1.1 Skor Keterlaksanaan Pembelajaran Inkuiri dipadu STAD Siklus I
No.
1.
2.
3
Observer
I
II
III
Skor
77
76
78
Rata-rata
77
Tabel 1.2 Skor Keterlaksanaan Pembelajaran Inkuiri dipadu STAD
Siklus II
No.
Observer
Skor
Rata-rata
1.
I
89
92,3
2.
II
96
3.
III
92
Berdasarkan kedua tabel tersebut dapat diketahui bahwa terjadi peningkatan
pada keterlaksanaan keterlaksanaan sintaks pembelajaran sebesar 15,5% dari siklus I.
3
Berikut merupakan diagram batang keterlaksanaan sintaks Pembelajaran Inkuiri dipadu
STAD dari siklus I dan siklus II
Gambar 1.1 Grafik Keterlaksanaan Sintaks Pembelajaran Inkuiri dipadu STAD
2. Hasil Belajar Afektif Peserta didik
Data hasil belajar afektif peserta didik diperoleh dari angket afektif yang diisi
peserta didik pada akhir siklus I dan Siklus II. Ketuntasan klasikal peserta didik dihitung
dengan cara membagi jumlah peserta didik yang tuntas dengan jumlah seluruh peserta
didik kemudian dikalikan dengan 100%. Data ketuntasan afektif klasikal peserta didik
pada siklus I dan siklus II dapat dilihat pada Tabel 1.3.
Tabel 1.3 Data Ketuntasan Afektif Klasikal Peserta didik
Ketuntasan Belajar Peserta
Siklus I
didik
Jumlah peserta didik yang
27
tuntas
Jumlah peserta didik yang
16
tidak tuntas
Ketuntasan klasikal
63%
Siklus II
40
3
93%
Berdasarkan Tabel 1.3 dapat diketahui bahwa ketuntasan afektif klasikal peserta
didik mengalami peningkatan sebesar 30%. Grafik peningkatan ketuntasan afektif
klasikal peserta didik dapat dilihat pada Gambar 1.3.
Gambar 1.3 Grafik Peningkatan Ketuntasan Afektif Klasikal Peserta didik
4
3. Hasil Belajar Kognitif Peserta didik
Data hasil belajar kognitif peserta didik diperoleh dari nilai tes akhir siklus yang
dilaksanakan pada akhir siklus I dan siklus II. Ketuntasan klasikal peserta didik dihitung
dengan cara membagi jumlah peserta didik yang tuntas dengan jumlah seluruh peserta
didik kemudian dikalikan dengan 100%. Data ketuntasan kognitif klasikal peserta didik
pada siklus I dan siklus II dapat dilihat pada Tabel 1.4.
Tabel 1.4 Data Ketuntasan Kognitif Klasikal Peserta Didik
Ketuntasan Belajar Peserta
Siklus I
Didik
Jumlah peserta didik yang
20
tuntas
Jumlah peserta didik yang
23
tidak tuntas
Ketuntasan klasikal
47%
Siklus II
37
6
86%
Berdasarkan Tabel 1.4 dapat diketahui bahwa ketuntasan kognitif klasikal
peserta didik mengalami peningkatan sebesar 39%. Grafik peningkatan ketuntasan
kognitif klasikal peserta didik dapat dilihat pada Gambar 1.4.
Gambar 1.4 Grafik Peningkatan Ketuntasan Kognitif Klasikal Peserta Didik
4. Hasil Belajar Psikomotor Peserta Didik
Data hasil belajar Psikomotor peserta didik diperoleh dari nilai asesmen kinerja
yang dilaksanakan selama siklus I dan siklus II. Ketuntasan klasikal peserta didik
dihitung dengan cara membagi jumlah peserta didik yang tuntas dengan jumlah seluruh
peserta didik kemudian dikalikan dengan 100%. Data ketuntasan psikomotor klasikal
peserta didik pada siklus I dan siklus II dapat dilihat pada Tabel 1.5.
Tabel 1.5 Data Ketuntasan Kognitif Klasikal Peserta Didik
Ketuntasan Belajar Peserta
Siklus I
didik
Jumlah peserta didik yang
30
tuntas
Jumlah peserta didik yang
13
tidak tuntas
Ketuntasan klasikal
70%
Siklus II
37
6
86%
Berdasarkan Tabel 1.5 dapat diketahui bahwa ketuntasan psikomotor klasikal
peserta didik mengalami peningkatan sebesar 16%. Grafik peningkatan ketuntasan
kognitif klasikal peserta didik dapat dilihat pada Gambar 1.5.
5
Gambar 1.5 Grafik Peningkatan Ketuntasan Psikomotor Klasikal Peserta didik
PEMBAHASAN
A. Hasil Belajar Kognitif
Dimyati dan Mudjiono (1994), menyatakan bahwa hasil belajar merupakan hasil
dari suatu interaksi tindak belajar dan tindak mengajar yang meliputi ranah kognitif,
afektif, dan psikomotor. Pada siklus I diperoleh data persentase ketuntasan nilai kognitif klasikal mencapai 47%. Hal tersebut sangat jauh di bawah kriteria ketuntasan
klasikal yaitu 85%. Pada siklus II diperoleh data ketuntasan nilai kognitif klasikal
mencapai 86%.
Pada siklus I hanya ranah C2 yang telah tercapai sedangkan ranah C4, dan C5
belum tercapai dengan indikasi ketika peserta didik diberi pertanyaan oleh guru
mengenai ciri-ciri Porifera dan Coelenterata, mereka telah mampu menjelaskan ciri-ciri
Porifera dan Coelenterata dengan baik tetapi peserta didik masih kebingungan dalam
memberikan solusi untuk permasalahn terumbu karang dan analisis tentang hubungan
kerusakan terumbu karang dengan kehidupan hewan laut lain.
Pada siklus 2 , peserta didik telah lebih mengenal metode pembelajaran yang
diberikan dan telah dapat melakukan inkuiri. Untuk ketercapaian ranah, pada siklus II
ranah C2, C4, dan C5 telah tercapai. Ketercapaian ranah diindikasikan ketika peserta
didik diberi pertanyaan mengenai ciri-ciri Platyhelminthes, banyak peserta didik yang
menjelaskan ciri-ciri Platyhelmithes dengan benar. Peserta didik juga mampu mengevaluasi kebenaran suatu berita mengenai cacing pita disertai dengan alasannya.
Pembelajaran inkuiri memiliki beberapa kelebihan. Menurut Sanjaya, 2011
kelebihan inkuiri sebagai berikut.
1. Inkuiri menekankan pada pengembangan aspek kognitif, afektif, dan psikomotor
secara seimbang, sehingga pembelajaran melalui strategi ini dianggap lebih
bermakna.
2. Dapat memberikan ruang kepada peserta didik untuk belajar sesuai dengan gaya
belajar mereka.
3. Sesuai dengan perkembangan psikologi belajar modern yang menganggap belajar
adalah proses perubahan tingkah laku berkat adanya pengalaman.
Pada siklus II, peserta didik merasa lebih bebas untuk bertanya dan berpendapat
sehingga peserta didik lebih mudah mendapatkan informasi yang benar.
Pada penelitian ini, tahap yang paling berkontribusi untuk meningkatkan hasil
belajar kognitif adalah tahap pengujian hipotesis atau analisis data. Tahap menguji hi-
6
potesis atau analisis data berkontribusi untuk meningkatkan hasil belajar kognitif ranah
C5 karena peserta didik harus mengevaluasi dan menilai kebenaran jawaban sementara
(hipotesis) yang diberikan bukan hanya berdasarkan argumentasi, akan tetapi harus didukung oleh data yang ditemukan, serta berdasarkan literatur yang mereka dapatkan sehingga kesimpulan yang dibuat nantinya dapat dipertanggungjawabkan. Untuk mengevaluasi suatu kebenaran hipotesis, peserta didik perlu memahami konsep dan menerapkan konsep tersebut pada permasalahan yang dihadapi. Sehingga, kognitif mulai dari C2
hingga C5 digunakan dan akhirnya dapat meningkatkan hasil belajar kognitif.
Peningkatan yang terjadi pada hasil belajar kognitif pada penelitian ini sesuai
dengan penelitian yang dilaksanakan Subaedi (2007) bahwa penerapan pembelajaran
STAD dapat meningkatkan hasil belajar peserta didik kelas X SMAN 1 Pademawu
Pamekasan dan penelitian yang dilaksanakan oleh Florentina (2008) di SMAN 1
Lawang dengan peningkatan pada ranah kognitif sebesar 23% dari 69,3% menjadi
92,3%.
B. Hasil Belajar Afektif
Ranah afektif adalah ranah yang berhubungan dengan sikap dan nilai. Beberapa
pakar mengatakan bahwa, sikap seseorang dapat diramalkan perubahannya. Bila seseorang memiliki penguasaan kognitif yang tinggi, ciri-ciri belajar efektif akan tampak
pada peserta didik dalam berbagai tingkah laku. Ada beberapa kategori dalam ranah
afektif sebagai hasil belajar; (a) Receiving/attending/menerima/memperhatikan. (b)
Responding/ menanggapi. (c) Valuing/penilaian. (d) Organization/Organisasi. (e)
Characterization by a value or value complex/karakteristik nilai atau internalisasi nilai
(Bloom, 1964)
Pada siklus I, peserta didik masih terlalu takut untuk untuk melontarkan pertanyaan atau menyampaikan pendapat namun dapat memperhatikan presentasi teman
dengan baik dan hanya sedikit peserta didik yang mengganggu teman pada saat berpendapat. Hal tersebut mengindikasikan bahwa pada siklus I, hanya ranah A1 dan A3 yang
tercapai sedangkan ranah A2 belum tercapai. Persentase ketuntasan nilai afektif klasikal
mencapai 63%.
Pada siklus II, peserta didik sudah jauh lebih baik. Banyak pertanyaan yang dilontarkan saat berdiskusi dan diikuti dengan sikap menghargai teman yang sedang melakukan presentasi. Semua peserta didik telah mampu memperhatikan presentasi temannya, mengajukan pendapat pada waktu diskusi, dan beberapa peserta didik yang pada
siklus I mengganggu teman yang sedang berpendapat telah menghentikan perbuatannya,
bahkan mereka juga ikut mengutarakan pendapat mereka sendiri. Hal tersebut mengindikasikan bahwa pada siklus II, ranah A1, A2, dan A3 telah tercapai. Persentase ketuntasan nilai afektif klasikal mengalami peningkatan sebesar 30% dari siklus I menjadi
93%.
Pembelajaran inkuiri memiliki beberapa kelebihan. Menurut Sanjaya, 2011
salah satu kelebihan inkuiri andalah inkuiri menekankan pada pengembangan aspek
kognitif, afektif, dan psikomotor secara seimbang, sehingga pembelajaran melalui
strategi ini dianggap lebih bermakna. Oleh karena itu, aspek afektif juga meningkat. Hal
serupa juga diungkapkan Slavin, 1995 dalam Sanjaya, 2011 bahwa penggunaan
pembelajaran kooperatif dapat meningkatkan prestasi belajar peserta didik.
Pada penelitian ini, tahap yang paling berkontribusi untuk meningkatkan hasil
belajar afektif adalah tahap presentasi. Karena pada saat proses presentasi, peserta didik
dapat saling berdiskusi secara klasikal. Selain itu juga dapat meningkatkan sikap kritis
7
peserta didik karena peserta didik akan menanyakan hal-hal yang masih belum meraka
pahami. Kegiatan diskusi klasikal memacu peserta didik untuk bertanya dan mengajukan pendapat sehingga dapat meningkatkan A2. Selain itu, apabila peserta didik ingin
mengajukan pendapat dengan lancar, peserta didik harus memperhatikan dengan baik
presentasi yang disajikan dan menghargai teman yang sedang melakukan presentasi
maupun yang sedang mengajukan pendapat sehingga meningkatkan hasil belajar afektif
A1 dan A3.
Peningkatan yang terjadi pada hasil belajar afektif pada penelitian ini sesuai
dengan penelitian yang dilaksanakan oleh Florentina (2008) di SMAN 1 Lawang
dengan dari peningkatan pada ranah afektif hingga 2,72%.
C. Hasil Belajar Psikomotor
Ranah Psikomotor adalah ranah yang berkaitan dengan keterampilan (skill)
atau kemampuan bertindak setelah seseorang menerima pengalaman belajar tertentu.
Menurut Simpson (1972), terdapat 7 tingkat pada ranah psikomotor yaitu perception,
set, guided response, mechanism, complex overt response, adaptation, dan origination.
Dalam peneilitian ini, peneliti mengukur guided response yaitu mensketsa. Pada siklus I, sketsa yang dibuat oleh tiap kelompok masih asal-asalan dan kurang dilengkapi dengan keterangan fungsi tiap bagian. Hal ini mengindikasikan bahwa pada siklus
I, ranah P3 masih belum tercapai. Persentase ketuntasan klasikal nilai psikomotor sebesar 70% masih jauh dibandingkan kriteria ketuntasan klasikal yaitu 85%.
Pada siklus II, tiap kelompok berusaha lebih serius untuk mensketsa bahan
amatan. Hasil sketsa lebih baik daripada siklus I. Hal tersebut mengindikasikan bahwa
pada siklus II, ranah P3 telah tercapai. Persentase ketuntasan klasikal nilai psikomotor
mengalami peningkatan sebesar 16% dari siklus I menjadi 86% sehingga telah melampaui krteria ketuntasan klasikal.
Menurut Sanjaya, 2011 salah satu kelebihan inkuiri adalah inkuiri menekankan
pada pengembangan aspek kognitif, afektif, dan psikomotor secara seimbang, sehingga
pembelajaran melalui strategi ini dianggap lebih bermakna. Oleh karena itu, aspek psikomotor juga meningkat. Hal serupa juga diungkapkan Slavin, 1995 dalam Sanjaya,
2011 bahwa penggunaan pembelajaran kooperatif dapat meningkatkan prestasi belajar
peserta didik.
Pada penelitian ini, tahap yang paling berkontribusi untuk meningkatkan hasil
belajar psikomotor adalah tahap pengumpulan data. Dalam hal ini, peserta didik dapat
meningkatkan hasil belajar psikomotor ranah P3 karena peserta didik diperintahkan
(dibimbing) untuk melaksanakan pembelajaran inkuiri dipadu STAD dan secara umum
pelaksanaan pengumpulan data berlangsung baik.
KESIMPULAN
Berdasarkan hasil penelitian dapat diambil kesimpulan sebagai berikut.
1. Penerapan tindakan pembelajaran inkuiri dipadu dengan STAD mampu meningkatkan hasil belajar Biologi di ranah afektif peserta didik di SMA Laboratorium
UM kelas X 5. Peningkatan ketuntasan hasil belajar afektif pada siklus I dibandingkan siklus II adalah 30%. Pada siklus I hanya ranah A1 dan A3 yang tercapai sedangkan pada siklus II, ranah A1, A2, dan A3 telah tercapai. Tahap yang paling
berkontribusi dalam peningkatan hasil belajar afektif adalah tahap presentasi.
8
2.
3.
Penerapan tindakan pembelajaran inkuiri dipadu dengan STAD mampu meningkatkan hasil belajar Biologi di ranah kognitif peserta didik di SMA Laboratorium
UM kelas X 5. Siklus I ke siklus II menunjukkan adanya peningkatan ketuntasan
hasil belajar kognitif sebesar 39%. Hal ini menunjukkan bahwa hasil belajar
kognitif peserta didik pada siklus II lebih baik daripada siklus I. Pada siklus I,
hanya ranah C2 yang tercapai sedangkan pada siklus II, ranah C2, C4, dan C5 telah
tercapai. Tahap yang paling berkontribusi dalam peningkatan hasil belajar kognitif
adalah tahap pengujian hipotesis.
Penerapan tindakan pembelajaran inkuiri dipadu dengan STAD mampu meningkatkan hasil belajar Biologi di ranah psikomotor peserta didik di SMA
Laboratorium UM kelas X 5. Siklus I ke siklus II menunjukkan adanya peningkatan
psikomotor sebesar 16%. Hal ini menunjukkan bahwa hasil belajar psikomotor
peserta didik pada siklus II lebih baik daripada siklus I. Pada siklus II, ranah P3
telah tercapai. Tahap yang paling berkontribusi dalam peningkatan hasil belajar
psikomotor adalah tahap pengumpulan data.
SARAN
Dalam pelaksanaan pembelajaran inkuiri dipadu dengan STAD terdapat kekurangan yaitu tidak semua tahap dalam pembelajaran dapat meningkatkan semua hasil
belajar. Oleh karena itu variasi sangat diperlukan untuk tiap tahap. Misalnya dalam perumusan masalah dan hipotesis, setiap peserta didik dimotivasi oleh guru untuk merumuskan dan mengungkapkan masalah serta hipotesis ke depan kelas sehingga selain
hasil belajar kognitif meningkat, hasil belajar afektif juga ikut meningkat. Dalam tahap
presentasi, peserta didik dimotivasi oleh guru untuk menghubungkan tiap pendapat yang
diajukan dengan teori yang ada dan hipotesis yang telah dibuat sehingga hasil belajar
afektif dan kognitif sekaligus dapat mengalami peningkatan yang besar.
DAFTAR RUJUKAN
Arikunto, S. 2003. Dasar-Dasar Evaluasi Pendidikan Edisi Revisi. Jakarta: Bumi
Aksara.
BSNP. 2006. Standar Isi Untuk Satuan Pendidikan Dasar dan Menengah. Jakarta:
Departemen Pendidikan.
Dimyati dan Mudjiono. 1994. Belajar dan Pembelajaran. Jakarta: PT Bumi Aksara
Sanjaya, W. 2011. Strategi Pembelajaran Berorientasi Standar Proses Pendidikan.
Jakarta: Kencana Prenada Media
Slavin, R.T. 2005. Cooperative Learning: Theory, Research, and Practice. London:
Allymand Bacon.
Download