KBKBBI

advertisement
DAFTAR ISI
Kurikulum Berbasis Kompetensi Ilmu-Ilmu Dasar
I. Latar Belakang ................................................................................................................
A. Hakekat Bidang Ilmu-Ilmu Dasar ..............................................................................
B. Perkembangan Ilmu-Ilmu Dasar ................................................................................
C. Inti Bidang Ilmu-Ilmu Dasar ......................................................................................
II. Kondisi Yang Dihadapi dan Kompetensi Lulusan ……………………………………..
III. Strategi Pembelajaran .....................................................................................................
Kurikulum Berbasis Kompetensi Bidang Pertanian
I. Latar Belakang ................................................................................................................
A. Hakekat Bidang Ilmu Pertanian .................................................................................
B. Perkembangan Bidang Ilmu Pertanian ......................................................................
C. Inti Bidang Ilmu Pertanian .........................................................................................
II. Kompetensi Lulusan Bidang Pertanian ………………………………………...............
III. Strategi Pembelajaran dan Evaluasi ................................................................................
IV. Penutup ...........................................................................................................................
Pustaka ....................................................................................................................................
Kurikulum Berbasis Kompetensi Bidang Kesehatan
I. Latar Belakang ................................................................................................................
II. Lingkup dan Tujuan Pendidikan Kesehatan …………………………………................
III. Landasan Penyusunan Kurikulum ..................................................................................
IV. Tanggung Jawab Tenaga Kesehatan ...............................................................................
V. Kompetensi Utama Lulusan Bidang Kesehatan ..............................................................
Penjabaran Kompetensi Utama ......................................................................................
VI. Strategi Pembelajaran .....................................................................................................
VII. Evaluasi dan Pembelajaran .............................................................................................
Kurikulum Berbasis Kompetensi Bidang Ilmu Sosial
I. Latar Belakang ................................................................................................................
A. Hakekat Bidang Ilmu Sosial .......................................................................................
B. Perkembangan Bidang Ilmu Sosial ............................................................................
C. Inti Bidang Ilmu Pertanian .........................................................................................
II. Kondisi Yang Dihadapi dan Kompetensi Lulusan ……………………………………..
III. Kurikulum Bidang Ilmu Sosial .......................................................................................
IV. Strategi Pembelajaran .....................................................................................................
Kurikulum Berbasis Kompetensi Bidang Teknik
I. Latar Belakang ................................................................................................................
A. Hakekat Bidang Ilmu Teknik ......................................................................................
B. Perkembangan Bidang Ilmu Teknik ...........................................................................
C. Inti Bidang Ilmu Teknik ..............................................................................................
II. Menyusun Kompetensi Bidang Teknik ………………………………………………..
Contoh Rumusan Kompetensi Utama .............................................................................
III. Kurikulum Bidang Bidang Teknik .................................................................................
IV. Strategi Pembelajaran dan Evaluasi ................................................................................
V. Penutup ............................................................................................................................
1
1
2
3
4
5
9
9
12
12
14
15
17
17
18
19
20
20
21
21
25
26
27
27
27
28
29
30
31
33
33
35
36
36
37
38
39
41
KURIKULUM BERBASIS KOMPETENSI BIDANG ILMU-ILMU DASAR
I. LATAR BELAKANG
A. Hakekat Bidang Ilmu Dasar
Sejarah kehidupan manusia berkembang seiring dengan perkembangan sains
dan teknologi yang menjadi landasan para filosof dalam menemukan teori untuk
menjelaskan fenomena kehidupan di jagad raya. Oleh karena itu bidang ilmu-ilmu
dasar (Matematika. Biologi, Fisika, dan Kimia) seringkali dianggap menjadi dasar
berpijak perkembangan sains dan teknologi agar mampu mendorong perkembangan
bidang IPTEKS terapan yang berkaitan langsung dengan pemenuhan kebutuhan
manusia.
Pertumbuhan penduduk dunia yang relatif tinggi telah menimbulkan dampak
serius terhadap kebutuhan sandang, pangan dan papan yang memadai sesuai dengan
harkat dan martabat manusia. Selain itu seiring dengan perkembangan tingkat
peradaban kehidupan maka kebutuhan manusia juga semakin kompleks dan
cenderung bergeser ke arah produk berbasis teknologi (technology-based products).
Pada gilirannya perkembangan sains dan teknologi juga akan berpengaruh terhadap
perubahan perilaku manusia dalam berinteraksi dengan lingkungannya. Oleh karena
itu adalah wajar jika saat ini juga terjadi perubahan tuntutan para pengguna
(stakeholders) lulusan dengan latar belakang pendidikan bidang sains dan teknologi
terhadap kompetensi yang dapat diberikan untuk mampu melaksanakan tugas di dunia
kerja secara lebih profesional.
Dalam era digital saat ini perubahan mendasar telah terjadi di hampir semua
sektor kehidupan manusia mulai dari hulu hingga hilir. Kecanggihan teknologi satelit
telah mampu membantu manusia dalam meramal terjadinya perubahan cuaca
sehingga proses bercocok tanam, proses transportasi maupun upaya penyelamatan
kehidupan manusia dan binatang dapat dilakukan lebih dini atau disesuaikan dengan
kebutuhan. Selain itu kegiatan komunikasi (telepon, TV) dan ekonomi, semisal
transaksi finansial melalui perbankan saat ini dapat dilakukan tanpa hambatan
dimensi jarak dan waktu, sehingga otomatis terjadi pula pergeseran terhadap
kompetensi yang dibutuhkan untuk memasuki dunia kerja bagi para lulusan di bidang
sains dan teknologi. Selain itu bidang ilmu hayati juga terjadi pergeseran yang sangat
nyata dengan adanya perkembangan teknologi peralatan sehingga dapat digunakan
dalam proses pemetaan gen sebagai dasar perkembangan pengetahuan rekayasa
genetika. Selain itu pesatnya perkembangan bioteknologi saat ini tidak terlepas dari
kontribusi perkembangan di bidang kimia bahan dan proses sehingga ikut andil dalam
perkembangan pemahaman dunia kedokteran modern saat ini dalam menjelaskan
timbulnya kasus-kasus penyakit degeneratif atau akibat kelain gen.
Sebagai konsekuensi perkembangan bidang sains dan teknologi, institusi
penyelenggara pendidikan tinggi bidang sains dan teknologi (ilmu-ilmu dasar) juga
menghadapi tantangan besar dalam hal rekonstruksi kurikulum serta metode
pembelajaran terutama dengan terjadinya peningkatan jumlah peminat sehingga
menuntut perubahan isi bahan ajar agar dapat diadaptasikan dalam kondisi proses
1
pembelajaran massal (mass education). Rekonstruksi kurikulum tidak hanya
bertujuan untuk menjawab permintaan pasar kerja (market signals) namun juga harus
mampu menjawab visi ilmiah (scientific visions) agar dapat menyiapkan para lulusan
dalam tataran menciptakan lapangan kerja. Berkaitan dengan hal itu patut disadari
bahwa bidang sains dan teknologi menjadi dasar berpijak perkembangan berbagai
disiplin ilmu terapan seperti pertanian, keteknikan, kedokteran, ekonomi maupun
bidang ilmu sosial lainnya. Oleh karena itu bidang sains dan teknologi harus mampu
merubah paradigma pembelajaran dari yang bersifat abstrak (seperti matematika)
menjadi bersifat riil, dari yang bersifat monodisiplin menjadi multidisiplin atau
integritas disertai dengan kemampuan berkomunikasi baik verbal maupun non-verbal
sebagai jawaban terhadap globalisasi. Selain itu kurikulum bidang sains dan teknologi
juga diharapkan dapat menyiapkan peseta didik untuk memiliki kemampuan adaptasi
yang tinggi terhadap lingkungan kerja maupun jenis pekerjaan yang dihadapi.
Dengan demikian hakikat bidang ilmu-ilmu dasar adalah menyiapkan peserta
didik untuk mengembangkan sains dan teknologi yang dapat memacu perkembangan
bidang ilmu sains dan teknologi terapan, ekonomi maupun sosial yang dimanfaatkan
sepenuhnya untuk tujuan peningkatan harkat dan martabat manusia melalui berbagai
upaya dalam kehidupan nyata.
B. Perkembangan Bidang Ilmu-ilmu Dasar
Perkembangan peradaban manusia dalam kaitannya dengan sains dan teknologi
lebih banyak terjadi pada abad ke-20 dibandingkan dengan abad ke-2 sebelumnya.
Perkembangan bidang ilmu-ilmu dasar pada abad ke-20, hampir separuhnya
didominasi oleh perkembangan ilmu fisika. Hal ini tidk terlepas dari perkembangan
teori atom yang berkembang pada abad ke-19 serta awal abad ke- 20 sehingga saat ini
diakui bahwa ilmu atom menjadi kunci pemahaman tentang ilmu bahan. Pada
perkembangan selanjutnya penemuan radioaktif diikuti dengan berkembangnya teori
relativitas serta teori kuantum. Penemuan-penemuan utama tersebut menjadi pemicu
perkembangan di berbagai sektor kehidupan selama abad ke-20 dengan menghasilkan
dampak nyata berupa ditemukannya bahan-bahan baru, alat elektronik serta berbagai
bidang lain yang bermanfaat bagi kehidupan manusia.
Paul Caro (1993) dalam bukunya berjudul : ”La roue des Sciences” (The
wheel of science), Albin Michel, France, Chapter VI telah menyampaikan bahwa kita
telah menyaksikan bagaimana ilmu fisika dapat memanfaatkan uap untuk mesin,
kemudian fisika juga mampu memanfaatkan elektron dan photon untuk kepentingan
umat manusia.
Pada paruh kedua abad ke-20, kita telah ikut menyaksikan bahwa bidang ilmu
hayati telah menarik perhatian dunia dengan perkembangan di bidang sel dan
jaringan. Melalui bantuan perkembangan kecanggihan peralatan (instrumen) serta
biokimia, bidang ilmu hayati telah berubah statusnya dari ilmu alam atau ilmu
observasi menjadi ilmu eksperimen yang ditandai secara monumental oleh temuan
tentang diskripsi model molekuler DNA oleh Watson dan Crick pada tahun 1953.
Temuan ini tidak diragukan lagi menjadi landasan bagi perkembangan saat ini di
bidang biokimia dan genetika sehingga mampu mendorong kemajuan spektakuler di
bidang kedokteran.
2
Pada akhirnya saja sepertiga terakhir abad ke-20 ditandai dengan perkembangan
di bidang komputasi yang menampilkan kalkulator elektronik pertama merek ENIAC
pada tahun 1946 dan saat ini dengan ditemukannya teknologi komputer pada awal
tahun 1970 telah mampu merubah perilaku manusia dalam berhitung, memperoleh
informasi maupun berkomunikasi. Dewasa ini kita semua ikut merasakan bagaimana
pesatnya perkembangan teknologi digital sehingga penggunaan telepon selular seiring
ditemukannya teknologi serat optik telah merubah kehidupan manusia di jagad raya
ini dalam berkomunikasi dan berinteraksi.
Perkembangan semua ini telah menimbulkan pertanyaan mendasar tentang apa
yang telah dan akan berubah dalam hal kurikulum serta metode pembelajaran untuk
bidang ilmu-ilmu dasar guna menjawab terjadinya dua perubahan utama selama abad
ke-20, yaitu pertama, meningkatnya spesialisasi dan diversifikasi disiplin ilmu yang
menyebabkan timbulnya celah yang oleh para ilmuwan disebut “teluk (gulf)” antara
komunitas ilmiah dengan komunitas lainnya. Perubahan kedua ialah meningkatnya
interpenetrasi diantara sains dan teknologi serta antara riset dasar dan terapan
sehingga menjadi sulit untuk membuat suatu garis demarkasi antara bidang ilmu-ilmu
dasar dengan bidang lainnya dalam menentukan agenda riset dan sebagai
konsekuensinya juga masalah isi dan metode pembelajaran.
C. Inti Bidang Ilmu-Ilmu Dasar
Dewasa ini bidang ilmu-ilmu Dasar umumnya terdiri dari 4 ilmu dasar :
1. Matematika.
2. Biologi.
3. Fisika.
4. Kimia.
Dalam perkembangannya ilmu matematika murni telah melahirkan program
studi baru yaitu statistika, dan ilmu komputer. Sementara itu ilmu biologi telah
melahirkan program studi baru di bidang ilmu hayati seperti ilmu pertanian yang
akhirnya memisahkan diri. Ilmu fisika murni juga telah mengalami perkembangan
sehingga saat ini dikenal program fisika murni, fisika terapan (antara lain fisika
nuklir). Bidang ilmu kimia juga mengalami perkembangan sangat pesat sehingga
lahir program studi baru yaitu teknologi kimia, kimia industri dan bahkan di ITB
jurusan farmakologi berada di fakultas ilmu-ilmu dasar.
Menurut Ella Yulaewati (2000) tujuan dari kurikulum bidang sains di Indonesia
adalah:

Untuk mengembangkan pengetahuan ilmiah, keterampilan dan sikap.

Untuk mengembangkan proses keterampilan dalam proses penguasaan dan
penerapan pengetahuan ilmiah dan teknologi, konsep dan hasil penemuan.

Untuk mengembangkan kemampuan dalam hal menerapkan pengetahuan,
pemahaman serta keterampilan di bidang sains dan teknologi untuk meningkatkan
kualitas hidup, serta memfasilitasi kemajuan melalui proses pengalaman belajar
bagi peserta didik.
3

Untuk mendorong berkembangnya kemampuan intelektual, fisik, pengendalian
emosi pembelajar serta tercapainya kesejahteraan sosial (social well being).
Memperhatikan uraian di atas serta hasil studi perbandingan dari berbagai
negara di dunia sebagaimana dilaporkan dalam konferensi International Pendidikan
yang diselenggarakan di Jenewa pada tanggal 5-8 September 2001, maka inti
pendidikan bidang ilmu-ilmu dasar di masa yang akan datang seyogyanya mencakup
bahasan tentang :

Makhluk hidup (Living beings).

Bahan (Matter).

Energi (Energy).

Alam jagad raya, langit, bumi serta lingkungan (The universe, space, Earth,
environment).
Selain itu juga ditemukan di beberapa negara lain bahwa bidang sains juga
membelajarkan masalah:

Sains dan teknologi dalam aktivitas kehidupan manusia (Science and technology
in human activity).

Udara, air dan tanah (Air, water and soil).

Teknik dan instrumentasi (Techniques and instruments).

Sejarah kehidupan dan sains (the history of life and sciences).
Berdasarkan masalah di atas maka inti bidang ilmu-ilmu dasar seyogyanya
terdiri atas:

Biologi

Kimia

Fisika

Matematika
Dengan penekanan pada proses pembelajaran yang lebih mengutamakan
perolehan pengalaman (experience) terhadap fakta di lapang sehingga akan mampu
menghasilkan lulusan yang kompeten di bidangnya serta memiliki keterampilan lunak
(soft skills) yang relevan dengan tantangan jaman.
II. KONDISI YANG DIHADAPI DAN KOMPETENSI LULUSAN
Seiring dengan perkembangan bidang sains dan teknologi yang semakin
canggih dewasa ini, persaingan di dunia kerja juga semakin ketat. Oleh karena itu
kompetensi lulusan bidang ilmu-ilmu dasar juga akan mengalami tuntutan perubahan.
Dari berbagai sumber kepustakaan diperoleh informasi bahwa kompetensi yang
diharapkan bagi para lulusan ialah penguasaan di bidang pengetahuan sains,
keterampilan dan sikap yang dapat meningkatkan kualitas kehidupan di masa
mendatang.
4
Berkaitan dengan hal tersebut kompetensi di bidang sains dan teknologi
diharapkan dapat diukur melalui unjuk kerja dalam hal :

Pemahaman (understanding)

Menguasai teori, kemampuan analitis, dan pemecahan masalah

Keterampilan menggunakan alat serta memahami prosedur kerja rutin

Kemampuan meneliti sumber daya alam

Kemampuan berkomunikasi
Uraian di atas apabila diselaraskan dengan tujuan pendidikan nasional di
Indonesia sebagaimana tercantum dalam UU No. 20/2003, Bab II pasal 2, maka
kompetensi bagi lulusan di bidang ilmu-ilmu dasar adalah:
1. Bertaqwa dan beriman kepada Tuhan Yang Maha Esa, berwawasan kenegaraan
dan kebangsaan.
2. Mampu memahami fenomena alam serta dampaknya bagi kehidupan umat
manusia di alam jagad raya melalui cara berpikir logis, sistimatis dan kritis
sehingga dapat mencari alternatif solusi pemecahan masalah secara kreatif dan
inovatif.
3. Kompeten dalam prinsip dasar biologi, matematika, fisika dan kimia serta sosial
ekonomi sebagai dasar pengembangan ilmu-ilmu terapan.
4. Kompeten dalam pengoperasian peralatan yang relevan dengan disiplin ilmu serta
menerapkannya dalam kegiatan nyata sebagai bagian dari prosedur rutin suatu
pekerjaan/kegiatan.
5. Kompeten dalam hal melakukan eksperimen baik yang bersifat eksploratif
maupun laboratoris terhadap fenomena alam serta mampu mengkomunikasikan
baik secara lisan maupun tulisan dengan para stakeholders.
6. Memiliki sikap profesional, bermoral, beretika, berestetika serta kepedulian
terhadap masyarakat dan nilai-nilai yang berlaku di masyarakat serta kepedulian
terhadap lingkungan dan berjiwa enterpreneur.
III. STRATEGI PEMBELAJARAN
Proses pembelajaran sudah saatnya bergeser dari sekedar mentransferkan ilmu
menjadi mengkonstruksikan ilmu pengetahuan dan teknologi, sehingga problem
based learning atau experience based learning menjadi penting untuk dijadikan
sebagai standar pembelajaran bidang ilmu-ilmu dasar untuk saat ini. Untuk itu,
strategi pembelajaran harus runtut dan sistematis mengacu kepada pembelajaran yang
mencakup langkah-langkah :
1. Mengingat
2. Memahami
3. Mengaplikasikan
5
4. Menganalisa
5. Mengevaluasi
6. Berkreasi
Tahap paling tinggi dari proses pembelajaran yang akan dicapai adalah
mengkreasikan sesuatu menjadi bahan yang memiliki nilai tambah bagi kemakmuran
manusia. Seluruh pembelajaran bidang ilmu-ilmu dasar harus mampu menumbuhkan
rasa cinta pada objek alam semesta. Tumbuhnya rasa cinta di bidangnya akan
menjadikan lulusan memiliki kepedulian yang tinggi terhadap bidang ilmu-ilmu
dasar. Oleh karena itu, proses pembelajaran yang berorientasi pada masalah yang
terdapat di alam raya harus mendapat perhatian penuh dan dilakukan secara sungguhsungguh, terbimbing dan terjadwal dengan baik serta memperhatikan beban sks yang
memadai. Beberapa proses pembelajaran yang mendukung problem based learning di
bidang ilmu-ilmu dasar :
1. Menyelenggarakan diskusi interaktif mengenai problem aktual, sehingga dosen
lebih banyak berperan sebagai fasilitator dan mahasiswa dirangsang untuk
berpartisipasi dalam pola interaktif, sehingga memungkinkan adanya umpan balik
secara langsung.
2. Menggunakan media audio visual terutama ditujukan untuk kasus khusus, yang
tidak ditemui di lapangan sekitar, atau untuk memberikan pemahaman yang lebih
baik.
3. Mengasah kemampuan berfikir, keterampilan mengolah informasi, keterampilan
berkomunikasi, memecahkan masalah khusus dan keterampilan kontekstual.
4. Meningkatkan keterampilan teknis dan prosedural, kemampuan membaca SOP
dan mengerjakan hal-hal teknis di laboratorium dan di lapangan.
5. Meningkatkan peran serta mahasiswa dalam kelompok untuk meresolusikan
konflik, bekerja dalam kelompok, memimpin kelompok, berkomunikasi antar
individu dan kelompok serta memahami adanya ketentuan-ketentuan dan
peraturan yang harus ditaati serta mampu menggunakan sumber daya yang ada
untuk mencapai efisiensi dan efektifitas sebuah proses pada bidang sains dan
teknologi.
Metode lain yang dapat dianjurkan ialah pembelajaran berbasis pengalaman
(experience-based learning) yang oleh Gibbons dan Hopkins (1980)1 dipetakan dalam
suatu skala sebagaimana disajikan pada gambar berikut ini.
6
Figure 3. Gibbon’s Scaleto Measure the Level of Experience in-based Program
Melalui pembelajaran berbasis pengalaman pemahaman terhadap fenomena
alam yang terkadang bersifat abstrak akan lebih mudah aktualisasikan oleh peserta
didik sehingga akan mempengaruhi tingkat kompetensi bidang studi yang
bersangkutan. Untuk mencapai tingkat kompetensi tertentu proses pembelajaran juga
akan dipengaruhi oleh aktivitas pembelajaran yang lazim disebut metode
instruksional dimana proses pembelajaran berlangsung.
Tabel di bawah ini menunjukkan sekuen pembelajaran untuk mencapai tingkat
kompetensi tertentu. Menurut Kolb siklus pembelajaran dimulai dari experiental
education, concrete experience, reflextive observation, abstract conceptualization dan
active experimentation.
Svinicki and Dixon
Kolb
Model Klob Dengan Komponen Aktivitasnya
Experiential
Education
Concrete
Experience
Instructional
Methodology/
Learning
Activities
Laboratories
Observations
Primary Text
Reading
Simulations/Ga
mes
Field Work
Trigger Films
Readings
Problem Sets
Examples
Reflective
Observation
Abstract
conceptuallization
Logs
Journals
Discussion
Lectures
Papers
Model Building
Brainstorming
Thought
Question
Rhetorical
Question
Projects
Active
Experimentation
Simulations
Case Studies
Laboratory Field
Work
Projects
Analogies
Homework
7
Model Manajemen Pembelajaran
Siklus Pembelajaran berbasis penjualan (The Experiental learning Cycle)
Model di atas memberikan implikasi bahwa peserta didik memiliki pengalaman
konkrit, diikuti oleh observasi reflektif, kemudian pembentukan konseptualisasi
abstrak sebelum pada akhirnya melakukan eksperimen aktif untuk menguji prinsip
baru yang tengah berkembang.
8
KURIKULUM BERBASIS KOMPETENSI BIDANG PERTANIAN
I. LATAR BELAKANG
A. Hakekat Bidang Ilmu Pertanian
Pertanian merupakan kegiatan usaha pengelolaan sumber daya alam yang
berkaitan dengan tanah, tanaman, dan hewan (termasuk ikan) untuk memperoleh hasil
yang dapat dimanfaatkan sebagai pangan, sandang, papan dan pakan untuk
kepentingan industri, perdagangan, estetika dalam rangka memenuhi keperluan hidup
sehari-hari. Adanya paradigma bahwa pertanian merupakan sebuah sistem sosiokultural-teknis untuk menghasilkan dan memanfaatkan biomassa secara berkelanjutan
dengan memanen energi surya melalui manipulasi agroekosistem, telah menjadi dasar
pemahaman ”pertanian sebagai ilmu”. Oleh karena ada paradigma tersebut, maka
yang melandasi ilmu pertanian adalah konsep efisiensi, ekonomis, dan efektif.
Dengan demikian ilmu pertanian dijalankan dengan teknik yang tertib prosedur, tata
laksana dan tatacara dalam suatu usaha tani yang teratur (Sabihan dan Muliyanto,
2004).
Pertanian sebagai ilmu dicirikan oleh adanya (i) cakupan formal pertanian, dan
(ii) cakupan material pertanian. Ilmu pertanian dikembangkan atas dasar fenomena
kehidupan yang berkembang di abad XXI, yaitu berupa :
1. Pertanian berkelanjutan.
2. Perubahan pola kehidupan dari basis pertanian ke basis industri dan seterusnya ke
basis informatika.
3. Kehidupan yang didorong ke arah perbaikan peradaban berkebudayaan.
Pertanian berkelanjutan berbasis pada perwujudan (i) interspecies equity
(pengembangan produk yang sudah ada dari dulu, dan tidak musnah karena adanya
perkembangan baru ilmu dan teknologi), (ii) intergeneration equity (mampu
mempertahankan lingkungan baik dari penggunaan lahan, obat-obatan)
(iii) intergroup equity (berlakukanya ketentuan WTO). Di sisi lain perubahan pola
kehidupan berbasis pertanian ke industri dan kemudian informasi dicirikan dari
elemen pembedanya yaitu (a) pelaku pertanian, (b) produksi, (c) asas pemanfaatan
sumberdaya, (d) pengerak, (e) teknologi, (f) komunikasi dan (g) kesepakatan.
Sementara perubahan kehidupan yang didorong ke arah perbaikan peradaban
berkebudayaan dicirikan dengan unsur-unsur universal, yang terdiri dari (i) sistem
religi dan kebudayaan, (ii) sistem organisasi kemasyarakatan, (iii) sistem
pengetahuan, (iv) sistem bahasa (komunikasi audio visual secara verbal literal),
(v) kesenian, (vi) sistem mata pencaharian hidup dan (vii) sistem teknologi dan
peralatan.
Ketiga elemen cakupan formal ilmu pertanian tersebut tidak dapat dipisahkan
satu dengan lainnya dan bersifat interdependen teknologi yang digunakan yaitu
berupa teknologi yang embedded dengan kebudayaan karena pertanian (sistem
matapencaharian) dan sistem teknologi merupakan elemen-elemen universal dari
9
kebudayaan. Teknologi ini dinamakan teknologi sepadan bukan teknologi tepat guna.
Kasus revolusi hijau menggunakan teknologi berasaskan utilitarian karena adanya
rasa kekhawatiran kekurangan pangan dunia. Akhirnya teknologi revolusi hijau
menimbulkan berbagai macam konflik untuk menjaga keberlanjutan kehidupan.
Sehubungan dengan ini, muncullah teknologi budidaya tanaman organik,
pemberdayaan masyarakat, teknologi pupuk organik yang memerlukan investasi
tinggi untuk mengembangkannya.
Dalam hal cakupan formal bidang ilmu pertanian perlu ditata kembali sesuai
dengan fenomena perubahan pertanian. Lebih lanjut dikaji bahwa pengelompokkan
atas dasar hampiran teknologi (Fakultas Teknologi Pertanian dan jurusannya) dan
hampiran analisis (Jurusan Tanah, Jurusan Hama dan Penyakit, Jurusan Sosial
Ekonomi, Jurusan Gizi Masyarakat dll.) seyogyanya diganti karena sudah tidak sesuai
dengan hampiran pengembangan pertanian sebagai sebuah sistem. Dengan demikian
penyederhanaan program studi di bidang pertanian menjadi perlu adanya. Sejauh ini
asas yang tetap berlaku adalah asas fatalistik, karena hampiran pertanian adalah
hampiran dengan objek material kehidupan.
Cakupan ilmu pertanian adalah terpadu (integrated farming system), yang secara
realita telah membudaya di masyarakat pertanian rakyat dalam bentuk pertanian
polivalen. Sistem pertanian polivalen yang membudaya di masyarakat dapat tumbuh
dan bertahan karena secara ekosistem sesuai dengan kawasan muson tropis dan asas
keberlanjutan kehidupan masyarakat. Sistem pertanian polivalen terusik, bahkan
rusak, karena penerimaan asas utilitarian dalam pertanian menjadi revolusi hijau
(sekarang masih dianut oleh pengambil kebijakan pertanian), ketahanan pangan
masyarakat (terutama para petani) menjadi menurun, pemanfaatan sumberdaya alam
tidak dapat efektif dan efisien, serta petani menjadi objek pembangunan bukan subjek
pembangunan.
Tantangan yang dihadapi bidang pertanian tidak hanya untuk meningkatkan
aspek efisiensi dan produktivitas, melainkan juga memperluas keanekaragaman
produk pertanian untuk mewujudkan ketahanan pangan, memperkuat keterkaitan
bisnis antara bidang pertanian dengan industri, memperluas kesempatan kerja dan
meningkatkan ragam bisnis dalam sektor pertanian dan perdagangan termasuk
distribusi dan transportasi. Sehubungan dengan itu, diperlukan pengelolaan
sumberdaya hayati yang lestari yang sarat dengan muatan pengetahuan untuk
kepentingan masyarakat mulai dari kegiatan produksi, pengolahan, dan
pendistribusiannya secara berkesinambungan.
Namun kenyataan yang dihadapi saat ini adalah kondisi lingkungan yang
semakin memprihatinkan yang ditunjukkan oleh semakin seringnya terjadi bencana
alam seperti banjir, longsor, kekeringan, kebakaran hutan dan serangan berbagai
hama penyakit pada beragam tanaman dan hewan baik yang ada di perairan maupun
yang ada di darat. Hal ini berakibat sangat buruk kepada kehidupan petani dengan
adanya gagal tanam, gagal panen, produktivitas rendah, rendemen hasil yang sangat
rendah, yang mengakibatkan pendapatan petani semakin rendah.
Sementara penduduk dunia dan juga di Indonesia semakin meningkat, sangat
berkaitan erat dengan segala aspek kehidupan di dalamnya termasuk pengadaan
10
bahan untuk keperluan sehari-hari dari hasil pertanian. Perubahan jumlah penduduk
dan distribusi bahan pokok serta berbagai ragam karakter manusia akan
mempengaruhi ketahanan suatu negara apabila tidak berada dalam keadaan seimbang.
Potensi konflik akan semakin besar manakala terjadi kelangkaan pangan, sandang,
meningkatnya pengangguran, kerusakan lingkungan hidup yang berujung kepada
terjadinya kelangkaan kebutuhan dasar manusia. Manakala ada ketimpangan
pemilikan lahan antara petani dan non petani, dan kebijakan yang bersifat menekan
desa tetapi menguntungkan kota, maka sudah pasti akan mengakibatkan dampak
negatif terhadap produktivitas. Apabila produktivitas rendah maka akan berdampak
pada industrialisasi yang tidak berkelanjutan yang mengakibatkan pada melemahnya
sektor industrialisme, bukan industrialisasi.
Sehubungan dengan hal itu, pendidikan di bidang ilmu dan teknologi pertanian
seyogyanya mengambil peran untuk membangkitkan pertanian sebagai sektor
unggulan di Indonesia. Melalui tenaga terdidik yang berkompeten di bidangnya,
pertanian akan maju yang didukung dengan kebijakan pemerintah yang memiliki
keberpihakan kepada petani dan pertanian. Pendidikan pertanian harus mampu
menghasilkan lulusan yang memiliki kepedulian dan cinta terhadap pertanian.
Pembelajaran yang dilakukan seyogyanya dapat membangkitkan semangat dan cinta
profesi pertanian. Hal ini perlu didukung oleh tenaga-tenaga pengajar yang juga
mampu membangkitkan suasana pembelajaran dan meningkatkan motivasi peserta
didik untuk senantiasa berpihak pada kesejahteraan masyarakat tani. Tidaklah
mengherankan jika lulusan pertanian enggan bekerja di pertanian karena selama
proses pembelajaran tidak ditumbuhkan rasa cinta dan motivasi untuk terjun ke dalam
profesi di bidang pertanian. Lemahnya hubungan antara penelitian di bidang
pertanian dengan pendidikan merupakan hal yang menganggu dalam perkembangan
ilmu pertanian itu sendiri.
Tidak ada alasan untuk tidak menjadikan sektor pertanian sebagai sektor
unggulan di Indonesia untuk ketahanan nasional, karena dukungan sangat besar dari
sumberdaya hayati, iklim, lokasi dan jumlah penduduk.
Beberapa hal terkait dengan ketahanan nasional diantaranya adalah penyediaan
pangan, energi yang berbasis pada sumber daya alam, penyediaan lapangan kerja dan
kelestarian fungsi dan mutu lingkungan (Sabiham dan Muliyanto, 2004). Hal ini
memerlukan pengembangan ilmu pengetahuan dan teknologi untuk mengelola
pertanian yang dimulai dari memahami karakteristik dan potensi sumber daya hayati
yang berkaitan dengan produksi dan kualitas biomassa. Sehubungan dengan ini,
diperlukan pergeseran paradigma pendidikan tinggi pertanian untuk lebih
memfokuskan pada (1) pemenuhan kebutuhan nasional, (2) peningkatan substitusi
bahan impor dan (3) peningkatan volume dan nilai ekspor. Dengan demikian tidak
hanya aspek produktivitas dan efisiensi usaha tani saja yang menjadi materi
pembelajaran tetapi sudah menyangkut aspek lingkungan, quality awareness dan juga
perdagangan internasional serta pembangkitan berbagai kreatifitas yang mampu
11
menghasilkan inovasi dan temuan baru dalam rangka pendekatan produksi pertanian
yang ramah lingkungan, dan berkelanjutan.
B. Perkembangan Bidang Ilmu Pertanian
Fokus pengembangan ilmu pertanian berubah-ubah sesuai dengan tuntutan
kehidupan pada jamannya. Pada era 60-an, ilmu pertanian difokuskan pada
peningkatan produksi dan manajemen, sehingga ada sub bidang ilmu sosial dan
ekonomi yang mulai masuk di pertanian. Sub bidang tersebut mengkaji hal-hal yang
berkaitan dengan (a) pengelolaan dan produksi, (b) sosiologi pedesaan dan
penyuluhan pertanian, (c) politik dan hukum, (d) tataniaga pertanian, (e) koperasi,
dan (f) ekonomi dan statistik. Kemudian tahun 70-an, sub bidang sosial ekonomi
pertanian mengarahkan kepada perusahaan pertanian dan penyuluhan pertanian pada
tahun 80-an masuk unsur sumber daya ke dalam bahasan sosial ekonomi.
Bersamaan dengan itu, terminologi agribisnis dan agroindustri masuk ke dalam
pertanian sebagai penyokong pembangunan pertanian yang mengarah pada
industrialisasi dan perdagangan. Pola pikir agroindustri muncul dalam Simposium
Agroindustri I yang idenya berlandaskan pada pendekatan kemakmuran yang
meyakini bahwa agroindustri merupakan revolusi nilai tambah yang
menyempurnakan sukses pertanian. Para pakar agroindustri mengelompokkan
pertanian ke dalam tiga kelompok yaitu (a) first generation of agriculture yang
ditandai dengan output benih dan bibit, (b) second generation ditandai dengan output
hasil pertanian dari kegiatan budidaya dan (c) third generation ditandai dengan hasil
olah pertanian yang dinamakan agroindustri. Mereka yakin bahwa agroindustri akan
menjadi tulang punggung perekonomian Indonesia. Dengan masuknya ilmu dan
teknologi komputer, dan ilmu sistem, maka pertanian semakin kompleks, ditambah
lagi dengan adanya perkembangan bioteknologi di luar negeri yang juga
dikembangkan di Indonesia yang kaya akan keanekaragaman hayati, maka ilmu
pertanian semakin kompleks.
C. Inti Bidang ilmu pertanian.
Kompleksitas dalam ilmu pertanian berimbas pada pendidikan yang semakin
spesifik, terutama pada kemampuan yang dibentuk oleh pendidikan itu sendiri yang
menghasilkan lulusan berkemampuan spesifik. Kemampuan spesifik bagi sarjana
strata 1 kurang menguntungkan manakala mereka menjadi job seeker, karena ternyata
pengguna menginginkan kemampuan lulusan yang generalis di bidang pertanian.
Kemampuan pengelolaan hulu sampai hilir sangat diminati oleh para pengguna saat
ini, karena memiliki karakteristik high value, low cost. Artinya walaupun
pengetahuan dan keterampilan yang dikuasai lulusan tidak mendalam, namun dengan
sedikit peningkatan kemampuan melalui pelatihan mereka akan cepat beradaptasi,
mampu meningkatkan pengetahuan dan keterampilannya dengan baik, karena ilmuilmu dasar yang dimilikinya cukup memenuhi persyaratan minimal untuk
dikembangkan.
Dalam rangka menjawab tantangan dalam menghadapi era globalisasi, fokus
pertanian Indonesia masih perlu diarahkan kepada: (a) peningkatan pemenuhan
kebutuhan dalam negeri, (2) mengurangi impor melalui penciptaan teknologi untuk
menghasilkan bahan-bahan substitusi impor terutama untuk bahan-bahan pokok
12
seperti gula, beras dan minyak goreng, dan (3) peningkatan kualitas produk dalam
rangka peningkatan volume dan nilai ekspor dan pengurangan penolakan di pasar luar
negeri. Sejalan dengan itu, pendidikan tinggi pertanian perlu melakukan pergeseran
paradigma, karena mobilitas tenaga kerja semakin tinggi, jasa layanan pendidikan
tinggi juga dapat melampaui batas-batas negara, sehingga pendidikan tinggi pertanian
harus mampu menciptakan keunggulan komparatif.
Pendidikan pertanian di Indonesia harus mampu menciptakan sumberdaya
manusia yang mampu mengidentifikasi, mengelola sumber daya hayati dan
mengembangkannya demi kesejahteraan manusia, terutama masyarakat Indonesia.
Pendidikan tinggi pertanian yang sementara ini lebih ditekankan pada pembidangan
yang spesifik, perlu diperbaiki ke arah yang lebih generalis, sehingga memungkinkan
lulusan memiliki kemampuan yang dapat mensolusikan masalah pertanian secara
holistik, namun menganut norma-norma berkehidupan yang berpihak pada
kesejahteraan dan kemakmuran masyarakat.
Nasution (1985) mengatakan bahwa sarjana pertanian pada tahun 2000 harus
berperan sebagai penghantar teknologi dan pelaku bisnis pertanian. Dengan demikian
seyogyanya ilmu-ilmu yang mendasari pertanian adalah biologi, kimia, fisika,
matematika, dan ilmu tatalaksana serta kemasyarakatan.
Bidang ilmu pertanian untuk strata 1 saat ini dibagi ke dalam sub bidang yang
sangat beragam yaitu :
1. Ilmu tanah
2. Ilmu hama dan penyakit tanaman
3. Budidaya pertanian
4. Sosial - ekonomi
5. Teknologi hasil pertanian
6. Teknik pertanian
7. Teknologi industri pertanian
8. Gizi masyarkat
9. Teknologi pangan
Berdasarkan telaah dan bahasan di bagian pendahuluan, seyogyanya pertanian
di masa yang akan datang mengarah kepada sistem pertanian terpadu yang
berkelanjutan (integrated farming system) berwawasan lingkungan yang didasari oleh
ilmu :
1. Biologi/agronomi mencakup ilmu tanah, ilmu hama dan penyakit serta budidaya
mencakup di dalamnya ilmu perbenihan dan pemuliaan.
2. Sosial, ekonomi, manajemen dan budaya.
3. Keteknik pertanian dan teknologi paska panen untuk pangan dan non pangan.
Dengan demikian seorang lulusan dari bidang pertanian harus mampu
mengintegrasikan ilmu dan teknologi menajdi pertanian terpadu yang berwawasan
13
lingkungan. Objeknya boleh jadi tanaman atau hewan (ikan dan ternak), baik untuk
kepentingan bahan pangan ataupun non pangan.
II. KOMPETENSI LULUSAN BIDANG PERTANIAN
Menurut Manuwoto (2005) sumber daya manusia pertanian masa depan
adalah SDM yang memahami dan dapat menerapkan serta mengembangkan ilmuilmu dan teknologi pertanian dalam menciptakan dan mengelola sistem pertanian
nasional sebagai bagain dari pertanian global yang produktif, efisien, bernilai
tambah dan berkelanjutan untuk kesejahteraan umat manusia. Selanjutnya dijelaskan
bahwa sumber daya manusia pertanian seharusnya berkualitas dengan kriteria
memiliki (1) intelektual tinggi, (2) memahami pembangunan pertanian berkelanjutan,
(3) memahami perdagangan dan bisnis dunia, (4) memahami kewiraswataan,
(5) berperan dengan percaya diri di dalam lingkungan kerja yang modern,
(6) memiliki kemampuan beradaptasi dengan berbagai perubahan dan (7) mampu
bekerjasama dengan bangsa sendiri dan bangsa lain.
Karakteristik tersebut diperlukan manakala bangsa dan khususnya petani
Indonesia dihadapkan pada berbagai keadaan di era globalisasi, terutama fakta adanya
ketidakseimbangan pertanian dunia. Negara berkembang mengalami kekurangan
pangan, tidak ada kebijakan untuk proteksi dan rendahnya daya saing komoditas. Di
sisi lain, terjadi ketidakseimbangan perdagangan dunia dimana terjadi ekspor yang
besar-besaran dari negara maju yang telah memenuhi standar internasional akibat dari
produk-produk yang diolah dengan teknologi tingkat tinggi, produk bernilai tambah
dan pelayanan prima. Sementara ekspor negara kita masih rendah akibat kualitas
bahan baku yang rendah, teknologi yang digunakan masih rendah dan padat karya.
Untuk itu, perlu ada pergeseran paradigma dalam proses pendidikan pertanian ke arah
yang lebih berbudaya pertanian, cinta pertanian dan bekerja untuk kemakmuran
bangsa.
Dengan demikian bentuk srtruktur kompetensi di bidang ilmu pertanian adalah :
1. Kompetensi utama :
(i)
Mampu menentukan sistem pertanian pilihan,
(ii)
Mampu berbudaya sesuai dengan sistem pertanian pilihan,
(iii) Mampu menjaga dan/atau mempertahankan keunggulan komparatif serta
kompetitif hasil produk/layanan jasa pertanian yang dihasilkan,
(iv) Mampu mengelola teknologi sepadan yang diterapkan, serta
(v)
Mampu memasarkan hasil/layanan jasa pertanian.
2. Kompetensi pendukung: kemampuan yang memperkuat kompetensi utama,
3. Kompetensi khas/lainnya: kemampuan khas yang memperkuat penguasaan
kompetensi utama dan pendukung dalam berkarsa dan berkarya di masyarakat,
sesuai dengan pilihan hidupnya.
14
Kompetensi di bidang pertanian ditetapkan oleh masyarakat terinstitusi
pengguna hasil pendidikan tinggi, bukan PT sendiri. Struktur kompetensi yang
diajukan hanya merupakan tawaran atau rambu-rambu bagi masyarakat untuk
mengembangkannya.
Buku ini tidak menyebutkan rincian kompetensi bidang pertanian karena
fungsi buku ini hanya sebagai acuan dalam perbaikan dan pengembangan kurikulum
bidang pertanian. Kebebasan dan kreatifitas penyusunan kompetensi diserahkan
sepenuhnya kepada masyarakat terinstitusi dan kemampuan perguruan tinggi masingmasing untuk menuangkannya dalam bentuk kurikulum. Tugas perguruan tinggi
adalah menggunakan sinyal-sinyal yang diperoleh dari masyarakat terinstitusi atau
pemangku kepentingan (stakeholders). Kurikulum bidang pertanian disusun untuk
membekali tercapainya kompetensi para lulusan di kehidupan bidang pertanian nyata.
III. STRATEGI PEMBELAJARAN DAN EVALUASI
Proses pembelajaran sudah saatnya bergeser dari mentransferkan ilmu menjadi
mengkonstruksikan ilmu pengetahuan dan teknologi, sehingga problem based
learning menjadi penting adanya. Mahasiswa harus cukup waktu dan bimbingan
untuk memecahkan masalah-masalah pertanian dari mulai pembenihan, pemuliaan,
penanaman yang efisien, pemeliharaan yang efektif dan penanganan pasca panen
serta mendistribusikannya kepada konsumen secara tepat waktu dan tetap berkualitas.
Untuk itu, strategi pembelajaran harus runtut dan sistematis mengacu kepada proses
pembelajaran (menurut teori Bloom yang diperbaiki) mencakup langkah-langkah :
1. Mengingat
2. Memahami
3. Mengaplikasikan
4. Menganalisa
5. Mengevaluasi
6. Berkreasi
Tahap paling tinggi dari proses pembelajaran yang akan dicapai adalah
menciptakan sesuatu menjadi bahan yang memiliki nilai tambah bagi kemakmuran
bangsa. Seluruh pembelajaran bidang pertanian harus mampu menumbuhkembangkan
rasa cinta pada objek pertanian. Tumbuhnya rasa cinta di bidangnya akan
menjadikan lulusan memiliki kepedulian yang tinggi. Oleh karena itu, proses
pembelajaran berorientasi lapangan harus mendapat perhatian penuh dan dilakukan
secara sungguh-sungguh, terbimbing dan terjadwal dengan baik serta
memperhatikan beban sks yang memadai. Beberapa proses pembelajaran yang
mendukung problem base-learning di bidang pertanian :
1. Menyelenggarakan diskusi interaktif mengenai problem aktual, sehingga dosen
lebih banyak berperan sebagai fasilitator dan mahasiswa dirangsang untuk
berpartisipasi dalam pola interaktif, sehingga memungkinkan adanya umpan balik
secara langsung.
15
2. Menggunakan media audio-visual terutama untuk kasus khusus, yang tidak
ditemui di lapangan sekitar, atau untuk memberikan pemahaman yang lebih baik.
3. Mengasah kemampuan berfikir, keterampilan teknis dan prosedural, kemampuan
membaca SOP dan mengerjakan hal-hal teknis di laboratorium dan di lapangan.
4. Meningkatkan peran serta mahasiswa dalam kelompok untuk meresolusikan
konflik, bekerja dalam kelompok, memimpin kelompok, berkomunikasi antar
individu dan kelompok serta memahami adanya ketentuan-ketentuan dan
peraturan yang harus ditaati serta mampu menggunakan dan mengoptimalkan
sumber daya yang ada untuk mencapai efisiensi dan efektifitas sebuah proses pada
bidang pertanian.
Proses pembelajaran tersebut di atas diarahkan agar lulusan memiliki
kemampuan untuk memfungsikan pertanian dalam memenuhi kebutuhan hidup
manusia (Manuwoto, 2005) yaitu :
1. Penyedia lapangan kerja
2. Penyedia pangan
3. Penyedia pakan
4. Penyedia serat
5. Penyedia produk kesehatan
6. Penyedia produk estetika
7. Penyedia energi
8. Pelestari nilai sosial budaya
9. Pelestari fungsi lingkungan
Proses pembelajaran perlu diikuti dengan proses evaluasi yang memadai, yang
diyakini dapat mengukur kemampuan kognitif, afektif dan psikomotorik mahasiswa
(lihat Gambar dibawah ini).
16
Gambar di atas menunjukkan bahwa proses pembelajaran dan evaluasi
merupakan satu kesatuan yang tidak dapat dipisahkan. Pada KBK bidang pertanian,
evaluasi dapat dilakukan melalui evaluasi hasil dan evaluasi proses. Pada dasarnya
proses pembelajaran pada bidang pertanian harus mengedepankan student center
learning, dimana mahasiswa menjadi pusat pembelajar yang dirangsang agar aktif
dalam mengkonstruksikan ilmu pertanian melalui berbagai metode pembelajaran dan
diberi kesempatan seluas-luasnya untuk menumbuhkan cinta pada profesi pertanian
melalui praktek-praktek lapangan yang menyenangkan. Dosen sebagai fasilitator
dituntut kreatif untuk menciptakan suasana pembelajaran, responsif terhadap isu
aktual, mengoptimalkan sumber daya yang ada dan menciptakan alat bantu
pembelajaran yang efisien dan efektif.
IV. PENUTUP
Buku ini tidak semata-mata untuk membatasi para pengelola dan pendidik
bidang pertanian, namun bermaksud untuk membantu pengembangan kurikulum
berbasis kompetensi di bidang pertanian. Dalam pengembangan KBK terbuka
kreatifitas dosen untuk mengembangkan proses pembelajaran dan proses evaluasinya
yang disesuaikan dengan sumber daya yang ada tanpa mengabaikan kualitas
pendidikan. Dengan hati yang tulus, pemikiran yang cemerlang, kerja keras dan
kerjasama antara pelaku pendidikan, kualitas pendidikan bidang pertanian dapat
ditingkatkan, yang ditopang dengan kerjasama yang baik dengan pihak lain dari
masyarakat terinstitusi. Oleh karenanya, hubungan baik dan komunikasi yang
tersistem pemangku kepentingan bidang pertanian senantiasa perlu dilakukan.
Semoga buku ini bermanfaat.
PUSTAKA
Anderson, O.W. dan krathwohl, D.R., 2000. A. Taxonomy for Learning, Teaching and
Asessing.
Manuwoto S., 2005. membangun Sumberdaya Manusia Pertanian Masa Depan. Makalah
pada Diskusi di Depdiknas (Juli). Jakarta.
Manuwoto S., 2005. Upaya Peningkatan Kualitas Pengelolaan dan Penyelenggaraan
Pendidikan Pascasarjana IPB. Makalah pada rapat Kerja Peningkatan Kalitas Pengelolaan
dan Penyelenggaraan Pendidikan SPs IPB. Bogor.
Nasoetion, A.H., 1985. Daun daun Berserakan. PT. Inti Sarana Aksara. Jakarta
Sabiham, S. Dan Muliyanhto, B. 2004. Paradigma baru Pengembangan Pendidikan
Tinggi Pertanian Indonesia dalam buku Pertanian Mandiri. Penebar Swadaya. Jakarta.
17
KURIKULUM BERBASIS KOMPETENSI BIDANG KESEHATAN
I. LATAR BELAKANG
Dampak adanya globalisasi, keterbukaan, kebebasan demokrasi, rasionalisasi
berpikir dan budaya kompetisi/persaingan dalam beberapa tahun terakhir ini telah
mempengaruhi dunia pendidikan. Akibat yang timbul yaitu terjadinya perubahanperubahan yang bersifat sangat cepat dalam penyelenggaraan pendidikan di
perguruan tinggi termasuk di dalamnya adalah penyelenggaraan pendidikan tenaga
kesehatan di Indonesia.
Penyelenggaraan pendidikan tinggi bidang kesehatan, dituntut untuk dengan
cepat merespon proses yang kompleks dan berkelanjutan dalam menghasilkan
lulusan yang mempunyai kemampuan dapat bekerja sesuai dengan bidang ilmunya
dan diterima di masyarakat secara baik dan benar. Dengan kata lain Perguruan Tinggi
(PT) harus menghasilkan lulusan tenaga kesehatan yang kompeten berstandar
nasional maupun international di bidangnya.
Lulusan tenaga kesehatan yang kompeten dengan standar internasional, pada
akhirnya akan dapat meningkatkan daya saing bangsa (HELTS : Higher Eduation
Long Terms Strategy :2003-2010), sehingga mampu bersaing dengan tenaga
kesehatan dari luar negeri dan dapat diterima bekerja di seluruh dunia termasuk di
negeri sendiri. Dengan begitu, ketika AFTA yang diberlakukan pada tahun 2008,
persaingan bebas dunia kesehatan di dunia international sudah dapat diantisipasi lebih
dini.
Dalam rangka mengantisipasi ini, maka harus ada perubahan-perubahan yang
bersifat inovasi, reorientasi, reorganisasi, reformasi dan pengembangan pendidikan
kesehatan. Semua perubahan tersebut harus menuju terciptanya dan tercapainya
kepuasan stakeholders.
Kepuasan ini tercapai apabila penyelenggara Pendidikan Kesehatan di Indonesia
mampu menghasilkan lulusan yang kompeten dengan standar nasional bahkan
international dengan mengacu pula pada upaya mencapai Indonesia Sehat 2010
(SK Menteri Kesehatan RI No. 1457./MOH/SK/X/2003).
Untuk mencapai itu, maka diperlukan perubahan paradigma pendidikan dengan
konsekuensi perlu disempurnakannya kurikulum pendidikan tinggi tenaga kesehatan
yang lebih menitikberatkan pada proses pembelajaran yang berorientasi pada
mahasiswa dan berorientasi pada kompetensi bidang kesehatan yang mengacu pada
standar tenaga kesehatan nasional dan internasional. Kurikulum tenaga kesehatan
dalam hal ini diartikan sebagai sekumpulan kompetensi yang perlu dikuasai dan
dicapai oleh seseorang dalam rangka mencapai tujuan program pendidikan tenaga
kesehatan. Sekumpulan kompetensi tersebut dalam realitanya dijabarkan dalam
bentuk kegiatan-kegiatan pembelajaran yang memberikan pengalaman belajar yang
relevan dengan tuntutan kompetensi program. Kurikulum dalam hal ini bukan
semata-mata daftar mata kuliah yang perlu dipelajari mahasiswa tetapi lebih
merupakan sekumpulan pengalaman belajar yang dirancang sesuai dengan
18
kompetensi tertentu, untuk diberikan dan dialami mahasiswa selama mengikuti
program pendidikan.
Pada dasarnya, kurikulum pendidikan tenaga kesehatan sebagian besar sudah
mengarah pada competence-based oriented, sebagai contoh pendidikan kedokteran
(profesi) yang telah dikembangkan oleh asosiasi profesi kedokteran dan mengacu
pada Standar Global Pendidikan Dokter. Walaupun kurikulum pendidikan
dokter/sarjana kedokteran sudah berbasis kompetensi, tetapi pada tataran
implementasinya masih banyak ditemukan proses pembelajaran yang belum konsisten
denga tuntutan KBK. Oleh karenanya, di pendidikan bidang kedokteran diperlukan
adanya perguruan tinggi pembina. Sehingga penyempurnaan kurikulum program
pendidikan tenaga kesehatan harus lebih diarahkan pada penataan perancangan
program pembelajarannya yang berorientasi pada mahasiswa dengan menyediakan
pengalaman belajar yang relevan dengan tuntutan KBK.
Bekal akademik pendidikan kesehatan bertujuan untuk mengarahkan peserta
didik pada kemampuan memberikan pelayanan kesehatan. Kemampuan semacam ini
akan terbentuk secara utuh apabila ditunjang oleh penguasaan mahasiswa terhadap
ilmu kesehatannya sendiri, lalu berdasarkan ilmunya tersebut mereka harus terampil
menangani berbagai kasus dan harus mampu berkomunikasi serta berempati pada
penderita/keluarga/masyarakat dengan tujuan untuk mendapatkan data dan informasi
yang akurat. Tanpa keutuhan kompetensi seperti itu, belum tentu seorang lulusan
pendidikan tenaga kesehatan dapat bekerja secara profesional. Permasalahannya
sekarang, bagaimana institusi pendidikan tinggi kesehatan merancang suatu program
pembelajaran yang mampu mengantarkan lulusannya untuk mengeksekusi
kompetensi-kompetensi di bidang kesehatan yang tersedia di masyarakat.
Sesuai dengan SK Dirjen Dikti maka terminal program pendidikan kedokteran
adalah dokter (bukan sarjana kedokteran).
II. LINGKUP DAN TUJUAN PENDIDIKAN KESEHATAN
Pendidikan Kesehatan mencakup pendidikan kedokteran, kedokteran gigi,
keperawatan dan kesehatan masyarakat. Keempatnya mempunyai kesamaan yang
sangat dekat, hanya berbeda dalam konsentrasi dan pendalamannya. Kemampuan
pengetahuan dan keterampilan klinik yang harus dimiliki sarjana keperawatan,
sebanding dengan dimiliki kedokteran/kedokteran gigi, dengan sasaran (misalnya)
kemampuan mengenali masa-masa/masalah kritis penderita, dan menentukan
tindakan perawatan selanjutnya yang harus dilakukan. Masalah kritis/tidaknya,
didapat berdasarkan kemampuan menganalisa hasil laboratorium dan kemampuan
mengenali paparan klinik penderita. Bagi pendidikan kesehatan masyarakat maka
”penderita” bisa berbentuk suatu masyarakat dalam kaitannya dengan manajemen
sistem kesehatan termasuk di dalamnya program pencegahan primer dan sekunder.
Program Pendidikan Tinggi Kesehatan di Indonesia bertujuan melaksanakan
program pendidikan bagi mahasiswa, melalui serangkaian program pembelajaran
untuk menyelesaikan kurikulum pendidikan kesehatan. Lulusannya diharapkan
mempunyai kemampuan pengetahuan, keterampilan klinik dan sikap perilaku yang
profesional, yang dapat mengakusisi standar pendidikan profesi, berperan sebagai
19
tenaga kesehatan yang mampu memberikan pelayanan primer dalam suatu sistem
pelayanan kesehatan secara nasional dan mampu bersaing secara global. Selain itu
kompetensi yang dimiliki harus terus-menerus dipertahankan dan ditingkatkan sesuai
dengan kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi itu sendiri.
III. LANDASAN PENYUSUNAN KURIKULUM
1. SKB antara Menteri Pendidikan Nasional dengan Menteri Kesehatan dan
Kesejahteraan Sosial, No. 3/U/SKB/2001, No. 232/Menkes-kesos/SKB/III/2001,
tentang Pendidikan Tinggi Kedokteran.
2. Renstra Program Studi - Perguruan Tinggi.
3. Visi dan Misi Program Studi - Perguruan Tinggi.
4. Higher Education Long Term Strategy 2003 – 2010.
5. Kepmendiknas No.232/U/2000 tentang Kurikulum Berbasis Kompetensi dan
Kepmendiknas No.045/U/2002 tentang Kurikulum Inti Pendidikan Tinggi.
6. SK Ditjen DIKTI, No.1386/D/T/2004 tentang Pengelolaan Pendidikan Tinggi
Kedokteran.
7. SK Menteri Kesehatan RI No. 131/Menkes/SK/II/2004 tentang Sistem Kesehatan
Nasional.
8. Undang-Undang RI No.29 tahun 2004 tentang Praktik Kedokteran.
9. Standar Global Pendidikan Dokter.
World Federation of Medical Education mengeluarkan Basic Medical
Education dengan menetapkan :

The curriculum and instructional methods SHOULD ensure that students have
responsibility for their learning process and SHOULD prepare them for life-long,
self directed learning.

Basic sciences and clinical sciences SHOULD be integrated in the curriculum
IV. TANGGUNGJAWAB TENAGA KESEHATAN
Pada semua tahap pelayanan kesehatan primer, sekunder dan tersier, tanggung
jawab tenaga kesehatan adalah:
1. Melakukan kegiatan profesinya dalam suatu sistem pelayanan kesehatan sesuai
dengan kebijaksanaan umum pemerintah, mencakup :
a. Mengenal, merumuskan dam menyusun prioritas masalah kesehatan
masyarakat sekarang dan yang akan datang, serta berusaha dan bekerja untuk
menyelesaikan masalah-masalah tersebut melalui perencanaan, implementasi
dan evaluasi program-program yang bersifat promotif, preventif, kuratif dan
rehabilititatif.
b. Memecahkan masalah kesehatan penderita/masyarakat dengan menggunakan
pengetahuan, keterampilan klinik dan laboratorium, serta observasi dan
pencatatan yang baik untuk mengidentifikasi, mendiagnosa, melakukan
20
tindakan medik, melakukan usaha pencegahan, meminta konsultasi,
mengerjakan usaha rehabilitasi masalah kesehatan penderita dengan
berlandaskan etika dan hukum, serta mengingat aspek jasmani, rohani dan
sosial budaya.
c. Bekerja selaku unsur pimpinan maupun pelaksana dalam suatu tim kesehatan.
d. Mendidik dan mengikutsertakan taraf kesehatannya.
2. Meningkatkan dan mengembangkan kompetensinya sesuai konsep pendidikan
berkelanjutan yang sesuai dengan perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi.
3. Memelihara dan mengembangkan kepribadian dan sikap yang diperlukan untuk
kelangsungan profesinya seperti integritas, rasa tanggung jawab, dapat dipercaya
serta menaruh perhatian dan penghargaan terhadap sesama manusia.
V. KOMPETENSI UTAMA LULUSAN BDIANG KESEHATAN
Kompetensi-kompetensi yang perlu dimiliki oleh lulusan bidang kesehatan, yaitu:
1. Mampu berkomunikasi secara efktif.
2. Mampu melakukan praktek klinik dasar.
3. Mampu melakukan praktek kesehatan/individu atau komunitas (keluarga) dengan
menerapkan dasar-dasar ilmu biomedik, ilmu klinik, ilmu perilaku dan
epidemiologi.
4. Mampu melakukan pengelolaan masalah kesehatan pada individu, keluarga
ataupun masyarakat dengan cara yang komprehensif, holistik, bersinambung,
terkoordinir dan mampu bekerja sama dalam konteks Pelayanan Kesehatan
Primer.
5. Mampu memanfaatkan, menilai secara kritis dan mengelola informasi.
6. Mampu menerapkan etika, moral, dan profesionalisme dalam praktik kesehatan
(kedokteran).
7. Selalu mawas diri dan melakukan pengembangan diri/belajar sepanjang hayat.
Penjabaran Kompetensi Utama
1. Kemampuan berkomunikasi secara efektif, meliputi kompetensi :
1.1
Umum :
Mampu berkomunikasi secara verbal dan non-verbal serta menjadi
pendengar yang efektif dengan konsentrasi, jelas, sensitif dan efektif
berdasar paradigma komunikasi ilmiah untuk membantu pengelolaan
penderita serta mampu bekerja sama secara produktif dengan penderita,
keluarganya, masyarakat, sejawat dan profesi terkait.
1.2
Khusus :
1.2.1
Mampu menerapkan prinsip-prinsip komunikasi (berdasarkan
paradigma yang berlaku) untuk menetapkan dan mempertahankan
21
pengobatan lengkap dan hubungan tenaga kesehatan dan pasien yang
etikal.
1.2.2
Mampu menerapkan prinsip-prinsip komunikasi (berdasarkan
paradigma yang berlaku) untuk mendapatkan, memberikan, maupun
bertukar informasi
2. Kemampuan melakukan Praktek Klinis Dasar, meliputi kompetensi
2.1
Mampu memperoleh dan mencatat riwayat penyakit secara lengkap dan
konsektekstual.
2.2
Mampu melakukan pemeriksaan fisik dan mental secara komprehensif dan
lengkap.
2.3
Mampu memilih metode dan melakukan pemeriksaan penunjang secara
tepat dalam konteks pelayanan kesehatan primer.
2.4
Mampu menganalisa hasil pemeriksaan fisik, mental dan pemeriksaan
penunjang secara tepat.
3. Kemampuan melakukan praktek kesehatan keluarga dengan menerapkan dasardasar ilmu biomedik, ilmu klinik, ilmu perilaku dan epidemiologi, meliputi
kompetensi :
3.1
Mampu mengidentifikasi, menjelaskan dan merancang penyelesaian
masalah kesehatan secara ilmiah berdasarkan pengertian ilmu biomedik,
klinik perilaku, komunitas terkini.
3.2
Mampu menyusun rencana intervensi berdasarkan pemahaman ilmiah dan
menerapkan prinsip-prinsip kedokteran berbasis bukti dalam praktik
kedokteran/kesehatan.
3.3
Mampu mengindentifikasi masalah kesehatan yang mendesak dan potensi
ancaman yang ditimbulkan.
3.4
Mampu mengkonseptualisasi proses patofisiologis dari masalah kesehatan
tersebut.
3.5
Mampu melakukan diagnosis masalah kesehatan.
3.6
Mampu merancang dan mempresentasikan rencana pengobatan.
3.7
Mampu menentukan dan meyakinkan efektifitas dari intervensi yang akan
diterapkan.
3.8
Mampu menerangkan landasan patofisiologi dari terapi yang dipilih serta
hasil yang diharapkan kepada teman sejawat, pasien dan keluarganya.
4. Kemampuan mengelola masalah kesehatan individu, keluarga dan masyarakat
dalam konteks pelayanan kesehatan primer, meliputi kompetensi :
4.1
Mampu mendiagnosis, menatalaksana, dan melakukan pencegahan masalahmasalah kesehatan yang sering dijumpai pada individu, keluarga dan
masyarakat secara komprehensif, holistik, berkesinambungan dengan
melalui kerjasama dengan mereka.
22
4.2
Mampu menyusun daftar masalah, melaksanakan pemeriksaan, memilih dan
melaksanakan pemeriksaan, memilih dan melaksanakan intervensi dengan
konsultasi dan rujukan yang dibutuhkan, memonitor kemajuan, membagi
informasi, mendidik, serta menyesuaikan terapi dan diagnosis sesuai hasil
referal.
4.3
Mendiagnosis masalah kesehatan yang sering terjadi pada individu dan
keluarganya, serta menangani masalah kesehatan yang sering terjadi pada
individu dan keluarganya.
4.4
Mengintegrasikan tindakan pencegahan untuk menghasilkan penanganan
kesehatan induvidu dan keluarganya yang komprehensif.
4.5
Memonitor kemajuan penderita dan memodifikasi pengelolaan sesuai
dengan situasi dan kondisi.
5. Memiliki kemampuan mengakses, menilai secara kritis keahlian dan mengelola
informasi, meliputi kompetensi :
5.1. Umum :
Mampu mengakses, menilai secara kritis kesahihan, mengelola informasi
untuk menjelaskan dan memecahkan masalah, atau mengambil keputusan
dalam kaitan dengan pelayanan kesehatan/kedokteran.
5.2. Khusus :
5.2.1
Mencari, mengumpulkan, menyusun dan menafsirkan informasi
kesehatan dan biomedik.
5.2.2
Mendapatkan informasi yang spesifik untuk penderita dari sistem
data klinik atau biomedik dari berbagai sumber.
5.2.3
Menggunakan teknologi informasi dan komunikasi untuk membantu
penegakan diagnosis, pemberian terapi, tindakan pencegahan dan
promosi kesehatan, serta surveillans dan pemantauan status
kesehatan penderita.
5.2.4
Menjelaskan manfaat dan keterbatasan teknologi informasi.
5.2.5
Menyimpan rekam medik hasil praktiknya untuk analisis dan
perbaikan di kemudian hari.
6. Kemampuan mawas diri dan mengembangkan diri/belajar sepanjang hayat,
meliputi kompetensi :
6.1
Mampu melaksanakan praktek kesehatan/kedokteran secara mawas diri
dengan penuh kesadaran atas keterbatasan, kekuatan, kelemahan dan
kerentanan pribadi.
6.2
Mampu menghadapi (bila perlu mengatasi) masalah emosional, personal dan
masalah yang berkaitan dengan kesehatan yang dapat mempengaruhi
kesehatan atau kemampuan profesinya.
6.3
Melakukan belajar sepanjang hayat, merencanakan, menerapkan dan
memantau perkembangan profesi secara berkesinambungan.
23
6.4
Mampu mempertimbangkan nilai-nilai pribadi dan prioritas untuk mencapai
keseimbangan antara komitmen pribadi dan profesinya.
6.5
Mampu mencari bantuan dan nasihat dan bila diperlukan untuk mengatasi
masalah pribadinya serta mengembangkan kepribadiannya secara tepat.
6.6
Mengenali pengaruh diri terhadap orang lain, dalam hubungan profesi, dan
merespon terhadap kritik yang konstruktif secarta positif.
6.7
Menyadari akan keterbatasan pengetahuan, pengalaman dan jasmanirohaninya.
6.8
Mampu mengatasi masalah emosional, personal dan masalah yang berkaitan
dengan kesehatan yang dapat mempengaruhi kesehatan, kesejahteraan atau
kemampuan profesinya.
6.9
Sadar dan secara aktif mengikuti perkembangan ilmu pengetahuan dan
teknologi di bidang kedokteran/kesehatan dari berbagai sumber belajar dan
menerapkan dalam praktek profesinya.
7. Memiliki etika, moral dan profesionalisme dalam praktik, meliputi kompetensi :
7.1
Umum :
Mampu mengenal etika, moral dan profesionalisme dalam praktik
kedokteran dan kebijakan kesehatan serta kesediaan untuk menghargai nilai
yang diyakini penderita yang berkait dengan masalah kesehatannya.
7.2
Khusus :
7.2.1
Menjelaskan konsep dasar etik dan menerapkannya pada
pertimbangan moral dan terkait dalam pelayanan kedokteran dan
pelayanan kesehatan.
7.2.2
Mengenali beberapa pertimbangan etik pada pilihan tertentu/sulit.
7.2.3
Menganalisa secara sistematik hal-hal/pertimbangan etik yang saling
berlawanan yang mendukung berbagai alternatif yang berbeda.
7.2.4
Memformulasikan, mempertahankan dan melaksanakan secara
efektif suatu tindakan-tindakan dengan memperhitungkan
kompleksitas masalah etik serta tata nilai yang diyakini penderita.
7.2.5
Menentukan, menunjukkan dan menganalisis isu-isu etik pada
kebijakan kesehatan .
(Kompetensi Pendukung diserahkan kepada masing-masing
Perguruan Tingggi).
Misalnya: Dalam pendidikan kedokteran: Kemampuan memberikan
pelayanan komprehensif dalam.
Dalam pendidikan Keperawatan: Kemampuan mengembangkan
peran sebagai pendidik dan Pemimpin Perawatan.
24
VI. STRATEGI PEMBELAJARAN
Untuk dapat menanamkan kompetensi tenaga kesehatan yang utuh maka
diperlukan perancangan proses pembelajaran yang sistematik dan holistik. Metode
pembelajaran aktif mandiri merupakan salah satu metode pembelajaran yang dapat
dimanfaatkan untuk membentuk keterampilan intelektual dasar (generic skill,
attitudes and attributes), sementara strategi Student Centered-problem BasedIntegrative-Community Oriented-Early Clinical Exposure-Self Dircted-Learning
(SPICES) merupakan strategi yang dapat menjamin terbentuknya kompetensi yang
utuh dari tenaga kesehatan. Alasannya adalah dengan student centered pembelajaran
diarahkan pada keaktifan mahasiswa dalam belajar, bukan pada aktifan dosen dalam
mengajar. Dalam konteks ini, dosen lebih berperan sebagai fasilitator dan motivator.
Berikutnya, hal-hal yang dipelajari dalam pendidikan tenaga kesehatan adalah hal-hal
yang aktual dan kontektual dengan penanganan masalah kesehatan. Sehingga dalam
hal ini masalah kesehatan, misalnya kasus penyakit (problem based), menjadi hal
yang penting untuk dijadikan bahan kajian dalam proses pembelajaran. Tanpa
masalah yang nyata, akan sulit bagi seseorang untuk dapat menjadi tenaga kesehatan
yang handal, karena masalah-masalah kesehatan inilah nantinya yang akan menjadi
problem utama yang harus ditanganinya. Dengan demikian, pendekatan problembased learning menjadi penting dalam pembelajaran tenaga kesehatan.
Masalah kesehatan adalah masalah yang kompleks. Banyak faktor yang dapat
menimbulkan terjadinya suatu kasus penyakit. Oleh sebab itu, di dalam menegakkan
diagnosa penyakit serta penentuan alternatif solusinya mahasiswa perlu dibiasakan
untuk menangani kasus penyakit ini secara terintegrasi (integrative). Artinya pada
saat menangani penyakit, jangan hanya difokuskan pada penyakitnya saja, tetapi pada
penanganan pasiennya juga. Dalam hal ini pasien perlu ditangani secara persuasif dan
seksama. Oleh sebab itu, kenapa kompetensi berkomunikasi dengan efektif sangat
diperlukan oleh seorang tenaga kesehatan, karena di dalam menghadapi pasien
diperlukan trik-trik tertentu agar diperoleh informasi yang akurat tentang sejarah
penyakitnya dan pada saat bersamaan si pasien merasa keluhannya di dengar dengan
baik, sehingga secara psikologis ia merasakan beban penyakitnya sudah berkurang.
Proses penanganan masalah kesehatan seperti ini perlu diciptakan dalam proses
pembelajaran tenaga kesehatan. Oleh sebab itu community oriented dan early clinical
exposure-based learning menjadi sangat relevan untuk diterapkan, karena di
puskesmas dan di klinik inilah mereka mendapat pengalaman belajar langsung
melihat dan menangani berbagai kasus kesehatan yang ada. Tanpa terlibat langsung
dalam penanganan masalah kesehatan, akan sulit bagi tenaga-tenaga kesehatan untuk
secara profesional menerapkan ilmu yang telah diperolehnya di bangku kuliah dalam
kehidupan nyata di masyarakat.
Selain SPICES, masih banyak metode pembelajaran lain yang dapat
dimanfaatkan dalam proses pembelajaran tenaga kesehatan, terutama pada level mata
kuliah, yaitu:
1. Kuliah Umum dan Pakar
2. Diskusi Pleno
25
3. Role Play/ Diskusi Kelompok
4. Kuliah Lapangan
5. Skills Lab / Praktikum Diskusi Film
6. Refferat Journals
VII. EVALUASI PEMBELAJARAN
Sebagaimana dipaparkan di atas bahwa kompetensi yang dituntut dikuasai
oleh lulusan bdiang kesehatan adalah kompetensi yang sangat komprehensif, yang
meliputi kompetensi yang berkaitan dengan kemampuan intelektual, psikomotor
dan afektif, maka evaluasi terhadap hasil belajarnya pun perlu dilakukan dengan
menggunakan alat ukur yang dapat mengukur kompetensi secara komprehensif
pula. Di samping itu, evaluasi pada KBK bidang kesehatan dapat dilakukan melalui
pendekatan Criterion Reference Test (CRT) atau Penilaian Acuan Patokan (PAP).
Dengan pendekatan ini kelulusan seseorang dalam ujian kompetensi didasarkan
pada standar tertentu, bukan didasarkan pada sebaran nilai ujian yang terdapat di
kelompoknya. Dikarenakan penanganan masalah kesehatan berkaitan dengan jiwa
manusia, maka untuk kompetensi-kompetensi tertentu capaian kompetensinya harus
100%, dengan kata lain penilaian untuk kompetensi tersebut harus mutlak lulus.
Nilai salah satu domain tidak boleh digantikan oleh domain yang lain.
Cara penilaian atau assesment :
1. Ujian tertulis yaitu MCQ, MEQ, Essay, Makalah, referat dan Karya Tulis
Ilmiah.
2. Ujian Keterampilan dan Observasi.
3. Ujian Afektif/attitude, dengan observasi, log book, dan portofolio.
26
KURIKULUM BERBASIS KOMPETENSI BIDANG ILMU SOSIAL
I. LATAR BELAKANG
A. Hakekat Bidang Ilmu Sosial
Secara umum ilmu sosial didefinisikan sebagai suatu ilmu yang mempelajari
manusia dan hubungannya dengan lingkungannya. Di dalam mempelajari ilmu ini
akan sangat relevan bagi target pembelajar untuk dapat dimotivasi selalu
berhubungan dengan lingkungan terdekatnya dan menggunakan pengetahuan,
keterampilan dan proses berfikir serta nilai yang akan dipelajari. Ilmu sosial juga
merupakan suatu ilmu yang sangat penting dan luas, karena berhubungan dengan
kehidupan manusia secara menyeluruh.
Target pembelajaran ilmu sosial adalah untuk mengembangkan hubungan antara
diri pembelajar dengan masyarakat, budaya dan lingkungan, serta untuk melakukan
aktivitas secara personal relevan dan berarti bagi dirinya. Hal ini akan memberikan
”senses of accomplishment” pada target pembelajar (seperti mengembangkan
keyakinan akan satu konsep sosial yang terjadi di masyarakat). Dengan mencoba
menggunakan konsep yang mereka kembangkan, target pembelajar akan mampu
mempelajari dan mengklarifikasi nilai, permasalahan, pertanyaan dan penelitian
mengenai dunia dan lingkungannya, mengembangkan penyelesaian masalah dan
pengambilan keputusan saat berinteraksi dengan lingkungannya. Pembelajar ilmu
sosial diharapkan mampu menjadi manusia yang kompeten untuk dapat berperan
sebagai manusia yang mampu melakukan pencerahan terhadap lingkungan sosialnya
agar dapat melakukan proses perubahan yang serasi.
Pada pembelajaran ilmu sosial memberikan kesempatan bagi pembelajar untuk
memahami dan merumuskan kejadian-kejadian sosial yang terjadi internal maupun
secara global untuk dipakai sebagai pencerahan bagi lingkungan sosialnya.
Untuk itu maka ilmu sosial dapat menguraikan bentuk kerjanya ke
restrukturisasi yang merupakan reformasi sistem sosial, menunjukkan pada perubahan
termaksud ditingkat masyarakat yang terdiri atas formasi bentuk-bentuk interaksi
sosial baru. Di sinilah bentangan aktualisasi permasalahan terlihat bentuknya semakin
tajam dan holistik, minim etika dan tidak bebas nilai.
Disamping itu pendidikan ilmu sosial juga akan memberikan pemahaman dasar
mengenai penyebab permasalahan, dan sekaligus memberikan pemahaman khusus
mengenai aspek sosial, politik dan ekonomi yang berhubungan dengan prognosa
sosial. Selain itu, pendidikan ilmu sosial juga bertujuan untuk membantu pembelajar
untuk melakukan pencerahan sosial yang juga mampu untuk mengembangkan diri
menjadi manusia yang rasional, humanis dan produktif di dalam perannya di
pengembangan ilmu sosial, pembelajar harus diajak untuk dapat mengorganisasikan
pengetahuan mengenai suatu konsep, generalisasi dan teori.
B. Perkembangan Bidang Ilmu Sosial
Pada awal abad ke 19 ilmu-ilmu sosial sudah diakui pentingnya di Eropa Barat
sehingga ilmu sosial (social science) sering dikelompokkan dalam ilmu-ilmu gamma
27
karena timbulnya paling akhir. Ilmu-ilmu sosial ini pada dasarnya membahas tentang
sumber-sumber dari tindakan sosial pada manusia.
Dalam abad ke 20, ilmu-ilmu sosial masih bercirikan banyak gagasan yang
berasal dari kebiasaan dan agama yang coraknya pra-ilmiah. Dalam
perkembangannya ilmu sosial dibagi atas dua kategori yaitu pertama bersifat
diskriptif seperti antropologi, sosiologi dan arkeologi; sedangkan kedua bersifat
analisis yaitu ilmu yang berusaha menggali lebih dalam relasi-relasi yang menentukan
aspek perilaku sosial dan memberikan tekanan pada perkembangan sosial masa kini
seperti ekonomi, hukum dan psikologi.
C. Inti bidang ilmu Sosial.
Pendidikan ilmu sosial yang dikembangkan perlu memiliki beberapa tujuan,
diantaranya adalah :
1. Mengembangkan pengetahuan mahasiswa mengenai konsep, proses generalisasi
dan teori yang mampu mereka gunakan dalam pencerahan di masyarakat sebagai
anggota masyarakat yang bertanggung jawab,
2. Mengembangkan keterampilan berpikir kritis, keterampilan mencari dan
menyusun sistem informasi sosial yang diperlukan dan dapat diakses oleh
masyarakat,
3. Mengembangkan sikap dan nilai hidup mahasiswa dalam hal “human
dignity”,’equity’, “equity”, dan ‘diversity’ serta kemampuan mereka untuk
mengembangkan aktivitas yang konsisten dengan sikap dan nilai hidup tersebut.
4. Mengembangkan pemahaman kritis pada mahasiswa untuk memahami kejadiankejadian yang terjadi di masa lalu dan saat ini yang akan mempengaruhi
mahasiswa dalam mengidentifikasi cara mereka membentuk masa depan di
lingkungan sosialnya.
Beberapa ahli di Amerika Serikat (Daldjoeni, 1997) membagi ilmu sosial atas 2
bagian besar yaitu bagian pertama Inner Core yang terdiri dari sosiologi, ekonomi,
ilmu pemerintahan (politikologi); sedang bagian kedua disebut outer four yang terdiri
dari sejarah, antropologi, psikologi dan geografi. Di lain pihak Selignman dalam
Encyclopedia of the Social Sciences membagi ilmu sosial menjadi tiga jenis yaitu:

Ilmu-ilmu sosial murni yang mencakup politikologi, ekonomi, hukum,
antropologi dan sosiologi.

Ilmu-ilmu semi sosial meliputi filsafat dan psikologi.

Ilmu-ilmu dengan implikasi sosial yaitu antara lain ilmu bahasa dan kesenian.
Di dalam pendidikan strata 1, ilmu sosial dibagi menjadi beberapa macam, yaitu:
1. Ilmu filsafat
2. Ilmu ekonomi
3. Ilmu sosial dan politik
4. Ilmu budaya dan sastra
28
5. Ilmu psikologi
6. Ilmu hukum
II. KONDISI YANG DIHADAPI DAN KOMPETENSI LULUSAN
Ilmu sosial adalah salah satu ilmu yang mengalami fluktuasi yang sangat cepat.
Semua perubahan yang terjadi di dunia ini akan sangat berpengaruh pada munculnya
pemahaman dan konsep di dalam ilmu sosial yang baru. Pada setiap tahapan era akan
memancarkan suatu tema yang menarik untuk menjadi topik pembelajaran. Oleh
karenanya, di dalam mengembangkan proses pendidikan ilmu sosial pembaharuan
terhadap kurikulum, topik maupun cara mengajar sangat diperlukan.
Sebagai contoh, topik ilmu sosial pada abad ke-19 dengan abad ke-20 dan 21
sangat berbeda. Memasuki abad ke 20 ke depan, tampak bahwa titik tolak pada
penghargaan pada perbedaan yang terjadi di dunia semakin meningkat. Hal ini
disebabkan karena konteks sosial yang semakin global dan meluas, sehingga setiap
orang mulai menyadari akan pentingnya penghargaan. Selanjutnya, keterbatasan
sumber daya yang semakin dirasakan kemudian menyebabkan manusia lebih berpikir
untuk melakukan efisiensi, sehingga topik mengenai Sustainable development
menjadi semarak.
Bentuk struktur kompetensi KBK di bidang ilmu sosial adalah :
1. Kompetensi utama :
a. Mampu menghadapi persoalan dengan cara berfikir logis dan sistematis,
kuantitatif serta mampu mensolusikan masalah dengan kreatif dam kritis serta
mengkomunikasikannya secara ilmiah baik lisan maupun tulisan, berdasarkan
langkah-langkah yang terstruktur, terencana, terpadu dan tuntas, dalam hal
permasalahan sosial, hubungan manusia dengan manusia dan manusia dengan
Tuhan Yang Maha Esa serta dengan lingkungan sosialnya.
b. Mampu menyesuaikan diri dengan lingkungan sosial yang baru sehingga
mampu mengaktualisasikan dirinya di lingkungan tempat kerja.
c. Mampu mengarahkan pada keunggulan yang dimiliki, baik ilmu pengetahuan
dan teknologi maupun nilai lebih dan daya saing sehingga mampu mengatasi
kompleksitas pelaksanaan tugas.
d. Menguasai kemampuan dasar Ilmu Sosial dan mampu mengupayakan
penggunaannya untuk meningkatkan taraf kehidupan masyarakat.
e. Menguasai kemampuan dasar Humaniora dan agama untuk mengembangkan
sikap dan nilai hidup bersama.
f. Memiliki ketrampilan mengerahkan daya nalarnya, antara lain dengan
menerapkan pengetahuan yang mereka peroleh guna melakukan analisis
dampak sosial.
g. Memiliki sikap profesional, bermoral, beretika serta kepedulian terhadap
masyarakat dan nilai-nilai yang berlaku di masyarakat serta kepedulian
terhadap lingkungan.
29
h. Mampu mengikuti perkembangan dan aspek-aspek teknologi.
2. Kompetensi pendukung: kemampuan yang memperkuat kompetensi utama.
3. Kompetensi khas/lainnya: kemampuan khas yang memperkuat penguasaan
kompetensi utama dan pendukung dalam berkarsa dan berkarya di masyarakat,
sesuai dengan pilihan hidupnya.
Kompetensi di bidang ilmu sosial ini menetapkan adalah masyarakat terinstitusi
pengguna hasil pendidikan tinggi, bukan PT sendiri. Struktur kompetensi program S1
bidang ilmu sosial perlu dijabarkan lebih rinci dengan mengacu pada sistem tingkatan
dalam taksonomi Bloom yaitu :
a. Mengingat
b. Memahami
c. Mengaplikasikan
d. Menganalisis
e. Mengevaluasi
f. Berkreasi
III. KURIKULUM BIDANG ILMU SOSIAL
Baik pengembangan kurikulum formal maupun informal harus berdasarkan
pada komitmen akan values, ide dan keyakinan yang mendasar pada prinsip
demokrasi, kebebasan dan keadilan. Kurikulum juga harus didasarkan pada satu
pertimbangan bahwa di akhir proses pendidikan mahasiswa harus memiliki
keyakinan, nilai hidup dan pandangan yang objektif mengenai peristiwa yang
terjadi di sekitarnya. Salah satu proses yang harus dirancang di dalam kurikulum
pendidikan sosial adalah dengan mengembangkan pemikiran evaluatif mengenai
kejadian yang terjadi di sekitarnya dan menganalisa bagaimana seorang dapat
mengekspresikannya. Di dalam proses ini, semakin banyak pengalaman riil yang
dihadapi akan semakin baik bagi mahasiswa. Dengan mempelajari berbagai macam
nilai hidup dan sudut pandang, mahasiswa akan belajar sebagian besar dari
penalaran di balik keputusan yang diambil seseorang.
Kurikulum bidang ilmu sosial disusun berdasarkan atas elemen-elemen
kompetensi yang dapat menghantarkan peserta didik untuk mencapai kompetensi
pendukung, dan kompetensi lain yang diharapkan.
Materi inti yang mendasari Ilmu Sosial:

Bahasa Inggris

Komunikasi

Matematika

Komputer

Etika
30

Kewirausahaan
Materi inti lainnya disesuaikan dengan pencapaian kompetensi Bidang Ilmu Sosial
yang lebih khusus dan diselaraskan dengan Program Studi.
IV. STRATEGI PEMBELAJARAN
Proses pembelajaran yang saat ini mengalami pergeseran dari Teaching centeral
ke Student centered, sangat sesuai dengan cara pendidikan ilmu sosial yang memiliki
persyaratan kompetensi sebagaimana yang telah disampaikan di atas. Dengan
menggunakan proses pembelajaran yang berbasis pada mahasiswa, outcome
pembelajaran akan dapat mengarah pada proses belajar cara mengelola pengetahuan.
Mahasiswa tidak hanya akan menguasai konsep ilmu yang diajarkan, namun juga
akan memiliki kemampuan untuk mengembangkan pemecahan persoalan sosial
sesuai dengan porsi dan karakteristik dari sistem sosial yang ada. Mengingat
perkembangan sosial merupakan proses yang sangat cepat berubah maka, proses
belajar untuk menjadi peka dan mempelajari satu fenomena sosial akan menjadi
tuntutan utama.
Menyadur taksonomi yang disampaikan oleh Johansenn dan Tessmer (1996),
yang mencakup :
1. Structural Knowledge, yang menggambarkan bagaimana pengetahuan diatur dan
dihubungkan dengan pengetahuan lainnya.
2. Mental Models, mengarah kepada hasil dari pengaturan pengetahuan. Pada ranah
ini akan diperoleh deep knowledge understanding.
3. III-structured problems, pada ranah ini dilakukan dengan problem solving. Untuk
proses pembelajaran ini, dibutuhkan korelasi antara konsep yang dipelajari
dengan fenomena yang terjadi di dunia nyata.
4. Ampliative skills, yaitu ranah pembelajaran yang mengarah pda pengembangan
proses dan teknik penyelesaian permasalahan.
5. Self Knowledge, yaitu suatu proses pembelajaran yang menyertakan kesadaran
atas apa yang telah dikuasai dan yang belum mampu dipelajari.
6. Executive control strategies, setelah menyadari hal yang telah dikuasai, maka
pembelajar diharapkan mampu melakukan perencanaan pembelajaran yang baru.
7. Motivation, yaitu saat pembelajaran telah mengarah pada kemauan yang tinggi
untuk mengaplikasikannya di dalam dunia nyata, dan kembali mengkritis proses
yang telah dilakukannya.
Proses pembelajaran di kelas untuk ilmu sosial harus menggunakan partisipasi
aktif yang demokratis. Proses partisipatif ini merupakan bagian utama dalam
menghasilkan lulusan ilmu sosial yang memiliki kepekaan sosial, daya analisis yang
tinggi, nilai akan keadilan, serta pandangan yang objektif akan suatu hal.
Metode pembelajaran yang diterapkan disesuaikan dengan kompetensi yang
diharapkan dari materi yang disampaikan. Beberapa metode pembelajaran yang
31
diterapkan dapat dilakukan gabungan. Adapun beberapa metode pembelajaran
tersebut antara lain :
1. Lecturing
2. Small group Discussion
3. Role-Play & Simulation
4. Case Study
5. Self-Directed Learning(SDL)
6. CooperativeLearning (CL)
7. Contextual Instruction (CI)
8. Problem Based Learning and Inquiry (PBL)
Proses pembelajaran yang mendukung problem base-learning di bidang ilmu sosial:
1. Menyelenggarakan diskusi interaktif mengenai problem aktual, sehingga dapat
mengasah cara berpikir secara logis dan analistis. Pada model ini dosen berperan
sebagai fasilitator.
2. Menggunakan gambaran nyata mengenai fenomena sosial, melalui media audiovisual atau praktek lapangan serta pengembangan kasus sosial, yang didesain
untuk mengarah kepada pengelolaan pengetahuan.
3. Mengasah kemampuan berfikir, keterampilan mengolah informasi, keterampilan
berkomunikasi, memecahkan masalah khusus dan keterampilan kontestual.
4. Mengembangkan proses belajar dalam kelompok, sehingga dapat dikenalkan
prinsip-prinsip bekerja sama.
5. Melatih mahasiswa untuk mengembangkan pemikiran mengenai fenomena sosial
dalam bentuk karya tulis dan karya poster, sehingga mampu lebih peka akan
permasalahan sosial dan cara penyelesaian yang lebih konstruktif.
6. Belajar mencari bukti dari konsep dan teori yang dipelajari dari kejadian yang
telah terjadi di lingkungannya, dengan menggunakan evidence based learning.
Pada perencanaan pembelajaran Ilmu Sosial perlu di pertimbangkan beberapa
hal yaitu:
1. Penentukan kemampuan akhir pembelajaran yang akan dicapai pleh peserta didik.
2. Pembuatan skenario pembelajaran: alternatif kegiatan yang dapat ditempuh oleh
peserta didik tahap demi tahap dalam mencapai kompetensi antara atau
kompetensi penyusunan kompetensi akhir disertai dengan tugas terstruktur,
monitoring dan evaluasi.
3. Penentuan dan pengukuran Indikator keberhasilan pembelajaran/Kriteria penilaian
keberhasilan atau tahapan keberhasilan.
4. Cara penilaian antara lain penilaian proses dan kinerja.
5. Pembuatan Lingkup materi (dapat diakses dari berbagai sumber belajar)
6. Penggunaan Media pembelajaran (White board, LCD, OHP, Video, TV, dll)
7. Perencanaan waktu
8. Pembuatan Sistem Evaluasi/Penilaian.
32
KURIKULUM BERBASIS KOMPETENSI BIDANG TEKNIK
I. LATAR BELAKANG
A. Hakekat Bidang Ilmu Teknik
Pada hakekatnya, ilmu teknik merupakan ilmu yang mempelajari pengetahuan
dan keterampilan untuk mentransformasi sumber daya (resource) dalam rangka
melayani kebutuhan manusia dalam jumlah yang besar. Untuk mentransformasi
sumber daya alam secara efektif dibutuhkan pengetahuan di bidang ilmu alam,
sedangkan untuk melayani manusia secara mencukupi kebutuhan dibutuhkan
pengetahuan tentang faktor sosioekonomi.
Ilmu teknik dapat ditinjau dari sudut pandang secara internal dan eksternal
secara internal, ilmu teknik memiliki 3 aspek :
1. Sains keteknikan
2. Desain teknik pengembangan
3. Manajemen dan organisasi
Secara eksternal, bidang teknik berhubungan dekat dengan ilmu alam di satu
pihak dan industri di pihak lain. Bersama-sama, ketiganya membentuk bidang
teknologi. Gambar dengan kata kunci dalam bahasa Inggris di bawah ini dapat
digunakan untuk membantu pengembangan imajinasi tentang cakupan dan
keterkaitan kata kunci yang merupakan kandungan bidang teknik. Uraian lebih lanjut
dalam rangka pemikiran KBK bidang teknik bukan dimaksudkan untuk membatasi
pemikiran namun sebagai salah satu materi kajian, sebagai bahan renungan.
Renungan terhadap kata kunci dengan posisi pada gambar di bawah dikehendaki
dapat menumbuhkan gagasan perancang kurikulum dengan orientasi pada konteks
masing-masing. Konteks tersebut dengan hal-hal spesifik yang telah ditemukan dan
diyakini relevan dengan penyiapan lulusan yang diperlukan masyarakat pengguna.
33
Sains Keteknikan
Sains keteknikan berbicara mengenai prinsip dasar dan mekanisme berbagai
sistem buatan, sebagai contoh sistem yang memanfaatkan kalor. Karena sistem yang
kompleks biasanya berhubungan dengan mekanisme-mekanisme yang dipelajari
dalam beberapa disiplin akademik, sains keteknikan bersifat integratif/terpadu.
Sains keteknikan secara garis besar terbagi menjadi 2 kelompok, yaitu sains
keteknikan fisis yang berhubungan dengan mekanisme serta sains keteknikan sistem
yang berhubungan dengan fungsi. Keduanya bersifat matematis, dalam hal ini teori
sistem (misalnya teori informatika, kontrol, dan komputasi) lebih dekat ke
matematika murni.
Sains Keteknikan Fisis
Terdapat enam sains teknik yang berhubungan dengan sifat fisis :
1. Mekanika zat padat
2. Mekanika fluida
3. Termodinamika
4. Fenomena transport
5. Elektromagnetik
6. Struktur dan properti bahan
Keenam sains tersebut memiliki kesamaan hukum dan prinsip dasar fisis tetapi
dikembangkan ke arah detil yang berbeda.
Ilmuwan teknik melakukan riset, menjalankan eksperimen terkontrol untuk
menemukan suatu keteraturan baru, mengintrodusir konsep untuk menjelaskannya,
serta mensintesis pengetahuan yang ada untuk tujuan praktis. Sebagai contoh, Teknik
Kimia mensintesis pengetahuan kimia dan fisika untuk menyusun pengetahuan ilmiah
yang berguna pada proses industri kimia. Dengan perkembangan yang pesat di bidang
bioengineering, biologi sel dan molekuler mungkin akan melahirkan disiplin ilmu
teknik yang baru.
Teori sistem
Teori sistem menyarikan karakteristik fisis suatu sistem dan berkonsentrasi pada
fungsi yang dilaksanakannya. Sebagai contoh, teori komunikasi meneliti sistem yang
melakukan fungsi transmisi pesan secara handal dari suatu tempat ke tujuannya, tanpa
memandang apakah pesan tersebut mengalir melalui medium kawat tembaga, fiber
optik, atau sambungan satelit, sehingga hasilnya berlaku untuk semua medium tadi.
Tiga kelompok besar teori sistem adalah komunikasi, kontrol dan komputasi.
34
Kemunculan teori komunikasi dan kontrol berasal dari bidang teknik, sedangkan
komputasi berkembang dari disiplin matematika.
Desain Teknik dan Pengembangan
Apabila ilmuwan teknik meneliti prinsip umum yang mendasari sistem dengan
lingkup yang luas, insinyur desain menciptakan sistem yang khusus dengan lingkup
yang relatif lebih sempit, misalnya pesawat ulang alik. Berdasarkan pengalaman,
intuisi, dan pelatihan yang dimiliki, mereka mendayagunakan dan memadukan
pengetahuan sistem yang relevan untuk mengatasi permasalahan yang ada dan
persyaratan tertentu yang dikehendaki. Proses desain selain merupakan sains juga
bersifat seni, yang memiliki lebih sedikit prinsip namun banyak aspek heuristik dan
kasustik. Menariknya, sifat heuristik ini mirip dengan apa yang ditemui dalam riset
ilmiah, dengan konteks bahwa untuk menemukan hal yang belum diketahui serta
menciptakan apa yang belum ada, dibutuhkan akal manusia (human ingenuity).
Perkembangan sistem berbasis teknologi melalui 2 fase, yaitu konsepsi dan fase
desain detil. Dalam fase konsepsi, insinyur bekerja berdampingan klien mereka untuk
memperjelas tujuan, menentukan faktor yang relevan, memperkirakan alternatif yang
ada, dan menghasilkan spesifikasi dan persyaratan yang akan dipenuhi dari sistem
yang hendak dibangun, kemudian baru dikembangkan detil desain dari sistem
tersebut dengan unjuk kerja yang dapat diukur dan diperiksa untuk memenuhi
persyaratan yang telah diberikan.
Kewirausahaan dan Manajemen
Sebagai sesuatu yang bersifat produktif, selain berhubungan dengan benda,
teknologi juga melibatkan manusia. Selain itu menciptakan teknologi fisis, insinyur
juga terlibat dalam organisasi. Di dalam organisasi itu mereka berperan sebagai
manajer dan wirausaha (enterpreneuer). Insinyur telah memiliki tradisi yang panjang
dalam kewirausahaan, sebagai contoh James Watt mengkomersialisasikan mesin uap
yang ditemukannya pada tahun 1776. Insinyur juga menjadi pionir dalam administrasi
bisnis modern yang memfasilitasi perkembangan amat cepat perusahaan raksasa pada
abad ke 19 dan 20. Pada tahun 1950an, insinyur menempati 20% eksekutif puncak di
perusahaan besar di Amerika Serikat.
B. Perkembangan Bidang Teknik
Perkembangan bidang ilmu teknik secara umum dapat dibagi menjadi 4 fase
yang ditandai dengan sebuah revolusi.
1. Revolusi pra-sains, meliputi kemampuan pengembang bangunan kuno serta
perekayasa Renaissance semacam Leonardo da Vinci.
2. Revolusi industri: meliputi abad 18 sampai dengan abad 19, yang didominasi
perekayasa sipil dan mekanik/mesin yang berubah dari artis menjadi profesional
di bidang sains.
35
3. Revolusi Industri kedua, meliputi pertengahan abad 19 sampai dengan menjelang
Perang Dunia II, cabang-cabang teknik kimia, elektro dan cabang teknik lain
mengembangkan listrik, telekomunikasi, mobil, pesawat terbang, serta produksi
massal.
4. Revolusi Informasi, masa penegmbangan mikroelektronik, komputer, dan
telekomunikasi bersama-sama membentuk teknologi informasi.
C. Inti Bidang Ilmu Teknik
Untuk mendesain sistem yang berbasis teknologi, insinyur harus menguasai
pengetahuan dan kepakaran baik secara global maupun detil di bidang yang sangat
beragam. Oleh karena itu, bidang teknik dibagi menjadi banyak cabang, yang
meliputi antara lain :
1. Teknik aeronautika dan astronautika.
2. Teknik biologis (biomedis).
3. Teknik fisika.
4. Teknik kimia
5. Teknik komputer.
6. Teknik listrik dan elektronik.
7. Teknik lingkungan.
8. Teknik mesin
9. Teknik nuklir
10. Teknik sipil.
11. Teknik sistem.
II. MENYUSUN KOMPETENSI BIDANG TEKNIK
1. Dalam setiap program studi tentu telah terumuskan misi dan tujuan pendidikan
yang salah satu jabarannya selalu merupakan kualifikasi lulusan yang akan
dihasilkan oleh Program studi tersebut.
Rumusan kompetensi lulusan tersebut merupakan rumusan “OUTCOMES” yaitu
suatu bentuk kemampuan yang nantinya akan ditunjukkan atau dibuktikan di
lapangan pekerjaan yang dipilihnya. Oleh sebab itu dalam rumusan kompetensi
ini sebaiknya mengacu pada “harapan” bidang-bidang kerja (profesi) yang mana
saja yang mungkin dapat diraih oleh lulusannya nanti.
36
2. Kurikulum merupakan seperangkat rencana kegiatan yang bila dilaksanakan
dengan baik diharapkan lulusannya mencapai kompetensi yang dirumuskan.
Kurikulum yang dirancang biasanya berlaku selama empat-lima tahun dengan
evaluasi tahunan (bila mungkin), sehingga pada saat seseorang lulus dari suatu
program studi sebenarnya ia adalah produk rencana empat/lima tahun yang lalu.
Sehingga dalam merumuskan kompetensi suatu kurikulum selalu harus
mengantisipasi adanya perubahan/pergeseran bidang kerja (profesi), atau bahkan
kemungkinan timbulnya bidang kerja baru yang bisa tercipta atau diciptakan
sendiri oleh lulusan tersebut. Maka diperlukan suatu “kompetensi dasar” yang bila
dipunyai oleh setiap lulusan. Mereka akan mempunyai kesempatan memilih
bidang kerja yang lebih luas dalam mengembangkan dirinya di masyarakat.
(Contoh Kompetensi dasar lihat tabel berikut).
3. Penyusunan kompetensi di bidang teknik dapat mengacu pada rumusan standar
kompetensi yang dikeluarkan oleh asosiasi profesi/industri yang terkait/lembaga
tertentu atau pemangku kepentingan.
4. Kompetensi mengandung unsur pengetahuan, keterampilan, dan sikap yang
terikat secara utuh, sehingga dalam merumuskan kompetensi akan terkandung
kemampuan dalam ketiga ranah yaitu ranah kognitif, ranah psikomotor dan ranah
afektif, dan tentunya berkait dengan kemampuan di bidang ilmunya/
keteknikannya.
Contoh Rumusan Kompetensi Utama
NO
DIMENSI
1
Bidang
ilmu/teknik
2
Komunikasi
3
Sikap
4
Cara berfikir
KOMPETENSI GENERIK LULUSAN (S1)
Penguasaan prinsip dasar keilmuannya dan kemampuan
penerapan dan pengembangannya dalam rancang
bangun/rekayasa, dengan menggunakan perangkat rekayasa
modern dan teknologi informasi.
Kemampuan mengkomunikasikan pemikirannya dengan baik,
dan kemampuan keterlibatan dalam bidangya secara pribadi
maupun kelompok/masyarakat yang lebih.
Kemampuan untuk belajar sepanjang hayat, punya kepekaan
dan pemahaman masalah sosial, budaya, dan global. Apresiasif
pada etika dan punya tanggung jawab profesi.
Kemampuan berkonsep, kreatif, inovatif, dan metodik, punya
wawasan luas.
Kompetensi lulusan program S1 bidang teknik di Indonesia yang
direkomendasikan diturunkan dari ABET dan IEAust (EEDP Curiculum
Development for S1 Programs in Indonesia) yang rumsuannya dapat diikuti dibawah
ini.
Lulusan program S1 bidang teknik diharapkan memiliki :
37
1.
Kemampuan untuk taqwa dan iman kepada Tuhan Yang Maha Esa serta
mengaktualisasikan perikemanusiaan dan kebangsaan.
2.
Kemampuan menerapkan pengetahuan dasar matematika, sains dan keteknikan.
3.
Kemampuan untuk merancang dan menjalankan eksperimen, serta menganalisis
dan menginterpretasikan data.
4.
Kemampuan untuk merancang suatu sistem, komponen atau proses untuk
memenuhi suatu kebutuhan.
5.
Kemampuan untuk berperan serta pada suatu tim yang bersifat multidisiplin
(terdiri atas ahli dari berbagai bidang).
6.
Kemampuan untuk mengidentifikasi, memformulasi, dan menyelesaikan
masalah-masalah teknik.
7.
Pemahaman tentang tanggung jawab profesional dan etika.
8.
Kemampuan untuk berkomunikasi secara efektif, tidak hanya dengan insinyur,
namun dengan komunitas umum.
9.
Kefasihan secara tertulis dan lisan dalam berbahasa Inggris.
10.
Cakupan pengetahuan cukup luas dalam tanggung jawab sosial, budaya, global,
lingkungan dan bisnis sebagai Insinyur Profesional, memperhatikan prinsip dan
kebutuhan pembangunan yang berkelanjutan.
11.
Pemahaman tentang kewirausahaan dan proses inovasi.
12.
Pengetahuan tentang isu kontemporer.
13.
Kesadaran akan pentingnya belajar seumur hidup dan kemampuan untuk
menjalankannya.
14.
Kemampuan untuk memanfaatkan teknik, keahlian, dan peralatan teknik
modern yang diperlukan untuk pelaksanaan tugas-tugas keteknikannya.
15.
Kemampuan teknis yang mendalam minimal satu disiplin ilmu teknik.
III. KURIKULUM BIDANG TEKNIK
Kurikulum program S1 bidang teknik tersusun dalam 8 semester, dan salah satu
kategorisasi yang dipandang baik ditunjukkan pada tabel di bawah ini. Tiap
Perguruan Tinggi dapat menetapkan sendiri komposisi persentase tiap kategori, yang
dikehendaki, berdasar hasil kajian masing-masing.
Subjek dalam setiap kategori dapat meliputi beberapa matakuliah, diantaranya
adalah sebagai berikut ini.

Matematika, dapat meliputi matematika teknik, metode numerik, statistika dan
probabilitas, komputasi teknik, kalkilus, aljabar linier, matematika diskrit, dan
lain-lain.
3. Diskusi tahap demi tahap
38
Diskusi terstruktur yang memberi keleluasaan mahasiswa untuk menyampaikan
pendapatnya mengenai materi diskusi dengan bebas namun dalam lingkup topik yang
terbatas. Diskusi ini dapat meliputi tahap-tahap berikut : (1) introduksi singkat  (2)
aktivitas diskusi  (3) input dari dosen.
NO
Kategori
%**
1 Matematika
12,5
2 Sains Dasar
12,5
3 Prinsip keteknikan dan teknologi 15
informasi
4 Desain dan Proyek Keteknikan
20
5 Spesialisasi Disiplin Keteknikan
20
6 Aspek Praktis dan Profesional
10
7 Studi umum
10
Total 100
SKS
18
18
22
Semester
ekivalen**
1.0
1.0
1.2
Kompetensi
yang diarah
2,3,4
2,3,4,
2,3,4,14
29
14
14
14
144
1.6
1.6
0.8
0.8
8.0
4,6,14
15
5,7,8,10,11,13
8,9,10,12,13
semua
* Pada beberapa program studi, beberapa kategori dapat digabungkan
** Pada perkiraan / kisaran

Sains Dasar, misalnya kimia dasar, kimia fisis, kimia organik, fisika, biokimia,
fisika teknik, dan lain-lain.

Prinsip Keteknikan dan Teknologi Informasi, misalnya termodinamika, kinetika
kimia, proses transfer, proses separasi, dinamika proses, mekanika, analisis
struktur, rangkaian digital, elektromagnetika, komunikasi data, perpindahan panas
dan massa, termofluida, sistem komputer, pemrogaraman komputer, dan lain-lain.

Desain dan Proyek Keteknikan, msialnya desain proses, desain plant dan
peralatan, desain produk, desain manufaktur, pembiayaan proyek, manajemen
proyek, metodologi riset, dan lain-lain.

Spesialisasi Disiplin Keteknikan, misalnya teknik konstruksi, teknik transportasi,
teknik hidrologi, teknik struktur, mekanika zat padat, sistem daya, elektronika
daya, komunikasi optik, gelombang mikro dan antena, pengolahan sinyal, sistem
kontrol, sistem waktu nyata, jaringan komputer, instrumentasi, mesin konversi
energi, derau dan vibrasi, metalurgi, mekatronika, robotika, dan lain-lain.

Aspek Praktis dan Profesional, misalnya manajemen teknik, manajemen proyek,
Sejarah Teknik, Manajemen lingkungan, Etika Insinyur, Inovasi dan
Kewirausahaan, Pengembangan Kepribadian, dan lain-lain.

Studi umum, dapat meliputi bidang humaniora, ilmu sosial, bahasa lingkungan,
komunikasi, dan lain-lain.
IV. SRATEGI PEMBELAJARAN DAN EVALUASI
Strategi pembelajaran yang direkomendasikan dalam program S1 bidang teknik
adalah pembelajaran yang berpusat pada mahasiswa (Student Centered Learning atau
39
disingkat SCL). Untuk mencapai tujuan pembelajaran dan memenuhi kompetensi
yang diinginkan, digunakan proses belajar mengajar yang bervariasi. Alternatif proses
pembelajaran yang mungkin dipilih di antaranya adalah :
1. Perkuliahan sistem ceramah
Kuliah konvensional yang meliputi presentasi dan penjelasan informasi serta
pembangkitan minat oleh dosen. Sedapat mungkin dilakukan dengan
memanfaatkan berbagai media pembelajaran, termasuk audio visual dan teknologi
informasi dan komunikasi.
2. Tutorial
Ditujukan untuk mengklarifikasi pemahaman serta isu yang muncul dari
perkuliahan.
3. Diskusi tahap demi tahap
Diskusi terstruktur yang memberi keleluasaan mahasiswa untuk menyampaikan
pendapatnya mengenai materi diskusi dengan bebas namun dalam lingkup topik
yang terbatas. Diskusi ini dapat meliputi tahap-tahap berikut : (1) introduksi
singkat  (2) aktifitas diskusi  (3) input dari dosen.
4. Makalah Seminar
Mahasiswa secara individu atau kelompok membaca sebuah/beberapa makalah
yang aktual dan relevan serta membuat ringaksan kemudian membuat makalah
dari hasil ringkasan tersebut untuk kemudian dipresentasikan di depan kelas.
5. Seminar kecil
Mahasiswa mempresentasikan suatu topik dalam suatu kelompok kecil, dengan
penekanan untuk memanfaatkan media audio-visual, mengorganisasi diskusi,
serta jika dimungkinkan mencoba untuk mengajarkan topik tersebut. Mahasiswa
lain dalam kelompok tersebut mendapat tugas misalnya bertanya, menyarikan halhal penting, menyampaikan alternatif, atau mengevaluasi presentasi yang
dilakukan.
6. Seminar springboard
Pertama-tama, dosen menstimulasi diskusi dengan menyampaikan kuliah singkat,
rekaman video/audio, atau demonstrasi. Mahasiswa kemudian mendiskusikan isu
atau point penting yang muncul.
7. Problem solving
Ini merupakan aktivitas yang penting dalam pembelajaran bidang teknik.
Persoalan aktual bidang teknik saat ini, atau tantangan bidang teknik di masa
depan dibawa ke kelas untuk mendapatkan alternatif solusi. Cara yang digunakan
untuk menjaring kecerdasan kolektif dalam rangka solusi dibicarakan terlebih
dahulu secara bersama, dosen dan mahasiswa.
8. Studi kasus, simulasi, dan games
40
Studi kasus berdasarkan pada kondisi nyata, seringkali bersifat kompleks dan
multidisiplin; untuk memberikan pengalaman dalam mendefinisikan
permasalahan riil yang relevan. Simulasi adalah versi kasus yang telah
disederhanakan. Games lebih disederhanakan lagi hingga hanya mencakup suatu
prinsip yang spesifik.
9. Sindikasi
Di sini topik atau masalah dibagi menjadi sub topik dan kelas dibagi menjadi
kelompok yang masing-masing menelaah dan mempresentasikan sub topik yang
berbeda. Dosen berperan sebagai narasumber, koordinator, dan perumus dalam
sesi pleno.
10. Computer Aiden Learning
CAL memanfaatkan komputer dan perangkat lunak yang didesain untuk
membantu proses pembelajaran.
Strategi evaluasi ditetapkan berkaitan dengan tujuan mendapat bukti bahwa
kompetensi yang akan dicapai telah terpenuhi. Cara evaluasi dirancang oleh suatu
program studi untuk evaluasi hasil belajar suatu matakuliah dan kelulusan pada
program studi. Kurikulum berbasis kompetensi mengikuti asas evaluasi sebagai bukti
tercapainya kompetensi. Dalam hal ini, jumlah kuliah, jumlah jam, jumlah kredit
yang dikumpulkan dapat mempunyai juga ekuivalensi pembuktian yang menjamin
bahwa kompetensi yang ditetapkan untuk kelulusan telah dicapai.
Sepuluh butir uraian tentang cara pembelajaran tersebut di atas tidak
mengekang pengembangan cara-cara pembelajaran yang dapat digagas oleh suatu
program studi. Masih banyak cara yang dapat dikembangkan sebagai cara baru atau
modifikasi yang ada, selanjutnya cara evaluasi ditinjau lebih jauh dalam panduan
kecil ini. Dosen dan program studi harus mendiskusikan lebih dalam tentang cara
evaluasi sesuai cara pembelajaran yang dianut. Yang harus dipegang teguh adalah
prinsip akuntabilitas, bahwa kelulusan tentu ditetapkan berdasar bukti bahwa
kompetensi yang direncanakan dalam kurikulum telah terpenuhi.
V. PENUTUP
Uraian dalam panduan ini bukan contoh untuk diikuti tanpa usaha
mendiskusikan dan membahas mendalam program studi dan panitia kurikulum
dengan mengikutsertakan semua komponen stakeholders. Diskusi dan bahasan
mendalam sangatlah penting untuk re-invent kurikulum optimal bagi sebuah program
studi, memenuhi standar, bahkan diharapkan melebihi standar nasional. Upaya-upaya
menempatkan program studi di atas standar nasional sangat diperlukan untuk
secepatnya meniadakan gap kualitas dengan program studi di papan atas kualitas
Asia-Pasifik.
41
Download