Prospective cohort study of soy food intake and colorectal cancer

advertisement
ABSTRAK
Latar belakang:
Kedelai dan unsur yang terkandung didalamnya, seperti
isoflavones, telah menunjukkan bahwa dapat mencegah
kanker dalam studi eksperimental. Data dari studi
epidemiologic yang berkaitan dengan asupan makanan
kedelai dengan kanker colorectal terbatas dan tidak
konsisten.
Objektif:
Tujuan penelitian adalah untuk menyelidiki apakah
asupan makanan kedelai berkaitan dengan risiko kanker
colorectal.
Desain:
Telah diteliti 68.412 wanita berusia 40-70 tahun dan
bebas dari penyakit kencing manis dan kanker dengan
desain prospective cohort. Kebiasaan makanan kedelai
dinilai dari tahun (1997-2000) dan dinilai kembali pada
tindak lanjut pertama tahun (2000-2002) melalui
wawancara yang divalidasi dengan food frequensi
quesioner..
Hasil:
Selama follow up 6,4 tahun, terjadi 321 kasus kanker colorectal
yang teridentifikasi. Setelah penyesuaian untuk potensi
confounding faktor, total asupan makanan kedelai berbanding
terbalik dengan risiko kanker colorectal. Setiap 5-g / hari kenaikan
dalam asupan makanan dari kedelai dinilai sebagai berat kering
[setara dengan 1 oz (28,35 g) tahu / hari] terkait dengan 8%
penurunan risiko (95% CI: 3%, 14%) . Wanita di tertile tertinggi
dari asupan makanan kedelai memiliki risiko relatif sebesar 0,67
(95% CI: 0,49, 0,90) dibandingkan dengan wanita pada tertile
terendah (P untuk tren = 0,008). Hubungan terbalik ini terutama
terbatas pada wanita postmenopaus. Hasil serupa juga ditemukan
untuk intakes dari protein kedelai dan isoflavones.
Kesimpulan:
Prospective studi ini menunjukkan bahwa konsumsi makanan
kedelai dapat menurunkan resiko kanker colorectal pada wanita
postmenopausal.
Level of Subject Selection
Semua wanita yang mengkonsumsi
makanan kedelai berusia 40-70tahun
(1998 – 2005 ) Di Shanghai (Cina)
Populasi target
Populasi Sumber
Excluded
n= 6585
Populasi Eligible
Studi Partisipant
Wanita yang mengkonsumsi makanan
kedelai berusia 40-70 tahun(1996 –
2000) Di tujuh Masyarakat Urban
Di Shanghai (Cina)
(n= 74.942)
Wanita yang mengkonsumsi Makanan
berusia 40 – 70 tahun (1997– 2005) di
tujuh masyarakat Urban di Shanghai
Cina . ( n= 68.412) seharusnya
( n= 68.357)
Participant rate = 92,7%
Kriteria Ekslusi :
1. Riwayat Kanker
2. Diabetes
3. Adenomatous polyposis
4. Asupan energi ekstrim
5. Loss to follow up
6. Menggunakan Hormon
n= 1490
n= 3302
n=
86
n=
44
n=
10
n= 1653
Progres Kohort Prosfektif
Recruitment:
Source Population
1996-2000
n= 74.942
Eligible Population
1997- 2005
n=68.412
Participant Studi
1997- 2005
n= 68.412
Kanker
kolorectal
n=321
n= ?
A.DESCRIPTION OF EVIDENCE
1. Eksposure :
Konsumsi makanan Kedelai
2. Outcome :
Kanker kolorectal pada wanita umur 4070tahun .
3. Desain Studi:
Kohort Prospektif
4. Tujuan :
Mengetahui hubungan dose- relationship
antara asupan makanan kedelai dengan
resiko kanker colorectal .
5. Studi populasi :
Merekrut 74.942 wanita berusia 40-70 tahun
antara tahun 1996 – 2000 dari tujuh masyarakat Urban
di kota Shanghai ( Cina )
6. Hasil :
Selama follow up 6.4 tahun, terjadi 321 kasus kanker
colorectal yang teridentifikasi . Setelah penyesuaian
untuk potensi confounding faktor, total asupan
makanan kedelai berbanding terbalik dengan resiko
kanker colorectal. Setiap 5-g/hari kenaikan dalam
asupan makanan dari kedelai dinilai sebagai berai
kering ( setara dengan 1 oz ( 28,35 g) terkait dengan 8%
penurunan resiko ( 95% CI; 3%,14%).
Lanjutan Hasil. . . . .
Wanita di tertil tertinggi dari asupan makanan kedelai
memiliki Resiko Relatif sebesar 0,67( 95% CI; 0,49,0,90 )
Dibandingkan dengan wanita pada tertil terendah ( P
untuk tren= 0.008). Hubungan terbalik ini terutama
terbatas pada wanita post menapause. Hasil serupa juga
ditemukan untuk intakes dari protein kedelai dan
Isoflavones.
B. NON CAUSAL EXPLANATION
7. Bias Observasi
Bias Seleksi
 Rumus jumlah sampel tidak dijelaskan, risikonya jumlah n
yang besar bisa menghasilkan asosiasi palsu.
 Adanya kriteria eksklusi pada eligible subject, dimana
tidak termasuk partisipan yang memiliki riwayat kanker (n
= 1490), diabetes (n = 3302), atau adenomatous polyposis
(n =86).
Bias informasi
Antropometri (BB, TB, lingkar pinggang dan lingkar
panggul) apakah sudah dilakukan validasi alat (alat
yang digunakan dan ketelitian berapa) dan validasi
pengukur (pelatihan pengukur) ..belum dijelaskan
dalam studi ini. Sedangkan untuk monitoring FFQ
dan food recall sudah dilakukan oleh staf quality
control .
Kebiasaan makan, dengan metode FFQ, hanya
mengetahui pola makan dan perkiraan rata-rata.
Pengukuran konsumsi dengan metode food frequency
kurang akurat untuk mengukur jumlah dan jenis
makanan yang dikonsumsi, karena sangat tergantung
dari jawaban responden.
Harus dilengkapi dengan metode recall makanan serta
food record. Artinya di samping diketahui pola makan,
harus diketahui juga perkiraan berat sebenarnya
dengan food record, yaitu metode pengukuran
konsumsi makanan individu dengan menimbang
berat mentah makanan sebelum dimasak atau
sebelum dimakan.
Recall makanan 24 jam 24 hari (2 kali/bulan selama 12
bulan) apakah bisa mewakili ? hasil recall makanan bisa
over estimate maupun under estimate, walaupun sudah
diminimalkan dengan membuang nilai di bawah 500 kk
maupun di atas 3500 kk pada waktu analisis.
Bagaimana dengan makanan matang setempat
(tradisional) yang mengandung kedelai? Perlu dilakukan
survei pasar untuk mengetahui perkiraan berat kedelai
sebenarnya,
Bias analisis
 Analisis statistik sudah sesuai, cox regression
menggunakan beberapa variabel explanatory dalam
menjelaskan hubungan survival time. Selain konsumsi
makanan kedelai juga dapat dilihat hubungan dengan
faktor-faktor lainnya.
Dengan pertimbangan kemungkinan adanya penyakit pradiagnosis yang mungkin mengakibatkan perubahan dalam
asupan makanan dan gaya hidup, sehingga terjadi bias
perkiraan risiko yang terkait dengan konsumsi kedelai,
pengamatan dan diagnosa kejadian pada tahun pertama
dikeluarkan dari analisis.
Dikeluarkan partisipan dengan total asupan energi ekstrim
(<500 atau> 3500 kilocalories / hari, n =44), partisipan yang
hilang dari pengamatan sejak pendaftaran (n= 10) atau
partisipan yang menggunakan hormon postmenopausal (n
= 1653). Seharusnya setelah dikurangi jumlah yang tidak
dianalisis, jumlah sampel 68.357 bukan 68.412.
Beberapa faktor telah dikontrol, seperti: umur, pendidikan,
pendapatan rumah tangga, body mass, aktivitas fisik,
kanker colorectal-tingkat pertama dalam keluarga, status
menopause, dan konsumsi makanan dari total kalori,
daging merah, total buah-buahan dan sayuran, serat nonkedelai, kalsium non-kedelai, dan asam folat non-kedelai..
8.Confounding
Telah dilakukan control terhadap faktor-faktor lain,
seperti: umur, pendidikan, pendapatan rumah tangga,
body mass index (BMI, dihitung sebagai berat dalam
kilogram dibagi dengan kuadrat TB dalam meter),
aktivitas fisik (diukur dengan metabolisme setara [MET] jam per minggu per tahun), kanker colorectal-tingkat
pertama dalam keluarga, status menopause, dan
konsumsi makanan dari total kalori, daging merah, total
buah-buahan dan sayuran, serat non-kedelai, kalsium
non-kedelai, dan asam folat non-kedelai.
Walaupun demikian faktor lain yang belum diteliti
memungkinkan untuk menjadi faktor confounding,
misalnya: kebiasaan minum teh, keturunan, stress, dsb.
9.Chance
Kemungkinan bukan suatu kebetulan, dari hasil analisis
pada studi ini dihasilkan p value = 0,008.
C. POSITIVE FEATURE OF CAUSATION
10. Time relationship
 Sesuai , sebab mendahului akibat. Setelah durasi
pengamatan antara ( 1998 – 2005) terdapat kasus
insiden kanker colorectal
. sejumlah 321
11. Strength
 Asosiasi ini cukup kuat, dimana wanita di tertile tertinggi
dari asupan makanan kedelai memiliki resiko relatif
sebesar 0,67 ( 95% CI; 0,49, 0,90) dibandingkan dengan
wanita pada tertile terendah. ( P untuk tren = 0,008))
12. Dose response
 Setiap 5-g / hari kenaikan dalam asupan makanan dari
kedelai dinilai sebagai berat kering [setara dengan 1 oz
(28,35 g) tahu / hari] terkait dengan 8% penurunan risiko
(95% CI: 3%, 14%) .
13. Consistency
Adanya konsistensi antara penurunan kejadian
kanker kolorektal dan peningkatan konsumsi
makanan kedelai.
14. Specificity
 Cukup spesifik, konsumsi makanan kedelai
dihubungkan dengan kanker kolorektal pada wanita
menopause .
D. EXTERNAL VALIDITY
15. To the eligible population
Tidak termasuk partisipan yang memiliki riwayat
kanker (n = 1490), diabetes (n = 3302), atau
adenomatous polyposis (n =86). Juga dikeluarkan
partisipan dengan total asupan energi ekstrim (<500
atau> 3500 kilocalories / hari, n =44), partisipan yang
hilang dari pengamatan sejak pendaftaran (n= 10)
atau partisipan yang menggunakan hormon
postmenopausal (n = 1653).
16. To the source population
Wanita berusia 40-70 tahun antara 1996 dan 2000
dari tujuh masyarakat urban di kota Shanghai, Cina.
17. To other populations
Penerapan pada populasi wanita umur 40-70 tahun di
masyarakat yang berbeda dengan disain yang sama/beda
belum tentu hasilnya sama. Begitu juga pada kelompok
umur yang berbeda dengan disain yang sama/beda.
Dengan demikian kemungkinan studi ini tidak baik
diterapkan pada populasi yang berbeda. Apalagi dengan
menggunakan metode FFQ dan food recalll, dimana
variasi makanan antar berbagai kelompok masyarakat
berbeda.
F. OTHER EVIDENCE
18. Consistency
Cukup konsisten, sebagai gambaran dalam diskusi: ”Studi
epidemiologis sebelumnya pada asupan makanan kedelai dan
resiko kanker colorectal telah menghasilkan hasil yang
beragam tetapi secara umum mengarah pada hubungan yang
terbalik(9). Tingginya konsumsi makanan yang mengandung
kedelai dihubungkan dengan pengurangan risiko kanker usus
besar dalam studi kasus-kontrol dari populasi multietnis di
Hawaii (54) dan kanker rectal dalam studi kasus-kontrol yang
dilakukan di Cina (55) dan Jepang ( 56), dan untuk mengurangi
risiko colorectal adenomas, precursors ke colorectal kanker,
dalam kajian kasus-kontrol pada populasi multietnis di selatan
California(12). Prospektif cohort study di Jepang melaporkan
hubungan terbalik antara asupan makanan kedelai dan resiko
kanker usus besar (57).
19. Specificity
Adanya penyakit-penyakit lain yang timbul selain kanker
kolorektal pada wanita umur 40-70 tahun dan beberapa
factor yang mempengaruhi selain konsumsi makanan
kedelai, melemahkan hubungan antara konsumsi
makanan kedelai dan kejadian kanker kolorektal.
20. Plausibility
Ada beberapa alasan:
Kedelai dan produknya merupakan sumber makanan yang
paling banyak mengandung isoflavon.
 Lanjutan Plausibility
Kedelai atau isoflavones juga menunjukkan aktivitas anti
karsinogenik lainnya di dalam studi vitro dan hewan (40),
termasuk penurunan stress oxidative (41-43) dan
pengontrolan pengaruh di beberapa jalur sinyal yang
berlapis di transformasi neoplastik(44-48). Tindakan ini
dapat menghalangi pertumbuhan sel dan transformasi,
menyebabkan apoptosis, dan menghalangi angiogenesis
(40,46,49,50). Colorectum yang dinyatakan sebagai
target yang baik untuk penghambat potensial tumor
dengan kedelai karena tingginya bioavailability dari
kedelai yang dikonsumsi. Pemberian isoflavones atau
produk kedelai menunjukkan penghambatan
pertumbuhan sel kanker
Lanjutan Plausibility
Pada manusia dan pembentukan Tumor pada hewan,
termasuk Tumor dari usus (20,21,51). Beberapa uji coba
kecil telah menyediakan bukti bahwa kedelai atau
beberapa komponen kedelai tertentu mungkin akan
efektif dalam menurunkan biomarkers dari sel proliferasi
(40), walaupun data belum sepenuhnya konsisten (52,53).
21. Coherence
Hubungan antara konsumsi makanan kedelai dengan
kejadian kasus kanker kolorektal pada wanita menopause
sesuai dengan fakta tentang riwayat alamiah penyakit,
walaupun hal ini harus didukung dengan penelitian
eksperimen lain yang dapat menguatkan terjadinya
asosiasi ini.
Terima Kasih
Download