Bab 2 - Widyatama Repository

advertisement
BAB II
LANDASAN TEORI
2.1
ISO
2.1.1
Pengertian ISO
ISO merupakan kata yang berasal dari bahasa Yunani yang mempunyai arti
”sama”(Suardi, 2003). ISO didirikan di Jenewa, Swiss, pada taun 1947. ISO
merupakan singkatan dari International Organization for Standardization. ISO
adalah badan standar dunia yang dibentuk untuk meningkatkan perdagangan
internasional yang berkaitan dengan perubahan barang dan jasa. ISO dapat
disimpulkan sebagai koordinasi standar kerja internasional, publikasi standar
harmonisasi internasional, dan promosi pemakaian standar internasional.
ISO bertujuan untu mengharmonisasi standar-standar nasional di masing-masing
negara menjadi satu standar internasional yang sama. ISO digunakan sebagai: (1)
Fondasi dari kegiatan perbaikan yang kontinu untuk kepuasan pelanggan, (2)
Sistem dokumentasi yang benar dari perusahaan, (3) Cara yang jelas dan
sistematik dari manajemen mutu, (4) Mendapatkan stabilitas dan konsistensi
dalam kegiatan dan sistem, (5) Kerangka kerja yang bagus untuk perbaikan mutu,
(6) Praktek manajemen yang lebih efektif dengan otoritas dan tanggung jawab
yang jelas terhadap orang yang berkaitan dengan mutu proses dan produk, (7)
Pedoman untuk melakukan segala sesuatu dengan benar di setiap saat, (8) Cara
untuk meningkatkan produktivitas, efisiensi, mutudan kemampuan berkompetensi
dari perusahaan, (9) Persyaratan untuk melakukan bisnis internasional.
2.1.2
Seri ISO 9000
Ada berbagai macam seri dari ISO 9000 yang memiliki standar, pedoman.dan
laporan yang terangkum di dalamnya. Seri ISO 9000 terdiri dari: (Suardi, 2003)
1. ISO 9000:2000: Dasar dan Kosakata Sistem manajemen Mutu.
2. ISO 9001:2008: Persyaratan Sistem manajemen Mutu.
6
7
3. ISO 9004:2000: Pedoman untuk Kinerja Peningkatan Sistem Manajemen
Mutu.
4. ISO 19011: Pedoman Audit Sistem Manajemen Mutu dan Lingkungan.
2.1.3
ISO 9001:2008
ISO 9001:2008merupakan suatu manajemen mutu yang dipercaya oleh
masyarakat internasional. ISO 9001:2008 menetapkan syarat-syarat (tertera di
dalam 8 klausul) dan rekomendasi untuk desain dan penilaian dari suatu system
manajemen mutu, dengan tujuan untuk menjamin bahwa organisasi akan
menyediakan produk (barang dan/jasa) yang memenuhi persyaratan yang
ditetapkan. Persyaratan-persyaratan yang ditetapkan ini dapat merupakan
kebutuhan spesifik dari pelanggan yang dapat berupa kontrak ataupun bentuk
yang lain dan organisasi memiliki tanggung jawab untuk dapat menyediakan dan
menjamin kualitas produk (barang dan/jasa) tertentu, atau merupakan kebutuhan
dari pasar tertentu, sebagaimana ditentukan oleh organisasi.
Perlu diketahui bahwa ISO 9001 :2008 bukan merupakan standar produk yang
diakui oleh masyarakat internasional, namun dengan menerapkan ISO 900l:2008
maka sistem manajemen mutu organisasi tersebut diakui oleh masyarakat
internasional. Dengan telah mencantumkan sertifikasi ISO 9001:2008 maka
masyarakat intemasional memiliki kepercayaan bahwa organisasi tersebut
sanggup untuk menyediakan produk atau jasa demi kepuasan pelanggan.Jika ada
perusahaan yang telah mendapatkan sertifikasi ISO 9001:2008 dan mengiklankan
bahwa produknya telah memenuhi standar intemasional, hal tersebut tidak benar
sebab sistem manajemen mutu dari perusahaan tersebut yang diakui telah
memenuhi standar intemasional, bukan produk yang dihasilkan oleh perusahaan
tersebut.Sebab tidak ada kriteria pengujian produk dalam ISO 9001:2008.
The Intemational Organization for Standardization (ISO) technical Committee
(TC) 176 bertanggung jawab untuk standar-standar sistem manajemen kualitas
ISO 9000. Sejak dikeluarkannya standar-standar ISO 9000 pada tahun 1987,
8
ISO/TC176 menetapkan siklus peninjauan ulang setiap lima tahun, guna
menjamin bahwa standar-standar ISO 9000 akan menjadi up to date dan relevan.
2.1.4
Model Proses ISO 9001:2000
Model proses ISO 9001:2008 terdiri dari lima bagian utama yang menggambarkan
sistem manajemen organisasi, yaitu (Gaspersz, 2001):
1. Sistem Manajemen Kualitas (Klausul 4 dari ISO 9001:2000).
2. Tanggung Jawab Manajemen (Klausul 5 dari 1SO 9001:2000).
3. Manajemen Sumber Daya (Klausul 6 dari ISO 9001:2000).
4. Realisasi Produk (Klausul 7 dari ISO 9001:2000).
5. Analisis, Pengukuran. dan Peningkatan ( Klausul 8 dari ISO 9001:2000).
2.1.5
Persyaratan Standar dari Sistem Manajemen Mutu ISO 9001:2008
Sistem manajemen mutu ISO 9001:2008 merupakan sistem manajemen mutu
yang berfokus pada proses dan pelanggan, maka pemahaman terhadap
persyaratan-persyaratan dari ISO 9001:2008 ini akan membantu organisasi dalam
menetapkan dan mengembangkan sistem manajemen mutu secara sistematik
untuk memenuhi kepuasan pelanggan (customer satisfaction) dan peningkatan
proses terus-menerus (continue process impovement). Berikut klausul-klausul
yang perlu diperhatikan oleh manajemen organisasi (Gaspersz, 2003):
Klausul 1. Ruang Lingkup
Ruang lingkup ISO 9001: 2000 telah dikembangkan atau diperluas. Dalam
hal ini persyaratan-persyaratan standar telah menekankan untuk memenuhi
kepuasan pelanggan melalui efektivitas dari aplikasi sistem mutu,
termasuk proses-proses untuk meningkatkan terus-menerus dan jaminan
kesesuaian.
Klausul 2. Referensi Normatif
Klausul ini hanya memuat referensi-referensi dari ISO 9001:2000.
9
Klausul 3. Istilah dan Definisi
Klausul ini menyatakan bahwa istilah dan definisi-definisi yang diberikan
dalam ISO 9000:2000 (Quality Management System ,Fundamental and
Vocabulary).
Klausul 4. Sistem Manajemen Mutu
Klausul ini lebih menekankan pada kebutuhan untuk peningkatan terusmenerus
(continual
improvement).Manajemen
organisasi
harus
menetapkan langkah-langkah untuk implementasi sistem manajemen mutu
9001:2000.
Klausul 5. Tanggung Jawab Manajemen
Klausul ini menekankan pada komitmen dari manajemen puncak menuju
perkembangan
dan
peningkatan
sistem
manajemen
mutu
ISO
9001:2000.Klausul ini juga .memaksa. keterlibatan manajemen puncak
dengan kebutuhan-kebutuhan pelanggan, menetapkan kebijakan untuk
mutu, menetapkan tujuan-tujuan mutu, perencanaan sistem manajemen
mutu, menetapkan tanggung jawab dan wewenangorganisasi, mengangkat
secara formal seorang yang mewakili manajemen dan menjamin proses
komunikasi internal yang tepat, serta harus melakukan peninjauan ulang
sistem manajemen mutu.
Klausul 6. Manajemen Sumber Daya Manusia
Klausal ini menyatakan bahwa suatu organisasi hasus menetapkan dan
memberikan sumber-sumber daya yang diperlukan secara tepat, personel
yang bertanggung jawab dalam melaksanakan tugas harus didefinisikan
dalam sistem manajemen mutu ISO 9001:2000 serta memiliki kompetensi
yang berkaitan dengan pendidikan yang relevan, pelatihan, keterampilan
dan pengalaman.
10
Klausul 7. Realisasi Produk
Klausul ini menyatakan bahwa organisasi harus menjamin bahwa proses
realisasi produk berada di bawah pengendalian agar memenuhi persyaratan
produk.
Klausul 8. Pengukuran, Analisis dan Peningkatan
Menurut klausul ini organisasi harus menetapkan rencana-rencana dan
menerapkan
proses-proses
pengukuran,
pemantauan,
analisis
dan
peningkatan yang diperlukanagar menjamin kesesuaian dari produk,
menjamin kesesuaian dari sistem manajemen mutu dan meningkatkan
terus-menerus efektivitas dari sistem manajemen mutu.
2.1.6
Prinsip-Prinsip dasar ISO 9001:2000
ISO 9001:2008 disusun berlandaskan pada delapan prinsip dasar. Prinsip-prinsip
ini digunakan oleh top management untuk membantu meningkatkan kinerja dari
sebuah industri atau perusahaan. Berikut ini adalah 8 prinsip dasar ISO 9001:2000
(Gaspersz, 2001):
1. Fokus Pelanggan
Industri atau perusahaan sangat tergantung pada pelanggan.Karena itu.setiap
industri atau perusahaan harus memahami kebutuhan dan keinginan pelanggan
baik kebutuhan dan keinginan sekarang maupun yang akan datang.
2. Kepemimpinan
Pemimpin dari industri atau perusahaan harus mampu menetapkan tujuan dan arah
dari industri atau perusahaan.Selain itu pemimpin dari industri atau perusahaan
harus menciptakan dan memelihara lingkungan internal agar orang-orang dapat
menjadi terlibat secara penuh dalam mencapai tujuan industri atau perusahaan.
3. Keterlibatan Pelsonel
Keterlibatan personel merupakan faktor yang penting dengan melibatkan seluruh
personel, manfaat yang diterima industri atau perusahaan akan lebih besar.
Manfaat-manfaat yang diperoleh apabila industri atau perusahaan menerapkan
prinsip keterlibatan personel adalah:
11
a. Orang-orang dalam industri atau perusahaan menjadi termotivasi, memberikan
komitmen, dan terlibat.
b. Orang-orang dalam industri atau perusahaan lebih giat dalam melakukan
inovasi agar tujuan-tujuan industri atau perusahaan tercapai.
c. Orang-orang dalam industri atau perusahaan menjadi bertanggung jawab
terhadap kinerja mereka.
4. Pendekatan Proses
Suatu hasil yang diinginkan akan tercapai secara lebih efisien. Apabila aktivitas
dan sumber-sumber daya yang berkahan dikelola sebagai suatu proses. Salah satu
metode yang dipakai untuk pendekatan proses adalah PDCA. PDCA seeara
singkat dapat diuraikan sebagai berikut:
Gambar 2.1 Model Sistem Manajemen Mutu
a. Plan
Tetapkan tujuan dan proses yang diperlukan untuk menyerahkanhasil
yang sesuai dengan persyaratan pelanggan.
b. Do
Implementasi proses.
c. Check
Memantau dan mengukur proses terhadap kebijakan tujuan dan persyaratan
bagi produk dan laporkan hasilnya.
12
d. Action
Lakukan tindakan perbaikan secara berkelanjutan.
5. Pendekatan Sistem Terhadap Manajemen
Pengidentifikasian, pemahaman.dan pengelolaan, dari proses-proses yang saling
berkaitan sebagai suatu sistem akan memberikan kontribusi pada efektivitas dan
efisiensi terhadap industri atau perusahaan dalam mencapai 1.1% tujuannya.
6. Peningkatan Terus-Menerus
Peningkatan terus-menerus dari kinerja organisasi secara keseluruhan harus
menjadi tujuan tetap dari organisasi. Peningkatan terus-menerus dilakukan.
2.1.7
Perubahan-perubahan pada ISO 9001:2008
Secaraumum,penekananversi2008adalahpadakepatuhannyaterhadap
undangan
perundang
yangberlaku,sepertijugapadapersyaratanpelanggandan
produkdalamrangka
kesesuaiannya
dengan
sistem
yang
lain,
seperti
environmentmanagementsystem(EMSISO14000)dan
ocupationalhealthandsafetymanagement (OHSAS 18000)
Berikutini
adalah
ringkasan
perubahan
perubahannya(Http://www.min-
consulting, 2012) :
a.
Klausul4.1:katamengidentifikasikan(identify)padabutir(a)
digantidenganmenetapkan
(determine).
Catatan
2
ditambahkan
guna
merefleksikan kenyataan bahwa prosesluar (outsourced) dapat dikaitkan jugake
pasal 7.4. Catatan 3 menguraikanjenis-jenis pengendalian yang
dapat
diterapkanpadaprosesluartersebut.
b. Klausul 4.2.1: Butir (e) mengenai rekaman (records) dihilangkan dan
digabungkanke butir (c). Tambahan pada catatan 1 mengklarifikasikanbahwa
satu dokumentunggaldapatberisilebih dari satu prosedur terdokumentasi
yangdipersyaratkan atau sebaliknya,satu prosedur terdokumentasi yang
dipersyaratkandapatdapat didokumentasikan lebih dari satu dokumen.
13
c.Klausul 4.2.3: Klarifikasi pada butir (f) bahwa dokumen eksternal ditetapkan
oleh perusahaan terkait dengan keperluan perencanaan dan pelaksanaan SMM.
d.Klausul4.2.4:Redaksionaldibuatlebihringkas,namunpersyaratan
tetap,tidakberubah.
e. Klausul 5.5.2: Klarifikasi bahwa wakil manajemen diambildari anggota
manajemen perusahaan.
f. Klausul6.2.1:Penekanan
pada
kalimat,“… yang mempengaruhimutuproduk
…”menjadi,“…yangmempengaruhikesesuaianterhadappersyaratanproduk…”.
g. Klausul 6.2.2:
Penekanan
pada
butir
(b)
bahwapelatihan
adalahdalamrangkapeningkatankompetensipersonil.Penekananpadabutir
bahwa
ketimbangvaluasikeefektifan
(c)
pelatihan,perusahaan
hendaknyamemastikankompetensiyangdiperlukanterpenuhi.
h. Klausul 6.3: Penambahan sistem informasi pada butir (c).
i. Klausul6.4:Catatanditambahkangunamenjelaskanistilah lingkungankerja.
2.1.8
Langkah-Langkah Dalam Menerapkan ISO 9001:2008
Langkah-langkah yang diperlukan dalam menerapkan ISO 9001:2008 (Gaspersz,
2001):
1. Tahap Persiapan
Tahap persiapan ini meliputi persiapan pembentukan tim pengembangan mutu
dan pelatihan dasar untuk memahami sistem manajemen mutu sesuai standar.
2. TahapPengembangan
Tahap pengembangan ini melibatkan aktivitas industi atau perusahaan,
meninjau semua dokumentasi yang ada dan mengembangkan sistem mutu
dalam organisasi. Pelatihan yang lebih detil lagi mungkin diperlukan untuk
pelatihan karyawan dalam kunci-kunci pengembangan mutu. Jika industi atau
14
perusahaan berskala cukup besar, bisa dipertimbangkan untuk menggunakan
konsultan eksternal untuk membantu mempersiapkan sistem manajemen mutu.
3. Tahap Implementasi
Sistem manajemen mutu yang telah dikembangkan perlu diimplementasikan
dalam proyek yang sebenarnya untuk selanjutnya dikaji dalam tahap
berikutnya.
4. Tahap Audit
Audit sistem manajemen mutu dilaksanakan setelah implementasi berjalan
untuk jangka waktu yang telah ditentukan. Tujuan dari audit sistem
manajemen mutu adalah untuk memastikan apakah semua operasional dalam
organisasi sudah berjalan sesuai dengan prosedur.
5. Tahap Sertifikasi
Tahap ini meliputi sertifikasi oleh Badan Sertifikasi yang terakreditasi.Setelah
melalui tahap ini, industi atau perusahaan resmi sebagai pemegang sertifikat
ISO.
2.2
Kinerja Kerja
2.2.1
Pengertian kinerja
Secara sederhana disebutkan bahwa istilah kinerja berasal dari kata Job
perfomance atau actual perfomance (prestasi kerja atau prestasi sesungguhnya
yang dicapai oleh seseorang), sedangkan yang dimaksud dengan kinerja adalah
hasil kerja secara kualitas dan kuantitas yang dicapai oleh seorang pegawai dalam
melaksanakan tugasnya sesuai dengan tanggungjawab yang diberikan kepadanya.
Sedangkan menurut Rao (1992) Mengemukakan bahwa yang dimaksud “kinerja
adalah hasil sebuah mekanisme untuk memastikan bahwa orang-orang pada tiap
tingkatan mengerjakan tugas-tugas menurut cara yang diinginkan oleh atasannya”.
15
Dalam melaksanakan sebuah pekerjaan, seorang pegawai akan berusaha untuk
melaksanakan pekerjaanya tersebut dengan sungguh-sungguh agar dapat
memberikan
hasil
yang baik
sesuai
dengan
kemampuan,
pengalaman,
kesungguhan, serta waktu pengerjaan tugas yang dibebankan kepadanya. Hal
tersebut sejalan dengan pernyataan Malayu (2001) yang menyatakan bahwa
“kinerja merupakan suatu hasil kerja yang dicapai oleh seseorang dalam
melaksanakan tugas-tugas yang dibebankan kepadanya yang disandarkan atas
kecakapan, pengalaman, kesungguhan serta waktu”.
Selanjutnya Lester (1994) menjelaskan bahwa “kinerja pegawai adalah hasil yang
dicapai oleh seseorang dalam melakukan tugasnya dan perannya dalam
organisasi” Berdasarkan beberapa pendapat ahli mengenai pengertian kinerja
pegawai, maka dapat disimpulkan bahwa kinerja pegawai adalah hasil kerja yang
dicapai karyawan dalam melakukan tugas maupun peranannya dalam suatu
organisasi.
Dari pendapat di atas, hendaknya para pegawai dapat memiliki sikap yang positif
dan juga memiliki semangat yang besar dalam melakukan pekerjaan yang
dibebankan kepadanya. Sedangkan menurut pendapat Tiffin dan Cormcick (1998)
menyebutkan bahwa kinerja dapat diukur dengan melihat faktor-faktor sebagai
berikut :
1. Hasil kerja, menunjukkan hasil kerja yang dicapai baik dari segi kualitas,
kuantitas, dan tingkat kemauan dalam melaksanakan tugas.
2. Kemandirian, menunjukkan hal-hal yang dapat diandalkan dari seorang
pegawai.
3. Tingkat penyesuaian, menunjukkan tingkat penyesuaian seseorang
terhadap organisasi.
Menurut Bernardin dan Russell (1993) mengemukakan bahwa terdapat enam
indikator kinerja yang dapat diukur antara lain sebagai berikut :
1. Kualitas kerja, yaitu tingkat yang dicapai dari proses atau hasil yang
diperoleh pada suatu kegiatan mendekati kesempurnaan, dalam bentuk
16
yang dapat menyesuaikan dengan suatu cara yang ideal dalam melakukan
kegiatan yang sesuai dengan tujuan.
2. Kuantitas kerja, yaitu jumlah yang dihasilkan atau ditunjukkan dalam
setiap ukurahn dengan jumlah dalam unit, jumlah putaran atau siklus
kegiatan yang lengkap.
3. Efisiensi kerja, yaitu pelaksanaan cara tertentu dengan mengurangi
tujuannya.
4. Efektifitas kerja, yaitu tingkat atau sejumlah penggunaan sumber daya
organisasi (seperti manusia, anggaran, teknologi, material) secara
maksimal untuk memperoleh keuntungan paling tinggi atau mengurangi
kerugian setiap unit atau hal-hal yang merugikan dalam penggunaan suatu
sumber daya.
5. Human relation, yaitu tingkat kenaikan kebutuhan pegawai mengenai
perasaan, harga diri, nama baik, dan kerjasama antar teman kerja dan
bawahan (hubungan, staf, konsultatif, koordinatif).
Sedangkan menurut Mangkunegara (2002) terdapat beberapa faktor kinerja
sebagai standar pemerkayaan prestasi kerja, yaitu :
1. Kualitas kerja yang meliputi ketepatan, ketelitian, keterampilan, serta
kebersihan.
2. Kuantitas kerja yang meliputi output rutin serta output non rutin (ekstra).
3. Keandalan atau dapat tidaknya diandalkan yakni dapat tidaknya mengikuti
intruksi, kemampuan inisiatif, kehati-hatian, serta kerajinan.
4. Sikap yang meliputi sikap perusahaan, pegawai lain, pekerjaan serta kerja
sama.
Berdasarkan pendapat di atas, pegawai akan mampu mencapai kinerja maksimal
jika ia memiliki motif berprestasi tinggi dan motif berprestasi yang harus dimiliki
pegawai harus ditumbuhkan dari dalam diri sendiri selain dari lingkungan kerja.
Hal tersebut disebabkan karena motif berprestasi yang ditumbuhkan dari dalam
17
diri sendiri akan membentuk suatu kekuatan diri dan jika situasi lingkungan kerja
turut menunjang maka pencapaian kinerja akan lebih mudah.
2.2.2
Faktor-Faktor Pengaruh Kinerja Kerja
R. Bittel dan John W. Newstrom (1996) mengemukakan bahwa faktor-faktor yang
mempengaruhi kinerja pegawai yaitu sebagai berikut :
1. Kualitas Pekerjaan
Mengevaluasi ketepatan, kelengkapan dan kerapihan pekerjaan yang
diselesaikan tanpa memperhatikan kuantitas.
2. Kuantitas pekerjaan
Mengevaluasi jumlah pekerjaan yang dilakukan danjumlah tugas yang
diselesaikan,
kunjungan
penjualkan
yang
dilakukan,
dll
tanpa
memeperhatikan mutu.
3. Keandalan
Mengevaluasi kemampuan memenuhi komitmen, batas waktu dan luasnya
penyeliaan yang diperlukan.
4. Sikap
Mengevaluasi sikap umum terhadap pekerjaan, teman kerja, penyelia dan
perusahaan.
5. Insisiatif
Mengevaluasi kemampuan mengenali masalah-masalah dan mengambil
tindakan korektif, memberikan saran-saran untuk meningkatkan, dan
menerima tanggung jawab untuk menyelesaikan tugas-tugas yang belum
diberikan.
6. Kerumahtanggaan
keberhasilan dan ketaatan tanpa kerja dan tempat penyimpanan serta
keadaan sesudah selesai kerja.
18
7. Kehadiran
Mengevaluasi kehadiran dan kemangkiran.
8. Potensi pertumbuhan dan kemajuan
Mengevaluasi potensi meningkatkan pengetahuan tentang pekerjaan dan
untuk meningkatkan pekerjaan lain dalam bagian atau dalam organisasi.
9. Disiplin
Sikap mental yang menyatu dalam kehidupan manusia yang mengandung
pemahaman terhadap norma, nilai, peraturan dalam melaksanakan hak dan
kewajiban. Kedisiplinan pegawai dapat dilihat dari penggunaan waktu
secara optimal dan pencapaian hasil kerja sesuai dengan yang diharapkan
organisasi.
2.3
Kepuasan Kerja Karyawan
Peningkatan sikap, perjuangan, pengabdian, disiplin kerja, dan kemampuan
profesional dapat dilakukan melalui serangkaian pembinaan dan tindakan nyata
agar upaya peningkatan prestasi kerja dan loyalitas karyawan dapat menjadi
kenyataan.Salah satu faktor yang mempengaruhi loyalitas karyawan adalah
kepuasan kerja karyawan.Kepuasan kerja (job satisfaction) adalah keadaan
emosional karyawan yang terjadi maupun tidak terjadi titik temu antara nilai balas
jasa kerja karyawan dan perusahaan atau organisasi dengan tingkat nilai balas jasa
yang memang diinginkan oleh karyawan yang bersangkutan (Martoyo, 2000).
Dalam hal kepuasan kerja, Gilmer (1966) menyebutkan faktor-faktor yang
mempengaruhi kepuasan kerja adalah kesempatan untuk maju, keamanan kerja,
gaji, perusahaan dan manajemen, faktor intrinsik dan pekerjaan, kondisi kerja,
aspek social dalam pekerjaan, komunikasi, dan fasilitas (As'ad,2003). Sementara
itu, menurut Heidjrachman dan Husnan mengemukakan beberapa faktor mengenai
kebutuhan dan keinginan pegawai, yakni: gaji yang baik, pekerjaan yang aman,
rekan sekerja yang kompak, penghargaan terhadap pekerjaan, pekerjaan yang
berarti, kesempatan untuk maju, pimpinan yang adil dan bijaksana, pengarahan
19
dan perintah yang wajar, dan organisasi atau tempat kerja yang dihargai oleh
masyarakat (Heidjrachman dan Husnan, 2002). Menurut Locke (dalam Sule,
2002), kepuasan atau ketidakpuasan karyawan tergantung pada perbedaan antara
apa yang diharapkan. Sebaliknya, apabila yang didapat karyawan lebih rendah
daripada yang diharapkan akan menyebabkan karyawan tidak puas. Faktor-faktor
yang mempengaruhi kepuasan atau ketidakpuasan kinerja kerja yaitu: jenis
pekerjaan, rekan kerja, tunjangan, perlakuan yang adil, keamanan kerja, peluang
menyumbang gagasan, gaji/upah, pengakuan kinerja, dan kesempatan bertumbuh.
Merujuk pada berbagai pendapat tersebut dapat disimpulkan mengenai faktorfaktor yang mempengaruhi kepuasan kerja karyawan dalam rangka peningkatan
kinerjanya adalah:
1. Faktor psikologi, merupakan faktor yang berhubungan dengan kejiwaan
karyawan yang meliputi minat, ketenteraman dalam kerja, sikap terhadap
kerja, bakat, dan keterampilan.
2. Faktor sosial, merupakan faktor yang berhubungan dengan interaksi sosial
baik sesama karyawan, dengan atasannya, maupun karyawan yang berbeda
jenis pekerjaannya.
3. Faktor fisik, merupakan faktor yang berhubungan dengan kondisi fisik
lingkungan kerja dan kondisi fisik karyawan, meliputi. Jenis pekerjaan,
pengaturan waktu kerja dan waktu istirahat, perlengkapan kerja, keadaan
ruangan, suhu penerangan, pertukaran udara, kondisi kesehatan karyawan,
umur, dan sebagainya.
4. Faktor finansial, merupakan faktor yang berhubungan dengan jaminan
serta kesejahteraan karyawan yang meliputi sistem dan besarnya gaji,
jaminan sosial, macam-macam tunjangan, fasilitas yang diberikan,
promosi, dan sebagainya.
20
Menurut Wexley dan Yukl, 1977 (dalam As’ad, 1991) teori tentang kepuasan
kerja dapat dikelompokkan menjadi 3 macam teori, yaitu :
1. Disprepancy Theory (Teori Perbedaan)
Teori ini pertama kali dipelopori oleh Porter. Porter mengukur kepuasan
kerja seseorang dengan menghitung selisih antara apa yang seharusnya
dengan kenyataan yang dirasakan Locke, (1996) juga menerangkan
bahwa kepuasan kerja seseorang bergantung pada Disprepancy antara
should be expectation, need or values dengan apa yang menurut
perasaannya atau persepsinya telah dicapai atau diperoleh melalui
pekerjaannya. Dengan demikian orang akan merasa puas jika tidak ada
perbedaan antara yang diinginkan dengan persepsinya atas kenyataan,
karena batas minimum yang diinginkan telah tercapai.
2. Equity Theory (Teori Keseimbangan)
Teori ini pertama kali dikembangkan oleh Adam (1963), pendahulu teori
ini adalah Zeleznik (1958) dikutip Locke (1969) dalam As’ad (1991).
Prinsip teori ini adalah bahwa orang akan merasa puas atau tidak puas
tergantung apakah ia akan merasakan adanya ketidakadilan (equity) atau
tidak atas suatu situasi, diperoleh orang dengan cara membandingkan
dirinya dengan orang lain yang sekelas, sekantor ataupun di tempat lain.
Adapun elemen-elemen dari teori ini dapat dikelompokkan menjadi tiga,
yaitu elemen input, outcome, comparison dan equity-in-equity. Input
adalah semua nilai yang diterima pegawai yang dapat menunjang
pelaksanaan kerja, contohnya : pendidikan, pengalaman, keahlian, usaha,
dan lainlain. Outcome adalah semua nilai yang diperoleh dan dirasakan
pegawai sebagai hasil dari pekerjaannya, misalnya upah, keuntungan
tambahan status simbol, pengenalan kembali (recondition), kesempatan
untuk berprestasi atau ekspresi diri.
Comparison person dapat diartikan sebagai perasaan seseorang di
perusahaan yang sama, atau di tempat lain, atau bisa juga dengan dirinya
21
sendiri di waktu lampau. Equity-in-equity diartikan bahwa setiap
karyawan akan membandingkan rasio inputoutcomes dirinya sendiri
dengan rasio input-outcomes orang lain (comparison person),bila
perbandingannya cukup adil (equity) makadan karyawan akan merasa
puas. Bila perbandingan tersebut tidak seimbang tapi menguntungkan
maka bisa menimbulkan kepuasan. Tetapi jika perbandingan itu tidak
seimbang dan merugikan maka akan timbul ketidakpuasan (Wexley dan
Yulk, 1977 dalam As’ad, 1991).
3. Two Factor Theory ( Teori Dua Faktor )
Teori motivasi dua faktor yang dikemukakan oleh Herzberg adalah faktor
yang membuat orang merasa puas dan tidak puas. Dalam pandangan yang
lain, dua faktor yang dimaksudkan dalam teori motivasi Herzberg adalah
dua rangkaian kondisi. Menurut Herzberg ada serangkaian kondisi yang
menyebabkan orang merasa tidak puas. Jika kondisi itu ada dan tidak
diperhatikan maka orang itu tidak akan termotivasi, faktor itu meliputi
kondisi kerja, status, keamanan kerja, mutu dari penyelia, upah, prosedur
perusahaan dan hubungan antar personal (Sri Budi Cantika, 2005 )
Kondisi kedua yang digambarkan oleh Herzberg adalah serangkaian
kondisi intrinsik, kepuasan kerja yang apabila terdapat dalam pekerjaan
akan menggerakkan tingkat motivasi kerja yang kuat, sehingga dapat
menghasilkan prestasi kerja yang baik. Apabila kondisi itu tidak ada,
maka kondisi tersebut ternyata tidak menimbulkan rasa ketidakpuasan
yang berlebihan.Serangkaian kondisi ini biasa disebut sebagai satisfier
atau motivator.
Agar terdapat sifat kerja yang positif pada para bawahan , maka menurut
Herzberg para manajer harus memberi perhatian sungguh-sungguh
terhadap faktor-faktor motivator kepada para bawahan. Faktor tersebut
adalah sebagai berikut :
a. Keberhasilan pelaksanaan / achievement.
b. Tanggung jawab / responsibilities.
22
c. Pengakuan / recognition.
d. Pengembangan /advancement .
e. Pekerjaan itu sendiri/ the work itself.
Smith (dalam Robbin, 2001) menyatakan terdapat 5 dimensi yang mempengaruhi
respon efektif seseorang terhadap pekerjaannya, yaitu :
1. Pekerjaan itu sendiri, yaitu sejauh mana pekerjaan menyediakan
kesempatan seseorang untuk belajar memperoleh tanggung jawab dalam
suatu tugas tertentu dan tantangan untuk pekerjaan yang menarik.
2. Bayaran, yaitu upah yang diperoleh seseorang sebanding dengan usaha
yang dilakukan dan sama dengan upah yang diterima oleh orang lain dalam
posisi kerja yang sama.
3. Kesempatan untuk promosi, yaitu kesempatan seseorang untuk meraih atau
dipromosikan ke jenjang yang lebih tinggi dalam organisasi.
4. Atasan, yaitu kemampuan atasan untuk memberikan bantuan tehnis dan
dukungan terhadap pekerjaan yang menjadi tanggung jawab para bawahan.
5. Rekan kerja, yaitu sejauh mana rekan kerja secara teknis cakap dan secara
sosial mendukung tugas rekan kerja lainnya.
2.4
Skala Pengukuran
Ada beberapa teknik statistik yang dapat digunakan untuk menganalisis
data.Tujuan dari analisis data adalah mendapatkan informasi relevan yang
terkandung di dalam data tersebut dan menggunakan hasilnya untuk memecahkan
suatu masalah.
Pengukuran merupakan suatu proses hal mana suatu angka atau simbol diletakan
pada karakteristik atau property suatu stimulasi sesuai dengan aturan atau
prosedur yang telah ditetapkan. Menurut Steven (1946) skala pengukuran dapat
dikelompokkan menjadi empat jenis yaitu skala nominal, ordinal, interval dan
rasio.Berikut ini menjelaskan ke-empat jenis skala pengukuran tersebut.
23
2.4.1
Skala Nominal
Skala nominal merupakan skala pengukuran yang menyatakan kategori, atau
kelompok dari suatu subyek.Misalnya variabel jenis kelamin, responden
dapatdikelompokkan kedalam dua kategori laki-laki dan wanita.Kedua kelompok
ini dapat diberi kode 1 dan 2. Angka ini hanya berfungsi sebagai label kategori
semata tanpa nilai instrinsik dan tidak memiliki arti apa-apa. Oleh sebab itu
tidaklah tepat menghitung nilai rata-rata dan standar deviasi dari variabel jenis
kelamin. Angka 1 dan 2 hanya sebagai cara untuk mengelompokkan subyek ke
dalam kelompok yang berbeda atau hanya untuk menghitung beberapa banyak
jumlah disetiap kategori. Jadi uji statistik yang sesuai dengan skala nominal
adalah uji statistik yang didasarkan pada counting seperti modus dan distribusi
frekuensi.
Berikut ini adalah contoh instrumen penelitian yang menanyakan identitas
responden dengan skala nominal :
1. Jenis Kelamin :
Pria
Wanita
2. Status Perkawinan :
Menikah
Tidak menikah
3. Agama :
2.4.2
Islam
Katolik
Budha
Hindu
Kristen
Skala Ordinal
Jika jumlah yang ditentukan untuk pengukuran memperlihatkan suatu ranking
alami, maka variabel tersebut diukur dengan skala ordinal.Pada skala ordinal,
jarak antara nilai-nilai yang berbeda tidak dapat ditafsirkan -sebuah variabel yang
diukur pada skala ordinal bagaimanapun bukan kuantitatif.Sebagai contoh, nilai
sekolah merefleksikan tingkatan prestasi yang berbeda-beda.
24
Walaupun demikian tidak ada alasan untuk menyatakan bahwa pekerjaan yang
memperoleh nilai "4" dua kali lebih baik dari pekerjaan yang beroleh nilai
"2".Karena jumlah yang ditentukan pada pengukuran tersebut merefleksikan
ranking secara relatif antara satu dengan lainnya, maka nilai tersebut dinamakan
nilai rank.Terdapat banyak contoh variabel yang terskala ordinal dalam bidang
psikologi, sosiologi, studi bisnis dan lain sebagainya.Skala dapat ditentukan
dengan mengusahakan mengukur semacam konsep seperti status sosial,
inteligensia, tingkatan agresi atau tingkat kepuasan.
2.4.3
Skala Interval
Jika jarak antara pengukuran ditafsirkan lebih mendalam, maka variabel tersebut
diukur pada skala interval. Berlawanan dengan skala rasio, rasio pengukuran tidak
mempunyai pengertian yang mendasar, dan untuk skala ordinal tidak memiliki
nilai nol. Sebagai contoh, suhu yang diukur dalam derajat celsius bias ditafsirkan
dalam urutan kelas-kelas yang lebih tinggi atau lebih rendah. Namun demikian,
tinggi suhu bertemperatur 20 derajat celsius tidak bisa dikatakan dua kali tinggi
suhu bertemperatur 10 derajat. Ingat kembali temperatur ekuivalensi dalam
fahrenheit. Dengan mengkonversikan temperatur dari celsius ke fahrenheit atau
sebaliknya akan mengikutsertakan pertukaran titik nol.
2.4.4
Skala Rasio
Skala rasio merupakan skala pengukuran yang menunjukkan kategori, peringkat
jarak dan perbandingan construct yang diukur.Skala rasio menggunakan nilai
absolut, sehingga memperbaiki kelemahan skala interval yang menggunakan nilai
relatif.
2.5
Populasi dan Sempel
2.5.1
Pengertian Populasi
Sugiyono (2011) menyatakan populasi adalah wilayah generalisasi yang terdiri
atas objek/subjek yang mempunyai kuantitas dan karakteristik tertentu yang
25
ditetapkan oleh peneliti untuk dipelajari dan kemudian ditarik kesimpulannya.
Jadi populasi bukan hanya orang, tetapi juga benda-benda alam yang lain.
populasi juga bukan sekedar jumlah yang ada pada objek/subjek yang dipelajari,
tetapi meliputi seluruh karakteristik/sifat yang dimiliki oleh objek atau subjek itu.
2.5.2
Pengertian Sempel
Pendapat Sugiyono (2011) menyatakan sampel adalah sebagian dari jumlah dan
karakteristik yang dimiliki oleh populasi. Bila populasi besar, dan peneliti tidak
mungkin mempelajari semua yang ada pada populasi, misalnya karena
keterbatasan dana, tenaga dan waktu, maka peneliti dapat menggunakan sampel
yang diambil dari populasi itu. Apa yang dipelajari dari sampel itu,
kesimpulannya akan diberlakukan untuk populasi. Untuk itu sampel yang diambil
dari populasi harus betul-betul representative (mewakili).
λ2 .N.P.Q
S=
D 2 (N-1) + λ2 P Q
Dimana:
S = Jumlah sample
N = Jumlah populasi
λ2 = Chi Kuadrat, dengan dk : 1, taraf kesalahan 1%, 5% dan 10%
d = 0,05
P = Q = 0,5
1. Teknik Sampling
Teknik
sampling
merupakan
teknik
pengambilan
sampel.
Untuk
menentukan sampel yang akan digunakan dalam penelitian, terdapat
berbagai teknik sampling yang digunakan. Secara skematis, menurut
Sugiyono (2011) teknik sampling ditunjukkan pada gambar di bawah ini.
26
Gambar 2.2 Macam-macam Teknik Sampling
Dari gambar di atas terlihat bahwa teknik sampling pada dasarnya dapat
dikelompokkan
menjadi
dua
yaitu
Probability
Samplingdan
Nonprobability Sampling.Probability samplingmeliputi: simple random
sampling, proportionate stratified random sampling, disproportionate
stratified random sampling, dan area (cluster) sampling (sampling
menurut daerah). Nonprobabilitysampling meliputi: sampling sistematis,
sampling kuota, sampling aksidental, purposive sampling, sampling jenuh,
dan snowball sampling.
2. Probability Sampling
Sugiyono (2011) menyatakan bahwa probability sampling adalah teknik
sampling yang memberikan peluang yang sama bagi setiap unsur (anggota)
populasi untuk dipilih menjadi anggota sampel. Teknik sampel ini meliputi:
a. Simple Random Sampling
Menurut Sugiyono (2011) dinyatakan simple (sederhana) karena
pengambilan sampel anggota populasi dilakukan secara acak tanpa
memperhatikan strata yang ada dalam populasi itu, dengan demikian setiap
unit sampling sebagai unsur populasi yang terpencil memperoleh peluang
27
yang sama untuk menjadi sampel atau untuk mewakili populasi. Cara
demikian dilakukan bila anggota populasi dianggap homogen.Teknik ini
dapat dipergunakan bilamana jumlah unit sampling di dalam suatu
populasi tidak terlalu besar. Misal, populasi terdiri dari 500 orang
mahasiswa program S1 (unit sampling). Untuk memperoleh sampel
sebanyak 150 orang dari populasi tersebut, digunakan teknik ini, baik
dengan cara undian, ordinal, maupun tabel bilangan random. Teknik ini
dapat digambarkan di bawah ini.
Gambar 2.3 Teknik Simpel Random Sampling
b. Proportionate Stratified Random Sampling
Menurut Sugiyono (2011) teknik ini digunakan bila populasi mempunyai
anggota/unsur yang tidak homogen dan berstrata secara proporsional.Suatu
organisasi yang mempunyai pegawai dari berbagai latar belakang
pendidikan, maka populasi pegawai itu berstrata. Misalnya jumlah
pegawai yang lulus S1 = 45, S2 = 30, STM = 800, ST = 900, SMEA =
400, SD = 300. Jumlah sampel yang harus diambil meliputi strata
pendidikan tersebut yang diambil secara proporsional jumlah sampel.
c. Disproportionate Stratified Random Sampling
Sugiyono (2011) menyatakan bahwa teknik ini digunakan untuk
menentukan jumlah sampel bila populasinya berstrata tetapi kurang
proporsional. Misalnya pegawai dari PT tertentu mempunyai mempunyai 3
orang lulusan S3, 4 orang lulusan S2, 90 orang lulusan S1, 800 orang
lulusan SMU, 700 orang lulusan SMP, maka 3 orang lulusan S3 dan empat
28
orang S2 itu diambil semuanya sebagai sampel. Karena dua kelompok itu
terlalu kecil bila dibandingkan dengan kelompok S1, SMU dan SMP.
d. ClusterSampling (Area Sampling)
Teknik sampling daerah digunakan untuk menentuakan sampel bila obyek
yang akan diteliti atau sumber data sangat luas, misal penduduk dari suatu
Negara, propinsi atau kabupaten. Untuk menentukan penduduk mana yang
akan dijadikan sumber data, maka pengambilan sampelnya berdasarkan
daerah populasi yang telah ditetapkan.
Misalkan di Indonesia terdapat 27 propinsi, dan sampelnya akan
menggunakan 10 propinsi, maka pengambilan 10 propinsi itu dilakukan
secara random. Tetapi perlu diingat, karena propinsi-propinsi di Indonesia
itu berstrata maka pengambilan sampelnya perlu menggunakan stratified
random sampling. Teknik sampling daerah ini sering digunakan melalui
dua tahap, yaitu tahap pertama menentukan sampel daerah, dan tahap
berikutnya menentukan orang-orang yang ada pada daerah itu secara
sampling juga.Teknik ini dapat digambarkan di bawah ini.
Gambar 2.4 Teknik Cluster Random Sampling
3. Nonprobability Sampling
Menurut Sugiyono (2011) nonprobability sampling adalah teknik yang
tidak memberi peluang/kesempatan yang sama bagi setiap unsur atau
29
anggota populasi untuk dipilih menjadi sampel. Teknik sampel ini
meliputi:
a. Sampling Sistematis
Sugiyono (2011) menyatakan bahwa sampling sistematis adalah teknik
penentuan sampel berdasarkan urutan dari anggota populasi yang telah
diberi nomor urut.Misalnya anggota populasi yang terdiri dari 100
orang.Dari semua anggota itu diberi nomor urut, yaitu nomor 1 sampai
dengan nomor 100. Pengambilan sampel dapat dilakukan dengan nomor
ganjil saja, genap saja, atau kelipatan dari bilangan tertentu, misalnya
kelipatan dari bilangan lima. Untuk itu maka yang diambil sebagai sampel
adalah 5, 10, 15, 20 dan seterusnya sampai 100.
b. Sampling Kuota
SamplingKuota adalah teknik untuk menentukan sampel dari populasi
yang mempunyai ciri-ciri tertentu sampai jumlah (kuota) yang diinginkan.
Sebagai contoh, akan melakukan penelitian terhadap pegawai golongan II,
dan penelitian dilakukan secara kelompok. Setelah jumlah sampel
ditentukan 100, dan jumlah anggota peneliti berjumlah 5 orang, maka
setiap anggota peneliti dapat memilih sampel secara bebas sesuai dengan
karakteristik yang ditentukan (golongan II) sebanyak 20 orang.
c. SamplingInsidental
Samplingaksidental
adalah
teknik
penentuan
sampel
berdasarkan
kebetulan, yaitu siapa saja yang secara kebetulan bertemu dengan peneliti
dapat digunakan sebagai sampel, bila dipandang orang yang kebetulan
ditemui itu cocok sebagai sumber data (Sugiyono, 2011).
30
d. SamplingPurposive
Teknik yang didasarkan atas ciri-ciri tertentu yang dipandang mempunyai
sangkut paut yang erat dengan ciri-ciri populasi yang sudah diketahui
sebelumnya, degan kata lain unit sampel yang dihubungi disesuaikan
dengan kriteria-kriteria tertentu yang diterapkan berdasarkan tujuan
penelitian. Misalnya akan melakukan penelitian tentang disiplin pegawai,
maka sampel yang dipilih adalah orang yang ahli dalam bidang
kepegawaian saja.
e. Sampling Jenuh
Menurut Sugiyono (2011) sampling jenuh adalah teknik penentuan sampel
bila semua anggota populasi digunakan sebagai sampel.Hal ini sering
dilakukan bila jumlah populasi relatif kecil, kurang dari 30 orang. Istilah
lain sampel jenuh adalah sensus, dimana semua anggota populasi dijadikan
sampel.
f. Snowball Sampling
Snowball sampling adalah teknik penentuan sampel yang mula-mula
jumlahnya kecil, kemudian sampel ini disuruh memilih teman-temannya
untuk dijadikan sampel (Sugiyono, 2011). Begitu seterusnya, sehingga
jumlah sampel semakin banyak.Ibarat bola salju yang menggelinding,
makin lama semakin besar.Pada penelitian kualitatif banyak menggunakan
sampel purposive dan snowball.Teknik sampel ditunjukkan pada gambar
di bawah ini.
31
Gambar 2.5Snowball Sampling
2.6
Skala Pengukuran
Menurut Sugiyono (2011), skala pengukuran merupakankesepakatan yang
digunakan sebagai acuan untuk menentukan panjangpendeknya interval yang ada
dalam alat ukur, sehingga alat ukurtersebut bila digunakan dalam pengukuranakan
menghasilkan datakuantitatif. Dengan skala pengukuran ini, maka nilai variabel
yang diukur dengan instrumen tertentu dapat dinyatakan dalam bentuk angka,
sehingga akan lebih akurat, efisien, dan komunikatif. Berbagai skala yang dapat
digunakan untuk penelitian adalah :
a. Skala Likert
Skala likert digunakan untuk mengukur sikap, pendapat, dan persepsi
seseorang atau kelompok orang tentang fenomena sosial. Dalam penelitian,
fenomena sosial ini telah ditetapkan secara spesifik, yang selanjutnya disebut
sebagai variabel peneltian. Dalam skala likert, variabel penelitian yang
akan
diukur
dijabarkan menjadi indikator variabel. Kemudian indikator
tersebut dijadikan sebagai titik tolak untuk mnyusun instrument yang dapat
berupa pertanyaan ataupun pernyataan.
32
Jawaban
setiap
item
instrument
yang
menggunakan
skala
likert
mempunyai gradasi dari sangat positif sampai sangat negatif, yang dapat
berupa kata-kata:
a. Sangat Setuju
a. Selalu
b. Setuju
b. Sering
c. Ragu-ragu
c. Kadang-kadang
d. Tidak setuju
d. Tidak pernah
e. Sangat tidak setuju
a. Sangat positif
a. Sangat baik
b. Positif
b. Baik
c. Negatif
c. Tidak baik
d. Sangat Negatif
d. Sangat tidak baik
Untuk keperluan analisis kuantitatif, maka jawaban itu dapat diberi skor,
misalnya:
1. Setuju/selalu/sangat positif
diberi skor 5
2. Setuju/sering/positif
diberi skor 4
3. Ragu-ragu/kadang-kadang/netral
diberi skor 3
4. Tidak setuju/hampir tidak pernah/negatif diberi skor 2
5. Sangat tidak setuju/tidak pernah
diberi skor 1
Skala likert dapat dibuat/disusun dalam bentuk chek-list dan pilihan
berganda. Untuk bentuk chek-list dapat dilihat pada tabel berikut ini:
Tabel 2.1 Chek-list
33
Untuk pilihan berganda adalah seperti berikut ini:
Berilah salah satu jawaban terhadap pertanyaan berikut:
Prosedur kerja yang baru akan segera diterapkan di lembaga anda
a. Sangat tidak setuju
b. Tidak setuju
c. Ragu-ragu
d. Setuju
e. Sangat setuju
b. Skala Guttman
Skala pengukuran dengan tipe ini, akan didapat jawaban yang tegas,
yaitu “ ya – tidak “, “benar – salah”, “pernah – tidak pernah”. Data
yang diperoleh dapat berupa data interval atau ratio dikhotomi (dua
alternative). Jika pada skala likert terdapat 3, 4, 5, 6, 7 interval dari kata
“sangat setuju” sampai “sangat tidak setuju”, maka dalam skala Guttman
hanya ada dua interval, “setuju” atau “tidak setuju”.
Penelitian
yang
menggunakan
skalaGuttman dilakukan apabila ingin
mendapatkan jawaban yang tegas terhadap suatu permasalahan yang
ditanyakan. Skala Guttman juga dapat berbentukpilihan ganda dan check-list.
Analisis dilakukan sama seperti skala likert. Contoh:
Bagaimana pendapat
anda, bila orang tersebut
menjabat
pimpinan
diperusahaan anda?
a. Setuju
b. Tidak setuju
c. Semantic Differensial
Skala pengukuran yang berbetuk semantic defferensial dikembangkanoleh
Osggod, digunakan juga untuk mengukur sikap, hanya bentuknya tidak pilihan
ganda maupun check-list, tetapi tersusun dalam satu garis kontinum yang
jawabannya sangat positifnya terletak dibagian kanan garis, dan jawaban
34
yang sangat negatif terletak dibagian kiri garis. Data yang diperoleh
adalah
data
interval,
dan
skala
ini
digunakan
untuk
mengukur
sikap/karakteristik tertentu yang dimiliki seseorang. Contoh:
Beri nilai gaya kepemimpinan manajer anda
Bersahabat
5
4
3
2
1
Tidak Bersahabat
Tepat Janji
5
4
3
2
1
Lupa Janji
Memberi Pujian
5
4
3
2
1
Mencela
Mempercayai
5
4
3
2
1
Mendominasi
d. Rating Scale
Dari
ketiga
merupakan
skala
data
pengukuran
kaulitatif
yang
yang
telah
kemudian
dikemukakan
semuanya
dikuantitatifkan.
Tetapi
denganrating scale data mentah yang diperoleh berupa angka kemudian
ditafsirkan dalam pengertian kualitatif.
Respoden menjawab salah satu jawaban kuantitatif yang telah disediakan.
Oleh karena itu rating scale lebih fleksibel, tidak terbatas untuk pengukuran
sikap saja tetpai dapat diguakan untuk mengukur persepsi responden
terhadap fenomena lainnya seperti status sosial ekonomi, kelembagaan,
pengetahuan, kemampuan, proses kegiatan, dan lain-lain.
Penyusunan rating scale yang terpenting adalah harus dapat mengartikan
setiap angka yang diberikan pada alternatif jawaban pada setiap item
instrument. Orang tertentu memilih jawaban angka 2, tetapi angka 2 untuk
orang tertentu belum tentu sama maknanya dengan orang lain yang memilih
jawaban angka 2. Contoh:
Seberapa baik data ruang kerja yang ada di perusaan A?
Berilah jawaban dengan angka:
4 bila tata ruang itu sangat baik
3 bila tata ruang itu cukup baik
35
2 bila tata ruang itu kurang baik
1 bila tata ruang itu sangat tidak baik.
Jawablah dengan melingkari nomor jawaban yang tersedia sesuai dengan
keadaan yang sebenarnya
Tabel 2.2Rating Scale
e. Skala Thrustone
Skala Thurstone merupakan skala sikap pertama yang dikembangkan
dalam pengukuran sikap. Skala ini mempunyai tiga teknik pengukuran sikap,
yaitu: 1) metode perbandingan pasangan, 2) metode interval pemunculan
sama, dan 3) metode interval berurutan. Ketiganya menggunakan jalur
dugaan yang menganggap kepositifan relati pernyataan sikap terhadap
suatu objek. Contoh:
Perintah: Lingkari angka yang menunjukkan tingkat kepositifan untuk
setiap pernyataan di bawah ini
36
Tabel 2.3Skala Thrustone
2.7
Jenis dan Metode Pengumpulan Data
Menurut Sugiyono (2008) macam–macam data penelitian ada dua, yaitu data
kualitatif dan kuantitatif.Data kualitatif adalah data yang dinyatakan dalam bentuk
kata, kalimat, dan gambar.Data kuantitatif adalah data yang berbentuk angka, atau
data kualitatif yang diangkakan.
Data kuantitatif dibagi menjadi dua yaitu data diskrit atau nominal dan data
kontinum.Data nominal adalah data yang hanya dapat digolong–golongkan secara
terpisah, secara diskrit atau kategori. Misalnya: dalam suatu kelas terdapat 50
mahasiswa, terdiri atas 30 pria dan 20 wanita. Data kontinum adalah data yang
bervariasi menurut tingkatan dan ini diperoleh dari hasil pengukuran.
Data kontinum dibagi menjadi tiga, yaitu data ordinal, data interval dan data
rasio.Data ordinal adalah data yang berbentuk rangking atau peringkat. Data
interval adalah data yang jaraknya sama tetapi tidak mempunyai nilai nol absolut
atau mutlak. Data rasio adalah data yang jaraknya sama, dan mempunyai nilai nol
mutlak.
Metode Pengumpulan Data yang digunakan penulis untuk memperoleh data serta
informasi yang diperlukan adalah sebagai berikut :
37
1. Data primer
Merupakan data yang diambil secara langsung, data ini diambil dari
kegiatan observasi yaitu pengamatan langsung di tempat usaha yang
menjadi objek penelitian dan mengadakan wawancara dengan pihak
manajemen perusahaan serta menyebar kuisoner. Adapun metode
pengumpulan data yang di gunakan penulis adalah pengumpulan data
seperti berikut:·
a. penelitian lapangan (field research)
Yaitu penelitian yang dilakukan dengan mengadakan peninjauan
langsung terhadap objek yang akan diteliti.
b. Observasi
Secara mudah observasi sering disebut juga metode pengamatan,
ringkasnya metode observasi adalah cara pengumpulan data
dengan cara melakukan pencatatan secara cermat dan sistematik
yaitu mengamati langsung kepada beberapa responden atau siswa
dari sekolah yang sedang diteliti dengan maksud mengumpulkan
data untuk diteliti. Ilmu pengetahuan mulai dengan observasi dan
selalu harus kembali kepada observasi untuk mengetahui
keberhasilan ilmu itu, observasi dilaksanakan untuk memperoleh
informasi tentang kelakuan manusia seperti terjadi dalam
masyarakat, dengan observasi kita dapat memperoleh gambaran
yang lebih luas tentang kehidupan social”.
c. Angket/ kuisoner
Kuisoner merupakan teknik pengumpulan data yang dilakukan
dengan cara memberi seperangkat pertanyaan atau pernyataan
tertulis kepada responden.
38
d. Wawancara
Wawancara yaitu pengumpulan data dilakukan melalui tatap muka
langsung maupaun melalui telepon atau suatu bentuk komunikasi
lisan untuk mendapatkan masukan.
2. Data Sekunder
Data sekunder merupakan data yang diambil secara tidak langsung yang
merupakan data yang telah diolah oleh perusahaan, yaitu berbagai
referensi buku, makalah, materi perkuliahan yang berkaitan dengan objek
data baik yang akan ditulis oleh penulis, untuk memeperoleh data
sekunder, penulis menggunakan teknik pengumpulan data yaitu studi
kepustakaan (library research) dengan cara mempelajari dan menelaah
berbgai bacaan literatur, mengutip berbagai pengertian teori-teori yang
berkaitan dengan makalah yang sedang diteliti, jurnal dan penelitian yang
terdahulu.
2.8
Uji Statistika
2.8.1
Uji Validitas
Menurut Sugiyono (2011) validitas adalah :
“Valid berarti instrument tersebut dapat digunakan untuk mengukur apa yang
seharusnya diukur”.
Jadi suatu penelitian dikatakan valid apabila terdapat kesamaan antara data yang
terkumpul
dengan
data
yang
sesungguhnya
terjadi
pada
objek
yang
diteliti.Sedangkan uji validitas adalah test/pengujian yang dilakukan oleh peneliti
terhadap data yang diperoleh untuk mendapatkan hasil data yang valid. Maka
validitas dapat diartikan sebagai suatu karakteristik dari ukuran terkait dengan
tingkat pengukuran sebuah alat test (kuesioner) dalam mengukur secara benar apa
yang diinginkan peneliti untuk diukur.
Adapun rumus yang digunakan peneliti untuk uji validitas adalah menggunakan
teknik analisis Korelasi Pearson dengan rumus sebagai berikut:
39
r=
∑
∑
∑
∑
∑
∑
∑
Dimana
r = Kolerasi
X = Skor item dalam variabel
Y = Skor total item dalam variabel
N = jumlah responden
Dengan mengacu pada kriteria sebagai berikut:
•
Jika r positif, serta r ≥0, 30 maka item pertanyaan tersebut valid.
•
Jika r negatif atau < 0, 30 maka item pertanyaan tersebut tidak valid.
Untuk menguji signifikasi hubungan, maka peru diuji signifikasinya. Rumus uji
signifikasi kolerasi product moment di tunjukkan pada rumus
Dimana
√
1
2
r = Koefisien korelasi
xi = Jumlah variabel X
yi = Jumlah variabel Y
n = Jumlah Sampel
2.8.2
Uji Reliabilitas
Reliabilitas adalah indeks yang menunjukkan sejauh mana suatu alat pengukur
dapat dipercaya atau diandalkan. Bila suatu alat pengukur dipakai dua kali untuk
mengukur gejala yang sama dan hasil pengukuran diperoleh relatif konsisten,
maka alat pengukur tersebut reliabel. Adapun teknik perhitungan reliabel ada
beberapa cara, yaitu sebagai berikut :
40
1. Teknik Pengukuran Ulang (Test-retest)
Teknik ini meminta kepada responden yang sama untuk menjawab
pertanyaan dalam alat pengukuran sebanyak dua kali. Caranya
perhitungannya adalah dengan mengkorelasikan jawaban pada wawancara
pertama dengan jawaban pada wawancara kedua.
2. Teknik Belah Dua
Untuk menggunakan teknik belah dua sebagai cara menghitung reliabilitas
alat pengukur, maka alat pengukur yang disususn harus memiliki cukup
banyak item pertanyaan yang mengukur aspek yang sama.
3. Teknik Bentuk Paralel.
Perhitungan reliabilitas dilakukan dengan membuat dua jenis alatpengukur
yang mengukur aspek yang sama. Kedua alat ukurtersebut diberikan pada
responden yang sama, kemudian dicarivaliditasnya untuk masing-masing
jenis.
4. Internal Consistency Reliability
Internal consistency reliability berisi tentang sejauh mana itemiteminstrumen bersifat homogen dan mencerminkan konstruk yangsama
sesuai dengan yang melandasinya. Untuk mengukur reliabilitas instrumen
dapat dilakukan dengan 3 metoda yaitu (Sugiyono, 2006 dan Husaini,
2003) :
a. Menggunakan Rumus Kuder-Richardson (KR 20)
1
Dimana:
∑
k =
Jumlah item dalam instrument
pi =
proporsi banyaknya subjek yang menjawab pada item 1
qi =
1 - pi
41
st 2 =
varians total
b. Menggunakan Rumus KR 21
1
Dimana:
1
!
!
k =
Jumlah item dalam instrument
M=
Mean skor total
st 2 =
varians total
c. Analisis varian Hoyt (Anova Hoyt)
1
!"#
!"$
Dimana:
MKe
=
Mean kuadrat antara subjek
MKe
=
Mean kuadrat antara subjek
ri
=
Realibilitas instrument
d. Cronbach Alpha (α)
1
1
∑
ri
=
Realibilitas instrumen
k
=
Jumlah item dalam instrument
∑st2
=
Jumlah varians total
2
=
varians total
st
Sekumpulan pertanyaan untuk mengukur suatu variabel dikatakan reliable dan
berhasil mengukur variabel-variabel yang kita ukur jika koefisien reliabilitasnya
lebih dari sama dengan 0,70. Dasar pengambilan keputusan:
a. Jika ri positif, serta r ≥0, 70 maka varabel tersebut reliabel.
42
b. Jika ri negatif, serta r < 0, 70 maka varabel tersebut tidak reliabel.
2.9
Analisis Jalur
2.9.1
Pengertian Analisis Jalur
Robert D. Retherford, (1993) dalam uraiannya yang dikutip oleh Sarwono
(2007)
menyatakan
bahwa
analisis
jalur
ialah
suatu
teknik
untuk
menganalisis hubungan sebab akibat yang tejadi pada regresi berganda jika
peubah bebasnya mempengaruhi
peubah
terikatnya
tidak
hanya
secara
langsung tetapi juga secara tidak langsung. Sedangkan Paul Webley, (1997)
dalam uraiannya yang dikutip oleh Sarwono (2007) menyatakan bahwa
analisis jalur merupakan pengembangan langsung bentuk regresi berganda
dengan tujuan untuk memberikan estimasi tingkat kepentingan (magnitude )
dan signifikansi (significance)
hubungan
sebab akibat hipotetikal dalam
seperangkat peubah.
Sementara David Garson, (2003) dari North Carolina State University
mendefinisikan
analisis
jalur
sebagai
model
perluasan
regresi
yang
digunakan untuk menguji keselarasan matriks korelasi dengan dua atau lebih
model hubungan sebab akibat yang dibandingkan oleh peneliti.
Modelnya
digambarkan dalam bentuk gambar lingkaran dan panah dimana anak panah
tunggal menunjukkan sebagai penyebab. Regresi dikenakan pada masingmasing
peubah dalam suatu model
sebagai peubah
tergantung
(pemberi
respon) sedang yang lain sebagai penyebab. Pembobotan regresi diprediksikan
dalam
suatu
diobservasi
model
untuk
yang dibandingkan
semua
peubah
dengan
matriks
korelasi
yang
dan dilakukan juga penghitungan uji
keselarasan statistik (David Garson, 2003) dalam(Jonathan Sarwono, 2007).
43
2.9.2
Prinsip-prinsip Dasar Analisis Jalur
Prinsip-prinsip dasar yang sebaiknya dipenuhi dalam analisis jalur diantaranya
ialah:
1. Hubungan antar peubah bersifat linear dapat diketahui melalui
penggunaan uji hipotesis kelayakan model dengan menggunakan angka sig
atau F untuk pengaruh gabungan dan uji t untuk pengaruh parsial.
2. Adanya aditivitas (Additivity). Tidak ada efek-efek interaksi.
3. Data berskala interval. Semua peubah yang diobservasi mempunyai data
berskala interval (scaled values). Jika data belum dalam bentuk skala
interval, sebaiknya data diubah dengan menggunakan MethodSuksesive
Interval (MSI) terlebih dahulu. Metode suksesive adalah metode yang
digunakan untuk mentransformasi data.
4. Semua peubah residual (yang tidak diukur) tidak berkorelasi dengan salah
satu peubah-peubah dalam model.
5. Istilah gangguan (disturbance terms) atau peubah residual tidak boleh
berkorelasi dengan semua peubahendogenous dalam model. Jika
dilanggar, maka akan berakibat hasil regresi menjadi tidak tepat untuk
mengestimasikan parameter-parameter jalur.
6. Sebaiknya hanya terdapat multikolinearitas yang rendah. Multikolinearitas
maksudnya dua atau lebih peubah bebas (penyebab) mempunyai hubungan
yang sangat tinggi. Jika terjadi hubungan yang tinggi maka kita akan
mendapatkan standar error yang besar dari koefisien beta (β) yang
digunakan untuk menghilangkan varians biasa dalam melakukan analisis
korelasi secara parsial.
7. Adanya recursivitas, yaitu hanya sistem aliran kausal ke satu arah. Semua
anak panah mempunyai satu arah, tidak boleh terjadi pemutaran kembali
(looping).
8. Spesifikasi model diperlukan untuk menginterpretasi koefisien-koefisien
jalur.Kesalahan spesifikasi terjadi ketika peubah penyebab yang signifikan
dikeluarkan dari model.
44
9. Terdapat masukan korelasi yang sesuai. Artinya jika kita menggunakan
matriks korelasi sebagai masukan maka korelasi pearson digunakan untuk
dua peubah berskala interval,korelasi
polyhoric
untuk dua peubah
berskala ordinal, tetrahoric untuk dua peubah dikotomi (berskala
nominal), polyserial untuk satu peubah berskala interval dan lainnya
nominal.
10. Terdapat ukuran sampel yang memadai. Untuk memperoleh hasil yang
maksimal, sebaiknya gunakan sampel di atas 100.
11. Sampel sama dibutuhkan untuk pengitungan regresi dalam model jalur.
2.9.3
Asumsi-asumsi dalam Analisis Jalur
Asumsi-asumsi analisis jalur men gikuti asumsi umum regresi linear, yaitu:
1.
Model regresi harus layak. Kelayakan ini diketahui jika angka signifikansi
pada ANOVA sebesar kurang dari 0,05.
2.
Prediktor yang digunakan sebagai peubah bebas harus layak. Kelayakan
ini diketahui jika angka Standard Error of Estimate<Standard Deviation.
3.
Koefisien regresi harus signifikan. Pengujian dilakukan dengan Ujit.
4.
Koefisien regresi signifikan jika t hitung > t tabel (nilai kritis).
5.
Tidak boleh terjadi multikolinearitas, artinya tidak boleh terjadi korelasi
yang sangat tinggi atau sangat rendah antar peubah bebas.
6.
Tidak terjadi autokorelasi. Terjadi autokorelasi jika angka Durbin dan
Watson sebesar < 1 dan > 3.
2.9.4
Konsep dan Istilah dalam Analisis Jalur
Analisis jalur dikenal beberapa konsep dan istilah dasar.Gambar
bawah ini akan diterangkan konsep-konsep dan istilah dasar tersebut:
model
di
45
Gambar 2.6 Diagram jalur peubah bebas, perantara dan tergantung
1. Model Jalur
Model jalur ialah suatu diagram yang menghubungkan antara peubah
bebas, perantara dan tergantung. Pola hubungan ditunjukkan dengan
menggunakan anak panah.Anak panah-anak panahtunggal menunjukkan
hubungan sebab akibat antara peubah-peubah exogenous atau perantara
dengan satu peubah tergantung atau lebih. Anak panah juga menghu
bungkan kesalahan(peubah residue) dengan semua peubah endogenous
masing-masing.Anak panah ganda menunjukkan korelasi antara pasangan
peubah-peubah exogenous.
2. Jalur penyebab untuk suatu peubah yang diberikan
Jalur penyebab untuk suatu peubah yang diberikan meliputi pertama jalurjalur arah dari anak-anak panah menuju ke peubah tersebut dan kedua
jalur-jalur korelasi dari semua peubahendogenous yang dikorelasikan
dengan peubah-peubah yang lain yang mempunyai anak panah-anak panah
menuju ke peubah yang sudah ada tersebut.
3. Peubah exogenous
Peubah-peubah exogenous dalam suatu model
peubahyang tidak
ada penyebab-penyebab
jalur
ialah
semua
eskplisitnya atau dalam
diagram tidak ada anak-anak panah yang menuju kearahnya, selain pada
bagian kesalahan pengukuran. Jika antara peubah exogenousdikorelasikan
46
makakorelasi tersebut ditunjukkan dengan anak panah dengan kepala dua
yang menghubungkan peubah-peubah tersebut.
4. Peubah endogenous
Peubah endogenous ialah peubah yang mempunyai anak-anak panah
menuju kearah peubah tersebut. Peubah yang termasuk didalamnya ialah
mencakup
semua
peubah
perantara
dan
tergantung.
Peubah
perantaraendogenous mempunyai anak panah yang menuju kearahnya dan
dari arah
peubah tersebut dalam sutau model diagram jalur. Sedang
peubah tergantung
hanya mempunyai anak panah yang menuju
kearahnya.
5. Koefisien jalur / pembobotan jalur
Koefisien jalur adalah koefisien regresi standar atau disebut ‘beta’ yang
menunjukkan pengaruh langsung dari suatu peubah bebas terhadap
peubah tergantung dalam suatu model jalur tertentu. Oleh karena itu, jika
suatu model mempunyai dua atau lebih peubah-peubah penyebab maka
koefisien-koefisien jalurnya merupakan koefisien-koefisien regresi parsial
yang mengukur besarnya pengaruh satu peubah terhadap peubah lain
dalam suatu model jalur tertentu yang mengontrol dua peubahlain
sebelumnya dengan menggunakan data yang sudah distandarkan atau
matriks korelasi sebagai masukan.
6. Peubah - peubah exogenous yang dikorelasikan
Jika semua
peubahexogenous dikorelasikan, maka sebagai penanda
hubungannya ialah anak panah dengan dua kepala yang dihubungkan
diantara peubah peubah dengan koefisien korelasinya.
7. Istilah gangguan
Istilah kesalahan residual yang secara teknis disebut sebagai ‘gangguan’
atau“residue”mencerminkan adanyavarian yang tidak dapat diterangkan
atau pengaruh dari semua peubah yang tidak terukur ditambah dengan
kesalahan pengukuran.
47
8. Aturan multiplikasi jalur
Nilai dari suatu jalur gabungan adalah hasil semua koefisien jalurnya.
9. Decomposisi pengaruh
Koefisien-koefisien jalur dapat digunakan untuk mengurai korelasikorelasi dalam suatu model kedalam pengaruh langsung dan tidak
langsung yang berhubungan dengan jalur langsung dan tidak langsung
yang direfleksikan dengan anak panah-anak panah dalam suatu model
tertentu.
10. Signifikansi dan Model keselarasan dalam jalur
Untuk melakukan pengujian koefisien-koefisien jalur secara individual,
kita dapat menggunakan t standar atau pengujian F dari angka-angka
keluaran regresi.
11. Anak panah dengan satu kepala dan dua kepala
Jika ingin menggambarkan penyebab, maka kita menggunakan anak panah
dengan satu kepala.Sedang untuk menggambarkan korelasi, kita
menggunakan anakpanah yang melengkung dengan dua kepala. Ada
kalanya hubungan sebab akibat menghasilkan angka negatif, untuk
menggambarkan hasil yang negatif digunakan garis putus-putus.
12. Pola hubungan
Dalam analisi jalur tidak digunakan istilah peubah bebas ataupun
tergantung. Sebagai gantinya kita menggunakan istilah peubah exogenous
dan endogenous .
13. Model Recursive
Model penyebab yang mempunyai satu arah. Tidak ada arah membalik
(feedback loop) dan tidak ada pengaruh sebab akibat (reciprocal ). Dalam
model ini satu peubah tidak dapat berfungsi sebagai penyebab dan akibat
dalam waktu yang bersamaan.
48
14. Model Non-recursive
Model penyebab dengan disertai arah yang membalik (feed back loop)
atau adanya pengaruh sebab akibat (reciprocal).
15. Direct Effect
Pengaruh langsung yang dapat dilihat dari koefisien jalur dari satu peubah
kepeubah lainnya.
16. Indirect Effect
Urutan jalur melalui satu atau lebih peubah perantara.
2.9.5
Model Analisis Jalur
Ada beberapa model jalur mulai dari yang paling sederhana sampai dengan yang
lebih rumit, di antaranya diterangkan di bawah ini:
1. Model regresi berganda
Model pertama ini sebenarnya merupakan pengembangan regresi berganda
dengan menggunakan dua peubah exogenous, yaitu X1 dan X2 dengan
satu peubah endogenous Y. Model digambarkan sebagai berikut:
Gambar 2.7 Model Regresi Berganda
2. Model Mediasi
Model kedua adalah model mediasi atau perantara dimana peubah Y
memodifikasi pengaruh peubah X terhadap peubah Z. Model digambarkan
sebagai berikut:
49
Gambar 2.8 Model Mesiasi
3. Model Kombinasi Pertama dan Kedua
Model ketiga merupakan kombinasi antara model pertama dan kedua,
yaitu peubah X berpengaruh terhadap peubah Z secara langsung dan
secara tidak langsung mempengaruhi peubah Z melalui peubah Y. Model
digambarkan sebagai berikut:
Gambar 2.9 Model Kombinasi Pertama dan Kedua
4. Model Kompleks
Model keempat ini merupakan model yang lebih kompleks, yaitu peubah
X1secara langsung mempengaruhi Y2dan melalui peubah X2 secara tidak
langsung mempengaruhi Y2, sementara itu peubah Y2 juga dipengaruhi
oleh peubah Y1. Model digambarkan sebagai berikut :
Gambar 2.10 Model Kompleks
50
5. Model Recursif dan Non-Recursif
Dari sisi pandang arah sebab akibat, ada dua tipe model jalur, yaitu
recursif dan non recursif. Model recursif ialah jika semua anak panah
menuju satu arah seperti gambar di bawah ini:
Gambar 2.11 Model Recutsif dan Non-Recursif
Model tersebut dapat diterangkan sebagai berikut:
1. Anak panah menuju satu arah, yaitu dari 1 ke 2, 3, dan 4, dari 2 ke 3 dan
dari 3 menuju ke 4. Tidak ada arah yang terbalik, misalnya dari 4 ke 1.
2. Hanya terdapat satu peubah exogenous, yaitu 1dan 3peubah endogenous,
yaitu 2, 3, dan 4. Masing-masing peubah endogenous diterankan oleh
peubah 1 dan error (e2, e3 dan e4).
3. Satu peubah endogenous dapat menjadi penyebab peubah endogenous
lainnya tetapi bukan ke peubah exogenous .
Model non-recursif terjadi jika arah anak panah tidak searah atau terjadi arah yang
terbalik (looping), misalnya dari 4 ke 3 atau dari 3 ke 1 dan 2, atau bersifat sebab
akibat (reciprocal casue).
2.9.6
Diagram Jalur dan Persamaan Struktural
Pada saat akan melakukan analisis jalur, disarankan untuk terlebih dahulu
menggambarkan secara diagramatik struktur hubungan kausal antara peubah
penyebab dengan peubah akibat. Diagram ini disebut diagram jalur (Path
51
Diagram), dan bentuknya ditentukan oleh proposisi teoritik yang berasal dari
kerangka pikir tertentu.
Gambar 2.12 Diagram Jalur Hubungan Kausal dari X1 dan X2
Keterangan:
X1 adalah peubah eksogenus (exsogenous variable), untuk itu selanjutnya peubah
penyebab akan kita sebut sebagai peubah eksogenus. X2 adalah peubah endogenus
(endogenousvariable), sebagai akibat dan (ε) adalah peubah residu (residual
variable), yang merupakan gabungan dari: (1) Peubah lain, di luar X1, yang
mungkin mempengaruhi X2 dan telahteridentifikasi oleh teori, tetapi tidak
dimasukkan
dalam
model. (2) Peubah lain, di luar X2, yang mungkin
mempengaruhi X2 tetapi belum teridentifikasi oleh teori. (3) Kekeliruan
pengukuran (error of measurement), dan (4) komponen yang sifatnya tidak
menentu (random component).
Gambar2.12
merupakan diagram jalur yang paling sederhana. Gambar 2.12
menyatakan bahwa X2 dipengaruhi secara langsung oleh X1, tetapi di luar
X1,masih
banyak
penyebab
lain
yang
dalam
penelitian
yang
sedang
dilakukan tidak diukur. Penyebab-penyebab lain itu dinyatakan oleh persamaan
struktural yang dimiliki oleh gambar 2.12 adalah X2 =
% %& '&(
. Selanjutnya
tanda anak panah satu arah menggambarkan pengaruh langsung dari peubah
eksogenus terhadap peubah endogenus.
52
Gambar 2.13 Diagram Jalur Hubungan Kausal dari X1, X2, X3 dan X4
Gambar 2.13menunjukkan bahwa diagram jalur tersebut terdapat tiga buah peubah
eksogenus, yaitu X1,X2 dan X3, sebuah peubah endogenus serta sebuah peubah
residu(ε). Pada diagram di atas juga mengisyaratkan bahwa hubungan antara
X1dengan X4, X2 dengan X4dan X3dengan X4 adalah hubungan kausal,
sedangkan hubungan antara X1 dengan X2 , X2 dengan X3 dan X1 dengan X3
masing-masing adalah hubungan korelasional. Perhatikan panah dua arah, panah
tersebut
menyatakan hubungan korelasional. Bentuk persamaan strukturalnya
adalah: X4=
%)%& '&( %)%
'
( %)%* '*(
Gambar 2.14 Hubungan Kausal dari X1, X2 ke X3 dan X3 ke X4
Perhatikan bahwa pada gambar 2.14 di atas, terdapat dua buah sub-struktur.
Pertama, sub-struktur yang menyatakan hubungan kausal dari X1 dan X2 ke
53
X3,serta kedua, sub-struktur yang mengisyaratkan hubungan kausal dari X3
ke X4. Persamaan struktural untuk gambar 2.14 adalah:
X3 =
%*%& '&( %*%
'
(
dan X4 =
%)%* '*(
Pada sub-struktur pertama X1dan X2 merupakan peubah eksogenus, X3 sebagai
peubah endogenus dan
& Sebagai
peubah residu. Pada sub-struktur kedua, X3
merupakan peubah eksogenus, X4 sebagai peubah endogenus dan
sebagai
peubah residu.
Berdasarkan contoh-contoh diagram jalur di atas, maka kita dapat memberi
kesimpulan bahwa makin kompleks sebuah hubungan struktural, makin kompleks
diagram jalurnya, dan makin banyak pula sub-struktur yang membangun
diagram jalur tersebut.
2.9.7
Koefisien Jalur
Besarnya pengaruh langsung dari suatu peubah eksogenus terhadap peubah
endogenus tertentu, dinyatakan oleh besarnya nilai numerik koefisien jalur (path
coefficient) dari eksogenus ke endogenus.
Gambar 2.15 Hubungan Kausal dari X1, X2 ke X3
Hubungan antara X1 dan X2 adalah hubungan korelasional. Intensitas keeratan
hubungan tersebut dinyatakan oleh besarnya koefisien korelasi
%&%
. Hubungan
X1dan X2 ke X3 adalah hubungan kausal. Besarnya pengaruh langsung dari X1
ke X3, dan dari X2 ke X3, masing-masing dinyatakan oleh besarrnya nilai numerik
54
koefisien jalur
%*%&
dan
%*%
. Koefisien jalur menggambarkan besarnya
pengaruh langsung peubah residu (implicit exogenous peubah) terhadap X3.
Download