Model penciptaan pengetahuan untuk

advertisement
7
BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA
2.1 Konsep Pengetahuan
Pemahaman proses penciptaan pengetahuan di perusahaan memerlukan
telaahan kepustakaan mengenai pengertian pengetahuan. Untuk kepentingan
penelitian ini, konsep pengetahuan itu sendiri disusun dalam tiga bagian. Pertama,
pemahaman pengetahuan secara epistemologi, yaitu penelusuran pemikiran yang
dilakukan para filsuf untuk memahami makna mengetahui sesuatu (to know
something). Melalui penelusuran pemikiran para filsuf tersebut diharapkan akan
diperoleh pemahaman mengenai yang mengetahui (the one who knows) dan yang
diketahui (the object known) serta hubungan keduanya.
Kedua, diperlukan
pemahaman tentang perbedaan mendasar antara data, informasi dan pengetahuan
berdasarkan cara memperoleh, menyimpan, menyebarkan dan menciptakannya.
Ketiga, diperlukan pemahaman mengenai jenis-jenis pengetahuan dan komponenkomponennya.
Menurut Nonaka dan Takeuchi (1995) hal penting yang juga relevan untuk
memahami proses penciptaan pengetahuan pada epistemologi adalah pemahaman
mengenai hubungan antara yang mengetahui (the one who knows) dan yang
diketahui (the object known). Para filsuf Barat pada umumnya berpendapat bahwa
pengetahuan adalah justified true belief, sebuah konsep yang pertama kali
disampaikan oleh Plato. Hal ini memberikan pengertian bahwa pengetahuan
adalah kebenaran sesuai dengan faktanya dan sesuai dengan alasannya. Definisi
pengetahuan ini dianggap masih jauh dari sempurna sehingga mendorong para
filsuf Barat untuk mencari metode yang bisa membantu mereka mendefinisikan
pengetahuan tanpa ada keraguan.
Penelusuran para filsuf kemudian beralih dan difokuskan pada sumber dan
cara memperoleh pengetahuan itu sendiri. Hal ini menyebabkan para filsuf terbagi
atas penganut aliran rasionalisme dan aliran empirisme (Nonaka & Takeuchi
1995). Dijelaskan lebih lanjut, para filsuf penganut rasionalisme percaya bahwa
pengetahuan sejati (true knowledge) bukan merupakan hasil dari pengalaman
indera manusia, tetapi merupakan proses mental yang ideal. Menurut aliran ini,
terdapat pengetahuan a priori yaitu pengetahuan yang sudah ada sebelumnya yang
tidak memerlukan pembenaran oleh pengalaman indera manusia. Pengetahuan
8
sejati diperoleh secara deduksi dari penalaran rasional. Matematika merupakan
contoh klasik pendapat ini. Di sisi lain, para filsuf penganut empirisme percaya
bahwa pengetahuan a priori tidak ada dan satu-satunya sumber pengetahuan
adalah pengalaman indera manusia.
Selanjutnya Immanuel Kant, seorang filsuf Jerman yang hidup pada abad ke
delapan belas, berusaha melakukan sintesis pendapat kedua aliran filsafat tersebut.
Kant setuju bahwa dasar pengetahuan adalah pengalaman, tetapi tidak setuju
dengan filsuf aliran empirisme yang mengatakan bahwa pengalaman merupakan
satu-satunya sumber pengetahuan. Kant berpendapat bahwa pengetahuan dapat
muncul hanya bila pemikiran logis para rasionalis dan pengalaman indera para
empirisme bekerja bersama (Nonaka & Takeuchi 1995).
Berdasarkan uraian di atas, Nonaka dan Takeuchi (1995) berpendapat
bahwa seorang individu meyakini kebenaran mengenai apa yang dipercayainya
berdasarkan observasinya mengenai dunia atau hal-hal yang berada di luar
pemikiran individu tersebut. Observasi individu tersebut dipengaruhi oleh sudut
pandang unik individu tersebut, kesanggupan untuk merasakan serta pengalamanpengalaman
pribadi.
Agar
seorang
individu
dapat
terus
membangun
pengetahuannya, maka ia tidak dapat hanya melakukan proses mental
mengandalkan pengetahuan-pengetahuan yang telah dimilikinya, melainkan
individu tersebut melakukan interaksi dengan dunia luar untuk memperoleh
pengalaman-pengalaman indera.
Pemahaman pengetahuan dari sudut pandang para filsuf di atas memerlukan
suatu konsep yang lebih operasional bagi penelitian ini. Oleh karena itu, penting
dikemukakan pandangan pengertian pengetahuan dibedakan dari informasi dan
data. Menurut Davenport dan Prusak 1998, data bersifat diskrit, yaitu fakta-fakta
objektif mengenai kejadian atau obyek-obyek tertentu. Data sendiri tidak memiliki
relevansi dan maksud. Data merupakan bahan baku menjadi informasi. Tiwana
(2000) menggambarkan bahwa informasi adalah data yang telah memiliki nilai
(Value) karena mengalami kontekstualisasi (kategorisasi, kalkulasi, koreksi atau
kondensasi).
Informasi akan menjadi pengetahuan setelah melalu proses pengayaan
(enrichment) dan transformasi dengan cara komparasi, konsekuensi, koneksi
9
ataupun perckapan (Davenpot & Prusak 1998). Dapat dikatakan bahwa
pengetahuan diperoleh dari sekumpulan informasi yang saling terhubungkan
(terstruktur secara sistematik sehingga memiliki makna.
Pemahaman mengenai pengetahuan itu sendiri sangat diperlukan karena
secara akademis terdapat berbagai pengertian pengetahuan dalam konteks sumber
daya (resources), kompetensi dan kemampuan (capability), yaitu:
1. Pengertian pengetahuan dalam konteks teori aset tanwujud (intangible asset),
dinyatakan bahwa sumber daya informasi adalah aset tanwujud yang sangat
berharga bagi perusahaan (Itami & Roehl 1987).
2. Pengertian pengetahuan dalam konteks teori sumber daya sebagai basis
keunggulan bersaing yang dikemukakan Wernerfelt (1984) dan Barney (1991)
yang
diacu
Priem
(2001).
Wernerfelt
yang
diacu
(Priem
2001)
mengemukakan, bahwa keunggulan bersaing perusahaan berasal dari sumber
daya yang dimilikinya, bukan dari produk-produknya. Lebih lanjut Barney
yang diacu (Priem 2001) menjelaskan bahwa sumber daya yang paling
strategik adalah sumber daya yang langka, berharga, sulit ditiru serta sulit
digantikan. Salah satu teori dalam kelompok teori sumber daya sebagai basis
keunggulan bersaing adalah teori kompetensi inti (core competence). Hamel
dan Prahalad (1994) mendefinisikan kompetensi inti sebagai seperangkat
keterampilan dan teknologi yang terintegrasi, yang merupakan akumulasi hasil
pembelajaran individu-individu di organisasi. Kompetensi inti ini terdiri atas
pengetahuan tacit dan eksplisit.
3. Pengertian pengetahuan dalam konteks teori dynamic capabilities adalah
kemampuan perusahaan untuk membangun keunggulan bersaing baru melalui
upaya terus-menerus memperbaharui keterampilan-keterampilan dan sumber
daya perusahaan agar dapat terus beradaptasi dengan perubahan-perubahan
(Teece et al. 1997).
4. Pengertian pengetahuan dalam konteks teori pengetahuan sebagai basis
keunggulan bersaing didasari pemikiran bahwa pengetahuan merupakan
sumber daya strategik yang dimiliki oleh perusahaan. Pengetahuan berbeda
dengan sumber daya lain yang dimiliki oleh perusahaan, karena dengan
pengetahuan perusahaan dapat memperoleh pengetahuan lain/baru dan
9
10
mengkombinasikan
sumberdaya-sumberdaya
lain
untuk
menghasilkan
kemampuan baru (Kaplan et al. 2001).
2.2 Pengetahuan dan Kompetensi
Di atas sudah dijelaskan makna hubungan antara informasi dengan
pengetahuan, di mana informasi merupakan bahan baku untuk membangun
pengetahuan.
Selanjutnya
akan
dibahas
makna
pengetahuan
ke
arah
penggunaannya, khusunya dalam dunia kerja, yaitu memahami hubungan antara
pengetahuan dengan kompetensi kerja. Sveiby (1997) menyatakan bahwa
memahami kompetensi kerja merupakan suatu cara untuk memahami pengetahuan
dan hubungannya dengan dunia kerja.
Kompetensi didefinisikan sebagai aspek penting dan menentukan kinerja
karyawan. Sebagian besar karyawan akan menghasilkan kinerja efektif jika
mereka memiliki pengetahuan, keterampilan dan perilaku yang cukup baik dan
dapat
diaplikasikan
secara
bersamaan.
Spencer
dan
Spencer
(1993)
mendefinisikan kompetensi sebagai karakter, sikap dan perilaku atau kemampuan
individual yang relatif stabil ketika menghadapi suatu situasi di tempat kerja.
Lebih lanjut dijelaskan bahwa kompetensi seseorang terbentuk dari lima unsur,
yaitu motif, karakter, konsep diri, pengetahuan dan keterampilan. Kompetensi itu
sendiri dikelompokkan menjadi dua, yaitu kompetensi teknikal dan kompetensi
perilaku.
2.3 Pengetahuan dan Keunggulan Bersaing
Dua teori manajemen strategik yang memberikan sumbangan berarti pada
pengembangan pemikiran pengetahuan sebagai sumber keunggulan bersaing,
yaitu: (1) teori sumberdaya sebagai basis keunggulan bersaing dari Barney (1991)
dan Wernerfelt (1984) yang diacu (Priem, 2001) serta (2) teori kompetensi inti
sebagai basis keunggulan bersaing dari Hamel dan Prahalad (1994). Kedua teori
tersebut secara bersama-sama telah berjasa mengkristalkan gagasan mengenai
pengetahuan sebagai sumber keunggulan bersaing.
.
11
Merujuk pada pandangan sumberdaya sebagai basis keunggulan bersaing,
para penggagas pandangan pengetahuan sebagai basis keunggulan bersaing
mengawali uraiannya atas dasar pemikiran bahwa pengetahuan merupakan
sumberdaya yang paling strategik yang dimiliki oleh perusahaan (Kaplan et al.,
2001). Dikemukakan pula bahwa pengetahuan tidak dapat diamati dan diukur
secara langsung. Oleh sebab itu pengetahuan menjadi suatu konstruk yang
keberadaannya dapat disimpulkan melalui kemampuan-kemampuan perusahaan di
mana kemampuan ini dapat diamati. Dengan mendefinisikan pengetahuan sebagai
kapasitas untuk bertindak, maka Kaplan et al. (2001) menyatakan bahwa: (1)
pengetahuan
bersama-sama
dengan
sumberdaya
memberi
perusahaan
kemampuan; (2) adanya kemampuan merupakan prasyarat bagi tindakan potensial
apapun; (3) pengamatan atas tindakan-tindakan yang dilakukan oleh perusahaan
menunjukkan adanya kemampuan dan (4) adanya kemampuan menunjukkan
adanya pengetahuan (walaupun pengetahuan itu sendiri tidak dapat diamati secara
langsung).
Setelah memahami keunggulan bersaing berbasis pengetahuan, pada sub
bab selanjutnya diuraikan perkembangan perspektif manajemen pengetahuan. Hal
ini bertujuan memberikan latar belakang konsep dan teori yang mendukung
pemahaman tentang manajemen pengetahuan.
2.4 Manajemen Pengetahuan
Sampai beberapa waktu yang lalu, secara umum organisasi belum cukup
memberi perhatian terhadap pengetahuan sebagai aset atau sumberdaya yang
harus dikelola. Kajian Manajemen Pengetahuan (Knowledge Management) telah
mengubah kondisi tersebut dengan mendorong terciptanya seperangkat nilai baru
dalam pengelolaan pengetahuan organisasi secara strategis. Manajemen
Pengetahuan memberikan perspektif baru dari hanya mengendalikan sumber
pengetahuan menjadi mengelola proses penciptaan pengetahuan melalui orang
yang mengaplikasikan pengetahuannya dan menciptakan jaringan pengetahuan
secara internal dan eksternal.
Manajemen Pengetahuan mulai dikenal secara luas sekitar tahun 1990-an,
namun konsep yang berkaitan dengan pengetahuan sebenarnya dapat ditelusuri
sejak sekitar tahun 1960-an ketika mayoritas perusahaan telah memantapkan
11
12
keberadaan Divisi Riset dan Pengembangan untuk mengekplorasi dan investigasi
ide-ide baru dan mengembangkan prototipe produk-produk baru (Paucar-Caceres
& Pagano 2009). Perkembangan Manajemen Pengetahuan dapat dikelompokkan
berdasarkan isu-isu penting yang disampaikan ilmuwan dalam rentang waktu
tertentu (Tabel 1).
Tabel 1 Perkembangan Manajemen Pengetahuan
Rentang
Tahun
Sebelum
1986
Pendapat Penting
Arti Penting Manajemen Pengetahuan
1. Pengetahuan berbeda dari informasi maupun data, hal ini
sebagai dasar untuk mendukung keputusan manajemen.
Adalah penting untuk memahami teknik untuk mengumpulkan
informasi, namun yang lebih penting adalah mengetahui
dengan pasti informasi yang dibutuhkan (Martin 1983).
2. Teknik Manajemen Pengetahuan, seperti Sistem Pakar dan
Sistem berbasis Pengetahuan, perlu diintegrasikan dengan
aplikasi lain dalam organisasi, seperti sistem pengambilan
keputusan dan perencanaan (Donals 1985).
1986-1990 Manajemen Pengetahuan dalam Perspektif Teknologi
1. Perusahaan diklasifikasikan berdasarkan peran teknologi
dalam pengambilan keputusan perusahaan. Perusahaan
dikatakan grade tinggi jika memiliki teknologi pengetahuan
dan mengakomodasi manajemen pengetahuan dalam strategi
dan perencanaannya (Alain 1988).
2. Manajemen Pengetahuan diwujudkan dengan teknologi, antara
lain basis data, katalog khusus dan e-mail (Cronin &
Davenport 1990).
3. Teknologi Manajemen Pengetahuan mempengaruhi cara
pengetahuan
perusahaan
digunakan,
menghasilkan
peningkatan kepuasan konsumen, penggunaan waktu yang
lebih baik dan pengkayaan pekerjaan (Cronin & Davenport
1990).
4. Pada akhir tahuan 90-an, para ahli mulai mengemukakan
kesulitan perusahaan untuk mengintegrasikan perangkat
teknologi yang dimilikinya dengan aplikasi lain (Strapko
1990).
13
Lanjutan Tabel 1
Rentang
Tahun
1991-1995
1996 – 1999
Pendapat Penting
Integrasi Manajemen Pengetahuan, Teknologi dan
Budaya
1. Dengan kemampuan organisasi memproduksi format data
yang berbeda, seperti bitmap, ikon, teks, video untuk
melengkapi alfanumerik, kebutuhan sistem manajemen
pengetahuan makin meningkat untuk membedakan
dengan format data dan informasi (Stonebraker &
Kemnitz 1991).
2. Teknologi Manajemen Pengetahuan, sistem manajemen
basis data dan teknologi komunikasi telah terintegrasi
dengan berbagai model untuk tujuan yang berbeda (Ram
et al. 1992).
3. Manajemen pengetahuan merupakan proses yang terusmenerus harus dilakukan oleh perusahaan, sehingga
proses tersebut akan menjadi suatu budaya organisasi
yang akan membentuk organisasi berbasis pengetahuan
(Nonaka & Takeuchi 1995).
Manajemen Pengetahuan dalam Perspektif Sosial
Ekonomi
1. Aset intelektual diberi penghargaan yang makin luas
dalam strategi Manajemen Pengetahuan, karena
penghargaan yang luas terhadap aset intelektual
merupakan kunci kesuksesan (Lioyd 1996; Mullin 1996).
2. Kemajuan teknologi informasi dan komunikasi membawa
konsekuensi penting yang mendorong semakin
dibutuhkannya Manajemen Pengetahuan bagi setiap
organisasi bisnis untuk mempertahankan keunggulan
bersaingnya. Perusahaan hendaknya mengelola informasi
dalam tiga arena, yaitu sense making, knowledge creating
dan decision making (Choo 1998).
3. Pada era ekonomi global, pengetahuan merupakan sumber
keunggulan berkelanjutan. Kapital/aset intelektual
berperan penting untuk mengkonversi pengetahuan
menjadi profit (Davenport & Prusak 1998).
4. Pengetahuan sebagai sistem sosial dan merupakan
intangible assets (Tuomi 1999).
13
14
Lanjutan Tabel 1
Rentang
Tahun
Pendapat Penting
2000 - 2008
Manajemen Pengetahuan dalam Konteks Strategi
Organisasi
1. Manajamen Pengetahuan dapat dipandang sebagai proses
penciptaan keunggulan bersaing berkelanjutan melalui
inovasi (Meso & Smith 2000).
2. Keberhasilan implementasi Manajemen Pengetahuan
sangat dipengaruhi proses organisasi dan faktor manusia
yang mencapai 80 persen, sedangkan faktor teknologi
hanya 20 persen (Probst et al. 2000).
3. Pengukuran kinerja manajemen pengetahuan dapat
dilakukan dengan dua pendekatan, yaitu dengan kerangka
kerja kinerja berbasis pendekatan balanced scorecard dan
kerangka kerja perilaku yang mengidentifikasi level
praktek individual (Gooijer 2000).
4. Ruang lingkup Manajemen Pengetahuan adalah proses
mengumpulkan dan menyimpan pengetahuan individu
menjadi pengetahuan organisasi dan memanfaatkannya
untuk mencapai tujuan organisasi. (Weber & Kaplan
2003).
5. Strategi generik yang digunakan dalam strategi
manajemen pengetahuan untuk meningkatkan kinerja
organisasi, yaitu: strategi penciptaan pengetahuan
(knowledge creation strategy) dan strategi kodifikasi
(knowledge codification strategy). Strategi penciptaan
pengetahuan fokus pada penyebaran pengetahuan tacit
untuk menghasilkan inovasi, sedangkan strategi kodifikasi
pengetahuan melibatkan pengetahuan yang dapat
disimpan dalam basis data sehingga dapat diakses dan
digunakan dengan mudah oleh siapa saja dalam
organisasi. Penggunaan strategi ini menjadikan
pengetahuan dapat disimpan dan digunakan kembali (AlHawari 2004).
6. Penciptaan pengetahuan adalah inti dari Manajemen
Pengetahuan. Pengetahuan diciptakan melalui interaksi
yang dinamis antara subyektifitas dan obyektivitas, serta
merupakan sintesis pemikiran dan aksi individual yang
saling berinteraksi dalam lingkup organisasi (Nonaka &
Toyama 2005).
7. Terdapat hubungan yang signifikan antara tacit knowledge
index suatu perusahaan dan kinerja inovasinya (Harlow
2008).
15
Arti penting Manajemen Pengetahuan ini semakin besar ketika lingkungan
industri semakin dinamis, persaingan global semakin meningkat, perubahan
teknologi dan teknologi informasi semakin cepat, serta tuntutan masyarakat yang
semakin beragam dan cepat berubah. Secara garis besar dapat diungkapkan bahwa
Manajemen
menciptakan
pengetahuan
adalah
pengetahuan
usaha
baru,
mengumpulkan,
menyebarkannya
ke
mengorganisasi,
organisasi
dan
memanfaatkan pengetahuan tersebut dalam teknologi baru, produk baru dan
manajemen baru. Hal ini akan mendukung pencapaian kinerja organisasi sehingga
memiliki keunggulan bersaing.
Choo (1998) mengungkapkan bahwa dalam kerangka Manajemen
Pengetahuan, suatu organisasi bisnis hendaknya mengelola informasi dalam tiga
arena, yaitu sense making, knowledge creating dan decision making. Sense making
(pemaknaan) berkaitan dengan bagaimana organisasi menafsirkan informasi
dalam rangka mengkonstruksi makna tentang apa yang terjadi dalam dan apa yang
sedang dilakukan oleh organisasi. Knowledge creating (penciptaan pengetahuan)
berkenaan
dengan
bagaimana
organisasi
mengembangkan
pengetahuan,
sedangkan decision making (pengambilan keputusan) merupakan aktivitas tentang
bagaimana organisasi memproses dan menganalisis informasi guna memilih
tindakan yang tepat.
Dikemukakan lebih lanjut bahwa proses penciptaan pengetahuan merupakan
inti Manajemen Pengetahuan yang mampu mendukung pencapaian kinerja
organisasi sehingga memiliki keunggulan bersaing. Selanjutnya akan diuraikan
mengenai konsep knowledge creation (penciptaan pengetahuan).
2.5 Konsep Penciptaan Pengetahuan
Krogh et al. (2000) mengemukakan gagasan yang mendasari pengertian
mengenai pengetahuan, yaitu:
Pertama, pengetahuan merupakan kebenaran atas kepercayaan. Dalam definisi ini,
pengetahuan merupakan konstruksi dari kenyataan, dibandingkan sesuatu yang
benar secara abstrak. Penciptaan pengetahuan tidak hanya merupakan kompilasi
dari fakta-fakta, namun suatu proses yang unik pada manusia yang sulit
disederhanakan atau ditiru. Penciptaan pengetahuan melibatkan perasaan dan
15
16
sistem kepercayaan (belief systems) di mana perasaan atau sistem kepercayaan itu
bisa tidak disadari.
Kedua, pengetahuan merupakan sesuatu yang eksplisit sekaligus tacit. Beberapa
pengetahuan dapat ditulis, dideskripsikan dalam bentuk kalimat-kalimat atau
diekspresikan dalam bentuk gambar. Namun ada pula pengetahuan yang terkait
erat dengan perasaan, ketrampilan dan bentuk bahasa tubuh, persepsi pribadi,
pengalaman fisik, petunjuk-praktis (rule of thumb) dan intuisi. Pengetahuan tacit
ini sulit sekali dijelaskan kepada orang lain. Walaupun gagasan mengenai
pengetahuan tacit secara intuitif masuk akal bagi banyak orang, para manajer
pendapat kesulitan dalam memahaminya di tingkat praktis. Mengenali nilai dari
pengetahuan tacit dan memahami bagaimana menggunakannya merupakan
tantangan utama perusahaan yang ingin terus menciptakan pengetahuan.
Pengetahuan tacit nampak terlalu misterius untuk dapat digunakan dalam situasi
bisnis, namun kualitas yang spesifik pada suatu konteks menjadikan pengetahuan
tacit merupakan alat yang luar biasa untuk inovasi.
Ketiga, penciptaan pengetahuan secara efektif bergantung pada konteks yang
memungkinkan terjadinya penciptaan tersebut. Yang dimaksudkan dengan
konteks yang memungkinkan terjadinya penciptaan pengetahuan adalah ruang
bersama yang dapat memicu hubungan-hubungan yang muncul. Dalam konteks
organisasional, dapat berupa fisik, maya, mental atau ketiganya. Definisi konteks
ini berkaitan erat dengan dua hal yang telah disampaikan sebelumnya, yaitu
pengetahuan bersifat dinamis, relasional dan berdasarkan tindakan manusia.
Pengetahuan bergantung pada situasi dan keterlibatan orang, dibanding kebenaran
absolut atau fakta belaka.
2.5.1 Konversi Pengetahuan Nonaka-Takeuchi: Model SECI
Nonaka dan Takeuchi (1995) mendasarkan modelnya pada interaksi
dinamis antara dua jenis pengetahuan, yaitu pengetahuan eksplisit (explicit
knowledge) dan pengetahuan tacit (tacit knowledge). Pengetahuan eksplisit dapat
diekspresikan dalam kata-kata dan angka, oleh sebab itu dapat disebarkan dalam
berbagai bentuk data, formula ilmiah, spesifikasi produk, manual dan sejenisnya.
Pengetahuan jenis ini dapat segara ditularkan dari satu individu ke individu lain
secara formal dan sistematis. Di sisi lain, pengetahuan tacit bersifat sangat pribadi
17
dan sulit diformalkan, sehingga sulit pula untuk dikomunikasikan dari satu pihak
ke pihak lain. Pengetahuan tacit ini sulit diverbalkan karena berakar jauh di dalam
tindakan dan pengalaman seseorang, seperti dalam idealisme, nilai-nilai dan emosi
(Berman et al. 2002).
Pengetahuan eksplisit dan pengetahuan tacit bersifat saling melengkapi atau
komplementer, juga
berperan sangat penting dalam proses penciptaan
pengetahuan ( Krogh et al. 2000). Kedua jenis pengetahuan ini berinteraksi satu
sama lain dan berubah dari satu jenis ke jenis lainnya secara dinamis (Boland et
al. 2001). Interaksi dinamis antara satu bentuk pengetahuan ke bentuk lainnya
disebut konversi pengetahuan. Nonaka dan Takeuchi (1995) mengemukakan
bahwa konversi pengetahuan merupakan proses sosial antar individu dan tidak
dibatasi dengan proses yang terjadi di dalam individu saja. Dengan memahami
hubungan timbal balik antara pengetahuan eksplisit dan pengetahuan tacit, dapat
dipahami proses penciptaan pengetahuan.
Lebih lanjut dikemukakan bahwa terdapat empat cara konversi pengetahuan,
yaitu sosialisasi (socialization), eksternalisasi (externalization), kombinasi
(combination) dan internalisasi (internalization). Keempat cara konversi
pengetahuan ini sering disebut sebagai siklus SECI yang diuraikan sebagai
berikut:
1. Sosialisasi merupakan istilah yang digunakan untuk menekankan pentingnya
kegiatan bersama antara sumber pengetahuan dan penerima pengetahuan
dalam proses konversi pengetahuan tacit. Karena pengetahuan tacit
dipengaruhi oleh konteksnya dan sulit sekali diformalkan, maka untuk
menyebarkan pengetahuan tacit dari satu individu ke individu lain dibutuhkan
pengalaman yang terbentuk melalui kegiatan-kegiatan bersama, seperti berada
bersama di satu tempat, menghabiskan waktu bersama atau hidup dalam
lingkungan yang sama.
2. Eksternalisasi merujuk pada konversi pengetahuan tacit ke pengetahuan
eksplisit. Melalui cara ini pengetahuan menjadi terkristalkan sehingga dapat
didistribusikan ke pihak lain dan menjadi basis bagi pengetahuan baru. Dalam
proses eksternalisasi, pengetahuan tacit diekspresikan dan diterjemahkan
menjadi metafora, konsep, hipotesis, diagram, model atau prototipe sehingga
17
18
dapat dipahami oleh pihak lain. Walaupun demikian, seringkali ekspresi atau
penerjemahan yang dilakukan kurang sesuai, tidak konsisten dan tidak
lengkap. Perbedaan dan kesenjangan antara yang dibayangkan dengan yang
diekspresikan tersebut justru akan dapat membantu merangsang individuindividu untuk saling berinteraksi dan merefleksikan antara pemahamannya
dengan yang sebenarnya dimaksud pihak lain.
3. Kombinasi merujuk pada konversi pengetahuan eksplisit ke pengetahuan
eksplisit. Dengan cara ini, pengetahuan dipertukarkan dan dikombinasikan
melalui media seperti dokumen-dokumen, rapat-rapat, percakapan telepon dan
komunikasi melalui jaringan komputer. Dalam prakteknya, kombinasi
bergantung pada tiga proses, yaitu: (1) pengetahuan eksplisit dikumpulkan
dari dalam dan dari luar perusahaan, kemudian dikombinasikan, (2)
pengetahuan-pengetahuan eksplisit tersebut disebarkan keseluruh perusahaan
melalui berbagai media, dan (3) pengetahuan eksplisit diproses atau diedit
agar dapat lebih bermanfaat bagi perusahaan.
4. Internalisasi
merujuk
pada konversi pengetahuan eksplisit
menjadi
pengetahuan tacit. Cara ini mirip sekali dengan kegiatan yang disebut
pembelajaran sambil melakukan atau learning by doing. Melalui internalisasi,
pengetahuan yang sudah tercipta didistribusikan ke seluruh perusahaan.
Internalisasi pengetahuan dimaksudkan untuk memperluas, memperdalam
serta mengubah pengetahuan tacit yang dimiliki oleh setiap anggota
perusahaan menjadi pengetahuan yang dimiliki perusahaan. Menurut Nonaka
dan Takeuchi (1995) pengetahuan eksplisit yang berhasil diinternalisasikan ke
dalam pengetahuan tacit para individu dalam bentuk shared mental model
maka pengetahuan ini akan menjadi aset yang sangat berharga bagi
perusahaan. Di tingkat individu, pengetahuan tacit yang terakumulasi ini
selanjutnya ditularkan ke individu lain melalui sosialisasi, sehingga spiral
proses penciptaan pengetahuan pun terus berputar.
Model SECI ini mendasarkan pada interaksi dinamis antara dua jenis
pengetahuan, yaitu pengetahuan eksplisit (explicit knowledge) dan pengetahuan
tacit (tacit knowledge). Spiral proses penciptaan pengetahuan pun terus berputar
diilustrasikan pada Gambar 1.
19
Tacit
Tacit
T
a
c
i
t
Sosialisasi
Eksternalisasi
T
a
c
i
t
Internalisasi
Kombinasi
Eksplisit
E
k
s
p
l
i
s
i
t
E
k
s
p
l
i
s
i
t
Eksplisit
Gambar 1 Konversi Pengetahuan Model SECI (Nonaka & Takeuchi 1995)
2.5.2 Model Penciptaan Pengetahuan dengan Pendekatan Input-ProsesOutput
Model SECI yang dikemukakan Nonaka dan Takeuchi telah menjadikan
proses penciptaan pengetahuan lebih mudah dipahami dan menjadi titik tolak bagi
penelitian-penelitian selanjutnya yang lebih mendetail. Salah satu pendekatan
yang digunakan dalam penelitian proses penciptaan pengetahuan di perusahaan
adalah pendekatan input-proses-output yang dikembangkan Soo et al. (2002a).
Pengembangan dan pengujian model penciptaan pengetahuan yang
dikemukakan Soo et al. (2002a) meliputi tiga aspek, yaitu:
1. Sumber pengetahuan sebagai input, merupakan bagian proses penciptaan
pengetahuan yang meliputi proses perolehan pengetahuan dari sumber
lingkungan eksternal dan internal perusahaan
2. Penggunaan pengetahuan sebagai proses, merupakan bagian penciptaan
pengetahuan yang menggambarkan kegiatan penggunaan pengetahuan untuk
memecahkan masalah dan mengambil keputusan
3. Hasil sebagai output merupakan bagian dari proses penciptaan pengetahuan
dalam bentuk inovasi-inovasi.
19
20
Penciptaan pengetahuan sangat ditentukan oleh akses pada informasi dan
pengetahuan-pengetahuan bermanfaat yang berada di luar perusahaan. Hanya
memanfaatkan pengetahuan-pengetahuan yang sudah ada kini di perusahaan
(eksploitasi), seberapa pun baiknya pengetahuan-pengetahuan tersebut, tidak akan
cukup untuk memberikan keunggulan bersaing (Nonaka & Takeuchi 1995).
Perusahaan
perlu
memperluas
batas-batas
pengetahuannya
dengan
cara
memperoleh pengetahuan-pengetahuan baru yang berada di luar perusahaan
(eksplorasi).
Penelitian terdahulu yang dilakukan Boland et al. (2001) menunjukkan
bahwa semakin besar jumlah informasi dan pengetahuan yang mengalir ke dalam
perusahaan, semakin besar pula jumlah pengetahuan-pengetahuan baru yang
diciptakan. Esensi dari penelitian tersebut adalah dibutuhkannya banyak kegiatan
eksplorasi
pengetahuan
yang
harus
dilakukan
perusahaan
agar
dapat
meningkatkan jumlah pengetahuan-pengetahuan yang diciptakan. Lebih lanjut
dikemukakan oleh Swan et al. (1999) bahwa pengetahuan tacit dan pengetahuan
eksplisit dapat diserap oleh perusahaan melalui jejaring inovasi yang terdiri atas
jejaring formal dan informal. Jejaring tersebut terbentuk sebagai tanggapan atas
kebutuhan perusahaan akan pengetahuan. Jejaring yang dimaksudkan oleh Swan
et al. (1999) adalah proses komunikasi sosial yang merangsang terjadinya
pertukaran pengetahuan di antara komunitasnya. Jejaring formal dan informal
dalam kajian Soo et al. (2002a) dijelaskan sebagai berikut:
1) Kolaborasi formal merupakan jejaring formal yang merujuk pada hubunganhubungan antara dua atau lebih perusahaan, di mana hubungan-hubungan
tersebut diatur oleh suatu perjanjian formal. Kolaborasi formal, antara lain
kerjasama untuk mengembangkan suatu produk baru, memasarkan suatu
produk baru atau melakukan proyek-proyek pengembangan lainnya.
Kolaborasi formal ini dapat berbentuk, antara lain aliansi strategik, joint
ventures, lisensi dan lain sebagainya.
2) Interaksi-interaksi informal merupakan jejaring informal yang merujuk pada
hubungan antar orang yang tidak diatur oleh suatu perjanjian formal. Jejaring
informal ini meliputi pertemuan-pertemuan informal yang berhubungan atau
bisa juga tidak berhubungan dengan kegiatan perusahaan. Interaksi-interaksi
21
yang sering disebut sebagai jejaring sosial ini dapat terjadi di acara pertemuan
sosial, konferensi, seminar, rapat di tempat kerja atau melalui media
komunikasi elektronik.
2.6 Aset Pengetahuan dan Proses Penciptaan Pengetahuan
Menyadari bahwa model SECI yang dikemukakan tersebut meskipun cukup
komprehensif namun dinilai terlalu umum untuk dapat dibuat desain
implementasinya, maka Nonaka melengkapinya dengan konsep aset pengetahuan.
Menurut Nonaka et al. (2000), aset pengetahuan adalah basis bagi proses
penciptaan pengetahuan karena aset pengetahuan merupakan input dan output
proses penciptaan pengetahuan. Seperti input dan output dalam ekonomi
neoklasik, aset pengetahuan sering kali bersifat tanwujud, tacit dan dinamis. Aset
pengetahuan didefinisikan sebagai sumber daya spesifik yang dimiliki perusahaan
yang esensial untuk menciptakan keunggulan bersaing bagi perusahaan tersebut.
Dengan demikian, aset pengetahuan merupakan elemen kunci yang memfasilitasi
proses penciptaan pengetahuan. Untuk lebih memahami bagaimana aset
pengetahuan diciptakan, diakuisisi dan dieksploitasi, Nonaka et al. (2000)
mengelompokkan pengetahuan yang dimiliki perusahaan menjadi empat tipe,
yaitu eksperiensial, konseptual, sistemik dan rutin dengan penjelasan sebagai
berikut:
1. Aset pengetahuan eksperiensial merupakan pengetahuan tacit yang
dibangun melalui kebersamaan, pengalaman bersama dalam organisasi atau
pengalaman bekerja sama di antara karyawan, pelanggan, pemasok atau
organisasi afiliasi. Contohnya, keahlian dan keterampilan teknis yang
diakuisisi dan diakumulasi individu anggota melalui pengalaman tertentu
dalam konteks pekerjaan. Terdapat empat tipe aset pengetahuan eksperiensial,
yaitu: (1) pengetahuan emosional (a.l. cinta, percaya dan peduli); (2)
pengetahuan fisik (a.l. ekspresi wajah dan bahasa tubuh); (3) pengetahuan
energetik (a.l. antusiasme, pemahaman tentang eksistensi dan ketegangan) dan
(4) pengetahuan ritmik (a.l. improvisasi dan pengelanaan gagasan).
2. Aset
pengetahuan
konseptual
adalah
pengetahuan
eksplisit
yang
diartikulasikan melalui pencitraan, simbol dan bahasa. Aset ini didasarkan
pada persepsi pelanggan dan karyawan. Contohnya: ekuitas merek merupakan
21
22
representasi persepsi pelanggan, konsep atau desain yang sesuai dengan
anggota organisasi. Aset konseptual biasanya mempunyai bentuk tanwujud
dan lebih mudah diartikulasikan dibanding aset eksperiensial, tetapi masih
sulit dipahami apa yang dirasakan olah pelanggan atau anggota organisasi.
3. Aset pengetahuan sistemik adalah pengetahuan eksplisit yang tersistemisasi
dan terkemas, seperti teknologi yang dirumuskan eksplisit, spesifikasi produk,
manual atau informasi terdokumentasi tentang pelanggan dan pemasok.
Termasuk juga proteksi hak intelektual secara legal, seperti lisensi atau paten.
4. Aset pengetahuan rutin adalah pengetahuan tacit yang sudah rutin menyatu
dan menjadi aturan dalam kegiatan atau praktek organisasi. Keterampilan,
kegiatan rutin dan budaya organisasi yang dilakukan sehari-hari merupakan
contohnya. Melalui praktek berkesinambungan, pola pikir atau tindakan
tertentu dikuatkan dan dilakukan bersama oleh anggota organisasi.
Nonaka et al. (2000) juga mengemukakan kerangka berpikir untuk
mengidentifikasi hubungan antara aset pengetahuan dan penciptaan pengetahuan.
Namun demikian, model tersebut hanya memberikan gambaran yang sangat
umum dan tidak memberikan petunjuk yang konkrit untuk desain implementasi
dalam organisasi. Dalam rangka membuat penciptaan pengetahuan lebih layak
implementasi dan efektif, menjadi sangat penting untuk mengidentifikasi alat
analisis yang memungkinkan, konteks atau proses yang mungkin mempengaruhi
SECI.
2.7 Proses Pemecahan Masalah dan Pengambilan Keputusan
Kaplan et al. (2001) mengemukakan bahwa pengetahuan tidak dapat
diamati dan diukur secara langsung, oleh sebab itu cara yang logis untuk
mengetahui adanya pengetahuan adalah mengamati atau mengukur tindakantindakan yang dilakukan oleh individu atau perusahaan secara keseluruhan.
Merujuk pada pendapat tersebut, Soo et al. (2002a) menggunakan proses
pemecahan masalah dan pengambilan keputusan sebagai suatu proses yang
diamati untuk mengidentifikasi adanya penciptaan pengetahuan. Seperti
dikemukakan Nonaka dan Takeuchi (1995) penciptaan pengetahuan dilakukan
terutama ketika individu-individu berhadapan dengan situasi yang tidak sesuai
dengan seharusnya atau situasi dimana harus dilakukan sesuatu yang tidak biasa
23
(rutin). Selanjutnya Krogh et al. (2000) menyampaikan bahwa penciptaan
pengetahuan di perusahaan bergantung pada pengelolaan percakapan antara
individu-individu
dalam
perusahaan
yang
bertujuan
memecahkan
suatu
permasalahan. Bila percakapan atau interaksi antara individu hanya bertujuan
untuk memastikan adanya pengetahuan maka yang terjadi adalah pengendalian
terhadap kegiatan rutin.
2.8 Inovasi dan Proses Penciptaan Pengetahuan
Proses penciptaan pengetahuan merupakan bagian yang penting dalam
inovasi (Nonaka & Takeuchi 1995). Pembaharuan pengetahuan yang dimiliki
perusahaan merupakan sumber inovasi. Swan et al. (1999) mengemukakan bahwa
semakin tinggi aliran pengetahuan masuk ke dalam perusahaan, semakin besar
pula output inovatif dari perusahaan tersebut. Oleh karena itu, Soo et al. (2000a)
dalam modelnya menempatkan inovasi sebagai output dari proses penciptaan
pengetahuan (Gambar 2).
Pada model tersebut, pengujian hubungan antara output inovatif perusahaan
dengan kinerja perusahaan merujuk pada penelitian Banbury dan Mitchel (1995)
yang meyimpulkan bahwa inovasi produk secara inkremental mempengaruhi
pangsa pasar perusahaan yang melakukannya. Di sisi lain, Chaney dan Devinney
(1992) dan Geroski et al. (1993) menyatakan bahwa output inovatif
mempengaruhi kinerja perusahaan dalam bentuk harga saham di pasar modal dan
laba perusahaan.
23
24
Sumber pengetahuan organisasi
Efek perusahaan
Efek industri
Kapabilitas
Pemecahan
masalah
Akuisisi
pengetahuan
Pengetahuan
baru
Daya serap
Gambar 2 Model Penciptaan Pengetahuan dalam Perusahaan (Soo et al. 2002a)
Inovasi
Kinerja
Finansial
25
2.9 Daya Serap Perusahaan
Cohen dan Levinthal (1990) yang diacu Soo et al. (2002a) mendefinisikan
daya serap perusahaan sebagai kemampuan perusahaan untuk menghargai nilai
kebaruan
dari
informasi
eksternal
dan
mengasimilasikannya
serta
mengaplikasikan untuk tujuan-tujuan komersialnya. Dikemukakan pula bahwa
perusahaan dengan investasi riset dan pengembangan yang besar mempunyai
kemampuan untuk menyerap pengetahuan dan ketrampilan baru yang lebih tinggi.
Beberapa penelitian menunjukkan adanya hubungan konsep daya serap
perusahaan ini dengan peran akuisisi pengetahuan dan pembelajaran. Mowery et
al. (1996) diacu Soo et al. (2002a) menghubungkan tingkat daya serap perusahaan
dengan kemampuan mencari dan memanfaatkan pengetahuan baru. Penelitian lain
yang dilakukan Pennings dan Harianto (1992) yang diacu Soo et al. (2002a),
menghubungkan daya serap perusahaan dengan kemampuan perusahaan untuk
belajar dan memanfaatkan pengetahuan baru. Dikemukakan bahwa perusahaan
yang mengakumulasikan pengalaman sebelumnya pada bidang teknologi tertentu
akan meningkatkan kemampuan untuk mengadopsi teknologi baru di bidang
tersebut. Selengkapnya model penciptaan pengetahuan yang dikemukakan Soo et
al. (2002a) disajikan pada Gambar 2.
2.10 Strategi dan Penciptaan Pengetahuan
Meskipun telah menjadi aksioma dalam dunia bisnis bahwa pengetahuan
merupakan sumber keunggulan kompetitif, tetapi tidak semua pengetahuan
bernilai strategis. Oleh karena itu, menjadi sangat penting bagi penentu kebijakan
untuk menggunakan kerangka pikir yang realistis untuk menilai peran
pengetahuan dalam kaitannya dengan strategi perusahaan (Krogh et al. 2000).
Secara umum, tujuan akhir mengkaitkan pengetahuan dengan semua aktivitas
perusahaan adalah untuk memastikan bahwa profitabilitas perusahaan di atas ratarata profitabilitas industri baik dalam jangka pendek maupun dalam jangka
panjang. Namun demikian, manajemen puncak jarang fokus pada peran strategis
pengetahuan. Untuk itu diperlukan kerangka pikir peran strategis pengetahuan
dikaitkan dengan proses pengetahuan (Tabel 2).
25
26
Tabel 2 Kerangka Pikir Strategi Keunggulan Bersaing Berbasis Pengetahuan
Strategi
Keunggulan
bersaing
Sumber
Keunggulan
Bersaing
Peran
Pengetahuan
Proses
Pengetahuan
Hasil
Bertahan
 Profitabilitas
saat ini
 Kompetitor
tidak dapat
mengimplementasikan
 Tidak bisa
ditiru
 Skala
ekonomi
 Lingkup
ekonomi
 Diferensiasi
produk/jasa
 Bernilai, sulit
ditiru, sulit
disubstitusi
 Kemampuan
transfer lebih
penting dari
isi
 Transfer
pengetahuan
 Perbaikan
terusmenerus
Profitabilitas
lebih
tinggi
dari
rataan
industri
Pengembangan
 Profitabilitas
mendatang
 Kompetitor
tidak dapat
mengimplem
entasikan
 Tidak bisa
ditiru
 Potensi
skala
ekonomi
 Potensi
lingkup
ekonomi
 Potensi
diferensiasi
produk/jasa
 Pengetahuan
baru untuk
inovasi
produk/
proses
 Pengetahuan
baru yang
dapat
ditransferkan
 Penciptaa
n pengetehuan
 Inovasi
radikal
Profitabilitas
mendata
ng lebih
tinggi
dari
rataan
industri
Sumber: Krogh et al. (2000)
Terdapat dua tipe strategi yang ditawarkan, yaitu strategi bertahan dan
strategi ekspansi (Krogh et al. 2000). Strategi bertahan dimaksudkan untuk
mengamankan profitabilitas perusahaan saat ini. Strategi tipe ini memanfaatkan
kekuatan dan meminimalkan kelemahan dalam sumberdaya dan pengetahuan
yang dimiliki perusahaan. Tujuannya adalah memperoleh keunggulan peluang
bisnis yang ada dan menetralkan ancaman lingkungan. Apabila memilih strategi
bertahan, pihak manajemen perlu memperhitungkan dengan cermat lingkungan
bisnis yang dimaksud. Strategi bertahan juga membuat tidak menarik pendatang
baru potensial untuk masuk melalui efek pengalaman dan lingkup ekonomi serta
persiapan perusahaan akan kemungkinan adanya produk substitusi (Porter 1990).
2.11 Konsep Balanced Scorecard
Konsep Balanced Scorecard (BSC) pertama kali dikenalkan oleh Kaplan
dan Norton (1992) dalam sebuah artikel di majalah Harvard Business Review
yang berjudul ”The Balanced scorecard-Measures That Drive Performance”.
Konsep BSC ini telah berkembang pesat, sehingga Kaplan dan Norton pada tahun
1996 merevisi BSC yang telah mereka bangun dengan menerbitkan buku yang
berjudul ”Balanced Scorecard; Translating strategy into Action”. Pada buku ini
27
penulis mulai menggunakan istilah Strategy Map (Peta Strategi). Peta Strategi ini
kemudian dijelaskan secara lebih terperinci dalam buku ketiganya yang berjudul ”
Strategy Map; Converting Intangible Assets into Tangible Outcomes” yang terbit
pada Tahun 2004.
Balanced Scorecard didefinisikan sebagai suatu alat manajemen kinerja
yang dapat membantu organisasi untuk menerjemahkan visi dan strategi ke dalam
aksi dengan memanfaatkan sekumpulan indikator finansial dan non-finansial yang
kesemuanya terjalin dalam suatu hubungan sebab akibat (Kaplan & Norton 1996).
Dari definisi tersebut, dapat dikatakan bahwa BSC sangat berperan sebagai
penerjemah atau pengubah visi dan strategi organisasi menjadi aksi. Karena itu,
BSC tidak berhenti pada saat strategi selesai dibangun, tetapi terus memonitor
proses eksekusinya.
Lebih lanjut dijelaskan bahwa pengukuran kinerja organisasi yang hanya
bertumpu pada aspek keuangan tidak akan cukup memberikan informasi yang
mendalam bagi pengambil keputusan organisasi. Hal ini disebabkan kinerja
keuangan cenderung mengukur tangible factors sehingga bersifat jangka pendek.
Faktor berwujud ini pada dasarnya adalah atau lagging indicator (faktor akibat)
dan bukan leading indicator (faktor penyebab). Padahal ukuran terhadap
intangible factors, seperti pengetahuan organisasi, kepuasan karyawan, kepuasan
pelanggan, brand name dan lain-lain justru yang menjadi faktor penyebab
(leading indicator) kinerja organisasi pada jangka panjang.
Keunggulan BSC dibanding konsep perencanaan strategi lainnya adalah,
bahwa BSC dapat menjaga keseimbangan di antara indikator-indikator tersebut di
atas. Lebih lanjut dikemukakan bahwa perspektif BSC berisi serangkaian tujuan
dan ukuran yang saling berkaitan, konsisten dan saling mendukung yang
diturunkan dari visi dan strategi- strategi yang relevan di tiap-tiap bagian dalam
empat perspektif. Keempat perspektif tersebut adalah:
Financial Perspective
(Perspektif Keuangan), Customer Perspective (Perspektif Pelanggan), Internal
Business Process Perspective (Perspektif Proses Bisnis Internal) dan Learning
and Growth Perspective (Perspektif Pembelajaran dan Pertumbuhan).
27
28
2.11.1 Perspektif dalam Balanced Scorecard
1) Perspektif Keuangan
Secara tradisional, laporan keuangan merupakan indikator historis-agregatif
yang merefleksikan akibat dari implementasi dan eksekusi strategi dalam satu
periode. Pengukuran kinerja keuangan akan menunjukkan apakah perencanaan
dan pelaksanaan strategi memberikan perbaikan yang mendasar bagi keuntungan
perusahaan. Perbaikan-perbaikan ini tercermin dalam sasaran-sasaran yang secara
khusus berhubungan dengan keuntungan yang terukur, pertumbuhan usaha, dan
nilai pemegang saham. Pengukuran kinerja keuangan mempertimbangkan adanya
tahapan dari siklus kehidupan bisnis, yaitu: growth, sustain, dan harvest (Kaplan
& Norton 1996). Tiap tahapan memiliki sasaran yang berbeda, sehingga
penekanan pengukurannyapun berbeda pula, yaitu:
a) Growth adalah tahapan awal siklus kehidupan perusahaan di mana perusahaan
memiliki produk atau jasa yang secara signifikan memiliki potensi
pertumbuhan terbaik. Di sini, manajemen terikat dengan komitmen untuk
mengembangkan
suatu
produk
atau
jasa
baru,
membangun
dan
mengambangkan suatu produk/jasa dan fasilitas produksi, menambah
kemampuan operasi, mengembangkan sistem, infrastruktur, dan jaringan
distribusi yang akan mendukung hubungan global, serta membina dan
mengembangkan hubungan dengan pelanggan. Dalam tahap pertumbuhan,
perusahaan biasanya beroperasi dengan arus kas yang negatif dengan tingkat
pengembalian modal yang rendah. Dengan demikian, tolok ukur kinerja yang
cocok dalam tahap ini adalah, misalnya, tingkat pertumbuhan pendapatan atau
penjualan dalam segmen pasar yang telah ditargetkan.
b) Sustain adalah tahapan kedua saat perusahaan masih melakukan investasi dan
reinvestasi dengan mengisyaratkan tingkat pengembalian terbaik. Pada tahap
ini, perusahaan mencoba mempertahankan pangsa pasar yang ada, bahkan
mengembangkannya, jika memungkinkan. Investasi yang dilakukan umumnya
diarahkan untuk menghilangkan bottleneck, mengembangkan kapasitas, dan
meningkatkan perbaikan operasional secara konsisten. Sasaran keuangan pada
tahap ini diarahkan pada besarnya tingkat pengembalian investasi yang
dilakukan. Tolok ukur yang digunakan pada tahap ini, ROI, ROCE, dan EVA.
29
c) Harvest
adalah
tahapan
ketiga
di
mana
perusahaan
benar-benar
memanen/menuai hasil investasi di tahap-tahap sebelumnnya. Tidak ada lagi
investasi besar, baik ekspansi maupun pembangunan kemampuan baru,
kecuali pengeluaran untuk pemeliharaan dan perbaikan fasilitas. Sasaran
keuangan utama dalam tahap ini, sehingga diambil sebagai tolok ukur, adalah
memaksimumkan arus kas masuk dan pengurangan modal kerja.
2) Perspektif Pelanggan
Filosofi manajemen terkini telah menunjukkan peningkatan pengakuan atas
pentingnya customer focus dan customer satisfaction. Perspektif ini merupakan
leading indicator. Jadi, jika pelanggan tidak puas mereka akan mencari produsen
lain yang sesuai dengan kebutuhan mereka. Kinerja yang buruk dari perspektif
akan menurunkan jumlah pelanggan di masa depan meskipun saat ini kinerja
keuangan terlihat baik. Perspektif pelanggan memiliki dua kelompok pengukuran,
yaitu: customer core measurement dan customer value propositions.
a) Customer Core Measurement
Customer core measurement memiliki beberapa komponen pengukuran,
yaitu: market share, customer retention customer acquisition, customer
satisfaction, dan customer profitability
b) Customer value proposition
Customer value proposition merupakan pemicu kinerja yang terdapat pada
core value proposition yang didasarkan pada atribut sebagai berikut:
product/service attributes, customer relationship, dan image and
relationship.
3) Perspektif Proses Bisnis Internal
Analisis proses bisnis internal perusahaan dilakukan dengan menggunakan
analisis value-chain. Di sini, manajemen mengidentifikasi proses internal bisnis
yang kritis yang harus diunggulkan perusahaan. Scorecard dalam perspektif ini
memungkinkan manajer untuk mengetahui seberapa baik bisnis mereka berjalan
dan apakah produk dan atau jasa mereka sesuai dengan spesifikasi pelanggan.
Perspektif ini harus didesain dengan hati-hati oleh mereka yang paling
mengetahui misi perusahaan yang mungkin tidak dapat dilakukan oleh konsultan
luar.
29
30
Perbedaan perspektif bisnis internal antara pendekatan tradisional dan
pendekatan BSC, adalah:
1) Pendekatan tradisional berusaha untuk mengawasi dan memperbaiki proses
bisnis yang sudah ada sekarang. Sebaliknya, BSC melakukan pendekatan atau
berusaha untuk mengenali semua proses yang diperlukan untuk menunjang
keberhasilan strategi perusahaan, meskipun proses-proses tersebut belum
dilaksanakan.
2) Dalam pendekatan tradisional, sistem pengukuran kinerja hanya dipusatkan
pada bagaimana cara menyampaikan barang atau jasa, sedangkan dalam
pendekatan BSC, proses inovasi dimasukkan dalam perspektif proses bisnis
internal.
Aktivitas penciptaan nilai perusahaan, terangkai dalam suatu rantai nilai
yang dimulai dari proses perolehan bahan baku sampai penyampaian produk jadi
ke konsumen (Shank & Govindarajan 1995). Aktivitas penciptaan nilai di atas
diistilahkan sebagai proses bisnis internal. Kaplan dan Norton (1996) membagi
proses bisnis internal ke dalam: inovasi, operasi, dan layanan purna jual.
Selanjutnya, pengukuran kinerja dalam perspektif ini berpedoman pada prosesproses di atas, yaitu:
a) Proses Inovasi. Dalam proses ini, unit bisnis menggali pemahaman
tentang kebutuhan laten dari pelanggan dan menciptakan produk dan jasa
yang mereka butuhkan. Proses inovasi dalam perusahaan biasanya
dilakukan oleh bagian R & D sehingga setiap keputusan pengeluaran suatu
produk ke pasar telah memenuhi syarat-syarat pemasaran dan dapat
dikomersialkan (didasarkan pada kebutuhan pasar). Aktivitas R & D ini
merupakan aktivitas penting dalam menunjang kesuksesan perusahaan,
terutama, untuk jangka panjang.
b) Proses Operasi. Proses Operasi adalah proses untuk membuat dan
menyampaikan produk/jasa. Aktivitas di dalam proses operasi terbagi ke
dalam dua bagian: 1) proses pembuatan produk dan 2) proses
penyampaian produk kepada pelanggan. Pengukuran kinerja yang terkait
dalam proses operasi dikelompokkan pada: waktu, kualitas, dan biaya.
31
c) Proses Pelayanan Purna Jual. Proses ini merupakan jasa pelayanan pada
pelanggan setelah penjualan produk/jasa tersebut dilakukan. Aktivitas
yang terjadi dalam tahapan ini, misalnya, penanganan garansi dan
perbaikan penanganan atas barang rusak dan yang dikembalikan serta
pemrosesan pembayaran pelanggan. Perusahaan dapat mengukur apakah
upayanya dalam pelayanan purna jual ini telah memenuhi harapan
pelanggan, dengan menggunakan tolok ukur yang bersifat kualitas, biaya,
dan waktu seperti yang dilakukan dalam proses operasi.
4) Perspektif Pembelajaran dan Pertumbuhan
Proses pembelajaran dan pertumbuhan ini bersumber dari faktor sumber
daya manusia, sistem, dan prosedur organisasi, termasuk dalam perspektif ini
adalah pelatihan karyawan dan budaya perusahaan yang berhubungan dengan
perbaikan individu dan organisasi. Dalam organisasi knowledge-worker, manusia
adalah sumber daya utama. Dalam berbagai kasus, perspektif pembelajaran dan
pertumbuhan
merupakan
fondasi
keberhasilan
bagi
knowledge-worker
organization dengan tetap memperhatikan faktor sistem dan organisasi.
Hasil dari pengukuran ketiga perspektif sebelumnya biasanya akan
menunjukkan kesenjangan yang besar antara kemampuan orang, sistem, dan
prosedur yang ada saat ini dengan yang dibutuhkan untuk mencapai kinerja yang
diinginkan. Itulah mengapa, perusahaan harus melakukan investasi di ketiga
faktor tersebut untuk mendorong perusahaan menjadi sebuah organisasi
pembelajar (learning organization).
Menurut Kaplan dan Norton (2004) “learning” lebih dari sekedar “training”
karena pembelajaran meliputi pula proses “mentoring dan tutoring”, seperti
kemudahan dalam komunikasi di segenap karyawan yang memungkinkan mereka
untuk siap membantu jika dibutuhkan. Dalam perspektif ini, organisasi melihat
tolok ukur yang dikelompokkan menjadi tiga, yaitu:
31
32
1) Employee capabilities. Tidak ada yang lebih baik bagi transformasi
revolusioner dari pemikiran era industrial ke era informasi selain filosofi
manajemen baru, yaitu bagaimana para karyawan menyumbangkan
segenap kemampuannya untuk organisasi. Untuk itu, perencanaan dan
upaya implementasi reskilling karyawan yang menjamin kecerdasan dan
kreativitasnya dapat dimobilisasi untuk mencapai tujuan organisasi.
2) Information system capabilities. Bagaimanapun juga, meski motivasi dan
keahlian karyawan telah mendukung pencapaian tujuan-tujuan perusahaan,
masih diperlukan informasi-informasi yang terbaik. Dengan kemampuan
sistem informasi yang memadai, kebutuhan seluruh tingkatan manajemen
dan karyawan atas informasi yang akurat dan tepat waktu dapat dipenuhi
dengan sebaik-baiknya.
3) Motivation, empowerment, and alignment. Paradigma manajemen terbaru
menjelaskan bahwa proses pembelajaran sangat penting bagi karyawan
untuk melakukan trial and error sehingga turbulensi lingkungan samasama dicoba-dikenali tidak saja oleh jenjang manajemen strategis tetapi
juga oleh segenap karyawan di dalam organisasi sesuai kompetensinya.
2.9.2 Knowledge Management Balanced Scorecard
Knowledge
Management
Balanced
Scorecard
merupakan
konsep
pengukuran kinerja organisasi berbasis pengetahuan dengan menggunakan
pendekatan balanced scorecard (Tiwana 2000), selanjutnya disebut Knowledge
Management Scorecard (KM-Scorecard). Konsep KM-Scorecard ini dapat
digunakan untuk mengevaluasi dampak penerapan suatu sistem manajemen
pengetahuan dengan empat kriteria proses yang komplementer, yaitu:
1) Terjemahkan visi manajemen pengetahuan. Pada tahap ini, manajer perlu
mencari konsensus untuk menjawab pertanyaan mengapa pengetahuan perlu
dikelola dan apa visi organisasi terkait investasi manajemen pengetahuan. Visi
tersebut dibutuhkan untuk diterjemahkan ke dalam tujuan dan sasaran yang
konkrit sebelum sejumlah aktivitas dapat diukur.
2) Komunikasikan dan kaitkan. Pada tahap ini dapat diukur seberapa baik
karyawan telah dilatih untuk menggunakan sistem manajemen pengetahuan
33
sebagai bagian dari pekerjaan. Dapat pula diukur seberapa efektif sistem
imbalan dikaitkan dengan pemanfaatan dan kontribusi pengetahuan.
3) Lakukan pengendalian. Tahap ini merupakan bagian dari strategi BSC untuk
menentukan seberapa tepat ukuran-ukuran metrik yang dipilih, tujuan, target
dan alokasi sumber daya dikaitkan dengan ide-ide awal yang dipertimbangkan
untuk penerapan sistem manajemen pengetahuan.
4) Menggabungkan pembelajaran dan umpan balik. Pada tahap ini, dilakukan
evaluasi tujuan, target dan ukuran metrik yang telah dipilih untuk sistem
manajemen pengetahuan yang dirancang, kemudian dianalisa kemampuan
kerjanya. Keempat proses dalam pendekatan KM-Scorecard tersebut yang
diilustrasikan pada Gambar 3.
Terjemahkan visi
Manajemen
Pengetahuan (MP)
Mengapa organisasi
mengelola pengetahuan?
Apa visi organisasi
terhadap KM?
Dapatkan konsensus
Pembelajaran dan
Umpan balik
Komunikasikan dan
Kaitkan
Sudahkah ide-ide
tersampaikan?
Didik karyawan
Kaitkan imbalan dengan
pemanfaatan &
kontribusi pengetahuan
KM-SC
Apakah dapat
dijalankan?
Apakah terlihat hasilnya?
Apa yang dapat
dilakukan lebih baik?
Tinjau ulang strategi MP
Perencanaan Bisnis
Tentukan tujuan
Tentukan ukuran
Tentukan imbalan
Alokasikan waktu & uang
Buat patokan
Penghargaan terhadap
kinerja dan kontribusi
aset pengetahuan
Gambar 3 The Knowledge Management Balanced Scorecard (Tiwana 2000)
Keunggulan KM-Scorecard dibanding pendekatan lain adalah mampu
menghasilkan rencana strategik penerapan manajemen pengetahuan yang
memiliki karakteristik sebagai berikut:
1) Mampu memberikan potret kesehatan intelektual organisasi setiap saat
diperlukan dan pada setiap poin/kriteria.
33
34
2) Terpadunya
relasi
cause-effect
sehingga
dapat
mengarahkan
strategi
manajemen pengetahuan dengan lebih tepat.
3) Memiliki kapabilitas untuk mengkaitkan tujuan-tujuan individual dengan
keseluruhan strategi pengetahuan organisasi.
4) Mampu mengukur sasaran dari kontribusi pengetahuan sebagai sumber daya
tanwujud (intangible sources) bagi keunggulan kompetitif, seperti kepuasan
pelanggan, keterampilan dan kompetensi karyawan.
Namun
demikian,
KM-Scorecard
memiliki
keterbatasan
dalam
penerapannya karena lebih sulit dalam merancangnya. Di samping itu, model KMScorecard suatu organisasi jarang sekali bisa langsung diadopsi oleh organisasi
lain karena seringkali terdapat perbedaan-perbedaan yang tajam meskipun di
antara organisasi sejenis.
2.12 Tinjauan Penelitian Terdahulu yang Relevan
Tahun 1990-an merupakan kurun waktu penting dalam perkembangan
Manajemen Pengetahuan. Pada kurun waktu tersebut banyak ilmuwan
mengemukakan
konsep-konsep
baru
yang
penting
bagi
pengembangan
Manajemen Pengetahuan sebagai ilmu. Kurun waktu berikutnya para ilmuwan
berusaha menguji konsep-konsep tersebut dengan penelitian empiris di berbagai
wilayah.
Salah satu konsep yang lahir di era 1990-an yang banyak dijadikan landasan
dalam kajian tentang penciptaan pengetahuan organisasi adalah konsep yang
dikemukakan Nonaka dan Takeuchi (1995) melalui bukunya The Knowledge
Creating Company: How Japanese Companies Create the Dynamic of Innovation.
mengemukakan bahwa penciptaan pengetahuan organisasi membutuhkan interaksi
yang dinamis dan intensif serta membutuhkan bnayak tenaga dari para anggota
tim. Keahlian dalam penciptaan pengetahuan organisasi ini menurut Nonaka dan
Takeuchi merupakan kunci dari keberhasilan perusahaan-perusahaan Jepang. Pada
buku ini Nonaka dan Takeuchi menggunakan pengetahuan sebagai unit
analisisnya dalam menjelaskan perilaku organisasi perusahaan. Kajian ini juga
berangkat dari keyakinan bahwa organisasi bisnis tidak hanya memproses
pengetahuan tetapi sekaligus juga menciptakannya. Menurut kedua ahli ini
penciptaan pengetahuan terjadi dalam tiga tingkatan, yakni individu , kelompok
35
dan organisasi. Studi ini bertujuan merumuskan model generik dari penciptaan
pengetahuan organisasi. Kajian ini ditulis setelah keduanya bertahun-tahun
melakukan penyelidikan secara mendalam terhadap perusahaan-perusahaan
Jepang.
Pada kurun waktu berikutnya, Soo et al (2002b) melakukan studi empirik
mengenai proses penciptaan pengetahuan di dalam organisasi. Kelompok peneliti
ini menguji model melalui kajian yang bersifat komprehensif tentang penciptaan
pengetahuan organisasi dan dampaknya terhadap inovasi dengan melakukan
eksplorasi untuk menemukan variabel-variabel yang berperan penting dalam
penciptaan pengetahuan. Studi ini dilakukan terhadap 317 perusahaan manufaktur
dan empat sektor industri jasa, dimana satu perusahaan diwakili satu responden
yakni para pemimpin perusahaan dan data dianalisis dengan Partial Least Square
(PLS). Meskipun studinya dilakukan di industri berbeda secara bersamaan namun
tidak dijelaskan disini apakah masing-masing industri tersebut memiliki
karakteristik yang berbeda-beda. Temuan penting dari studi tersebut adalah,
adanya konsisten dengan proposisi Nonaka dan Takeuchi (1995) bahwa integrasi
antara pengetahuan yang telah ada di dalam organisasi merupakan kunci penting
bagi inovasi dan kinerja organisasi.
Penelitian serupa dengan kajian Soo et al (2002b) dilakukan Susatyo-Munir
(2004) terhadap perusahaan kosmetika modern di Indonesia (Full Manufacturing).
Penelitian tersebut menyimpulkan bahwa variabel pengetahuan baru mempunyai
pengaruh langsung dan positif pada keluaran inovasi perusahaan. Penelitian ini
merupakan konfimasi model yang telah dikembangkan oleh Soo et al (2002b).
Dan menghasilkan temuan, struktur model penciptaan pengetahuan perusahaanperusahaan kosmetik di Indonesia berbeda dengan struktur model yang
dikembangkan Soo et al (2002b). Perbedaan tersebut dikarenakan jenis industri
dan serta instrumen yang digunakan. Selanjutnya, penelusuran pustaka lebih
lanjut untuk dapat mengetahui state-of-the art ilmu Manajemen Pengetahuan
khususnya proses penciptaan pengetahuan dan inovasi disarikan pada Tabel 3.
35
36
Tabel 3 Penelitian Terdahulu yang Relevan
Pengarang
No Tahun
1 1999
Sukmawati A
2
2001
Canny A
3
2002
Traill WB &
Meulenberg M
4
2002b
Soo et al.
5
2004
Chou SW & He
MY
6
2004
Al-Hawari M.
7
2005
Indarti N & van
Geenhuizen M
8
2005
Irsan I
Kesimpulan
Industri pengolahan susu di Indonesia berada
pada tahap factor driven yang merupakan
tahap awal pembangunan suatu industri
dengan determinan industri terkait dan
industri pendukung berupa industri pemasok
bahan baku utama merupakan titik kritis bagi
keunggulan kompetitifnya.
Prioritas strategi dan program pengembangan
agroindustri susu berbasis usaha lepas panen
susu adalah mengembangkan usaha industri
pengolahan susu tingkat pedesaan dan
merintis jaringan kemitraan usaha untuk
diversifikasi produk susu.
Inovasi yang dihasilkan perusahaanperusahaan industri pangan di Eropa berbeda
tergantung kepada pemilihan orientasi
dominan inovasinya, yaitu produk, proses
atau pasar.
Penciptaan pengetahuan baru lebih
dipengaruhi oleh jejaring informal dan daya
serap individual dengan skenario pemecahan
masalah pada tingkat konsensus.
Aset pengetahuan merupakan faktor kunci
yang memfasilitasi proses penciptaan
pengetahuan. Aset pengetahuan konseptual
mempunyai pengaruh paling nyata terhadap
proses penciptaan pengetahuan, sedangkan
aset sistemik memberikan pengaruh paling
kecil.
Model K-space memberikan basis
pengetahuan baru dalam konseptualisasi
proses penciptaan pengetahuan dalam
organisasi. Gaya manajemen pengetahuan
berkontribusi positif terhadap kodifikasi dan
ketersediaan pengetahuan.
Sumber pengetahuan paling penting yang
mendorong inovasi pada industri kecil mebel
di Indonesia adalah learning-by-doing dan
pembeli. Transfer pengetahuan masih
dilakukan secara informal.
Faktor mobilisasi penggerak pengetahuan,
dalam hal ini dipegang direksi, merupakan
faktor yang paling mendukung proses
penciptaan pengetahuan.
37
Dari sisi objek penelitian, hasil penelitian terdahulu mengenai posisi
Industri Pengolahan Susu (IPS) di Indonesia menyimpulkan bahwa IPS berada
pada tahap sumber daya (factor driven) sebagai pendorong keunggulan yang
merupakan tahap awal pembangunan suatu industri. Hal ini berarti bahwa
keunggulan bersaingnya masih berbasis sumber daya dasar, antara lain
ketersediaan sumber daya alam dan tenaga kerja. Industri pada tahap ini dicirikan
dengan teknologi proses yang murah dan tersedia secara luas. Biasanya teknologi
berasal dari negara lain dan transfer teknologi dilakukan melalui investasi
langsung, imitasi atau akuisisi. Hal ini sejalan dengan kondisi faktual, selama ini
IPS dikembangkan sebagai industri substitusi impor, bukan industri yang tumbuh
dari keunggulan sumber daya lokal maupun keunggulan teknologi (Sukmawati
1999). Diperlukan penelitian selanjutnya untuk mengidentifikasi basis keunggulan
bersaing lainnya yang harus dikembangkan oleh IPS agar mampu bergeser pada
tahap keunggulan kompetitif berikutnya (Gambar 4).
IPS
Gambar 4
Investasi
Inovasi
Tahapan Pembangunan Keunggulan Kompetitif
1999)
Kekayaan
IPS (Sukmawati
Identifikasi terhadap tingkat kepentingan determinan-determinan yang
merupakan determinan penting dalam upaya meningkatkan keunggulan bersaing
IPS menggunakan model berlian keunggulan bersaing (Porter’s Diamond Model)
menunjukkan bahwa determinan sumber daya menempati urutan pertama.
Determinan industri pendukung dan industri terkait mempunyai tingkat
kepentingan kedua dengan keunggulan kompetitif industri pemasok bahan baku
utama menjadi faktor terpenting dalam determinan ini. Urutan ketiga tingkat
kepentingan untuk ditingkatkan adalah determinan strategi perusahaan, struktur
dan persaingan dengan faktor terpenting dalam determinan ini adalah kemauan
dan kemampuan perusahaan bersaing di pasar global. Selengkapnya hasil
penelitian tersebut diilustrasikan pada Gambar 5.
37
38
KESEMPATAN
(kurang penting)
STRATEGI,
STRUKTUR,
DAN
PERSAINGAN
(penting)
PERMINTAAN
(kurang penting)
SUMBERDAYA
(sangat penting)
INDUSTRI
PENDUKUNG
& TERKAIT
(sangat penting)
PEMERINTAH
(kurang penting)
Gambar 5 Model Berlian Keunggulan Bersaing IPS di Indonesia (Sukmawati
1999)
Penelitian Canny (2001) menghasilkan identifikasi faktor-faktor internal dan
faktor-faktor eksternal yang mempengaruhi pengembangan agroindustri susu
berbasis usaha lepas panen susu. Faktor-faktor internal yang berhasil diidentifkasi
adalah: budaya usaha dan nilai-nilai kepercayaan peternak, pembinaan oleh usaha
lepas panen susu kepada peternak, dukungan pemerintah, potensi integrasi
vertikal dalam membangun aliansi strategis, potensi pengembangan menuju
industri hilir, produktivitas dan kualitas susu segar dalam negeri (SSDN).
Idenfitikasi faktor-faktor eksternal adalah potensi pasar, globalisasi perdagangan,
persaingan dengan bahan baku susu impor (BBSI), kebijakan negara asal BBSI,
resiko terhadap fluktuasi nilai tukar dan perubahan geopolitik dalam negeri.
Identifikasi faktor penting yang mempengaruhi sistem pengembangan
agroindustri susu, antara lain adalah potensi pengembangan industri hilir dan
kemampuan manajemen serta sumberdaya manusia (Canny 2001). Salah satu
temuannya mengenai solusi pengembangan agroindustri susu dalam negeri adalah
peningkatan proporsi susu olahan dengan salah satu programnya adalah
diversifikasi produk. Disarankan pula perlunya kajian lebih lanjut terhadap
39
variabel sosial sehingga dapat memberikan manfaat sosial yang seharusnya
diterima peternak sapi perah mengingat 90 persen produsen SSDN adalah
peternakan rakyat.
Rekomendasi kedua penelitian tersebut yang menjadi pertimbangan
pemilihan koperasi susu sebagai sebagai obyek penelitian untuk menghasilkan
model penciptaan pengetahuan yang tepat dalam rangka mendorong inovasi.
2.13 Posisi Penelitian dalam Konteks Manajemen Pengetahuan
Secara konseptual, terdapat tiga pendekatan yang dapat digunakan sebagai
dasar pengelompokan dalam disiplin Manajemen Pengetahuan, yaitu intelijen
orgaisasional,
pengembangan
organisasional
dan
pemrosesan
informasi
organisasional (Tuomi 1999). Masing-masing kelompok mempunyai arah dan
tradisi penelitian yang berbeda.
Intelijen organisasional merupakan kelompok penelitian yang fokus pada
mekanisme pengembangan kognitif dan belajar. Dalam konteks teori organisasi
dan praktek, inteligen merupakan upaya organisasi untuk memperkuat
mekanisame pencarian dan pengkajian informasi untuk memberi makna terhadap
permasalahan yang dihadapinya (Tuomi 1999). Perspektif ini banyak digunakan
dalam pembahasan isu-isu intelijen bisnis, kognitif (pemberian makna), memori
organisasi dan organisasi pembelajar.
Terkait dengan topik penelitian organisasi pembelajar, Tuomi (1999)
membagi lagi menjadi empat pendekatan utama yang masing-masing dimotori
oleh: (1) Nonaka dan Takeuchi (1995) yang menekankan pentingnya pemahaman
akan proses transformasi pengetahuan dari pengembangan ide-ide (pengetahuan
tacit) menjadi rancangan kerja baru sebagai pengetahuan eksplisit; (2) Senge
(1990) dan Espejo (1996) yang menekankan pentingnya manajemen proses
belajar dan pendekatan/disiplin berpikir sistemik; (3) Argyris (1993), Schön
(1983) dan Schein (1993) yang fokus pada identifikasi faktor-faktor kognisi dan
perilaku yang dapat berperan sebagai penghalang proses belajar dan (4) Brown
dan Duguid (1991) yang menekankan pentingnya pendekatan sosio-kultural.
Pengembangan organisasional merupakan aliran Manajemen Pengetahuan
yang lebih menekankan pada perspektif intervensionis dan analitikal. Termasuk
39
40
dalam perspektif ini adalah penelitian-penelitian dengan topik ekonomi
pengetahuan dan cara mengukur nilai pengetahuan tersebut bagi organisasi. Fokus
penelitian perspektif ini adalah pemahaman pengetahuan sebagai sumber daya.
Pemrosesan informasi organisasional merupakan aliran Manajemen
Pengetahuan yang menekankan pentingnya komunikasi dan proses berbagi
informasi dalam organisasi. Tuomi (1999) mengelompokkan aliran ini menjadi
tiga fokus area penelitian, yaitu: (1) komunikasi organisasional yang meliputi
topik jaringan informasi informal dan perancangan infrastruktur sistem
komunikasi dan aliran otomasi berbasis komputer; (2) berbagi informasi yang
meliputi pengembangan alat atau fasilitas untuk mempermudah proses berbagi
informasi baik di dalam organisasi atau antar organisasi dan (3) pemrosesan
informasi untuk mendukung proses pengambilan keputusan.
Representasi
pengetahuan merupakan salah satu topik penelitian yang menekankan teknik
merepresentasikan pengetahuan manusia ke dalam bentuk yang dapat diproses
komputer, antara lain dengan sistem pakar (Boose 1986; Gaines 1994).
Mengacu pada taksonomi penelitian di bidang Manajemen Pengetahuan
yang dikemukakan oleh Tuomi (1999) tersebut, maka dapat dikatakan bahwa
penelitian ini berada pada posisi ranah Manajemen Pengetahuan dengan
penciptaan pengetahuan sebagai isu sentral dalam pembelajaran organisasi yang
termasuk aliran intelijen organisasional. Dengan menggunakan model penciptaan
pengetahuan yang dikemukakan Nonaka dan Takeuchi (1995) sebagai basis teori,
penelitian ini, didukung teori dari aliran kompetisi berbasis pengetahuan dan
diperkaya dengan aplikasi konsep representasi pengetahuan. Penelitian ini
dimaksudkan melengkapi keterbatasan teori penciptaan pengetahuan Nonaka dan
Takeuchi (1995) tersebut. Gambaran posisi penelitian dalam konteks manajemen
pengetahuan ditampilkan pada Gambar 6.
41
Intelijen Bisnis
Kognisi
Organisasional
Intelijen
Organisasional
Memori
Organisasional
Organisasi
Pembelajar,
Penciptaan
Pengetahuan,
Transfer Kepakaran
dan Inovasi
Manajemen
Aset
Pengetahuan
MP
Pengembangan
Organisasional
Penciptaan
Pengetahuan,
untuk
Meningkatkan
Keunggulan
Bersaing
SDM dan
Pengembangan
Kerja
Kompetisi
Berbasis
Pengetahuan
Pengembangan
Proses bisnis
Komunikasi
Organisasional
Pemrosesan
Informasi
Organisasional
Representasi
Pengetahuan
Berbagi
Informasi
Representasi Data
Sistem Kolaborasi
Pemodelan Enterprise
Pemrosesan
Informasi
Gambar 6 Posisi Penelitian dalam Konteks Manajemen Pengetahuan (MP)
(Adaptasi dari Tuomi 1999)
41
Download