Minuman Berenergi dan Masalah pada Jantung

advertisement
Perangko Berlangganan No.11/PRKB/JKP/PENJUALAN IV/2014
ISSN : 0853-8344
Harga eceran Rp.9.000,-
207/Thn.XX/September-Oktober 2014
e-mail: [email protected] / [email protected];
kardiovk;
@kardio_vaskuler;
tpkindonesia.blogspot.com
Minuman Berenergi dan Masalah pada Jantung
Pencegahan Penyakit Kardiovaskular – Penilaian Resiko dan Tatalaksana
mengalami peningkat­
an kontraksi denyut
jantung satu jam ke­
mudian yang dievalu­
asi dengan mengguna­
kan Cardiac MRI.
Perusahaan mi­
num­an berenergi me­
rupakan industri besar
yang terus-menerus
berkembang setiap
To visualize cardiac magnetic resonance tagging, a cross-section harinya. Terdapat per­
of the heart in common imaging technique is seen on the left and hatian terhadap efek
samping potensial
tagged myocardium using CSPAMM on the right.
yang tidak diharapkan
dari fungsi jantung, terutama pada pasien
Minuman berenergi merupakan minum­
dewasa muda, tetapi hampir tidak ada re­
an khusus yang jika dikonsumsi akan me­
gulasi terhadap penjualan dari minum­an
ning­katkan kemampuan seseorang untuk
berenergi.
berkonsentrasi dan juga stamina tubuh
Sebuah laporan tahun 2013 dari Admi­
dalam beraktivitas. Seringkali masyarakat
nistrasi Pelayanan Kesehatan Penya­l ah­
mengkonsumsi minuman tersebut untuk
gunaan Zat dan Kejiwaan menyatakan
mengincar efek positif yang diperoleh, na­
bahwa di Amerika Serikat, dari tahun 2007
mun jika terjadi konsumsi berlebihan apakah
sampai 2011, jumlah kunjungan unit gawat
ada efek samping yang tidak diharapkan.
darurat terkait dengan konsumsi minuman
Dr. Jonas Dorner dan Dr. Daniel K. Thomas
berenergi hampir meningkat dua kali lipat,
(Universitas Bonn, Jerman) dalam studinya
dari 10.068 hingga 20.783. Sebagian besar
pada pertemuan tahunan “The Radiological
kasus ditemukan pada pasien berusia 18-25
Society of North America (RSNA)” tahun 2013
tahun, diikuti pada usia 26-39 tahun.
mengemukakan bahwa orang dewasa sehat
Pada studinya, yang masih berlangsung
yang mengkonsumsi minuman berenergi
sampai sekarang, Dr. Dorner dan koleganya
yang mengandung kadar kafein dan taurin
menggunakan cardiac magnetic resonance
imaging (MRI) untuk mengukur efek dari
konsumsi minuman berenergi terhadap
fungsi jantung pada 18 sukarelawan yang
sehat, diantaranya 15 laki-laki dan 3 wanita
dengan rata-rata usia 27,5 tahun. Setiap suka­
relawan menjalani cardiac MRI sebelum
dan satu jam sesudah konsumsi minuman
ber­energi yang mengandung taurin (400
mg/100 ml) dan kafein (32 mg/100 ml).
Dibandingkan dengan gambaran awal,
hasil dari Cardiac MRI yang dilakukan satu
jam kemudian menunjukkan peningkatan
signifikan peak strain dan peak systolic strain
rates (ukuran terhadap kontraktilitas) di ven­
trikel kiri jantung. Peneliti menemukan tidak
terdapat perbedaan signifikan terhadap
denyut jantung, tekanan darah atau jumlah
darah yang dipompakan dari ventrikel kiri
jantung pada gambaran awal dan pemerik­
saan MRI kedua.
“Ini menunjukkan bahwa konsumsi
mi­numan berenergi mempunyai dampak
jangka pendek terhadap kontraktilitas jan­
tung,” kata Dr. Dorner. “Studi lebih lanjut
dibutuhkan untuk mengevaluasi dampak
dari penggunaan minuman berenergi jangka
panjang dan efek dari minuman sejenisnya
terhadap individu dengan penyakit jan­
tung”.
Dr. Dorner mengemukakan bahwa
risiko jangka panjang minuman berenergi
belum diketahui, beliau menyarankan agar
anak-anak maupun penderita aritmia agar
menghindari minuman berenergi, karena
perubahan dalam kontraktilitas dapat me­
micu aritmia.
Selain Dr. Dorner, Professor MilouDaniel Drici, dari Perancis juga mengemuka­
kan penelitiannya pada Congress the European
Society of Cardiology 2014 di Barcelona ke­
marin. Beliau menyampaikan bahwa minu­
man berenergi yang dijual di pasaran dapat
menyebabkan masalah pada jantung.
Professor Drici mengatakan: “Minuman
berenergi sangat popular di klub menari
dan dikonsumsi selama olahraga fisik,
dimana orang biasanya mengkonsumsi
minuman tersebut terus menerus beberapa
kali. Keadaan tersebut dapat menyebabkan
beberapa kondisi yang tidak diharapkan
termasuk angina, aritmia jantung dan bah­
kan kematian mendadak.”
Beliau menambahkan: “Sekitar 96% dari
minuman tersebut mengandung kafein, de­
ngan spesifikasi 0,25 liter mampu mengan­
dung kadar kafein sebanyak 2 porsi espresso.
Kafein merupakan agonis paling poten dari
reseptor ryanodine dan menyebabkan pe­
ngeluaran kalsium yang masif ke dalam otot
jantung. Hal tersebut dapat menyebabkan
(Bersambung ke hal.4)
Alur Aplikasi Pelatihan Lanjut (“Subspesialis“) dari Kolegium Jantung
dan Pembuluh Darah, PERKI sesuai Perkonsil No.8 thn.2012
Berikut ini saya sampaikan salah satu
keputusan rapat Komisi Subspesialis dengan
para ketua dari 8 POKJA Perki yg berkaitan
dengan Subspesialisasi Training. Nama
Pokja sudah diedit kembali nomenklaturnya
sesuai dengan subspesialisasi yang akan kita
kembangkan, sebagai berikut:
1. Kardiologi Intervensi (Interventional Cardiology)
2. Kardiologi Intensif & Kegawatan Kardio­
vaskular (Acute and Intensive Cardiovascular Care)
3. Kardiologi Nuklir & Pencitraan Kardio­
vaskular (Nuclear Cardiology & Cardiovascular Imaging)
4. Ekokardiografi (Echocardiography)
5. Aritmia (Arrhythmia)
6. Vaskular (Vascular)
7. Kardiologi Pediatrik & Penyakit Jantung
Bawaan (Pediatric Cardiology & Congenital
Heart Disease)
8. Kardiologi Prevensi & Rehabilitasi
Kardiovaskular (Preventive Cardiology &
Cardiovascular Rehabilitation)
Alur permohonan untuk mengikuti
Advanced Training in Subspecialty Program,
sebagai berikut:
1. Kandidat (SpJP yang sudah 2 tahun be­
kerja di RS), mengajukan lamaran yang
ditujukan kepada Ketua Pokja Perki,
dengan disertai rekomendasi dari tempat
bekerja (RS setempat), kemudian aplikasi
ini akan dibahas oleh peer group.
2. Setelah disetujui oleh peer group, akan
diberikan arahan dan tempat pelatihan
(RS pendidikan atau non pendidikan),
dan Pokja akan memberikan rekomendasi
untuk dapat mengikuti pelatihan terse­
but.
3. Dengan rekomendasi dari Pokja Perki,
kandidat membuat lamaran yang di­
tujukan ke Direktur RS Pendidikan/
non pendidikan yang telah disepakati
dengan memberikan CC kepada Ketua
Kolegium PERKI cq Komisi Subspesialis
(att: Dr.Manoefris Kasim, SpJP).
4. Setelah selesai mengikuti program pela­
tihan minimal 2 semester (sesuai perkon­
sil 8 thn 2012), pihak RS Pendidikan/
non pendidikan, mengeluarkan surat
keterangan yang memuat tentang jenis
pelatihan, lama pelatihan, dan jumlah ex­
posure pasien untuk masing-masing jenis
penyakit/prosedur yang telah dilakukan
(log book); kemudian surat keterangan ini
ditandatangani oleh direktur RS, Ketua
Departemen Kardiologi, dan course direc­
tor pelatihan.
5. Berkas ini oleh kandidat (trainee), dikirim­
kan ke Komisi Subspesialis Kolegium
PERKI untuk diproses lebih lanjut dengan
keluaran SERTIFIKAT KOMPETENSI
TAMBAHAN / Subspecialty / SUBSPE­
SIALIS.
6. End.
Koordinator Komisi Subspesialis
Kolegium Jantung dan Pembuluh Darah
PERKI,
Dr. Manoefris Kasim, SpJP(K),
SpKN, FIHA.
2
207/Thn.XX/September-Oktober 2014
S
Tabloid Profesi
KARDIOVASKULER
STT no. 2143/SK/Ditjen PPG/STT/1995
tanggal 30 Oktober 1995
ISSN : 0853-8344
SUSUNAN REDAKSI
Ketua Pengarah:
DR. Dr. Anwar Santoso, SpJP(K), FIHA
Pemimpin Redaksi:
Dr. Sony Hilal Wicaksono, SpJP
Redaksi Konsulen:
Dr. Anna Ulfah Rahajoe, SpJP(K)
Prof.DR. Haris Hasan, SpPD, SpJP(K)
Dr. Budi Bhakti Yasa, SpJP(K)
Dr. Fauzi Yahya, SpJP(K)
Dr. Antonia A. Lukito, SpJP(K)
Tim Redaksi:
Bidang Cardiology Prevention & Rehabilitation
Dr. Basuni Radi, SpJP(K)
Dr. Dyana Sarvasti, SpJP
Bidang Pediatric Cardiology
Dr. Indriwanto, SpJP(K)
Dr. Radityo Prakoso, SpJP
Bidang Cardiovascular Emergency
Dr. Noel Oepangat, SpJP(K)
Dr. Isman Firdaus, SpJP
Bidang Clinical Cardiology
Dr. Sari Mumpuni, SpJP(K)
Dr. Rarsari Soerarso, SpJP
Bidang Interventional Cardiology
Dr. Doni Firman, SpJP(K)
Dr. Isfanudin, SpJP(K)
Bidang Echocardiography
Dr. Erwan Martanto, SpPD, SpJP(K)
Dr. BRM. Ario Soeryo K., SpJP
Bidang Cardiovascular Intensive Care
Dr. Sodiqur Rifqi, SpJP(K)
Dr. Siska Suridanda, SpJP
Bidang Cardiovascular Imaging
Dr. Manoefris Kasim, SpJP(K)
Dr. Saskia D. Handari, SpJP
Bidang Cardiac Surgery & Post-op Care
Dr. Bono Aji, SpBTKV
Dr. Pribadi Boesroh, SpBTKV
Dr. Rita Zahara, SpJP
Bidang Vascular Medicine
Dr. Iwan Dakota, SpJP(K)
Dr. Suko Ardiarto, PhD, SpJP
Tim Editor:
Dr. Sidhi Laksono Purwowiyoto
Fotografer:
Dr. M. Barri Fahmi Harmani
Sekretaris/Keuangan:
Endah Muharini
Bagian Iklan:
Bimo Sukandar
Bagian Perwajahan:
Asep Suhendar
Alamat Redaksi dan Tata Usaha:
Wisma Harapan Kita Bidakara, Lt.2,
RS Jantung Harapan Kita,
Jln. S Parman Kav. 87, Jakarta 11420,
Telp: 02170211013 atau Telp/Fax.: 5602475
atau 5684085-93 pes. 5011
e-mail : [email protected] atau [email protected]
Penerbit:
H&B
Heart & Beyond PERKI
(Perhimpunan Dokter Spesialis Kardiovaskuler Indonesia)
Manajemen:
Yayasan PERKI
Pencetak:
PT. Oscar Karya Mandiri, Jakarta
Tabloid Profesi KARDIOVASKULER diterbitkan
oleh Perhimpunan Dokter Spesialis Kardiovaskular Indonesia (PERKI). Tabloid unik ini memang
bereda dengan media kedokteran lainnya. Tata
letaknya sedikit konservatif
tapi enak dipandang. Bukan media
yang berkesan ilmiah, tetapi media ilmiah yang
sangat terjaga akurasinya, ditulis
dengan bahasa tutur yang enak dibaca.
Tabloid KARDIOVASKULER memang merupakan
sarana untuk menyampaikan
setiap informasi kedokteran mutakhir
--khususnya terkait bidang kardiovaskuler-- bagi
seluruh dokter Indonesia.
Di era globalisasi, dikenal pemeo "so many
journals, but so little time". Untuk itulah Tabloid
KARDIOVASKULER hadir, membawa berita
ilmiah kardiovaskuler terkini.
Diedarkan terbatas khusus untuk dokter Indonesia.
Infak ongkos cetak/kirim Rp150.000/tahun,
transfer melalui Bank Mandiri acc:
Tabloid Profesi Kardiovaskuler,
RK no. 116-0095028024, Sandi Kliring: 008-1304
KK. Harapan Kita, Cab. S. Parman, Jakarta.
Dr. Sony Hilal Wicaksono, SpJP
Pemimpin Redaksi
alam,
Pembaca setia tabloid profesi kardiovas-
kuler yang kami hormati, dalam tabloid
edisi 207 ini kami sajikan beberapa artikel
ilmiah yang perlu anda simak diantaranya,
artikel ilmiah tentang efek minuman berenergi
terhadap jantung yang kami tempatkan sebagai
headline. Artikel ilmiah berikutnya adalah
tentang emboli paru pada gagal jantung. Artikel bersambung dari edisi kemarin berjudul
“Implikasi dan penatalaksanaan hipertrofi
ventrikel kiri pada pasien hipertensi”. Artikel dari sponsor kali ini dari AstraZeneca
yang berjudul Pasien dengan risiko tinggi di
Asia: pendekatan dalam pencegahan penyakit
kardiovaskular. Tidak ketinggalan, artikel
yang selalu hadir pada setiap edisi Tabloid ini
adalah Kardiologi Kuantum dari Prof. Budhi,
kali ini berjudul “Dokter kecil peduli jantung
mungkinkah menjadi program promotif
preventif PERKI?”
Pada halaman dua kami publikasikan fotofoto dari acara pelantikan pengurus PERKI
cabang Jakarta masa bakti 2014-2016 berikut
Susunan Pengurus PERKI cabang Jakarta.
Pada halaman tiga kami publikasikan pula
foto-foto dari acara syukuran lulusan PPDS
Kardiologi tahun 2014 dan dari acara Week­
end Course on Cardiology 2014 (WECOC 26).
Informasi penting dari Kolegium perlu
kami sampaikan kepada seluruh anggota
PERKI di seluruh Indonesia, yaitu bagi yang
ingin melanjutkan pendidikan menjadi subspesialis, kami publikasikan di bawah
headline, alur aplikasi pelatihan lanjut (sub­
spesialis) dikeluarkan oleh Kolegium PP PERKI sesuai Perkonsil no. 8 tahun 2012.
Terakhir, kami ucapkan selamat membaca,
semoga bermanfaat.*
Pelantikan Pengurus PERKI Cabang Jakarta Masa Bakti 2014-2016
Hotel Ritz Carlton Mega Kuningan Jakarta, Minggu, 21 September 2014
SUSUNAN PENGURUS PERKI CABANG JAKARTA
MASA BAKTI 2014 – 2016
Dewan Penasehat: Dr. dr. Hananto Andriantoro, SpJP(K), FIHA
dr. Dolly RD Kaunang, SpJP, SpKP(K), FIHA
Dr. dr. Indriwanto S. Atmosudigdo, SpJP(K), FIHA
Ketua
Wakil Ketua
Sekretaris
Wakil Sekretaris
Bendahara
Wakil Bendahara
:
:
:
:
:
:
dr.
dr.
dr.
dr.
dr.
dr.
Ismi Purnawan, SpJP, MARS, FIHA
Yahya Berkahanto Juwana, SpJP, PhD, FIHA
Siska Suridanda Danny, SpJP, FIHA
Yasmina Hanifah, SpJP, FIHA
Diah Retno Widowati, SpJP, FIHA
Rina Ariani, SpJP, FIHA
Departemen Pengembangan Organisasi & Advokasi Kebijakan
Koordinator
: dr. Heru Chandratmoko, SpJP, FIHA
Anggota
: dr. Chandramin, SpJP, FIHA
dr. Ismugi, SpJP, FIHA
dr. Achyar, SpJP, FIHA
Departemen Penelitian & Pengembangan IPTEK Kadiovaskular
Koordinator
: dr. Surya Dharma, SpJP(K), PhD, FIHA
Anggota
: dr. Beny Hartono, SpJP, FIHA
dr. Retna Dewayani, SpJP, FIHA
Departemen Pengembangan Pendidikan Keprofesian Berkelanjutan (P2KB)
Koordinator
: Dr. dr. Basuni Radi, SpJP(K), FIHA
Anggota
: dr. Farial Indra, SpJP, FIHA
dr. Kurniawan Iskandarsyah, SpJP, FIHA
dr. Henry AP Pakpahan, SpJP, FIHA
dr. Inez Ariadne Siregar, SpJP, FIHA
dr. Vireza Pratama, SpJP, FIHA
Departemen Pengembangan Kemitraan & Kesejahteraan Anggota
Koordinator
: dr. Frits RW Suling, SpJP(K), FIHA
Anggota
: dr. Muhammad Yamin, SpJP, FIHA
dr. Hengkie F Lasanudin, SpJP, FIHA
dr. Hermawan, SpJP, FIHA
dr. Taofan, SpJP, FIHA
Departemen Media & Informatika
Koordinator
: dr. Adrianus Kosasih, SpJP, FIHA
Anggota
: dr. Andria Priyana, SpJP, FIHA
3
207/Thn.XX/September-Oktober 2014
SYUKURAN LULUSAN PPDS KARDIOLOGI
TAHUN 2014
Senin, 22 September 2014, bertempat di Ruang
Auditorium RS. Pusat Jantung Nasional Harapan
Kita Jakarta telah diadakan acara syukuran lulusan
PPDS Kardiologi tahun 2014.
Mereka yang telah lulus menjadi Dokter
Spesialis Jantung dan Pembuluh Darah baru itu
adalah:
Dr. Dewi Hapsari Soeprobo, SpJP
Dr. Estu Rudiktyo, SpJP
Dr. I Nyoman Wiryawan, SpJP
Dr. Jusuf Endang, SpJP
Dr. Olfi Lelya, SpJP
Dr. Prafithrie Avialita Shanti, SpJP
Dr. Victor Joseph, SpJP.
Tabloid Profesi Kardiovaskuler dan PP PERKI
mengucapkan Selamat dan Sukses*
WECOC 26
(Weekend Course on Cardiology 2014)
12-14 September 2014, bertempat di Hotel
Holiday Inn, Kemayoran Jakarta, telah digelar
acara WECOC yang mengambil tema Empowering
Cardiovascular Service Providers in National Universal
Coverage Insurance System. Acara dibuka dengan
ditandai pemukulan gong oleh dr. Ismoyo Sunu
mewakili Pengurus Pusat PERKI didampingi
dr. Yogya Yuniadi Ketua Penyelenggara dan dr.
Amiliana Mardiani S. selaku Ka Dep. Kardiologi
& Kedokteran Vaskuler FKUI.
Saat acara Gathering Night diluncurkan buku
karya Prof. Lily I Rilantono berjudul: "Penyakit
Kardiovaskular Pada Perempuan; Tantangan
Abad ke-21".
Salah satu pembicara asing yang hadir dari
USA adalah Prof. Hardean E. Achnek MD.*
Emboli Paru pada Gagal Jantung: Problematika Diagnosis dan Terapi
Gagal jantung merupakan suatu kondisi
epidemi yang masih merupakan masalah
kesehatan yang utama di seluruh dunia.
Walaupun insiden gagal jantung tetap
stabil dalam waktu 20 tahun terakhir,
prevalensinya terus mengalami peningkatan
akibat penuaan populasi dunia. Hingga saat
ini sudah dikembangkan berbagai terapi
farmakologis yang optimal untuk pena­
talaksanaan gagal jantung, namun angka
mortalitas akibat gagal jantung masih sangat
tinggi. Sebagian besar mortalitas disebabkan
oleh gagal jantung yang progresif, namun
ditemukan juga bahwa banyak morbiditas
dan mortalitas yang berhubungan dengan
tingginya angka kejadian thromboemboli
pada pasien dengan gagal jantung. Salah
satu manifestasi kejadian thromboemboli
yang fatal pada pasien gagal jantung adalah
emboli paru.(1)
Emboli paru merupakan suatu kegawat­
daruratan di bidang kardiovaskular yang
cukup sering terjadi. Akibat adanya sum­
batan pada arteri pulmonalis, penyakit ini
dapat menyebabkan kondisi kegagalan ven­
trikel kanan yang akut dan mengancam jiwa,
namun memiliki potensi untuk reversibel.(2)
Emboli paru merupakan salah satu mani­
festasi dari kejadian venous thromboembolism
(VTE). Kejadian VTE masih merupakan
penyebab morbiditas dan mortalitas yang
bermakna pada pasien-pasien dengan ga­
gal jantung, dan gagal jantung sejak lama
diyakini merupakan faktor risiko untuk
terjadinya emboli paru. Berbagai studi kasus
kontrol menunjukkan bahwa kondisi gagal
jantung berhubungan dengan peningkatan
risiko untuk menderita VTE sebesar 1,8
hingga 2,9 kali. Tingkat keparahan disfungsi
sistolik memiliki kontribusi yang signifikan,
dimana LVEF antara 20-40% berhubungan
dengan peningkatan risiko sebesar 2,8 kali
lipat dan LVEF <20% berhubungan dengan
peningkatan risiko sebesar 38,3 kali lipat.(3)
Berdasarkan trias yang diungkapkan
oleh Rudolph Virchow mengenai faktorfaktor yang dapat meningkatkan risiko
untuk terjadinya thrombosis intravaskular
sejak lebih dari 150 tahun yang lalu, dike­
tahui bahwa risiko thromboemboli menga­
lami peningkatan pada pasien-pasien gagal
jantung. Adanya stasis aliran darah pada
ruang-ruang jantung yang mengalami
dilatasi dan hipokinetik menyebabkan lebih
mudah terbentuknya thrombus yang kaya
fibrin.(1) Pada kondisi gagal jantung juga ter­
jadi disfungsi atau jejas pada endotel akibat
penurunan produksi nitric oxide (NO) dan
peningkatan produksi faktor von Willebrand
dan P-selectin.
Adanya abnormalitas pada komponen
darah dan peningkatan kadar marker pro­
trombotik pada pasien gagal jantung menun­
jukkan adanya kondisi hiperkoagulasi.(3)
Evaluasi pasien gagal jantung yang
diduga menderita emboli paru akut da­
pat menjadi suatu masalah yang kompleks
karena kedua penyakit tersebut memiliki
gejala yang hampir sama. Dyspnea meru­
pakan gejala klinis yang paling sering ter­
jadi pada kasus emboli paru, yaitu dialami
oleh 70-80% pasien.(5) Walaupun dyspnea
merupakan gejala klinis yang paling sering
dikeluhkan baik pada kondisi emboli paru
dan gagal jantung, adanya dyspnea berat
yang tidak sesuai dengan temuan objektif
mengenai kondisi kongesti vaskular paru
menunjukkan bahwa terdapat proses lain
yang menyebabkan terjadinya gangguan
pertukaran gas, seperti emboli paru.(2)
Pemeriksaan ekokardiografi transthor­
akal merupakan modalitas pencitraan yang
pertama kali dapat dilakukan pada pasien
yang diduga menderita emboli paru, ter­
utama pada pasien-pasien dengan hemodi­
namik tidak stabil karena pemeriksaan ini
dapat dilakukan secara bedside. Pemeriksaan
ini dapat digunakan untuk mendeteksi
adanya thrombus pada arteri pulmonalis
utama pada 80% kasus dengan emboli paru
yang masif.(5) Penelitian yang dilakukan
pada pasien-pasien dengan emboli paru juga
menunjukkan bahwa sebanyak lebih dari
80% pasien memiliki gambaran gangguan
ukuran dan fungsi ventrikel kanan yang
terlihat pada pemeriksaan ekokardiografi
dan Doppler. Namun, banyak pasien de­
ngan emboli paru juga menderita penyakit
kardiopulmonal yang lain, sehingga adanya
hipokinesis atau dilatasi ventrikel kanan
pada pemeriksaan ekokardiografi tidak da­
pat digunakan secara reliabel untuk melihat
bukti secara tidak langsung adanya emboli
paru pada kondisi tersebut.(6)
CT scan dengan kontras pada dada me­
rupakan modalitas pencitraan yang lebih
dipilih untuk mengevaluasi pasien-pasien
gagal jantung yang diduga menderita emboli
paru. Pemeriksaan ini memiliki spesifisitas
dan sensitifitas yang baik untuk mengi­
dentifikasi kondisi emboli paru (spesifisitas
90%, sensitivitas 80%). Dan dengan peng­
gunaan MSCT, sensitivitas dan spesifisitas
peme­rik­saan ini mengalami peningkatan
hingga berturut-turut 83% dan 96%.(5) Na­
mun, peng­gunaan kontras intravena pada
pemeriksaan CT scan dapat menyulitkan
pada pasien gagal jantung yang juga men­
derita penyakit ginjal kronik karena terdapat
(Bersambung ke hal.5)
4
207/Thn.XX/September-Oktober 2014
Kardiologi Kuantum (30)
Dokter Kecil Peduli Jantung
(Mungkinkah Menjadi Program PromotifPreventif PERKI?)
Masyarakat Indonesia kurang membutuhkan
orang-orang dengan pendidikan khusus (spesialis) dibandingkan dengan orang-orang dengan
pengetahuan umum tentang kesehatan untuk
perbaikan yang cepat dari situasi kesehatan yang
buruk di daerah-daerah terbelakang.
~Soemantri Hardjoprakoso, 1956
Salam Kardio. Dokter kecil itu eksotis
lho, adalah pernyataan penulis pada siang
hari di bulan September 2014, di lorong Pa­
viliun Sukaman RS. Jantung dan Pembuluh
Darah Harapan Kita, begitu tersirat ketika
ngobrol dengan bapak Presiden PERKI yang
baru Dr. dr. Anwar Santoso SpJP, FIHA.
Mungkinkah menjadi program promotifpreventif PERKI? Itu adalah pernyataan yang
berupa pertanyaan. “Mengapa tidak?” Beliau
membuka cakrawala ide tersebut dengan
mengajukan pemikiran tentang perlunya
PERKI memiliki satu SD unggulan sebagai
ujicoba pemikiran tersebut. Jarang PERKI
memiliki pemimpin yang lengkap dan
mumpuni kemampuannya. Yang menonjol
pada beliau adalah pendekatan saintifiknya
melalui metodologi penelitian lengkap
dengan induksi statistik yang digunakan
untuk mengambil keputusan klinik, itulah
epidemiologi klinik. Berpikir, melontarkan
ide, membahas bahkan menulisnya itu relatif
mudah dibandingkan melaksanakan di da­
lam dunia nyata dan kenyataan.
Dalil (legenda dlm bahasa Belanda) ter­
sebut di atas adalah pernyataan ke-5 hipotesis
Dr. Soemantri Hardjoprakoso dalam lampir­
an (terpisah) disertasi Indonesisch mensbeeld
als basis ener psycho-therapie, Rijkuniversiteit
di Leiden, Rabu, 20 Juni 1956. Pernyataan
tersebut mensiratkan bahwa untuk menu­
runkan angka kesakitan dan kematian suatu
penyakit dengan cepat, lebih memerlukan
provider kesehatan daripada dokter spesia­
lis. Lebih spesifik lagi dari “legenda” hampir
60 tahun yang lalu tersebut justru pernyataan
sebelumnya (Dalil ke-4) yaitu meningkatkan
kesadaran tentang kesehatan masyarakat di
daerah terbelakang diperlukan penyuluhan
kesehatan di sekolah-sekolah di daerah
tersebut.
Sementara itu, Haris Mashudi dari Ma­
lang (2012) telah menulis dalam skripsinya
tentang dokter kecil yang dikaitkan dengan
kesehatan karena menganggap bahwa kese­
hatan merupakan salah satu hal penting yang
paling mendasar dalam kebutuhan manusia,
karena sehat merupakan modal utama untuk
meningkatkan sumber daya manusia yang
(Minuman.................... hal.1)
aritmia, tetapi juga mempunyai efek dalam
kemampuan jantung untuk berkontraksi
dan mengkonsumsi oksigen. Perlu diketahui
juga bahwa 52% dari minuman berenergi
mengandung taurin, 33% mengandung glu­
koronolakton dan dua-pertiganya mengan­
dung vitamin.”
Dr. Drici melanjutkan: “Pada tahun
2008 minuman berenergi diizinkan untuk
dipasarkan di Perancis. Tahun 2009 hal
tersebut diikuti oleh skema suveilans nutrisi
nasional yang mewajibkan badan kesehatan
nasional dan regional untuk melaporkan
adanya kejadian spontan yang tidak ter­
duga ke A.N.S.E.S, badan keamanan pangan
Perancis.”
Studi terbaru menganalisa kejadian tidak
terduga yang dilaporkan ke badan tersebut
selama 1 Januari 2009 sampai 30 Novem­
ber 2012. Sejumlah 15 spesialis termasuk
kardiolog, psikiater, neurolog dan fisiolog
berkontribusi terhadap investigasi tersebut.
Penemuan tersebut dibandingkan dengan
data yang dipublikasikan dalam literatur
ilmiah.
Peneliti menemukan bahwa konsumsi
berkualitas, produktif dan mempunyai etos
kerja yang tinggi sehingga dapat memanfaat­
kan segala potensi yang dimiliki. Program
dokter kecil merupakan upaya pendekatan
edukatif dalam rangka mewujudkan peri­
laku sehat diantaranya perilaku kebersihan
perorangan, dimana anak didik dilibatkan
dan diaktifkan sebagai pelaksananya. Tujuan
dokter kecil dapat diukur dari meningkat­
nya partisipasi siswa dalam program UKS
(Usaha Kesehatan Sekolah) agar siswa dapat
menjadi penggerak hidup sehat di sekolah, di
rumah dan lingkungannya dan siswa dapat
menolong dirinya sendiri, sesama siswa, dan
orang lain untuk hidup sehat. Penelitian ini
dilakukan di SDN Sukun 1 Malang karena
merupakan salah satu SD yang menyeleng­
garakan program dokter kecil. Penelitian ini
menggunakan pendekatan kualitatif dengan
rancangan studi kasus. Teknik pengumpulan
data yang digunakan meliputi: (1) wawan­
cara mendalam; (2) observasi partisipasi;
dan (3) dokumentasi. Data yang terkumpul
melalui ketiga teknik tersebut diorganisasi,
ditafsirkan dan dianalisis untuk menyusun
konsep dan abstraksi temuan lapangan.
Kredibilitas data dicek dengan mengguna­
kan teknik triangulasi sumber data.
Mencermati studi ini yang berorien­
tasi pada kepentingan dokter kecil dan
masyarakat sekolahnya masih menyisakan
pertanyaan tentang kemungkinan keber­
hasilan program pengumpulan data tekanan
darah tinggi masyarakat dewasa sekolah
tersebut melalui dokter kecil terhadap
orangtuanya di rumah. Tentu saja tidak perlu
meragukan ketrampilan dokter kecil untuk
mengukur tekanan darah masyarakatnya
dengan menggunakan manometer elek­
tronik. Di kota-kota besar anak-anak SD
kelas 5 sudah mahir berselancar di dunia
maya internet. Pengumpulan data tersebut
masih harus diolah dipresentasikan dan
dipublikasikan dan hasilnya diaplikasikan
lagi untuk sebesar-besar manfaatnya pada
kesehatan masyarakat sekolah yang merupa­
kan bagian dari masyarakat Indonesia.
Perhimpunan Dokter Spesialis Jantung
dan Pembuluh Darah (PERKI) ikut serta me­
mandang guru, murid, orang tua, dan petu­
gas lainnya di dalam sekolah dasar adalah
unit masyarakat khusus yang perlu dipantau
kesehatan jantung dan pembuluh darahnya
secara menyeluruh, berkesinambungan dan
dikaitkan dengan program UKS yang telah
ada. UKS juga dapat dipandang sebagai
upaya terpadu lintas program dan lintas
sektor dalam rangka meningkatkan derajat
kesehatan serta membentuk perilaku hidup
sehat anak usia sekolah yang berada di seko­
lah. Menitikberatkan pada upaya promotifpreventif yang didukung oleh upaya kuratif
dan rehabilitatif yang berkualitas. Organisasi
Kesehatan Sedunia (WHO) sebenarnya telah
lama (1998) mempromosikan Health Promoting School, yaitu sekolah yang telah men­
jalankan usaha kesehatan sekolah dengan
ciri-ciri melibatkan semua pihak yang terlibat
dalam masalah kesehatan.
Adanya peningkatan angka kejadian
dan kematian penyakit jantung koroner
di masyarakat yang ditandai dengan sakit
dada, berdebar, sesak nafas, dan mening­
gal mendadak, mewajibkan kita memantau
faktor risiko yang sudah hadir di sekolah
dasar, sebelum penyakit tersebut menjadi ke­
nyataan. Faktor risiko utama yang mungkin
dan perlu dipantau adalah kelebihan berat
badan akibat gizi yang tidak seimbang serta
aktifitas fisik yang kurang, merokok dan
tekanan darah tinggi untuk bapak-ibu guru,
serta kedua orang tuanya. Upaya yang paling
sederhana adalah mendorong setiap UKS
melalui guru dan mengikut sertakan dokter
kecil dalam mengumpulkan, memiliki, dan
menganalisis data masyarakatnya tentang
berat badan, tinggi badan, (indeks masa tu­
buh), lingkar perut, tekanan darah, serta sta­
tus merokok di dalam masyarakat istimewa
tersebut. Dengan demikian kegiatan dokter
kecil dalam ikut serta memantau kesehatan
jantung dan pembuluh darah di sekolah dan
di rumah untuk kedua orang tuanya adalah
pengalaman awal dari upaya promotif dan
preventif tingkat dasar.
Dengan tersedianya data yang akurat
dapat dikembangkan upaya promotif dan
preventif yang khas untuk Sekolah Dasar
tersebut serta mengaktifkan sistim rujukan
berjenjang terkait dengan sistim kesehatan
kota yang ada. Peranan PERKI yang pertama
dan utama adalah melakukan advokasi ke­
pada Mendikbud, Menkes, dan Mendagri
beserta jajaran di bawahnya untuk mengi­
kut sertakan dokter kecil dalam memantau
kesehatan masyarakat sekolah dalam upaya
promotif preventif kardiovaskular sejak usia
dini. Kegiatan yang perlu dilakukan adalah
membuat percontohan UKS di sekolahsekolah dasar unggulan di masing-masing
kota kabupaten dan provinsi.
Penggalian persepsi masyarakat umum
tentang peranan dokter kecil pada upaya
promotif-preventif kesehatan jantung dan
pembuluh darah perlu dilakukan dengan
mengikutsertakan wartawan media cetak
dan televisi di lingkungan Kemdikbud dan
Kemkes. PERKI dan PWI dapat menyeleng­
garakan lomba berhadiah bagi mereka yang
memberikan pemberitaan terbaik secara
berkala. Perlu mengaktifkan simpul-simpul
kegiatan dengan Badan Litbang Kemkes,
Dinas-dinas Kesehatan kota, Pusat-pusat
Jantung Terpadu, Yayasan Jantung Indone­
sia, serta PJN Harapan Kita.
Pada tingkat kabupaten PERKI-Cabang
digerakkan untuk memperkuat kegiatan
ini dengan melakukan advokasi ke Guber­
nur, Bupati, Diknas, Dinkes setempat agar
menyelenggarakan program percontohan
pada SD unggulannya. Setiap dokter jantung
agar ikut serta meningkatkan kesadaran
masyarakat tentang kesehatan jantung dan
pembuluh darah melalui Dokter Kecil di
dalam kegiatan UKS-nya. Penyuluhan ke­
sehatan, membantu menganalisis data UKS,
memilihkan program yang mampu laksana,
serta meng­aktifkan
rujukan berjenjang
de­ngan sistim kes­
ehatan kota adalah
peranan yang di­
harapkan dari para
kardiolog, dokter
ahli penyakit jan­
tung dan pembuluh
darah. Salam Kuantum.
Budhi S. Purwowiyoto
dari 103 minuman berenergi yang tersedia
di Prancis meningkat sebanyak 30% selama
2009 dan 2011 hingga 30 juta liter. Salah
satu merek ternama menduduki posisi 40%
minuman energi yang dikonsumsi. Duapertiga minuman tersebut dikonsumsi jauh
dari rumah.
Selama periode dua tahun, 257 kasus
dilaporkan ke badan kesehatan, dimana
212 memberikan informasi yang bermakna
dalam hal evaluasi makanan dan obat. Ahli
menemukan bahwa 95 dari kejadian tidak
terduga yang dilaporkan merupakan gejala
kardiovaskular, 74 psikiatri, dan 57 neu­
rologis, terkadang saling bertumpang tindih.
Henti jantung dan kematian mendadak atau
tanpa sebab yang jelas terjadi paling tidak
pada 8 kasus, sementara 46 orang menga­
lami gangguan irama jantung, 13 mengalami
angina dan 8 mengalami hipertensi.
Dr. Drici berkata “Kami menemukan
bahwa ‘sindrom kafein’ merupakan masalah
yang paling sering, terjadi pada 60 orang
dan ditandai oleh cepatnya denyut jantung
(takikardia), tremor, anxietas dan nyeri
kepala”.
Jarang namun merupakan kejadian
sampingan yang berat terkait dengan minu­
man tersebut, misalnya kematian mendadak
atau kematian tanpa sebab yang jelas, aritmia
dan serangan jantung (infark miokard). Lite­
ratur memastikan bahwa kondisi tersebut
dapat terkait dengan konsumsi minuman
berenergi.”
Beliau menambahkan “Pasien dengan
kondisi jantung termasuk aritmia kateko­
laminergik, long QT syndrome, dan angina
harus diwaspadai dengan adanya bahaya
potensial dari konsumsi kafein dalam jumlah
besar, yang merupakan pencetus dari eksas­
erbasi kondisi mereka dengan kemungkinan
munculnya konsekuensi yang fatal.”
Dr. Drici melanjutkan: “Publik harus
mengetahui bahwa yang disebut dengan
“minuman berenergi” sama sekali tidak
mempunyai tempat selama atau setelah olah­
raga/latihan fisik, jika dibandingkan dengan
minuman lainnya untuk tujuan tersebut.
Jika dipakai dalam minuman cocktail yang
mengandung alkohol, kafein dalam “minu­
man berenergi” memampukan pemudapemudi di klub menari atau dimanapun
untuk mengatasi efek yang tidak diharapkan
dari alkohol, menyebabkan konsumsi kafein
yang lebih banyak lagi.”
Beliau menyimpulkan: “Pasien jarang
menyatakan adanya konsumsi minuman
berenergi kepada dokter mereka kecuali
dokter tersebut menanyakan. Dokter harus
mengingatkan pasiennya dengan kondisi
jantung bermasalah tentang bahaya potensial
dari minuman tersebut dan menanyakan
kaum muda secara khusus apakah mereka
mengkonsumsi minuman jenis tersebut se­
cara teratur atau hanya sesekali pada kondisi
tertentu”.
Di Indonesia sendiri, konsumsi minu­
man berenergi yang berlebihan dan tidak
sesuai tersebut juga seringkali ditemui.
Selain dipakai sebagai stimulan agar lebih
energik selama olahraga, tidak jarang kita
temui kaum pekerja malam seperti supir
antar kota dan kuli bangunan mengkonsumsi
minuman berenergi agar tidak mengantuk
dan lebih semangat bekerja. Penyalahgunaan
minuman berenergi tersebut patut dijadikan
perhatian khusus sebagai bahan edukasi
terutama kepada pasien yang memiliki fak­
tor resiko kardiovaskular untuk mencegah
terjadinya kejadian kardiovaskular yang
tidak diharapkan. <www.sciencedaily.com/
releases/2013/12/131202082640.htm> (accessed
September 13, 2014)
Stephanie Salim
5
207/Thn.XX/September-Oktober 2014
Implikasi dan Penatalaksanaan Hipertrofi Ventrikel Kiri
pada Pasien Hipertensi
(sambungan)
LVH dan Resiko Cardiovascular Disease
(CVD)
Beberapa penelitian klinis telah memper­
lihatkan hubungan yang erat antara LVH dan
CVD. Baik itu LVH yang di diagnosis dengan
EKG,17-19 maupun dengan ekokardiografi.20-22
Penelitian kami yang terbaru membuktikan
bahwa LVH yang didiagnosis dengan EKG
(Sokolow-Lyon criteria) adalah predic­
tor terpenting untuk resiko CVD (yaitu
infark miokard dan stroke), terlepas dari
hubu­n gannya dengan TD di klinik ,TD
ambulatorik (24-hour BP dan nocturnal BP),
kadar serum norepinephrine, dan plasma
fibrinogen.23 Hal ini disebabkan karena LVH
ter­golong aritmogenik dan dapat memicu
sudden death. Fibrosis dan kekakuan arteri
yang ada pada LVH dapat memicu disfungsi
sistolik dan diastolic, dan dilatasi atrium.
Dilatasi atrium akan mencetuskan peruba­
han aliran listrik dan elektrofisiologis jantung
yang memicu timbulnya fibrilasi atrium.
Fibrilasi atrium ini pada akhirnya akan
mencetuskan stroke embolik. Lebih jauh,
LVH meningkatkan konsumsi oksigen dan
mengurangi aliran darah ke arteri coroner
karena membesarnya massa otot ventrikel,
sehingga akan menyebabkan iskemik mi­
okardium dan gagal jantung.
Efektivitas Terapi Antihipertensi pada
LVH
Secara umum, penurunan TD dengan
obat anti hipertensi, penurunan berat badan
dan diet ketat garam dapat menurunkan
massa jantung pada pasien LVH, termasuk
juga pada pasien dengan diabetes. Regresi
LVH tergantung kepada respon dari peng­
gunaan obat anti hipertensi, atau pada be­
berapa kasus, tergantung kepada tipe terapi
yang digunakan. Beberapa penelitian klinis
membuktikan bahwa penggunaan ACE
inhibitor, ARB, aliskiren (direct renin inhibi­
tor), CCB (khususnya diltiazem, verapamil,
amlodipine) dan beberapa simpatolitik agen
(termasuk metildopa dan alfa-bloker) dapat
menghasilkan regresi LVH.24-26 Sebaliknya
diuretik, beta blocker, vasodilator seperti
hydralazine dan monoxidil, dan beberapa
obat golongan CCB kurang efektif dalam
menurunkan derajat LVH meskipun obatobat tersebut efektif dalam menurunkan
TD. Hal ini disebabkan karena obat-obat
tersebut dapat menstimulasi pelepasan nor­
epinephrine dan angiotensin II, yang dapat
menyebabkan munculnya LVH.
Sebuah studi meta-analisis yang meng­
evaluasi efektivitas dari beberapa obat anti
hipertensi dalam menurunkan derajat LVH
pada pasien hipertensi,27 memeperlihatkan
bahwa setelah dipisahkan dari hubungannya
dengan durasi terapi dan efeknya terhadap
penurunan TD, besaran relative regressi mas­
sa ventrikel kiri dapat dilihat pada Gb. 4.
Data ini memperlihatkan bahwa ARB,
CCB dan ACEI lebih efektif untuk regresi
LVH dibanding dengan diuretic dan beta
bloker. Efektivitas ARB juga sudah dibuk­
tikan melalui LIFE study yang memban­
dingkan efek ARB vs Beta blocker dalam
regresi LVH yang dinilai dengan EKG,
terlepas dari fungsinya sebagai penurun
TD.18 Lebih jauh, PRESERVE study yang
membandingkan enalapril (10-20 mg/hari)
dan nifedipine (30-60 mg/hari) pada pasien
hipertensi disertai LVH, tidak dapat mem­
perlihatkan perbedaan signifikan antara dua
pilihan terapi tersebut dalam menurunkan
TD atau LV mass.28
ningkatnya performa sistolik, meningkatkan
dan diastolik LV, sudden death, dilatasi
stroke volume, dan tidak ada peningkatan
aortic root, dan stroke. Insiden CVD ber­
pada resiko dekompensatio jika TD mening­
hubungan langsung dengan regresi massa
kat. Regresi LVh juga memiliki beberapa
ventrikel kiri.
keuntungan, seperti ter­
jadi penurunan PVC (Pre­
mature ventcular beats)
dan fibrilasi atrium. Akan
tetapi, sampai saat ini
masih belum dapat dike­
tahui secara pasti apakah
perubahan ini akan me­
ngurangi resiko sudden
death atau tidak.
Tidak banyak peneli­
tian yang mempublikasi­
kan efek dari regresi LVH
terhadap disfungsi dia­
stolik sebagai salah satu
perubahan awal dari hi­
Gb 4. Efek terapi antihipertensi terhadap derajat LVH
pertensi. Data dari LIFE
Sumber Am J Med 2003;115:41
study memperlihatkan
-ARB : 13% - CCB : 11%-ACEI : 10%
bahwa pada 728 pasien - Diuretik : 8%- Beta blocker : 6%
hipertensi dengan LVH
2. LVH dapat didiagnosis baik dengan EKG
yang dideteksi dengan EKG dan diberi terapi
maupun Eko kardiografi. Ekokardiografi
losartan/atenolol, regresi LVH berhubungan
dinilai lebih sensitif dan menjadi pilihan
dengan peningkatan fungsi diastolik yang
untuk menegakkan diagnosis LVH.
signifikan. Namun setelah satu tahun follow3. Regresi LVH, baik yang dideteksi dengan
up, tidak ada perbedaan dengan pasien yang
EKG maupun Ekokardiografi, berhubu­
tidak mengalami regresi LVH.29
Meskipun demikian, evidence dari dis­
ngan dengan menurunnya resiko CVD,
fungsi diastolic masih terus diteliti. Seperti
dan meningkatkan fungsi jantung. Peng­
misalnya pada meningkatnya kolagen di
gunaan obat antihipertensi yang tepat,
miokardium yang didahului oleh pening­
pengurangan berat badan dan diet ketat
katan massa otot ventrikel pada disfungsi
garam dapat menurunkan massa ventrikel
diastolik.
pada pasien LVH.
Fungsi Jantung setelah regresi LVH
Regresi LVH berhubungan dengan me­
Kesimpulan
1. LVH berhubungan dengan peningkatan
angka kejadian gagal jantung, aritmia,
infark miokard, penurunan fungsi sistolik
hanya diberikan pada
pasien-pasien yang
datang dengan em­
boli paru masif atau
submasif. Banyak
pasien gagal jantung
yang memiliki kon­
disi komorbid atau
kontraindikasi yang
menyebabkan mereka
tidak dapat memper­
oleh terapi primer.(4)
Pasien emboli paru
biasanya mengalami
hipoksemia yang
merespon terhadap
pemberian oksigen,
karena patofisiologi
utama dari penyakit
ini adalah gangguan
pada V/Q. Pasien
se­­baiknya diminta
untuk bed rest karena
restriksi gerakan da­
pat mengurangi ke­
mungkinan lepasnya
thrombus dari perifer
dan dapat mengu­
rangi kebutuhan akan
oksigen. Pada kasus
Patofisiologi terjadinya emboli Paru Akut pada Gagal Jantung. (4) yang berat dan pasien
dengan syok, pasien
peningkatan kecenderungan untuk mende­
dapat diintubasi dan dilakukan pemasangan
rita contrast nephropathy. Selain itu, pembe­
ventilasi mekanik untuk memastikan kondisi
rian kontras intravena melalui bolus cepat
oksigenasi jaringan tetap adekuat.(5)
dapat menyebabkan terjadi peningkatan
Adanya disfungsi sistolik dan diastolik
tekanan intrakardiak secara mendadak dan
pada ventrikel kiri menyulitkan penatalak­
edema pulmonum. Pasien-pasien gagal jan­
sanaan pasien gagal jantung dengan emboli
tung yang datang dengan kongesti vaskular
paru yang masif. Strategi penatalaksanaan
paru atau hipertensi sistemik harus dista­
yang sering dilakukan sebagai respon ter­
bilkan dahulu sebelum menjalani tindakan
hadap kondisi hipotensi sistemik yaitu
CT scan.(4)
de­n gan memberikan cairan dapat mem­
Terapi primer pada pasien gagal jan­
perburuk kondisi kegagalan biventrikular,
tung dengan emboli paru akut antara lain
edema, dan hipoksemia pada penderita gagal
fibrinolisis, embolektomi paru melalui
jantung. Percobaan awal untuk tindakan
pembedahan atau kateterisasi. Terapi primer
ekspansi volume yang dibatasi sebanyak
250 hingga 500 ml dapat dilakukan pada
penderita gagal jantung tanpa adanya bukti
peningkatan tekanan pengisian ventrikel
kanan atau edema paru.(4)
Umumnya pasien-pasien yang tidak
menderita gagal jantung merespon dengan
baik terhadap pemberian vasopresor murni
untuk memperbaiki hemodinamik pada
pasien-pasien dengan emboli paru yang
masif, namun banyak pasien-pasien gagal
jantung yang tidak dapat mentoleransi ada­
nya peningkatan resistensi vaskular sistemik.
Pasien emboli paru dengan gagal jantung
biasanya memerlukan agen farmakologis
yang dapat berfungsi sebagai vasopresor
dan inotropik seperti norepinephrine, epi­
nephrine, atau dopamine. Walaupun fungsi
ventrikel kiri seringkali menjadi hiperdi­
namik sebagai respon terhadap kegagalan
ventrikel kanan, adanya dasar disfungsi
sistolik ventrikel kiri pada pasien-pasien
gagal jantung dapat membatasi kemam­
puan pasien untuk mempertahankan curah
jantung yang normal sehingga memerlukan
penambahan inotropik.(4)
Terapi antikoagulan yang dapat dipilih
untuk tatalaksana emboli paru antara lain
unfractionated heparin (UFH) intravena, low
molecular weight heparin (LMWH), dan fonda­
parinux. Kondisi kongesti hepar akan mem­
perlambat metabolisme UFH pada pasien
dengan gagal jantung, yang menyebabkan
dibutuhkannya dosis yang lebih rendah
untuk dapat mencapa­i kadar terapeutik
dari antikoagulan. Adanya gangguan gin­
jal, yang merupakan komorbid yang sering
terdapat pada pasien-pasien gagal jantung
dapat menyebabkan antikoagulasi yang ber­
lebihan dan pendarahan pada penggunaan
LMWH dan fondaparinux yang klirensnya
di ginjal.(4)
Manajemen pemberian terapi warfarin
dapat sulit dilakukan pada pasien dengan
gagal jantung dengan berbagai komorbidnya
dan biasanya memperoleh berbagai obatobatan yang mempengaruhi metabolisme­
(Emboli.................... hal.3)
Eijiro Sugiyama Edison
Divisi jantung dan pembuluh darah,
Departemen penyakit dalam Jichi medical university,
Tochigi Jepang
(Referensi lihat di www.tpkindonesia.blogspot.com)
nya sehingga meningkatkan risiko terjadinya
pendarahan. Kondisi kongesti pada usus dan
penurunan fungsi hepar akibat kongesti atau
curah jantung yang rendah dapat mempe­
ngaruhi metabolisme warfarin. Obat-obatan
yang sering diresepkan pada pasien-pasien
gagal jantung seperti amiodarone dan clopi­
dogrel dapat meningkatkan efek warfarin,
sedangkan obat-obatan yang lain seperti
spironolactone dapat meningkatkan me­
tabolismenya.(4)
Pada pasien gagal jantung dengan kon­
traindikasi terhadap antikoagulan atau yang
menderita emboli paru rekuren walaupun
sudah tercapai target terapi dengan meng­
gunakan antikoagulan sebaiknya dipertim­
bangkan untuk menjalani tindakan insersi
filter vena cava inferior. Filter vena cava
inferior dapat mengurangi risiko terjadinya
emboli paru namun dapat meningkatkan
risiko jangka panjang untuk terjadinya
DVT.(4)
Sebagai simpulan, gagal jantung merupa­
kan suatu kondisi penyakit kardiovaskular
yang kompleks dan berhubungan dengan
tingginya angka morbiditas dan mortalitas.
Walaupun terdapat berbagai kemajuan da­
lam diagnosis dan terapi, angka luaran yang
buruk dari kondisi gagal jantung hingga saat
ini masih sangat tinggi, yang sebagian besar
disebabkan oleh tingginya angka kejadian
VTE pada pasien dengan gagal jantung,
salah satunya adalah emboli paru. Emboli
Penegakan diagnosis dini dan pemberian
terapi segera sangat penting pada pasien
emboli paru dengan gagal jantung mengi­
ngat tanda dan gejala pada emboli paru yang
sering menyerupai gagal jantung. Pemberian
profilaksis antikoagulan pada pasien gagal
jantung untuk mencegah kejadian VTE ter­
masuk emboli paru sebaiknya disesuaikan
berdasarkan pertimbangan keuntungan dan
risiko pendarahan pada pasien.
(Referensi dapat di lihat pada www.tpkindonesia.blogspot.com)
A. A. Ayu Dwi Adelia Yasmin
6
207/Thn.XX/September-Oktober 2014
Pasien dengan Risiko Tinggi di Asia: Pendekatan dalam Pencegahan Penyakit Kardiovaskuler
(Laporan dari acara “Meet the Experts” 23 Agustus 2014, Jakarta dan 24 Agustus 2014, Bandung)
LDL-C pada pasien dislipidemia dengan diabe­
tes direkomedasikan dibawah 70 mg/dL sesuai
dengan guideline ESC/EAS 2011 atau penu­
runan LDL-C ≥ 50% dari baseline apabila target
LDL-C tidak tercapai dengan statin poten dosis
tinggi (baseline ≥ 150 mg/dL). Sedangkan guideline ACC/AHA 2013 merekomendasikan pasien
dislipidemia dengan diabetes yang berumur 40-75
tahun dihitung terlebih dahulu risiko penyakit
jantung untuk 10 tahun kedepan menggunakan
Pooled Cohort Equation. Apabila skor < 7.5% maka
diterapi dengan moderate intensity statin namun
apabila skor ≥ 7.5% maka diterapi dengan high
intensity statin.
Pasien dislipidemia dengan gangguan ginjal
memiliki risiko tinggi terhadap penyakit kar­
diovaskuler meskipun karakteristik pada pasien
tersebut memiliki kadar LDL-C yang rendah.
Berdasarkan guideline ESC/EAS 2011, pasien dis­
lipidemia dengan gangguan ginjal (eGFR<60ml/
min/1.73m²) termasuk dalam kategori very high
risk dimana LDL-C direkomendasikan dibawah
70 mg/dL atau atau penurunan LDL-C ≥ 50%
dari baseline apabila target LDL-C tidak tercapai
dengan statin poten dosis tinggi (baseline ≥ 150
mg/dL).
PT. AstraZeneca Indonesia kembali beker­
jasama dengan Perhimpunan Dokter Spesialis
Kardiovaskular Indonesia Cabang Jakarta dan
Cabang Bandung menyelenggarakan kegiatan
Meet the Experts dengan tema High-risk patients:
the best approach for treating CVD risk yang
menghadirkan Dr. Erwinanto, SpJP(K) dan Dr
Shaiful Azmi Yahaya, MD, Mmed dari Institut
Jantung Negara, Kuala Lumpur Malaysia sebagai
narasumber. Diskusi di Jakarta dipimpin oleh
Dr. Pradana Tedjasukmana, SpJP(K) sedang­
kan diskusi di Bandung dipimpin oleh Dr.
Achmad Fauzi Yahya, SpJP(K). Pada kegitatan
ini dibahas 4 studi kasus tentang pasien dengan
risiko tinggi yaitu pasien dislipidemia dengan
diabetes, pasien dislipidemia dengan ACS, pasien
dislipidemia dengan gangguan ginjal, dan pasien
yang mempunyai risiko tinggi terhadap penyakit
kardiovaskuler berdasarkan skoring.
Kesempatan pertama disampaikan oleh Dr.
Erwinanto, SpJP(K) yang fokus pada kasus pasien
dislipidemia dengan diabetes dan pasien risiko
tinggi berdasarkan skoring. Kasus yang perta ma
dikatakan seorang pria berumur 57 tahun dengan
diabetes, hasil EKG tidak diketahui ad anya MI.
Pria tersebut sedang diterapi dengan obat hi­
pertensi, serta tidak merokok. Hasil pemeriksaan
laboratorium didapatkan kadar total kolesterol
190 mg/dL, LDL-C 103 mg/dL, HDL-C 36 mg/
dL, TG 255 mg/dL, pria tersebut tidak meng­
konsumsi obat penurun kolesterol. Apakah pria
tersebut bisa dianggap dislipidemia? berdasarkan
guideline ESC/EAS 2011, pasien dengan diabetes
melitus tipe 1 atau tipe 2 dengan kerusakan target
organ seperti mikroalbuminuria maka sudah
dianggap sebagai kelompok pasien very high risk
dimana target LDL-C direkomendasikan dibawah
70 mg/dL. Pada kasus ini pria tersebut dianggap
dislipidemia karena mempunyai kadar LDL-C
103 mg/dL sehingga diturunkan dibawah 70
mg/dL. Strategi pengobatan seperti apa yang
direkomendasikan? rekomendasi pertama, terapi
dengan statin yang sesuai intensitas penurunan
LDL-C. Baseline LDL-C pria tersebut adalah
103 mg/dL dan target LDL-C dibawah 70 mg/
dL sehingga dibutuhkan penurunan LDL-C
sebesar 32%. Dengan melihat kemampuan statin
dalam menurunkan LDL-C maka pilihan yang
ada yaitu Rosuvastatin 5 mg, Atorvastatin 10
mg, Simvastatin 20 mg atau Pitavastatin 2 mg.
Rekomendasi yang kedua, penurunan LDL-C
sebesar ≥ 50% dari baseline tetapi dengan syarat
apabila target LDL-C dibawah 70 mg/dl tidak
berhasil dicapai. Rekomendasi yang ketiga,
penambahan ezetimibe dengan statin. Pilihan
tersebut dilakukan apabila target penurunan
LDL-C tidak berhasil dicapai dengan statin poten
(baseline ≥ 150 mg/dL). Apakah obat-obat nonstatin dapat diberikan? golongan fibrat dapat
diberikan langsung ketika kadar TG ≥ 500 mg/
dL. Sedangkan penambahan fibrat pada terapi
statin dilakukan apabila pasien mempunyai
kadar TG masih tetap diatas 200 mg/dL meski­
pun target LDL-C sudah tercapai dengan statin
pada pasien dengan risiko tinggi dan risiko
sangat tinggi untuk menurunkan non-HDL-C
menjadi 30 mg/dL diatas target LDL-C. Golong­
an niacin tidak direkomendasikan. Apabila
merujuk pada guideline ACC/AHA 2013 pasien
dengan diabetes melitus tipe 1 atau 2 berumur
40-75 dihitung terlebih dahulu risiko penyakit
jantung untuk 10 tahun kedepan menggunakan
Pooled Cohort Equation. Hasil perhitungan pada
kasus ini menunjukkan risiko penyakit jantung
untuk 10 tahun kedepan adalah 9,9%, sehingga
rekomendasi terapi menggunakan high intensity
statin yang mana dapat menggunakan Rosuvas­
tatin 20-40 mg atau Atorvastatin 40-80 mg.
Kasus kedua adalah seorang pria berumur 65
tahun tanpa hipertensi, tanpa riwayat penyakit
kardiovaskuler maupun diabetes, tanpa riwayat
keluarga dengan ASCVD, dan lingkar pinggang
88 cm. Pemeriksaan laboratorium menunjukkan
kadar kolesterol total 190 mg/dL, LDL-C 103 mg/
dL, HDL-C 42 mg/dL, dan TG 225 mg/dL. Fungsi
hati dan ginjal dalam keadaan normal, begitu juga
pada pemeriksaan EKG. Apakah pria tersebut
membutuhkan terapi statin untuk menurunkan
risiko kardiovaskuler? berdasarkan SCORE risk
chart, pria tersebut mempunyai risiko penyakit
kardiovaskuler 10 tahun kedepan 8-10% atau
termasuk kategori pasien dengan risiko tinggi
- sangat tinggi. Baseline LDL-C 103 mg/dL dan
target LDL-C 70-100 mg/dL sehingga dibutuhkan
penurunan 3-32%. Penghitungan dengan pooled
cohort equation menunjukkan angka 14.8% se­
hingga dibutuhkan terapi high intensity statin.
Dr Shaiful Azmi Yahaya, MD, Mmed melan­
jutkan dengan kasus ketiga yang merupakan
pasien dislipidemia dengan gangguan ginjal.
Dikatakan hanya ada 3 RCT yang tersedia untuk
statin pada pasien CKD yaitu 4D (Die Deutsche
Diabetes Dialyse Studie, 2003), AURORA (A study
to evaluate the Use of ROsuvastatin in subjects
on Regular Hemodi­
alysis: an assessment
of survival and car­
diovascular events,
2009), dan SHARP
(Study of Heart And
Renal Protection,
2011). Pada kasus
ini, seorang wa­­nita
berumur 68 tahun
dengan keluhan bilateral edema tung­
kai bawah, peme­
riksaan menujukkan
BP 148/84 mmHg,
PR 79/min, RR 18/
min, BT 36.90C, BMI
28, PE: S4 over apex,
mild bilateral lower
leg edema. Pasien ini
mempunyai riwayat
hipertensi ri­n gan,
tanpa diabetes, ri­
wayat me­rokok, dan tidak ada riwayat keluarga
terkena penyakit kardiovaskuler. Hasil pemerik­
saan laboratorium didapatkan Hgb: 10.9 gm/dl,
WBC: 10000, Platelet: 325000, gula darah puasa:
110 mg/dL, HbA1C: 6.2%, serum albumin: 3.2
gm/dL, Cr: 1.5, eGFR 36.7 (MDRD), BUN: 28,
urine protein: ++, ALT: 23, kolesterol total: 228
mg/dL, LDL-C: 142 mg/dL, HDL-C: 28 mg/dL,
TG: 389 mg/dL, EKG: LVH (tidak ada Q wave).
Saat ini pasien meminum Amlodipine 5 mg,
fenofibrat 200 mg, dan aspirin 10 mg. Tingkat
risiko pasien tersebut adalah CKD stadium 3,
sindroma metabolik, penghitungan framingham
risk score adalah 24% dan pooled cohort equations
yaitu 27.4%. Target pe­ngobatannya yaitu BMI,
Tekanan Darah < 140/90 mmHg (ESH/ESC 2013)
dan LDL-C < 100 mg/dL atau < 70 mg/dL. Pada
kasus ini terapi yang direkomendasikan adalah
perubahan gaya hidup, penambahan losartan 100
mg, dan penambahan rosuvastatin 10 mg. Setelah
3 bulan, hasil peme­riksaan pada pasien ini ada­
lah home BP: 132/78 mmHg, BMI 27, gula darah
puasa: 104 mg/dL, HbA1C: 6.1%, Cr: 1.4, eGFR
40 (MDRD), urine protein: +, ALT: 33, kolesterol
total: 160 mg/dL, LDL-C: 78 mg/dL, HDL-C: 30
mg/dL, TG: 281 mg/dL. Ada pertanyaan yang
muncul, apakah beberapa statin mempengaruhi
ginjal dan fungsi ginjal? penelitian yang dilaku­
kan oleh Shepherd, et al (2006) menguji keamanan
dan tolerabilitas dari rosuvastatin menggunakan
database yang terintegrasi dari 33 penelitian
yang melibatkan 16.876 pasien dan mewakili
25.670 pasien yang selama bertahun-tahun terusmenerus menggunakan terapi rosuvastatin. Hasil
penelitian menunjukkan bahwa pada pasien yang
diobati dengan rosuvastatin 5-40 mg ≤ 52 minggu,
≥ 96 minggu dan ≥ 144 minggu, kadar kreatinin
serum menurun di seluruh kelompok dosis
masing-masing sebesar 1-3 µmol/L, 3-4 µmol/L,
dan 4-5 µmol/L. Meskipun perbaikan rata-rata
eGFR dari baseline yang relatif kecil, hal tersebut
ditemukan pada pasien yang menerima terapi
rosuvastatin dalam jangka pendek maupun
jangka panjang. Besarnya perubahan eGFR yang
terjadi dengan terapi rosuvastatin cenderung
meningkat selama masa pengobatan dan tam­
paknya tidak terkait dengan dosis rosuvastatin.
Selain itu, hasil menunjukkan peningkatan eGFR
yang berarti tidak memperburuk fungsi ginjal.
Kasus keempat yaitu dislipidemia pada
pasien ACS, seorang pria berumur 68 tahun
de­ngan nyeri dada saat beristirahat yang ber­
langsung selama 30 menit dan dirasakan 3 jam
sebelum periksa. Pria tersebut memiliki riwayat
hipertensi, merokok, hiperkolesterolemia dan
meminum obat secara tidak teratur. Hasil pe­
meriksaan kolesterol total 261 mg/dL, TG 160
mg/dL, HDL-C 44 mg/dL, LDL-C 185 mg/
dL, CK-MB: 8.88 ng/ml (kisaran referensi: 0-5),
Troponin (TnI): 0.385 ng/ml (kisaran referensi:
0-0.78). Pemeriksaan EKG dalam keadaan normal,
sedangkan pemeriksaan CT koroner menunjuk­
kan adanya oklusi koroner total. Pria tersebut
didiagnosis non-ST-segment elevation ACS dan
diberikan aspirin 300 mg loading, ticagrelor 180
mg loading, carvedilol 12.5 mg, LMWH. Selain
itu, dia juga diberi rosuvastatin 20 mg loading
dan 20 mg 2 jam sebelum PCI. Keesokan paginya,
CAG dan PCI dilakukan, MRI menunjukkan
adanya ukuran infark yang relatif kecil (7%).
Pada kondisi awal terdapat hiperkinesia tetapi
sekarang sudah hilang.
Statin sebagai pre-treatment adalah pilihan
yang sangat baik, efek protektif pada pasien de­
ngan ACS telah terbukti dalam beberapa peneli­
tian besar yang dilakukan secara acak.
Dalam meta analysis dari 13 penelitian, preloading dengan statin menunjukkan hasil klinis
yang lebih baik. Guideline ACCF/AHA/SCAI
2011 untuk PCI direkomendasikan penggunaan
statin dosis tinggi sebelum PCI untuk mengu­
rangi risiko periprocedural MI terutama pada
pasien yang belum pernah mendapatkan statin
atau statin-naïve.*
Download