kewenangan hakim pengadilan tinggi tata usaha

advertisement
KEWENANGAN HAKIM PENGADILAN TINGGI TATA USAHA NEGARA
DALAM MENYELESAIKAN SENGKETA KEPEGAWAIAN
ANALISIS PT TUN NO: 174/G/2006/PT.TUN.JKT.
(PERSPEKTIF SIYASAH SYARI’AH)
Disusun Oleh :
Latif Amri
NIM: 105045201520
KONSENTRASI SIYASAH SYAR’IYYAH
PROGRAM STUDI JINAYAH SIYASAH
FAKULTAS SYARI’AH DAN HUKUM
UIN SYARIF HIDAYATULLAH
JAKARTA
1431H / 2010M
PENGESAHAN PANITIA UJIAN
Skripsi yang berjudul “Kewenangan Hakim Peradilan Tinggi Tata Usaha Negara
Dalam Menyelesaikan Sengketa Kepegawaian Analisis PT.TUN Nomor:
174/G/2006/PT.TUN.JKT. (Perspektif Siyasah Syari’ah)”, telah diujikan dalam
sidang munaqoshah Fakultas Syari’ah dan Hukum UIN Syarif Hidayatullah Jakarta,
Pada tanggal 30 November 2010. Skripsi ini telah diterima sebagai salah satu syarat
untuk memperoleh gelar Sarjana Syari’ah (S.Sy) pada Program Studi Jinayah Siyasah
Konsentrasi Siyasah Syari’ah.
Jakarta, 30 November 2010.
Dekan,
Prof. Dr.H. Muhammad Amin Suma, SH, MA, MM.
NIP. 150 210 422
PANITIA UJIAN MUNAQASAH
Ketua
: Asmawi, M.Ag
NIP. 150 282 394
(…………………….)
Sekretaris
: Sri Hidayati, M.Ag
NIP. 150 282 403
(.................................)
Pembimbing I : Drs. Abu Thamrin, M, Hum.
NIP. 196509081995031001
(.................................)
Pembimbing II: Sri Hidayati, M. Ag
NIP. 150 282 403
(…………………….)
Penguji I
: Asmawi, M.Ag
NIP. 150 282 394
(…………………….)
Penguji II
: Asep Syarifudin Hidayat, SH, MH
NIP. 196911211994031001
(…………………….)
1
LEMBAR PERNYATAAN
Dengan ini saya menyatakan bahwa:
1. Skripsi ini merupakan hasil karya asli penulis. Guna diajukan untuk
memenuhi salah satu persyaratan memperoleh gelar Sarjana Strata 1 (S1) di
Universitas Islam Negeri (UIN) Syarif Hidayatullah Jakarta.
2. Semua sumber yang penulis gunakan dalam penulisan ini telah penulis
cantumkan sesuai dengan ketentuan yang berlaku di Universitas Islam Negeri
(UIN) Syarif Hidayatullah Jakarta.
3. Jika di Kemudian Hari terbukti bahwa ini bukan hasil karya asli penulis atau
merupakan hasil jiplakan dari karya orang lain, maka penulis bersedia
menerima sanksi yang berlaku di Universitas Islam Negeri (UIN) Syarif
Hidayatullah Jakarta.
Jakarta,
LATIF AMRI
1
KATA PENGANTARs
   
Alhamdulillah, puji syukur hanya kepada Allah yang telah melimpahkan
curahan rahmat, inayah dan hidayah-Nya, terutama kepada penulis sehingga skripsi
ini terselesaikan. Skripsi ini dibuat untuk memenuhi sebagian persyaratan akademik
dalam memperoleh gelar Sarjana Hukum Islam (S.Hi) konsentrasi Siyasah Sar’iyyah
Program Studi Jinayah Siyasah Fakultas Syariah dan Hukum Universitas Islam
Negeri Syarif Hidayatullah Jakarta. Shalawat beserta salam penulis sampaikan
kepada pahlawan junjungan alam yakni nabiyyuna Muhammad Saw yang menjadi
Jenderal di waktu perang, menadi imam di waktu sholat, dengan kegigihan dan
kesabarannya dalam membawa umat manusia dari era penuh kezhaliman, kebiadaban
dibawanya secara gradual ke era peradaban baru dengan pola kehidupan yang penuh
dengan rahmat dan berkah dari Allah Azza Wa Jalla.
Dengan setulus hati yang paling dalam, penulis menyadari bahwa skripsi ini
masih sangatlah jauh dari kesempurnaan. Namun demikian, skripsi ini merupakan
hasil usaha dan upaya yang maksimal dari penulis, karena tidak sedikit kesulitan,
hambatan dan cobaan yang penulis temui.
Dalam penulisan skripsi ini, penulis tidak luput dari bantuan sehingga
mendapatkan banyak pihak terkait yang ikut berperan dalam proses penyelesaiannya,
maka suatu kewajiban bagi penulis untuk mengucapkan terima kasih penulis kepada :
1. Bapak Prof. Dr. H. Muhammad Amin Suma, SH, MA. MM., Dekan Fakultas
Syari’ah dan Hukum serta Para Pembantu Dekan Fakultas Syari’ah dah Hukum
Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah Jakarta.
2. Bapak Dr. Asmawi, M.Ag., Ketua Program Studi Fakultas Syari’ah dan Hukum
dan Ibu Sri Hidayati M.Ag., Sekretaris Program Studi Fakultas Syari’ah dan
Hukum.
3. Bapak Drs. Abu Thamrin M.Hum., dan Ibu Sri Hidayati M.Ag., Pembimbing
yang telah banyak memberikan perhatian, masukan yang bermanfaat dan motivasi
serta semangat dalam penyusunan skripsi ini.
4. Seluruh staff Kepaniteraan Pengadilan Tinggi Tata Usaha Negara Jakarta yang
telah memberikan dokumen dan meluangkan waktunya disela-sela kesibukannya
untuk memberikan arahan pada waktu penelitian.
5. Kepada segenap temen-teman seperjuangan Dinnur Garista Wirawan, Usman
Ibnu Yusuf, Muhammad Fathul Ni’am, Muhammad Fadholi dan Afnanul Huda
yang cukup bersahabat dan mempunyai jiwa karsa yang tinggi.
6. Kepada yang mulia Bapak H. Sukirman, Ibunda Hj Siti Rubingatun, Kakak
Muhammad Irfan, Adik Zein Muttaqien, dan segenap keluarga besar yang berada
di Sunter Jaya Jakarta Utara, yang selalu memberikan dukungan materil dan
moril-spritual.
Kepada semua penulis ucapkan ribuan terima kasih yang sebesar-besarnya,
semoga Allah SWT senantiasa memberikan pahala dan ridha-Nya atas segala amal
baik yang tiada terkira. Akhir kata penulis berharap agar kelak karya tulis ini
bermanfaat bagi semua pihak yang membutuhkan. Dan penulis tak lupa memohon
maaf apabila dalam penulisan skripsi ini masih terdapat banyak kekurangan dan
kekhilafan.
Jakarta,
Dzulhijjah 1431 H
Nopember 2010 M
Penulis
DAFTAR ISI
KATA PENGANTAR .......................................................................................
i
DAFTAR ISI .....................................................................................................
iv
BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang Masalah ..............................................................
1
B. Rumusan Masalah .......................................................................
9
C. Tujuan dan Manfaat Penelitian ....................................................
10
D. Tinjauan Pustaka (Study Review) ................................................
11
E. Metode Penelitian ........................................................................
13
F. Sistematika Penulisan .................................................................
15
BAB II SEJARAH DAN KEWENANGAN LEMBAGA KEKUASAAN
MAZHALIM
BAB III
A. Sejarah Lembaga Mazhalim.........................................................
17
B. Tugas dan Wewenang Lembaga Mazhalim ..................................
21
C. Kedudukan Lembaga Mazhalim ..................................................
25
TINJAUAN UMUM PENGADILAN TINGGI TATA USAHA
NEGARA DAN KEPEGAWAIAN
A. Dasar Hukum Pembentukan Peradilan Tata Usaha Negara ...........
31
B. Kompetensi Peradilan Tata Usaha Negara....................................
34
C. Sengketa dan Keputusan Tata Usaha negara ......................................
47
D. Administrasi Kepegawaian ..........................................................
53
E. Sumber Hukum Kepegawaian ......................................................
56
BAB IV
ANALISIS
PUTUSAN
:174/G/2006/PT.TUN.JKT
HAKIM
DALAM
PT.
TUN
NOMOR
MENYELESAIAKAN
SENGKETA KEPEGAWAIAN
BAB V
A. Duduk Perkara .............................................................................
59
B. Substansi Putusan ........................................................................
64
C. Analisa Putusan ...........................................................................
68
PENUTUP
A. Kesimpulan ................................................................................
80
B. Saran-Saran ................................................................................
82
DAFTAR PUSTAKA
LAMPIRAN-LAMPIRAN
BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang Masalah
Sebelum reformasi penyelenggaraan negara dan pemerintahan diwarnai
dengan praktek maladministrasi, bahkan, terdapat pandangan yang menganggap
birokrasi pemerintah sering menunjukkan gejala yang kurang menyenangkan.
Terkadang, birokrasi pemerintah bertindak canggung, kurang terorganisir dan
jelek koordinasinya, menyeleweng, otokratik, bahkan sering bertindak korup.1
Penyelenggaraan negara dan pemerintahan yang baik hanya dapat tercapai dengan
peningkatan mutu aparatur penyelenggara negara dan pemerintahan, juga
penegakan asas-asas pemerintahan umum yang baik. 2 Bahwa sering kali setiap
keputusan-keputusan yang dikeluarkan oleh Badan-badan pemerintahan, rawan
akan terjadinya rasa ketidakpuasan dari masyarakat, atau telah merasa dirugikan.
Untuk menyelesaikan salah satu contoh permasalahan di atas, diperlukan lembaga
independent yang menjadi jembatan penghubung antara kedua belah pihak,
sekaligus memberikan keputusan yang bijaksana.
Permasalahan seperti ini, dapat kita kategorikan dalam sengketa tentang
administrasi Negara atau masalah Tata Usaha Negara. Kemudian pihak manakah
yang berwenang menyelesaikan masalah ini. Dalam Pasal 12 ayat (1) Undang1
Soesilo Zauhar, Reformasi Administrasi, (PT Bumi Aksara: Jakarta) h 1
2
Penjelasan atas UU RI No. 37 Tahun 2008 Tentang Ombudsman Republik Indonesia
1
2
Undang No 51 tahun 2009 perubahan kedua atas Undang-Undang Nomor 5 tahun
1986 tentang PTUN disebutkan bahwa hakim pengadilan adalah pejabat yang
melakukan tugas kekuasaan kehakiman.
Dalam Pasal 1 Undang-Undang Nomor 4 Tahun 2004 tentang kekuasaan
kehakiman disebutkan bahwa kekuasaan kehakiman adalah kekuasaan Negara
yang merdeka untuk menyelenggarakan Peradilan guna menegakkan hukum dan
keadilan berdasarkan Pancasila, demi terselenggaranya Negara hukum Republik
Indonesia. Kekuasaan Kehakiman yang merdeka tersebut mengandung pengertian
bahwa kekuasaan kehakiman bebas dari segala campur tangan pihak kekuasaan
ekstra yudisial, kecuali dalam hal-hal sebagaimana disebutkan dalam UndangUndang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945.3
Dalam Pasal 24 Undang-Undang Dasar 1945 sekarang (hasil amandemen)
disebutkan, bahwa :
1. Kekuasaan
kehakiman
merupakan
kekuasaan
yang
merdeka
untuk
menyelenggarakan peradilan guna menegakan hukum dan keadilan.
2. Kekuasaan kehakiman dilakukan oleh sebuah Mahkamah Agung dan badan
peradilan yang berada di bawahnya dalam lingkungan Peradilan Umum,
lingkungan Peradilan Agama, lingkungan Peradilan Militer, lingkungan
Peradilan Tata Usaha Negara dan oleh sebuah Makamah Konstitusi
3
h. 517.
Jimly Assiddiqie, Pokok-Pokok Hukum Tata Negara Indonesia, (PT Bhuana Populer: 2007)
3
Berbeda dengan UUD 1945 sebelum amandemen, yang mengatur
kekuasaan kehakiman dilakukan oleh sebuah Mahkamah Agung dan badan
kehakiman di lingkungan peradilan umum, peradilan agama, peradilan militer,
dan peradilan tata usaha negara. Kekuasaan kehakiman saat ini selain
diselenggarakan oleh Mahkamah Agung (MA) dan badan-badan peradilan di
bawahnya dalam empat lingkungan peradilan juga oleh Mahkamah Konstitusi
(MK). Kedudukan Mahkamah Agung sama, baik sebelum dan sesudah
amandemen UUD 1945 merupakan puncak dari badan-badan peradilan di empat
lingkungan peradilan. Empat lingkungan peradilan yang terdiri dari 1 (satu)
lingkungan peradilan umum dan 3 (tiga) lingkungan peradilan khusus yaitu :
agama, militer dan tata usaha negara. Keempat lingkungan peradilan tersebut
masing-masing memiliki badan peradilan (pengadilan) tingkat pertama dan
banding. Badan-badan peradilan tersebut berpuncak pada sebuah MA.
Untuk lingkungan Peradilan Tata Usaha Negara berdasarkan UndangUndang nomor 5 tahun 1986 tentang Peradilan Tata Usaha Negara sebagaimana
diubah dengan Undang-Undang Nomor 51 tahun 2009 tentang Perubahan Kedua
Atas Undang-Undang Nomor 5 tahun 1986 tentang Peradilan Tata Usaha Negara,
dalam Pasal 47 mengatur tentang kompetensi PTUN dalam sistem peradilan di
Indonesia
yaitu
bertugas
dan
berwenang
menyelesaikan sengketa tata usaha negara.
memeriksa,
memutus,
dan
4
Berdasarkan uraian pasal demi pasal di atas dapat diambil kesimpulan
bahwa hakim Tata Usaha Negara adalah pejabat yang berwenang memeriksa,
memutus dan menyelesaikan sengketa Tata Usaha Negara di dalam lingkungan
PTUN. Secara umum memang kewenangan hakim adalah memeriksa, memutus,
dan menyelesaikan sengketa.
Menurut Pasal 1 angka (10) Undang-Undang Nomor 51 Tahun 2009
tentang Sengketa Tata Usaha Negara menyebutkan, sengketa Tata Usaha Negara
adalah sengketa yang timbul dalam bidang Tata Usaha Negara antara orang atau
badan hukum perdata dengan badan atau pejabat Tata Usaha Negara, baik di
pusat maupun di daerah, sebagai akibat dikeluarkannya Keputusan Tata Usaha
Negara, termasuk sengketa kepegawaian berdasarkan peraturan perundangundangan yang berlaku.
Mengacu pada rumusan di atas, dapat disimpulkan bahwa unsur-unsur
sengketa Tata Usaha Negara terdiri dari:
1. Subyek yang bersengketa adalah orang atau badan hukum privat di satu pihak
dan Badan atau Pejabat Tata Usaha Negara di lain pihak.
2. Obyek sengketa adalah keputusan yang dikeluarkan oleh Badan atau Pejabat Tata
Usaha Negara.4
Kewenangan
pengadilan
untuk
menerima,
memeriksa,
memutus
menyelesaikan perkara yang diajukan kepadanya yang dikenal dengan
4
W. Riawan Tjandra, Hukum Acara Peradilan Tata Usaha Negara, (Universitas Atma Jaya,
Yogyakarta, 2002) h. 7
5
kompetensi atau kewenangan mengadili. PTUN mempunyai kompetensi
menyelesaikan sengketa tata usaha negara di tingkat pertama. Sedangkan
Pengadilan Tinggi Tata Usaha Negara (PT.TUN) untuk tingkat banding.
Pengaturan kompetensi relatif peradilan tata usaha negara terdapat dalam
Pasal 6 dan Pasal 54, Pasal 6 Undang-Undang Nomor 51 Tahun 2009 menyatakan
:
1. Pengadilan Tata Usaha Negara berkedudukan di ibukota Kabupaten/Kota, dan
daerah hukumnya meliputi wilayah Kabupaten/Kota.
2. Pengadilan Tinggi Tata Usaha Negara berkedudukan di ibukota Provinsi dan
daerah hukumnya meliputi wilayah Provinsi.
Keputusan Tata Usaha Negara menurut pasal 1 angka 3 Undang-Undang
Nomor 51 Tahun 2009 tentang Keputusan Tata Usaha Negara ialah
suatu
penetapan tertulis yang dikeluarkan oleh Badan atau Pejabat tata usaha negara
yang berisi tindakan hukum tata usaha negara yang berdasarkan peraturan
perundang-undangan yang berlaku yang bersifat konkret, individual, final, yang
menimbulkan akibat hukum bagi Seseorang atau Badan Hukum Perdata.
Unsur-unsur yuridis Keputusan Tata Usaha Negara menurut hukum positif
sebagai berikut :5
1. Suatu penetapan tertulis.
2. Dikeluarkan oleh Badan atau Pejabat tata usaha negara.
5
Rozali, Abdullah, Hukum Acara Peradilan Tata Usaha Negara, (Jakarta. Pt Raja Grafindo
Persada, 2004) h 13.
6
3. Berisi tindakan hukum tata usaha negara.
4. Bersifat konkret, individual dan final.
5. Menimbulkan akibat hukum bagi Seseorang atau Badan Hukum Perdata.
Kemungkinan besar bidang-bidang yang akan banyak menimbulkan
perkara-perkara tata usaha negara nantinya adalah; perizinan, masalah
kepegawaian negeri, masalah keuangan negara, masalah perumahan dan
pergedungan, masalah pajak, masalah cukai, masalah agraria, perfilman,
pemeriksaan bahan makanan dan mutu barang, keselamatan kerja perusahaan,
jaminan sosial, kesehatan rakyat, pengamanan rumah penginapan, keamanan
toko, pasar, perawatan infrastruktur, lalu lintas jalan, penanggulangan sampah,
pendidikan, perbankan, kejahatan komputer, HAM, dan lain-lain. 6
Pengangkatan penguasa adalah untuk al-amr bi al-ma’ruf wa al-nahy ‘an
al-munkar. Karena kemaslahatan hamba tidak mungkin dicapai kecuali dengan
al-amr bi al-ma’ruf wa al-nahy ‘an al-munkar. Juga karena kemaslahatan
kehidupan dan hamba itu harus dengan taat kepada Allah dan Rasul-Nya. Dan itu
hanya dapat dicapai dengan menegakkan al-amr bi al-ma’ruf wa al-nahy ‘an
almunkar.7 Oleh karenanya, dalam Islam ada lembaga yang bertugas al-amr bi al
ma’ruf wa al-nahy ‘an al-munkar atau dengan istilah lain melayani pengaduan
masyarakat, yang mana masyarakat ini merasa kecewa dengan pelayanan
6
Victor Situmorang, Soedibyo. Pokok-Pokok Peradilan Tata Usaha Negara, (Jakarta. PT
Rineka Cipta, 1992) h 20
7
Ibnu Taimiyah, Siyasah Syar’iyah, Etika Politik Islam, terjemahan Rofi’ Munawwar, h. 71- 72
7
pemerintah dan haknya sebagai warga negara tidak terpenuhi, lembaga ini dikenal
dengan sebutan hisbah.
Dalam sistem pemerintahan Islam, kewenangan peradilan (al-Qada)
terbagi kedalam tiga wilayah, yaitu wilayat al-Mazalim, wilayat al-Qada, dan
wilayat al-Hisbah. Wilayat al-Mazalim adalah suatu kekuasaan dalam bidang
pengadilan yang lebih tinggi dari pada kekuasaan hakim dan kekuasaan Muhtasib.
Lembaga ini memeriksa perkara-perkara yang tidak masuk ke dalam wewenang
hakim biasa. Lembaga ini memeriksa perkara-perkara penganiayaan yang
dilakukan oleh penguasa-penguasa dan hakim-hakim ataupun anak-anak dari
orang-orang yang berkuasa. 8
Menurut teori al-Mawardi yang diterjemahkan oleh Nur Mufid dalam
bukunya Bedah Al-Ahkamus Shulthaniah, hisbah merupakan salah satu bentuk
pengawasan bila terjadi pelanggaran terhadap suatu peraturan. Orang yang
menjalankan tugas itu disebut muhtasib atau wali al-hisbah. Biasanya seorang
muhtasib diambil dari kalangan yuris. Dia mempunyai kebebasan untuk
memutuskan suatu perkara atas dasar ‘urf (kebiasaan). ‘urf ini berbeda dari
syariah.9
Ide yang terkandung dalam fungsi lembaga hisbah dan tanggung jawab
muhtasib tampaknya berkaitan dengan cita-cita dijalankannya ibadah agama
8
Hasbi Asshiddiqie, Peradilan dan Hukum Acara Islam, (Semarang, PT Pustaka Rizki Putra,
1997) h. 92
9
Nur Mufid, Bedah Al-Ahkamus Sulthaniyah, Mencermati Konsep Kelembagaan Politik Era
Abasiyah, (Pustaka Progressif: Surabaya, 2000), h. 131.
8
sesuai dengan hukum, dan terwujudnya ketentraman dan ketertiban umum,
khususnya dalam kegiatan sosial, ekonomi, transportasi dan sosial masyarakat,
termasuk berkembangnya nilai-nilai kejujuran dikalangan pelaku ekonomi. Lebih
jauh, dibentuknya hisbah ialah untuk memperkecil terjadinya pelanggaran hak
asasi manusia.
Keberadaan lembaga peradilan di dalam Islam juga bisa dijadikan studi
kelembagaan atas kewenangan Hakim Tata Usaha Negara di Indonesia. Peradilan
Tata Usaha Negara ini diciptakan untuk menyelesaikan sengketa antara
pemerintah dan warganya, yakni sengketa yang timbul sebagai akibat dari adanya
tindakan-tindakan pemerintah yang dianggap melanggar hak-hak warganya,
secara umum tujuan pembentukan Peradilan Tata Usaha Negara adalah:
1. Memberikan perlindungan terhadap hak-hak rakyat yang bersumber dari hakhak individu.
2. Memberikan perlindungan terhadap hak-hak masyarakat yang didasarkan kepada
kepentingan bersama dari individu yang hidup dalam masyarakat tersebut.10
Berangkat dari penjelasan di atas, dimana kewenangan hakim Tata Usaha
Negara adalah menyelesaikan sengketa antara pemerintah dan warganya, yakni
sengketa yang timbul sebagai akibat dari adanya tindakan atau kebijakan
pemerintah yang dianggap melanggar atau merugikan hak-hak warga negaranya.
Sedangkan obyek sengketa Tata Usaha Negara itu sendiri adalah keputusan yang
dikeluarkan oleh Badan atau Pejabat Tata Usaha Negara. Salah satu Badan atau
10
Tjandra, Hukum Acara, h. 1
9
Pejabat Tata Usaha Negara adalah seperti Dinas Tata Kota, Dinas Pertamanan dan
Dinas-dinas yang lain. Kemudian bagaimana pandangan siyasah sar’iyyah dalam
hal ini.
Fenomena tersebut beserta pemetaannya, merupakan titik tolak yang
melatar belakangi pembahasan masalah ini, dalam sebuah skripsi yang berjudul
KEWENANGAN HAKIM PERADILAN TINGGI TATA USAHA NEGARA
DALAM MENYELESAIKAN SENGKETA KEPEGAWAIAN ANALISIS PT
TUN NO: 174/G/2006/PT.TUN.JKT. (PERSPEKTIF SIYASAH SYARI’AH)
B. Batasan Dan Rumusan Masalah
Untuk
menghindari
melebarnya
pembahasan
dan
selanjutnya
memudahkan penulis dalam analisis, permasalahan pada Kewenangan Hakim
PT.TUN dalam menyelesaikan sengketa, khususnya sengketa kepegawaian.
Perumusan masalah utama yang akan dijawab melalui penelitian adalah,
“Bagaimana Kewenangan Hakim PT.TUN Jakarta Dalam Menyelesaikan
Sengketa Kepegawaian?”
Berdasarkan masalah utama tersebut, dapat dijabarkan ke dalam beberapa
pertanyaan penelitian yaitu :
1. Perkara sengketa Kepegawaian Peradilan Tinggi Tata Usaha Negara yang
dikaji dalam skripsi ini adalah Perkara Nomor NO: 174/G/2006 PT.TUN.JKT
10
yang diajukan oleh Ambrosius WB, terhadap Badan Pertimbangan
kepegawaian
2. Pandangan Hukum Islam (ketatanegaraan Islam) terhadap kewenangan
Peradilan Tinggi Tata Usaha Negara memutus sengketa kepegawaian
Peradilan Tinggi Tata Usaha Negara, dalam hal ini Perkara Nomor:
174/G/2006 PT.TUN.JKT.
Untuk menjawab permasalahan tersebut, maka penulis memberi rumusanrumusan masalah yang akan dikaji lebih lanjut, yakni :
1. Bagaimana peranan hakim Peradilan Tata Usaha Negara dalam memeriksa
dan memutus perkara sengketa kepegawaian di Peradilan Tinggi Tata Usaha
Negara?
2. Bagaimana pandangan hukum Islam (ketatanegaraan Islam) terhadap
kewenangan Peradilan Tinggi Tata Usaha Negara dalam memutus sengketa
kepegawaian, perkara Nomor NO: 174/G/2006 PT.TUN.JKT?
C. Tujuan Dan Manfaat Penelitian
Tujuan umum dari penelitian ini adalah untuk mengetahui bagaimana
Hukum Islam (ketetenegaraan Islam) memandang kewenangan Peradilan Tinggi
Tata Usaha Negara memutus sengketa kepegawaian yang kewenangannya
diberikan oleh UUD 1945.
Sedangkan secara khusus, penelitian ini bertujuan :
11
1. Untuk mengetahui bagaimana hakim Peradilan Tata Usaha Negara dalam
memutus perkara kepegawaian di Peradilan Tinggi Tata Usaha Negara.
2. Untuk mengetahui bagaimana Pandangan Hukum Islam (ketatanegaraan Islam)
terhadap kewenangan Peradilan Tinggi tata Usaha Negara dalam memutus
sengketa kepegawaian, dalam hal ini perkara Nomor 174/G/2006 PT.TUN.JKT.
Sedangkan manfaat dari penelitian ini :
1. Bagi penulis bermanfaat untuk memenuhi salah satu syarat memperoleh gelar
kesarjanaan dalam bidang Ilmu Hukum Islam, selain itu juga diharapkan
dapat meningkatkan kemampuan penalaran, keluasan wawasan serta
kemampuan pemahaman penulis tentang hukum ketatanegaraan di Indonesia
dan dalam tradisi Islam.
2. Bagi masyarakat bermanfaat untuk memberikan kontribusi pengetahuan di
bidang Ilmu Hukum, khususnya tentang Peradilan Tinggi Tata Usaha Negara
yang mempunyai wewenang memeriksa, memutus, menyelesaikan sengketa
kepegawaian.
3. Bagi para akademisi bermanfaat untuk memberikan kontribusi pemikiran terkait
dengan wewenang Peradilan Tinggi tata Usaha Negara memutus sengketa
kepegawaian.
D. Tinjauan Pustaka (Study Review)
Untuk memudahkan penulis dalam menyusun penulisan proposal skripsi
ini, penulis ingin memberikan rujukan terhadap tema-tema yang membahas dan
12
tema-tema yang hampir sama terhadap pembahasan judul proposal penulis,
adapaun sumber-sumber yang penulis dapatkan ialah berasal dari buku-buku yang
berkaitan, jurnal-jurnal, dan artikel pada media massa.
Buku I, R. Wiyono, Hukum Acara Peradilan tata Usaha Negara, Sinar
Grafika, 2007. di dalam buku ini menjelaskan bagaimana menjalankan proses
beracara pada pengadilan Tata Usaha Negara.
Buku II, Sudarsono, Pengadilan Negeri Pengadilan Tinggi Mahkamah
Agung, dan Peradilan Tata Usaha negara, PT Rieneka Cipta, 1994. Dalam buku
ini menjelaskan tentang Lembaga Peradilan di Indonesia, Badan Peradilan yang
Berada di bawah Mahkamah Agung meliputi badan Peradilan dalam lingkungan
Peradilan Umum, Peradilan Agama, Peradilan Militer dan Peradilan Tata Usaha
Negara.
Buku III, A. W. Widjaja, Administrasi Kepegawaian: Suatu Pengantar,
CV.Rajawali, 1990. dalam buku ini mencoba secara garis besar menjelaskan
mengenai Administrasi Kepegawaian atau administrasi personalia (personal
administration) atau juga disebut dengan personel management. Kegiatannya
secara umum dapat dirinci dan berkisar sekitar: perencanaan, penempatan,
pembimbingan, peningkatan, pemberhentian tenaga kerja manusia dalam rangka
mencapai tujuan organisasi.
Buku IV, Viktor M. Sitomurang, Tindak Pidana Pegawai Negeri Sipil,
Rinekacipta,
1990.
Buku tersebut
pada
dasarnya
menjelaskan
hukum
13
kepegawaian yang merupakan salah satu aspek dari hukum administrasi negara,
juga di dalamnya memuat tindak pidana korupsi khususnya tindak pidana yang
dilakukan oleh pegawai negeri sipil.
Buku V, Imam Al-Mawardi, Hukum tata negara dan kepemimpinan
dalam takaran Islam, penerjemah, Abdul Hayyie al-Kattani, Kamaluddin Nurdin :
Gema Insani Press, 2000. Buku tersebut pada dasarnya menjelaskan bagaimana
hukum tata negara Islam dan kepemimpinan agama. Menurut imam Al-Mawardi.
Termasuk di dalamnya menjelaskan lembaga administrasi beserta peradilannya
dalam ketatanegaraan Islam.
Buku-buku tersebut membahas tentang hukum Peradilan Tata Usaha
Negara dan Kepegawaian secara umum yang berlaku di Indonesia, berbeda
dengan yang penulis teliti, penulis memadukan Peradilan Tata Usaha Negara dan
menganalisisnya dengan perspektif ketatanegaraan Islam.
E. Metode Penelitian
1. Jenis Penelitian Data
Jenis penelitian data yang digunakan penulis di sini adalah dengan
menggunakan pendekatan penelitian kualitatif, penelitian akan menggunakan
metode eksloratif. Penelitian ini akan mengkombinasikan pendekatan
normatif dengan studi kepustakaan (library research). Pendekatan normatif
yaitu kajian kepustakaan bertujuan mengeksplorasi dan memahami berbagai
14
konsep yang berkaitan dengan tema penulis yang dilakukan untuk
mendapatkan data seluas dan seditail mungkin dengan mengacu pada teori
yang sudah dijelaskan pada kajian teoritis.
2. Sumber Data
a. Data Primer, bersumber dari Undang-Undang Dasar 1945, dan juga
Undang-Undang Nomor 51 Tahun 2009 Tentang Peradilan Tata Usaha
Negara, serta beberapa Undang-Undang lain yang berkaitan dengan
pembahasan ini, dan juga buku-buku yang sesuai dengan bahasan
penulis.
b. Data Sekunder, yang digunakan penulis dalam penulisan skripsi ini yaitu
literatur berupa jurnal, majalah, artikel, surat kabar, serta website yang
pembahasannya berkaitan dengan objek kajian penulis.
3. Teknik Pengumpulan Data
Mengenai teknik pengumpulan data, penulis akan mendapatkan data
melalui studi kepustakaan atau dokumenter, yang didapat di perpustakaan
Universitas Negeri Syarif Hidayatullah Jakarta, perpustakaan Mahkamah
Konstitusi, perpustakaan Universitas Indonesia, dan perpustakaan Pengadilan
Tinggi Tata Usaha Negara, mencari, mengumpulkan, meneliti, menelaah serta
mengkaji data dan informasi dari berbagai media yang relevan dan objektif
guna memenuhi target pembahasan.
15
4. Teknik Analisis Data
Dalam Skripsi ini menggunakan analisis kualitatif, yaitu pendekatan
isi (Content Analiysis), yang menekankan pengambilan dari kesimpulan
analisa yang bersifat deskriftif dan deduktif, seluruh data yang diperoleh akan
diklarifikasikan dari bentuk yang bersifat umum, kemudian dikaji dan diteliti
selanjutnya ditarik kesimpulan yang mampu memberikan gambaran spesifik
dan relevan mengenai data tersebut.
5. Teknik Penulisan
Adapun Teknik penulisan skripsi ini, penulis menggunakan buku
Pedoman Menulis Skripsi, yang diterbitkan oleh Fakultas Syariah dan Hukum
Universitas Islam Negeri , Jakarta, 2007.
F. Sistematika Penulisan
Dalam Proposal skripsi ini, penulis membagi pembahasan ke dalam 5 bab,
dimana masing-masing bab mempunyai penekanan pembahasan mengenai topiktopik tertentu, yaitu:
BAB I, berisi Pendahuluan yang mencakup Latar Belakang Masalah,
Pembatasan dan Perumusan Masalah, Tujuan dan Manfaat Penelitian, Review
Study Terdahulu, Metode Penelitian dan Sistematika Penulisan. Alasan sub-sub
tersebut diletakkan pada bab 1 adalah untuk lebih mengetahui alasan pokok
kenapa penulisan ini dilakukan dan mengetahui batasan dan metode yang
dilakukan sehingga maksud dari isi penulisan ini dapat dipahami.
16
BAB II, pembahasan mengenai tinjauan umum yang meliputi: Sejarah
Lembaga Mazhalim, tugas dan wewenang Lembaga Mazhalim, kedudukan
Lembaga Mazhalim.
BAB III, pembahasan mengenai tinjauan umum Peradilan Tata Usaha
Negara dan Kepegawaian: Dasar Hukum Pembentukan Peradilan Tata Usaha
negara, Kompetensi Peradilan Tata Usaha Negara, Sengketa dan Keputusan tata
Usaha Negara, Administrasi Kepegawaian, Sumber Hukum Kepegawaian.
BAB IV, pada bab ini penulis akan menguraikan tentang kewenangan
Peradilan Tinggi tata Usaha Negara dalam memutus perkara sengketa
kepegawaian, dalam hal ini Perkara Nomor 174/G/2006/PT.TUN.JKT. dan juga
akan dikaji secara hukum Islam bagaimana pandangan Hukum Islam terhadap
kewenangan Peradilan Tata Usaha Negara.
BAB V, merupakan bab penutup, yang berisikan kesimpulan dari seluruh
penelitian serta saran-saran.
BAB II
SEJARAH DAN KEWENANGAN LEMBAGA
KEKUASAAN MAZHALIM
A. Sejarah Lembaga Mazhalim
Perkembangan kekuasaan peradilan pada dasarnya tidak lepas dari sejarah
perkembangan masyarakat dan politik Islam. Dalam sejarah Islam yang paling
banyak menguasai lembaga peradilan Islam adalah ahli praktisi hukum. Dalam
peraturan perundang-undangan sekarang posisi para praktisi hukum itu selain
sebagai ulama ahli juga sebagai pemisah antara kekuasaan. 1
Lembaga peradilan (qada) dibentuk untuk menangani kasus-kasus yang
membutuhkan putusan berdasarkan hukum syariah. Kasus – kasus tersebut
meliputi kehidupan sosial dan keagamaan masyarakat muslim (juga non muslim
yang dzimmi). Untuk tujuan tersebut, khilafah atau imam menunjuk seorang qadi
dari kalangan yuris (mereka yang menguasai hukum Islam). Meskipun pada
awalnya qadi dipilih oleh khalifah, tapi ia memiliki independensi untuk
mengambil putusan hukum berdasarkan syariah. Bahkan ia tak terpecat dengan
kematian khalifah yang mengangkatnya. Dalam teori, qadi hanyalah merupakan
pelaksana hukum Islam, meskipun dalam praktik ia juga melakukan legislasi
(penetapan hukum). 2
1
Moh Mahfud MD, Dasar dan Struktur Ketatanegaraan Indonesia, (Jakarta : Rineka Cipta,
2001), h. 118
2
Nur Mufid, Bedah Al-Ahkamus Sulthaniyah, Mencermati Konsep Kelembagaan Politik Era
Abasiyah, (Pustaka Progressif: Surabaya, 2000), h. 115
17
18
Al-Mazhalim kata jama’ dari Mazlimah, yaitu nama bagi sesuatu yang
diambil oleh orang zalim. Menurut istilah fuqaha, Wilayah Mazhalim merupakan
suatu jabatan kehakiman, akan tetapi lebih luas dari jabatan hakim biasa karena
Wilayah Mazhalim yaitu suatu jabatan gabungan dari pengaruh kekuasaan dan
peradilan kehakiman.3
Menurut asal-usulnya, peradilan Mazhalim berasal dari tradisi penguasa
Sasaniyah. Melalui Mazhalim, kepala negara (khalifah) mendengarkan pengaduan
rakyat yang merasa mendapatkan perlakuan tidak adil dari pejabat pemerintahan.
Dalam peradilan Mazhalim itu juga, khalifah memberikan keadilan kepada
rakyatnya.
Di zaman al-Khulafa’ ar-Rasyidin persoalan mazhalim ditangani sesuai
dengan kebiasaan yang ditunjukkan oleh Nabi SAW. Semua kasus yang
menyangkut peradilan mazhalim ditangani langsung oleh khalifah. Di zaman
Dinasty Umayah, kasus yang menyangkut mazhalim semakin banyak karena
sejalan dengan semakin luasnya wilayah Islam. Atas inisiatif Khalifah Abdul
Malik bin Marwan, semua kasus mazhalim diselesaikan dalam peradilan khusus,
yaitu pengadilan mazhalim. Kedudukan pengadilan mazhalim semakin kuat dan
tegas ketika masa pemerintahan Umar bin Abdul Aziz. Dalam sejarah diketahui
bahwa tindakan yang dilakukannya sebagai khalifah adalah mengembalikan
3
Abdul Karim Zaidan, Sistem Kehakiman Islam Jilid 3, (Kuala Lumpur: Pustaka Haji Abdul
Majid, 2004), h. 64
19
seluruh harta rakyat yang diambil para penguasa secara zhalim, sehingga ia dapat
mewujudkan kembali kehidupan dan prilaku yang adil. 4
Lembaga Al-Mazhalim ini mulai terpikirkan pada masa pemerintahan Ali
ra, ini disebabkan karena beliau merasa perlu mempergunakan tindakan-tindakan
yang keras dan menyelidiki pengaduan-pengaduan terhadap penguasa-penguasa
yang berbuat kedzaliman. Permulaan khalifah yang sengaja mengadakan waktuwaktu tertentu untuk memperhatikan pengaduan-pengaduan rakyat pada para
pejabat ialah Abdul Malik Ibn Marwan mereka menentukan hari-hari tertentu
untuk menerima pengaduan rakyat terhadap para pejabat negara. Pengadilan
untuk memutuskan perkara-perkara kedzaliman, pada masa itu dilakukan di
masjid-masjid. Akan tetapi penguasa yang mengetahui sidang mazhalim ini
dilengkapi dengan bermacam-macam aparat agar pengadilannya mempunyai
kewibawaan yang penuh dan dapat melaksanakan putusan-putusannya.5
Menurut al-Mawardi, yang diterjemahkan oleh Nur Mufid dalam bukunya
Bedah Al-Ahkamus Shulthoniah, orang pertama dalam sejarah Islam yang
mengadakan lembaga peradilan Mazhalim adalah Abdul al-Malik ibn Marwan,
khalifah Bani Umayyah. Gagasannya untuk mewujudkan lembaga ini timbul
setelah pada suatu hari dia membaca dan meneliti sebuah laporan tentang kasus
sengketa. Sebelumnya, dia cukup menyerahkan kasus-kasus yang sulit
4
Hasan Muarif, dkk, ed., Suplemen Ensiklopedi Islam, (Jakarta: PT. Ichtiar Baru Van Hoeve,
1996) h. 53
5
Tengku Muhammad Hasbi, Peradilan Dan Hukum Acara Islam, (Semarang, PT Pustaka
Rizki Putra 1997) h. 94
20
diselesaikannya kepada seorang hakim kepercayaannya, yaitu Abu Idris al-Audi.
Abdul al-Malik tahu bahwa Abu Idris adalah hakim yang sangat teliti dalam
menyimpulkan dan memutus perkara dengan meneliti sebab-sebab terjadinya
suatu perkara. Abu Idrislah yang menjadi pelaksana (pemeriksa) mazhalim
pertama dalam sejarah islam, sedangkan Malik ibn Marwan adalah orang pertama
yang mengangkat seorang pemeriksa mazhalim.6
Setelah itu, pelanggaran para pejabat dan kezaliman orang-orang kuat
semakin membesar sehingga hanya dapat ditangani oleh pihak yang paling tinggi
dan paling kuat kedudukannya. Umar bin Abdul Aziz adalah orang yang pertama
kali menempatkan dirinya sebagai penanggung jawab tugas mazhalim, sehingga
ia dapat menyelesaikan masalah-masalah yang diadukan kepadanya dan dapat
mewujudkan kembali kehidupan dan perilaku yang adil. Ia juga menghilangkan
kezaliman yang dilakukan oleh keluarga Bani Umayyah, sehingga ada yang
mengatakan kepadanya, “Engkau telah berlaku keras dan kasar terhadap mereka.
Kami takut jika hal itu berakibat buruk bagimu.” Ia menjawab, “Seluruh hari yang
aku takuti lebih kecil daripada tingkat ketakutanku akan hari kiamat.”
Pada akhirnya, tugas ini ditangani oleh para khalifah dari Banni Abbas,
yang pertama mendudukinya adalah al-Mahdi, kemudian al-Hadi, selanjutnya arRasyid, diteruskan oleh al-Ma’mun. Khalifah Abbasiyyah yang terakhir
menangani tugas ini adalah al-Muhtadi. Dengan penanganan seperti itu, milik-
6
Nur Mufid, Bedah Al-Ahkamus Sulthaniyah, Mencermati Konsep Kelembagaan Politik Era
Abasiyah, h. 120
21
milik manusia dapat dikembalikan kepada yang berhak. Para raja Parsi melihat
hal itu sebagai bagian dari rambu-rambu kerajaan dan undang-undang keadilan,
yang menjadi pokok perwujudan kepentingan umum dan keadilan. 7
Didalam risalah Al Kharady, Abu Yusuf menganjurkan kepada khalifah
Harun Ar Rasyid supaya mengadakan sidang-sidang untuk memeriksa
pengaduan-pengaduan rakyat terhadap para pejabat. Kerap kali para khulafa
menyerahkan tugas ini kepada wazir-wazir dan kepala daerah atau hakim-hakim.
Meskipun hal ini pada awalnya adalah suatu tindakan jahiliah yang didorong oleh
kepentingan politik, namun dengan kehadiran Rasulullah saw, pada saat peristiwa
itu membuat hal tersebut menjadi hukum syariat dan tindakan kenabian yang
harus diikuti oleh insan muslim.
B. Tugas dan Wewenang Lembaga Mazhalim
Sebagai peradilan yang bertindak tanpa harus menunggu suatu gugatan
dari yang dirugikan, maka Wilayah mazhalim memilki tugas dan kewenangan
untuk hal-hal sebagai berikut :
Wewenang dan tugas mazhalim (yang menangani perkara penzhaliman)
adalah mendorong pihak-pihak yang saling bersikap zalim untuk bersikap adil,
dengan cara membuat mereka takut dan menghentikan sikap keras kepala orangorang yang saling bersengketa dengan kewibawaannya. Oleh karena itu, individu
7
Imam Al-Mawardi, Hukum Tata Negara dan Kepemimpinan dalam Takaran Islam.
Penerjemah Kamaluddin Nurdin, dkk, Cet.I (Jakarta: Gema Insani Press, 2000), h. 160
22
yang menduduki jabatan ini harus seorang yang terhormat, ditaati masyarakat,
berwibawa, bersih jalan hidupnya, sedikit ketamakannya, dan banyak wara’nya.
Karena dalam menjalankan tugas itu ia membutuhkan sifat kegagahan seorang
ksatriadan ketegasan seorang qadhi maka ia harus memiliki kedudukan dan
keistimewaan yang dimiliki oleh kedua kelompok itu, sehingga dengan statusnya
itu keputusan dan perkataannya didengar dan dipatuhi oleh kedua kelompok itu. 8
Dalam menangani pelanggaran yang dilakukan pejabat pemerintah atas
rakyat, majelis mazhalim mempunyai wewenang untuk meneliti perilaku pejabat
yang disinyalir bermasalah, kemudian menghukumnya. Akan tetapi majelis
mazhalim ini tidak segan-segan mendukung mereka jika mereka berlaku adil dan
jujur walau tidak serta merta. Karena harus tetap melihat undang-undang yang
adil, catatan pembukuan negara, dan ketetapan pemerintah. Selanjutnya, bertugas
mengembalikan harta yang dirampas dan dikorupsi oleh pejabat. Sebaliknya, jika
pejabat mazhalim mendapatkan pelanggaran ini saat memeriksa, maka harus
dikembalikan harta tersebut sebelum adanya pengaduan.
Wilayah mazhalim juga bertugas sebagai pencatat administrasi negara.
Lingkup kerjanya mengidentifikasi apakah ada pelanggaran, pengurangan,
penambahan atau penggelapan. Dalam melaksanakan tugas ini pejabat mazhalim
tidak perlu menunggu adanya pihak penuntut. Tugas wilayah mazhalim tidak
hanya meliputi tugas kenegaraan secara keseluruhan, ini terbukti juga mengurusi
8
Al-Mawardi, Hukum Tata Negara. h 157
23
masalah personal dilingkungan pejabat negara. Lembaga berwenang juga dalam
penetapan gaji atas penyunatan gaji atau keterlambatan pemberian gaji serta.9
Wilayah mazhalim mempunyai wewenang menangani kasus yang tidak
mampu ditangani oleh para qadhi, yang disebabkan lemahnya kemampuan
mereka untuk menanganinya atau keseganan menghadapi pihak tertuduh. Dalam
hal seperti ini, pejabat mazhalim dapat turun tangan karena adanya kekuatan yang
ia miliki dan lebih efektifnya keputusan hukum, sehingga lembaga ini dapat
dengan mudah memutuskan untuk menyita harta yang berada dalam genggaman
pihak yang bersalah atau memerintahkannya untuk menyerahkan harta tersebut.
Dijelaskan pula bahwa wilayah mazhalim berwenang untuk menangani
kasus-kasus pelanggaran kepentingan umum yang sulit ditangani oleh pejabat
biasa, seperti tindakan berbuat mungkar secara terang-terangan. Dalam kasus
seperti ini, pejabat mazhalim turun tangan untuk mengambilnya dari mereka
sesuai dengan ketentuan Allah swt dan mewajibkan menaati peraturan dan
kewajiban yang telah ditetapkan oleh Allah swt. Lembaga ini juga
memperhatikan, menangani kasus pertengkaran dan memberikan keputusan
hukum bagi pihak yang bersengketa. Akan tetapi, dalam menjalankan
wewenangnya itu, pejabat mazhalim tidak boleh keluar dari tuntunan kebenaran
dan tidak boleh memberikan keputusan hukum yang tidak sesuai dengan
keputusan hukum yang di tetapkan oleh para hakim dan para qadhi, karena bisa
9
Abdul Karim Zaidan, Sistem Kehakiman Islam, h. 70
24
saja pejabat mazhalim bertindak tidak adil sehingga keputusannya ternyata
melanggar tuntunan syariat.10
Pejabat yang mengurus masalah mazhalim dapat menggunakan cara-cara
yang diperbolehkan untuk mendapatkan fakta kebenaran, tidak semata dengan
cara-cara yang konvensional dan secara rutin dipergunakan. Kemudian dengan
segera memberikan keputusan hukum sesuai dengan tuntunan syariat. Menurut
para ahli seluruh fuqaha, pejabat mazhalim tidak boleh menetapkan hukum
semata-mata dengan bukti tulisan tangan jika tidak disertai adanya pengakuan
akan kebenaran yang terkandung di dalamnya, karena wewenang pejabat
mazhalim tidak dapat menetapkan keputusan hukum yang dilarang oleh syariat.
Adapun wewenang pejabat mazhalim yang terbaik adalah dalam masalah
yang boleh, bukan masalah yang wajib, yaitu jika dalam kasus tersebut
menemukan kecurigaan dan adanya penentangan dari satu pihak. Maka dapat
menggunakan cara-cara yang dapat mengungkapkan kebenaran dan menjaga
pihak yang dituntut sesuai dengan aturan hukum.
Yang menjadi wewenang tugas majelis mazhalim ada sepuluh bagian
yaitu:11
1. Menangani pelanggaran pejabat pemerintah atas rakyat, untuk kemudian
memberikan catatan yang buruk baginya.
10
Yahya A.R., Strutur Negara Khilafah, (Jakarta, PT. Raja Grafindo Persada, 1997) h.204
11
Al-Mawardi, Hukum Tata Negara. h 163
25
2. Menangani sikap korup para pejabat pemerintah atas harta yang mereka
pungut dari rakyat.
3. Bertugas sebagai pencatat administrasi negara.
4. Menerima pengaduan para penerima gaji atas penyunatan gaji mereka atau
keterlambatan pemberian gaji itu kepada mereka.
5. Mengembalikan harta yang dirampas dan dikorupsi oleh pejabat.
6. Mengawasi harta wakaf.
7. Menangani kasus yang tidak mampu ditangani oleh para qadhi, yang
disebabkan lemahnya kemampuan mereka untuk menanganinya atau
keseganan mereka menghadapi pihak tertuduh.
8. menangani kasus-kasus pelanggaran kepentingan umum yang sulit ditangani
oleh pejabat biasa, seperti tindakan berbuat mungkar secara terang-terangan
yang sulit diberantas, tindakan menggangu kelancaran dan keamanan lalu
lintas yang sulit dicegah, dan tindakan menahan orang lain yang sulit diminta.
9. Memperhatikan pelaksanaan ibadah-ibadah yang lahiriah.
10. Menangani kasus pertengkaran dan memberikan keputusan hukum baik bagi
pihak yang bersengketa.
C. Kedudukan Lembaga Mazhalim
Wilayat al-madzalim merupakan lembaga kehakiman tingkat tinggi, yang
sejak masa khalifah Abdul Malik (685-705 M) untuk pusat dipegang langsung
oleh khalifah. Dalam penanganan ini, khalifah menyediakan waktu khusus untuk
26
menyelesaikan perkara yang masuk. Sedangkan untuk daerah, jabatan ini
dipegang oleh qadhi madzalim. Wilayat al-madzalim ini juga menangani tindakan
pejabat-pejabat negara termasuk hakim yang berbuat sewenang-wenang terhadap
terhadap rakyat. Kalau dibandingkan dengan lembaga-lembaga kehakiman
sekarang, bisa dipadangkan dengan Pengadilan Tinggi atau Mahkamah Agung,
sebagai tempat bagi orang yang kalah tak puas mengajukan kembali perkaranya. 12
Dengan adanya Mahkamah Agung dan ketuanya ini, kekuasaan negara di bidang
pengadilan bertambah lengkap, Di bawah Mahkamah Agung ada pengadilan
tinggi dan di bawahnya ada pengadilan negara.
Dalam kajian fiqih, Mazhalim merupakan salah satu bentuk lembaga
peradilan umum dan peradilan hisbah (peradilan khusus yang menangani
pelanggaran terhadap prinsip amar ma’ruf nahi mungkar). Mazhalim adalah
lembaga peradilan yang secara khusus menangani kelaliman para penguasa dan
keluarganya terhadap hak-hak rakyat. Peradilan Mazhalim ini bertujuan agar hakhak rakyat dapat dikembalikan, serta dapat menyelesaikan persengketaan antara
penguasa dan warga negara. 13
Pembentukan lembaga ini dimaksudkan untuk merealisir keadilan di
tengah kehidupan masyarakat. Karena, dalam suatu negara, lembaga seperti ini
difungsikan untuk menegakkan hukum di wilayah kekuasaan negara, atau sebagai
12
A. Hasjmy, Di mana Letaknya Negara Islam. (Surabaya: PT. Bina Ilmu, 1984). Jilid 3.
Edisi revisi 5. h 256
13
Hasan Muarif, dkk, ed., Suplemen Ensiklopedi Islam, Vol.2 (Jakarta: PT. Ichtiar Baru Van
Hoeve, 1996), h.52
27
media untuk mengimplementasikan ajaran Islam di bidang penegakan dan
perlindungan hukum.
Wilayah mazhalim dibentuk untuk melaksanakan fungsi yudisial upaya
mewujudkan keadilan dan perlindungan hukum dalam kehidupan manusia yang
secara efektif dan efisien. Berkenaan dengan tugas yang dimiliki dalam
memberikan penerangan dan pembinaan hukum, penegakkan hukum dan
memutuskan suatu perkara.
Karena itu mereka yang bertugas dalam wilayah mazhalim harus
memenuhi syarat-syarat sebagai berikut :14
1. Mempunyai kedudukan
2. Mempunyai pengaruh
3. Berwibawa
4. Mempunyai harga diri
5. Tidak rakus, tidak mudah silau oleh dunia
6. Menghindari perbuatan maksiat dan menjauhi syubhat
Syarat-syarat ini diperlukan karena dalam menangani atau memeriksa
kasus-kasus tindakan semena-mena, investigator memerlukan keteguhan sebagai
seorang pelindung hukum dan ketegasan. Karena dengan kharisma dan wibawa
yang dimilikinya pemeriksa atau investigator itu disegani sehingga keputusannya
dihargai dan dilaksanakan oleh kedua belah pihak yang bersengketa.
14
Nur Mufid dan Nur Fuad, Mencermati Konsep Kelembagaan Politik Era Abasiyah,
(Jakarta: Pustaka Progesif, 2000), h. 22
28
Letak perbedaan antara pejabat Mazhalim dan Qadhi :15
1. Petugas mazhalim mempunyai wibawa dan kekuatan yang tidak dimiliki oleh
para qadhi untuk menuntaskan persengketaan pihak yang beperkara, serta
mencegah tindakan kezaliman.
2. Wewenang petugas mazhalim keluar dari kesempitan kewajiban kepada
keluasan keluasan kebolehan sehingga petugas ini mempunyai ruang yang
lebih luas dan keputusan yang lebih didengar.
3. Ia dapat melakukan penekanan dan merumuskan fakta sesuai dengan tandatanda yang tampak dan bukti-bukti yang ditemukan yang tidak dapat
dilakukan oleh para hakim, sehingga ia dapat menemukan kebenaran dan
mengetahui siapa yang salah yang benar.
4. Ia boleh menjatuhkan sanksi kepada pihak yang membuat kezhaliman dan
menjatuhkan hukuman bagi pihak yang membuat permusuhan.
5. Ia boleh menunda penyelesaian masalah persengketaan jika jalan keluarnya
belum ditemukan dan hak-hak mereka belum jelas sehingga belum dapat
ditetapkan, kemudian ia melakukan penelitian intensif untuk mendapatkan
fakta-fakta yang dapat digunakan. Sedangkan, seorang hakim tidak dapat
melakukan hal itu jika salah seorang dari pihak yang bersengketa meminta
untuk segera memutuskan hukum. Karena seorang hakim tidak dapat
15
Imam Al-Mawardi, Hukum-Hukum Penyelengaraan Negara dalam Syariat Islam,
Penerjemah Fadli Bahri, Lc, cet. II (Jakarta: Darul Falah, 2006), h. 132
29
menunda
keputusan
hukum,
sedangkan
petugas
mazhalim
dapat
melakukannya.
6. Jika sulit ditangani, ia boleh menyerahkan masalah mereka kepada pihak
penengah yang berusaha menyelesaikan persengketaan antara keduanya
dengan cara damai dan kerelaan, sedangkan qadhi tidak mempunyai
wewenang untuk melakukan tindakan seperti itu.
7. Ia dapat terus menangani kedua pihak yang bersengketa itu jika ada tandatanda yang menunjukkan sikap saling bersikeras, dan ia dapat menetapkan
uang jaminan jika dibutuhkan untuk mendorong pihak yang bersengketa itu
untuk saling bersikap jujur dan mengubah sikap pengingkaran dan saling
menuduh dusta.
8. Ia boleh mendengarkan persaksian orang-orang yang rendah kredibilitas
pribadinya, sedangkan para qadhi hanya mendengarkan persaksian orangorang yang mempunyai kredibilitas yang tinggi.
9. Ia boleh meminta para saksi untuk bersumpah saat ia masih meragukan
mereka jika mereka mengubah sumpah mereka dengan sengaja dan ia dapat
memperbanyak jumlah saksi untuk menghilangkan keraguan, sedangkan
seorang hakim tidak dapat melakukan itu.
10. Ia boleh memulai dengan memanggil para saksi dan menanyakan persaksian
mereka tentang kasus yang sedang ditangani. Sedangkan kebiasaan para qadhi
adalah memerintahkan pihak penuntut untuk mengajukan bukti.
30
Kemandirian kekuasaan yudikatif yang dimiliki wilayah mazhalim dalam
Islam adalah menerapkan hukum perundang-undangan dalam rangka menegakkan
keadilan dan menetapkan kebenaran yang bertujuan untuk mengukuhkan
keemanfaatan umum.
Pembentukan lembaga ini dimaksudkan untuk merealisir keadilan di
tengah kehidupan masyarakat. Karena, dalam suatu negara, lembaga seperti ini
difungsikan untuk menegakkan hukum di wilayah kekuasaan negara, atau sebagai
media untuk mengimplementasikan ajaran Islam di bidang penegak kan dan
perlindungan hukum.
BAB III
TINJAUAN UMUM TENTANG PENGADILAN TINGGI TATA USAHA
NEGARA DAN KEPEGAWAIAN
Istilah Tata Usaha Negara di sebagian lingkungan perguruan tinggi dikenal
dengan nama “administrasi negara”, alasannya karena istilah Tata Usaha Negara
lebih sempit daripada Istilah administrasi negara itu sendiri. 1 Hukum administrasi
adalah keseluruhan ketentuan yang mengikat alat-alat perlengkapan negara, baik
tinggi maupun rendah, setelah alat-alat itu menggunakan kewenangan-kewenangan
ketatanegaraan.
Bagi Indonesia keinginan untuk memiliki Peradilan Administrasi Negara 2
sebetulnya sudah ada sejak zaman pemerintahan Belanda. Namun, keinginan itu
selalu kandas di tengah perjalanan karena berbagai alasan. Keinginan itu baru
terwujud pada penghujung tahun 1986 tentang Peradilan Tata Usaha Negara, pada
tanggal 29 Desember 1986.
A. Dasar Hukum Pembentukan Peradilan Tata Usaha Negara
Dasar konstitusional pembentukan Peradilan Tata Usaha Negara ini adalah
pasal 24 Undang-Undang Dasar 1945 yang berbunyi: 3
1
Victor S, Soedibyo, Pokok-Pokok Peradilan Tata Usaha Negara, (Jakarta. PT Rineka Cipta,
1992), h 16.
2
Pada mulanya penyebutan istilah ini bermacam-macam, antara lain Peradilan Administrasi
Negara, Peradilan Tata Usaha Pemerintahan, Peradilan Tata Usaha Negara. Namun, setelah berlakunya
UU Nomor 5 Tahun 1986 tentang Peradilan Tata Usaha Negara yang sekarang sudah mengalami
perubahan menjadi UU Nomor 51 Tahun 2009, istilah yang digunakan bisa Peradilan Tata Usaha
Negara atau Peradilan Administrasi Negara.
3
Rozali, Abdullah, Hukum Acara Peradilan Tata Usaha Negara, (Jakarta. Pt Raja Grafindo
Persada, 2004) h 13.
31
32
1. Kekuasaan kehakiman dilakukan oleh sebuah Mahkamah Agung dan lain-lain
Badan Kehakiman menurut undang-undang.
2. Susunan dan kekuasaan badan-badan kehakiman itu diatur dengan undangundang.
Sebagai peraturan pelaksanaan dari pasal 24 Undang-Undang Nomor 14
tahun 1970 sebagaimana diubah dalam Undang-Undang Nomor 4 tahun 2004
tentang ketentuan-ketentuan Pokok kekuasaan kehakiman disebutkan: Kekuasaan
Kehakiman dilakukan oleh Pengadilan dalam lingkungan: 4
1. Peradilan Umum.
2. Peradilan Agama.
3. Peradilan militer.
4. Peradilan Tata Usaha Negara.
Dari bunyi pasal tersebut di atas jelaslah bahwa dasar hukum pembentukan
Peradilan Tata Usaha Negara yang bebas dan mandiri ternyata cukup kuat, sama
halnya dengan ketiga Peradilan lainnya yang sudah lama ada yaitu Peradilan
Umum, Peradilan Agama dan Peradilan Militer.
Sesuai dengan maksud pasal 145 Undang-Undang Nomor 5 Tahun 1986
yang menyatakan bahwa undang-undang ini mulai berlaku pada tanggal
diundangkan dan penerapannya diatur dengan Peraturan Pemerintah selambatlambatnya lima tahun sejak undang-undang ini diundangkan, seperti yang telah
4
Jimly Assiddiqie, Pokok-Pokok Hukum Tata Negara Indonesia, (Jakarta: PT Bhuana
Populer: 2007), h 513.
33
dikemukakan sebelumnya, pada tanggal 14 Januari 1991 diundangkanlah
Peraturan Pemerintah Nomor 7 tahun 1991 tentang Penerapan Undang-Undang
Nomor 5 Tahun 1986 tentang Peradilan Tata Usaha Negara, melalui Lembaran
Negara Republik Indonesia Tahun 1991 Nomor 8 semenjak itu mulailah 5 buah
Pengadilan Tata UsahaNegara dan 3 buah Pengadilan Tinggi Tata Usaha Negara
yang sudah dibentuk sebelumnya menjalankan tugasnya masing-masing.
Setelah reformasi, Undang-Undang Nomor 5 Tahun 1986 mengalami
perubahan tentang Peradilan Tata Usaha Negara. Undang-undang Nomor 5 Tahun
1986 tentang Peradilan Tata Usaha Negara itu merupakan salah satu undangundang yang mengatur bahwa perlu dilakukan perubahan di lingkungan peradilan
yang berada di bawah Mahkamah Agung. Perubahan atas Undang-Undang
Nomor 5 Tahun 1986 tentang Peradilan Tata Usaha Negara telah meletakkan
dasar kebijakan bahwa segala urusan mengenai peradilan umum, baik
menyangkut teknis yudisial maupun nonyudisial yaitu urusan organisasi,
administrasi, dam finansial di bawah Mahkamah Agung. Kebijakan tersebut
bersumber dari kebijakan yang ditentukan oleh Undang-Undang Nomor 4 Tahun
2004 tentang Kekuasaan kehakiman sebagaimana dkehendaki oleh Undangundang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945.
Perubahan penting lainnya atas Undang-Undang Nomor 5 Tahun 1986
tentang Peradilan Tata Usaha Negara yaitu5 :
5
Penjelasan UU 51 Tahun 2009.
34
1. Penguatan pengawasan hakim, baik pengawasan internal oleh Mahkamah
Agung maupun pengawasan eksternal atas perilaku hakim yang dilakukan
oleh Komisi Yudisial dalam menjaga dan menegakkan kehormatan, keluhuran
martabat serta perilaku hakim;
2. Memperketat persyaratan pengangkatan hakim, baik hakim pada Pengadilan
Tata Usaha Negara maupun hakim pada Pengadilan Tinggi Tata Usaha
Negara antara lain melalui proses seleksi hakim yang dilakukan secara
transparan, akuntabel, dan partisipatif serta harus melalui proses atau lulus
pendidikan hakim;
3. Pengaturan mengenai pengadilan khusus dan hakim ad hoc.
4. Pengaturan mekanisme dan tata cara pengangkatan dan pemberhentian hakim;
5. Kesejahteraan hakim;
6. Transparansi putusan dan limitasi pemberian salinan putusan;
7. Transparansi
biaya
perkara
serta
pemeriksaan
pengelolaan
dan
pertanggungjawaban biaya perkara;
8. Bantuan hukum; dan
9. Majelis Kehormatan Hakim dan kewajiban hakim untuk menaati Kode Etik
dan Pedoman Perilaku Hakim.
B. Kompetensi Peradilan Tata Usaha Negara
Kompetensi Peradilan Tata Usaha Negara menurut Undang-Undang
Nomor 51 Tahun 2009 jauh lebih sempit lagi, karena tidak semua perkara yang
pokok sengketanya terletak di lapangan Hukum Publik (Hukum Tata Usaha
35
Negara) dapat diadili di Peradilan Tata Usaha Negara. Menurut ketentuan pasal 1
ayat (3) Undang-Undang Nomor 51 Tahun 2009, Keputusan Tata Usaha Negara
yang dapat digugat di Peradilan Tata Usaha Negara, haruslah memenuhi syaratsyarat:6
1. Bersifat tertulis, hal ini diperlukan untuk memudahkan pembuktian.
Pengertian tertulis disini bukanlah dalam arti bentuk formalnya, melainkan
cukup tertulis, asal saja:
a. Jelas Badan atau Pejabat Tata Usaha yang mengeluarkannya.
b. Jelas isi dan maksud tulisan tersebut yang menimbulkan hak dan
kewajiban.
c. Jelas kepada siapa tulisan ini ditujukan.
Mengenai syarat tertulis ini ada pengecualiannya sebagai mana dalam
pasal 3 Undang-Undang Nomor 51 Tahun 2009, yaitu:
a. Apabila Badan atau Pejabat Tata Usaha Negara tidak mengeluarkan
keputusan, sedangkan hal itu menjadi kewajibannya, maka hal tersebut
disamakan dengan Keputusan Tata Usaha Negara.
b. Jika suatu Badan atau Pejabat Tata Usaha Negara tidak mengeluarkan
keputusan yang dimohon, sedangkan jangka waktu sebagaimana
ditentukan dalam peraturan perundang-undangan dimaksud telah lewat,
maka Badan atau Pejabat Tata Usaha Negara tersebut dianggap telah
menolak mengeluarkan keputusan yang dimaksud.
6
Abdullah, Hukum Acara Peradilan Tata Usaha Negara, h 24.
36
c. Dalam hal peraturan perundang-undangan yang bersangkutan tidak
menentukan jangka waktu sebagaimana dimaksud dalam ayat (2), maka
setelah lewat jangka waktu empat bulan sejak diterimanya permohonan,
Badan atau Pejabat Tata Usaha Negara yang bersangkutan dianggap telah
mengeluarkan keputusan penolakan.
2. Bersifat kongkrit, artinya obyek yang diputus dalam Keputusan Tata Usaha
Negara itu berwujud tertentu atau dapat ditentukan.
3. Bersifat individual, artinya Keputusan Tata Usaha Negara itu tidak ditujukan
untuk umum, tetapi ditujukan untuk orang-orang atau badan hukum perdata
tertentu. Jadi tidak berupa suatu peraturan yang berlaku umum.
4. Bersifat final, artinya sudah definitif dan karenanya dapat menimbulkan
akibat hukum, atau ketetapan yang tidak membutuhkan lagi persetujuan dari
instansi atasannya.
Di samping mengadili pada tingkat pertama sengketa Tata Usaha Negara
sebagaimana dimaksud dalam pasal 48 Undang-Undang Nomor 5 Tahun 1986,
Pengadilan Tinggi Tata usaha Negara juga berwenang (Pasal 51. UPTN):7
1. Memeriksa dan memutus sengketa Tata Usaha Negara di tingkat Banding.
2. Memeriksa dan memutus di tingkat pertama dan terakhir sengketa
kewenangan mengadili antara Pengadilan Tata Usaha Negara di dalam daerah
hukumnya.
7
Abdullah, Hukum Acara Peradilan Tata Usaha Negara, h 26.
37
Kewenangan
Pengadilan
untuk
menerima,
memeriksa,
memutus
menyelesaikan perkara yang diajukan kepadanya yang dikenal dengan
kompetensi atau kewenangan mengadili. PTUN mempunyai kompetensi
menyelesaikan sengketa tata usaha negara di tingkat pertama. Sedangkan
Pengadilan Tinggi Tata Usaha Negara (PT.TUN) untuk tingkat banding. akan
tetapi untuk sengketa-sengketa tata usaha negara yang harus diselesaikan terlebih
dahulu melalui upaya administrasi berdasarkan Pasal 48 Undang-Undang Nomor
51 tahun 2009 perubahan Undang-Undang Nomor 5 tahun 1986.
Dalam pasal 48 Undang-Undang No. 5 Tahun 1986 jo Undang- Undang
No. 51 Tahun 2009 tentang Peradilan Tata Usaha Negara, disebutkan sebagai
berikut :
1. Dalam hal suatu Badan/Pejabat Tata Usaha Negara diberi wewenang oleh atau
berdasarkan peraturan perundang-undangan untuk menyelesaikan secara
administratif sengketa Tata Usaha Negara tertentu, maka sengketa Tata Usaha
Negara tersebut harus diselesaikan melalui upaya administratif yang tersedia;
2. Pengadilan baru berwenang memeriksa, memutus, dan menyelesaikan
sengketa Tata Usaha Negara sebagaimana dimaksud ayat (1) jika seluruh
upaya administratif yang bersangkutan telah digunakan.
Ada beberapa cara untuk mengetahui kompetensi dari suatu pengadilan
untuk memeriksa, mengadili dan memutus suatu perkara: pertama, dapat dilihat
dari pokok sengketanya (geschilpunt, fundamentum petendi); kedua, dengan
38
melakukan pembedaan atas atribusi (absolute competentie atau attributie van
rechtsmacht) dan delegasi (relatieve competentie atau distributie van distributie
van rechtsmacht); ketiga, dengan melakukan pembedaan atas kompetensi absolut
dan kompetensi relatif. 8
Pertama, dilihat dari pokok sengketanya, apabila pokok sengketanya
terletak dalam lapangan hukum privat, maka sudah tentu yang berkompetensi
adalah hakim biasa (hakim pengadilan umum). Apabila pokok sengketanya
terletak dalam lapangan hukum publik, maka sudah tentu yang berkompetensi
adalah administrasi negara yang berkuasa (hakim PTUN).
Kedua, dengan melakukan pembedaan atas kewenangan mengadili dengan
pembagian kompetensi atas atribusi (absolute competentie atau attributie van
rechtsmacht)
dan
delegasi (relatieve
competentie
atau
distributie
van
rechtsmacht) dapat dijelaskan sebagai berikut:
1. Atribusi, yang berkaitan dengan pemberian wewenang yang bersifat bulat
(absolut) mengenai materinya, yang dapat dibedakan :
a. Secara horizontal, yaitu wewenang yang bersifat bulat dan melekat dari
suatu jenis pengadilan terhadap jenis pengadilan lainnya, yang
mempunyai
kedudukan
sederajat/
setingkat.
Contoh:
Pengadilan
Administrasi terhadap Pengadilan Negeri (umum), Pengadilan Agama
atau Pengadilan Militer.
8
Zairin Harahap, Hukum Acara Peradilan Tata Usaha Negara, (Jakarta: PT. Raja Grafindo
Persada, 1997) h 28.
39
b. Secara vertical, yaitu wewenang yang bersifat bulat dan melekat dari suatu
jenis pengadilan lainnya, yang secara berjenjang atau hirarki mempunyai
kedudukan lebih tinggi. Contoh: Pengadilan Negeri (umum) terhadap
Pengadilan Tinggi dan Mahkamah Agung.
2. Distribusi, yang berkaitan dengan pembagian wewenang yang bersifat terinci
(relatif) di antara badan-badan yang sejenis mengenai wilayah hukum.
Contoh; antara Pengadilan Negeri Bandung dengan Pengadilan Negeri antara
lain di Garut, Tasikmalaya dan Ciamis.
Ketiga, adalah pembagian atas Kompetensi absolut dan Kompetensi
relatif. Kompetensi absolut adalah menyangkut kewenangan badan peradilan apa
yang memeriksa, mengadili, dan memutus suatu perkara. Kompetensi dari
Peradilan Tata Usaha Negara adalah untuk memeriksa, mengadili dan
memutuskan sengketa yang timbul dalam bidang tata usaha negara akibat
dikeluarkannya suatu keputusan tata usaha negara, termasuk sengketa
kepegawaian dan tidak dikeluarkannya suatu keputusan yang dimohonkan
seseorang sampai batas waktu yang ditentukan dalam suatu peraturan perundangundangan, sedangkan hal itu telah merupakan kewajiban badan atau pejabat tata
usaha negara yang bersangkutan.
Kompetensi relatif, adalah kewenangan dari pengadilan sejenis, yang
mana yang berwenang untuk memeriksa, mengadili, dan memutus perkara yang
bersangkutan. Dalam kaitannya dengan Peradilan Tata Usaha Negara, maka
40
kompetensi relatifnya adalah menyangkut kewenangan peradilan tata usaha
negara yang mana yang berwenang untuk memeriksa, mengadili, dan memutus
perkara tersebut. Apakah PTUN Ujung Pandang, Surabaya, Semarang, Bandung,
Jakarta, Palembang, atau Medan, dan sebagainya. 9 Berkaitan dengan kompetensi
PTUN tersebut di atas, dalam pasal 77 UU PTUN disebutkan:
1. Eksepsi tentang kewenangan absolut pengadilan dapat diajukan setiap waktu
selama pemeriksaan, dan meskipun tidak ada eksepsi tentang kewenangan
absolut pengadilan apabila hakim mengetahui hal itu, ia karena jabatannya
wajib menyatakan bahwa pengadilan tidak berwenang mengadili sengketa
yang bersangkutan.
2. Eksepsi tentang kewenangan relatif pengadilan diajukan sebelum disampaikan
jawaban atas pokok sengketa, dan eksepsi tersebut harus diputus sebelum
pokok sengketa diperiksa.
3. Eksepsi lain yang tidak mengenai kewenangan pengadilan hanya dapat
diputus bersama dengan pokok sengketa.
Dengan demikian, eksepsi terhadap kompetensi relatif dari PTUN, harus
disampaikan tergugat sebelum memberikan jawaban atas pokok sengketa, apabila
eksepsi itu disampaikan setelah memberikan jawaban atas pokok sengketa, maka
eksepsi tersebut tidak lagi dapat diterima.
Keberadaan Peradilan Tata Usaha Negara bukan untuk mencari-cari
kesalahan, apalagi mengurangi kewibawaan Badan atau Pejabat Tata Usaha
9
Zairin Harahap, Hukum Acara Peradilan Tata Usaha Negara, h 30
41
Negara, tetapi justru sebaliknya agar terbinanya aparatur yang mampu menjadi
alat yang efisien, efektif, bersih dan berwibawa dan selalu berdasarkan hukum
serta bersih dari kolusi, korupsi dan nepotisme juga dilandasi semangat serta
sikap pengabdian untuk masyarakat di dalam menjalankannya tugasnya. Di lain
pihak juga tindakan yang tidak tepat dari Badan atau Pejabat Tata Usaha Negara.
Oleh karenanya Peradilan Tata Usaha Negara dibentuk untuk menyelesaikan
sengketa yang timbul dalam bidang tata usaha negara antara orang atau badan
hukum privat dengan Badan atau Pejabat Tata Usaha Negara sebagai akibat
dikeluarkannya Keputusan Tata Usaha Negara akibat pelaksanaan atau
penggunaan wewenang pemerintahan yang dilakukan oleh Badan/Pejabat Tata
Usaha Negara yang menimbulkan benturan kepentingan, perselisihan, atau
sengketa dengan warga masyarakat atau badan hukum privat, atau sengketa
dengan warga masyarakat atauu badan hukum privat dengan Badan atau Pejabat
Tata Usaha Negara.
Susunan Peradilan Tata Usaha Negara sama halnya dengan Peradilan
Umum, terdiri dari dua tingkat Peradilan, yaitu:
1. Pengadilan Tata Usaha Negara, yang merupakan Peradilan Tingkat Pertama.
2. Pengadilan Tinggi Tata Usaha Negara, yang merupakan Peradilan Tingkat
Banding.
Sama halnya dengan ketiga Peradilan lain, Peradilan Tata Usaha Negara juga
berpuncak pada Mahkamah Agung, sebagai Peradilan Negara tertinggi yang
berfungsi antara lain sebagai Peradilan Kasasi.
42
Susunan Pengadilan sesuai dengan pasal 8 Undang-Undang Nomor 51 tahun 2009
terdiri atas:
1. Pimpinan
2. Hakim Anggota
3. Panitera
4. Sekretaris
Tujuan dari Peradilan Tata Usaha Negara adalah untuk mengembangkan
dan memelihara administrasi negara yang tepat menurut hukum, atau tepat
menurut Undang-Undang, ataupun tepat secara efektif maupun berfungsi secara
efisien. 10 Faktor terpenting untuk mendukung efektifitas peranan pemerintah
adalah faktor makna kontrol Yudisial dengan spesifikasi karakteristiknya. Hal
tersebut, mendasari konsepsi mengenai Peradilan Tata Usaha Negara yang
merupakan pelembagaan kontrol yudisial terhadap tindakan pemerintah.
Pembentukan Peradilan Tata Usaha Negara di Indonesia tidak akan
mencontoh belaka pada sistem Peradilan Tata Usaha Negara di Negara lain. Akan
tetapi disesuaikan dengan kebutuhan situasi dan kondisi serta perkembangan di
Indonesia, bahkan akan diciptakan sistem sendiri yang sesuai dengan kebutuhan
dan keadaan di Indonesia yang berfalsafah Pancasila.
Final draft Rancangan Undang-Undang tentang Pengadilan dalam
Lingkungan Peradilan Tata Usaha Negara, pada tahun 1982 berada dalam taraf
10
Victor S, Soedibyo, Pokok-Pokok Peradilan Tata Usaha Negara, (Jakarta: PT Rineka
Cipta, 1992) h 11.
43
penggodogan dan telah dibahas di muka forum DPR dengan banyak mendapat
tanggapan yang positif, walaupun ternyata kemudian pihak Panitia Khusus
(pansus) Rancangan Undang-Undang masih belum dan tidak dapat menyelesaikan
tugasnya dalam masa persidangan DPR terakhir periode 1977-1982, karena
keterbatasan waktu dan beratnya materi yang harus dibahas. Pada bulan April
1986 Pemerintah sekali lagi menyampaikan Rancangan Undang-Undang tentang
Peradilan Tata Usaha Negara yang telah disempurnakan kepada DPR periode
masa bhakti 1982-1987, Undang-Undang tersebut menjadi Undang-Undang.
Dan pada akhirnya tahun 1990 Pengadilan Tinggi Tata Usaha Negara
Jakarta dibentuk berdasarkan Keppres Nomor : 52 Tahun 1990, tanggal 30
Oktober 1990 dan PP No. 41 Tahun 1991 tentang Pembentukan Pengadilan Tata
Usaha Negara di Jakarta, Medan dan Ujung Pandang serta dirubah dengan
Undang-Undang Nomor 9 Tahun 2004 jo Undang-Undang No 51 Tahun 2009
Tentang Peradilan Tata Usaha Negara.
Peresmian penggunaan gedung Pengadilan Tinggi Tata Usaha Negara
Jakarta dilakukan pada tanggal 10 November 1990 oleh Menteri Kehakiman
Republik Indonesia H. Ismail Saleh, SH. Pengadilan Tinggi Tata Usaha Negara
Jakarta menempati bekas Pengadilan Tinggi Jakarta yang terletak di Jalan Cikini
Raya Nomor 117 Jakarta Pusat yang diberikan oleh Mahkamah Agung secara
pinjam pakai kepada Pengadilan Tinggi Tata Usaha Negara Jakarta berdasarkan
Surat Persetujuan Pemakaian Nomor : KMA/242/IX/89 tanggal 6 September
44
1989, kemudian direnovasi dan diperluas kebelakang, adapun luas Gedung yang
ditambah 340 m2. Sedangkan tanggal peresmian operasionalnya dilakukan pada
tanggal 14 Januari 1991.
Pengadilan Tinggi Tata Usaha Negara Jakarta berkedudukan di DKI
Jakarta. Berdasarkan Surat Keputusan Mahkamah Agung Republik Indonesia
Nomor : KMA/021/SK/III/1993,tanggal 5 Maret 1991 wilayah Hukum
Pengadilan Tinggi Tata Usaha Negara Jakarta saat ini meliputi: 11
1. Pengadilan Tata Usaha Negara Jakarta, daerahnya hukumnya meliputi :
a. Kotamadya Jakarta Pusat
b. Kotamadya Jakarta Barat
c. Kotamadya Jakarta Selatan
d. Kotamadya Jakarta Timur
e. Kotamadya Jakarta Utara
2. Pengadilan Tata Usaha Negara Bandung, daerah hukumnya meliputi :
a. Kotamadya Bandung
b. Kotamadya Bogor
c. Kotamadya Cirebon
d. Kotamadya Sukabumi
e. Kotamadya Depok
f. Kotamadya Bekasi
11
Pusat).
Makalah, Sejarah singkat Peradilan Tinggi Tata Usaha Negara, (sumber PT.TUN Jakarta
45
g. Kotamadya Banten
3. Pengadilan Tata Usaha Negara Pontianak, daerah hukumnya meliputi :
a. Kotamadya Pontianak
b. Kabupaten Sambas
c. Kabupaten Ketapang
d. Kabupaten Pontianak
e. Kabupaten Kapuas Hulu
f. Kabupaten Sanggau
g. Kabupaten Sintang
4. Pengadilan Tata Usaha Negara Banjarmasin, daerah hukumnya meliputi :
a. Kotamadya Banjarmasin
b. Kabupaten Hulu Sungai Tengah
c. Kabupaten Hulu Sungai Selatan
d. Kabupaten Hulu Sungai Utara
e. Kabupaten Kota Baru
f. Kabupaten Barito Kuala
g. Kabupaten Banjar
h. Kabupaten Tanah Laut
i. Kabupaten Tapin
j. Kabupaten Tabalog
46
5. Pengadilan Tata Usaha Negara Palangkaraya, daerah hukumnya meliputi :
a. Kotamadya Palangka Raya
b. Kabupaten Kapuas
c. Kabupaten Barito Utara
d. Kabupaten Barito Selatan
e. Kabupaten Kotawaringin Timur
f. Kabupaten Kotawaringin Barat
g. Kabupaten Seruyan
h. Kabupaten Pulang Pisau
i.
Kabupaten Barito Timur
j.
Kabupaten Lamandau
k. Kabupaten Katingan
l.
Kabupaten Sukamara
m. Kabupaten Gunung Mas
n. Kabupaten Murung Raya
6. Pengadilan Tata Usaha Negara Samarinda, daerah hukumnya meliputi :
a. Kotamadya Samarinda
b. Kotamadya Balikpapan
c. Kabupaten Kutai
d. Kabupaten Pasir
e. Kabupaten Berau
47
C. Sengketa dan Keputusan Tata Usaha Negara
Pasal 1 angka (10) Undang-Undang Nomor 51 Tahun 2009 menyebutkan,
Sengketa Tata Usaha Negara adalah sengketa yang timbul dalam bidang Tata
Usaha Negara antara orang atau badan hukum perdata dengan badan atau pejabat
Tata Usaha Negara, baik di pusat maupun di daerah, sebagai akibat
dikeluarkannya Keputusan Tata Usaha Negara, termasuk sengketa kepegawaian
berdasarkan peraturan perundang-undangan yang berlaku.
Mengacu pada rumusan di atas, dapat disimpulkan bahwa unsur-unsur
sengketa Tata Usaha Negara terdiri dari:
1. Subyek yang bersengketa adalah orang atau badan hukum privat di satu pihak
dan Badan atau Pejabat Tata Usaha Negara di lain pihak.
2. Obyek sengketa adalah keputusan yang dikeluarkan oleh Badan atau Pejabat
Tata Usaha Negara.
Sebagai Jabatan TUN yang memiliki kewenangan pemerintah, sehingga
dapat menjadi pihak yang tergugat dalam sengketa TUN dapat dikelompokkan
dalam :12
1. Instansi resmi pemerintah yang berada di bawah presiden sebagai kepala
eksekutif.
2. Instansi-instansi dalam lingkungan kekuasaan negara di luar lingkungan
eksekutif yang berdasarkan peraturan perundang-undangan, melaksanakan
suatu urusan pemerintahan.
12
A.Siti Soetami, Hukum Acara Peradilan Tata Usaha Negara, (Bandung, PT. Refika
Aditama, 2007) h 5.
48
3. Badan-badan
hukum
privat
yang
didirikan
dengan
maksud
untuk
melaksanakan tugas-tugas pemerintahan.
4. Instansi-instansi yang merupakan kerja sama antara pemerintahan dan pihak
swasta yang melaksanakan tugas-tugas pemerintahan.
5. Lembaga-lembaga
hukum
swasta
yang
melaksanakan
tugas-tugas
pemerintahan.
Obyek sengketa TUN adalah keputusan yang dikeluarkan oleh badan atau
Pejabat Tata Usaha Negara. Keputusan Tata Usaha Negara adalah suatu
penetapan tertulis yang dikeluarkan Badan atau Pejabat Tata Usaha Negara yang
berisi tindakan hukum Tata Usaha Negara berdasarkan peraturan perundangundangan yang berlaku, yang bersifat konkrit, individual dan final, yang
menimbulkan akibat hukum bagi seseorang atau badan hukum perdata.
Jenis-jenis Keputusan Tata Usaha Negara/ KTUN (Beschikking) menurut
doktrin (pendapat/ teori para pakar administrasi Negara) terdapat berbagai
rumusan, antara lain menurut P. De Haan (Belanda), dalam bukunya :
“Bestuursrecht in de Sociale Rechtsstaat”, (Philipus M. Hadjon; 2002)
dikelompokkan sebagai berikut :13
1. KTUN Perorangan dan Kebendaan (Persoonlijk en Zakelijk)
a. KTUN perorangan adalah keputusan yang diterbitkan kepada seseorang
berdasarkan kualitas pribadi tertentu, dimana hak yang timbul tidak dapat
dialihkan kepada orang lain. Contoh : SK PNS, SIM,dan sebagainya.
13
Ujang Abdullah, “Kompetensi Peradilan Tata Usaha Negara dalam Sistem Peradilan di
Indonesia”, artikel diakses pada 31 November 2010 dari http://www.ptun.palembang.go.id/index.php?
option=com_content&task=view&id=575&Itemid=294.
49
b. KTUN kebendaan adalah keputusan yang diterbitkan berdasarkan kualitas
kebendaan atau status suatu benda sebagai obyek hak, dimana hak yang
timbul dapat dialihkan kepada orang lain. Contoh : Sertifikat Hak atas
Tanah, BPKP/STNK kendaraan bermotor, dan sebagainya.
2. KTUN Deklaratif dan Konstitutif (Rechtsvastellend en Rechtsscheppend)
a. KTUN deklaratif adalah keputusan yang sifatnya menyatakan atau
menegaskan adanya hubungan hukum yang secara riil sudah ada. Contoh :
Akta Kelahiran, Akta Kematian, dan sebagainya.
b. KTUN konstitutif adalah keputusan yang menciptakan hubungan hukum
baru yang sebelumnya tidak ada, atau sebaliknya memutuskan hubungan
hukum yang ada. Contoh : Akta Perkawinan, Akta Perceraian, dan
sebagainya.
3. KTUN Bebas dan Terikat (Vrij en Gebonden)
KTUN bebas adalah keputusan yang didasarkan atas kebebasan
bertindak (Freis Ermessen/ Discretionary Power) dan memberikan kebebasan
bagi pelaksananya untuk melakukan penafsiran atau kebijaksanaan. Contoh :
SK Pemberhentian PNS yang didasarkan hukuman disiplin yang telah diatur
secara jelas dan rinci di dalam perundang-undangan.
4. KTUN yang membebankan dan yang menguntungkan (Belastend en
Begunstigend)
50
a. KTUN yang member beban adalah keputusan yang memberikan
kewajiban. Contoh : SK tentang Pajak, Restribusi, dan lain-lain.
b. KTUN yang menguntungkan adalah keputusan yang memberikan
keuntungan bagi pihak yang dituju. Contoh : SK pemutihan pembayaran
pajak yang telah kadaluwarsa.
5. KTUN Seketika dan Permanen (Einmaligh en Voortdurend)
a. KTUN seketika adalah keputusan yang masa berlakunya hanya sekali
pakai. Contoh : Surat ijin pertunjkan hiburan, music, olahraga, dll
b. KTUN pemanen adalah keputusan yang masa berlakunya untuk selamalamanya, kecuali ada perubahan atau peraturan baru. Contoh : Sertifikat
Hak Milik
Undang-Undang Nomor 51 tahun 2009 tentang Perubahan Kedua Atas
Undang-Undang Nomor 5 tahun 1986 tentang Peradilan Tata Usaha Negara:
1. Keputusan Tata Usaha Negara Positif (Pasal 1 angka (3)) Yaitu penetapan
tertulis yang dikeluarkan oleh Badan/Pejabat Tata Usaha Negara yang berisi
tindakan hukum Tata Usaha Negara yang berdasarkan peraturan perundangundangan yang berlaku, bersifat konkrit, individual dan final yang
menimbulkan akibat hukum bagi seseorang atau Badan Hukum Perdata.
2. Keputusan Tata Usaha Negara Fiktif (Pasal 3 angka (1)) Yaitu keputusan Tata
Usaha Negara yang seharusnya dikeluarkan oleh Badan/Pejabat Tata Usaha
Negara menurut kewajibannya tetapi ternyata tidak diterbitkan, sehingga
51
menimbulkan kerugian bagi seseorang atau Badan Hukum Perdata. Contoh :
Dalam kasus kepegawaian, seorang atasan berkewajiban membuat DP3 atau
mengusulkan kenaikan pangkat
bawahannya,
tetapi atasannya tidak
melakukan.
3. Keputusan Tata Usaha Negara Fiktif Negatif (Pasal 3 ayat (2)) Yaitu
keputusan Tata Usaha Negara yang dimohonkan seseorang atau Badan
Hukum Perdata, tetapi tidak ditanggapi atau tidak diterbitkan oleh
Badan/Pejabat Tata Usaha Negara yang bersangkutan. Sehingga dianggap
bahwa Badan/Pejabat Tata Usaha Negara telah mengeluarkan keputusan
penolakan (negatif). Contoh : Pemohon IMB, KTP, Sertifikat, dan sebagainya
apabila dalam jangka waktu yang ditentukan tidak dijawab/diterbitkan, maka
dianggap jelas-jelas menerbitkan keputusan Tata Usaha Negara yang
menolak.
Dalam praktek administrasi pemerintahan terdapat beberapa KTUN yang
berpotensi menimbulkan sengketa Tata Usaha Negara, yaitu antara lain :
1. Keputusan tentang perijinan
Secara yuridis suatu ijin adalah merupakan persetujuan yang diberikan
pemerintah (Badan/Pejabat TUN) kepada seseorang atau Badan Hukum
Perdata untuk melakukan aktivitas tertentu. Menurut Philipus M. Hadjon ada
5 tujuan diadakannya perijinan pada pokoknya adalah untuk :
52
a. Mengarahkan atau mengendalikan aktivitas tertentu (misal: ijin prinsip,
IMB, ijin pertambangan, ijin pengusahaan hutan, ijin berburu, dan
sebagainya)
b. Mencegah bahaya atau gangguan (misal: gangguan/ Hinder Ordanatie,
amdal, dan sebagainya)
c. Melindungi obyek tertentu (misal: ijin masuk obyek wisata, cagar budaya,
dan sebagainya)
d. Distribusi benda atau barang langka (misal: ijin trayek, ijin perdagangan
satwa langka, dan sebagainya)
e. Seleksi orang atau aktivitas tertentu (misal: SIM, ijin memiliki senjata api,
ijin penelitian, dan sebagainya).
2. Keputusan tentang status hukum, hak dan kewajiban
a. Status hukum perorangan atau badan hukum, misalnya akta kelahiran,
akta kematian, akta pendirian/pembubaran badan hukum, KTP, Ijasah,
sertipikat (Tanda Lulus Ujian), dll.
b. Hak/ kewajiban perorangan atau badan hukum terhadap suatu barang atau
jasa, misalnya pemberian/pencabutan hak atas tanah, hak untuk
melakukan pekerjaan, dan sebagainya.
3. Keputusan tentang kepegawaian.
53
a. Keputusan tentang mutasi PNS, dimana pegawai yang dimutasi keberatan
karena merasa dirugikan, menghambat karier atau karena mutasi itu
dianggap sebagai hukuman disiplin terselubung.
b. Keputusan tentang hukuman disiplin PNS, dimana pegawai yang
bersangkutan menganggap hukuman itu tidak sesuai dengan prosedur atau
tidak adil.
c. Keputusan tentang pemberhentian PNS,
misalnya dalam rangka
perampingan pegawai atau likuidasi suatu instansi, dan sebagainya.
Menurut ketentuan pasal 35 Undang-Undang No. 43 Tahun 1999
tentang Perubahan atas Undang-Undang No. 8 tahun 1974 tentang PokokPokok Kepegawaian:
a. Sengketa kepegawaian diselesaikan melalui Peradilan Tata Usaha Negara;
b. Sengketa kepegawaian sebagai akibat pelanggaran terhadap peraturan
disiplin PNS diselesaikan melalui upaya banding administratif kepada
Badan Pertimbangan Kepegawaian (BAPEG).
D. Administrasi Kepegawaian
Pada umumnya yang dimaksud dengan admistrasi kepegawaian adalah
segala hal yang mengenai kedudukan, kewajiban, hak dan pembinaan pegawai.
Pegawai merupakan tenaga kerja manusia, jasmaniah maupun rohaniah (mental
dan fikiran), yang senantiasa dibutuhkan dan kerena itu menjadi salah-satu modal
pokok dalam badan usaha kerja sama untuk mencapai tujuan tertentu (organisasi).
54
Pengertian Pegawai Negeri secara resmi mula-mula ditetapkan dalam
Undang-Undang Nomor 18 Tahun 1961. dalam Undang-Undang tersebut
pengertian pegawai negeri didefinisikan atau dirumuskan sebagai berikut:
Pegawai negeri adalah mereka yang setelah memenuhi syarat-syarat yang
ditentukan, diangkat, digaji menurut Peraturan Pemerintah yang berlaku dan
dipekerjakan dalam suatu jabatan negeri oleh Pejabat Negara atau badan Negara
yang berwenang.
Dalam tambahan Lembaran Negara Nomor 2312 diterangkan, bahwa ada
3 faktor yang menetapkan seseorang pegawai negeri menurut Undang-Undang
Pokok Kepegawaian ini, yaitu:14
1. Memenuhi syarat-syarat sebagaimana terperinci dalam pasal 1 ayat (2)
Undang-Undang Pokok Kepegawaian (Undang-Undang Nomor 18 tahun
1961).
2. Harus diangkat dalam jabatan negeri dan digaji menurut Peraturan Pemerintah
yang berlaku.
3. Harus diangkat oleh pejabat negara dan badan negara yang berwenang.
Syarat-syarat yang dimaksud dalam pasal 1 ayat (2) Undang-Undang
Pokok Kepegawaian ialah: syarat-syarat meliputi segi kepribadian, kesetian,
kesehatan, kecerdasan, kemampuan dan ketangkasan dan syarat-syarat lain yang
14
Victor M. Sitomurang Tindak Pidana Pegawai Negeri Sipil, (Jakarta. PT Rineka Cipta,
1990) h 18.
55
khusus diperlukan bagi suatu jabatan. Umpamanya untuk menjadi hakim harus
seorang sarjana Hukum dan sebagainya.
Sasaran administrasi kepegawaian yaitu masalah penggunaan tenaga kerja.
Oleh karena itu administrasi kepegawaian dikembangkan dengan tujuan:15
1. Penggunaan secara efektif tenaga kerja manusia.
2. Tercipta, terpelihara serta terkembangkan hubungan kerja yang memberikan
suasana kerja yang menyenangkan antar individu yang berkerja sama.
3. Tercapainya perkembangan yang maksimal bagi masing-masing individu
yang berkerja sama tersebut.
4. Efektif dalam arti mencapai sasaran, yakni masing-masing individu pegawai
memiliki kemampuan dalam menyelesaikan tugas-tugasnya serta efisien
dalam pelaksanaan tugas itu. Jadi efisien berlangsung setelah efektivitas
terjadi. Namun apabila individu-individu itu merasa tidak senang (tanpa
kegembiraan kerja) maka tak mungkin terdapat efektivitas dan efisiensi dalam
kerja.
Jika dirinci maka administrasi kepegawaian mencakup pokok-pokok
persoalan:
1. Sistem kepegawaian.
2. Sistem pengadaan/penerimaan pegawai (pemilihan-penyajian-pengangkatanpenempatan).
3. Analisa tugas jabatan.
15
A.W. Widjaja Administrasi Kepegawaian, ( Jakarta. CV.Rajawali, 1990) h 16.
56
4. Sistem penggolongan jabatan dan kepangkatan.
5. Sistem penggajian.
6. Sistem penilaian kecakapan pegawai.
7. Sistem kenaikan pangkat dan pemindahan jabatan.
8. Disiplin dan hukuman jabatan.
9. Sistem pemberhentian pegawai.
10. Sistem jaminan di hari tua (pensiun).
E. Sumber Hukum kepegawaian
Pada organisasi pemerintahan, kebijaksanaan politik kepegawaian
ditetapkan oleh pemerintah dan dituangkan dalam peraturan perundang-undangan
(Undang-Undang, peraturan), ketetapan (keputusan), surat edaran, dekrit dan
pengumuman maupun maklumat pemerintah, peraturan perundang-undangan
inilah yang merupakan sumber hukum kepegawaian.
Kedudukan Pegawai Negeri didasarkan pada Undang-Undang No. 43
Tahun 1999 Pasal 3 ayat (1), yaitu Pegwai Negeri sebagai unsur aparatur negara
yang bertugas untuk memberikan pelayanan kepada masyarakat secara
profesional, jujur, adil, dan merata dalam penyelenggaraan tugas negara,
pemerintahan,
dan pembangunan.
didasarkan pada
Rumusan kedudukan pegawai
pokok-pokok pikiran
bahwa pemerintah tidak
negeri
hanya
menjalankan fungsi umum pemerintahan, tetapi juga harus mampu melaksanakan
fungsi pembangunan atau dengan kata lain pemerintah bukan hanya
57
menyelenggarakan tertib pemerintahan, tetapi juga harus mampu menggerakkan
dan memperlancar pembangunan untuk kepentingan rakyat banyak.
Dalam organisasi Pemerintah Republik Indonesia, kebijaksanaan politik
kepegawaian dituangkan dalam bentuk Undang-Undang yakni Undang-Undang
No. 8/1974 tentang Pokok-pokok Kepegawaian (Lembaran Negara RI 1974 No.
55) dan penjelasannya dimuat dalam tambahan lembaran negara RI No. 3041.
Kebijaksanaan politik pelaksanaan kepegawaian dituangkan dalam bentuk
peraturan pemerintah, keputusan presiden, peraturan menteri, surat Kepala BAKN
(Badan Administrasi Kepegawaian Negara) surat edaran Menteri/Kepala BAKN.
Fungsi dan eksistensi Badan Administrasi Kepegawaian diatur melalui
Keputusan Presiden No. 15 Tahun 1988, dan terakhir diatur melalui Keputusan
Presiden No. 143 Tahun 1998. Untuk meningkatkan manajemen Sumber Daya
Manusia aparatur pemerintah dan/atau SDM PNS, Presiden melalui Keputusan
Presiden No. 95 Tahun 1999 tentang Badan Kepegawaian Negara, mengatur
kembali kedudukan, tugas pokok, fungsi, dan organisasi BAKN dengan
mengubah nama BAKN menjadi Badan Kepegawaian Negara (BKN), yang
diharapkan dapat meningkatkan fungsi dan eksistensinya. Keputusan presiden No.
166 Tahun 2000 dengan beberapa kali perubahan dan terakhir diatur melalui
Keputusan Presiden No. 103 Tahun 2001 tentang kedudukan, Tugas, Fungsi,
Wewenang, Susunan, Organisasi, dan Tata Kerja Lembaga Pemerintah
Nondepartemen.
58
Perubahan atas Undang-Undang No. 8 Tahun 1974 tentang Pokok-Pokok
Kepegawaian dengan Undang-Undang No. 43 Tahun 1999, mengakibatkan
pembentukan Badan Kepegawaian Negara ini akan menjadi fungsi dan
eksistensinya lebih dipertegas.16 Aturan hukum yang mendasari dibentuknya
Badan Kepegawaian Negara adalah pasal 34 ayat (1) Undang-Undang No. 43
Tahun 1999, bahwa untuk menjamin kelancaran penyelenggaraan kebijaksanaan
manajemen Pegawai Negeri Sipil, dibentuk Badan Kepegawaian Negara.
16
Sri Hartini, Hukum Kepegawaian di Indonesia, (Jakarta, Sinar Grafika, 2008) h 19.
BAB IV
ANALISIS PUTUSAN HAKIM PENGADILAN TINGGI TATA USAHA
NEGARA NOMOR :174/G/2006/PT.TUN.JKT DALAM
MENYELESAIKAN SENGKETA
KEPEGAWAIAN
A. Duduk Perkara
Putusan Nomor : 174/G/2006/PT.TUN.JKT, dengan nama Ambrosius WB
(penggugat) kewarganegaraan Indonesia, pekerjaan Kepala Sekolah/Pegawai
Negeri Sipil, alamat SDN No.9 Mensiap Tanjung, kecamatan Tempunak,
kabupaten Sintang, Kalimantan Barat, Selanjutnya disebut sebagai pemberi kuasa.
Dalam hal ini memberikan kuasa kepada Prof. Drs. Frans Sisu Wuwu, SH. MA.
PhD, Advocat, beralamat kantor Nawawi Hasan No.562 Pontianak Kalimantan
Barat, berdasarkan Surat Kuasa khusus No: 05/LMR-RI/BPHN/V/2006,
selanjutnya disebut sebagai Penggugat, dan melawan Badan pertimbangan
kepegawaian (BAPEK) yang berkedudukan di Jl. Letjen. Sutoyo No. 12 Cililitan,
Jakarta Timur. Dalam hal ini dikuasakan kepada Prapto Hadi, warga negara
Indonesia Pekerjaan: Kepala Badan Kepegawaian selaku Sekretaris Badan
Pertimbangan Kepegawaian berkantor di Jl. Letjen. Sutoyo No. 12 Cililitan,
Jakarta
Timur,
berdasarkan
Surat
Kuasa
Khusus
nomor
:
004/G.TUN/BAPEK.2006 tertanggal 25 Juli 2006, yang selanjutnya dikuasakan
kepada Prapto Hadi, dan surat kuasa subtitusi No.004/G.TUN.SET.BAPEK/2006
59
60
kepada Dedi Herdi, SH., dan Arniati Repi, SH., keduanya warga negara Indonesia
pekerjaan Kepala Bidang Pengolahan A 4 dan A 2 pada sekretariat Badan
Pertimbangan Kepegawaian berkantor di Jl. Letjen. Sutoyo No 12 Cililitan,
Jakarta Timur berdasarkan Surat Kuasa Subtitusi tertanggal 25 Juli 2006,
selanjutnya disebut sebagai Tergugat.
Menimbang, bahwa Penggugat dengan surat gugatannya tertanggal 10
Mei 2006 yang diterima dikepaniteraan Pengadilan Tinggi Tata Usaha Negara
Jakarta
pada
tanggal
10
Mei
2006
dibawah
Register
Nomor
:
174/G/2006/PT.TUN.JKT. mengemukakan sebagai berikut ;
1. Obyek Gugatan ;
Surat Keputusan Badan Pertimbangan Kepegawaian (BAPEK) Nomor :
021/KPT/BAPEK/2006 tertanggal 24 Januari 2006.
2. Dasar-Dasar Gugatan ;
a. Bahwa
dengan
Surat
Keputusan
dari
Tergugat
No.021/KPTS/BAPEK/2006 tanggal 24 Januari 2006 yang telah diterima
oleh Penggugat pada tanggal 4 April 2006, berdasarkan berita acara
penyerahan surat keputusan tergugat oleh Kepala Badan kepegawaian
Daerah Kabupaten Sintang dan telah didaftarkan di Pengadilan Tinggi
Tata Usaha Negara Jakarta oleh kuasa hukum penggugat dalam perkara
tanggal No.174/G/2006/PT.TUN.JKT 10 Mei 2006 dengan demikian
61
tenggang waktu 90 hari sesuai Undang-Undang No.5 Tahun 1986 jo
Undang-undang Nomor 51 Tahun 2009.
b. Bahwa penggugat telah memenuhi seperti yang diatur pada pasal 1 angka
3 dari Undang-Undang No.5 Tahun 1986 Jo Undang-Undang Nomor 51
Tahun 2009 adalah merupakan surat Keputusan Pejabat Tata Usaha
Negara, sehingga merupakan suatu perbuatan hukum yang dilakukan oleh
tergugat selaku Pejabat Negara yang bersifat individual, kongkrit, dan
final mengakibatkan penggugat tidak dapat melaksanakan tugas dan
fungsi guru sebagai kepala sekolah dalam status Pegawai Negeri Sipil.
c. Bahwa disamping Surat Tergugat telah memenuhi ketentuan pada Pasal
48 Jo Pasal 51 Undang-undang Nomor 5 Tahun 1986 jo Undang-undang
No. 51 Tahun 2009, mengenai banding administrasi melalui Pengadilan
Tinggi Tata Usaha Negara di Jakarta dimana gugatan diajukan oleh
penggugat.
3. Alasan-alasan Gugatan.
a. Bahwa keputusan tergugat sangat merugikan kepentingan penggugat dan
telah diterbitkan Keputusan Tata Usaha Negara yang bertentangan dengan
peraturan perundangan serta sewenang wenangnya sesuai Pasal 53 ayat 2
huruf a,d, Undang-Undang Nomor 5 Tahun 1986 Jo Undang-Undang
Nomor 51 Tahun 2009.
62
b. Bahwa akibat
surat
keputusan tergugat, penggugat
tidak dapat
melaksanakan tugas dan fungsinya sebagai kepala sekolah karena gaji
bulanan distop oleh tergugat.
4. Kronologis Pengajuan Gugatan.
1. Bahwa penggugat adalah Kepala Sekolah Dasar Negeri Nomor 09 Kota
Baru Kecamatan Tanah Pinoh Kabupaten Sintang Propinsi Kalimantan
Barat.
a. Bekerja sebagai guru Pegawai Negeri Sipil sejak Tahun 1978 sesuai
surat pengangkatan sebagai Pegawai Negeri Sipil sampai sekarang
yakni Tahun 2006 dengan pangkat terakhir Golongan III/c, jadi selama
28 Tahun berstatus Pegawai Negeri Sipil.
b. Hasil Berita Acara Pemeriksaan bahwa penggugat telah melaksanakan
perkawinan dengan seorang perempuan bernama Kartini sebab lama
menunggu surat ijin cerai dari atasannya yang telah diusulkan sejak
Tahun 1993 baru disetujui pada Tahun 2001 (sesuai bukti). Disamping
itu istri penggugat Dayang Zaini telah meninggalkan rumah dan
berselingkuh dengan laki-laki lain dan mempunyai seorang anak.
Perkawinan istri penggugat dilakukan terlebih dahulu sebelum
penggugat kawin dibawah tangan dengan perempuan Kartini.
c. Perkawinan istri penggugat Dayang Zaini dengan laki-laki lain sesuai
pernyataan tanggal 30 Oktober 1994 dan diperkuat surat Kepala
63
Kantor Pendidikan dan Nasional kecamatan tanah Pinoh kabupaten
Sintang tanggal 10 Mei 2000.
2. Bahwa keterlambatan persetujuan ijin perceraian dari atasan penggugat
untuk diajukan gugat cerai di Pengadilan Agama Kabupaten Sintang,
maka usulan berkas penggugat tentang perkawinan dibawah tangan tidak
disertai ijin persetujuan perceraian dari Pengadilan Agama, sehingga
keputusan Menteri Pendidikan Nasional adalah penjatuhan hukuman
disiplin dengan “MEMBERHENTIKAN DENGAN HORMAT TIDAK
ATAS PERMINTAAN SENDIRI, DAN KEPADANYA DIBERIKAN
HAK-HAK KEPEGAWAIAN SESUAI PERUNDANGAN YANG
BERLAKU
APABILA
YANG
BERSANGKUTAN
TIDAK
MENGAJUKAN KEBERATAN”
3. Bahwa dampak surat keputusan Menteri Pendidikan Nasional tersebut,
penggugat mengajukan keberatan dengan melampirkan surat ijin
persetujuan perceraian, dari Pengadilan Agama Kabupaten Sintang namun
tergugat mengeluarkan Surat Keputusan Tata Usaha Negara yang
bertentangan surat keputusan Menteri Pendidikan Nasional Republik
Indonesia yang sangat merugikan penggugat yaitu tidak menerima pensiun
dan gaji distopkan. Oleh sebab itu penggugat tetap keberatan dengan
Keputusan tergugat
yang
mengakibatkan penggugat
tidak dapat
melaksanakan tugas dan fungsi guru sebagai Kepala Sekolah dengan
Pegawai Negeri Sipil.
64
B. Substansi Putusan
Bahwa isi dan maksud serta tuntutan penggugat terhadap tergugat,
maupun dalil bantahan tergugat adalah seperti yang sudah diuraikan dalam duduk
sengketa. Untuk menguatkan dalil masing-masing pihak, penggugat maupun
tergugat mengajukan pembuktian berupa surat yang telah dibubuhi materai
secukupnya, yang telah disesuaikan dengan aslinya di persidangan, sehingga
surat-surat bukti tersebut dapat dijadikan bukti yang sah, dan dipertimbangan
sepanjang ada relevansinya dengan sengketa ini.
Bahwa terlepas atau tidak eksepsi tergugat, namun Majelis Hakim
Pengadilan Tinggi Tata Usaha Negara Jakarta merasa perlu mempertimbangkan
terlebih dahulu hal-hal berikut ini
1. Apakah obyek sengketa tersebut keputusan tata usaha negara yang dapat
digugat di Peradilan Tata Usaha Negara.
2. Apakah kepentingan penggugat dirugikan akibat terbitnya obyek sengketa.
3. Apakah obyek sengketa keputusan tata usaha negara hasil penyelesaian
melalui upaya administratif yang tersedia.
Pertama, bahwa untuk menguji apakah obyek sengketa keputusan tata
usaha negara yang dapat digugat Peradilan Tata Usaha Negara, haruslah diuji
dengan dimaksud pasal 1 butir 3 Undang-Undang Nomor. 51 Tahun 2009
perubahan kedua dari Undang-undang Nomor. 5 Tahun 1986 tentang Peradilan
Tata Usaha Negara, yang berbunyi: “Keputusan tata usaha negara adalah suatu
65
penetapan tertulis yang dikeluarkan oleh badan atau pejabat tata usaha negara
yang berisi tindakan hukum Tata Usaha Negara yang berdasarkan peraturan
perundang-undangan yang berlaku, yang bersifat kongkrit, individual, dan final,
yang menimbulkan akibat hukum bagi seseorang atau badan hukum perdata.”
Setelah Majelis Hakim Pengadilan Tinggi Tata Usaha Negara Jakarta
meneliti, ternyata semua unsur yang terkandung dalam pengertian keputusan tata
usaha negara seperti diuraikan tersebut terpenuhi dalam obyek sengketa, maka
obyek sengketa adalah keputusan tata usaha negara yang dapat digugat di
Peradilan Tata Usaha Negara.
Kedua, bahwa agar seseorang atau badan hukum perdata dapat
mengajukan gugatan, penggugat harus merasa kepentingannya dirugikan akibat
terbitnya keputusan tata usaha negara yang digugat, seperti dimaksud pasal 53
ayat (1) Undang-Undang Nomor 51 tahun 2009 tentang Perubahan Kedua Atas
Undang-Undang Nomor 5 tahun 1986 tentang Peradilan Tata Usaha Negara.
Obyek sengketa adalah surat keputusan yang berisikan penolakan terhadap
keberatan penggugat, dan memperkuat keputusan hukuman disiplin yang
dijatuhkan oleh Menteri Pendidikan Nasional No. 46450/A2.I.5/KP/2003 tanggal
04 Februari 2003 berupa pemberhentian dengan hormat tidak atas sendiri sebagai
Pegawai Negeri Sipil. dan dengan pemberhentian tersebut maka penggugat
menjadi kehilangan hak-hak selaku pegawai negeri sipil yang diterima dan
dinikmati sebelum terbit keputusan tata usaha negara yang menjadi obyek
66
sengketa, dengan demikian unsur kepentingan penggugat dirugikan sebagai akibat
terbitnya obyek sengketa cukup terbukti, sehingga penggugat mempunyai
kepentingan untuk beracara menggugat di Peradilan Tata Usaha Negara.
Ketiga, keputusan tata usaha negara yang menjadi kewenangan
Pengadilan Tinggi Tata Usaha Negara memeriksa, memutus, dan menyelesaikan
selaku pengadilan tingkat pertama, seperti yang dimaksud pasal 48 ayat (1), (2)
dan pasal 51 ayat (3) Undang-Undang Nomor 51 Tahun 2009 perubahan kedua
dari Undang-Undang Nomor 5 Tahun 1986 tentang Peradilan Tata Usaha Negara,
adalah keputusan tata usaha negara tertentu yang telah terlebih dahulu
diselesaikan melalui upaya administratif.
Menurut ketentuan pasal 23 ayat (1) Peraturan Pemerintah Nomor 30
Tahun 1980 tentang Hukuman Disiplin Pegawai Negeri Sipil, Pegawai Negeri
Sipil yang berpangkat Pembina IV/a ke bawah yang dijatuhi hukuman disiplin
salah satu jenis dalam pasal 6 ayat (4) huruf c dan d, tersebut dapat mengajukan
keberatan kepada Badan Pertimbangan Kepegawaian. Penerbitan obyek sengketa
adalah sebagai keberatan yang diajukan oleh penggugat terhadap keputusan
Menteri Pendidikan Nasional No. 46450/A2.I.5/KP/2003 tanggal 04 Februari
2003 berupa pemberhentian dengan hormat tidak atas permintaan sendiri sebagai
pegawai negeri sipil atas nama penggugat (lihat surat bukti bertanda P. 17, 19,
dan P.20).
67
Berdasarkan pertimbangan yang diuraikan di atas, jelaslah obyek sengketa
adalah keputusan tata usaha negara hasil penyelesaian upaya administratif yang
menjadi kewenangan Pengadilan Tinggi Tata Usaha Negara Jakarta untuk
memeriksa, memutus, dan menyelesaikan selaku pengadilan tingkat pertama.
Mempedomani :
1. Undang-Undang Nomor 5 Tahun 1986 yang telah diubah dengan UndangUndang Nomor 51 Tahun 2009 tentang Peradilan Tata Usaha Negara
2. Semua ketentuan peraturan perundang-undangan yang bersangkut paut
dengan sengketa tata usaha ini.
Mengadili :
1. Mengabulkan gugatan penggugat sebagian
2. Menyatakan tidak sah keputusan tata usaha negara yang diterbitkan tergugat
berupa : Surat Keputusan Badan Pertimbangan Kepegawaian No.:
021/KPTS/BAPEK/2006 tanggal 24 Januari 2006 tentang penguatan hukuman
disiplin atas nama Ambrosius WB, NIP 130663443.
3. Memulihkan harkat, martabat, dan kedudukan penggugat seperti keadaan
semula.
4. Menghukum tergugat membayar biaya perkara, yang hingga putusan ini
diucapkan sejumlah Rp.216.000,- (Dua ratus enam belas ribu rupiah).
5. Menolak gugatan yang selebihnya.
68
Demikian diputus dalam musyawarah Majelis Hakim Pengadilan Tinggi
Tata Usaha Negara Jakarta, hari Rabu, 22 November 2006, yang terdiri dari :
Jacob Gerungan,SH., Hakim Tinggi Pengadilan Tinggi Tata Usaha Negara
Jakarta, selaku Ketua Majelis.
C. Analisa Putusan
Dalam Pasal 35 ayat (1) Undang-Undang No. 43 Tahun 1999
menyebutkan bahwa sengketa kepegawaian diselesaikan melalui PTUN.
Kemudian ayat (2) menyebutkan bahwa sengketa kepegawaian sebagai akibat
pelanggaran terhadap peraturan disiplin PNS diselesaikan melalui upaya banding
administratif kepada Badan Pertimbangan Kepegawaian (BAPEK). Badan
Pertimbangan Kepegawaian dalam Keppres No. 67 Tahun 1980, mempunyai
tugas pokok memeriksa dan mengambil keputusan mengenai keberatan yang
diajukan oleh PNS yang berpangkat Pembina golongan ruang IV/a ke bawah
tentang hukuman disiplin yang dijatuhkan kepadanya berdasarkan Peraturan
Pemerintah No. 30 Tahun 1980 sepanjang mengenai hukuman disiplin
pemberhentian dengan hormat tidak atas permintaan sendiri dan pemberhentian
tidak dengan hormat sebagai PNS. Badan Pertimbangan Kepegawaian juga
memberikan pertimbangan kepada presiden mengenai usul penjatuhan hukuman
disiplin pemberhentian dengan hormat tidak atas permintaan sendiri dan
69
pemberhentian tidak dengan hormat sebagai PNS yang berpangkat Pembina
Tingkat I golongan ruang IV/b ke atas serta pembebasan dari jabatan eselon I.
Dalam hal ini, yang dapat diajukan kepada Badan Pertimbangan
Kepegawaian berupa Pegawai Negeri yang berpangkat Pembina ruang IV/a ke
bawah yang dijatuhi hukuman disiplin:
1. Pemberhentian dengan hormat atas permintaan sendiri sebagai PNS
2. Pemberhentian tidak dengan hormat sebagai PNS
Pegawai Negeri Sipil yang dijatuhi hukuman disiplin berat, berhak
mengajukan keberatan ke Badan Pertimbangan Kepegawaian (BAPEK), sesuai
dengan prosedur yang ditetapkan. Pengajuan keberatan itu diajukan kepada
pejabat yang berwenang menghukum, harus disertai alasan, tanggapan dan datadata lain yang diperlukan serta dalam tenggang waktu yang ditentukan, yaitu 14
hari terhitung mulai tanggal menerima Surat keputusan hukuman disiplin.
Penyelesaian sengketa kepegawaian sedapat mungkin dilakukan dalam
lingkungan unit kerja di instansinya yang mengeluarkan keputusan hukuman
disiplin tingkat berat berupa pemberhentian dengan hormat tidak atas permintaan
sendiri dan tidak dengan hormat sebagai pegawai negeri sipil oleh pimpinan atau
pejabat pembina kepegawaian, baik di tingkat pusat maupun daerah maka dapat
ditempuh upaya banding administratif. Upaya administratif merupakan prosedur
yang hanya dapat ditempuh oleh seorang pegawai negeri sipil apabila tidak puas
terhadap suatu keputusan yang dijatuhkan kepada seseorang yang telah
70
melakukan pelanggaran disiplin tingkat berat sesuai Peraturan Pemerintah No. 30
Tahun 1980 tentang Disiplin Pegawai Negeri, setelah melakukan keberatan
kepada Badan Pertimbangan Kepegawaian dan telah memperoleh keputusan
tetap. Keputusan Badan Pertimbangan Kepegawaian seperti yang tercantum
dalam Pasal 4 ayat (3) dalam Keppres No. 67 Tahun 1980 tersebut adalah
mengikat dan wajib dilaksanakan oleh semua pihak yang bersangkutan.
Berdasarkan penjabaran di atas, dapat diketahui bahwa dalam keputusan
tersebut tidak tersirat upaya pembelaan diri dalam hukum peradilan yang
ditempuh oleh Pegawai Negeri Sipil yang telah dijatuhi hukuman disiplin karena
melanggar Peraturan Pemerintah No. 30 Tahun 1980. namun di dalam penjelasan
Undang-Undang Nomor 51 Tahun 2009 dijelaskan bahwa upaya administratif
terdiri atas:
1. Keberatan, apabila penyelesaian sengketa itu dilakukan sendiri oleh Badan
atau Pejabat Tata Usaha Negara yang mengeluarkan keputusan itu.
2. Banding administratif, apabila penyelesaiannya dilakukan oleh instansi atasan
atau instansi lain dari yang mengeluarkan keputusan yang bersangkutan.
Sisi positif upaya administrasi yang melakukan penilaian secara lengkap
suatu Keputusan Tata Usaha Negara baik dari segi Legalitas (Rechtmatigheid)
maupun aspek Opportunitas (Doelmatigheid), para pihak tidak dihadapkan pada
hasil keputusan menang atau kalah (Win or Loose) seperti halnya di lembaga
peradilan, tapi dengan pendekatan musyawarah. Sedangkan sisi negatifnya dapat
71
terjadi pada tingkat obyektifitas penilaian karena Badan/Pejabat tata Usaha
Negara
yang
menerbitkan
Surat
Keputusan
kadang-kadang
terkait
kepentingannya secara langsung ataupun tidak langsung sehingga mengurangi
penilaian maksimal yang seharusnya ditempuh. Tidak semua peraturan dasar
penerbitan Keputusan Tata Usaha Negara mengatur mengenai upaya administrasi,
oleh karena itu adanya ketentuan pasal 48 Undang-Undang Nomor 51 tahun 2009
tentang Perubahan Kedua Atas Undang-Undang Nomor 5 tahun 1986 tentang
Peradilan Tata Usaha Negara merupakan aspek prosedural yang sangat penting
yang berkaitan dengan kompetensi atau wewenang untuk mengadii sengketa Tata
Usaha Negara.
Berdasarkan Surat Edaran Mahkamah Agung RI No. 2 Tahun 1991
tentang Petunjuk Pelaksanaan Ketentuan Dalam Undang-Undang Nomor 5 Tahun
1986 tentang Peradilan Tata Usaha Negara, disebutkan, yang dimaksud Upaya
Adiministratif adalah, Pengajuan surat keberatan (Bezwaarscriff Beroep) yang
diajukan kepada Badan/Pejabat Tata Usaha Negara yang mengeluarkan
Keputusan (Penetapan/ Beschikking) semula. Pengajuan banding administratif
(administratif Beroep) yang ditujukan kepada atasan Pejabat atau instansi lain
dari Badan/Pejabat Tata Usaha Negara yang mengeluarkan keputusan yang
berwenang memeriksa ulang keputusan Tata Usaha Negara yang disengketakan.
Apabila peraturan dasarnya hanya menentukan adanya upaya administratif
berupa peninjauan surat keberatan, maka gugatan terhadap Keputusan Tata Usaha
72
Negara yang bersangkutan diajukan kepada pengadilan Tata Usaha Negara.
Apabila peraturan dasarnya menentukan adanya upaya adiministratif berupa surat
keberatan dan atau mewajibkan surat banding administratif, maka gugatan
terhadap Keputusan Tata Usaha Negara yang telah diputus dalam tingkat banding
administratif diajukan langsung kepada Pengadilan Tinggi Tata Usaha Negara
dalam tingkat pertama yang berwenang.
Ketentuan tersebut sesuai pula dengan ketentuan yang diatur dalam pasal
48 ayat (2) yang menyatakan “pengadilan baru berwenang memeriksa,
menyelesaikan sengketa Tata Usaha Negara sebagaimana dimaksud dalam ayat
(1) jika seluruh upaya administratif yang bersangkutan telah digunakan “ jo
ketentuan pasal 51 ayat (3) ditentukan bahwa dalam hal suatu sengketa
dimungkinkan adanya administratif maka gugatan langsung ditujukan kepada
Pengadilan Tinggi Tata Usaha Negara apabila keputusannya merupakan
keputusan banding administratif. Berdasarkan ketentuan-ketentuan tersebut maka
dapat dibuat bagan “Proses Penyelesaian Upaya Administrasi” sebagai berikut :
MA.RI
Sengketa
Tata Usaha
Negara
Banding Administratif
(Administratief Beroep)
PT.TUN
Keberatan Administratif
(Administratief Bezwaar)
PTUN
Upaya
Administrasi
73
Dalam menganalisa kewenangan Hakim Tata Usaha Negara dalam
perspektif Fiqh Siyasah ini, perlu kiranya kita melihat kembali jenis-jenis
lembaga peradilan di dalam Islam sebagai studi kelembagaan yang berbicara
tentang konsep yang digunakan. Hal ini diperlukan karena kewenangan Hakim
tentunya dapat dipersepsikan dengan kewenangan-kewenangan lembaga peradilan
itu juga. Dalam Pasal 12 ayat 1 Undang-Undang No 51 Tahun 2009 tentang
Peradilan Tata Usaha Negara disebutkan bahwa, Hakim pengadilan adalah
pejabat yang melakukan tugas kekuasaan kehakiman. Dalam Pasal 1 UndangUndang No 51 Tahun 2009 tentang kekuasaan kehakiman disebutkan bahwa
kekuasaan kehakiman
adalah kekuasaan
Negara
yang
merdeka
untuk
menyelenggarakan Peradilan guna menegakkan hukum dan keadilan berdasarkan
Pancasila, demi terselenggaranya Negara hukum Republik Indonesia. Kemudian
dalam Pasal 47 Undang-Undang No 51 Tahun 2009 tentang Peradilan Tata Usaha
Negara juga disebutkan, pengadilan bertugas memeriksa, memutus, dan
menyelesaikan sengketa Tata Usaha Negara.
Setelah Islam mulai berkembang dan kekuasaan Islam makin melebar,
Rasulullah mulai mengangkat sahabat-sahabatnya untuk menjalankan kekuasaan
di bidang peradilan di berbagai tempat. Dasar hukum, keadilan dapat ditegakkan
antara lain melalui lembaga-lembaga peradilan yang dibentuk sesuai dengan
74
keadaan dan kebutuhan masyarakat, keharusan adanya lembaga peradilan dalam
Islam, terdapat dalam firman Allah SWT;
            
              
   
Artinya: “Hai Dawud, sesungguhnya kami menjadikan kamu sebagai khalifah
(penguasa) di bumi, maka berilah keputusan (perkara) di antara manusia dengan
adil dan janganlah engkau mengikuti hawa nafsu, karena akan menyesatkan
engkau dari jalan Allah. Sungguh, orang-orang yang sesat dari jalan Allah akan
mendapatkan azab yang berat, karena mereka melupakan hari perhitungan.”
(Qs. Shad: 36)
Selain ayat di atas keharusan tentang adanya lembaga peradilan dalam
Islam terdapat pula dalam surat An Nisa’ ayat 6 surat Al Ma’idah ayat 44, 45, 47,
49. Sedangkan di dalam As Sunnah diberitakan bahwa Rasulullah SAW sangat
memuji kepada setiap Hakim yang diangkat kemudian menjalankan peradilannya
secara baik dan benar.
Di dalam Islam dikenal beberapa lembaga kekuasaan kehakiman, yaitu
kekuasaan Al-Qodo’, kekuasaan Al-Hisbah, Kekuasaan Al-Mazalim. Lembaga AlQodo’, berwenang menyelesaikan perkara-perkara Madaniyat dan al-ahwal
asysyakhsiyah (masalah keperdataan) termasuk di dalamnya masalah keluarga
75
dan masalah jinayat (tindak pidana). Hisbah adalah kantor di mana pejabatnya
yang disebut Muhtasib mempunyai tugas mengajak pada kebaikan dan mencegah
kejahatan (menerapkan kode etik Islam).
Berdasarkan uraian di atas bisa kita simpulkan bahwa kewenangan hakim
menurut pasal-pasal yang telah disampaikan di atas, tidak bertentangan dengan
ajaran Islam, bahkan merupakan suatu anjuran. Dalam kaitannya dengan fiqh
siyasah, kewenangan Hakim Tata Usaha Negara ini adalah mengenai pengaturan
dan
pengurusan
kehidupan
manusia
dalam
bernegara
demi
mencapai
kemaslahatan manusia itu sendiri.
Apabila kita melihat tujuan diciptakannya Peradilan Tata Usaha Negara
yang disebutkan untuk menyelesaikan sengketa yang timbul antara pemerintah
dan warganya, yakni sengketa yang timbul sebagai akibat dari adanya tindakantindakan pemerintah yang dianggap melanggar hak-hak warganya, dan secara
umum tujuan pembentukan Peradilan Tata Usaha Negara adalah:
1. Memberikan perlindungan terhadap hak-hak rakyat yang bersumber dari hakhak individu.
2. Memberikan perlindungan terhadap hak-hak masyarakat yang didasarkan
kepada kepentingan bersama dari individu yang hidup dalam masyarakat
tersebut.
Sengketa dalam hal administrasi Negara atau Tata Usaha Negara ini lahir
karena adanya atau dikeluarkannya Keputusan Tata Usaha Negara oleh badan
76
atau pejabat Tata Usaha Negara. Unsur-unsur pengertian istilah Keputusan Tata
Usaha Negara sebagai obyek sengketa Tata Usaha Negara menurut UU No.5
Tahun 1986 ialah:
1. Penetapan tertulis
2. Dikeluarkan oleh Badan atau Pejabat Tata Usaha Negara
3. Berisi tindakan
hukum Tata Usaha Negara
berdasarkan peraturan
perundangundangan.
4. Bersifat konkrit, individual dan final.
5. Menimbulkan akibat hukum bagi seseorang atau badan hukum perdata.
Tinjauan Fiqh Siyasah atas keberadaan Keputusan Tata Usaha Negara ini
bisa kita analisa dengan melakukan studi kelembagaan kekuasaan kehakiman
yang ada di dalam Islam. Apabila dilihat dari dampak hukum dikeluarkannya
Keputusan Tata Usaha Negara ini, maka Lembaga Peradilan Tata Usaha Negara
di Indonesia ini dapat disejajarkan dengan lembaga Al-Mazalim di dalam Islam.
Ini tidak terlepas dari keberadaan lembaga Al-Mazalim itu sendiri yang
berwenang memeriksa perkara penganiayaan dan kesewenang-wenangan yang
dilakukan oleh penguasa, hakim ataupun anak dari pejabat yang sedang berkuasa.
Lebih jelas bahwa perkara-perkara yang diperiksa oleh lembaga ini ada 10
macam, tapi berikut beberapa perkara yang ditangani lembaga Al-Mazalim yang
ada kemiripannya dengan wilayah Peradilan Tata Usaha Negara antara lain;
1. Penganiayaan para penguasa terhadap perorangan maupun golongan.
77
2. Kecurangan pegawai-pegawai yang ditugaskan untuk mengumpulkan zakat
dan harta-harta kekayaan Negara yang lain.
3. Mengontrol/mengawasi keadaan para pejabat.
4. Mengembalikan pada rakyat harta-harta mereka yang dirampas oleh penguasa
yang zalim.
5. Meneliti dan memeriksa perkara-perkara yang mengenai maslahat umum yang
tidak dapat dilaksanakan oleh petugas hisbah.
Keputusan Tata Usaha Negara dikeluarkan oleh pejabat Keputusan Tata
Usaha Negara atau pejabat pemerintahan, yang kemudian dapat berakibat pada
tindakan hukum terhadap pihak-pihak yang terkait, yang tidak jarang keluarnya
Keputusan Tata Usaha Negara ini didasari karena ada permainan uang atau
maksud-maksud negative dari pejabat yang kemudian berdampak merugikan
masyarakat. Hal ini dapat diselaraskan dengan arti kesewenang-wenangan oleh
penguasa yang dimaksud di dalam Al Mazalim.
Tata Usaha Negara adalah administrasi Negara yang melaksanakan fungsi
untuk menyelenggarakan urusan pemerintahan, baik di pusat maupun daerah.
Penyelenggaraan urusan pemerintahan itu antara lain, seperti pendataan penduduk
oleh Dinas kependudukan, penyelenggaraan pendidikan oleh Dinas Pendidikan,
dan masalah-masalah Tata Usaha yang lain seperti, perizinan, keuangan Negara,
pajak, kesehatan rakyat, pengelolaan sumber daya, dan lain-lain.
78
Apabila dilihat dari obyek Tata Usaha Negara itu sendiri, lembaga
kehakiman Islam yang salah satu tugasnya mengatur masalah-masalah
administrasi Negara di antaranya, memberikan perlindungan dan menanggung
kehidupan anakanak, tidak melukai hak-hak para tetangga, menekankan para
pemilik hewan untuk memberikan makan, mengawasi transaksi pasar, jalan-jalan
umum dan penarikan pajak, dan lain-lain, yaitu lembaga hisbah Dasar hukum
kehadiran lembaga hisbah ini adalah sunnah, termasuk kategori sunnah fi’liyah
atau perbuatan Nabi Saw sendiri yang menemukan tindak kecurangan di pasar.
Lembaga Peradilan Tata Usaha Negara di Indonesia ini dapat disejajarkan
dengan lembaga Al-Mazalim di dalam Islam. Ini tidak terlepas dari keberadaan
lembaga
Al-Mazalim
itu
sendiri
yang
berwenang
memeriksa
perkara
penganiayaan dan kesewenang-wenangan yang dilakukan oleh penguasa, hakim
ataupun anak dari pejabat yang sedang berkuasa. Lebih jelas bahwa perkaraperkara yang diperiksa oleh lembaga ini ada 10 macam, tapi berikut beberapa
perkara yang ditangani lembaga Al-Mazalim yang ada kemiripannya dengan
wilayah Peradilan Tata Usaha Negara antara lain;
1. Penganiayaan para penguasa terhadap perorangan maupun golongan.
2. Kecurangan pegawai-pegawai yang ditugaskan untuk mengumpulkan zakat
dan harta-harta kekayaan Negara yang lain.
3. Mengontrol/mengawasi keadaan para pejabat.
79
4. Mengembalikan pada rakyat harta-harta mereka yang dirampas oleh penguasa
yang zalim.
5. Meneliti dan memeriksa perkara-perkara yang mengenai maslahat umum yang
tidak dapat dilaksanakan oleh petugas hisbah.
BAB V
PENUTUP
A. Kesimpulan
Berdasarkan uraian yang telah penulis bahas dalam bab-bab yang
terdahulu, penulis mengambil kesimpulan dari skripsi ini sebagai berikut :
1. Sesuai dengan amanah Undang-Undang No. 51 tahun 2009 tentang Peradilan
Tata Usaha Negara, disebutkan bahwa hakim pengadilan adalah pejabat yang
melakukan tugas kekuasaan kehakiman, yang mana tugas kekuasaan
kehakiman itu adalah dalam rangka menyelenggarakan peradilan dan
peradilan itu sendiri mempunyai kewajiban memeriksa, mengadili dan
memutus suatu perkara. Singkatnya hakim Tata Usaha Negara adalah pejabat
yang berwenang memeriksa, mengadili dan memutus suatu perkara di dalam
lingkungan Peradilan Tata Usaha Negara.
2. Untuk membedakan apakah sengketa harus diselesaikan melalui banding
administratif atau keberatan dapat dilihat dari pejabat atau instansi yang
berwenang menyelasaikannya;
a. Apabila diselesaikan oleh instansi atasan Pejabat yang menerbitkan
Keputusan Tata Usaha Negara tersebut atau instansi yang lainnya dari
Badan/Pejabat Tata Usaha Negara yang menerbitkan Keputusan Tata
Usaha
Negara,
maka
penyelesaiannya
“BANDING ADMINISTRATIF”.
80
tersebut
disebut
dengan
81
b. Apabila diselesaikan instansi atau Pejabat yang mengeluarkan keputusan
Tata Usaha Negara tersebut, penyelesaian tersebut disebut dengan
“KEBERATAN”.
5. Cara pengujian penyelesaian melalui upaya administratif adalah dilakukan
secara lengkap dalam arti dari segi hukum dan kebijaksanaan, sedangkan
pengujian di Pengadilan hanya dari segi hukumnya saja, dalam hal masih
tidak puas terhadap penyelesaian melalui upaya administratif, maka dapat
ditempuh upaya antara lain:
a. Setelah melalui upaya administratif maka dapat diajukan gugatan ke
Pengadilan Tinggi Tata Usaha Negara sebagai pengadilan tingkat pertama;
b. Setelah melalui upaya keberatan, maka dapat diajukan ke Pengadilan Tata
Usaha Negara.
6. Kewenangan Hakim Tata usaha Negara dalam perspektif fiqh siyasah adalah
melindungi hak-hak warga Negara dari kesewenang-wenangan tindakan atau
kebijakan pemerintah. Hal ini sesuai juga dengan keberadaan lembaga AlMazhalim di dalam sejarah peradilan Islam, di mana tujuan utama
dibentuknya lembaga Al-Mazhalim adalah melindungi rakyat dari tindak
kesewenang-wenangan penguasa. Dalam kaitannya dengan fiqh siyasah,
kewenangan Hakim Tata Usaha Negara ini adalah mengenai pengaturan dan
pengurusan
kehidupan
manusia
dalam
bernegara
demi
mencapai
kemaslahatan manusia itu sendiri. Pada Pasal 28 ayat 1 Undang-undang No. 4
82
tahun 2004 dinyatakan bahwa hakim wajib menggali, mengikuti, dan
memahami nilai-nilai hukum dan rasa keadilan
B. Saran-Saran
Kompetensi Peradilan Tata Usaha Negara dalam sistem peradilan kita,
masih relatif kecil. Tidak jarang di berbagai Peradilan Tata Usaha Negara volume
perkara pertahunnya di bawah 20 perkara seperti antara lain
Peradilan Tata
Usaha Negara Ambon, Banda Aceh, Bengkulu, Jambi, Jayapura, Kendari,
Kupang, Palangkaraya, Palu, Yogyakarta. Hal ini menunjukan belum optimalnya
peranan Peradilan Tata Usaha Negara sebagai lembaga kontrol yuridis terhadap
pemerintah.
Adanya upaya pemerintah dalam reformasi birokrasi dengan merancang
Rancangan Undang-Undang Administrasi Pemerintahan (RUU-AP) kiranya dapat
dukungan dari Dewan Perwakilan Rakyat, sehingga eksistensi peradilan tata
usaha negara dapat dirasakan manfaatnya baik bagi pemerintah maupun
masyarakat.
Setelah RUU-AP menjadi Undang-Undang Administrasi Pemerintahan,
haruslah pula ditindak lanjuti dengan penyelarasan menyangkut kompetensi
mengadili PTUN yang secara tegas mengatur : “Peradilan Tata Usaha Negara
berwenang mengadili sengketa yang timbul dari perbuatan badan/pejabat Tata
Usaha Negara berdasarkan hukum publik yang menimbulkan seseorang atau
badan hukum perdata yang kepentingannya dirugikan.
DAFTAR PUSTAKA
A. Hasjmy, Di mana Letaknya Negara Islam. Surabaya: PT. Bina Ilmu, 1984.
A.R. Yahya, Strutur Negara Khilafah, Jakarta, PT. Raja Grafindo Persada, 1997.
Abdullah, Rozali, Hukum Acara Peradilan Tata Usaha Negara, Jakarta. Pt Raja
Grafindo Persada, 2004
Al-Mawardi, Imam, Hukum tata negara dan kepemimpinan dalam takaran Islam,
penerjemah, Abdul Hayyie al-Kattani, Kamaluddin Nurdin : Gema Insani
Press, 2000.
Asshiddiqie, Hasbi, Peradilan dan Hukum Acara Islam, Semarang, PT Pustaka Rizki
Putra, 1997
Assiddiqie, Jimly, Pokok-Pokok Hukum Tata Negara Indonesia, PT Bhuana Populer:
2007
Harahap, Zairin, Hukum Acara Peradilan Tata Usaha Negara, PT. Raja Grafindo
Persada, 1997
Hartini, Sri, dkk, Hukum Kepegawaian di Indonesia, Jakarta, Sinar Grafika, 2008
Ibrahim, Jhonny, Teori Dan Metodologi Penelitian Hukum Normatif, cet.IV, Malang:
Bayumedia, 2008.
Mahfud, Moh MD, Dasar dan Struktur Ketatanegaraan Indonesia, Jakarta : Rineka
Cipta, 2001.
Muarif, Hasan, dkk, ed., Suplemen Ensiklopedi Islam, Vol.2 Jakarta: PT. Ichtiar Baru
Van Hoeve, 1996.
Mufid, Nur, Bedah Al-Ahkamus Sulthaniyah, Mencermati Konsep Kelembagaan
Politik Era Abasiyah, Pustaka Progressif: Surabaya, 2000.
Nazir, Moh., Metode Penelitian, Penerbit Ghalia Indonesia ; 2005.
Sitomurang, Viktor M., Tindak Pidana Pegawai Negeri Sipil, Jakarta. Rineka Cipta,
1990.
83
84
Situmorang, Viktor M, Soedibyo, Pokok-Pokok Peradilan Tata Usaha Negara,
Jakarta. PT Rineka Cipta, 1992.
Soekanto, Soerjono, Sri Mamudji, Penelitian Hukum Normatif Suatu Tinjauan
Singkat, Jakarta, PT Raja Grafindo Persada, 1995.
Soetami , A. Siti, Hukum Acara Peradilan Tata Usaha Negara, Bandung, PT. Refika
Aditama, 2007.
Sudarsono, Pengadilan Negeri Pengadilan Tinggi Mahkamah Agung, dan Peradilan
Tata Usaha negara, PT Rieneka Cipta, 1994.
Sunindhia, Administrasi Negara dan Peradilan Administrasi, PT Rineka Cipta, 1990.
Taimiyah, Ibnu, Tugas Negara Menurut Islam, Yogyakarta, Pustaka Pelajar, 2004.
Tjandra, W. Riawan, Hukum Acara Peradilan Tata Usaha Negara, Yogyakarta,
Universitas Atma Jaya, 2002.
Widjaja, A. W, Administrasi Kepegawaian: Suatu Pengantar, CV.Rajawali, 1990.
Wiyono, R., Hukum Acara Peradilan tata Usaha Negara, Sinar Grafika, 2007.
Zaidan, Abdul Karim, Sistem Kehakiman Islam Jilid 3, Kuala Lumpur: Pustaka Haji
Abdul Majid, 2004.
Zauhar, Soesilo, Reformasi Administrasi, PT Bumi Aksara: Jakarta, 2000.
Undang-Undang Nomor 18 Tahun 1961 Tentang Pegawai Negeri.
Undang-Undang Nomor 8 Tahun 1974 Tentang Pokok-Pokok Kepegawaian.
Undang-Undang Nomor 43 Tahun 1999 Tentang Kedudukan Pegawai Negeri
Undang-Undang Nomor 4 Tahun 2004 Tentang Kekuasaan Kehakiman.
Undang-Undang Nomor 37 Tahun 2008 Tentang Ombudsman Republik Indonesia
Undang-Undang Nomor 51 Tahun 2009 Tentang Peradilan Tata Usaha Negara.
Download