Pemberdayaan Perempuan dalam Dimensi Pembangunan Berbasis

advertisement
PEMBERDAYAAN PEREMPUAN
DALAM DIMENSI PEMBANGUNAN BERBASIS GENDER
Murniati Ruslan*
Abstract
Gender-based development is an issue that has been drawing attention of
international community since the 1970s. In Indonesia, this matter was
begun to discus since the 1990s, especially in relations with poverty and
backwardness issues. This issu itself has been surrounding parts of
Indonesian women till now. When the right to free from poverty and
backwardness are realized as the most important part of human rights,
women empowerment as an element of development has been understood as
a practical duty that can not be postponed. This article will be focused to
the matter of women empowerment in the dimension of gender-based
development.
Kata Kunci: pemberdayaan, pembangunan berbasis gender
Perempuan Indonesia dan Problematikanya
Dalam banyak kasus, perempuan memang paling banyak mengalami
problema dalam kasak-kusuk politik atau ekonomi, atau dalam lingkungan
yang lebih sempit, rumah tangga. Masalah ini seolah sudah menjadi aksioma
yang tidak lagi memerlukan pembuktian. Dengan kata lain, perempuan,
sebagaimana halnya dengan anak-anak dan kelompok lanjut usia (Lansia),
lebih rentan terhadap terjadinya gejolak yang memproduk ketidakstabilan
pada ranah publik. Itulah sebabnya, pledoi-pledoi yang diajukan oleh kaum
aktivif atau para pembela kaum ini sering pula diberi label “pembebasan”
atau “pemberdayaan”. Maka, lahirlah istilah pemberdayaan perempuan
sebagai
antiklimaks
empowerment).
dari
gagasan
peberdayaan
masyarakat
(people
80 Musawa, Vol. 2, No. 1, Juni 2010:79-96
Munculnya kesadaran untuk membebaskan perempuan dari nestapa
sangat dipengaruhi pula oleh kesadaran universal tentang perlunya
perlindungan dan pemenuhan hak asasi manusia (HAM) tanpa pandang
bulu. Dalam hal ini, dasawarsa 1970 adalah masa yang sangat penting dalam
sejarah perkembangan hak asasi manusia perempuan.1
Itulah sebabnya, satu-satunya cara yang rasional untuk membebaskan
mereka dari keestapaan itu adalah memberdayakan perempuan-perempuan
tadi, tidak saja dari kemiskinan, tetapi juga dari kebodohan, dan
keterbelakangan yang merupakan sejumlah faktor menghambat mereka
dalam mengembangkan diri.
Membebaskan perempuan Indonesia dari problema tersebut
merupakan suatu keharusan yang tidak bisa ditawar-tawar lagi. Karena
sesungguhnya, pemberdayaan
perempuan adalah suatu proses yang
memungkinkan setiap perempuan Indonesia mampu memenuhi pilihannya
sendiri secara bijaksana. Dengan demikian, pemberdayaan perempuan
haruslah diterjemahkan sebagai upaya memperbaiki fungsi dan kemampuan
kaum perempuan sebagai mitra sejajar kaum laki-laki. Hanya dengan begitu,
proses pembangunan yang dilaksanakan dapat berlangsung secara seimbang
karena di dalamnya tercakup pula elemen pemberdayaan kelompok yang
selama ini dinilai paling lemah, yakni perempuan. Dari uraian di atas tampak
bahwa cara atau strategi yang paling rasional untuk membebaskan kaum
perempuan dari kungkungan kebodohan, kemiskinan, dan keterbelakangan
adalah memberdayakan mereka, baik dari dimensi ekonomi, pendidikan,
kesehatan, dan lain sebagainya.
Sesungguhnya, pemerintah Indonesia sudah memperlihatkan
kesungguhan dalam memajukan kaum perempuan melalui tujuan-tujuan
pembangunan umumnya dan melalui program-program khusus. Namun
demikian, berbagai kalangan menilai bahwa banyak kebijakan tetap saja
menyisakan persoalan lama bahkan menjadi bagian dari persoalan itu
sendiri. Untuk menerangkan alasan-alasannya, kebijakan makro secara
1
Liza Hadiz (editor), “Partisipasi dan Kesetaraan Politik Gender dalam
Pembangunan, dalam Liza Hadiz, Perempuan dalam Wacana Politik Orde Baru (Jakarta:
LP3ES, 2004), x
Murniati Ruslan, Pemberdayaan Perempuan dalam 81
Dimensi Pembangunan Berwawasan Gender
terpisah dari kebijakan-kebijakan yang ditujukan khusus bagi perempuan
dijadikan sebagai titik tolak analisis. Ini penting ditegaskan karena
kebijakan-kebijakan makro cenderung „buta gender‟, dalam pengertian
bahwa kebijakan-kebijakan itu dirancang dan dilaksanakan tanpa
memperhatikan lebih dahulu dampaknya bagi perempuan sebagai pekerja,
anggota masyarakat dan keluarga, dan warga negara.
Sementara itu, kebijakan-kebijakan khusus bukannya tanpa persoalan
juga, dan daya kemanjurannya dihambat oleh dua rintangan pokok: pertama,
kebijakan-kebijakan itu bersifat „fungsionalis‟, karena ia lebih memberi
prioritas pada fungsi perempuan untuk dapat berperan dalam pembangunan,
bukannya sebaliknya. Kedua, kebijakan-kebijakan itu menyimpan sebuah
kontradiksi. Pada satu sisi, kebijakan tersebut dibuat dalam konsepsi
dominan tentang pembangunan, berpusat pada nilai kemajuan dan
modernitas. Pada sisi lain, kebijakan-kebijakan ini menghasilkan ideologi
gender yang mengagungkan paham-paham tradisional tentang tempat
perempuan di masyarakat.2
Karena itulah meskipun terdapat kemajuan umum semacam itu,
tatap saja ada persoalan yang tidak boleh diabaikan begitu saja. Lihatlah
kenyataan, antara lain, bahwa perempuan sebagai sebuah kelompok
ditinggal kaum laki-laki dalam pendidikan. Pada 1985 misalnya, data
UNICEF/ESCAP menunjukkan, sepertiga penduduk perempuan yang aktif
secara ekonomi tidak pernah mengenyam pendidikan di sekolah,
dibandingkan dengan laki-laki yang besarnya hanya 15%. Persoalan utama
lain adalah bahwa meskipun tingkat pendaftaran masuk sekolah tinggi
(sekitar 91% anak-anak masuk sekolah dasar) baik laki-laki maupun
perempuan, jumlah untuk perempuan terus-menerus menurun di tingkat
pendidikan lebih tinggi. Selain itu, yang lebih banyak drop out atau putus
sekolah adalah perempuan. Tampaknya, kaum perempuan, dan terutama
kaum perempuan miskin, masih tidak beruntung, sebagian karena kondisi
ekonomi dan sebagian yang lain karena jumlah anggota keluarga yang besar.3
2
Ines Smyth, “Pandangan Kritis tentang Kebijakan-Kebijakan Pemerintah
Indonesia bagi Perempuan”, dalam Frans Husken et.al (editor), Pembangunan dan
Kesejahteraan Sosial Indonesia di Bawah Orde Baru (Jakarta: Grasindo, 1997), 135-136.
3
Ibid, 138.
82 Musawa, Vol. 2, No. 1, Juni 2010:79-96
Di Indonesia, strategi pemberdayaan perempuan dilakukan secara
bertahap. Hal ini tampak dari Program Keluarga Berencana (KB) dengan
memberikan kesempatan yang lebih besar kepada kaum ibu dan keluarga
pada umumnya untuk mengurangi beban yang dipikulnya dalam lingkungan
keluarga dengan mengatur kehamilan dan kelahiran anak-anaknya. Dengan
cara itu, perempuan dapat ikut berpartisipasi dalam pembangunan. Lebih
dari itu, kaum ibu dapat ikut serta membangun keluarga, lingkungan serta
mengembangkan sifat dan jiwa kewirausahaan dengan ikut serta dalam
gerakan pemberdayaan ekonomi keluarga. 4
Strategi pemberdayaan perempuan dalam paradigma keluarga
berencana sebetulnya berpijak pada filosofi pembangunan yang menjadikan
kaum perempuan sebagai mitra sejajar kaum laki-laki. Dari pemahaman
inilah muncul sebuah keyakinan bahwa pengingkaran citra kemanusiaan
perempuan dalam interrelasinya dengan kaum laki-laki—terutama dalam
mengaktualisasikan jati diri, baik dalam ranah negara maupun ranah
masyarakat bahkan keluarga—merupakan fakta yang tidak layak
memperoleh tempat di Indonesia yang demokratis. Lagi pula, jika upaya
memberdayakan atau meningkatkan kualitas hidup perempuan benar-bnar
dapat terwujud, tentu saja dapat mengatasi persoalan-persoalan yang
menjerumuskan kaum perempuan itu ke dalam jurang kenestapaan.
Problema terpinggirnya kaum perempuan di Indonesia dalam proses
pembangunan (bahkan, pada kadar tertentu, bisa disebut sebagai pelecehan
kaum perempuan Indonesia), terutama jikalau itu hendak dicermati dari
perspektif sosio-kultural, dapat dilacak dari zaman kolonial, di mana
perlakuan penjajah Belanda tidak hanya mencederai eksistensi kemanusiaan
perempuan jajahan, akan tetapi seluruh manusia jajahan kehilangan
eksistensi dirinya sebagai subyek. Sekurang-kurangnya terdapat relasi yang
sangat kuat antara kekuasaan dan seksualitas pada era kolonialisme itu.
Bahwa menurut dongeng pejabat-pejabat Nederland, orang-orang kaya
Belanda yang menetap atau bertugas di Hindia Belanda dinasihatkan selekas
4
Haryono Suyono, Ekonomi Keluarga Pilar Utama Keluarga Sejahtera (Jakarta:
Yayasan Damandiri, 2003), 37.
Murniati Ruslan, Pemberdayaan Perempuan dalam 83
Dimensi Pembangunan Berwawasan Gender
mungkin memelihara nyai5 sehingga di majikan dapat mempelajari bahasa,
adat istiadat dan misteri di “Timur” dengan cepat. Nyai, dalam hal ini, tidak
hanya dipahami sebagai lambang romantisme seksual kolonial, akan tetapi
sekaligus pula berfungsi sebagai kunci bagi suksesnya kolonalialisme
Belanda di Nusantara.6 Bahkan sebelum Belanda datang ke Nusantara,
pedagang Asia dan Portugis sudah terbiasa memelihara nyai. Pada masa VOC,
orang Belanda yang beristrikan perempuan bumiputra tidak boleh membawa
istri beserta anak-anak dari perkawinan itu ke negeri asalnya. Perkawinan
tersebut dianggap tidak sah oleh gereja di Belanda. Dilema ini mendorong
orang-orang kompeni untuk memelihara nyai-nyai saja yang dapat mereka
tinggalkan setiap saat. Kebanyakan perempuan yang menjadi nyai berasal
dari keluarga petani maupun keluarga kelas bawah lainnya yang dijual orang
tua mereka untuk mencukupi kebutuhan ekonomi keluarga. Namun, ada
juga yang berasal dari keluarga priyayi, yang biasanya diserahkan ayahnya
kepada orang Belanda atau pun orang Eropa lainnya untuk mengamankan
kedudukan dan jabatan sang ayah. 7
Jika ditarik garis jauh ke belakang, sebetulnya fenomena per-nyai-an
ini sudah ada sebelum era kolonial, yakni dalam sistem masyarakat feodal,
yang disebut gundik atau istri piaraan. Pada zaman itu, mereka ini merupakan
korban pelampiasan seksual sekaligus alat perluasan kekuasaan kaum
bangsawan. Jumlah anak yang banyak dan tersebar di mana-mana dipercaya
dan terbukti mampu memperkuat dan melanggengkan kekuasaan mereka.
Perempuan-perempuan itu diangkut ke istana dan dijadikan “istri
percobaan”, sampai raja dan bendoro-bendoro menemukan perempuan
sederajat yang mereka kawini secara sah. Istri percobaan ini dapat dapat
diusir sewaktu-waktu dari istana dan mereka tidak berhak mengasuh anak
yang dilahirkannya. Setelah sistem masyarakat feodal terserap ke dalam
sistem masyarakat kolonial, perempuan bumiputera yang dahulu
5
Nyai adalah perempuan yang dipelihara pejabat kolonial maupun swastaswasta Belanda yang kaya (Lihat Linda Christanty, dalam Liza Hadiz)
6
Onghokham, “Kekuasaan dan Seksualitas: Lintasan Sejarah Pra dan Masa
Kolonial”, dalam Liza Hadiz, 324-325.
7
Linda Christanty, “Nyai dan Masyarakat Kolonial Hindia Belanda”, dalam
Liza Hadiz, 339-340.
84 Musawa, Vol. 2, No. 1, Juni 2010:79-96
dipergundik kaum bangsawan kini menjadi gundik pejabat kolonial, yakni
yang disebut nyai.8
Persoalan yang sama masih saja menerpa perempuan Indonesia di alam
kemerdekaan. Represi politik selama lebih dari tiga puluh tahun yang
dialami bangsa Indonesia terbukti menghasilkan dampak sangat besar
terhadap keterampilan berpolitik dan berorganisasi masyarakat sipil,
termasuk di dalamnya perempuan. Mungkin itulah sebabnya meskipun telah
memasuki era reformasi, kaum perempuan Indonesia masih dihambat oleh
nilai-nilai budaya dan struktur politik yang tidak mendukung penuh
keterlibatan mereka dalam urusan politik. Di samping itu, terputusnya
tradisi organisasi berbasis massa selama puluhan tahun membuat organisasiorganisasi perempuan era pascareformasi tidak mengakar ke bawah. 9
Keterbelakangan kaum perempuan di Indonesia tampaknya sangat
terkait dengan fakta bahwa kelompok ini—bersama dengan anak-anak—
memang dinilai sebagai kelompok yang terlemah dari keluarga Indonesia.
Penyebabnya bermacam-macam. Faktor budaya patriarkhal yang dipahami
secara sangat kaku bisa jadi merupakan salah satu faktor penyebab. Selain
itu, penyebab lainnya adalah kurangnya keterampilan dan rendahnya tingkat
pendidikan yang menjadi penghalang bagi kaum perempuan untuk
berkiprah di luar rumah. Akumulasi sejumlah masalah itulah yang kemudian
menyebabkan kelompok ini begitu rentan terhadap gejolak perubahan yang
terjadi, misalnya krisis ekonomi.
Di lain pihak, di tengah makin gencarnya perjuangan untuk
membebaskan kaum perempuan Indonesia dari berbagai keterbelakangan,
kini semakin disadari bahwa pembangunan manusia tidak akan mencapai
sasaran tanpa pemberdayan, partisipasi dan dukungan sepenuhnya dari
perempuan.
8
Sepucuk surat Kartini kepada Abendanon mengungkapkan kebenaran ini:
“Ada seorang Bupati, mendapat pendidikan Eropa, yang bersekolah di Gymnasium.
Dia ayah beberapa orang anak, tetapi hanya anak Raden Ayunya yang masih
mempuyai Ibu, anak-anak lainnya segera setelah mereka berumur beberapa bulan
diambil dari Ibu mereka yang disingkirkan (Dikutip dari Kartini: Surat-Surat Kepada
Ny. Abendanon-Mandri dan Suaminya, oleh Linda Christanty, dalam Liza Hadiz (editor),
ibid, 340-341.
9
Ibid., xxxv.
Murniati Ruslan, Pemberdayaan Perempuan dalam 85
Dimensi Pembangunan Berwawasan Gender
Kesetaraan Gender
Gender adalah sifat dan perilaku yang dibentuk secara sosial dan
dikenakan pada perempuan serta laki-laki. Selain memiliki dimensi budaya,
gender juga mengandung dimensi politik. Pembedaan sifat dan perilaku yang
berdampak pada pembedaan peran, status, posisi dan sebagainya,
merupakan hasil dari relasi kekuasaan antara jenis kelamin laki-laki dan
jenis kelamin perempuan.10 Sementara itu, menurut Oakley, gender adalah
perbedaan perilaku antara laki-laki dan perempuan yang dikonstruksi secara
sosial, yakni perbedaan yang bukan kodrat atau bukan ketentuan Tuhan
YME, melainkan diciptakan oleh manusia (laki-laki dan perempuan) melalui
proses sosial dan kultural yang panjang. Itulah sebabnya, gender berubah
dari waktu ke waktu, dari tempat ke tempat, bahkan dari kelas ke kelas. 11
Gerakan yang memperjuangkan kesetaraan gender pada tingkat
internasional bisa dibilang mulai dikumandangkan ke seluruh dunia pada
1975 ketika dilangsungkan World Conference of the International Women’s Year di
Mexico City atas prakarsa PBB pada 19 Juni-2 Juli 1975. Konferensi
internasional pertama tentang perempuan itu berhasil mengidenifikasi tiga
isu pokok, yakni: (a) penyetaraan gender dan penghapusan diskriminasi
gender, (b) pengintegrasian dan partisipasi penuh kaum perempuan dalam
pembangunan, serta (c) peningkatan kontribusi perempuan dalam
perdamaian dunia.12
Tak dapat dipungkiri bahwa isu perempuan yang tumbuh dan
menyita perhatian masyarakat internasional tidak terlepas dari pengaruh
feminisme liberal yang berkembang pesat di negara-negara Barat pada
dasawarsa 1970-an. Gerakan tersebut memandang bahwa perubahan status
10
Ibid., x.
Mansour Fakih, Analisis Gender dan Transformasi Sosial (Yogyakarta: Pustaka
Pelajar, 1996), 72. Lihat juga Brigitte Holzner, “Gender dan Kerja Rumahan”, dalam
Liza Hadiz, Ibid.; Departemen Agama RI, Keadilan dan Kesetaraan Gender: Perspektif Islam
(Jakarta: Tim Pemberdayaan Perempuan Bidang Agama Departemen Agama RI,
2001.
12
Liza Hadiz, Ibid.
11
86 Musawa, Vol. 2, No. 1, Juni 2010:79-96
kaum perempuan hanya bisa diperoleh melalui perjuangan di dalam institusi
negara. Sekalipun demikian, para pejuang gerakan ini memandang bahwa
legitimasi negara tidak perlu dipertanyakan dan sistem tidak perlu
dirombak. Pada saat yang sama lahir slogan “the personal is political”. Inti dari
slogan populer yang didengungkan oleh feminisme gelombang kedua itu
adalah “gugatan” terhadap nilai-nilai fundamental paradigma liberal yang
memisahkan secara tegas antara ranah publik dengan ranah privat. Ranah
privat, menurut paradigma liberal, merupakan ranah nonpolitis yang bebas
sama sekali dari setiap campur tangan negara. Sebaliknya, dengan pesan
yang dikandung slogan terkenal itu: ranah publik dan ranah privat
sesungguhnya dapat dipertautkan dengan konsep “the personal is political”,
semua yang terjadi di ranah privat adalah juga suatu proses sosio-politik.13
Implikasi dari pertautan antara ranah negara dan ranah privat dapat
terlihat dari bagaimana strategi “berbagi beban” (burden sharing) antara negara
dengan lembaga-lembaga non-negara atau kelompok masyarakat dalam
upaya memberdayakan kaum
perempuan sebagai salah satu kiat
mempersempit kesenjangan berdimensi gender. Contoh menarik yang dapat
dikemukakan adalah ketika BKKBN memberikan bantuan secara langsung
kepada lembaga-lembaga swadaya masyarakat dalam pemberdayaan
masyarakat atau program serupa lainnya.
Di Indonesia, perjuangan menciptakan kesetaraan gender diawali
dengan gerakan yang pro-perempuan. Ini tentu saja sangat berbeda dengan
perjuangan untuk tujuan yang sama yang dikumandangkan dan dilancarkan
di negara-negara Barat. Selain itu, titik tekan perjuangan lebih pada dimensi
di luar politik secara langsung, yakni dimensi ekonomi, pendidikan, dan lain
sebagainya, berbeda dengan cara Barat yang dalam beberapa hal terkadang
lebih condong pada dimensi politik.
Sekalipun demikian, dapat dikatakan bahwa „pendekatan Indonesia‟
dan Barat mengandung kesamaan persepsi di mana keduanya memandang
13
Ibid., xii
Murniati Ruslan, Pemberdayaan Perempuan dalam 87
Dimensi Pembangunan Berwawasan Gender
bahwa keterlibatan perempuan di dalam ranah publik merupakan salah satu
indikator keberhasilan pembangunan kesetaraan gender pada khususnya
dan pembangunan pada umumnya. Demikian pula, diyakini bahwa peranperan gender tradisional yang berganti mengikuti perubahan konsep
keluarga ideal sebetulnya merupakan konsekuensi atau rasionalisasi
terhadap proses industrialisasi. Sebagaimana diketahui, salah satu
konsekuensi industrialisasi adalah kaum perempuan makin banyak
diikutsertakan dan melibatkan diri di dalam kegiatan ekonomi.
Akan tetapi, harus diingat bahwa sekalipun partisipasi perempuan
kelihatan mengalami peningkatan, sebagian besar pengamat menganggap
bahwa perempuan, dalam banyak hal, tetap sebagai pihak yang dirugikan
dalam proses pembangunan. Salah satu penyebabnya adalah karena modelmodel pembangunan yang dirancang dan dipergunakan tidak selalu
memperhatikan relasi yang ada di antara perempuan dan laki-laki.
Akibatnya, proses pembangunan yang terus berjalan tidak menghasilkan
kesetaraan gender, bahkan dalam beberapa kasus, proses tersebut justru
mengurangi peran signifikan perempuan di dalam komunitasnya masingmasing.14
Di Indonesia, pergerakan kaum perempuan mulai menggelinding
sebagian besar karena dibuka oleh pikiran RA Kartini sampai terbangunnya
organisasi-organisasi perempuan mulai tahun 1912.15 Kegiatan mereka pada
awalnya menekankan pendidikan yang membuka cakrawala kaum
perempuan, misalnya memasak, merawat anak, melayani suami, menjahit,
dan lain-lain. Lebih jauh dari itu, mereka memberikan pula kesadaran yang
belakangan disebut sebagai “emansipasi wanita”, bahwa kaum perempuan
sederajat dengan kaum laki-laki. Oleh Soekarno ini disebut dengan istilah
“menyempurnakan keperempuanannya”. 16
14
Lihat Ibid, xiii.
Dikutip dari Takashi Shiraishi, An Age in Motion: Popular Radicalism in Java 19121926, oleh Ruth Indiah Rahayu, “Politik Gender Orde Baru”, dalam Ibid., 421.
16
Ibid., 422.
15
88 Musawa, Vol. 2, No. 1, Juni 2010:79-96
Sejak itu, kaum perempuan Indonesia melangkah memasuki periode
demi periode. Setelah proklamasi kemerdekaan, kaum perempuan tadi yang
tergabung di dalam berbagai organisasi masing-masing, bahu membahu
bersama pejuang lain mempertahankan kemerdekaan. Tetapi, kemerdekaan
politik untuk bangsa dan negara belum memperlihatkan perubahan tatanan
masyarakat yang mau secara sukarela mendudukkan perempuan dan lakilaki secara lebih setara. Mereka pun kembali bergerak membangun
organisasi. Ada yang “menyempurnakan keperempuanannya” dengan
melanjutkan model Fujinkai.17 Ada yang menuntut persamaan dalam hukum
dan politik dengan model organisasi yang sedikit banyak berkait atau di
bawah partai politik, meskipun ada pula yang mengklaim diri sebagai
organisasi otonom atau independen. Ada yang mendirikan organisasi profesi
untuk kepentingan kemajuan profesi mereka. Ada pula yang melakukan
semua kegiatan yang mewakili kepentingan kaum perempuan dari tingkat
massa sampai elit. Fenomena ini marak di sepanjang dekade 1950-an sampai
pertengahan tahun 1960-an.18
Gerakan perempuan di Indonesia dinilai mengalami arus balik tatkala
Gerwani (Gerakan Wanita Indonesia) dihancurkan pemerintah pada akhir
1965 karena dianggap pro-PKI. Setelah itu, organisasi-organisasi perempuan
masuk ke dalam Orde Baru dan menjadi organisasi fungsional. Perwari
(Persatuan Wanita Republik Indonesia) yang pernah sangat artikulatif
menentang Presiden Soekarno berpoligami, kini tinggal sebagai organisasi
yang terutama beranggotakan istri-istri pegawai dengan kegiatan yang
mengarah pada kesejahteraan keluarga kelas menengah dan atas. Sedangkan
Wanita Demokrat, yang sebelumnya mempunyai kegiatan bergaris massa
17
Saat pedudukan Jepang, semua perkumpulan, termasuk organisasi
perempuan dilarang, kecuali yang dibuat untuk mendukung kepentingan perang
Jepang. Kaum perempuan dimasukkan untuk memperkuat garis depan dan
belakang. Tugas di garis depan berupa bantuan palang merah, penyelenggaraan
dapur umum, membuat kaos kaki. Sedangkan tugas garis belakang berupa menanam
kapas untuk bahan pakaian, mengurus tanaman dan hewan (Lihat Ruth Indiah
Rahayu, dalam Liza Hadiz, Ibid.).
18
Ibid., 422-423.
Murniati Ruslan, Pemberdayaan Perempuan dalam 89
Dimensi Pembangunan Berwawasan Gender
dan
berhubungan
erat
dengan
Partai
Nasional
Indonesia (PNI),
menunjukkan keadaan serupa setelah PNI difusikan ke dalam Partai
Demokrasi Indonesia (PDI). Dari sejumlah perkembangan tersebut tampak
jelas bahwa organisasi perempuan di Indonesia mengalami proses
domestikasi, dengan implikasi terjadinya penjinakan, segregasi, dan
depolitisasi.19
Di lain pihak, kelompok organisasi LSM mengunakan perspektif
feminisme sebagai metode untuk menjawab berbagai persoalan perempuan.
Sekalipun demikian, bisa dikatakan bahwa dasar-dasar politik feminisme
umumnya belum diambil sebagai sikap politik organisasi, selain soal feminis
itu sendiri lebih jelas terlihat dalam sikap pribadi saat melihat persoalanpersoalan perempuan, misalnya ketika menganalisis ketimpangan gender.
Hal ini menimbulkan kekaburan dalam hal bagaimana organisasi perempuan
menjawab persoalan. Awalnya, digunakan pendekatan woman in development
(WID) yang berasumsi bahwa banyak peraturan yang tidak menyertakan
perempuan dalam pembangunan sebagai bagian dari proses pembangunan
itu sendiri. Masalahnya,
termarjinalkan
dalam
absennya perempuan menjadikan mereka
berbagai
perubahan
yang
diakibatkan
oleh
pembangunan. Dengan demikian, pendekatan ini melihat persoalan
perempuan dari peran yang dilakukan oleh kaum perempuan itu sendiri
serta memberi solusi pada aspek kerja produktif perempuan dan perubahan
perilaku.20
Karena logika pendekaran WID ini terus mendapat kritik, maka mulai
diperkenalkan pendekatan baru yang disebut gender and development (GAD)
yang mempersoalkan hubungan kuasa antara laki-laki dan perempuan (relasi
gender) dalam masyarakat. Sekalipun demikian, program pemenuhan
kebutuhan praktis (pokok) GAD berprinsip serupa dengan program
pendekatan WID untuk memenuhi tiga kebutuhan kaum perempuan, yakni
fungsi reproduksi, kegiatan produktif, dan kegiatan komunitas. Untuk
19
20
Ibid., 423.
Ibid., 432.
90 Musawa, Vol. 2, No. 1, Juni 2010:79-96
memenuhi kebutuhan strategis, GAD antara lain melakukan metode
pemberdayaan kaum perempuan melalui—mengutip Kathie Sarachild—
consciousness raising, menyatukan pengalaman anggota kelompok perempuan
untuk membuat mereka sadar akan diskriminasi yang sedang berjalan.21
Akan tetapi, satu hal yang mungkin menarik untuk dicermati adalah
bahwa sekalipun gerakan kaum perempuan, dalam soal kesetaraan gender,
terus menggema ke seluruh pelosok dunia, di negara-negara berkembang isu
yang justru lebih dominan, sekurang-kurangnya pada dasawarsa 1970-an,
adalah tekanan kepada integrasi sepenuhnya dari kaum perempuan dalam
usaha pembangunan daripada persamaan antara kaum perempuan dan lakilaki.22 Ini sebetulnya mirip dengan fenomena yang terjadi di negara-negara
miskin—mungkin pula di Indonesia—di mana kaum perempuan lebih
tertarik untuk mendorong agar diadakan perubahan-perubahan ekonomi
dan sosial sehingga perempuan maupun laki-laki dapat melarikan diri dari
kehidupan dalam kelaparan, ketidaktahuan, dan kemiskinan. Ini sangat
berbeda dengan isu yang dipersoalkan oleh kaum feminis di negara-negara
Industri Barat.23
Sebenarnya, perbedaan gender itu sendiri, seperti telah diuraikan di
atas, tidak menjadi masalah sepanjang tidak melahirkan ketidakadilan
gender (gender inequalities).24 Akan tetapi, pengalaman membuktikan bahwa
perbedaan gender (gender differences) telah melahirkan sejumlah ketidakadilan
gender tersebut. Sehingga wajar saja jika ada yang mengatakan bahwa
kesetaraan gender masih sebatas wacana. Itulah sebabnya tak mengherankan
jika perjuangan untuk mewujudkan kesetaraan gender akan terus berproses
karena persepsi tentang gender itu sendiri boleh jadi akan selalu melahirkan
tafsir-tafsir baru yang mencul berkenaan dengan semangat zaman yang ada.
21
Ibid., 433.
Mely G Tan, “Wanita Indonesia: Menuju Cakrawala Baru”, dalam Liza
Hadiz, Ibid., 5.
23
Ibid.
24
Mansour Fakih, 12.
22
Murniati Ruslan, Pemberdayaan Perempuan dalam 91
Dimensi Pembangunan Berwawasan Gender
Maka, tepatlah jika dikatakan, bahwa perjuangan emansipasi perempuan,
khususnya perempuan Indonesia, masih merupakan suatu keharusan
praktis.25
Mungkin karena pertimbangan itulah, Prof. Haryono Suyono
misalnya, lebih tertarik dengan upaya-upaya nyata yang dapat langsung
dinikmati kaum perempuan dalam perjalanannya menuju pemberdayaan.
Dalam hal ini, ia tidak hanya melakukan penjelajahan pada wilayah praksis
akan tetapi juga pada wilayah teoretis dengan mendisemninasikan gagasangagasan pemberdayaan perempuan lewat berbagai tulisan seperti telah
dipublikaskan pada berbagai media massa. Kesetaran gender menurutnya,
tidak lain adalah terbukanya kesempatan yang luas bagi kaum perempuan
dalam menghayati nilai-nilai luhur budaya bangsa yang terkandung dalam
Pancasila. Dengan pemberdayaan itu, kaum perempuan dapat ikut serta
dalam pembangunan, menghayati usaha hidup lebih lestari, yang dengan
sendirinya terjamin hak asasinya untuk bisa hidup dengan penuh prakarsa,
produktif, bisa menikmati kehormatan pribadi serta diakui oleh
masyarakat.26
Sementara itu, pada kesempatan yang lain, Sedarmayanti mencoba
untuk memetakan dimensi kesetaraan gender atau apa yang disebut
kemitrasejajaran
antara
perempuan
dan
laki-laki.
Menurutnya,
kemitrasejajaran antara laki-laki dan perempuan dapat dilakukan dalam
beberapa dimensi, yakni dalam keluarga, kehidupan masyarakat, dan
kehidupan berbangsa dan bernegara. 27
25
Y B Mengunwijaya, “Pengantar”, dalam Mayling Oey-Gardiner (editor),
Perempuan Indonesia: Dulu dan Kini (Jakarta: Gramedia Pustaka Utama, 1996), xvi
26
Lihat Haryono Suyono, “Pokok-Pokok Pikiran tentang Dukungan Yayasan
Damandiri dalam Pemberdayaan Perempuan”, Makalah, disampaikan kepada
Menteri Negara Pemberdayaan Perempuan Meutia Farida Hatta Swasono, Jakarta,
November 2004.
27
Sedarmayanti, “Birokrasi dan Peran Kaum Perempuan”, Jurnal Ilmu
Administrasi, Vol.1 Nomor 1, 2004, 82-3.
92 Musawa, Vol. 2, No. 1, Juni 2010:79-96
Pemberdayaan Perempuan: Konsep dan Strategi
Pemberdayaan adalah suatu upaya untuk membangun eksistensi
pribadi, keluarga, masyarakat, bangsa, pemerintahan, negara, dan tata dunia
dalam kerangka proses aktualisasi kemanusiaan yang adil dan beradab, yang
terwujud di berbagai kehidupan: politik, hukum, pendidikan dan lain
sebagainya.28 Pemberdayaan itu sendiri mengandung tiga kekuatan (power) di
dalam dirinya, yakni power to, yaitu kekuatan untuk berbuat; power with, yaitu
kekuatan untuk membangun kerjasama; dan power-within, yaitu kekuatan
dalam diri pribadi manusia.29 Sebagaimana diketahui, strategi dan upaya
pemberdayaan perempuan pada khususnya dan pemberdayaan manusia pada
umumnya, adalah salah satu topik yang paling banyak mendapat perhatian
berbagai
kalangan
akhir-akhir
ini.
Oleh
Prof.
Haryono
Suyono,
pemberdayaan perempuan sering pula disebut sebagai “peningkatan kualitas
hidup personal perempuan”, yakni suatu upaya untuk memberdayakan
kehidupan perempuan dalam berbagai bidang, termasuk ekonomi, edukasi
atau pendidikan, sosial, komunikasi, informasi, dan lain sebagainya agar
mereka terbebas dari belenggu kemiskinan 30 dan keterbelakangan.
28
A.M.W. Pranarka dan Vidhyandika Moeljarto, ”Pemberdayaan
(Empowerment)”, dalam Onny S. Prijono dan A.M.W. Pranarka (Penyunting),
Pemberdayaan: Konsep, Kebijakan dan Implementasi (Jakarta: Centre for Strategic and
International Studies, 1996), 56
29
M. Sastrapratedja, dalam Tonny D. Widiastono (editor), Pendidikan
Manusia Indonesia (Jakarta: Penerbit Buku Kompas, 2004), 19-20.
30
Indikaktor kemiskinan yang paling banyak digunakan selama ini adalah
kondisi fisik rumah, jenis pekerjaan/upah, dan pemenuhan kebutuhan pangan
(bandingkan dengan indikator kualitas hidup dari OECD, yakni pendapatan,
perumahan, lingkungan, stabilitas sosial, kesehatan, pendidikan, dan kesempatan
kerja). Bagi orang miskin sendiri, penyebab kemiskinan yang mereka derita adalah
ketidakberdayaan atau faktor di luar kendali mereka (lapangan kerja, tingkat
biaya/harga, kebijakan pemerintah, sistem adat, lilitan utang, keamanan,
takdir/kodrat), kekurangan materi (rumah, modal kerja, warisan, rendahnya
penghasilan), keterkucilan (lokasi yang terpencil, buruknya prasarana transportasi,
rendahnya tingkat pendidikan dan keterampilan, akses terhadap kredit, pendidikan,
kesehatan, irigasi, air bersih), kelemahan fisik (kondisi kesehatan, kemampuan
bekerja, kurang makan dan gizi), kerentanan (PHK, pekerjaan tidak tetap, masalah
dalam produksi, bencana alam dan musibah keluarga), dan sikap dan perilaku
(kurang upaya untuk bekerja, boros, judi, mabuk-mabukan (Lihat The Smeru
Murniati Ruslan, Pemberdayaan Perempuan dalam 93
Dimensi Pembangunan Berwawasan Gender
Sejalan dengan itu, langkah strategis yang perlu dilancarkan dalam
kerja pemberdayaan perempuan adalah memberikan dukungan yang
menjadikan setiap perempuan sebagai fokus perhatian dan arena
pengabdian. Khusus kepada kaum ibu, yang mendesak untuk segera
dilakukan adalah meningkatkan kemampuan mereka secara bertahap dan
berkesinmbungan agar bisa mengolah dan bergelut dengan kesempatan yang
terbuka di dalam lingkungannya sendiri. Secara konkret, ini dapat dilakukan
dalam bentuk memberikan pelatihan atau praktik usaha kecil-kecilan
kepada mereka.
Dalam rangka melaksanakan ikhtiar pemberdayaan tersebut,
kelompok perempuan tadi kemudian diberikan dukungan pembinaan dan
kredit untuk mengolah usaha-usaha yang dapat menjadi panjatan sebagai
sarana dan titik tolak untuk mengolah bahan baku dan segala yang bisa
dimanfaatkan dari lingkungan sekitarnya. Misalnya, bahan baku untuk
usaha itu diolah dari lingkungannya sendiri sampai habis. Apabila tidak
mencukupi barulah dicarikan dukungan untuk mendapatkan bahan baku
dari daerah lain yang lebih luas. Proses pembangunan bertahap ini, dalam
praktiknya, memberikan dukungan pendidikan yang sangat praktis kepada
para keluarga yang mendapat dukungan dan bantuan pendampingan. 31
Mencermati paparan di atas, jelaslah bahwa upaya pemberdayaan
perempuan mau tidak mau harus dilakukan dengan cara membangkitkan
kemampuan mereka agar mampu melihat lebih jauh ke depan, misalnya
dalam bentuk meningkatkan kesadaran mereka untuk menabung. Hal ini
mutlak harus dilakukan karena mereka adalah tulang punggung dalam
keluarga yang harus mampu menghidupi anak-anaknya kelak dan
meningkatkan kesejahteraan keluarganya.
Research Institute, No.11, July-September 2004). Bandingkan dengan Gugus Tugas II
Pemberdayaan Masyarakat, Akar Kemiskinan dan Ketidakberdayaan Masyarakat (Jakarta:
TKP3 KPK Kementerian Koordinator Bidang Kesejahteraan Rakyat, 2004).
31
Haryono Suyono, Ekonomi Keluarga Pilar Utama Keluarga Sejahtera, 47
94 Musawa, Vol. 2, No. 1, Juni 2010:79-96
Penutup
Bertolak dari keseluruhan paparan di atas,
maka dapatlah
dikemukakan dua catatan sebagai berikut: Pertama, tampak bahwa strategi
pemberdayaan perempuan tersebut bertitik tolak dari paradigma—
meminjam Samir Amin—“development of underdevelopment” atau apa yang oleh
Robert Chambers disebut sebagai “putting the last first”32 (mendahulukan yang
terakhir). Paradigma ini menempatkan kelompok yang paling rentan, yakni
kaum perempuan, anak-anak, dan manusia lanjut usia, pada kedudukan yang
istimewa. Artinya, memberikan prioritas kepada kelompok tersebut untuk
mengembangkan diri dan keluarganya agar kelak mereka dapat terbebas dari
ketidakberdayaan, kemiskinan, kebodohan dan lain sebagainya. Ini
merupakan pilihan bijak karena sesungguhnya kemiskinan yang mendera
lebih dari satu milyar manusia itu sebagian besar di antaranya adalah kaum
perempuan. Hanya dengan cara demikian, apa yang disebut pembangunan
berbasis gender dapat benar-benar terwujud sehingga tidak sekadar slogan
atau retorika yang tak kunjung teralisir.
Kedua, meskipun ikhtiar pemberdayaan perempuan perlu mendapat
perhatian khusus, pemberdayaan itu sendiri bukanlah sesuatu yang berdiri
sendiri atau terlepas dari grand strategy pembangunan nasional secara umum.
Karena itu, yang diperlukan adalah strategi yang menjadikan ikhtiar
pemberdayaan perempuan tersebut sebagai salah satu inti spirit
pembangunan nasional. Inilah yang disebut dengan pemberdayaan
perempuan berdimensi gender, yakni upaya mengembangkan kemampuan
32
Kedua paradigma tersebut bertotlak dari suatu argumentasi bahwa jika
suatu negara ingin berhasil dalam melaksanakan pembangunan dan memerangi
kesenjangan sosial-ekonomi, maka haruslah diterapkan kebijakan yang
mendahulukan pembangunan atau mengembangakan daerah atau masyarakat yang
terbelakang atau kurang maju agar berkembang sejajar dengan masyarakat atau
daerah lainnya yang sudah maju. Untuk lebih jelasnya, lihat Samir Amin,
Accumulation on a World Scale a Critique of the Theory of Underdevelopment, Vol.1 and Vol.2
Combined (New York-London: Monthly Review Press, 1974), khususnya Bab 2 dan
Robert Chambers, Pembangunan Desa: Mulai dari Belakang (Jakarta: LP3ES, 1988).
Murniati Ruslan, Pemberdayaan Perempuan dalam 95
Dimensi Pembangunan Berwawasan Gender
kaum perempuan agar mereka dapat menjadi mitra sejajar kaum laki-laki
dalam membangun Indonesia ke depan.
Daftar Pustaka
Amin, Samir, Accumulation on a World Scale a Critique of the Theory of
Underdevelopment, Vol.1 and Vol.2 Combined (New York-London:
Monthly Review Press, 1974).
Chambers, Robert, Pembangunan Desa: Mulai dari Belakang (Jakarta: LP3ES,
1988).
Fakih, Mansour, Analisis Gender dan Transformasi Sosial (Yogyakarta: Pustaka
Pelajar, 1996).
Gugus Tugas II Pemberdayaan Masyarakat, Akar Kemiskinan dan
Ketidakberdayaan Masyarakat (Jakarta: TKP3 KPK Kementerian
Koordinator Bidang Kesejahteraan Rakyat, 2004).
Hadiz, Liza, Perempuan dalam Wacana Politik Orde Baru (Jakarta: LP3ES, 2004).
Husken, Frans et. al (editor), Pembangunan dan Kesejahteraan Sosial Indonesia di
Bawah Orde Baru (Jakarta: Grasindo, 1997).
Oey-Gardiner, Mayling (editor), Perempuan Indonesia: Dulu dan Kini (Jakarta:
Gramedia Pustaka Utama, 1996).
Prijono, Onny S dan A.M.W. Pranarka (Penyunting), Pemberdayaan: Konsep,
Kebijakan dan Implementasi (Jakarta: Centre for Strategic and
International Studies, 1996).
Sedarmayanti, “Birokrasi dan Peran Kaum Perempuan”, Jurnal Ilmu
Administrasi, Vol.1 Nomor 1, 2004.
Suyono, Haryono, Ekonomi Keluarga Pilar Utama Keluarga Sejahtera (Jakarta:
Yayasan Damandiri, 2003).
Suyono, Haryono, Pendidikan Perempuan Aset Bangsa, (Jakarta: Yayasan
Damandiri, 2003).
96 Musawa, Vol. 2, No. 1, Juni 2010:79-96
The Smeru Research Institute, No.11, July-September 2004).
Widiastono, Tonny D (editor), Pendidikan Manusia Indonesia (Jakarta: Penerbit
Buku Kompas, 2004).
*
Dosen tetap Jurusan Syariah STAIN Datokarama Palu.
Download