PENGARUH KEPEMIMPINAN SITUASIONAL DAN KOMUNIKASI

advertisement
BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang Masalah
Madrasah Tsanawiyah sebagai institusi (lembaga) pendidikan yang berciri
khas Islam, sebagai tempat proses pendidikan dilakukan yang mana didalamnya
memiliki sistem yang kompleks dan dinamis. Dalam kegiatannya, madrasah
tersebut bukan hanya sekedar tempat berkumpul guru dan murid, melainkan
berada dalam satu tatanan sistem yang rumit dan saling berkaitan, oleh karena itu
sekolah dipandang sebagai suatu organisasi yang membutuhkan pengelolaan yang
baik. Lebih dari itu, kegiatan inti organisasi sekolah adalah mengelola sumber
daya manusia (SDM) yang diharapkan menghasilkan lulusan yang berkualitas,
sesuai dengan tuntutan kebutuhan masyarakat, serta pada gilirannya lulusan
sekolah diharapkan dapat memberikan kontribusi kepada pembangunan bangsa
sesuai dengan secara khusus menitikberatkan kepada tujuan pendidikan Islam.
Kepala sekolah sebagai pemimpin tertinggi dalam suatu unit lembaga
pendidikan yang memiliki tugas dan tanggungjawab. Di samping sebagai
pemimpin yang bertanggung jawab atas kepemimpinan pendidikan, sebagai
manager, juga sebagai decision maker, kepala sekolah sebagai pihak pertama yang
menentukan
dinamika
edukatif
sekolah
baik
sisi
kemajuan
maupun
kemundurannya. Dalam pada itu, kepala sekolah adalah tenaga kependidikan yang
memiliki peran dan fungsi yang signifikan terhadap kualitas pendidikan termasuk
2
dalam hal ini adalah kualitas output pendidikan, manajerial pendidikan, kepuasan
atas pelayanan para stakeholder pendidikan.
Seorang pemimpin mempunyai peran yang sangat besar dalam rangka
mewujudkan eksistensi organisasi, keberhasilan suatu organisasi tergantung pada
bagaimana pimpinan organisasi tersebut bersikap dan bertingkah laku. Dalam
melaksanakan tugas, setiap pemimpin mengunakan gaya kepemimpinan yang erat
kaitannya dengan kemampuan mempengaruhi bawahannya untuk mencapai tujuan
yang telah ditetapkan. Dengan demikian gaya kepemimpinan ini dianggap sangat
penting karena merupakan “performance” seorang pemimpin dalam hubungannya
dengan penyelesaian tugas organisasi oleh bawahan sebagai anggota organisasi.
Gaya kepemimpinan seseorang adalah pola perilaku yang diperlihatkan
seseorang pada waktu berupaya mempengaruhi aktifitas orang lain seperti yang
dipersepsikan orang tersebut. Menurut Miftah Thoha (2001) menyatakan bahwa
kepemimpinan
adalah
cara-cara
yang
dipergunakan
pemimpin
dalam
mempengaruhi para pengikutnya. Gaya kepemimpinan dalam organisasi yang
meliputi fungsi menyampaikan informasi (telling), membimbing (selling),
berperan serta (participation) dan pendelegasian (delegating) akan menentukan
tujuan-tujuan organisasi yang ingin dicapai, dalam hal ini prestasi kerja dari
bawahannya. Prestasi kerja adalah hasil kerja yang dicapai oleh seseorang guru
dalam melaksanakan tugas yang dibebankan kepadanya. Semakin baik gaya
kepemimpinan dalam suatu organisasi maka prestasi kerja guru dalam organisasi
tersebut diperkirakan semakin meningkat.
3
Dalam teori pendekatan situasional, kepemimpinan yang efektif adalah
bagaimana seorang pemimpin dapat mengetahui keadaan baik kemampuan
maupun sifat dari bawahannya yang dipimpinnya untuk kemudian pemimpin
dapat menentukan perintah atau sikap terhadap terhadap bawahan sesuai dengan
kemampuannya. Gaya kepemimpinan situasional mencoba mengkombinasikan
proses kepemimpinan dengan situasi dan kondisi yang ada.
Pendekatan teori kepemimpinan situasional juga dapat menjelaskan
kepemimpinan yang efektif berkaitan dengan efek dari satu variabel moderator
situasional yang menengahi perilaku pemimpin. Teori situasional adalah satu
usaha untuk menyediakan beberapa pemahaman bagi pemimpin tentang hubungan
antara gaya kepemimipinan yang efektif dengan tingkat kematangan pengikut.
Dengan pendekatan ini diyakini mampu untuk membangkitkan motivasi kerja
bawahannya.
Selain itu kualitas pendidikan pada tingkat satuan pendidikan juga
memerlukan suatu proses komunikasi dari seluruh komponen yang merupakan
salah satu faktor yang esensial akan terciptanya efektivitas kerja yang ada di
lembaga pendidikan terutama madrasah. Komunikasi adalah proses penyaluran
informasi, ide, penjelasan, perasaan, pertanyaan dari orang ke orang atau dari
kelompok ke kelompok. Ia adalah proses interaksi antara orang-orang atau
kelompok-kelompok yang ditunjukan untuk mempengaruhi sikap dan perilaku
orang-orang dan kelomkpok-kelompok di dalam suatu organisasi. Dan proses
komunikasi memerlukan tersedianya sejumlah unsur. Pertama, harus adanya suatu
sumber; kedua, harus ada maksud yang hendak dicapai; ketiga, suatu berita dalam
4
suatu bentuk diperlukan untuk menyatakan fakta; Keempat, harus ada suatu
saluran yang menghubungkan sumber berita dengan penerima berita; Kelima
harus ada penerima berita (Sutisna, 2002 : 267).
Kemampuan-kemampuan yang harus dimiliki oleh kepala sekolah
sebagaimana yang diuaraikan diatas dalam implementasinya di madrasah belum
mampu sepenuhnya memberikan semangat kerja guru. Sehingga berimplikasi
terhadap adanya dugaan bahwa hal itu terjadi karena kepemimpinan masingmasing kepala sekolah dalam menerapkan komunikasi berbeda-beda, hal ini
mengakibatkan kualitas pendidikan masing-masing sekolah juga berbeda.
Fenomena itu sangat menarik untuk dikaji lebih mendalam melalui sebuah
penelitian;
PENGARUH
KEPEMIMPINAN
SITUASIONAL
DAN
KOMUNIKASI INTERPERSONAL KEPALA SEKOLAH TERHADAP
KINERJA GURU PADA MTs DI KABUPATEN KERINCI
B. Rumusan Masalah.
Berdasarkan latar belakang permasalahan yang telah diajukan diatas maka
dapat diajukan rumusan masalahnya yaitu :
1. Bagaimanakah gambaran; Kepemimpinan situasional kepala sekolah,
komunikasi interpersonal kepala sekolah
dan kinerja guru pada MTs di
Lingkungan Kantor Kementerian Agama Kabupaten Kerinci?
2. Seberapa besar pengaruh;
a. Kepemimpinan situasional kepala sekolah terhadap kinerja guru pada
MTs di Kabupaten Kerinci?
5
b. Komunikasi interpersonal kepala sekolah terhadap kinerja guru pada MTs
di Kabupaten Kerinci?
c. Kepemimpinan
situasional
kepala
sekolah
terhadap
komunikasi
interpersonal kepala sekolah pada MTs di Kabupaten Kerinci?
d. Kepemimpinan situasional kepala sekolah dan komunikasi interpersonal
kepala sekolah secara bersama-sama terhadap kinerja guru pada MTs di
Kabupaten Kerinci?
3. Seberapa besar pengaruh;
a. Kepemimpinan situasional kepala sekolah terhadap prestasi belajar siswa
pada MTs di Kabupaten Kerinci?
b. Komunikasi Interpersonal kepala sekolah terhadap prestasi belajar siswa
pada MTs di Agama Kabupaten Kerinci?
c. Kinerja guru terhadap prestasi belajar siswa pada MTs di Kabupaten
Kerinci?
d. Kepemimpinan situasional, komunikasi interpersonal kepala sekolah dan
kinerja guru terhadap prestasi belajar siswa pada MTs di Kabupaten
Kerinci?
4. Seberapa pengaruh jenis kelamin dan umur terhadap prestasi belajar siswa?
C. Tujuan dan Manfaat Penelitian.
1. Tujuan Penelitian.
Adapun tujuan penelitian yang ingin dicapai dalam penelitian ini adalah
untuk mengetahui:
6
1. Gambaran Kepemimpinan situasional, komunikasi interpersonal kepala
sekolah dan kinerja guru pada Madrasah Tsanawiyah di Lingkungan
Kantor Kementerian Agama Kabupaten Kerinci?
2. Pengaruh antara;
a. Kepemimpinan situasional kepala sekolah terhadap kinerja guru pada
MTs di Kabupaten Kerinci.
b. Komunikasi interpersonal kepala sekolah terhadap kinerja guru pada
MTs di Kabupaten Kerinci.
c. Kepemimpinan situasional terhadap Komunikasi interpersonal kepala
sekolah pada MTs di Kabupaten Kerinci?
d. Kepemimpinan situasional dan komunikasi interpersonal kepala
sekolah secara bersama-sama terhadap kinerja guru pada Madrasah
Tsanawiyah di Kabupaten Kerinci?
3. Pengaruh antara;
a. Kepemimpinan situasional kepala sekolah terhadap prestasi belajar
siswa pada MTs di Kabupaten Kerinci?
b. Komunkasi interpersonal kepala sekolah terhadap prestasi belajar
siswa pada MTs di Kabupaten Kerinci?
c. Kinerja guru terhadap prestasi belajar siswa pada MTs di Kabupaten
Kerinci?
d. Kepemimpinan situasional, Komunikasi interpersonal kepela sekolah
dan kinerja guru terhadap prestasi belajar siswa pada MTs di
Kabupaten Krinci?
7
4. Pengaruh jenis kelamin dan umur terhadap Prestasi Belajar Siswa?
2. Manfaat Hasil Penelitian.
Adapun manfaat dari hasil penelitian ini adalah untuk memberikan
kontribusi dalam aspek:
a) Dari segi akademik.
Ingin mengungkap dan mengkaji secara empiris tentang sebagian faktorfaktor yang mempengaruhi kinerja guru dalam melaksanakan tugasnya, dimana
hasil penelitiannya nanti diharapkan dapat berguna, baik dari segi teoritis maupun
dari segi praktis. Untuk itu penelitian ini diharapkan dapat memberikan
sumbangan berdasarkan bukti-bukti empiris tentang bagaimana kinerja guru di
sekolah dipengaruhi oleh faktor individu yang melatarbelakanginya, dan juga
dipengaruhi oleh faktor organisasi
yang dalam penelitian ini terdiri dari
Kepemimpinan Situasional dan Komunikasi Interpersonal Kepala Sekolah.
Dengan kenyataan ini diharapkan akan makin mendorong upaya-upaya
pengkajian tentang Kinerja Guru khususnya dalam konteks perubahan yang
semakin diperlunya.
b) Dari segi praktis.
Penelitian ini nanti diharapkan dapat memberi masukan bagi pihak-pihak
yang berwenang sebagai bahan pertimbangan dalam penentuan kebijakan dalam
mengembangkan kinerja guru agar lebih baik. Dengan melalui ketepatan dalam
rekrutmen guru, serta pembinaannya dalam upaya mengembangkan kinerja guru
agar terwujud kinerja guru yang diharapkan, serta kebijakan manajemen sekolah
untuk mendorong terciptanya komunikasi yang positif, kepemimpinan dan
8
sistem/kebijakan yang kondusif bagi upaya meningkatkan kualitas pendidikan
melalui pengembangan Kinerja Guru. Sehingga inovasi pendidikan sebagai upaya
peningkatan kualitas pendidikan yang menjadi tuntutan dewasa ini, dapat
terlaksana dalam tataran teknis pendidikan, yakni pembelajaran.
D. Kerangka Pemikiran.
Pola hubungan antara variabel yang akan diteliti disebut sebagai
paradigma penelitian (Sugiyono, 2008:65). Secara sederhana paradigma dalam
penelitin ini dapat adalah menggambarkan bagaimana hubungan antara variablevariabel yang diteliti, diantaranya variable dependent Kepemimpinan Situasional
Kepala Sekolah (X1), Komunikasi Interpersonal Kepala Sekolah (X2) dan variable
independent Kinerja Guru (Y1) serta Nilai Hasil UN 3 tahun terakhir (Z sebagai
variable kontrol). Lebih jelas seperti ditunjukkan pada gambar berikut:
Gambar 1.1
Model Hubungan Variabel Penelitian
Variabel Kontrol;
1. Jenis Kelamin
2. Usia
X1
Y
X2
Z
X1 : Kepemimpinan Situasional Kepala Sekolah
X2 : Komunikasi Interpersonal Kepala Sekolah
Y : Kinerja Guru
Z : Prestasi Belajar Siswa (Nilai UN)
Paradigma atau pola hubungan antar variabel
penelitian pada dasarnya
merupakan rencana studi/penelitian yang menggambarkan prosedur dalam
9
menjawab pertanyaan masalah penelitian. Menurut Stelltiz dalam Umar (2003:90)
terdapat tiga jenis desain penelitian yaitu: desain eksploratoris, desain deskriptif,
dan desain kausal. Desain eksploratoris merupakan desain penelitian untuk
menjajagi dan mencari ide-ide atau hubungan-hubungan yang baru atas persoalanpersoalan yang relatif baru. Desain deskriptif merupakan desain penelitian yang
bertujuan menguraikan sifat atau karakteristik suatu gejala atau masalah tertentu,
dan desain kausal merupakan desain penelitian yang bertujuan untuk menganalisis
hubungan-hubungan atau pengaruh antar variabel.
Dengan mengacu pada masalah penelitian serta jenis desain penelitian,
maka desain penelitian ini adalah desain kausal, dimana kajiannya dimaksudkan
untuk menganalisis hubungan/pengaruh antar variabel yaitu Kepemimpinan
Situasional Kepala Sekolah (X1) dan Komunikasi Interpersonal Kepala Sekolah
(X2), Kinerja Guru (Y1), dan Nilai UN (Z).
1. Kepemimpinan Situasional.
Gaya kepemimpinan merupakan norma perilaku yang digunakan oleh
seorang pada saat orang tersebut mencoba mempengaruhi perilaku orang lain
seperti yang ia lihat. Dalam hal ini usaha menselaraskan persepsi diantara orang
yang akan mempengaruhi menjadi amat penting kedudukannya (Thoha, 2001;
303).
Pada awalnya studi kepemimpinan menggunakan sifat-sifat pribadi yang
menunjuk pada sifat bawahan sejak lahir seperti daya fisik, keakraban, kecerdasan
yang dianggap sebagai faktor penentu keberhasilan seorang pemimpin,
sebagaimana terungkap dalam teori-teori genetika, sosial dan ekologi. Selanjutnya
10
bergeser ke pendekatan situasional dengan fokus perhatian dan perilaku pemimpin
yang diamati.
Wahab, Abdul Azis (2008;120) menyatakan inti kepemimpinan adalah
mempengaruhi orang lain atau bawahan, tanpa bawahan pimpinan tidak akan ada.
Tetapi proses pengaruh antara pemimpin dan bawahan tidak searah. Pemimpin
mempengaruhi bawahan, tetapi bawahan juga mempunyai beberapa pengaruh
terhadap pimpinan.
Ada beberapa sumber pengaruh dari para pimpinan dan
sumber pengaruh dari bawahan.
Dalam pendekatan situasional telah
memunculkan berbagai tipe kepemimpinan, menurut Siagian Sondang P
(2003;27) menyebut gaya kepemimpinan otokratik, paternalistik, laissez taire dan
demokratik.
Seorang pemimpin dengan gaya kepemimpinan otokratik menganggap
bahwa organisasi bagian darinya. Dalam gaya ini pemimpin bertindak diktator,
bawahan hanya menjalankan perintah, tidak ada kesempatan untuk saran atau
pendapat. Kebalikan gaya otokratik adalah demokratik, bawahan diberi
kesempatan mengambil keputusan, memanusiakan manusia, kerjasama tinggi,
bertindak dengan arahan-arahan, tidak instruktif dan pemimpin bersedia menerima
saran serta kritik dari bawahan. Sedangkan gaya kepemimpinan paternalistic,
adalah kebapakan dimana bawahan jarang diberi kesempatan dalam mengambil
keputusan, pemimpin bersikap terlalu melindungi dan menganggap bawahan
sebagai manusia yang tidak/belum dewasa.
Munculnya teori kepemimpinan situasional sebagai ketidakpuasan atas
kegagalan studi-studi kepemimpinan perilaku dalam mengidentifikasi hubungan
11
yang konsisten antara pola perilaku pemimpin dan kenirja kelompok. Ada suatu
hal yang nampaknya hilang yaitu pertimbangan dari faktor-faktor situasional
(kontingensi)
yang
mempengaruhi keberhasilan atau kegagalan seorang
pemimpin.
Teori
kontingensi
mengidentifikasi
tiga
faktor
situasional
yang
menentukan sesuai tidaknya penerapan gaya kepemimpinan. Faktor-faktor itu
adalah hubungan antara pemimpin dan bawahan, struktur tugas dan kekuatan
posisi. Penelitian yang dilakukan oleh Feidler mengungkapkan bahwa gaya
kepemimpinan yang paling efektif tergantung pada situasi yang dirumuskan dalam
ketiga faktor tersebut di atas.
Di dalam penelitian ini penulis mengkaji kepemimpinan situasional.
Dalam teori pendekatan situasional, kepemimpinan yang efektif adalah bagaimana
seorang pemimpin dapat mengetahui keadaan baik kemampuan ataupun sifat dari
anak buah yang di pimpinnya untuk kemudian pemimpin dapat menentukan
perintah atau sikap terhadap anak buah sesuai dengan keadaan atau pun
kemampuan anak buahnya.
Selanjutnya gaya kepemimpinan situasional dibagi menjadi:
1. Gaya
menyampaikan
informasi
(telling),
dimana
seorang
pemimpin
memberitahukan pada bawahan mengenai apa, bagaimana, bilamana dan
dimana kegiatan pekerjaan ini dilaksanakan.
2. Gaya membimbing (selling), dimana seorang pemimpin berperilaku menjual
artinya pekerjaan telah dirumuskan dengan tegas dan hubungan pemimpin
dengan bawahan bersifat intensif. Pemimpin memberi petunjuk-petunjuk
12
pelaksanaan sehingga mendukung semangat kerja para bawahan. Dengan
demikian penyelesaian pekerjaan dapat dilaksanakan dengan baik.
3. Gaya
peran
serta
(participating),
dimana
seorang
pemimpin
dalam
melaksanakan tugasnya hanya dengan mengajak bawahan berperan sebagai
fasilitator untuk memperlancar tugas para bawahan antara lain dilakukan
dengan menggunakan saluran komunikasi yang ada secara efektif.
4. Gaya pendelegasian (delegating), dimana seorang pemimpin membatasi diri
dalam hal ini memberikan pengarahan dan menyerahkan pelaksanaan
pekerjaan kepada para bawahan tanpa banyak campur tangan. (Thoha, 2001;
318).
2. Komunikasi Interpersonal.
Konflik interpersonal erat hubungannya dengan kenyataan bahwa belum
bisa menerima diri kita, orang lain, maupun perbedaan yang ada. Untuk dapat
memiliki kemampuan komunikasi dan interpersonal yang baik, penerimaan diri
adalah langkah pertama dan paling esensial. Berdoa, meditasi, yoga, membaca,
atau beristirahat, merupakan beberapa contoh langkah untuk menerima diri
dengan jalan menjaga keseimbangan antar aksi dan reaksi diri terhadap dunia.
Satu cara yang sering saya lakukan untuk tetap berada dalam kendali adalah
berbicara kepada diri sendiri.
Dapat dibedakan dalam dua pola tipe komunikasi yakni tipe komunikasi
verbal dan tipe komunikasi non verbal. Tipe komunikasi verbal yakni tipe
komunikasi dengan menggunakan bahasa, sedang tipe komunikasi non verbal
yaitu tipe komunikasi dengan menggunakan bahasa tubuh.
13
Komunikasi adalah dialog verbal maupun non verbal yang dilakukan oleh
manusia. Komunikasi terjadi setiap saat baik dengan dirinya sendiri maupun
dengan orang lain. Komunikasi antar individu dikenal dengan komunikasi
interpersonal.
Rakhmat, Jalaluddin (1994: 13) menyatakan "Komunikasi yang efektif
menimbulkan lima hal, yaitu pengertian, kesenangan, pengaruh pada sikap,
hubungan yang makin baik dan tindakan." komunikasi yang dilakukan untuk
mempengaruhi sikap orang lain sering disebut komunikasi persuasive. Dalam
komunikasi
ini diperlukan pemahaman tentang
faktor-faktor pada diri
komunikator dan pesan yang menimbulkan efek pada komunikan. Persuasif
adalah proses mempengaruhi pendapat, sikap, dan tindakan orang dengan
menggunakan pendekatan psikologis sehingga orang tersebut bertindak seperti
yang kita kehendaki. Pentingnya komunikasi dalam hubungannya dengan
pekerjaan ditunjukkan oleh banyaknya waktu yang dipergunakan untuk
berkomunikasi dalam pekerjaan, komunikasi ibarat darah organisasi yang
menghubungkan bagian-bagian yang terpisah dalam suatu unit kerja.
Rakhmat Jalaluddin (1994:3) Definisi komunikasi adalah "the process by
which ab individual/the communicatory transmit stimuli (usually verbal) ".
Artinya bahwa komunikasi adalah usaha menimbulkan respon melalui lembagalembaga. Fungsi komunikasi bisa berupa informatif, edukatif, persuasif, dan
rekreatif.
Komunikasi
interpersonal
dinyatakan
efektif
apabila
pertemuan
komunikasi merupakan hal yang menyenangkan bagi komunikan, bila hal ini
14
terjadi maka komunikasi lebih efektif dan saling menyukai. Banyak hal yang
menyebabkan komunikasi menjadi efektif akan tetapi yang lebih penting adalah
hubungan personal yang terbagi menjadi beberapa bentuk. Gitosudarmo, Indriyo
(2001;205) menyatakan bahwa komunikasi interpersonal (sambung rasa antar
manusia) adalah komunikasi yang berbentuk tatap muka (face-to-face).
Komunikasi ini sangat penting bagi pemimpin dalam rangka mempengaruhi atau
menanamkan pengaruhnya kepada anggota kelompok atau bawahannya.
Komunikasi interpersonal ini meliputi karakteristik yang berupa unsure-unsur
tukar pikiran/temu wicara dan pemantauan terhadap perkembangan penerimaan
informasi yang disampaikan oleh atasan kepada bawahannya.
Kondisi seperti diatas menandakan bahwa komunikasi antar individu atau
sering dikenal dengan komunikasi interpersonal merupakan suatu urgen dalam
kehidupan manusia.
Antara komunikasi dengan kepemimpinan terdapat hubungan yang sangat
erat. Dengan komunikasi dua arah akan dapat mengurangi ketidakpastian.
Demikian juga komunikasi dalam organisasi memungkinkan adanya mekanisme
balikan dan pimpinan akan memperoleh informasi yang akurat tentang
pelaksanaan suatu kegiatan dan akibat yang mungkin terjadi. Seorang pemimpin
yang baik senantiasa ingin mengetahui bagaimana orang berpikir tentang dirinya,
hal ini dapat diketahui pada saat ia berkomunikasi
Berbagai pandangan tentang indikasi komunikasi interpersonal yang
efektif, pada umumnya efektivitas komunikasi interpersonal ditandai dengan
adanya keakraban atau kedekatan, kepekaan, saling mendengar, saling merespon,
15
saling mendukung, dan rnengerti perasaan, antara komunikator dengan
komunikan. Menurut Gitosudarmo (2001: 217) bahwa, "komunikasi yang efektif
tergantung pada kualitas prosesnya dan dapat ditingkatkan dengan cara
meningkatkan umpan balik, empati, pergaulan, bahasa dan waktu yang efektif,
mendengar secara efektif, dan mengatur arus informasi"
Dengan
demikian
dapat
disimpulkan
bahwa
yang
komunikasi
interpersonal adalah hubungan kerja anatara kepala sekolah dengan bawahannya
dalam bentuk verbal dan non verbal. Komunikasi intrapribadi atau Kornunikasi
interpersonal adalah penggunaan bahasa atau pikiran yang terjadi di dalam diri
komunikator sendiri. Komunikasi intrapersonal merupakan keterlibatan internal
secara aktif dari individu dalam pemprosesan simbolik dari pesan-pesan, maka
seorang individu menjadi pengirim sekaligus penerima pesan, memberikan umpan
balik bagi dirinya sendiri dalam proses internal yang berkelanjutan.Komunikasi
intrapersonal dapat menjadi pemicu bentuk komunikasi yang lainnya.
Pengetahuan mengenai diri pribadi melalui proses-proses psikologis
seperti persepsi dan kesadaran (awareness) terjadi saat berlangsungnya
komunikasi intrapribadi oleh komunikator. Untuk memahami apa yang terjadi
ketika orang saling berkomunikasi, maka seseorang perlu untuk mengenal diri
mereka sendiri dan orang lain. Karena pemahaman ini diperoleh melalui proses
persepsi. Maka pada dasarnya letak persepsi adalah pada orang yang
mempersepsikan, bukan pada suatu ungkapan ataupun obyek. Aktifitas dari
komunikasi intrapribadi yang kita lakukan sehari-hari dalam upaya memahami
diri pribadi.
16
3. Kinerja Guru.
Pada umumnya jika seseorang melakukan sesuatu, jelas ada tujuan sesuatu
yang hendak dicapainya. Tujuan yang hendak dicapai salah satunya adalah hasil
kerja atau disebut kinerja.
Istilah kinerja berasal dari kata Job Performance atau Actual Performance
(prestasi kerja atau prestasi sesungguhnya yang dicapai oleh seseorang).
Pengertian Kinerja (Prestasi Kerja) adalah hasil kerja secara kualitas dan kuantitas
yang dicapai oleh seorang pegawai dalam melaksanakan tugasnya sesuai dengan
tanggungjawab yang diberikan kepadanya.
Guru adalah kondisi yang diposisikan sebagai garda terdepan dan posisi
sentral di dalam pelaksanaan proses pembelajaran. Berkaitan dengan itu, maka
guru akan menjadi bahan pembicaraan banyak orang, dan tentunya tidak lain
berkaitan dengan kinerja dan totalitas dedikasi dan loyalitas pengabdiannya.
Sorotan tersebut lebih bermuara kepada ketidakmampuan guru didalam
pelaksanaan proses pembelajaran, sehingga bermuara kepada menurunnya mutu
pendidikan. Kalaupun sorotan itu lebih mengarah kepada sisi-sisi kelemahan pada
guru, hal itu tidak sepenuhnya dibebankan kepada guru, dan mungkin ada system
yang berlaku, baik sengaja ataupun tidak akan berpengaruh terhadap
permasalahan tadi.
Seorang guru yang memiliki kinerja yang tinggi dan baik dapat menunjang
tercapainya tujuan dan sasaran yang telah ditetapkan oleh lembaga pendidikan.
Untuk dapat dimiliki kinerja yang tinggi dan baik, seorang guru dapat
17
melaksanakan pekerjaannya harus memiliki keahlian dan ketrampilan yang sesuai
dengan pekerjaan yang ditekuninya.
Untuk mengetahui kinerja guru maka perlu diadakan penilaian terhadap
kinerja itu sendiri, dari penilaian itu dapat diketahui apakah kinerja yang
dihasilkan oleh guru telah memenuhi standart atau tidak. Dengan melakukan
penilaian kinerja guru, lembaga pendidikan dapat memperoleh informasi tentang
kinerja guru yang dapat digunakan untuk memperbaiki kinerja dari gurunya, untuk
lebih memotivasi guru agar mau mengembangkan diri, serta sebagai dasar
perencanaan dalam pengambilan keputusan.
Kinerja merupakan suatu tingkat peranan anggota organisasi dalam
mencapai tujuan organisasi. Peranan yang dimaksud adalah setiap kegiatan yang
menghasilkan suatu akibat, pelaksanaan suatu tindakan, tingkat penyelesaian
suatu pekerjaan dan bagaimana guru bertindak dalam menjalankan tugas yang
diberikan.
Sifat yang dimiliki guru umumnya berlangsung lama dan tetap sepanjang
waktu seperti sopan santun, ramah, berpenampilan yang rapi. Tetapi adanya
perubahan dan campur tangan dari pihak lain maka akan dapat mempengaruhi
kinerja daripada seseorang.
Menurut Sa`ud, Udin Syaefuddin (2009:16) menyebutkan bahwa, khusus
untuk jabatan guru mempunyai kreteria sebagai berikut;
1.
2.
3.
4.
Jabatan yang melibatkan intelektual.
Jabatan yang meggeluti suatu batang tubuh ilmu yang khusus.
Jabatan yang memerlukan persiapan professional yang lama.
Jabatan yang memerlukan `latihan dalam jabatan`
berkesinambungan.
yang
18
5. Jabatan yang menjanjikan karier hidup dan keanggotaan yang
permanen.
6. Jabatan yang menentukan baku (standar) sendiri.
7. Jabatan yang lebih mementingkan layanan diatas keuntungan pribadi.
8. Jabatan yang mempunyai organisasi professional yang kuat dan terjalin
erat.
Kinerja seseorang dalam melaksanakan pekerjaan juga ditimbulkan dan
dipengaruhi oleh tingkat kemampuan yang dimiliki oleh setiap guru. Kemampuan
tersebut diperlukan untuk menyelesaikan tugas-tugas dalam pekerjaan dan
tanggungjawab guru tersebut.
Robbins, Stephen P (2008;86), “Ability is an individual capacity to perform
the various task in job”.Kemampuan menurut Robbins adalah kapasitas individual
untuk melakukan tindakan-tindakan dalam melaksanakan berbagai tugas dalam
pekerjaan. Dengan kemampuan yang dimiliki guru diharapkan akan mendukung
kegiatan guru yang juga akan mendukung kegiatan lembaga pendidikan, sehingga
akan terasa wajar apabila lembaga pendidikan memberi harapan pada guru agar
tujuan guru dalam bekerja dapat tercapai.
Kemampuan guru ditentukan oleh beberapa komponen, pertama adalah
pengetahuan. Setiap guru memiliki pengetahuan yang berbeda, tugas-tugas
tertentu yang akan dikerjakan membutuhkan pengetahuan yang berbeda pula, dan
setiap guru akan berusaha untuk menghubungkan antara pengetahuan yang
dimiliki dengan kebutuhan pekerjaan yang akan dilaksanakan. Guru berusaha
untuk mempertemukan pengetahuan yang dimiliki dengan kebutuhan pekerjaan,
jadi pengetahuan merupakan kelengkapan guru dalam memiliki segala keterangan
mengenai jenis pekerjaan yang dilakukan dalam menjalankan tugas sehari-hari.
19
Kedua adalah inisiatif, setiap pekerjaan membutuhkan inisiatif yang berbeda,
tergantung dari ragam pekerjaan yang dilaksanakan oleh guru.
Robbins, Stephen P (2008: 650) ada 3 kriteria untuk mengetahui kinerja
seseorang, yaitu :
1.
2.
3.
Individual task outcomes if ends count, rather than mean, then
management should evaluate an employee’s task outcomes. Using task
outcomes, a plant manager could be judged on criteria such as quality
produced, scrap generated and cost perunit of production.
Behaviour, it is difficult to identify specific outcomes that can be
directly attributable to an employee’s action. This is particularly true of
personnel in staff position and individuals whose work assignments are
intrinsically part of a group effort.
Traits, the weakest set of criteria yet one still widely used by
organizations, is individual traits Thea are weaker than either task
outcomes or behaviors because they are farthest removed from the
actual performance of the job itself.
Jadi motivasi bersama dengan kemampuan seseorang akan mempengaruhi
kinerjanya. Dengan adanya harapan guru tentang imbalan, pengalaman, hubungan
kerja yang baik, pelatihan dan promosi yang diberikan atas kinerja yang
meningkat, serta pekerjaan yang menarik, maka akan menimbulkan semangat
untuk melakukan pemilihan perilaku dalam melaksanakan pekerjaan dan untuk
menggunakan kemampuan sebaik mungkin dalam mencapai kinerja yang
diharapkan sekolah.
Setiap guru dalam lembaga pendidikan melaksanakan tugas sesuai dengan
yang diharapkan yang terungkap baik secara formal maupun informal sebagai
suatu penghargaan, yang dikomunikasikan secara terus menerus. Dalam
komunikasi tercakup janji-janji berupa penghargaan dan saksi sebagai
konsekuensi dapat terpenuhi atau setidaknya penghargaan guru. Penghargaan
20
tersebut tidak terlepas dari semangat dan kemampuan guru dalam mencapai
kinerja.
Secara konseptual kerangka berpikir penelitian dapat digambarkan sebagai
berikut:
Administrasi Pendidikan
Sumber Daya Manusia
Wilayah Penelitian
Kepemimpinan
Situasional
- Telling
- Selling
- Partisipasi
- Delegating
Perilaku
Kepemimpinan
Situasional
Kepala
Sekolah
Masalah
yang Tampak
- Adanya
- Penyampaia
Kepemimpina
n informasi
n yang
yang tidak
otoriter
jelas
- Kepemimpina - Pemberian
n yang tidak
sanksi yang
tahu
tidak sesuai
kemampuan
dengan
bawahan
kesalahan
- Terdapat
- Kedekatan
”gap”
dengan
kepemimpina
bawahan
n dengan guru
yang pilih
kasih
- Kurangnya semangat kerja
guru
- Adanya guru yang bersifat
apatis
- Pelaksanaan Pembelajaran
yang kurang optimal
Kinerja Guru
Mutu
Pendidikan
Bagan 1.1 Kerangka Pikir
-
-
Komunikasi
Interpersonal
Menyiapkan
ide/gagasan
Menegur dan
member
sangsi
bawahan
Menyampaika
n pesan
Kedekatan
dengan
bawahan
Pelaksanaan
Komunikasi
Interpersonal
Kepala
Sekolah
21
E. Asumsi
Dalam penelitian ini asumsi yang mendasari dari kerangka penelitian
dapat dikemukakan sebagai beriktu:
1. Kepala sekolah sebagai pimpinan lembaga pendidikan formal mempunyai
tugas dan tanggungjawab untuk mengelola sebagai sumber daya yang dimiliki
untuk mencapai tujuan pendidikan. Upaya untuk memberdayakan segala
sumber daya yang dimiliki oleh sekolah mencapai tujuan sekolah inilah yang
dinamakan dengan manajemen pendidikan (sebut sekolah), yang merupakan
bagian dari administrasi pendidikan secara keseluruhan.
2. Kepemimpinan Situasional merupakan kepemimpinan yang menerapkan
pemahaman
bawahan
dalam
menjalankan
peran
kepemimpinannya.
Penerapan prisnsip Situasional dalam mempengaruhi anggota organisasi
sekolah akan memberi dampak pada kinerja guru yang sejalan dengan prinsip
dan nilai serta kemampuan bawahannya.
3. Komunikasi yang baik sangat perlu bagi kegiatan organisasi yang efektif dan
sangat penitng bagi adminsitrator/manajer yang memungkinkan sebagian
besar waktu bekerjanya dengan suatu jenis komunikasi, begitu juga dengan
kepala sekolah sebagai manajer hasil berpikirnya yang cemerlang tidak ada
artinya jika tidak dikomunikasikan.
4. Setiap orang punya kapabilitas kreatif yang dapat berkembang dan
dikembangkan melalui pelatihan/pendidikan dan lingkungan yang kondusif.
“Everybody is born with creative abilities, creativity can be enhanced with a
positive attitude and suitable exercise”. (Philip C. Wankat, 1993).
22
F. Hipotesis Penelitian.
Berdasarkan rumusan masalah yang ada, dapat dirancang hipotesis sebagai
berikut:
1. Hipotesis Mayor I;
Kepemimpinan Situasional dan Komunikasi Interpersonal kepala sekolah
berpengaruh terhadap kinerja guru.
Sub Hipotesis I;
a. Terdapat pengaruh yang positif dan signifikan Kepemimpinan Situasional
Kepala Sekolah terhadap Kinerja Guru pada MTs di Kabupaten Kerinci.
b. Terdapat pengaruh yang positif dan signifikan Komunikasi Interpersonal
terhadap Kinerja Guru pada MTs di Kabupaten Kerinci.
c. Terdapat pengaruh yang positif dan signifikan Kepemimpinan Situasional
Kepala Sekolah terhadap Komunikasi Interpersonal kepala sekolah pada MTs
di Kabupaten Kerinci.
d. Terdapat pengaruh yang positif dan signifikan Kepemimpinan Situasional
dan Komunikasi Interpersonal Kepala Sekolah secara bersama-sama terhadap
Kinerja Guru pada MTs di Kabupaten Kerinci.
2. Hipotesis Mayor II;
Kepemimpinan Situasional dan Komunikasi Interpersonal kepala sekolah
dan kinerja guru terhadap prestasi belajar siswa.
Sub Hipotesis II;
23
a. Terdapat pengaruh yang positif dan signifikan Kepemimpinan Situasional
Kepala Sekolah terhadap prestasi belajar siswa pada MTs di Kabupaten
Kerinci.
b. Terdapat pengaruh yang positif dan signifikan Komunikasi Interpersonal
Kepala Sekolah terhadap prestasi belajar siswa pada MTs di Kabupaten
Kerinci.
c. Terdapat pengaruh yang positif dan signifikan Kinerja Guru terhadap prestasi
belajar siswa pada MTs di Kabupaten Kerinci.
d. Terdapat pengaruh yang positif dan signifikan Kepemimpinan Situasional,
Komunikasi Interpersonal Kepala Sekolah dan Kinerja Guru secara bersamasama terhadap prestasi belajar siswa pada MTs di Kabupaten Kerinci.
e. Terdapat pengaruh yang positif dan signifikan Prestasi Belajar Siswa dapat
dipengaruhi oleh adanya perbedaan jenis kelamin dan umur guru yang
mengajar mata pelajaran UN, skor Kepemimpinan Situasional, skor
Komunikasi Interpersonal Kepala Sekolah dan Kinerja guru pada MTs di
Kabupaten Kerinci.
G. Metode dan Lokasi Penelitian.
a. Metode
Penelitian ini difokuskan kepada kinerja guru yang mengajar mata
pelajaran yang diikutsertakan pada pelaksanaan Ujian Nasional (UN) pada akhir
tahun pelajaran, yaitu guru-guru yang mengajar mata pelajaran Matematika, IPA,
Bahasa Indonesia dan Bahasa Inggris di kelas XII pada tiap Madrasah Tsanawiyah
24
baik negeri maupun swasta yang ada dilingkungan Kantor Kementerian Agama
Kabupaten Kerinci.
Ada dua jenis data yang diperlukan dalam penelitian ini, yaitu data primer
yang diperoleh dari angket yang diedarkan pada guru yang mengajar mata
pelajaran yang diikutsertakan pada pelaksnaan UN yaitu tentang kepemimpinan
situasional kepala sekolah, komunikasi interpersonal kepala sekolah dan kinerja
guru. Sedangkan data sekunder merupakan kumpulan nilai yang diperoleh siswa
dalam mengikuti pelaksanaan UN tiga tahun terakhir, yaitu tahun pembelajaran
2006/2007, 2007/2008 dan 2008/2009.
Teknis analisis data dalam penelitian ini menggunakan analisis kuantitatif.
Data primer dianalisis untuk mendapatkan skor jawaban responden per pernyataan
maupun secara keseluruhan. Analisis kuantitatif dilakukan untuk menjawab
pertanyaan penelitian.
Analisis data dengan menggunakan Path Analysis dilakukan untuk
mengetahui pengaruh setiap variabel independen. Analisis regresi dilakukan untuk
mengetahui bagaimana variabel dependent dapat dipredikisi melalui variabel
independen atau prediktornya (Sugiyono,2007:243).
Sedangkan analisis regresi linier model multiple classification analysis
(MCA) digunakan untuk melihat pengaruh datanya bersumber dari nilai siswa
dengan variabel kontrolnya adalah jenis kelamin dan umur guru yang mengajar
pada empat mata pelajaran disetiap Madrasah Tsanawiyah yang ada dilingkungan
kantor kementerian agama kabupaten kerinci.
25
b. Lokasi Penelitian
Lokasi yang akan dijadikan sebagai tempat pada penelitian ini adalah
MTs di lingkungan Kantor Kementerian Agama Kabupaten Kerinci baik Negeri
maupun Swasta yang tersebar pada 18 kecamatan yang berjumlah 12 Madrasah
Tsanawiyah. Sedangkan sumber data penelitian ini adalah Guru Kelas III bidang
studi UN (Ujian Nasional) yang terdiri dari guru bidang studi: Matematika, Ilmu
Pengetahuan Alam, Bahasa Indonesia dan Bahasa Inggris. Jumlah guru yang
mrngajar mata pelajaran UN di 12 Madrasah Tsanawiyah negeri maupun swasta
seluruhnya terdapat 48 orang.
Download