Upaya Meningkatkan Hasil Belajar Matematika Melalui Pemberian

advertisement
BAB II
KAJIAN PUSTAKA
2.1
Kajian Teori
2.1.1
Ganjaran
2.1.1.1 Pengertian Ganjaran
Ganjaran adalah suatu alat pendidikan untuk mendorong anak didik agar dapat
terus mengerjakan perbuatan itu, ataupun suatu penghargaan yang diberikan dengan
maksud tujuan tertentu. Djamarah (2003) Penguatan atau reinforcement adalah semua
peristiwa yang terjadi dalam rentang waktu yang terdekat untuk meningkatkan
kecenderungan pengulangan respon yang telah dilakukan.
Prayitno (2002:34) penguatan (reinforcement) adalah respon terhadap suatu
tingkah laku yang dapat meningkatkan kemungkinan berulangnya tingkah laku tersebut.
Memberikan penguatan ini kelihatannya sangat sederhana, namun mempunyai pengaruh
yang sangat penting bagi siswa. Bayangkan seandainya siswa telah berusaha untuk
menunjukkan pekerjaan yang baik, akan tetapi guru bersikap acuh tanpa memberi
komentar apapun, dapat membuat siswa patah semangat. Penghargaan dari guru
sebenarnya tidak berat, cukup dengan anggukan, senyuman, pujian atau bahkan acungan
ibu jari, namun kenyataannya masih banyak yang tidak melakukannya.
Thorndike, berpendapat bahwa tingkah laku manusia dikendalikan oleh ganjaran
atau penguatan (reinforcement) dari lingkungan. Dengan demikian dalam tingkah laku
belajar terdapat jalinan yang erat antara reaksi tingkah laku dengan rangsangan (stimulus).
Prasetyo (2007: 22) menyatakan bahwa komponen-komponen dalam ganjaran
atau penguatan adalah sebagai berikut:
1. Penguatan Verbal
Penguatan Verbal dapat dinyatakan dalam dua bentuk, yaitu:
a. Kata-kata seperti : bagus,baik, hebat, wah bagus sekali dan sebagainya.
b. Kalimat seperti : pekerjaanmu baik sekali saya senang dengan pekerjaanmu, inilah
pertanyaan yang bagus.
5
6
2. Penguatan dengan cara mendekati
Penguatan yang dilakukan dengan cara mendekatnya guru kepada siswa untuk
menyatakan perhatian dan kesenangannya terhadap pekerjaan, tingkah laku, atau
penampilan siswa. Cara pelaksanaannya antara lain:
a. Berdiri disamping siswa.
b. Berjalan menuju kearah siswa.
c. Duduk dekat seorang atau kelompok.
3. Penguatan dengan sentuhan
Penguatan ini dilakukan dengan cara :
a. menepuk bahu.
b. Menjabat tangan.
c. Membelai rambut/mengusap kepala.
Beberapa pertimbangan dalam penggunaan penguatan dengan sentuhan, yaitu:
Umur, jenis kelamin, latar belakang kebudayaan.
4. Penguatan dengan kegiatan yang menyenangkan
Memberikan kegiatan-kegiatan atau tugas-tugas yang disenangi siswa.
5. Penguatan berupa simbol atau benda
Simbol misalnya : dengan tanda (V), komentar tertulis pada buku siswa.
Benda : gambar, buku, bintang plastik dsb.
Tindakan guru yang tidak segera menyatakan jawaban/pekerjaan siswa yang belum
benar, atau baru sebagian benar misalnya :
a. Ya jawabanmu sudah baik, tetapi masih perlu disempurnakan sedikit.
b. Ah, pekerjaanmu bagus, coba sekarang diperhalus sedikit.
Melalui uraian beberapa para para ahli diatas penguatan adalah stimulus yang
mendorong individu agar berulang kembali tingkah laku untuk meningkatkan kemungkinan
timbulnya sejumlah respon yang dikehendakinya. Respon adalah stimulus yang
mendorong individu untuk meningkatkan kemungkinan timbulnya sejumlah respon yang
dikehendaki.
6. Penguatan Gestural
7
Yaitu Penguatan berupa gerak tubuh atau mimik muka yang memberi arti/kesan baik
kepada peserta didik. Penguatan gestural dapat berupa tepuk tangan, acungan
jempol, anggukan tersenyum, dan sebagainya.
Burrush Frederich Skinner dalam Slameto (2003) menyatakan ganjaran atau
penguatan mempunyai peranan yang sangat penting dalam proses belajar. Terdapat
perbedaan antara ganjaran dan penguatan. Ganjaran merupakan proses yang sifatnya
menggembirakan dan merupakan tingkah laku yang sifatnya subjektif, sedangkan
penguatan merupakan sesuatu yang mengakibatkan meningkatnya kemungkinan suatu
respon dan lebih mengarah kepada hal-hal yang sifatnya dapat diamati dan diukur.
Skinner juga berpendapat bahwa penguatan dibagi atas dua bagian yaitu,
penguatan positif dan penguatan negatif. Penguatan merupakan stimulus positif, jika
penguatan tersebut seiring dengan meningkatnya perilaku anak didik dalam melakukan
pengulangan perilaku tersebut. Jadi penguatan yang diberikan kepada anak didik
memperkuat tindakan anak didik, sehingga anak didik cenderung untuk sering
melakukannya. Contoh penguatan positif antara lain pujian pada saat anak didik
menjawab benar atau mendapat nilai tinggi.
Pada pembelajaran matematika baik penguatan positif maupun ganjaran sangat
diperlukan anak didik. Keduanya merupakan motivasi positif dalam belajar matematika.
Dalam percobaan strategi pembelajaran matematika melalui lomba dan hadiah bagi
pemenang, yang dikenakan pada beberapa mahasiswa PGSD UPPI UNNES yang
bermasalah (enggan mengikuti kuliah, tidak mau mengerjakan tugas kelompok, prestasi
rendah, dsb) pada tahun 2004, hasilnya sebagai berikut:
a. Semuanya senang dengan pembelajaran matematika yang baru dilaksanakan.
b. Mereka mengharapkan untuk sering melaksanakan pembelajaran dengan strategi
tersebut, baik yang tidak mendapat hadiah, terlebih yang mendapat hadiah.
c. Ada perubahan tingkah laku mereka pada pertemuan-pertemuan selanjutnya yaitu
menjadi lebih aktif mengikuti kegiatan di kelas, bergairah/bersemangat pada
perkuliahan matematika, mau melaksanakan tugas kelompok bersama temannya, dan
menjadi rajin mengikuti kuliah matematika
d. Prestasi mereka pada mata kuliah matematika naik.
8
Meskipun contoh penguatan tersebut dikenakan pada mahasiswa, hasilnya tidak
akan jauh berbeda jika dikenakan pada anak SD. Contoh tersebut selaras dengan
pendapat Skinner, bahwa penguatan penguatan akan berbekas pada anak didik. Mereka
yang mendapat pujian setelah berhasil menyelesaikan tugas atau dapat menjawab
pertanyaan biasanya akan berusaha memenuhi tugas berikutnya dengan penuh
semangat. Penguatan yang berbentuk hadiah atau pujian akan memotivasi anak didik
untuk rajin belajar dan untuk mempertahankan prestasi yang diraihnya.
Oleh sebab penguatan akan berbekas pada anak didik, sedangkan hasil
penguatan diharapkan positif, maka penguatan yang yang diberikan harus teralamatkan
pada respon anak didik yang benar. Jangan memberikan penguatan atas respon anak
didik, jika respon tersebut sebenarnya tidak perlu dilakukan.
2.1.1.2 Bentuk-bentuk Ganjaran
Fathleen Sri Wardani (1992) menyatakan bahwa ada lima kategori utama bentuk
ganjaran yang mudah diperoleh dalam kelas. Adapun kategori bentuk ganjaran adalah :
1. Ganjaran berupa pujian
Guru memberi kata-kata yang mengembirakan (pujian) seperti, “Rupanya sudah baik
pula tulisanmu, namun kalau kamu terus berlatih, tentu akan lebih baik lagi”. Bagus
sekali hasil pekerjaanmu, tingkatkan!
2. Ganjaran berupa aktivitas
Pekerjaan dapat juga menjadi suatu ganjaran. Contoh “Engkau akan kuberi soal
sedikit yang lebih sukar sedikit, Andi karena yang nomor 3 ini rupa-rupanya agak
terlalu baik engkau kerjakan. Jika kamu aktif menjawab soal ini akan saya beri kamu
kesempatan istirahat lebih awal.
3. Ganjaran berupa benda
Ganjaran dapat juga berupa benda-benda yang menyenangkan dan berguna bagi
anak-anak. Misalnya pensil, buku tulis, permen, gula-gula atau makanan lain.
4. Ganjaran berupa tanda kredit
Ganjaran ini tidak bernilai tinggi tetapi kelak dapat ditukarkan dengan sesuatu yang
berharga.
9
Ganjaran yang dimaksud dalam penelitian ini adalah ganjaran berupa benda yaitu
memberi “bintang” plastik kepada siswa yang dapat menjawab pertanyaan yang
disampaikan guru maupun siswa yang memperoleh nilai terbaik saat tes formatif. Selain itu
ganjaran berupa bukan kebendaan berupa pujian dengan mengucapkan kata “hebat” pada
siswa yang dengan tepat menjawab pertanyaan guru atau pun siswa yang paling cepat
dan benar menjawab pertanyaan yang disampaikan guru saat pembelajaran berlangsung.
Pemberian ganjaran tersebut dimaksudkan untuk menumbuhkan motivasi pada anak,
mengingat selama ini pembelajaran matematika menjadi pelajaran yang dianggap paling
sulit bagi siswa. Melalui pemberian ganjaran tersebut siswa termotivasi untuk belajar
karena ingin mendapatkan ganjaran baik berupa benda maupun bukan benda.
2.1.1.3 Tujuan Pemberian Ganjaran
Prasetyo (2007:21) menyatakan bahwa ada empat tujuan diberikan penguatan,
adalah sebagai berikut :
1. Meningkatkan perhatian siswa
2. Membangkitkan dan memelihara motivasi siswa
3. Memudahkan siswa belajar
4. Mengontrol dan memodifikasi tingkah laku siswa yang kurang positif serta mendorong
munculnya tingkah laku yang produksi.
Menurut Sudjana (2004) penghargaan pendidik terhadap anak didik mempunyai
nilai pendidikansebagai beikut:
1. Dari hal yang menyebabkan anak didik memperoleh penghargaan, anak didik
mengetahui norma-norma kehidupan yang baik;
2. Penghargaan memupuk rasa suka pada perbuatan atau norma yang baik dan
memperbesar semangat berbuat luhur, lebih-lebih kalau penghargaan berasal dari
pendidik yang dihormati dan disayangi anak didik;
3. Penghargaan yang akan diterima menolong kata hati anak didik menjatuhkan
pilihannya pada motif yang tepat pada waktu anak didik mengalami perjuangan motif;
4. Di dalam pendidikan sosial rumah tangga, di sekolah maupun di dalam masyarakat
pemberian penghargaan menimbulkan suasana gembira;
10
5. Penghargaan memperkeras kemauan anak didik melaksanakan perbuatan luhur yang
telah ia pilih;
6. Penghargaan mempertinggi prestasi perbuatan anak didik dan rombongan sosialnya.
2.1.1.4.
Pengaruh Pemberian Ganjaran Terhadap Psikologis Anak
Penghargaan merupakan motivator yang jauh lebih berkhasiat dari pada celaan,
hukuman atau ujian ulangan. Pada umunya jiwa anak melihat bahwa pujian guru itu
sebagai sumber mendapatkan kepuasan, maka tindakan guru itu akan menjadi pendorong
untuk terjadinya tingkah laku (Nasution, 1998). Ganjaran dapat memperteguh respon yang
baru dengan mengasosiasikan pada stimulus tertentu secara berkali-kali, Skinner
menyebutkan hal ini dengan reinforcement, misalnya bila setiap anak menyebut kata yang
sopan kita segera memujinya, kelak anak itu akan mencintai kata-kata yang sopan dalam
komuikasinya.
Penghargaan perlu diberikan secara adil, tanpa membedakan anak didik, asal
padanya ada kerajinan, kesungguhan dan ketekunan berusaha. Ketidakadilan dalam
pemberian penghargaan dapat menimbulkan perpecahan dalam lingkungan pendidikan
(Willis, 2008). Hal tersebut dimaksudkan agar tidak timbul persepsi dalam diri siswa akan
berperilaku keliru agar mendapat ganjaran. Hal ini tidak akan terjadi, bila guru menguasai
keadaan dan menentukan harapan berikut konsekuensinya. Bentuk manipulasi perilaku ini
hanya akan timbul jika guru tidak bersikap konsisten. Perilaku ini juga akan meningkat jika
anak berada di atas angin, yaitu jika dibiarkan memanipulasi keadaan untuk keuntungan
pribadinya.
Guru harus selalu bersikap konsisten dan memegang kendali untuk dapat
menghindarkan tumbuhnya perilaku yang manipulatif. Guru harus konsekuen dengan apa
yang sudah dikatakan dan harus menentukan peraturan berikut konsekuensinya.
Meskipun guru memegang kendali, sebetulnya peserta didik sendirilah yang menentukan
apa yang akan terjadi atas dirinya. Ini dapat dicapai dengan mencanangkan peraturan atau
perilaku yang diharapkan berikut dengan konsekuensinya.
11
2.1.2 Pembelajaran Matematika
2.1.2.1 Pengertian Pembelajaran Matematika
Menurut Bruner (Purwanto, 2006:56) belajar matematika adalah belajar tentang
konsep-konsep dan struktur-struktur matematika yang terdapat dalam materi yang
dipelajari serta mencari hubunga-hubungan antara konsep-konsep struktur-struktur
matematika.
Pemahaman terhadap konsep dan stuktur suatu materi menjadikan materi itu
mudah dipahami secara komprehensif. Selain itu anak didiklebih mudah mengingat materi
bila yang dipelajari mempunyai pola terstruktur. Dengan memahami konsep dan struktur
akan mempermudah terjadinya transfer.
Dalam belajar, Bruner hampir selalu memulai dengan memusatkan manipulasi
material. Anak didik harus menemukan keteraturan dengan cara pertama-tama
memanipulasi material yang sudah dimiliki oleh anak didik. Berarti anak didik dalam belajar
haruslah terlibat aktif mentalnya yang dapat diperlihatkan dari keaktifan fisiknya. Bruner
melukiskan anak-anak berkembang melalui tiga tahap perkembangan mental, yaitu:
a. Tahap enaktif
Pada tahap ini, dalam belajar anak didik menggunakan atau memanipulasi objek-objek
secara konkret secara langsung.
b. Tahap ikonik
Pada tahap ini kegiatan anak didik mulai menyangkut mental yang merupakan
gambaran dari objek-objek konkret. Anak didik tidak memanipulasi langsung objekobjek konkret seperti pada tahap enaktif, melainkan sudah dapat memanipulasi
dengan memakai gambaran dari objek-objek yang dimaksud.
c. Tahap simbolik
Tahap ini merupakan tahap memanipulasi simbol-simbol secara langsung dan tidak
lagi ada kaitannya dengan objek-objek.
Pembelajaran matematika menurut Suherman (2006) adalah proses pemberian
pengalaman belajar kepada siswa melalui serangkaian kegiatan yang terencana sehingga
siswa memperoleh kompetensi tentang bahan matematika yang dipelajari. Salah satu
komponen yang menentukan ketercapaian kompetensi adalah penggunaan strategi
matematika, yang sesuai dengan (1) topik yang sedang dibicarakan, (2) tingkat
12
perkembangan intelektual siswa, (3) prinsip dan teori belajar, (4) keterlibatan siswa secara
aktif, (5) keterkaitan dengan kehidupan siswa sehari-hari, (6) pengembangan dan
pemahaman penalaran matematis.
Untuk mendukung usaha pembelajaran yang mampu menumbuhkan kekuatan
matematika diperlukan guru yang profesional dan kompeten, yaitu guru yang menguasai
pembelajaran matematika, memahami karakteristik belajar siswa dan dapat membuat
keputusan perencanaan dan pelaksanaan pembelajaran. Beberapa komponen dalam
standar guru matematika yang profesional menurut Suherman (2006) adalah: (1)
penguasaan dalam pembelajaran matematika, (2) penguasaan dalam pelaksanaan
evaluasi pembelajaran matematika, (3) penguasaan dalam pengembangan profesional
guru matematika, dan (4) penguasaan tentang posisi penopang dan pengembang guru
matematika dalam pembelajaran matematika. Guru matematika yang profesional dan
kompeten mempunyai wawasan landasan yang dapat dipakai dalam perencanaan dan
pelaksanaan pembelajaran matematika.
2.1.2.2 Tujuan Pembelajaran Matematika di SD
Belajar matematika merupakan tentang konsep-konsep dan struktur abstrak yang
terdapat dalam matematika serta mencari hubungan antara konsep-konsep dan struktur
matematika. Belajar matematika harus melalui proses yang bertahan dari konsep yang
sederhana ke konsep yang lebih kompleks. Setiap konsep matematika dapat dipahami
dengan baik jika pertama-tama disajikan dalam bentuk konkrit. Russeffendi
dalam
Slameto (2003) mengungkapkan bahwa alat peraga adalah alat untuk menerangkan/
mewujudkan konsep matematika sehingga materi pelajaran yang disajikan mudah
dipahami oleh siswa.
Salah satu dari Standar Kompetensi Lulusan SD pada mata pelajaran matematika
yaitu, memahami konsep bilangan pecahan, perbandingan dalam pemecahan masalah,
serta penggunaannya dalam kehidupan sehari-hari (Depdiknas, 2006). Berdasarkan uraian
tersebut dapat dikatakan bahwa pemahaman guru tentang hakekat pembelajaran
matematika di SD dapat merancang pelaksanaan proses pembelajaran dengan baik yang
sesuai dengan perkembanagan kognitif siswa, penggunaan media, metode dan
13
pendekatan yang sesuai pula. Sehingga guru dapat menciptakan suasana pembelajaran
yang kondusif serta terselenggaranya kegiatan pembelajaran yang efektif.
Tujuan pembelajaran matematika di SD dapat dilihat di dalam kurikulum tingkat
satuan pendidikan 2006 SD. Mata pelajaran matematika bertujuan agar peserta didik
memiliki kemampuan sebagai berikut, (1) memahami konsep matematika, menjelaskan
keterkaitan antar konsep dan mengaplikasikan konsep atau algortima, secara luwes,
akurat, efesien, dan tepat dalam pemecahan masalah, (2) menggunakan penalaran pada
pola dan sifat, melakukan manipulasi matematika dalam membuat generalisasi, menyusun
bukti, atau menjelaskan gagasan dan pernyataan matematika, (3) memecahkan masalah
yang meliputi kemampuan memahami masalah, merancang model matematika,
menyelesaikan model dan menafsirikan solusi yang diperoleh, (4) mengkomunikasikan
gagasan dengan simbol, tabel, diagram, atau media lain untuk memperjelas keadaan atau
masalah, (5) memiliki sikap menghargai kegunaan matematika dalam kehidupan, yaitu
memiliki rasa ingin tahu, perhatian dan minat dalam mempelajari matematika sifat-sifat ulet
dan percaya diri dalam pemecahan masalah (Depdiknas, 2006).
Selain tujuan umum yang menekankan pada penataan nalar dan pembentukan
sikap siswa serta memberikan tekanan pada ketrampilan dalam penerapan matematika
juga memuat tujuan khusus matematika SD yaitu: (1) menumbuhkan dan
mengembangkan ketrampilan berhitung sebagai latihan dalam kehidupan sehari-hari, (2)
menumbuhkan kemampuan siswa, yang dapat dialihgunakan melalui kegiatan
matematika, (3) mengembangkan kemampuan dasar matematika sebagai bekal belajar
lebih lanjut, (4) membentuk sikap logis, kritis, cermat, kreatif dan disiplin (Depdiknas,
2006).
2.1.2.3 Ruang Lingkup Pengajaran Matematika SD
Mata pelajaran matematika pada satuan pendidikan sekolah dasar meliputi aspekaspek sebagai berikut: (1) bilangan, (2) geomteri, (3) pengolahan data (Depdiknas, 2006).
Cakupan bilangan antara lain bilangan dan angka, perhitungan dan perkiraan. Cakupan
geometri antara lain bangun dua dimensi, tiga dimensi, tranformasi dan simetri, lokasi dan
susunan berkaitan dengan koordinat. Cakupan pengukuran berkaitan dengan
perbandingan kuantitas suatu obyek, penggunaan satuan ukuran dan pengukuran.
14
Materi pecahan di kelas IV merupakan materi yang baru, sehingga membutuhkan
metode pembelajaran yang tepat dalam pelaksanaan pembelajaran. Bilangan pecahan
yang digunakan oleh penulis menggunakan materi pelajaran matematika kelas IV Sekolah
Dasar. Materi tersebut masih merupakan materi yang cukup sulit untuk dipahami siswa.
Bilangan pecahan dalam pembelajarannya harus menggunakan alat peraga dan metode
pembelajaran yang tepat, karena siswa akan lebih mudah memahaminya dan tidak cepat
lupa.
Menurut Ichsan (2005) dalam bukunya yang berjudul Pembelajaran Pecahan di
SD. Pecahan atau bilangan pecah mempunyai dua pengertian yaitu :
1. Bilangan untuk menyatakan banyaknya bagian dari suatu benda utuh yang dibagi
menjadi dua bagian-bagian yang sama besar.
2. Bilangan untuk menyatakan suatu bilangan.
Dalam penelitian ini pokok bahasan yang diteliti adalah pokok bahasan arti
pecahan dan urutannya. Materi pecahan di kelas IV merupakan materi kelanjutan dari
kelas III. Materi pecahan di kelas III masih berupa materi pengenalan pembilang dan
penyebut pada semester II, sehingga saat di kelas IV siswa masih banyak yang belum
memahami materi tersebut. Ichsan (2005) memberi contoh pada siswa yang sering
dijumpai sehari-hari dengan menggunakan apel, roti, telur asin, untuk mengenalkan
pecahan 1/2, 1/3, 1/4, 1/6 dan lain sebagainya.
2.1.2.4 Fakor-Faktor Yang Mempengaruhi Anak dalam Hasil Belajar Matematika
Beberapa faktor yang mempengaruhi hasil belajar :
1. Faktor intern
Faktor intern adalah faktor yang berada di dalam diri anak didik yang sedang belajar.
Faktor intern dikelompokkan menjadi tiga faktor, yaitu faktor jasmaniah (tubuh),
psikologis, dan kesehatan.
a. faktor jasmani (tubuh)
Faktor jasmani yang dapat mempengaruhi anak dalam belajar matematika ditinjau
dari faktor kesehatan dan cacat tubuh. (Slameto, 2003:54-55)
1) Faktor kesehatan
15
Sehat berarti dalam keadaan baik segenap badan beserta bagian-bagiannya, atau
bebas dari penyakit. Kesehatan adalah keadaan atau hal sehat. Kesehatan seorang anak
berpengaruh terhadap belajarnya.
Proses belajar seorang anak akan terganggu jika kesehatannya terganggu. Ia
akan cepat lelah, kurang bersemangat, pusing, ngantuk ,lemah, dan sebagainya. Keadaan
tersebut menyebabkannya malas berpikir, terutama melakukan operasi hitung dan
semacamnya, serta malas melakukan kegiatan matematika. Dari hasil angket terbuka
yang diajukan kepada 38 mahasiswa PGSD UPPI UNNES Semarang pada tanggal 1 juni
2004 tentang faktor-faktor yang menyebabkan mereka tidak suka belajar matematika ,11
mahasiswa (28,9%) menyatakan bahwa dia tidak suka belajar matematika kalau
kesehatannya sedang terganggu (sakit), hendaknya ia berobat atau istirahat dahulu agar
sembuh baru belajar lagi .
Agar seseorang dapat belajar matematika dengan baik haruslah mengusahakan
kesehatan badannya tetap terjamin dengan selalu mengindahkan ketentuan-ketentuan
untuk belajar, tidur, makan, olahraga, dan rekreasi. Oleh karena itu, agar anak tetap sehat,
sehingga faktor kesehatan tidak menjadi salah satu faktor yang dapat membuat anak tidak
suka belajar matematika, hendaknya para guru mau bekerja sama dengan orang tua anak
didik untuk memperhatikan kesehatan anaknya. Selain itu hendaknya guru tanggap
terhadap anak yang terganggu kesehatannya, untuk menyarankan istirahat dan segera
berobat.
Kalau kelas sedang diserang suatu penyakit ringan, misalnya flu, sedangkan
bertepatan dengan pelajaran matematika, guru sebaiknya tidak memberikan materi baru.
Sebaiknya yang diberikan matematika ria, yang berupa teka-teki ringan atau permainan
matematika. Dengan demikian anak tetap senang belajar matematika meskipun sedang
sakit.
2) Cacat tubuh
Cacat tubuh adalah sesuatu yang menyebabkan kurang baik atau kurang
sempurna mengenai tubuh atau badan. Cacat itu dapat berupa buta, setengah buta, tuli,
setengah tuli, patah kaki atau tangan, lumpuh, dan sebagainya.
Keadaan cacat tubuh juga mempengaruhi belajar. Anak didik yang cacat,
belajarnya juga terganggu. Anak yang buta atau setengah buta tentu tidak dapat melihat
16
tulisan dipapan tulis dengan jelas. Dengan demikian anak tersebut tidak dapat melakukan
interaksi yang baik dengan guru maupun dengan teman. Jika hal-hal tersebut terjadi,
hendaknya dia belajar pada lembaga pendidikan khusus atau diusahakan alat bantu agar
dapat menghindari atau mengurangi pengaruh kecacatannya.
b. Faktor psikologi
Ada 7 faktor psikologis yang dapat mempengaruhi belajar anak.
1) Intelegensi
Intelegensi besar pengaruhnya terhadap kemajuan belajar anak. Dalam situasi
yang sama, anak didik yang memiliki intelegensi yang tinggi akan lebih cepat berhasil dari
pada yang mempunyai tingkat intelegensi rendah. Walaupun demikian, anak didik yang
mempunyai tingkat intelegensi tinggi belum tentu berhasil dalam belajarnya. Hal ini
disebabkan karena belajar adalah suatu proses yang kompleks, dengan banyak faktor
yang dapat mempengaruhinya, sedangkan intelegensi hanya merupakan salah satu faktor
saja dari antara faktor yang lain.
Anak didik yang mempunyai tingkat intelegensi yang tinggi dapat cepat berhasil
belajarnya dengan maksimal jika belajar dengan baik, artinya belajar dengan menerapan
metode belajar yang efisien, dan faktor-faktor yang mempengaruhi belajarnya memberi
pengaruh positif. Sedangkan anak yang mempunyai tingkat intelegensi rendah, untuk
mendapatkan hasil yang baik dalam belajar memerlukan waktu lebih lama, serta
penanganan khusus.
Agar faktor intelegensi ini dapat berkembang menjadi pengaruh positif bagi anak
dalam belajar matematika, guru harus bijaksana dalam menangani perbedaan intelegensi
tiap-tiap anak. Misalnya memberikan pengayaan bagi anak yang cepat menguasai materi
(punya intelegensi tinggi), dan memberikan kegiatan tambahan atau kesempatan belajar
lebih lama bagi yang lamban (punya intelegensi rendah). Anak didik yang lamban lebih
banyak membutuhkan motivasi dari guru untuk berani dan belajar matematika.
Para guru jangan sampai mematahkan semagat belajar anak didik yang lamban
belajar matematika, atau membuatnya takut, atau membuatnya rendah diri. Misalnya
dengan mengatakan “bodoh”, membentak atau memarahi karena kelambanannya.
Sebaliknya, para guru juga jangan sampai membuat anak didiknya yang pandai menjadi
17
sombong dengan memuji terus dihadapan temannya. Lebih baik guru memanfaatkan anak
yang punya kepandaian lebih tinggi dengan memberi tugas kepadanya untuk menolong
menjelaskan kepada temannya yang kurang. Ada kalanya tutor teman sebaya lebih dapat
berhasil.
Bagi guru yang mempunyai anak didik dengan tingkat intelegensi sangat rendah
(di bawah normal), hendaknya memberikan saran kepada orang tua anak tersebut untuk
menyekolahkan anaknya disekolah khusus.
2) Perhatian
Menurut Gazali (Slameto, 2003:56), perhatian adalah keaktifan jiwa yang
dipertinggi dan hanya tertuju kepada suatu objek (benda/hal) atau kumpulan objek
tertentu. Jika dalam belajar matematika perhatian anak tinggi, maka dia akan berhasil
(hasil belajarnya tinggi). Sebaliknya jika perhatiannya rendah dalam belajar matematika,
mungkin bosan atau tidak suka, maka tidak berhasil (hasil belajarnya rendah). Dan jika hal
ini terjadi, mengakibatkan anak tersebut menjadi sangat tidak suka terhadap matematika.
Untuk menarik perhatian anak didik terhadap suatu topik pada pelajaran
matematika, para guru dapat menggunakan cara antara lain dengan memakai alat peraga
dengan menarik dan menimbulkan keingintahuan yang besar bagi anak, memakai
beraneka pendekatan yang sesuai dengan kesenangan anak, dan lain sebagainya.
Strategi yang digunakan dalam pembelajaran matematika hendaknya tidak monoton, agar
tidak membosankan anak didik, karena perhatian anak akan hilang jika dia merasa bosan.
Hendaknya guru selalu mengusahakan agar anak merasa mendapatkan kesenangan pada
saat dia belajar matematika. Pada umumnya setiap anak tentu senang bermain, maka
pendekatan dengan permainan sangat disenangi oleh anak.
3) Minat
Menurut Hilgard (Slameto, 2003:57) minat adalah kecenderungan yang tetap
untuk memperhatikan dan menikmati suatu kegiatan atau suatu hal (interest is persisting
tendency to pay attencion to enjoy some activity or content). Jika suatu kegiatan/hal
diminati seseorang, maka akan diperhatikan dan dinikmatinya terus-menerus dengan
disertai rasa senang. Ada perbedaan antara perhatian dengan minat. Jika perhatian
sifatnya sementara dan belum tentu disertai dengan rasa senang, maka minat sifatnya
terus-menerus dan disertai dengan rasa senang dan puas.
18
Pengaruh minat sangat besar terhadap belajar anak. Jika anak tidak berminat
pada suatu topik/materi matematika yang sedang dipelajari, maka dia akan malas untuk
mempelajarinya, dan perhatiannya pada pelajaran tersebut akan hilang. Sebalikya, jika
seorang anak menaruh minat terhadap terhadap suatu topic/materi matematika yang
sedang dipelajari, maka dia akan senang mempelajarinya. Karena belajar dengan situasi
yang senang, maka anak akan merasa lebih mudah dalam mempelajari topic tersebut,
sehingga hasil belajarnya tinggi. Dengan demikian anak tersebut akan memperoleh
kepuasan.
Jika ada anak didik yang tidak berminat terhadap pelajaran matematika, maka
guru hendaklah berusaha menumbuhkan minatnya dengan cara, antara lain, menjelaskan
kegunaan matematika dalam kehidupan manusia, untuk dapat mencapai cita-cita
diperlukan kemampuan matematika, dan lain sebagainya. Perlu juga dijelaskan adanya
kaitan antara pelajaran matematika dalam pelajaran yang diminati oleh anak tersebut.
4) Bakat
Menurut Hilgard (Slameto 2003:57) bakat adalah kemampuan untuk belajar.
Kemampuan itu akan terealisasi menjadi kecakapan yang nyata sesudah belajar atau
berlatih. Orang yang berbakat menyanyi (olah vocal) akan lebih cepat untuk dapat
menirukan lagu yang didengar dengan baik, bila dibandingkan orang yang tidak berbakat
dalam olah vocal. Dengan demikian, bakat juga mempengaruhi belajar anak. Jika materi
yang sedang dipelajari anak didik sesuai dengan bakatnya, maka hasil belajarnya tentu
akan lebih baik. Dengan hasil belajar yang baik, anak menjadi senang, selanjutnya dia
akan lebih giat dalam mempelajarinya.
Jika ada anak didik yang tidak berbakat dalam bidang matematika, hendaklah guru
berusaha membangkitkan minatnya terhadap pelajaran matematika. Dengan berminat
pada pelajaran matematika akan membantu anak lebih berhasil, karena dapat lebih tahan
lama belajar matematika.
5) Motif
Menurut James Drever (Slameto 2003:58) motif adalah sebuah factor alamiah
yang efektif yang bergerak dalam menentukan arah tingkah laku seseorang menuju pada
tujuan akhir cita-cita, baik dipahami secara sadar atau tidak.
19
Jadi motif erat sekali hubungannya dengan tujuan akhir yang akan dicapai. Motif
bisa merupakan penyebab tidakan. Motif juga dipakai sebagai pendorong atau penggerak
seseorang untuk melakukan suatu tindakan. Motif yang dimiliki seseorang bisa saja tidak
disadari oleh pelaku tindakan, apalagi oleh orang yang melihat tindakannya.
Dalam pembelajaran matematika haruslah guru memperhatikan apa yang dapat
menjadi pendorong anak untuk dapat belajar matematika, atau sudahkah anak mempunyai
motif untuk berfikir, memusatkan perhatian, merencanakan dan melaksanakan kegiatan
yang berhubungan/menunjang dalam belajar matematika. Jika ada anak didik yang tidak
punya motif untuk belajar matematika, guru dapat memberikan motifasi pada anak untuk
belajar matematika, misalnya dengan hadiah bagi yang berhasil, atau memberi poin untuk
dapat menjawab pertanyaan dengan tepat, dan lain sebagainya. Kehendak untuk
mendapat hadiah, mendapat poin, mendapat nilai baik, dapat mengungguli nilai teman,
mendapat pujian dari guru atau orang tua, semua itu dapat menjadi motif bagi anak untuk
belajar matematika.
6) Kematangan
Menurut Slameto (2003:58) kemangatangan adalah suatu tingkah/fase dalam
pertumbuhan seseorang, dimana alat-alat tubuhnya atau daya tangkap dan daya pikirnya
telah siap untuk melaksanakan kecakapan atau menerima konsep baru, misalnya anak
kelompok usia 6-9 tahun belum matang dalam menguasai koordinasi otot halus sehingga
belum sempurna dalam melakukan kegiatan menggunting dan menulis, sebaliknya anak
kelompok usia 9-12 tahun sudah matang di dalam koordinasi otot halus sehingga mulai
dapat sempurna di dalam menggunting dan menulis. Contoh lain, anak yang telah
memahami kekekalan bilangan telah siap untuk belajar konsep bilangan,berarti anak
sudah matang untuk belajar konsep bilangan. Perlu diperhatikan bahwa kematangan tidak
berarti anak dapat melaksanakan kegiatan secara terus-menerus. Untuk itu perlu
diperlukan latihan-latihan. Hal ini berarti untuk dapat menguasai konsep bilangan cacah,
anak perlu banyak latihan untuk memahami konsep bilangan. Misalnya sesudah anak
diberi kegiatan untuk memahami bilangan cacah sampai dengan sepuluh (missal dengan
teori belajar Bruner).
Dari uraian diatas, tingkat kematangan anak tidak menyebabkan anak tersebut
dapat melakukan kegiatan sendiri untuk memahami konsep baru. Tingkat kematangan
20
yang ada pada anak didik harus disertai dengan latihan-latihan tertentu sebagai alat bantu
untuk mamahirkan anak didik melakukan kegiatan tertentu atau menerima konsep baru.
Memang benar bahwa tingkat keberhasilan anak didik di dalam menerima pelajaran baru
dengan tingkat kesulitan yang lebih tinggi harus diawali dengan tingkat kematangan yang
seimbang dengan tingkat kesulitan pelajaran yang akan diterima.
c. Faktor Kelelahan
Kelelahan pada seseorang walaupun sulit untuk dipisahkan tetapi dapat
dibedakan menjadi dua macam, yaitu kelelahan fisik dan kelelahan psikis. Kelelahan fisik
terlihat dengan lemah lunglainya tubuh dan timbul kecenderungan untuk membaringkan
tubuh. Kelelahan fisik terjadi karena adanya kekacauan substansi sisa pembakaran di
dalam tubuh, sehingga aliran darah tidak/kurang lancer pada bagian-bagian tertentu.
Kelelahan psikis dapat dilihat dengan adanya kelesuan sehingga minat dan
dorongan untuk menghasilkan sesuatu hilang. Kelelahan ini sangat terasa pada bagian
kepala dengan pusing-pusing sehingga sulit untuk berkonsentrasi, seolah-olah otak
kehabisan daya untuk bekerja. Kelelahan psikis (rohani) dapat terjadi jika terus-menerus
memikirkan masalah yang dianggap berat tanpa istirahat, menghadapi hal-hal yang selalu
sama/konstan tanpa variasi, atau mengerjakan sesuatu karena terpaksa dan tidak sesuai
dengan bakat, minat, dan perhatian.
Dari uraian diatas dapatlah dimengerti bahwa kelelahan itu mempengaruhi belajar.
Agar anak didik dapat belajar dengan baik haruslah menghindari kelelahan, baik kelelahan
fisik maupun kelelahan psikis. Kelelahan fisik dan psikis dapat dihilangkan dengan caracara sebagai berikut:
1) Tidur/istirahat
2) Mengusahakan variasi strategi dalam belajar
3) Menggunakan obat-obatan yang bersifat melancarkan peredaran darah seperti obat
gosok
4) Olah raga secara teratur
5) Pola makan yang teratur dan sehat
6) Jika kelelahan yang dialami sangat serius, maka akan lebih efektif jika menghubungi
ahli seperti psikiater, dokter, dan sebagainya.
21
Dengan mengacu pada paparan tersebut diatas, upaya agar anak dapat belajar
matematika dengan baik, harus menghindarkannya dari kelelahan, baik kelelahan fisik
maupun kelelahan psikis.
Untuk itu guru hendaklah memperhitungkan banyaknya tugas yang diberikan pada
anak didik. Jangan sampai terlalu banyak hingga melelahkan anak. Jika anak kelelahan
dalam mengerjakan PR atau tugas matematika, maka hasil balajarnya menjadi tidak
optimal. Jika anak merasa hasil belajarnya kurang baik, maka dia menjadi kecewa.
Kekecawaan ini dapat menyebabkan anak tidak senang dalam pelajaran matematika. Oleh
karena itu sebaiknya tugas yang diberikan kepada anak SD-MI hanya 2 sampai 3 soal,
tetapi diberikan secara rutin dan bervariasi.
2. Faktor Ekstern
Faktor ekstern adalah faktor-faktor yang berada diluar diri anak tersebut. Faktor
ekstern digolongkan menjadi 2 faktor, yaitu faktor keluarga dan faktor sekolah.
a. Faktor keluarga
Anak didik akan menerima pengaruh dari keluarga berupa, antara lain: cara
orangtua mendidik, hubungan antar keluarga, suasana rumah.
1) Cara orangtua mendidik
Menurut Slameto (2003:61) keluarga adalah lembaga pendidikan yang pertama
dan utama. Pendidikan dalam fase kecil yang dilakukan oleh keluarga menjadi penentu
dalam pendidikan anak dalam fase yang lebih besar, seperti pendidikan disekolah dan
pendidikan dimasyarakat dari pernyataan diatas, metode pendidikan yang diberikan orang
tua sangatlah berpengaruh bagi jenjang pendidikan disekolah, dan keberhasilan anak didik
dalam mengikuti materi pelajaran disekolah sangat dipengaruhi oleh metode pendidikan
orang tua dirumah.
Orang tua yang bersifat acuh tak acuh terhadap pendidikan anak berakibatnya
gagal pendidikan anak dijenjang sekolahan. Sikap acuh tak acuh ini dapat dinyatakan
dengan sikap tak mau tahu terhadap cara belajar anak, tidak mau menyediakan media
yang mau menunjang belajar anak, terlalu memanjakan anak, tidak mengatur cara belajar
anak dirumah, dan sebagainya. Sebaliknya, orang tua yang sangat memperhatiakan
pendidikan anaknya berpenagruh pada keberhasilan pendidikan anak. Sebagai contoh,
22
orang tua yang sabar membantu, menunggui, memperhatikan dan memenuhi fasilitas
anaknya untuk belajar matematika akan membuat anak tersebut merasa senang dan
nyaman belajar matematika.
Orang tua juga perlu memberikan kebiasan belajar yang baik kepada anak,
termasuk belajar matematika. Misalnya setiap hari anak belajar matematika dalam waktu
yang tidak terlalu lama, sehingga anak tidak menjadi bosan, melainkan menjadi senang
dan terbiasa belajar matematika. Sedapat mungkin, orang tua berusaha mengadakan alat
peraga untuk belajar matematika bagi anaknya.
Bagi orang tua yang kurang mampu, dapat membuat alat peraga sendiri. Untuk itu
sebaiknya orng tua berhubungan dengan guru atau aktif membaca buku tuntunan untuk
belajar matematika.
2) Relasi antara anggota keluarga
Disamping pendidikan orang tua dirumah, hubungan antara anggota keluarga juga
menjadi faktor dalam keberhasilan belajar anak didik. Hubungan yang menunjang dalam
belajar anak adalah hubunagn yang positif antara orang tua dan anak maupun antara
saudara, contohnya hubungan saling mengasihi, saling mengerti dan saling
memperhatikan. Hubungan kasih, pengertian, dan perhatian yang diungkapkan bukan
berartiharus memanjakan anak sehingga anak akan lupa dengan tugasnya sebagai
pelajar.
3) Suasana rumah
Suasana rumah juga bisa menjadi faktor yang dapat mendukung atau faktor yang
tidak mendukung belajar anak, dan bisa menjadikan hasil belajar menjadi optimal atau
minimal. Suasana yang tidak mendukung belajar anak adalah rumah yang kacau, dan
ribut. Kekacauan atau keributan yang terjadi bias disebabkan banyak hal. Mungkin bisa
berupa keributan yang ditimbulkan karena banyaknya kegiatan yang diadakan dirumah,
misalnya sering ada pertemuan atau resepsi, dan sebagainya.
Untuk itu suasana harus diusahakan tenang, teteram, tidak bising, dan tidak ada
pertengkaran. Selain itu juga diusahakan cukup mendapat udara segar serta
cahaya/penerangan dengan suasana rumah yang sehat dan mendukung anak dalam
belajar matematika, maka anak menjadi betah dalam belajar matematika dan akhirnya
menjadi senang dalam belajar matematika.
23
b.
Faktor Sekolah
Faktor sekolah yang mempengaruhi belajar antara lain:
1)
Metode mengajar
Metode mengajar adalah suatu cara yang ditempuh oleh guru untuk menciptakan
situasi pengajaran yang benar-benar menyenangkan dan mendukung kelancaran proses
belajar dan tercapainya prestasi belajar anak yang memuaskan.
2)
Metode belajar
Banyak anak yang salah dalam memakai metode belajar, mereka tidak belajar
secara rutin. Mereka lebih suka baru belajar kalau ada ulangan atau sedang ada ujian. Hal
ini menyebabkan beban yang harus dipelajarinya banyak sedangkan waktu belajar sedikit,
akibatnya hasil belajar mereka tidak maksimal. Disamping itu mereka jatuh sakit pada saat
ujian karena semalaman belajar terus dan kurang tidur atau istirahat, tidak digunakan
untuk belajar. Teristimewa untuk matematika, metode belajar “wayangan “ seperti itu tidak
dapat diterapkan, karena selain konsep yang perlu dipahami, didalam matematika juga
diperlukan pula latihan-latihan yang berkesinambungan untuk ketrampilannya.
3) Media pengajaran
Media pengajaran erat sekali hubungannya dengan cara belajar anak, karena
dipakai anak untuk belajar atau menguasai bahan pelajaran. Media pengajaran yang
lengkap dan tepat akan memperlancar dan mempermudah anak belajar. Jadi media
pengajaran, baik alat pelajaran maupun alat peraga, sangat berpengaruh terhadap belajar
anak.
4) Guru
Guru merupakan salah satu faktor yang besar pengaruh yang besar bagi belajar
anak. Jika anak senang pada guru matematikanya, maka ia akan senang pada pelajaran
matematika, serta aktif dan giat mengikuti semua kegiatan selama proses pembelajaran
matematika. Hal ini menyebabkan prestasi hasil belajar matematikanya tinggi. Sebaliknya,
jika anak tidak suka pada guru matematikanya, malas mengikuti krgiatan selama proses
pembelajaran matematika, serta malas untuk berinteraksi dengan gurunya. Hal ini
menyebakan prestasi belajar matematikanya rendah.
24
Oleh karena itu, agar guru dapat menjadi faktor positif atau yang menyenangkan
bagi belajar anak, maka guru harus berusaha agar dirinya menjadi idola bagi anak
didiknya. Hendaknya guru berusaha agar anak senang berinteraksi dengannya baik
didalam pembelajaran matematika maupun diluar kela, serta menjadikan dirinya guru
matematika yang ideal bagi anak didiknya.
5) Interaksi dikelas atau disekolah
Interaksi anak dengan guru maupun dengan teman dikelas atau disekolah juga
mempengaruhi belajar anak. Anak yang takut pada guru matematikanya juga takut pad
pelajaran matematika. Dikelas dia tidak berani maju mengerjakan soal dipapan tulis, atau
mengeluarkan pendapatnya, karena takut salah atau dimarahi.
Hal ini menyebabkan prestasi belajar matematika anak turun. Penurunan prestasi
belajar matematika berlanjut pada penurunan anak pada minat matematika, yang
menyebakan anak tidak suka pelajaran matematika. Oleh karena itu hendaknya guru
dapat menciptakan interaksi yang baik diluar atau didalam kela, terutama interaksi dalam
pembelajaran.
6) Materi pelajaran
Materi pelajaran merupakan pengaruh yang cukup besar bagi belajar anak jika
materi yang dipelajari menyenagkan, menarik perhatian dan minat anak, maka anak akan
tekun, bersemangat dan senang mempelajarinya. Sebaliknya, jika materi tidak disukai oleh
anak, terlalu sulit dan tidak dapat menarik perhatian dan minat anak, maka anak akan
enggan untuk belajar. Sedangkan anak dapat timbul minatnya untuk belajar matematika,
jika dia merasa kebutuhannya terpenuhi dengan belajar matematika.
2.1.3. Hasil Belajar
Menurut Sudjana (2004: 14) hasil belajar adalah suatu akibat dari proses belajar
dengan menggunakan alat pengukuran yaitu berupa tes yang disusun secara terencana,
baik tes tertulis, tes lisan maupun tes perbuatan. Sedangkan Nasution (2003: 42)
berpendapat bahwa hasil belajar adalah suatu perubahan pada individu yang belajar, tidak
hanya mengenai pengetahuan tetapi juga membentuk kecakapan dan penghayatan dalam
diri pribadi individu yang belajar. Hasil belajar adalah hasil yang diperoleh siswa setelah
mengikuti suatu materi tertentu dari mata pelajaran yang berupa data kuantitatif maupun
25
kualitatif. Untuk melihat hasil belajar dilakukan suatu penilaian terhadap siswa yang
bertujuan untuk mengetahui apakah siswa telah menguasai suatu materi atau belum.
Penilaian merupakan upaya sistematis yang dikembangkan oleh suatu institusi pendidikan
yang ditujukan untuk menjamin tercapainya kualitas proses pendidikan serta kualitas
kemampuan peserta didik sesuai dengan tujuan yang telah ditetapkan. Hasil belajar dapat
dilihat dari hasil nilai ulangan harian (formatif), nilai ulangan tengah semester (Sub
sumatif), dan nilai ulangan semester (sumatif).
Hasil belajar adalah kemampuan yang dimiliki siswa setelah ia menerima
pengalaman belajarnya. Hasil belajar mempunyai peranan penting dalam proses
pembelajaran. Proses penilaian terhadap hasil belajar dapat memberikan informasi kepada
guru tentang kemajuan siswa dalam upaya mencapai tujuan-tujuan belajarnya melalui
kegiatan belajar. Selanjutnya dari informasi tersebut guru dapat menyusun dan membina
kegiatan-kegiatan siswa lebih lanjut, baik untuk keseluruhan kelas maupun individu.
Hasil belajar menurut Sudjana (2004: 22) dibagi menjadi tiga macam hasil belajar
yaitu : (a). Keterampilan dan kebiasaan; (b). Pengetahuan dan pengertian; (c). Sikap dan
cita-cita, yang masing-masing golongan dapat diisi dengan bahan yang ada pada
kurikulum sekolah.
2.1.4. Ganjaran sebagai Alat untuk Meningkatkan Hasil Belajar
Ganjaran merupakan penilaian yang bersifat positif terhadap belajar murid
(Indrakusuma, 1993:159); pada umumnya ganjaran/pujian merupakan motivator yang jauh
lebih berkhasiat dari pada celaan, hukuman atau ujian ulangan (Sutadipura, 1982:132).
Pada umunya jiwa anak melihat bahwa pujian guru itu sebagai sumber mendapatkan
kepuasan, maka tindakan guru itu akan menjadi pendorong untuk terjadinya tingkah laku.
Pujian dapat dilakukan dengan memperteguh respon yang baru dengan mengasosiasikan
pada stimulus tertentu secara berkali-kali, Skinner menyebutkan hal ini dengan
reinforcement (peneguhan), misalnya bila setiap anak menyebut kata yang sopan kita
segera memujinya, kelak anak itu akan mencintai kata-kata yang sopan dalam
komuikasinya, atau pada waktu mahasiswa membuat prestasi yang baik kita
menghargainya dengan sebuah buku yang bagus, maka mahasiswa akan meningkatkan
prestasinya. (Rahmat, 1994:24)
26
2.1.5. Penggunaan Ganjaran dalam Pembelajaran Matematika
Ganjaran merupakan alat pendidikan represif yang menyenangkan (Indrakusuma,
1993). Dalam pembelajaran matematika banyak guru yang mengeluhkan rendahnya
kemampuan siswa dalam menerapkan konsep matematika. Hal ini terlihat dari banyaknya
kesalahan siswa dalam memahami konsep matematika sehingga mengakibatkan
kesalahan–kesalahan dalam mengerjakan soal sehingga mengakibatkan rendahnya
prestasi belajar siswa (skor) baik dalam ulangan harian, ulangan semester, maupun ujian
akhir sekolah, padahal dalam pelaksanaan proses pembelajaran di kelas biasanya guru
memberikan tugas (pemantapan) secara kontinu berupa latihan soal. Kondisi riil dalam
pelaksanaannya latihan yang diberikan tidak sepenuhnya dapat meningkatkan
kemampuan siswa dalam menerapkan konsep matematika. Rendahnya mutu
pembelajaran dapat diartikan kurang efektifnya proses pembelajaran. Penyebabnya dapat
berasal dari siswa, guru maupun sarana dan prasarana yang ada, minat dan motivasi
siswa yang rendah, kinerja guru yang rendah, serta sarana dan prasarana yang kurang
memadai akan menyebabkan pembelajaran menjadi kurang efektif. Saat sekarang ini
sistem pembelajaran harus sesuai dengan kurikulum yang menggunakan KTSP
(Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan). Jadi pendidikan tidak hanya ditekankan pada
aspek kognitif saja tetapi juga afektif dan psikomotorik.
Metode pembelajaran yang kurang efektif dan efisien, menyebabkan tidak
seimbangnya kemampuan kognitif, afektif dan psikomotorik, misalnya pembelajaran yang
monoton dari waktu ke waktu, guru yang bersifat otoriter dan kurang bersahabat dengan
siswa, sehingga siswa merasa bosan dan kurang minat belajar. Untuk mengatasi hal
tersebut maka guru sebagai tenaga pengajar dan pendidik harus selalu meningkatkan
27
kualitas profesionalismenya yaitu dengan cara memberikan kesempatan belajar kepada
siswa dengan melibatkan siswa secara efektif dalam proses pembelajaran. Juga
mengupayakan agar siswa memiliki motivasi melalui bentuk-bentuk penghargaan atau
ganjaran sehingga siswa memiliki antusiasme dalam pembelajaran matematika.
Pembelajaran matematika yang selama ini dianggap siswa sebagai pelajaran yang
sulit perlu langkah tepat agar motivasi menyimak pelajaran tumbuh dengan baik
(Suherman, 2004: 62). Diantaranya adalah pemberian ganjaran berupa benda dan
nonbenda. Pemberian ucapan “bagus” atau “hebat” ketika siswa mampu mengerjakan
dengan baik atau mampu menjawab pertanyaan yang disampaikan guru merupakan suatu
bentuk ganjaran yang dapat memberikan nilai positif terhadap motivasi belajar siswa.
Faktor motivasi tersebut merupakan salah satu faktor yang mempengaruhi keberhasilan
siswa dalam belajar. Bentuk lain dari pemberian ganjaran adalah ganjaran benda,
misalnya memberi tanda “bintang” plastik terhadap siswa yang mengerjakan soal dengan
benar atau menjawab pertanyaan yang disampaikan guru atau memperoleh nilai terbaik di
kelas ketika dilakukan tes. Ganjaran berupa benda tersebut akan menumbuhkan motivasi
dalam diri anak (Purwanto, 2001: 184).
Keberhasilan pembelajaran matematika dalam arti tercapainya standar
kompetensi, sangat bergantung pada kemampuan guru mengolah pembelajaran
yang dapat menciptakan situasi yang memungkinkan siswa belajar sehingga merupakan
titik awal berhasilnya pembelajaran (Semiawan, 2005: 54). Banyaknya teori dan hasil
penelitian para ahli pendidikan yang menunjukkan bahwa pembelajaran akan berhasil bila
siswa berpartisipasi aktif dalam proses pembelajaran.
28
2.1.6. Hasil-hasil Penelitian Yang Relevan
Hasil penelitian yang relevan atau hampir sama dengan penelitian ini adalah
tindakan kelas oleh Indriaswati (2009) yaitu ganjaran non verbal sebagai media
meningkatkan hasil prestasi belajar IPA khususnya tentang pemahaman sifat-sifat cahaya
siswa kelas V di SD Negeri Sumobroto Kecamatan Jepon Kabupaten Blora Tahun
Pelajaran 2009/2010.
Hasil penelitian itu untuk mengetahui apakah Ganjaran Non Verbal sebagai media
meningkatkan prestasi belajar, khususnya tentang pemahaman konsep sifat-sifat cahaya
kelas V. Dalam penelitian ini menyimpulkan bahwa sebelum menggunakan pemberian
Ganjaran Non Verbal prestasi belajar IPA khususnya tentang pemahaman konsep sifatsifat cahaya di SD Negeri Sumobroto Kecamatan Jepon Kabupaten Blora Tahun pelajaran
2009/2010 adalah batas tuntas dari 29 siswa ternyata yang tuntas 60%. Bahkan terdapat
peserta didik yang nilainya kurang dari 60. Setelah menggunakan tekhnik pemberian
penguatan siswa mengalami peningkatan 80%.
Penelitian lain juga dilakukan oleh Mohamad Yusuf dengan judul Pengaruh
Pelaksanaan Ganjaran dan Hukuman Terhadap Motivasi Berprestasi Siswa di MTs. NU 05
Sunan Katong Kaliwungu Kendal (iib.uin-malang.ac.id). Penelitian ini menggunakan
metode survey korelasional. Subyek penelitian sebanyak 504 yang berasal dari 3 (tiga)
kelas, kelas satu sebanyak 172 siswa, kelas dua senyak 132 siswa dan kelas tiga
sebanyak 200 siswa yang jumlah keseluruhan merupakan populasi. Pengumpulan data
menggunakan angket untuk menjaring data X1, X2 dan Y. Data penelitian yang terkumpul
di analisa dengan menggunakan teknik analisis diskriptif dan inferensial. Pengujian
hipotesis menggunakan analisis regresi dua prediktor dengan skor deviasi. Pengujian
hipotesis penelitian menunjukkan : 1) terdapat hubungan yang positif antara pelaksanaan
ganjaran dengan motivasi berprestasi, hal ini ditunjukkan oleh koefisien korelasi Rx1y =
0.390 dan koefisien determinan R2x1y = 0.1517 (hal ini menunjukkan bahwa 15.2%
motivasi belajar ditentukan oleh ganjaran (reward), melalui fungsi taksiran Y = 0,547 X1 +
26,2699. 2) terdapat hubungan yang positif antara Pelaksanaan hukuman dengan motivasi
berprestasi, hal ini ditunjukkan oleh koefisien korelasi Rx2y = 0.406 dan koefisien
determinan R2x1y = 0.1649 (hal ini menunjukkan bahwa 16.49% motivasi belajar
ditentukan oleh hukuman (punishment), melalui fungsi taksiran Y = 0,55348 X2 + 26,045.
29
3) terdapat hubungan yang positif antara pelaksanaan ganjaran dan hukuman terhadap
motivasi berprestasi, hal ini ditunjukkan oleh koefisien korelasi Rx(1,2)y = 0.462 dan
koefisien determinan R2x(1,2)y = 0.1865 (hal ini menunjukkan bahwa 18.65% motivasi
berprestasi ditentukan oleh pelaksanaan ganjaran dan hukuman), melalui fungsi taksiran Y
= 0,2895 X1 + 0,3565 X2 + 22,6355. Dengan demikian hipotesis yang penulis ajukan
bahwa terdapat pengaruh positif yang signifikan antara pelaksanaan ganjaran (X1) dan
pemberian hukuman (X2) terhadap motivasi berprestasi siswa di MTs. NU 05 Sunan
Katong Kaliwungu Kendal diterima
2.2.
Kerangka Berfikir
Kerangka berfikir dalam penelitian “Upaya Meningkatkan Hasil Belajar Matematika
Siswa Kelas IV Melalui Pemberian Ganjaran di SDN 01 Nyemoh Kec.Bringin Kab
Semarang Semester II 2011/2012” adalah sebagai berikut : partisipasi guru kurang baik
saat proses pembelajaran Matematika Kelas IV SD Negeri 01 Nyemoh Kec.Bringin Kab
Semarang berlangsung, sehingga berimbas pada hasil belajar dan motivasi yang kurang
optimal. Pengajaran merupakan suatu sistem, yaitu sebagai kesatuan yang terorganisasi,
yang terdiri atas sejumlah komponen yang saling berhubungan satu sama lain dalam
rangka pencapaian tujuan yang diinginkan (Sumaatmadja, 1984). Sebagai suatu sistem,
pengajaran mengandung sejumlah komponen antara lain : mata pelajaran, metode, media,
alat eveluasi dan lain-lain, yang berinteraksi satu sama lain dalam rangka mencapai tujuan
yang telah dirumuskan dan salah satu cara yang dilakukan dalam PBM yaitu dengan
pemberian ganjaran kepada siswa.
Pemberian ganjaran pada penelitian ini diterapkan karena diharapkan dapat
memotivasi siswa saat belajar dan memancing siswa untuk giat belajar sehingga didalam
kelas terdapat persaingan yang mengarah ke hal positif dan siwa tertarik untuk mengikuti
proses pembelajaran. Adapun ganjaran-ganjaran berupa pujian, ganjaran berupa aktivitas,
ganjaran berupa benda, ganjaran berupa tanda kredit sehingga hasil belajarnya
meningkat. Adapun skema dapat dilihat dalam gambar 2.1 :
30
Kondisi awal
Tindakan
Kondisi
Kondisi Akhir
akhir
Guru belum
memberi ganjaran
saat proses
pembelajaran
matematika
Guru menerapkan
pemberian ganjaran
saat proses belajar
matematika
Hasil belajar siswa
pada mata
pelajaran
matematika
meningkat dan
tuntas (≥ KKM)
(70)
2.3. Hipotesis Penelitian
Hasil belajar siswa
rendah pada mata
pelajaran
matematika
≤ 70 (KKM)
Siklus 1: Hasil
belajar pada siswa
meningkat tetapi
belum tuntas
Siklus 2:
Hasil belajar
siswa meningkat
pada mata
pelajaran
matematika (≥
KKM) (70)
Gambar 2.1
Kerangka berfikir
Berdasarkan Kajian Teori dan Hasil penelitian yang relevan, dapat dirumuskan
hipotesis penelitian sebagai berikut:
Pemberian ganjaran dalam pembelajaran matematika dapat meningkatkan hasil belajar
siswa kelas IV SD Negeri I Nyemoh Kecamatan Bringin Kabupaten Semarang.
Download