1 BAB I PENDAHULUAN A. ANALISIS SITUASI

advertisement
BAB I
PENDAHULUAN
A. ANALISIS SITUASI
Memasuki milenium III pada abad 21 ini, kualitas guru sains/IPBA masih
perlu ditingkatkan, karena kualitas guru mempengaruhi kualitas pendidikan sains.
Dalam pembelajaran sains, kurangnya kemampuan guru-guru mengajarkan sains
menjadi salah satu penyebab rendahnya kualitas pendidikan sains (Depdiknas,
2002). Pada Standar Pendidikan Sains Nasional Amerika (NRC, 1996) disarankan
agar dalam penyiapan guru sains, metode mengajar dalam perkuliahan lebih
memperhatikan pada kemampuan pengambilan keputusan, teori dan penalaran. Di
samping itu, dalam pengembangan profesional guru, harus memberikan praktikum,
sehingga calon guru dapat membangun pengetahuan dan keterampilannya. Upaya ini
penting untuk dilakukan karena praktikum atau kegiatan laboratorium merupakan
bagian integral dari kegiatan belajar mengajar (Rustaman et al., 2005; Kertiasa,
2006; dan Liem, 2007).
Praktikum merupakan kegiatan istimewa yang berfungsi untuk melatih dan
memperoleh umpan balik serta meningkatkan motivasi belajar siswa (Utomo dan
Ruijter, 1990; Liem, 2007). Pembelajaran melalui kegiatan praktikum tidak hanya
meningkatkan ranah psikomotorik siswa, tetapi juga kognitif dan afektif. Seperti
dinyatakan oleh Pabelon and Mendosa (2000), bahwa: “Kerja laboratorium berperan
dalam mengembangkan kognitif, psikomotor, dan afektif”. Ranah kognitif antara
lain
keterampilan
berpikir,
ranah
psikomotorik
antara
lain
keterampilan
melaksanakan kegiatan praktikum, dan ranah afektif antara lain belajar bekerja sama
1
dengan orang lain dan menghargai hasil kerja orang lain. Oleh karena itu, praktikum
seyogianya memperhatikan aspek-aspek itu dan guru IPBA perlu diberikan pelatihan
keterampilan praktikum
khususnya dalam merencanakan dan melaksanakan
kegiatan praktikum IPBA.
Hasil penelitian Pujani dan Liliasari (2011) terhadap pembelajaran IPBA
menemukan bahwa pembelajaran IPBA (Kebumian dan Astronomi) di sekolahsekolah dan di perguruan tinggi belum menyelenggarakan kegiatan laboratorium.
Pembelajaran IPBA didominasi oleh ceramah, tanya jawab dan penugasan. Hal ini
sejalan dengan temuan Depdiknas (2002), bahwa pembelajaran sains di sekolah
umumnya bersifat teoritis, melalui ceramah, diskusi, dan penyelesaian soal, tanpa
eksperimen ataupun demonstrasi. Terhadap hal ini banyak alasan umum yang
dikemukakan, antara lain karena guru tidak pernah dilatih melaksanakan praktikum
IPBA, tidak adanya ruang laboratorium, dan tidak ada alat-alat praktikum IPBA.
Hasil penelitian Balitbang (Rustad et al., 2004) menunjukkan bahwa sekitar
51% guru IPA SMP dan sekitar 43% guru fisika SMA di Indonesia tidak dapat
menggunakan alat-alat laboratorium yang tersedia di sekolahnya, akibatnya tingkat
pemanfaatan alat-alat itu dalam pembelajaran cenderung rendah. Timbul dugaan
bahwa inti persoalan mengapa guru tidak melakukan pembelajaran dengan kegiatan
praktikum terletak pada kurangnya kemampuan guru dalam merancang dan
melaksanakan kegiatan praktikum dan membuat alat-alat percobaan sederhana.
Pelatihan keterampilan praktikum bagi guru sejalan dengan pergeseran
paradigma dalam pembelajaran sains. Paradigma baru dalam belajar sains yaitu
pembelajaran yang menuntut siswa untuk lebih banyak mempelajari sains melalui
pengalaman langsung daripada hafalan, sehingga siswa dapat menggunakan
2
pengetahuan sainsnya tersebut dalam kehidupan sehari-hari (Gallagher, 2007).
Pendidikan sains dapat membantu siswa untuk mengembangkan pemahaman dan
kebiasaan berpikir, sehingga siswa mempunyai kemampuan untuk menjamin
kelangsungan hidupnya (Rutherford and Ahlgren, 1990). Melalui pembelajaran sains
dengan kegiatan praktikum siswa akan memperoleh pengalaman secara langsung,
sehingga dapat meningkatkan penguasaan konsep, kemampuan memecahkan
masalah dan keterampilan-keterampilan ilmiah, memahami bagaimana sains dan
ilmuwan bekerja, menumbuhkan minat dan dan motivasi, serta melatih keterampilan
berpikir (Hofstein and Mamlok-Naaman, 2007). Di sisi lain materi Kebumian dan
Astronomi merupakan mata pelajaran yang sering dikompetisikan melalui kegiatan
Olimpiade, sehingga para guru IPBA dituntut untuk mampu membina para siswanya
memberikan pembekalan bidang teori dan keterampilan praktikum.
Mencermati hal di atas perlu kiranya dilakukan pembekalan berupa kegiatan
pelatihan keterampilan laboratorium bagi guru-guru SMP/SMA yang ada di
Kabupaten Buleleng, khususnya di kota Singaraja agar guru-guru memiliki
keterampilan dalam mengelola kegiatan praktikum yang memadai. Lebih lanjut,
dengan keterampilan yang dimiliki diharapkan para guru mampu membina siswanya
dalam menghadapi olimpiade, seperti olimpiade Astronomi.
Kabupaten Buleleng sebagai salah satu daerah tujuan wisata di Bali,
memiliki visi dan misi pembangunan yang berorientasi pada sektor pariwisata,
pertanian, pendidikan, dan kesehatan. Pada sektor pendidikan, salah satu misi
pembangunan Kabupaten Buleleng adalah menjadikan Buleleng sebagai kota
pendidikan. Realisasi dari hal itu telah dituangkan dalam berbagai kebijakan daerah,
3
antara lain dengan memfasilitasi pembangunan lembaga pendidikan mulai dari
jenjang taman kanak-kanak (TK) sampai perguruan tinggi (PT).
Berdasarkan hasil survai oleh tim pelaksana, diperoleh gambaran bahwa
salah satu permasalahan yang saat ini dihadapi oleh Dinas Pendidikan Kabupaten
Buleleng adalah terbatasnya dana untuk melaksanakan program in-service training
bagi para guru. Di sisi lain, kualifikasi dan profesionalisme para tenaga pendidik
(guru) yang ada di Kabupaten Buleleng, khususnya guru bidang studi IPBA di SMP
dan SMA banyak yang belum sesuai dengan bidang tugasnya, termasuk pula masih
kurangnya kemampuan dan keterampilan-keterampilan profesional guru dalam
mengajar IPBA.
Pembelajaran IPBA sebagai bidang studi yang secara formal wajib
dibelajarkan pada jenjang pendidikan SMP dan SMA saat ini dihadapkan pada
tantangan untuk mampu meningkatkan kualitas proses dan hasil pembelajarannya.
Hal ini mengingat bahwa mulai tahun 2005 untuk Astronomi dilombakan dalam
ajang bergengsi yaitu pada olimpiade tingkat nasional dan international. Khusus
untuk Kabupaten Buleleng, partisipasi di bidang olimpiade Astronomi bagi siswa
SMP dan SMA baru mulai tahun 2006, itu pun baru diwakili dari satu sekolah saja
yaitu SMA Negeri 1 Singaraja. Dari wakil yang dikirimkan tersebut, belum ada yang
bisa menembus hingga lulus di tingkat Propinsi, sebagaimana diinformasikan
melalui internet, untuk bidang olimpiade Astronomi belum ada siswa SMP/SMA
wakil dari Kabupaten Buleleng atau pun wakil Propinsi Bali yang berhasil meraih
medali (www.olimpiade-sains.org).
Rendahnya prestasi belajar Astronomi para siswa SMA di wilayah
Kabupaten Buleleng tidak terlepas dari kurangnya pembinaan oleh guru (faktor
4
guru) dan karakteristik materi. Dengan berlakunya KTSP mulai tahun 2006, materi
IPBA tidak lagi sepenuhnya menjadi suplemen mata pelajaran Fisika tetapi sebagian
masuk ke mata pelajaran IPS untuk di SMP dan Geografi untuk di SMA. Sementara
itu, untuk membina siswa yang akan mengikuti kegiatan olimpiade umumnya
ditugaskan kepada guru Fisika. Di sini timbul kesenjangan di mana para guru yang
tidak mengajar Astronomi ditugaskan membina siswa untuk mengikuti olimpiade
Astronomi. Oleh karena itulah sangat diperlukan adanya pembinaan yang
berkelanjutan kepada guru IPA di SMP dan guru Fisika di SMA agar mereka
memiliki kemampuan yang memadai untuk membina calon peserta olimpiade
Astronomi. Dinas Pendidikan bersama-sama dengan seluruh SMP/SMA yang ada di
Kabupaten Buleleng harus sesegera mungkin melakukan persiapan pembinaan
bidang IPBA (Astronomi) yang terprogram dan kontinu untuk menghadapi
pelaksanaan Olimpiade Astronomi Nasional/Internasional tahun 2012.
Secara alamiah Astronomi memiliki konsep pemikiran dan pemahaman yang
terintegrasi secara simultan baik dalam perkembangan ilmunya, teknologinya,
terapan teknisnya, maupun pendidikannya. Dalam hal ini, Astronomi dan IPA/Fisika
merupakan materi pelajaran di SMP/SMA yang terpadu secara integral, di mana
konsep-konsep Astronomi melibatkan konsep-konsep Fisika. Konsekwensinya,
keberhasilan siswa dalam pelajaran Astronomi dipengaruhi oleh kemampuannya
dalam menerapkan konsep-konsep Fisika yang relevan ke bidang studi IPBA. Hal
ini pula yang dijadikan sebagai acuan, di mana dalam kurikulum, materi Astronomi
seharusnya menjadi bagian dari mata pelajaran fisika, sehingga pengajar Astronomi
di SMP/SMA umumnya adalah guru IPA/Fisika.
5
Namun demikian, walaupun ada jalinan yang terintegrasi antara Fisika
dengan Astronomi, dampak dari hal ini adalah ada kecendrungan belum mapannya
penguasaan materi Astronomi tersebut oleh guru Fisika karena Astronomi
memerlukan pemahaman tersendiri dan cakupan materimya sangat luas. Di samping
adanya pergeseran orientasi konten kurikulum dari Fisika ke IPS dan Geografi.
Mengingat ketidak sesuaian kualifikasi guru Astronomi dengan bidang keahliannya
itu, maka kualitas penguasaan guru dalam bidang Astronomi harus ditingkatkan,
sehingga mereka menjadi tenaga guru yang terampil dalam mengelola pembelajaran.
Salah satu alternatif yang dipandang cukup visibel untuk dilakukan adalah melalui
penyegaran akademis (refreshing program) yang inti kegiatannya meliputi pelatihan
merancang dan melaksanakan praktikum IPBA bidang Astronomi. Melalui program
ini, guru diharapkan memperoleh “sesuatu” yang baru dan dapat dijadikan sebagai
acuan dalam pengembangan tugas dan profesinya yang nantinya secara langsung
dapat meningkatkan produktivitas kerjanya seperti, mampu memberikan pembinaan
di bidang IPBA bagi anak didiknya menuju olimpiade Astronomi. Bila kualitas
pengetahuan guru meningkat akan berimplikasi pada kualitas pelaksanaan PBM, dan
akhirnya bermuara pada peningkatan prestasi bidang Astronomi.
Hasil penelitian terdahulu yang dilakukan oleh Averch et.al,1984 dan
Jamison,1974 (dalam Wirta, 1990) menemukan bahwa pengaruh variabel kualitas
guru cukup efektif terhadap prestasi belajar yang dicapai siswanya. Dalam
pembelajaran IPA di SD se Kabupaten Buleleng, hasil penelitian Wirta, dkk (1990)
menemukan bahwa terdapat hubungan yang positif dan bermakna antara kualitas
guru dengan prestasi belajar siswanya. Khusus dalam kegiatan praktikum IPBA,
hasil penelitian Pujani (2010) menemukan bahwa pembekalan keterampilan
6
laboratorium IPBA (Kebumian) bagi calon guru fisika dapat meningkatkan
keterampilan calon guru dalam merancang, melaksanakan dan melaporkan
praktikum IPBA. Untuk bidang Astronomi capaian keterampilan laboratorium yang
dicapai calon guru cenderung lebih rendah dari capaian keterampilan laboratorium
Kebumian (Pujani, 2011).
Masalah-masalah di atas bukan saja dihadapi dan dialami oleh guru IPBA di
Kabupaten Buleleng yang baru bertugas dengan masa kerja kurang dari 5 tahun,
tetapi guru yang sudah berpengalaman mengajar lebih dari 10 tahun pun mengalami
hal yang sama. Menyadari demikian urgennya persoalan tersebut, maka dalam
rangka pengabdian masyarakat Universitas Pendidikan Ganesha Singaraja, persoalan
menyangkut peningkatan wawasan dan kemampuan guru dalam bidang praktikum
IPBA (Astronomi), khususnya pada jenjang SMP/SMA sangat layak untuk dijadikan
sebagai salah satu tema atau fokus kegiatan, bagi perbaikan kualitas proses dan
produk pendidikan pada level SMP/SMA melalui refreshing program bagi guruguru IPA/Fisika pada SMP/SMA di Kota Singaraja.
B. IDENTIFIKASI DAN PERUMUSAN MASALAH
Dari paparan di atas dapat diidentifikasi hal-hal berikut:
(1) bahwa guru IPBA yang mengajar di SMP/SMA yang ada di wilayah Kota
Singaraja masih banyak yang belum sesuai kualifikasinya dengan bidang
tugasnya. Para guru yang mengajar IPBA (Astronomi) bulkanlah guru IPBA
tetapi dari Fisika atau Geografi. Disamping itu, kemampuan penguasaan materi
dan keterampilan profesional guru dalam mengajar IPBA di SMP/SMA masih
kurang, terutama di bidang praktikum. Oleh karena itu perlu diadakan program
7
re-freshing bagi guru-guru dalam upaya peningkatan kualitas penguasaan
bidang IPBA, khususnya di bidang praktikum Astronomi.
(2) bahwa hasil belajar IPBA siswa bergantung pada kualitas PBM yang
dilaksanakan guru. Mengingat Astronomi merupakan ilmu-ilmu dasar yang
harus ditanamkan secara kuat sejak dini, maka diperlukan kualitas pelaksanaan
PBM yang baik. Hal ini dapat dilakukan dengan peningkatan kualitas
pengetahuan guru IPBA tentang bidang studinya. Bila kualitas pengetahuan
guru tentang IPBA meningkat akan berimplikasi pada peningkatan kualitas
pelaksanaan PBM, dan akhirnya bermuara pada peningkatan prestasi belajar
IPBA siswa, sehingga siswa memiliki peluang untuk tampil dalam event
olimpiade Astronomi.
Berdasarkan uraian dan identifikasi masalah di atas, maka permasalahan
pokok yang hendak diurai melalui program ini adalah:
“Bagaimanakah cara
meningkatkan kualitas keterampilan praktikum bidang IPBA (Astronomi) bagi guruguru SMP/SMA di Kota Singaraja dalam rangka mengantisipasi rendahnya prestasi
belajar IPBA siswa serta sebagai persiapan menuju olimpiade Astronomi.
C. TUJUAN KEGIATAN
Berdasarkan analisis potensi dan rumusan masalah di atas, maka secara
spesifik tujuan kegiatan ini adalah untuk meningkatkan pengetahuan dan
keterampilan praktikum bidang IPBA bagi guru-guru SMP/SMA di Kota Singaraja
dalam rangka mengantisipasi rendahnya prestasi belajar IPBA siswa serta sebagai
persiapan menuju olimpiade Astronomi.
8
D. MANFAAT KEGIATAN
Kegiatan ini nantinya diharapkan bermanfaat bagi:
1. Pemerintah Kabupaten Buleleng, khususnya Dinas Pendidikan Kabupaten
Buleleng, bahwa program ini dapat membantu merealisasikan salah satu program
yang telah disusun dalam rencana pembangunan pendidikan di Buleleng, Provinsi
Bali, khususnya pada jenjang SMP/SMA, yaitu peningkatan pengetahuan dan
keterampilan guru dalam melakukan kegiatan-kegiatan akademis untuk
mendukung tugas-tugas profesionalnya, sehingga secara langsung berdampak
bagi peningkatan produktivitas pendidikan di Kota Singaraja.
2. Guru-guru SMP/SMA di Kota Singaraja, program ini sangat bermanfaat dalam
meningkatkan kualitas penguasaan bidang Astronomi sehingga nantinya mereka
dapat memiliki keterampilan melaksanakan praktikum Astronomi yang memadai
megingat pengajar Astronomi umumnya adalah guru fisika, serta mampu
membina siswa dalam persiapan menghadapi olimpiade Astronomi.
3. Universitas Pendidikan Ganesha, program ini sangat bermanfaat dalam menjalin
kerjasama yang mutualis antara LPTK dengan kalangan masyarakat luas,
sehingga tenaga dan berbagai potensi yang ada dapat disumbangkan kepada
khalayak luas, khususnya yang berkenaan dengan sektor pendidikan.
9
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
A. Peranan Praktikum dalam Pembelajaran Sains/IPBA
Praktikum adalah suatu bentuk kerja praktek yang bertempat dalam
lingkungan yang disesuaikan dengan tujuan agar siswa terlibat dalam pengalaman
belajar yang terencana dan berinteraksi dengan peralatan untuk mengobservasi serta
memahami fenomena. Sejalan dengan itu, Hofstein and Mamlok-Naaman (2007),
Rustaman et al., (2005) dan Margono (2000) menyatakan kegiatan laboratorium
sebagai suatu kegiatan praktikum, baik yang dilakukan di laboratorium maupun di
luar laboratorium seperti di kelas atau di alam terbuka, berkaitan dengan suatu
bidang ilmu tertentu yang antara lain ditujukan untuk menunjang pembelajaran teori.
Tujuan kegiatan praktikum adalah untuk mengembangkan keterampilanketerampilan ilmiah, pemahaman konsep, kemampuan kognitif, berpikir kreatif, dan
sikap ilmiah (Gangoli and Gurumurthy, 1995). Sementara itu menurut Hodson
(1996) tujuan kegiatan laboratorium dalam pembelajaran sains adalah untuk 1)
memotivasi siswa dan merangsang minat serta bakatnya, 2) mengajarkan
keterampilan-keterampilan yang harus dilakukan di laboratorium, 3) membantu
perolehan dan pengembangan konsep, 4) mengembangkan pemahaman terhadap
sains dan mengembangkan keterampilan dalam melaksanakan sains tersebut, dan 5)
menanamkan sikap ilmiah.
Bentuk kegiatan praktikum yang efektif dilakukan ada tiga yaitu, kegiatan
praktikum yang bersifat latihan, memberi pengalaman, dan
investigasi atau
penyelidikan (Van den Berg and Giddings, 1992; Woolnough dalam Rustaman et
10
al., 2005; Margono, 2000). Uraian ketiga bentuk kegiatan laboratorium tersebut
sebagai berikut.
1) Kegiatan Laboratorium Bentuk Latihan
Kegiatan laboratorium berbentuk latihan bertujuan untuk mengembangkan
keterampilan dasar dan teknik seperti menggunakan alat, mengukur dan mengamati
(observasi).
Contoh
kegiatan
laboratorium
yang
bersifat
latihan
adalah:
menggunakan teleskop, berlatih menggunakan peta langit, berlatih menggunakan
perangkat lunak “Stellarium”, dan berlatih merangkai alat dengan benar.
2) Kegiatan Laboratorium Bentuk Pengalaman
Kegiatan
laboratorium
pengalaman
bertujuan
untuk
meningkatkan
pemahaman materi pelajaran dengan cara memberikan pengalaman nyata secara
langsung kepada siswa terhadap fenomena alam. Contoh kegiatan laboratorium
berbentuk pengalaman adalah mengidentifikasi sifat fisis batuan dengan meraba
permukaan batuan dan mengamati warna mineral penyusun batuan, mempelajari dan
memperhatikan gerakan bayangan matahari. Pelaksanaan kegiatan laboratorium
dapat secara induksi atau verifikasi.
3) Kegiatan Laboratorium Bentuk Investigasi atau Penyelidikan.
Kegiatan laboratorium bentuk investigasi bertujuan untuk mengembangkan
kemampuan memecahkan masalah. Pada kegiatan laboratorium ini siswa dituntut
dapat bertindak sebagai seorang ilmuwan (Rustaman et al., 2005). Pelaksanaan
kegiatan laboratorium ini dapat menggunakan model inkuiri atau discovery,
sehingga
diperlukan
identifikasi
masalah,
perumusan
masalah,
hipotesis,
perencanaan percobaan, pelaksanaan percobaan, evaluasi hasil percobaan, dan
pelaporan hasil percobaan. Contoh materi untuk kegiatan laboratorium bentuk
11
investigasi adalah: penyelidikan faktor-faktor yang mempengaruhi erosi dan
pelapukan, faktor-faktor yang mempengaruhi efek rumah kaca dan pemanasan
global.
Mencermati uraian di atas, dapat dikatakan bahwa kegiatan praktikum dalam
pembelajaran sains memiliki peranan yang penting. Menurut Woolnough and Allsop
dalam Rustaman (2002); Hofstein and Mamlok-Naaman (2007), pentingnya
kegiatan praktikum dalam sains adalah: (1) membangkitkan minat dan motivasi
belajar sains, (2) mengembangkan keterampilan-keterampilan dasar melaksanakan
eksperimen, (3) menjadi wahana belajar pendekatan ilmiah, dan (4) menunjang
pemahaman materi pelajaran. Sementara itu, menurut Millar (2004), peran kegiatan
kegiatan praktikum, antara lain (1) mengajarkan pengetahuan ilmiah sebagai
kemampuan berkomunikasi, (2) pengalaman dalam kegiatan kegiatan praktikum
sangat penting untuk memahami dunia, (3) kegiatan kegiatan praktikum melibatkan
kemampuan melakukan suatu tindakan dan merefleksinya, dan (4) mengkaitkan dua
domain pengetahuan yaitu domain objek real dan sesuatu yang dapat diamati dengan
domain ide-ide.
Sejalan dengan itu, Wiyanto (2008) menyatakan peranan kegiatan kegiatan
praktikum dalam sains diantaranya sebagai berikut. Pertama, sebagai wahana untuk
mengembangkan keterampilan dasar mengamati atau mengukur (menggunakan alatalat yang sesuai) dan keterampilan-keterampilan proses lainnya, seperti mencatat
data, membuat tabel, membuat grafik, menganalisis data, menarik kesimpulan,
berkomunikasi, dan bekerjasama dalam tim. Kedua, laboratorium dapat dijadikan
sebagai wahana memperjelas konsep yang telah dibahas sebelumnya. Ketiga,
laboratorium dapat dijadikan sebagai wahana untuk mengembangkan kemampuan
12
berpikir melalui proses pemecahan masalah dalam rangka siswa menemukan konsep
sendiri. Lebih lanjut Wiyanto (2008) menyatakan bahwa peran yang paling penting
tingkatannya dibandingkan dengan peran-peran lainnya adalah peran ketiga, yaitu
laboratorium untuk mengembangkan kemampuan berpikir, karena hal ini berarti
laboratorium telah dijadikan sebagai wahana untuk learning how to learn.
B. Hakekat IPA dan Implikasinya dalam Pembelajaran
Ilmu Pengetahuan Alam (IPA) pada hakekatnya mencakup dua dimensi yaitu
dimensi produk dan dimensi proses. Dimensi Produk mengandung sekumpulan
pengetahuan baik berupa konsep-konsep, prinsip-prinsip, maupun hukum-hukum
sebagai hasil penelitian dan pikiran para ilmuwan (saintis). Sedangkan dimensi
proses IPA berisi sekumpulan keterampilan-keterampilan dasar yang mencerminkan
suatu
proses.
/mengobservasi,
Jadi
keterampilan-
mengklasifikasikan/
keterampilan
kategorisasi,
IPA
meliputi:
mengamati
mengukur/
melakukan
pengukuran, mengajukan pertanyaan, merumuskan hipotesis, merencanakan
penyelidikan/ percobaan, menginterpretasikan /menafsirkan hasil pengamatan, dan
berkomunikasi.
Untuk dapat mengajarkan IPA dengan baik dan tepat maka seorang guru
haruslah memahami tentang pengertian dan hakekat dari IPA. Mengajar sains
merupakan upaya guru dalam membelajarkan siswanya tentang sains. Mengajar
dalam pengertian ini berarti memberi arah sekaligus mengembangkan pemerolehan
konsep-konsep sains oleh siswa sendiri. Oleh sebab itu proses mengajar lebih
didasari oleh kepentingan siswa dalam mendapatkan konsep-konsep, prinsip,
keterampilan serta sikap yang dilandasi metode ilmiah. Trowbridge (dalam Suastra
13
dan Pujani, 1999) menjelaskan tentang mengajar yang berorientasi pada belajar
penemuan (discovery), bahwa dengan upaya mengajar diharapkan terjadi personal
meaning tentang sains pada diri siswa.
Belajar sains atau mempelajari sains bagi pebelajar tidak lagi sebagai
penerimaan informasi tentang sains akan tetapi merupakan suatu proses
pengembangan keterampilan berpikir mengenai konsep sains. Dengan demikian
strategi belajar yang digunakanpun harus dikondisikan pada kegiatan-kegiatan yang
berdimensi fisik dan psikis kognitif. Piaget sebagaimana disitir oleh Labinowict,
1980 (dalam Suastra dan Pujani, 1999) menyatakan bahwa pengetahuan sains akan
baik jika dipelajari dengan cara active construction. Ini berarti bahwa siswa
diarahkan untuk membangun pengetahuannya secara aktif. Untuk itu strategi belajar
hendaknya ditujukan kepada student centered, sehingga siswa sepenuhnya terlibat
pada proses pembelajarannya.
Kreativitas dalam sains juga terjadi bila siswa melakukan penemuan ilmiah
untuk mereka sendiri walaupun informasi semacam itu telah diketahui orang lain
(Adang, 1985 dalam Suastra dan Pujani, 1999). Prinsip-prinsip dasar itu pasti
tercantum dalam buku teks, tetapi penerapan khusus atau inovasi-nya perlu
ditentukan oleh siswa. Lebih lanjut Adang (1985), menyatakan bahwa untuk melatih
berfikir kreatif siswa hendaknya diberi kesempatan:
1. Mengajukan pertanyaan yang mengundang berpikir selama PBM berlangsung.
2. Membaca buku-buku yang mendorong untuk melakukan studi lebih lanjut.
3. Merasakan kemudahan dalam mengambil isu atau menyatakan ide atau proses.
4. Memodifikasi atau menolak usulan yang orisinil dari seseorang tanpa
mencemoohnya.
14
5. Merasa bebas dalam mengajukan tugas pengganti yang mempunyai potensi
kreatif.
6. Menerima pengakuan yang sama untuk berpikir kreatif seperti juga untuk hasil
belajar yang berupa mengingat.
Dari uraian di atas maka pengajaran IPA yang memungkinkan siswa untuk
mengembangkan kreativitas berpikirnya adalah pengajaran IPA dengan melibatkan
keterampilan-keterampilan proses IPA. Hal ini akan dapat dilakukan melalui
pengajaran IPA dengan pendekatan keterampilan proses IPA (Ratna Wilis Dahar
1989:13).
C. Kualitas Guru
Guru adalah merupakan sub sistem pengelola yang sangat menentukan
keberhasilan suatu PBM. Oleh karena itu guru dituntut memiliki kemampuan untuk
mengelola kelas dengan suatu metode serta pendekatan mengajar yang mesti
diterapkannya. Namun, mengajar adalah serangkaian aktivitas yang sangat
kompleks, oleh karenanya sangat sulit untuk menentukan guru yang bagaimana
guru yang berkualitas. Ada kalanya guru berhasil dalam mengajar IPA di Sekolah
Dasar, tetapi tidak berhasil jika dia ditugaskan mengajar IPA di SMP, atau
sebaliknya. Demikian pula guru yang memiliki gelar sarjana, belum tentu akan
menjamin keberhasilannya dalam mengelola PBM di kelas. Dan ada kalanya guru
yang telah mengajar dalam waktu yang relatif lama merasa belum berhasil
mengelola PBM, dan baru setelah mereka mendapat pelatihan atau mengikuti
penataran menemukan suatu strategi mengajar, sehingga KBM menjadi lebih baik.
Walaupun
demikian,
kualitas
guru
bidang
studi
IPA
(astronomi)
yang
15
mencerminkan kemampuan profesional (kualitas) guru sesungguhnya dapat
diperoleh melalui beberapa cara diantaranya melalui pendidikan (kuliah) di suatu
LPTK, melalui pengalaman mengajar, melalui penataran-penataran/pelatihan, dan
melalui peningkatan penguasaan guru pada bidang studi IPA (astronomi).
Tingkat pendidikan guru yang dimaksud adalah tingkat pendidikan terakhir,
yang dapat dikategorikan sebagai berikut: SD, SLTP, SPG/KPG, SMA non
keguruan, PGSLP, D1, D2, D3, Sarjana Muda, Sarjana, dan Pascasarjana. Kualitas
tingkat pendidikan ditentukan berdasarkan lamanya pendidikan itu berlangsung yang
dinyatakan dalam tahun.
Pengalaman mengajar adalah lamanya guru bersangkutan melakukan
pekerjaan mengajar dihitung dari tahun pengangkatan. Pengalaman mengajar dapat
dinyatakan dalam interval: 0-4 tahun, 5-8 tahun, 9-12 tahun, 13-16 tahun dan 17-20
tahun atau lebih. Interval pengalaman mengajar selama 4 tahun ini ditetapkan
berdasarkan konsep pemikiran kenaikan pangkat tetap bagi seorang guru
berlangsung setiap empat tahun.
Penataran yang dimaksud adalah penataran yang berkaitan dengan proses
belajar mengajar IPA di SMP atau setidak-tidaknya penataran yang menunjang
proses belajar mengajar secara umum. Kualitasnya ditentukan oleh lamanya
penataran itu diikuti yang dinyatakan dalam hari. Di samping itu, kualitas guru IPA
juga dapat dilihat dari kualitas penguasaannya terhadap bidang studi IPA tersebut.
Hal ini dapat diketahui setelah guru menjawab seperangkat tes IPA yang tingkat
kesukarannya setaraf guru.
16
D. Pengaruh Kualitas Guru terhadap Prestasi belajar Siswa
Sesuai uraian di atas, indikator kualitas (kemampuan profesional) guru dapat
dilihat melalui pendidikan, pengalaman mengajar, penataran, dan melalui pelatihan
peningkatan penguasaan guru pada bidang studi IPA. Baik secara terpisah maupun
bersama-sama indikator kualitas guru ini akan terkait dengan prestasi yang dapat
dicapai oleh siswa.
Pendidikan
Pendidikan terakhir seorang guru sangat menentukan kewenangannya dalam
mengajar. Ijazah tertinggi seorang guru merupakan salah satu faktor terpenting
dalam menentukan kualitas suatu sekolah. Di mana kualitas sekolah tidak dapat
terlepas dari predikat lulusan yang melibatkan prestasi belajar siswanya.. Sedangkan
untuk menentukan kewenangannya, pendidikan terakhir seorang guru hanya berlaku
pada tingkatan-tingkatan sekolah tertentu. Guru SD minimal tamatan SPG/KPG,
guru SMP minimal tamatan PGSLP, dan guru SMU minimal lulusan sarjana muda
keguruan (Parluhutan Tobing, 1983). Artinya, semakin tinggi jenjang pendidikan
keguruan yang dimiliki guru dihitung dari persyaratan minimal, akan semakin siap
mereka menjadi tenaga pendidik (guru). Pada gilirannya diharapkan mereka dapat
meningkatkan prestasi belajar IPA siswa.
Pengalaman Mengajar
Lamanya masa kerja seorang guru IPA di SMP akan menunjukkan kuantitas
pengalaman yang mereka miliki selama bekerja di lapangan. Melalui pengalaman
mengajar, guru-guru dapat meningkatkan
kemampuan profesionalnya, misalnya
dari kesalahannya membimbing dalam membuat rumusan masalah, membuat
kesimpulan dan lain sebagainya guru bersangkutan kemudian membenahinya. Guru
17
IPA yang baik adalah mereka yang mau mengevaluasi KBM yang pernah mereka
lakukan, sehingga KBM berikutnya dapat meningkatkan hasil belajar IPA siswa
yang lebih berkualitas. Hal ini sesuai dengan pepatah ”pengalaman adalah guru yang
terbaik”.
Penataran
Penataran guru-guru IPA yang dilaksanakan oleh pemerintah baik di tingkat
regional maupun nasional bertujuan untuk meningkatkan kemampuan profesional
guru. Dalam penataarn ini guru dipersiapkan untuk menguasai materi pelajaran,
metode mengajar dan cara-cara dalam mengelola PBM. Jika tujuan penataran ini
telah tercapai dan dapat dilaksanakan oleh guru yang pernah mengikuti penataran
maka guru diharapkan dapat meningkatkan kemampuan mengajarnya. Dengan
demikian siswa akan menjadi lebih giat dan senang belajar dalam usaha untuk
meningkatkan prestasi belajar.
Tingkat Penguasaan Guru pada Bidang Studi IPA
Kemampuan guru dalam mengajar IPA sebenarnya merupakan faktor yang
paling sentral dalam meningkatkan prestasi belajar IPA siswa. Prestasi siswa pada
bidang studi IPA secara konsisten dipengaruhi oleh seberapa jauh siswa diekspose
terhadap pelajaran IPA yang diajarkan oleh guru dengan menggunakan metode
belajar mengajar yang menyenangkan melalui pemecahan masalah. Terdapat suatu
kecendrungan bahwa kualitas proses belajar mengajar di kelas sangat ditentukan
oleh tingkat penguasaan guru terhadap materi pelajaran dan metode belajar mengajar
itu sendiri (Depdikbud, 1989).
Berdasarkan uraian di atas dapat dimengerti bahwa semakin baik tingkat
penguasaan guru terhadap materi bidang studi IPA
yang diajarkan, maka
18
diharapkan dia dapat menunjukkan kemampuan mengajar yang lebih baik. Pada
gilirannya guru IPA diharapkan dapat memberikan kontribusi yang berarti dalam
meningkatkan prestasi belajar IPA siswa. Dalam kaitan dengan kegiatan pengabdian
masyarakat ini, maka peningkatan kualitas penguasaan bidang studi IPBA
(Astronomi) bagi guru SMP dan SMA di Kota Singaraja diharapkan akan
berpengaruh positif terhadap peningkatan prestasi belajar IPBA (Astronomi) siswa.
19
BAB III
METODE PELAKSANAAN
A. Kerangka Pemecahan Masalah
Secara skematis kerangka pemecahan masalah yang dikembangkan disajikan
pada gambar 1 berikut.
Orientasi Lapangan
Identifikasi Masalah
Studi Literatur
Ceramah dan Praktikum
Penyegaran Materi
Produk
Menambah Wawasan
Astronomi
Mampu Membina /mempersiapkan Siswa
untuk menghadapi olimpiade Astronomi
Keterangan:__________ alur kegiatan, - - - - - - - - - alur pengkajian
Gambar 1: Skema Alur Kerja Pemecahan Masalah
Berdasarkan skema di atas, kegiatan diawali dengan orientasi lapangan oleh
tim pelaksana. Masalah yang ada di lapangan kemudian diidentifikasi sehingga
ditemukan ada masalah yang perlu mendapat penanganan yaitu ketidak sesuaian
kualifikasi guru IPBA dengan materi yang diajar merupakan salah satu penyebab
ketidak berhasilan pembinaan bidang Astronomi pada siswa SMP/SMA di Kota
20
Singaraja. Setelah itu dilakukan pengkajian literatur, ditemukan alternatif yang
visibel untuk dilaksanakan yaitu melalui program refreshing berupa pemberian
pelatihan bidang Astronomi untuk meningkatkan kualitas penguasaan guru.
Penyegaran materi dilakukan dengan ceramah/presentasi dan praktikum/observasi
yang diharapkan dapat meningkatkan kemampuan/pemahaman guru tentang
Astronomi. Materi yang dipraktikumkan disesuaikan dengan tuntutan olimpiade
Astronomi bidang praktikum/observasi.
B. Realisasi Pemecahan Masalah
Program ini dirancang sebagai bentuk jawaban dan antisipasi dari berbagai
permasalahan menyangkut kualitas dan kinerja guru SMP/SMA di Kota Singaraja,
khususnya pada bidang peningkatan kualitas guru yang saat ini tengah
berkonsentrasi pada pembangunan berbagai institusi pendidikan dan tenaga
kependidikan di berbagai pelosok wilayahnya. Berangkat dari rasional tersebut,
maka program ini akan dilaksanakan dengan menyelenggarakan pelatihan untuk
meningkatkan kualitas penguasaan bidang IPBA bagi guru-guru SMP/SMA di Kota
Singaraja. Model pelaksanaan kegiatan ini akan dilakukan secara langsung (tatap
muka) dengan bidang kajian yang terkonsentrasi pada 2 (dua) topik dasar materi
yaitu, (1) Pembekalan tentang kompetensi yang diperlukan guru dalam praktikum
IPBA (Astronomi) dan Cara Mengenali/Mengamati Objek Menarik Langit Malam,
dan (2) Pelatihan praktikum IPBA secara hand on dan observasi lapangan.
Lama pelaksanaan kegiatan adalah 2 (dua) hari dengan melibatkan
perwakilan guru SMP/SMA yang ada di Kota Singaraja. Setelah diberi pembekalan
materi, setiap kelompok peserta dilatih melaksanakan praktikum dengan
21
menggunakan alat-alat praktikum sederhana dan melakukan pengenalan teleskop
untuk mendukung pengamatan/observasi langit malam. Diakhir pelatihan, peserta
diberi tes untuk mengetahui penguasaan materi dan keberhasilan program. Melalui
sejumlah kegiatan tersebut, diharapkan para guru SMP/SMA memperoleh
penyegaran wawasan dan peningkatan kualitas pengetahuan serta keterampilan
melakukan praktikum bidang Astronomi untuk kepentingan tugas dan profesinya
sebagai pengembang dan pelaksana kurikulum.
C. Khalayak Sasaran
Khalayak sasaran antara yang strategis dalam kegiatan ini adalah para guru
SMP/SMA di Kota Singaraja. Di sisi lain, permasalahan mendasar dan aktual yang
terjadi pada sektor pendidikan di Kabupaten Buleleng adalah rendahnya prestasi
belajar IPBA siswa SMP/SMA serta sebagai persiapan pembinaan menuju
olimpiade Astronomi. Permasalahan ini salah satunya disinyalir dapat diantisipasi
dan dieliminir melalui peningkatan kualitas penguasaan bidang IPBA bagi guru
SMP/SMA, sehingga sejak awal guru dapat mempersiapkan dan mengelola proses
belajar mengajar dengan lebih baik. Berdasarkan rasional tersebut, maka sasaran
yang dipilih dipandang cukup visibel dan prediktif bagi penyebarluasan informasi
atau hasil dari kegiatan ini secara berkelanjutan dan terstruktur
Jumlah guru yang akan dilibatkan adalah sebanyak 20 orang guru yang
mengajar IPBA (guru IPA dan Fisika) berasal dari 10 sekolah SMP/SMA yang ada
di Kota Singaraja. Penentuan subjek didasarkan pada proporsi jumlah guru per
jenjang sekolah. Kegiatan pelatihan ini dilaksanakan dengan sistem kader. Guru
SMP/SMA perwakilan yang ditunjuk akan diberikan pelatihan. Mereka yang
22
dijadikan kader dipersyaratkan agar mampu dan mau bekerja sama, serta dapat
menyebarkan hasil kegiatan kepada guru lainnya
D. Metoda Pelaksanaan Kegiatan
Pola dan tahapan evaluasi akan disesuaikan dengan metode yang digunakan
dalam upaya mencapai tujuan. Beberapa metode yang akan digunakan dalam
kegiatan P2M ini adalah presentasi, diskusi dan observasi/pengamatan langit malam
Astronomi sederhana. Setiap metode dipilih sesuai dengan relevansinya terhadap
pencapaian tujuan. Adapun rincian metode yang digunakan adalah sebagai berikut.
Tabel 1 Metode Pelaksanaan
Metode Pelaksanaan
Presentasi
Tujuan yang ingin dicapai
Untuk memberi pengertian tentang kompetensi
yang diperlukan guru dalam praktikum IPBA
(Astronomi) dan Cara Mengenali/Mengamati
Objek Menarik Langit Malam.
Diskusi
Untuk memantapkan pemahaman peserta terhadap
materi yang dibahas
Praktikum/Observasi
Untuk melatih keterampilan guru dalam
melaksanakan praktikum Astronomi khususnya
melakukan observasi terhadap objek langit
malam, serta dapat melaksanakan praktikum
Astronomi dengan alat-alat sederhana secara hand
on dengan topik seperti: jam matahari, rotasi dan
revolusi bumi, rotasi dan revolusi bulan, tata
koordinat dan pengenalan rasi bintang.
Tes
Pre test dan post test diberikan untuk memberi
wawasan tentang materi IPBA dan mengukur
ketercapaian program.
23
Sesuai dengan metode kegiatan di atas, maka evaluasi akan dilaksanakan
pada awal, akhir dan selama pelaksanaan kegiatan (directed evaluation/ proccess
evaluation). Indikator yang digunakan sebagai parameter keberhasilan program ini
adalah, “terjadinya peningkatan penguasaan materi dan meningkatnya kemampuan
guru dalam melaksanakan praktikum astronomi dengan alat-alat sederhana secara
hand on dan dalam mengobservasi objek langit malam dengan menggunakan
teleskop.” Untuk itu, di awal dan di akhir kegiatan akan diberikan tes materi IPBA
(Astronomi) dan tim tutor akan mendampingi guru-guru saat pelatihan praktikum
dengan alat-alat sederhana maupun dengan menggunakan teleskop untuk
mengobservasi objek menarik di langit malam.
24
BAB IV
HASIL DAN PEMBAHASAN
Pada bagian ini dipaparkan tentang hasil atas perlakuan yang diberikan untuk
memecahkan masalah yang dihadapi oleh masyarakat dan pembahasannya.
A. Hasil Kegiatan
Pelatihan praktikum Astronomi bagi guru SMP/SMA di Kota Singaraja ini,
dilaksanakan tanggal 6-7 Oktober 2012, bertempat di Laboratorium Jurusan
Pendidikan Fisika FMIPA Universitas Pendidikan Ganesha. Panitia mengundang 20
orang guru-guru SMP/SMA dari 10 sekolah di Kota Singaraja melalui kepala
sekolah masing-masing. Penunjukan peserta diserahkan kepada kepala sekolah,
disarankan agar guru yang ditunjuk adalah yang membina siswa dalam olimpiade
Astronomi masing-masing sebanyak 2 orang. Dari 20 orang guru yang diundang,
ternyata jumlah guru yang hadir hanya 8 orang, tetapi dilihat dari jumlah
sekolahnya, dari 10 sekolah yang diundang ada sekitar 80% sekolah yang mengirim
wakilnya. Ketidak hadiran sebagian guru-guru disebabkan Kepala Sekolah hanya
menugaskan 1 orang guru saja, karena ada beberapa kegiatan kompetisi yang
waktunya bersamaan. Hal ini menunjukkan bahwa respon sekolah terhadap
pelatihan yang dilaksanakan adalah positif.
Pengetahuan awal peserta pelatihan tentang praktikum IPBA terkait dengan
praktikum/observasi langit malam (sesuai soal olimpiade) sangat beragam, ada yang
sudah punya cukup pengalaman, beberapa sudah pernah mencoba-coba, tetapi
kebanyakan guru SMP/SMA belum memahami penggunaan teleskop dan belum
25
mengenali objek ynag akan diamati dalam observasi/praktikum Astronomi. Melihat
kondisi ini, pelatihan diawali dengan mengenalkan beberapa kompetensi praktikum
yang perlu dimiliki guru dan pengenalan objek menarik langit malam, agar nantinya
guru dapat malakukan praktikum/observasi secara benar. Setelah cukup barulah
kegiatan dilanjutkan dengan pelatihan praktikum/observasi. Dengan pola seperti ini,
pemahaman guru terhadap teknik mengobservasi objek langit mengalami
peningkatan, di mana guru dapat mengenali berbagai objek langit malam seperti
bintang paling terang, mengenal berbagai rasi, planet, mengenal bintang penanda
arah (salib selatan dan ursa mayor) serta rasi penanda musim (scorpio dan orion).
Terhadap praktikum secara hand on dengan alat-alat sederhana, kegiatan praktikum
belum dapat dilakukan dengan baik karena kekurangan waktu. Kegiatan ini akhirnya
dilakukan dengan mendiskusikan petunjuk praktikum yang sudah disiapkan, dan
mempraktekkan cara pengamatan fasa bulan saja.
Sementara itu, penguasaan terhadap materi IPBA digali melalui pre test dan
post test yang diberikan di awal dan di akhir pelatihan. Skor yang diperoleh
ditampilkan pada Tabel 2 berikut.
26
Tabel 2
Capaian skor pretes dan postes tentang penguasaan materi IPBA
Kode Guru
Asal Sekolah
Pretes
Postes
Gain
Keterangan
A
SMP N 2 Singaraja
40
65
25
Meningkat
B
sda
45
68
23
Meningkat
C
SMPN 4 Singaraja
40
68
28
Meningkat
D
SMP Lab Undiksha
45
68
23
Meningkat
E
SMAN 1 Singaraja
60
75
15
Meningkat
F
SMAN 2 Singaraja
50
70
20
Meningkat
G
SMAN 4 Singaraja
45
75
30
Meningkat
H
SMA Lab Undiksha
55
75
20
Meningkat
Rata-rata
47,5
70,5
Kategori
Kurang Baik
Berdasarkan Tabel 2, tingkat kemampuan guru dalam astronomi tergolong masih
kurang (47,5). Setelah pelatihan capaiannya mengalami peningkatan dengan ratarata sebesar 70,5 dengan kategori baik. Hal ini menunjukkan bahwa penguasaan
materi Astronomi guru-guru mengalami peningkatan.
Berdasarkan capaian di atas, secara umum dapat dikatakan bahwa
pelaksanaan pelatihan berjalan baik, dapat memberi manfaat yang besar bagi para
guru SMP/SMA, serta tepat sasaran. Hal ini terlihat dari respon peserta yang begitu
antusias mengikuti pelatihan. Pada hari I, guru dengan penuh perhatian mengikuti
presentasi tentang Kompetensi yang diperlukan guru dalam praktikum dilanjutkan
dengan pengenalan objek menarik di langit malam. Diskusi berkembang hingga para
27
guru merasa cukup memiliki pemahaman tentang praktikum yang dilatihkan. Guru
sangat antusias mendengarkan paparan dari pemakalah, Dr. Ni Made Pujani, M.Si
dan Nyoman Suwitra, M.S dari Jurusan Pendidikan Fisika Undiksha.
Pada hari II, guru dengan penuh semangat ingin berlatih melakukan
praktikum hand on yang telah disiapkan, mencoba mengoperasikan teleskop dan
melakukan pengamatan langit malam. Pada siang hari kegiatan pengamatan langit
malam dilakukan dengan software “Stelarium”. Sementara itu pelatihan praktikum
secara hand on hanya disample untuk topik tertentu saja, karena kendala waktu.
B. Pembahasan
Respon yang positif dari para guru untuk mengikuti pelatihan praktikum
IPBA menuju olimpiade Astronomi bagi guru-guru SMP/SMA di Kota Singaraja
menunjukkan bahwa kemampuan dan keterampilan guru dalam melakukan
praktikum IPBA memang sudah merupakan kebutuhan mendesak. Diadakannya
olimpiade Astronomi setiap tahun sekali menyebabkan para guru harus mampu
mengikuti perkembangan keilmuan itu sendiri agar mampu memberikan yang
terbaik bagi sekolah dan siswanya.
Fasilitas laboratorium yang tersedia di sekolah-sekolah akan dapat
dimanfaatkan secara lebih optimal bila didukung oleh kemampuan SDMnya.
Dengan kemampuan melakukan praktikum, menggunakan teleskop, dengan
penguasaan materi dan pengetahuan mengenai langit malam, serta dengan
pemahaman mengenai teleskop dan kompetensi praktikum, para guru akan
dimudahkan dalam menyiapkan siswanya menghadapi olimpiade astronomi.
Demikianpun, sekolah akan dapat keuntungan karena memiliki guru yang terlatih.
28
Berdasarkan kondisi itu dapat dikatakan bahwa pelatihan ini dapat
menambah wawasan dan keterampilan para guru dalam memanfaatkan alat-alat
sederhana untuk melakukan praktikum astronomi maupun untuk mengobservasi
objek langit malam. Hal ini didukung pula dari hasil pemantauan tim tutor yang
mendampingi peserta selama pelatihan, dan respon positif yang diberikan oleh
peserta melalui angket sederhana yang disebarkan tim pelaksana.
29
BAB V
SIMPULAN DAN SARAN
A. Simpulan
Pelatihan praktikum IPBA bagi guru SMP/SMA merupakan kebutuhan yang
mendesak bagi sekolah, terlebih dengan adanya olimpiade Astronomi. Untuk
mengantisipasi kebutuhan ini pelatihan praktikum untuk mengobservasi langit
malam merupakan alternatif yang tepat agar para guru dapat menyiapkan siswanya
lebih dini dalam menghadapi olimpiade. Secara lebih rinci dapat dsimpulkan bahwa:
1. Pelatihan praktikum IPBA bagi guru SMP/SMA meningkatkan keterampilan
guru-guru SMP/SMA di Kota Singaraja dalam melakukan praktikum
astronomi dan mengobservasi langit malam.
2. Pelatihan praktikum IPBA bagi guru SMP/SMA meningkatkan penguasaan
materi IPBA (pre test = 47,5, post test = 70,5) sehingga memudahkan guru
dalam membina siswa peserta olimpiade astronomi.
3. Respon guru-guru SMP/SMA di Kota Singaraja terhadap pelaksanaan
pelatihan praktikum IPBA bagi guru SMP/SMA adalah positif.
B. Saran
Berdasarkan pembahasan kendala-kendala yang dihadapi dalam pelatihan
ini, maka dapat disarankan beberapa hal sebagai berikut.
1. Kepada tim pelaksana, agar melakukan koordinasi dengan Kepala Sekolah
sehingga pelaksanaan kegiatan pelatihannya tidak berbenturan dengan
30
kegiatan
lainnya,
sehingga
makin
banyak
guru-guru
yang
dapat
berpartisipasi.
2. Kepada pihak terkait, seperti LPM Undiksha, Dinas Pendidikan Kabupaten
Buleleng, dan sekolah (SMP/SMA) disarankan agar menyelenggarakan
pelatihan lanjutan agar keterampilan yang sudah dimiliki para guru dapat
dikembangkan. Pelatihan yang sejenis agar diselenggarakan untuk para guru
lainnya dan perlu dibuatkan suatu wadah dimana para guru dapat sharing
pengetahuan tentang pengamatan objek langit malam, misalnya membentuk
suatu club Astronomi.
31
DAFTAR PUSTAKA
Dahar, Ratna Wilis dan Liliasari. 1989. Interaksi Belajar Mengajar IPA. Jakarta:
Universitas Terbuka
Departemen P dan K. 1984. Materi Dasar Pendidikan Program Akta Mengajar V,
Buku IA. Filsafat Ilmu. Jakarta: Universitas Terbuka.
---------. 1987. Studi Mutu Pendidikan Dasar. Dasar-dasar Konsepsi Studi Mutu
Pendidikan Dasar. Jakarta: Pusat Informatika. Badan Penelitian dan
Pengembangan Pendidikan dan Kebudayaan
---------. 1989. Studi Mutu Pendidikan Dasar, Status, Variansi dan Determinasi
Prestasi Belajar Matematika. Jakarta: Pusat Informatika. Badan Penelitian
dan Pengembangan Pendidikan dan Kebudayaan.
Depdiknas. 2002. Pengembangan Sistem Pendidikan Tenaga Kependidikan Abad
ke-21 (SPTK-21). Jakarta: Departemen Pendidikan Nasional.
Gallagher, J.J. 2007. Teaching Science for Understanding: A Practical Guide for
School Teachers. New Jersey: Pearson Merril Prentice Hall.
Gangoli, S.G. and Gurumurthy, C. (1995). “A Study of Effectiveness of a Guided
Open-ended Approach to Physics Experimenst”. International Journal of
Science Education. 17, (2), 233-241.
Hodson, D. (1996). “Practical Work in School Science: Exploring Some Direction
for Change”. International Journal of Science Education. 18, (7), 755-760.
Hofstein, A. and Mamlok-Naaman, R. 2007. “The Laboratory in Science Education:
The State of The Art”. Chemistry Education Reserach and Practice. 8, (2),
105-107.
Iskandar, Srini M. dan Eddy M. Hidayat. 1997. Pendidikan Ilmu Pengetahuan Alam.
Dirjen Pendidikan Tinggi: Proyek Penegmbangan Pendidikan Guru Sekolah
Dasar.
Jiyono. 1987. Studi Kemampuan Guru IPA Sekolah Dasar. Jakarta. Puslit Balitbang,
Depdikbud.
Kertiasa, N. 2006. Laboratorium Sekolah dan Pengelolaannya. Bandung: Pudak
Scientific.
Liem, T.L. 2007. Invitations to Science Inquiry (Asyiknya Meneliti Sains) (Jilid
1,2,3). Bandung: Pudak Scientific.
32
Margono, H. (2000). Metode Laboratorium. Malang: Jurusan Biologi FMIPA
Universitas Negeri Malang.
Memes, Wayan, Ketut Tika dan Ni Made Pujani. 2001. Pengembangan Model
Pembelajaran IPA (Fisika) dengan Penerapan Pendekatan Keterampilan
Proses untuk Meningkatkan Sikap Ilmiah dan Hasil Belajar Siswa SLTP
Negeri di Singaraja Tahiun Ajaran 2001/2002. Laporan Penelitian Research
Grant. Proyek DUE-like IKIP Negeri Singaraja.
Millar, R. (2004). The Role of Practical Work in The Teaching and Learning of
Science. Paper prepared for the Meeting: High School Science Laboratories:
Role and Vision. National Academy of Sciences, Washington DC. June 3-4
2004.
NRC. 1996. National Science Education Standars. Washington D.C: National
Academy Press.
Pabellon J.L. and Mendoza, A.B. 2000. Sourcebook on Practical Work for Teacher
Trainers: High School Physics Volume 1. Quezon City: Science and Math
Education Manpower Development Project (SMEMDP) University of The
Phillipine.
Parluhutan Tobing. 1983. Pengembangan Profil Guru-guru SMP dan SMA
1981/1982. Analisis Pendidikan, Tahun III No.3. Jakarta: Departemen P dan
K.
Pujani. N.M. 2010. Pembekalan Keterampilan Laboratorium Kebumian Berbasis
Kemampuan Generik Sains Bagi Calon Guru Fisika. Laporan Hasil
Penelitian, Hibah Disertasi Doktor, Tidak dipublikasi. LPPM UPI, Bandung.
Pujani, N.M. 2011. Pembekalan Keterampilan Laboratorium IPBA Berbasis
Kemampuan Generik Sains Bagi Calon Guru. Disertasi Doktor. Tidak
dipublikasi. UPI, Bandung.
Pujani, N.M., dan Liliasari. (2011). Deskripsi Hasil Analisis Pembelajaran IPBA
sebagai Dasar Pengembangan Kegiatan Laboratorium Bagi Calon Guru.
Makalah pada Seminar Nasional Pendidikan FKIP Unila, Bandar Lampung.
29-30 Januari 2011.
Rustad, S., Munandar, A. dan Dwiyanto. 2004. Analisis Prasarana dan Sarana
Pendidikan SD/MI, SMP/MTS, dan SMA/SMK/MA. Jakarta: Balitbangnas,
Departemen Pendidikan Nasional.
Rustaman, N.Y. (2002). Perencanaan dan Penilaian Praktikum di Perguruan
Tinggi. Makalah pada Program Applied Approach Bagi Dosen UPI tahun
2002, Bandung.
33
Rustaman, N.Y., Dirdjosoemarto, S., Yudianto, S.A., Achmad, Y., Subekti, R.,
Rochintaniawati, D. dan Nurjhani K., M. 2005. Strategi Belajar Mengajar
Biologi. Malang: Universitas Negeri Malang (UM Press).
Rutherford, F.J. and Ahlgren, A. (1990). Science for All Americans. New York:
Oxford University Press.
Suastra dan Made Pujani. 1999. Pengembangan Alat-alat Percobaan Sederhana
Buatan Guru sebagai Upaya Meningkatkan Proses dan Hasil Belajar Siswa
Kelas I SLTP N 6 Singaraja. Laporan Hasil Penelitian Tindakan Kelas,
DIKS STKIP Singaraja.
The Liang Gie. 1980. Filsafat Matematika. Yogyakarta: Super.
Utomo, T. dan Ruijter, K. 1990. Peningkatan dan Pengembangan Pendidikan.
Jakarta: Gramedia.
Van den Berg, E. and Giddings, G.J. (1992). Laboratory Practical Work: An
Alternative View of Laboratory Teaching. Monograph. Curtin University of
Technology, Western Australia, Science and Mathematics Education Centre.
Wirta, Made, Ketut Suma, Wayan Santyasa, Made Pujani, Ketut Rapi. 1990. Prestasi
Belajar IPA Siswa Kelas VI SD Negeri se Kabupaten Buleleng tahun Ajaran
1990/1991 Sebagai Fungsi Kualitas Reinforcement dan Kualitas Guru.
Laporan Penelitian. Denpasar: Universitas Udayana.
Wiyanto. (2008). Menyiapkan Guru Sains
Laboratorium. Semarang: UNNES Press.
Mengembangkan
Kompetensi
34
LAPORAN PENGABDIAN KEPADA MASYARAKAT
PELATIHAN PRAKTIKUM IPBA BAGI GURU
SMP/SMA DI KOTA SINGARAJA MENUJU
OLIMPIADE ASTRONOMI
Tim Pelaksana:
Dr. Ni Made Pujani, M.Si. (Ketua)
Dra. Ni Ketut Rapi, M.Pd. (Anggota)
Dibiayai dari Daftar Isian Pelaksanaan Anggaran (DIPA)
Universitas Pendidikan Ganesha dengan SPK Nomor:0795/023-04.2.01/20/2012
revisi I, tanggal: 27 Februari 2012
JURUSAN PENDIDIKAN FISIKA
FAKULTAS PENDIDIKAN MATEMATIKA DAN IPA
LEMBAGA PENGABDIAN KEPADA MASYARAKAT
TAHUN 2012
35
HALAMAN PENGESAHAN
LAPORAN PENGABDIAN PADA MASYARAKAT
a. Judul Program
: Pelatihan Praktikum IPBA Bagi Guru SMP/SMA di
Kota Singaraja Menuju Olimpiade Astronomi
: Pelatihan
: Kependidikan
b. Jenis Program
c. Bidang Kegiatan
d. Identitas Pelaksana:
1. Ketua:
a) Nama
: Dr. Ni Made Pujani, M.Si
b) NIP
: 196311041988032001
c) Pangkat/Gol.
: Pembina Tk. I/ IVb
d) Alamat Kantor
: Kampus Tengah Undiksha, Jln. Udayana Singaraja
e) Alamat Rumah
: Jln. Parikesit II/ 3 Singaraja
2. Anggota 1:
a) Nama
: Dra. Ni Ketut Rapi, M,Pd.
b) NIP
: 131785675
c) Pangkat/Gol.
: Pembina Tk. I/ IVb
d) Alamat Kantor
: Kampus Tengah Undiksha, Jln. Udayana Singaraja
e) Alamat Rumah
: Jln. Sri Rama 20 Singaraja
e. Jumlah Biaya yang diperlukan: Rp 5.000.000,- (Lima Juta Rupiah)
f. Lama Kegiatan
: 6 bulan (Juni – November 2012)
____________________________________________________________________
Mengetahui:
Dekan Fakultas MIPA Undiksha,
Singaraja, 31 Oktober 2012
Ketua Pelaksana,
Prof. Dr. Ida Bagus Putu Arnyana, M.Si
NIP195812311986011005
Dr. Ni Made Pujani, M.Si.
NIP. 196311041988032001
Mengetahui:
Ketua Lembaga Pengabdian Kepada Masyarakat Undiksha,
Prof. Dr. I Ketut Suma, M.Si
NIP. 195901011984031003
ii
36
TIM PELAKSANA
1. Ketua Pelaksana
a. Nama Lengkap
b. Jenis Kelamin
c. NIP
d. Disiplin Ilmu
e. Pangkat/Golongan
f. Jabatan Fungsional/ Struktural
g. Fakultas/Jurusan
h. Waktu untuk Kegiatan ini
: Dr. Ni Made Pujani, M. Si.
: Perempuan
: 196311041988032001
: Fisika
: Pembina Tk. I/IV b
: Lektor Kepala
: FMIPA/Pendidikan Fisika
: 12 jam/minggu
2. Anggota Pelaksana 1
a. Nama Lengkap
b. Jenis Kelamin
c. Disiplin Ilmu
d. Pangkat/Golongan/NIP
e. Jabatan Fungsional/ Struktural
f. Fakultas/Jurusan
g. Waktu untuk Kegiatan ini
: Dra. Ni Ketut Rapi, M.Pd.
: Perempuan
: Fisika
: Pembina Tk. I/IV b
: Lektor Kepala, : FMIPA/Pendidikan Fisika
: 8 jam/minggu
iii
37
PELATIHAN PRAKTIKUM IPBA BAGI GURU
SMP/SMA DI KOTA SINGARAJA MENUJU
OLIMPIADE ASTRONOMI
Oleh
Ni Made Pujani dan Ni Ketut Rapi
ABSTRAK
Tujuan pengabdian pada masyarakat ini adalah untuk meningkatkan
pengetahuan dan keterampilan praktikum bidang IPBA (Astronomi) bagi guru-guru
SMP/SMA di Kota Singaraja dalam rangka mengantisipasi rendahnya prestasi
belajar IPBA siswa serta sebagai persiapan menuju olimpiade Astronomi.
Sasaran kegiatan adalah guru-guru SMP/SMA yang ada di Kota Singaraja.
Realisasi kegiatan dilakukan dengan memberikan ceramah dan pelatihan bertempat
di Laboratorium Fisika Dasar Jurusan Pendidikan Fisika FMIPA Universitas
Pendidikan Ganesha.
Hasil pelatihan menunjukkan bahwa secara umum pelaksanaan pelatihan
berjalan baik. Kegiatan pelatihan dapat meningkatkan keterampilan guru dalam
melaksanakan praktikum dan mengobservasi objek langit malam; dapat
meningkatkan penguasaan materi IPBA dari kategori kurang (rata-rata pre test 47,5)
menjadi baik (rata-rata post test 70,5). Demikian pula, respon peserta adalah positif
dan guru-guru sangat antusias mengikuti pelatihan. Namun, dalam pelaksanaan
praktikum hand on dibutuhkan waktu lebih banyak, sehingga topik pelatihan
praktikum perlu dibatasi. Kepada pihak terkait disarankan agar dibentuk suatu
wadah dimana para guru dapat sharing pengetahuan tentang pengamatan langit
malam dan pembahasan soal-soal terkait dengan olimpiade astronomi.
Kata Kunci: pelatihan, praktikum, IPBA, Olimpiade Astronomi
iv
38
KATA PENGANTAR
Puji syukur penulis panjatkan kehadapan Ida Sang Hyang Widhi Wasa
karena berkat rakhmatNya-lah maka penulis dapat menyelesaikan laporan
Pengabdian Kepada Masyarakat, dengan judul: “Pelatihan Praktikum IPBA Bagi
Guru SMP/SMA di Kota Singaraja Menuju Olimpiade Astronomi”.
Ucapan terima kasih yang sebesar-besarnya disampaikan kepada semua
pihak yang telah memberikan kontribusi dalam perencanaan, pelaksanaan kegiatan
sampai dengan penulisan laporan ini, diantaranya kepada yth:
1. Ketua LPM Undiksha, atas bantuan dana yang diberikan.
2. Dekan FMIPA Undiksha, yang telah mengijinkan kami untuk memanfaatkan
fasilitas ruang laboratorium fisika dasar yang ada di Jurusan Pendidikan
Fisika.
3. Semau pihak yang telah membantu menyukseskan kegiatan P2M ini yang
tidak dapat penulis sebutkan satu persatu.
Akhirnya, kami berharap semoga laporan ini dapat bermanfaat untuk
meningkatkan kualitas pendidikan melalui pelatihan bagi para guru. Masukan dari
pembaca sangat kami harapkan untuk penyempurnaan laporan ini.
Singaraja, 31 Oktober 2012
Tim Pelaksana,
v
39
DAFTAR ISI
JUDUL
……………………………………………………...
HALAMAN PENGESAHAN……………………………………..
TIM PELAKSANA………………………………………………..
ABSTRAK….....…………………………………………………..
KATA PENGANTAR…….....………………………………….…
DAFTAR ISI ……………………………………………………...
DAFTAR LAMPIRAN……...….……………………………….…
Halaman
i
ii
iii
iv
v
vi
vii
I PENDAHULUAN .……………..……………………………….
A. Analisis Situasi………..…………………………………….
B. Identifikasi dan Perumusan Masalah…...………………..….
C. Tujuan Kegiatan……... …………………………………….
D. Manfaat Kegiatan………….. ………………………………
1
1
7
8
9
II TINJAUAN PUSTAKA..………………..……… ………………
A. Peranan Praktikum dalam Pembelajaran Sains/IPBA…….…
B. Hakekat IPA dan Implikasinya dalam Pembelajaran………..
C. Kualitas Guru ……………………………………………….
D. Pengaruh Kualitas Guru terhadap Prestasi belajar Siswa …..
10
10
13
15
17
III METODE PELAKSANAAN………………….………………..
A. Kerangka Pemecahan Masalah……….……………………..
B. Realisasi Pemecahan Masalah………..……………………..
C. Khalayak Sasaran ……………………..……..…………….. .
D. Metode Pelaksanaan Kegiatan……..………………………..
20
20
21
22
23
IV HASIL DAN PEMBAHASAN…..……………………………..
A. Hasil Kegiatan ………..……………………………………. .
B. Pembahasan………….………………………………………
25
25
28
V SIMPULAN DAN SARAN………………………...…………..
A. Simpulan………………………………………………...…..
B. Saran…………………………………………………………
30
30
30
DAFTAR PUSTAKA…………………………………………..….. .
32
LAMPIRAN-LAMPIRAN …………………………………………
35
vi
40
DAFTAR LAMPIRAN
Halaman
Lampiran:
01
Daftar Hadir Peserta Pelatihan P2M …………….…………..
35
02
Materi Pelatihan……….. .……………………………………
36
03
Foto Kegiatan ………………………………………………..
76
04
Kontrak P2M
vii
41
LAMPIRAN: FOTO-FOTO KEGIATAN PELATIHAN PRAKTIKUM ASTRONOMI
Pembukaan Pelatihan.
Kegiatan Pelatihan dibuka secara resmi oleh Ketua LPM
Undiksha Prof. Dr. Ketut Suma, M.S.
Pelaksanaan Kegiatan.
Peserta mengikuti Pembekalan Materi dengan tekun
42
Peserta sedang berlatih mengamati objek langit malam dengan
menggunakan software “Stellarium”
Peserta sedang berlatih mengoperasikan teleskop
43
Download