Bab 1 PENDAHULUAN 1.1. LATAR BELAKANG Indonesia adalah

advertisement
Bab 1
PENDAHULUAN
1.1.
LATAR BELAKANG
Indonesia adalah tanah yang kaya dengan sumber daya alam mineral sebagai
kekayaan yang tidak dapat diperbahurui. Menurut data Bisnis Indonesia 23 Juni 2008
bahwa pada tahun 2007, kinerja ekspor sektor pertambangan mencapai US$ 21,6
Miliar nilai tersebut tumbuh 17,2 persen dengan pangsa pasar 23,2 persen. Oleh
sebab itu peluang-peluang kegiatan di sektor pertambangan semakin terbuka dan
akan terus dibutuhkan karena ouput dari pertambangan tersebut menjadi kebutuhan
dasar manusia yang selalu membutuhkan dukungan dari hasil sumber daya alam
dalam kehidupan sehari-hari. Sementara bagi pelaku pertambangan, kegiatan tersebut
akan memberikan keuntungan materi, bagi pemerintah dan mendapatkan tambahan
pajak yang merupakan salah satu sumber devisa Negara.
Berdasarkan berbagai laporan resmi yang tersedia, beberapa mineral telah
menjadi andalan pertambangan Indonesia dan memberikan kontribusi yang cukup
significant terhadap pendapatan negara dan menjadi bahan baku utama energi
nasional. Produksi dan cadangan bahan tambang mineral di Indonesia diketahui
cukup dibanding dengan cadangan dan produksi dunia. Timah, misalnya berhasil
menyumbang sekitar 15% produksi dunia, sementara cadangan lebih kurang 8%
cadangan dunia. Cadangan Nikel Indonesia mencapai lebih kurang 15% cadangan
dunia. Disamping itu juga merupakan produsen utama untuk allumanium, timah dan
tembaga, tentu saja mengenai cadangan dan produksi minyak dan gas bumi tidak
perlu dijelaskan lebih lanjut lagi.
Masalah yang Up to date menjadi soroton publik karena menyangkut rasa
nasionalisme bangsa Indonesia adalah masalah divestasi. Indonesia pada sejarahnya
pernah dua kali melaksanakan divestasi atau nasionalisasi, pertama pemerintah
mengambil alih perusahaan-perusahaan Belanda pada tahun 1958, berkaitan dengan
perjuangan mengembalikan Irian Barat dari pendudukan Belanda. Berkaitan dengan
Kewajiban divestasi..., Iwan Dermawan, FHUI, 2009
2
nasionalisasi
ini timbul gugatan perusahaan tembakau Belanda di Bremen
(German), ketika dari tembakau dari perkebunuan di Deli akan dilelalang pada pasar
tembakau di Bremen. Kasus ini terkenal dengan kasus tembakau Bremen. Pokok
permasalahnnya dimulai dari penjualan tembakau dari bekas perusahaan Belanda
yang di nasionalisasi oleh pemerintah Indonesa. Pemilik perusahaan yang
dinasionalisasi
tersebut mengklaim tembakau tersebut sebagian miliknya.
Pengadalin Bremen dalam putusannya antara lain menyatakan nasionalisasi yang
dilakukan pemerintah Indonesia adalah hak negara yang berdaulat.1
Kedua, pemerintah melakukan pengembalian perusahaan-perusahaan Inggris dan
Amerika Serikat, pada waktu Indonesia mengadakan konfrontasi dengan Malaysia.
Pada tahun 1962 Indonesia menganggap Amerika Serikat dengan Inggris sebagai
pendukung utama pembentukan Malaysia, yang oleh pemerintah Soekarno dianggap
Neo-kolonialisme dan neo-imprealisme sehingga Indonesia membuka hubungan erat
dengan Soviet Uni, Negara-negara Eropa Timur, Cuba, China, Vietnam Utara dan
Koera Selatan.2
Divestasi Saham adalah pelepasan, pembebasan, pengurangan modal. Disebut
juga divestment yaitu kebijakan terhadap perusahaan yang seluruh sahamnya dimiliki
oleh investor asing untuk secara bertahap tetapi pasti mengalihkan saham-sahamnya
itu kepada mitra bisnis lokal atau proses yang mengakibatkan pengalihan saham dari
peserta asing kepada peserta nasional. Istilah lain untuk kebijakan yang di Indonesia
disebut Indonesiasi saham. Dapat berarti pula sebagai tindakan perusahaan memecah
konsentrasi atau pemupukkan modal sahamnya sebagai akibat dari larangan
terjadinya monopolisasi.
Partisipasi modal nasional dalam perusahaan penanaman modal asing telah
menjadi kecenderungan yang umum baik di negara-negara yang sedang berkembang
maupun di negara-negara maju. Ia merupakan pencerminan nasionalisme di bidang
ekonomi dan keinginan untuk menghindarkan ketergantungan pada dan kontrol asing
terhadap perekonomian mereka. Negara-negara penerima modal telah melakukan
1
Erman Rajagujguk, Hukum Invenstasi di Indonesia, Anatomi Undang-Undang No.25
Tahun 2007 tentang Penanaman Modal (Jakarta;Fakultas Hukum Universitas Al-Azhar
Indonesia,2007) hal.48
2
. Ibid
Kewajiban divestasi..., Iwan Dermawan, FHUI, 2009Universitas Indonesia
3
penekanan terhadap joint venture internasional agar supaya mayoritas penyertaan
berada pada pihak nasional melalui berbagai sistem. Malaysia umpamanya,
mewajibkan agar perusahaan-perusahaan joint venture yang telah disetujui sebelum 1
Januari 1972 mengajukan rencana mereka agar penyertaan nasional menjadi 70%
menjelang tahun 1990 (termasuk di dalamnya pemilikan 30% oleh pribumi
Malaysia). 3
Dewasa ini hampir di semua negara, khususnya negara berkembang
membutuhkan modal asing. Modal asing itu merupakan suatu hal yang semakin
penting bagi pembangunan suatu negara. Sehingga kehadiran investor asing
nampaknya tidak mungkin dihindari. Yang menjadi permasalahan bahwa kehadiran
investor asing ini sangat dipengaruhi oleh kondisi internal suatu negara, seperti
stabilitas ekonomi, politik negara, penegakan hukum.
Penanaman modal
memberikan keuntungan kepada semua pihak, tidak hanya bagi investor saja, tetapi
juga bagi perekonomian negara tempat modal itu ditanamkan serta bagi negara asal
para investor. 4
Pemerintah menetapkan bidang-bidang usaha yang memerlukan penanaman
modal dengan berbagai peraturan. Selain itu, pemerintah juga menentukan besarnya
modal dan perbandingan antara modal nasional dan modal asing. Hal ini dilakukan
agar penanaman modal tersebut dapat diarahkan pada suatu tujuan yang hendak
dicapai. Bukan hanya itu seringkali suatu negara tidak dapat menentukan politik
ekonominya secara bebas, karena adanya pengaruh serta campur tangan dari
pemerintah asing.
Berbagai strategi untuk mengundang investor asing telah
dilakukan. Hal ini didukung oleh arah kebijakan ekonomi dalam TAP MPR RI
Nomor IV/MPR/1999 salah satu kebijakan ekonomi tersebut adalah mengoptimalkan
peranan
pemerintah
dalam
mengoreksi
ketidaksempurnaan
pasar
dengan
menghilangkan seluruh hambatan yang mengganggu mekanisme pasar, melalui
regulasi, layanan publik, subsidi dan insentif yang dilakukan secara transparan dan
diatur dengan undang-undang.
Kebijakan mengundang modal asing adalah untuk meningkatkan potensi
3
4
Ibid
Ibid
Kewajiban divestasi..., Iwan Dermawan, FHUI, 2009Universitas Indonesia
4
ekspor dan substitusi impor, sehingga Indonesia dapat meningkatkan penghasilan
devisa dan mampu menghemat devisa, oleh karena itu usaha-usaha di bidang tersebut
diberi prioritas dan fasilitas. Alasan kebijakan yang lain yaitu agar terjadi alih
teknologi yang dapat mempercepat laju pertumbuhan ekonomi dan pembangunan
nasional Indonesia. Upaya pemerintah untuk mencari modal asing agar mau kembali
menanamkan modalnya di Indoensia sampai saat ini belum menunjukkan hasil yang
memuaskan. Ditambah lagi sejak krisis ekonomi melanda Indonesia pada tahun
1998, penanaman modal di Indonesia semakin menurun. Jangan menarik investor,
menjaga investor yang sudah ada saja belum maksimal, misalnya dengan tutupnya
perusahaan asing seperti PT. Sony Electornics Indonesia pada 27 Nopember 2002.
Terlebih lagi pada tahun 2003 yang lalu, hal ini dikarenakan adanya invasi Amerika
ke Irak serta mewabahnya penyakit sindrom pernafasan akut. Hal ini menimbulkan
ketidak pastian perekonomian dunia dan berdampak buruk bagi perekonomian
Indonesia
terutama
terhadap
penanam
modal,
padahal
pemerintah
telah
mencanangkan tahun 2003 ini sebagai tahun investasi.
Untuk bisa memenuhi harapan tersebut, pemerintah, aparat hukum dan
komponen masyarakat dituntut untuk segara menciptakan iklim yang kondusif untuk
investasi. Menyadari pentingnya penanaman modal asing, pemerintah Indonesia
menciptakan suatu iklim penanaman modal yang dapat menarik modal asing masuk
ke Indonesia. Usaha-usaha tersebut antara lain adalah dengan mengeluarkan
peraturan-peraturan tentang penanaman modal asing dan kebijaksanaan pemerintah
yang pada dasarnya tidak akan merugikan kepentingan nasional dan kepentingan
investor.
Usaha pemerintah untuk selalu memperbaiki ketentuan yang berkaitan
dengan penanaman modal asing antara lain dilakukan dengan memperbaiki peraturan
dan pemberian paket yang menarik bagi investor asing. Pada akhirnya harus tetap
diingat bahwa maksud diadakannya penanaman modal asing hanyalah sebagai
pelengkap atau penunjang pembangunan ekonomi Indonesia. Pada hakekatnya
pembangunan tersebut harus dilaksanakan dengan ketentuan swadaya masyarakat,
oleh karena itu pemerintah harus bijaksana dan hati-hati dalam memberikan
persetujuan dalam penanaman modal asing agar tidak menibulkan ketergantungan
Kewajiban divestasi..., Iwan Dermawan, FHUI, 2009Universitas Indonesia
5
pada pihak asing yang akan menimbulkan dampak buruk bagi negara ini dikemudian
hari.
Sebagai bentuk upaya strategis pemerintah tersebut, dengan mendasari pada
konstitusi yang mengatur tentang pemanfaatan sumber daya alam. UUD 1945 Pasal
33 ayat 1 ”Perekonomian disusun sebagai usaha bersama berdasar azas
kekeluargaan”, maka pemanfaatan sumber daya alam ditujukan untuk mencapai
kemakmuran rakyat yang dilakukan secara terencana, rasional, bertanggung jawab.5
Dalam konteks investasi di bidang pertambangan yang dilakukan melalui penanaman
modal asing adalah dilakukan melalui joint venture ”Kontrak karya” yaitu suatu
bentuk perjanjian usaha patungan antara pemerintah Indonesia dengan perusahaan
pananaman modal asing, dimana pemerintah bertindak sebagai pemegang kuasa
pertambangan menunjuk perusahaan penanaman modal asing yang bertindak sebagai
kontraktor untuk melaksanakan pekerjaan di bidang usaha Pertambangan Umum
yang meliputi penyelidikan umum, eksplorasi, eksploitasi, pemurnian, pengangkutan
dan penjualan bahan-bahan galian yang berada di wilayah hukum Negara Republik
Indonesia.
Maka kerangka hukum perjanjian kontrak karya tersebut tunduk pada
ketentuan hukum perikatan sebagaimana diatur dalam KUHPerdata serta ketentuan
hukum lainnya yang diatur dalam perundang-undangan terkait dengan janji,
persetujuan, dan kewajiban timbal balik oleh para pihak, tetapi kemungkinankemungkinan untuk memperluas hubungan hukum dibalik perjanjian tersebut karena
terdapatnya pihak asing yang menjadi subjek hukum di dalamnya, baik hubungan
hukum antar perorangan, perorangan dengan badan hukum atau badan hukum
dengan badan hukum lainnya. maka prinsip-prinsip hukum perdata menjadi muatan
dalam perjanjian yaitu ketentuan mengenai hak dan kewajiban, kedudukan para
pihak, ketentuan perpajakan, ketentuan rasio pembagian hasil, ruang lingkup kontrak,
jangka waktu, ketentuan pembiyaan, ketentuan mengenai pembukuan dan
pemeriksaan keuangan, ketentuan pemasaran, ketentuan penyelesaian sengketa.
Pada masa perjanjian kontrak karya Pemerintah Indonesia dan PT Newmont
Nusa Tenggara dibuat pada masa penanaman modal investasi terbagi menurut
5
Penjelasan Umum, Undang-Undang Dasar 1945 pasal 33 ayat 1
Kewajiban divestasi..., Iwan Dermawan, FHUI, 2009Universitas Indonesia
6
sumbernya terbagi 2 (dua), yaitu penanaman modal dengan modal berasal dari dalam
negeri dan penanaman modal dengan modal dari pihak asing / luar negeri. Adapun
dalam pelaksanaannya, penanaman modal baik yang berasal dari dalam maupun luar
negeri diatur, yaitu Undang-undang No. 6 tahun 1968 tentang Penanaman Modal
dalam Negeri dan Undang-undang No.1 tahun 1967 tentang Penanaman Modal
Asing.
Menurut UU No. 6 tahun 1968 yang dimaksud dengan penanaman modal
dalam negeri adalah penggunaan kekayaan masyarakat Indonesia termasuk hak-hak
dan benda-benda baik yang dimiliki oleh Negara maupun swasta nasional atau
swasta asing yang berdomisili di Indonesia yang disisihkan / disediakan guna
menjalankan suatu usaha. Sedangkan yang dimaksud dengan penanaman modal
asing menurut UU No.1 tahun 1967 adalah penanaman alat pembayaran luar negeri
yang tidak merupakan bagian dari devisa Indonesia atau alat-alat untuk perusahaan
yang dimasukkan dari luar ke dalam negeri yang tidak dibiayai oleh devisa
Indonesia. Penanaman modal asing menurut UU No. 1 tahun 1967 yang dalam
pelaksanaannya diperkuat oleh Undang-undang No. 11 tahun 1970 tentang
Penanaman Modal Asing juga memberikan batasan terhadap bidang-bidang yang
tertutup bagi penanaman modal asing yaitu pada bidang yang penting bagi negara
dan menguasai hajat hidup rakyat banyak
Terkait ketentuan mengenai penyelesaian sengketa yang sesungguhnya
merupakan muatan yang menjadi pilihan-pilihan bagi para pihak untuk menentukan
pilihan hukum apa yang akan digunakan jika terjadi sengketa dalam realisasi kontrak
karya. Dalam hubungan hukum kontrak karya, sengketa yang sering terjadi adalah
terkait dengan nasionalisasi dimana keharusan pemegang saham asing untuk
melakukan divestasi atas saham yang dimilikinya yang mana sesungguhnya
keharusan asing untuk melakukan divestasi tidak lagi diatur dalam Undang-undang
Nomor 25 Tahun 2007 yang sebelumnya diatur dengan Undang-undang Nomor 1
Tahun 1967.
Masuknya modal asing bagi perekonomian Indonesia merupakan tuntutan
keadaan baik ekonomi maupun politik Indonesia. Alternatif penghimpunan dana
pembangunan perekonomian Indonesia melalui investasi modal secara langsung
Kewajiban divestasi..., Iwan Dermawan, FHUI, 2009Universitas Indonesia
7
sangat baik dibandingkan dengan penarikan dana internasional lainnya seperti
pinjaman dari luar negeri. 6
Modal asing yang dibawa oleh investor merupakan hal yang sangat penting
sebagai alat untuk mengintegrasikan ekonomi global. Selain itu, kegiatan investasi
akan memberikan dampak positif bagi negara penerima modal,
mendorong
tumbuhnya bisnis, adanya supply teknologi dari investor baik dalam bentuk proses
produksi maupun permesinan, dan menciptakan lapangan pekerjaan.7
Saat ini, pemerintah Indonesia telah menetapkan target pertumbuhan ekonomi
7,9 persen hingga 2009. Pertumbuhan akan dicapai melalui investasi modal dan
konsumsi dalam negeri. Pertumbuhan dengan tingkat itu amat penting guna
mengurangi separuh jumlah pengangguran dalam waktu empat tahun. Tingkat
konsumsi dalam negeri kini tidak akan mampu menciptakan lapangan kerja yang
cukup. Hal ini jelas memberi tekanan kepada Indonesia untuk menarik lebih banyak
investasi baru, khususnya dari luar negeri, guna menutup kekurangan.8
Lingkungan bisnis yang sehat untuk berinvestasi tidak hanya diperlukan
untuk menarik investor dari dalam dan luar negeri, tetapi juga agar perusahaan yang
sudah ada tetap memilih lokasi di Indonesia. Faktor utama yang mempengaruhi
lingkungan bisnis adalah tenaga kerja dan produktifitas, perekonomian daerah,
infrastruktur fisik, kondisi sosial politik, dan institusi.9
Menurut Sunarjati Hartono10 pengertian penanaman modal asing dalam
UUPMA adalah direct investment, yang biasanya dipertentangkan dengan portfolio
investment, dimana pemilik modal asing hanya memiliki sejumlah saham dalam
suatu perusahaan, tanpa
mempunyai kekuasaan langsung dalam manajemen
perusahaan. Beliau menyatakan bahwa UUPMA tidak memberikan batasan dan
penegasan yang cukup antara penanaman modal asing menurut UUPMA dengan
6
Yulianto Syahyu, Pertumbuhan Investasi Asing Di Kepulauan Batam: Antara Dualisme
Kepemimpinan Dan Ketidakpastian Hukum, Jurnal Hukum Bisnis, Vol 22 No 5, Tahun 2003, hlm 46
7
Delissa A. Ridgway dan Mariya A. Talib, “Globalization and Development: Free Trade,
Foreign Aid, Investment and The Rule of Law”, California Western Law Journal, Vol 33, Spring
2003, hlm. 335
8
Todung Muya lubis , Infrastruktur dan Kepastian Hukum, Kompas, 14 Juni 2005.
9
Kompas, Reformasi Iklim Investasi , 4 Februari 2006
10
Ny. C.F.G. Sunarjati Hartono, Beberapa masalah Transnasional dalam Penanaman Modal
sing di Indonesia, (Bandung : Bina Cipta, 1972), hal. 3
Kewajiban divestasi..., Iwan Dermawan, FHUI, 2009Universitas Indonesia
8
penanaman modal asing lewat membeli saham-saham dari perusahaan Indonesia
yang telah ada atau kredit luar negeri baik yang diberikan kepada atau melalui
pemerintah Indonesia, maupun yang diberikan swasta asing kepada swasta Indonesia
secara terang-terangan atau diam-diam. Direct investment dapat berupa valuta asing
(foreign exchange) barang-barang (alat-alat), atau keahlian, baik dalam cara
organisasi atau pemasaran.
Menurut Undang-undang Nomor 25 Tahun 2007, pada Pasal 1 angka 3
Penanaman Modal (UUPM), Penanaman modal asing adalah kegiatan menanam
modal untuk melakukan usaha di wilayah Negara Republik Indonesia yang dilakukan
oleh penanam modal asing, baik yang menggunakan modal asing sepenuhnya
maupun yang berpatungan dengan penanam modal dalam negeri. Sedangkan
pengertian modal asing diuraikan pada Pasal 1 angka 8, yaitu modal yang dimiliki
oleh negara asing, perseorangan warga negara asing, badan usaha asing, badan
hukum asing, dan/atau badan hukum Indonesia yang sebagian atau seluruh modalnya
dimiliki oleh pihak asing.
Dalam kontrak karya pemerintah merupakan badan hukum publik yaitu
merupakan badan hukum yang diadakan oleh kekuasaan umum. Sebagai badan
hukum publik pemerintah dapat
melakukan hubungan keperdataan. Pemerintah
dalam hubungan keperdataan dapat bertindak sebagai subyek yang tidak berbeda
dengan subyek hukum perorangan atau badan-badan hukum keperdataan pada
umumnya. Hubungan keperdataan timbul dari perbuatan keperdataan. Misalnya
melakukan kontrak dengan subyek hukum lainnya. Negara dalam melakukan
hubungan keperdataan , dilakukan oleh pemerintah.
Dalam kaitan hubungan ini terdapat perbedaan pendapat menurut Sunaryati
Hartono yang menyatakan bahwa hubungan pemerintah dengan lawan kontraknya (
dalam joint venture ) kadang sebagai pihak (partner) dan juga sebagai pemerintah.
Sedangkan menurut Bagir Manan hubungan antara pemerintah dan lawan kontraknya
adalah hubungan kesederajatan, dan pendapat lain seperti yang diungkapkan oleh
Mariam Darus Badrulzaman berpendapat bahwa kedudukan Pemerintah lebih tinggi (
tidak sederajat ) dengan lawan kontraknya. Dengan demikian hal ini berdampak pada
kontrak Penanaman Modal Asing sesunggguhnya tidak hanya berlaku peraturan
Kewajiban divestasi..., Iwan Dermawan, FHUI, 2009Universitas Indonesia
9
hukum perjanjiannya saja, tetapi juga berlaku perjanjian hukum Internasional.
Dengan demikian berlaku hubungan yang tidak diistimewakan apabila suatu badan
pemerintah yang mengadakan kontrak dengan warga masyarakat atau badan hukum,
dalam asas hukum perdata dipandang berkedudukan sejajar
dengan lawan
kontraknya. Hubungan kesederajatan ini tidak menunjukan keistimewaan dalam
penyusunan maupu pelaksanaan kontrak karya. Sehingga akan tampak hubungan
para pihak dalam kontrak karya bersifat hubungan kontraktual belaka.
Salah satu Penanaman modal asing yang mengalami sengketa terkait dengan
hubungan hukum kontrak karya dengan pemerintah adalah
PT Newmont Nusa
Tenggara dalam Pasal 24 Kontrak Karya antara PT NNT dengan pemerintah yang
ditandatangani 2 Desember 1986 bahwa PT Newmont NT seharusnya sudah
mendivestasi 10% sahamnya paling lambat akhir Desember 2007 dengan tahapan 3%
saham didivestasi paling lambat akhir Desember 2006 dan 7% sisanya didivestasi
pada akhir Desember 2007 dimana saham tersebut harus didivestasikan kepada
pemerintah Provinsi Nusa Tenggara Barat dan kabupaten Sumbawa Barat
sebagaimana pembagian kewenangan daerah yang diatur dalam Undang-undang
tentang otonomi daerah. Namun sampai dengan tahun 2008 PT. Newmont Nusa
Tenggara tidak melakukan kewajibannya untuk mendivestasi sahamnya kepada
pemerintah sehingga pemerintah akhirnya menyatakan status lalai atau default pada
PT.NNT.11
Sampai dengan awal tahun 2008 terjadi polemik seputar kewajiban divestasi
saham PT NNT yang tertunda beberapa kali pelaksanaanya,
ditambah dengan
adanya saham PT NNT yang dijaminkan kepada sindikasi bank asing untuk
mendapat pinjaman sebesar 1 milyar dollar. Sehingga Pemerintah mengenakan status
lalai atau default pada PT Newmont Nusa Tenggara (NNT) atas kegagalannya
memenuhi kewajiban melakukan divestasi 10% kepada pemerintah atau pihak-pihak
yang ditunjuk pemerintah. Atas siaran pers Badan Koordinasi Penanaman Modal
(BKPM) yang selama ini menjadi wakil pemerintah untuk negosiasi divestasi PT
NNT. Yang diumumkan oleh Kepala BKPM Muhammad Lutfi, Senin (11/2/2008).
11
http://www.antara.co.id/arc/2007/9/11/divestasi-saham-newmont-newmont-belum-capaikesepakatan/ di akses 18 Agustus 2008
Kewajiban divestasi..., Iwan Dermawan, FHUI, 2009Universitas Indonesia
10
Selanjutnya Pemerintah mengambil langkah arbitrase karena PT NNT tidak
melaksanakan kewajiban divestasi sebesar 3% untuk periode 2006 senilai US$109
juta dan 7% saham divestasi senilai US$282 juta periode 2007. Sesuai kontrak karya,
Newmont berkewajiban mendivestasikan 51% sahamnya kepada pihak nasional,
yaitu pemerintah pusat, pemerintah daerah, maupun perusahaan nasional hingga
2010. Namun, pihak PT NNT hingga kini belum merealisasikan kewajiban melepas
saham meskipun telah diberikan peringatan dan dikeluarkan pernyataan default
(lalai), Bahkan sempat diperpanjang hingga 3 Maret 2008.12
Sementara itu, pihak PT NNT minta pemerintah mempertimbangkan kembali
surat pernyataan default, dan tenggang waktu yang diberikan untuk menyelesaikan
sisa proses divestasi selama 11 hari pun dinilai terlalu pendek karena proses divestasi
Newmont berjalan baik dibuktikan dengan terjadinya kesepakatan dengan
pemerintah Kabupaten Sumbawa atas pembelian 2 % saham divestasi pada 28
Januari 2008. Selanjutnya menurut pihak Newmont ada perbedaan intrepretasi
mengenai status negosiasi dengan perusahaan yang ditunjuk Pemda. Pemerintah
menganggap, perusahaan yang ditunjuk pemda seharusnya tetap mendapat first right
refusal. Sementara bagi Newmont perusahaan tersebut tidak mendapat first right
refusal sehingga mekanismenya menjadi business to government.13 Hal inilah yang
membuat penulis tertarik untuk
menulis skripsi
dengan
judul ”Kewajiban
Divestasi Saham Pada Penanaman Modal Asing Bidang Pertambangan Umum (
Studi Kasus Pada Perjanjian Kontrak Karya antara PT NNT dengan Pemerintah
Indonesia) Penulisan skripsi ini akan meneliti mengenai penyelesaian sengketa
yang yang mungkin dilakukan antara Pemerintah Republik Indonesia dengan PT.
Newmont Nusa Tenggara dalam masalah divetasi saham.
1.2.
PERUMUSAN MASALAH
Berdasarkan uraian diatas, beberapa hal yang dapat ditarik menjadi pokok
permasalahan penulis adalah:
1. Bagaimana pengaturan divestasi saham pada perusahaan Penanaman Modal
12
Ibid
Ibid.
13
Kewajiban divestasi..., Iwan Dermawan, FHUI, 2009Universitas Indonesia
11
Asing dibidang pertambangan non-migas di Indonesia?
2. Bagaimanakah perbedaan presepsi antara Pemerintah Republik Indonesia
dan PT. Newmont Nusa Tenggara mengenai proses divestasi saham ?
3. Bagaimana penyelesaian sengketa yang yang mungkin dilakukan antara
Pemerintah Republik Indonesia dalam masalah divetasi saham tersebut?
1.3.
KERANGKA TEORI DAN KONSEP
Untuk mendukung pemahaman mengenai uraian dalam penulisan skripsi ini
dapat disampaikan beberapa kerangka teori yang mendukung hubungan dengan
divestasi saham kepada pemegang saham nasional melalui program yang dikenal
istilah peserta Indonesia berdasarkan perjanjian kontrak karya antara Pemerintah
Republik Indonesia dengan PT. Newmont Nusa Tenggara, sebagaimana
diuraikan
dalam skripsi ini dapat terlaksana, diantaranya adalah :
Pada dasarnya divestasi bukanlah terminolgi hukum melainkan terminologi
ekonomi. Divestasi Antoni K. Muda dalam Kamus Lengkap Ekonomi menyatakan
divestasi (divesment) adalah,14
Penyertaan/pelepasan sebuah investasi, seperti pelepasan saham oleh pemilik
saham lama, tindakan penarikan kembali penyertaan modal yang dilakukan
perusahaan model Ventura dari perusahan pasangan usahanya, Divestasi
model Ventura dapat dilaksanakan dengan beberapa cara.
Sementara itu menurut Jhon Clark dalam Dictionary of Insurance and
Finance Terms, Divestasi (divesment) adalah : Sale or liquidation of parts a
campany, generally in an attemp to improve efficiency by cutting loss-marking
businesses and/or concentrating on one product or industry. Divestment is therefore
the opposite process to merger. Defenisi di atas hampir sejalan dengan definisi yang
diberikan oleh Haro Johannsen dan G. Terry Page dalam Internatioanl Dictionary of
Management, yakni divestasi (divesment) adalah Establishing and elimining
unprofitable activities of business.15
14
Muda, Ahmad Antoni K, Kamus Lengkap Ekonomi, (Jakarta : Gita Media Press), 2003.
15
Johannsen, Hero, G Terry Page, Internatioanl Dictionary of Management, (New Delhi :
hal 117
Kewajiban divestasi..., Iwan Dermawan, FHUI, 2009Universitas Indonesia
12
Dari definisi-definisi diatas terlihat bahwa tindakan pelepasan saham
dilakukan karena pertimbangan bisnis semata seperti untuk mempertahankan
profitabilitas perusahaan. Namun dalam kontes skripsi ini yang dimaksud dengan
divestasi adalah divestasi wajib, artinya pelepasan saham dilakukan bukan karena
pertimbangan bisnis, tetapi lebih kepada untuk memenuhi kewajiban kontraktual
dan/atau peraturan perundang-undangan yang berlaku. Divestasi demikian lebih
cocok dikatakan sebagai divestasi wajib, maksudnya wajib dilakukan karena
ketentuan kontrak dan atau Undang-undang.
Untuk menghindarkan
perbedaan pengertian atas perbedaan persepsi
mengenai suatu istilah maka berikut ini definisi operasional dari istilah-istilah
tersebut:
1.
Divestasi Saham adalah pelepasan, pembebasan, pengurangan modal.
Disebut juga divestment yaitu kebijakan terhadap perusahaan yang seluruh
sahamnya dimiliki oleh investor asing untuk secara bertahap tetapi pasti
mengalihkan saham-sahamnya itu kepada mitra bisnis lokal. Istilah lain
untuk kebijakan yang di Indonesia disebut Indonesiasi saham. Dapat berarti
pula sebagai tindakan perusahaan memecah konsentrasi atau pemupukkan
modal sahamnya sebagai akibat dari larangan terjadinya monopoli (sasi).
Divestasi saham dalam hal ini adalah pengalihan saham kepada peserta
Indonesia atas tawaran dari perusahaan pertambangan asing yang bekerja
sama mengeksplorasi membangun industri pertambangan di Indonesia.
2.
Modal Asing adalah kegiatan menanam modal untuk melakukan usaha di
wilayah negara Republik Indonesia yang dilakukan oleh penanam modal
asing, ak penguasaan negara adalah hak negara atas sumber daya alam
nasional.
3.
Investor adalah pihak penanam modal yang menanam modalnya di
Indonesia.
4.
Perjanjian Karya adalah perjanjian antara pemerintah dan perusahaan
kontraktor swasta untuk melaksanakan pengusahaan pertambangan umum.
5.
Perjanjian Karya pertambangan umum adalah suatu perjanjian antara
Hagan Page India PVT. Ltd), 2002, hal 95
Kewajiban divestasi..., Iwan Dermawan, FHUI, 2009Universitas Indonesia
13
Pemerintah Republik Indonesia dengan perusahaan swasta asing atau
patungan antara asing dengan nasional (dalam rangka PMA) untuk
pengusahaan pertambangan umum dengan berpedoman kepada Undangundang Nomor 25 Tahun 2007 tentang Penanaman Modal serta Undangundang Nomor 11 Tahun 1967 tentang Ketentuan-ketentuan Pokok
Pertambangan Umum.
6.
Peserta Indonesia adalah pemerintah Indonesia atau perorangan Warga
Negara Indonesia, atau perusahaan berbadan hukum Indonesia yang
dikuasai/berada dibawah kontrol Warga Negara Indonesia.
7.
Bahan galian adalah unsur-unsur kimia, mineral-mineral, bijih-bijih dan
segala macam batuan termasuk batu-batu mulia yang merupakan endapanendapan alam.
1.4.
TUJUAN DAN MANFAAT PENELITIAN
Umum
Menjelaskan hal-hal yang mencakup pertambangan umum khususnya
peranan investor asing dalam rangka penanaman modalnya di Indonesia.
Memberikan pemahaman mengenai divestasi saham terutama divestasi
saham dalam ruang lingkup Penanaman Modal Asing di Indonesia di
bidang pertambangan umum.
Khusus
1.
Menjelaskan bagaimana pengaturan divestasi saham pada perusahaan
Penanaman Modal Asing dibidang pertambangan Non-migas di
Indonesia.
2.
Menganalisa
perbedaan
presepsi
antara
Pemerintah
Republik
Indonesia dan PT. Newmont Nusa Tenggara mengenai proses
divestasi saham
Kewajiban divestasi..., Iwan Dermawan, FHUI, 2009Universitas Indonesia
14
3.
Mengetahui Bagaimana penyelesaian sengketa yang yang mungkin
dilakukan antara Pemerintah Republik Indonesia dalam masalah
divetasi saham tersebut?
1.5.
METODE PENELITIAN
Penelitian ini menggunakan metode penelitian kepustakaan, yaitu penelitian
yang dilakukan dengan cara meneliti bahan pustaka atau data sekunder. Oleh karena
itu dapat digolongkan sebagai penelitian hukum kepustakaan,16 Penelitian Hukum
Normatif
Suatu
Tinjauan
singkat,17
Studi
literatur
ini
akan
meliputi
pengindentifikasian, penjelasan dan penguraian secara sistematis bahan pustaka yang
mengandung informasi yang berkaitan dengan masalah yang dibahas, Penelitian ini
juga dikategorikan sebagai penelitian yuridis normatif, Yuridis Normatif artinya
penelitian yang mengacu pada norma-norma hukum yang terdapat dalam peraturan
perundang-undangan dan keputusan pengadilan serta norma yang berlaku dan
mengikat masyarakat atau juga menyangkut kebiasaan yang berlaku dalam
masyarakat,18 yaitu :
1. Bahan hukum Primer.
yaitu bahan-bahan hukum yang mengikat,terkait dengan penulisan ini adalah
peraturan perundang-undangan, Putusan Komisi Pengawas Persaingan Usaha
serta putusan Mahkamah Agung, dalam hal peraturan perundang-undangan
penulis menggunakan Undang-undang Persaingan usaha dan perundangundangan lainnya yang terkait dengan bahan hukum primer.
2. Bahan hukum Sekunder.
yaitu bahan hukum yang mendukung atau memberikan penjelasan mengenai
bahan hukum primer, dalam hal ini buku-buku teks, hasil penelitian, majalah
dan surat kabar.
3. Bahan Hukum Tertier.
yaitu bahan yang memberikan petunjuk maupun penjelasan terhadap bahan
hukum primer dan sekunder, dalam hal ini adalah kamus, dan ensiklopedia.
16
Sri Mamudji, Penelitian Hukum Normatif Suatu Tinjauan singkat, (Jakartahal : ). 2003,
hal. 13-14
17
18
Ibid.hal14
Lawrence M. Friedman, American Law,1984, P.6
Kewajiban divestasi..., Iwan Dermawan, FHUI, 2009Universitas Indonesia
15
Alat pengumpul data yang digunakan penelitian ini yaitu berupa studi
dokumen yang dilakukan melalui data tertulis. Sementara dilihat dari tipelogi
penelitian, berdasarkan sifatnya penelitian ini adalah penelitian deskriftifeksplanatoris, yaitu memberikan gambaran dan penjelasan tentang pengaturan
hukum investasi di Indonesia dan bagaimana kekuatan mengikat perjanjian kontrak
karya yang dibuat oleh para pihak dalam suatu proses investasi.
1.6.
SISTIMATIKA PENULISAN
Sistimatika dalam penulisan terdiri dari :
Bab I merupakan Bab Pendahuluan yang memuat latar belakang permasalahan
yang terkait Perumusan Masalah, tujuan penulisan, Kerangka teori dan Konsep,
Tujuan dan manfaat penulisan, metode penelitian, dan sistematika penulisan.
Bab II membahas tentang Kewajiban Divestasi Dalam Kontrak Karya. Dalam
Karya, Tinjauan dan Kewajiban divestasi saham, proses Divestasi saham yang
seharusnya dilaksanakan.
Di dalam Bab III akan dibahas mengenai sengketa yang mungkin timbul
dalam proses divestasi. Dalam konteks ini akan dibahas siapa pihak Indonesia dan
berapa persentase saham masing-masing pihak, bagaimana menentukan harga saham
yang akan dialihkan, bagaimana saham yang sudah dijadikan dapat dialihkan.
Bab IV memusatkan pada pembahasan mengenai penyelesaian sengketa
Divestasi saham PT. Newmont Nusa Tenggara. Pada bab ini akan diuraikan proses
penyelesaian melalui konsiliasi, penyelesaian melalui arbitrase, bagaimana bila PT.
Newmont Nusa Tenggara tidak melaksanakan keputusan divestasi.
Pada bagian terakhir penulisan, sebagai penutup dalam bab V akan dituangkan
kesimpulan dari pembahasan pada Bab-bab sebelumnya dan disertai dengan saransaran yang kiranya bermanfaat.
Kewajiban divestasi..., Iwan Dermawan, FHUI, 2009Universitas Indonesia
Download