bab iv alasan yang melatarbelakangi keputusan

advertisement
BAB IV
ALASAN YANG MELATARBELAKANGI KEPUTUSAN
AMERIKA SERIKAT MEMPERTAHANKAN EMBARGO EKONOMI
TERHADAP KUBA PASCA UPAYA NORMALISASI
Keputusan Amerika Serikat yang memilih untuk tetap mempertahankan
embargo ekonominya terhadap Kuba pasca berhasilnya upaya normalisasi telah
menjadi sebuah peristiwa anomali yang cukup kontroversial. Berbagai pihak
mempertanyakan apakah yang menjadi alasan sebenarnya dibalik keputusan
Amerika Serikat tersebut. Dalam proses pembuatan kebijakan politik luar negeri
Amerika Serikat terkait embargo ekonominya terhadap Kuba, presiden sebagai
badan eksekutif negara bukan merupakan satu-satunya aktor yang berperan di
dalamnya. Kongres Amerika Serikat turut terlibat dalam proses pembuatan
kebijakan tersebut.
Di dalam Kongres Amerika Serikat yang notabene menganut sistem
bikameral yang terdiri dari House of Representative dan House of Senate, terdapat
Komisi Hubungan Internasional Senat Amerika Serikat yang bertugas untuk
mengkaji kebijakan politik luar negeri Amerika Serikat. Komisi Hubungan
Internasional Senat Amerika Serikat inilah yang kemudian terlibat dalam proses
penetapan kebijakan status embargo ekonomi terhadap Kuba bersama-sama dengan
Presiden Obama. Untuk dapat mencapai keputusan akhir atas status embargo pasca
normalisasi hubungan bilateral antara Amerika Serikat dengan Kuba, Presiden
99
Obama dan Komisi Hubungan Internasional Senat Amerika Serikat melakukan
koordinasi dan interaksi satu sama lain.
Bab IV ini akan membahas mengenai perbedaan perspektif antara Presiden
Obama dan Kongres Amerika Serikat secara umum tentang status embargo pasca
normalisasi. Selain itu akan dijelaskan pula tentang bagaimana kedua perspektif
yang berbeda tersebut dikomunikasikan oleh Presiden Obama dan Komisi
Hubungan Internasional Senat Amerika Serikat yang notabene merupakan
komponen penting dalam Kongres, untuk dapat menghasilkan satu kebijakan
berupa keputusan untuk mempertahankan embargo ekonomi Amerika Serikat
terhadap Kuba pasca upaya normalisasi hubungan bilateral kedua negara.
A. Status Embargo Ekonomi Pasca Upaya Normalisasi : Dua Perspektif
Berbeda
Proses pembuatan kebijakan mengenai status embargo ekonomi
Amerika Serikat terhadap Kuba pasca normalisasi melibatkan dua komponen
pemerintahan Amerika Serikat, yaitu Presiden Obama sebagai badan eksekutif
dan Kongres Amerika Serikat sebagai badan legislatif. Karena melibatkan
lebih dari satu pihak, sering kali proses ini melibatkan perbedaan pendapat dari
kedua komponen pemerintahan Amerika Serikat tersebut. Baik Presiden
Obama dan Kongres Amerika Serikat memiliki pandangannya masing-masing
tentang kebijakan status embargo ekonomi seperti apa yang seharusnya
dilaksanakan Amerika Serikat pasca normalisasi. Presiden Obama mengajukan
usulan kebijakan agar Amerika Serikat mencabut embargo ekonominya
100
terhadap Kuba secara menyeluruh pasca terjadinya upaya normalisasi,
sedangkan di sisi lain Kongres Amerika Serikat percaya bahwa embargo
ekonomi tersebut justru harus tetap dipertahankan pasca upaya normalisasi.
Usulan-usulan kebijakan inilah yang lantas dikompromikan satu sama lain
hingga akhirnya menghasilkan satu pilihan kebijakan terbaik.
1. Perspektif Presiden Barack Obama
Presiden Obama dinilai telah berhasil menginisiasi upaya
normalisasi hubungan bilateral Amerika Serikat dengan Kuba yang
dilanjutkan dengan peningkatan kerjasama bilateral antara kedua negara.
Untuk dapat menyempurnakan keberhasilan upaya normalisasi yang
beliau perjuangan tersebut, Presiden Obama mengusulkan agar Amerika
Serikat
mencabut
embargo
ekonominya
terhadap
Kuba
secara
keseluruhan. Meskipun Presiden Obama sukses mengurangi beberapa poin
larangan yang diatur di dalam embargo tersebut, namun bagi Presiden
Obama kondisi tersebut masih belum cukup untuk memaksimalkan hasil
dari strategi politik luar negeri Amerika Serikat yang sedang menjalankan
normalisasi
hubungan
bilateral
dengan
Kuba.
Presiden
Obama
mengajukan usulan kebijakan untuk mencabut embargo ekonomi terhadap
Kuba dengan dilandasi dua alasan dasar, yaitu alasan bahwa embargo
ekonomi muncul sebagai barier normalisasi hubungan bilateral secara total
dan alasan sudah tidak efektifnya fungsi embargo ekonomi.
101
a. Embargo Ekonomi Menjadi Barier Normalisasi Hubungan
Bilateral Secara Total
Presiden Obama dinilai sukses menginisiasi upaya normalisasi
hubungan bilateral Amerika Serikat dengan Kuba. Namun, sayangnya
upaya normalisasi yang berjalan secara signifikan tersebut belum
berakhir pada normalisasi hubungan bilateral secara total. Embargo
ekonomi Amerika Serikat terhadap Kuba telah menjadi sebuah barier
dalam proses pencapaian normalisasi hubungan bilateral secara total
tersebut (Cuba Central News Brief, 2016). Bagi Presiden Obama,
embargo ekonomi ini menghalangi Amerika Serikat dan Kuba untuk
melangkah lebih jauh. Presiden Obama menggarisbawahi pernyataan
dari Raul Castro berikut ini :
“We have agreed to re-establish diplomatic relations,
but this does not mean the principal issue has been
resolved : the blockade which causes much human and
economic damage to our country should end” (Carroll,
2014)
Dari pernyataan yang disampaikan oleh Presiden Kuba
tersebut, terdapat pesan bahwa Kuba mengganggap embargo ekonomi
sebagai sebuah masalah yang sensitif dan harus segera dicabut.
Presiden Obama beranggapan bahwa jika embargo ekonomi berhasil
dicabut, maka tidak ada lagi permasalahan yang mengganjal dalam
tindak lanjut upaya normalisasi untuk meraih hubungan bilateral yang
progresif (United Nations, 2015).
102
Bagi
Presiden
Obama,
mencabut
embargo
ekonomi
merupakan tindakan yang sudah seharusnya diprioritaskan saat ini.
Setelah Amerika Serikat sukses melaksanakan upaya normalisasi
sebagai langkah pertama dalam strategi politiknya terhadap Kuba,
kebijakan terkait status embargo dapat berfungsi sebagai langkah
lanjutan pasca upaya normalisasi tersebut. Melalui upaya normalisasi
yang telah berhasil diinisiasi, Amerika Serikat mendapatkan lebih
banyak akses masuk ke Kuba untuk bisa meningkatkan interaksi satu
sama lain. Dengan semakin baiknya interaksi dan komunikasi antara
Amerika Serikat dengan Kuba, tentu akan ada kenaikan tingkat
kepercayaan di antara kedua negara guna mencapai normalisasi
hubungan bilateral secara total.
b. Ketidakefektifan Fungsi Embargo Ekonomi Amerika Serikat
terhadap Kuba
Presiden Obama menilai bahwa embargo yang telah berlaku
selama hampir 57 tahun tersebut sudah tidak lagi efektif untuk
mencapai kepentingan nasional Amerika Serikat atas Kuba, yaitu
kepentingan
atas
perlindungan
hak
asasi
manusia
dan
pengimplementasian nilai-nilai demokrasi di Kuba. Sebagaimana
telah dijelaskan sebelumnya, salah satu tujuan diberlakukannya
embargo ekonomi ini adalah agar Kuba berubah menjadi lebih
demokratis dan memperbaiki perlindungan hak asasi manusia bagi
103
warga negaranya. Akan tetapi, fakta yang terjadi dalam status quo saat
ini justru jauh dari ekspektasi. Hingga saat ini Kuba belum
melaksanakan sistem pemilihan umum yang demokratis bagi seluruh
rakyatnya. Kuba masih setia menganut sistem pemerintahan
komunisme yang dimonopoli oleh satu rezim pemerintahan saja, yaitu
rezim pemerintahan keluarga Castro (The White House Office of the
Press Release, 2014). Selain itu masih terdapat banyak pelanggaran
hak asasi manusia yang dilakukan oleh pemerintah Kuba kepada
masyarakatnya
sendiri.
Pemerintah
Kuba
masih
melakukan
penahanan sewenang-wenang dan proses peradilan yang tidak wajar
kepada masyarakatnya, terutama bagi tawanan politik pemerintah
Kuba (Human Rights Watch, 2015). Pemerintah Kuba juga sangat
ketat membatasi kebebasan dalam praktik hak berpendapat,
berkumpul, dan berorganisasi dalam asosiasi ataupun pergerakan
(Amnesty International, 2016). Fakta ini tentu berlawanan dengan
ekspektasi Amerika Serikat yang mengharapkan adanya kebebasan
individu bagi seluruh masyarakat Kuba.
Bagi Presiden Obama sendiri, menyebarkan nilai-nilai hak
asasi manusia dan demokrasi telah menjadi kepentingan nasional
Amerika Serikat yang jelas tidak bisa ditawar lagi (Badella, Critical
Questions on the U.S – Cuba Rapproachement, 2015). Perkembangan
perlindungan hak asasi manusia dan pengimplementasian nilai-nilai
demokrasi ini yang menentukan tindakan yang harus diambil Amerika
104
Serikat ke depannya. Tentu dengan melihat kondisi demokrasi dan
hak asasi manusia di Kuba yang belum menunjukkan perkembangan
selama embargo diberlakukan, Presiden Obama menyatakan
kepesimisannya untuk bisa mencapai kepentingan nasional Amerika
Serikat atas perlindungan hak asasi manusia dan pengimplementasian
nilai-nilai demokrasi di Kuba jika Amerika Serikat masih tetap
meneruskan kebijakan embargo ekonominya yang dinilai sudah tidak
efektif. Kepesimisan Presiden Obama disampaikan dalam petikan
pidatonya, “I do not believe we can keep doing the same thing for over
five decades and expect a different result” (Leogrande, Normalizing
US – Cuba Relations : Escaping the Shackles of the Past, 2015, hal.
473)
2. Perspektif Kongres Amerika Serikat
Isu terkait embargo ekonomi Amerika Serikat terhadap Kuba pasca
berjalannya proses normalisasi telah menjadi hal yang didiskusikan di
dalam Kongres Amerika Serikat sebagai lembaga pemerintahan yang
menjalankan fungsi legislatif. Dalam proses menentukan kebijakan
embargo ekonomi Amerika Serikat terhadap Kuba, Kongres Amerika
Serikat berpendapat bahwa mempertahankan kebijakan embargo ekonomi
adalah kebijakan yang paling tepat sebagai tindak lanjut dari normalisasi
hubungan bilateral kedua negara. Usulan yang diajukan oleh Kongres
Amerika Serikat ini dilatarbelakangi dengan dua alasan, yaitu alasan
105
karena Kuba belum memenuhi syarat pencabutan embargo yang telah
ditetapkan oleh Amerika Serikat serta alasan bahwa pencabutan embargo
dapat membahayakan posisi politik Amerika Serikat terhadap Kuba.
a. Kuba Belum Memenuhi Syarat Pencabutan Embargo
Kongres Amerika Serikat mengacu pada tujuan awal
diformulasikannya embargo ekonomi Amerika Serikat terhadap Kuba,
yaitu sebagai sanksi ekonomi dan sebagai sarana penekanan nilai hak
asasi manusia serta nilai demokrasi. Jika Amerika Serikat memiliki
parameter tersendiri dalam menetapkan Kuba pantas untuk dibebani
dengan embargo, tentu Amerika Serikat telah menyiapkan pula
parameter yang akan digunakan untuk menentukan apakah embargo
tersebut sudah layak untuk diakhiri. Parameter atau persyaratan yang
harus dipenuhi Kuba untuk dapat menghentikan pemberlakuan
embargo ekonomi ini merupakan aspek mutlak yang wajib dipenuhi,
sebagaimana Kongres Amerika Serikat menjelaskan kewajiban
pemenuhan syarat-syarat pencabutan embargo yang diatur dalam
Helms-Burton Act 1996 berikut ini :
“It is the intent of the committee of conference that all
economic sanctions in force on March 1, 1996, shall
remain in effect until they are either suspended or
terminated pursuant to the authorities provided in
section 204 of this act (Helms – Burton Act 1996),”
(Ferrechio, 2016)
Persyaratan utama pencabutan embargo yang dipertegas
melalui Helms Burton Acts 1996 terdiri dari (1) adanya perbaikan
106
perlindungan hak asasi manusia dan pengimplementasian nilai-nilai
demokrasi di Kuba serta (2) Kuba bersedia untuk memenui klaim aset
yang diajukan oleh Amerika Serikat.
1. Adanya
Perlindungan
Hak
Asasi
Manusia
dan
Pengimplementasian Demokrasi
Syarat pertama dan paling utama yang harus dipenuhi Kuba
untuk bisa mencabut embargo ekonomi Amerika Serikat terhadap
Kuba adalah adanya perbaikan perlindungan hak asasi manusia dan
pengimplementasian nilai-nilai demokrasi di Kuba. Berdasarkan
Helms-Burton Act 1996 yang notabene merupakan hukum yang
mengatur tentang embargo ekonomi Amerika Serikat, perbaikan
hak asasi manusia dan pengimplementasian nilai demokrasi
tersebut harus bisa mencapai kondisi yang stabil dan dapat
bertahan untuk jangka waktu yang lama (Badella, Obama and US
Democracy Promotion in Cuba : New Strategies, Old Goals?,
2015, hal. 13). Akan tetapi, hingga akhir tahun 2016 Kongres
Amerika Serikat belum menyaksikan adanya perbaikan hak asasi
manusia dan pengimplementasian nilai-nilai demokrasi di Kuba.
Pemerintah Kuba memiliki cukup banyak catatan penindasan
kebebasan hak asasi manusia dan demokrasi terhadap rakyatnya.
Pemerintah Kuba dinilai telah melakukan pelanggaran terhadap
konvensi PBB tentang anti-kekerasan dalam penjara yang sudah
107
diratifikasi oleh Kuba sebelumnya (Civil Rights Defenders, 2016).
Kekerasan di dalam penjara Kuba masih sering terjadi, kerja paksa
selama masa kurungan penjara juga masih dilaksanakan di Kuba,
dan Kuba juga selalu menolak inspeksi kelayakan penjara yang
dilaksanakan oleh International Committee of Red Cross (ICRC),
Human Rights Watch, dan Amnesty International (Planas, 2016).
Hal ini mengindikasikan bahwa Kuba belum bisa menunjukkan
kemauannya untuk memenuhi persyaratan yang ditentukan oleh
Amerika Serikat melalui regulasi pencabutan embargo ekonomi.
Jika dibandingkan dari segi parameter hak asasi manusia
dan demokrasi, pada dasarnya Kongres Amerika Serikat memiliki
pemahaman yang sama dengan Presiden Obama, yaitu Kuba belum
berhasil mewujudkan perbaikan perlindungan hak asasi manusia
dan mewujudkan praktik demokrasi. Namun, dalam kasus ini
Kongres Amerika Serikat mengambil pendekatan kebijakan yang
berbeda dengan Presiden Obama. Jika Presiden Obama melihat
buruknya kondisi hak asasi manusia dan demokrasi di Kuba
sebagai alasan untuk mengubah status embargo ekonomi untuk
bisa memperbaiki keadaan, Kongres Amerika Serikat justru
menjadikan kondisi ini sebagai bukti bahwa Kuba belum layak
mendapatkan hak untuk terbebas dari embargo ekonomi Amerika
Serikat. Maka dari itu, menurut Kongres Amerika Serikat embargo
sudah sewajarnya tetap dipertahankan hingga Kuba nantinya dapat
108
memenuhi standar hak asasi manusia dan demokrasi yang telah
ditentukan.
2. Memenuhi Klaim Aset Amerika Serikat
Sebagaimana yang telah dijelaskan di dalam bab II,
embargo ekonomi Amerika Serikat terhadap Kuba merupakan
respon keras Amerika Serikat terhadap sikap Kuba yang
menasionalisasikan seluruh aset dan korporasi Amerika Serikat di
Kuba pada tahun 1960. Embargo ekonomi ini hadir sebagai sebuah
sanksi dan tekanan untuk Kuba setelah membuat Amerika Serikat
harus
menanggung
kerugian
finansial
yang
luar
biasa.
Sebagaimana yang dinyatakan secara jelas dalam Helms – Burton
Act 1996 pada Title II Sections 205 – 206 (Amnesty International,
2009, hal. 10), salah satu syarat untuk penghapusan embargo
ekonomi adalah Kuba bersedia menukar seluruh kerugian yang
dialami Amerika Serikat dengan memenuhi klaim aset yang
diajukan oleh Amerika Serikat (Kasperowicz, 2014).
Dalam dinamika hubungan bilateral pasca normalisasi yang
sempat dijelaskan dalam bab III, Amerika Serikat dan Kuba sempat
mengadakan pembicaraan terkait klaim aset kedua negara.
Amerika Serikat mengajukan klaim untuk 5911 aset dan uang
sebesar USD 7 milyar atas kerugian yang ditimbulkan Kuba. Akan
tetapi, dalam pembicaraan tersebut Kuba belum menyatakan
109
kesediaannya untuk memenuhi tuntutan klaim aset yang diajukan
oleh Amerika Serikat. Berdasarkan kondisi ini, Amerika Serikat
menyimpulkan bahwa selain belum memenuhi persyaratan atas
kondisi hak asasi manusia dan demokrasi, Kuba juga belum bisa
memenuhi persyaratan untuk menyanggupi klaim aset Amerika
Serikat.
b. Mencabut Embargo Dapat Membahayakan Posisi Politik
Amerika Serikat terhadap Kuba
Dalam perspektif Kongres Amerika Serikat, usulan kebijakan
yang diajukan oleh Presiden Obama terlalu beresiko bagi posisi politik
Amerika Serikat terhadap Kuba. Dalam kasus umum, untuk bisa
mempengaruhi aktor lain, suatu aktor dalam hubungan internasional
harus memiliki daya tawar yang cukup kuat. Semakin kuat daya tawar
suatu aktor, semakin besar pula peluang aktor tersebut untuk
mempengaruhi aktor lain. Jika Amerika Serikat justru memutuskan
untuk mencabut embargo ekonomi, Kongres Amerika Serikat
meyakini bahwa kebijakan ini akan menurunkan daya tawar Amerika
Serikat terhadap Kuba yang selama ini berusaha untuk dipertahankan
(Oleaga, 2014).
Dalam perspektif Kongres Amerika Serikat, selain dapat
memberikan Amerika Serikat akses masuk ke Kuba yang lebih besar,
upaya normalisasi yang dilakukan juga memberikan kesempatan emas
110
bagi Kuba untuk bisa mengambil manfaat dari interaksinya dengan
Amerika Serikat yang terus meningkat. Dengan kata lain akses masuk
itu tidak hanya berlaku bagi Amerika Serikat terhadap Kuba, tetapi
juga berlaku bagi Kuba yang bisa memperoleh lebih banyak akses
masuk ke Amerika Serikat. Meskipun progres upaya normalisasi ini
mengindikasikan hal yang positif, namun Kongres Amerika Serikat
mengkhawatirkan bawah Kuba melihat situasi ini sebagai suatu titik
kelemahan Amerika Serikat untuk Kuba bisa lepas dari pengaruh
politik Amerika Serikat (Rubio, Rubio : Cuba Taking Advantage of
U.S, 2015). Karena kekhawatiran tersebut, maka Kongres Amerika
Serikat memilih untuk bermain aman dengan tetap mempertahankan
embargo ekonomi.
B. Posisi Kekuatan Komisi Hubungan Internasional Kongres Amerika
Serikat dalam Mempertahankan Embargo Ekonomi
Amerika Serikat merupakan sebuah negara hukum yang senantiasa
melaksanakan kehidupan berbangsa dan bernegara sesuai dengan hukum dan
prosedur yang berlaku, termasuk dalam proses legislasi di dalam badan
pemerintah. Amerika Serikat menggunakan sistem trias politika dalam struktur
pemerintahannya, yang terdiri dari badan eksekutif, badan legislatif, dan badan
yudikatif. Badan eksekutif dan badan legislatif adalah dua badan pemerintahan
yang selalu terlibat dalam setiap proses legislasi Amerika Serikat. Proses
legislasi tersebut pada dasarnya terpusat pada peran badan legislatif Amerika
111
Serikat, yang mana dalam hal ini adalah Kongres Amerika Serikat. Kongres
Amerika Serikat merupakan tipe kongres bikameral yang terdiri dari dua kamar
badan legislatif, yaitu House of Representative dan House of Senate. House of
Representative merupakan kamar legislatif Amerika Serikat yang berfungsi
untuk mengurusi urusan domestik Amerika Serikat, sedangkan House of
Senate atau Senat Amerika Serikat berwenang untuk urusan Amerika Serikat
dengan lingkungan internasional.
Sebagai bagian dari Kongres, Senat Amerika Serikat tentu ikut
melaksanakan proses legislasi dalam menentukan apakah sebuah rekomendasi
kebijakan politik luar negeri ataupun sebuah rancangan undang-undang dapat
ditetapkan menjadi sebuah hukum dan dapat dilaksanakan. Proses legislasi di
dalam Senat Amerika Serikat digambarkan dalam bagan berikut ini :
Bagan 4.1. Proses Legislasi dalam Senat Amerika Serikat
Pengajuan usulan
Usulan
diperkenalkan ke
forum senat
Pengkajian oleh
komisi senat yang
ditunjuk
Pemungutan suara
(voting)
Proses debat dan
pembahasan di
forum senat
Public Hearing (Jika
lulus pengkajian oleh
komisi senat)
Usulan diteruskan ke
House of
Representative
Usulan diteruskan ke
presiden (jika House
of Representative
menyetujui usulan)
Usulan ditetapkan
dan siap
dilaksanakan (jika
presiden menyetujui)
www.congress.gov
112
Proses legislasi di dalam Senat Amerika Serikat berawal dari pengajuan
rekomendasi kebijakan maupun rancangan undang-undang (RUU) kepada
Senat Amerika Serikat. Pengajuan ini dapat dilakukan oleh senator dalam senat
maupun oleh presiden untuk kebijakan tertentu yang membutuhkan
persetujuan dari kongres. Rekomendasi kebijakan tersebut akan diperkenalkan
kepada forum Senat Amerika Serikat jika pengajuan tersebut diterima. Apabila
forum Senat Amerika Serikat menyetujui untuk proses pengkajian lebih jauh,
maka rekomendasi kebijakan tersebut akan dikaji lebih dalam oleh komisi
senat yang ditunjuk. Jika kemudian komisi yang bersangkutan menyatakan
rekomendasi kebijakan tersebut lulus proses pengkajian, maka rekomendasi
kebijakan ini akan dibawa ke forum senat untuk dilaksanakan public hearing
hasil laporan pengkajian dari komisi. Dari laporan hasil pengkajian komisi
tersebut, forum Senat Amerika Serikat akan memulai proses debat dan
pembahasan tentang apakah kemudian rekomendasi kebijakan ini dapat
diterima atau tidak. Proses debat dan pembahasan ini lantas dilanjutkan dengan
proses pemungutan suara. Jika rekomendasi kebijakan ini dapat mencapai
minimal 51 suara ‘setuju’ dari total 100 suara, maka rekomendasi kebijakan
akan diteruskan ke House of Representative. Rekomendasi kebijakan dari
Senat Amerika Serikat dapat disampaikan kepada Presiden Amerika Serikat
untuk ditandatangani apabila House of Representative menyetujuinya. Jika
presiden menandatangai dan menyetujui rekomendasi kebijakan ini, maka
rekomendasi kebijakan tersebut resmi ditetapkan dan siap untuk dilaksanakan
secara konkrit.
113
Dalam kasus penentuan kebijakan status embargo ekonomi Amerika
Serikat terhadap Kuba, Presiden Obama sebagai inisiator mengajukan
rekomendasi kebijakan pencabutan embargo ekonomi kepada Senat Amerika
Serikat. Karena dirasa isu terkait embargo adalah isu yang kontroversial dan
sensitif, maka forum Senat Amerika Serikat menyetujui untuk melakukan
pengkajian lebih dalam terhadap kebijakan embargo ekonomi pasca upaya
normalisasi meskipun forum Senat Amerika Serikat di dalam kongres memiliki
pendapat awal yang berbeda dengan Presiden Obama. Komisi Hubungan
Internasional Senat Amerika Serikat adalah komisi yang kemudian ditunjuk
untuk melakukan pengkajian lebih jauh terhadap rekomendasi kebijakan yang
diajukan oleh Presiden Obama tersebut. Berdasarkan alur ini, dapat dipahami
bahwa pada akhirnya Presiden Obama dan Komisi Hubungan Internasional
Senat Amerika Serikat adalah dua komponen pemerintahan Amerika Serikat
yang terlibat langsung dalam proses penentuan kebijakan status embargo
ekonomi pasca normalisasi, sebagaimana yang digambarkan melalui bagan
berikut ini :
Bagan 4.2. Struktur Komponen Pemerintahan Amerika Serikat yang Terlibat dalam Penentuan
Kebijakan Embargo Ekonomi pasca Normalisasi
Pemerintah Amerika Serikat
yang terlibat dalam legislasi kebijakan embargo
Lembaga Eksekutif :
Presiden Amerika Serikat
Kamar Legislatif :
House of Senate
Komisi
Hubungan Internasional
114
Selama proses pengkajian rekomendasi kebijakan, Komisi Hubungan
Internasional Senat Amerika Serikat banyak melakukan interaksi dan
koordinasi dengan Presiden Obama sebagai pihak yang mengajukan. Proses
interaksi dan koordinasi tersebut sering kali melibatkan proses kompromi
perspektif kebijakan di antara kedua pihak, mengingat adanya perbedaan
perspektif terkait status embargo ekonomi pasca normalisasi. Daya tawar
(bargaining position) masing-masing pihak sangat menentukan pihak mana
yang lebih unggul dalam proses kompromi perspektif kebijakan yang
merupakan bentuk praktik politik birokratik Amerika Serikat tersebut. Dalam
kasus penentuan kebijakan status embargo ekonomi Amerika Serikat terhadap
Kuba pasca normalisasi, terdapat dua faktor utama yang menentukan kekuatan
daya tawar Komisi Hubungan Internasional Senat Amerika Serikat dan
Presiden Obama, yaitu keberadaan Helms – Burton Act 1996 dan pertimbangan
serta pendapat dari senator terhormat Komisi Hubungan Internasional Senat
Amerika Serikat.
1. Helms – Burton Act 1996 : Kekuatan Absolut Komisi Hubungan
Internasional Senat Amerika Serikat atas Ketetapan Embargo
Ekonomi
Seperti yang telah dijelaskan di dalam bab II, embargo ekonomi
Amerika Serikat terhadap Kuba diatur dalam beberapa peraturan yang
telah ditetapkan oleh Amerika Serikat. Di antara seluruh peraturan yang
ditetapkan, Cuban Liberty and Democratic Solidarity Act (LIBERTAD)
115
tahun 1996 muncul sebagai ketentuan penting dalam perjalanan embargo
ekonomi Amerika Serikat. Cuban Liberty and Democratic Solidarity Act
(LIBERTAD) 1996 atau yang kemudian lebih dikenal dengan sebutan
Helms-Burton Act 1996 merupakan bentuk hukum legal Amerika Serikat
yang secara eksplisit mengatur tentang embargo ekonomi Amerika Serikat
terhadap Kuba (Council on Hemispheric Affairs, 2011). Sebelum adanya
Helms-Burton Act ini, embargo ekonomi Amerika Serikat hanya diatur
dalam bentuk ketetapan-ketetapan wewenang presiden sebagai badan
eksekutif Amerika Serikat. Helms-Burton Act diajukan oleh Jesse Helms
yang merupakan senator dari partai Republik wilayah North Carolina serta
Dan Burton yang tercatat sebagai anggota House of Representative
Amerika Serikat dari partai Republik wilayah Indiana (Iaconangelo,
2015). Secara garis besarnya, Helms-Burton Act mengatur empat poin
besar, yaitu (Amnesty International, 2009, hal. 10-11) :

Title I Helms-Burton Act yang berjudul “Strengthening
International Sanctions Against the Castro Government”
berisi
tentang
ketetapan
bahwa
Amerika
Serikat
mengkodifikasikan1 peraturan embargo ekonomi ke dalam
hukum federal Amerika Serikat.

Title II Helms-Burton Act dengan judul “Assistance to a Free
and Independent Cuba” mengatur tentang persyaratan
1
Mengkodifikasikan hukum : melakukan pencantuman secara tertulis suatu perkara atau kebijakan
tertentu ke dalam undang-undang secara lengkap dan sistematis.
116
pencabutan embargo ekonomi Amerika Serikat terhadap
Kuba.

Title III Helms-Burton Act yang berjudul “Protection of
Property Rights of United States Nationals” berisi tentang
ketentuan untuk menuntut secara hukum perusahaan yang
menjalin kerjasama bisnis dan melakukan investasi di Kuba
pasca ditetapkannya embargo ekonomi.

Title IV Helms-Burton Act berjudul “Exclusion of Certain
Aliens” mengatur tentang larangan bagi eksekutif bisnis dari
perusahaan yang dituntut melalui Title III Helms-Burton Act
untuk masuk ke wilayah Amerika Serikat.
Keberadaan Helms – Burton Act 1996 ini merepresentasikan
kekuatan absolut yang dimiliki oleh Kongres Amerika Serikat, utamanya
Komisi Hubungan Internasional Senat Amerika Serikat atas keputusan
akhir terkait status embargo ekonomi pasca upaya normalisasi. Mengapa
kekuatan absolut tersebut dimiliki Komisi Hubungan Internasional Senat
Amerika Serikat? Pada dasarnya terdapat dua jenis persetujuan yang harus
dipenuhi dalam proses pencabutan embargo ekonomi Amerika Serikat
terhadap Kuba, yaitu persetujuan dari presiden dan persetujuan dari
Kongres Amerika Serikat terutama dari Komisi Hubungan Internasional
Senat Amerika Serikat yang bertanggungjawab untuk mengkaji usulan
pencabut kebijakan embargo ekonomi tersebut (Kapur, 2014). Melalui
Helms-Burton Act ini, Amerika Serikat mengkodifikasikan ketentuan
117
mengenai embargo ekonomi Amerika Serikat terhadap Kuba ke dalam
hukum Amerika Serikat (Council on Hemispheric Affairs, 2011).
Pengkodifikasian ketentuan embargo ekonomi tersebut menjelaskan
bahwa apabila Amerika Serikat hendak mengubah kebijakan terkait
embargo, berarti Amerika Serikat harus melakukan perubahan pada salah
satu aspek dalam hukum negara. Apabila perubahan embargo tersebut
berupa pencabutan, maka Amerika Serikat harus mencabut Helms –
Burton Act 1996 terlebih dahulu (Peppe, 2015). Dalam proses perubahan
hukum negara seperti pencabutan Helms – Burton Act 1996, hanya badan
legislatif Amerika Serikat yang memiliki hak dan wewenang (Hoffman,
1998, hal. 8). Hal ini mengindikasikan bahwa hak untuk menentukan
keputusan akhir terkait kebijakan embargo pasca normalisasi berada di
tangan Komisi Hubungan Internasional Senat Amerika Serikat sebagai
salah satu unit kerja paling penting di dalam Kongres Amerika Serikat.
Dengan kata lain berarti Amerika Serikat memindahkan wewenang
pencabutan embargo ekonomi terhadap Kuba dari yang sebelumnya
berada di bawah wewenang penuh presiden menjadi berada di bawah
wewenang kongres. Dikutip dari The Bloomberg, salah satu anggota
Komisi Hubungan Internasional Senat Amerika Serikat yang bernama
Eliot Engel menjelaskan bahwa :
“While the President has the authority to make the changes
that were annouce today (normalization attempt), Congress
has the authority to maintain or eliminate the trade embargo
on Cuba” (Hunter, 2014)
118
Dari pernyataan Eliot Engel tersebut, dapat dipahami bahwa Helms
– Burton Act 1996 menegaskan bahwa Presiden Amerika Serikat hanya
memiliki hak untuk menginisiasi upaya normalisasi serta mengajukan
usulan untuk mencabut embargo ekonomi Kuba, sedangkan Komisi
Hubungan Internasional Senat Amerika Serikat bertugas untuk mengkaji
dan mempertimbangkan rekomendasi kebijakan pencabutan embargo
ekonomi Kuba yang diajukan oleh Presiden Obama (Hunter, 2014).
Sehingga, hasil akhir dari keputusan terkait status embargo ekonomi
Amerika Serikat terhadap Kuba bergantung pada seberapa sukses Presiden
Obama dalam menyakinkan Komisi Hubungan Internasional Senat
Amerika Serikat untuk meloloskan rekomendasi kebijakan tersebut.
Jika kita kemudian menganalisa lebih jauh tentang implikasi
eksistensi Helms-Burton Act 1996 terhadap situasi perdebatan kebijakan
embargo ekonomi saat ini, tentu Presiden Obama membutuhkan daya
tawar yang sebanding dengan daya tawar yang dimiliki Helms-Burton Act
1996 ini. Namun, dalam situasi yang terjadi hingga di penghujung tahun
2016, posisi daya tawar Presiden Obama di hadapan Komisi Hubungan
Internasional Senat Amerika Serikat dan Helms – Burton Act 1996 justru
semakin melemah dari hari ke hari. Mengapa bisa demikian? Hal tersebut
terjadi karena dinamika politik birokratik yang dilakukan kedua pihak
tersebut terjadi di akhir periode pemerintahan Presiden Obama. Karena
mendekati akhir masa periode pemerintahannya, daya tawar Presiden
Obama cenderung melemah apabila dibandingkan dengan daya tawar yang
119
dimiliki oleh Komisi Hubungan Internasional Senat Amerika Serikat yang
berpegang pada Helms – Burton Act 1996.
Idealnya, jika seorang presiden mulai mendekati akhir masa
kepemimpinannya, presiden tersebut akan berusaha untuk menyelesaikan
pekerjaan-pekerjaan rumahnya. Hal ini dilakukan agar ketika presiden
akhirnya turun dari kursi kepala negara, ia tidak lagi meninggalkan tugas
yang belum terselesaikan. Apa yang terjadi dalam kasus politik birokratik
dalam penentuan status embargo ekonomi pasca upaya normalisasi adalah
sesuatu yang berbeda. Dinamika upaya normalisasi hubungan bilateral
antara Amerika Serikat dengan Kuba baru bisa berjalan secara signifikan
ketika mendekati akhir masa kepemimpinan Presiden Obama. Padahal
sudah menjadi rahasia umum bahwa dinamika upaya normalisasi
hubungan bilateral tersebut tidak berjalan dalam waktu yang singkat
mengingat upaya normalisasi adalah sebuah proses yang bertahap
(Zawatsky & Gemma, 2015, hal. 16). Perdebatan terkait status embargo
pasca normalisasi hubungan kedua negara juga baru dimunculkan pada
dua tahun terakhir periode kepresidenan Presiden Obama. Proses
penentuan kebijakan status embargo ekonomi pasca upaya normalisasi
juga membutuhkan waktu yang cukup banyak karena harus melalui proses
pengkajian status quo secara teliti karena terkait pula dengan keberadaan
Helm – Burton Act 1996. Proses pengkajian inilah yang menjadikan
keterbatasan waktu menjadi faktor yang tidak menguntungkan bagi daya
tawar Presiden Obama.
120
2. Pertimbangan
Kuat
Politisi
Terhormat
Komisi
Hubungan
Internasional Kongres Amerika Serikat
Komisi Hubungan Internasional Senat Amerika Serikat muncul
sebagai unit kerja Kongres Amerika Serikat yang paling menentang
rekomendasi Presiden Obama untuk mencabut embargo ekonomi Amerika
Serikat terhadap Kuba pasca berhasilnya upaya normalisasi hubungan
bilateral kedua negara. Sebagai salah satu komisi yang memegang peranan
penting di dalam kongres, Komisi Hubungan Internasional Senat Amerika
Serikat diisi oleh senator-senator handal yang dipandang ahli dalam
hubungan internasional. Sebagai senator yang profesional, pendapat serta
analisa yang mereka berikan sering kali lebih didengarkan dan dihormati
dalam forum Kongres Amerika Serikat. Di dalam Komisi Hubungan
Internasional Senat Amerika Serikat sendiri terdapat dua senator
profesional yang secara tegas menjadi pionir dalam melawan rekomendasi
kebijakan pencabutan embargo yang diajukan oleh Presiden Obama.
Mereka adalah Senator Robert Menendez dan Senator Marco Rubio.
Anggota Komisi Hubungan Internasional Senat Amerika Serikat lainnya
mayoritas merupakan sponsor atau para pendukung dari pandangan yang
dikemukakan oleh kedua senator tersebut.
a. Senator Robert Menendez
Robert “Bob” Menendez merupakan mantan Ketua Komisi
Hubungan Internasional Senat Amerika Serikat dalam Kongres
121
Amerika Serikat ke-113 yang menjabat mulai tanggal 1 Februari 2013
hingga tanggal 3 Januari 2015 (Bob Menendez For New Jersey,
t.thn.). Robert Menendez inilah yang memegang kendali atas Komisi
Hubungan Internasional Senat Amerika Serikat ketika perdebatan
terkait kelanjutan embargo ekonomi pasca normalisasi mulai
diperdebatkan di akhir tahun 2014. Pasca menyelesaikan tanggung
jawabnya sebagai ketua Komisi Hubungan Internasional Senat
Amerika Serikat pada tahun 2015, Robert Menendez menjadi salah
satu anggota kehormatan dalam Komisi Hubungan Internasional
Senat Amerika Serikat dan kini aktif bertugas di Subkomisi Hubungan
Internasional Kawasan Barat, Kejahatan Transnasional, Keamanan
Penduduk, Demokrasi, Hak Asasi Manusia, dan Isu Global
Perempuan (Bob Menendez For New Jersey, t.thn.). Robert Menendez
sudah sangat diakui sepak terjangnya dalam Kongres Amerika Serikat
dengan dikenal sebagai salah satu senator paling produktif dalam
kongres. Di bawah kepemimpinnya, Komisi Hubungan Internasional
Senat Amerika Serikat sukses memberikan kontribusi besar dalam
banyak ketetapan Kongres Amerika Serikat (Bob Menendez For New
Jersey, t.thn.). Sehingga meskipun kini Robert Menendez tidak lagi
menjabat sebagai ketua Komisi Hubungan Internasional Senat
Amerika Serikat, pendapat-pendapatnya masih sangat didengarkan
dan dihormati dalam forum Kongres Amerika Serikat. Dalam
menjalankan karier politiknya, Robert Menendez memiliki prinsip
122
untuk senantiasa membela dan memperjuangkan nilai-nilai kebenaran
walaupun akan banyak pihak yang menentang nilai yang ia percayai
benar tersebut (Bob Menendez For New Jersey, t.thn.). Dengan
berpegang teguh pada prinsipnya ini, Robert Menendez tegas
menyatakan
keberatannya
terhadap
rekomendasi
kebijakan
pencabutan embargo ekonomi yang diajukan oleh Presiden Obama
meskipun Robert Menendez merupakan salah satu pendukung setia
Presiden Obama dalam isu-isu kebijakan lainnya.
Dalam kasus menentukan kebijakan terkait status embargo
ekonomi Amerika Serikat terhadap Kuba pasca upaya normalisasi,
Robert Menendez berpendapat bahwa pencabutan embargo dapat
membahayakan posisi daya tawar Amerika Serikat terhadap Kuba,
sebagaimana yang dijelaskan oleh Robert Menendez bahwa “It invites
dictatorial and rogue regimes to use Americans serving overseas as
bargaining chips” (Stephen Collinson, 2014)
Berdasarkan
pemikiran
Robert
Menendez,
pencabutan
embargo tersebut dapat membahayakan posisi Amerika Serikat
terhadap Kuba karena pencabutan embargo merupakan sebuah bentuk
barter yang tidak seimbang antara Amerika Serikat dan Kuba. Kuba
bisa memperoleh keuntungan yang luar biasa melalui pencabutan
embargo ekonomi, namun kepentingan nasional Amerika Serikat akan
hak asasi manusia dan demokrasi di Kuba belum tentu bisa terwujud.
123
Untuk memperkuat pendapatnya, Robert Menendez berusaha
untuk menggarisbawahi pernyataan yang disampaikan oleh ketua dari
Ladies in White, sebuah kelompok aktivis hak asasi manusia di Kuba
yang terdiri dari istri, ibu, dan anak dari para tahanan politik di Kuba.
Ketua Ladies in White, Berta Soler, menjelaskan bahwa pencabutan
embargo ekonomi akan memberikan kemudahan bagi elit politik yang
berkuasa di Kuba saat ini untuk meneruskan kekuasaannya kepada
kerabat dekat dan pencabutan embargo juga sama sekali tidak
menjamin bahwa rezim pemerintahan komunis totalitarian di Kuba
akan melemah, justru pencabutan embargo ekonomi berpotensi untuk
meningkatkan jumlah diskriminiasi sosial karena belum adanya
sistem demokrasi yang menjamin persamaan hak asasi manusia
(Pachon, Menendez on Trajectory of Cuba Engagement Policy, 2015).
Bagi Robert Menendez, pernyataan dari Berta Soler tersebut sudah
lebih dari cukup untuk memberi gambaran seperti apa penderitaan
yang harus dialami oleh masyarakat Kuba jika Amerika Serikat
memutuskan untuk mencabut embargo ekonominya. Pencabutan
embargo ekonomi hanya akan menjerumuskan masyarakat Kuba ke
dalam penindasan hak asasi manusia yang notabene berusaha
dihindari pula oleh Presiden Obama (Ferrechio, 2016). Robert
Menendez juga menambahkan bahwa jika Amerika Serikat benarbenar mencabut embargo ekonominya terhadap Kuba, Amerika
Serikat justru hanya akan memperkaya rezim pemerintahan Castro,
124
karena saat ini hampir seluruh korporasi dan ekonomi di Kuba
dikuasai oleh keluarga Castro dan rezimnya (Ferrechio, 2016).
Sehingga apabila sudah tidak ada lagi embargo ekonomi, korporasi
yang akan menjalin kerjasama ekonomi dan perdagangan dengan
Amerika Serikat adalah korporasi milik keluarga Castro dan
rezimnya, bukan korporasi-korporasi yang baik secara langsung
maupun tidak langsung memiliki Corporate Social Responsibility
(CSR) kepada masyarakat Kuba.
Pandangan Robert Menendez terkait embargo ekonomi
terhadap Kuba yang harus tetap dipertahankan pada dasarnya
dilatarbelakangi dengan fakta bahwa Kuba memiliki sejarah yang
sensitif bagi Robert Menendez beserta keluarga besarnya. Robert
Menendez merupakan anak dari warga negara Kuba yang melakukan
migrasi ke Amerika Serikat. Sehingga memang isu terkait Kuba
memiliki kedekatan emosional tersendiri bagi Robert Menendez.
Keluarga besar Robert Menendez, terutama orang tua Robert
Menendez, mengalami sendiri sulitnya kehidupan di Kuba yang
kemudian mendorong orang tua Robert Menendez memutuskan untuk
bermigrasi ke Amerika Serikat. Fakta bahwa keluarga besar Robert
Menendez berasal dari Kuba menjadikan Robert Menendez memiliki
banyak data dan fakta terkait kondisi Kuba yang beliau dapatkan
sendiri dari kesaksian kedua orang tuanya beserta keluarga besar.
Berdasarkan apa yang telah keluarganya alami selama hidup di Kuba,
125
Robert Menendez berkomitmen untuk ikut berjuang bersama-sama
dengan aktivis hak asasi manusia dan demokrasi di Kuba maupun
organisasi hak asasi manusia internasional untuk dapat menciptakan
atmosfer reformasi pemerintahan yang lebih baik di Kuba (Ferrechio,
2016). Komitmen tersebut ditegaskan kembali melalui petikan
pidatonya yang dikutip oleh website resmi Robert Menendez berikut
ini :
“I stand with thousand of Cuba’s civil society leaders,
dissidents, journalist, and everyday men and women
who long for the day when freedom we enjoy in our
great country extends to theirs. As long as I have a
voice, they will have an ally to speak truth to power
against this dictatorship, and against any effort to
legitimize it or reward it.” (Pachon, Menendez
Remarks Ahead of POTUS Trip to Cuba, 2016)
Untuk bisa mewujudkan kebebasan hak asasi manusia dan
demokrasi bagi seluruh masyarakat Kuba serta memperjuangkan tetap
dipertahankannya embargo ekonomi Amerika Serikat terhadap Kuba,
Robert Menendez sering kali berbicara di depan forum Senat Amerika
Serikat
untuk
menyampaikan
pandangan-pandangannya
guna
meyakinkan senator-senator lainnya bahwa Amerika Serikat tidak
seharusnya mencabut embargo ekonomi dalam waktu dekat. Dari
sekian banyak pidato (floor speech) yang disampaikan oleh Robert
Menendez di hadapan forum Senat maupun Kongres, beberapa di
antaranya disampaikan dalam sesi forum pada tanggal 7 April 2014,
13 Januari 2015, 17 Maret 2015, 20 Mei 2015, 7 Oktober 2015, dan 16
Maret 2016. Dengan latar belakangnya yang pernah menjabat sebagai
126
ketua Komisi Hubungan Internasional Senat Amerika Serikat dan saat
ini bertugas dalam subkomisi yang membawahi masalah demokrasi
dan hak asasi manusia dalam pelaksanaan hubungan internasional
Amerika Serikat dengan negara lain, Robert Menendez tentu memiliki
banyak peluang untuk bisa meyakinkan forum Senat Amerika Serikat.
Dalam salah satu kesempatannya, Robert Menendez mengatakan
bahwa :
“The President should witness their bravery, listen
to their stories, feel their depair, see the fear under
which they live – and stand-up with them and for
them...” (Pachon, Menendez Remarks Ahead of
POTUS Trip to Cuba, 2016)
Melalui pernyataan di atas, Robert Menendez mengharapkan
bahwa Presiden Obama bisa lebih mendengarkan suara-suara
masyarakat Kuba untuk tidak memberikan kebebasan secara cumacuma kepada pemerintah Kuba dengan mencabut embargo ekonomi
dengan mudahnya. Dalam meyakinkan senator-senator Amerika
Serikat lainnya, Robert Menendez juga menyatakan bahwa apa yang
selama ini dirinya dan Komisi Hubungan Internasional Senat
Amerika Serikat yakini tentang hak asasi manusia dan demokrasi di
Kuba lebih krusial dibandingkan dengan kepentingan untuk mencari
keuntungan ekonomi di Kuba merupakan nilai yang seharusnya
melandasi pemikiran Senat Amerika Serikat dalam melihat
keberadaan embargo ekonomi Amerika Serikat, sebagaimana yang
dinyatakan oleh Robert Menendez dalam pernyataan berikut ini :
127
“Evidently ... for many members trade and money
is more important than human rights, but that’s
their prerogative. I don’t thing they’re going to get
very far,” (Lesniewski, 2015)
Selain
memperjuangkan
embargo
ekonomi
dengan
menyampaikan pidato di hadapan senator-senator Amerika Serikat,
Robert Menendez juga melakukan komunikasi dengan beberapa
kelompok aktivis yang memperjuangkan kebebasan hak asasi
manusia bagi masyarakat Kuba, baik itu kelompok aktivis yang
bermarkas di Amerika Serikat seperti the Union of Ex-Political
Prisoners of Cuba maupun kelompok aktivis yang bermarkas di Kuba
seperti kelompok Ladies in White (Damas de Blanco) (Mahanta,
2016). Dalam konferensi pers yang dilaksanakan di markas the
Union of Ex-Political Prisoners of Cuba, Robert Menendez
menyampaikan bahwa :
“I have talked to those who are presently residing
in Cuba and who struggle everyday within the
belly of the beast to try to creat change in their
country. The Ladies in White have told me about
the difficulties and the challenges, the beatings and
the arrests and the fortune, and have told me that,
in the last two years, things have only gotten
worse.” (Mahanta, 2016)
Melalui konferensi pers dan pernyataan Robert Menendez di
atas, terlihat jelas bahwa Robert Menendez tidak hanya berusaha
untuk
meyakinkan
Amerika
Serikat
dari
dalam
badan
pemerintahannya saja, namun Robert Menendez juga berusaha untuk
mengumpulkan koresponden dari masyarakat Kuba guna tetap
128
mempertahankan embargo ekonomi Amerika Serikat terhadap Kuba.
Pendapat-pendapat dari aktivis-aktivis hak asasi manusia dan
demokrasi
Kuba
tersebut
semakin
menambah
poin-poin
pertimbangan Robert Menendez dan Komisi Hubungan Internasional
Senat Amerika Serikat untuk menyatakan keberatannya terhadap
rekomendasi kebijakan pencabutan embargo ekonomi yang diajukan
oleh Presiden Obama.
Koordinasi dan komunikasi yang dijalin oleh Robert
Menendez dengan kelompok-kelompok aktivis hak asasi manusia
dan demokrasi Kuba tersebut dilatarbelakangi dengan adanya
keterkaitan isu yang diperjuangkan oleh Robert Menendez dan
Komisi Hubungan Internasional Senat Amerika Serikat dengan
kelompok-kelompok aktivis tersebut. Contohnya keterkaitan dengan
kelompok aktivis Ladies in White. Kelompok aktivis Ladies in White
ini memperjuangkan pembebasan tawanan politik di Kuba. Apa yang
diperjuangkan oleh Ladies in White tersebut juga menjadi poin yang
sering kali ditekankan oleh Amerika Serikat kepada Kuba, terutama
selama periode pelaksanaan normalisasi hubungan bilateral kedua
negara. Itulah mengapa Amerika Serikat berusaha untuk mencapai
kesepakatan pertukaran tawanan politik di awal masa inisiasi upaya
normalisasi.
Selain itu, kelompok aktivis Ladies in White juga senantiasa
mengedepankan aksi damai dalam setiap kegiatan protes yang
129
mereka laksanakan meskipun pemerintah Kuba justru membalas
aksi-aksi damai tersebut dengan kekerasan (Foundation for Human
Rights in Cuba, 2014). Komitmen aksi damai Ladies in White
tersebut dipandang Robert Menendez sebagai sebuah bukti yang
menunjukkan bahwa masyarakat Kuba adalah korban yang tidak
bersalah dalam penindasan yang dilakukan oleh pemerintah Kuba.
Kondisi ini tentu semakin menambah panjang alasan mengapa
Robert Menendez dan Komisi Hubungan Internasional Senat
Amerika Serikat merasa memiliki kewajiban untuk turut membantu
masyarakat Kuba.
Selain rutin melakukan aksi protes yang dilaksanakan secara
damai, Ladies in White juga berusaha untuk menjalin komunikasi
dengan lingkungan internasional guna mencari dukungan dan
bantuan dalam menekan pemerintah Kuba (Foundation for Human
Rights in Cuba, 2014). Melihat adanya upaya dan kemauan yang
besar dari kelompok aktivis Ladies in White maupun kelompok
aktivis lainnya, Robert Menendez sebagai anggota terhormat Komisi
Hubungan Internasional Senat Amerika Serikat menyambut baik
akses komunikasi dan koordinasi tersebut sebagai upaya untuk
membangun pemahaman satu sama lain dalam menciptakan koalisi
guna menekan pemerintahan Kuba untuk memperbaiki kondisi
perlindungan hak asasi manusia di sana. Sehingga, terciptalah jalur
komunikasi Robert Menendez dan Komisi Hubungan Internasional
130
Senat Amerika Serikat dengan kelompok-kelompok aktivis hak asasi
manusia di Kuba seperti dengan kelompok Ladies in White tersebut.
b. Senator Marco Rubio
Marco Rubio adalah senator dari Partai Republik dalam
Komisi Hubungan Internasional Senat Amerika Serikat yang secara
keras menolak rekomendasi yang diajukan oleh Presiden Obama
untuk mencabut embargo ekonomi terhadap Kuba. Marco Rubio
memulai karier politiknya pada tahun 2000. Meskipun terbilang
belum terlalu lama berkutat dengan politik Amerika Serikat, namun
Marco Rubio dikenal sebagai salah satu senator muda berbakat yang
dimiliki oleh Kongres Amerika Serikat. Marco Rubio telah
berkontribusi dalam banyak pembentukan ketetapan kongres, seperti
Bill of the Border Security, Economic Opportunity and Immigration
Modernization Act of 2013 (Biography.com, 2016).
Menurut Marco Rubio, mengapa Amerika Serikat seharusnya
tetap mempertahankan embargo ekonomi terhadap Kuba adalah
karena Kuba merupakan sebuah kasus khusus. Komunisme di Kuba
tidaklah sama dengan komunisme di beberapa negara lain,
komunisme
di
Kuba
merupakan
komunisme
yang
juga
dilatarbelakangi dengan semangat anti-Amerika Serikat (Barkan,
2016). Dengan kondisi tersebut, tentu Amerika Serikat tidak bisa
menyamakan kasus komunisme Kuba dengan kasus komunisme di
131
negara lain. Amerika Serikat tidak bisa gegabah dalam memutuskan
untuk mencabut embargo pasca upaya normalisasi. Upaya normalisasi
dengan Kuba sudah cukup baik untuk bisa membukakan akses masuk
bagi Amerika Serikat, dan karena hal inilah menurut Marco Rubio
Amerika Serikat seharusnya tidak merusak usaha yang sudah baik
tersebut dengan serta merta mencabut embargo ekonomi tanpa ada
pertimbangan yang matang.
Dalam pandangan Marco Rubio, Presiden Obama telah salah
dalam menganalisasi situasi Kuba. Presiden Obama berpendapat
bahwa embargo ekonomi disalahkan oleh pemerintah Kuba sebagai
sumber permasalahan-permasalahan yang terjadi di Kuba. Akan
tetapi, Marco Rubio berpandangan bahwa Presiden Obama tidak dapat
ikut menyalahkan embargo ekonomi dengan begitu mudahnya dan
pencabutan embargo ekonomi ini belum tentu menjadi solusi dari
masalah-masalah yang terjadi di Kuba (Chait, 2015). Justru
pencabutan embargo ekonomi yang dikehendaki oleh Presiden Obama
tersebut bisa hadir sebagai bentuk lain dari penindasan bagi
masyarakat Kuba yang mengharapkan adanya perbaikan hak asasi
manusia dari rezim pemerintahan yang sekarang berkuasa di Kuba
(Foreign Policy Association, 2016).
Marco Rubio pada dasarnya sependapat dengan Presiden
Obama tentang Amerika Serikat dan Kuba yang sudah waktunya
untuk melakukan perbaikan hubungan bilateral melalui upaya
132
normalisasi dan kebijakan terkait embargo ekonomi, namun Marco
Rubio menekankan bahwa timbal balik dalam perbaikan hubungan
bilateral tersebut harus berjalan resiprokal atau menghasilkan
simbiosis mutualisme bagi kedua pihak (Barkan, 2016). Apabila
mencabut embargo ekonomi justru akan memberikan nilai kerugian
yang lebih besar dibandingkan dengan keuntungan yang bisa
didapatkan, Marco Rubio percaya bahwa saat ini bukanlah waktu
yang tepat untuk mencabut embargo ekonomi Amerika Serika
terhadap Kuba.
Dalam pernyataannya yang dikutip dalam website resmi
Marco Rubio, beliau menjelaskan, “Regardless your beliefs, the U.S.
embargo toward Cuba is codified in U.S. law and the reason that it
was imposed....remain unaddressed by Havana” (Rubio, As Obama
Meets Castro, Rubio Urges Him Not to Cave on Embargo Vote at
U.N. Too, 2015). Melalui penyataan tersebut, Marco Rubio berusaha
untuk mengingatkan kembali Presiden Obama bahwa Amerika Serikat
juga memiliki komitmen yang tercantum dalam Helms – Burton Act
1996 yang notabene mengatur bahwa embargo ekonomi tidak akan
dicabut apabila Kuba belum menunjukkan kemauan kuatnya untuk
berubah ke arah pemerintahan yang demokratis. Fakta yang terjadi di
Kuba pun menunjukkan bahwa problematika yang dipermasalahkan
oleh embargo ekonomi masih tetap terjadi di Kuba hingga saat ini.
Embargo ekonomi inilah yang dinilai mampu berperan sebagai
133
pengaruh bagi Kuba untuk menuju demokrasi, sehingga sudah
seharusnya embargo ekonomi ini dipertahankan pasca upaya
normalisasi (Siddiqui, 2015).
Pendapat-pendapat yang dikemukakan oleh Marco Rubio di
atas merupakan salah satu pendapat terkuat di dalam Kongres
Amerika Serikat. Sebagai salah satu pemegang posisi penting di
dalam Komisi Hubungan Internasional Senat Amerika Serikat,
persepsi Marco Rubio terkait kebijakan embargo ekonomi yang harus
tetap dipertahankan pasca upaya normalisasi dianggap sebagai sebuah
sumber pendapat terpercaya oleh senator-senator lainnya.
Sama halnya dengan Robert Menendez, perspektif Marco
Rubio di atas mayoritas dilatarbelakangi oleh fakta bahwa Marco
Rubio berasal dari keluarga Kuba yang mengasingkan diri ke Amerika
Serikat. Kakek Marco Rubio yang bernama Pedro Victor Garcia
merupakan salah satu warga negara Kuba yang sempat mengalami
masa-masa rezim pemerintahan Castro. Masa kecil Marco Rubio
dipenuhi dengan cerita dari sang kakek mengenai komunisme Kuba
yang menghancurkan kehidupan masyarakat Kuba dan bagaimana
pada saat itu Amerika Serikat seakan memberikan harapan pada
kebebasan masyarakat Kuba dengan berbagai upaya konfrontasi yang
dilakukan (Jordan, 2016). Karena darah keluarga Marco Rubio berasal
dari Kuba, maka isu tentang Kuba menjadi isu yang sangat
diperhatikan oleh Marco Rubio. Hal tersebut juga menjadi motivasi
134
pertama yang muncul untuk mendorong Marco Rubio membela
masyarakat Kuda dengan tetap mempertahankan embargo ekonomi
Amerika Serikat pasca upaya normalisasi.
Selain karena adanya ikatan darah dengan Kuba, latar
belakang Marco Rubio yang merupakan senator dari Partai Republik
juga muncul sebagai alasan mengapa Marco Rubio menentang keras
rekomendasi yang diajukan oleh Presiden Obama yang notabene
berasal dari Partai Demokrat. Partai Demokrat dan Partai Republik
merupakan dua partai Amerika Serikat yang saling bersaing satu sama
lain dan saling bertolak belakang (Edward-Levy, 2016).
Dalam upayanya guna menghalangi rekomendasi kebijakan
pencabutan embargo ekonomi yang diajukan oleh Presiden Obama,
Marco Rubio sering kali melakukan pidato di depan khalayak media
untuk menegaskan bahwa sebagai senator dalam Komisi Hubungan
Internasional Senat Amerika Serikat yang bertugas mengkaji
pengajuan usul pencabutan embargo, Marco Rubio akan melakukan
segala cara untuk bisa menghentikan upaya pencabutan embargo
tersebut. Hal tersebut disampaikan Marco Rubio melalui pernyataan
“I am committed to do everything I can to unravel as many of these
changes as possible” (Lightman, 2014).
Tak jarang pula di beberapa kesempatan Marco Rubio
memanfaatkan momentum melemahnya kekuatan politik Presiden
Obama menjelang akhir masa kepresidennya dengan menyampaikan
135
pidato kritikan Presiden Obama. Marco Rubio mengeluarkan kritikankritikan tajam tentang bagaimana Presiden Obama terlalu gegabah
dalam mengajukan sebuah rekomendasi kebijakan. Salah satu kritikan
tajam tersebut disampaikan dalam pernyataan berikut ini :
“This presiden (Obama) is the single worst
negotiator we have had in the White House in my
lifetime, who has basically given the Cuban
government everything it asks for and receive no
assurances of any advances in democracy and
freedom in return” (Llenas, 2014)
Selain melalui pidato dan kritikan tajam, Marco Rubio juga
mengadakan komunikasi dan koordinasi dengan para aktivis hak asasi
manusia dan demokrasi di Kuba. Beberapa komunikasi dan koordinasi
tersebut bahkan telah terjalin sejak tahun 2013 sebelum perdebatan
terkait embargo ekonomi Amerika Serikat terhadap Kuba ini muncul
ke permukaan. Bersama-sama dengan Robert Menendez yang pada
saat itu masih menjabat sebagai Ketua Komisi Hubungan
Internasional Senat Amerika Serikat, pada tanggal 25 April 2013
Marco Rubio bertemu dengan Berta Soler yang merupakan pemimpin
kelompok aktivis hak asasi manusia di Kuba, yaitu Ladies in White
(Getty Images, t.thn.). Pada tanggal 17 September 2013 Marco Rubio
dan Robert Menendez mengadakan koordinasi dengan seorang aktivis
demokrasi Kuba yang bernama Jorge Luis García Pérez Antúnez guna
membahas perkembangan kondisi demokrasi di Kuba dan apa yang
sebaiknya dilakukan Amerika Serikat untuk bisa membantu (Marco
Rubio US Senator for Florida, 2013). Selain bertemu dan
136
berkomunikasi dengan Berta Soler dan Antúnez, Marco Rubio juga
menjalin komunikasi dengan aktivis hak asasi manusia dan demokrasi
Kuba lainnya, seperti Yoani Sánchez dan Danilo “El Sexto”
Maldonado Machado (Marco Rubio US Senator for Florida, 2017).
Sama halnya dengan Robert Menendez, Marco Rubio yang
turut mendampingi Robert Menendez dalam komunikasi dan
koordinasi dengan kelompok hak asasi manusia dan demokrasi di
Kuba juga melihat bahwa aktivis-aktivis tersebut adalah akses
informasi yang penting bagi Komisi Hubungan Internasional Senat
Amerika Serikat. Contohnya, mengapa Marco Rubio menjalin
komunikasi dengan Yoani Sánchez? Yoani Sánchez merupakan
seorang penulis di Kuba yang pernah menjadi tawanan politik
pemerintah Kuba karena blog berjudul “Generation Y” miliknya
dinilai terlalu mengkritisi pemerintah (The Huffington Post, t.thn.).
Bagi Marco Rubio, Yoani Sánchez adalah narasumber yang dapat
menceritakan tentang bagaimana masyarakat Kuba tidak memiliki
kebebasan untuk berekspresi melalui sebuah karya tulisan yang
notabene merupakan kebebasan yang dijamin di Amerika Serikat.
Bagi Yoani Sánchez, komunikasi yang dijalin dengan Amerika
Serikat bisa membukakan kesempatan yang lebih besar bagi penulispenulis di Kuba untuk mewujudkan kebebasan yang selama ini
mereka impikan.
137
Alasan yang sama juga melandasi koordinasi yang dilakukan
dengan Danilo “El Sexto” Maldonado Machado. El Sexto adalah
seorang seniman yang pernah merasakan penjara Kuba karena karya
seninya berupa grafiti bertuliskan “abajo Fidel, abajo Raul” yang
berarti “turunlah Fidel, turunlah Raul” dinilai telah melecehkan Fidel
Castro dan Raul Castro (Martinez, 2016). Kebebasan seni yang telah
dianggap sebagai salah satu bagian dari kehidupan manusia ternyata
juga merupakan aspek yang sangat ketat dibatasi di Kuba. Isu-isu
tersebut merupakan isu hak asasi manusia yang juga telah disoroti
oleh Amerika Serikat sejak lama. Karena adanya keterkaitan isu inilah
Marco
Rubio
akhirnya
menilai
bahwa
Komisi
Hubungan
Internasional Senat Amerika Serikat perlu membangun komunikasi
langsung dengan para aktivis di Kuba.
Selain berfungsi sebagai akses informasi, komunikasi dan
koordinasi yang telah dijalin cukup lama oleh Marco Rubio dan
aktivis hak asasi manusia serta demokrasi di Kuba sebagaimana yang
dijelaskan di atas pada dasarnya menjadikan Marco Rubio dan Komisi
Hubungan Internasional Senat Amerika Serikat menjadi pihak yang
lebih memahami permasalahan Kuba secara mendetail jika
dibandingkan dengan Presiden Obama sendiri. Komunikasi dan
koordinasi tersebut juga memberikan pandangan yang lebih luas bagi
Marco Rubio tentang urgensi mempertahankan embargo ekonomi
138
sebagai tindak lanjut politik luar negeri Amerika Serikat terhadap
Kuba pasca normalisasi.
Dari penjelasan yang dipaparkan dalam bab ini, dapat dipahami bahwa di
dalam badan pemerintahan Amerika Serikat terdapat dua perbedaan perspektif
antara Presiden Obama sebagai pihak yang mengajukan rekomendasi kebijakan
pencabutan embargo dan Komisi Hubungan Internasional Senat Amerika Serikat
sebagai pihak yang ditugaskan untuk mengkaji rekomendasi kebijakan tersebut.
Meskipun kedua pihak tersebut memiliki cara pandang yang berbeda dalam
menyikapi status embargo pasca normalisasi, namun pada dasarnya baik Presiden
Obama maupun Komisi Hubungan Internasional Senat Amerika Serikat sama-sama
sepakat bahwa kepentingan untuk mewujudkan perbaikan kualitas perlindungan
hak asasi manusia dan pengimplementasian demokrasi di Kuba merupakan
kepentingan yang paling diprioritaskan dalam politik luar negeri Amerika Serikat
terhadap Kuba jika dibandingankan dengan kepentingan di sektor lainnya.
Kepentingan itu pulalah yang telah menjadi parameter utama dalam menentukan
tindakan Amerika Serikat selanjutnya terhadap Kuba.
Dari bab IV ini, juga dapat disimpulkan bahwa permasalahan yang
melatarbelakangi tetap dipertahankannya embargo ekonomi pasca upaya
normalisasi hubungan bilateral Amerika Serikat dengan Kuba terjadi di dalam
dapur politik Amerika Serikat. Antara Komisi Hubungan Internasional Senat
Amerika Serikat dan Presiden Obama memiliki pendekatan yang berbeda tentang
kebijakatan embargo pasca upaya normalisasi kedua negara dalam proses politik
139
birokratik. Meskipun Komisi Hubungan Internasional Senat Amerika Serikat hanya
merupakan satu komponen kecil dalam Senat Amerika Serikat, namun komisi ini
memegang kekuasaan yang cukup besar dalam menentukan hasil akhir keputusan
Kongres dalam proses legislasi rekomendasi kebijakan terkait status embargo pasca
upaya normalisasi.
Berdasarkan analisa tentang kekuatan daya tawar Komisi Hubungan
Internasional Senat Amerika Serikat, dapat dilihat bahwa Komisi Hubungan
Internasional Senat Amerika Serikat memiliki kekuatan yang lebih besar jika
dibandingankan dengan kekuatan yang dimiliki oleh Presiden Obama dalam proses
politik birokratik tersebut. Dengan lebih besarnya daya tawar Komisi Hubungan
Internasional Senat Amerika Serikat serta semakin lemahnya daya tawar Presiden
Obama menjelang akhir periode kepresidennya, maka dapat disimpulkan bahwa
Komisi Hubungan Internasional Senat Amerika Serikat berhasil mengungguli
Presiden Obama dalam proses politik birokratik kebijakan status embargo ekonomi
pasca upaya normalisasi. Unggulnya Komisi Hubungan Internasional Senat
Amerika Serikat dalam proses kompromi kebijakan ini menjadikan perspektif
Kongres untuk tetap mempertahankan embargo ekonomi Amerika Serikat terhadap
Kuba muncul sebagai kebijakan luar negeri Amerika Serikat pasca terlaksananya
upaya normalisasi hubungan bilateralnya dengan Kuba.
140
Download