BAB I PENDAHULUAN 1. Latar Belakang

advertisement
BAB I
PENDAHULUAN
1. Latar Belakang Masalah
Selama mengalami penjajahan Spanyol dan Portugal sejak tahun 1571,
akhirnya memunculkan keinginan rakyat Amerika Latin untuk memperjuangkan
kemerdekaanya. Perjuangan yang terjadi diantara negara-negara Amerika Latin
tersebut tidak terjadi secara serentak namun dilakukan oleh rakyat daerah jajahan
masing-masing tanpa ada koordinasi dengan daerah lainnya. Sistem kolonialisme
yang kejam yang dirasakan selama masa penjajahan merupakan satu faktor yang
melatarbelakangi munculnya perjuangan tersebut. Rakyat daerah jajahan
diberlakukan secara tidak adil dan hasil dari kerja keras mereka diperas demi
kepentingan merkantilisme ekonomi hingga menindas hak-hak asasi mereka. 1
Selain faktor tersebut, hubungan yang terjadi antara daerah jajahan dengan dunia
luar secara tidak langsung juga menjadi faktor penting dalam memunculkan
gagasan-gagasan pemikiran baru yang membantu dalam menemukan cara untuk
memperjuangkan kemerdekaan.
Kuba merupakan salah satu negara yang berada dikawasan Amerika Latin.
Terletak di wilayah Karibia dan merupakan daratan terluas di sebelah barat
Kepulauan Antilles. Posisi Kuba yang strategis, kekayaan lahan pelabuhan yang
melimpah, serta candangan mineral yang dimiliki Kuba menjadi daya tarik bagi
kekuasaan-kekuasaan asing untuk menguasai Kuba. Pada waktu negara-negara
Amerika Latin yang merupakan jajahan Spanyol dan Portugal telah berhasil
mendapatkan kemerdekaannya, Kuba masih dikuasai oleh Spanyol. 2 Saat itu
Spanyol yang dipimpin oleh Diego Velazquez de Cuellar mulai menaklukkan
penduduk pribumi Kuba dan menjadi gubernur Kuba untuk Spanyol dengan
1
Hidayat Mukmin, Pergolakan di Amerika Latin Dalam Dasawarsa ini, Jakarta : Ghalia Indonesia, 1981,
hal.40-41.
2
Ibid.
Universitas Sumatera Utara
membangun sebuah villa di Baracoa yang menjadi ibukota pertama pulau itu. 3
Invasi tersebut berhasil menjadikan Spanyol sebagai penguasa atas Kuba. Usahausaha yang dilakukan oleh rakyat Kuba untuk menggusir para penjajah Spanyol
dimulai dari gerakan bawah tanah hingga perlawanan terbuka belum berhasil juga
hingga tahun 1868.
Kegagalan perlawanan itu kemudian memunculkan Perang Sepuluh Tahun
(1868-1878) di Kuba. Perlawanan yang dipimpin oleh Carlos Manuel de Cepedes,
Fransisco Aguliera, Maximo Gomez dan Jenderal Ramon Balanco, merupakan
pemberontakan rakyat Kuba terhadap Spanyol yang membuat semangat revolusi
rakyat makin meluap. Walaupun pemberontakan ini satu langkah lebih maju dari
pemberontakan sebelumnya namun pemberontakan ini belum juga berhasil
membawa rakyat Kuba untuk merdeka. Akibat dari pemberontakan ini banyak
warga Amerika Serikat yang berada di Kuba menjadi korban dan banyak dari
warga Kuba juga ikut melarikan diri ke Amerika Serikat untuk mendapatkan
perlindungan dari kekacauan yang sedang terjadi di negaranya.
Kapal perang Amerika Serikat “Maine” yang akan membantu rakyat
Amerika Serikat mengungsi dari Kuba tiba-tiba meledak di Pelabuhan Havana.
Peledakan kapal tersebut diduga merupakan perbuatan tentara Spanyol. Peristiwa
ini memicu kebencian Amerika Serikat terhadap Spanyol. Sebagai bentuk protes
terhadap peristiwa tersebut, Amerika Serikat ikut menyatakan bahwa Kuba berhak
merdeka. Protes ini dianggap Spanyol sebagai suatu tindakan provokasi Amerika
Serikat. Sebagai reaksinya, pada tanggal 24 April 1898 Spanyol secara resmi
mengumumkan perang terhadap Amerika Serikat. Dalam perang tersebut Spanyol
kalah dan perang berakhir dengan pendudukan tentara Amerika Serikat di Kuba
pada tanggal 1 Januari 1899. Kekalahan ini juga membawa dampak lepasnya
Puerto Rico, Filipina dan Guam dari tangan Spanyol ke Amerika Serikat.
3
Ferdinand Zaviera, Fidel Castro Revolusi Sampai Mati, Jogjakarta : Garasi, 2007, hal.20.
Universitas Sumatera Utara
Kemenangan tersebut ternyata tidak membuat Kuba mendapatkan
kemerdekaan yang sesungguhnya. Yang terjadi hanya sebuah transisi pengaruh
dari Spanyol ke Amerika Serikat. Sejak abad ke 19 kepemilikan dan penguasaan
berbagai unit ekonomi dan fasilitas produksi di Kuba justru jatuh ke tangan
perusahaan-perusahaan Amerika Serikat. Kuba mendapatkan kemerdekaanya pada
tahun 1902 dengan Estrada Palma sebagai presiden pertamanya. Namun
kemerdekaan itu dibatasi oleh Amandemen Platt, yakni sebuah perjanjian antara
Amerika Serikat dengan Kuba. Amandemen Platt dijadikan sebagai pedoman
konstitusi baru bagi Kuba. Secara tidak langsung hal itu mengakibatkan Kuba
menjadi jajahan Amerika Serikat karena amandemen tersebut mengijinkan
Amerika Serikat untuk menerapkan tekanan yang besar terhadap Kuba atas dasar
hak istimewa yang dimiliki oleh Amerika Serikat. Keadaan ini sangat
menguntungkan Amerika Serikat karena memberikan kewenangan kepada
Amerika Serikat dalam urusan-urusan Kuba seperti mengharuskan Kuba
menyewakan Teluk Guantanamo kepada Amerika Serikat. 4
Teluk Guantanamo digunakan oleh Amerika Serikat sebagai pangkalan
militer sejak perang Spanyol-Amerika tahun 1898. Letaknya yang strategis, ketiga
sisinya berhadapan langsung dengan laut dan dipisahkan 27 kilometer dari batas
yang masih menjadi wilayah Kuba. Pada masa presiden Gerardo Machado tahun
1934, Amandemen Platt dicabut namun masa penyewaannya diperpanjang.
Perusahan-perusahan yang berbasis di Amerika Serikat terus mendominasi setiap
sektor penting dalam perekonomian Kuba. Terutama disaat Kuba dibawah
pimpinan Fulgencio Batista, negara tersebut menjadi sebuah negara kediktatoran
yang kejam dan dalam kepemimpinannya, Batista didukung oleh Amerika Serikat
karena kebijakannya mengguntungkan Amerika Serikat. 5
4
5
Ibid, Hal. 27.
Abdul Manan, 2013, Sejarah Ringkas Guantanamo Kuba,
http://www.tempo.co/read/news/118478160/Sejarah-Ringkas-Guantanamo-Kuba,
diakses 6 Mei 2013 pukul 14.30 Wib
Universitas Sumatera Utara
Kaum imperialis ini diijinkan untuk menggunakan Kuba sebagai lahan
keuntungan mereka tanpa memperdulikan rakyat Kuba yang menderita karena
berbagai bentuk keburukan aparat birokrasi Kuba terjadi pada saat itu. Segala
sektor industri yang terbesar seperti gula dan pariwisata serta sektor lain seperti
industri telekomunikasi, Cuban Telephone Company juga dikuasai perusahan
Amerika Serikat. Havana termasuk menjadi tujuan pelesir bagi para pengusaha
dan wisatawan Amerika Serikat. Keadaan ini terus berlanjut mendominsi Kuba
hingga munculnya revolusi di tahun 1959. 6
Pada tanggal 1 Januari 1959, Revolusi Kuba mengakhiri semua itu.
Setelah menemui kegagalan dalam perjuangannya selama enam tahun, gerakan
revolusioner yang dipimpin oleh Fidel Castro berhasil menjatuhkan kekuasaan
Fulgencio Batista. Pada saat Batista diturunkan dari kepemimpinannya, 75% dari
tanah pertanian utama Kuba dimiliki oleh perusahaan asing. Hasil pangan utama
Kuba diekspor ke Amerika Serikat dengan alasan Kuba mendapatkan kuota besar
yang dibayar diatas harga dunia. Setelah berhasil menjatuhkan rezim diktator
Fulgencio Batista, Fidel Castro memimpin Kuba dan membawa negara itu ke
sebuah perubahan yang revolusioner. Kemenangan Fidel Castro dalam
perjuangannya melawan Batista sebagaimana dikatakan oleh
seorang pakar
ekonomi Edward Boorstein menyimpulkan,
“Bahwa mereka telah melenyapkan mandor-mandor lokal dan kini mereka harus
menghadapi pemilik sesungguhnya lahan-lahan pertanian Kuba: Imperialisme Amerika
Serikat!” 7
Perintah embargo Amerika Serikat terhadap Kuba dimulai pada tahun
1960. Embargo ini dianggap sebagai intervensi kasar terhadap hak yang
menentukan nasib dari rakyat Kuba. Amerika Serikat secara progresif
memberlakukan undang-undang yang dimaksudkan untuk mengisolasi Kuba
secara ekonomi lewat embargo dan langkah-langkah lainnya. Embargo ini
6
7
Ferdinand Zaviera, op.cit; Hal.27.
Imam Hidayah Usman, 2006, Fidel Castro Melawan, Jakarta, Mediakita, Hal.67.
Universitas Sumatera Utara
dilakukan
karena
akibat
dari
kebijakan
pemerintah
yang
tidak
lagi
mengguntungkan Amerika Serikat. Pemerintah melakukan nasionalisasi terhadap
perusahaan-perusahaan asing milik Amerika Serikat, termasuk bank-bank milik
Amerika Serikat seperti The First National Bank of Boston, First National City
Bank of New York dan Chase Manhattan, dan berbagai kebijakan lain termasuk
pembaharuan agrarian yang tentunya sangat merugikan kepentingan modal asing
Amerika Serikat yang telah lama menguasai aset-aset produktif Kuba. 8
Saat itu Presiden Amerika Serikat, Dwight Eisenhower menyetujui
rencana aksi rahasia melawan Kuba. Rencana itu menggunakan apa yang mereka
sebut “Powerful Propaganda Campaign” yang dibuat khusus dengan target
menjatuhkan Fidel Castro. Rencana itu antara lain, menolak membeli gula,
mengakhiri pengiriman minyak, meneruskan embargo senjata yang telah
diberlakukan sejak zaman Batista dan melatih para pelarian Kuba dengan cara
militer untuk dikerahkan ke dalam sebuah penyerangan ke Kuba.
Awal permusuhan Fidel Castro dengan Amerika Serikat terjadi di tahuntahun pertama revolusi. Ia menetapkan berbagai kebijakan yang dianggap
membahayakan kepentingan militer dan ekonomi Amerika Serikat di Kuba. Hal
ini terlihat ketika Castro yang mengambil kembali Teluk Guatanamo dan menolak
uang sewa yang dibayarkan oleh Amerika Serikat sebesar US$4.000 per tahun. Ia
malah mendesak Amerika Serikat memindahkan pasukannya dari pangkalan
militer tersebut. Fidel Castro juga menasionalisasikan pekebunan tebu seluas lebih
dari 400 hektar. Sebagai balasannya pada Juni 1960, Eisenhower mengurangi
kuota impor gula ke Kuba menjadi 700.000 ton dan kembali direspon oleh Kuba
dengan menasionalisasikan sekitar 850 juta aset-aset kekayaan dan bisnis milik
Amerika Serikat termasuk tambang-tambang minyak dan perusahaan telepon di
Kuba. Amerika Serikat tidak tinggal diam, negara adikuasa tersebut membalas
8
Imam Hidayah Usman, Ibid, Hal. 68.
Universitas Sumatera Utara
kembali dengan menerapkan embargo hukuman dan menutup akses dagang
pemerintah Havana. 9
Pada Februari 1960, Kuba mulai membina hubungan dagang dengan Uni
Sovyet. Melalui Wakil Perdana Menteri, Anasta Mikoyan, Uni Sovyet
menawarkan hubungan kerjasama antara kedua negara tersebut yang dimulai
dengan menukarkan gula Kuba dengan minyak mentah dari Uni Sovyet. Uni
Sovyet yang saat itu menjadi seteru besar Amerika Serikat, berjanji akan
memberikan pinjaman ratusan juta dolar, pesanan jutaan ton gula dan peralatan
militer membantu perekonomian Kuba. Delapan puluh lima persen perdagangan
luar negeri Kuba dilangsungkan dengan negara anggota Blok Timur pimpinan Uni
Sovyet. Kuba mengekspor aneka produk pertanian terutama gula dengan cara
barter untuk mendapatkan minyak dan produk manufaktur. 10
Hal ini makin menyulut kebencian Amerika Serikat terhadap sosok Fidel
Castro dan mulai melancarkan usaha-usaha untuk menyingkirkan Fidel Castro
dari pentas politik Kuba. Mulai dari invasi militer hingga invasi ekonomi dan
melakukan upaya pembunuhan terhadap Fidel Castro. Invasi Teluk Babi pada
tanggal 15-17 April 1961 adalah penyerangan yang dilakukan oleh para imigran
yang berasal dari Kuba yang didukung sepenuhnya oleh CIA. Pemerintah
Amerika Serikat berharap lewat penyerangan ini Fidel Casto berhasil digulingkan,
namun pada kenyataannya penyerangan ini dengan mudah dapat dilumpuhkan
oleh Fidel Castro dalam waktu 72 jam dan Presiden Amerika Serikat John F.
Kennedy yang menyetujui penyerangan itu dibuat malu karenanya. 11
Upaya untuk mengisolasi Kuba semakin gencar dilakukan oleh Amerika
Serikat.
Melalui OAS (Organisation of American State). Amerika Serikat
mengajak negara-negara Amerika Latin lainnya secara individual untuk
9
Ferdinand Zaviera, Ibid, Hal. 32.
Iman Hidayah Usman, Op.cit; hal.68.
11
Pandu Setia, Amerika Mengobarkan Perang 20 Intervensi Militer dan Upaya Penggulingan Mulai dari
Bung Karno Sampai Saddam Husein, Jakarta : Mediakita, hal. 144.
10
Universitas Sumatera Utara
memutuskan hubungan diplomatiknya dengan Kuba. Dibawah pemerintahan Fidel
Castro, Kuba tidak hanya bertahan dalam mengahadapi segala tekanan dari
Amerika Serikat namun Kuba juga berkembang menjadi negara sosialis walaupun
belum dalam bentuk yang sepenuhnya. Pada peringatan Hari Buruh 1 Mei 1961,
Fidel Castro dengan tegas mendeklarasikan bahwa Kuba adalah negara sosialis
dan mengatakan,
“ Jika Tuan Kennedy tidak senang dengan sosialisme, kami juga tidak senang dengan
imperialisme dengan kapitalisme. Saya seorang Marxis-Leninis. Dan akan terus begitu sampai
mati!”.
12
Embargo ekonomi yang dikenakan pemerintah Amerika Serikat adalah
sebuah sejarah panjang. Berganti-ganti presiden Amerika Serikat mulai dari
Eisenhower, kebijakan ini masih dijalankan. Fidel Castro menjadi sosok yang
menakutkan dan paling dibenci oleh mereka. Saat Presiden Kennedy, ia memang
tidak memberlakukan embargo total ke Kuba namun ia mengetatkan embargo
ekonomi tersebut dengan perintah bahwa makanan dan obat-obatan yang boleh
diperdagangkan ke Kuba hanyalah makanan dan obat-obatan yang tidak disubsidi.
Dan lebih dari itu pemerintah Amerika Serikat juga melarang semua
barang yang memiliki kandungan bahan-bahan material yang berasal dari Kuba
walaupun itu diproduksi oleh negara lain. Presiden Carter pada 1977 mencabut
larangan warga Amerika Serikat yang berlibur di Kuba, namun pada tahun 1981
Presiden Reagan memberlakukan aturan itu kembali. Ditahun 1992 sesaat
Presiden George Bush mengeluarkan soal pelarangan perusahaan swasta untuk
berdagang di Kuba, dengan percaya diri mereka mengungkapkan bahwa dalam
hitungan minggu Fidel Castro akan terhambat akibat kebijakan tersebut, namun
hal itu sama sekali tidak terbukti.
Setelah mengetahui sekilas mengenai apa yang menjadi sejarah Kuba dan
alasan negara Kuba diembargo oleh Amerika Serikat serta gambaran singkat
12
Iman Hidayah Usman, Op.cit; hal.69.
Universitas Sumatera Utara
bentuk tindakan-tindakan embargo ekonomi tersebut, maka hal inilah yang
kemudian menjadi ketertarikan penulis untuk meneliti bagaimana implikasi politik
akibat embargo ekonomi Amerika Serikat terhadap pemerintahan Fidel Castro.
2. Perumusan Masalah
Perumusan masalah merupakan penjelasan mengenai alasan mengapa
masalah yang dikemukakan dalam penelitian itu dipandang menarik, penting dan
perlu untuk diteliti. Perumusan masalah juga merupakan suatu usaha yang
menyatakan pertanyaan-pertanyaan penelitian apa saja yang perlu dijawab atau
perlu dicari jalan pemecahannya , atau dengan kata lain perumusan masalah
adalah merupakan pertanyaan lengkap dan rinci mengenai ruang lingkup masalah
yang akan diteliti didasarkan pada identifikasi masalah dan pembatasan
masalah. 13 Berdasarkan uraian yang telah dipaparkan dalam latar belakang
masalah diatas, maka dalam penelitian ini yang menjadi perumusan yaitu,
“Bagaimana Implikasi Politik Akibat Embargo Ekonomi Amerika Serikat
Terhadap Pemerintahan Fidel Castro?”
3. Batasan Masalah
Pembatasan masalah adalah usaha untuk menetapkan masalah dalam
batasan penelitian yang akan diteliti. Batasan masalah ini berguna untuk
mengidentifikasi faktor mana saja yang termasuk ke dalam masalah penelitian dan
faktor mana saja yang tidak termasuk kedalam ruang penelitian serta agar hasil
penelitian yang diperoleh tidak menyimpang dari tujuan yang ingin dicapai, yaitu
suatu karya tulis yang sistematis dan tidak melebar. Maka pembatasan masalah
dalam penelitian ini adalah : Embargo Ekonomi Amerika Serikat yang terjadi
pada masa pemerintahan Fidel Castro (1959-2006)
13
Hasani Usman dan Purnomo. Metedologi Penelitian Sosial , Bandung : Bumi Aksara. 2004. Hal.26.
Universitas Sumatera Utara
4. Tujuan Penelitian
Penelitian ini bertujuan untuk : Menjelaskan implikasi politik yang terjadi
akibat embargo ekonomi yang dilakukan oleh Amerika Serikat terhadap
pemerintahan Fidel Castro.
5. Signifikansi Penelitian
1. Penelitian ini diharapkan mampu memberikan penjelasan mengenai
kemampuan pemerintahan Fidel Castro yang bertahan dengan
pemikiran dan tindakan politiknya dalam menghadapi embargo
ekonomi Amerika Serikat.
2. Penelitian
ini
sekiranya
dapat
memberikan
kontribusi
bagi
pengembangan ilmu pengetahuan khususnya dalam Ilmu Politik dan
menjadi referensi/kepustakaan bagi Departemen Ilmu Politik Fisip
USU.
6. Kerangka Teori
Salah satu unsur penting dalam penelitian adalah kerangka teori, karena
teori berfungsi sebagai landasan berpikir untuk menggambarkan darimana peneliti
melihat objek yang diteliti sehingga penelitian dapat lebih sistematis. Teori adalah
rangkaian asumsi, konsep, konstruksi, defenisi, dan proposisi untuk menerangkan
suatu fenomena sosial secara sistematis dengan cara merumuskan hubungan antar
konsep. 14
6.1 Implikasi Politik
Implikasi diartikan sebagai suatu konsekuensi atau akibat langsung dari
sebuah tindakan. Dalam penerapannya di politik, implikasi biasanya dikaitkan
dengan gejala-gejala politik yang ada. Politik yang diartikan sebagai usaha untuk
mencapai suatu masyarakat yang lebih baik daripada yang dihadapinya atau apa
yang disebut oleh (Peter Merkl, 1976: 13), bahwa Politik dalam bentuk yang
paling baik adalah usaha untuk mencapai suatu tatanan sosial yang baik dan yang
14
Masri Singarimbun dan Sofian Effendi, Metode Penelitian Survei, Jakarta: LP3ES, hal.37.
Universitas Sumatera Utara
berkeadilan. Dalam menarik sebuah implikasi haruslah dikaitkan dengan konteks
penelitian yang ada.
Gejala-gejala
politik
yang
timbul
dalam
sistem
politik
akan
memperlihatkan dampak yang jelas dalam perkembangan politik, kemerosotan
politik dan perubahan politik. Dalam perkembangan politik dinilai bahwa gejalagejala yang timbul mengalami peningkatan sehingga berakibat pada proses
transisi politik. Demikian pula keadaan yang disebut dengan kemerosotan politik.
Hal itu bisa terjadi apabila gejala-gejala yang menimbulkan suatu perubahan
politik menurun kapasitasnya dalam artian tidak begitu banyak membawa dampak
pada perubahan politik yang ada. Gejala-gejala politik tersebut dapat dilihat dari
beberapa hal yakni :
1. Kebijaksanaan.
Kehidupan politik menurut pendirian yang lazim meliputi semua
aktivitas yang berpengaruh terhadap kebijaksanaan dari yang khusus,
yang diterima baik oleh sebuah masyarakat dan terhadap cara
pelaksanaan kebijaksanaan ini. (David Easton, 1953: 128).
2. Kekuasaan.
Kekuasaan “power” diartikan sebagai kekuatan mempengaruhi
tingkah laku orang-orang lain sesuai dengan tujuan aktor yang
berkuasa. Kekuasaan dalam konsep politik diartikan sebagai pengaruh
kebijaksanaan pemerintah serta perwujudannya dan dampaknya sesuai
dengan tujuan pemegang kekuasaan. Robert A. Dahl menyatakan
bahwa
kekuasaan
merujuk
pada
adanya
kemampuan
untuk
mempengaruhi diri seseorang kepada orang lain, dari satu pihak
kepada pihak lain.
Andrian Leftwich, dalam bukunya “What Is Politics? The Activity
and Its Study” menjelaskan bahwa politik adalah jantung dari semua
kegiatan sosial kolektif, formal maupun informal, publik maupun
privat, dalam semua kelompok masyarakat. Politik melahirkan
Universitas Sumatera Utara
kekuasaan yang memperhatikan penciptaan, pendistribusian dan
penggunaan sumber-sumber keberadaan sosial manusia. Dengan
demikian politik memunculkan dimensi kekuasaan pengambilan
keputusan, kekuasaan atas agenda setting dan kekuasaan atas kontrol
pemikiran. 15
Bagian
terpenting
dari
kekuasaan
adalah
adanya
syarat
keterpaksaan. Yakni keterpaksaan pihak yang dipengaruhi untuk
mengikuti pemikiran ataupun tingkah laku pihak yang mempengaruhi
(Mochtar Mas’oed dan Nasikun 1988:22). Menurut Walter Jones
kekuasaan dapat diartikan sebagai alat aktor-aktor internasional untuk
berhubungan satu dengan yang lainnya. Hal itu berarti kepemilikan
atau lebih tepat koleksi kepemilikan menciptakan kepemimpinan.
Kekuasaan bukanlah atribut politik alamiah melainkan produk
sumber daya material dan tingkah laku yang masing-masing memiliki
posisi khusus dalam keseluruhan kekuasaan seluruh aktor. Penggunaan
kekuasaan secara rasional merupakan upaya untuk membentuk hasil
dari peristiwa internasional untuk dapat mempertahankan kepuasan
aktor dalam politik internasional. Unsur-unsur kekuasaan yakni:
sumber daya alam yakni sumber daya alam geografi, unsur psikologis
dan sosiologis kekuasaan, dan unsur sintetik kekuasaan keterampilan
penggunaan sumber daya manusia. 16 Menurut Haryanto (2005:22)
kekuasaan dapat diperoleh melalui beberapa cara yakni:
a. Kedudukan
Kedudukan dapat memberikan kekuasaan pada seseorang
atau sekelompok orang karena menduduki posisi. Semakin
tinggi kedudukan maka semakin besar pula kekuasaan yang ada
pada genggaman orang tersebut.
15
Ahmad Taufan Damanik, Relasi Kekuasaan, Kepentingan, dan Legitimasi dalam Analisa Politik, Jurnal
POLITEA, Vol 4, Januari 2012, hal.28.
16
Walter S. Jones, Logika Hubungan Internasional :Kekuasaan, Ekonomi Politik Internasional dan Tatanan
Dunia, Jakarta : Gramedia Pustaka Utama, 1993, hal.3,6.
Universitas Sumatera Utara
b. Kekayaan
Dari
kekayaan
yang
dimilikinya,
seseorang
bisa
memaksakan keinginannya kepada pihak lain agar bersedia
mengikuti kehendaknya. Kekayaan yang diartikan disini adalah
kekayaan akan kepemilikan sumber-sumber ekonomi. Semakin
besar kepemilikannya terhadap sumber ekonomi apalagi
sumber ekonomi primer atau sumber ekonomi langka maka
semakin besar pula kekuatan yang dimiliki oleh pemilik
sumber ekonomi tersebut untuk memaksakan kehendaknya
kepada pihak-pihak lain. Dalam realitanya, kekuasaan yang
bersumber dari kekayaan akan lebih terasa pengaruhnya di
masyarakat yang relatif kurang dari segi ekonominya dan tidak
merata dalam hal kesejahteraan.
c. Kepercayaan
Seseorang atau kelompok dapat memiliki kekuasaan karena
yang bersangkutan memang dipercaya untuk memilikinya atas
dasar kepercayaan masyarakat. Kekuasaan yang muncul karena
kepercayaan biasanya berada ditengah-tengah masyarakat yang
mempunyai kepercayaan yang sepenuhnya.
Kekuasaan yang dimiliki oleh seseorang atau sekelompok
menimbulkan tujuan dan keinginan yang dimiliki oleh penguasa. Salah
satu yang menjadi tujuannya adalah bagaimana mempertahankan
kekuasaan tersebut. Cara untuk mempertahankan kekuasaannya
biasanya dilakukan dengan cara damai, antara lain dengan demokrasi
atau mencari dukungan pihak lain atau dilakukan dengan cara
kekerasan dan penindasan bagi siapa saja yang menentang kekuasaan
tersebut. Hancurnya kekuasaan tidak hanya disebabkan oleh faktor
internal kekuasaan itu sendiri namun juga bisa akibat faktor eksternal
Universitas Sumatera Utara
seperti perang, konflik, kudeta, ataupun melalui aksi-aksi demonstrasi
yang memungkinkan pergantian kekuasaan.
3. Pemerintah.
Selain memiliki wilayah, penduduk, dan kebebasan politik dari
negara-negara lain, suatu negara juga harus memiliki suatu
pemerintahan. Tanpa pemerintahan negara tidaklah ada, karena
pemerintahanlah yang menjalankan kekuasaan dan fungsi-fungsi
negara sehingga negara menjadi realitas politik. Kendati menyiratkan
keberadaan orang-orang tertentu, istilah pemerintah itu tidak terdiri
dari orang-orang saja. Pemerintah lebih merupakan suatu lembaga
yang mengatur hubungan antar manusia.
Seperti lembaga-lembaga lainnya, pemerintah juga mendasarkan
keberadaannya pada kemampuan memuaskan berbagai kebutuhan
manusia. Karena itu pemerintah memperhatikan perlindungan hidup
dan hak-hak milik setiap orang yang ada dalam komunitas yang
bersangkutan, perlindungan dari musuh asing atau pertahanan nasional,
mengupayakan kesejahteraan bersama, mencegah terjadinya konflik
horizontal, baik antar individu, kelompok ataupun etnik. Pemerintahan
merupakan segala kegiatan yang berkaitan dengan tugas dan
wewenang negara dan yang melaksanakan tugas dan wewenang
negara. Memerintah berarti melihat kedepan, menentukan berbagai
kebijakan
yang
kesejahteraan
diselengarakan
masyarakat,
untuk
mencapai
memperkirakan
arah
tujuan
demi
perkembangan
masyarakat dan mempersiapkan langkah-langkah kebijakan untuk
menyongsong perkembangan masyarakat kepada tujuan yang telah
ditetapkan.
4. Konflik dan Kerjasama.
Perbedaan politik yang menjadi ciri dan sumber dari tindakantindakan dan tema-tema politik adalah perbedaan antara kawan dan
Universitas Sumatera Utara
lawan. Jika politik secara hakiki dipandang sebagai proses interaksi
antar elemen di dalam suatu negara yang berisikan konflik dan
konsensus,
maka
politik
dimaknai
sebagai
suatu
perjuangan
memperebutkan sumber-sumber yang terbatas melalui kekuasaan di
tengah hasrat atau keinginan manusia yang tidak terbatas.Politik terdiri
dari pertarungan antara aktor-aktor yang mempunyai keinginankeinginan
yang
saling
bertentangan
mengenai
pokok-pokok
pertentangan masyarakat (Vernon van Dyke, 1973:38).
Gejala-gejala politik tersebut terus berkembang dalam orientasi politik dan
penerapannya. Dalam kenyataanya kekuasaan yang menjadi objek paling penting
sebagai gejala politik dan memerlukan apa yang disebut dengan legitimasi.
Terdapat perbedaan yang ada dalam tipe-tipe kekuasaan yang dijelaskan manusia.
Yang paling mendasar adalah perbedaan antara kekuasaan yang tidak mendapat
legitimasi dan memperoleh legitimasi.
Kekuasaan yang tidak memiliki legitimasi menjalankan kekuasaan atas
orang lain yang tidak mengakui hak dari mereka yang menjalankan kekuasaan
untuk melakukan demikian. Jadi kekuasaan yang tidak memiliki legitimasi itu
membutuhkan penggunaan atau ancaman kekuatan fisik untuk memaksakan
kepatuhan. Sebaliknya jika kekuasaan yang memiliki legitimasi adalah kekuasaan
yang penggunaanya dijalankan atas orang lain berdasarkan persetuajuan mereka
dan mereka yang menjalankan kekuasaan tersebut memiliki hak untuk melakukan
demikian. 17
Menurut Max Weber, legitimasi merupakan output yang dihasilkan oleh
subsistem oleh pemeliharaan yang dibutuhkan sebagai input oleh subsistem
pencapaian tujuan. Dalam masyarakat primitif, dimana proses pembuatan
keputusan bersama dengan pengintregrasian nilai, misalnya kalau keputusan
17
Jurger Habermas, Krisis Legitimasi, Yogyakarta, Qalam, 2004, hal.18.
Universitas Sumatera Utara
kelompok dirumuskan dengan berkonsultasi langsung kepada dewa maka
justifikasi atas setiap tindakan politik selalu bersifat langsung dan internal.
Dengan pembedaan fungsi politis dan pengintregasian nilai, sebuah
keputusan tidak lagi memiliki justifikasi normatif langsung seperti ini. Ketika
prosedur yang komplek, diintrodusir pada setting tujuan kelompok, seperti tawar
menawar, kompromi dan aturan mayoritas maka tidak mungkin lagi untuk
meyakini setiap kebijakan pemerintah bisa langsung dipertanggungjawabkan pada
sistem nilai. Sebaliknya yang dibutuhkan oleh negara adalah bentuk persetujuan
lebih umum terhadap proses institusional dasar serta hasilnya. Weber menegaskan
bahwa legitimasi didukung oleh otoritas nasional, yakni jenis otoritas yang
dibentuk menurut ketentuan hukum dan diatur sesuai dengan prosedur yang
merupakan karakteristik masyarakat modern.
Kalau kepercayaan terhadap legitimasi dipahami fenomena empiris yang
tidak memiliki keterkaitan khusus dengan kebenaran, maka landasan tempat ia
didasarkan secara nyata hanya memiliki makna psikologis semata. Persoalan
apakah landasan itu mampu menstabilkan keyakinan terhadap legitimasi,
sepenuhnya tergantung pada praduga formal serta disposisi tingkah laku yang
teramati dari kelompok yang sedang dipersoalkan.
Kepercayaan terhadap legitimasi kemudian mengerucut terhadap legalitas,
tuntutan terhadap proses hukum yang kemudian menghasilkan suatu keputusan
sudah memadai. Dalam masalah kepercayaan terhadap legitimasi yang tergantung
pada kebenaran tuntutan terhadap monopoli negara dalam menciptakan dan
menerapkan hukum jelas tidak memadai. Prosedur itu sendiri mengalami tekanan
untuk mendapatkan legitimasi. Oleh karena itu satu kondisi lagi harus dipenuhi
yakni kekuasaan untuk melegitimasi harus diberi landasan.
Johanes Winckelmann, menyatakan bahwa rasionalitas formal yang
dipakai Weber sebagai landasan bagi legitimasi belumlah memadai. Legalitas bisa
menciptakan legitimasi hanya ketika landsaan tersebut dapat diberikan untuk
Universitas Sumatera Utara
memperlihatkan bahwa prosedur-prosedur formal tertentu telah memenuhi
substansi klaim keadailan berdasarkan kondisi-kondisi batas institusional tertentu.
Landasan diciptakan supaya keputusan yang dibuat bisa diakui dan kekuatan
sebuah keputusan diciptakan serta dilegitimasi namun dipisahkan dari kekuatan
yang diterapkan secara nyata. 18
6.2 Embargo
Embargo
merupakan
sebuah
konsep
kebijakan
ekonomi
politik
internasional. Embargo didefenisikan sebagai larangan untuk menjual komoditikomoditi tertentu kepada penduduk negara yang tidak disenangi. 19 Dikemukakan
oleh Holsti, bahwa embargo adalah suatu kebijakan pemerintah yang melarang
para pengusahanya sendiri untuk melakukan transaksi dengan badan-badan usaha
niaga dinegara dimana embargo itu diberlakukan. 20 Embargo dapat diberlakukan
terhadap barang tertentu seperti bahan strategis atau terhadap seluruh barang yang
biasanya dikirim oleh para penguasa ke negara yang dikenakan sanksi. Meskipun
yang memproduksi komoditi-komoditi ataupun yang menghasilkan jasa adalah
para pegusaha, akan tetapi aktor utama dalam pemberlakuan embargo adalah
negara. Hal ini disebabkan karena adanya kewenangan negara dalam membuat
regulasi dan mengontrol setiap kegiatan ekonomi masyarakatnya. Pembuatan
sebuah regulasi tentunya bersifat politis dan bukan ekonomis.
Embargo dapat juga dilakukan pemerintah terhadap bantuan yang
diberikannya kepada pemerintah lain. Embargo dapat dipergunakan sebagai
sebuah kekuatan (pengaruh) politik apabila negara yang diembargo tersebut
berada dalam keadaan ketergantungan. Ketergantungan ini tercipta karena adanya
kebutuhan yang tidak dapat terpenuhi dalam batas wilayah suatu bangsa. 21
Kebutuhan dan kemampuan ekonomi ataupun militer tentu saja tidak terbagi sama
18
Jurger Habermas, Ibid, hal.22.
R. Soeprapto, Hubungan Internasional :Sistem, Interaksi dan Perilaku, Jakarta : Rajawali Pers, 1997,
hal. 241.
20
K.J. Holsti, Politik Internasional Kerangka Analisa Pertama, Jakarta : Pedoman Ilmu Jaya, 1987, hal. 329.
21
K.J. Holsti, Ibid, hal.321.
19
Universitas Sumatera Utara
rata dalam sistem internasional. Semakin langka ataupun semakin terbatasnya
sumber daya yang dibutuhkan, akan semakin menciptakan ketergantungan pada
negara lain. Pemberlakuan embargo terhadap sebuah negara tidaklah tanpa
didasari sebuah tujuan. Sebagai sarana perdagangan politik luar negeri
pemberlakuan embargo bertujuan untuk :
a) Mengancam dengan atau memberlakukan embargo sebagai tekanan.
Tekanan yang diberikan kepada negara yang diembargo biasanya untuk
mempengaruhi politik dalam negeri suatu negara. Sebagai contoh yang
dilakukan oleh Amerika Serikat terhadap Indonesia dangan tujuan
memberikan tekanan kepada Indonesia atas pelangaran hak asasi yang
dilakukan oleh aparat militer Indonesia.
b) Menghambat suatu negara yang potensial untuk mencapai kemampuan
ekonomisnya. Sebagai contoh konflik yang terjadi antara Amerika Serikat
dan
Kuba.
Amerika
memberlakukan
Serikat
embargo
mencabut
ekonomi
rencana
terhadap
setiap
bantuan
dan
negara
yang
mengizinkan kapal atau pesawatnya mengangkut barang ke Kuba dengan
harapan dapat melemahkan negara Kuba tersebut. 22
6.3 Konsep Politik Luar Negeri
Dalam studi internasional umumnya ada tiga konsepsi pokok yang harus
dipahami, yaitu : Politik internasional (international politics), Kebijakan luar
negeri (foreign policy), dan Hubungan internasional (international relations). 23
Berdasarkan penjelasan tersebut, peneliti menilai bahwa embargo bukan hanya
semata-mata sebagai sebuah kebijakan luar negeri Amerika Serikat saja , akan
tetapi ada kepentingan politik yang ingin dimanfaatkan oleh Amerika Serikat.
Maka peneliti akan melihat dan menganalisa permasalahan embargo dari perpektif
Politik Internasional, dimana embargo ekonomi sebagai bentuk kepentingan
22
23
K.J.Holsti, Ibid, hal.324-325.
K.J.Holsti, Ibid, hal.320.
Universitas Sumatera Utara
Amerika Serikat terhadap Kuba yang berdampak pada timbulnya respon balik
dari Kuba untuk meghilangkan pengaruh Amerika Serikat di Kuba.
Menurut K.J.Holsti ada beberapa unit analisis dalam menjelaskan politik
luar negeri, yaitu individu, negara, dan sistem internasional. Ketiga unit analisis
inilah yang berbeda satu dengan lainnya. Akan tetapi, perbedaan unit analisis ini
akan semakin membantu dalam menganalisis permasalahan politik internasional.
Tingkah laku kebijakan luar negeri dikonsepsikan sebagai suatu reaksi terhadap
lingkungan eksternal, keseimbangan atau ketidakseimbangan semua unit dalam
sistem. Pada tingkat analisis ini, politik luar negeri tidak hanya dilihat sebagai
reaksi terhadap lingkungan eksternal ataupun pada keseimbangan belaka,
melainkan politik luar negeri merupakan cerminan dari kebutuhan-kebutuhan
domestik negara.
Politik luar negeri tidaklah dirumuskan secara mendadak tanpa ada
pertimbangan sosial, politik dan ekonomi. Politik luar negeri diwujudkan untuk
memenuhi tujuan tertentu terutama dalam melaksanakan kepentingan sebuah
negara di tingkat kepentingan antar bangsa. Pokok permasalahan dalam penentuan
kebijakan luar negeri pada umumnya dititik beratkan pada usaha untuk
memecahkan berbagai persoalan, baik yang berhubungan dengan masalah dalam
negeri maupun luar negeri. Suatu pemerintahan pada umumnya berusaha
mewujudkan tujuan nasionalnya melalui berbagai cara yang bervariasi antara satu
negara dengan negara lainnyanya yang direfleksikan melalui kebijakan politik luar
negeri.
6.4 Konsep Kebijakan Luar Negeri
Sistem internasional adalah lingkungan tempat unit (satuan) politik
internasional beropeasi. Tujuan, aspirasi, kebutuhan, lingkup pilihan dan tindakan
unit politik internasional tersebut sangat dipengaruhi oleh pembagian kekuasaan
yang menyeluruh dalam sistem, oleh ruang lingkup dan aturannya yang berlaku.
Terdapat empat pembagian gagasan kebijakan luar negeri yakni, orientasi, peran
nasional, tujuan dan tindakan.
Universitas Sumatera Utara
Yang dimaksudkan sebagai orientasi adalah sikap dan komitmen umum
suatu negara terhadap lingkungan eksternal dan strategi fundamentalnya untuk
mencapai tujuan dalam dan luar negeri serta untuk menanggulangi ancaman yang
berkesinambungan.
Dengan mengkaji struktur kekuasaan dan pengaruh unit
politik dalam berbagai sistem internasional maka dapat diidentifikasikan tiga
bentuk orientasi fundamental yaitu :
a) Isolasi
Isolasi strategi politik dan militer dinyatakan oleh tingkat keterlibatan
yang rendah dalam sistem, jumlah transaksi diplomatik dan komersial
yang rendah dengan unit politik atau masyarakat lain, dan upaya menutup
rapat negara terhadap berbagai bentuk penetrasi eksternal. Para isolasionis
sering didasarkan pada asumsi bahwa negara dapat mencapai keamanan
dan kemerdekaan dengan mengurangi transaksi dengan unit politik lain
dalam sistem itu atau dengan memelihara hubungan diplomatik
dan
pandangan luar negeri, sambil menanggani semuan ancaman yang
dirasakan atau ancaman potensial dengan membentuk batas administrasi
disekitar basis dalam negeri. Secara logika isolasi diterapkan dan dapat
berhasil jika dalam suatu sistem dengan struktur kekuasaan yang tersebar
secara layak, dimana ancaman militer, ekonomi atau ideologi tidak
mungkin ada atau dimana negara-negara lain secara regular menggeser
persekutuan. 24 Orientasi isolasi dapat dikaitkan secara langsung dengan
kehadiran ancaman yang dirasakan, apakah ancaman itu secara militer,
ekonomi ataupun kultural. Banyak alasan yang menjadi dasar orientasi
isolasi, tetapi kebanyakan alasan itu memperlihatkan kecemasan akan
menjadi objek persaingan negara besar dan akan menjadi dominasi pihak
asing terhadap aktivitas ekonomi.
24
K.J. Holsti, Ibid. hal.110.
Universitas Sumatera Utara
b) Strategi Nonblok
Nonblok diartikan sebagai kegiatan dimana suatu negara tidak
melibatkan kemampuan militer dan dukungan diplomatiknya terhadap
negara lain. Keenganan melibatkan dukungan diplomatiknya terhadap
negara lain adalah bukti nonblok sebagai suatu strategi kebijakan luar
negeri. Namun ada beberapa variasi dalam beberapa keadaan yang
mendorong suatu negara menerapkan kebijakan nonblok. Bentuk nonblok
yang paling umum dewasa ini dijumpai diantara negara-negara yang atas
prakarsanya sendiri tanpa jaminan negara lain menolak melibatkan
negaranya sendiri secara militer demi kepentingan dan tujuan negaranegara besar. Orientasi nonblok dapat dikaitkan dengan sejumlah
pertimbangan dan tekanan dalam negeri. Beberapa unit politik menerapkan
orientasi ini sebagai suatu cara untuk memperoleh kemajuan ekonomi
yang maksimal. Dalam penerapannya, para praktisi juga meningkatkan
pengaruh diplomasi negara yang diterapkan sebagai strategi politik luar
negeri. Apabila nonblok dijelaskan dengan variabel ekonomi politik dalam
negeri maka dijelaskan bahwa semua bangsa secara tradisional telah
berusaha memelihara kemerdekaan dan keutuhan wilayahnya dengan
menarik diri atau menghindari keterlibatan dikawasan sengketa. Akan
tetapi jika dalam konteks internasional, ketakutan akan kawasan sengketa
tidak menjadi ancaman langsung terhadap kemerdekaan dan keutuhan
kecuali kalau konflik regional yang terjadi menarik perhatian yang
memunculkan intervensi negara-negara adikuasa.
c) Koalisi dan Aliansi
Koalisi adalah persekutuan, gabungan atau aliansi beberapa unsur, di
mana dalam kerjasamanya, masing-masing memiliki kepentingan sendirisendiri. Aliansi seperti ini mungkin bersifat sementara atau berasas
manfaat. Dalam pemerintahan dengan sistem parlementer, sebuah
pemerintahan koalisi adalah sebuah pemerintahan yang tersusun dari
koalisi beberapa partai. Dalam hubungan internasional, sebuah koalisi bisa
Universitas Sumatera Utara
berarti sebuah gabungan beberapa negara yang dibentuk untuk tujuan
tertentu. Koalisi bisa juga merujuk pada sekelompok orang/warganegara
yang bergabung karena tujuan yang serupa. Dikatakan bahwa melalui
aliansi bangsa mengorbankan kebebasan bertindak dan kehilangan
kesempatan untuk merumuskan kebijakannya menurut kebutuhannya
sendiri. Dalam banyak hal aliansi memaksa negara yang lemah untuk
mengorbankan kepentingannya sendiri demi kepentingan negara adikuasa.
Dalam setiap aktivitas politik luar negeri, pada dasarnya tujuan kebijakan
luar negeri sering dikaitkan dengan kepentingan nasional. Kepentingan tersebut
digunakan sebagai alat untuk menganalisis tujuan dari kebijakan tersebut. Dimana
negara memberikan perlindungan dan mempertahankan keutuhan negara dari
semua aspek yang ada baik aspek fisik, budaya ataupun politik itu sendiri.
Perlindungan ini trerkait dengan politik luar negeri untuk menghadapi ancaman
yang datang dari negara lain. Ada dua elemen mendasar yang menjadi pijakan
bagi pembuat kebijakan luar negeri yang berkaitan erat dengan kepentingan
nasional yaitu:
a) Elemen logis yang dibutuhkan, dimana berkaitan dengan kelangsungan
hidup negara.
b) Elemen perubah yang meliputi bentuk perubahan kondisi lingkungan
dalam negeri. 25
Pada dasarnya yang menjadi tujuannya adalah bagaimana memunculkan suatu
keadaan peristiwa masa depan dan rangkaian kondisi dikemudian hari yang ingin
diwujudkan oleh pemerintah demi kesejahteraan dan pembangunan negara
tersebut.
25
Hesel Nogi S.Tangkilisan, Kebijakan Publik Yang Membumi, Yogyakarta: YPAPI, 2003, hal.62.
Universitas Sumatera Utara
6.5 Konsep Kebijakan Publik
Politik sebagai suatu proses interaksi antar elemen dalam suatu negara
memandang penting bagaimana proses serta hasil pengambilan keputusan
kebijakan publik dilakukan, siapa menentukan apa dan mendapatkan apa dan
bagaimana proses pengaruh-mempengaruhi dalam proses pembuatan kebijakan
pendistribusian sumber-sumber yang ada dalam sebuah negara. Secara umun,
istilah “kebijakan” atau “policy” digunakan untuk menunjuk perilaku seorang
aktor atau sejumlah aktor dalam suatu kegiatan tertentu.Pada dasarnya terdapat
banyak batasan dan defenisi mengenai apa yang dimaksud dengan kebijakan
publik dalam literatur ilmu politik.
Masing-masing defenisi tersebut memberikan penekanan yang berbedabeda.
Salah satu defenisi mengenai kebijakan publik diberikan oleh Robet
Eyestone. 26 Ia mengatakan bahwa kebijakan publik merupakan hubungan suatu
unit pemerintah dengan lingkungannya. Seorang pakar ilmu politik lain, yakni
Richard Rose memberikan defenisi mengenai kebijakan publik bahwa, kebijakan
publik dipahami sebagai serangkaian kegiatan yang sedikit banyaknya
berhubungan,
beserta
konsekuensi-konsekuensinya
bagi
mereka
yang
bersangkutan sebagai suatu keputusan tersendiri.
Berbeda dengan dua ahli sebelumnya, James Anderson memberikan
penjelasan yang lebih jelas mengenai defenisi kebijakan ini. Ia menyatakan bahwa
kebiajakan merupakan arah tindakan atau apa yang telah dilakukan tidak sematamata menyangkut usulan tindakan. Menurut Anderson kebijakan merupakan arah
tindakan yang mempunyai maksud yang ditetapkan oleh seorang aktor atau
sejumlah aktor dalam mengatasi suatu masalah. 27
26
27
Robert Eyestone, The Threads of Policy: A Study In Policy Leadership, Indianapolis: Bobbs-Merril, hal.18.
James Anderson, Public Policy Making, Second Editions, Newyork: Holt, Renehart and Wilson, 1969,
hal.4.
Universitas Sumatera Utara
Menurut Anderson, konsep kebijakan publik ini kemudian mempunyai
beberapa implikasi, yakni pertama, kebijakan publik yang berorientasi pada
maksud dan tujuan namun kebijakan publik dalam sistem politik modern bukan
sesuatu yang terjadi begitu saja melainkan telah direncanakan oleh aktor-aktor
yang terlibat dalam sistem politik. Kedua, kebijakan merupakan arah atau pola
tindakan yang dilakukan oleh pemerintah dan bukan merupakan keputusan
sendiri. Ketiga, kebijakan sebenarnya adalah apa yang sebenarnya dilakukan oleh
pemerintah dalam mengatur perdagangan, mengendalikan inflasi atau lainnya dan
bukan apa yang diinginkan oleh pemerintah. Keempat, kebijakan politik bersifat
positif atau negatif. Secara positif, mencakup tindakan pemerintah untuk
mempengaruhi suatu masalah tertentu sedangkan secara negatif, kebijakan
mencakup sebuah keputusan yang tidak memerlukan keterlibatan pemerintah.
Sementara itu, Amir Santoso dengan mengkomparasi berbagai defenisi
kemudian menyimpulkan bahwa pandangan kebijakan publik dibagi kedalam dua
wilayah kategori. 28 Pertama, menyamakan kebijakan publik dengan tindakantindakan pemerintah dan yang kedua, memandang kebijakan publik sebagai
sebuah keputusan pemerintah yang mempunyai tujuan tertentu dan kebijakan
tersebut dapat diramalkan. Sifat kebijakan publik sebagai arah tindakan dapat
dirinci menjadi beberapa kategori antara lain adalah tuntutan kebijakan, keputusan
kebijakan, pernyataan kebijakan, hasil kebijakan dan dampak kebijakan.
Dalam kebijakan publik terdapat dua pendekatan, yakni pendekatan
analisis kebijakan dan pendekatan kebijakan publik politik. Pada pendekatan
pertama, studi analisis kebijakan lebih terfokus pada studi pembuatan keputusan
dan penetapan kebijakan dengan menggunakan model-model statistik dan
matematika yang canggih. Sedangkan pendekatan yang kedua, lebih menekankan
kepada hasil dari kebijakan publik dengan melihat interaksi politik sebagai faktor
penentu dalam bebagai bidang.
28
Amir Santoso, Analisis Kebijakan Publik: suatu Pengantar, Jurnal Ilmu Politik 3, Jakarta: Granmedia,
hal.3.
Universitas Sumatera Utara
Dewasa ini, para ilmuan politik mempunyai perhatian yang meningkat
terhadap studi kebijakan publik deskriptif analisis dan penjelasan terhadap sebabsebab dan akibat-akibat dari kegiatan pemerintahan. Sebagaimana Thomas Dye
mengatakannya, hal ini menyangkut tentang deskriptif akan sebuah substansi
kebijakan non-publik, penilaian terhadap dampak-dampak pengaruh lingkungan
pada substansi kebijakan, suatu analisis dari efek bermacam-macam aturan
kelembagaan, suatu penyelidikan dari sebuah konsekuensi kebijakan publik bagi
sistem politik dan suatu evaluasi terhadap dampat kebijakan publik pada
masyarakat.
Kebijakan dapat dipandang sebagai variabel terikat dan variabel bebas.
Kebijakan publik dipandang sebagai variabel bebas, jika kita melihat dampak
kebijakan pada sistem politik dan lingkungan, namun apabila sistem politik dan
lingkungan yang berpengaruh terhadap kebijakan maka itu dipandang sebagai
variabel terikat. Proses pembuatan kebijakan publik merupakan proses yang
kompleks karena melibatkan banyak proses maupun variabel yang terus dikaji.
Oleh karena itu, beberapa ahli politik mengkaji kebijakan publik ke dalam
beberapa tahap, yakni: 29
a) Tahap Perumusan Masalah
:Memberikan informasi mengenai kondisi
kondisi yang menimbulkan masalah.
b) Tahap Peramalan
:Memberikan informasi mengenai
konsekuensi dimasa mendatang dari
diterapkannya alternative kebijakan,
termasuk apabila tidak membuat kebijakan.
c) Rekomendasi Kebijakan
:Memberikan informasi dari setiap alternatif
dan merekomendasikan setiap alternatif
kebijakan yang membuat manfaat yang
paling tepat.
29
William Dunn, Analisa Kebijakan Publik, Yogyakarta: Gadjah Mada Press, 1999, hal.24.
Universitas Sumatera Utara
d) Monitoring Kebijakan
:Memberikan informasi mengenai
konsekuensi sekarang dan masa lalu dari
diterapkannya aternatif kebijakan dan
kendala-kendalanya.
e) Tahap Evaluasi Kebijakan
:Memberikan informasi mengenai kinerja
atau hasil dari sebuah kebijakan.
Secara tradisional, kebijakan publik terdiri dari beberapa tahap yakni,
kebijakan substantif (misalnya: kebijakan pemburuhan, kesejahteraan sosial, hakhak sipil, masalah luar negeri), kebijakan kelembagaan pemerintahaan (misalnya:
kebijakan legislatif, judikatif dan departemen), dan kebijakan menurut kurun
waktu (misalnya: kebijakan reformasi, orde baru dan Orde lama). Terdapat
kategori lain dari kebijakan yang dikemukakan oleh James Anderson (1979) yakni
sebagai berikut:
1. Kebijakan Substantif vs Kebijakan Prosedural.
Kebijakan substantif adalah kebijakan yang menyangkut apa yang
akan dilakukan pemerintah dan kebijakan prosedural adalah bagaimana
kebijakan substantif itu dijalankan.
2. Kebijakan Distributif vs Kebijakan Regulatori vs Kebijakan re-distributif.
Kebijakan
distributif
menyangkut
distribusi
pelayanan
dan
kemanfaatan pada masyarakat, kebijakan regulatori adalah kebijakan
mengenai batasan atau
pelarangan terhadap perilaku individu atau
perilaku masyarakat tertentu dan kebijakan re-distributif merupakan
kebijakan alokasi kekayaan, pendapatan, pemilikan atau hak-hak
berkelompok.
3. Kebijakan Material vs Kebijakan Simbolis.
Kebijakan material adalah kebijakan yang memberikan keuntungan
sumber daya yang konkrit pada kelompok sasaran. Sedangkan kebijakan
simbolis adalah kebijakan yang memberikan manfaat simbolis kepada
sasaran.
Universitas Sumatera Utara
6.6 Ideologi dan Ideologi Politik
Istilah ideologi pertama sekali digunakan oleh seorang pemikir Prancis
yang bernama Desttut de Trancy. Dalam bukunya Element D’ideologi pemikiran
trancy mengenai ideologi berkarakter positivistik
dengan tujuan menemukan
kebenaran diluar otoritas agama. Tracy memandang bahwa otoritas agama yang
selama ini terlalu besar mengenai paham kebesaran telah membuat tidak ada lagi
alternatif lain diluar agama dalam mempresepsikan kebenaran. Trancy kemudian
beranggapan bahwa perlu adanya sebuah konsep baru yang mampu melihat
konsep-konsep kebenaran tersebut diluar otoritas agama.
Konsep ini kemudian disebut sebagai ideologi. Jelaslah pemikiran Tracy
ini merupakan sebuah momentum kebangkitan bagi para pemikir-pemikir abad
pencerahan. Namun setelah lebih dari satu abad ideologi tidak lagi dimaknai
sebagai sebuah konsensus yang tunggal menurut pemikiran Trancy saja. Hal ini
disebabkan karena ideologi selalu dicermati oleh pemikir-pemikir dari sudut
pandang yang berbeda sehingga menyebabkan tafsiran yang berbeda pula.
Secara umum ideologi dapat diartikan sebagai suatu pandangan atau
sistem yang menyeluruh dan mendalam yang dipunyai dan dipegang oleh suatu
masyarakat mengenai tentang bagaimana cara sebaiknya, yaitu secara moral
dianggap benar dan adil, mengatur tingkah laku mereka bersama dalam segi
kehidupan duniawi mereka. 30 Namun perlu disadari dalam pengertian ini bahwa
dalam suatu masyarakat biasanya mempunyai berbagai macam kelompok
kepentingan yang dilahirkan oleh adanya perbedaan-perbedaan sosial seperti
pebedaaan ekonomi, agama atau lainnya. Masing-masing dari kelompok
masyarakat tentunya mempunyai tatanan sistem nilai yang berbeda sesuai dengan
kepentingan masing-masing.
30
Alfian, Pemikiran dan Perubahan Politik Di Indonesia, Jakarta, PT Granmedia Pustaka Utama, 1992.
hal.187.
Universitas Sumatera Utara
Sama halnya seperti tatanan sistem nilai lainnya, ideologi juga mempunyai
dimensi-dimensi yang membentuknya menjadi suatu sistem nilai yang utuh.
Adapun dimensi tersebut adalah
pertama, sebuah realita hidup didalam
masyarakat dimana ia hidup untuk pertama kalinya. Kedua, gambarannya dalam
memberikan suatu harapan kepada suatu masyarakat atau golongan untuk
mempunyai bentuk kehidupan bersama yang lebih baik dan untuk membangun
masyarakat yang lebih cerah. Ketiga, bagaimana kemampuan ideologi dalam
mempengaruhi, menyesuaikan diri terhadap pembangunan yang terjadi dalam
masyarakat.
Secara fungsional ideologi diartikan sebagai suatu bentuk gagasan
kebaikan bersama atau tentang masyarakat dan bentuk negara yang paling baik.
Secara fungsional, ideologi dibagi kedalam dua tipe utama, yaitu doktriner dan
pragmatis. 31 Doktriner mempunyai bentuk pengajaran yang bersifat sistematis dan
terperinci sangat jelas. Didoktrinisasi kepada masyarakat secara luas dan
pelaksanaannya diawasi langsung oleh aparat partai atau aparat pemerintah. Salah
satu contoh dari tipe ini adalah ideologi komunisme. Pragmatis adalah pengertian
yang atheis dari ideologi doktriner. Yaitu bentuk bentuk pengajarannya tidak
tersusun secara sistematis dan hanya menekankan pada prinsip umum saja. Dalam
hal ini penyebaran-penyebaran ideologi tidak dalam bentuk doktrinisasi
melainkan hanya bersifat sosialisasi. Contoh dari tipe ini adalah ideologi
liberalisme.
Dalam pengertian secara fungsional inilah kemudian lahir yang namanya
ideologi politik. Ideologi politik adalah ideologi yang difungsikan dalam kajian
politik. Ideologi politik merupakan ideologi yang difungsikan sebagai suatu
pandangan atau susunan sistem nilai yang menyeluruh dan mendalam tentang
tujuan yang hendak dicapai dalam sebuah masyarakat, dan merupakan cara yang
paling baik untuk mencapai tujuan politik dari masyarakat tersebut. Suatu
31
Eman Hermawan, Politik Membela Yang Benar, Yogyakarta, KLIK, 2001, hal.114.
Universitas Sumatera Utara
perbedaan yang paling menonjol dari pengertian ideologi dan ideologi politik
adalah nuansa tujuan politik yang harus dicapai dalam suatu masyarakat politik
yang menjadi ciri utama dalam ideologi politik tersebut.
6.6.1 Sosialisme
Sosialisme pada hakikatnya berasal dari kepercayaan diri manusia bahwa
segala penderitaan dan kemelaratan yang dihadapi dapat diselesaikan. Kelahiran
sosialis tidak terlepas sebagai reaksi atas Liberalisme dan Kapitalisme, tetapi
filosofis paham ini diinspirasikan kuat dari perintah agama. Nilai-nilai teologis
memiliki peran penting terhadap lahirnya gagasan sosialisme. Setelah melebarnya
sayap-sayap Liberalisme dan Kapitalisme, dunia tersentuh sengan pragmatisme
hidup, sikap individualistis, konsumeris hedonism, materialism dan sekularisme.
Hal ini menimbulkan masalah sampai pada tingkat sosial terkecil seperti dalam
keluarga. Ini yang kemudian menimbulkan reaksi untuk memberikan rumusan
alternatif dalam melakukan perubahan sosial ditengah masyarakat yang memicu
lahirnya sosialisme.
Paham sosialis mengusahakan industri negara bukan semata digunakan
untuk mencari keuntungan yang melebihi usaha kapitalis yang mungkin berhasil
atau mungkin tidak. Tokoh-tokoh yang berperan dalam lahirnya sosialis seperti St.
Simon (1760-1825), Robert Owen (1771-1858), Louis Blaine (1813-18820, dan
Bakunin ( 1814-1876). Kapan Sosialisme lahir tidak dapat ditentukan secara tepat
berdasarkan waktunya. Sebab konsep kemakmuran ideal yang dicita-citakan
paham sosialis telah ada dalam bukunya Plato yang berjudul “Republic”. Dalam
buku itu, Plato menggambarkan bahwa penguasa tidak memiliki kekayaan pribadi,
serta apa yang dimiliki negara berupa hasil produksi dan konsumsi dibagikan rata
kepada semua. Robert Owen yang merupakan salah satu dari tokoh sosialis,
dikenal sebagai pelopor sosialisme di Inggris dan merupakan orang petama yang
menggunakan kata Sosialisme.
Universitas Sumatera Utara
Pada dasarnya sosialisme dapat berkembang di negara yang maju atau
memiliki gerakan demokrasi yang kuat. 32 Sosialisme mengandung sebuah unsur
protes terhadap ketimpangan sosial, dan tidak ada satu gerakanpun yang
menamakan dirinya sebagai sosialis kecuali mewujudkan
protes seperti itu.
Dalam perjuangan mencapai cita-citanya, sosialis menggunakan cara-cara yang
demokratis. Pertama, sosialisme menolak terminology Proletariat yang menjadi
bagian konsep Komunisme. Kedua, pemilikan alat-alat produksi oleh negara harus
diusahakan secara perlahan. Ketiga, kaum Sosialis menuntut pendirian umum
yang demokratis bahwa pencabutan hak milik warga negara harus melalui proses
hukum dan warga negara tersebut harus mendapatkan kompensasi.
Sosialisme mewarisi tujuan pokok yang sama dari Kapitalisme, yakni
melestarikan kesatuan faktor tenaga kerja dan kepemilikan. Sebagian besar negara
di Dunia Ketiga menamakan diri mereka Sosialis. Ada kesan mereka menerima
itu sebagai alasan menolak kapitalisme. Alasan penolakan tersebut didasarkan
pada bentuk kapitalisme yang terletak karena identifikasi yang berkaitan dengan
Kolonialisme dan Imperialisme.
7. Metode Penelitian
Setiap kegiatan ilmiah agar lebih terarah dan rasional diperlukan sebuah
metode yang sesuai dengan objek yang dibicarakan. Metode merupakan cara
bertindak dalam upaya agar kegiatan penelitian dapat terlaksana secara rasional
dan terarah agar mendapatkan hasil yang maksimal. Dalam Pepatah Arab
dijelaskan bahwa “ Metode pendekatan lebih penting daripada materi itu sendiri”
maksudnya, apabila pembahasanya terhadap suatu materi tidak memperhatikan
metode yang digunakan, atau metode yang digunakan tidak tepat maka materi
tersebut tidak dapat dipahami dengan baik. 33
32
Firdaus Syam, Pengantar Ideologi dan Prinsip-Prinsip Kemasyarakatan dalam Islam, Jakarta: HMI
cabang Jakarta, 1985, hal.49.
33
Anton Baker, Metode Filsafat, Jakarta: Ghalia Indonesia, 1986, hal.10.
Universitas Sumatera Utara
Maka berangkat dari penjelasan tersebut, dalam penelitian ini peneliti
menggunakan metode penelitian deskriptif. Penelitian deskriptif adalah salah satu
yang digunakan untuk memecahkan masalah yang ada pada masa sekarang
berdasarkan fakta dan data-data yang ada. Penelitian ini memberikan gambaran
yang lebih detail mengenai suatu gejala atau fenomena. 34 Tujuan dasar penelitian
deskriptif ini adalah membuat deskripsi atau gambaran secara sistematis, faktual
dan akurat mengenai fakta, sifat, serta hubungan antar fenomena yang diselidiki. 35
7.1 Jenis Penelitian
Penelitian ini termasuk jenis penelitian kepustakaan (library research),
yakni dengan menggunakan bahan kepustakaan menjadi bahan utama dalam
penelitian.
7.2 Teknik Pengumpulan Data
Menurut Dede Oetomo ada tiga macam pengumpulan data yang salah
satunya adalah dengan penelaah terhadap dokumen tertulis. 36 Dan dalam
penelitian ini menggunakan metode tersebut dalam mengumpulkan data-datanya.
Peneliti mengumpulkan data-data yang berkaitan dengan penelitian ini dari bukubuku, majalah, jurnal, dan media elektronik.
7.3 Teknik Analisis Data
Teknik analisa data yang digunakan penulis dalam penelitian ini adalah
dengan menggunakan analisis isi.
Analisis isi adalah suatu teknik untuk
mengambil keputusan dengan mengidentifikasi karakteristik-karakteristik khusus
suatu pesan secara objektif dan sistematis. Analisis isi merupakan cara
mempelajari perubahan sosial tulisan tentang masyarakat yang mencerminkan
perubahan-perubahan dalam nilai, kepercayaan dan perilaku. 37
34
Bambang Prasetyo dkk, Metode Penelitian Kualitatif : Teori dan Aplikasi, Jakarta: Raja Grafindo Persada,
1995, hal.20.
35
Sanafiah Faisal, Format Penelitian Sosial Dasar-dasar aplikasi, Jakarta: Raja Grafindo Persada, 1995,
hal.20.
36
Bagong Suyanto, Metode Penelitian Sosial, Jakarta: Kencana, 2006, hal. 166.
37
Bagong Suyanto, Ibid, hal.172.
Universitas Sumatera Utara
8. Sistematika Penulisan
Untuk mendapatkan gambaran yang jelas dal lebih terperinci serta untuk
mempermudah isi, maka penelitian ini terdiri kedalam 4 (empat) bab, yakni:
BAB I
: PENDAHULUAN
Dalam bab ini berisikan mengenai Latar Belakang
Masalah, Perumusan Masalah, Tujuan dan Manfaat
Penelitian, Kerangka Teori, Metodologi Penelitian dan
Sistematika Penelitian.
BAB II
: DESKRIPSI MENGENAI AMERIKA SERIKAT,
KUBA DAN HUBUNGAN AMERIKA SERIKAT
DENGAN KUBA
Dalam bab ini menggambarkan tentang Amerika Serikat
dan Kuba, serta bagaimana hubungannya yang berkaitan
dengan embargo ekonomi.
BAB III
: EMBARGO EKONOMI AMERIKA SERIKAT DAN
IMPLIKASI POLITIKNYA TERHADAP
PEMERINTAHAN FIDEL CASTRO
Dalam bab ini membahas mengenai embargo ekonomi yang
dilakukan oleh Amerika Serikat terhadap Kuba pada masa
pemerintahan Fidel Castro dan bagaimana implikasi politik
yang terjadi akibat embargo Amerika Serikat terhadap
pemerintahan Fidel Castro.
BAB IV
: PENUTUP
Bab ini berisi mengenai kesimpulan yang diperoleh dari
analisis data
pada bab-bab sebelumnya serta saran-saran
yang peneliti peroleh.
Universitas Sumatera Utara
Download