1 PENGARUH PEMBERIAN LIMBAH KULIT KOPI TERHADAP

advertisement
PENGARUH PEMBERIAN LIMBAH KULIT KOPI TERHADAP PERTUMBUHAN
VEGETATIF KACANG TANAH (Arachis hypogaea L.) DALAM UPAYA
PEMBUATAN BROSUR BAGI MASYARAKAT
Dende Sri Haryani, Ika Nurani Dewi, Baiq Mirawati
Jurusan Pendidikan Biologi, FPMIPA IKIP Mataram
Email: [email protected].
ABSTRAK: Limbah kulit kopi merupakan limbah pabrik yang dapat dijadikan alternatif
sebagai pupuk organik yang jarang sekali dimanfaatkan, padahal limbah kulit kopi
mempunyai kandungan unsur makro yang sangat baik bagi tanaman. Diantarnya yaitu
nitrogen, fosfor dan kalium sehingga limbah kulit kopi ternyata dapat memperbaiki kesuburan
tanah, merangsang pertumbuhan akar, batang dan daun. Penelitian bertujuan untuk
mengetahui pengaruh limbah kulit kopi terhadap pertumbuhan tanaman kacang tanah
(Arachis hypogaea L.) dan dilaksanakan di Laboratorium Biologi FPMIPA IKIP Mataram.
Jenis penelitian adalah eksperimen dengan teknik pengumpulan data secara observasi
langsung. Rancangan penelitian menggunakan RAL (Rancangan Acak Lengkap),
pengambilan sampel dengan teknik purposive sampling dan teknik analisis data menggunakan
Analisis Of Variance (ANOVA) pada taraf signifikansi 5%. Sampel diberikan 6 perlakuan
yang berbeda dan empat kali ulangan masing-masing perlakuan, yaitu kontrol (A) tanpa
diberikan limbah kulit kopi, perlakuan kedua (B) pemberian limbah kulit kopi 10 gr,
perlakuan ketiga (C) pemberian limbah kulit kopi 20 gr, perlakuan keempat (D) pemberian
limbah kulit kopi 30 gr, perlakuan kelima (E) pemberian limbah kulit kopi 40 gr dan
perlakuan keenam (F) pemberian limbah kulit kopi 50 gr. Berdasarkan hasil penelitian
menunjukkan bahwa pertumbuhan tanaman kacang tanah dengan pemberian limbah kulit kopi
pada pameter tinggi batang Fhitung (1,260) sedangkan Ftabel (2,77); pada parameter jumlah
helaian daun Fhitung (0,813) sedangkan Ftabel (2,77); pada parameter diameter batang Fhitung
(0,932) sedangkan Ftabel (2,77); pada parameter panjang akar Fhitung (0,388) sedangkan Ftabel
(2,77); pada parameter berat basah tanaman Fhitung (1,139) sedangkan Ftabel (2,77); dan pada
parameter berat kering Fhitung (0,586) sedangkan Ftabel (2,77), sehingga hasil penelitian ini
dinyatakan tidak signifikan. Hal ini disebabkan oleh bebrapa faktor salah satunya yakni
kandungan unsur hara pada limbah kulit kopi tidak terurai dengan sempurna. Implementasi
dari hasil penelitian ini disusun sebagai bahan ajar bagi masyarakat dalam bentuk brosur.
Kesimpulan penelitian yang diperoleh adalah limbah kulit kopi berpengaruh tidak nyata
terhadap semua parameter tanaman kacang tanah.
Kata kunci : Limbah Kulit Kopi, Pertumbuhan, Arachis hypogaea L.
1
ABSTRACT
DENDE SRI HARYANI: The Effect of Coffee Leather Wastes toward Peanut Vegetative
Growth (Arachis hypogaea L.) to make Brochure for the Society (Supervised by Ika Nurani
Dewi and Baiq Mirawati)
Coffee leather wastes are factory wastes which can be used as alternative organic fertilizers.
Organic fertilizers were seldom utilized, although they had macro elements, such as nitrogen,
phosphor, and calcium which can repair soil fertility and stimulate root growth, stems, and
leaves which were good for plants. This study aimed at finding out the effect of Coffee leather
wastes toward peanut growth (Arachis hypogaea L.) which was conducted in the Biology
Laboratory of FPMIPA IKIP Mataram. This was an experimental research and data collection
technique used direct observation. The design of the research used completed random design
(RAL). Sampling technique developed was purposive sampling and data analysis technique
used ANOVA in the level of significance 5%. Samples of the research were given different
treatment with six times repetition for each treatment; Control (A) was not given treatment
using Coffee leather wastes, and the second treatment (B) used 10 grams of Coffee leather
wastes. The third treatment (C) used 20 grams of Coffee leather wastes, and the fourth
treatment (D) used 30 grams of Coffee leather wastes, the fifth treatment (E) used 40 grams of
Coffee leather wastes, and sixth treatment (F) used 50 grams of Coffee leather wastes. Based
on the research results, it was found that of F value of peanut plant growths given Coffee
leather wastes with the stem height parameter was (1,260), while F table (2,77); F value of
number of leave sheets was (0,932), while F table was (2,77); F value root length parameter
was (0,388), while F table was (2,77); F value of wet-weight plant parameter was (1,139),
while F table was (2,77); F value of dry-weight parameter was (0,586), while F table was
(2,77) which meant that the results of the study were insignificant. This insignificance was
affected by the level of characteristic element of Coffee leather wastes was not perfectly
spread. The implementation of this study result is composed as learning materials for the
society in the form of brochure. In brief, Coffee leather wastes do not give real effect to all
parameters of peanut plants.
Key Words: Coffee leather wastes, growth, peanut plants (Arachis hypogaea L.)
2
PENDAHULUAN
Kacang tanah sebagai salah satu
komoditi tanaman pangan yang memiliki
nilai gizi yang tinggi dan lezat rasanya,
termasuk jenis tanaman pangan yang
disukai oleh banyak orang sehingga perlu
dikembangkan
dan
ditingkatkan
produksinya. Usaha untuk meningkatkan
produksi kacang tanah ini akan bisa
tercapai, apabila para petani menggunakan
teknologi pertanian modern dan sekaligus
menguasai keterampilan pertanian. Adapun
keterampilan yang terutama harus dikuasai
adalah keterampilan dalam perbaikan bibit,
pengolahan tanah, perawatan yang lebih
intensif, pengendalian hama dan penyakit.
Kacang tanah dapat dibudidayakan di
lahan sawah berpengairan, sawah tadah
hujan, lahan kering tadah hujan, dan lahan
bukaan baru. Tanah berstruktur ringan
(lemah) menguntungkan bagi tanaman
kacang tanah (Kusbandrio, 2012).
Produksi kacang tanah di Nusa
Tenggara Barat baru sebanyak 45.000 ton
hanya memenuhi 60 persen dari kebutuhan
pabrik pengolahan kacang tanah di
Lombok. Kecilnya produktivitas kacang
tanah di NTB tersebut disebabkan
kurangnya pasokan dan varietas benih
yang baik, kurangnya akses petani tentang
kepermodalan dan pasar, serta kurangnya
dukungan riset pertanian yang memadai
(Andira, 2009).
Produktivitas
kacang
tanah
ditingkat petani umumnya masih rendah,
hal ini disebabkan karena sebagian besar
petani menanam kacang tanah hanya
sebagai tanaman sampingan dengan cara
budidaya yang sederhana. Salah satu upaya
untuk meningkatkan produktivitas lahan
tersebut adalah dengan pemupukan
menggunakan pupuk anorganik dan
organik.
Pada
umumnya
petani
menggunakan pupuk anorganik seperti
urea dengan takaran 50 kg/ha. Sedangkan
pemupukan menggunakan pupuk organik
masih jarang dilakukan (Sumarno, 1987).
Pupuk organik adalah pupuk yang
tersusun dari materi makhluk hidup, seperti
pelapukan sisa-sisa tanaman, hewan, dan
manusia. Pupuk organik dapat berbentuk
padat atau cair yang digunakan untuk
memperbaiki sifat fisik, kimia, dan biologi
tanah. Selain harganya murah, pupuk
organik mengandung banyak unsur hara.
Sumber bahan organik dapat berupa
kompos, pupuk hijau, pupuk kandang,
limbah ternak, limbah kota (sampah), dan
sisa panen salah satunya yaitu limbah kulit
kopi (Ayub, 2010).
Limbah kulit kopi termasuk limbah
padat yang mengandung beberapa unsur
makro yaitu Nitrogen, Phospor, dan
Kalium (Mulia dalam Afrizon, 2010).
Limbah kulit kopi banyak ditemukan di
Desa Tegal Maja, Dusun Mengkudu. Di
desa ini limbah kulit kopi banyak dibuang
atau ditumpuk begitu saja di lahan kosong
dekat pemukiman penduduk setempat,
tanpa ada warga yang berinisiatif untuk
memanfaatkannya
atau
mengolahnya
sebagai pupuk organik yang baik untuk
pertumbuhan tanaman. Limbah kulit kopi
yang digunakan dalam penelitian ini,
sebelumnya telah dianalisis kandungan
unsur hara nitrogen, fosfor dan kalium di
Laboratorium Ilmu Tanah Universitas
Mataram (UNRAM) dengan hasil sebagai
berikut: (1) kandungan nitrogen pada
limbah kulit kopi sebanyak 0,18%, (2)
kandungan fosfor pada limbah kulit kopi
sebanyak 0,10%, dan (3) kandungan
kalium pada limbah kulit kopi sebanyak
0,52%. Berdasarkan data awal tersebut
dapat dikatakan bahwa limbah kulit kopi
3
dapat dijadikan sebagai pupuk organik
untuk pertumbuhan tanaman.
Untuk
mengoptimalkan
pertumbuhannya kacang tanah sangat
membutuhkan pupuk. Pupuk kandang,
NPK, kompos daun dan berbagai jenis
lainnya yang dapat digunakan sebagai
perkembangan tanaman secara optimal,
namun ternyata limbah kulit kopi dapat
bermanfaat bagi tanaman. Memanfaatkan
limbah kulit kopi menjadi pupuk sangat
berguna bagi tanaman dan bagi
masyarakat,
sehingga
untuk
menyampaikan hal tersebut maka sangat
diperlukannya media informasi bagi
masyarakat.
Perlunya sumber belajar bagi
masyarakat, merupakan salah satu usaha
penyajian informasi dalam berbagai bentuk
yang memuat materi konstektual, dan amat
penting untuk diketahui oleh masyarakat.
Untuk itu pemilihan sumber belajar dalam
bentuk media brosur diharapkan lebih
mudah disebarkan kepada masyarakat
sehingga masyarakat mampu membangun
pengetahuannya
sendiri
khususnya
mengenai pemanfaatan limbah kulit kopi.
Berdasarkan latar belakang di atas,
maka dilakukan penelitian dengan judul
Pengaruh Pemberian Limbah Kulit Kopi
terhadap Pertumbuhan Vegetatif Kacang
Tanah (Arachis hypogaea. L) dalam Upaya
Pembuatan Brosur Bagi Masyarakat.
METODE PENELITIAN
Metode yang digunakan dalam
penelitian ini adalah Analisa of Varians
(ANOVA) satu arah dengan menggunakan
SPSS 16, tekhnik pengambilan sampel
menggunakan purposive sampling. Tahap
penelitian meliputi tahap persiapan tempat,
tahap persiapan bahan, tahap pelaksanaan.
KAJIAN LITERATUR
Kacang tanah adalah tanaman
palawija, yang tergolong dari family
Leguminoceae dikarenakan kacang tanah
tersebut menghasilkan buah berupa polong
yang di dalam tanah.Genus Arachis dan
Spesies
hypogaea.
Kacang
tanah
kemungkinan berasal dari Brazilia,
Amerika selatan (Girisonta 1989).Kacang
tanah termasuk Terna, tumbuh melata atau
tegak, tinggi biasanya 15-70 cm. Sistem
akar merupakan akar tunggang yang telah
berkembang dengan banyak akar-akar
lateral, tidak memiliki rambut akar dan
memiliki bintil akar pemiksasi nitrogen.
Percabangan terdiri dari dua jenis yaitu
cabang
vegetatif
dan
cabang
reproduktif.Cabang vegetatif dicirikan
dengan adanya daun sisik yang disebut
katafil yang terdapat pada dua buku
pertama pada cabang.Cabang vegetatif
sekunder dan tertier dapat berkembang dari
cabang vegetatif primer (Wardiono,
2011).Klasifikasi kacang tanah (Arachis
hypogaea L.) sebagai berikut:
Kingdom
: Plantae
Divisi
: Spermatophyta
Kelas
: Dikotiledon
Ordo
: Polipetales
Famili
: Leguminose
Genus
: Arachis
Spesies
:Arachishypogaea
L.(Sumarno, 1987).
Kopi termasuk tanaman yang
menghasilkan limbah hasil sampingan
pengolahan yang cukup besar yang
berkisar antara 50-60 persen dari hasil
panen berupa kulit kopi.Limbah kulit kopi
dapat dijadikan sebagai bahan dasar
pembuatan pupuk kompos. Kandungan
organik pada setiap bahan organik
cenderung berbeda tergantung pada
susunan
bahan
pembentuknya.
4
Pemanfaatan pupuk kompos dari limbah
kulit
kopi
dapat
mengurangi
ketergantungan pupuk kimia dan menjaga
kontinuitas penggunaan lahan serta
kelestarian lingkungan (Puslitkoka dalam
Afizon, 2010). Limbah kulit kopi termasuk
limbah padat. Limbah padat adalah bahan
sisa usaha yang tidak terpakai berbentuk
padatan atau semi padatan. Unsur yang
terkandung pada limbah kuli kopi antara
lain Nitrogen, Phospor, dan Kalium (Mulia
dalam Afrizon, 2010).
Pertumbuhan berarti pembelahan
sel (peningkatan jumlah) dan pembesaran
sel (peningkatan ukuran).
HASIL DAN PEMBAHASAN
Berdasarkan data hasil penelitian
terhadap pengaruh pemberian limbah kulit
kopi sebagai pupuk organik terhadap
pertumbuhan tanaman kacang tanah
(Arachis hypogaea L.) maka hasil analisis
pada
masing-masing
parameter
pengamatan adalah sebagai berikut:
Parameter Jumlah
Helaian Daun
120
100
Grafik Jumlah Helaian Daun
103
95
88
86
79
103
80
60
40
20
0
A
B
C
D
(Perlakuan)
E
F
Grafik 4.1 Jumlah helaian daun
Berdasarkan Grafik 4.1 dapat
terlihat jumlah tertinggi helaian daun
kacang tanah (Arachis hypogaea L.)
pada perlakuan E (40 gr) dan F (50 gr)
yaitu sebanyak 103 jumlah helaian
daun dan jumlah terendah ditunjukkan
oleh perlakuan A (kontrol) yaitu
sebanyak 76 helai daun karena pada
hari ke dua belas ada beberapa daun
yang mati untuk parameter jumlah
helaian daun. Terjadinya penurunan
jumlah helaian daun pada perlakuan A
disebabkan karena pada perlakuan A
(kontrol) tidak ditambahkan pupuk
limbah kulit kopi sehingga tanaman
tersebut kekurangan unsur hara
nitrogen.
Sedangkan
terjadinya
peningkatan jumlah daun pada
perlakuan E dan F disebabkan karena
diberikan perlakuan limbah kulit kopi
dengan dosis yang paling tinggi yaitu
sebanyak 40 gr dan 50 gr, sehingga
tanaman
kacang
tanah
banyak
memperoleh unsur nitrogen dari limbah
kulit kopi untuk pertumbuhannya.
Kandungan nitrogen yang terdapat
pada limbah kulit kopi terurai dengan
baik sehingga mampu meningkatkan
jumlah helaian daun pada perlakuan E
(40 gr) dan F (50 gr). Berdasarkan hasil
analisis kandungan unsur hara pada
limbah kulit kopi, terdapat kandungan
unsur hara nitrogen dengan jumlah
0,18% yang dapat menambahkan
kebutuhan nitrogen bagi pertumbuhan
tanaman kacang tanah. Sesuai dengan
pendapat pendapat Mirza (2013)
mengemukakan fungsi nitrogen adalah
untuk
merangsang
pertumbuhan
vegetatif salah satunya adalah daun.
Sedangkan hasil untuk penghitungan
secara statistik yakni untuk FHitung
0,813
≤
FTabel
2,77
adalah
menunjukkan hasil yang tidak nyata.
5
Grafik Tinggi Batang
Parameter Tinggi Batang (Cm)
25
20
17.23 16.28
20.83 20.35
18.43
17.78
15
10
5
0
A
B
C
D
(Perlakuan)
E
F
Grafik 4.2 Tinggi Batang
Berdasarkan Grafik 4.2 dapat
terlihat tinggi batang tanaman kacang
tanah (Arachis hypogaea L.) tertinggi
ditunjukkan oleh perlakuan E (40 gr)
yaitu sebesar 20,83 cm dan terendah
ditunjukkan pada perlakuan B (10 gr)
yaitu sebesar 16,28 cm. Hal ini
disebabkan karena pada hari ke 19
pada polybag B (10 gr) pupuk limbah
kulit kopi berjamur, tanahnya kering
dan terdapat banyak semut dan pada
hari ke 23 batang tanaman kacang
tanah layu dan sedikit mengisut.
Rendahnya
tinggi
batang pada
perlakuan B (10 gr) disebabkan oleh
kekurangan unsur nitrogen yang
diperoleh dari limbah kulit kopi. Unsur
nitrogen yang terdapat pada limbah
kulit kopi tidak dapat terurai dengan
baik. Hal ini sesuai dengan pendapat
Taufik (2014) yaitu tanaman yang
kekurangan nitrogen menyebabkan
pertumbuhan
tanaman
melambat,
kerdil dan lemah. Selain itu tanaman
kacang tanah juga kekurangan unsur
kalium yang disebabkan karena limbah
kulit kopi tidak dapat terurai dengan
sempurna. Sesuai dengan pendapat
Diyah (2013) menyatakan bahwa
gejala dari tanaman yang kekurangan
kalium adalah pembentukan buah/dan
biji berkurang, kerdil, daun berwarna
keunguan atau kemerahan (kurang
sehat).
Berdasarkan
hasil
analisis
kandungan unsur hara pada limbah
kulit kopi, diketahui bahwa pada
limbah kulit kopi terdapat kandungan
unsur
nitrogen
sebesar
0,18%.
Sedangkan jumlah unsur kalium yang
terdapat pada limbah kulit kopi setelah
dianalisis sebesar 0,52%, namun unsur
kalium tersebut tidak dapat terurai
dengan sempurna sehingga tanaman
kacang tanah kekurangan unsur hara
kalium
selama
pertumbuhannya.
Kandungan unsur hara pada limbah
kulit kopi tidak dapat terurai dengan
baik disebabkan karena tidak melalui
pengomposan terlebih dahulu. Proses
pengomposan adalah suatu proses
mikrobiologi. Bahan organik dirombak
oleh
aktivitas
mikroorganisme
sehingga dihasilkan energi dan unsur
karbon sebagai pembangun sel-sel
tumbuh. Adapun beberapa faktor luar
yang mempengaruhi tinggi batang
tanaman kacang tanah yaitu kondisi
tanah kering sehingga menyebabkan
tinggi batang tanaman kacang tanah
pada perlakuan B (10 gr) rendah. Pada
perlakuan B (10 gr) tanaman kacang
tanah tampak kerdil. Sesuai dengan
pendapat Kusbandrio (2012) yang
mengatakan tanah yang mudah becek
menyebabkan akar dan polong kacang
mudah busuk. Sebaliknya tanah yang
terlalu kering menyebabkan tanaman
tumbuh merana (kerdil). Sedangkan
hasil untuk penghitungan secara
statistik yakni untuk FHitung 1,260 ≤
FTabel 2,77 adalah menunjukkan hasil
yang tidak nyata.
6
Grafik Diameter Batang
Parameter Diameter
Batang (Cm)
0.8
0.76
0.73
0.75
0.7
0.7
0.7
0.68
0.67
0.65
0.6
A
B
C
D
(Perlakuan)
E
F
Grafik 4.3 Diameter Batang
Berdasarkan Grafik 4.3 terlihat
diameter batang tanaman kacang tanah
paling
besar
ditunjukkan
pada
perlakuan F (50 gr) yaitu sebesar 0,76
cm, sedangkan terendah ditunjukkan
pada perlakuan D (30 gr) yaitu sebesar
0,76 cm untuk parameter diameter
batang. Hal ini disebabkan karena
faktor internal yaitu faktor yang berasal
dari dalam dan eksternal yaitu faktor
yang berasal dari lingkungan. Hal ini
sesuai dengan pendapat Laili (2011)
yang mengatakan bahwa pertumbuhan
dan perkembangan tumbuhan sangat
dipengaruhi
oleh
faktor
dalam
(internal) dan faktor luar (eksternal)
tumbuhan. Faktor internalnya yaitu
pada perlakuan D (30 gr), limbah kulit
kopi tidak dapat terurai dengan baik
sehingga tanaman kacang tanah
kekurangan unsur hara. Sedangkan
faktor eksternalnya yaitu cahaya, dapat
dilihat pada hari ke 23 pada perlakuan
D batang tanaman kacang tanah layu
dan mengisut, disebabkan oleh
intensitas cahaya yang diperoleh oleh
tanaman kacang tanah terlalu sedikit.
Sesuai dengan pendapat Ericka (2012)
mengungkapkan bahwa sinar matahari
dapat memperlambat kerja hormon
auksin yang dalam proses pertumbuhan
hormon auksin berperan sebagai
pemacu
pertumbuhan
tanaman.
Tanaman
yang kurang terkena
langsung oleh cahaya matahari
menyebabkan hormon auksin bekerja
secara maksimal sehingga tanaman
kacang tanah tumbuh lebih cepat atau
mengalami etiolasi sedangkan tanaman
yang banyak mendapat cahaya
matahari menyebabkan kerja hormon
auksin terhambat sehingga tanaman
tumbuh lebih lama. Sedangkan hasil
perhitungan
statistik
yakni
,
menunjukkan hasil yang tidak nyata
atau tidak signifikan yaitu diperoleh
Fhitung 0,932 ≤ Ftabel 2,77 pada taraf
signifikan 0,05.
Grafik Panjang Akar
20
15
16.8
13.5
13.6
16.9
17.1
E
F
14.6
10
5
0
A
B
C
D
(Perlakuan)
Grafik 4.4 Panjang Akar
Berdasarkan Grafik 4.4 terlihat
panjang akar tanaman kacang tanah
ditunjukkan pada perlakuan F (50 gr)
yaitu sebesar 17,1 cm, sedangkan
terendah ditunjukkan pada perlakuan A
yaitu perlakuan kontrol yaitu sebesar
13,5 cm untuk parameter panjang akar.
Peningkatan panjang akar yang terjadi
pada perlakuan F (50 gr) disebabkan
karena pemberian pupuk limbah kulit
kopi dalam jumlah yang banyak yaitu
50 gr sehingga tanaman kacang tanah
cukup banyak mendapat asupan fosfor
dan pemberian limbah kulit kopi yang
cukup banyak dapat menyuburkan
tanah dan memperbaiki tekstur tanah
sehingga tanah mampu menyimpan air
dengan waktu yang lama sehingga
tanah menjadi lembab, gembur dan
memudahkan akar untuk menembus
7
1.2
1
0.8
0.7
0.8
0.9
0.8
0.9
1
0.6
0.2
6
Parameter Berat Basah (gr)
Grafik Berat Kering
0.4
Grafik Berat Basah
4.8
5
4
gr. Hal ini disebabkan karena pada
perlakuan F (50 gr) menyebabkan tanah
mampu menahan air sehingga tidak
terjadi erosi pada tanah. Menurut
Marlina
(2012)
mengungkapkan
genangan
air
pada
tanaman
berpengaruh terhadap proses fisiologis
dan biokimiawi antara lain respirasi,
permeabilitas akar, dan penyerapan air.
Sedangkan rendahnya kadar air atau
berat basah yang terjadi pada perlakuan
B (10 gr) kemungkinan disebabkan
karena keringnya pupuk limbah kulit
kopi dan tanah pada tanaman kacang
tanah sehingga tidak mampu menahan
air.
Parameter Berat Kering (gr)
tanah. Sedangkan panjang akar
terendah pada perlakuan A (0 gr)
disebabkan karena kurang mendapat
asupan unsur makro berupa fosfor yang
mampu merangsang pertumbuhan akar
dari
tanaman
kacang
tanah.
Berdasarkan hasil analisis kandungan
unsur hara makro pada limbah kulit
kopi, terdapat kandungan fosfor
sebesar 0,10%. Pada perlakuan A yaitu
kontrol sehingga tanaman kacang tanah
kurang mendapat asupan unsur fosfor
sedangkan pada perlakuan F (50 gr)
yaitu pemberian limbah kulit kopi
paling tinggi sehingga tanaman kacang
tanah cukup banyak mendapat asupan
fosfor. Sedangkan perhitungan statistic
menunjukkan hasil yang tidak nyata
atau tidak signifikan yaitu diperoleh
Fhitung 0,388 ≤ Ftabel 2,77 pada taraf
signifikan 0,05.
4
3.5
3.4
4.2
3.5
3
2
1
0
A
B
C
D
E
(Perlakuan)
F
Grafik 4.5 Berat Basah
Berat
basah
tanaman
merupakan berat tanaman yang
ditimbang secara langsung setelah
panen, sebelum tanaman menjadi layu
karena kehilangan air (Lakitan dalam
Maesarah, 2013). Berdasarkan grafik
4.5 dapat dilihat berat basah tanaman
kacang tanah tertinggi ditunjukkan oleh
perlakuan F (50 gr) yaitu sebesar 4,80
gr, dan hasil terendah ditunjukkan oleh
perlakuan B (10 gr) yaitu sebesar 3,40
0
A
B
C
D
E
(Perlakuan)
F
Grafik 4.6 Berat Kering
Berat kering tumbuhan adalah
keseimbangan antara pengambilan CO2
pada
proses
fotosintesis
dan
pengeluaran CO2 pada proses respirasi.
Apabila respirasi lebih besar dibanding
fotosintesis tumbuhan itu akan
berkurang berat keringnya (Gardner
1991 dalam Maesarah 2013). Berat
kering
tanaman
kacang
tanah
merupakan hasil penimbangan kacang
tanah basah yang telah dikeringkan
pada suhu 100oC selama ± 2 jam.
Berdasarkan hasil penelitian diperoleh
nilai rata-rata berat kering tanaman
kacang tanah untuk perlakuan A
(kontrol): 0.70 gr, perlakuan B (10 gr):
8
0.80 gr, perlakuan C (20 gr): 0.90 gr,
perlakuan D (30 gr): 0.80 gr, perlakuan
E (40 gr): 0.90 gr, dan pada perlakuan
F (50 gr): 1,00 gr. Berdasarkan uraian
data di atas dapat dikatakan bahwa
berat kering yang paling tinggi terjadi
pada perlakuan F (50 gr) dan berat
kering paling rendah terjadi pada
perlakuan A (0 gr). Sedangkan hasil
untuk penghitungan secara statistik
yakni untuk FHitung 0.586 ≤ FTabel 2,77
adalah menunjukkan hasil yang tidak
nyata.
Sebagai hasil akhir dari
rangkaian
penelitian,
dilakukan
penyusunan brosur sebagai bahan
pembelajaran bagi masyarakat dengan
memperhatikan hasil penelitian yang
telah dilakukan sebelumnya.
Jenis validasi yang digunakan
dalam penelitian ini adalah validasi
ahli (expert validity) yaitu Hj. Husnul
Jannah, Sp., M.Si; Drs. I Wayan
Karmana,
M.Pd
dan
L.
Habiburrahman,
M.Pd.
Validasi
dilakukan terhadap isi maupun
struktur brosur yang disusun.
Tabel 4.7. Hasil validasi isi dan
struktur brosur oleh validator
ahli
Aspek
Hasil
validasi
validasi
Kelayakan isi Valid
Kebahasaan
Valid
Sajian
Valid
Kegrafisan
Valid
Pada
Tabel
4.7.
memperlihatkan hasil validasi oleh
validator ahli, bahwa aspek-aspek
validasi tersebut telah valid sehingga
layak untuk digunakan sebagai bahan
pembelajaran bagi masyarakat. Brosur
yang disusun ini hanya sampai pada
tahap penyusunan materi sebagai
sumber pembelajaran saja, belum
sampai pada tahap implementasi.
KESIMPULAN
Berdasarkan hasil penelitian dan
pembahasan, maka dapat disimpulkan
bahwa (1) pemberian pupuk limbah kulit
kopi sebagai pupuk organik tidak
berpengaruh nyata dan menunjukkan hasil
analisis yang tidak signifikan terhadap
pertumbuhan tanaman kacang tanah
(Arachis hypogaea L.) pada setiap
parameter yaitu jumlah helaian daun,
tinggi batang, diameter batang, panjang
akar, berat basah dan berat kering. (2)
pembuatan brosur yang telah melalui 3
tahap yaitu define, design, develop dan
telah divalidasi oleh 3 ahli yaitu ahli
bahasa, ahli pendidikan, ahli tumbuhan
dengan hasil yaitu brosur dinyatakan valid
dan dan layak untuk disebarkan.
DAFTAR PUSTAKA
Andira, 2009. Produksi Kacang Tanah di
NTB
Masih
Kecil.
http://lomboknews.com/2009/10/1
3/produksi-kacang-tanah-di-ntbmasih-kecil/. Html. Com. Diakses
19 Maret 2014.
Ayub, Parnata. 2010. Meningkatkan Hasil
Panen Dengan Pupuk Organik.
Jakarata: Agromedia Pustaka.
Diyah. 2013. Unsur Makro dan Mikro
yang
Dibutuhkan
Tanaman.
http://diyahchianklugu.blogspot.c
om. Di akses 11 Juni 2014.
Ericka, D. Pengaruh Cahaya Terhadap
Tinggi
Tanaman.
http://erickbio.wordpress.com/201
9
2/08/09/pengaruh-cahayaterhadap-tinggi-tanaman/. Diakses
10 Juni 2014.
Girisonta.
1989.
Kacang
Yogyakarta: Kanisus.
Tanah.
Kusbandrio. 2012. Teknologi Budidaya
Tanaman
Kacang
Tanah.
Bandung: CV. Amalia Book.
Laili. 2011. Faktor yang Mempngaruhi
Pertumbuhan.
htmhttp://lelybiologi.blogspot.co
m/2011/03/faktor-yangmempengaruhipertumbuhan.html. Diakses 11
Juni 2014
Taufik. 2014. Unsur Makro dan Mikro
yang Dibutukan Oleh Tanaman.
http://organichcs.com/2014/05/03/
unsur-makro-dan-mikro-yangdibutuhkan-oleh-tanaman/.
Di
akses 20 Juni 2014.
Wardiono. 2011. Detil Data Arachis
hypogaea
L.
http://www.proseanet.org/prohati2
/browser.php?docsid=184.
Di
akses 8 April 2014.
Maesarah. 2013. Pemanfaatan Air Cucian
Beras Untuk Pertumbuhan Bibit
Impatiens balsamina L. Sebagai
Bahan Ajar Bagi Masyarakat.
Skripsi: Fakultas FPMIPA IKIP
MATARAM.
Mirzani. 2013. Hara dan Hubungannya
Dengan Tanaman. http://laborrilmu.blogspot.com/2013/02/haradan-hubungannya-dengantanaman.html. (Diakses 11 Juni
2014)
Marlina. 2012. Respon Fisiologi Tanaman
Cabai
Rawit
(Capsicun
frutestescens L.) Terhadap Stres
Garam. Laporan: Fakultas Biologi
Purwokerto.
Sumarno. 1987. Teknik Budidaya Kacang
Tanah. Bandung: C.V. SinarBaru.
10
Download