Buku Pedoman Penanganan Perkara di Lingkungan DJKN

advertisement
BUKU PEDOMAN
PENANGANAN PERKARA
DI LINGKUNGAN DJPLN/PUPN
Disusun oleh :
Tim Penyusunan Buku Pedoman Penanganan
Perkara di Lingkungan DJPLN/PUPN
DEPARTEMEN KEUANGAN
DIREKTORAT JENDERAL PIUTANG DAN LELANG NEGARA
DIREKTORAT INFORMASI DAN HUKUM
Jakarta 2005
KATA SAMBUTAN
Sebagaimana dimaklumi pelayanan pengurusan piutang negara dan lelang saat
ini menjadi semakin berat karena kompleksitas akibat perkembangan hukum,
perkembangan bisnis maupun berbagai aspek lain yang bersinggungan dengan UndangUndang Nomor 49 Prp. Tahun 1960 dan Vendu Reglement. Sementara itu, dilain pihak
daya kritis masyarakat juga meningkat seiring dengan perkembangan demokrasi. Itu
sebabnya tidak jarang hasil kerja kita mendapat tantangan maupun gugatan.
Kita harus selalu siap apabila hasil pekerjaan kita dikritisi atau bahkan diuji di
lembaga peradilan. Kita tidak perlu takut atau kecil hati sepanjang kita berpijak pada
aturan undang-undang yang dilandasi dengan itikad baik dan selalu berpegang pada prinsip
good governance.
Dalam rangka menghadapi berbagai gugatan di peradilan, diperlukan kesiapan
bagi para petugas terkait. Kemampuan petugas penanganan perkara harus terus diasah,
sehingga perlu pembekalan agar kualitas dalam menghadapi gugatan semakin baik. Oleh
karena itu, kami menyambut baik hadirnya “Buku Pedoman Penanganan Perkara di
Lingkungan DJPLN/PUPN” ini. Dengan buku ini petugas akan mendapat gambaran
bahkan petunjuk yang
jelas bagaimana menyusun gugatan, menyusun jawaban atas
gugatan, menyusun duplik, menyusun replik, dan mempersiapkan alat bukti serta
bagaimana menyikapi putusan pengadilan, dan sebagainya. Kepada Tim Penyusun Buku
Pedoman yang telah bekerja keras menyusun buku ini, kiranya layak kami sampaikan
penghargaan dan terima kasih.
Demikian agar menjadi perhatian seluruh jajaran DJPLN. Manfaatkan buku ini
sebaik-baiknya.
Jakarta,
Maret 2005
Direktur Jenderal Piutang
dan Lelang Negara
Machfud Sidik
NIP 060043114
i
KATA SAMBUTAN
Sebagaimana dimaklumi pelayanan pengurusan piutang negara dan lelang saat
ini menjadi semakin berat karena kompleksitas akibat perkembangan hukum,
perkembangan bisnis maupun berbagai aspek lain yang bersinggungan dengan UndangUndang Nomor 49 Prp. Tahun 1960 dan Vendu Reglement. Sementara itu, dilain pihak
daya kritis masyarakat juga meningkat seiring dengan perkembangan demokrasi. Itu
sebabnya tidak jarang hasil kerja kita mendapat tantangan maupun gugatan.
Kita harus selalu siap apabila hasil pekerjaan kita dikritisi atau bahkan diuji di
lembaga peradilan. Kita tidak perlu takut atau kecil hati sepanjang kita berpijak pada
aturan undang-undang yang dilandasi dengan itikad baik dan selalu berpegang pada prinsip
good governance.
Dalam rangka menghadapi berbagai gugatan di peradilan, diperlukan kesiapan
bagi para petugas terkait. Kemampuan petugas penanganan perkara harus terus diasah,
sehingga perlu pembekalan agar kualitas dalam menghadapi gugatan semakin baik. Oleh
karena itu, kami menyambut baik hadirnya “Buku Pedoman Penanganan Perkara di
Lingkungan DJPLN/PUPN” ini. Dengan buku ini petugas akan mendapat gambaran
bahkan petunjuk yang
jelas bagaimana menyusun gugatan, menyusun jawaban atas
gugatan, menyusun duplik, menyusun replik, dan mempersiapkan alat bukti serta
bagaimana menyikapi putusan pengadilan, dan sebagainya. Kepada Tim Penyusun Buku
Pedoman yang telah bekerja keras menyusun buku ini, kiranya layak kami sampaikan
penghargaan dan terima kasih.
Demikian agar menjadi perhatian seluruh jajaran DJPLN. Manfaatkan buku ini
sebaik-baiknya.
Jakarta,
Maret 2005
Direktur Jenderal Piutang
dan Lelang Negara
Machfud Sidik
NIP 060043114
i
DAFTAR ISI
KATA SAMBUTAN ………………………………………………………………
hlm.
i
KATA PENGANTAR ……………………………………..………………………
ii
DAFTAR ISI……………………………………………………………………….
iii
BAB I
PENDAHULUAN………………………………………….…………..
A. Latar Belakang…………………………………………..…….…….
B. Maksud dan Tujuan……………………………………..…………..
1
1
1
BAB II
KEWENANGAN PENANGANAN PERKARA
DI LINGKUNGAN DJPLN……………………..….…………………
A. Kewenangan Penanganan Perkara Perdata………..……………….
B. Kewenangan Penanganan Perkara Tata Usaha Negara…………….
C. Kewenangan Penanganan Perkara Pidana………………………….
D. Surat Kuasa Khusus………………………………………………...
1. SKU dalam Perkara Perdata ……………………………………
2. SKU dalam Perkara TUN ………………………………………
3. Surat Tugas dalam Perkara Pidana …………………………….
PETUNJUK PENANGANAN PERKARA PERDATA………………
A. Menghadapi Gugatan Perdata………………………………………
1. Meneliti Relaas Panggilan ……………………………………..
2. Meneliti Berkas Kasus Piutang Negara (BKPN).……………….
3. Meneliti Dokumen Lelang………………………………………
4. Meneliti Surat Gugat…………………………….………………
5. Mempersiapkan Dasar Hukum dan Alat Bukti Penyusunan
Jawaban………………………………………………………….
6. Memenuhi Surat Panggilan……………………………………...
7. Menghadiri Sidang Mediasi ..……….…………………………..
8. Menyusun Jawaban ..……………………………………………
9. Menyampaikan Jawaban .……………………………………….
10. Menerima Replik .………………………………………………
11. Mengajukan Duplik ..……………………………………………
12. Menyampaikan Bukti …………………………………………
13. Menyampaikan Kesimpulan ……………………………………
B. Mengajukan Gugatan………………………...………………………
1. Persiapan Penyusunan Surat Gugat……………………………..
2. Persiapan Surat Kuasa Khusus………………..………………...
3. Penyusunan Gugatan…………………….…………………..….
4. Pendaftaran Gugatan………………………….…………………
5. Penyusunan Replik……..……………………………………….
6. Pengajuan Bukti……..………………………………………….
7. Penyusunan Kesimpulan………………………………………..
BAB III
iii
3
3
4
4
5
5
6
6
7
7
7
8
8
9
9
10
10
10
15
15
15
16
18
18
18
19
19
21
21
21
21
BAB IV
PETUNJUK PENANGANAN PERKARA TATA USAHA NEGARA
A. Persiapan Menghadapi Gugatan……………………………………
1. Dismissal Procedure ………………………………………….
2. Pemeriksaan Persiapan………………………………………….
3. Penelitian Surat Gugat…………………………………………..
B. Penyusunan Jawaban atas Gugatan………………………………….
1. Penelitian dan Pencantuman Identitas Para Pihak……………….
2. Penyusunan Eksepsi……………………………………….……..
3. Penyusunan Jawaban………………………………………….…
4. Penyusunan Petitum…………………………………………….
5. Penyusunan Duplik………………………………………………
C. Pengajuan Bukti……………………………………………………..
1. Pemeriksaan Alat Bukti Surat……………………………..……..
2. Pemeriksaan Saksi…………………………………..…………..
D. Penyusunan Kesimpulan…………………………………….………
23
24
24
24
25
25
25
26
27
28
BAB V
PUTUSAN PERADILAN………………………………………………
A. Putusan Pengadilan Negeri………………………………………….
1. Putusan Sela (Tussenvonis)………………………………………
2. Putusan Akhir (Eindvonis)………………………………………
3. Putusan Serta Merta…………………….……………………….
4. Susunan dan Isi Putusan………………..………………………..
5. Tindakan yang Dilakukan dalam Menghadapi Putusan…………
B. Putusan Pengadilan Tinggi…………………………………………..
C. Putusan Pengadilan TUN …………….……………………………..
1. Putusan Sela …………………….………………………………
2. Putusan Akhir………………………………………………..…..
3. Pelaksanaan Putusan Pengadilan TUN…………………………..
D. Putusan Pengadilan Tinggi TUN…………………………………….
E. Putusan Mahkamah Agung…………………………………………..
32
32
32
33
33
34
35
36
36
36
36
37
38
38
BAB VI
UPAYA HUKUM ……………………………………………………..
A. Perkara Perdata………………………………………………………
1. Banding…………………………..……………………………….
2. Kasasi…………………………..…………………………………
3. Perlawanan……………………..…………………………………
4. Peninjauan Kembali………………………………………………
B. Perkara TUN ……………..…………………….……………………
1. Banding…………………………………………..……………….
2. Kasasi…………………………………………..…………………
3. Peninjauan Kembali………………………………………………
39
39
39
42
44
45
47
47
48
50
BAB VII PETUNJUK MENGHADAPI PERKARA PIDANA…………………..
A. Saksi…………………………………………………………………
B. Saksi Ahli ………………………………….………………………..
52
52
53
iv
28
29
29
30
31
C. Tersangka……………………………………………………………
54
BAB VIII PENANGANAN PERKARA KEPAILITAN…………………………..
A. Proses Kepailitan …………………….………..……………………
B. Akibat Hukum Pernyataan Pailit……………………………………
C. Hal yang Diperhatikan dalam Penanganan Perkara Pailit ………….
55
55
55
56
BAB IX
HAL-HAL LAIN YANG PERLU DIPERHATIKAN DALAM
PENANGANAN PERKARA…………………………………………..
A. Petunjuk Menghadiri Sidang…………………………………….….
B. Kiat Menghadapi Perkara…………………………………………...
C. Istilah Hukum… ..…………………………………………………..
57
57
57
58
DAFTAR LAMPIRAN……………………………………………………………..
62
DAFTAR PUSTAKA …………………………………..………………………….
168
v
BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Sebagaimana dimaklumi bahwa peranan Direktorat Jenderal Piutang dan Lelang
Negara (DJPLN)/Panitia Urusan Piutang Negara (PUPN) dalam menunjang
pengamanan keuangan dan penerimaan negara semakin meningkat. Disisi lain
perkembangan budaya masyarakat sekarang nampak semakin kritis dalam menilai dan
mengoreksi kebijakan pemerintah yang dianggap merugikan mereka, termasuk
keputusan mengenai piutang dan lelang negara, yaitu dengan mengajukan gugatan ke
lembaga peradilan.
Gugatan yang ditujukan kepada DJPLN/PUPN terutama terhadap unit-unit
operasionalnya sangat mempengaruhi pengurusan piutang negara. Piutang negara
dapat tidak tertagih atau sekurang-kurangnya terhenti sementara sampai gugatan
tersebut mendapat putusan yang telah mempunyai kekuatan hukum tetap. Begitu juga
pelaksanaan lelang dapat terhenti atau tertunda dengan diajukannya gugatan, bahkan
dapat dibatalkan apabila gugatan yang diajukan dikabulkan oleh hakim. Hal ini sangat
berpotensi menimbulkan kerugian negara. Selain itu, jumlah gugatan yang banyak
akan mempengaruhi pandangan masyarakat atas pelayanan yang diberikan.
Penanganan perkara di pengadilan memerlukan pengetahuan hukum yang baik sesuai
dengan hukum acara yang berlaku. Untuk itu DJPLN telah menyelenggarakan
pendidikan dan pelatihan (diklat) bagi para pegawai khususnya yang menangani
perkara di pengadilan. Diklat tersebut diselenggarakan bekerja sama baik dengan
Badan Pendidikan Pelatihan Keuangan maupun dengan lembaga profesi advokat.
Namun, penyelenggaraan diklat tidak dapat dilaksanakan secara rutin karena dana
yang tersedia masih terbatas.
Mengingat keterbatasan penyelenggaraan diklat penanganan perkara, maka perlu
disusun Buku Pedoman Penanganan Perkara di Lingkungan Direktorat Jenderal
Piutang dan Lelang Negara/Panitia Urusan Piutang Negara guna memudahkan
penanganan perkara di pengadilan. Dengan adanya buku pedoman tersebut
diharapkan perkara-perkara perdata, tata usaha negara, niaga maupun perkara pidana
dapat ditangani dan diselesaikan lebih baik dan cepat sehingga pada akhirnya dapat
mendukung peningkatan kinerja DJPLN/PUPN.
B. Maksud dan Tujuan
Buku Pedoman Penanganan Perkara di Lingkungan DJPLN/PUPN ini disusun dengan
maksud agar dapat dijadikan pola/kerangka dalam menangani perkara/gugatan yang
diajukan terhadap DJPLN/PUPN, baik dalam penyusunan jawaban, eksepsi, duplik,
pembuktian, kesimpulan, maupun dalam melakukan upaya hukum yang ada. Selain
itu, pedoman ini juga diharapkan dapat digunakan dalam hal DJPLN/PUPN bertindak
sebagai penggugat. Mengingat perkara yang dihadapi bersifat khusus, tentunya
pedoman yang diberikan dapat dikembangkan lebih lanjut sesuai permasalahan
gugatan yang dihadapi.
1
Adapun tujuan buku pedoman penanganan perkara ini adalah untuk memberikan
panduan bagi penangan perkara dalam rangka meningkatkan kualitas beracara di
pengadilan termasuk penyusunan:
1. jawaban/gugatan/bantahan/perlawanan;
2. duplik/replik;
3. pembuktian;
4. kesimpulan;
5. memori/kontra memori banding/kasasi/peninjauan kembali.
Dengan tertanganinya perkara secara cepat dan tepat, diharapkan pengurusan piutang
negara dan lelang tidak terhambat.
2
BAB II
KEWENANGAN PENANGANAN PERKARA
DI LINGKUNGAN DJPLN
A. Kewenangan Penanganan Perkara Perdata
Pada awalnya seluruh perkara perdata yang berada di lingkungan DJPLN/PUPN
ditangani oleh Biro Hukum Departemen Keuangan sebagaimana diatur dalam
Instruksi Menteri Keuangan Nomor 05/IMK.01/1978 tanggal 22 Desember 1978
tentang Penanganan Perkara di Pengadilan yang menyangkut Departemen Keuangan
serta Instansi-instansi dan Badan-badan/Badan-badan Usaha Negara yang berada di
bawah lingkungan Departemen Keuangan. Dengan terbitnya Keputusan Menteri
Keuangan Nomor 139/KMK.08/2001 tanggal 22 Maret 2001 jo. Surat Edaran
Direktur Jenderal Piutang dan Lelang Negara Nomor SE-08/PL/2004 tanggal 8 April
2004 tentang Penanganan Perkara Perdata di Lingkungan Direktorat Jenderal Piutang
dan Lelang Negara, maka kewenangan penanganan perkara perdata diatur sebagai
berikut :
1. Perkara perdata yang mengandung tuntutan ganti rugi dan tuntutan ganti ruginya
ditujukan kepada DJPLN/PUPN ditangani oleh Biro Hukum Departemen
Keuangan.1
2. Perkara perdata yang mengandung tuntutan ganti rugi namun tuntutan ganti
ruginya tidak ditujukan kepada DJPLN/PUPN tetapi kepada pihak lain, ditangani
oleh DJPLN.
3. Perkara perdata yang tidak mengandung tuntutan ganti rugi ditangani oleh
DJPLN, walaupun dalam gugatannya dicantumkan tuntutan berupa uang paksa
(dwangsoom).
4. DJPLN cq. Direktorat Informasi dan Hukum menangani perkara-perkara yang
memiliki jumlah piutang negara lebih dari Rp 20 milyar termasuk perkara-perkara
yang berkaitan dengan pelaksanaan lelang yang bersifat kompleks/tingkat
kesulitannya tinggi serta mengandung public interest yang besar. Perkara tersebut
ditangani langsung oleh Kantor Pusat DJPLN dengan kuasa substitusi kepada
Kanwil/KP2LN.
5. Kanwil DJPLN menangani perkara-perkara yang memiliki jumlah piutang
negara antara Rp 10 milyar sampai dengan Rp 20 milyar dengan kuasa substitusi
kepada para petugas di KP2LN.
6. Pada dasarnya Kanwil DJPLN/KP2LN/PUPN Cabang yang digugat bertanggung
jawab menangani perkara tersebut, namun KP2LN/Kanwil DJPLN/PUPN Cabang
dapat meminta bantuan hukum penanganan perkara kepada Kantor Pusat DJPLN
cq. Direktorat Informasi dan Hukum. Bantuan penanganan perkara tersebut dapat
berupa pembuatan jawaban, pembuatan duplik, penyusunan bukti, penyusunan
kesimpulan, pembuatan memori/kontra memori banding/kasasi/peninjauan
kembali.
1
Terhadap putusan berkekuatan hukum tetap yang menghukum DJPLN/PUPN membayar ganti rugi
kepada penggugat, unit yang digugat harus melakukan koordinasi dengan Kantor Pusat DJPLN cq.
Direktorat Informasi dan Hukum. Selanjutnya, kantor pusat akan berkoordinasi dengan Biro Hukum
Departemen Keuangan.
3
B. Kewenangan Penanganan Perkara Tata Usaha Negara
Kewenangan penanganan perkara Tata Usaha Negara (TUN) di lingkungan DJPLN
diatur dalam Surat Edaran Direktur Jenderal Piutang dan Lelang Negara Nomor SE27/PL/2003 tanggal 12 Desember 2003, bahwa perkara TUN ditangani oleh unit yang
menerbitkan Keputusan TUN yang digugat. Ini berarti apabila Kanwil
DJPLN/KP2LN/PUPN Cabang digugat dalam perkara TUN, maka kewenangan untuk
menangani perkara TUN tersebut ada pada Kepala Kanwil DJPLN/KP2LN/PUPN
Cabang yang bersangkutan.
C. Kewenangan Penanganan Perkara Pidana
Selama ini penanganan perkara pidana mengacu pada Instruksi Menteri Keuangan
Nomor 05/IMK/1978 tanggal 22 Desember 1978 yang antara lain menyatakan bahwa
dalam hal Kepala/Pimpinan Instansi dan Pejabat yang berada di lingkungan
Departemen Keuangan diminta keterangannya sebagai saksi, saksi ahli atau
memberikan pernyataan tertulis dalam perkara perdata maupun pidana agar
menghubungi Biro Hukum dan Humas Departemen Keuangan. Selanjutnya dalam
Keputusan Menteri Keuangan Nomor 302/KMK.01/2004 tanggal 23 Juni 2004
tentang Organisasi dan Tata Kerja Departemen Keuangan, diatur dalam Pasal 100 dan
Pasal 101 bahwa salah satu fungsi Biro Hukum Departemen Keuangan adalah
menyelenggarakan pendampingan kepada para pejabat, mantan pejabat dan pegawai
dari semua unit kerja di lingkungan Departemen Keuangan yang dalam pelaksanaan
tugasnya diperiksa dalam perkara pidana di luar tindak pidana korupsi.
Berdasarkan Keputusan Menteri Keuangan Nomor 302/KMK.01/2004 tanggal 23 Juni
2004, Direktorat Jenderal Piutang dan Lelang Negara juga melaksanakan fungsi
bantuan hukum yang dilakukan oleh Subdit Peraturan dan Bantuan Hukum Direktorat
Informasi dan Hukum. Dalam melaksanakan tugasnya Subdit Peraturan dan Bantuan
Hukum mengacu pada Surat Edaran Direktur Jenderal Piutang dan Lelang Negara
Nomor 31/PL/2003 tanggal 19 Desember 2003. Dalam Surat Edaran tersebut telah
diatur bahwa pejabat/pegawai yang dipanggil oleh penyidik (Kepolisian/Kejaksaan)
baik dalam kedudukan sebagai tersangka maupun sebagai saksi dalam kaitan dengan
pelaksanaan tugas pengurusan piutang negara dan pelaksanaan lelang, dapat segera
melaporkan masalah tersebut secara tertulis ke Kantor Pusat DJPLN cq. Direktorat
Informasi dan Hukum disertai dokumen pendukung dan resume kasus yang
bersangkutan.
Kantor Pusat DJPLN cq. Direktorat Informasi dan Hukum bersama dengan direktorat
teknis terkait akan melakukan gelar perkara dengan mengundang dan/atau mendatangi
unit yang bersangkutan dan pejabat/petugas terkait, apabila masalahnya mempunyai
tingkat kesulitan yang tinggi atau menjadi perhatian masyarakat. Hal ini guna
mendapatkan informasi yang lebih lengkap dalam menyusun pendapat dan saran
sebagai jalan keluar penyelesaiannya seperti:
1. memberikan bantuan hukum kepada pejabat/pegawai yang bersangkutan
dengan mendampinginya pada saat pemeriksaan oleh petugas penyidik
(Kepolisian/Kejaksaan);
2. memberikan asistensi kepada advokat yang ditunjuk oleh terdakwa dalam proses
persidangan.
4
Kanwil DJPLN/KP2LN memberitahukan kepada Kantor Pusat DJPLN apabila
penyidik meminta keterangan saksi ahli kepada Kanwil DJPLN/KP2LN yang
bersangkutan. Permintaan saksi ahli tersebut segera dikonsultasikan dengan Biro
Hukum Departemen Keuangan untuk mendapat penunjukan saksi ahli yang tepat
sesuai dengan keahlian yang dibutuhkan.
D. Surat Kuasa Khusus
Dalam penanganan perkara baik perkara perdata maupun perkara TUN disyaratkan
ada suatu Surat Kuasa Khusus (SKU) bagi petugas penangan perkara. Permohonan
dan penerbitan SKU tersebut diatur sebagaimana terurai di bawah ini.
1. SKU dalam Perkara Perdata
Permohonan SKU untuk menangani perkara perdata diatur dalam Keputusan
Menteri Keuangan Nomor 139/KMK.08/2001 tanggal 22 Maret 2001 jo. Surat
Edaran Direktur Jenderal Piutang dan Lelang Negara Nomor SE-08/PL/2004
tanggal 8 April 2004, sebagai berikut :
1.1. SKU untuk menangani perkara perdata yang mengandung tuntutan ganti rugi
diatur sebagai berikut :
a. Dalam hal gugatan ditujukan kepada Kanwil DJPLN/KP2LN, maka
SKU diterbitkan serta ditandatangani oleh Sekretaris Jenderal untuk dan
atas nama Menteri Keuangan.
b. Dalam hal gugatan ditujukan kepada Ketua PUPN maka SKU diterbitkan
serta ditandatangani oleh Ketua PUPN Pusat.
c. SKU yang diterbitkan dapat dikuasakan dengan hak substitusi ke petugas
penangan perkara lainnya.
1.2. Permohonan SKU penanganan perkara yang mengandung tuntutan ganti rugi
diajukan oleh Direktur Informasi dan Hukum/Kepala Kanwil DJPLN/Kepala
KP2LN/Ketua PUPN Cabang kepada Biro Hukum Departemen Keuangan
dengan tembusan kepada Direktur Jenderal Piutang dan Lelang Negara
dengan menyebutkan/melampirkan:
a. identitas penerima kuasa;
b. fotokopi panggilan sidang;
c. fotokopi surat gugat.
1.3. SKU penanganan perkara perdata yang tidak mengandung tuntutan ganti
rugi diatur sebagai berikut :
a. Dalam hal gugatan ditujukan kepada Kantor Pusat DJPLN/Kanwil
DJPLN/KP2LN maka SKU diterbitkan serta ditandatangani oleh
Direktur Jenderal Piutang dan Lelang Negara untuk dan atas nama
Menteri Keuangan.
b. Dalam hal gugatan ditujukan kepada Ketua PUPN Pusat/PUPN Cabang
maka SKU diterbitkan serta ditandatangani oleh Ketua PUPN Pusat.
c. SKU yang diterbitkan dapat dikuasakan dengan hak substitusi ke petugas
penanganan perkara lainnya.
1.4. Permohonan SKU penanganan perkara yang tidak mengandung tuntutan
ganti rugi diajukan oleh Kepala Kanwil DJPLN/Kepala KP2LN/Ketua
PUPN Cabang kepada Direktur Jenderal Piutang dan Lelang Negara/Ketua
PUPN Pusat melalui Direktorat Informasi dan Hukum dengan
menyebutkan/melampirkan:
5
a. identitas penerima kuasa;
b. fotokopi panggilan sidang;
c. fotokopi surat gugatan atau sanggahan.
Apabila SKU dalam perkara perdata belum diterima, Kepala Kanwil
DJPLN/Kepala KP2LN/Ketua PUPN Cabang dapat menerbitkan surat tugas
kepada penangan perkara untuk menghadiri sidang sambil menunggu SKU dari
Kantor Pusat DJPLN/PUPN.
2. SKU dalam Perkara TUN
2.1. SKU dalam perkara TUN diterbitkan dan ditandangani oleh pejabat yang
digugat. Ketentuan mengenai SKU ini diatur sebagai berikut:
a. Dalam hal gugatan ditujukan kepada Kepala KP2LN maka SKU
diterbitkan dan ditandatangani oleh Kepala KP2LN.
b. Dalam hal gugatan ditujukan kepada Kepala Kanwil DJPLN maka SKU
diterbitkan dan ditandatangani oleh Kepala Kanwil DJPLN.
c. Dalam hal gugatan ditujukan kepada Ketua PUPN Cabang maka Surat
Kuasa Khusus diterbitkan dan ditandatangani oleh Ketua PUPN Cabang
yang bersangkutan.
d. Di dalam SKU dicantumkan klausul hak menguasakan kembali (hak
substitusi).
e. Salah satu fotokopi SKU disampaikan ke Direktorat Informasi dan
Hukum berikut surat gugat.
2.2. Dalam penyusunan SKU dalam perkara TUN perlu diperhatikan, hal-hal
sebagai berikut :
a. Penulisan identitas penerima kuasa harus jelas dan benar.
b. Penulisan pemberi kuasa tidak ditulis secara berjenjang, hanya pejabat
TUN yang bersangkutan. Misalnya:
Ketua PUPN Cabang …… Jalan ………………………………………..
atau
Kepala Kantor Pelayanan Piutang dan Lelang Negara ……… Jalan……
c. Penulisan kata “Khusus” dicantumkan tersendiri secara jelas di tengah
halaman.
Misalnya:
Khusus
Guna menghadap di muka persidangan di Pengadilan Tata Usaha
Negara….…. dalam perkara Nomor……………… mengenai gugatan
………… yang diajukan terhadapnya oleh……………….. dalam hal
ini diwakili oleh kuasanya………………………………..
d. Pencantuman kewenangan penerima kuasa meliputi juga kewenangan
untuk menghadiri sidang dismissal.
3. Surat Tugas dalam Perkara Pidana
Dalam hal pejabat/pegawai memenuhi panggilan penyidik (Kepolisian/Kejaksaan)
untuk dimintai keterangannya sebagai saksi, tersangka atau saksi ahli yang
berkaitan dengan pelaksanaan tugas pengurusan piutang negara dan pelaksanaan
lelang, pejabat/pegawai yang bersangkutan dilengkapi dengan surat tugas.
6
BAB III
PETUNJUK PENANGANAN PERKARA PERDATA
Dalam pelaksanaan tugas pengurusan piutang dan lelang negara, DJPLN/PUPN
adakalanya menghadapi perkara perdata baik berupa gugatan, bantahan ataupun
perlawanan yang diajukan debitor maupun pihak ketiga. Pada umumnya dalam
penanganan perkara perdata, DJPLN/PUPN merupakan pihak yang digugat (tergugat),
namun demikian tidak tertutup kemungkinan DJPLN/PUPN bertindak sebagai pihak
yang mengajukan gugatan (penggugat).
Proses gugatan, bantahan dan perlawanan termasuk acara dalam persidangannya hampir
sama, walaupun mempunyai tujuan yang berbeda. Pihak dalam bantahan disebut
pembantah dan terbantah, sedangkan dalam perlawanan pihaknya disebut dengan pelawan
dan terlawan.
Secara umum tahap dalam penanganan perkara perdata dapat digambarkan sebagai
berikut:
Gugatan
⇒ Jawaban
⇒
Replik
⇒
Duplik
⇒
Pembuktian
⇒
Kesimpulan
⇒
Putusan
Dalam setiap perkara perdata yang diajukan ke pengadilan tingkat pertama, para pihak
wajib terlebih dahulu mengupayakan perdamaian melalui lembaga mediasi yang
disediakan oleh pengadilan, sesuai dengan Peraturan Mahkamah Agung No. 2 Tahun
2003 tentang Prosedur Mediasi di Pengadilan. Namun, apabila sampai batas waktu yang
ditetapkan, perdamaian tidak tercapai maka acara dilanjutkan dengan penyampaian
jawaban tergugat.
A. Menghadapi Gugatan Perdata
Gugatan perdata yang diajukan oleh debitor/penanggung hutang ataupun oleh pihak
ketiga kepada DJPLN/PUPN pada umumnya disebabkan ada tindakan hukum yang
dilakukan oleh DJPLN/PUPN dalam rangka pengurusan piutang negara dan
pelaksanaan lelang. Tindakan hukum tersebut oleh penanggung hutang atau pihak
ketiga dianggap tidak sah atau tidak sesuai dengan ketentuan hukum yang berlaku,
sedangkan DJPLN/PUPN berpendapat bahwa tindakan tersebut adalah sah dan benar
sesuai dengan ketentuan hukum dan perundang-undangan yang berlaku. Oleh karena
kedua pihak berbeda pendapat maka terjadilah sengketa. Persengketaan inilah yang
diajukan oleh penggugat ke badan peradilan dengan mengajukan gugatan yang
penyelesaiannya diproses sesuai dengan hukum acara perdata. Untuk memenuhi
proses beracara, penangan perkara perlu melakukan hal-hal sebagai berikut:
1. Meneliti Relaas Panggilan
Dalam proses pembuatan SKU, penangan perkara perlu melakukan penelitian
terhadap relaas panggilan untuk mengetahui:
a. Pengadilan negeri yang memeriksa gugatan.
b. Nama penggugat.
c. Nama tergugat.
d. Register perkara.
e. Pokok perkara/sengketa, misalnya pembatalan lelang.
7
f. Hari dan tanggal persidangan.
Hasil penelitian dituangkan dalam resume sebagai lampiran surat permohonan
penerbitan SKU dengan menyampaikan pendapat dan saran.
2. Meneliti Berkas Kasus Piutang Negara (BKPN)
Untuk bahan penyusunan jawaban dan pengajuan alat bukti, penangan perkara
perlu melakukan penelitian BKPN yang ada hubungannya dengan pokok
permasalahan yang dimuat dalam surat gugat untuk mengetahui:
a. Nama/badan hukum penanggung hutang.
b. Nama penjamin.
c. Nama penyerah piutang.
d. Dasar hukum terjadinya hutang.
e. Surat penyerahan, termasuk nomor dan tanggal
f. Surat Penerimaan Pengurusan Piutang Negara (SP3N), termasuk nomor dan
tanggal.
g. Dokumen-dokumen asli atau fotokopi yang dikuasai oleh DJPLN atau kreditor
penyerah piutang yang dapat digunakan sebagai alat bukti untuk membantah
dalil-dalil dalam surat gugat.
h. Prosedur pengurusan yang sudah dan akan dilaksanakan dan dasar hukum
pelaksanaannya seperti surat panggilan, tanggal penerbitan Surat Paksa, Berita
Acara Pemberitahuan Surat Paksa, tanggal penerbitan Surat Perintah Penyitaan
dan Berita Acara Penyitaan.
i. Surat menyurat antara penanggung hutang dan penyerah piutang dan/atau
Kantor Pelayanan.
Berdasarkan hasil penelitian tersebut di atas, penangan perkara mengajukan
pendapat dan saran antara lain:
- PUPN berwenang mengurus piutang negara berdasarkan Surat Penyerahan
Nomor …….. tanggal…… dan SP3N Nomor …… tanggal ……. (vide Pasal 4
ayat (2) Undang-Undang Nomor 49 Prp. Tahun 1960).
- Penyitaan dilaksanakan PUPN karena penggugat tidak melunasi hutangnya
setelah dilakukan pemanggilan melalui Surat Panggilan No……. tanggal
…….., tidak mematuhi Surat Paksa No…… tanggal ……. atau seandainya
gugatan diajukan oleh pihak ketiga selaku pemilik jaminan tanah, maka
ditambahkan alasan bahwa tanah tersebut telah diikat secara sempurna sesuai
dengan Sertifikat Hak Tanggungan No…... tanggal…… .
- Pelaksanaan sita dilakukan oleh juru sita dan disaksikan oleh dua orang saksi
sebagaimana dituangkan dalam Berita Acara Penyitaan sehingga penyitaan
adalah sah sesuai dengan Penjelasan Pasal 11 Undang-Undang Nomor 49 Prp.
Tahun 1960.
- Tersedia alat-alat bukti yang dapat membuktikan sahnya tindakan hukum
PUPN/DJPLN
3. Meneliti Dokumen Lelang
Apabila gugatan berkaitan dengan lelang baik yang sudah ataupun yang belum
dilaksanakan, maka penangan perkara perlu melakukan penelitian terhadap
dokumen/ berkas yang berkaitan dengan proses lelang guna mengetahui:
a. Dasar hukum pelaksanaan lelang.
b. Nama/badan hukum pemohon lelang.
c. Nama termohon lelang.
d. Status hukum objek lelang.
e. Harga jual lelang dan nama pemenang lelang.
8
f. Pejabat lelang dan pejabat penjual.
g. Dokumen-dokumen asli atau fotokopi yang dikuasai oleh DJPLN yang dapat
digunakan sebagai alat bukti untuk membantah dalil-dalil dalam surat gugat.
Berdasarkan hasil penelitian tersebut di atas, penangan perkara mengajukan
pendapat dan saran antara lain:
- Kantor Pelayanan berwenang melaksanakan lelang berdasarkan …………
- Pelaksanaan lelang sudah dilaksanakan sesuai dengan ketentuan dan prosedur
yang berlaku.
- Pelaksanaan lelang yang dilaksanakan sudah diketahui oleh umum karena
sudah diumumkan berdasarkan Pengumuman Lelang No ……. tanggal ……..
- Tersedia alat-alat bukti yang dapat membuktikan sahnya tindakan hukum
Kantor Pelayanan dalam melaksanakan lelang.
4. Meneliti Surat Gugat
Isi surat gugat menerangkan dengan jelas kejadian-kejadian dan keadaan-keadaan
yang merupakan dasar gugatan penggugat serta dengan jelas menerangkan
tuntutan/hukuman yang dimohonkan penggugat kepada majelis hakim. Kejelasan
ini penting bagi tergugat, agar yang bersangkutan dapat mengerti dasar hukum
gugatan dan apa yang dituntut penggugat.
Isi surat gugat terdiri dari posita dan petitum. Posita adalah objek dan alasan
gugatan, fakta hukum dan dasar hukum, sedangkan petitum merupakan hal yang
dituntut. Dalam surat gugat dapat diketahui tentang:
a. Tempat persidangan perkara.
b. Penggugat dan pihak-pihak yang menjadi tergugat dan atau turut tergugat yang
mempunyai hubungan hukum dengan pokok perkara
c. Pokok permasalahan (posita) serta dasar hukumnya, misalnya pokok
permasalahan pelaksanaan sita tidak sah karena Berita Acara Penyitaan tidak
ditandatangani oleh juru sita dan/atau saksi-saksi.
d. Tuntutan (petitum), misalnya pembatalan pelaksanaan sita atas objek sita.
Dari hasil penelitian terhadap isi surat gugat, penangan perkara dapat mengetahui
dan menguraikan hal-hal yang dipermasalahkan seperti:
- Penggugat mempersoalkan penerbitan Surat Paksa yang tidak sah karena
belum dilakukan pemanggilan secara patut terhadap penggugat terbukti tidak
ada relaas penerimaan pemanggilan atau tidak didahului dengan pembuatan
Pernyataan Bersama, sehingga penyitaan dan pelaksanaan lelang tidak sah
menurut hukum.
- Penggugat (pihak ketiga) mempersoalkan peralihan hak atas objek barang
jaminan cacat hukum, karena objek jaminan tersebut merupakan harta gonogini yang dijual oleh suami kepada penanggung hutang tanpa persetujuan
isteri sebelum penanggung hutang menjaminkan kepada penyerah piutang.
5. Mempersiapkan Dasar Hukum dan Alat Bukti Penyusunan Jawaban
Dalam rangka mempersiapkan dasar hukum dan alat bukti untuk menangkis dalildalil penggugat, terlebih dahulu dilakukan persandingan antara resume hasil
penelitian BKPN dan/atau dokumen lelang dengan resume hasil penelitian surat
gugat, sehingga dapat diketahui dasar hukum dan alat-alat bukti yang akan
digunakan dalam penyusunan jawaban. Hasil persandingan yang memuat dasar
hukum dan alat-alat bukti dituangkan dalam resume disertai pendapat dan saran,
9
antara lain:
a. perlu atau tidak mengajukan eksepsi dengan menyebutkan alasan hukumnya;
b. menolak atau menyangkal dalil penggugat dengan alasan hukum dan disertai
alat-alat bukti.
6. Memenuhi Surat Panggilan
Dalam rangka memenuhi panggilan sidang pertama, hal-hal yang perlu dilakukan
oleh penangan perkara, adalah:
a. Menghubungi panitera perkara dengan membawa surat tugas untuk memohon
penundaan sidang dalam hal SKU belum diterima.
b. Menyampaikan SKU dan surat tugas kepada majelis hakim dalam
persidangan.2
c. Menyampaikan jawaban kepada majelis hakim dalam hal mediasi tidak ada.3
d. Melaporkan hasil persidangan.
7. Menghadiri Sidang Mediasi
Mediasi merupakan penyelesaian sengketa melalui perundingan para pihak
dengan dibantu oleh mediator. Mediasi ini diatur dalam Peraturan Mahkamah
Agung Nomor 02 Tahun 2003 tentang Prosedur Mediasi di Pengadilan. Semua
perkara perdata yang diajukan ke pengadilan tingkat pertama wajib melalui
mediasi.
Pada persidangan pertama, majelis hakim mewajibkan para pihak untuk
melakukan perdamaian dengan bantuan mediator. Mediator adalah pihak yang
bersifat netral dan tidak memihak, yang berfungsi membantu para pihak dalam
mencari berbagai kemungkinan penyelesaian sengketa. Para pihak dapat
menunjuk mediator dari daftar mediator yang dimiliki pengadilan, yaitu hakim
selain ketua dan anggota majelis yang memeriksa perkara, atau mediator di luar
daftar pengadilan.
Proses mediasi berlangsung paling lama 22 (dua puluh dua) hari kerja sejak
pemilihan atau penetapan penunjukan mediator dan hasil akhir proses mediasi
berupa kesepakatan atau ketidaksepakatan. Dalam hal dicapai kesepakatan,
kesepakatan tersebut dituangkan dalam suatu akta perdamaian dan ditetapkan oleh
majelis hakim yang mengadili perkara yang bersangkutan. Apabila tidak tercapai
kesepakatan dalam jangka waktu yang telah diberikan, maka persidangan
dilanjutkan.
Hal-hal yang menjadi perhatian penangan perkara dalam proses mediasi antara
lain:
a. Melakukan koordinasi dengan penyerah piutang mengenai hal-hal apa saja
yang dapat diterima dalam usul perdamaian.
b. Menyampaikan materi usul perdamaian.
c. Melaporkan konsep hasil perdamaian disertai saran dan pendapat.
d. Melaporkan waktu persidangan berikutnya dalam hal tidak tercapai
perdamaian.
8. Menyusun Jawaban
Dalam proses beracara di muka pengadilan negeri, jawaban perlu mendapatkan
perhatian yang sungguh-sungguh karena jawaban merupakan hal yang
pokok/essensial. Oleh karena itu, semua eksepsi/tangkisan dan sanggahan/
2
Pada pengadilan negeri tertentu SKU didaftar terlebih dahulu pada panitera sebelum disampaikan kepada
majelis hakim.
3
Apabila mediasi dilakukan, jawaban disampaikan setelah proses mediasi tidak tercapai.
10
penolakan terhadap dalil-dalil penggugat dalam pokok perkara harus dikemukakan
dalam jawaban. Setiap sanggahan terhadap dalil-dalil penggugat harus menyebut
alasan/dasar hukumnya baik berupa peraturan perundangan maupun yurisprudensi
Mahkamah Agung. Sanggahan yang tidak mempunyai dasar hukum tidak akan
diperhatikan dan akan dikesampingkan.
Penyusunan jawaban diawali dengan penelitian dan penilaian terhadap surat gugat
guna mengetahui perlu atau tidak eksepsi atau tangkisan diajukan sebelum
menyusun jawaban dalam pokok perkara.
Pada umumnya jawaban disusun dengan mengikuti pola yang sudah lazim dalam
proses beracara di pengadilan, yaitu eksepsi, pokok perkara dan petitum. Namun,
ada kalanya dalam gugatan, penggugat juga mengajukan gugatan provisi.
8.1. Dalam eksepsi
8.1.1. Eksepsi kompetensi absolut
Eksepsi kompetensi absolut merupakan eksepsi yang menyangkut
pembagian kekuasaan antara badan-badan peradilan untuk
memeriksa perkara, apakah peradilan umum, peradilan agama,
peradilan militer atau peradilan tata usaha negara. Sesuai dengan
ketentuan hukum acara, majelis hakim harus menyatakan dirinya
tidak berwenang untuk memeriksa perkara yang bukan merupakan
kewenangannya dan tidak tergantung kepada ada tidaknya eksepsi
tergugat. Eksepsi ini sedapat mungkin diajukan pada saat membuat
jawaban.
8.1.2. Eksepsi kompetensi relatif
Eksepsi kompetensi relatif merupakan eksepsi yang menyangkut
kewenangan pengadilan sejenis untuk memeriksa perkara. Eksepsi
kompetensi relatif ini harus diajukan pada kesempatan pertama
tergugat memberikan jawaban. Eksepsi kompetensi relatif dapat
diajukan terpisah, yaitu sebelum pengajuan jawaban mengenai pokok
perkara.
Pada dasarnya gugatan diajukan pada pengadilan dalam wilayah
hukum tergugat bertempat tinggal atau berdasarkan domisili hukum
tergugat yang secara tegas dinyatakan dalam akta. Namun, apabila
tempat tinggal tergugat tidak diketahui maka gugatan dapat diajukan
kepada pengadilan dalam wilayah hukum penggugat bertempat
tinggal atau kepada pengadilan dalam wilayah hukum objek
sengketa berada (benda tetap).
8.1.3. Eksepsi obscuur libel
Eksepsi obscuur libel merupakan tangkisan yang menyatakan
gugatan penggugat kabur.
Hal ini terjadi karena :
a. Posita tidak jelas/kabur, sebab dasar hukum yang menjadi dasar
gugatan tidak jelas/tidak ada atau salah satu dari dasar hukum
yang dijadikan dasar gugatan tidak jelas.
b. Objek sengketa di dalam gugatan tidak jelas.
c. Penggabungan dua atau lebih gugatan yang masing-masing tidak
ada kaitan atau pada hakekatnya berdiri sendiri-sendiri.
d. Pertentangan antara posita dengan petitum.
11
8.1.4. Eksepsi rei judicatie
Eksepsi rei judicatie merupakan tangkisan yang menyatakan bahwa
perkara sudah pernah diputus dan telah mempunyai kekuatan hukum
tetap (nebis in idem). Nebis in idem terjadi apabila tuntutan/gugatan
didasarkan pada alasan yang sama, diajukan oleh dan terhadap orang
yang sama serta dalam hubungan yang sama.
8.1.5. Eksepsi declinatoir.
Eksepsi declinatoir merupakan tangkisan yang menyatakan bahwa
gugatan merupakan perkara yang sama dan masih dalam proses di
pengadilan serta belum ada putusan yang mempunyai kekuatan
hukum tetap.
8.1.6. Eksepsi dilatoir.
Eksepsi dilatoir merupakan tangkisan yang menyatakan bahwa
gugatan yang diajukan masih prematur, misalnya benar bahwa
tergugat mempunyai utang kepada penggugat tetapi belum jatuh
tempo.
8.1.7. Eksepsi diskualifikasi.
Eksepsi diskualifikasi merupakan tangkisan yang menyatakan bahwa
penggugat adalah orang yang tidak mempunyai kualitas/berhak untuk
mengajukan gugatan.
8.1.8. Eksepsi error in persona.
Eksepsi error in persona merupakan tangkisan yang menyatakan
bahwa yang seharusnya digugat adalah orang lain bukan tergugat
8.1.9. Eksepsi plurium litis consortium.
Eksepsi plurium litis consortium merupakan tangkisan yang
menyatakan bahwa gugatan kurang pihak.
8.1.10. Eksepsi premtoir.
Eksepsi premtoir merupakan tangkisan yang mengakui kebenaran
dalil gugatan, tetapi mengemukakan tambahan yang prinsip sehingga
gugatan tidak dapat diterima, misalnya dengan mengemukakan
bahwa tergugat tidak pernah berutang kepada penggugat atau utang
tersebut telah dibayar lunas oleh tergugat kepada penggugat.
8.1.11. Eksepsi koneksitas (exceptie van connexiteit)
Eksepsi koneksitas merupakan tangkisan yang menyatakan bahwa
perkara yang bersangkutan masih ada hubungan dengan perkara lain
yang sedang ditangani oleh pengadilan/instansi lain dan belum ada
putusan.
8.2. Dalam provisi
Gugatan provisi adalah gugatan penggugat yang memohon agar dilakukan
tindakan pendahuluan berdasarkan suatu penetapan hakim dan atau putusan
hakim (putusan sela) sebelum putusan akhir dijatuhkan. Gugatan provisi
yang ditujukan kepada DJPLN/PUPN pada umumnya mengenai penundaan
pelaksanaan lelang, keberatan atas penyitaan, dan permintaan agar terhadap
barang jaminan diletakkan conservatoir beslag.
Penangan perkara yang mewakili tergugat dapat mengemukakan keberatan
atas gugatan dalam provisi dengan alasan-alasan yang jelas seperti:
a. Menyatakan bahwa lelang eksekusi tersebut tidak dapat ditunda karena
merupakan pelaksanaan dari suatu putusan badan peradilan yang sudah
memiliki kekuatan hukum yang tetap (contoh tanggapan atas
12
permohonan penundaan lelang eksekusi pengadilan).
b. Menyatakan bahwa pelaksanaan lelang tidak dapat ditunda karena
pelaksanaan lelang adalah merupakan konsekuensi tidak dipatuhinya
surat paksa yang bertitel eksekutorial dan mempunyai kekuatan hukum
yang sama seperti grosse putusan hakim dalam perkara perdata yang
tidak dapat diminta banding (contoh tanggapan atas permohonan
penundaan pelaksanaan lelang).
8.3. Dalam pokok perkara
Pokok perkara gugatan yang diajukan kepada DJPLN/PUPN pada umumnya
mengenai penundaan atau pembatalan lelang, perbuatan melawan hukum,
pengikatan barang jaminan, harta gono gini, penetapan jumlah utang,
keberatan atas penyitaan, dan keberatan atas pengosongan.
Jawaban atas gugatan pada umumnya bersifat menolak/membantah dalildalil penggugat, namun ada juga jawaban yang sifatnya membenarkan dalil
penggugat apabila dalil tersebut menguntungkan tergugat. Untuk
mendukung alasan-alasan atau dalil-dalil dalam jawaban, penangan perkara
harus mengemukakan dasar-dasar hukum dalam dalil-dalil jawabannya agar
diperhatikan oleh majelis hakim. Oleh karena itu, penangan perkara dalam
menyusun jawaban hendaknya mempelajari :
a. peraturan perundang-undangan yang berlaku;
b. yurisprudensi Mahkamah Agung;
c. pendapat para ahli;
d. literatur lain yang berkaitan dengan objek gugatan;
e. petitum gugatan dikaitkan dengan tiap-tiap dalil gugatan.
Jawaban ditujukan terhadap dalil-dalil penggugat yang secara langsung
berkaitan dengan pelaksanaan tugas DJPLN/PUPN dan apabila dipandang
perlu penangan perkara dapat juga menanggapi dalil-dalil yang ditujukan
kepada tergugat lain sepanjang berkaitan dengan pelaksanaan tugas
pengurusan piutang negara dan lelang. Jawaban disusun secara sistematis
dan urut dimulai dengan mengemukakan sanggahan terhadap dalil
penggugat disertai alasan hukum, fakta hukum yang dimiliki dan dikuatkan
dengan dasar hukum yang mendukung fakta hukum tersebut.
Contoh :
- Bahwa pelaksanaan lelang pada tanggal …………… atas sebidang tanah
di Jalan ……………. adalah sah dan berharga.
- Bahwa pelaksanaan lelang pada tanggal …………. atas sebidang tanah
di Jalan ………… telah dilaksanakan sesuai dengan ketentuan yang
berlaku, yaitu Vendu Reglement ……….. dan Keputusan Menteri
Keuangan Nomor ……………..
- Bahwa Buku II Mahkamah Agung dan Keputusan Menteri Keuangan
Nomor …………… menyebutkan bahwa pelaksanaan lelang yang telah
dilakukan sesuai dengan ketentuan yang berlaku tidak dapat dibatalkan.
- Bahwa Penggugat dalam gugatannya pada butir ………. mengakui
bahwa tanah sengketa merupakan jaminan utang Penggugat kepada
………... Pengakuan tersebut merupakan bukti sempurna karena
dikemukakan dalam persidangan.
Jawaban yang disampaikan adalah hal-hal yang menguntungkan
DJPLN/PUPN, dan hal-hal yang merugikan tidak perlu dikemukakan.
13
8.4. Petitum
Selain jawaban dalam eksepsi dan pokok perkara, penangan perkara dalam
menyusun jawaban memasukkan hal-hal yang dimohonkan kepada majelis
hakim (petitum). Petitum terdiri dari primair dan subsidair. Petitum primair
memuat tuntutan pokok termasuk dalam eksepsi dan pokok perkara.4
Sedangkan petitum subsidair umumnya memuat kalimat “Apabila Majelis
Hakim berpendapat lain, mohon putusan yang seadil-adilnya (ex aequo et
bono)”.
Dalam menyusun petitum pada jawaban terdapat hal-hal umum yang
biasanya dicantumkan seperti :
- menerima eksepsi tergugat seluruhnya;
- menolak gugatan penggugat seluruhnya atau setidak-tidaknya tidak dapat
menerima;
- menerima seluruh jawaban tergugat;
- menghukum penggugat untuk membayar biaya perkara.
Selain hal-hal umum di atas, dalam petitum harus juga dikemukakan
keinginan lain tergugat seperti :
- menyatakan bahwa lelang tersebut adalah sah dan tidak dapat
dibatalkan;
- menyatakan bahwa penyitaan yang dilakukan tergugat telah sesuai
dengan ketentuan yang berlaku.
Dalam perkara perdata, petitum sangat penting karena secara prinsip hakim
harus memutus sebatas petitum yang diajukan baik oleh penggugat maupun
tergugat dan hakim tidak boleh memutus lebih dari apa yang diminta. Oleh
karena itu, agar majelis hakim dapat memutus tidak terbatas pada hal yang
dinyatakan secara tegas dalam petitum, maka pada akhir petitum sebaiknya
dicantumkan kalimat “Apabila Majelis Hakim berpendapat lain, mohon
putusan yang seadil-adilnya (ex aequo et bono)”.
8.5. Dalam gugat balik/gugat rekonvensi
Gugat balik/rekonvensi adalah gugatan yang diajukan tergugat dalam
jawaban terhadap gugatan penggugat. Gugat balik/rekonvensi harus
dikemukakan bersamaan dengan pengajuan jawaban. Dalam gugat
balik/rekonvensi kedudukan penggugat dalam konvensi menjadi tergugat
dalam rekonvensi dan tergugat dalam konvensi menjadi penggugat dalam
rekonvensi.
Gugat balik/rekonvensi hanya dapat diajukan kepada penggugat dan tidak
dapat diajukan kepada tergugat lain dalam perkara tersebut. Penggugat
dalam rekonvensi (tergugat dalam konvensi) dapat mengajukan gugat balik
dalam segala hal perkara, kecuali:
a. Penggugat dalam gugat konvensi mewakili kepentingan orang lain dan
tidak bertindak untuk diri sendiri. Misalnya, penggugat dalam gugat
konvensi bertindak sebagai wali, tetapi gugat rekonvensi ditujukan
terhadap pribadi wali.
4
Apabila dalam gugatan terdapat gugat provisi, maka isi petitum memuat pula petitum dalam provisi.
Demikian pula apabila diajukan gugat balik/rekonvensi, maka isi petitum juga memuat petitum dalam
rekonvensi.
14
b. Apabila pengadilan negeri yang memeriksa gugatan konvensi tidak
berwenang secara mutlak untuk memeriksa gugat balik/rekonvensi.
Misalnya, objek gugatan dalam konvensi adalah utang piutang,
sedangkan objek gugatan dalam gugat balik/rekonvensi memohon
kepailitan tergugat dalam rekonvensi.
c. Dalam perkara perselisihan tentang menjalankan putusan hakim.
d. Jika dalam pemeriksaan tingkat pertama tidak diajukan gugat
balik/rekonvensi, maka dalam tingkat banding tidak dapat diajukan gugat
balik/rekonvensi.
Gugat balik/rekonvensi dalam pengurusan piutang negara dan pelaksanaan
lelang dapat diajukan, misalnya penggugat dalam konvensi (tergugat dalam
rekonvensi) telah menghambat penagihan piutang negara dan
mengakibatkan kerugian negara atau penggugat dalam konvensi (tergugat
dalam rekonvensi) hanya berusaha menunda-nunda pelaksanaan lelang yang
mengakibatkan kerugian negara. Dalam gugat balik/rekonvensi yang
demikian penangan perkara selaku kuasa dari tergugat dalam konvensi dapat
menuntut ganti rugi baik materil maupun immateril (moril).
9. Menyampaikan Jawaban
Setelah melalui proses mediasi dan proses pemeriksaan perkara dilanjutkan,
penangan perkara menghadiri sidang pada waktu yang telah ditetapkan untuk
menyampaikan jawaban yang telah disusun. Setelah selesai mengikuti
persidangan, penangan perkara wajib membuat laporan hasil sidang secara tertulis
kepada atasannya.
10. Menerima Replik
Replik adalah jawaban penggugat terhadap jawaban tergugat yang pada pokoknya
memuat tanggapan terhadap sanggahan/dalil-dalil yang diajukan oleh tergugat
dalam jawabannya, seraya menjelaskan dalil-dalil dalam surat gugat. Dalam acara
replik penangan perkara melakukan hal-hal sebagai berikut:
a. Menghadiri persidangan.
b. Menerima replik penggugat.
c. Membuat laporan hasil sidang secara tertulis.
11. Mengajukan Duplik
Duplik adalah bantahan terhadap replik yang diajukan oleh penggugat. Duplik
tidak wajib disampaikan, namun apabila penggugat mengajukan replik atas
jawaban tergugat, penangan perkara juga harus menyusun duplik. Selain berfungsi
sebagai bantahan atas replik, duplik juga berfungsi sebagai pelengkap jawaban.
Hal-hal yang belum dimasukkan dalam jawaban atau sekedar untuk memperkuat
dalil-dalil yang sudah disampaikan dalam jawaban dapat dikemukakan dalam
duplik.
Teknik pembuatan duplik pada dasarnya sama dengan teknik pembuatan jawaban,
yaitu terdiri dari eksepsi, pokok perkara dan petitum. Dalam duplik umumnya
dicantumkan bahwa tergugat tetap pada jawaban atau pendirian semula dan
menolak semua dalil-dalil yang diajukan oleh penggugat.
Adakalanya dalam replik terdapat dalil yang menguntungkan tergugat. Dalil
tersebut sebaiknya dikuatkan dalam duplik.
Dalam acara duplik, penangan perkara melakukan hal-hal sebagai berikut:
a. Menghadiri persidangan.
b. Menyampaikan duplik.
c. Membuat laporan hasil sidang secara tertulis.
15
12. Menyampaikan Bukti
Acara pembuktian dilakukan setelah proses pengajuan duplik oleh tergugat.
Dalam jawab-menjawab di muka sidang pengadilan negeri, pihak-pihak yang
berperkara dapat mengemukakan peristiwa-peristiwa yang dapat dijadikan dasar
untuk meneguhkan hak perdatanya, maupun untuk membantah hak perdata pihak
lain. Peristiwa yang dikemukakan harus disertai pembuktian secara yuridis, yaitu
penyajian alat bukti yang sah menurut hukum kepada majelis hakim yang
memeriksa perkara.
Alat bukti yang diajukan di muka persidangan adalah alat bukti yang
menguntungkan dan mendukung dalil-dalil yang diajukan dalam jawaban dan
duplik.
Alat bukti dalam perkara perdata terdiri dari bukti surat (tulisan), bukti saksi,
sangka, pengakuan, dan sumpah.5 Namun demikian, alat bukti yang sering
diajukan dalam persidangan adalah bukti surat dan bukti saksi.
12.1. Bukti surat
Peradilan perdata mengutamakan kebenaran formil, sehingga alat bukti
berupa surat sangat penting. Alat bukti surat (tulisan) terdiri dari akta dan
bukan akta.
12.1.1. Akta terdiri dari akta otentik dan akta di bawah tangan.
a. Akta otentik adalah akta yang dibuat oleh atau dihadapan
pejabat yang berwenang untuk itu menurut ketentuan UndangUndang. Akta otentik merupakan alat bukti yang mengikat dan
sempurna. Mengikat artinya apa yang tercantum dalam akta
tersebut harus dianggap sebagai sesuatu yang benar sepanjang
ketidakbenarannya tidak dapat dibuktikan. Sempurna artinya
akta otentik sudah cukup untuk membuktikan suatu peristiwa
tanpa perlu penambahan pembuktian dengan alat-alat bukti
lain. Contoh: akta kelahiran, akta jual beli tanah.
b. Akta di bawah tangan adalah akta yang dibuat sendiri oleh
pihak-pihak yang berkepentingan tanpa bantuan pejabat umum.
Akta di bawah tangan merupakan akta yang sempurna
sepanjang tanda tangan yang ada didalamnya diakui oleh pihakpihak, namun tidak mengikat terhadap pihak ketiga. Contoh:
kuitansi yang tandatangan didalamnya diakui pihak-pihak.
12.1.2. Surat biasa (bukan akta)
Surat biasa adalah setiap tulisan yang ditandatangi atau tidak oleh
pembuatnya tentang suatu peristiwa dan dibuat bukan dengan
maksud sebagai alat bukti, namun secara kebetulan menjadi alat
bukti di pengadilan. Kekuatan pembuktian surat (tulisan) ini adalah
sebagai alat bukti bebas, artinya hakim mempunyai kebebasan
untuk mempercayai atau tidak mempercayai tulisan-tulisan yang
bukan akta tersebut. Contoh: surat-surat pribadi antara seorang
sahabat atau keluarga.
Kekuatan pembuktian suatu tulisan terdapat pada akta yang asli. Apabila
terdapat akta yang asli, salinan dicocokkan dengan aslinya. Namun,
apabila akta asli tidak ada atau hilang, maka salinan akta yang hilang
hanya sebagai suatu permulaan pembuktian.
5
Pasal 164 HIR/Pasal 284 RBg.
16
Dalam rangka penyampaian alat bukti surat dalam persidangan, penangan
perkara menyampaikan fotokopi bukti-bukti yang telah dibubuhi materai
dan dilegalisir (leges) di kantor pos dengan memperlihatkan bukti-bukti
asli kepada majelis hakim guna pencocokan. Surat asli atau akta otentik
tidak perlu diberikan kepada majelis hakim.
Fotokopi yang tidak secara sah dinyatakan sesuai dengan aslinya,
sedangkan terdapat hal yang secara substansial masih dipertengkarkan oleh
kedua belah pihak, bukan merupakan bukti yang sah menurut hukum.6
Untuk mengajukan bukti surat maka dibuatlah daftar bukti yang akan
diajukan. Bukti-bukti disusun berdasarkan tingkat kepentingannya dan
atau urutan waktu. Untuk memudahkan sebaiknya alat bukti diberi tanda
(kode). Alat bukti tergugat ditandai dengan T, tergugat dua ditandai
dengan TII sedangkan turut tergugat ditandai dengan TT. Dalam
kedudukan sebagai tergugat dua, maka penandaan pada alat bukti
dilakukan seperti T.II.1, T.II.2, dan seterusnya. Untuk mendukung dalildalil yang diajukan, setiap bukti harus diberi keterangan sebagai apa dan
untuk apa.
Contoh :
No.
Urut
1.
2.
dst.
12.2.
6
Jenis Alat Bukti
Kode
Surat Penyerahan dari
Penyerah Piutang No…….
tanggal ……..
SP3N No……..
T.II.1
dst.
T.II.2
dst.
Keterangan
Surat sebagai bukti telah
terjadi penyerahan pengurusan
piutang negara.
Surat Ketua Panitia Urusan
Piutang Negara Cabang yang
menerima pengurusan piutang
negara, berarti secara yuridis
pengurusan piutang negara
telah beralih kepada PUPN.
dst.
Bukti saksi
Apabila bukti surat dirasa kurang cukup, para pihak dapat mengajukan
saksi untuk didengar keterangannya. Namun demikian, sekalipun bukti
surat dirasa telah cukup, dapat pula diajukan saksi yang menguntungkan.
Kesaksian adalah pemberian keterangan di depan majelis hakim yang
dilakukan secara lisan dan pribadi oleh orang yang bukan salah satu pihak
dalam perkara. Keterangan tersebut hanya berkaitan dengan peristiwa atau
kejadian yang dialami sendiri oleh saksi dan bukan merupakan pendapat
atau penafsiran. Keterangan saksi dimaksudkan untuk menjelaskan
peristiwanya, bukan untuk membantu hakim dalam menilai peristiwanya.
Sedangkan keterangan yang membantu hakim dalam menilai peristiwa
merupakan keterangan ahli yang bukan merupakan alat bukti dalam
perkara perdata. Keterangan ahli ini dalam praktek pengadilan sering
disebut “saksi ahli”.
Dalam hal penggugat mengajukan saksi, sebaiknya penangan perkara
mengajukan pertanyaan yang lebih memperkuat dalil-dalil dalam jawaban
Putusan MA No. 701 K/Sip/1974 tgl. 14 April 1976.
17
atau duplik. Apabila ada dalil-dalil yang dikuatkan oleh saksi penggugat,
sebaiknya penangan perkara meminta penegasan kepada saksi atas dalil
tersebut dan memohon kepada majelis hakim untuk dicatat.
Dalam hal penangan perkara mengajukan saksi, penangan perkara
sebaiknya memberikan arahan tentang hal-hal yang mungkin ditanyakan
kepada saksi dalam persidangan. Untuk memudahkan pemberian arahan
perlu disusun daftar pertanyaan dan jawaban untuk didiskusikan dengan
saksi. Ada baiknya pengajuan saksi dikoordinasikan dengan tergugat lain,
seperti penyerah piutang, dan kantor pertanahan.
Dalam acara pembuktian, penangan perkara melakukan hal-hal sebagai
berikut:
a. Menghadiri persidangan.
b. Mengajukan alat bukti.
c. Membuat laporan hasil sidang secara tertulis.
13. Menyampaikan Kesimpulan
Kesimpulan disusun setelah acara pembuktian berakhir. Kesimpulan biasanya
memuat:
a. kesimpulan dari jawab-menjawab;
b. kesimpulan pembuktian surat; dan
c. kesimpulan pembuktian saksi.
Kesimpulan dapat juga berarti menguatkan dalil-dalil yang sudah diajukan pada
acara persidangan awal dan menolak dalil-dalil yang diajukan penggugat. Tujuan
pengajuan kesimpulan adalah untuk menyampaikan pendapat kepada majelis
hakim tentang gugatan tidak terbukti.
Dalam kesimpulan biasanya kata-kata seperti ini umum disampaikan, yaitu:
a. Bahwa sudah terbukti ……………..
b. Bahwa Penggugat tidak dapat membuktikan ………….
c. Bahwa berdasarkan alat bukti yang diajukan oleh Penggugat ………..
Susunan kesimpulan sama dengan jawaban dan duplik yaitu eksepsi, pokok
perkara dan petitum.
B. Mengajukan Gugatan
Pada umumnya DJPLN/PUPN merupakan pihak tergugat. Namun, tidak tertutup
kemungkinan DJPLN/PUPN mengajukan gugatan kepada pihak lain.
Sebagai pihak yang berinisiatif melakukan gugatan, DJPLN/PUPN mempunyai
peranan penting terhadap jalannya proses perkara. Gugatan yang diajukan harus
didukung oleh kejadian-kejadian/fakta-fakta hukum dan dasar hukum yang cukup
kuat serta disusun secara sistematis.
1. Persiapan Penyusunan Surat Gugat
Sebelum menyusun surat gugat penangan perkara harus yakin ada perselisihan/
sengketa antara DJPLN/PUPN dengan pihak-pihak yang akan digugat. Untuk itu,
penangan perkara perlu melakukan persiapan yang matang menyangkut
penelitian terhadap objek gugatan, pihak yang akan digugat, dan pengadilan
tempat gugatan akan diajukan dan didaftarkan.
1.1. Penelitian objek gugatan dan pengumpulan bahan gugatan
Sebelum menyusun gugatan, penangan perkara perlu menentukan objek
sengketa dan peristiwa hukum yang menjadi dasar gugatan (alasan
gugatan). Selanjutnya, fakta-fakta hukum diinventarisir misalnya kejadian18
kejadian hukum yang dianggap telah dilanggar dan/atau kejadian-kejadian
hukum lain yang dapat mendukung gugatan.
Setelah dilakukan inventarisasi fakta hukum, peristiwa hukum, maka
penangan perkara mengumpulkan bahan-bahan peraturan perundangan,
literatur, dan yurisprudensi serta bukti-bukti yang mendukung gugatan.
Bukti-bukti tersebut dapat berupa bukti tertulis seperti surat, surat
keputusan, akta, berita acara maupun bukti saksi. Pengumpulan bukti yang
cukup dan disusun secara rapi sangat mendukung gugatan mengingat
perkara perdata lebih mengutamakan kebenaran formil dari pada kebenaran
materil.
1.2. Penelitian para pihak
Penangan perkara harus benar-benar mengetahui identitas pihak yang akan
digugat, termasuk alamat tempat tinggalnya (domisili hukum). Hal ini
sangat penting karena gugatan harus diajukan terhadap pihak yang tepat
dan diajukan/didaftarkan di pengadilan yang wilayah hukumnya mencakup
tempat tinggal pihak yang akan digugat.
Apabila pihak yang akan digugat lebih dari satu, maka gugatan harus
ditujukan kepada semua pihak untuk menghindari tidak terjadi kurang
pihak. Misalnya, dalam sengketa tanah, perlu menarik kantor pertanahan
dan PPAT/notaris menjadi pihak yang akan digugat.
Kesalahan dalam menentukan pihak yang digugat dapat berakibat gugatan
ditangkis (dieksepsi) oleh tergugat/para tergugat, yaitu eksepsi error in
persona.
1.3. Pengadilan
Pada dasarnya gugatan diajukan di pengadilan tempat tinggal tergugat,
tetapi ada beberapa pengecualian, antara lain:
a. Apabila tergugat lebih dari satu, gugatan diajukan di wilayah hukum
pengadilan negeri tempat tinggal salah satu tergugat menurut pilihan
penggugat.
b. Apabila tergugat tidak diketahui alamatnya, gugatan diajukan di
pengadilan negeri di tempat tinggal penggugat atau salah satu penggugat
atau di pengadilan negeri yang wilayah hukumnya meliputi benda tetap
yang menjadi objek sengketa terletak.
2. Persiapan Surat Kuasa Khusus
Apabila berdasarkan hasil penelitian, penangan perkara yakin untuk mengajukan
gugatan maka penangan perkara mempersiapkan permohonan penerbitan SKU
kepada Direktur Jenderal Piutang dan Lelang Negara. Permohonan penerbitan
SKU pada prinsipnya sama dengan permohonan penerbitan SKU dalam hal
DJPLN/PUPN berkedudukan sebagai tergugat.
3. Penyusunan Gugatan
Penyusunan gugatan dilakukan dengan memperhatikan hal-hal sebagaimana
diuraikan di bawah ini:
3.1. Identitas para pihak
Pada gugatan dicantumkan identitas para pihak, yaitu identitas penggugat
dan tergugat. Identitas penggugat (untuk DJPLN/PUPN) disebutkan dari
jenjang tertinggi, yaitu Pemerintah RI cq. Menteri Keuangan RI cq.
DJPLN/ PUPN Pusat cq. Kanwil ....... cq. KP2LN ........
Pencantuman dan penulisan identitas tergugat perlu dilakukan secara
cermat dan tepat untuk menghindari tangkisan (eksepsi) tergugat. Dalam
19
hal terdapat lebih dari satu tergugat, identitas tergugat disusun berdasarkan
tingkat kepentingan, dimulai dari tergugat utama.
3.2. Menyusun gugatan provisi
Pada dasarnya isi gugatan terdiri dari posita dan petitum. Namun, beberapa
gugatan mencantumkan gugatan provisi. Gugatan ini adalah gugatan yang
diajukan untuk mendapatkan putusan sela dari majelis hakim, karena
apabila menunggu sampai dengan putusan akhir akan memakan waktu yang
cukup lama.
Umumnya gugatan provisi dilakukan untuk menunda eksekusi ataupun
mendahulukan eksekusi. Hal ini tercantum dalam petitum dalam gugatan
provisi.
3.3. Menyusun pokok perkara (posita)
Dalam menyusun pokok perkara harus dimuat uraian tentang kejadiankejadian atau peristiwa-peristiwa hukum yang menjelaskan duduk perkara
dan adanya hak atau hubungan hukum yang menjadi dasar
tuntutan/gugatan.
Penyusunan pokok perkara dimulai dari kejadian-kejadian nyata yang
mendahului peristiwa hukum yang menjadi dasar gugatan, misalnya,
tergugat
menjual
barang
jaminan
tanpa
sepengetahuan
kreditor/DJPLN/PUPN. Penangan perkara tidak hanya mendalilkan bahwa
jual beli tersebut tidak sah tetapi juga harus menyebutkan bahwa barang
tersebut merupakan barang jaminan yang telah disita PUPN seraya
mengemukakan bukti penjaminan dan berita acara penyitaannya.
Dalam menguraikan dalil-dalil dalam posita, penangan perkara sebaiknya
mempertimbangkan keterkaitan antara dalil yang satu dengan dalil yang
lain. Posita disusun secara sistematis, mudah dimengerti, dan hindari
pemakaian kalimat yang panjang.
3.4. Menyusun petitum
Petitum atau tuntutan adalah apa yang dimintakan atau diharapkan oleh
Penggugat untuk diputuskan oleh hakim. Penangan perkara harus
merumuskan petitum tersebut dengan jelas dan tegas untuk menghindari
gugatan kabur (obscure libel) dan dinyatakan tidak dapat diterima atau
ditolak.
Dalam menyusun petitum (tuntutan) penangan perkara harus
memperhatikan tujuan gugatan, misalnya apakah gugatan itu bertujuan
untuk membatalkan suatu peristiwa hukum seperti eksekusi (diluar
eksekusi PUPN) atau menuntut untuk dilakukannya suatu peristiwa hukum.
Hal ini harus dicantumkan secara tegas di dalam petitum gugatan.
Selain itu dalam petitum dapat pula dicantumkan tuntutan ganti rugi dengan
menguraikan perhitungan secara jelas dan rinci di dalam posita. Tuntutan
ganti rugi tidak hanya diperhitungkan terhadap hal yang bersifat materil
tetapi dapat juga terhadap hal yang bersifat immateril.
Adakalanya dalam petitum dimasukkan juga tuntutan uang paksa
(dwangsoom). Hal ini dimaksudkan untuk memaksa pihak tergugat segera
mematuhi isi putusan. Dwangsoom ini akan menghukum pihak yang kalah
untuk membayar sejumlah uang setiap harinya sejak putusan berlaku efektif
sampai dengan putusan dilaksanakan.
Petitum terdiri dari petitum dalam provisi (kalau ada) dan petitum dalam
pokok perkara.
20
4.
5.
6.
7.
Petitum dalam pokok perkara terdiri dari 2 (dua) bagian yaitu petitum
primair dan petitum subsidair. Petitum primair berisi tentang hal-hal pokok
yang dimohonkan untuk dikabulkan oleh majelis hakim, sedangkan petitum
subsidair memuat hal-hal selain yang disebutkan dalam petitum primair.
Petitum primair antara lain berisikan hal-hal sebagai berikut :
a. Menerima gugatan Penggugat seluruhnya atau mengabulkan gugatan
Penggugat seluruhnya.
b. Menyatakan sah dan berharga sita (conservatoir, revindicatoir) yang
telah diletakkan oleh juru sita Pengadilan Negeri .............
c. Menyatakan perbuatan Tergugat merupakan perbuatan melawan
hukum.
d. Menghukum Tergugat untuk membayar ganti rugi sebesar.............
kepada Penggugat.
e. Menyatakan putusan ini dapat dilaksanakan terlebih dahulu
(uitvoerbaar bij voorraad) meskipun Tergugat melakukan upaya
banding atau kasasi.
f. Menghukum Tergugat untuk membayar segala biaya yang timbul dalam
perkara ini.
Petitum Subsidair berisi “apabila majelis hakim berpendapat lain mohon
putusan yang seadil-adilnya (ex aequo et bono)”.
Pendaftaran Gugatan
Surat gugatan didaftarkan di kepaniteraan pengadilan negeri yang berwenang
mengadili/memeriksa perkara tersebut. Pendaftaran gugatan dilakukan bersamaan
dengan pendaftaran surat kuasa penggugat dan sekaligus membayarkan uang
muka biaya perkara.
Penyusunan Replik
Penyusunan replik didahului dengan meneliti jawaban tergugat, termasuk
eksepsi. Penyusunan replik pada dasarnya sama dengan cara penyusunan
jawaban. Replik harus disusun secara sistematis dan urut sesuai dengan jawaban
tergugat. Tangkisan disusun berdasarkan dalil-dalil yang diajukan tergugat dalam
jawaban. Selain menangkis, replik dapat berfungsi sebagai penegasan atas dalildalil yang telah disampaikan pada gugatan sekaligus mematahkan dalil-dalil
tergugat dalam jawaban.
Pengajuan Bukti
Dalam posisi sebagai penggugat, penangan perkara harus mempersiapkan alat
bukti sejak gugatan akan diajukan. Pengajuan alat bukti sama dengan proses
pengajuan alat bukti dalam kedudukan sebagai tergugat. Namun, dalam
penandaan/pengkodean alat bukti tertulis disesuaikan dengan kedudukan sebagai
penggugat, seperti P.1, P.2, dan seterusnya.
Penyusunan Kesimpulan
Kesimpulan bukan merupakan suatu keharusan, tetapi sudah merupakan
kebiasaan dalam praktek peradilan selalu ada penyusunan kesimpulan oleh para
pihak yang berperkara. Tujuan kesimpulan untuk menyampaikan pendapat
kepada hakim tentang terbukti atau tidaknya suatu gugatan.
21
Dalam menyusun kesimpulan hendaknya dilakukan secara ringkas dan jelas
dengan mengemukakan hal-hal yang terbukti dan atau yang tidak terbukti
berdasarkan acara persidangan sebelumnya. Isi dari kesimpulan memuat:
a. Kesimpulan jawab-menjawab.
b. Kesimpulan dari bukti tertulis.
c. Kesimpulan dari saksi.
22
BAB IV
PETUNJUK PENANGANAN PERKARA TATA USAHA NEGARA
Sengketa TUN adalah sengketa yang timbul di bidang TUN antara orang atau
badan hukum perdata dengan badan atau pejabat TUN, baik di pusat maupun di
daerah, sebagai akibat dikeluarkannya keputusan TUN, termasuk sengketa
kepegawaian berdasarkan peraturan perundang-undangan yang berlaku.7 Dalam
hal badan atau pejabat TUN digugat oleh orang atau badan hukum perdata,
pejabat TUN akan menerima relaas panggilan sidang beserta salinan gugatan.8
Dalam praktek tidak tertutup kemungkinan bahwa relaas panggilan tidak disertai
dengan surat gugat mengingat pemanggilan tersebut baru dalam tahap acara
pemeriksaan pendahuluan. Badan/pejabat TUN yang digugat (tergugat) akan
menerima surat gugat setelah dipanggil menghadiri sidang berikutnya.
Keputusan TUN adalah suatu penetapan tertulis yang dikeluarkan oleh badan atau
pejabat TUN yang berisi tindakan hukum TUN berdasarkan peraturan perundangundangan yang berlaku yang bersifat konkrit, individual dan final yang
menimbulkan akibat hukum bagi seseorang atau badan hukum perdata.9 Dari
pengertian keputusan TUN ini terdapat beberapa hal yang perlu mendapat
penjelasan, yaitu:
1. Penetapan tertulis terutama menunjuk pada isi bukan kepada bentuk keputusan
yang dikeluarkan oleh badan atau pejabat TUN. Keputusan ini memang
diharuskan tertulis, namun yang disyaratkan tertulis bukanlah bentuk
formalnya seperti surat keputusan pengangkatan. Persyaratan tertulis ini
diharuskan untuk kemudahan dari segi pembuktian. Oleh karena itu, sebuah
memo atau nota yang memenuhi syarat tertulis tersebut merupakan keputusan
TUN menurut undang-undang, apabila sudah jelas:
a. badan atau pejabat TUN mana yang mengeluarkan;
b. maksud serta mengenai hal apa isi tulisan itu;
c. kepada siapa tulisan itu ditujukan dan apa yang ditetapkan didalamnya.10
2. Badan atau pejabat TUN adalah badan atau pejabat TUN di pusat dan daerah
yang melakukan kegiatan eksekutif.
3. Tindakan hukum TUN adalah perbuatan badan atau pejabat TUN yang
bersumber pada ketentuan hukum TUN yang menimbulkan hak dan kewajiban
bagi orang lain.
4. Keputusan TUN bersifat kongkrit, individual, dan final. Konkrit artinya objek
yang diputuskan dalam keputusan TUN itu tidak abstrak, tetapi berwujud
tertentu dan dapat ditentukan. Individual artinya keputusan TUN tersebut tidak
ditujukan untuk umum, tetapi tertentu baik alamat maupun yang dituju. Kalau
yang dituju lebih dari satu orang, tiap-tiap nama yang terkena keputusan
tersebut disebutkan. Final artinya sudah definitif dan karenanya menimbulkan
akibat hukum. Keputusan yang masih memerlukan persetujuan dari instansi
atasan atau instansi lain belum bersifat final karena belum menimbulkan suatu
7
Pasal 1 angka 4 Undang-Undang Nomor 5 Tahun 1986 tentang Peradilan Tata Usaha Negara sebagaimana
telah diubah dengan Undang-Undang Nomor 9 Tahun 2004 (selanjutnya disebut UU PTUN).
8
Pasal 59 ayat (4) UU PTUN.
9
Pasal 1 angka 3 UU PTUN.
10
Penjelasan Pasal 1 angka 3 UU PTUN.
23
hak atau kewajiban pada pihak yang bersangkutan.11
A. Persiapan Menghadapi Gugatan
Dalam persiapan menghadapi gugatan, penangan perkara perlu
memperhatikan dismissal procedure, pemeriksaan persiapan, dan meneliti
surat gugat.
1. Dismissal Procedure
Dalam peradilan TUN dikenal istilah dismissal procedure, yaitu rapat
permusyawaratan yang dipimpin oleh Ketua Pengadilan TUN untuk
menentukan dapat tidaknya suatu gugatan disidangkan di pengadilan TUN
sesuai dengan persyaratan yang telah diatur dalam Undang-Undang Nomor
5 Tahun 1986 sebagaimana telah diubah dengan Undang-Undang Nomor 9
Tahun 2004 (selanjutnya disebut UU PTUN).
Dalam rapat permusyawaratan, ketua pengadilan TUN berwenang
memutuskan dengan suatu penetapan yang dilengkapi dengan
pertimbangan-pertimbangan bahwa gugatan yang diajukan tidak diterima
atau tidak berdasar, apabila :
a. pokok gugatan yaitu fakta yang dijadikan dasar gugatan nyata-nyata
tidak termasuk wewenang pengadilan TUN;
b. syarat-syarat gugatan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 56 UU
PTUN tidak dipenuhi sekalipun ia telah diberi tahu dan diperingatkan;
c. gugatan tersebut didasarkan alasan-alasan yang tidak layak;
d. apa yang dituntut dalam gugatan sebenarnya sudah terpenuhi oleh
keputusan TUN yang digugat;
e. gugatan diajukan sebelum waktunya atau telah lewat waktunya.
Apabila salah satu dari syarat tersebut telah terpenuhi, maka ketua
pengadilan TUN harus mengeluarkan penetapan yang menyatakan gugatan
penggugat tidak dapat diterima atau tidak berdasar. Namun, apabila ketua
pengadilan TUN menganggap gugatan tersebut telah memenuhi syarat
untuk diterima sebagai gugatan, maka ketua pengadilan TUN membentuk
majelis hakim yang akan mengadili perkara gugatan tersebut.
2. Pemeriksaan Persiapan
Selain acara rapat permusyawaratan (dismissal procedure), dalam acara
peradilan TUN dikenal acara pemeriksaan persiapan yang dilakukan oleh
hakim sebelum pemeriksaan pokok gugatan. Tujuan pemeriksaan
persiapan adalah untuk melengkapi gugatan yang kurang jelas. Hal ini
diatur dalam Pasal 63 UU PTUN yang berbunyi:
(1) Sebelum pemeriksaan pokok sengketa dimulai, hakim wajib
mengadakan pemeriksaan persiapan untuk melengkapi gugatan yang
kurang jelas.
(2) Dalam pemeriksaan persiapan sebagaimana dimaksud dalam ayat (1)
hakim :
a. wajib memberi nasehat kepada penggugat untuk memperbaiki
gugatan dan melengkapinya dengan data yang diperlukan dalam
jangka waktu 30 hari;
11
Ibid.
24
b. dapat meminta penjelasan kepada Badan atau Pejabat TUN yang
bersangkutan.
(3) Apabila dalam jangka waktu sebagaimana dimaksud dalam ayat (2)
huruf a, tergugat belum menyempurnakan gugatannya, maka hakim
menyatakan dengan putusan bahwa gugatannya tidak dapat diterima.
(4) Terhadap putusan sebagaimana dimaksud dalam ayat (3) tidak dapat
digunakan upaya hukum, tetapi dapat diajukan gugatan baru.
3. Penelitian Surat Gugat
Hal yang harus dilakukan oleh penangan perkara apabila menerima surat
gugat adalah memeriksa dan meneliti syarat formil surat gugat tersebut,
yaitu :
3.1. nama, kewarganegaraan, tempat tinggal, dan pekerjaan penggugat :
untuk mengetahui apakah penggugat adalah pihak yang memiliki
hubungan hukum dengan tergugat maupun dengan keputusan TUN
yang digugat;
3.2. nama jabatan, dan tempat kedudukan tergugat:
untuk mengetahui apakah benar pejabat TUN tersebut yang
mengeluarkan keputusan TUN yang digugat, dan untuk mengetahui
apakah peradilan TUN yang akan mengadili perkara tersebut adalah
pengadilan TUN yang berwenang untuk mengadili perkara tersebut;
3.3. dasar gugatan dan hal yang diminta untuk diputuskan oleh
pengadilan:
untuk mengetahui benar tidaknya dasar gugatan yang diajukan oleh
penggugat, menyangkut objek gugatan berupa keputusan TUN yang
dikeluarkan;
3.4. objek gugatan berupa keputusan TUN yang digugat:
untuk mengetahui apakah objek gugatan yang berupa keputusan TUN
tersebut telah memenuhi syarat untuk diajukan gugatan atau belum
atau telah lewat waktu.
Apabila surat gugat tidak memenuhi persyaratan yang telah ditentukan,
penangan perkara dapat mengajukan keberatan berupa eksepsi dalam
jawaban atau mengajukan keberatan tersebut pada saat memenuhi
panggilan ketua pengadilan TUN dalam dismissal procedure.
B. Penyusunan Jawaban atas Gugatan
Dalam penyusunan jawaban atas gugatan, penangan perkara perlu melakukan
hal-hal sebagai berikut:
1. Penelitian dan Pencantuman Identitas Para Pihak
Sebelum jawaban disusun, penangan perkara meneliti identitas para pihak
yang tercantum dalam surat gugat. Tujuan penelitian identitas para pihak
adalah untuk mengetahui apakah surat gugat sudah memuat secara lengkap
pihak-pihak yang digugat atau masih ada pihak lain yang seharusnya
digugat tetapi belum dimasukan sebagai pihak dalam gugatan. Hal ini
sangat penting untuk menentukan apakah perlu dilakukan eksepsi tentang
kualitas penggugat, error in persona, atau gugatan kurang pihak.
Jawaban disusun secara sistematis dengan mencantumkan identitas
tergugat terlebih dahulu seperti Kepala Kantor Pelayanan Piutang dan
Lelang Negara ........ beralamat ........ sebagai Tergugat ........ Penangan
25
perkara harus meneliti apakah gugatan ditujukan kepada DJPLN atau
kepada PUPN. Hal ini untuk mengetahui dalam kapasitas apa tergugat
digugat. Identitas penggugat juga perlu dicantumkan sebagaimana yang
dicantumkan dalam gugatan penggugat. Jawaban ditujukan kepada majelis
hakim yang mengadili perkara.
2. Penyusunan Eksepsi
Setelah pencantuman identitas para pihak, penangan perkara menyusun
jawaban dimulai dari eksepsi (apabila dianggap perlu), yaitu tangkisan
yang tidak menyangkut pokok perkara. Penangan perkara sebaiknya
meneliti kelemahan-kelemahan dalam gugatan, guna dirumuskan dalam
eksepsi dengan harapan majelis hakim yang memeriksa perkara dapat
memutus “gugatan tidak dapat diterima” (NO=Niet Onvankelijk verklard)
atau “gugatan ditolak”. Perumusan eksepsi tergantung pada hasil
penelitian surat gugat, namun dalam hal menurut pertimbangan penangan
perkara tidak terdapat alasan untuk mengajukan eksepsi, maka jawaban
langsung pada pokok perkara.
Agar eksepsi yang diajukan dapat tersusun secara cermat dan tepat,
penangan perkara terlebih dahulu harus mengetahui jenis-jenis eksepsi,
karena setiap jenis eksepsi berbeda fungsinya. Adapun jenis-jenis eksepsi
tersebut adalah :
2.1. Eksepsi kompetensi absolut
Eksepsi ini dapat diajukan tersendiri, terpisah dari jawaban dalam
pokok sengketa dan dapat diajukan setiap waktu selama pemeriksaan.
Bahkan hakim karena jabatannya wajib menyatakan bahwa
pengadilan tidak berwenang mengadili gugatan yang bersangkutan
sekalipun eksepsi ini tidak diajukan.12 Eksepsi kompetensi absolut
diajukan dalam hal error in objecto (cacat sebagai objek), yaitu:
a. objek gugatan tidak memenuhi syarat sebagai Keputusan TUN
sebagaimana diatur dalam Pasal 1 angka 3 UU PTUN;
b. keputusan TUN yang diatur dalam Pasal 2 UU PTUN;
c. objek TUN tersebut telah dicabut atau telah diterbitkan objek TUN
yang baru.
2.2. Eksepsi kompetensi relatif
Eksepsi ini diajukan sebelum jawaban dalam pokok sengketa
disampaikan, dan eksepsi tersebut harus diputus sebelum pokok
sengketa diperiksa.13 Eksepsi ini diajukan apabila gugatan penggugat
diajukan ke pengadilan TUN yang daerah hukumnya tidak meliputi
tempat kedudukan tergugat.
2.3. Eksepsi lain-lain
Eksepsi ini adalah eksepsi di luar eksepsi kompetensi absolut dan
eksepsi kompetensi relatif. Eksepsi ini terdiri dari beberapa jenis,
antara lain:
12
13
Pasal 77 ayat (1) UU PTUN.
Pasal 77 ayat (2) UU PTUN.
26
2.3.1. Eksepsi error in persona (cacat sebagai subjek)
Hal ini terjadi karena :
a. Diskualifikasi in persona (tidak memenuhi syarat sebagai
pihak) sebab penggugat belum dewasa, penggugat bukan
yang berkepentingan atau di bawah pengampuan, serta
kuasa tidak memenuhi syarat-syarat yang ditentukan (tidak
ada surat kuasa atau surat kuasa khusus tidak sah).
b. Gemis Aanhoedanigheid (tidak tepat ditarik sebagai
tergugat) sebab Pejabat TUN digugat sebagai pribadi.
c. Plurium Litis Consortium (tidak lengkap penarikan sebagai
tergugat) sebab Pejabat TUN yang digugat sudah tidak
berwenang karena wewenangnya telah beralih kepada
pejabat lain, atau wewenangnya telah dihapus oleh
peraturan perundang-undangan yang berlaku.
2.3.2. Eksepsi obscuur libel (gugatan cacat formil karena tidak jelas
atau kabur)
Hal ini terjadi karena :
a. Posita tidak jelas, sebab dasar hukum yang menjadi dasar
gugatan tidak jelas/tidak ada/dicabut.
b. Tidak jelas objek sengketa di dalam gugatan.
c. Penggabungan dua atau lebih gugatan yang masing-masing
tidak ada kaitan yang erat atau pada hakekatnya berdiri
sendiri-sendiri.
d. Pertentangan antara posita dengan petitum.
e. Petitum atau posita tidak sesuai dengan ketentuan Pasal 53
dan Pasal 97 ayat (9) UU PTUN.
2.3.3. Eksepsi gugatan prematur
Gugatan tertunda karena belum waktunya untuk diajukan,
karena syarat yang ditentukan belum terjadi (Pasal 1 butir 3,
Pasal 3 ayat (2) dan (3), Pasal 53 ayat (1) dan Pasal 55 UU
PTUN).
2.3.4. Eksepsi gugatan kadaluwarsa/lewat waktu
Gugatan diajukan dalam waktu yang telah melampaui batas
waktu 90 (sembilan puluh) hari terhitung sejak diterbitkannya
atau diketahuinya objek TUN tersebut.14
2.3.5. Eksepsi rei judicata deductae
Objek gugatan masih bergantung pada putusan perkara lain
yang masih dalam proses pemeriksaan, misalnya objek
gugatan pernah diajukan dan diputus tidak dapat diterima atau
objek gugatan masih dalam proses banding/kasasi.
3. Penyusunan Jawaban
Jawaban dalam pokok perkara dirumuskan sedemikian rupa untuk
menjawab permasalahan yang dikemukakan penggugat dalam materi
pokok gugatan. Penyusunan jawaban dalam pokok perkara dilakukan
dengan cara sebagai berikut:
14
Pasal 55 UU PTUN.
27
a. membantah dalil-dalil penggugat point per point;
b. memberikan alasan-alasan dan dasar hukum jawaban tergugat yang
membantah dalil-dalil penggugat yang tidak benar dan tidak berdasar;
c. menyatakan dalil-dalil gugatan penggugat yang dibantah tersebut
ditolak;
d. menolak permohonan penundaan pelaksanaan keputusan TUN yang
diajukan oleh penggugat.
Untuk mendukung alasan-alasan atau dalil-dalil dalam jawaban, penangan
perkara harus mengutamakan dasar-dasar hukum yang berlaku agar
jawabannya menjadi pasti dan diperhatikan oleh majelis hakim. Oleh
karena itu, penangan perkara di dalam membuat jawaban antara lain
mengacu pada :
a. Peraturan perundang-undangan yang berlaku atas kasus gugatan.
b. Yurisprudensi Mahkamah Agung (putusan kasasi dari Mahkamah
Agung yang telah berkekuatan hukum tetap).
c. Literatur.
d. Asas-asas umum pemerintahan yang baik.
e. Pendapat para ahli.
Pada umumnya objek gugatan TUN yang ditujukan kepada DJPLN/PUPN
adalah:
a. Surat Perintah Pengurusan Piutang negara (SP3N)
b. Penetapan Jumlah Piutang Negara
c. Surat Paksa
d. Surat Perintah Penyitaan
e. Surat Perintah Penjualan Barang Sitaan
f. Pengumuman Lelang
g. Pemberitahuan Lelang
h. Risalah Lelang
4. Penyusunan Petitum
Isi petitum adalah permohonan kepada majelis hakim yang memeriksa
perkara untuk memberikan putusan sesuai dengan apa yang dikehendaki.
Oleh karena itu, penangan perkara menyusun petitum jawaban sebagai
berikut :
4.1. Dalam eksepsi :
a. menyatakan eksepsi tergugat benar dan dapat diterima;
b. menyatakan gugatan penggugat tidak dapat diterima.
4.2. Dalam pokok sengketa:
a. menyatakan menolak seluruh gugatan penggugat;
b. menghukum penggugat untuk membayar biaya perkara yang
timbul;
c. apabila majelis hakim berpendapat lain, mohon putusan yang
seadil-adilnya (ex aequo et bono).
5. Penyusunan Duplik
Setelah menerima replik dari penggugat, penangan perkara menyusun
tanggapan atas replik penggugat yang dituangkan di dalam duplik.
Penyusunan duplik pada dasarnya sama dengan pola penyusunan jawaban,
yaitu terdiri dari eksepsi, pokok sengketa dan petitum. Perbedaannya
hanya mengenai dalil yang dibantah, yaitu bantahan ditujukan kepada dalil
penggugat yang terdapat di dalam replik. Dalam duplik pihak tergugat
28
masih memiliki kesempatan untuk mengubah alasan-alasan yang
mendasari jawabannya terdahulu dengan syarat alasan tersebut harus
cukup berdasar serta tidak merugikan penggugat15.
C. Pengajuan Bukti
Setelah acara persidangan berupa penyerahan duplik dari tergugat selesai,
maka persidangan akan dilanjutkan dengan acara pembuktian (surat dan
saksi). Dalam pembuktian, majelis hakim pengadilan TUN bersifat aktif, yaitu
dapat meminta para pihak untuk mengajukan bukti-bukti tertentu (vide Pasal
107 UU PTUN). Pihak yang memiliki kesempatan pertama untuk mengajukan
bukti adalah pihak penggugat dan dilanjutkan dengan pengajuan bukti dari
tergugat. Acara pembuktian terbagi dalam 2 (dua) tahap, yaitu :
1. Pemeriksaan Alat Bukti Surat
Pada umumnya dalam acara pembuktian, para pihak yang berperkara
hanya menggunakan kesempatan pemeriksaan alat bukti surat, karena
bukti surat sudah dapat meyakinkan majelis hakim bahwa apa yang
didalilkan memiliki dasar hukum yang kuat dan pantas untuk
dimenangkan.
Hal-hal yang perlu diperhatikan dan dilakukan oleh penangan perkara
dalam pengajuan bukti surat adalah sebagai berikut :
a. Menyiapkan seluruh bukti-bukti pengurusan piutang negara dan
pelaksanaan lelang serta bukti-bukti yang mendukung jawaban dan
duplik, terutama bukti-bukti yang menunjukkan tentang dalil-dalil
gugatan penggugat tidak benar.
b. Mengajukan fotokopi tiap-tiap bukti yang telah dibubuhi meterai
cukup dan disahkan oleh Kantor Pos dan Giro (Bagian Permateraian)
atau notaris, serta membuat tanda (kode) sesuai dengan urutannya.
Contoh daftar bukti
No.
Urut
1.
2.
15
Jenis Alat Bukti
Surat
Nomor
Panggilan
Surat Penerimaan
Pengurusan Piutang
Negara (SP3N)
No........... tanggal
...........
Pasal 75 ayat (2) UU PTUN
Tanda/Kode
T.1.
T.2.
Keterangan
Surat sebagai bukti penggugat
telah dipanggil.
Untuk
membuktikan
dan
menyatakan
bahwa
dalil
penggugat yang menyatakan tidak
pernah dilakukan pemanggilan
adalah dalil yang tidak benar .
Surat
sebagai
bukti
telah
beralihnya pengurusan piutang
negara kepada tergugat (vide
Pasal 17 Keputusan Menkeu
No.300/KMK.01/2002
tentang
Pengurusan Piutang Negara).
Untuk
membuktikan
dan
menyatakan
bahwa
dalil
penggugat yang menyatakan
bahwa tergugat tidak berwenang
melakukan pengurusan piutang
negara adalah tidak benar.
29
3.
Pengumuman Lelang
No............ tanggal....
T.3.
4.
Sertifikat
Hak
Tanggungan
No........... tanggal.......
T.4.
Surat sebagai bukti pemberitahuan
kepada khalayak ramai (umum).
Untuk
membuktikan
dan
menyatakan
bahwa
dalil
penggugat yang menyatakan
bahwa pengumuman lelang adalah
objek TUN merupakan dalil yang
tidak benar karena pengumuman
lelang adalah tindakan hukum
perdata (vide Pasal 2 huruf a UU
No. 5 Tahun 1986 sebagaimana
telah diubah dengan UU No. 9
Tahun 2004).
Sebagai
bukti bahwa objek
sengketa telah diikat secara
sempurna
dengan
hak
tanggungan.
Untuk
membuktikan
dan
menyatakan
bahwa
dalil
penggugat yang menyatakan
bahwa tidak pernah menjaminkan
objek sengketa adalah dalil yang
tidak benar.
Dokumen asli ada pada Tergugat
II (BRI Cabang ................).
Keterangan :
Apabila berkedudukan sebagai Tergugat.
T.1. : Alat bukti Pertama.
T.2
: Alat bukti Kedua.
dst.
Apabila berkedudukan sebagai Tergugat I.
T. I.1. : Tergugat I, alat bukti pertama.
T. I.2. : Tergugat I, alat bukti kedua.
T. I.3. : Tergugat I, alat bukti ketiga.
dst.
Apabila berkedudukan sebagai Tergugat II.
T. II.1. : Tergugat II, alat bukti pertama.
T. II.2. : Tergugat II, alat bukti kedua.
T. II.3. : Tergugat II, alat bukti ketiga.
dst.
c. Menyiapkan bukti asli untuk dibawa ke pengadilan pada saat pembuktian
guna dicocokkan dengan fotokopi bukti yang diajukan.
d. Membubuhkan tanda tangan pada bagian akhir dari daftar bukti.
2. Pemeriksaan Saksi
Setelah selesai acara pemeriksaan bukti surat, para pihak diberi kesempatan
untuk mengajukan bukti saksi. Untuk menentukan perlu tidaknya mengajukan
bukti saksi, penangan perkara harus memahami permasalahan yang akan
menguatkan bukti surat yang telah diajukan sebelumnya.
Bukti saksi tidak selalu menguntungkan pihak yang mengajukan, malah
adakalanya menguntungkan pihak lawan. Namun, penangan perkara tetap
perlu mengajukan saksi dalam hal:
30
a. penggugat memiliki bukti surat yang menunjukkan bahwa objek yang
disengketakan adalah miliknya, sedangkan tergugat juga memiliki bukti
surat yang menunjukkan bahwa objek tersebut bukan milik penggugat;
b. bukti surat yang diajukan penangan perkara bukan merupakan alat bukti
yang kuat sebagaimana ditentukan dalam peraturan perundang-undangan
yang berlaku;
Sebelum saksi memberikan kesaksian di muka persidangan, penangan perkara
sebaiknya memberikan arahan tentang hal-hal yang mungkin ditanyakan
kepada
saksi
dalam
persidangan
agar
kesaksiannya
dapat
mendukung/memperkuat alat bukti yang diajukan sebelumnya. Untuk
memudahkan pemberian arahan perlu disusun daftar pertanyaan dan jawaban
untuk didiskusikan dengan saksi.
Penangan perkara perlu memberitahukan kepada saksi untuk membawa Kartu
Tanda Penduduk (KTP) sebagai identitas diri yang akan diminta oleh majelis
hakim sebelun memberikan kesaksian di muka persidangan.
D. Penyusunan Kesimpulan
Kesimpulan disusun setelah acara pembuktian berakhir. Susunan kesimpulan
sama dengan susunan dalam jawaban dan duplik yaitu eksepsi, pokok perkara dan
petitum. Hal-hal yang perlu diperhatikan oleh penangan perkara dalam menyusun
kesimpulan adalah :
1. Isi singkat dari jawaban dan duplik serta dihubungkan dengan bukti surat dan
saksi.
2. Mempertegas kembali dalil-dalil penggugat yang terbukti tidak berdasar
dengan menyebutkan kode dari bukti-bukti yang diajukan.
3. Membantah bukti-bukti baik surat maupun saksi yang diajukan oleh
penggugat, misalnya bukti surat tidak ada aslinya, bukti surat tidak ada
relevansi dengan sengketa TUN atau saksi yang diajukan oleh penggugat tidak
memenuhi syarat sebagai saksi.
4. Membuat petitum seperti pada jawaban dan duplik, serta menandatangani
kesimpulan.
31
BAB V
PUTUSAN PERADILAN
Putusan peradilan adalah hasil akhir atau kesimpulan majelis hakim terhadap suatu
pemeriksaan perkara yang didasarkan pada pertimbangan hukum dan diucapkan
dalam sidang pengadilan yang terbuka untuk umum. Setiap putusan pengadilan
tertuang dalam bentuk tertulis yang harus ditandatangani oleh ketua majelis hakim,
hakim anggota yang memeriksa dan memutuskan perkara serta panitera pengganti
yang ikut bersidang.16
Putusan pada tingkat pertama diucapkan dimuka sidang majelis hakim dan dihadiri
oleh para pihak yang berperkara. Putusan tersebut langsung mengikat para pihak yang
hadir dalam persidangan. Dalam hal salah satu pihak tidak hadir dalam persidangan
pada saat putusan dibacakan, pemberitahuan disampaikan melalui panitera pengadilan
yang memeriksa perkara. Sedangkan bagi pihak yang berdomisili di luar wilayah
hukum pengadilan tingkat pertama yang memeriksa perkara, putusan disampaikan
dengan bantuan pengadilan yang wilayah hukumnya meliputi tempat tinggal yang
bersangkutan. Khusus dalam perkara TUN, salinan putusan disampaikan melalui surat
tercatat kepada para pihak yang tidak hadir pada saat pembacaan putusan.
Putusan pada tingkat banding dan kasasi/peninjauan kembali disampaikan kepada
pengadilan tingkat pertama yang memeriksa perkara untuk diberitahukan kepada para
pihak melalui panitera pengadilan tingkat pertama yang memeriksa perkara. Apabila
pihak yang berperkara berdomisili di luar wilayah hukum pengadilan tingkat pertama
yang memeriksa perkara, maka pengadilan tersebut meminta bantuan pemberitahuan
putusan (relaas) kepada pengadilan tingkat pertama yang wilayah hukumnya meliputi
tempat tinggal pihak yang berperkara. Khusus dalam perkara TUN, salinan putusan
disampaikan dengan surat tercatat kepada para pihak melalui pengadilan tingkat
pertama.
A. Putusan Pengadilan Negeri
Putusan pengadilan negeri adalah putusan yang dikeluarkan oleh majelis hakim
pengadilan negeri yang memeriksa perkara. Putusan tersebut memuat
pertimbangan hukum dan diktum atas pokok perkara serta diucapkan di muka
sidang pengadilan yang terbuka untuk umum.17
Pada pengadilan negeri dikenal dua jenis putusan, yaitu putusan sela dan putusan
akhir.
1. Putusan Sela (Tussenvonnis)
Putusan sela merupakan suatu putusan yang dijatuhkan pada saat proses
persidangan sedang berjalan, misalnya putusan sela mengenai sita jaminan
atas objek perkara. Putusan sela bersifat sementara, oleh karena itu penangan
perkara dapat mengajukan bantahan terhadap putusan sela tersebut baik di
dalam jawaban, duplik maupun kesimpulan dengan tujuan agar majelis hakim
mencabut putusan sela tersebut.
Putusan sela dibagi menjadi 4 macam, yaitu:
16
Dalam lingkungan peradilan selain putusan dikenal pula istilah penetapan. Istilah putusan tidak sama
dengan istilah penetapan. Penetapan dikeluarkan atau diterbitkan oleh ketua pengadilan atas dasar
permohonan penggugat, seperti penetapan penundaan lelang dalam perkara TUN.
17
Diatur dalam Pasal 179 ayat (1) HIR/Pasal 190 ayat (1) RBg.
32
a. Putusan preparatoir, yaitu putusan sebagai persiapan putusan akhir, tanpa
mempengaruhi pokok perkara atau putusan akhir, misalnya putusan untuk
menggabungkan dua perkara atau menolak pengunduran pemeriksaan
saksi. Putusan ini dapat diajukan banding, namun harus bersamaan dengan
putusan akhir.
b. Putusan interlocutoir, yaitu putusan yang isinya memerintahkan
pemeriksaan pembuktian seperti pemeriksaan saksi atau pemeriksaan
setempat. Putusan ini dapat mempengaruhi putusan akhir. Oleh karena itu,
terhadap putusan ini dapat segera diajukan banding sebelum putusan akhir,
kecuali jika majelis hakim menetapkan lain.
c. Putusan incidentieel, yaitu putusan yang berhubungan dengan suatu
peristiwa yang menghentikan prosedur suatu peradilan biasa dan tidak
berhubungan dengan pokok perkara, misalnya putusan yang membolehkan
seseorang ikut serta dalam perkara (voeging, tussenkomst, atau vrijwaring)
atau kematian salah satu kuasa hukum para pihak.
d. Putusan provisionel, yaitu putusan yang menjawab tuntutan provisi untuk
dilakukan suatu tindakan pendahuluan guna kepentingan salah satu pihak
sebelum putusan akhir dijatuhkan, misalnya permohonan sita jaminan atau
penundaan pelaksanaan lelang.
2. Putusan Akhir (Eindvonnis)
Putusan akhir merupakan kesimpulan majelis hakim terhadap suatu
pemeriksaan perkara guna mengakhiri perkara tersebut. Pihak yang merasa
dirugikan dengan putusan akhir tersebut dapat mengajukan upaya hukum
sesuai dengan ketentuan yang berlaku.
Dilihat dari diktumnya, putusan akhir dapat dibedakan menjadi 3 sifat, yaitu:
a. Putusan comdemnatoir, yaitu putusan yang bersifat menghukum pihak
yang dikalahkan untuk memenuhi prestasi. Amar putusan comdemnatoir
berbunyi “menghukum”, misalnya menghukum untuk melakukan
pembayaran ganti rugi.
b. Putusan constitutif, yaitu putusan yang meniadakan atau menciptakan
suatu keadaan hukum. Amar putusan constitutif berbunyi “menyatakan”,
misalnya menyatakan perjanjian jual beli batal demi hukum.
c. Putusan declaratoir, yaitu putusan yang menyatakan suatu keadaan
sebagai suatu keadaan yang sah menurut hukum. Amar putusan
declaratoir berbunyi “menyatakan... sah menurut hukum”, misalnya
menyatakan pelaksanaan sita adalah sah menurut hukum.
Putusan akhir dapat dijatuhkan terhadap tergugat yang tidak hadir dalam
persidangan sekalipun sudah dipanggil secara patut. Putusan ini dikenal
dengan putusan verstek dan terhadap putusan ini dapat diajukan upaya hukum
perlawanan (verzet).
3. Putusan Serta Merta
Putusan akhir majelis hakim pengadilan tingkat pertama dapat dilaksanakan
terlebih dahulu meskipun pihak yang dikalahkan mengajukan upaya hukum.
Putusan ini dikenal dengan putusan serta-merta dan diatur dalam Pasal 180 (1)
H.I.R dan Pasal 191 (1) Rbg. Putusan serta merta dapat dijatuhkan oleh hakim,
apabila:
33
a. terdapat surat yang sah atau tulisan yang menurut aturan hukum diterima
sebagai alat bukti;
b. terdapat penghukuman sebelumnya dengan putusan yang telah mempunyai
kekuatan hukum tetap; atau
c. tuntutan terdahulu dalam perselisihan tentang hak milik dikabulkan.
Penangan perkara perlu memperhatikan Surat Edaran Mahkamah Agung
Nomor 4 Tahun 2001 tanggal 20 Agustus 2001 tentang Permasalahan Putusan
Serta-Merta (Uitvoerbaar Bij Voorraad) dan Provisionil yang menyebutkan
bahwa setiap akan melaksanakan putusan serta-merta harus disertai dengan
penetapan adanya pemberian jaminan yang nilainya sama dengan nilai
barang/objek eksekusi. Tanpa jaminan tersebut putusan serta merta tidak dapat
dilaksanakan. Pemberian jaminan ini dimaksudkan agar pihak lain tidak
dirugikan apabila ternyata dikemudian hari dijatuhkan putusan yang
membatalkan putusan pengadilan tingkat pertama.18
4. Susunan dan Isi Putusan
Dilihat dari bentuk putusan, setiap putusan pengadilan dalam perkara perdata
terdiri dari 4 bagian, yaitu :
4.1. Kepala putusan
Kepala putusan berbunyi “Demi Keadilan Berdasarkan Ketuhanan Yang
Maha Esa” yang merupakan syarat formil dari suatu putusan. Apabila
kepala putusan tidak dibubuhkan, maka putusan tersebut tidak memenuhi
syarat formil sehingga tidak dapat dijalankan (non executable).
4.2. Identitas para pihak yang berperkara
Dalam putusan pengadilan, identitas pihak-pihak yang berperkara harus
dicantumkan secara jelas, yaitu nama, alamat dan, apabila ada nama
kuasa hukum yang bersangkutan.
4.3. Pertimbangan
Pertimbangan (alasan-alasan) putusan majelis hakim terdiri dari dua
bagian, yaitu :
4.3.1. Pertimbangan tentang duduk perkara.
Pertimbangan ini memuat intisari dari gugatan dan jawaban serta
keterangan alat bukti baik dari penggugat ataupun tergugat.19
Seringkali gugatan penggugat dan jawaban tergugat dikutip
secara lengkap.
4.3.2. Pertimbangan tentang hukumnya.
Pertimbangan ini memuat pertimbangan hukum majelis hakim
terhadap dalil-dalil para pihak dihubungkan dengan alat bukti
yang ada untuk menarik kesimpulan tentang terbukti atau tidak
terbukti gugatan sebagai alasan untuk menjatuhkan putusan.
Pertimbangan tentang hukum ini menentukan nilai dari suatu
putusan. Penangan perkara perlu mempelajari dan memahaminya
guna menentukan sikap dalam mengajukan upaya hukum.
Pertimbangan putusan majelis hakim pada umumnya dimulai dengan kata
“Menimbang.....”.
18
Sebagai tindak lanjut dari Surat Edaran Mahkamah Agung Nomor 4 Tahun 2001 telah diterbitkan Surat
Edaran Direktur Jenderal Piutang dan Lelang Negara Nomor SE-10/PL/2004 tanggal 11 Mei 2004.
19
Pasal 184 ayat (1) HIR/Pasal 195 RBg.
34
4.4. Amar putusan
Amar (diktum) putusan merupakan jawaban terhadap petitum penggugat
dalam gugatan. Dalam amar putusan, hakim berdasarkan pertimbangan
hukum yang telah dibuat memberikan putusan :
a. menerima/mengabulkan gugatan berarti gugatan terbukti kebenarannya
di pengadilan, baik seluruh ataupun sebagian;
b. menolak gugatan berarti gugatan tidak dapat dibuktikan kebenarannya
di pengadilan baik seluruh ataupun sebagian;
c. menyatakan gugatan tidak dapat diterima atau niet onvankelijk
verklaard (NO) berarti gugatan tidak memenuhi syarat formal untuk
diajukan, seperti gugatan tidak berdasar hukum, gugatan kabur, objek
gugatan tidak jelas, subjek gugatan tidak lengkap; atau
d. menyatakan gugatan gugur dalam hal penggugat melakukan
pelanggaran terhadap hukum acara, misalnya penggugat tidak hadir
sejak persidangan pertama dan pada persidangan-persidangan
berikutnya berturut-turut sebanyak 3 (tiga) kali, meskipun telah
dipanggil dengan sah dan patut; penggugat tidak membayar biaya
administrasi gugatan.
Majelis hakim tidak boleh menjatuhkan putusan tentang sesuatu yang
tidak dituntut/diminta dalam petitum gugatan.20 Sebaliknya tidak
dilarang memberi putusan kurang dari tuntutan.
Amar putusan pada umumnya dimulai dengan kata “Mengadili....”.
5. Tindakan yang Dilakukan dalam Menghadapi Putusan
Untuk mengetahui apakah suatu putusan pengadilan negeri berdasarkan
hukum atau tidak, penangan perkara harus meneliti dan mempelajari bagian
pertimbangan hukum putusan, serta amar putusan. Apabila isi putusan
merugikan DJPLN/PUPN, maka penangan perkara harus melakukan upaya
hukum banding melalui kepaniteraan pengadilan negeri yang mengadili
perkara tersebut dengan memperhatikan tenggang waktu pengajuan banding
yang telah ditentukan.
Dalam hal DJPLN/PUPN berkedudukan sebagai penggugat dan gugatan yang
diajukan dinyatakan tidak dapat diterima (NO), penangan perkara perlu
meneliti dengan seksama pertimbangan hukum putusan untuk menentukan
sikap apakah perlu mengajukan banding atau mengajukan gugatan baru.
Apabila mengajukan gugatan baru, penangan perkara memperbaiki gugatan
dengan mengacu pada pertimbangan hukum hakim.
Dalam hal DJPLN/PUPN berkedudukan sebagai tergugat dan gugatan
penggugat dinyatakan tidak dapat diterima (NO), penangan perkara tidak perlu
melakukan upaya hukum. Apabila penggugat mengajukan kembali gugatannya
sebaiknya penangan perkara memperhatikan pertimbangan hukum hakim
dalam putusan perkara terdahulu sebagai bahan penyusunan jawaban.
Apabila penggugat tidak hadir pada hari sidang yang telah ditentukan tanpa
alasan yang sah berturut-turut sebanyak tiga kali, sebaiknya dalam
persidangan yang ketiga penangan perkara memohon kepada majelis hakim
agar perkara dimaksud digugurkan dengan alasan penggugat tidak memiliki
itikad baik dalam mengajukan gugatan.21
20
21
Pasal 178 (3) HIR/Pasal 189 (3) RBg.
Pasal 124 HIR/Pasal 148 RBg.
35
B. Putusan Pengadilan Tinggi
Putusan pengadilan tinggi merupakan putusan yang dikeluarkan oleh majelis
hakim pengadilan tinggi yang memuat pertimbangan hukum dan diktum atas
pokok perkara yang dimintakan banding.
Untuk mengetahui apakah suatu putusan pengadilan tinggi berdasarkan hukum
atau tidak, penangan perkara harus meneliti dan mempelajari pertimbangan
hukum putusan dan amar putusan. Apabila isi putusan merugikan DJPLN/PUPN,
penangan perkara mengajukan upaya hukum kasasi kepada Mahkamah Agung
melalui kepaniteraan pengadilan negeri yang mengadili perkara dengan
memperhatikan tenggang waktu kasasi.
Putusan pengadilan tinggi dapat berupa:
1. Memperkuat putusan pengadilan negeri.
2. Membatalkan putusan pengadilan negeri.
3. Menjatuhkan putusannya sendiri atau mengadili sendiri.
C. Putusan Pengadilan TUN
Pada pengadilan TUN dikenal jenis putusan seperti halnya pada pengadilan
negeri, yaitu putusan sela dan putusan akhir. Kedua jenis putusan tersebut dapat
dijelaskan sebagaimana tersebut di bawah ini.
1. Putusan Sela
Putusan sela bersifat dapat menunda pelaksanaan isi keputusan yang menjadi
objek sengketa TUN. Putusan ini dapat dikeluarkan oleh ketua pengadilan
TUN maupun oleh majelis hakim yang mengadili perkara. Dalam hal
penangan perkara menemukan adanya putusan sela, maka penangan perkara
harus mengajukan keberatan sekaligus meminta pembatalan putusan sela
tersebut, baik dalam jawaban, duplik maupun kesimpulan. Putusan sela tidak
dapat dilakukan banding tersendiri, melainkan hanya dilakukan bersama-sama
dengan putusan akhir. Putusan sela yang ditetapkan majelis hakim yang
memeriksa perkara tidak dibuat sebagai putusan tersendiri melainkan hanya
dicantumkan dalam berita acara sidang. Sedangkan putusan sela yang
dikeluarkan oleh ketua pengadilan TUN berbentuk penetapan dan
diberitahukan kepada para pihak melalui surat tercatat. Putusan sela yang
dikeluarkan oleh ketua pengadilan TUN dapat dibatalkan oleh majelis hakim
yang mengadili perkara.
2. Putusan Akhir
Putusan akhir merupakan kesimpulan majelis hakim terhadap suatu
pemeriksaan perkara guna mengakhiri perkara tersebut. Untuk mengetahui
suatu putusan berdasarkan hukum atau tidak, penangan perkara harus meneliti
dan mempelajari pertimbangan hukum dan amar putusan. Apabila putusan
merugikan DJPLN/PUPN atau tidak memenuhi persyaratan formal putusan
sebagaimana diatur dalam Pasal 108 dan Pasal 109 UU PTUN, maka
penangan perkara mengajukan upaya hukum banding melalui kepaniteraan
pengadilan TUN yang mengadili perkara.
36
Susunan dan isi putusan pengadilan TUN memuat kepala putusan, identitas
para pihak, pertimbangan dan alasan, serta amar putusan. Amar putusan dapat
berupa:22
a. Menolak gugatan.
b. Mengabulkan gugatan.
c. Menyatakan gugatan tidak dapat diterima.
d. Menyatakan gugatan gugur.
Dalam hal gugatan dikabulkan, putusan pengadilan dapat menetapkan
kewajiban yang harus dilakukan oleh Badan atau Pejabat TUN berupa:23
a. pencabutan keputusan TUN yang bersangkutan;
b. pencabutan keputusan TUN yang bersangkutan dan menerbitkan
keputusan TUN yang baru; atau
c. penerbitan keputusan TUN dalam hal Badan atau Pejabat TUN tidak
menerbitkan keputusan yang seharusnya diterbitkan.
Selambat-lambatnya tiga puluh hari setelah putusan pengadilan diucapkan,
putusan harus ditandatangani oleh hakim yang memutus dan panitera yang
turut bersidang. Apabila hakim anggota majelis berhalangan, maka putusan
ditandatangani oleh hakim ketua dengan menyatakan hakim anggota yang
bersangkutan berhalangan. Pihak yang berkepentingan dapat memperoleh dari
kepaniteraan salinan resmi putusan dengan terlebih dahulu membayar biaya
salinan.
3. Pelaksanaan Putusan Pengadilan TUN
Putusan pengadilan TUN yang dapat dilaksanakan hanya berupa putusan yang
telah mempunyai kekuatan hukum tetap.24 Pelaksanaan putusan pengadilan
diatur lebih lanjut sebagai berikut:25
a. Salinan putusan pengadilan yang telah mempunyai kekuatan hukum tetap
dikirimkan kepada para pihak dengan surat tercatat oleh panitera
pengadilan atas perintah ketua pengadilan tingkat pertama yang mengadili
perkara paling lama empat belas hari sejak putusan telah memperoleh
kekuatan hukum tetap.
b. Dalam hal empat bulan setelah putusan pengadilan yang telah mempunyai
kekuatan hukum tetap dikirimkan, tergugat tidak melaksanakan
kewajibannya sebagaimana dimaksud dalam Pasal 97 ayat (9) huruf a,
maka keputusan TUN yang disengketakan itu tidak mempunyai kekuatan
hukum lagi.
c. Dalam hal tergugat ditetapkan harus melaksanakan kewajiban
sebagaimana dimaksud dalam Pasal 97 ayat (9) huruf b dan huruf c, dan
kemudian setelah tiga bulan ternyata kewajiban tersebut tidak
dilaksanakannya, maka penggugat mengajukan permohonan kepada ketua
pengadilan agar pengadilan memerintahkan tergugat melaksanakan
putusan pengadilan tersebut.
22
Pasal 97 ayat (7) UU PTUN. Penjelasan mengenai amar putusan dapat dilihat pada pembahasan amar
putusan pengadilan negeri di atas.
23
Pasal 97 ayat (8) dan (9) UU PTUN.
24
Pasal 115 UU PTUN.
25
Pasal 116 UU PTUN.
37
d. Dalam hal tergugat tidak bersedia melaksanakan putusan pengadilan yang
telah memperoleh kekuatan hukum tetap, terhadap pejabat yang
bersangkutan dikenakan upaya paksa berupa pembayaran sejumlah uang
paksa dan atau sanksi administratif.
e. Pejabat yang tidak melaksanakan putusan pengadilan yang telah
berkekuatan hukum tetap diumumkan pada media massa cetak setempat
oleh panitera.
D. Putusan Pengadilan Tinggi TUN
Putusan pengadilan tinggi TUN merupakan putusan yang dikeluarkan oleh
majelis hakim pengadilan tinggi yang memuat pertimbangan hukum dan diktum
atas pokok perkara yang dimintakan banding.
Untuk mengetahui apakah suatu putusan pengadilan tinggi TUN berdasarkan
hukum atau tidak, penangan perkara harus meneliti dan mempelajari
pertimbangan hukum putusan dan amar putusan. Apabila isi putusan merugikan
DJPLN/PUPN, penangan perkara mengajukan upaya hukum kasasi kepada
Mahkamah Agung melalui kepaniteraan pengadilan negeri yang mengadili
perkara dengan memperhatikan tenggang waktu kasasi.
E. Putusan Mahkamah Agung
Putusan Mahkamah Agung merupakan putusan yang dikeluarkan oleh majelis
hakim Mahkamah Agung yang memuat pertimbangan hukum dan diktum atas
keberatan yang diajukan oleh pihak pemohon kasasi terhadap suatu putusan
pengadilan tingkat banding.
Putusan kasasi yang dikeluarkan oleh Mahkamah Agung merupakan putusan yang
berkekuatan hukum tetap sejak putusan tersebut disampaikan kepada para pihak.
Upaya hukum terhadap putusan Mahkamah Agung hanya dapat dilakukan melalui
upaya hukum luar biasa berupa peninjauan kembali. Namun, permohonan
peninjauan kembali tidak menunda pelaksanaan putusan (eksekusi).
38
BAB VI
UPAYA HUKUM
Upaya hukum adalah permohonan yang diajukan oleh salah satu pihak yang
berperkara kepada hakim atasan untuk memeriksa/meninjau kembali suatu putusan
hakim bawahan yang merugikan pihak pemohon. Undang-Undang memberikan hak
kepada para pihak yang berperkara untuk melakukan upaya hukum melawan putusan
hakim.
A. Perkara Perdata
Dalam hukum acara perdata dikenal dua macam upaya hukum, yaitu upaya hukum
biasa dan upaya hukum luar biasa. Upaya hukum biasa terdiri dari banding,
kasasi, dan verzet (perlawanan terhadap putusan verstek). Upaya hukum biasa
pada asasnya menangguhkan eksekusi atau isi putusan kecuali apabila putusan
tersebut dijatuhkan dengan ketentuan dapat dilaksanakan terlebih dahulu
(uitvoerbaar bij voorraad).26 Upaya hukum luar biasa terdiri dari derden verzet
dan peninjauan kembali. Pada asasnya upaya hukum luar biasa tidak
menangguhkan eksekusi atau isi putusan.
1. Banding
Banding merupakan pemeriksaan ulang yang dilakukan oleh pengadilan tinggi
terhadap suatu putusan pengadilan negeri. Permohonan banding diajukan oleh
pihak yang berperkara karena tidak puas terhadap putusan pengadilan negeri.
Pengajuan banding menyebabkan putusan hakim belum dapat dilaksanakan
karena belum mempunyai kekuatan hukum tetap (inkracht van gewijsde),
kecuali dalam putusan majelis hakim terdapat diktum yang menyatakan
putusan dapat dilaksanakan terlebih dahulu meskipun ada upaya hukum yang
diajukan (uitvoorbaar bij voorraad).
Dalam permohonan banding, pemohon banding maupun termohon banding
dapat mengajukan bukti baru atau keterangan lain, tetapi pemohon banding
(penggugat asal) tidak dapat lagi mengajukan gugatan/tuntutan baru.
Pengadilan tinggi memeriksa berkas perkara yang diajukan dan apabila
dipandang perlu dapat meminta para pihak hadir guna didengar langsung
keterangannya.
Pihak yang hendak mengajukan banding harus memperhatikan tenggang
waktu pengajuan permohonan, karena permohonan yang melewati tenggang
waktu sebagaimana ditentukan undang-undang akan ditolak oleh pengadilan
tingkat banding.
Tenggang waktu pengajuan banding ditentukan sebagai berikut:
a. Apabila pihak yang berperkara hadir pada saat putusan diucapkan, pihak
yang dikalahkan serta merta dapat mengajukan permohonan banding
setelah hakim membacakan putusan atau mengajukan permohonan
banding secara tertulis maupun lisan kepada pengadilan negeri yang
menjatuhkan putusan dalam tenggang waktu 14 hari setelah putusan
diucapkan.
26
Lihat Bab V huruf A angka 3.
39
b. Apabila pihak yang berperkara atau kuasanya tidak hadir pada waktu
putusan diucapkan, maka tenggang waktu pengajuan permohonan banding
dihitung 14 hari sejak pemberitahuan putusan diterima.
Contoh perhitungan tenggang waktu pengajuan permohonan banding dapat
diberikan sebagai berikut:
Putusan dibacakan pada hari Senin, tanggal 1 Maret 2004 dengan dihadiri
pihak yang berperkara. Setelah pembacaan putusan, pihak yang dikalahkan
langsung dapat mengajukan banding.
Putusan dibacakan pada hari Senin, tanggal 1 Maret 2004 dengan dihadiri
pihak yang berperkara. Pihak yang dikalahkan dapat mengajukan
permohonan banding secara tertulis ataupun lisan paling lambat pada hari
Senin tanggal 15 Maret 2004. Namun, apabila hari Senin, tanggal 15 Maret
2004 merupakan hari libur nasional, maka permohonan banding masih bisa
diajukan pada hari Selasa, tanggal 16 Maret 2004.
Putusan diberitahukan dan diterima pada hari Senin, tanggal 1 Maret 2004
oleh pihak yang tidak hadir pada waktu pembacaan putusan, maka
permohonan banding diajukan secara tertulis ataupun lisan paling lambat
pada hari Senin tanggal 15 Maret 2004. Namun, apabila hari Senin,
tanggal 15 Maret 2004 merupakan hari libur nasional, maka permohonan
banding masih bisa diajukan pada hari Selasa, tanggal 16 Maret 2004.
Apabila dalam contoh tersebut di atas terdapat hari libur yang jatuh
diantara tanggal 1 sampai dengan 14 Maret 2004 dan hari Senin tanggal 15
Maret 2004 merupakan hari kerja, maka permohonan banding harus
diajukan paling lambat pada hari Senin tanggal 15 Maret 2004.
Pemohon banding harus membayar biaya permohonan banding di
kepaniteraan pengadilan tingkat pertama. Permohonan banding yang diterima,
dicatat di kepaniteraan pengadilan negeri dalam daftar register banding dan
pembanding harus menandatangani akta banding.
1.1. Memori banding
Memori banding bukan merupakan syarat mutlak dalam permohonan
banding, namun lebih baik apabila permohonan banding disertai dengan
memori banding. Hal ini memudahkan majelis hakim pengadilan tinggi
untuk mengetahui alasan pengajuan permohonan banding tersebut.
Dalam memori banding harus dirumuskan dengan jelas alasanalasan/keberatan pembanding terhadap putusan pengadilan negeri yang
dianggap tidak tepat/salah. Penangan perkara hendaknya menyusun
memori banding dengan kalimat sederhana, pendek, dan berisi. Apabila
dianggap perlu, penangan perkara dapat memasukkan bukti-bukti
tambahan untuk memperkuat dalil-dalil dalam memori banding.
Dalam menyusun memori banding, penangan perkara haruslah
memperhatikan hal sebagai berikut:
a. Memori banding ditujukan kepada ketua pengadilan tinggi melalui
ketua pengadilan negeri yang memeriksa perkara.
b. Mencantumkan identitas pembanding (DJPLN/PUPN) dengan jelas,
yaitu nama, alamat, nomor dan tanggal surat kuasa.
c. Menyebutkan identitas terbanding dengan jelas, yaitu nama dan
alamat dan jika ada, nama dan alamat kuasa hukum termohon
banding.
40
d. Menyebutkan nomor perkara dan pengadilan negeri yang memutus
perkara.
e. Menyebutkan amar putusan pengadilan tingkat pertama.
f. Menyebutkan alasan-alasan pembanding memohon pemeriksaan
banding dengan mengajukan keberatan atas pertimbangan hukum
majelis hakim, seperti menyatakan bahwa majelis kurang tepat
menjatuhkan putusannya karena putusan tidak berdasarkan hukum,
tidak memperhatikan bukti yang diajukan, putusan melebihi dari yang
diminta (ultra petita).
g. Menyebutkan hal-hal yang dituntut, termasuk memohon agar
pengadilan tinggi membatalkan putusan pengadilan negeri dan
mengadili sendiri perkara dimaksud serta mengabulkan permohonan
pembanding.
h. Mengemukakan keterangan lain atau surat bukti yang lain, apabila
ada.
i. Memori banding dibuat rangkap sebanyak pihak yang berperkara
ditambah dua dan diserahkan kepada panitera pengadilan negeri.
Memori banding dapat disampaikan setelah pengajuan permohonan
banding, sepanjang berkas perkara belum dikirim oleh panitera
pengadilan negeri kepada pengadilan tinggi. Permohonan banding dapat
dicabut setiap waktu sebelum perkara diputus tanpa minta persetujuan
dari pihak lawan.
1.2. Kontra memori banding
Kontra memori banding merupakan jawaban yang menyanggah memori
banding. Pihak yang mengajukan kontra memori banding (terbanding)
boleh memasukkan bukti tambahan.
Dalam menyusun kontra memori banding, penangan perkara haruslah
memperhatikan hal sebagai berikut:
a. Kontra memori banding ditujukan kepada ketua pengadilan tinggi
melalui ketua pengadilan negeri yang memeriksa perkara.
b. Mencantumkan identitas terbanding (DJPLN/PUPN) dengan jelas,
yaitu nama, alamat, dan nomor/tanggal surat kuasa.
c. Mencantumkan identitas pembanding dengan jelas, yaitu nama,
alamat, dan jika ada, nama, alamat kuasa hukum, dan nomor/tanggal
surat kuasa.
d. Menyebutkan nomor perkara dan pengadilan negeri yang memutus
perkara.
e. Memohon agar majelis hakim menolak permohonan banding
pembanding.
f. Menjawab memori banding dengan menolak dalil-dalil pembanding
yang merugikan terbanding dan menguatkan dalil-dalil pembanding
yang menguntungkan terbanding serta menyatakan bahwa putusan
majelis hakim pengadilan negeri telah sesuai dengan ketentuan yang
berlaku.
g. Mengemukakan keterangan lain atau surat bukti yang lain, apabila
ada.
h. Kontra memori banding dibuat rangkap sebanyak pihak yang
berperkara ditambah dua dan diserahkan kepada panitera pengadilan
negeri.
41
Sebelum berkas perkara dikirim ke pengadilan tinggi, penangan perkara
sebaiknya menggunakan kesempatan yang diberikan oleh panitera pengadilan
negeri untuk mempelajari dan memeriksa berkas perkara (inzage). Dalam
kesempatan tersebut penangan perkara dapat memastikan apakah berkas telah
lengkap atau masih ada hal-hal yang dianggap perlu untuk ditambahkan guna
menguatkan dalil-dalil yang diajukan.
2. Kasasi
Kasasi merupakan pemeriksaan terhadap putusan judex factie yang diajukan
kepada Mahkamah Agung oleh pihak berperkara yang merasa dirugikan atas
putusan tersebut. Pengajuan permohonan kasasi menyebabkan putusan judex
factie belum dapat dilaksanakan karena belum mempunyai kekuatan hukum
tetap (inkracht van gewijsde). Dalam pemeriksaan kasasi, Mahkamah Agung
tidak lagi memeriksa peristiwa hukum (rechtsfeiten) dan juga tidak memeriksa
bukti baru yang belum diperiksa oleh judex factie (pengadilan negeri dan
pengadilan tinggi), tetapi yang diperiksa adalah tentang hukumnya. Oleh
karena itu, alasan pengajuan permohonan kasasi dilakukan terhadap hal
sebagai berikut:
a. pengadilan tidak berwenang atau melampaui batas wewenang;
b. pengadilan salah menerapkan atau melanggar hukum yang berlaku;
c. pengadilan lalai memenuhi syarat-syarat yang diwajibkan oleh peraturan
perundang-undangan yang mengancam kelalaian itu dengan batalnya
putusan yang bersangkutan.
d. pengadilan tidak memberikan pertimbangan yang cukup dalam putusannya
(onvoldoende gemotivierd)
Dalam hal penangan perkara mengajukan permohonan kasasi, maka perlu
diperhatikan tenggang waktu pengajuan kasasi, sebagai berikut:
a. Permohonan kasasi disampaikan secara lisan atau tertulis melalui panitera
pengadilan negeri yang memutus perkara yang bersangkutan dalam
tenggang waktu 14 hari setelah putusan/penetapan pengadilan dimaksud
diberitahukan kepada pemohon.
b. Apabila tenggang waktu permohonan kasasi telah lewat dan pihak
berperkara tidak mengajukan kasasi, maka pihak yang berperkara
dianggap telah menerima putusan.
Permohonan kasasi harus didaftarkan di pengadilan negeri yang memutus
perkara dan membayar biaya perkara. Panitera mencatat permohonan kasasi
dalam buku daftar dan pada hari itu juga membuat akta permohonan kasasi
yang dilampirkan pada berkas perkara.
Selambat-lambatnya dalam waktu 7 hari setelah permohonan kasasi terdaftar,
panitera memberitahukan secara tertulis permohonan tersebut kepada pihak
lawan.
Setelah menerima memori kasasi dan kontra memori kasasi, panitera
pengadilan tingkat pertama mengirimkan permohonan kasasi, memori kasasi,
kontra memori kasasi dan berkas perkara kepada Mahkamah Agung dalam
waktu selambat-lambatnya 30 hari.27
2.1. Memori kasasi
Memori kasasi merupakan suatu surat yang berisi alasan-alasan
pemohon kasasi mengajukan kasasi dan wajib disampaikan dalam
27
Vide Pasal 48 UU MA.
42
tenggang waktu 14 hari setelah permohonan kasasi dicatat dalam buku
register . Apabila memori kasasi tidak diajukan maka permohonan kasasi
ditolak, sehingga putusan pengadilan tinggi menjadi berkekuatan hukum
yang tetap (inkracht van gewijsde). Dalam menyusun memori kasasi,
penangan perkara haruslah memperhatikan hal sebagai berikut:
a. Permohonan memori kasasi ditujukan kepada ketua Mahkamah
Agung melalui ketua pengadilan negeri yang memeriksa perkara.
b. Mencantumkan identitas pemohon kasasi (DJPLN/PUPN) dengan
jelas, yaitu nama, alamat, dan nomor/tanggal surat kuasa.
c. Menyebutkan identitas termohon kasasi dengan jelas, yaitu nama,
alamat tempat tinggal, dan jika ada identitas kuasa termohon kasasi.
d. Menyebutkan nomor perkara dan pengadilan yang memutus perkara
baik pengadilan negeri maupun pengadilan tinggi.
e. Menyebutkan amar putusan judex factie (pengadilan tingkat pertama
dan banding).
f. Menyebutkan alasan-alasan permohonan kasasi dan keberatan
terhadap pertimbangan hukum putusan pengadilan tinggi yang
memeriksa dan memutus perkara, yaitu pengadilan tidak berwenang,
melampaui batas wewenang, salah menerapkan hukum, melanggar
hukum yang berlaku, lalai memenuhi syarat-syarat yang diwajibkan
oleh peraturan perundang-undangan yang mengancam kelalaian itu
dengan batalnya putusan yang bersangkutan, dan/atau tidak
memberikan pertimbangan yang cukup dalam putusannya
(onvoldoende gemotivierd).
g. Menyebutkan hal-hal yang dituntut, yaitu membatalkan putusan
tingkat banding oleh pengadilan tinggi, dan memohon Mahkamah
Agung memutuskan untuk menolak gugatan dalam perkara banding.
Dalam hal memori kasasi telah disusun, penangan perkara
menyampaikannya kepada panitera pengadilan tingkat pertama yang
memutus untuk disampaikan kepada pihak lawan dalam waktu selambatlambatnya 30 hari.
2.2. Kontra memori kasasi
Kontra memori kasasi merupakan jawaban atas memori kasasi. Kontra
memori kasasi sudah harus disampaikan kepada panitera pengadilan
negeri dalam tenggang waktu 14 hari sejak tanggal salinan memori kasasi
diterima. Apabila kontra memori kasasi diajukan lewat dari tenggang
waktu yang ditetapkan, maka kontra memori kasasi tidak
dipertimbangkan. Oleh karena itu, penangan perkara harus
memperhatikan tenggang waktu pengajuan kontra memori kasasi
tersebut.
Dalam menyusun kontra memori kasasi, penangan perkara harus
memperhatikan hal sebagai berikut:
a. Kontra memori kasasi ditujukan kepada ketua Mahkamah Agung
melalui ketua pengadilan negeri yang memeriksa perkara.
b. Mencantumkan identitas termohon kasasi (DJPLN/PUPN) dengan
jelas, yaitu nama, alamat, dan nomor/tanggal surat kuasa.
c. Menyebutkan identitas pemohon kasasi dengan jelas yaitu nama,
alamat tempat tinggal, dan jika ada identitas kuasa hukum pemohon
kasasi.
43
d. Menyebutkan nomor perkara dan pengadilan yang memutus perkara
baik pengadilan negeri maupun pengadilan tinggi.
e. Memohon agar majelis hakim menolak permohonan kasasi pemohon.
f. Merumuskan jawaban atas memori kasasi, dengan menolak alasan
pemohon kasasi dan menyebutkan bahwa putusan majelis hakim
pengadilan tinggi telah sesuai dengan ketentuan yang berlaku.
g. Menyebutkan bahwa alasan pemohon kasasi tidak berdasar.
h. Memohon agar Mahkamah Agung memeriksa dan mengadili serta
memutus permohonan kasasi tidak dapat diterima atau ditolak.
Sebelum berkas perkara dikirim ke Mahkamah Agung, penangan perkara
sebaiknya menggunakan kesempatan yang diberikan oleh panitera pengadilan
negeri untuk mempelajari dan memeriksa berkas perkara (inzage). Dalam
kesempatan tersebut penangan perkara dapat memastikan apakah berkas telah
lengkap untuk diajukan.
3. Perlawanan
Perlawanan (verzet) merupakan upaya hukum terhadap putusan yang
dijatuhkan tanpa kehadiran tergugat (verstek), meskipun tergugat telah
dipanggil secara patut.28 Pengajuan perlawanan harus memperhatikan
tenggang waktu sebagai berikut:
a. Apabila pemberitahuan putusan (verstek) diterima sendiri oleh tergugat,
perlawanan diajukan paling lambat dalam waktu 14 hari setelah
pemberitahuan.29
b. Apabila pemberitahuan putusan (verstek) tidak terjadi dan tidak diterima
sendiri oleh tergugat, perlawanan dapat diajukan sampai pada hari
kedelapan setelah ada teguran (aanmaning) oleh ketua pengadilan negeri
agar tergugat melaksanakan bunyi putusan.30
c. Apabila pada hari peneguran oleh ketua pengadilan negeri tergugat tidak
hadir, perlawanan dapat diajukan selambatnya dalam waktu delapan hari
setelah permulaan eksekusi.31
Perlawanan yang diajukan akan diproses sebagaimana memeriksa gugatan
biasa. Tergugat asal dalam perlawanan terhadap putusan verstek
berkedudukan sebagai pelawan, sebaliknya penggugat asal berkedudukan
sebagai terlawan. Pada asasnya upaya hukum perlawanan disediakan bagi
tergugat yang dikalahkan dalam putusan verstek, sedangkan bagi penggugat
yang dikalahkan dalam putusan verstek, tersedia upaya hukum banding.32
Apabila dalam acara perlawanan penggugat asal (terlawan) tidak pernah
datang sekalipun telah dipanggil secara sah dan patut, perkara akan diperiksa
dan diputus secara contradictoir, yaitu dengan membatalkan putusan verstek
semula dan mengadili serta menolak gugatan penggugat asal (terlawan).
Terhadap putusan ini penggugat asal (terlawan) dapat mengajukan banding.
Sedangkan apabila tergugat asal (pelawan) yang tidak pernah datang pada
sidang yang ditentukan, maka putusan verstek dijatuhkan untuk kedua kalinya.
Terhadap putusan verstek ini tergugat asal (pelawan) tidak dapat mengajukan
perlawanan lagi, tetapi dapat mengajukan permohonan banding.
28
Upaya hukum perlawanan juga digunakan oleh pihak ketiga yang hak miliknya disita (derden verzet).
Vide Pasal 129 ayat (1) HIR.
30
Vide Pasal 196 HIR.
31
Pasal 129 ayat (2) HIR.
32
Pasal 8 ayat (1) Undang-Undang Nomor 20 Tahun 1947/Pasal 200 RBg.
29
44
Putusan verstek tidak dapat dilaksanakan sebelum lewat waktu 14 hari setelah
pemberitahuan putusan kepada tergugat.33
4. Peninjauan Kembali
Peninjauan kembali diatur dalam Undang-Undang Nomor 4 Tahun 2004
tentang Kekuasaan Kehakiman dan Undang-Undang Nomor 14 Tahun 1985
tentang Mahkamah Agung sebagaimana diubah dengan Undang-Undang
Nomor 5 Tahun 2004 (selanjutnya disebut UU MA).
Permohonan peninjauan kembali terhadap putusan perkara perdata yang telah
memperoleh kekuatan hukum tetap hanya dapat diajukan berdasarkan alasan
sebagai berikut :
a. Apabila putusan didasarkan pada suatu kebohongan atau tipu muslihat
pihak lawan yang diketahui setelah perkaranya diputus, atau berdasar
bukti-bukti yang dinyatakan palsu.
b. Apabila setelah perkara diputus, ditemukan surat-surat bukti yang bersifat
menentukan yang pada waktu perkara diperiksa tidak dapat ditemukan.
c. Apabila telah dikabulkan sesuatu hal yang tidak dituntut atau lebih
daripada yang dituntut.
d. Apabila mengenai sesuatu bagian dari tuntutan belum diputus tanpa
dipertimbangkan sebabnya.
e. Apabila antara pihak-pihak yang sama mengenai suatu soal yang sama,
atas dasar yang sama oleh pengadilan yang sama atau sama tingkatnya
telah diberi putusan yang bertentangan satu sama lain.
f. Apabila dalam suatu putusan terdapat suatu kekhilafan hakim atau
kekeliruan yang nyata.
Permohonan peninjauan kembali yang diajukan berdasarkan alasan
sebagaimana tersebut di atas harus diajukan dalam tenggang waktu 180 hari
untuk:34
− huruf a, sejak diketahui kebohongan atau tipu muslihat atau sejak putusan
hakim pidana memperoleh kekuatan hukum tetap, dan telah diberitahukan
kepada para pihak yang berperkara;
− huruf b, sejak diketemukan surat-surat bukti, yang hari serta tanggal
diketemukannya harus dinyatakan di bawah sumpah dan disahkan oleh
pejabat yang berwenang;
− huruf c, d, dan f, sejak putusan memperoleh kekuatan hukum tetap dan
telah diberitahukan kepada para pihak yang beperkara;
− huruf e, sejak putusan yang terakhir dan bertentangan itu memperoleh
kekuatan hukum tetap dan telah diberitahukan kepada para pihak yang
berperkara.
Mahkamah Agung memutus permohonan peninjauan kembali pada tingkat
pertama dan terakhir.35
Panitera pengadilan negeri selambat-lambatnya dalam waktu 14 hari setelah
menerima permohonan peninjauan kembali berikut memori peninjauan
kembali menyampaikan pemberitahuan permohonan peninjauan kembali
berikut memori peninjauan kembali kepada termohon peninjauan kembali.
Setelah menerima salinan permohonan peninjauan kembali, termohon
33
Pasal 128 HIR/Pasal 152 ayat (1) RBg.
Pasal 69 UU MA.
35
Pasal 70 ayat (2) UU MA.
34
45
peninjauan kembali diberi tenggang waktu untuk mengajukan jawaban
(kontra memori peninjauan kembali). Tenggang waktu tersebut adalah 30 hari
setelah tanggal diterimanya salinan permohonan peninjauan kembali.36
Permohonan peninjauan kembali beserta berkas perkara dan biayanya dikirim
kepada Mahkamah Agung oleh panitera pengadilan negeri yang memutus
perkara selambat-lambatnya dalam jangka waktu 30 hari.
Dalam hal penangan perkara akan mengajukan permohonan peninjauan
kembali, alasan-alasan peninjauan kembali sebagaimana tersebut di atas harus
diperhatikan. Permohonan peninjauan kembali diajukan kepada Mahkamah
Agung melalui ketua pengadilan negeri yang memutus perkara dalam tingkat
pertama dengan membayar biaya perkara.37
4.1. Memori peninjauan kembali
Dalam penyusunan memori peninjauan kembali, penangan perkara
haruslah memperhatikan hal sebagai berikut:
a. Memori peninjauan kembali ditujukan kepada ketua Mahkamah
Agung melalui ketua pengadilan negeri yang memutus perkara.
b. Mencantumkan
identitas
pemohon
peninjauan
kembali
(DJPLN/PUPN) dengan jelas, yaitu nama, alamat, dan nomor/tanggal
surat kuasa.
c. Menyebutkan identitas termohon dengan jelas, yaitu nama, alamat
tempat tinggal termohon.
d. Menyebutkan nomor perkara dan pengadilan yang mengadili serta
memutus perkara.
e. Menyebutkan amar putusan pengadilan tingkat pertama, banding,
dan/atau kasasi.
f. Menyebutkan alasan-alasan permohonan pemeriksaan peninjauan
kembali secara jelas.
g. Menyebutkan hal-hal yang dituntut, termasuk memohon agar
Mahkamah Agung menerima dan mengabulkan permohonan
peninjauan kembali.
4.2. Kontra memori peninjauan kembali
Dalam penyusunan kontra memori peninjauan kembali, penangan
perkara haruslah memperhatikan hal sebagai berikut:
a. Kontra memori peninjauan kembali ditujukan kepada ketua
mahkamah agung melalui ketua pengadilan negeri yang memeriksa
perkara.
b. Mencantumkan
identitas
termohon
peninjauan
kembali
(DJPLN/PUPN) dengan jelas, yaitu nama, alamat, dan nomor/tanggal
surat kuasa.
c. Menyebutkan identitas pemohon peninjauan kembali dengan jelas,
yaitu nama, alamat tempat tinggal, dan jika ada identitas kuasa
hukum pemohon peninjauan kembali serta nomor/tanggal surat
kuasa.
d. Menyebutkan nomor perkara dan pengadilan yang memutus perkara,
yaitu pengadilan negeri, pengadilan tinggi, dan/atau Mahkamah
Agung.
36
37
Pasal 72 UU MA.
Pasal 70 ayat (1) UU MA.
46
e. Merumuskan dalil-dalil jawaban atas memori peninjauan kembali
secara jelas dengan menyebutkan bahwa permohonan peninjauan
kembali tidak cukup alasan atau dasarnya.
f. Memohon agar Mahkamah Agung tidak dapat menerima dan/atau
menolak permohonan peninjauan kembali.
B. Perkara TUN
Dalam hukum acara TUN dikenal dua macam upaya hukum, yaitu upaya hukum biasa
dan upaya hukum luar biasa. Upaya hukum biasa berupa banding dan kasasi,
sedangkan upaya hukum luar biasa berupa peninjauan kembali. Upaya hukum dalam
perkara TUN diatur dalam UU PTUN.
1. Banding
Banding merupakan pemeriksaan ulang yang dilakukan oleh pengadilan tinggi
TUN terhadap suatu putusan pengadilan TUN. Permohonan banding diajukan oleh
pihak yang berperkara karena tidak puas terhadap putusan pengadilan TUN.
Permohonan banding diajukan secara tertulis kepada pengadilan TUN yang
menjatuhkan putusan dalam tenggang waktu 14 hari menurut perhitungan tanggal
kalender setelah putusan pengadilan itu diberitahukan kepadanya secara sah.38
Penangan perkara yang hendak mengajukan banding harus memperhatikan
tenggang waktu pengajuan permohonan, karena permohonan yang melewati
tenggang waktu sebagaimana ditentukan Undang-Undang akan ditolak oleh
pengadilan tingkat banding.
Permohonan banding diajukan bersamaan dengan pembayaran uang muka biaya
perkara banding,39 dan dicatat oleh Panitera dalam daftar perkara. Panitera
memberitahukan hal tersebut kepada pihak terbanding.
Selambat-lambatnya 30 hari sesudah permohonan pemeriksaan banding dicatat,
panitera memberitahukan kepada kedua belah pihak bahwa mereka dapat melihat
berkas perkara di kantor pengadilan TUN dalam tenggang waktu 30 hari setelah
mereka menerima pemberitahuan tersebut. Dalam kesempatan tersebut penangan
perkara dapat memastikan apakah berkas telah lengkap atau masih ada hal-hal
yang dianggap perlu untuk ditambahkan guna menguatkan dalil-dalil yang
diajukan.
1.1. Memori banding
Sebagaimana halnya dalam hukum acara perdata, dalam hukum acara TUN
tidak ada keharusan untuk membuat memori banding. Perkara tetap diperiksa
meskipun memori banding tidak dimasukkan. Namun, untuk memudahkan
majelis hakim di pengadilan tinggi TUN mengetahui alasan-alasan
permohonan banding, lebih baik apabila permohonan banding disertai
dengan memori banding.
Memori banding harus memuat dengan jelas alasan-alasan pembanding
menganggap bahwa putusan pengadilan TUN tidak tepat/salah. Memori
banding disusun dengan kalimat sederhana, jelas, berisi, dan dapat pula
dimasukkan bukti-bukti tambahan untuk memperkuat dalil-dalil memori
banding. Memori banding dibuat rangkap sebanyak pihak yang berperkara
ditambah dua dan diserahkan kepada panitera pengadilan TUN.
38
39
Pasal 123 UU PTUN berikut penjelasannya.
Pasal 123 ayat (2) UU PTUN
47
Dalam penyusunan memori banding, penangan perkara harus memperhatikan
hal sebagai berikut:
a. Memori banding ditujukan kepada ketua pengadilan tinggi TUN melalui
ketua pengadilan TUN yang memeriksa perkara.
b. Mencantumkan identitas pembanding (DJPLN/PUPN) dengan jelas, yaitu
nama, alamat, jabatan, dan nomor/tanggal surat kuasa.
c. Menyebutkan identitas terbanding dengan jelas, yaitu nama,
kewarganegaraan, alamat, pekerjaan dan jika ada, nama, alamat kuasa
hukum terbanding serta nomor/tanggal surat kuasa.
d. Menyebutkan nomor perkara dan pengadilan TUN yang memeriksa
perkara.
e. Menyebutkan amar putusan pengadilan TUN.
f. Menyebutkan alasan-alasan permohonan pemeriksaan banding, seperti
putusan tidak berdasar hukum, tidak memperhatikan bukti-bukti, putusan
melebihi dari yang diminta (ultra petita).
g. Mengemukakan keterangan lain atau surat bukti yang lain, apabila ada.
h. Menyebutkan hal-hal yang dituntut, termasuk memohon agar pengadilan
tinggi TUN membatalkan putusan pengadilan TUN dan mengadili sendiri
perkara dimaksud serta mengabulkan permohonan pembanding.
1.2. Kontra memori banding
Penangan perkara yang menerima pemberitahuan permohonan banding yang
disertai memori banding harus menyusun kontra memori banding dengan
memperhatikan hal sebagai berikut:
a. Kontra memori banding ditujukan kepada ketua pengadilan tinggi TUN
melalui ketua pengadilan TUN yang memeriksa perkara.
b. Mencantumkan identitas terbanding (DJPLN/PUPN) dengan jelas, yaitu
nama, alamat, jabatan, dan nomor/tanggal surat kuasa.
c. Mencantumkan identitas pembanding dengan jelas, yaitu nama,
kewarganegaraan, alamat, pekerjaan dan jika ada, nama, alamat kuasa
hukum pembanding dan nomor/tanggal surat kuasa.
d. Menyebutkan nomor perkara dan pengadilan TUN yang memeriksa
perkara.
e. Merumuskan dalil-dalil jawaban terhadap memori banding dengan jelas
serta menolak alasan-alasan permohonan banding yang diajukan oleh
pembanding.
f. Mengemukakan keterangan lain atau surat bukti yang lain, apabila ada.
g. Menyebutkan hal-hal yang dituntut, yaitu agar pengadilan tinggi TUN
membatalkan putusan pengadilan TUN, mengadili sendiri perkara
dimaksud dan memutus bahwa permohonan banding tidak dapat diterima
atau ditolak.
h. Kontra memori banding serta surat keterangan dan bukti diserahkan
kepada panitera pengadilan TUN.
2. Kasasi
Acara pemeriksaan kasasi perkara TUN sama seperti pemeriksaan kasasi dalam
peradilan umum sebagaimana diatur dalam UU MA.40
Sesuai dengan ketentuan yang berlaku, permohonan kasasi harus sudah diajukan
dalam tenggang waktu 14 hari sesudah putusan/penetapan pengadilan tinggi TUN
40
Pasal 131 ayat (2) UU PTUN.
48
diberitahukan. Penangan perkara yang hendak mengajukan permohanan kasasi
harus memperhatikan ketentuan tersebut. Apabila lewat tenggang waktu
sebagaimana dimaksud di atas, permohonan kasasi tidak diajukan, maka para
pihak dianggap telah menerima putusan.
Pemohon kasasi harus mendaftarkan permohonan kasasinya di pengadilan TUN
yang memeriksa perkara dengan membayar biaya perkara. Panitera mencatat
permohonan kasasi dalam buku register perkara dan pada hari itu juga membuat
akta permohonan kasasi yang dilampirkan pada berkas perkara. Selambatlambatnya dalam waktu 7 hari setelah permohonan kasasi terdaftar, panitera
memberitahukan secara tertulis permohonan tersebut kepada termohon kasasi.
Setelah menerima memori kasasi dan kontra memori kasasi, panitera PTUN
mengirimkan permohonan kasasi, memori kasasi, kontra memori kasasi dan
berkas perkara kepada Mahkamah Agung dalam waktu selambat-lambatnya 30
hari.41
2.1. Memori kasasi
Memori kasasi merupakan suatu surat yang berisi alasan-alasan pemohon
kasasi mengajukan kasasi. Berbeda dengan pengajuan permohonan banding
yang tidak mengharuskan menyampaikan memori banding, dalam
pengajuan kasasi pemohon kasasi wajib menyampaikan memori kasasi
dalam tenggang waktu 14 hari setelah permohonan dimaksud dicatat dalam
buku daftar.
Dalam menyusun memori kasasi, penangan perkara harus memperhatikan
hal sebagai berikut:
a. Permohonan memori kasasi ditujukan kepada ketua Mahkamah Agung
melalui ketua pengadilan TUN yang memeriksa perkara.
b. Mencantumkan identitas pemohon kasasi (DJPLN/PUPN) dengan jelas,
yaitu nama, alamat, jabatan dan nomor/tanggal surat kuasa.
c. Menyebutkan identitas termohon kasasi dengan jelas yaitu nama, alamat
tempat tinggal, serta identitas kuasa termohon kasasi, dan jika ada,
nama, alamat kuasa hukum termohon kasasi dan nomor/tanggal surat
kuasa.
d. Menyebutkan nomor perkara, pengadilan TUN dan pengadilan tinggi
TUN yang memutus perkara.
e. Menyebutkan amar putusan pengadilan tingkat pertama dan banding.
f. Merumuskan alasan-alasan permohonan kasasi dan keberatan-keberatan
terhadap pertimbangan hukum putusan pengadilan tinggi TUN.
g. Menyebutkan hal-hal yang dituntut, yaitu memohon agar Mahkamah
Agung menerima permohonan kasasi dan membatalkan putusan
pengadilan tingkat banding.
2.2. Kontra memori kasasi
Kontra memori kasasi merupakan jawaban terhadap memori kasasi. Kontra
memori kasasi disampaikan kepada panitera pengadilan TUN dalam
tenggang waktu 14 hari sejak tanggal salinan memori kasasi diterima.
Dalam penyusunan kontra memori kasasi, penangan perkara harus
memperhatikan hal sebagai berikut:
a. Kontra memori kasasi ditujukan kepada ketua Mahkamah Agung
melalui ketua pengadilan TUN yang memeriksa perkara.
41
Pasal 48 UU MA.
49
3.
42
43
b. Mencantumkan identitas termohon kasasi (DJPLN/PUPN) dengan jelas,
yaitu nama, alamat, jabatan dan nomor/tanggal surat kuasa.
c. Menyebutkan identitas pemohon kasasi dengan jelas, yaitu nama, alamat
tempat tinggal, identitas kuasa hukum pemohon kasasi, jika ada.
d. Menyebutkan nomor perkara, pengadilan TUN, dan pengadilan tinggi
TUN yang memutus perkara.
e. Merumuskan jawaban atas memori kasasi, dengan menolak alasan
pemohon kasasi dan menyebutkan bahwa putusan majelis hakim
pengadilan tinggi telah sesuai dengan ketentuan yang berlaku.
f. Menyebutkan bahwa alasan pemohon kasasi tidak berdasar.
g. Memohon agar Mahkamah Agung memeriksa dan mengadili serta
memutus permohonan kasasi tidak dapat diterima atau ditolak.
Peninjauan Kembali
Acara pemeriksaan peninjauan kembali dalam perkara TUN dilaksanakan
menurut hukum acara peninjauan kembali yang tercantum dalam Pasal 66 s.d.
Pasal 75 UU MA.42
Alasan peninjauan kembali putusan perkara TUN sama seperti alasan
permohonan peninjauan kembali dalam perkara perdata.43
Permohonan peninjauan kembali diajukan kepada Mahkamah Agung melalui
ketua pengadilan TUN yang memutus perkara dengan membayar biaya perkara.
Mahkamah agung memutus permohonan peninjauan kembali pada tingkat
pertama dan terakhir.
Panitera pengadilan TUN selambat-lambatnya dalam waktu 14 hari setelah
permohonan peninjauan kembali diterima memberikan salinan permohonan
peninjauan kembali kepada termohon peninjauan kembali. Setelah menerima
salinan permohonan peninjauan kembali, termohon peninjauan kembali diberi
tenggang waktu untuk mengajukan kontra memori peninjauan kembali, yaitu
dalam tenggang waktu 30 hari setelah tanggal salinan permohonan peninjauan
kembali diterima.
3.1. Memori peninjauan kembali
Dalam menyusun memori peninjauan kembali, penangan perkara harus
memperhatikan hal sebagai berikut:
a. Memori peninjauan kembali ditujukan kepada ketua Mahkamah Agung
melalui panitera pengadilan TUN yang memutus perkara.
b. Mencantumkan identitas pemohon peninjauan kembali (DJPLN/PUPN)
dengan jelas, yaitu nama, alamat, jabatan dan nomor/tanggal surat
kuasa.
c. Menyebutkan identitas termohon peninjauan kembali dengan jelas, yaitu
nama, kewarganegaraan, alamat, pekerjaan dan nomor/tanggal surat
kuasa.
d. Menyebutkan nomor perkara dan pengadilan yang mengadili serta
memutus perkara.
e. Menyebutkan amar putusan pengadilan tingkat pertama, banding
dan/atau kasasi.
f. Merumuskan alasan-alasan permohonan pemeriksaan peninjauan
kembali.
Pasal 132 ayat (2) UU PTUN jo. Pasal 77 ayat (1) UU MA.
Lihat Bab VI huruf A angka 4.
50
g. Menyebutkan hal-hal yang dituntut, termasuk memohon agar
Mahkamah Agung menerima dan mengabulkan permohonan peninjauan
kembali.
h. Mengemukakan keterangan lain atau surat bukti yang lain, apabila ada.
3.2. Kontra memori peninjauan kembali
Dalam menyusun kontra memori peninjauan kembali, penangan perkara
harus memperhatikan hal sebagai berikut:
a. Kontra memori peninjauan kembali ditujukan kepada ketua Mahkamah
Agung melalui ketua pengadilan TUN yang memeriksa perkara.
b. Mencantumkan identitas termohon peninjauan kembali (DJPLN/PUPN)
dengan jelas, yaitu nama, alamat, jabatan dan nomor/tanggal surat
kuasa.
c. Menyebutkan identitas pemohon peninjauan kembali dengan jelas yaitu
nama, kewarganegaraan, alamat, pekerjaan dan jika ada identitas kuasa
hukum pemohon peninjauan kembali serta nomor/tanggal surat kuasa.
d. Menyebutkan nomor perkara dan pengadilan yang memutus perkara,
yaitu pengadilan TUN, pengadilan tinggi TUN dan/atau Mahkamah
Agung.
e. Merumuskan dalil-dalil jawaban atas memori peninjauan kembali secara
jelas dengan menyebutkan bahwa permohonan peninjauan kembali
tidak cukup alasan atau dasarnya.
f. Memohon agar Mahkamah Agung tidak dapat menerima dan/atau
menolak permohonan peninjauan kembali.
51
BAB VII
PETUNJUK MENGHADAPI PERKARA PIDANA
Dalam pelaksanaan tugas pengurusan piutang negara dan pelaksanaan lelang, tidak jarang
petugas atau pejabat DJPLN dilaporkan kepada pihak penyidik baik kepolisian ataupun
pihak kejaksaan. Laporan ini dapat terjadi karena pelapor tidak puas atas tindakan petugas
atau pejabat DJPLN dalam melaksanakan pengurusan piutang negara dan lelang. Atas
laporan tersebut, pihak kepolisian dan/atau pihak kejaksaan memanggil petugas atau
pejabat di lingkungan DJPLN untuk dimintai keterangannya, baik sebagai saksi, saksi ahli
atau tersangka.
Dalam hal petugas atau pejabat DJPLN dipanggil oleh penyidik (kepolisian/ kejaksaan)
baik sebagai saksi, saksi ahli, atau tersangka, maka sebelum memenuhi panggilan perlu
diperhatikan hal sebagai berikut:
1. meneliti dengan cermat surat panggilan yang diterimanya, yaitu:
a. hari, tanggal, dan jam menghadap;
b. tempat menghadap;
c. pejabat yang memanggil;
d. kapasitas petugas atau pejabat yang dipanggil (sebagai saksi, saksi ahli, atau
tersangka);
e. tindak pidana dan pasal yang dituduhkan;
f. tanggal surat panggilan.
2. mempelajari kasus yang berkaitan dengan panggilan penyidik;
3. berkoordinasi dengan Kanwil atau Kantor Pusat DJPLN.
A. Saksi
Saksi adalah seseorang yang dapat memberikan keterangan tentang suatu tindak
pidana yang dialami, dilihat dan didengar secara langsung.44 Dalam penyampaian
keterangan sebagai saksi, petugas atau pejabat yang dipanggil hanya memberikan
keterangan mengenai hal-hal dan keadaan-keadaan yang dialami, dilihat atau didengar
secara langsung dan tidak menyampaikan keterangan yang didapat dari orang lain
atau pendapat berdasarkan pengetahuan yang dimilikinya.
Petugas atau pejabat yang dipanggil sebagai saksi perlu mempersiapkan diri dengan
memperhatikan hal sebagai berikut:
1. Mempelajari permasalahan dan membuat resume atas kasus yang berkaitan.
2. Berkoordinasi dengan pejabat kanwil dan/atau kantor pusat.
3. Meminta kepada Kanwil dan/atau Kantor Pusat DJPLN untuk mendampingi yang
bersangkutan dalam pemberian keterangan dihadapan penyidik.
4. Memenuhi panggilan sesuai dengan tanggal dan waktu yang ditentukan dalam
surat panggilan. Apabila berhalangan, hendaknya menghubungi pejabat yang
memanggil dengan mengemukakan alasan yang tepat.
5. Memberikan keterangan hanya mengenai hal-hal dan keadaan-keadaan yang
dialami, dilihat atau didengar secara langsung.
6. Jawaban cukup singkat dan padat; kalau tidak tahu, cukup jawab “tidak tahu”.
44
Pasal 185 ayat (1) KUHAP. Alat bukti yang sah dalam hukum acara pidana adalah keterangan saksi,
keterangan ahli, surat, petunjuk, dan keterangan terdakwa (vide Pasal 184 ayat (1) KUHAP).
52
7. Membaca dan meneliti berita acara pemeriksaan serta membubuhkan paraf pada
setiap lembar berita acara pemeriksaan sebelum menandatanganinya.
8. Menyanggah isi berita acara pemeriksaan apabila tidak sesuai dengan keterangan
yang telah diberikan dan tidak membubuhkan paraf serta tidak menandatangani
berita acara.45
Pada dasarnya semua orang dapat menjadi saksi, kecuali:46
1. keluarga sedarah atau semenda dalam garis lurus ke atas atau ke bawah sampai
derajat ketiga dari terdakwa atau yang bersama-sama sebagai terdakwa;
2. saudara dari terdakwa atau yang bersama-sama dengan terdakwa, saudara ibu atau
saudara bapak, juga mereka yang mempunyai hubungan karena perkawinan, dan
anak-anak saudara terdakwa sampai derajat ketiga;
3. suami atau istri terdakwa meskipun sudah bercerai atau yang bersama sebagai
terdakwa.
Saksi diperiksa dengan tidak disumpah, kecuali apabila ada cukup alasan untuk
diduga bahwa ia tidak akan hadir dalam pemeriksaan di pengadilan.47
B. Saksi Ahli
Dalam KUHAP tidak dikenal istilah saksi ahli, melainkan keterangan ahli, yaitu apa
yang seorang ahli nyatakan di sidang pengadilan.48 Dalam KUHAP tidak dijelaskan
siapa yang disebut ahli dan apa itu keterangan ahli.
Definisi keterangan ahli terdapat dalam Pasal 343 Ned.Sv. yaitu, pendapat seorang
ahli yang berhubungan dengan ilmu pengetahuan yang telah dipelajarinya, tentang
sesuatu apa yang dimintai pertimbangannya. Seseorang dapat memberikan keterangan
sebagai ahli jika ia mempunyai pengetahuan, keahlian, pengalaman, latihan, atau
pendidikan khusus yang memadai untuk memenuhi syarat sebagai seorang ahli
tentang hal yang berkaitan dengan keterangannya.49
Permintaan terhadap petugas atau pejabat DJPLN untuk didengar keterangannya
sebagai ahli (saksi ahli) pada umumnya diajukan oleh penyidik kepada institusi
(Kantor Pusat DJPLN, Kanwil DJPLN, KP2LN atau Biro Hukum Departemen
Keuangan). Dalam hal dipanggil sebagai ahli (saksi ahli) oleh penyidik, petugas atau
pejabat DJPLN hendaknya memperhatikan hal sebagai berikut:
1. Mempelajari permasalahan.
2. Berkoordinasi dengan pejabat Kanwil dan/atau Kantor Pusat DJPLN.
3. Memenuhi panggilan sesuai dengan surat panggilan. Apabila berhalangan
hendaknya menghubungi pejabat yang memanggil dengan mengemukakan alasan
yang tepat.
4. Memberikan keterangan hanya sebatas hal-hal yang berkaitan dengan
pengetahuan, pendidikan, pengalaman, dan keahlian.
5. Jawaban cukup singkat dan padat; kalau tidak tahu, cukup jawab “tidak tahu”.
45
Saksi tidak dapat dipaksa untuk menandatangani berita acara pemeriksaan, apabila ia menolak isi berita
acara pemeriksaan. Penyidik cukup mencatat hal itu dalam berita acara dengan menyebutkan alasannya
(vide Pasal 118 ayat (2) KUHAP).
46
Pasal 168 KUHAP.
47
Pasal 116 ayat (1) KUHAP.
48
Pasal 184 ayat (1) huruf b jo. Pasal 186 KUHAP.
49
Prof. Dr. Andi Hamzah, S.H., 2004, Hukum Acara Pidana Indonesia, h.268-269.
53
C. Tersangka
Sejak pemeriksaan awal, tersangka berhak mendapat bantuan hukum dari penasehat
hukum selama dalam waktu dan pada setiap tingkat pemeriksaan.50 Selain itu
tersangka mempunyai hak-hak, antara lain sebagai berikut:51
1. Hak untuk segera diperiksa, diajukan ke pengadilan, dan diadili (Pasal 50
KUHAP).
2. Hak untuk mengetahui dengan jelas dalam bahasa yang dimengerti olehnya
tentang apa yang disangkakan (Pasal 51 huruf a KUHAP).
3. Hak untuk memberikan keterangan secara bebas kepada penyidik (Pasal 52
KUHAP).
4. Hak untuk mendapat juru bahasa (Pasal 53 ayat (1) KUHAP).
5. Hak untuk menghubungi dokter bagi tersangka yang ditahan (Pasal 58 KUHAP).
6. Hak untuk diberitahu kepada keluarga atau orang lain yang serumah dengan
tersangka yang ditahan untuk mendapat bantuan hukum atau jaminan bagi
penangguhan penahanan (Pasal 59 KUHAP).
7. Hak untuk berhubungan dengan keluarga untuk mendapat bantuan hukum atau
jaminan bagi penangguhan penahanan (Pasal 60 KUHAP).
8. Hak untuk dikunjungi sanak keluarga yang tidak ada hubungan dengan perkara
tersangka untuk kepentingan pekerjaan atau untuk kepentingan kekeluargaan
(Pasal 61 KUHAP).
9. Hak untuk berhubungan surat menyurat dengan penasihat hukum (Pasal 62
KUHAP).
10. Hak untuk menghubungi dan menerima kunjungan rohaniawan (Pasal 63
KUHAP).
11. Hak untuk mengajukan ganti rugi (Pasal 68 KUHAP).
Petugas atau pejabat DJPLN yang diminta keterangannya sebagai tersangka
hendaknya memperhatikan hal sebagai berikut:
1. Pelajari unsur-unsur tindak pidana dan pasal yang disangkakan.
2. Pelajari dan pahami ketentuan pengurusan piutang negara dan pelaksanaan lelang
yang berkaitan dengan tindak pidana yang disangkakan.
3. Pahami maksud pertanyaan yang diajukan sebelum menjawab.
4. Jawab pertanyaan secara singkat, padat, dan usahakan jawaban tidak
menimbulkan pertanyaan baru.
5. Kalau tidak tahu, cukup jawab “tidak tahu”.
50
51
Vide Pasal 54 KUHAP.
Vide Pasal 50 sampai Pasal 68 KUHAP.
54
BAB VIII
PENANGANAN PERKARA KEPAILITAN
A. Proses Kepailitan
Kepailitan melewati beberapa prosedur yang dimulai dari permohonan pailit sampai
dengan proses rehabilitasi. Secara garis besar proses kepailitan dapat digambarkan
sebagai berikut:
1. Permohonan Pailit.
2. Penundaan Kewajiban Pembayaran Utang (PKPU).
3. Perdamaian (akkord).
4. Pengesahan perdamaian oleh pengadilan (homologasi).
5. Putusan pailit tingkat pertama (mulai berlaku penangguhan eksekusi hak
jaminan/stay).
6. Putusan pailit telah berkekuatan hukum tetap (inkracht van gewijsde).
7. Tindakan verifikasi (pencocokkan piutang).
8. Pernyataan insolvensi (debitor dalam keadaan tidak mampu membayar).
9. Pemberesan (termasuk penyusunan daftar piutang dan pembagian).
10. Kepailitan berakhir.
11. Rehabilitasi.
B. Akibat Hukum Pernyataan Pailit
Putusan pailit oleh pengadilan niaga mengakibatkan debitor kehilangan hak untuk
menguasai dan mengurus kekayaan yang telah dimasukkan dalam harta kekayaan
pailit (boedel pailit) baik yang diperoleh sebelum maupun dalam masa pailit. Seluruh
harta kekayaan debitor pailit berada dalam penyitaan umum pengadilan.52
Untuk melindungi kepentingan debitor pailit maupun pihak ketiga yang berhubungan
hukum dengan debitor pailit, majelis hakim yang menjatuhkan putusan pailit
mengangkat kurator dalam putusannya.53 Kurator melaksanakan tugas pengurusan
dan atau pemberesan harta pailit, terhitung sejak tanggal putusan pernyataan pailit
ditetapkan, meskipun terhadap putusan tersebut diajukan kasasi atau peninjauan
kembali. Selain mengangkat kurator, majelis hakim juga mengangkat hakim
pengawas dari hakim pengadilan untuk mengawasi pengurusan dan pemberesan harta
pailit.54 Hakim pengawas tersebut bukan merupakan anggota hakim majelis yang
menangani perkara pailit yang bersangkutan.
52
Akibat hukum pernyataan pailit diatur dalam Bagian Kedua tentang Akibat Kepailitan pada Bab II (Pasal
21 – Pasal 64) Undang-Undang Nomor 37 Tahun 2004 tentang Kepailitan dan Penundaan Kewajiban
Pembayaran Utang (selanjutnya disebut Undang-Undang Kepailitan). Pasal 24 ayat (1) Undang-Undang
Kepailitan menentukan bahwa debitor demi hukum kehilangan haknya untuk menguasai dan mengurus
kekayaannya yang termasuk dalam harta pailit, sejak tanggal putusan pernyataan pailit diucapkan.
Segala hak dan kewajiban debitor diwakili kurator yang ditunjuk oleh hakim Pengadilan Niaga dalam
putusannya (Pasal 15 ayat (1) Undang-Undang Kepailitan), termasuk tuntutan mengenai hak atau
kewajiban yang menyangkut harta pailit harus diajukan oleh atau terhadap kurator (vide Pasal 26 ayat (1)
Undang-Undang Kepailitan).
53
Vide Pasal 15 ayat (1) Undang-Undang Kepailitan.
54
Vide Pasal 65 Undang-Undang Kepailitan.
55
C. Hal yang Diperhatikan dalam Penanganan Perkara Pailit
Dalam hal diketahui ada perkara kepailitan yang berkaitan dengan pengurusan
piutang negara, penangan perkara seyogyanya memperhatikan hal-hal sebagai
berikut:
1. Melakukan penelitian terhadap Berkas Kasus Piutang Negara (BKPN) yang
berkaitan dengan perkara pailit dengan maksud antara lain untuk mengetahui
jumlah piutang negara, tingkat pengurusan, dan barang jaminan.
2. Mengajukan permohonan SKU kepada Direktur Jenderal Piutang dan Lelang
Negara untuk dapat ikut dalam proses kepailitan, misalnya pendaftaran tagihan,
pencocokan piutang (verifikasi).
3. Melakukan koordinasi dengan penyerah piutang.
4. Menghubungi pengadilan niaga atau kurator dengan membawa surat tugas
(dalam hal SKU belum diperoleh), agar piutang negara dimasukkan dalam
pengurusan dan atau pemberesan harta pailit yang dilakukan oleh kurator.
5. Menghadiri rapat pencocokan piutang dengan membawa SKU yang sudah
didaftarkan di kepaniteraan.
6. Menghadiri rapat pencocokan piutang. Dalam rapat ini penangan perkara harus
dapat meyakinkan kurator dan hakim pengawas tentang adanya dan besarnya
piutang negara yang diurus dengan cara menyerahkan surat tagihan ataupun bukti
tertulis yang menyebutkan sifat dan jumlah tagihan disertai bukti-bukti
pendukung lainnya yang dianggap perlu.
7. Memperhatikan kedudukan penyerah piutang apakah sebagai kreditor separatis
atau konkuren.
8. Meyakinkan kurator dan/atau hakim pengawas bahwa piutang negara mempunyai
hak preference.
9. Memperhatikan masa stay atau penangguhan eksekusi hak jaminan. Masa stay
berakhir paling lama 90 hari setelah putusan pailit. Dengan berakhirnya masa
stay tindakan eksekusi barang jaminan yang diikat sempurna dapat dilakukan
dalam jangka waktu paling lambat dua bulan terhitung sejak dimulainya keadaan
insolvensi.55
10. Apabila jaminan kebendaan telah diikat secara sempurna dan DJPLN/PUPN akan
menggunakan hak sebagai kreditor separatis, penangan perkara tidak boleh ikut
dalam perhitungan suara untuk rencana perdamaian yang ditawarkan oleh debitor
pailit. Apabila penangan perkara ikut serta dalam perhitungan suara dimaksud,
maka kedudukan kreditor separatis berubah menjadi kreditor konkuren, bahkan
kedudukan sebagai kreditor konkuren tetap berlaku dalam hal perdamaian tidak
diterima.56
11. Mempelajari dan mempertimbangkan manfaat ikut serta dalam rencana PKPU
dan/atau perdamaian bagi pengurusan piutang negara.
12. Apabila jaminan tidak diikat secara sempurna atau tidak ada jaminan, maka
penangan perkara mengikuti proses perdamaian dengan mempelajari rencana
perdamaian yang diajukan terutama substansi/materi yang menguntungkan atau
merugikan pengurusan piutang negara.
55
56
Vide Pasal 56 jo Pasal 57 ayat (1) jo. Pasal 178 ayat (1) Undang-Undang Kepailitan.
Vide Pasal 149 Undang-Undang Kepailitan.
56
BAB IX
HAL-HAL LAIN YANG PERLU DIPERHATIKAN
DALAM PENANGANAN PERKARA
A. Petunjuk Menghadiri Sidang
-
-
Berpakaian rapi dan sopan. Bagi penangan perkara pria sebaiknya memakai baju
lengan panjang dan berdasi.
Datang sebelum persidangan dimulai.
Membawa surat kuasa khusus untuk menangani perkara tersebut.
Menghubungi panitera perkara di ruang panitera pengadilan yang bersangkutan
untuk melapor dan mencari tahu ruang sidang.
Pada saat sidang akan dimulai, para pihak dipanggil untuk memasuki ruang sidang
dan duduk di tempat yang telah disediakan (tempat duduk tergugat berbeda
dengan tempat duduk penggugat).
Pada saat majelis hakim memasuki ruang sidang, penangan perkara berdiri dan
duduk setelah hakim duduk.
Setelah sidang dibuka, ketua majelis hakim menanyakan pihak-pihak yang hadir
berikut SKU yang bersangkutan. Pada saat hal tersebut ditanyakan, penangan
perkara maju ke depan meja sidang dan menyerahkan SKU kepada ketua majelis
hakim.57
Penangan perkara yang memperoleh kuasa khusus berhak menangani perkara
sekalipun bukan seorang advokat.58
Dalam setiap persidangan, penangan perkara senantiasa mengenakan tanda
pengenal/identitas.
Dalam hal pihak lawan diwakili oleh kuasa hukum, penangan perkara memohon
kepada majelis hakim untuk memeriksa izin praktek kuasa hukum lawan (masa
berlaku).
Dalam setiap proses/tahap persidangan, penangan perkara membuat laporan
tertulis kepada kepala kantor.
B. Kiat Menghadapi Perkara
-
57
Jawaban merupakan kunci keberhasilan untuk memenangkan suatu perkara. Oleh
karena itu, jawaban harus disusun secara cermat, teliti, dan tepat dengan
mencantumkan bukti-bukti yang mendukung dalil-dalil bantahan yang diajukan.
Dalam hal belum memasukkan jawaban sedangkan persidangan sudah masuk
dalam tahap acara pembuktian, dapat dimintakan kepada hakim majelis pada saat
memasukkan bukti disertai dengan narasi/uraian jawaban (agar bukti yang
diajukan mempunyai arti).
Apabila jawaban belum (tidak) dimasukkan sedangkan persidangan sudah masuk
dalam acara pembuktian, penangan perkara memasukkan bukti tulisan disertai
Pada prinsipnya SKU harus diserahkan dalam persidangan. Namun, ada kalanya majelis hakim meminta
agar SKU didaftarkan pada pengadilan yang bersangkutan termasuk permohonan izin beracara untuk
perkara tersebut (insidentil).
58
Lihat Surat Edaran Direktur Jenderal Piutang dan Lelang Negara Nomor SE-02/PL/2005 tanggal 10
Januari 2005.
57
-
-
dengan narasi/uraian jawaban (agar bukti yang diajukan mempunyai arti).
Dalam hal pada saat menerima surat panggilan tidak dilampiri dengan surat
gugatan, penangan perkara datang menghadiri sidang sesuai dengan jadwal dalam
surat panggilan dan meminta agar sidang ditunda. Penangan perkara meminta
salinan gugatan kepada panitera.
Dalam persidangan apabila ada keterangan/penjelasan pihak lawan/saksi yang
menguatkan posisi, penangan perkara hendaknya memohon kepada ketua majelis
hakim agar keterangan atau penjelasan tersebut dicatat oleh panitera sidang.
Untuk mengetahui pihak yang berwenang mewakili suatu perusahaaan dalam
suatu gugatan, penangan perkara dapat memohon kepada majelis hakim agar
pihak yang bersangkutan menunjukkan AD/ART perusahaan.
Dalam hal majelis hakim tidak menawarkan perdamaian (mediasi), penangan
perkara dapat menggunakan hal tersebut sebagai alasan pembatalan putusan
pengadilan negeri pada saat melakukan upaya hukum banding dan/atau kasasi.59
Hal lain yang patut dan seharusnya dilakukan dalam menangani perkara gugatan.
C. Istilah Hukum
A de charge
Affidavit
A quo
Boedel
Casu quo (c.q.)
Conservatoir beslag
(sita jaminan)
Consignatie
Detournement de
pouvoir
Dismissal process
(dismissal procedure)
Duplik
Eksepsi
Ex aequo et bono
Executorial beslag
(sita eksekusi)
Ex nunc
Ex tunc
Ex officio
59
:
:
:
:
:
:
untuk meringankan, misalnya saksi a de charge.
keterangan di bawah sumpah.
bersangkutan (penunjukan pada perkara).
keseluruhan harta kekayaan dan tagihan debitor pailit.
dalam hal ini.
sita yang dimohonkan terhadap suatu barang tergugat
untuk dijadikan jaminan dalam rangka keputusan yang
berkaitan dengan pembayaran.
: penyimpanan/penitipan uang atau barang berharga pada
kepaniteraan pengadilan negeri yang memerlukan
pengesahan oleh hakim.
: penyalahgunaan wewenang.
: rapat permusyawaratan yang dipimpin oleh ketua
pengadilan TUN untuk
menentukan dapat tidaknya
gugatan disidangkan di pengadilan TUN sesuai dengan
persyaratan yang diatur dalam UU PTUN.
: bantahan/sanggahan atas replik tergugat.
: tangkisan yang tidak menyangkut pokok perkara.
: mohon putusan yang seadil-adilnya, biasanya dimuat
pada bagian akhir petitum (pokok tuntutan).
: sita yang dilakukan dalam rangka pelaksanaan putusan
yang telah mempunyai kekuatan hukum tetap.
: berlaku sejak saat ditetapkan.
: berlaku pada waktu yang akan ditentukan (berlaku surut
atau berlaku kemudian).
: karena jabatan, tidak berdasarkan surat penetapan atau
Hakim wajib mendamaikan para pihak yang bersengketa (vide Pasal 130 HIR/Pasal 154 RBg. Lihat juga
Peraturan Mahkamah Agung Nomor 02 Tahun 2003). Apabila hakim tidak menawarkan perdamaian, hal ini
berarti hakim keliru menerapkan hukum acara.
58
Exploit
:
Fiat executie
Fundamentum petendi
:
:
Gugatan ditolak
(TUN)
Gugatan gugur (TUN)
:
Gugatan tidak dapat
diterima (TUN)
Iedereen wordt geacht
de wette kennen
Insolvensi
Judex factie
Keputusan TUN
:
Kompetensi Absolut
Kompetensi Relatif
Konvensi
Marital beslag
Minuut
Nebis in idem
Niet Ontvankelijk
Verklaard (NO)
Lex posterior derogat
legi priori
Lex specialis derogat
legi generali
Lex superior derogat
legi inferiori
Penggugat Intervensi
Petitum
Positum
:
:
pengangkatan.
pemberitahuan oleh juru sita kepada yang bersangkutan
berupa keterangan mengenai apa yang harus dilakukan.
pernyataan setuju dengan pelaksanaan suatu putusan.
dasar gugatan dalam perkara perdata sebagai kebalikan
dari petitum (pokok perkara/tuntutan).
putusan yang diberikan oleh majelis hakim setelah
diperiksa ternyata gugatan yang diajukan tidak terbukti.
putusan yang diberikan oleh majelis hakim apabila
penggugat tidak hadir setelah dipanggil dengan patut.
putusan yang diberikan oleh majelis hakim apabila
eksepsi tergugat diterima oleh majelis.
setiap orang dianggap mengetahui hukum.
: Debitor pailit berada dalam keadaan tidak mampu bayar.
: pengadilan yang memeriksa fakta-fakta dan bukti-bukti.
: penetapan tertulis yang dikeluarkan oleh Badan atau
Pejabat TUN yang berisi tindakan hukum tata usaha
negara berdasarkan peraturan perundang-undangan yang
berlaku yang bersifat konkrit, individual dan final yang
menimbulkan akibat hukum bagi seseorang atau badan
hukum perdata.
: berkaitan dengan pembagian kekuasaan antara badanbadan peradilan. Kewenangan badan peradilan apakah
untuk memeriksa suatu perkara terjadi, seperti apakah
peradilan umum atau peradilan tun.
: berkaitan dengan kewenangan pengadilan sejenis mana
untuk memeriksa perkara, seperti apakah Pengadilan
Negeri Pekan Baru atau Pengadilan Negeri Rengat.
: gugatan.
: sita yang dimohonkan terhadap harta gono-gini dalam
perkara perceraian.
: asli, lembar pertama dari suatu akta atau dokumen.
: tidak boleh suatu perkara yang sama, yang sudah
diputus, diperiksa, dan diputus untuk kedua kalinya.
: gugatan tidak dapat diterima.
: undang-undang yang baru mendahulukan undang-undang
yang lama.
: hukum/peraturan yang khusus mendahului hukum/
peraturan yang bersifat umum.
: undang-undang yang lebih tinggi mengalahkan undangundang yang lebih rendah.
: masuknya pihak ketiga dalam perkara setelah
permohonannya disetujui oleh Majelis Hakim.
: hal-hal yang dituntut/diminta penggugat dalam
gugatannya, pokok perkara/tuntutan.
: dalil, objek dan alasan gugatan, fakta hukum dan dasar
hukum; bentuk jamaknya: posita.
59
Pokok gugatan (TUN)
Prodeo
Putusan akhir
Putusan sela
(Interlocutoir vonis)
Quad non
Rechtspraak
Rekonvensi
Replik
Revindicator beslag
Sengketa TUN
Tussenkomst
Unus testis nullus
testis
Uitvoerbaarheid bij
voorraad
Verstek
Verzet
Voeging
: fakta yang dijadikan dasar gugatan. Atas dasar fakta
tersebut penggugat mendalilkan adanya suatu hubungan
hukum tertentu dan oleh karenanya mengajukan
tuntutannya.
: permohonan tergugat/penggugat yang tidak mampu
membayar biaya perkara kepada Ketua Pengadilan
Negeri untuk berperkara secara cuma-cuma.
: suatu putusan yang memuat pertimbangan hukum dan
dictum atas pokok perkara yang disengketakan.
: suatu putusan yang bersifat sementara (bukan putusan
akhir) yang dikeluarkan oleh majelis hakim pada saat
persidangan sedang berjalan.
: seandainya pun itu benar. Maksudnya, tidak membantah
secara tegas, tetapi juga tidak mengakui secara pasti.
: peradilan
: gugat balik yang diajukan oleh tergugat.
: bantahan/sanggahan atas jawaban penggugat.
: sita yang diletakkan apabila Penggugat menggugat benda
bergerak yang berasal darinya dan benda itu masih utuh
(untuk mendapatkan hak kembali).
: sengketa yang timbul di bidang TUN antara orang atau
badan hukum perdata dengan Badan atau Pejabat TUN
baik di pusat maupun di daerah sebagai akibat
dikeluarkannya keputusan TUN termasuk sengketa
kepegawaian berdasarkan peraturan perundang-undangan
yang berlaku.
: permohonan masuknya pihak ketiga atas kemauan
sendiri untuk ikut serta dalam proses pemeriksaan di
persidangan guna mempertahankan dan membela hak
dan kepentingannya.
: satu saksi bukanlah saksi.
: putusan serta-merta, putusan hakim yang dapat
dijalankan segera dengan tidak mengindahkan
kemungkinan perlawanan, banding atau kasasi.
: putusan hakim dalam perkara perdata yang diputus
karena ketidakhadiran tergugat, walaupun sudah
dipanggil secara patut.
: upaya hukum terhadap putusan hakim atau penetapan
pengadilan yang diputuskan tanpa kehadiran tergugat.
: masuknya pihak ketiga dalam perkara untuk
menggabungkan diri dengan salah satu pihak
(tergugat/penggugat).
60
DAFTAR LAMPIRAN
hlm.
A. Contoh
1.
Surat Tugas Sebelum SKU Diterbitkan ……………………………………
63
2.
Surat Tugas Setelah SKU Terbit………………………………...…………
64
3.
Surat Kuasa Khusus TUN……………………………………..…………..
65
4.
Jawaban Gugatan……………………………………………..…………...
67
5.
Replik ………………………………………………………..……………
71
6.
Duplik…………………………………………………………….……….
75
7.
Akta Pembuktian Gugatan………………………………………..……….
78
8.
Kesimpulan ……………………………………………………..………...
81
9.
Memori Banding…………………………………………………..………
83
10. Kontra Memori Banding……………………………………..……………
89
11. Memori Kasasi………………………………………………..…………...
92
12. Kontra Memori Kasasi………………………………………..…………...
95
13. Memori Peninjauan Kembali……………………………………..……….
98
14. Kontra Memori Peninjauan Kembali……………………………..……….
106
B. Keputusan Menteri Keuangan dan Surat Edaran Direktur Jenderal Piutang dan
Lelang Negara
1.
Instruksi Menteri Keuangan Nomor 05/IMK.01/1978 tentang Penanganan
Perkara-Perkara Dimuka Pengadilan yang Menyangkut Departemen
Keuangan serta Instansi-instansi dan Badan-badan/Badan-badan Usaha
Negara yang Berada Dibawah Lingkungan Departemen Keuangan ............ 111
2.
Keputusan
Menteri
Keuangan
Republik
Indonesia
Nomor
139/KMK.08/2001 tentang Penunjukan Sekretaris Jenderal dan Direktur
Jenderal Piutang dan Lelang Negara Departemen Keuangan Untuk dan
Atas Nama Menteri Keuangan Menandatangani Surat Kuasa Khusus
Menteri Keuangan Guna Menghadap di Muka Peradilan Umum................ 113
61
3.
SE-27/PL/2003 tanggal 19 Desember 2003 tentang Penanganan Perkara
Tata Usaha Negara di Lingkungan Direktorat Jenderal Piutang dan Lelang
Negara/ Panitia Urusan Piutang Negara........................................................ 115
4.
SE-28/PL/2003 tanggal 19 Desember 2003 tentang Peningkatan Kualitas
Penanganan Perkara Pengurusan Piutang Negara dan Lelang ..................... 117
5.
SE-31/PL/2003 tanggal 19 Desember 2003 tentang Bantuan Hukum
Terhadap Pejabat/Pegawai yang Tersangkut Perkara Pidana dalam
119
Menjalankan Tugas.....................................................................................
6.
SE-08/PL/2004 tanggal 8 April 2004 tentang Penanganan Perkara Perdata
di Lingkungan Direktorat Jenderal Piutang dan Lelang Negara/ Panitia
Urusan Piutang Negara.................................................................................. 122
7.
SE-10/PL/2004 tanggal 11 Mei 2004 tentang Pelaksanaan Putusan Serta
Merta (Uitvoerbaar Bij Voorraad) dan Provisionil....................................... 124
8.
SE-11/PL/2004 tanggal 14 Mei 2004 tentang Pelaksanaan Mediasi di
Pengadilan .................................................................................................... 128
9.
SE-19/PL/2004 tanggal 27 September 2004 tentang Evaluasi Penanganan
Perkara Per Semester I Tahun 2004.............................................................. 136
10. SE-02/PL/2005 tanggal 10 Januari 2005 tentang Penanganan Perkara
Tidak Harus Berprofesi Sebagai Advokat..................................................... 138
C. Surat Keputusan Pembentukan Tim
Surat Keputusan Menteri Keuangan Nomor 152/KM.1/2004 tentang
Pembentukan Tim Penyususnan Buku Pedoman Penanganan Perkara ................ 139
62
LAMPIRAN A
Contoh Surat Tugas Sebelum SKU Diterbitkan
DEPARTEMEN KEUANGAN REPUBLIK INDONESIA
DIREKTORAT JENDERAL PIUTANG DAN LELANG NEGARA
KANTOR WILAYAH ........ .........
KANTOR PELAYANAN PENGURUSAN PIUTANG DAN LELANG NEGARA ........
Jalan ...................................
.......(kota/kode pos)..............
Telepon ...................
Faksimili ................
SURAT TUGAS
Nomor : ST- ....... /......./........
Kami yang bertanda tangan di bawah ini, dengan ini memberi tugas kepada:
1. Nama
: ............................................
NIP
: ............................................
Jabatan : ...........................................
2. Nama
: ............................................
NIP
: ............................................
Jabatan : ...........................................
untuk bersama-sama atau sendiri-sendiri menghadiri proses persidangan dalam perkara perdata
No. ........................................... di Pengadilan Negeri .............................. sebagaimana
dimaksud dalam Surat Kuasa Khusus Nomor : SKU-......./....../........ tanggal ...............................
Setelah pelaksanaan tugas tersebut selesai, Saudara diminta untuk menyampaikan
laporan tertulis kepada kami.
Kepada instansi yang bersangkutan, kami meminta bantuan seperlunya.
Dikeluarkan di: ........................
Pada tanggal : ........................
Kepala Kantor,
..........................
NIP ..................
Tembusan:
...........................
63
LAMPIRAN A
Contoh Surat Tugas Setelah SKU Terbit
DEPARTEMEN KEUANGAN REPUBLIK INDONESIA
DIREKTORAT JENDERAL PIUTANG DAN LELANG NEGARA
KANTOR WILAYAH ........ .........
KANTOR PELAYANAN PENGURUSAN PIUTANG DAN LELANG NEGARA ........
Jalan ...................................
.......(kota/kode pos)..............
Telepon ...................
Faksimili ................
SURAT TUGAS
Nomor : ST- ....... /......./........
Kami yang bertanda tangan di bawah ini, dengan ini memberi tugas kepada:
1. Nama
: ............................................
NIP
: ............................................
Jabatan : ...........................................
2. Nama
: ............................................
NIP
: ............................................
Jabatan : ...........................................
untuk bersama-sama atau sendiri-sendiri menghadiri proses persidangan dalam perkara perdata
No. ........................................... di Pengadilan Negeri .............................. sebagaimana
dimaksud dalam Surat Kuasa Khusus Nomor : SKU-......./....../........ tanggal ...............................
Setelah pelaksanaan tugas tersebut selesai, Saudara diminta untuk menyampaikan
laporan tertulis kepada kami.
Kepada instansi yang bersangkutan, kami meminta bantuan seperlunya.
Dikeluarkan di: ........................
Pada tanggal : ........................
Kepala Kantor,
..........................
NIP ..................
Tembusan:
...........................
64
LAMPIRAN A
Contoh Surat Kuasa Khusus TUN
KANTOR PELAYANAN PIUTANG DAN LELANG NEGARA ……………..
SURAT KUASA KHUSUS
Nomor : SKU/…… /……
Kepala Kantor Pelayanan Piutang dan Lelang Negara …………, dengan ini memberi
kuasa kepada :
1. ……(Nama Penerima Kuasa)……………….
2. ……(Nama Penerima Kuasa)……………….
3. ……(Nama Penerima Kuasa)……………….
untuk
bersama-sama atau sendiri-sendiri mewakili Kepala Kantor Pelayanan Pengurusan
Piutang dan Lelang ………… beralamat di Jalan …………………………………………. ,
serta bertindak untuk dan atas namanya,
Khusus
guna
menghadap
dimuka
persidangan
di
Pengadilan
Tata
Usaha
Negara
……………………….. dalam perkara Nomor ………………. mengenai ………………. yang
diajukan terhadapnya sebagai Tergugat …….. oleh :
……… (Nama Penggugat)……….
beralamat di ………………………… dalam hal ini diwakili oleh kuasa hukumnya
………………………………., Advokat dari Kantor Hukum ……………. yang berkantor di
Jalan ……………………….
Selanjutnya yang diberi kuasa dikuasakan untuk menghadap pada semua pengadilan, semua
hakim di Indonesia, mengikuti dismissal procedure, memajukan dan menjalankan perkaraperkara lainnya yang perlu untuk menyelesaikan perkara tersebut di atas, mengambil segala
tindakan yang dianggap baik, memberi keterangan-keterangan yang menurut hukum harus
diberikan oleh seseorang yang diberi kuasa, memajukan segala rekes, konklusi dan lain-lain
surat, bantahan, menandatangani akte perdamaian, memenuhi aanmaning, mengajukan banding
serta menyusun memori banding/kontra memori banding, mengajukan kasasi serta menyusun
memori kasasi/kontra memori kasasi, meminta agar supaya perkara diperiksa lagi dengan
mengajukan permohonan peninjauan kembali, meminta sesuatu pihak disumpah, dan
65
LAMPIRAN A
selebihnya berusaha segala-galanya yang dianggap penting dan berguna oleh seseorang yang
diberi kuasa.
Kuasa ini diberikan dengan hak menguasakan terus kepada orang lain lagi (substitusi).
Tempat,Tanggal-Bulan-Tahun
Penerima Kuasa :
1. …………………………
Pemberi Kuasa :
(Nama Penerima Kuasa)
2. …………………………
……(Jabatan Pemberi Kuasa) ….
(Nama Penerima Kuasa)
3. ………………………….
(Nama Penerima Kuasa)
…………………………………….
(Nama Pemberi Kuasa)
66
LAMPIRAN A
Contoh Jawaban Gugatan
PANITIA URUSAN PIUTANG NEGARA CABANG …………………..
JAWABAN TERGUGAT III
Dalam Perkara Nomor : ……………….…………
Pemerintah Republik Indonesia cq. Departemen Keuangan cq.
Panitia Urusan Piutang Negara Pusat cq. Panitia Urusan Piutang
Negara Cabang ………………., beralamat di Jalan…………
Nomor…….……………………………………………………..
sebagai………………………………..………TERGUGAT III
melawan
…………. berkedudukan di ………………………., dalam hal
ini diwakili oleh ……………. Pengacara/Advokat dan
Konsultan Hukum pada Kantor Pengacara ……………..……,
beralamat di Jalan……………………………….…..…..………
sebagai …………………………………...……PENGGUGAT.
…….(Tempat, Tgl/Bulan/Tahun)……..
Kepada Yth.
Majelis Hakim
Pengadilan Negeri ………………
di Jalan ……………………….
…………………………..
Dengan hormat,
Kami yang bertanda tangan di bawah ini, berdasarkan Surat Kuasa Khusus Ketua Panitia Urusan
Piutang Negara Pusat: SKU- …/PUPN/…. tanggal …………….., dengan ini menyampaikan Jawaban
dalam Perkara Perdata Nomor: …/Pdt.G/…./PN………
Adapun yang menjadi dasar dan alasan untuk mengajukan jawaban adalah sebagai berikut :
67
LAMPIRAN A
A. Dalam Eksepsi
1. Bahwa Tergugat III menolak seluruh dalil-dalil Penggugat dalam gugatan kecuali terhadap halhal yang dengan tegas diakuinya;
2. Eksepsi Kompetensi Relatif
-
Bahwa gugatan ini telah secara keliru diajukan Penggugat pada Pengadilan Negeri ……..
di …………………;
-
Bahwa tanah yang dijadikan sebagai objek gugatan adalah SHM Nomor …/…. atas nama
……………
yang
telah
diikat
dengan
Hipotik
dengan
Nomor
…
tanggal……………………….. terletak di………. Kabupaten …………………dan
merupakan wilayah hukum Pengadilan Negeri ………………
-
Bahwa gugatan yang menyangkut benda tidak bergerak harus diajukan di pengadilan
negeri tempat benda tersebut berada (vide Pasal Pasal 142 ayat (5) Rbg).
-
Bahwa dalam sertifikat Hipotik Nomor … tanggal …………. dengan syarat-syarat seperti
tertera dalam Akta Hipotik Nomor ……… tanggal………., jelas dinyatakan bahwa jika
kedua belah pihak bersengketa dalam perkara mengenai hak-hak tersebut, maka kedua
belah pihak memilih Pengadilan Negeri …………...di …………..…..
3. Eksepsi Kompetensi Absolut
-
Bahwa berdasarkan Undang-Undang Nomor 49 Prp. Tahun 1960, Tergugat III berwenang
melakukan Pengurusan Piutang Negara.
-
Bahwa sesuai dengan surat Nomor : ………………... tanggal ……….., Tergugat II telah
menyerahkan kepada Tergugat III pengurusan piutang negara yang berasal dari kredit
macet atas nama Penggugat.
-
Berdasarkan Yurisprundensi Mahkamah Agung Nomor 1205K/Sip 1971 yang menyatakan
bahwa terhadap perkara pengurusan piutang negara yang telah terlebih dahulu diperiksa
oleh PUPN/BUPLN dari pada Pengadilan Negeri, maka Pengadilan tidak berwenang
memeriksanya.
Maka berdasarkan hal tersebut di atas, sudah tepat kiranya jika Majelis Hakim berkenan
memutuskan :
Menyatakan Pengadilan Negeri ………. tidak berwenang untuk mengadili perkara ini dan
menghukum Penggugat untuk membayar biaya perkara ini.
Namun, apabila Majelis Hakim berpendapat lain maka perkenankan pula Tergugat III untuk
mengajukan eksepsi lain, yaitu :
68
LAMPIRAN A
4. Eksepsi Gugatan Kurang Pihak
-
Bahwa gugatan a quo masih kurang pihak karena tidak melibatkan Notaris/Pejabat
Pembuat Akta Tanah (PPAT) …..(nama)….sebagai pihak karena objek sengketa
merupakan jaminan hutang Penggugat kepada Tergugat I, sebagaimana tertuang dalam
Akta Hipotik Nomor…… tanggal…….. yang dibuat dihadapan Notaris
/PPAT……(nama)….. .
-
Bahwa Yurisprudensi Mahkamah Agung RI Nomor 216K/Sip/1974 tanggal 27 Maret 1975
jo. Nomor 1424K/Sip/1975 tanggal 6 Juni 1976 Jo 878K/Sip/1977 tanggal 19 Juni 1979
menyatakan, “bahwa tidak dapat diterimanya gugatan a quo adalah karena ada kesalahan
formil yaitu pihak yang seharusnya digugat tetapi belum digugat”.
-
Bahwa dengan tidak ditariknya notaris/PPAT ……..(nama)…. sebagai pihak dalam perkara
a quo, maka terdapat kesalahan formil dalam gugatan.
Berdasarkan hal tersebut di atas, maka sudah sepatutnya Majelis Hakim yang memeriksa dan
mengadili perkara a quo menyatakan gugatan tidak dapat diterima (niet onvankelijk verklraad).
B. Dalam Pokok Perkara
1. Bahwa terhadap hal-hal yang dikemukakan dalam eksepsi di atas, mohon dianggap termasuk
dalam pokok perkara ini dan Tergugat III menolak seluruh dalil Penggugat pada gugatannya,
kecuali terhadap hal-hal yang secara tegas diakuinya;
2. Bahwa Tergugat III adalah lembaga yang berwenang untuk melaksanakan tugas pengurusan
piutang negara berdasarkan Undang-Undang Nomor 49 Prp. 1960 dan peraturan
pelaksanaannya;
3. Bahwa Tergugat III telah menerima penyerahan pengurusan piutang negara atas nama
…………dari Tergugat I melalui suratnya Nomor ………. tanggal………… , dan dituangkan
dalam Surat Penerimaan Pengurusan Piutang Negara (SP3N) Nomor SP3N-…./PUPNC…./…
tanggal ………….. , sebagai tanda beralihnya secara hukum pengurusan piutang negara dari
Tergugat I kepada Tergugat III;
4. Bahwa berdasarkan penerimaan pengurusan piutang negara tersebut di atas, Penggugat telah
dipanggil secara patut untuk mempertanggungjawabkan penyelesaian hutangnya, yaitu :
- Surat Nomor: ……………………………… tanggal ……….;
- Surat Nomor: ………………………………. tanggal ……….;
5. Bahwa karena Penggugat tidak pernah datang menghadap guna merundingkan penyelesaian
hutangnya, walaupun telah dipanggil secara patut, maka Tergugat III melaksanakan penagihan
sekaligus dengan Surat Paksa Nomor: SP-…../PUPNC…./…. tanggal…………. Surat paksa ini
berkepala “Demi Keadilan Berdasarkan Ketuhanan Yang Maha Esa”. Oleh karena itu,
surat paksa tersebut mempunyai kekuatan sama seperti suatu putusan hakim yang telah
memperoleh kekuatan hukum tetap (inkracht van gewisjde).
6. Bahwa meskipun telah dilakukan penagihan sekaligus dengan Surat Paksa, kenyataannya
Penggugat tidak menunjukkan itikad baiknya untuk melunasi hutangnya kepada negara cq.
Tergugat I, sehingga untuk mengamankan keuangan negara, Tergugat III mengeluarkan
69
LAMPIRAN A
perintah penyitaan terhadap objek sengketa a quo sesuai dengan Surat Perintah Penyitaan
Nomor: SPS-…. /PUPN/…. tanggal …….. yang pelaksanaannya dilakukan oleh juru sita
sebagaimana tertuang dalam Berita Acara Penyitaan Nomor ……..tanggal ……..;
7. Bahwa Tergugat III menolak dalil Penggugat yang menyatakan penyitaan tidak sah tanpa
kehadiran Penggugat, karena dalil Penggugat tidak berdasar dan tidak ada ketentuan yang
mensyaratkan pelaksanaan penyitaan dihadiri oleh Penggugat, melainkan syarat utama adalah
pelaksanaan penyitaan tersebut disaksikan oleh dua orang saksi;
8. Bahwa pelaksanaan penyitaan atas objek sengketa a quo telah dilakukan sesuai dengan
ketentuan yang berlaku, karena disaksikan oleh dua orang saksi sebagaimana dituangkan dalam
Berita Acara Penyitaan Nomor …….. tanggal ………. . Dengan demikian, penyitaan yang
dilakukan oleh Tergugat III pada tanggal ………..… secara hukum sah dan berharga;
9. Bahwa meskipun telah diberi kesempatan, Penggugat tetap tidak mempunyai itikad baik untuk
menyelesaikan hutangnya, sehingga Tergugat III melaksanakan penjualan lelang terhadap objek
sengketa a quo berdasarkan Surat Perintah Penjualan Barang Sitaan (SPPBS) Nomor :
SPPBS………/PUPN………/…..;
10. Bahwa tindakan penjualan secara lelang objek sengketa berupa sebidang tanah SHM Nomor
……. berikut bangunan yang berdiri di atasnya, selain didasarkan atas kewenangan yang
diberikan Undang-Undang Nomor 49 Prp. Tahun 1960 dan peraturan pelaksanaannya, juga
didasarkan atas Sertifikat Hipotik Nomor ……… tanggal ………… yang memberikan hak
pertama kepada kreditor untuk menjual barang jaminan tersebut dengan kuasa mutlak yang
tidak dapat dicabut, baik secara di bawah tangan atau secara lelang (vide Akta Hipotik Nomor
……. tanggal ……… halaman ……. angka……..). Dengan demikian tindakan Tergugat III
merupakan perbuatan yang didasarkan atas hukum dan perundang-undangan yang berlaku.
Maka berdasarkan hal-hal tersebut di atas, Tergugat III mohon agar Majelis Hakim yang mulia
memeriksa, mengadili dan menjatuhkan putusan yang amar putusannya sebagai berikut:
Dalam Eksepsi:
1. Menerima eksepsi Tergugat III;
2. Menyatakan gugatan Penggugat tidak dapat diterima;
Dalam Pokok Perkara:
1. Menolak seluruh gugatan Penggugat;
2. Menghukum Penggugat untuk membayar biaya perkara yang timbul;
Apabila Majelis Hakim yang mulia berpendapat lain, mohon putusan yang seadil-adilnya (Ex Aequo Et
Bono).
Terima kasih.
Hormat Kuasa Hukum Tergugat III
1.
………………
2. …………………
70
LAMPIRAN A
Contoh Replik
DEPARTEMEN KEUANGAN REPUBLIK INDONESIA
DIREKTORAT JENDERAL PIUTANG DAN LELANG NEGARA
KANTOR WILAYAH ………………………..
KANTOR PELAYANAN PIUTANG DAN LELANG NEGARA ………….
REPLIK TERLAWAN
Dalam Perkara Nomor : ……………………………………..
Pemerintah Republik Indonesia cq. Menteri Keuangan
Republik Indonesia cq. Direktorat Jenderal Piutang dan
Lelang Negara cq. Kantor Wilayah …………………..cq.
Kantor Pelayanan Piutang dan Lelang Negara ………..
beralamat di Jalan ………………………... …………………
sebagai….……………………………………....PELAWAN
melawan
………………………berkedudukan di …………… , dalam
hal ini diwakili oleh ……………….. Pengacara/Advokat
dan Konsultan Hukum pada Kantor Pengacara ……,
beralamat di Jalan…………………………………………….
sebagai..……………………………...…….... TERLAWAN
…….(Tempat, Tgl/Bulan/Tahun)……..
Kepada Yth.
Majelis Hakim Perkara Nomor …………..
Pengadilan Negeri …………………
di Jalan ……………………………………..
…………………………
Dengan hormat,
Kami yang bertanda tangan di bawah ini, berdasarkan Surat Kuasa Khusus Menteri Keuangan
Republik Indonesia Nomor : SKU- …/MK…./…. tanggal ……… dengan ini menyampaikan
Replik
Pelawan
atas
jawaban
Terlawan
dalam
perkara
perdata
Nomor
…/Pdt.G/…./PN…………… di Pengadilan Negeri ………………, sebagai berikut :
71
LAMPIRAN A
A. Dalam Eksepsi :
1. Bahwa Pelawan menolak dengan tegas semua dalil-dalil yang diajukan oleh Terlawan
dalam eksepsinya;
2. Bahwa Pelawan menolak dalil Terlawan yang menyatakan tenggang waktu mengajukan
perlawanan telah lewat 14 hari, karena perlawanan dalam perkara Nomor …………….
telah diajukan sebelum tenggang waktu 14 Hari sejak pemberitahuan putusan, yaitu
pada tanggal ………;
3. Bahwa Terlawan harus bisa membedakan antara verzet terhadap penetapan eksekusi
pengadilan dengan derden verzet;
4. Bahwa dalil Terlawan butir 3 yang menyatakan bahwa perlawanan tidak dapat diajukan
oleh pihak perkara adalah sangat tidak berdasar hukum karena sesuai dengan Pasal 195
ayat (6), (7) HIR/ Pasal 206 ayat (6),(7)RBg yang menyatakan bahwa perlawanan
terhadap sita eksekutorial dapat diajukan oleh pihak tersita (dalam hal ini KP2LN
……….);
5. Bahwa Pelawan Menolak dalil Terlawan yang menyatakan perkara Nomor
……………….. "Nebis in idem", karena dalam perkara Nomor …………….. belum
pernah diperiksa pokok perkaranya sehingga tidak dapat dinyatakan nebis in idem;
6. Bahwa jawaban Terlawan jelas mengada-ada yang tidak berdasar hukum.
B. Dalam Pokok Perkara
1. Bahwa segala apa yang telah dikemukakan dalam eksepsi di atas, merupakan satu
kesatuan yang tidak dapat terpisahkan dengan pokok perkara ini;
2. Bahwa Pelawan tetap berpegang pada dalil-dalil perlawanannya semula dan menolak
dengan tegas semua dalil yang diajukan oleh Terlawan kecuali terhadap hal-hal yang
dengan tegas diakui oleh Terlawan;
3. Bahwa Pasal 131 Undang-Undang Perbendaharaan Indonesia (Indonesische
Comtabiliteitswet) ICW; S. 1864 No. 106 sebagaimana diubah terakhir dengan Undangundang Nomor 9 Tahun 1968) menyatakan bahwa barang-barang yang masih
diperuntukan bagi dinas-dinas Negara tidak boleh dipindahtangankan (vervreemd).
Berdasarkan ketentuan tersebut penyitaan seharusnya tidak dilakukan karena barang
bergerak yang disita merupakan kendaraan dinas yang dipergunakan oleh Pelawan
untuk kepentingan dinas;
4. Bahwa penyitaan yang dilakukan oleh Juru Sita Pengadilan Negeri …….. tersebut tidak
berdasar pada hukum dan ketentuan yang berlaku serta tidak mengindahkan syaratsyarat penyitaan sebagaimana diatur dalam undang-undang khususnya Undang-undang
Perbendaharaan Negara (ICW, S. 1864 No. 106 sebagaimana diubah terakhir dengan
Undang-undang Nomor 9 Tahun 1968).
5. Bahwa dalil Terlawan dalam angka 5 yang menyatakan tidak perlu izin dari Mahkamah
Agung dalam melakukan penyitaan terhadap barang milik negara adalah tidak benar,
72
LAMPIRAN A
karena berdasarkan Undang-Undang Perbendaharaan Indonesia (Indonesische
Comtabiliteitswet/ICW) Bagian X tentang Larangan Menyita Uang, dan Barang-barang
Milik Negara, Pasal 65 dan Pasal 66 dinyatakan bahwa penyitaan terhadap barang milik
negara harus mendapatkan izin terlebih dahulu dari Mahkamah Agung.
6. Bahwa sesuai dengan ketentuan sebagaimana dikemukakan dalam angka 5 di atas,
maka penyitaan yang dilakukan oleh Pengadilan Negeri …….. terhadap aset/barang
inventaris kantor milik Pelawan tidak memenuhi prosedur dan ketentuan yang berlaku
karena tidak mendapat izin dari Mahkamah Agung sehingga Pelawan berhak untuk
menolaknya;
7. Bahwa berdasarkan Pasal 211 RBg. yang mengatur tentang larangan penyitaan terhadap
peralatan/perkakas yang benar-benar dipergunakan untuk menjalankan mata
pencaharian (kegiatan), maka Pelawan tetap berpendirian bahwa penyitaan terhadap
kendaraan dinas tidak dapat dibenarkan karena kendaraan dinas merupakan
peralatan/perkakas yang masih dipergunakan untuk melaksanakan tugas/kegiatan
kantor dalam rangka penyelamatan keuangan negara. Hal ini diakui oleh Terlawan
dalam angka 5 jawabannya bahwa barang yang disita merupakan peralatan/perkakas
yang dipergunakan Pelawan untuk melaksanakan tugas dan kegiatan kantor;
8. Bahwa berdasarkan Pasal 66 ICW barang-barang hak kebendaan yang karena sifatnya
ataupun tujuannya harus dianggap barang bukan untuk diperdagangkan, oleh undangundang maupun peraturan umum dinyatakan tidak dapat disita. Oleh karena itu,
terhadap barang milik Pelawan tidak dapat dilakukan penyitaan karena barang tersebut
bukan merupakan barang untuk diperdagangkan, melainkan barang inventaris kantor
Pelawan yang dibeli dengan dana dari APBN;
9. Bahwa dalil Terlawan dalam angka 4 yang menyatakan bahwa Pelawan mempunyai
hutang kepada Terlawan adalah sangat tidak rasional dan memutarbalikkan fakta,
Pelawan tidak pernah mempunyai hutang kepada Terlawan, bahkan sebaliknya
Terlawanlah yang mempunyai hutang kepada Negara cq. PT Bank …………… dan hal
tersebut sudah diakui oleh Terlawan;
10. Bahwa Pasal 30 ICW menentukan bahwa barang-barang negara berupa apapun tidak
boleh diserahkan kepada mereka yang mempunyai tagihan terhadap negara, oleh karena
itu, penyitaan terhadap barang-barang milik negara tidak dapat dibenarkan;
11. Bahwa berdasarkan ketentuan-ketentuan yang telah diuraikan di atas maka penyitaan
yang dilakukan oleh Jurusita Pengadilan Negeri …… terhadap kendaraan dinas
Pelawan tidak sah menurut hukum karena dilaksanakan dengan tidak mengindahkan
syarat-syarat dan prosedur penyitaan sebagaimana diatur dalam undang-undang.
Maka : Berdasarkan uraian-uraian tersebut di atas, bersama ini Pelawan mohon kepada Majelis
Hakim agar sudilah kiranya memutus perkara ini sebagai berikut :
Dalam Eksepsi
1. Menolak Eksepsi Terlawan seluruhnya.
2. Menyatakan bahwa eksekusi perkara ini ditangguhkan sebelum ada putusan yang
73
LAMPIRAN A
mempunyai kekuatan hukum tetap atas perkara verzet.
Dalam Pokok Perkara
1. Menyatakan Pelawan adalah Pelawan yang benar;
2. Menyatakan bahwa penyitaan atas kendaraan dinas milik Pelawan adalah tidak sah dan
harus dinyatakan batal demi hukum.
3. Bahwa kendaraan dinas milik Pelawan harus dinyatakan tidak dapat disita (Non
executable).
4. Memerintahkan untuk mengangkat kembali sita eksekutorial tanggal 2 April 2001 atas
kendaraan dinas milik Pelawan.
5. Menghukum Terlawan untuk membayar biaya perkara.
6. Menyatakan keputusan ini dapat dilaksanakan terlebih dahulu (uitvoerbaar bij vooraad)
meskipun timbul verzet atau banding.
Apabila Majelis Hakim berpendapat lain, mohon putusan yang seadil-adilnya (ex aequo et
bono).
Terima kasih.
Hormat Kuasa Pelawan
(………………………..)
(……………………….)
74
LAMPIRAN A
Contoh Duplik
DEPARTEMEN KEUANGAN REPUBLIK INDONESIA
DIREKTORAT JENDERAL PIUTANG DAN LELANG NEGARA
KANTOR WILAYAH …………………..
KANTOR PELAYANAN PIUTANG DAN LELANG NEGARA ………….
DUPLIK TERGUGAT II
Dalam Perkara Nomor : ……………………………………..
Pemerintah Republik Indonesia cq. Menteri Keuangan
Republik Indonesia cq. Direktorat Jenderal Piutang dan
Lelang Negara cq. Kantor Wilayah …………………..cq.
Kantor Pelayanan Piutang dan Lelang Negara ………..
beralamat di Jalan ……….…………………………………
sebagai ......…………………………..…..TERGUGAT II
melawan
…………………………berkedudukan di…, dalam hal ini
diwakili oleh ……………….. …… Pengacara/Advokat
dan Konsultan Hukum pada Kantor Pengacara……,
beralamat di Jalan.……………………………………..…
sebagai……………………………..…….. PENGGUGAT
…….(Tempat, Tgl/Bulan/Tahun)……..
Kepada Yth.
Majelis Hakim Perkara Nomor …………..
Pengadilan Negeri …………………
di Jalan ……………………………………..
…………………………
Dengan hormat,
Kami yang bertanda tangan di bawah ini, berdasarkan Surat Kuasa Khusus Menteri Keuangan
Republik Indonesia Nomor : SKU- …/MK…./…. tanggal ……… dengan ini menyampaikan
Duplik atas Replik Penggugat dalam perkara Perdata Nomor …/Pdt.G/…./PN……………
pada Pengadilan Negeri ………………, sebagai berikut :
75
LAMPIRAN A
A. Dalam Eksepsi
1. Bahwa Tergugat II tetap pada eksepsi semula sebaimana dikemukakan dalam jawaban
dan menolak dengan tegas dalil yang diajukan Penggugat dalam replik;
2. ………. ( tambahan dalil tergantung pada replik penggugat dalam eksepsi) ……… .
B. Dalam Pokok Perkara
1. Bahwa terhadap hal-hal yang dikemukakan dalam eksepsi di atas, mohon dianggap
termasuk dalam pokok perkara;
2. Bahwa Tergugat II tetap dengan tegas berpegang pada dalil-dalil semula sebagaimana
telah dikemukakan dalam jawaban, dan menolak seluruh dalil-dalil Penggugat dalam
Replik kecuali terhadap hal-hal yang dengan tegas diakuinya;
3. Bahwa Tergugat II menolak dengan tegas replik Penggugat pada angka … dan angka
… dan menegaskan kembali jawaban Tergugat II pada angka … yang menyatakan
bahwa Tergugat II telah memanggil Penggugat secara patut dengan:
- Surat Nomor: …../….../KP…/…. tanggal……………..;
- Surat Nomor: …../….../KP…/…. tanggal……………..;
4. Bahwa setelah Penggugat dipanggil secara patut dengan Surat Panggilan sebagaimana
dikemukakan pada angka 2 di atas, Penggugat tidak menunjukkan itikad baik untuk
menyelesaikan kewajibannya. Oleh karena itu, Tergugat II melanjutkan proses
pengurusan piutang negara dengan menerbitkan:
5. Surat Paksa Nomor: SP-…/PUPN……./… tanggal ……….… yang disampaikan pada
tanggal ………. sesuai dengan Berita Acara Pemberitahuan Surat Paksa tanggal ……..
6. Surat Perintah Penyitaan Nomor: SPS-…/PUPN…./… tanggal ……… yang
dilaksanakan pada tanggal ………. sesuai dengan Berita Acara Penyitaan
No…………..…. tanggal …….……
7. Surat Perintah Penjualan Barang Sitaan Nomor: SPPBS-.… /PUPN….../….
tanggal…………...
8. Bahwa rencana pelaksanaan lelang barang sitaan berdasarkan Surat Perintah Penjualan
Barang Sitaan telah diberitahukan oleh Tergugat II kepada Penggugat melalui Surat
Pemberitahuan Rencana Penjualan Barang Sitaan Nomor: S-…../ ………./KP …./….
tanggal………………. dan diumumkan pada Harian …. terbitan tanggal ……. .
Dengan demikian, tidaklah benar Penggugat tidak mengetahui rencana pelaksanaan
lelang barang jaminan hutang Penggugat;
76
LAMPIRAN A
9. Bahwa dalil Penggugat yang menyatakan bahwa penyitaan dan penjualan secara lelang
yang dilakukan oleh Tergugat II tidak memenuhi prosedur hukum maupun peraturan
perundang-undangan yang berlaku adalah keliru dan tidak benar. Oleh karena itu, dalil
tersebut harus dikesampingkan;
10. Bahwa berdasarkan apa yang dikemukan di atas, jelas bahwa pelaksanaan penyitaan
dan penjualan lelang barang jaminan hutang Penggugat yang dilakukan oleh Tergugat
II telah sesuai dengan prosedur hukum dan peraturan perundang-undangan yang
berlaku.
Maka berdasarkan hal-hal tersebut di atas, Tergugat II mohon agar Majelis Hakim yang mulia
memeriksa, mengadili dan menjatuhkan putusan yang amar putusannya sebagai berikut:
Dalam Eksepsi:
1. Menerima eksepsi Tergugat II;
2. Menyatakan gugatan Penggugat tidak dapat diterima;
Dalam Pokok Perkara:
1. Menolak seluruh gugatan Penggugat;
2. Menghukum Penggugat untuk membayar biaya perkara yang timbul;
Apabila Majelis Hakim yang mulia berpendapat lain, mohon putusan yang seadil-adilnya (ex
aequo et bono).
Terima kasih.
Hormat kami
Kuasa Hukum Tergugat II
(………………………………)
(…………………………………)
77
LAMPIRAN A
Contoh Akta Pembuktian Gugatan
DEPARTEMEN KEUANGAN REPUBLIK INDONESIA
DIREKTORAT JENDERAL PIUTANG DAN LELANG NEGARA
KANTOR WILAYAH …………………
KANTOR PELAYANAN PIUTANG DAN LELANG NEGARA ………………
AKTA PEMBUKTIAN TERLAWAN II
Dalam Perkara Nomor : ………………………
Pemerintah Republik Keuangan cq. Departemen Keuangan
Republik Indonesia cq. Kantor Wilayah …….. cq. Kantor
Pelayanan Piutang dan Lelang Negara…………., beralamat
di
Jalan
…….Nomor……………………………………………,
sebagai…….………………………….……TERLAWAN II
melawan
…………. berkedudukan di ……….., dalam hal ini diwakili
oleh …………. Pengacara/Advokat dan Konsultan Hukum
pada
Kantor
Pengacara…………………...……………,
beralamat di Jl. .………………………………………….,
sebagai ………………………………………….PELAWAN.
…….(Tempat,Tgl/Bulan/Tahun)……..
Kepada Yth.
Majelis Hakim
Pengadilan Negeri ………………
Dalam Perkara Nomor…………..
di Jalan …………………………..
…………………………………….
Dengan hormat,
Kami yang bertanda tangan di bawah ini, berdasarkan Surat Kuasa Khusus Menteri Keuangan
Republik Indonesia Nomor : SKU- …/MK…./…. tanggal ……………., dengan ini
perkenankan kami menyampaikan bukti-bukti sebagai berikut :
78
LAMPIRAN A
No.
Urut
1
Jenis Alat Bukti
Kode
Keterangan
Surat Penyerahan dari Penyerah
Piutang No……. tanggal ……..
T.II.1
2
SP3N No……..
T.II.2
3
Surat Nomor: ……….. /……..
Surat sebagai bukti telah terjadi
penyerahan pengurusan piutang
negara.
Surat Ketua Panitia Urusan Piutang
Negara Cabang yang menerima
pengurusan piutang negara, berarti
secara yuridis pengurusan piutang
negara telah beralih kepada PUPN.
Surat panggilan Terlawan II kepada
Pelawan yang membuktikan bahwa
Terlawan II telah memanggil
Pelawan secara patut untuk
menyelesaikan hutangnya.
Surat yang dikeluarkan oleh Ketua
PUPN Cabang yang berirah-irah
Demi Keadilan Berdasarkan
Ketuhanan Yang Maha Esa yang
memerintahkan
Pelawan untuk
membayar hutangnya dalam waktu
1 x 24 jam
Berita Acara Terlawan II yang
memuat pemberitahuan/penyampaian surat paksa kepada Pelawan
Surat yang diterbitkan oleh Ketua
PUPN Cabang .. untuk menyita
barang jaminan hutang pelawan
karena tidak memenuhi Surat Paksa
No: SP-../PUPNC/…./
Berita Acara yang menyebutkan
bahwa telah dilakukan penyitaan
atas barang jaminan hutang.
Sertifikat
Hak
Milik
yang
merupakan
jaminan
hutang
pelawan
Sertifikat
pengikatan
barang
jaminan a quo.
T.II.3A
….. tanggal ……….;
4
Surat Nomor: ……….. /……..
….. tanggal ……….;
Surat Paksa Nomor: SP….../PUPNC/…/……..
T.II.3B
7
Berita Acara Pemberitahuan
Surat Paksa tgl…………….
T.II.5
8
Surat
Perintah
Penyitaan
Nomor: SPP-……/PUPNC/../..
T.II.6
9
Berita Acara Penyitaan Nomor
BA-…./PUPC…./….
Tanggal……………..,
Sertifikat Hak Milik Nomor
……/ …… tanggal ….. atas
nama.… seluas ……………
Sertifikat Hak Tanggungan
Nomor ……. tanggal ……
T.II.7
6
10
11
T.II.4
T.II.8
T.II.9
79
LAMPIRAN A
Demikian bukti-bukti ini kami sampaikan sebagai bahan untuk melengkapi dalil-dalil yang
dapat dipergunakan sebagai bahan pertimbangan Majelis Hakim yang memeriksa dan
mengadili perkara ini agar dapat memberikan putusan yang adil bagi terwujudnya supremasi
hukum.
Hormat Kuasa Hukum Terlawan II
1……………………………..
(
)
2……………………………
(
)
80
LAMPIRAN A
Contoh Kesimpulan
DEPARTEMEN KEUANGAN REPUBLIK INDONESIA
DIREKTORAT JENDERAL PIUTANG DAN LELANG NEGARA
KANTOR WILAYAH ……………………
KANTOR PELAYANAN PIUTANG DAN LELANG NEGARA ………….
KESIMPULAN TERGUGAT IV
Dalam Perkara Nomor : ……………………………………..
Pemerintah Republik Indonesia cq. Menteri Keuangan
Republik Indonesia cq. Direktorat Jenderal Piutang dan
Lelang Negara cq. Kantor Wilayah …………………..cq.
Kantor Pelayanan Piutang dan Lelang Negara ………..
beralamat di Jalan ……….…………………………………
sebagai ......…………………………..….TERGUGAT IV
melawan
…………………………berkedudukan di…, dalam hal ini
diwakili oleh ……………….. …… Pengacara/Advokat
dan Konsultan Hukum pada Kantor Pengacara……,
beralamat di Jalan.……………………………………..…
sebagai……………………………..…….. PENGGUGAT
Kepada Yth.
Majelis Hakim Perkara Nomor …………..
Pengadilan Negeri …………………
di Jalan ……………………………………..
…………………………
Dengan hormat,
Kami yang bertanda tangan di bawah ini, berdasarkan Surat Kuasa Khusus Menteri Keuangan
Republik Indonesia Nomor : SKU- …/MK…./…. tanggal ……… dengan ini menyampaikan
Kesimpulan Penggugat IV dalam perkara Perdata Nomor …/Pdt.G/…./PN…………… pada
Pengadilan Negeri ………………, sebagai berikut :
81
LAMPIRAN A
A. Dalam Eksepsi
Bahwa Tergugat IV tetap pada eksepsi semula sebagaimana dikemukakan dalam jawaban
dan duplik serta menolak dengan tegas dalil yang diajukan Penggugat dalam gugatan dan
replik;
B. Dalam Pokok Perkara
1. Bahwa dengan tegas Tergugat IV tetap pada jawaban dan duplik terdahulu, yang telah
didukung oleh bukti-bukti otentik.
2. Bahwa Tergugat IV menolak dengan tegas seluruh dalil Penggugat dan bukti-bukti
yang diajukan, kecuali terhadap hal-hal yang diakui Tergugat IV secara tegas
kebenarannya.
3. Bahwa dari bukti-bukti yang diajukan oleh Tergugat IV, terbukti bahwa prosedur
pengurusan piutang negara telah sesuai dengan ketentuan dan peraturan yang berlaku,
termasuk penyampaian Surat Paksa, pelaksanaan sita, sampai dengan pelaksanaan
lelang barang jaminan hutang atas nama Penggugat.
4. Bahwa sebaliknya bukti-bukti yang diajukan oleh Penggugat dan keterangan yang
disampaikan oleh saksi tidak perlu dipertimbangkan karena alat bukti tersebut hanya
berupa keterangan tertulis yang diragukan keabsahannya dan keterangan saksi hanya
menyampaikan pendapatnya, bukan keterangan berdasarkan apa yang dilihatnya.
Maka berdasarkan hal-hal tersebut di atas, Tergugat IV mohon agar Majelis Hakim yang mulia
untuk memberikan putusan yang seadil-adilnya.
Terima kasih.
Hormat kami
Kuasa Hukum Tergugat IV
(………………………………)
(…………………………………)
82
LAMPIRAN A
Contoh Memori Banding
DEPARTEMEN KEUANGAN REPUBLIK INDONESIA
DIREKTORAT JENDERAL PIUTANG DAN LELANG NEGARA
KANTOR WILAYAH …………………..
KANTOR PELAYANAN PIUTANG DAN LELANG NEGARA …………..
MEMORI BANDING
Dalam Perkara Nomor: ......................................................
1. Ketua Panitia Urusan Piutang Negara Cabang ..................,
beralamat di Jalan ............................, selanjutnya disebut
sebagai.................PEMBANDING I (d.h. TERGUGAT I)
2. Kepala Kantor Pelayanan Piutang dan Lelang Negara
.............., beralamat di Jalan ..............., selanjutnya disebut
sebagai...............PEMBANDING II (d.h.TERGUGAT II)
melawan
1. ………….., beralamat di Jalan ..............., selanjutnya disebut
sebagai TERBANDING I (d.h. PENGGUGAT I)
2. .................., beralamat di Jalan ............................., selanjutnya
disebut sebagai TERBANDING II (d.h. PENGGUGAT II)
Terbanding I dan Terbanding II dalam hal ini diwakili oleh
............................ advokat, beralamat di Jalan .............................
.........(Tempat, Tanggal/Bulan/Tahun)..............
Yth. Ketua Pengadilan Tinggi Tata Usaha Negara ..............
melalui
Ketua Pengadilan Tata Usaha Negara .............
di
Jalan .......................................
..............
83
LAMPIRAN A
Kami yang bertandatangan di bawah ini, berdasarkan Surat Kuasa dan Surat Tugas,
mewakili Ketua Panitia Urusan Piutang Negara Cabang ............ dan Kepala Kantor Pelayanan
Piutang dan Lelang Negara (KP2LN) ……….., dalam hal ini bertindak untuk dan atas nama
pemberi kuasa Pembanding I (d.h. Tergugat I) dan Pembanding II (d.h. Tergugat II) dalam
perkara ................, bersama ini menyampaikan Memori Banding atas Putusan Majelis Hakim
PTUN ……… untuk perkara a quo pada tanggal .............. yang amarnya berbunyi sebagai
berikut :
MENGADILI :
DALAM EKSEPSI
Menolak eksepsi dari Tergugat I dan Tergugat II;
DALAM POKOK PERKARA
1.
Mengabulkan gugatan para Penggugat ;
2.
Menyatakan : ………………………………………………………………………….
-
Surat Paksa tanggal ……….. yang diterbitkan oleh Tergugat I Nomor: SP…/PUPNC…../…., beserta turutannya yaitu:
1. Surat Perintah Penyitaan tanggal ………. Nomor: SPS-…/PUPNC…. /….
dan tanggal ……… Nomor: SPS-…/PUPNC…../…., yang diterbitkan oleh
Tergugat I;
2. Berita
Acara
Penyitaan
tanggal…………Nomor:
……/WPL…/KP……/…… dan tanggal ……… Nomor
…/WPL…/KP……/….. yang diterbitkan oleh Tergugat II;
:
BABA-
3. Surat Perintah Penjualan Barang Sitaan tanggal ………. Nomor: SPPBS…./PUPNC…../…. yang diterbitkan oleh Tergugat I;
Melanggar azas kecermatan dan azas akuntabilitas dalam penyelenggaraan
negara sebagaimana ditentukan Pasal 53 ayat (2) huruf b Undang-undang
Peradilan Tata Usaha Negara, dan atas dasar itu terhadap surat-surat Keputusan a
quo dinyatakan batal serta memerintahkan kepada Tergugat I dan Tergugat II
untuk mencabut surat-surat Keputusan Tata Usaha Negara tersebut;
3. Menyatakan Penetapan Wakil Ketua Pengadilan Tata Usaha Negara ……… Nomor:
………….., tanggal ……… tentang Penundaan Pelaksanaan Lelang, tetap berlaku sah
sampai dengan putusan ini mempunyai kekuatan hukum tetap;
4. Membebankan biaya perkara kepada Tergugat I, Tergugat II, dan Tergugat III
Intervensi secara tanggung renteng sebesar …………
84
LAMPIRAN A
Bahwa terhadap perkara a quo telah diputus pada tanggal ............... dan Para Pembanding
mengajukan permohonan banding pada tanggal ..............., dengan demikian pengajuan banding
ini masih dalam tenggat waktu yang diperbolehkan oleh undang-undang.
Bahwa Pembanding I dan II (d.h. Tergugat I dan II) keberatan atas putusan Majelis Hakim
Pengadilan Tata Usaha Negara ............ dalam register perkara Nomor .............., baik mengenai
pertimbangan-pertimbangan hukumnya maupun amar putusannya. Adapun keberatan
Pembanding I dan II (d.h. Tergugat I dan II) tersebut adalah sebagai berikut:
Dalam Pokok Perkara :
1. Bahwa Pembanding I dan II keberatan terhadap pertimbangan hukum Majelis Hakim pada
halaman …. alenia (paragraf) ..... yang menyatakan:
“Bahwa oleh karena secara legal formal belum terpenuhi, maka penyerahan penagihan
pinjaman macet a.n. ............... dari PT Bank ........... (Persero) kepada Tergugat I dan
Tergugat II, dengan suratnya Nomor ................. tanggal ............... (Bukti T.I-1 sama
dengan T.III i-18, yang ternyata telah dijadikan sebagai dasar atas penerbitan surat-surat
keputusan objek sengketa, menurut majelis hakim sebenarnya tidak mengikat bagi
Tergugat I maupun Tergugat II, karena telah tidak sesuai dengan fakta yang sebenarnya,
dimana PT....................... sebagai Perseroan Modal Asing belum mendapat pengesahan
dari Menteri Kehakiman (legal formal belum terpenuhi.)
2. Bahwa pertimbangan Majelis Hakim tersebut kurang tepat karena surat Tergugat III
Intervensi Nomor .............. tanggal............ bukan merupakan dasar penerbitan suratsurat yang menjadi objek sengketa a quo, karena yang menjadi dasar penerbitan objek
sengketa a quo adalah Surat Penerimaan Pengurusan Piutang Negara (SP3N) Nomor
SP3N-.../PUPNC... /..... (vide Pasal 15 Keputusan Menteri Keuangan Nomor
300/KMK.01/2002). Bahwa dengan diterbitkannya SP3N maka secara yuridis formal
pengurusan piutang negara atas nama PT .......... beralih baik kualitas maupun kuantitas dari
Tergugat III Intervensi kepada Pembanding
3. Penyerahan piutang negara dari Tergugat III Intervensi kepada Pembanding I dan
Pembanding telah sesuai dengan ketentuan yang berlaku yaitu:
a. Undang-Undang Nomor 49 Prp Tahun 1960 tentang PUPN;
b. Keputusan Presiden Nomor 11 Tahun 1976 tentang PUPN;
c. Keputusan Menteri Keuangan Nomor 61/KMK.08/2002 tentang PUPN;
85
LAMPIRAN A
d. Keputusan Menteri Keuangan Nomor 533/KMK.08/2002 tentang Perubahan atas
Keputusan Menteri Keuangan Nomor 61/KMK.08/2002;
e. Keputusan Menteri Keuangan Nomor 300/KMK.01/2002 tanggal 13 Juni 2002 tentang
Pengurusan Piutang Negara;
f. Keputusan Direktorat Jenderal Piutang dan Lelang Negara Nomor 25/WPL/2002
tentang Petunjuk Teknis Pengurusan Piutang Negara.
4. Bahwa yang diserahkan oleh Tergugat III Intervensi kepada Pembanding I dan Pembanding
II adalah kredit macet atas nama PT .............. yang wajib diserahkan pengurusannya
kepada Pembanding I dan II (vide Pasal 12 Undang-Undang 49 Prp Tahun 1960).
5. Bahwa penagihan yang dilakukan terhadap PT ................ adalah sah dan memenuhi syarat
legal formal karena PT ................ adalah badan hukum yang sah berdasarkan Akta
Pendirian Perseroan Terbatas No............. tanggal .......... Adapun perubahan pengurus dan
status persero yang tidak didaftarkan tidak mengikat pihak ketiga termasuk Pembanding
dan pengurus baru yang belum terdaftar bertanggung jawab penuh sampai dengan harta
pribadi yaitu harta kekayaan PT dan harta kekayaan pribadi.
6. Bahwa Pembanding II keberatan atas pertimbangan hukum Majelis Hakim pada halaman
……. paragraf …….. yang menyatakan:
“Menimbang, bahwa berdasarkan uraian pertimbangan di atas, Majelis Hakim
berkesimpulan bahwa tindakan Tergugat I dan Tergugat II yang telah menindaklanjuti
surat Tergugat III Intervensi tentang penagihan pinjaman macet a.n PT ............., dengan
menerbitkan surat-surat keputusan yang sekarang menjadi objek sengketa, meskipun
secara formal telah sesuai dengan kewenangan yang ada padanya, tetapi secara legal
formal PT............... sebagai perseroan Modal Asing belum terpenuhi, maka ditinjau dari
segi substansiilnya surat-surat keputusan yang diterbitkan Tergugat I dan Tergugat II dan
sekarang menjadi objek sengketa,yang berisi penyitaan terhadap harta kekayaan PT.
.............., adalah mengandung cacat yuridis, dan dengan demikian telah melanggar asasasas umum pemerintahan yang baik (vide Pasal 53 ayat 2 huruf b Undang-undang
Peradilan Tata Usaha Negara);
Karena sesuai ketentuan dalam Undang-undang Perseroan Terbatas dalam kasus a quo,
seharusnya penyitaan hanya dibolehkan terhadap harta pribadi dan tidak terhadap harta
kekayaan PT yang bersangkutan. Tergugat seharusnya mengetahui tentang hal itu dan atas
dasar kewenangan yang dimilikinya seharusnya meneliti tentang aset-aset yang
dilimpahkan kepadanya untuk dilakukan pelelangan dan dapat bertindak secara cermat
serta hati-hati dalam rangka menjalankan kewenangan publik yang dimilikinya.
86
LAMPIRAN A
7. Bahwa pertimbangan Majelis Hakim tersebut di atas kurang tepat karena:
a. PT. .............. adalah badan hukum yang berwenang melakukan perbuatan hukum dan
status hukumnya tidak pernah dicabut. Perubahan status PT ..................... dari badan
hukum nasional menjadi perusahaan Penanaman Modal Asing yang belum didaftarkan
tidaklah berarti bahwa PT tersebut tidak mempunyai persona standi in judicio hanya
saja pertanggungjawaban direksi adalah sebagai mana diatur dalam Pasal 23 UndangUndang Nomor 1 Tahun 1995 tentang Perseroan Terbatas. PT ...................... dalam hal
ini sudah dapat melakukan perbuatan hukum karena sudah memiliki persona standi in
judicio ( lihat Yurisprudensi Mahkamah Agung Nomor 297 K/Sip/1974 tanggal 12
Januari 1977).
b. Bahwa objek sengketa yang diterbitkan oleh Pembanding yaitu adalah untuk
memerintahkan PT...................... melunasi hutangnya (SP-…./PUPNC…../…. tanggal
…………). Karena tidak dipenuhi maka Pembanding I menerbitkan Surat Perintah
Penyitaan terhadap barang jaminan hutang PT ...................... tanggal ………. Nomor:
SPS-……/PUPNC…../….. dan tanggal …… Nomor: SPS-…/PUPNC…../…… sesuai
dengan yang diperjanjian dalam Akta Perjanjian Kredit Nomor .......... serta Akta
Perjanjian Kredit tangggal ........... Nomor ........... termasuk perubahan dan
tambahannya. Dan pada tanggal ……. dan dan tanggal …….. telah dilakukan
penyitaan terhadap barang jaminan hutang PT ……………berdasarkan berita acara
Nomor : BA-…/WPL…./KP…../…… Nomor : BA-…./WPL…/KP…./….. Dan
diteruskan Surat Perintah Penjualan Barang Sitaan tanggal ………… Nomor: SPPBS…../PUPNC…../……. Penerbitan objek sengketa aquo telah melalui penelitian dan
kecermatan yang tinggi sebelum diterbitkan.
c. Bahwa perjanjian yang dilakukan oleh Terbanding I dan Terbanding II mewakili PT
...................... dengan Tergugat III Intervensi adalah sah dan berharga karena
berdasarkan teori altar ego atau organ tindakan hukum yang dilakukan pengurus
menjadi tanggung jawab perusahaan sebagai persona standi in judicio oleh karena itu
penyitaan yang dilakukan terhadap harta kekayaan PT ...................... adalah sah karena
aset-aset tersebut merupakan barang jaminan hutang dan diperjanjikan dalam perjanjian
Perjanjian Kredit Nomor ........... serta Akta Perjanjian Kredit tangggal ......... Nomor
............. termasuk perubahan dan tambahannya.
d. Bahwa pembanding berkeberatan atas pertimbangan Majelis Hakim tingkat pertama
yang menyatakan “Karena sesuai ketentuan dalam Undang-undang Perseroan
Terbatas dalam kasus a quo, seharusnya penyitaan hanya dibolehkan terhadap harta
pribadi dan tidak terhadap harta kekayaan PT yang bersangkutan”,karena tidak ada
87
LAMPIRAN A
ketentuan dalam Undang-undang Perseroan Terbatas dan penjelasannya yang
menyatakan bahwa penyitaan hanya dibolehkan terhadap harta pribadi dan tidak
terhadap harta kekayaan PT yang bersangkutan. PT ...................... sudah memenuhi
syarat sebagai badan hukum dan berwenang melakukan perbuatan dalam lalu lintas
hukum sehingga PT ...................... berwenang melakukan perjanjian dan harta
kekayaannya dapat dijaminkan untuk pelunasan atau pemenuhan suatu prestasi.
e. Bahwa kurang tepat apabila hutang yang hasilnya dinikmati oleh PT ...................... dan
Para Terbanding namun ketika macet tidak bersedia melaksanakan kewajibannya
termasuk menyerahkan barang jaminan guna pelunasan hutangnya.
8. Bahwa Pembanding merasa keberatan atas pertimbangan Majelis Hakim yang menyatakan
bahwa penerbitan objek sengketa a quo adalah tidak cermat, melanggar asas akuntabilitas,
dan tidak dapat dipertanggungjawabkan karena penerbitan objek sengketa a quo telah
melalui penelitian berkas dan penelitian lapangan secara cermat dan dapat
dipertanggungjawabkan sesuai dengan Undang-Undang Nomor 49 Prp Tahun 1960 tentang
Panitia Urusan Piutang Negara dan Keputusan Menteri Keuangan Nomor
300/KMK.01/2002 tanggal 13 Juni 2002 tentang Pengurusan Piutang Negara
Maka berdasarkan hal-hal tersebut di atas Pembanding I dan Pembanding II mohon agar Yang
Mulia Majelis Hakim Pengadilan Tinggi Tata Usaha Negara …………untuk memeriksa dan
memutus sebagai berikut :
1. Menerima Banding para Pembanding;
2. Membatalkan Putusan Majelis Hakim Pengadilan Tata Usaha Negara ………. untuk
Perkara Nomor ……………. yang diputus pada tanggal ……….. dan mengadili sendiri ;
3. Mencabut penetapan Wakil Ketua Pengadilan Tata Usaha Negara ………. Nomor:
………….., tanggal …………. tentang Penundaan Pelaksanaan Lelang
4. Menghukum Penggugat/Terbanding untuk membayar segala biaya yang timbul dalam
perkara ini.
Atau apabila Majelis Hakim berpendapat lain, mohon putusan yang seadil-adilnya.
Hormat Kami
Kuasa Hukum Pembanding
.....................................................
........................................................
..............
.................
88
LAMPIRAN A
Contoh Kontra Memori Banding
DEPARTEMEN KEUANGAN REPUBLIK INDONESIA
DIREKTORAT JENDERAL PIUTANG DAN LELANG NEGARA
KANTOR WILAYAH .....................
KANTOR PELAYANAN PIUTANG DAN LELANG NEGARA ...............
KONTRA MEMORI BANDING
Dalam perkara perdata Nomor : …………………………….
Pemerintah Republik Indonesia cq. Departemen Keuangan
Republik Indonesia cq. Direktorat Jenderal Piutang dan Lelang
Negara cq. Kantor Wilayah ............... cq. Kantor Pelayanan
Piutang dan Lelang Negara ……………………..........................,
sebagai …….………………..TERBANDING d.h. TERGUGAT
melawan
.............................., beralamat di Jalan ……………., yang dalam
hal ini diwakili oleh kuasanya ......................, advokat, beralamat di
.........……………………………………............………………….,
sebagai …………………... PEMBANDING d.h. PENGGUGAT
Tempat, Tgl/Bulan/Tahun
Kepada Yth.
Ketua Pengadilan Tinggi ..................................
di ....................
Melalui
Ketua Pengadilan Negeri .................................
Jalan ............................
............................
Dengan hormat,
Kami yang bertanda tangan di bawah ini, berdasarkan Surat Kuasa Khusus Menteri
Keuangan Republik Indonesia Nomor : SKU- .................... / ...... tanggal .............. dalam hal
ini bertindak untuk dan atas nama pemberi kuasa sebagai Terbanding d.h. Tergugat, bersama
ini menyampaikan KONTRA MEMORI BANDING dalam perkara perdata Nomor
...../PDT.G/....../...../PN..........…..... sebagai berikut:
89
LAMPIRAN A
1. Bahwa Terbanding d.h. Tergugat secara resmi menerima relaas pemberitahuan pernyataan
permohonan banding Nomor: ..../PDT.G/..../..../PN............. tanggal .................. telah
menerima relaas pemberitahuan dan penyerahan memori banding pada tanggal
...................... melalui Juru Sita Pengadilan Negeri ......................, sehingga Kontra Memori
Banding yang diajukan masih dalam tenggang waktu yang ditentukan oleh undang-undang
dan oleh karena itu mohon agar dapat diterima.
2. Bahwa Terbanding d.h. Tergugat sangat sependapat dengan seluruh pertimbangan hukum
serta diktum putusan Majelis Hakim Pengadilan Negeri ................... Nomor :
...../PDT.G/...../...../PN................ tanggal ...................... Bahwa demi penegakkan hukum
dan menjunjung tinggi keadilan, Terbanding d.h. Tergugat mohon dengan hormat kepada
Majelis Hakim Pengadilan Tinggi yang memeriksa perkara a quo untuk menolak
permohonan banding dari Pembanding d.h. Penggugat dan menerima serta menguatkan
putusan Pengadilan Negeri ................. Nomor : ...../PDT.G/...../...../PN.............. tanggal
......................
3. Bahwa Terbanding d.h. Tergugat menolak seluruh dalil yang diajukan Pembanding d.h.
Penggugat a quo sebagaimana yang dikemukakan dalam memori bandingnya, kecuali
terhadap hal-hal yang secara tegas diakui kebenarannya.
4. Bahwa keberatan Pembanding d.h. Penggugat terhadap putusan Majelis Hakim Pengadilan
Negeri yang tidak mempertimbangkan pelaksanaan pemeriksaan setempat atas keberadaan
obyek tanah yang menjadi sengketa harus ditolak, karena keberadaan objek tanah, luas, dan
batas-batasnya sudah jelas tertera dalam Surat Keterangan Tanah (SKT) yang diterbitkan
oleh Kantor Pertanahan ……….….., sehingga pemeriksaan setempat tidak perlu dilakukan.
Oleh karena itu, pertimbangan Majelis Hakim untuk tidak melaksanakan pemeriksaan
setempat terhadap keberadaan objek tanah sengketa sudah tepat dan benar.
5. Bahwa dalil Pembanding d.h. Penggugat yang menyatakan pertimbangan hukum Majelis
Hakim berat sebelah, tidak obyektif dan tidak jujur karena tidak mempertimbangkan
tindakan Terbanding d.h. Tergugat yang telah tidak mengindahkan asas-asas eksekusi
dalam pelaksaaan eksekusi pengosongan terhadap tanah milik Pembanding d.h. Penggugat,
sehingga menimbulkan kerugian bagi Pembanding d.h. Penggugat adalah dalil yang keliru
dan harus dikesampingkan. Bahwa Terbanding d.h. Tergugat tidak pernah melaksanakan
eksekusi pengosongan, karena yang melakukan eksekusi pengosongan adalah Pengadilan
Negeri ……. berdasarkan permohonan yang diajukan oleh Pemenang Lelang kepada Ketua
Pengadilan Negeri …… sesuai dengan ketentuan Pasal 196 HIR.
6. Bahwa keberatan Pembanding d.h. Penggugat pada angka ……. memori banding yang
menyatakan bahwa Majelis Hakim Pengadilan Negeri ……. tidak mempertimbangkan
keberatan Pembanding d.h. Penggugat mengenai perbuatan Terbanding d.h. Tergugat yang
melanggar Pasal 10 ayat (3) Undang-Undang No.49 Prp Tahun 1960, dengan alasan
pelaksanaan lelang tidak diumumkan pada papan pengumuman di lokasi serta tidak
diberitahukan secara tertulis kepada Pembanding d.h. Penggugat adalah dalil yang keliru
dan harus dikesampingkan. Bahwa Pembanding d.h. Penggugat telah salah menafsirkan
Pasal 10 ayat (3) Undang-Undang No.49 Prp Tahun 1960, karena Pasal 10 ayat (3)
Undang-Undang No.49 Prp Tahun 1960 merupakan pasal yang mengatur mengenai
90
LAMPIRAN A
penagihan dengan Surat Paksa, Pensitaan dan Penjualan Lelang, dan bukan pengaturan
mengenai pengumuman dan pemberitahuan lelang.
7. Bahwa pelaksanaan lelang telah diumumkan di Surat Kabar Harian ………….. edisi
………… tanggal ……………. dan telah diberitahukan secara tertulis kepada Pembanding
d.h. Penggugat dengan surat Nomor ……… tanggal …….. . Dengan demikian Perbuatan
Melawan Hukum yang didalilkan oleh Pembanding d.h. Penggugat jelas mengada-ada dan
oleh karena itu harus ditolak.
Berdasarkan hal-hal yang telah diuraikan tersebut di atas, mohon dengan hormat sudilah
kiranya Yang Mulia Majelis Hakim Pengadilan Tinggi ......................... berkenan memeriksa
dan menjatuhkan putusan yang seadil-adilnya dengan amar sebagai berikut :
1.
2.
Menolak permohonan Banding yang diajukan Pembanding d.h. Penggugat atau setidaktidaknya permohonan Banding a quo tidak dapat diterima (niet onvankelijk verklaard)
Menguatkan Putusan Pengadilan Negeri ......... Nomor : ...../PDT. ...../....... /PN.........
tanggal ...........................
Apabila Majelis Hakim yang mulia berpendapat lain, mohon putusan yang seadil-adilnya (ex
aequo et bono).
Terima kasih.
Hormat Kuasa Hukum Terbanding
1.
……………………………..
2. …………………………….
----------------------------------
----------------------------------
91
LAMPIRAN A
Contoh Memori Kasasi
DEPARTEMEN KEUANGAN REPUBLIK INDONESIA
DIREKTORAT JENDRAL PIUTANG DAN LELANG NEGARA
KANTOR WILAYAH ....................
KANTOR PELAYANAN PIUTANG DAN LELANG NEGARA ..................
MEMORI KASASI
Atas Putusan Pengadilan Tinggi TUN.................... Nomor:
....../......./PTTUN........... jo. Putusan Pengadilan TUN .....
Nomor : ...../G.TUN/...../PTUN............ tanggal ...............
dalam perkara antara :
Kepala Kantor
Pelayanan
Piutang
dan
Lelang
Negara.........., berkedudukan di ..............., Jalan.....................,
sebagai ....................................... PEMOHON KASASI
semula Pembanding/Tergugat .....
melawan
.................................., beralamat di Jalan ..................................,
sebagai.....................…………......... TERMOHON KASASI
semula Terbanding/Penggugat.
Tempat, Tgl/Bulan/Tahun
Kepada Yth.
Ketua Mahkamah Agung Republik Indonesia
di Jakarta
melalui :
Ketua Pengadilan TUN.....................
Jalan ..............................
............................
Dengan hormat,
Kami yang bertanda tangan di bawah ini, berdasarkan Surat Kuasa Khusus Kepala
Kantor Pelayanan Piutang dan Lelang Negara Nomor : SKU-...../....../...... tanggal ......................
92
LAMPIRAN A
karenanya dalam hal ini bertindak untuk dan atas nama Pemberi Kuasa serta mewakilinya,
dengan ini mengajukan permohonan kasasi terhadap Putusan Pengadilan Tinggi
TUN.................... Nomor: ....../......./PTTUN........... jo. Putusan Pengadilan TUN Nomor :
...../G.TUN/...../PTUN............ tanggal ............... yang amarnya berbunyi sebagai berikut :
Mengadili :
−
−
−
−
−
Mengabulkan gugatan Penggugat untuk sebagian.
Menyatakan batal Risalah Lelang Nomor ............../...... tanggal yang dikeluarkan oleh
Kantor Lelang Negara ............ terhadap barang-barang a quo.
Menolak gugatan Penggugat selebihnya.
Membebankan biaya perkara kepada Tergugat – Pembanding dalam kedua tingkat
peradilan yang dalam tingkat banding saja ditetapkan sebesar Rp 50.000,- (limapuluh ribu
rupiah).
Memerintahkan panitera Pengadilan Tinggi TUN ...... untuk mengirimkan salinan putusan
beserta berkas perkaranya kepada Pengadilan TUN .........
Bahwa relaas pemberitahuan isi Putusan Pengadilan Tinggi TUN ................. Nomor :
...../...../PT.TUN........jo. Putusan Pengadilan TUN............................. Nomor : ...../G.TUN/...../
PTUN................ tanggal ................... telah diterima oleh Pemohon Kasasi pada tanggal
...................... dan pada tanggal ................. Pemohon Kasasi telah mengajukan permohonan
kasasi terhadap Putusan Pengadilan Tinggi TUN ................. Nomor : ...../...../PT.TUN......... jo.
Putusan Pengadilan TUN ............................. Nomor : ...../G.TUN/...../PTUN................ tanggal
..................., dengan demikian permohonan kasasi yang diajukan masih dalam tenggang waktu
yang telah ditentukan dalam Pasal 46 dan Pasal 47 Undang-Undang Nomor 14 Tahun 1985
sebagaimana diubah dengan Undang-Undang Nomor 5 Tahun 2004.
Adapun alasan-alasan Pemohon Kasasi mengajukan permohonan kasasi pada pokoknya
adalah sebagai berikut:
1. Bahwa Pengadilan Tinggi TUN ..... telah tidak cukup memberi pertimbangan
(Onvoldoende Gemotiveerd) karena hanya mengambil alih pertimbangan hukum putusan
Pengadilan TUN ...... tanggal ......... Nomor ....../G.TUN/..../PTUN..... tanpa didasari alasanalasan hukum yang diwajibkan, maka sesuai Yurisprudensi Mahkamah Agung No.
588K/Sip/1975 tanggal 13 Juli 1976 jis. No. 492K/Sip/1970 tanggal 16 Desember 1970,
No.638K/Sip/1969 tanggal 22 Juli 1970 putusan a quo harus dibatalkan.
2. Bahwa Pengadilan Tinggi TUN .... telah salah menerapkan hukum, yaitu hukum
pembuktian dengan mengesampingkan memori banding Pemohon Kasasi yang telah
menunjukkan bukti-bukti kelengkapan dokumen yang dinilai kurang sempurna oleh
Pengadilan Tinggi TUN ......, bahkan Pemohon Kasasi juga melampirkan bukti tambahan
yang belum diajukan dalam pemeriksaan tingkat pertama.
93
LAMPIRAN A
3. Bahwa Pengadilan Tinggi TUN......... telah salah menerapkan hukum tentang Peraturan
Pelelangan yaitu mengenai ketentuan harga patokan terendah (harga limit), karena
kedudukan sebagai perantara/pelaksana yang tidak ikut menentukan dan tidak mempunyai
wewenang menentukan harga limit tersebut karena sepenuhnya hal tersebut wewenang
penjual, i.c. Pengadilan Negeri ..........
4. Bahwa Pengadilan Tinggi TUN .... telah salah menerapkan hukum karena
mengesampingkan pendapat/fatwa Mahkamah Agung yang disampaikan Ketua Muda
Urusan Lingkungan Peradilan TUN dengan surat No.027/Td.TUN/II/1994 tanggal 2
Februari 1994 kepada Ketua Panitia Urusan Piutang Negara Wilayah VI yang pada
pokoknya menyatakan bila pelelangan adalah sebagai pelaksanaan perintah Ketua
Pengadilan Negeri dalam rangka eksekusi perkara perdata, maka gugatan harus dinyatakan
tidak dapat diterima, karena itu putusan yang membatalkan Risalah Lelang No. .../.........
tanggal .......... dan menjadikan sebagai objek gugatan TUN adalah telah salah menerapkan
hukum.
5. Bahwa Risalah Lelang bukan objek TUN sebagaimana diatur dalam Pasal 1 butir 3
Undang-Undang No. 5 tahun 1986 dengan jelas dapat dibaca dari makalah Bapak Th. Ketut
Suraputra, S.H. saat menjabat Tuada TUN MA-RI dalam Panel Diskusi III BUPLN - MA Bank-bank Pemerintah/Daerah tanggal 8 Maret 1996 di Medan.
6. Bahwa selain itu Risalah Lelang bukan objek TUN juga sesuai dengan teori ”melebur”
karena Risalah Lelang sebagai suatu akta jual beli melahirkan hubungan hukum perdata
yang termasuk dalam pengertian Pasal 2 huruf a Undang-Undang Nomor 5 Tahun 1986.
Berdasarkan uraian dan alasan tersebut di atas, Pemohon Kasasi memohon kepada yang Mulia
Majelis Hakim Agung berkenan memutus dengan amar putusan sebagai berikut :
1. menerima dan mengabulkan permohonan kasasi ini;
2. membatalkan isi Putusan Pengadilan Tinggi TUN ................. Nomor :
...../...../PT.TUN......... jo. Putusan Pengadilan TUN ............................. Nomor :
...../G.TUN/...../PTUN................ tanggal ...................
Apabila Majelis Hakim Agung berpendapat lain, mohon putusan yang seadil-adilnya (ex aequo
et bono).
Terima kasih.
Hormat Kami,
Kuasa Hukum Pemohon Kasasi
……………………………
…………………
94
LAMPIRAN A
Contoh Kontra Memori Kasasi
DEPARTEMEN KEUANGAN REPUBLIK INDONESIA
DIREKTORAT JENDRAL PIUTANG DAN LELANG NEGARA
KANTOR WILAYAH ....................
KANTOR PELAYANAN PIUTANG DAN LELANG NEGARA ..................
KONTRA MEMORI KASASI
Atas Putusan Pengadilan Tinggi.................... Nomor:
....../......./PT........... jo. Putusan Pengadilan Negeri ........
Nomor : ...../Pdt.G/...../PN............ tanggal ............... dalam
perkara antara :
.................................., beralamat di Jalan ..................................,
sebagai.....................…………......... PEMOHON KASASI
semula Pembanding/Penggugat
melawan
Pemerintah Republik Indonesia cq. Menteri Keuangan
Republik Indonesia cq. Direktorat Jenderal Piutang dan Lelang
Negara cq. Kantor Wilayah …………………..cq. Kantor
Pelayanan Piutang dan Lelang Negara ………….…..
beralamat di Jalan ……………………………………………...
sebagai........TURUT TERMOHON KASASI semula Turut
Terbanding/Turut Tergugat
Tempat, Tgl/Bulan/Tahun
Kepada Yth.
Ketua Mahkamah Agung Republik Indonesia
di Jakarta
melalui
Yth. Ketua Pengadilan Negeri ...............................
di Jalan. .................................
...............................
95
LAMPIRAN A
Dengan hormat,
Kami yang bertanda tangan di bawah ini, berdasarkan Surat Kuasa Khusus Menteri
Keuangan Republik Indonesia Nomor : .......…………... tanggal ................... bertindak untuk
dan atas nama pemberi kuasa sebagai Turut Termohon Kasasi dengan ini menyampaikan
Kontra Memori Kasasi atas Memori Kasasi dari Pemohon Kasasi, sehubungan dengan Putusan
Pengadilan Tinggi ............... Nomor : ...../Pdt/...../PT/..... tanggal............... jo. Putusan
Pengadilan Negeri ............... Nomor : ...../Pdt.G/...../PN................... tanggal ...................,
sebagai berikut:
1. Bahwa Turut Termohon Kasasi telah menerima relaas pemberitahuan/penyerahan salinan
Memori Kasasi Nomor: …../Pdt.G/…../PN …………... dari Pengadilan Negeri
…………… pada tanggal ………………. Oleh karena itu, Kontra Memori Kasasi yang
diajukan masih dalam tenggang waktu yang ditentukan oleh undang-undang dan untuk itu
mohon agar dapat diterima (vide Pasal 47 Undang-Undang Nomor 14 Tahun 1985 tentang
Mahkamah Agung sebagaimana diubah dengan Undang-Undang Nomor 5 Tahun 2004);
2. Bahwa Turut Termohon Kasasi dengan tegas menyatakan menolak seluruh keberatan yang
dikemukakan oleh Pemohon Kasasi dalam Memori Kasasinya, kecuali hal-hal yang secara
tegas diakui kebenarannya;
3. Bahwa Turut Termohon Kasasi sangat sependapat terhadap seluruh pertimbangan hukum
dan diktum Putusan Pengadilan Tinggi ................. Nomor : ...../Pdt/...../PT/..... tanggal
................. yang telah tepat dan benar menguatkan Putusan Pengadilan Negeri ..................
Nomor : ...../Pdt.G/...../PN...... tanggal .................. Sehingga demi penegakan hukum dan
menjunjung tinggi keadilan, Turut Termohon Kasasi mohon dengan hormat kepada Majelis
Hakim Agung yang memeriksa perkara a quo untuk menerima dan menguatkan putusan
pengadilan tinggi tersebut;
4. Bahwa semua alasan-alasan yang dikemukakan oleh Pemohon Kasasi sebagaimana tersebut
pada angka ….. dalam Memori Kasasi bukanlah merupakan alasan-alasan yang dapat
dipertimbangkan di tingkat kasasi, karena merupakan penilaian bukti/fakta yang telah
dipertimbangkan dengan benar di tingkat judex factie sebagaimana dapat dilihat pada
pertimbangan hukum Pengadilan Tinggi ........................... (vide Yurisprudensi Mahkamah
Agung RI No. 279K.Sip/1972 tanggal 09 Juli 1972).
5. Bahwa sesuai dengan Pasal 30 ayat (1) Undang-Undang Nomor 14 Tahun 1985 tentang
Mahkamah Agung sebagaimana diubah dengan Undang-Undang Nomor 5 Tahun 2004,
tidak ada alasan bagi Majelis Hakim Mahkamah Agung untuk membatalkan putusan
Pengadilan Tinggi ...................No....../PDT/...../PT/..... tanggal .................... karena seluruh
diktum maupun putusannya tidak ada yang memenuhi syarat untuk dibatalkan oleh
Mahkamah Agung, yaitu:
•
Tidak berwenang atau melampaui batas wewenang;
•
Salah menerapkan hukum atau melanggar hukum yang berlaku;
•
Lalai memenuhi syarat-syarat yang diwajibkan oleh peraturan perundang-undangan
yang mengancam kelalaian itu dengan batalnya putusan yang bersangkutan.
96
LAMPIRAN A
6. Bahwa oleh karena itu, Turut Termohon Kasasi memohon kepada Majelis Hakim
Mahkamah Agung untuk mempertahankan seluruh pertimbangan dan diktum/putusan judex
factie (Putusan Pengadilan Tinggi) a quo, serta menolak keberatan-keberatan Pemohon
Kasasi dalam Memori Kasasi;
Bahwa berdasarkan alasan-alasan tersebut di atas, Turut Termohon Kasasi memohon kepada
yang terhormat Majelis Hakim Agung berkenan menjatuhkan putusan dengan amar sebagai
berikut :
1. Menyatakan Kontra Memori Kasasi yang diajukan oleh Turut Termohon Kasasi dapat
diterima untuk seluruhnya;
2. Menolak permohonan Kasasi yang diajukan oleh Pemohon Kasasi atau setidak-tidaknya
menyatakan permohonan kasasi a quo tidak dapat diterima (niet onvankelijk verklaard);
3. Menguatkan Putusan Pengadilan Tinggi ................. Nomor : ...../Pdt/...../PT/..... tanggal
...........…
Apabila Majelis Hakim Agung berpendapat lain, mohon putusan yang seadil-adilnya (ex
aequo et bono).
Terima kasih.
Hormat kami
Kuasa Hukum Turut Termohon Kasasi
(...............................)
(...........................)
(............................)
97
LAMPIRAN A
Contoh Memori Peninjauan Kembali
DEPARTEMEN KEUANGAN REPUBLIK INDONESIA
DIREKTORAT JENDRAL PIUTANG DAN LELANG NEGARA
KANTOR WILAYAH ....................
KANTOR PELAYANAN PIUTANG DAN LELANG NEGARA ..................
MEMORI PENINJAUAN KEMBALI
Atas Putusan Mahkamah Agung Nomor:......... jo. Pengadilan
Tinggi............... Nomor: ....../......./PT............ jo. Putusan
Pengadilan
Negeri
....................
Nomor
:
...../Pdt.G/...../PN............ tanggal ............... dalam perkara
antara :
Pemerintah Republik Indonesia cq. Menteri Keuangan
Republik Indonesia cq. Direktorat Jenderal Piutang dan Lelang
Negara cq. Kantor Wilayah ………………..cq. Kantor
Pelayanan Piutang dan Lelang Negara ………….…..
beralamat di Jalan………………….. ………………………….
sebagai...... PEMOHON PENINJAUAN KEMBALI semula
Pemohon Kasasi/Pembanding/Tergugat
melawan
.................................., beralamat di Jalan .................................,
sebagai.................TERMOHON PENINJAUAN KEMBALI
semula Termohon Kasasi/Terbanding/Penggugat.
Tempat, Tgl/Bulan/Tahun
Kepada Yth.
Ketua Mahkamah Agung Republik Indonesia
di Jakarta
melalui
Yth. Ketua Pengadilan Negeri ...............................
di Jalan. .................................
...............................
98
LAMPIRAN A
Dengan hormat,
Kami yang bertanda tangan di bawah ini, berdasarkan Surat Kuasa Khusus Menteri
Keuangan Republik Indonesia Nomor : SKU-...../....../...... tanggal ...................... karenanya
dalam hal ini bertindak untuk dan atas nama Pemberi Kuasa serta mewakilinya, dengan ini
mengajukan permohonan Peninjauan Kembali atas Putusan Mahkamah Agung Nomor ..........
jo. Pengadilan Tinggi............... Nomor: ......../...../PT............ jo. Putusan Pengadilan Negeri
...... Nomor : ...../Pdt.G/...../PN....... tanggal ........
Bahwa putusan Mahkamah Agung Republik Indonesia Nomor ……………. tanggal …….
amarnya berbunyi sebagai berikut :
Mengadili:
-
Mengabulkan permohonan kasasi dari Pemohon Kasasi…….. ;
Membatalkan putusan Pengadilan Tinggi ………. tanggal……
/Pdt/…./PT…… ;
Nomor…….
Mengadili Sendiri :
Dalam Provisi:
- Menolak tuntutan provisi Penggugat;
Dalam Eksepsi:
- Menyatakan eksepsi Tergugat …. , Tergugat….. , Tergugat….. , dan Tergugat ….… tidak
dapat diterima;
Dalam Pokok Perkara:
1. Mengabulkan gugatan Penggugat untuk sebahagian;
2. Menyatakan Penggugat adalah debitor yang beritikad baik;
3. Menghukum Tergugat …. dan Tergugat ….. untuk menyerahkan penguasaan jaminan yang
tersebut dalam akta kredit Nomor ………. kepada Penggugat dalam keadaan kosong, jika
ingkar dengan bantuan polisi atau ABRI lainnya, karena penguasaan oleh Tergugat …….,
telah dinyatakan batal demi hukum;
4. Menghukum Tergugat ……. secara tanggung renteng dengan Tergugat …… apabila
barang-barang jaminan yang sudah direval/dilelang atau tidak dapat dikembalikan ke
keadaan semula kepada pemiliknya debitor/ Penggugat, maka Tergugat …… dan Tergugat
….. membayar ganti rugi kepada Penggugat/Pemilik dengan harga pasar dan bukan harga
penjualan lelang;
5. Menghukum Tergugat ….. patuh dan tunduk pada putusan ini;
6. Menolak gugatan Penggugat selebihnya;
7. Menghukum para Termohon Kasasi untuk membayar biaya perkara dalam semua tingkat
peradilan yang dalam tingkat kasasi ditetapkan sebanyak Rp………………
99
LAMPIRAN A
Bahwa putusan Mahkamah Agung tersebut di atas telah diberitahukan kepada Pemohon
Peninjauan Kembali oleh Pengadilan Negeri ……… dengan relaas pemberitahuan Keputusan
Mahkamah Agung tanggal ……… Nomor ……../Pdt.G/…./PN…… jo. ………K/Pdt/…….
dan telah pula mengajukan permohonan Peninjauan Kembali a quo yang kesemuanya telah
dilakukan dengan cara dan dalam tenggang waktu yang ditentukan undang-undang, sehingga
permohonan Peninjauan Kembali dari Pemohon Peninjauan Kembali a quo sepatutnyalah
secara formal dapat diterima untuk dipertimbangkan.
Bahwa Pemohon Peninjauan Kembali tidak sependapat dengan putusan Mahkamah Agung
Republik Indonesia dalam perkara a quo yang telah membatalkan putusan Pengadilan Tinggi
……… dengan cara mengabulkan permohonan kasasi dari Termohon Peninjauan Kembali dan
telah memberikan pertimbangan hukum tidak sesuai dengan ketentuan Pasal 67 huruf c,e, dan f
Undang-Undang Nomor 14 Tahun 1985 tentang Mahkamah Agung sebagaimana diubah
dengan Undang-Undang Nomor 5 Tahun 2004, yaitu:
1. Apabila telah dikabulkan suatu hal yang tidak dituntut atau lebih daripada yang dituntut;
2. Apabila antara pihak-pihak yang sama mengenai suatu soal yang sama atas dasar yang
sama oleh pengadilan yang sama atau sama tingkatnya telah diberikan putusan yang
bertentangan satu dengan yang lain;
3. Apabila dalam suatu putusan terdapat suatu kekhilafan hakim atau suatu kekeliruan yang
nyata.
Selanjutnya alasan-alasan keberatan Pemohon Peninjauan Kembali dalam Peninjauan Kembali
a quo selengkapnya diuraikan sebagai berikut:
Alasan I (Pertama)
Putusan judex jurist telah mengabulkan hal yang tidak dituntut atau lebih daripada yang
dituntut Penggugat.
1.
Bahwa Termohon Peninjauan Kembali dalam petitum gugatan sebelumnya pada angka 3
tuntutan dalam pokok perkara a quo memohon kepada judex jurist agar memutus perkara
a quo dengan putusan sebagai berikut:“menghukum Tergugat ….. , secara tanggung
renteng untuk membayar ganti rugi kepada Penggugat sebagai akibat dari segala
perbuatan yang tidak sah dan melawan hukum itu sebesar Rp ……………”
2.
Bahwa namun demikian, judex jurist dalam putusan Nomor ….. tanggal …… telah
memberikan putusan melebihi daripada apa yang dituntut (ultra petita) oleh Termohon
Peninjauan Kembali dahulu Penggugat dengan amar putusan sebagaimana tersebut pada
angka 4 dalam pokok perkara yang berbunyi :
“Menghukum Tergugat ……. secara tanggung renteng dengan Tergugat …… apabila
barang-barang jaminan yang sudah direval/dilelang atau tidak dapat dikembalikan ke
keadaan semula kepada pemiliknya debitor/ Penggugat, maka Tergugat …… dan
Tergugat ….. membayar ganti rugi kepada Penggugat/Pemilik dengan harga pasar dan
100
LAMPIRAN A
bukan harga penjualan lelang.”
3.
Bahwa putusan yang sedemikian rupa, bahwa Mahkamah Aung sebagai benteng terakhir
penegakan hukum dan pengawas tertinggi dari jalannya peradilan di Indonesia, telah
mengabaikan ketentuan ndang-undangnya sendiri yang mengatur tentang kewenangan
dalam memutus perkara kasasi dan dalam perkara a quo Majelis Hakim Kasasi telah
mengabulkan hal yang tidak dituntut atau lebih daripada apa yang dituntut (ultra petitta).
4.
Bahwa dengan demikian putusan judex jurist dalam perkara a quo melanggar ketentuan
Pasal 67 huruf c Undang-undang Mahkamah Agung sehingga tidak ada alasan serta
sudah patut dan wajar untuk dibatalkan, selanjutnya mohon mengabulkan permohonan
Pemohon Peninjauan Kembali.
Alasan II (Kedua)
Pengadilan yang sama atau sama tingkatnya telah memberikan putusan yang bertentangan satu
dengan yang lain diantara pihak-pihak yang sama mengenai suatu soal yang sama atas dasar
yang sama.
5.
Bahwa Pemohon Peninjauan Kembali ingin mempertegas kembali bahwa dalil-dalil yang
dituntut oleh Termohon Peninjauan Kembali dalam perkara a quo dan dikabulkan judex
jurist dalam putusannya Nomor ……. Adalah didasarkan pada putusan Mahkamah
Agung RI sebelumnya yang telah bertentangan dengan putusan Mahkamah Agung RI
lainnya mengenai pihak yang sama, pokok perkara, dan dasar gugatan yang sama, dan
tidak ada bedanya yang dengan tegas menolak dalil/tuntutan Termohon Peninjauan
Kembali;
6.
Bahwa putusan kasasi Mahkamah Agung RI yang menurut Pemohon Peninjauan Kembali
saling bertentangan tersebut dan salah satunya dijadikan dasar gugatan
Termohon
Peninjauan Kembali dalam perkara a quo adalah sebagai berikut:
“Putusan kasasi Mahkamah Agung RI Nomor ……tanggal ….. jo. Putusan Pengadilan
Tinggi ….. Nomor …../Pdt/Bth/…../PT…. tanggal …… jo. Putusan PN…… Nomor …..
/Pdt/Bth/…./PN…. tanggal …… (disebut putusan kasasi Nomor …… tanggal ….. ) yang
mengabulkan bantahan para pembantah (salah satunya Termohon Peninjauan Kembali
dalam perkara a quo)”.
dengan
“Putusan kasasi Mahkamah Agung RI Nomor ……tanggal ….. jo. Putusan Pengadilan
Tinggi ….. Nomor …../Pdt.G/…../PT…. tanggal …… jo. Putusan PN…… Nomor …..
/Pdt.G/…./PN…. tanggal …… ( disebut putusan kasasi Nomor …… tanggal ….. )yang
menolak gugatan para Penggugat (salah satunya Termohon Peninjauan Kembali dalam
perkara a quo).”
7.
Bahwa pihak-pihak, dasar hukum, dan objek perkara yang dipermasalahkan oleh
Termohon Peninjauan Kembali dahulu Penggugat dalam perkara a quo secara materil
sama dan tidak ada bedanya dengan dua perkara yang telah memperoleh kekuatan hukum
tetap sebagaimana dikemukakan pada angka 6 Memori Peninjauan Kembali a quo;
101
LAMPIRAN A
8.
Bahwa mohon dicermati bahwa Mahkamah Agung dalam putusannya Nomor ……
tanggal……., telah menolak gugatan Penggugat (Termohon Peninjauan Kembali) dengan
pertimbangan hukum antara lain:
- Bahwa …… perpanjangan waktu pengembalian kredit tidak selalu diberikan, kecuali
apabila dipandang layak incasu debitor dipandang tidak mampu sehingga utangnya
dinyatakan macet
- Bahwa ………. Kredtur dapat secara sepihak membatalkan persetujuan apabila
debitor tidak memenuhi kewajibannya sehingga penagihan tidak perlu menunggu
jatuh tempo;
- Bahwa ….. apabila kredit telah dinyatakan macet maka pengurusannya harus
diserahkan pada BUPLN cq. Kantor Lelang Negara;
Dengan demikian penyerahan kredit macet kepada BUPLN dan pelaksanaan lelang atas
objek agunan kredit termohon peninjauan kembali diakui syah dan mempunyai kekuatan
hukum tetap.
9.
Bahwa judex jurist yang memeriksa perkara aquo dalam putusan Nomor …….. tanggal
……….. memberikan pertimbangan hukum antara lain sebagai berikut :
- Bahwa ……….telah membatalkan putusan pengadilan negeri ……… dengan
menyatakan gugatan penggugat tidak dapat diterima dengan alasan gugatan
penggugat nebis in idem ;
- Bahwa pertimbangan pengadilan tinggi demikian tidak dapat dibenarkan karena
pelimpahan perkara kredit macet kepada KP3N/PUPN adalah prematur, sebab
pelimpahan kredit macet tersebut dilaksanakan sebelum jatuh tempo karena sesuai
dengan surat perjanjian bersama jatuh tempo adalah tanggal ……..;
- Bahwa penyitaan yang dilakukan oleh PUPN dengan berita acara tertanggal ………
berita acara nomor BAP - .……/PUPN/…./……/ prematur, sebab telah melanggar
kesepakatan bersama yang baru akan jatuh tempo tanggal ……, dan dengan demikian
pelelangan yang dilakukan tersebut telah melanggar peraturan yang syah dan tidak
berdasarkan hukum, oleh sebab itu penyitaan yang prematur tersebut batal demi
hukum.
10.
Bahwa adanya putusan yang saling bertentangan dan dengan pertimbangan hukum yang
berbeda sudah jelas menimbulkan ketidakpastian hukum. Oleh karena itu, sudah
sepatutnyalah permohonan Peninjauan Kembali dari Pemohon Peninjauan Kembali dapat
diterima dan selanjutnya membatalkan putusan Mahkamah Agung Nomor ….. tanggal
…… karena bertentangan dengan Pasal 67 huruf e Undang-Undang Mahkamah Agung.
Alasan III (Ketiga)
Dalam putusan terdapat suatu kekhilafan hakim atau suatu kekeliruan yang nyata.
11.
Bahwa dalam amar putusan judex jurist dalam pokok perkara angka 4 dinyatakan antara
lain sebagai berikut:
102
LAMPIRAN A
“Menghukum Tergugat ……. secara tanggung renteng dengan Tergugat …… apabila
barang-barang jaminan yang sudah direval/dilelang atau tidak dapat dikembalikan ke
keadaan semula kepada pemiliknya debitor/Penggugat, maka Tergugat …… dan
Tergugat ….. membayar ganti rugi kepada Penggugat/Pemilik dengan harga pasar dan
bukan harga penjualan lelang.”
12. Bahwa judex jurist telah melakukan kekeliruan/kekhilafan dalam memutus perkara a quo
sebagaimana nyata dalam pertimbangan hukumnya pada halaman …. yang antara lain
menyatakan:
“Bahwa penyitaan yang dilakukan oleh PUPN dengan berita acara tertanggal ………
berita acara nomor BAP - .……/PUPN/…./……/ prematur, sebab telah melanggar
kesepakatan bersama yang baru akan jatuh tempo tanggal ……, dan dengan demikian
pelelangan yang dilakukan tersebut telah melanggar peraturan yang syah dan tidak
berdasarkan hukum, oleh sebab itu penyitaan yang prematur tersebut batal demi
hukum.”
13.
Bahwa berdasarkan Pasal 3 ayat (3) Peraturan Menteri Keuangan RI Nomor
2/PMK.01/1977 tentang pelaksanaan penyelesaian piutang negara yang macet antara lain
menentukan:
“Untuk kredit-kredit jangka menengah dan panjang apabila pinjaman belum lewat
jangka waktu akan tetapi terdapat tunggakan pembayaran sebanyak-banyaknya 3 kali
angsuran pokok, dan berdasarkan penilaian kreditor diketahui bahwa debitor tidak akan
dapat melunasi pokok dan bunganya untuk sebagian atau seluruhnya dalam jangka
waktu yang telah ditetapkan, serta usaha tersebut pada Pasal 1 ayat (1) tidak
memberikan hasil yang diharapkan atau apabila debitor cidera janji lainnya atas
ketentuan-ketentuan yang tercantum dalam ikatan hukum (perjanjian, peraturanperaturan yang berlaku, dan lain sebagainya), maka kredit tersebut dapat digolongkan
sebagai kredit macet.”
Dengan demikian suatu kredit dinyatakan macet tidak tergantung kepada jangka waktu
jatuh temponya perjanjian tetapi juga tergantung pada tunggakan pembayaran
sebagaimana yang tercantum dalam Perjanjian Kredit Nomor …….. tanggal …….
14.
Bahwa pertimbangan hukum judex jurist yang menyatakan “bahwa ……telah melanggar
kesepakatan bersama yang baru akan jatuh tempo tanggal 16 Juni 1994 ……. , oleh
sebab itu penyitaan yang prematur tersebut batal demi hukum.” adalah keliru, karena
kesepakatan bersama yang dibuat antara PUPN dengan Termohon Peninjauan Kembali
sebagaimana dituangkan dalam pernyataan bersama Nomor……./PUPN/…… tanggal
…… yang menjadi dasar tindakan hukum selanjutnya jatuh temponya adalah pada
tanggal 3 Juni 1994 bukan tanngal 16 Juni 1994 sebagaimana dikemukakan dalam
pertimbangan hukum judex jurist.
15.
Bahwa dari pertimbangan tersebut di atas, menurut hemat Pemohon Peninjauan Kembali
bahwa judex jurist dalam memutus perkara a quo telah memberikan atau telah membuat
sesuatu kekhilafan/kekeliruan yang nyata. Selain itu judex jurist telah tidak
mempertimbangkan Peraturan Menteri Keuangan Nomor 2/PMK.01/1977 tentang
Pelaksanaan Penyelesaian Piutang Negara yang Macet.
103
LAMPIRAN A
Bahwa atas dasar fakta-fakta hukum dan alasan-alasan sebagaimana dikemukakan di atas,
kiranya telah cukup dasar hukum bagi Pemohon Penjauan Kembali untuk memohon dengan
hormat kehadapan Ketua Mahkamah Agung agar sudilah kiranya Bapak Ketua Mahkamah
Agung berkenan mengadili dan memutus permohonan peninjauan kembali dari Pemohon
Peninjauan Kembali ini dengan putusan sebagai berikut:
1. Menerima permohonan Permohonan Peninjauan Kembali dari Pemohon Peninjauan
Kembali;
2. Membatalkan keputusan Mahkamah Agung RI Nomor ………..……….tanggal ……… ;
Mengadili sekali lagi :
-
Menguatkan putusan Pengadilan Tinggi ………
Menolak seluruh gugatan Penggugat/Terbanding/Pemohon Kasasi/Termohon Peninjauan
Kembali.
Menghukum Termohon Peninjauan Kembali luntuk membayar seluruh biaya perkara yang
timbul dalam perkara a quo untuk semua tingkat peradilan.
Apabila Majelis Hakim berpendapat lain, mohon keadilan yang seadil-adilnya (ex aequo et
bono).
Hormat kami
Kuasa Hukum Pemohon Peninjauan Kembali
(…………………….)
(……………………….)
104
LAMPIRAN A
Lampiran
1. ……………………………
2. ………………………
3. ……………………………..
Bukti-bukti
1. PK-1
2. PK-2
3. PK-3
: …………………………………………………..
: …………………………………………………..
: …………………………………………………..
105
LAMPIRAN A
Contoh Kontra Memori Peninjauan Kembali
DEPARTEMEN KEUANGAN REPUBLIK INDONESIA
DIREKTORAT JENDRAL PIUTANG DAN LELANG NEGARA
KANTOR WILAYAH ....................
KANTOR PELAYANAN PIUTANG DAN LELANG NEGARA ..................
KONTRA MEMORI PENINJAUAN KEMBALI
Atas Memori Peninjauan Kembali yang diajukan oleh
Pemohon Peninjauan Kembali semula Turut Tergugat I PT
.................terhadap Putusan Mahkamah Agung Nomor: ..........
tanggal ............ , dalam perkara gugatan di Pengadilan Negeri
................................. dalam perkara antara :
Pemerintah Republik Indonesia cq. Menteri Keuangan
Republik Indonesia cq. Direktorat Jenderal Piutang dan Lelang
Negara cq. Kantor Wilayah ………………….. cq. Kantor
Pelayanan Piutang dan Lelang Negara ……….….. beralamat
di Jalan ………………………………………………………...
sebagai...TURUT TERMOHON PENINJAUAN KEMBALI
IV semula Tergugat IV
melawan
.................................., beralamat di Jalan .......................,
sebagai... PEMOHON PENINJAUAN KEMBALI I semula
Penggugat
Tempat, Tgl/Bulan/Tahun
Kepada Yth.
Ketua Mahkamah Agung Republik Indonesia
di Jakarta
melalui
Yth. Ketua Pengadilan Negeri ...............................
di Jalan. .................................
...............................
106
LAMPIRAN A
Dengan hormat,
Kami yang bertanda tangan di bawah ini, berdasarkan Surat Kuasa Khusus Menteri
Keuangan Republik Indonesia Nomor : SKU-...../....../...... tanggal ...................... karenanya
dalam hal ini bertindak untuk dan atas nama Pemberi Kuasa serta mewakilinya, dengan ini
mengajukan Kontra Memori Peninjauan Kembali terhadap Permohonan Peninjauan
Kembali atas Putusan Mahkamah Agung Nomor .................. tanggal .............. yang
diajukan oleh Pemohon Peninjauan Kembali..................
I. Bahwa putusan Mahkamah Agung Republik Indonesia Nomor ……………. tanggal
……. amarnya berbunyi sebagai berikut :
MENGADILI
-
Menolak permohonan kasasi dari Pemohon Kasasi;
Menghukum Pemohon Kasasi untuk membayar biaya perkara dalam tingkat kasasi
ini sebesar Rp ……………….
II. Bahwa terhadap permohonan peninjauan kembali dan Memori Peninjauan Kembali
yang diajukan oleh Pemohon Peninjauan Kembali pada tanggal ………., baru
diberitahukan kepada Turut Termohon Peninjauan Kembali IV melalui Relaas
Pemberitahuan dan Penyerahan Turunan Memori Peninjauan Kembali Nomor
……………. pada hari …….. tanggal ……….. Dengan demikian, Kontra Memori
Peninjauan Kembali a quo diajukan masih dalam tenggang waktu dan cara serta syaratsyarat sebagaimana yang ditentukan dalam Pasal 72 ayat (2) Undang-Undang No. 14
Tahun 1985, yaitu 30 hari setelah tanggal diterimanya salinan permohonan peninjauan
kembali, karenanya sah dan secara formal dapat diterima.
III. Bahwa sebelum Termohon Peninjauan Kembali II menguraikan tanggapan terhadap
alasan-alasan permohonan peninjauan kembali, terlebih dahulu Termohon Peninjauan
Kembali IV mohon perhatian Mahkamah Agung atas hal-hal sebagai berikut:
1. Bahwa Pemohon Peninjauan Kembali dalam peradilan tingkat pertama
kedudukannya adalah sebagai Turut Tergugat I.
2. Bahwa dalam kedudukannya sebagai Turut Tergugat I, maka sebenarnya apabila
ternyata gugatan Penggugat ditolak maka yang berkepentingan untuk mengajukan
upaya hukum adalah Penggugat, bukan Turut Tergugat I.
3. Bahwa ternyata dalam pemeriksaan peninjauan kembali a quo, Pemohon
Peninjauan Kembali yang semula adalah Turut Tergugat I telah mendudukkan
dirinya seolah-olah sebagai Penggugat yang keberatan atas putusan Mahkamah
Agung yang menolak gugatannya.
4. Bahwa permohonan peninjauan kembali yang diajukan oleh Pemohon Peninjauan
Kembali/ Turut Tergugat I dimaksud sarna sekali tidak lazim dalam hukum acara
perdata, sebab apabila dirinya menempatkan dirinya sama dengan Penggugat, maka
seharusnya Pemohon Peninjauan Kembali/ Turut Tergugat I sejak semula bertindak
107
LAMPIRAN A
sebagai Penggugat.
5. Bahwa seandainya (quod non) permohonan peninjauan kembali a quo dikabulkan,
maka akan menjadi preseden buruk dan menimbulkan ketidakpastian hukum.
IV. Bahwa alasan yang dijadikan dasar bagi Pemohon Peninjauan Kembali untuk
mengajukan permohonan peninjauan kembali atas putusan Mahkamah Agung yang
telah berkekuatan hukum tetap a quo, adalah
karena telah dikabulkan sesuatu hal yang tidak dituntut (ultra petita) dan
terdapat suatu kekhilafan atau suatu kekeliruan yang nyata dalam putusan
Mahkamah Agung (vide Pasal 67 huruf c dan f Undang-Undang Nomor 14 Tahun
1985).
Bahwa alasan sebagaimana yang dipergunakan oleh Pemohon Peninjauan Kembali
tersebut, selain sifatnya hanya mengada-ada, tidak berdasar dan sarna sekali tidak
beralasan, juga hanya akan menambah beban kerja dan bertumpuknya jumlah perkara
di Mahkamah Agung, sehingga sangat bertentangan dengan program Mahkamah
Agung yang bertekad untuk segera mengurangi jumlah tunggakan perkara.
Bahwa untuk itu, sangat tepat kiranya apabila pengajuan permohonan peninjauan
kembali yang hanya didasarkan pada alasan Pasal 67 huruf c dan f Undang-Undang No.
14 Tahun 1985, sebagaimana yang dipergunakan oleh Pemohon Peninjauan Kembali a
quo, tidak perlu dipertimbangkan dan dinyatakan ditolak.
Bahwa namun demikian, sesuai dengan hak jawab Termohon Peninjauan Kembali II,
dengan ini disampaikan tanggapan atas Memori Peninjauan Kembali yang diajukan
oleh Pemohon Peninjauan Kembali sebagai berikut:
A. TANGGAPAN ATAS ALASAN PERMOHONAN PENINJAUAN KEMBALI
YANG PERTAMA :
1. Bahwa dalam memori peninjauan kembali yang diajukan, Pemohon Peninjaun
Kembali menyatakan bahwa putusan Pengadilan Tinggi ………yang dikuatkan
oleh Mahkamah Agung telah melebihi dari apa yang diminta oleh Penggugat
Rekonvensi.
2. Bahwa apa yang dikemukakan oleh Pemohon Peninjauan Kembali tersebut
sama sekali tidak berdasar, sebab amar putusan Pengadilan Tinggi ……. yang
dikuatkan oleh Mahkamah Agung dimaksud sama sekali tidak dapat disebut
sebagai ultra petita, karena hanyalah berbeda redaksionalnya saja dengan
redaksi petitum Penggugat Rekonpensi, dan hal ini dibenarkan oleh hukum
karena dalam gugatan rekonpensinya, Penggugat Rekonpensi meminta kepada
Majelis Hakim apabila berpendapat lain mohon putusan yang seadil-adilnya (ex
aequo et bono).
108
LAMPIRAN A
3. Bahwa suatu putusan baru dapat dianggap sebagai ultra petita, apabila amar
putusan telah melampaui batas wewenangnya dengan mengabulkan sesuatu
yang sarna sekali tidak diminta oleh Penggugat dalam petitum gugatannya.
4. Bahwa mengenai dalil Pemohon Peninjauan Kembali yang pada pokoknya
menyatakan bahwa akibat hukum pembatalan akta hibah adalah tidak sama
dengan akibat hukum akta hibah dinyatakan tidak berkekuatan hukum, adalah
dalil yang sangat mengada-ada dan sama sekali tidak berdasar, sebab amar
putusan Pengadilan Tinggi ……., yang dikuatkan oleh Mahkamah Agung
tersebut diambil, setelah Majelis Hakim mempertimbangkan sebagaimana
tercantum pada halaman ….. dan … putusan, yakni bahwa ..." berdasarkan
putusan-putusan tersebut ……. memikul kewajiban untuk membayar
sejumlah uang maupun melakukan perbuatan tertentu karena wanprestasi,
kewajiban-kewajiban mana adalah alas tanggungan seluruh harta
kekayaannya, maka perbuatan ………… mengalihkan saham-sahamnya
pada PT………… adalah anak-anaknya sendiri adalah mengandung itikad
tidak baik, yaitu menghindarkan diri dari kewajiban-kewajiban tersebut'.
5. Bahwa dengan demikian, penghibahan saham-saham objek sengketa a quo sejak
awal memang tidak mempunyai kekuatan hukum, sehingga amar putusan
Pengadilan Tinggi …… yang dipermasalahkan oleh Pemohon Peninjauan
Kembali telah tepat dan benar.
B. TANGGAPAN ATAS ALASAN PERMOHONAN PENINJAUAN KEMBALI
YANG KEDUA:
1. Bahwa alasan yang kedua dari Pemohon Peninjauan Kembali yang pada
pokoknya menyatakan bahwa telah terdapat kekhilafan/kekeliruan Hakim
karena mengutip pertimbangan hukum Pengadilan Tinggi …….. halaman 7 dan
8 putusan, adalah dalil-dalil yang sangat tidak berdasar dan patut ditolak atau
setidak-tidaknya dikesampingkan.
2. Bahwa alasan-alasan Pemohon Peninjauan Kembali tersebut tidaklah termasuk
kekhilafan Hakim sebagaimana dimaksud oleh pasal 67 huruf f Undang-Undang
Mahkamah Agung, namun merupakan penilaian atas suatu pembuktian yang
merupakan kewenangan judex factie untuk memeriksa dan mengadili.
3. Bahwa apa yang dikemukakan oleh Pemohon Peninjauan Kembali tersebut,
telah dipertimbangkan dengan tepat dan benar oleh Pengadilan Tinggi ……….
dan dikuatkan oleh Mahkamah Agung. Karenanya alasan-alasan Pemohon
Peninjauan Kembali dimaksud tidak perlu dipertimbangkan lagi.
V. Bahwa berdasarkan uraian serta alasan-alasan yang telah disampaikan di atas, maka
alasan terdapatnya ultra petita dan suatu kekhilafan atau kekeliruan yang nyata dalam
putusan Makamah Agung No. ……….tanggal ………, tidak terbukti. Bahkan
sebaliknya, alasan Pemohon Peninjauan Kembali dalam mengajukan permohonan
peninjauan kembali hanya mengada-ada, tidak berdasar dan sarna sekali tidak
109
LAMPIRAN A
beralasan. Oleh karena itu, sangat beralasan kiranya apabila Termohon Peninjauan
Kembali II mohon ke hadapan Bapak Ketua Mahkamah Agung agar berkenan
memeriksa, mengadili dan memutuskan dalam tingkat peninjauan kembali dengan amar
yang menyatakan :
1. Menolak permohonan peninjauan kembali yang diajukan oleh Pemohon Peninjauan
Kembali;
2. Menguatkan Putusan Mahkamah Agung RI No………. tanggal ……….. yang
dimohonkan peninjauan kembali;
3. Menghukum Pemohon Peninjauan Kembali untuk membayar biaya perkara di
seluruh tingkat peradilan.
Terima kasih.
Hormat kami
Kuasa Hukum Turut Termohon Peninjauan Kembali IV
(……………………)
(……………………….)
110
LAMPIRAN B
SALINAN
INSTRUKSI MENTERI KEUANGAN REPUBLIK INDONESIA
NO. : 05/IMK.01/1978
TENTANG
PENANGANAN PERKARA-PERKARA DIMUKA PENGADILAN YANG
MENYANGKUT DEPARTEMEN KEUANGAN SERTA INSTANSI-INSTANSI
DAN BADAN-BADAN/BADAN-BADAN USAHA NEGARA YANG BERADA DI
BAWAH LINGKUNGAN DEPARTEMEN KEUANGAN
MENTERI KEUANGAN REPUBLIK INDONESIA,
Menimbang
: a. bahwa untuk ketertiban dalam penanganan perkara-perkara di
muka Pengadilan yang menyangkut nama Departemen
Keuangan beserta instansi-instansi dan badan-badan/Badanbadan Usaha Negara yang berada di bawah lingkungan
Departemen Keuangan perlu adanya satu koordinasi.
b. bahwa Menteri Keuangan dengan Keputusannya No. KEP405/MK/6/4/1975 telah melimpahkan wewenang untuk
menyelesaikan masalah tersebut pada huruf a pada Biro Hukum
dan Hubungan masyarakat.
c. bahwa oleh karena itu dipandang perlu untuk mempertegas dan
memperluas berlakunya Surat Edaran Menteri Keuangan No. S561/MK/7/8/1974 tanggal 19 Agustus 1974 dan No. S-566/
MK.J/1977 tanggal 18 Mei 1977 serta menuangkannya dalam
suatu bentuk hukum.
Mengingat
: 1. Keputusan Presiden No. 44 tahun 1974.
2. Keputusan Presiden No. 45 tahun 1974 jis Keputusan Presiden
No. 12 tahun 1976 dan Keputusan Presiden No. 15 Tahun 1978.
4. Keputusan Presiden No. 54/M tahun 1978.
5. Keputusan Menteri Keuangan No. KEP-405/MK/6/4/1978.
MENGINSTRUKSIKAN:
Kepada
: 1. Sekretaris Jenderal Departemen Keuangan.
2. Inspektur Jenderal Departemen Keuangan.
3. Para Direktur Jenderal dalam lingkungan Departemen
Keuangan.
4. Para Kepala Badan dan Pusat, dalam lingkungan Departemen
Keuangan.
5. Pimpinan Badan Usaha Negara dalam lingkungan Departemen
Keuangan.
111
LAMPIRAN B
UNTUK
Pertama
:
Dalam hal Saudara selaku Kepala / Pimpinan Instansi atau
Badan/Badan Usaha Negara yang berada dibawah lingkungan
Departemen Keuangan, dalam suatu perkara dimuka Pengadilan
digugat dalam perkara perdata diminta untuk didengar sebagai
saksi, saksi ahli atau memberikan pernyataan tertulis dalam
perkara baik perdata maupun pidana, agar segera menghubungi
Biro Hukum dan Hubungan Masyarakat Departemen Keuangan.
Kedua
:
Dalam hal Pejabat yang berada dibawah lingkungan Instansi atau
Badan/Badan Usaha Negara yang Saudara Pimpin, karena
kedudukannya tersebut dalam suatu perkara dimuka Pengadilan
digugat sebagai pihak dalam perkara perdata, diminta untuk
didengar sebagai saksi, saksi ahli atau memberikan pernyataan
tertulis dalam perkara baik perdata maupun pidana, agar
memerintahkan Pejabat tersebut untuk segera menghubungi Biro
Hukum dan Hubungan Masyarakat Departemen Keuangan.
Ketiga
:
Senantiasa berkonsultasi dan bersama-sama dengan Biro Hukum
dan Hubungan Masyarakat Departemen Keuangan menghadapi
hal tersebut pada diktum Pertama dan Kedua.
Instruksi Menteri Keuangan ini berlaku sejak tanggal ditetapkan.
Ditetapkan di: J A K A R T A
Pada tanggal: 22 Desember 1978
MENTERI KEUANGAN,
ttd.
ALI WARDANA.
112
LAMPIRAN B
SALINAN
KEPUTUSAN MENTERI KEUANGAN REPUBLIK INDONESIA
NOMOR 139/KMK.08/2001
TENTANG
PENUNJUKAN SEKRETARIS JENDERAL DAN DIREKTUR JENDERAL
PIUTANG DAN LELANG NEGARA DEPARTEMEN KEUANGAN UNTUK DAN
ATAS NAMA MENTERI KEUANGAN MENANDATANGANI SURAT KUASA
KHUSUS MENTERI KEUANGAN GUNA MENGHADAP DI MUKA PERADILAN
UMUM
MENTERI KEUANGAN REPUBLIK INDONESIA,
Menimbang
: bahwa berhubung dengan perubaban organisasi Badan Urusan Piutang
dan Lelang Negara menjadi Direktorat Jenderal Piutang dan Lelang
Negara Departemen Keuangan, dipandang perlu meninjau kembali
Keputusan Menteri Keuangan Nomor 167/KMK.0l/1999 untuk
disesuaikan dengan perkembangan organisasi.
Mengingat
: 1. Keputusan Presiden Republik Indonesia Nomor 177 Tahun 2000
tentang Susunan Organisasi dan Tugas Departemen.
2. Keputusan Menteri Keuangan Republik Indonesia Nomor 2/KMK.0l/
2001 tentang Organisasi dan Tata Kerja Departemen Keuangan.
MEMUTUSKAN :
Menetapkan
: PENUNJUKAN SEKRETARIS JENDERAL DAN DIREKTUR
JENDERAL PIUTANG DAN LELANG NEGARA DEPARTEMEN
KEUANGAN UNTUK DAN ATAS NAMA MENTERI KEUANGAN
MENANDATANGANI SURAT KUASA KHUSUS MENTERI
KEUANGAN GUNA MENGHADAP DI MUKA PERADILAN UMUM
Pasal 1
Menunjuk Sekretaris Jenderal Departemen Keuangan untuk dan atas nama
Mcnteri Keuangan untuk menandatangani Surat Kuasa Khusus Menteri
Keuangan kepada Pejabat Biro Hukum dan Hubungan Masyarakat selaku
kuasa penangan perkara gugatan perdata yang diajukan terhadap unit-unit
kerja di lingkungan Departemen Keuangan pada tingkat Pengadilan Negeri,
Pengadilan Tinggi dan Mahkamah Agung.
113
LAMPIRAN B
Pasal 2
Menunjuk Direktur Jenderal Piutang dan Lelang Negara Departemen
Keuangan untuk dan atas nama Menteri Keuangan untuk menandatangani
Surat Kuasa Khusus Menteri Keuangan kepada pejabat Direktorat Jenderal
Piutang dan Lelang Negara selaku kuasa penanganan perkara gugatan
perdata yang bersifat rutin / biasa serta tidak mengandung tuntutan ganti
rugi, yang diajukan terhadap unit kerja Direktorat Jenderal Piutang dan
Lelang Negara pada tingkat Pengadilan Negeri, Pengadilan Tinggi dan
Mahkamah Agung.
Pasal 3
Dalam hal Sekretaris Jenderal Departemen Keuangan berhalangan, Surat
Kuasa Khusus Menteri Keuangan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 1
ditandatangani oleh Pejabat pengganti sementara (Pgs) Sekretaris Jenderal
Departemen Keuangan yang ditunjuk.
Pasal 4
Dalam hal Direktur Jenderal Piutang dan Lelang Negara Departermen
Keuangan berhalangan, Sural Kuasa Khusus Menteri Keuangan
sebagaimana dimaksud dalam Pasal 2 ditandatangani oleh Pejabat
pengganti sementara (Pgs) Direktur Jenderal Piutang dan Lelang Negara
Departemen Keuangan yang ditunjuk.
Pasal 5
(1) Dengan berlakunya Keputusan ini, maka Keputusan Menteri Keuangan
Nomor 167/KMK.0I/1999 tanggal 10 Mei 1999 dinyatakan tidak
berlaku.
(2) Keputusan ini mulai berlaku pada tanggal ditetapkan dan berlaku surut
sejak tanggal 12 Februari 2001.
SALINAN Keputusan ini disampaikan kepada Yth.
1. Sekretaris Jenderal Departemen Keuangan;
2. Direktur Jenderal Piutang dan Lelang Negara;
3. Kepala Biro Hukum dan Hubungan Masyarakat Departemen Keuangan.
Ditetapkan di Jakarta
pada tanggal 22 Maret 2001
MENTERI KEUANGAN REPUBLIK INDONESIA,
ttd.
PRIJADI PRAPTOSUHARDJO
114
LAMPIRAN B
DEPARTEMEN KEUANGAN REPUBLIK INDONESIA
DIREKTORAT JENDERAL PIUTANG DAN LELANG NEGARA
Gedung D Departemen Keuangan Lantai 10,11,12
Jln. Dr. Wahidin No. 1
Jakarta - 10710
Yth.
1. Para Kepala Kanwil DJPLN
2. Para Kepala KP2LN
1 dan 2 di lingkungan DJPLN
seluruh Indonesia
Telepon : 021 - 34357546
Faksimile : 021 – 3847742
19 Desember 2003
SURAT EDARAN
Nomor : SE-27/PL/2003
Penanganan Perkara Tata Usaha Negara di Lingkungan
Direktorat Jenderal Piutang dan Lelang Negara
/ Panitia Urusan Piutang Negara
Dalam rangka efisiensi dan percepatan penyelesaian perkara dengan
memperhatikan Undang-undang Nomor 5 Tahun 1986 tentang Peradilan Tata Usaha
Negara, maka penanganan perkara Tata Usaha Negara di lingkungan DJPLN / PUPN
dilakukan sebagai berikut :
1. Perkara Tata Usaha Negara ditangani oleh unit yang menerbitkan Keputusan Tata
Usaha Negara yang digugat. Surat Kuasa Khusus penanganan perkara diterbitkan oleh
pejabat yang digugat.
2. Dalam hal yang digugat adalah Kepala KP2LN dan atau Kepala Kanwil DJPLN maka
Surat Kuasa Khusus diterbitkan oleh Kepala KP2LN dan atau Kepala Kanwil DJPLN
dan ditandatangani oleh Kepala KP2LN dan atau Kepala Kanwil DJPLN serta
penerima kuasa. Dalam hal yang digugat adalah Ketua PUPN Cabang maka Surat
Kuasa Khusus diterbitkan oleh Ketua PUPN Cabang dan ditandatangani oleh Ketua
PUPN Cabang yang bersangkutan serta penerima kuasa. Di dalam Surat Kuasa Khusus
dapat dicantumkan klausul hak menguasakan kembali (hak substitusi). Satu tembusan
Surat Kuasa Khusus disampaikan ke Direktorat Informasi dan Hukum berikut surat
gugatannya.
3. Isi Surat Kuasa Khusus meliputi kuasa untuk menghadap pada semua pengadilan,
semua hakim di Indonesia, memajukan dan menjalankan perkara-perkara lainnya yang
perlu untuk menyelesaikan perkara tersebut di atas, mengambil segala tindakan yang
dianggap baik, memberi keterangan-keterangan yang menurut hukum harus diberikan
oleh seseorang yang diberi kuasa, memajukan segala rekes, konklusi dan lain-lain
surat, mengajukan gugat balik, bantahan, menandatangani akta perdamaian,
mengajukan banding serta menyusun memori banding/kontra memori banding,
mengajukan kasasi serta menyusun memori kasasi/kontra memori kasasi, meminta
agar perkara diperiksa lagi dengan mengajukan permohonan peninjauan kembali,
menyusun dan mengajukan memori/kontra memori peninjauan kembali, meminta
115
LAMPIRAN B
sesuatu pihak disumpah, dan selebihnya berusaha segala-galanya yang dianggap
penting dan berguna oleh seseorang yang diberi kuasa.
4. Dalam hal dipandang perlu KP2LN/PUPN Cabang dapat meminta bantuan Kantor
Wilayah/Kantor Pusat dalam penanganan perkara. Untuk itu agar nama
pejabat/pegawai Kanwil/Kantor Pusat dicantumkan sebagai salah satu penerima kuasa.
5. Dalam penyusunan jawaban, duplik, pembuktian, kesimpulan, memori banding/kontra
memori banding, memori kasasi/kontra memori kasasi, dan memori peninjauan
kembali/kontra memori peninjauan kembali agar selalu berkoordinasi dengan Kantor
Pusat DJPLN dengan melampirkan fotokopi panggilan sidang, surat gugatan atau
sanggahan, putusan berikut fotokopi berkas pengurusan piutang negara/pelaksanaan
lelang.
6. Perkembangan perkara Tata Usaha Negara tetap dilaporkan kepada Kantor Pusat
DJPLN cq. Direktorat Informasi dan Hukum (laporan triwulan), dengan
memperhatikan hal-hal sebagai berikut:
a. perkara yang dilaporkan hanya perkara aktif saja;
b. perkara yang sudah selesai yaitu:
1) sudah diputus dan tidak dilakukan upaya hukum lagi;
2) dicabut;
3) perdamaian;
4) digugurkan;
hanya dilaporkan sekali dan seterusnya tidak perlu dilaporkan;
c. perkara yang sudah diputus pada tingkat kasasi dianggap sudah selesai tanpa harus
menunggu upaya hukum Peninjauan Kembali (PK). Apabila ada upaya hukum PK,
maka perkara tersebut harus dicantumkan kembali ke dalam laporan triwulan.
7. Dengan terbitnya Surat Edaran ini maka Bagian III.A Surat Edaran Nomor: SE14/PN/1999 tanggal 8 Juli 1999 tentang Penanganan Perkara di Lingkungan
PUPN/BUPLN jo. Bagian III.A Surat Edaran Nomor: SE-24/PN/1999 tanggal 4
November 1999 tentang Perubahan Butir III.A Surat Edaran Nomor: SE-14/PN/1999
tanggal 8 Juli 1999 sepanjang telah diatur dalam Surat Edaran ini tidak berlaku lagi.
Para Kepala Kantor Wilayah DJPLN diminta untuk melakukan pengawasan dan
pemantauan terhadap pelaksanaan Surat Edaran Direktur Jenderal ini.
Demikian, untuk dilaksanakan dengan sebaik-baiknya.
Direktur Jenderal,
ttd.
Achmad Rochjadi
NIP 060047192
Tembusan :
1. Sekretaris DJPLN;
2. Para Direktur di lingkungan DJPLN.
116
LAMPIRAN B
DEPARTEMEN KEUANGAN REPUBLIK INDONESIA
DIREKTORAT JENDERAL PIUTANG DAN LELANG NEGARA
Gedung D Departemen Keuangan Lantai 10,11,dan 12
Jln. Dr. Wahidin No. 1
Jakarta - 10710
Telepon : 021 - 34357546
Faksimile : 021 – 3847742
Yth.
1. Para Kepala Kanwil DJPLN
2. Para Kepala KP2LN
1 dan 2 di lingkungan DJPLN
seluruh Indonesia
19 Desember 2003
SURAT EDARAN
Nomor : SE - 28 /PL/2003
Peningkatan Kualitas Penanganan Perkara
Pengurusan Piutang Negara dan Lelang
Dalam upaya meningkatkan kualitas penanganan perkara pengurusan piutang negara dan
pelaksanaan lelang, dengan ini disampaikan foto copy beberapa putusan Mahkamah Agung
(MA) sebagai yurisprudensi yang diperoleh dari majalah "Varia Peradilan" dengan harapan
dapat digunakan sebagai bahan atau rujukan dalam penyusunan jawaban dan duplik. Putusanputusan Mahkamah Agung tersebut memuat hal sebagai berikut :
1. Putusan Mahkamah Agung Nomor 1205/SIP/1971 tanggal 10 Januari 1973 intinya memuat
bahwa pengurusan piutang negara merupakan kewenangan absolut PUPN. Apabila PUPN
telah mengurus piutang negara tersebut terlebih dahulu, maka Pengadilan tidak berwenang
memeriksa dan mengadili perkara yang bersangkutan. Yurisprudensi ini dapat diajukan
dalam eksepsi mengenai Kompetensi Absolut.
2. Putusan Mahkamah Agung Nomor 301 K/TUN/1999 tanggal 28 Juli 2003 memuat putusan
atas perkara gugatan pembatalan Penetapan Jumlah Piutang Negara (PJPN), yaitu perkara
antara CV Ikhsan dengan Direktris Ny. Hj.Bainani Ismail melawan PUPN. Putusan
Mahkamah Agung tersebut intinya memuat bahwa PUPN berwenang menetapkan jumlah
piutang negara yang wajib dilunasi debitor apabila Pernyataan Bersama tidak dibuat.
Penetapan Jumlah Piutang Negara (PJPN) oleh Ketua PUPN adalah benar dan sah
hukumnya, tidak bertentangan dengan hukum yang berlaku.
3. Putusan Mahkamah Agung Nomor 1755 K/Pdt/1997 tanggal 26 April 2001 memuat
putusan atas perkara mengenai gugatan harta gono-gini/harta bersama suami istri yang
dijaminkan kepada kreditor tanpa persetujuan salah satu pihak, yaitu perkara antara istri
Saipul Lapia dengan Bank Dagang Negara (Bank Mandiri) dkk. Putusan Mahkamah
Agung tersebut intinya memuat bahwa harta bersama (gono-gini) merupakan jaminan
untuk pembayaran hutang suami atau istri yang terjadi selama perkawinan. Gugatan pihak
117
LAMPIRAN B
ketiga, yaitu gugatan istri terhadap suami yang menjaminkan harta bersama untuk hutang
yang timbul selama perkawinan dengan alasan suami tidak meminta persetujuan lebih
dahulu dari istri, secara hukum tidak dapat dibenarkan. Meskipun istri tidak dimintai
persetujuannya lebih dahulu, maka perbuatan hukum suaminya atas harta bersama tetap sah
menurut hukum.
4. Putusan Mahkamah Agung Nomor 848 K/Pdt/1999 tanggal 9 Februari 2001 merupakan
putusan atas gugatan terhadap pelaksanaan lelang barang/tanah agunan suatu hutang yang
macet yang dilakukan oleh Kantor Pelayanan Piutang dan Lelang Negara. Putusan
Mahkamah Agung tersebut intinya memuat bahwa penentuan harga limit atas lelang barang
jaminan tidak ditentukan pada Nilai Jual Objek Pajak (NJOP) melainkan didasarkan pada
penilaian Tim Penaksir dengan mendasarkan pada ketentuan dalam Keputusan Menteri
Keuangan Nomor 376/KMK.01/1998 (sekarang Keputusan Menteri Keuangan Nomor
300/KMK.01/2001).
5. Putusan Mahkamah Agung Nomor 1456 K/Pdt/1998 tanggal 28 Juni 1999 memuat putusan
lelang eksekusi dalam perkara antara Ny. R. Nunung Siti Hadijah melawan The Pe Lie alias
Themajaya Alex dkk. Putusan Mahkamah Agung tersebut intinya memuat bahwa untuk
membuktikan apakah benar telah terjadi penyimpangan dari ketentuan undang-undang
dalam pelaksanaan “lelang eksekusi” berdasarkan atas Penetapan Ketua PUPN oleh Pejabat
Kantor Lelang Negara, maka gugatan yang demikian itu harus diajukan ke Pengadilan Tata
Usaha Negara, karena masalah tersebut menyangkut kewenangan para Pejabat Tata Usaha
Negara, dan bukan wewenang Peradilan Umum/Pengadilan Negeri.
6. Putusan Mahkamah Agung Nomor 47 K/TUN/1997 tanggal 2 Januari 1998 memuat
putusan atas gugatan mengenai pembatalan Risalah Lelang dalam perkara antara Budi
Laksono Direktur PT Marina Aneka Plywood melawan Kepala Kantor Lelang Klas I
Surabaya. Putusan Mahkamah Agung tersebut intinya memuat bahwa Risalah Lelang bukan
merupakan Keputusan Badan/Pejabat Tata Usaha Negara, tetapi merupakan Berita Acara
hasil penjualan barang, sebab tidak ada unsur “beslissing”(penetapan tertulis/beschikking
maupun keputusan) maupun pernyataan kehendak dari Pejabat Kantor Lelang.
Mengingat jawaban pertama merupakan hal yang mendasar dalam proses beracara, maka
sebelum menyusun jawaban (termasuk duplik) hendaknya dipelajari secara cermat petitum
(tuntutan) dan dasar gugatan (fundamentum petendi) untuk dapat memilih yurisprudensi yang
tepat diajukan dalam jawaban.
Para Kepala Kantor Wilayah DJPLN diminta untuk melakukan pengawasan dan
pemantauan terhadap pelaksanaan Surat Edaran Direktur Jenderal ini.
Demikian, untuk dilaksanakan dengan sebaik-baiknya.
Direktur Jenderal,
ttd.
Achmad Rochjadi
NIP 060047192
118
LAMPIRAN B
DEPARTEMEN KEUANGAN REPUBLIK INDONESIA
DIREKTORAT JENDERAL PIUTANG DAN LELANG NEGARA
Gedung D Departemen Keuangan
Jln. Dr. Wahidin No. 1
Jakarta - 10710
Telepon : 021 - 34357546
Faksimile : 021 – 3847742
Yth.
1. Para Kepala Kanwil DJPLN
2. Para Kepala KP2LN
1 dan 2 di lingkungan DJPLN
seluruh Indonesia
19 Desember 2003
SURAT EDARAN
Nomor : SE -31/PL/2003
Bantuan Hukum Terhadap Pejabat/Pegawai yang
Tersangkut Perkara Pidana dalam Menjalankan Tugas
Dalam upaya mewujudkan suasana kondusif dalam pelaksanaan tugas pengurusan
piutang dan lelang negara, dipandang perlu memberikan petunjuk penanganan perkara pidana
sepanjang menyangkut para pejabat/petugas yang sedang menjalankan tugas/jabatannya
sebagai berikut:
1.
Pencegahan secara dini terjadinya permasalahan hukum dalam pelaksanaan tugas
pengurusan piutang dan lelang negara adalah lebih baik daripada menghadapi proses
pidana. Untuk itu setiap pejabat/pegawai di lingkungan DJPLN dituntut untuk
memberikan pelayanan secara transparan dan akuntabel kepada setiap pengguna jasa
DJPLN dengan memegang teguh sikap kehati-hatian, kecermatan, taat pada ketentuan dan
prosedur yang berlaku.
2.
Pejabat/pegawai/pejabat lelang yang mengelola Berkas Kasus Piutang Negara
(BKPN)/berkas permohonan lelang hendaknya memahami karakteristik setiap
BKPN/permohonan lelang yang ditangani, sehingga secara dini dapat diantisipasi
kemungkinan masalah hukum yang timbul dalam pengurusan piutang dan lelang negara
dimaksud. Untuk itu Kepala Kantor agar membiasakan diri menempuh cara diskusi
dengan para petugas terkait sehingga diperoleh pemahaman dan kecermatan yang
memadai.
3.
Meskipun demikian, tidak tertutup kemungkinan seorang pejabat/pegawai yang
melaksanakan tugas pengurusan piutang dan lelang dapat terkait dengan masalah pidana
dan dipanggil oleh pihak penyidik (Kepolisian/Kejaksaan) baik dalam kedudukannya
sebagai tersangka, maupun saksi dan atau diminta untuk memberikan keterangan secara
tertulis. Apabila hal dimaksud di atas terjadi, Saudara tidak perlu merasa khawatir
sepanjang Saudara telah melaksanakan tugas dengan itikad baik, cermat dan mentaati
ketentuan-ketentuan yang berlaku.
119
4.
LAMPIRAN B
Dalam hal Saudara dan atau staf Saudara dipanggil oleh penyidik (Kepolisian/Kejaksaan)
baik dalam kedudukan sebagai tersangka atau saksi dalam kaitan dengan pelaksanaan
tugas pengurusan piutang negara dan pelaksanaan lelang, diminta agar Saudara segera
melaporkan masalah tersebut secara tertulis ke Kantor Pusat DJPLN cq. Direktorat
Informasi dan Hukum disertai dokumen pendukung dan resume kasus yang bersangkutan.
Laporan dimaksud agar ditembuskan kepada Kepala Kantor Wilayah. Pada tahap pertama
agar Saudara segera berkoordinasi dengan anggota PUPN yang mewakili unsur Kepolisian
dan Kejaksaaan. Apabila masalahnya menyangkut juga Penyerah Piutang, sebaiknya
dilakukan koordinasi dengan Penyerah Piutang agar diperoleh kesamaan persepsi. Laporan
dapat disampaikan kepada Kantor Pusat DJPLN cq. Direktorat Informasi dan Hukum
melalui mesin facsimile dengan nomor 021-3455386.
5.
Kepala Kantor Wilayah agar segera mempelajari laporan tersebut dan memberikan
pendapat, petunjuk/dukungan kepada pejabat terkait. Apabila tingkat kesulitannya cukup
berat, maka Kepala Kantor Wilayah agar memberikan pertimbangannya ke Kantor Pusat.
6.
Kepala Kantor agar segera mepelajari berkas terkait, melengkapi berkas sesuai aturan dan
mengamankannya. Kepala Kantor juga harus aktif memantau secara seksama informasi
masmedia mengenai masalah tersebut, sehingga bisa digunakan sebagai tambahan
pertimbangan atas langkah yang tepat.
7.
Apabila masalahnya mempunyai tingkat kesulitan yang tinggi atau menjadi perhatian
masyarakat maka Kantor Pusat DJPLN cq. Direktorat Informasi dan Hukum bersama
dengan direktorat teknis terkait setelah menerima laporan dimaksud, dapat mengambil
langkah-langkah sebagai berikut:
a. melakukan gelar perkara dengan
mengundang dan atau mendatangi unit,
Pejabat/petugas terkait guna
mendapatkan informasi yang lebih lengkap untuk
menyusun pandangan/pendapat jalan keluar penyelesaiannya;
b. memberikan bantuan hukum kepada pejabat/pegawai yang bersangkutan dengan
mendampinginya pada saat pemeriksaan oleh petugas penyidik (Kepolisian/Kejaksaan);
c. memberikan asistensi kepada advokat yang ditunjuk oleh terdakwa dalam proses
persidangan.
8.
Dalam hal pihak penyidik membutuhkan keterangan dari saksi ahli dan permintaan
tersebut ditujukan kepada Saudara, diminta agar hal tersebut dikonsultasikan dengan
Kantor Pusat DJPLN, sehingga penunjukkan saksi ahli tersebut melalui Kantor Pusat akan
segera dikonsultasikan dengan Biro Hukum Departemen Keuangan agar dapat diakomodir
secara tepat sesuai keahlian yang dibutuhkan. Saksi ahli juga dapat ditunjuk dari Pejabat
Kantor Wilayah atas instruksi Kantor Pusat.
9.
Dalam hal tempat kedudukan pihak penyidik berada di luar wilayah kerja kantor Saudara,
biaya perjalanan dinas bagi pejabat/pegawai yang dipanggil dapat dibebankan kepada DIK
kantor Saudara setelah terlebih dahulu berkonsultasi dengan Sekretaris DJPLN cq. Kepala
Bagian Keuangan.
120
LAMPIRAN B
10. Selama ini, hal-hal yang dapat mengarah pada dugaan tindak pidana antara lain adalah:
- Kekurangcermatan dalam perencanaan lelang, yaitu mengumumkan lelang barang
jaminan atas BKPN yang sudah lunas, sehingga debitor merasa dicemarkan nama
baiknya.
- Juru sita salah menunjukkan objek lelang, sehingga pemenang lelang merasa tertipu.
- Kekurangcermatan dalam administrasi sehingga ada dugaan pemalsuan dokumen.
- Menjanjikan sesuatu kepada debitor tanpa terlebih dahulu mencermati materi BKPN,
sehingga dianggap memberi janji palsu (diduga melakukan tindak pidana penipuan).
- Pelaksanaan sita tidak didahului dengan Surat Perintah Penyitaan sehingga sita cacat
dan dituduh melakukan perbuatan yang tidak menyenangkan.
- Menyita objek sita yang sudah terlebih dahulu disita oleh instansi lain sehingga dituduh
melakukan perbuatan yang tidak menyenangkan.
- Tidak mentaati putusan penundaan lelang badan peradilan sehingga debitor mengadu
kepada polisi.
11. Para Kepala Kantor Wilayah DJPLN diminta untuk melakukan pengawasan
dan pemantauan terhadap pelaksanaan Surat Edaran Direktur Jenderal ini. Kepala Kantor
Wilayah juga diminta membangun koordinasi dengan para penyidik agar mereka lebih
memahami tugas pokok PUPN. Hal ini dapat dilakukan melalui sosialisasi secara umum.
Apabila ditingkat regional ada lembaga pendidikan Kepolisian atau Kejaksaan, Kepala
Kantor Wilayah agar membangun kerjasama dengan mereka untuk mohon setidaktidaknya kita dapat memberi ceramah umum tentang unsur teknis piutang dan lelang.
Secara non formal dapat ditempuh melalui jalur PUPN, olah raga dan sebagainya.
Demikian, untuk dilaksanakan dengan sebaik-baiknya.
Direktur Jenderal,
ttd.
Achmad Rochjadi
NIP 060047192
Tembusan :
1. Sekretaris DJPLN;
2. Para Direktur di lingkungan DJPLN.
121
LAMPIRAN B
DEPARTEMEN KEUANGAN REPUBLIK INDONESIA
DIREKTORAT JENDERAL PIUTANG DAN LELANG NEGARA
Gedung D Departemen Keuangan
Jln. Dr. Wahidin No. 1
Jakarta - 10710
Telepon : 021 - 34357546
Faksimile : 021 - 3847742
Yth.
1. Para Kepala Kanwil
2. Para Kepala KP2LN
1 dan 2 di lingkungan DJPLN
seluruh Indonesia
8 April 2004
SURAT EDARAN
Nomor : SE - 08/PL/2004
Penanganan Perkara Perdata di Lingkungan
Direktorat Jenderal Piutang dan Lelang Negara
/Panitia Urusan Piutang Negara
Dalam rangka efektifitas dan efisiensi penanganan perkara perdata di lingkungan
Direktorat Jenderal Piutang dan Lelang Negara (DJPLN) / Panitia Urusan Piutang Negara
(PUPN), dengan ini kami tegaskan kembali kebijakan penanganan perkara perdata di
lingkungan DJPLN/PUPN sebagai berikut :
1. Perkara perdata yang mengandung tuntutan ganti rugi ditangani oleh Biro Hukum
dan Hubungan Masyarakat Departemen Keuangan sebagaimana telah diatur dalam
Keputusan Menteri Keuangan Nomor 139/KMK.08/2001 tanggal 22 Maret 2001
tentang Penunjukan Sekretaris Jenderal dan Direktur Jenderal Piutang dan Lelang
Negara Departemen Keuangan Guna Menghadap di Muka Peradilan Umum.
Surat Kuasa Khusus (SKU) untuk menangani perkara tersebut diterbitkan serta
ditandatangani oleh Sekretaris Jenderal untuk dan atas nama Menteri Keuangan atau
Ketua PUPN Pusat.
2. Permohonan SKU penanganan perkara yang mengandung tuntutan ganti rugi
diajukan oleh Kepala Kanwil DJPLN/ Kepala KP2LN/ Ketua PUPN Cabang kepada
Sekretaris Jenderal Departemen Keuangan melalui Biro Hukum dan Hubungan
Masyarakat dengan tembusan kepada Direktur Jenderal Piutang dan Lelang Negara
dengan menyebutkan/melampirkan:
a. identitas penerima kuasa;
b. foto kopi panggilan sidang;
c. surat gugatan atau sanggahan;
d. fotokopi berkas pengurusan piutang negara/pelaksanaan lelang.
3. Perkara perdata yang tidak mengandung tuntutan ganti rugi ditangani oleh Direktur
Jenderal Piutang dan Lelang Negara, walaupun dalam gugatannya dicantumkan
tuntutan berupa uang paksa (dwangsoom).
122
LAMPIRAN B
4. Perkara perdata yang mengandung tuntutan ganti rugi namun tuntutan ganti ruginya
tidak ditujukan kepada unit Saudara tetapi kepada pihak lain, tetap ditangani oleh
Direktorat Jenderal Piutang dan Lelang Negara.
5. Surat Kuasa Khusus (SKU) penanganan perkara perdata tersebut pada angka 3 dan 4
diterbitkan oleh Direktur Jenderal Piutang dan Lelang Negara / Ketua Panitia Urusan
Piutang Negara Pusat. SKU penanganan perkara yang diterbitkan dapat dikuasakan
dengan hak substitusi ke petugas penanganan perkara.
6. Permohonan SKU penanganan perkara diajukan oleh Kepala Kanwil DJPLN/
Kepala KP2LN/ Ketua PUPN Cabang kepada Direktur Jenderal Piutang dan Lelang
Negara/ Ketua PUPN Pusat melalui Direktorat Informasi dan Hukum dengan
menyebutkan/melampirkan:
a. identitas penerima kuasa;
b. fotokopi panggilan sidang;
c. surat gugatan atau sanggahan;
d. fotokopi berkas pengurusan piutang negara/pelaksanaan lelang.
7. Kantor Pusat DJPLN cq. Direktorat Informasi dan Hukum menangani perkaraperkara yang memiliki jumlah piutang negara lebih dari Rp 20 Milyar termasuk
perkara-perkara yang berkaitan dengan pelaksanaan lelang yang bersifat kompleks/
tingkat kesulitannya tinggi serta mengandung public interest yang besar. Perkara
tersebut ditangani langsung oleh Kantor Pusat dengan kuasa substitusi kepada
Kanwil / KP2LN.
8. Kanwil DJPLN menangani perkara-perkara yang memiliki jumlah piutang negara
antara Rp 10 Milyar sampai dengan Rp 20 Milyar dengan kuasa substitusi kepada
para petugas di KP2LN.
9. Pada dasarnya Kanwil DJPLN/ KP2LN/ PUPN Cabang yang digugat bertanggung
jawab menangani perkara tersebut, namun KP2LN/Kanwil DJPLN/PUPN Cabang
dapat meminta bantuan hukum penanganan perkara kepada Kantor Pusat cq.
Direktorat Informasi dan Hukum dalam hal pembuatan jawaban, duplik, penyusunan
bukti, kesimpulan, memori/kontra memori banding/kasasi/Peninjauan Kembali.
10. Dengan diterbitkannya Surat Edaran ini, maka Surat Edaran Nomor: SE-14/PN/1999
juncto Surat Edaran Nomor: SE-24/PN/1999 tentang Penanganan Perkara di
Lingkungan PUPN/BUPLN dinyatakan tidak berlaku lagi.
Demikian, untuk dilaksanakan dengan sebaik-baiknya.
Direktur Jenderal,
ttd.
DR Machfud Sidik, Msc.
NIP 060043114
Tembusan :
1. Sekretaris DJPLN;
2. Para Direktur di lingkungan DJPLN.
123
LAMPIRAN B
DEPARTEMEN KEUANGAN REPUBLIK INDONESIA
DIREKTORAT JENDERAL PIUTANG DAN LELANG NEGARA
Gedung D, lt.10-12 Departemen Keuangan
Jln. Dr Wahidin No. 1
Jakarta- 10710
Telepon : (021) 34357546
Faksimile : 021-3847742
Yth. 1. Para Kepala Kanwil DJPLN
2. Para Kepala KP2LN
di.
seluruh Indonesia
11 Mei 2004
SURAT EDARAN
Nomor: SE -10/PL/2004
Tentang
Pelaksanaan Putusan Serta Merta
(Uitvoerbaar Bij Voorraad) dan Provisionil
Terlampir disampaikan Surat Edaran Mahkamah Agung Nomor 4 Tahun 2001
tanggal 20 Agustus 2001 tentang Permasalahan Putusan Serta Merta (Uitvoerbaar Bij
Voorraad) dan Provisionil untuk menjadi perhatian Saudara. Sehubungan dengan itu perlu
kami berikan petunjuk sebagai berikut :
1. Pelajari benar-benar SEMA dimaksud, karena akan sangat berguna dalam rangka
penanganan perkara. Perlu kami ingatkan bahwa pernah terjadi dan tidak tertutup
kemungkinan terjadi lelang yang telah dilaksanakan kemudian dibatalkan oleh
pengadilan, padahal pemenang lelang telah melunasi kewajibannya atau mungkin yang
bersangkutan telah/sedang memanfaatkan barang yang dibeli dari lelang tersebut.
SEMA tersebut agar Saudara manfaatkan benar-benar sehingga putusan perkara yang
mungkin mengalahkan PUPN/DJPLN tidak dilaksanakan secara Uitvoerbaar Bij
Vooraad.
2. Dalam hal unit Saudara digugat dalam perkara perdata yang dalam perkembangan
penanganannya terdapat putusan serta merta, hendaknya Saudara meneliti terlebih
dahulu apakah dalam keputusan serta merta tersebut diikuti dengan penetapan yang
menyebutkan pemberian jaminan yang nilainya sama dengan nilai barang objek
eksekusi atau tidak. Apabila keputusan serta merta tersebut diikuti dengan penetapan
yang menyebutkan pemberian jaminan yang nilainya sama dengan nilai barang objek
eksekusi maka keputusan tersebut dapat dilaksanakan. Namun, apabila keputusan serta
merta tersebut tidak diikuti dengan penetapan yang menyebutkan pemberian jaminan
124
LAMPIRAN B
yang nilainya sama dengan nilai barang objek eksekusi, hendaknya Saudara
mengkonfirmasikannya lebih lanjut dengan Ketua Pengadilan setempat.
Demikian, untuk dipedomani.
Direktur Jenderal
ttd.
Machfud Sidik
NIP 060043114
Tembusan:
1. Sekretaris DJPLN;
2. Para Direktur di lingkungan DJPLN.
125
LAMPIRAN B
KETUA MAHKAMAH AGUNG
REPUBLIK INDONESIA
Jakarta, 20 Agustus 2001
Nomor : MA/Kumdil/177/VIII/K/2001
Kepada Yth.
1. Sdr. KETUA PENGADILAN NEGERI
2. Sdr. KETUA PENGADILAN AGAMA
Di –
SELURUH INDONESIA
SURAT - EDARAN
Nomor : 4 Tahun 2001
Tentang
PERMASALAHAN PUTUSAN SERTA MERTA
(UITVOERBAAR BIJ VOORRAAD ) DAN PROVISIONIL
Dalam rangka memenuhi tuntutan reformasi, Pimpinan Mahkamah Agung
memandang perlu menegaskan kembali kepada para Ketua Pengadilan Negeri dan Ketua
Pengadilan Agama di seluruh Indonesia agar lebih meningkatkan tanggung jawab dan
tanggap terhadap tuntutan dan perkembangan masyarakat yang menginginkan hal-hal
seperti pemberantasan Korupsi, Kolusi dan Nepotisme (KKN) atau kejahatan yang
menyangkut kepentingan publik pada umumnya.
Selanjutnya, akhir-akhir ini Pimpinan Mahkamah Agung makin banyak menerima
tuntutan, keluhan mengenai putusan dan eksekusi putusan serta merta (uitvoerbaar bij
voorraad) dan provisionil.
Berhubung dengan hal tersebut, sekali lagi ditegaskan agar Majelis Hakim yang
memutus perkara serta merta hendaknya berhati-hati dan dengan sungguh-sungguh
memperhatikan dan berpedoman pada Surat Edaran Mahkamah Agung (SEMA) No. 3
Tahun 2000 tentang Putusan Serta Merta (Uitvoerbaar bij Voorraad ) dan Provisionil
terutama yang berkaitan dengan pelaksanaan putusan serta merta (uitvoerbaar bij
voorraad) tersebut.
Setiap kali akan melaksanakan putusan serta merta (uitvoerbaar bij voorraad )
harus disertai penetapan sebagaimana diatur dalam butir 7 SEMA No. 3 Tahun 2000 yang
menyebutkan :
126
LAMPIRAN B
“Adanya pemberian jaminan yang nilainya sama dengan nilai barang/obyek eksekusi
sehingga tidak menimbulkan kerugian kepada pihak lain apabila ternyata dikemudian
hari dijatuhkan putusan yang membatalkan putusan Pengadilan Tingkat Pertama”.
Tanpa jaminan tersebut tidak boleh ada pelaksanaan putusan serta merta.
Lebih lanjut apabila Majelis akan mengabulkan permohonan putusan serta merta
harus memberitahukan kepada Ketua Pengadilan.
Demikian agar diperhatikan dan dilaksanakan dengan penuh tanggung jawab.
KETUA MAHKAMAH AGUNG – RI,
Ttd.
BAGIR MANAN
Tembusan Yth.
1. Wakil Ketua Mahkamah Agung-RI.
2. Para Ketua Muda Mahkamah Agung-RI.
3. Para Hakim Agung Mahkamah Agung-RI.
4. Panitera/Sekretaris Jenderal Mahkamah Agung-RI.
5. Ketua Pengadilan Tinggi Seluruh Indonesia.
6. Ketua Pengadilan Tinggi Agama Seluruh Indonesia.
127
LAMPIRAN B
DEPARTEMEN KEUANGAN REPUBLIK INDONESIA
DIREKTORAT JENDERAL PIUTANG DAN LELANG NEGARA
Gedung D, lt.10-12 Departemen Keuangan
34357546
Jln. Dr Wahidin No. 1
3847742
Jakarta- 10710
Yth. 1. Para Kepala Kanwil DJPLN
2. Para Kepala KP2LN
di.
seluruh Indonesia
Telepon
: (021)
Faksimile : 021-
14 Mei 2004
SURAT EDARAN
Nomor: SE -11/PL/2004
Tentang
Pelaksanaan Mediasi di Pengadilan
Terlampir disampaikan Peraturan Mahkamah Agung Nomor 02 Tahun
2003 tentang Prosedur Mediasi di Pengadilan untuk menjadi perhatian Saudara.
Sehubungan dengan itu, perlu kami berikan petunjuk sebagai berikut :
1. Pelajari dan pahami benar-benar Perma dimaksud, karena mediasi merupakan
hal baru yang diintegrasikan dalam proses beracara di peradilan umum.
2. Beberapa materi yang diatur dalam Perma dimaksud antara lain:
a. Semua perkara perdata yang diajukan di Pengadilan Tingkat Pertama wajib
untuk lebih dahulu diselesaikan melalui perdamaian dengan bantuan
mediator (vide Pasal 2 jo. Pasal 3).
b. Mediator adalah pihak yang bersifat netral clan tidak memihak yang
berfungsi membantu para pihak dalam menyelesaikan sengketa. Para pihak
dapat memilih Mediator baik mediator yang dimiliki oleh Pengadilan atau
mediator di luar daftar Pengadilan (vide PasaI4).
c. Proses mediasi berlangsung paling lama dua puluh hari kerja sejak
pemilihan atau penetapan penunjukan mediator, baik tercapai kesepakatan
atau tidak (vide Pasal 9).
d. Apabila para pihak mencapai kesepakatan yang tidak dimintakan
penetapannya sebagai suatu akta perdamaian, pihak penggugat wajib
mencabut gugatannya (vide Pasal 5).
e. Proses mediasi pacta asasnya tidak bersifat terbuka untuk umum kecuali
para pihak menghendaki lain atau merupakan mediasi untuk sengketa
publik (vide Pasal 14).
128
LAMPIRAN B
3. Dalam rangka evaluasi pelaksanaan mediasi di pengadilan, kami minta agar
Saudara melaporkan secara tertulis kepada Kantor Pusat cq. Direktorat
Informasi dan Hukum mengenai praktek pelaksanaan mediasi yang Saudara
lakukan dalam menangani gugatan yang ditujukan pada unit Saudara.
Demikian, untuk dicermati dan dipahami.
Direktur Jenderal,
ttd.
Machfud Sidik
NIP 060043114
Tembusan :
1. Sekretaris DJPLN;
2. Para Direktur di lingkungan DJPLN.
129
LAMPIRAN B
KETUA MAHKAMAH AGUNG
REPUBLIK INDONESIA
PERATURAN MAHKAMAH AGUNG
REPUBLIK INDONESIA
Nomor : 02 Tahun 2003
TENTANG
PROSEDUR MEDIASI DI PENGADILAN
MAHKAMAH AGUNG REPUBLIK INDONESIA
a. bahwa pengintegrasian mediasi ke dalam proses beracara di
pengadilan dapat menjadi salah satu instrumen efektif mengatasi
kemungkinan penumpukan perkara di pengadilan.
b. bahwa mediasi merupakan salah satu proses lebih cepat dan murah,
serta dapat memberikan akses kepada para pihak yang bersengketa
untuk memperoleh keadilan atau penyelesaian yang memuaskan atas
sengketa yang dihadapi;
c. bahwa institusionalisasi proses mediasi ke dalam sistem peradilan
dapat memperkuat dan memaksimalkan fungsi lembaga pengadilan
dalam penyelesaian sengketa disamping proses pengadilan yang
bersifat memutus (ajudikatif);
d. bahwa Surat Edaran No. 1 tahun 2002 tentang Pemberdayaan
Pengadilan Tingkat Pertama Menerapkan Lembaga Damai (Eks Pasal
130 HIR/154 RBg) belum lengkap, sehingga perlu disempurnakan;
e. bahwa hukum acara yang berlaku, baik Pasal 130 HIR maupun Pasal
154 RBg, rnendorong para pihak untuk menempuh proses perdamaian
yang dapat diintensifkan dengan cara mengintegrasikan proses
mediasi ke dalam prosedur berperkara di pengadilan tingkat pertama;
f. bahwa sambil menunggu peraturan perundang-undangan dan
memperhatikan wewenang Mahkamah Agung dalam mengatur acara
peradilan yang belum cukup diatur oleh peraturan perundangundangan, maka demi kepastian, ketertiban, dan kelancaran dalam
proses mendamaikan para pihak untuk menyelesaikan suatu sengketa
perdata, dipandang perlu menetapkan suatu Peraturan Mahkamah
Agung.
Menimbang : 1. Pasal 28 D Undang-undang Dasar 1945.
2. Reglemen Indonesia yang diperbaharui (HIR) Staatsblad 1941 Nomor
44 dan Reglemen Hukum Acara untuk Daerah Luar Jawa dan Madura
(RBg) Staatsblad 1927 Nomor 227.
3. Undang-undang Nomor 14 tahun 1970 tentang Ketentuan-ketentuan
Pokok Kekuasaan Kehakiman sebagaimana telah diubah dengan
Undang-undang Nomor 35 tahun 1999 tentang Perubahan atas
Undang-undang Nomor 14 tahun 1970 tentang Ketentuan-ketentuan
Pokok Kekuasaan Kehakiman, Lembaran Negara Nomor 74 tahun
1970.
4. Undang-undang Norrmor 14 tahun 1985 tentang Mahkamah Agung,
Lembaran Negara Nomor 73 tahun 1985;
Mengingat :
130
LAMPIRAN B
5. Undang-undang Nomor 2 tahun 1986 tentang Peradilan Umum,
Lembaran Negara Nomor 20 tahun 1986.
6. Undang-undang No. 25 tahun 2000 tentang Program Pembangunan
Nasional, Lembaran Negara Nomor 206 Tahun 2000.
MEMUTUSKAN:
PERATURAN MAHKAMAH AGUNG REPUBLIK INDONESIA TENTANG
PROSEDUR MEDIASI DI PENGADILAN.
BAB I
Ketentuan Umum
Pasal 1
Dalam Peraturan Mahkamah Agung ini yang dimaksud dengan ;
1. Akta perdamaian adalah dokumen kesepakatan yang merupakan hasil proses mediasi;
2. Daftar Mediator adalah sebuah dokumen yang memuat nama-nama mediator di
lingkungan sebuah pengadilan yang ditetapkan oleh Ketua pengadilan;
3. Hakim adalah hakim tunggal atau majelis hakim yang ditunjuk oleh Ketua pengadilan
tingkat pertama untuk memeriksa dan mengadili perkara;
4. Kaukus adalah pertemuan antara mediator dengan salah satu pihak tanpa dihadiri oleh
pihak lainnya;
5. Mediator adalah pihak yang bersifat netral dan tidak memihak, yang berfungsi
membantu para pihak dalam mencari berbagai kemungkinan penyelesaian sengketa;
6. Mediasi adalah penyelesaian sengketa melalui proses perundingan para pihak dengan
dibantu oleh mediator;
7. Para pihak adalah dua atau lebih subjek hukum yang bersengketa dan membawa
sengketa mereka ke pengadilan tingkat pertama untuk memperoleh penyelesaian;
8. Prosedur mediasi adalah tahapan proses mediasi sebagaimana diatur dalam Peraturan
Mahkamah Agung ini;
9. Sengketa publik adalah sengketa-sengketa di bidang lingkungan hidup, hak asasi
manusia, perlindungan konsumen, pertanahan dan perburuhan yang melibatkan
kepentingan banyak buruh;
10. Sertifikat Mediator adalah dokumen yang menyatakan bahwa seseorang telah
mengikuti pelatihan atau pendidikan mediasi yang dikeluarkan oleh lembaga yang
telah diakreditasi oleh Mahkamah Agung;
11. Proses mediasi terbuka untuk umum adalah anggota-anggota masyarakat dapat hadir
atau mengamati, atau masyarakat dapat mengakses informasi yang muncul dalam
proses mediasi.
Pasal 2
(1) Semua perkara perdata yang diajukan ke pengadilan tingkat pertarna wajib untuk lebih
dahulu diselesaikan melalui perdamaian dengan bantuan mediator.
(2) Dalam melaksanakan fungsinya mediator wajib mentaati kode etika mediator.
131
LAMPIRAN B
BAB II
Tahap Pra Mediasi
(1)
(2)
(3)
(4)
Pasal 3
Pada hari sidang pertama yang dihadiri kedua belah pihak, hakim mewajibkan para
pihak yang berperkara agar lebih dahulu menempuh mediasi.
Hakim wajib menunda proses persidangan perkara itu untuk memberikan kesempatan
kepada para pihak menempuh proses mediasi.
Hakim wajib memberikan penjelasan kepada para pihak tentang prosedur dan biaya
mediasi.
Dalam hal para pihak memberikan kuasa kepada kuasa hukum, setiap keputusan yang
diambil oleh kuasa hukum wajib memperoleh persetujuan tertulis dari para pihak.
Pasal 4
(1) Dalam waktu paling lama satu hari kerja setelah sidang pertama, para pihak dan atau
kuasa hukum mereka wajib berunding guna memilih mediator dari daftar mediator
yang dimiliki oleh pengadilan atau mediator di luar daftar pengadilan.
(2) Jika dalam waktu satu hari kerja para pihak atau kuasa hukum mereka tidak dapat
bersepakat tentang penggunaan mediator di dalam atau di luar daftar pengadilan, para
pihak wajib memilih mediator dari daftar mediator yang disediakan oleh pengadilan
tingkat pertama.
(3) Jika dalam satu hari kerja para pihak tidak dapat bersepakat dalam memilih seorang
mediator dari daftar yang disediakan oleh pengadilan, ketua majelis berwenang untuk
menunjuk seorang mediator dari daftar mediator dengan penetapan.
(4) Hakim yang memeriksa suatu perkara, baik sebagai ketua majelis atau anggota majelis,
dilarang bertindak sebagai mediator bagi perkara yang bersangkutan.
(1)
(2)
(3)
(4)
Pasal 5
Proses mediasi yang menggunakan mediator di luar daftar mediator yang dimiliki oleh
pengadilan, berlangsung paling lama tiga puluh hari kerja.
Setelah waktu tiga puluh hari kerja terpenuhi para pihak wajib menghadap kembali
pada hakim pada sidang yang ditentukan.
Jika para pihak mencapai kesepakatan, mereka dapat meminta penetapan dengan suatu
akta perdamaian.
Jika para pihak berhasil mencapai kesepakatan yang tidak dimintakan penetapannya
sebagai suatu akta perdamaian, pihak penggugat wajib menyatakan pencabutan
gugatannya.
Pasal 6
(1) Mediator pada setiap pengadilan berasal dari kalangan hakim dan bukan hakim yang
telah memiliki sertifikat sebagai mediator.
(2) Setiap pengadilan memiliki sekurang-kurangnya dua orang mediator.
(3) Setiap pengadilan wajib memiliki daftar mediator beserta riwayat hidup dan
pengalaman kerja mediator dan mengevaluasi daftar tersebut setiap tahun.
132
LAMPIRAN B
Pasal 7
Mediator dan para pihak wajib mengikuti prosedur penyelesaian sengketa melalui mediasi
yang diatur dalam Peraturan Mahkamah Agung ini.
BAB III
Tahap Mediasi
Pasal 8
Dalam waktu paling lama tujuh hari kerja setelah pemilihan atau penunjukan mediator,
para pihak wajib menyerahkan fotokopi dokumen yang memuat duduk perkara, fotokopi
surat-surat yang diperlukan, dan hal-hal yang terkait dengan sengketa kepada mediator dan
para pihak.
Pasal 9
Mediator wajib menentukan jadwal pertemuan untuk penyelesaian proses mediasi.
Dalam proses mediasi para pihak dapat didampingi oleh kuasa hukumnya.
Apabila dianggap perlu, mediator dapat melakukan kaukus.
Mediator wajib mendorong para pihak untuk menelusuri dan menggali kepentingan
mereka dan mencari berbagai pilihan penyelesaian yang terbaik bagi para pihak.
(5) Dengan hasil akhir tercapainya kesepakatan atau ketidaksepakatan, proses mediasi
berlangsung paling lama dua puluh dua hari kerja sejak pemilihan atau penetapan
penunjukan mediator.
(1)
(2)
(3)
(4)
Pasal 10
(1) Atas persetujuan para pihak atau kuasa hukum, mediator dapat mengundang seorang
atau lebih ahli dalam bidang tertentu untuk memberikan penjelasan atau pertimbangan
yang dapat membantu para pihak dalam penyelesaian perbedaan.
(2) Semua biaya jasa seorang ahli atau lebih ditanggung oleh para pihak berdasarkan
kesepakatan.
Pasal 11
(1) Jika mediasi menghasilkan kesepakatan, para pihak dengan bantuan mediator wajib
merumuskan secara tertulis kesepakatan yang dicapai dan ditandatangani oleh para
pihak.
(2) Kesepakatan wajib memuat klausula pencabutan perkara atau pernyataan perkara telah
selesai.
(3) Sebelum para pihak menandatangani kesepakatan, mediator wajib memeriksa materi
kesepakatan untuk menghindari adanya kesepakatan yang bertentangan dengan
hukum.
(4) Para pihak wajib menghadap kembali pada hakim pada hari sidang yang telah
ditentukan untuk memberitahukan telah dicapainya kesepakatan.
(5) Hakim dapat mengukuhkan kesepakatan sebagai suatu akta perdamaian.
Pasal 12
(1) Jika dalam waktu seperti yang ditetapkan dalam Pasal 9 ayat (5) mediasi tidak
menghasilkan kesepakatan, mediator wajib menyatakan secara tertulis bahwa proses
mediasi telah gagal dan memberitahukan kegagalan kepada hakim.
133
LAMPIRAN B
(2) Segera setelah diterima pemberitahuan itu, hakim melanjutkan pemeriksaan perkara
sesuai ketentuan Hukum Acara yang berlaku.
Pasal 13
(1) Jika para pihak gagal mencapai kesepakatan, pernyataan dan pengakuan para pihak
dalam proses mediasi tidak dapat digunakan sebagai alat bukti dalam proses
persidangan perkara yang bersangkutan atau perkara lainnya.
(2) Fotokopi dokumen dan notulen atau catatan mediator wajib dimusnahkan.
(3) Mediator tidak dapat diminta menjadi saksi dalam proses persidangan perkara yang
bersangkutan.
Pasal 14
(1) Proses mediasi pada asasnya tidak bersifat terbuka untuk umum, kecuali para pihak
menghendaki lain.
(2) Proses mediasi untuk sengketa publik terbuka untuk umum.
BAB IV
Tempat dan Biaya
Pasal 15
(1) Mediasi dapat diselenggarakan di salah satu ruang pengadilan tingkat pertama atau di
tempat lain yang disepakati oleh para pihak.
(2) Penyelenggaraan mediasi di salah satu ruang pengadilan tingkat pertama tidak
dikenakan biaya.
(3) Jika para pihak memilih penyelenggaraan mediasi di tempat lain, pembiayaan
dibebankan kepada para pihak berdasarkan kesepakatan.
(4) Penggunaan mediator hakim tidak dipungut biaya.
(5) Biaya mediator bukan hakim ditanggung oleh para pihak berdasarkan kesepakatan
kecuali terhadap para pihak yang tidak mampu.
BAB V
Lain-Lain
Pasal 16
Apabila dipandang perlu, ketentuan-ketentuan dalam Peraturan Mahkamah Agung ini,
selain dipergunakan dalam lingkungan peradilan umum dapat juga diterapkan untuk
lingkungan badan peradilan lainnya.
BAB VI
Penutup
Pasal 17
Dengan berlakunya Peraturan Mahkamah Agung ini, Surat Edaran Mahkamah Agung
Nomor 1 Tahun 2002 tentang Pemberdayaan Pengadilan Tingkat Pertama Menerapkan
Lembaga Damai (Eks pasal 130 HIR/ 154 RBg) dinyatakan tidak berlaku.
134
LAMPIRAN B
Pasal 18
Peraturan Mahkamah Agung Republik Indonesia ini berlaku sejak tanggal ditetapkan.
Ditetapkan di : Jakarta
Pada tanggal : 11 September 2003
KETUA MAHKAMAH AGUNG - RI,
ttd.
BAGIR MANAN
135
LAMPIRAN B
DEPARTEMEN KEUANGAN REPUBLIK INDONESIA
DIREKTORAT JENDERAL PIUTANG DAN LELANG NEGARA
Gedung D Departemen Keuangan Lantai 10,11,dan 12
Jln. Dr. Wahidin No. 1
Jakarta - 10710
Yth.
Telepon : 021 - 34357546
Faksimile : 021 - 3847742
1. Para Kepala Kanwil
2. Para Kepala KP2LN
1 dan 2 di lingkungan DJPLN
seluruh Indonesia
27 September 2004
SURAT EDARAN
Nomor : SE -19/PL/2004
Evaluasi Laporan Penanganan Perkara
Per Semester I Tahun 2004
Berdasarkan Laporan Perkembangan Penanganan Perkara Semester I Tahun 2004 dapat
disampaikan beberapa hal sebagai berikut:
1. Pada Semester I tahun 2004 jumlah perkara yang ditangani DJPLN adalah sebesar 2140
perkara. Perkara yang dapat diselesaikan sampai dengan Semester I tahun 2004 sebanyak
176 perkara, sehingga total perkara aktif sampai Semester I tahun 2004 sebesar 1.964
perkara yang terdiri dari Perdata sebanyak 1737 perkara dan Tata Usaha Negara sebanyak
227 perkara.
2. Berkaitan dengan masih tingginya outstanding tunggakan perkara lama, dengan ini diminta
agar Saudara melakukan langkah-langkah sebagai berikut:
a. Segera melakukan pendataan perkara berdasarkan tahun dan peradilan yang
memeriksa perkara dari tingkat pertama sampai dengan terakhir.
b. Segera melakukan koordinasi dengan lembaga peradilan untuk mencari informasi
perkembangan perkara, khususnya perkara lama yang masih tetap dilaporkan aktif
sedangkan menurut ketentuan sudah harus memperoleh putusan. Diharapkan agar setiap
Kepala Kanwil DJPLN bersama Kepala KP2LN di lingkungannya untuk segera
berkoordinasi dengan lembaga-lembaga peradilan untuk memastikan keberadaan
perkara dimaksud.
c. Segera melakukan koordinasi dengan cara pencocokan data ataupun konfirmasi data
terutama gugatan yang mengandung tuntutan ganti rugi dengan Biro Hukum
Departemen Keuangan.
d. Melaporkan hasil kegiatan koordinasi dengan lembaga peradilan dan Biro Hukum
Departemen Keuangan ke Kantor Pusat dalam jangka waktu yang tidak terlalu lama.
3. Guna mendukung koordinasi Saudara dengan Lembaga Peradilan dalam upaya percepatan
penyelesaian perkara, diminta Saudara mempelajari Surat Edaran Mahkamah Agung
136
LAMPIRAN B
Nomor : 3 Tahun 2001 tanggal 20 Agustus 2001 tentang Perkara-perkara Hukum yang
Perlu Mendapat Perhatian Pengadilan (terlampir), salah satu substansi yang perlu mendapat
perhatian sungguh-sungguh dari lembaga peradilan adalah perkara yang menyangkut
hutang piutang negara, karena secara langsung menyangkut kerugian terhadap negara dan
rakyat.
4. Untuk meminimalisasi gugatan-gugatan yang mungkin timbul, hendaknya Saudara
melakukan pencegahan secara dini terjadinya permasalahan hukum dalam pelaksanaan
tugas pengurusan piutang dan lelang negara dengan cara memberikan pelayanan secara
transparan dan akuntabel kepada setiap pengguna jasa DJPLN dengan memegang teguh
sikap kehati-hatian, kecermatan, taat pada ketentuan dan prosedur yang berlaku.
5. Dalam hal Saudara menerima Surat Panggilan yang disertai dengan surat gugatan dari
Pengadilan Negeri/Pengadilan Tata Usaha Negara setempat, diminta agar Saudara:
a. Melakukan diskusi dengan para Kepala Seksi yang terkait dan juga pemegang berkas
guna mendapatkan masukan dalam rangka penyelesaian gugatan dimaksud. Apabila
dimungkinkan diharapkan agar Saudara menempuh upaya persuasif agar kasus tersebut
tidak memakan waktu lama dan berlarut-larut.
b. Apabila dipandang perlu, Saudara dapat berkoordinasi dengan Kantor Pusat atau
Kanwil di lingkungan Saudara untuk penyelesaian atas kasus perkara dimaksud.
c. Dalam menangani perkara yang diajukan kepada Saudara berkaitan dengan pengurusan
piutang negara, sebaiknya Saudara bekerja sama dengan penyerah piutang.
6. Dalam kesempatan ini diminta agar Saudara mengirimkan kepada Kantor Pusat setiap
salinan putusan perkara perdata dan tata usaha negara baik dalam posisi menang maupun
kalah, sebagai bahan analisa kami dalam melakukan langkah pembinaan selanjutnya.
Demikian untuk menjadi perhatian Saudara.
Direktur Jenderal,
ttd.
Machfud Sidik
NIP 060043114
Tembusan:
1. Sekretaris DJPLN;
2. Para Direktur di lingkungan DJPLN.
137
LAMPIRAN B
DEPARTEMEN KEUANGAN REPUBLIK INDONESIA
DIREKTORAT JENDERAL PIUTANG DAN LELANG NEGARA
Gedung D Departemen Keuangan,Lt.10-12
Jln. Dr. Wahidin No. 1
Jakarta - 10710
Telepon : 021 - 34357546
Faksimile : 021 - 3847742
Yth.
1. Para Kepala Kanwil DJPLN
2. Para Kepala KP2LN
1 dan 2 di Lingkungan DJPLN
Seluruh Indonesia
10 Januari 2005
SURAT EDARAN
Nomor : SE – 02 /PL/2005
Penanganan Perkara Tidak Harus Berprofesi Sebagai Advokat
Sehubungan dengan masih adanya keraguan penanganan perkara di lingkungan
Direktorat Jenderal Piutang dan Lelang Negara dalam beracara pada Badan Peradilan
(Pengadilan Negeri dan Pengadilan Tata Usaha Negara), dengan ini kami menyampaikan hal-hal
sebagai berikut:
1. Mahkamah Konstitusi Republik Indonesia dalam Perkara Konstitusi Nomor 006//PUUII/2004 tentang permohonan pengujian Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 18
Tahun 2003 tentang Advokat terhadap Undang-Undang Dasar 1945, telah menjatuhkan
putusan dengan amar putusan sebagai berikut:
Mengadili
-
Menyatakan Permohonan Pemohon dikabulkan;
-
Menyatakan, Pasal 31 Undang-undang Nomor 18 Tahun 2003 Tentang Advokat
bertentangan dengan Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia 1945;
-
Menyatakan, Pasal 31 Undang-Undang Nomor 18 Tahun 2003 tentang Advokat tidak
mempunyai kekuatan hukum mengikat;
-
Memerintahkan pemuatan putusan ini dalam Berita Negara
sebagaimana mestinya;
Republik Indoneia
2. Putusan Mahkamah Konstitusi Republik Indonesia tersebut di atas menjadi rujukan bagi
petugas penanganan perkara di lingkungan unit kerja Saudara apabila kehadirannya dalam
beracara di Badan Peradilan (Pengadilan Negeri dan Pengadilan Tata Usaha Negara)
dipersoalkan. Selengkapnya copy Putusan Mahkamah Konstitusi RI dimaksud kami
sampaikan kepada Saudara.
Demikian, untuk diketahui.
Direktur Jenderal,
ttd.
Machfud Sidik
NIP 060043114
Tembusan :
1. Sekretaris DJPLN;
2. Para Direktur di lingkungan DJPLN.
138
LAMPIRAN B
PUTUSAN
Perkara Nomor 006/PUU-II/2004
DEMI KEADILAN BERDASARKAN KETUHANAN YANG MAHA ESA
Mahkamah Konstitusi Republik Indonesia
Yang memeriksa, mengadili dan memutus perkara konstitusi pada tingkat pertama
dan terakhir, menjatuhkan putusan dalam permohonan pengujian Undang-undang
Republik Indonesia Nomor 18 Tahun 2003 tentang Advokat (selanjutnyanya disebut UU
No. 18 Tahun 2003) terhadap Undang-Undang Dasar
1945 (selanjutnya disebut UUD 1945) yang diajukan oleh: ------------------------------------1. Tongat, SH. M.Hum,
2. Sumali, SH, MH.
3. A. Fuad, SH,MSi
Pekerjaan:
Dosen
Fakultas
Hukum
Universitas
Muhammadiyah Malang (UMM); Jabatan: Kepala
Laboratorium Konsultasi dan Pelayanan Hukum UMM;
Pangkat/Golongan: Lektor/IIIc; Alamat Rumah: Dawuhan
RT 16 RW 05 Desa Tegal Gondo, Kecamatan Karangploso
Kabupaten Malang-Jawa Timur; -------------------------------Pekerjaan:
Dosen
Fakultas
Hukum
Universitas
Muhammadiyah Malang (UMM); Jabatan: Sekretaris
Laboratorium Konsultasi dan Pelayanan Hukum UMM;
Pangkat /Golongan: Lektor/IIId; Alamat Rumah: Jalan
Perum IKIP Tegal Gondo, 3 F/19 Kabupaten Malang- Jawa
Timur; ------------------------------------------------------------Pekerjaan:
Dosen
Fakultas
Hukum
Universitas
Muhammadiyah
Malang
(UMM),
Jabatan:
Staf
Laboratorium Konsultasi dan Pelayanan Hukum
Universitas Muhammadiyah Malang; Pangkat/ Golongan:
Lektor/IIId, alamat Rumah: Jl. Kelud Gang I Nomor 37 RT
01 RW 01 Desa Pendem Kec. Junrejo
Kota Batu-Jawa Timur; ------------------------------------------
berdasarkan Surat Kuasa Khusus bertanggal 1 Maret 2004, ketiganya bertindak untuk dan
atas nama Drs. Muhadjir Effendy, MAP, Rektor Universitas Muhammadiyah Malang.
Untuk selanjutnya telah memilih kediaman hukum (domisili) di kantor Laboratorium
Konsultasi dan Pelayanan Hukum (LKPH) UMM, Alamat Jl.Raya Tlogomas Nomor 246
Malang-Jawa Timur; Telp.(0341) 464318, 464319. Untuk selanjutnya disebut sebagai
Pemohon ; --------------------------------------------------------------------------------------------Telah membaca surat permohonan Pemohon; -------------------------------------------Telah mendengar keterangan Pemohon; -------------------------------------------------Telah mendengar keterangan dari Pemerintah dan Dewan Perwakilan Rakyat
Republik Indonesia baik yang diajukan didalam persidangan maupun secara tertulis yang
disampaikan melalui Kepaniteraan Mahkamah Konstitusi R.I;
Telah memeriksa bukti-bukti dan mendengarkan keterangan dari pihak-pihak
terkait; ---------------------------------------------------------------------------------------------------
139
LAMPIRAN B
DUDUK PERKARA
Menimbang, bahwa Pemohon dalam permohonannya bertanggal 10 Maret 2004
yang diterima di Kepaniteraan Mahkamah Konstitusi Republik Indonesia (selanjutnya
disebut Mahkamah) pada tanggal 25 Maret 2004 dan telah diregistrasi pada tanggal 30
Maret 2004 Jam 10.45 WIB dengan Nomor 006/PUU-II/2004 yang telah diperbaiki dan
telah disampaikan melalui kepaniteraan Mahkamah Kontitusi pada tanggal 7 Juli 2004 jam
10.25 WIB, telah mengajukan permohonan pengujian UU No. 18 Tahun 2003 terhadap
UUD 1945, dengan alasan yang pada pokoknya sebagai berikut:-------------------------------1. Bahwa rumusan Pasal 31 UU No. 18 Tahun 2003 tentang Advokat menyebutkan,
“Setiap orang yang dengan sengaja menjalankan pekerjaan profesi Advokat dan
bertindak seolah-olah sebagai advokat, tetapi bukan Advokat sebagaimana diatur
dalam Undang-undang ini, dipidana dengan pidana penjara paling lama 5 (lima) tahun
dan denda paling banyak Rp. 50.000 000,00 (lima puluh juta) rupiah”; ------------------2. Bahwa pada bagian Penjelasan UU No. 18 Tahun 2003. Pada alinea ketiga bagian
Umum Penjelasan UU Advokat menyebutkan: “Selain dalam proses peradilan, peran
Advokat juga terlihat di jalur profesi di luar pengadilan. Kebutuhan jasa hukum
Advokat di luar proses peradilan pada saat sekarang semakin meningkat, sejalan
dengan semakin berkembangnya kebutuhan hukum masyarakat terutama dalam
memasuki kehidupan yang semakin terbuka dalam pergaulan antar bangsa. Melalui
pemberian jasa konsultasi, negoisasi maupun dalam pembuatan kontrak-kontrak
dagang, profesi Advokat ikut memberi sumbangan berarti bagi pemberdayaan
masyarakat serta pembaharuan hukum nasional khususnya di bidang ekonomi dan
perdagangan, termasuk dalam penyelesaian sengketa di luar pengadilan”; --------------3. Bahwa rumusan Pasal 31 UU No. 18 Tahun 2003 yang berisi ancaman pidana tersebut
sangat diskriminatif dan tidak adil, serta merugikan hak-hak konstitusional Pemohon; 4. Bahwa dengan lahirnya UU No. 18 Tahun 2003 tersebut, pihak Laboratorium
Konsultasi dan Pelayanan Hukum UMM, tidak dapat menyelenggarakan lagi
aktivitasnya di bidang pelayanan hukum kepada masyarakat, baik dalam bentuk litigasi
maupun non litigasi. Oleh karena Undang-undang Advokat tidak mengakomodasi
realitas empiris mengenai peran perguruan tinggi hukum yang memberikan
kemudahan akses kepada masyarakat untuk memperoleh bantuan hukum secara
murah. Jelasnya Undang-undang Advokat ini hanya mengakui profesi Advokat ansich
yang memiliki otoritas di dalam pelayanan hukum baik di dalam dan di luar
pengadilan; ----------------------------------------------------------------------------------------5. Bahwa pada saat sebelum lahirnya UU No. 18 Tahun 2003, Laboratorium Konsultasi
dan Pelayanan Hukum UMM sebagai institusi nir laba (non profit oriented) telah
memainkan peran penting di dalam advokasi hukum kepada masyarakat yang tidak
mampu, baik dalam bentuk litigasi maupun non litigasi. Dalam pada itu, legalitas
institusi Laboratorium Konsultasi dan Pelayanan Hukum (LKPH) UMM di dalam
menjalankan aktivitasnya di bidang advokasi hukum didasarkan pada Persetujuan
Kerjasama antara Pengadilan Tinggi Jawa Timur dengan Universitas Muhammadiyah
Malang Mengenai Bantuan Hukum No. 04/KEP/KPT/VIII/2000- No.
E.6.J/756/UMM/IX/2000. Namun sejak UU No. 18 Tahun 2003 ini lahir, praktis peran
advokasi dari Laboratorium Konsultasi dan Pelayanan Hukum UMM menjadi vacuum.
Hal ini disebabkan tidak ada institusi yang ditunjuk secara eksplisit oleh Undangundang Advokat yang memberi legitimasi kepada perguruan tinggi hukum untuk
140
LAMPIRAN B
memberikan Bantuan hukum khususnya bagi golongan masyarakat yang kurang
mampu ; ------------------------------------------------------------------------------------------6. Bahwa sebagaimana diketahui bersama, selama ini Pemohon yang berprofesi sebagai
dosen Fakultas Hukum secara personal dan sekaligus secara struktural sebagai
pengelola Laboratorium Konsultasi dan Pelayanan Hukum UMM telah menjalankan
proses pendidikan profesi terhadap mahasiswa Fakultas Hukum berdasarkan
kurikulum Pendidikan Tinggi Hukum yang antara lain mewajibkan penyelenggara
pendidikan tinggi Hukum untuk melatih ketrampilan hukum mahasiswa melalui
kegiatan praktisi hukum atau lebih popular dengan istilah pendidikan hukum klinis; --7. Bahwa keberadaan Lembaga Bantuan Hukum di Perguruan Tinggi sebagai
Laboratorium Hukumnya Fakultas Hukum yang berfungsi untuk melatih praktik
kemahiran hukum dan sekaligus berfungsi memberikan pelayanan hukum bagi
golongan masyarakat yang kurang mampu, adalah sangat sesuai dengan Surat MA
No.MA/SEK/034/II/2003 tentang Ijin Praktek Bantuan Hukum Bagi Lembaga Hukum
Fakultas/Sekolah Tinggi Hukum yang ditujukan kepada Ketua Pengadilan Tinggi di
seluruh Indonesia; ---------------------------------------------------------------------------------8. Bahwa sebagaimana diketahui, berdasarkan Undang-undang Nomor 20 Tahun 2003
tentang sistem Pendidikan nasional, pada Pasal 20 ayat (3) menyebutkan: “Perguruan
tinggi dapat menyelenggarakan program akademik, profesi dan vokasi”. Sementara itu
pada Pasal 21 ayat (1) menegaskan “Perguruan Tinggi yang memenuhi persyaratan
pendirian dan dinyatakan berhak menyelenggarakan program pendidikan tertentu
dapat memberikan gelar akademik, profesi, atau vokasi sesuai dengan program
pendidikan yang diselenggarakannya”. Berdasarkan kedua pasal itu, sesungguhnya
proses penyelengaraan pendidikan Fakultas Hukum UMM yang sudah terakreditasi
oleh Departemen Pendidikan Nasional dengan status Unggul, secara legal dan absah
memiliki otoritas dan kewenangan untuk menyelenggarakan pendidikan profesi
hukum; ---------------------------------------------------------------------------------------------9. Bahwa sementara itu dalam rangka mewujudkan Tri Dharma Perguruan Tinggi
khususnya bidang Pengabdian Masyarakat sebagai aktualisasi dari Pasal 20 ayat (2)
Undang-undang Nomor 20 Tahun 2003 yang berbunyi: “Perguruan tinggi
berkewajiban menyelenggarakan pendidikan, penelitian dan pengabdian masyarakat”,
Laboratorium Konsultasi dan Pelayanan Hukum UMM sejauh ini menerjemahkan
amanat tersebut dengan melakukan kegiatan berupa konsultasi, advokasi dan litigasi
terhadap berbagai elemen masyarakat yang membutuhkan keadilan (justitiabelen) ;---10. Bahwa dengan lahirnya ketentuan Pasal 31 UU No. 18 Tahun 2003 itu, maka seluruh
aktifitas LKPH UMM yang dipimpin oleh Pemohon, tidak memungkinkan lagi untuk
dijalankan secara regular dan profesional. Oleh karena aktivitas Pemohon dapat
ditafsirkan sebagai kegiatan yang seolah-olah menyerupai profesi Advokat. Penafsiran
demikian ini dapat dirujuk pada alinea ketiga bagian Penjelasan UU No. 18 Tahun
2003; ------------------------------------------------------------------------------------------------11. Bahwa implikasi dari hal demikian ini, Pemohon secara psikologis menjadi tidak
tenang dan tidak konsentrasi didalam menjalankan profesinya sebagai dosen Fakultas
Hukum UMM dan jabatannya sebagai pimpinan LKPH UMM. Pada akhirnya beban
psikologis ini dikhawatirkan dapat mengakibatkan proses pendidikan menjadi
terganggu dan mengorbankan kepentingan mahasiswa; -------------------------------------12. Bahwa salah satu bentuk kerugian riil yang pernah dialami oleh LKPH UMM pada
saat melakukan pendampingan kepada klien di Kepolisian Resort Malang. Kuasa
hukum dari LKPH UMM tidak dapat meneruskan pendampingan klien, disebabkan
141
LAMPIRAN B
tidak dapatnya kuasa hukum LKPH menunjukkan identitas Advokat yang diminta oleh
penyidik. Sementara itu izin praktek bantuan hukum yang dikeluarkan oleh Pengadilan
Tinggi Jawa Timur sudah habis masa berlakunya; -------------------------------------------13. Bahwa Pemohon berkeyakinan, rumusan atau materi Pasal 31 UU No. 18 Tahun 2003
itu dibuat dalam suasana euphoria reformasi hukum, sehingga melupakan akal sehat
(common sense). Lahirnya UU No. 18 Tahun 2003 yang memberikan pengakuan
terhadap eksistensi profesi Advokat sebagai salah satu pilar penegakan hukum, justru
mengabaikan fakta historis empiris yang sudah berjalan selama ini, yaitu bahwa
lembaga Perguruan Tinggi Hukum memiliki otoritas untuk menyelenggarakan
pendidikan profesi hukum. Sementara itu Pemohon juga berkeyakinan munculnya
ketentuan Pasal 31 UU No.18 Tahun 2003 lebih dipengaruhi oleh bayangan ketakutan
yang tidak berdasar akan berkurangnya atau sedikitnya lahan rezeki advokat terutama
dari klien yang akan ditanganinya. Dengan perkataan lain Undang-undang Advokat ini
secara sistematis berusaha mereduksi dan menihilkan peran dan eksistensi pihak-pihak
di luar profesi advokat, serta secara transparan dan arogan mewujudkan terjadinya
monopoli profesi. Sungguh ironis, jika diingat bahwa profesi advokat yang mengklaim
dirinya sebagai officium nobile dan tidak mengedepankan profit oriented, ternyata
telah mengkhianati nilai-nilai luhur sikap profesionalisme-nya. Dan yang lebih
menyedihkan, justru korban yang dirugikan oleh ketentuan Pasal 31 UU No. 18 Tahun
2003, tidak lain dan tidak bukan adalah lembaga perguruan tinggi hukum yang nota
bene telah mengantarkan dan memberikan kontribusi yang tidak sedikit terhadap kaum
advokat untuk menjadi sosok profesional melalui proses edukasi hukum selama ini; --14. Bahwa sangat jelas diketahui pembuatan UU No. 18 Tahun 2003 secara materiil tidak
dapat dikategorikan sebagai produk Undang-undang yang baik. Oleh sebab Undangundang Advokat ini belum memenuhi sejumlah persyaratan ideal, sebagaimana
layaknya sebuah peraturan undang-undang yang baik. Buktinya didalam UU No. 18
Tahun 2003 tidak mengakomodasi prinsip pengecualian (exception) sebagaimana
dianut didalam system hukum manapun (there is no law without exception). Sebagai
komparasi di dalam sistim perundang-undangan nasional yang ada, dapat diambil
sebagai contoh kongkret dianutnya prinsip pengecualian tersebut, yaitu Undangundang Nomor 19 tahun 2002 tentang Hak cipta, terutama dapat dilihat pada Pasal 14,
15 dan 16; ----------------------------------------------------------------------------------------15. Bahwa dengan adanya ketentuan pasal 31 UU No. 18 Tahun 2003, maka Pemohon
yang saat ini berprofesi sebagai Dosen Fakultas Hukum UMM dan sekaligus menjabat
sebagai pimpinan LKPH UMM merasa dirugikan hak konstitusional Pemohon, yakni
berupa hak asasi di dalam hukum dan pekerjaan. Sebagai warga Negara yang bekerja
di dunia akademik sekurang-kurangnya selama lebih dari 12 (dua belas) tahun,
Pemohon merasa dirugikan hak-hak konstitusionalnya atas dicantumkannya ketentuan
Pasal 31 Undang-undang Nomor 8 Tahun 2003 yang secara tegas sangat diskriminatif
dan tidak adil. Jelasnya ketentuan tersebut bertentangan dengan isi rumusan Pasal 28C
ayat (1);(2); dan Pasal 28D ayat (1); (3); serta Pasal 28I ayat (2) Perubahan ke-2 UUD
1945. Adapun bunyi Pasal 28C ayat (1) adalah:” setiap orang berhak mengembangkan
diri melalui pemenuhan kebutuhan dasarnya, berhak mendapat pendidikan dan
memperoleh manfaat dari ilmu pengetahuan dan teknologi, seni dan budaya, demi
meningkatkan kualitas hidupnya dan demi kesejahteraan hidup umat manusia”.
Sedangkan pada ayat (2) berbunyi: “setiap orang berhak untuk memajukan dirinya
dalam memperjuangkan haknya secara kolektif untuk membangun masyarakat, bangsa
dan negaranya. Selanjutnya pasal 28D ayat (1) menegaskan: “setiap orang berhak atas
142
LAMPIRAN B
pengakuan, jaminan, perlindungan dan kepastian hukum yang adil serta perlakuan
yang sama didepan hukum”. Sedangkan pada ayat (3) menyebutkan: “Setiap warga
negara berhak memperoleh kesempatan yang sama dalam pemerintahan”. Dalam pada
itu Pasal 28I ayat (2) menegaskan: “Setiap orang berhak bebas dari perlakuan yang
bersifat diskriminatif atas dasar apa pun dan berhak mendapatkan perlindungan
terhadap perlakuan yang bersifat diskriminatif itu”; -----------------------------------------16. Bahwa dasar permohonan Pemohon untuk mengajukan uji materiil atas Pasal 31 UU
No. 18 Tahun 2003 terhadap UUD 1945 yang telah Pemohon uraikan tersebut di atas
adalah berdasarkan Pasal 28C ayat (1);(2); dan Pasal 28D ayat (1); (3); serta Pasal 28I
ayat (2) Perubahan ke-2 Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun
1945; -----------------------------------------------------------------------------------------------Berdasarkan hal-hal tersebut di atas, Pemohon mohon agar Mahkamah Konstitusi
Republik Indonesia berdasarkan kewenangan sebagaimana diatur dalam pasal 24C UUD
1945 jo. Pasal 50 Undang-undang Nomor 24 Tahun 2003 tentang Mahkamah Konstitusi,
berkenan memeriksa permohonan Pemohon dan memutuskan sebagai berikut: -------------1. Mengabulkan permohonan Pemohon seluruhnya; ------------------------------------------2. Menyatakan isi Pasal 31 UU No. 18 Tahun 2003 tentang ancaman pidana terhadap
siapapun yang bukan Advokat menjalankan aktivitas atau bertindak seolah-olah
Advokat, bertentangan dengan UUD 1945; --------------------------------------------------3. Menyatakan isi Pasal 31 UU No. 18 Tahun 2003 tentang ancaman pidana terhadap
siapapun yang bukan advokat menjalankan aktivitas atau bertindak seolah-olah
Advokat, tidak mempunyai kekuatan hukum mengikat bagi Laboratorium Konsultasi
dan Pelayanan Hukum UMM dan atau semua Lembaga Bantuan Hukum di Perguruan
Tinggi Hukum di seluruh Indonesia;-----------------------------------------------------------4. Mohon keadilan yang seadil-adilnya; ----------------------------------------------------------Menimbang, bahwa untuk menguatkan dalil-dalil dalam permohonannya Para
Pemohon telah melampirkan bukti-bukti yang berupa: -----------------------------Bukti P-1:
Bukti P-2:
Bukti P-3:
Bukti P-4:
Bukti P-5:
Bukti P-6:
Bukti P-7:
Bukti P-8:
Fotokopi Surat Kuasa Khusus Rektor UMM, Drs. Muhadjir Effendy,
MAP;------------------------------------------------------------------------------------Fotokopi surat keputusan Rektor UMM Nomor E.2.b/819/UMM/2000
Tentang Pengangkatan tenaga Dosen Tetap Universitas Muhammadiyah
Malang atas nama Sumali, SH; ------------------------------------------------------Fotokopi surat keputusan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Republik
Indonesia Nomor 20358/A.2.IV.1/C/1994, atas nama Tongat, SH; ------------Fotokopi surat keputusan Rektor UMM Nomor E.2/1651/UM/X/1989
Tentang Pengangkatan tenaga Dosen Universitas Muhammadiyah Malang
atas nama Ahmad Fuad, SH, MSi ‘--------------------------------------------------Fotokopi surat keputusan Rektor UMM Nomor. 242/SKST/VIII/2003
Tentang Pengangkatan Kepala LKPH-UMM atas nama Tongat, SH. M.Hum;
Fotokopi surat keputusan Rektor UMM Nomor. 243/SKST/ VIII/2003
tentang Pengangkatan Sekretaris LKPH-UMM atas nama Sumali, SH.MH; -Fotokopi Surat Dekan Fak. Hukum UMM Nomor.E.2e/0167/FHUMM/
V/2003 kepada A. Fuad Usfa, SH.M.Si sebagai Koordinator Pembela Umum
PKPH/LKPH Fak. Hukum UMM; -------------------------------------------------Fotokopi Statuta Universitas Muhammadiyah Malang Tahun 2001; -----------
143
Bukti P-9:
Bukti P-10:
Bukti P-11:
Bukti P-12:
Bukti P-13:
Bukti P-14:
Bukti P-15:
Bukti P-16:
Bukti P-17:
Bukti P-18:
Bukti P-19:
LAMPIRAN B
Fotokopi perpanjangan Persetujuan Kerjasama Antara Pengadilan Tinggi
Jawa Timur di Surabaya dengan Universitas Muhammadiyah Malang
Mengenai Bantuan Hukum No.04/Kep/KPT/VII/2000–No. E.6.j/756/ UMM/
IX/ 2000; --------------------------------------------------------------------------------Fotokopi Surat Mahkamah Agung RI Nomor: MA/SEK/o34/II/2003; --------Fotokopi Surat Kuasa sebagai Kuasa Hukum dari Klien LKPH–FH UMM; --Fotokopi Keputusan Badan Akreditasi Nasional Perguruan Tinggi
Departemen Pendidikan Nasional Republik Indonesia Nomor: 036/BANPT/AK-VII/SI/X/2003 tentang Hasil dan Peringkat Akreditasi program Studi
untuk program sarjana di Perguruan Tinggi; --------------------------------------Fotokopi Undang-undang Dasar Republik Indonesia 1945; --------------------Fotokopi UU No. 18 Tahun 2003 tentang Advokat ; -----------------------------Fotokopi Undang-undang Nomor 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan
Nasional; --------------------------------------------------------------------------------Fotokopi Undang-undang Nomor 19 tahun 2002 tentang Hak Cipta; ---------Surat tanggal 30 Oktober 2002 Nomor 01./IBBH/2002 dari Ikatan Biro
Bantuan (IBBH) Perguruan Tinggi Malang perihal Ijin Praktik Instruktur
Kemahiran Hukum BKBH/BBH Perguruan Tinggi se Malang; ----------------Kesepakatan dan Tuntutan Bersama BKBH/BBH Perguruan Tinggi seMalang; --------------------------------------------------------------------------------Fotocopy artikel “Tersandung Pasal ‘Seolah-olah’ dari Majalah Tempo
Edisi 12 september 2004; -------------------------------------------------------------
Menimbang, bahwa disamping mendengarkan keterangan Para Pemohon,
dipersidangan juga telah didengar keterangan tertulis Pemerintah, yang dalam hal ini
diwakili oleh Prof. Dr. Abdul Gani Abdullah, S.H Direktur Jenderal Perundanganundangan yang mewakili Menteri Kehakiman dan HAM R.I selaku Kuasa dengan hak
subsitusi dari Presiden R.I, yang pokoknya sebagai berikut: -----------------------------------1. Bahwa pada surat permohonannya, Pemohon yang menyatakan rumusan Pasal 31 UU
No. 18 Tahun 2003 yang berisi ancaman pidana tersebut sangat diskriminatif dan tidak
adil serta merugikan hak-hak konstitusional Pemohon, dengan alasan vang pada
pokoknya sebagai berikut: --------------------------------------------------------------------a. Bahwa dengan lahirnya UU No. 18 Tahun 2003 tersebut, pihak Laboratorium
Konsultasi dan Pelayanan Hukum UMM, tidak dapat menyelenggarakan lagi
aktivitasnya di bidang pelayanan hukum kepada masyarakat baik dalam bentuk
Litigasi maupun non Litigasi; ----------------------------------------------------------Oleh karena Undang-undang Advokat tidak mengakomodasi realitas empiris
mengenai perguruan tinggi hukum yang memberikan kemudahan akses kepada
masyarakat untuk memperoleh bantuan hukum secara murah;-------------------------Jelasnya Undang-undang Advokat ini hanya mengakui profesi Advokat ansich
yang mewakili otoritas di dalam pelayanan hukum baik di dalam dan di luar
pengadilan; ------------------------------------------------------------------------------------b. Bahwa dengan lahirnya Pasal 31 UU No. 18 Tahun 2003 itu maka seluruh aktivitas
LKPM UMM yang dipimpin oleh Pemohon, tidak memungkinkan lagi dijalankan
secara reguler dan profesional. Oleh karena aktivitas Pemohon dapat ditafsirkan
sebagai kegiatan yang seolah-olah menyerupai profesi Advokat. Penafsiran
demikian ini dapat dirujuk pada alinea ke tiga bagian Penjelasan UU No. 18 tahun
2003; -------------------------------------------------------------------------------------------
144
LAMPIRAN B
c. Bahwa Pemohon berkeyakinan rumusan atau materi Pasal 31 UU No. 18 Tahun
2003 itu di buat dalam suasana ephoria reformasi hukum, sehingga melupakan akal
sehat (common sense); --------------------------------------------------------------Lahirnya UU No. 18 Tahun 2003, yang memberikan pengakuan terhadap eksistensi
profesi Advokat sebagai salah satu pilar penegakan hukum, justru mengabaikan
fakta historis empiris yang sudah berjalan selama ini, yaitu bahwa Lembaga
Perguruan Tinggi Hukum memiliki otoritas untuk menyelenggarakan pendidikan
profesi hukum; -------------------------------------------------------------------------Sementara itu Pemohon juga berkeyakinan munculnya ketentuan Pasal 31 Undangundang Nomor 18 Tahun 2003 lebih dipengaruhi oleh bayangan ketakutan yang
tidak berdasar akan berkurangnya atau sedikitnya lahan rezeki Advokat terutama
dari klien yang akan ditanganinya; --------------------- -----d. Bahwa dengan adanya ketentuan Pasal 31 UU No. 18 Tahun 2003, maka Pemohon
yang saat ini berprofesi sebagai Dosen Fakultas Hukum UMM sekaligus menjabat
sebagai pimpinan LKPH-UMM merasa dirugikan hak konstitusional Pemohon,
yakni berupa hak asasi di dalam hukum dan pekerjaan. Sebagai warga negara yang
bekerja di dunia akademik sekurang-kurangnya 12 (dua belas) tahun; ---------------Pemohon merasa dirugikan hak-hak konstitusionalnya atas dicantumkannya
ketentuan Pasal 31 UU No. 18 Tahun 2003 secara tegas sangat diskriminatif dan
tidak adil; --------------------------------------------------------------------------------------Jelasnya ketentuan tersebut bertentangan dengan isi rumusan Pasal 28 C ayat (1)
(2) dan Pasal 28 D ayat (1); (3); serta Pasal 28 1 ayat (2) Perubahan ke 2 UUD
1945; -------------------------------------------------------------------------------------------2. Pemerintah tidak sependapat dengan argumen-argumen Pemohon dengan alasanalasan sebagai berikut: ---------------------------------------------------------------------------a. Bahwa sesuai dengan ketentuan Pasal 31 UU No. 18 Tahun 2003, menyebutkan
bahwa setiap orang yang dengan sengaja menjalankan pekerjaan profesi Advokat
dan bertindak seolah-olah sebagai Advokat, tetapi bukan Advokat sebagaimana
diatur dalam Undang-undang ini, dipidana dengan pidana penjara paling lama 5
(lima) tahun dan denda paling banyak Rp. 50.000.000,- (lima puluh juta rupiah); --Dari ketentuan tersebut terdapat beberapa unsur yang harus dapat dipenuhi agar
orang dapat dipidana, yakni: ---------------------------------------------------------------1. dengan sengaja; ------------------------------------------------------------------------2. menjalankan pekerjaan profesi Advokat; -------------------------------------------3. bertindak seolah-olah sebagai Advokat; --------------------------------------------4. tetapi bukan Advokat; -----------------------------------------------------------------b. Ketentuan di atas hanya ditujukan kepada orang mengaku-aku atau berpura-pura
sebagai Advokat atau profesi Advokat, padahal pelaku yang bersangkutan bukan
Advokat; ---------------------------------------------------------------------------------------Dengan demikian Pemerintah dapat menjelaskan bahwa titik berat Pasal 31 UU
No. 18 Tahun 2003 adalah mengenai larangan bagi orang yang mengaku-aku
sebagai Advokat sedangkan profesi sebenarnya bukanlah Advokat seperti yang
diatur oleh Undang-undang ini, bukan bagaimana ia bertugas dan berfungsi sebagai
Advokat. Jika yang bersangkutan menjadi Advokat, maka berlaku ketentuan Pasal
3 ayat (1) yakni bahwa yang bersangkutan tidak berstatus sebagai pegawai negeri
atau pejabat negara sehingga pada saat yang bersangkutan diangkat menjadi
Advokat, maka ia bukan lagi berkedudukan sebagaimana yang dilarang oleh Pasal
3 ayat (1) tersebut, yang dalam hal ini tidak ada hubungannya dengan larangan bagi
145
LAMPIRAN B
aktivitas yang dilakukan oleh Pemohon dalam Laboratorium Konsultasi dan
Pelayanan Hukum Universitas Muhammadiyah Malang, yang dikhawatirkan oleh
Pemohon; -------------------------------------------------------------------------------------c. Berkaitan dengan itu Pemerintah dapat menjelaskan pula bahwa ketentuan Pasal 31
UU No. 18 Tahun 2003 tidak ada kaitannya pemberian bantuan hukum murah oleh
karena hal tersebut diatur secara tersendiri pada Pasal 22 UU No. 18 Tahun 2003
yang mengatur tentang bantuan hukum cuma-cuma yang diwajibkan kepada
Advokat kepada pencari keadilan yang tidak mampu, sedangkan persyaratan dan
tata cara pemberian bantuan hukum secara cuma-cuma akan di atur Iebih Ianjut
dengan Peraturan Pemerintah. Sehingga argumen Pemohon adalah tidak beralasan
yang menganggap Undang-undang ini tidak mengakomodasi realitas empiris
mengenai perguruan tinggi hukum yang memberikan kemudahan akses kepada
masyarakat untuk memperoleh bantuan hukum, secara murah. Selain dari pada itu
Pemerintah berpendapat bahwa mengenai seluk beluk yang mengatur perguruan
tinggi sudah ada ketentuannya secara tersendiri yaitu Undang-undang Nomor 20
Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional; ---------------------------------------d. Dengan demikian Pemerintah dapat menjelaskan bahwa segala argumen dan fakta
selebihnya yang diajukan oleh Pemohon tidak perlu ditanggapi satu persatu karena
apa yang disampaikan Pemohon tidak ada relevansinya dan tidak membuktikan
adanya pelanggaran hak-hak konstitusional Pemohon; ---------------------------------3. Berdasarkan keseluruhan penjelasan diatas, Pemerintah berpendapat bahwa Pasal 31
UU No. 18 Tahun 2003 tentang Advokat tidak bertentangan dengan UUD 1945 dan
tidak melanggar hak-hak konstitusional Pemohon; ----------------------------------------Kesimpulan; -----------------------------------------------------------------------------------------Berdasarkan hal-hal tersebut di atas, Pemerintah memohon kepada yang terhormat
Ketua Majelis Mahkamah Konstitusi Republik Indonesia yang memeriksa dan memutus
permohonan pengujian Pasal 31 UU No. 18 Tahun 2003 tentang Advokat terhadap UUD
1945 dapat memberikan putusan sebagai berikut: ------------------------------------------------1. Menyatakan bahwa Pemohon tidak mempunyai Legal Standing; -------------------------2. Menyatakan permohonan Pemohon ditolak atau setidak-tidaknya permohonan
Pemohon dinyatakan tidak dapat diterima; ---------------------------------------------------3. Menerima keterangan Pemerintah secara keseluruhan; --------------------------------------4. Menyatakan Pasal 31 Undang-undang No. 18 Tahun 2003 tentang Advokat tidak
bertentangan dengan UUD 1945; --------------------------------------------------------------5. Menyatakan bawha Pasal 31 UU No. 18 Tahun 2003 tentang Advokat tetap
mempunyai kekuatan hukum dan tetap berlaku di seluruh wilayah Indonesia; ----------Menimbang bahwa Dewan Perwakilan Rakyat R.I, telah menyampaikan pula
keterangan tertulisnya yang disampaikan melalui Kepaniteraan Mahkamah pada hari
Selasa tanggal 7 September 2004 yang pada pokoknya menerangkan sebagai berikut: -----I. Mengenai Syarat Permohonan
1. Hak dan/atau kewenangan Konstitusional Pemohon:-------------------------------------
146
LAMPIRAN B
a. Bahwa permohonan diajukan untuk melaksanakan hak konstitusional yang
dijamin dalam Pasal 28C ayat (1); ayat (2); dan Pasal 28D ayat (1); (3) UUD
1945; -------------------------------------------------------------------------------------b. Bahwa berdasarkan Pasal 51 ayat (1) Undang-undang Nomor 24 Tahun 2003
tentang Mahkamah Konstitusi disebutkan bahwa Pemohon adalah pihak yang
menganggap hak danlatau kewenangan konstitusionalnya dirugikan oleh
berlakunya UU No. 18 Tahun 2003 tentang Advokat, yaitu:----------------------1) perorangan warga negara Indonesia; ---------------------------------------------2) kesatuan masyarakat hukum adat sepanjang masih hidup dan sesuai dengan
perkembangan masyarakat dan prinsip Negara Kesatuan Republik
Indonesia yang diatur dalam Undang-undang; ---------------------------------3) badan hukum publik atau privat; atau; -------------------------------------------4) lembaga Negara; --------------------------------------------------------------------c. Bahwa para pemohon adalah perorangan warga negara Indonesia, yang
berstatus sebagai Pegawai Negeri Sipil (setidak-tidaknya Pemohon I
berdasarkan Surat Keputusan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan No.
20358/A2.IV.I/C/1994 jo. Surat Keputusan Menteri Pendidikan dan
Kebudayan RI No. 045/Kop.VII/C.I/1996) yang menjabat sebagai Staf
Laboratorium dan Konsultasi Hukum Universitas Muhammadiyah Malang,
karenanya adalah patut dan layak secara hukum agar pemohon mengacu pada
Undang-Undang Nomor 43 Tahun 1999 tentang Perubahan atas UndangUndang Nomor 8 Tahun 1974 tentang Pokok-Pokok Kepegawaian untuk
mengajukan pengujian Pasal 31 Undang-undang No. 18 Tahun 2003 terhadap
UUD 1945; -------------------------------------------------------------------------------2. Syarat Formalitas Permohonan: --------------------------------------------------------a. Bahwa permohonan Pemohon tidak menguraikan dengan jelas tentang hak-hak
konstitusional yang dilanggar sebagaimana dimaksud dalam Pasal 51 ayat (3)
huruf b UU Nomor 24 Tahun 2003 tentang Mahkamah Konstitusi; --------------b. Bahwa permohonan Pemohon mengenai Pasal yang mengatakan bahwa Pasal
31 Undang-undang No. 18 Tahun 2003 adalah bukan hak konstitusional yang
menjadi kewenangan Mahkamah Konstitusi sebagaimana dimaksud dalam
Pasal 51 ayat (3) Undang-undang No. 24 Tahun 2003 tentang Mahkamah
Konstitusi; --------------------------------------------------------------------------------Berdasarkan uraian di atas permohonan Pemohon tidak memenuhi syarat
sebagaimana dimaksud dalam Pasal 51 UU Nomor 24 Tahun 2003 karenanya permohonan
Pemohon harus dinyatakan tidak dapat diterima; -------------------------------------------------II. Mengenai Pokok Materi Permohonan
1) Bahwa Pasal 31 UU No. 18 Tahun 2003 tentang Advokat menyatakan: " Setiap
orang yang dengan sengaja menjalankan pekerjaan profesi Advokat dan bertindak
seolah-olah sebagai Advokat, tetapi bukan Advokat sebagaimana diatur dalam
Undang-undang ini, dipidana dengan pidana penjara paling lama 5 (lima) tahun
dan denda paling banyak Rp 50.000.000,00 (lima puluh juta) rupiah; ----------------2) Bahwa ketentuan Pasal 31 UU No. 18 Tahun 2003 merupakan konsekuensi dari
rumusan Pasal 3 ayat (1) UU Nomor 18 Tahun 2003 yang menyatakan bahwa
147
LAMPIRAN B
untuk dapat diangkat menjadi Advokat harus memenuhi persyaratan sebagai
berikut: ----------------------------------------------------------------------------------------a. warga negara Republik Indonesia; ----------------------------------------------------b. bertempat tinggal di Indonesia; -------------------------------------------------------c. tidak berstatus sebagai pegawai negeri atau pejabat Negara; ---------------------d. berusia sekurang-kurangnya 25 (dua puluh) lima tahun; ---------------------------e. magang sekurang-kurangnya 2 (dua) tahun terus menerus pada kantor
Advokat; ----------------------------------------------------------------------------------f. tidak pernah dipidana karena melakukan tindak pidana kejahatan yang diancam
dengan pidana penjara 5 (lima) tahun atau lebih; -----------------------------------g. berperilaku baik, jujur, bertanggung jawab, adil, dan mempunyai integritas
yang tinggi; -------------------------------------------------------------------------------3) Bahwa ketentuan Pasal 3 dan Pasal 31 UU No. 18 Tahun 2003 merupakan
persyaratan yang lazim dan perlu bagi setiap profesi, baik berdasarkan keahlian
dan ketrampilan, maupun untuk pertimbangan kepastian dan perlindungan
kepentingan masyarakat, serta kepentingan negara dalam kaitannya dengan
ketentuan larangan jabatan rangkap atau bagi pejabat negara dan pegawai negeri
sipil; --------------------------------------------------------------------------------------------4) Bahwa persyaratan untuk di angkat menjadi Advokat, tidak berarti bertentangan
atau tidak dapat dimaknai bertentangan dengan isi rumusan pasal 28C ayat (1); (2);
dan pasal 28D ayat (1); (3) UUD 1945, karena persyaratan tersebut tidak lain
dimaksudkan untuk memenuhi ketentuan bahwa (pelaksanaan) hak asasi manusia
tidak berarti tanpa pembatasan atau pengaturan, tetapi harus memperhatikan
pertimbangan moral, nilai-nilai agama, keamanan, dan ketertiban umum dalam
suatu masyarakat demokrartis sebagaimana yang tertuang Pasal 28 J UUD 1945; -5) Bahwa Undang-undang No. 18 Tahun 2003 mengatur profesi Advokat, bukan
mengatur kegiatan Lembaga Laboratorium Konsultasi dan Pelayanan Hukum, oleh
karena itu ketentuan Pasal 31 UU No. 18 Tahun 2003 tidak dapat dimaknai
membatasi apalagi melarang kegiatan pendidikan dan upaya mencerdaskan bangsa
yang dilakukan oleh lembaga tersebut di setiap Fakultas Hukum Universitas atau
lembaga-lembaga sejenis lainnya; ---------------------------------------------------------Berdasarkan hal-hal tersebut di atas kami berpendapat bahwa permohonan yang
diajukan oleh para Pemohon yang menyatakan bahwa Ketentuan Pasal 31 UU No. 18
Tahun 2003 bertentangan dengan pasal 28C ayat (1); (2); dan pasal 28D ayat (1); (3) UUD
1945 tidak beralasan, karena itu permohonan harus dinyatakan ditolak; ----------------------Menimbang, bahwa disamping memeriksa bukti-bukti, mendengarkan keterangan
Pemohon, Pemerintah dan DPR sebagaimana tersebut di atas Mahkamah juga memandang
perlu untuk mendengar keterangan dari pihak-pihak terkait baik dari organisasi advokat
maupun dari lembaga bantuan hukum perguruan tinggi dan non perguruan tingggi yaitu: -1.
Komite Kerja Advokat Indonesia yang diwakili oleh Dr. Teguh Samudera, S.H,
MH, Hari Pontoh, SH dan Hasanuddin Nasution, S.H. pada pokoknya memberikan
keterangan sebagai berikut: --------------------------------------------------------------------- Bahwa sangat tidak benar dalih yang menyatakan rumusan Pasal 31 UU No. 18
Tahun 2003 tentang Advokat sangat diskriminatif dan tidak adil serta merugikan
hak-hak konstitusional Pemohon. Karena Undang-undang Advokat lahir dan ada
semata-mata untuk menggantikan peraturan perundang-undangan yang
148
-
-
-
-
LAMPIRAN B
diskriminatif dan yang tidak sesuai lagi dengan sistem ketatanegaraan kita yang
berlaku. Juga Undang-undang Advokat itu lahir untuk memberi landasan yang
kokoh pelaksanaan tugas pengabdian Advokat dalam kehidupan masyarakat,
sebagai pemenuhan amanat Pasal 38 Undang-undang Nomor 14 tahun 1970 Jo. 35
tahun 1999 tentang Ketentuan-ketentuan Pokok Kekuasaan Kehakiman -----------------------------Bahwa Undang-undang Advokat lahir untuk mengatur berbagai ketentuan penting
yang melingkupi profesi Advokat, termasuk berbagai prinsip dalam
penyelenggaraan tugas profesi Advokat, khususnya dalam peranannya menegakkan
keadilan serta terwujudnya prinsip-prinsip negara hukum pada umumnya. Oleh
karena itu tidaklah relevan apabila kepentingan Pemohon yang tidak berprofesi
sebagai Advokat, akan tetapi berprofesi sebagai dosen, beranggapan dan
menundukkan diri pada Undang-undang Advokat sehingga berpendapat rumusan
Pasal 31 diskriminatif tidak adil serta merugikan hak-hak konstitusional Pemohon;
Bahwa oleh karena namanya saja Undang-undang Advokat, maka tentu saja
didalamnya mengatur tentang Advokat dan tidak mungkin berisi aturanaturan yang
mengatur tentang peran perguruan tinggi atau perguruan tinggi hukum, lembagalembaga yang berada atau bernaung dibawah perguruan tinggi maupun Dosen
Fakultas Hukum. Hal-hal yang menyangkut perguruan tinggi berikut dengan segala
kelengkapan, sarana dan prasarananya termasuk tetapi tidak terbatas pada perannya
dalam melaksanakan Tridarma Perguruan tinggi yaitu pengabdian kepada
masyarakat, adalah telah dengan jelas diatur didalam Undang-undang Sisdiknas
yang terjabarkan dalam kurikulum. Dan jikapun ada mata kuliah tentang
ketrampilan hukum atupun kegiatan praktisi hukum hal tersebut hanyalah sematamata dalam wujud pembelajaran tentang implementasi ketentuanketentuan hukum
formil atau hukum acara, jadi tidak harus atau tidak wajib melakukan atau
menjalankan kegiatan yang merupakan ruang lingkup tugas pengabdian profesi
Advokat; ---------------------------------------------------------------------------------------Bahwa hal-hal yang telah dilakukan Pemohon dengan melakukan kegiatan yang
seolah-olah seperti profesi Advokat sebelum adanya Undang-undang Advokat,
yang apabila dicermati berdasarkan penjelasan umum Undang-undang Advokat,
dapat dikategorikan dan dianggap sebagai ketentuan yang diskriminatif, karena
perguruan tinggi kewenangannya adalah menyelenggarakan program pendidikan
tertentu dalam hal ini termasuk profesi hukum akan tetapi sepanjang tidak
bertentangan atau belum diatur oleh undang-undang. Namun demikian perguruan
tinggi apalagi seperti Pemohon tidaklah berwenang menyelenggarakan pendidikan
tertentu misalnya profesi hakim, profesi jaksa maupun profesi penyidik, juga
profesi Advokat. Karena undang-undangnya telah mengatur secara tersendiri
secara khusus. Demikian pula kegiatan pengabdian masyarakat yang dilakukan
oleh Pemohon adalah tidak ada hubungannya atau tidak ada relevansinya dengan
rumusan Pasal 31 Undang-undang Advokat, maka tidak terjadi rumusan tersebut
diskriminatif karena pengabdian masyarakat sebagai perwujudan tridarma
perguruan tinggi adalah kewajiban Pemohon dan tidak ada hubungannya dengan
profesi Advokat dan itu merupakan kewajiban profesi Pemohon sebagai dosen
perguruan tinggi; -----------------------------------------------------------------------------Bahwa sudah tepat tindakan Pemohon yang berprofesi sebagai dosen bukan
sebagai Advokat dilarang apabila melakukan tugas pengabdian Advokat didalam
masyarakat karena, apabila hal itu dilakukan berpotensi akan menyebabkan tidak
149
-
-
-
-
LAMPIRAN B
adanya kepastian hukum, hilangnya tertib hukum dan berpotensial dapat merugikan
mencari keadilan serta tidak kokohnya penegakkan hukum; ---------------------------Bahwa rumusan Pasal 31 adalah merupakan ketentuan universal yang dianut dan
menjadi materi dari suatu Undang-undang profesi, karena suatu pekerjaan atau
tindakan profesional tentu tidak dapat dilakukan oleh bukan profesi. Kalau
dilakukan oleh bukan profesi nantinya akan dapat berpotensi merugikan
kepentingan masyarakat mencari keadilan. Sebagai perbandingan dapat
dikemukakan bahwa profesi Dokter tidak dapat dilakukan oleh orang yang bukan
Dokter demikian pula untuk profesi-profesi lainnya misalnya penegak hukum,
Jaksa, Hakim, Polisi tidak bisa dilakukan oleh yang bukan hakim, yang bukan
Jaksa yang bukan polisi; --------------------------------------------------------------------Bahwa sebagaimana ditentukan dalam konsideran menimbang Undang-undang
Advokat, profesi Advokat itu diperlukan semata-mata untuk terselenggaranya suatu
peradilan yang jujur, yang adil dan memiliki kepastian hukum bagi semua mencari
keadilan dalam menegakkan hukum, kebenaran, keadilan dan HAM yaitu supaya
kekuasaan kehakiman bebas dari segala campur tangan dan pengaruh dari luar.
Advokat sebagai profesi bebas mandiri dan bertanggung jawab dalam menegakkan
hukum perlu dijamin dan lindungi oleh undang-undang demi terselenggaranya
upaya penegakan supremasi hukum. Jadi jelas sudah Majelis yang mulia bahwa
Undang-undang Advokat tidak menjamin dan tidak melindungi profesi dosen,
maka Pemohon tidaklah mungkin dapat dikategorikan atau dikualifikasikan sebagai
termasuk penegak hukum yang berprofesi Advokat. Kesimpulannya bahwa
berdasarkan hal-hal yang telah kami uraikan maka permohonan Pemohon sudah
sepatutnya dikesampingkan karena irelevan dan nyatanya rumusan Pasal 31 UU
No. 18 Tahun 2003 tentang Advokat tidak bertentangan dengan Undang-Undang
Dasar 1945 khususnya Pasal 28C ayat (1) dan (2), Pasal 28C ayat (1) dan ayat (3)
Pasal 281 ayat (2) Undang-Undang Dasar; ----------------------------------------------Bahwa UU No. 18 Tahun 2003 itu mengatur tentang profesi Advokat; -------------Bahwa jika Pasal 31 dibaca secara seksama, itu bukan perlindungan terhadap
Advokat tetapi perlindungan terhadap masyarakat pencari keadilan dari orangorang yang sesungguhnya bukan Advokat; ----------------------------------------------Bahwa profesi advokat dapat dianalogikan dengan dokter. Apabila ada orang yang
berpraktek sebagai Dokter atau seolah-olah sebagai Dokter adalah pantas jika ada
ancaman pidana terhadap orang itu; -------------------------------------------------------Bahwa tidak ada diskriminasi karena siapapun boleh memasuki profesi Advokat
sepanjang dia memenuhi ketentuan-ketenatuan yang diatur dalam Undang-undang
Advokat; ---------------------------------------------------------------------------------------Bahwa di Amerikapun orang yang mau berprofesi sebagai Advokat harus
mengikuti persyaratan-persyaratan tertentu bahkan tidak mustahil sampai 4
mungkin 5 kali ikut ujian, baru bisa lolos menjadi Advokat.
Bahwa jika berbicara tentang pengabdian kepada masyarakat, fungsi LBH yang
ada di dalam Universitas Muhammadiyah sesungguhnya bisa tetap dijalankan
dengan misalnya bekerjasama dengan organisasi Advokat, karena di dalam
Undang-undang Advokat juga ada Pasal 22 tentang bantuan hukum cuma-cuma; --Bahwa jika dianalogikan dengan profesi dokter maka resiko malpraktek karena
perlindungan Pasal 31 untuk melindungi pencari keadilan adalah sangat besar
sekali. Karena walaupun latar belakang pendidikan sama-sama Sarjana Hukum,
untuk berprofesi sebagai Advokat tidak semudah seperti pendapat orang, karena
150
-
-
-
-
2.
LAMPIRAN B
Sarjana Hukum hanya mempelajari tentang teori-teori. Sedangkan bagaimana
mengimplementasikan teori-teori itu apalagi sebelum ada pengalaman, sebelum
mengikuti pendidikan khusus untuk profesi Advokat sangat berpotensi untuk
merugikan kepentingan pencari keadilan; -------------------------------------------------Bahwa profesi Advokat membutuhkan skill tertentu oleh karena itu dalam Undangundang Advokat juga sudah diatur, misalnya selain dia lulusan perguruan tinggi
hukum dia juga harus mengikuti kursus yang sekarang ini sedang didesain untuk
litigasi maupun non litigasi. Juga harus ada proses magang selama 2 tahun. Karena
akibat mal praktek yang dilakukan oleh seorang advokat akibat tidak menguasai
profesinya dapat menyebabkan kerugian pada pencari keadilan; ----------------------Bahwa yang dimaksud kata seolah-olah adalah kalau orang itu bukan Advokat
tetapi mengaku dirinya Advokat. Untuk pengakuan dan perbuatan itu didasari
dengan unsur kesengajaan. Harus mengaku bahwa “saya Advokat”. Kalau dia tidak
mengatakan sebagai Advokat tidak memenuhi unsur kesengajaan, sebagaimana
ajaran dari Joncker; -------------------------------------------------------------------------Bahwa dari sisi pidana khusus Pasal 31 tidak cukup hanya dikaitkan dengan Pasal
1 butir 1. Tapi juga harus dikaitkan dengan butir 1 dan butir 7 karena disini
Advokat adalah mendapatkan honorarium; -----------------------------------------------Bahwa untuk menjalankan profesi harus Advokat, tetapi untuk beracara di
pengadilan tergantung dari siapa yang memberikan ketentuan hukum acaranya,
bukan profesinya. Jadi untuk beracara di persidangan terletak atau berpatokan pada
hukum acaranya, tetapi untuk melakukan profesi Advokat harus seorang Advokat
sebagaimana ditentukan dalam Undang-undang Advokat; ----------------------------Bahwa yang berhak mewakili seseorang di pengadilan sesuai dengan ketentuan
hukum acara tidak disebutkan sebagai seorang Advokat tapi khusus seorang kuasa
dengan mendapatkan surat kuasa. Profesi Advokat tunduk pada ketentuan Undangundang Advokat; ------------------------------------------------------------------------------
Yayasan Lembaga Bantuan Hukum Indonesia (YLBHI), yang diwakili oleh
Ketuanya Munarman, S.H pada pokoknya memberikan keterangan sebagai berikut: -- Bahwa YLBHI itu bukan organisasi profesi dan bukan juga lembaga yang
bernaung di bawah institusi Perguruan Tinggi seperti Pemohon, melainkan sebuah
organisasi non pemerintah atau LSM yang independen yang memiliki core
dibidang bantuan hukum; -------------------------------------------------------------------- Bahwa YLBHI sangat menghargai semangat dari Pemohon, karena dalam konsteks
Indonesia sekarang ini secara sosiologis memang acces to justice for poor people,
akses masyarakat miskin untuk mendapat keadilan itu memang masih sangat
terbatas; ----------------------------------------------------------------------------------------- Bahwa berdasarkan pengalaman sebetulnya kita menghadapi dua problem hukum
dalam pekerjaan-pekerjaan kita. Yang pertama latent legal problem, yang kedua
adalah manifest legal problem. -------------------------------------------------------------- Pasal yang diajukan keberatan oleh Pemohon ini adalah yang berkaitan dengan
manifest legal problem bukan latent legal problem. Karena apa yang dilakukan
oleh Pemohon dan LBH yang bernaung dibawah institusi perguruan tinggi itu dari
referensi yang ada dari laporan konsep penyuluhan dan bantuan hukum yang
pernah dilakukan dan banyak dilakukan dalam lokakarya-lokakarya LBH bersama
beberapa perguruan tinggi sejak tahun 80-an misinya itu lebih kepada latent legal
problem, memperkuat posisiposisi rakyat, memberikan pendidikan hukum kepada
151
LAMPIRAN B
rakyat dalam rangka hubungannya dengan hak mereka sebagai warga negara.
Tetapi ketika masuk ke wilayah manifest legal problem memang membutuhkan
satu spesifikasi dan kualifikasi tertentu. Menurut YLBHI, Undang-undang Advokat
ini mengatur hal-hal yang berkaitan manifest legal problem yang berkaitan dengan
problem hukum yang sengketanya sudah muncul kepermukaan., baik itu di dalam
pengadilan maupun di luar pengadilan. Itu yang menjadi wilayah atau scoop dari
Undang-undang Nomor 18 tahun 2003 tentang Advokat; ------------------------------- Bahwa kalau dikatakan Pasal 31 bersifat diskriminatif, maka yang disebut
diskriminatif itu secara sosiologis maupun dari aspek HAM diletakan pada 4 dasar,
yaitu pertama diskriminatif itu didasarkan pada etnik, ras, yang kedua pada agama,
yang ketiga pada gender, yang ke empat pada umur. Kalau berkait paling tidak
pada 3 aspek ini dilarang seseorang untuk menekuni profesi Advokat barulah Pasal
31 itu disebut bisa diskriminatif. Tetapi Pasal 31 adalah setiap orang, siapapun, jadi
menurut kami 3 kriteria untuk dikatakan diskriminatif itu patut dipertimbangkan; -- Bahwa dalam praktek sehari-hari secara empirik apa yang sudah disebutkan oleh
Pemohon di dalam permohonannya, ketika ada problem misalnya institusi
perguruan tinggi ada satu lembaga baik swasta maupun negeri yang digugat atau
mendapat problem hukum tidak mesti diwakili Advokat sepanjang yang mewakili
memiliki kaitan secara langsung dengan pihak yang bersengketa, tetapi kalau dia
mewakili pihak lain dan orientasinya adalah profit dan dia masuk wilayah manifest
legal problem hal-hal seperti ini sebenarnya bisa dikenakan Pasal 31; ---------------- Bahwa penerapan Pasal 31 itu sangat kontekstual, spesifik dan macam-macam,
tetapi memang Pasal 31 itu mengandung problem redaksional karena dia
menyebutkan kata seolah-olah; -------------------------------------------------------------3.
Asosiasi Penasehat Hukum dan Hak Azasi Manusia Indonesia (APHI) yang
diwakili oleh Dorma Sinaga, S.H ( Ketua ) dan Lambok Gultom, S.H (Sekjen) telah
memberikan keterangan sebagaiberikut: ------------------------------------------------------ Bahwa APHI sangat sependapat dengan Para Pemohon; -------------------------------- Bahwa Undang-undang Nomor 18 tahun 2003 tentang Advokat ini sangat ideal dan
sangat berorientasi kepada profit. Sangat ideal pada saat penegakan hukum itu
sudah berjalan dengan baik. Dalam kondisi negara seperti sekarang dimana
penegakan hukum masih carut-marut dan pelanggaran terhadap hak-hak rakyat
masih berjalan di mana-mana ini sangat berbahaya. Pembelaan terhadap hak-hak
rakyat itu banyak dilakukan oleh Lembaga-lembaga Bantuan Hukum atau LSM
atau Lembaga-lembaga Bantuan Hukum Kampus. Di daerah mayoritas dilakukan
oleh LBH-LBH kampus; --------------------------------------------------------------------- Bahwa secara fakta LBH kampus itu memang sangat minim yang memiliki izin
Advokat, tapi mereka dibantu oleh sarjana-sarjana hukum yang mahir pengetahuan
umum tentang hukum. Peran mereka disini mereka memberikan suatu pelayanan
hukum kepada masyarakat, karena dalam penanganan perkara atau melakukan
advokasi terhadap hak-hak rakyat kita memakai 2 cara. Yang pertama melalui
litigasi, yang kedua non litigasi. Litigasi itu pasti dilakukan oleh kawan-kawan
yang mempunyai izin praktek Advokat, tapi yang non litigasi itu dilakukan oleh
kawan-kawan Sarjana Hukum yang tidak memiliki izin, kami banyak juga dibantuk
oleh mahasiswa tingkat akhir. Peran mereka sangat penting dalam pembelaan hakhak rakyat namun mereka bisa terbentur dengan adanya Pasal 31 ini. Karena
mereka secara tidak langsung dalam menjalan kan tugas-tugas non litigasi itu
152
LAMPIRAN B
sudah dapat dikatakan menjalankan seolah-olah profesi Advokat, karena mereka
memberikan pelayanan hukum, pendampingan di kepolisian, pendampingan dalam
pemenuhan hak mereka, pendampingan terhadap Komnas HAM. Kawan-kawan
yang mempunyai izin profit sangat minim yang mau terlibat untuk itu, apalagi
pendampingan di lembaga-lembaga pemerintah seperti Komnas HAM, departemen
atau DPR, itu sangat minim yang mau ikut serta dan banyak dilakukan oleh kawankawan Sarjana Hukum yang mahir akan pengetahuan hukum; ------------------------- Bahwa dalam permohonan Pemohon sebenarnya persoalannya adalah persoalan
legalitas, artinya kalau dulu kawan-kawan LBH kampus cukup dengan keputusan
pengadilan tinggi, mereka bisa melakukan pelayanan hukum terhadap masyarakat
tidak mampu, tapi pada saat sekarang hal itu tidak bisa. Persoalan legalitas itu
kalau menurut Undang-undang Advokat terdapat dalam organisasi Advokat; -------4.
Biro Bantuan Hukum Fakultas Hukum Unpad (BBH FH-UNPAD) yang diwakili
oleh Eva Laela, S.H Dosen FH Unpad dan Ketua Biro Bantuan Hukum FH-Unpad
dan Dedi Gozali, S.H, Dosen Fakultas Hukum Unpad dan Konsultan Senior Biro
Bantuan Hukum FH-Unpad, pada pokoknya memberikan keterangan sebagai berikut:
- Bahwa BBH FH-Unpad pernah mengalami satu kasus berkaitan dengan Pasal 31
ini karena Ketua BBH FH-Unpad sempat dilaporkan kepada Polwiltabes untuk
pelanggaran Pasal 31 ini; --------------------------------------------------------------------- Bahwa Ketua BBH FH-Unpad mengalami kurang lebih 3 sampai 4 kali
pemeriksaan di kepolisian, hanya karena memberikan bantuan hukum kepada
masyarakat tidak mampu dalam konteks pengabdian masyarakat mengenai kasus
perceraian; ------------------------------------------------------------------------------------- Bahwa kasus tersebut sebetulnya sudah in kracht, tetapi kemudian sekitar bulan
Februari ditulis di koran, kemudian dilaporkan ke kepolisian dan diproses; ---------- Bahwa pada akhirnya ada keterangan dari Pengadilan Tinggi yang memberikan
izin berdasarkan kerjasama antara Unpad dengan pengadilan tinggi, yang
mengatakan bahwa ia masih boleh menggunakan kartu izinnya; ----------------------- Bahwa pada pada saat menangani kasus itu, izinnya masih berlaku sampai Juli
2004. sedangkan ia menangani kasus sekitar Agustus 2003 yang dimulai sejak
2001. Jadi secara administratif masih boleh menggunakan kartu tersebut; ------------ Bahwa kemudian kasus tersebut diproses di kepolisian dan pada akhirnya pada 31
Agustus 2004 kasus itu sudah di SP3kan, karena menurut pihak kepolisian tidak
ada pelanggaran pidana disitu; -------------------------------------------------------------- Bahwa yang menjadi pertanyaan besar adalah apakah seseorang yang memberikan
bantuan hukum kepada masyarakat tidak mampu, bukan kepada masyarakat
mampu dan dia tidak mendapatkan penghasilan atau mendapatkan dari
memberikan bantuan hukum itu lalu itu dikategorikan dengan perbuatan pidana
yang bisa diancam dengan hukuman 5 tahun dan denda 50 juta; ----------------------- Bahwa eksistensi Biro Bantuan Hukum Fakultas Hukum Unpad ini tidak hanya
menangani bantuan hukum saja tetap yang masyarakat tidak mampu, tapi juga
untuk kepentingan universitas itu sendiri. Banyak kasus-kasus yang menggugat
Universitas Padjajaran misalnya kasus drop out dimana Rektor itu di PTUN kan,
kemudian aset-aset Unpad diserobot oleh masyarakat, itu selalu diselesaikan
melalui peradilan. Selain itu juga kasus-kasus yang menyangkut karyawan; --------- Bahwa UU No. 18 Tahun 2003 akomodatif, tidak menyertakan institusi lain yang
punya kepentingan; ----------------------------------------------------------------------------
153
LAMPIRAN B
5.
Lembaga Konsultasi dan Bantuan Hukum FH-UI ( LKBH FH–UI) yang diwakili
oleh Ketuanya Retno Muryati, S.H, MH pada pokoknya memberikan keterangan
sebagai berikut: -------------------------------------------------------------------- Bahwa masih banyak persoalan yang harus diselesaikan dalam Undang-undang
Advokat. Satu yang jadi fokus pembicaraan ialah Pasal 31 dimana kata seolah-olah
itu akan membuat penafsiran yang bermacammacam, yang akan kena dampak
adalah dari perguruan tinggi. Jadi dari Undang-undang Advokat pun ini perlu ada
beberapa hal yang perlu dibahas kembali; ------------------------------------------------- Bahwa berkaitan dengan kekecewaan dari organisasi advokat terhadap sarjana
hukum yang baru lulus, oleh karena itu perlu pendidikan khusus untuk menjadi
advokat yang handal. Kemampuan seorang seorang Sarjana Hukum tidak cukup
hanya setelah menjadi sarjana. Adalah lebih sempurna kalau sejak mahasiswa pun
sudah diperkenalkan bagaimana nantinya kalau mereka menjadi Advokat, karena
pendidikan setelah Sarjana Hukum itu hanya berapa tahun, misalnya untuk
Advokat berapa bulan, sedangkan untuk menjadi Sarjana Hukum 4 tahun atau 3,5
tahun atau 7 semester. Justru di sinilah untuk membuat sarjana yang siap pakai; ---- Adanya satu laboratorium yang berupa Lembaga Bantuan Hukum mengacu kepada
kurikulum nasional dimana ada mata kuliah mengenai kemahiran, keterampilan
dan itu berlaku untuk seluruh Indonesia; --------------------------------------------------- Adanya Tri Darma Perguruan Tinggi yang salah satunya adalah pengabdian pada
masyarakat, perlu diperhitungkan juga oleh Asosiasi Advokat. Jangan hanya
mengatakan Sarjana Hukum perlu dididik lagi untuk menjadi Advokat yang betulbetul bisa memenuhi apa yang dikehendaki oleh masyarakat. Justru ditingkat
pertama, di S1, perlu disiapkan syarat minimal untuk mereka bisa maju kesana; ---- Bahwa dengan adanya Undang-undang Advokat ini tentu LBH yang juga
berfungsi sebagai laboratorium hukum bagi mahasiswa Fakultas Hukum betulbetul terkena dampaknya.
6.
Lembaga Konsultasi dan Bantuan Hukum FH- Universitas Trisakti (LKBH FHTrisakti) yang diwakili oleh Ketuanya Sugeng Sudartono, S.H pada pokoknya
memberikan keterangan sebagai berikut: -------------------------- Bahwa secara prinsip sependapat bahwa Pasal 31 Undang-undang Advokat itu
sebaiknya ditinjau kembali karena bertentangan dengan Undang-Undang Dasar
terutama dengan Pasal 28; -------------------------------- Bahwa tujuan dibentuknya laboratorium hukum disetiap perguruan tinggi adalah
untuk mendekatkan peranan perguruan tinggi dengan masyarakat termasuk di
dalam Fakultas Hukum. Hal ini sesuai dengan pendapat dari Prof. Dr. Erman
Rajagukguk yang mengatakan bahwa Fakultas Hukum dalam era globalisasi harus
mempersiapkan mahasiswanya dengan pendidikan yang cukup. Disatu pihak
pendidikan hukum harus melahirkan Sarjana Hukum yang mempunyai
keterampilan dalam praktek hukum, disamping itu juga harus mampu menghadapi
berbagai masalah yang dihadapi masyarakat termasuk dengan jalan memberikan
bantuan hukum;
- Bahwa jika dikaitkan dengan Undang-undang tentang Sistem Pendidikan Nasional,
Undang-undang Nomor 20 Tahun 2003, di dalam ketentuan Pasal 40 ayat (1) butir
c dan d disebutkan bahwa seorang pendidik yang memberikan pendidikan pada
mahasiswanya harus mendapatkan perlindungan hukum, agar mahasiswa yang
154
LAMPIRAN B
bersangkutan dan pendidikan yang bersangkutan mendapatkan ketenangan dalam
menjalankan tugasnya. Oleh sebab itu untuk terciptanya suatu sistem pendidikan
yang baik bagi Fakultas Hukum diperlukan adanya keterampilan pada para Sarjana
Hukum yang hanya bisa diperoleh apabila para pendidik dan para mahasiswanya
juga dilibatkan dalam proses beracara. Oleh karena itu peranan lembaga-lembaga
bantuan hukum dalam proses beracara seharusnya diakomodir dalam Pasal 31; ----Menimbang bahwa untuk mempersingkat uraian putusan ini maka segala sesuatu
yang tertera dalam berita acara persidangan dianggap telah termasuk dan merupakan
bagian yang tak terpisahkan dari putusan ini; ----------------------------------------------------PERTIMBANGAN HUKUM
Menimbang bahwa maksud dan tujuan permohonan Pemohon adalah sebagaimana
tersebut di atas; ----------------------------------------------------------------------------------------Menimbang bahwa sebelum mempertimbangkan pokok perkara sebagaimana
dimohonkan oleh Pemohon, Mahkamah perlu terlebih dahulu mempertimbangkan
mengenai: ----------------------------------------------------------------------------------------------1. Kewenangan Mahkamah untuk memeriksa permohonan Pemohon a quo, -----------------2. Kedudukan hukum (legal standing) Pemohon a quo. ----------------------------------------1. KEWENANGAN MAHKAMAH
Menimbang bahwa Pasal 24C ayat (1) UUD 1945 jo Pasal 10 UU No. 24 Tahun
2003 tentang Mahkamah Konstitusi (selanjutnya disebut UUMK) yang menyatakan, salah
satu kewenangan Mahkamah adalah mengadili pada tingkat pertama dan terakhir yang
putusannya bersifat final untuk menguji undang-undang terhadap Undang-Undang Dasar;
Menimbang bahwa undang-undang yang dimohonkan untuk diuji, in casu UU 18
Tahun 2003, diundangkan pada tanggal 5 April 2003 maka, terlepas dari adanya
perbedaan pendapat di antara para hakim mengenai Pasal 50 UUMK, Mahkamah
berwenang untuk mengadili dan memutus permohonan a quo; --------------------------------2. KEDUDUKAN HUKUM (LEGAL STANDING) PEMOHON
Menimbang bahwa Pasal 51 UUMK menyatakan, Pemohon adalah pihak yang
menganggap hak dan/atau kewenangan konstitusionalnya dirugikan oleh berlakunya
undang-undang, yaitu: ------------------------------------------------------------------------------a. Perorangan warga negara Indonesia; ----------------------------------------------------------b. Kesatuan masyarakat hukum adat sepanjang masih hidup dan sesuai dengan
perkembangan masyarakat dan prinsip Negara Kesatuan Republik Indonesia yang
diatur dalam undang-undang; -------------------------------------------------------------------c. Badan hukum publik atau privat; atau ---------------------------------------------------------d. Lembaga negara; ---------------------------------------------------------------------------------yang dengan demikian berarti bahwa untuk dapat diterima sebagai Pemohon dalam
permohonan pengujian undang-undang terhadap UUD 1945 seseorang atau suatu pihak
terlebih dahulu harus menjelaskan: ----------------------------------------------------------------1. Kualifikasinya dalam permohonan a quo, apakah sebagai perorangan warga negara
Indonesia, kesatuan masyarakat hukum adat, badan hukum (publik atau privat),
ataukah sebagai lembaga negara; ---------------------------------------------------------------
155
LAMPIRAN B
2. Kerugian hak dan/atau kewenangan konstitusional yang dideritanya dalam kualifikasi
tersebut; --------------------------------------------------------------------------------------------Menimbang bahwa Pemohon adalah Rektor Universitas Muhammadiyah Malang
yang membawahkan Laboratorium Konsultasi dan Pelayanan Hukum Universitas
Muhammadiyah Malang (LKPH-UMM), sebuah lembaga nirlaba yang didirikan guna
memberikan pelayanan hukum kepada masyarakat baik dalam bentuk litigasi maupun nonlitigasi, dalam hal ini diwakili oleh kuasanya sebagaimana telah disebut dalam duduk
perkara yang masing-masing adalah sekaligus Kepala, Sekretaris, dan Staf LKPH-UMM; Menimbang bahwa dalam kualifikasi sebagaimana disebutkan di atas Pemohon
merasa dirugikan oleh berlakunya UU No.18 Tahun 2003, in casu Pasal 31, yang
menyatakan, “Setiap orang yang dengan sengaja menjalankan pekerjaan profesi Advokat
dan bertindak seolah-olah sebagai Advokat, tetapi bukan Advokat sebagaimana diatur
dalam undang-undang ini, dipidana dengan pidana penjara paling lama 5 (lima) tahun dan
denda paling banyak 50.000.000 (lima puluh juta) rupiah”, kerugian mana secara nyata
telah dialami Para Kuasa Pemohon yakni dalam wujud ditolaknya kehadiran Para Kuasa
Pemohon oleh pihak penyidik di Kepolisian Resort Malang pada saat melakukan
pendampingan selaku kuasa hukum dari seorang klien karena Para Kuasa Pemohon tidak
mampu menunjukkan identitas Advokat yang diminta oleh penyidik (vide butir 12
permohonan); ------------------------------------------------------------------------------------------Menimbang bahwa, dengan demikian, telah ternyata terdapat kepentingan
Pemohon terhadap berlakunya undang-undang a quo yang menurut Pemohon, dalam
kualifikasi sebagaimana diuraikan di atas, telah merugikan hak-hak konstitusionalnya,
sehingga oleh karenanya Mahkamah berpendapat bahwa Pemohon memiliki kedudukan
hukum (legal standing) untuk bertindak selaku Pemohon di hadapan Mahkamah; ----------POKOK PERKARA
Menimbang bahwa Pemohon mendalilkan Pasal 31 UU No. 18 Tahun 2003
sebagai ketentuan yang sangat diskriminatif, tidak adil, serta merugikan hak-hak
konstitusional Pemohon karena, dengan adanya ketentuan dimaksud, Pemohon tidak dapat
lagi memberikan pelayanan hukum kepada masyarakat, baik dalam bentuk litigasi maupun
non-litigasi. Di samping itu, ketentuan Pasal 31 dimaksud juga telah mengakibatkan
Pemohon tidak mungkin lagi melaksanakan kegiatan pendidikan hukum klinis guna
melatih keterampilan hukum mahasiswa melalui kegiatan praktisi hukum, padahal
berdasarkan kurikulum pendidikan tinggi hukum hal itu wajib dilaksanakan oleh
penyelenggara pendidikan tinggi hukum. Pasal 31 UU No. 18 Tahun 2003 telah pula
mengakibatkan Pemohon tidak mungkin melaksanakan salah satu unsur Tri Dharma
Perguruan Tinggi, dalam hal ini unsur pengabdian pada masyarakat, yang dalam
hubungannya dengan Pemohon unsur pengabdian pada masyarakat tersebut dilaksanakan
sebagai kegiatan pemberian konsultasi, advokasi, dan litigasi terhadap berbagai elemen
masyarakat yang membutuhkan keadilan. Hal tersebut dikarenakan Pasal 1 angka 1 dan 2
undang-undang a quo menentukan bahwa “advokat adalah orang yang berprofesi member
jasa hukum, baik di dalam maupun di luar pengadilan yang memenuhi persyaratan
berdasarkan ketentuan undang-undang ini”, sedangkan yang diartikan sebagai jasa hukum
adalah “jasa yang diberikan advokat berupa memberikan konsultasi hukum, bantuan
hukum, menjalankan kuasa, mewakili, mendampingi, membela, dan melakukan tindakan
hukum lain untuk kepentingan hukum klien”; ------------------------------------------------------
156
LAMPIRAN B
Menimbang bahwa UUD 1945, Pasal 1 ayat (3), secara tegas menyatakan
Indonesia adalah negara hukum yang dengan demikian berarti bahwa hak untuk
mendapatkan bantuan hukum, sebagai bagian dari hak asasi manusia, harus dianggap
sebagai hak konstitusional warga negara, kendatipun undang-undang dasar tidak secara
eksplisit mengatur atau menyatakannya, dan oleh karena itu negara wajib menjamin
pemenuhannya; ----------------------------------------------------------------------------------------Menimbang bahwa dalam rangka menjamin pemenuhan hak untuk mendapatkan
bantuan hukum bagi setiap orang sebagaimana dimaksud, keberadaan dan peran lembagalembaga nirlaba semacam LKPH UMM, yang diwakili Pemohon, adalah sangat penting
bagi pencari keadilan, teristimewa bagi mereka yang tergolong kurang mampu untuk
memanfaatkan jasa penasihat hukum atau advokat profesional. Oleh karena itu, adanya
lembaga semacam ini dianggap penting sebagai instrumen bagi perguruan tinggi terutama
Fakultas Hukum untuk melaksanakan Tri Dharma Perguruan Tinggi dalam fungsi
pengabdian kepada masyarakat. Di samping itu, pemberian jasa bantuan hukum juga
dimasukkan sebagai bagian dari kurikulum pendidikan tinggi hukum dengan kategori mata
kuliah pendidikan hukum klinis dan ternyata membawa manfaat besar bagi perkembangan
pendidikan hukum dan perubahan sosial, sebagaimana ditunjukkan oleh pengalaman
negara-negara Amerika Latin, Asia, Eropa Timur, Afrika Selatan, bahkan juga negara
yang sudah tergolong negara maju sekalipun seperti Amerika Serikat, seperti dikatakan
McClymont & Golub, “...university legal aid clinics are now part of the educational and
legal landscape in most regions of the world. They have already made contributions to
social justice and public service in the developing world, and there are compelling
benefits that recommend their consideration in strategies for legal education and public
interest law...” [vide lebih jauh Mary McClymont & Stephen Golub, Many Roads to
Justice, 2000, hal. 267- 296). Namun, peran demikian menjadi tidak mungkin lagi
dijalankan oleh LKPH UMM atau lembaga-lembaga lain sejenis, sebagaimana telah
ternyata dari pengalaman dan keterangan Para Kuasa Pemohon di hadapan persidangan
tanggal 30 September 2004, dan diperkuat oleh keterangan pihak terkait dari lembaga Biro
Bantuan Hukum Universitas Padjadjaran yaitu Eva Laela, S.H. dan Dedi Gozali, S.H. pada
persidangan tanggal 30 September 2004, yang menyatakan keduanya telah disidik oleh
penyidik dengan sangkaan telah melanggar ketentuan Pasal 31 UU No.18 Tahun 2003,
meskipun penyidikan kemudian dihentikan. Namun penghentian penyidikan tersebut
dilakukan bukan karena alasan yang bersangkutan tidak memenuhi unsur-unsur Pasal 31
UU No.18 Tahun 2003, melainkan peristiwa yang disangkakan tersebut terjadi sebelum
berlakunya undang-undang a quo; -----------------------------------------------------------------Menimbang bahwa dalam praktik, rumusan Pasal 31 UU No.18 Tahun 2003 dimaksud
bukan hanya mengakibatkan tidak memungkinkan lagi berperannya lembaga-lembaga
sejenis LKPH UMM memberikan bantuan dan pelayanan hukum kepada pihak-pihak yang
kurang mampu, melainkan ketentuan dalam pasal dimaksud juga dapat mengancam setiap
orang yang hanya bermaksud memberikan penjelasan mengenai suatu persoalan hukum,
hal mana dikarenakan pengertian Advokat sebagaimana dijelaskan dalam Pasal 1 angka 1
UU No.18 Tahun 2003 adalah “orang yang berprofesi memberi jasa hukum, baik di dalam
maupun di luar pengadilan yang memenuhi persyaratan berdasarkan ketentuan dalam
undang-undang ini”, sehingga seseorang yang memberikan penjelasan tentang suatu
persoalan hukum kepada seseorang lainnya dan kemudian sebagai ucapan terima kasih
orang yang disebut terdahulu menerima suatu pemberian, yang sesungguhnya tidak
dimaksudkan sebagai honorarium oleh pihak yang memberi, dapat dituduh telah
157
LAMPIRAN B
melakukan perbuatan “bertindak seolah-olah sebagai advokat” dan karenanya diancam
dengan pidana yang sedemikian berat;--------------------------------------------------------------Menimbang bahwa Pasal 31 undang-undang a quo mengancam pidana kepada seseorang
yang menjalankan profesi advokat dan bertindak seolah-olah sebagai advokat tetapi bukan
advokat sebagaimana dimaksud dalam undang-undang a quo. Sedangkan yang dimaksud
dengan profesi advokat adalah orang yang berprofesi memberikan jasa hukum baik di
dalam maupun di luar pengadilan sebagaimana disebutkan dalam Pasal 1 angka 1 UU No.
18 Tahun 2003. Sementara itu pada angka 2-nya dinyatakan bahwa jasa hukum adalah
memberikan konsultasi hukum, bantuan hukum, menjalankan kuasa, mewakili,
mendampingi, membela, dan melakukan tindakan hukum lain untuk kepentingan hukum
klien; ----------------------------------------------------------------------------------------------------Menimbang bahwa menurut Pasal 28F UUD 1945 setiap orang berhak
berkomunikasi dan memperoleh informasi untuk mengembangkan pribadi dan lingkungan
sosialnya, serta berhak untuk mencari, memperoleh, memiliki, menyimpan, mengolah, dan
menyampaikan informasi dengan menggunakan segala jenis saluran yang tersedia.
Seseorang yang memerlukan jasa hukum di luar pengadilan pada hakikatnya adalah ingin
memperoleh informasi hukum dan dijamin oleh Pasal 28F UUD 1945. Adalah menjadi
hak seseorang untuk memilih sumber informasi yang dipandangnya tepat dan terpercaya; ---------------------------Menimbang bahwa Pasal 31 jo Pasal 1 angka 1 undang-undang a quo membatasi
kebebasan seseorang untuk memilih sumber informasi karena seseorang yang melakukan
konsultasi hukum di luar pengadilan oleh undang-undang a quo hanya dibenarkan apabila
sumber informasi tersebut adalah seorang advokat. Jika seseorang bukan advokat
memberikan informasi hukum, terhadapnya dapat diancam oleh Pasal 31 undang-undang a
quo. Pencari informasi akan sangat terbatasi dalam memilih sumber informasi karena yang
bukan advokat terhalang untuk memberikan informasi dengan adanya Pasal 31 undangundang a quo; -----------------------------------------------------------------------------------------Menimbang pula bahwa UU No. 18 Tahun 2003 adalah undang-undang advokat yaitu
undang-undang yang mengatur syarat-syarat, hak dan kewajiban menjadi anggota
organisasi profesi advokat, yang memuat juga pengawasan terhadap pelaksanaan profesi
advokat dalam memberikan jasa hukum, baik di dalam maupun di luar pengadilan. Oleh
karena itu, tujuan undang-undang advokat, di samping melindungi advokat sebagai
organisasi profesi, yang paling utama adalah melindungi masyarakat dari jasa advokat
yang tidak memenuhi syarat-syarat yang sah atau dari kemungkinan penyalahgunaan jasa
profesi advokat; ---------------------------------------------------------------------------------------Menimbang bahwa sebagai undang-undang yang mengatur profesi, seharusnya UU
No. 18 Tahun 2003 tidak boleh dimaksudkan sebagai sarana legalisasi dan legitimasi
bahwa yang boleh tampil di depan pengadilan hanya advokat karena hal demikian harus
diatur dalam hukum acara, padahal hukum acara yang berlaku saat ini tidak atau belum
mewajibkan pihak-pihak yang berperkara untuk tampil dengan menggunakan pengacara
(verplichte procureurstelling). Oleh karena tidak atau belum adanya kewajiban demikian
menurut hukum acara maka pihak lain di luar advokat tidak boleh dilarang untuk tampil
mewakili pihak yang berperkara di depan pengadilan. Hal ini juga sesuai dengan kondisi
riil masyarakat saat ini di mana jumlah advokat sangat tidak sebanding, dan tidak merata,
dibandingkan dengan luas wilayah dan jumlah penduduk yang memerlukan jasa hukum; -Menimbang bahwa sebagaimana terungkap dalam persidangan Mahkamah tanggal
30 September 2004, sejarah lahirnya perumusan undang-undang a quo, pasal tersebut
memang dimaksudkan agar yang boleh tampil beracara di hadapan pengadilan hanya
158
LAMPIRAN B
advokat, yang dengan demikian berarti undang-undang a quo telah mengatur materi
muatan yang seharusnya menjadi materi muatan undang-undang yang mengatur hukum
acara. Bahkan, andaikatapun maksud demikian tidak ada, sebagaimana diterangkan wakil
Pemerintah (c.q. Dirjen Hukum dan Perundang-undangan) pada persidangan tanggal 23
Agustus 2004, rumusan Pasal 31 undang-undang a quo dapat melahirkan penafsiran yang
lebih luas daripada maksud pembentuk undang-undang (original intent) yang dalam
pelaksanaannya dapat menimbulkan ketidakpastian hukum dan ketidakadilan bagi banyak
anggota masyarakat yang membutuhkan jasa pelayanan dan bantuan hukum karena Pasal
31 UU No.18 Tahun 2003 dimaksud dapat menjadi hambatan bagi banyak anggota
masyarakat yang tak mampu menggunakan jasa advokat, baik karena alasan finansial
maupun karena berada di wilayah tertentu yang belum ada advokat yang berpraktik di
wilayah itu, sehingga akses masyarakat terhadap keadilan menjadi makin sempit bahkan
tertutup. Padahal, akses pada keadilan adalah bagian tak terpisahkan dari ciri lain negara
hukum yaitu bahwa hukum harus transparan dan dapat diakses oleh semua orang
(accessible to all), sebagaimana diakui dalam perkembangan pemikiran kontemporer
tentang negara hukum. Jika seorang warga negara karena alasan finansial tidak memiliki
akses demikian maka adalah kewajiban negara, dan sesungguhnya juga kewajiban para
advokat untuk memfasilitasinya, bukan justru menutupnya (vide Barry M. Hager, The Rule
of Law, 2000, hal. 33); -------------------------------------------------------------------------------Menimbang bahwa jika pun benar maksud perumusan Pasal 31 UU No.18 Tahun
2003 tersebut adalah untuk melindungi kepentingan masyarakat dari kemungkinan
penipuan yang dilakukan oleh orang-orang yang mengaku-aku sebagai advokat,
kepentingan masyarakat tersebut telah cukup terlindungi oleh ketentuan Kitab Undangundang Hukum Pidana, sehingga oleh karenanya ketentuan Pasal 31 undang-undang a quo
harus dinyatakan sebagai ketentuan yang berlebihan yang berakibat pada terhalanginya
atau setidak-tidaknya makin dipersempitnya akses masyarakat terhadap keadilan, yang
pada gilirannya dapat menutup pemenuhan hak untuk diadili secara fair (fair trial),
terutama mereka yang secara finansial tidak mampu, sehingga kontradiktif dengan
gagasan negara hukum yang secara tegas dirumuskan dalam Pasal 1 ayat (3) UUD 1945; -Menimbang pula bahwa, sebagai perbandingan, akses terhadap keadilan dalam
rangka pemenuhan hak untuk diadili secara fair adalah melekat pada ciri negara hukum
(rule of law), dan karenanya dinilai sebagai hak konstitusional, sudah merupakan
communis opinio sebagaimana terlihat antara lain dalam putusan Pengadilan Inggris dalam
kasus R v Lord Chancellor ex p Witham (1998) yang di antaranya menyatakan, “... the
right to a fair trial, which of necessity imports the right of access to the court, is as near
to an absolute right as any which I can envisage... It has been described as
constitutional right, though the cases do not explain what that means” (vide Helen
Fenwick & Gavin Phillipson, Text, Cases & Materials on Public Law & Human Rights,
2nd edition, 2003, hal. 142); -------------------------------------------------------------------------Menimbang bahwa dengan pertimbangan-pertimbangan sebagaimana diuraikan di
atas, Mahkamah berpendapat, Pasal 31 UU No.18 Tahun 2003 bertentangan dengan Pasal
1 ayat (3), Pasal 28F UUD 1945 dan karenanya permohonan Pemohon a quo harus
dikabulkan; -------------------------------------------------------------------------------------------Mengingat Pasal 56 ayat (2) dan Pasal 57 ayat (3) Undang-undang Nomor 24
Tahun 2003 tentang Mahkamah Konstitusi; -------------------------------------------------------MENGADILI
159
LAMPIRAN B
Menyatakan permohonan Pemohon dikabulkan; -----------------------------------Menyatakan, Pasal 31 Undang-undang Nomor 18 Tahun 2003 tentang
Advokat bertentangan dengan Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia
Tahun 1945; ------------------------------------------------------------------------------------------Menyatakan, Pasal 31 Undang-undang Nomor 18 Tahun 2003 tentang
Advokat tidak mempunyai kekuatan hukum mengikat; ------------------------------------Memerintahkan pemuatan putusan ini dalam Berita Negara Republik
Indonesia sebagaimana mestinya; ----------------------------------------------------------------PENDAPAT BERBEDA (Dissenting Opinion)
Menimbang, bahwa terhadap putusan Mahkamah tersebut diatas, Hakim Konstitusi
Prof. Dr. H.M. Laica Marzuki, SH, Prof. H.A.S. Natabaya, SH, LL.M, dan H. Achmad
Roestandi, SH mempunyai pendapat berbeda sebagai berikut :
Secara tekstual, Pasal 31 Undang-Undang Nomor 18 Tahun 2003 tentang Advokat
berbunyi : Setiap orang yang dengan sengaja menjalankan pekerjaan profesi Advokat dan
bertindak seolah-seolah sebagai Advokat, tetapi bukan Advokat sebagaimana diatur
dalam undang-undang ini, dipidana dengan pidana penjara paling lama 5 (lima) tahun
dan denda paling banyak Rp. 50.000.000,- (lima puluh juta rupiah).
Pasal 31 Undang-Undang Nomor 18 Tahun 2003 merupakan een wet
artikelgedeelte dari Undang-Undang Advokat, yang secara khusus diperuntukkan
mengatur profesi advokat. Undang-Undang Advokat adalah undang-undang profesi, dalam
hal ini undang-undang profesi advokat.Pasal 31 Undang-Undang Nomor 18 Tahun 2003
dibuat guna melindungi profesi advokat, suatu pengaturan beroepsbescherming bagi
advokat.
Manakala seseorang yang dengan sengaja menjalankan pekerjaan profesi Advokat
dan bertindak seolah-olah sebagai Advokat, tetapi bukan Advokat maka hal dimaksud
merupakan strafbare sanctie (sanksi pidana) yang ditujukan kepada non profesi advokat,
atau orang lain (profesi lain) di luar advocat beroep. Penolakan hakim atau pihak lain
terhadap orang lain yang bukan advokat beracara di pengadilan (atau di luar pengadilan)
tidak dapat dijadikan alasan guna pengujian (apalagi membatalkan) Pasal 31 UndangUndang Nomor 18 Tahun 2003 karena hal dimaksud berpaut dengan salah penerapan
Pasal 31 Undang- Undang Nomor 18 Tahun 2003, tidak terletak pada substansi normatif
yang dimaksud pembuat undang-undang. Kesalahan penerapan Pasal a quo terungkap pula
dari keterangan dan kesaksian dalam persidangan. Memang di tempat-tempat tertentu,
dalam hal ini di Bandung dan Malang, pemberian kuasa kepada LBH Perguruan Tinggi
pernah dipersoalkan oleh Polisi atau Pengadilan dengan mendasarkan pada Pasal a quo,
tetapi di tempat-tempat lain pemberian kuasa semacam itu tidak pernah dipersoalkan,
artinya tetap berjalan seperti yang dilakukan sebelum pasal a quo berlaku. Lagipula proses
penanganan perkara tersebut baik di Bandung maupun di Malang pada akhirnya tidak
dilanjutkan.
Dengan demikian ketentuan Pasal 31 Undang-Undang Nomor 18 Tahun 2003 tidak
ada kaitannya dengan perlakuan diskriminatif yang didalilkan Pemohon sehingga
bertentangan dengan Pasal 28 C ayat (1); (2) dan Pasal 28 D ayat (1); (3). Adapun bunyi
Pasal 28 C ayat (1) adalah “Setiap orang berhak mengembangkan diri melalui pemenuhan
kebutuhan dasarnya, berhak mendapat pendidikan dan memperoleh manfaat dari ilmu
pengetahuan dan teknologi, seni dan budaya, demi meningkatkan kualitas hidupnya dan
demi kesejahteraan umat manusia”. Sedangkan ayat (2) berbunyi “Setiap orang berhak
160
LAMPIRAN B
untuk memajukan dirinya dalam memperjuangkan haknya secara kolektif untuk
membangun masyarakat, bangsa dan negaranya”. Selanjutnya Pasal 28 D ayat (1)
menegaskan “Setiap orang berhak atas pengakuan, jaminan, perlindungan, dan kepastian
hukum yang adil serta perlakuan yang sama di hadapan hukum”. Sedangkan pada ayat (3)
menyebutkan “Setiap warga negara berhak memperoleh kesempatan yang sama dalam
pemerintahan”.
Ketentuan yang terdapat dalam Pasal 31 Undang-Undang Nomor 18 Tahun 2003,
jika dibaca sepintas memang seolah-olah memberikan perlindungan yang berlebihan
kepada advokat. Tetapi jika dipahami secara cermat, perlindungan terhadap advokat itu,
pada dasarnya dimaksudkan untuk melindungi kepentingan masyarakat. Kerugian yang
mungkin diderita oleh masyarakat sebagai akibat ulah dari mereka yang mengaku-aku
sebagai advokat, dapat berpengaruh lebih luas dan lebih besar daripada akibat yang
ditimbulkan oleh penipuan biasa, sehingga wajar saja jika diberikan ancaman pidana
khusus selain ancaman pidana umum yang terdapat dalam KUHP. Perlindungan itupun
tidak berarti menutup pintu bagi Perguruan Tinggi untuk memberikan pelatihan praktis
kepada para mahasiswa Fakultas Hukum, bahkan pelatihan itu akan berlangsung lebih
terarah, lebih realistis dan lebih sejalan dengan Pasal 13 a quo, jika misalnya dilakukan
melalui kerjasama antara Perguruan Tinggi dengan Asosiasi (Perkumpulan) advokat,
sebagaimana yang
dilakukan oleh Perguruan Tinggi dengan Rumah Sakit dalam rangka pelatihan mahasiswa
Fakultas Kedokteran.
Adapun dalil Pemohon yang menyatakan dengan munculnya ketentuan Pasal 31
Undang-Undang Nomor 18 Tahun 2003 telah dipengaruhi oleh ketakutan akan
berkurangnya atau sedikitnya lahan rezeki Advokat adalah bersifat tendensius dan
berburuk sangka karena berdasarkan hasil Pembahasan Rancangan Undang-Undang
(RUU) Advokat di DPR (Ketetapan DPR dan Pemerintah) pernyataan Pemohon tidak
benar. Pemohon sebagai anggota Civitas Academica Universitas Muhammadiyah Malang
yang bukan merupakan institusi Pemerintah (tidak berstatus Pegawai Negeri) dapat
mendaftarkan diri untuk menjadi Advokat asal saja memenuhi ketentuan sebagaimana
diatur dalam Pasal 3 Undang-Undang Nomor 18 Tahun 2003, dengan catatan bahwa setiap
profesi sudah seharusnya dituntut untuk bekerja secara profesional di bidangnya
masingmasing, termasuk advokat hendaknya bekerja profesional di bidangnya, demikian
pula tenaga pengajar hendaknya juga profesional dan tidak berdwifungsi.
Adapun dalil Pemohon yang menyatakan Undang-Undang Nomor 18 Tahun 2003
bukan undang-undang yang baik karena tidak ada aturan pengecualiannya, tidak tepat,
karena tidak selalu harus suatu undang-undang mempunyai pasal atau ketentuan
pengecualian (escape clausule).
Oleh karena itu, kami berpendapat dalil yang dikemukakan oleh Pemohon bahwa
Pasal 31 Undang-Undang Nomor 18 Tahun 2003 adalah bertentangan (tegengesteld)
dengan UUD 1945, tidak terbukti.
Sebagai penutup, izinkanlah kami menutup pendapat berbeda ini dengan mengutip
pepatah Melayu “awak tak pandai menari dikatakan lantai terjungkit” dan “buruk muka
cermin dibelah”.
Demikian diputuskan dalam Rapat Permusyawaratan Hakim yang dihadiri oleh 9
(sembilan) Hakim Mahkamah Konstitusi pada hari Rabu tanggal 8 Desember 2004, dan
diucapkan dalam Sidang Pleno Mahkamah Konstitusi yang terbuka untuk umum pada hari
ini, Senin tanggal 13 Desember 2004, oleh kami Prof. Dr. Jimly Asshiddiqie, S.H,
selaku Ketua merangkap Anggota didampingi oleh Prof. H. A. Mukthie Fadjar, S.H.,
161
LAMPIRAN B
M.S., H. Achmad Roestandi, S.H., Dr. Harjono, SH, MCL., Soedarsono, S.H., I Dewa
Gede Palguna, S.H., M.H., dan Maruarar Siahaan, SH, masing-masing sebagai anggota
dan dibantu oleh Teuku Umar, SH, MH sebagai Panitera Pengganti serta dihadiri oleh
Kuasa Pemohon, pemerintah dan Pihak Terkait.
KETUA
ttd
Prof. Dr. Jimly Asshiddiqie, SH.
ANGGOTA-ANGGOTA,
Ttd
ttd
Prof. Dr. H.M. Laica Marzuki, S.H
Prof. H.A.S. Natabaya, S.H, LLM.
ttd
ttd
H. Achmad Roestandi, S.H.
Dr. Harjono, S.H, MCL.
ttd
ttd
Prof.H.A.Mukthie Fadjar, SH, MS
I Dewa Gede Palguna, S.H, MH
ttd
ttd
Maruarar Siahaan, SH.
Soedarsono, SH.
Panitera Pengganti,
ttd
Teuku Umar, SH.MH
162
LAMPIRAN C
DEPARTEMEN KEUANGAN REPUBLIK INDONESIA
SALI NAN
KEPUTUSAN MENTERI KEUANGAN REPUBLIK INDONESIA
NOMOR 152/KM.l/2004
TENT ANG
PEMBENTUKAN TIM PENYUSUNAN
BUKU PEDOMAN PENANGANAN PERKARA
MENTERI KEUANGAN REPUBLIK INDONESIA,
Menimbang
: a. bahwa dalam upaya meningkatkan kualitas penanganan perkara
terhadap gugatan-gugatan yang diajukan kepada unit-unit di
lingkungan Direktorat Jenderal Piutang dan Lelang Negara
diperlukan buku pedoman penanganan perkara;
b. bahwa berdasarkan pertimbangan sebagaimana dimaksud dalam
huruf a, perlu menetapkan Keputusan Menteri Keuangan tentang
Pembentukan Tim Penyusunan Buku Pedoman Penanganan
Perkara;
Mengingat
: 1. Undang-undang Nomor 17 Tahun 2003 tentang Keuangan
Negara (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2003
Nomor 47, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia
Nomor 4286);
2. Undang-undang Nomor 1 Tahun 2004 tentang Perbendaharaan
Negara (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2004
Nomor 5, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia
Nomor 4355);
3. Keputusan Presiden Nomor 228/M Tahun 2001;
4. Keputusan Presiden Nomor 42 Tahun 2002 tentang Pedoman
Pelaksanaan Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara
(Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2002 Nomor 73,
Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4212);
5. Keputusan Menteri Keuangan Nomor 371/KMK.01/2002
tentang Pelimpahan Wewenang Kepada Pejabat Eselon I di
Lingkungan Departemen Keuangan untuk dan atas nama
Menteri Keuangan Menandatangani Surat dan atau Keputusan
Menteri Keuangan;
MEMUTUSKAN:
Menetapkan
: KEPUTUSAN
MENTERI
KEUANGAN
TENTANG
PEMBENTUKAN TIM PENYUSUNAN BUKU PEDOMAN
PENANGANAN PERKARA DI LINGKUNGAN DJPLN.
PERTAMA
: Membentuk Tim Penyusunan Buku Pedoman Penanganan Perkara,
yang susunan keanggotaannya terdiri dari Pengarah, Koordinator,
163
LAMPIRAN C
KEDUA
dan Pelaksana, sebagaimana, ditetapkan dalam Lampiran Keputusan
Menteri Keuangan ini.
: Tugas Pengarah adalah sebagai berikut:
1. memberi petunjuk dan pengarahan kepada Koordinator dan
semua Pelaksana dalam rangka pelaksanaan penyusunan Buku
Pedoman Penanganan Perkara; dan
2. bertanggung jawab dan melaporkan serta menyampaikan
pelaksanaan penyusunan Buku Pedoman Penanganan Perkara
kepada Menteri Keuangan.
KETIGA
: Tugas Koordinator adalah sebagai berikut:
1. sebagai penghubung antara Pengarah dengan Pelaksana dalam
penyusunan Buku Pedoman Penanganan Perkara;
2. melaksanakan tugas-tugas lain yang ditetapkan oleh Pengarah;
dan
3. bertanggung jawab dan melaporkan kegiatan pelaksanaan
penyusunan Buku Pedoman Penanganan Perkara kepada
Pengarah.
KEEMPAT
: Tugas Pelaksana adalah sebagai berikut:
1. menyusun Buku Pedoman Penanganan Perkara; dan
2. membuat laporan hasil kerja Tim Penyusunan Buku Penanganan
Perkara kepada Koordinator .
KELIMA
: Untuk membantu kelancaran pelaksanaan tugas Tim Penyusunan
Buku Pedoman Penanganan Perkara, Pengarah dapat mengangkat
Pembantu Pelaksana.
KEENAM
: Masa kerja Tim Penyusunan Buku Pedoman Penanganan Perkara
terhitung mulai tanggal 1 Januari 2004 sampai dengan 31 Desember
2004.
KETUJUH
: Segala pengeluaran sebagai akibat ditetapkannya Keputusan Menteri
Keuangan ini, dibebankan pada anggaran DIP Direktorat Jenderal
Piutang dlan Lelang Negara/DJPLN Tahun 2004, Kode Proyek
18.1.03.261658.0.15.10.01
KEDELAPAN
: Keputusan Menteri Keuangan ini mulai berlaku pada tanggal
ditetapkan dan mempunyai daya laku surut sejak tanggal 1 Januari
2004.
Salinan Keputusan Menteri Keuangan ini disampaikan kepada:
1.
2.
3.
4.
5.
Ketua Badan Pemeriksa Keuangan;
Menteri Keuangan;
Kepala Badan Pengawasan Keuangan dan Pembangunan;
Inspektur Jenderal Departemen Keuangan;
Direktur Jenderal Anggaran;
164
LAMPIRAN C
6. Sekretaris Direktorat Jenderal Piutang dan Lelang Negara dan
Para Direktur di lingkungan Direktorat Jenderal Piutang dan
Lelang Negara;
7. Para Kepala Kantor Wilayah Direktorat Jenderal Piutang dan
Lelang Negara;
8. Kepala Biro Perencanaan dan Keuangan, Departemen
Keuangan;
9. Kepala Kantor Perbendaharaan dan Kas Negara Jakarta II;
10. Pemimpin dan Bendaharawan Proyek Penyempurnaan Sistem
Administrasi Pengurusan Piutang dan Lelang Negara;
11. Yang bersangkutan untuk diketahui dan diindahkan.
Ditetapkan di Jakarta
pada tanggal 7 April 2004
a.n. MENTERI KEUANGAN REPUBLIK INDONESIA
SEKRETARIS JENDERAL
ttd.
AGUS HARYANTO
NIP 060035211
165
LAMPIRAN C
DEPARTEMEN KEUANGAN REPUBLIK INDONESIA
LAMPIRAN
KEPUTUSAN MENTERI KEUANGAN REPUBLIK INDONESIA
NOMOR 152 /KM.l/2004 TENTANG PEMBENTUKAN TIM
PENYUSUNAN BUKU PEDOMAN PENANGANAN PERKARA
SUSUNAN KEANGGOTAAN TIM PENYUSUNAN
BUKU PEDOMAN PENANGANAN PERKARA
1. Machfud Sidik
: Pengarah
Direktur Jenderal Piutang dan Lelang Negara
2. Sutardjo
: Koordinator
Direktur Informasi dan Hukum, DJPLN
3. Marhokkom Sitompul
: Pelaksana
Kepala Subdit Peraturan dan Bantuan Hukum, DJPLN
4. Zulkarnain Saragih
: Pelaksana
Kepala Subdit Informasi dan Perencanaan Lelang, DJPLN
5. Julius Sukardi
Kepala Subdit Piutang Negara Non Perbankan II, DJPLN
: Pelaksana
6. Hartono
Kepala Bagian Bantuan Hukum, Sekretariat Jenderal
: Pelaksana
7. Nur Purnomo
Pj. Kepala KP2LN Jakarta I, Kanwil III, DJPLN
: Pelaksana
8. Idris Ismail Liem
Kepala KP2LN Jakarta II, Kanwil III, DJPLN
: Pelaksana
9. Sya'abril Westri Hosen
Kepala Seksi Bantuan Hukum
: Pelaksana
10. Bambang Djoko Wahono
Kepala Seksi Informasi dan Perencanaan
Pengurusan Piutang Negara
: Pelaksana
11. Hari Sunamto
Kepala Seksi Informasi Dan Perencanaan Lelang I, DJPLN
: Pelaksana
12. Saudara Mangiring P.H.
Kepala Seksi Peraturan Perundangan, DJPLN
: Pelaksana
13. Obor Pembimbing Harihara
NIP 060078954
Kepala Sub Bagian Bantuan Hukum II
: Pelaksana
14. Sugeng Harijadi
Kepala Seksi Piutang Negara Perbankan II B, DJPLN
: Pelaksana
166
LAMPIRAN C
15. Evi Askaryanti
Kepala Sub Bagian Pelaporan, DJPLN
: Pelaksana
16. Ilma Diana Reniwati
Kepala Sub Bagian Umum, DJPLN
: Pelaksana
17. Nezaretta
Kepala Seksi Piutang Negara Non Perbankan II A, DJPLN
: Pelaksana
18. Haposan Janyoos
Kepala Seksi Piutang Negara Non Perbankan I B , DJPLN
: Pelaksana
19. Iva Nurdiana Azizah
Pelaksana pada Direktorat IH, DJPLN
: Pelaksana
20. Kurniawan
Pelaksana pada Direktorat IH, DJPLN
: Pelaksana
21. Andy Raffiwan
Pelaksana pada Direktorat IH, DJPLN
: Pelaksana
22. Tahyadi Setiawan
Pelaksana pada Direktorat IH, DJPLN
: Pelaksana
a.n. MENTERI KEUANGAN REPUBLIK INDONESIA
SEKRETARIS JENDERAL
ttd.
AGUS HARYANTO
NIP 060035211
167
DAFTAR PUSTAKA
Ahmad Yani, Gunawan Widjaja, Kepailitan, Jakarta: PT RajaGrafindo Persada, 2002.
Andi Hamzah, Hukum Acara Pidana Indonesia, Jakarta: Sinar Grafika, 2004.
Gunawan Widjaja, Ahmad Yani, Jaminan Fidusia, Jakarta: PT RajaGrafindo Persada,
2001.
C.S.T. Kansil, Hukum Acara Peradilan Tata Usaha Negara, Jakarta: PT Pradnya
Paramita, 2003.
Darwan Prinst, Strategi Menyusun dan Menangani Gugatan Perdata, Bandung: PT Citra
Aditya Bakti, 2002.
H. Riduan Syahrani, Buku Materi Dasar Hukum Acara Perdata, Bandung: PT Citra
Aditya Bakti, 2000.
H. Rozali Abdullah, Hukum Acara Peradilan Tata Usaha Negara, Jakarta: PT
RajaGrafindo Persada, 2004.
I.G. Rai Widjaya, Hukum Perusahaan Perseroan Terbatas, Jakarta: Kesaint Blanc, 2003.
Kartini Muljadi, Gunawan Widjaja, Pedoman Menangani Perkara Kepailitan, Jakarta:
PT RajaGrafindo Persada, 2003.
Moch. Faisal Salam, Hukum Acara Pidana Dalam Teori & Praktek, Bandung: Mandar
Maju, 2001.
Munir Fuady, Hukum Pailit 1998 dalam Teori dan Praktek, Bandung: PT Citra Aditya
Bakti, 2002.
Ropaum Rambe, Hukum Acara Perdata Lengkap, Jakarta: Sinar Grafika, 2003.
R. Soeroso, Praktik Hukum Acara Perdata Tata Cara dan Proses Persidangan, Jakarta:
Sinar Grafika, 2001.
R. Tresna, Komentar HIR, Jakarta: PT Pradnya Paramita, 1989.
Sudikno Mertokusumo, Hukum Acara Perdata Indonesia, Yogyakarta: Liberty, 2002.
168
Download