Pengkajian mengenai Skrip Mengajar oleh Guru (Study on

advertisement
Dr. Sarkar Arani M. Reza, 2013
Pengkajian mengenai Skrip Mengajar oleh Guru
(Study on Teacher’s Teaching Script)
-Studi Banding mengenai analisis PBM dalam hal “Pemanfaatan Pengetahuan”pada Pelajaran IPA di SMPOleh: Dr. Sarkar Arani Mohammad Reza, Faculty of Education, Teikyo University
1. Tujuan Pengkajian
・ Hasil PISA mengajar konten pelajaran yang terkait dengan kehidupan sehari-hari
・ Panduan Kurikulum Nasional (Course of Study) Baru yang ditetapkan oleh Kementerian
Pendidikan, Kebudayaan dan IPTEK (MEXT)
・ “Menekankan keseimbangan antara memperoleh pengetahuan dan keterampilan dengan
mengembangkan kemampuan berpikir, mengambil keputusan dan berekspresi”
・ Sebagai langkah konkret untuk meningkatkan kualitas pembelajaran IPA di SMP, adalah
memberdayakan kemampuan siswa untuk memandang atau memikirkan sesuatu secara
ilmiah. Cara berpikir tersebut dilakukan berdasar pengetahuan dan konsep ilmiah yang
diaplikasikan atau dikaitkan dengan kehidupan bermasyarakat, maupun kehidupan
sehari-hari yang nyata.
・ Faktor penentu untuk melaksanakan pembelajaran yang diharapkan di atas adalah
teaching script. Teaching script adalah sebuah struktur kegiatan pembelajaran (skenario)
yang dibuat oleh guru untuk menjalankan pembelajaran masing-masing.
・ Membahas teaching script melalui studi banding internasional yang bersifat empiris
tentang analisis PBM (Lesson analysis), sehingga akan dapat diuraikan faktor-faktor
penentu PBM seperti kurikulum, atau pengambilan keputusan guru dalam proses
tersebut.
・ Menjelaskan isi dan komposisi kurikulum IPA SMP (Lower Secondary Science) di
Singapura, dan mental model guru dalam pembelajaran IPA (pandangan guru terhadap
PBM sebagai pengetahuan implisit) dari aspek “belajar, aplikasi, eksplorasi” dan
Dr. Sarkar Arani M. Reza, 2013
“menekankan untuk memberdayakan kemampuan berpikir, mengambil keputusan dan
berekspresi”
2. Metode Pengkajian
Mengekspos script yang merupakan susunan makna tersembunyi dalam praktek
Pendekatan studi banding dengan ekspos skrip melalui interaksi heterogenitas.
Teaching script di pelajaran IPA kelas 1 (satu) di Singapura diungkapkan secara empris
dengan tiga tahap berikut ini.
Dokumentasi PBM; Materi pelajaran “Sifat Benda”, IPA Kelas 1 (satu) yang dibimbing oleh
Bapak M di SMP X di Singapura.
Tahap 1: Mengumpulkan data
・ Dengan menggunakan alat dokumentasi 1 (satu) VTR dan IC recorder merekam PBM di
Singapura, Kemudian, PBM (rekaman video maupun catatan tulis) tersebut dianalisis oleh
para guru SD dan SMP serta para peneliti Universitas S di Jepang.
・ Isi diskusi baik sebagai refleksi maupun analisis di forum analisis PBM tersebut
didokumentasikan dan dilengkapi dengan data lain (dokumentasi PBM dan pembicaraan
peserta).
Tahap 2: Data yang telah dilengkapi pada tahap 1 dibawa kembali ke Singapura, dan
kemudian dilakukan pengkajian terhadap tanggapan para guru atau peneliti disana terhadap
dokumen tersebut.
Tahap 3: Berdasarkan data tersebut, dijelaskan pula pandangan guru (M) tentang
pelaksanakan pembelajaran IPA di kelas 1 di SMP X dari sisi konten dan komposisi pelajaran,
maksud dan prakarsa guru, karakteristik soal/tugas yang diberikan kepada siswa, konsep
sains dan kegiatan pembelajaran siswa yang berhubungan dengan hal tersebut serta aspek
saling belajar, dan terakhir diperjelas dengan teaching script guru di PBM.
3. Segmentasi PBM
Rancangan pelaksanaan pembelajaran yang disusun oleh guru mirip dengan susunan sebuah
kisah seperti cerita atau novel.
Dr. Sarkar Arani M. Reza, 2013
Maka, pelajaran IPA yang dikaji kali ini juga dapat diperkirakan bahwa guru menyusun RPP
berupa sebuah kisah yang disusun oleh guru dan peserta didik dengan membangun konsep
metematika sebagai media.
Di Jepang, untuk menjelaskan proses pembelajaran, sejak periode Meiji, proses pembelajaran
dibagi beberapa tahap. Sebagai contoh, teori pembelajaran Johann Friedrich Herbart terdiri
dari 5 (lima) tahap, yaitu persiapan (preparation) - pemaparan (presentation) - perbandingan
(comparison) - perangkuman (integration) – penerapan (application).
Untuk melakukan analisis secara seksama, menurut perkembangan kegiatan belajar mengajar
yang nyata dalam rangka LS, maka Shigematsu dkk (1963) mensegmentasikan PBM. Dengan
mensegmentasikan PBM, akan dapat diketahui bahwa cara pembimbingan guru dan pikiran
para peserta didik (pemikiran kolektif) saling berpengaruh satu sama lain.
Dalam pengkajian ini, penulis mengikuti metodologi segmentasi Shigematsu dkk, tetapi pada
waktu yang bersamaan, juga mencoba proses belajar mengajar yang dibagi dalam empat (4)
tahap yang terdiri dari “Ki (introduction) –Sho (development)-Ten (turn) -Ketsu(conclusion)”.
4 tahap ini berasal dari sajak China yang diterapkan dalam PBM sebagai komposisi dasar
kegiatan belajar mengajar.
Jika melihat alur kisah yang disebut PBM, tahap yang paling penting adalah “Ten
(turn/mengubah)”.
Kegiatan pembelajaran yang melahirkan “Ten” adalah mutu kegiatan “percakapan, dialog dan
komentar” yang memadai dalam PBM.
Ten: pikiran serta pendapat siswa dihargai dan dikembangkan melalui percakapan, dialog
dan komentar, dan justru pikiran serta pendapat siswa tersebut inilah yang membuat adegan
pengembangan kegiatan pembelajaran berbeda dengan alur selama ini.
Berdasarkan konsep di atas, pelajaran IPA SMP di Singapura dibagi 4 kategori dengan
“Ki-Sho-Ten-Ketsu”, untuk memperkirakan niat guru dalam pembelajaran dan cara pandang
terhadap pembelajaran dibalik PBM.
Kategori yang menjadi inti adalah “Ten”. Jika pelajaran ini merupakan bagian awal dari
materi dari satu Bab keseluruhan, seperti dalam studi kasus kali ini, maka, kategori “Ketsu
(conclusion) juga tidak kalah penting karena konsep IPA yang terbentuk di pelajaran ini akan
dikembangkan pada pelajaran berikutnya.
Oleh karena itu, secara garis besar PBM tersebut dibagi dalam lima (5) segmen.
Dr. Sarkar Arani M. Reza, 2013
Lima (5) segmen tersebut dikategorikan menjadi empat (4) unsur yaitu:
Segmen 1 (Ki), segmen 2 (Sho), segmen 3 dan 4 (Ten) dan segmen 5 (Ketsu)
Kategori
Ki
Pelajaran IPA SMP X di Singapura
Segmen 1 (T1-S103): Belajar tentang mahluk hidup dan pengenalan
kelompok bukan mahluk hidup
Penjelasan Guru (T1-T3)
Sho
・
Diskusi kelompok (Ca4-S19)
・
Pemaparan tentang tugas 1 secara pleno (T20-Cs48)
・
Perangkuman tentang mamalia dan menunjukkan tugas 2 (T49-S56)
・
Perangkuman tentang logam dan menunjukkan tugas 3 (T57-S85)
・
Pemaparan tentang tugas 3 dan rangkuman secara pleno (T86-S103)
Segmen 2 (T104-T137)
Menunjukkan tugas 4 (soal/tugas inti di pelajaran
ini)
・
Rangkuman karakteristik logam dan kayu serta menunjukkan tugas 4
(T104-Cs114)
・
Ten
Menjelaskan tentang tugas 4 (T115-Z136)
Segmen 3 (Ca138-S329)
Diskusi kelompok tentang tugas 4
・ Diskusi kelompok yang terdiri 3 orang anggota (Ca138-E225)
・
Diskusi kelompok yang dikontrol oleh guru (T256-S329)
Segmen 4 (T330-T370)
Ketsu
Pemaparan tentang tugas 4 secara pleno.
・
Penjelasan cara pemaparan (T330-T332)
・
Pemaparan oleh kelompok 3 dan tanya jawab (Cs333-T370)
Segmen 5 (T370-T380)
Rangkuman pemaparan keseluruhan dan
mejelaskan PR
・
Menunjukkan cara tanya jawab (T370-Cs372)
・
Menjelaskan tentang PR (T373-T380)
Dr. Sarkar Arani M. Reza, 2013

Adegan Ten (1): Segmen 3 (Ca138-S329) Diskusi kelompok tentang tugas 4
Segmen 3 adalah adegan diskusi kelompok tentang tugas 4. Diskusi kelompok berlangsung
selama 20 menit. Proses diskusi kelompok 9 direkam oleh dokumentator.
Tidak diketahui isi diskusi kelompok lain. Seandainya di setiap kelompok dapat disediakan
satu kamera, diperkirakan dokumentasinya akan jauh lebih sempurna. Dan juga sangat
disayangkan bahwa meski direkam pun, pada saat yang bersamaan para siswa berbicara
sendiri, sehingga sulit menangkap apa yang dikemukannya secara detail.
Adalah layak apabila segmen 3 dibagi dua sub-segmen, yaitu diskusi 3 orang siswa di
kelompok 9 dan diskusi kelompok yang dikontrol oleh guru.
 Sudut pandang 1): Perubahan hubungan saling belajar diantara 3 orang (leadership dan
followership)
 Sudut pandang 2): Perubahan topik pembicaraan

Sub-segmen 1 (Ca138-E225): diskusi kelompok oleh 3 orang
Dari sudut pandang 1
・
Jumlah gerakan pengungkapan 3 orang, E, F dan W adalah hampir sama.
・
W bersikap untuk mengajak bicara kepada dua kawan lain.
W141: Makanya unik. Hmm, bagaimana seperti keramik?
W149: Apakah bisa digunakan sebagai bahan pegangan (handle), dan apakah itu ramah
lingkungan?
W223:Mmm. bagian luar dari tas rol (roller bag) adalah logam, bukan? Belum bisa, kuat,
semua, Boleh? Apa yang bisa didaur ulang?
・ E dan F bersikap untuk menjawab terhadap pertanyaan W.
E158:Hmm. Tapi masalah kayu bagaimana menutupinya?
E163:Ya, tapi dengan begitu, kayu tidak akan busuk.
Dr. Sarkar Arani M. Reza, 2013
Hubungan antara para siswa pada dasarnya tidak akan mengalami perubahan selama
sub-segmen 1.
Dari sudut pandang 2
・ Para siswa menyebutkan bahan yang akan digunakan satu demi satu.
Palstik, baja, keramik, kaca, fiber, karet dan sebagainya.
Mereka mempertimbangkan bahan tersebut dari kriteria kekuatan dan ramah lingkungan
(dapat didaur ulang)
W145:Kalau fiber bagaimana?, kenyataannya fiber bisa digunakan.
S152:Tapi untuk fiber, masalahnya adalah kurang kuat.
S154:Sangat kuat. Tapi masalahnya…. ramah lingkungan
・
Isu “coating” menjadi dominan diskusi kelompok ini.
W155:…Kalau membuat coating pada keliling logam, kayu juga bisa jadi bagian dalam. Udara
maupun air hanya berdampak pada bagian luar.
E218:Barangkali, kayu bisa dicoating dengan plastik.
Coating diusulkan sebagai cara peningkatan kekuatan bahan (material).
・
Dari pandangan para siswa terungkap bahwa plastik dianggap baik atau positif, tetapi
logam tidak baik (negatif).
W227:Baja adalah baik. Itu bisa daur ulang
F232:Untuk membuat bahan lain, dapat dilebur menjadi baja lain.
E235:Plastik dapat dicor dan dapat didaur ulang , dijadikan bentuk apa pun.
F236:Ya, benar. Tapi masalahnya, itu tidak ramah lingkungan.

Sub-segmen 2 (T256-S329): Diskusi kelompok yang dikontrol guru. Guru datang ke
kelompok 9 dan mengatakan seperti dibawah ini.
T256:Tidak ada pilihan yang harus dipilih. Satu
Dr. Sarkar Arani M. Reza, 2013
・ Meski mendegar kata guru ini pun, diskusi kelompok terus berlanjut. Maka, pak guru
sekali lagi mengatakan:
T263:Paham, kalian? Tidak ada pilihan. Hmmm
・ W bereaksi seperti dibawah. Selanjutnya percakapan antara W dengan pak guru.
W264: Angkanya berapa?
T265:Angkanya 3. Maksudnya giliran pemaparan kalian adalah ke-3. Bisa? Siapa yang akan
mempresentasikannya?
W266: Baik, aku lakukan.
・
Pak guru mulai mempersiapkan pemaparan sekelas, tetapi para siswa masih tengah
mendiskusikan tentang bahan apa yang digunakannya. Guru bertanya kepada W, “siapa
yang akan membawakan presentasi?”, W segera menjawab, “baik, aku lakukan” tanpa
bertanya kepada dua anggota lain.
・
Perkataan pak guru nampaknya membuat W gelisah.
T273:Ayo, kalian mulai menuliskan. Mulai tuliskan. Tak ada lagi waktunya. Tinggal 8 menit.
W289: Apa yang ditulis? Aku nggak ingat apa yang harus aku tulis. Aku tidak berpikir tentang
biaya, hanya berpikir tentang ramah lingkungan.
W291: Oh, alangkah hebatnya. Bisa, sudah bisa. Ban mobil dapat dipertahankan lama. Ban
dibuat seperti kursi roda…
W306: Coba kalian buat, tolong tulis di sini. Tulis semuanya. Coba tulis, aku akan
mengoreksinya.
W313: Ya. Waktunya tinggal sedikit.
・
Dua orang lainnya dengan tenang menghadapi tugasnya. Diasumsikan mereka mau
membantu W yang mengisi LKS.
E290: Plastik bisa dilipat.
F296: Tambahkan sistem pengunci. Dipasang dalam ini….
F309: Ya. Bagian ini bagian yang paling penting dari pegangan. Gunakan data tas rol.
Dr. Sarkar Arani M. Reza, 2013
・
Pak guru mendesak siswa sekali lagi.
T314: Ayo, cepatlah.
T316: Ayo, cepatlah. Lebih cepat lagi...
W317: Oh, itu agak susah.
 Kegiatan Pembelajaran di Singapura.
Ada pertanyaan seperti “dengan cara apa?” atau “secara bagaimana?” (8 kali)
Kebanyakan pertanyaan dengan “Kenapa?” atau “Mengapa?” (19 kali)
Guru model lebih mementingkan “proses” pemikiran siswa terhadap soal/tugas dan sering
memberikan kesempatan kepada siswa agar mengemukakan pendapatnya daripada
“kesimpulan” yang merupakan jawaban dari soal/tugas yang diberikan dalam kegiatan
pembelajaran.
Pemahaman instrument (instrumental understanding)
Pemahaman relasi (relational understanding)
(Mengedepankan “keseimbangan pengembangan kemampuan berpikir, mengambil
keputusan dan berekspresi” di Panduan Kurikulum Nasional Baru di Jepang)
Guru model menyediakan waktu yang cukup pada tahap konkret dan tahap abstrak.
Guru model menguraikan tingkat pemahaman siswa melalui melihat kegiatan pembelajaran,
pemikiran siswa atau melalui komunikasi dengan siswa pada tahun abstrak.
Mengutamakan agar siswa “memahami dan mampu melakukannya”.
Sebagai akibat pelaksanaan pembelajaran seperti ini, guru menciptakan kondisi bagi siswa
untuk dapat berdiskusi melalui procedural knowledge, dan pada gilirannya siswa akan
memahami conceptual knowledge.
Tema kajian berikutnya adalah, dalam proses belajar mengajar itu, cara memberdayakan
siswa untuk “bereaksi terhadap situasi yang diluar dugaan” atau kemampuan menghadapi
“situasi yang diluar dugaan”, yakni menerapkan kemampuan siswa sebagai prestasi akademik
dan kecakapan hidup yang dituntut di masa depan.
Dr. Sarkar Arani M. Reza, 2013
Penulis akan melakukan studi banding analisis PBM tentang “makna apa yang ditemukan dari
konten pelajaran”, “bagaimana mengaplikasikan pengetahuan”, dan “bagaimana berpikir
secara kreatif” melalui kegiatan “saling belajar”, serta di sisi lain membangun kegiatan
pembelajaran yang eksploratif
Download