1 BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Fisika merupakan salah

advertisement
BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Fisika merupakan salah satu cabang IPA yang mendasari perkembangan
teknologi maju dan konsep hidup harmonis dengan alam. Sebagai ilmu yang
mempelajari fenomena alam, fisika juga memberikan pelajaran yang baik kepada
manusia untuk hidup selaras berdasarkan hukum alam. Fisika merupakan salah satu
bagian dari Ilmu Pengetahuan Alam (IPA) yang sangat penting bagi siswa. Seperti
halnya yang tercantum dalam fungsi dan tujuan mata pelajaran fisika di tingkat
SMA menurut Depdiknas (2006: 443) yang menyatakan bahwa mata pelajaran
fisika merupakan sarana:
i) Membentuk sikap positif terhadap fisika dengan menyadari keteraturan dan
keindahan alam serta mengagungkan kebesaran Tuhan Yang Maha Esa, ii)
Memupuk sikap ilmiah yaitu jujur, obyektif, terbuka, ulet, kritis dan dapat
bekerjasama dengan orang lain, iii) Mengembangkan pengalaman untuk dapat
merumuskan masalah, mengajukan dan menguji hipotesis melalui percobaan,
merancang dan merakit instrument percobaan, mengumpulkan, mengolah,
dan menafsirkan data, serta mengkomunikasikan hasil percobaan secara lisan
dan tertulis, iv) Mengembangkan kemampuan bernalar dalam berpikir analisis
induktif dan deduktif dengan menggunakan konsep dan prinsip fisika untuk
menjelaskan berbagai peristiwa alam dan menyelesaian masalah baik secara
kualitatif maupun kuantitatif, v) Menguasai konsep dan prinsip fisika serta
mempunyai keterampilan mengembangkan pengetahuan, dan sikap percaya
diri sebagai bekal untuk melanjutkan pendidikan pada jenjang yang lebih
tinggi serta mengembangkan ilmu pengetahuan dan teknologi.
Berdasarkan penjabaran di atas maka pembelajaran fisika seharusnya
menekankan pada pemberian pengalaman secara langsung sehingga dapat
membantu peserta didik untuk memperoleh pemahaman yang lebih mendalam
tentang alam sekitar. Hal ini sesuai dengan pandangan sains, bahwa fisika
didefinisikan sebagai kumpulan fakta, hukum, prinsip dan teori yang didapatkan
1
2
dari pengalaman. Pembelajaran sains seyogiyanya lebih menekankan pada proses,
siswa aktif selama pembelajaran untuk membangun pengetahuannya melalui
serangkaian kegiatan agar pembelajaran menjadi bermakna bagi siswa. Sehingga
tujuan pembelajaran fisika dapat tercapai termasuk pencapaian hasil belajar ranah
kognitif siswa.
Pada kenyataannya di lapangan berdasarkan hasil studi pendahuluan di
salah satu SMA Swasta di Bandung ditemukan bahwa hasil belajar ranah kognitif
siswa masih rendah. Nilai rata-rata ulangan harian fisika semester dua tahun
pelajaran 2010/2011 pada sampel penelitian adalah 44 dari skor maksimum 100.
Menurut Petunjuk Akademik IKIP Yogyakarta (Arikunto, 2009: 245) hasil ini
termasuk kategori kurang. Hasil observasi awal terhadap proses pembelajaran di
dalam kelas menunjukkan bahwa siswa kurang terlibat secara langsung dalam
kegiatan pembelajaran dan kurang digali pemikirannya. Siswa kurang terlibat
aktif selama proses pembelajaran berlangsung. Siswa lebih banyak mendengar,
menulis ulang apa yang ditulis oleh guru dan mengerjakan soal latihan
berdasarkan contoh soal yang diberikan guru. Proses pembelajaran yang
dilakukan lebih banyak hanya bersifat transfer pengatahuan dengan memberikan
konsep-konsep yang utuh tanpa melalui pengolahan potensi yang ada pada diri
siswa maupun yang ada di sekitarnya, termasuk guru juga tidak memperhatikan
gaya belajar siswanya. Hal ini berdasarkan hasil studi pendahuluan yaitu 66,67%
responden mengatakan metode guru mengajar fisika hanya ceramah, 26,67%
diskusi dan sisanya demonstrasi Pembelajaran lebih bersifat hapalan sehingga
3
menjadi kurang bermakna bagi siswa. Belajar akan lebih bermakna jika siswa
mengalami sendiri apa yang dipelajarinya, bukan mengetahuinya.
Sebagaimana yang diungkapkan oleh Sagala (2008: 88) bahwa
pengetahuan bukanlah seperangkat fakta-fakta, konsep, atau kaidah yang siap
untuk diambil kemudian diingat. Lebih dari itu, siswa harus mengkonstruksi
pengetahuan dan memberi makna melalui pengalaman nyata. Hal ini sesuai
dengan paham konstruktivisme, yaitu suatu paham dalam pembelajaran yang
mengharuskan siswa belajar dengan cara membangun pengetahuannya. Salah
satunya ada pada pembelajaran inkuiri yang merupakan salah satu model
pembelajaran yang merujuk pada paham konstruktivisme. Menurut Joyce dan
Weil (Wena, 2010:77) model pembelajaran inkuiri terdiri dari lima tahapan, yaitu
penyajian masalah, pengumpulan dan verifikasi data, eksperimen, merumuskan
penjelasan, dan analisis terhadap proses inkuiri. Gulo (Trianto, 2010:166)
menyatakan bahwa pembelajaran inkuiri berarti suatu rangkaian kegiatan belajar
yang melibatkan secara maksimal seluruh kemampuan siswa untuk mencari dan
menyelidiki secara sistematis, kritis, logis, analitis, sehingga mereka dapat
merumuskan sendiri penemuannya dengan penuh percaya diri. Salah satu jenis
model pembelajaran inkuiri adalah model pembelajaran inkuiri terbimbing yang
menurut hirearki Wenning adalah pembelajaran Inquiry Lab pada tingkatan yang
paling dasar. Dalam praktiknya di kelas kegiatan-kegiatan pembelajaran inkuiri
terbimbing dapat meliputi penyajian masalah oleh guru, perumusan hipotesis oleh
siswa, melakukan kegiatan eksperimen, pengolahan data hasil eksperimen, diskusi
kelompok, presentasi hasil diskusi dan eksperimen, penguatan oleh guru,
4
penarikan kesimpulan, dan refleksi materi pembelajaran. Kegiatan-kegiatan
pembelajaran tersebut sesuai dengan tuntutan yang ada dalam standar proses
dimana dalam pelaksanaan pembelajaran secara keseluruhan harus dilakukan
secara interaktif, inspiratif, menyenangkan, menantang, memotivasi peserta didik
untuk berpartisipasi aktif, serta memberikan ruang yang cukup bagi prakarsa,
kreativitas, dan kemandirian sesuai dengan bakat, minat, dan perkembangan fisik
serta psikologis peserta didik.
Kegiatan pembelajaran dalam model inkuiri terbimbing dapat melibatkan
aktivitas-aktivitas siswa mulai dari yang bersifat visual, auditorial dan kinestetik.
Sehingga diharapkan melalui model pembelajaran inkuiri terbimbing ini gaya
belajar siswa baik yang cenderung visual (membaca), auditorial (mendengar), atau
kinestetik (bergerak dan bekerja) dapat terfasilitasi dengan baik. Menurut Bobbi
DePorter dan Hernacki (2000: 112) pada awal pengalaman belajar kita dapat
mengenali modalitas seseorang sebagai modalitas visual, auditorial dan kinestetik.
Umumnya disebut model VAK (Visual-Auditorial-Kinestetik), kerangka kerja ini
menjelaskan kecenderungan siswa untuk melihat, mendengar atau bergerak. Siswa
dengan kecenderungan gaya belajar visual memproses informasi visual lebih
efektif, siswa dengan kecenderungan gaya belajar auditorial akan memahami
suatu informasi dengan sangat baik melalui pendengaran, dan siswa dengan
kecenderungan gaya belajar kinestetik lebih menyukai belajar melalui sentuhan
dan gerakan. Menurut Witkin (Cano, Garton dan Raven, 1992:46) gaya belajar
merupakan faktor yang penting dalam beberapa area mencakup pencapaian
5
akademik siswa, bagaimana siswa belajar dan guru mengajar, serta interaksi
antara guru dan siswa.
Learning style describes the process that learners use to sort and process
information. Learning style is an important factor in several areas including
students’ academic achievement, how students learn and teachers teach, and
student-teacher interaction.
Dalam penelitiannya, Wilson (2008: 41) mengungkapkan bahwa
pembelajaran yang di dalamnya memfasilitasi siswa berekspresi sesuai gaya
belajarnya akan dapat meningkatkan pencapaian akademik siswa. Hal ini
menunjukkan bahwa sebenarnya penting bagi guru untuk mengetahui gaya belajar
siswa dan bahwa gaya belajar siswa juga berkontribusi terhadap hasil belajar
ranah kognitif siswa.
Berdasarkan latar belakang di atas penulis bermaksud melakukan
penelitian untuk mengetahui peningkatan hasil belajar ranah kognitif siswa yang
mempunyai kecenderungan gaya belajar visual, auditorial, atau kenestetik setelah
penerapan model pembelajaran inkuiri terbimbing. Sehingga penulis mengangkat
judul Analisis Peningkatan Hasil Belajar Ranah Kognitif Dikaitkan Dengan Gaya
Belajar Siswa Setelah Diterapkan Model Pembelajaran Inkuiri Terbimbing dalam
penelitian ini.
B. Rumusan Masalah
Untuk memudahkan proses penelitian perlu adanya perumusan masalah
yang tepat dan jelas sehingga penelitian yang dilakukan dapat tepat terarah sesuai
dengan tujuan yang ingin dicapai. Adapun perumusan masalah dalam penelitian
ini adalah:
6
“Bagaimanakah peningkatan hasil belajar ranah kognitif dikaitkan dengan
gaya belajar siswa dalam mata pelajaran fisika setelah diterapkan model
pembelajaran inkuiri terbimbing?”.
C. Pertanyaan Penelitian
1. Bagaimana peningkatan hasil belajar ranah kognitif siswa secara
keseluruhan dalam mata pelajaran fisika setelah diterapkan model
pembelajaran inkuiri terbimbing?
2. Bagaimana profil peningkatan hasil belajar ranah kognitif siswa dengan
kecenderungan gaya belajar visual, auditorial dan kinestetik dalam mata
pelajaran fisika setelah diterapkan model pembelajaran inkuiri terbimbing?
D. Batasan Masalah
Batasan masalah dalam suatu penelitian sangat diperlukan untuk
membatasi masalah yang dikaji supaya tidak terlalu luas. Adapun batasan masalah
pada penelitian ini adalah :
a. Analisis peningkatan hasil belajar ranah kognitif siswa yang dimaksud adalah
anlisis peningkatan hasil belajar ranah kognitif siswa yang memiliki
kecenderungan gaya belajar visual, auditorial, dan kinestetik setelah
diterapkan model pembelajaran inkuiri terbimbing yang ditunjukkan dengan
gain yang dinormalisasi.
b. Gaya belajar dalam penelitian ini adalah gaya belajar menurut Bobbi De
Porter dan Mike Hernacki yaitu gaya belajar visual, auditorial dan kinestetik.
Gaya belajar siswa diketahui melalui tes gaya belajar Siahaan (2006) yang
7
kemudian dilakukan penambahan butir soal untuk mencukupi aspek-aspek
pencirian pada gaya belajar siswa.
E. Tujuan Penelitian
Tujuan Umum Penelitian:
Berdasarkan latar belakang masalah dalam penelitian ini maka tujuan yang
ingin dicapai adalah menganalisis peningkatan hasil belajar ranah kognitif
dikaitkan dengan gaya belajar siswa dalam mata pelajaran fisika setelah
diterapkan model pembelajaran inkuiri terbimbing.
Tujuan Khusus Penelitian:
1. Mengetahui sejauh mana peningkatan hasil belajar ranah kognitif siswa secara
keseluruhan
dalam mata pelajaran
fisika
setelah diterapkan
model
pembelajaran inkuiri terbimbing
2. Memperoleh informasi mengenai profil peningkatan hasil belajar ranah
kognitif siswa yang memiliki kecenderungan bergaya belajar visual, auditorial
dan kinestetik dalam mata pelajaran fisika setelah diterapkan model
pembelajaran inkuiri terbimbing
F. Manfaat Penelitian
Hasil penelitian ini diharapkan dapat menjadi bukti tentang peningkatan
hasil belajar ranah kognitif siswa yang memiliki kecenderungan gaya belajar
visual, auditorial atau kinestetik setelah diterapkan model pembelajaran inkuiri
terbimbing sehingga nantinya dapat memperkaya hasil penelitian dalam kajian
sejenis dan dapat dimanfaatkan oleh berbagai pihak yang berkepentingan seperti
8
guru sekolah menengah, praktisi pendidikan, maupun bagi sekolahnya itu sendiri
baik secara teoritis maupun tertulis.
G. Variabel Penelitian
Dalam penelitian ini terdapat dua variabel, yaitu :
1. Model pembelajaran inkuiri terbimbing sebagai variabel bebas.
2. Hasil belajar ranah kognitif siswa sebagai variabel terikat.
H. Definisi Operasional
1. Analisis peningkatan hasil belajar ranah kognitif siswa yang dimaksud adalah
pemaparan tentang peningkatan hasil belajar ranah kognitif siswa yang
memiliki kecenderungan gaya belajar visual (melihat), auditorial (mendengar)
atau kinestetik (bergerak dan bekerja) yang ditentukan melalui nilai <g> dari
selisih pretest dan posttest dengan menyertakan kajian yang lainnya seperti
hal-hal yang mempengaruhinya untuk mengetahui keadaan yang sebenarnya.
2. Hasil belajar ranah kognitif merupakan kemampuan bersifat kognitif yang
dimiliki seseorang setelah mengalami proses pembelajaran. Hasil belajar
ranah kognitif diukur melalui tes hasil belajar ranah kognitif yang berbentuk
pilihan ganda
terhadap pokok bahasan suhu dan kalor yang dipelajari,
meliputi jenjang pemahaman (C2), aplikasi (C3), dan analisis (C4) yang
dilaksanakan pada saat pretest dan posttest.
3. Gaya belajar merupakan kecenderungan siswa untuk dapat menerima dan
mengolah suatu informasi dengan baik melalui sebuah cara yang paling
disukainya. Seorang pakar dalam konsep belajar cepat De Porter dan Hernacki
(2000:112) menyatakan bahwa gaya belajar ada tiga yaitu gaya belajar visual,
9
auditorial dan kinestetik. Gaya belajar pada siswa dapat diketahui melalui tes
gaya belajar yang diberikan dalam bentuk soal pilihan ganda.
4. Model pembelajaran inkuiri terbimbing adalah model pembelajaran yang di
dalamnya
memberikan
kesempatan
kepada
siswa
untuk
melakukan
eksperimen dan menemukan sendiri jawaban dari permasalahan yang
diberikan melalui bimbingan dan arahan guru. Sintaks model pembelajaran
inkuiri terbimbing terdiri dari penyajian masalah (confrontation with
problem),
pengumpulan
pengumpulan
data
data
verivikasi
eksperimentasi
(data
(data
gathering-verification),
gathering-experimentation),
organisasi data dan formulasi kesimpulan (organizing, formulating, and
explanation), dan analisis proses inkuiri (analysis of the inquiry process).
Keterlaksanaan pembelajaran dengan menggunakan model pembelajaran
inkuiri terbimbing diamati melalui lembar observasi yang telah dibuat dan
dilakukan observasi oleh para observer.
Download