PENGEMBANGAN KURIKULUM TERPADU DENGAN

advertisement
Jurnal Review Pendidikan Islam
Volume 01, Nomor 01, Juni 2014
PENGEMBANGAN KURIKULUM TERPADU
DENGAN PENDEKATAN MORAL VALUES OF ISLAMIC HISTORY
Abd. Azis Tata Pangarsa
MI Miftahul Huda Sumberputih Wajak alang
Abstrak; Pengembangan kurikulum terpadu dengan dalam pembelajaran
terpadu dengan Pendekatan Moral Values Of Islamic History adalah
pendekatan pembelajaran dengan cara guru menyelipkan tentang sejarah
Islam yang relevan dan sesuai dengan materi pelajaran yang diajarkan,
kemudian siswa diberi tugas untuk menyimpulkan nilai-nilai moral yang
terkandung dalam sejarah Islam, dalam upaya mengatasi problematika
pendidikan di Indonesia, khususnya problematika pada yang terjadi pada
siswa di tingkat pendidikan dasar yaitu di SD/MI. Penulisan ini didasarkan
pada beberapa alasan bahwa pembelajaran terpadu cocok digunakan di
tingkat SD/MI adalah sebagai berikut: a) Pendidikan di SD/MI harus
memperhatikan perkembangan intelektual anak b) guru juga harus
membimbing anak yang tidak mampu melihat dan memecahkan masalah dari
berbagai sisi, karena ia terbiasa berfikir secara fragmentasi, anak
dikhawatirkan tidak memiliki cakrawala pandang yang luas dan integratif.
Moral Values of Islamic History sangat penting untuk disampaikan kepada
siswa, khususnya siswa yang belajar di madrasah. Sejarah Islam dalam
penelitian kami ini akan menjadikan nilai lebih dari aktivitas pembelajaran
terpadu, dikarenakan setiap materi pembelajaran secara terpadu, secara
langsung maupun tidak langsung akan diselipi tentang nilai-nilai moral yang
terkandung dalam sejarah Islam. Sehingga aktivitas pembelajaran relevan dan
penuh makna, mulai dari pembelajaran inquiry secara aktif sampai dengan
penyerapan pengetahuan dan fakta secara pasif, dengan memberdayakan
pengalaman siswa untuk mengerti dan memahami dunia kehidupannya.
Kata Kunci: Pengembangan, Kurikulum Terpadu, Intrinsic Vallues, Islamic
Histories.
PENDAHULUAN
Permasalahan tentang kurikulum tidak hanya persoalan guru dan
tenaga kependidikan lainnya saja, akan tetapi merupakan persoalan seluruh
masyarakat. Hal ini dapat dibuktikan, setiap terjadi perubahan kurikulum,
maka komentar-komentar tentang perubahan tersebut bukan hanya datang
dari kalangan guru dan tenaga kependidikan lainnya saja, akan tetapi juga
dari kalangan masyarakat luas. Hal ini memang wajar, sebab kurikulum
Abd. Azis Tata Pangarsa
merupakan salah satu komponen yang sangat penting dalam
penyelenggaraan sistem pendidikan, sehingga pemberlakuan suatu
kurikulum dalam dunia pendidikan akan berdampak luas bagi masyarakat.
Kurikulum 2013 dirancang untuk memperkuat kompetensi peserta
didik dari sisi pengetahuan, keterampilan, dan sikap secara utuh. Keutuhan
tersebut menjadi dasar perumusan kompetensi dasar tiap mata pelajaran,
sehingga kompetensi dasar tiap mata pelajaran mencakup kompetensi dasar
kelompok sikap, kompetensi dasar kelompok pengetahuan, dan kompetensi
dasar kelompok pengetahuan.
Sementara itu, paradigma pendidikan yang selama ini diterapkan,
menyebabkan proses dan materi pendidikan lebih mengutamakan
pengembangan intelektual, yang bertujuan membentuk manusia yang
mampu bersaing di dunia global, namun pembentukan manusia kompetitif
tidak sekaligus membentuk manusia yang berkarakter. Pembelajaran
terpadu dilaksanakan pada jenjang pendidikan tingkat dasar, sebagai suatu
pendekatan dalam pembelajaran yang secara sengaja mengaitkan beberapa
aspek, baik dalam intra mata pelajaran maupun antar mata pelajajaran.
Dengan adanya pemaduan ini, siswa akan memperoleh pengetahuan dan
keterampilan secara utuh, sehingga pembelajaran menjadi bermakna bagi
siswa. Bermakna di sini memberikan arti bahwa pada pembelajaran terpadu,
siswa akan dapat memahami konsep-konsep yang mereka pelajari melalui
pengalaman langsung dan nyata yang menghubungkan antara konsep dalam
intra mata pelajaran maupun antar mata pelajaran. Sukayati, (2004)
Kurikulum perlu dikembangkan sebagai usaha untuk merespon
perubahan zaman dan upaya untuk memenuhi tuntutan kebutuhan
masyarakat selaku stake holder lembaga pendidikan/ madrasah. Berangkat
dari hal tersebut, maka perlu kiranya Karya Tulis Ilmiah (KTI) yang berjudul
”Pengembangan Kurikulum Terpadu dengan Pendekatan Moral Values
of Islamic History”, ini dibuat dengan harapan dapat digunakan sebagai
solusi alternatif dan inspirasi dalam upaya pengembangan kurikulum
terpadu untuk mengatasi problematika pendidikan dasar di Indonesia.
KAJIAN PUSTAKA
Pengembangan Kurikulum Terpadu
Pengertian Pengembangan Kurikulum
Pengembangan kurikulum adalah proses penyusunan kurikulum oleh
pengembang kurikulum (curriculum developer) dan kegiatan yang dilakukan
agar kurikulum yang dihasilkan dapat menjadi bahan ajar dan acuan yang
digunakan untuk mencapai tujuan pendidikan nasional. Definisi yang
30
Jurnal
Review Pendidikan Islam
Volume 01, Nomor 01, Juni 2014
Pengembangan Kurikulum Terpadu
Dengan Pendekatan Moral Values Of Islamic History
dikemukakan terdahulu menggambarkan pengertian yang membedakan
antara apa yang direncanakan (kurikulum) dengan apa yang sesungguhnya
terjadi di kelas (instruction/pengajaran). Memang banyak ahli kurikulum
yang menentang pemisahan ini, tetapi banyak pula yang menganut pendapat
adanya perbedaan antara keduanya.
Sementara itu Unruh (1984;97)
pengembangan kurikulum adalah:
mengatakan
bahwa
proses
“a complex process of assessing needs, identifying desired learning outcomes,
preparing for instruction to achieve the outcomes, and meeting the cultural,
social, and personal needs that the curriculum is to serve.”
Kurikulum, sebagai suatu rancangan dalam pendidikan memiliki
posisi yang strategis, karena seluruh kegiatan pendidikan bermuara kepada
kurikulum. Begitu pentingnya kurikulum sebagai sentra kegiatan pendidikan
maka harus benar-benar dikembangkan. Pengembangan kurikulum
dilakukan karena sifat kurikulum yang dinamis, selalu berubah,
menyesuaikan diri dengan kebutuhan mereka yang belajar. Disamping itu,
masyarakat dan mereka yang belajar mengalami perubahan maka langkah
awal dalam perumusan kurikulum ialah penyelidikan mengenai situasi
(situation analysis) yang kita hadapi, termasuk situasi lingkungan belajar
dalam artian menyeluruh, situasi peserta didik, dan para calon pengajar yang
diharapkan melaksanakan kegiatan.
Proses pengembangan kurikulum harus dimulai dengan menentukan
asumsi-asumsi filosofis yakni sistem nilai (value system) atau pandangan
hidup suatu kelompok masyarakat. Berdasarkan asas filosofis itulah
selanjutnya ditentukan tentang hakekat pengetahuan, sosio-cultural, hakekat
anak didik dan teori-teori belajar. Berdasarkan landasan tersebut disusun
komponen-komponen kurikulum yang tujuan baik tujuan umum maupun
tujuan khusus, isi atau materi pelajaran, menyangkut kegiatan pembelajaran
dan evaluasi.
Definisi Kurikulum Terpadu
Menurut Humphreys, kurikulum terpadu adalah sebuah studi di mana
para siswa dapat mengeksplorasi pengetahuan dengan aspek-aspek tertentu
dari lingkungan mereka. Ia melihat pertautan antara kemanusiaan, seni
komunikasi, ilmu pengetahuan alam, matematika, studi sosial, musik, seni.
Keterampilan pengetahuan dikembangkan dan diterapkan di lebih dari satu
wilayah studi.(Trianto; 2013;148)
Lebih lanjut menurut Trianto dalam Dressel (2013;148) kurikulum
terpadu, adalah pengalaman pembelajaran yang telah direncanakan tidak
Jurnal
Review Pendidikan Islam
Volume 01, Nomor 01, Juni 2014
31
Abd. Azis Tata Pangarsa
hanya membekali siswa dengan pandangan terpadu mengenai pengetahuan
umum (melalui pembelajaran model sistem, dan struktur kebudayaan),
tetapi juga memotivasi dan mengembangkan kekuatan siswa untuk
memahami hubungan baru dan menciptakan model, sistem, dan struktur
baru.
Istilah lain yang sering digunakan untuk menyebut kurikulum terpadu
yaitu kurikulum interdisipliner. Kurikulum interdisipliner didefinisikan
sebagai organisasi kurikulum yang melintasi batas-batas mata pelajaran
untuk berfokus pada permasalahan kehidupan yang komprehensif atau studi
luas yang menggabungkan berbagai segmen kurikulum ke dalam asosiasi
yang bermakna. Seperti yang dikemukakan oleh Everest yang dikutip oleh
Trianto, bahwasanya kurikulum terpadu merupakan kurikulum yang
memadukan beberapa mata pelajaran ke dalam sebuah objek aktif. Sebab,
dengan cara itulah siswa menemukan mata pelajaran yang digabungkan
dengan dunia nyata dalam satu aktivitas.
Berdasarkan beberapa definisi tersebut, pada dasarnya mendukung
bahwa kurikulum terpadu adalah pendekatan edukasional yang
mempersiapkan siswa menghadapi pembelajaran seumur hidup (long life
education). Dengan demikian, ungkap Trianto, secara umum, seluruh definisi
kurikulum terpadu atau kurikulum interdispliner mencakup tujuh elemen,
yaitu; kombinasi mata pelajaran, penekanan pada proyek, sumber di luar
buku teks, keterkaitan antar konsep, unit-unit tematik sebagai prinsip
organisasi, jadwal yang fleksibel, dan pengelompokkan siswa yang fleksibel.(
Trianto 2013; 149-150)
MORAL VALUES OF ISLAMIC HISTORY
(BACA: NILAI-NILAI MORAL SEJARAH ISLAM)
Pengertian Moral Values of Islamic History
“Moral values are the principles and standards which determine
whether an action is right or wrong, yang artinya nilai-nilai moral adalah
prinsip-prinsip dan standar yang menentukan apakah suatu tindakan benar
atau salah.
Tiga komponen penting dari karakter moral yang baik yaitu moral
knowing atau pengetahuan tentang moral, moral feeling adalah perasaan
tentang moral dan moral action atau perilaku dan perbuatan bermoral. moral
knowing terdiri dari enam hal pokok yang seharusnya diajarkan yaitu: (1)
adanya kesadaran moral, (2) mengetahui nilai-nilai moral, (3) perspective
taking, (4) penalaran moral, (5) pengambilan keputusan dan (6) pemahaman
diri sendiri. Sementara moral feeling atau perasaan moral merupakan
sumber kekuatan untuk selalu bertindak sesuai dengan prinsip-prinsip
32
Jurnal
Review Pendidikan Islam
Volume 01, Nomor 01, Juni 2014
Pengembangan Kurikulum Terpadu
Dengan Pendekatan Moral Values Of Islamic History
moral. (Koesoema, 2007)
Dalam kaitan dengan perasaan moral ini juga terdapat enam hal yang
perlu ditanamkan kepada anak sesuai dengan tahapan perkembangannya
yaitu : (1) penajaman hati nurani, (2) penguatan rasa percaya diri, (3)
peningkatan empathy atau pelatihan untuk dapat merasakan apa
yang dirasakan orang lain, (4) mencintai kebenaran, (5) kemampuan untuk
dapat terus menerus mengontrol diri dan (6) upaya untuk mengasah
kerendahan hati. Moral action adalah perilaku yang didasari pertimbangan
moral, perilaku moral adalah pengejawantahan dari pengetahuan tentang
moral yang termanifestasi dalam tindakan atau perilaku nyata.
Pendidikan karakter yang dikembangkan melalui jalur pendidikan
akan melingkupi pengetahuan, sikap dan perilaku terkait dengan nilai nilai
moral (moral knowing, moral feeling, dan moral doing). Nilai yang perlu
dikembangkan memalui pendidikan formal di sekolah terdiri dari 18 yaitu:
(1) religius, (2) jujur, (3) toleransi, (4) disiplin, (5) kerja keras, (6) kreatif, (7)
mandiri, (8) demokratis, (9) rasa ingin tahu, (10) semangat kebangsaan, (11)
cinta tanah air, (12) menghargai prestasi, (13) bersahabat, (14) cinta damai,
(15) gemar membaca, (16) peduli lingkungan, (17) peduli sosial, dan (18)
tanggungjawab. (Pusat Pengembangan Kurikulum Kemendiknas, 2010, ; 148)
Sedangkan, Islamic History atau Sejarah Islam adalah sejarah agama
Islam mulai turunnya wahyu pertama pada tahun 622 yang diturunkan
kepada rasul yang terakhir yaitu Muhammad bin Abdullah di Gua Hira, Arab
Saudi sampai dengan sekarang. (http://id.wikipedia.org/wiki/Sejarah_Islam,
(Diakses; Kamis, 01 Mei 2014)
Jadi kesimpulannya Moral Values of Islamic History, adalah suatu
pendekatan yang menggali nilai-nilai moral yang terdapat pada sejarah Islam
untuk diinternalisasikan dalam kegiatan pembelajaran terpadu, yang
bertujuan untuk membentuk manusia (siswa) yang bermoral, berakhlakul
karimah dan menghargai perbedaan dalam bingkai Negara Kesatuan
Republik Indonesia (NKRI).
Hubungan Aktivitas Pembelajaran Terpadu dengan Moral Values of Islamic
History
Sejarah Islam dalam penelitian kami ini akan menjadikan nilai lebih
dari aktivitas pembelajaran terpadu, dikarenakan setiap materi
pembelajaran secara terpadu, secara langsung maupun tidak langsung akan
diselipi tentang nilai-nilai moral yang terkandung dalam sejarah Islam.
Sehingga diharapkan aktivitas pembelajaran itu relevan dan penuh makna,
mulai dari pembelajaran inquiry secara aktif sampai dengan penyerapan
Jurnal
Review Pendidikan Islam
Volume 01, Nomor 01, Juni 2014
33
Abd. Azis Tata Pangarsa
pengetahuan dan fakta secara pasif, dengan memberdayakan pengalaman
siswa untuk mengerti dan memahami dunia kehidupannya.
Cara pengemasan pengalaman belajar yang demikian akan sangat
berpengaruh terhadap kebermaknaan pengalaman siswa dan menjadikan
proses pembelajaran lebih efektif dan menarik. Kaitan konseptual yang
dipelajari dengan isi bidang studi lain yang relevan akan membentuk
skemata, sehingga akan diperoleh keutuhan dan kebulatan pengetahuan.
(Trianto, 2013; 7)
METODE PENULISAN
Jenis penuliasan Karena menghasilkan produk pengembangan,
penulisan ini merupakan jenis penulisan pengembangan, yang memuat 3
komponen utama yaitu : 1) Model pengembangan, 2) Prosedur
pengembangan, dan 3) Uji coba produk.
Dalam uji coba, sumber penulisan digunakan sebagai dasar untuk
menentukan keefektifan, efisiensi, dan daya tarik produk yang dihasilkan.
Sumber penulisan atau data yang akan dikumpulkan harus disesuaikan
dengan informasi yang dibutuhkan tentang produk yang dikembangkan dan
tujuan pembelajaran yang ingin dicapai. Karena keterbatasan waktu, sumber
penulisan masih kami batasi pada Kompetensi Inti (KI) dan Kompetensi
Dasar (KD) pada kelas IV SD/ MI. Sasaran penulisan KTI ini adalah guru-guru
yang mengajar pada pendidikan tingkat dasar di SD/ MI, khususnya guru
kelas IV.
Dalam pengumpulan data dapat digunakan berbagai teknik
pengumpulan data atau pengukuran yang disesuaikan dengan karakteristik
data yang akan dikumpulkan dan responden penelitian. Dalam penelitian ini
untuk menentukan sumber data penelitian digunakan teknik purposive
sampling.
Teknik analisis data Dalam penelitian ini penulis menggunakan teknik
deskriptif untuk menganalisis data yang terkumpul, penulis menggunakan
metode analisis kualitatif. Analisis deskriptif kualitatif adalah cara analisis
yang cenderung menggunakan kata-kata untuk menjelaskan (descrable)
fenomena ataupun data yang didapatkan. (Darajad Suhandono, 20013;12)
Tahap-Tahap Pengembangan Kurikulum Terpadu dengan Pendekatan Moral
Values of Islamic History
Adapun tahapan pengembangan kurikulum yang dilakukan, adalah
seperti pada bagan di bawah ini;
34
Jurnal
Review Pendidikan Islam
Volume 01, Nomor 01, Juni 2014
Pengembangan Kurikulum Terpadu
Dengan Pendekatan Moral Values Of Islamic History
Merumuskan tujuan Pengembangan Kurikulum Terpadu
dengan Pendekatan Moral Values of Islamic History
Menganalisis Kompetensi Inti dan
Kompetensi Dasar (KI/KD )kelas IV
Menganalisis Islamic History yang sesuai
dengan KI/KD kelas IV
Menetapkan model pengembangan
Mengkaji komponen-komponen pengembangan
Melakukan prosedur pengembangan kurikulum terpadu
berbasis Islamic Histories
Uji coba hasil pengembangan kurikulum terpadu
berbasis Islamic Histories
Hasil pengembangan kurikulum terpadu berbasis
Islamic Histories
Evaluasi dan revisi pengembangan kurikulum terpadu
dengan Pendekatan Moral Values of Islamic History
Gambar: Bagan alur Pengembangan Kurikulum Terpadu dengan Pendekatan
Moral Values of Islamic History
Jurnal
Review Pendidikan Islam
Volume 01, Nomor 01, Juni 2014
35
Abd. Azis Tata Pangarsa
PEMBAHASAN HASIL PENELITIAN
Analisis Pentingnya Pengembangan Kurikulum Terpadu
Pembelajaran terpadu sebagai bentuk implementasi implementasi
kurikulum terpadu pada anak usia dini dalam hal ini siswa Sekolah
Dasar/Madrasah Ibtidaiyah (SD/MI) kelas I sampai kelas VI didasarkan pada
keyakinan bahwa anak akan tumbuh dengan baik jika dilibatkan secara
alamiah dalam proses belajar. Istilah terpadu pada pembelajaran terpadu
atau integrated adalah”………repositioning of earning experiences into
meaningful contexs (Collin, Gillian dan Hazel Dixon. 1991;2) maksudnya
bahwa pembelajaran terpadu menekankan pengalaman belajar dalam
konteks yang bermakna. Pembelajaran dalam hal ini bertolak dari tematema. Selain itu pembelajaran terpadu didefinisikan juga sebagai, suatu
konsep dapat dikatakan sebagai pendekatan belajar yang melibatkan
beberapa bidang studi untuk memberikan pengalaman yang bermakna pada
anak. (Children’s resources International, Inc. 2000;17)
Implementasi
pengembangan
kurikulum
terpadu
dalam
pembelajaran terpadu dengan guru menyelipkan tentang sejarah Islam yang
relevan dan sesuai dengan materi pelajaran yang diajarkan kemudian siswa
diberi tugas untuk menyimpulkan nilai-nilai moral yang terkandung dalam
sejarah Islam sebagai sebuah solusi alternatif yang ditawarkan dalam KTI ini,
dalam upaya mengatasi problematika pendidikan di Indonesia, khususnya
problematika pada yang terjadi pada siswa di tingkat pendidikan dasar yaitu
di SD/MI, dengan didasari beberapa alasan bahwasanya pembelajaran
terpadu cocok digunakan di tingkat SD/MI adalah sebagai berikut:
a) Pendidikan di SD/MI harus memperhatikan perkembangan intelektual
anak. Sesuai dengan taraf perkembangannya, anak SD/MI melihat dunia
sekitarnya secara menyeluruh, mereka belum dapat memisah-misahkan
bahan kajian yang satu dengan yang lain.
b) Di samping memperhatikan perkembangan intelektual anak, guru juga
harus mengurangi dampak dari fenomena ini di antaranya anak tidak
mampu melihat dan memecahkan masalah dari berbagai sisi, karena ia
terbiasa berfikir secara fragmentasi, anak dikhawatirkan tidak memiliki
cakrawala pandang yang luas dan integratif. Cakrawala pandang yang
luas diperlukan dalam memecahkan permasalahan yang akan mereka
hadapi nanti di masyarakat. Jadi merupakan bekal hidup yang sehat
dalam memandang manusia secara utuh.
36
Jurnal
Review Pendidikan Islam
Volume 01, Nomor 01, Juni 2014
Pengembangan Kurikulum Terpadu
Dengan Pendekatan Moral Values Of Islamic History
Pengembangan Kurikulum Terpadu Dengan Pendekatan Moral Values of
Islamic History
Moral Values of Islamic History (baca: Nilai-nilai Moral Sejarah Islam)
sangat penting untuk disampaikan kepada siswa, khususnya siswa yang
belajar di madrasah. Sementara itu mata pelajaran Sejarah Kebudayaan Islam
(SKI) di Madrasah Ibtidaiyah, materi yang diajarkan memiliki keterbatasan,
sehingga sudah semestinya sejarah Islam yang sesuai dan relevan dapat
dimasukkan ke dalam kurikulum terpadu yang dapat dijadikan nilai tambah
dari materi yang diajarkan oleh guru secara lintas interdisipliner dalam
pembelajaran terpadu. Pada dasarnya, pembelajaran terpadu merupakan
model pembelajaran untuk implementasi kurikulum terpadu (integrated
curriculum approach). (Trianto, 2013;147-148).
Khaeruddin, 2007: 204 menyatakan hal yang sama, bahwa
pembelajaran terpadu merupakan suatu aplikasi salah satu strategi
pembelajaran berdasarkan kurikulum terpadu yang bertujuan untuk
menciptakan atau membuat proses pembelajaran secara relevan dan
bermakna bagi siswa.
Disamping itu dari sisi guru, sudah selayaknya profesi sebagai seorang
pendidik membutuhkan kompetensi yang terintegrasi baik secara
intelektual-akademik, social history, pedagogis, dan profesionalitas yang
kesemuanya berlandaskan pada sebuah kepribadian yang utuh pula,
sehingga dalam menjalankan fungsinya sebagai pendidik senantiasa dapat
mengembangkan model-model pembelajaran yang efektif, inovatif, dan
relevan, dalam hal ini penulis menawarkan konsep pengembangan
kurikulum terpadu dengan pendekatan Moral Values of Islamic History, yang
didasari bahwasanya aktivitas pembelajaran di SD/MI selama enam tahun,
sebagai upaya penanaman doktrin moral, disiplin, perilaku, dasar berhitung,
budaya membaca, nasionalisme, dan juga yang tak kalah penting yang wajib
diketahui dan dipahami oleh siswa adalah pengetahuan nilai-nilai moral yang
dapat diambil dari sejarah Islam.
Jurnal
Review Pendidikan Islam
Volume 01, Nomor 01, Juni 2014
37
Abd. Azis Tata Pangarsa
PENUTUP
Kesimpulan
1. Dalam mengembangkan kurikulum terpadu, guru sebagai pengembang
kurikulum perlu menjalankan peran evaluatif dan peran kritisnya dalam
menentukan muatan kurikulum dianggap layak untuk dipelajari oleh
siswa. Oleh sebab itu menyerap berbagai informasi yang dibutuhkan
masyarakat merupakan salah satu langkah penting dalam proses
penyusunan suatu kurikulum.
2. Konsep pengembangan kurikulum terpadu dengan pendekatan Moral
Values of Islamic History, yang didasari bahwasanya aktivitas
pembelajaran di SD/MI selama enam tahun, sebagai upaya penanaman
doktrin moral, disiplin, perilaku, dasar berhitung, budaya membaca,
nasionalisme, dan juga yang tak kalah penting yang wajib diketahui dan
dipahami oleh siswa adalah pengetahuan nilai-nilai moral yang dapat
diambil dari sejarah Islam.
Saran
1. Guru yang mengajar di lembaga pendidikan tingkat dasar (SD/MI) selain
melaksanakan kewajiban membimbing dan mendidik siswanya,
hendaknya juga mampu melakukan pengembangan kurikulum terpadu,
yang notabenenya merupakan salah satu kewajiban dan fungsi guru
dalam aktivitas kegiatan perencanaan pembelajaran.
2. Penulisan KTI ini masih terbatas mengembangkan kurikulum terpadu
dengan pendekatan Moral Values of Islamic History pada jenjang
pendidikan dasar di kelas IV, sehingga perlu dikembangkan lagi pada
seluruh jenjang kelas secara komprehensif, dari kelas I sampai kelas
lembaga pendidikan tingkat dasar (SD/MI).
38
Jurnal
Review Pendidikan Islam
Volume 01, Nomor 01, Juni 2014
Pengembangan Kurikulum Terpadu
Dengan Pendekatan Moral Values Of Islamic History
DAFTAR PUSTAKA
Children’s resources International, Inc. 2000. Menciptakan Bahan Ajar Yang
Berpusat Pada Anak (Jakarta: CRI Indonesia, hlm.17.
Children’s resources International, Inc. 2000. Menciptakan Bahan Ajar Yang
Berpusat Pada Anak, Jakarta: CRI Indonesia.
Collin, Gillian dan Hazel Dixon. 1991 Integrated Learning Planed Curriculum
Units, (Australia Books Shelf Publising., hlm.2.
Doni Koesoema A. 2007. Pendidikan karakter: Strategi mendidik anak di
zaman global. Jakarta: Grasindo.
Drajad Suharjo, Metodologi Penelitian Dan Penulisan Laporan Ilmiah,
(Yogyakarta: UII Press, 2003), hlm. 12
Gillian, Collin, dan Hazel Dixon. 1991. Integrated Learning Planed Curriculum
Units, Australia: Books Shelf Publising.
Khaeruddin dkk. 2007.Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP); Konsep
dan Implementasinya di Madrasah,Yogyakarta: Pilar Media.
Khaeruddin dkk., Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP); Konsep dan
Implementasinya di Madrasah (Yogyakarta: Pilar Media, 2007), hlm.
204
Pusat Pengembangan Kurikulum Kemendiknas, 2010, hlm. 148.
Sukayati, Pembelajaran Tematik di SD Merupakan Terapan dari Pembelajaran
Terpadu, Disampaikan dalam Diklat Instruktur/ Pengembang
Matematika SD Jenjang Lanjut Tanggal 6-19 Agustus 2004 di PPPG
Matematika, 2004.
Trianto, Desain Pengembangan Pembelajaran Tematik bagi Anak Usia Dini
TK/RA dan Anak Usia Awal SD/MI (Jakarta: Kencana Prenada Media
Group, 2013), hlm. 148.
Unruh, GG. and Unruh, A, Curriculum Development: Problems Processes, and
Progress, (Berkeley, California: McCutchan Publishing Corporation,
1984), hlm. 97.
Jurnal
Review Pendidikan Islam
Volume 01, Nomor 01, Juni 2014
39
Abd. Azis Tata Pangarsa
Lampiran 1
Rujukan dari internet:
http://bagawanabiyasa.wordpress.com/2013/05/09/pembelajaranterpadu/ (Diakses; Jum’at, 02 Mei 2014)
http://bagawanabiyasa.wordpress.com/2013/05/09/pembelajaranterpadu/ (Diakses; Jum’at, 02 Mei 2014)
http://gledysapricilia.files.wordpress.com/2012/06/pengembangankurikulum.pdf, (Diakses; Kamis, 01 Mei 2014)
http://gledysapricilia.files.wordpress.com/2012/06/pengembangankurikulum.pdf, (Diakses; Kamis, 01 Mei 2014)
http://id.wikipedia.org/wiki/Sejarah_Islam, (Diakses; Kamis, 01 Mei 2014)
http://id.wikipedia.org/wiki/Sejarah_Islam, (Diakses; Kamis, 01 Mei 2014)
http://Meretas Nilai-nilai Moral dan Pendidikan Karakter.htm. (Diakses;
Rabu, Mei 2014)
http://www.ask.com/question/definition-of-moral-values (Diakses; Senin,
12 Mei 2014)
http://www.ask.com/question/definition-of-moral-values (Diakses; Senin,
12 Mei 2014)
40
Jurnal
Review Pendidikan Islam
Volume 01, Nomor 01, Juni 2014
Download