Konformitas Pada Remaja Terhadap Kelompok yang

advertisement
Judul
: Konformitas Pada Remaja Terhadap Kelompok yang Melakukan
Body Piercing
Nama/NPM : Novi Kurnia Maulidta / 10503123
Pembimbing : Ni Made Taganing, Spsi., M.Psi.
ABSTRAK
Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui mengenai alasan subjek
melakukan body piercing, serta gambaran konformitas pada subjek yang melakukan body
piercing. Dan juga untuk mengetahui efek dari konformitas tersebut. Pada penelitian ini
peneliti menggunakan pendekatan kualitataif. Teknik pengumpulan data dalam penelitian
ini adalah menggunakan metode observasi dan wawancara. Karakteristik subjek penelitian,
yaitu remaja berusia 16 dan 18 tahun yang melakukan body piercing. Jumlah subjek dalam
penelitian ini adalah 1 orang remaja pria dan 1 orang remaja wanita.
Berdasarkan hasil dari penelitian yang telah dilakukan, maka dapat
disimpulkan bahwa kedua subjek memiliki alasan yang sama dalam melakukan body
piercing, yaitu karena mengikuti kelompok dan untuk menyesuaikan penampilan dengan
kelompok masing-masing. Gambaran konformitas pada kedua subjek berdasarkan pada
aspek-aspek konformitas adalah memenuhi kriteria dari aspek konformitas, yang terdiri
dari aspek kekompakan, yang dilihat dalam hal berpenampilan, sikap subjek, suka
melakukan hobi dan menghabiskan waktu bersama kelompok. Pada aspek kesepakatan
dapat dilihat dari kesepakatan pendapat dan pada aspek ketaatan dapat dilihat dari perasaan
takut akan hukuman dan perasaan takut ditinggalkan kelompok. Sedangkan efek dari
konformitas tersebut, yaitu dapat berupa pengaruh positif dan pengaruh negatif bagi kedua
subjek.
Kata kunci : body piercing, konformitas, remaja, kelompok
A. Pendahuluan
1. Latar Belakang
Trend menindik tubuh dan
wajah
atau
body
piercing
kebanyakan
dilakukan
oleh
remaja. Sekarang ini banyak sekali
terlihat di jalan-jalan, di mall-mall
orang-orang
yang
dipiercing
khususnya para remaja. Para
remaja tersebut dapat dengan
mudah menindik tubuh dan
wajahnya, karena sekarang sudah
banyak terdapat studio tindik atau
tempat untuk melakukan body
piercing di malll-mall dan di jalanjalan, baik yang mempunyai surat
izin praktek dari Departemen
Kesehatan maupun yang tidak
mempunyai surat izin praktek dari
Departemen Kesehatan. Tindik
yang dahulu hanya didominasi
oleh kaum wanita sekarang bukan
hal yang aneh lagi bagi pria, tidak
hanya itu saja tindik yang dahulu
hanya digunakan di telinga
sekarang sudah “mengembara” ke
bagian tubuh lain yang memiliki
tulang rawan atau daging lunak
seperti telinga, alis mata, hidung,
pipi, lidah, mulut atau bahkan
pusar.
Tindik
atau
body
piercing
sebenarnya memiliki arti yang
berbeda. Namun, dalam bahasa
Indonesia diterjemahkan dengan istilah
yang sama, yaitu tindik. Sedangkan
menurut kamus bahasa InggrisIndonesia pierce artinya menembus,
menyerbu, dan menusuk. Walaupun
begitu tindik dan body piercing
memiliki perbedaan mendasar. Tindik
adalah tindakan memasukan benda ke
dalam tubuh Remaja yang melakukan
body piercing sering dipandang negatif
oleh kebanyakan orang. Pandangan
negatif seperti, “dianggap membuat
masalah”, dianggap “nakal”, dan
“menakutkan”, karena dari penampilan
mereka yang dipenuhi oleh tindikan di
bagian wajah dan tubuh. Namun para
para remaja tersebut juga mendapatkan
efek yang positif bagi diri mereka,
yaitu adanya pengakuan langsung dari
kelompoknya, adanya perasaan positif
terhadap apa yang sudah mereka
lakukan, adanya dukuingan dari
kelompok, dan menjadi lebih percaya
diri karena dengan begitu mereka
merasa dapat diterima oleh kelompok.
Yang
mendasari
peneliti
melakukan
penelitian
tentang
konformitas pada remaja terhadap
kelompok yang melakukan body
piercing, yaitu karena peneliti ingin
mendeskripsikan mengenai gambaran
konformitas pada remaja terhadap
kelompok yang melakukan body
piercing. Selain itu peneliti juga akan
meneliti apakah dengan bersikap ikutikutan kelompok melakukan body
piercing, para remaja tersebut juga
akan mengikuti kelompok dengan
melakukan hal-hal lain.
2. Pertanyaan Penelitian
Berdasarkan uraian diatas, maka
didapat
beberapa
pertanyaanpertanyann yang ingin diketahui saat
melakukan penelitian, yaitu alasan
subjek melakukan body piercing.
Bagaimana gambaran konformitas
pada remaja terhadap kelompok yang
melakukan body piercing, dan efek
dari konformitas bagi remaja yang
melakukan body piercing.
3. Tujuan Penelitian
Penelitian ini memiliki beberapa
tujuan diantaranya adalah, untuk
mengetahui alasan subjek melakukan
body piercing, gambaran konformitas
pada subjek yang melakukan body
piercing, dan efek dari konformitas
bagi remaja yang melakukan body
piercing.
4. Manfaat Penelitian
a. Manfaat Teoritis
Diharapkan
dapat
memberikan
masukan yang bermanfaat bagi
perkembangan ilmu Psikologi Sosial
dan Psikologi Perkembangan, terutama
yang berhubungan dengan konformitas
pada remaja dan perkembangan
remaja.
b. Manfaat Praktis
Hasil penelitian ini diharapkan dapat
menambah informasi dan bermanfaat
bagi masyarakat secara umum dan
remaja khususnya mengenai hal-hal
yang berkaitan dengan body piercing
dan konformitas. Sehingga diharapkan
dalam memandang remaja yang
melakukan body piercing tidak
memandang dengan sebelah mata,
lebih terbuka dan menerima pada gaya
dan penampilan mereka.
B. Tinjauan Pustaka
1. Konformitas
a. Pengertian Konformitas
Konformitas adalah salah satu
jenis dari pengaruh social dimana
setiap individu mengubah sikap
atau perilakunya dalam perintah
agar melekat pada norma sosial
yang ada, (Baron & Byane, 2000).
Kiesler & Kiesler (dalam Rahkmat,
1996)
mengatakan
bahwa
konformitas adalah perubahan
perilaku atau kepercayaan menuju
(norma) kelompok sebagai akibat
tekanan atau kelompok yang real
atau yang dibayangkan, sedangkan
menurut
Rahkmat
(1996)
konformitas
adalah
produk
interaksi
antara
faktor-faktor
situasional
dan
factor-faktor
personal.
Menurut Wilis (dalam Sarwono,
2005) definisi tentang konformitas
mengandung dua unsur, yaitu
selaras (congruent) dan gerak
(movement).
Selaras
dimaksudkannya persetujuan atau
kesamaan antara respons oleh
individu dengan respons yang
secara sosial dianggap “benar”.
Sedangkan gerak adalah perubahan
respons dalam kaitannya dengan
standar sosial. Jadi konformitas
harus tidak hanya mengandung
unsur keselarasan, tetapi harus juga
mengandung unsur gerak, yaitu
perubahan respons. Berdasarkan
definisi-definisi di atas dapat
disimpulkan bahwa konformitas
adalah kecenderungan seseorang
untuk
menampilkan
atau
mengubah tingkah laku, sikap dan
keyakinannya berdasarkan pada
sikap dan pendapat yang sudah
berlaku sebagai akibat dari
pengaruh social dan tekanan
kelompok yang real atau yang
dibayangkan.
yang dapat memberikan dampak
negatif.
b. Aspek-aspek Konformitas
Menurut Sears dkk (1985)
bahwa konformitas akan mudah
terlihat serta mempunyai aspekaspek yang khas dalam kelompok.
Adapun aspek-aspek konformitas,
yaitu :
a. Aspek Kekompakkan
Yang dimaksud dengan istilah
kekompakkan adalah jumlah
total
kekuatan
yang
menyebabkan orang tertarik
pada suatu kelompok dan yang
membuat mereka ingin tetap
menjadi
anggotannya.
Kekompakkan mengacu pada
kekuatan yang menyebabkan
para
anggotanya
menetap
dalam suatu kelompok.
b. Aspek Kesepakatan
Aspek yang sangat penting
bagi timbulnya konformitas
adalah kesepakatan pendapat
kelompok.
Individu
yang
dihadapkan pada keputusan
kelompok yang sudah bulat
akan mendapat tekanan yang
kuat
untuk
menyesuaikan
pendapatnya. Namun, bila
kelompok tidak bersatu akan
tampak adanya penurunan
konformitas.
c. Aspek Ketaatan
Konformitas merupakan bagian
dari
persoalan
mengenai
bagaimana membuat individu
rela melakukan sesuatu yang
sebenarnya tidak ingin mereka
lakukan. Salah satu caranya
adalah melalui tekanan sosial.
c.Faktor-faktor
yang
Mempengaruhi Konformitas
Menurut Sears dkk (1985) ada
beberapa faktor-faktor yang dapat
mempengaruhi konformitas, yaitu :
a. Pengaruh Informasi
Orang lain merupakan sumber
informasi yang penting. Seringkali
mereka mengetahui sesuatu yang
tidak kita ketahui, dengan melakukan
apa yang mereka lakukan kita akan
memperoleh
manfaat
dari
pengetahuan mereka. Oleh karena
itu, tingkat konformitas yang
didasarkan pada informasi yang
dimiliki orang lain tentang apa yang
benar dan sejauh mana mutu
informasi yang dimiliki orang lain
tentang apa yang benar dan sejauh
mana kepercayaan diri kita terhadap
penilaian kita sendiri.
b. Kepercayaan Terhadap Kelompok
Dalam situasi konformitas, individu
mempunyai suatu pandangan dan
kemudian
menyadari
bahwa
kelompoknya menganut pandangan
yang bertentangan. Individu ingin
memberikan informasi yang tepat,
oleh karena itu semakin besar
kepercayaan
individu
terhadap
kelompok sebagai sumber informasi
yang benar, maka ia akan mengikuti
apa pun yang dilakukan kelompok
tanpa memperdulikan pendapatnya
sendiri.
Demikian
pula,
bila
kelompok mempunyai informasi
penting yang belum dimiliki individu
konformitas
akan
semakin
meningkat.
c. Kepercayaan yang Lemah Terhadap
Penilaian Sendiri
Sesuatu
yang
meningkatkan
kepercayaan
individu
terhadap
penilaiannya
sendiri
akan
menurunkan konformitas. Salah satu
faktor yang sangat mempengaruhi
rasa percaya diri dan tingkat
konformitas
adalah
tingkat
keyakinan orang tersebut pada
kemampuannya
sendiri
untuk
menampilkan
suatu reaksi, selain itu tingkat
kesulitan penilaian yang dibuat juga
dapat mempengaruhi keyakinan
individu terhadap kemampuannya.
Dimana semakin sulit penilaian
tersebut, semakin rendah rasa
percaya yang dimiliki.
d. Rasa takut Terhadap Celaan Sosial
dan Penyimpangan
Alasan
seseorang
melakukan
konformitas salah satunya adalah
demi memperoleh persetujuan atau
menghindari
celaan
kelompok.
Seseorang tidak mau dilihat sebagai
orang lain dari yang lain, ia ingin
agar kelompok tempat ia berada
menyukainnya, memperlakukannya
dengan baik dan bersedia menerima
dirinya. Seseorang khawatir bahwa
ia berselisih paham tentang sesuatu
dengan anggota kelompok lain, maka
mereka tidak akan menyukainya dan
menganggapnya sebagai orang yang
tidak ada. Artinya seseorang
cenderung menyesuaikan diri untuk
menghindari
dari
akibat-akibat
semacam itu.
Sedangkan menurut Baron & Byane
(2004) & Sarwono (2005), faktor-
faktor
yang
menyebakan
konformitas, yaitu :
Ukuran
Kelompok,
Pengaruh
Norma, Keterpaduan atau Kohesi,
Suara Bulat dan Tanggapan Umum
d. Bentuk-bentuk Konformitas
Ada 2 bentuk konformitas yaitu :
a. Menurut (Complience)
Menurut Myers (1996) yang
dimaksud
dengan
konformitas
complience adalah konformitas yang
melibatkan tingkah laku umum
karena
tekanan
sosial
dari
kelompoknya
ketika
seseorang
merasa ditolak.
Sedangkan menurut Sarwono
(2002)
complience
adalah
konformitas yang dilakukan secara
terbuka sehingga terlihat oleh umum,
walaupun hatinya tidak setuju.
Misalnya, menyantap makanan yang
disuguhkan oleh nyonya rumah
walaupun tidak suka. Dan menurut
Chaplin (2005) complience adalah
rela memberi, menyerah, mengalah,
membuat
suatu
keinginan
konformitas dengan harapan atau
kemauan orang lain.
b. Penerimaan (Acceptance)
Menurut Myers (1996) yang
dimaksud
dengan
konformitas
acceptance adalah konformitas yang
melibatkan antara tingkah laku dan
kepercayaan norma karena tekanan
sosial.
Sedangkan menurut Sarwono
(2002)
acceptance
adalah
konformitas yang disertai perilaku
dan kepercayaan yang sesuai dengan
tatanan sosial. Misalnya, memenuhi
ajakan
teman-teman
untuk
membolos.
Kelman mengemukakan pendapat
Span & Stephan (dalam Endita,
2006)
mengenai
tiga
bentuk
konformitas, yaitu :
a. Complience
Complience terjadi pada saat
seseorang mengharapkan untuk
memperoleh
penghargaan
atau
menghindari
hukuman
dengan
konform. Dalam hal ini, terdapat
kemungkinan perubahan perilaku
yang tidak disertai dengan perubahan
sikap yang nyata.
b. Identifikasi
Identifikasi terjadi pada saat
seseorang ingin membuat atau
memelihara kepuasan berhubungan
dengan orang lain atau kelompok.
Karena
perilaku
mereka
dihubungkan dengan keinginan
untuk berhubungan. Orang mendapat
kepuasan dari tindakan konformitas,
saat kekuatan orang yang memberi
pengaruh didasarkan pada daya tarik
seseorang, identifikasi dihasilkan.
c. Internalisasi
Internalisasi terjadi saat seseorang
menemukan ide atau tindakan yang
diwujudkan dalam suatu pesan
berharga dalam kelompok. Dalam
hal ini, orang percaya padaapa yang
mereka lakukan. Perilaku konform
sesuai dengan nilai-nilai mereka.
Saat kekuatan orang yang memberi
pengaruh
didasarkan
pada
kepercayaan, internalisasi dihasilkan.
e. Efek Konformitas
Konformitas dapat memiliki efek
bagi
individu
yang
melakukan
konformitas diantaranya, yaitu adanya
pengakuan langsung individu terhadap
pendapat
atau
pernyataan
dari
kelompoknya, adanya perasaan positif
terhadap apa yang menjadi pendapat
atau yang merupakan pernyataan dari
kelompoknya dan adanya dukungan dari
kelompok. Selain itu konformitas juga
diperlukan untuk nilai-nilai sosial yang
dipegang teguh oleh sistem sosial dan
untuk kebersihan moral. Tetapi untuk
perkembangan
pemikiran,
untuk
menghasilkan hal-hal yang baru dan
kreatif konformitas memiliki efek yang
merugikan (Rahkmat, 1996).
Sedangkan menurut Myers (1996)
konformitas dapat memiliki efek yaitu,
ketika individu berada pada kelompok
dengan suara bulat, itu adalah kekuatan
sosial maka individu yang suaranya
paling berbeda tidak dapat bertahan lama
dan efeknya atau akibatnya mereka akan
merasa tertekan dan menyerah kepada
kelompok. Konformitas juga dapat
memberikan efek yang berbeda antara
pria dan wanita, dimana wanita lebih
banyak melakukan konformitas daripada
pria. Karena wanita lebih fleksibel, lebih
konsen terhadap hubungan interpersonal
dan wanita juga lebih menerima
pengaruh dari luar daripada pria. Selain
itu perbedaan status dan kekuatan juga
dapat mempengaruhi konformitas antara
pria dan wanita.
2. Body Piercing
a. Pengertian Body Piercing
Menurut Longman of Contemporary
English (2001) arti pierce yaitu, untuk
membuat sebuah lubang kecil atau
melewati sesuatu dengan menggunakan
sebuah benda atau objek dengan sesuatu
yang tajam. Arti pierce yang kedua,
yaitu untuk memiliki sebuah lubang
kecil yang dibuat di telinga, di hidung
dan sebagainya sehingga seseorang
dapat menggunakan perhiasan.
Dari sudut sejararah, tindik adalah
suatu cara manusia menghiasi tubuh dan
penampilannya (Mulyani & Sasmito,
2003). Sedangkan menurut Echols
(dalam kamus bahasa Inggris-Indonesia,
1976) pierce artinya menembus,
menyerbu dan menusuk. Body piercing
adalah seni estetik dimana penempatan
lubang dan jenis perhiasan yang dipilih
sangat
mempengaruhi
penampilan
(www.Kent-tatto.com, 2004)
b. Sejarah Body Piercing
Tindik atau piercing dikenal secara
universal di berbagai dunia. Sejak awal
kemunculannya yang diperkirakan sudah
ada pada jaman pra sejarah dan telah
menjadi trend pada jaman sekarang.
Diperkirakan sekitar tahun 1970-an
mulai diminati oleh masyarakat pada
tahun 1990-an. Awalnya tindik atau
piercing dipakai oleh pemain band yang
beraliran keras, dan pada zaman
sekarang tindik merupakan lifestyle bagi
para
remaja
(Indonesian
Sub
Culture.com, 2006). Dari sudut sejarah,
tindik atau body piercing adalah salah
satu manusia menghiasi tubuh dan
penampilannya. Masing-masing negara
menggunakan
tradisi
ini
sesuai
kebudayaan
yang
dianut,
(www.liputan6.com, 2006).
Menurut Maunati (2004), tanda
identitas Dayak yang paling mencolok
bagi orang-orang luar adalah praktik
menindik dan memanjangkan telinga,
meskipun tidak semua suku Dayak
melakukan tradisi ini. Di Kalimantan
Timur, tradisi ini masih terus dilakukan
oleh orang-orang Dayak Kenyah, Bahau
dan Kayan. Di kalangan orang-orang
Dayak Kenyah baik laki-laki maupun
perempuan memiliki daun telinga yang
sengaja dipanjangkan, tetapi ukuran
panjangnya berbeda-beda antara lakilaki dan perempuan. Laki-laki tidak
boleh
memanjangkan
telingannya
melebihi bahunya, sedangkan kaum
perempuan boleh memanjangkannya
hingga sebatas dada.
c. Alasan Remaja Melakukan Body
Piercing
Alasan remaja dalam melakukan
body
piercing
bermacam-macam
diantaranya, yaitu agar kelihatan lebih
bagus, tampil beda dari teman-temannya,
supaya penampilannya lebih menarik,
mengikuti trend, percaya diri meningkat.
Dengan melakukan body piercing para
remaja tersebut merasa bahwa dirinya
lebih menarik, tampil lebih trendi hingga
untuk mencapai keseragaman dalam
kelompoknya. Dan dengan dipiercing
para remaja tersebut juga merasa puas
(www.Kent-tatto.com, 2004).
d. Bahaya dan Resiko dari Body Piercing
Beberapa bahaya dan resiko menindik
tubuh, yaitu penyakit hepatitis B,
hepatitis C, Tetanus, HIV. Menurut
institusi-institusi kesehatan, bahaya
ditindik disembarang tempat mencakup
antara lain, seperti : infeksi kronis,
pendarahan yang berlarut-larut, cacat
kulit, hepatitis B dan hepatitis C, tetanus
HIV, alegi kulit, abses atau bisul,
(Healthy life, 2002).
Menurut (Healthy life, 2002) tindik
logam di alis mata dapat mengakibatkan
alis mata menurun yang akan
mengganggu daya lihat. Resiko terkena
infeksi pun tinggi. American Academy
of Dermatology menentang segala
macam tindik tubuh, kecuali satu yaitu
tindik di daun telinga, karena daun
telinga terbuat dari jaringan lemak
dengan peredaran darah yang lancar
untuk melindungi tubuh dalam keadaan
infeksi. Pusar adalah bagian tubuh yang
sangat sensitif sehingga mudah teriritasi
dan terkena infeksi. Walau cukup aman
tindik di tulang rawan kuping tapi dapat
mengakibatkan keloid, bila pekerjaannya
tidak steril sehingga terinfeksi dan luka
lama sembuh.
3. Remaja
a. Pengertian Remaja
Definisi remaja menurut Papalia
(dalam Dariyo, 2004) adalah sebagai
masa peralihan dari masa anak-anak ke
masa
dewasa,
diawali
dengan
masapuber, yaitu proses perubahan fisik
yang ditandai dengan kematangan
seksual, kognisi, dan psikososial yang
saling berkaitan satu dengan yang
lainnya. Sedang kan Turner dan Helms
(dalam Muhktar dkk, 2003) menyatakan
bahwa masa remaja adalah sebagai suatu
masa dimana terjadi perubahan besar
yang memberikan suatu tantangan pada
individu
remaja
untuk
dapat
menyesuaikan
dirinya
dengan
lingkungannya,
mampu
mengatasi
perubahan fisik dan seksual yang sedang
dialaminya, sedang mengalami apa yang
dinamakan proses pencarian identitas
diri. Dan berusaha membangun suatu
hubungan interaksi yang sifatnya baru.
b. Karakteristik Remaja
Menurut Hurlock (dalam Muhktar dkk,
2003) masa remaja mempunyai beberapa
ciri dan karakteristik antara lain :
a. Masa remaja sebagai periode yang
penting. Disebutkan sebagai periode
yang penting dalam kehidupan, karena
pada masa remaja terjadi perubahanperubahan fisik dan psikis yang akan
sangat mempengaruhi perkembangan
jiwa dan karakter dari remaja tersebut.
Perubahan dan perkembangan tersebut
meninbulkan perlunya penyesuaian
mental dan perlunya membentuk sikap,
nilai dan minat baru.
b.Masa
remaja
sebagai
periode
peralihan. Terjadinya peralihan pola
psikologis dan karakter dari seorang
anak-anak, tetapi belum sampai pada
tahapan dewasa, maka dalam tahap ini
sering terjadi kebingungan dari sang
remaja akibat pencarian dan pematangan
dirinya.
c.
Masa remaja sebagai periode
perubahan. Terjadinya masa perubahan
yang bersamaan baik fisik, psikis dan
perilaku. Perubahan tersebut mempunyai
hubungan yang sangat erat apbila
fisiknya berkembang dengan baik dan
pesat, maka perilaku dan psikisnya pun
akan mengalami peningkatan begitu juga
sebaliknya.
d. Masa remaja sebagai masa mencari
identitas. Remaja adalah manusia biasa
yang merupakan mahkluk sosial, maka
mereka akan berusaha untuk mencari
identitas
dirinya
apakah
dalam
kelompok,
lingkungan
atau
mengidolakan seseorang.
e. Masa remaja adalah usia yang
menimbulkan ketakutan. Terjadinya
banyak perubahan dalam bentuk fisik,
mengakibatkan mereka “memaksa”
untuk dianggap sebagai orang dewasa.
Mereka ingin menentukan sendiri apa
yang mereka inginkan, mereka merasa
sudah cukup mengetahui tentang
kehidupan, sehingga mereka tidak
membutuhkan adanya bimbingan dari
orangtua yang berlebihan.
f. Masa remaja sebagai masa yang tidak
realistik. Pada masa remaja mereka
memandang, melihat dan memutuskan
segala sesuatu berlandaskan pada “kaca
mata” mereka saja, mereka sangat sulit
menerima informasi dari orang lain
kecuali
berasal
dari
“geng”nya
(kelompok). Remaja cenderung memilih
kecerdesan emosi yang rendah, sikap
empati mereka sangat kecil.
g. Masa remaja sebagai ambang masa
dewasa. Dengan semakin mendekatnya
usia kematangan yang sah, para remaja
menjadi gelisah untuk meningkatkan
image belasan tahun dan untuk memberi
kesan mereka sudah hampir dewasa.
Mereka akan berusaha menempatkan
dirinya sebagai orang dewasa, maka
mereka akan mengikuti perilaku
keseharian orang dewasa.
c. Tugas-tugas Perkembangan Remaja
Tugas-tugas
perkembangan
(development task) yakni tugas-tugas/
kewajiban yang harus dilalui oleh setiap
individu
sesuai
dengan
tahap
perkembangan individu itu sendiri.
Tugas-tugas
perkembangan
remaja
menurut Harvighurst (dalam Dariyo,
2004) ada beberapa yaitu sebagai berikut
a. Menyesuaikan diri dengan perubahan
fisiologis - psikologis
b.Belajarbersosialisasi sebagai seorang
laki-laki maupun wanita
c.Memperoleh
kebebasan
secara
emosional dari orang tua dan orang
dewasa lain
d.Remaja bertugas untuk menjadi warga
yang bertanggung jawab
e.Memperoleh
kemandirian
dan
kepastian secara ekonomis
d. Perkembangan Sosial
Menurut
Monks
dkk
(2004)
perkembangan sosial remaja dibagi
menjadi beberapa bagian yaitu,
a.Dorongan untuk dapat berdiri sendiri
dan
krisis
originalitas.
Dalam
perkembangan sosial remaja dapat
dilihat adanya dua macam gerak; satu
yaitu memisahkan diri dari orangtua dan
yang lain adalah menuju ke arah temanteman sebaya. Dua macam arah gerak ini
tidak merupakan dua hal yang berurutan
meskipun yang satu dapat terkait dengan
yang lain. Dua macam gerak ini yang
memisahkan diri dari orangtua dan
menuju ke arah teman-teman sebaya,
merupakan suatu reaksi terhadap status
intern anak muda (Monks dkk, 2004).
Dalam masa remaja, remaja berusaha
untuk melepaskan diri dari orangtua
dengan maksud untuk menemukan
dirinya. Erikson menamakan proses
tersebut sebagai proses mencari identitas
ego.
b. Konformitas kelompok remaja
Dalam kelompok dengan kohesi yang
kuat berkembanglah suatu iklim
kelompok dan norma-norma kelompok
tertentu Ewert (dalam Monks dkk, 2004)
menyebutkan
sebagai
pemberian
normatingkah laku oleh kelompok teman
(peers). Konformitas kelompok ada
hubungannya dengan kontol eksternal.
Remaja yang kontrol eksternalnya lebih
tinggi akan lebih peka terhadap
pengaruh kelompok, Lefocurt (dalam
Monks dkk, 2004) menemukan bahwa
orang-orang dari kelas sosial yang lebih
rendah mempunyai skor yang lebih
tinggi pada kontrol eksternalnya. Dalam
hubungan
dengan
remaja
dan
kelompoknya dikatakan bahwa remaja
yang berasal dari kelompok sosial yang
lebih rendah mempunyai kecenderungan
yang lebih banyak untuk melakukan
konformitas dengan kelompoknya.
c. Remaja dalam waktu luang
Krisis originalitas remaja nampak paling
jelas pada waktu luang yang sering
disebut sebagai waktu pribadi orang
(remaja) itu sendiri. Brightbill (dalam
Monks dkk, 2004) menamakan waktu
luang yang sering disebut sebagai suatu
tantangan karena waktu tadi merupakan
waktu untuk berbagi dengan seseorang.
Pengisian waktu luang dengan baik
dengan cara sesuai dengan umur remaja
masih
merupakan
masalah
bagi
kebanyakan remaja sendiri mengenai
kesibukan-kesibukan yang baginya lebih
berarti
e. Pengelompokkan Sosial Remaja
Menurut
Hurlock
(1993)
pengelompokan sosial pada remaja
memiliki pengaruh yang kuat terhadap
remaja, karena remaja lebih banyak
berada di luar rumah bersama dengan
teman-teman sebaya sebagai kelompok.
Maka pengaruh teman-teman sebaya
pada sikap, pembicaraan, minat,
penampilan, dan perilaku lebih besar
daripada pengaruh keluarga. Misalnya,
sebagian besar remaja mengetahui
bahwa bila mereka memakai model
pakaian yang sama dengan anggota
kelompok
yang
populer,
maka
kesempatan bagi para remaja tersebut
untuk diterima oleh kelompok menjadi
lebih besar.
D. Dinamika Psikologis
Body
piercing
sebenarnya
sebenarnya sudah dikenal sejak 10 abad
silam hampir di seluruh belahan dunia.
Catatan sejarah menunjukan suku-suku
primitif melakukan tindik sebagai bagian
ritual adat dan petunjuk identitas derajat
sosial. Suku-suku yang melakukan ritual
body piercing ini, yaitu suku Asmat,
suku Dani, suku Dayak. Dari ritual yang
telah dilakukan suku-sukuprimitif inilah
yang akhirnya banyak ditiru oleh
komunitas piercing di dunia dan
sekarang yang sedang menjadi trend di
kalangan remaja (Indonesian Sub
Culture.com, 2006).
Remaja yang melakukan body
piercing sering dipandang negatif oleh
kebanyakan orang. Pandangan negatif
seperti, “dianggap membuat masalah”,
dianggap “nakal”, dan “menakutkan”,
karena dari penampilan mereka yang
dipenuhi oleh tindikan di bagian wajah
dan tubuh. Tetapi para remaja tersebut
juga mendapatkan efek yang positif
dengan melakukan body piercing, yaitu
mendapat pengakuan langsung dan
dukungan dari kelompoknya. Selain itu
para remaja yang melakukan body
piercing tersebut juga tidak menyadari
bahaya dan resiko yang ditimbulkan dari
body piercing, yaitu dapat menimbulkan
berbagai
penyakit,
karena
yang
terpenting bagi mereka adalah dengan
melakukan body piercing para remaja
tersebut diterima oleh kelompok.
Para remaja tersebut melakukan body
piercing, yaitu untuk menyesuaikan
penampilan dengan kelompok, dan
karena ikut-ikutan kelompok. Ikut-ikutan
kelompok seperti itu dinamakan dengan
perilaku
konformitas.
Konformitas
adalah satu jenis dari pengaruh sosial
dimana setiap individu mengubah sikap
atau perilakunya dalam perintah agar
melekat pada norma sosial yang ada
(Baron & Byane, 2000).
C. Metodologi Penelitian
a. Pendekatan kualitatif
Penelitian
ini
menggunakan
pendekatan kualitatif, karena masalahnya
sangat spesifik dan akan dilakukan
pendalaman terhadap masalah yang akan
saya bahas ini. Menurut Heru Basuki
(2006)
penelitian
kualitatif
adalah
penelitian
yang
bertujuan
untuk
mendapatkan pemahaman yang mendalam
tentang masalah-masalah manusia dan
social, bukan mendeskripsikan bagian
permukaan dari suatu realitas sebagaimana
dilakukan
penelitian
kuantitatif
sebagaimana
mestinya.
Pendekatan
kualitatif adalah suatu pendekatan yang
bersifat alamiah yang menghasilkan dan
mengolah data yang sifatnya seskriptif,
seperti transkrip, wawancara, catatan
lapangan, gambar, foto, rekaman video dan
lain sebagainya, (Poerwandari, 1998).
b. Subjek penelitian
Dalam penelitian ini ditentukan sejumlah
karakteristik bagi subjek penelitian anatara
lain, remaja yang melakuakn body piercing
adalah remaja pria dan remaja wanita yang
berusia 16 dan 18 tahun. Jumlah subjek
dalam penelitian ini adalah empat orang,
dua orang subjek dan dua orang significant
other
c. Tahap-tahap persiapan
1. Tahap Persiapan Penelitian. Peneliti
melakukan persiapan penelitian dengan
membaca
literatur-literatur
yang
berhubungan dengan topik
penelitian.
Kemudian peneliti menyusun pedoman
wawancara yang disusun berdasarkan
beberapa teori yang relevan dengan masalah.
Pedoman wawancara ini berisi pertanyaanpertanyaan mendasar yang nantinya akan
berkembang dalam wawancara.
Kemudian peneliti menyusun
pedoman
observasi
ditujukan
kepada yang lebih ahli dalam hal ini
adalah pembimbing penelitian.
Dengan tujuan untuk mencapai
masukan mengenai isi dari pedoman
wawancara dan pedoman observasi
tersebut.
Setelah
mendapat
masukan,
peneliti
membuat
perbaikan, peneliti juga menyiapkan
tape recorder untuk merekam
wawancara agar tidak ada yang
terlewatkan.
1. Tahap Pelaksanaan Penelitian.
Sebelum proses pengumpulan data
dilakukan peneliti mencari calon
subjek
yang
sesuai
dengan
karakteristik subjek penelitian.
Setelah
mendapatkan
subjek,
peneliti
membuat
kesepakatan
mengenai waktu dan tempat untuk
melakukan wawancara. Kemudian
peneliti melakukan wawancata pada
waktu yang telah disepakati.
2. Tahap Analisis. Setelah wawancara
selesai
dilaksanakan,
peneliti
memindahkan
hasil
rekaman
wawancara
kedalam
bentuk
verbatim tertulis. Kemudian peneliti
melakukan analisis data dan
interpretasi data sesuai dengan
metode
analisis.
Selanjutnya
peneliti membuat kesimpulan untuk
mengetahui
hasil
akhir
dan
mengajukan saran-saran untuk
penelitian selanjutnya.
d. Teknik Pengumpulan data
Teknik pengumpulan data yang
digunakan dalam penelitian ini adalah
menggunakan
metode
observasi
dan
wawancara. Dalam penelitian ini, peneliti
menggunakan metode observasi sistematik
dan observasi non partisipan, dimana peneliti
telah membuat kerangka tentang faktorfaktor yang sesuai dengan hal-hal yang akan
diobservasi dan juga peneliti berada diluar
subjek yang diamati dan tidak ikut dalam
kegiatan-kegiatan yang subjek lakukan.
teknik wawancara
terbuka dimana para
subjek tahu bahwa mereka sedang
diwawancarai dan mengetahui pula apa
maksud wawancara ini dilakukan. Serta
peneliti juga menggunakan petunjuk umum
wawancara yang mengharuskan ditanyakan
dalam proses wawancara.
e. Alat Bantu yang Digunakan dalam
Penelitian
Dalam penelitian ini, peneliti menggunakan
beberapa alat bantu dalam mengumpulkan
data, yaitu pedoman wawancara ini
dimaksudkan untuk mempermudah peneliti
dalam memberikan pertanyaan. Pedoman ini
memfokuskan pada wawancara berdasarkan
tujuan dan teori yang ada.
Kemudian
pedoman observasi disusun dan disesuaikan
dengan pelaksanaan wawancara serta
pelaksanaan observasi untuk mencatat
observasi penelitian dengan memperhatikan
cara menjawab dan gerakan tubuh. Serta alat
perekam untuk membantu peneliti agar tidak
ada data yang terlewatkan dan peneliti tidak
harus mencatat semua jawaban yang
diberikan subjek sehingga dapat lebih fokus
pada apa yang harus ditanyakan.
f. Keakuratan Penelitian
Menurut Moleong (2004) triangulasi
adalah teknik pemeriksaan keabsahan data
yang memanfaatkan sesuatu yang lain diluar
data itu untuk keperluan pengecekan atau
sebagai pembanding terhadap data itu.Teknik
yang paling banyak digunakan adalah
pemerksaan melaui sumber lainnya. Denzig
(dalam Moleong, 2004) membedakan empat
macam
triangulasi
sebagai
teknik
pemeriksaan
yang
memanfaatkan
penggunaan sumber, metode, penyidik, dan
teori.
g. Teknik Analisis Data
Data yang diperoleh akan di analisa
dengan menggunakan teknik analisa data
kualitatif. Analisis data terdiri dari tiga
alur kegiatan yang terjadi bersamaan,
yaitu melalui reduksi data, penyajian
data dan penarikan kesimpulan.
D. Hasil Penelitian Dan Pembahasan
1. Hasil wawancara dan observasi
a. Gambaran umum subjek
Subjek pertama adalah seorang remaja
pria berusia 18 tahun yang bertubuh
sedang, tidak terlalu tinggi, dan warna
kulit subjek adalah cokelat. Subjek
memakai kaos berwarna hitam, memakai
celana jeans dengan model pinsil
berwarna hitam. Dan subjek juga
memakai blezzer dan topi berwarna
kream. Subjek juga memakai sepatu
berwarna putih dan subjek dipiercing
pada bagian telinga dan pada bagian
bibir.
Subjek kedua adalah seorang remaja
wanita berusia 16 tahun yang bertubuh
sedang, dengan warna kulit yang putih,
dan
rambut subjek berwarna hitam
dengan panjanganya sepundak. Subjek
memakai kaos berwarna hitam, celana
jeans model pinsil berwarna hitam,
memakai sepatu berwarna putih. Selain
itu
subjek juga memakai kalung
berwarna warni dan gelang berwarna
hitam dan subjek dipiercing pada bagian
bibir dan pada bagian lidah.
b. Hasil wawancara
1. Kehidupan dalam keluarga
Kehidupan keluarga subjek pertama
cukup harmonis. Ia adalah anak ke dua
dari dua bersaudara dan mempunyai satu
orang kakak laki-laki. Hubungan dengan
keluarganya baik. Orangtua aubjek
berada di Bandung dan ia tinggal bersama
kakaknya di Jakarta. Subjek dengan
kakaknya sangat dekat, dimana ia suka
berbagi atau sharing. Subjek juga suka
minta saran dan masukan kepada
kakaknya
baik
dalam
masalah
penampilan maupun masalah pribadi.
Hubungan subjek kedua dengan keluarganya
cukup baik, ia tinggal bersama adik-adiknya,
ibu dan bapak tirinya. Hubungan dengan
adik-adiknya cukup baik, meskipun
terkadang suka bertengkar. Adik subjek
yang pertama juga melakukan body
piercing. Diantara kedua orangtuanya,
subjek paling dekat dengan ibu daripada
dengan bapaknya. Karena ia merasa bahwa
ibunya sangat baik dan perhatian
terhadapnya.
2. Kehidupan dalam kelompok
Hubungan subjek pertama dengan temanteman di kelompoknya baik dan sangat
dekat. Ia suka ikut kumpul-kumpul dan
“nongkrong” bersama teman-temannya. Dan
juga suka melakukan hobi bersama termasuk
melakukan body piercing.
Hubungan subjek kedua dengan
teman-teman di kelompoknya sangat dekat
dan cukup baik. Karena hampir setiap hari ia
bertemu dan menghabiskan waktu bersama
teman-temannya. Subjek sudah empat tahun
berteman dengan teman-temannya itu. Ia
juga suka melakukan hobi bersama temantemannya seperti kumpul-kumpul, pergipergi bersama, nyanyi-nyanyi bersama dan
termasuk melakukan body piercing.
3. Sikap subjek terhadap kelompok
Sikap subjek pertama terhadap teman-teman
di kelompoknya yaitu, baik, setia kawan,
saling membantu, dan mau membela teman
walaupun temannya itu sudah melakukan
suatu kesalahan. Karena menurutnya
walaupun temannya itu sudah melakukan
suatu kesalahan, tetapi mereka adalah tetap
teman. Jadi ia merasa harus tetap
membelanya. Subjek sangat mengutamakan
solidaritas dan bersikap saling membantu
teman-temannya bila sedang mengalami
kesulitan.
Sikap subjek kedua terhadap temantemannya, yaitu baik, setia kawan dan saling
membantu satu sama lain. Setiap ada
masalah di dalam kelompok selalu
diselesaikan secara bersama-sama. Subjek
juga selalu membantu bila teman-temannya
sedang memerlukan bantuan dan begitu juga
sebaliknya bila ia sedang memerlukan
bantuan teman-temannya, maka temantemannya tersebut akan membantunya juga.
4. Body Piercing
Subjek pertama sudah hampir dua tahun
melakukan body piercing. Subjek merasa
tidak sakit dan tidak takut dengan bahaya
dari body piercing tersebut. Karena setiap
hari ia selalu merawat telinganya, yaitu
dengan dibersihkan dan dikompres setiap ia
mau tidur. Walaupun subjek merasa sakit
saat melakukan body piercing, namun
dengan begitu ia merasa mendapatkan
kepuasan pribadi dengan melakukan body
piercing. Alasan subjek melakukan body
piercing adalah berawal dari coba-coba
melakukan piercing bersama temantemannya, ikut-ikutan teman, dan ingin
tampil beda dari penampilan yang
sebelumnya.
Subjek kedua sudah empat tahun melakukan
body piercing. Ia sudah pernah piercing di
telinga, di hidung. Dan sekarang subjek
piercing di lidah dan di bibir. Alasan subjek
melakukan body piercing adalah karena
ikut-ikutan teman-temannya, dimana temantemannya itu kebanyakan pada dipiercing.
Selain itu alasan subjek melakukan piercing
yaitu, bila ia merasa sedang stres maka ia
akan potong rambut, melakukan piercing
dan bahkan menyilet-nyilet tubuhnya.
5. Pengaruh kelompok
Subjek pertama merasa bahwa temantemannya tidak selalu memberikan dampak
yang negatif untuk dirinya, misalnya dalam
hal penampilan ia merasa dahulu
penampilannya biasa-biasa saja tidak seperti
sekarang dipiercing seperti ini. Selain itu
teman-temannya juga selalu membantu bila
ia sedang mempunyai masalah dan temantemannya juga selalu ada saat subjek senang
maupun sedih. Dan setiap hal yang subjek
kerjakan pasti akan mendapatkan dukungan.
Sehingga subjek akan merasa takut bila
sampai ditinggalkan oleh teman-temannya.
Menurut subjek kedua teman-teman
dikelompoknya itu tidak selalu memberikan
dampak yang negatif bagi dirinya. Subjek
merasa bahwa teman-temannya tersebut
memberikan pengaruh yang besar sekali.
Karena ia dan teman-temannya sudah seperti
keluarga. Selain itu ibunya juga dekat
dengan teman-temannya. Subjek bercerita
bahwa ia akan takut kalau sampai
kehilangan dan ditinggalkan oleh temantemannya. Karena ia merasa hubungan
dengan teman-temannya sudah sangat dekat
dan ia sering menghabiskan waktu bersama
teman-temannya.
B. Hasil dan Pembahasan
1. Analisis Intra Kasus
a.
Alasan subjek melakukan body
piercing
Subjek pertama melakukan body piercing
adalah karena mengikuti kelompok, yang
berawal dari coba-coba mengikuti kelompok
melakukan body piercing bersama temanteman subjek, dengan tujuan agar diterima
oleh kelompoknya Selain itu subjek juga
ingin tampil beda dari penampilan
sebelumnya, sehingga ia merasa lebih
percaya diri.
Pada subjek kedua alasan subjek melakukan
body piercing adalah karena coba-coba
mengikuti kelompok. Dimana kelompok
subjek hampir sebagian besar melakukan
body piercing. Dan juga karena subjek ingin
terlihat tampil beda. mendapatkan kepuasan
pribadi, yaitu merasa puas dan lega.
Walaupun subjek merasa sakit saat
dipiercing, dan juga ia merasa lebih percaya
diri. Alasan kedua subjek ini adalah sesuai
dengan alasan remaja melakukan body
piercing menurut (www.Kent-tatto.com,
2004).
b. Gambaran konformitas terhadap
kelompok pada remaja yang melakukan
body piercing
Gambaran konformitas pada kedua subjek
ini dapat dilihat berdasarkan beberapa aspek.
Pada aspek kekompakan, yaitu dengan
mengikuti penampilan kelompok, waktu dan
kegiatan bersama kelompok, sikap subjek
terhadap kelompok, melakukan hobi
bersama kelompok dan sikap subjek
terhadap
kelompok.
Pada
aspek
kesepakatan, yaitu dengan setuju pada
keputusan kelompok, cara pengambilan
keputusan didalam kelompok, perasaan
takut dikucilkan oleh kelompok. Pada aspek
ketaatan, yaitu perasaan takut hukuman dari
kelompok, perasaan takut kehilangan
kelompok, dan bersikap rela untuk
memenuhi permintaan kelompok. Gambaran
konformitas kedua subjek tersebut adalah
sesuai dengan teori aspek-aspek konformitas
menurut Sears dkk (1985).
c. Efek konformitas
Efek konformitas pada remaja terhadap
kelompok yang melakukan body piercing
dapat dilihat dari pengaruh kelompok
terhadap diri subjek, dimana pengaruh
kelompok dapat digolongkan menjadi
pengaruh positif dan pengaruh negatif.
Pengaruh positif pada subjek pertama, yaitu
dalam hal penampilan, subjek
merasa
bahwa dahulu penampilan subjek biasa saja
dan sekarang setelah melakukan body
piercing penampilan subjek menjadi
berubah. Subjek merasa selalu mendapat
dukungan dari kelompok pada setiap hal
yang subjek kerjakan terutama dalam hal
penampilan, yaitu dengan subjek melakukan
body piercing. Selain itu subjek juga merasa
nyaman bila sedang bersama dengan
kelompok, karena subjek merasa hubungan
subjek dengan kelompok sudah cukup dekat.
Sedangkan pengaruh negatifnya adalah
subjek mudah untuk dipengaruhi untuk ikut
melakukan kegiatan yang memberikan
dampak negatif, seperti minum-minuman
keras, merokok, dan melakukan kebutkebutan dijalan raya. Dan subjek akan
merasa
tidak
percaya
diri
bila
penampilannya
tidak
sama
dengan
kelompok.
Efek konformitas yang positif pada subjek
kedua, yaitu dalam berpenampilan dengan
melakukan body piercing, subjek merasa
bahwa penampilannya terlihat lebih
menarik. Subjek juga menyesuaikan
pakaiannya dengan kelompok, yaitu dengan
memakai baju berwarna hitam dan celana
model pinsil, dan memakai pernak-pernik
hitam
yang
sama
dengan
kelompoknya.selain itu subjek juga merasa
nyaman dan selalu mendapatkan dukungan
dari kelompok pada setiap hal yang ia
kerjakan. Dan efek yang negatif pada subjek
adalah mudah untuk dipengaruhi kelompok
untuk melakukan kegiatan yang negatif,
seperti melakukan body piercing dan
merokok. Dan subjek akan merasa tidak
percaya diri bila penampilannya tidak sama
dengan kelompok. Efek konformitas pada
kedua subjek ini adalah sesuai dengan teori
dari Rahkmat (1996), yaitu konformitas
dapat memiliki efek bagi individu yang
melakukan konformitas diantaranya, yaitu
adanya pengakuan langsung individu
terhadap pendapat atau pernyataan dari
kelompoknya, adanya perasaan positif
terhadap apa yang menjadi pendapat atau
yang
merupakan
pernyataan
dari
kelompoknya dan adanya dukungan dari
kelompok. Dan juga orang yang suka
melakukan konformitas, yaitu dapat menjadi
tidak percaya diri, mudah terpengaruh oleh
orang lain dan suka bersikap ikut-ikutan.
2. Analisis Antar Kasus
a.
Alasan subjek melakukan body
piercing
Antara subjek pertama dengan subjek kedua
mengenai alasan subjek dalam melakukan
body piercing. Bahwa antara subjek pertama
dengan subjek kedua terdapat kesamaan dan
perbedaan
mengenai
alasan
dalam
melakukan body piercing. Persamaanya,
yaitu alasan kedua subjek adalah karena
mengikuti kelompok masing-masing dan
ingin tampil beda dari penampilan
sebelumnya. Sedangkan perbedaan antara
kedua subjek, yaitu selain alasan subjek
kedua melakukan body piercing karena
mengikuti kelompok, dan ingin tampil beda.
Jika ia sedang merasa setres, maka ia
melakukan body piercing.
b. Gambaran konformitas pada remaja
yang melakukan body piercing
Antara subjek pertama dan subjek kedua
memiliki kesamaan mengenai gambaran
konformitas yang dilihat dari aspek
kekompakan dalam hal penampilan. Dimana
antara subjek pertama dan subjek kedua
sama-sama
menyesuaikan
penampilan
mereka dengan kelompok masing-masing.
subjek 1 memakai kaos berwarna hitam,
memakai celana model
pinsil, model
rambut yang dispike dan melakukan body
piercing. Sedangkan subjek kedua juga
menyesuaikan
penampilan
dengan
kelompoknya yaitu, dengan memakai kaos
berwarna hitam, memakai celana model
pinsil, menggunakan pernak-pernik hitam
dan melakukan body piercing. Dan kedua
subjek juga akan merasa tidak percaya diri
bila penampilan mereka tidak sama dengan
kelompok.
Antara kedua subjek memiliki kesamaan
mengenai sikap terhadap kelompok masingmasing. Kedua subjek bersikap baik, setia
kawan, saling membantu satu sama bila
sedang mengalami kesulitan. Namun
terdapat perbedaan juga mengenai sikap
membela teman bila teman tersebut telah
melakukan kesalahan. Subjek pertama akan
bersikap
membela
teman
walaupun
temannya itu sudah melakukan suatu
kesalahan dan ia sangat mengutamakan
solidaritas. Sedangkan sikap subjek kedua
adalah biasa saja, dimana ia tidak
membelanya, ia hanya memberi tahu kepada
temannya itu mengenai kesalahan yang telah
dilakukan dan menasehatinya. Dan juga
terdapat kesamaan mengenai perhatian yang
diberikan oleh kelompok masing-masing
dan perhatian yang diberikan oleh subjek
terhadap kelompok masing-masing. Kedua
subjek adalah termasuk orang yang mau
untuk bersikap rela memenuhi permintaan
kelompok dan membantu kelompoknya
walaupun tidak mendapatkan imbalan.
Kedua subjek juga mau bersikap rela
memenuhi permintaan kelompok.
c. Efek konformitas
Efek konformitas yang dilihat dari pengaruh
yang positif dalam hal penampilan, antara
kedua subjek adalah sama. Kedua subjek
merasa bahwa kelompoknya sama-sama
dapat memberikan pengaruh yang baik
dalam hal penampilan. Selain itu kedua
subjek juga merasa bahwa setelah
melakukan body piercing, penampilan
mereka terlihat lebih keren dan lebih
menarik dari penampilan yang sebelumnya.
Sedangkan efek yang negatif Kedua subjek
mengikuti kelompok dengan melakukan
body piercing, maka mereka juga akan
mengikuti kelompoknya bila kelompok
mereka akan melakukan kegiatan atau halhal yang dapat memberikan dampak negatif.
E. Penutup
a. Kesimpulan
Terdapat kesamaan mengenai alasan pada
kedua subjek dalam melakukan body
piercing. Keduanya melakukan body
piercing karena mengikuti kelompok
masing-masing. Selain itu kedua subjek
juga ingin tampil beda dari penampilan
sebelumnya. Gambaran konformitas
pada pada kedua subjek dapat dilihat
dari
aspek
kekompakkan,
aspek
kesepakatan, dan aspek ketaatan.
Terdapat kesamaan mengenai aspek
kekompakkan dalam hal berpenampilan,
waktu dan kegiatan yang dilakukan
bersama kelompok, sikap subjek
terhadap kelompok, melakukan hobi
bersama kelompok serta perhatian
subjek
terhadap kelompok masingmasing. Namun juga terdapat perbedaan
antara kedua subjek mengenai waktu dan
kegiatan yang dilakukan bersama
kelomok. Pada subjek pertama, ia
menghabiskan waktu dalam satu minggu
sekitar tiga sampai empat kali, dari siang
hari sampai malam hari. Sedangkan pada
subjek kedua, ia hampir setiap hari
menghabiskan waktu bersama-sama
kelompok dengan bertemu dari siang
hari sampai malam hari. Kegiatan yang
dilakukan oleh kedua subjek bersama
kelompok
yaitu,
“nongkrongnongkrong”, bercanda, jalan-jalan dan
melakukan body piercing. Antara kedua
subjek terdapat kesamaan mengenai
gambaran konformitas pada remaja
terhadap kelompok yang melakukan
body piercing yang dilihat dari aspek
kesepakatan, yaitu kedua subjek samasama selalu setuju pada setiap keputusan
dikelompok masing-masing. Mereka
jarang mempunyai pendapat yang
berbeda dengan kelompok. Selain itu
kedua subjek juga memiliki cara
pengambilan keputusan pada kelompok
yang sama yaitu, berdasarkan pada suara
terbanyak setelah itu baru diambil
sebuah keputusan. kelompok. Dan
mereka akan merasa sedih bila sampai
dikucilkan oleh kelompok hanya karena
berbeda pendapat dengan kelompok.
Terdapat kesamaan antara kedua subjek
yang dilihat dari aspek
kesepakatan, seperti perasaan takut
terhadap hukuman dan perasaan takut
akan kehilangan, dan bersikap rela untuk
memenuhi permintaan kelompok.
Efek konformitas yang positif pada
kedua subjek, yaitu dalam hal
penampilan, kedua subjek merasa bahwa
setelah melakukan body
piercing
penampilan kedua subjek terlihat lebih
keren dan lebih menarik. Kedua subjek
juga merasa selalu mendapat dukungan
dari kelompok masing-masing dan
merasa nyaman saat bersama kelompok
masing-masing.Sedangkan
efek
konformitas yang negatif pada kedua
subjek, yaitu mereka selalu mengikuti
kelompok
masing-masing,
bila
kelompok melakukan kegiatan yang
dapat memberikan dampak yang
negative karena kedua subjek adalah
mudah
untuk
dipengaruhi
oleh
kelompok.
b. Saran
1. Untuk subjek
Hasil penelitian menunjukan bahwa
body
piercing
berkaitan
dengan
konformitas. Disamping dapat membawa
efek yang positif, seperti dalam hal
berpenampilan, memberikan kenyamanan
dan
mendapatkan
dukungan
dari
kelompok. Selain itu konformitas juga
dapat memberikan efek yang negatif,
seperti mengikuti kelompok melakukan
hal-hal atau kegiatan yang dapat
memberikan dampak negatif, seperti
merokok,
minum-minuman
keras,
melakukan kebut-kebutan di jalan raya dan
melakukan “dugem”. Maka dengan
demikian disarankan untuk subjek dapat
bersikap lebih tegas lagi, asertif dan tidak
mengikuti kelompok melakukan hal-hal
yang dapat memberikan dampak negatif.
2. Untuk keluarga
Dari penelitian yang telah dilakukan
tampak bahwa body piercing berkaitan
dengan konformitas. Oleh karena itu
diperlukannya perhatian yang lebih lagi
kepada subjek. Selain itu diharapkan
keluarga dapat memberikan masukanmasukan dan kegiatan-kegiatan positif
agar subjek dapat melakukan hal-hal yang
lebih bermanfaat lagi untuk dirinya
sendiri.
DAFTAR PUSTAKA
Basuki Heru, A.M. 2006. Penelitian
Kualitatif
untuk
Ilmu-Iilmu
Kemanusiaan Dan Budaya. Jakarta
: Universitas Gunadarma.
Baron & Byane. 2004. Psikologi Sosial
Edisi ke 10 jilid 2. The University
At Albany/State
University of
Nem York. Erlangga.
Chaplin, J.P. 2005. Kamus Lengkap
Psikologi. Jakarta : PT Raja
Grafindo Persada.
Dariyo, A. 2004. Psikologi Perkembangan
Remaja. Bogor : Ghalia Indonesia
Echol, J & H, Shadily.1976. Kamus
Inggris Indonesia. Jakarta : PT
Gramedia Pustaka Utama.
Fatimah,E. 2006. Psikologi Perkembangan
(Perkembangan Peserta Didik).
Pustaka Seta : Bandung.
Hurlock,
E.B.
1993.
Psikologi
Perkembangan : Suatu Rentang
Kehidupan.
Terjemahan
:
Istiwidiyanti. Jakarta : Erlangga.
Innata, C. 2005. Handout Psikologi
Kelompok. Fakultas Psikologi.
Universitas Gunadarma : Depok.
Maunati, Y. 2004. Identitas Dayak
Komodifikasi
dan
Politik
Kebudayaan. Yogyakarta : LKIS.
Milles, B & Huberman. 1992. Qualitative
Data Analysis : A Soursebook of
New Mthods. Beverly Hills : Sage
Publications.
Moleong, L. 2004. Metodelogi Penelitian
Kualitatif. Bandung : PT Remaja
Rosdarkaya.
Monks,
dkk.
2004.
Psikologi
Perkembangan Pengantar Dalam
Berbagai Bagiannya. Yogyakarta :
Gajah Mada University Pers.
Muhktar, dkk. 2003. Konsep Diri Remaja
Menuju Pribadi Mandiri. Jakarta :
PT Raksasa Semesta.
Myers, D.G. 1996. Social Psychology
Fifth Edition & International
Edition. New York. The Mc Grow
Hill Company
Narbuko, C & Ahmadi. 2004. Metodelogi
Penelitian. Jakarta : PT Bumi
Aksara
Poerwandari, E.K. 1998. Pendekatan
Kualitatif
Dalam
Penelitian
Psikologi. Jakarata : LPSP3.
Fakultas Psikologi : Universitas
Indonesia.
Prabowo, H. 1998. Pengantar Psikologi
Lingkungan. Depok : Universitas
Gunadarma.
Rahkmat, J. 1996. Psikologi Komunikasi.
Bandung : Remaja Rosdakarya.
Sarwono, W.S. 2002. Psikologi Sosial :
Psikologi Kelompok & Psikologi
Terapan.
Jakarta : Balai Pustaka
Sears, dkk. 1985. Social Psychology Jilid
2 Jakarta : Erlangga
Soeratno, S. 1987. Metodelogi Penelitian
Petunjuk Praktis Untuk Peneliti
Pemula. Yogyakarta : Universitas
Gajahmada.
Anonim. 2001. Longman Dictionary of
Contemporary English. Spanyol :
Crayfosa.
Anonim. 2006. Pengaruh Budaya Tindik
(Piercing) Terhadap Kehidupan
Masyarakat.
Indonesian Sub Culture.com
Anonim.2006.TindikTubuhAntaraNyerida
nSeni.http://www.liputan6.com/view/48
493.html.
Anonim.
2006.
Anak
Muda.http://www.kenttatto.com/ina/liat_profil.php?nomor=45
Download