bab ii kajian teori dan kerangka pemikiran

advertisement
BAB II
KAJIAN TEORI DAN KERANGKA PEMIKIRAN
A. Kajian Teori
1. Kedudukan Pembelajaran Mengidentifikasi Informasi Legenda dalam
Mata Pelajaran Bahasa Indonesia SMP Kelas VII Berdasarkan
Kurikulum 2013
Kurikulum merupakan landasan atau acuan bagi setiap proses
pembelajaran di sekolah. Karena adanya Kurikulum 2013, proses pembelajaran
dapat terencana dengan baik, sehingga tujuan pembelajaran dapat dicapai dengan
efektif dan efisien. Pembelajaran mengidentifikasi informasi legenda merupakan
bagian dari Kurikulum yang harus dilaksanakan.
Tim Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (2016, hlm. 1) menjelaskan “Pembelajaran bahasa Indonesia dikembangkan berdasarkan pendekatan
komunikatif, pendekatan berbasis teks, pendekatan CLIL (content language
integrated learning), pendekatan pendidikan karakter, dan pendekatan literasi.”
Kurikulum 2013 mata pelajaran bahasa Indonesia menggunakan pendekatan berbasis teks. Dengan ditetapkannya mata pelajaran bahasa Indonesia yang
berbasis teks, diharapkan peserta didik mampu memiliki sikap sosial dan spiritual,
memiliki pengetahuan yang memadai tentang genre teks bahasa Indonesia sesuai
dengan jenjang pendidikan yang ditempuhnya, serta dapat menghasilkan dan
menggunakan teks sesuai dengan tujuan dan fungsinya. Kurikulum 2013 lebih
menajamkan efek komunikasinya dan dampak fungsi sosialnya. Bahasa dan isi
menjadi dua hal yang saling menunjang. Content Language Integrated Learning
menonjolkan empat unsur penting sebagai penajaman pengertian kompetensi
berbahasa, yaitu isi (content), bahasa/komunikasi (communication), kognisi
(cognition), dan budaya (culture).
Sanjaya (2013, hlm. 219) mengatakan “Belajar adalah proses berpikir.
Belajar berpikir menekankan kepada proses
mencari dan menemukan
pengetahuan melalui interaksi antara individu dan lingkungan.” Peserta didik
melakukan kegiatan
belajar
yang
telah
terkonsep
dari
Kurikulum.
Pengetahuan tersebut diperoleh dari interaksi selama kegiatan pembelajaran.
10
11
Salah satu pembelajaran dalam Kurikulum 2013 adalah mengidentifikasi
informasi legenda. Peserta didik dengan belajar, guru dapat mengetahu proses
berpikir peserta didik cepat atau tidak dalam mencari dan mengatasi permasalah
yang dihadapi dalam pembelajaran.
Resnick dalam Reksoatmodjo (2010, hlm. 6) mengatakan “Kurikulum
adalah sarana invensi pendidikan yang terencana, dirancang scara eksplisit untuk
menigkatkan penguasaan ilmu pengetahuan dan kompetensi dari mereka yang
terlibat, berdasarkan tujuan, materi, metode dan prosedur evaluasi yang sesuai untuk menentukan hasil pendidikan.”
Kurikulum dapat meningkatkan penguasaan ilmu pengetahuan. Tentu
untuk mengingkatkan ilmu tersebut harus melibatkan komponen penting seperti
tujuan pembelajaran, materi dan metode. Tujuan pembelajaran haruslah berdapak
baik untuk peserta didik dengan begitu dapat mengembangkan potensi dan bakat
perserta didik.
Materi pembelajaran dirancang sesuai jenjang dan kebutuhan
peserta didik. Kurikulumlah yang mengatur materi pembelajaran mulai jenjang
bawah sampai atas. Metode pembelajaran juga sangat diperlukan untuk membantu
merealisasikan Kurikulum.
Hamalik (2007, hlm. 3) juga mengatakan, “Setiap orang kelompok
masyarakat, atau bahkan ahli pendidikan dapat mempunyai penafsiran yang
berbeda tentang pengertian Kurikulum.”
Berdasarkan studi yang telah dilakukan oleh ahli, dapat disimpulkan bahwa pengertian Kurikulum dapat ditinjau dari dua sisi yang berbeda, yakni menurut
pandangan lama dan pandangan baru. Pandangan lama, atau sering disebut
pandangan tradisional, merumuskan bahwa Kurikulum adalah sejumlah mata
pelajaran yang harus ditempuh peserta didik untuk memperoleh ijazah.
Berdasarkan kurikulum 2013, peserta didik SMP kelas VII diwajibkan
mempelajari mengidentifikasi informasi legenda yang dibaca atau didengar,
legenda yang dipilih salah satunya yaitu legenda Tangkuban Perahu.
Di dalam Kurikulum 2013 terdapat kompetensi inti dan kompetensi dasar
yang merupakan jenjang yang harus dilalui peserta didik untuk sampai pada
kompetensi lulusan jenjang satuan pendidikan. Setiap kompetensi inti terdapat
berbagai macam kompetensi dasar yang telah dirumuskan oleh pemerintah, dan
12
untuk itu guru pada setiap mata pelajaran menggunakan kompetensi dasar untuk
mengembangkan pengetahuan pada peserta didik, sekaligus menjadi acuan dalam
setiap pembelajaran yang dilaksanakan.
Kompetensi dasar yang ditetapkan oleh penulis berdasarkan Kurikulum
2013 adalah kompetensi dasar pada mata pelajaran bahasa Indonesia untuk
peserta didik
SMP kelas VII semester 2, yaitu kompetensi dasar 3.11
Mengidentifikasi informasi tentang fabel/legenda daerah setempat yang dibaca
dan didengar. Selain menetapkan kompetensi inti dan kompetensi dasar dalam
penelitian ini, penulis juga menetapkan alokasi waktu.
a. Kompetensi Inti
Kompetensi inti merupakan kemampuan yang harus dimiliki peserta didik
pada setiap jenjang pendidikan tertentu yang mencakup berbagai kemampuan
seperti keagamaan, sikap sosial, pengetahuan, dan penerapan pengetahuan.
Sedangkan kompetensi dasar merupakan kemampuan yang harus dikuasai oleh
peserta didik pada setiap mata pelajaran di kelas tertentu dan dapat dijadikan
acuan oleh guru untuk membuat indikator pencapaian kompetensi untuk penilaian.
Mulyasa (2013, hlm. 174) menyatakan kompetensi inti sebagai berikut:
Kompetensi inti merupakan pengikat kompetensi-kompetensi yang harus
dihasilkan melaui pembelajaran dalam setiap mata pelajaran, sehingga
berperan sebagai integrator anatara mata pembelajaran. Kompetensi inti
merupakan gambaran mengenai kompetensi utama yang dikelompokan
ke dalam aspek sikap, pengetahuan dan keterampilan (afektif, kognitif,
dan pskomotor) yang harus dipelajari peserta didik untuk jenjang sekolah,
kelas dan mata pelajaran.
Kompetensi ini merupakan patokan yang digunakan dalam pembelajaran.
Seperti petunjuk untuk dilaksanakan dengan adanya kompetensi peserta didik
dapat terarah. Dan kompetensi ini memiliki beberapa aspek yang harus dilaksanakan. Tujuan Kurikulum mencangkup empat kompetensi, yaitu (1) kompetensi
sikap spriritual, (2) sikap sosial, (3) pengetahuan, dan (4) keterampilan.
Kompetensi tersebut dicapai melalui proses pembelajaran intrakurikuler, kokurikuler dan/atau ekstrakurikuler.
Rumusan
Kompetensi
Sikap
Spriritual,
yaitu
“menghargai
dan
menghayati ajaran agama yang dianutnya.” Adapun rumusan Kompetensi Sikap
13
Sosial, yaitu “menunjukkan perilaku jujur, disiplin, tanggung jawab, peduli
(tolerensi, gotong royong), santun, dan percaya diri dalam berinteraksi secara
efektif dengan lingkungan sosial dalam jangkauan pergaulan dan keberdayaan.”
Kedua kompetensi tersebut dicapai melalui pembelajaran tidak langsung (indirect
teaching), yaitu keteladanan, pembiasaan, dan budaya sekolah dengan memperhatikan karakteristik mata pelajaran serta kebutuhan dan kondisi peserta didik.
Penumbuhan dan pengembangan kompetensi sikap dilakukan sepanjang
proses pembelajaran berlangsung dan dapat digunakan sebagai pertimbangan guru
dalam mengembangkan karakter peserta didik lebih lanjut. Kompetensi
keterampilan dirumuskan sebagai berikut: mencoba, mengolah, dan menyaji
dalam ranah konkret (menggunakan, mengurai, merangkai, memodifikasi, dan
membuat) dan ranah abstrak (menulis, membaca, menghitung, menggambar, dan
mengarang) sesuai dengan yang dipelajari di sekolah dan sumber lain yang sama
dalam sudut pandang/teori.
Majid (2014, hlm. 50) mengatakan tentang kompetensi inti sebagai
berikut:
Kompetensi inti merupakan terjemahan atau operasionalisasi SKL dalam
bentuk kualitas yang harus dimiliki mereka yang telah menyelesaikan
pendidikan pada satuan pendidikan tertentu atau jenjang pendidikan
tertentu gambaran mengenai kompetensi utama yang dikelompokkan ke
dalam aspek sikap, pengetahuan dan keterampilan yang harus dipelajari
setiap peserta didik.
Kompetensi inti merupakan kemampuan untuk mencapai Standar
Kompetensi Lulusan yang harus dimiliki oleh peserta didik pada setiap tingkat,
kelas atau program. Kompetensi inti dikelompokksn ke dalam empat aspek
pertama sikap, kedua pengetahuan, dan keempat keterampilan.
Berdasarkan pendapat di atas dapat disimpulkan bahwa kompetensi inti
merupakan kemampuan yang harus olah oleh perserta didik. Peserta didik dipandu
untuk memperoleh sikap menghargai, menunjukkan perilaku jujur, disiplin,
tanggung jawab, dan peduli tolerensi, gotong royong), santun, dan percaya diri
dalam berinteraksi secara efektif dengan lingkungan sosial dalam jangkauan pergaulan. Peserta didik dapat memperoleh pengetahuan dan mengembangkan
keterampilan dalam berbahasa. Kompetensi inti memiliki beberapa kompetensi
dasar yang berisi materi serta pencapaian yang harus dilakukan oleh peserta didik.
14
b. Kompetensi Dasar
Kompetensi dasar merupakan perincian atau penjabaran lebih lanjut dari
standar kompetensi. Kompetensi dasar adalah pengetahuan, keterampialan, dan
sikap yang harus dikuasai oleh peserta didik dalam berkomunikasi lisan
(mendengarkan dan berbicara) dan tulisan (membaca dan menulis) sesuai dengan
kaidah bahasa Indonesia, serta mengapresiasi karya sastra. Kompetensi ini harus
dimiliki dan dikembangkan seiringan dangan perkembangan peserta didik agar
dapat fasih dalam berkomunikasi dan memecahkan masalah.
Sehubungan dengan hal tersebut, Mulyasa (20011, hlm. 109) mengatakan:
Kompetensi dasar merupakan arah dan landasan untuk mengembangkan
materi pokok, kegiatan pembelajaran, dan indikator pencapaian
kompetensi untuk penilaian. Dalam kaitannya dengan kurikulum,
Depdiknas telah menyiapkan Standar Kompetensi dan Kompetensi Dasar
berbagai mata pelajaran, untuk dijadikan acuan oleh pelaksana (guru)
dalam mengembangkan kurikulum pada satuan pendidikan masingmasing.
Berdasarkan uraian di atas, dapat disimpulkan bahwa Kompetensi Dasar
adalah kamampuan yang harus dimiliki oleh peserta didik dalam suatu mata
pelajaran tertentu dan dapat dijadikan acuan oleh guru dalam pembuatan
indikator, pengembangan materi pokok, dan kegiatan pembelajaran.
Majid (2014, hlm. 42) mengatakan “Kopetensi Dasar merupakan
kemampuan, keterampilan, dan sikap yang harus dikuasai oleh peserta didik
sebagai bukti bahwa peserta didik telah menguasai komperensi inti dalam setiap
pembelajaran.” Kompetensi dasar adalah bentuk dari kompetensi inti yang
memiliki bagian-bagian. Bagian tersebut meliputi aspek pengetahuan dan
keterampilan. Kompetensi inti merupakan tuntunan yang lebih spesifik dalam
pembelajaran. Pembelajaran menjadi terarah dengan adanya kompetensi dasar.
Nurgiantoro (2010, hlm. 42) menyatakan “Kompetensi Dasar adalah
kemampuan minimal yang harus dikuasai peserta didik.” Kompetensi dasar dapat
menuntun peserta didik memperoleh keahlian atau bakat yang terpendam
khususnya dalam bidang ketetampilan berbahasa, dengan tuntutan kompetensi
peserta didik dapat mengetahui minat yang diperoleh dari kegiatan pembelajaran.
Berdasarkan hal tersebut, kompetensi Dasar menjadi landasan penulis
dalam memilih judul penelitian. Berikut ini mengidentifikasi informasi legenda
15
Tangkuban Perahu merupakan suatu kegiatan pembelajaran yang terdapat dalam
Kompetensi Dasar. 3.11 Mengidentifikasi informasi tentang fabel/legenda daerah
setempat yang dibaca dan didengar.
c. Alokasi Waktu
Pelaksanaan suatu kegiatan senantiasa memerlukan alokasi waktu
tertentu. Alokasi waktu digunakan untuk memperkirakan berapa lama peserta
didik untuk melaksanakan pembelajaran dan mempelajari materi yang telah
ditentukan. Guru harus bisa mengatur waktu dalam pembelajaran agar materi
dapat disampaikan.
Mulyasa (2009, hlm. 86) menjelaskan bahwa waktu pembelajaran efektif
adalah jumlah jam pembelajaran setiap minggu, meliputi jumlah jam
pembelajaran untuk seluruh mata pelajaran termasuk muatan lokal, ditambah
jumlah jam untuk kegiatan pengembangan diri. Waktu yang perlu digunakan
selama pembelajaran tidaklah cukup, dengan mengetahui semua alokasi waktu pembelajaran akan lancar.
Berdasarkan dari uraian di atas, alokasi waktu adalah perkiraan waktu
yang dibutuhkan oleh guru dalam mengajarkan materi yang telah ditentukan
berdasarkan tingkat kesukaran materi, jumlah Kompetensi Dasar dam tingkat
kepentingan Kompetensi Dasar. Dimulai dari proses memahami materi hingga
mengerjakan soal. Guru saat melaksanakan pembelajaran harus memerhatikan
waktu yang dibutuhkan siswa, oleh karena itu alokasi waktu perlu diperhatikan
dalam proses pembelajaran agar proses pembelajaran berlangsung secara efektif.
Majid (2012, hlm. 58) mengatakan “Waktu di sini adalah perkiraan
berapa lama siswa mempelajari materi yang telah ditemukan, bukan lamanya
siswa mengerjakan tugas di lapangan atau dalam kehidupan sehari-hari.” Alokasi
waktu merupaka pengatur selama proses pembelajaran. Dengan menetapkan
alokasi waktu untuk kegiatana pembelajaran guru dapat membagi materi yang
harus dijelaskan.
Senada dengan pemaparan tersebut, Daryanto dan Dwicahyono (2014,
hlm. 19) mengatakan “Alokasi waktu adalah jumlah waktu yang dibutuhkan untuk
ketercapaian suatu kompetensi dasar tertentu, dengan memerhatikan: minggu
16
efektif, alokasi waktu mata pelajaran dan jumlah kompetensi persemester.”
Alokasi waktu tidak hanya tentang waktu pembelajaran peserta didik dalam satu
hari, tapi alokasi waktu juga mengatur pembelajaran selama semester. Dalam semester guru harus mengajar berapa kali pertemuan dan berapa menit disetiap
pertemuan.
Maka dapat disimpulkan alokasi waktu ditentukan sesuai dengan
keperluan untuk pencapaian kompetensi dasar dan beban materi. Adapun alokasi
waktu yang diperlukan dalam pembelajaran mengidentifikasi informasi legenda
yaitu 4x40 menit. Hal ini dikarenakan pada pertemuan pertama akan digunakan
untuk menguji rancangan dan pelaksanaan pembelajaran mengidentifikasi
informasi legenda Tangkuban Perahu dengan menggunakan model artikulasi,
serta melakukan tes awal. Kemudian pada pertemuan kedua akan digunakan untuk
melakukan tes akhir. Alokasi waktu perlu direncanakan sebaik mungkin agar
dalam pelakasanaannya tidak terganggu dengan permasalahan yang tidak
diinginkan. Penyesuaian waktu juga perlu diperhitungkan dengan kegiatan
pembelajaran.
2. Membaca
a. Hakikat Membaca
Membaca merupakan salah satu keterampilan berbahasa. Keterampilan
yang ini bisa diasah dan dikembangkan sesaui arahan. Ketika dilahirkan indra
yang berfungsi pertama kali adalah pendengaran, lalu alat ucap. Alat ucap inilah
yang berfungsi untuk membaca. Dimulai dengan tingkat membaca yang tahap
rendah hingga membaca yang tingkat tinggi. Pembelajaran mengidentifikasi
termasuk kegiatan membaca. Lalu apakah pengertian sebenarnya membaca?
berikut ini akan dipaparkan pengertian membaca menurut beberapa ahli.
Aminuddin (2013, hlm. 17) menjelaskan pengertian membaca ke dalam
beberapa bagian yaitu sebagai berikut:
Masih banyak sebenarnya rumusan yang berkaitan dengan hakikat
membaca, misalnya membaca adalah kegiatan bertujuan, membaca
adalah kunci perolehan informasi atau pengetahuan, membaca adalah
kreativitas karena dalam membaca seseorang bukan hanya melakukan
analisis, tetapi juga sintesis; bukan hanya berusaha memahami apa yang
tersurat, tetapi juga yang tersirat, dan lainnya.
17
Membaca memang bisa kita lihat dari beberapa segi sesuai dengan sudut
pandang yang kita ambil. Membaca bisa dilihat dari tujuan, proses atau hasil yang
diperoleh. Ketika kita membaca untuk mendapatkan informasi, untuk menikmati
dan mengapresiasi membaca merupakan suatu kegiatan menyerap tulisan ke
dalam pikiran yang dilakukan dengan sengaja. Ini merupakan pengertian
berdasarkan tujuan. Pembaca secara sengaja melakukan membaca dengan begitu
dapat sesuai dengan kebutuhan dan tentunya ada langkah-langkah khusus yang
dilakukan pembaca sesuai kebutuhannya.
Tampubolon (2008, hlm. 5) mengatakan membaca sebagai berikut:
Membaca adalah satu dari empat keterampilan bahasa pokok, dan
merupakan satu bagian atau komponen kemampuan bahasa pokok, dan
merupakan satu bagian atau komponen dari komunikasi tulisan. Dalam
komunikasi tulisan, sebagaimana telah dikatakan, lambang-lambang
bunyi bahasa diubah menjadi lambang-lambang tulisan atau huruf-huruf
menurut alphabet Latin.
Tampubolon berpendapat bahwa membaca merupakan komponen dari
komunikasi tulisan. Bacaan yaitu berasal dari bentuk lambang bunyi yang diubah
menjadi lambang-lambang tulisan. Lambang tulisan inilah yang menjadi pusat
perhatian sebagai pusat informasi.
Sedangkan Hodgson dalam Tarigan (2008, hlm. 7) mengemukakan
pengertian membaca sebagai berikut:
Membaca adalah suatu proses yang dilakukan serta dipergunakan oleh
pembaca untuk memeperoleh pesan, yang hendak disampaikan oleh
penulis melalui media kata-kata/bahasa tulisan. Suatu proses yang
menuntut agar kelompok kata yang merupakan suatu kesatuan akan
terlihat dalam suatu pandangan sekilas dan makna kata-kata secara
individual akan dapat diketahui. Kalau hal ini tidak terpenuhi, pesan yang
tersurat dan yang tersirat tidak akan tertangkap datau dipahami, dan
proses membaca itu tidak terlaksana dengan baik.
Berdasarkan beberapa pendapat ahli di atas jadi dapat disimpulkan bahwa
membaca memiliki pengertian sebagai suatu proses penafsiran dan pemberian
makna terhadap lambang-lambang oleh seseorang (pembaca) dalam usaha
memperoleh pesan yang disampaikan penulis melalui kata-kata yang berupa
tulisan. Mengingat membaca bersangkut paut dengan proses penyandian dengan
makna tertentu, maka syarat utama yang harus dikuasai oleh pelaku pembaca
adalah ia harus memiliki kemampuan dan pemahaman tentang bahasa dan kata-
18
kata yang memaknainya. Membaca adalah suatu kegiatan yang bersifat satu arah
artinya hanya pembaca yang menyerap informasi yang didapatkan dari tulisan
yang ia baca.
b. Aspek-Aspek Membaca
Membaca merupakan suatu keterampilan yang kompleks yang melibatkan
serangkaian keterampilan yang lebih kecil lainnya. Membaca adalah kegiatan
menganalisis, dan menginterpretasi yang dilakukan oleh pembaca untuk
memperoleh pesan yang hendak disampaikan oleh penulis dalam media tulisan.
Kegiatan membaca meliputi membaca nyaring dan membaca dalam hati.
Berikut ini akan dijelaskan aspek-aspek membaca menurut Broughton
dalam Tarigan (2008, hlm. 12) secara garis besar terdapat 2 aspek dalam
membaca, yaitu:
1) keterampilan yang bersifat mekanis (mechanical skills) yang dapat
dianggap berada urutan lebih rendah, aspek ini mencangkup:
a) pengenalan bentuk huruf;
b) pengenalan unsur-unsur linguistik (fenom/grafem, frase, pola klausa,
kalimat, dan lain-lain); dan
c) pengenalan hubungan/korespondensi pola ejaan dan bunyi; dan
d) kecepatan membaca ke taraf lambat.
2) keterampilan yang besifat pemahaman (comprehension skills) yang
dapat dianggap berada pada urutan yang lebih tinggi (higher order).
Aspek ini mencakup:
a) memahami pengertian sederhana (leksikal, gramatikal, retorikal);
b) memahami signifikansi atau makna (a.l. maksud dan tujuan
pengarang, relevansi/keadaan kebudayaan, dan reaksi pembacaan.
c) evaluasi atau penilaian (isi, bentuk); dan
d) kecepatan membaca yang fleksibel, yang mudah disesuaikan dengan
keadaan.
Aspek keterampilan membaca terdapat dua bagian yaitu peratama aspek
yang bersifat mekanis. Aspek mekanis merupakan kemampuan membaca yang
paling rendah karena peserta didik belajar mengenal huruf, dan unsur-unsur
lingusitik. Sedangkan aspek keterampilan membaca yang kedua yaitu yang
bersifat pemahaman. Disebut pemahaman karena aspek ini sudah melewati aspek
keteranpilan yang besifat mekanis. Contohnya peserta didik mampu memahami
tulisan sederhana dan mampu menyesuaikan kecepatan membaca.
Tarigan (2008, hlm. 12) menambahkan untuk mencapai tujuan yang
19
terkandung dalam keterampilan mekanis tersebut, aktivitas yang paling sesuai
adalah membaca nyaring dan membaca bersuara. Untuk keterampilan
pemahaman, yang paling tepat adalah dengan membaca dalam hati, yang dapat
pula dibagi atas:
(1) membaca ekstensif;
(2) membaca intensif.
Selanjutnya, membaca ekstensif ini mencakup pula:
(a) membaca survei;
(b) membaca sekilas; dan
(c) membaca dangkal.
Sedangkan, membaca intensif dapat pula dibagi atas:
(1) membaca telaah isi, yang mencakup pula:
(a) membaca teliti;
(b) membaca pemahaman;
(c) membaca kritis; dan
(d) membaca ide.
(2) membaca telaah bahasa, yang mencakup pula:
(a) membaca bahasa asing;
(b) membaca sastra.
Aktivitas yang tepat untuk membaca mekanis yaitu dengan membaca
nyaring sedangkan membaca pemahaman dengan aktivitas membaca dalam hati.
Membaca dalam hati dibagi menjadi dua yaitu membaca ekstensif dan intensif.
Membaca ekstensif merupakan kegiatan membaca yang memahami isi yang
penting-penting dengan cepat. Sedangkan membaca intensif yaitu membaca
dengan teliti untuk mendapatkan informasi secara terperinci. Membaca intensif
dibagi lagi menjadi dua yaitu membaca isi dan membaca bahasa. Membaca isi
merupakan kegiatan membaca buku non fiksi sedang membaca bahasa merupakan
membaca buku fiksi.
Berdasarkan pemaparan di atas maka dalam pembelajaran mengidentifikasi informasi legenda Tangkuban Perahu termasuk aspek keterampilan yang
besifat pemahaman karena tingatan yang tanya lebih tinggi, untuk ukutan tingkat
SMP bukan lagi pengenalan huruf tapi sudah bisa membaca dan memahami
pengertian sederhana. Langkah yang digunakan untuk membaca pemahaman
dengan jenis membaca intensif telaah isi yang tergolong pada membaca ide. Pada
kegiatan membaca ide peserta didik hanya membaca untuk memperoleh informasi
seperti tokoh, watak, latar, dan amanat legenda Tangkuban Perahu.
20
c. Tujuan Membaca
Tujuan utama dalam membaca adalah untuk mencari serta memperoleh
informasi, mencakup isi, memahami makna bacaan. Makna, arti (meaning) erat
sekali berhubungan dengan maksud tujuan, atau intensif kita dalam membaca.
Setelah kita memngetahui aspek-aspek membaca dapat disimpulkan tujuan
membaca.
Berikut ini, dikemukakan tujuan membaca menurut Anderson dalam
Tarigan (2008, hlm. 9):
1) membaca untuk menemukan atau mengetahui penemuan-penemuan
yang telah dilakukan oleh tokoh; apa-apa yang telah dibuat oleh
tokoh; apa yang telah terjadi pada tokoh khusus, atau untuk
memecahkan masalah-maslaah yang dibuat oleh tokoh. Membaca
seperti ini disebut membaca untuk memperoleh perincian-perincian
atau fakta-fakta;
2) membaca untuk mengetahui mengapa hal itu merupakan topik yang
baik dan menarik, masalah yang terdapat dalam cerita, apa yang
dipelajari atau yang dialami tokoh, dan merangkumkan hal-hal yang
dilakukan oleh tokoh untuk mencapai tujuannya membaca ini disebut
membaca untuk memperoleh ide utama;
3) membaca untuk menentukan atau mengetahui apa yang terjadi pada
setiap bagian cerita, apa yang terjadi mula-mula pertama, kedua, dan
ketiga/seterusnya – setapa tahap dibuat untuk memecahakan suatu
amsalah, adegan-adegan dan kejadian-kejadian buat dramatisasi. Ini
disebut membaca utnuk mengetahui urutan atau susunan, organisasi
cerita;
4) membaca untuk menemukan serta mengetahui mengapa para tokoh
merasakan seperti cara mereka itu, apa yang hendak diperlihatkan
oleh pengarang kepada para pembaca, mengapa para tokoh berubah,
kualitas-kualitas yang dimiliki para tokoh yang membuat mereka
berhasil atau gagal. Ini disebut membaca untuk menyimpulkan,
membaca inferensi;
5) membaca untuk menemukan serta mengetahui apa-apa yang tidak
bisa, tidak wajar mengenai seseorang tookoh, apa yang lucu dalam
cerita, atau apakah cerita itu benar atau tidak benar. Ini disebut
membaca
untuk
mengelompokkan,
membaca
untuk
mengklasifikasikan; dan
6) membaca untuk menemukan apakah tokoh berhasil atau hidup dengan
ukuran-ukuran tertentu, apakah kita ingin berbuat seperti yang
diperbuat oleh tokoh, atau bekerja seperti cara tokoh bekerja dalam
cerita itu. Ini disebut membaca menilai, membaca mengevaluasi; serta
7) membaca untuk menentukan bagaimana caranya tokoh berubah,
bagaimana hidupnya berbeda dari kehidupan yang kita kenal,
bagaimana dua cerita mempunyai persamaan, dan bagaimana tokoh
menyerupai pembaca. Ini disebut mambaca untuk memperbandingkan
21
atau mempertentangkan.
Berdasarkan penjelasan tujuan membaca maka dapat kita uraikan bahwa
tujuan membaca untuk mencari fakta-fakta, memperoleh ide utama, mengetahui
urutan atau susunan, membaca inferensi, membaca untuk mengklasifikasikan,
membaca mengevaluasi, dan untuk memperbandingkan atau mempertentangkan.
Tujuan membaca dapat disesuaikan kebutuhan. Dengan mengetahu tujuan
membaca kita bisa menggunakan aktivitas yang cocok untuk membaca.
Jadi simpulannya adalah pembelajaran mengidentifikasi informasi
Tangkuban Perahu termasuk tujuan membaca untuk menemukan apakah tokoh
berhasil atau hidup dengan ukuran-ukuran tertentu, apakah kita ingin berbuat
seperti yang diperbuat oleh tokoh. Mengidentifikasi cerita berdasaarkan tokoh
yang ada. Kegiatan tersebut termasuk membaca menilai, karena peserta didik
diajak untuk menilai tokoh apakah patut untuk dijadikan contoh yang baik atau
tidak.
3. Pembelajaran Megidentifikasi Informasi Legenda Tangkuban Perahu
a. Pengertian Mengidentifikasi Informasi
Mengidentifikasi informasi adalah salah satu pembelajaran yang dapat
mengembangkan proses berpikir kritis peserta didik. Pembelajaran ini merupakan
bagian telaah model. Telaah model adalah kegiatan mengamati semua teks yang
akan dipelajari. Mengidenfitikasi merupakan bagian dari kata kerja operasional
dalam Kurikulum 2013, untuk itu diperlukan penjelasan tentang mengidentifikasi.
Di dalam KBBI V iOS-1.1 (9) 2016 dijelaskan pengertian mengidentifikasi adalah menentukan atau menetapkan identitas (orang, benda, dan sebagainya).
Mengidetifikasi adalah proses mencari, menentukan, sesuatu yang ada pada teks
legenda Tangkuban Perahu, agar yang dicari ditemukan. Oleh karena itu, peserta
didik terlebih dahulu harus membaca dan menyak teks terlebih dahulu.
Kemudian dalam KBBI V iOS-1.1 (9) 2016 informasi adalah penerangan
atau pemberitahuan; kabar atau berita tentang sesuatu. Informasi adalah sesuatu
yang dapat memberikan pengetahuan terhadap pembaca tentang yang ada pada
legenda Tangkuban Perahu. Informasi bisa berbentuk tokoh, watak, latar, pesan
dan rangkaian peristiwa yang ada pada teks. Dampak yang diperoleh dari
22
informasi bisa berakibat besar atau tidak. Misalnya ketika membaca legenda, jika
peserta didik memaknai pesan yang baik, maka ia akan mengaplikasikannya
dalam kehidupan.
Jadi, dapat disimpulkan bahwa pengertian mengidentifikasi informasi
adalah mencari info yang dapat memberikan pengetahuan seputar legenda
Tangkuban Perahu seperti tokoh, watak, rangkaian peristiwa, latar, pesa/amanat
dan lainya. Proses mengidentifikasi ini tidak terlepas dari kegiatan membaca dan
menyimak. Peserta didik dilibatkan dalam keterampilan tersebut untuk
memperoleh informasi legenda Tangkuban Perahu.
b. Pengertian Legenda
Ketika kita pergi ke tempat bersejarah atau tempat wisata, yang terbenak
dalam pikiran adalah apakah benar atau tidak tempat tersebut ada asal-usulnya
sesuai cerita yang beredar di kalangan masyarakat? Misalnya tempat wisata
Tangkuban Perahu, banyak rumor mengatakan bahwa dulunya ada seorang anak
yang ingin menikahi ibunya sendiri, karena syaratnya tidak terpenuhi yaitu
membuat perahu maka ia marah dan membanting perahu itu hingga tertelungkup
sehingga terbentuklah gunung yang menyerupai perahu yang terbalik. Jika kita
kaitkan cerita dengan tempat kejadiannya memang benar ada, tapi benarkah itu
terjadi. Hanya tuhanlah yang tahu. Lalu apakah yang dimaksud dengan legenda?
Berikut ini akan dipaparkan pengertian legenda.
Di dalam KBBI V iOS-1.1 (9) 2016 Legenda adalah cerita rakyat pada
zaman dahulu yang ada hubungannya dengan peristiwa sejarah. Jika kita melihat
kenyataan legenda tidak terlepas dengan sejarah, contohnya penamaan pada kota
Surabaya. Sejarah timbul karena ada peninggalan yang memberikan dampak
begitu besar pada zaman sekarang. Karena keberadaannya yang berbeda dengan
zaman sekarang sehingga memulculkan cerita yang menarik dan berkembang
begitu saja.
Sejarah dapat kita cari dengan mempelajarinya pada buku-buku dan
temuan yang tersimpan dalam museum. Kemudian Rampan (2014, hlm. 21)
mengatakan pengertian legenda sebagai berikut:
Legenda adalah cerita rakyat atau folklor yang dianggap benar-benar
terjadi. Tokoh-tokohnya bukan para dewa, tetapi orang-orang biasa atau
23
benda-benda tertentu seperti batu, binatang, sungai, danau, gunung, dan
sebagainya yang memiliki kemam-puan setengah dewa sehingga
dianggap sakti dan keramat. Tokoh-tokoh itu itu dikemas dengan
kejadian-kejadian tertentu yang dihubungkan dengan membaurkan antara
fakta sejarah dengan mitos.
Jarak waktu legenda lebih dekat dibandingkan dengan mitos. Hanya saja
jarak waktu itu kadang tidak bisa diukur dengan catatan sejarah karena di dalam
legenda tidak dicantumkan tahun yang pasti. Legenda hanya menggunakan katakata zaman dahulu, dahulu kala, atau pada suatu ketika, meskipun realita geologis,
realitas geografis, dan realitas historisnya dapat dibuktikan karena peristiwanya
terjadi di bumi, bukan di alam kayangan para dewa.
Legenda selalu menunjukkan bukti historis, meskipun bukti-bukti itu
tidak bisa diyakini jika dianalisis dengan kajian sejarah, antropologi, sosiologi,
maupun bidang-bidang kajian lainnya. Benda-benda tertentu seperti batu, gunung,
patung, danau, candi, dan lain-lain sebagai peniggalan legenda merupakan bukti
nyata benda-benda itu benar ada seperti Dananu Toba, Candi Prambanan, Rawa
Pening, Gunung Tangkuban Perahu, namun terjadinya berbeda-beda itu tidak
seperti proses sejarah. Terjadinya selalu diliputi oleh suasana gaib dan spektakuler
sehingga benda-benda itu tiba-tiba saja berada di tempat.
Pendapat lain dari Nurgiyantoro (2016, hlm. 25) mengatakan pengertian
legenda sebagai berikut:
Legenda mempunyai kemiripan dengan mitologi, bahkan sering terjadi
tumpang tindih penamaan di antara keduanya. Kegunaannya yang jelas,
sama-sama merupakan cerita tradisional. Betapapun kadarnya, legenda
sering memiliki atau berkaitan dengan kebenaran sejarah, dan kurang
berkaitan dengan masalah kepercayaan supernatural atau legenda sengaja
dikatakan dengan aspek kesejahteraan sehingga, selain memiliki
kebenaran sejarah. Namun sebenarnya istilah legenda itu sendiri sudah
mengindikasikan bahwa cerita yang dikisahkan itu tidak memiliki
kebenaran sejarah yang dapat dipertanggungjawabkan. Legenda
menampilkan tokoh sebagai hero yang memiliki kehebatan tertentu dalam
berbagai aksinya dan itu sangat mengesankan.
Legenda memang identik dengan tokoh yang heroik. Tokoh yang
perpengaruh dalam cerita, sehingga banyak dikenang dan kadang dipercayai
keberadaannya. Legenda sering dikaitkan dengan mitologi karena sumbernya
yang sama-sama berasal dari cerita rakyat. Pada hakikatnya legenda bukanlah
24
sumber sejarah karena kebenarannya tidak bisa dibuktikan. Legenda hanyalah
sebuah cerita yang berkembang pesat sehingga sering dikaitkan dengan kejadian
tertentu.
Senada dengan pendapat di atas Danandjaja dalam Nugraheni (2015, hlm.
34) berpendapat bahwa pengertian legenda sebagai berikut:
Legenda ialah prosa rakyat yang memiliki ciri-ciri yang mirip dengan
mite, yaitu dianggap pernah benar-benar terjadi, tetapi tidak dianggap
suci. Berbeda dengan mite, legenda bersifat keduniawian, terjadinya pada
masa yang belum begitu lampau, dan bertempat di dunia seperti yang kita
kenal sekarang.
Berdasarkan pendapat di atas dapat disimpulkan bawaha cerita legenda
adalah sebuah kisah yang berhubungan dengan asal-usul suatu tempat, namun
kebenaran dari tokoh atau pelakunya tidak nyata walau pun ada peninggalannya.
Bukti tersebut berupa tempat, nama yang benar-benar ada. Legenda berhubungan
erat dengan cerita lisan karena kehadirannya bergitu saja tanpa diketahui pengarangnya. Prosa merupakan sebuah karya sastra yang berbentuk cerita yang lahir
dari masyarakat, karena legenda merupakan prosa lama maka ceritanya
berkembang dari mulut ke mulut yang sekarang masih ada.
Legenda juga merupakan cerita rakyat, di setaip tempat memiliki berbagai
versi masing-masing sesuai dengan penuturnya. Legenda lahir dari kisah-kisah
yang diceritakan oleh nenek moyang secara generasi ke generasi. Karena legenda
ini hadir berdasarkan lisan maka setiap cerita memiliki versi yang berbeda. Versi
legenda ada yang berkaitan dengan cerita lainnya danada juga yang ditambahkan.
c. Ciri-ciri Legenda
Setelah kita memahami pengertian legenda maka akan disebutkan ciricirinya, agar kita tidak kebingunan mengenai legenda dengan cerita rakyat lainnya
berikut ini akan dijelaskan ciri-ciri legenda. Ciri adalah tanda khas yang
membedakan sesuatu dengan yang lain.
Legenda memiliki beberapa ciri-ciri, seperti yang dikemukakan oleh
Rusyana dalam Nugraheni (2015, hlm. 34) diantaranya:
1) legenda merupakan cerita tradisional karena cerita tersebut sudah
dimiliki masyarakat sejak dahulu;
2) ceritanya biasa dihubungkan dengan peristiwa dan benda yang berasal
25
3)
4)
5)
6)
dari masa lalu, seperti peristiwa penyebaran agama dan benda-benda
peninggalan seperti masjid, kuburan dan lain-lain;
para pelaku dalam legenda dibayangkan sebagai pelaku yang betulbetul pernah hidup pada masyarakat lalu. Mereka itu merupakan
orang yang terkemuka, dianggap sebagai pelaku sejarah, juga
dianggap pernah melakukan perbuatan yang berguna bagi
masyarakat;
hubungan tiap peristiwa dalam legenda menunjukan hubungan yang
logis;
latar cerita terdiri dari latar tempat dan latar waktu. Latar tempat
biasanya ada yang disebut secara jelas dan ada juga yang tidak.
Sedangkan latar waktu biasanya merupakan waktu yang teralami
dalam sejarah; dan
pelaku dan perbuatan yang dibayangkan benar-benar terjadi
menjadikan legenda seolah-olah terjadi dalam ruang dan waktu yang
sesungguhnya.
Sejalan dengan pemaparan di atas, maka ciri-ciri legenda yang paling
utama yaitu pelaku yang diyakini ada kerberadaannya padahal tidak ada dalam
kehidupan nyata. Dengan demikian ciri-ciri legenda dapat disimpulkan yaitu
terdiri dari merupakan ceria rakyat, berasal dari masa lalu, pelaku dibayangkan
ada, memiliki hubungan yang logis di setiap peristiwa, dan latar yang teralami
dalam sejarah.
Berdasarkan kedua pendapat tersebut maka dapat disimpulkan bawa ciriciri legenda yaitu cerita trasisional yang beasal dari masyarakat, cerita yang
dihubungkan dengan masa lalu, tokohnya manusia yang diangga benar-benar ada,
rangkaian peristiwanya logis, latarnya waktu dan tempat yang disebutkan,
memiliki cerita yang berbeda versi, mudah dikenal luas dan perbuatan seperti
nyata sesuai dengan zaman tertentu.
d. Jenis-jenis Legenda
Setelah kita mengetahui ciri-ciri legenda maka akan dijelaskan jenis-jenis
legenda. Terkadang kita bingung membedakan legenda satu dengan legenda yang
lainnya agar memudakan kita dalam memahami legenda maka pada bagian ini
akan dijelaskan jenis-jenis legenda. Jenis adalah yang mempunyai ciri (sifat,
keturunan, dan sebagainya) yang khusus; macam.
Legenda memiliki ciri yang bervariasi maka legenda dapat digolongkan
ke dalam beberapa jenis seperti yang dikemukakan oleh Brunvand dalam Nug-
26
raheni (2015, hlm. 35) yakni:
1) Legenda Keagamaan (religious legends)
Legenda keagaaman merupakan legenda yang ceritanya berkaitan dengan kehidupan keagamaan. Legenda ini berkisah tentang orangorang atau kelompok tertentu, misalnya cerita tentang para penyebar
agama Islam di Jawa yang dikenal sebagai wali sanga. Mereka adalah
manusia biasa, tokoh yang memang benar-benar ada, akan tetapi
dalam uraian ceritanya ditampilkan sebagai figur-figur yang memiliki
kesaktian. Kesaktian yang mereka miliki digambarkan di luar batasbatas manusia biasa.
2) Legenda Alam Ghaib (supernatural legends)
Legenda alam ghaib biasanya berbentuk kisah yang dianggap benarbenar terjadi dan pernah dialami seseorang dengan makhluk ghaib,
hantu-hantu, siluman, dan gejala-gejala alam ghaib. Fungsi legenda
ini adalah untuk meneguhkan kebenaran tahayul atau kepercayaan
rakyat.
3) Legenda Perseorangan (personal legends)
Legenda perseorangan merupakan cerita mengenai tokoh tertentu
yang dianggap benar-benar terjadi.
4) Legenda Setempat (local legends)
Legenda setempat mengandung cerita yang berhubungan dengan
terjadinya suatu tempat, seperti gunung, bukit, danau, dan sebagainya.
Legenda setempat ini merupakan golongan legenda yang paling
banyak jumlahnya. Sebagaimana telah dikemukakan, hlm. yang
terpenting bagi penulisan sejarah tradisi lisan bukanlah kebenaran
faktanya. Hlm. itu disebabkan karena untuk mencari kebenaran
faktanya sangatlah sulit, apalagi sumber-sumber tertulis, karena
kemungkinan pada awal pertama kali cerita-cerita itu dikenal,
masyarakat belum mengenal tradisi menulis. Bahkan cerita-cerita itu
banyak dibumbui oleh hlm.-hlm. yang tidak masuk akal atau tidak
rasional. Misalnya, dalam cerita Sendhang Sani dari Kabupaten Pati
menceritakan seorang tokoh Ki Rangga dan teman-temannya yang
dikutuk oleh Sunan Kalijaga menjadi seekor bulus (kura-kura).
Itulah jenis-jenis legenda yang dipaparakan menurut Brunvand. Jenis
legenda ini lahir karena adanya perbedaan yang muncul di masyarakat. Adanya
tema yang sama membuat legenda dapat disamakan dengan cerita rakyat lainnya.
Seperi legenda perseorang yang memberikan keyakinan terhadap pembaca atau
pendengar bahwa tokoh tersebut benar-benar ada maka disebutlah legenda
perseorangan karena tokoh yang paling dikenal hanyalah seorang, contohnya Si
Kabayan. Kemudian kita bandingkan dengan tokoh Sangkuriang, tapi cerita
tersebut bukanlah termasuk cerita perorang karena ceritanya menghasilan sebuah
tempat yang memang ada. Jadi ketika kita kebingungan termasuk manakah
27
legenda ini, lihatlah yang paling menojol dari cerita tersebut. Apa yang dianggap
benar-benar nyata apakah tokoh, tempat, peristiwa atau kekuatannya.
Maka dapat disimpulkan bahwa jenis legenda ada lima yaitu legenda
keagamaan, legenda alam gaib, legenda perseorangan, legenda setempat. Legenda
Tangkuban Perahu temasuk ke dalam legenda setempat karena lahir dan
berkembang di dingkungan setempat, legenda ini termasuk legenda Jawa Barat.
Jenis legenda ini bisa dijadikan bahan untuk di bahas pada peneliti berikutnya.
4. Model Artikulasi
a. Pengertian Model Artikulasi
Model pembelajaran merupakan skenario yang harus dirancang untuk
kegiatan pembelajaran. Dengan menggunakan model guru dapat terarah ketika
pelaksanaan pembelajaran. Sebelum dijelaskan model artikulasi berikut ini akan
dijelaskan penegrtian model terlebih dahulu.
Komalasari (2013, hlm. 57) mengatakan, “Model pembelajaran pada
dasarnya merupakan bentuk pembelajaran yang tergambar dari awal sampai akhir
yang disajikan secara khas oleh guru. Dengan kata lain, model pembelajaran
merupakan bungkus atau bingkai dari penerapan suatu pendekatan, metode, dan
teknik pembelajaran.”
Model pembelajaran merupakan desain yang digunakan pengajar selama
pembelajaran berlangsung dimulai dari awal sampai akhir pembelajaran. Selama
kegiatan berlangsung guru menggunakan model pembelajaran. Model ini
merupakan kemasan dari pendekatan, metode dan teknik pembelajaran. Dengan
adanya model pembelajaran pembelajaran bisa berlangsung dengan lancar.
Sejalan dengan Joyce dan Weill dalam Huda (2016, hlm. 73) mengatakan
bahwa model pembelajaran adalah sebagai rencana atau pola yang dapat
digunakan untuk membentuk perangkat mata pelajaran, medesain materi-materi
sehingga dapat memandu proses pengajaran di ruang kelas atau di ruangan yang
berbeda.
Berdasarkan pemaparan di atas dapat disimpulkan bawa model
pembelajaran adalah pedoman bagi pengajar untuk merealisasikan pembelajaran
yang telah dikonsepkan sedemikian rupa seingga terlaksanalah pembelajaran.
28
Model pembelajaran merupakan rencana pemebelajaran, untuk itu guru harus bisa
merencanakan model pembelajaran yang baik dan cocok. Setelah kita mengetahui
pengertian model maka berikut ini dijelaskan pengertian model artikuliasi
menurut ahli.
Menurut Shoimin (2014, hlm. 27) mengatakan “Artikulasi merupakan
model pembelajaran yang menuntut peserta didik untuk bisa berperan sebagai
‘penerima pesan’ sekaligus sebagai ‘penyampai pesan.’ Pembelajaran yang telah
diberikan guru, wajib diteruskan oleh pesaerta didik dan menjelaskannya kepada
peserta didik lain di dalam pasangan kelompoknya.”
Model pembelajaran artikulasi adalah jenis pembelajaran yang dirancang
agar peserta didik bisa menyampaikan dan menerima materi yang telah dijelaskan
oleh guru. Peserta didik bisa membetuk karakter yang tanggung jawab, percaya
diri dan disiplin. Aspek keterampilan yang terdapat pada model ini yaitu
keterampilan membaca, berbicara dan menyimak.
Model artikulasi adalah tentang penerima pesan dan pemberi pesan
maksudnya peserta didik dapat memperoleh informasi dengan saling berbagi
pemahaman mereka tentang materi yang diajarkan. Huda (2016, hlm. 269)
berpendapat model artikulasi yaitu “…siswa dibagi menjadi kelompok kecil yang
masing-masing anggotanya bertugas mewawancarai teman sekelompoknya
tentang materi yang baru dibahas.”
Berdasarkan pendapat di atas maka dapat disimpulkan model pembelajaran artikulasi sebagai model pembelajaran yang menekankan pada kemampuan
peserta didik untuk pandai berbicara atau menggunakan kata-kata dengan jelas,
dan cara berpikir dalam penyampaian kembali materi yang telah disampaikan oleh
guru. Model pembelajaran ini menuntut siswa akitf dalam pembelajaran, peserta
didik dibentuk menjadi kelompok kecil yang masing-masing peserta didik dalam
kelompok tersebut mempunyai tugas mewawancarai teman kelompoknya tentang
materi yang baru dibahas. Konsep pemahaman sangat diperlukan dalam
pembelajaran ini. Model artikulasi ini peserta didik bisa aktif karena tugas yang
diberikan sama untuk itu guru juga harus biasa mengondisikan kelas
pembelajaran. Keterampilan
selama
membaca, menyimak dan berbicara hadir dalam
model pembalajaran ini. Model pembelajaran artikulasi merupakan salah satu
29
model yang bisa digunakan untuk pembelajaran mengidentifikasi informasi
legenda, guru boleh menggunakan model lain dalam pembelaran.
b. Langkah-langkah Mengidentifikasi Informasi Legenda Tangkuban
Perahu dengan Menggunakanan Model Artukulasi
Berikut ini akan dijelaskan langkah-langkah pembelajaran mengidentifikasi informasi. Agar pembelajaran lebih efektif guru harus mengaplikasikan
model artikulasi sesuai dengan situasi dan kondisi kelas. Sebelumnya akan
dibahas terlebih dahulu tentang mengidentifikasi informasi.
Dalam KBBI V iOS-1.1 (9) 2016 dijelaskan “Mengidentifikasi adalah
menentukan atau
menetapkan identitas (orang, benda, dsb).” Mengidentifikasi
merupakan kegiatan menetukan, apa, siapa, bagaimana dan mengapa sautu
identitas orang atau benda. Karena dalam pembelajaran ini mengidentitifikasi
informasi legenda Tangkuban Perahu yang diidentifikasinya adalah teks. Jadi
dapat disimpulkan mengidentifikasi adalah mencari informasi yang ada pada teks.
Shoimin (2014, hlm. 27) menjelaskan langkah-langkah penerapan model
artikulasi sebagai berikut:
1) guru menyampaikan kompetensi yang ingin dicapai;
2) guru menyajikan materi sebagaimana bisa;
3) untuk mengetahui daya serap siswa, bentuklah kelompok berpasangan
dua orang;
4) guru menugaskan salah satu siswa dari pasangan itu menceritakan
materi yang baru diterima dari guru dan pasangannya mendengarkan
sambil membuat catatan-catatan kecil, kemudian berganti peran.
Begitu juga kelompok lainnya;
5) menugaskan siswa secara bergiliran/diacak menyampaikan hasil
wawancaranya dengan teman pasangannya sampai sebagian siswa
sudah menyampaikan hasil wawancaranya;
6) guru mengulangi/menjelaskan kembali materi yang sekiranya belum
dipahami siswa; dan
7) kesilpulan/penutup.
Pada langkah yang digunakan model artikulasi ini diawali dengan
mengetahui daya serap peserta didik dengan cara membagi kelompok secara
berpasangan lalu saling menceritakan materi yang baru diterima oleh guru. Model
ini terlebih dahulu peserta didik dipilih siapa yang menceritakan dan siapa yang
mendengarkan. Mereka harus bisa menguasai materi pembelajaran terlebih dahulu
30
agar teman pasangannya memperoleh pengetahuan yang maksimal. Dalam proses
tersebut peserta didik saling bertanya dan berkomentar mengenai materi yang
telah dijelaskan sebelumnya oleh guru. Kemudian untuk melaporkannya guru
mengacak dari peserta didik siapa yang pertama menyampaikan dan samapi
terakhir.
Senada dengan penjelasana tersebut, Huda (2016, hlm. 270) mengatakan
langkah-langkah penerapan model artikulasi sebagai berikut:
1) guru menyampaikan kompetensi yang ingin dicapai;
2) guru menyajian materi sebagaimana bisa;
3) guru membentuk kelompok berpasangan dua orang untuk mengetahui
daya serap siswa;
4) guru menugaskan salah satu siswa dari sebuah pasangan untuk
menceritakan materi yang baru diterima dari guru dan pasangannya
mendengar sambil membuat catatan-catatan kecil, kemudian
keduanya bergantian peran. Begitu juga kelompok lainnya.
5) guru
menugaskan siswa secara bergiliran/diacak
untuk
menyampaikan hasil wawancaranya dengan teman pasangannya
hingga sebagian siswa sudah menyampaikan hasil wawancaranya.
6) guru mengulangi/menjelaskan kembali materi yang sekiranya belum
dipahami siswa.
Langkah-langkah yang digunakan hapir sama dengan pejelasan yang
pertama namun hanya kurang dalam penutup kegiatan. Pada kegiatan ini guru
harus menyiapkan kompetensi dan menyajikan materi. Namun yang perlu
disayangkan tidak ada bagian penutup dalam langkah-langkahnya. Sehingga
pembelajaran kurang lengkap dan juga tidak ada simpulan dalam pembelajaran.
Senada dengan pemaparan tersebut Kurniasih & Sani (2017, hlm. 67)
mengatakan teknis pelaksanaan model pembelajaran artikulasi sebagai berikut:
1) pertama kali guru menerangkan pembelajaran apa yang hendak
dibahas serta menjelaskan model pembelajaran yang hendak
digunakan;
2) guru menyampaikan kompetensi yang ingin dicapai;
3) guru menyajikan materi sebagaimana bisa hingga siswa paham;
4) unuk mengtahui daya serap siswa, bentuklah kelompok berpasangan
dua orang;
5) menugaskan salah satu siswa dari pasangan itu menceritakan materi
yang baru diterima dari guru dan pasangannya mendengar sambil
membuat catatan kecil, kemudian bergantian peran. Bagitu juga
kelompok lainnya;
6) menugaskan siswa secara bergiliran atau bisa juga dengan cara diundi
atau diacak menyampaikan hasil wawancaranya dengan teman
31
pasangannya samapi sebagian siswa sudah menyampaikan hasil
wawancaranya;
7) guru mengulangi kembali materi yang sekiranya belum dipahami
siswa; dan
8) kemudian menyimpulkan materi dan menutup pelajaran.
Langkah-langkah yang digunakan ini lebih sempurna dibandingkan
dengan pendapat yang sebelumnya, karena dimulai dari pendahuluan yang
mengharuskan guru untuk menerangkan terlebih dahulu model pembelajaran
kepada peserta didik. Dengan menggunakan langkah tersebut peserta didik sudah
bersiap-siap apa yang harus ia persiapkan dan langkah yang akan dilaksanakan
pada pembelajaran. Langkah pembelajaran ini umumnya sama persis, hanya pada
saat mempresentasikan guru bisa menggunakan undian untuk melihat siapa saja
yang akan tampil dan mempresentasikan hasil diskusi mereka. Pada bagian akhir
penulis menambahkan penutupan dan kesimpulan.
Berdasarkan ketiga pendapat di atas dapat disimpulkan langkah-langkah
untuk mengidentifikasi yaitu dengan cara membagi kelompok secara berpasangan
kemudian saling mewawancarai materi yang dibahas, lalu secara acak peserta
didik menyampaikan hasil diskusinya. Demikian langkah-langkah yang akan
digunakan dalam proses pembelajaran mengidentidikasi informasi legenda
Tangkuban Perahu. Semoga dapat menjadi referensi bagi pembaca. Untuk
pembelajaran lainnya guru bisa menyesuaikan sesuai kebutuhan peserta didik.
c. Kelebihan Model Artikulasi
Model pembelajaran artikulasi memiliki kelebihan dan kekurangan.
Kelebihan ini dapat dijadikan ukuran untuk menyesuaikan kebutuhan dalam
pembelajaran. Sedangkan kekuarangannya dapat disesuaiakan pembelajaran.
Kelebihan dapat kita pertimbangkan cocok atau tidaknya dalam pembelajaran
dengan mengetahui kelebihan model ini kita dapat mengatasi kekurangan yang
ada dalam materi dan mengatasi permasalahan perserta didik.
Menurut Shoimin (2014, hlm. 28) kelebihan model artikulasi sebagai
berikut:
1) semua siswa terlibat (mendapat peran);
2) melatih kesiapan siswa;
3) melatih daya serap pemahaman dari orang lain;
32
4)
5)
6)
7)
cocok untuk tugas sederhana;
interaksi lebih mudah; dan
lebih mudah dan cepat membentuknya; serta
meningkatkan partisipasi anak.
Kelebihan dari model ini yaitu peserta didik mendapat peran dan
sederhana dalam pembagian kelompok. Dengan begitu waktu yang digunakan
bisa lebih efektif. Peserta didik juga ikut terlibat semuanya dan mendapatkan
tugas masing-masing sehingga berpikir semua. Peserta didik dapat membangun
sikap yanag mandiri dan percaya diri.
Sejalan dengan pendapat di atas Kurniasih & Sani (2017, hlm. 66)
mengatakan kelebihan model artikulasi sebagai berikut:
1)
2)
3)
4)
5)
6)
7)
semuanya siswa terlibat (mendapat peran);
melatih kesiapan siswa;
melatih daya serap pemahaman dari orang lain;
cocok untuk tugas sederhana;
interaksi lebih mudah;
lebih mudah dan cepat membetuknya;
meningkatkan partisipasi anak;
Kelebihan menurut pendapat ahli kedua sama dengan pendapat yang
dijekaskan oleh pendapat ahli sebelumnya. Model artikulasi dapat memberikan
tugas ke semua peserta didik, memberikan kesiapan peserta didik ketika
pembelajaran, melatih pemahaman setiap peserta didik, cocok untuk tugas yang
mudah. Mengidentifikasi informasi merupakan tugas yang sederhana karena
sisiwa hanya mencari dan menentukan informasi yang ada pada teks legenda
Tangkuban Perahu. Interaksi lebih mudah karena kegiatan yang dilakukan oleh
peserta didik dengan saling mencari dan memberi informasi yang telah disimak
sebelumnya. Pembagian kelompok juga lebih cepat karena peserta didik hanya
dibentuk dua orang per kelompok dan meningkatkan partisipasi peserta didik.
Huda (2016, hlm. 269) berpendapat, kelebihan model artikulasi sebagai
berikut:
1)
2)
3)
4)
5)
siswa menjadi lebih mandiri;
siswa bekerja dalam kelompok untuk menuntaskan materi belajaar;
penghargaan lebih berorientasi pada kelompok daripada individu;
terjadi interaksi antarsiswa dalam kelompok kecil;
masing-masing siswa memiliki kesempatan berbicara atau tampil di
depan kelas untuk menyampaikan hasil diskusi kelompok mereka.
33
Berdasarkan kedua pendapat di atas dapat disimpulkan bahwa model ini
dapat memberikan tugas yang setara untuk setiap peserta didik namun kendala
yang perlu diantisipasi yaitu guru harus bisa mengondisikan kelas sebaik
mungkin. Demikian kelebihan pada model artikulasi, semoga menjadi solusi
dalam pekasanaan setiap pembelajaran. Dengan mengetahui kelebihan model
pembelajaran artikulasi bisa mengantisipsi kesalaham yang terjadi selama proses
pembelajaran. Kelebihan yang telah terurai di atas juga dapat kita persiapkan
sebelum pembelajaran dilaksanakan.
d. Kelemahan Model Artikulasi
Model
artikulasi
walaupun
memiliki
kelebihan
juga
memiliki
kekuarangan. Kelemahan merupakan nilai yang dapat menurukan suatu hal. Tapi
dengan mengetahui kekurangan tersebut kita bisa mengantisipasinya dan
menyesuaikan. Berikut ini akan dijelaskan kelemahan model artikulasi.
Menurut Shoimin (2014, hlm. 28) kelebihan dan kelemahan model
artikulasi sebagai berikut:
1)
2)
3)
4)
5)
hanya bisa diterapkan untuk mata pelajaran tertentu;
waktu yang dibutuhkan banyak;
materi yang didapat sedikit;
banyak kelompok yang melapor dam perlu dimonitor; dan
lebih sedikit ide yang muncul.
Kekurangan model artikulasi yaitu hanya bisa untuk mata pelajaran
tertentu. Pelajaran bahasa Indonesia masih bisa digunakan untuk model ini namun
kekurangannya
guru
harus
membutuhkan
waktu
yang
banyak
dalam
pembelajaran. Karena pembelajaran ini sederhana jadi materi yang didapat
sedikit. Anggota kelompok yang sedikit sehingga banyak kelompok yang perlu
dimonitor.
Sejalan dengan pendapat di atas Kurniasih & Sani (2017, hlm. 66)
mengatakan kelebihan model artikulasi sebagai berikut:
1) model pembelajaran ini terlihat sangat sederhana dan sangat mudah
dalam tekniks pelaksanaannya, akan terasa sangat sulit ketika siswa
tidak bisa memahami materi pelajaran, sehingga pesan tidak akan
tersampaikan dengan baik;
2) jika ada satu siswa yang tidak mengerti atau tidak paham materi
pelajaran, maka siswa yang lainpun akan mendapatkan informasi
34
3)
4)
5)
6)
7)
8)
yang sama;
rentan akan kegaduhan jika guru secara teknik kurang bisa menguasai
kelas;
hanya bisa dilaksanakan pada mata pelajaran tertentu saja;
waktu yang dibutuhkan banyak agar materi tersampaikan semuanya;
banyak kelompok yang melapor dan perlu dimonitor; dan
lebih sedikit ide yang muncul; serta
jika ada perselisihan tidak ada penengah.
Kekurangan yang dijelaskan pendapat ahli berikut ini lebih lengkap
dibandingkan pendapat ahli sebelumnya. Kekurangan yang dapat ditambahkan
yaitu jika ada peserta didik yang tidak memahami materi yang disampaikan oleh
guru maka pesan tidak akan tersampaikan dengan baik. Kemudian jika dalam satu
kelompok ada peserta didik yang tidak memahami materi, perseta didik lainya
pun tidak akan tidak paham. Proses pembelajaran yang saling memberikan
informasi maka model ini rentan terhadap kegaduhan jadi peserta didik harus
diperhatikan dengan baik.
Berdasarkan beberapa pendapat ahli di atas maka dapat disimpulkan
kelemahan model artikulasi ini yaitu hanya dapat diterapkan pada mata pelajaran
tertentu, waktu yang dibutuhkan banyak, materi yang didapatkan sedikit, banyak
anggota yang melapor sehingga perlu dimonitor, lebih sedikit ide yang muncul,
ketika peserti tidak bisa memahami materi pelajaran maka pesan tidak akan
tersampaikan dengan baik, ketika peserta didik yang tidak mengerti materi
pelajaran maka peserta didik yang lainpun akan mendapatkan informasi yang
sama, rentan akan kegaduhan, jika ada perselisihan tidak ada penengah.
B. Penelitian Terdahulu yang Relevan
Kajian teori dielaborasi dengan hasil penulisan terdahulu yang berkaitan
dengan masalah yang akan diteliti. Pada bagian ini penulis menjelaskan hal yang
telah dilakukan penulis lain seperti: judul, subjek, tahun penulisan, metode
penulistan yang digunakan, dan komparasi temuan penulisan terdahulu dengan
penulisan yang akan dilakukan. Penelitian ini dilatarbelakangi oleh penelitian
yang relevan dengan penelitian yang akan dilaksanakan oleh penulis, hasil
penelitian terdahulu merupakan hasil penelitian yang menjelaskan hal yang telah
dilakukan penelitian lain. Kemudian dibandingkan dari temuan penelitian terda-
35
hulu dengan penelitian yang akan dilakukan.
Penulis menggunakan 3 sumber yaitu berdasarkan penulisan terdahulu
yang dilakukan oleh Amelia Elsa Mondiya dengan judul penulisan “Pembelajaran
Mengidentifikasi Struktur Teks Cerita Pendek dengan Menggunakan Model
Means Ends Analysis (MEA) Pada Siswa Kelas XI SMA 1 Lembang Tahun
Pelajaran 2015/2016.” Kedua oleh Silvia Oti Nugraheni dengan judul
“Pengembangan Media Pembelajaran Memahami Cerita Legenda dengan Buku
Pop-Up untuk Siswa SMP Kelas VIII di Kabupaten Pati.” Dan ketiga oleh Hani
Muthiah “Pembelajaran Mengidentifikasi Unsur-Unsur Bentuk Suatu Puisi
dengan Model Pembelajaran Word Square pada Siswa Kelas SMA Negeri 1
Ciasem Subang Tahun Pelajaran 2014/2015.” Terdapat persamaan dan perbedaan
dengan penulisan yang akan penulis lakukan.
Persamaan dengan penulisan pertama yaitu pada kata kerja operasional
yang ditelit. Kata kerja operasional yang diteliti sama-sama mengenai
mengidentifikasi. Persamaan dengan penulis kedua yaitu mengenai cerita legenda.
Dan persamaan pada peneliti ketiga adalah pada kata kerja operasional yang
diteliti yaitu mengidentifikasi, namun pada penulis hanya ditambahkan kata
informasi.
Sementara itu, perbedaan dengan penulisan pertama: (1) pada materi
pembelajaran
yang
digunakan,
penulis
pertama
menggunakan
materi
pembelajaran struktur teks cerita pendek sedangkan penulis menggunakan
pembelajaran legenda Tangkuban Perahu; dan (2) pada model pembelajaran
penulis pertama menggunakan model Means Ends Analysis (MEA) sedangkan
penulis menggunakan model artikulasi. Perbedaan pada penulis kedua: (1) pada
media yang digunakan yaitu dengan buku Pop-Up sedangkan penulis dengan
menggunakan model artikulasi. Perbedaan pada penulis ketiga: (1) pada materi
pembelajaran yang digunakan, penulis ketiga menggunakan materi unsur-unsur
bentuk suatu puisi, sedangakn penulis menggunakan materi legenda Tangkuban
Perahu; dan (2) model yang digunakan pada penulis ketiga menggunakan model
word square sedangkan penulis menggunakan model artikulasi.
Komparasi
terhadap
penulisan
terdahulu
tersebut
menghasilkan
ketertarikan penulis dalam melakukan penulisan berkaitan dengan teks legenda.
36
Penulisan terdahulu tersebut memberikan informasi yang dibutuhkan penulis
berkaitan dengan judul penulisan yang digunakan oleh penulis. Adapun
keterangan yang lebih jelas dapat dilihat pada tabel berikut.
Tabel 2.1
Hasil Penelitian Terdahulu yang Relevan
Judul Peneltian
Judul Penulisan
Nama
Penulis
terdahulu
Penulis
Persamaan
Perbedaan
Pembelajaran
Pembelajaran
Amelia
Pada kata
Mengidentifikasi
Mengidentifikasi
Elsa
kerja
materi
Informasi
Struktur Teks
Mondiya
operasional
pembe-
Legenda
Cerita Pendek
yang diteliti.
lajaran
Tangkuban
dengan
Kata kerja
yang
Perahu dengan
Menggunakan
operasional
digunakan.
Mengunakan
Model Means
yang diteliti
Penulis
Model Artikulasi
Ends Analysis
sama-sama
terdahulu
pada Siswa
(MEA) Pada
mengenai
mengguna-
Kelas VII SMP
Siswa Kelas XI
mengidentifi-
kan materi
Muhammadiyah
SMA 1 Lembang
kasi.
srtuktur
3 Bandung
Tahun Pelajaran
teks cerita
Tahun Pelajaran
2015/2016
pendek
2017/2018
a. Pada
sedangkan
penulis
tentang
materi
legenda
Tangkuban
Perahu.
b. Pada
model
pembelajaran.
37
Penulis
terdahulu
menggunakan
model
Means
Ends
Analysis
(MEA)
sedangkan
penulis
menggunakan
model
artikulasi.
Pengembangan
Silvia
Materi yang
Pada
Media
Oti
diteliti
penulis
Pembelajaran
Nugra-
tentang cerita
terdahulu
Memahami
heni
legenda
mengguna-
Cerita Legenda
kan media
dengan Buku
buku Pop-
Pop-Up untuk
Up
Siswa SMP
sedangkan
Kelas VIII di
penulis
Kabupaten Pati
menggunakan model
artikulasi.
Pembelajaran
Hani
Pada kata
a. Pada
Mengidentifikasi
Muthiah
kerja
materi
Unsur-unsur
operasional
pembe-
Bentuk Suatu
yang diteliti.
lajaran
Puisi dengan
Kata kerja
yang
38
Model
operasional
digunakan
Pembelajaran
yang diteliti
Penulis
Word Square
sama-sama
terdahulu
pada Kelas X
mengenai
mengguna
SMP Negeri 1
mengidentifi-
-kan
Cimahi Subang
kasi.
materi
Tahun Pelajaran
unsur-
2014/2015
unsur
bentuk
suatu puisi
sedangkan
penulis
tentang
materi
legenda
Tangkuban
Perahu.
b. Pada
penulis
terdahulu
mengguna
-kan
model
Word
Square
sedangkan
penulis
mengguna
-kan
model
artikulasi.
39
Berdasarkan studi komparasi penulis dengan penulis lain maka dapat
ditarik simpulan bahwa persamaan yang dapat dijadikan referensi untuk bahan
penelitian penulis yaitu kata kerja operaasional yang sama-sama megidentifikasi
dengan penulis pertama dan ketiga. Penulis menambahkan kata kerja
operasionalnya dengan informasi karena perkembangan yang terdapat pada
Kurikulum 2013 yaitu mengidentifikasi informasi. Kemudian pada penulis kedua
yaitu materi yang sama-sama membahas tentang legenda hanya saja penulis lebih
spesifik dengan legenda Tangkuban Perahu sedang penulis ketiga membahas
secara
umum
tentang
legenda.
Penulis
ketiga
lebih
membahas
cara
mengembangkan model pembelajaran sedangkan penulis mengenai materinya.
C. Kerangka Pemikiran
Kerangka pemikiran merupakan rancangan atau garis besar yang telah
digagas oleh peneliti dalam merancang proses penelitian. Masalah-masalah yang
telah diidentifikasi dihubungkan dengan teori sehingga ditemukan pula
pemecahan atas permasalahan yang telah diidentifikasi tersebut. Dalam hal ini,
kerangka
pemikiran
dalam
penelitian
merupakan
proses
keberhasilan
pembelajaran. Selain itu, kerangka pemikiran memberikan berbagai permasalahn
yang dihadapi.
Sekaran dalam Sugiyono (2015, hlm. 91) mengatakan “Kerangka berpikir
merupakan model konseptual tentang bagaimana teori berhubungan dengan
berbagai faktor yang telah didefinisikan sebagai masalah penting.”
Kerangka berpikir merupakan konsep yang dibuat untuk membudahkan
melihata gambaran keseluruhan penelitian. Dengan menggunakan kerangka
pemikiran kita bisa melihat keseluruhan permasalahan dengan tabel atau gambar.
Jadi masalah yang sudah dijelaskan disederhanakan dengan kerangka pemikiran.
Senada dengan pendapat Suriasumantri dalam Sugiyono (2015, hlm. 92)
mengatakan “Kerangka pemikiran ini merupakan penjelasan sementara terhadap
gejala-gejala yang menjadi objek permasalahan. Artinya, kerangka pemikiran
merupakan penjabaran yang bersifat sementara terhadap gejala-gejala yang
menjadi objek permasalahan.”
Maka, dapat disimpulkan bahwa kerangka pemikiran merupakan rancangan
40
atau pola pikir yang menjelaskan hubungan antara variabel atau permasalahan
yang disusun dari berbagai teori yang dideskripsikan untuk dianalisis dan
dipecahkan sehingga dapat dirumuskan sebuah hipotesis.
Berikut ini akan disajikan kerangka pemikiran yang disajikan dimulai dari
kondisi pembelajaran hingga solusi permasalahan pembelajaran.
Tabel 2.2
Kerangka Pemikiran
KONDISI PEMBELAJARAN BAHASA INDONESIA KELAS VII
SAAT INI
Pengubahan
Kurikulum dari
tahun ke tahun.
Dalam pembelajaran
mengidentifikasi informasi
legenda, peserta didik masih
banyak masalah.
Pemilihan metode
pembelajaran yang digunakan
masih bersifat tradisional dan
kurang bervariasi sehingga
pembelajaran yang
berlangsung kurang menarik
dan membosankan.
“Pembelajaran Mengidentifikasi Informasi legenda Tangkuban Perahu dengan
Menggunakan Model Artikulasi
di Kelas VII SMP Muhammaidyah 3 Bandung
Tahun Pelajaran 2016/2017.”
Guru menciptakan
pembelajaran kreatif, inovatif,
dan menyenangkan agar siswa
dapat belajar aktif, kreatif, dan
inovatif, serta dapat berpikir
kritis.
Guru memotivasi
peserta didik agar
giat membaca guna
mengembangkan
pengetahuan dan
keterampilan yang
belum dan sudah
diperolehnya.
Model artikulasi dapat
digunakan sebagai salah satu
model pembelajaran dengan
mengarahkan peserta didik
untuk berpikir aktif dan kreatif.
41
Seiring dengan perkembangan zaman dan teknologi, kegiatan pembelajaran semakin berubah. Kini pembelajaran dituntut untuk lebih kreatif dan dapat
membuat peserta didik lebih aktif dalam pembelajaran. Selain itu, peserta didik
pun bebas memilih sumber pembelajaran. Sekarang banyak sekali hal yang dapat
dijadikan sumber pembelajaran, sehingga peserta didik dapat belajar dengan
mudah. Peserta didik pun lebih banyak melakukan pembelajaran dengan cara
berdiskusi. Dalam diskusi tersebut, peserta didik akan bebas mengeluarkan
pendapat atau ide yang dipikirkannya. Hal ini akan memudahkan peserta didik
dalam melaksanakan kegiatan pembelajaran, karena peserta didik dapat bertukar
pikiran dengan yang lainnya.
Menyikapi hal tersebut, penulis menilai perlu digunakan model artikulasi
untuk menumbuhkan minat peserta didik. Kegiatan pembelajaran memberi kesempatan pada peserta didik untuk berpikir secara kritis, analitis, untuk
mengelaborasi sambil mengubah materi yang diajarkan dengan kalimat mereka
sendiri, selain membangun penguasaan materi, model dapat memotivasi peserta
didik mempraktikkan berbagai keterampilan mempertahankan fokus, dan
mengembangkan kelangsungan tugas-tugas.
Pembelajaran mengidentifikasi legenda merupakan pengimplementasian
Kurikulum 2013 untuk pertama kalinya di kelas VII pada tahun ini untuk itu
dibutuhkan model pembelajaran yang cocok. Meskipun untuk menyesuaikannya
kita harus membaca materi dan model agar pembelajaran menjadi lancar.
D. Asumsi dan Hipotesis
1. Asumsi
Asumsi merupakan titik tolak pemikiran yang kebenarannya diterima
penulis. Asumsui berfungsi sebagai landasan bagi perumusan hipotesisi. Oleh
karena itu, asumsi penelitian yang diajukan dapat berupa teori-teori, evidensievidensi, atau dapat pula berasal dari pemikiran peneliti. Asumsi adalah dugaan
atau anggapan sementara yang belum terbukti kebenarannya dan memerlukan
pembuktian secara langsung. Adapun asumsi dalam penulisan ini adalah sebagai
berikut.
a. Penulis telah lulus Mata Kuliah Pengembangan Kepribadian (MPK), di
42
antaranya: Pancasila, Agama Islam, dan Pendidikan Kewarganegaraan; lulus
Mata Kuliah Keilmuan dan Keterampilan (MKK), di antaranya: Menyimak;
Teori dan Praktik Komunikasi Lisan; Teori dan Praktik Menulis; Telaah
Kuikulum dan Bahan Ajar; lulus Mata Kuliah Keahlian Berkarya (MKB), di
antaranya: Strategi Belajar Mengajar (SBM), Analisis Berbahasa Indonesia;
Perencanaan Pengajaran; Penilaian Pembelajaran Bahasa; Metode Penulisan;
lulus Mata Kuliah Perilaku Berkarya (MPB), di antaranya: Pengantar
Pendidikan; Psikologi Pendidikan; Belajar dan Pembelajaran, Profesi
Penidikan; lulus Mata kuliah Berkehidupan Bermasyarakat (MBB), di
antaranya: Kuliah Praktik Bermasyarakat (KPB).
b. Pembelajaran mengidentifikasi informasi legenda merupakam bagian dari
Kurikulm 2013 yang terdapat pada kompetensi dasar di kelas VII yang wajib
diajarkan.
c. Model artikulasi merupakan salah satu pembelajaran yang menekankan pada
kemampuan peserta didik untuk pandai berbicara atau menggunakan kata-kata
dengan jelas, pengetahuan dan cara berpikir dalam penyampaian kembali
materi yang talah disampaikan oleh guru yang menuntut siswa untuk lebih
aktif siswa akan mudah mempelajari mengidentifikasi informasi legenda
Tangkuban Perahu.
Asumsi berfungsi untuk mensimulasikan realitas yang berbeda atau
situasi yang mungkin terjadi tanpa menghitaukan faktor-faktor yang kompleks
dan menyeluruh. Asumsi kerap kali dihubungkan dengan aturan praktis.
Demikianlah asumsi yang penulis paparkan semoga dapat menjadi bahan
pertimbangan bagi pembimbing. Asumsi ini penulis lakukan berdasarkan data dan
sumber yang terpercaya. Kesimpulannya penulis sudah lulus dari mata kuliah
kurang lebih 130 sks mata kuliah yaitu MPK, MKK, MKB, SBM, MPB, MBB,
dan KPB.
2. Hipotesis
Hipotesis merupakan jawaban sementara dari masalahan atau submasalah
yang secara teoretis telah dinyatakan dalam kerangka pemikiran. Agar penulisan
ini berjalan dengan semestinya maka disusunlah hipotesis. Melalui uji hipotesis,
43
peneliti dapat menerima atau menolak hipotesis yang diajukan. Hipotesis
dirumuskan dalam bentuk kalimat yang bersifat deklaratif, bukan kalimat pertanyaan, perinatah, pengharapan, atau kalimat yang bersifat saran. Pada Penelitian
yang tidak menggunakan hipotesis, kedudukan hipotesis diganti dengan
pernyataan penelitian.
Sugyono (2015, hlm. 96) menjelaskan tentang hipotesis yaitu sebagai
berikut:
Hipotesis merupakan jawaban sementara terhadap rumusan masalah
penulisan, pada rumusan masalah penulisan telah dinyatakan dalam
bentuk kalimat pertanyaan. Dikatakan sementara, karena jawaban yang
diberikan baru didasarkan pada teori yang relavan, belum didasarkan
pada fakta-fakta empiris yang diperoleh melalui pengumpulan data.
Jadi hipotesis juga dapat dinyatakan sebagai jawaban teoritis terhadap
rumusan masalah penulisan, belum jawaban yang empirik dengan data. Maka
hipotesis berarti pendapat yang kebenarannya masih diragukan. Untuk bisa
memastikan kebenaran dari pendapat tersebut, maka suatu hipotesis harus diuji
atau dibuktikan kebenarannya. Adapun hipotesis dalam penulisan ini adalah
sebagai berikut.
a. Penulis mampu merencanakan, melaksanaka, dan menilai pembelajaran
mengidentifikasi informasi legenda Tangkuban Perahu dengan metode
artikulasi di kelas VII SMP Muhammadiyah 3 Bandung.
b. Peserta didik kelas VII SMP Muhammadiyah 3 Bandung mampu
mengidentifikasi informasi legenda Tangkuban Perahu dengan tepat.
c. Model artikulasi efektif diterapkan dalam pembelajaran mengidentifikasi
inforamasi legenda Tangkuban Perahu di kelas VII SMP Muhammadiyah 3
Bandung.
Hipotesis merupakan jawaban sementara yang masih praduga untuk suatu
masalah. Hipotesis yang diajukan dalam penulisan ini merupakan kemampuan
penulis
dalam
merencanakan,
melaksanakan,
sampai
kepada
menilai
pembelajaran khususnya pembelajaran mengidentifikasi informasi legenda
Tangkuban Perahu dengan menggunakan model artikulasi. Peserta didik juga
dapat mengidentifikasi legenda Tangkuban Perahu dengan tepat. Selain itu, model
artikulasi efektif diterapakan dalam pembelajaran mengidentifikasi informasi.
Download