RP KPHP Model Mamasa Barat

advertisement
A. Latar Belakang
Pembangunan Kawasan Pemangkuan Hutan di Kabupaten Mamasa dimulai
pada tahun 2007 yakni pada saat pembentukan Kawasan Pengelolaan Hutan di
Provinsi Sulawesi Barat. Salah satu KPH yang memperoleh penetapan adalah KPH
Mamasa Barat ditandai dengan terbitnya Surat Keputusan Menteri Kehutanan No
341/Menhut-II/2011. Luas Kawasan Pengelolaan Hutan menurut SK tersebut seluas
53,555 ha yang
terdiri atas
17,352 ha hutan lindung dan 17.352 ha. Setelah
terbitnya Surat Keputusan Menteri tersebut dilakukan pengukuran untuk memperoleh
luasan yang defenitip melalui bantuan citra landsat dan diperoleh luasan 73.718, 87
ha. Kawasan ini mempunyai letak
yang strategis karena merupakan hulu dari
beberapa sungai besar antara lain, sungai Mamasa, Sungai Massupu , sungai Mapilli
dan sungai Bonehau. Sungai-sungai tersebut sangat potensial untuk manfaat jasa
lingkungan bagi kawa san yang terletak di hilirnya.
Penggunaan lahan
di Kabupaten Mamasa
Barat didominasi oleh hutan
sekunder seluas 5343 ha (72.47 %) . Selebihnya merupakan Hutan primer seluas
1517 ha (2.06 %) , semak belukar seluas 1085 ha (14.72 %), Pertanian lahan kering
dan pertanian lahan kering campur semak masing- masing 225 ha (0.30%) dan 7443
ha (10.10 %) . Pada kawasan yang peruntukannya seyogianya sebagai hutan lindung
(HL) dan hutan produksi Terbatas ( HT) juga masih terdapat sawah serta lahan
terbuka.
B.
Tujuan
Rencana Pengelolaan Hutan
Jangka Panjang adalah
rencana pengelolaan
hutan strategis berjangka waktu 10 tahun atau selama jangka benah KPHP.
Rencana Pengelolaan KPHP Mamasa Barat
Page 1
Tujuan penyusunan Rencana Pengelolaan Hutan Produksi RPJP KPHP Mamasa
Barat adalah :
1. Memahami potensi Kawasan Pengelolaan Hutan Produksi (KPHP) Mamasa Barat
serta kendala –kendala yang dihadapi.
2. Memformulasi rencana tindak (action plan) yang akan dilakukan untuk menjadi
acuan dalam mengelola KPHP Mamasa menjadi KPH yang dapat memadukan
prinsip ekonomi, ekologis dan sosial secara optimal.
3. Mewujudkan rencana pengelolaan hutan yang menjadi acuan KPHP
Mamasa
Barat dalam pencapaian fungsi ekonomi, ekologis dan sosial secara optimal.
4. Mendiskripsikan sistem pembinaan, pengawasan dan pengendalian dalam
mengelola KPHP Mamasa Barat.
C. Sasaran
Sasaran Penyusunan RPJP KPHP adalah terselenggaranya pengelolaan KPHP
Mamasa
Barat
yang mampu meningkatkan kinerjanya sebagai kawasan hutan
produksi untuk memperoleh manfaat ekonomi dengan tetap mempertahankan aspek
kelestarian ekologis dan sosial budaya.
D. Ruang Lingkup
Ruang lingkup Rencana Jangka Panjang Kawasan Pengelolaan Hutan
Produksi
Produksi ini merupakan pokok-pokok rencana strategis pengelolaan
kawasan hutan produksi yang mempertimbangkan aspek ekologi, ekonomis
dan
sosial budaya.
E. Batasan Pengertian
1.
Kawasan hutan adalah wilayah tertentu yang ditetapkan oleh pemerintah
untuk dipertahankan keberadaannya sebagai hutan.
Rencana Pengelolaan KPHP Mamasa Barat
Page 2
2.
Pengelolaan Hutan adalah kegiatan yang meliputi tata hutan dan penyusunan
rencana Pengelolaan hutan , pemanfaatan hutan, penggunaan kawasan hutan,
rehabilitasi dan reklamasi hutan serta perlindungan hutan dan konservasi alam.
3.
Tata hutan adalah kegiatan rancang bangun unit pengelolaan hutan mencakup
kegiatan pengelompokan sumber daya hutan sesuai dengan tipe ekosistem dan
potensi yang terkandung di dalamnya dengan ttujuan untuk memperoleh
manfaat yang sebesar-besarnya bagi masyarakat secara lestari.
4.
Inventarisasi hutan pada wilayah KPHL dan KPHP adalah rangkaian kegiatan
pengumpulan data untuk mengetahui keadaan dan potensi sumberdaya hutan
dan lingkungannya secara lengkap.
5.
Rencana pengelolaan hutan adalah rencana pada kesatuan pengelolaan hutan
yang memuat semua aspek pengelolaan dalam kurun jangka panjang dan
pendek, disusun berdasarkan hasil tata hutan dan rencana kehutanan, dan
memperhatikan aspirasi, peran serta dan nilai budaya masyarakat serta kondisi
lingkungan dalam rangka pengelolaan kawasan hutanyang lebih intensif untuk
memperoleh manfaat yang lebih optimal dan lestari.
6.
Rencana Pengelolaan hutan jangka panjang adalah rencana pengelolaan hutan
pada tingkat strategis berjangka waktu 10 tahun atau selama jangka benah
pembangunan KPHL dan KPHP.
7.
Rencana Pengelolaan Hutan Jangka Pendek adalah rencana Pengelolaan Hutan
berjangka waktu satu tahun pada tingkat kegiatan operasional berbasis petak
dan/atau blok
8.
Pemanfaatan hutan adalah kegiatan untuk memanfaatkan kawasan hutan,
memanfaatkan jasa lingkungan, memanfaatkan hasil hutan kayu dan bukan
kayu secara optimal dan adil untuk kesejahteraan masyarakat dengan tetap
menjaga kelestariannya.
Rencana Pengelolaan KPHP Mamasa Barat
Page 3
9.
Penggunaan kawasan hutan merupakan penggunaan untuk kepentingan
pembangunan di luar kehutanan tanpa mengubah status dan fungsi pokok
kawasan hutan.
10. Kesatuan
Pengelolaan
Hutan
selanjutnya
disebut
KPH
adalah
wilayah
pengelolaan hutan sesuai fungsi pokok dan peruntukannya yang dapat dikelola
secara efisien dan lestari.
11. Kesatuan Pengelolaan Hutan Konservasi selanjutnya disebut KPHK adalah KPH
yang luas
wilayahnya seluruhnya atau sebagian besar terdiri
dari kawasan
hutan konservasi.
12. Kesatuan Pengelolaan hutan Lindung selanjutnya disebut KPHL
adalah KPH
yang luas wilayahnya seluruhnya atau sebagian terdiri atas kawasan hutan
lindung.
13. Kesatuan Pengelolaan Hutan Produksi selanjutnya disebut KPHP adala KPH
yang luas wilayahnya seluruhnya atau sebagian terdiri atas kawasan hutan
produksi.
14. Resort Pengelolaan Hutan adalah wilayah hutan dalam wilayah KPHL dan KPHP
yang merupakan bagian dari wilayah KPHL dan KPHP yang dipimpin oleh oleh
Kepala Resort KPHL dan KPHP dan bertanggung jawab kepada Kepala KPHL dan
KPHP.
15. Blok Pengelolaan pada wilayah KPHL
dan KPHP adalah bagian dari wilayah
KPHL dan KPHP yang dibuat relatif permanen untuk meningkatkan efektivitas
dan efisiensi pengelolaan.
16. Petak adalah bagian dari Blok dengan luasan tertentu dan menjadi unit usaha
pemanfaatan terkecil yang mendapat perlakuan pengelolaan dan silvikultur yang
sama.
Rencana Pengelolaan KPHP Mamasa Barat
Page 4
A. Risalah KPH Mamasa Barat
1. Letak dan Luas
Mamasa merupakan kabupaten yang terbentuk setelah pemekaran
dari
Kabupaten Polewali Mamasa. Berdasarkan UU No 11 Tahun 2002 tanggal 10 April
2002
dengan
ibukota
Mamasa.
Secara
geografis
berada
pada
koordinat
02°39'16.77" - 3°06'44.57" LS serta 119°00'35.95" - 119°15'47.58" BT. Luas
wilayah Kabupaten Mamasa adalah 3005,88 Km
yakni,
Mambi,
Sesenapadang,
Aralle,
Mamasa,
Tanduk
Kalua,
2
yang terdiri atas 17 Kecamatan
Pana,
Tabulahan,
Sumarorong,
Messawa,
Tabang,
Bambang,
Balla,
Tawalian,
Nosu,
Rantebulahan Timur, Buntumalangka, dan Mehalaan. Berdasarkan Keputusan
Menteri Kehutanan Nomor SK.779/Menhut-II/2009 tanggal 7 Desember 2009 telah
ditetapkan wilayah KPH di Provinsi Sulawesi Barat seluas
1.099.827 ha dengan
rincian 3 unit KPHP seluas 379.153 ha dan 1 unit KPHL seluas 720.627 ha.
KPHP
Mamasa Barat, ditetapkan oleh
Menteri Kehutanan Nomor SK.
341/Menhut-II/2011 tanggal 27 Juni 2011 dengan luas ± 53.555 ha, dengan
rincian, Hutan Lindung seluas ± 17.352 ha dan hutan produksi terbatas seluas
36.203 ha. Tetapi berdasarkan hasil pengukuran yang dilakukan di lapangan
menunjukkan bahwa luas areal yang KPHP Mamasa Barat sebesar 73.718,87 ha.
Secara geografis KPHP Mamasa Barat terletak pada 119°0' 24,5" - 119°17'27,7" BT
dan 2°38' 56" -
3°6'49,9" LS. Dibatasi oleh HPK dan APL Kabupaten Mamuju di
sebelah utara, HL dan APL Kabupaten Polewali Mamasa di sebelah selatan, APL
Kabupaten Mamasa di sebelah Timur dan HL Kabupaten Majene dan Mamuju di
sebelah Barat. Batas-batas administratif Kawasan Pengelolaan Hutan Hutan
Produksi (KPHP) Mamasa Barat disajikan pada Gambar 1.
Rencana Pengelolaan KPHP Mamasa Barat
Page 5
Gambar 1. Batas-batas adminisratif KPHP Mamasa Barat
Kondisi fisiografis KPHP Mamasa Barat tergolong berat didominasi oleh
bentuk wilayah yang berbukit hingga bergunung dengan ketinggian tempat (altitude)
mencapai lebih dari 2000 m dari permukaan laut. Gambaran fisiografi KPHP Mamasa
Barat disajikan pada Gambar 2.
Rencana Pengelolaan KPHP Mamasa Barat
Page 6
Gambar 2. Peta Fisiografi Wilayah dalam KPHP Mamasa Barat
Kondisi fisiogfrafi mempunyai korelasi dengan sebaran ordo tanah
terdapat di wilayah tersebut.
Sebaran ordo
yang
tanah yang terdapat dalam wilayah
KPHP terdiri atas ordo Inceptisol dan ordo Ultisol. Inceptisol berasal dari kata
inceptum yang berarti tanah yang baru memulai proses pembentukan, sedangkan
Ultisol
berasal dari kata ultus atau lanjut yang berarti pembentukannya telah
berlangsung lama atau tergolong tanah tua.
Great group tanah dari tanah Inceptsol yang ditemukan dalam wilayah KPHP
Mamasa Barat adalah Dystropept yang berarti tanah yang aras kesuburan kimianya
rendah dan cenderung bereaksi masam, sedangkan great group dari tanah Ultisol
yang dijumpai adalah Tropudult atau tanah berumur lanjut di daerah
tropika .
Sebaran great group tanah di KPHP Mamasa Barat disajikan pada Gambar 3.
Rencana Pengelolaan KPHP Mamasa Barat
Page 7
Gambar 3. Peta sebaran Great Group Tanah di KPHP Mamasa Barat
Sebaran tanah tersebut terbentuk dari beberapa jenis batuan yakni :

andesit-basalt

asosiasi batuan pasir, serpih, batu lanau, dan konglomerat
Jenis batuan andesit dan basalt yang mendominasi wilayah ini mempunyai
karakteristik sebagai berikut :

Andesit adalah batuan beku yang merupakan hasik erupsi. Banyak dijumpai pada
daerah vulkanik aktif. Didalam batuan andesit terdapat sekitar 52 % Kandungan
Silika (Si02). Mineral
mineral penyusun andesit yang utama terdiri atas
plagioclase feldspar dan juga terdapat mineral
pyroxene dalam jumlah yang
kecil.
Rencana Pengelolaan KPHP Mamasa Barat
Page 8

Basalt adalah batuan beku vulkanik yang berasal dari hasil pembekuan magma
berkomposisi basa dipermukaan bumi. Mempunyai ukuran butir yang halus.
Kandungannya kurang dari 20 % kuarsa dan 65 % dalam bentuk plagioclase.
Sebaran jenis batuan disajikan pada Gambar 4.
Sebaran jenis batuan tersebut disajikan pada Gambar 4.
Gambar 4. Peta Sebaran jenis batuan pada KPHP Mamasa Barat
2. Aksesibilitas Kawasan
Satu-satunya moda transportasi yang digunakan dalam wilayah KPHP Mamasa
Rencana Pengelolaan KPHP Mamasa Barat
Page 9
Barat adalah moda transportasi darat. Dengan demikian jalan merupakan
Keadaan
A. Di aspal
B. Kerikil
C. Tanah
D. Tidak dirinci
Jumlah
II. Kondisi Jalan
A. Baik
2005
138.50
263.66
446.87
849.03
2006
121.50
283.66
354.10
109.86
869.03
-
-
185.66
-
-
315.14
867.40
B. Sedang
C. Rusak
prasarana transportasi
2007
2008
2009
154.95 162.70 169.70
402.11 418.61 421.61
811.14 826.84 861.64
356.10 358.10 313.10
1724.30 1756.05 1766.05
22
5.06
315.35
867.54
208.06
304.35
879.54
darat yang sangat penting untuk memperlancar mobilitas
penduduk dan mobilitas barang. Panjang jalan di Kabupaten Mamasa pada tahun
2009 adalah sepanjang 2005,05 km yang terdiri atas 239 km jalan propinsi dan
1766,05 km jalan kabupaten.
Permukaan jalan dan kondisi
jalan disajikan pada
Tabel 1.
Tabel 1. Panjang Jalan Menurut Jenis permukaan dan kondisi jalan di
Kabupaten
Mamasa Barat tahun 2009 (km)
Sumber :BPS Kabupaten Mamasa Barat 2010
Rencana Pengelolaan KPHP Mamasa Barat
Page 10
Hal yang perlu mendapatkan perhatian adalah kondisi jalan kabupaten
yang termasuk dalam kategori rusak sepanjang 879.54 km (49.80 %)
dan rusak berat sepanjang 374,10 km atau (21.18 %) dari total
panjang jalan kabupateni. Kondisi jalan ini sangat berpengaruh
terhadap mobilitas penduduk dan kegiatan perekonomian.
Perkembangan status jalan negara , provinsi dan kabupaten disajikan
pada Tabel 2.
Tabel 2. Status Jalan di Kabupaten Mamasa Barat tahun 2009 (km)
Status Jalan
2005
2006
2007
2008
Negara
Provinsi
163.90
239.00
239.99
239
Kabupaten
849.03
869.30
1724.30
1766.05
Desa
Jumlah
1012.12
1108.30
1963.30
2005.05
Sumber : BPS Kabupaten Mamasa Barat 2010
2009
153
86
1766.05
2005.05
Pada Tabel 2. nampak bahwa ruas jalan kabupaten mengalami
peningkatan dari tahun ke tahun tetapi belum diikuti oleh peningkatan
jalan provinsi yang sangat penting artinya bagi mobilitas penduduk
serta perputaran roda ekonomi. Pembangunan ruas jalan desa belum
nampak dan memerlukan perhatian pemerintah daerah.
3. Batas Batas
Kabupaten Mamasa yang beribukota di Mamasa, berbatasan dengan
Kabupaten Mamuju di sebelah utara, Kabupaten Majene di sebelah
Rencana Pengelolaan KPHP Mamasa Barat
Page 11
Barat , Provinsi Sulawesi Selatan di sebelah Timur serta Kabupaten
Polewali Mandar di sebelah Selatan. Batas batas Kabupaten Mamasa
disajikan pada Gambar 4.
Gambar 4 . Peta Batas Kabupaten Mamasa
4. Sejarah Wilayah KPHP Mamasa Barat
KPHP Model Mamasa Barat, Kab Mamasa, ditetapkan melalui SK
Menteri Kehutanan Nomor SK. 341/Menhut-II/2011 tanggal 27 Juni
2011 dengan luas ± 53.555 ha dengan rincian ,Hutan Lindung seluas ±
17.352 ha dan Hutan Produksi Terbatas seluas ± 36.203 ha. Kemudian
ditindaklanjuti dengan analisis citra dan penataan batas yang luasannya
mencapai
73.718,87 ha. Sebagaimana telah diuraikan sebelumnya
KPHP Mamasa Barat merupakan salah satu KPH yang lahir setelah
ditetapkannya Sulawesi Barat sebagai salah satu Provinsi yang
mendapatkan tugas untuk mengemban sebagai Kawasan Pengelolaan
Hutan.
Rencana Pengelolaan KPHP Mamasa Barat
Page 12
5. Pembagian Blok
Pembagian blok dilakukan berdasarkan pertimbangan karakteristik
biofisik, kondisi sosial ekonomi masyarakat utamanya yang berdiam di
sekitar kawasan hutan, potensi sumber daya alam, dan keberadaan
hak-hak atau izin usaha pemanfaatan hutan dan penggunaan kawasan
hutan. Selain itu pembagian blok juga mempertimbangkan peta arahan
pemanfaatan sebagaimana diarahkan oleh Rencana Kehutanan Tingkat
Nasional (RKTN)/Rencana Kehutanan Tingkat Provinsi (RKTP)/Rencana
Kehutanan Tingkat Kabupaten/Kota (RKTK), dan fungsi kawasan hutan
di wilayah KPHL. Berdasarkan tumpang tindih (overlay)
dari peta
kawasan hutan, RKTN, ijin penggunaan/pemanfaatan, akses jalan dan
sungai, penutupan lahan, potensi, serta kondisi sosial dan budaya.
Pembagian blok pada Wilayah KPH Mamasa Barat meliputi :
a. Pada Kawasan Hutan Lindung
1.Blok inti :
merupakan blok yang difungsikan sebagai
perlindungan tata air dan perlindungan lainnya serta sulit untuk
dimanfaatkan,
kurang memiliki potensi jasa lingkungan, wisata alam
dan potensi hasil hutan non kayu.
b. Pada kawasan Hutan Produksi Terbatas
1.Blok Pemanfaatan : merupakan blok yang difungsikan sebagai areal
yang
direncanakan
Rencana Pengelolaan KPHP Mamasa Barat
untuk
pemanfaatan
terbatas
sesuai
dengan
Page 13
ketentuan perundang-undangan pemanfaatan hutan pada kawasan
hutan yang berfungsi hutan lindung. Kriteria blok ini antara lain:
Mempunyai potensi jasa lingkungan, wisata alam, hasil hutan non kayu;
terdapat ijin pemanfaatan kawasan; jasa lingkungan; hasil hutan non
kayu; arealnya dekat masyarakat sekitar atau dalam kawasan hutan;
mempunyai aksesibilitas yang tinggi.
c. Pada Kawasan Hutan Produksi di Hutan Alam (HHKHA)
Blok Pemanfaatan Hail Hutan Kayu Hutan Alam : merupakan blok yang
telah ada ijin pemanfaatan Hasil Hutan Kayu Hutan Alam
dan yang
akan difungsikan sebagai areal yang direncanakan untuk pemanfaatan
Hasi Hutan Kayu Hutan Alam sesuai dengan potensi kawasan yang telah
dihasilkan dari proses tata hutan.
d. Pada Kawasan Hutan Produksi di Hutan Tanaman (HHKHT)
Blok pemanfaatan Hasi Hutan Kayu Hutan Tanaman merupakan blok
yang telah ada ijin pemanfaatan HHK-HT dan yang akan direncanakan
untuk pemanfaatan HHK-HT sesuai dengan potensi kawasan yang telah
dihasilkan dari proses tata hutan
e. Pada Hutan Produksi Terbatas
Blok
Pemberdayaan : merupakan blok yang telah ada upaya
pemberdayaan masyarakat antara lain, Hutan Kemasyarakatan/HKM,
Hutan Desa, Hutan Tanaman Rakyat/HTR dan yang akan difungsikan
sebagai
areal
yang
direncanakan
untuk
upaya
pemberdayaan
masyarakat sesuai dengan potensi kawasan yang telah dihasilkan dari
proses tata hutan.
Rencana Pengelolaan KPHP Mamasa Barat
Page 14
d. Blok Perlindungan : Merupakan blok yang difungsikan sebagai
perlindungan tata air dan perlindungan lainnya serta direncanakan
untuk tidak dimanfaatkan.
Yang termasuk dalam blok perlindungan
misalnya sempadan sungai,sempadan pantai,sempadan mata air dan
sebagainya
Luas KPH Mamasa Barat berdasarkan hasil analisis citra serta
pengukuran di lapangan adalah 73.718, 87 ha yang terdiri atas Hutan
lindung seluas 16892,04 ha dan Hutan roduksi Terbatas seluas
56.826,83 ha. Pembagian blok pada KPH Mamasa Barat
lebih rinci
disajikan pada Tabel 3.
Tabel 3.Pembagian Bok pada Kawasan Pengelolaan Hutan Produksi
Mamasa Barat
Hutan
No
Blok
Lindung
(ha)
1
2
3
Inti
Hutan
Produksi
Terbatas
ha
%
16. 892,04
22.98
28.444,77
28.444,77
38,58
9.570.02
9.570.02
12.98
(ha)
16. 892,04
Pemanfaatan HKHA
Pemanfaatan HKHT
Total Luas
4
Pemberdayaan
16.508,65
16.508,65
22,39
5
Perlindungan
2.303,39
2.303,39
3,12
56826,83
73.718,87
100
16. 892,04
Rencana Pengelolaan KPHP Mamasa Barat
Page 15
Tabel 3. menunjukkan bahwa luas kawasan yang berfungsi sebagai
pengatur tata air yakni blok inti dan perlindungan hanya mencapai
26.12 % dari luas wilayah kelola KPHP Mamasa Barat. Luas blok
pemanfaatan pada hutan alam dan
51,56
%
.
Blok
pada hutan tanaman mencapai
pemberdayaan
yang
diperuntukkan
untuk
pemberdayaan berupa hutan desa, hutan kemasyarakatan dan hutan
tanaman rakyat menempati areal seluas 22,39 %.
B. Potensi wilayah KPHL dan KPHP
1. Penutupan vegetasi
Penutupan vegetasi
atau bentuk penggunaan lahan di Kawasan
Pengelolaan Hutan Produksi Mamasa Barat meliputi terdiri atas : Hutan
Primer, Hutan Sekunder, Belukar, Tanah Terbuka/kosong,
tubuh
air,
Pertanian Lahan Kering, Pertanian Lahan kering campur semak dan
sawah. Penutupan vegetasi pada Kawasan Pengelolaan Kawasan Hutan
Produksi Mamasa Barat disajikan pada Tabel 4.
No
1.
2.
3.
4.
5
6.
Jenis
Penggunaan
Lahan
Hutan Primer
Hutan
Sekunder
Belukar
Tanah
terbuka/koson
g
Tubuh Air
Pertanian
lahan kering
Blok
Blok Inti Pemanfaatan
HHK-HA
(ha)
(ha)
1298,40
218,59
Blok
Peman
faatan
HHK-HT
14816,97 27982,92
220,93
74,14
-
Blok
Pemberdayaan
Blok
Perlindungan
(ha)
(ha)
Luas Total
(ha)
1516.99
(%)
2,05
7722,02
2042,16
864,37 53428,44
72.47
1005,05
9156,41
395,48
10851
14.71
100,31
100,31
0.13
0
0
0,57
0,57
0.00
211,69
764,94
113,69
1090,32
1.47
Rencana Pengelolaan KPHP Mamasa Barat
Page 16
Pert.lhn kering
Campur semak
10. Sawah
Total
7.
Barat
339,98
169,13
5166,64
3,81
16892,04 28444,78
78,00
28,89
9570,02 16508,65
1002,71
6678,46
9.06
39,49
110,70
2303,39 73718,88
0,15
100,00
Tabel 4. Penutupan vegetasi atau penggunaan lahan pada KPHP Mamasa
Tabel 4. menunjukkan bahwa penutupan vegetasi atau
penggunaan lahan yang terbesar adalah hutan sekunder
yang
menempati lahan seluas 72.47 % dari luas KPHP Masamba Barat.
Semak belukar menempati lahan seluas 14.71 ha dan pertanian lahan
kering campur semak seluas 9.06 ha. Selebihnya adalah pertanian lahan
kering,dan tanah terbuka.
Pada blok inti yang seharusnya menjadi
kawasan yang difungsikan sebagai pengatur tata air masih terdapat
Rencana Pengelolaan KPHP Mamasa Barat
Page 17
penutupan lahan yang menyimpang dari peruntukannya yakni pertanian
lahan kering seluas 212 ha (1.25 % dari luas blok inti) , pertanian lahan
kering campur semak seluas 340 ha (2.02 % dari luas blok inti). Selain
itu juga terdapat belukar yang mungkin merupakan lahan bekas
perladangan seluas 221 ha (1.31 % dari luas blok inti ). Keberadaan
hutan sekunder pada blok inti juga merupakan indikasi bahwa kondisi
hutan pada blok tersebut
telah mengalami
gangguan
dan perlu
direhabilitasi.
2. Potensi Kayu
Potensi kayu didekati dengan
menggunakan analisis kuantitatif
terhadap 6 plot contoh yang di lapangan. Hasil analisis kuantitatif
tersebut meliputi :
a. Struktur dan Komposisi Jenis
Jenis kayu yang tumbuh di hutan di Kabupaten Mamasa
khususnya di Mamasa Barat memiliki keragaman yang tinggi. Hasil
inventarisasi yang telah dilakukan menunjukkan bahwa hutan di wilayah
tersebut ditemukan sedikitnya 25 jenis pada tingkat pohon, 26 jenis
pada tingkat tiang, 25 jenis pada tingkat pancang, serta 23 jenis pada
tingkat semai. Tingginya keragaman jenis vegetasi pada hutan di
wilayah Mamasa Barat mengindikasikan bahwa kondisi hutan di desa
tersebut relatif masih alami. Dari seluruh jenis yang teridentifikasi pada
Rencana Pengelolaan KPHP Mamasa Barat
Page 18
tingkat pohon, sebagian besar di antaranya merupakan tumbuhan asli
yang tumbuh secara alami.
1. Tingkat Pohon
Untuk mengetahui posisi relatif setiap jenis terhadap jenis lainnya
maka telah dilakukan analisis untuk menghitung Indeks Nilai Penting
(INP) masing-masing jenis. INP ini merupakan gabungan dari nilai
kerapatan relatif, frekwensi relatif, serta dominansi relatif. Hasil analisis
menunjukkan bahwa di antara 25 jenis yang ditemukan pada saat
inventarisasi, terdapat beberapa jenis yang memiliki INP tertinggi.
KPHP
Mamasa Barat mempunyai keragaman jenis kayu yang
cukup tinggi. Hasil inventarisasi yang dilakukan oleh Balai Pemantapan
Kawasan Hutan
(BPKH) VII
menunjukkan bahwa terdapat 25 jenis
kayu pada tingkat pohon, 26 jenis pada tingkat tiang, 25 jenis pada
tingkat pancang, serta 23 jenis pada tingkat semai.
Untuk
mengetahui posisi retaif dari suatu jenis terhadap jenis lainnya
digunakan indeks nilai penting (INP). INP pada tingkat pohon disajikan
pada Gambar 5.
Rencana Pengelolaan KPHP Mamasa Barat
Page 19
Gambar 5. Nilai INP masing masing jenis pada tingkat pohon
di KPHP Mamasa Barat
Gambar 5.
menunjukkan bahwa jenis yang memiliki indeks INP
tertinggi adalah Baloli dengan nilai 19,51 serta Latto dengan nilai 18,44.
Di luar kedua jenis tersebut INP jenis-jenis lainnya berada pada kisaran
di bawah 10. INP yang rendah pada setiap jenis ini mengindikasikan
bahwa tidak ada jenis yang merajai lokasi hutan tersebut.
INP yang disajikan pada Gambar 5 merupakan akumulasi dari
kerapatan relatif, frekwensi relatif, serta dominasi relatif. Ketiga
indikator tersebut menyajikan informasi yang berbeda. Kerapatan relatif
menunjukkan jumlah individu per satuan luas tertentu, frekwensi
Rencana Pengelolaan KPHP Mamasa Barat
Page 20
menunjukkan sebaran atau seringnya ditemukan suatu jenis dalam
setiap pengamatan, sedangkan dominansi relatif menunjukkan luas
bidang yang ditempati suatu jenis dibandingkan luas seluruh plot
pengamatan.
Hasil
analisis
sebagaimana
disajikan
pada
Gambar
5
menunjukkan bahwa kerapatan relatif pada tingkat pohon sejalan
dengan indeks nilai pentingnya. 12 Jenis yang memiliki INP tertinggi
merupakan 71,67 % kerapatan relatif dari seluruh jenis, sementara
28,3% sisanya diisi oleh 14 jenis lainnya. Hal ini berarti ditinjau dari
aspek kerapatan kesebelas jenis tersebut merupakan jenis yang paling
banyak ditemukan dalam areal hutan Mamasa Barat.
Dari kesebelas
jenis ini, hanya ada dua jenis yang memiliki kerapatan relatif di atas
10% yaitu Baloli dan Uru. Hal ini berbeda jenisnya pada dua nilai INP
tertinggi yaitu Baloli dan Latto. Hal ini menyatakan bahwa jenis Baloli
merupakan jenis yang paling banyak ditemui dalam hutan di Mamasa
Barat.
Nilai sebaran INP pada Gambar 5. Perlu didukung oleh data
sebaran frekuensi relatif seperti yang disajikan pada Gambar 6.
Rencana Pengelolaan KPHP Mamasa Barat
Page 21
Gambar 6. Kerapatan Jenis masing-masing jenis pada
plot pengamatan
Kerapatan relatif merupakan parameter yang penting untuk
dianalisis oleh karena mengindikasikan ketersebaran suatu jenis.
Semakin tinggi frekwensi relatifnya berarti semakin luas sebaran jenis
tersebut. Frekwensi relatif masing-masing jenis disajikan pada Gambar
6.
Hasil analisis menunjukkan bahwa 12 jenis yang memiliki INP
tertinggi
memiliki
frekwensi
relatif
akumulatif
sebesar
61,45%.
Dibandingkan frekwensi relatifnya kedua belas jenis tersebut ternyata
tidak
terlalu
dominan
dibandingkan
dengan
nilai
kerapatannya.
Frekwensi relatif yang lebih rendah ini menunjukkan bahwa setiap jenis
tersebut memiliki peluang ditemukan pada 67,7 % dari 6 plot sampel
yang dibuat. Dari seluruh jenis yang diamati ada 12 jenis yang memiliki
frekwensi relatif di atas 5%. Rendahnya frekwensi relatif masing-masing
Rencana Pengelolaan KPHP Mamasa Barat
Page 22
jenis ini menunjukkan bahwa pada tingkat pohon, setiap jenis
cenderung hidup mengelompok.
Gambar 7. Kerapatan Relatif Relatif masing masing jenis pada plot
pengamatan
Dominansi relatif diperoleh dari perhitungan luas bidang dasar (LBDS)
masing-masing jenis dibandingkan dengan luas seluruh plot. Semakin
luas LBDS-nya berarti semakin luas tapak yang ditempati oleh jenis
tersebut. Dominansi relatif masing-masing jenis disajikan pada Gambar
8
Data pada Gambar 4 menunjukkan bahwa dominansi jenis
tertinggi ditemukan pada jenis Lemarra dan Latto-latto. Beberapa jenis
yang tumbuh alami memiliki nilai dominansi jenis yang lebih tinggi
seperti Larali, Kajualipang dan Poppong. Dengan memperhatikan
Rencana Pengelolaan KPHP Mamasa Barat
Page 23
fenomena ini, maka kegiatan rehabilitasi hutan pada hutan di Mamasa
Barat perlu lebih memperhatikan kesesuaian jenis. Bahkan jika ternyata
karakteristik pohon setempat yang dominan seperti Lemarra dan Lattolatto tersebut dianggap cukup baik, maka prospek keberhasilan
rehabilitasi dengan menggunakan jenis-jenis tersebut akan lebih baik.
Dari keseluruhan jenis yang ditemukan dalam kegiatan inventarisasi ini,
8 jenis pohon yang dikemukakan di atas mampu mendominasi sampai
78,7% sementara 17 jenis lainnya menempati 21,3%. Hal ini
menunjukkan
bahwa
8
jenis
tersebut
telah
mampu
mewakili
keseluruhan jenis yang ada dalam hutan di Mamasa Barat.
Dari keseluruhan indikator INP yang dievaluasi tampak bahwa
jenis-jenis setempat tetap lebih dominan dalam hutan baik dari aspek
kerapatan, frekwensi, maupun dominansi jenis. Dari keseluruhan jenis
yang
ada
di
dalam
hutan,
belum
ada
jenis
tanaman
yang
diintroduksikan ke dalam hutan, hampir semua jenis tanaman tergolong
jenis alami. Oleh karena itu kegiatan rehabilitasi dan pengayaan
tanaman kayu jenis-jenis tertentu perlu dipertimbangkan dengan tetap
memperhatikan kondisi geografis setempat.
2) Tingkat Tiang
Hasil analisis sebelumnya menunjukkan bahwa jumlah jenis yang
ditemukan pada tingkat tiang tidak jauh berbeda dibandingkan dengan
Rencana Pengelolaan KPHP Mamasa Barat
Page 24
tingkat pohon. Pada tingkat tiang ini ditemukan 26 jenis. Akan tetapi
hasil analisis INP menunjukkan bahwa jenis-jenis dominan pada tingkat
tiang hanya diperoleh enam jenis yang sama dengan tingkat pohon.
Dari keseluruhan jenis yang ditemukan, terdapat 12 jenis dengan nilai
INP di atas 10. Dari kedua belas jenis tersebut, Kotti memiliki nilai INP
tertinggi iaitu 40,6 disusul oleh Balol, Lemarra dan Barani. Baloli yang
merupakan jenis dominan pada tingkat pohon memiliki nilai INP 35,5
pada tingkat tiang. Hal ini mengindikasikan bahwa jenis ini merupakan
jenis yang yang paling banyak ditemui pada lokasi pengamatan di
Mamasa Barat. INP pada tingkat tiang disajikan pada Gambar 8.
Rencana Pengelolaan KPHP Mamasa Barat
Page 25
Gambar 8. INP tingkat tiang pada blok pengamatan
Data yang disajikan pada Gambar 8 menunjukkan bahwa nilai
kerapatan relatif, frekwensi relatif maupun dominansi relatif kesepuluh
jenis kayu yang memiliki INP tertinggi relatif kecil. Hal ini berbeda
dengan tingkat pohon yang akumulasi jenis terpentingnya di atas
76,8%. Sebagaimana disajikan pada Gambar 8 tersebut, frekwensi jenis
selain kedua belas jenis yang memiliki INP di atas 10 hanya mencapai
28,4%. Hal ini berarti peluang ditemukannya suatu jenis – khususnya
kedua belas jenis terpenting tersebut relatif kecil. Kondisi hutan yang
telah memiliki pepohonan dalam jumlah yang memadai dengan
penutupan yang semakin rapat membuat jenis tumbuhan pada lapisan
tajuk di bawahnya sulit berkembang sehingga relatif jarang ditemukan.
G
a
m
b
a
r
Rencana Pengelolaan KPHP Mamasa Barat
Page 26
Gambar 8. Kerapatan Relatif dan Frekwensi Relatif Tingkat Pancang
6.
Terdapat fenomena menarik pada permudaan tingkat pancang, di
mana jumlah jenis yang memiliki INP di atas 10 hanya 5 jenis. Hanya
pada jenis Kadabukku yang berbeda dengan jenis yang ada pada strata
di atasnya. Jenis Kadabukku
bukanlah jenis yang memiliki nilai INP
yang tinggi pada tingkat tiang maupun pohon. Akan tetapi pada tingkat
pancang, jenis ini justru memiliki nilai yang relatif tinggi yaitu 12, 1.
Ada kemungkinan bahwa jenis ini bukanlah jenis yang memiliki pohon
dewasa yang secara fenotip cukup besar sehingga tidak mampu
bersaing dengan jenis lainnya, namun di sisi lain memiliki kemampuan
melakukan permudaan sekalipun di bawah naungan.
Dari 25 jenis yang ditemukan pada tingkat pancang ini, hanya kelima
jenis tersebutlah yang memiliki nilai INP di atas 10 dari total nilai 75,4.
Ini berarti 20 jenis lainnya memiliki nilai INP 126,8 secara komulatif.
Rencana Pengelolaan KPHP Mamasa Barat
Page 27
Gambar 9. Jenis jenis yang memiliki INP lebih dari 10 pada
tingkat pancang
Pada tingkat pancang, pengukuran LBDS tidak memungkinkan sehingga
untuk mengetahui posisi relatif suatu jenis terhadap keseluruhan jenis
yang ada dalam suatu lokasi maka INP hanya memperhitungkan
kerapatan relatif dan frekwensi relatif. Akumulasi kerapatan relatif dan
frekwensi relatif jenis lainnya 55,3% dan 56,7%.
Rencana Pengelolaan KPHP Mamasa Barat
Page 28
Gambar 10. Kerapatan Relatif, Frekwensi Relatif pada Tingkat semaiSemai
Dari 23 jenis yang ditemukan pada kegiatan inventarisasi tingkat
semai terdapat 6 jenis tanaman yang memiliki INP di atas 10. Jenis-jenis
yang memiliki INP di atas 10 pada tingkat pohon hampir sama dengan
jenis-jenis yang memiliki INP di atas 10 pada tingkat semai yaitu seperti
pada jenis Barani, Baloli dan Uru. Dari ketiga jenis ini hanya Kotti yang
juga ditemukan pada tingkat tiang dengan nilai INP yang signifikan.
Tampaknya beberapa jenis yang dominan pada tingkat pohon dan tiang
relatif saja yang tahan terhadap naungan. Di sisi lain, karena tahan
naungan maka jenis-jenis tersebut dapat menghasilkan biji yang
kemungkinan menghasilkan permudaan.
Tabel 5. Jumlah pohon dan volume pohon berbagai
jenis per ha pada 6 plot contoh
No
Jumlah
Volume pohon
Volume Rata-
plot
pohon
(m3)
Rata (m3)
1
160
258,49
1,61
2
164
277,98
1,68
3
158
219,80
1,39
4
161
223.16
1.38
Rencana Pengelolaan KPHP Mamasa Barat
Page 29
5
158
218,94
1,38
6
152
201,53
1.32
Sumber : BPKH VII. Hasil Pengolahan Data Lapangan
Data pada Tabel 5. menunjukkan bahwa sebaran nilai volume
rata-rata antara suatu plot dengan plot lainnya
tidak menunjukkan
perbedaan yang besar , berarti potensi kayu pada wilayah tersebut
hanya berada pada kisaran 1,61 (m3) hingga 1,68 (m3).
4. Potensi hasil Hutan Bukan Kayu
Di samping hasil hutan kayu, di Kabupaten Mamasa juga ditemukan
hasil bukan kayu walaupun potensinya belum diinventarisasi. Hasil
hutan bukan kayu tersebut antara lain, getah pinus yang tersebar
secara merata dan telah dikelola oleh masyarakat di Kecamatan Rantai
Bulahan Timur. Selain pinus juga terdapat damar pada Kecamatan
Rencana Pengelolaan KPHP Mamasa Barat
Page 30
Sumarorong, Rantai Bulahan Timur dan Bambang,
madu ditemukan
pada semua kecamatan di Kabupaten Mamasa. Hasil Hutan bukan kayu
yang tidak kalah pentingnya adalah rotan yang dijumpai di Kecamatan
Mamasa, Sumarorong, Rante Bulahan Timur, Messawa, Bambang dan
Tabang
(http://www.pidii.org/index.php/investasi-mamasa/319-
potensi-kehutanan-di-kab-mamasa). Gambar 11. Menyajikan salah satu
lokasi penyadapan Pinus di Kabupaten Mamasa.
Gambar 11. Salah satu lokasi penyadapan getah pinus di Kabupaten
Mamasa
Pada Gambar 12. Disajikan
metoda penyadapan getah pinus di
Kabupaten Mamasa
Rencana Pengelolaan KPHP Mamasa Barat
Page 31
Gambar 12. Cara penyadapan getah pinus di Kabupaten Mamasa (
5. Potensi Wisata Alam
am
Panorama Gunung Gandadewata dan Air terjun Sambabo disajikan
pada Gambar dan 13 dan 14
Rencana Pengelolaan KPHP Mamasa Barat
Page 32
Gambar
13. Panorama
Wisata Alam Gunung Ganda Dewata di
Mamasa Barat
Rencana Pengelolaan KPHP Mamasa Barat
Page 33
Gambar 14 . Air terjun Sambabo di Desa Ulumambi Kecamatan
Bambang
4. Potensi Flora /fauna
Belum dilakukan inventarisasi tetapi telah dilaporkan
bahwa di
Gunung Ganda Dewata dijumpai fauna khas Sulawesi yakni anoa
(Bubalus sp)
C. Data Sosial Budaya masyarakat di dalam dan di sekitar hutan
1. Jumlah penduduk
Data kependudukan diambil dari dua desa sampel yakni Desa
Talipukki dan Desa Aralleanak. Pemilihan ke dua desa ini berdasarkan
pertimbangan bahwa letaknya berada di dalam atau di sekitar kawasan
dan masyarakatnya
bergantung pada kawasan hutan.
Jumlah
penduduk pada Desa /kelurahan Talipukki dan Aralle disajikan pada
Tabel. 5
Tabel 5. Jumlah penduduk per jenis kelamin di Kelurahan Talipukki
Kecamatan Mambi dan Desa Aralleanak Kecamatan Aralle Tahun
2012
Nama
Rencana Pengelolaan KPHP Mamasa Barat
Jumlah
Jumlah
Perempuan
Laki-Laki
Page 34
Desa/Kelurahan
KK
Jiwa
Talipukki
334
1465
682
783
Ralleanak
527
250
604
603
Sumber : Kelurahan Talipukki dan Desa Aralleanak . Tahun 2012
2. Tingkat Pendidikan
Tingkat pendidikan penduduk di Kelurahan Talipukki Kecamatan
Mambi dan Desa Aralleanak Kecamatan Aralle masih tergolong rendah.
Salah satu penyebabnya adalah keterbatasan sarana pendidikan yang
ada di ke dua Desa tersebut. Tingkat pendidikan pada kedus
desa/kelurahan disajkan pada Tabel 6.
Tabel 6. Tingkat pendidikan di Kelurahan Aralle, kecamatan Mambi
dan Desa Aralleanak Kecamatan Aralle Tahun 2012
No
Tingkat
Pendidikan
Jumlah
Persentase
(%)
Kelurahan Talipukki Kecamatan Mambi
1
SMA
15
50
2
SMP
8
26,67
3
SD
7
23,33
4
Tidak Sekolah
0
0,00
Jumlah
30
100
Rencana Pengelolaan KPHP Mamasa Barat
Page 35
Desa Ralleanak Kecamatan Aralle
1
SMA
12
40
2
SMP
10
33.33
3
SD
6
26.67
4
Tidak Sekolah
0
0.00
jumlah
30
100
Tabel 6. menunjukkan bahwa dari 30 responden yang diwawancarai
belum ada yang mencapai jenjang pendidikan perguruan tinggi. Tingkat
pendidikan penduduk merupakan salah satu faktor yang penting karena
dapat berpengaruh terhadap persepsi mereka terhadap hutan dan
memahami regulasi-regulasi yang berhubungan dengan penyelenggaran
KKPHP.
3. Mata Pencaharian
Mata Pencaharian penduduk di Kelurahan Talipukki Kecamatan
Mambi dan Desa Aralleanak di Kecamatan Aralle relatif sama. Penduduk
yang bermata pencaharian petani masih dominan dibandingkan dengan
mata pencaharian lainnya. Jumlah penduduk laki-laki
yang bermata
pencaharian petani pada usia 15- 55 tahun di Kelurahan Aralle sejumlah
28
orang (93.33% dari jumlah responden
dan perempuan 13 orang
(43.3 %) dari jumlah responden. Pada kategori umur tua (>55 tahun)
tanpa membedakan jenis
kelamin, jumlah penduduk yang bermata
pencaharian sebagai petani sebanyak 23 orang (76,67 %) dari jumlah
Rencana Pengelolaan KPHP Mamasa Barat
Page 36
responden. Tidak ditemukan petani yang berumur < 15 tahun, karena
100 % mereka masih berstatus sebagai pelajar.
Di Desa Aralleanak jumlah laki-laki yang bermatapencaharian
sebagai petani pada kisaran umur 15-55 tahun sejumlah 24 orang (80%)
dari jumlah responden dan pada kisaran umur yang sama petani
perempuan berjumlah 7 orang (23,34%) dari jumlah responden. Pada
kategori umr tua (>55 tahun) tanpa membedakan jenis kelamin, jumlah
penduduk yang bermatapencaharian petani sebanyak 10 orang (33.33 )
dari jumlah responden. Seperti halnya di Kelurahan Talipukki, petani yang
berumur < 15 tahun) tidak ditemukan karena masih berstatus sebagai
pelajar. Selain mata pencaharian sebagai petani, mata pencaharian lain
adalah tukang, pedagang dan PNS tetapi jumlahnya sangat terbatas.
4. Sarana dan Tenaga Medis
Sarana dan Tenaga Medis kesehatan yang terdapat di Kelurahan
Talipukki Kecamatan Mambi dan dan Desa Aralleanak Kecamatan Aralle
terdiri atas PUSKESMAS, PUSKESMAS pembantu POSYANDU, Dokter , Bidan
dan Dukun Bayi. Periciannya disajikan pada Tabel 7.
Tabel 7. Sarana Kesehatan di Kelurahan Talipukki Kecamatan
Mambi dan Desa Aralle Kecamatan Aralle (Tahun 2012)
No
SARANA
Talipukki
Aralleanak
1
PUSKESMAS
-
-
2
PUSKESMAS
Pembantu
2
1
Rencana Pengelolaan KPHP Mamasa Barat
Page 37
3
POSYANDU
5
1
TENAGA MEDIS
4
Dokter
-
-
5
Bidan
2
-
6
Dukun Bayi
3
2
Tabel 7. menunjukkan bahwa sarana serta jumlah tenaga medis yang
melayani masyarakat di kelurahan Talipukki dan Desa Aralleanak masih
tergolong rendah. Perlu diperhitungkan rasio jumlah penduduk dan
fasilitas kesehatan untuk menunjang terselenggaranya pelayanan
kesehatan masyarakat.
5. Status Pemilikan Lahan dan Sumber Bahan Baku Ramuan
Rumah.
Hasil wawancara yang dilakukan terhadap 30 responden di
Kelurahan Talipukmenunjukkan bahwa seluruh responden mempunyai
status pemilikan lahan berupa lahan milik yang diperoleh dengan cara
membeli atau pewarisan.
Untuk membangun rumah, masyarakat
biasanya bergotong. 76,67
% responden menyatakan bahwa dalam
membangun rumah, mereka dibantu oleh warga yang lain, 20 % dibantu
oleh kerabat dan 3,33 % dengan cara pengupahan. Bahan ramuan
rumah umumnya diperoleh dari hutan. Hasil wawancara menunjukkan
bahwa 76,67 % responden mendapatkan bahan ramuan rumah dengan
mengambil kayu dari hutan. Untuk fasilitas sanitasi, masyarakat telah
membuat WC sendiri selain bantuan batuan MCK umum dari pemerintah.
Rencana Pengelolaan KPHP Mamasa Barat
Page 38
Sarana penerangan
listrik menggunakan turbin yang dikelola oleh
masyarakat. Untuk memasak masyarakat umumnya telah menggunakan
gas, walaupun masih ada yang mengambil kayu bakar dari hutan.
Ramuan rumah d Desa Ralleanak umumnya telah menggunakan batu
bata yang dibeli dari Kecamatan Aralle. Ramuan rumah dari bata
tersebut, masih memerlukantambahan kayu dari hutan. Sebagian
masyarakat telah menggunakan generator sebagai sumber tenaga listrik
baik untuk penerangan maupun untuk memperoleh informasi dari baik
dari radio maupun TV.
Rencana Pengelolaan KPHP Mamasa Barat
Page 39
III. VISI DAN MISI PENGELOLAAN HUTAN
A. Visi
Berdasarkan potensi dan kondisi aktual yang dihadapi pada saat ini , maka
KPHP Mamasa Barat selain mengemban fungsi produksi juga mengemban fungsi
perlindungan terhadap tata air serta peningkatan kesejahteraan masyarakat yang
berada di dalam dan di sekitar hutan. Penekanan terhadap aspek produksi perlu
diimbangi dengan aspek rehabilitasi agar sumberdaya hutan dapat melaksanakan
fungsi yang diembannya secara lestari.
Untuk dapat mengejahwantakan hal
tersebut dirumuskan visi sebagai berikut :
Mewujudkan
Kawasan Pengelolaan Hutan Produksi
Mamasa
Barat sebagai
KPHP Model yang mensinergikan kepentingan para pihak melalui pengelolaan
hutan yang berazaskan pada manfaat ekologis, ekonomis dan sosial
B. Misi
Sebagai penjabaran dari visi yang telah dirumuskan, disusun misi dari KPHP
Mamasa Barat sebagai berikut :
1. Memperkuat Kelembagaan KPHP Mamasa Barat agar dapat berfungsi secara
optimal
dalam menyelenggarakan fungsi pengelolaan kawasan hutan
produksi secara berkesinambungan
2. Menerapkan prinsip-prinsip teknis kehutanan dan konsep-konsep perusahaan
secara konsisten
3. Menciptakan kondisi yang kondusif agar kepentingan masyarakat dapat
dipertemukan dengan kepentingan daerah dalam pengelolaan hutan tanpa
harus mengorbankan kelestarian hutan
4. Meningkatkan
Pendapatan
Asli
Daerah
dan
masyarakat
dengan
mengoptimalisasi berbagai manfaat hutan serta jasa lingkungan.
Rencana Pengelolaan KPHP Mamasa Barat
Page 40
C. Proyeksi Capaian KPHP Mamasa Barat di Masa Depan
Berdasarkan rumusan visi dan misi
KPH Mamasa Barat , maka capaian yang
diharapkan di masa depan meliputi :

Terbentuknya
kelembagaan
hutan produksi
yang profesional dalam
menyelenggarakan pengelolaan hutan .

Meningkatnya peranan sumber daya hutan sebagai pengatur tata air, jasa
lingkungan serta manfat lainnya
tanpa mengorbankan kepentingan
masyarakat.

Terwujudnya kemitraan dengan masyarakat dalam pemanfaatan berbagai
aneka manfaat sumberdaya hutan
Rencana Pengelolaan KPHP Mamasa Barat
Page 41
IV. ANALISIS DAN PROYEKSI
A. Analisis
1. Analisis Penggunaan Lahan
Sebagaimana telah diuraikan bahwa kondisi fisiografis KPHP Mamasa
Barat didominasi oleh bentuk wilayah berbukit hingga bergunung. Bentuk
wilayah ini tersebar pada
sampai pada ketinggian lebih dari 2000 m dari
permukaan laut. Berdasarkan pada kondisi fisiografis yang membentuk
wilayah ini, kawasan hutan yang terdapat di dalamnya ditetapkan sebagai
hutan lindung seluas 16892,04 ha (22,02%)
dan hutan produksi terbatas
seluas 56826,84 ha (77,08 %) dari luasan wilayah kelola KPHP. Seluruh
kawasan yang berfungsi lindung ditetapkan sebagai blok inti, sedangkan pada
hutan
produksi
terbatas
terdapat
beberapa
HHKHA,HHKHT, Pemberdayaan dan Perlindungan.
blok
yang
terdiri
atas
Analisis spasial melalui
citra menunjukkan bahwa masih terdapat bentuk-bentuk penggunaan lahan
yang menyimpang dari peruntukannya baik pada blok inti maupun pada blok
perlindungan, Walaupun pada blok-blok selain ke dua
terdapat penyimpangan tetapi
blok tersebut juga
yang paling hahkiki adalah bagimana
mendayagunakan agar blok inti dan blok perlindungan dapat mengemban
fungsi utamanya sebagai pengatur tata air. Penggunaan lahan yang dinilai
menyimpang dari peruntukan pada blok-blok tersebut diuraikan sebagai
berikut
a. Blok inti
Pada blok inti yang luasannya 16892,04 ha
terdapat bentuk
penggunan lahan berupa, pertanian lahan kering seluas 211,69 ha (1,25
%) , belukar seluas 220,93 ha (1,30 %) dan pertanian lahan kering campur
semak seluas 339,98 ha (2,01 %) dan sawah seluas 3,81 ha (0,22). Selain
penyimpangan penggunaan lahan tersebut, selain hutan primer pada blok
Rencana Pengelolaan KPHP Mamasa Barat
Page 42
inti juga terdapat hutan sekunder seluas 14816,97 ha (87.70 %). Secara
maknawi blok inti mengalami tekanan yang sangat berat baik berupa
konversi penggunaan lahan maupun degradasi hutan primer menjadi hutan
sekunder. Pada blok inti terdapat HTR Mamasa seluas 1,9547 ha pada
blok inti dinilai tidak tepat, sebaiknya dilakukan reboisasi oleh pengelola
KPHP.
2. Blok Pemanfaatan HHK-HA
Blok pemanfaatan Hasil Hutan Kayu –Hutan Alam (HHK-HA) adalah
blok yang difungsikan sebagai areal yang direncanakan untuk pemanfaatan
terbatas sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan pada
kawasan hutan yang berfungsi sebagai hutan lindung. Blok Pemanfaatan HHKHA pada KPHP Mamasa Barat berada pada Hutan Produksi Terbatas seluas
28444, 04 ha. didalamnya terdapat hutan primer seluas 218,59 ha (0,77 %
dari luas blok HHK-HA),
hutan sekunder seluas 27982,79 ha (98,37 %),
belukar seluas 74, 14 ha (0,26 %) dan pertanian lahan kering campur semak
seluas 169,13 ha (0,59 ha).
3. Blok Pemanfaatan Hasil Hutan Kayu-Hutan Tanaman (HHK-HT)
Blok HHK-HT adalah blok yang telah ada ijin pemanfaatan HHK-HT
sesuai dengan potensi kawasan yang telah dihasilkan dari proses tata hutan .
Blok Pemanfaatan HHK- HT seluas 9570,02 ha berada pada Kawasan Hutan
Produksi Terbatas. Pada blok HHK-HT terdapat hutan sekunder seluas
7722.02 ha (80,68 % dari luas blok HHK -HT),belukar seluas 1005,05 ha
(10,50 %), dan pertanian lahan kering seluas 764,94 ha (7,99 %).
Keseluruhan areal blok HHK-HT telah dikelola oleh PT Amal Nusantara sebagai
pemegang ijin Pemungutan Hasil Hutan Kayu Hutan Tanaman (IUPHHKHT).
Rencana Pengelolaan KPHP Mamasa Barat
Page 43
4. Blok Pemberdayaan
Blok Pemberdayaan seluas 16508, 65 ha berada pada Hutan Produksi
Terbatas. Di dalam areal Blok Pemberdayaan terdapat hutan sekunder seluas
2042, 16 ha (12,37 % dari luas Blok Pemberdayaan), belukar seluas 9156,41
ha (55,56 %), tanah terbuka seluas 100,31 ha (0,60 %), pertanian lahan
kering seluas 113,69 ha (0,68), pertanian lahan kering campur semak seluas
5166,64 ha (31,29 %). Blok ini dicadangkan sebagai pengembangan Hutan
Tanaman Rakyat (HTR) pada beberapa kecamatan
Aralle, Bambang,Buntu
Malangka, Kalukku, Mambi,Mehalaan, Tabulahan, dan Ulumanda dengan
luasan masing-masing 5916,59681 ha, 0,018383667 ha, 572,153475 ha,
0,327379363 ha, 8746,387207 ha, 0,749016243 ha, 1272,41587 ha, dan
0,000467246 .
5. Blok Perlindungan
Blok Perlindungan seluas 2303,39 ha berada di dalam areal Hutan
Produksi Terbatas. Di dalam areal
Blok Perlindungan
terdapat hutan
sekunder seluas 864,37 ha (37 % dari luas Blok Perlindungan), belukar seluas
395,48 ha ( 17.16 %),
pertanian lahan kering campur semak seluas 1002,71
ha (43,53 %) dan sawah seluas 39,49 ha (1,71 %). Pada Blok Perlindungan
telah ada peruntukan untuk HTR seluas 341,68 ha (14,83 %).
Sebaran penggunaan lahan pada setiap blok yang terdapat dalam KPHP
Mamasa Barat belum menampakkan dukungan terhadap fungsi-fungsi yang
diembannya. Diperlukan upaya-upaya yang sistimatis dan terarah agar fungsi
yang diemban oleh KPHP Mamasa Barat dapat ditingkatkan pada masa yang
akan datang.
Rencana Pengelolaan KPHP Mamasa Barat
Page 44
2. Analisis Sumberdaya Manusia
Hasil pengumpulan data kependudukan pada dua desa sampel masingmasing di Desa Talipukki Kecamatan Mambi dan di Desa Aralleanak Kecamatan
Aralle menunjukkan bahwa proporsi penduduk pada kisaran umur 15-55 tahun
yang bermata pencaharian sebagai petani masing-masing sebesar
93.3 % di
Desa Talipukki dan 80 % di desa Aralleanak (BPKH Wilayah VII, 2012) Angka ini
menunjukkan bahwa sebagian besar penduduk masih sangat bergantung pada
sektor non formal yang membutuhkan lahan . Ketiadaan penduduk yang
mencapai perguruan tinggi dapat menjadi hambatan untuk memahami regulasi,
khususnya regulasi di bidang kehutanan.
Laju pertambahan penduduk yang cukup tinggi sebesar 1, 8 % per
tahun tanpa diimbangi dengan kesempatan kerja
pada sektor lain, akan
berakibat meningkatnya jumlah penduduk yang membutuhkan lahan dan
berimplikasi negatif terhadap kondisi hutan.
3. Analisis potensi serapan karbon
Selain fungsi sebagai pengatur tata air, kawasan KPHP Mamasa Barat
juga diharapkan dapat menjadi kawasan hutan yang dapat menyimpan karbon
(karbon stock). Luas areal yang diperuntukkan untuk karbon stock terdiri atas
hutan primer seluas 1298,442511 ha (85 % dari luas hutan primer) dan hutan
sekunder seluas 14817.7237 ha (27,73 % dari luas hutan sekunder)
Hutan sekunder yang dipersiapkan sebagai areal penyimpanan karbon
tersebar pada beberapa kecamatan meliputi, Kecamatan Aralle ,Bambang ,Bulo,
Buntu Malangka, Malunda,Mambi, Mehalaan, Tabulahan, Tapalang,, Tubbi
Taramanu dan Ulumanda dengan luasan masing-masing sebesar seluas
9504,7479 ha , 0,0132 ha, 0,9879 ha, 0,0104 ha , 0,0240 ha, 3254,4780ha,
1424,2346 ha, 313,8832 ha, 4,5734 ha, 11,2989 dan 303,4706 ha. Keseluruhan
Rencana Pengelolaan KPHP Mamasa Barat
Page 45
luas
kawasan
yang
dipersiapkan
sebagai
penyimpanan
karbon
adalah
16116,16621 ha (21,86 dari luas KPHP Mamasa Barat).
Fungsi hutan untuk
penyimpanan karbon
temasuk fungsi hutan
sebagai jasa lingkungan yang perlu mandapatkan apresiasi dalam kaitannya
dengan fenomena pemanasan global (global warming)
Hasi penelitian yang dilakukan oleh Dewi (2011) mengemukakan bahwa
tipe penutupan vegetasi berhubungan dengan erat dengan cadangan karbon.
Hutan primer mempunyai kemampuan untuk menyimpan karbon sebesar 261,52
ton/ha. Hutan sekunder dengan kerapatan tinggi sebesar 192,81 ton ton per ha
dan hutan sekunder dengan kerapatan rendah sebesar 129,97 ton per ha.
Keberhasilan meningkatkan kondisi hutan sekunder kerapatan rendah menjadi
hutan sekunder dengan kerapatan tinggi akan meningkatkan penyimpanan
karbon sebesar 62, 84 ton per ha. Pada saat ini harga karbon berkisar antara 540 dollar AS per ton (kompasiana.com/2009/03/09/mencermati-potensi-carbontrading-4078.html diakses 20 Januari 2012),
dengan demikian bila pengelola
KPHP dapat memasarkan karbon pada hutan primer dan hutan sekunder di KPHP
Mamasa, akan diperoleh nilai uang sebesar 51937,7 dollar AS pada hutan primer
dan 592708,95 dollar AS pada hutan sekunder.
4. Analisis Pengembangan sektor Wisata
Pemerintah Sulawesi Barat telah menyiapkan infrastrukur pendukung
agar
Kabupaten
Mamasa
menjadi
destinasi
wisata
pada
tahun
2014
(http://makassar.antaranews.com/berita/41713/ diakses 20 Januari 2013) ).
Untuk merealisasikan hal tersebut, pemerintah provinsi Sulawesi Barat telah
menandatangani
kontrak
untuk
pembangunan
infrastruktur
jalan
yang
menghubungkan Salubatu di Kabupaten Tana Toraja dengan Mamasa. Selain
transportasi darat , akan dibangun Bandara Sumarorong yang diharapkan
Rencana Pengelolaan KPHP Mamasa Barat
Page 46
rampung pada tahun 2014. Kehadiran bandara ini akan mempercepat realisasi
perhubungan udara Bali- Mamasa. Fasilitas yang dibangun menunjukkan
keseriusan menjadikan Mamasa sebagai tujuan wisata yang dapat disejajarkan
dengan tujuan wisata lain yang
telah dikenal di mancanegara. Untuk
merealisasikan fungsi kawasan hutan sebagai obyek wisata, pemetaan kawasan
hutan yang dapat mempengaruhi kondisi ekologis baik yang berupa kontinuitas
penyediaan air maupun gangguan terhadap panorama dan keindahan obyek
wisata
perlu
dilakukan.
Pemerintah
Kabupaten
Mamasa
juga
telah
mempersiapkan pembangunan SMK Pariwisata untuk mengntisipasi kunjungan
wisatawan baik dari Mancanegara maupun wisatawan lokal.
B. Proyeksi
Proyeksi yang diharapkan pada program
panjang
pengelolaan Hutan jangka
yang berdurasi 10 tahun (2013-2923) adalah keberhasilan untuk
mengatasi kondisi lahan yang telah mengalami degradasi, menurunnya kapasitas
hutan baik sebagai produsen kayu dan hasil hutan lainnya , sempitnya lahan
kerja di bidang kehutanan serta rendahnya tingkat kesejahteraan masyarakat.
Keberhasilan mengelola kawasan hutan produksi Mamasa Barat tidak hanya
berdampak insitu tetapi juga memberikan dampak exsitu terhadap kawasan
yang mempunyai keterkaitan ekologisyang berada di bagian t Sepuluh tahun
kedepan proyeksi yang diharapkan telah mampu meningkatkan fungsi kawasan
hutan baik produksi maupun fungsi lindung, semakin kuatnya lembaga
masyarakat yang mengelola hutan,
semakin luasnya
penyerapan lapangan
kerja di sektor kehutanan ,optimalisasi jasa lingkungan serta
meningkatnya
fungsi hidroorogis Daerah Alran Sungai yang ada keterkaitan dengan wilayah
hilir. Proyeksi masing-masing dampak positif tersebut diuraikan sebagai berikut :
Rencana Pengelolaan KPHP Mamasa Barat
Page 47
1) Proyeksi Manfaat ekologi
Tidak dapat dipungkiri bahwa penyimpangan penggunaan lahan
berupa hutan sekunder, belukar, pertanian lahan kering campur semak, tanah
kosong dan sawah adalah indikator terjadinya
deplesi mutu ekologi pada
kawasan KPHP Mamasa Barat. Pengembangan hutan tanaman rakyat dengan
pola campuran dapat mengoptimalisasi pemanfaatn lahan secara rasional ,
baik dari aspek ekonomis maupun aspek ekologis. Penerapannya di lapangan
dilakukan dengan cara pemanfaatan ruang tumbuh baik secara vertikal
maupun secara horisontal dengan memadukan antara tanaman berkayu
dengan buah-buahan, tanaman obat,tanaman perkebunan dan sebagainya.
Pola ini dapat diterapkan di KPHP Mamasa Barat dengan memadukan antara
tanaman berkayu lokal seperti Baloli, Lemarra dan Latto-Latto dengan
tanaman kopi, durian alpukat dan sebagainya. Pertanaman campuran secara
ekologi juga meningkatkan keragaman jenis yang tangguh terhadap serangan
hama dan penyakit serta memungkinkan meningkatkan cadangan air tanah
(ground water storage) melalui penetrasi perakaran yang memperbesar
infiltrasi.
Observasi yang dilakukan di Lampung menunjukkan bahwa pola
agroforestry mengundang banyak satwa utamanya jenis-jenis burung yang
sekaligus juga membantu proses penyerbukan tanaman. Gambaran tersebut
di atas akan mendorong terciptanya suatu keseimbangan ekologi yang
berimplikasi kepada manfaat –manfat lainnya.
2. Proyeksi manfaat sosial
Pengelolaan
Kawasan
Hutan
tidak
dapat
dipisahkan
masyarakat. Pengadaan blok pemberdayaan dan blok pemanfaatan
dengan
yang
memberikan ruang kepada masyarakat merupakan indikator tentang pelibatan
masyarakat dalam mengelola hutan. Penelitian di Sumberjaya Lampung,
menunjukkan bahwa setelah masyarakat memperoleh kepastian pengelolaan
Rencana Pengelolaan KPHP Mamasa Barat
Page 48
terhadap kawasan hutan, kelestarian hutan yang berbatasan dengan wilayah
kelolanya
justru lebih terjaga (Umar dkk, 2001) KPHP Mamasa Barat
diharapkan akan memberikan ruang kepada masyarakat setempat untuk
menjadi
sarana
belajar
dalam
membentuk
kelembagaan
mempertegas legalitas mereka dalam mengelola hutan
yang
kuat,
serta kesempatan
kerja yang luas. Untuk itu pengelola KPHP Mamasa Barat diharapkan dapat
menciptakan hubungan yang harmonis dengan masyarakat, meningkatkan
sinergitas yang dilandasi oleh regulasi yang mengatur hak dan kewajiban
antara pengelola KPHP dan masyarakat yang diberikan ruang melaksanakan
HTR atau HTI dalam wilayah kelolanya. Apabila hubungan ini dapat terjaga
maka terwujudnya KPHP Model Mamasa Barat akan menjadi realitas seperti
yang diharapkan .
3. Proyeksi Manfaat Ekonomi
Pola HTR dapat memilih opsi mandiri, kemitraan atau developer.
Masyarakat akan memilih salah satu di antara pola yang ada dengan beberapa
pertimbangan yang rasional menurut mereka. Salah satu HTR yang dibangun
di Provinsi Jambi melalui pola kemitraan pada lahan seluas 12.065 ha dengan
melibatkan 7.554 anggota. Pada daur pertama dengan luas panen 2870 ha
telah memberikan manfaat ekonomi kepada masyarakat sebesar 8,5 milyar
(www.aphi-net com). Manfaat ekonomi ini sangat penting artinya begi mereka
dengan kehadiran HTR Pola Kemitraan yang memberikan bantuan finansial.
Belum banyak laporan mengenai nilai ekonomi tanaman hutan rakyat pola
mandiri tetapi dapat didekati melalui
hasil penelitian yang dilakukan oleh
Allan Mattra (2009) pada pola agoforestry di Lainungan , Kabupaten Sidrap.
Petani yang memiliki 800 pohon jambu mente , 200 kemiri dan 10 kakao
memperoleh hasil senilai Rp 7.640.000 /ha/tahun pada saat panen pertama
mente dan kakao dan panen ke 3 kemiri. Pada bentang lahan yang sama
Rencana Pengelolaan KPHP Mamasa Barat
Page 49
petani yang memiliki 80 tanaman jambu mente, 60 kemiri dan 140 kopi
memperoleh hasil senilai
Rp 4.650.000.
Hasil yang diterima adalah hasil
bersih setelah biaya sarana produksi dan peralatan diperhitungkan.
Hasil
penelitian yang relatif sama dengan pola di atas yang dilaporkan oleh Rusyid
dan Supratman memperoleh hasil yang lebih besar dengan nilai Rp 11. 106.
736 ha. Berdasarkan ke dua informasi tersebut gambaran manfaat ekonomi
pengelolaan hutan dengan pendekatan pola agroforestry patut untuk
dipertimbangkan. Untuk Kabupaten Mamasa yang dikenal sebagai penghasil
kopi dengan kualitas prima, pola yang rasional dikembangkan adalah pola
agroforestry pada lahan HTR yang berbasis kopi.
Nilai tersebut dapat
dijadikan sebagai dasar untuk menghitung besarnya nilai ekonomi utamanya
pada blok pemberdayan dengan cara mengalikan luas blok pemberdayaan
dengan nilai diatas sebesar 16508, 65 ha x Rp 11.106.736 = Rp
183.357.217,26.
Rencana Pengelolaan KPHP Mamasa Barat
Page 50
V. RENCANA KEGIATAN
A. Inventarisasi Berkala Wilayah Pengelolaan serta penataannya
Peraturan Pemerintah Nomor 6 Tahun 2007 tentang Tata Hutan dan
Penyusunan Rencana Pengelolaan Hutan, serta Pemanfaatan Hutan, kegiatan
inventarisasi berkala wajib dilakukan oleh pemegang Izin Usaha Pemanfaatan Hasil
Hutan Kayu dalam Hutan Alam (IUPHHK-HA) dan Izin Usaha Pemanfaatan Hasil
Hutan Kayu dalam Hutan Tanaman (IUPHHK-HT). Tujuan inventarisasi hutan
menyeluruh berkala antara lain: (1) untuk mengetahui kondisi sediaan tegakan hutan
(timber
standing
stock)
secara
berkala,
(2)
sebagai
bahan
pemantauan
kecenderungan (trend) kelestarian sediaan tegakan hutan di areal KPH dan atau
IUPHHK-HA atau IUPHHK-HT. Inventarisasi tersebut dilakukan secara berkala setiap
sepuluh tahun sebagai dasar untuk menyusun Rencana Kerja Usaha Pemanfaatan
Hasil Hutan Kayu (RKUPHHK) dalam Hutan Alam dan atau RKUPHHK dalam Hutan
Tanaman atau KPH sepuluh tahunan. Inventarisasi Hutan Menyeluruh Berkala (IHMB)
pada prinsipnya berbasis keragaman potensi hutan dan dilaksanakan oleh pemegang
IUPHHK-HA dan IUPHHK-HT pada Hutan Produksi atau suatu KPH.
Pembagian blok pada KPHP Mamasa Barat meliputi blok inti, blok pemanfaatan
HHK-HA,
Blok HHK –HT, Blok Pemberdayaan,
blok pemanfaatan dan blok
perlindungan. Blok blok tersebut diwadahi oleh hutan lindung dan hutan produksi
Terbatas
1. Kegiatan pada blok inti
Pada blok inti, penggunan lahan yang tidak sesuai dengan fungsi blok inti
sebagai pengatur tata air perlu direhabilitasi. Penggunaan lahan tersebut meliputi
belukar, pertanian lahan kering,
dan pertanian lahan kering campur semak dan
sawah. Luasan total dyang terdapat blok inti juga perlu direhabitasi dengan
Rencana Pengelolaan KPHP Mamasa Barat
Page 51
2. Blok Pemanfaatan HH-KA
Pada blok pemanfaatan kayu pada hutan alam terdapat beberapa pola penggunaan
lahan yakni, belukar seluas 74, 14 ha (0,26 %) dan pertanian lahan kering campur
semak seluas 169,13 ha (0,59 %). Penutupan lahan yang berupa hutan sekunder
seluas 37,57 ha (1.32 %) telah ditetapkan untuk areal Hutan Tanaman Rakyat (HTR).
Pada kawasan yang pengelolaanya tidak termasuk pada areal HTR, pengelola perlu
untuk melakukan rehabilitasi.
3.Blok pemanfaatan HHK-HT.
Blok HHK-HT adalah blok yang telah ada ijin pemanfaatan HHK-HT sesuai
dengan potensi kawasan yang telah dihasilkan dari proses tata hutan . Blok
Pemanfaatan HHK- HT
seluas 9570,02 ha berada pada Kawasan Hutan Produksi
Terbatas. Pada blok HHK-HT terdapat hutan sekunder seluas 7722.02 ha (80,68 %
dari luas blok HHK -HT),belukar seluas 1005,05 ha (10,50 %), dan pertanian lahan
kering seluas 764,94 ha (7,99 %). Keseluruhan areal blok HHK-HT telah diserahkan
pada PT Amal Nusantara sebagai pemegang ijin Pemungutan Hasil Hutan Kayu Hutan
Tanaman (IPHHKHT).
Pada Kawasan yang telah ditetapkan sebagai lokasi HTR,
pengelola KPHP perlu melakukan pengawasan kinerjanya
4. Blok Pemberdayaan Masyarakat
Blok Pemberdayaan seluas 16508, 65 ha berada pada Hutan Produksi terbatas.
Di dalam areal
Blok Pemberdayaan terdapat hutan sekunder seluas 2042, 16 ha
(12,37 % dari luas Blok Pemberdayaan), belukar seluas 9156,41 ha (55,56 %), tanah
terbuka seluas 100,31 ha (0,60 %), pertanian lahan kering seluas 113,69 ha (0,68),
pertanian lahan kering campur semak seluas 5166,64 ha (31,29 %). Dalam blok
pemberdayaan telah ada peruntukan areal seluas 1783,19 ha (10,80 %) yang
dikelola oleh Hutan Tanaman Rakyat (HTR) Mamasa. Areal peruntukan ini pada lahan
yang penggunaan lahannya berupa hutan sekunder , semak belukar dan tanah
Rencana Pengelolaan KPHP Mamasa Barat
Page 52
terbuka
yang tersebar di 3 kecamatan yakni, Kecamatan Mambi, Aralle dan
Tabulahan. Berdasarkan data tersebut, masih sangat terbatas cakupan lahan HTR
dibandingkan dengan luas lahan yang dapat mengubah fungsi blok pemberdayaan.
Untuk itu pengelola KPHP perlu memilih alternatif apakah berupa pemberian ijin
kelola kepada pihak lain atau melaksanakan rehablitasi.
4. Blok Perlindungan
Pada Blok Perlindungan seluas 2303,39 ha yang seyogianya diperuntukkan untuk
perlindungan tata ar terdapat penggunaan lahan yang berpotensi untuk menimbulkan
degradasi lahan, berupa
hutan sekunder seluas 864,37 ha (37 % dari luas Blok
Perlindungan), belukar seluas 395,48 ha ( 17.16 %),
pertanian lahan kering campur
semak seluas 1002,71 ha (43,53 %) dan sawah seluas 39,49 ha (1,71 %). Pada Blok
Perlindungan telah ada peruntukan untuk HTR seluas 341,68 ha (14,83 %) yang
akan dikelola oleh HTR Mamasa.
Luas kawasan yang dikelola oleh HTR
masih
terbatas dibandingkan dengan sebaran penggunaan lahan yang diduga telah
menimbulkan degradasi dan memerlukan alternati penanganan oleh pengelola KPHP
Rencana Pengelolaan KPHP Mamasa Barat
Page 53
VI. PEMBINAAN, PENGAWASAN DAN PENGENDALIAN
A. Pembinaan
Pembinaan adalah kegiatan yang berhubungan dengan ,pemberian pedoman
,bimbingan, pelatihan, arahan dan atau supervisi.
terhadap pelaksanaan tata hutan
Pemberian pedoman ditujukan
yang merupakan rancang bangun
unit
pengelolaan hutan,yang mencakup kegiatan pengelompokan sumberdaya hutan
sesuai dengan tipe ekosistem dan potensi yang terkandung didalamya dengan tujuan
untuk memperoleh manfaat yang sebesar-besarnya bagi masyarakat secara lestari.
Pemberian bimbingan ditujukan terhadap penyusunan prosedur dan tata
kerja, pemberian pelatihan ditujukan terhadap sumberdaya manusa dan aparatur,
pemberian arahan
mencakup kegiatan penyusunan rencana dan program,
sedangkan supervisi ditujukan terhadap pelaksanaan tata hutan dan penyusunan
rencana pengelolaan hutan ( PP No. 6 Tahun 2007).
Cakupan yang luas dari aspek pembinaaan mendasari pengelola KPHP Mamasa
untuk
mencermati
kegiatan
atau
program
yang
berada
pada
wilayah
kelolanya.misalnya :

Apakah
mereka telah
melaksanakan
penyusunan
rencana tata hutan
berdasarkan pedoman yang ada

Bimbingan apa yang harus dilakukan dalam penyusunan rancang bangun
tersebut

Pelatihan apa yang mereka butuhkan agar rencana tersebut dapat terlaksana
dengan baik

Arahan apa yang perlu diberikan kepada mereka setelah kegiatan tersebut siap
untuk diimplementasikan. Tahapan –tahapan ini tentunya sangat bergantung
Rencana Pengelolaan KPHP Mamasa Barat
Page 54
pada kondisi masyarakat yang menjadi obyek pembinaan serta bentuk
kegiatan apa yang mereka lakukan.
Strategi pembinaan masyarakat yang menyangkut aspek teknis pada dasarnya
mudah diatasi apabila masyarakat telah memahami dengan baik prasyarat
yang harus dipenuhi dalam pelibatan program-program yang diprakarsai oleh
pemerintah. Untuk itu peningkatan intensitas sosialisasi
program-program
tersebut kepada masyarakat dapat meningkatkan pemahaman tentang arah
yang akan dituju dan dimana posisi mereka di dalam program tersebut.
Aspek pembinaan ini tentunya tidak hanya terfokus kepada masyarakat tetapi
juga harus dilakukan kepada sub ordinasi dari seorang kepala KPHP sebagai
manager. Hal ini perlu dilakukan untuk mempersiapkan mereka dalam
penanganan masalah-masalah yang mungkin terjadi dalam penyiapan dan
pelaksanaan program yang telah dibuat.
Pelaksanaan tata hutan yang menghasilkan beberapa blok dapat memicu
konflik apabila mereka tidak memahami urgensi
dan pertimbangan
pembentukan blok tersebut.
Pada blok yang ditetapkan sebagai blok inti yang secara posisional
masih berbatasan dengan blok-blok lainnya akan menimbulkan pertanyaan
mengapa terdapat regulasi yang berbeda dengan blok-blok lainnya. Hal ini
merupakan fenomena yang mungkin terjadi dan membutuhkan pembinaan
ssecara dini.
B. Pengawasan
Aspek pengawasan pada dasarnya bertujuan untuk melihat sejauh mana suatu
kegiatan telah sesuai dengan apa yang telah direncanakan.
dilakukan secara baik
Pengawasan yang
dapat mengantisipasi penyimpangan-penyimpangan yang
Rencana Pengelolaan KPHP Mamasa Barat
Page 55
terjadi
dan
menggiring
penyimpangan
tersebut
kepada
jalur
yang
Pengawasan yang dilakukan secara baik akan mudah mengindentifikasi
benar.
bentuk
penyimpangan yang terjadi dan pada segmen penyimpangan tersebut terjadi.Dengan
demikian akan memberikan kemudahan untuk melakukan pengendalian yang lebih
terarah.
c. Pengendalian
Pengendalian merupakan suatu tahapan
yang harus dilakukan untuk
menghindari berlanjutnya penyimpangan-penyimpangan yang terjadi. Laporan yang
diperoleh
dari
hasil
kegiatan
pengawasan
harus
segera
direspons
agar
penyimpangan tersebut tidak menimbulkan eskalasi permasalahan yang lebih besar
dan semakin
sulit untuk diselesaikan. Sudah barang tentu
tidak semua
penyimpangan yang terjadi harus dikendalikan oleh pengelola KPH, karena sangat
bergantung pada level mana penyimpangan itu terjadi. Penyimpangan yang terjadi
pada tataran kebijakan yang mempengaruhi operasionalisasi
suatu kegitana
tentunya harus dikendalikan pada level yang lebih tinggi.Apakah pada taran
kementerian atau pada tataran Dinas Kehutanan dan sebagainya. Pengelola KPHP
Mamasa harus berkonsentrasi pada pengendalian di tingkat tapak yang merupakan
wilayah kerjanya.
Rencana Pengelolaan KPHP Mamasa Barat
Page 56
VII. PEMANTAUAN EVALUASI DAN PELAPORAN
Peraturan Pemerintah No 6 Tahun 2007 menjelaskan bahwa salah satu tugas
yang harus dilakukan oleh pengelola KPH adalah melakukan pemantauan terhadap
pelaksanaan pada suatu obyek yang telah ditentukan pada selang waktu yang telah
ditetapkan. Hasil yang diperoleh melalui pemantauan menjadi bahan penilaian yang
setelah dirumuskan melalui suatu kesimpulan, menjadi bahan evaluasi. Bahan
evaluasi akan
didokumentasikan dalam bentuk laporan. Proses dan hasil
dokumentasi ini disebut pelaporan
Pemantauan, evaluasi dan pelaporan dilakukan berdasarkan
hasil kegiatan
penataan hutan yang menetapkan blok inti,blok perlindungan, blok pemberdayaan,
dan blok pemanfaatan HHKHA dan HHKHT.
Pada blok inti misalnya, apakah tidak terjadi sengketa lahan dengan
masyarakat dengan penetapan blok tersebut. Sejauhmana kemajuan yang telah
dicapai sesuai dengan rencana yang telahg dibuat serta permasalahan yang dihadapi.
Hasil pemantauan dan evaluasi tersebut
menjadi bahan dokumentasi untuk
pelaporan. Proses dan metoda pemantauan dan evaluasi ini tentunya akan berbeda
berdasarkan peruntukan blok yang menjadi obyek pantau dan tahapan pelaksanaan
yang telah berjalan. Misalnya pada blok pemberdayaan, pada tahapan rekruitment
masyarakat yang terlibat pada blok pemberdayaan perlu dilakukan pemantauan dan
dievalusi berdasarkan pedoman yang ada (misalnya kegiatan HTR).tetapi apabila
telah berjalan pemantauan akan beralih kepada jenis tanaman yang dibudidayakan,
pola tanam yang dikembangkan sesuai dengan perencanaan yang telah dibuat.
Pemantauan yang krusial juga harus dilakukan pada
hak kelola Hutan Tanaman
Industri oleh karena dalam pembukaan lahan sering mengorbankan kondisi kawasan
hutan di sekitar wilayah kelolanya.
Rencana Pengelolaan KPHP Mamasa Barat
Page 57
Pelaporan yang perlu dibuat setelah didahului dengan pemantauan dan
evaluas imeliputi :
1. Inventarisasi wilayah kelola secara penataanya secara berkala
Inventarisasi berkala wilayah kelola serta penataan hutannya. Hal ini dipantau,
dievaluasi, dan dibuatkan pelaporan pada masing-masing blok. Metode, proses,
dan objek yang dipantau tentang inventarisasi ini berbeda tergantung dari jenis
blok serta jenis kegiatan pada masing-masing blok yang ada pada wilayah KPHP l
Mamasa Barat
2. Pemberdayaan Masyarakat. Pemantauan, evaluasi, dan pelaporan mengenai
“Pemberdayaan Masyarakat” pada blok pemberdayaan sangat diperlukan
utamanya pada metoda rekruitment masyarakat. Metoda rekruitment yang salah
akan memberikan imbas
terhadap sasaran yang
ingin dicapai dalam
pengembangan ekonomi masyarakat
3. Pembinaan dan pemantauan (controlling) pada areal KPHP l Mamasa Barat yang
telah ada izin pemanfaatan atau penggunan kawasan hutan. Utamanya pada blok
yang telah jelas peruntukannya.
4. Penyelenggaraan rehabilitasi pada areal di luar izin. Manajemen KPHP Mamasa
Barat perlu segera menginventarisasi areal-areal yang perlu direhabilitasi pada
masing-masing blok yang menjadi tanggung jawabnya. Kegiatan rehabiltasi yang
dilakukan oleh manajemen KPHP Mamasa Barat akan sekaligus akan menjadi
acuan bagi pemegang izin pengelolaan untuk membenahi wilayah kelolanya
Selanjutnya, dibuat rencana kegiatan penyelenggaraan rehabilitasi pada areal di
luar izin tersebut. Penyelenggaraan pemantauan, evaluasi, dan pelaporan perlu
Rencana Pengelolaan KPHP Mamasa Barat
Page 58
diadakan baik pada pembuatan rencananya maupun pada pelaksanaan rencana
rehabilitasi di luar areal izin tersebut.
5. Pada areal yang diperuntukkan untuk cadangan karbon perlu dilakukan penaksiran
cadangan karbon yang ada pada saat ini untuk kemudian dibuat pelaporannya.
Pemantauan yang juga perlu dilakukan adalah ada tidaknya kegiatan yang dapat
mempengaruhi baseline cadangan karbon yang ada pada saat ini.
6. Penyelenggaraan perlindungan terhadap satwa yang perlu dilindungi. Walaupun
belum dilakukan inventarisasi terhadap satwa yang terdapat di KPHP Mamasa
Barat, tetapi telah dilaporkan bahwa di
dalam wilayah kelola terdapat satwa
langka yang harus dilindungi. Satwa tersebut perlu diinvevtarisir kemudian
dibuatkan pelaporan.
Rencana Pengelolaan KPHP Mamasa Barat
Page 59
Konsep pengelolaan multi manfaat (multiple use management) adalah konsep
pengelolaan yang tepat untuk mengelola areal KPHP Model Mamasa Barat. Konsep ini
akan mengembangkan keterpaduan ekonomi, ekologi, dan sosial sesuai prinsipprinsip pengelolaan hutan lestari dan prinsip-prinsip bisnis usaha pemanfaatan jasa
lingkungan, pemanfaatan hasil hutan bukan kayu, dan pemanfaatan hasil hutan kayu.
Tiga strategi utama untuk mengimplementasikan konsep tersebut yaitu, (1)
pengembangan sistem pengelolaan multi manfaat (multiple use management), (2)
pengembangan unit usaha kehutanan berbasis masyarakat, dan (3) pengembangan
sistem pendukung. Strategi-strategi tersebut akan dijabarkan dalam bentuk aktivitasaktivitas pengelolaan yang akan dilaksanakan secara sequential dan multi tahun
(multi years) serta mengarah kepada pengelolaan areal KPHP Model Mamasa barat
yang mandiri.
Pada tahap awal operasionalisasi KPHP Model Mamasa barat, hal yang paling
penting dan mendesak dilakukan adalah pemantapan kawasan dan inventarisasi
hutan. Pemantapan kawasan dilakukan melalui pemetaan secara partisipatif batasbatas wilayah KPHP serta pemetaan lokasi-lokasi aktivitas pemanfaatan hutan oleh
masyarakat setempat di dalam wilayah KPHP Model Mamasa barat. Kegiatan
pemetaan partisipatif diikuti dengan kegiatan inventarisasi untuk mengetahui potensi
hutan pada setiap blok serta potensi areal KPHP yang dapat dikelola sebagai blok
wilayah tertentu. Hasil kedua kegiatan tersebut menjadi dasar menyusun rencana
pengelolaan tahunan dan revisi blok KHPL Model Mamasa barat.
Untuk jangka waktu sepuluh tahun pertama, rencana pengelolaan tahunan
akan fokus pada rehabilitasi kawasan hutan yang telah terdegradasi, pembangunan
institusi kolaborasi pengelolaan unit usaha jasa lingkungan (antara lain kolaborasi
dengan pengelola wisata air terjun dan pengelola PLTA Bakaru), pengelolaan Hutan
Rencana Pengelolaan KPHP Mamasa Barat
Page 60
Tanaman Rakyat (HTR) pada blok pemberdayaan, pengelolaan kolaborasi pada blok
inti dan blok perlindungan yang telah dimanfaatkan oleh masyarakat (antara lain
dapat melalui pembangunan skema Hutan Kemasyarakatan), serta revisi blok
pengelolaan yaitu menata blok wilayah tertentu pada areal KPHP Model Mamasa
barat yang memiliki potensi untuk dikelola secara mandiri oleh manajemen KPHP
Model Mamasa barat.
Untuk
melaksanakan
kegiatan-kegiatan
pengelolaan
tersebut
di
atas,
manajemen KPHP Model Mamasa barat memerlukan dukungan kebijakan konvergensi
anggaran dari Pemerintah, Pemerintah Provinsi Sulawesi Barat, dan Pemerintah
Kabupaten Mamasa sehingga pendekatan manajemen yang lintas wilayah dan lintas
sektor dalam pengelolaan KPHP Model Mamasa barat dapat diaplikasikan. Pada
akhirnya, visi pengelolaan KPHP Model Mamasa barat yaitu, “Menjadi KPHP model
mandiri yang berbasis ketangguhan pengelolaan sumberdaya hutan lestari untuk
menunjang Pembangunan Berkelanjutan” dapat terwujud.
Rencana Pengelolaan KPHP Mamasa Barat
Page 61
Download