TOLERANSI DALAM ISLAM dan KEBEBASAN BERAGAMA Hadhrat

advertisement
TOLERANSI DALAM ISLAM dan KEBEBASAN BERAGAMA
Hadhrat Mirza Masroor Ahmad
Toleransi dalam Islam dan kebebasan beragama adalah topik yang penting ketika dihadapkan pada
situasi saat ini ketika Islamdihadapkan pada banyaknya kritikan bahwa Islam adalah agama intoleran,
diskriminatif dan ekstrem. Islam dituduh tidak memberikan ruang kebebasan beragama, kebebasan
berpendapat, sebaliknya Islam sarat dengan kekerasan atas nama agama sehingga jauh
dari perdamaian, kasih sayang dan persatuan.
Memang tidak dapat dipungkiri kesimpulan keliru oleh para pengkritik Islam tersebut terbentuk dari
fakta-fakta sebagian kecil umat Islam yang melakukan tindakan yang mengatasnamakan jihad
Islam yang tidak tepat. Tetapi meski demikian kita akui juga bahwa kekuasaan yang sewenang-wenang
yang diterapkan oleh negara-negara adidaya terhadap negara-negara miskin dan negara berkembang
serta standar ganda yang mereka terapkan ketika terjadi kesepakatan antara mereka dengan negaranegara berkembang yang juga termasuk negara-negara Islam- adalah penyebab alami reaksi
kekerasan yang timbul. Tentu saja ini bukanlah cara-cara Islam dan benar-benar bertentangan dengan
ajaran Islam.
Islam adalah agama yang mengajarkan untuk menghormati para utusan Allah, meyakini bahwa
mereka adalah para utusan Allah yang benar yang bertugas menyampaikan ajaran-ajaran yang benar
sesuai dengan situasi pada masing-masing zaman. Dari hal ini bagaimana mungkin bisa dikatakan
bahwa agama seperti ini tidak mengajarkan toleransi terhadap agama lain? Bagaimana bisa dikatakan
agama Islam tidak mengajarkan persatuan dan kerukunan dengan agama lain? Bagaimana bisa agama
Islam mengajarkan kebiasaan intoleransi agama dan menganjurkan hidup dengan orang lain tanpa
cinta dan kasih sayang? Tidak mungkin. Menyatakan bahwa dalam agama Islam tidak ada nilai-nilai
kesabaran dan kebebasan berpendapat atau berbicara adalah suatu tuduhan yang tidak berdasar.
Kata makna Islam sendiri mengandung makna antidote dari kekejaman, disharmonisasi dan
intoleransi. Salah satu artinya adalah damai, penyerahan diri dan ketataatan, dan juga berarti
menciptakan kerukunan dan perdamaian. Salah satu makna lainnya adalah menghindari orang yang
menyakiti, arti lainnya adalah hidup bersama secara harmonis. Tujuan dari penjelasan tentang kata
Islam yang diberikan oleh Allah taala pada agama Islam ini adalah karena seluruh ajaran-ajaran dan
hukum-hukum yang dibawa oleh Rasulullah saw penuh dengan cinta, Toleransi, kesabaran, dan
kebebasan hati nurani dan berbicara dan hak untuk mengungkapkan pendapat.
Selanjutnya lihatlah bagaimana Rasulullah saw mengajarkan kepada kita semua tentang semangat
toleransi, kebebasan beragama dan berkeyakinan
Ketika Rasulullah (saw) mengklaim bahwa beliau adalah utusan Allah dan atas bimbingan Allah taala
menyatakan bahwa beliau adalah seorang nabi dengan membawa syariat terakhir dan satu-satunya
sarana keselamatan adalah dengan menerima Islam dan menyesuaikan diri dengan perintah-perintah
Allah yang Mahakuasa - pengumuman ini kemudian dibuat oleh Allah yang Mahakuasa:
Dan katakanlah, “Inilah kebenaran dari Tuhan-mu; maka barangsiapa menghendaki, maka
berimanlah, dan barangsiapa menghendaki, maka ingkarlah.” ( Q.S 18: 30 ) Selanjutnya, adalah urusan
Allah taala sendiri untuk memberi balasan pada orang yang tidak beriman, di dunia maupun diakhirat.
Oleh karena itu, wahai Nabi dan wahai orang-orang yang beriman pada nabi ini, tugas kalian hanyalah
menyampaikan pesan tersebut. Untuk kepentingan menciptakan lingkungan yang penuh cinta dan
kasih sayang serta toleransi, kalian harus menyebarkan pesan ini dengan penuh kebaikan. Karena
Anda yakin bahwa dengan ajaran Tuhan yang diberikan kepadamu, agama kalian adalah benar dan
berdasarkan pada kebenaran, Ini adalah persyarakat bagi terciptanya kebaikan bagi orang lain, bahwa
apa yang kalian anggap benar untuk diri kalian, kalian harus menyebarkannya juga pada seluruh umat
manusia dan juga melibatkan mereka dalam perintah ini.
Mungkin bisa saja orang lain akan mengajukan keberatanan seperti ini bahwa pilihan untuk beriman
atau tidak beriman yang diberikan kepada orang-orang Mekah itu diberikan pada saat posisi umat
Islam masih sangat lemah. Maka kalimat itulah yang dipergunakan sehingga orang-orang kafir Mekkah
tidak membinasakan umat Islam secara kejam.
Keberatan ini adalah argumen yang lemah. Walaupun adanya perintah ini, Kaum kafir Makkah tidak
berhenti dalam hal kekejaman mereka terhadap umat Islam. Mereka menganiaya orang Islam
disebabkan karena keimanan umat Islam. Beberapa diletakkan diatas batu yang membara, beberapa
lainnya disuruh berbaring diatas pasir yang panas dibawah terik matahari siang. Beberapa mereka
diikat kakinya pada dua unta dan unta tersebut ditunggangi ke arah yang berlawanan yang
menyebabkan kaki orang Islam terpotong menjadi dua bagian. Bahkan wanita-wanita yang dipukuli
tidak terhindar dari penyiksaan ini. Jadi jika ayat sebelumnya yang saya kutip dimaksudkan untuk
menyelamatkan umat Islam dari kekejaman, maka sejarah membuktikan bahwa hal itu tidak
mengarah pada tujuan itu. Perintah ini tidak terbatas pada saat itu saja tapi hal itu juga berlaku dalam
Quran Suci untuk saat ini.
Tidak tahan dengan kekejaman yang ditimbulkan oleh orang-orang sebangsa sendiri, kaum Muslim
hijrah ke Madinah. Setelah kedatangan mereka perjanjian dibuat dengan orang-orang Yahudi
Madinah yang bukan Islam pada saat itu, yang menunjukkan bagaimana masyarakat bisa hidup
bersama dan tetap bebas, dan menunjukkan bagaimana hak-hak satu sama lain diperhatikan.
Namun sebelum itu ajaran Alquran suci menyatakan:
'Tidak boleh ada paksaan dalam agama.” ( Q.S 2: 257 )
Perintah ini diturunkan di Madinah. Pada saat itu mayoritas penduduk Madinah telah menjadi Muslim,
sebagian lagi adalah orang-orang yang tidak tertarik pada agama dan mereka bergabung dengan kaum
Muslim seperti burung-burung pada kawanan yang sama. Bila dilihat dari sudut pandang ini, penduduk
Muslim mewakili mayoritas. Di sisi lain orang-orang Yahudi yang berkuasa sebelum kedatangan
Rasulullah ke madinah sekarang mereka telah berkurang dan menjadi minoritas. Sebagai
konsekuensinya, dengan menjadi Kepala Negara, pemerintahan Rasulullah (saw) telah terbentuk
dengan kuat. Meskipun demikian perintah tersebut menyatakan bahwa "Kalian tidak akan
menggunakan paksaan dalam agama, juga tidak akan menggunakan kekuatan terhadap orang-orang
lemah walaupun mereka bukan Islam yang telah bergabung dengan kalian sebagai kawan dan
saudaramu, atau tidak akan menggunakan kekuatan terhadap orang Yahudi yang hidup di bawah
wilayah kalian. ’
Anda sekalian dapat melihat dari Perjanjian yang disusun, bagaimana suasana cinta dan kasih sayang,
kebebasan beragama dan toleransi tercipta. Perjanjian itu berbunyi sebagai berikut:
Umat Islam dan Yahudi akan hidup bersama satu sama lain dalam kebaikan dan ketulusan dan tidak
akan melakukan perbuatan yang berlebihan atau kekejaman apapun terhadap satu sama lain.
Orang-orang Yahudi akan terus menjaga iman mereka sendiri dan umat Islam dengan imannya;
Kehidupan dan hak milik semua warga negara harus dihormati dan dilindungi keamanannya dalam
kasus kejahatan yang dilakukan oleh seseorang
Semua perselisihan akan mengacu keputusan Nabi Allah karena dia memiliki otoritas yang
menentukan, tetapi semua keputusan yang menyangkut pribadi akan didasarkan pada aturan masingmasing.
Dan, tentu saja, ada poin-poin lainnya dalam perjanjian ini selain keempat poin yang dikutip tersebut.
Sekarang coba lihat upaya apa yang telah digunakan untuk membangun keadaan masyarakat yang
penuh kebebasan dan kasih sayang. Pada waktu itu tidak ada hukum nasional. Setiap orang hidup
sesuai dengan tradisi dan hukum klan atau suku. Nabi Muhammad (saw) tidak mengatakan bahwa
Anda adalah minoritas, tetapi memang benar bahwa, Anda harus mematuhi undang-undang
mayoritas Islam. Sebaliknya, kondisi dari Perjanjian itu adalah bahwa urusan Anda akan ditentukan
berdasarkan undang-undang Anda sendiri. Ini adalah Piagam pertama kebebasan hati nurani dan
berkeyakinan dalam Islam.
Standar Toleransi Islam
Contoh lain yang sangat baik tentang toleransi, AlQuran Suci menjelaskan bahwa bagaimanapun
keadaannya, Anda tidak boleh meninggalkan toleransi. Terlepas dari kekejaman yang ditimbulkan
pada kalian, kalian jangan bertindak selain dengan keadilan dan tidak membalas dendam dengan cara
yang sama kejamnya. Jika kalian melakukannya, maka kalian adalah sesat, kata lain untuk sebutan
keislaman kalian menjadi tidak berarti. AlQuran Suci menyatakan:
”...janganlah kebencian sesuatu kaum mendorong kamu bertindak tidak adil. Berlakulah adil; itu lebih
dekat kepada takwa.” (Q.S 5: 9)
Ini adalah standar toleransi dan keadilan dalam Islam. Islam menganjurkan untuk tidak menanggapi
tuduhan rendah dan hina dari lawan, karena dengan melakukan itu maka akan membuat kita sendiri
menjadi kejam. Sebaliknya memaafkan adalah tindakan yang lebih baik dan kalaupun diharuskan
untuk membalas maka kita balas dengan catatan tidak melebihi luka yang telah ditimbulkan kepada
kita.
Sebuah contoh luar biasa tentang toleransi dan pengampunan adalah seperti yang diperlihatkan oleh
Rasulullah saw yang yang mengampuni semua penganiaya pada saat Fattah Mekkah. Sejarah telah
mencatat peristiwa ini. Ikramah adalah musuh terbesar Islam. Meskipun amnesti umum telah
diproklamasikan oleh Rasulullah saw pada hari kemenangan tersebut, Ikramah memilih melawan
kaum muslimin, ia akhirnya kalah dan kemudian melarikan diri. Ketika istri Ikramah memohon
pengampunan, Rasulullah saw pun mengampuni. Segera setelah pengampunan, ketika Ikramah
muncul ke hadapan Rasulullah saw, Ikrimah berkata kepada Rasulullah saw dengan sombongnya
bahwa 'Jika Engkau berpikir bahwa karena pengampunan Engkau saya juga akan menjadi seorang
Muslim, maka biarkan hal ini jelas bahwa saya tidak menjadi Muslim. Jika Anda dapat memaafkan saya
sementara saya tetap teguh pada keimanan saya, maka itu baik, tetapi jika sebaliknya saya akan pergi.
Rasulullah (saw) bersabda: Tidak diragukan lagi Engkau bisa tetap teguh dengan keimanan Engkau.
Engkau bebas dalam segala hal. Tambahan pula, ribuan orang-orang Mekkah pada waktu itu juga
belum menerima Islam dan meskipun kalah mereka tetap mendapatkan hak kebebasan mereka dalam
beragama. Jadi ini adalah ajaran AlQuran Suci dan contoh yang diberikan oleh Rasulullah saw
mengenai hal ini.
Kemudian beberapa contoh lain dari kebebasan berbicara dan toleransi. Suatu ketika Rasulullah saw
membeli unta dari seorang Badui yang ditukar dengan sekitar 90 kilo kurma kering. Ketika Rasulullah
saw sampai dirumah, ia menemukan bahwa semua kurma telah hilang. Dengan penuh kejujuran dan
kesederhanaan, beliau mendatangi orang Badui tersebut dan berterus terang padanya, Wahai hamba
Allah! Saya telah membeli unta dengan ditukar dengan kurma kering dan saya merasa bahwa saya
memiliki banyak kurma tetapi ketika saya sampai dirumah, saya menemukan bahwa saya tidak
memiliki kurma yang banyak. Orang Badui itu berkata: Dasar penipu! Orang-orang mulai memberitahu
Badui untuk berhenti berbicara seperti itu terhadap Rasulullah saw, tetapi Rasulullah saw bersabda:
Biarkan dia. (Masnad Ahmad bin Hanbal Vol.6 p.268 diterbitkan di Beirut)
Sekarang lihatlah, bagaimana cara seorang penguasa waktu tu berurusan dengan orang biasa. Ini
adalah standar jaminan kebebasan berbicara dan standar kesabarannya.
Kemudian contoh toleransi dan kebebasan beragama mengacu pada orang-orang dari agama lain.
Suatu ketika delegasi Kristen dari Najaran datang kepada Nabi Suci (saw). Dalam pertemuan dengan
Rasulullah saw di Masjid Nabi di Madinah itu, waktu bagi peribadatan Kristen telah tiba dan mereka
ingin segera berangkat. Rasulullah saw menawarkan kepada mereka untuk beribadah di masjid.
Kemudian Setelah itu terbentuklah persetujuan dengan orang-orang Kristen Najran yang menjamin
kebebasan mereka dalam beragama dan menetapkan kewajiban bagi umat Islam untuk melindungi
gereja-gereja mereka. Tidak ada gereja yang harus dihancurkan dan juga tidak akan ada satupun imam
yang akan diusir atau dikeluarkan. Hak-hak mereka juga tidak akan dikurangi dan takkan ada satupun
orang Kristen yang diminta untuk mengubah imannya. Pernyataan ini menyatakan bahwa Nabi (saw)
memberikan jaminan pribadinya. Perjanjian ini selanjutnya menyatakan bahwa jika umat Islam ingin
membantu membiayai perbaikan gereja-gereja Kristen, itu akan menjadi tindakan kebajikan bagi
mereka.
Berkenaan dengan keadilan, kebenaran dan kebebasan beragama, pendiri Jemaat Ahmadiyah,
Hadhrat Mirza Ghulam Ahmad(as) menyatakan bahwa terbukti bahwa setelah perselisihan antara
seorang Muslim dengan seorang Yahudi di bawa ke hadapan Rasulullah saw. Rasulullah
saw) memutuskan bahwa orang Yahudi yang benar dan menolak pernyataan seorang muslim.
Kemudian mengutip sebuah ayat Alquran, beliau menyatakan bahwa ayat ini berarti 'Wahai nabi,
Ajaklah orang-orang ahli kitab dan orang-orang yang tidak tahu ke dalam Islam. jika mereka masuk
Islam, mereka akan mendapatkan bimbingan tetapi jika mereka berpaling maka pekerjaan mu
hanyalah menyampaikan pesan dari Allah taala. di dalam ayat ini tidak tertulis bahwa tugas kalian
adalah berperang melawan mereka.
Jelas dari ayat ini bahwa perang hanya diizinkan terhadap musuh yang membunuh orang Islam atau
mengganggu terciptanya perdamaian dan sibuk dalam pencurian dan perampokan. Dan perang ini
adalah dilakukan dari kapasitas beliau sebagai seorang panglima dan bukan karena kenabiannya. Allah
berfirman 'berperanglah di jalan Allah terhadap mereka yang memerangimu', hal itu menyatakan
bahwa 'tidak ada kepentingan pada hal lainnya dan tidak melampaui batas' karena Allah tidak
menyukai orang-orang yang melampaui batas.
Jadi ini adalah ajaran yang indah dari Islam dan contoh yang sempurna dari Nabi Muhammad saw,
contoh-contoh yang telah saya gambarkan sebelumnya. Adalah cemoohan yang besar dengan
menuduh bahwa tidak ada konsep toleransi kebebasan beragama berkeyakinan dalam Islam. Kita
tidak boleh menafsirkan kepentingan beberapa kepentingan dari beberapa individu Islam dan juga
tidak tidak bisa ditafsirkan seperti itu.
Dalam kasus apapun, hal ini akan menjadi sangat jelas bahwa sementara ada kebebasan berbicara dan
toleransi dalam Islam, ada juga rasa hormat bagi umat manusia dan kesabaran
Download