David Yohanis Takapaha

advertisement
PENGARUH KOMUNIKASI ANTAR PERSONA GURU BIMBINGAN KONSELING
TERHADAP PERILAKU SISWA (STUDI PADA SISWA SMK NEGERI 2 KENDARI)
*David Yohanis Takapaha **La Ode Muh. Umran ***Jumrana
Jurusan Ilmu Komunikasi
Fakultas Ilmu Sosial Dan Ilmu Politik, Universitas Haluoleo)
Kampus Hijau Bumi Tri Dharma Anduonohu, Kendari 93232
082293277573
[email protected]
ABSTRAK
Pemasalahan dalam penelitian ini adalah pengaruh komunikasi antar persona yang
dilakukan oleh guru bimbingan konseling terhadap perilaku siswa. Tujuan dari penelitian ini
untuk mengetahui pengaruh komunikasi antar persona guru BK terhadap perilaku siswa,
mengetahui bentuk komunikasi antar persona antara guru BK dan siswa, mengetahui bagaimana
perilaku siswa yang mendapatkan bimbingan konseling. Penelitian ini di laksanakan di SMK
Negeri 2 Kendari dengan jumlah sampel sebanyak 61 orang.
Data penelitian di kumpulkan melalui Observasi dan kuisioner dengan metode kuantitatif.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa : 1. Secara simultan Komunikasi Antar Persona Guru BK
berpengaruh signifikan pada perilaku siswa SMKN 2 Kendari. 2. Terdapat pengaruh positif dan
signifikan antara variabel “Komunikasi Antar Persona Guru BK” pada dimensi Authority
(kekuasaan) terhadap variabel “Perilaku Siswa”. 3. Terdapat pengaruh positif dan signifikan antara
variabel “Komunikasi Antar Persona Guru BK” pada dimensi Commitment (komitmen) terhadap
variabel “Perilaku Siswa”. 4. Terdapat pengaruh positif dan signifikan antara variabel “Komunikasi
Antar Persona Guru BK” pada dimensi Contrast (kontras) terhadap variabel “Perilaku Siswa”. 5.
Terdapat pengaruh positif dan signifikan antara variabel “Komunikasi Antar Persona Guru BK” pada
dimensi Liking (kesukaan) terhadap variabel “Perilaku Siswa”. 6. Terdapat pengaruh positif
Komunikasi Antar Persona Guru BK pada Perilaku Siswa. 7. Terdapat pengaruh positif antara
bentuk komunikasi guru BK pada siswa. 8. Terdapat perubahan perilaku yang positif pada perilaku
siswa yang mendapatkan bimbingan konseling.
Kata kunci : Pengaruh, Komunikasi Antar Persona, Guru Bimbingan Konseling, Perilaku
Siswa
PENDAHULUAN
Siswa merupakan bagian dari masyarakat dituntut dapat berkomunikasi dengan orang lain
di lingkungan dimana siswa berinteraksi. Lingkungan yang dimaksud adalah sekolah. Karena
hampir sebagian waktu siswa banyak digunakan untuk berinteraksi di sekolah. Tugas siswa di
sekolah yaitu belajar, dengan belajar siswa akan memperoleh perubahan yang positif dan dapat
berkembang secara optimal serta siap melaksanakan peranannya dimasa yang akan datang.
Maka dalam proses perkembangannya remaja akan selalu bersinggungan dengan situasisituasi sosial yang tentu saja mengharuskan remaja untuk melakukan penyesuaian diri, dengan
melakukan penyesuaian diri remaja dapat mengenal, memahami dan menerima sirinya sendiri
serta lingkungan. Perubahan yang terjadi masa remaja akan mempengaruhi perilaku individu
tergantung pada kemampuan atau kemauan individu pada masa remaja untuk mengungkapkan
keprihatinan dan kecemasannya kepada orang lain, sehingga ia dapat memperoleh pandangan
yang baru dan yang lebih baik. Komunikasi adalah cara untuk mengatasi kecemasaan yang selalu
disertai tekanan. Komunikasi menimbulkan reaksi terhadap perubahan, yang terutama ditentukan
oleh kemampuan untuk berkomunikasi.
Kesulitan siswa dalam menyesuaikan diri sering dijumpai di sekolah yang ditampilkan
dalam bentuk perilaku, seperti rendah hati, agresivitas, mencari rasa aman pada berbagai bentuk
mekanisme pertahanan diri (seperti rasionalisasi, proyeksi, egosentris dan sebagainnya),
melanggar tata tertib, menetang guru, berkelahi, tidak melaksanakan tugas sekolah, mengisolasi
diri dan sulit bekerja sama dalam situasi kelompok, seringkali permasalahan yang biasa dan
dianggap wajar terjadi disekolah-sekolah.
Siswa yang memiliki kesulitan dalam melakukan komunikasi antar persona akan sulit
menyesuaikan diri, seringkali marah, cenderung memaksakan kehendak, egois dan mau menang
sendiri sehingga mudah terlibat dalam perselisihan. Keterampilan komunikasi antar persona pada
siswa ini menjadi
sangat penting karena dalam bergaul dengan teman sebayanya siswa
seringkali dihadapkan dengan hal-hal yang membuatnya harus mampu menyatakan pendapat
pribadinya tanpa disertai emosi, marah atau sikap kasar, bahkan siswa harus bisa mencoba
menetralisasi keadaan apabila terjadi suatu konflik. Bahkan suatu studi menyimpulkan bahwa
kelemahan berkomunikasi akan menghambat personal seseorang.
Untuk mengatasi perilaku siswa, setiap sekolah mempunyai guru bimbingan konseling atau
yang biasa disebut guru BK. BK atau Bimbingan dan konseling merupakan upaya bantuan yang
diberikan oleh guru pembimbing kepada siswa yang menggunakan prosedur, cara dan bahan agar
individu mampu mandiri. Proses kemandirian individu tidak lepas dari adanya Komunikasi
dalam proses sosialisasi di lingkungan dimana individu tersebut berada. Komunikasi sangat
berperan dalam pembentukan kepribadian individu. Dengan komunikasi, individu dapat
melangsungkan hidupnya baik di lingkungan keluarga, sekolah maupun di masyarakat.
Dilingkungan sekolah, siswa dituntut mampu berkomunikasi dengan baik dengan warga sekolah
yakni guru, staf tata usaha dan teman sebaya, maupun personil sekolah lainnya.
Siswa yang memiliki perilaku komunikasi antarpribadi yang baik akan mudah
bersosialisasi dan lancar dalam memperoleh pemahaman dari guru dan sumber belajar di
sekolah. Belajar bersosialisasi dan berkomunikasi dengan lingkungan sekitar merupakan proses
tak henti-hentinya dalam kehidupan individu. Komunikasi antar persona juga dapat
mempengaruhi perilaku siswa, terutama pada siswa yang mendapatkan bimbingan dari guru BK.
Seperti yang terjadi di setiap sekolah menengah atas di Kota Kendari, setiap sekolah
pernah mengalami permasalahan antara siswa dengan siswa atau siswa dengan guru. Penulis
memfokuskan pada lingkungan sekolah SMKN 2 Kendari, penulis melihat tingkat pelanggaran
siswa seperti perkelahian, melanggar tata tertib dan semacamnya cukup tinggi. Hal ini
berbanding lurus dengan apa yang selama ini menjadi cerita di masyarakat tentang reputasi siswa
SMKN 2 Kendari atau yang biasa disebut siswa STM. Hal ini dikuatkan dengan data jumlah
siswa yang telah melanggar dan masuk ke ruangan Bimbingan Konseling pada periode Tahun
ajaran 2015/2016.
Tabel 1. Data siswa SMKN 2 Kendari yang mendapatkan Bimbingan Konseling
tahun ajaran 2015/2016
Jumlah
No
Kelas
(Orang)
1.
Kelas XI Teknik Pengelasan
8
2.
Kelas XI Sepeda Motor
12
3.
Kelas XI Instalasi Listrik
11
4.
Kelas XII Audio Video
10
5.
Kelas XII Teknik Mesin
10
6.
Kelas XII Teknik Konstruksi Kayu
6
7.
Kelas XII Teknik Konstruksi Batu dan Beton
4
Jumlah
61
Sumber: SMKN 2 Kendari (Data siswa di ambil pada hari kamis 29 oktober 2015
pukul 10.12 WITA)
Penelitian ini menggunakan Teori Model Kemungkinan Elaborasi atau Elaboration
Likelihood Model dikembangkan oleh Richard E. Petty dan John T. Cacioppo, pakar komunikasi
persuasif dari Ohio State University AS, pada tahun 1980. (ELM) atau dapat disebut dengan teori
kemungkinan elaborasi, telah dikembangkan oleh Richard E. Petty dan John T. Cacioppo. Teori
ini menjelaskan di mana seseorang memproses pesan koumunikasi yang dilihatnya sehingga
menimbulkan sebuah sikap setelah memproses pesan tersebut (Littlejohn, 2008 : 72).
Effendy mengemukakan juga bahwa, pada hakikatnya komunikasi antarpribadi adalah
komunikasi antara seorang komunikator dengan seorang komunikan. Jenis komunikasi tersebut
dianggap paling efektif untuk mengubah sikap, pendapat, atau perilaku manusia berhubung
dengan prosesnya yang dialogis (Liliweri, 1997 : 12).
Bimbingan dan konseling merupakan proses bantuan atau pertolongan yang diberikan oleh
pembimbing (konselor) kepada individu (konseli) melalui pertemuan tatap muka atau hubungan
timbal balik antara keduanya, agar konseli memiliki kemampuan atau kecakapan melihat dan
menemukan masalahnya serta mampu memecahkan masalahnya sendiri (Tohirin, 2007 : 26).
Guru yang melakukan Bimbingan Konseling disekolah disebut guru BK. Para konselor ini
menggunakan komunikasi antar persona sebagai cara untuk berkomunikasi kepada siswanya. Hal
ini dikarenakan komunikasi antar persona bisa bersifat dialogis.
Berdasarkan latar belakang tersebut, penelitian ini berfokus pada tiga hal; 1) apakah ada
pengaruh komunikasi antar persona guru bimbingan konseling terhadap perilaku siswa. 2)
Bagaimana bentuk komunikasi antar persona guru BK dengan siswa. 3) Bagaimana bentuk
komunikasi antar persona guru BK dengan siswa mengingat bahwa banyak siswa SMKN 2
kendari yang sering melanggar peraturan sekolah dan mendapatkan bimbingan dari guru BK.
METODE PENELITIAN
Penelitian ini dilaksanakan di lingkungan SMK Negeri 2 Kendari dengan sampel sebanyak
61 orang. Jenis data yang di gunakan dalam penelitian 1) data kualitatif, yaitu data yang
berdasarkan pada informan dari objek yang di teliti. 2) data kuantitatif, yaitu data yang
berdasarkan pada angka-angka atau jumlah yang berkaitan dengan masalah penelitian.
Metode pengumpulan data penelitian ini digunakan metode survei dengan cara Kuisioner,
dilakukan dengan menyebar pertanyaan kepada para siswa SMKN 2 Kendari. Kuisioner yang
dibuat bersifat tertutup yaitu pertanyaan yang dibuat sedemikian rupa hingga responden dibatasi
dalam memberi jawaban kepada beberapa alternatif saja atau kepada satu jawaban saja.
Metode pengolahan data: 1) Tabulasi data yaitu data yang di peroleh akan di susun secara
teratur dan selanjutnya di buatkan dalam bentuk tabel sesuai dengan keperluan analisis dan
selanjutnya diolah dengan menggunakan perangkat analisis (SPSS versi 20.00). 2)
Editing data yaitu melakukan pemeriksaan kembali atas seluruh data yang di peroleh. 3)
Interpertasi yaitu menjelaskan hasil pengolahan data dari program (SPSS versi 20.00).
Pengukuran data dalam penelitian ini menggunakan skala Likert. Pedoman untuk
pengukuran semua variabel adalah dengan menggunakan 5 point Likert scale, di mana jika
terdapat jawaban dengan bobot rendah maka diberikan skor 1 (satu) dan seterusnya sehingga
jawaban yang berbobot tinggi diberi skor 5 (lima). Kategori dari setiap jawaban dengan kriteria
sebagai berikut: Sangat Baik/Sangat setuju (skor 5); Baik/Setuju (skor 4); Netral (skor 3); Tidak
Baik/Tidak Setuju (skor 2); Sangat Tidak Baik/Sangat Tidak Setuju (skor 1) oleh Malhotra,
2010 dan Cooper & Sehindler, 2003 (Supranto, 2005 : 54).
Uji validitas instrumen dilakukan dengan menggunakan koefisien korelasi product moment
dengan kriteria pengujian pada instrumen yang dikatakan valid jika nilai r  0,30 (cut of point)
atau dalam taraf signifikansi 95% atau a = 0,05 ( Sugiyono, 2007 : 71). Hasil uji validitas untuk
masing-masing item variabel penelitian berdasarkan hasil pengolahan menggunakan softwer
SPSS versi 20.00.
Pengujian reliabilitas dilakukan dengan metode Alpha Cronbach. Nilai batas (cut of
point) yang diterima untuk tingkat Alpha Cronbach adalah  0,60 walaupun ini bukan
merupakan standar absolut. Instrumen dianggap telah memiliki tingkat keandalan yang dapat
diterima, jika nilai koefisien reliabilitas yang terukur adalah  0,60. Instrumen dikatakan reliabel
jika dapat digunakan untuk mengukur variabel berulangkali yang akan menghasilkan data yang
sama atau hanya sedikit bervariasi. Jika cronbach`s alpha ≥ dari 0,60 maka instrumen
pengamatan dinyatakan reliabel. Jika cronbach`s alpha ≤ dari 0,60 maka instrumen pengamatan
dinyatakan tidak reliabel (Sekaran, 2003 : 153). Pengujian realibilitas instrument dalam studi ini
menggunakan Software SPPS 20.00.
Variabel bebas dalam penelitian ini yaitu : Komunikasi Antar Persona Guru BK dan
variabel terikatnya yaitu : Perilaku siswa.
Penelitian ini menggunakan metode analisis regresi linear sederhana. Analisis regresi ini di
gunakan untuk mengetahui bagaimana pengaruh antara variabel independent (X) dan variabel
dependent (Y), dari persamaan tersebut dapat diketahui besarnya kontribusi variabel X terhadap
variabel Y yang di tunjukkan oleh hubungan yang dinyatakan dalam bentuk persamaan
matematika yang mempunyai hubungan fungsional antara kedua variabel tersebut. Menurut
Sugiyono (2007), persamaan umum regresi linear sederhana adalah sebagai berikut :
Y = α + βx + e
Dimana :
Y
= Dependent Variabel
α
= Konstanta
X
= Independent Variabel
β
= Koefisien Regresi Populasi
e
= Standar Error
Selanjutnya di sesuaikan dengan penelitian ini dan di peroleh persamaan dalam bentuk
perkiraan sebagai berikut :
Y
= α + βx + e
Dimana :
Y
= Perilaku Siswa
α
= Konstanta
X
= Komunikasi Antarpersona Guru BK
β
= Koefisien Regresi Populasi
e
= Standar Error
HASIL DAN PEMBAHASAN
Hasil Penelitian
Deskripsi Indikator Variabel X
Authority (Kekuasaan) (X1)
Authority merupakan Penyampaian pesan menggunakan persepsi kekuasaan untuk
meyakinkan komunikan untuk menerima dan melakukan pesan yang disampaikan
Tabel 2.
Distribusi Frekuensi Jawaban Responden Terhadap Variabel Authority (X1)
Frekuensi Jawaban Responden (f) dan Presentase (%)
Indikator
Jumlah
Pernyataan
SS (5)
S (4)
KK (3)
J (2)
TP (1)
Mean
(X1)
f
%
f
%
F
%
F
%
f
%
F
%
X1.1
28
45.90
26
42.62
6
9.84
1
1.64
0
0.00
61
100
4.33
X1.2
23
37.70
28
45.90
9
14.75
1
1.64
0
0.00
61
100
4.21
X1.3
21
34.43
20
32.79
13
21.31
6
9.84
1
1.64
61
100
3.89
X1.4
26
42.62
22
36.07
10
16.39
2
3.28
1
1.64
61
100
4.16
Rata-Rata Indikator Variabel
4.15
Sumber: Data Primer (Diolah), 2015
Berdasarkan hasil perhitungan nilai skor rata-rata tanggapan responden terhadap Authority
(Kekuasaan) X1 diperoleh nilai rata-rata 4,15 atau termasuk pada kategori “baik”.
Commitment (Komitmen) (X2)
Commitment (komitmen) adalah Komitmen digunakan seorang guru BK untuk
menekankan dedikasinya sebagai seorang guru BK dalam menjalankan tugasnya menangani
permasalahan yang terjadi pada siswa di sekolah.
Tabel 3.
Distribusi Frekuensi Jawaban Responden Terhadap Variabel Commitment (X2)
Frekuensi Jawaban Responden (f) dan Presentase (%)
Indikator
Jumlah
Pernyataan
SS (5)
S (4)
KK (3)
J (2)
TP (1)
Mean
(X2)
F
%
f
%
F
%
F
%
f
%
f
%
X2.1
24
39.34
22
36.07
13
21.31
2
3.28
0
0.00
61
100
4.11
X2.2
14
22.95
29
47.54
16
26.23
1
1.64
1
1.64
61
100
3.92
X2.3
26
42.62
29
47.54
5
8.20
1
1.64
0
0.00
61
100
4.34
X2.4
29
47.54
24
39.34
8
13.11
0
0.00
0
0.00
61
100
4.36
Rata-Rata Indikator Variabel
4.18
Sumber: Data Primer (Diolah), 2015
Berdasarkan hasil perhitungan nilai skor rata-rata tanggapan responden terhadap
Commitment (Komitmen) X2 diperoleh nilai rata-rata 4,18 atau termasuk pada kategori “baik”.
Contrast (Kontras) (X3)
Contrast adalah saat dimana Komunikan/konselor menggunakan sebuah pembandingan
agar siswa dapat mengerti dan mau merubah perilakunya.
Tabel 4.
Distribusi Frekuensi Jawaban Responden Terhadap Variabel Contrast (X3)
Frekuensi Jawaban Responden (f) dan Presentase (%)
Indikator
Jumlah
Pernyataan
SS (5)
S (4)
KK (3)
J (2)
TP (1)
Mean
(X3)
F
%
F
%
f
%
F
%
f
%
f
%
X3.1
19
31.15
25
40.98
11
18.03
5
8.2
1
1.64
61
100
3.97
X3.2
26
42.62
26
42.62
6
9.84
3
4.92
0
0.00
61
100
4.25
X3.3
24
39.34
26
42.62
7
11.48
4
6.56
0
0.00
61
100
4.15
X3.4
20
32.79
24
39.34
13
21.31
3
4.92
1
1.64
61
100
4.00
Rata-Rata Indikator Variabel
4.09
Sumber: Data Primer (Diolah), 2015
Berdasarkan hasil perhitungan nilai skor rata-rata tanggapan responden terhadap Contranst
(Kontras) X3 diperoleh nilai rata-rata 4,09 atau termasuk pada kategori “baik”.
Liking ( Kesukaan ) (X4)
Tabel 5.
Distribusi Frekuensi Jawaban Responden Terhadap Variabel Liking (X4)
Frekuensi Jawaban Responden (f) dan Presentase (%)
Indikator
Jumlah
Pernyataan
SS (5)
S (4)
KK (3)
J (2)
TP (1)
Mean
(X4)
f
%
f
%
f
%
f
%
f
%
f
%
X4.1
31
50.82
20
32.79
9
14.75
1
1.64
0
0.00
61
100
4.33
X4.2
30
49.18
21
34.43
9
14.75
1
1.64
0
0.00
61
100
4.31
X4.3
32
52.46
23
37.70
5
8.20
1
1.64
0
0.00
61
100
4.41
X4.4
31
50.82
22
36.07
7
11.48
1
1.64
0
0.00
61
100
4.39
Rata-Rata Indikator Variabel
4.36
Sumber: Data Primer (Diolah), 2015
Liking adalah ketika seorang guru BK menjadi pribadi yang disenangi seorang siswa agar
dia dapat mendalami karakter siswa tersebut sehingga konselor dapat menangani permasalahan
yang terjadi pada siswa tersebut. Berdasarkan hasil perhitungan nilai skor rata-rata tanggapan
responden terhadap Liking (Kesukaan) X4 diperoleh nilai rata-rata 4,36 atau termasuk pada
kategori “ sangat baik”.
Deskripsi Indikator Variabel Y
Merokok ( Y1)
Merokok adalah kegiatan yang merusak perilaku siswa di sekolah serta membuat siswa
memiliki sikap yang buruk. Merokok diukur menggunakan 4 (empat) pernyataan positif; (Y1.1),
(Y1.2), (Y1.3), (Y1.4) dan masing-masing pernyataan mempunyai poin/skor 1-5.
Berdasarkan hasil perhitungan nilai skor rata-rata tanggapan responden terhadap Merokok
Y1 diperoleh nilai rata-rata 3,99 atau termasuk pada kategori “baik”. Hal ini mengindikasikan
Merokok merupakan suatu perbuatan yang harus di tindak lanjuti oleh guru Bk dengan solusi
yang tepat.
Tabel 6.
Distribusi Frekuensi Jawaban Responden Terhadap Variabel Meokok (Y1)
Indikator
Frekuensi Jawaban Responden (f) dan Presentase (%)
Jumlah
Pernyataan
SS (5)
S (4)
KK (3)
J (2)
TP (1)
Mean
(Y1)
f
%
f
%
f
%
f
%
f
%
f
%
Y1.1
24
39.34
22
36.07
13
21.31
2
3.28
0
0.00
61
100
4.11
Y1.2
14
22.95
29
47.54
17
27.87
0
0.00
1
1.64
61
100
3.92
Y1.3
22
36.07
15
24.59
19
31.15
5
8.20
0
0.00
61
100
3.92
Y1.4
18
29.51
25
40.98
17
27.87
1
1.64
0
0.00
61
100
4.02
Rata-Rata Indikator Variabel
3.99
Sumber: Data Primer (Diolah), 2015
Berkelahi (Y2 )
Berkelahi adalah tindakan kekerasan yang di lakukan oleh para siswa dengan siswa di
sekolah yang sama. Maupun dengan siswa di sekolah yang berbeda. Berkelahi diukur
menggunakan 4 (empat) pernyataan positif; (Y2.1), (Y2.2), (Y2.3), (Y2.4) dan masing-masing
pernyataan mempunyai poin/skor 1-5.
Tabel 7.
Distribusi Frekuensi Jawaban Responden Terhadap Variabel berkelahi (Y2)
Frekuensi Jawaban Responden (f) dan Presentase (%)
Indikator
Jumlah
Pernyataan
SS (5)
S (4)
KK (3)
J (2)
TP (1)
Mean
(Y2)
F
%
f
%
f
%
f
%
f
%
f
%
Y2.1
24
39.34
22
36.07
13
21.31
2
3.28
0
0.00
61
100
4.11
Y2.2
14
22.95
35
57.38
8
13.11
3
4.92
1
1.64
61
100
3.97
Y2.3
26
42.62
22
36.07
9
14.75
3
4.92
1
1.64
61
100
4.16
Y2.4
24
39.34
22
36.07
13
21.31
2
3.28
0
0
61
100
4.11
Rata-Rata Indikator Variabel
Sumber: Data Primer (Diolah), 2015
4.09
Berdasarkan hasil perhitungan nilai skor rata-rata tanggapan responden terhadap Berkelahi
Y2 diperoleh nilai rata-rata 4,09 atau termasuk pada kategori “baik”.
Bolos ( Y3)
Bolos adalah tindakan siswa yang di lakukan dengan tidak masuk sekolah atau tidak
mengukuti proses belajar mengajar selama berada di sekolah. Bolos diukur menggunakan 4
(empat) pernyataan; (Y3.1), (Y3.2), (Y3.3), (Y3.4) dan masing-masing pernyataan mempunyai
poin/skor 1-5.
Tabel 8.
Distribusi Frekuensi Jawaban Responden Terhadap Variabel bolos (Y3)
Frekuensi Jawaban Responden (f) dan Presentase (%)
Indikator
Jumlah
Pernyataan
SS (5)
S (4)
KK (3)
J (2)
TP (1)
Mean
(Y3)
f
%
f
%
f
%
f
%
f
%
f
%
Y3.1
14
22.95
29
47.54
17
27.87
0
0.00
1
1.64
61
100
3.92
Y3.2
26
42.62
29
47.54
6
9.84
0
0.00
0
0.00
61
100
4.34
Y3.3
29
47.57
24
39.34
8
13.11
0
0.00
0
0.00
61
100
4.36
Y3.4
19
31.15
25
40.98
11
18.03
6
9.84
0
0.00
61
100
3.97
Rata-Rata Indikator Variabel
4.15
Sumber: Data Primer (Diolah), 2015
Berdasarkan hasil perhitungan nilai skor rata-rata tanggapan responden terhadap Bolos Y3
diperoleh nilai rata-rata 4,15 atau termasuk pada kategori “baik”.
Uji Validitas
Tabel 9.
Hasil pengujian validitas instrumen penelitian.
Item
Koefisien Korelasi
(Indikator)
(r)
X1
Variabel Penelitian
Signifikansi
Keterangan
0,757
0,000
Valid
X2
0,734
0,000
Valid
X.3
0,661
0,000
Valid
X4
0,706
0,000
Valid
X5
0,746
0,000
Valid
X6
0,672
0,000
Valid
X7
0,683
0,000
Valid
ANTARPERSONA GURU BK
X8
0,557
0,000
Valid
(x)
X9
0,631
0,000
Valid
X10
0,729
0,000
Valid
X11
0,699
0,000
Valid
X12
0,654
0,000
Valid
X13
0,738
0,000
Valid
X14
0,752
0,000
Valid
X15
0,714
0,000
Valid
X16
0,675
0,000
Valid
Signifikansi
Keterangan
0,000
Valid
KOMUNIKASI
Sumber: data primer, diolah Tahun 2015
Item
Koefisien Korelasi
(Indikator)
(r)
Y1
0,818
Variabel Penelitian
Variabel (Y)
Sikapremaja
Y2
0,702
0,000
Valid
Y3
0,583
0,000
Valid
Y4
0,723
0,000
Valid
Y5
0,818
0,000
Valid
Y6
0,625
0,000
Valid
Y7
0,695
0,000
Valid
Y8
0,818
0,000
Valid
Y9
0,702
0,000
Valid
Y10
0,567
0,000
Valid
Y11
0,526
0,000
Valid
Y12
0,704
0,000
Valid
Sumber: data primer, diolah Tahun 2015
Di dalam penelitian ini uji validitas menggunakan sampel sebesar 61 sampel, dimana
pengujian validitas ini dilakukan setelah data terkumpulkan. Berdasarkan pada tabel 9 diatas,
menunjukkan bahwa semua item indikator yang mengukur masing – masing variabel yaitu
Komunikasi antarpersona guru Bk (X),
kemudian perilaku siswa (Y) menghasilkan angka
koefisien validitas yang lebih dari 0,30 (r > 0,30). Dengan dapat dinyatakan bahwa instrument
pengumpulan data yang digunakan dalam penelitian ini adalah valid (Sugiyono, 2007 : 71).
Uji Reliabilitas
Tabel 10
Hasil pengujian reliabilitas instrumen penelitian.
Variabel
Item
Cronbach's
Koefisien
Penelitian
(Indikator)
Alpha
Korelasi (r)
X1
0,762
Signifikansi
Keterangan
0,757
0,000
Reliabel
0,734
0,000
Reliabel
Variabel (X)
X2
X.3
0,661
0,000
Reliabel
X4
0,747
0,000
Reliabel
X5
0,748
0,000
Reliabel
X6
0,744
0,000
Reliabel
X7
0,745
0,000
Reliabel
X8
0,745
0,000
Reliabel
X9
0,748
0,000
Reliabel
X10
0,751
0,000
Reliabel
X11
0,753
0,000
Reliabel
X12
0,748
0,000
Reliabel
X13
0,746
0,000
Reliabel
X14
0,746
0,000
Reliabel
X15
0749
0,000
Reliabel
X16
0,751
0,000
Reliabel
Signifikansi
Keterangan
Sumber : Data Primer, di olah tahun 2015.
Variabel
Item
Cronbach's
Koefisien
Penelitian
(Indikator)
Alpha
Korelasi (r)
Y1
0,735
0,000
Reliabel
Y2
0,742
0,000
Reliabel
Y3
0,745
0,000
Reliabel
0,742
0,000
Reliabel
Y5
0,735
0,000
Reliabel
Y6
0,759
0,000
Reliabel
Y7
0,740
0,000
Reliabel
PERILAKU
Y4
0,761
SISWA (Y)
Y8
0,735
0,000
Reliabel
Y9
0,742
0,000
Reliabel
Y10
0,752
0,000
Reliabel
Y11
0,752
0,000
Reliabel
Y12
0,740
0,000
Reliabel
Sumber : Data Primer, diolah tahun 2015.
Berdasarkan hasil pengujian reliabilitas instrumen penelitian, menunjukkan bahwa semua
item indicator yang digunakan untuk mengukur masing-masing variabel adalah reliabel, dimana
semua item indikator mempunyai koefisien keandalan/alpha lebih besar dari 0,60 ( > 0,60 ) atau
60 % berarti semua item pernyataan yang dijadikan sebagai instrumen dapat dipercaya
keandalannya.
Hasil analisis regresi
Tabel 11
Hasil analisis regresi linear sederhana dengan menggunakan SPSS 20.00
Variabel bebas (X)
Koefisien Regresi (β)
thitung
tsignifikan
Keterangan
0,886
21,607
0,000
Signifikan
Komunikasi
Antarpersona Guru
BK
Konstanta (β0)
= 2,044
R
= 0,942
R Square
= 0,888
F Hitung
= 466,847
FSignifikan/Sig. f
= 0,000
N = 61
α = 0,05
Standar Error Estimate (SEE) = 2,23494
Sumber: data primer, diolah Tahun 2015
Y = a + βX + e
Y = 2,044 + 0,886 (X) + 2,23494
Dimana:
Y = Perilaku Siswa
a = Konstanta (β0)
X = Komunikasi Antar Persona Guru BK
β = Koefisien Regresi
e = Standar Error
Dari persamaan di atas diinterpretasikan sebagai berikut :
1. Nilai R (angka koefisien korelasi) sebesar 0,942, ini menunjukkan bahwa keeratan hubungan
langsung antara variabel bebas Komunikasi Antarpersona Guru BK (X) terhadap variabel
terikat Perilaku Siswa (Y) mendekati 1,00, hubungan ini secara statistika tergolong kuat.
Artinya terdapat hubungan yang kuat antara variabel Komunikasi Antarpersona Guru BK (X)
terhadap Perilaku Siswa (Y) bahwa perilaku siswa menjadi lebih baik dalam menerima
komunikasi antarpersona yang diberikan oleh guru BK kepada mereka.
2. Nilai R Square (R2) = 0,888 menunjukkan besarnya hubungan antara variabel Komunikasi
Antarpersona Guru BK (X) terhadap variabel Perilaku Siswa (Y) sebesar 88,8% dan sisanya
12,2% dipengaruhi oleh variabel lain diluar analisis penelitian ini.
3. Standar Error Estimate (SEE) variabel bebas komunikasi antarpersona guru BK = 2,23494
menunjukkan angka yang relatif kecil, berarti model regresi semakin akurat untuk
memprediksi perilaku siswa di SMKN 2 Kendari (Y).
4. Sig.t atau tSignifikan adalah untuk menguji signifikansi variabel independent dalam penelitian
ini, hal ini menunjukkan variabel komunikasi antarpersona guru BK mempunyai nilai
signifikansi sebesar 0,000 lebih kecil dari α = 0,05 (0,000 ≤ α = 0,05). Oleh karena itu
komunikasi antarpersona berpengaruh positif yang signifikan terhadap perilaku siswa SMKN
2 Kendari
PEMBAHASAN
Pengaruh Komunikasi Antar Persona Guru BK terhadap perilaku siswa SMKN 2 Kendari
Penelitian yang dilakukan ini termasuk dalam studi regresi (pengaruh) yang bertujuan
untuk mengetahui pengaruh komunikasi antarpersona guru Bk (X) terhadap perilaku siswa (Y)
pada SMKN 2 Kendari.
Berdasarkan hasil analisis regresi linear sederhana menunjukan bahwa terdapat pengaruh
signifikan antara komunikasi antarpersona guru Bk terhadap perilaku siswa. Pengaruh signifikan
ini berarti bahwa Bimbingan dan Konseling dengan menggunakan komunikasi antarpersona yang
baik pada para siswa mempunyai tujuan agar siswa dapat merubah perilaku yang kurang baik
selama berada di lingkungan sekolah. Komunikasi antar persona tidak lepas dari definisi
komunikasi itu sendiri, karena komunikasi antar persona merupakan bagian dari bentuk
komunikasi perorangan Komunikasi antarpersona guru Bk bertujuan untuk perbaikan siswa yang
dibimbing agar yang dibimbing mampu mengatur kehidupannya sendiri, tidak melanggar aturan
sekolah dan mampu menjaga perilaku yang kurang baik selama berada di sekolah, agar tidak
menimbulkan permasalah yang dapat terjadi selama berada di sekolah.
Penelitian ini dapat di jelaskan dengan menggunakan teori kemungkinan elaborasi atau
Elaboration Likelihood Model, teori ini menjelaskan di mana seseorang memproses pesan
koumunikasi
yang
dilihatnya
sehingga
menimbulkan
sebuah
sikap
setelah
memproses pesan tersebut dan teori ini berfokus pada kognitif seseorang. Guru yang melakukan
Bimbingan Konseling disekolah disebut guru BK. Para konselor ini menggunakan komunikasi
antar persona sebagai cara untuk berkomunikasi kepada siswanya. Hal ini dikarenakan
komunikasi antar persona bisa bersifat dialogis dan dapat bersifat sebagai salah satu media yang
dapat digunakan guru BK untuk menyampaikan tujuan-tujuan yang diinginkan oleh guru BK
untuk merubah perilaku siswanya yang bermasalah.
Siswa-siswa yang bermasalah memerlukan bimbingan dan konseling agar rasa
ketidakpuasan yang mengganggu dapat dikendalikan dan diarahkan. Bimbingan dan konseling
merupakan serangkaian program layanan yang diberikan oleh sekolah kepada siswa agar mereka
mampu berkembang lebih baik dan lebih optimal. Dengan komunikasi antarpersona secara
persuasif dan efektif antara guru kepada siswanya dalam bimbingan konseling diharapkan akan
membantu motivasi serta mendorong siswa untuk bergerak ke arah yang positif, karena dengan
komunikasi yang berjalan baik maka akan membuat siswa lebih terbuka dan dapat berkerja sama
untuk menciptakan lingkungan sekolah yang aman dan nyaman.
Efektivitas komunikasi antarpersona yang digunakan guru BK dan siswa dalam mencegah
kenakalan siswa dalam bimbingan konseling di SMKN 2 Kendari mempunyai pengaruh yang
signifikan meski mengalami kendala namun telah berjalan dengan efektif dan telah mencapai
tujuan yang diharapkan yakni terciptanya lingkungan sekolah bebas dari perilaku nakal. Hal ini
terlihat karena secara garis besar siswa telah merasa mempunyai hubungan yang baik dengan
guru bimbingan konseling dan terjadinya penurunan jumlah siswa yang masuk ke ruang BK juga
bisa menjadi salah satu bukti keefektifan komunikasi Antar persona yang dilakukan oleh guru
BK terhadap siswanya.
Komunikasi antarpersona guru Bk yang efektif berpengaruh dalam meningkatkan
hubungan antara guru bimbingan konseling dan siswa. Meskipun mengalami sedikit kendala
terhadap beberapa siswa sifat kurang terbuka kepada guru. Guru Bk SMKN 2 Kendari telah
bersikap bijak dalam menghadapi masalah yang dialami siswa, selalu menunjukkan sikap yang
ramah, penyayang dan menghargai setiap pendapat siswa yang berbeda-beda serta member
kepercayaan kepada siswa dan memberikan dukungan penuh terhadap kegiatan positif siswa.
Bentuk Komunikasi Antar Persona Antara Guru BK Dan Siswa
Dalam bimbingan konseling guru BK menggunakan teknik komunikasi antarpersona
dimana komunikasi lebih intens atau mendalam antara siswa dan guru bimbingan, tatap muka
(face to face) yang memungkinkan untuk mudahnya terjalin hubungan diadik. Secara umum
pelaksanaan bimbingan konseling di sekolah bertujuan untuk membantu siswa mengenal dan
menerima dirinya, mengenal dan menerima lingkungan secara positif serta mampu mengambil
keputusan sesuai dengan keadaan dirinya. Secara khusus layanan Bimbingan konseling di
SMKN 2 Kendari bertujuan membantu siswa agar mencapai tujuan perkembangan yang meliputi
aspek pribadi sosial, belajar, dan karir. Dalam proses bimbingan konseling tentunya tak luput
dari proses komunikasi, dalam hal ini tertuju pada proses komunikasi antarpersona, pada
hakikatnya seorang konselor dapat dibilang berhasil ketika dia berhasil mengubah konseli atau
siswa kearah yang lebih positif, ini semua memerlukan pendekatan emosional antar konselor dan
konseli, disinalah proses komunikasi antarpesona
berperan penting. Pada hakikatnya pola
hubungan antarpersona merupakan sebuah siklus dari perkenalan, menuju kebersamaan, menuju
perpisahan, kembali rujuk, menuju kebersamaan lagi, dan seterusnya. Pada setiap tahap dalam
suatu hubungan interpersonal, komunikasi memainkan peran yang berbeda.
Penelitian ini dapat di jelaskan menggunakan Teori Kemungkinan Elaborasi atau
Elaboration Likelihood Model. Di mana bentuk komunikasi antarpesoa guru Bk terhadap siswa
menggunakan Authority (kekuasaan) Pemberi pesan menggunakan persepsi kekuasaan untuk
meyakinkan khalayak untuk menerima keyakinan atau pesan yang disampaikan. Cara ini dapat
sangat efektif mempengaruhi perilaku siswa karena efek dari persepsi kekuasaan yang
disampaikan oleh guru BK sebagai seorang guru kepada siswanya dapat langsung merubah
pikiran orang yang dituju, yang dalam hal ini siswa sebagai komunikan atau orang yang dituju
dan secara tidak langsung dapat mempengaruhi atau bisa langsung merubah sikap siswa yang
ditujukan pesan tersebut. Commitment (Komitmen) Komitmen digunakan untuk menekankan
dedikasi seseorang kepada sebuah produk, kelompok, partai politik dan sebagainya. Komitmen
dapat mempengaruhi sikap siswa karena dalam hal ini siswa diharuskan untuk berkomitmen atau
berjanji untuk tidak mengulangi perbuatannya lagi dan juka melanggar untuk yang kedua kalinya
maka siswa akan mendapat sanksi yang lebih tegas dari sebelumnya, tentu saja hal ini akan
sangat berdampak pada perubahan perilaku siswa menjadi lebih positif. Contrast (Kontras)
Komunikan dapat menggunakan efek kontras atau makna kebalikan dari pesan. Hal ini
membutuhkan hal yang bisa digunakan sebagai pembanding. Sebagai contoh ketika seorang
siswa melakukan kesalahan maka guru BK dalam hal ini sebagai konselor dapan menggunakan
pembanding siswa yang baik kepada siswa yang mebuat kesalahan itu dengan tujuan siswa yang
membuat kesalahan tersebut akan termotivasi dan mau berubah menjadi baik seperti siswa yang
dijadikan pembadingnya atau bahkan menjadi lebih baik daripada siswa itu. Dan terakhir adalah
Liking (Kesukaan), pesan “kesukaan / kegemaran” ditekankan pada orang, tempat atau suatau
objek. Dalam Liking guru BK menggunakan komunikasi antarpersona yang intens sehingga
siswa yang menjadi subjek bimbingan konseling dapat mnemukan sesuatu yang menarik yang
membuat nyaman dari dalam diri konselor agar siswa tidak segan dan merasa nyaman
menceritakan kendala atau masalah-masalah yang mempengaruhi siswa tersebut. Dalam hal ini
konselor berusaha untuk menjadi seseorang yang disukai oleh siswa dalam artian siswa
menyukai konselor karena merasa nyaman ketika berbicara tatap muka, terasa berbicara ke
sesama teman dan tidak terasa kaku seperti percakapan antara guru dan siswa.
Dalam proses bimbingan konseling ada beberapa bentuk komunikasi antarpersona yang
digunakan dalam proses bimbingannya ini nantinya diharapkan menjadi alat bantu dalam proses
bimbingan agar sesuai dengan apa yang diharapkan. Bentuk komunikasi antarpersona guru Bk
dan siswa adalah dengan pemberian nasehat-nasehat kepada para siswa yang bertujuan
mengubah perilaku siswa menjadi lebih baik. Pemberian contoh siswa berprestasi yang akan
membuat siswa lain lebih termotivasi dalam mengapai prestasi di bidang- bidang yang mereka
tekuni. Dalam pelaksanaan bimbingan konseling di sekolah diharapkan dapat menjadi jembatan
dalam mengontrol tingkah laku siswa yang bermasalah dengan tentunya memperhatikan etika
berkomunikasi antarpersona agar pelaksanaannya dapat sesuai dengan yang diharapkan.
Perilaku Siswa Yang Mendapat Bimbingan Konseling
Komunikasi antarpesona melibatkan dua pihak untuk berinteraksi, sehingga kedua pribadi
ini aktif. Hal ini senada dengan pendapat Veredber (Liliweri, 1997 : 9) komunikasi antarpesona
merupakan suatu proses interaksi dan pemberian makna yang terkandung dalam gagasan maupun
perasaan. Komunikasi antarpersona merupakan bentuk komunikasi manusia yang paling efektif,
karena mempunyai keistimewaan yaitu efek dan umpan balik, aksi maupun reaksi verbal dan
nonverbal langsung terlihat antara komunikator dan komunikan. Jarak fisik partisipan yang dekat
dan dilakukan dengan salingpengertian dapat mengembangkan komunikasi interpersonal yang
memuaskan kedua belah pihak.
Setiap siswa yang masuk ke ruang BK mempunyai permasalahan sikap yang berbeda-beda
hal ini tentu saja dipengaruhi oleh faktor sifat dan pembawaan siswa tersebut serta lingkungan
tempat tinggal dia berada. Dalam permasalahannya, siswa yang masuk keruang BK mempunyai
respon yang berbeda terhadap konseling yang diberikan oleh guru BK. Dalam hal ini guru BK
selalu melakukan pendekatan-pendekatan dan komunikasi antar persona yang intens sehingga
perilaku siswa yang mendapatkan bimbingan berubah menjadi lebih terbuka dalam
menyampaikan pendapatnya. Siswa diajak untuk berdiskusi langsung dengan Konselor dan
konselor menggunakan pendekatan menghargai, keterbukaan, dan keakraban, dengan ini para
siswa tidak merasa terindimidasi oleh situasi bimbingan konseling yang sedang dia lakukan.
Sehingga memungkinkan untuk para siswa yang menjalani bimbingan bersikap terbuka dan
transparan. Hal ini menujukkan komunikasi yang efektif yang dilakukan oleh guru BK terhadap
siswa bimbingannya.
Komunikasi yang efektif ditandai dengan hubungan interpersonal yang baik. Bimbingan
konseling dapat menjadi pemecah masalah dari perilaku siswa yang menyimpang, tentunya tidak
akan terlepas dari penggunaan komunikasi antarpersona yang baik dalam bimbingan konseling
yang senantiasa akan berpengaruh secara signifikan terhadap perilaku siswa yang melanggar ini.
Komunikasi antarpesona guru BK terhadap perilaku siswa SMKN 2 Kendari sudah
membawa pengaruh positif, dengan sudah terlihatnya perilaku siswa yang sudah mulai membaik
dari sebelumnya dan siswa juga menjadi lebih terbuka dan jujur kepada guru BK dan tidak ragu
untuk berkomunikasi kepada koselor yang ada disekolah mereka. Komunikasi antarpersona guru
Bk telah mengubah dan mempengaruhi perilaku siswa untuk dapat membuat dan menentukan
pilihannya sendiri dan penyesuaian serta pemecahan masalah secara cerdas. Mengurangi
kebiasaan-kebiasaan yang dapat memicu pelanggaran diantara lingkungan belajar SMKN 2
Kendari. Hal ini tentunya membawa dampak baik pada citra sekolah SMKN 2 di mata
masyarakat khususnya masyarakat Kota Kendari.
KESIMPULAN
Berdasarkan hasil analisis dalam penelitian ini, maka dapat disimpulkan bahwa:
1.
Terdapat pengaruh signifikan antara komunikasi antarpersona guru Bk terhadap perilaku
siswa. Pengaruh signifikan ini terlihat dari hasil uji analisis regresi linear sederhana yang
menunjukkan adanya pengaruh yang signifikan. Hal ini diperkuat juga dengan berkurangnya
jumlah siswa yang masuk ke ruang BK dalam tiga tahun terakhir. Hal ini berarti bahwa
Bimbingan dan Konseling dengan menggunakan komunikasi antarpersona yang baik pada
para siswa dan dapat merubah perilaku yang kurang baik selama berada di lingkungan
sekolah SMKN 2 Kendari. Selain itu Guru BK SMKN 2 Kendari selalu telah bersikap bijak
dalam menghadapi masalah yang dialami siswa, selalu menunjukkan sikap yang ramah,
penyayang dan menghargai setiap pendapat siswa yang berbeda-beda serta memberi
kepercayaan kepada siswa dan memberikan dukungan penuh terhadap kegiatan positif
siswa.
2.
Guru
bimbingan konseling menggunakan teknik komunikasi antarpersona, dimana
komunikasi lebih intens atau mendalam antara siswa dan guru bimbingan, tatap muka (face
to face) yang memungkinkan untuk mudahnya terjalin hubungan diadik Secara umum
pelaksanaan bimbingan konseling di sekolah bertujuan untuk membantu siswa mengenal dan
menerima dirinya, mengenal dan menerima lingkungan secara positif serta mampu
mengambil keputusan sesuai dengan keadaan dirinya.
3.
Perilaku siswa yang mendapat bimbingan konseling juga berubah menjadi lebih positif
meskipun tidak berlangsung dengan mudah, hal ini dapat menjadi tolak ukur keberhasilan
Guru BK dalam menangani siswa yang bermasalah dan membutuhkan bimbingan konseling.
Selain itu komunikasi antarpesona guru BK terhadap perilaku siswa SMKN 2 Kendari sudah
membawa pengaruh positif dan mempengaruhi perilaku siswa untuk dapat bersikap lebih
baik serta membuat dan menentukan pilihannya sendiri dan melakukan penyesuaian serta
pemecahan masalah secara cerdas dengan memanfaatkan bimbingan yang diberikan oleh
konselor kepada mereka untuk mengurangi kebiasaan-kebiasaan melakukan pelanggaran
serta perkelahian antar sesama siswa maupun dengan siswa sekolah lain.
DAFTAR PUSTAKA
Liliweri, Alo. 1997. Komunikasi Antar Pribadi. Bandung: PT. Citra Aditya Bakti.
Nazir, M. 2009. Metode Penelitian. Jakarta: Penerbit Ghalia Indonesia.
Littlejohn, Stephen and Karen, A Foss. 2008 Theories of Human
Communication. Ninth Edition. Belmont, CA : Thomson Wadsworth.
Sekaran, Uma. 2000. Research Methods For Business: A Skill Building
Approach Second Edition. Singapore: John Willey & Sons Inc.
Sugiyono. 2007. Metode Penelitian Kuantitatif Kualitaif Dan R&D.
Bandung: Alfabeta.
Supranto, J. 2005. Statistik Teori dan Aplikasinya. Jakarta: LP3ES.
Tohirin. 2007. Bimbingan Dan Konseling Di Sekolah Dan Madrasah
(Berbasis Integrasi). Jakarta: PT. Raja Grafindo Persada.
KUISIONER
Dalam rangka penelitian mengenai “Pengaruh Komunikasi Antar Persona Guru Bimbingan
Konseling Terhadap Perilaku Siswa (Studi Pada Siswa SMK Negeri 2 Kendari)” maka kami mohon
kesediaan teman-teman sekalian untuk dapat mengisi kuisioner yang kami ajukan. Kami
berharap teman-teman sekalian bersedia mengisinya sesuai dengan apa yang teman-teman
rasakan saat ini.
Untuk diketahui bahwa kuisioner ini hanyalah untuk kepentingan akademis dan ilmiah saja.
Setiap jawaban merupakan bantuan yang tidak ternilai besarnya bagi penelitian kami. Hasil dari
penelitian ini hanya dipergunakan bagi keperluan penulisan ilmiah, oleh karena itu kami sangat
mengharapkan ketelitian, kejujuran, dan kesungguhan teman-teman sekalian dalam mengisi
kuisioner yang dimaksud, sehingga hasilnya dapat mencerminkan keberadaan yang sebenarnya.
Kami sangat berterima kasih atas kerjasama dan bantuannya.
Petunjuk pengisian angket:
1. Isilah identitas dengan lengkap.
2. Bacalah setiap pernyataan dan pertanyaan dalam angket ini dan pilihlah salah satu
pilihan jawaban yang paling sesuai dengan keadaan diri anda dengan memberikan
tanda centang () pada kolom pilihan jawaban:
TP
: Tidak Pernah (diberi poin 1)
J
: Jarang (diberi poin 2)
KK
: Kadang-kadang (diberi poin 3)
S
: Sering (diberi poin 4)
SS
: Sangat Sering (diberi poin 5)
3. Pilihlah jawaban yang paling sesuai.
Nama
:
Kelas & Jurusan
:
Jenis Kelamin
:
Alamat
:
KOMUNIKASI ANTAR PERSONA GURU BK (X)
No.
Pernyataan
Authority (Kekuasaan)
1.
2.
3.
4.
Guru BK saya selalu bijaksana dalam mengambil keputusan
Guru BK saya selalu membuat peraturan yang mendisiplinkan
siswa
Peraturan yang dibuat guru BK selalu dapat diikuti dan dimengerti
Guru BK selalu mendengarkan pendapat siswanya
Commitment (Komitmen)
5.
6.
7.
8.
TP
J
KK S SS
TP
J
KK S SS
Guru BK saya selalu memberikan nasehat dan saran jika terjadi
suatu permasalahan
Guru BK saya selalu memberikan nasehat dan saran yang mudah di
pahami
Setiap permasalahan yang diselesaikan guru BK dilakukan dengan
sikap yang tidak emosional (arif dan bijaksana)
Solusi yang diberikan guru BK terhadap permasalahan saya selalu
tepat
Contrast (kontras)
9.
Pilihan Jawaban
TP J KK S SS
Guru BK saya selalu membandingkan sikap saya dengan siswa lain
Guru BK saya selalu memberikan contoh sikap yang baik kepada
10.
siswanya
Guru BK saya selalu membandingkan siswa yang malas dengan
siswa yang rajin
Guru BK selalu membandingkan siswa berprestasi dengan siswa
12.
yang tidak berprestasi
11.
Liking (Kesukaan)
TP
J
KK S SS
13. Guru BK saya selalu bersikap terbuka pada semua orang
Guru BK saya bersikap ramah kepada semua siswa meskipun siswa
14.
itu nakal
Guru BK saya berkomunikasi dan berinteraksi dengan baik kepada
15.
seluruh siswa
Guru BK saya mampu menangani dengan tepat permasalah yang
16.
terjadi pada siswa
PERILAKU SISWA (Y)
No.
Pernyataan
Merokok
1.
2.
3.
4.
Pilihan Jawaban
TP J KK S SS
Saya mematuhi larangan merokok disekolah
Saya selalu mendengarkan nasehat dari guru BK untuk tidak
membawa rokok disekolah
Ketika ada teman yang merokok di sekolah dan saya diajak
bergabung, saya menolak menolak ajakan tersebut
Sanksi guru BK membuat saya takut merokok di sekolah
Berkelahi
Saya selalu menghindari hal-hal yang dapat memicu perkelahian
Saya selalu menjaga hubungan baik antar siswa di sekolah
Jika ada teman yang bermasalah dengan saya dan mengajak
7.
berkelahi, saya selalu menyelesaikannya dengan jalan damai
Saya selalu menjaga hubungan baik dengan siswa di sekolah lain
8.
agar tidak terjadi perkelahian antar sekolah
Bolos
9. Saya selalu mengikuti pelajaran dikelas dan tidak pernah bolos
10. Saya selalu menolak ajakan teman untuk bolos
11. Saya selalu menasehati teman yang suka bolos
12. Sanksi bolos dari guru BK membuat saya tidak pernah mencoba
TP J KK S SS
5.
6.
TP J KK S SS
untuk bolos
UJI REGRESI
Descriptive Statistics
Mean
Perilaku Siswa
Komunikasi Antar Personal
Guru BK
Std. Deviation
N
48.9180
6.61638
61
67.1311
8.92837
61
Correlations
Komunikasi
Antar Personal
Perilaku Siswa
Pearson Correlation
Perilaku Siswa
Komunikasi Antar Personal
Guru BK
Sig. (1-tailed)
Perilaku Siswa
Komunikasi Antar Personal
Guru BK
N
Perilaku Siswa
Komunikasi Antar Personal
Guru BK
Variables Entered/Removedb
Model
1
Variables
Variables
Entered
Removed
Method
Komunikasi
Antar Personal
Guru BKa
a. All requested variables entered.
. Enter
Guru BK
1.000
.942
.942
1.000
.
.000
.000
.
61
61
61
61
Variables Entered/Removedb
Model
1
Variables
Variables
Entered
Removed
Method
Komunikasi
Antar Personal
Guru
. Enter
BKa
b. Dependent Variable: Perilaku Siswa
Model Summaryb
R
Model
1
R
Square
.942a
Change Statistics
Adjusted R Std. Error of the
Square
.888
Estimate
.886
R Square Change
2.23494
F Change
.888
Durbin-
df1 df2
466.847
1
Sig. F Change
59
Watson
.000
1.555
a. Predictors: (Constant), Komunikasi Antar Personal Guru BK
b. Dependent Variable: Perilaku Siswa
ANOVAb
Model
1
Sum of Squares
Regression
Residual
Total
df
Mean Square
F
2331.887
1
2331.887
294.703
59
4.995
2626.590
60
Sig.
466.847
.000a
a. Predictors: (Constant), Komunikasi Antar Personal Guru BK
b. Dependent Variable: Perilaku Siswa
Coefficientsa
Model
1 (Constant)
Unstandardized
Standardized
95% Confidence
Coefficients
Coefficients
Interval for B
B
2.044
Std. Error
2.188
Beta
t
.934
Sig.
.354
Collinearity
Correlations
Lower
Upper
Bound
Bound order Partial
-2.334
6.423
Statistics
ZeroPart
Tolerance
VIF
Komunikasi Antar
Personal Guru BK
.698
.032
.942 21.607
.000
.634
.763
.942
.942
a. Dependent Variable:
Perilaku Siswa
Coefficient Correlationsa
Komunikasi
Antar Personal
Guru BK
Model
1
Correlations
Komunikasi Antar Personal
Guru BK
1.000
Covariances
Komunikasi Antar Personal
Guru BK
.001
a. Dependent Variable: Perilaku Siswa
Collinearity Diagnosticsa
Variance Proportions
Komunikasi
Antar Personal
Guru BK
Model
Dimensi
on
1
1
1.991
1.000
.00
.00
2
.009
15.228
1.00
1.00
Eigenvalue
Condition Index
(Constant)
a. Dependent Variable: Perilaku Siswa
Residuals Statisticsa
Minimum
Predicted Value
Std. Predicted Value
Standard Error of Predicted
Value
Adjusted Predicted Value
Residual
Std. Residual
Stud. Residual
Deleted Residual
Stud. Deleted Residual
Mahal. Distance
Cook's Distance
Centered Leverage Value
Maximum
Mean
Std. Deviation
N
32.0687
-2.703
57.9036
1.441
48.9180
.000
6.23416
1.000
61
61
.286
.831
.385
.124
61
31.4385
-5.63701
-2.522
-2.553
-5.77712
-2.684
.000
.000
.000
57.7909
4.58761
2.053
2.083
4.72627
2.146
7.305
.288
.122
48.8903
.00000
.000
.006
.02776
.004
.984
.021
.016
6.28874
2.21624
.992
1.011
2.30742
1.026
1.603
.044
.027
61
61
61
61
61
61
61
61
61
a. Dependent Variable: Perilaku Siswa
.942
1.000
1.000
Download