kelembagaan - Ir. Gustami Harahap, MP.

advertisement
KELEMBAGAAN
Ir. Gustami Hrp., MP
1
KELEMBAGAAN
Menurut Uphoff (1986: 8-9), istilah kelembagaan
dan organisasi sering membingungkan dan
bersifat interchangeably.
Secara keilmuan, social institution dan social
organization berada dalam level yang sama, untuk
menyebut apa yang kita kenal dengan kelompok
sosial, grup, social form, dan lain-lain yang relatig
sejenis.
2
PENGERTIAN KELEMBAGAAN
DAN ORGANISASI
Kata “kelembagaan” merupakan padanan
dari kata Inggris institution, atau lebih
tepatnya social institution; sedangkan
“organisasi” padanan dari organization
atau social organization.
3
Social institution
Menurut Soemardjan dan Soemardi (1964: 61)
“…belum terdapat istilah yang mendapat
pengakuan umum dalam kalangan para sarjana
sosiologi untuk menterjemahkan istilah Inggris
‘social institution’… Ada yang menterjemahkannya
dengan istilah ‘pranata’, ada pula yang ‘bangunan
sosial.
4
Ketidaksepahaman Organisai Dan
Kelembagaan
• Kedua kata ini sering sekali menimbulkan
perdebatan di antara para ahli.
Persoalannya terletak pada karena
tekanan masing-masing orang yang
berbeda-beda, atau sering
mempertukarkan penggunaannya.
5
Lanjutan..
• Kata “institution” sudah dikenal semenjak
awal perkembangan ilmu sosiologi. Frasa
seperti capital institution dan family intitution
sudah terdapat dalam tulisan soiolog August
Comte sebagai bapak pendiri ilmu sosiologi,
semenjak abad ke 19.
• Di sisi lain, konsep organisasi dalam
pengertian yang sangat luas, juga merupakan
istilah pokok terutama dalam ilmu antropologi
6
Pendapat beberapa ahli
• Aturan di dalam suatu kelompok masyarakat atau organisasi
yang menfasilitasi koordinasi antar anggotanya untuk
membantu mereka dengan harapan di mana setiap orang
dapat bekerjasama atau berhubungan satu dengan yang lain
untuk mencapai tujuan bersama yang diinginkan (ruttan dan
hayami, 1984).
• Suatu himpunan atau tatanan norma–norma dan tingkah laku
yang bisa berlaku dalam suatu periode tertentu untuk
melayani tujuan kolektif yang akan menjadi nilai bersama.
Institusi ditekankan pada norma-norma prilaku, nilai budaya
dan adat istiadat (uphoff, 1986).
7
KESIMPULAN
Lembaga adalah Suatu tatanan dan pola hubungan
antara anggota masyarakat atau organisasi yang
saling mengikat yang dapat menentukan bentuk
hubungan antar manusia atau antara organisasi
yang diwadahi dalam suatu organisasi atau jaringan
dan ditentukan oleh faktor-faktor pembatas dan
pengikat berupa norma, kode etik aturan formal
maupun informal untuk pengendalian prilaku sosial
serta insentif untuk bekerjasama dan mencapai
tujuan bersama.
8
Unsur kelembagaan
• Institusi merupakan landasan untuk
membangun tingkah laku sosial masyarakat;
• Norma tingkah laku yangmengakar dalam
masyarakat dan diterima secara luas untuk
melayani tujuan bersama yang mengandung
nilai tertentu dan menghasilkan interaksi antar
manusia yang terstruktur;
• Peraturan dan penegakan aturan/hokum;
9
Lanjutan
• Aturan dalam masyarakat yang memfasilitasi
koordinasi dan kerjasama dengan dukungan
tingkah laku, hak dan kewajiban anggota;
• Kode etik;
• Kontrak;
• Pasar;
• Hak milik (property rights atau tenureship);
• Organisasi;
• Insentif untuk menghasilkan tingkah laku yang
diinginkan.
10
OBJEK KAJIAN KELEMBAGAAN
Ada tiga objek pokok yang berbeda yang dibicarakan
dalam hal ini .Apa yang disebut Koentjaraningrat dengan
wujud ideel kebudayaan atau Colley menyebutnya dengan
public mind (Soemardjan dan Soemardi, 1964: 75), atau
Gillin dan Gillin menyebutnya dengan:
-Cultural;
-Struktur;
-Nilai dan norma.
11
KAJIAN KELEMBAGAAN
Menurut Knight (1952: 51) Kelembagaan memiliki
dua bentuk, yaitu:
1. Sesuatu yang dibentuk oleh masyarakat itu
sendiri; serta
2. Sesuatu yang datang dari luar yang
sengaja dibentuk.
POLANYA
Folkways
Mores
Custom
Norm
12
PEMBEDAAN KELEMBAGAAN
DAN ORGANISASI
1. Relasi yang berpola di satu bagian;
2. Norma dan nilai di bagian lain yang
terjadi dalam kehidupan sosial.
13
RAGAM PEMBEDAAN KELEMBAGAAN DAN
ORGANISASI
Kelembagaan cenderung tradisional,
sedangkan organisasi cenderung modern.
Kelembagaan dari masyarakat itu sendiri dan
organisasi datang dari atas.
Kelembagaan dan organisasi berada dalam
satu kontinuum, dimana organisasi adalah
kelembagaan yang belum melembaga.
Organisasi merupakan bagian dari
kelembagaan.
14
LEMBAGA ATAU KELEMBAGAAN
Istilah kelembagaan memberi tekanan kepada 5 hal :
1.
2.
3.
4.
Kelembagaan berkenaan dengan seuatu yang permanen.
Berkaitan dengan hal-hal yang abstrak yang menentukan
perilaku.
Berkaitan dengan perilaku, atau seperangkat mores (tata
kelakuan), atau cara bertindak yang mantap yang berjalan di
masyarakat (establish way of behaving).
Kelembagaan juga menekankan kepada pola perilaku yang
disetujui dan memiliki sanksi.
5. Kelembagaan merupakan cara-cara yang standar untuk
memecahkan masalah.
15
ORGANISASI ATAU KEORGANISASIAN
1.
2.
3.
4.
Ada 5 tekanan yang diberikan kepada Istilah organisasi atau
keorganisasian:
Istilah organisasi sosial (social organization) diartikan
sebagai kesalinghubungan antar bagian, yang dinilai esensial
bagi tercapinya suatu kesatuan sosial, baik pada satu grup
kecil, komunitas, maupun masyarakat yang lebih luas.
Berkenaan dengan aspek peran.
Berkenaan dengan struktur.
Selain posisi dan tugas, ‘tujuan’ juga menjadi penentu yang
pokok dalam suatu organisasi sosial.
5. Formalitas.
16
BATASAN
“KELEMBAGAAN” YANG LEBIH OPERASIONAL
17
Rekonseptulasisasi sesuai dengan padanan penggunaan konsep dengan
berpedoman kepada sistematika konsep di berbagai literatur
Terminologi dalam literatur
berbahasa Inggris
Terminologi
dalam literatur
berbahasa
Indonesia
Terminologi
semestinya
Materi di dalamnya
1. Institution
Kelembagaan,
Lembaga
Norma, nilai, regulasi pemerintah, pengetahu-an
institusi
2. Institutional
Kelembagaan,
petani tentang regu-lasi, dll.
Kelembagaan
Hal-hal berkenaan dengan lembaga
Organisasi
Contoh: kelompok tani, koperasi, asosiasi peta-ni
institusi
3. Organization
Organisasi,
lembaga
4. Organizational
Keorganisasian,
kelembagaan
berdasar komoditas
Keorganisasian
Hal-hal berkenaan dengan organisasi, misalnya
perihal ke-pemimpinan, keanggo-taan, manajemen,
dan keuangan organisasi.
18
ANALISIS KELEMBAGAAN
19
Analisis Kelembagaan”
Kelembagaan dapat dibagi atas dua aspek, yaitu:
• Aspek kelembagaan (nilai, norma, aturan,
etika, dll);
• Aspek keorganisasian (otoritas, keanggotaan,
struktur,peran,wewenang, dll).
20
Pendekatan yang keliru dalam
Pengembangan Kelembagaan
•
•
•
•
•
Kelembagaan-kelembagaan dibangun untuk
memperkuat ikatan-ikatan horizontal, bukan ikatan
vertikal;
Kelembagaan dibentuk lebih untuk tujuan distribusi
bantuan dan memudahkan tugas kontrol dari
pelaksanaan program;
Struktur yang dibuat relatif seragam;
Pembinaan yang dijalankan cenderung individual
(konsep trickle down effect );
Pengembangan kelembagaan selalu menggunakan
jalur struktural, dan lemah dari pengembangan aspek
kulturalnya.
21
Lanjutan
•
•
•
Introduksi kelembagaan lebih banyak melalui
budaya material dibanding non- material
atau merupakan perubahan yang
materialistis.
Introduksi kelembagaan baru telah merusak
kelembagaan lokal yang ada sebelumnya.
Kelembagaan pendukung untuk usaha
pertanian tidak dikembangkan dengan baik,
karena struktur pembangunan yang sektoral.
22
Pembangunan Pertanian Salah
Datang Dari Pola Pikir Berikut:
• Kelembagaan lokal dianggap tidak memiliki
jiwa ekonomi yang memadai, karena
modernisasi.
• Menganggap bahwa pertanian adalah
permasalahan individual, bukan permasalahan
kelembagaan
• Menganggap bahwa permasalahan
kelembagaan ada di tingkat petani belaka,
bukan pada superstrukturnya
23
Lanjutan
• Kesatuan administrasi pemerintahan
dipandang sebagai satu unit interaksi sosial
ekonomi pula.
• Pedagang dipersepsikan “buruk” dalam
pengembangan usaha pertanian
• Lebih berorientasi kepada produksi
24
Tiga Pilar Sebagai Elemen Sosial Pokok
• Pemerintah,
• Komunitas,
• Dan pasar.
Ketiganya direpresentasikan menjadi kekuatan
politik, sosial, dan ekonomi.
25
1.
2.
3.
4.
5.
Perbedaan AspekKomunitas
Pemerintah Pasar
Orientasi utama Pemenuhan Melayani penguasa
Keuntungan (profit kebutuhan hidup dan masyarakat
komunal oriented).
Sifat kerja sistem, Demokratis Monopolis Kompetitif.
berdasarkan kesetaraan sosialnya.
Sandaran kontrol Kultural (cultural Pemaksaaan
Penuh perhitungan sosial compliance) ( sif coer
compliance)(renumeration compliance).
Bentuk simbol Mistis Pseudorealis Realis yang
diterapkan
Bentuk norma dan Komunal Modifikasi.
26
Dua hal untuk menilai kinerja
kelembagaan
• Yaitu produknya sendiri berupa
Jasa atau material
• Dan faktor manajemen yang membuat produk
tersebut bisa dihasilkan
27
Empat Dimensi Untuk Mempelajari Suatu
Kelembagaan Institutional Assessment
• Satu,kondisi lingkungan eksternal (the external
environment).
• Kedua, motivasi kelembagaan (institutional
motivation).
• Tiga, kapasitas kelembagaan (institutional
capacity).
28
UPAYA MERUMUSKAN MODEL
KELEMBAGAAN
Menurut Janssen (2002), terdapat tiga langkah
yang dapat dilakukan untuk memahami
pembaruan kelembagaan, yaitu:
• Idenfikasi perubahan yang terjadi pada
lingkungan
• Pelajari modifikasi apa yang dilakukan
kelembagaan
• Evaluasi kualitas dan keefektifan dari sistem.
29
Beberapa Kunci Pengembangan
Kelembagaan
• Dibutuhkan iklim makro yang ‘sadar
kelembagaan”.
• Objeknya adalah kelembagaan, bukan
individu.
• Membangun kelembagaan baru: apakah
berupa penggantian atau tambahan.
• Menggunakan dan memperkuat “modal
sosial”.
• Memperbaiki kelembagaan yang rusak
30
Perencanaan Sosial
• Perencanaan sosial adalah usaha sadar dalam
menentukan urutan operasional untuk
mencapai perbaikan sosial yang diinginkan.
Pemerintah dapat menggunakan beberapa
opsi strategi, yaitu yang bersifat filantropis
melalui ajakan-ajakan moral, atau secara
reformis dengan melakukan intervensi
langsung dengan meningkatkan fungsi
kelembagaan-kelembagaan.
31
Struktural dan Kultural Pengembangan
Kelembagaan
Ada dua jalan utama bagaimana kelembagaan
terbentuk, yaitu melalui aspek kelembagaan
atau melalui aspek keorganisasian.
1. Jalan pertama terjadi pada kelembagaankelembagaan yang bersifat pokok dan seolah
tumbuh dengan sendirinya (crescive
tution)insti,
2. Jalan kedua karena adanya kebutuhan yang
dirasakan (enacted institution) bersifat alamiah
dan jalan kedua bersifat rekayasa.
32
Pengembangan Kelembagaan Penunjang Beberapa
Panduan Untuk Di Lahan Lebak
Secara, indikatif seluruh kelembagaan yang
terdapat dalam dunia pertanian di lahan rawa
lebak dapat dikelompokkan atas tiga sifat dasar
kelembagaan sebagai berikut:
1) Kelembagaan-kelembagaan yang memiliki sifat
dasar “kelembagaan komunitas”yang sedang
bertransformasi menuju bentuk ”kelembagaan
pasar”
2) Kelembagaan-kelembagaan yang liki memisifat
dasar kelembagaan “pemerintah” daerah yaitu:
penyuluhan, dinas pertanian, dan pemerintah.
33
Lanjutan
3).Kelembagaan-kelembagaan dengan
sifat dasar sebagai “kelembagaan
pasar” .
34
Perlu Upaya untuk Mentransformasi Kelompok Tani ke
dalam Struktur dan Norma Kelembagaan Pasar
• Penerapan pendekatan learning process
dalam pengembangan kelembagaan
penyuluhan memilih strategi pengembangan
kelembagaan. Menurut uphoff (1986)
tergantungkepada kapasitas pelaksananya
dan kelembagaan yang sudah terbentuk
(existing condition). Pendekatan yang umum
selama ini adalah berupa blue print
approach.
35
Kelembagaan Permodalan dengan
Pengembangan Disiplin
• Kunci keberhasilannya adalah berhasil
membangun hubungan horizontal dan vertikal
(aspek keorganisasian), selain disiplin
pelaksana dan pesertanya(aspek ).
Kelembagaan Seluruh peserta dikelompokkan
ke dalam kelompok kecil (pada lima orang).
36
MODAL SOSIAL
Oleh:
Ir. Gustami Harahap., MP
37
MODAL SOSIAL
Modal sosial (social capital) didefinisikan
sebagai kemampuan masyarakat untuk
bekerja bersama, demi mencapai tujuantujuan bersama, di dalam berbagai
kelompok.
38
Dimensi Modal Sosial
 Dimensi modal sosial tumbuh di dalam suatu
masyarakat yang didalamnya berisi nilai dan norma
serta pola-pola interaksi sosial dalam mengatur
kehidupan keseharian anggotanya (Woolcock dan
Narayan, 2000).
 Dimensi modal sosial menggambarkan segala
sesuatu yang membuat masyarakat bersekutu
untuk mencapai tujuan bersama atas dasar
kebersamaan, serta didalamnya diikat oleh nilainilai dan norma-norma yang tumbuh dan dipatuhi
(Dasgupta dan Serageldin, 1999).
39
TIPOLOGI MODAL SOSIAL
• Modal Sosial Terikat (Bonding Social Capital)
Modal sosial terikat adalah cenderung bersifat
eksklusif (Hasbullah, 2006). Apa yang menjadi
karakteristik dasar yang melekat pada tipologi ini,
sekaligus sebagai ciri khasnya, dalam konteks ide,
relasi dan perhatian, adalah lebih berorientasi ke
dalam (inward looking) dibandingkan dengan
berorientasi keluar (outward looking).
40
Modal Sosial yang Menjembatani
(Bridging Social Capital)
Mengikuti Hasbullah (2006), bentuk modal
sosial yang menjembatani ini biasa juga
disebut bentuk modern dari suatu
pengelompokan, group, asosiasi, atau
masyarakat.
41
PARAMETER
Kepercayaan
Norma
Jaringan
42
Indikator Modal Sosial
•
•
•
•
•
•
•
Perasaan identitas.
Perasaan memiliki atau sebaliknya, perasaan alienasi;
Sistem kepercayaan dan ideologi
Nilai-nilai dan tujuan-tujuan.
Ketakutan-ketakutan.
Sikap-sikap terhadap anggota lain dalam masyarakat
Persepsi mengenai akses terhadap pelayanan,
sumber dan fasilitas (misalnya pekerjaan,
pendapatan, pendidikan, perumahan, kesehatan,
transportasi, jaminan sosial)
43
Lanjutan
• Opini mengenai kinerja pemerintah yang telah
dilakukan terdahulu
• Keyakinan dalam lembaga-lembaga
masyarakat dan orang-orang pada umumnya
• Tingkat kepercayaan
• Kepuasaan dalam hidup dan bidang-bidang
kemasyarakatan lainnya
• Harapan-harapan yang ingin dicapai di masa
depan
44
KEBIJAKAN PUBLIK
 Sebuah instrumen pemerintahan, bukan saja dalam
arti government, dalam arti hanya menyangkut
aparatur negara, melainkan pula governance yang
menyentuh berbagai bentuk kelembagaan, baik
swasta, dunia usaha maupun masyarakat madani (civil
society).
45
DIMENSI KEBIJAKAN PUBLIK
Bridgeman dan Davis (2004: 4-7)
• Tindakan yang legal (Authoritative
Choice),
• Hipotesis (Hypothesis),
• Tujuan (objective).
46
Tindakan Yang Legal
Tindakan dalam kebijakan bersifat
legal atau otoritatif karena dibuat
oleh orang yang memiliki legitimasi
dalam sistem pemerintahan.
47
Hipotesis (Hypothesis),
Kebijakan-kebijakan senantiasa bersandar
pada asumsi-asumsi mengenai perilaku.
Kebijakan selalu mengandung insentif
yang mendorong orang untuk melakukan
sesuatu atau disinsentif yang mendorong
orang tidak melakukan sesuatu.
48
Tujuan (objective).
Kebijakan publik adalah seperangkat
tindakan pemerintah yang didesain untu
mencapai hasil-hasil tertentu yang
diharapkan oleh publik sebagai konstituen
pemerintah.
49
MENGEMBANGKAN MODAL SOSIAL VIA
KEBIJAKAN PUBLIK
Kebijakan publik dapat mempengaruhi
lingkaran modal sosial yang pada glilirannya
menjadi pendorong keberhasilan
pembangunan, khususnya pembangunan sosial
dan pembangunan kesejahteraan.
50
Pengaruh kebijakan terhadap modal
sosial
•
•
•
•
•
•
Memperkuat kepercayaan sosial (social trust)
Menumbuh-kembangkan nilai-nilai bersama,
Mengembangkan kohesifitas dan altruisme,
Memperluas partisipasi lokal,
Menciptakan jaringan dan kolaborasi,
Meningkatkan keterlibatan masyarakat warga dalam
proses tata pemerintahan yang baik (good
governance),
51
Manfaat Strategi Keb.Publik
 Meningkatnya partisipasi di dalam masyarakat
 Meningkatnya partisipasi dalam proses-proses
demokrasi
 Menguatnya aksi bersama yang merefleksikan
perasaan tanggungjawab bersama
 Tumbuhnya dukungan bagi, dan kepercayaan
diri pada, individu dalam memenuhi
kebutuhan dan aspirasinya.
52
Menguatnya perasaan memiliki, identitas dan
kebanggaan bersama sebagai satu warga
masyarakat
Menurunnya tingkat kejahatan, korupsi dan
alienasi karena meningkatnya keterbukaan,
kontrol sosial, kerjasama dan harmoni.
Meningkatnya hubungan dan jaringan antara
sektor pemerintah, swasta, lembaga sukarela
dan keluarga.
Menguatnya kemampuan dan akses
masyarakat dalam mengelola dan
memanfaatkan sumber-sumber yang ada di
sekitar mereka
53
Download